02 December 2007

Martir Kristus-5 : DIBEBASKAN BAHAA EL-AKKAD DI MESIR

Martir Kristus-5



DIBEBASKAN BAHAA EL-AKKAD DI MESIR


Suatu kejutan, pihak yang berwenang Mesir pada tanggal 28 April membebaskan Bahaa El-Akkad seorang percaya berlatar belakang “Agama Lain”, yang telah dipenjarakan tanpa tuduhan di bawah undang-undang darurat selama kurang lebih dua tahun. Menurut Compass Direct, beberapa jam sebelum pembebasannya, para petugas dari Departemen Investigasi Keamanan Negara telah mengatakan kepada El-Akkad bahwa ia akan tetap dipenjara untuk 20 tahun lagi jika ia tidak mau kembali ke “Agama Lain”.

Menurut pengacaranya, El-Akkad menjawab mereka dengan tenang, katanya, “Allah telah membawa aku ke tempat ini, dan Ia sendiri yang akan membebaskan aku pulang ke rumahku. Kalian tidak dapat melakukan apapun untuk menentang Allah.”

Bahaa el-Din Ahmet Hussein El-Akkad, sekarang berumur 58 tahun, ditahan pada tanggal 6 April 2005 setelah polisi rahasia Mesir mengetahui ia telah berpindah keyakinan ke Kristen. Yang dulunya seorang Muslim yang taat, El-Akkad akhirnya berhasil mengirim sebuah catatan keluar dari penjara, menyatakan bahwa ia telah ‘memilih iman Kristen’ setelah bertahun-tahun meneliti Islam.

Walaupun ia tidak pernah diberitahu undang-undang apa yang telah ia langgar, petugas yang menginterogasi tetap menahan El-Akkad karena ‘menghina “Agama Lain”’ dengan menjadi Kristen.

“Ketika aku di penjara, keluargaku memberitahu aku bahwa ribuan orang sedang berdoa untuk aku,” kata El-Akkad kepada pengacaranya setelah ia dibebaskan. “Aku yakin itu benar, karena Yesus selalu bersamaku menjalani penderitaanku.”

Ia menemukan ratusan surat dan kartu yang sudah menantinya ketika ia pulang ke rumah, surat-surat yang dikirimkan lebih dari beberapa bulan yang lalu oleh orang-orang Kristen seluruh dunia.



Sumber :
Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

29 November 2007

Roma 4:6-8 : DIBENARKAN MELALUI IMAN-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-2


Dibenarkan Melalui Iman-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:6-8.


Setelah Paulus memaparkan tentang Abraham yang dibenarkan melalui iman, ia menjelaskan bahwa theologia ini berasal dari Perjanjian Lama.

Pada ayat 6, Paulus mengatakan, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” Terjemahan King James Version lebih tepat mengartikan, “Even as David also describeth the blessedness of the man, unto whom God imputeth righteousness without works,” (=“Seperti juga Daud yang disebut orang yang diberkati, yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran tanpa perbuatan,”) Kata “berbahagia” sebenarnya berarti diberkati (terjemahan ESV, ISV dan KJV memakai kata blessed). Lalu, kata “orang yang dibenarkan Allah” seharusnya lebih tepat berarti orang yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran. Sungguh suatu sukacita yang besar jika kita sebagai manusia berdosa dapat dibenarkan atau diimputasikan kebenaran oleh Allah tanpa memandang jasa baik kita. Inilah yang disebut Paulus sebagai suatu keadaan yang diberkati (blessed). Kita mendapatkan berkat ini sebagai suatu anugerah/karunia yang tidak bisa dibandingkan keagungannya. Apakah yang Daud paparkan tentang pembenaran oleh Allah ini ?

Di ayat 7-8, Paulus mengutip Mazmur 32:1-2, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Terjemahan KJV mengartikannya, “Saying, Blessed are they whose iniquities are forgiven, and whose sins are covered. Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin.” Kata “pelanggaran” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya anomia yang berarti violation of law (pelanggaran hukum) atau tindakan asusila/kejahatan (iniquity/wickedness). Sedangkan kata “dosa” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya hamartia yang identik dengan dosa/pelanggaran (offense). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat Mazmur 32:1-2, di mana Raja Daud mengajarkan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Terjemahan KJV mengartikannya, “Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the LORD imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile.” Mazmur 32 ditulis oleh Daud ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan berkenaan dengan dosanya yang mengambil istri Uria dan membunuh Uria (2 Samuel 12:1-25). Mazmur ini ditulis sebagai ungkapan syukur sekaligus pengajaran Daud tentang besarnya kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa. Ada dua hal yang mau diajarkan oleh Daud,
Pertama, adanya pengampunan dosa. Kata “pelanggaran” di dalam Mazmur 32:1 ini dalam bahasa Ibraninya pesha‛ berarti revolt (pemberontakan). Lalu, kata “dosa” dalam bahasa Ibraninya chăṭâ'âh bisa berarti offence atau sacrifice for it (pengorbanan baginya). Sesuai konteksnya, Daud yang sedang berdosa dapat disebut “memberontak” terhadap Allah, karena ia lebih menuruti hawa nafsu ketimbang perintah Allah. Pemberontakan itu begitu serius sehingga Tuhan menegurnya melalui nabi Natan. Teguran itu sangat membuahkan hasil dan Daud akhirnya bertobat. Lalu, apakah Tuhan tidak jadi menghukum Daud ? Atas kesalahannya, Daud pasti dihukum, tetapi bukan Daud yang mati, tetapi anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Akhirnya, Daud bersedih hati dengan tetap rela menerima hukuman Tuhan. Meskipun harus bersedih hati atas meninggalnya anak dari Batsyeba itu, Daud tetap melihat dan mengagumi besarnya kasih setia Allah yang rela mengampuni dosanya yang begitu besar (Mazmur 32:5). Meskipun dosa Daud begitu besar yaitu sampai membunuh Uria (padahal dalam Kejadian 9:6, Tuhan akan menghukum mereka yang membunuh dengan mengambil nyawa orang yang membunuh itu sendiri), Allah tetap mengasihinya dengan mengampuni pemberontakannya dan memaafkan atau menutupi dosanya. Allah menutupi dosa jangan dimengerti seperti orang-orang dunia yang sengaja menutupi dosa untuk menonjolkan diri ! Allah adalah Allah yang Mahakudus yang membenci dosa, tetapi Ia tetap mengasihi mereka yang berdosa. Sehingga kata “ditutupi” lebih tepat diartikan dilindungi. Dilindungi atau ditutupi oleh apa ? Sebuah tafsiran yang bagus dari Matthew Henry dalam Matthew Henry’s Concise Commentary (MHCC) mengatakan, “Sin is the cause of our misery; but the true believer's transgressions of the Divine law are all forgiven, being covered with the atonement.” (=Dosa adalah penyebab kesengsaraan ; tetapi semua pelanggaran orang-orang yang percaya terhadap hukum Allah diampuni, dan ditutupi/dilindugi dengan penebusan.) Berarti, dosa umat pilihan-Nya bukan hanya diampuni tetapi ditebus oleh darah Anak Domba Allah di dalam Kristus, sehingga kita mendapatkan pemulihan dari dosa-dosa kita. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita sudah melakukan suatu pemberontakan terhadap perintah Allah, bahkan kita mungkin sempat menghina Allah atau menjual Kristus dengan meninggalkan keKristenan. Mungkin kita melakukannya secara sadar atau tidak tanpa perasaan apapun. Kita mungkin merasa dosa yang kita lakukan begitu besar dan layak untuk dihukum. Tetapi ketahuilah, ada satu berita sukacita bagi kaum pilihan yang percaya, yaitu “...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Pertobatan adalah kunci menuju ke arah pemulihan dosa. Pertobatan ini pun adalah inisiatif anugerah Allah yang menggerakkan umat pilihan-Nya untuk menyesali dosa, meninggalkan dosa dan kembali kepada Kristus dengan percaya di dalam-Nya. Tanpa pertobatan, tak mungkin ada kesadaran pentingnya penebusan dosa. Ketika kita mengaku dosa dan bertobat, di situ kita mulai mengerti bahwa dosa kita yang begitu bejat dan jahat ini masih diampuni oleh Allah yang sudah seharusnya menghukum kita. Oleh karenanya, ketika Tuhan masih mengingatkan kita untuk bertobat, taatilah teguran-Nya dan segera kembali kepada-Nya, karena teguran-Nya itu bukti kasih-Nya yang mau mengampuni kita.
Kedua, dosa kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Pada ayat 2 dalam Mazmur ini, kata “kesalahan” dalam bahasa Ibraninya ‛âvôn berarti dosa (sin) atau perbuatan asusila (iniquity). Dalam terjemahan KJV, kata “kesalahan” memakai kata iniquity, sedangkan dalam kutipan Paulus di Roma 4:8, katanya diganti menjadi sin. Lebih tepatnya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, Keadilan dan Penghakiman (1993) memaparkan kata ‛âvôn berarti suatu hal yang mengakibatkan kita merasa bersalah/berhutang dan ingin menghukum diri. (p. 46) Hal ini mungkin kita alami. Ketika kita sudah merasa bersalah, kita ingin rasanya menghukum diri sebagai wujud “kekesalan” kita. Mungkin sekali, sesuai konteksnya, Daud juga merasa hal serupa, di mana dia menyesal karena dia telah membunuh Uria dan mengambil istri Uria.Kita memperhitungkan kesalahan kita sendiri, tetapi tidak demikian dengan Allah ketika kita mau bertobat. Pertobatan merupakan kunci mengenal kasih Allah. Menurut terjemahan KJV, ayat ini dapat diartikan bahwa adalah sangat diberkati ketika Tuhan tidak mengimputasikan dosa/perasaan bersalah kepada seseorang dan yang tidak berjiwa pengkhianat/penipu. Bukan hanya mengampuni, Allah juga sanggup tidak memperhitungkan lagi kesalahan/dosa yang telah kita perbuat. Di tengah kesusahan, pemazmur berseru, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Dan selanjutnya, “Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Di sini, pemazmur menggambarkan Tuhan bukan hanya mengampuni mereka yang berdosa, tetapi juga memimpin mereka untuk merindukan firman-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Hal serupa diungkapkan oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Menyucikan kita yang berdosa dari segala kejahatan adalah wujud lain dari tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Dengan apa Allah menyucikan kita ? Yaitu dengan Firman dan Roh, di mana Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita serta menundukkannya di bawah Firman Allah, yaitu Alkitab. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen yang sudah menerima penebusan Kristus yaitu berusaha terus-menerus oleh pekerjaan Roh Kudus hidup kudus dan menaati Firman Allah untuk memuliakan-Nya. Ketika kita sudah menunaikan apa yang telah kita kerjakan sesuai kehendak Allah, maka arti dari dibenarkan melalui iman dapat kita mengerti seutuhnya kelak di dalam kekekalan sehingga kita semakin bersyukur atas anugerah-Nya.

Hari ini, tidak ada kabar yang membuat manusia berdosa bersukacita kecuali kabar bahwa dosa mereka diampuni dan mereka dibenarkan oleh Allah dengan cara disucikan dari dosa dengan Firman dan Roh. Adakah kabar itu juga tiba pada diri Anda sekarang dan Anda meresponinya ? Biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Amin. Soli Deo Gloria.


Resensi Buku-32 : HUMANISME DAN GERAKAN ZAMAN BARU (Ir. Herlianto, M.Th.)

...Dapatkan segera...
Buku
HUMANISME DAN GERAKAN ZAMAN BARU

oleh : Ir. Herlianto, M.Th.

Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, 1990.





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio :
Zaman modern adalah zaman yang dikuasai rasionalisme atau rasio sebagai sumber kebenaran, tetapi setelah meletusnya Perang Dunia 1 dan 2, rasionalisme mulai dipertanyakan keabsahannya. Setelah rasionalisme mulai dipertanyakan, manusia bukan kembali kepada Tuhan, tetapi malahan berkiblat ke arah mistisisme dan sesuatu yang berhubungan dengan feeling, sehingga tidak heran di zaman postmodern, muncullah Gerakan Zaman Baru sebagai media untuk memuaskan hawa nafsu manusia di dalam mencari “kebenaran”. Gerakan Zaman Baru di dalam buku ini dilatarbelakangi oleh humanisme dan muncul di dalam berbagai bentuk, misalnya di dalam olahraga (yoga, waitankung, dll), di dalam kepercayaan (kebatinan, Zen-Buddhism, dll), dll. Dan yang lebih parah lagi, gerakan ini merasuki keKristenan dengan ajaran-ajaran, seperti Berpikir Positif dan Visualisasi dari Norman Vincent Peale, Robert H. Schuller, David Yonggi Cho (Visualisasi), dll. Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap fenomena ini ? Di dalam buku ini, Ir. Herlianto, M.Th. mengajak kita untuk peka terhadap kondisi zaman yang dipengaruhi oleh Gerakan Zaman Baru dan selanjutnya, kita sebagai orang Kristen harus kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran, dan BUKAN kepada Gerakan Zaman Baru atau sejenisnya.





Profil Ir. Herlianto, M.Th. :
Ir. Herlianto, M.Th. adalah Pemimpin Umum Yayasan Bina Awam (YABINA), Bandung (situs : http://www.yabina.org) dan dosen dalam bidang Sosiologi dan Aliran Kontemporer di Sekolah Tinggi Theologia Bandung. Beliau adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1968 lalu memperdalam ilmu dalam bidang Pembangunan Perkotaan dan memperoleh diploma International Course on Housing, Planning and Building di Boueweentrum International Education, Rotterdam pada tahun 1979 serta mengikuti Urban Studies Course pada Princeton University di USA pada tahun 1982. Beliau belajar theologia di Institut Injil Indonesia, Batu pada tahun 1972, lalu dilanjutkan ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan pada tahun 1976 memperoleh gelar Bachelor of Theology (Th.B.) Pada tahun 1982, beliau menyelesaikan studi Master of Theology (M.Th.) di Princeton Theological Seminary, USA dengan spesialisasi masalah kemasyarakatan dan perbandingan agama. Beliau dapat dihubungi melalui e-mail : herlianto@yabina.org.

Matius 7:28-29 : THE QUALITY OF A TEACHER

Ringkasan Khotbah : 14 November 2004

The Quality of a Teacher
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 7: 28-29

Minggu lalu kita sudah memahami signifikansi dari frasa yang berbunyi: “Dan, setelah Yesus mengakhiri perkataan ini...“ (Mat. 7:28), dimana frasa ini menunjukkan totalitas pengajaran Kristus dengan demikian orang tidak dapat menambahkan atau mengurangi isi dari pengajaran Kristus. Matius ternyata tidak hanya menggunakan frasa ini untuk kumpulan khotbah Tuhan Yesus di atas bukit (Mat. 5-7) yang dikenal sebagai hukum Kerajaan Sorga, the Law of the Kingdom saja melainkan juga untuk menandai kumpulan khotbah Tuhan Yesus yang lain. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita wajib tunduk pada undang-undang Kerajaan Sorga karena melawan undang-undang berarti kita telah melakukan tindakan subversif yang melawan hukum. Alkitab mencatat setelah orang banyak itu termasuk orang Yahudi mendengar khotbah Tuhan Yesus di atas bukit maka takjublah mereka sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa berbeda dengan ahli-ahli Taurat.
Pengakuan ini bukan hanya terjadi pada saat itu atau pada jaman itu saja. Tidak! Di sepanjang sejarah jaman orang mengakui bahwa memang pengajaran Kristus sangatlah indah dan berbeda dengan semua ajaran yang ada di dunia. Namun, ironisnya orang Yahudi yang termasuk golongan orang pandai di dunia justru menolak pengajaran Tuhan Yesus. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana orang banyak itu dapat menyimpulkan bahwa Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa? Ada tiga aspek yang membuat pengajaran Yesus berkuasa, yaitu:
1. Isi Pengajaran Kristus Berkualitas
Setiap kalimat yang diucapkan Kristus mengandung makna yang sangat mendalam sehingga orang harus berpikir apa arti dari perkataan Kristus tersebut. Itulah sebabnya orang merasa takjub sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah... (Mat. 5:3) seharusnya membuat orang bertanya akan apa arti bahagia? Bukankah bahagia merupakan cita-cita setiap orang namun sampai detik ini orang masih mengejar dan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan kalau kita taat mutlak pada kebenaran sejati yang Kristus beritakan. Sayang, banyak orang yang menolak pengajaran Tuhan Yesus karena berbeda dengan konsep dunia. Berbahagialah, hai kamu yang miskin... tetapi celakalah, hai kamu yang kaya... (Luk 6:20-26). Yang menjadi pertanyaan adalah ajaran siapa yang benar, ajaran Yesus ataukah ajaran dunia? Memang siapakah Yesus sehingga Dia dapat menjamin hidup kita akan bahagia kalau kita menjadi warga Kerajaan Sorga? Lalu apa hubungannya antara miskin dengan menjadi pemilik warga Kerajaan Sorga? Kalau kita betul-betul memikirkan setiap pengajaran Kristus maka pengajaran itu akan membawa kita masuk dalam kebenaran yang paling asasi dalam hidup dan kita harus mau diubahkan dari semua konsep kita yang salah namun kita menganggapnya sebagai kebenaran.
2. Cara Kristus Mengajar Sederhana
Pengajaran Kristus sangatlah berbobot sebab Ia adalah Sang Kebenaran Sejati dan Ia datang untuk mengajarkan kebenaran-Nya pada dunia. Kristus mengajar dengan sangat sederhana, kalimat-kalimat yang Ia lontarkan singkat tapi mengandung makna yang sangat mendalam berbeda dengan ahli Taurat maupun para imam yang membutuhkan berbagai macam atribut luar seperti kekuasaan supaya orang takjub. Pengajaran Kristus yang sederhana ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang diberikan karunia saja karena seringkali pengajaran Kristus bersifat paradoks, paradoxical teaching. Setiap berita yang Kristus sampaikan bukan hanya sekedar informasi belaka. Ajaran Kristus menghadapkan kita pada suatu kebenaran sejati dan menuntut komitmen dari setiap orang yang mendengarnya; apakah orang mau mengikut atau menolak, mau taat atau melawan. Hal inilah yang membuat orang merasa takjub dan mengakui sungguh bahwa Yesus itulah kebenaran sejati dan di kolong langit ini tidak ada orang yang berbicara dengan penuh kuasa seperti halnya Tuhan Yesus.
3. Kritus Mengajar dengan Penuh Kuasa
Setiap kalimat seperti godam yang memukul diri kita sehingga orang dapat melihat bahwa kalimat tersebut keluar dari inner condition, dari diri yang terdalam karena Dia adalah anak Allah. Maka sampailah orang pada kesimpulan bahwa Ia mengajar dengan penuh kuasa membuat hati setiap orang yang mendengarnya menjadi bergetar karena setiap kalimat yang Yesus ucapkan mempunyai kekuatan kuasa dan menuntut komitmen dari kita mau ikut atau melawan Dia. Sebagai warga Kerajaan Sorga, apakah kita telah mempunyai kekuatan kuasa kerygma sehingga berita yang kita sampaikan dapat membawa orang hidup pada kebenaran? Disinilah keunikan setiap orang yang Kristus panggil di dalam Kerajaan-Nya. Kristus ingin supaya kita juga menjadi pembawa berita yang mempunyai kuasa. Seperti halnya orang-orang yang dipanggil di sepanjang jaman untuk menjadi pembawa berita kebenaran di tengah dunia maka sebagai Kristen sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga kita pun harus memberitakan kebenaran pada dunia. Jangan takut dan kuatir karena Tuhan akan memproses kita sehingga kita mempunyai kekuatan dan bijaksana ketika mewartkan berita kebenaran pada dunia. Seperti halnya para murid, ketika Tuhan memanggil merekapun tidak mempunyai kuasa berita namun setelah melalui proses mereka menjadi pemberita Injil yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Inilah fungsi dari pengajaran.
Kita harus kembali pada pengajaran Kristus sebab Tuhan membentuk kita melalui pengajaran dengan demikian kita boleh mengerti bagaimana seharusnya kita hidup seperti yang Tuhan inginkan. Proses pengajaran akan memilah siapa murid sejati dan siapa yang bukan sebab tidak semua orang mengerti pengajaran Kristus. Hanya kepada mereka yang diberikan karunia sajalah yang dapat mengerti rahasia Kerajaan Allah sebab itu kepada orang luar Yesus mengajar dengan perumpamaan supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti (Mat. 10: 10-13). Jadi, bukan karena kepandaian kita kalau kita dapat mengerti pengajaran Firman tapi karena karunia Tuhan.
Ada empat aspek yang dapat menjadikan seseorang mempunyai kuasa dalam perkataannya dan empat aspek ini dibagi lagi menjadi dua golongan dimana golongan pertama terdiri dari aspek pertama dan kedua dan hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang yang mendapat anugerah umum namun bagian ini baru menyelesaikan setengah dari kuasa sejati seperti yang Kristus teladankan. Golongan kedua terdiri dari aspek ketiga dan keempat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mendapat anugerah khusus dimana hidup dipimpin oleh Firman dan Roh Kudus. Kedua golongan ini ada dalam diri Kristus dan hal inilah yang membuat pengajaran-Nya mempunyai kuasa dan berbeda dengan ahli Taurat.
I. Ketulusan Hati
Tuhan Yesus mengajar dengan ketulusan dan kemurnian hati. Barang siapa mau hidup di dalam Tuhan maka ia harus hidup bersih. Orang yang hidupnya bersih dan tulus maka itu akan memberikan kuasa dalam setiap perkataannya. Mempercayai perkataan seseorang tidaklah mudah, kita harus tahu siapa yang menjadi lawan bicara kita apakah ia memang layak untuk dipercaya? Secara prinsip, setiap orang pasti tahu betul bahwa orang yang suka berbohong tidak layak untuk dipercayai. Alangkah bodohnya, kalau kita mau percaya pada seorang pembohong. Orang-orang demikian tidak mempunyai kuasa dalam perkataannya. Itulah sebabnya ahli-ahli Taurat memanipulasi dan menggunakan cara yang licik supaya orang percaya padanya. Namun Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak menggunakan cara-cara licik supaya orang mau mengikut Dia. Tuhan Yesus tahu akan sifat orang Yahudi yang materialis itulah sebabnya kalimat pertama yang keluar adalah: “Berbahagialah orang yang miskin... Kebenaran sejati harus dinyatakan di tengah dunia meski hal ini sangat menyakitkan dan tidak disukai oleh dunia khususnya bagi orang Yahudi. Di dunia ini memang sedikit sekali kita menjumpai ada seorang guru yang mau mengajar dengan motivasi murni dan ketulusan hati. Biarlah kita sebagai orang Kristen kita meneladani Guru Agung itu yang hidup dengan bersih dan tulus dengan demikian setiap perkataan kita mempunyai kuasa sehingga kita menjadi berkat.
II. Altruistik
Sudah menjadi sifat manusia yang humanis dimana segala sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Altruis adalah segala sesuatu selalu memikirkan orang lain sebaliknya egois berarti segala sesuatu adalah untuk diri sendiri. Seorang pengajar yang baik pasti ingin muridnya bertumbuh, si murid memahami kebenaran dan hidup dalam kebenaran dengan demikian si murid bertumbuh dalam iman. Yang dilakukan pertama kali oleh seorang guru sejati adalah mengevaluasi dirinya sendiri kalau muridnya tidak bertumbuh. Seorang guru sejati mau berkorban untuk orang lain. Inilah sifat guru sejati yang altruistik. Seorang guru bukan hanya sekedar mengajar yang sifatnya memberikan informasi belaka. Tidak! Jika memang demikian lalu apa bedanya dengan ahli taurat? Yesus mengajar bukan demi untuk diri-Nya sendiri, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Namun sayang, di dunia modern sifat altruis ini tidak dimiliki oleh seorang guru, mereka telah menjadi budak uang. Maka tidaklah heran kalau ada murid atau mahasiswa yang kemudian menghina guru. Kristus mempunyai kuasa yang besar ketika mengajar karena Ia mengajar demi untuk kepentingan murid-murid karena itu hari ini kita mengenal Petrus bukan sekedar nelayan atau Matius bukan lagi si pemungut cukai dan lain-lain kini, mereka menjadi seorang murid yang berhasil. Ketulusan hati dan sifat altruis ini dapat dilakukan oleh orang yang bukan Kristen sekalipun. Dengan kualitas dunia saja kita bisa mempunyai kuasa dalam pengajaran kita. Sangatlah disayangkan kalau kita sebagai anak Tuhan, tidak bisa mempunyai kedua sifat di atas karena sebenarnya Roh Kudus sudah memberikan kepada kita kekuatan dan kuasa untuk kita dapat melakukannya.
III. Hidup yang Sesuai Ajaran
Bukan karena kualitas pengajarannya saja yang menjadikan Kristus mempunyai kuasa tetapi lebih dari itu, yaitu Kristus mengimplikasikan dalam hidup-Nya. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk menjalankan semua teori yang ia ajarkan karena lebih mudah berteori daripada menjalankannya. Hanya orang yang berada dalam Firman dan mau taat dibentuk oleh Tuhan sajalah yang dapat melakukan semua ajaran kebenaran. Inilah bedanya ahli Taurat dengan Tuhan Yesus. Ahli Taurat tahu seluruh isi kitab Taurat tapi ia tidak tunduk pada Taurat sebaliknya ia mengacak-acak Taurat, diri yang lebih berkuasa dari Taurat. Sebaliknya Kristus tidak menyebut diri-Nya ahli Taurat namun ia sudah menjadi ahli Taurat karena Kristus taat mutlak di bawah Taurat. Begitu juga dengan diri kita ketika belajar Firman kalau kita tidak mau tunduk pada Firman maka itu akan menjadikan kita sebagai ahli Alkitab tanpa kita diubahkan dan dibentuk oleh Firman. Tuhan Yesus menegur dengan keras ahli Taurat seperti kuburan di depannya bagus tapi dalamnya busuk. Ingat, kuasa bukan karena atribut luar yang ada pada kita tetapi karena hati kita dihidupkan oleh Roh Kudus, hati kita dididik oleh Firman. Sebagai anak Tuhan sejati, seharusnya kita mempunyai kerinduan untuk melakukan dan taat pada Firman. Kalau kita tidak mempunyai jiwa dan semangat mau melakukan Firman maka bertobat segera minta ampun pada Tuhan. Biarkan Yesus masuk dan bertahta sebagai Tuan dalam hidupmu maka Ia pasti menjadi Juruselamat kita. Hari ini orang sangat egois, mereka hanya mau Kristus sebagai Juruselamat saja tetapi tidak mau menjadikan Ia sebagai Tuan dalam hidupnya.
IV. Hidup Penuh dengan Roh
Kita harus mencontoh teladan Kristus, yaitu seluruh hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus, spiritfully, Ia bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus. Jangan pernah berpikir bahwa orang pandai pastilah bijak. Pandai tidak sama dengan bijak. Orang pandai biasanya paling mudah dibohongi karena segala sesuatu yang ia lakukan adalah demi supaya orang lain memuji dia. Jadi, logika dan perkataannya sendirilah yang mengontrol seluruh hidupnya. Berbeda kalau kita berada dalam Firman dan mau taat mutlak maka Roh Kudus akan memimpin seluruh hidup kita. Kita akan merasakan dan melihat cara Roh Kudus bekerja yang ajaib dan heran. Tuhan janji Ia akan memberikan pada setiap anak-anak-Nya hidup kuat dan dipimpin oleh-Nya sehingga kita tidak akan mudah digoyahkan selama-lamanya. Sebagai anak Tuhan, kita yang harus mempengaruhi dunia supaya mereka hidup dalam kebenaran bukan sebaliknya. Celakanya, kita lebih mudah terpengaruh oleh segala sesuatu yang sifatnya negatif daripada yang bersifat positif. Hati-hati, jangan mudah tergoda oleh bujuk rayu iblis. Hendaklah kita menjadi garam dan terang dunia sehingga orang yang berada di sekeliling kita akan merasa risih ketika hendak melakukan perbuatan dosa dan lebih baik lagi kalau akhirnya mencegah mereka berbuat dosa.
Biarlah keempat aspek di atas yang menjadi sifat Kristus juga kita miliki dengan demikian kita menjadi berkat bagi dunia yang kacau ini. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

25 November 2007

Martir Kristus-4 : PAULO UCHIBORI DAN ANAK-ANAKNYA (Meninggal tahun 304 Masehi)

Martir Kristus-4



PAULO UCHIBORI DAN ANAK-ANAKNYA
(Meninggal tahun 304 Masehi)


Gelombang penganiayaan yang keras terjadi di Jepang pada awal tahun 1600, di mana selama waktu tersebut banyak umat Kristen menjadi martir.

Pada tanggal 20 Februari 1627, pemimpin gereja bernama Paulo Uchibori, istrinya dan ketiga anaknya ditahan karena menampung para misionari. Pada hari itu, Paulo dan 37 orang Kristen lainnya dipukuli, diarak telanjang melalui pusat kota dan dipenjarakan di Istana Shimabara.

Pada keesokan harinya, orang-orang Kristen tersebut dianiaya. Pemerintah tidak berkeinginan menjadikan mereka martir, tetapi mereka menggunakan cara-cara terkeji untuk memaksa orang-orang Kristen menyangkal iman mereka. Salah satu prajurit mengusik Paulo ketika ia memegang sebilah pisau, dengan berkata, “Berapa banyak jari anak-anakmu yang harus kami ambil ?” Paulo menjawab, “Semua terserah padamu.”

Para prajurit memotong semua jari anak-anak Paulo kecuali jempol dan kelingking mereka, dengan berkata orang-orang Kristen seharusnya mempunyai jari lebih sedikit dari binatang. Dua anak tertua Paulo, Antonio dan Barutabazaru merelakan jari-jari mereka kepada para prajurit tersebut, tanpa menangis atau menunjukkan kesakitan. Anak Paulo yang bungsu, Ignatius, berumur lima tahun. Ia juga tidak menunjukkan rasa sakit saat jari-jari tangannya dipotong. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke langit, mempersembahkannya kepada Allah. Mereka yang melihat terkejut dengan apa yang mereka saksikan dan hati mereka dijamah oleh keberanian anak-anak itu.

Lalu para prajurit mengikat tangan dan kaki ke-16 tahanan tersebut termasuk anak-anak Paulo dan melemparkan mereka berkali-kali ke dalam air es yang sangat dingin di Teluk Shimabara. Walaupun begitu orang-orang Kristen tersebut tidak mau menyangkal iman mereka. Kata-kata terakhir Antonio sebelum ia hilang ditelan laut adalah, “Ayah, kita harus bersyukur kepada Allah karena memberikan kita berkat luar biasa seperti ini.”

Setelah anak-anaknya ditenggelamkan, wajah Paulo dicap dengan tiga huruf Jepang dari kata “Kristen.” Ia dilemparkan ke jalan-jalan dengan tulisan di baju kimononya yang terbaca, “Dihukum karena menjadi Kristen. Dilarang menolong orang ini atau memberinya perlindungan.”

Seminggu setelah kematian martir anak-anaknya, Paulo dibawa ke atas Gunung Unzen dengan ke 15 orang Kristen lainnya untuk merasakan “siksaan di dalam neraka kawah Unzen.” Paulo digantung terbalik dan diturunkan ke atas permukaan air sulfur yang mendidih berkali-kali. Ia berdoa dengan suara keras setiap kali, menyadari ia adalah bagian dari Tubuh Kristus, “Perjamuan Suci harus disucikan.” Akhirnya, tubuhnya dilemparkan ke dalam kawah mendidih yang menguap.

Sekarang iman Paulo dan anak-anaknya menguatkan kita. Kita tahu bahwa mereka, bersama dengan banyak orang-orang Kristen Jepang tanpa nama, diterima dalam hadirat Yesus dan sekarang mereka mengenakan jubah putih.



Sumber :
Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

22 November 2007

Matius 7:28-29 : THE LAW OF THE KINGDOM

Ringkasan Khotbah : 07 November 2004
The Law of the Kingdom
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 7:28-29



Kita sudah memahami bahwa tema dari injil Matius adalah King and the Kingdom, Raja dari Kerajaan Surga itu menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia; Kingdom of Heaven dibawa masuk ke dalam sejarah dan Dia memproklamirkan dengan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita inilah yang ingin dipaparkan oleh Matius, yaitu bagaimana Kerajaan Sorga itu ditata oleh Sang Raja di tengah dunia dengan memanggil murid-murid dan siapa saja yang Ia memilih untuk menjadi bagian sebagai warga sekaligus pekerja Kerajaan Sorga. Bagian ini telah kita pahami beberapa minggu lalu dan kini kita hendak melihat hukum atau Undang-undang Dasar Kerajaan Sorga yang dicatat oleh Matius di pasal 5 sampai 7.
Matius pasal lima sampai tujuh merupakan kumpulan dari beberapa khotbah Yesus yang berbeda tempat maupun waktunya namun mempunyai pengajaran dan pemikiran total sehingga Matius menjadikannya sebagai satu kesatuan utuh, yaitu bagaimana tatanan atau konsep dari Kerajaan Sorga dan apa yang harus kita lakukan sebagai warga Kerajaan Sorga. Kalau kita hendak memahami khotbah Tuhan Yesus secara kronologis waktu maka sebaiknya kita membacanya dari injil Lukas. Namun Matius melihat pengajaran Tuhan Yesus tersebut sebagai dasar hukum Kerajaan Sorga atau yang sekarang kita kenal dengan Khotbah di Atas Bukit. Sama halnya seperti orang yang hendak memutuskan menjadi warga negara Indonesia, misalnya maka ia harus tunduk pada semua hukum yang berlaku di negara Indonesia. Orang yang tidak mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut maka ia harus menerima akibatnya, yaitu di deportasi atau di penjara. Orang yang melawan undang-undang dasar negara maka itu berarti ia tidak mau menjadi warga negara. Begitu juga sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita pun harus memahami dan mematuhi semua hukum atau undang-undang dasar Kerajaan Sorga.
I. Visi Kerajaan Sorga
Prinsip Kerajaan Sorga yang agung dan berbeda dengan ajaran dunia ini diakui sendiri oleh dunia. Mereka mengakui ajaran Kristus sebagai the golden rule, hukum emas. Sebagai orang Kristen yang menjadi bagian dari warga Kerajaan Sorga sudah menjadi kewajiban kita untuk menaati seluruh ketetapan hukum Kerajaan Sorga. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tapi tidak mau mematuhi hukum Kerajaan Sorga akibatnya ia tidak tahu bagaimana seharusnya hidup. Matius membukakan inti totalitas dari visi misi Kerajaan Sorga dan bagaimana seharusnya citra Kerajaan Sorga (Mat. 5:1-12). Orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Sorga akan merasakan kebahagiaan karena kita termasuk orang yang diberkati, Blessed be those who. Berbahagialah (bhs. Indonesia) dan diberkatilah (bhs. Inggris) akan kita dapatkan kalau mempunyai sifat-sifat Kerajaan Sorga seperti yang diajarkan Kristus.
Konsep bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus berbeda bahkan berbalik dengan konsep bahagia yang dipikirkan manusia. Tuhan Yesus mengajarkan berbahagialah orang yang miskin, orang yang dianiaya, orang yang berdukacita namun dunia justru mengajarkan berbahagialah yang kaya. Kalau kita perhatikan, khotbah tentang ucapan bahagia ini sebenarnya bersifat positif dan negatif, dalam hal ini Matius hanya mengambil bagian positifnya saja, kalau kita hendak memahami secara keseluruhan baik positif maupun negatif maka kita dapat membacanya dalam Injil Lukas 6 yang menegaskan dengan jelas perbandingan antara positif dan negatif. Inilah fungsi dari hukum Kerajaan Sorga yang dipaparkan Kristus pada dunia dengan demikian dunia dapat melihat bahwa orang yang telah menjadi warga Kerajaan Sorga maka ia pasti akan mempunyai visi yang sama seperti pengharapan Kristus sebagai Raja yang membuat seluruh tatanan hukum sehingga barangsiapa yang ada di dalamnya maka ia akan diberkati dan merasakan kebahagiaan. Menjalani hidup sesuai dengan visi Tuhan membuat kita mempunyai perjuangan dan semangat hidup dengan demikian kita tidak jadi salah arah karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Setiap orang yang mau menjadi warga Kerajaan Sorga harus tahu visi Kristus yang Ia bukakan sendiri. Ketika Kristus membukakan visi-Nya, Ia tidak membukakan sisi negatifnya karena maksud dan arahnya adalah menuju pada sisi yang positif, yaitu melihat konsep hidup seperti yang Tuhan inginkan. Hal ini tidaklah mudah sebab manusia telah jatuh ke dalam dosa maka konsep dunia selalu berlawanan dengan yang Firman ajarkan. Namun kalau kita dapat berpikir dengan bijak maka kita akan melihat bahwa kebenaran Firman lebih agung dibanding dengan konsep manusia berdosa. Manusia menganggap bahwa kebahagiaan bisa diperoleh kalau hidup kaya namun Tuhan justru menegaskan bahwa yang miskinlah yang akan merasakan kebahagiaan (Luk. 6). Ayat ini diberikan kepada orang Yahudi yang materialis tapi orang harus mengakui bahwa kebenaran Firman yang Kristus ajarkan membawa kita pada kebenaran dan hidup menjadi indah. Inilah yang menjadi visi Kerajaan Sorga.

II. Misi Kerajaan Sorga
Setelah kita mengerti visi lalu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana mengerjakannya; visi harus diikuti dengan misi, yaitu jadilah garam dan jadilah terang (Mat. 5:13-16). Garam dan terang merupakan suatu entity, keberadaan yang esensi. Garam bersifat penetrasi, saat garam bereaksi maka secara materi ia akan menghilang namun secara eksistensi ia masih tetap ada. Garam yang berwarna putih tidak menjadikan masakan kita berubah warna namun rasanya dapat kita rasakan. Inilah yang menjadi misi orang Kristen, yaitu keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain sehingga menghalangi perbuatan dosa yang hendak mereka lakukan. Dan tugas yang lain adalah menjadi terang yang bersifat radiasi. Cahaya bukanlah sebuah materi dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan, termasuk benda padat ataukah benda gas. Sinar adalah entity, tapi gelap bukanlah entity sebab kalau gelap itu berarti tidak adanya terang. Jadi, gelap bukanlah suatu eksistensi tapi hilangnya eksistensi. Gelap tidak bisa mengusir terang sebaliknya justru kalau terang itu datang maka tidak ada lagi gelap. Berbeda dengan filsafat timur yang melihat terang dan gelap sebagai suatu entity yang berlawanan. Tidak! Meskipun ditaruh dalam ruang hampa, terang tetap akan menerobos masuk. Terang dapat juga dihalangi sehingga sekitarnya menjadi gelap namun ketika terang itu dihalangi maka benda yang menghalanginya akan menjadi sangat terang. Lalu sampai seberapa lama dan kuatkah ia mampu menghalangi terang itu? Karena suatu saat ketika benda itu tidak mampu lagi menghalangi terang sehingga terang itu akan menerobos dan gelap pun menjadi hilang. Adalah tugas orang Kristen untuk menjadi terang dan memancarkan terang, menyinari dunia yang gelap. Jadi, untuk menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus memahami apa yang menjadi visi Sang Raja dengan menjalankan misi dan tugas panggilan warga Kerajaan Sorga, yaitu menjadi garam dan terang dunia.

III. Motivasi Kerajaan Sorga
Alkitab sudah menuliskan The Principal of the Law, hukum yang membuat kita tahu bagaimana caranya menjadi garam dan terang. Hukum Taurat diberikan pada kita supaya kita dapat menjalankan misi itu namun masalahnya ahli-ahli Taurat sudah memberikan interpretasi sebelumnya, hukum tidak dimengerti secara esensi akibatnya pengertian hukum Taurat menjadi menyeleweng. Apa yang ada dalam hukum Taurat dijelaskan dengan lebih tajam dalam visi Kristus. Mengerti aspek hukum berbeda dengan kita mengerti bahasa hukum. Mengerti aspek hukum adalah mengerti esensi motivasi hukum. Kini, dunia modern banyak sekali mempermainkan hukum dengan menginterpretasikan bahasa hukum akibatnya dengan mudahnya hukum dapat dipelintir sedemikian rupa sehingga memungkinkan seseorang untuk lolos dari hukuman. Membunuh dimengerti kalau ia telah menghilangkan nyawa orang lain namun Tuhan menegaskan jika kita membenci orang itu berarti kamu sudah membunuh. Jangan terpaku dengan kalimat, kita harus mengerti secara hakekat hidup di dalam kaitan visi dan misi. Dengan memahami visi misi Kerajaan Sorga barulah kita mengerti tatanan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-48). Seorang Kristen harus berbeda dengan dunia. Kalau dunia mengajarkan keadilan dunia dengan mata ganti mata, gigi ganti gigi namun Kristus mengajarkan kalau seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu. Kita harus menjalankan visi misi Kerajaan Sorga dengan kasih dan keadilan yang tidak hanya kita mengerti sebatas kalimat tetapi harus kita mengerti secara motivasi dengan demikian dunia akan merasakan garam dan melihat terang kita bercahaya. Hal inilah yang menjadi esensi penting dari Matius pasal 5 tentang khotbah di bukit.

IV. Implikasi Kerajaan Sorga
Matius 6:1–7:11 merupakan implikasi atau penerapan dari hukum Taurat yang menjadi hukum dasar Kerajaan Sorga (Mat. 5) dengan demikian kita tidak hanya sekedar mengerti iman di dalam prinsip-prinsip keagamaan sejati (religius principal) tapi kita juga harus tahu bagaimana menjalankan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari (religius action). Kalau kita dapat memahami hal ini maka hal memberi sedekah menjadi berbeda karena saat memberi kita mempunyai visi ingin melihat kebahagiaan seperti Tuhan katakan, kita mempunyai misi menjadi garam dan terang, kita mempunyai prinsip menyatakan motivasi keadilan dan kebenaran. Begitu juga kalau dalam hal berdoa kalau kita lakukan karena kita tahu apa yang menjadi visi, misi dan motivasi maka cara doa kita berbeda dengan dunia dan semua hal yang kita lakukan juga menjadi berbeda, termasuk hal mengumpulkan harta, hal berpuasa, dan lain-lain. Adalah salah kalau kita menerapkan hal berdoa, hal berpuasa, dan hal-hal lain tanpa dikaitkan dengan visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga di Matius 5. Begitu juga dengan doa Bapa Kami tidak boleh dilepaskan dari visi, misi dan motivasi.
Cara Matius menuliskan tentang visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga berbeda dengan Lukas. Matius tidak langsung memberikan perbandingan seperti halnya Lukas, namun perbandingan itu barulah diberikan oleh Matius pada bagian belakang, yaitu setelah ia membicarakan tentang visi, misi dan motivasi, yaitu: 1) pintu besar – pintu kecil (Mat. 7:12-14), 2) nabi sejati – nabi palsu (Mat. 7:15-23), 3) bangunan iman seperti rumah yang dibangun di atas pasir – rumah yang dibangun di atas batu (Mat. 7:24-27). Iman tidak bisa dipaksakan pada seseorang mungkin ada orang yang mau beriman karena diancam akan tetapi hatinya pasti tidak akan pernah mau menerima iman tersebut bahkan seumur hidup ia akan membenci dan tidak mau beriman lagi. Berbeda dengan orang yang beriman sejati karena ia melalui berbagai pergumulan dan pertimbangan barulah ia memutuskan untuk beriman. Tuhan tidak menginginkan orang yang mau beriman pada-Nya karena paksaan atau tipuan karena itu Kristus membukakan fakta dan prinsip Kerajaan Sorga sejak awal supaya orang dapat melihat dan akhirnya memutuskan apakah ia mau beriman atau tidak?

V. Otorisasi Kerajaan Sorga
Sebelumnya kita lebih dulu masuk dalam terminologi supaya tidak salah menafsirkan kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“. Kalau sepintas kita membaca kalimat ini maka orang bisa mempunyai interpretasi: 1) Matius pasal 5 sampai 7 merupakan satu kesatuan khotbah, Yesus hanya mengajar pada tempat dan waktu itu saja. Inilah bahayanya kalau kita berpikir logis karena pikiran kita telah tercemar dengan interpretasi sehingga apabila kita tidak mengkritisi logika kita sendiri maka kita akan terjebak di dalamnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ dihilangkan, apakah berpengaruh dengan pengajaran Yesus? Kalau memang pengajaran Yesus merupakan satu rangkaian maka tidak adanya kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ sudah menunjukkan kalau pengajaran-Nya memang sudah berakhir sehingga kalimat tersebut bisa dihilangkan. Hati-hati, pernyataan tersebut dapat merusak iman kita karena itu berarti Firman Tuhan tidak berotoritas. Salah! Alkitab adalah Firman Tuhan dan tidak bersalah. Jadi, setiap kata seharusnya memacu kita untuk mempelajari dan menyelidikinya. Kalau kita perhatikan, frasa “Yesus mengakhiri perkataan-Nya itu“ ternyata dipakai berulang kali. Signifikansi ini membuat kita mengerti kalau Matius pasal 5 sampai 7 merupakan kumpulan khotbah. Frasa ini digunakan oleh Matius untuk menandai bahwa ia telah selesai mengumpulkan khotbah Yesus yang merupakan satu pengajaran total dimana satu paket pengajaran ini mempunyai satu pemikiran total. Jadi, kita tahu betapa pentingnya keberadaan frasa ini dengan demikian orang tidak dapat menambahkan kata apapun. Matius juga ingin si pembaca merasa takjub seperti orang-orang pada waktu itu yang takjub mendengar perkataan Yesus. Ajaran Kristus sangatlah agung dan bersifat aktif, yaitu apa yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu lakukanlah itu terlebih dahulu pada orang lain. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk takjub ketika mendengar perkataan Kristus karena pikiran kita telah dibodohkan oleh jaman. Adalah anugerah kalau kita dapat mengerti Firman. Biarlah pengajaran Yesus membuat kita takjub dengan demikian merubah hidup kita dan membawa masuk dalam visi, misi dan motivasi seperti yang Tuhan inginkan sehingga kita menjadi bagian Kerajaan Sorga yang menyatakan kebenaran di tengah dunia. Amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)
Sumber :

Roma 4:1-5 : DIBENARKAN MELALUI IMAN-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-1


Dibenarkan Melalui Iman-1

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:1-5.

Setelah Paulus memaparkan tentang hubungan iman dan perbuatan yang sebenarnya, maka pada pasal 4, ia mulai menjelaskan aplikasinya di dalam contoh tokoh iman yaitu Abraham.

Pada ayat 1-2, Paulus mengungkapkan, “Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” Di sepanjang sejarah umat manusia, khususnya di dalam Perjanjian Lama, tidak ada satu orang pun yang disebut bapa orang beriman kecuali Abraham. Melalui contoh ini, Paulus ingin menyadarkan orang Yahudi satu konsep bahwa seseorang dibenarkan bukan melakukan serangkaian hukum Taurat, tetapi melalui iman. Kalau benar, manusia dibenarkan karena perbuatan, maka Abraham adalah satu-satunya orang yang harus masuk neraka, karena ia tak memiliki Taurat apalagi menjalankannya. Bukan hanya itu saja, di ayat 2, Paulus juga mengungkapkan bahwa kalau Abraham dibenarkan melalui perbuatan, maka ia memiliki dasar untuk memegahkan diri di hadapan manusia, bukan di hadapan Allah. Kata “bermegah” bisa berarti membanggakan diri. Hal ini benar, karena jika seseorang dibenarkan melalui perbuatan, maka orang itu terus membanggakan diri sebagai orang yang berbuat baik dan cenderung menolak Allah. Para ahli Taurat dan orang Farisi di zaman Tuhan Yesus menunjukkan gejala ini. Mereka adalah para ahli yang membaca, mempelajari dan mengerti Taurat, tetapi herannya makin mengerti Taurat, mereka tidak datang kepada Kristus yang dinubuatkan di dalam Taurat, mengapa? Karena bagi mereka, perbuatan baik sudah cukup dan juga mereka mendambakan Mesias politis yang mampu membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Contoh ini membuktikan bahwa di dalam keberagamaan, tepatlah seperti yang dikatakan oleh Rev. Dr. John R. W. Stott yang dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, manusia tidak sedang mencari Allah, tetapi melarikan diri dari Allah. Sungguh suatu ironis yang mengasihankan. Paulus dahulu juga seperti demikian. Saulus (artinya : si besar), nama Paulus yang terdahulu, adalah orang yang belajar Taurat di bawah bimbingan Gamaliel. Ia adalah orang yang terobsesi ingin membunuh habis orang-orang yang percaya kepada Kristus. Semangat keberagamaan yang ekstrim bisa mengakibatkan orang yang sudah belajar banyak tentang agama bisa bertindak anarkis, misalnya membunuh, dll, dengan dalih “untuk ‘Allah’”. Tetapi, puji Tuhan, Saulus diselamatkan dari obsesinya yang gila itu dan ia diganti namanya menjadi Paulus (si kecil) untuk menjadi saksi Kristus. Di dunia postmodern ini, kita juga menjumpai banyak orang mengaku diri beragama, tetapi benarkah mereka beragama ? TIDAK. Saya akan memberikan ilustrasi. Ketika seorang pria ingin menemui pasangannya dan beberapa waktu berikutnya pasangannya muncul di hadapannya, bagaimana respon si pria ini ? Tentu bahagia, bukan ? Tetapi jika pria ini malahan lari dan marah-marah, lalu memutuskan pasangannya, bagaimana respon orang yang mengetahui hal ini ? Pasti pria ini disebut gila, bukan ? Sama persis dengan realita hidup banyak orang yang mengaku diri beragama. Mereka mengklaim bahwa mereka sedang mencari “Allah”, tetapi herannya ketika Allah mengunjungi ciptaan dan menyatakan diri-Nya di dalam Kristus, mereka tidak datang kepada-Nya, malahan menghina dan bahkan menyalibkan-Nya di Golgota. Itukah orang beragama ? Tahukah kita di Indonesia, orang-orang yang “gemar” melakukan terorisme, membakar gereja, dll BUKAN orang ateis, tetapi orang yang mengaku diri beragama? Tidak usah heran, setiap agama yang terus menekankan perbuatan sebagai syarat untuk dibenarkan/diselamatkan, agama itu pasti tidak baik. Mengapa ? Seperti yang diungkapkan Paulus di ayat 2, agama itu hanya membanggakan diri di hadapan manusia sebagai orang “baik”, tetapi di hadapan Allah, orang itu sama sekali tidak baik. Inilah perbedaan standart ukuran baik dan tidak baik antara Allah dan manusia. Allah selalu melihat esensi (hati), sedangkan manusia dunia selalu melihat fenomena yang pasti bisa salah.

Karena manusia dibenarkan BUKAN melalui perbuatan, maka di ayat 3, Paulus mulai mengajarkan, “Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."” Ayat ini dikutip Paulus dari Kejadian 15:6, ketika Abram mempercayai janji Allah yang akan memberikannya keturunan yang banyak seperti bintang-bintang di langit. Ayat ini juga muncul di dalam Galatia 3:6 ketika Paulus juga membicarakan tentang dibenarkan melalui iman. Lalu, bagaimanakah dengan Yakobus 2:21 yang mengatakan bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, apakah ini benar ? Kembali, kalau kita mengerti Alkitab, jangan hanya melihat satu ayat saja, tetapi keseluruhan ayat sehingga kita menemukan keserasian dan pengertian yang menyeluruh. Ayat 21 tidak bisa dipisahkan dari ayat 22-23, di mana ayat 22 sedang berbicara mengenai iman yang menghasilkan perbuatan dan ditutup pada ayat 23 yang tetap mengatakan bahwa Abraham dibenarkan melalui iman. Dengan kata lain, kepercayaan Abraham bukan hanya diucapkan di mulut saja, tetapi dilakukan dengan iman yang teguh. Hal ini akan dibahas pada ayat berikutnya. Kembali, kata “percayalah” di dalam ayat 3 ini sama artinya dengan entrust (=mempercayakan diri). Dengan kata lain, Abraham mempercayakan diri kepada/di dalam Tuhan dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran. Ketika kita membaca terjemahan Inggris (khususnya KJV), pada ayat ini tidak ada kata kerja yang berbeda waktu, tetapi dua-duanya memakai waktu yang sama yaitu bentuk lampau (past tense). Perhatikan terjemahan KJV di dalam ayat ini, “For what saith the scripture? Abraham believed God, and it was counted unto him for righteousness.” Dalam hal ini, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) salah menerjemahkan ayat ini, “Dalam Alkitab tertulis, "Abraham percaya kepada Allah, dan karena kepercayaannya ini ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati Allah."” Kata “karena” tidak seharusnya muncul, karena kata ini bisa mengakibatkan salah interpretasi. Kalau kita hanya memperhatikan terjemahan BIS, maka kita memiliki asumsi bahwa iman manusia yang penting yang membuat Allah membenarkan manusia itu. Sepintas asumsi ini benar, karena manusia dibenarkan melalui iman, tetapi di dalam theologia Reformed, kita pun belajar bahwa iman adalah pemberian (anugerah) Allah melalui Roh Kudus. Lebih lanjut, iman di dalam bahasa Yunani bisa berarti reliance upon Christ (bergantung kepada Kristus). Sehingga, iman tidak bisa diartikan kepercayaan manusia dengan inisiatifnya sendiri, tetapi anugerah Allah ! Melalui iman yang bergantung sepenuhnya kepada/di dalam Kristus, Allah membenarkan kita atau menjadikan kita benar. Kata “benar” di sini di dalam bahasa Yunani dikaiosunē yang bisa berarti kebenaran keadilan atau equity (=hak menurut keadilan, kewajaran, keadilan). Apa artinya dibenarkan melalui iman ? Matthew Henry di dalam tafsirannya, Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible mengatakan, “he had not whereof to glory before God, it being purely of free grace that it was so imputed, and having not in itself any of the formal nature of a righteousness, further than as God himself was graciously pleased so to count it to him.” Hal ini juga diungkapkan oleh John Gill dengan mengatakan bahwa bukan Abraham yang berjasa terhadap Allah, tetapi Allah mengimputasikan kebenaran di dalam Abraham sehingga ia bisa beriman dan melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Umat pilihan-Nya di dalam Kristus juga mengalami anugerah ini. Kita bisa beriman semata-mata karena Allah telah menganugerahkan iman itu melalui tindakan Roh Kudus yang mengefektifkan iman di dalam hati umat pilihan-Nya. Ketika kita bisa beriman di dalam Kristus, ingatlah, itu bukan hasil usaha kita, tetapi murni dari Allah, karena hanya Allah saja yang memulai proses keselamatan kita dan akan menyempurnakannya kelak (Efesus 2:1-5,8-9 ; Yohanes 6:40,44 ; 10:27-29). Inilah definisi iman dengan pengertian yang menyeluruh dari Alkitab yang dapat dipelajari di dalam formulasi iman Reformed/Calvinisme. Di sini pula kita melihat betapa melimpahnya anugerah Allah di dalam hidup kita bahkan ketika kita beriman di dalam Kristus sekalipun kita dahulu berdosa dan terpisah dari Allah dan hal ini mengakibatkan Allah saja yang patut dipuji dan disembah atas segala karunia-Nya bagi kita, umat pilihan-Nya yang percaya.

Lebih dalam lagi, Paulus mulai memberikan sedikit ilustrasi di ayat 4-5, “Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.” Di sini, Paulus mulai membandingkan dua macam orang. Orang pertama adalah orang yang bekerja dan secara otomatis mendapatkan upah, upah ini bukan hadiah, tetapi hak yang harus diterima karena ia sudah menunaikan kewajiban. Sungguh sulit kita menemukan orang-orang Indonesia bisa seperti ini, mau bekerja atau menunaikan kewajiban terlebih dahulu baru menuntut hak. Yang ada justru sebaliknya, menuntut hak dan mengabaikan kewajiban. Kembali, orang yang bekerja dan mendapatkan upah adalah hal yang biasa/lazim, karena upah seseorang diterima sebagai hasil kerja keras yang telah dilakukannya. Ini adalah gambaran orang-orang beragama yang terus menekankan perbuatan baik sebagai syarat diselamatkan. Bagi Paulus, ini adalah sesuatu yang lazim, upah bagi mereka yang telah bekerja adalah hak, bukan hadiah/anugerah (Inggris : grace ; Yunani : charis). Tetapi orang model kedua adalah orang yang tidak bekerja sama sekali dan hanya percaya kepada/di dalam Allah yang membenarkan manusia berdosa, maka iman/kepercayaannya itu diperhitungkan menjadi kebenaran. Di sini, selain kita mendapatkan imputasi kebenaran dari Allah, kita juga belajar konsep kedua dari iman yaitu anugerah bagi kita yang tidak mungkin bisa berusaha. Hal ini memang sudah dijelaskan pada ayat 3, tetapi di ayat 5 ini, Paulus ingin mempertegaskan dan memperdalam ajarannya bahwa orang yang tidak bekerja itu adalah umat pilihan-Nya yang tidak mampu berbuat baik untuk memperkenan Allah, lalu orang yang tidak bekerja itu mempercayakan diri kepada Allah yang membenarkan manusia berdosa, maka iman inilah yang diperhitungkan sebagai kebenaran, mengapa ? Karena iman tidak berdasarkan perbuatan/jasa baik manusia (karena memang tidak layak), tetapi iman ini didasarkan pada kebergantungan total kepada Allah. Di dalam Amsal 3:5, Raja Salomo mengajarkan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Percaya kepada/di dalam Tuhan berarti ada kebergantungan total hanya kepada-Nya dan tidak kepada diri sendiri yang sendiri tidak mungkin bisa diandalkan. Untuk memperoleh pembenaran di dalam Kristus, Paulus tidak berjuang, tetapi ia hanya menerima anugerah dan anugerah itu baru nyata di dalam kehidupannya ketika Tuhan Yesus menemui Paulus di tengah-tengah jalan menuju Damsyik. Petrus dan para rasul Kristus lainnya tidak berjuang agar Tuhan memilih mereka. TIDAK ! Mereka dipilih oleh-Nya murni sesuai dengan kehendak-Nya bukan karena Ia melihat jasa baik mereka di hadapan-Nya. Di sini, kita juga belajar konsep iman ketiga yaitu iman jauh melampaui pemikiran manusia. Mengapa ? Karena iman kita di dalam Kristus tidak berfokus pada perbuatan yang selalu menjadi fokus agama-agama/filsafat-filsafat dunia, tetapi pada anugerah dan karya Allah. Kalau memang iman berfokus pada perbuatan, maka kita semua pasti mati semua karena kita telah berdosa dengan melawan Allah (salah satunya dengan mengatakan bahwa manusia dibenarkan melalui perbuatan yang tanpa iman). Percayalah, iman yang hanya berfokus pada Kristus ini tidak bisa dijumpai pada agama atau filsafat manapun di dunia ini, karena hanya keKristenan berasal dari Allah khususnya dari wahyu khusus Allah ! Ingatlah satu prinsip : agama yang sejati yang berasal dari Allah yang sejati adalah agama yang berfokus kepada karya dan anugerah Allah, bukan pada karya dan kehebatan diri, agama sejati itulah keKristenan yang harus berfokus kepada Kristus ! KeKristenan yang tidak berfokus kepada Kristus tidak ada bedanya dengan agama-agama dunia yang humanis atheis (meskipun mengaku diri ber”tuhan”)! Setelah kita beriman, kita memperoleh kebenaran atau dibenarkan oleh Allah. Pembenaran yang diterima oleh orang model pertama berbeda dengan orang model kedua. Orang model kedua menerima pembenaran/upah bukan sebagai hak, karena memang orang model kedua ini tidak bekerja, tetapi sebagai hadiah/anugerah. Mengapa anugerah ? Karena orang model kedua ini tidak bekerja dan sebenarnya memang tidak mampu bekerja dengan baik (berbuat baik secara sempurna). Orang model kedua itulah gambaran semua umat pilihan-Nya yang sudah berdosa tetapi sudah dilayakkan menerima anugerah pembenaran melalui iman di dalam Kristus. Apa yang telah Allah anugerahkan ini seharusnya mengakibatkan kita sebagai anak-anak-Nya bersyukur senantiasa dan mengerjakan anugerah keselamatan ini di dalam hidup kita untuk memuliakan-Nya.

Di mana kah iman kita berlabuh ? Di dalam diri sendiri ataukah di dalam agama-agama di luar Kristus ? Iman kita menentukan semua pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Ingatlah, iman yang tidak berfokus pada karya Allah akan mengakibatkan seluruh tatanan dunia kita semakin rusak. Hanya ada satu jalan, kembalilah kepada Allah di dalam Kristus, dan berimanlah di dalam-Nya, maka niscaya kita menemukan makna iman dan hidup serta pengharapan sejati yang akan mempengaruhi seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan demi kemuliaan-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.