25 October 2007

Matius 4:18-22: THE KINGDOM AND THE WORKERS-3

Ringkasan Khotbah : 26 September 2004

The Kingdom & the Workers 3

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4:18-22



Menggenapkan Kerajaan Allah di dunia tidak Yesus lakukan seorang diri saja meskipun secara Ilahi, Dia mampu dan hasilnya pasti jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan kalau kita turut mengerjakannya. Kristus merekrut para murid untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia; Dia tidak lagi menyebut kita hamba tapi Ia menyebut kita sahabat karena seorang sahabat memahami apa yang menjadi kehendak sahabat-Nya. Dan cara Tuhan memilih dan memanggil orang-orang yang hendak Dia jadikan sebagai rekan sekerja berlawanan dengan cara manusia begitu juga dengan kriteria yang ditetapkan Tuhan berbeda dengan standar yang ditetapkan manusia. Standar dan syarat-syarat yang manusia anggap sangat penting bagi Tuhan Yesus nothing, tidaklah berarti apa-apa sebaliknya yang oleh manusia dianggap tidak penting justru bagi-Nya dianggap sangat penting. Terbukti orang-orang yang Yesus panggil untuk dijadikan murid adalah orang-orang yang berasal dari kalangan bawah yang dipandang hina dan remeh pada jaman itu. Andreas, Petrus, Yohanes dan Yakobus hanyalah seorang nelayan, Matius hanyalah seorang pemungut cukai, dan masih banyak lagi murid Kristus lain yang berasal dari kalangan bawah.
Hendaklah kita meneladani Kristus dan merubah konsep kita yang salah dengan demikian kita tidak salah menilai orang lain. Mata manusia hanya melihat penampilan luar tapi Tuhan melihat hati. Samuel melihat Eliab lebih cocok menjadi seorang raja karena perawakannya yang gagah tapi Tuhan berbeda, Ia justru memilih Daud yang kecil dan kemerah-merahan. Cara Tuhan menetapkan nilai lebih agung dari manusia. Manusia hanya bisa melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan keterbatasan dirinya sedang Tuhan melihat segala sesuatu di dalam seluruh kerangka kerajaan-Nya. Manusia seringkali hanya berpikir secara pragmatis, yaitu apa yang menjadi kebutuhan dunia saat ini dan yang menguntungkan maka dengan segala daya orang akan mengusahakan dan mengejarnya. Akibatnya, orang tidak mencapai kesuksesan dengan tuntas karena bidang yang seharusnya menjadi keahliannya malahan tidak dapat dikerjakan dengan maksimal. Sangatlah disayangkan, kalau demi untuk mendapatkan nilai matematika baik maka sepanjang hari itu dihabiskan untuk mempelajari bidang yang sebenarnya tidak dia kuasai demi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Sebaliknya mungkin di bidang lain, misalnya: musik atau bahasa seharusnya ia sangat berpotensi justru tidak dapat berkembang. Cara Tuhan berbeda, itulah sebabnya Tuhan Yesus memilih Petrus seorang nelayan bukan Kayafas si ahli Taurat atau orang-orang pandai lain pada jaman itu.
Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“ (Mat. 4:19). Perkataan Tuhan Yesus mengandung makna yang sangat dalam, kenapa Tuhan memanggil, bagaimana Tuhan memanggil dan apa implikasi dari panggilan Tuhan? Dan dalam kalimat ini mengandung tiga segmen: pertama, “Mari“ atau “Come“ (bhs Inggris); kedua, Ikutlah Aku, follow Me; ketiga, Kujadikan penjala manusia, I will make you a fisher of man. Melalui tiga segmen ini Kristus hendak menyatakan bagaimana cara Dia memanggil murid dan siapa yang akan dipakai untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan-Nya. Terlebih dahulu kita akan memahami segmen pertama dari ketiga segmen, yaitu “Come,...“ dalam bahasa Indonesia lebih tepatnya adalah “Kesini,...“Perhatikan, Tuhan mengatakan kalimat ini pada mereka yang nantinya menjadi orang-orang yang berada di lingkaran dalam Tuhan Yesus, inner circle, yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus adalah kecuali satu orang, yakni Andreas. Kristus menempatkan diri-Nya pada positioning yang tepat, “Kesini,...“ dengan demikian orang menyadari siapa yang berhadapan dengan dirinya dan bagaimana relasi dirinya dengan orang yang memanggil tersebut. Kristus tidak pernah menyebut diri-Nya Anak Allah tapi Ia selalu menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia. Hal inilah dipakai untuk menyerang Kekristenan, yaitu bahwa Kristus bukanlah Allah. Ironi! Manusia seharusnya sulit melihat Yesus sebagai Anak Manusia karena banyak hal yang Dia lakukan tidak dapat dilakukan oleh manusia. Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah adalah sah kalau keluar dari mulut orang lain.
I. Supremasi Kerajaan.
Kristus menggunakan otoritas tertinggi, yaitu otoritas Kerajaan Sorga pada saat Ia memanggil murid, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia“. Kristus menggunakan struktur ordo yang begitu kuat di dalam melakukan tindakan relasi. Di dunia barat, siapapun boleh mengundang tanpa memandang usia, seorang anak muda dapat mengatakan,“Come,...“ pada seorang yang lebih tua. Berbeda di dunia timur, seorang anak yang baru beranjak dewasa tidak dapat mengatakan hal demikian pada seorang yang sudah berusia. Menurut tradisi Yahudi, seorang dikatakan dewasa ketika berumur 30 tahun dan usia Tuhan Yesus 30 tahun saat Ia memilih para murid dan orang belum banyak mengenal Dia. Tuhan Yesus mau menunjukkan pada mereka bahwa panggilan-Nya adalah panggilan Kerajaan Allah bukan panggilan yang sifatnya kerjasama. Kingdom Authority, otoritas Kerajaan Sorga ini sangatlah penting karena untuk menggenapkan Kerajaan Allah di tengah alam semesta ini merupakan pekerjaan besar, yaitu pekerjaan yang bersangkut paut dengan kehidupan manusia di sepanjang jaman dan tanpa pertolongan Tuhan, manusia tidak dapat mengerjakannya. Karena itu Yesus memanggil dengan menggunakan otoritas Kerajaan Surga sehingga tidak ada tawar menawar, bargain. Bukankah di dunia sekuler pun kita tidak diberikan kesempatan untuk bargain bahkan tidak diperbolehkan tawar menawar saat mendapat tugas penting? Kini, apalagi tugas yang Tuhan berikan merupakan pekerjaan yang maha penting karena menyangkut kehidupan manusia maka mutlak, kita harus melakukannya.
II. Anugerah Illahi
Pekerjaan yang maha penting ini diserahkan kepada manusia yang secara kategori tidak mempunyai kualifikasi yang cukup memadai. Orang yang melakukan tawar menawar, bargain justru akan menjadikan dirinya sombong karena ia merasa dirinya yang paling dibutuhkan dan cuma ia satu-satunya yang dapat mengerjakan pekerjaan penting tersebut. Merupakan suatu paradoxical karena di satu sisi pekerjaan ini menyangkut seluruh umat manusia di dunia yang berlingkup besar namun dikerjakan oleh orang-orang yang “tidak berkualifikasi“ seperti kita. Andai Tuhan menuntut kualifikasi seperti halnya yang dilakukan di dunia sekuler maka tidak ada seorang pun yang lolos dari kualifikasi menurut standar Tuhan. Kita seharusnya patut bersyukur dan bersukacita karena Ia berkenan memakai kita untuk mengerjakan pekerjaan Kerajaan Sorga yang sangat mahal harganya karena menyangkut nyawa manusia.
Namun kita harus menyadari kalau Tuhan memanggil kita menjadi murid itu merupakan anugerah terlalu besar, tidak semua orang dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah karena itu janganlah engkau menyombongkan diri. Kita mempunyai tugas lebih penting dari semua pekerjaan apapun yang ada di dunia yang sifatnya sekuler. Hal itu seharusnya menyadarkan kita akan konsep nilai bahwa ada pekerjaan yang lebih bernilai yang harus kita kerjakan. Siapakah kita sehingga Tuhan berkenan memakai kita menjadi pekerja-Nya? Ingat, kita bukanlah siapa-siapa sehingga kalau Tuhan berkenan memilih kita menjadi pekerja-Nya maka kita harus mengerjakannya dengan sebaik-baiknya dan kita harus menuntut diri untuk terus bertumbuh dan para murid menyadari hal ini, mereka bukanlah tidak layak tapi Tuhan justru mau memakai manusia yang tidak layak ini untuk menggenapkan Kerajaan-Nya di dunia.
III. Ketaatan Hamba
Untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting ini, kualitas pertama yang Tuhan tuntut dari seorang murid adalah ketaatan, obedience. Dan hal yang paling sulit saat merekrut orang adalah kita tidak mengetahui apakah ia seorang yang taat atau tidak? Mencari orang yang berkualifikasi sekaligus orang yang mau taat tidaklah mudah karena umumnya, orang yang pandai akan sulit untuk taat sebaliknya orang yang mau taat biasanya adalah orang yang tidak mempunyai kemampuan atau kepandaian. Secara manusia, mereka adalah orang-orang yang dibuang oleh masyarakat, mereka dipandang sangat hina namun cara pandang Yesus berbeda, Ia melihat dengan bijaksana sejati bahwa mereka mempunyai potensi dan kapasitas yang sangat besar. Orang sulit memahami bagaimana cara Tuhan bekerja sehingga dapat mengubahkan hidup manusia hal itu juga menyebabkan kesulitan bagi kebanyakan orang pada umumnya bagaimana seorang nelayan seperti Petrus dapat mempertobatkan tiga ribu orang dan mereka meminta diri dibaptis. Alkitab menegaskan hal Kerajaan Sorga ini dengan keras. Alkitab tidak memakai konsep demokrasi karena salah satu kelemahan sistim demokrasi adalah keputusan berada di tangan suara terbanyak sehingga orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan di bidangnya berhak mengambil keputusan. Seorang filsuf Romawi, Markus Aurelius, tidak menyetujui adanya sistim demokrasi karena orang-orang “grass root“, orang-orang kelas akar rumput yang dalam hal ini tidak mempunyai pengertian atau kemampuan turut menentukan dan mengambil suatu keputusan. Dan sebagai gantinya, ia mengusulkan philosopher – king, yakni seorang pemimpin haruslah juga seorang yang bijaksana dan menguasai filsafat dengan demikian diharapkan ia dapat memilih dengan tepat orang-orang yang duduk dalam kepemimpinan. Sekali lagi saya tegaskan, konsep dunia berlawanan dengan konsep Tuhan meskipun konsep philosopher king ini sangat baik namun Tuhan Yesus tidak memakai konsep tersebut.
Kita harus menyadari panggilan Tuhan sebagai suatu anugerah. Manusia humanis tidak suka dengan doktrin predestinasi, yaitu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan karena ini berarti ia tidak mempunyai pilihan lain selain pilihan dari Tuhan. Maka tidaklah heran, orang sukar sekali melakukan perintah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab seperti “Hai, istri tunduklah pada suamimu...“ (Ef. 5:22) atau “Hai, suami kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat..“ (Ef. 5:25). Konsep ordo ini nampak jelas dalam Allah Tritunggal. Secara natur, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus sama namun secara ordo, tidak sama. Allah Roh Kudus harus tunduk pada Allah Anak karena Roh Kudus tidak akan mengerjakan apapun selain yang diperintahkan oleh Allah Anak dan Allah Anak harus tunduk pada Allah Bapa, Kristus tidak melakukan apapun yang dari diri-Nya sendiri. Jadi, otoritas tertinggi berada di tangan Allah Bapa karena itu dalam diri Allah Tritunggal tidak akan terjadi konflik kebenaran, kepemimpinan maupun otoritas. Inilah paradoxical relation, secara natur sama tapi secara ordo berbeda.
Manusia sudah dikuasai konsep humanisme dimana segala sesuatu harus sesuai logika akibatnya manusia selalu melawan konsep Tuhan. Sebagai contoh, Alkitab tidak pernah menentang perbudakan bahkan Alkitab mencatat ketika Onesiforus melarikan diri, Paulus mendidik dan mengembalikan dia pada tuannya. Dunia sudah mengalami pergeseran makna akibatnya orang tidak menyadari status dirinya yang hanya seorang budak. Di hadapan Tuhan kita adalah seorang budak atau hamba. Karena itu anugerah terlalu besar diberikan pada kita kalau kita yang adalah budak dipilih-Nya untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah dan seorang budak tidak mempunyai hak apapun, ia harus tunduk dan taat mutlak pada tuannya. Hari ini yang menjadi kekuatiran adalah orang Kristen tidak mempunyai jiwa taat dan mereka mau taat kalau ia diuntungkan. Itu bukanlah ketaatan. Tuhan tidak suka dengan seorang yang mempunyai jiwa pemberontak. Syarat utama menjadi murid Tuhan adalah ketaatan mutlak. Tentang hal mengikut, Tuhan Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk. 9:23) dan setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah (Luk. 9:62).
Gereja Tuhan harus berdiri di atas kebenaran. Kebenaran inilah yang akan mengikis orang-orang yang tidak punya motivasi benar. Tuhan Yesus berkata, “Kesini,...“ yang menjadi pertanyaan adalah hari ini berapa banyak orang yang meresponi panggilan-Nya? Orang selalu berpikir untung-rugi ketika hendak mengikut Dia dan yang dilihat manusia selalu kerugian karena manusia berpikir dengan menggunakan logikanya yang terbatas. Orang tidak dapat melihat kemuliaan Sorga di balik penderitaan; orang tidak memahami penderitaan di dunia hanyalah bersifat sementara. Maka tidaklah heran kalau mayoritas orang menolak Dia. Namun tidak demikian halnya dengan Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus, mereka langsung meninggalkan semua kesibukannya dan mengikut Dia. Tuhan sudah memilih dan memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam menggenapkan Kerajaan Allah di dunia, maukah engkau meninggalkan semua ego dan berkata, “Tuhan, aku mau taat pimpinan-Mu dan biarlah kehendak-Mu saja yang jadi“. Biarlah itu menjadi tekad dan doa kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Resensi Buku-27 : THE DEFENSE OF THE FAITH (Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE VAN TIL COLLECTION : THE DEFENSE OF THE FAITH

oleh : Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D.

Penerbit : Presbyterian and Reformed Publishing Company, Phillipsburg, New Jersey 08865, 1967 (Third Edition)





As attacks on Christianity become more numerous and pronounced, Dr. Cornelius Van Til’s classic treatment on apologetics endures as crucial reading for our time. Designed to stop secularists in their tracks, it is the kind of seminal work that serious defenders of the faith cannot afford to ignore.

After laying a foundation in the Christian views of God, man, salvation, the world, and the knowledge, Van Til explores the roles of authority, reason, and theistic proof, while contrasting Roman Catholic, Arminian, and Reformed methods of defending the faith. “Nothing short of the Christ of the Scriptures, as presented in historic Reformed theology, can challenge men to forsake their sin and establish them in truth and life,” writes Van Til. “The natural man must be shown that on his presupposition or assumption of man’s autonomy human predication has no meaning at all.”





Profil Dr. Cornelius Van Til :
Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. (3 Mei 1895 – 17 April 1987) yang lahir di Grootegast, Belanda, adalah seorang filsuf Kristen, theolog Reformed dan presuppositional apologist. Pada usia 10 tahun, beliau pindah bersama keluarganya ke Highland, Indiana. Keluarga Van Til menjadi anggota Gereja Kristen Reformed (Christian Reformed Church), dan Cornelius bersekolah di sekolah yang berhubungan dengan denominasi ini, the Calvin Preparatory School, Calvin College dan (selama satu tahun) Calvin Theological Seminary, semuanya di Grand Rapids, Michigan. Beliau beralih ke Princeton Theological Seminary untuk menyelesaikan pendidikan theologianya dan meraih gelar Master of Theology (Th.M.) di tempat ini pada tahun 1925. Secara bersamaan, beliau belajar filsafat di Princeton University dan menyelesaikan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) pada tahun 1927. Disertasinya berjudul “God and the Absolute,” membandingkan pandangan theologia Reformed tentang Allah dengan kemutlakan akan filsafat Idealisme. Pada bulan September, 1925, Van Til menikah dengan Rena Klooster dan memiliki seorang anak laki-laki, Earl. Rena meninggal pada tahun 1978.
Van Til menggembalakan sebuah gereja Kristen Reformed (Christian Reformed church) di Spring Lake, Michigan, mengambil cuti untuk mengajar apologetika di Princeton Seminary selama tahun ajaran 1928-1929. Pihak seminari menawarkan beliau menjadi ketua jurusan Apologetika pada akhir tahun tersebut, tetapi beliau menolak tawaran itu dan kembali ke Spring Lake. Beliau sungguh-sungguh cenderung tetap di dalam penggembalaan, dan beliau tidak ingin untuk bekerja sama dalam penyusunan kembali seminari yang diamanatkan oleh General Assembly of the Presbyterian Church, U.S.A.

21 October 2007

Refleksi Reformasi 2007 (1) : REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-1 (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Hari Reformasi 2007 (1)



REFORMED SPIRIT AND EPISTEMOLOGY-1

oleh : Denny Teguh Sutandio



2 Tim 4:1 Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2 Tim 4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
(2 Timotius 4:1-2)



Pendahuluan
Kepada anak rohaninya, Timotius, Rasul Paulus berpesan dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan mati untuk memberitakan Firman, bersiap sedia baik atau tidak baik waktunya, menegur (KJV : reprove), memarahi (KJV : rebuke) yang salah dan menasehati/mendorong (KJV : exhort) dengan segala kesabaran pengajaran. Mengapa ? Kalau kita melihat 1 pasal sebelumnya yaitu di pasal 3 ayat 2a, Paulus sudah mengajarkan bahwa pada hari-hari terakhir (last days), manusia akan menjadi hamba diri (humanisme) dan hamba uang (materialisme). Bukan hanya itu, di ayat berikutnya, sejak ayat 2b s/d 9, kita mempelajari implikasi praktis dari ayat 2a, sehingga kita semakin jelas mengapa Paulus berpesan kepada Timotius di pasal 4 ayat 1-2 untuk sungguh-sungguh memberitakan Firman, menegur, memarahi dan menasehati mereka yang salah dengan kesabaran pengajaran, yaitu karena manusia semakin lama semakin melarikan diri dari Kebenaran Firman (hal ini ditegaskan kembali di 2 Timotius 4 ayat 3-4).

Dunia di mana Timotius hidup adalah dunia yang sama dengan dunia postmodern yang kita hidupi sekarang. Bahkan kalau boleh dibilang, dunia postmodern sekarang lebih parah ketimbang dunia di mana Timotius hidup. Dunia postmodern adalah benar-benar realisasi praktis dari 2 Timotius 4:3-4 di mana banyak orang tidak mau lagi mendengarkan ajaran yang beres/bertanggungjawab, berani mengumpulkan guru-guru untuk mengajarkan apa yang mereka senangi dengan cara : memalingkan telinga dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng/mitos (King James Version : fables ; dalam bahasa Yunani berarti myth). Bukan hanya itu saja, filsafat postmodern disisipi dengan spiritualitas Timur, yaitu Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang diprakarsai oleh Hinduisme, Buddhisme, Orientalisme Tiongkok, dll. Kedua ajaran ini merasuki keKristenan dengan berbagai ajaran yang tidak bertanggungjawab. Sebagai orang Kristen yang beres, bagaimana kita dapat teguh berdiri di dalam Kristus dan mengatasi kedua ajaran ini ? Tidak ada jalan lain, kecuali kembali kepada semangat Reformasi.



Reformed Spirit (God-Centered Theology) and Reformed Epistemology
Semangat Reformasi adalah semangat mulia dari hamba-Nya, Dr. Martin Luther (1483-1546) untuk mereformasi gereja agar sesuai dengan kebenaran Alkitab. Semangat ini diteruskan oleh John Calvin, di mana Calvin adalah bapak theologia Reformed. Theologia Reformasi dan Reformed sama-sama memiliki pengajaran yang berpusat kepada kedaulatan dan anugerah Allah dan bukan kepada kehendak “bebas” manusia. Sehingga theologia Reformed dapat disebut theology from above (theologia dari atas), artinya theologia ini berpusat kepada Allah (God-centered theology). Kalau kita memperhatikan sejarah berdirinya gerakan Reformasi, kita akan mengerti bahwa gerakan Reformasi dan Reformed berada di suatu zaman Renaissance (tahun 1400-1600), “kelahiran kembali dalam pembelajaran dan pencarian pengetahuan sekuler.” (John D. Currid, Membangun Wawasan Dunia Kristen-1, 2006, p. 149). Ketika Abad Pertengahan yang berusaha mensintesiskan filsafat Yunani dan Alkitab lalu ditambah pengaruh Renaissance yang menekankan otoritas dan superioritas (rasio) manusia, Tuhan membangkitkan para hamba-Nya yang setia kepada firman-Nya, dari Augustinus, Dr. Martin Luther, John Calvin, dll untuk mengembalikan keKristenan kepada Kebenaran final yang tertinggi, Alkitab (back to the Bible). Sola Scriptura berarti kita sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya standar kebenaran Allah yang final dan ultimat bagi iman dan kehidupan kita sehari-hari. Selain itu, Luther juga menekankan Sola Gratia (hanya melalui anugerah), artinya keselamatan di dalam Kristus hanya melalui anugerah Allah yang mengaruniakan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia. Kemudian, Luther juga mengajarkan Sola Fide (hanya melalui iman), artinya keselamatan di dalam Kristus hanya melalui iman di dalam Kristus yang merupakan anugerah Allah. Mengapa hanya melalui iman ? Karena hanya melalui iman di dalam Kristus yang merupakan anugerah Allah, kita yang berdosa diimputasikan kebenaran dari ketaatan dan kebenaran Kristus melalui penebusan-Nya di kayu salib. Atau dengan kata lain, kita dijadikan benar/dibenarkan oleh Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Terakhir, ketiga Sola ini berpusat kepada Soli Deo Gloria (segala kemuliaan hanya bagi Allah). Soli Deo Gloria bukan hanya berkenaan dengan keselamatan, tetapi juga berimplikasi di dalam iman, doktrin dan kehidupan sehari-hari yang menjadikan Allah sebagai Tuhan, Raja dan Penguasa Hidup sejati. Keempat semangat Reformasi ini sangat sesuai dengan ajaran Alkitab dari Paulus, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Roma 11:36) Inilah dasar epistemologi Reformasi dan Reformed yang bersumber dari Allah, oleh Allah dan semuanya hanya untuk kemuliaan Allah saja. Ketika seseorang kembali kepada dasar epistemologi yang bertanggungjawab di dalam wahyu khusus Allah, Alkitab, maka kita bisa melihat dunia sekeliling kita dengan perspektif kedaulatan Allah dan kita berusaha untuk mengembalikan dunia kita kembali kepada Allah dengan cara menebusnya.

Oleh karena itulah, di dalam waktu menjelang hari Reformasi, 31 Oktober, selama 3 minggu berturut-turut, kita akan merenungkan tiga subtema pengenalan tokoh dan ajaran dari Augustinus (Vs Pelagius dan Thomas Aquinas), Dr. Martin Luther (Vs D. Erasmus), dan John Calvin (Vs Jacobus Arminius). Ketiga tokoh ini dianggap sebagai tokoh Kristen yang berpengaruh dan setia kepada pengajaran Alkitab. Lalu, kita akan mencoba menyelidiki para “musuh” Kebenaran yang mencoba menggusur Allah dari tahta-Nya dan menggantikannya dengan otoritas rasio manusia, kemudian, bagaimana kita menghadapi dan menantang mereka (dan para pengikutnya) agar mereka juga kembali kepada Alkitab.



Bapa Gereja Augustinus : Profil Singkat dan Ajaran-ajarannya
Bapa Gereja Aurelius Augustinus (13
November 354–28 Agustus 430), menurut Prof. Charles S. MacKenzie, Ph.D. di dalam salah satu artikelnya, Jeda Alkitabiah : Trinitarianisme Augustinus di dalam buku Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 1 : Allah, Manusia, dan Pengetahuan (Momentum, 2006), adalah “seorang tokoh besar yang memberikan karakter formatif bagi banyak pemikiran Kristen.” (MacKenzie, 2006, p. 89) Augustinus dilahirkan pada tahun 354 di Tagaster, Aljazair dari seorang ayah, Patricius yang tidak mempedulikan moralitas dan seorang ibu, Monica, seorang Kristen yang berbakti.

Pada masa mudanya, Augustinus memiliki kegemaran-kegemaran, seperti atletik, sangat kompetitif, dan ahli melempar umban. Yang lebih parahnya, ia juga memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk, antara lain : berjudi, bertengkar, berkelahi, berdusta, mencuri, dan hidup tidak tertib. Kebiasaan buruk ini mulai terlihat jelas pada usia remajanya di mana gairah seks dan sensualitasnya (percabulan) berkembang. Percabulannya semakin berkembang ketika di usia 16 tahun, ia memiliki seorang wanita simpanan di Kartago dan wanita itu melahirkan anak, Adeodatus. Bukan hanya terpengaruh oleh gairah seks, ia juga terpengaruh oleh banyak filsafat dunia. Filsafat pertama yang mempengaruhinya adalah Manichaeanisme yang didirikan oleh Mani dari Babilonia yang mengajarkan tentang dualisme (=kerajaan terang yang kosmis berperang melawan kerajaan kegelapan yang kosmis) dan bahwa keselamatan datang dari pemikiran (rasio) yang benar dan penolakan asketis terhadap selera dan nafsu jasmaniah. Para penganutnya dibagi menjadi dua golongan : yang sedikit (=orang-orang pilihan : menjalani kehidupan monastis yang keras/bertarak) dan yang banyak (=ditetapkan menjadi pendengar : hanya menerima doktrin-doktrin secara intelektual). Augustinus menjadi pendengar Manichaeanisme. Kemudian, ia berpindah ajaran, dan pada usia 30 tahun, ketika pindah dari Kartago ke Roma, ia menjadi seorang skeptis dan terpengaruh oleh Neo-Platonisme (revisi dari filsafat Plato). Setahun kemudian, ia pindah ke Milan dan menjadi guru retorika. Ketika ia tidak mengajar, ia mulai mempelajari Neo-Platonisme yang mengajarkan : (1) Allah adalah Keberadaan yang murni dan sempurna. (2) Dari Allah memancar akal budi yang universal, kemudian satu jiwa dunia, dan akhirnya alam materi. (3) Manusia naik kepada Allah dengan menjalani suatu kehidupan asketis yang ketat dan melibatkan diri dalam meditasi mistis sebagai satu jalan keselamatan.

Tetapi puji Tuhan, Ia tidak membiarkan hamba-Nya tersesat begitu lama, sehingga Ia memakai ibunya, Monica untuk mendorong Augustinus untuk menghadiri gereja, dan akhirnya Augustinus mau menghadiri gereja dan mulai mendengar khotbah-khotbah dari Uskup Ambrose dari Milan. Sejak saat itu, ia mulai bertobat dan meninggalkan wanita simpanannya. Pada Juli 386, pada usia 32 tahun, seorang kawan Augustinus bertanya kepadanya untuk menantangnya, “Apa yang sedang saya lakukan di atas bumi ini ?” Setelah kawannya pulang, ia keluar ke tamannya dan mendengar suara seorang anak kecil bermain dan berkata, “Ambil dan bacalah.” Lalu, Augustinus menemukan kitab yang terdekat, Alkitab dan membuka secara acak Roma 13:13-14. Pada saat itulah, Augustinus sungguh-sungguh bertobat. Pada Paskah berikutnya, ia dibaptis oleh Ambrose di Milan.

Augustinus lalu kembali ke Afrika dan menjadi Uskup di Hippo, Afrika Utara selama 35 tahun. Buku-buku yang ditulisnya berjumlah 230, lebih dari 50 jilid buku tebal, tiga di antaranya yang paling penting : Confessions (otobiografi, seperti catatan harian, perjalanan spiritual Augustinus sampai kepada Kristus {terdiri dari 100.000 kata}), On the Trinity (yang meneguhkan dan menerangkan natur Trinitarian Allah dari Konsili Nicea) dan The City of God (menjelaskan bahwa Roma jatuh di tangan kaum Barbar karena Romawi terlambat menjadi Kristen).

Ketika pertama kalinya menjadi Kristen, Augustinus menggabungkan pemikiran Yunani dan Alkitabiah tetapi puji Tuhan, semakin ia mendalami Alkitab, ia semakin bertumbuh dalam pemahamannya akan Alkitab, lalu semakin membedakan antara pengajaran Alkitab dan ide-ide Yunani, dan terakhir, ia mengkritik keras pandangan-pandangan Yunani dari sudut pandang Alkitab. Bagi Augustinus, Alkitab secara verbal diinspirasikan oleh Allah. (Confessions 13.4-32) Inilah semangat Sola Scriptura Augustinus yang sayangnya tidak diikuti oleh gereja-gereja di luar Protestan.

Bukan hanya Sola Scriptura saja, Augustinus juga menekankan semangat dan doktrin penting, yaitu iman mencari pemahaman (fides quaerens intellectum atau credo ut intelligam). Artinya, ketika seseorang beriman di dalam Allah, maka orang itu baru mencari pemahaman yang sesuai dengan imannya. Inilah iman Kristen yang berbeda dengan “iman” dunia modern dan postmodern yang meninggikan otoritas manusia. Apa yang Augustinus tekankan ini sesuai dengan Alkitab di dalam Ibrani 11:3, “Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.” Ayat ini sudah sangat jelas mengajarkan bahwa hanya melalui iman (mempercayakan diri di dalam Allah), kita baru dapat mengerti tentang Allah, firman-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya. Inilah dasar epistemologi iman Kristen, yaitu dari iman, kita mencari pemahaman yang memperkuat iman kita lagi, dst (circular understanding).

Dari dasar Alkitab dan iman inilah, kita akan mengkaji tiga doktrin Augustinus yaitu tentang Allah, manusia dan dosa, dan keselamatan.

Pertama, Transendensi Allah, Providensia Allah dan Allah Trinitas. Ketika dibelenggu oleh filsafat Yunani baik dari Parmenides tentang being dan Heraclitus tentang becoming, Augustinus menjadi bingung mencari hubungan keduanya. Apalagi ditambah dengan filsafat Manichaeanisme yang mengajarkan dualisme, Augustinus bingung bagaimana hasil akhir peperangan antara terang dan gelap itu. Tetapi puji Tuhan, Roh Kudus menganugerahkan iman dan pengertian kepadanya, sehingga ia menemukan Kebenaran sejati. Ia percaya bahwa Allah itu transenden dan Pencipta segala sesuatu dari tidak ada (creatio ex nihilo). Artinya, alam semesta tidak mandiri tetapi mempunyai sumber dan sasarannya di dalam Allah, yang transenden terhadap segala sesuatu. Lalu, Ia yang mencipta juga adalah Allah yang memelihara segala sesuatu. Di dalam providensia (pemeliharaan)-Nya, Ia mempredestinasikan sebagian orang untuk diselamatkan dengan menempatkan orang-orang percaya dan Roh Kudus di sekeliling mereka sehingga mereka dapat beriman kepada Kristus. Dalam hal ini, ia menolak pengajaran baik dari Plato yang mengajarkan bahwa Demiurge membuat dunia ini dari bentuk-bentuk dan materi-materi yang ada, maupun dari Neo-Platonisme yang mengajarkan bahwa dunia ini adalah pancaran/aliran dari Allah (yang impersonal/tidak berpribadi). Tentang Trinitas, ia percaya bahwa masing-masing Pribadi Allah : Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Allah yang kekal, berbeda masing-masing pribadinya, dan setara kedudukannya. Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak (Filioque). Ia menolak bidat-bidat, seperti Modalisme dari Sabelius pada abad ke-3, dan Arianisme yang mengajarkan Allah yang Esa (Roh Kudus di bawah Anak dan Anak di bawah Bapa). Lalu, apa signifikansi Trinitas bagi Augustinus ? Augustinus menyadari ada dua signifikansi penting dari pengertian Trinitas ini yaitu : (1) Trinitas menyelesaikan masalah being dan becoming. Baginya, becoming itu lambang Roh Kudus yang mengatur segala sesuatu secara providensial dan being adalah lambang Allah Bapa yang transenden terhadap segala sesuatu. Di antara keduanya, Allah Anak, yaitu Tuhan Yesus Kristus menjadi jembatan Ilahi yang berinkarnasi ; (2) Trinitas juga mempersatukan segala realitas dan memelihara rasa ketertiban yang dinamis dan kreatif dalam alam semesta di mana Allah Bapa sebagai esensi Ilahi, dasar dari segala being, Allah Roh Kudus menopang, mendukung, dan memberi eksistensi yang berkesinambungan kepada segala ciptaan, kepada dunia becoming dan Allah Anak yang menghubungkan segala realitas (kelihatan maupun tidak kelihatan).

Kedua, Manusia dan Dosa. Bagi Augustinus, manusia adalah satu kesatuan antara tubuh dan jiwa di mana sebelum berdosa, Adam mempunyai kebebasan untuk berkehendak dan melakukan apa yang benar (Latin : posse non peccare et posse peccare ; artinya : mampu tidak berdosa dan mampu berdosa). Tetapi dosa mengakibatkan manusia rusak total. Bagi Augustinus, kejatuhan manusia ke dalam dosa muncul dari ketidakpercayaan, merupakan suatu produk kehendak (yang merupakan ekspresi otonom dari manusia batiniah), dan dihasilkan dari keinginan dan pilihan bebas manusia untuk menaruh dirinya sendiri mendahului Allah (disebut dosa kesombongan). Dan akibatnya : manusia kehilangan kebebasan dan kuasanya, sehingga dosa memperbudak kehendaknya dan merusakkan penilaiannya dan akhirnya, penilaian moralnya menjadi rusak.

Ketiga, Keselamatan. Tidak ada jalan lain bagi permasalahan dosa, kecuali anugerah Allah yang mengerjakan keselamatan manusia. Bagi Augustinus, anugerah Allah adalah suatu infusi kasih ke dalam diri manusia oleh Roh Kudus yang menciptakan kembali dan memperbarui sumber Allah dalam diri manusia. Anugerah-Nya ini mulai bekerja dengan membebaskan manusia dari kebutaan intelektual manusia (masalah moral) melalui kelahiran kembali dari afeksi dan hasrat mereka sehingga mereka mengasihi Allah karena adanya anugerah Allah yang kuat dan tidak dapat ditolak. Inilah dasar ajaran bagi theologia Reformed/Calvin : Irresistible Grace (Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak).

Berbeda dari Augustinus, seorang yang bernama Pelagius dan Thomas Aquinas menolak ajaran Augustinus dan menggantikannya dengan ajaran yang menekankan pada otoritas manusia. Kita akan melihat profil dan ajaran singkat dari kedua tokoh ini.



Profil Singkat dan Ajaran-ajaran Pelagius dan Thomas Aquinas
Setiap kebenaran ketika diberitakan pasti menuai dua akibat, yaitu ada yang menerima dan mengimaninya, dan sebaliknya, ada yang menolaknya. Bagi mereka yang menerimanya berarti mereka adalah kaum pilihan Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya, sedangkan mereka yang menolaknya memang telah ditetapkan-Nya untuk dibinasakan. Sekarang, mari kita akan melihat siapa saja yang menolak pengajaran Augustinus ini.

Pelagius adalah seorang biarawan Inggris yang datang ke Roma pada tahun 390 M. Dia mengajar : (1) Adam dijadikan sebagai makhluk yang fana dan akan mati entah dia berdosa atau tidak. (2) Dosa Adam hanya melukai dirinya sendiri saja dan bukan seluruh umat manusia. (3) Anak-anak yang baru lahir berada dalam keadaan yang sama dengan Adam. (4) Seluruh umat manusia tidak mati karena dosa dan kematian Adam, atau bangkit karena kebangkitan Kristus. (5) Manusia dapat diselamatkan dengan menaati hukum dan mempercayai Injil. (6) Sebelum kedatangan Kristus, manusia dapat menjalani hidup yang tidak berdosa.

Pandangan Pelagius ini dikutuk dalam dua konsili gereja mula-mula yaitu : Konsili Kartago pada tahun 418 M dengan mengajarkan bahwa anugerah Allah mutlak diperlukan untuk keselamatan maupun untuk hidup yang benar dan terakhir, Konsili Efesus pada tahun 431 M.

Di mana letak kesalahannya ?
Pertama, Pelagius menolak dosa asal manusia yang jelas-jelas ditekankan oleh Alkitab baik di Roma 3:9-20 ; 5:12-14 ; dll.
Kedua, Pelagius menambahi Injil dengan hukum sebagai syarat diselamatkan, padahal hal ini sudah jelas-jelas diajarkan oleh Paulus : keselamatan hanya melalui anugerah di dalam iman (Efesus 2:8-9) dan Injil sejati harus diberitakan, bukan “injil-injil” yang lain/different gospel (Galatia 1:6-10).
Terakhir, Pelagius dengan jelas menolak finalitas karya penebusan Kristus dan kebangkitan-Nya yang menjadi dasar kebangkitan umat pilihan-Nya kelak. Padahal hal ini diajarkan oleh Paulus di dalam 1 Korintus 15.

Anehnya, setelah ajaran Pelagius dikutuk di dalam dua konsili gereja mula-mula, manusia berdosa tidak pernah jera menciptakan ajaran-ajaran yang menyeleweng dari Alkitab, akhirnya dengan berkompromi, seorang yang bernama Luis Molina pada tahun 1590-1600 menciptakan sebuah konsep yang dinamakan Semi-Pelagianisme. (http://en.wikipedia.org/wiki/Semi-Pelagianism) Ajaran ini mensistesiskan pandangan Augustinianisme dan Pelagianisme dengan mengajarkan : meskipun manusia alamiah telah dirusakkan oleh dosa, ia masih mampu bekerja sama dengan Allah dalam penebusan (keselamatan : kerja sama manusia dengan Allah). Dengan kata lain, sebagai ringkasannya :

Augustinian mengajarkan : manusia alamiah mati secara rohani.
Pelagian mengajarkan : manusia alamiah hidup dan baik.
Semi-Pelagian (sebagai sintesis keduanya) mengajarkan : manusia alamiah sakit.

Para penganut Semi-Pelagian adalah John Cassianus, Vincent Lerins, Faustus, dll.

Di mana letak kesalahan Semi-Pelagian ? Semi-Pelagian terlalu merendahkan makna dosa, padahal Alkitab dengan jelas dan tegas mengajarkan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” (Efesus 2:1) Roma 6:23a juga mengajarkan, “Sebab upah dosa ialah maut;” Dengan sengaja mengerdilkan makna dosa, maka tidak heran, Semi-Pelagian mengajarkan bahwa manusia bisa joint-venture dengan Allah di dalam karya keselamatan. Di minggu terakhir dari ketiga sesi renungan ini, kita akan menyelidiki bahwa Semi-Pelagianisme nanti mempengaruhi Arminianisme yang mempengaruhi banyak (tidak semua) gereja-gereja Injili, Katolik Roma, dan Karismatik/Pentakosta yang mayoritas lebih menitikberatkan pada pengalaman pribadi, hukum gereja, dll ketimbang pemberitaan Injil murni dan kedaulatan anugerah Allah.


Selain Pelagianisme dan Semi-Pelagianisme, Thomistis (pengikut Thomas Aquinas) adalah para “musuh” Kebenaran Firman. Thomas Aquinas (1225-1274) adalah tokoh yang cukup berpengaruh dalam keKristenan, meskipun tidak berpengaruh secara positif. Aquinas adalah sosok tokoh dan dianggap Santo oleh Gereja Katolik Roma pada tanggal 18 Juli 1323 oleh Paus Yohanes XXII di
Avignon. (http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Aquinas) Aquinas dilahirkan pada tahun 1225 ketika Skolastisisme mulai berkembang. Ajaran ini dipengaruhi oleh ide-ide Yunani dan mengajarkan : segala pengetahuan bisa ditata dalam suatu cara yang teratur dan mendetail dan rasiolah sarana yang tertinggi untuk memperoleh pengetahuan, meskipun rasio harus ditambah dengan penyataan Alkitabiah. Aquinas mempelajari kurikulum tradisional dari 7 seni liberal di Naples dan kemudian lulus dari Universitas Paris. Ia menjadi profesor theologia dalam ordo Dominikan yang didirikan pada abad ke-13. Aquinas menulis lebih dari 40 buku, 3 di antaranya yang paling terkenal adalah : Summa Contra Gentiles (A Summary Against the Gentiles : buku pegangan theologia apologetika bagi para misionaris untuk menobatkan orang kafir), Summa Theologica (A Summary of Theology : buku pelajaran theologia sistematika yang secara kuat mempengaruhi Gereja Katolik Roma) dan tafsiran-tafsiran tentang buku-buku karya Aristoteles. Ia mendapat gelar Doktor Gereja pada tahun 1567.

Aquinas sering disebut sebagai bapak “theologia” natural. Ia dijuluki demikian karena ke“cerdas”annya mensistesiskan filsafat-filsafat Yunani (sebagai pusat) dengan Alkitab (melayani filsafat Yunani). Aquinas dulu belajar Aristoteles dari gurunya di Universitas Paris, Albertus Magnus, akhirnya sampai menjadi profesor theologia pun, Aquinas tetap mengadopsi langsung ide-ide Aristoteles sebagai pusat untuk disesuaikan (lebih tepatnya : dicocok-cocokkan) dengan Alkitab.

Tentang Allah, menurut Prof. W. Andrew Hoffecker, Ph.D. di dalam salah satu artikelnya, Skolastisisme Abad Pertengahan : Sintesis Thomistis di dalam buku Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 1 : Allah, Manusia dan Pengetahuan, Allah Aquinas kadang-kadang dirujuk sebagai penggerak yang tidak digerakkan yang “dibaptis”. (Hoffecker, 2006, p. 110) Ide Penggerak yang tidak digerakkan diimpor dari filsafat Aristoteles. Lalu, ide ini “dibaptis” dalam nama “yesus” dengan memberi ciri-ciri Alkitabiah kepada kekuatan impersonal dari “allah” Aristoteles sehingga Allah menjadi Penggerak yang tidak digerakkan. Keunikan Allah, menurut Aquinas, berakar dalam esensi-Nya yang adalah to be (“berada”), sementara keberadaan lainnya dalam ciptaan eksis karena kebergantungan mereka pada penyebab yang lebih tinggi yang bersumber dari Allah. Karena menekankan Allah adalah kekal, penyebab pertama, dan kebaikan yang berdaulat, ia menolak bahwa Allah itu seperti manusia dalam pengertian universal apapun. Ia mengajarkan bahwa kita mengenal Allah hanya melalui analogi. “Untuk menghindari kekeliruan memahami Allah seperti makhluk-makhluk ciptaan-Nya, Thomas mengedepankan suatu prinsip Abad Pertengahan yang populer yang disebut via negativa. ‘Jalan negasi’ ini menyangkal bahwa kita dapat mengetahui esensi Allah, yaitu apa Dia itu. Hanya Allah yang mengetahui itu. Karena esensi Allah bersifat transenden, Allah tak terselidiki oleh manusia. Karena itu, jika mau mengenal Dia, kita harus memulai dengan menyangkal kualitas-kualitas yang kita tahu tidak pantas bagi Allah. Misalnya, kita tahu bahwa Allah adalah bukan material. Ia juga adalah tidak terbatas, tidak dapat berubah, tidak tunduk pada waktu.” (pp. 112-113) Lebih aneh lagi, alasan di balik gayanya yang mengedepankan via negativa ini adalah supaya kita semakin dekat mengenal Dia karena kita menyingkirkan unsur-unsur yang membuat Allah sama dengan keberadaan-keberadaan lainnya dari pemikiran kita. Ia juga mengajarkan bahwa providensia Allah tetap berimplikasi pada predestinasi Allah di mana Ia memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan meninggalkan sebagian lainnya kepada hidup yang binasa. (p. 114)

Tentang manusia dan dosa, Aquinas menggabungkan ide-ide Aristotelian, Augustinian dan Pelagian. Penegasan fundamentalnya adalah bahwa manusia adalah persatuan antara tubuh dan jiwa dalam pengertian Aristotelian. Bagi Aquinas, jiwa adalah bentuk dari tubuh, dan manusia yang dikaruniai dengan rasio mempunyai jenis jiwa yang tertinggi. Tetapi ia juga mengakui bahwa di atas manusia masih ada malaikat dan di atas malaikat masih ada Allah. Dalam hal dosa, ia juga percaya adanya dosa asal yang diteruskan dari generasi ke generasi yang mengeluarkan dampak yang kuat pada kehendak manusia, menghasilkan nafsu yang kuat, hasrat yang kuat dan tidak teratur, lalu akhirnya menghasilkan dosa aktual. Tetapi pengertian dosa asal versi Aquinas tidak sama dengan pengajaran Alkitab. Aquinas mengajarkan bahwa sebelum kejatuhan, manusia dapat melakukan empat kebajikan natural (yaitu : kebijaksanaan, keadilan, pengendalian diri, dan keberanian) yang diuraikan oleh para filsuf Yunani, dan tiga kebajikan supranatural (yaitu : iman, pengharapan dan kasih). Dosa asal membuat manusia tidak mampu menjalankan iman, pengharapan dan kasih, tetapi mereka mampu melakukan empat kebajikan natural itu, sehingga ia menyimpulkan bahwa meskipun natur Adam yang rusak diwariskan kepada keturunannya, kekuatan rasional manusia tersebut tidak berkurang. Ia juga mengajarkan bahwa kehendak manusia tidak rusak secara total, sehingga kita secara moral bebas dan mampu melakukan sejumlah kebaikan, meskipun terbatas. Selain rasio, Aquinas juga dengan terus terang menerima perasaan indrawi sebagai titik tolak yang sah bagi pengetahuan. Baginya, hal-hal material adalah objek-objek primer bagi akal budi manusia. (Hoffecker, 2006, p. 260) Ia mempercayai bahwa metafisika natural yaitu investigasi rasional tentang sesuatu di balik realitas fisis adalah layak dan itu dapat dilakukan dengan menggunakan indra. Jadi, menurutnya, rasio ditambah pengalaman indrawi manusia sanggup menghasilkan pengetahuan. Cara kerjanya adalah (1) rasio memulai dengan data-data dari pengalaman indrawi langsung, (2) merefleksikan pengalaman itu, dan (3) sampai pada suatu kesimpulan yang mutual bahwa bereksistensi satu Allah yang transenden terhadap realitas fisis yang diketahui oleh indra. Ia juga membagi dua langkah dalam mengenal Allah, yaitu dimulai dari keyakinan intelektual bahwa Allah ada, lalu dilanjutkan dengan persetujuan akal budi terhadap pernyataan bahwa ada satu Allah, kemudian disusul dengan langkah kedua yaitu tindakan yang sangat pribadi untuk menempatkan keyakinan atau penyandaran kita pada Allah.

Tentang keselamatan, Aquinas mempercayai bahwa karena setiap orang mewarisi dosa asal dan melakukan dosa aktual, maka penebusan dimungkinkan melalui anugerah Allah yang bebas dan tidak layak diterima. Tetapi anehnya, ia membedakan dua jenis anugerah yang kelihatan berkontradiksi. Anugerah pertama adalah anugerah operatif yang adalah pertolongan ilahi yang diberikan kepada manusia di mana “Allah adalah satu-satunya penggerak”, tetapi ketika Ia juga menggerakkan jiwa manusia (penerima pasif), manusia juga menjadi penggerakkan (partisipan aktif dalam keselamatan), sehingga timbullah doktrin Aquinas yaitu keselamatan dihasilkan oleh jiwa di samping juga oleh Allah. (Summa Theologica 111.2) Selain keselamatan, ia juga mengajarkan adanya pembenaran bersifat subyektif, di mana Allah menjadikan manusia benar dengan menginfusikan anugerah ke dalam diri mereka (melalui sakramen-sakramen). Ia juga percaya bahwa ada sebagian orang Kristen yang disebut orang-orang “kudus” yang melakukan hal-hal yang lebih dari yang diperintahkan di dalam Hukum Allah, misalnya dengan melakukan tiga kaul, yaitu kemiskinan, kesucian, dan ketaatan. Karena itu, mereka mendapatkan pahala-pahala dan orang-orang “kudus” ini nantinya menjadi sarana doa selain Allah, seperti yang jelas-jelas disebutkan dalam doa kepada Santa Anna oleh Dr. Martin Luther ketika dulu ia diterpa oleh angin ribut dan hujan. Orang-orang berdosa dapat menerima anugerah melalui ketujuh sakramen, yaitu baptisan, peneguhan, Perjamuan Kudus, pertobatan, pentahbisan, perkawinan, dan pengurapan. Oleh karena itu, bagi Aquinas dan theologia Katolik Roma, sakramen-sakramen dipandang sebagai mujizat-mujizat (meskipun beberapa orang Katolik menyangkali hal ini). Selain itu, Aquinas juga membedakan dua macam orang, yaitu orang yang hidup membiara/askese disebut religius karena mereka mengikuti suatu panggilan yang lebih tinggi daripada orang-orang yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata, dualisme Yunani dari Plato pun direalisasikan oleh Aquinas dan dianut oleh mayoritas Katolik Roma dan beberapa orang “Kristen” di dalam gereja Protestan sekalipun.

Apa kelemahan-kelemahan ajaran Aquinas dan bagaimana solusinya ?
Pertama, Aquinas mengembangkan theologia “Kristen” dengan mensintesiskan filsafat Yunani dengan Alkitab. Meskipun ia mengakui bahwa filsafat Yunani harus dilengkapi dengan Alkitab, tetapi ia tetap bersikukuh pada “kebenaran” filsafat Yunani yang meninggika rasio. Aquinas berbeda dengan Augustinus. Augustinus pernah belajar filsafat Yunani, khususnya dari Plato dan Neo-Platonisme, bahkan ketika ia pertama kali menjadi Kristen, ia juga mirip seperti Aquinas yang mensintesiskan filsafat Yunani dengan Alkitab, tetapi Augustinus sangat berbeda dengan Aquinas, di mana setelah Augustinus mendalami Alkitab, ia semakin sadar bahwa Alkitab sangat berbeda jauh dari filsafat Yunani, sehingga ia mati-matian mengkritik pandangan Yunani yang tak mampu menghubungkan being dan becoming serta membawa orang Kristen kembali kepada Alkitab. Bahkan Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menuturkan bahwa Augustinus pernah berkata bahwa apabila salah satu pengajarannya di dalam buku-bukunya ada yang melawan Alkitab, ia menganjurkan agar buku itu dibuang/ditinggalkan dan Alkitab yang dipegang. Augustinus lebih mempercayai wahyu khusus Allah ini ketimbang doktrinnya sendiri. Inilah citra hamba Tuhan sejati. Sedangkan Aquinas yang dulu pernah belajar filsafat Aristoteles, setelah menjadi Kristen bahkan menjadi uskup dan ditetapkan menjadi “santo”, ia tak pernah mendalami Alkitab dengan bertanggungjawab, tetapi ia malahan mengkompromikan Alkitab dengan filsafat Aristoteles, bahkan menempatkan Alkitab hanya sebagai pelengkap “kebenaran” filsafat Aristoteles. Inilah kegagalan fatal “theologia” yang antroposentris. Mereka membangun “theologia” dan dasar iman dari rasio murni, yang tentu hampir mirip seperti rasionalisme. Aquinas tidak mungkin bisa berkata seperti Augustinus yang mengatakan bahwa Alkitab saja yang harus dipegang, karena Aquinas sendiri membangun dasar presuposisinya bukan dari Alkitab, tetapi dari filsafat Aristoteles. Jika demikian, maka Aquinas secara tidak sadar sedang merendahkan Alkitab dan meninggikan superioritas manusia. Lalu, silahkan pikirkan sendiri, apakah layak Aquinas disebut sebagai profesor “theologia” ?

Kedua, seperti yang dipaparkan oleh Dr. Hoffecker, Aquinas membangun epistemologinya dari rasio, sehingga motonya : “Saya mengerti supaya saya bisa percaya.” (intelligo ut credam) (Hoffecker, 2006, p. 261) Dari epistemologi ini, ia mengkonstruksi argumen-argumen rasional untuk membuktikan eksistensi Allah. Usaha inilah disebut “theologia” natural. Presuposisi Thomas Aquinas yang dimulai dari rasio diikuti oleh banyak orang “Kristen” bahkan banyak theolog Injili sekalipun. Mereka mencoba membuktikan kebangkitan Kristus dari fakta-fakta historis kepada orang-orang non-Kristen. Mereka juga mencoba membuktikan bukti-bukti ilmiah otentisitas Alkitab. Tidak berarti itu semua salah, tetapi itu semua bukanlah dasar presuposisi iman Kristen yang bertanggungjawab. Kelemahan fatal presuposisi ini adalah ketika fakta-fakta ilmiah itu sudah berubah dan ada kesalahan sedikit, maka iman Kristen gugur, padahal iman Kristen BUKAN dibangun di atas bukti-bukti ilmiah. Mengapa fakta-fakta ilmiah bisa berubah ? Apakah ini membuktikan ketidakbenaran iman Kristen ? Misalnya, mayat Musa tidak dapat ditemukan, apakah ini berarti Musa tidak pernah meninggal ? TIDAK. Mayat Musa tidak dapat ditemukan, karena Allah yang menginginkan hal itu terjadi, supaya manusia tidak memberhalakan Musa. Bahkan malaikat Allah, Mikhael pernah bertengkar dengan setan mengenai mayat Musa. Demikian juga dengan naskah asli Alkitab (autographa). Banyak “theolog” liberal yang mempengaruhi social “gospel” (“theologia” religionum) mempertanyakan naskah asli Alkitab lalu menyimpulkan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah, tetapi hanya salah satu firman Allah yang bisa mengandung kesalahan. Kalau naskah asli Alkitab hilang dan yang ada hanyalah terjemahan-terjemahan, berarti Alkitab sudah didistorsi dan tidak valid lagi. Benarkah anggapan ini ? TIDAK ! Naskah asli Alkitab sengaja diizinkan hilang oleh Tuhan agar manusia tidak memberhalakan naskah asli lalu tidak memperhatikan esensi pengajaran Allah di dalam Alkitab. Hal ini mirip dengan satu agama yang mewajibkan para penganutnya “memberhalakan” tempat/negara tertentu yang dianggap “suci” karena negara itu didiami oleh “nabi suci” mereka. Mereka lebih memperhatikan fenomena ketimbang esensi. Itulah kecenderungan manusia berdosa yang sudah dibuktikan oleh beberapa orang “Kristen” Katolik Roma yang terlalu memberhalakan tempat-tempat suci Tuhan Yesus dengan mendirikan gereja di Betlehem, mencium kandang di mana Kristus dilahirkan, dll.
Presuposisi Aquinas berbeda jauh dari moto Augustinus : “Saya percaya supaya saya bisa mengerti.” (Credo ut intelligam) Presuposisi Augustinus ini (sesuai dengan Ibrani 11:3) menjadi dasar presuposisi baik Dr. Martin Luther, John Calvin bahkan sampai kepada Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam apologetikanya (Van Til disebut presuppositionalist apologet). Presuposisi ini bertolak dari iman sebagai dasar keKristenan yang bersumberkan wahyu khusus Allah, yaitu Alkitab dan kedaulatan Allah. Sehingga ketika memberitakan Injil, para apologet presupositionalis ini tidak mempergunakan sederetan bukti-bukti ilmiah, tetapi mempertajam presuposisi orang-orang yang diinjili sehingga mereka diyakinkan terlebih dahulu. Hal ini semua dapat dibaca di dalam buku Dr. Van Til : The Defense of the Faith. Bukan hanya itu saja, ketika berdebat theologia, kita pun tidak boleh mempergunakan bukti-bukti ilmiah sebagai dasar pembelaan iman kita. Itu fatal. Tetapi kita harus membentuk cara berpikir atau presuposisi dasar masing-masing golongan agar kita bisa berdebat secara bertanggungjawab. Kalau dasar presuposisi masing-masing golongan tidak beres, itulah yang harus dibereskan dan dibenahi terlebih dahulu, baru kita masuk ke dalam inti perdebatan. (Debat diizinkan di dalam keKristenan dengan motivasi untuk mencari Kebenaran sejati, tetapi itu harus dilakukan dengan semangat kasih yang disertai pengajaran. Jika debat dilakukan dengan motivasi untuk mencapai kemenangan di dalam perdebatan, maka sebaiknya tidak usah berdebat.)

Ketiga, Aquinas memegang doktrin transendensi Allah dan menolak imanensi Allah secara tidak langsung. Aquinas mempercayai bahwa Allah hanya dapat dikenal di dalam natur-Nya sebagai Allah yang tidak berurusan dengan manusia, sehingga Allah tidak boleh dikenal dengan menggunakan atribut-atribut manusia. Sekilas pandangan ini “benar”, karena sebenarnya kata “atribut” terkesan membatasi Allah, tetapi pandangan ini memiliki kesalahan fatal. Dengan bijaksana, Dr. Hoffecker memaparkan kelemahan Aquinas, “...apa yang hilang dengan memakai metode Skolastis Thomas adalah kebergantungan yang sederhana kepada Alkitab sebagai sumber yang paling dapat dipercaya untuk memahami natur dan keberadaan Allah.” (p. 113) Lebih lanjut, Dr. Hoffecker memaparkan bahwa justru di dalam Alkitab, kita mempelajari bahwa Allah memakai istilah-istilah yang dipahami oleh manusia dalam konteks kehidupan keluarga pedesaan sehari-hari, misalnya Bapa Surgawi yang mengasihi, suami yang setia, gembala, Raja, dan Tuhan. Pandangan Thomistis saat ini dianut juga oleh sekelompok orang “Kristen” yang dipengaruhi “theologia” liberal yang menekankan transendensi Allah dan mengabaikan imanensi Allah. Mereka mengajarkan bahwa Allah itu nun jauh di sana dan tidak menyatakan diri-Nya, sehingga Alkitab bukanlah firman Allah, karena Alkitab ditulis oleh manusia. Bukan hanya liberalisme, beberapa golongan Protestan yang menyebut dirinya “Reformed”, ternyata seorang Reformed Neo-Platonisme (mengutip istilah Pdt. Billy Kristanto di dalam khotbahnya di National Reformed Evangelical Worker Convention/NREWC 2004). Mereka belajar banyak doktrin dan theologia penting dari para theolog, misalnya Luther, Calvin, Van Til, Kuyper, Warfield, Hodge, dll, tetapi spiritualitas mereka kering, seolah-olah Allah dimengerti di dalam rasio dan tidak di dalam afeksi. Inilah spiritualitas yang mati. Di sisi lain, beberapa golongan “Kristen” yang kontemporer terlalu menekankan imanensi Allah, sehingga seolah-olah Allah menjadi teman (bahkan “pembantu”)nya. Ada seorang “pendeta” gereja ini bahkan “bersaksi” bahwa ia minum kopi dengan “Tuhan Yesus”, langsung diajari Alkitab oleh “Tuhan Yesus”. Bahkan di dalam Toronto Blessing, beberapa orang yang tertawa-tawa tidak sadarkan diri bahkan sampai 2 minggu mengaku bahwa mereka dipenuhi “Roh Kudus”, bisa main sepak bola dengan “Tuhan Yesus”. Salah satu buku dari para penganut ajaran ini berjudul “Selamat Pagi, Roh Kudus”. Mereka terlalu menekankan imanensi Allah, lalu lupa menekankan transendensi Allah yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahaagung, dll. Alkitab yang mempengaruhi theologia Reformed Injili mengajarkan keseimbangan antara pengertian (knowledge) akan firman Allah dan doktrin dengan afeksi yang dinamis dan berkobar-kobar. Meskipun bukan menjadi dasar iman sejati, pengalaman rohani itu tetaplah penting, karena pengalaman itu menunjukkan bahwa kita juga mengalami Allah dan kasih-Nya yang telah kita pelajari di dalam firman-Nya. Meskipun penting, pengalaman rohani itu harus diuji berdasarkan Alkitab, dan jangan sekali-kali menjadikan pengalaman sebagai doktrin. Misalnya, pengalaman doa Yabes di dalam Alkitab adalah pengalaman pribadi Yabes, tetapi beberapa gereja kontemporer menjadikannya doktrin dan dijadikan seminar. Anehnya, doa Tuhan Yesus (Doa Bapa Kami) tidak diseminarkan, tetapi doa Yabes yang diseminarkan.

Keempat, kerusakan sebagian yang dipercayai oleh Aquinas di dalam dosa asal. Aquinas mempercayai bahwa meskipun natur Adam yang rusak diwariskan kepada keturunannya, kekuatan rasional manusia tersebut tidak berkurang. Ia juga mengajarkan bahwa kehendak manusia tidak rusak secara total, sehingga kita secara moral bebas dan mampu melakukan sejumlah kebaikan, meskipun terbatas. Selain rasio, Aquinas juga dengan terus terang menerima perasaan indrawi sebagai titik tolak yang sah bagi pengetahuan. Saya menyebut pandangan Aquinas tentang kerusakan manusia : kerusakan sebagian manusia, karena baginya kerusakan manusia tidak meliputi totalitas manusia, tetapi sebagian unsur manusia. Aquinas mempercayai hal ini karena sekali lagi, ia mensintesiskan filsafat Yunani dengan Alkitab, sehingga baginya Alkitab “diuji” dengan filsafat Yunani, dan bukan sebaliknya. Benarkah demikian ? Augustinus, Luther dan Calvin dengan jelas menolak anggapan ini, mengapa ? Karena Alkitab sendiri yang mengajarkan, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.” (Roma 3:10-11) Kedua ayat Alkitab ini sudah sangat jelas bahwa tidak ada seorangpun yang benar, bahkan tidak ada seorangpun yang berakal budi lalu mencari Allah. Roma 3:10-18 jelas menunjukkan bahwa dosa mengakibatkan hati, pikiran, perkataan, dan tindakan manusia menjadi rusak dan tidak memuliakan Allah. Calvin menyebut hal ini sebagai Total Depravity (Kerusakan Total) di dalam natur manusia berdosa. Kembali, bagi saya, Aquinas sangat aneh di dalam mengajarkan konsepnya (konsep yang berkontradiksi). Ia percaya bahwa manusia rusak akibat dosa, tetapi rusaknya tidak totalitas, tetapi sebagian, di mana rasio dan kehendak manusia tidak rusak. Tolong klarifikasi arti kata “rusak” itu sesungguhnya. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah memberikan ilustrasi untuk menjelaskan arti kata “rusak” ini : teh yang tertumpah dan menempel pada baju (noda teh) mengakibatkan baju yang tadinya berwarna putih, menjadi puteh (putih yang kena teh). Baju ini tetap mengandung unsur putih, tetapi sudah dicemari oleh noda teh ini, sehingga warna putihnya tidak putih seperti warna aslinya, tetapi putih busuk/ agak kecoklatan. Demikian juga dengan natur manusia yang berdosa, di mana manusia yang berdosa tidak kehilangan gambar Allah, tetapi gambar Allah menjadi rusak. Dalam hal ini, Roma 3:23 di dalam Terjemahan Baru LAI kurang tepat menerjemahkannya (memakai “kehilangan kemuliaan Allah”), yang lebih tepat terjemahannya adalah beberapa terjemahan bahasa Inggris. King James Version (KJV) menerjemahkannya, “For all have sinned, and come short of the glory of God;” Pernyataan “come short” berarti tidak mencukupi. English Standard Version (ESV) dan International Standard Version (ISV) menerjemahkannya : fall short. Dari ketiga terjemahan ini, tidak ada indikasi sama sekali tentang hilangnya kemuliaan Allah di dalam diri manusia seperti yang dijumpai di dalam terjemahan LAI. Gambar Allah masih bisa dijumpai di dalam diri manusia, tetapi sayangnya, gambar Allah itu sudah dicemari oleh dosa, sehingga meskipun manusia bisa berbuat baik, perbuatan baik mereka bukan bermotivasi untuk memuliakan Allah, tetapi untuk memuliakan diri. Itulah kerusakan total di dalam diri manusia.

Kelima, joint venture antara Allah dan manusia di dalam keselamatan. Aquinas mengajarkan dua hal di dalam keselamatan dan pembenaran. Di dalam hal keselamatan, ia mengajarkan anugerah Allah dibagi menjadi dua : aktif dan pasif. Anugerah Allah (manusia pasif menerimanya) memang perlu untuk keselamatan manusia dari dosa, tetapi manusia juga aktif menerima keselamatannya. Ajaran ini jelas tidak konsisten. Ia tak mengerti definisi anugerah, lalu berani memakai kata anugerah dan mengajarkan konsep yang aneh ini. Anugerah adalah sesuatu yang diberikan kepada seseorang karena seseorang ini tidak bisa memperoleh yang diberikannya itu. Ilustrasi sederhana (meskipun ini jelas kurang sempurna), seorang ayah memberikan permen kepada anaknya yang masih berusia 3 tahun. Ini yang disebut anugerah, mengapa ? Karena si anak yang masih kecil ini tak mampu membeli permen sendiri, sehingga ayahnya yang membelikan dan memberikan permen itu. Ketika sang ayah memberikan permen itu kepada anaknya, sang anak pasti menerima, lalu ia mengucapkan terima kasih kepada ayahnya. Itulah anugerah. Seorang bapa gereja pernah mengatakan bahwa anugerah Allah harus dimengerti berkaitan erat dengan dosa. Orang tidak akan pernah mengerti seberapa besar anugerah Allah, ketika ia tak mengerti seberapa besar dosa yang diperbuat manusia. Ketika manusia berdosa, seluruh naturnya rusak total, sehingga Augustinus menyebutnya sebagai mati rohani. Kalau seseorang dikatakan mati rohani, apakah mungkin ia bisa tiba-tiba hidup kembali ? MUSTAHIL. Sehingga untuk menghidupkan kerohaniannya ini dibutuhkan anugerah Allah saja. Kalau ada peran aktif manusia di dalam karya keselamatan ini, saat itu bukan lagi disebut anugerah Allah. Berkali-kali Alkitab mengajarkan hal ini khususnya di Surat Roma dan Efesus : Roma 3:24-25 ; Efesus 1-2:9 ; dll, tetapi ayat-ayat ini sengaja diselewengkan artinya oleh Aquinas dan pengikutnya yang adalah beberapa orang “Kristen” non-Protestan untuk mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman + perbuatan baik. Kalau ajaran ini (mempengaruhi Arminianisme) “benar”, maka Allah seolah-olah “kewalahan” ketika manusia tidak meresponi anugerah-Nya ini melalui iman dan perbuatan baik, akibatnya keputusan di tangan manusia, bukan dari Allah. Kalau sampai demikian, apakah keselamatan murni merupakan anugerah Allah ? Silahkan pikirkan sendiri.
Di dalam hal pembenaran, Aquinas mengajarkan pembenaran subyektif, di mana Allah menjadikan kita benar dengan menginfusikan anugerah itu kepada kita (melalui sakramen-sakramen). Pembedaan dua hal ini jelas tidak diajarkan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa penebusan Kristus diefektifkan oleh Roh Kudus di dalam hati dan pikiran umat pilihan-Nya sehingga mereka dapat berespon dengan beriman di dalam Kristus. Penebusan ini berfungsi ganda yaitu menyatakan kita benar di hadapan Allah (arti kata ini diambil dari konteks penghakiman/kerajaan), dan sekaligus menjadikan kita benar. Dengan kata lain, Alkitab mengajarkan bahwa pembenaran obyektif, di mana Allah menyatakan kita benar oleh karena penebusan Kristus di kayu salib. Bacalah Surat Roma secara teliti, maka Anda akan menemukan keindahan dan keagungan konsep pembenaran oleh iman ini.

Keenam, adanya sakramen dan orang-orang suci. Aquinas percaya anugerah Allah berupa 7 sakramen yang harus diterima oleh orang-orang percaya, sehingga sakramen dianggap sebagai sarana anugerah Allah. Orang yang tidak berbagian di dalam sakramen ini secara tidak langsung tidak menerima anugerah Allah, dan pasti binasa. Yang paling mengasihankan adalah penjahat di sebelah Tuhan Yesus yang bertobat, tetapi tidak pernah berbagian di dalam sakramen ini. Benarkah ajaran ini ? Tidak ada satu ayat Alkitab yang mengajarkan bahwa sakramen itu menyelamatkan. Yang menyelamatkan manusia adalah penebusan Kristus. Ketika ada anggapan yang mengajarkan bahwa sakramen menyelamatkan, secara tidak langsung, orang itu sedang menghina karya penebusan Kristus yang baginya belum cukup dan harus ditambah sakramen. Kedua, gereja-gereja Protestan yang sehat menetapkan 2 sakramen gereja yaitu Baptisan dan Perjamuan Kudus, karena kedua sakramen itulah yang ditetapkan sendiri oleh Tuhan Yesus (Lukas 22:19-20 ; Matius 22:19). Di dalam Kisah Para Rasul dan tradisi apostolik sendiri, Paulus atau Petrus dan para rasul lainnya tidak pernah menjalankan sakramen-sakramen lainnya kecuali Perjamuan Kudus (1 Korintus 11:23-31) dan Baptisan (Kisah 8:38).
Tentang orang-orang suci, Aquinas percaya bahwa merekalah yang melakukan sesuatu yang melebihi/melampaui hukum Allah. Ketika membaca bagian ini, saya terkejut. Apa artinya melakukan sesuatu yang melebihi hukum Allah ? Apakah berarti hukum Allah kurang lengkap sehingga ia perlu “menambahi”nya dengan tindakan-tindakan “positif” yang diklaim sebagai tindakan “suci”, misalnya bertarak/menyiksa diri, dll ? Padahal Alkitab sendiri yang mengajarkan, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini."” (Wahyu 22:18-19) Tuhan tidak bermain-main dengan barangsiapa yang menambah-nambahi firman-Nya, sehingga bagi saya, melakukan sesuatu yang melebihi/melampaui hukum Allah, itu bukan tindakan “suci”, tetapi tindakan yang tidak beres. Apa yang Tuhan tuntut, itulah yang harus dikerjakan manusia. Aquinas juga mengajarkan adanya jasa-jasa orang suci, bahkan Katolik Roma mengajarkan bahwa orang Katolik dapat berdoa kepada mereka, selain kepada Kristus dan Maria. Adakah Alkitab mengajarkan hal ini ? Adakah Alkitab mengajarkan bahwa Paulus menyuruh Timotius, anak rohaninya untuk berdoa kepadanya atau Petrus/Yohanes menyuruh muridnya untuk berdoa kepadanya ? TIDAK. Mereka semua adalah manusia yang harus berdoa bersama-sama kepada Allah di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Berdoa kepada Maria pun tidak pernah diajarkan oleh Alkitab, sebaliknya Alkitab menceritakan bahwa Maria sendiri berdoa dan memuji Allah ketika ia melahirkan Kristus (Lukas 1:46-55).

Ketujuh (terakhir), dualisme antara orang-orang suci dan orang-orang awam. Karena pengajarannya tentang adanya orang-orang suci, maka Aquinas mendualismekan dua golongan orang yaitu orang-orang suci yang menerima panggilan khusus dari Allah untuk menyiksa diri di biara (asketisme/monatisisme), dan orang-orang awam/biasa yang tidak mendapatkan panggilan khusus dari Allah. Thomistis berpengaruh bahkan sampai di abad postmodern ini. Beberapa orang “Kristen” yang saya temui pun juga mengembangkan ide filsafat Yunani tentang dualisme (yang akhirnya juga dikembangkan oleh filsuf Immanuel Kant) sehingga ia pernah mengatakan bahwa agama dan ilmu tidak ada hubungannya. Secara tidak sadar, dualisme itulah yang menjadi “iman” orang “Kristen” yang saya temui ini. Di mana letak kelemahan ajaran ini ? Ajaran dualisme di dalam keKristenan jelas menyangkali beberapa ide dasar iman Kristen, yaitu :
(1) Para dualis (penganut dualisme) “Kristen” jelas-jelas menyangkali bahwa Allah itu Mahakuasa, karena mereka berpendapat bahwa Allah “hanya” menguasai hal-hal rohani, sedangkan hal-hal jasmani adalah urusan manusia.
(2) Para dualis “Kristen” jelas-jelas menyangkali otoritas Alkitab yang juga membicarakan hal-hal tentang pemerintahan (Roma 13:1-7), politik, ekonomi, dll, karena bagi mereka, Alkitab “hanya” berurusan dengan hal-hal rohani, dan bukan jasmani.
(3) Para dualis “Kristen” jelas menyangkali inkarnasi Kristus, di mana Kristus adalah Pribadi Allah yang menjelma menjadi manusia (dwi natur Kristus). Mengapa ? Karena para dualis Kristen mempercayai bahwa yang supranatural tidak ada hubungannya dengan natural, padahal hubungan itulah yang direkatkan di dalam inkarnasi Kristus.
(4) Para dualis “Kristen” jelas menyangkali keimaman orang percaya. Di dalam theologia Reformed yang ketat, kita percaya adanya mandat budaya. Artinya, setiap orang Kristen adalah imam Allah yang membawa kembali alam dan dunia sekeliling kita yang rusak akibat dosa ini kepada Allah sebagai Sang Pencipta dengan menebus alam dan dunia/kebudayaan (Kejadian 1:28 ; 2:15). Tidak mengerjakan mandat budaya berarti tidak menaati perintah Allah dan pada saat yang sama, ia sedang menghina Allah, seolah-olah “Allah” itu terkotak-kotak hanya pada dunia rohaniah/supranatural.
Lalu, bagaimana jalan keluarnya ? Alkitab tidak membedakan antara dua golongan orang yaitu suci dan awam. Semua orang Kristen sejati (baik hamba Tuhan maupun jemaat) adalah umat pilihan Allah yang di dalam theologia Reformed menjabat tiga fungsi yaitu sebagai : nabi, imam, dan raja. Sebagai nabi, ia berfungsi memberitakan firman Allah kepada umat manusia (dari atas ke bawah). Sebagai imam, ia harus membawa kembali dunia ciptaan kepada Allah (dari bawah ke atas). Dan sebagai raja, ia harus bertahta penuh di atas ciptaan Allah untuk memanfaatkan dan memeliharanya untuk kepentingan manusia dan akhirnya untuk memuliakan Allah. Tetapi meskipun demikian, ada beberapa orang yang dipanggil secara khusus oleh Tuhan untuk melayani secara penuh waktu baik untuk menggembalakan gereja, mengajar doktrin/theologia dan memberitakan Injil. Orang-orang inilah yang mengajar orang-orang lain yang tidak dipanggil khusus tentang theologia. Meskipun demikian, baik orang “awam” yang tidak dipanggil khusus, maupun orang-orang yang dipanggil khusus untuk melayani Tuhan secara penuh waktu, mereka semua tetap melayani Tuhan, selama mereka menerapkan prinsip-prinsip Firman Tuhan di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mengapa ? Karena melayani Tuhan bukan dikunci dalam pengertian melayani di mimbar gereja, berdoa, dll, tetapi semua kehidupan kita yang memuliakan Allah adalah ibadah (Roma 12:1). Percuma saja, seorang “pemimpin gereja” berkhotbah di mimbar, tetapi yang disampaikannya adalah “khotbah” tentang Aristoteles, Plato, Kong Fu-Tze, dll, dan bukan berita Kebenaran Firman Allah, mereka bukan sedang melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri (self-centered service). Bertobatlah jika Anda termasuk salah satu dari mereka.


Penutup
Setelah menjelaskan tentang semangat Reformasi di dalam diri Augustinus dan musuh Kebenaran, baik Pelagianisme, Semi-Pelagianisme dan Thomistis, sadarkah kita bahwa Kebenaran itu begitu agung dan jauh melampaui rasio manusia yang terbatas ? Maukah kita hari ini berkomitmen untuk setia kepada Kebenaran dan memberitakan Firman Tuhan ketimbang filsafat-filsafat Yunani yang atheis ? Sekali lagi, biarlah peringatan Rasul Paulus ini menjadi pelajaran bagi kita, “...sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” (Galatia 1:8)

Kiranya Tuhan memberkati kita melalui perenungan Firman-Nya sehingga kita makin lama makin bertumbuh di dalam anugerah dan firman-Nya. Soli Deo Gloria. Solus Christus.


Daftar Kepustakaan :
Augustine of Hippo. (2005). Retrieved on October 20, 2005 from
http://en.wikipedia.org/wiki/Augustine_of_Hippo.
Hoffecker, W. Andrew. dan Gary Scott Smith. (Ed.). (2006). Membangun Wawasan Dunia Kristen (Volume 1 : Allah, Manusia dan Pengetahuan). (Peter Suwadi Wong, Trans.). Surabaya : Momentum Christian Literature.
Semi-Pelagianism. (2007). Retrieved on October 20, 2007 from
http://en.wikipedia.org/wiki/Semi-Pelagianism.
Thomas Aquinas. (2005). Retrieved on October 20, 2005 from
http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Aquinas.

19 October 2007

Roma 3:19-20 : HUKUM TAURAT DAN DOSA

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-6


Hukum Taurat dan Dosa

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:19-20.

Setelah Paulus memaparkan tentang dosa pikiran, perkataan dan tindakan di ayat 10 s/d 18, maka ia menyimpulkan satu prinsip tentang hubungan hukum Taurat dan dosa.

Pada ayat 19, Paulus berkata, “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” Dengan kata lain, Taurat itu penting karena Taurat diwahyukan Allah. Tetapi ekstrim yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah mereka menyangka bahwa dengan melakukan seluruh kewajiban Taurat, maka mereka pasti diselamatkan, sedangkan yang tidak mengenal dan menjalankan Taurat, mereka berpikir bahwa orang-orang itu pasti binasa. Mereka hidup bukan di bawah anugerah, tetapi di bawah kendali hukum Taurat. Padahal tidaklah demikian. Taurat hanya membukakan realita manusia yaitu diciptakan oleh Allah dan terbatas. Selain itu, Taurat juga memberitakan tentang kasih dan keadilan Allah bagi semua umat manusia tanpa kecuali. Jadi, sangatlah salah bila kaum Yahudi menganggap bahwa hanya orang-orang Yahudi yang diselamatkan dan dipelihara Allah. Di dunia yang kita hidupi saat ini, tidak lah jauh berbeda antara orang-orang dunia ini dengan orang-orang Yahudi pada waktu ini. Banyak orang dunia mengira bahwa dengan melakukan syariat-syariat agama tertentu dengan ketat bahkan sampai menyiksa diri, tidak makan, dll, mereka akan diselamatkan dan masuk “surga”. Di dalam keKristenan pun, ada sejumlah aliran denominasi yang sangat ekstrim mengajarkan bahwa syariat ibadah tertentu memungkin seseorang masuk “surga”, misalnya golongan Katolik Roma yang mengatakan bahwa kalau seseorang tidak dibaptis, maka orang itu tidak masuk “surga”. Di pihak lain, mayoritas gereja Karismatik/Pentakosta yang sangat ekstrim mengajarkan bahwa kalau orang “Kristen” tidak dibaptis selam tidak akan masuk “surga”. Semua ajaran ini sangat melawan Alkitab dan harus diserang serta dilumpuhkan. Mengapa ? Karena Alkitab mengajarkan bahwa manusia diselamatkan bukan dengan melakukan perbuatan baik atau memenuhi syariat ibadah tertentu, tetapi murni melalui anugerah Allah yang memberikan iman (Roma 3:24,25 ; Efesus 2:8-9). Keselamatan melalui anugerah Allah yang memberikan iman berarti tidak ada satu persen pun jasa baik manusia yang layak diperhitungkan oleh Allah agar manusia diselamatkan. Ini juga berarti semua doktrin Arminian yang melawan Reformed/Calvinisme menyalahi ajaran Alkitab dengan mengajarkan bahwa perbuatan baik dan mempertahankan keselamatan mengakibatkan manusia yang percaya tidak dapat kehilangan keselamatan di dalam Kristus. Dengan kata lain, semua proses keselamatan dari awal sampai akhir ditetapkan dan dijalankan 100% oleh Allah, dan itu merupakan jaminan dan perjanjian dari Allah bagi manusia pilihan-Nya yang sangat berharga, jujur, setia dan bertanggungjawab. Jika doktrin Arminian benar, maka manusia lah yang semakin diandalkan di dalam keselamatannya, dan hal ini tidak jauh berbeda dengan semua agama dunia yang mengajarkan perbuatan baik manusia layak diperhitungkan agar manusia diselamatkan. Padahal, Allah tidak mengajarkan hal itu. Hal ini dijelaskan Paulus di ayat berikutnya.

Di ayat 20a, Paulus mengajarkan, “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat,” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Sebab tidak seorang pun dimungkinkan berbaik dengan Allah oleh karena orang itu melakukan hal-hal yang terdapat dalam hukum agama.” King James Version (KJV) menerjemahkan, “Therefore by the deeds of the law there shall no flesh be justified in his sight:” Kata “dibenarkan” dalam terjemahan KJV adalah justified yang berasal dari bahasa Yunani dikaioō (akar kata : dikaios) berarti dianggap benar dan adil. “Dibenarkan di hadapan Allah” juga dapat diterjemahkan menurut BIS, “berbaik dengan Allah”, tetapi frase “berbaik dengan Allah” belum cukup membuktikan arti sebenarnya dari “dibenarkan di hadapan Allah”. “Dibenarkan di hadapan Allah” berarti Allah menjadikan umat-Nya benar, adil dan kudus meskipun mereka masih dalam kondisi berdosa. Dari seluruh Alkitab, kita mendapatkan gambaran bahwa semua manusia telah berdosa (Roma 3:10,23). Dosa manusia mengakibatkan terputusnya hubungan antara : manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam dan ciptaan lain. Anehnya, manusia yang berdosa tidak pernah menyadari realita negatifnya, malahan berusaha menutupinya dengan melakukan semua perbuatan baik yang dikira mampu menyelesaikan semua dosanya. Tetapi alhasil, Paulus menyatakan di dalam ayat ini bahwa manusia tidak mungkin dapat dianggap benar dan adil oleh Allah karena melakukan syariat Taurat ataupun hukum agama lainnya. Di dalam Galatia 2:16a, Paulus juga menyatakan, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat,” Mengapa ? Apakah Allah tidak mempedulikan jasa baik manusia ? Allah sangat menghina jasa baik manusia, karena Ia jijik melihat kemunafikan manusia berdosa yang tidak sadar dirinya berdosa sambil menutup dosanya dengan berbuat baik sehingga seolah-olah mereka dianggap “baik”. Di dalam Perjanjian Lama, Allah berfirman, “"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."” (Amos 5:21-24) Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan Amos 5:21, “Aku benci dan muak melihat perayaan-perayaan agamamu!” Allah sangat menghinakan mereka yang kelihatan di luar menampilkan semua perayaan dan ibadah agama dengan baik, tetapi hati mereka busuk dan tidak mengenal Allah. Tetapi pertanyaan selanjutnya adakah manusia yang memiliki hati yang murni dan mengenal Allah ? Bukankah Alkitab menyatakan bahwa semua manusia tidak ada yang berbuat baik (Roma 3:10) dan rasa takut akan Allah tidak ada pada diri mereka (Roma 3:18) ? Tidak ada jalan lain, manusia hanya dapat dibenarkan oleh Allah setelah Allah mengaruniakan hati yang baru yang murni. Nabi Yehezkiel mengajarkan, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” (Yehezkiel 36:26) Hati yang baru inilah yang sangat diperlukan oleh umat-Nya yang mengakibatkan mereka dapat dibenarkan di hadapan Allah. Hati yang baru ini bukan berasal dari manusia, tetapi 100% berasal dari Allah (perhatikan kata “Kuberikan hati yang baru,” pada ayat 26 ini. Hati yang baru ini juga berupa hati yang taat dan mematikan (bahasa asli/Ibraninya śûr yang bisa berarti mematikan/turn off) hati yang keras (yang merupakan simbol dosa). Bagaimana dengan kita ? Kita yang telah ditebus dan diselamatkan oleh-Nya di dalam Kristus seharusnya memiliki hati yang taat mutlak akan perintah-Nya. Tetapi seringkali kita membangkang terhadap perintah-Nya, karena kita menyangka bahwa kita hebat, mampu melakukan apapun yang “baik” dan tidak memerlukan Tuhan. Itulah hati yang keras yang nabi Yehezkiel ungkapkan. Sebaliknya, sebagai umat pilihan-Nya, hendaklah kita memiliki hati yang taat dan membuang/mematikan hati yang keras sebagai suatu tindakan kepatuhan dan ketaatan terhadap perintah-Nya. Dan setelah kita memiliki hati yang taat, bersyukurlah karena Allah lah yang menganugerahkan hati yang taat itu kepada kita, sehingga kita terus-menerus harus memuliakan Allah karena semua anugerah-Nya bagi kita. Lalu, setelah kita memiliki hati yang taat, apakah berarti hukum Taurat tidak berarti apapun ? Hal ini diuraikan Paulus pada frase berikutnya di ayat 20.

Selanjutnya, pada ayat 20b, Paulus mengemukakan, “karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” King James Version menerjemahkan, “for by the law is the knowledge of sin.” BIS mengartikannya, “Sebaliknya hukum itu cuma menunjukkan kepada manusia bahwa manusia berdosa.” Kata “mengenal” diterjemahkan KJV knowledge yang dalam bahasa Yunani bisa berarti recognition (pengakuan). Dengan kata lain, Tuhan mewahyukan Taurat bukan menjadi/sebagai syarat manusia dibenarkan dan diselamatkan, tetapi sebagai pemimpin dan penuntun langkah hidup manusia sambil membukakan realita keberdosaan manusia (bandingkan Roma 7:12,14) atau Taurat berfungsi agar manusia semakin lama semakin mengenal dan mengaku dosa serta bertobat. Itulah fungsi Taurat, tetapi sudah diselewengkan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi melalui serangkaian ibadah dan upacara Yudaisme yang katanya dapat menyelamatkan orang-orang Yahudi dan memperkenan Allah. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Beberapa denominasi gereja “Kristen” menyusun serangkaian peraturan untuk “mengajar” bahwa dengan peraturan-peraturan tertentu mereka dapat diselamatkan. Misalnya, seperti yang telah saya ungkapkan di atas, banyak gereja Karismatik/Pentakosta yang sangat liar dan ekstrim mengajarkan bahwa kalau tidak dibaptis selam, tidak akan selamat. Begitu pula, sebuah “gereja” Karismatik terbesar di daerah Nginden, Surabaya mewajibkan semua “pelayan Tuhan” untuk memiliki “karunia” bahasa roh. Sungguh aneh memang, karunia bahasa roh adalah karunia dari Roh Kudus, tetapi di dalam “gereja” ini, bahasa roh sudah dijadikan standar kemutlakan. Mereka bahkan mengajarkan bahwa kalau tidak berbahasa roh berarti tidak ada Roh Kudus. Di seluruh Alkitab, semua rasul dan nabi tidak ada yang mengajarkan prinsip ini. Kalau ajaran mereka benar, bagaimana dengan Tuhan Yesus sendiri yang tidak pernah dicatat berbahasa roh ? Apakah karena tidak berbahasa roh, Tuhan Yesus tidak memiliki Roh Kudus ?! TIDAK. Jelaslah, mereka membangun doktrin di atas pemahaman Alkitab yang tidak menyeluruh sama seperti para ahli Taurat dan orang Farisi dulu yang juga tidak mengerti dan membangun doktrin di atas pemahaman Taurat secara utuh dan menyeluruh, sehingga mereka berani mengajar dan menetapkan sederetan peraturan keberagamaan tanpa mengerti esensinya yaitu kasih, keadilan dan kebenaran Allah. Jadi, marilah kita mengenal Firman-Nya bukan secara parsial/sebagian lalu berani membangun ajaran secara tidak bertanggungjawab, tetapi secara holistik/menyeluruh sehingga kita dan orang lain tidak disesatkan dan semakin lama kita dan mereka pun semakin mengenal Allah, kehendak dan perintah-Nya, lalu memuliakan Allah karenanya (Roma 11:36).

Setelah merenungkan kedua ayat ini, maukah kita bertobat dan kembali kepada-Nya dengan beriman, menyangkal diri, menaati semua kehendak-Nya dan memuliakan nama-Nya sepanjang waktu kita ? Itulah hati yang baru yang Tuhan anugerahkan kepada semua umat pilihan-Nya meskipun mereka masih berada di dalam kondisi berdosa. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 4:18-22: THE KINGDOM AND THE WORKERS-2

Ringkasan Khotbah : 19 September 2004

The Kingdom & the Workers 2
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4:18-22



Kerajaan Allah yang ditegakkan oleh Kristus di tengah dunia adalah bersifat rohani. Itulah sebabnya berita pertama yang diserukan oleh Kristus ketika Ia memulai pelayanan-Nya, yaitu: “Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat“. Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, ... biji itu paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya (Mat. 13:31-32). Dan Kristus datang ke dunia untuk menggenapkan Kerajaan Allah dimana Kristus yang menjadi Raja. Inilah figurasi pertumbuhan Kerajaan Allah yang terjadi di dalam proses sejarah. Cara Kristus membangun kerajaan-Nya berbeda dengan dunia. Orang akan meletakkan pusat bisnisnya di ibu kota sebaliknya Kristus memulainya dari sebuah desa kecil di Kapernaum.
Kita harus merubah konsep dan cara berpikir kita yang salah tentang hal Kerajaan Allah. Prinsip kepemimpinan dunia berbeda dengan yang Kristus ajarkan. Orang berpendapat bahwa setiap gerakan di dunia tidak akan berumur panjang yakni tidak lebih dari seratus tahun atau sebatas tiga generasi saja, sebagai contoh gerakan komunis. Generasi pertama sebagai pelopor gerakan, generasi kedua yang mempertahankan gerakan maka sampai pada generasi ketiga gerakan menjadi hancur. From movement to monument. Apakah semua gerakan di dunia akan berakhir demikian? Orang lupa, tidak semua gerakan akan berakhir dengan kehancuran. Gerakan yang didirikan oleh Tuhan Yesus telah berumur ribuan tahun dan tidak menjadi hancur bahkan telah berkembang dan menjadi besar. Suatu kesalahan kalau kita memakai konsep dan prinsip dunia serta menggunakan parameter dunia lalu dengan berani menyimpulkan semua gerakan pasti berakhir dengan kehancuran. Memang benar semua gerakan yang menurut prinsip dunia pasti hancur namun tidak kalau gerakan tersebut menurut prinsip Kerajaan Allah. Suatu gerakan yang dimulai dari prinsip Kerajaan Allah maka gerakan tersebut tidak akan berakhir dengan kehancuran karena kita sedang menjalankan misi Tuhan.
Dunia modern selalu memandang remeh prinsip dan cara yang dicetuskan oleh orang-orang pada jaman dulu. Dunia modern menganggap bahwa prinsip mereka sudah terlalu kuno sehingga tidak dapat diterapkan pada jaman sekarang. Salah! Teori pengembangan manajemen ekonomi, politik dan lain-lain yang muncul hari ini sebenarnya telah dicetuskan oleh para filsafat Romawi – Yunani kuno. Bahkan pada jaman modern ini tidak ada orang-orang sehebat seperti Socrates, Aristotle, dan para filsuf lain yang muncul pada abad pertengahan. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Kristus tidak mengerjakannya seorang diri meskipun untuk itu Dia mampu bahkan kalau Dia yang mengerjakannya hasilnya pasti lebih baik dibandingkan kalau kita yang turut juga mengerjakannya karena Dia adalah Tuhan. Merupakan suatu anugerah kalau Kristus memilih dan memakai kita menjadi rekan sekerja-Nya untuk turut menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi. Jadi, jangan seorang pun menyombongkan diri sebab itu bukan kepandaian atau kehebatan kita karena itu.
Lalu kriteria murid seperti apakah yang Kristus pilih untuk menjadi rekan sekerja-Nya? Sekali lagi saya tegaskan cara Kristus berbeda dengan dunia. Orang pasti memilih orang-orang yang secara teknis berkualitas untuk menjadi rekan sekerja, seperti lulusan dari sekolah apa, jurusan apa, dan lain-lain. Sebaliknya, Tuhan Yesus justru memilih murid-murid yang secara teknis tidak berkualifikasi bahkan pekerjaan mereka dipandang hina dan rendah oleh dunia. Ketika kita mengajak seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah apakah kita menggunakan cara dunia, yakni hanya memilih orang yang bertalenta saja? Mati hidupnya suatu gerakan tergantung dari orangnya sebab orang-orang inilah yang nantinya akan menjalankan dan mengembangkan gerakan. Dan untuk mencari orang yang tepat tidaklah mudah. Kita harus mencontoh teladan Tuhan Yesus, Dia tidak memanggil ahli-ahli Taurat seperti Gamaliel atau Nikodemus menjadi murid-Nya. Tuhan Yesus menyusur danau Galilea dan Ia melihat Simon yang disebut Petrus, dan Andreas. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Orang terbiasa menggunakan cara dan konsep dunia tak terkecuali ketika memilih orang untuk turut ambil bagian dalam pelayanan pun kita menggunakan parameter dunia. Andai, Tuhan Yesus menggunakan parameter dunia maka di antara kedua belas murid, tidak ada seorang pun yang layak menjadi murid-Nya sebab mereka hanyalaha seorang penjala ikan dan pemungut cukai. Orang-orang yang dipandang hina oelh dunia inilah yang justru dipakai Tuhan Yesus untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Standar yang ditetapkan manusia berbeda dengan Tuhan Yesus. Yang menjadi dasar kualifikasi seseorang untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Allah adalah:
1. Pekerja Sejati
Tuhan Yesus tidak memanggil orang yang tidak ada pekerjaan alias pengangguran atau orang yang sedang mencari pekerjaan. Tidak! Perhatikan, Tuhan Yesus justru memanggil orang yang sedang sibuk bekerja, orang yang bekerja keras membanting tulang. Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah orang-orang yang sangat ahli dalam pekerjaanya dan ketika Tuhan menuntut mereka untuk meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Dia, mereka taat. Celakalah orang yang melayani hanya sekedar untuk mengisi waktu luang atau karena ia sedang tidak mempunyai pekerjaan. Orang-orang demikian tidak akan pernah tahu tanggung jawab akibatnya ia akan memanipulasi pekerjaan demi untuk kepentingan dirinya. Akibatnya setiap pekerjaan dianggap sebagai beban yang menyusahkan dirinya sehingga ketika ia telah berbuat sedikit jasa maka ia merasa diri paling berjasa dan menuntut imbalan. Hanya orang-orang yang mau dilatih dan dibentuk oleh Tuhan sajalah yang akan berhasil dalam pelayanan. Alkitab mencatat semua orang yang dipanggil adalah orang-orang yang sibuk, orang-orang yang mengerti apa artinya bekerja dan melayani. Inilah prinsip pekerjaan Tuhan. Biarlah kita mengubah paradigma kita yang salah dengan demikian kita tahu bagaimana seharusnya mengerjakan pekerjaan yang Tuhan percayakan pada kita untuk kita kerjakan dengan tepat. Tuhan memakai orang-orang yang tahu apa arti bekerja karena itu kerjakanlah pekerjaanmu sebaik-baiknya karena semua pekerjaan itu sudah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:8).
2. Warga Kerajaan yang Sejati
Para murid rela meninggalkan semua pekerjaan yang menjadi keahlian mereka ketika Tuhan memanggil mereka dan akan dijadikan penjala manusia; mereka taat dan mengikut Yesus. Inilah jiwa pekerja sejati karena bukan hal mudah seseorang tunduk dan taat pada atasan. Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan hidup senang dan nyaman kalau mengikut Dia; Tuhan Yesus belum banyak dikenal orang saat Ia memilih dan merekrut murid-murid-Nya dan Dia belum banyak melakukan mujizat. Tuhan Yesus justru menegaskan syarat mengikut Dia harus memikul salibnya dan menyangkal diri sebab serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20). Andai orang disuruh memilih maka kita pasti lebih memilih ikut dengan orang yang jelas akan masa depannya dengan demikian masa depan kita pun pasti terjamin pula. Hidup kita bukan hidup untuk diri kita sendiri begitu pula dengan pekerjaan yang kita punya bukan sekedar untuk mengenyangkan perut kita. Sadarlah pekerjaan sedang kita kerjakan sekarang ini asalnya dari Tuhan dan semuanya itu sudah dipersiapkan Tuhan sebelumnya.
Seseorang akan dipakai Tuhan dengan indah kalau di dalam dirinya mempunyai semangat melayani dan mempunyai jiwa yang taat akan pimpinan Tuhan. Janganlah kita sombong dengan kesuksesan yang kita peroleh dalam pelayanan. Itu bukan karena kepandaian kita melainkan Tuhan yang memampukan kita dalam pelayanan kita. Kesombongan akan menghancurkan semua pekerjaan Tuhan. Bayangkan, kalau kita mempunyai pekerja pandai tapi mempunyai jiwa pemberontak maka lama kelamaan perusahaan akan hancur. Tuhan Yesus tidak menjanjikan apapun ketika Ia memanggil Petrus – Andreas dan Yakobus – Yohanes, Dia hanya mengatakan bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Sebaliknya mereka pun tidak menanyakan keuntungan apa yang akan mereka dapatkan. Tidak! Jiwa yang mau taat yang seperti inilah akan dipakai Tuhan dengan luar biasa. Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya mempunyai etos kerja bahwa pekerjaan itu asalnya dari Tuhan dan kita mengerjakan itu untuk Tuhan sehingga kita tidak sembarangan dalam bekerja. Imbalan/gaji bukanlah yang utama. Percayalah Tuhan akan memakai orang-orang untuk menjadi saluran berkat bagi kita. Alkitab menegaskan prinsip pekerjaan Tuhan adalah ketaatan mutlak, janganlah anda tawar menawar dengan Tuhan. Dia tahu apa dan mana yang terbaik buat kita. Hendaklah keberadaan kita dimanapun kita berada menjadi kesaksian yang indah. Hati-hati jangan terjebak dengan konsep dunia yang mengajarkan terbalik dengan Alkitab. Dunia tidak akan mau kalau ia dirugikan itulah sebabnya dunia selalu tawar menawar dan orang akan bekerja jika ada kata sepakat. Prinsip pekerjaan Tuhan tidak mengenal kata sepakat sebaliknya pekerjaan Tuhan menuntut tanggung jawab bukan hak. Semua kepandaian yang ada pada diri kita kalau tidak disertai dengan ketaatan hanyalah sia-sia. Syarat utama untuk menjadi seorang pekerja sejati di dalam Kerajaan Tuhan adalah ketaatan. Jiwa yang taat pada pimpinan Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan dan sukacita dalam hidup kita.
3. Hikmat yang Sejati
Bijaksana bukan dari diri kita melainkan dari Tuhan karena itu mintalah pada Tuhan hati yang berbijaksana. Dalam ketaatan kita sebagai seorang pekerja yang dipakai Tuhan diperlukan juga hati yang bijaksana sehingga kita dapat berespon tepat dalam setiap perkara yang kita hadapi di dunia. Kepandaian bukanlah jaminan seseorang dapat berespon dengan tepat dalam setiap masalah yang ia hadapi justru biasanya mereka berespon salah karena ia berespon menurut logika bukan ketaatan. Respon yang dibangun dari logika diri pasti hanya untuk kepentingan diri sendiri. Untuk dapat berespon dengan tepat bukanlah hal yang mudah dibutuhkan waktu yang lama. Kedua belas murid Tuhan Yesus adalah orang-orang yang bekerja dan ketaatan mereka tidaklah diragukan. Tuhan Yesus sendiri yang menguji ketaatan mereka, yaitu ketika Tuhan Yesus selesai membuat mujizat lima roti dua ikan, banyak orang mengikuti Dia karena mereka kenyang namun dalam khotbah-Nya Tuhan Yesus menegur dengan keras tentang roti hidup akibatnya banyak orang meninggalkan Dia. Di saat banyak orang pergi meninggalkan Dia, Tuhan Yesus tidak menjadi sedih, Dia justru menanyakan pada kedua belas murid apakah mereka tidak mengikut orang banyak yang sudah pergi meninggalkan-Nya? (Yoh. 6:25-71).
Di satu pihak mereka taat namun ketika mereka berada dalam keadaan yang terjepit, mereka menjadi goncang sehingga mereka menyangkali Tuhan. Petrus menyangkal bukan karena ia tidak taat Tuhan. Tidak! Buktinya Petrus mengikuti proses peradilan Yesus, Petrus mengikuti kemanapun Yesus dibawa untuk diadili. Petrus menunjukkan respon yang tidak tepat, yaitu ia mencegah dengan menarik tangan Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa Anak Manusia akan ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Alkitab menuntut anak-anak Tuhan untuk berespon dengan tepat sehingga kita mengambil sikap dengan tepat. Hanya hikmat sejati dari Tuhan yang dapat membimbing kita sehingga kita tidak salah dalam mengambil keputusan. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang tidak mau mengembangkan talenta dengan alasan talenta yang diberikan sedikit. Tuhan mengambil semua yang ada pada dirinya dan memberikannya pada orang yang mempunyai lima talenta. Jangan pernah berpikir Tuhan akan memakai orang-orang pengangguran untuk turut ambil bagian dalam Kerajaan Sorga.
Tuhan justru memakai orang-orang yang paling sibuk dan mempunyai jiwa ketaatan; Tuhan membentuk karakter setiap kita untuk makin serupa Dia. Tuhan Yesus mau dan rela membentuk kita seperti Ia membentuk murid-Nya selama tiga tahun asal kita juga rela dan mau dibentuk oleh-Nya. Tuhan dapat memakai setiap orang baik itu orang yang dianggap bodoh oleh dunia atau orang pandai seperti Paulus. Namun untuk memproses dan membentuk orang yang mempunyai kapasitas lebih tidaklah mudah diperlukan pengorbanan. Setelah bertobat, Tuhan tidak membiarkan dia langsung melayani; Tuhan memberikan waktu untuk Paulus merenung selama kurang lebih tiga belas tahun. Tuhan membentuk Paulus sehingga ia benar-benar layak dipakai melayani Tuhan. Cara Tuhan melatih setiap orang berbeda dan Dia tahu kapan waktu yang tepat bagi seseorang untuk melayani. Hendaklah kita mencontoh teladan Tuhan Yesus yang taat pada Bapa; Ia taat sampai mati di kayu salib. Bapa berkenan pada-Nya dan meninggikan Dia. Mintalah pada Tuhan bijaksana supaya kita menjadi peka dan dapat merespon dengan tepat dalam setiap masalah dan tantangan yang kita hadapi. Maukah kita dibentuk oleh-Nya dan dipakai menjadi alat untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di bumi? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Resensi Buku-26: KEBAJIKAN DAN KEJAHATAN DI DLM KISAH KLASIK C. S. LEWIS: THE LION, THE WITCH AND THE BIBLE (Robert Velarde)

...Dapatkan segera...
Buku
KEBAJIKAN DAN KEJAHATAN DI DALAM KISAH KLASIK C. S. LEWIS :
THE LION, THE WITCH AND THE BIBLE (SANG SINGA, PENYIHIR, DAN ALKITAB)


oleh : Robert Velarde

Penerbit : NavPress Indonesia, Bandung bekerja sama dengan Pionir Jaya (Bringing Truth to Generation), Maret 2007

Penerjemah : Natania Tiendas.





The Chronicles of Narnia dari C. S. Lewis telah menawan imajinasi jutaan orang selama lebih dari setengah abad. Tetapi kisah-kisah ini bukanlah sekedar cerita dan fantasi yang hanya untuk dinikmati ; kisah-kisah ini menyampaikan kebenaran-kebenaran yang berharga tentang bagaimana hidup di dunia kita. Kehidupan sehari-hari menawarkan kita dengan begitu banyaknya pilihan moral. Lewis percaya bahwa setiap keputusan bernilai etika yang kita ambil mempunyai dampak kepada pembentukan karakter kita menuju kepada yang lebih baik atau yang lebih buruk. Di dalam buku ini, Robert Velarde—sarjana yang mendalami pemikiran C. S. Lewis— mengeksplorasi tema-tema moral dari ketujuh seri Narnia dari Lewis, memfokuskan kepada beberapa sifat buruk dan kebajikan, seperti :
· Kebajikan dan Kejahatan
· Keberanian dan Sifat Pengecut
· Keadilan dan Ketidakadilan
· Kejujuran dan Ketidakjujuran
· Belas Kasihan dan Kekejaman
· Perdamaian dan Perang
· Kerendahan Hati dan Kesombongan
· Pertobatan dan Ketidakbertobatan

Dengan pengertian Alkitabiah serta pengetahuan praktis, Velarde menolong para pembaca untuk memperkuat moral kebajikan di tengah dunia saat ini yang dilanda ketidakpastian nilai-nilai moral.

Buku ini mendapat rekomendasi dari :
DR. VERNON C. GROUNDS (konselor di Denver Seminary), DR. PETER J. SCHAKEL (Profesor Sastra Inggris di Hope College ; penulis The Way into Narnia an Imagination and the Arts in C. S. Lewis), Gordon R. Lewis, Ph.D. (Profesor senior bidang filosofi dan theologia di Denver Seminary ; pengarang Testing Christianity’s Truth Claims), Jim Ware (pengarang God of the Fairy Tale), dan Victor Reppert, Ph.D. (pengarang C. S. Lewis’s Dangerous Idea).





Profil Robert Velarde :
Robert Velarde adalah seorang editor pada Focus on the Family. Dia juga sedang melanjutkan studi kesarjanaannya dalam bidang filosofi agama di Denver Seminary, tempat ia mempelajari filosofi C. S. Lewis. Dia telah meraih gelar sarjana muda dalam bidang musik dari California State University, Long Beach, serta menggubah sejumlah karya musik untuk flute dan piano karena terinspirasi adegan-adegan dalam the Chronicles of Narnia (Hikayat Narnia).
Beliau juga adalah anggota Evangelical Theological Society, the Evangelical Philosophical Society, dan the Society of Christian Philosophers. Beliau tinggal menetap di Colorado Spring, Colorado, bersama dengan istri dan ketiga orang anaknya.