13 October 2008

Roma 11:6-10: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-15: Kaum Pilihan yang Tersisa-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-14


“Israel” Sejati atau Palsu-15:
Kaum Pilihan yang Tersisa-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:6-10


Di Roma 11:1-5, kita telah belajar pendahuluan pengajaran Paulus tentang kaum pilihan yang tersisa dari Israel dan diakhiri dengan ayat 5 di mana Paulus mengingatkan kita bahwa kaum yang tersisa adalah anugerah Allah. Apa arti kaum tersisa adalah anugerah Allah? Berarti, ketika kita merupakan umat pilihan yang disisakan oleh Allah itu adalah anugerah Allah di antara sekian banyak orang, bukan karena apa yang telah kita perbuat. Hal ini ditegaskan ulang oleh Paulus di ayat 6, “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.” King James Version (KJV) menerjemahkan, “And if by grace, then is it no more of works: otherwise grace is no more grace. But if it be of works, then is it no more grace: otherwise work is no more work.” Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkan, “But if by grace, [it is] no longer of works, otherwise [or, in that case] grace no longer becomes grace; but if by works, it is no longer grace, otherwise [or, in that case] work is no longer work.” Di sini, Paulus mengingatkan beberapa hal:
Pertama, anugerah tidak sama dengan perbuatan. Ketika kita memperhatikan terjemahan ALT di atas, it is yang diberikan tanda kurung menunjukkan bahwa itu menunjuk pada penjelasan tentang anugerah (“But if by grace, [it is] no longer of works”). Jadi, artinya, anugerah tidak sama atau bertentangan dengan perbuatan. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) memberi tambahan “yang dituntut Taurat” pada kata “perbuatan” (hlm. 857). Dengan kata lain, ketika Allah sudah mengajar bahwa umat yang tersisa adalah anugerah Allah, berarti itu bukan terletak pada apa yang telah kita perbuat sehingga menyenangkan Allah. Mengapa harus merupakan anugerah Allah dan bukan karena perbuatan kita? Karena Allah tidak mudah ditipu oleh realita/fenomena seperti manusia. Ketika manusia berbuat baik, mereka melakukannya tidak dengan hati dan motivasi yang tulus, karena mereka telah dirusak oleh dosa. Dosa menutupi hal terdalam dari manusia, tetapi di mata Allah, hal itu terbuka lebar. Bagaimana jika “Allah” menjadikan kita umat tersisa karena perbuatan kita? Pasti “Allah” seperti itu akan terkaget-kaget melihat perbuatan manusia. Mungkin, “Allah” seperti itu melihat dari “surga” “umat-Nya” yang tekun mencari “Dia”, lalu “Ia” akhirnya memilih mereka sebagai kaum tersisa dari mereka yang tidak mau mencari “Dia”. Tetapi akhirnya, “Ia” menjumpai bahwa mereka yang mencari “Dia” murtad dan akhirnya malahan memberontak terhadap-“Nya”, maka, “Ia” tidak bisa apa-apa selain meratapi nasib dan membiarkan orang yang telah dipilih-“Nya” binasa di dalam dosa. Inilah gambaran “Allah” theologi Arminian yang sangat mengasihankan, “Allah” yang terkaget-kaget melihat manusia, karena “Allah” bukan Allah yang berdaulat yang mengadakan kovenan kepada umat-Nya. Bagaimana dengan kita? Mungkin kita hari ini berpikir bahwa kita tidak layak menjadi umat-Nya, tetapi realita berkata terbalik. Allah memilih kita dan menjadikan kita umat-Nya yang tersisa bukan karena apa yang telah kita perbuat, tetapi berdasarkan apa yang Allah perbuat bagi kita. Tetapi tidak berarti hal ini mengakibatkan kita tidak lagi berbuat baik, melainkan hal ini justru mendorong kita semakin giat berbuat baik memuliakan Allah, khususnya memberitakan Injil Kristus.

Kedua, anugerah melawan perbuatan. Bukan hanya bertentangan, anugerah justru melawan perbuatan, dan sebaliknya. Hal ini dengan jelas dipertentangkan oleh Paulus di dalam terjemahan ALT di atas, “But if by grace, [it is] no longer of works, otherwise [or, in that case] grace no longer becomes grace; but if by works, it is no longer grace, otherwise [or, in that case] work is no longer work.” Terjemahan LAI dalam hal ini terlalu singkat memberi penjelasan, oleh karena itu kita menyoroti apa yang ALT jelaskan. Pertama, jika berdasarkan anugerah, maka itu bukan karena perbuatan, jika tidak, maka anugerah bukanlah anugerah. Kedua, jika berdasarkan perbuatan, maka itu bukan anugerah, atau jika tidak perbuatan bukanlah perbuatan. Di dalam bagian ini, Paulus menantang para pembaca di Roma (khususnya kaum Israel yang tersisa) untuk menentukan sikap. Jika mereka memilih pilihan kedua, jelas mereka bukan kaum tersisa, tetapi jika memilih pilihan pertama (berdasarkan anugerah), maka mereka termasuk kaum tersisa. Di sini, setiap pilihan memberikan dampak yang begitu jelas. Umat pilihan yang tersisa adalah anugerah Allah, maka mereka harus menghidupi hidup pun harus berpusat pada anugerah Allah sambil memuliakan nama-Nya. Sebaliknya, umat yang bukan pilihan akan hidup berdasarkan apa yang telah mereka peroleh, karena mereka tidak mengerti konsep anugerah Allah. Tetapi anehnya, konsep ini dibalik dan dikacaukan oleh banyak orang “Kristen” yang berorientasi pada perbuatan baik. Mereka mengajar dengan dalih “rohani” bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, maka yang terpenting itu adalah perbuatan. Alkitab memang mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:14-26), tetapi di bagian yang sama dan lain, Alkitab TIDAK mengajarkan bahwa perbuatan itu segala-galanya. Jika perbuatan itu yang terpenting, maka kita ditantang kembali oleh Paulus untuk memilih salah satu dari logika yang dia sajikan: kalau berdasarkan anugerah, maka bukan berdasarkan perbuatan, tetapi kalau berdasarkan perbuatan, berarti bukan merupakan anugerah. Dengan demikian, apakah berarti kaum pilihan yang tersisa ini tidak boleh berbuat baik? TIDAK. Yang dipertentangkan Paulus adalah fokus iman dan hidup. Fokus iman dan hidup umat pilihan yang tersisa adalah berpusat pada anugerah Allah (Theosentris). Oleh karena itu, mereka bisa berbuat baik memuliakan nama-Nya dengan fokus tetap terarah pada Kebenaran Allah dan firman-Nya (Alkitab) serta terus-menerus mematikan hidup yang berpusat pada diri (antroposentris). Sedangkan, mereka yang sudah dibiarkan binasa akan menghidupi hidup mereka dengan berdasarkan perbuatan (antroposentris), sehingga mereka terus-menerus mengharapkan belas kasih dari “pribadi” yang mereka sebut sebagai “Allah” berdasarkan perbuatan baik mereka. Sungguh malang apa yang mereka perbuat, menyembah “Allah” yang tidak jelas dan maunya ditipu oleh banyaknya perbuatan “baik” manusia. Bukan hanya malang, mereka bahkan dengan berani menolak mentah-mentah anugerah Allah. Sungguh tragis dan jahatnya manusia. Allah sudah mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mati menebus dosa manusia, akhirnya, bukan penyembahan yang seharusnya diterima-Nya, tetapi hinaan dan cercaan, bahkan hujatan terbesar kepada-Nya bukan dari orang atheis, melainkan dari orang-orang yang mengaku diri beragama (bahkan pemimpin agama). Masing-masing orang ini saling bertolak belakang dan melawan. Umat pilihan-Nya yang tersisa ini hidup memuliakan Allah dan berusaha mematikan hidup kedagingan, sebaliknya umat sisanya yang telah dibiarkan binasa hidup memuliakan diri dengan menghitung amal baiknya di dunia ini sambil melawan Allah dan kedaulatan-Nya (baik sadar maupun tidak sadar).


Dua logika yang saling melawan antara hidup Theosentris (anugerah Allah) dan antroposentris (perbuatan manusia) dijelaskan Paulus di ayat 7 s/d 10 dengan beberapa penguraian dan contoh.
Di ayat 7, Paulus mengemukakan, “Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya,” King James Version menerjemahkan, “What then? Israel hath not obtained that which he seeketh for; but the election hath obtained it, and the rest were blinded” Di ayat ini (dan ayat 8 s/d 10), Paulus membedakan tiga macam orang sebagai implikasi ayat 6 yang telah dijelaskannya.

Orang pertama adalah orang Israel. Mereka terkenal sebagai orang yang taat beragama. Dari kecil, mereka sudah diajar Taurat (sering disebut: anak Taurat), baru pada usia 30 tahun, mereka baru boleh menjadi ahli Taurat dan mengajar (itu sebabnya, Tuhan Yesus baru melayani pada usia 30 tahun, BUKAN karena Ia pergi ke India, dll seperti tuduhan yang tidak bertanggung jawab dari dunia sekuler zaman ini). Mereka juga taat pada Taurat, tetapi sayang mereka tidak mengerti esensi Taurat yaitu mengasihi Allah dan sesama (Ulangan 6:5; Imamat 19:18; Matius 22:37-40). Akibatnya, semakin mereka berbuat baik menurut apa yang dituntut Taurat, Paulus berkata, mereka semakin tidak memperoleh apa yang mereka kejar dengan berbuat baik. Unik sekali, cara Tuhan berbeda dengan cara manusia. Manusia sering kali menipu diri untuk menutupi dosa dengan berbuat baik memenuhi syariat agama tertentu. Tetapi di mata Allah, itu semua sampah dan tak bernilai apa-apa, mengapa? Karena Ia melihat hati dan motivasi yang murni. Perhatikan ayat 8 sebagai contoh, “seperti ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini."” Ayat ini dikutip dari Ulangan 29:4; Yesaya 29:10. Ulangan 29:4 berada di dalam konteks Musa sedang berbicara mengikat perjanjian dengan orang Israel di tanah Moab (ayat 1). Di ayat 2 s/d 3, Musa menceritakan dari awal proses Tuhan memimpin Israel keluar dari Mesir, lalu disusun dengan ayat 4 yang mengatakan bahwa dalam hal tersebut, Tuhan tidak memberi mereka akal budi untuk mengertinya atau mata untuk melihatnya atau telinga untuk mendengarnya. Artinya, mereka secara fenomenal mengalami bimbingan Allah, melihat dan mendengar, tetapi sayangnya, mereka tidak menanggapi apa yang mereka telah alami bersama Allah itu dengan hati yang taat. Yang lebih tragis lagi: Yesaya 29:10. Ayat ini berbicara mengenai terkepungnya Yerusalem, tetapi Allah menyelamatkannya (judul perikop mulai pasal 29 ayat 1). Ayat ini dimulai dengan menceritakan kondisi kebrengsekan Israel yang terus melawan Allah, lalu Allah sendiri berfirman bahwa mereka akan tercengang-cengang dan tidak akan mengerti bahwa Ia akan mendatangkan bangsa-bangsa lain mengepung umat-Nya (ayat 9-10). Itulah hukuman Allah bagi mereka yang tidak taat (baca ketidaktaatan dan kemunafikan Israel di ayat 13). Bagaimana dengan kita? Sebagaimana Israel, kita sebagai orang Kristen pun berlaku prinsip yang sama. Banyak orang “Kristen” menyibukkan diri dengan pelayanan gerejawi, bahkan tidak sedikit “pemimpin gereja” melayani dengan giat, tetapi sayangnya, seperti kata Paulus, mereka melayani tanpa pengertian yang benar. Mereka tidak mengerti esensi pelayanan sejati yang berpusat pada Kristus, akhirnya, semakin mereka melayani, semakin mereka tidak mengerti dan ironisnya, semakin mereka tidak mengalami anugerah Allah dan diselamatkan. Jangan heran, di neraka nanti, isinya bukan hanya orang-orang yang menolak Kristus secara kasat mata, tetapi juga banyak pemimpin gereja yang mengkhotbahkan ajaran-ajaran yang tidak bertanggung jawab yang menyelewengkan Injil! Biarlah kita bertobat dari kemunafikan dan pelayanan kita yang tidak bertanggung jawab dan tidak disertai pengertian ini! Tidak salah kita melayani Tuhan, tetapi kita melayani-Nya harus dengan pengertian akan firman-Nya yang bertanggung jawab.

Orang kedua adalah orang pilihan. Orang pilihan ini bisa mencakup orang Israel yang tersisa maupun orang lain non-Israel yang telah dipilih Allah sebelum dunia dijadikan. Jika orang pilihan ini salah satunya adalah orang Israel, mungkin sekali mereka juga taat pada Taurat, melakukan perintah-perintah Allah (seperti orang Israel pada umumnya), tetapi sambil melakukan, mereka sambil mengerti apa yang mereka melakukan (esensi perintah Allah). Ketika Tuhan Yesus lahir sebagai seorang bayi kecil, ada dua orang Israel yang menantikan kedatangan Mesias, nabiah Hana dan nabi Simeon menjumpai bayi (Tuhan Yesus), dan Alkitab mencatat, “Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” (Lukas 2:34-38) Semua orang Israel menantikan Mesias, tetapi mereka tidak mengerti siapa Mesias itu, hanya Hana dan Simeon yang mengerti bahwa Tuhan Yesus itu Mesias. Mereka lah umat tersisa dari sekian banyak orang Israel yang juga sama-sama menantikan Mesias. Bagaimana dengan orang-orang non-Israel? Orang-orang non-Israel dipilih Allah sebelum dunia dijadikan dan mereka ditebus oleh Kristus dan dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk taat kepada Hukum Taurat. Mereka memang tidak memiliki Taurat dan tidak seketat orang Israel melakukan Taurat, tetapi Allah justru memberikan anugerah pilihan-Nya kepada orang-orang seperti ini. Di sini, kita melihat cara Allah itu unik, agung dan di luar rasio kita. Biasanya kita memahami bahwa sebagai murid/anak, apa yang telah kita kerjakan akan diberi upah/hadiah oleh guru/orangtua kita, tetapi Allah membalik pola pikir kita dan mengajar bahwa bukan apa yang telah kita capai yang membuat kita menerima upah, tetapi apa yang telah Allah kerjakan (atau apa yang kita terima sebagai anugerah Allah untuk diteruskan kepada orang lain).

Orang ketiga disebut orang yang lain (the rest= sisanya). Orang ketiga ini adalah orang-orang non-Israel yang sudah dibiarkan Allah untuk binasa. Orang-orang seperti ini, Paulus berkata, mereka dibutakan (terjemahan KJV). Terjemahan LAI dalam hal ini kurang tepat dan terlalu halus, “tegar hatinya”. KJV, New King James Version (NKJV), English Majority Text Version (EMTV) dan 1833 Webster Bible menerjemahkannya, “were blinded” (dibutakan); ALT, 1901 American Standard Version (ASV), New American Standard Bible (NASB), English Standard Version (ESV), International Standard Version (ISV), Revised Version (RV), dan 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya, “were hardened” (dikeraskan); Good News Bible (GNB) menerjemahkan, “grew deaf to God's call.” (tuli terhadap panggilan Allah); James Murdock New Testament (JMNT) menerjemahkan, “were blinded in their heart” (dibutakan dalam hati mereka). Dari beberapa terjemahan Alkitab ini, banyak yang menerjemahkannya dengan bentuk pasif, yaitu dibutakan, dikeraskan, dan dibutakan dalam hati mereka. Struktur bahasa Yunani untuk kata ini menggunakan bentuk pasif. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. (2003) menerjemahkannya, “telah dijadikan degil” (hlm. 857). Di sini, cukup jelas bahwa orang-orang yang tidak dipilih baik dari orang Israel maupun non-Israel adalah mereka yang sudah dibiarkan Allah murtad dan menjadi keras hati. Bukan karena mereka yang mengeraskan hati, maka Allah membuang, tetapi karena Allah yang membiarkan mereka, sehingga hati mereka mengeras dan mengutip terjemahan GNB: tuli terhadap panggilan Allah. Hal ini dijelaskan Paulus di Roma 11:9-10, “Dan Daud berkata: "Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka. Dan biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat, dan buatlah punggung mereka terus-menerus membungkuk."” Mengapa saya memasukkan kedua ayat ini pada golongan orang ketiga dari ayat 7? Karena kedua ayat yang diambil dari Mazmur 69:23-24 menunjuk kepada orang di luar umat pilihan (baca mulai ayat 19 di Mazmur 69—doa Daud dalam kesesakan). Di dalam kesesakan, Daud mendoakan agar para musuhnya diperangkap oleh jamuan (menandakan kesenangan), mata mereka dibutakan, dan punggung mereka terus-menerus dibungkukkan, supaya mereka tidak dapat menangkap Daud. Di sini, kita juga mendapatkan gambaran tentang kedaulatan Allah terhadap musuh orang percaya atau orang-orang yang tidak percaya (kembali kepada pembahasan awal, mereka/orang-orang yang tidak percaya hidup berpusat pada diri—antroposentris). Mereka yang tidak percaya tidak segan-segan mencobai kita yang percaya dengan mencoba membunuh, menggoncangkan iman kita, dll (peperangan rohani antara hidup yang Theosentris vs hidup yang antroposentris). Tetapi kita tidak perlu kuatir. Ia sanggup melepaskan kita dari tangan para musuh, jika Ia mau. Terlalu banyak cerita/kesaksian di mana Allah meluputkan umat pilihan-Nya dari terkaman musuh. Tetapi ini tidak boleh dijadikan standar mutlak bahwa orang Kristen pasti tidak melewati sengsara. Ketika Tuhan mengizinkan kita tidak diterkam oleh musuh, jangan gembira, justru mungkin itu membuktikan bahwa iman kita masih lemah, sehingga Tuhan belum mau memproses diri dan iman kita. Di sisi lain, tatkala Tuhan meluputkan kita dari terkaman musuh, itu juga bisa berarti pencobaan yang akan kita alami di luar kemampuan kita, oleh karena itu Dia datang menolong (1 Korintus 10:13). Di era postmodern, kita melihat terlalu banyak contoh akan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang tidak dipilih Allah ini. Mereka yang jelas bukan orang Israel dan bukan juga kaum pilihan Allah di dalam Kristus dibiarkan binasa oleh Allah, dengan cara apa? Dengan cara membiarkan mereka dikuasai oleh setan dan hawa nafsu mereka yang menjijikkan. Tuhan membiarkan Injil dihina dalam bentuk media cetak, sebaliknya yang bukan kebenaran dipuja-puji, bahkan disponsori oleh badan internasional untuk mendukung gerakan anti penghinaan agama yang justru tidak mengajar kebenaran! Pembiaran Tuhan kepada mereka yang menghina Injil tidak berarti Allah kalah, justru Ia menunggu waktu yang tepat yaitu kelak di hari kedatangan Kristus yang kedua kalinya, di mana Ia bertindak sebagai Hakim yang pasti menghukum mereka yang sengaja menghina Injil dan Kristus! Wait and see! Allah kita adalah Allah yang adil yang akan menjalankan pembalasan bagi mereka yang menghina dan menolak Injil dan Kristus!


Puji Tuhan! Kita telah belajar banyak hal pada bagian ini, yaitu bahwa ada dua orang yang hidup di dunia ini, satu hidup berpusat pada Allah (Theosentris) dan sisanya berpusat pada diri (antroposentris). Dua orang ini akan berselisih dan bertentangan satu sama kali bahkan melawan. Ada peperangan rohani yang tidak bisa dipisahkan antara dua orang ini dan jangan lupa, kita termasuk di dalamnya. Termasuk orang macam apakah ini? Apakah kita menTuhankan Kristus di dalam hidup kita? Ataukah kita termasuk orang yang menjadikan diri sendiri sebagai “tuhan” lalu menolak Kristus, meskipun kita dengan bangganya masih mengklaim “melayani tuhan”? Mari kita mengintrospeksi diri masing-masing dan bertobatlah jika kita masih mentuhankan diri sendiri! Amin. Soli Deo Gloria. Solus Christus.

Matius 11:25-26: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-7

Ringkasan Khotbah : 9 Juli 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (7)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:25-26



Pendahuluan
Tema keseluruhan dari Injil Matius 11 ini adalah hidup yang berpusat pada Kristus dimana sebagai warga Kerajaan Sorga kita harus hidup dalam kebenaran-Nya. Bukanlah hal yang mudah memahami kebenaran-Nya, karena itulah Matius 11:25 diberikan supaya kita semakin mengerti kebenaran-Nya dan bagaimana kita seharusnya berespon dengan tepat atas semua realita yang terjadi di dunia. Di Mat. 11:25 seharusnya ada dua kata kerja, yaitu: “menjawab/berespon“ dan “berkata“ namun kata yang paling penting, yaitu “respon“ malah dihilangkan. Respon ini diungkapkan oleh Tuhan Yesus dengan kalimat yang sangat mengejutkan di ayat 25 dan 26. Tentu saja, orang sangat kaget karena konsep mereka tentang mujizat sangat berbeda dengan apa yang Tuhan ungkapkan. Mereka pikir orang yang mendapat mujizat adalah orang yang rohani dan disayang Tuhan tapi ternyata mereka yang mendapat mujizat justru mendapat hukuman. Tuhan tahu apa yang menjadi motivasi mereka mengikut, yakni karena orang merasa diuntungkan. Tuhan tahu motivasi buruk mereka itu maka Ia pun menegur dengan keras namun ironis, orang tidak berterima kasih dan bertobat karena disadarkan akan kesalahannya. Tidak! Alkitab mencatat mereka justru pergi dan meninggalkan Yesus (Yoh. 6).
Manusia sulit menerima konsep kebenaran sejati karena bertentangan dengan konsep manusia berdosa. Seharusnya momen dimana kita menyadari bahwa konsep kita berbeda dengan Kristus itu menjadikan kita bertobat. Sungguh amatlah disayangkan, hari ini jarang kita temui seorang Pengkhotbah yang mengkhotbahkan ayat-ayat Firman Tuhan yang berbicara dengan keras seperti di Injil Mat. 11:20-24 atau Luk. 6:20-26 karena mereka takut “kehilangan“ pengikut dan sebagai gantinya, ayat-ayat yang menegur dan menyinggung keduniawian itu dihilangkan. Dan sebagai gantinya, orang mulai menyelewengkan Firman dan mulai mengajarkan paham hedonisme. Paham hedosnisme mengajarkan hidup di dunia ini hanya sekali dan besok mati karena itu, orang harus bisa menikmati segala kenikmatan yang ditawarkan dunia. Orang tidak menyadari ada kehidupan lain setelah kematian yang telah menanti, yakni kematian kekal atau sukacita kekal. Waspadalah, dunia berusaha membalik semua konsep kebenaran yang diajarkan oleh Kristus; dengan segala cara setan berusaha membuat manusia jauh dari Kebenaran sejati termasuk orang-orang Kristen.
Di tengah segala terpaan dan arus dunia yang semakin kacau ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk berespon dengan tepat terhadap suatu realita yang sedang kita hadapi atau yang sedang ada di hadapan kita. Merupakan suatu kesalahan fatal kalau meresponi suatu realita dengan konsep pemikiran duniawi atau perasaan duniawi kita sebab itu menjadi titik kehancuran kita. Ingat, jangan pernah berpikir untuk mengalahkan Kebenaran sejati, manusia yang tidak mau kembali pada Tuhan justru akan hancur. Hendaklah sebagai anak Tuhan, kita harus berpikir dan berlaku seperti Kristus dan apa yang Kristus rasakan maka kita pun harusnya merasakan hal yang sama. Berhentilah dengan segala pemikiran kita yang salah, berhentilah dengan semua pemikiran duniawi yang bersifat kedagingan berdosa, berhentilah berespon dengan memakai perasaan. Hendaklah dalam hidupmu kamu memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti yang ada dalam Kristus. Lalu apa yang menjadi respon Kristus dan bagaimana Dia berespon?
Perhatikan, respon yang ditunjukkan Yesus berbeda dengan cara manusia berespon bahkan cenderung bertentangan. Tuhan Yesus justru mengucap syukur atas kota-kota yang banyak mendapat mujizat tapi mendapat hukuman. Orang sulit menerima konsep Alkitab sebab belum apa-apa, kita telah mengambil posisi kontra. Layakkah seorang yang melawan Kristus dikatakan sebagai orang Kristen? Tidak! Sesungguhnya orang hanya mau menunggangi Kristus demi kepentingan pribadi. Disinilah orang dituntut untuk berespon dengan tepat. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi...“; segala sesuatu haruslah dimulai dari Kedaulatan Allah, sovereignty of God; Dia adalah Tuhan atas langit dan bumi, atas sorga dan dunia.
Segala sesuatu harus dilihat dari sudut pandang Kristus barulah kita dapat mengucap syukur atas semua hal dalam hidup kita. Dunia justru sebaliknya, dunia melihat segala sesuatu dari perspektif dunia, semua mulai dari aspek humanistik; apa yang dunia inginkan itulah yang ditata secara dunia. Itulah sebabnya dunia seringkali membuat sebab akibat dan tentu saja, hasilnya untuk kepentingan manusia. Setiap aspek kehidupan dapat dihubungkan dengan setiap aspek lain dan teori ini disebut teori kausalitas. Di dunia tidak lepas dari kausalitas namun masalahnya adalah cara pembangunan konsep kausalitas di dunia ini dilihat dari perspektip siapa? Kekristenan melihat teori sebab akibat haruslah dilihat dari atas/Tuhan.
Dunia menyimpulkan bahwa orang yang bernubuat, mengusir setan, melakukan mujizat pastilah orang Kristen hebat maka Tuhan akan memberkati dan masuk sorga. Kesimpulan yang salah ini muncul karena relasi sebab akibat ditarik dari perspektif dunia. Cara pandang Tuhan berbeda dengan dunia; orang yang mendapat mujizat justru akan mendapat celaka, Tuhan membuangnya dalam neraka (Mat.7: 21-23). Hubungan relasinya sama tetapi kesimpulan yang ditarik berbeda. Tuhan ingin setiap anak Tuhan mempunyai cara pandang seperti Kristus dengan demikian orang dapat melihat dengan tajam dan menarik kesimpulan yang berbeda dengan dunia pada umumnya. Cara pandang seperti inilah yang Tuhan ingin kita miliki. Respon Kekristenan adalah melepaskan semua yang menjadi keinginan daging dan berbalik pada Kedaulatan Allah.
Alkitab mencatat Tuhan bersyukur karena semuanya (rahasia Kerajaan Sorga) Tuhan sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Tuhan justru menyatakannya kepada orang kecil (Mat. 11:25). Terjemahan yang tepat untuk “orang kecil“ seharusnya “orang sederhana.“ Kepandaian kalau tidak ditaklukkan di bawah Kristus maka semakin pandai seseorang justru semakin menunjukkan kebodohannya. Jangan bangga dengan gelar yang kita punya dan menganggap diri pandai. Sederetan gelar bukanlah jaminan ia seorang yang pandai. Tidak! Ayat diatas tidak berarti Tuhan Yesus tidak suka dengan orang pandai dan orang bijak. Salah! Alkitab justru menyatakan orang yang kurang hikmat hendaklah ia meminta hikmat dari Tuhan; Salomo dipuji karena hikmatnya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah orang bijak dan orang pandai seperti apakah yang dimaksudkan oleh Tuhan? Dari bagian ini kita dapat memahami beberapa hal penting, yakni:
Pertama, Bijak dan pandai yang didasarkan atas egoisme manusia, atas nafsu dosa tidak dapat menyelesaikan seluruh problema hidup. Adalah sia-sia seluruh kepandaian dan hikmat yang ada pada kita kalau kita tidak memahami kebenaran sejati, seluruh hidup kita akan hancur. Permulaan pengetahuan haruslah didasarkan pada takut akan Tuhan. Philosophy berasal dari bahasa Yunani, philo artinya mencintai dan sophia artinya bijaksana, jadi philosophy artinya orang yang mencintai bijaksana namun benarkah mereka mencintai bijaksana? Kenyataannya tidaklah demikian, seluruh filsafat besar dunia menolak Tuhan, seperti esksintensialisme, dialektik-materialisme, kapitalisme, posmodernisme, dan masih banyak lagi. Bagaimana mungkin orang dapat mempunyai bijaksana kalau orang menentang Tuhan yang adalah Sumber Bijaksana? Dunia modern tidak memulai segala sesuatu dari Tuhan tapi segala sesuatu dikerjakan untuk melawan Tuhan. Ingat, takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.
Kedua, Pengertian pengetahuan, true knowledge dan bijaksana sejati yang ada kita itu merupakan anugerah Tuhan semata; kepada siapa Tuhan hendak membukakan maka kepada mereka dibukakan. Perhatikan, ketika Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan itu bukan dimaksudkan untuk mempermudah supaya banyak orang dapat mengerti. Tidak! Kepada kamu diberikan karunia untuk mengetahui Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak; itulah sebabnya Aku berkata dalam perumpamaan kepada mereka, karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:12). Orang tidak memahami esensi hikmat itulah sebabnya sampai hari ini orang mencari-cari hikmat namun semua sia-sia dan berakhir dengan kegagalan. Hikmat dan kepandaian sejati itu kita dapatkan kalau kita hidup taat kepada Tuhan. Saat kita berespon seperti Kristus berespon barulah kita dapat mengerti semua aspek dengan tepat. Sebagai anak Tuhan, janganlah kita menjadi rendah diri tetapi belajar Firman, Kebenaran Allah itu dengan baik maka kita dapat menganalisa dan menilai semua realita dunia yang ada dengan tepat, yakni dari sudut pandang Tuhan.
Ketiga, Tuhan lebih suka dengan orang yang sederhana. Istilah orang kecil disini sangat unik, yakni orang kecil yang dimaksud adalah seorang bayi, infant atau lebih tepatnya diterjemahkan sebagai orang sederhana. Pengertian orang kecil, small man dalam konsep antropologi manusia mempunyai konotasi negatif, yakni orang yang kerdil secara karakter, rendah diri/minder, mudah tersinggung, merasa diri tidak mempunyai apa-apa. Orang kecil ini biasanya egois, ia selalu menuntut orang lain untuk selalu memperhatikan dirinya; ia akan sangat tersinggung ketika orang mengacuhkan dirinya, ia selalu menuntut untuk selalu berada di tempat terdepan. Inilah jiwa yang dimiliki orang kerdil, small man. Orang kerdil yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus bukan small man seperti di atas. Bukan! Small man dikontraskan dengan gentleman, yakni orang yang berjiwa gentle, ia selalu memperlakukan diri dan orang lain sebagai manusia sejati. Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga kepada orang yang sederhana, infant. Kesederhanaan ini juga menjadi salah satu unsur yang harus ada dalam seni Kekristenan selain unsur harmoni dan agung, glorius.
Ciri-ciri orang yang sederhana adalah:
1. Rendah Hati
Orang yang rendah hati selalu menyadari bahwa dirinya adalah manusia terbatas, dia bukan segala-galanya dan dia selalu berusaha untuk belajar. Kepada orang yang rendah hati Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga. Orang yang merasa diri bijak biasanya ia adalah orang yang sok tahu segala hal sehingga kalau ada orang lain yang mengatakan tentang kebenaran, ia akan menutup diri. Orang seperti demikian ini tidak akan pernah mendapatkan suatu pengetahuan karena belum apa-apa ia merasa pandai dan mempunyai banyak pengetahuan. Bagaimana ia bisa belajar sesuatu kalau belum apa-apa ia merasa diri bijak? Bagaimana kita bisa mengajarkan sesuatu pengetahuan kalau ia merasa diri sudah selesai belajar? Orang sederhana adalah orang yang setiap saat menyadari kalau ia adalah orang berdosa yang seringkali menyeleweng dari jalan Tuhan dan orang sederhana selalu mau dikoreksi dan diperbaiki kesalahannya. Tuhan suka dengan orang yang mau dibentuk; Tuhan suka dengan orang yang hancur hatinya sebab pada saat hancur barulah ia dapat dibentuk. Itu juga menjadi alasan kenapa orang lebih terbuka pada Firman pada saat ia dalam keadaan sakit atau desperate? Apakah perlu Tuhan menghancurkan kita terlebih dahulu, kita merasakan sakit terlebih dahulu baru kerendahan hati itu muncul? Alangkah indah kalau kita mau bertobat sebelum Tuhan menghancurkan kita. Nabi Habakuk tidak menyadari sampai Tuhan membukakan suatu kebenaran barulah ia diubahkan dan muncul suatu kesimpulan indah dari mulutnya seperti yang tertulis dalam Hab. 3:17-19. Orang dapat merubah konsep berpikir ini dibutuhkan suatu kerendahan hati. Kerendahan hati seperti inilah yang harusnya dimiliki oleh anak Tuhan, manusia sederhana yang infant dan masih bayi. Perhatikan, bayi lahir sudah membawa unsur dosa tetapi secara natur manusia, bayi paling mudah diajar dan menyerap segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Itulah sebabnya, momen lima tahun pertama sangatlah berharga sebab kalau kita gagal menanamkan first decree maka itu akan menjadi kesulitan yang besar di kemudian hari. Tuhan ingin dalam kehidupan iman Kristen kita, kita mempunyai hati seperti bayi yang setiap saat mau diajar dan dibentuk oleh Firman.
2. Pikiran Terbuka, Open Minded
Orang yang mempunyai pikiran terbuka selalu peka akan pimpinan Tuhan sebaliknya orang yang berpikiran tertutup, close system hanya mau mendapat informasi yang cocok dengan pikirannya, ia akan memasang benteng kalau informasi tidak cocok dan berlawanan dengan pikirannya ia akan langsung menolaknya; ia merasa pikirannya itulah yang paling benar. Tuhan ingin kita menutup segala hal terhadap segala godaan iblis dan dunia tetapi terhadap Firman, pikiran kita terbuka. Open minded adalah kerelaan kita dididik oleh Tuhan terhadap Firman, mau punya pikiran seperti pikiran Tuhan. Merupakan suatu anugerah kalau kita mempunyai pikiran dan hati yang terbuka terhadap Firman sehingga memungkinkan kita untuk mempelajari iman sejati, hidup sejati, dan realita sejati. Orang takut mempunyai pikiran yang terbuka, open minded karena ia takut keabsolutditasan dirinya terganggu, ia takut konsep pikirannya menjadi kacau ketika ia menerima konsep pikiran lain. Iman bersifat mutlak maka segala hal, benar atau salah itulah dianggap benar dan mutlak maka orang takut kalau ternyata ia mendapati kalau selama ini yang ia anggap benar itu ternyata salah karena itu ia menutup pikirannya, close system. Sesungguhnya, ia menyadari kalau konsepnya salah dan harus diubahkan namun yang menjadi permasalahan adalah orang tidak rela mengubah konsep berpikirnya yang pastinya tidak akan nyaman.
Perombakan worldview, pembentukan ulang konsep berpikir dasar ini tidaklah mudah dan untuk hal ini pasti ada suatu pengorbanan. Tuhan ingin kita terbuka untuk kita ditata ulang, semua worldview yang salah diubahkan oleh-Nya dengan demikian kita menjadi serupa Kristus. Biarlah ketika kita berpikir, kita tidak berpikir terlalu jauh (Rm. 12:3) dengan demikian pikiran itu tidak menjadi bumerang bagi diri kita. Ketika kita berpikir hendaklah kita berpikir sedemikian rupa sebatas dengan ukuran iman yang Tuhan berikan kepada kita. Berpikir lebih dari itu justru akan membuat kita paranoia, ketakutan yang tidak mendasar. Seperti sebuah segitiga dengan sudut 90 derajat di salah satu sisinya maka pertumbuhan pemikiran itu setara dengan pertumbuhan imannya. Pertumbuhan ini adalah pertumbuhan yang proposional maka hidup iman kita akan beres. Iman itulah yang menjadi patokan. Alangkah indah hidup kita kalau kita berpikir terbuka, open system, hidup kita senantiasa dipimpin oleh Firman Tuhan. Orang yang mempunyai pemikiran sederhana bukanlah orang yang tidak berpengetahuan. Salah! Sebaliknya, orang yang berpikiran sederhana adalah orang yang dapat memproporsikan pola berpikirnya.
3. Setia, Faithfull
Tuhan Yesus menunjukkan respon yang tepat atas semua yang terjadi; “Ya, Bapa itulah yang berkenan kepada-Mu“ (Mat. 11:26),. Pertanyaannya apa yang membuat Tuhan Yesus bersyukur? Karena semua hal itulah yang diperkenan oleh Bapa. Inilah konsep iman Kekristenan, yakni apa yang menjadi perkenanan dan kesukaan Tuhan maka itu juga harus menjadi kesukaan kita. Berpikir sederhana adalah tidak bertanya yang tidak perlu namun hal ini bukan berarti kita tidak boleh bertanya. Tidak! Banyak bertanya disini adalah jangan seperti orang yang menginterograsi seakan-akan Tuhan mempunyai banyak kesalahan pada kita. Seharusnya kita banyak bertanya dan kalau perlu menginterograsi untuk hal-hal yang berbau berdosa itulah yang harusnya kita interograsi. Ironisnya, hari ini banyak orang yang tidak banyak bertanya untuk hal-hal yang berbau dosa tapi orang justru banyak pertanyaan jika hal itu menyangkut pekerjaan dan kehendak Tuhan. Sebagai contoh, orang tidak terlalu bergumul terlalu lama untuk masuk sekolah favorit, menjawab panggilan dunia tapi orang akan bergumul lama ketika menjawab panggilan Tuhan.
Sebagai anak Tuhan sejati, Tuhan ingin kita mempunyai hati yang taat sepenuhnya, faithfull. Gambaran seorang yang faithfull ini seperti seorang anak kecil yang tanpa banyak tanya ia akan mengikuti kemanapun ibunya pergi. Gambaran ini lebih tepat dalam bahasa Jawa, yakni memakai istilah “ngintil/manut.“ Hidup sederhana, simple adalah hidup yang taat Tuhan sepenuhnya, mungkin secara duniawi tidaklah mengenakkan tetapi percayalah Tuhan tahu yang terbaik untuk kita. Betapa indah kalau kita menjadi seorang yang sederhana, simple person karena Tuhan membukakan rahasia Kerajaan Sorga itu kepada mereka yang sederhana dan ingatlah, semua itu tidak lepas dari anugerah Tuhan kalau kita dapat mengerti kebenaran-Nya dan taat pada pimpinan-Nya. Kita sepatutnya bersyukur atas anugerah Tuhan terindah dalam hidup kita sebagai respon kita ketika kita melihat suatu realita dunia. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

10 October 2008

ON LOVE (Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D.-Cand.)

ON LOVE

oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.)




Nats: 1Kor. 13



Bagian perikop yang kita baca ini ada yang memulainya dari ayat terakhir pasal ke-12. Bagaimanapun juga memang ada hubungan yang sangat erat kait-mengait antara pasal 12 ayat-ayat yang terakhir, yaitu yang membicarakan tentang berbagai macam karunia dengan keseluruhan pasal 13 yaitu tentang kasih. Paulus menganjurkan agar jemaat Korintus berusaha memperoleh karunia-karunia yang paling utama (yaitu yang didaftar lebih dahulu). Menarik bahwa misalnya karunia berkata-kata dalam bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh ditempatkan di paling akhir dalam daftar karunia. Dan yang tidak kalah menarik adalah karunia memimpin ditempatkan setelah karunia membantu (terjemahan bahasa Indonesia karunia melayani agaknya kurang tepat). Karunia-karunia yang lebih utama adalah karunia yang lebih banyak membangun orang lain, karena sekali lagi, karunia diberikan untuk ini.

Namun ada satu hal yang lebih utama lagi, bahkan daripada karunia-karunia yang paling utama. Satu hal ini boleh dikejar oleh siapa pun yang memiliki karunia yang manapun, dan pengejaran akan satu hal ini oleh setiap orang tidak akan pernah berdampak kepada perpecahan. Apakah hal itu? Paulus mengatakan itu adalah kasih.

Kasih ini melampaui semua karunia yang ada, dan melampauinya demikian rupa, sehingga jika ia (kasih) tidak ada, maka semua karunia itu menjadi tidak ada faedahnya, tidak berguna. Pada pasal 13:1-3 Paulus mencoba menggambarkan banyak hal yang boleh dianggap merupakan highest human religious achievement. Ada beberapa kategori di sini. Kategori yang pertama: berkata-kata dengan semua bahasa manusia bahkan bahasa malaikat. Ini dapat dianggap yang secara fenomena menyatakan hal-hal supernatural. Hal-hal yang dianggap kategori supernatural ini selalu menarik perhatian manusia, khususnya manusia modern yang sudah jenuh dengan gang-gang buntu yang sudah dijajaki oleh kapasitas rasio manusia yang paling tinggi sekalipun. Zaman Romantik adalah salah satu periode dalam sejarah di mana manusia kembali menggali hal-hal yang bersifat supernatural. Kejenuhan terhadap apa yang dapat dicapai oleh rasio pada zaman pencerahan ternyata membawa manusia seolah ingin kembali lagi kepada abad pertengahan dengan nuansa misteri yang tak terungkapkan. Rasio yang tidak tunduk kepada wahyu Allah memang hanya akan menghasilkan kenikmatan-kenikmatan yang memuakkan! Hal-hal yang natural akhirnya juga dianggap membosankan, kurang seru. Perhatikan saja tayangan-tayangan televisi yang saat ini beredar banyak mengulas wilayah misteri yang dianggap sebagai satu alternatif, tawaran lain daripada dunia natural yang dianggap sangat membosankan. Kita seperti mengulangi lagi zaman Romantik yang juga seolah mengulangi abad pertengahan. Di mana permasalahan kita? Dunia natural tidak dapat menyajikan apa-apa lagi yang dapat kita nikmati? Lalu kita mencoba suatu wilayah baru yang penuh petualangan yang misterius, tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal dan dianggap melampaui monotoni naturalitas? Kita mengharapkan hal-hal yang tegang, yang spektakuler, yang bisa membawa kita bereaksi “wow ...” sementara dalam kehidupan natural kita tetap berkeinginan “kalau boleh segala sesuatu tetap bisa saya kontrol”, apakah ini bukan keterpecahan individu? Yang sering kali disebut orang ‘supernatural’ itu juga akan sangat membosankan kok. Mengapa? Karena itu bukanlah supernatural yang asli, itu tidak akan pernah mengisi kekeringan hati manusia yang terdalam. Bukan ‘supernatural’ yang demikian yang menjadi alternatif kita, melainkan bagaimana dalam peristiwa-peristiwa natural, ya, bahkan dalam everydayness, kita dapat menyaksikan kehadiran Tuhan yang senantiasa menopang serta memelihara hidup kita, dan harap juga sebagai yang menebus kita. Ketika manusia gagal mengerti hal ini, dia akan mencari segala alternatif yang lain untuk memuaskan kebutuhan rohaninya, melalui hal-hal ‘supernatural,’ namun yang lagi-lagi ternyata tidak ada Tuhan di sana.

Kembali pada tulisan Paulus, karunia-karunia yang dianggap paling supernatural sekalipun, jika tidak disertai dengan kasih, hanya akan memperlihatkan dirinya sama dengan gong yang berkumandang, canang yang bergemerincing. Maksudnya, hal itu akan selalu menarik perhatian, heboh kedengarannya, namun hanya sampai di situ saja.

Kategori kedua: karunia bernubuat, mengetahui segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan. Boleh dikaitkan dengan aspek intelektual, yaitu berkaitan terutama dengan pengetahuan. Dalam bagian sebelumnya Paulus pernah mengatakan pengetahuan dapat membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Apakah ini berarti pengetahuan itu salah, atau bahkan jahat? Bukan, melainkan pengetahuan yang tidak digerakkan oleh kasih hanya akan membuat seseorang menjadi sombong. Siapa yang mengejar pengetahuan hanya untuk memperkaya pengetahuannya sendiri sesungguhnya tidak mengerti prinsip firman Tuhan. Sebaliknya kita seharusnya memperlengkapi diri demi memperlengkapi orang lain. Hamba-hamba Tuhan banyak sekali yang berkeinginan untuk studi lanjut, ya ... tentunya sebisanya di luar negeri. Oh, saya pun demikian! Tetapi mengapa ya? Karena takut tertinggal oleh hamba-hamba Tuhan yang lain, yang gelarnya mulai berderetan? Insecurity? Atau perlu kebanggaan tambahan, karena rupanya salib Kristus tidak cukup? Kenaikan gaji? Problem inferior-complex? Batu loncatan untuk tinggal di luar negeri yang kayanya lebih mirip ‘tanah perjanjian’? Tuhan mengenal hati kita masing-masing. Prinsip firman Tuhan sangat sederhana “demi memperkaya orang lain.” Dan bukan hanya pengetahuan, melainkan dalam segala hal: uang, waktu, tenaga, perasaan, perhatian, keahlian, kecakapan, ya ... diri kita. Tuhan memberkati kita supaya kita menjadi berkat bagi orang lain. Ketika Tuhan lebih memberkati lagi, itu berkat yang disalurkan juga harus lebih. We are given to give.

Kategori ketiga: karunia iman yang sempurna untuk memindahkan gunung. Ini berarti kesanggupan melakukan sesuatu yang tidak mungkin (impossible). Melakukan hal-hal besar yang dapat dikatakan mustahil. Namun betapa besar dan mengagumkannya karya tersebut, jika tanpa kasih, sama sekali tidak berguna bagi kita. Menarik di sini Paulus tidak mengatakan tidak berguna bagi orang lain, melainkan yang mengerjakan yang tidak berguna. Bukankah manusia memang sering kali mengukur kegunaan dirinya dengan seberapa besar karya yang boleh dihasilkan, terutama yang mustahil untuk dikerjakan? Ini bukan discouragement untuk menghasilkan karya besar, melainkan bahwa karya besar, bagaimanapun besarnya, jika bukan dikerjakan karena kasih, menurut firman Tuhan, is simply nothing.

Kategori keempat: membagi-bagi segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar. Ini berbicara tentang pengorbanan pada tingkat yang paling tinggi, juga dapat dikatakan ketaatan agamawi tingkat terakhir yaitu menjadi martir, orang yang mati karena kepercayaannya. Inipun jika dilakukan tanpa kasih (apalagi jika dengan kebencian) sedikitpun tidak ada faedahnya bagi orang tersebut. Itu tidak akan disebut sebagai cerita kepahlawanan iman seorang yang taat dan setia kepada kepercayaannya, melainkan Allah akan menganggapnya sebagai kosong belaka.

Dari ketiga ayat yang pertama dapat kita simpulkan bahwa love is the very essential thing. Tanpa kasih, segala sesuatu hanya akan merupakan penampakan yang secara permukaannya boleh saja mengagumkan, namun yang ternyata bagian dalamnya keropos. Kasih itulah yang menjadikan segala sesuatunya berarti.

Mulai ayat 4 dst., Paulus memberikan gambaran (bukan definisi) cakupan yang begitu lengkap yang terdapat dalam kasih. Banyak hal akan ter-cover asal saja kita belajar untuk mengasihi. Kasih mencakup hampir semua virtue yang lainnya. Yang pertama dikatakan kasih itu sabar (terj. Ingg: long-suffering, suffers long). Sabar di sini bukan kesabaran natural yang dimiliki oleh orang bertemperamen tertentu yang memang secara alamiah terlihat sabar dari banyak orang lain. Ujian kesabaran yang sesungguhnya adalah ketika kita diijinkan untuk masuk dalam penderitaan. Penderitaan menyingkapkan diri kita apa adanya, sampai bagian yang terdalam. Jika dalam penderitaan kita dapat bertahan (suffers long) kita akan menuai kesabaran yang dimaksud oleh Tuhan. Problema suffering rupanya menjadi thema yang sangat penting dalam pemikiran kontemporer. Kita dapat menjelaskan suffering dalam berbagai cara, salah satu dari sekian banyak penjelasan dapat kita katakan suffering is the absence of love. Bukankah ini yang sering kali manusia kemukakan, bahkan di hadapan Tuhan? Di mana Tuhan pada saat aku menderita? Apakah Tuhan Mahabaik namun tidak Mahakuasa, atau Dia Mahakuasa tetapi tidak Mahabaik sehingga ada penderitaan di dunia ini? Di mana Tuhan, yang katanya Mahakasih itu? Pertanyaan ini seperti tidak mungkin terjawab, karena siapa yang sanggup menyelami dan mengerti sepenuhnya penderitaan seorang manusia yang begitu dalam? Namun di dalam sejarah pernah ada seorang Manusia yang rela menderita, bahkan seumur hidupnya penuh dengan penderitaan, tentang Dia nabi mengatakan a man of sorrow, acquainted with grief. Dia bukan kadang-kadang menderita, Dia biasa menderita, penderitaan sangat akrab dengan diriNya. Mengapa Dia mau menderita? Alkitab mengatakan karena kasih. Di sini terjadi pembalikan yang radikal terhadap pertanyaan manusia berdosa yang berada dalam penderitaan, yang sering kali mempertanyakan di mana kasih, justru dijawab dengan sebuah pernyataan, bukan sekadar kalimat, melainkan pernyataan hidup selama 33 tahun di bumi: love suffers long. Justru karena ada kasih maka ada kerelaan untuk menderita. Penderitaan tidak mungkin pernah dihindarkan, namun berbahagialah mereka yang menderita karena mengasihi. Orang demikian hidupnya dekat dengan Tuhan.

Berikutnya kasih itu murah hati (Ing.: kind). Kasih yang sejati mencakup aspek moral, bukan anti moral. Kekristenan harus memberikan jawaban bahkan tantangan moral. Memang kekristenan bukan sekadar mengajarkan moral belaka, namun ini tidak berarti tidak ada tanggung jawab dan pancaran moral dalam kekristenan. Orang yang mengasihi memiliki karakter kebaikan hati, sebagai lawan kata kelicikan hati, yaitu yang bersifat manipulatif. Orang yang memiliki kebaikan hati tidak memiliki motivasi untuk mencelakakan atau merugikan orang lain, sebaliknya ia bermurah hati, suka membantu dan menolong sesamanya. Kebaikan hatinya akan terlihat dalam sikap dan perbuatan.

Kasih juga tidak cemburu (atau lebih tepat: tidak iri hati). Adakah orang yang iri kepada anaknya sendiri? Kalaupun ada, orang itu pasti bermasalah berat dengan psikologinya. Pada umumnya tidak ada orang yang iri dengan anak, istri atau suaminya sendiri (sayangnya kalau dengan saudara masih cukup banyak. Mengapa tidak ada iri hati di antara anggota keluarga yang kita sebut tadi? Karena adanya kasih. Kasih mengusir iri hati. Ketika seseorang iri kepada yang lain, pada akar persoalannya adalah: dia kurang mengasihi. Tidak mungkin kita iri kepada orang yang sangat kita kasihi, kita justru akan bangga dengan kelebihannya, kita akan turut bersukacita ketika yang kita kasihi dihormati oleh orang lain. Kasih bukan hanya menghentikan iri hati, kasih, secara positiv, membawa kita memiliki hati yang luas.

Tidak memegahkan diri (parade itself) dan tidak sombong (puffed-up). Ada perbedaan di sini, sekalipun mirip. Yang pertama adalah kebanggan diri yang salah karena mempertontonkan segala kehebatan dan kebolehan yang memang dimiliki oleh diri, sementara yang kedua, membesar-besarkan diri melampaui kenyataan yang ada, berusaha membuat orang menilai kita lebih tinggi dari yang sesungguhnya (dalam cerita klasik ini digambarkan dengan seekor ibu katak yang terus menggembungkan dirinya, karena si anak mengatakan bahwa “sapi lebih besar dari mama.” Akhir cerita si ibu berangkat (meletus) karena terlalu puffed-up. Orang yang berusaha melampaui keberadaan dirinya sendiri sesungguhnya berada dalam keadaan yang sangat mengerikan. Kita sangat prihatin dengan banyaknya buku yang menjadi bestseller mengajarkan satu melodi utama yang sama: potensi manusia yang tidak terbatas! Bukankah ini yang terjadi dalam Kejadian pasal 3 “menjadi seperti Allah” dan akhirnya ... meletus.

Ketika kita mengasihi kita akan menjadi orang yang rendah hati. Kasih berkait erat dengan kerendahan hati. Sama seperti prinsip sebelumnya, kurang rendah hati akar permasalahannya adalah kurang cinta kasih. Ketika kita mengasihi sesama kita, kita tidak akan membicarakan kebolehan kita di hadapannya, karena bukan kita yang menjadi pusat, melainkan dia yang kita kasihi. Mengasihi bukan ‘aku di atas, sehat, kaya, berpengetahuan, all right’ sedang berusaha menolong ‘kamu yang di bawah, sakit, bodoh, kasihan, miserable.’ Ini menolong mental kolonialisme. Sebaliknya Yesus Kristus mengasihi manusia dengan jalan menjadi sama dengan kita, Dia bukan mengulurkan tanganNya dari sorga di atas, melainkan tinggal bersama-sama dengan kita dalam dunia yang sudah jatuh. Mengasihi berarti merendahkan diri.

Tidak melakukan yang tidak sopan. Love behaves rightly. Orang yang mengasihi memiliki kepekaan terhadap kondisi sekeliling. Dalam bahasa kontemporer, dia tidak akan kekurangan EQ. Dia tahu membaca suasana, karena mengerti orang lain. Ini bahkan lebih daripada sekadar kecerdasan emosional, karena kecerdasan emosional dapat hanya dipergunakan demi kepentingan diri sendiri saja. Akan tetapi bersikap pantas dan tepat di sini dikaitkan dengan kepekaan kita terhadap sesama. Kasih yang benar tidak akan menyakitkan perasaan orang lain dengan kata-kata yang kasar. Dia tidak akan berlaku kurang ajar dan tidak bisa menempatkan diri. Kasih dapat bersikap tepat kepada orang lain, karena telah menempatkan diri sendiri dalam posisi yang benar.

Tidak mencari keuntungan diri sendiri. Tidak egois. Natur kasih selalu membagi diri (self-giving) dan bukan mengeruk bagi diri sendiri. Dalam bagian yang lain firman Tuhan mengajarkan agar kita memperhatikan kepentingan orang lain juga, bukan hanya kepentingan kita sendiri. Kedewasaan kita masing-masing boleh diukur dari sini. Bukan dari umur, atau sudah berapa lama beribadah, terlibat dalam aktivitas rohani, dsb. Kasih memperhatikan kebutuhan orang lain.

Tidak pemarah (not provoked). Tidak gampang terprovokasi. Tidak gampang tersinggung, sakit hati, merasa dilukai dlsb. Sama dengan yang sebelumnya ini karena adalah natur kasih untuk tidak banyak memikirkan diri sendiri (termasuk perasaan sendiri). Kasih memperhatikan perasaan orang lain. Marah yang dimaksud di sini bukanlah semua jenis kemarahan (termasuk kemarahan yang suci misalnya), melainkan kemarahan yang timbul karena ego yang dilukai. Ketika kita belajar untuk lebih mengasihi kita tidak akan menyita banyak perhatian dan tenaga untuk melindungi ego kita. Kasih menjadikan kita orang yang memiliki ketenangan yang agung.

Tidak menyimpan kesalahan orang lain. Sering kali ini dikaitkan dengan sikap mendendam. Tapi sebenarnya bukan hanya mendendam saja, melainkan juga termasuk trauma. Trauma pernah diperlakukan secara tidak benar dan tidak adil oleh orang lain, disalah-mengerti, ditolak, dihina, diabaikan. Ini semua bisa menciptakan ruang untuk menyimpan kesalahan orang lain (terj. Ingg: thinks evil). Mengingat-ingat kesalahan orang lain itu sama dengan berpikir jahat. Hal itu akan mempersempit hidup kita, sehingga sulit Tuhan untuk memakai kita dengan leluasa. Banyak kesaksian dari hamba-hamba Tuhan yang diberkati luar biasa justru setelah mereka berhasil mengalahkan pengalaman traumatis yang memang sangat menyakitkan. Misalnya seperti Musa, yang saya percaya, menolak dipanggil untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir bukan karena rendah hati (karena menyebabkan kemarahan dan teguran Tuhan), melainkan karena pengalaman masa lalunya ditolak oleh orang Israel sendiri yang ingin dia bebaskan. Demikian pula kehidupan Calvin yang sangat enggan melayani di Geneva karena dia pernah ditolak dengan usaha reformasinya. Namun dia belajar untuk taat, sekalipun secara perasaan sangat berat. Ketika kita mengatakan kita mengasihi, itu berarti membuka lembaran baru setiap kali berjumpa dengan orang yang bersalah kepada kita. Tuhan adalah Tuhan yang berkuasa untuk membereskan masa lalu kita, kita harus mengijinkan Dia untuk melakukannya. Dia membentuk kita dalam segala hal, termasuk mengubahkan perasaan kita yang sangat rapuh dan rentan terhadap kesalahan orang lain kepada kita. Perasaan kita pun perlu mengalami proses pendewasaan yang dari Tuhan. Tuhan mengampuni kita, maka kita juga mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Masa lampau yang gelap tidak seharusnya mengikat masa kini dan masa depan kita. Ketika kita terus menghayati kasih Tuhan yang dinyatakan dalam diri kita, kita akan dibebaskan dari segala ikatan yang membelenggu kita, bahkan kebebasan yang sepenuhnya untuk hidup taat kepada Tuhan akan kita dapatkan melalui kehidupan yang mengasihi.

Allah sumber segala kasih, melimpahkan kasih-Nya kepada kita sehingga kita diberi kekuatan untuk mengasihi.

Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ini merupakan 2 sisi yang berkait erat satu dengan yang lain, dan kedua pernyataan di atas dapat dikatakan sinonim (yang satu menyatakan aspek negatif yang lain positif). Beberapa hari lalu kita sempat dikagetkan dengan peristiwa bom meledak di sekitar Kedutaan Besar Australia. Kira-kira perencana peledakan bom tersebut bersukacita atau berkabung ketika misi itu berhasil dijalankan? Mungkin bersukacita, karena usahanya ‘berhasil.’ Orang yang bersukacita di atas mayat yang bergelimpangan dan kerugian banyak orang. Kita menganggap orang sedemikian sangat keji, jahat, melakukan tindakan yang terkutuk dan lain sebagainya. Kita menggolongkan orang seperti itu sebagai contoh bersukacita karena ketidakadilan. Hal itu bukan hanya menandakan tidak adanya kasih, melainkan juga adanya kebencian.

Justru di situlah masalahnya, ketika kita tidak memiliki kasih, kita anggap itu masih tidak apa, asalkan saja kita tidak menjadi seseorang yang penuh dengan kebencian. Namun bukankah sering kali (kalau bukan selalu) tidak adanya kasih sangat gampang membawa seseorang kepada kebencian? Kita menganggap tidak membenci sudah cukup, sementara firman Tuhan mengajarkan bukan sekadar tidak membenci, melainkan dengan aktif mengasihi. Kita dapat beramai-ramai marah terhadap pelaku kejahatan seolah kita sama sekali tidak ada sangkut pautnya, tidak bersalah, sama sekali bersih terhadap peristiwa itu. Kita menggolongkan diri sebagai orang yang tidak bersukacita karena ketidakadilan. Namun, jangan-jangan kita juga sama tidak bersukacitanya karena kebenaran, keadilan, kejujuran dsb. Dengan kata lain kita tidak entusias dengan yang namanya keadilan, kebenaran, kesalehan, kita simply don’t care dengan hal-hal begituan. Saya tidak bermaksud menambah kesedihan kita semua yang sedang tertimpa musibah dengan keadaan negara kita yang sangat memprihatinkan ini, apalagi dengan kata-kata kosong yang hanya merupakan basa-basi retorika belaka, yang bikin orang susah tambah stress karena sudah susah masih dianalisa lagi. Namun, saya kira refleksi seorang warga negara yang bertanggung-jawab, dan terutama sebagai seorang yang mengaku percaya kepada Tuhan diperlukan, untuk mengintrospeksi diri kita masing-masing apakah kita memang sungguh tidak terlibat dalam peristiwa tersebut? Berapa banyak kita melihat ketidakadilan terjadi di sekitar kita dan kita hanya berdiam diri, “asal itu tidak berkaitan dengan saya.” Kita bahkan mungkin dengan sinis menganggap mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran sebagai orang-orang yang naif, yang terlalu idealis, tidak realistis dan menempuh jalan utopia. Kita sudah merasa puas hidup sebagai orang yang tidak bersukacita karena ketidakadilan.

Alkitab tidak pernah mengajarkan adanya wilayah abu-abu atau wilayah netral, seolah-olah tidak jahat itu sama dengan baik. Tidak negatif bukan berarti pasti positif, tidak negatif bisa juga nol, kosong, nothing. Alkitab hanya memberikan pilihan either good or evil. Wilayah tengah, zone bebas nilai itu (tidak negatif dan tidak positif) tidak dihargai oleh Tuhan. Ketika kita tidak bersukacita karena kebenaran, kita dalam kepasifan sudah berbuat dosa. Bagaimana kehidupan kita sehari-hari, adakah kita termasuk orang yang dianggap Tuhan berbahagia karena “lapar dan haus akan kebenaran” (Mat. 5:6)?

Kasih menutupi segala sesuatu. Adalah natur kasih untuk tidak expose kesalahan orang lain dan kemudian menikmati dalam membicarakannya. Kasih menjadikan kita manusia yang suka menutupi kelemahan orang lain, bukan karena tidak tahu, dan juga bukan menutup-nutupi, melainkan menutupi dengan motivasi yang mulia. Yesus Kristus, di atas kayu salib mengucapkan kalimat “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yesus bukannya tidak tahu bahwa mereka adalah orang yang berdosa, dan bahwa mereka melakukan kejahatan tersebut dengan sesadar-sadarnya. Namun Yesus yang penuh cinta kasih itu sedang menutupi dosa-dosa mereka di hadapan Allah. Inilah sifat kasih. Kasih berusaha memulihkan keadaan yang keruh. Kasih menjembantani dan menyediakan diri sebagai mediator.

Ia percaya segala sesuatu. Seseorang yang sungguh mengasihi bisa mempercayai yang dia kasihi. Bayangkan sepasang suami-istri yang setiap hari harus memberikan laporan ke mana saja ia telah pergi pada hari itu dan apa yang telah dilakukan tanpa kehadiran pasangannya. Pernikahan itu akan segera bubar karena sudah kehilangan unsur trust. Yang akhirnya muncul adalah kecurigaan melulu. Tentu ini tidak berarti semua bentuk kecurigaan adalah salah (karena nanti satpam-satpam akan menganggur!). Dunia yang sudah jatuh dalam dosa memerlukan pengawasan kewaspadaan yang dapat dinyatakan dalam bentuk kecurigaan. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah kasih memikirkan yang terbaik yang dapat dipikirkan mengenai objek yang dikasihi. Tuhan pun melakukan hal ini pada kita. Bukankah kita tidak layak untuk dipercayai, apalagi oleh Tuhan sumber segala kebenaran dan kesempurnaan? Kita bersalah dalam banyak hal, namun Tuhan masih mempercayai kita untuk melayani Dia. Mengapa? Karena Dia sangat mengasihi kita.

Ia mengharapkan segala sesuatu. Di dalam kasih tercakup pengharapan. Orang yang mengasihi terus berharap dan tidak menjadi putus asa, kecewa, discouraged. Discouragement adalah salah satu keadaan yang paling disukai oleh iblis dalam diri orang-orang percaya. Discouragement membuat kita berhenti berkarya, enggan melayani, tidak lagi mengeluarkan buah yang lebat bagi Tuhan. Kadang di dalam kesulitan dalam pelayanan kita dapat menjadi kecewa, orang yang kita layani selama bertahun-tahun ternyata masih juga di luar ekspetasi kita, atau mungkin kita kecewa dengan pembimbing kita yang selama ini kita kagumi, ternyata masih memiliki kelemahan ini dan itu. Iblis sering kali mempergunakan hal ini untuk membuat kita berhenti maju. Kapan kita berhenti berharap atas seseorang atau suatu keadaan (yang kita anggap tidak dapat lagi diharapkan)? Ketika kita sudah kehilangan kasih. Tidak adanya pengharapan berarti tidak adanya kasih. Kita memang rupanya senantiasa memiliki alasan yang cukup untuk kecewa dan pesimis, apalagi ketika kita melihat keadaan sekeliling kita, tampaknya memang tidak banyak yang dapat diharapkan. Berharap dalam situasi sulit sering kali dikategorikan, sekali lagi, dengan sikap yang terlalu idealis. Persoalannya adalah kita sering kali mengaitkan boleh atau tidaknya seorang berharap dengan hasil tertentu, atau lebih gamblang, target yang harus dicapai dalam sekian waktu, dan didukung dengan banyak catatan statistik masa lampau kita lalu akhirnya menjadi kecewa dan berhenti berharap lagi, sementara yang penting sebenarnya bukan hasil yang ditargetkan (karena target sering kali tidak tepat), melainkan proses perubahan itu sendiri. Yesus Kristus memiliki alasan yang sangat sah untuk kecewa kepada para muridNya. Ada yang mengkhianati Dia, yang lain menyangkaliNya tiga kali bahkan setelah diberi peringatan terlebih dahulu, dan yang lain lagi, hampir semua, meninggalkan Dia di saat-saat yang paling sulit. Seandainya Dia discouraged kita pun akan sangat memakluminya, karena memang penderitaanNya terlalu berat. Tapi, apa yang dikatakan Alkitab? Dia tidak berhenti berharap. Pasal terakhir Injil Yohanes mencatat bagaimana Yesus memulihkan Petrus. Dia tetap ‘mengharapkan’ Petrus. Kita teringat nubuatan nabi Yesaya tentang Dia “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” Bukan hanya itu akan tetapi “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai.” Dia tidak mematahkan semangat orang lain yang sudah hampir patah, namun Ia sendiri juga tidak akan patah semangat. Sampai kapan? Sampai Ia menegakkan hukum di bumi. Dan tentang Dia nabi bernubuat “Segala pulau mengharapkan pengajaran-Nya.” Tidak ada harapan yang lain di tengah-tengah krisis yang semakin meningkat kecuali manusia kembali kepada sumber kasih yang sanggup memberikan pengharapan yang tidak mengecewakan yaitu Yesus Kristus.

Kasih sabar menanggung segala sesuatu. Pengharapan yang sejati tidak mungkin tidak akan menuntut kesabaran menanggung segala sesuatu. Orang yang berani berharap mengetahui ‘resiko’ ini. Berharap berarti kerelaan untuk menanggung beban, khususnya kelemahan yang dimiliki oleh yang kita harapkan. Adalah natur kasih untuk menanggung beban yang lain. Sedangkan orang yang egois selalu mempercayakan bebannya kepada orang lain untuk dipikul sementara dia sendiri sedapat mungkin mengangkat beban yang paling ringan. Inilah model manusia yang berintegritas rendah! Orang demikian tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin-pemimpin yang tidak mau menanggung resiko dan lebih suka play safe tidak dapat menjadi pemimpin yang sejati. Kepemimpinan adalah menanggung beban yang paling berat. Sayangnya sering kali konsep ini dihayati pada tahap awal saja. Ketika seseorang masih berada pada jabatan yang rendah dia melihat dirinya sebagai seorang pelayan, seorang hamba. Namun sementara waktu berjalan terus dan jabatan pun tidak tetap tinggal di situ, manusia menjadi lupa akan panggilannya. Berapa banyak hamba Tuhan (kalau mau tetap disebut hamba Tuhan!) setelah ‘melayani’ bertahun-tahun akhirnya menyatakan diri lebih mirip boss Gereja daripada hamba Tuhan! Beban-beban yang berat ‘dipercayakan’ kepada ‘bawahan’ sementara dia sendiri perlu banyak istirahat (Sabat?) dan waktu rekreasi yang cukup dan tidak ketinggalan fasilitas hidup yang harus dinikmati karena “bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.” Bagaimana Gereja akan memiliki masa depan jika pemimpin-pemimpinnya seperti ini? Jangan menghakimi orang lain dan menganggap diri lebih baik! Akhir dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan kita Tuhan dengan begitu sabar menanggung segala kelemahan kita dan kita pun wajib untuk belajar menanggung kelemahan sesama kita. Ada satu perkataan indah yang saya berusaha untuk terus mempelajarinya “Jika Tuhan mengijinkan kita untuk melihat kelemahan orang lain, maka itu berarti kita dipercayakan Tuhan untuk mendoakannya.” Itulah yang Kristus, Pendoa Syafaat yang Agung itu, terus kerjakan bagi Saudara dan saya sampai hari ini.

Paulus membandingkan kasih dengan 3 macam karunia yang lain. Dua di antaranya, yaitu bahasa roh dan pengetahuan, sangat diagungkan oleh jemaat di Korintus. Mereka sangat bangga memiliki karunia tersebut, bahkan dapat dikatakan sebagai pengejaran yang paling tinggi yang dapat dilakukan. Namun Paulus mengajarkan semua karunia itu suatu saat akan berakhir, berhenti, lenyap. Dengan kata lain karunia-karunia ini bersifat sementara, tidak kekal. Sedangkan yang tetap tinggal untuk selamanya adalah kasih. Mereka yang hanya mengejar yang bersifat sementara tanpa memperhatikan yang kekal hanya akan mengejar bayang-bayang seumur hidup.

Inilah yang dikatakan oleh Paulus ketika dia menggunakan metafor cermin. Pada zaman Paulus cermin belum terbuat dari kaca seperti pada zaman kita, melainkan dari logam yang dipoles sampai selicin mungkin dan Korintus adalah salah satu kota yang menghasilkan produk cermin yang terbaik pada zamannya, namun bagi Paulus bayangan itu tetap merupakan gambar yang samar-samar. Bagaimanapun sempurnanya bayangan yang terjadi dalam sebuah cermin yang paling mutakhir sekalipun, tetap tidak dapat menggantikan wajah manusia yang asli. Demikian pula ketika orang kristen mengejar karunia rohani demikian rupa (karunia yang manapun juga) dan mengejarnya di luar kasih, hal itu sama dengan menganggap bayangan yang ada dalam sebuah cermin sebagai benda yang asli.

Pengetahuan yang kita miliki hanyalah parsial saja, sebagian dan belum lengkap. The big picture itu belum dapat kita lihat selama kita masih berada dalam dunia. Kasihlah yang menyempurnakan pengetahuan. Pengetahuan yang sejati berarti mengasihi. Bahasa Indonesia memberikan alternatif istilah yang lebih baik untuk membedakan hal ini yaitu kata “mengenal.” Mengenal adalah mengetahui dengan cinta kasih. Konsep pengetahuan kita sudah sangat tercemar dengan konsep filsafat modern yang cenderung bersifat memperobjek. Pengetahuan sebagai objek yang diketahui dan saya sebagai subjek yang mengetahui. Ditambah lagi dengan keharusan adanya distance (menurut Descartes) sebagai syarat pengetahuan yang ‘objektif.’ Alkitab sama sekali berbeda ketika membicarakan tentang mengetahui (atau lebih tepat mengenal). Mengetahui berarti memiliki relasi, terutama relasi kasih. Ketika Allah mengatakan “Aku mengenal engkau” itu berarti kita dijadikan objek kasih-Nya (kalau mau tetap pakai istilah ‘objek’ juga). Sebaliknya “Aku tidak mengenal engkau” sama sekali bukan berarti Allah tidak tahu-menahu seluk-beluk jalan hidup orang tersebut karena Ia tetap Mahatahu, melainkan bahwa Allah telah membuang dia dari hadapanNya, ia tidak dikasihi, dibuang selama-lamanya. Jadi, mengetahui, menurut firman Tuhan, tidak pernah dapat dipisahkan dengan mengasihi. Mengetahui tanpa kasih hanya membuat manusia menjadi sombong, manipulatif, serakah dlsb. Namun ketika kita belajar mengasihi, kita mengetahui dengan lebih jelas yang kita kasihi tersebut. Ketika kita menyatakan diri sebagai orang yang mengetahui doktrin kristen dengan semangat akurasi yang tinggi, itu tidak pernah dapat dipisahkan dengan mengasihi kebenaran yang kita ketahui tersebut. Bukankah sejarah Gereja mengajarkan kepada kita banyak gereja-gereja yang sangat menekankan pengajaran doktrin yang ketat dan murni akhirnya jatuh kepada apa yang disebut Lloyd-Jones sebagai defective orthodoxy, ortodoksi lama yang kaku dan menuju kematian (contoh yang dicatat dalam Alkitab terdapat pada surat kepada jemaat di Efesus yang ditulis dalam Kitab Wahyu pasal 2). Keadaan seperti ini memicu banyak gereja akhirnya tidak lagi peduli dengan doktrin dan pengajaran yang ketat karena doktrin dan sikap dogmatis akhirnya diidentikkan dengan sikap yang mematikan kehidupan yang dinamis. Namun ini pun (tidak lagi mementingkan doktrin) sebenarnya bukanlah pilihan atau alternatif yang bijaksana. Di mana letak permasalahannya? Yaitu pada dikotomi mengetahui dan mengasihi, seolah-olah mungkin untuk mengetahui tanpa mengasihi, padahal Alkitab mengajarkan dengan sangat jelas kaitan antara keduanya.

Kasih bukan hanya menyempurnakan pengetahuan, kasih menyempurnakan semua karunia yang lain. Karena karunia pada dasarnya diberikan kepada setiap orang percaya untuk membangun orang lain dan bukan membangun diri sendiri. Demikian juga karunia nubuat, yang dikaitkan dengan tugas pemberitaan firman Tuhan, akan disempurnakan oleh kasih di mana pada akhir zaman, ketika Yesus Kristus datang kembali, kita akan menyaksikan bahwa apa yang sudah pernah ditabur itu tidak sia-sia sebab Tuhanlah yang memberi pertumbuhan sehingga setiap orang yang percaya dikuduskan oleh kuasa firman Tuhan. Pemberitaan firman Tuhan yang digerakkan oleh kasih selalu bertujuan membawa manusia untuk kembali kepada Tuhan, meninggalkan segala dosa dan kejahatan dan masuk ke dalam kehidupan yang lebih berkenan kepada Tuhan.

Dalam ayat yang ke-11, Paulus juga menggunakan kembali analogi kehidupan kanak-kanak yang terus beranjak menuju kedewasaan, yang akhirnya meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Analogi ini dipergunakan untuk menyatakan kehidupan kedewasaan rohani sebagai suatu kehidupan yang mengasihi (dan bukan hanya dikasihi). Ketika kanak-kanak kita lebih banyak di-rawat, di-asuh, di-perhatikan, di-layani, di-kasihi. Setelah beranjak dewasa kita seharusnya menjadi manusia yang me-rawat, me-ngasuh, mem-perhatikan, me-layani, me-ngasihi. Kasih menyempurnakan kedewasaan rohani seseorang.

Ayat 12, kasih bahkan menyempurnakan pengenalan kita akan Allah. Ada begitu banyak kepercayaan di dunia ini, berapa di antara sekian banyak yang mengajarkan ibadah sebagai kasih kepada Allah? Agama paling banyak mengajarkan manusia takut kepada Allah, ibadah sebagai eksrepsi ketakutan terhadap Yang Mahatinggi, yang sewaktu-waktu siap menghukum barangsiapa yang berbuat jahat. Yesus Kristus datang ke dunia menyatakan kehidupan Allah yang bukan semata-mata membangkitkan rasa takut, melainkan lebih daripada itu, yaitu cinta kasih. Manusia tidak mungkin bisa mengasihi dengan sungguh kecuali memiliki konsep Allah Yang Mahakudus dan Mahakasih. Para penganut humanisme sekuler menciptakan ‘Allah Mahakasih’ yang tidak Mahakudus, sementara banyak agama menekankan kemahakudusan Allah dan tidak berani berbicara banyak tentang mahakasih-Nya. Yesus Kristus menggabungkan kedua sifat Allah itu secara sempurna ketika Dia sendiri mati tergantung di atas kayu salib. Di situ Dia menanggung murka Allah yang harus dinyatakan terhadap keberdosaan manusia, sekaligus Dia menyatakan cinta kasih Allah yang mengampuni orang yang percaya kepada Yesus. Kekuatan kasih Allah inilah yang terus mendorong Paulus hidup mengasihi Allah. Tanpa kita mengasihi Allah, tidak mungkin kita dapat mengenal Allah. Dan tanpa terlebih dahulu menyerahkan diri kita untuk dikasihi Allah dalam Yesus Kristus, tidak mungkin kita dapat mengasihi Allah. Hanya kasih yang memimpin kita ke sorga, di mana kita kelak akan mengenal dengan sempurna (dengan kasih yang sempurna), seperti kita sendiri dikenal (dikasihi dengan kasih yang sempurna).

Ayat terakhir pasal ini menyatakan kasih sebagai yang terbesar. Mengapa kasih? Karena di dalam kasih tercakup semuanya. Kasih membangkitkan iman, kasih memberikan pengharapan yang sejati. Kasih menyempurnakan segala sesuatu. Ketika kita belajar mengasihi saja, semua perintah Allah yang lain sudah termasuk di dalamnya.

“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."




Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S. lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory). Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 and pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed. Setelah lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M.C.S.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat MRII Berlin, MRII Hamburg, PRII Munich, dan Persekutuan Reformed Stockholm. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak, Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.

07 October 2008

MASA LALU, MASA KINI, DAN MASA DEPAN

MASA LALU, MASA KINI, DAN MASA DEPAN
(Perspektif Kristen Mengenai Waktu dan Aplikasinya-2)


oleh: Denny Teguh Sutandio



TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?
(Mazmur 27:1)

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.
(Ibrani 13:8)




PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Kita hidup di dunia di dalam ruang dan waktu. Di dalam waktu, kita mengenal adanya tiga jenis masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan/akan datang. Di dalam bahasa Inggris, ada bentuk: past (masa lalu), present (masa kini), dan future (masa depan/akan datang). Masa lalu adalah masa yang SUDAH terjadi di waktu lalu (dan tidak akan terulang), masa kini adalah masa yang SEDANG terjadi di masa sekarang, dan masa depan adalah masa yang AKAN terjadi setelah masa kini. Permasalahan selanjutnya yang timbul adalah manusia yang sudah mengenal 3 masa itu ternyata kurang atau bahkan tidak memahami seutuhnya makna ketiga masa itu. Problematika apa saja yang dipegang manusia dunia dan bagaimana pengajaran Alkitab tentang ketiga masa itu dalam kaitannya dengan kedaulatan Allah?


KONSEP TIGA MASA DALAM PANDANGAN MANUSIA DUNIA
Dunia berdosa pasti menawarkan konsep dunia yang memengaruhi manusia (tidak terkecuali orang Kristen di dalamnya). Konsep itu meliputi ketidakseimbangan mengerti totalitas 3 masa dalam kaitannya dengan kedaulatan Allah. Karena dosa, maka manusia tidak akan pernah bisa mengerti kesinambungan 3 masa itu. Ketidakseimbangan itu ditandai dengan tiga tanda, yaitu:
1. Terlalu Mementingkan Masa Lalu, Mengabaikan Masa Kini dan Masa Depan
Konsep pertama dari ketidakseimbangan 3 masa adalah terlalu mementingkan masa lalu dan mengabaikan masa kini dan masa depan. Hal ini nampak pada pengajaran orangtua pada anak-anaknya. Orangtua selalu mengajarkan kepada anak-anaknya atau berkata kepada orang lain bahwa zaman kuno itu adalah zaman yang paling benar, baik, dll ketimbang masa kini dan masa depan. Sepintas pandangan ini ada benarnya. Karena di zaman kuno (masa lalu) tidak ada free-sex, VCD porno, homo, lesbian, dll, sedangkan di masa kini, semuanya itu ada dan semakin parah di masa depan. Bukan hanya mengajar dan berkata kepada orang lain, beberapa orangtua ada yang ekstrim sampai-sampai tidak mengerti (atau tidak mau mengerti) teknologi zaman sekarang, karena kecintaan yang berlebihan terhadap zaman kuno.

2. Terlalu Mementingkan Masa Kini, Mengabaikan Masa Lalu dan Masa Depan
Konsep kedua ketidakseimbangan tersebut adalah terlalu mementingkan masa kini, masa bodoh terhadap masa lalu dan masa depan. Konsep ini menjadi tren pemuda/i dan orang dunia yang hidup di zaman postmodern ini. Bagi mereka, yang penting adalah menikmati hidup. Bahkan slogan hedonis mereka yang terkenal, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk ‘surga’.” Slogan ini menginsyaratkan akan ketidakmengertian mereka akan makna hidup karena mereka terlalu berfokus pada kesenangan sesaat. Bagaimana menikmati hidup? Menurut mereka adalah dengan melampiaskan semua kesenangan/hasrat mereka. Mereka meneriakkan, “kebebasan.” Bebas dari tradisi, bebas dari liturgi, dll. Tidak heran, di zaman sekarang, free-sex menjadi life-style banyak pemuda/i dunia (tidak terkecuali pemuda/i “Kristen”). Bukan hanya itu saja, musik rock, house music, dll berkembang dengan pesat dengan ide dasarnya adalah pemberontakan. Bukan hanya di dunia, di dalam banyak gereja kontemporer, semua musik dan lagu himne dibuang dan diganti dengan lagu/musik kontemporer yang mengenakkan telinga. Tidak heran, jika belakangan ini, muncul satu jenis musik: Christian House Music dari sebuah gereja Bethel di Surabaya. Mereka mengganti aliran musik dari jenis musik di masa lalu menjadi aliran musik kontemporer dengan memberikan dalih “Alkitabiah” yaitu kita harus menyanyikan nyanyian baru. Nyanyian baru ditafsirkan sebagai nyanyian yang benar-benar baru.
Bukan hanya mengabaikan masa lalu, para hedonis di abad postmodern juga mengabaikan masa depan. Mereka tidak lagi memikirkan apa akibatnya jika mereka melakukan free-sex, minum narkoba, dll. Di dalam pacaran, banyak pemuda/i (termasuk “Kristen”) juga kurang/tidak memerhatikan masa depan. Yang penting, mereka sudah memiliki pasangan hidup tanpa memerhatikan apakah pacarnya seorang Kristen yang sungguh-sungguh atau tidak, berkarakter baik, bertanggung jawab, dll. Jangan heran, di salah satu surat kabar, seorang pemuda “Kristen” yang bergabung dengan grup band “rohani”: GMB (Giving My Best) dan barusan putus dengan pacarnya, Nia Ramadhani mengatakan bahwa kekasih hidupnya kelak jika tidak seiman juga tidak apa-apa. Mereka tidak memikirkan akibat dari pasangan yang tidak seiman. Selain itu, ada juga pemuda/i yang memilih kriteria pasangan hidup yang cantik/tampan, tetapi jahat, matre, dll. Mungkin ada yang tidak memerhatikan wajah, ada juga pemuda/i yang memilih pasangan hidup yang menurutnya berkarakter “baik,” padahal jika ditelusuri lebih dalam, “baik” dalam konsepnya adalah tidak sesuai dengan kriteria baik sejati. “Baik” menurut seorang cewek (khususnya) dalam memilih pasangan hidupnya adalah yang memerhatikan, yang suka memberi, dll. Saya memiliki contoh nyata dari seorang rekan kerja saya yang cewek dan usianya lebih muda dari saya. Dia memiliki kekasih yang katanya wajahnya tidak seberapa tampan, tetapi katanya, cowoknya ini “baik.” Dia suka bercerita kepada saya tentang cowoknya, tetapi setelah saya mendengarkan semua ceritanya, saya mengambil kesimpulan bahwa cowoknya itu sebenarnya tidak baik. “Baik” menurutnya adalah karena cowoknya suka memberi banyak camilan/makanan kepadanya, bahkan rekan saya ini mengatakan bahwa cowoknya menginginkan rekan saya ini gemuk seperti Pretty Asmara, biar tidak ada cowok yang suka lagi dengan rekan saya ini. Saya sampai geleng-geleng kepala mendengar cerita rekan kerja saya ini. Itu bukannya baik, tetapi sangat tidak baik dari segi: motivasi, cara, dan tujuan. Dan lebih konyol lagi, rekan kerja ini mengatakan bahwa cowoknya ini “dewasa.” Saya pikir-pikir, “dewasa” dari sudut pandang mana? He...he...he... Ya, itulah ciri pemudi “Kristen” dalam memilih pasangan hidupnya.

3. Terlalu Mementingkan Masa Depan, Mengabaikan Masa Lalu dan Masa Kini
Konsep ketiga tentang ketidakseimbangan ini adalah mementingkan masa depan, sengaja mengabaikan masa lalu dan masa kini. Ada beberapa orangtua yang cukup bijaksana mengajari anak-anaknya untuk berpikir panjang, bukan berpikir untuk saat ini saja. Orangtua ini mengajari anak-anaknya untuk memilih pasangan hidup dan pekerjaan yang memiliki masa depan. Tetapi sayangnya karena terlalu mementingkan masa depan, beberapa orangtua mulai mengabaikan masa lalu dan masa kini. Beberapa orangtua ini mengabaikan masa lalu dengan cara tidak mengizinkan anaknya (apalagi anak tunggalnya) untuk menderita seperti orangtuanya yang dulu hidup menderita. Dari kecil, anak-anak mereka sudah menikmati hidup mewah melalui: rumah mewah, mobil mewah, dll. Mereka dari kecil tidak diajar tentang bagaimana menyangkal diri, bertanggung jawab, dll. Akibatnya, waktu mereka beranjak dewasa, mereka tetap adalah manusia yang egois, seenaknya sendiri, tidak bertanggung jawab, dll, tetapi menganggap diri “dewasa.” Dunia mengajar konsep “dewasa” adalah bisa segalanya. Bagi saya, itu hanya salah satu aspek dari sekian banyak aspek kedewasaan. Kedewasaan TIDAK pernah dinilai dari usia atau jenjang pendidikan, tetapi kualitas hidup dan kerohanian yang beres. Orang bisa saja usianya 50 tahun, bisa mengurus segala macam masalah, tetapi sayangnya orang ini tidak mau ditegur (merasa diri “sudah banyak makan asam garam”), tidak bisa menyangkal diri, dll. Apa itu tanda orang dewasa? TIDAK! Orang itu meskipun sudah 50 tahun, tetapi masih kekanak-kanakan (childish). Sedangkan mungkin ada anak yang baru berusia 10-20 tahun, tetapi anak itu bisa menyangkal diri, rela ditegur (dan bertobat), beriman sungguh-sungguh kepada Tuhan, dll, maka anak ini meskipun secara usia belum dewasa, tetapi dia sungguh-sungguh dewasa (meskipun kurang sempurna). Ingatlah, kedewasaan adalah suatu proses, bukan suatu hal instan.
Karena terlalu mementingkan masa depan, beberapa orangtua juga mengabaikan masa kini. Ada orangtua (salah satu orangtua) “Kristen” mengatakan kepada anaknya yang belum punya pacar untuk mencari pasangan hidup kelak yang tidak seumur (alasannya sangat amat pragmatis dan tidak logis: berkenaan dengan hubungan seksual), hidungnya “harus” mancung, tinggi (kalau pendek, katanya sudah melahirkan–alasan yang terlalu digeneralisasikan), langsing, dll. Orangtua ini katanya “memikirkan masa depan” buat anaknya, tetapi sayangnya, motivasi “baik” dari orangtua ini TIDAK melihat masa kini dari anaknya yang mungkin saja sudah berusia 25 tahun ke atas. Akibatnya, jangan heran, karena desakan/paksaan (meskipun ada yang tidak mau mengakuinya secara terus terang), anak mereka baru menikah di usia 40 tahun ke atas, karena kriteria orangtua ini yang terlalu sempurna. Lucu juga model orangtua seperti ini, yang menikah itu anaknya, yang ribut dan bawel adalah orangtuanya. Kalau ada orangtua seperti ini, biar orangtua ini saja yang menikah, jangan anaknya. Biarkan anaknya jadi bujang lapuk sampai tua gara-gara kriteria tidak logis dari orangtua yang katanya “memikirkan masa depan” untuk anaknya. Itulah ciri orangtua (bahkan “Kristen”) berdosa.


KONSEP TIGA MASA DALAM KAITANNYA DENGAN KEDAULATAN ALLAH
Ketika dunia mengajarkan konsep tiga masa yang tidak seimbang dan tidak utuh dengan ide humanisme atheis yang terselubung, maka sudah saatnya orang Kristen yang telah dilahirbarukan keluar dari ide manusia berdosa tersebut dan kembali kepada Alkitab. Apa yang Alkitab ajarkan tentang relasi konsep tiga masa itu dengan kedaulatan Allah? Alkitab mengajarkan satu prinsip penting, yaitu: Allah adalah Sumber dari 3 Masa tersebut. Dari satu konsep ini, kita akan belajar beberapa prinsip:
1. Allah adalah Pencipta 3 Masa
Poin pertama yang perlu kita pelajari adalah Allah adalah Pencipta dari 3 masa. Allah adalah Pencipta waktu, meskipun Ia eksis di luar/melampaui waktu. Allah menciptakan waktu bukan tanpa tujuan, tetapi dengan satu tujuan khusus bagi umat-Nya, yaitu supaya umat-Nya menebus waktu mereka untuk memuliakan Tuhan. Ketika umat-Nya menebus waktu mereka untuk memuliakan Tuhan, di saat yang sama, umat-Nya menghargai dan menyembah Allah sebagai Pencipta 3 masa. Bagaimana menebus 3 masa itu untuk memuliakan Tuhan? Dengan mempergunakan masing-masing masa itu secara utuh untuk memuliakan Tuhan (bdk. bagian pertama dari artikel saya yang membahas: Waktu dan Kedaulatan Allah).

2. Allah adalah Pemelihara 3 Masa
Selain sebagai Pencipta 3 masa, Allah juga sebagai Pemelihara 3 masa yang telah diciptakan-Nya itu. Alkitab berkata bahwa setelah 6 hari lamanya Ia menciptakan langit dan bumi beserta isinya, di hari ketujuh, Ia memberkati ciptaan-Nya dan secara otomatis memelihara ciptaan-Nya. Di sini, kita belajar bahwa Allah yang menciptakan waktu tentu secara otomatis Ia yang memelihara waktu yang telah diciptakan-Nya. Artinya, Ia tidak mungkin membiarkan satu masa tanpa ada kontrol-Nya yang berdaulat. Dari sini, kita belajar satu prinsip: HISTORY (sejarah) adalah His story (kisah-Nya). Setiap sejarah dan masa yang kita pelajari adalah kisah Allah yang berkesinambungan menuju kepada kesempurnaan. Ketika kita belajar bahwa sejarah adalah kisah-Nya, di sini, kita perlu mengerti bahwa apa yang terjadi di zaman sekarang adalah sebuah pengulangan dari zaman dahulu (bdk. Pkh. 1:9b). Jadi, jangan pernah terkaget-kaget dengan beragam pengajaran duniawi yang menyesatkan, karena itu bukan hal yang baru. Belajarlah memiliki mata iman yang awas.
Selain itu, kita juga belajar bahwa Allah yang adalah Pemelihara 3 masa adalah Allah yang memelihara umat-Nya yang hidup di dalam masa-masa tersebut. Hal ini ditunjukkan pemazmur di dalam Mazmur 27:1 yang mengatakan bahwa hanya di dalam Tuhan saja, Daud tidak perlu takut dan gemetar, walaupun harus menghadapi penderitaan (baca ay. 2-3, 10, 12). Bukan hanya tidak takut dan gemetar, Daud pun berani menghadapi musuhnya karena Tuhan (ay. 5b). Di dalam 2 Timotius 1:12, Paulus mengatakan hal yang serupa, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Meskipun harus menderita, Paulus memiliki kekuatan iman akan pemeliharaan Allah. Hal ini ditunjukkan dengan dua pernyataan di dalam ayat ini, yaitu, “aku tahu kepada siapa aku percaya” dan “aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Pernyataan “aku tahu kepada siapa aku percaya” di dalam terjemahan King James Version (KJV), English Standard Version (ESV), New King James Version (NKJV), “I know whom I have believed.” (=aku tahu kepada siapa aku TELAH percaya) Di dalam terjemahan Inggris, kita melihat perbedaan waktu yang jelas, yaitu I know (present tense) dan I have believed (present perfect). Jadi, Paulus mengetahui apa yang TELAH dia imani dahulu. Di sini, iman mengakibatkan pengertian/pengetahuan. Iman inilah yang mengakibatkan Paulus mengerti bahwa Allah memeliharakan tugas pelayanan yang diberikan-Nya kepada dirinya sampai akhir. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki iman yang berpusat pada pemeliharaan Allah? Sudahkah kita tidak lagi kuatir akan hidup kita karena kita percaya kepada Allah yang memelihara? Hidup Kristen bukan hidup yang terus kuatir, tetapi hidup yang terus beriman dan berharap kepada Allah yang memelihara hidup umat-Nya (bdk. Mat. 6:25-34). Biarlah ini bukan menjadi studi yang mengisi rasio kita, tetapi benar-benar kita alami di dalam hidup kita sehari-hari.

3. Allah adalah Penyempurna 3 Masa
Bukan hanya sebagai Pencipta dan Pemelihara 3 Masa, Ia juga adalah Penyempurna 3 Masa. Ketika berbicara mengenai Penyempurna, di sini, kita belajar bahwa Allah adalah yang menyempurnakan dan menyelesaikan semua masa di dalam kedaulatan-Nya yang kekal. Kalau kita membaca Ibrani 13:8 tentang kekekalan Tuhan Yesus, kita belajar juga bahwa Tuhan Yesus sebagai Pribadi Kedua Trinitas adalah Allah Penyempurna 3 masa. Tuhan Yesus eksis pada masa Penciptaan, Ia eksis juga di dalam karya penebusan, dan terakhir Ia akan menjadi Hakim semua manusia di masa depan/akan datang. Kalau kita membaca Kitab Wahyu, kita lebih tajam lagi mempelajari tentang Allah sebagai Penyempurna 3 masa di mana Kristus pasti mengalahkan semua musuh-Nya ketika Ia datang kedua kalinya. Ketika semua musuh-Nya dikalahkan, secara otomatis, tidak mungkin ada iblis lagi yang berkuasa. Di sini letak kegagalan penganut Dispensasionalisme yang masih memercayai adanya kekuatan iblis yang masih bisa mengganggu manusia setelah Kristus datang kedua kalinya. Jika iblis masih bisa mengganggu setelah kedatangan Kristus kedua kalinya, bukankah berarti Kristus TIDAK membasmi semua musuh-Nya (iblis)? Bukankah itu juga berarti Kristus masih kurang berkuasa mengalahkan iblis?
Ketika kita belajar tentang kemenangan Kristus melawan semua musuh-Nya sebagai bukti Allah adalah Penyempurna 3 Masa, kita belajar tentang kepastian kemenangan umat Tuhan di dalam penderitaan. Alkitab TIDAK pernah mengajar bahwa menjadi anak Tuhan pasti terlepas dari penderitaan. Ajaran “theologi” kemakmuran adalah ajaran yang tidak bertanggung jawab dan tidak sesuai dengan Alkitab! Alkitab mengajarkan bahwa semua orang yang mau mengikut Kristus, ia harus menyangkal diri dan memikul salib (bdk. Mat. 10:38; 16:24). Dengan kata lain, anak Tuhan PASTI menderita, tetapi yang menjadi berita sukacitanya adalah anak-anak Tuhan yang mengalami menderita pasti mengalami kemenangan atas penderitaan, karena Kristus telah mengalahkan setan bagi umat-Nya. Itulah kemuliaan anak-anak Tuhan (bdk. Rm. 8:18-24). Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengalami kemenangan Kristus di dalam hidup kita bahkan di dalam penderitaan yang kita alami? Fokuslah pada kemenangan Kristus atas setan ketika kita berada di dalam penderitaan dan percayalah akan janji-janji Tuhan yang pasti memberi kita kemenangan atas penderitaan karena kemenangan Kristus.


APLIKASI KONSEP TIGA MASA DALAM KAITANNYA DENGAN KEDAULATAN ALLAH
Setelah kita mempelajari 3 konsep relasi konsep tiga masa dengan kedaulatan Allah, saat ini kita akan mempelajari aplikasinya di dalam pembagian 3 masa itu secara masing-masing.
1. Masa Lalu dan Kedaulatan Allah
Ketika kita berbicara mengenai masa lalu, kita selalu berpikir negatif, misalnya: masa/zaman yang tidak modern, kaku, kolot, dll. Banyak pemuda/i (termasuk “Kristen”) yang berpikir seperti demikian, lalu membuang semua hal dari masa lalu, kemudian mereka menggantikannya dengan masa kini/sekarang yang canggih, modern, dll. Benarkah pandangan demikian? Tidak juga. Memang, masa lalu adalah masa yang kuno, tetapi sejarah membuktikan masa yang kuno banyak menghasilkan filsuf, theolog, dan banyak karya yang agung yang tidak pernah dihasilkan masa-masa sesudahnya. Filsuf Yunani, seperti Socrates, Plato, Aristoteles menghasilkan banyak karya yang agung yang memengaruhi zaman sesudahnya bahkan zaman sekarang. Theolog Kristen seperti Bapa Gereja Augustinus mampu memengaruhi theolog Kristen di zaman ini melalui buku-bukunya: Confession, City of God, dll. Begitu juga dengan Dr. John Calvin yang hidup di abad 16 M telah memengaruhi para tokoh dan theolog Kristen di abad ini melalui bukunya yang tersohor: Institutes of the Christian Religion. Lagu-lagu klasik dari G. F. Handel (seperti oratorio Messiah), J. S. Bach, Wolfgang A. Mozart, Ludwig van Beethoven (Symphony No. 9), dll telah memengaruhi zaman sesudahnya bahkan zaman sekarang. Bandingkan lagu-lagu rohani himne dari abad lalu dan banyak lagu/musik klasik dengan banyak lagu rohani (maupun sekuler) di abad postmodern yang kacau. Para penggubah himne di abad lalu ketika menuliskan himne, mereka menggumulkannya terlebih dahulu sambil belajar Alkitab, sehingga di dalam banyak himne yang mereka tulis berdasarkan Alkitab, sedangkan banyak para penggubah lagu “rohani” kontemporer sekarang asal-asalan menggubah lagu tanpa mengerti konsep Alkitab yang utuh dan beres. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa lagu Suci, Suci, Suci ditulis dengan pengertian Alkitab bahwa Allah Tritunggal adalah Tiga Pribadi Allah yang masing-masing Pribadi suci (Allah Bapa itu suci, Allah Anak itu suci, Allah Roh Kudus itu suci), sehingga suci harus dinyanyikan tiga kali, tetapi lagu “rohani” kontemporer saat ini menyanyikan suci ada yang empat kali, dua kali, dll dengan nada yang tidak karuan. Begitu juga dengan lukisan-lukisan di Abad Pertengahan lebih agung ketimbang lukisan-lukisan di abad postmodern yang kacau (Jawa: amburadul).

2. Masa Kini dan Kedaulatan Allah
Bukan hanya masa lalu, Allah yang berdaulat adalah Allah yang juga memakai masa kini untuk memuliakan-Nya. Oleh karena itu, kita tetap perlu menghargai karya Allah di masa kini. Meskipun tidak seperti masa kuno/lalu, masa kini tetap bisa menghasilkan karya yang cukup bermutu khususnya sumbangsih dari Kekristenan. Misalnya, beberapa lagu rohani kontemporer ada yang cukup bagus dan agung, seperti: Majesty, Hari Ini Kurasa Bahagia, Dengar Dia Panggil Nama Saya, dll. Hal ini tetap menunjukkan bahwa Allah masih tetap memakai zaman ini dengan lagu-lagu yang cukup bermutu. Hal ini mengakibatkan kita semakin bersemangat mengembangkan talenta yang Tuhan percayakan kepada kita untuk memperkembangkan hasil-hasil yang bermutu untuk memuliakan Tuhan. Kembangkanlah talenta yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita dengan mempelajari firman-Nya secara bertanggung jawab, sehingga kita semakin memuliakan Tuhan. Di sini, saya mengaitkan mengembangkan talenta kita dengan menundukkan talenta kita yang dikembangkan itu di bawah otoritas Alkitab yang mengoreksinya. Kreativitas umat Tuhan perlu dikembangkan, tetapi tidak boleh melebihi batas firman-Nya. Kreativitas itu kita implikasikan di dalam aspek kehidupan kita melalui panggilan Tuhan. Ketika Tuhan memanggil kita di dalam bidang politik, kembangkan kreativitas kita di dalam politik, tebuslah politik untuk kemuliaan Tuhan dengan menundukkan semua prinsip politik di bawah otoritas Alkitab. Begitu juga dengan seni (musik, tari, gerak, dll), ekonomi, hukum, kebudayaan, sosial, dll harus ditebus untuk memuliakan Tuhan dengan kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab. Kekristenan bukan hanya berfokus kepada masa depan, tetapi juga pada masa kini melalui panggilan Tuhan. Biarlah kita disadarkan akan pentingnya mandat budaya (menebus budaya dengan menundukkan dan mengembalikan budaya di bawah kaki dan kepada Kristus) selain mandat untuk memberitakan Injil.

3. Masa Depan dan Kedaulatan Allah
Kita mungkin bisa melihat masa lalu dan masa kini, tetapi bagaimana dengan masa depan? Kita bukan dukun atau cenayang dan Alkitab juga melarang kita untuk meminta petunjuk masa depan kepada dukun/peramal/cenayang (Im. 19:31). Mengapa? Karena masa depan ada di dalam kedaulatan Allah. Lalu, bagaimana kita bisa mengaitkan masa depan yang tidak kita ketahui dengan kedaulatan Allah? Jawabannya yaitu: IMAN. Iman bukan berpikir positif, iman bukan percaya diri, iman bukan nekat, tetapi iman adalah percaya pada Tuhan. Amsal 3:5 mengajar kita untuk percaya kepada Tuhan (Trust in the Lord) dengan segenap hati kita, disambung pengajaran agar kita tidak mengandalkan kemampuan kita sendiri. Berarti di dalam beriman, ada dua sisi, yaitu mempercayakan diri di dalam dan kepada Tuhan, lalu tidak sekali-kali mengandalkan kemampuan diri. Di sini, Tuhan mau kita beriman secara total kepada-Nya, bukan setengah-tengah. Di dalam iman, kita percaya bahwa Allah kita melakukan segala sesuatu yang baik menurut-Nya bagi kita. Kepercayaan kita bukan kepercayaan yang nekat atau membabi buta, tetapi kepercayaan yang pasti, karena kita percaya di dalam dan kepada Allah yang patut dan layak dipercayai sebagai satu-satunya standar kebenaran. Dari hal ini, kita belajar bahwa tidak ada hal yang perlu kita kuatirkan dalam hidup. Berkat adalah anugerah Tuhan yang disediakan bagi umat-Nya, sehingga Ia tahu porsi yang tepat bagi anak-anak-Nya, tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan agar kita malas bekerja. Kita dituntut untuk bekerja keras seperti untuk Tuhan (Kol. 3:23), tetapi di sisi lain, kita dituntut untuk beriman dan tidak perlu kuatir (Mat. 6:25-34). Artinya, segala sesuatu yang telah kita kerjakan dengan maksimal hendaklah kita serahkan kepada Tuhan dan biarkan Tuhan memelihara hidup kita sebagai umat-Nya.
Kemudian, setelah kita beriman, bagaimana kita bisa mempergunakan masa depan yang tidak kita tahui untuk memuliakan Allah? Jawabannya sederhana namun kompleks, yaitu: VISI. Dengan visi, kita bisa melihat masa depan dan mempergunakannya untuk memuliakan Allah. Apa itu visi? Pdt. Dr. Stephen Tong mendefinisikan visi sebagai sharing dari kehendak Allah yang kekal kepada umat-Nya. Pdt. Billy Kristanto mengajarkan bahwa visi selalu berkaitan dengan orang. Dari dua konsep ini, kita belajar bahwa melalui visi, kita menatap ke masa depan dengan penuh iman tentu sambil menggarap pekerjaan Tuhan. Ketika Tuhan memberikan visi, percayalah, Ia pasti memelihara dan menyempurnakan visi tersebut sampai kesudahannya. Tugas kita adalah mengerjakannya dan menyerahkan selanjutnya kepada Allah yang akan menyempurnakannya (bdk. 2Tim. 1:12b di atas).


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempergunakan 3 masa yang Tuhan berikan itu untuk memuliakan Tuhan? Semua masa adalah anugerah Tuhan dan kita yang hidup di zaman postmodern ini pun mendapat mandat dari Tuhan untuk menggarap zaman kita yang semakin rusak ini dengan menebus budaya kita. Menebus budaya itu kita lakukan dengan mengembalikan budaya dunia kita kepada Sumbernya, yaitu Allah. Mari kita menggarap dan menebus budaya demi kemuliaan Allah Trinitas. Soli Deo Gloria.

06 October 2008

Matius 11:20-24: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-6


Ringkasan Khotbah: 2 Juli 2006

Kristus Sebagai Pusat Hidup (6)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:20-24


Pendahuluan
Injil Matius pasalnya yang ke-11 ini dibagi menjadi dua bagian dimana pada bagian pertama, yakni: konsep mujizat berkait erat dengan sikap kita terhadap Kristus telah kita renungkan sebelumnya. Tanda-tanda yang Tuhan Yesus kerjakan bukan sekedar sebuah mujizat biasa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tidak! Semua tanda itu dimaksudkan supaya orang dapat melihat bahwa Kristus adalah Mesias dan menjadikan Kristus sebagai pusat hidup manusia. Orang seharusnya takut dan gentar ketika melihat mujizat Tuhan (Mzm. 65:9) namun ironisnya, hari ini orang justru berbondong-bondong datang ingin mendapatkan dan mengalami mujizat. Hari ini kita akan merenungkan bagian kedua dari Injil Matius 11. Perhatikan, ketika Tuhan Yesus melakukan mujizat maka para murid Yohanes ini tidak mengalami mujizat, mereka hanya melihat tanda namun dari tanda ini para murid dituntut untuk mengerti dan tahu bahwa ada suatu kaitan erat antara tanda dan pribadi Kristus. Namun “tahu“ disini bukanlah sekedar tahu secara pengetahuan. Tidak! Merupakan kegagalan dunia pendidikan modern hanya sekedar mengajarkan pengetahuan tanpa kita terkait didalamnya dan ini juga berimbas dalam iman Kekristenan; orang belajar iman Kristen hanya sekedar sebagai pengetahuan secara kognitif, pemuasan intelektual belaka. Adalah suatu kegagalan fatal dari iman Kekristenan kalau kita masuk dalam dua ekstrim, yakni: 1) iman hanya dimengerti secara kognitif, 2) hidup tidak berkait dengan Firman. Bagian inilah yang ingin dipaparkan oleh Tuhan Yesus di segmen kedua dari Injil Matius pasalnya yang kedua dimana mujizat sangat berkait erat dengan beberapa aspek kehidupan:

I. Mujizat dan Pertobatan
Tuhan Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat (Mat. 11:20). Di kota-kota itu, Tuhan beranugerah dengan melakukan banyak mujizat namun ironis, orang justru tidak bertobat. Jangan pernah berpikir bahwa kalau Tuhan melakukan mujizat di suatu tempat maka disitu orang pasti diselamatkan. Tidak! Disini, Tuhan Yesus mengkaitkan antara kota-kota yang pernah mendapat mujizat dengan kota Sodom dan Tirus, tanggungan kota Sodom dan Tirus ini akan lebih ringan. Hari ini, orang salah mengartikan sebuah mujizat. Mujizat yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus berbeda dengan hal-hal spektakuler yang dilakukan oleh para dukun. Mujizat Tuhan Yesus adalah suatu tindakan yang dikerjakan oleh Tuhan atas sesuatu untuk mengintervensi sejarah maka ketika Allah berintervensi maka itu tidak akan dapat dibatalkan oleh alam semesta ataupun manusia karena mujizat itu melibatkan kuasa sekaligus kekuatan sekaligus kehendak dan otoritas tertinggi. Hari ini orang melihat suatu mujizat tak ubahnya seperti seorang dukun yang dapat memberikan keuntungan untuk diri. Sebagai contoh, ketika bisnis lesu, orang akan pergi kepada seseorang yang dapat memberikan keuntungan dan berhasil, bisnisnya menjadi lancar maka perhatikan ini bukan mujizat! Sebab yang berinisiatif bukan Allah tapi manusia. Manusia yang ingin mendapat keuntungan, manusia yang berinisiatif pergi ke suatu tempat karena ada suatu tujuan tertentu dalam dirinya dan dari sana orang berharap mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Gejala seperti inilah yang disebut dengan perdukunan.
Perhatikan, di balik mujizat ada suatu tuntutan tertentu yang mengharuskan manusia menyadari inti dan arti dari mujizat. Ketika manusia tidak lagi menempatkan Tuhan di posisi pertama dan utama maka semua yang kita lakukan, perbuatan baik apapun yang kita perbuat tidak akan bernilai di mata Allah dan semua itu akan dibuang percuma. Kita dapat melihat dari tokoh iman seperti: Habil – Kain; Daud – Saul, Yakub – Esau. Perhatikan, apa yang menurut manusia maka di mata Tuhan juga baik. Tidak! Memang, secara duniawi apa yang dilakukan Kain, Saul maupun Esau itu baik tetapi tidak di mata Tuhan sebab mereka tidak mengutamakan Tuhan. Kenapa Tuhan tidak menerima persembahan Kain tetapi menerima persembahan Habil? Habil memberikan yang terbaik dan yang paling penting adalah dia mengutamakan Tuhan melalui persembahan itu berbeda dengan Habil, dia memberi sesuatu dari dirinya sendiri. Demikian juga Saul, dia melakukan semua yang baik di mata manusia tetapi tidak di mata Tuhan. Dia melawan Tuhan demi untuk menyenangkan manusia. Sebaliknya Daud, secara manusia dia melakukan perbuatan yang sangat keji bahkan Tuhan menegaskan Daud tidak boleh membangun Bait Allah karena dari tangan banyak menumpahkan darah akan tetapi Tuhan berkenan padanya karena ia mengutamakan Tuhan. Yakub dan Esau pun sama; Esau adalah seorang yang berbakti pada orang tua namun dia menyepelekan hak kesulungan dan lebih memilih semangkok kacang merah. Sebaliknya Yakub, seorang penipu tetapi Tuhan berkenan atasnya karena dia selalu mengutamakan Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita mengutamakan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup kita?
Tuhan mengkritik dua kota besar, yakni Khorazim dan kota Betsaida. Nama Khorazim tidak banyak disebut dalam Alkitab namun orang lebih banyak menyebutnya dengan Kapernaum karena jaraknya yang berdekatan. Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di kota Kapernaum namun mujizat itu tidak membuat orang bertobat artinya mereka hanya ingin mendapatkan kenikmatan mujizat tetapi mereka tidak menghargai Kristus. Kota Betsaida terletak di pinggir danau Galilea, yakni tempat dimana Tuhan Yesus membuat mujizat memberi makan 5000 orang laki-laki dengan 5 roti 2 ikan. Ironisnya, mujizat yang dahsyat itu tidak membuat orang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan. Orang menikmati mujizat, mereka mengikut Yesus karena mereka kenyang dan terbukti ketika Tuhan Yesus menegur dengan keras apa yang menjadi motivasi mereka itu, mereka langsung pergi. Dengan kata lain, orang ingin Yesus sebagai “alat“ untuk memuaskan kebutuhan duniawi akibatnya kalau orang perlu maka orang akan datang kepada Yesus akan tetapi, ketika orang tidak merasa perlu maka Yesus dilupakan. Bagaimana mengerti hakekat mujizat? Mujizat harus kembali pada Ketuhanan Kristus; Kristus adalah pusat hidup maka inilah inti dari iman Kekristenan.
Tuhan ingin manusia hidup di dunia dapat hidup bahagia dan sejahtera namun itu bukanlah yang menjadi keinginan utama. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia memahami bahwa manusia adalah makhluk relatif maka manusia harus mengutamakan Tuhan sebagai pusat utama melalui semua tanda yang Dia kerjakan di alam semesta ini. Betapa egoisnya kita kalau kita memaksa Tuhan supaya kita sendiri yang harus mengalami mujizat barulah kita mau mengaku Kristus adalah Tuhan. Perhatikan, teologi Reformed tidak anti mujizat. Tidak! Orang harusnya gemetar dan gentar ketika melihat kuasa, kedaulatan dan otoritas Allah dinyatakan di tengah dunia ini namun sangatlah disayangkan, orang justru bersikap sebaliknya dengan menjadikan Kristus sebagai alat. Iman Kristen menegaskan mujizat seharusnya membuat orang bertobat dan kembali pada Kristus; membuat orang hormat dan bersujud di hadapan-Nya, mengaku Kristus sebagai Raja atas segala raja.

II. Mujizat dan Dosa
Enam mujizat yang dikerjakan oleh Kristus (Mat. 11:5) seharusnya menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai makhluk berdosa. Kebutaan, kelumpuhan, tuli, sakit kusta dan mati itu sebagai akibat dari dosa; tidak ada satu pun manusia yang baik di dunia, yakni “baik“ yang sesuai dengan standar Allah. Tidak ada! Semua manusia telah jatuh dalam dosa. Kedaulatan Allah ketika bertemu dengan manusia berdosa seharusnya membuat orang takut dan kecut hati. Petrus gemetar ketika Dia melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air dan Petrus tersungkur dan takut ketika Tuhan Yesus menghentikan badai. Di Perjanjian Lama, seluruh bangsa Israel sangat takut ketika Allah hendak datang dan melawat umat-Nya. Respon inilah yang seharusnya muncul dalam diri setiap manusia ketika berhadapan dengan Allah yang Maha Suci yang menyatakan kedaulatan-Nya kepada manusia berdosa dan Allah yang Maha Suci itu datang untuk menyelesaikan dan mengeluarkan manusia dari belenggu dosa. Namun sayang, hari ini manusia justru sangat senang dan menikmati mujizat, manusia justru memperlihatkan suatu ekspresi dosa, yakni keserakahan. Seseorang yang telah mendapat atau melihat mujizat dan ia tidak bertobat maka efeknya justru ia berdosa. Manusia menjadi ketagihan mujizat dan hal itu akan berakumulasi semakin besar; orang ingin mendapat dan mendapat mujizat. Perhatikan, ketika manusia mulai ketagihan mujizat maka setan yang akan menjawab apa yang menjadi permintaannya. Muncul suatu pertanyaan apakah mujizat merupakan tanda orang beriman? Tidak! Alkitab menegaskan kota yang mendapat anugerah paling banyak justru kota itu celaka. Kuncinya bukan terletak pada mujizat. Banyak orang berpendapat kalau ia mendapat mujizat berarti Tuhan sayang padanya, imannya bertambah besar, orang mempunyai kekuatan besar. Salah! Orang yang berdosa bertobat merupakan mujizat. Bagaimana respon kita ketika anugerah Tuhan turun atas kita? Orang tidak meresponi anugerah dengan tepat maka anugerah itu akan menjadi sebatas anugerah umum belaka yang justru membuat orang semakin berdosa, orang menjadi egois karena ingin menikmati anugerah itu seorang diri belaka. Sadarlah setiap hari kita menikmati mujizat Tuhan namun sampai seberapa jauhkah sikap kita terhadap mujizat yang Tuhan kerjakan atas kita? Apakah mujizat itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita menjadi bertobat?
Injil Matius 11 ini tidak membutuhkan penafsiran yang dalam, orang harusnya memahami dengan sangat jelas namun dunia modern telah memutarbalikkan Firman. Alkitab menyatakan dengan jelas Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat namun perhatikan, Tuhan ingin manusia berespon dengan tepat. Memang, Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di Galilea namun tidak semua orang memperoleh mujizat dan tidak setiap hari Dia memberi makan banyak orang. Tidak! Setiap mujizat yang Tuhan kerjakan adalah untuk suatu maksud rencana Tuhan dan dikerjakan atas dasar inisiatif Tuhan. Setiap anak Tuhan pasti pernah mengalami dan merasakan mujizat Tuhan, yakni mujizat pertobatan. Tuhan Yesus mati menebus dosa, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut maka itulah mujizat terbesar. Tidak ada satu mujizat apa pun yang ada di dunia seperti yang dikerjakan oleh Kristus yang pernah ada di alam semesta ini. Adalah suatu mujizat kalau kita dapat menyadari kita orang berdosa dan kembali pada Tuhan sebab tidak ada suatu jasa atau usaha apa pun dari diri kita yang dapat membuat kita berbalik pada Tuhan.

III. Mujizat dan Penghakiman
Mujizat sangat berkait erat dengan hari penghakiman (Mat. 11:22-24). Hari ini, mujizat hanya dikaitkan pada suatu kenikmatan dunia. Orang yang gagal berespon dengan tepat maka ingatlah, penghakiman telah menanti kita. Mujizat Tuhan merupakan pernyataan kebenaran Tuhan, ini berarti ketika manusia melawan sama dengan melawan kebenaran Tuhan dan orang yang melawan akan mendapat penghukuman Allah. Dosa adalah melawan Allah dan kebenaran-Nya. Hukuman yang sesuai untuk orang yang melawan Tuhan adalah mati sebab upah dosa adalah maut. Adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau seorang anak melawan apa yang menjadi perintah dari orang tuanya apalagi melawan Tuhan, Sang Pencipta manusia dan Sumber Kebenaran. Apa yang Tuhan kerjakan adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri. Setiap tindakan Allah menuntut suatu respon kebenaran dari manusia. Kebenaran yang tidak direspon dengan kebenaran akan berakibat fatal. Seorang yang belum pernah mendengar berita Injil tidak akan merasakan ketakutan dan kegentaran dibandingkan dengan orang yang mendapat berita Injil. Hanya ada dua pilihan bagi orang yang mendapat berita Injil, yakni menerima atau menolak dan orang harus mengambil keputusan dari dua pilihan tersebut. Ini merupakan penghakiman kalau orang salah mengambil keputusan berarti hukuman mati telah menanti kita.
Dalam kehidupan, orang seringkali berusaha menghindar dari berbagai keputusan namun toh mustahil, manusia akan sampai pada suatu titik penting dimana manusia harus mengambil suatu keputusan maka saat itu, kita harusnya gemetar sebab kalau kita salah memutuskan akan berakibat fatal. Demikian halnya kita meresponi suatu mujizat; mujizat seharusnya menyadarkan kita pada suatu posisi penghakiman, encounter position. Manusia dihadapkan pada dua pilihan dan manusia harus menentukan: ya atau tidak. Jangan pernah berpikir kalau mujizat itu haruslah sesuatu yang spektakuler. Tidak! Sadarlah setiap hari kita mengalami banyak mujizat dalam setiap aspek hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri apakah kita menyadari setiap mujizat yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita? Dan bagaimanakah respon kita terhadap mujizat Tuhan itu? Penghakiman Allah menuntut suatu respon dari kita; kebenaran Allah harus direspon dengan kebenaran maka saat itulah Tuhan berkenan. Ketika Tuhan berkenan atas kita maka itu menjadi sukacita tersendiri dalam kita.
Kristus haruslah menjadi pusat hidup kita dengan demikian: 1) orang akan peka melihat apa yang terjadi dalam sejarah, 2) orang merasa takut dan gentar di dalam setiap langkah hidupnya. Ingatlah, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk melayani Dia maka itu harusnya menjadikan kita takut dan gentar karena kita sedang melayani Sang Raja di atas segala raja sehingga kita harus memberikan yang terbaik pada-Nya. Percayalah, Tuhan akan memimpin dalam setiap langkah hidup kita, mujizat Tuhan akan selalu berada di depan beserta dengan kita; 3) ada penghakiman, hal ini menjadikan kita awas dalam setiap langkah kita. Di tengah dunia yang semakin hancur, arahkanlah hidup dan pandangan hidup kita hanya pada Kristus, berpegang teguh pada-Nya maka hidup kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia. Amin (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa
melakukan semua yang baik di mata manusia tetapi tidak di mata Tuhan. Dia melawan Tuhan demi untuk menyenangkan manusia. Sebaliknya Daud, secara manusia dia melakukan perbuatan yang sangat keji bahkan Tuhan menegaskan Daud tidak boleh membangun Bait Allah karena dari tangan banyak menumpahkan darah akan tetapi Tuhan berkenan padanya karena ia mengutamakan Tuhan. Yakub dan Esau pun sama; Esau adalah seorang yang berbakti pada orang tua namun dia menyepelekan hak kesulungan dan lebih memilih semangkok kacang merah. Sebaliknya Yakub, seorang penipu tetapi Tuhan berkenan atasnya karena dia selalu mengutamakan Tuhan. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita mengutamakan Tuhan di dalam seluruh aspek hidup kita?
Tuhan mengkritik dua kota besar, yakni Khorazim dan kota Betsaida. Nama Khorazim tidak banyak disebut dalam Alkitab namun orang lebih banyak menyebutnya dengan Kapernaum karena jaraknya yang berdekatan. Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di kota Kapernaum namun mujizat itu tidak membuat orang bertobat artinya mereka hanya ingin mendapatkan kenikmatan mujizat tetapi mereka tidak menghargai Kristus. Kota Betsaida terletak di pinggir danau Galilea, yakni tempat dimana Tuhan Yesus membuat mujizat memberi makan 5000 orang laki-laki dengan 5 roti 2 ikan. Ironisnya, mujizat yang dahsyat itu tidak membuat orang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan. Orang menikmati mujizat, mereka mengikut Yesus karena mereka kenyang dan terbukti ketika Tuhan Yesus menegur dengan keras apa yang menjadi motivasi mereka itu, mereka langsung pergi. Dengan kata lain, orang ingin Yesus sebagai “alat“ untuk memuaskan kebutuhan duniawi akibatnya kalau orang perlu maka orang akan datang kepada Yesus akan tetapi, ketika orang tidak merasa perlu maka Yesus dilupakan. Bagaimana mengerti hakekat mujizat? Mujizat harus kembali pada Ketuhanan Kristus; Kristus adalah pusat hidup maka inilah inti dari iman Kekristenan.
Tuhan ingin manusia hidup di dunia dapat hidup bahagia dan sejahtera namun itu bukanlah yang menjadi keinginan utama. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia memahami bahwa manusia adalah makhluk relatif maka manusia harus mengutamakan Tuhan sebagai pusat utama melalui semua tanda yang Dia kerjakan di alam semesta ini. Betapa egoisnya kita kalau kita memaksa Tuhan supaya kita sendiri yang harus mengalami mujizat barulah kita mau mengaku Kristus adalah Tuhan. Perhatikan, teologi Reformed tidak anti mujizat. Tidak! Orang harusnya gemetar dan gentar ketika melihat kuasa, kedaulatan dan otoritas Allah dinyatakan di tengah dunia ini namun sangatlah disayangkan, orang justru bersikap sebaliknya dengan menjadikan Kristus sebagai alat. Iman Kristen menegaskan mujizat seharusnya membuat orang bertobat dan kembali pada Kristus; membuat orang hormat dan bersujud di hadapan-Nya, mengaku Kristus sebagai Raja atas segala raja.

II. Mujizat dan Dosa
Enam mujizat yang dikerjakan oleh Kristus (Mat. 11:5) seharusnya menyadarkan manusia akan keberadaan dirinya sebagai makhluk berdosa. Kebutaan, kelumpuhan, tuli, sakit kusta dan mati itu sebagai akibat dari dosa; tidak ada satu pun manusia yang baik di dunia, yakni “baik“ yang sesuai dengan standar Allah. Tidak ada! Semua manusia telah jatuh dalam dosa. Kedaulatan Allah ketika bertemu dengan manusia berdosa seharusnya membuat orang takut dan kecut hati. Petrus gemetar ketika Dia melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air dan Petrus tersungkur dan takut ketika Tuhan Yesus menghentikan badai. Di Perjanjian Lama, seluruh bangsa Israel sangat takut ketika Allah hendak datang dan melawat umat-Nya. Respon inilah yang seharusnya muncul dalam diri setiap manusia ketika berhadapan dengan Allah yang Maha Suci yang menyatakan kedaulatan-Nya kepada manusia berdosa dan Allah yang Maha Suci itu datang untuk menyelesaikan dan mengeluarkan manusia dari belenggu dosa. Namun sayang, hari ini manusia justru sangat senang dan menikmati mujizat, manusia justru memperlihatkan suatu ekspresi dosa, yakni keserakahan. Seseorang yang telah mendapat atau melihat mujizat dan ia tidak bertobat maka efeknya justru ia berdosa. Manusia menjadi ketagihan mujizat dan hal itu akan berakumulasi semakin besar; orang ingin mendapat dan mendapat mujizat. Perhatikan, ketika manusia mulai ketagihan mujizat maka setan yang akan menjawab apa yang menjadi permintaannya. Muncul suatu pertanyaan apakah mujizat merupakan tanda orang beriman? Tidak! Alkitab menegaskan kota yang mendapat anugerah paling banyak justru kota itu celaka. Kuncinya bukan terletak pada mujizat. Banyak orang berpendapat kalau ia mendapat mujizat berarti Tuhan sayang padanya, imannya bertambah besar, orang mempunyai kekuatan besar. Salah! Orang yang berdosa bertobat merupakan mujizat. Bagaimana respon kita ketika anugerah Tuhan turun atas kita? Orang tidak meresponi anugerah dengan tepat maka anugerah itu akan menjadi sebatas anugerah umum belaka yang justru membuat orang semakin berdosa, orang menjadi egois karena ingin menikmati anugerah itu seorang diri belaka. Sadarlah setiap hari kita menikmati mujizat Tuhan namun sampai seberapa jauhkah sikap kita terhadap mujizat yang Tuhan kerjakan atas kita? Apakah mujizat itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita menjadi bertobat?
Injil Matius 11 ini tidak membutuhkan penafsiran yang dalam, orang harusnya memahami dengan sangat jelas namun dunia modern telah memutarbalikkan Firman. Alkitab menyatakan dengan jelas Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat namun perhatikan, Tuhan ingin manusia berespon dengan tepat. Memang, Tuhan Yesus melakukan banyak mujizat di Galilea namun tidak semua orang memperoleh mujizat dan tidak setiap hari Dia memberi makan banyak orang. Tidak! Setiap mujizat yang Tuhan kerjakan adalah untuk suatu maksud rencana Tuhan dan dikerjakan atas dasar inisiatif Tuhan. Setiap anak Tuhan pasti pernah mengalami dan merasakan mujizat Tuhan, yakni mujizat pertobatan. Tuhan Yesus mati menebus dosa, Dia bangkit dan menang atas kuasa maut maka itulah mujizat terbesar. Tidak ada satu mujizat apa pun yang ada di dunia seperti yang dikerjakan oleh Kristus yang pernah ada di alam semesta ini. Adalah suatu mujizat kalau kita dapat menyadari kita orang berdosa dan kembali pada Tuhan sebab tidak ada suatu jasa atau usaha apa pun dari diri kita yang dapat membuat kita berbalik pada Tuhan.

III. Mujizat dan Penghakiman
Mujizat sangat berkait erat dengan hari penghakiman (Mat. 11:22-24). Hari ini, mujizat hanya dikaitkan pada suatu kenikmatan dunia. Orang yang gagal berespon dengan tepat maka ingatlah, penghakiman telah menanti kita. Mujizat Tuhan merupakan pernyataan kebenaran Tuhan, ini berarti ketika manusia melawan sama dengan melawan kebenaran Tuhan dan orang yang melawan akan mendapat penghukuman Allah. Dosa adalah melawan Allah dan kebenaran-Nya. Hukuman yang sesuai untuk orang yang melawan Tuhan adalah mati sebab upah dosa adalah maut. Adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau seorang anak melawan apa yang menjadi perintah dari orang tuanya apalagi melawan Tuhan, Sang Pencipta manusia dan Sumber Kebenaran. Apa yang Tuhan kerjakan adalah untuk kepentingan dan kebaikan manusia sendiri. Setiap tindakan Allah menuntut suatu respon kebenaran dari manusia. Kebenaran yang tidak direspon dengan kebenaran akan berakibat fatal. Seorang yang belum pernah mendengar berita Injil tidak akan merasakan ketakutan dan kegentaran dibandingkan dengan orang yang mendapat berita Injil. Hanya ada dua pilihan bagi orang yang mendapat berita Injil, yakni menerima atau menolak dan orang harus mengambil keputusan dari dua pilihan tersebut. Ini merupakan penghakiman kalau orang salah mengambil keputusan berarti hukuman mati telah menanti kita.
Dalam kehidupan, orang seringkali berusaha menghindar dari berbagai keputusan namun toh mustahil, manusia akan sampai pada suatu titik penting dimana manusia harus mengambil suatu keputusan maka saat itu, kita harusnya gemetar sebab kalau kita salah memutuskan akan berakibat fatal. Demikian halnya kita meresponi suatu mujizat; mujizat seharusnya menyadarkan kita pada suatu posisi penghakiman, encounter position. Manusia dihadapkan pada dua pilihan dan manusia harus menentukan: ya atau tidak. Jangan pernah berpikir kalau mujizat itu haruslah sesuatu yang spektakuler. Tidak! Sadarlah setiap hari kita mengalami banyak mujizat dalam setiap aspek hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri apakah kita menyadari setiap mujizat yang Tuhan telah kerjakan dalam hidup kita? Dan bagaimanakah respon kita terhadap mujizat Tuhan itu? Penghakiman Allah menuntut suatu respon dari kita; kebenaran Allah harus direspon dengan kebenaran maka saat itulah Tuhan berkenan. Ketika Tuhan berkenan atas kita maka itu menjadi sukacita tersendiri dalam kita.
Kristus haruslah menjadi pusat hidup kita dengan demikian: 1) orang akan peka melihat apa yang terjadi dalam sejarah, 2) orang merasa takut dan gentar di dalam setiap langkah hidupnya. Ingatlah, kalau Tuhan masih memberikan kesempatan pada kita untuk melayani Dia maka itu harusnya menjadikan kita takut dan gentar karena kita sedang melayani Sang Raja di atas segala raja sehingga kita harus memberikan yang terbaik pada-Nya. Percayalah, Tuhan akan memimpin dalam setiap langkah hidup kita, mujizat Tuhan akan selalu berada di depan beserta dengan kita; 3) ada penghakiman, hal ini menjadikan kita awas dalam setiap langkah kita. Di tengah dunia yang semakin hancur, arahkanlah hidup dan pandangan hidup kita hanya pada Kristus, berpegang teguh pada-Nya maka hidup kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh arus dunia. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber: