29 December 2013
Resensi Buku-248: MEMBUKA TOPENG GERAKAN ZAMAN BARU (Prof. Douglas R. Groothuis, Ph.D.)
Gerakan Zaman Baru yang masuk ke dunia sekitar akhir abad XX menjadi suatu gerakan yang cukup besar yang berkembang ke segala aspek kehidupan manusia hingga abad XXI ini. Apa yang diajarkan oleh Gerakan Zaman Baru? Bagaimana orang Kristen menanggapi gerakan ini?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
MEMBUKA TOPENG GERAKAN ZAMAN BARU
oleh: Prof. Douglas R. Groothuis, Ph.D.
Kata Pengantar: Prof. Gordon R. Lewis, Ph.D.
(Profesor Senior bidang Filsafat dan Theologi Kristen di Denver Seminary, U.S.A. dan pendiri dari Evangelical Ministries to New Religions yang menyelesaikan studi Doctor of Philosophy—Ph.D. di Syracuse University)
Prakata (edisi terjemahan bahasa Indonesia): Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: Momentum Christian Literature, Surabaya, 2010
Penerjemah: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Prof. Douglas R. Groothuis, Ph.D. memaparkan semua hal berkaitan dengan Gerakan Zaman Baru (GZB) yang dimulai dengan dasar ajaran dan kelompok-kelompok yang terkait dengan GZB. Kemudian, dasar ajaran yang dipaparkan di Bab 1 dijelaskan secara rinci di 6 bab berikutnya, meliputi bangkitnya GZB yang dikaitkan dengan matinya humanisme sekuler dan munculnya humanisme kosmis. Kemudian di Bab 3, Dr. Groothuis menjelaskan tentang kesehatan holistik dengan 10 ide utama di baliknya dan pandangan Alkitab tentang hal tersebut. Dari kesehatan, beliau menjelaskan tentang psikologi ala GZB di Bab 4 yang menjabarkan akar-akar psikologi ala GZB mulai dari Sigmund Freud, B. F. Skinner, Abraham Maslow melalui teori aktualisasi diri. Lalu, di bagian akhir, beliau memberikan pandangan Kristen terhadap hal itu. GZB juga mempengaruhi dunia ilmu pengetahuan melalui pengajaran fisika kuantum, dll, sehingga di Bab 5, Dr. Groothuis menjelaskan dasar sains dan perkembangan sains baru yang dipengaruhi GZB, kemudian seperti di bab-bab sebelumnya, beliau memberikan tinjauan kritis iman Kristen terhadap masalah ini. Selain sains, GZB juga mempengaruhi dunia politik dan pendidikan, sehingga Dr. Groothuis menjelaskan poin ini di Bab 6 di mana sesuai dengan paham GZB, mulai ada pembentukan Tatatan Dunia Baru kelak yang mempersatukan segala sesuatu. Dan terakhir, inti GZB berkaitan dengan spiritisme, sehingga di Bab 7, beliau menjelaskan dasar dan ajaran spiritualitas GZB yang didasarkan pada agama-agama mistik Timur dan Neo-Pagan yang mengajarkan konsep reinkarnasi, relativisme moral, dll, lalu beliau memberikan pandangan iman Kristen bahwa Allah Kristen adalah Allah yang eksklusif dan dapat dikenal tidak seperti konsep GZB. Setelah menguraikan poin-poin tentang pengaruh GZB, lalu pertanyaan selanjutnya, apa agenda utama GZB dan bagaimana iman Kristen menghadapinya. Hal ini dipaparkan Dr. Groothuis di Bab 8 (terakhir) di mana di bab ini, beliau menguraikan agenda utama GZB (mistisisme baru) yang mempengaruhi dunia bukan dengan cara mistisisme lama yang “menakutkan”, tetapi membungkusnya dengan mencampurkannya dengan filsafat Barat. Penipuan ala GZB ini harus ditantang oleh orang Kristen dengan cara bersaksi kepada mereka melalui: memperhatikan (orang Kristen sebagai pengawas budaya yang mengawasi gerak GZB di dalam aspek kehidupan), mengevaluasi (orang Kristen menunjukkan kesesatan GZB), dan bertindak (orang Kristen harus menjadi saksi Kristus di segala aspek kehidupan manusia untuk menanggulangi GZB). Biarlah melalui buku ini, orang Kristen diperlengkapi untuk waspada terhadap ajaran dan dampak GZB sambil tetap tidak paranoid, tetapi memberi dampak pengajaran Kristus dan Alkitab bagi dunia sekitar kita demi hormat dan kemuliaan nama-Nya.
Profil Dr. Douglas R. Groothuis:
Prof. Douglas R. Groothuis, B.S., M.A., Ph.D. adalah Profesor Filsafat di Denver Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Science (B.S.) di University of Oregon; Master of Arts (M.A.) dalam bidang Filsafat di University of Wisconsin–Madison; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Oregon. Beliau menulis lebih dari 10 buku, yaitu: Christian Apologetics: A Comprehensive Case for Christian Faith, Unmasking the New Age, Confronting the New Age, Revealing the New Age Jesus, Christianity That Counts, Deceived by the Light, Jesus in an Age of Controversy, The Soul in Cyberspace, Truth Decay, On Pascal, and On Jesus. Bukunya yang berjudul, “Truth Decay: Defending Christianity Against the Challenges of Postmodernism” (InterVarsity Press, 2000) memenangkan 2001 Christianity Today Award of Merit. Selain itu, beliau juga menjadi editor kontribusi bagi the Dictionary of Contemporary Religion in the Western World (InterVarsity, 2002). Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Jerman, Korea, Norwegia, dll. Ia juga menulis di beberapa jurnal ilmiah, seperti: Religious Studies, Sophia, Research in Philosophy and Technology, Journal of the Evangelical Theological Society, Philosophia Christi, Trinity Journal, and Asbury Theological Journal dan juga menulis di beberapa majalah populer Kristen lainnya, seperti: Christianity Today, Moody Magazine, The Christian Research Journal, Christian Counseling Today, Modern Reformation, dan Perspectives. Ia menikah dengan seorang penulis dan editor, Rebecca Merrill Groothuis.
22 December 2013
Buku ke-28: DOKTRIN DAN PENGALAMAN ROHANI: Kawan atau Lawan? (Denny Teguh Sutandio)
Di dalam Kekristenan abad ini,
berbagai pengalaman supranatural bermunculan. Banyak orang Kristen meresponinya
dengan menggandrungi pengalaman tersebut, namun ada juga yang menanggapinya
dengan menolak semua pengalaman rohani. Bagaimana sikap orang Kristen yang
tepat menyikapi pengalaman rohani? Apakah pengalaman rohani bertentangan dengan
doktrin (ajaran) Kristen?
Buku
DOKTRIN DAN PENGALAMAN ROHANI:
Kawan atau Lawan?
oleh:
Denny Teguh
Sutandio
Penerbit: Sola Scriptura
Harga: Rp 65.000, 00/buku
+ ongkos kirim (tergantung
lokasi)
Berminat?
Segera dapatkan buku ini dengan membelinya di:
Denny Teguh
Sutandio (0878-5187-3719)
NB: Buku akan dikirimkan ke alamat pemesan setelah
pemesan melakukan transfer biaya pesanannya paling lambat satu minggu setelah pemesan
mendapat SMS balasan dari saya.
Apa kata mereka tentang buku ini?
“… Pengalaman harus
diukur dalam terang Firman Allah
(Alkitab) …
Pelajarilah dengan cermat pengalaman-pengalaman rohani yang dikritisi oleh
Denny Teguh Sutandio dalam buku ini dan saya yakin buku ini memberi banyak
manfaat kepada pembaca yang rindu hidup dalam pengalaman Kristen yang
Alkitabiah.”
Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th.
Pendeta dan Gembala di Gereja Bethel Apostolik Profetik (GBAP) Bintang Fajar, Palangkaraya
dan Dosen Filsafat dan Apologetika Karismatik di STT AIMI, Solo
“… Wawasan pembaca
akan semakin dibukakan dengan membaca buku ini, sehingga dapat membedakan mana
yang benar dan mana yang salah. Buku ini sangat diperlukan oleh jemaat Tuhan
yang ingin bertumbuh.”
Pdt. Setia S. Widjaja, M.Th.
Gembala Sidang
Gereja Kebangunan Kalam Allah Indonesia (GKKAI) jemaat Balikpapan
“… Buku “Doktrin dan Pengalaman Rohani: Kawan atau Lawan” perlu
dibaca oleh orang percaya untuk melawan ajaran-ajaran sesat dan hanya mencari
kehendak Tuhan dalam Alkitab saja serta bertanggung jawab menjadi pelaku firman
Tuhan untuk menjadi orang Kristen yang dewasa dalam iman.”
Pdt. Juliman Harefa,
Th.M.
Praeses Resort 45 Gereja Banua Niha Kriso Protestan (BNKP) wilayah Jawa dan Lampung
“Suatu buku dari
Denny lagi yang patut dipertimbangkan dan cukup berani mengamati, mengkritisi,
dan mengangkat topik pentingnya keseimbangan antara doktrin dan pengalaman
rohani dalam dunia Kekristenan dan pelayanan dilihat dari kacamata latar
belakang pandangan theologis dan gaya penulis pribadi. …”
Pdt. Jonathan Octavianus, D.Th.
Ketua Sekolah Tinggi
Theologi Injili Indonesia Surabaya (2008-2016) dan gembala sidang Gereja Bethel
Tabernakel (GBT) Kristus Hayat, Surabaya
Resensi Buku-247: MENGALAMI HADIRAT TUHAN: Pengajaran dari Kitab Ibrani (DR. A. W. TOZER)
Mengalami hadirat Tuhan sering kali menjadi permasalahan khusus di dalam Kekristenan. Bagi sebagian orang Kristen (mungkin mayoritas), mengalami hadirat Tuhan tidak ada bedanya dengan perasaan ekstase rohani, namun beberapa orang Kristen anti dengan mengalami hadirat Tuhan karena dipandang terlalu subjektif dan mistik. Lalu, apa sebenarnya mengalami hadirat Tuhan yang sesuai dengan Alkitab?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
MENGALAMI HADIRAT TUHAN:
Pengajaran dari Kitab Ibrani
oleh: DR. A. W. TOZER
Penyusun dan editor: Rev. Dr. James L. Snyder
(Hamba Tuhan di Family of God Fellowship, Ocala, Florida yang menerima gelar kehormatan Doctor of Letters dari Trinity College di Florida)
Kata Pengantar: Rev. Dr. Randy T. Alcorn
(Pengarang buku laris Sorga)
Penerbit: Nafiri Gabriel, Jakarta, 2011
Penerjemah: Claudia Kristanti
Melalui buku ini, salah seorang hamba Tuhan dan theolog ternama abad XX, Dr. A. W. Tozer mengajar kita bagaimana mengalami hadirat Tuhan sesuai dengan Alkitab. Oleh karena itu, beliau mengajak kita untuk menelusuri beberapa bagian dalam Kitab Ibrani untuk mengerti prinsip mengalami hadirat Tuhan. Di dalam buku, Dr. Tozer menjelaskan pentingnya mengalami hadirat Tuhan sesuai dengan Alkitab sambil memaparkan hambatan-hambatan dalam mengalami hadirat Tuhan tersebut. Lalu, beliau menjelaskan bahwa kita dapat mengalami hadirat Tuhan karena Kristus telah menjadi Pengantara antara Allah yang Mahakudus dengan manusia berdosa, sehingga kita bukan hanya dapat menghampiri hadirat-Nya, bahkan kita dapat mengalami hadirat Allah itu langsung dalam hidup kita. Di dalam mengalami hadirat Tuhan itulah kita menemukan kemerdekaan sejati, sedangkan di luar hadirat-Nya, kita justru merasa terbelenggu. Konsep ini merupakan konsep yang bertentangan dengan konsep dunia yang mengajarkan bahwa mengikut Tuhan justru merupakan suatu keterikatan. Namun, patut disadari menikmati dan mengalami hadirat Tuhan juga perlu disiplin rohani, mulai dari membaca Alkitab, solitude/menyendiri, mengharapkan hadirat-Nya dalam hidup kita setiap hari, ketaatan, dll. Dengan menyadari sambil merenungkan hal ini, kita diarahkan Dr. Tozer untuk benar-benar mengalami hadirat Allah yang nyata di dalam hidup kita sehari-hari sesuai dengan firman-Nya.
Profil Dr. A. W. Tozer:
Aiden Wilson (A. W.) Tozer, Litt.D. (HC), LL.D. (HC) yang lahir tanggal 21 April 1897. adalah hamba Tuhan di Christian and Missionary Alliance (CMA) sejak 1919 s/d 1963 dan merupakan editor Alliance Witness (sekarang bernama Alliance Life) dari 1950 s/d 1963. Selama hidupnya, Dr. Tozer telah menulis banyak buku, termasuk The Pursuit of God dan The Knowledge of the Holy (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “Mengenal Yang Mahakudus”) menjadi karyanya yang terbesar dan paling laris sampai sekarang. Pada tahun 1950, Tozer menerima gelar kehormatan Doctor of Letters (Litt.D.) dari Wheaton College dan pada tahun 1952, beliau mendapat gelar kehormatan Doctor of Laws (LL.D.) dari Houghton College. Beliau menikah dengan Ada Cecelia Pfautz dan dikaruniai 7 orang anak, yaitu: 6 anak laki-laki dan 1 anak wanita. Beliau meninggal pada tanggal 12 Mei 1963.
19 December 2013
EGOIS (Denny Teguh Sutandio)
EGOIS
oleh: Denny Teguh Sutandio
Sebagai manusia yang telah jatuh ke dalam
dosa, tak bisa dipungkiri, kita pasti egois yang berarti mementingkan diri
sendiri. Orang egois selalu didahului oleh “iman” dan pemikiran bahwa saya
adalah pusat/sumber segala sesuatu dan semua orang termasuk Allah pun harus
taat padanya. Paulus mengajar bahwa salah satu ciri manusia akhir zaman adalah
mencintai diri sendiri (2Tim. 3:2). Ada begitu banyak ragam dalam keegoisan
itu, baik eksplisit maupun implisit. Keegoisan eksplisit ditandai dengan
menuntut orang lain memenuhi kepentingan dirinya dan keegoisan implisit
ditandai dengan berpura-pura melawan keegoisan, tetapi mereka sendiri di dalam
praktiknya sama egoisnya bahkan mungkin lebih egois dari orang-orang egois yang
mereka lawan. Contoh, hampir semua orang ketika ditanya, maukah mereka bekerja
sama atau berhubungan dengan orang lain yang egois, mereka biasanya menjawab,
“TIDAK.” Jawaban mereka ini sesungguhnya menunjukkan keegoisan mereka, karena
sejujurnya mereka mengharapkan orang lain tidak egois, tetapi herannya, tanpa
mereka sadari, kebanyakan mereka sendiri egois bahkan mungkin lebih egois di
dalam kerja sama atau hubungan dengan orang lain.
Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan,
setiap manusia yang sudah berdosa pasti egois. Justru jika ada satu orang yang
menganggap diri tidak egois sama sekali, di saat yang sama itu membuktikan ia
adalah orang yang egois, mengapa? Karena jika ada satu orang yang menganggap
diri tidak egois, ia sudah menganggap diri sebagai “Tuhan” yang sempurna. Lalu,
bagaimana solusi terhadap egois?
Manusia mencoba berbagai sarana untuk
“menyembuhkan” penyakit keegoisan misalnya dengan menahan diri dari berbagai
cobaan hidup, berpikir benar, bertindak benar, dll. Namun bagaimana hasilnya?
Bisakah dengan berbagai sarana itu, manusia bisa benar-benar tidak egois?
Justru faktanya beberapa orang makin berusaha “menyembuhkan” keegoisan malah
menjadi egois, lalu memaksa orang lain yang tidak seiman dengannya untuk
menghormatinya. Ironis.
Lalu, bagaimana dong? GalauJ Puji Tuhan, di
dalam anugerah dan kasih-Nya yang agung, Allah mengutus Tuhan Yesus, Putra-Nya
yang Tunggal untuk menebus dosa manusia termasuk keegoisan dengan cara rela
mati disalib menggantikan dosa umat pilihan-Nya untuk menebus dosa mereka,
sehingga mereka yang seharusnya mati akibat dosa mereka (termasuk keegoisan)
dan menerima penghukuman tidak jadi dihukum karena Kristus telah menebus mereka
(Rm. 8:1). Selain itu, teladan hidup Kristus yang rela mengorbankan
segala-galanya demi taat pada kehendak Bapa dan mengasihi umat-Nya
menginspirasi banyak orang baik orang Kristen maupun non-Kristen. Sejak Kristus
lahir, Ia tidak egois, tidak menuntut lahir di istana raja, tetapi Ia lahir di
kandang binatang di Betlehem (Luk. 2:1-7), padahal Ia adalah Allah Putra yang
juga Pemilik dan Pencipta alam semesta ini. Ia pun tidak memilih lahir di dalam
keluarga kerajaan, tetapi rela bekerja dengan Yusuf, ayahnya di dunia sebagai
tukang kayu. Di dalam masa remaja-Nya, Ia belajar Taurat dan menjadi murid
Taurat, tanpa ingin dikhususkan. Di dalam pelayanan-Nya, Ia berulang kali
mengajar para murid-Nya tentang pentingnya melayani dan bukan menjadi tuan.
Bahkan Ia mengajar, “Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan.” (Mat. 23:12; Luk. 14:11) Tatkala Ia mati disalib, Ia tidak
meminta pengkhususan pada saat perjalanan menuju salib. Di dalam perjalanan
menuju Golgota itu, Ia dilihat dan diejek oleh banyak orang sama seperti
orang-orang lain yang akan disalib (Luk. 23:27, 35-36). Bahkan sebelum itu, Ia
telah menerima pecutan yang sangat mengerikan dari beberapa tentara Romawi. Di
dalam segala sesuatu, Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi umat-Nya (Tit.
3:13-14).
Dengan dasar ajaran dan teladan hidup
Kristus inilah, para murid Kristus di zaman dahulu hingga orang-orang Kristen
belajar pentingnya tidak egois. Di dalam Alkitab, para rasul Kristus mengajar
pentingnya tidak egois. Paulus mengajar salah satu ciri kasih adalah “tidak mencari keuntungan diri sendiri.”
(1Kor. 13:5) New English Translation (NET) dengan jelas menerjemahkannya, “It is
not
self-serving” (“Ia tidak melayani diri sendiri”). Bahkan Paulus
mengatakan bahwa ia dan Timotius memberitakan Injil yang murni dengan motivasi
murni dan bukan untuk mencari keuntungan pribadi (2Kor. 2:17). Menariknya dalam
ayat ini, teks Yunani dari menggunakan kata καπηλεύοντες (kapēleuontes) yang berasal dari kata καπηλεύω (kapēleuō) yang berarti “menjajakan” atau “memperdagangkan”. Dengan kata lain, Paulus
mengajar pentingnya hidup tidak mementingkan diri sendiri dan tidak mengeruk
keuntungan demi diri sendiri dengan cara memperdagangkan atau menjual murah
Injil. Banyak pengkhotbah Kristen sekarang yang menjual murah Injil sebenarnya
sedang egois “rohani” karena mereka sedang memutar balik Injil demi mengeruk
keuntungan pribadi.
Lalu, bagaimana cara kita mengikis keegoisan kita? Perlu diperhatikan,
keegoisan tak mungkin bisa dilenyapkan oleh manusia tatkala ia hidup di dunia,
karena bibit dosa ini sudah melekat di dalam diri manusia dan hanya bisa
dilenyapkan tatkala umat pilihan-Nya disempurnakan oleh-Nya di Sorga. Meskipun
tidak bisa dilenyapkan, tentu saja keegoisan bisa dikikis secara perlahan melalui
proses pengudusan Roh Kudus. Roh Kudus akan memimpin kita melalui berbagai
cara, yaitu:
Pertama, kasih. Di dalam 1 Korintus 13:5, Paulus
menyebutkan salah satu ciri kasih yaitu tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Dengan kata lain, ketika kita ingin mengikis keegoisan kita, maka kita perlu
memiliki kasih. Jika kita memperhatikan ciri-ciri kasih yang Paulus paparkan di
1 Korintus 13:1-7, kita akan melihat bahwa kasih itu dasar segala sesuatu dan
sama sekali tidak ada keegoisan di dalamnya, karena di dalam kasih, selalu ada
pengorbanan. Yang lebih menarik lagi, kasih diajarkan Paulus di 1 Korintus 13
sebagai pasal pengantara antara pasal 12 dan 14 yang membahas karunia-karunia
Roh Kudus. Paulus sadar bahwa berbagai macam karunia Roh dapat membuat umat
Allah bertengkar satu sama lain (egois “rohani”) karena mementingkan karunia
tertentu dan mengabaikan karunia lain. Oleh karena itu, karunia Roh Kudus harus
diimbangi oleh hal yang lebih penting lagi yaitu kasih (1Kor. 12:31). Umat-Nya
dapat mengasihi sesama manusia karena umat-Nya belajar dari Allah yang adalah
Pribadi Kasih itu sendiri (1Yoh. 4:16b) dan dari Allah Anak yaitu Tuhan Yesus
yang mengasihi umat-Nya dengan menebus mereka dari dosa.
Kedua, saling memberi hormat. Di dalam suratnya kepada
jemaat di Roma, Paulus menasihati jemaat Roma dan kita, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului
dalam memberi hormat.” (Rm. 12:10) Wujud dari kasih yang Paulus jelaskan
adalah saling mendahului dalam menghormati orang lain. Artinya, kita harus
terlebih dahulu menghormati orang lain. Hal ini tentu saja tidak berarti kita
cepat-cepatan dalam memberi hormat, lalu kita menganggap bahwa jika kita kalah
cepat menghormati orang lain, maka kita tidak mengasihi orang itu. Fokusnya
bukan pada frekuensi kecepatannya, tetapi pada sikap “memberi hormat”. Mengapa?
Karena kata Yunani untuk “mendahului” dalam teks Yunaninya προηγούμενοι (proēgoumenoi) yang berasal dari kata προηγέομαι (proēgeomai) bisa
berarti “mendahului” atau “menganggap lebih baik.” Exegetical Dictionary of the New Testament mengaitkan kata ini
dengan Filipi 2:3.[1] Ketika kita menghormati orang
lain, kita sedang menganggap orang yang kita hormati itu lebih penting dari
kita. Tatkala kita menganggap orang lain lebih penting dari kita, di saat itu
pula, kita menyadari bahwa kita bukanlah orang terpenting di dunia ini dan saat
itulah, kita dapat perlahan mengikis keegoisan kita.
Ketiga, menganggap orang lain lebih baik dari kita. Menghormati
orang lain berkaitan dengan menganggap orang lain lebih baik dari kita. Paulus
mengajar di Filipi 2:3 bahwa cara kita menghormati orang lain adalah “dengan rendah hati yang seorang menganggap
yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;” Kata “lebih utama” dalam
teks Yunaninya ὑπερέχοντας (hyperechontas) yang berasal dari kata ὑπερέχω (hyperechō) yang dalam konteks ini
berarti “lebih baik” atau “melebihi”. Ini berarti dengan rendah hati, kita
menganggap orang lain lebih baik dari kita. Dengan menganggap orang lain lebih
baik dari kita, kita sedang berpikir bahwa kita bukan satu-satunya orang baik
atau hebat di dunia ini. Dengan berpikir seperti inilah, kita diajar untuk
perlahan mengikis keegoisan kita.
Kita menganggap orang lain lebih baik dari kita
dengan cara memuji dia. Di tengah zaman yang mengagungkan kehebatan diri,
budaya memuji orang lain adalah budaya yang langka. Beberapa orang minta dipuji
oleh orang lain sebagai orang tampan atau cantik, tetapi mereka jarang sekali
memuji orang lain. Ini adalah salah satu contoh praktis budaya egois di zaman
ini. Kalaupun ada orang yang memuji orang lain, biasanya mereka memuji hanya
untuk basa-basi (lip service) dan
tentunya ada tujuan di baliknya yaitu merayu orang yang dipuji; pujian ini
bukan keluar dari hati yang tulus. Nah, ketika kita belajar memuji orang lain,
kita sadar bahwa ada orang lain lebih baik, pandai, tampan atau cantik,
berbakat, dll dari kita dan di saat itu, kita belajar untuk tidak mengukur
segala sesuatu dari perspektif kita sendiri. Mulai sekarang berhentilah untuk
terus-menerus mengkritik orang lain bahkan untuk hal-hal remeh (meskipun tentu
saja mengkritik tidaklah salah), lalu belajarlah memuji orang lain dengan tulus
sambil mengintrospeksi diri kita melalui pujian itu.
Keempat, simpati. Cara terakhir yang Paulus ajarkan untuk
mengikis keegoisan kita adalah dengan mengajar jemaat Korintus tentang
pentingnya kesatuan dalam satu tubuh Kristus (1Kor. 12:12-30). Di dalam
kesatuan tubuh Kristus, kita diingatkan Paulus bahwa masing-masing anggota
tubuh Kristus saling membutuhkan di mana kaki membutuhkan tangan, dll (ay.
14-26) dan berakhir dengan kesimpulan bahwa adanya rasa simpati bersama di
dalam satu tubuh Kristus di mana jika ada satu anggota yang menderita, semua
ikut menderita (ay. 26). Hal ini merupakan pengajaran penting Paulus kepada
jemaat di Korintus yang mengalami problematika perpecahan dalam jemaat (1Kor.
1:10-17) dan kita semua tahu bahwa perpecahan di dalam jemaat diakibatkan oleh
adanya keegoisan antar jemaat yang mengagungkan pemimpin tertentu dan
mengabaikan pemimpin lain (problematika jemaat Korintus—baca 1Kor. 1:12) atau
masing-masing jemaat yang ingin pendapatnya didengarkan oleh majelis atau pendeta
setempat. Problematika jemaat Korintus juga merupakan problematika orang
Kristen zaman sekarang. Banyak jemaat masa bodoh dengan jemaat lain, bahkan ada
yang egois, lalu memaksakan pendapatnya untuk menjadi standar kebenaran bagi
gerejanya atau gembala sidang gereja yang berlagak seperti bos di perusahaan
yang memerintah para pengerja gereja lain untuk mematuhi perintahnya. Semua
bentuk keegoisan baik yang berkedok “rohani” sekalipun telah menjadi “penyakit”
orang Kristen di zaman sekarang. Solusi terakhir yang Paulus ajarkan untuk
mengikis “penyakit” ini adalah dengan berusaha menunjukkan rasa kebersamaan dan
simpati antar jemaat. Jemaat yang sakit hendaknya didoakan oleh jemaat-jemaat
lain, begitu pula jika ada jemaat yang bersukacita seharusnya menjadi sukacita
bagi jemaat-jemaat lain.
Terus terang, hal ini tidaklah mudah. Jangankan dengan orang-orang Kristen
di luar gereja kita, kita saja jarang bersosialisasi dengan orang-orang Kristen
di dalam gereja kita. Tetapi meskipun sulit, kita bisa memulainya dari
sekarang. Tunjukkan rasa simpati kepada sesama jemaat lain dan tentunya dengan
sesama orang Kristen yang berbeda gereja dari kita. Jika kita mengenal sesama
Kristen kita sedang mengalami kesusahan entah itu saudara atau keluarganya
meninggal, belajarlah peka dan simpati kepadanya. Caranya adalah dengan tidak
memberikan kata-kata mutiara “rohani” klise seperti “Tuhan punya rencana”, dll,
tetapi cukup menunjukkan simpati kepadanya dan memberikan kata-kata penguatan
seperlunya, seperti “Saya tidak bisa memahami sepenuhnya permasalahanmu, tetapi
Allah sangat mengertinya karena Ia pernah mengalami ditinggalkan oleh Anak-Nya
yang Terkasih demi menebus dosa manusia.” (mengutip perkataan Pdt. Yakub Tri
Handoko, Th.M.) Saya pribadi berusaha menghindari mengatakan kata-kata rohani
klise, tetapi menunjukkan rasa simpati kepada orang Kristen yang sedang
mengalami kesusahan dengan cara mendengarkan keluh kesah, memandang, dan
berkata kepadanya bahwa saya tidak banyak bicara dan hati saya ikut bersedih.
Dengan berusaha simpati kepada sesama saudara seiman, kita belajar untuk
memahami permasalahan orang lain dari perspektif orang lain, bukan dari
perspektif kita sendiri dan di saat itulah, kita berusaha mengikis keegoisan
kita.
Bagaimana dengan kita? Beranikah kita berkomitmen untuk mengikis keegoisan
kita dan hidup bagi Allah? Tentu tidak mudah, tetapi melalui dorongan Roh
Kudus, kita dimampukan-Nya hidup bagi Allah dan berusaha tidak egois. Amin.
Soli Deo Gloria.
[1] Horst Balz dan Gerhard
Schneider, ed., Exegetical
Dictionary of the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1990), software PC
Study Bible 5.
15 December 2013
Resensi Buku-246: MISI UMAT ALLAH (Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D.)
Setiap kita yang termasuk umat pilihan Allah memiliki misi bagi dunia. Apakah misi umat Allah tersebut? Apa yang Alkitab ajarkan? Bagaimana menjalankan misi itu?
Temukan jawabannya dalam:
Buku Seri Teologi Biblika Bagi Kehidupan
MISI UMAT ALLAH:
Sebuah Teologi Biblika Tentang Misi Gereja
oleh: Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D.
Penerbit: Literatur Perkantas, Jakarta, 2011
Penerjemah: James Pantou, Lily E. Joeliani, dan Perdian K. M. Tumanan, M.Div.
Melalui buku ini, Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D. mengajar kita bahwa misi umat Allah adalah misi yang integral yang meliputi misi pemberitaan Injil dan misi sosial (tanggung jawab sosial) di mana kita terpanggil untuk menjadi garam dan terang bagi dunia sekitar kita melalui berbagai bidang kehidupan, seperti: pendidikan, ekonomi, hukum, politik, dll. Untuk mengawali pembahasannya, Dr. Wright menjelaskan siapa kita dan tujuan kita diciptakan dengan mengaitkannya dengan 4 kisah yang telah, sedang, dan akan dialami umat Allah, yaitu: penciptaan, kejatuhan dalam dosa, penebusan, dan ciptaan baru (konsumasi). Setiap kisah dibahas oleh Dr. Wright di beberapa bab yaitu pertama, mulai dari penjelasan tentang umat Allah diciptakan untuk peduli dengan ciptaan Allah, kemudian umat ini juga harus menjadi berkat bagi bangsa-bangsa sebagaimana dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, keselamatan umat Allah selalu diperuntukkan bukan hanya bagi umat Israel/pilihan-Nya, tetapi terbuka juga bagi umat non-Israel. Agar dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, umat Allah harus berjalan di jalan Allah. Supaya dapat berjalan di jalan Allah, umat-Nya harus ditebus untuk menjalani hidup penebusan. Dengan menjalani hidup penebusan, kita dapat mewakili Allah di dunia dan akhirnya menarik orang lain kepada Allah.
Setelah membahas tentang misi sosial, maka mulai bab 9, Dr. Wright beralih dengan membahas tentang misi penginjilan yang dimulai dengan misi kita untuk memberitakan Kabar Baik bagi semua orang tentang satu-satunya Allah yang Hidup dan Juruselamat, kemudian disusul dengan menjadi saksi Allah yang hidup bagi dunia. Di dalam kesaksian itu, kita memproklamasikan Injil Kristus bagi semua bangsa.
Mengerti misi entah itu misi sosial maupun penginjilan didasarkan pada konsep kita tentang apa itu diutus dan mengutus. Karena kita diutus dan nantinya mengutus orang lain, maka kita seharusnya hidup dan berkarya di arena publik khususnya aspek sosial (termasuk penginjilan) dan tidak lupa untuk menyertakan doa dan pujian kepada Allah sebagai pusat misi kita. Di bagian akhir, Dr. Wright menantang kita untuk mengambil sikap menjalankan misi di dalam setiap area hidup kita. Biarlah melalui buku yang membahas theologi biblika yang komprehensif (PL dan PB) tentang misi umat Allah, kita disadarkan pentingnya misi umat Allah bagi dunia sekitar kita demi hormat dan kemuliaan nama-Nya.
Rekomendasi:
“Chris Wright memang penulis luar biasa! Dalam buku ini kita memperoleh wawasan berkualitas dari seorang yang menguasai topik misi dan juga isi Kitab Suci – dan karena ia ahli Perjanjian Lama, ia memberikan bagian terbesar Kitab Suci ini porsi yang layak diterimanya, bahkan (khususnya?) ketika subjeknya adalah tentang misi yang kelihatannya adalah bagian dari Perjanjian Baru. Ia tak membatasi diri pada tema-tema Alkitabiah, tetapi memampukan kita menyelami banyak nas Kitab Suci yang khusus, semua dalam porsi yang mudah dicerna. Apa kaitan theologi dengan misi? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut secara dahsyat.”
Prof. John Goldingay, Ph.D., D.D.
David Allan Hubbard Professor of Old Testament di Fuller Theological Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di University of Oxford; Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Nottingham; dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Archbishop of Canterbury at Lambeth.
“Inilah volume pertama sebuah seri baru tentnag theologi Biblika. Buku ini sangat mudah dibaca, ditulis oleh seorang pengkhotbah yang tahu cara berkomunikasi secara sederhana, jelas, dan memikat. Menghadirkan petualangan sangat menyegarkan karena menggali tema misi pada nas-nas Alkitab yang tidak Anda sangkakan. Menarik karena kontroversial dalam mendiskusikan berbagai topik seperti relasi antara kepedulian dengan bumi dengan Penginjilan, tetapi selalu dengan cara yang tak mengundang polemik. Sangat praktis karena berpusat pada dasar-dasar theologis bagi aksi gereja di dunia. Sangat relevan karena mengutamakan kisah misi Allah kepada dunia sebagai yang inti untuk menjadi contoh yang membentuk karya nyata gereja. Sangat membumi dalam menunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari kita sepatutnya menjadi jabaran akan panggilan misioner kita. Karenanya, buku ini sangat direkomendasikan, baik karena isi maupun karena standar tinggi yang ditetapkannya bagi volume-volume berikutnya dalam seri ini.”
Prof. I. Howard Marshall, Ph.D., D.D.
Profesor Emeritus dan Profesor Riset Kehormatan bidang Perjanjian Baru di University of Aberdeen, U.K. yang menyelesaikan studi B.A. di University of Cambrige; Master of Arts (M.A.), Bachelor of Divinity (B.D.), dan Ph.D. di University of Aberdeen; dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Asbury Theological Seminary, U.S.A.
“Misi Umat Allah lebih dari sekadar theologi Biblika. Ini adalah perjalanan menyusuri panggilan yang Allah berikan kepada umat-Nya untuk berdampak di dunia di dalam cara yang dikehendaki Allah. Lausanne telah memopulerkan diktum ini, Seluruh gereja mesti membawa seluruh Injil ke seluruh dunia. Wright memberikan kepada kita Alkitab yang utuh bersama theologi yang utuh bagi tugas misi yang utuh, yang terkait dengan penciptaan, penebusan, dan ciptaan baru. Poinnya: kita mesti tahu ke mana kita pergi dan mengapa demikian. Buku ini membawa kita ke sana dengan sangat apik, sepenuhnya menggunakan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, bahkan memberikan kita rangkaian pertanyaan untuk direnungkan demi mendorong kita bertindak. Bagus!”
Prof. Darrell L. Bock, Ph.D.
Profesor Riset bidang Studi Perjanjian Baru dan Profesor Spiritual Development and Culture (CCL)
di Dallas Theological Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi B.A. di University of Texas; Master of Theology (Th.M.) di Dallas Theological Seminary, U.S.A.; Ph.D. di University of Aberdeen; dan menjalani studi post-doktoral di Tübingen University.
Profil Dr. Christopher J. H. Wright:
Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D. yang lahir di Belfast, Irlandia Utara pada tahun 1947 adalah Direktur Internasional dari Langham Partnership International, induk organisasi dari John Stott Ministries, sebuah lembaga yang menyediakan literatur, beasiswa, dan pelatihan khotbah untuk para pendeta dan seminari di negara berkembang. Beliau juga menjabat sebagai anggota kehormatan di All Souls Church, Langham Place, London, Inggris dan ketua dari: Lausanne Movement’s Theology Working Group dan the Theological Resource Panel of TEAR Fund. Beliau menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) bidang Old Testament economic ethics di Cambridge University. Beliau ditahbiskan di Anglican Church of England pada tahun 1977. Beliau menikah dengan Liz dan dikaruniai: 4 orang anak dan 6 orang cucu. Beliau juga menulis banyak buku:
• User’s Guide to the Bible (Lion Manuals), Chariot Victor, 1984
• God’s People in God’s Land: Family, Land and Property in the Old Testament. Grand Rapids: Eerdmans; Exeter, U.K.: Paternoster, 1990
• Knowing Jesus through the Old Testament, Harpercollins, 1990
• Walking in the Ways of the Lord: The Ethical Authority of the Old Testament, Intervarsity Press, 1995
• Deuteronomy (New International Biblical Commentary), Hendrickson, 1996
• The Uniqueness of Jesus. Thinking Clearly Series. Mill Hill, London and Grand Rapids: Monarch. Reprint 2001. Available in the United States through Kregel Publications, P.O. Box 2607, Grand Rapids, MI 49501), 1997
• The Message of Ezekiel (The Bible Speaks Today), Intervarsity Press, 2001
• Old Testament Ethics for the People of God. Leicester, England, and Downers Grove, Ill.: Inter-Varsity Press. Revised, updated and expanded version of Living as the People of God and An Eye for an Eye, 2004
• The Mission of God: Unlocking the Bible's Grand Narrative, IVP Academic, 2006
• Life Through God’s Word: Psalm 119, Milton Keynes, Authentic and Keswick Ministries, 2006
• Knowing the Holy Spirit through the Old Testament, Oxford: Monarch Press; Downers Grove: IVP, 2006
• Knowing God the Father Through the Old Testament, IVP Academic, 2007
• Salvation Belongs to Our God: Celebrating the Bible’s Central Story, Global Christian Library, Nottingham: IVP; Christian Doctrine in Global Perspective, Downers Grove: IVP, 2008
• The God I Don’t Understand: Reflections on Tough Questions of Faith, Grand Rapids: Zondervan, 2009
• Mission of God’s People The (Biblical Theology for Life), Grand Rapids: Zondervan, 2010
08 December 2013
Resensi Buku-245: Mendengar dan Mengerti, Memandang dan Menanggap UCAPAN YESUS YANG SULIT (Prof. F. F. Bruce, D.D., F.B.A.)
Ketika kita membaca keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), kita sering kali kesulitan memahami banyak perkataan Kristus. Kesulitan itu dikarenakan adanya gap kebudayaan antara kebudayaan kita dengan kebudayaan di mana Kristus hidup pada waktu itu. Lalu, bagaimana kita dapat mengerti perkataan-perkataan Kristus?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
Mendengar dan Mengerti, Memandang dan Menanggap
UCAPAN YESUS YANG SULIT
oleh: Prof. F. F. Bruce, D.D., F.B.A.
Penerjemah: Indrawati G. Tambayong dan Sonya S. K. Wijaya
Penerbit: Literatur SAAT, Malang, 2007 (cetakan kesembilan)
Di dalam buku ini, Dr. F. F. Bruce menjawab 70 ucapan Yesus yang sering kali sulit dimengerti oleh banyak orang Kristen dikarenakan perbedaan budaya. Untuk menjawab kesulitan tersebut, Dr. Bruce pertama kali membandingkan keempat Injil yang memuat ucapan Yesus yang sulit itu, kemudian menganalisa konteks dekatnya, mengaitkannya dengan konsep Perjanjian Lama dan kitab-kitab dan surat-surat lain dalam Perjanjian Baru, sehingga kita diarahkan untuk memahami ucapan Yesus secara terintegrasi. Biarlah melalui buku ini, kita belajar makna ucapan Yesus yang sulit dimengerti dan tidak lupa untuk diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Profil Penulis:
Prof. Frederick Fyvie (F. F.) Bruce, D.D., F.B.A. dilahirkan tanggal 12 October 1910 di Elgin, Skotlandia, Inggris. Beliau menempuh studi dalam bidang Classics di University of Aberdeen dan Cambridge University, kemudian pindah ke University of Vienna untuk menempuh studi Doctor of Philosophy (Ph.D.). Namun di tengah studinya, beliau dipanggil menjadi asisten pengajar di Edinburgh University (1935-1938). Beliau menikah dengan Betty Davidson. Kemudian, beliau mengajar bahasa Yunani di Leeds University (1938-1947). Setelah itu, beliau dipilih menjadi ketua dalam bidang studi Biblika di Sheffield University (1947-1959) dan kemudian Rylands Professor of Biblical Criticism and Exegesis di Manchester (1959-1978). Pada tahun 1957, beliau menerima gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari the University of Aberdeen. Beliau menulis beberapa buku, antara lain: Paul: Apostle of the Heart Set Free (terbitan Amerika), The Books and the Parchments, Biblical Exegesis in the Qumran Texts, Israel and the Nations, Paul and his Converts, Biblical Exegesis in the Qumran Texts, dll. Beliau juga melayani sebagai editor pada The Evangelical Quarterly dan the Palestine Exploration Quarterly. Beliau terpilih sebagai: Fellow of the British Academy (F.B.A.) dan juga menjabat Presiden dari the Society for Old Testament Study dan juga Presiden dari the Society for New Testament Study. Beliau juga menulis beberapa buku tafsiran atas surat: Roma, Kisah Para Rasul, 1 & 2 Korintus, Galatia, Injil dan Surat Yohanes, dan Surat Ibrani. Beliau meninggal tanggal 11 September 1990.
01 December 2013
Book Description-244: LISTENING TO THE SPIRIT IN THE TEXT (Rev. Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D.)
Many Christians think that Biblical study (exegesis) is separated from spirituality and church’s life. A seminary student who is interested in Biblical exegesis often ignore spirituality and lay Christians who interested in spirituality ignore Biblical exegesis. Is it right?
Get the answer in the:
Book
LISTENING TO THE SPIRIT IN THE TEXT
by: Rev. Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D.
Publisher: William B. Eerdmans Publishing Company, Grand Rapids, Michigan, 2000
In this book, a New Testament scholar in textual criticism, Prof. Gordon D. Fee, Ph.D., D.D. explains that biblical exegesis is not separated from spirituality and church’s life. In the first part, he explains about the relationship between the biblical text and the life in the Spirit (spirituality). In the first chapter, he explains what the spirituality means, i.e.: life in the Spirit. It affects on his experience in writing commentaries. To shape that biblical spirituality, he explains about how to be a Trinitarian Christian who understand and experience the Trinity and what God has done in the salvation for His people. Christians who want to study biblical spirituality should study and understand Pauline spirituality, not only Pauline doctrine/theology. After that, he explains about New Testament perspective on wealth and possession and gender issues. Then, in the second part, he relates the biblical text with the life of the church (ecclesiology). In this part, he explains what New Testament texts teach us about the relationship between the Holy Spirit and worship, speaking in tongues, church’s leadership, church’s order, and the Kingdom of God and church’s global mission. The uniqueness of this book is Dr. Fee explains 12 chapters with the clarity and simplicity. Let this book is useful for us to study and integrate biblical exegesis/study with spirituality and ecclesiology.
Endorsement:
“These essays show Gordon Fee at his characteristic work, fusing exegetical accuracy and evangelical passion. Words are never mere words for this master exegete. I think of him as our 'resurrection scholar,' calling the words out of the text and setting them before us pulsing with life.”
Rev. Prof. Eugene H. Peterson, D.H.L.
(Professor Emeritus of Spiritual Theology at Regent College, Canada, founding pastor of Christ Our King Presbyterian Church in Bel Air, Maryland, and the author of “The Message: The Bible in Contemporary Language”; Bachelor of Arts—B.A. in Philosophy from Seattle Pacific University; Bachelor of Sacred Theology—S.T.B. from New York Theological Seminary; Master of Arts—M.A. from Johns Hopkins University; and honorary Doctor of Humane Letters—D.H.L. {Hons} from Seattle Pacific)
“This set of biblical explorations—mostly Pauline, as we would expect—demonstrates Gordon Fee’s strength in exegesis, biblical theology, and hermeneutics as he pursues his trinitarian, churchly, life-centered concerns. Fee is a Pentecostal pneumatologist without peer. In his largehearted service of the biblical text he is in every way a model. Brilliant and simple, these chapters will enrich all who take the Bible seriously.”
Rev. Prof. James Innell Packer, D.Phil.
(the Board of Governors' Professor of Theology at Regent College in Vancouver, British Columbia; B.A., M.A., and Doctor of Philosophy—D.Phil. from Corpus Christi College, Oxford University, U.K.)
Biography of Dr. Gordon Fee:
Rev. Prof. Gordon Donald Fee, Ph.D., D.D. who was born in 1934 in Ashland, Oregon, to Donald Horace Fee (1907–1999) and Gracy Irene Jacobson (1906–1973) is an American-Canadian Christian theologian and an ordained minister of the Assemblies of God (USA). He currently serves as Professor Emeritus of New Testament Studies at Regent College in Vancouver, Canada. Fee received his Bachelor of Arts (B.A.) and Master of Arts (M.A.) degrees from Seattle Pacific University and his Doctor of Philosophy (Ph.D.) from the University of Southern California. On April 21, 2010, Fee was awarded an honorary Doctor of Divinity (D.D.) degree from Northwest University in Kirkland, Washington, where Fee has taught in the past and where a building is named for his father, Donald Fee. Fee is considered a leading expert in pneumatology and textual criticism of the New Testament. Fee is a member of the CBT (Committee on Bible Translation) that translated the New International Version (NIV) and its revision, the Today's New International Version (TNIV). He also serves on the advisory board of the International Institute for Christian Studies.
Subscribe to:
Posts (Atom)