30 October 2008

Renungan Reformasi: SEMANGAT REFORMASI: SEMANGAT MENCINTAI FIRMAN-NYA (Denny Teguh Sutandio)

Semangat Reformasi: Semangat Mencintai Firman-Nya

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Mzm. 119:105



Pendahuluan
Hari Reformasi Gereja diperingati setiap tanggal 31 Oktober. Hari ini mengingatkan orang Kristen Protestan akan peristiwa Dr. Martin Luther mereformasi gereja dengan menempelkan 95 tesis/dalil di depan pintu gereja Wittenberg, Jerman pada tanggal 31 Oktober 1517. 95 tesis yang dipakukan itu berisi protes Dr. Luther akan kesalahan praktik-praktik yang dilakukan oleh gereja Katolik Roma pada waktu itu, terutama penyebaran surat pengampunan dosa (indulgensia) untuk membangun Gereja Basilea St. Petrus. Selanjutnya, pokok ajaran Luther dapat diringkaskan menjadi 4 poin, yaitu: Sola Scriptura (hanya Alkitab), Sola Gratia (hanya melalui anugerah Allah, kita diselamatkan), Sola Fide (hanya melalui iman, kita diselamatkan), dan Soli Deo Gloria (kemuliaan hanya bagi Tuhan). Empat pokok pengajaran ini bermuara dari satu hal terutama yang menjadi poin pertama tadi, yaitu hanya Alkitab (Sola Scriptura). Semangat Dr. Luther mereformasi gereja bukan semangat memecah belah gereja atau mendirikan gereja baru, tetapi beliau memiliki keinginan agar gereja Tuhan kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya dasar kebenaran. Semangat ini diteruskan oleh Dr. John Calvin, Dr. Theodore Beza, dll, sampai sekarang ini. Sayangnya, semangat Reformasi sudah luntur dan kurang bisa diteruskan dengan konsisten sampai sekarang. Mengapa? Karena gereja-gereja yang katanya dipengaruhi oleh theologi Reformasi dan Reformed tidak lagi menjunjung tinggi otoritas Alkitab, melainkan humanisme atheis. Tidak heran, di zaman postmodern ini, gereja-gereja yang mengaku diri bertheologi Reformasi mulai mengkompromikan iman Kristen mereka dengan mengajar bahwa di luar Tuhan Yesus Kristus masih ada keselamatan. Hal ini ditandai dengan menjamurnya dialog-dialog antar agama tanpa dasar yang beres untuk mencari titik temu dari semua agama. Yang lebih parah lagi ada seorang “pendeta” sekaligus dosen di sebuah sekolah “theologi” di Jakarta berani menuliskan artikel di sebuah surat kabar yang meragukan kebangkitan Kristus dengan mengetengahkan penemuan kubur Yesus di Talpiot. Mereka yang melakukan hal ini adalah mereka yang katanya “pendeta” dan sekolah “theologi” bahkan di luar negeri. Sebenarnya, mereka hanya mewarisi tradisi Reformasi, tetapi tidak pernah memahami sungguh-sungguh spirit/semangat Reformasi yang kembali kepada Alkitab. Oleh sebab itu, sudah seharusnya, orang Kristen yang beres bukan hanya mewarisi tradisi saja, kita harus menjiwai apa yang ada di balik tradisi tersebut, yaitu semangat dan ajaran. Dalam hal ini, kita akan mempelajari spirit/semangat Reformasi yaitu semangat mencintai firman-Nya.


Semangat Reformasi: Semangat Mencintai Firman Tuhan
Semangat Reformasi yang terutama adalah semangat mencintai firman Tuhan (Alkitab). Sayang, semangat ini sudah dipelintir oleh gereja-gereja yang katanya dipengaruhi oleh theologi Reformasi. Saat ini, di gereja-gereja tersebut, ketika merayakan hari Reformasi Gereja, apa yang mereka beritakan? Mayoritas mereka memberitakan semangat reformasi adalah semangat mempedulikan lingkungan sekitar, dll. Hal tersebut tidaklah salah, tetapi itu BUKAN inti semangat Reformasi Gereja. Inti semangat Reformasi Gereja adalah kembali kepada Alkitab. Seorang yang memiliki kerinduan kembali kepada Alkitab adalah orang yang mencintai firman-Nya. Tanpa didasari oleh kecintaan akan Allah dan firman-Nya, tak mungkin seorang benar-benar mau kembali kepada Alkitab! Dengan kata lain, seorang Kristen atau pemimpin gereja apakah dia kembali kepada Alkitab atau tidak, dapat dinilai dari kecintaan mereka akan Allah dan firman-Nya. Lebih lanjut, kita mendapat gambaran yang lebih jelas lagi, yaitu: orang yang mencintai Allah dan firman-Nya pasti sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab, lalu orang yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang mempelajari firman-Nya, dan terakhir, orang yang mempelajari firman-Nya adalah orang yang taat dan menjalankan apa yang Tuhan firmankan. Mari kita pelajari kaitan ini.

Pertama, orang yang mencintai Allah dan firman-Nya adalah orang yang sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Adalah suatu absurditas jika ada orang Kristen yang mengatakan bahwa dia mencintai Tuhan, apalagi firman-Nya, tetapi ia tidak mau sungguh-sungguh kembali kepada Alkitab. Kecintaan umat Tuhan kepada Allah dan firman-Nya mengakibatkan ia akan kembali kepada Alkitab. Apa arti kembali kepada Alkitab? Kembali kepada Alkitab berarti menjadikan Alkitab sebagai standar utama dalam iman, etika, moralitas hidup umat Tuhan sehari-hari. Dengan kata lain, kembali kepada Alkitab berarti membiarkan Alkitab sebagai firman Allah berbicara dan menerangi iman, etika, moralitas hidup umat-Nya. Di sini, Alkitab berfungsi sebagai cermin bagi iman, etika, dan moralitas hidup kita. Ketika kita berdosa, Roh Kudus memakai Alkitab untuk mengingatkan kita akan dosa kita. Begitu juga ketika kita mengalami masalah, Roh Kudus yang sama mengingatkan kita akan perkataan-perkataan Kristus di dalam Alkitab. Ketika kita mengalami lemah iman, Roh Kudus menguatkan kita melalui Alkitab. Kita bisa mempelajari hal ini dari sejarah gereja. Bapa Gereja Augustinus mengalami hal ini. Ketika ia sedang berdosa dan mengalami kekosongan hidup karena ajaran Manichaeisme yang dipercayainya tidak mampu menjawab pertanyaannya, tiba-tiba anak kecil mengatakan, “Ambil, Baca”, lalu Roh Kudus memakai perkataan itu untuk mendesak Augustinus untuk membaca Alkitab di dalam Roma 13:13. Begitu juga dengan Dr. Luther, ketika ia menemukan ajaran Alkitab bahwa kita dibenarkan melalui iman, ia langsung memprotes semua kesalahan gereja Katolik Roma. Di sini, kita belajar bahwa Alkitab telah menjadi cermin yang mengoreksi kesalahan manusia selama ini. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan Alkitab sebagai cermin hidup kita di dalam iman, kerohanian, etika, dan moralitas? Beranikah kita berkata seperti pemazmur bahwa firman Tuhan itu menerangi langkah hidup kita (Mzm. 119:105)?

Kedua, orang yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang mempelajari firman-Nya. Kita bukan hanya kembali kepada Alkitab atau menjadikan Alkitab sebagai cermin hidup kita, kita dituntut lebih lanjut untuk mempelajari firman-Nya. Seorang yang mencintai firman Tuhan, ia akan menjadikan firman Tuhan itu yang terutama, dan tentu saja ia akan rajin mempelajari firman Tuhan itu dengan menggali kelimpahan pengertian yang terkandung di dalamnya. Adalah suatu absurditas jika ada orang Kristen yang katanya kembali kepada Alkitab, tetapi malas mempelajari firman-Nya. Orang Kristen yang kembali kepada Alkitab adalah orang yang rindu belajar firman-Nya. Orang yang rindu belajar firman-Nya adalah orang yang rindu belajar menafsirkan Alkitab demi mendapatkan pengertian yang sedekat mungkin dengan arti aslinya. Nah, di sinilah, orang Kristen yang cinta firman Tuhan akan belajar mati-matian untuk mengerti firman-Nya dengan mencari alat-alat yang bisa membantunya untuk mempelajari Alkitab, baik itu melalui tafsiran Alkitab, konkordansi Alkitab, program Alkitab (seperti: e-Sword, SABDA, dll), dll. Semakin orang Kristen tersebut menggali kedalaman dan kelimpahan Alkitab, semakin orang Kristen itu diberkati dan dikuatkan imannya. Saya bukan hanya berteori, saya mengalaminya sendiri. Bagaimana dengan kita? Rindukah kita mempelajari firman-Nya? Biarlah ini menyadarkan kita akan pentingnya belajar firman Tuhan.

Ketiga, orang yang mempelajari firman-Nya adalah orang yang taat dan menjalankan firman-Nya. Belajar firman Tuhan itu saja tidak cukup, karena itu bisa mengakibatkan orang Kristen atau pemimpin gereja menjadi sombong rohani. Ini yang terjadi di banyak gereja yang mengaku bertheologi Reformasi. Para pemimpin gereja adalah mereka yang studi theologi di luar negeri dengan serentetan gelar akademis, tetapi sayang, hati mereka kosong. Rasio mereka dipenuhi dengan segudang pemikiran theologi yang rumit, tetapi hati mereka hampa tanpa mengalami kehadiran Tuhan. Tidak heran, sosok hamba Tuhan yang diurapi seperti John Sung yang pernah masuk sekolah theologi di Union Theological Seminary lalu akhirnya mengundurkan diri. Pdt. Dr. Stephen Tong juga pernah menuturkan bahwa ada seorang Kristen yang setelah mendengarkan khotbah beliau, imannya dikuatkan. Lalu, orang Kristen ini terpanggil menjadi hamba Tuhan lalu masuk sekolah theologi. Makin belajar theologi, hatinya kering dan imannya hampa. Akhirnya, ia hampir menjadi atheis. Puji Tuhan, ia kembali mendengar khotbah Pdt. Stephen Tong dan imannya dikuatkan kembali. Aneh bukan? Orang semakin belajar theologi bukan semakin beriman, tetapi semakin meragukan iman. Apakah berarti sekolah theologi tidak perlu? TIDAK! Sekolah theologi itu penting, tetapi pertanyaan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah sampai sejauh mana sekolah theologi itu bukan hanya mendidik theologi secara akademis, tetapi juga menguatkan iman dan spiritualitas para murid yang diajar. Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa belajar firman Tuhan saja tidak cukup, kita dituntut harus mengaplikasikannya dengan TAAT dan menjalankannya. Misalnya, kita belajar firman Tuhan tentang mengubah pola pikir kita (Rm. 12:2), kita bukan hanya pandai menafsirkan ayat itu dengan pola penafsiran eksegese, tetapi kita sendiri harus TAAT dan menjalankannya. Ketika kita belajar tentang prinsip-prinsip Alkitab tentang politik, ekonomi, dll, kita bukan hanya mempelajarinya sebagai bahan mengajar di kelas atau debat dengan orang lain, tetapi kita sendiri harus TAAT dan menjalankannya. Mengapa Abraham disebut bapa orang beriman? Apakah dia lulusan seminari theologi? TIDAK! Abraham disebut sebagai bapa orang beriman karena Allah yang memampukan dia TAAT dan menjalankan apa yang Ia firmankan. Abraham TIDAK terlalu banyak berargumentasi dan menganalisa firman Tuhan kepadanya. Yang ia lakukan hanya TAAT dan menjalankan firman-Nya. Ketaatan kita kepada firman-Nya menunjukkan bahwa kita benar-benar mencintai Allah dan firman-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita taat kepada firman-Nya?


Kesimpulan dan Tantangan
Biarlah renungan singkat di hari Reformasi Gereja menyadarkan kita akan pentingnya Alkitab sebagai satu-satunya sumber dan standar bagi iman, spiritualitas, etika, dan moralitas hidup kita. Kiranya Roh Kudus memimpin dan memampukan kita menjalankan apa yang Allah firmankan di dalam Alkitab, sehingga nama Tuhan sajalah yang ditinggikan selama-lamanya. Amin. Soli Deo Gloria. Sola Scriptura. Sola Gratia. Sola Fide. Solus Christus.



To Love God is to know the will of God in His Word, do His will, and glorify His name

27 October 2008

Matius 11:28-30: MARILAH KEPADA-KU

Ringkasan Khotbah: 06 Agustus 2006
Marilah Kepada-Ku
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:28-30


Pendahuluan
Tema keseluruhan Injil Matius adalah Kerajaan Allah, the Kingdom of Heaven. Injil Matius membukakan tentang Kristus sebagai Raja dan pemegang otoritas tertinggi menata Kerajaan-Nya di tengah dunia dan orang Kristen yg menjadi warga-Nya haruslah tunduk dan taat pada Sang Raja. Pada pasalnya yg ke-11 Matius menegaskan bahwa orang yg mengaku beriman pada Kristus maka hidupnya harus berpusat pada Kristus. Iman Kristen bukan ideologi yg hanya dimengerti sebagai pengetahuan. Tidak! Alkitab menegaskan bahwa iman Kristen bukan percaya kepada Kristus melainkan percaya ke dalam Kristus berarti ada relasi antara manusia dg obyek iman. Dalam bahasa Yunani menggunakan istilah eis berarti memasukkan diri ke dalam obyek yg kita percaya. Sebelum kita masuk dalam klimaks dari Matius pasal 11 ini ada baiknya kita mengingat kembali:
Pertama, Yohanes ingin supaya para muridnya berbalik arah; mereka yg semula mengagungkan Yohanes kini mereka harus beriman pada Kristus. Dan cara yg dipakai Yohanes sangat unik, dia menyuruh para muridnya untuk bertanya langsung pada Kristus dan jawaban yg diberikan Kristus pun sangat unik. Tuhan Yesus meminta para murid untuk melihat dan mendengar enam tanda yg telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dan dari apa yg mereka lihat dan mereka dengar itu mereka harus menyimpulkan sendiri: siapakah Yesus. Inilah cara Tuhan Yesus mengkonfrontasi iman. Iman bukan sekedar sebuah jawaban teologis tetapi iman adalah bagaimana kita memasukkan seluruh pikiran dan pengalaman hidup kita pada obyek iman yg kita percaya. Iman bukan sekedar pengetahuan. Iman merupakan pertemuan pribadi antara pribadi dg obyek iman.
Kedua, Tuhan Yesus mengecam keras kota-kota yg banyak mendapat mujizat tetapi kota itu justru tidak bertobat. Orang hanya mau ekses iman, orang hanya mau berkat saja tapi orang tidak Sang Pembuat mujizat dan celakanya, orang sudah merasa dirinya beriman. Hati-hati, kalau kita salah dalam memahami iman maka itu akan membawa kita pada kebinasaan. Iman Kristen bukanlah iman ekstensi tapi esensi.
Ketiga, Seorang warga Kerajaan Sorga haruslah mempunyai pikiran seperti Bapa sama seperti Kristus, yakni melakukan apa yg menjadi perintah Bapa-Nya. Iman bukan diselesaikan dg nalar yg jenius atau bijaksana duniawi. Tidak! Iman bukan hasil pencerahan pikiran kita tapi iman haruslah diselesaikan dg kesederhanaan dan dg rendah hati mengaku di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang berdosa.
Pada bagian klimaks Tuhan Yesus mengundang setiap orang yg berletih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan Tuhan akan memberi kelegaan. Setelah kejatuhan, dunia tidak pernah lepas dari masalah dan sengsara maka undangan Tuhan Yesus ini sangat relevan sampai saat ini. Manusia merasa diri lebih pandai dari Allah, manusia merasa diri berhak sebagai penentu kebenaran. Jadi, kejatuhan manusia itu bukan pada saat manusia makan buah. Tidak! Letak permasalahannya adalah pada masalah positioning – manusia ingin menjadi Allah maka pertanyaan pertama Allah adalah: Adam, dimana kamu? Pertanyaan ini bukan mempertanyakan secara fisik tetapi Allah menanyakan posisi Adam dan Hawa secara spiritual. Dosa menyebabkan manusia mengalami keterkiliran dalam posisi akibatnya kesengsaraan. Sebagai gambaran dari kesengsaraan ini adalah ketika tulang kita terkilir maka saat tulang dikembalikan pada posisi aslinya, kita akan merasakan kesakitan yg luar biasa. Jangan pikir ketika manusia keluar dari posisi asli akan lebih menyenangkan atau manusia lebih hebat. Salah!
Dua efek dasar yg dialami oleh manusia berdosa, yakni: 1) Orang mengalami letih lesu, dan 2) orang akan berbeban berat. Hari ini kita akan merenungkan efek pertama, yaitu letih lesu. Kata “letih lesu“ berasal dari bahasa aslinya “fatigue“ yakni suatu kondisi dimana orang sudah tidak tahan lagi dg beban atau tuntutan yg ada hingga sampailah orang pada suatu titik keputusasaan. Sebuah logam baja mempunyai titik lentur jika kita mengenakan suatu perlakuan melebihi titik lentur, baja menjadi retak dan akhirnya patah; logam tidak dapat kembali seperti bentuk semula. Dosa menyebabkan manusia akan berada dalam kondisi fatigue namun ironis, dalam kondisi demikian manusia tidak mau kembali dan bersandar pada Tuhan tapi malah membuang Tuhan. Salah satu penyebabnya adalah sejak kecil, manusia telah dididik untuk hidup mandiri, artinya orang dapat mengerjakan apapun tanpa pertolongan orang lain.
Orang tidak sadar hal ini justru berakibat buruk, orang tidak mudah percaya pada orang lain, segala sesuatu haruslah ditentukan diri sendiri, setiap keputusan atau masalah haruslah diselesaikan sendiri. Kalau setiap saat harus menghadapi situasi demikikan maka sampailah ia pada suatu titik fatigue dan sampai titik itu kalau orang tidak punya sandaran maka ia akan bunuh diri. Kelelahan ini merupakan kelelahan esensial.
Kelelahan esensial ini juga dialami oleh bangsa Israel namun mereka tidak mau mengakui hal ini, bangsa Israel sangat sombong. Kesombongan ini terpancar jelas dari perdebatan antara para ahli taurat dg Tuhan Yesus (Yoh.8). Para ahli taurat langsung marah ketika Tuhan Yesus menyatakan kalau sesungguhnya, mereka adalah hamba. Orang Yahudi tidak dapat terima dikatakan sebagai hamba, mereka merasa diri sebagai orang merdeka yg berhak menentukan segala sesuatunya sendiri. Bangsa Israel tidak mau menyebut diri sebagai hamba Allah tetapi sebagai anak Allah karena istilah “hamba“ disini menyadarkan mereka akan keterbatasan dirinya dan istilah “anak Allah“ seolah kita mempunyai suatu kebebasan dan otoritas. Jangan salah mengerti dg istilah “anak.“ Istilah “anak“ dibedakan dua, yakni: 1) secara ekstensial, contoh: anak dokter, apakah itu berarti ia dokter? 2) secara esensial, contoh: anak manusia maka dapatlah pastilah ia manusia.
Tuhan Yesus membukakan pada para ahli Taurat ini kalau sesungguhnya mereka bukan anak Allah tetapi yg lebih cocok mereka adalah anak iblis. Sesungguhnya, bangsa Israel berada di bawah jajahan baik secara fisik maupun spiritual. Secara fisik, bangsa Israel adalah jajahan bangsa Roma dan Raja Herodes yg memerintah itu pun bukan orang Yahudi asli tetapi ia adalah orang Idumea. Secara spiritual, bangsa Yahudi adalah jajahan, orang Yahudi mempunyai 2 imam besar, yakni Hanas dan Kayafas. Ironisnya, mereka marah ketika Tuhan Yesus membukakan tentang hal ini. Selama kita berada dalam kuasa penaklukkan dosa, kita akan masuk dalam kondisi fatigue. Bagaimana tidak fatigue kalau kita hidup di tengah dunia berdosa dg cara berdosa? Manusia berdosa mencoba menyelesaikan semua permasalahan dg caranya sendiri, dan celakanya cara yg dipakai adalah cara dunia berdosa maka hal ini membuatnya makin terjepit dalam dosa. Sesungguhnya, manusia menyadari kalau ia berada dalam keletihan yg sangat itu namun yg menjadi pertanyaan adalah kenapa manusia tidak mau kembali pada Tuhan? Apa yg membuat manusia fatigue tetapi tetap mempertahankan fatigue?
I. Manusia merasa berhak menetapkan makna hidupnya sendiri.
Manusia yg sombong ingin menentukan hidupnya sendiri. Sesungguhnya dibalik kesombongan itu, orang tidak mau percaya Tuhan Yesus. Hanya anak Tuhan sejati yg percaya pada Tuhan Yesus dan anak Tuhan yg sejati ini jumlahnya sangat sedikit meski faktanya jumlah gereja sangat banyak, minoritas di dalam minoritas. Kesombongan ini tidak lepas dari pendidikan dunia modern yg mengajarkan anak untuk berkompetisi. Sadarkah kita kompetisi mengakibatkan dua hal: sukses atau kehancuran. Apalah artinya kesuksesan atau kepandaian kalau kita hanya berhasil dalam satu bidang? Maka tidaklah heran kalau kita mendapati orang yg menang dalam lomba fisika tetapi dia tidak lulus sekolah. Kesuksesan dalam kompetisi juga berakibat buruk, orang tidak lagi membutuhkan orang lain apalagi Tuhan sebab orang merasa dapat menetapkan makna hidupnya sendiri.
Pernahkah kita bertanya dalam hati, apakah arti hidupku? Apakah kita melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yg kita ambil dalam seluruh aspek hidup kita? Pada dasarnya, manusia ingin menentukan makna hidupnya sendiri dan Tuhan dijadikan seperti layaknya “pesuruh“ yg harus siap menolong kalau kita menghadapi kesulitan. Perhatikan, kita yg memilih dan mengambil keputusan sendiri maka kita harus berani menanggung resikonya. Jangan salahkan Tuhan kalau ternyata hasilnya tidak seperti yg kita harapkan. Berbeda halnya kalau Tuhan yg memilih dan menempatkan kita maka Dia pasti akan menolong dan memimpin setiap langkah kita karena disitu, Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya melalui kita. Manusia berpendapat dg menentukan makna hidupnya sendiri ia akan hidup bahagia. Pendapat yg salah! Saat itu kita justru masuk dalam kondisi yg sangat lelah sebab kita keluar dari rencana Tuhan, kita berjuang sendiri, segala sesuatu harus kita kerjakan sendiri. Sebagai pelarian dari rasa lelah yg sangat luar biasa ini manusia mencari jalan pintas dg lari pada hal-hal berdosa, seperti free sex, narkoba, minuman keras, dan lain-lain. Orang makin masuk dalam jerat dosa dan sulit bagi manusia untuk keluar. Manusia masuk dalam kondisi totally fatigue.
Biarlah kita mengevaluasi diri, apakah selama ini kita mengalami keletihan? Bertobat dan kembalilah pada jalan Tuhan. Relakanlah hidupmu untuk dibentuk oleh Tuhan. Mungkin, kita merasa tidak suka dg apa yg Tuhan tetapkan tetapi sebagai Kristen sejati kita harus taat. Memang, ketika mengikut Tuhan bukan berarti kita tidak ada beban. Tidak! Tuhan akan memberikan beban, pikullah kuk yg Kupasang sebab kuk-Ku itu enak dan bebanKu pun ringan (Mat. 11:30).

2. Manusia merasa harus berjuang sendiri.
Manusia berpendapat Tuhan adalah sesuatu yang fiktif sehingga Dia tidak dapat menolong ketika manusia dalam kesulitan. Hati-hati, kalau kita mengerti iman secara sepotong-potong berarti kita terjatuh dalam pikiran Feuerbach, Marx, Engels yang menyatakan bahwa agama itu seperti layaknya sebuah candu, pembiusan manusia karena itu, orang tidak perlu beragama toh Tuhan tidak realistis. Manusia harus menentukan segala sesuatu sendiri dan berjuang sendiri. Orang hanya percaya pada Tuhan yang deisme, yakni Tuhan hanyalah pencipta saja dan selanjutnya manusia yang menentukan. Konsep kehendak bebas, free will disini menjadi cetusan yang manusia paling suka.
Adalah kegagalan total manusia yg mencoba merealistiskan konsep free will ini masuk dalam pengalaman duniawi. Orang baru mau percaya kalau terbukti, yakni apa yg diminta dikabulkan oleh Tuhan. Apakah ini yg dinamakan iman? Bukan! Ini adalah permainan pengalaman. Perhatikan, orang yg mendapat pengalaman rohani akan menjadi menggebu-gebu dan bersemangat melayani karena ia merasa Tuhan itu riil di dalam pengalaman, seperti sakit disembuhkan, miskin menjadi kaya, dan sebagainya. Orang mulai berani menyimpulkan kalau ia mengalami pengalaman rohani berarti Tuhan ada. Pengalaman ini bukanlah pengalaman sejati karena bukan Tuhan yg menetapkan tetapi dia sendiri. Konsep yg salah! Titik absolutnya pindah dari Tuhan kepada diri.
Maka tidaklah heran ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yg manusia pikirkan, orang mulai bertanya-tanya pada Tuhan dan mulai menyalahkan Tuhan. Perhatikan, yg mengabulkan seluruh permintaan kita bukan Tuhan tapi iblis, iblis memberikan iming-iming manis supaya kita masuk dalam jebakannya. Celakanya, orang merasa ia sudah beriman namun sesungguhnya itu bukan iman sejati, ia justru masuk dalam kebinasaan. Hal ini memicu manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan. Aspek kedua ini lebih berbahaya dari aspek pertama. Kalau di aspek pertama, manusia tidak percaya Tuhan karena ia belum pernah berpengalaman tetapi di aspek kedua, setelah orang mengalami pengalaman rohani akan lebih sulit untuk diinjili lagi karena ia telah mempunyai pengalaman negatif dg apa yg dimengerti sebagai Tuhan yg diajarkan kepadanya sebagai Tuhan. Orang-orang yg seperti ini akhirnya jatuh dalam konsep atheisme humanistik. Sesungguhnya, orang telah sampai pada titik fatigue yg sangat parah. Hari ini, banyak orang Kristen yg tertipu merasa dirinya beriman pada Tuhan yg sejati ternyata itu bukan Tuhan sejati tetapi iblis. Orang telah tertipu masuk dalam suatu tipuan, euforia palsu, kepuasan perjuangan diri palsu.

3. Manusia merasa harus mengunggulkan pikirannya sendiri.
Dunia berpendapat kalau kita menuruti kehendak Tuhan malah dianggap sebagai orang bodoh karena kita tidak dapat memanfaatkan kesempatan yg ada. Hati-hati, jangan masuk dalam jebakan iblis yg mengiming-imingi kita dg gula manis tapi di dalamnya racun yg mematikan. Berbeda halnya dg Tuhan, mungkin jalan di depan kelihatan susah namun di balik kesusahan itu ada keindahan menanti. Semakin canggih dunia jebakan yg digunakan juga semakin canggih dan menggiurkan. Tak terkecuali dg Kekristenan juga mencoba menggunakan cara dunia untuk meraih keuntungan. Camkanlah, itu bukan ajaran Kristen. Kekristenan sejati tidak menggunakan cara-cara duniawi yg licik untuk memanipulasi orang lain. Hati-hati dg segala tipuan manis. Apakah tipuan-tipuan seperti ini yg dikatakan sebagai kesempatan? Banyak orang yg mencari kesempatan untuk menyelesaikan segala macam permasalahan yg menimpa hidupnya tapi permasalahan tetap tidak terselesaikan akibatnya orang sampai pada kondisi fatigue. Pada saat kehancuran itu, manusia harusnya bertobat dan kembali pada Tuhan tapi manusia tidak mau bertobat; manusia terbelit dalam jeratan dosa dan sukar bagi manusia untuk keluar dari jeratan iblis.
Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh pikiran-pikiran duniawi tapi hendaklah kita kembali pada Kristus dan mengakui semua kesalahan dan seluruh dosa kita. Seperti gambaran orang yg terkilir, ia tidak akan rela kalau tulangnya dikembalikan ke posisi semula karena sakitnya sangat luar biasa tapi justru lebih sakit kalau tulang itu tidak dikembalikan pada posisi semula. Satu-satunya cara yaitu dipaksa, dikembalikan pada posisi asli, reposisi kembali. Biarlah kita mereposisi hidup kita kembali pada Kristus, yakni: 1) dg rendah hati mengaku segala kebodohan kita maka saat itu, kuk yg diberikan Tuhan baru terasa ringan dan enak, 2) kita harus bereaksi, kita yg berjalan kepada Kristus, janganlah pernah mencurigai Kristus tetapi curigailah segala macam tawaran iblis. Tuhan pasti tidak akan mencelakakan kita; Dia akan memimpin kita pada jalan-Nya yg indah. Ironis, manusia tidak percaya sehingga orang merasa perlu untuk mempunyai “allah cadangan,“ 3) kita harus menjadi anak yg selalu dengar-dengaran akan Firman Tuhan setiap hari, setiap saat. Hal ini seharusnya konsisten, terus menerus kita kerjakan sepanjang hidup kita. Banyak orang yg bertobat pada saat KKR tetapi setelah KKR kembali pada hal duniawi. Tidak! Pertobatan adalah kembali satu kali lalu berjalan bersama Kristus, daily activity.
Biarlah mulai hari ini kita disadarkan kembali dan mulai menata ulang hidup kita untuk kembali pada jalan Tuhan. Ingatlah akan nama Yesus, Tuhan Yesus selalu memimpin setiap langkah kita dalam dunia yg penuh dg gejolak. Betapa indah hidup yg dipimpin dan berjalan bersama Tuhan, kita tidak akan menjadi fatigue. Puji Tuhan, Tuhan masih mengingat orang-orang sisa dan terbuang ini, remnan untuk dibentuk kembali dan dipakai menjadi saksi-Nya yang menyatakan kemuliaan-Nya. Ingat, nilai tertinggi hidup kita bukan dilihat dari kekayaan atau kedudukan atau kepandaian kita. Hidup kita menjadi bermakna ketika kita berjalan bersama Tuhan dan percayalah, hidup kita akan nyaman dan pada akhirnya ingat, tujuan hidup manusia hanya satu, yaitu memuliakan nama-Nya dan menikmati Dia sepanjang hidup kita. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 11:13-18: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-17: Kedahsyatan Pikiran Allah-2 dan Anugerah

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-15


“Israel” Sejati atau Palsu-17 (Penutup):
Kedahsyatan Pikiran Allah-2 dan Anugerah


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:13-18


Untuk menjelaskan bahwa Allah tidak bermaksud agar umat pilihan-Nya sendiri binasa, maka Paulus telah membuka penjelasannya di ayat 11 dan 12. Lalu, ia mulai menguraikannya mulai ayat 13. Pada bagian ini, kita akan merenungkan ayat 13 s/d 18 terlebih dahulu sebagai poin pertama.

Di ayat 13, Paulus menyatakan, “Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku,.” Paulus beralih dari bangsa Yahudi/Israel menuju kepada bangsa non-Yahudi. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan bangsa Israel. Kata “bukan Yahudi” dalam ayat ini diterjemahkan sebagai bangsa kafir (Gentiles). Artinya, Paulus yang adalah seorang Yahudi tetapi dipanggil Tuhan justru menjadi rasul dan melayani orang-orang bukan Yahudi (bdk. Efesus 3:8). Dan kerasulan Paulus untuk orang-orang non-Yahudi menjadi suatu kebanggaan tersendiri baginya, bahkan ia menghormati/memuliakan pelayanannya (King James Version, “I magnify mine office:”) Kata office dalam KJV dalam bahasa Yunaninya adalah diakonia berarti pelayanan. English Standard Version (ESV), God’s Word (GW), International Standard Version (ISV), Modern King James Version (MKJV), New King James Version (NKJV), dan beberapa terjemahan Alkitab bahasa Inggris lainnya menerjemahkannya, “my ministry”. Terjemahan ini lebih cocok dengan teks aslinya yang bermakna pelayanan. Lalu, mengapa Paulus juga dipanggil Tuhan menjadi rasul untuk orang-orang non-Yahudi? Ia menjelaskan alasannya di ayat 14, “yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka.” Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Saya mengharap saya dapat menimbulkan iri hati pada bangsa saya sendiri, supaya dengan jalan itu saya dapat menyelamatkan sebagian dari mereka.” Alasan Paulus sungguh unik. Ia mau menjadi rasul bagi bangsa non-Yahudi justru untuk menyelamatkan sebagian/beberapa orang-orang Yahudi. Dengan kata lain, pimpinan Allah itu unik. Allah tidak memakai Paulus untuk menjadi rasul orang Yahudi untuk menyelamatkan beberapa Yahudi, tetapi sebaliknya, Ia memakai Paulus untuk menjadi rasul orang “kafir” (menurut Yahudi) agar melaluinya, ia dapat membuat hati orang Israel cemburu. Mengapa Allah memakai cara yang unik ini? Karena Ia melihat kebebalan hati Israel. Israel di zaman Perjanjian Lama setelah sekian lama meninggalkan Yahweh akhirnya mereka sadar dan kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah Yahweh dan menantikan datangnya Mesias. Tetapi herannya, ketika Mesias datang, mereka tidak mengenalinya, mengapa? Karena Mesias yaitu Tuhan Yesus datang tidak seperti yang dibayangkan oleh orang-orang Israel yaitu memulihkan negara mereka dari cengkeraman penjajah, tetapi Ia datang mendirikan Kerajaan Allah secara surgawi/rohani. Pola pikir yang berbeda ini juga sempat dialami oleh Petrus (Mat. 16:22-23). Pola pikir inilah yang menghambat datangnya Kerajaan Allah sejati. Oleh karena itu, keselamatan yang seharusnya dapat dinikmati oleh orang Israel akhirnya tidak terjadi, justru sebaliknya, Allah malahan mengutus Paulus menjadi rasul bagi orang-orang non-Yahudi agar orang-orang Yahudi menjadi cemburu. Atau dengan kata lain, Paulus diutus untuk menjadi rasul bagi orang “kafir” dengan maksud agar orang Israel menjadi sadar bahwa jika mereka tidak segera bertobat, maka mereka akan malu karena keselamatan justru banyak dirasakan oleh orang-orang non-Yahudi, padahal mereka lah yang pertama kali menerima janji kovenan Allah melalui Abraham (Kej. 17). Kecemburuan/keirihatian yang Paulus memang sengaja lakukan pada orang Yahudi sebenarnya juga bermaksud agar beberapa orang Yahudi (yang dipilih-Nya) menjadi sadar dan kembali kepada Kristus dengan pengertian yang tepat. Dengan kata lain, Allah memakai cara di luar pikiran kita. Biasanya kita berpikir bahwa untuk menegur kita, Tuhan memakai segudang cara untuk mengingatkan kita. Tetapi di sini, kita belajar pikiran Allah yang berbeda total. IA tidak memakai cara menegur Israel dengan mengirim rasul lagi bagi mereka, tetapi Ia memakai Paulus menjadi rasul untuk orang “kafir” agar beberapa orang Israel sadar dan bertobat serta kembali kepada Kristus. Bagaimana dengan kita? Seperti Paulus, pada saat ini Ia berhak memakai para hamba-Nya untuk melayani-Nya, dan alangkah bahagia memang jika mereka boleh melayani dan membangun iman kita seturut firman-Nya. Tetapi jika para hamba-Nya diutus lebih-lebih untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya, kita harus waspada. Ada dua alasan. Pertama, mungkin hamba Tuhan itu memiliki panggilan lebih ke arah penginjilan, atau kedua, mereka diutus Tuhan kepada orang-orang yang belum percaya untuk memalukan kita yang sudah percaya tetapi tidak mau bertobat dari dahulu. Kalau alasan kedua yang terjadi, kita harus benar-benar mengintrospeksi diri. Kalau kita mengaku diri orang percaya tetapi tidak mau bertobat, kita seharusnya malu dengan mereka yang belum Kristen begitu diinjili langsung bertobat dan menerima Kristus. Mereka yang belum percaya begitu diinjili langsung bertobat dan menerima Kristus adalah mereka yang mayoritas sungguh-sungguh merasakan anugerah Allah yang begitu besar terhadap dosa mereka, sehingga mereka dengan sungguh hati bertobat, tetapi sungguh memalukannya jika sudah menjadi orang Kristen bertahun-tahun, hati kita tetap membatu sampai sekarang dan tidak mau bertobat. Jangan heran, di Surga nanti, Tuhan akan menyingkapkan pada kita tentang realita banyak yang mengaku diri “Kristen” bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun dan aktif “melayani ‘tuhan’” ternyata bukan warga Kerajaan Surga, tetapi warga iblis/neraka, sebaliknya mereka yang dulunya belum Kristen akhirnya baru menjadi Kristen beberapa tahun, merekalah yang banyak bertobat dan diselamatkan, karena kebanyakan hati mereka tulus. Mari kita bertobat.


Lebih tajam lagi, Paulus menjelaskan di ayat 15, “Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati?” Kecemburuan yang dikobarkan Paulus bagi orang-orang Yahudi ditunjukkan dengan mengajarkan bahwa jika orang Israel ditolak, maka itu berarti orang-orang non-Yahudi (“kafir” menurut Yahudi) diperdamaikan (atau bisa diterjemahkan: diselamatkan). Luar biasa. Tuhan memakai Paulus untuk membukakan pikiran kita bahwa ketika orang mengaku diri warga Israel, mereka bukan sungguh-sungguh Israel sejati (secara rohani). Mengapa? Karena justru yang mengaku diri Israel jasmani banyak yang ditolak, sebaliknya banyak yang non-Israel secara jasmani diterima dan bahkan diselamatkan.Tuhan tidak melihat status mereka yang pura-pura umat pilihan, tetapi sebenarnya tidak. Bagaimana dengan kita? Kita mungkin sudah aktif melayani Tuhan bertahun-tahun lamanya, aktif memberitakan Injil, dll, tetapi benarkah kita seorang Kristen sejati? Atau kita hanya memakai label/tameng “Kristen” saja? Jangan heran, jika suatu hari, Allah enggan memakai banyak orang Kristen turunan, tetapi Ia justru memakai dengan dahsyat banyak orang yang mantan non-Kristen lalu menjadi Kristen sejati. Jika hal itu terjadi, berarti ada sesuatu yang bermasalah di dalam iman Kristen kita. Di dalam zaman kita, kita melihat seorang Dr. Ravi Zacharias, seorang apologet keturunan India, dia adalah mantan anak pandita Hindu yang bertobat. Pertobatannya membuat dia semakin giat melayani Tuhan dan berapologetika memberitakan Injil. Bagaimana dengan banyak orang yang mengaku sudah dari kecil “Kristen”? Ke manakah mereka” Masihkah mereka aktif di gereja dan lebih tajam lagi, masihkah mereka mau hidup sungguh-sungguh bagi Kristus? Atau sebaliknya, banyak orang “Kristen” turunan kelihatan aktif “melayani” di gereja, tetapi hati dan hidupnya bukan tertuju pada Kristus, tetapi pada hal-hal duniawi, seperti kekayaan, umur panjang, dll, akhirnya secara fenomena tampak “Kristen”, tetapi secara esensial kosong. Tuhan tidak mudah tertipu oleh orang seperti ini. Selagi Tuhan masih memberi kesempatan, marilah kita bertobat.

Bangsa Israel yang ditolak Allah sudah menjadi berkat bagi orang-orang non-Yahudi, bagaimana jika beberapa umat Israel diterima Allah? Jika beberapa umat Israel diterima Allah, Paulus menyatakan bahwa itu adalah anugerah yang sangat besar atau hidup yang diberikan kepada orang yang sudah mati. Kondisi kematian diidentikkan dengan kondisi manusia berdosa, sehingga ketika beberapa umat Israel diselamatkan dan diterima oleh Allah, maka itu suatu anugerah yang besar, seperti hidup (kekal) diberikan kepada orang yang sudah mati. Begitu juga dengan kita. Mungkin banyak orang yang mengaku diri dari kecil sudah Kristen, tetapi jika beberapa orang dari mereka saja diselamatkan, mereka akan lebih berbahagia ketimbang sisanya yang mengaku diri “Kristen” sejak kecil tetapi tidak diselamatkan. Di sini, Tuhan tidak melihat kuantitas orang yang masuk Surga, tetapi Ia melihat esensinya yaitu hati. Tuhan tidak melihat/menghitung seberapa aktif kita melayani, tetapi Ia menyelidiki motivasi dan hati yang jujur dan tulus. Kalau kita sudah termasuk anggota dari umat pilihan Allah, tidakkah kita bersyukur kepada-Nya atas anugerah-Nya yang begitu besar yang telah memilih kita dari sekian miliar/triliun orang di dunia.


Paulus memberikan ilustrasi tentang hal ini di ayat 16, “Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus.” Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menafsirkan, “Roti sulung” sebagai buah sulung (dari roti), yaitu bagian pertama yang dikhususkan bagi Allah. (hlm. 858) Siapa yang dimaksud Paulus dengan “roti sulung” ini? Ada yang menafsirkan sebagai Kristus, tetapi itu tidak sesuai dengan konteks. Dengan tepat, Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa “roti/buah sulung” itu menunjuk kepada orang Yahudi pertama yang dikuduskan atau menerima Kristus (bdk. Rm. 16:5). Di dalam tradisi Yahudi, buah/roti sulung (firstfruit) merupakan roti/buah tertentu yang dipisahkan dari roti/buah lain dan pemisahan ini ditujukan untuk dipersembahkan kepada Allah. Buah sulung inilah orang Yahudi (menunjuk kepada nenek moyang Israel) yang dulu dipisahkan Allah dari bangsa-bangsa lain untuk menyembah Allah. Jika buah sulung ini kudus, maka seluruh adonan menjadi kudus. “Adonan” di sini menunjuk kepada seluruh orang Israel. Berarti, ketika umat Israel sejati dikuduskan, maka orang-orang yang non-Israel jasmaniah juga dikuduskan. Hal serupa dapat diimplikasikan bagi kita saat ini. Jika hidup orang Kristen sejati dikuduskan atau dipisahkan bagi kemuliaan Allah, maka kita bisa menjadi berkat bagi mereka yang belum Kristen. Apa arti kudus? Kudus berarti dipisahkan. Kudus bukan hanya secara fenomenal kudus, tetapi secara esensi kudus (bdk. 1 Petrus 3:15). Artinya, kita menjadi kudus ketika seluruh hidup kita yang dimulai dari hati keluar ke pikiran, perkataan, sifat, dan tindakan kita dimurnikan oleh firman Tuhan terus-menerus. Ketika kita memiliki motivasi dan hati yang sungguh-sungguh murni dan tulus, pada saat itu kita kudus dan menjadi berkat bagi orang lain atau memancarkan terang kekudusan kepada orang lain.

Sama halnya dengan ilustrasi pertama, ilustrasi kedua yang Paulus pergunakan yaitu akar dan cabang. Ketika akarnya kudus, maka cabang-cabangnya juga kudus. Ev. Hendry Ongkowidjojo, S.E., M.Div. pernah menafsirkan “akar” di sini sebagai bapa leluhur Israel (bdk. Roma 9:5; 11:28. Berarti, orang Israel sejati (secara rohani) menjadi dasar penentu bagi sesama mereka. Di zaman sekarang, kita sebagai orang Kristen pun harus menjadi berkat bagi sesama kita, sehingga kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Berapa banyak orang Kristen yang tidak menjadi berkat malahan membuat sesamanya yang Kristen benci kepadanya bahkan memusuhinya dan memutuskan untuk tidak pergi ke gereja lagi? Jika ini terjadi pada kita, marilah kita bertobat dan jadilah berkat bagi sesama kita.


Lalu, Paulus menjelaskan akibatnya di ayat 17, “Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah,” Sebelum masuk ke dalam pembahasan ayat ini, kita harus sepakat dulu di dalam beberapa hal, yaitu akar menunjuk kepada bapa leluhur Israel, tunas liar adalah orang-orang non-Yahudi, dan cabang menunjuk kepada orang-orang Yahudi. Dari tiga hal ini, mari kita menganalisa pemikiran Paulus di ayat ini dan 18. Di ayat 17, Paulus mengemukakan logika yang dalam di dalam 2 tahap: beberapa cabang (orang-orang Israel) telah dipatahkan à tunas liar (orang-orang non-Yahudi) dicangkokkan di antara cabang itu. Perhatikan di sini. Kata cabang di sini ditambahkan kata “beberapa” (some) yang menunjukkan bahwa beberapa orang Israel secara jasmani dipatahkan/dibuang. Lalu, dicangkokkanlah orang-orang non-Yahudi (tunas liar) di antara cabang-cabang yang tersisa itu. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari:

Pertama, pembeda total. Beberapa orang Israel dipatahkan/dibuang menunjukkan satu realita bahwa tidak semua Israel adalah Israel sejati (bdk. Roma 9:6). Hal ini telah dijelaskan Paulus di pasal 11 ayat 4 dengan mengutip 1 Raja-raja 19:18. Allah menyisakan beberapa umat pilihan-Nya dari antara kaum Israel. Berarti kita mempelajari bahwa fenomena tidak menjamin esensi. Tidak semua orang Israel benar-benar Israel. Begitu juga tidak semua orang yang menyebut diri Kristen pasti beriman Kristen. Jangan pernah terkecoh oleh fenomena. Seperti Paulus yang sanggup membedakan total antara Israel sejati dengan yang palsu, maka kita pun harus bisa membedakan mana Kristen yang sejati dengan mana yang “Kristen”. Apa bedanya? Bukankah mereka hampir sama? Perbedaan utama ada pada hati dan motivasi. Orang yang menyebut diri “Kristen” mungkin kelihatan aktif di gereja, bahkan “melayani Tuhan”, tetapi perhatikanlah hati dan motivasi mereka, sungguhkah tulus atau supaya dilihat orang? Dari mana kita bisa tahu ketulusan hati dan motivasi mereka? Memang sulit, tetapi ada sedikit yang bisa dibuktikan, yaitu orang Kristen sejati datang ke gereja sungguh-sungguh ingin dikoreksi oleh khotbah yang berdasarkan Firman Tuhan dan saling bersekutu, sehingga mereka tidak suka menggosip di gereja, tidak sopan di gereja dengan berbicara sendiri atau bermain HP (mengetik SMS, dll). Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan mutlak, tetapi bisa dijadikan sedikit bukti yang membedakan orang Kristen dengan orang “Kristen” palsu. Sebaliknya, orang “Kristen” palsu juga aktif ke gereja, tetapi lihatlah keaktifan dan keseriusan mereka ke gereja, mayoritas mereka ada yang mengantuk ketika khotbah dengan beribu alasan (khotbah kurang menarik, terlalu berat, dll), bahkan ada yang berani menerima telepon di HP dari temannya ketika khotbah. Mereka menganggap gereja seperti gedung bioskop yang bisa menjadi tempat di mana mereka bisa seenaknya sendiri bertingkah. Mereka tidak menghargai lagi apa arti ibadah dan menyembah Allah. Sebagaimana Israel sejati vs Israel palsu dilihat dari hatinya, begitu juga dengan orang Kristen asli vs “Kristen” palsu juga dilihat dari hatinya, apakah berkenan di hadapan Tuhan atau tidak.

Kedua, universalitas keselamatan Allah. Jangan salah menafsirkan kata “universalitas” di dalam bagian ini. Universalitas keselamatan Allah berarti Allah menyediakan keselamatan bukan hanya bagi orang-orang Yahudi secara bangsa, tetapi kepada semua orang yang telah dipilih-Nya dari berbagai bangsa (termasuk Yahudi). Kovenan dari Allah kepada Abraham di Kejadian 17:4-8 tidak berlaku hanya untuk orang Israel, tetapi semua keturunan Abraham. Hal ini disingkapkan lagi oleh Paulus bahwa Allah menyelamatkan bukan hanya orang Israel, tetapi juga orang-orang non-Israel yang telah dipilih-Nya dari semula. Oleh karena itu, Paulus mengatakan bahwa beberapa cabang dipatahkan (menunjuk kepada beberapa orang Israel secara bangsa dibuang), sedangkan tunas-tunas liar (orang-orang non-Yahudi) dicangkokkan. Artinya, banyak orang non-Yahudi yang diselamatkan, sedangkan orang-orang Israel secara jasmani yang merasa diri dibenarkan justru beberapa dari mereka dibuang. Jika Allah tidak memandang orang (secara bangsa dan status) untuk diselamatkan, maukah kita hari ini juga tidak membedakan orang di dalam memberitakan Injil?


Lalu, bagaimana seharusnya sikap/reaksi orang-orang non-Yahudi yang diselamatkan? Di ayat 18, Paulus melanjutkan, “janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu.” Ayat 18 menjadi ayat teguran bagi orang-orang non-Yahudi yang merasa sombong akan status mereka. Mereka pikir bahwa mereka bisa dicangkokkan ke dalam Israel, maka mereka bisa mendapat berkat-berkat Allah melalui Abraham, bapa leluhur Israel. Paulus mengatakan, “TIDAK”. Mereka tidak boleh bermegah terhadap cabang-cabang (orang-orang Israel) atau dengan kata lain mereka tidak boleh menyombongkan diri ketika mereka telah menggantikan posisi beberapa orang Israel yang telah dipatahkan/dibuang itu. Mengapa? Karena bukan mereka yang menopang akar itu, tetapi sebaliknya akar itu yang menopang mereka. Artinya, bukan orang-orang non-Yahudi yang menopang bapa leluhur Israel, tetapi bapa leluhur Israel yang menopang orang-orang non-Yahudi. Sebagaimana yang sudah dipaparkan oleh Dr. John Gill di atas, akar juga bisa menunjuk kepada orang pertama yang menerima Kristus, maka kita sebagai tunas liar yang dicangkokkan oleh Allah ke dalam cabang-cabang tersebut tidak boleh menyombongkan diri seolah-olah kita bisa menggantikan orang-orang Yahudi (atau orang pertama yang menerima Kristus) itu. Kita tetap sebagai tunas liar dan ingatlah tunas liar pasti dibuang oleh orang, tetapi Allah rela mencangkokkan tunas-tunas liar itu yaitu kita supaya kita menjadi anak-anak Allah di dalam Kerajaan-Nya. Bukankah ini suatu anugerah Allah yang begitu luar biasa dan agung? Tunas liar yang dicangkokkan. Rasul Petrus juga mengajar hal serupa ketika ia mengajar tentang status kita yang dulu berada di dalam kegelapan lalu dipanggil oleh Allah menuju kepada terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9-10). Sudahkah kita bersyukur atas anugerah-Nya yang besar itu? Caranya? Dengan menjadi saksi Kristus melalui mandat budaya dan penginjilan. Maukah kita berkomitmen untuk melakukannya?


Hari ini kita sudah merenungkan 6 ayat yang tergolong sulit dipahami tentang predestinasi Israel dan non-Israel. Kita sudah belajar tentang universalitas keselamatan Allah dan pembeda total antara kaum pilihan dan non-pilihan. Sudah menjadi kewajiban kita setelah merenungkan 6 ayat ini, kita sebagai umat pilihan berkewajiban memberitakan Injil Kristus karena keselamatan yang Allah sediakan juga berlaku bagi orang-orang di luar bangsa dan status kita. Biarlah Roh Kudus bekerja ketika kita memberitakan Injil. Amin. Soli Deo Gloria.

25 October 2008

Hidup Adalah Kristus, Mati Membuat Hidup Lebih Hidup (Ev. Ronald A. H. Oroh, M.Div.)

Hidup Adalah Kristus, Mati Membuat Hidup Lebih Hidup

oleh: Ev. Ronald A. H. Oroh, S.Si., M.Div.



Manusia hidup dalam kesementaraan ini seringkali melupakan bahwa hidup ini adalah sementara. Berbagai bencana dan musibah yang membawa kematian seharusnya mengingatkan kita, bahwa hidup ini hanya sementara di dunia ini. Maka buat apa kita hidup? Apakah hidup ini hanya untuk kesementaraan yang kemudian akan berlalu dengan sia-sia? Ataukah kita hidup untuk kekekalan dengan memanfaatkan kesementaraan ini dan bersiap dalam kesementaraan ini? C. S. Lewis pernah mengatakan, "Aim at heaven, and you will get earth thrown in; aim at earth, and you will get neither."

20Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 21Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. 23Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus itu memang jauh lebih baik; 24tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.(Flp. 1:20-24)

Rasul Paulus dalam kesaksiannya pada jemaat di Filipi, menjelaskan bagaimana seharusnya orang percaya memandang hidup dan mati. Bagi Paulus, hidup adalah Kristus (21) dan bekerja memberi buah (22), tetapi hanya lebih perlu untuk hidup di dunia (24). Sedangkan mati adalah keuntungan (21), karena berdiam bersama-sama Kritus (23), dan itu lebih baik (23). Jadi, sebenarnya sudah disimpulkan oleh Rasul Paulus dalam ay.20, Kristus dengan nyata dimuliakan dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

Hidup Adalah Kristus
Paulus ingin mengatakan bahwa Kristus adalah sumber, penopang dan pemelihara serta menjadi tujuan dari hidup ini. Sangat jelas, karena kita dicipta dalam gambar Kristus, dan mempunyai tujuan untuk menjadi serupa dengan gambaran Kristus (Rm. 8:29). Dampak tinggal di dalam Kristus, maka pasti akan bekerja memberi buah. Saya mendapatkan pengertian yang berbeda lagi tentang bekerja memberi buah. Sekarang, saya ingin melihat dari 3 sisi yang berbeda:
Yang pertama, dalam hubungannya dengan Tuhan. Saya melihatnya seperti di dalam perumpamaan tentang talenta. Kita bekerja memberi buah, jikalau kita menjadi seperti hamba-hamba yang baik, yang mengerjakan dan memaksimalkan semua pemberian Tuhan dan mempersembahkannya untuk kemuliaan Kristus.

Yang kedua, dalam hubungannya dengan sesama manusia. Kita bekerja memberi buah, bukan hanya dalam pemberitaan Injil, tetapi juga bagaimana memuridkan. Seorang Pendeta yang baik, seharusnya juga menghasilkan Pendeta-Pendeta yang baik. Begitu juga dengan pekerjaan dan panggilan-panggilan yang lain. Selain itu, kita berusaha untuk berbagian dalam hidup orang lain untuk persiapan menuju kekekalan dengan melayani dan mengasihi.

Yang ketiga, dalam hubungannya dengan bumi ini. Bekerja memberi buah, artinya kita bertanggung jawab dalam pekerjaan kita masing-masing. Kita mengusahakan dan memelihara bumi ini (Kej. 2:15 - Konteksnya Taman Eden). Bukan hanya sekadar bekerja dan mengeksploitasi bumi ini. Dua kata yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan mengusahakan dan memelihara, keduanya mempunyai nuansa ibadah, pelayanan dan takut akan Tuhan. Jadi, keseluruhan hidup kita dalam bekerja memberi buah sangat berhubungan sekali dengan Kristus sebagai Pencipta, Pemelihara, Penyelamat dan Penyempurna kita.

Tetapi anehnya, Paulus mengatakan untuk tinggal di dunia ini hanya lebih perlu. Mengapa? Apa gunanya hidup yang sementara ini? Adakah yang jauh lebih baik dari hidup ini? Mengapa hampir semua orang tidak ingin mati dan ingin hidup 1000 tahun lagi?


Hidup Lebih Hidup
Banyak orang sebenarnya tidak mengerti tentang kekekalan dan tidak ada kepastian sama-sekali, sehingga kematian menjadi sesuatu yang menakutkan. Dibandingkan dengan hidup yang kelihatan ini dan sepertinya kita bisa mengontrol dan menikmatinya.

Padahal, hidup yang sementara ini adalah persiapan untuk hidup yang kekal, yang akan sampai selama-lamanya. Itu sebabnya, Paulus mengatakan bahwa mati jauh lebih baik, karena diam bersama-sama dengan Kristus di dalam kekekalan. Mati adalah gerbang untuk masuk ke dalam kesempurnaan, serupa dengan Kristus, diam dengan Kristus, menjadi raja sampai selama-lamanya, tidak berdosa lagi, tidak ada sakit-penyakit, dan bahkan bisa menikmati Allah Tritunggal dalam segala kelimpahan. Jadi, hidup sesudah mati pasti lebih menyenangkan dari hidup yang sekarang ini. Seharusnya orang-orang yang sungguh percaya kepada Kristus, sangat menanti-nantikan akan kematian dan hidup yang kekal. Mata kita seharusnya memandang kepada kekekalan. Bersukacita dengan segala hal yang dibukakan kepada kita dan mempersiapkannya dalam kesementaraan ini.Apakah ini berarti bahwa kesementaraan ini menjadi tidak berharga dibandingkan dengan hidup kekal? YA! Tetapi, bukan berarti hidup yang sementara ini tidak perlu. Justru kita harus melihat hidup yang sementara ini sebagai kesempatan yang akan berlalu. Kalau kita melihat dengan cara pandang bahwa ini hanya sementara dan akan berlalu tetapi berdampak untuk kekekalan, maka kita akan memanfaatkan dan mempergunakannya sebagai mungkin demi untuk Kristus dan untuk mempersembahkan semuanya kepada Kristus.

Bagi orang Kristen, mati bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Malahan kematian membuat hidup menjadi lebih hidup. Mari kita menunggu dan menanti-nantikan kematian, bukan untuk kematian itu sendiri. Tetapi bagi Kristus, yang sudah mati dan bangkit, dan yang akan membangkitkan kita untuk hidup bagi Dia dalam kekekalan. Sementara kita menunggu, mari kita bekerja memberi buah, mempersiapkan diri kita dan orang-orang pilihan lainnya untuk hidup dalam kekekalan. Karena hidup adalah Kristus dan mati membuat hidup menjadi lebih hidup.

If you read history you will find that the Christians who did most for the present world were precisely those who thought most of the next. It is since Christians have largely ceased to think of the other world that they have become so ineffective in this.C. S. Lewis (1898-1963)
British Academic, Writer, Christian Apologist

Sumber:
http://roielministry.org/2007/03/hidup-adalah-kristus-mati-membuat-hidup.html



Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio




Profil Ev. Ronald A. H. Oroh:
Ev. Ronald Arthur Harold Oroh, S.Si., M.Div. lahir pada tanggal 8 Juni 1972 di Manado. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Institut Reformed, Jakarta.

24 October 2008

ORANG-ORANG YANG DIPUJI TUHAN (Pdt. Effendi Susanto, S.Th.)

ORANG-ORANG YANG DIPUJI TUHAN

oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.




Nats: Yoh. 1:45-51; Luk. 7:1-10; 21:1-4



Perwira ini bukan orang Yahudi. Orang-orang Yahudi kadang-kadang menghina orang non Yahudi sebagai orang yang barbaric, orang yang tidak terpelajar, orang yang tidak mengenal Tuhan. Tetapi justru di awal pelayanan Tuhan Yesus, Dia menyatakan satu pujian yang pertama untuk memuji orang non Yahudi. Perwira ini mempunyai banyak kualitas hidup yang layak kita puji. Paling tidak, perwira ini adalah seorang yang sangat mencintai dan menghargai budaknya. Di dalam catatan para sejarahwan memperlihatkan kepada kita budak adalah barang dagangan yang diperdagangkan, yang dibeli karena kekuatan dan manfaat dan usefulness. Saat dia tua atau saat dia sakit, dia boleh diusir dari rumah tuannya, atau dibuang begitu saja, karena tidak bisa lagi diperdagangkan di pasar budak. Tetapi cerita 2000 tahun yang lalu ini memperlihatkan kepada kita satu orang dicatat di sini luar biasa, dia bisa kita puji sebab dia mencintai barang dagangan pada waktu itu sebagai manusia yang dihargai. Kita patut mengucap syukur untuk orang seperti ini. Yang kedua, dia layak dipuji dan orang-orang juga memberi rekomendasi kepada Tuhan untuk menolong dia, karena orang ini membantu memberi dana pembangunan sinagoge mereka. Seorang yang generous, seorang yang murah hati, seorang yang memberikan keuangannya untuk membangun rumah ibadah bangsa lain.

Sering kali justru terbalik di dalam kehidupan orang yang sudah lama mengikuti Tuhan. Terlalu sering kita baru menyatakan penaklukan diri iman yang sungguh kepada Tuhan kalau Tuhan melakukan sesuatu dalam hidupku. If You terlebih dahulu membuktikan Engkau adalah Allah yang hidup, Allah yang memelihara dan menyertai hidupku, maka saya baru percaya Engkau. Berapa sering firman Tuhan juga datang ke dalam hidup kita, bisakah kita menyaksikan dan menghargai firman itu sebagai firman yang berotoritatif, tidak perlu saya buktikan janji Tuhan tergenapi dulu baru saya percaya janji-Nya? Tidak perlu saya buktikan kalimat Dia akan menyertai hidupku terlebih dahulu, baru saya mau percaya akan penyertaan-Nya. Karena saya tahu betapa berkuasanya firman itu dalam hidupku. Yang dia tuntut cuma satu, saya datang merendahkan diri dan menaklukkan diri. Adakah hidup engkau dan saya seperti itu? Kalau engkau dan saya memiliki iman seperti itu, saya percaya Tuhan akan berkata, “Engkau adalah orang-orang yang memiliki iman yang luar biasa besar. Engkau beriman sekalipun engkau tidak melihat campur tangan, kuasa dan kehadiran Tuhan di dalam hidupmu

Apa yang sedang terjadi di bawah pohon ara, sampai itu menjadi point yang penting? Di situ Natanael bukan melamun, Natanael bukan tidur-tiduran di bawah pohon ara. Dia sedang membaca Alkitab, dia sedang bergumul, dia sedang bertanya, dia sedang menggali firman Tuhan, ingin tahu kapan hari keselamatan Tuhan, kapan Mesias itu datang. Apa yang dia doakan, apa yang dia rindukan, apa yang sedang dia gali, apa yang dia begitu ingin pengharapan itu terjadi, sebagai seorang pemuda yang saleh di tengah-tengah penjajahan Romawi, saya percaya anak muda ini luar biasa. Mana ada anak muda yang begitu concern dengan the welfare of the nation? Mana ada anak muda yang concern terhadap perlunya dipulihkan kehadiran Mesias Juruselamat? Tidak ada. Yang ada dia main kelereng dan main layangan. Hanya anak muda ini satu-satunya, di tengah perasaan yang sedang menanti itu, hari ini dia bertemu dengan Mesias, terjawab sudah. Itu sebab dia tunduk dan takluk kepada Yesus. Hanya karena kalimat itu, “Aku sudah melihat engkau di bawah pohon ara.” Secara implisit itu berarti, Natanael, apa yang kamu harapkan, apa yang kamu doakan di bawah pohon ara, apa yang engkau nantikan mengenai juruselamat akan datang, sekarang engkau sudah lihat Dia. Itu sebab begitu dengar itu, bukan saja dia tahu tetapi inilah jawaban dari pengharapan hidupku. Maka dia tunduk, dia berlutut, dia mengaku Tuhan. Pengharapan itu is a long way. Kapan Tuhan datang, kapan Tuhan bekerja? Kadang-kadang pengharapan itu bisa memudarkan hidup kita, ketika apa yang kita harapkan tidak terjadi. Tetapi anak muda ini seorang anak muda yang terus menanti berharap, Tuhan, kapan engkau tiba? Anak muda ini menjalankan seluruh yang diharapkan dengan sungguh dan jujur, seluruh firman itu dia taati. Karena someday Mesias itu akan datang dan saya tidak akan kehilangan moment itu. That’s why pada waktu Yesus bertemu dengan anak muda ini, Yesus berkata, “Natanael, you are the true Israel.” Artinya apa? You are the only young man who preserve the true spirit of true Israel, you never give up. You terus berdoa. You terus menantikan pengharapan janji Tuhan, dan sekarang you see Me. Karena itu you percaya? Someday you akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada ini. Never lose hope in your life.

Dua minggu lalu saya mengkhotbahkan mengenai “The Art of Giving.” Yesus mengatakan kalimat ini, takaran yang kau pakai untuk memberi akan ditakarkan kepadamu. Paulus juga berkata di dalam 2 Korintus, barangsiapa memberi banyak akan mendapat banyak. Siapa yang memberi sedikit akan mendapat sedikit. Sering kali secara separuh di dalam Prosperity “Theology” mengkutip ayat itu lalu mengatakan you memberi banyak, maka Tuhan akan memberi banyak. Tetapi kalau saudara membaca terus bagian dari 2 Korintus itu, saudara akan menemukan kembalinya tidak harus berarti secara finansial. Karena selanjutnya Paulus mengatakan engkau yang memberi banyak akan melahirkan sukacita orang memuji Tuhan. Akan membuat generosity bertambah. Akan membuat orang itu mencintai Tuhan lebih dalam, karena engkau memberi. Waktu Yesus memuji janda miskin ini tidak ada indikasi Yesus mengatakan janda itu pulang mendapat lebih banyak. Lalu apa yang dia dapat setelah dia memberi dua peser itu? Tidak ada yang dia dapat. Yang saya tahu pasti, karena dia memberi dari kekurangannya, dari seluruh pemasukannya, mungkin janda itu pulang, dia tidak makan hari itu. Sekali lagi di zaman itu belum ada social welfare, zaman itu adalah zaman dimana orang tidak punya banyak tabungan, zaman itu adalah zaman dimana orang bekerja hari itu, mendapatkan kehidupan hari itu. Dan hari itu dia hanya punya dua peser uang. Tetapi Yesus mengatakan, ada orang mempunyai seratus, memberi satu. Tetapi ada orang punya sepuluh, memberi satu. Maka nilai pemberian ini lebih besar secara sacrifice. Tetapi ada orang mempunyai dua, lalu memberi satu. Maka nilainya lebih sacrifice daripada pemberian yang punya sepuluh. Maka kenapa janda ini disebutkan memberi lebih banyak? Sebab dia memberi dari kekurangannya.

Tetapi inti ceritanya bukan tentang persembahan dua peser itu. Inti ceritanya adalah bahwa dia memberi lebih banyak daripada kekurangannya. Dia memberi lahir dari satu cintanya yang berkorban. Itu sebab kisah janda ini selama-lamanya menjadi satu kisah yang memberi inspirasi kepada kita bahwa kasih yang berkorban akan menghasilkan nilai yang tidak bisa kita lukiskan. Someday Tuhan akan memberikan ucapan pujian yang indah kepada dia. Engkau dan saya yang masih muda, ada juga di antara kita yang janda, ada di antara kita yang mempunyai kedudukan, ada di antara kita yang terpelajar, ada di antara kita yang sudah tua, berarti segala macam lapisan kita adalah manusia biasa yang hanya menyatakan iman, pengharapan dan kasih kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman, pengharapan dan kasih kita kiranya menjadi iman, pengharapan dan kasih yang dipuji oleh Tuhan. Karena engkau beriman kepada Dia, sekalipun engkau tidak melihat kuasa-Nya bekerja dalam hidup kita. Kita terus-menerus memiliki pengharapan yang tidak pernah berubah, pengharapan yang tetap percaya Tuhan akan mendatangkan hal yang indah dalam hidup kita, dalam pelayanan kita, dalam segala hal, sekalipun tinggal satu senar dalam hidupku, saya tetap memainkan lagu yang indah melalui senar itu. Dan sekalipun tertinggal satu peser yang tersisa di dalam hidupku, saya tetap ingin memberi syukur persembahan kepada-Nya. Maka ini adalah orang-orang yang dipuji oleh Tuhan Yesus dan saya percaya pada waktu kita bertemu dengan Dia, ada begitu banyak orang yang menerima pujian yang sama. Itulah yang engkau dan saya inginkan juga. (kz)




Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Effendi Susanto di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Sydney, Australia tanggal 24 Juli 2005.

20 October 2008

Ketika Homoseksualitas Menjadi Pembenaran Diri Seorang Pendeta

Ketika Homoseksualitas Menjadi Pembenaran Diri Seorang Pendeta

SUNDAY, 19 OCTOBER 2008




“Perkenalkan nama saya adalah Mel White, saya seorang pastor, penulis best-seller dan pengajar di Fuller Theological Seminary. Saya seorang gay dan bangga dengan itu karena Tuhan mengasihi dan menerima saya apa adanya!” barangkali inilah perkenalan pertama yang akan kita dengar dari Mel White. Konon selama 35 tahun melakukan berbagai cara seperti doa puasa, pelepasan, psikotherapi dan electric shock yang berujung pada rasa frustasi karena tidak ada yang berhasil mengubah hasrat homoseksualnya. Di akhir pencariannya, ia kemudian berpendapat bahwa homoseks bukanlah dosa melainkan karunia dari Tuhan yang harus diterima apa adanya. Pengakuannya ini di terima baik oleh istri yang telah dinikanhinya selama 20 tahun, mereka kemudian bercerai. Mel White akhirnya menemukan partner hidupnya, Gary Nixon yang sampai sekarang telah hidup bersamanya selama 26 tahun. Mereka bedua mendirikan yayasan soulforce dan aktif memberikan ceramah bagi kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual and transgender).

Walau di dunia Timur praktik homoseks masih dianggap tabu dan dosa berhadapan dengan agama manapun, tapi di dunia barat semakin menerimanya sebagai bagian dari kehidupan yang normal. APA (American Psycological Association) bahkan telah mengeluarkan homoseks dari daftar mental disorder (DSM IV TR) dan menganggap bahwa gay dan lebian adalah bagian dari pilihan seseorang yang normal (walau tetap menganggap tansgender sebagai suatu kelainan jiwa).

Jika APA dan dunia sekuler menganggap demikian biarlah seperti itu karena "semua orang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Rm. 3:23), kecenderungan hati mereka adalah berbuat dosa dan kejahatan. Namun yang tidak habis dipikir adalah mereka yang mengatas namakan Tuhan untuk membenarkan perbuatan dosanya. Menerjemahkan Alkitab sesuai dengan kebutuhan kedagingannya.

Saya tidak heran kepada orang-orang semacam ini ada keyakinan dalam hati bahwa apa yang mereka lakukan disetujui Tuhan. Dalam hati mereka tidak ada lagi rasa bersalah. Sebenarnya bukan Tuhan menyetujuinya, tapi Tuhan telah menyerahkan mereka pada keinginan itu supaya mereka binasa oleh karenanya. (Roma 1:24-32)
“Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka...sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukan sendiri, tetapi setuju dengan mereka yang melakukannya”

Sangat jelas bahwa baik mereka yang melakukan maupun yang setuju dengannya akan menerima hukuman Tuhan. Saya rasa kaum LGBT harus menerima apa yang dikatakan Firman Tuhan, jangan dimanjakan oleh pergeseran norma masyarakat modern, media cetak dan visual yang aktif mempromosikan mereka.

Mel White, salah! Ia mengatasnamakan Tuhan dan Alkitab untuk membenarkan dosanya sendiri. Jika ia memiliki orientasi seksual yang salah sejak lahir tidak berarti bahwa ia harus mempraktikkannya. Saya memiliki keinginan untuk berbohong sejak kecil, setiap orang punya keinginan itu, tapi bukan berarti saya harus menerimanya dan hidup di dalamnya. Setiap orang berjuang untuk melawan keinginan berbuat dosa yang secara natural ada di hati setiap manusia.

Jika Anda LGBT dan membaca tulisan ini, jangan tertipu! Anda berdosa sama dengan saya yang juga berdosa, namun untuk itulah Yesus mati di kayu salib. Jika ada orang yang mengaku Kristen bahkan hamba Tuhan yang membenarkan bahkan mengendorse LGBT, jangan percaya, mereka sedang meyesatkan Anda. Anda pasti tidak akan percaya jika saya mengatakan “berzinah bukan perbuatan yang salah, jika ada keinginan untuk itu jangan ditahan, lakukan tanpa rasa bersalah,” meskipun saya seorang pastor dan lulusan sekolah theologi.

Sumber: Nancydinar.com/VM




Disarikan dari:
http://www.jawaban.com/news/news/detail.php?id_news=081016170552

Roma 11:11-12: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-16: Kedahsyatan Pikiran Allah-1 dan Pemberitaan Injil

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-15


“Israel” Sejati atau Palsu-16 (Penutup):
Kedahsyatan Pikiran Allah-1 dan Pemberitaan Injil


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:11-12


Setelah Paulus menjelaskan hukuman Allah bagi umat Israel yang merasa diri umat pilihan-Nya di ayat 6 s/d 10, maka kita mungkin bertanya berarti Allah benar-benar bermaksud agar umat pilihan-Nya sendiri binasa? Tidak. Hal ini ditentang Paulus dan dijelaskan di ayat 11 s/d 12 sebagai pembukaan penjelasannya.

Di ayat 11, Paulus menyatakan, “Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu.” Kata “tersandung” dalam bahasa Yunani bisa berarti berdosa (sin). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menerjemahkan tersandung sebagai tersesat atau berdosa (hlm. 857). Di sini, kita belajar bahwa Paulus menolak bahwa hukuman Allah bagi banyak orang Israel (bukan umat pilihan-Nya) dalam suatu bangsa bukan untuk membuat mereka terjatuh dan hancur, tetapi membuat mereka sadar (tetapi TIDAK bertobat karena mereka bukan umat pilihan-Nya). Lalu, untuk apa Allah menjatuhkan murka kepada mereka? Di sini, Paulus baru membuka kedok yang selama ini ditutupi, dia menjelaskan bahwa Allah menghukum mereka supaya melalui pelanggaran mereka, justru keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain. Apa arti pelanggaran (bisa diterjemahkan: kesalahan/dosa) mereka? Albert Barnes dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan pelanggaran bangsa Israel berkaitan dengan sikap mereka terhadap Kristus ketika Ia inkarnasi. Kita bisa membuka kembali Kitab-kitab Injil bahwa tidak sedikit para pemuka agama Yahudi tidak menyenangi Tuhan Yesus bahkan ingin membinasakan-Nya, padahal mereka setiap hari menantikan turunnya Mesias. Mengapa akhirnya mereka membinasakan-Nya? Bukankah mereka lama menantikan Mesias? Jawabannya sederhana namun kompleks, yaitu karena mereka menginginkan Mesias yang bersifat daging, yaitu membebaskan mereka dari penjajahan Romawi/bangsa lain, sedangkan Tuhan Yesus mengajar bahwa Ia datang bukan untuk itu tetapi untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa (arti rohani). Ketidaksinkronan ini mengakibatkan mereka harus melenyapkan Tuhan Yesus. Pelanggaran mereka ini sejujurnya bisa menjadi pelanggaran kita bahkan kita yang mengaku diri “Kristen” bahkan aktif “melayani ‘tuhan’”. Secara tidak sadar, kita sebagai orang “Kristen” maunya Tuhan cocok dengan pikiran dan keinginan hati kita, bahkan bukan hanya cocok, kita mau Tuhan memenuhi seluruh permintaan kita dengan berbagai dalih “rohani”: “Sebut dan Tuntutlah!” (klaim janji Tuhan à pernyataan yang aneh) Kalau permintaan kita tidak dikabulkan, kita marah dan ngambek, lalu memutuskan untuk tidak mau lagi “melayani” dan lebih parahnya, berhenti menjadi orang “Kristen”. Sifat kekanak-kanakan ini bukan hanya ditemui pada sebagian besar orang “Kristen” di banyak gereja Karismatik/Pentakosta, tetapi juga para pemimpin gereja mereka sendiri dan non-Karismatik. Kita mungkin tidak seekstrim mereka, tetapi sama saja, ketika kita mengharapkan situasi dan tempat kita melayani aman tenteram, damai sentosa, dll, tanpa marabahaya. Tidak. Pemikiran ini ditolak Tuhan. Justru kepada bangsa Israel, Allah Bapa bukan hanya mengutus Tuhan Yesus untuk TIDAK memenuhi keinginan jasmani Israel untuk terlepas dari penjajahan, malahan juga Ia banyak menegur keras para pemuka agama yang munafik yang mau enaknya sendiri. Bukan hanya tidak mau memenuhi kebutuhan kita, Tuhan juga sering kali membuat kita “tidak nyaman” dan sedikit diganggu tetapi bukan dengan motivasi menjatuhkan kita, melainkan untuk menyadarkan kita dan membuat kita bertobat. Teguran Tuhan Yesus kepada para pemuka Yahudi di dalam Matius 23 biarlah menjadi teguran Tuhan juga bagi kita sekarang. Sudahkah kita benar-benar hidup bagi Kristus dan melayani-Nya dengan motivasi yang beres? Ataukah kita masih menyimpan motivasi yang tidak beres, lalu kita suruh Tuhan memenuhinya?

Melalui pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Israel inilah, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain. Mengenai kata “telah sampai”, banyak Alkitab terjemahan Inggris memberikan bentuk kata kerja yang berlainan. King James Version (KJV), American Standard Version (ASV), Bishops’ Bible 1568, Revised Version (RV), 1833 Webster Bible menerjemahkannya, “is come” (5); Modern King James Version (MKJV), Literal Translation of the Holy Bible (LITV), Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkan, “came” (3); International Standard Version (ISV), God’s Word (GW), 1965 Bible in Basic English (BBE), English Majority Text Version (EMTV), English Standard Version (ESV), Good News Bible (GNB), New King James Version (NKJV), 1912 Weymouth New Testament (WNT) menerjemahkan, “has come” (8). Sedangkan dalam teks Yunani, tidak ada penggunaan kata kerja di dalam hal ini, melainkan yang dipergunakan justru artikel (article) dan kata benda (noun) (Sutanto, 2003, hlm. 858). Justru melalui pelanggaran mereka, keselamatan tiba pada bangsa-bangsa lain atau dengan kata lain, bangsa-bangsa lain diselamatkan. Terjemahan Indonesia tidak memberi pengertian siapa bangsa-bangsa lain, tetapi terjemahan Inggris menggunakan the Gentiles (orang-orang kafir). Sungguh menarik. Tuhan melalui Paulus membukakan kepada kita bahwa Tuhan justru menyelamatkan banyak orang yang non-Yahudi yang oleh orang-orang Yahudi dianggap kafir. Kata “keselamatan” di sini menurut Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible merujuk kepada Injil (Gospel). Berarti, Tuhan membukakan kepada kita bahwa Injil bukan hanya untuk orang-orang Yahudi saja, tetapi juga kepada semua orang pilihan-Nya dari berbagai bangsa, suku, status sosial/ekonomi, dan kaum. Kita melihat contoh sederhana dari penulis Surat Roma, yaitu Paulus. Dia sendiri memberitakan Injil kepada banyak orang non-Yahudi. Tuhan mengutusnya bukan untuk orang Yahudi, tetapi untuk orang-orang non-Yahudi, meskipun demikian ia tetap memiliki hati untuk mempertobatkan orang-orang Yahudi (Roma 11:13). Tuhan mengutus Paulus ke kota Roma, Efesus, Galatia, dll, bangsa-bangsa yang oleh orang Yahudi disebut sebagai “kafir”. Justru, kepada merekalah, Tuhan melawat mereka melalui Injil. Pemberitaan Injil oleh Paulus tidak hanya berhenti sampai di situ saja, ini terus berlanjut sampai sekarang. Tuhan memerintahkan kita untuk memuridkan segala bangsa bagi Dia (Matius 28:19). Ada pekerjaan/mandat pemberitaan Injil yang harus kita tunaikan. Mari kita menjangkau orang-orang yang bukan Kristen demi Injil Kristus. Mari kita tidak memiliki hati yang membenci ketika memberitakan Injil. Tunjukkan belas kasihan dan bukan kebencian. Di sisi lain, bagian ini mengajar kita satu prinsip yaitu sadar diri. Banyak orang “Kristen” tidak sadar diri. Artinya, mereka tidak menyadari seberapa jahatnya mereka di hadapan Tuhan bahkan ketika melakukan aktivitas-aktivitas yang kelihatannya “melayani ‘tuhan’”, persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi di zaman Tuhan Yesus. Mereka aktif beribadah, tidak lupa berpuasa, dll, tetapi ketika Kristus hadir, mereka tidak mengenali-Nya (lebih tepatnya, tidak mau mengenali-Nya), bahkan menyalibkan-Nya. Jangan-jangan, melalui pelayanan kita yang katanya kepada “Tuhan”, justru Tuhan dipermalukan dan merasa sedih. Biarlah kita mengintrospeksi diri. Ujilah motivasi dan hati kita, sungguhkah murni di hadapan Tuhan ketika melayani Tuhan? Ingat, jangan pikir, karena kita “Kristen” berarti kita masuk Surga. Tuhan bisa menyelamatkan orang-orang yang non-Kristen pada saat ini untuk nantinya dibawa kepada Kristus dan menjadi anak-anak-Nya. Ini berarti Tuhan berdaulat dan bagi kita, jangan pernah sombong akan status kita. Tidak menjamin seorang yang mengaku di bibir mulutnya “Kristen” pasti sungguh-sungguh Kristen, karena (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong) banyak orang “Kristen” yang sebenarnya anak-anak setan, sedangkan banyak anak Tuhan sementara ini masih indekos di luar Kristen (pada suatu saat mereka ditarik dan kembali kepada Kristus). Mari kita berhati-hati dan menguji hati dan kedewasaan rohani kita.

Bukan hanya keselamatan itu sampai kepada bangsa-bangsa non-Yahudi, keselamatan/Injil itu justru mempermalukan mereka yang Yahudi. Justru, melalui apa yang orang Yahudi lakukan, justru menentang Kristus dan Injil, orang-orang yang menurut mereka “kafir” justru mendapat berkat besar, yaitu Kristus dan Injil. Bahkan, orang-orang “kafir” tersebut bisa mempermalukan mereka yang Yahudi atau membuat orang Yahudi menjadi cemburu/iri hati. Bagaimana dengan kita? Kita yang katanya mengaku diri “melayani ‘tuhan’” lalu merasa sombong dan menghina orang lain sebagai “kafir”. Benarkah diri kita sudah beres? Atau jangan-jangan karena diri kita tidak beres, makanya kita menghina orang lain? Tuhan membukakan kita pada bagian ini yaitu Tuhan bisa menyelamatkan orang-orang yang sementara ini belum Kristen (untuk nantinya dibawa kepada Kristus) justru untuk mempermalukan orang-orang yang katanya “Kristen”. Jika Tuhan sampai melakukan hal itu, berhati-hatilah dan ujilah apa yang telah kita lakukan selama ini sebagai orang yang katanya “Kristen”. Benarkah kita Kristen sejati? Benarkah kita telah memberitakan Injil? Benarkah kita sungguh-sungguh melayani dan hidup bagi Kristus? Atau sebaliknya, kita justru hidup melayani diri sendiri tetapi menggunakan dalih “melayani ‘tuhan’”? Alangkah mengerikannya, jika etika dan dignitas orang-orang non-Kristen bisa lebih tinggi daripada orang-orang Kristen, lalu kita dihina dan nama Kristus dilecehkan hanya gara-gara segelintir orang yang mengaku “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” berselingkuh atau melakukan tindakan asusila lainnya. Berdoalah agar Tuhan masih mengasihani kita yang rapuh dan lemah ini dengan menguatkan kita.


Di ayat 12, Paulus melanjutkan tentang keselamatan bangsa lain/“kafir” melalui pelanggaran orang-orang Israel, “Sebab jika pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka.” Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “Karena bangsa Yahudi bersalah dan tidak menuruti kemauan Allah, maka bangsa-bangsa lain diberkati oleh Allah. Apalagi kalau hubungan bangsa Yahudi dengan Allah menjadi baik kembali; tentu lebih besar lagi berkat yang akan diberikan oleh Allah!” TB-LAI memberikan dua pemisahan kalimat, yaitu pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia, dan kekurangan mereka merupakan kekayaan bagi bangsa-bangsa lain. Sedangkan BIS menggabungkan keduanya. Teks bahasa Yunani memisahkan dua bagian ini, seperti yang dilakukan oleh TB-LAI. Mari kita menyelidikinya dengan teliti.

Pertama, pelanggaran mereka berarti kekayaan bagi dunia. Kata “pelanggaran” dalam ayat ini sama dengan pelanggaran di ayat 11 (Yunani: paraptōma), bisa diterjemahkan kesalahan atau dosa. Lalu, kata “dunia” dalam bagian ini diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai (orang bukan Yahudi) di dunia (hlm. 858). Dan uniknya, struktur bahasa Yunani dari kata ini adalah menggunakan bentuk tunggal (singular). Di sini, kita melihat signifikansinya, yaitu melalui pelanggaran/kesalahan/dosa orang-orang Yahudi, orang non-Yahudi di luar Israel (di dunia) justru mendapat kekayaan (bisa diterjemahkan kepenuhan/fulness). Artinya, orang non-Yahudi di dunia secara personal bisa mendapatkan berkat lebih besar dan banyak melalui Injil yang didengarnya, ketimbang orang Israel yang mengaku hafal Taurat dan beribadah, tetapi mereka kehilangan fokus Allah dan janji-Nya. Hal ini telah kita rasakan pada saat ini. Kita sebagai orang Kristen tentu bukan orang Yahudi, karena kita adalah orang Indonesia. Tetapi berkat-berkat keselamatan dan Injil Kristus telah kita rasakan pengaruhnya dan alami jauh melebihi apa yang dirasakan dan dialami oleh orang-orang Israel dulu. Kita sudah mengetahui dan mempelajari makna-makna sebenarnya di dalam Perjanjian Lama dari sudut pandang Perjanjian Baru yang berfokus kepada Kristus, sehingga kita makin mencintai Tuhan dan firman-Nya (PL dan PB), serta taat pada Taurat. Di sisi lain, kita harus tetap waspada. Jangan-jangan, karena kita telah lama menjadi Kristen, kita telah kehilangan fokus Injil dan Kristus serta kita lupa (atau malas?) memberitakan Injil. Justru sebaliknya, orang-orang yang sementara ini belum Kristen ketika diinjili, atas pencerahan Roh Kudus, mereka langsung bertobat dan kembali kepada Kristus, serta berapi-api memberitakan Injil kepada rekan-rekan mereka yang dulu sama agamanya. Jangan heran, kalau di Surga, kita akan menjumpai banyak umat pilihan-Nya sejati bukan terdiri dari orang “Kristen” berpuluh-puluh tahun (“Kristen” turunan) apalagi banyak “pemimpin gereja” top di dunia yang sudah tidak lagi (atau malas?) memberitakan Injil, tetapi orang-orang Kristen yang mungkin hanya beberapa tahun namun hidupnya murni untuk melayani Tuhan. Biarlah ini menjadi koreksi dan introspeksi bagi hidup dan kerohanian kita.

Kedua, kekurangan mereka kekayaan bagi bangsa-bangsa lain. Kata “kekurangan” dalam bagian ini diterjemahkan dari bahasa Yunani hēttēma yang bisa diartikan secara objektif: kegagalan (failure). Dan kata “bangsa-bangsa lain” diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. (2003) sebagai bangsa-bangsa bukan Yahudi (hlm. 858). Uniknya lagi, “bangsa-bangsa lain” menggunakan struktur bahasa Yunani: jamak (plural). Dengan kata lain, kegagalan mereka menangkap berita Injil dan Kristus justru sebenarnya membuat bangsa-bangsa non-Yahudi (atau bangsa kafir menurut arti dari Alkitab terjemahan Inggris) memperoleh kekayaan/kepenuhan berkat rohani. Kalau di poin pertama, berkat hanya diterima oleh umat pilihan-Nya yang non-Yahudi secara personal, maka di poin kedua, Paulus membesarkan ruang lingkupnya, yaitu berkat itu diterima dan dirasakan lebih besar oleh umat-Nya secara bersama-sama. Secara konteks dan latar belakang, apa yang Paulus ungkapkan ini membukakan kedok Israel di mata orang-orang non-Israel di Roma, mengingat di Roma, orang-orang Yahudi dan non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen, dua-duanya hidup bersama dan menjadi jemaat. Kita yang hidup di saat ini telah mengalami dan merasakan apa yang diberitakan Paulus tentang berkat itu. Sebagai orang Kristen, kita bukan hanya menikmati berkat Injil secara pribadi lebih besar dan banyak dari orang-orang Israel, tetapi kita juga mampu menikmati berkat ini bersama-sama dengan rekan Kristen sejati lainnya dengan cara saling berbagi (sharing) Injil dan pendalaman Alkitab. Sejujurnya, sebagai orang Kristen, kita bisa mendapat banyak berkat lagi jika kita sama-sama saling berbagi Injil dan pengertian kita akan Alkitab dengan bertanggungjawab (tidak asal comot). Dengan melakukan sharing itu, kerohanian dan iman kita dibangun, dan hidup kita makin diarahkan pada Kristus sebagai Pusat. Itulah berkat “komunal” yang kita rasakan justru melalui kegagalan orang Israel meresponi Injil dan Kristus. Tuhan memakai hal-hal negatif untuk mendatangkan hasil positif bagi umat pilihan-Nya sejati. Puji Tuhan!

Ketiga, terlebih-lebih lagi kesempurnaan mereka. Kalau mereka sudah melanggar saja, orang-orang non-Yahudi sudah mendapatkan berkat besar (sampai dibilang: kaya), bagaimana jadinya jika mereka yang Yahudi meresponi Injil Kristus, pasti orang-orang non-Yahudi mendapatkan berkat yang bukan hanya kaya, tetapi sangat kaya. Kata “kesempurnaan mereka” diterjemahkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. (2003) sebagai “jumlah yang lengkap/pemenuhan (tuntutan Taurat) dari mereka.” (hlm. 858) Bagian ini sebenarnya berupa kata tanya (sesuai dengan struktur bahasa Yunaninya yang menggunakan interrogative/kata tanya). KJV menerjemahkan, “how much more their fulness?” Artinya, jika mereka lebih “sempurna”/lengkap lagi memenuhi tuntutan Taurat, maka mereka menjadi teladan banyak bangsa, seperti yang Tuhan perintahkan di PL, tetapi sayang, mereka tidak menaatinya. Hal ini juga menjadi pelajaran berharga bagi kita tentang apa arti ketaatan. Ketaatan bukan ditunjukkan secara fenomenal, tetapi secara esensial. Tuhan menuntut kita taat mutlak dari hati kita. Jika kita tidak taat, kita mengulangi pelajaran sejarah dari Israel yang kelihatan beribadah, tetapi sikap itu tidak keluar dari hati mereka. Mereka menjalani rutinitas agamawi. Jangan sampai Kristen menjadi “Kristen” rutinitas! Ketaatan kita biarlah keluar dari hati dan motivasi yang murni di hadapan Tuhan, sehingga ketaatan kita menjadi berkat dan teladan bagi orang lain demi kemuliaan nama-Nya.


Biarlah melalui perenungan dua ayat ini membukakan pikiran kita tentang arti umat pilihan Allah yang dikaitkan dengan ketaatan dan menjadi saksi Kristus di dalam pemberitaan Injil Kristus. Sudahkah kita menjadi saksi-Nya sebagai wujud kita telah ditebus oleh Kristus? Sudahkah kita memberitakan Injil? Amin. Soli Deo Gloria.