09 November 2008

Buku Tafsiran Alkitab Untuk Awam (TAUA): SURAT YAKOBUS (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

…Dapatkan segera…




Buku Tafsiran Alkitab Untuk Awam (TAUA):
SURAT YAKOBUS

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Penerbit:
STAR (Sekolah Theologi Awam Reformed) Publisher
Jln. Nginden Intan Timur II/5, Surabaya
E-mail: star_exodus@yahoo.com
Website: www.gkri-exodus.org




Apakah Anda orang Kristen awam yang ingin serius memahami isi Alkitab?
Apakah Anda mahasiswa theologi yang membutuhkan tafsiran Alkitab yang sesuai dengan tingkat pengetahuan Anda?
Apakah Anda seorang hamba Tuhan yang terlalu sibuk dengan urusan penggembalaan dan administrasi sehingga tidak bisa meluangkan waktu berjam-jam menyelidiki suatu teks?

Tafsiran Alkitab Untuk Awam (TAUA): Surat Yakobus
Hadir untuk menjawab semua kebutuhan di atas. Suatu tafsiran yang tidak terlalu teknis, tetapi tetap berbobot; yang tidak terlalu praktis, tetapi tetap bermanfaat bagi pertumbuhan rohani sehari-hari.

Temukan pula jawaban atas beberapa pertanyaan umum berikut ini:
· Apakah pencobaan adalah sesuatu yang baik yang harus disyukuri (Yak. 1:2) atau sebaliknya harus dihindari (Mat. 26:41/Mrk. 14:38/Luk. 22:40, 46)?
· Apakah konsep “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak. 2:14-26) bertentangan dengan ajaran Paulus tentang “diselamatkan karena iman” bukan perbuatan (Ef. 2:8-9)?
· Apakah Allah berkenan pada “bohong putih” yang dilakukan Rahab (Yak. 2:25)?
· Apakah benar setiap jenis binatang telah dijinakkan oleh manusia (Yak. 3:7)?
· Apakah untuk disembuhkan harus memakai minyak (Yak. 5:14)?




Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.




NB:
Seluruh hasil penjualan buku ini akan dipersembahkan untuk pengembangan perpustakaan STAR, Surabaya. Pemesanan buku dapat dilakukan melalui e-mail: star_exodus@yahoo.com atau telepon ke nomer berikut ini: Budi S. G. (0811-379-959 / 031-7061-4568), Lusiana (0811-336-077), Budijanto (0855-3020-935), Irwan (0888-251-7895)

Saran, tanggapan, pertanyaan, maupun kritikan dapat dikirimkan langsung kepada Penulis melalui e-mail: buku_yakub@yahoo.com

04 November 2008

Matius 11:28-30: MARILAH KEPADA-KU-2

Ringkasan Khotbah: 20 Agustus 2006

Marilah Kepada-Ku (2)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30


Kita telah memahami sebelumnya bahwa selama orang hidup di bawah kuasa penaklukkan dosa, orang akan mengalami kelelahan atau fatigue. Hanya kembali pada Tuhan barulah orang dapat terlepas dari kondisi fatigue; Tuhan akan memberi kelegaan. Ketika orang berjalan keluar dari rencana Tuhan, sesaat ia merasa nikmat dan nyaman sampailah orang sampai pada kegagalan, orang sudah fatigue barulah orang sadar kalau selama ini ia telah jauh melangkah, ia telah melakukan hal yang sia-sia. Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat. 11:28). Hari ini kita merenungkan arti dari berbeban berat atau over burden. Kata berbeban berat berasal dari kata fortizo artinya beban lebih yang dikenakan pada sesuatu benda atau makhluk hidup. Dalam bahasa Indonesia, kata “fortizo“ ini sangat mirip dengan kata “forsir.“ Seperti seekor keledai yang membawa beban berat yang melebihi kekuatannya karena begitu beratnya sampai akhirnya ia terjatuh dan mati.
Setelah kejatuhan, dunia mulai mengeluarkan semak duri, onak dan permusuhan, manusia harus berpeluh dan bekerja untuk mencari nafkah, itulah sebabnya orang tidak pernah lepas dari burden. Namun orang tidak mau bersusah payah, manusia yang licik mengembangkan prinsip passive income, orang lain yang disuruh bekerja untuk mendatangkan keuntungan baginya, ia harus menanggung beban, yaitu menafkahi dua orang sekaligus. Alkitab menegaskan barangsiapa yang tidak mau bekerja maka ia tidak boleh makan. Ada dua macam burden yang ditanggung manusia: 1) burden yang harus ditanggung oleh setiap orang Kristen karena ia menjalankan rencana dan kehendak Tuhan. Kuk yang kita tanggung tersebut adalah kuk yang Tuhan pasang akan tetapi kuk itu enak dan beban pun menjadi ringan, 2) burden milik kita sendiri dan celakanya, terkadang tanpa kita sadari, kita menanggung beban orang lain. Dan yang lebih celaka lagi, kita telah bersusah payah dan berjerih lelah mengerjakan dan menanggung beban itu tapi ternyata, tidak mendapatkan pahala yang ada justru kecelakaan dan kebinasaan. Beda halnya, kalau kuk yang kita pikul itu kuk Tuhan, selain terasa ringan, kita akan mendapatkan pahala. Hati-hati, secara pelan namun pasti dunia global berproses masuk dalam kondisi over burden dan kalau kita tidak kembali pada Tuhan, kita akan hancur.
Beberapa aspek yang menjadikan kita sangat berbeban berat, over burden antara lain:
1. Iri hati
Jiwa iri muncul karena orang tidak sadar, tidak dapat mengukur sampai batas mana kemampuannya tapi ia ingin menjadi seperti orang lain. Maka dapatlah dibayangkan akibatnya, ia pasti akan sangat berbeban berat. Ketika kita melihat kemampuan orang lain dan kita dapat melakukannya itu berarti kita memang mempunyai talenta di bidang itu tapi kalau kita sudah berusaha sekuat tenaga tetapi ternyata kita tidak dapat melakukannya maka kita tidak perlu iri hati, itu berarti Tuhan tidak memberikan talenta di bidang itu. Celakanya, kita tidak sadar diri tapi malah menjadi marah dan memandang orang lain sebagai ancaman. Kuk orang lain kita pasangkan ke diri kita, kita menanggung burden orang lain dan setelah berlelah-lelah ternyata, kita tidak mendapatkan pahala karena apa yang kita kerjakan itu semata-mata hanya dorongan ambisi dan iri hati.
Pada setiap orang, Tuhan memberikan talenta, ada orang yang mendapat 1 talenta, 2 talenta, ada yang 5 talenta. Tugas kita adalah mengembangkan talenta yang Tuhan berikan itu secara maksimum, kita kerjakan untuk Tuhan pasti kita tidak akan merasa terbeban dan yang lebih indah kita mendapat pahala. Menjadi murid Kristus, bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Beban itu tetap ada hanya bedanya, beban yang Tuhan berikan itu pas dan sesuai dengan kekuatan kita dengan demikian kita tidak merasa berbeban berat. Dunia modern sengaja memacu kita dengan semangat kompetisi, kita dipacu untuk menjadi seperti orang lain; jiwa manipulatif juga selalu diajarkan oleh dunia maka tidaklah heran kalau hidup kita selalu over burden. Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah jiwa iri hati itu ada dalam diri kita? Buanglah rasa iri hati itu secepatnya, jangan biarkan kita menjadi over burden.
2. Sombong
Adalah natur manusia berdosa yang tidak mau hidupnya diatur oleh Tuhan. Manusia lebih suka jalan menurut aturannya sendiri padahal aturan manusia itu sifatnya uji coba atau trial and error. Kalau orang mau taat, berjalan menurut apa yang menjadi jalan Tuhan maka semua akan berjalan indah, kita tidak perlu buang tenaga, waktu dan pikiran untuk hal-hal yang tidak perlu. Inilah sikap manusia berdosa yang tak ubahnya seperti anak kecil yang sok tahu dan sok pintar ingin mencoba segala sesuatunya sendiri, tidak mau menuruti perkataan orang tua sampai suatu titik dimana ia mengalami kesulitan barulah ia sadar kalau dirinya bukanlah siapa-siapa. Jangan biarkan hidupmu menjadi trial and error, jangan biarkan keluarga kita menjadi trial and error. Mengerjakan segala sesuatu dengan uji coba akan membuat kita menanggung beban yang seharusnya tidak perlu kita tanggung, over burden; banyak hal yang harus kita korbankan padahal seharusnya kita tidak perlu berkorban untuk hal itu. Setelah hancur lebur barulah orang sadar dan mau kembali pada Tuhan. Sungguh sangatlah indah hidup manusia kalau berada dalam pimpinan Tuhan. Kalau kita mau berandai-andai, seandainya hari itu, Hawa taat pada Tuhan maka hari ini kita tidak akan mengalami penderitaan. Hawa mencoba melakukan trial and error dan ternyata Hawa salah.
Hidup taat dan membiarkan diri dipasang kuk oleh Tuhan akan menjadikan hidup kita terasa nyaman dan indah karena Tuhan tahu sampai dimana batas kemampuan kita mengangkat beban; Allah yang berdaulat tidak menjadikan kita sebagai ajang uji coba. Biarlah dengan rendah hati kita datang kepada Kristus sebab hanya dengan mengenal Anaklah kita dapat mengenal Bapa di Sorga. Sayangnya, manusia tidak mau mengenal Anak dan Bapa, manusia ingin berjalan sendiri. Dalam kesombongan dan keegoisan manusia berusaha dan berjuang sendiri, manusia ingin menunjukkan bahwa ia bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Sadarlah kita mempunyai keahlian tertentu, kita pandai maka semua itu adalah karunia dari Tuhan dan ingat, di atas kita masih ada orang lain yang lebih hebat dari kita, jadi janganlah engkau sombong. Kita hanyalah manusia terbatas, kita tidak tahu apa yang terjadi di depan kita maka hal inilah seringkali menjadikan kita salah. Memikul kuk Tuhan tidak akan menjadikan kita over burden. Hendaklah kita senantiasa mau belajar dan diajar oleh Tuhan.
3. Hidup Tidak Seimbang
Keseimbangan dapatlah digambarkan seperti orang yang memikul beban dengan menggunakan sebatang kayu maka supaya beban itu terasa ringan, ia harus tahu titik seimbang yang tepat. Dapatlah dibayangkan apa jadinya kalau kita memikul beban tapi tidak pada titik yang tepat tentunya beban yang kita bawa akan terasa berat. Demikian juga halnya dengan hidup manusia kalau kita overloaded di satu bidang maka kita akan kehilangan yang lain, itu justru menjadikan keseimbangan hidup kita pincang. Itulah mulainya muncul masalah. Perhatikan, pengertian seimbang disini bukan sama rata atau membagi sama antara jam di pekerjaan, keluarga maupun gereja. Tidak! Tapi tergantung beban yang ada, waktu harus diatur sedemikian rupa untuk mencapai titik keseimbangan. Tiga aspek yang perlu kita perhatikan supaya mencapai suatu titik keseimbangan dalam hidup, yakni: 1) spiritualitas, kehidupan pelayanan, 2) keluarga, 3) dunia profesi. Jika salah satu bagian lebih berat dari yang lain maka hal itu akan menimbulkan masalah dan akhirnya kita menjadi over burden.
Manusia sangat terbatas; manusia tidak tahu dimana titik keseimbangannya. Hanya Tuhan tahu sampai dimana titik keseimbangan kita karena itu, hendaklah kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk diatur Tuhan. Namun manusia tidak mau taat, manusia merasa diri bijak untuk mengatur hidupnya sendiri akibatnya terjadi over burden. Janganlah kita merasa puas diri ketika segala sesuatu berjalan baik justru itu waktunya bagi kita untuk mengevaluasi diri, benarkah semua itu sudah berjalan seimbang atau jangan-jangan itu hanya kita sendiri yang menganggapnya demikian. Orang baru tersadar ketika beban itu sudah mencapai titik kulminasi dan meledak, ternyata titik keseimbangan itu tidak tercapai. Apalah artinya kita sukses di dunia profesi kalau keluarga kita hancur. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mencapai keseimbangan hidup? Hanya dengan berserah pada pimpinan Tuhan yang berdaulatlah barulah tercapai titik keseimbangan itu, hidup menjadi indah. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat , Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang... dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak (Mat. 11:28-30).
4. Hidup Tidak Harmoni
Hidup yang harmonis ini sangatlah indah, bagaikan sebuah simfoni yang merdu. Menata sebuah orkestra untuk membentuk sebuah simfoni ini tidaklah mudah. Bayangkan, kalau dalam suatu orkestra hanya ada sebuah alat musik saja tentulah alunan musik yang terdengar kurang indah demikian juga halnya kalau banyak alat musik tetapi semua memainkan nada-nada yang berlainan, yang terdengar justru suara disharmoni yang kacau balau. Kalau disuruh memilih antara satu alat musik atau banyak alat musik tapi disharmoni pastilah orang lebih memilih mendengarkan sebuah alat musik. Ironisnya, hari ini manusia suka sesuatu yang disharmoni, chaos karena chaos merupakan ekspresi jiwa manusia berdosa. Sebagai contoh, orang lebih suka mendengarkan musik aliran keras daripada musik klasik, orang lebih suka membaca buku-buku filsafat Nietzsche daripada membaca Alkitab. Hal ini menunjukkan betapa rusaknya dunia ini. Kristen sejati seharusnya memancarkan keindahan, hidup menjadi suatu pujian, salmos di hadapan Tuhan.
Hidup di dunia penuh dengan warna dan kompleksitas dan Tuhan menginginkan supaya masalah yang kompleks ini menjadi suatu harmoni yang indah dengan demikian kita tidak menjadi over burden. Keharmonisan hidup akan kita dapatkan kalau kita mau kembali pada Firman Tuhan. Namun sangatlah disayangkan, dunia tidak menyadari hal ini dan orang tidak mau kembali pada Firman karena menganggap diri lebih pandai dan bijak dari Tuhan. Orang tidak sadar bahwa apa yang mereka teorikan tidak dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari atau dengan kata lain telah terjadi disharmoni. Biarlah kita kembali pada Firman, kita mau dibentuk oleh Firman maka hidup kita akan bahagia. Merupakan suatu kesalahan paling fatal kalau kita menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup.Kekristenan bukan melihat kebahagiaan di titik akhir tetapi bahagia itu sekarang. Hidup Kekristenan bukan mengejar bahagia, tujuan hidup bukanlah kebahagiaan sebab ketika kita mengejar bahagia justru pada saat itu kita merasa tidak bahagia. Tujuan hidup kita adalah memuliakan Tuhan disana barulah kita merasakan kebahagiaan. Jadikanlah seluruh aspek hidup kita terarah kepada Tuhan, hidup akan sangat bahagia; bagaikan sebuah orkestra yang dipimpin seorang konduktor maka akan menghasilkan simfoni indah. Satu-satunya konduktor yang terbaik adalah Tuhan Allah sendiri.
5. Serakah
Manusia cenderung ingin sesuatu yang lebih tapi tidak mau mengukur diri. Orang tidak sadar bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu justru mendatangkan celaka. Satu hal yang perlu kita ingat, janganlah kekurangan yang ada itu menjadikan kita ingin memiliki sesuatu yang bukan seharusnya menjadi milik kita sebab itu malah menjadikan kita over burden. Kalau Tuhan memberikan pada kita 2 talenta maka kita harus mengembangkannya menjadi 2 talenta lagi tapi manusia serakah, tidak puas dengan 2 talenta. Inilah sifat manusia berdosa yang selalu tidak pernah puas. Keserakahan disini bukan hanya secara materi saja tetapi serakah disegala bidang seperti: jabatan, emosi termasuk dalam spiritualitas. Pertanyaannya kenapa manusia serakah? Kenapa manusia ingin mendapatkan segala sesuatu yang lebih dan lebih? Di tengah dunia tidak ada satu pun manusia yang dapat menentukan sampai sebatas mana porsi setiap manusia. Cobalah mulai hari ini kita belajar menyangkal diri dengan menekan segala keinginan kita sekaligus belajar untuk tidak menjadi serakah. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang ada pada dirinya hari ini.
Biarlah kita meneladani Paulus yang mencukupkan diri dalam segala keadaan dengan demikian kita tidak akan mudah digoyahkan oleh situasi dunia yang semain kacau. Tuhan ingin supaya kita mengerjakan segala sesuatu yang menjadi kehendak Tuhan bukan menurut keinginan kita dengan demikian kita tidak akan over burden. Keserakahan akan terbatas kalau seluruh standar dikembalikan pada Tuhan. Tuhanlah yang tahu sampai batas mana standar kita, sampai batas mana kita merasa cukup dan sampai batas mana kita merasa kurang. Biarlah kita mengevaluasi diri kita apakah saat ini kita merasa berbeban berat, over burden? Biarlah seluruh hidup kita hanya untuk menggenapkan rencana Tuhan maka kita akan mencapai titik maksimum dan kita tidak merasa berbeban berat. Kembalilah pada Tuhan, Tuhan telah menyediakan kuk yang pas untuk setiap kita. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 11:19-24: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-18: Kedahsyatan Pikiran Allah-3 dan Anugerah-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-16


“Israel” Sejati atau Palsu-18 (Penutup) :
Kedahsyatan Pikiran Allah-3 dan Anugerah-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:19-24



Untuk menjelaskan bahwa Allah tidak bermaksud agar umat pilihan-Nya sendiri binasa, maka Paulus telah memberi penjelasan singkat di ayat 13 s/d 18 tentang dimasukkannya orang non-Israel ke dalam umat pilihan. Lalu, ia mulai menguraikannya dari ayat 19 s/d 24 apa yang harus dilakukan oleh orang non-Israel yang sudah dicangkokkan tersebut.

Di ayat 18, Paulus sudah mengatakan bahwa orang non-Yahudi hendaklah tidak bermegah ketika ia dicangkokkan ke dalam akar tanaman, karena akar tanaman itulah yang menopang mereka, bukan sebaliknya. Lalu, Paulus membaca pikiran mereka lalu mengatakan di ayat 19, “Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas.” Paulus mengerti apa yang ada di dalam pikiran orang non-Yahudi yaitu usaha menonjolkan diri, merasa diri lebih berharga daripada banyak orang Yahudi yang sudah dibuang Allah. Hal ini pun juga terjadi pada banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen sudah merasa diri selamat, lalu bertindak seenaknya sendiri, persis seperti orang non-Yahudi ini. Terhadap pemikiran seperti ini, di ayat 20, Paulus melanjutkan, “Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!” Paulus tidak membantah apa yang dipercayai oleh orang non-Yahudi, yaitu banyak orang Yahudi tidak diselamatkan, tetapi justru orang non-Yahudi diselamatkan. Konsep ini tidak salah, tetapi ia menjelaskan bahwa banyak orang Yahudi tidak diselamatkan karena mereka tidak percaya. Kata “ketidakpercayaan” ini bisa diterjemahkan ketidaktaatan (disobedience). Ketika kita mencoba menengok kembali Perjanjian Lama, kita mendapati kebenaran apa yang disampaikan Paulus. Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah, bukan secara bangsa, tetapi lebih kepada individu. Karena konsep ini tidak dimengerti, sehingga mereka berpikir bahwa kalau mereka lahir dari keluarga Israel, belajar Taurat dari kecil, menjalankan Taurat, maka mereka pasti termasuk umat pilihan dan diselamatkan. Konsep iman dan ketaatan bukan lagi diukur dari hati, tetapi dari kelakuan dan pikiran yang tampak baik di luar. Konsep ini diluluhlantakkan oleh Tuhan Yesus di Matius 23 dengan menyebut mereka munafik. Mereka mengenal Allah hanya di tataran logika, menghafal Taurat, menjalankan syariat Taurat, tetapi tidak mengerti esensi di dalamnya. Allah sendiri di dalam Perjanjian Lama hampir sering menyebut Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk, bebal, dll. Ini dibukakan Paulus kembali di Surat Roma, bahwa Israel yang mengklaim diri sebagai umat pilihan-Nya (secara bangsa) ternyata banyak yang dibuang, karena ketidakpercayaan mereka. Di sini, Paulus menajamkan satu konsep tentang keselamatan, yaitu iman. Keselamatan bukan borongan atau turunan dari keluarga, tetapi keselamatan adalah individual dan berdasarkan iman pada anugerah Allah. Orang yang tidak beriman pada Kristus, betapa pun salehnya orang itu berbuat baik, perbuatan baik itu tidak berarti apa-apa di mata Allah, mengapa? Karena tindakan penebusan Kristus telah dihina dan direndahkan. Sebaliknya, bagi umat pilihan-Nya, mereka diselamatkan, bukan karena mereka berespon kepada Allah melalui iman, tetapi Allah lah yang berinisiatif memberikan anugerah iman kepada mereka, sehingga mereka bisa beriman. Tidak heran, Paulus mengingatkan, “dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah!” “Tegak tercacak” di dalam terjemahan KJV berarti berdiri (stand). Artinya, orang non-Yahudi bisa berdiri karena iman (atau diterjemahkan, beriman) bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena anugerah Allah. Oleh karena itulah, Paulus mengatakan bahwa mereka tidak boleh sombong, tetapi harus takut. Teguran Paulus ini menjadi teguran juga buat banyak orang Kristen. Banyak dari kita menganggap karena kita sudah selamat, lalu kita bertindak seenaknya sendiri. Dengan kata lain, kita menganggap keselamatan kita barang murahan yang tak bernilai. Sekali lagi, Allah melalui Paulus menegur kita bahwa ketika kita diselamatkan melalui iman di dalam penebusan Kristus, itu adalah mutlak anugerah Allah, tidak ada jasa baik manusia yang diperhitungkan. Sehingga, tidak ada yang perlu disombongkan ketika kita diselamatkan. Ketika kita sombong akan keselamatan kita, itu berarti kita tidak mengerti betapa berharga dan pentingnya keselamatan itu yang merupakan anugerah Allah.


Bukan hanya, tidak boleh sombong, Paulus juga menegur orang non-Israel untuk takut. Takut kepada siapa? Mengapa harus takut? Orang non-Israel harus takut kepada Allah yang memberikan anugerah keselamatan itu, “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.” (ay. 21) “Tidak menyenangkan” dalam banyak terjemahan Alkitab Inggris berarti tidak menaruh belas kasihan. Contemporary English Version (CEV) menerjemahkannya “memotong”. Dengan kata lain, mereka harus takut kepada keadilan Allah, di samping kasih-Nya. Takut kepada keadilan Allah menuntut orang non-Yahudi untuk tidak sembarangan menjalani hidup. Hidup mereka harus berubah dan berbeda total dari cara hidup dunia. Sedangkan, bagi mereka yang tidak mau bertobat, mereka pasti dibuang seperti orang Yahudi. Jangan sekali-kali memakai ayat ini lalu mengajar bahwa keselamatan umat pilihan bisa hilang. Itu tafsiran berbahaya dan ajaran hilangnya keselamatan umat pilihan ini bisa diruntuhkan dengan ayat-ayat Alkitab lainnya. Kembali, ayat ini bukan sedang membicarakan kehilangan keselamatan umat pilihan, tetapi sedang berbicara tentang teguran Paulus kepada orang non-Yahudi agar bertobat. Kalau mereka bertobat, berarti orang non-Yahudi itu adalah umat pilihan Allah sejati. Jika mereka tidak bertobat, berarti mereka jelas bukan umat pilihan-Nya, meskipun mereka menganggap diri “umat pilihan”. Bagaimana dengan kita? Dari teguran Paulus ini, kita belajar akan pentingnya pertobatan. Setelah Allah menyelamatkan kita melalui penebusan Kristus yang diefektifkan oleh Roh Kudus, kita tidak lagi berada di dalam kuasa dosa, iblis, dan maut. Selanjutnya, kita tidak boleh enak-enakan saja, tetapi kita melanjutkan karya keselamatan itu melalui pertobatan dan perbuatan baik untuk memuliakan Tuhan. Kedua hal ini pun terjadi melalui anugerah Allah. Pertobatan Kristen secara status terjadi satu kali, tetapi secara realita terjadi berkali-kali. Pertobatan berkali-kali ini menandakan bahwa di dalam setiap waktu kita membutuhkan pertobatan dari segala konsep kita yang keliru. Kita bisa bertobat setahap demi setahap melalui pencerahan Roh Kudus ketika membaca Alkitab atau ketika ada hamba Tuhan yang menyadarkan kita melalui perenungan Firman/khotbah. Di saat itulah, kita semakin dimurnikan oleh Roh Kudus melalui Firman.


Lalu, pertobatan sejati memerlukan satu dasar pijak, yaitu kebenaran Allah. Hal ini dijabarkan Paulus di ayat 22, “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga.” Orang non-Israel diingatkan Paulus untuk bertobat dengan berdasar pada kemurahan sekaligus kekerasan-Nya. Apa arti penggabungan dua atribut Allah ini menurut Paulus? Ia menjelaskan bahwa kekerasan Allah berlaku bagi mereka yang sudah jatuh/bersalah, sedangkan kemurahan-Nya bagi orang non-Israel ketika mereka tetap di dalam kemurahan-Nya. Jika mereka tidak tetap di dalam kemurahan-Nya, mereka akan dipotong. Apakah ini berarti keselamatan umat pilihan bisa hilang karena mereka tidak bertobat dan berbuat baik? TIDAK. Sekali lagi, ini tidak berbicara mengenai umat pilihan, tetapi teguran Paulus atas kesombongan orang non-Yahudi yang diselamatkan. Konteksnya jelas. Kembali, melalui pemisahan dua atribut Allah pada dua objek yang berbeda menjelaskan bahwa kepada orang-orang tertentu yang sudah dipilih, Allah menunjukkan pemeliharaan dan kemurahan-Nya secara khusus di dalam hal keselamatan dan perbuatan baik, tetapi kepada sisanya, yaitu orang-orang yang tidak dipilih, Allah menunjukkan kekerasan-Nya atau Tuhan mengeraskan hati mereka untuk tidak percaya. Teguran ini mengingatkan orang non-Yahudi kembali bahwa kepada mereka, Allah menunjukkan kemurahan-Nya, sehingga mereka harus hidup di dalam kemurahan-Nya saja, jika tidak, Allah tidak segan-segan memotong mereka. Kalau Allah sampai memotong mereka, itu jelas merupakan tanda bahwa mereka bukan umat pilihan, mengapa? Karena dua alasan. Pertama, umat pilihan tidak mungkin binasa, karena Allah yang memulaikan keselamatan, Ia pula yang akan menyelesaikannya sampai akhir (Ia adalah Alfa dan Omega). Kedua, karena Allah yang memelihara keselamatan umat pilihan-Nya sehingga tidak binasa atau tidak hilang, maka Ia pula lah yang memimpin mereka untuk bisa bersaksi bagi-Nya, meskipun itu tidak menghalangi tanggung jawab manusia. Kembali, kita belajar bahwa kemurahan Allah tidak berarti Allah bisa diinjak-injak, tetapi kemurahan Allah membawa/mendorong kita kepada pertobatan (Rm. 2:4). Ketika Allah bermurah hati kepada kita, kita harus senantiasa waspada karena pada saat itu lah, seharusnya kita sadar bahwa itu berarti Allah mengasihi kita dan menghendaki kita segera bertobat. Allah yang bermurah hati bukan lah Allah yang membiarkan dosa, tetapi menghendaki kita sadar dosa dan bertobat. Kadangkala untuk menyadarkan kita dari dosa dan menuntut kita bertobat, kemurahan hati-Nya ditunjukkan dengan cara menegur dan menghajar kita (Why. 3:19). Ketika kita dihajar-Nya, itu lah bukti kemurahan hati-Nya. Sebaliknya, jika Allah diam saja ketika kita berbuat dosa, hati-hatilah, itu tanda bahwa Ia tidak lagi memerdulikan kita, sekaligus itu juga bukti kekerasan-Nya atau Allah mengeraskan hati kita. Mari kita mengintrospeksi diri, masihkah kita mau menerima teguran dan bahkan hajaran yang keras dari Tuhan demi pertobatan kita? Ataukah kita menekan suara Roh Kudus di dalam hati kita?


Lalu, Paulus melanjutkan pokok permasalahan berikutnya di ayat 23, “Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali.” Untuk mengingatkan bahwa Allah menunjukkan kemurahan-Nya di ayat 22, maka Paulus mengajar bahwa Allah yang murah hati adalah Allah yang memanggil beberapa umat pilihan-Nya dari orang Yahudi yang bertobat. Artinya, umat pilihan-Nya yang ada di dalam beberapa orang Yahudi yang bertobat (karena pencerahan Roh Kudus) diterima-Nya kembali. Penerimaan-Nya ini didasarkan pada kuasa-Nya sekaligus kemurahan hati-Nya. Hal yang sama terjadi pada kita. Kita sering mendapati bahwa banyak orang Kristen yang untuk suatu saat murtad dan menolak Kristus meskipun sejak kecil dididik di sekolah minggu, tetapi jika orang itu termasuk umat pilihan, Roh Kudus akan “memukul” mereka kembali kepada Kristus, sehingga mereka yang tadinya murtad, akhirnya berbalik dan menerima Kristus. Itu adalah bukti kemurahan-Nya bagi umat-Nya yang mungkin pada suatu waktu tersesat dan murtad. Roh Kudus yang sama juga bisa memelihara hidup kita yang mungkin sedang mengalami depresi atau keputusasaan yang sangat berat. Ketika hidup kerohanian kita merasa kering dan bahkan menurun, Roh Kudus membakar kembali semangat itu sehingga kita makin mencintai Tuhan dan firman-Nya. Adalah suatu keanehan jika “Roh Kudus” yang digembar-gemborkan saat ini bukan mencerahkan dan membakar semangat kita untuk mencintai Allah dan firman-Nya, tetapi untuk melampiaskan emosi yang tak terkendali, seperti tertawa tidak sadarkan diri, berguling-guling di lantai, dll.


Ketika orang Israel dicangkokkan kembali apa pohon zaitun asli, baik orang Yahudi dan non-Yahudi sama-sama mendapatkan berkat, meskipun demikian, orang Israel mendapatkan berkat yang lebih, karena mereka lah yang pertama kali menerima kovenan keselamatan itu. Hal ini dijelaskan Paulus di ayat 24, “Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.” Paulus mengajar ini, sekali lagi, BUKAN karena ia lebih mencintai orang Israel, tetapi justru melalui ayat ini, Paulus menegur dan mengingatkan baik orang Yahudi maupun non-Yahudi bahwa mereka diselamatkan bukan karena kehebatan mereka, tetapi karena kasih karunia. Melalui anugerah Allah, orang non-Yahudi yang dulunya merupakan cabang dari pohon zaitun liar bisa dicangkokkan ke dalam pohon zaitun sejati. Begitu juga dengan orang Israel yang bertobat, mereka akan lebih menikmati anugerah Allah ini. Prinsipnya jelas, yaitu anugerah Allah menjadi sumber. Aplikasinya di dalam zaman ini, Roh Kudus bisa memanggil banyak orang non-Kristen untuk menjadi umat pilihan-Nya di dalam Kristus melalui pertobatan mereka yang sungguh-sungguh. Ketika itu terjadi, itu adalah anugerah Allah. Begitu juga sebaliknya, banyak orang Kristen yang merupakan umat pilihan-Nya untuk suatu saat tersesat, lalu ketika mereka bisa bertobat dan kembali kepada Kristus, itu juga anugerah, tetapi mereka lebih merasakan dahsyat dan besarnya anugerah Allah daripada orang-orang yang non-Kristen, mengapa? Karena orang-orang yang sudah Kristen, lalu murtad, dan akhirnya kembali kepada Kristus, mereka lebih mengerti anugerah Allah dan finalitas Kristus di antara semua agama lainnya. Di saat itu pula, mereka bisa lebih berani memberitakan Injil. Adakah kita termasuk di dalamnya? Biarlah kita mengintrospeksi diri. Biarlah anugerah Allah memotivasi dan mendorong kita untuk hidup bersaksi dan memuliakan-Nya saja.

Melalui perenungan 6 ayat ini, kita disadarkan akan finalitas Kristus dan anugerah Allah sebagai sumber keselamatan kita. Sudahkah kita bersyukur karenanya dengan bersaksi bagi-Nya? Amin. Soli Deo Gloria.

31 October 2008

ANALISIS ONTOLOGIS MENGENAI PEMIKIRAN THEOLOGIS (Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D.)

ANALISIS ONTOLOGIS MENGENAI PEMIKIRAN THEOLOGIS: Suatu Studi Perbandingan Antara Theologi Antroposentris dan Theosentris

oleh: Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D.




PENDAHULUAN
Bertentangan dengan persepsi pada umumnya yang percaya bahwa kebanyakan pendeta tidak tertarik dengan theologi, maka paper ini akan membuktikan hal yang sebaliknya. Baru-baru ini, penulis mendapatkan kesempatan untuk memberikan kuliah tentang ‘pemikiran dasar theologis’ kepada sekelompok pendeta yang telah berpengalaman dalam melayani di gereja di China. Selama kuliah berjalan, penulis takjub ketika mendapati bahwa orang-orang tersebut mengekspresikan ketertarikan mereka yang sangat dalam akan theologi. Mulai dari peristiwa itulah penulis menyadari bahwa ada dua alasan mengapa para pendeta tersebut selama ini tidak begitu tertarik dengan theologi.
1. Sebagian besar theolog lebih tertarik dengan keahlian berbicara yang tinggi dan memukau tanpa memperdulikan pemahaman orang lain. Mereka lebih mementingkan gengsi dan harga diri mereka dari pada hal-hal yang sifatnya praktis serta akademis lebih dari pada praktis. Selain dari pada gelar, karya tulis, dan seminar-seminar yang mereka lakukan, mereka tidak memberikan kontribusi yang baik dan praktis bagi gereja, juga tidak memiliki pelayanan yang berbuah di gereja dan juga di dalam komunitas kekristenan. Lebih lagi, sebagian besar dari presentasi mereka tidak memberikan apa-apa selain daripada perdebatan yang tidak penting, yang mengganggu pemikiran dan iman jemaat. Karena semangat perdebatan tersebut, mereka sering kali membuat perpecahan dan konflik di dalam gereja.

2. Sebagian besar dari pemikiran theologis adalah tidak praktis, sulit untuk dimengerti atau dipahami. Bahkan banyak theolog yang justru berusaha untuk memperumit kebenaran yang sebenarnya sederhana, sehingga membuat Injil yang sederhana menjadi tidak berbuah sama sekali.

Kedua hal tersebut merupakan alasan-alasan mengapa para pendeta tidak menyukai theologi. Masalahnya sederhana, bukan terletak pada diri para pendeta yang tidak tertarik dengan theologi atau pelajaran theologis, melainkan pada pengajar theologi yang telah mengajarkan theologi dan pemikiran theologi dengan metodologi yang sama sekali tidak praktis. Karena hal inilah maka para pendeta tersebut kurang memiliki persiapan yang mendalam untuk bertheologi, dan menganggap bahwa usaha untuk bertheologi tidak menghasilkan banyak buah dalam pelayanan melainkan hanya membuang banyak biaya dan usaha, oleh sebab itu mereka merasa enggan untuk melibatkan diri dalam pendidikan theologi.

Faktanya, apabila seseorang yang berkecimpung dalam pemikiran theologi atau pendidikan theologi dapat mengejahwantahkan dan mengakomodasi theologi dengan menggunakan bahasa yang sederhana untuk menyampaikan pemikiran theologi, maka penulis percaya bahwa para pendeta tersebut akan mendengarkan dengan serius dan dengan segenap hati mereka untuk dapat melibatkan diri dalam pemikiran theologi dan pendidikan theologi dengan serius. Dengan demikian, para praktisi yang telah sangat berpengalaman tersebut dapat meningkatkan pelayanan mereka untuk suatu pelayanan yang lebih baik dan lebih besar untuk kemuliaan Tuhan dan membawa berkat yang besar bagi jemaat.

Berdasarkan komitmen dan keyakinan di atas maka paper ini ditulis sebagai usaha untuk menganalisa pemikiran dasar theologi dengan maksud untuk menyediakan sebuah fondasi dan kerangka kerja bagi para praktisi dan pendeta untuk mengkaji ulang prinsip-prinsip yang beroperasi dalam pelayanan mereka.




ANALISIS PROPOSISIONAL
Paper ini akan berusaha menganalisis secara ontologis untuk mengkategorikan pemikiran-pemikiran theologi yang dewasa ini berkembang dalam kekristenan. Istilah analisis-ontologis membutuhkan penjelasan tersendiri. Istilah ontologis yang dipakai penulis dalam paper ini sebenarnya memiliki arti hal-hal yang mendasar, sederhana dan yang merupakan fondasi dari pemikiran, orientasi serta pemahaman seseorang akan iman dan praktiknya. Tujuan penulis adalah menggunakan metode semacam itu untuk membuat perbandingan kategorial akan metode berpikir, orientasi dan garis pemikiran seseorang yang secara sengaja atau pun tidak sengaja dilakukan untuk memahami theologi, iman, dan praktiknya.




PELAJARAN UNTUK DIPELAJARI
Mengkategorikan pemikiran-pemikiran theologi tidaklah mudah. Di sebagian besar kasus kita mengetahui bahwa banyak sekolah pemikiran theologi, beberapa diantaranya baik dan banyak juga yang kurang baik. Secara tradisional, sejak zaman para rasul para theolog membagi pemikiran theologi ke dalam dua kategori, yaitu: Alexandrian dan Antiochian. Untuk memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik, Gusto Gonzales, seorang sejarahwan theologi yang terkenal, mencoba merevisi pembagian sekolah-sekolah theologi dari dua kategori menjadi tiga kategori yaitu: Alexandrian (Origen and Clement.), Carthegian (Tertulian), Antiochian (Ireneaus), yang disebut dengan Theologi A, Theologi B, dan Theologi C.1 Menurut Gonzales, Theologi A mewakili golongan Aleksandria yang pemikirannya mengadopsi dasar filosofi sebagai fondasi theologi mereka; sedangkan Theologi B mewakili kelompok Karthago (Secara tradisional disebut Antiokhian) menggunakan dasar retorika dan hukum, dan Theologi C (sebuah pendekatan baru yang diperkenalkan oleh Gonzales) lebih menekankan kepada masalah-masalah pastoral sebagai dasar dari theologinya. Menurut penulis, Gonzales berhasil menyediakan suatu kerangka kerja yang lebih lengkap untuk penggolongan pemikiran theologi, dan karena itu ia menyediakan sebuah argumentasi akademik dan historis yang sangat kuat bagi kasusnya. Meskipun demikian, karena pendekatannya terlalu menekankan akademik dan anti tradisional, maka pendekatan tersebut tidak mendapatkan tanggapan yang mengesankan dan kurang direspon oleh kaum akademis, juga tidak menimbulkan perdebatan yang panas, dan kurang lebih lima tahun pendekatan ini hilang begitu saja.

Karena alasan itulah, paper ini tidak berusaha untuk membuat kategori lainnya demi menyusun sebuah pemikiran theologi yang khusus, akan tetapi paper ini ditulis untuk menyediakan sebuah pendekatan analisa metodologi terhadap orientasi dari pemikiran-pemikiran theologi secara umum di dalam analisa ontologis, dengan tujuan untuk melihat hal-hal yang memiliki kesamaan dan perbedaan. Oleh sebab itu, penulis berusaha untuk menghindari masalah-masalah kontroversial dengan membuat suatu kerangka kerja bagi pembaca agar pembaca memiliki sebuah ruang yang luas untuk melakukan refleksi untuk mengisi kekosongan dari pemikiran theologi mereka sendiri.

Paper ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama ditujukan kepada pembaca umum dengan tujuan untuk menyediakan sebuah kerangka pemikiran dasar yang sederhana untuk mengkategorikan pemikiran dasar theologi; sedangkan bagian kedua ditujukan untuk para pendeta dan mahasiswa theologi yang melakukan analisa secara mendalam dan komprehensif akan metode serta orientasi theologi mereka. Dengan menyediakan sebuah kerangka pemikiran dan struktur yang dapat diaplikasikan, penulis berharap mereka akan memiliki sistem iman dan kepercayaan yang berguna bagi pelayanan mereka. Penulis juga berusaha menyediakan beberapa ilustrasi pada bagian terakhir.




ANALISIS-ONTOLOGIS YANG SEDERHANA AKAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN THEOLOGIS
Dua Kategori Theologi
Berdasarkan analisa ontologis yang sederhana akan pemikiran theologi, kita akan menemukan bahwa ada dua kategori theologi, yaitu: orientasi theosentris dan orientasi antroposentris. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa orientasi theosentris berpusatkan pada Tuhan dan orientasinya adalah: “dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah,” seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 11:36. Sebaliknya, orientasi Antroposentris memusatkan pemikirannya kepada manusia dan mengadopsi orientasi: “dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia.”

Faktanya sederhana, ada dua rute orientasi, karena pemikiran theologi tidak pernah terlepas dari dua mata kapak, Allah dan manusia. Setiap orientasi selanjutnya dapat di bagi ke dalam dua bagian: 1) orientasi theosentris terdiri dari: i) genuine theocentric (theosentris murni), ii) dan quasi theocentric (seakan-akan theosentris), 2) sedangkan orientasi antroposentris dapat dibagi menjadi: i) pure anthropocentric (antroposentris murni) dan ii) quasi anthropocentric (seakan-akan antroposentris) atau pseudo theocentric.

Yang dimaksud dengan genuine theocentric adalah sebuah komitmen iman yang teguh terhadap orientasi theologi yang percaya bahwa semuanya berasal dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Sedangkan orientasi quasi theocentric, sekalipun memiliki sebuah kepercayaan yang teguh bahwa “segala sesuatu berasal dari Tuhan” akan tetapi disengaja atau pun tidak memasukkan unsur-unsur kepentingan manusia dalam proses pemikirannya sehingga membuat sifat dari teosentrisnya menjadi tidak murni. Orientasi ini tampak seperti theosentris, tetapi sebenarnya jauh dari orientasi theosentris yang sebenarnya, oleh sebab itulah penulis menyebutnya sebagai quasi theocentric theology. Hampir sama, pure anthropocentric artinya adalah sebuah komitmen iman yang teguh terhadap orientasi theologi, yang percaya bahwa semuanya berasal dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Sedangkan quasi anthropocentric, sekalipun percaya bahwa “segala sesuatu berasal dari manusia” namun memerlukan Tuhan dalam proses pemikirannya, sehingga orientasi ini merupakan antroposentris yang tidak murni. Orientasi ini memiliki sifat yang bisa membuatnya menjadi theosentris, akan tetapi masih jauh dari theosentris yang murni, oleh sebab itu orientasi ini lebih tepat disebut sebagai “theosentris semu.” Faktanya, analisa detail masih mungkin apabila kita ingin melihat bagaimana setiap orientasi ini beroperasi dalam konteks theologi. Analisa berikut ini akan membantu kita untuk mengupas dua orientasi yang telah dipaparkan di atas serta bagaimana mereka beroperasi.


Kerangka Singkat Orientasi-orientasi dari Pemikiran Theologis
Kategori 1: Orientasi Theosentris
A. Genuine Theocentric Orientation
Dari Allah, oleh Allah, untuk Allah
B. Quasi-Theocentric Orientation:
i) Dari Allah, oleh Allah, untuk Allah
ii) Dari Allah, oleh manusia, untuk manusia
iii) Dari Allah, oleh manusia, untuk Allah

Kategori 2: Orientasi Antroposentris
A. Pure Anthropocentric Orientation
Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia
B. Quasi Anthropocentric atau Pseudo Theocentric Orientation:
i) Dari manusia, oleh Allah, untuk manusia
ii) Dari manusia, oleh Allah, untuk Allah
iii) Dari manusia, oleh manusia, untuk Allah

Pada dasarnya, selain orientasi genuine theocentric semua orientasi lainnya baik sengaja atau pun tidak telah memasukkan unsur manusiawi dalam proposisi dan pengulasan theologi mereka. Oleh sebab itu, semua orientasi lainnya harus dikategorikan sebagai “quasi theocentric” atau “pseudo theocentric orientations.” Mereka telah memasukkan beberapa pemikiran theologis yang tidak murni dalam komitmen serta orientasi theologi mereka, dengan mengabaikan keabsolutan Tuhan serta tuntutan-Nya. Dengan menggunakan kerangka pemikiran yang demikian untuk mempresentasikan pemikiran theologi dewasa ini, kita harus mengakui hanya ada sedikit sekali genuine theocentric theology. Apa yang kita miliki sekarang ini sebagian besar adalah pure anthropocentric, pseudo theocentric, dan quasi theocentric. Ini adalah sebuah fakta yang harus membuat kita para pendeta dan orang percaya merasa prihatin!




MENGEMBANGKAN DAN MENGUMPULKAN KEMBALI ORIENTASI THEOSENTRIS DALAM PEMIKIRAN THEOLOGI
Klarifikasi atas Orientasi Theosentris
Kita harus mencatat bahwa ada perbedaan antara theologi dan divinity.2 Theologi didasarkan pada wahyu Allah, yang merupakan buah dari refleksi dan pembacaan umat Tuhan akan wahyu Allah. Tidak diragukan lagi, semua theologi pasti melibatkan aktivitas manusia, demikian juga theologi theosentris. Bahkan bisa dikatakan bahwa theosentrisitas harus melibatkan faktor-faktor serta pemikiran manusia dalam pengulasan theologinya. Dengan kata lain, orientasi theosentris adalah inklusifitas dari antroposentrisitas, dan theosentrisitas melibatkan faktor manusia. Ini adalah keajaiban dari anugerah Tuhan yang murah. Sebaliknya antroposentris kemungkinan adalah inklusifitas dari theosentris. Mengacu kepada fakta akan keterbatasan dan keberdosaan manusia, kapanpun manusia bertidak, akan selalu mengambil sentralitas dari pemikirannya serta mengesampingkan sentralitas dari Allah.

Inilah alasan, mengapa theosentrisitas adalah sangat penting, hanya ada satu cara, satu orientasi, dan satu pemikiran yang benar: Dari Tuhan, melalui/oleh Tuhan, untuk/bagi Tuhan. Inilah satu-satunya theocentric theology yang benar. Untuk lebih jelasnya kita menyebutnya sebagai “Genuine Theocentric Theology.”


Theologi Antroposentris dan Kaitannya
Di dalam pembahasan tentang anthropocentric theology di bagian pertama, sudah dijelaskan bahwa orientasi antroposentris adalah sistem kepercayaan dalam pemikiran manusia yang memiliki kerangka pemikiran: Dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia. Seperti telah kita bahas sebelumnya, bahwa karena Tuhan adalah Sang Pencipta, maka antroposentisitas adalah mungkin diterapkan dalam konteks theosentrisitas, dan bukan sebaliknya. Dengan pemahaman yang demikian, maka orientasi antroposentris dapat dipahami dalam tujuh pendekatan. Untuk lebih memudahkan, penulis akan memaparkan analisa ini dalam kerangka pemikiran berikut ini:
1. Dari Tuhan, oleh Tuhan, untuk manusia.
2. Dari Tuhan, oleh manusia, untuk manusia
3. Dari Tuhan, oleh manusia, untuk Tuhan
4. Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia
5. Dari manusia, oleh Tuhan, untuk manusia
6. Dari manusia, oleh Tuhan, untuk Tuhan
7. Dari manusia, oleh manusia, untuk Tuhan

Dari 7 pendekatan di atas, hanya poin 4, yang merupakan antroposentris murni, yang lainnya bisa dipahami dalam dua cara yaitu: pemikiran antroposentris yang memiliki orientasi antroposentris, atau pemikiran theosentris yang memiliki orientasi antroposentris. Kedua pendekatan di atas disebut “theocentric humanism” dan “humanistic theology,” atau “anthropo-theocentric thought orientation.” Dari luar semuanya terlihat sama, tetapi secara ontologis mereka hampir identik. Keduanya membawa nama Tuhan, akan tetapi menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia, akhirnya diakhiri dengan manusia sebagai perhatian utama mereka. Untuk masalah ini akan dibahas secara lengkap berikut ini.
1. Theocentric Humanism
Semua theocentric humanism memiliki kesamaan karena diawali dengan Tuhan, akan tetapi dalam proses pemikiran dan metodologi, mereka selalu memasukkan faktor manusia dalam operasi mereka. Pendekatan pertama yang telah disebutkan di atas yaitu: Dari Tuhan, oleh Tuhan, untuk manusia; pendekatan kedua; Dari Tuhan, oleh manusia, untuk manusia, dan pendekatan ketiga, dari Tuhan, oleh manusia, untuk Tuhan, ketiga-tiganya salah memahami dan salah menggunakan theosentrisitas. Oleh sebab itu kita harus menyebut mereka sebagai “quasi theocentric theology.” Sekalipun mereka semua dimulai dengan Allah dan menjadikan Allah sebagai fondasi pemikiran mereka, akan tetapi, baik dalam arah dan cara kerja mereka, mereka selalu mementingkan manusia dan sentralitas manusia. Akibatnya, mereka semua berakhir dengan bentuk lain dari orientasi theosentris yang menggunakan metode manusia untuk menyelesaikan karya Allah atau membuat Allah sebagai alat untuk mencapai kemuliaan manusia.

2. Humanistic Theology
Apa yang dimaksud dengan humanistic theology adalah pemikiran theologis yang selalu dimulai dengan humanitas, akan tetapi dalam metodologi dan proses pemikiran theologi mereka berusaha untuk melibatkan Allah dan faktor-faktor ilahi, sehingga seakan-akan terlihat seperti theosentris. Sedangkan orientasi yang diekspresikan dalam pendekatan ke lima sebagai “Dari manusia, oleh Allah, untuk Allah, pendekatan ke enam: Dari manusia, oleh Allah, untuk manusia, dan pendekatan ke tujuh: Dari manusia, oleh manusia, untuk Allah. Semua pendekatan tersebut pada dasarnya dimulai dengan antroposentris. Semua pendekatan tersebut menggunakan manusia sebagai fondasi pemikiran mereka, sekalipun mereka kemungkinan bergantung dan percaya kepada Allah, akan tetapi mereka menjadikan manusia sebagai perhatian utama mereka. Semua pemikiran tersebut harus dikategorikan pseudo theocentric theology3 karena semuanya tidak mengesampingkan natur keberdosaan manusia dalam usaha bertheologi mereka. Sehingga, semua pendekatan tersebut mengandung tindakan manusia yang salah dan berdosa. Mereka berpikir bahwa selama manusia memiliki kehendak dan kegigihan yang cukup, maka Allah tidak dapat menggagalkan usaha manusia. Bahkan tanpa anugerah Allah sekalipun, segala sesuatu tetap dapat diselesaikan, karena manusia menghendakinya. Sekalipun Allah yang memutuskan, manusialah yang harus berencana dan berusaha. Allah tidak akan mengabaikan kerinduan dan kegigihan hati manusia. Apabila kita melakukan tugas kita, Allah pasti mendengarkan, Dia pasti akan memberi ganjaran bagi mereka yang mencari Dia. Mereka semua salah memahami kehendak Allah dan salah menafsirkan Firman Tuhan sehingga mereka disebut “pseudo theocentric theology.”4




UJIAN DAN ILUSTRASI ANTHPOSENTRIC THEOLOGY
Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan kita adalah Penguji hati dan pikiran kita. Yesus suatu waktu mengatakan: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu! (Mat. 6:22-23). Melihat konteks dari ayat ini, kita dapat mengatakan bahwa kalimat ini ditujukan bagi mereka yang sangat mengenal Hukum. Mereka adalah orang-orang yang “telah mendengar apa yang dikatakan... “Akan tetapi Yesus berkata, “Tetapi Aku berfirman kepadamu...” melihat konteks yang ada kita dapat mengatakan bahwa Yesus hanya menekankan dengan jelas apa yang telah diabaikan! Mereka perlu menguji kembali pemikiran dan orientasi mereka. Sebenarnya artikel ini tidak memberikan sesuatu yang baru, akan tetapi hanya berusaha untuk memunculkan apa yang sebenarnya telah ada dalam pikiran sebagian besar pedeta dan orang percaya supaya kita semua dapat melakukan refleksi dan instropeksi yang mendalam. Penulis berharap agar ilustrasi di bawah ini dapat menerangi kita agar kita dapat melakukan tugas kita untuk memperjelas sentralitas dari pemikiran theologi kita.
1. Penjelasan Ilustrasi 1: “Dari Tuhan, oleh Tuhan, untuk Manusia” (bentuk operasi Pseudo Theocentric Theology)
Ketika sebuah khotbah mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan oleh Tuhan, akan tetapi dengan atau tanpa sengaja mengakui bahwa Tuhan dan pekerjaan-Nya dilakukan untuk kepentingan dan kemuliaan manusia, maka khotbah semacam itu yang mengklaim ketergantungannya kepada Tuhan, sebenarnya telah memanfaatkan Tuhan untuk kemuliaan Tuhan. Inilah yang diekspresikan dalam doa Yabez (1Taw. 4:10). Banyak orang Kristen tanpa sengaja jatuh ke dalam praktik semacam ini dan tersesat dalam kesalahan yang fatal. Hal inilah yang terjadi dalam “Theologi” Kemakmuran yang dipraktikkan oleh pengikut ajaran-ajaran Karismatik.

Kita harus ingat apa yang selalu Tuhan katakan bahwa Dia tidak akan membiarkan seorang pun merampas kemuliaan-Nya. Biarlah kita semua belajar dari Pemazmur yang mengatakan: Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! (Mzm. 115:1)


2. Penjelasan Ilustrasi 2 dan 3: “Dari Allah, oleh manusia, untuk manusia” dan “dari Allah, oleh manusia, untuk Allah”
Kedua pemikiran ini mengambil Tuhan sebagai fondasi pemikiran mereka, akan tetapi semuanya tergantung kepada pekerjaan manusia untuk menggenapkan tujuannya yang ditujuan baik itu untuk Allah maupun manusia.

Apabila sebuah khotbah mengakui keabsolutan anugerah, karya, dan kuasa Ilahi, akan tetapi dengan atau tanpa sengaja berbicara tentang ketergantungannya kepada sinergisme antara pekerjaan manusia untuk memberikan kemuliaan baik itu bagi Allah maupun manusia, maka pendekatan seperti ini adalah bentuk yang lain lagi dari antroposentrisme yang mengatakan bahwa tanpa manusia, Tuhan tidak dapat melakukan apa pun juga. Sekalipun Allah adalah maha kuasa, akan tetapi tanpa kerja sama dari manusia semuanya akan menjadi sia-sia.

Sangat sering penulis mendengar orang Kristen berkata: Untung saya percaya, kalau tidak bagaimana mungkin saya bisa selamat! Untung saya berdoa, dan berdoa dengan tekun, apabila tidak, bagaimana saya dapat melakukan semuanya? Untunglah saya menyerahkan hidup saya, apabila tidak, bagaimana mungkin gereja ini bisa memiliki seorang pendeta yang baik? Perkataan-perkataan semacam itu mengandung pesan betapa pentingnya keterlibatan manusia dalam pekerjaan Tuhan dan keselamatan. Sangat antroposentris dalam pendekatan mereka! Pendekatan semacam ini sama sekali gagal dalam memahami theosentrisitas! Mereka mencoba memulai dengan iman dalam anugerah, akan tetapi berusaha menyelesaikannya dengan daging dan pekerjaan manusia! Menjadikan manusia sebagai yang paling penting (Gal. 3:3).


3. Pejelasan Ilustrasi 4: “Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia” (anthropocentric theology yang murni)
Pendekatan ini merupakan kasus dari orientasi antroposentris yang murni dimana semuanya berasal dari manusia, oleh manusia, dan untukmanusia. Tidak diragukan lagi ini adalah orientasi yang dilakukan oleh kaum Modernisme, Liberalisme dan orang tidak percaya yang menekankan manusia sebagai sumber dari segala sesuatu, yang awal (the alpha) dan yang akhir (the telos) dari segala sesuatu.

Nebukadnesar dalam kitab Daniel sangat cocok dengan ilustrasi ini. Ketika dia mendapatkan wahyu dari Allah dia sangat terkesan dengan nasehat yang diberikan oleh Daniel. Akan tetapi, dia menjadi lupa diri dan mengatakan: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Dan. 4:30). Akhirnya dia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu (Dan. 4:33). Bagi mereka yang mengadopsi theologi antroposentris murni, Tuhan berfirman: Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Gal. 6:7). Theologi Antroposentris yang murni menurut Paulus adalah “Injil yang lain”.


4. Penjelasan Ilustrasi 5: “Dari manusia, oleh Allah, untuk manusia”
Secara umum, semua agama percaya akan keberadaan Tuhan. Pada kenyataannya, tidak ada satu agama pun yang menolak keberadaan Tuhan. Secara sosiologis, tujuan dari agama adalah untuk memuaskan dan memenuhi kebutuhan manusia. Dari semua pandangan, budaya, sosiologis, ekonomi dan politik, agama hanyalah sebuah alat. Apabila para pendeta tidak berhati-hati, sudah pasti mereka akan jatuh ke dalam lubang keagamaan yang seperti ini dalam pelayanan mereka dengan menjadikan manusia sebagai dasar iman dan praktik pelayanannya, mempercayai Tuhan untuk mencapai keuntungan manusia. Semua praktik keagamaan, upacara-upacara, ibadah, doa, penyembahan dan persembahan hanyalah sekadar sebuah metode atau alat. Di dalam konteks yang semacam itu, Tuhan hanyalah sebuah simbol, jembatan, dan alat. Operasi yang semacam ini sengaja atau pun tidak membuat orang percaya menyangkali iman mereka akan keabsolutan Tuhan dan mengadopsi sinergisme dan sinkretisme dalam pekerjaan Injil. Inilah sebabnya kita sering menetapkan pikiran kita, menentukan arah dan mengambil jalan kita kita sendiri kemudian berdoa dengan tekun, berpuasa untuk meminta dan memaksa Tuhan agar memenuhi keinginan dan tuntutan kita supaya kita mendapatkan berkat dan kemuliaan. Apakah hal semacam ini dapat disebut sebagai antroposentris? Apabila operasi semacam itu ingin disebut dengan theosentris, maka paling tidak itu adalah sebuah bentuk dari pseudo theocentric.


5. Penjelasan Ilustrasi 6: “Dari manusia, oleh Allah, untuk Allah”
Ini merupakan bentuk dari pseudo theocentric theology yang paling sulit untuk dimengerti. Pendekatan ini tampaknya sudah salah dari awalnya. Menajdikan manusia sebagai fondasi dari pemikiran theologisnya, berusaha bergantung kepada Tuhan dan dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Faktanya, orientasi ini merupakan bentuk lain dari orientasi yang sebelumnya. Pada dasarnya orientasi ini menunjukkan ketidakmungkinannya, karena pemikiran theologis selalu diakhiri dengan apa yang dimulainya. Sebuah orientasi yang dimulai dengan manusia tidak dapat diakhiri dengan Allah. Dalam orientasi ini, Allah hanya merupakan simbol manusia. Itulah sebabnya orientasi ini dikategorikan sebagai “pseudo theocentric religion.” Ilustrasi untuk orientasi ini adalah Ananias dan Safira. Mereka melayani Allah karena keinginan mereka sendiri. Mereka juga mengakui apa yang merkea dapatkan dari Allah dan berusaha memuliakan Allah dengan persembahan mereka. Meskipun demikian, Allah yang memeriksa hati dan pikiran mengetahui bahwa dalam realitanya mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai tujuan akhir dari ibadah mereka dan mendapatkan hukuman kerna perbuatan mereka. Dalam analisa finalnya, orientasi ini adalah identik dengan orientasi kelima.


6. Penjelasan Ilustrasi 7: “Dari manusia, oleh manusia, untuk Allah”
Ini merupakan orientasi yang paling sulit, theologi yang paling pseudo theocentric. Dimulai dengan manusia, percaya akan kemampuan manusia, akan tetapi ditujukan untuk kemuliaan Tuhan. Dari luar kelihatan sangat berusaha untuk theosentris, akan tetapi apabila dianalisa secara mendalam, kita akan melihat ketidakmungkinan dalam orientasi ini. Agama Kain adalah contoh dari praktik yang semacam ini. Dia datang kepada Allah, tidak merasa berdosa karena perbuatannya, dia memberikan persembahannya dan berasumsi bahwa Tuhan menerima persembahannya. Ketika dia mendapati bahwa persembahannya ditolak oleh Allah, dia menjadi marah dan membunuh adiknya. Bagi dia, agama adalah urusannya sendiri. Dia yang aktif, dia merasa memiliki hak untuk memaksa Allah menerima persembahannya, karena dia berusaha untuk memuliakan Allah. Demikian juga dengan kedua anak Harun, yang masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Faktanya sederhana: Tidak seorang pun dapat menyenangkan Allah tanpa anugrah Allah. Allah tidak dapat menerima api asing dan persembahan yang tidak kudus! (Im. 10:1)

Pada kenyataannya, ketika seseorang mengakui pekerjaan dan kemuliaan Tuhan, akan tetapi memulainya dengan manusia dan bergantung kepada usaha-usaha manusia, maka yang menjadi perhatian utamanya tidak lain hanyalah manusia dan dirinya sendiri. Dengan kata lain, semuanya berasal dari manusia dan oleh manusia. Ini merupakan contoh yang sangat tepat akan kesalahan tafsir akan wahyu Allah dan keselamatan. Secara theologis, Tuhan, Sang Pencipta tidak membutuhkan ciptaan-Nya untuk membawa kemuliaan bagi diri-Nya sendiri. Menciptakan adalah tindakan Allah yang bebas. Ketika seseorang berusaha memasukkan pandangan pantheistik ke dalam pemahaman theologinya, maka aktivitas keagamaan menjadi tidak lebih dari sekadar usaha untuk memercikkan percikan ilahi di dalam manusia. Ini merupakan peneguhan akan divinitas manusia, menganggap manusia sebagai bagian dari Allah, dan bahkan Allah itu sendiri. Aktivitas keagamaan menjadi tidak lebih dari sekadar usaha untuk mebebaskan jiwa yang tertekan dari materi, kedagingan dan nafsu, untuk menaikkan jiwa manusia. Ini merupakan duplikasi dari mistisisme, materialisasi dari gnostisisme dalam praktik kontemplasi. Sebuah pengertiann yang sama sekali salah akan theologi theosentris, karena mereka memperlakukan spiritualitas yang sejati sebagai praktik spiritualitas dan lebih lanjut mengambil spiritualitas sebagai kehidupan spiritual, sebuah kegagalan umum dari theologi kontemporer.




AFIRMASI ORIENTASI REFORMED: KESIMPULAN
Tujuan penulis adalah untuk memaparkan kerangka pemahaman pemikiran theologi dalam kategori analitis. Dimulai dengan pernyataan yang jelas akan pembagian dari pemikiran theologi yang didasarkan pada asumsi ontologis dan proposisi, baik itu theosentris maupun antroposentris. Dengan menyediakan sebuah kerangka pemikiran yang tepat untuk merefleksikan dan mengevaluasi dengan benar metodologi, orientasi dan pemikiran theologi seseorang yang erat kaitannya dengan fondasi bertheologi dan pelayanan pastoral.

Faktanya, theologi theosentris yang benar harus merefleksikan lima prinsip paradigma reformasi dari abad ke 16 yaitu, sola scriptura, sola gracia, sola fide, solus Christus, and soli Deo gloria. Di atas fondasi theosentris yang kuat itulah theologi dipaparkan, yang sudah pasti mengandung humanitas tetapi bukan humanisme, usaha manusia tetapi bukan sentralitas manusia, yang selalu menekankan keabsolutan Tuhan dan anugerahnya yang berdaulat. Inilah pembacaan yang tepat akan doksologi Paulus yang theosentris yang berbunyi:

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
(Rm. 11:33-36)




Catatan kaki:
1. Gusto Gonzales. Christian Thought Revisited: Three Types of Theology (Revised New York, Maryknoll: Orbis Book, 1999).
2. Sebagian besar orang menganggap theologi dan divinitas adalah sama. Sebanrnya berbeda. Theologi adalah dimulai dengan Tuhan, sebuah tindakan iman yang dihasilkan dari panggilan Tuhan yang mulia kepada manusia di dalam intelektualnya dengan tujuan untuk mempelajari dan merefleksikan Firman dan karya Tuhan dalam sejarah manusia. Theologi merupakan respons yang setia dari manusia terhadap wahyu Allah. Sebaliknya, divinitas adalah tidakan manusia yang berusaha untuk menemukan Tuhan berdasarkan akan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Tuhan tanpa wahyu Tuhan. Divinitas merupakan hasil dari beroperasinya keagamaan manusia.
3. Kenyataannya, orientasi ini harus dikategorikan sebagai Quasi Anthropocentric Theology karena bersifat antroposentris di fondasinya, akan tetapi tidak seterusnya demikian. Agar tetap konsisten, penulis menggunakan istilah Pseudo Theocentric Orientation untuk menggambarkan pemikiran semacam ini.
4. Penulis tidak membedakan antara pemahaman yang innocent dengan kesalahtafsiran yang disengaja akan Firman Tuhan. Kapanpun seseorang mulai dengan Tuhan, kemudian memasukkan usaha manusia dalam proses orientasi pemikirannya, itu adalah kesalahan dalam memahami firman Tuhan. Oleh sebab itu hal ini dikategorikan sebagai Quasi Theocentric. Sekalipun demikian, ketika seseorang mulai dengan manusia, kemudian disengaja atau pun tidak memasukkan Tuhan dalam pemikiran theologinya, adalah juga kesalahan dalam menafsirkan firman Tuhan. Tindakan semacam itu mengambil metodologi dari orientasi Pseudo Theocentric. Keduanya berbeda dalam memulainya. Perbedaan ini dibuat berdasarkan setiap metodologi, arah dan orientasi pemikiran dalam sebuah pembahasan yang sederhana.





Sumber:
Jurnal Theologi STULOS (Jurnal Theologi STT Bandung) 6/1
(April 2007) hlm. 127-142 (www.sttb.ac.id)




Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio




Profil Pdt. Dr. Joseph Tong:
Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D. adalah Pendiri, Rektor, dan Profesor: Theologi Filsafat, Sistematika, dan Praktika di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau juga menjabat sebagai presiden dari International Theological Seminary, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Theology (B.Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Bachelor of Arts (B.A.) dari Calvin College, U.S.A.; Master of Theology (Th.M.) dari Calvin Theological Seminary, U.S.A.; Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Southern California, U.S.A.; dan Master of Business Administration (M.B.A.) dari Graduate Theological Foundation, Indiana, U.S.A.

30 October 2008

Renungan Reformasi: SEMANGAT REFORMASI: SEMANGAT MENCINTAI FIRMAN-NYA (Denny Teguh Sutandio)

Semangat Reformasi: Semangat Mencintai Firman-Nya

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Mzm. 119:105



Pendahuluan
Hari Reformasi Gereja diperingati setiap tanggal 31 Oktober. Hari ini mengingatkan orang Kristen Protestan akan peristiwa Dr. Martin Luther mereformasi gereja dengan menempelkan 95 tesis/dalil di depan pintu gereja Wittenberg, Jerman pada tanggal 31 Oktober 1517. 95 tesis yang dipakukan itu berisi protes Dr. Luther akan kesalahan praktik-praktik yang dilakukan oleh gereja Katolik Roma pada waktu itu, terutama penyebaran surat pengampunan dosa (indulgensia) untuk membangun Gereja Basilea St. Petrus. Selanjutnya, pokok ajaran Luther dapat diringkaskan menjadi 4 poin, yaitu: Sola Scriptura (hanya Alkitab), Sola Gratia (hanya melalui anugerah Allah, kita diselamatkan), Sola Fide (hanya melalui iman, kita diselamatkan), dan Soli Deo Gloria (kemuliaan hanya bagi Tuhan). Empat pokok pengajaran ini bermuara dari satu hal terutama yang menjadi poin pertama tadi, yaitu hanya Alkitab (Sola Scriptura). Semangat Dr. Luther mereformasi gereja bukan semangat memecah belah gereja atau mendirikan gereja baru, tetapi beliau memiliki keinginan agar gereja Tuhan kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya dasar kebenaran. Semangat ini diteruskan oleh Dr. John Calvin, Dr. Theodore Beza, dll, sampai sekarang ini. Sayangnya, semangat Reformasi sudah luntur dan kurang bisa diteruskan dengan konsisten sampai sekarang. Mengapa? Karena gereja-gereja yang katanya dipengaruhi oleh theologi Reformasi dan Reformed tidak lagi menjunjung tinggi otoritas Alkitab, melainkan humanisme atheis. Tidak heran, di zaman postmodern ini, gereja-gereja yang mengaku diri bertheologi Reformasi mulai mengkompromikan iman Kristen mereka dengan mengajar bahwa di luar Tuhan Yesus Kristus masih ada keselamatan. Hal ini ditandai dengan menjamurnya dialog-dialog antar agama tanpa dasar yang beres untuk mencari titik temu dari semua agama. Yang lebih parah lagi ada seorang “pendeta” sekaligus dosen di sebuah sekolah “theologi” di Jakarta berani menuliskan artikel di sebuah surat kabar yang meragukan kebangkitan Kristus dengan mengetengahkan penemuan kubur Yesus di Talpiot. Mereka yang melakukan hal ini adalah mereka yang katanya “pendeta” dan sekolah “theologi” bahkan di luar negeri. Sebenarnya, mereka hanya mewarisi tradisi Reformasi, tetapi tidak pernah memahami sungguh-sungguh spirit/semangat Reformasi yang kembali kepada Alkitab. Oleh sebab itu, sudah seharusnya, orang Kristen yang beres bukan hanya mewarisi tradisi saja, kita harus menjiwai apa yang ada di balik tradisi tersebut, yaitu semangat dan ajaran. Dalam hal ini, kita akan mempelajari spirit/semangat Reformasi yaitu semangat mencintai firman-Nya.


Semangat Reformasi: Semangat Mencintai Firman Tuhan
Semangat Reformasi yang terutama adalah semangat mencintai firman Tuhan (Alkitab). Sayang, semangat ini sudah dipelintir oleh gereja-gereja yang katanya dipengaruhi oleh theologi Reformasi. Saat ini, di gereja-gereja tersebut, ketika merayakan hari Reformasi Gereja, apa yang mereka beritakan? Mayoritas mereka memberitakan semangat reformasi adalah semangat mempedulikan lingkungan sekitar, dll. Hal tersebut tidaklah salah, tetapi itu BUKAN inti semangat Reformasi Gereja. Inti semangat Reformasi Gereja adalah kembali kepada Alkitab. Seorang yang memiliki kerinduan kembali kepada Alkitab adalah orang yang mencintai firman-Nya. Tanpa didasari oleh kecintaan akan Allah dan firman-Nya, tak mungkin seorang benar-benar mau kembali kepada Alkitab! Dengan kata lain, seorang Kristen atau pemimpin gereja apakah dia kembali kepada Alkitab atau tidak, dapat dinilai dari kecintaan mereka akan Allah dan firman-Nya. Lebih lanjut, kita mendapat gambaran yang lebih jelas lagi, yaitu: orang yang mencintai Allah dan firman-Nya pasti sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab, lalu orang yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang mempelajari firman-Nya, dan terakhir, orang yang mempelajari firman-Nya adalah orang yang taat dan menjalankan apa yang Tuhan firmankan. Mari kita pelajari kaitan ini.

Pertama, orang yang mencintai Allah dan firman-Nya adalah orang yang sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Adalah suatu absurditas jika ada orang Kristen yang mengatakan bahwa dia mencintai Tuhan, apalagi firman-Nya, tetapi ia tidak mau sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Kecintaan umat Tuhan kepada Allah dan firman-Nya mengakibatkan ia akan kembali kepada Alkitab. Apa arti kembali kepada Alkitab? Kembali kepada Alkitab berarti menjadikan Alkitab sebagai standar utama dalam iman, etika, moralitas hidup umat Tuhan sehari-hari. Dengan kata lain, kembali kepada Alkitab berarti membiarkan Alkitab sebagai firman Allah berbicara dan menerangi iman, etika, moralitas hidup umat-Nya. Di sini, Alkitab berfungsi sebagai cermin bagi iman, etika, dan moralitas hidup kita. Ketika kita berdosa, Roh Kudus memakai Alkitab untuk mengingatkan kita akan dosa kita. Begitu juga ketika kita mengalami masalah, Roh Kudus yang sama mengingatkan kita akan perkataan-perkataan Kristus di dalam Alkitab. Ketika kita mengalami lemah iman, Roh Kudus menguatkan kita melalui Alkitab. Kita bisa mempelajari hal ini dari sejarah gereja. Bapa Gereja Augustinus mengalami hal ini. Ketika ia sedang berdosa dan mengalami kekosongan hidup karena ajaran Manichaeisme yang dipercayainya tidak mampu menjawab pertanyaannya, tiba-tiba anak kecil mengatakan, “Ambil, Baca”, lalu Roh Kudus memakai perkataan itu untuk mendesak Augustinus untuk membaca Alkitab di dalam Roma 13:13. Begitu juga dengan Dr. Luther, ketika ia menemukan ajaran Alkitab bahwa kita dibenarkan melalui iman, ia langsung memprotes semua kesalahan gereja Katolik Roma. Di sini, kita belajar bahwa Alkitab telah menjadi cermin yang mengoreksi kesalahan manusia selama ini. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan Alkitab sebagai cermin hidup kita di dalam iman, kerohanian, etika, dan moralitas? Beranikah kita berkata seperti pemazmur bahwa firman Tuhan itu menerangi langkah hidup kita (Mzm. 119:105)?

Kedua, orang yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang mempelajari firman-Nya. Kita bukan hanya kembali kepada Alkitab atau menjadikan Alkitab sebagai cermin hidup kita, kita dituntut lebih lanjut untuk mempelajari firman-Nya. Seorang yang mencintai firman Tuhan, ia akan menjadikan firman Tuhan itu yang terutama, dan tentu saja ia akan rajin mempelajari firman Tuhan itu dengan menggali kelimpahan pengertian yang terkandung di dalamnya. Adalah suatu absurditas jika ada orang Kristen yang katanya kembali kepada Alkitab, tetapi malas mempelajari firman-Nya. Orang Kristen yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang rindu belajar firman-Nya. Orang yang rindu belajar firman-Nya adalah orang yang rindu belajar menafsirkan Alkitab demi mendapatkan pengertian yang sedekat mungkin dengan arti aslinya. Nah, di sinilah, orang Kristen yang cinta firman Tuhan akan belajar mati-matian untuk mengerti firman-Nya dengan mencari alat-alat yang bisa membantunya untuk mempelajari Alkitab, baik itu melalui tafsiran Alkitab, konkordansi Alkitab, program Alkitab (seperti: e-Sword, SABDA, dll), dll. Semakin orang Kristen tersebut menggali kedalaman dan kelimpahan Alkitab, semakin orang Kristen itu diberkati dan dikuatkan imannya. Saya bukan hanya berteori, saya mengalaminya sendiri. Bagaimana dengan kita? Rindukah kita mempelajari firman-Nya? Biarlah ini menyadarkan kita akan pentingnya belajar firman Tuhan.

Ketiga, orang yang mempelajari firman-Nya adalah orang yang taat dan menjalankan firman-Nya. Belajar firman Tuhan itu saja tidak cukup, karena itu bisa mengakibatkan orang Kristen atau pemimpin gereja menjadi sombong rohani. Ini yang terjadi di banyak gereja yang mengaku bertheologi Reformasi. Para pemimpin gereja adalah mereka yang studi theologi di luar negeri dengan serentetan gelar akademis, tetapi sayang, hati mereka kosong. Rasio mereka dipenuhi dengan segudang pemikiran theologi yang rumit, tetapi hati mereka hampa tanpa mengalami kehadiran Tuhan. Tidak heran, sosok hamba Tuhan yang diurapi seperti John Sung yang pernah masuk sekolah theologi di Union Theological Seminary lalu akhirnya mengundurkan diri. Pdt. Dr. Stephen Tong juga pernah menuturkan bahwa ada seorang Kristen yang setelah mendengarkan khotbah beliau, imannya dikuatkan. Lalu, orang Kristen ini terpanggil menjadi hamba Tuhan lalu masuk sekolah theologi. Makin belajar theologi, hatinya kering dan imannya hampa. Akhirnya, ia hampir menjadi atheis. Puji Tuhan, ia kembali mendengar khotbah Pdt. Stephen Tong dan imannya dikuatkan kembali. Aneh bukan? Orang semakin belajar theologi bukan semakin beriman, tetapi semakin meragukan iman. Apakah berarti sekolah theologi tidak perlu? TIDAK! Sekolah theologi itu penting, tetapi pertanyaan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah sampai sejauh mana sekolah theologi itu bukan hanya mendidik theologi secara akademis, tetapi juga menguatkan iman dan spiritualitas para murid yang diajar. Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa belajar firman Tuhan saja tidak cukup, kita dituntut harus mengaplikasikannya dengan TAAT dan menjalankannya. Misalnya, kita belajar firman Tuhan tentang mengubah pola pikir kita (Rm. 12:2), kita bukan hanya pandai menafsirkan ayat itu dengan pola penafsiran eksegese, tetapi kita sendiri harus TAAT dan menjalankannya. Ketika kita belajar tentang prinsip-prinsip Alkitab tentang politik, ekonomi, dll, kita bukan hanya mempelajarinya sebagai bahan mengajar di kelas atau debat dengan orang lain, tetapi kita sendiri harus TAAT dan menjalankannya. Mengapa Abraham disebut bapa orang beriman? Apakah dia lulusan seminari theologi? TIDAK! Abraham disebut sebagai bapa orang beriman karena Allah yang memampukan dia TAAT dan menjalankan apa yang Ia firmankan. Abraham TIDAK terlalu banyak berargumentasi dan menganalisa firman Tuhan kepadanya. Yang ia lakukan hanya TAAT dan menjalankan firman-Nya. Ketaatan kita kepada firman-Nya menunjukkan bahwa kita benar-benar mencintai Allah dan firman-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita taat kepada firman-Nya?


Kesimpulan dan Tantangan
Biarlah renungan singkat di hari Reformasi Gereja menyadarkan kita akan pentingnya Alkitab sebagai satu-satunya sumber dan standar bagi iman, spiritualitas, etika, dan moralitas hidup kita. Kiranya Roh Kudus memimpin dan memampukan kita menjalankan apa yang Allah firmankan di dalam Alkitab, sehingga nama Tuhan sajalah yang ditinggikan selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria. Sola Scriptura. Sola Gratia. Sola Fide. Solus Christus.



To Love God is to know the will of God in His Word, do His will, and glorify His name

27 October 2008

Matius 11:28-30: MARILAH KEPADA-KU

Ringkasan Khotbah: 06 Agustus 2006
Marilah Kepada-Ku
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30


Pendahuluan
Tema keseluruhan Injil Matius adalah Kerajaan Allah, the Kingdom of Heaven. Injil Matius membukakan tentang Kristus sebagai Raja dan pemegang otoritas tertinggi menata Kerajaan-Nya di tengah dunia dan orang Kristen yg menjadi warga-Nya haruslah tunduk dan taat pada Sang Raja. Pada pasalnya yg ke-11 Matius menegaskan bahwa orang yg mengaku beriman pada Kristus maka hidupnya harus berpusat pada Kristus. Iman Kristen bukan ideologi yg hanya dimengerti sebagai pengetahuan. Tidak! Alkitab menegaskan bahwa iman Kristen bukan percaya kepada Kristus melainkan percaya ke dalam Kristus berarti ada relasi antara manusia dg obyek iman. Dalam bahasa Yunani menggunakan istilah eis berarti memasukkan diri ke dalam obyek yg kita percaya. Sebelum kita masuk dalam klimaks dari Matius pasal 11 ini ada baiknya kita mengingat kembali:
Pertama, Yohanes ingin supaya para muridnya berbalik arah; mereka yg semula mengagungkan Yohanes kini mereka harus beriman pada Kristus. Dan cara yg dipakai Yohanes sangat unik, dia menyuruh para muridnya untuk bertanya langsung pada Kristus dan jawaban yg diberikan Kristus pun sangat unik. Tuhan Yesus meminta para murid untuk melihat dan mendengar enam tanda yg telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dan dari apa yg mereka lihat dan mereka dengar itu mereka harus menyimpulkan sendiri: siapakah Yesus. Inilah cara Tuhan Yesus mengkonfrontasi iman. Iman bukan sekedar sebuah jawaban teologis tetapi iman adalah bagaimana kita memasukkan seluruh pikiran dan pengalaman hidup kita pada obyek iman yg kita percaya. Iman bukan sekedar pengetahuan. Iman merupakan pertemuan pribadi antara pribadi dg obyek iman.
Kedua, Tuhan Yesus mengecam keras kota-kota yg banyak mendapat mujizat tetapi kota itu justru tidak bertobat. Orang hanya mau ekses iman, orang hanya mau berkat saja tapi orang tidak Sang Pembuat mujizat dan celakanya, orang sudah merasa dirinya beriman. Hati-hati, kalau kita salah dalam memahami iman maka itu akan membawa kita pada kebinasaan. Iman Kristen bukanlah iman ekstensi tapi esensi.
Ketiga, Seorang warga Kerajaan Sorga haruslah mempunyai pikiran seperti Bapa sama seperti Kristus, yakni melakukan apa yg menjadi perintah Bapa-Nya. Iman bukan diselesaikan dg nalar yg jenius atau bijaksana duniawi. Tidak! Iman bukan hasil pencerahan pikiran kita tapi iman haruslah diselesaikan dg kesederhanaan dan dg rendah hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang berdosa.
Pada bagian klimaks Tuhan Yesus mengundang setiap orang yg berletih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan Tuhan akan memberi kelegaan. Setelah kejatuhan, dunia tidak pernah lepas dari masalah dan sengsara maka undangan Tuhan Yesus ini sangat relevan sampai saat ini. Manusia merasa diri lebih pandai dari Allah, manusia merasa diri berhak sebagai penentu kebenaran. Jadi, kejatuhan manusia itu bukan pada saat manusia makan buah. Tidak! Letak permasalahannya adalah pada masalah positioning – manusia ingin menjadi Allah maka pertanyaan pertama Allah adalah: Adam, dimana kamu? Pertanyaan ini bukan mempertanyakan secara fisik tetapi Allah menanyakan posisi Adam dan Hawa secara spiritual. Dosa menyebabkan manusia mengalami keterkiliran dalam posisi akibatnya kesengsaraan. Sebagai gambaran dari kesengsaraan ini adalah ketika tulang kita terkilir maka saat tulang dikembalikan pada posisi aslinya, kita akan merasakan kesakitan yg luar biasa. Jangan pikir ketika manusia keluar dari posisi asli akan lebih menyenangkan atau manusia lebih hebat. Salah!
Dua efek dasar yg dialami oleh manusia berdosa, yakni: 1) Orang mengalami letih lesu, dan 2) orang akan berbeban berat. Hari ini kita akan merenungkan efek pertama, yaitu letih lesu. Kata “letih lesu“ berasal dari bahasa aslinya “fatigue“ yakni suatu kondisi dimana orang sudah tidak tahan lagi dg beban atau tuntutan yg ada hingga sampailah orang pada suatu titik keputusasaan. Sebuah logam baja mempunyai titik lentur jika kita mengenakan suatu perlakuan melebihi titik lentur, baja menjadi retak dan akhirnya patah; logam tidak dapat kembali seperti bentuk semula. Dosa menyebabkan manusia akan berada dalam kondisi fatigue namun ironis, dalam kondisi demikian manusia tidak mau kembali dan bersandar pada Tuhan tapi malah membuang Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah sejak kecil, manusia telah dididik untuk hidup mandiri, artinya orang dapat mengerjakan apapun tanpa pertolongan orang lain.
Orang tidak sadar hal ini justru berakibat buruk, orang tidak mudah percaya pada orang lain, segala sesuatu haruslah ditentukan diri sendiri, setiap keputusan atau masalah haruslah diselesaikan sendiri. Kalau setiap saat harus menghadapi situasi demikikan maka sampailah ia pada suatu titik fatigue dan sampai titik itu kalau orang tidak punya sandaran maka ia akan bunuh diri. Kelelahan ini merupakan kelelahan esensial.
Kelelahan esensial ini juga dialami oleh bangsa Israel namun mereka tidak mau mengakui hal ini, bangsa Israel sangat sombong. Kesombongan ini terpancar jelas dari perdebatan antara para ahli taurat dg Tuhan Yesus (Yoh.8). Para ahli taurat langsung marah ketika Tuhan Yesus menyatakan kalau sesungguhnya, mereka adalah hamba. Orang Yahudi tidak dapat terima dikatakan sebagai hamba, mereka merasa diri sebagai orang merdeka yg berhak menentukan segala sesuatunya sendiri. Bangsa Israel tidak mau menyebut diri sebagai hamba Allah tetapi sebagai anak Allah karena istilah “hamba“ disini menyadarkan mereka akan keterbatasan dirinya dan istilah “anak Allah“ seolah kita mempunyai suatu kebebasan dan otoritas. Jangan salah mengerti dg istilah “anak.“ Istilah “anak“ dibedakan dua, yakni: 1) secara ekstensial, contoh: anak dokter, apakah itu berarti ia dokter? 2) secara esensial, contoh: anak manusia maka dapatlah pastilah ia manusia.
Tuhan Yesus membukakan pada para ahli Taurat ini kalau sesungguhnya mereka bukan anak Allah tetapi yg lebih cocok mereka adalah anak iblis. Sesungguhnya, bangsa Israel berada di bawah jajahan baik secara fisik maupun spiritual. Secara fisik, bangsa Israel adalah jajahan bangsa Roma dan Raja Herodes yg memerintah itu pun bukan orang Yahudi asli tetapi ia adalah orang Idumea. Secara spiritual, bangsa Yahudi adalah jajahan, orang Yahudi mempunyai 2 imam besar, yakni Hanas dan Kayafas. Ironisnya, mereka marah ketika Tuhan Yesus membukakan tentang hal ini. Selama kita berada dalam kuasa penaklukkan dosa, kita akan masuk dalam kondisi fatigue. Bagaimana tidak fatigue kalau kita hidup di tengah dunia berdosa dg cara berdosa? Manusia berdosa mencoba menyelesaikan semua permasalahan dg caranya sendiri, dan celakanya cara yg dipakai adalah cara dunia berdosa maka hal ini membuatnya makin terjepit dalam dosa. Sesungguhnya, manusia menyadari kalau ia berada dalam keletihan yg sangat itu namun yg menjadi pertanyaan adalah kenapa manusia tidak mau kembali pada Tuhan? Apa yg membuat manusia fatigue tetapi tetap mempertahankan fatigue?
I. Manusia merasa berhak menetapkan makna hidupnya sendiri.
Manusia yg sombong ingin menentukan hidupnya sendiri. Sesungguhnya dibalik kesombongan itu, orang tidak mau percaya Tuhan Yesus. Hanya anak Tuhan sejati yg percaya pada Tuhan Yesus dan anak Tuhan yg sejati ini jumlahnya sangat sedikit meski faktanya jumlah gereja sangat banyak, minoritas di dalam minoritas. Kesombongan ini tidak lepas dari pendidikan dunia modern yg mengajarkan anak untuk berkompetisi. Sadarkah kita kompetisi mengakibatkan dua hal: sukses atau kehancuran. Apalah artinya kesuksesan atau kepandaian kalau kita hanya berhasil dalam satu bidang? Maka tidaklah heran kalau kita mendapati orang yg menang dalam lomba fisika tetapi dia tidak lulus sekolah. Kesuksesan dalam kompetisi juga berakibat buruk, orang tidak lagi membutuhkan orang lain apalagi Tuhan sebab orang merasa dapat menetapkan makna hidupnya sendiri.
Pernahkah kita bertanya dalam hati, apakah arti hidupku? Apakah kita melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yg kita ambil dalam seluruh aspek hidup kita? Pada dasarnya, manusia ingin menentukan makna hidupnya sendiri dan Tuhan dijadikan seperti layaknya “pesuruh“ yg harus siap menolong kalau kita menghadapi kesulitan. Perhatikan, kita yg memilih dan mengambil keputusan sendiri maka kita harus berani menanggung resikonya. Jangan salahkan Tuhan kalau ternyata hasilnya tidak seperti yg kita harapkan. Berbeda halnya kalau Tuhan yg memilih dan menempatkan kita maka Dia pasti akan menolong dan memimpin setiap langkah kita karena disitu, Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui kita. Manusia berpendapat dg menentukan makna hidupnya sendiri ia akan hidup bahagia. Pendapat yg salah! Saat itu kita justru masuk dalam kondisi yg sangat lelah sebab kita keluar dari rencana Tuhan, kita berjuang sendiri, segala sesuatu harus kita kerjakan sendiri. Sebagai pelarian dari rasa lelah yg sangat luar biasa ini manusia mencari jalan pintas dg lari pada hal-hal berdosa, seperti free sex, narkoba, minuman keras, dan lain-lain. Orang makin masuk dalam jerat dosa dan sulit bagi manusia untuk keluar. Manusia masuk dalam kondisi totally fatigue.
Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah selama ini kita mengalami keletihan? Bertobat dan kembalilah pada jalan Tuhan. Relakanlah hidupmu untuk dibentuk oleh Tuhan. Mungkin, kita merasa tidak suka dg apa yg Tuhan tetapkan tetapi sebagai Kristen sejati kita harus taat. Memang, ketika mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Tuhan akan memberikan beban, pikullah kuk yg Kupasang sebab kuk-Ku itu enak dan bebanKu pun ringan (Mat. 11:30).

2. Manusia merasa harus berjuang sendiri.
Manusia berpendapat Tuhan adalah sesuatu yang fiktif sehingga Dia tidak dapat menolong ketika manusia dalam kesulitan. Hati-hati, kalau kita mengerti iman secara sepotong-potong berarti kita terjatuh dalam pikiran Feuerbach, Marx, Engels yang menyatakan bahwa agama itu seperti layaknya sebuah candu, pembiusan manusia karena itu, orang tidak perlu beragama toh Tuhan tidak realistis. Manusia harus menentukan segala sesuatu sendiri dan berjuang sendiri. Orang hanya percaya pada Tuhan yang deisme, yakni Tuhan hanyalah pencipta saja dan selanjutnya manusia yang menentukan. Konsep kehendak bebas, free will disini menjadi cetusan yang manusia paling suka.
Adalah kegagalan total manusia yg mencoba merealistiskan konsep free will ini masuk dalam pengalaman duniawi. Orang baru mau percaya kalau terbukti, yakni apa yg diminta dikabulkan oleh Tuhan. Apakah ini yg dinamakan iman? Bukan! Ini adalah permainan pengalaman. Perhatikan, orang yg mendapat pengalaman rohani akan menjadi menggebu-gebu dan bersemangat melayani karena ia merasa Tuhan itu riil di dalam pengalaman, seperti sakit disembuhkan, miskin menjadi kaya, dan sebagainya. Orang mulai berani menyimpulkan kalau ia mengalami pengalaman rohani berarti Tuhan ada. Pengalaman ini bukanlah pengalaman sejati karena bukan Tuhan yg menetapkan tetapi dia sendiri. Konsep yg salah! Titik absolutnya pindah dari Tuhan kepada diri.
Maka tidaklah heran ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yg manusia pikirkan, orang mulai bertanya-tanya pada Tuhan dan mulai menyalahkan Tuhan. Perhatikan, yg mengabulkan seluruh permintaan kita bukan Tuhan tapi iblis, iblis memberikan iming-iming manis supaya kita masuk dalam jebakannya. Celakanya, orang merasa ia sudah beriman namun sesungguhnya itu bukan iman sejati, ia justru masuk dalam kebinasaan. Hal ini memicu manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan. Aspek kedua ini lebih berbahaya dari aspek pertama. Kalau di aspek pertama, manusia tidak percaya Tuhan karena ia belum pernah berpengalaman tetapi di aspek kedua, setelah orang mengalami pengalaman rohani akan lebih sulit untuk diinjili lagi karena ia telah mempunyai pengalaman negatif dg apa yg dimengerti sebagai Tuhan yg diajarkan kepadanya sebagai Tuhan. Orang-orang yg seperti ini akhirnya jatuh dalam konsep atheisme humanistik. Sesungguhnya, orang telah sampai pada titik fatigue yg sangat parah. Hari ini, banyak orang Kristen yg tertipu merasa dirinya beriman pada Tuhan yg sejati ternyata itu bukan Tuhan sejati tetapi iblis. Orang telah tertipu masuk dalam suatu tipuan, euforia palsu, kepuasan perjuangan diri palsu.

3. Manusia merasa harus mengunggulkan pikirannya sendiri.
Dunia berpendapat kalau kita menuruti kehendak Tuhan malah dianggap sebagai orang bodoh karena kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan yg ada. Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis yg mengiming-imingi kita dg gula manis tapi di dalamnya racun yg mematikan. Berbeda halnya dg Tuhan, mungkin jalan di depan kelihatan susah namun di balik kesusahan itu ada keindahan menanti. Semakin canggih dunia jebakan yg digunakan juga semakin canggih dan menggiurkan. Tak terkecuali dg Kekristenan juga mencoba menggunakan cara dunia untuk meraih keuntungan. Camkanlah, itu bukan ajaran Kristen. Kekristenan sejati tidak menggunakan cara-cara duniawi yg licik untuk memanipulasi orang lain. Hati-hati dg segala tipuan manis. Apakah tipuan-tipuan seperti ini yg dikatakan sebagai kesempatan? Banyak orang yg mencari kesempatan untuk menyelesaikan segala macam permasalahan yg menimpa hidupnya tapi permasalahan tetap tidak terselesaikan akibatnya orang sampai pada kondisi fatigue. Pada saat kehancuran itu, manusia harusnya bertobat dan kembali pada Tuhan tapi manusia tidak mau bertobat; manusia terbelit dalam jeratan dosa dan sukar bagi manusia untuk keluar dari jeratan iblis.
Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh pikiran-pikiran duniawi tapi hendaklah kita kembali pada Kristus dan mengakui semua kesalahan dan seluruh dosa kita. Seperti gambaran orang yg terkilir, ia tidak akan rela kalau tulangnya dikembalikan ke posisi semula karena sakitnya sangat luar biasa tapi justru lebih sakit kalau tulang itu tidak dikembalikan pada posisi semula. Satu-satunya cara yaitu dipaksa, dikembalikan pada posisi asli, reposisi kembali. Biarlah kita mereposisi hidup kita kembali pada Kristus, yakni: 1) dg rendah hati mengaku segala kebodohan kita maka saat itu, kuk yg diberikan Tuhan baru terasa ringan dan enak, 2) kita harus bereaksi, kita yg berjalan kepada Kristus, janganlah pernah mencurigai Kristus tetapi curigailah segala macam tawaran iblis. Tuhan pasti tidak akan mencelakakan kita; Dia akan memimpin kita pada jalan-Nya yg indah. Ironis, manusia tidak percaya sehingga orang merasa perlu untuk mempunyai “allah cadangan,“ 3) kita harus menjadi anak yg selalu dengar-dengaran akan Firman Tuhan setiap hari, setiap saat. Hal ini seharusnya konsisten, terus menerus kita kerjakan sepanjang hidup kita. Banyak orang yg bertobat pada saat KKR tetapi setelah KKR kembali pada hal duniawi. Tidak! Pertobatan adalah kembali satu kali lalu berjalan bersama Kristus, daily activity.
Biarlah mulai hari ini kita disadarkan kembali dan mulai menata ulang hidup kita untuk kembali pada jalan Tuhan. Ingatlah akan nama Yesus, Tuhan Yesus selalu memimpin setiap langkah kita dalam dunia yg penuh dg gejolak. Betapa indah hidup yg dipimpin dan berjalan bersama Tuhan, kita tidak akan menjadi fatigue. Puji Tuhan, Tuhan masih mengingat orang-orang sisa dan terbuang ini, remnan untuk dibentuk kembali dan dipakai menjadi saksi-Nya yang menyatakan kemuliaan-Nya. Ingat, nilai tertinggi hidup kita bukan dilihat dari kekayaan atau kedudukan atau kepandaian kita. Hidup kita menjadi bermakna ketika kita berjalan bersama Tuhan dan percayalah, hidup kita akan nyaman dan pada akhirnya ingat, tujuan hidup manusia hanya satu, yaitu memuliakan nama-Nya dan menikmati Dia sepanjang hidup kita. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 11:13-18: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-17: Kedahsyatan Pikiran Allah-2 dan Anugerah

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-15


“Israel” Sejati atau Palsu-17 (Penutup):
Kedahsyatan Pikiran Allah-2 dan Anugerah


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:13-18


Untuk menjelaskan bahwa Allah tidak bermaksud agar umat pilihan-Nya sendiri binasa, maka Paulus telah membuka penjelasannya di ayat 11 dan 12. Lalu, ia mulai menguraikannya mulai ayat 13. Pada bagian ini, kita akan merenungkan ayat 13 s/d 18 terlebih dahulu sebagai poin pertama.

Di ayat 13, Paulus menyatakan, “Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,.” Paulus beralih dari bangsa Yahudi/Israel menuju kepada bangsa non-Yahudi. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan bangsa Israel. Kata “bukan Yahudi” dalam ayat ini diterjemahkan sebagai bangsa kafir (Gentiles). Artinya, Paulus yang adalah seorang Yahudi tetapi dipanggil Tuhan justru menjadi rasul dan melayani orang-orang bukan Yahudi (bdk. Efesus 3:8). Dan kerasulan Paulus untuk orang-orang non-Yahudi menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya, bahkan ia menghormati/memuliakan pelayanannya (King James Version, “I magnify mine office:”) Kata office dalam KJV dalam bahasa Yunaninya adalah diakonia berarti pelayanan. English Standard Version (ESV), God’s Word (GW), International Standard Version (ISV), Modern King James Version (MKJV), New King James Version (NKJV), dan beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya, “my ministry”. Terjemahan ini lebih cocok dengan teks aslinya yang bermakna pelayanan. Lalu, mengapa Paulus juga dipanggil Tuhan menjadi rasul untuk orang-orang non-Yahudi? Ia menjelaskan alasannya di ayat 14, “yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka.” Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Saya mengharap saya dapat menimbulkan iri hati pada bangsa saya sendiri, supaya dengan jalan itu saya dapat menyelamatkan sebagian dari mereka.” Alasan Paulus sungguh unik. Ia mau menjadi rasul bagi bangsa non-Yahudi justru untuk menyelamatkan sebagian/beberapa orang-orang Yahudi. Dengan kata lain, pimpinan Allah itu unik. Allah tidak memakai Paulus untuk menjadi rasul orang Yahudi untuk menyelamatkan beberapa Yahudi, tetapi sebaliknya, Ia memakai Paulus untuk menjadi rasul orang “kafir” (menurut Yahudi) agar melaluinya, ia dapat membuat hati orang Israel cemburu. Mengapa Allah memakai cara yang unik ini? Karena Ia melihat kebebalan hati Israel. Israel di zaman Perjanjian Lama setelah sekian lama meninggalkan Yahweh akhirnya mereka sadar dan kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah Yahweh dan menantikan datangnya Mesias. Tetapi herannya, ketika Mesias datang, mereka tidak mengenalinya, mengapa? Karena Mesias yaitu Tuhan Yesus datang tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang Israel yaitu memulihkan negara mereka dari cengkeraman penjajah, tetapi Ia datang mendirikan Kerajaan Allah secara surgawi/rohani. Pola pikir yang berbeda ini juga sempat dialami oleh Petrus (Mat. 16:22-23). Pola pikir inilah yang menghambat datangnya Kerajaan Allah sejati. Oleh karena itu, keselamatan yang seharusnya dapat dinikmati oleh orang Israel akhirnya tidak terjadi, justru sebaliknya, Allah malahan mengutus Paulus menjadi rasul bagi orang-orang non-Yahudi agar orang-orang Yahudi menjadi cemburu. Atau dengan kata lain, Paulus diutus untuk menjadi rasul bagi orang “kafir” dengan maksud agar orang Israel menjadi sadar bahwa jika mereka tidak segera bertobat, maka mereka akan malu karena keselamatan justru banyak dirasakan oleh orang-orang non-Yahudi, padahal mereka lah yang pertama kali menerima janji kovenan Allah melalui Abraham (Kej. 17). Kecemburuan/keirihatian yang Paulus memang sengaja lakukan pada orang Yahudi sebenarnya juga bermaksud agar beberapa orang Yahudi (yang dipilih-Nya) menjadi sadar dan kembali kepada Kristus dengan pengertian yang tepat. Dengan kata lain, Allah memakai cara di luar pikiran kita. Biasanya kita berpikir bahwa untuk menegur kita, Tuhan memakai segudang cara untuk mengingatkan kita. Tetapi di sini, kita belajar pikiran Allah yang berbeda total. IA tidak memakai cara menegur Israel dengan mengirim rasul lagi bagi mereka, tetapi Ia memakai Paulus menjadi rasul untuk orang “kafir” agar beberapa orang Israel sadar dan bertobat serta kembali kepada Kristus. Bagaimana dengan kita? Seperti Paulus, pada saat ini Ia berhak memakai para hamba-Nya untuk melayani-Nya, dan alangkah bahagia memang jika mereka boleh melayani dan membangun iman kita seturut firman-Nya. Tetapi jika para hamba-Nya diutus lebih-lebih untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya, kita harus waspada. Ada dua alasan. Pertama, mungkin hamba Tuhan itu memiliki panggilan lebih ke arah penginjilan, atau kedua, mereka diutus Tuhan kepada orang-orang yang belum percaya untuk memalukan kita yang sudah percaya tetapi tidak mau bertobat dari dahulu. Kalau alasan kedua yang terjadi, kita harus benar-benar mengintrospeksi diri. Kalau kita mengaku diri orang percaya tetapi tidak mau bertobat, kita seharusnya malu dengan mereka yang belum Kristen begitu diinjili langsung bertobat dan menerima Kristus. Mereka yang belum percaya begitu diinjili langsung bertobat dan menerima Kristus adalah mereka yang mayoritas sungguh-sungguh merasakan anugerah Allah yang begitu besar terhadap dosa mereka, sehingga mereka dengan sungguh hati bertobat, tetapi sungguh memalukannya jika sudah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, hati kita tetap membatu sampai sekarang dan tidak mau bertobat. Jangan heran, di Surga nanti, Tuhan akan menyingkapkan pada kita tentang realita banyak yang mengaku diri “Kristen” bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun dan aktif “melayani ‘tuhan’” ternyata bukan warga Kerajaan Surga, tetapi warga iblis/neraka, sebaliknya mereka yang dulunya belum Kristen akhirnya baru menjadi Kristen beberapa tahun, merekalah yang banyak bertobat dan diselamatkan, karena kebanyakan hati mereka tulus. Mari kita bertobat.


Lebih tajam lagi, Paulus menjelaskan di ayat 15, “Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati?” Kecemburuan yang dikobarkan Paulus bagi orang-orang Yahudi ditunjukkan dengan mengajarkan bahwa jika orang Israel ditolak, maka itu berarti orang-orang non-Yahudi (“kafir” menurut Yahudi) diperdamaikan (atau bisa diterjemahkan: diselamatkan). Luar biasa. Tuhan memakai Paulus untuk membukakan pikiran kita bahwa ketika orang mengaku diri warga Israel, mereka bukan sungguh-sungguh Israel sejati (secara rohani). Mengapa? Karena justru yang mengaku diri Israel jasmani banyak yang ditolak, sebaliknya banyak yang non-Israel secara jasmani diterima dan bahkan diselamatkan.Tuhan tidak melihat status mereka yang pura-pura umat pilihan, tetapi sebenarnya tidak. Bagaimana dengan kita? Kita mungkin sudah aktif melayani Tuhan bertahun-tahun lamanya, aktif memberitakan Injil, dll, tetapi benarkah kita seorang Kristen sejati? Atau kita hanya memakai label/tameng “Kristen” saja? Jangan heran, jika suatu hari, Allah enggan memakai banyak orang Kristen turunan, tetapi Ia justru memakai dengan dahsyat banyak orang yang mantan non-Kristen lalu menjadi Kristen sejati. Jika hal itu terjadi, berarti ada sesuatu yang bermasalah di dalam iman Kristen kita. Di dalam zaman kita, kita melihat seorang Dr. Ravi Zacharias, seorang apologet keturunan India, dia adalah mantan anak pandita Hindu yang bertobat. Pertobatannya membuat dia semakin giat melayani Tuhan dan berapologetika memberitakan Injil. Bagaimana dengan banyak orang yang mengaku sudah dari kecil “Kristen”? Ke manakah mereka” Masihkah mereka aktif di gereja dan lebih tajam lagi, masihkah mereka mau hidup sungguh-sungguh bagi Kristus? Atau sebaliknya, banyak orang “Kristen” turunan kelihatan aktif “melayani” di gereja, tetapi hati dan hidupnya bukan tertuju pada Kristus, tetapi pada hal-hal duniawi, seperti kekayaan, umur panjang, dll, akhirnya secara fenomena tampak “Kristen”, tetapi secara esensial kosong. Tuhan tidak mudah tertipu oleh orang seperti ini. Selagi Tuhan masih memberi kesempatan, marilah kita bertobat.

Bangsa Israel yang ditolak Allah sudah menjadi berkat bagi orang-orang non-Yahudi, bagaimana jika beberapa umat Israel diterima Allah? Jika beberapa umat Israel diterima Allah, Paulus menyatakan bahwa itu adalah anugerah yang sangat besar atau hidup yang diberikan kepada orang yang sudah mati. Kondisi kematian diidentikkan dengan kondisi manusia berdosa, sehingga ketika beberapa umat Israel diselamatkan dan diterima oleh Allah, maka itu suatu anugerah yang besar, seperti hidup (kekal) diberikan kepada orang yang sudah mati. Begitu juga dengan kita. Mungkin banyak orang yang mengaku diri dari kecil sudah Kristen, tetapi jika beberapa orang dari mereka saja diselamatkan, mereka akan lebih berbahagia ketimbang sisanya yang mengaku diri “Kristen” sejak kecil tetapi tidak diselamatkan. Di sini, Tuhan tidak melihat kuantitas orang yang masuk Surga, tetapi Ia melihat esensinya yaitu hati. Tuhan tidak melihat/menghitung seberapa aktif kita melayani, tetapi Ia menyelidiki motivasi dan hati yang jujur dan tulus. Kalau kita sudah termasuk anggota dari umat pilihan Allah, tidakkah kita bersyukur kepada-Nya atas anugerah-Nya yang begitu besar yang telah memilih kita dari sekian miliar/triliun orang di dunia.


Paulus memberikan ilustrasi tentang hal ini di ayat 16, “Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.” Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menafsirkan, “Roti sulung” sebagai buah sulung (dari roti), yaitu bagian pertama yang dikhususkan bagi Allah. (hlm. 858) Siapa yang dimaksud Paulus dengan “roti sulung” ini? Ada yang menafsirkan sebagai Kristus, tetapi itu tidak sesuai dengan konteks. Dengan tepat, Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa “roti/buah sulung” itu menunjuk kepada orang Yahudi pertama yang dikuduskan atau menerima Kristus (bdk. Rm. 16:5). Di dalam tradisi Yahudi, buah/roti sulung (firstfruit) merupakan roti/buah tertentu yang dipisahkan dari roti/buah lain dan pemisahan ini ditujukan untuk dipersembahkan kepada Allah. Buah sulung inilah orang Yahudi (menunjuk kepada nenek moyang Israel) yang dulu dipisahkan Allah dari bangsa-bangsa lain untuk menyembah Allah. Jika buah sulung ini kudus, maka seluruh adonan menjadi kudus. “Adonan” di sini menunjuk kepada seluruh orang Israel. Berarti, ketika umat Israel sejati dikuduskan, maka orang-orang yang non-Israel jasmaniah juga dikuduskan. Hal serupa dapat diimplikasikan bagi kita saat ini. Jika hidup orang Kristen sejati dikuduskan atau dipisahkan bagi kemuliaan Allah, maka kita bisa menjadi berkat bagi mereka yang belum Kristen. Apa arti kudus? Kudus berarti dipisahkan. Kudus bukan hanya secara fenomenal kudus, tetapi secara esensi kudus (bdk. 1 Petrus 3:15). Artinya, kita menjadi kudus ketika seluruh hidup kita yang dimulai dari hati keluar ke pikiran, perkataan, sifat, dan tindakan kita dimurnikan oleh firman Tuhan terus-menerus. Ketika kita memiliki motivasi dan hati yang sungguh-sungguh murni dan tulus, pada saat itu kita kudus dan menjadi berkat bagi orang lain atau memancarkan terang kekudusan kepada orang lain.

Sama halnya dengan ilustrasi pertama, ilustrasi kedua yang Paulus pergunakan yaitu akar dan cabang. Ketika akarnya kudus, maka cabang-cabangnya juga kudus. Ev. Hendry Ongkowidjojo, S.E., M.Div. pernah menafsirkan “akar” di sini sebagai bapa leluhur Israel (bdk. Roma 9:5; 11:28. Berarti, orang Israel sejati (secara rohani) menjadi dasar penentu bagi sesama mereka. Di zaman sekarang, kita sebagai orang Kristen pun harus menjadi berkat bagi sesama kita, sehingga kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Berapa banyak orang Kristen yang tidak menjadi berkat malahan membuat sesamanya yang Kristen benci kepadanya bahkan memusuhinya dan memutuskan untuk tidak pergi ke gereja lagi? Jika ini terjadi pada kita, marilah kita bertobat dan jadilah berkat bagi sesama kita.


Lalu, Paulus menjelaskan akibatnya di ayat 17, “Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,” Sebelum masuk ke dalam pembahasan ayat ini, kita harus sepakat dulu di dalam beberapa hal, yaitu akar menunjuk kepada bapa leluhur Israel, tunas liar adalah orang-orang non-Yahudi, dan cabang menunjuk kepada orang-orang Yahudi. Dari tiga hal ini, mari kita menganalisa pemikiran Paulus di ayat ini dan 18. Di ayat 17, Paulus mengemukakan logika yang dalam di dalam 2 tahap: beberapa cabang (orang-orang Israel) telah dipatahkan à tunas liar (orang-orang non-Yahudi) dicangkokkan di antara cabang itu. Perhatikan di sini. Kata cabang di sini ditambahkan kata “beberapa” (some) yang menunjukkan bahwa beberapa orang Israel secara jasmani dipatahkan/dibuang. Lalu, dicangkokkanlah orang-orang non-Yahudi (tunas liar) di antara cabang-cabang yang tersisa itu. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

Pertama, pembeda total. Beberapa orang Israel dipatahkan/dibuang menunjukkan satu realita bahwa tidak semua Israel adalah Israel sejati (bdk. Roma 9:6). Hal ini telah dijelaskan Paulus di pasal 11 ayat 4 dengan mengutip 1 Raja-raja 19:18. Allah menyisakan beberapa umat pilihan-Nya dari antara kaum Israel. Berarti kita mempelajari bahwa fenomena tidak menjamin esensi. Tidak semua orang Israel benar-benar Israel. Begitu juga tidak semua orang yang menyebut diri Kristen pasti beriman Kristen. Jangan pernah terkecoh oleh fenomena. Seperti Paulus yang sanggup membedakan total antara Israel sejati dengan yang palsu, maka kita pun harus bisa membedakan mana Kristen yang sejati dengan mana yang “Kristen”. Apa bedanya? Bukankah mereka hampir sama? Perbedaan utama ada pada hati dan motivasi. Orang yang menyebut diri “Kristen” mungkin kelihatan aktif di gereja, bahkan “melayani Tuhan”, tetapi perhatikanlah hati dan motivasi mereka, sungguhkah tulus atau supaya dilihat orang? Dari mana kita bisa tahu ketulusan hati dan motivasi mereka? Memang sulit, tetapi ada sedikit yang bisa dibuktikan, yaitu orang Kristen sejati datang ke gereja sungguh-sungguh ingin dikoreksi oleh khotbah yang berdasarkan Firman Tuhan dan saling bersekutu, sehingga mereka tidak suka menggosip di gereja, tidak sopan di gereja dengan berbicara sendiri atau bermain HP (mengetik SMS, dll). Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan mutlak, tetapi bisa dijadikan sedikit bukti yang membedakan orang Kristen dengan orang “Kristen” palsu. Sebaliknya, orang “Kristen” palsu juga aktif ke gereja, tetapi lihatlah keaktifan dan keseriusan mereka ke gereja, mayoritas mereka ada yang mengantuk ketika khotbah dengan beribu alasan (khotbah kurang menarik, terlalu berat, dll), bahkan ada yang berani menerima telepon di HP dari temannya ketika khotbah. Mereka menganggap gereja seperti gedung bioskop yang bisa menjadi tempat di mana mereka bisa seenaknya sendiri bertingkah. Mereka tidak menghargai lagi apa arti ibadah dan menyembah Allah. Sebagaimana Israel sejati vs Israel palsu dilihat dari hatinya, begitu juga dengan orang Kristen asli vs “Kristen” palsu juga dilihat dari hatinya, apakah berkenan di hadapan Tuhan atau tidak.

Kedua, universalitas keselamatan Allah. Jangan salah menafsirkan kata “universalitas” di dalam bagian ini. Universalitas keselamatan Allah berarti Allah menyediakan keselamatan bukan hanya bagi orang-orang Yahudi secara bangsa, tetapi kepada semua orang yang telah dipilih-Nya dari berbagai bangsa (termasuk Yahudi). Kovenan dari Allah kepada Abraham di Kejadian 17:4-8 tidak berlaku hanya untuk orang Israel, tetapi semua keturunan Abraham. Hal ini disingkapkan lagi oleh Paulus bahwa Allah menyelamatkan bukan hanya orang Israel, tetapi juga orang-orang non-Israel yang telah dipilih-Nya dari semula. Oleh karena itu, Paulus mengatakan bahwa beberapa cabang dipatahkan (menunjuk kepada beberapa orang Israel secara bangsa dibuang), sedangkan tunas-tunas liar (orang-orang non-Yahudi) dicangkokkan. Artinya, banyak orang non-Yahudi yang diselamatkan, sedangkan orang-orang Israel secara jasmani yang merasa diri dibenarkan justru beberapa dari mereka dibuang. Jika Allah tidak memandang orang (secara bangsa dan status) untuk diselamatkan, maukah kita hari ini juga tidak membedakan orang di dalam memberitakan Injil?


Lalu, bagaimana seharusnya sikap/reaksi orang-orang non-Yahudi yang diselamatkan? Di ayat 18, Paulus melanjutkan, “janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.” Ayat 18 menjadi ayat teguran bagi orang-orang non-Yahudi yang merasa sombong akan status mereka. Mereka pikir bahwa mereka bisa dicangkokkan ke dalam Israel, maka mereka bisa mendapat berkat-berkat Allah melalui Abraham, bapa leluhur Israel. Paulus mengatakan, “TIDAK”. Mereka tidak boleh bermegah terhadap cabang-cabang (orang-orang Israel) atau dengan kata lain mereka tidak boleh menyombongkan diri ketika mereka telah menggantikan posisi beberapa orang Israel yang telah dipatahkan/dibuang itu. Mengapa? Karena bukan mereka yang menopang akar itu, tetapi sebaliknya akar itu yang menopang mereka. Artinya, bukan orang-orang non-Yahudi yang menopang bapa leluhur Israel, tetapi bapa leluhur Israel yang menopang orang-orang non-Yahudi. Sebagaimana yang sudah dipaparkan oleh Dr. John Gill di atas, akar juga bisa menunjuk kepada orang pertama yang menerima Kristus, maka kita sebagai tunas liar yang dicangkokkan oleh Allah ke dalam cabang-cabang tersebut tidak boleh menyombongkan diri seolah-olah kita bisa menggantikan orang-orang Yahudi (atau orang pertama yang menerima Kristus) itu. Kita tetap sebagai tunas liar dan ingatlah tunas liar pasti dibuang oleh orang, tetapi Allah rela mencangkokkan tunas-tunas liar itu yaitu kita supaya kita menjadi anak-anak Allah di dalam Kerajaan-Nya. Bukankah ini suatu anugerah Allah yang begitu luar biasa dan agung? Tunas liar yang dicangkokkan. Rasul Petrus juga mengajar hal serupa ketika ia mengajar tentang status kita yang dulu berada di dalam kegelapan lalu dipanggil oleh Allah menuju kepada terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9-10). Sudahkah kita bersyukur atas anugerah-Nya yang besar itu? Caranya? Dengan menjadi saksi Kristus melalui mandat budaya dan penginjilan. Maukah kita berkomitmen untuk melakukannya?


Hari ini kita sudah merenungkan 6 ayat yang tergolong sulit dipahami tentang predestinasi Israel dan non-Israel. Kita sudah belajar tentang universalitas keselamatan Allah dan pembeda total antara kaum pilihan dan non-pilihan. Sudah menjadi kewajiban kita setelah merenungkan 6 ayat ini, kita sebagai umat pilihan berkewajiban memberitakan Injil Kristus karena keselamatan yang Allah sediakan juga berlaku bagi orang-orang di luar bangsa dan status kita. Biarlah Roh Kudus bekerja ketika kita memberitakan Injil. Amin. Soli Deo Gloria.