01 November 2007

Refleksi Reformasi 2007 (3) : REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-3 (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Hari Reformasi 2007 (3)



REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-3 :
Dr. John Calvin Vs Jacobus Arminius

oleh : Denny Teguh Sutandio



Pendahuluan dan Latar Belakang
Perjuangan Reformasi Luther banyak menuai protes maupun menuai sumbangsih positif bagi Jerman dan sekitarnya. Tuhan memberkati perjuangan Luther, sehingga Ia terus membangkitkan para penerus Luther, antara lain Philip Melanchton, Ulrich Zwingli, dll, tetapi sayangnya para penerus Luther ini hanya mendobrak ajaran yang salah, dan tidak membangun ajaran yang benar dengan prinsip yang integral. Luther juga memiliki beberapa kelemahan, misalnya Luther mempercayai bahwa gambar dan rupa Allah sudah hilang di dalam manusia ketika manusia berdosa. Oleh karena beberapa kelemahan dan kekurangan fondasi doktrin yang kokoh berdasarkan Alkitab, maka di dalam Reformasi, perlu ada pembangunan doktrin yang kokoh, integral dan bertanggungjawab sesuai dengan Alkitab. Di antara para tokoh Reformasi yang membangun doktrin demikian adalah John Calvin. Pada bagian terakhir ini, kita akan merenungkan profil dan ajaran-ajaran John Calvin serta musuhnya, Jacobus Arminius.



Dr. John Calvin : Profil Singkat dan Ajaran-ajarannya
Bagi Prof. W. Andrew Hoffecker, Ph.D. di dalam salah satu artikelnya : Penemuan Kembali Akar Alkitabiah : Reformasi di dalam buku Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 1 : Allah, Manusia, dan Pengetahuan, John Calvin adalah seorang arsitek theologia reformasi. Dr. Hoffecker menuturkan, “Apabila Luther adalah prajurit yang meluncurkan tembakan pembukaan Reformasi, maka Calvin adalah pakar utama yang mengonsolidasikan hasil-hasil kemajuan Protestan. Ia berusaha mereformasi bukan hanya doktrin dan organisasi gereja, seperti yang dilakukan oleh Luther, tetapi juga tatanan sosial-politik sesuai dengan firman Allah.” (Hoffecker, 2006, p. 138) Selain itu, Dr. Richard W. Cornish dalam bukunya Lima Menit Sejarah Gereja mengatakan, “Jika karya Agustinus merupakan pemikiran Kristen terbesar di milenium pertama, John Calvin disebut sebagai yang terbesar di milenium kedua.” (Cornish, 2007, p. 165)

Dr. John Calvin (10 Juli 1509-27 Mei 1564) adalah seorang theolog Protestan dari Prancis yang lahir pada tanggal 10 Juli 1509 di Noyon,
Picardie, Prancis dengan nama aslinya Jean Chauvin (atau Cauvin, dalam bahasa Latin : Calvinus) dari seorang ayah Gérard Cauvin dan ibu, Jeanne Lefranc. Pada tahun 1523, ayah Calvin, seorang pengacara/ahli hukum, mengirimkan anaknya yang berusia 14 tahun itu ke Universitas Paris untuk belajar humanitas (humanities) dan hukum. Pada tahun 1532, Calvin telah memperoleh gelar Doctor of Laws dari Orleans. Di tempat inilah, Calvin mendapatkan pendidikan humanismenya. Tetapi setelah ayahnya meninggal, Tuhan menyadarkan Calvin sehingga ia meninggalkan studi hukumnya dan beralih ke theologia. Meskipun demikian, sumber Wikipedia menyebutkan pengaruh humanisme yang dipelajarinya yaitu tentang eksegesis menjadi dasar bagi Calvin untuk menerapkan eksegesis pada Alkitab. Karena penganiayaan hebat pecah menimpa para tokoh Reformasi Protestan, Calvin berpindah-pindah untuk seketika lamanya di Prancis dengan beberapa nama samaran, dan kemudian menetap di Basel, Swiss, di mana Calvin mulai menulis bukunya Institutes of the Christian Religion. Bukunya terakhir diterbitkan pada tahun 1559, berkembang dari 6 bab diskusi tentang 10 Perintah Allah, Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami menjadi 80 bab (menjadi 4 buku) yang terdiri dari pokok-pokok bahasan tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, dan Gereja. Pada tahun 1536, bersama William Farel (Guillaume Farel), Calvin mencoba untuk menjadikan Geneva sebagai satu model komunitas Kristen dengan menegakkan hukum moralitas yang tinggi. Tetapi orang-orang Geneva yang liberal menghalangi usaha-usaha tersebut dan mengusir mereka, akhirnya Calvin kemudian pergi ke Strassbourg di mana ia menggembalakan sebuah gereja dari para pengungsi Protestan Prancis selama 3 tahun (1538-1541). Di saat inilah, Calvin mendapatkan istrinya, Idelette de Bure, seorang janda, yang dinikahinya pada tahun 1539 dan dikaruniai seorang anak yang akhirnya meninggal dua minggu setelahnya. Istrinya meninggal pada tahun 1549. Di Strassbourg, Calvin juga menulis sebuah liturgi Protestan untuk menggantikan aturan ibadah Katolik, bekerja bersama para tokoh Reformasi Jerman untuk mempersatukan gereja dan Calvin juga mulai menulis tafsiran-tafsirannya, yang akhirnya meliputi 49 kitab Alkitab. Kemudian, Geneva memanggilnya kembali dan melalui aklamasi publik, Calvin kembali pada tahun 1541 karena para penerusnya gagal dalam kepemimpinan mereka. Di bawah bimbingan Calvin, Geneva menjadi sentra internasional gerakan Reformasi. Calvin meninggal di Geneva pada tanggal 27 Mei 1565 dan dikuburkan di Cimetière des Rois, di bawah batu nisannya ditulis sebuah tanda “J.C.”. Perjuangan Calvin diteruskan oleh Dr. Theodore Beza, John Knox, dkk. Para pengikut Calvin di Prancis disebut Hugenot. Pengikut Calvinisme di Amerika (yang berasal dari Inggris) disebut Puritan. Puritanisme ini mendirikan “godly commonwealth” di mana sebagian berdasarkan Genevanya Calvin. (Cornish, 2007, p.165) Theologia Reformed dari Calvin ini mempengaruhi gereja-gereja Reformed, Presbyterian, Congregational, Methodist, Anglikan dan beberapa tradisi Baptis. Para tokohnya adalah Rev. Jonathan Edwards, A.M. (dari gereja Congregational), Rev. George Whitefield (dari gereja Methodist), Rev. Charles Haddon Spurgeon (dari gereja Baptis), Prof. James I. Packer, Ph.D. (dari gereja Anglikan), dll. Bahkan seorang anti-Calvinis, yaitu Jacobus Arminius harus mengakui keagungan buku Institutes of the Christian Religion dengan mengatakan, “Next to the study of the Scriptures which I earnestly inculcate, I exhort my pupils to peruse Calvin’s Commentaries,… His Institutes ought to be studied after the (Heidelberg) Catechism,…” (Di samping studi Alkitab yang saya ajarkan sungguh-sungguh, saya mendorong para murid saya untuk membaca dengan teliti tafsiran-tafsiran Calvin,… Buku Institutesnya seharusnya dipelajari setelah Katekismus Heidelberg,…) (http://en.wikipedia.org/wiki/John_Calvin)

Tentang tata pemerintahan gereja, Calvin menegaskan ada empat jabatan :
· Ministers of the Word were to preach, to administer the sacraments, and to exercise pastoral discipline, teaching and admonishing the people. (Pelayan Firman : berkhotbah, melaksanakan sakramen, dan melatih disiplin pastoral, mengajar dan menegur orang.)
· Doctors held an office of theological scholarship and teaching for the edification of the people and the training of other ministers. (Doktor/Pengajar memiliki tugas untuk mengajar doktrin/theologia dan mengajar untuk pendidikan orang dan pelatihan para pelayan.)
· Elders were 12 laymen whose task was to serve as a kind of moral police force, mostly issuing warnings, but referring offenders to the Consistory when necessary. (Tua-tua : 12 orang-orang awam yang tugasnya adalah untuk melayani kekuatan penjagaan moral, paling banyak menyatakan peringatan, tetapi menyerahkan orang yang berbuat salah kepada Pengadilan ketika diperlukan.)
· Deacons oversaw institutional charity, including hospitals and anti-poverty programs. (Diaken : mengawasi dana institusional, termasuk program rumah sakit dan anti-kemiskinan.)

Di dalam ajarannya, Calvin sangat menegaskan inti Alkitab yaitu kedaulatan Allah (the Sovereignty of God). Prinsip fundamentalnya adalah Allah sebagai Raja yang berdaulat atas segala ciptaan. Baginya, kedaulatan Allah adalah suatu prinsip yang dinamis (tidak statis), suatu realitas yang menginformasikan kehidupan yang konkret, yang membentuk diskusi Calvin tentang setiap doktrin. Tetapi seringkali banyak orang Kristen menyerang Reformed dengan mengatakan orang-orang Reformed pintar bertheologia tetapi tidak ada implikasi/“membumi”, benarkah demikian ? TIDAK. Calvin sendiri mengucapkan bahwa pengenalan orang-orang percaya akan Allah “lebih berisi pengalaman hidup daripada spekulasi yang melayang tinggi dan sia-sia.” (Institutio 1.10.2) (seperti dikutip dalam Hoffecker, 2006, p. 139). Apa arti penting kedaulatan Allah baik secara doktrin maupun implikasi praktisnya ? Calvin menegaskan bahwa pewujudnyataan kedaulatan Allah berarti providensia (pemeliharaan)-Nya yang menciptakan dan memelihara ciptaan. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen yang bertheologia Reformed, kita harus menolak prinsip tentang nasib, kebetulan dan keberuntungan. Sebagai implikasi praktisnya, doktrin kedaulatan Allah di dalam providensia-Nya memberikan penghiburan besar kepada orang beriman bahwa segala kehidupan berada di bawah kendali Bapa Surgawi yang penuh kasih. Hal ini mengakibatkan umat pilihan takjub dan takut yang sepantasnya terhadap Allah, karena dalam rencana-Nya, Alalh juga menyatakan kepada orang-orang Kristen tanggung jawab mereka yang menemukan dan menggenapi kehendak-Nya. Sebagai akibat terakhir, setiap umat pilihan menyerahkan kehendak mereka (total surrender) kepada kedaulatan Allah untuk menaati perintah-Nya.

Doktrin kedaulatan Allah bukan hanya berhubungan dengan doktrin Allah, tetapi juga berhubungan dengan doktrin-doktrin lainnya, yaitu doktrin manusia (antropologi), dosa (hamartologi) dan penebusan/keselamatan (soteriologi). Di dalam konsep Penciptaan, karena Allah adalah Raja yang berdaulat yang memerintah atas ciptaan-Nya, maka manusia harus melayani dan memuliakan Dia. Moto Calvin, “Hatiku kupersembahkan kepada-Mu, o Tuhan, siap dan tulus.” (seperti dikutip dalam Hoffecker, 2006, p. 141). Tetapi manusia yang diciptakan Allah ini telah jatuh ke dalam dosa, sehingga manusia tidak hidup sesuai maksud asali mereka yaitu memuliakan Allah. Artinya, mereka yang berdosa tidak lagi mempunyai kebaikan dan kekuatan. Selain itu, meskipun gambar Allah tidak hilang, gambar Allah telah mengalami distorsi yang luar biasa, di mana Adam dihukum karena dosanya dengan diambil hikmat dan kebenarannya sehingga ia menunjukkan kebodohan, kesia-siaan dan kefasikan. Menarik sekali, bagi Calvin, manusia berdosa dikaitkannya dengan manusia yang (pikirannya) bodoh, sia-sia, dan fasik, berbeda dari Aquinas yang memberhalakan rasio manusia berdosa yang tidak dicemari oleh dosa. Ajaran Calvin sesuai dengan ajaran Alkitab di dalam Roma 1:21,22, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” Roma 3:10-12 juga menggambarkan sekali lagi realita manusia berdosa, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Dosa Adam juga diwariskan kepada keturunan-keturunannya. Dosa warisan ini disebut dosa asal. Di dalam dosa asal, Calvin membagi menjadi dua hal, yaitu : kerusakan juga diwariskan kepada keturunan-keturunan Adam dan kesalahan juga diimputasikan, suatu putusan hukum yang dikenakan oleh Allah seperti dalam sidang pengadilan (Roma 5). Kerusakan yang diwarisi dari Adam ini berarti setiap kehendak individual diperbudak oleh dosa, dan kita sama sekali tidak dapat melakukan yang baik. Dengan kata lain, kita telah menjadi budak/hamba dosa. Tuhan Yesus mengajar hal ini di dalam Yohanes 8:34, “Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Dosa juga merusakkan akal, afeksi, dan natur manusia lainnya. Tidak ada jalan keluar dari dosa, kecuali Allah dari Surga memberikan anugerah-Nya kepada umat pilihan-Nya. Bagi Calvin, manusia hanya dapat melakukan yang baik yang diwajibkan oleh Allah hanya melalui anugerah Allah saja. Artinya, dalam kasih dan ketaatan dan sebagai pengganti, Kristus telah membayar hukuman bagi dosa di Kalvari untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih Allah untuk diselamatkan (Limited Atonement/Penebusan Terbatas). Dalam penebusan inilah, anugerah Allah diimputasikan kepada (dianggap sebagai milik) orang percaya. Dalam pengimputasian ini, Roh Kudus menerapkan karya Kristus kepada orang percaya dengan menciptakan pertobatan dan iman dalam hati, sekaligus memperbarui gambar Allah dalam diri orang-orang yang telah dipilih-Nya untuk ditebus. Melalui iman yang adalah anugerah Allah lah, orang-orang percaya dipersatukan dengan Allah. Dengan kata lain, tindakan Roh Kudus yang melahirbarukan umat pilihan-Nya mendahului tindakan pertobatan dan iman, karena tidak ada seorangpun yang dapat mengaku Kristus sebagai Tuhan, jika bukan oleh Roh Kudus (1 Korintus 12:3). Lalu, di mana letak perbuatan baik ? Bagi Calvin, perbuatan baik mengikuti iman, tetapi tidak dapat menjadi dasar bagi keselamatan.

Tentang doktrin pilihan (predestinasi), Calvin menjelaskan bahwa pemilihan adalah kedaulatan Allah dalam keselamatan yang bersifat : kolektif (artinya Allah memilih Israel dengan menebusnya sebagai satu umat {Ulangan 7:7-8}) dan individual (artinya kedaulatan Allah memilih “sisa-sisa” dari seluruh orang Israel {Kejadian 45:7 ; Yesaya 10:21}, memilih Yakub dan menolak Esau {Roma 9:13}). Selanjutnya, Calvin menegaskan bahwa justru tanpa predestinasi Allah yang berdaulat ini, umat manusia akan terhilang dalam dosa secara kekal. Di dalam rencana penebusan-Nya, Allah memilih untuk menebus sebagian manusia untuk memuliakan nama-Nya yang kudus. Sehingga sebagai umat pilihan-Nya, kita tidak perlu sombong, tetapi semakin bersyukur karena anugerah-Nya yang telah memilih kita. Banyak orang menyerang Calvin dan menganggap Allah Calvin sebagai Allah yang pilih kasih, karena tidak memilih semua orang untuk diselamatkan. Bagi mereka, yang namanya adil, itu sama rata. Jangan lupa, keadilan Allah berbeda dari keadilan manusia berdosa. Keadilan Allah adalah keadilan yang berhubungan erat dengan kekudusan, kasih dan kedaulatan-Nya. Memisahkan salah satu atribut Allah ini berarti menghina Allah dengan menyamakannya dengan natur manusia berdosa ! Di sisi lain, banyak orang “Kristen” mengatakan bahwa Calvinisme sama dengan Hyper-Calvinisme yang terlalu menekankan kedaulatan Allah, benarkah demikian? Mereka terlalu gegabah menyamaratakan kedua ide yang berbeda ini. Hyper-Calvinisme sama dengan konsep takdir di dalam Islam, tetapi Calvinisme yang berintikan kedaulatan Allah tetap mengharuskan manusia pilihan-Nya untuk bertanggungjawab. Dengan kata lain, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Inilah paradoks keKristenan yang tak mungkin dimengerti oleh kaum yang sejak semula telah ditetapkan-Nya untuk binasa (reprobat). Ada tiga definisi hubungan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia ini menurut Calvin, yaitu :
Pertama, anugerah yang berdaulat adalah satu-satunya sarana yang melaluinya kita dapat diselamatkan dan bahwa kita masih harus mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita.
Kedua, kedaulatan Allah sendiri mengesahkan tanggung jawab manusia.
Ketiga, kedaulatan Allah atas seluruh tatanan ciptaan, sehingga segala sesuatu ditentukan oleh kehendak Allah yang tak terselidiki, dan juga tanggung jawab moral dan spiritual manusia di mana Allah menuntut tanggung jawab manusia atas segala tindakannya. Artinya, manusia harus tetap mengusahakan dan memelihara alam semesta ini (Kejadian 2:15).
Sebagai contoh kaitan erat antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia adalah di dalam Kisah Para Rasul 2:23, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.”
Bagi keselamatan dan hidup manusia sehari-hari, anugerah Allah adalah keniscayaan dan dijanjikan kepada kita dan diteguhkan dalam pengalaman kita sendiri. Artinya, adanya anugerah Allah menangkal keputusasaan manusia karena manusia percaya bahwa Allah adalah Tuhan dan Juruselamat kehidupan manusia yang memelihara kehidupan kita sehari-hari. Bukankah ini suatu penghiburan bagi umat-Nya di kala mereka mengalami penderitaan dan himpitan dunia berdosa ini ?

Dengan demikian, doktrin-doktrin Calvinisme dapat diringkaskan menjadi lima prinsip yang sering disingkat TULIP, yaitu : Total Depravity (Kerusakan Total), Unconditional Election (Pemilihan yang Tak Bersyarat), Limited Atonement (Penebusan Terbatas), Irresistible Grace (Anugerah yang Tak Dapat Ditolak) dan Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus). Mari kita menganalisa kelima doktrin penting Calvinisme ini.
Pertama, Total Depravity (Kerusakan Total) berarti dosa manusia mengakibatkan seluruh natur manusia rusak total, baik mencakup rasio, kehendak, perkataan, dll, sehingga meskipun gambar Allah tidak sepenuhnya hilang dan manusia masih bisa sedikit berbuat baik, tetapi perbuatan baik seperti kain kotor yang menjijikkan di mata Tuhan, karena perbuatan baik dikerjakan untuk memperalat Allah dan memuliakan diri, ketimbang memuliakan Allah.
Kedua, Unconditional Election (Pemilihan yang Tak Bersyarat) berarti dari kekekalan (sebelum dunia dijadikan), Allah telah memilih beberapa orang untuk diselamatkan dan sisanya (secara otomatis) untuk dibinasakan. Ini disebut Predestinasi Ganda (Double Predestination). Bagi Calvin, dalam membicarakan predestinasi, terdapat dua sikap yang harus dihindari, yaitu keingintahuan yang berlebihan tentang hal yang tidak Allah nyatakan dan ketakutan yang berlebihan dalam mengajarkan apa yang telah Allah nyatakan. (Palmer, 2005, p. 185) Artinya, banyak orang Kristen ingin mengetahui lebih dalam tentang predestinasi lebih dari apa yang telah diwahyukan oleh Allah, misalnya mengapa Allah memilih Yakub, bukan Esau ? Mengapa Allah mengizinkan Adam dan Hawa berdosa ?, dll. Ketika Allah tidak menyatakan hal-hal tersebut, itu berarti rahasia dan hanya boleh diketahui oleh Allah saja (ingat prinsip : Ulangan 29:29, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”) Di dalam hal ini, kita diminta untuk diam dan tidak gatal mengotak-atik Alkitab untuk menemukan apa yang tidak diajarkan Alkitab. Kita diminta juga untuk sabar menunggu karena banyak hal yang tidak kita mengerti ketika di dunia akan dibuka satu per satu ketika kita (sebagai umat pilihan-Nya) berada di dalam kekekalan bersama dengan-Nya. Di sisi lain, karena kepercayaan yang begitu ketat pada predestinasi, beberapa pemimpin gereja tidak berani mengajarkan predestinasi, karena mereka kuatir akan jemaat yang mendengar doktrin ini tidak dikuatkan imannya. Hal ini salah, justru ketika doktrin ini dikhotbahkan, maka ajaran ini menguatkan iman. Mengapa? Karena ketika kita mengkhotbahkan predestinasi, di saat yang sama, kita semakin bersyukur atas kasih dan keadilan-Nya yang masih mau memilih beberapa dari antara kita yang berdosa itu untuk diselamatkan. Sebaliknya, jika tidak ada predestinasi, maka apa yang patut disyukuri ? Misalkan, seperti yang dianut oleh kaum universalis bahwa Allah memilih semua orang untuk diselamatkan, kita tidak mungkin bisa bersyukur karena kita tidak ada bedanya dengan orang-orang lain yang juga dipilih Allah, lalu kita juga tidak perlu bersyukur karena Allah tidak menunjukkan keadilan-Nya selain kasih-Nya. Dalam tesis ke-8 dari 12 tesis tentang reprobasi, Rev. Prof. Edwin H. Palmer, Th.D., D.D. di dalam bukunya Lima Pokok Calvinisme (2005) mengatakan, “Keberatan-keberatan terhadap pengajaran tentang reprobasi biasanya lebih disebabkan oleh rasionalisme skolastis daripada ketaatan yang rendah hati kepada Firman Allah.” (p. 185) Dengan tidak bertanggungjawab, Kamus Teologi yang ditulis oleh dua orang pastur Katolik mengungkapkan salah satu uraiannya tentang predestinasi, yaitu predestinasi ganda ini “sudah diyakini oleh rahib Gottschalk (804-869) dan dinyatakan sesat dalam sinode di Mainz dan Quiercy. Keselamatan manusia memang tergantung sepenuhnya pada rahmat ilahi, namun tidak berarti menolak kehendak penyelamatan Allah yang universal (1 Tim 2:3-6) dan mengesampingkan kehendak manusia.” (O’Collins, 1996, p. 262) Jika predestinasi ganda itu sesat, maka orang-orang Katolik harus menyatakan sesat juga pernyataan dari Roma 9:13, di mana ketika Ribka mengandung, Allah sendiri berfirman, “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Untuk hal ini, Paulus sudah berjaga-jaga (kalau-kalau manusia berdosa mempertanyakan keadilan Allah dalam hal predestinasi ganda) dengan mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” (Roma 9:14-16) Ayat ini mungkin tidak pernah (atau sengaja tidak) dibaca oleh orang-orang Katolik, karena ayat ini berbenturan dengan paham mereka yang universalis dan gemar berkompromi (bahasa kasarnya, “melacur”). Bukan hanya itu saja, orang-orang Katolik juga menolak Roma 8:29-30 tentang predestinasi. Kedua, orang-orang Katolik dengan prinsip penafsiran umum yang tidak bertanggungjawab telah memfitnah Calvinisme dengan mengatakan bahwa Calvinisme tidak mengajarkan tanggung jawab/kehendak manusia. Calvinisme (seperti yang telah dijelaskan di atas) juga mengajarkan kehendak/tanggung jawab manusia sebagai implikasi dari kedaulatan Allah. Dalam hal ini, lebih tepat menggunakan kata “tanggung jawab” ketimbang kehendak/kehendak bebas, karena setelah manusia berdosa, kehendak/kehendak bebas manusia sudah dirusak, sehingga yang ada hanya kehendak (bebas) untuk berdosa saja.
Ketiga, Limited Atonement (Penebusan Terbatas) berarti penebusan Kristus di atas kayu salib meskipun cukup untuk menebus semua orang berdosa, tetapi hanya berlaku dan diperuntukkan khusus bagi umat pilihan-Nya yang telah ditetapkan-Nya dari sejak semula. Ibrani 9:28 mengatakan, “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.” Ayat ini jelas membuktikan bahwa pengorbanan Kristus bukan untuk menanggung dosa SEMUA orang, tetapi BANYAK orang, dan tentunya banyak orang jelas menunjuk kepada umat pilihan Allah.
Keempat, Irresistible Grace (Anugerah yang Tak Dapat Ditolak). Penebusan Kristus di kayu salib diefektifkan oleh Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya, sehingga anugerah Roh Kudus ini tidak mungkin dapat ditolak oleh mereka. Sebaliknya, mereka lah yang harus bersyukur atas anugerah ini.
Kelima, Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-orang Kudus) berarti orang-orang pilihan-Nya yang telah menerima dan mengalami karya penebusan Kristus melalui Roh Kudus TIDAK mungkin bisa hilang/binasa, karena Allah yang memulai tindakan penyelamatan, Ia jugalah yang mengakhiri karya-Nya tersebut, sehingga Ia patut dipuji karena kesetiaan-Nya dari dulu, sekarang dan selamanya. Tuhan Yesus mengajarkan hal ini secara langsung di dalam Yohanes 6:39-40, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."” Di ayat 47 di pasal yang sama, Tuhan Yesus sendiri bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” Di dalam Yohanes 3:16 juga dikatakan bahwa barangsiapa yang percaya kepada Kristus, ia akan memperoleh hidup yang kekal (BUKAN hidup yang separuh kekal).

Sumbangsih dan Pandangan Terhadap Calvinisme :
Calvinisme bukan hanya pintar bertheologia, ia juga mengajarkan spiritualitas yang mendalam, sehingga para pengikutnya tersebar di Eropa dan Amerika. Di Eropa, para pengikut Calvin (Calvinis) di Prancis disebut Huguenot, di Belanda disebut Kaum Pengemis dan di Inggris disebut Puritan dan Presbyterian. Di Amerika, para Calvinis disebut para Bapa Musafir (Pilgrim Fathers), salah satunya John Bunyan. (Kuyper, 2005, p. 9). Bukan hanya di Eropa dan Amerika, doktrin Calvinis tersebar dan mempengaruhi negara-negara, yaitu Rusia, negara-negara Balkan orang-orang Armenian (negara, bukan doktrin), dan bahkan kekaisaran Menelik di Abisinia. (Kuyper, 2005, p. 9)

Sumbangsih Calvinisme juga terlihat dari beberapa pandangan terhadap Calvinisme, yaitu :
Pertama, Dr. Robert Fruin dalam bukunya Tien Jaren uit den Tachtig-jarigen Oorlog mengatakan, “Calvinisme masuk ke Belanda sebagai satu sistem pengajaran theologi yang logis, mempunyai tatanan gerejanya sendiri yang demokratis, digerakkan oleh perasaan moral yang begitu kuat, dan sangat antusias terhadap reformasi moral maupun religius bagi umat manusia.” (seperti dikutip dalam Kuyper, 2005, p. 7)

Kedua, Cd. Busken Huet dalam bukunya Het Land van Rembrandt mengakui bahwa Calvinisme telah membebaskan Swiss, Belanda, dan Inggris, dan telah memberikan kepada para Bapa Musafir (Pilgrim Fathers) dorongan menuju kemakmuran Amerika Serikat. (seperti dikutip dalam Kuyper, 2005, pp. 7-8)

Ketiga, seorang mantan Perdana Menteri Belanda, theolog, gembala, pengajar Reformed, Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper di dalam bukunya Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme (Lectures on Calvinism) (2005) mengatakan, “...Calvinisme yang bukan hanya menciptakan bentuk gereja yang berbeda, tetapi satu bentuk kehidupan manusia yang sama sekali berbeda, untuk memperlengkapi masyarakat dengan metode eksistensi yang berbeda, dan untuk mengisi dunia dari hati manusia dengan ideal-ideal dan konsepsi-konsepsi yang berbeda.” (p. 11) Selanjutnya, Dr. Kuyper juga mengatakan, “Calvinisme... sungguh-sungguh merupakan suatu sistem prinsip-prinsip yang mencakup segala sesuatu, berakar pada masa lampau tetapi sanggup menguatkan kita pada masa kini, dan mengisi kita dengan keyakinan akan masa yang akan datang.” (p. 14) Sebagai seorang theolog Reformed yang rendah hati, Dr. Kuyper pernah mengatakan bahwa tidak ada satu inci pun di dalam kehidupan manusia, di mana Kristus tidak bertakhta di dalamnya.

Keempat, seorang theolog, hamba Tuhan, gembala, pengajar, penginjil, filsuf dan budayawan Reformed dari Indonesia, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa negara-negara/daerah-daerah yang dipengaruhi theologia Reformed (dan Reformasi Luther), misalnya Jerman, Swedia, Swiss, Geneva, dll selalu menghasilkan barang-barang yang berkualitas tinggi. Misalnya, mobil Mercedes-Benz asli BUKAN dibuat oleh Arab Saudi, Irak, Iran, kota Paris apalagi Indonesia, tetapi dibuat oleh negara yang dipengaruhi oleh Lutheran, yaitu Jerman. Pdt. Sutjipto Subeno juga mengatakan bahwa arloji yang berkualitas tinggi mencapai jutaan dollar harganya, karena arloji itu (buatan Geneva) dikerjakan dengan teliti, setelah selesai, arloji itu dicap dengan Geneva Seal. Prinsip ini didasarkan pada prinsip Alkitab di dalam Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Prinsip ini akhirnya mengakibatkan setiap orang/(penduduk) negara yang dipengaruhi Reformasi (khususnya dari sayap Calvinisme) bekerja dengan giat, tekun, dan teliti, karena mereka bekerja bukan untuk dilihat manusia, tetapi dilihat Tuhan. Setelah bekerja dengan tekun dan teliti, seorang Calvinis mendapatkan hasilnya BUKAN untuk dihambur-hamburkan (seperti prinsipnya Kiyosaki), tetapi untuk dihemat. Inilah yang membuat Calvinisme tidak mampu disaingi oleh wawasan dunia apapun baik dari Katoliksisme, Islam, Buddhisme, Hinduisme, apalagi mayoritas “Kristen” Karismatik/Pentakosta yang liar.

Kelima, Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. sebagai seorang gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya pernah menuturkan bahwa di dalam seluruh tafsiran Alkitab yang ada sampai sekarang, kita harus memperhatikan bahwa banyak tafsiran Alkitab yang bermutu dan bertanggungjawab ditulis oleh para penafsir Reformed. Prof. Dr. Gordon D. Fee yang adalah salah seorang penafsir Alkitab dalam kitab Filipi dalam IVPNTC (InterVarsity Press New Testament Commentaries) adalah seorang gembala sidang sebuah gereja Pentakosta dan profesor di Regent College, Canada, tetapi beliau bertheologia Reformed. John Calvin, sebagai bapa pendiri theologia Reformed juga menuliskan banyak tafsiran Alkitab. Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper juga pernah mengeksposisi Alkitab secara teratur. Banyak para penafsir Alkitab yang bermutu biasanya dihasilkan dari theologia Reformed atau Injili ketat (dipengaruhi Reformasi), sebaliknya hampir tidak ada satu penafsir Alkitab yang bertanggungjawab dari banyak kalangan Katolik (yang tidak mempercayai supremasi Alkitab, meskipun tetap mengakui Alkitab sebagai Firman Allah→suatu logika yang aneh), apalagi dari banyak gereja Karismatik/Pentakosta (yang banyak tidak mementingkan doktrin, dan menganggap doktrin itu “membatasi” pekerjaan “roh kudus”).



Jacobus Arminius : Profil Singkat dan Ajaran-ajarannya
Setiap kebenaran ketika diberitakan pasti menuai dua akibat, yaitu ada yang menerima dan mengimaninya, dan sebaliknya, ada yang menolaknya. Bagi mereka yang menerimanya berarti mereka adalah kaum pilihan Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya, sedangkan mereka yang menolaknya memang telah ditetapkan-Nya untuk dibinasakan. Sekarang, mari kita akan melihat siapa saja yang menolak pengajaran Calvin ini.

Jacobus Arminius adalah sebuah nama Latin dari Jacob Hermann. Dia yang adalah seorang theolog Belanda pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 adalah musuh dari Calvin yang dulunya pernah diajar oleh Dr. Theodore Beza, penerus Calvin, tetapi ia menolak ajaran Beza dan mengajarkan bahwa Allah memilih manusia setelah Ia melihat bahwa beberapa orang memilih untuk beriman di dalam-Nya. Para pengikut Arminian ini disebut Remonstrant. Ajaran Arminius ini pernah ditantang oleh seorang Calvinis Belanda, Franciscus Gomarus, tetapi sayangnya Arminius meninggal sebelum sinode nasional berlangsung. Arminianisme ini berpengaruh pada theologia John Wesley (akan dijelaskan di bawah) sebagai inti theologia Methodisnya, gereja Baptis, Independen, Gerakan Kekudusan (Holiness Movement), Gereja Advent (Seventh-day Adventist), mayoritas Injili, dan banyak Pentakosta/Karismatik.

Pengikut Arminius ini dibagi menjadi tiga golongan, yaitu Arminianisme klasik, Arminianisme Wesley dan Open-Theisme (tokoh utama : Clark H. Pinnock).
Pertama, Arminianisme Klasik (atau kadang dapat disebut Reformed/Reformation Arminianism atau Arminianisme Reformasi/Reformed). Para pengikut Arminianisme klasik yang berasal dari Arminius dan dipertahankan oleh para Remonstrant mengajarkan:
· Kerusakan total : Arminius menyatakan bahwa dalam kondisi berdosa, kehendak bebas manusia berkenaan dengan kebaikan yang benar ditahan, dirusakkan, dan terhilang. Lalu, kuasanya tidak hanya dilemahkan dan tidak berguna, jika tidak dibantu oleh anugerah, tetapi itu tidak memiliki kekuatan apapun kecuali hal tersebut dibangkitkan/ditimbulkan oleh anugerah Ilahi.
· Penebusan diperuntukkan untuk semua : kematian Yesus adalah untuk semua orang, Yesus menarik semua orang kepada diri-Nya, dan semua orang memiliki kesempatan untuk keselamatan melalui iman.
· Kematian Yesus memuaskan keadilan Allah : hukuman dosa bagi umat pilihan dibayar penuh di dalam karya Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, penebusan Kristus diperuntukkan bagi semua, tetapi memerlukan iman yang dilaksanakan. Bagi Arminius, pembenaran seluruhnya adalah imputasi kebenaran melalui belas kasihan atau manusia dibenarkan di hadapan Allah berdasarkan keadilan tanpa pengampunan apapun.
· Anugerah itu dapat ditolak : Allah yang mengambil inisiatif dalam proses keselamatan dan anugerah-Nya tiba pada semua orang. Anugerah ini berlaku bagi semua orang untuk menghukum mereka dari Injil, menarik mereka dengan kuat kepada keselamatan, dan memungkinkan adanya iman yang sejati. Tawaran keselamatan melalui anugerah ini tidak berlaku tidak dapat ditolak (irresistibly) dalam sebab-akibat yang murni, metode deterministik tetapi lebih tepatnya dalam sebuah cara pengaruh-dan-respon yang dapat diterima dan secara bebas ditolak.
· Manusia memiliki kehendak bebas untuk meresponinya atau menolaknya : kehendak bebas dibatasi oleh kedaulatan Allah, tetapi Allah secara berdaulat memberikan kepada semua manusia kesempatan untuk menerima Injil Kristus melalui iman, secara bersamaan mengizinkan semua manusia untuk menolaknya.
· Pemilihan itu bersyarat : Arminius mendefinisikan pemilihan sebagai ketetapan Allah yang dari-Nya, dari kekekalan, Dia menetapkan untuk membenarkan di dalam Kristus, orang-orang percaya, dan untuk menerima mereka bagi hidup yang kekal. Allah sendiri yang menentukan siapa yang akan diselamatkan dan penentuan-Nya itu ada pada mereka yang percaya kepada Yesus melalui iman yang nanti akan dibenarkan.
· Allah mempredestinasikan umat pilihan bagi masa depan yang penuh kemuliaan : predestinasi bukanlah predeterminasi tentang siapa yang akan percaya, tetapi lebih tepatnya predeterminasi dari warisan masa depan dari orang percaya. Oleh karena itu, umat pilihan dipredestinasikan untuk menjadi anak melalui adopsi, pemuliaan, dan hidup yang kekal.
· Keselamatan kekal juga bersyarat : Semua orang percaya memiliki asuransi keselamatan yang penuh dengan syarat bahwa mereka tinggal di dalam Kristus. Keselamatan disyaratkan dalam iman, oleh karena itu, ketekunan juga bersyarat. Kemurtadan (berbalik dari Kristus) juga dilakukan melalui penolakan yang hati-hati (deliberate), dan disengaja akan Yesus dan peninggalan iman.

Kedua, Arminianisme Wesley. Secara historis, John Wesley, salah seorang pendiri Methodisme adalah seorang penganut ajaran soteriologi (doktrin keselamatan) Arminian. Dia setuju pada sebagian besar apa yang Arminius sendiri ajarkan, mempertahankan doktrin yang kokoh akan dosa asal, kerusakan total, pemilihan yang bersyarat, anugerah yang dapat ditolak, penebusan yang tidak terbatas, dan kemungkinan kemurtadan. Dia berbeda dari Arminianisme klasik terutama dalam tiga hal :
· Penebusan : Penebusan menurut Wesley adalah cangkokan dari teori substitusi yang bersifat hukuman dan teori pemerintahan dari Hugo Grotius, seorang pengacara dan seorang penganut Remonstrant. Wesley memandang penebusan hanya sebatas tindakan rekonsiliasi yang mengantarai antara Allah dan manusia.
· Kemungkinan kemurtadan : Wesley sepenuhnya menerima pandangan Arminian bahwa orang Kristen sejati dapat murtad dan kehilangan keselamatannya. Hal ini dapat diamati di dalam khotbahnya yang terkenal A Call to Backsliders.
· Kesempurnaan Kristen : menurut pengajaran Wesley, orang-orang Kristen dapat meraih kesempurnaan di dalam hidupnya. Kesempurnaan Kristen, menurutnya, adalah “kemurnian pengertian, mendedikasikan seluruh hidup bagi Allah” dan “pikiran yang berada di dalam Kristen, memungkinkan kita untuk berjalan seperti Kristus berjalan.” Baginya, kesempurnaan Kristen bukanlah kesempurnaan kesehatan tubuh atau ketidakbersalahan dalam penghukuman. Kesempurnaan Kristen bergantung pada pencobaan, dan berlanjut pada kebutuhan untuk berdoa bagi pengampunan dan kekudusan. Ini bukanlah kesempurnaan absolut, tetapi sebuah kesempurnaan dalam kasih.

Ketiga, Open-Theisme. Para penganut Open-Theisme adalah
Greg Boyd, Clark Pinnock, William Hasker, dan John E. Sanders. Doktrin ini mengajarkan bahwa Allah itu Mahakuasa dan berada di mana-mana (omnipresence), tetapi berbeda dalam natur masa depannya. Artinya, bagi penganut ajaran ini, masa depan tidak secara sempurna diketahui karena manusia masih belum membuat keputusannya, dan oleh karena itu, Allah mengetahui masa depan di dalam kemungkinan daripada kepastian. Bagi mereka, Allah itu berdaulat karena Ia tidak menetapkan masing-masing pilihan manusia, tetapi lebih tepatnya bekerja sama dengan ciptaan-Nya untuk menyebabkan kehendak-Nya. Bagi para penganut ajaran ini, kehendak bebas adalah jawaban terbaik dari masalah kejahatan.



Perbandingan (Persamaan dan Perbedaan) Calvinisme Vs Arminianisme
Antara Calvinisme dan Arminianisme, ada dua persamaan, yaitu mereka sama-sama mengakui kerusakan total manusia dan mereka juga mengakui efek substitusi dari penebusan.

Perbedaan-perbedaan Arminianisme Vs Calvinisme :
· Natur pemilihan : Arminian mengajarkan bahwa pemilihan menuju kepada keselamatan kekal memiliki syarat iman di dalamnya. Sedangkan doktrin Calvinis adalah pemilihan yang tanpa syarat, artinya keselamatan tidak dapat diperoleh, sehingga pemilihan ini bersifat tanpa syarat.
· Natur anugerah : Arminian mempercayai bahwa melalui anugerah Allah, Dia memulihkan kehendak bebas berkenaan dengan keselamatan bagi semua manusia, dan setiap individu, oleh karena itu, mereka mampu baik untuk menerima Injil melalui iman atau menolaknya melalui ketidakpercayaannya. Sedangkan Calvinis mengajarkan bahwa anugerah Allah mampu untuk memungkinkan keselamatan diberikan hanya kepada umat pilihan dan secara tidak dapat ditolak memimpin kepada keselamatan.
· Luasnya jangkauan penebusan : Arminian mengajarkan bahwa penebusan itu universal, sedangkan Calvinis mengajarkan bahwa penebusan ini bersifat terbatas hanya pada umat pilihan-Nya. Meskipun demikian, baik Arminian maupun Calvinis mempercayai bahwa undangan Injil bersifat universal.
· Ketekunan dalam iman : Arminian percaya bahwa keselamatan masa depan dan kehidupan kekal dijamin dalam Kristus dan dilindungi dari semua kuasa eksternal tetapi itu bersyarat apabila mereka tetap di dalam Kristus dan dapat hilang melalui kemurtadan. Sedangkan Calvinis tradisional percaya di dalam doktrin ketekunan orang-orang kudus, yang mengatakan bahwa karena Allah memilih beberapa orang kepada keselamatan dan Ia jugalah yang sesungguhnya membayar untuk dosa-dosa khusus mereka, maka Dia menjaga mereka dari kemurtadan dan bahwa mereka yang murtad adalah mereka yang tidak pernah dilahirbarukan.



Kritik Terhadap Presuposisi Arminianisme dan Jawaban/Tantangan Calvinisme (dari Alkitab)
Setelah kita memperhatikan persamaan dan perbedaan antara Calvinisme dan Arminianisme, maka dengan prinsip Alkitab yang integratif, jujur, setia, kokoh dan bertanggungjawab dalam perspektif Calvinisme/theologia Reformed, kita akan memperhatikan tiga kelemahan fatal Arminianisme dan solusi/jawaban serta tantangan Calvinisme berkenaan dengan doktrin yang mereka ajarkan.
Pertama, Arminianisme tidak mengerti arti dosa dan anugerah Allah secara benar. Keseluruhan doktrin Arminian menginsyaratkan bahwa mereka tidak mengerti arti dosa secara benar dan tuntas. Seorang bapa gereja mengajarkan bahwa anugerah Allah harus dimengerti berbarengan dengan dosa manusia yang begitu parah. Arminian memang benar mengajarkan bahwa manusia itu rusak total, tetapi kerusakan total yang dimengertinya tidak pernah tuntas. Maksudnya, ia mengerti rusak total seperti yang dipahami oleh Calvin, tetapi kerusakan total ini dibantu oleh anugerah Allah yang memberikan kehendak bebas kepada mereka untuk menerima atau menolak anugerah Allah. Kalau namanya anugerah Allah, maka itu adalah 100% pemberian dari Allah, tidak ada satu jasa baik manusia, tetapi Arminian agak aneh mengerti anugerah Allah, yaitu Allah menganugerahkan kehendak bebas manusia dahulu untuk meresponi anugerah Allah. Hal ini tidak pernah diajarkan Alkitab. Di dalam 1 Korintus 12:3, Allah melalui Paulus dengan jelas mengajarkan, “Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.” Dengan jelas, Alkitab mengajarkan bahwa seseorang dapat mempercayai Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat hanya melalui Roh Kudus yang telah melahirbarukan mereka. Mengutip ayat yang pernah diajarkan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, definisi orang Kristen dapat dijumpai pada 1 Petrus 1:2, “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya.” Setelah Allah memilih beberapa orang untuk menjadi anak-anak-Nya, maka Bapa mengutus Roh Kudus untuk menguduskan mereka dan memimpin mereka untuk taat kepada Kristus. Lagi-lagi, Roh Kudus memimpin umat pilihan-Nya untuk percaya dan taat kepada Kristus. Tidak ada satu pengajaran Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia dahulu baru Ia mengutus Kristus untuk menebus dosa !

Kedua, Arminianisme memberhalakan kehendak bebas manusia. Dari doktrin-doktrin Arminian, meskipun tetap mengakui kerusakan total manusia, ia tetap tidak mau mengakui kelemahan manusia, melainkan ia tetap ingin menonjolkan peran serta manusia dalam keselamatan. Inilah bukti ketidakjujuran dan ketidakkonsistenan seorang penganut Arminian dalam menegakkan doktrin kerusakan total manusia. Mereka menegakkan kerusakan total manusia, tetapi di sisi lain, dengan alasan anugerah Allah yang memberikan kehendak bebas manusia, maka Arminian melegalkan manusia bebas untuk memilih Allah atau tidak. Ini adalah suatu ketidakmasukakalan. Ketika Allah memberikan anugerah-Nya, Ia tak mungkin memberikan anugerah-Nya berupa kehendak bebas untuk memilih Allah, sekaligus menolak-Nya, itu bukan anugerah-Nya. Kata anugerah berarti karunia yang diberikan Allah kepada manusia yang tak mampu. Sedangkan ketika manusia menolak Allah, itu TIDAK perlu anugerah Allah yang memberikan kehendak bebas manusia, karena itu sudah merupakan natur manusia berdosa : menolak Allah. Lagi-lagi, ini logika yang tidak masuk akal ! Sebaliknya, Calvinisme (maupun Lutheran) yang berpegang teguh pada Alkitab mengajarkan bahwa kehendak bebas manusia sejati adalah kehendak untuk tidak berdosa (tentu, termasuk tidak menolak Allah), tetapi hal ini sudah dirusak oleh dosa, sehingga kehendak bebas manusia yang berdosa hanya satu, yaitu bebas untuk berdosa (tetapi tidak pernah bebas untuk tidak berdosa). Oleh karena itu, Roh Kudus mengefektifkan penebusan Kristus di dalam hati setiap umat pilihan-Nya untuk taat kepada Kristus dengan melahirbarukan mereka, sehingga mereka bisa bertobat dan percaya di dalam Kristus. Iman di dalam Calvinisme (theologia Reformed) adalah anugerah Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus, sehingga dalam hal ini, kehendak bebas manusia ditundukkan mutlak oleh Roh Kudus. Dengan demikian, tidak ada kehendak bebas manusia yang boleh berkeliaran baik untuk menerima atau menolak Allah. Setelah Roh Kudus menundukkan kehendak bebas umat pilihan-Nya, maka mereka dengan sendirinya melalui bantuan Roh Kudus yang menguduskan mereka secara progresif, mereka memiliki tanggung jawab untuk memuliakan Allah. Kata “kehendak bebas” agaknya kurang tepat digunakan, karena seolah-olah menunjukkan bahwa manusia bebas berkehendak, sehingga kata yang lebih tepat digunakan adalah “tanggung jawab”.

Ketiga, Arminianisme tidak pernah mengerti doktrin kedaulatan Allah. Berbeda dari Calvinisme yang dengan teliti dan jelas mengerti doktrin kedaulatan Allah, maka Arminian tidak pernah mengerti kedaulatan Allah, sehingga banyak doktrinnya aneh, tidak masuk akal dan yang lebih penting lagi, bertentangan dengan Alkitab dalam beberapa hal : (1) Arminianisme mengajarkan bahwa pemilihan Allah berdasarkan iman manusia. Artinya, mereka mengajarkan bahwa Allah memilih seseorang setelah Ia melihat bahwa seseorang yang dipilih-Nya itu akhirnya memutuskan untuk beriman di dalam-Nya. Ajaran ini jelas bertentangan dengan Alkitab. Ketika Allah memilih Yakub dan menolak Esau, maka Allah tidak terlebih dahulu melihat perbuatan baik Yakub, melainkan Ia memilih Yakub karena Ia berdaulat dan mengasihi Yakub bahkan sebelum melihat perbuatan baik Yakub. Dengan tepat, Pdt. Sutjipto Subeno pernah memberikan tafsiran tentang hal ini bahwa di mata manusia, Yakub terlihat jelek, menipu hak kesulungan dan menukarkannya dengan semangkuk sup kacang merah, sedangkan Esau terlihat baik, karena tidak pernah menipu, tetapi di mata Allah, itu berbeda total. Kalau Arminian benar, maka yang seharusnya dipilih Allah adalah Esau, bukan Yakub, tetapi Alkitab mengajarkan hal yang bertolak belakang dengan paham Arminian. Ini membuktikan ketidakbenaran ajaran ini. Bukan hanya itu saja, kelemahan doktrin aneh ini adalah kebergantungan Allah pada manusia. Sangat aneh sekali, Arminian mempercayai bahwa Allah memberikan anugerah-Nya kepada manusia untuk memiliki kehendak bebas (meskipun hal ini tentu salah), tetapi di sisi lain, mereka mempercayai bahwa Allah tidak bisa apa-apa tanpa manusia yang terlebih dahulu bertindak (percaya). Dengan kata lain, di satu sisi, ia mengakui anugerah Allah, di sisi lain, ia mengakui otoritas manusia di atas anugerah-Nya. Doktrin ini sangat kacau dan membingungkan, terlebih lagi tidak berdasarkan Alkitab ! (2) Arminianisme mengajarkan bahwa penebusan Kristus berlaku universal. Ayat Alkitab yang selalu mereka gunakan dalam hal ini adalah “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9b) Ayat ini tidak salah, tetapi yang salah adalah pengutipan di luar konteks. Seperti yang dibiasakan oleh banyak pemimpin gereja Karismatik/Pentakosta yang gemar mengutip ayat Alkitab di luar konteksnya, maka pengikut setia Arminianisme tidak mengerti konteks dan latar belakang surat 2 Petrus ini. Seperti surat-surat Paulus lainnya, surat 2 Petrus jelas ditujukan oleh Petrus hanya bagi orang-orang Kristen saja, bukan bagi semua orang, sehingga ketika Petrus mengajarkan bahwa Ia menghendaki supaya semua orang berbalik dan bertobat, kata “semua orang” jelas menunjuk kepada semua orang Kristen. Kelemahan kedua adalah ayat ini dikutip di luar konteksnya. Ayat 9b tidak mungkin bisa dilepaskan dari ayat 1-9a, di mana ayat-ayat tersebut jelas menyatakan bahwa Petrus sedang menghibur orang-orang Kristen yang mengalami penderitaan dari para pengejek, penghiburannya ini mengatakan bahwa orang-orang Kristen harus tenang, karena Allah menghendaki mereka semua berbalik dan bertobat dengan tidak lagi termakan oleh bujuk rayu para pengejek itu. Sedangkan, Calvinisme mengajarkan bahwa penebusan Kristus hanya berlaku bagi umat pilihan-Nya. Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri sebanyak tiga kali, yaitu di dalam Yohanes 6:37, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang”, ayat 39, “Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”, dan ayat 44, “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Sesuai konteks, ketiga ayat ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi, dan orang-orang Yahudi pada waktu itu marah sekali kepada-Nya. Mengapa mereka marah ? Karena secara esensial, mereka sebenarnya bukanlah orang-orang yang dipilih Allah untuk datang kepada Kristus, sehingga mereka terus berusaha mencari kesalahan-kesalahan Kristus, bahkan ketika tidak menemukan kesalahan Kristus, mereka tetap menyalahkan-Nya di hadapan pengadilan Herodes dan Pilatus (persis seperti yang dilakukan oleh penganut agama terbesar di Indonesia ini). Yohanes 3:16 harus dibarengi dengan mengerti Yohanes 6:37,39 dan 44 yang lebih jelas mengajarkan bahwa HANYA umat pilihan-Nya yang telah dipilih oleh Bapa dari sejak kekekalan mampu datang kepada Kristus. (3) Arminianisme mengajarkan bahwa anugerah Allah dapat ditolak. Artinya, mereka mempercayai bahwa Allah berinisiatif di dalam keselamatan dengan menganugerahkan penebusan Kristus kepada semua orang (ini salah), tetapi anugerah ini tidak bersifat tidak dapat ditolak (dapat ditolak), karena Ia juga memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk menerima atau menolak anugerah keselamatan ini. Lebih lanjut, anehnya mereka mengajarkan bahwa kehendak bebas manusia ini dibatasi oleh kedaulatan Allah, tetapi Allah secara berdaulat memberikan kepada semua manusia kesempatan untuk menerima atau menolak Injil Kristus. Kelemahan fatal pertama adalah mereka mempercayai anugerah Allah sebagian, sehingga anugerah Allah harus menunggu respon manusia, jika tidak, Allah tidak akan memberikan anugerah itu. Perhatikan poin (1) di atas. Kelemahan fatal kedua adalah dengan tidak bertanggungjawab, mereka mengajarkan bahwa kehendak bebas tetap dibatasi oleh kedaulatan Allah, tetapi mereka menyatakan bahwa kedaulatan Allah mengizinkan manusia untuk bebas memilih apakah mereka mau menerima atau menolak Injil Kristus. Kedaulatan Allah artinya Allah itu Mahakuasa, tidak bergantung pada siapa dan apapun juga, Kekal, Mahaagung, Mahabijaksana, dll. Tetapi hal ini tidak pernah dimengerti oleh Arminian sehingga mereka mengajarkan bahwa kedaulatan Allah itu berarti Allah yang bergantung pada respon manusia, tidak Mahakuasa (atau Mahakuasa bersyarat), tidak kekal (hal ini diajarkan oleh Open-Theisme, lihat penjelasan di bagian Open-Theisme), tidak Mahaagung, kurang bijaksana, dll. Semua atribut Allah di dalam Arminian didegradasi dan semua natur manusia berdosa ditinggikan. Silahkan pikirkan sendiri, apakah ini ajaran Alkitab yang bertanggungjawab?! (4) Arminianisme mengajarkan bahwa keselamatan sejati di dalam Kristus bisa hilang. Artinya, orang-orang Kristen sejati dapat kehilangan keselamatan dengan cara mereka murtad. Di sini, kita harus membedakan dengan jelas antara orang Kristen sejati dengan orang “Kristen” palsu. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa banyak anak Tuhan yang masih indekos di dalam dunia (artinya mereka belum waktunya untuk percaya di dalam Kristus dan menjadi pengikut-Nya), sebaliknya banyak anak setan yang masih indekos di dalam gereja. Pernyataan kedua inilah yang dimaksud dengan orang “Kristen” palsu. Orang “Kristen” palsu adalah orang “Kristen” yang ikut-ikutan pergi ke gereja, ikut katekisasi, belajar doktrin, dll, tetapi Roh Kudus tidak pernah berdiam di dalam hatinya, sehingga secara fenomena kelihatan hampir sama dengan orang Kristen sejati, tetapi secara esensial, kita dapat membedakannya. Perhatikan, ketika ada orang “Kristen” yang mengagungkan dirinya lebih pintar daripada orang lain (padahal kenyataannya TIDAK demikian), maka kelihatan, orang itu adalah orang “Kristen” palsu (mirip seperti penganut Arminian yang mengagungkan otoritas manusia di atas kedaulatan Allah), dll. Jika demikian, orang “Kristen” palsu yang tidak pernah termasuk umat pilihan-Nya, jelas PASTI kehilangan keselamatan, artinya dapat murtad. Sejarah membuktikan hal ini. Seorang penyanyi Indonesia yang bernama Broery Marantika (atau Broery Pesolima) dikabarkan gemar pindah agama, dari Kristen, pindah Islam (karena menikah dengan istri yang beragama Islam), lalu jadi Kristen lagi (karena menikah dengan istri yang beragama Kristen). Contoh lain lagi, seorang artis Dian Sastrowardoyo yang seorang Kristen Katolik menjadi Islam. Bahkan, yang lebih aneh lagi, beberapa “pendeta” dari gereja Pentakosta ada yang menjadi Islam (karena katanya, mereka menemukan “kebenaran”). Kemurtadan ini jelas menunjukkan bahwa mereka meskipun kelihatan aktif di gereja, melayani “tuhan”, dll, tetapi mereka tak pernah merupakan umat pilihan-Nya dan mengerti esensi keKristenan sejati yang jauh lebih agung daripada semua agama dunia yang antroposentris (self-centered). Sedangkan, orang Kristen sejati yang adalah umat pilihan Allah TIDAK mungkin kehilangan keselamatannya. Mengapa ? Karena Allah yang adalah pemula keselamatan (yang memulai keselamatan), Ia jugalah yang akan mengakhiri keselamatan itu dengan sempurna. Allah yang berdaulat adalah Allah yang Kekal dan Pemelihara, maka Ia memelihara setiap tindakan-Nya sendiri. Jika tidak demikian, maka Allah tidak layak disebut Allah, atau Allah tidak ada bedanya dengan manusia. Adakah contoh akan hal ini? Saya belum bisa memastikan, tetapi saya berani mengatakan bahwa salah satu contohnya adalah seorang artis Indonesia, Nafa Urbach. Dulu, Nafa Urbach adalah seorang Kristen, tetapi karena diasuh neneknya (kalau tidak salah), ia menjadi Islam. Puji Tuhan, kira-kira 1-2 tahun yang lalu, Tuhan membawa dia kembali dan dia menjadi Kristen kembali. Meskipun pernah kelihatan murtad, Tuhan memukul orang pilihan-Nya lagi untuk kembali kepada Kristus. Ini adalah bukti pemeliharan Allah pada umat pilihan-Nya. (5) Arminianisme sangat membahayakan karena Arminianisme mengakibatkan Clark H. Pinnock, dkk menegakkan doktrin Open-Theisme yang mengajarkan bahwa Allah itu Mahakuasa dan berada di mana-mana, tetapi hal ini tidak berlaku pada natur masa depan-Nya. Artinya, meskipun Allah itu Mahakuasa, Ia tidak Mahakuasa dalam menentukan masa depan. Mari kita perhatikan ketidakkonsistenan diakibatkan ketidakmengertian Pinnock dan para penganut Open-Theisme ini. Allah yang Mahakuasa adalah Allah yang mampu melakukan apapun yang tidak bertentangan dengan natur-Nya yang Mahakudus, Mahaadil, Mahakasih dan Berdaulat. Ketika Allah adalah Allah yang Mahakuasa, apakah Ia juga tidak mampu mengatur masa depan ? Apakah itu tanda Allah yang Mahakuasa ? Yang lebih celaka lagi, para penganut doktrin aneh ini mengajarkan bahwa Allah bekerja sama dengan manusia di dalam menentukan kehendak-Nya, sehingga bagi mereka, kehendak bebas manusia lah adalah jawaban terhadap segala masalah kejahatan. Mereka percaya bahwa Allah itu Mahakuasa, tetapi anehnya “Allah” (atau ilah) mereka yang Mahakuasa itu tidak bisa apa-apa, sehingga harus bekerja sama dengan manusia ciptaan-Nya sendiri untuk menentukan kehendak-Nya. Mungkin, itu adalah “ilah”nya kaum dualis (“Kristen”) yang hanya berkuasa di dalam hal-hal supranatural (metafisika) saja, dan tidak di dalam hal-hal natural (fisik). Yang lebih aneh, seorang penganut Arminian dari golongan Katolik Roma, yaitu seorang Pastur Katolik mengajarkan bahwa Allah mengubah keputusannya dan tidak jadi menghukum Niniwe karena mereka bertobat melalui pemberitaan murka Allah oleh Yunus. Sepintas jika diperhatikan, ajaran ini tidak salah, karena Alkitab mengatakan demikian, tetapi jika diteliti lebih dalam, ajaran ini berbahaya, karena ajaran ini selanjutnya akan mengatakan bahwa Allah bisa mengubah keputusan-Nya (tergantung kehendak manusia). Alkitab memang mengatakan bahwa Niniwe tidak jadi dihukum karena mereka bertobat setelah mendengar berita murka Allah dari Yunus, tetapi hal ini tidak berarti Allah bisa mengubah keputusan-Nya. Hal ini harus dipahami dari perspektif manusia yang terbatas, sama seperti ketika kita memahami perkataan “menyesallah Allah” di dalam Kejadian 6:6, di mana di dalam perspektif manusia, Allah seolah-olah berubah, tetapi kenyataannya, Allah tidak pernah berubah di dalam natur-Nya (tetapi dinamis di dalam relasi-Nya dengan manusia). Dengan kata lain, pemilihan Allah mendahului pertobatan manusia. Bagi Prof. Dr. Louis Berkhof di dalam bukunya Teologi Sistematika : Doktrin Allah, di dalam beberapa hal, Arminianisme mirip dengan Deisme yang mengajarkan bahwa setelah Allah mencipta alam semesta, maka Ia membiarkan alam itu berjalan sesuai dengan hukum alam. Sebagai kesimpulan, saya mengatakan bahwa Arminianisme adalah Deisme terselubung dan Dualisme terselubung di dalam ke“Kristen”an, maka tidak heran, ajaran ini begitu digemari oleh banyak orang “Kristen” yang tidak mengerti Alkitab secara integratif, jujur, setia dan bertanggungjawab.



Penutup
Setelah menjelaskan tentang semangat Reformasi di dalam diri Dr. John Calvin dan musuh Kebenaran, Jacobus Arminius, sadarkah kita bahwa kedaulatan Allah itu sangat penting dan menjadi dasar dari tindakan kita sehari-hari untuk memuliakan Allah ? Di zaman postmodern yang mengilahkan hak asasi manusia/kehendak bebas manusia, masihkah ada Calvin-Calvin kecil yang meneriakkan gereja dan dunia untuk kembali kepada Kristus, Alkitab dan kedaulatan Allah, BUKAN kepada humanisme/otoritas manusia (seperti Pelagius, Thomas Aquinas, Desiderius Erasmus maupun Jacobus Arminius dan para pengikut mereka) ? Kehadiran Gerakan Reformed Injili yang membakar lagi semangat theologia Reformed ditambah api semangat penginjilan kiranya dapat memberkati dan mencerahkan kita tentang dua mandat dari Allah yaitu mandat budaya (menebus budaya dunia dengan prinsip-prinsip Alkitab dengan dasar kedaulatan Allah) dan mandat Injil (penginjilan baik secara verbal maupun perbuatan). Sekali lagi, biarlah peringatan Rasul Paulus ini menjadi pelajaran bagi kita, “...sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Galatia 1:8)

Kiranya Tuhan memberkati kita melalui perenungan Firman-Nya sehingga kita makin lama makin bertumbuh di dalam anugerah dan firman-Nya. Soli Deo Gloria. Solus Christus.




Daftar Kepustakaan :
Arminianism. (2007). Retrieved on October 30, 2007 from http://en.wikipedia.org/wiki/Erasmus.
Cornish, Richard W., Dr. (2007). Lima Menit Sejarah Gereja. Bandung : Pionir Jaya dan NavPress.
Hoffecker, W. Andrew, Ph.D. dan Gary Scott Smith, Ph.D. (Ed.). (2006). Membangun Wawasan Dunia Kristen (Volume 1 : Allah, Manusia dan Pengetahuan). (Peter Suwadi Wong, Trans.). Surabaya : Momentum Christian Literature.
John Calvin. (2007). Retrieved on October 28, 2007 from
http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther.
Kuyper, Abraham, Dr. (2005). Ceramah-ceramah Mengenai Calvinisme. (Peter Suwadi Wong, Trans.). Surabaya : Momentum Christian Literature.
O’Collins, Gerald, S.J. dan Edward G. Farrugia, S.J. (1996). Kamus Teologi. Yogyakarta : Kanisius.
Palmer, Edwin H., Th.D., D.D. (2005). Lima Pokok Calvinisme. (Elsye, Trans.). Surabaya : Momentum Christian Literature.
Tong, Stephen, Dr. (1991). Reformasi dan Teologi Reformed. Jakarta : Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII).

28 October 2007

PENCIPTAAN DAN KASIH ALLAH (G. I. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.)

PENCIPTAAN DAN KASIH ALLAH

oleh : G. I. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div.


Kisah penciptaan manusia dalam Kejadian 1-2, bisa dibaca dari berbagai sudut pandang. Saya biasa membacanya dari sudut kedaulatan dan kemuliaan Allah, bahwa segala yang di dalam dunia adalah dari Allah dan harus kembali memuliakan Allah. Tetapi ketika saya mencoba membacanya lagi dari sudut kebaikan dan keindahan Allah, saya kembali terkagum-kagum.

Dunia yang belum berbentuk dan kosong itu, perlahan-lahan dibentuk dan diisi oleh Tuhan. Seperti seorang artis yang melukis, seperti seorang desainer yang merancang, tetapi juga seperti seorang bapa yang menyediakan keperluan anaknya, demikianlah Allah menjadikan dunia ini.

Dunia yang belum berbentuk dan kosong tidak mungkin ditinggali oleh manusia. Maka Tuhan membentuk dan mengisinya, mempercantiknya begitu indah, sampai semuanya siap, kemudian ‘menghadiahkannya’ kepada manusia.

Orang Babel punya dongeng yang mengisahkan bahwa manusia dijadikan oleh dewa untuk megerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak disukai oleh dewa, salah satunya adalah menyiapkan makanan bagi mereka.

Tetapi Tuhan menjadikan kita, justru Dia yang menyediakan makanan bahkan segala yang kita perlukan! Bukan hanya ‘bentuk’ dunia seperti terang dan gelap, langit dan bumi, darat dan lautan, lalu ‘isi’ dunia seperti benda-benda angkasa, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan udara, laut dan darat, tetapi juga menjadikan sesama manusia bagi kita. Kalimat demi kalimat dalam kisah penciptaan itu menunjukkan betapa pedulinya Allah pada kita. Allah memberkati manusia, Allah memberikan tugas untuk menguasai semuanya, Allah menyediakan kebutuhan manusia, dan Allah memikirkan keadaan manusia (“tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”).
Coba saudara baca lagi kisah penciptaan itu, dan lihat bagaimana perasaan dan antusiasme Allah waktu memelihara dan memperhatikan kita. Tidak salah kalau sebuah lagu mengatakan “seperti bapa sayang anaknya, demikianlah Engkau mengasihiku”.

Setiap hari penciptaan selalu dimulai dengan “Berfirmanlah Allah:…” lalu ditutup dengan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. ‘Baik’ untuk siapa? ‘Baik’ untuk Allah dan ‘baik’ untuk kita! Yang sangat mengharukan adalah kebaikan bagi kita adalah kebaikan di mata Allah. Adalah kesukacitaan dan kebaikan di mata Allah, melihat apa yang baik terjadi bagi kita. Oh alangkah tidak layaknya kita!

Tetapi Tuhan belum selesai.... diberikan pula AnakNya yang tunggal bagi kita.
Maka semakin merenungkan kebaikan Tuhan, membuat kita semakin tertunduk dan memuji “Oh alangkah besarnya kasih Allah bagiku yang tidak layak!”

Sumber : Jeffrey Siauw’s blogspot



Profil G. I. Jeffrey Siauw :
G. I. Jeffrey Siauw, S.T., M.Div. lahir di Jakarta, 11 Oktober 1973. Beliau menikah dengan Yudith Corina.Beliau menempuh pendidikan Teknik Industri di Universitas Trisakti, Jakarta dan meraih gelar Sarjana Teknik (S.T.) pada tahun 1997. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan theologia di Institut Reformed, Jakarta (1998-2002) dan meraih gelar Master of Divinity (M.Div.). Pada waktu masih menjadi mahasiswa di Universitas Trisakti, pernah aktif melayani di Komisi Remaja GKI Pakuwon, Gereja Kristus Jembatan Hitam dan Persekutuan Oikumene Trisakti. Pada bulan Februari 2001 – Januari 2002 (praktek pelayanan 1 tahun), beliau melayani di Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Matraman dan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Pusat, sekaligus mengajar di Institut Reformed dan Sekolah Theologia Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Pada bulan Februari 2002 - Januari 2003, beliau menjadi Penginjil di Mimbar Reformed Injili Indonesia Beijing dan pada Januari 2003 – September 2004, beliau menjadi Misionaris dari Care for China Ministry (CCM). Sejak April 2004 – Sekarang, beliau melayani sebagai Guru Injil (G. I.) di Gereja Kristus Yesus (GKY) Jemaat Green Ville, Jakarta, khususnya sebagai : Pembina Komisi Pemuda 1 (Pemuda di bawah usia 25 tahun) dan Pembina Komisi Remaja 2 (Remaja SMA).

27 October 2007

Refleksi Reformasi 2007 (2) : REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-2 (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Hari Reformasi 2007 (2)



REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-2 :
Dr. Martin Luther Vs Desiderius Erasmus


oleh : Denny Teguh Sutandio



Pendahuluan dan Latar Belakang
Thomas Aquinas di Abad Pertengahan yang berusaha mengkompromikan keKristenan dengan menjadikan Kristen dan Alkitab di bawah “otoritas” filsafat Yunani (Alkitab hanya sebagai pelengkap doktrin filsafat Yunani yang kurang lengkap) telah mempengaruhi gereja, dalam hal ini gereja Katolik Roma, sehingga upaya pengkompromian ini terus terjadi bahkan secara ekstrim, Johann Tetzel menjual surat indulgensia atau surat pengampunan dosa di mana setiap jemaat yang ingin agar siapapun yang dikasihinya yang sudah meninggal langsung ke “surga”, mereka dapat membeli surat tersebut, dan setiap uang yang berdenting di kotak pembelian surat tersebut, nyawa orang yang meninggal tersebut langsung berpindah ke “surga”. Hal inilah yang menyulut terjadinya Reformasi oleh seorang mantan uskup ordo Augustinian, Dr. Martin Luther. Selain itu, pada zaman sebelum Reformasi, Kepausan mengalami suatu pukulan yang serius terhadap kehormatannya ketika istananya dipindahkan ke Avignon, Prancis dan jabatan kepausan kemudian dilemahkan oleh Perpecahan Besar, di mana dua, dan kemudian tiga, Paus mengklaim menjadi penerus sejati Rasul Petrus. Ketika Reformasi berlangsung, timbullah ajaran aneh dari Desiderius Erasmus Roterodamus yang menentang ajaran Luther dengan menekankan superioritas manusia. Siapakah mereka berdua dan apa yang mereka ajarkan ? Lalu, ditinjau dari perspektif Alkitab yang berotoritas, apakah ajaran mereka berdua beres atau tidak ? Pada renungan bagian ini, kita akan menyelidiki sekilas mengenai Luther dan Erasmus serta ajaran-ajarannya, lalu kita akan mengakhirinya dengan meninjau kritis ajaran-ajaran mereka.



Dr. Martin Luther : Profil Singkat dan Ajaran-ajarannya
Reformasi, bagi Prof. W. Andrew Hoffecker, Ph.D. di dalam salah satu artikelnya : Penemuan Kembali Akar Alkitabiah : Reformasi di dalam buku Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 1 : Allah, Manusia, dan Pengetahuan, adalah “pemulihan spiritual ide-ide Alkitabiah. ...para pemimpinnya menolak mentalitas sintesis yang telah mendominasi pemikiran Kristen selama berabad-abad.” (Hoffecker, 2006, p. 127) Meskipun reformasi sudah pernah terjadi sebelumnya (John Knox, dll), tetapi Reformasi Luther berusaha secara tegas menolak semua unsur-unsur antroposentris sebagai otoritas kebenaran, lalu berpegang hanya kepada Alkitab sebagai satu-satunya dasar kebenaran yang paling absolut. Di dalam bukunya, Babylonian Captivity of the Church, Dr. Martin Luther menegaskan, “Alkitab adalah kebun anggur kita, dan di sana kita semua harus bekerja dan berjerih lelah.” (seperti dikutip dalam Hoffecker, 2006, p. 129) Dari semangat inilah, marilah kita menyelidiki profil singkat Luther dan ajaran-ajarannya yang sering disalahmengerti oleh banyak orang.

Dr. Martin Luther (10
November 1483 – 18 Februari 1546) adalah seorang mantan rahib Jerman, imam, profesor, theolog dan reformator gereja. Beliau dilahirkan tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Jerman dari ayah, Hans dan ibu, Margarethe Luther (Ziegler). Keluarganya pindah ke Mansfeld pada tahun 1484, di mana ayahnya bekerja dan kemudian mengusahakan pertambangan tembaga. Ayahnya, Hans Luther mengirimkan anaknya ini untuk studi hukum. Pada tahun 1501, pada usia 17 tahun, beliau masuk ke University of Erfurt di mana beliau memainkan kecapi dan dijuluki “filsuf”. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) pada tahun 1502 dan Master of Arts (M.A.) pada tahun 1505, menempati tempat kedua dari 17 kandidat. Sesuai keinginan ayahnya, Luther mendaftarkan diri di dalam sekolah hukum di universitas yang sama. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Melalui kematian seorang kawannya secara mendadak dan lolosnya dia dari sambaran kilat dalam suatu badai guruh pada musim panas tahun 1505, Luther akhirnya berkomitmen ingin menjadi rahib. Komitmennya itu diwujudnyatakannya dengan meninggalkan sekolah hukum, menjual buku-bukunya dan memasuki biara Augustinian di Erfurt pada tanggal 17 Juli 1505.

Pada tahun 1507, Luther ditahbiskan menjadi imam, melanjutkan studinya dan menjadi guru besar bidang theologia di Universitas Wittenberg, Jerman. Beliau meraih gelar Bachelor dalam studi Biblika (Biblical studies) pada tanggal 9
Maret 1508, dan gelar Bachelor lainnya dalam Sentences oleh Peter Lombard pada tahun 1509. Pada tanggal 19 Oktober 1512, Luther dianugerahi gelar Doctor of Theology, dan dua hari setelah itu, beliau diangkat menjadi senat di dalam fakultas theologia di Universitas Wittenberg. Beliau juga memimpin 11 biara dan dikenal sebagai pengkhotbah yang penuh kuasa dan bertalenta untuk mengkomunikasikan dengan efektif pesan sederhana Alkitab.

Pada tahun 1510-1520, beliau mengajar Mazmur, Surat Ibrani, Roma dan Galatia. Pada tahun 1516, sementara mengajar surat Roma, beliau memahami untuk pertama kalinya pengajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman dengan cara yang sangat pribadi, karena sebelumnya Luther menyangka bahwa dengan hidup membiara (menyiksa diri, berpuasa, beramal, dll) dapat memperkenan Allah yang murka. Setahun sesudahnya, karena pandangannya bahwa keselamatan dihasilkan oleh iman kepada Kristus, Luther menantang klaim Gereja Katolik Roma yang pada waktu itu mengeluarkan surat indulgensia sebagai pengampunan dosa atas usul biarawan Dominikan, Johann Tetzel. Perlu diketahui, surat indulgensia adalah surat yang dibeli dengan sejumlah uang, membebaskan seseorang dari kewajiban melakukan suatu perbuatan melalui sakramen pertobatan. Surat ini bermula pada waktu Perang Salib, di mana orang-orang kaya yang membeli surat ini, karena mereka tidak mau ikut berperang. Pada waktu itu, dijanjikan bahwa setiap orang yang ikut berperang maupun ikut menyokong dana dengan membeli surat ini tidak akan dihukum atas dosa-dosanya dalam api penyucian (purgatori). Pada zaman Luther, hasil penjualan indulgensia dipergunakan untuk membangun katedral Basilica Santo Petrus di Roma. Pada zaman sekarang, gereja-gereja Katolik (akibat pengaruh Luther) dalam Konstitusi Apostolik Indulgentiarum Doctrina (1967), Paus Paulus VI membatasi indulgensi penuh dan menekankan pentingnya pertobatan pribadi dalam hati. (O’Collins dan Farrugia, 1996, p. 115)

Penentangannya terhadap praktek-praktek yang bertentangan dengan Alkitab ini mengakibatkan pada tanggal 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 tesisnya pada pintu gereja di Wittenberg. Terhadap tesis-tesisnya itu, beberapa menanggapinya secara positif dan mengakibatkan terjadinya perubahan yang revolusioner pada gereja. Tesis kunci Luther adalah nomer 62, “Perbendaharaan (harta karun) yang sejati dari gereja adalah Injil suci kemuliaan dan anugerah Allah.” (seperti dikutip dalam Hoffecker, 2006, p. 131) Beberapa tesis Luther lain menegaskan : kerusakan manusia, perlunya pertobatan seumur hidup dan anugerah Allah yang sepenuhnya dan cuma-cuma dalam Kristus. Sebaliknya, ada tanggapan negatif dari pihak kepausan, yaitu Luther diekskomunikasikan oleh Paus Leo X dan dicap sebagai pelanggar hukum oleh keputusan kaisar setelah suatu pertemuan yang dramatis di hadapan Kaisar Charles V di Diet of Worms. Bahkan oleh Paus Leo X, Luther disebut, “a drunken German who wrote the Theses” (=orang Jerman yang mabuk yang menulis Tesis). (
http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther)

Ide-ide Luther mulai mendapat bentuk yang pasti pada tahun 1520 dengan tiga prinsipnya yang menjadi semboyan theologia Reformasi :
Pertama, Sola Scriptura : sebagai Firman Allah yang diilhamkan, Alkitab adalah satu-satunya dasar otoritatif bagi semua doktrin.
Kedua, Sola Gratia berkaitan dengan Sola Fide : keselamatan hanya dihasilkan oleh anugerah Allah yang berdaulat dalam mengutus Kristus. Keselamatan seluruhnya adalah hasil anugerah Allah, dan kita memperoleh keselamatan bukan oleh usaha atau perbuatan kita sendiri, tetapi hanya atas dasar iman kepada provisi Allah.
Ketiga, Keimaman bagi semua orang percaya : setiap orang menjadi imam bagi dirinya sendiri dan mempunyai akses langsung kepada Allah melalui Kristus, karena Kristus adalah Imam Besar Agung kita yang menggantikan semua imam manusia, sehingga melalui iman kita kepada Kristus, kita berdiri di hadapan Allah sebagai imam kita sendiri dan tidak memerlukan lembaga manusia mana pun untuk bersyafaat bagi kita.

Ajaran-ajaran Dr. Martin Luther :
Pertama, tentang manusia dan dosa. Bagi Luther, masalah dosa berakar pada ketidakpercayaan Adam, yang artinya : gambar Allah setelah kejatuhan “begitu ternoda dan dikaburkan oleh dosa” dan “begitu berkusta dan najis” sehingga kita hampir tidak dapat memahaminya → “Gambar Allah hampir seluruhnya hilang” (Commentary on Genesis). Lalu, Luther mengajarkan bahwa dosa yang terbesar adalah kesombongan yang berarti ketidakbersediaan kita untuk mengakui kondisi kita yang telah jatuh dan berdosa. Sebagai akibat dosa, Luther mengajarkan bahwa manusia tidak lagi mempunyai kebebasan moral, di mana satu-satunya kehendak “bebas” yang sesungguhnya adalah bebas melakukan apa yang baik. Hal ini tercantum di dalam buku Luther, The Bondage of the Will.
Kedua, tentang keselamatan. Anugerah Allah, bagi Luther, secara mutlak esensial bagi keselamatan dan hanya oleh anugerah Allah, kita mampu melakukan kebaikan moral.

Dr. Martin Luther juga menulis tiga bukunya yang penting pada tahun 1520 :
Pertama, An Appeal to the Rulling Class : seruan lantang kepada para petinggi Jerman untuk mereformasi gereja (menyerang struktur hierarkis gereja) dengan meruntuhkan “tiga tembok” yang telah didirikan oleh kaum “Romanis” untuk memperkuat kendali para rohaniwan terhadap gereja, yaitu : adanya kelas imam yang lebih tinggi daripada kelas orang-orang percaya biasa/awam (sebaliknya, Luther mengajarkan adanya keimaman bagi semua orang percaya), keutamaan Paus sebagai penafsir Alkitab (sebaliknya, Luther mengajarkan bahwa setiap orang percaya wajib memajukan imannya dengan membaca Alkitab bagi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada Paus) dan hanya Paus yang dapat mengadakan konsili untuk mereformasi gereja (sebagai respon, Luther mendesak penguasa sekuler dan kaum ningrat Jerman untuk mengadakan konsili umum untuk memulai reformasi).
Kedua, The Babylonian Captivity of the Church yang menentang dua hal, yaitu : penempatan sakramen gereja di bawha kendali total para rohaniwan, yang mirip seperti orang-orang Babel yang menawan orang-orang Yahudi pada abad ke-6 SM (sebaliknya, Luther mengajarkan bahwa Kristus hanya melembagakan dua sakramen selama pelayanan-Nya di bumi, yaitu baptisan dan perjamuan kudus), nilai satu-satunya dari suatu sakramen terletak dalam hubungannya dengan jasa-jasa yang terkumpul yang disalurkan melalui para rohanian yang melakukan sakramen (sebaliknya, Luther menegaskan bahwa nilai dari sakramen-sakramen terletak pada janji-janji Allah yang memberikan anugerah-Nya menurut iman orang percaya tersebut kepada janji Firman Allah. Oleh karena itu, sakramen penting karena mengkomunikasikan anugerah Allah kepada orang-orang yang ambil bagian dalam sakramen, tetapi yang lebih penting lagi adalah pengakuan dosa dan hidup saleh.
Ketiga, Freedom of the Christian Man adalah buku Luther terbaik dalam meringkaskan theologianya, yaitu pernyataan klasik Reformasi tentang natur kehidupan Kristen khususnya tentang hubungan atnara hukum dan iman dalam pengalaman Kristen : manusia ditebus bukan karena perbuatan baik mereka sendiri tetapi karena kematian Kristus bagi mereka di atas salib. Mereka yang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mereka menerima Kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada mereka dan pada saat yang sama, mereka terikat pada sesamanya oleh hukum kasih. Beberapa orang Katolik menyerang Luther bahwa bagi Luther, perbuatan baik tidak penting. Tetapi benarkah demikian ? TIDAK ! Perbuatan baik, bagi Luther, adalah hasil dari pembenaran, yang dilakukan orang-orang Kristen dari keinginan spontan untuk menaati kehendak Allah.

Setelah diekskomunikasikan, Luther tinggal di benteng (castle) Wartburg dan beliau menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman agar Alkitab mudah dibaca oleh orang-orang biasa/awam. Usaha ini dimulainya sendiri pada tahun 1521 selama dia tinggal di benteng (castle)
Wartburg, dan menerbitkan Perjanjian Baru pada September 1522. Dan dalam kerjasamanya dengan Johannes Bugenhagen, Justus Jonas, Caspar Creuziger, Philipp Melanchthon, Matthäus Aurogallus, dan George Rörer, beliau menyelesaikan penerjemahan seluruh Alkitab pada 1534. Alkitab Luther memiliki kontribusi terhadap munculnya bahasa Jerman modern dan dianggap sebagai sebuah peristiwa penting dalam literatur Jerman. Edisi 1534 ini juga berpengaruh pada penerjemahan William Tyndale, sebuah pertanda dari terjemahan Alkitab King James.

Pada sore hari, di hari Selasa, 13 Juni 1525, Dr. Martin Luther menikah dengan Katharina von Bora, salah satu dari 9 suster yang berpihak kepada Luther. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai tiga anak pria dan tiga anak wanita :
· Hans, lahir : 7 Juni
1526, studi hukum, menjadi pejabat pengadilan, dan meninggal pada tahun 1575.
· Elizabeth, lahir : 10
Desember 1527, meninggal sebelum waktunya pada tanggal 3 Agustus 1528.
· Magdalena, lahir : 5 Mei
1529, meninggal dalam lengan ayahnya pada tanggal 20 September 1542.
· Martin, Jr., lahir : 9
November 1531, belajar theologia tetapi tidak pernah mendapat panggilan pastoral tetap sebelum kematiannya pada tahun 1565.
· Paul, lahir : 28
Januari 1533, menjadi seorang dokter umum. Dia menjadi ayah dari 6 anaknya sebelum kematiannya pada tanggal 8 Maret 1593 dan garis pria dari keluarga Luther berlanjut melaluinya sampai John Ernest, berakhir pada tahun 1759.
· Margaretha, lahir : 17 Desember
1534, menikah dengan, George von Kunheim dari keluarga bangsawan Prussia yang kaya, tetapi meninggal pada tahun 1570 di usia 36 tahun.

Luther juga menggubah satu buah lagu yang sampai saat ini masih dinyanyikan di dalam gereja-gereja Protestan yang beres, yaitu A Mighty Fortress is Our God (Puji-pujian Kristen menerjemahkannya : Allah Jadi Benteng yang Kukuh).

Luther juga menyusun doktrin-doktrin tentang gereja, sakramen, dll dalam buku-bukunya Small Catechism (Katekismus Kecil) dan Large Catechism (Katekismus Besar). Salah satu doktrinnya tentang Perjamuan Kudus agak berbeda dari Katolik, tetapi memiliki sedikit kemiripan. Bagi Katolik, ketika jemaat memakan roti dan meminum anggur Perjamuan Kudus, mereka benar-benar makan tubuh dan minum darah Kristus (disebut Transubstansiasi), tetapi bagi Luther, ketika jemaat memakan roti dan meminum anggur Perjamuan Kudus, Kristus berada di atas/menaungi roti dan anggur itu. Pandangan Luther ditentang oleh Ulrich Zwingli, seorang reformator gereja lainnya, dengan mengajarkan bahwa roti dan anggur Perjamuan Kudus hanya simbol/lambang saja. Antara Luther dan Zwingli terjadi perdebatan. Luther menyebut pandangan Zwingli sebagai pandangan Perjamuan Kudus yang tidak bermakna (karena hanya simbol), sedangkan Zwingli menyerang Luther sebagai kanibalisme.

Perjuangan Luther memimpin reformasi secara tegas adalah perjuangan yang tidak murah. Luther begitu mengorbankan hidupnya untuk sebuah kebenaran. Itulah citra hamba Tuhan sejati. Hamba Tuhan yang malas atau enggan berkorban bagi kebenaran adalah hamba Tuhan pengecut yang takut mati. Belajarlah dari Luther, hamba Tuhan yang berani mati demi kebenaran sejati. Sejarah mencatat Luther, karena sejarah mengetahui betapa berjasanya Luther di dalam mereformasi gereja. Akhir-akhir ini, saya mendengar kabar bahwa beberapa gereja Katolik mengadakan diskusi dengan pihak Lutheran untuk menyamakan doktrin (meskipun tentunya gereja Katolik tetap memegang doktrin Mariologinya dan tidak mau mengubahnya, walaupun itu bertentangan dengan Alkitab).



Desiderius Erasmus Roterodamus : Profil Singkat dan Ajaran-ajarannya Serta Kritik Terhadap Ajarannya
Setiap kebenaran ketika diberitakan pasti menuai dua akibat, yaitu ada yang menerima dan mengimaninya, dan sebaliknya, ada yang menolaknya. Bagi mereka yang menerimanya berarti mereka adalah kaum pilihan Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya, sedangkan mereka yang menolaknya memang telah ditetapkan-Nya untuk dibinasakan. Sekarang, mari kita akan melihat siapa saja yang menolak pengajaran Luther ini.

Desiderius Erasmus Roterodamus (kadang-kadang dikenal sebagai Desiderius Erasmus dari Rotterdam/Desiderius Erasmus of Rotterdam) adalah seorang humanis dan theolog Belanda. Nama ilmiahnya diambil dari tiga elemen : kata benda Latin, desiderium (artinya keinginan/desire) ; kata sifat Yunani, erasmios (artinya yang dicintai/beloved ; dalam bentuk Easmus, juga nama seorang santo) ; dan bentuk kata sifat dari Latin bagi kota Rotterdam (Roterodamus = ‘of Rotterdam’). Erasmus adalah sarjana/ilmuwan klasik yang menulis dalam gaya Latin “asli”. Meskipun bekas seorang Katolik Roma di seluruh masa hidupnya, dia adalah pengkritik apa yang dianggapnya sebagai ekses dari Gereja Katolik Roma. Dengan menggunakan teknik humanisnya, dia mempersiapkan edisi baru Perjanjian Baru dari Latin dan Yunani yang menimbulkan pertanyaan yang akan berpengaruh di masa Reformasi. Dia juga menulis
The Praise of Folly, Handbook of a Christian Knight, On Civility in Children, Copia: Foundations of the Abundant Style, dan banyak karya lainnya.

Erasmus dilahirkan (mungkin, dengan nama Gerrit Gerritszoon) di Rotterdam pada tanggal 27 Oktober 1466 atau 1469 (tahun kelahirannya secara tepat tidak diketahui ; menurut sejarahwan Johan Huizinga, Erasmus dilahirkan pada malam hari tanggal 27-28 Oktober, dan dia biasanya merayakan ulang tahunnya pada 28 Oktober).

Pada tahun 1488 atau 1492, dia ditahbiskan menjadi imam Katolik dan dengan enggan mengambil janji sebagai Pastor (Canon) Augustinian di Stein pada kira-kira usia 25 tahun, tetapi dia tidak pernah kelihatan secara aktif bekerja sebagai imam, dan monastisisme (menekankan hidup membiara) adalah satu dari objek utama serangannya di dalam serangannya selama hidup pada ekses-ekses gereja. Segera setelah penahbisannya, Erasmus memperoleh kesempatannya untuk meninggalkan biara ketika menawarkan pos/tempat bagi sekretaris Bishop Cambray, Henry of Bergen. Dia akhirnya diberikan dispensasi sementara karena kesehatannya yang memburuk, tidak disukai oleh rahib-rahib, dan mencintai studi humanistik. Paus Leo X kemudian membuat dispensasinya menjadi tetap/permanen.

Pada tahun 1495, dengan persetujuan dan gaji dari bishop, Erasmus pergi untuk studi di University of Paris, di
Collège de Montaigu, pusat dari mereformasi semangat besar, di bawah pengarahan seorang asketis, Jan Standonck, yang kekerasannya dikeluhkan oleh Erasmus. Universitas ini kemudian adalah pusat utama studi skolastis, tetapi sudah berada di bawah pengaruh humanisme. Pusat utama aktivitasnya adalah di Paris, Leuven (Louvain), Inggris, dan Basel. Waktunya di Inggris adalah produktif dalam membuat persahabatan abadi dengan para pemimpin pemikiran Inggris di hari yang menggemparkan dari Raja Henry VIII, yaitu : John Colet, Thomas More, John Fisher, Thomas Linacre and William Grocyn. Di University of Cambridge, dia adalah the Lady Margaret’s Professor of Divinity dan memilih menghabiskan sisa hidupnya sebagai profesor Inggris. Dia tinggal di Queen’s College, Cambridge, dan mungkin dia telah menjadi seorang alumni.

Setelah kembalinya dari Inggris, Erasmus memutuskan untuk menjadi ahli Yunani, yang akan memudahkannya untuk belajar theologia pada level yang lebih mendalam dan mempersiapkan edisi baru dari terjemahan Jerome’s Bible. Walaupun kekurangan uang, Erasmus sukses dalam belajar Yunani melalui studi intensif dan terus-menerus selama tiga tahun, secara terus-menerus meminta teman-temannya untuk mengirimkannya buku-buku dan uang untuk guru-guru di dalam surat-suratnya.

Meskipun tidak menyetujui gereja Katolik Roma, ia pun juga tidak setuju dengan Luther. Hal ini disebabkan oleh pengaruh humanisme yang dipelajarinya. Kita akan melihat dari ketidaksetujuannya dengan Luther dalam beberapa hal :
Pertama, Erasmus setuju dengan poin utama di dalam kritik Lutheran terhadap Gereja. Dia juga menaruh respek besar terhadap Martin Luther, dan Luther selalu menunjukkan kekaguman akan pembelajaran yang lebih baik dari Erasmus. Luther menunjukkan kekaguman yang tak terhingga pada semua yang telah dikerjakan Erasmus tentang tujuan dari keKristenan yang logis dan masuk akal dan mendesaknya untuk bergabung dalam Lutheran. Tetapi Erasmus menolak dengan halus untuk memasukkan dirinya di dalam Lutheran, karena dia beralasan bahwa dengan melakukan hal itu, itu akan membahayakan posisinya sebagai seorang pemimpin di dalam gerakan untuk pengetahuan murni yang mana dia anggap sebagai tujuannya dalam hidup. Hanya sebagai seorang ilmuwan/sarjana yang independen (tidak bergantung), dia berharap dapat mempengaruhi reformasi agama. Ketika Erasmus ragu-ragu untuk mendukung Luther, Luther yang jujur merasa bahwa Erasmus sedang menghindari tanggung jawab baik karena sifat pengecutnya atau tidak mempunyai tujuan. Erasmus, bagaimanapun juga, menghormati perubahan apapun dalam doktrin dan percaya bahwa ada ruangan yang di dalamnya terdapat formula-formula untuk reformasi yang paling dihargainya.
Kedua, Kebebasan Kehendak (Freedom of the Will). Dua kali dalam serangkaian diskusi besar, dia membiarkan dirinya untuk memasuki bidang kontroversi doktrinal, sebuah bidang asing baik bai natur dan prakteknya yang lalu. Salah satu topiknya yang adalah poin yang gawat/sangat penting adalah kebebasan kehendak (freedom of the will). Di dalam bukunya
De libero arbitrio diatribe sive collatio (1524), Erasmus mengecam pandangan Lutheran akan kehendak bebas. Dia percaya seperti yang dipercayai oleh Pelagianisme bahwa manusia memiliki kehendak bebas yang baik. Sebagai respon, Luther menulis bukunya De servo arbitrio (On the Bondage of the Will) (1525) yang menyerang pandangan Erasmus dan menyatakan bahwa Erasmus bukanlah seorang Kristen. Ketika kota Basel dengan pasti dan resmi menganut Reformasi pada tahun 1529, Erasmus berpindah dari sana dan tinggal di kota kekaisaran Freiburg im Breisgau.
Ketiga, Sakramen. Pada tahun 1530, Erasmus menerbitkan edisi baru dari buku ulasan orthodoks dari Algerus melawan bidat Berengar of Tours di abad ke-11. Dia menambahkan dedikasi, menegaskan kepercayaannya di dalam realita tubuh Kristus pada saat penyucian di dalam Ekaristi.

Erasmus menulis baik yang berhubungan dengan hal gereja dan general human interest (minat manusia pada umumnya). Tulisannya yang lebih serius dimulai dengan the Enchiridion militis Christiani, the "Handbook of the Christian Soldier" (
1503) (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris beberapa tahun kemudian oleh William Tyndale muda). Di dalam karya singkatnya itu, Erasmus meringkaskan pandangan-pandangan akan kehidupan Kristen yang normal. Baginya, kejahatan utama dari sebuah masa tertentu adalah formalisme yang disetujui oleh pernyataan/gerakan tradisi tana pengertian akan dasar mereka di dalam pengajaran Kristus. Bentuk-bentuk tersebut dapat mengajar jiwa bagaimana untuk menyembah Allah, atau mereka boleh menutupi atau memadamkan semangat. Dalam analisanya akan bahaya formalisme, Erasmus membicarakan monastisisme, penyembahan orang-orang suci (saint worship), perang, semangat kelas dan kelemahan “masyarakat”, tetapi bukunya Enchiridion lebih seperti sebuah khotbah ketimbang sindirannya. Karya terbaiknya adalah The Praise of Folly (diterbitkan di dalam dua judul : Moriae encomium {Yunani, diLatinkan} dan Laus stultitiae {Latin}), sebuah serangan sindiran terhadap tradisi Gereja Katolik dan tahyul-tahyul populer, ditulis pada tahun 1509, diterbitkan pada tahun 1511 dan dipersembahkan bagi temannya, Sir Thomas More. Bukunya yang lain The Institutio principis Christiani (Basel, 1516) (Education of a Christian Prince) diterbitkan pada tahun 1516, ditulis sebagai sebuah saran bagi raja muda, Charles dari Spanyol, kemudian Charles V, Kaisar Roma (Holy Roman Emperor). Di dalam bukunya, Erasmus memaparkan bahwa seorang pangeran memerlukan pendidikan lengkap untuk memerintah dengan adil dan murah hati dan mencegah agar jangan terjadi sumber penindasan.

Erasmus meninggal pada tahun 1536 di Basel dan dikuburkan di
Münster cathedral, di kota yang sama. Menurut tradisi, kata-katanya yang terakhir adalah "lieve God", bahasa Belanda dari Dear God (Allah yang terhormat). Karya terpentingnya di akhir hidupnya adalah Ecclesiastes atau “Gospel Preacher” (Basel, 1536), yang memberi komentar tentang fungsi berkhotbah.



Perbandingan Luther Vs Erasmus
Jika kita lihat dari sejarah di atas, kita menjumpai adanya kemiripan antara Luther dan Erasmus, yaitu mereka berdua mereformasi gereja. Tetapi di antara kemiripan ini, saya menemukan perbedaan presuposisi/motivasi dan efeknya.
Pertama, Luther mereformasi gereja pada saat itu untuk kembali kepada Alkitab, sedangkan Erasmus mereformasi gereja karena pengaruh humanisme. Presuposisi dasar kedua orang ini dalam mereformasi gereja sangat berbeda. Luther mereformasi gereja dari sudut pandang kedaulatan Allah, yaitu agar gereja bukan menegakkan otoritas manusia, tetapi menegakkan otoritas Alkitab. Beberapa orang “Kristen” yang dipengaruhi Reformasi lalu dipengaruhi oleh Katolik di sebuah milis menolak mentah-mentah doktrin Sola Scriptura, karena baginya Alkitab tidak mengajarkan Sola Scriptura, dan kanonisasi Alkitab pun disusun berdasarkan tradisi gereja, sehingga tradisi gereja melengkapi Alkitab (idenya mirip seperti Aquinas). Tetapi sambil mengeluarkan pernyataan ini, ia juga mempercayai bahwa Alkitab itu Firman Allah. Sungguh tidak masuk bahwa Alkitab yang adalah Firman Allah bisa salah. Di dalam proses kanonisasi Alkitab, memang para bapa gereja menentukan kitab mana yang termasuk di dalam Alkitab, tetapi di balik semuanya, Roh Kudus lah yang bekerja yang memimpin dan menuntun mereka sehingga mereka sanggup memilah kitab-kitab mana yang termasuk di dalam Alkitab berdasarkan beberapa kriteria-kriteria yaitu : kitab tersebut ditulis sendiri oleh para rasul dan nabi, kitab tersebut berotoritas di gereja mula-mula dan kitab-kitab tersebut memiliki konsistensi pengajaran dalam iman, etika, dll. Saya bertanya, kalau bukan Allah di balik arsitek kanonisasi ini, siapa manusia yang sanggup melakukan hal yang rumit ini ? Bagaimana dengan Erasmus ? Erasmus juga mereformasi gereja, tetapi motivasi dasarnya bukan tunduk di bawah Alkitab, melainkan memakai humanisme yang tidak setuju pada otoritas. Hal ini sudah ditunjukkannya ketika ia ditahbiskan menjadi imam Augustinian, tetapi ia tidak sungguh-sungguh menjadi imam. Pengaruh humanisme telah mencengkeramnya. Meskipun demikian, di dalam salah satunya buku tentang pendidikan seorang pangeran (lihat atas), dia memiliki sumbangsih positif yaitu seorang pangeran atau pejabat harus dididik secara lengkap agar dapat memerintah dengan adil dan murah hati serta mencegah agar tidak terjadi penindasan. Konsep ini beres dan harus diteladani.
Kedua, akibatnya Erasmus ketika ditawari bergabung dengan Luther, Erasmus menolak karena hal itu akan mengancam pamornya sebagai pemimpin intelektual humanis. Betapa konyolnya seorang yang mengaku “melayani Tuhan” tetapi tidak mau bersatu untuk mengembalikan gereja kembali kepada Alkitab, tetapi membawa ambisi pribadinya. Erasmus bisa bertindak egois dan keblinger seperti demikian, dikarenakan pengaruh humanisme yang meracuni dirinya, sehingga dia melihat dirinya begitu tinggi dan berotoritas.



Penutup
Setelah menjelaskan tentang semangat Reformasi di dalam diri Dr. Martin Luther dan musuh Kebenaran, Desiderius Esasmus, sadarkah kita bahwa Kebenaran itu begitu agung dan jauh melampaui rasio manusia yang terbatas ? Di zaman postmodern yang mengilahkan relativisme, masihkah ada Luther-Luther kecil yang meneriakkan gereja dan dunia untuk kembali kepada Kristus dan Alkitab, BUKAN kepada humanisme (seperti Thomas Aquinas maupun Desiderius Erasmus ? Bersyukurlah, jika Luther-Luther kecil masih ada, karena itu tandanya bahwa Tuhan mengasihi umat-Nya yang tersesat. Tetapi menangislah dan segera bertobat, jika tidak ada lagi Luther-Luther kecil, karena itu tandanya bahwa Tuhan hendak membinasakan gereja-Nya. Sekali lagi, biarlah peringatan Rasul Paulus ini menjadi pelajaran bagi kita, “...sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Galatia 1:8)

Kiranya Tuhan memberkati kita melalui perenungan Firman-Nya sehingga kita makin lama makin bertumbuh di dalam anugerah dan firman-Nya. Soli Deo Gloria. Solus Christus.




Daftar Kepustakaan :
Erasmus. (2007). Retrieved on October 20, 2007 from
http://en.wikipedia.org/wiki/Erasmus.
Hoffecker, W. Andrew, Ph.D. dan Gary Scott Smith, Ph.D. (Ed.). (2006). Membangun Wawasan Dunia Kristen (Volume 1 : Allah, Manusia dan Pengetahuan). (Peter Suwadi Wong, Trans.). Surabaya : Momentum Christian Literature.

Martin Luther. (2006). Retrieved on September 5, 2006 from http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Luther.

O’Collins, Gerald, S.J. dan Edward G. Farrugia, S.J. (1996). Kamus Teologi. Yogyakarta : Kanisius.

25 October 2007

Roma 3:21-24 : DOSA DAN ANUGERAH PEMBENARAN

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-7


Dosa dan Anugerah Pembenaran

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:21-24.

Setelah Paulus memaparkan tentang hubungan hukum Taurat dan dosa, ia selanjutnya memberikan jalan keluar satu-satunya bagi penyelesaian dosa itu.

Pada ayat 21, Paulus berkata, “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,” International Standard Version (ISV) menerjemahkan, “But now, apart from the law, God's righteousness is revealed and is attested by the Law and the Prophets-” Lalu, New International Version menerjemahkan hal yang hampir mirip, yaitu, “But now a righteousness from God, apart from law, has been made known, to which the Law and the Prophets testify.” Berarti melalui ayat ini Paulus ingin mengajarkan bahwa kebenaran keadilan (Yunani : dikaiosune) Allah tidak hanya sebatas Hukum Taurat, tetapi melebihi Hukum Taurat dan ini telah disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para Nabi. Meskipun melebihi Hukum Taurat, tidak berarti kebenaran keadilan Allah sama sekali tidak memerlukan Taurat. Dalam hal ini, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) yang mengartikan bahwa kebenaran keadilan Allah tanpa Hukum Taurat sama sekali (“Tetapi sekarang Allah sudah menunjukkan jalan bagaimana manusia berbaik dengan Dia; dan caranya itu tidak ada sangkut pautnya dengan hukum agama Yahudi.”) adalah salah. Begitu pula terjemahan King James Version yang menerjemahkannya dengan kata without (=tanpa) pada frase, “But now the righteousness of God without the law is manifested” adalah salah, karena kata without ini menunjukkan bahwa kebenaran keadilan Allah tidak ada di dalam Taurat, padahal konsep ini salah. Oleh karena itu, di awal penjelasan ayat ini, saya memilih terjemahan ISV (identik dengan terjemahan English Standard Version/ESV) dan NIV karena terjemahan-terjemahan ini cocok dengan bahasa asli (Yunani)nya chōris yang dapat berarti apart from (terlepas dari/selain). Kembali, kalau kita melihat sejarahnya, maka kita dapat mengerti bahwa pada mulanya Allah yang mencipta manusia juga mengadakan perjanjian KEPADA (bukan DENGAN) manusia bahwa ketika mereka taat kepada-Nya, maka mereka akan diberkati dan diselamatkan, tetapi jika tidak, mereka akan dihukum. Apakah ini berarti Allah mengutamakan tindakan baik manusia ? TIDAK. Ketika Allah menyatakan perintah itu, Ia sangat mengetahui bahwa manusia tak mungkin dapat menaati-Nya, sehingga dengan mengeluarkan perintah ketaatan kepada manusia, Ia hendak menyadarkan manusia bahwa mereka itu terbatas, dicipta dan pasti dapat jatuh ke dalam dosa. Adanya dosa yang merupakan ketidaktaatan manusia mengakibatkan perjanjian dari Allah ini rusak dan akhirnya Allah harus menghukum mereka. Tetapi, di sisi lain Allah begitu mengasihi mereka dan sangat mengetahui bahwa mereka tak mungkin sanggup melepaskan diri dari ikatan dosa. Oleh karena itu, dari kekekalan, Ia telah menetapkan Kristus untuk menebus dosa manusia (Kejadian 3:15). Tetapi realisasi rencana-Nya ini belum kelihatan sampai genap waktunya. Sebelum Kristus diutus, Allah mewahyukan Taurat sebagai Penuntun tingkah laku bagi umat pilihan-Nya, Israel sehingga mereka tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri atau mengikuti ilah-ilah asing di sekitar mereka. Tetapi sayangnya, bangsa Israel tegar tengkuk, sebentar mereka taat kepada Tuhan, selanjutnya mereka tidak taat, sehingga mereka harus dihukum oleh Allah melalui bangsa-bangsa lain yang menawan mereka di tempat pembuangan. Di dalam pembuangan, bangsa Israel menangis dan bertobat serta minta ampun kepada Tuhan, maka Ia melepaskan mereka, tetapi setelah itu mereka kumat kembali, tidak taat kepada Tuhan, sehingga mereka dihukum oleh Allah lagi. Hal ini terus berlanjut, sampai sebelum Kristus berinkarnasi, ada suatu momen di mana bangsa Israel benar-benar bertobat dan memegang perjanjian Taurat. Tetapi sayangnya, pertobatan mereka tidak tulus, karena mereka bertobat sambil menambah jasa baik, yaitu dengan menambah-nambahi Taurat dengan peraturan-peraturan yang memberatkan, padahal inti Taurat adalah kasih (Matius 22:37-40). Mereka mengira bahwa dengan menjalankan semua yang diatur di dalam Taurat, maka mereka pasti selamat. Oleh karena itu, Paulus dengan jeli dan teliti mengaitkan dan menjelaskan bahwa kebenaran keadilan Allah bukan terbatas pada Taurat, tetapi melebihi Taurat. Dengan kata lain, bukan dengan menjalankan Taurat, manusia diselamatkan dan mengenal Allah yang sejati. Mengikuti kesalahpahaman interpretasi para ahli Taurat, banyak agama dunia juga mengajarkan bahwa dengan menjalankan syariat-syariat tertentu, manusia diselamatkan. Benarkah demikian ? TIDAK. Mengapa ? Karena manusia yang berdosa sangat tidak masuk akal dapat berbuat baik (di mana perbuatan baiknya itu sendiri dicemari oleh dosa) untuk diselamatkan. Tidak ada jalan lain, manusia baru dapat mengenal Allah sejati dan diselamatkan ketika mereka mengenal kebenaran keadilan Allah yang sejati karena hanya Allah lah Sumber Hidup dan Keselamatan manusia. Lalu, apakah wujud kebenaran keadilan Allah itu ?

Pada ayat 22, Paulus menjelaskan wujud kebenaran keadilan itu, “yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.” Paulus dengan teliti menjelaskan bahwa inti kebenaran keadilan Allah sebenarnya adalah kasih yang diwujudnyatakan di dalam Pribadi Yesus Kristus yang menganugerahkan iman kepada umat pilihan-Nya yang percaya. Dengan kata lain, dengan terang Perjanjian Baru, kita baru dapat mengerti bahwa inti Taurat dan kitab para Nabi di dalam Perjanjian Lama sebenarnya sedang menubuatkan Kristus dan karya-Nya yang menebus dosa manusia pilihan-Nya. Dan karya Kristus inilah yang menjadikan kita yang percaya dibenarkan oleh Allah dan dijadikan benar dan adil oleh-Nya. Siapa yang disebut “semua orang yang percaya” ? Apakah berarti semua orang yang mengaku percaya baru dianugerahkan iman oleh Allah ? TIDAK. Di dalam memahami satu ayat Alkitab, kita harus mengerti keseluruhan prinsip Alkitab. Di dalam ayat ini, kata “semua orang percaya” harus dimengerti sebagai umat pilihan yang telah dipilih dan ditetapkan-Nya yang percaya di dalam Kristus (Efesus 1:4-5). Ini berarti anugerah Allah selalu mendahului respon manusia bahkan respon manusia untuk percaya. Inilah yang diajarkan oleh Alkitab dan ditegaskan oleh theologia Reformed ! Umat pilihan-Nya yang telah dianugerahkan iman di dalam Kristus inilah yang baru dapat mengenal Pribadi Allah yang sesungguhnya dan sejati, karena Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kolose 1:15) dan di dalam-Nya berdiam seluruh kepenuhan Allah (Kolose 1:19). Kemudian, bagaimana dengan orang yang tidak percaya ? Apakah mereka pasti binasa ? Bukankah berarti Allah itu tidak adil ? Inilah yang terus dipertanyakan dan diajarkan oleh “theologia” Arminian yang sebagian besar dianut oleh banyak theolog Injili, Pentakosta, dan Karismatik bahwa di dalam pikiran mereka, Allah harus menyelamatkan semua orang karena Allah itu Mahakasih. Ketimpangan ajaran ini disebabkan karena kekurangmengertian tentang atribut-atribut Allah yang bukan hanya Mahakasih, tetapi juga Mahaadil dan Mahakudus ! Allah memang Mahakasih, tetapi Dia juga Mahaadil. Di dalam keadilan-Nya, Ia harus membukakan realita, “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.” (Roma 3:11). Mengapa manusia tidak dapat mencari Allah ? Hal ini dijelaskan Paulus di dalam ayat selanjutnya.

Pada ayat 23 dengan kalimat pembuka di ayat 22b, Paulus memaparkan alasan manusia tidak dapat mencari Allah, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” Terjemahan King James Version (KJV) mengartikan lebih tepat, “For all have sinned, and come short of the glory of God;” Terjemahan NIV mengganti kata come short di dalam KJV ini menjadi fall short. Dari kedua terjemahan ini, ayat ini berarti bahwa alasan manusia tidak dapat mencari Allah adalah karena semua manusia telah berbuat dosa dan mengurangi kemuliaan Allah. Ada beberapa konsep yang dapat kita pelajari dari ayat ini. Pertama, kata “karena”. Kata ini disisipkan pada awal ayat 23 yang menunjukkan bahwa penyebab segala sesuatu yang jahat adalah karena manusia itu berdosa. Bencana alam yang terjadi dewasa ini akibat dari dosa manusia. Ini mengajar kita untuk tidak terpaku pada fenomena, tetapi melihat dan mengerti esensi dari segala peristiwa buruk maupun baik. Kedua, kata “semua orang”. Kata ini berarti semua orang tanpa kecuali baik pria wanita, tua muda, besar kecil, tuan hamba, dll sudah berbuat dosa. Dengan kata lain, dosa sudah meracuni seluruh umat manusia tanpa kecuali. Untuk lebih memperjelas, Paulus mengutarakan maksudnya, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut,… Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman,… Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,… Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa,” (Roma 5:15-16,18-19). Di sini, Paulus mengemukakan fakta bahwa di dalam Adam, semua manusia yang hidup otomatis sudah berdosa (dosa asal) yang nantinya pasti melahirkan dosa aktual yang dikerjakan sehari-hari di dalam kehidupan mereka. Ketiga, berbuat dosa berkaitan dengan hilangnya atau kurangnya kemuliaan Allah. Kalau manusia dunia berpikir bahwa ketika kita bersalah, maka rupa dan nama kita lah yang tercoreng. Tetapi di dalam Alkitab, Allah menyatakan hal yang sangat berbeda yaitu ketika manusia berdosa, yang sebenarnya tercoreng adalah kemuliaan dan nama Allah, mengapa ? Karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sehingga ketika manusia berdosa, mereka sedang mencoreng dan mencemari dengan mengurangi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita? Kita seringkali tidak sengaja (lebih banyak disengaja) mencoreng nama Allah dengan tidak taat atau bahkan mengadopsi teori-teori psikologi dan filsafat atheis yang melawan Allah untuk menjadi prinsip “iman” kita. Ketika kita mencoba melarikan diri dari Allah dengan “melacurkan” iman kita, kita sedang mencoreng nama dan kemuliaan-Nya yang agung di dalam gambar dan rupa kita. Karena semua manusia telah mencoreng nama dan kemuliaan-Nya, maka Allah harus menghukum mereka. Tetapi di sisi lain, Allah tetap mengasihi mereka, karena mereka diciptakan menurut peta teladan-Nya. Oleh karena itu, Ia harus menyediakan jalan lain yang telah ditetapkan-Nya dari semula. Jalan apakah itu ?

Di dalam ayat 24, Paulus menjelaskan jalan yang telah disediakan Allah sebagai wujud kasih-Nya, yaitu, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Kata “dibenarkan” dalam bahasa Yunaninya bisa berarti dijadikan benar/adil. Dengan kata lain, kita yang tidak benar dan otomatis tidak adil, dijadikan benar dan adil oleh Allah melalui anugerah penebusan di dalam Kristus Yesus. Berarti, jalan yang disediakan Allah sebagai wujud kasih-Nya adalah anugerah-Nya yang membebaskan dan menebus umat pilihan-Nya di dalam Kristus Yesus. Mengapa harus melalui penebusan Kristus, manusia dapat diselamatkan ? Mengapa Allah sendiri yang tidak langsung menghapus dosa manusia ? TIDAK. Allah memang mampu menghapus dosa manusia, tetapi itu berlawanan dengan natur-Nya yang Mahakudus yang membenci dosa. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain, bukan melalui jasa baik manusia diselamatkan, tetapi hanya melalui anugerah Allah di dalam Kristus yang menebus dan menyelamatkan, manusia pilihan-Nya dapat dibebaskan dari kutuk dosa, iblis dan maut serta masuk Surga. Siapakah yang mampu menjadikan manusia berdosa benar dan adil ? Nabi kah ? TIDAK. Hanya satu-satunya Pribadi yang mampu membenarkan manusia, Dialah Kristus Yesus. Bagaimana caranya kita dibenarkan di dalam Kristus ? Dengan cara mengimputasikan dosa kita kepada-Nya untuk ditanggung-Nya di kayu salib dan kebenaran-Nya yang menaati kehendak Allah Bapa diimputasikan kepada umat pilihan-Nya di dalam iman, sehingga umat pilihan-Nya melalui pengimputasian kebenaran Kristus ini mampu mengerjakan dan menggenapkan kehendak Kerajaan Allah di muka bumi ini. Biarlah kita yang telah dibenarkan ini terus-menerus menghargai anugerah ini dengan mensyukurinya dan memberitakannya kepada mereka yang belum menerima Kristus.

Setelah kita merenungkan poin ini, sadarkah kita bahwa kita sebenarnya hina dan layak mati karena semua dosa kita ? Lalu, adakah kita sadar bahwa dosa kita tak mungkin dapat diselesaikan dengan kemampuan kita ? Kalau kita menyadarinya, maka segeralah bertobat dan datanglah kepada Kristus yang telah membenarkan umat pilihan-Nya. Biarlah segala puji, hormat dan kemuliaan hanya bagi nama Allah Trinitas. Soli Deo Gloria. Amin.