19 April 2009

Roma 14:10-12: KONSEP MENGHAKIMI-4: Jangan Menghakimi dan Bertanggungjawablah

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-17


Konsep Menghakimi-4: Jangan Menghakimi dan Bertanggungjawablah

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 14:10-12.



Setelah kita hidup untuk Tuhan, lalu apa yang harus kita lakukan? Di ayat 10-12, Paulus membawa kita kepada pengertian lebih jelas lagi, yaitu untuk bertanggungjawab.


Di ayat 10, Paulus mengungkapkan, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” Menyambung ayat sebelumnya, maka Paulus mengingatkan jemaat Roma bahwa jika jemaat Roma harus hidup untuk Tuhan karena Kristus yang telah mati dan hidup serta menjadi Tuhan atas mereka, maka hendaklah mereka tidak menghakimi saudara mereka dan bahkan tidak menghina mereka, karena kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Dari ayat ini, kita bisa belajar 2 hal penting:
Pertama, bentuk negatif, jangan menghakimi dan menghina saudaramu. Kata “menghakimi” dalam ayat ini bahasa aslinya sama dengan ayat 4 yaitu bisa diterjemahkan menghukum (punish). Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah mengkritik (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 870). Lalu, kata “menghina” dalam New International Version (NIV) diterjemahkan look down (=menganggap rendah). English Standard Version (ESV) dan Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya despise (=merendahkan/membenci). Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “menganggap dia rendah”. Kedua kata kerja yang dipakai oleh Paulus ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif dan present (sekarang). Berarti setelah kita mengerti bahwa kita hidup untuk Tuhan, berarti secara aktif, kita tidak lagi menghakimi bahkan menghina/menganggap rendah saudara kita yang lain. Di sini, kita belajar akan arti menghormati. Menghormati TIDAK berarti kompromi. Menghormati saudara seiman berarti kita saling mengasihi sesama saudara seiman di atas dasar Kebenaran. Sebaliknya, dengan kita menghakimi (mengkritik) dan menghina saudara seiman yang lain, kita sebenarnya tidak mengasihi mereka dan bahkan kita memiliki kesombongan tersendiri. Berhati-hatilah ketika kita mengkritik orang lain. Sebuah kritikan yang baik bukan menjatuhkan, tetapi membangun. Kita boleh mengkritik ajaran yang salah, tetapi ketika kita mengkritik, berikan jawaban yang benar yang membangun. Selain itu, kritikan yang beres juga didasari oleh semangat cinta kasih yang mengajar, bukan oleh ambisi emosional. Jika kita mengkritik ajaran atau orang yang tidak beres sudah dengan cinta kasih yang mengajar dan membangun, tetapi orang yang kita kritik tetap mengeraskan hati dan tidak mau menerima kritikan kita, kita sebaiknya menghentikan kritikan kita. Tidak ada gunanya terus mendesak orang yang kita kritik dengan kritikan kita, karena itu tidak membuat dia bertobat, malahan dia akan marah dan menghina kita. Saya bukan hanya berteori, saya sudah mempraktikkannya. Ketika saya mengkritik teman saya, saya mengkritiknya bukan untuk menjatuhkan, tetapi benar-benar ingin memperbaiki terutama ajaran yang dia percayai, tetapi ketika teman saya tidak mau menerima, ya, saya diamkan dan saya tidak akan mengungkit lagi. Hal kedua tentang kritikan yaitu self-critic (mengkritik diri). Kadang kala kita terlalu mudah mengkritik orang lain yang salah, tetapi jika kita yang salah, kita menutupi seindah mungkin supaya tidak ketahuan. Kita mudah melihat karakter orang lain lalu membandingkannya dengan kita. Atau mungkin juga ketika kita ingin berteman dengan seseorang, kita melihat karakter orang lain, jika karakter orang tersebut baik, kita baru berteman. Sepintas ada benarnya, tetapi banyak yang salah. Mengapa? Ada dua alasan: Pertama, karena orang ini terus mengukur diri lebih baik dan hanya mau berteman dengan orang yang cocok dengannya. Kedua, orang ini terus mengukur orang lain dibandingkan dirinya, tetapi herannya tidak mau mengukur karakternya sendiri. Perhatikan. Biasanya karakter orang yang seperti ini justru lebih parah dari orang lain yang ia ukur/hakimi, karena orang seperti ini malu mengakui kelemahan karakternya, sehingga ia mencari pelampiasan dengan melihat dan membandingkan karakter orang lain. Berhati-hatilah jika Anda atau kita termasuk orang seperti ini. Bertobatlah.
Bukan hanya menghakimi/mengkritik, Paulus juga menyinggung masalah “menghina” atau menganggap rendah orang lain. Biasanya, orang yang sudah “pintar” mengkritik orang lain, tahap berikutnya, ia akan menghina atau menganggap rendah orang yang tidak sesuai dengan dirinya (dalam hal-hal sekunder). Misalnya, dalam cara berpakaian. Si X adalah orang kota yang katanya mengerti mode pakaian lalu melihat pakaian si Y yang baginya “kacau” (Jawa: “amburadul”), lalu menghina Y bahwa Y seperti orang desa saja. Padahal jika ditelusuri, biasanya, orang yang ia kritik sebenarnya memiliki karakter (atau sesuatu) lebih baik dari dirinya (si pengkritik). Jika kita praktikkan di dalam contoh tadi, mungkin saja secara konsep nilai, pakaian si X yang katanya modern sebenarnya lebih hancur daripada pakaian si Y. Mengapa? Karena pakaian si Y yang menurut si X “kacau” sebenarnya memiliki nilai yang lebih daripada si X, masalahnya adalah si X memakai ukuran zaman sekarang untuk menilai pakaian si Y. Dengan kata lain, ketika kita menghina orang lain, kita memakai standar ukuran kita atau lingkungan kita sendiri, tanpa memperdulikan konsep nilai yang disertai Kebenaran. Padahal standar ukuran kita atau lingkungan/zaman kita sendiri itu belum tentu benar, karena zaman dan kita sendiri itu fana (tidak kekal), sehingga bisa berubah. Oleh karena itu, untuk hal-hal sekunder, jangan menghakimi apalagi menghina saudara seiman kita.

Kedua, bentuk positif, menghadap takhta pengadilan Allah. Mengapa kita tidak boleh menghakimi dan menghina saudara seiman kita? Paulus menjelaskan alasannya yaitu kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. ISV, NIV, dan terjemahan dari bahasa Yunani menerjemahkannya sebagai berdiri di hadapan/depan takhta pengadilan Allah. Ketika seseorang berdiri di depan takhta pengadilan Allah, tidak ada yang bisa disembunyikan, karena Allah adalah Allah yang Mahatahu. Di saat itulah, kita mengerti bahwa ukuran apa pun yang kita pakai untuk menilai/mengkritik dan menghina orang lain akan terbuka dengan jelas di depan takhta pengadilan Allah. Berhati-hatilah, semua motivasi kita yang dulu kita tutupi akan terbuka dengan jelas kelak ketika kita berdiri di depan takhta pengadilan Allah. Tuhan tidak melihat apa pun yang nampak pada diri kita. Tuhan tidak pernah menilai kita “baik” hanya karena kita rajin ke gereja, membaca Alkitab, dll. Tuhan melihat kedalaman hati kita. Ia melihat hati dan motivasi kita yang terdalam (1Sam. 16:7b). Hati dan motivasi manusia tidak bisa dibohongi dan itulah yang diselidiki dan diuji oleh Tuhan. Hari ini, ketika firman Tuhan mengingatkan kita akan keharusan kita menghadap takhta pengadilan-Nya, marilah kita uji motivasi dan hati kita, sudahkah kita memiliki hati yang sungguh-sungguh murni di hadapan-Nya? Sudahkah kita mengasihi Allah lebih dari apa dan siapa pun di dunia ini?


Di ayat 11, Paulus mengutip Perjanjian Lama di Yesaya 45:23 untuk menyatakan ulang bahwa semua orang harus menghadap takhta pengadilan Allah. Kutipan ini agak sedikit berbeda dengan Yesaya 45:23 di kalimat pertama. Sedikit perbedaan ini TIDAK menandakan adanya pertentangan/kontradiksi, tetapi menunjukkan adanya penekanan Paulus. Kutipan Paulus itu berbunyi, “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.” Yesaya 45:23 berbunyi, “Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali: dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa,” Perhatikan sedikit perbedaan kalimat yang saya garis bawahi antara kutipan Paulus dengan teks Yesaya 45:23. Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire mengamati sedikit perbedaan ini dan menyatakan bahwa “Demi Aku hidup” yang dinyatakan Paulus sebenarnya berarti bahwa Allah bersumpah demi hidup-Nya sendiri. Ini berarti ada jaminan dari Allah sendiri tentang keMahakuasaan-Nya yang tidak bisa dibandingkan dengan siapa pun. KeMahakuasaan-Nya ditunjukkan dengan keluarnya kebenaran dari mulut-Nya yang mengakibatkan semua bangsa akan bertekuk lutut di hadapan-Nya. Di sini, Paulus mengingatkan jemaat Roma akan perkataan nabi Yesaya bahwa pengadilan Allah adalah pengadilan yang adil dan bersih, karena Ia adalah Allah yang Mahakuasa dan Benar (Truth). Pengadilan dunia bisa disuap dengan uang, kuasa, dll, tetapi pengadilan Allah tidak bisa disuap, karena Allah adalah Allah yang Berdaulat, Mahaadil, Mahakuasa, Mahakudus, dan Benar adanya. Jika kita sudah mengerti konsep pengadilan Allah ini, biarlah kita didasarkan akan keberdosaan kita, lalu kita kembali bertobat setiap hari kepada Tuhan. Hidup Kristen adalah hidup pertobatan terus-menerus, karena kita percaya itulah proses kita menuju kepada penyempurnaan akhir kelak, di mana kita menjadi serupa dengan gambaran Kakak Sulung kita, yaitu Tuhan Yesus.


Setelah memberikan penjelasan tentang pengadilan Allah, Paulus menutup penjelasannya dari ayat-ayat sebelumnya dengan kesimpulan di ayat 12, “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Pengadilan Allah menyiratkan kepada kita akan pentingnya pertanggungjawaban. Tuhan Yesus sendiri juga mengajar hal serupa di dalam Matius 12:36, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” Perkataan Tuhan Yesus ini lebih tajam, yaitu langsung mengaitkan konsep pertanggungjawaban dengan hari penghakiman. Kita bertanggungjawab kepada Tuhan kelak di hari penghakiman, di mana Ia, “…telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” (1Ptr. 4:5) Jangan mempermainkan hari penghakiman Tuhan.

Lalu, siapa yang harus bertanggungjawab dan apa yang perlu kita pertanggungjawabkan? Paulus menjelaskan bahwa yang harus bertanggungjawab di hadapan Allah nantinya adalah setiap orang di antara kita (NIV menerjemahkannya: setiap kita). Berarti, tidak ada pengecualian, semua orang tanpa pandang bulu harus bertanggungjawab di hadapan Allah. Meskipun orang berdosa bisa lolos dari pengadilan dunia (karena sogokan uang yang banyak), maka percayalah, di hadapan pengadilan Allah, ia TIDAK akan pernah bisa lolos. Waspadalah! Lalu, yang perlu kita pertanggungjawabkan adalah segala sesuatu tentang DIRI KITA SENDIRI kepada Allah. Di sini, kita perlu memperhatikan. Allah tidak menuntut kita menghakimi dosa orang lain di hadapan-Nya. Ia menuntut KITA PRIBADI yang bertanggungjawab atas apa pun yang telah kita pikir dan kerjakan. Alasan inilah yang dipakai Paulus untuk menyadarkan jemaat Roma untuk tidak menghakimi dan menghina orang lain. Orang yang terus menghakimi dosa orang lain pasti lupa melihat kelemahan diri yang sebenarnya sama saja atau bahkan lebih parah dari orang lain. Mulai sekarang, terus introspeksi diri kita masing-masing, karena kelak, kita harus mempertanggungjawabkan DIRI KITA SENDIRI di hadapan-Nya. Setelah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing, akuilah dosa itu di hadapan-Nya sekarang dan minta ampun kepada-Nya, serta berkomitmenlah untuk TIDAK akan pernah mengulanginya lagi, karena itu mendukakan hati-Nya. Seorang yang mencintai Allah lebih dari apa dan siapa pun, ia akan tidak tega melihat Allah sedih. Adakah kita memiliki kerinduan itu?


Biarlah melalui perenungan 3 ayat ini menyadarkan kita akan pentingnya pertanggungjawaban atas apa yang telah kita perbuat kelak di hadapan-Nya. Siapkah kita kelak bertanggungjawab atas apa yang telah kita pikir dan lakukan? Biarlah hati dan motivasi kita terus-menerus dimurnikan oleh Roh Kudus melalui firman Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 14:1-12: THE POWER OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 10 Juni 2007

The Power of the Kingdom
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 14:1-12


Hari ini kita akan merenungkan Matius pasalnya yang ke-14 yang mempunyai inti tema the power of the Kingdom. Sepintas, kalau kita membaca perikopnya yang pertama, yakni tentang Yohanes Pembaptis dibunuh maka sepertinya tidak berkaitan dengan inti tema dan sepertinya antara kisah yang satu dengan kisah yang lain tidak terkait. Hati-hati, judul perikop terkadang memudahkan kita untuk memahami konteks Alkitab namun terkadang menyelewengkan kita dari inti tema. Kisah tentang Yohanes Pembaptis dibunuh menjadi pembuka yang memudahkan kita untuk memahami inti tema dan memudahkan kita memahami tiga perikop selanjutnya.
Injil Matius 14:1-12 ini berbentuk sastra berbingkai, artinya dalam cerita terdapat cerita. Kisah ini dimulai dari Herodes yang mendengar berita tentang pelayanan Tuhan Yesus dan uniknya, Herodes langsung mengkaitkannya dengan Yohanes Pembaptis yang telah ia bunuh. Kenapa Herodes melihat Yesus Kristus sebagai cerminan dari Yohanes Pembaptis? Untuk memahaminya, ada baiknya kita melihat latar belakang dari Herodes. Herodes bukanlah orang Yahudi asli, ia orang Idumea keturunan Edom dan dengan cara licik, ia berhasil menjadi raja Yudea. Herodes membangun Bait Allah untuk menarik simpati orang-orang Yahudi dan menjadikannya sebagai raja. Herodes bukanlah seorang pecinta Taurat, ia memanipulasi Taurat bahkan demi karir politiknya maka tidaklah heran kalau konsep pernikahan itu menjadi rusak; Herodes mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya sendiri. Yohanes Pembaptis yang tahu pelanggaran kebenaran ini, menegur Herodes dan Herodias; mereka pun menjadi marah. Terdapat gejolak dalam diri Herodes, di satu sisi, ia ingin membunuh Yohanes Pembaptis tapi di sisi lain, ia takut sebab Yohanes Pembaptis mempunyai banyak pengikut dan tentu saja, Herodes akan kehilangan pendukung maka Yohanes Pembaptis pun dipenjara. Herodias yang menyimpan dendam memakai Salome sebagai alat supaya ia meminta meminta hadiah kepala Yohanes Pembaptis di atas talam sebagai hadiah yang dijanjikan Herodes. Peristiwa ini begitu mencekam pikiran Herodes maka ketika ia mendengar berita tentang Tuhan Yesus, pikiran Herodes langsung tertuju pada Yohanes Pembaptis.
Jadi, jelaslah Matius 14:1-12 bukan sekedar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis tetapi Firman Tuhan membukakan tentang reaksi Herodes ketika ia mendengar berita tentang Tuhan Yesus. Disini kita melihat pertempuran dari dua kekuatan besar, yakni kekuatan duniawi dan kekuatan kuasa Kristus. Ada beberapa aspek yang perlu kita perhatikan, yakni:
1. Kuasa kebajikan diatas kuasa kefasikan
Adalah sifat manusia berdosa yang marah ketika ditegur dosanya. Herodes marah karena teguran keras dari Yohanes Pembaptis akan dosa-dosanya sebab ia merasa dirinya adalah raja yang berkuasa dan siapakah Yohanes Pembaptis sehingga berani menegurnya. Herodes pikir dengan kematian Yohanes Pembaptis maka ia akan aman. Ternyata, Herodes salah, kematian Yohanes Pembaptis tidak menghentikan berita kebenaran. Berita yang sama: “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat“ kembali terdengar Herodes dari mulut Tuhan Yesus. Tuhan Yesus dengan keras menegur manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Berita kebenaran ini menggetarkan hati Herodes seorang yang memiliki segala kekuatan kuasa dunia. Manusia lupa bahwa kuasa yang ia miliki malah membuat manusia makin terjerat ke dalam dosa dan berakibat pada kematian kekal. Manusia pikir kalau ia mempunyai kuasa besar maka ia akan mempunyai pengaruh di dunia. Tidak! Ada kuasa lain yang lebih besar, yaitu kuasa kebenaran sejati.
Sebesar-besarnya orang memiliki kuasa, sekaya-kayanya orang, ia akan tetap gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran yang dibawa oleh Yesus Kristus dan Yohanes Pembaptis. Kristus tidak mempunyai kekuasaan ataupun kekuatan seperti raja Herodes, Ia tidak mempunyai istana, Ia tidak pernah duduk di singgasana, dan Ia tidak memakai jubah indah atau mahkota layaknya seorang raja. Tidak! Sekali-kalinya jubah ungu yang pernah Ia kenakan ketika Ia oleh Herodes sebagai penghinaan dan mahkota yang Ia kenakan bukanlah mahkota yang indah tetapi mahkota duri. Namun ada satu kekuatan yang Kristus memiliki yang dapat menggetarkan raja Herodes yang besar, yakni Kristus mempunyai kekuasan kebenaran. Kristus adalah Raja sejati, Dia adalah Raja di atas segala raja. What is the true power? Sekuat-kuatnya manusia, sekaya-kayanya manusia dan kuasa sebesar apapun yang dimiliki manusia, tidak dapat membuatnya lepas dari jerat dosa.
Hari ini, dunia dengan segala cara berusaha membuang berita kebenaran. Sadarkah kita bahwa semakin kita melawan kebenaran justru itu menjadikan makin berdosa. Hidup di kota metropolis dimana globalisasi menjadikan manusia egois dan humanis itu menjadi salah satu penyebab menjadikan manusia tidak peka akan dosa, manusia semakin terjerat ke dalam dosa. Berbeda halnya hidup di kota kecil dimana kritik sosial dan tekanan dari masyarakat turut andil menjaga manusia tidak berbuat dosa, manusia lebih takut untuk melakukan perbuatan yang melanggar asusila maupun hukum.
Ironisnya, hari ini gereja yang seharusnya menegur dosa dan memberitakan kebenaran, justru menjadi takut. Tuhan memanggil kita untuk dua hal, yakni: 1) menyadarkan kita betapa dahsyat kekuatan kuasa kebenaran dibanding dengan kuasa dunia. Setiap orang berdosa pasti akan gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran dan ditegur dosanya. Berita seperti inilah yang dibutuhkan oleh dunia berdosa. Satu-satunya kekuatan besar yang dapat kita miliki adalah ketika orang kembali dan hidup dalam kebenaran. Jelaslah, perikop ini bukan sekedar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis tetapi perikop ini membukakan pada kita bagaimana Herodes yang gemetar ketika ia mendengar berita kebenaran yang dibawa oleh Kristus. Sehebat apapun manusia, dia akan gemetar ketika kebenaran itu sampai ke hadapannya. The true power is the power of truth; 2) Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk memberitakan kebenaran dan menyadarkan orang akan dosa dan penghakiman. Orang Kristen adalah wakil Kristus di tengah dunia berdosa. Ingat, Tuhan akan marah kalau kita tidak memberitakan berita kebenaran. Berita Injil telah diselewengkan sedemikian rupa, yakni hidup berkelimpahan, sehat, dan kaya. Tidak! Berita Injil sejati adalah menegur orang akan dosa dan membawa manusia kembali pada kebenaran. Adalah anugerah kalau orang sadar akan dosa dan orang mau bertobat dan mau kembali pada kebenaran. Daud ketika ditegur dosanya, ia langsung gemetar, menangis dan bertobat – Tuhan pun mengampuni dosanya. Berbeda dengan Saul, ketika ditegur dosanya, ia tidak mau kembali pada Firman sebaliknya buruk muka cermin dibelah. Inilah dunia berdosa, orang justru menjadi marah dan melawan ketika ditegur akan dosa. Reaksi ini wajar malahan kalau orang masih bereaksi ketika ditegur dosanya, berarti ia masih ada pengharapan bagi dia untuk bertobat. Sebaliknya, orang yang bersikap dingin ketika mendengar berita kebenaran maka itulah titik kematiannya. Hanya dengan membawa seseorang bertobat maka disana ada keselamatan sejati.
2. Kuasa Sorga diatas kuasa dunia
Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat berkarisma dan berkuasa, ia sangat dihormat oleh orang Yahudi bahkan orang Farisi, ribuan orang bertobat dan meminta diri dibaptis. Namun, Yohanes Pembaptis tidak satu kali pun membuat mujizat namun toh berita kebenaran yang diteriakkan oleh Yohanes Pembaptis mampu menggetarkan Herodes. Dan kini, Herodes berhadapan dengan Kristus yang mempunyai kuasa lebih besar dibanding Yohanes Pembaptis dan kuasa itu membuat raja Herodes yang besar itu takut dan gemetar (ay.2). Seharusnya Herodes sadar akan keberadaan dirinya, who i am? Herodes bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan. Ironisnya, banyak orang Kristen hari ini tidak menyadari kekuatan kuasa Kristus dalam hidup mereka. Dunia terus mencari kuasa seperti Herodes, yakni kuasa yang materialis, kuasa yang humanis, kuasa yang hanya mengejar unsur kedagingan dan kenikmatan dunia semata. Celakanya, dunia menganggap kuasa dunia itu sebagai kuasa terbesar. Tidak! Hendaklah kita belajar dari kuasa Kristus. Herodes mempunyai kuasa kedagingan, kuasa kemiliteran, kuasa kematerian dan kuasa lain yang sifatnya dosa namun ketika ia berhadapan dengan kuasa kebenaran maka semua kuasa yang ia miliki tidaklah berarti.
Kristus membawa kuasa kebenaran – kuasa Kerajaan sorga dan tidak ada kuasa dunia yang dapat melawan kuasa Kristus. Orang Kristen sejati yang hidup benar di dalam Kristus mempunyai kuasa kebenaran jauh lebih besar dari semua kuasa dunia dan kuasa setan. Jelaslah, mengusir setan bukan karunia tetapi mengusir setan merupakan hak setiap orang Kristen. Inilah kuasa terbesar yang Allah sediakan. Kalau kita ada di dalam Kristus, siapakah lawan kita? Jangan takut dengan segala kuasa dunia dan kuasa setan sebab semua semua kuasa itu tidaklah lebih besar dari kuasa Kerajaan Sorga yang dimiliki oleh orang percaya. Kita lebih dari sekedar seorang pemenang karena kita adalah anak Tuhan. Pertanyaannya benarkah kita anak Tuhan sejati? Seorang anak Tuhan sejati tidak menggunakan segala kuasa yang ada untuk egois diri, segala kuasa yang ada bukan untuk berbuat dosa tetapi kuasa itu untuk menyatakan kebenaran Allah dan menyadarkan orang akan dosa. Betapa indah hidup kita kalau kita berjalan dalam pimpinan-Nya. Kalau Tuhan di pihak kita, tidak ada siapapun yang berani melawan kita? Jangan pikir kalau kita dapat melawan Allah dan menang; melawan Tuhan akan berakibat kematian. Ingat, hanya kepada Tuhan sajalah kita harus menyembah, jangan takut pada segala kuasa dunia sebab tidak ada kuasa lain yang lebih besar dari kuasa Kristus. Manusia, iblis dan malaikat harus tunduk pada Kristus Sang Raja. Ingat, kalau bukan Kristus yang menyerahkan diri maka tidak ada kuasa manapun yang dapat menangkap Dia. Jadi, dalam seluruh perjalanan sejarah terbukti apa yang menjadi kehendak kedaulatan Allah tidak dapat diganggu oleh manusia. Dengan segala cara, iblis berusaha menghambat apa yang menjadi kehendak Allah namun semua itu sia-sia. Kekuasaan tertinggi ada di tangan Kristus. Sebaliknya, ketika kita berjalan dengan mengandalkan diri sendiri maka kita akan jatuh dan hancur dalam kebinasaan. Kuasa Kristus itulah yang menggetarkan Herodes – semua kuasa yang dimiliki Herodes bukanlah apa-apa dibanding kuasa Kristus. Inilah kuasa sejati. Hendaklah kita mengevaluasi diri, selama kita hidup, kita tunduk pada kuasa siapakah? Cara Tuhan bekerja memimpin seseorang dengan kuat kuasa-Nya yang dahsyat itu membuat orang berdosa takut dan gemetar. Sangatlah disayangkan, banyak orang Kristen tidak menyadari kuasa ini akibatnya mereka ikut pada kuasa dunia. Sadarlah, kita memiliki kuasa kebenaran, kuasa Kerajaan Sorga yang lebih besar dibanding dengan semua kuasa dunia.
3. Kuasa ketaatan diatas kuasa egoisitas
Herodes pastilah sangat traumatik akibat perbuatannya pada Yohanes Pembaptis. Traumatik ini membuat pola berpikirnya rusak total akibatnya ia melihat Yesus sebagai Yohanes Pembaptis. Dosa membuat seluruh struktur berpikir manusia menjadi rusak total. Dapatlah dikatakan orang dunia yang katanya pandai tetapi sesungguhnya ia bodoh. Knowledge is the interpretation to reality not reality itself. Yang disebut sebagai pengetahuan adalah cara melihat suatu realita, kalau kita gagal melihat realita yang sesungguhnya berarti kita telah gagal melihat realita yang sesungguhnya. Hal inilah yang terjadi dalam diri Herodes, ia tidak dapat melihat realita Yesus, ia melihat Yesus sebagai Yohanes Pembaptis karena pikirannya telah terpola tentang Yohanes Pembaptis. Mind set yang rusak itu seperti orang yang memakai kacamata hijau maka semua yang ia lihat akan berwarna hijau padahal realitanya tidaklah demikian. Francis Schaeffer menegaskan I do what I think and I think what I believe, apa yang kita lakukan adalah hasil dari apa yang kita pikir dan apa yang kita pikir adalah hasil dari kepercayaan kita. Jelaslah, kalau kepercayaan kita salah maka semua yang kita pikir pasti salah sebaliknya kalau kepercayaan kita benar maka seluruh yang kita pikir pasti benar. Dapatlah disimpulkan, letak permasalahan bukan pada pengetahuan tetapi bagaimana orang melihat dan memahami pengetahuan. Ini menjadi rentetan yang saling berkait dan tidak dapat dilepaskan.
Celakalah hidup kita kalau kita masuk dalam cengkeraman iblis, sulit bagi kita untuk lepas dari cengkeramannya. Perhatikan, semakin kita takut pada perbuatan jahat, takut dengan segala cara setan maka kita masuk dalam situasi traumatik. Realita bukanlah sekedar urusan psikologi. Tidak! Traumatik ini sudah masuk dalam wilayah theologi, yakni iman – apa yang menjadi kepercayaan kita. Satu-satunya cara adalah merombak total seluruh pemikiran kita dan kembali pada kebenaran sejati. Semakin hari dunia tidak menjadi semakin baik, dunia makin menegakkan kebenaran pribadi dan yang disebut sebagai hak asasi. Ketika manusia menegakkan kebenaran relatif, masing-masing pribadi merasa diri benar dan celakanya, setiap orang ingin menegakkan kebenaran yang ia anggap benar maka dapatlah dibayangkan betapa kacau dunia ini. Dunia harus berhenti menegakkan hak asasi dan mulai mengejar kewajiban asasi. Kalau setiap orang ingin menegakkan hak asasinya pasti ia akan melanggar hak asasi orang lain dan tentang hal ini, Firman Tuhan telah menegaskan bahwa hak itu hanya milik Tuhan semata. Tugas kita adalah menjalankan kewajiban; setiap orang yang menjalankan kewajibannya masing-masing maka hak itu pasti terpenuhi dengan sendirinya. Bayangkan, kalau seorang presiden menuntut haknya sebagai presiden dan lembaga pemerintahan yang lain juga menuntut haknya dan tak ketinggalan rakyat pun menuntut haknya maka kacaulah negara itu. Suatu negara akan makmur dan tenteram kalau setiap orang menjalankan kewajibannya masing-masing. Namun sangatlah disayangkan, dunia tidak memahami konsep ini, setiap orang ribut memperjuang-kan hak akibatnya kekacauanlah yang terjadi dan orang menjadi traumatik dan paranoid; orang akan selalu menaruh curiga pada apapun dan siapapun.
Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa orang lebih takut pada kuasa dunia dan tidak takut pada kuasa kebenaran yang mempunyai kekuatan lebih besar dari dunia? Janganlah pikiran kita dicengkeram oleh dunia, kita akan dibayangi oleh rasa takut ketika berhadapan dunia. Ingat, kita adalah anak Tuhan dan anak Tuhan sejati mempunyai kuasa jauh lebih besar dari kuasa dunia. Perikop ini telah membukakan pada kita kontrasnya antara kuasa Kristus dan kuasa dunia. Berbahagialah kita yang berjalan dalam pimpinan Tuhan yang memberikan kuasa Kerajaan Sorga itu pada setiap anak-Nya yang taat kepada-Nya. Maukah kita berjalan bersama dengan Dia? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

MENGHAYATI PARADOKS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN (Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D.-Cand.)

MENGHAYATI PARADOKS DALAM KEHIDUPAN KRISTEN

oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.)



Seperti sudah kita bahas dalam tulisan-tulisan sebelumnya, iman Kristen akrab dengan pengenalan kebenaran yang sifatnya paradoxical. Pengertian kita akan dua natur Kristus misalnya adalah salah satu pengertian yang paradoksikal yang kita terima dari Firman Tuhan sendiri. Paradoks: kekal – dapat mati, tidak terbatas – terbatas, Mahatahu – tidak Mahatahu, dlsb. Kita harus menerima dengan rendah hati bahwa ada tegangan antitesis yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh rasio manusia. Namun ini bukan berarti kepercayaan iman Kristen adalah sesuatu yang irrasional. Justru di sini kita mengakui dengan rendah hati keterbatasan rasio kita yang tidak dapat menampung pengenalan akan Allah sebagaimana Allah mengenal diri-Nya sendiri.

Kebenaran paradoksikal yang lain, seperti yang juga sedang kita bahas adalah paradoks antara God’s decretive/sovereign will dan God’s moral/preceptive will. Kita sudah mengambil contoh bahwa kekerasan hati Firaun misalnya, sekaligus ditetapkan (baca: dikehendaki dari perspektif kehendak kedaulatan Allah) dan tidak dikehendaki (baca: melanggar kehendak umum/moral Allah). Kedua hal ini sulit untuk kita pahami sepenuhnya karena sepertinya ada dua macam kehendak Allah yang saling bertentangan di sini: di satu sisi Allah yang menetapkan dan menghendaki itu terjadi, di sisi yang lain Allah tidak menghendakinya. Setiap theologi yang baik dan jujur harus berusaha untuk menyelami serta menjelaskan misteri paradoksikal ini.

Ada beberapa alternatif tentunya:
Pertama, kita menghilangkan/meniadakan kehendak ketetapan Allah dan hanya membicarakan kehendak moral Allah saja. Diterapkan dalam ketetapan Allah atas penyelamatan manusia misalnya theologi seperti ini akan mencoba untuk menghindari semua pernyataan Alkitab yang mengajarkan tentang Allah yang menetapkan. Seperti kita sudah pernah bahas, kecenderungan seperti agaknya berbau liberal karena tidak bersedia menerima keseluruhan pengajaran yang dinyatakan dalam Alkitab, sebaliknya hanya mau menerima apa yang dapat dijelaskan oleh rasio pribadi saja. Alternativ kedua, pada dasarnya dengan prinsip yang sama, menghilangkan dan tidak mempedulikan bagian Alkitab yang membicarakan kehendak moral/umum Allah dan hanya memperhatikan kehendak kedaulatan Allah. Variasi yang kedua ini agaknya jarang kita jumpai. Variasi yang ketiga dan keempat, sebenarnya memiliki kemiripan dengan variasi pertama dan kedua, namun lebih halus sifatnya, yaitu: berusaha untuk mengharmoniskan tegangan tersebut dengan melakukan subordinasi kehendak Allah. Kemungkinannya adalah: meletakkan kehendak kedaulatan Allah di bawah kehendak moral Allah (variasi ketiga), atau meletakkan kehendak moral Allah di bawah kehendak kedaulatan Allah (variasi keempat).

Aplikasi variasi 3: semua pengertian tentang kehendak kedaulatan Allah dibaca di bawah terang kehendak moral Allah, yaitu misalnya Allah memilih orang untuk diselamatkan (doktrin predestinasi), dapat dijelaskan dengan mengatakan bahwa Allah memilih karena Dia telah mengetahui akhirnya siapa yang mau bertobat siapa yang tidak. Berdasarkan pra-pengetahuan Allah ini, Ia menetapkan pemilihan-Nya atas siapa yang diselamatkan. Jalan ini misalnya diambil oleh theologi Arminianism. Kesulitan theologi seperti ini adalah: kita sedang memisahkan pra-pengetahuan Allah (God's foreknowledge) dengan penetapan Allah (God's foreordain). Lagipula theologi seperti ini berbenturan langsung dengan ayat Alkitab yang menyatakan: “bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh. 15:16). Pengertian pada variasi 3 ini berbenturan dengan penyataan Yesus Kristus karena jika Allah memilih manusia karena Dia mengetahui bahwa manusia tersebut pada akhirnya percaya kepada-Nya, maka ini berarti bukan Allah yang terlebih dahulu memilih manusia, melainkan manusia yang terlebih dahulu memilih Allah, sedangkan pilihan Allah adalah konsekuensi logis dari pilihan manusia. Melihat ketetapan Allah sebagai konsekuensi logis pilihan manusia adalah sebuah doktrin yang buruk karena tidak menghargai Allah sebagai Allah.

Aplikasi variasi 4: semua pengertian tentang kehendak moral/umum Allah dibaca di bawah terang kehendak kedaulatan Allah. Contohnya seperti yang dikembangkan dalam pengertian anthropopathis seperti yang pernah kita jelaskan di posting yang lalu. Setiap pengertian “Allah menyesal” ditafsir di bawah terang ketidak-berubahan Allah (yang juga diajarkan oleh Alkitab). Atau dengan mengartikan semua kata “semua” dalam panggilan keselamatan Allah sebagai “semua orang pilihan.” Dalam pemahaman subordinasi ini, sama seperti pada variasi 3, selalu ada akibat penekanan pada yang satu dengan mengorbankan yang lain. Pada variasi 4 selalu ada kecenderungan untuk kurang peka terhadap God's preceptive will. Penekanan akan God's sovereign will at the expense of God's preceptive will ini memiliki kecenderungan fatalisme atau Hyper-Calvinisme, kalau pun bukan secara teori (pada dasarnya orang tidak suka menyebut dirinya Hyper, apalagi menyebut diri fatalis), maka secara praktis; kalau bukan consciously, subconsciously. Persoalan dari theologi ‘Reformed’ yang seperti ini adalah karena penekanannya yang tidak seimbang pada kehendak kedaulatan Allah, akan mengakibatkan suatu spiritualitas yang tidak peka terhadap kekurangan dan kelemahan.

Konsekuensi seperti ini sangat logis dan mudah untuk dijelaskan: ketika saya tidak memberikan tempat yang selayaknya untuk merenungkan God’s preceptive will, maka konsep penetapan Allah yang berkembang dalam pikiran saya lambat-laun akan berubah menjadi – pinjam istilah Van Tillian – determinasi impersonal. Doktrin lambat laun dimengerti sebagai rumusan-rumusan dan bukannya suatu ekspresi iman atau testimonia pergumulan dalam relasi pribadi dengan Allah (yang juga pribadi). Ketika kita membicarakan personalitas Allah, tidak mungkin tidak (atau kurang) membicarakan God's preceptive will. Konsep determinasi belaka tidak membuat theologi Reformed unik, karena determinasi juga banyak diterima dalam kepercayaan yang lain, juga dalam filsafat Yunani kuno. Keunikan theologi Reformed justru karena memberikan warna personal yang sangat kuat dalam doktrin penetapan ini. Dan membicarakan personalitas Allah, sekali lagi, tidak bisa tanpa menekankan God’s preceptive will.

Kita masih berada di aplikasi variasi 4. Tidak mengherankan jika ada orang menyebut diri ‘Reformed’ tapi doanya suam-suam (doa toh tidak mengubah Tuhan), malas menginjili (Tuhan sudah menetapkan semuanya dan rencana Tuhan tidak ada yang gagal), kurang ada pergumulan dengan pribadi Allah (tidak ada waktu, sibuk menggumulkan rumusan logis doktrin-doktrin ‘Reformed’), menjadikan doktrin hanya sebatas pengetahuan yang tidak merubah hidup (mengapa mesti merubah hidup jika saya melihat doktrin atau pengetahuan akan Allah sebagai obyek seperti diajarkan ‘nabi’ Descartes), sangat kurang dalam kerendahan hati (saya adalah orang pilihan [mengenai kamu saya agaknya kurang jelas]), dan ...... (kita masih bisa terus memperpanjang kelemahan-kelemahan yang ada yang dapat ditimbulkan dari kecenderungan determinasi impersonal ini). Gambaran-gambaran di atas agaknya sangat karikatural, tapi saya percaya kita tidak kebal terhadap kelemahan-kelemahan tsb. A good Reformed theology always encourages self-criticism; otherwise it is unfaithful to the semper reformanda spirit. Pada intinya, theologi pada variasi 4 ini sangat rentan terhadap kondisi status quo dengan mengatas-namakan (again, consciously or subconsciously) “kehendak kedaulatan Allah.” Status quo di sini bisa berupa ketidakpekaan terhadap kelemahan Gereja/komunitas sendiri, ketidakpekaan terhadap ketidak-sempurnaan pribadi, ketidakpekaan terhadap perlunya pertumbuhan yang terus menerus, merasa diri cukup (dalam pengertian yang negatif [self-satisfied]), tidak perlu merasa diperlengkapi oleh orang lain, tidak merasa perlu belajar dari orang lain, hanya mau mengajar orang lain dsb. Dampak theologi seperti ini sebenarnya cukup menakutkan bagi spiritualitas kita, dan bagi saya pribadi, kelemahan ‘kecil’ doktrinal seperti ini sebenarnya jauh lebih berbahaya daripada doktrin yang sangat kacau dari ajaran bidat. Karena kekacauan pada ajaran bidat langsung kita sadari, kelemahan ‘kecil’ seperti ini sangat gampang menemukan tempat dalam hati dan pikiran kita. Di sini kita melihat jalan subordinasi merupakan pilihan yang tidak bijaksana – sekalipun tampak lebih logis dan lebih mudah dijelaskan – namun sebenarnya tidak memuat keseluruhan kekayaan Alkitab, yang sudah jelas tidak dapat dipaksakan ke dalam logika rasionalisme yang sangat terbatas kemampuannya.

Lalu bagaimana kita menjelaskan sifat paradoks dari God's sovereign and preceptive will ini jika bukan dengan jalan subordinasi? Kembali kepada doktrin Kristus tentang dua natur, di situ kita tidak melihat paradoks ini di-subordinasi. Tidak. Kita melihat kedua hal ini secara paradoks tanpa perlu melakukan subordinasi. Apakah ada tension (tegangan) di sini? Harus kita akui: ya, ada.
- Apakah tension ini kontradiksi?
+ Tidak.

- Lalu apa?
+ Paradoks.

- Ah! Anda hanya main-main istilah saja.
+ Tidak, saya tidak sedang main-main istilah.

- Kalau begitu harus ada penjelasan, karena kita tidak mungkin kita berhenti dalam pemahaman ini bukan?
+ Ya, saya sependapat dengan apa yang Anda katakan. Jika kita kembali kepada doktrin Kristus, di situ kita membaca rumusan Chalcedon bahwa dua natur itu “without confusion, without change, without division, without separation.” Dan lagi: “The distinction of the natures is in no way taken away by their union, but rather the distinctive properties of each nature are preserved. [Both natures] unite into one person and one hypostasis. They are not separated or divided into two persons but [they form] one and the same Son, Only-begotten, God, Word, Lord Jesus Christ, just as the prophets of old [have spoken] concerning him and as the Lord Jesus Christ himself has taught us and as the creed of the fathers has delivered to us.”
Perhatikan bahwa sekalipun keduanya bersatu dalam Pribadi Kristus namun tidak bercampur. Keduanya berbeda, namun bukan keterpisahan, dengan kata lain: bukan kontradiksi.

- Tetapi dalam theologi Lutheran diajarkan communicatio idiomatum, yaitu ada komunikasi di antara kedua properties/natur Kristus itu.
+ Anda benar, namun keunikan theologi Reformed justru adalah mempertahankan ketidakbercampuran kedua natur tersebut, sebagaimana dinyatakan dalam Chalcedon.

- Apakah itu tidak berarti keterpisahan?
+ Sama sekali tidak, itu justru mempertahankan keunikan masing-masing property/natur yang tidak boleh dicampur satu terhadap yang lain sehingga “the distinctive properties of each nature are preserved.” Prinsip ini dapat kita terapkan secara analog dalam pengertian God's sovereign and preceptive will dan bukan tanpa alasan. Kita dapat melihat kehendak Allah sebagai kehendak Allah yang dinyatakan “en Christo.” Atau, jika Anda tidak menyukai pendekatan ini, ada pendekatan yang lain, yaitu: kedekatan antara sifat paradoks God's sovereign and perceptive will dengan paradoks nature ilahi dan nature manusia Kristus yang dimengerti sebagai paradoks perspektif kekekalan dan perspektif kesementaraan.

- Hmm, saya bisa melihat kaitan keduanya, tapi Anda masih belum menjelaskan bagaimana kita harus MENGHAYATI PARADOKS TERSEBUT!
+ Sabar, orang sabar dikasihi Tuhan. Dan, kalau boleh jangan sering-sering pakai huruf capital seperti di atas itu, meskipun mata saya minus, tapi saya bisa membaca cukup jelas tulisan dng huruf kecil, dan Anda pakai tanda seru lagi. Tolong consider jantung saya .....

- Satu lagi, saya agaknya kurang puas dengan pendekatan historical theologi saja. Saya perlu dukungan dari Alkitab, karena saya pemegang prinsip SOLA SCRIPTURA! Maaf .... sola scriptura, maksud saya.
+ Jika kita merenungkan Alkitab, di situ kita melihat bagaimana kedua natur Kristus itu bukan dijelaskan dalam subordinasi, melainkan diperlihatkan dalam waktu yang bergantian. Ketika Dia lapar, kita menyaksikan natur manusia-Nya, sementara natur ilahi-Nya seolah terselubung, tidak nampak pada waktu itu. Sementara pada saat yang lain, ketika Dia mendemonstrasikan kuasa mujizat-Nya, yang mencapai puncak pada peristiwa kebangkitan- Nya, kita menyaksikan dengan jelas natur keilahian-Nya, natur manusia seolah berada di belakang. Alkitab menyatakan kedua perspektif ini secara bergantian dalam satu Pribadi Kristus. Hal yang sama dapat kita pelajari juga berkenaan dengan kehendak kedaulatan Allah dan kehendak moral Allah. Alkitab menyatakannya dengan bergantian. Ada waktu untuk perspektif kehendak kedaulatan Allah, ada waktu untuk kehendak moral Allah.

- Mengana harus demikian? Mengapa tidak sekaligus saja? Dalam waktu yang sama?
+ Karena kita masih berada dalam kesementaraan dalam batasan ruang dan waktu. Jika Anda mempunyai satu coin dengan dua sisi, Anda tidak dapat melihat kedua sisi itu secara sekaligus pada waktu yang sama dan tempat yang sama. Anda harus berpindah posisi untuk melihat sisi yang satunya, dan ketika Anda berpindah posisi, Anda membutuhkan waktu yang lain. Inilah keterbatasan kita sebagai manusia yang harus kita terima. Kecuali ...

- Kecuali apa?
+ Kecuali Anda mau menjadi seperti Allah (Kej. 3:5) yang dapat melihat semua perspektif secara sekaligus, tanpa membutuhkan waktu dan tanpa perlu berpindah tempat.

- Hmm ... bad recommendation! Jadi saya harus menerima keterbatasan itu, yang hanya bisa melihat satu perspektif saja pada suatu waktu tertentu?
+ Jika Anda masih mengakui keterciptaan Anda, demikianlah halnya.

- Lalu bagaimana dengan perspektif yang lain?
+ Allah akan menyediakan saat/waktu yang lain. Itulah keindahan perjalanan kehidupan kita mengikut Tuhan, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa. Dapatkah Anda menangis sekaligus tertawa?

- Hmmm .... itu gendeng bin edan namanya!
+ Karena itu paradoks tidak dapat ditampung dalam satu waktu sekaligus. Perhatikan bahwa Sang Pengkhotbah menyelesaikan paradoxical tension itu pada waktunya masing-masing. Dan kalau kita mengaitkannya dengan ayat ke-11 di situ dikatakan bahwa “Ia (Allah) membuat segala sesuatu indah pada waktunya (waktu-Nya).” Di dalam bahasa aslinya kita dapat menerjemahkan dengan pada “waktunya” ataupun “waktu-Nya.” Kedua macam terjemahan itu saling melengkapi sebenarnya. Indah pada “waktunya” berarti setiap waktu itu, entah waktu dukacita, entah waktu sukacita, entah waktu merobek atau waktu menjahit, setiap waktu itu indah pada “waktunya” masing-masing, dan ini karena waktu itu adalah “waktu-Nya” (God's appointed time). Setiap waktu kita menyelami perspektif tunggal, sekalipun hanya satu perspektif adalah waktu yang indah jika itu dikaitkan dengan kairos yang dari Allah. Kita tidak perlu serakah dengan keseluruhan perspektif dalam suatu waktu sekaligus, karena itu hanya membuktikan bahwa kita tidak peka dengan kairos yang dikehendaki Allah.
Ada waktu, ada saat saya menyoroti kehidupan saya dari perspektif kedaulatan Allah: di situ saya terhibur karena tahu dengan pasti Allah memelihara hidup saya dengan setia, bahkan di dalam kegagalan pun saya tidak perlu berputus asa dan tidak lagi berpengharapan karena segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi saya. Saya tidak perlu panik jika saya tidak segera menyaksikan pertumbuhan dalam diri orang lain, karena Allah yang mengatur semuanya itu, saya tidak perlu berusaha menolong Allah karena saya tahu rencana Allah tidak mungkin ada yang gagal.
Ada waktu saya menyoroti kehidupan saya dari perspektif kehendak moral Allah: saya harus bergumul untuk mencari wajah Allah, bergumul tidak melepaskan Allah kecuali Dia memberkati saya, menegur diri dan menyesal ketika kegagalan dan kejatuhan rohani menimpa hidup saya, ketakutan jika Allah tidak lagi hadir dalam kehadiran-Nya yang memberkati, bergumul untuk mendapatkan kepenuhan Roh Kudus agar kesaksian hidup kita berkuasa dan bukan digerakkan oleh kedagingan.

- Apakah ini tidak berbenturan dengan kehendak kedaulatan Allah?
+ Sama sekali tidak, justru menyatakan kelincahan bergerak dalam perspektif yang berbeda-beda dan terutama: kelincahan peka akan saat-Nya. Di dalam hal ini kita harus puas diri jika kita menyampaikan message kepada orang lain hanya satu sisi saja, asalkan itu adalah saat-Nya. Justru keliru jika di dalam khotbah misalnya, kita selalu mengatakan: “di satu sisi .... di sisi yang lain ...” Dialektika paradoks dalam khotbah adalah theori homiletik yang buruk, karena pada dasarnya tidak mempercayai kairos Allah. Kita harus puas dengan pemberitaan yang one-sided seperti ini, asalkan, ada saat yang lain untuk menyatakan sisi yang satunya. Ini juga bedanya penyampaian message seperti terjadi dalam khotbah dengan pengajaran dalam kelas. Dalam kelas kita boleh mengajarkan sebisa mungkin kekayaan perspektif, namun dalam renungan tidak, kita harus puas dengan message yang dipercayakan Tuhan pada saat itu.

- Lalu bagaimana jika orang menuduh saya one-sided dan menganggap saya kurang kompleks pikirannya?
+ Tidak ada panggilan bagi kita untuk membuktikan bahwa pikiran kita kompleks. Kecenderungan seperti itu jangan-jangan timbul dari dosa kecongkakan.

- Bagaimana jika orang langsung menanggapi message yang saya sampaikan dengan menyajikan sisi paradoks yang lain? Ini akan mempermalukan saya bukan?
+ Kita juga tidak dipanggil untuk mencari kehormatan bagi diri sendiri, melainkan untuk memiliki hati yang luas yang dapat menerima kelimpahan pekerjaan Tuhan yg juga dinyatakan melalui diri orang lain yang dipakai-Nya, asalkan: orang tersebut juga mengetahui saat-Nya. Kita perlu dengan rendah hati belajar bahwa saya tidak memainkan seluruh orchestra seorang diri, melainkan bersama dengan anggota tubuh Kristus yang lain kita menyaksikan keindahan simfoni kemuliaan Allah dalam dunia ini. God is our great Conductor, we are His musicians.




Sumber:
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE




Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan study musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate studi di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory). Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 and pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed. Setelah lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M.C.S.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat MRII Berlin, MRII Hamburg, PRII Munich, dan Persekutuan Reformed Stockholm. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph.D.–Cand.) di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak, Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.

09 April 2009

Refleksi Jumat Agung 2009: PENEBUSAN KRISTUS DAN RENCANA ALLAH (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Jumat Agung 2009

PENEBUSAN KRISTUS DAN RENCANA ALLAH

oleh: Denny Teguh Sutandio




Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. … Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
(Rm. 5:6, 8)




Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Sebagai peta dan teladan-Nya, manusia seharusnya menurunkan sifat-sifat Allah yang terkomunikasikan, yaitu: bijak, adil, benar, dll. Namun, akibat ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah dan perintah-Nya, manusia jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan manusia tidak mampu melakukan apa yang benar dan baik di mata-Nya (Rm. 3:10-11). Dengan kata lain, dosa diibaratkan seperti orang yang mati tenggelam di air laut. Seorang yang mati tenggelam tidak mungkin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Lalu, bagaimana supaya orang yang mati itu bisa selamat? Bisakah ia berupaya sendiri menyelamatkan diri? TIDAK MUNGKIN! Itulah yang sebenarnya terjadi pada diri manusia. Mereka sudah mati rohani yang berarti hubungan mereka yang dahulu erat dengan Allah, namun sekarang terpisah dari Allah. Mereka membenci apa yang disukai Allah dan menyukai apa yang dibenci Allah. Kematian rohani ini tidak bisa diselesaikan dengan cara manusia itu sendiri. Lalu, bagaimana cara menyelesaikannya? Tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara menyelesaikan dosa manusia adalah cara Allah. Cara Allah bukanlah (bahkan melampaui) cara manusia! Cara Allah adalah dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang adalah 100% Allah dan 100% manusia untuk menebus dosa umat-Nya. Kemudian, apa uniknya penebusan Kristus? Memperingati hari Jumat Agung ini, kita akan merenungkan sebuah poin penting penebusan dan kematian Kristus bagi umat-Nya yaitu bahwa penebusan Kristus ini direncanakan oleh Allah.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati bagi kita (Rm. 5:6, 8). Khususnya di ayat 8, di dalam teks Yunani, pernyataan “ketika kita masih berdosa” menggunakan bentuk present (sekarang). Berarti penebusan Kristus sudah direncanakan Allah bahkan pada saat manusia masih/sedang berdosa. Lalu, apa pentingnya kita mengerti hal ini? Kita mengerti hal ini agar kita melihat seluruh proses penebusan Kristus adalah proses yang direncanakan Allah, TIDAK ada satu inci pun jasa manusia yang diperhitungkan. Hal ini penting, karena saya pernah mendengar ada orang yang non-Kristen mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya berterima kasih kepada Yudas Iskariot yang mengkhianati Kristus, sehingga Ia bisa disalibkan dan mati bagi dosa-dosa manusia. Jika dilihat dari perspektif manusia berdosa, hal ini seolah-olah “benar.” Tetapi dilihat dari perspektif kedaulatan Allah, hal ini sangat tidak benar. Mengapa? Karena seluruh tindakan Allah TIDAK perlu dibantu sedikit pun oleh jasa manusia berdosa! Pertanyaan selanjutnya muncul, bukankah di dalam Perjanjian Lama ada anggapan bahwa Allah memakai (mengizinkan) bangsa-bangsa kafir untuk menghukum Israel? Hal itu benar, tetapi peristiwa itu terjadi karena inisiatif Allah, bukan manusia! Kasus ini jelas berbeda dengan kasus Yudas Iskariot yang dilihat oleh perspektif manusia berdosa sebagai “pahlawan” yang berinisiatif sendiri “membantu” rencana Allah.

Kedua, jika Yudas Iskariot yang difokuskan menjadi “pahlawan” yang membantu Kristus disalibkan, maka anggapan ini sangat konyol. Mengapa? Karena orang yang mengatakan hal ini TIDAK melihat esensi/inti di balik fenomena yang terjadi. Jika orang ini mengatakan tanpa Yudas Iskariot, Kristus tidak mungkin disalib, saya mengajukan dua keberatan utama. Keberatan pertama berkaitan dengan pribadi Yudas Iskariot. Pertama, jika tidak ada Kristus yang dijual Yudas, siapa yang bisa Yudas jual? Kedua, jika Kristus tidak memilih Yudas Iskariot sebagai salah satu murid-Nya, bagaimana Yudas bisa tahu tentang Kristus, kebiasaan, dan seluruh aktivitas-Nya? Ketiga, lebih tajam lagi, jika Allah tidak menciptakan dan menempatkan Yudas Iskariot di zaman Kristus, bisakah ia menjual Kristus? Keberatan kedua berkaitan dengan rencana Allah. Apakah tanpa Yudas Iskariot, Allah tidak bisa memakai pribadi lain untuk menggenapkan rencana-Nya? Siapakah seorang Yudas Iskariot, sehingga seolah-olah Allah harus “mengandalkannya” untuk mengkhianati dengan menjual-Nya?


Dari konsep di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa melihat jasa manusia siapa pun di dalam mengerti rencana Allah (khususnya rencana Allah di dalam keselamatan umat-Nya) tidaklah sah. Lalu, bagaimana kita mengerti penebusan Kristus yang berkaitan dengan rencana Allah? Sebelumnya, kita perlu memahami keagungan rencana Allah jika dibandingkan rencana (dan konsep) manusia yang terbatas dan berdosa. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat. Meminjam istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong, Allah yang berdaulat adalah Allah yang berada pada diri-Nya sendiri (self-existence of God), kekal (self-eternal of God), memelihara segala sesuatu, dll. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia merencanakan segala sesuatu dan percayalah:
1. Rencana-Nya adalah Rencana yang Teragung yang Jauh Melampaui Rencana dan Konsep dari Manusia Berdosa
Karena Dia adalah Allah yang Berdaulat, Mahaagung, Mahabijaksana, Mahakuasa, Mahakudus, Mahaadil, dan Mahakasih, maka tidak ada satu rencana-Nya yang bodoh, meskipun manusia dunia sering menganggapnya sebagai kebodohan (bdk. 1Kor. 1:18-31). Sebaliknya, manusia dunia meskipun menganggap diri pintar dan bahkan merasa diri “layak” menjadi “penasehat”-Nya, sebenarnya mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah. Mari kita mencoba mengerti dan merenungkan rencana-Nya yang teragung ini di dalam kerangka penebusan Kristus yang menyelamatkan. Semua manusia tanpa kecuali pada hakekatnya rusak total dan mati karena dosa (Rm. 3:23). Lalu, jika ada yang mengklaim bahwa manusia tertentu diutus oleh Allah untuk menyelamatkan manusia, tolong tanya, manusia yang diutus tersebut apakah tidak berdosa? TIDAK MUNGKIN! Berarti, konsep ini gagal. Tidak heran, mereka yang menekankan konsep ini mendapatkan ketidakpastian hidup dan keselamatan. Tidak cukup sampai di sini, ada konsep lain yang pernah dikatakan oleh seorang non-Kristen kepada saya yang hampir mirip dengan konsep pertama, namun dengan sedikit penjelasan yang seolah-olah masuk akal.

Konsep kedua muncul itu saya dengar dari seorang non-Kristen yang mengatakan bahwa dosa adalah pelarian (hati nurani) dari Allah. Manusia bisa diselamatkan ketika mereka menyadari bahwa mereka sudah melarikan diri dari Allah. Bagaimana caranya? Caranya adalah Allah mengutus nabi-Nya untuk menyadarkan itu dan membuat mereka berbalik lagi kepada Allah. Saya bertanya kepada orang itu, apakah nabi itu tidak berdosa? Dia bilang berdosa, namun ia menyadari sendiri dosanya lalu kembali kepada Allah dan menyadarkan orang lain juga. Seluruh konsepnya dari awal sampai akhir berpusat kepada manusia, meskipun disisipi istilah Allah di dalamnya. Ada kejanggalan di dalam konsep ini. Konsep ini di bagian awal agak benar yaitu dosa adalah pelarian dari Allah (bukan sekadar pelarian hati nurani). Sebenarnya jika mau dipertajam, dosa bukan hanya pelarian dari Allah, tetapi sengaja tidak taat kepada (bahkan menolak) Allah dan perintah-Nya. Ketidaktaatan ini mengakibatkan manusia berada di dalam ikatan dosa. Dengan kata lain, dosa benar-benar membelenggu semua manusia tanpa kecuali. Jika kita mengerti arti “belenggu”, berarti kita mengerti bahwa manusia tidak bisa lagi lepas dari dosa. Jika demikian, apa gunanya Allah mengutus seorang nabi yang juga seorang manusia berdosa (manusia yang juga dibelenggu dosa) untuk menyelamatkan manusia dengan menyadarkan mereka untuk kembali kepada Allah? Bukankah suatu kekonyolan? Sang nabi sendiri yang dibelenggu dosa tidak mampu sadar diri dan kembali kepada Allah, bagaimana dia bisa menyadarkan manusia lainnya? Di sini letak kekonyolan manusia berdosa dengan konsepnya yang benar-benar tidak bertanggungjawab.

Konsep ketiga muncul dari seorang non-Kristen yang pernah mengatakan kepada saya melalui milis bahwa kalau hanya ingin menyelamatkan manusia, bukankah Allah cukup mengajari manusia untuk berlaku sesuai yang dikehendaki-Nya, lalu diselamatkan dan masuk Sorga? Konsep ini sebenarnya sedang mengagungkan kehebatan, kepandaian, kebijaksanaan manusia di dalam segala hal bahkan di dalam memahami kehendak-Nya. Dan yang lebih parah lagi, orang yang mengajar konsep ini hendak menjadi penasehat-Nya. Padahal mereka tidak pernah menyadari bahwa keberdosaan manusia mengakibatkan seluruh aspek kehidupan manusia rusak total dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya yaitu untuk memuliakan Allah. Inti dosa bukan pada masalah pikiran, tetapi kepada hati yang merupakan inti dari pikiran. Percuma saja, manusia diajari kehendak Allah, kalau hatinya tidak dimurnikan dan dilahirbarukan oleh Roh Kudus.

Dari ketiga konsep ini, kita mendapati kelemahan-kelemahan dari konsep manusia berdosa. Dan hal ini membawa kita kepada konsep teragung yaitu cara yang Allah pergunakan dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang adalah 100% Allah dan 100% manusia. Mengapa harus 100% Allah dan 100% manusia? Perhatikan cara Allah yang teragung ini. Manusia yang dibelenggu dosa tidak mampu menyelamatkan dirinya, oleh karena itu, hanya Allah saja yang mampu dan layak menyelamatkan manusia berdosa. Berarti, tidak bisa dipungkiri bahwa Pribadi Allah sajalah yang menyelamatkan manusia berdosa. Namun, kita perlu menyadari bahwa upah dosa adalah maut/kematian (Rm. 6:23). Berarti dosa manusia berakibat kematian (jasmani dan rohani). Dengan kata lain, Allah yang menyelamatkan manusia berdosa harus menyelamatkan manusia secara inti (inti dosa: ketidaktaatan) dan akibatnya (kematian). Namun, faktanya, Allah tidak bisa mati. Otomatis, jalan satu-satunya adalah Allah yang tidak bisa mati harus menjelma menjadi manusia (tanpa meninggalkan natur/sifat Ilahinya) untuk menebus dosa manusia. Itulah inkarnasi, yaitu Allah menjadi manusia. Apakah konsep ini logis? Jelas, logis, karena Allah adalah Pribadi yang jauh melampaui manusia berdosa karena Ia adalah Mahakuasa dan Berdaulat. Inkarnasi Kristus memecahkan semua persoalan keselamatan bagi umat-Nya yang berdosa. Jika Kristus hanya bernatur Ilahi dan bukan manusia, maka Ia tak mungkin bisa menyelamatkan manusia berdosa, karena Allah tidak mungkin mati. Jika Kristus hanya bernatur manusia dan bukan Ilahi, maka Ia tidak layak menyelamatkan manusia berdosa, karena tidak ada seorang manusia pun yang layak menebus dosa orang lain, karena dia sendiri berdosa! Inilah keagungan terdahsyat dari cara Allah menyelamatkan manusia. Maukah kita hari ini bersyukur atas cara-Nya yang begitu agung ini?


2. Rencana-Nya PASTI Berhasil
Karena Dia adalah Allah yang Berdaulat dan Kekal, maka tidak ada satu rencana Allah pun yang gagal. Ayub menyadari akan hal ini di dalam Ayub 42:2, “"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Ketika Allah merencanakan hendak mengutus Kristus untuk menebus dosa manusia, apa yang Ia telah rencanakan tidak mungkin gagal, sehingga menurut waktu-Nya, Ia mengutus Kristus. Kehadiran Kristus di dalam sejarah membuktikan keterandalan rencana-Nya. Allah yang berencana dan berjanji adalah Allah yang dapat dipercayai! Bukan hanya kehadiran Kristus, penebusan yang Ia lakukan pun membuktikan bahwa rencana-Nya yang berdaulat itu tidak mungkin gagal. Meskipun ada sedikit usaha untuk menggagalkan rencana Allah di dalam keselamatan, di mana Kristus harus mati disalib (seperti apa yang dilakukan oleh Petrus di dalam Mat. 16:21-22 yang berusaha menjauhkan Kristus dari salib), Allah tidak akan pernah mengubah rencana-Nya. Dan Kristus mengerti dengan jelas akan hal ini (Mat. 16:23). Dari sini, kita belajar poin penting yaitu: JANGAN mempermainkan rencana Allah dengan berusaha menggagalkannya, karena itu tidak akan pernah berhasil!




Setelah kita mengerti 2 sifat rencana Allah, maka apa yang harus kita lakukan?
1. Mengagumi dan Bersyukur atas Rencana-Nya
Penebusan Kristus sering kali hanya menjadi sebuah bahan studi theologi. Para theolog dan penafsir Alkitab menguraikan aspek-aspek penebusan Kristus. Hal tersebut tidak salah. Tetapi penebusan Kristus apalagi yang dikaitkan dengan rencana Allah hendaknya bukan hanya dipelajari di dalam theologi, tetapi juga dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Seorang yang terus mengerti dan mengalami penebusan Kristus di dalam rencana Allah mengakibatkan orang tersebut makin lama makin kagum dan bersyukur atas rencana-Nya di dalam penebusan Kristus.

Namun sayangnya beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen zaman sekarang cuek terhadap makna penebusan Kristus. Jumat Agung bagi mereka hanya sekadar hari raya Kristen selain Natal. Tidak ada pesan khusus bagi mereka. Mengapa? Saya menyoroti ada dua alasan inti, yaitu:
Pertama, alasan dari pelayanan gerejawi. Rutinitas gerejawi membuat mereka tidak mengerti pentingnya penebusan Kristus. Bagi gereja tertentu, kebaktian/misa Jumat Agung yang dipenuhi dengan tata liturgi lebih penting daripada pemberitaan Firman Tuhan yang mengajar tentang arti penting penebusan Kristus! Gereja ini sedang menggantikan pentingnya pemberitaan Firman dengan liturgi dan hari raya. Oleh karena itu, jangan heran, beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen dan beberapa pelayan Tuhan masih meragukan (bahkan ada yang tidak percaya) kematian Kristus disalib dan finalitas karya Kristus sebagai Juruselamat. Selain rutinitas gerejawi, pemberitaan Firman Tuhan di dalam kebaktian Jumat Agung pun mulai bergeser ke konsep yang berpusat kepada manusia. Misalnya, di beberapa gereja, Injil TIDAK lagi diberitakan dengan serius dan bertanggungjawab, tetapi dengan bermain-main. Ada yang memberitakan Injil disisipi dengan berita kemakmuran bahwa siapa yang percaya kepada Kristus pasti sukses, berhasil, sembuh, dll, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Di sisi lain ada gereja yang memberitakan Injil dengan penekanan pada aspek-aspek sosial. Kematian Kristus tidak dilihat sebagai penebusan bagi manusia berdosa, tetapi sebagai teladan bagi pengorbanan kita kepada korban bencana alam, dll. Jangan heran, jemaat gereja yang diajar konsep ini lebih mementingkan pelayanan sosial dan pemuasan diri ketimbang pemberitaan Injil.
Kedua, alasan dari diri orang Kristen sendiri. Ada beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen sudah mulai bosan dengan pentingnya penebusan Kristus. Mereka berpikir bahwa berita itu sudah mereka ketahui sejak kecil di sekolah minggu. Orang yang mengatakan hal ini sebenarnya adalah orang Kristen yang mengimani penebusan Kristus secara theologis tanpa mengalaminya. Apakah itu termasuk kita di dalamnya? Jika ya, akuilah itu, minta ampun kepada Allah, dan mintalah agar Allah terus menyegarkan hati kita ketika memikirkan dan mengalami penebusan Kristus.

Sudah saatnya orang Kristen dan pemimpin gereja BANGKIT dan BERTOBAT! Bagi para pemimpin gereja: Berhentilah dari mengkhotbahkan hal-hal yang menyenangkan telinga manusia! Beritakan Firman dengan bertanggungjawab (2Tim. 4:2). Beritakan Firman Tuhan dengan kuasa Roh Kudus, sehingga banyak jemaat Tuhan dicelikkan mata rohaninya, bertobat, mengalami penebusan Kristus, dan akhirnya: mengagumi dan bersyukur atas rencana-Nya di dalam penebusan Kristus. Bagi orang Kristen: Berhentilah dari sikap kecuekan kita dan kembalilah mengerti dan mengalami arti penting penebusan Kristus itu, sehingga kita makin lama makin mengagumi dan bersyukur karena-Nya. Semua itu bisa kita lakukan karena adanya karya Roh Kudus yang menginsyafkan dan terus-menerus menguduskan kita.


2. Mengaplikasikan Rencana-Nya dalam Kehidupan Kita
Rencana-Nya bukan hanya diresponi oleh manusia dengan mengagumi dan bersyukur atas rencana-Nya, tetapi juga dengan mengaplikasikan rencana-Nya itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Berarti, rasa kagum dan syukur harus disertai dengan ketaatan mengaplikasikan rencana-Nya. Apa wujud mengaplikasikan rencana-Nya? Kita mengaplikasikan rencana-Nya dengan menyebarluaskan berita penebusan Kristus ini kepada orang lain yang belum mendengarnya. Pemberitaan Injil adalah wujud nyata kita benar-benar mengaplikasikan rencana-Nya yang teragung itu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah hati kita dibakar oleh api kuasa Roh Kudus untuk memberitakan Injil? Lihatlah ladang di depan kita yang sudah menguning dan siap dituai, adakah kita siap dipakai-Nya sebagai penuai jiwa-jiwa bagi kemuliaan-Nya?


Biarlah renungan Jumat Agung ini mencerahkan hati dan pikiran kita serta membakar hati dan semangat kita di dalam memberitakan Injil-Nya agar banyak jiwa yang telah dipilih-Nya dapat bertobat dan kembali kepada Kristus. Maukah kita melakukannya? Amin. Soli Deo Gloria.

29 March 2009

KREDO REFORMED-3: Katekismus Heidelberg (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

KREDO REFORMED-3:
Katekismus Heidelberg


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Pengantar
Kata “katekismus” berasal dari bahasa Yunani kathcew yang berarti “mengajar” (Luk. 1:4; Kis. 18:25; 21:21, 24; Rm. 2:18; 1Kor. 14:19; Gal. 6:6). Pada awalnya kata “katekismus” bisa merujuk pada apa saja yang diajarkan. Mulai abad ke-16 arti kata ini menjadi semakin sempit dan merujuk pada pedoman pengajaran iman Kristen yang bersifat populer (tidak teknis/akademis) dan biasanya dalam bentuk tanya-jawab (D. F. Wright, “Catechism”, Evangelical Dictionary of Theology, Walter Elwell, 195). Proses mengajarkan katekismus disebut “katekisasi”, orang yang mengajarkan katekismus disebut “katekist” (catechist), sedangkan yang diajar disebut “katekumen” (catechumen).

Praktik pengajaran iman Kristen kepada para petobat baru sebenarnya sudah dimulai sejak awal kekristenan. Pada abad ke-2 sudah ada satu buku yang bernama didach. Bapa gereja Agustinus dan Gregory Nissa pun membuat buku untuk para petobat baru. Di gereja-gereja lain katekisasi bahkan mencakup pengajaran dari tradisi lisan. Walaupun praktik katekisasi sudah dimulai sejak dahulu, namun belum ada bahan tertulis resmi yang diakui bersama oleh gereja-gereja. Selama abad pertengahan, pengajaran iman Kristen mengalami dekadensi. Pada masa reformasi katekisasi dipopulerkan kembali. Pada periode selanjutnya masing-masing aliran dalam gereja memiliki katekismus sendiri-sendiri yang resmi. Golongan Lutheran memakai Katekismus Besar dan Kecil karangan Martin Luther. Gereja Anglikan merumuskan Katekismus Anglikan. Gereja Roma Katolik pun memiliki Katekismus [Gereja] Roma (Catechismus Romanus). Waktu yang diperlukan untuk katekisasi dari dahulu sangat beragam, mulai satu tahun sampai tiga tahun. Di akhir pengajaran, katekumen diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, menunjukkan perubahan hidup yang signifikan dan kadangkala menghafalkan Doa Bapa Kami, Sepuluh Perintah Allah maupun Pengakuan Iman Rasuli.

Istilah “Heidelberg” didasarkan pada tempat dirumuskan dan ditetapkannya Katekismus Heidelberg. Katekismus ini memang ditulis di kota Heidelberg, Jerman. Setelah ditulis, katekismus ini juga disahkan penggunaannya secara resmi di kota yang sama. Karena itu, katekismus ini dikenal dengan sebutan Katekismus Heidelberg. Istilah lain yang kadangkala dipakai adalah Katekismus Palatinate (Palatinate Catechism), sebuah daerah otonom yang di dalamnya mencakup kota Heidelberg (daerah selatan dan barat Mainz).


Latar Belakang Perumusan
Perumusan Katekismus Heidelberg tidak dapat dipisahkan dari peranan penting Ferderick III, seorang pemimpin di Palatinate, sebuah daerah otonom di bagian barat Jerman. Pertobatan Frederick dari Katolik ke Protestan didorong oleh dekadensi moral yang dia lihat di dalam gereja Katolik Roma. Akhirnya ia dengan sukarela memeluk iman Protestan pada tahun 1537 ketika dia menikahi putri Maria Brandenburg-Kulmbach, seorang pengikut Lutheran tradisional yang sungguh-sungguh. Melalui Maria, Frederick semakin hari menjadi semakin saleh dan memahami iman Protestan.

Perubahan iman Frederick ke Reformed dimulai dari peselisihan intern di Palatinate antara Tilemann Hesshus dan Wilhelm Klebitz. Hesshus adalah pendeta di Gereja Roh Kudus dan rektor di College Hikmat, sedangkan Klebitz adalah asisten pendeta. Hesshus berpegang pada theologi Lutheran, sedangkan Klebitz adalah pengikut Zwinglian yang sangat bersemangat. Perselisihan semakin parah ketiga College Hikmat menganugerahi gelar theologi kepada Klebitz di saat Husshes tidak ada di tempat. Situasi ini membuat Husshes sangat marah dan ia menuntut gelar itu dicabut serta Klebitz diusir dari Palatinate. Tuntutannya ternyata tidak digubris, sehingga Husshes bertambah marah. Suatu ketika Klebitz sedang melayani perjamuan kudus. Ketika dia sedang mengangkat cawan anggur, Husshes datang dan merebut cawan itu dari tangan Klebitz. Jemaat sangat terkejut melihat apa yang terjadi. Frederick yang baru saja datang ke Palatinate langsung menyadari bahwa hal ini merupakan masalah yang sangat serius, karena menyangkut doktrin perjamuan kudus yang memang sejak lama selalu menjadi fokus perselisihan.

Frederick sempat menanyakan solusi dari masalah ini kepada Melanchthon, sahabat dan penerus Luther. Oleh Melanchthon dia dinasehati untuk mengikuti doktrin yang sudah ditetapkan (maksudnya doktrin Lutheran yang terangkum dalam Pengakuan Iman Augsburg artikel XI), namun jawaban ini tidak memuaskan Frederick karena semakin lama dia mempelajari perbedaan antara Lutheran dan Zwinglian, dia semakin berpihak pada Zwinglian. Atas usul istrinya yang disampaikan oleh menantu mereka, Frederick akhirnya mengadakan debat antara dua orang pemikir Lutheran dan Zwinglian pada tahun 1560. Pihak non-Lutheran diwakili oleh Peter Boquin (Calvinis) dan Thomas Erastus (Zwinglian). Setelah perdebatan publik ini, Frederick memutuskan untuk memeluk ajaran Reformed.

Pada Januari 1561 Christopher Wurrttemberg mengadakan konferensi di Naumburg dan mengundang semua gubernur dan anak-anak mereka untuk menerima Pengakuan Iman Augsburg sebagai deklarasi iman yang resmi. Para pemimpin tersebut diberi dua pilihan: Pengakuan Iman Augsburg versi asli (ditulis Melanchthon; doktrin perjamuan kudus dalam versi ini sudah diterima secara resmi pada tahun 1530) atau versi kedua (berisi beberapa perubahan oleh Melanchthon, terutama artkel ke-10 tentang perjamuan kudus yang juga telah disetujui Calvin). Semua pemimpin waktu itu berhasil dibujuk oleh Frederick untuk memilih versi ke-2, kecuali menantunya sendiri.

Frederick terus bergumul tentang alternatif Lutheran-Reformed. Pergumulan ini bukan hanya penting bagi pertumbuhan spiritual dia secara pribadi, tetapi juga bagi stabilitas keamanan di daerah kekuasaannya. Di tengah pergumulan ini dia sangat terbantu oleh kehadiran dua pemikir besar: Caspar Olevianus (1536-1587) dan Zacharias Ursinus (1534-1583). Olevianus adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan anak Frederick yang hanyut di sungai sewaktu mereka masih tinggal di kota Trier. Walaupun anak itu tetap tidak terselamatkan, namun Frederick tetap menghormati usaha Olevianus. Pasca peristiwa itu Olevianus memikirkan ulang cita-cita dan dia akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang pendeta, bukan ahli hukum. Dia belajar di bawah bimbingan Calvin, Beza dan Peter Martyr (Vermigli) yang merupakan 3 tokoh Reformed terkemuka waktu itu. Setelah pulang kembali ke Trier (1559), Olevianus mengobarkan reformasi Reformed dan dengan cepat mendapat sambutan pubik yang sangat besar. Kekuatiran dewan kota Trier bahwa perubahan ini akan diketahui pihak uskup Yohanes ternyata terbukti. Olevianus diperintahkan untuk berhenti berkotbah tetapi dia menolak. Sebagai respons terhadap penolakan ini, uskup Yohanes mengirimkan tentara ke Trier dan membawa bencana besar bagi mereka: ladang dibakar, pasokan air ke kota dihentikan, penduduk yang ke luar kota dirampok dan puncaknya kota itu diporak-porandakan. Olevianus dan 12 orang pemimpin lainnya ditangkap dan dipenjara. Setelah ditahan selama 10 minggu, uskup Yohanes menerima suat dari Frederick yang disertai dengan sejumlah besar uang dan janji bahwa Olevianus tidak akan kembali lagi ke Trier setelah dia dilepaskan. Olevianus sendiri menyetujui undangan Frederick untuk berkotbah di Gereja Roh Kudus dan ia langsung bertolak ke Heidelberg.

Di tempat lain Tuhan juga sedang menyiapkan Ursinus. Kehebatan Ursinus dengan cepat diketahui oleh Melanchthon dan dengan bantuan Melanchthon dia berhasil menjadi pemimpin Sekolah Elizabeth di Breslau pada waktu usianya baru awal 20-an. Beberapa pandangan Melanchthon – yang sering dianggap “crypto-Calvinis” – juga turut membentuk pemikiran Ursinus. Pasca kematian Melanchton pada tahun 1560, Ursinus kembali ke Zurich di mana dia belajar di bawah bimbingan Peter Martyr. Ketika Frederick meminta Peter Martyr untuk memimpin College Wisdom, Peter merekomendasikan Ursinus untuk posisi itu, karena ia merasa terlalu tua (60 tahun) untuk menghadapi tantangan baru dan menurut dia Ursinus sudah memiliki pengetahuan theologi dan kesalehan yang luar biasa sekalipun Ursinus masih berumur 20-an tahun. Akhirnya Frederick menyetujui usulan ini dan Ursinus pergi ke Heidelberg untuk memimpin sekolah tersebut.

Kehadiran dua pemikir hebat di atas semakin meyakinkan Frederick bahwa tiba saatnya untuk merumuskan sebuah pengakuan iman yang resmi dan definitif. Katekismus ini dimaksudkan sebagai bahan pengajaran bagi orang-orang muda dan pedoman bagi para pendeta maupun pengajar. Dia menugasi Olevianus dan Ursinus untuk merealisasikan hal itu. Olevianus yang waktu itu baru berusia 26 tahun dan Ursinus yang berusia 28 tahun akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah karya tulis yang sampai sekarang diakui sebagai “katekismus dengan kekuatan dan keindahan yang luar biasa”. Ursinus kemungkinan besar lebih berperan penting dalam hal isi, sedangkan Olevianus lebih pada peredaksian, karena dalam perkembangan selanjutnya Ursinus merupakan pembela dan penafsir utama dari katekimus ini.

Setelah dirumuskan oleh Olevianus dan Ursinus, Frederick mengumpulkan semua rohaniwan dan pemikir untuk meninjau katekismus ini pada Januari 1563. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Frederick, dosen-dosen fakultas theologi Heidelberg dan para pejabat gereja di Palatina juga turut andil dalam hasil akhir Katekismus Heidelberg. Mereka akhirnya menyetujui isi dari katekismus tersebut, termasuk bagian tentang perjamuan kudus yang menyatakan secara eksplisit bahwa “roti kudus tidak berubah menjadi tubuh Kristus”. Frederick sendiri yang menulis kata pengantar dalam katekismus ini. Katekismus yang akhirnya dikenal dengan sebutan Katekismus Heidelberg ini diterbitkan tahun 1562 dan mulai ditetapkan secara resmi di Palatine pada tahun 1563.

Sikap Frederick di atas menimbulkan masalah yang serius, karena pengantar yang dia tulis dan beberapa bagian Katekismus Heidelberg bertentangan dengan Pengakuan Iman Augsburg dan ajaran Katolik Roma. Pihak Katolik menghembuskan rumor bahwa Olevianus dirasuk iblis dan Frederick tidak bisa tidur malam hari karena diganggu iblis. Christopher dari Wurrttemberg menantang Frederick berdebat secara publik pada April 1564. Debat ini tidak menghasilkan konsensus apa pun, sehingga Christopher akhirnya melaporkan Frederick ke Kaisar Maximillian II dengan tuduhan bahwa Frederick telah melanggar Pengakuan Iman Augsburg. Walaupun Maximillian adalah pengiktu Katolik moderat, tetapi dia tetap harus memperhatian protes para gubernur Protestan karena stabilitas kekaisarannya dipengaruhi oleh para pemimpin regional tersebut. Akhirnya pada tahun 1566 ia dipanggil oleh Kaisar Maximilian II di hadapan 6 gubernur lain dan para penasehat mereka untuk menghadiri pertemuan di Augsburg. Kalau dia tidak mau mengubah pendiriannya, ia bisa saja diusir dari Jerman atau mungkin dihukum mati. Banyak orang memprediksi bahwa Frederick pasti akan kalah dalam pertemuan itu, karena para pengikut Lutheran sudah melobi kaisar secara intensif, kaisar sendiri adalah orang Katolik dan beberapa pendukung Reformed tidak berani menyatakan hal itu secara publik. Pada tanggal 14 Mei 1566 tuduhan terhadap Frederick sebagai pengikut ajaran sesat dibacakan. Dia didesak untuk meninggalkan iman Reformed atau dikucilkan. Paksaan ini tidak menciutkan nyali Frederick. Sambil mengingat bagian awal Katekismus Heidelberg – pertanyaan “apakah penghiburan manusia yang terutama?” dan jawaban “bahwa aku, baik tubuh atau jiwa, dalam hidup maupun kematian, bukanlah milikku tetapi juru selamatku yang setia, Yesus Kristus” – dia dengan penuh percaya diri, tenang dan lemah-lembut menjelaskan isi dan tujuan Katekismus Heidelberg.

Keputusan akhir dalam pertemuan ini ternyata mengagetkan banyak orang. Keberanian dan kelemahlembutan Frederick berhasil menimbulkan kesan yang mendalam, bahkan pada diri musuh-musuhnya dan Maximillian II. Beberapa pangeran yang menjadi pengikut Lutheran yang moderat membujuk kaisar untuk tidak menyensor maupun menghukum Frederick. Akhirnya Maximilian II membebaskan Frederick dari semua tuduhan dan ancaman hukuman. Ia bahkan menyebut Frederick sebagai “Orang Yang Saleh”.

Dengan cepat Katekismus Heidelberg dikenal dan diakui oleh gereja-gereja Reformed di bagian utara Jerman dan Swiss. Tidak lama berselang katekismus ini juga diakui oleh gereja-gereja di wilayah lain. Berturut-turut katekismus ini disahkan dalam konsili di Wesel (1568), Emden (1571), Dort (1578), the Hague (1586). Keputusan penting diambil pada konsili internasional di Dort (1618-1619). Pada perkembangan berikutnya Katekismus Heidelberg diterjemahkan dalam berbagai bahasa di Asia dan Afrika. Terjemahan dalam bahasa Melayu pun sudah dibuat oleh Pendeta Seb. Danckaerts pada tahun 1623. Pada abad ke-19 dan ke-20 para utusan injil dari Belanda dan para pendeta Protestan di Indonesia tetap menggunakan katekismus ini sebagai salah satu pedoman doktrin. Begitu terkenalnya katekismus ini di seluruh dunia sampai-sampai katekismus ini masuk sebagai salah satu buku yang paling banyak disirkulasikan di seluruh dunia setelah Alkitab, The Imitation of Christ (Thomas A. Kempis) dan Pilgrim’s Progress (John Bunyan).


Beragam Edisi
Setelah ditetapkan secara resmi pada tahun 1563, pada tahun itu juga diterbitkan tiga edisi Jerman yang lain (termasuk edisi yang singkat) dan terjemahan Latin. Perubahan ini sangat terkait dengan situasi pada waktu itu. Ada beberapa perubahan penting yang perlu kita ketahui. Pertama, penambahan referensi ayat Alkitab. Pada edisi Jerman yang ke-1, Alkitab dalam bahasa Jerman belum dibagi ke dalam ayat-ayat, sehingga kutipan teks Alkitab hanya diberi nama kitab dan nomer pasal. Pada edisi selanjutnya (edisi Latin) hal ini diperbaiki dengan cara memberikan ayat-ayat sesuai dengan pengaturan Alkitab bahasa Jerman yang baru.

Kedua, pertanyaan dan jawaban nomer 80. Bagian ini (dalam edisi kita sekarang) tidak ditemukan dalam edisi ke-1. Pada edisi ke-2 sebagian dari pertanyaan dan jawaban itu sudah ditambahkan, tetapi belum secara lengkap. Baru pada edisi ke-3 bagian tersebut diredaksi ulang menjadi seperti sekarang. Para theolog menduga perubahan ini dipicu oleh keputusan Konsili Trente pada 17 September 1562 yang salah satu keputusannya meneguhkan kembali doktrin misa Katolik Roma dan mengutuk praktik sakramen oleh golongan Protestan. Keputusan ini tidak sempat direspon secara khusus dalam edisi-edisi sebelumnya, karena keterbatasan waktu. Baru pada awal tahun sesudahnya para pemimpin gereja Reformed sempat membahas hal ini secara eksplisit.

Ketiga, pemberian nomer untuk pertanyaan dan jawaban. Pada beberapa edisi awal pertanyaan dan jawaban tidak diberi nomer seperti sekarang. Baru pada tahun 1573 Katekismus Heidelberg diberi nomer (129 nomer) dan dibagi menjadi 52 bagian sehingga satu bagian dapat dikotbahkan setiap minggu selama satu tahun. Edisi terakhir inilah yang diakui pada konsili Dort (1619) dan dijadikan dasar bagi terjemahan Inggris yang beredar..


Karakteristik
Katekismus Heidelberg memiliki beberapa keunikan yang membuat katekismus ini sebagai salah satu katekismus paling favorit selain Katekismus Westminster.
· Referensi ayat yang sangat melimpah. Dalam bagian pengantar yang asli, Frederick III menyatakan bahwa teks-teks itu telah diselidiki begitu rupa (“...selected with great pains...”) untuk dijadikan dasar bagi doktrin yang diajarkan.
· Konsep yang sangat Reformed. Hal ini dapat dipahami karena tujuan perumusan katekismus ini bukan sekadar membedakan orang Reformed dari Roma Katolik, tetapi juga dari golongan Lutheran.
· Pengaturan topik. Para perumus Katekismus Heidelberg memang mengenal katekismus yang ditulis Calvin sebelumnya (1536/1545) dan secara doktrinal pasti dipengaruhi oleh katekismus itu, tetapi mereka tetap memilih pengaturan topik yang berbeda. Tidak seperti Pengakuan Iman Prancis maupun Belgia yang menyusun topik-topik sesuai logika pengaturan doktrin (dari Allah, manusia, keselamatan, Kristus, gereja akhir zaman), Katekismus Heidelberg dibagi menjadi tiga bagian sesuai dengan pengaturan Surat Roma: nomer 1-11 membahas kondisi manusia yang mengenaskan di dalam dosa (Roma 1-3); nomer 12-85 tentang penebusan di dalam Kristus dan iman orang percaya (Roma 4-11); nomer 86-129 tentang ucapan syukur orang percaya atas kasih Allah berupa ketaatan (Roma 12-16). Untuk memudahkan pemahaman, tiga bagian ini sering kali disebut 3G (Guilt – Grace – Gratitude = kesalahan/pelanggaran – anugerah – ucapan syukur) atau 3S (Sin – Salvation – Servitude = dosa – keselamatan, pelayanan).
· Nuansa yang moderat. Walaupun muncul dari konteks kontroversi doktrinal, namun katekismus ini tetap mempertahankan peredaksian yang moderat atau tidak ofensif (kecuali mungkin melawan kepausan di nomer 80). Karakteristik ini membuat Katekismus Heidelberg menjadi lebih mudah diterima oleh orang-orang lain di luar Palatinate yang tidak memiliki sangkut-paut dengan latar belakang kontroversi yang ada.
· Sifat yang devosional. Katekismus ini bukanlah pemaparan doktrinal yang kering dan di abstrak. Katakismus ini sangat bersentuhan dengan kehidupan praktis orang percaya. Pemakaian kata ganti “aku” yang menyiratkan keyakinan pribadi menunjukkan sisi subjektif dari katekismus ini. Bagian awal katekismus ini bahkan berbicara tentang penghiburan bagi orang percaya. Tidak heran katekismus ini sering kali disebut sebagai “kitab penghiburan bagi semua orang Kristen”.


Beberapa Topik Penting
Sebagai sebuah katekismus yang dirumuskan dan diterima oleh orang-orang Reformed, Katekismus Heideberg mengajarkan beberapa hal yang memang menjadi ciri khas aliran Reformed. Pertama, konsep tentang perjamuan kudus (nomer 75-85). Roti dan anggur selamanya tidak akan pernah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (nomer 79), baik secara langsung (kontra transubstansiasi) maupun melalui iman (kontra konsubstansiasi). Sakramen perjamuan kudus hanyala simbol yang melaluinya kita diingatkan kepada karya penebusan Kristus yang oleh pekerjaan Roh Kudus ita mengambil bagian dalam karya tersebut.

Kedua, konsep tentang pemeliharaan Allah yang mutlak. Sama seperti Pengakuan Iman Belgia, Katekismus Heidelberg juga mengajarkan kedaulatan Allah yang penuh atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini – baik yang kita anggap positif atau negatif – yang tidak datang dari tangan Bapa (nomer 27).

Ketiga, konsep perbuatan baik sebagai respons terhadap keselamatan. Mulai nomer 86 sampai selesai Katekismus Heidelberg mengajarkan tentang apa yang harus kita lakukan sebagai orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus. Respons ini berupa perbuatan baik (nomer 86) yang terdiri dari dua bagian: kematian manusia lama (nomer 89) dan kebangkitan manusia baru (nomer 90). Suatu tindakan bisa disebut baik jika memenuhi beberapa kriteria: timbul dari iman yang sungguh-sungguh, seturut hukum Allah, memuliakan Allah, bukan didasarkan pada kemauan maupun aturan manusia. Selanjutnya perbuatan baik ini dijabarkan dalam bentuk penjelasan detil tentang Sepuluh Perintah Allah (nomer 92-115) dan Doa Bapa Kami (nomer 116-129).

Keempat, konsep tentang disiplin gereja. Katekismus Heidelberg sangat menentang orang-orang tertentu yang mengaku Kristen tetai tidak mau hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Orang-orang ini tidak diperbolehkan mengikuti perjamuan kudus (nomer 81-82) dan tidak akan diselamatkan (nomer 87). Mereka ini harus didisiplin oleh gereja dalam bentuk pengucilan (nomer 83-85).


Sumber:
Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 17 Februari 2009
(http://www.gkri-exodus.org/page.php?HIS-Kredo_Reformed-03)





Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

KREDO REFORMED-2: Pengakuan Iman Belgia (1559) oleh Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

KREDO REFORMED-2:
Pengakuan Iman Belgia (1559)


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Pendahuluan
Pengakuan Iman Belgia (Belgic Confession) merupakan pengakuan iman Reformed tertua setelah Pengakuan Iman Prancis (Gallic Confession). Sebutan “Belgic Confession” diambil dari istilah Latin pada abad ke-17, yaitu “Confessio Belgica”. Pada masa itu kata “Belgica” tidak hanya merujuk pada negara Belgia seperti sekarang, tetapi juga seluruh Negara-negara Bawah (Low Countries), baik utara maupun selatan. Pada masa modern Low Countries mencakup daerah-daerah yang dikuasai oleh Belgia dan Belanda. Jadi, sekalipun nama yang dipakai adalah “Pengakuan Iman Belgia”, namun pengakuan ini merupakan kesatuan theologi dari orang-orang Reformed di Belgia dan Belanda. Sebagian orang bahkan lebih senang menyebut pengakuan iman ini sebagai “Pengakuan Iman Belanda” (Netherlands Confession). Sebagian lagi memakai istilah “Pengakuan Iman Wallon” (Wallon Confession).


Latar Belakang
Sama seperti Pengakuan Iman Prancis, perumusan Pengakuan Iman Belgia juga sangat berkaitan dengan penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Reformed. Gerakan reformasi sendiri sebelumnya sudah menyebar ke daerah Belgia dan Belanda melalui para tentara, pedagang dan buku-buku. Keadaan ini menimbulkan keresahan bagi penguasa sipil yang sangat mendukung Gereja Katolik Roma. Sejak 1521 Charles V sudah mengeluarkan perintah untuk menekan bidat (baca: ajaran reformasi) di daerahnya. Penganiayaan ini menjadi semakin intensif pada zaman Philip II dari Spanyol. Semangatnya untuk membinasakan setiap penganut reformasi direalisasikan oleh Duke of Alva. Begitu hebatnya penganiayaan ini sampai-sampai sebagian ahli sejarah berani menyatakan bahwa jumlah korban penganiayaan pada periode itu dan pada satu provinsi telah melampaui jumlah keseluruhan martyr pada abad ke-16. Sebagian bahkan meyakini jumlah ini melampaui jumlah martyr pada tiga abad pertama penganiayaan di bawah pemerintahan Romawi. Jumlah kurban penganiayaan di Belgia dan Belanda waktu itu diperkirakan mencapai 100 ribu orang.

Sebagai respons terhadap penganiayaan yang sedemikian hebat di atas, pengikut reformasi merumuskan pengakuan iman sebagai sebuah apologi (pembelaan) bahwa mereka bukanlah pemberontak. Mereka adalah para pengikut ajaran Alkitab dan warga negara yang taat. Penjelasan ini sangat diperlukan dalam konteks waktu itu karena pemerintah sipil selalu menganggap pengikut reformasi sebagai pengikut bidat (sesuai dengan perspektif Gereja Katolik Roma). Pengikut reformasi juga sering dituduh sebagai para pemebrontak yang tidak mau menunjukkan loyalitas kepada pemerintah. Tuduhan ini didasarkan pada ketidakmampuan pemerintah untuk membedakan antara aliran Anabaptis dan aliran-aliran lain dalam gerakan reformasi.

Perumusan Pengakuan Iman Belgia tidak dapat dipisahkan dari seorang figur yang bernama Guido de Bres (1522-1567). Ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Melalui penyelidikan Alkitab yang teliti ia akhirnya berpuat pada doktrin injili. Setelah diusir dari daerah asalnya di Mons (Hennegeu), ia melakukan perjalanan keliling untuk belajar maupun berkotbah. Ia ada di Inggris pada masa Edward IV, belajar di Lausanne, kemudian menjadi pengkhotbah keliling di daerah Belgia dan Prancis. Selama pelayanannya ia menyempatkan diri merumuskan sebuah pengakuan iman. Ia dibantu oleh Adrien de Saravia (profesor theologi di Leyden dan Cambridge), Modetus (sempat menjadi pendeta William of Orange) dan G. Wingen (yang menerjemahkan ke bahasa Prancis sekaligus membuktikan iman Reformed dari perspektif Alkitab). Pengakuan iman yang sudah disiapkan selanjutnya direvisi oleh Francis Junius, salah seorang murid Calvin dan pendeta di Antwerp. Junius mempersingkat pernyataan ke-16 dan membuat beberapa salinan untuk dikirim ke Genewa dan daerah-daerah lain supaya dipelajari dan disetujui. Akhirnya pada tahun 1561 pengakuan iman ini dicetak untuk kalangan lebih luas.

Sekitar setahun setelah dicetak, salah satu cetakan dikirimkan ke Raja Philip II dengan cara dilemparkan ke dalam benteng yang telah dibangun di Tournai (Doornik). Pengiriman ini disertai dengan sebuah pernyataan yang luar biasa indah dan berani. Mereka siap untuk mematuhi pemerintah sipil dalam segala sesuatu yang benar, tetapi akan “menyerahkan punggung mereka dicabik-cabik, lidah mereka untuk dipotong, mulut mereka disumpal dan seluruh tubuh mereka dibakar dengan api, dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa mereka yang mengikut Yesus harus memikul salib-Nya dan menyangkali diri mereka” daripada menyangkali kebenaran yang dinyatakan dalam pengakuan iman.

Tidak ada bukti bahwa orang-orang Katolik secara serius pernah membaca atau terpengaruh oleh pengakuan iman ini. Penganiayaan pun juga tidak kunjung mereda. Bagaimanapun, apa yang tertulis berhasil menyatukan dan menguatkan orang-orang Reformed. Pada tahun 1562 pengakuan iman yang awalnya ditulis dalam bahasa Prancis ini akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan dengan cepat mendapat penerimaan resmi. Tahun 1566 konsili di Antwerp menerima rumusan iman tersebut secara resmi dengan sedikit revisi. Berturut-turut pengakuan iman diteguhkan kembali di Wesel (1568), Emden (1571) Dort (1574), Middelburg (1581) dan Dort (1619).

Pada tahun 1567 de Bres ditangkap dan dipenjara. Penangkapan ini terkait dengan semakin meningkatnya upaya penganiayaan sehubungan dengan kontroversi gambar (oconoclastic controversy). Penghancuran dan perusakan gambar maupun patung dalam gereja-gereja Katolik telah memancing amarah pemerintah sipil. Masalah lain berhubungan dengan pelanggaran terhadap keputusan pengadilan Brussels, terutama berkaitan dengan penyelenggaraan perjamuan kudus di jemaat-jemaat Reformed. Selama di dalam penjara de Bres rajin menulis surat kepada keluarganya dan menggambarkan kematian yang akan ia jalani sebagai sebuah perjamuan kawin. Bersama ribuan orang Reformed lain, de Bres akhirnya mati demi kebenaran yang ia yakini. Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah “Saudara-saudaraku, hari ini akau dihukum mati karena doktrin Anak Allah. Biarlah Dia dipuji karena hal ini. Aku bersukacita atas hal ini. Aku tidak pernah berpikir bahwa Allah akan menunjukkan kepadaku penghormatan seperti itu. Aku merasa htiku dipenuhi dengan anugerah yang Allah turunkan ke atasku lebih dan lebih lagi dan aku dari waktu ke waktu terus dikuatkan. Hatiku memancar dengan sukacita dalam diriku”. Kematian ini tidak pernah sia-sia, karena ajaran dan semangatnya tetap dinyatakan dalam Pengakuan Iman Belgia.

Salah satu konsili yang paling penting adalah konsili agung di Dort (1619). Pada waktu itu ada desakan dari penganut Armenian untuk mengubah sebagian isi Pengakuan Iman Belgia. Di sisi lain, pengakuan iman ini juga telah mengalami beberapa proses terjemahan dan sedikit revisi. Berdasarkan dua hal ini, konsili di Dort memutuskan untuk menyelidiki ulang semua edisi yang ada (Prancis, Belanda, Latin) supaya dirumuskan yang baku. Edisi revisi terakhir inilah yang selanjutnya –bersama dengan Katekismus Heidelberg-- ditetapkan sebagai patokan iman gereja-gereja Reformed di Belgia maupun Belanda. Mereka berkomitmen untuk mengajarkan pengakuan iman ini dalam kotbah dan pengajaran mereka. Mereka berjanji tidak akan mengajarkan sesuatu yang berbeda dari yang sudah ditetapkan. Apabila ada suatu pemikiran yang muncul di kemudian hari yang terkesan tidak sesuai dengan pengakuan iman ini, mereka berjanji tidak akan mengajarkan pemikiran tersebut kepada orang lain sampai hal itu dibawa ke jenjang yang lebih tinggi (konsistori, klasis, sinode) untuk diputuskan. Sampai kini pengakuan iman tersebut sudah melampaui batasan Low Countries. Gereja-gereja Reformed di Amerika dan belahan dunia lain dengan mantap menerima rumusan iman ini sebagai ciri khas theologi mereka.


Garis Besar, Isi, dan Karakteristik
Secara umum garis besar maupun isi Pengakuan Iman Belgia didasarkan pada Pengakuan Iman Prancis (Gallic Confession) yang juga sangat dipengaruhi oleh karya monumental Calvin, Institutio. Pengaturan topik yang ada juga serupa dengan urutan theologi sistematika modern.
Pernyataan 1-11 tentang Allah
Pernyataan 12-15 tentang manusia
Pernyataan 16-21 tentang Kristus
Pernyataan 22-26 tentang keselamatan
Pernyataan 27-35 tentang gereja
Pernyataan 36 tentang pemerintah sipil
Pernyataan 37 tentang akhir zaman

Berdasarkan keunikan theologi dan tujuan penulisan, isi Pengakuan Iman Belgia dapat dibedakan menjadi beberapa bagian. Pertama, bagian yang menyerang konsep Anabaptis. Bagian ini mencakup topik seputar kemanusiaan Yesus yang sempurna (18), hakekat gereja yang umum/am, bukan sektarian (28-29), baptisan anak-anak (34) dan pemerintah sipil sebagai wakil Allah (36). Kedua, bagian yang sama dengan keyakinan Katolik Roma. Pemaparan topik-topik dalam bagian ini berguna sebagai pijakan yang sama dengan para musuh mereka. Bagian ini mencakup topik seputar Tritunggal (1, 8, 9), inkarnasi (10, 18, 19) dan gereja yang am (27-29). Ketiga, bagian yang menentang Gereja Katolik Roma. Bagian ini mencakup topik tentang otoritas mutlak dari Kitab Suci sekaligus penolakan terhadap Apokrifa (3-7), kecukupan dari karya penebusan Kristus, terlepas dari partisipasi gereja (21-23, 26), perbuatan baik (24), dua sakramen yang diajarkan Alkitab (34-35). Keempat, bagian yang mengajarkan ciri khas theologi Reformed. Bagian ini mencakup topik seputar providensia (13), kerusakan natur manusia sebagai akibat dari dosa asal (14-15), predestinasi (16), tanda gereja yang sejati (29), pemerintahan gereja (30-32) dan perjamuan kudus (35).

Dari sisi karakteristik, kita dapat menemukan beberapa hal: (1) pemakaian kata “kami” untuk memberi kesan personal pada pengakuan iman ini sekaligus membedakan penerimanya dengan komunitas Kristen yang lain; (2) pengutipan ayat-ayat Alkitab yang sedikit bebas; dalam arti tidak selalu lengkap dan secara hurufiah sesuai dengan bahasa aslinya; (3) tidak terlalu polemis seperti Pengakuan Iman Prancis; (4) penjelasan yang agak detil – terutama seputar Tritunggal, inkarnasi, gereja dan sakramen – sehingga menjadikannya sebagai simbol pernyataan iman Reformed yang terbaik setelah Pengakuan Iman Westminster.


Teks
Seperti sudah disinggung sebelumnya, Pengakuan Iman Belgia mengalami beberapa kali revisi. Perubahan ini hanya berkaitan dengan pemilihan kata dan peredaksian, bukan dari sisi doktrin. Kita tidak bisa mengetahui secara persis bagaimana edisi awal dalam bahasa Prancis. Tidak ada salinan yang berhasil dipelihara. Pada tahun 1580 Sinode Antwerp memerintahkan untuk membuat salinan yang sama persis dengan revisi yang dibuat oleh Junius sebagai arsip mereka. Salinan ini selanjutnya ditandatangi oleh setiap rohaniwan Reformed. Gereja-gereja Reformed di Belgia biasanya menganggap salinan ini sebagai yang otentik. Konsili agung di Dort (1619) memerintahkan untuk membuat edisi revisi yang resmi dengan cara membandingkan semua edisi yang ada dengan salinan dari manuskrip tahun 1580. Edisi Leyden (1669) memaparkan dalam dua kolom: yang satu sesuai salinan asli dan yang satu sesuai keputusan Dort. Edisi Rotterdam, Psalter tahun 1787 memaparkan edisi asli dengan meletakkan versi Dort sebagai catatan.


Sumber:
Pendalaman Alkitab GKRI Exodus, 10 Februari 2009
(http://www.gkri-exodus.org/page.php?HIS-Kredo_Reformed-02)




Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

Resensi Buku-70: DISALIBKAN OLEH MEDIA (Rev. Prof. C. Marvin Pate, Ph.D. dan Sheryl L. Pate, M.A.)

...Dapatkan segera...
Buku
DISALIBKAN OLEH MEDIA:
Fakta dan Fiksi tentang Yesus Sejarah


oleh:
Rev. Prof. C. Marvin Pate, Ph.D. dan Sheryl L. Pate, M.A.

Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2008

Penerjemah: Yeri Ekomunajat.





Apakah yang Sesungguhnya Dikatakan dan Dilakukan oleh Yesus?
Adakah Injil-injil yang Hilang?
Benarkah Yesus Menikah?
Temukan jawabannya di dalam buku ini!






Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio:
Di dalam Matius 16:13, Tuhan Yesus bertanya kepada para murid, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Lalu, para murid menjawab di ayat 14, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Jawaban mereka mewakili opini manusia yang pernah mereka dengar. Orang lain melihat Kristus bukan dengan perspektif yang benar, dengan perspektif manusia berdosa yang menginginkan kebebasan dari penjajah pada waktu itu. Namun, bukan itu yang dibutuhkan Kristus. Maka di ayat 15, Kristus bertanya langsung kepada para murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Melalui anugerah Allah, Rasul Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (ay. 16) Jawaban ini mewakili iman Petrus dan juga menjadi iman kita atas anugerah Allah. Selain itu, jawaban ini juga menjadi pertanda pembeda antara para pengikut Kristus yang termasuk anak-anak Allah Vs anti-Kristus yang TIDAK termasuk anak-anak Allah (meskipun beberapa atau bahkan banyak dari mereka beribadah dan religius). Perhatikan reaksi antara para murid Kristus dengan banyak ahli Taurat dan orang Farisi terhadap Kristus. Para murid-Nya mewakili pengikut Kristus yang setia, karena mereka percaya dan menjalankan apa yang Kristus firmankan, sedangkan banyak ahli Taurat dan orang Farisi mewakili para anti-Kristus, karena mereka tidak menerima Pribadi Kristus yang berbeda dari hasrat mereka yang berdosa yang menginginkan kebebasan dari penjajahan. Hal ini menjadi refleksi bagi kita juga. Mereka yang mengikut Kristus dengan setia percaya kepada dan di dalam Kristus, setia kepada firman-Nya, dan taat menjalankan firman-Nya. Sedangkan mereka yang seolah-olah aktif di gereja namun sebenarnya anti-Kristus adalah mereka yang pura-pura percaya kepada Kristus di dalam mulut, namun tidak pernah mengerjakan apa yang difirmankan-Nya. Atau mungkin juga, para anti-Kristus adalah mereka yang bertoha “pendeta” atau “pemimpin gereja”, namun sudah tidak lagi percaya akan finalitas Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat, lalu kompromi dengan semua agama. Yang lebih parah, para anti-Kristus itu muncul dalam cara-cara terselubung yang seolah-olah baik namun menyesatkan dan menghujat Kristus, yaitu melalui media.

Melalui media, para anti-Kristus di zaman postmodern ini tidak lagi takut menyuarakan apa yang mereka sebut sebagai “kebenaran.” “Kebenaran” yang mereka suarakan sebenarnya menghujat pribadi, kematian, kebangkitan, dan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Apa saja yang cocok menurut pikiran mereka yang berdosa, mereka anggap sebagai “kebenaran,” namun jika ada yang tidak cocok dengan pikiran mereka, mereka akan menganggapnya sebagai bidat/sesat, eksklusif, dll. Munculnya Jesus Seminar, “Injil” Gnostik (berupa “Injil” Thomas, “Injil” Yudas, dll) yang diklaim sebagai “Injil” asli yang seharusnya menggantikan posisi Injil Yohanes, novel (dan film) The Da Vinci Code dari Dan Brown, 3 teori yang menyanggah kebangkitan Kristus dari beberapa pakar “theologi.” Tidak hanya itu, buku The Bible Code dari Michael Drosnin yang sempat mengguncang dunia seolah-olah memberi tahu kita tentang kedatangan Kristus yang kedua kali. Kemudian, di zaman postmodern yang meneriakkan relativisme, finalitas Kristus dan Kitab-kitab Injil dipertanyakan oleh mereka yang justru berpendidikan “theologi.”

Jika demikian, bagaimana sikap orang Kristen? Ada pemimpin gereja yang ketakutan jemaatnya diracuni oleh hal-hal seperti demikian, lalu mati-matian melarang jemaatnya menonton film atau membaca buku-buku yang mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan Alkitab. Tindakan ini seolah-olah baik, namun sayangnya, ekstrem, fanatik, dan kekanak-kanakan (childish). Di sisi lain, ada pemimpin gereja yang sudah diracuni oleh filsafat dunia berdosa di atas menerima mentah-mentah argumentasi mereka yang konyol, lalu mengajarkannya di gereja dengan mengatakan bahwa yang penting bukan Yesus menurut sejarah, melainkan Kristus menurut iman. Di antara dua sisi ekstrem, bagaimana sikap orang Kristen seharusnya? Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa ketika kita beriman kepada Kristus dan kebenaran Alkitab, itu terjadi bukan karena kita mengerti terlebih dahulu, tetapi melalui anugerah Allah (bdk. Ibr. 11:3). Namun, anugerah Allah yang memberikan iman tersebut tidak berhenti sampai di situ. Menurut bapa gereja Augustinus, iman harus mencari pengertian (credo ut intelligam), sehingga iman Kristen yang kokoh tetap harus belajar mengerti apa yang diimani dan pengertian itu semakin memperkokoh iman kita, begitu seterusnya. Pengertian akan historisitas iman Kristen inilah yang dipaparkan dengan begitu jelas, tegas, bertanggungjawab, dan Alkitabiah oleh Rev. Prof. C. Marvin Pate, Ph.D. dan istri, Sheryl L. Pate, M.A. di dalam bukunya Disalibkan oleh Media ini. Di dalam bukunya, kedua penulis membahas alur cerita dari masing-masing problem (misalnya, Jesus Seminar, The Da Vinci Code, penemuan kain kafan Turin, dll), lalu disusul dengan perdebatan yang muncul di antara mereka yang pro dan kontra dengan problem tersebut, dan diakhiri dengan analisa cermat dan teliti dari kedua penulis ini berdasarkan Alkitab dan logika Kristen yang bertanggungjawab.
Biarlah buku ini boleh menjadi berkat untuk memmperkuat iman Kristen ini agar makin mencintai Allah dan firman-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.






Profil Rev. Dr. C. Marvin Pate dan Sheryl L. Pate:
Rev. Prof. C. Marvin Pate, Ph.D. adalah Ketua Departemen Theologi Kristen dan Elma Cobb Professor of Christian Theology di Chesley and Elizabeth Pruet School of Christian Studies, Ouachita Baptist University, U.S.A. dan melayani di Caddo Valley Baptist Church. Beliau adalah anggota dari: Society of Biblical Literature dan National Association of Baptist Professors of Religion. Beliau menyelesaikan studi Diploma di Moody Bible Institute, Chicago, IL., U.S.A. pada tahun 1974; Bachelor of Arts (B.A.) di University of Illinois, Chicago, IL., U.S.A. pada tahun 1976; Master of Arts (M.A.) di Wheaton College, Wheaton, IL., U.S.A. pada tahun 1982; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Marquette University, Milwaukee, WI, U.S.A. pada tahun 1988. Buku-buku yang ditulis oleh beliau:
Ø “The Church,” dalam Evangelical Dictionary of Biblical Theology. Ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids, MI: Baker Books, 1996), pp.95-98.
Ø “First and Second Corinthians,” dalam Evangelical Dictionary of Biblical Theology. Ed. Walter A. Elwell (Grand Rapids, MI: Baker Books, 1996), pp. 118-123.
Ø The Reverse of the Curse: Paul, Wisdom, and the Law. WUNT II/114, diedit oleh Martin Hengel dan Otfried Hofius (J.C.B. Mohr/Paul Siebeck, 2000)
Ø Behind the Masks: Personality Disorders in the Church. Ditulis bersama Sheryl L. Pate (Broadman and Holman, 2000).
Ø Communities Living in the Last Days: The Dead Sea Scrolls, the New Testament and the Story of Israel. (InterVarsity Press, 2000).
Ø Four Views of Revelation. Editor dan kontributor (Zondervan, 1998).
Ø Doomsday Delusions. Ditulis bersama Calvin B. Haines (InterVarsity Press, 1995).
Ø Luke: Moody Gospel Series (Moody Press, 1995).
Ø The End of the Age Has Come: The Theology of Paul (Zondervan, 1995).
Ø The Glory of Adam and the Afflictions of the Righteous: Pauline Suffering in Context (Edwin Mellen Press, 1993).
Ø Adam Christology as the Exegetical and Theological Substructure of 2 Corinthians 4:7-5:21 (University Press of America, 1991).
Ø The Story of Israel: A Biblical Theology. Editor dan kontributor (InterVarsity, October, 2004)
Ø Deliverance Now and Not Yet: The New Testament and the Great Tribulation. C. Marvin Pate dan Douglas Kennard (Baltimore, MD: Peter Lang Publisher, 2004).
Ø Iraq: Babylon of the End-Times? C. Marvin Pate dan J. Daniel Hays (Grand Rapids, MI: Baker Books, 2003).
Ø The Apocalypse: A Historical Novel. J. Daniel Hays dan C. Marvin Pate (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2004).
Ø Crucified in the Media: Finding the Real Jesus amidst the Headlines. C. Marvin dan Sheryl L. Pate (Grand Rapids, MI: Baker, January, 2005).

Tulisan beliau baru-baru ini:
· Dictionary of Biblical Prophecy, ditulis bersama Scott Duvall dan Danny Hays, Zondervan
· Introduction to Johannine Literature, Zondervan

Sheryl L. Pate, M.A.
adalah seorang penulis buku-buku laris yang meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dan Master of Arts (M.A.) dalam bidang pendidikan dari Concordia University. Beliau mengajarkan pembuatan catatan harian dan mengajar kelas-kelas di Pusat Keluarga dan Masyarat Ben M. Elrod di Ouachita Baptist University dan telah memberikan banyak presentasi mengenai manfaat dokumentasi pengalaman hidup seseorang melalui tulisan. Beliau dan suaminya telah menggembalakan sepuluh gereja sepanjang pernikahan mereka yang telah berlangsung hampir 30 tahun. Buku pertama yang mereka tulis bersama-sama adalah Behind the Masks: Personality Disorders in the Church (Broadman & Holman).