21 February 2008

Yakobus 2:17

Ayat 17, “Demikian juga halnya dengan iman : Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yunani : outwv kai h pistiv ean mh erga ech nekra estin kay eauthn = “Demikian juga iman, jikalau ia tidak menghasilkan perbuatan-perbuatan, yang tidak berguna adalah {ia sendiri}.”). Terjemahan bebas, “Begitu pula dengan iman, jika iman tidak menghasilkan perbuatan, iman itu akan sia-sia belaka.” Pada ayat ini, Yakobus memberikan kesimpulan pertama dari hasil pengajarannya pertama pada ayat 14-16 yaitu jika iman itu tidak menghasilkan perbuatan-perbuatan, maka sia-sialah iman itu. Di sini Alkitab bahasa Yunani dengan tepat menggunakan kata “menghasilkan”, karena perbuatan-perbuatan sejati dihasilkan dari iman sejati. Perbuatan yang dimaksud Yakobus tidaklah sama dengan arti perbuatan menurut Paulus. Jika Paulus mengungkapkan bahwa perintah Taurat itu sebagai sistem, yang olehnya seseorang dapat meraih keselamatan karena jasa (Paulus menolak ini), sedangkan Yakobus mengungkapkan Taurat adalah “Taurat yang memerdekakan” (Yakobus 2:12 ; outwv <3779> {SO} laleite <2980> (5720) {SPEAK YE} kai <2532> {AND} outwv <3779> {SO} poieite <4160> (5720) {DO,} wv <5613> {AS} dia <1223> {BY [THE]} nomou <3551> {LAW} eleuyeriav <1657> {OF FREEDOM} mellontev <3195> (5723) {BEING ABOUT} krinesyai <2919> (5745) {TO BE JUDGED;}). Apa yang Yakobus sebut sebagai perbuatan itu sama dengan istilah “buah Roh” yang Paulus ajarkan. Perbuatan bagi Yakobus adalah buah dari iman.Melalui ayat ini, Yakobus ingin mengajar bahwa bukannya iman tidak penting lalu kita semua (orang-orang Kristen) hanya mengandalkan perbuatan-perbuatan baik, tetapi ia mengajarkan bahwa iman sejati pasti menghasilkan (tindakan aktif) perbuatan-perbuatan. Inilah yang dimaksud oleh Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dengan statement-nya, “esensi menghasilkan/menunjukkan fenomena” (sedangkan fenomena belum tentu menghasilkan esensi sejati). Jika kita melihat seluruh rangkaian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, berkali-kali para nabi dan rasul mengajarkan iman, tetapi jika diteliti lebih lanjut, iman-iman tersebut bukan iman yang mati tetapi iman yang hidup (living faith) yang melepaskan seluruh kemampuan dan kehebatan diri kita (baik perbuatan baik, jasa, dll) serta hanya mengandalkan Tuhan Yesus Kristus untuk mendapatkan keselamatan. Iman inilah (living and saving faith) menghasilkan suatu tindakan konkret yang menaati apa yang Tuhan telah perintahkan (iman sejati tetap merupakan anugerah Allah yang diberikan hanya kepada umat pilihan-Nya, lalu Roh Kudus memimpin iman itu menuju kepada kesempurnaan iman).

Pertama, perhatikanlah doa dari Raja Daud di dalam Mazmur 26:1, “Berilah keadilan kepadaku, ya TUHAN, sebab aku telah hidup dalam ketulusan ; kepada TUHAN aku percaya dengan tidak ragu-ragu.” Daud dengan berani menyatakan bahwa dirinya percaya kepada TUHAN dengan 100% kepercayaan mutlak tanpa sedikitpun unsur keragu-raguan. Apakah sampai di sini kepercayaan/iman Daud lalu ia asal-asalan berbuat di dalam hidupnya ? Tidak. Pada ayat 2, ia menjelaskan dan meminta agar TUHAN menguji dirinya, menyelidiki batin dan hatinya. Ini bukti pertama, Daud beriman kepada TUHAN 100%, karena ia mau dengan rela hati diuji oleh Tuhan, diselidiki batin dan hatinya oleh Tuhan agar dirinya semakin sempurna di hadapan-Nya. Dan selanjutnya, pada ayat 3, Daud menjelaskan alasan mengapa dirinya mau dengan rela hati dikoreksi dan dipimpin oleh Tuhan yaitu, “Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” Ini bukti kedua Daud beriman kepada Tuhan, yaitu ia benar-benar mengarahkan mata-Nya kepada Tuhan dan hidup di dalam kebenaran Tuhan. Mulai ayat 4-12, Daud mulai menjelaskan tindakan/perbuatan konkritnya yang membuktikan dia benar-benar beriman kepada Tuhan yaitu membenci dosa (ayat 4-6), memuji-muji Tuhan dengan nyanyian syukur (ayat 7), cinta akan tempat kediaman Tuhan (ayat 8), mengaku dosa dan kelemahan diri (ayat 9,11) dan hidup tulus (ayat 11). Dari sini, kita belajar bahwa iman sejati (yang Daud sebut sebagai “kepada TUHAN aku percaya dengan tidak ragu-ragu”) pasti menghasilkan buah melalui perbuatan-perbuatan, yaitu membenci dosa, hidup dalam kebenaran Allah, hidup dalam ketulusan, memuji Tuhan, mengakui dosa dan kelemahan diri serta mengembalikan seluruh puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan saja.

Kedua, perhatikan kembali pernyataan Raja Daud pada Mazmur 37:1-5 dengan perikop yang menceritakan pernyataan Daud kepada bangsa-bangsa Israel agar tidak ditipu dengan perilaku orang fasik yang kelihatannya hidupnya kaya dan lebih lancar. Pada ayat 1-2 dalam Mazmur 37, dengan jelas, Daud menggambarkan suatu situasi di mana orang-orang saleh selalu marah dan iri hati ketika melihat orang-orang jahat dan curang lebih lancar hidupnya. Mulai ayat 3, Raja Daud langsung mengajak orang-orang Israel untuk kembali percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik, berlaku setia ketika mereka sedang berdiam di negeri. Jelas, Raja Daud tidak memisahkan hubungan antara percaya/iman kepada Tuhan dengan perbuatan baik, tetapi justru ia menghubungkannya. Tetapi apakah perbuatan baik itu dilakukan secara terpaksa ? Tidak. Perhatikan kembali, ayat 4 pada Mazmur 37 menjelaskan bahwa kita harus bergembira karena TUHAN dan akibatnya, IA akan memberikan kepada kita apa yang diinginkan hati kita. Jangan mencomot ayat ini, lalu mengklaim bahwa orang Kristen harus kaya, sukses, dan Tuhan pasti mengabulkan permintaan kita karena kita adalah anak-anak Raja. Itu tafsiran ngawur. Perhatikan ayat 3 dan 5 yang menjelaskan ayat 4, di mana ayat 3 menjelaskan bahwa kita harus percaya kepada Tuhan dan melakukan yang baik, dan ayat 5 menjelaskan bahwa di dalam kepercayaan kita kepada-Nya, kita harus menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Janji Tuhan untuk memberkati kita harus didahului dengan perintah-Nya untuk tetap setia dan percaya kepada-Nya. Ketika kita menjalankan perintah-Nya dengan sungguh-sungguh, maka Ia akan (bukan pasti) memberikan kepada kita apa yang diinginkan hati kita, tetapi tetap berdasarkan kedaulatan-Nya. Kata “yang diinginkan hati kita” jangan diartikan keinginan kita yang menggebu-gebu, tetapi harus diartikan sebagai suatu keinginan hati yang mencintai Tuhan karena orang ini telah menyerahkan hidupnya dan percaya total kepada Tuhan, sehingga Ia akan mengabulkan permohonannya.

Ketiga, perhatikanlah Amsal 3:5 yang mengajar dengan tegas, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.” Dari ayat ini, kita belajar satu hal bahwa iman adalah hal mendasar di dalam keKristenan. Kita hidup ini pun hanya melalui iman kepada anugerah Allah yang mencipta, menyelamatkan, menebus dan menyucikan kita terus-menerus. Amsal 3:5 menjadi fondasi dasar hidup Kristen yaitu hidup percaya kepada Tuhan dengan segenap (seluruh) hati kita dan jangan bersandar pada pengertian kita sendiri (atau mengandalkan kehebatan atau kepintaran atau apa yang kita anggap baik). Menurut Amsal 3:5-7, ada 3 ciri orang yang percaya kepada Tuhan, yaitu : pertama, tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri. Orang yang percaya kepada Tuhan pasti mengakui bahwa dirinya sendiri itu berdosa dan tidak bisa dijadikan standart kebenaran sejati, oleh karena itu ia pasti mendasarkan dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah (theology from above) dan percaya kepada-Nya 100% mutlak. Ciri kedua yang Amsal ajarkan yaitu mengakui Dia dalam segala laku kita (Amsal 3:6). Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi tidak mau menempatkan Tuhan di tempat yang pertama di dalam hidupnya adalah orang yang tidak layak disebut orang yang percaya kepada Tuhan. Orang yang percaya kepada Tuhan seharusnya tahu siapa saya dan siapa Tuhan serta menempatkan Tuhan di posisi pertama bahkan melebihi pribadinya sendiri (seperti yang Paulus katakan bahwa hidupnya bukannya dia lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam dirinya). Ciri ketiga yang Amsal ajarkan yaitu takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sungguh aneh, jika ada orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak takut akan Tuhan apalagi yang masih dekat dengan kejahatan. Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan sesungguhnya ketika berhadapan dengan Tuhan Allah yang Mahakudus, dia menjadi takut kepada-Nya (=dalam arti menghormati dan sujud menyembah), karena dia tahu siapa manusia dan siapa Allah itu, serta ia dengan sendirinya membenci kejahatan dan jijik melihat dosa. Orang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi masih berkata, bertindak, berpikir kotor apalagi menghujat dan memaki-maki Tuhan serta menyalahkan-Nya kalau dirinya ada masalah, maka orang ini tidak layak disebut orang yang percaya kepada Tuhan meskipun mulutnya menyanyikan bahwa dia percaya kepada Tuhan bahkan mengasihi Tuhan. Inilah yang disebut atheis praktis. Orang seperti ini tidak mau dikatakan orang yang tidak beragama (atheis), tetapi dalam sikap hidupnya, cara pikirnya, cara bicaranya, cara kerjanya, orang ini jelas layak disebut tidak beragama (atheis).

Kata pisteuo bisa diikuti kata epi juga terdapat pada Kisah Para Rasul 9:42. Kisah Para Rasul 9:36-43 merupakan kisah Petrus yang membangkitkan Tabita (Dorkas) dari kematian. Setelah Tabita hidup, berita ini tersiar ke seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan (Kis. 9:42 ; gnwston <1110> {KNOWN} de <1161> {AND} egeneto <1096> (5633) {IT BECAME} kay <2596> {THROUGHOUT} olhv <3650> {WHOLE} thv <3588> {THE} iopphv <2445> {OF JOPPA,} kai <2532> {AND} polloi <4183> {MANY} episteusan <4100> (5656) {BELIEVED} epi <1909> {ON} ton <3588> {THE} kurion <2962> {LORD.} ). Setelah orang-orang menyaksikan sendiri apa yang sudah Tuhan Yesus Kristus kerjakan melalui perantaraan Petrus, maka mereka mengalaskan iman mereka “di atas” Dia. Kata pisteuo yang diikuti kata epi juga terdapat pada Roma 4:24, “Kita percaya kepada Dia yang telah membangkitkan Yesus Tuhan kita dari antara orang mati.” (alla <235> {BUT} kai <2532> {ALSO} di <1223> {ON ACCOUNT OF} hmav <2248> {US,} oiv <3739> {TO WHOM} mellei <3195> (5719) {IT IS ABOUT} logizesyai <3049> (5745) {TO BE RECKONED,} toiv <3588> {TO THOSE THAT} pisteuousin <4100> (5723) {BELIEVE} epi <1909> {ON} ton <3588> {HIM WHO} egeiranta <1453> (5660) {RAISED} ihsoun <2424> {JESUS} ton <3588> {OUR} kurion <2962> {LORD} hmwn <2257> {FROM} ek <1537> {AMONG [THE]} nekrwn <3498> {DEAD,}) Juga, Yohanes 3:16 berkata, “Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (outwv <3779> gar <1063> {FOR SO} hgaphsen <25> (5656) o <3588> {LOVED} yeov <2316> {GOD} ton <3588> {THE} kosmon <2889> {WORLD} wste <5620> ton <3588> {THAT} uion <5207> autou <846> {HIS SON} ton <3588> {THE} monogenh <3439> {ONLY BEGOTTEN} edwken <1325> (5656) {HE GAVE,} ina <2443> {THAT} pav <3956> {EVERYONE} o <3588> {WHO} pisteuwn <4100> (5723) {BELIEVES} eiv <1519> {ON} auton <846> mh <3361> {HIM} apolhtai <622> (5643) {MAY NOT PERISH,} all <235> {BUT} ech <2192> (5725) {MAY HAVE} zwhn <2222> {LIFE} aiwnion <166> {ETERNAL.}) Iman adalah satu-satunya jalan, yang melaluinya manusia beroleh keselamatan.

Kata pisteuo kerap kali juga diikuti dengan kata bahwa (Yunani : oti), yang menandakan bahwa obyek iman adalah realita-realita tertentu. Hal ini penting, seperti Tuhan Yesus jelaskan kepada orang Yahudi, “Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Aku-lah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” (Yohanes 8:24 ; eipon <2036> (5627) {I SAID} oun <3767> {THEREFORE} umin <5213> {TO YOU} oti <3754> {THAT} apoyaneisye <599> (5695) {YE WILL DIE} en <1722> taiv <3588> {IN} amartiaiv <266> umwn <5216> {YOUR SINS;} ean <1437> gar <1063> mh <3361> {FOR IF} pisteushte <4100> (5661) {YE BELIEVE NOT} oti <3754> {THAT} egw <1473> {I} eimi <1510> (5748) {AM [HE],} apoyaneisye <599> (5695) {YE WILL DIE} en <1722> taiv <3588> {IN} amartiaiv <266> {SINS} umwn <5216> {YOUR.}). Konteks ini sedang berbicara asal mula Tuhan Yesus yang bukan dari dunia ini. Yohanes 8:24 mengulang ayat 21 dan ayat 24 merupakan penjelasan (lihat kata penghubung “Karena itu tadi” atau therefore/oleh karena itu {Yunani : oun}) dari ayat 23 yang mengatakan, “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas ; kamu berasal dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Kata “percaya bahwa” di sini hendak menunjukkan bahwa orang harus percaya kepada obyek iman sejati yaitu Tuhan Yesus Kristus yang diutus oleh Allah Bapa. Yakobus juga mengatakan bahwa setan-setan pun percaya hanya ada satu Allah, namun “iman” ini tidak menguntungkan mereka (Yakobus 2:19 ; su <4771> {THOU} pisteueiv <4100> (5719) {BELIEVEST} oti <3754> o <3588> {THAT} yeov <2316> {GOD} eiv <1520> {ONE} estin <2076> (5748) {IS.} kalwv <2573> {WELL} poieiv <4160> (5719) {THOU DOEST;} kai <2532> {EVEN} ta <3588> {THE} daimonia <1140> {DEMONS} pisteuousin <4100> (5719) {BELIEVE,} kai <2532> {AND} frissousin <5425> (5719) {SHUDDER.}). Pisteuo bisa diikuti keadaan ketiga (dativum), jika maksudnya adalah mempercayai atau menerima sebagai hal yang benar apa yang dikatakan seorang. Maka Tuhan Yesus mengingatkan orang Yahudi bahwa, “Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya.” (Matius 21:32 ; hlyen <2064> (5627) gar <1063> {FOR CAME} prov <4314> {TO} umav <5209> {YOU} iwannhv <2491> {JOHN} en <1722> {IN [THE]} odw <3598> {WAY} dikaiosunhv <1343> {OF RIGHTEOUSNESS,} kai <2532> ouk <3756> {AND} episteusate <4100> (5656) {YE DID NOT BELIEVE} autw <846> oi <3588> {HIM,} de <1161> {BUT THE} telwnai <5057> {TAX GATHERERS} kai <2532> {AND} ai <3588> {THE} pornai <4204> {HARLOTS} episteusan <4100> (5656) {BELIEVED} autw <846> {HIM;} umeiv <5210> de <1161> {BUT YE} idontev <1492> (5631) ou <3756> {HAVING SEEN} metemelhyhte <3338> (5675) {DID NOT REPENT} usteron <5305> tou <3588> {AFTERWARDS} pisteusai <4100> (5658) {TO BELIEVE} autw <846> {HIM.}). Di sini kata “percaya” tidaklah mengandung arti “mengandalkan diri” kepada Yohanes : orang Yahudi tidak percaya apa yang dikatakannya.

Hal ini juga terdapat pada Yohanes 8:45 di mana Tuhan Yesus mengatakan, “Kamu tidak percaya kepada-Ku” (egw <1473> {I} de <1161> {AND} oti <3754> {BECAUSE} thn <3588> {THE} alhyeian <225> {TRUTH} legw <3004> (5719) {SPEAK,} ou <3756> {NOT} pisteuete <4100> (5719) {YE DO BELIEVE} moi <3427> {ME.})atau ayat berikutnya (Yohanes 8:46), “Aku mengatakan kebenaran, mengapa kamu tidak percaya kepada-Ku ?” (tiv <5101> {WHICH} ex <1537> {OF} umwn <5216> {YOU} elegcei <1651> (5719) {CONVINCES} me <3165> {ME} peri <4012> {CONCERNING} amartiav <266> ei <1487> {SIN?} de <1161> {BUT IF} alhyeian <225> {TRUTH} legw <3004> (5719) {I SPEAK,} diati <1302> {WHY} umeiv <5210> ou <3756> {YE} pisteuete <4100> (5719) {DO NOT BELIEVE} moi <3427> {ME?}). Konteks ini berada di mana Tuhan Yesus berkata sedang berkata tentang keturunan Abraham yang tidak berasal dari Allah. Ketika Tuhan Yesus mulai menyinggung “bapamu” (ayat 38), orang Israel langsung mengatakan, “Bapa kami ialah Abraham.” (ayat 39). Lalu, Tuhan Yesus menantang mereka di mana kalau mereka mengaku anak-anak Abraham, mereka pasti melakukan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi sebaliknya (perhatikan kata “Tetapi yang kamu kerjakan...”), mereka malahan ingin membunuh Tuhan Yesus yang datang dari Allah (ayat 40). Kemudian, orang-orang Yahudi juga tidak mau kalah mengatakan bahwa bapa mereka adalah satu yaitu Allah (ayat 41). Setelah itu, Tuhan Yesus menyambung mereka dengan mengatakan bahwa kalau Allah adalah Bapa mereka, maka mereka pasti mendengarkan-Nya (Kristus) karena IA keluar dan datang dari Allah yang mengutus-Nya (ayat 42). Mulai ayat 43, Tuhan Yesus langsung mengadakan separasi/pemisahan dan alasan mengapa mereka tidak mengerti perkataan-perkataan-Nya. Pada ayat 44, Tuhan Yesus langsung membongkar total kebobrokan orang-orang Yahudi selama ini, yaitu yang menjadi bapa mereka yaitu iblis, bapa segala dusta, sehingga mereka tidak hidup di dalam kebenaran. Akibatnya, pada ayat 45, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa, karena bapa mereka ialah iblis, maka mereka tidak percaya kepada-Nya. Pada ayat 46, Tuhan Yesus langsung menantang mereka untuk memeriksa apakah IA pernah berbuat dosa. Tantangan-Nya ini mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak mungkin ada dosa di dalamnya. Sehingga, IA langsung mengatakan bahwa ketika IA mengatakan kebenaran, mengapa mereka masih tetap tidak percaya kepada-Nya ? Pada ayat penutup (47), Tuhan Yesus langsung mengajarkan satu prinsip yaitu orang yang berasal dari Allah pasti mendengarkan firman Allah dan IA menuding posisi orang-orang Yahudi yang tidak mau mendengarkan firman Allah karena mereka tidak berasal dari Allah. Dari ayat ini, kita bisa belajar bahwa orang yang berasal dari Allah (sama pengertiannya dengan orang-orang yang sudah dipilih dan ditetapkan oleh Allah Bapa sendiri) pasti mendengarkan firman-Nya. Jadi, tidak ada istilah keselamatan di dalam Tuhan Yesus bisa hilang, karena orang-orang pilihan Allah pasti meresponi panggilan-Nya yaitu mendengarkan firman-Nya. Dan meskipun banyak terdapat orang-orang Kristen (Perjanjian Lama : orang Yahudi/keturunan Abraham), mereka belum tentu termasuk anak-anak Tuhan, jadi, mereka juga belum tentu mendengarkan firman-Nya. Dari konteks ini, kita belajar akan ada hubungan antara status orang-orang yang dibenarkan dan dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan dengan reaksi/respon yang mereka lakukan. Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa kepercayaan mempunyai isi kognitif, karena sebenarnya susunan kalimat ini juga mengacu kepada iman yang menyelamatkan (saving faith), seperti dalam Yohanes 5:24, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal”. (amhn <281> {VERILY} amhn <281> {VERILY} legw <3004> (5719) {I SAY} umin <5213> {TO YOU,} oti <3754> {THAT} o <3588> ton <3588> {HE THAT} logon <3056> mou <3450> {MY WORD} akouwn <191> (5723) {HEARS,} kai <2532> {AND} pisteuwn <4100> (5723) {BELIEVES} tw <3588> {HIM WHO} pemqanti <3992> (5660) {SENT} me <3165> {ME,} ecei <2192> (5719) {HAS} zwhn <2222> {LIFE} aiwnion <166> {ETERNAL,} kai <2532> {AND} eiv <1519> {INTO} krisin <2920> {JUDGMENT} ouk <3756> {NOT} ercetai <2064> (5736) {COMES,} alla <235> {BUT} metabebhken <3327> (5758) {HAS PASSED} ek <1537> tou <3588> {OUT OF} yanatou <2288> {DEATH} eiv <1519> thn <3588> {INTO} zwhn <2222> {LIFE.}). Konteks ini (Yohanes 5:19-47), Tuhan Yesus sedang berbicara mengenai siapa Dia sebenarnya. Yohanes 5:19-23, Tuhan Yesus mengajar terlebih dahulu bahwa IA datang dan diutus oleh Allah Bapa, IA melakukan apa yang Bapa lakukan dan Bapa menyerahkan segala penghakiman kepada-Nya, supaya semua orang menghormati Anak (Kristus). Pernyataan terakhir pada ayat 23 berbunyi, “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.” menandakan bahwa barangsiapa yang menolak bahkan menghina Tuhan Yesus, mereka pun pada dasarnya juga menolak dan menghina Allah Bapa. Jadi, jangan mengira semua orang yang beragama mencari Allah, karena pada dasarnya melalui agama, mereka melarikan diri dari hadirat Allah. Logisnya, jika manusia ingin benar-benar “mencari” Allah melalui “agama”, maka ketika Kristus datang dan menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Kebenaran Sejati, maka mereka pasti datang dan kembali kepada-Nya. Tetapi sayang sekali, manusia lebih suka tidak datang kepada Kristus, tetapi datang kepada ilah-ilah palsu yang mereka puja-puji sebagai “Allah” yang mati ! Ini pun merupakan suatu pengajaran kepada kita bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa datang kepada Kristus, jika mereka tidak ditarik oleh Allah Bapa (Yohanes 6:39;10:29). Ayat 23 dilanjutkan dengan ayat 24 yang mengajar, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” Orang-orang yang ditarik oleh Allah Bapa itu akhirnya bisa mendengar perkataan-Nya (Kristus) dan percaya kepada Allah, dan akibatnya, status orang-orang yang ditarik/dipilih oleh Allah Bapa itu berubah dari status anak-anak kegelapan menjadi anak-anak terang, sehingga mereka mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum. Di sinilah maksud “percaya kepada-Ku” yang memiliki arti “iman yang menyelamatkan” (saving faith). Orang yang sungguh percaya kepada Allah, tentu akan bertindak selaras dengan iman itu. Dengan kata lain, kepercayaan yang sungguh bahwa apa yang dinyatakan Allah memang benar, akan nampak dalam iman yang benar pula.

Susunan tata bahasa khas untuk iman yang menyelamatkan, adalah kata kerja pisteuo diikuti kata eis yang artinya : percaya ke dalam. Maksudnya adalah iman yang mengeluarkan seseorang dari dirinya sendiri, dan menaruh dirinya di dalam Kristus (bandingkan ungkapan yang sering dipakai Paulus mengenai orang Kristen yaitu “di dalam Kristus”). Pengalaman ini dapat juga disebut “kesatuan dengan Kristus melalui iman”. Maksudnya bukan iman dalam arti persetujuan intelektualis, tetapi iman yang melaluinya orang percaya berpaut pada Juru Selamatnya dengan segenap hatinya. Orang percaya dalam pengertian ini tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam dia (Yohanes 15:4 ; meinate <3306> (5657) {ABIDE} en <1722> {IN} emoi <1698> {ME,} kagw <2504> {AND I} en <1722> {IN} umin <5213> {YOU.} kaywv <2531> {AS} to <3588> {THE} klhma <2814> ou <3756> {BRANCH} dunatai <1410> (5736) {IS NOT ABLE} karpon <2590> {FRUIT} ferein <5342> (5721) {TO BEAR} af <575> {OF} eautou <1438> ean <1437> {ITSELF} mh <3361> {UNLESS} meinh <3306> (5661) {IT ABIDE} en <1722> {IN} th <3588> {THE} ampelw <288> {VINE,} outwv <3779> {SO} oude <3761> {NEITHER [CAN]} umeiv <5210> ean <1437> {YE} mh <3361> {UNLESS} en <1722> {IN} emoi <1698> {ME} meinhte <3306> (5661) {YE ABIDE.}). Iman tidak berarti menerima hal-hal tertentu sebagai benar, tetapi menyerahkan diri (mengandalkan diri) kepada suatu diri, yaitu diri Tuhan Yesus Kristus.

Yang sangat khas dalam Perjanjian Baru adalah pemakaian mutlak kata kerja pisteuo itu. Sewaktu Tuhan Yesus berada di daerah samaria, banyak orang “menjadi percaya” karena perkataan-Nya (Yohanes 4:41 ; kai <2532> {AND} pollw <4183> pleiouv <4119> {MANY MORE} episteusan <4100> (5656) {BELIEVED} dia <1223> ton <3588> {BECAUSE OF} logon <3056> autou <846> {HIS WORD;}). Tidak perlu ada tambahan pada apa yang mereka percayai, atau kepada siapa mereka percaya. Iman begitu khas dalam keKristenan, sehingga orang Kristen dapat disebut “orang percaya”. Pemakaian ini luas di seluruh Perjanjian Baru dan tidak terbatas hanya pada seorang penulis saja. Kita dapat menyimpulkan bahwa iman merupakan dasar keKristenan.

Hal waktu dari kata kerja pisteuo mengandung acuan waktu :

V aorist yang mengacu kepada tindakan yang terjadi pada waktu lalu. Dan bila dipakai demikian akan menandakan sifat yang menentukan dari iman. Jika seseorang menjadi percaya ia menyerahkan dirinya secara menentukan kepada Kristus.

V Present yang mengandung gagasan “berjalan terus” atau berulang-ulang. Ini menandakan bahwa iman bukanlah sesuatu yang berlalu, tetapi berlangsung terus-menerus.

V perfect yang mengandung kedua gagasan di atas dan membicarakan tentang tindakan masa kini yang merupakan kesinambungan tindakan pada waktu lalu. Tentang iman, ini menandakan bahwa orang yang menjadi percaya memasuki suatu keadaan yang menetap.

Tepatlah, apa yang dikatakan oleh hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya From Faith to Faith (Dari Iman Kepada Iman) bahwa iman pertama kali (aorist) adalah anugerah Allah yang diterima oleh manusia secara pasif akan membawa kepada iman yang berkelanjutan (iman secara aktif).

Perlu juga diperhatikan bahwa kata benda pistis kadang-kadang diperlengkapi dengan kata sandang, maksudnya, keseluruhan batang tubuh ajaran Kristen, seperti waktu Paulus menghimbau orang Kolose, “hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu.” (Kolose 2:7 ; errizwmenoi <4492> (5772) {HAVING BEEN ROOTED} kai <2532> {AND} epoikodomoumenoi <2026> (5746) {BEING BUILT UP} en <1722> {IN} autw <846> {HIM,} kai <2532> {AND} bebaioumenoi <950> (5746) {BEING CONFIRMED} en <1722> {IN} th <3588> {THE} pistei <4102> {FAITH,} kaywv <2531> {EVEN AS} edidacyhte <1321> (5681) {YE WERE TAUGHT,} perisseuontev <4052> (5723) {ABOUNDING} en <1722> {IN} auth <846> {IT} en <1722> {WITH} eucaristia <2169> {THANKSGIVING.}).

Konteks Markus 9:14-29 merupakan suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus mengusir roh dari seorang anak yang bisu. Pada ayat 17-18 dikisahkan bahwa ada seorang anak yang bisu yang kerasukan roh dan roh itu terus membantingnya ke tanah. Mulut anak itu berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Orang yang membawa anaknya ini ternyata sudah membawanya kepada murid-murid-Nya, tetapi mereka tidak dapat. Pada ayat 19, sekali lagi Tuhan Yesus menegur kebimbangan dan keraguan mereka yang tidak percaya. Pada ayat 20, si iblis ketika melihat Tuhan Yesus segera menggoncang-goncangkan dan anak ini terpelanting ke tanah dan terguling-guling dan mulutnya berbusa. Pada ayat 21-22a dapat diketahui bahwa roh ini sudah mengganggu anak ini sejak masa kecilnya. Perkataan si ayah pada ayat 22b perlu kita selidiki, karena si ayah mengatakan, “Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” (all <235> {BUT} ei <1487> {IF} ti <5100> {ANYTHING} dunasai <1410> (5736) {THOU ART ABLE [TO DO],} bohyhson <997> (5657) {HELP} hmin <2254> {US,} splagcnisyeiv <4697> (5679) {BEING MOVED WITH PITY} ef <1909> {ON} hmav <2248> {US.}). Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa si ayah ini masih meragukan Tuhan Yesus. Mungkin menurutnya, Tuhan Yesus kira-kira bisa melakukannya. Hal ini yang Tuhan Yesus tidak suka, karena orang ini mulai meragukan siapa diri Tuhan Yesus sebenarnya. Pada ayat 23, Tuhan Yesus langsung bertanya balik, “Jawab Yesus : ‘Katamu : jika Engkau dapat ? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya !’ (o <3588> de <1161> {AND} ihsouv <2424> {JESUS} eipen <2036> (5627) {SAID} autw <846> to <3588> {TO HIM,} ei <1487> {IF} dunasai <1410> (5736) {THOU ART ABLE} pisteusai <4100> (5658) {TO BELIEVE,} panta <3956> {ALL THINGS} dunata <1415> {ARE POSSIBLE} tw <3588> {TO HIM THAT} pisteuonti <4100> (5723) {BELIEVES.}). Kata pisteuonti (=percaya) di sini bisa diartikan mempercayakan sesuatu hal kepada seorang. Dalam konteks ini jelas sekali, bahwa Tuhan Yesus ingin menegur si ayah bahwa si ayah seharusnya mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya (Kristus) bahwa Kristus dapat dan mampu melakukan segala sesuatu (termasuk mengusir roh jahat dari anaknya). Perkataan “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” jangan sembarangan ditafsirkan, lalu mengatakan bahwa orang percaya bisa melakukan apa saja yang Kristus lakukan, jadi, klaim dan tuntutlah (name it and claim it), maka Tuhan pasti (?) mengabulkannya dan menyembuhkan penyakitmu. Perkataan “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” mengajarkan kepada setiap orang yang mengaku diri percaya bahwa kita harus mempercayakan segala sesuatu hanya kepada Kristus yang mampu melakukan segala sesuatu sesuai kehendak dan rencana-Nya saja, bukan atas paksaan dan tuntutan dari manusia ! Atau dengan kata lain, Tuhan Yesus memang bisa (mampu) menyembuhkan penyakit dan mengusir setan, tetapi yang menjadi masalahnya, Tuhan Yesus belum tentu mau melakukannya. Ketika Tuhan Yesus tidak mau menyembuhkan penyakit atau tidak mau mengusir setan karena ada alasan yang Dia miliki sendiri, pertanyaannya : siapa yang berani memaksa-Nya agar Ia melakukannya ? Jadi, perkataan “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” hendak menunjukkan iman/percaya kepada Kristus merupakan fondasi utama yang melaluinya manusia diselamatkan, dan mengenai akibat dari iman itu (entah itu apakah penyakitnya disembuhkan atau masalahnya diselesaikan atau yang kerasukan setan diusir, dll) biarlah Tuhan yang menentukan hasilnya. Pada ayat 24, unik sekali, setelah mendengar pengajaran Tuhan Yesus, si ayah langsung berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini !” (kai <2532> {AND} euyewv <2112> {IMMEDIATELY} kraxav <2896> (5660) {CRYING OUT} o <3588> {THE} pathr <3962> {FATHER} tou <3588> {OF THE} paidiou <3813> {LITTLE CHILD} meta <3326> {WITH} dakruwn <1144> {TEARS} elegen <3004> (5707) {SAID,} pisteuw <4100> (5719) {I BELIEVE,} kurie <2962> {LORD,} bohyei <997> (5720) mou <3450> th <3588> {HELP} apistia <570> {MINE UNBELIEF.}). Bahasa Yunani menambahkan kata “Tuhan” (kurie) setelah kata I believe (aku percaya) hendak menunjukkan bahwa si ayah ini berteriak percaya kepada Tuhan Yesus. Si ayah akhirnya sadar bahwa ia harus mempercayakan masalahnya kepada Tuhan Yesus, tetapi ia pun juga sadar bahwa dirinya masih kurang beriman, sehingga ia pun berteriak minta tolong agar Tuhan menolongnya untuk percaya. Ada dua keadaan/kondisi iman yang hendak dijelaskan. Pertama, si ayah memang beriman kepada Tuhan Yesus dan kedua, si ayah masih harus memperbaharui terus-menerus imannya agar imannya benar-benar diserahkan hanya kepada Tuhan Yesus. Kondisi pertama, menandakan bahwa iman datang karena Allah memberikannya kepada umat pilihan Allah (sola gratia) dan kondisi kedua menandakan bahwa iman itu perlu pemurnian dan pendewasaan terus-menerus, sehingga janganlah kita merasa sombong bahwa kita telah memiliki iman, karena iman sejati adalah iman yang berjalan terus-menerus mengikuti pimpinan Roh Kudus melalui firman-Nya (progressive faith). Sebagai hasil dari iman si ayah dan atas kehendak-Nya, Tuhan Yesus mengusir roh jahat itu dan roh itu keluar (ayat 25-26). Pada ayat 28, para murid-Nya bertanya mengapa mereka tidak dapat mengusir roh jahat itu. Dan pada ayat 29, Tuhan Yesus langsung mengajar satu prinsip yaitu jenis (setan) ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa. Di sini, Tuhan Yesus ingin mengaitkan hubungan iman dan doa. Memang benar, orang Kristen harus memiliki iman karena iman merupakan fondasi utama yang melaluinya manusia diselamatkan, tetapi iman jangan dipisahkan dengan doa, karena doa adalah suatu hubungan pribadi kita dengan Allah. Doa merupakan nafas hidup orang percaya. Percuma saja kita memiliki iman, tetapi kita lupa untuk merendahkan diri kita di hadapan-Nya melalui doa. Melalui iman, kita semakin sadar bahwa kita tidak layak menerima anugerah-Nya ini, sehingga kita lalu sadar siapa diri kita dan akhirnya kita pun merendahkan diri kita di hadapan-Nya melalui doa. Ingatlah, hanya melalui anugerah Allah saja, kita memiliki iman dan iman itu bertumbuh terus-menerus melalui karya Roh Kudus.

Konteks Matius 17:14-21 merupakan suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan. Orang yang membawa anak ini sudah datang kepada para murid-Nya, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya (ayat 16). Pada ayat 17, Tuhan Yesus menegur para murid-Nya dan menyebut mereka sebagai angkatan yang tidak percaya dan yang sesat (bandingkan Ulangan 32:5 ; Matius 11:6). Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 terbitan Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF halaman 92, Tuhan Yesus menjadi kecewa karena ketidaksanggupan mereka melakukan apa yang patut dilakukan ketika Ia tidak bersama mereka, sebab secara badani Ia tidak akan bersama mereka lagi untuk waktu yang lama, sesudah itu mereka harus belajar bergantung kepada-Nya secara rohani. Dengan kata lain, Tuhan Yesus menegur mereka yang masih manja dan bergantung kepada-Nya terus secara jasmani, seharusnya mereka bergantung kepada-Nya secara rohani. Pada ayat 18, Tuhan Yesus mengusir roh jahat dan setan itu keluar lalu anak ini sembuh seketika itu juga. Pada ayat 19, para murid-Nya bertanya mengapa mereka tidak dapat mengusir setan ini. Kemudian, pada ayat 20, sekali lagi, Tuhan Yesus berbicara tentang pentingnya iman (o <3588> de <1161> {AND} ihsouv <2424> {JESUS} eipen <2036> (5627) {SAID} autoiv <846> {TO THEM,} dia <1223> thn <3588> {BECAUSE OF} apistian <570> {UNBELIEF} umwn <5216> {YOUR.} amhn <281> gar <1063> {FOR VERILY} legw <3004> (5719) {I SAY} umin <5213> {TO YOU,} ean <1437> {IF} echte <2192> (5725) {YE HAVE} pistin <4102> {FAITH} wv <5613> {AS} kokkon <2848> {A GRAIN} sinapewv <4615> {OF MUSTARD,} ereite <2046> (5692) tw <3588> {YE SHALL SAY} orei <3735> {MOUNTAIN} toutw <5129> {TO THIS,} metabhyi <3327> (5628) {REMOVE} enteuyen <1782> {HENCE} ekei <1563> {THITHER,} kai <2532> {AND} metabhsetai <3327> (5695) {IT SHALL REMOVE;} kai <2532> {AND} ouden <3762> {NOTHING} adunathsei <101> (5692) {SHALL BE IMPOSSIBLE} umin <5213> {TO YOU.}). Kata “percaya” pada ayat ini diterjemahkan dengan kata pistin yang artinya percaya bahwa Allah itu ada, Kristus adalah Mesias. Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 halaman 92, pada ayat 19-20, cerita Matius yang lebih pendek lebih jelas memperlihatkan kekurangna iman murid-murid daripada cerita Markus dan yang menarik perhatian bahwa Rasul Matius termasuk murid yang dimarahi Tuhan Yesus, tetapi Petrus yang adalah sumber dari Injil Markus tidak termasuk. Kata “Gunung ini” harus diartikan secara kiasan mengenai suatu penghalang yang nampaknya tidak dapat disingkirkan (bandingkan 21:21-22). Jadi, artinya, iman sejati (yaitu kepercayaan bahwa Allah itu ada dan Kristus adalah Mesias) dapat mengatasi segala masalah (bukan menghilangkan segala masalah). Iman menuntut kita untuk berfokus bukan pada masalah tetapi kepada Allah, Sang Sumber Hidup. Jika iman kita difokuskan pada Allah, maka kita dapat melewati dan menghadapi segala masalah dengan tegar dan berani karena kita percaya bahwa Allah itu ada dan menyertai kita dalam menghadapi masalah itu. Itulah iman yang Tuhan inginkan.

Konteks Lukas 17:1-6, Dokter Lukas sedang melukiskan suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus sedang memberikan nasehat kepada para murid-Nya. Ada 2 perikop pembahasan yang kelihatannya tidak berkaitan yaitu ayat 1-4 (mengenai penyesatan dan dosa) dan ayat 5-6 (mengenai iman). Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 halaman 226, berbagai-bagai ajaran kepada murid-murid Yesus dikumpulkan di sini (bandingkan Matius 18:6 dab, 15, 21 dab ; Markus 9:42). Sekalipun Tuhan Yesus mengetahui bahwa “batu-batu sandungan” (TB : penyesatan) tidak dapat terelakkan di dunia ini, namun IA memperingatkan dengan keras terhadap bahaya yang menjadi penyebab kuat orang lain untuk berdosa. Adalah lebih baik orang yang menyesatkan itu bahwa ia mati tenggelam di laut daripada mengalami nasib yang dicadangkan bagi para penyesat. Karena itu biarlah setiap orang menjaga dirinya dalam hal ini. Sebaliknya, murid-murid itu haruslah menolong setiap saudara yang sudah jatuh ke dalam dosa dengan memperingatkannya mengenai apa yang telah dilakukannya dan dengan bersedia untuk memberi ampun, tidak peduli berapa kali ini mungkin perlu (ayat 3-4). Mulai ayat 5, Lukas seolah-olah mengganti topik pembahasan mengenai iman (perhatikan kata penghubung, “Lalu”). Rasul-rasul-Nya berkata, “Tambahkanlah iman kami !” (kai <2532> {AND} eipon <2036> (5627) {SAID} oi <3588> {THE} apostoloi <652> {APOSTLES} tw <3588> {TO THE} kuriw <2962> {LORD,} prosyev <4369> (5628) {GIVE MORE} hmin <2254> {TO US} pistin <4102> {FAITH.}). Ini berarti, para murid-Nya sadar bahwa iman sejati hanya didapat melalui anugerah Allah saja, sehingga mereka memintanya juga kepada Allah (yaitu kepada Tuhan Yesus) agar Ia menambahkan imannya. Kata “menambah” atau give more berarti iman itu bukan hanya iman yang pasif yang tunggal atau tidak bertumbuh, tetapi iman itu harus berbuah dan aktif mengerjakan apa yang Tuhan inginkan. Pada ayat 6, menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, Tuhan Yesus memuji keinginan akan iman yang perlu untuk memungkinkan murid-murid menaati perintah-Nya ; malah “sejumlah” kecil iman pun dapat melakukan mujizat-mujizat besar. Di dalam konteks ini, jelas sekali, ada hubungan erat antara iman dengan perintah Allah. Dengan kata lain, Tuhan Yesus ingin mengajar bahwa iman sejati adalah mengerjakan apa yang Allah inginkan dan perintahkan untuk dikerjakan (dalam hal ini, termasuk iman mengalahkan dan menghadapi segala masalah dengan berani dan tegar serta percaya bahwa Allah beserta kita/Immanuel).

Konteks Yohanes 3:1-21 sedang berbicara mengenai percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi yang merupakan anggota Sanhedrin. Pada ayat 2, Nikodemus datang malam-malam untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Ia menyapa-Nya sebagai guru yang diutus Allah. Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, tidak semua guru Yahudi dapat memperlihatkan bukti tentang penugasan ilahi, karena wibawa mereka diperoleh dari tradisi Sekolah-Sekolah Yahudi. Nikodemus mengenali meterai Allah pada Yesus melalui corak dari tanda-tanda. Tanda-tanda inilah sesungguhnya yang menandakan kesejatian-Nya. Nikodemus mungkin saja ketakutan jika dilihat oleh orang Farisi lain, sehingga ia mendatangi Tuhan Yesus malam-malam. Yang uniknya, Nikodemus sudah tahu ada meterai Allah pada tanda-tanda Tuhan Yesus, tetapi ia tetap memanggil-Nya sebagai guru yang diutus Allah. Ini menunjukkan ia belum mengenal Kristus secara benar (ia hanya mengenal dari luarnya saja)dalam hal ini saya kurang setuju dengan Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, karena pada ayat-ayat berikutnya menunjukkan Nikodemus belum mengenal Kristus secara tuntas. Oleh karena itu, pada ayat 3, Tuhan Yesus langsung menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (apekriyh <611> (5662) o <3588> {ANSWERED} ihsouv <2424> {JESUS} kai <2532> {AND} eipen <2036> (5627) {SAID} autw <846> {TO HIM,} amhn <281> {VERILY} amhn <281> {VERILY} legw <3004> (5719) {I SAY} soi <4671> ean <1437> {TO THEE,} mh <3361> {UNLESS} tiv <5100> {ANYONE} gennhyh <1080> (5686) {BE BORN} anwyen <509> ou <3756> {ANEW,} dunatai <1410> (5736) {HE CANNOT} idein <1492> (5629) {SEE} thn <3588> {THE} basileian <932> tou <3588> {KINGDOM} yeou <2316> {OF GOD.}). Kata “dilahirkan kembali” dalam bahasa Yunani berarti dilahirkan (menjadi) baru. Nikodemus belum dapat mengenal Kristus dengan benar karena ia belum dilahirkan kembali. Ini adalah kali pertama, Tuhan Yesus berbicara tentang kelahiran kembali (born again) sebagai syarat awal seseorang bisa melihat Kerajaan Allah dan mengenal Allah. Jadi, tepat sekali apa yang theologia Reformed ajarkan yaitu bahwa kelahiran baru mendahului pertobatan ! Tanpa kelahiran kembali, mustahil orang berdosa bisa menyesali dosanya, bertobat dan percaya kepada Kristus. Tetapi yang aneh, pada ayat 4, Nikodemus mengerti konsep kelahiran kembali dari sudut pandang hurufiah, lahiriah dan biologis. Sebagai seorang pemimpin Yahudi, Nikodemus pasti bukan tidak tahu sama sekali mengenai gagasan kelahiran ulang (kembali) secara rohani. Entah apa maksudnya ia membuat ucapan Tuhan Yesus nampak tidak masuk akal ? Mungkin ia benar-benar bingung, karena perubahan orang yang telah mencapai usia kematangan dan telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan tertentu yang tidak dapat dibayangkan melalui cara-cara yang wajar. Satu-satunya yang dapat terpikir oleh Nikodemus adalah permulaan yang sama sekali baru, yang memang merupakan kemustahilan. Untuk menjawab keragu-raguan Nikodemus, pada ayat 5, Tuhan Yesus menspesifikkan kelahiran kembali dengan dua macam pembagian sumber kelahiran kembali yaitu dari air dan dari Roh sebagai syarat awal agar dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 halaman 267, mengenai “dilahirkan dari air” ada dua tafsiran (pendapat/pandangan) berbeda. Pandangan pertama mengatakan bahwa dilahirkan dari air itu sama artinya dengan baptisan. Sedangkan, pandangan kedua mengidentikkan dilahirkan dari air itu sebagai kelahiran alamiah. Jika pandangan dilahirkan dari air itu sebagai kelahiran alamiah itu benar, maka dapat dikatakan suatu balasan yang logis pada pertanyaan Nikodemus, tetapi tidak ada satu ayat lainnya yang menunjang hubungan ini. Jadi, pandangan pertama lebih tepat dengan hubungan yang dekat dengan air baptisan dengan Roh baptisan dalam ayat-ayat lain (bandingkan 1:33 ; Matius 3:11). Dari pembagian sumber kelahiran kembali ini, hal yang penting yang Tuhan Yesus tekankan justru bukan pada baptisan air, tetapi pada kelahiran dari Roh (atau baptisan Roh)lihat ayat 6-8. Pada ayat 6, Tuhan Yesus membedakan dua macam orang yaitu pertama, orang yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan kedua, orang yang dilahirkan dari Roh adalah roh (bandingkan dengan Galatia 5:16-26). Orang macam pertama yang berasal dari daging pasti melakukan hal-hal yang bersifat daging (bandingkan dengan Galatia 5:19-21), sehingga orang ini tidak mungkin mengerti rencana dan kehendak Allah (bandingkan dengan ayat 12). Sedangkan, orang macam kedua dilahirkan dari Roh pasti mengerti hal-hal rohani dan kehendak Allah. Ia menunjukkan kedua macam orang ini berasal dari sumber yang melahirkan mereka. Mulai ayat 7, Tuhan Yesus mulai mengganti pola perlunya kelahiran kembali (ayat 6) menjadi suatu keharusan/sesuatu yang wajib dan tidak ada pemilihan. Untuk menjelaskan hal ini, pada ayat 8, Tuhan Yesus menggunakan ilustrasi, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Melalui ilustrasi ini, menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 halaman 267, Ia ingin menjelaskan tentang mukjizat kelahiran baru yang Roh Kudus kerjakan tidak dapat diatur oleh kecerdikan manusia, tetapi tetap dapat dilihat. Menjawab pertanyaan Nikodemus yang bingung dengan perkataan-Nya (ayat 9), Ia langsung menyebut kedudukan Nikodemus yang sebagai Pengajar Israel (bahasa Yunani menggunakan kata sandang yang artinya kelompok), yang seharusnya mengerti tetapi ia gagal mengertinya (ayat 10). Pada ayat 11, menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, sering dalam Injil Yohanes, kesalahpahaman menjurus kepada penjelasan-penjelasan selanjutnya. “Kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui” menunjukkan Tuhan Yesus membedakan diri-Nya dari pengajar-pengajar rabiah yang kurang berwibawa. Pada ayat 12, menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, kata “hal-hal duniawi” harus dihubungkan dengan pernyataan terdahulu, yang meliputi kebenaran-kebenaran rohani, seperti kelahiran baru, sedangkan kata “hal-hal sorgawi” adalah kebenaran-kebenaran yang tidak dapat sepenuhnya dinyatakan di dunia ini. Melalui ayat 13, Tuhan Yesus sedang menjelaskan tentang inkarnasi dan keprawujudan-Nya yang menggarisbawahi kewibawaan Sorgawi-Nya. Untuk menjelaskan pekerjaan duniawi dari Anak Manusia, pada ayat 14, Tuhan Yesus mengutip Perjanjian Lama mengenai Musa dan ular tedung (Bilangan 21:8,9) di mana peninggian ini jelas mengacu kepada salib. Pada ayat 15, Ia hendak menunjukkan bahwa Ia (Anak Manusia) harus ditinggikan dan hal ini merupakan suatu kebutuhan yang wajib dan dengan tujuan ini Ia telah datang. Oleh karena itu, pembanding ini mengarah kepada iman yang sejati kepada-Nya. Dengan maksud inilah Injil Yohanes diutarakan yaitu memberitakan hidup kekal kepada orang yang percaya melalui Injil. Pada ayat 16, Ia ingin mengulang penjelasan bahwa kasih Allah itu begitu besar kepada dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (outwv <3779> gar <1063> {FOR SO} hgaphsen <25> (5656) o <3588> {LOVED} yeov <2316> {GOD} ton <3588> {THE} kosmon <2889> {WORLD} wste <5620> ton <3588> {THAT} uion <5207> autou <846> {HIS SON} ton <3588> {THE} monogenh <3439> {ONLY BEGOTTEN} edwken <1325> (5656) {HE GAVE,} ina <2443> {THAT} pav <3956> {EVERYONE} o <3588> {WHO} pisteuwn <4100> (5723) {BELIEVES} eiv <1519> {ON} auton <846> mh <3361> {HIM} apolhtai <622> (5643) {MAY NOT PERISH,} all <235> {BUT} ech <2192> (5725) {MAY HAVE} zwhn <2222> {LIFE} aiwnion <166> {ETERNAL.}). Dari ayat ini, kita belajar bahwa memang benar Allah mengasihi dunia ini, tetapi hanya orang yang percaya yang beroleh hidup yang kekal. Jika dispesifikkan lagi, siapakah orang percaya itu ? Banyak orang sembarangan menafsirkan orang percaya sebagai orang yang mau (dengan sendirinya) meresponi anugerah Allah. Hal ini sangat ditolak oleh theologia Reformed. Lalu, siapakah orang percaya itu ? Kalau kita kembali lagi melihat konteks ini (khususnya ayat 3), maka dapat disimpulkan bahwa orang percaya adalah orang yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus melahirbarukan orang berdosa, mustahil orang berdosa bisa percaya ! Kalau orang bisa percaya kepada Kristus, itu hanya karena kasih karunia-Nya saja yang diberikan kepada Allah hanya kepada umat pilihan-Nya sebelum dunia dijadikan. Jadi, iman/percaya itu pun juga merupakan anugerah Allah, sehingga kita tidak bisa bangga atau menyombongkan diri. Jika iman bukan anugerah Allah, sangat mungkin sekali, orang yang meresponi anugerah Allah akan menghina orang yang tidak mau meresponi anugerah Allah ini, akibatnya sangat fatal tentunya. Pada ayat 17, Ia mendeklarasikan bahwa misi-Nya datang ke dunia (inkarnasi) adalah untuk menyelamatkan manusia yang berdosa bukan untuk menghukum. Oleh karena itu, sebagai konsekuensi dan resikonya, pada ayat 18, Tuhan Yesus langsung membagi dua macam orang yaitu :

F Orang yang percaya akan beresiko tidak dihukum.

F Orang yang tidak percaya akan beresiko di bawah hukuman.

Kedua macam orang ini diukur dari tanggung jawab yang telah mereka perbuat apakah mereka telah percaya atau tidak percaya kepada Kristus dan mereka masing-masing harus menerima resiko baik buruknya. Sasarannya adalah Anak Tunggal Allah yaitu Kristus. Perhatikan terjemahan Yunaninya : o <3588> {HE THAT} pisteuwn <4100> (5723) {BELIEVES} eiv <1519> {ON} auton <846> ou <3756> {HIM} krinetai <2919> (5743) o <3588> {IS NOT JUDGED;} de <1161> mh <3361> {BUT HE THAT} pisteuwn <4100> (5723) {BELIEVES NOT} hdh <2235> {ALREADY} kekritai <2919> (5769) {HAS BEEN JUDGED,} oti <3754> mh <3361> {BECAUSE} pepisteuken <4100> (5758) {HE HAS NOT BELIEVED} eiv <1519> {ON} to <3588> {THE} onoma <3686> {NAME} tou <3588> {OF THE} monogenouv <3439> {ONLY BEGOTTEN} uiou <5207> tou <3588> {SON} yeou <2316> {OF GOD.}. Untuk orang yang tidak percaya, Alkitab terjemahan Yunani menjelaskan resikonya bahwa mereka telah dihukum (menggunakan present perfect tense yang berarti sudah/telah). Ini berarti orang ini telah ditentukan Tuhan untuk binasa karena dosa-dosa mereka sendiri. Menurut Tafsiran Alkitab Masa Kini-3, ajaran khas Yohanes adalah hal kekekalan ditentukan kini dan di sini. Iman tidak melulu menjamin hidup yang kekal pada suatu masa depan yang tidak diterangkan, tapi juga memberi hidup yang kekal sekarang ini. Pada ayat 19, Ia menjelaskan lebih dalam tentang orang yang tidak percaya sebagai orang yang lebih menyukai kegelapan dan pada ayat 20, orang ini pun membenci terang karena takut perbuatan-perbuatan jahatnya akan nampak. Sebaliknya, pada ayat 21, Ia menjelaskan bahwa orang yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus pasti melakukan yang benar dan datang kepada terang. Jadi, menurut Yohanes 3, iman berkaitan dengan panggilan Allah melalui kelahiran baru oleh Roh Kudus yang direalisasikan dengan datang kepada terang (percaya kepada Kristus) dan melakukan apa yang Dia perintahkan.

Menurut Ensiklopedia Alkitab Masa Kini-1, bagi Paulus, iman adalah sikap khas Kristen. Tidak seperti Yohanes, Paulus memakai kata benda pistis lebih dua kali lipat dari kata kerja pisteuo. Kata pistis dikaitkan dengan beberapa gagasannya utama. Seperti, dalam kitab Roma 1:16, ia berkata, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (ou <3756> {FOR} gar <1063> {I AM} epaiscunomai <1870> (5736) {NOT ASHAMED OF} to <3588> {THE} euaggelion <2098> {GLAD TIDINGS} tou <3588> {OF THE} cristou <5547> {CHRIST:} dunamiv <1411> {POWER} gar <1063> {FOR} yeou <2316> {OF GOD} estin <2076> (5748) {IT IS} eiv <1519> {UNTO} swthrian <4991> {SALVATION} panti <3956> {TO EVERY ONE} tw <3588> {THAT} pisteuonti <4100> (5723) {BELIEVES,} ioudaiw <2453> {BOTH TO} te <5037> {JEW} prwton <4412> {FIRST} kai <2532> {AND} ellhni <1672> {TO GREEK:}). Bagi Paulus, agama Kristen lebih dari sekedar pola nasehat yang baik dan Injil bukan hanya sekedar mengatakan kepada manusia apa yang wajib mereka lakukan, tetapi Injil itu sendiri memberikan kekuatan kepada mereka untuk melakukannya. Beberapa kali Paulus mempertentangkan kata-kata belaka dengan kekuatan, umumnya guna menekankan bahwa kekuatan Roh Kudus harus diperlihatkan dalam hidup orang Kristen dan kekuatan ini dapat berperan dalam hidup seseorang hanya jika ia percaya. Tidak ada yang bisa mengganti iman. Perlu diperhatikan bahwa tema besar dari Surat Roma adalah iman dalam Kristus adalah satu-satunya tumpuan manusia untuk diterima oleh Allah (Handbook to the Bible halaman 654. Bandung : Yayasan Kalam Hidup). Sekedar informasi, Handbook to the Bible memberitahukan bahwa masyarakat Kristen di Roma terdiri dari campuran bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain, tetapi tidak ada perselisihan yang serius di antara kedua golongan tersebut. Kota Roma sendiri merupakan kota yang kaya dan kosmopolitan serta merupakan pusat diplomatik dan perdagangan dunia yang dikenal orang waktu itu. Kekaisaran Romawi dalam keadaan damai dan makmur (Pax Romana) menjamin keamanan perjalanan orang-orang yang pulang pergi ke situ (Roma). Pada kitab Roma 1:8-15, setelah menyampaikan salamnya, Paulus langsung berkeinginan untuk pergi ke Roma untuk memberitakan Injil karena dirinya merasa berhutang kepada orang Yunani maupun orang-orang bukan Yunani, orang-orang terpelajar maupun orang-orang yang tidak terpelajar (ayat 14). Dan pada ayat 15, ia menyampaikan tujuannya ke Roma yaitu untuk memberitakan Injil. Apa alasan Paulus untuk memberitakan Injil ke Roma ? Kita kembali lagi ke ayat 14, karena Paulus merasa berhutang kepada mereka. Tetapi, apa yang menyebabkan Paulus rela berkorban demi Injil yang ia beritakan ? Pada ayat 16, ia menjelaskan alasannya (perhatikan kata “Sebab”) yaitu karena dia memiliki keyakinan yang kokoh akan Injil (terjemahan/arti Yunani : I am not ashamed of The Glad Tidings {Yunani : euaggelion} of The Christ). Dari terjemahan/arti Yunani ini, kita bisa lebih jelas bahwa Paulus bukan hanya sekedar memiliki keyakinan yang kokoh dalam Injil, melainkan ia sendiri tidak malu akan Injil Kristus. Mengapa dia bisa tidak malu akan Injil Kristus ? Perkataan selanjutnya menjelaskan, “karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Di sini, Paulus langsung membedakan dua macam orang (berdasarkan ras) yaitu orang Yahudi dan orang Yunani, yang kedua-duanya berada di Roma (lihat konteks waktu itu). Jadi, Injil itu sendiri kekuatan Allah yang menyelamatkan orang-orang pilihan Allah yang tidak memandang ras/bangsa. Di sini, Paulus tidak mengatakan bahwa Injil menyelamatkan semua orang, tetapi ia mengatakan bahwa Injil menyelamatkan setiap orang yang percaya (meskipun tanpa memandang status/ras/bangsa/suku). Dari konteks ini, iman menurut Paulus berkaitan erat dengan Injil. Hanya orang-orang yang telah dipilih oleh Allah terlebih dahulu baru dapat meresponi Injil lalu percaya.

Jadi, dari penyelidikan kita mengenai definisi iman di atas, jelaslah bahwa iman yang sejati pasti membuahkan hasil yaitu perbuatan-perbuatan yang memuliakan Allah dan bukan memuliakan pribadi (diri).

Yakobus 2:14-16

Ayat 14, “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan ? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia ?” (Yunani : Ti to ofeloV, άdelfoί mou eάn pίstin lέgh tiV ecein erga de mή ech mή dunatai ή pίstiV swsai autón = Apakah gunanya, hai saudara-saudaraku, jikalau iman berkata ada orang (bahwa ia) mempunyai perbuatan-perbuatan tetapi tidak mempunyai ? {Dapatkah} (itu) iman menyelamatkan dia ?”). Terjemahan bebas, “Percuma saja ada orang Kristen yang berkata bahwa ia memiliki iman yang menyelamatkan, tetapi tidak memiliki perbuatan-perbuatan yang membuktikan iman itu, karena iman semacam itu tidak dapat menyelamatkannya.” Yakobus membuka perikop ini dengan langsung mengajar dua hal antara iman dan perbuatan-perbuatan/pekerjaan-pekerjaan (New American Standard Bible/NASB : works). Iman tidak bisa menyelamatkan jika tanpa disertai perbuatan, tetapi tidak berarti keselamatan karena perbuatan. Untuk menegaskan hal ini, Yakobus menggunakan bentuk pertanyaan retoris yang menghendaki jawaban “tidak”. Kata ‘padahal’ (NASB : but) menandakan suatu kontras/pertentangan di mana jika seorang berkata bahwa dirinya punya iman tetapi iman itu tidak dilakukan maka iman itu tidak menyelamatkannya. Pernyataan, “Dapatkah iman itu menyelamatkan dia ?” harus dikaitkan dengan pernyataan sebelumnya (Yakobus 2:1-13) dan konteks penulisan Surat Yakobus yaitu kepada orang-orang yang sudah Kristen (bukan orang-orang secara umum) (lihat Yakobus 1:1 dan penggunaan kata “saudara-saudaraku yang seiman”/brethren di dalam ayat 14) ! Yakobus dengan jeli melihat kurang berharganya sebuah iman Kristen jika orang Kristen yang mengaku memiliki iman yang baik, tetapi mendiskriminasi seseorang dari sudut ekonomi dan sosial saja (lihat Yakobus 2:1-4). Untuk menegur orang Kristen semacam ini, pada pasal 2 ayat 5-7, Yakobus menjelaskan konsep paradoks di dalam keKristenan dan konsep di mana Tuhan justru memakai orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia (lihat ayat 5). Orang yang mengaku diri Kristen bahkan beriman jika masih tidak mengerti konsep ini, bagi Yakobus, itu suatu kesia-siaan dan bahkan iman seperti itu tidak menyelamatkan. Pernyataan pada ayat 14 ini pun bisa merupakan kesimpulan dari pengajaran Yakobus pada pasal 2 ayat 8-13 yang menjelaskan mereka yang mengaku beriman baik hanya mau menjalankan beberapa dari hukum dan mengabaikan yang lain (ayat 10-11). Kalau situasi seperti yang tercantum dalam pasal 2 ayat 1-13 terjadi, maka kemungkinan besar orang Kristen akan diragukan oleh orang-orang non-Kristen sebagai orang yang beriman sejati karena mereka melihat sikap dan perbuatan orang Kristen sama sekali tidak menampakkan buah dari iman sejati itu melalui perbuatan-perbuatan mereka. Oleh karena itu, Yakobus pada akhir ayat ini mengajukan kembali pertanyaan retoris tentang iman yang tidak berbuah di dalam perbuatan apakah mungkin dapat menyelamatkan orang Kristen yang memiliki iman tersebut.

Ayat 15, Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,” (Yunani : ean de adelfoÏ‚ h adelfh uparcwsin kai leipómenoi thÏ‚ efhmerou trofhÏ‚ = Jika seorang saudara (seiman) atau seorang saudari (seiman) yang kekurangan pakaian adalah dan berkekurangan sehari-hari makanan”). Terjemahan bebas, “Jika seorang saudara atau saudari Kristen yang kekurangan pakaian dan makanan sehari-hari,” Selain menggunakan contoh iman yang tidak berbuah dalam perbuatan pada pasal 2 ayat 1-4, di mana banyak orang Kristen yang beriman baik tetapi mendiskriminasi orang Kristen lainnya, kembali, Yakobus ingin memberikan contoh kasus mengenai seorang saudara/i Kristen (seiman) yang kekurangan pakaian dan makanan sehari-hari. Di sini jelas, kasus ini tidak pernah terjadi di lingkungan tempat orang-orang Kristen yang dikirimi surat oleh Yakobus, karena itu Yakobus menggunakan sebuah pengandaian “Jika”. Hal ini untuk menjelaskan ayat 14 mengenai pentingnya buah dari iman itu terealisasi dalam perbuatan sehari-hari dengan suatu contoh pengandaian. Pada ayat ini juga, Yakobus ingin memberi contoh konkrit kepada siapakah orang-orang Kristen/anak-anak Tuhan seharusnya pertama kali memberi bantuan. Yakobus tidak mengatakan bahwa anak-anak Tuhan boleh membantu semua orang (termasuk melalui lembaga-lembaga non-Kristen seperti yang PGI sering lakukan), tetapi Yakobus menspesifikkan bahwa anak-anak Tuhan/orang-orang Kristen pertama kali harus membantu sesama anak Tuhan/orang Kristen. Ini tidak berarti orang-orang yang non-Kristen tidak perlu dibantu, tetapi itu merupakan hal kedua setelah kita membantu saudara-saudara seiman kita. Kembali, kita harus melihat surat Yakobus bukan merupakan surat umum untuk dibacakan di suatu daerah, tetapi ditujukan hanya kepada orang-orang Kristen yang pada saat itu mengalami penderitaan (perhatikan nasehat dan penghiburan Yakobus khususnya dalam Yak. 1:2-4, 12-15 ; 5:7-11). Nah, melalui ayat 15, Yakobus ingin menyajikan suatu contoh pengandaian tentang beberapa orang Kristen yang benar-benar menderita.

Ayat 16, “dan seorang dari antara kamu berkata : ‘Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang !’, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu ?” (Yunani : eiph de tiÏ‚ autoiÏ‚ ex umwn upagete en eirήnh, qermainesqe cortazesqe mh dvte de autoiÏ‚ ta epithdeia tou swmatoÏ‚, ti to ofeloÏ‚ = berkata lalu ada seorang kepada mereka dari kamu, Pergilah dengan damai sejahtera, jadilah hangat dan jadilah kenyang, tidak kamu memberi tetapi kepada mereka (apa-apa) yang diperlukan tubuh, apakah guna(nya) ?”). Terjemahan bebas, “Percuma saja kalau kamu mengatakan diri orang yang beriman kepada Kristus jika kamu tidak menolong semampumu saudara-saudara seimanmu (yang terlantar) sambil mendidik mereka.” Setelah Yakobus memberikan contoh pengandaian pada ayat 15, ia menjelaskan sebuah reaksi ironi dari salah seorang dari orang Kristen yang mengaku diri beriman baik, tetapi malahan membiarkan saudara seimannya (atau mungkin orang-orang non-Kristen) mengalami penderitaan, bahkan berani mengatakan “damai sejahtera” kepada mereka yang menderita. Dari contoh pengandaian yang ia paparkan dalam ayat 15 mengenai orang-orang yang sedang kekurangan pakaian dan makanan sehari-hari, Yakobus memberikan kemungkinan jawaban yaitu dengan munculnya, “jadilah hangat” (untuk orang-orang yang kekurangan pakaian) dan “jadilah kenyang” (untuk orang-orang yang kekurangan makanan){bahasa Yunani}. Sebelum muncul kedua pernyataan ini, Yakobus menambahkan kata “Pergilah dengan damai sejahtera,” (bahasa Yunani) atau “Selamat jalan,” (LAI) untuk menunjukkan sikap orang Kristen yang sama sekali tidak membuktikan dirinya beriman baik, karena telah mengusir orang-orang/saudara-saudara seiman yang sedang menderita. Bukan hanya itu saja, Yakobus kembali menambahkan suatu tindakan lain selain mengusir mereka, yaitu tidak satu pun memberikan sesuatu yang perlu bagi tubuhnya. Dengan teliti, Yakobus mengajarkan orang Kristen untuk tidak membantu secara membabibuta bahkan kalau perlu sampai menghambur-hamburkan uang Tuhan yang dipakai di dalam gereja hanya untuk membantu orang-orang miskin. Yakobus tidak mengatakan, “tetapi ia tidak memberikan memberikan kepadanya apa yang perlu bagi hidupnya, tetapi ia mengatakan, “tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuh (swmatoò)nya”. Yakobus mengajarkan bahwa orang-orang Kristen hanya perlu membantu sesama saudara seiman (gereja, lembaga penginjilan, para misionari, dll) dan nantinya, orang-orang non-Kristen, semampu mereka yang ingin membantu tetapi tidak memanjakan mereka sehingga mereka yang menderita terus-menerus mengemis dan meminta bantuan kepada kita. Pdt. Dr. Stephen Tong dalam khotbahnya mengenai Orang Kristen dan Harta memberikan contoh bahaya memanjakan orang-orang miskin untuk terus-menerus dibantu, di mana pengemis-pengemis di India setelah dibantu oleh IMF, beberapa tahun kemudian, pengemis-pengemis tersebut semakin bertambah 10 kali lipat. Beliau (Pdt. Stephen Tong) juga mengisahkan cerita pribadinya di mana karena kasihan melihat orang miskin, beliau pada suatu saat memanggil orang tersebut lalu mengajaknya ke rumah beliau untuk diberikan pakaian yang bagus dan disuruh mandi. Setelah itu, orang ini disuruh kembali ke lingkungannya. Beberapa tahun kemudian, beliau (Pdt. Stephen Tong) sempat melihat orang yang telah ditolongnya ternyata menanggalkan pakaian barunya dan kembali mengenakan pakaian lamanya untuk menarik orang-orang lain agar kasihan dengannya. Dari kasus yang Pdt. Stephen Tong paparkan, begitu licik jiwa manusia yang sudah tahu hidupnya susah, ditambah natur berdosa, masih saja berbuat dosa menipu orang. Jika Yakobus menghubungkan belas kasihan dengan hal-hal sosial, maka Tuhan Yesus menghubungkan belas kasihan dengan jiwa-jiwa manusia yang tersesat (Matius 9:35-38, khususnya ayat 36). Dari kedua hal yang kelihatannya “seolah-olah” bertentangan (tetapi sebenarnya tidak), orang Kristen pun seharusnya menyeimbangkan kedua hal ini yaitu belas kasihan yang pertama-tama berhubungan dengan adanya spirit mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat akibat dosa dan belas kasihan yang berhubungan dengan hal-hal sosial seperti membantu korban bencana alam, dll. Ketika orang Kristen tidak menyeimbangkan kedua hal ini, maka akan terjadi ketimpangan seperti yang dilakukan oleh banyak gereja-gereja Protestan mainline dan mayoritas “hamba-hamba Tuhan” dari gereja-gereja tersebut (seperti contoh alm. “Pdt.” Victor Immanuel Tanja, Ph.D. dari GPIB, “Pdt.” Dr. Ioanes Rachmat, M.Th. dari GKI, dll) yang menekankan aspek belas kasihan pada sisi membantu korban bencana alam, dll. Bahkan dalam salah satu artikelnya di internet, saya pernah membaca pengakuan dari “Pdt.” Dr. Ioanes Rachmat, M.Th. yang setelah membabibuta mengkritik Gerakan Reformed Injili mengatakan bahwa dirinya dalah seorang humanis. Jelas sekali, bahwa ketimpangan yang terjadi mengakibatkan seorang “hamba Tuhan” yang berjubah dan bertoha “pendeta” ternyata adalah seorang humanis. Oleh karena itu, dengan kaitan antara belas kasihan yang Tuhan Yesus dan Yakobus ajarkan, kita dididik untuk bersikap seimbang khususnya dalam hal penginjilan, di mana kita harus tetap memberitakan Injil secara perkataan (verbal) dan tidak melalaikan penginjilan melalui perbuatan hidup kita sehari-hari. Kita memang tidak boleh hanya memberitakan Injil secara perkataan, tetapi perbuatan kita tidak karuan, itu yang Yakobus katakan sebagai iman yang percuma (sia-sia). Sebagai penutup pada ayat ini, Yakobus kembali memberikan suatu pertanyaan retoris, “apakah gunanya ?” untuk menegur orang-orang Kristen yang mengaku diri beriman tetapi tidak mempunyai perbuatan.

Pendahuluan

Eksposisi Surat Yakobus 2:14-26 [1]

oleh: Denny Teguh Sutandio

Latar Belakang Surat Yakobus :

Surat Yakobus adalah surat pertama dari sejumlah surat yang ditujukan secara umum kepada orang Kristen (Yakobus 1:1), bukan kepada suatu jemaat tertentu, atau parahnya bukan kepada semua orang (termasuk orang non-Kristen) yang sering disalahtafsirkan oleh gereja-gereja Katolik Roma atau banyak gereja-gereja Protestan mainline (yang sudah mulai liberal) yang menjunjung tinggi social gospel ! Surat ini berisi petunjuk yang sangat praktis mengenai kehidupan Kristiani. Kebebasan Kristiani dapat berbahaya bagi mereka yang tadinya dibelenggu oleh berbagai aturan yang keras tentang perilaku. Jika keselamatan adalah hadiah cuma-cuma dari Allah, untuk apa mempersoalkan bagaimana kita menjalani hidup ini ? Dalam benak Yakobus tidak ada keraguan sama sekali bahwa persoalan ini sungguh sangat penting. Dari perilaku seseorang dapat dilihat apakah benar ia mempunyai iman yang sungguh. Iman yang murni dalam Kristus selalu meluap dan tampak dalam seluruh kehidupan kita. Iman itu akan mempengaruhi sikap dasar kita terhadap diri kita sendiri, terhadap orang lain dan terhadap kehidupan ini pada umumnya. Tidak boleh tidak ada ketidakcocokan antara iman dan perbuatan. Yakobus mengingatkan kita tentang perlunya ukuran-ukuran dan nilai-nilai Kristiani yang murni dalam segala segi kehidupan. Orang Kristen mula-mula membutuhkan Surat Yakobus, demikian pula kita sekarang ini. (Sumber : Handbook to the Bible terbitan Yayasan Kalam Hidup, Bandung).

Orang yang paling mungkin menjadi penulis surat ini adalah Yakobus, saudara Tuhan Yesus. Sebelum Tuhan Yesus bangkit, Yakobus sama sekali bukan seorang yang percaya dengan kesukaan (Yohanes 7:3-5). Ia menjadi Kristen setelah melihat Tuhan Yesus bangkit (1 Korintus 15:7), kemudian ia menjadi seorang pemimpin jemaat di Yerusalem (Kisah Para Rasul 12:7 ; 15:13 ; 21:18 ; Galatia 1:19), meskipun ia bukan murid (Kisah Para Rasul 10:41). Surat ini memang ditulis pada awal keKristenan, tetapi tanggalnya yang pasti tidak diketahui. Ada orang yang menyebutkan bahwa surat ini ditulis pada tahun 50. Pentarikhan ini dibenarkan oleh karena :

Ø Kejatuhan Yerusalem tahun 70 tidak dikemukakan.

Ø Keadaan sosial (tuan-tuan tanah) tidak terdapat sesudah Yerusalem jatuh.

Ø Perselisihan Yahudi dengan non-Yahudi tidak disebut.

Ø Luapan pengharapan tentang kedatangan kembali Tuhan Yesus belum berkembang.

Ø Tidak perlu adanya dugaan bahwa Yakobus membaca kitab-kitab Injil atau surat-surat Paulus dan tata gereja dalam bentuknya semula.

Pendapat yang mengatakan waktu surat ini adalah pada akhir abad pertama atau abad kedua mungkin dipengaruhi oleh pandangan tentang penulis.

Surat ini dikirimkan kepada orang Kristen, termasuk orang Kristen Yahudi. Hal ini dibuktikan dengan penulisan, “kepada keduabelas suku di perantauan” yang terdapat pada Yakobus 1:1. Menurut Handbook to the Bible, ungkapan ini untuk orang-orang Yahudi yang berada di luar Tanah Perjanjian, dan di sini melambangkan segenap umat Allah. (Sumber : Handbook to the Bible terbitan Yayasan Kalam Hidup, Bandung dan buku Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 terbitan Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta).

Yakobus 1:1 : lazimnya surat dimulai dengan menyebut nama pengirim, penerima, dan disertai salam (bandingkan Kis. 15:23-29 ; 23:26-30), Yakobus tidak panjang lebar mengutarakan permulaan suratnya, seperti kadang-kadang dilakukan oleh Paulus (bandingkan Roma 1:1-7), tapi ia menyatakan dirinya Kristen. Yakobus berhak bersuara terhadap orang Kristen, yang kepadanya ia merasa bertanggungjawab selaku gembala. Demikian pula berbicara sebagai Yahudi terhadap Yahudi.

Hamba asal usulnya berarti budak belian (Yunani : doulos). Kata ini mengandung arti : tidak mempunyai hak, mutlak bergantung kepada tuannya, ketaatan yang mutlak. Istilah ini menyatakan dengan tepat bagaimana seharusnya hubungan orang Kristen terhadap Allah, meskipun sikap seperti budak belian belaka tidak tercakup (bandingkan Yohanes 15:14 dab). Dalam agama Yahudi istilah hamba Allah lazim dipakai oleh orang yang melayani Allah dengan tugas khusus. Dalam hal ini Yakobus menempatkan diri antara nenek moyang Israel dan nabi-nabi. Bila seorang Yahudi sedang berdoa, maka di hadapan Allah ia menyapa dirinya dengan kata hamba. Sebab itu kata ini adalah istilah agamawi. Yakobus menggabungkan kedudukannya selaku pemimpin dan kesalehannya.

Kedua belas suku... rupanya ditujukan untuk orang Yahudi yang terserak di seluruh dunia. Istilah ini dipakai untuk bangsa yang hidup pada waktu itu dalam Kis. 26:7, meskipun tidak sesuai dengan zamannya. Tapi isi Surat Yakobus sama sekali tidak terbatas pada orang Yahudi. Persekutuan Kristen ialah bangsa Israel baru yang menjadi milik Allah, dan sebab itu istilah “kedua belas suku” yang menyatakan bangsa Israel lama dapat pula dipakai untuk mereka. Bandingkan Kis. 15:16 dab. Dalam hal ini orang Kristen hidup “terserak” jauh dari kampung halamannya, tidak lain selaku pengunjung yang tidak menetap (bandingkan 1 Petrus 1:1 ; 2:11). Mungkin Yakobus melihat gambaran dalam Kis. 8:4 ; 11:19. Sebab itu cocok benar dalam jalan pikiran yang diutarakan oleh Yakobus sehingga ia tidak menyatakan dirinya sebagai saudara Tuhan Yesus melainkan hamba-Nya, yang melayani “keseluruhan bangsa Israel” (J. H. Ropes, ICC), yaitu kedua belas suku dari gereja yang percaya (bandingkan 1 Petrus 2:9 dab).

Sumber : Tafsiran Alkitab Masa Kini-3 terbitan Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF halaman 776.



[1] Makalah ini merupakan Tugas Akhir Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika: Hermeneutika yang diajar oleh Ev. Ir. Baju Widjotomo à hamba Tuhan yang sedang menyelesaikan skripsi program gelar M.A. in theology di Sekolah Tinggi Theologia Injili Abdi Allah, Pacet)