20 February 2008

Bab 39: DICIPTAKAN UNTUK SEBUAH MISI?? (Analisa Terhadap Bab 36 Buku Rick Warren)

Bab 39

Diciptakan Untuk Sebuah Misi ??

P

ada bab 39 (makalah) ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhenam dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 36 (buku) ini, Warren mengajarkan bahwa kita diciptakan untuk sebuah misi.

Pada awal bab ini, ia mengajarkan,

Anda diciptakan untuk sebuah misi.

Allah sedang bekerja di dunia, dan Dia ingin Anda bergabung dengan-Nya. Tugas ini disebut misi Anda. Allah ingin Anda memiliki pelayanan di dalam Tubuh Kristus dan juga misi di dunia. Pelayanan (ministry) Anda merupakan pelayanan (service) kepada orang-orang percaya, (Kolose 1:25 ; 1 Korintus 12:5 ; AITB) dan misi Anda merupakan pelayanan (service) Anda kepada orang-orang yang belum percaya. Memenuhi misi Anda di dunia adalah tujuan kelima Allah bagi kehidupan Anda.

Misi kehidupan Anda bersifat bersama dan spesifik. Sebagian dari misi tersebut merupakan tanggung jawab yang Anda pikul bersama semua orang Kristen lainnya, dan sebagian lainnya merupakan sebuah tugas yang khusus bagi Anda...

Kata misi berarti dari kata Latin untuk “mengutus”. Menjadi seorang Kristen berarti diutus ke dunia sesbagai wakil Yesus Kristus...

...

Misi yang Yesus jalankan ketika ada di dunia, sekarang menjadi misi kita karena kita merupakan Tubuh Kristus. Apa yang Dia lakukan dengan tubuh fisik-Nya harus kita lanjutkan sebagai tubuh rohani-Nya, yaitu Gereja. Apakah misi itu ? Menuntun orang-orang kepada Allah!...

Allah ingin menebus manusia dari Iblis dan mendamaikan mereka dengan Diri-Nya supaya kita bisa memenuhi kelima tujuan yang untuknya Dia menciptakan kita yakni mengasihi Dia, menjadi anggota keluarga-Nya, menjadi serupa dengan Dia, melayani Dia dan memberi tahu orang lain tentang Dia. Begitu kita menjadi milik-Nya, Allah memakai kita untuk menjangkau orang lain. Dia menyelamatkan kita dan selanjutnya mengutus kita... Kita adalah pembawa berita tentang kasih dan tujuan Allah bagi dunia... (Warren, 2005, pp. 309-310)

Komentar saya :

Memang benar bahwa misi adalah tugas dari kita sebagai anak-anak-Nya yang ditugaskan Kristus sendiri untuk mengabarkan Injil (Matius 28:19-20) dan amanat ini bersifat bersama (dikerjakan secara bersamaan) dan spesifik (khusus bagi masing-masing anak Allah). Tetapi yang menjadi kendala dalam ajaran Warren ini adalah ketika ia mengajarkan bahwa Allah ingin menebus manusia dari iblis. Dengan kata lain, itu keinginan Allah, bukan kedaulatan Allah menebus manusia dari dosa. Padahal, penebusan Allah itu bukanlah sebuah keinginan yang direncanakan setelah Ia melihat manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi itu telah ditetapkan-Nya dari semula. Kedua, kata “manusia” dalam frase “Allah ingin menebus manusia dari Iblis” harus diperjelas artinya oleh Warren. Mengapa ? Karena menurut theologia Arminian (mayoritas Injili), kata ini bisa berarti semua manusia tanpa kecuali, sedangkan menurut dasar theologia Reformed yang berintikan kedaulatan Allah, kata ini berarti beberapa manusia yang telah dipilih-Nya. Satu kata ini saja bisa membuat perbedaan yang bagi saya cukup tajam. Lain kali, Warren diharapkan dapat berhati-hati menjelaskan satu kata dengan pengertian yang bertanggungjawab.

Selanjutnya, ia memaparkan tentang pentingnya sebuah misi,

Memenuhi misi kehidupan Anda di dunia merupakan bagian penting dari hidup untuk kemuliaan Allah. Alkitab memberikan beberapa alasan mengapa misi Anda begitu penting.

Misi Anda merupakan kelanjutan dari misi Yesus di dunia. Sebagai para pengikut-Nya, kita harus melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Yesus. Yesus memanggil kita bukan hanya untuk datang kepada Dia, tetapi juga untuk pergi bagi Dia...

Dalam Amanat Agung Yesus berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20 ; AITB). Amanat ini diberikan kepada semua pengikut Yesus, bukan kepada para pendeta dan misionaris saja. Inilah misi Anda yang diberikan oleh Yesus, dan ini bukanlah pilihan. Kata-kata Yesus ini bukanlah Saran Agung. Jika Anda merupakan anggota keluarga Allah, misi Anda merupakan kewajiban. Mengabaikannya berarti ketidaktaatan.

Misi Anda merupakan hak istimewa yang mengagumkan. Sekalipun merupakan tanggung jawab yang besar, dipakai oleh Allah juga merupakan kesempatan yang luar biasa... Misi Anda meliputi dua hak istimewa besar : bekerja bersama Allah dan mewakili Dia. Kita menjadi rekan Allah dalam membangun kerajaan-Nya...

Yesus telah menjamin keselamatan kita, memasukkan kita di dalam keluarga-Nya, memberi kita Roh-Nya, dan selanjutnya menjadikan kita alat-Nya di dunia. Hak istimewa yang luar biasa !...

Memberi tahu orang lain bagaimana mereka bisa memiliki hidup kekal merupakan hal terbesar yang bisa Anda kerjakan bagi mereka. Kalau teman Anda menderita kanker atau AIDS dan Anda tahu obatnya, merupakan suatu kejahatan kalau Anda menahan informasi yang bisa menyelamatkan nyawa itu. Yang lebih buruk lagi ialah merahasiakan jalan menuju pengampunan, tujuan, damai sejahtera, dan kehidupan kekal. Kita memiliki kabar terbesar di dunia dan menyebarkan kabar itu merupakan kebaikan terbesar yang bisa Anda tunjukkan kepada semua orang.

... Semua orang membutuhkan Yesus.

Misi Anda memiliki makna kekal. Misi tersebut akan mempengaruhi masa depan abadi orang lain. Itu lebih penting ketimbang pekerjaan, keberhasilan, atau tujuan apapun yang akan Anda raih selama kehidupan Anda di bumi. Hasil dari misi Anda akan berlangsung selamanya ; sementara hasil dari pekerjaan Anda tidaklah kekal...

Karena itulah, kita harus bersungguh-sungguh dengan misi kita... Mulailah misi Anda untuk menjangkau orang lain sekarang !

Ini tidak berarti bahwa Anda harus menghentikan pekerjaan Anda untuk menjadi seorang penginjil purna waktu. Allah ingin Anda membagikan Kabar Baik di mana Anda berada. Sebagai seorang pelajar, ibu, guru TK, wiraniaga, atau manajer atau apapun yang Anda kerjakan, sebaiknya Anda terus menerus mencari orang-orang yang Allah tempatkan di jalur Anda dengan siapa Anda bisa membagikan Injil.

Misi Anda memberi makna bagi kehidupan Anda. ... kita harus menjalani kehidupan yang memiliki tujuan, yaitu kehidupan yang diserahkan untuk penyembahan, persekutuan, pertumbuhan rohani, pelayanan, dan pelaksanaan misi kita di dunia. Hasil dari kegiatan-kegiatan ini akan bertahan selamanya !

Jika Anda gagal memenuhi misi pemberian Allah di dunia, Anda tentu menyia-nyiakan kehidupan yang Allah berikan kepada Anda...

Jadwal Allah untuk mengakhiri sejarah berkaitan dengan selesainya tugas kita. Saat ini makin meningkat perhatian orang pada kedatangan Kristus kedua kali dan akhir zaman. Kapankah hal tersebut akan terjadi ?...

Ketika para murid ingin berbicara tentang nubuat, Yesus dengan segera mengalihkan pembicaraan kepada penginjilan. Dia ingin mereka memusatkan perhatian pada misi mereka di dunia. Pada hakikatnya Yesus berkata, “Rincian dari kedatangan-Ku kembali bukanlah urusanmu. Apa yang menjadi urusanmu adalah misi yang telah Aku berikan kepadamu. Perhatikanlah itu !”

Berspekulasi tentang waktu yang pasti dari kedatangan Kristus tidak ada gunanya, karena Yesus berkata, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.” (Matius 24:36 ; AITB) Karena Yesus mengatakan Ia tidak tahu hari atau jamnya, untuk apa Anda berusaha mengetahuinya ? Apa yang benar-benar kita ketahui dengan pasti ialah ini : Yesus tidak akan kembali sebelum semua orang yang Allah ingin mereka mendengar Kabar Baik telah mendengarnya. (Warren, 2005, pp. 310-314)

Komentar saya :

Saya tidak menyalahkan ajaran Warren ini, karena memang benar bahwa Alkitab mengajarkan bahwa kita harus mengabarkan Injil (mandat Injil). Tetapi jangan lupa, Alkitab pula mengajarkan bahwa kita harus menjalankan mandat budaya, yaitu memelihara alam semesta ini demi kemuliaan-Nya (Kejadian 2:15). Kedua mandat ini dapat dikategorikan sebagai sebuah misi. Gereja yang hanya menekankan salah satu dari kedua mandat ini secara timpang, maka gereja itu tidak menjalankan mandat dari Allah. Gereja sejati hanya menjalankan kedua mandat Allah ini secara seimbang, yaitu memelihara alam semesta demi kemuliaan Allah (mengintegrasikan seluruh prinsip iman Kristen ke dalam aspek kehidupan manusia ; mandat budaya) dan memberitakan Injil (mandat Injil).

Kemudian, ia menjelaskan tentang harga yang harus dibayar untuk melaksanakan sebuah misi,

Untuk melaksanakan misi, Anda akan harus meninggalkan jadwal Anda dan menerima jadwal Allah bagi kehidupan Anda...

Jika Anda mau melaksanakan misi Anda di dalam kehidupan, tidak peduli berapa pun harganya, Anda akan mengalami berkat Allah dengan cara-cara yang hanya pernah dialami oleh sedikit orang. Hampir tidak ada apapun yang tidak akan Allah lakukan bagi orang-orang yang menyerahkan diri untuk melayani Kerajaan Allah... (Warren, 2005, pp. 314-315).

Komentar saya :

Dari titik awal, tentu bukan alasan untuk melaksanakan misi, kita harus mengundang Kristus bertahta sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita untuk memimpin setiap langkah kehidupan kita. Bukan hanya ketika kita akan melaksanakan misi, kita baru menerima jadwal Allah, sebaliknya kita sudah harus menerima jadwal Allah, sebagai tanda kita mempersilahkan-Nya memerintah sebagai Raja dan Tuhan atas hidup kita, ketika kita pertama kali hidup menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru.

Kedua, menurut saya, Warren terlalu mementingkan berkat setelah pelaksanaan tugas, dan itu memang tidak salah, asalkan jangan menjadikan berkat sebagai “iming-iming” atau pendorong kita melakukan misi Allah. Kita melakukan misi Allah bukan karena berkat tetapi karena panggilan Allah.

Terakhir, ia menjelaskan pentingnya mengabarkan Injil (Judul, “Satu Lagi Buat Yesus”),

...

... Jika Anda ingin dipakai oleh Allah, Anda harus peduli dengan apa yang Allah peduli ; apa yang paling dipedulikan oleh Allah ialah penebusan orang-orang ciptaan-Nya. Allah ingin anak-anak-Nya yang terhilang ditemukan ! Tidak ada yang lebih berharga bagi Allah ; Salib membuktikan hal itu... (Warren, 2005, p. 315-316).

Komentar saya :

Kalau Allah akan memakai kita, itu tergantung dari apakah kita telah berbuat “sesuatu” bagi Allah, tetapi Allah akan memakai kita berdasarkan kedaulatan-Nya. Meskipun kita telah mempedulikan apa yang Allah peduli, tetapi jika dalam kekekalan, Allah tidak pernah memakai kita, itu berarti Allah tetap pada rencana-Nya yang tidak memakai kita. Allah tidak pernah dikontrol oleh kita. Di dalam penginjilan pun, jangan sekali-kali mengontrol Allah apalagi memaksa Allah. Biarkan Roh Kudus bekerja sesuai kehendak-Nya yang berdaulat atas umat pilihan-Nya.

Bab 38: KUASA ALLAH DI DALAM KELEMAHAN ANDA?? (Analisa Terhadap Bab 35 Buku Rick Warren)

Bab 38

Kuasa Allah di dalam Kelemahan Anda ??

P

ada bab 38 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhlima dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 35 ini, Warren mengajarkan tentang peran kuasa Allah di dalam kelemahan kita sebagai manusia.

Pada awal bab ini, ia mengajarkan,

Allah senang memakai orang-orang lemah.

Semua orang memiliki kelemahan. Sesungguhnya, Anda memiliki sekumpulan kelemahan dan ketidaksempurnaan : fisik, emosi, intelektual, dan rohani... Masalah yang lebih penting ialah apa yang Anda kerjakan dengan kelemahan-kelemahan ini. Biasanya kita menyangkali kelemahan kita, membelanya, mencari dalih untuknya, menyembunyikannya, dan membencinya. Hal ini mencegah Allah menggunakannya dengan cara yang Dia inginkan.

Allah memiliki pandangan yang berbeda tentang kelemahan-kelemahan Anda. Dia berfirman, “Pikiran-pikiran-Ku dan jalan-jalan-Ku lebih tinggi daripada pikiran dan jalan-Mu,” (Yesaya 55:9 ; Contemporary English Version) karena itu Dia sering bertindak dengan cara-cara yang sangat bertentangan dengan apa yang kita harapkan. ..., Dia juga ingin memakai kelemahan-kelemahan kita bagi kemuliaan-Nya.

... Kelemahan-kelemahan Anda bukanlah suatu kebetulan. Allah dengan sengaja mengizinkannya ada di dalam kehidupan Anda dengan tujuan untuk menunjukkan kuasa-Nya melalui Anda.

... Sesungguhnya, Dia tertarik kepada orang-orang yang lemah dan yang mengakui kelemahan mereka...

...

Sebuah kelemahan, atau “duri” sebagaimana Paulus menyebutnya, (2 Korintus 12:7 ; AITB) bukanlah dosa atau kejahatan atau cacat karakter yang bisa Anda ubah, ... Sebuah kelemahan ialah suatu keterbatasan yang Anda warisi atau tidak punya kuasa untuk mengubahnya.

... Allah tidak pernah dibatasi oleh berbagai keterbatasan kita. Sebetulnya Allah senang menaruh kuasa-Nya yang besar ke dalam bejana-bejana biasa... Allah memakai kita jika kita mengizinkan-Nya bekerja melalui kelemahan-kelemahan kita... (Warren, 2005, pp. 299-301)

Komentar saya :

Pada pendahuluan, secara prinsip, Warren tidak menjelaskan tentang prinsip adanya kelemahan di dalam diri kita, bisa terjadi akibat dosa asal (original sin), maupun dosa-dosa yang kita perbuat, mungkin juga itu atas izin Allah. Warren menjelaskan izin Allah di dalam kelemahan kita baru pada pembahasan lain pada bab ini, padahal itu inti pembahasan yang harus diajarkan dengan tepat. Kelemahan kita memang adalah sebuah warisan karena itu dosa asal, tetapi benarkah kita tidak dapat mengubahnya ? Apakah kita hanya menerima “takdir” kita ? TIDAK ! KeKristenan tidak mengenal konsep “takdir”, sehingga kita seolah-olah menjadi “robot” yang digerakkan Allah sesuka hati-Nya, lalu kita tidak memiliki tanggung jawab ! Konsep theologia Reformed yang mengenal kedaulatan Allah TIDAK pernah meniadakan tanggung jawab manusia, bahkan mendukung tanggung jawab manusia kepada Allah setelah mereka meresponi kedaulatan Allah ini. Alkitab memang mengajarkan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.” (Roma 5:15) Kata “jatuh ke dalam kuasa maut” di dalam terjemahan King James Version (KJV) berarti mati (dead) dan kata “semua orang” lebih tepat diterjemahkan banyak (Inggris : many ; Yunani : polus/polos). Kelemahan kita memang diwariskan dari Adam, tetapi tidak berarti kita 100% murni “pasrah” pada nasib. Kristus telah mengalahkan kutuk dosa, iblis dan maut, oleh karena itu Dia satu-satunya yang berkuasa mengalahkan kuasa dosa. Apakah berarti kita menjadi tidak pernah berdosa lagi setelah ditebus Kristus ? TIDAK ! Kita tetap bisa berdosa (bisa juga tidak berdosa), tetapi kuasa/kutuk dosa tidak lagi berkuasa atas kita, karena kutuk dosa (iblis) telah dikalahkan/diremukkan kepalanya oleh Kristus. Segala kelemahan kita memang akan dipakai oleh Tuhan melalui kuasa Roh Kudus sehingga kelemahan kita menjadi kekuatan bagi Allah yang lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan manusia yang palsu dan sok tahu ! Dengan kata lain, kita bisa mengubah kelemahan kita karena Roh Kudus lah yang mengubahnya, sehingga kita bisa semakin serupa dengan-Nya kelak.

Selanjutnya, ia memaparkan tentang teladan Paulus yang pertama dan kedua yang perlu diikuti dalam memahami kelemahan-kelemahan kita dan cara Allah bekerja di dalamnya,

Akuilah kelemahan-kelemahan Anda. Akuilah ketidaksempurnaan Anda. Berhentilah berpura-pura memiliki semuanya, dan jujurlah tentang diri Anda sendiri.... Anda bisa membuat daftar kelemahan-kelemahan tersebut.

... Jika Anda ingin agar Allah memakai Anda, Anda harus mengenal siapa Alah dan mengenal siapa Anda...

Senanglah di dalam kelemahan-kelemahan Anda. ... rasa senang adalah ekspresi iman di dalam kebaikan Allah. Senang berarti mengatakan, “Tuhan, aku percaya Engkau mengasihiku dan Engkau tahu apa yang terbaik bagiku.”

Paulus memberi kita beberapa alasan untuk senang di dalam kelemahan bawaan kita. Pertama, kelemahan-kelemahan menyebabkan kita bergantung kepada Allah... Kapanpun Anda merasa lemah, Allah sedang mengingatkan Anda untuk bergantung kepada-Nya.

Kelemahan-kelemahan kita juga mencegah kesombongan. Kelemahan-kelemahan itu menjaga kita tetap rendah hati... Sering kali Allah menyertakan kelemahan utama pada suatu kekuatan utama untuk menjaga agar ego kita tetap terkendali. Sebuah keterbatasan bisa bertindak sebagai pengatur yang menjaga kita untuk tidak melangkah terlalu cepat dan berlari mendahului Allah.

...

Kelemahan-kelemahan kita juga mendorong diadakannya persekutuan antara orang-orang percaya. Sementara kekuatan melahirkan semangat untuk berdiri sendiri (“Aku tidak membutuhkan orang lain”), keterbatasan-keterbatasan kita menunjukkan betapa kita sangat saling membutuhkan. Bila kita merajut benang lemah kehidupan kita beama, sebuah tali yang sangat kuat tercipta...

Yang terpenting, kelemahan-kelemahan kita meningkatkan kemampuan kita untuk bersimpati dan melayani. Kita akan jauh lebih bisa berbelas kasihan dan menerima kelemahan orang lain... Pesan kehidupan Anda yang terbesar dan pelayanan Anda yang paling efektif berasal dari luka Anda yang terdalam. Hal-hal yang paling memalukan Anda, dan paling berat untuk Anda ceritakan adalah sarana-sarana yang Allah bisa gunakan dengan sangat hebat untuk memulihkan orang lain.

...

... Allah ahli dalam mengubah kelemahan menjadi kekuatan. Dia ingin mengambil kelemahan terbesar Anda dan mengubahnya. (Warren, 2005, pp. 301-303)

Komentar saya :

Memang diperlukan suatu pengakuan akan kelemahan kita dan kesadaran bahwa kita ini ciptaan (created), terbatas (limited) dan terpolusi oleh dosa (polluted). Tetapi kita tidak perlu sampai membuat daftar kelemahan kita, atau kalau perlu mencetak dan mempublikasikannya dalam bentuk buku, makalah, majalah, atau di internet, dll. Itu tidak perlu dilakukan ! Tuhan tak pernah menuntut kita demikian, itu hanyalah tuntutan dari Warren saja ! 1 Yohanes 1:9 mengungkapkan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Pengakuan dosa memang harus diperlukan, tetapi tidak perlu didaftarkan, karena Allah tidak pernah mengajarkannya !

Kedua, menurut Warren, kita perlu menyenangi kelemahan-kelemahan kita, karena justru di dalam kelemahan, kita bisa bergantung kepada Allah, mencegah kesombongan kita, mendorong persekutuan antar saudara seiman dan memampukan kita untuk melayani. Ini benar. Kita tidak perlu minder dengan kelemahan-kelemahan kita, karena kelemahan kita itu diizinkan Allah untuk membentuk kedewasaan rohani kita. Kelemahan kita juga membuat kita seharusnya sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah yang Mahakudus, Berdaulat, Mahakuasa, Mahaadil, dan Mahakasih itu. Kesadaran ini sebenarnya membuat kita terus-menerus bersyukur bila Ia tetap memberikan anugerah-Nya kepada kita baik keselamatan maupun nafas kehidupan sehari-hari. Ingatlah, kita diciptakan untuk bersekutu dengan Allah dan tentunya bergantung terus kepada Allah yang Mahahidup.

Kemudian, ia menjelaskan tentang teladan Paulus yang ketiga dan keempat yang perlu diikuti dalam memahami cara Allah bekerja di dalam kelemahan-kelemahan kita,

Ceritakanlah dengan jujur kelemahan-kelemahan Anda. Pelayanan diawali dengan keterbukaan. Semakin Anda meruntuhkan penjagaan Anda, menyingkapkan topeng Anda, dan menceritakan pergumulan-pergumulan Anda, Allah semakin mampu memakai Anda untuk melayani orang lain.

...

Tentu saja, keterbukaan beresiko. Mengurangi pertahanan Anda dan membuka kehidupan Anda pada orang lain bisa menakutkan... Tetapi keuntungannya sebanding dengan risikonya. Keterbukaan memerdekakan secara emosi. Membuka diri membuat tekanan berkurang, ...

... Keterbukaan adalah sifat yang membuat orang disukai ; kita secara alamiah tertarik pada orang-orang yang rendah hati. Sifat suka berkata yang muluk-muluk menimbulkan rasa tidak senang, ...

Karena itulah Allah ingin memakai kelemahan-kelemahan Anda, bukan hanya kekuatan-kekuatan Anda... Kekuatan-kekuatan kita menimbulkan persaingan, tetapi kelemahan-kelemahan kita menciptakan komunitas.

... Sifat yang paling penting untuk kepemimpinan bukanlah kesempurnaan, melainkan kredibilitas. Orang harus bisa mempercayai Anda, kalau tidak mereka tidak akan mengikuti Anda. Bagaimana Anda membangun kredibilitas ? Bukan dengan berpura-pura sempurna, tetapi dengan bersifat jujur.

Kemuliaan di dalam kelemahan-kelemahan Anda. ... daripada berpura-pura percaya diri dan tak terkalahkan, pandanglah diri Anda sebagai sebuah piala anugerah. Pada saat iblis menunjukkan kelemahan-kelemahan Anda, setujulah dengannya dan penuhi hati Anda dengan pujian kepada Yesus, yang “memahami setiap kelemahan kita.” (Ibrani 4:15a ; Contemporary English Version) dan kepada Roh Kudus, yang “membantu kita dalam kelemahan kita.” (Roma 8:26a ; Firman Allah Yang Hidup)

Namun, kadang kala Allah mengubah sebuah kekuatan menjadi kelemahan untuk memakai kita lebih hebat lagi...

... Jika Anda ingin Allah memberkati Anda dan memakai Anda secara luar biasa, Anda harus bersedia berjalan dengan pincang sepanjang hidup Anda, karena Allah memakai orang-orang lemah. (Warren, 2005, pp. 303-305).

Komentar saya :

Apakah kalau Allah ingin memakai kita, kita perlu menceritakan segala kelemahan kita kepada orang lain ? Benarkah motivasi Warren ini benar ? Saya mengamatinya, TIDAK. Mengapa? Karena ia sendiri mengungkapkan bahwa keuntungan (profit) dari menceritakan kelemahan itu sebanding dengan kerugiannya. Ini berarti segala sesuatu diukur dari segi untung ruginya (utilitarianisme). Sebenarnya, setelah kita mengaku dan menyenangi kelemahan-kelemahan kita, kita tidak perlu “cerewet” menceritakan kelemahan-kelemahan kita. Kita boleh “cerewet” dalam mengabarkan Injil, bukan sibuk menceritakan kelemahan-kelemahan kita ! Motivasi kedua Warren menceritakan kelemahan-kelemahan itu adalah agar orang lain mengikuti kita sebagai bukti kredibilitas seorang pemimpin. Ini jelas sebuah motivasi yang tidak beres. Motivasi yang beres seorang pemimpin (lebih tepatnya, kepala) bukan menarik orang datang kepada kita, tetapi datang kepada Allah yang Mahahidup !

Kedua, menurut Warren, di dalam kelemahan-kelemahan kita menemukan kemuliaan yang luar biasa. Sehingga kalau iblis menunjukkan kelemahan kita, kita perlu menyetujuinya dan bersyukur kepada Kristus. Benarkah demikian ? Yakobus 4:7 mengajarkan, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” dan Rasul Petrus memperingatkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1 Petrus 5:8-9) Kedua bagian ayat Alkitab ini menjelaskan bahwa ketika iblis datang dan bahkan mendakwa kita, kita tidak perlu “welcome”, tetapi melawannya dengan iman di dalam Kristus. Ketika iblis datang menunjukkan kelemahan-kelemahan kita, kita memang harus mengakui kelemahan-kelemahan itu, TETAPI ingatlah, berkatalah kepada iblis bahwa darah Kristus sudah menebus dosa-dosa kita. Itulah letak utama kekuatan iman Kristen yang final !

Bab 37: BERPIKIR SEPERTI SEORANG HAMBA ATAU PELAYAN?? (Analisa Terhadap Bab 34 Buku Rick Warren)

Bab 37

Berpikir Seperti Seorang Hamba atau Pelayan ??

P

ada bab 37 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhempat dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 34 ini, Warren mengajarkan tentang bagaimana kita sebagai seorang pelayan Kristus bertindak di dalam pelayanan yang Ia telah percayakan kepada kita.

Pada awal bab ini, ia mengajarkan,

Pelayanan berawal di dalam pikiran Anda.

Untuk menjadi seorang pelayan atau hamba dibutuhkan perubahan mental, suatu perubahan di dalam sikap Anda. Allah selalu tertarik pada mengapa kita mengerjakan sesuatu ketimbang pada apa yang kita kerjakan. Sikap lebih berarti daripada pencapaian... Pelayan-pelayan sejati melayani Allah dengan cara berpikir yang mengandung lima sikap... (Warren, 2005, p. 291)

Komentar saya :

Benarkah pelayanan itu berawal dari dalam pikiran kita ? Bukankah pada bab sebelumnya Warren telah membahas bahwa dari hatilah timbul segala perasaan/emosi, keinginan, dll ? Warren benar-benar tidak konsisten. Suatu keinginan untuk melayani timbul pertama-tama dari hati kita yang terdalam sebagai suatu respon terhadap anugerah Allah, lalu hati kita mempengaruhi pikiran kita dan pikiran kita akhirnya membuat kita bertindak di dalam pelayanan.

Kedua, memang benar, untuk menjadi seorang pelayan, kita juga perlu mengubah mental kita, yaitu sikap kita. Tetapi sebelumnya, ubahlah hati kita terlebih dahulu dan motivasi kita sehingga kita bisa melayani-Nya dengan bertanggungjawab dan dengan motivasi yang murni untuk memuliakan Allah. Setelah mengubah hati, kita perlu mengubah paradigma, lalu baru mengubah sikap. Tanpa mengubah hati, maka sikap kita meskipun diubah, tidak akan mengenai sasaran yang semestinya atau keluar dari hati yang tulus.

Selanjutnya, ia memaparkan tentang sikap dan cara berpikir seorang pelayan sejati yang melayani Allah yang pertama dan kedua,

Para pelayan lebih banyak memikirkan orang lain daripada diri mereka sendiri. Para pelayan mengutamakan orang lain, bukan diri mereka sendiri. Inilah kerendahan hati yang sejati : bukan menganggap diri kita kurang, melainkan kurang memikirkan diri kita sendiri. Mereka suka lupa pada diri mereka sendiri... Inilah apa yang dimaksudkan dengan “kehilangan nyawa Anda,” yaitu melupakan diri Anda dalam melayani orang lain. Ketika kita berhenti memfokus pada kebutuhan-kebutuhan di sekeliling kita.

... Anda tidak bisa menjadi seorang pelayan jika Anda penuh dengan diri Anda sendiri. Hanya bila kita melupakan diri kita sendiri barulah kita melakukan hal-hal yang layak untuk diingat.

Sayangnya, banyak pelayanan kita sering kali merupakan pelayanan pada diri sendiri... Ini adalah manipulasi, bukan pelayanan... Pelayan-pelayan yang sejati tidak berusaha memanfaatkan Allah demi tujuan-tujuan mereka. Mereka membiarkan Allah memakai mereka untuk tujuan-tujuan-Nya.

Sifat melupakan diri sendiri, seperti halnya kesetiaan, sangatlah jarang... Berpikir seperti seorang hamba atau pelayan sulit karena hal tersebut menantang masalah dasar dari kehidupan saya : ... Itulah sebabnya kerendahan hati merupakan pergumulan sehari-hari, sebuah pelajaran yang harus saya pelajari kembali berulang-ulang kali... Penyangkalan diri merupakan inti dan kepelayanan.

Kita dapat mengukur hati pelayan dalam diri kita melalui cara kita memberi respons ketika orang lain memperlakukan kita seperti pelayan. Bagaimana Anda bereaksi ketika Anda diterima biasa-biasa saja, diperintah, atau diperlakukan sebagai seorang yang tidak penting?...

Para pelayan berpikir seperti penatalayan, bukan pemilik. Para pelayan ingat bahwa Allah memiliki segalanya. Di dalam Alkitab, seorang penatalayan ialah seorang hamba yang dipercayai untuk mengelola harta... Keadaan sebagai hamba dan penatalayan berjalan bersamaan (1 Korintus 4:1 ; AITB), karena Allah ingin agar kita bisa diandalkan dalam keduanya.

Untuk menjadi seorang hamba atau pelayan sejati Anda harus menyelesaikan masalah uang di dalam kehidupan Anda... Hidup untuk pelayanan dan hidup untuk uang sama-sama merupakan tujuan-tujuan yang eksklusif. Manakah yang akan Anda pilih ? Jika Anda seorang pelayan Allah, Anda tidak bisa bekerja sambilan untuk diri Anda sendiri. Seluruh waktu Anda milik Allah. Dia menuntut komitmen penuh, bukan kesetiaan paruh waktu.

Uang memiliki potensi terbesar untuk menggantikan Allah di dalam kehidupan Anda. Lebih banyak orang tidak melayani karena materialisme ketimbang karena hal lainnya... Bila Yesus menjadi Tuan Anda, uang melayani Anda, tetapi jika uang menjadi tuan Anda, Anda menjadi budaknya. Kekayaan tentu bukanlah dosa, tetapi gagal memanfaatkannya bagi kemuliaan Allah adalah dosa. Pelayan-pelayan Allah selalu lebih peduli pada pelayanan ketimbang uang.

Alkitab sangatlah jelas : Allah memakai uang untuk menguji kesetiaan Anda sebagai seorang pelayan... Cara Anda mengelola uang Anda mempengaruhi seberapa banyak Allah bisa memberkati kehidupan Anda. (Warren, 2005, pp. 291-294)

Komentar saya :

Dari pengajaran kedua konsep pertama ini, saya menemukan beberapa pelajaran penting dan sedikit kelemahan.

Pertama, seorang pelayan Tuhan sejati, menurut Warren, “tidak berusaha memanfaatkan Allah demi tujuan-tujuan mereka. Mereka membiarkan Allah memakai mereka untuk tujuan-tujuan-Nya.” Hal ini benar, karena pelayan Tuhan tetap adalah pelayan, bukan bos, atau direktur. Posisi ini sebenarnya harus menyadarkan setiap pelayan Tuhan untuk merendahkan diri mereka di bawah pemerintahan-Nya, BUKAN malahan meninggikan diri bahkan “memerintah” Tuhan untuk mengabulkan apa yang mereka inginkan, seperti yang dibiasakan melalui pengajaran-pengajaran dari banyak “hamba Tuhan” gereja Karismatik/Pentakosta yang tidak bertanggungjawab. Mereka mengaku dan menyanyi dengan mulut bahwa Allah itu Mahakuasa BUKAN dengan motivasi benar-benar memuliakan Allah, tetapi dengan motivasi yang busuk yaitu ingin “menguasai”-Nya dengan mengeruk berkat-berkat-Nya. Sungguh busuk motivasi mereka yang mereka tutupi dengan tudung “rohani” ! Sebaliknya, seorang pelayan Tuhan sejati bersedia dengan segala kerelaan hati dan sukacita membiarkan Allah sendiri yang memakai kita sesuka hati-Nya untuk memenuhi apa yang dikehendaki-Nya (saya lebih menggunakan kata “kehendak-Nya” ketimbang “tujuan-Nya”).

Kedua, karena seorang pelayan Tuhan adalah seorang hamba yang tidak berguna yang telah dipanggil Allah untuk melakukan tugas-tugas dari-Nya, maka sudah sepatutnya para pelayan Tuhan memiliki suatu makna/semboyan hidup, “Penyangkalan diri merupakan inti dan kepelayanan.” Para pelayan Tuhan (termasuk semua anak Tuhan) harus menyangkal diri (Matius 16:24), baru dapat dikatakan seorang pelayan, karena dirinya hanyalah sebagai sarana yang dipakai-Nya untuk menyaksikan kasih, kebenaran dan keadilan-Nya di tengah dunia yang berdosa ini. Kalau seorang pelayan Tuhan tidak mau menyangkal diri, bahkan mengajarkan sebaliknya bahwa menjadi orang “Kristen” pasti kaya, tidak pernah terkena marabahaya, penyakit, bahkan tidak pernah digigit nyamuk, dll, mereka PASTI bukan pelayan Tuhan, karena Tuhan TIDAK PERNAH mengajarkan “theologia” kemakmuran seperti ini, melainkan setan yang mengajarkannya !

Ketiga, seorang pelayan bukan hanya sebagai pelayan, tetapi juga seorang yang mempertanggungjawabkan apapun yang telah Allah percayakan kepada-Nya (atau disebut penatalayan, menurut Warren), sehingga, “Jika Anda seorang pelayan Allah, Anda tidak bisa bekerja sambilan untuk diri Anda sendiri. Seluruh waktu Anda milik Allah. Dia menuntut komitmen penuh, bukan kesetiaan paruh waktu.” Hal ini benar, seorang pelayan Tuhan adalah seorang yang mengabdi hanya kepada Allah saja, bukan kepada yang lain. Oleh karena itu, alasan di dalam gereja-gereja Protestan dengan tegas melarang para pemimpin gereja berdagang atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan gereja/pemberitaan Firman/pengajaran Alkitab/dll. Gereja-gereja Protestan sadar bahwa seorang pelayan Tuhan sejati bukanlah seorang yang hanya mengharapkan gaji, tetapi sungguh-sungguh melayani Tuhan secara penuh waktu dan untuk itu, Allah pasti mencukupi kebutuhan mereka sesuai kehendak-Nya. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan banyak gereja-gereja Karismatik/Pentakosta, di mana banyak “pendeta” mereka bukan saja bekerja sambilan, tetapi menjadi direktur atau manager salah satu perusahaan, lalu kalau setiap kali kebaktian di salah satu gereja, setiap jemaat dimasakkan makanan dari perusahaannya. Saya mendengar ini dari cerita papa saya yang mengatakan hal ini terjadi di sebuah gereja Pentakosta di Banyuwangi.

Keempat, seorang pelayan Tuhan pun harus berhati-hati terhadap uang, karena, menurut Warren, “uang memiliki potensi terbesar untuk menggantikan Allah di dalam kehidupan Anda.” Hal ini benar, berhati-hatilah terhadap uang, karena uang bisa menggantikan posisi Allah di dalam hidup kita. Ini sudah terbukti. Hanya demi uang dan kekayaan, artis Lulu Tobing rela menukarkan iman Kristennya dengan “iman” palsu dari suaminya. Begitu pula, karena alasan uang, “hamba Tuhan” rela menipu jemaatnya dengan mengundang para pengkhotbah “top” di dalam gerejanya agar dapat menghasilkan uang melalui persembahan jemaat. Para pelayan Tuhan, jangan ditipu oleh uang, layanilah Tuhan dan jangan mengharapkan balasannya bahkan uang sekalipun. Kalau kita sebagai pelayan Tuhan diberi uang, marilah kita mempergunakannya bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk menggarap dan memperluas Kerajaan Allah. Teladanilah jiwa dari Pdt. Dr. Stephen Tong dan rekan-rekan dalam Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) yang mempergunakan persembahan jemaat dengan sebaik-baiknya untuk mendukung pelayanan bukan hanya dari STEMI atau sejenisnya, tetapi juga pelayanan lainnya baik LAI (Lembaga Alkitab Indonesia), Voice of the Martirs (Kasih Dalam Perbuatan), dll.

Terakhir, saya agak kurang setuju dengan pendapat Warren, “Cara Anda mengelola uang Anda mempengaruhi seberapa banyak Allah bisa memberkati kehidupan Anda.” Di satu sisi, agak benar, karena Allah akan memberikan tanggung jawab yang besar kepada kita yang sudah setia dalam pekerjaan yang kecil, dan Ia juga lah yang akan memberkati kita karena kita telah mempertanggungjawabkan segala yang telah dipercayakan kepada kita. Tetapi di sisi lain, Allah yang memberkati kehidupan kita tidak pernah berdasarkan cara kita dalam mengelola uang. Allah memberkati kehidupan kita berdasarkan kerelaan kehendak-Nya yang berdaulat. Kalaupun kita sudah bertanggungjawab mengelola uang demi kemuliaan-Nya, tidak berarti Allah harus dan pasti memberkati kehidupan kita. Ada banyak cerita, di mana banyak pelayan Tuhan sudah benar-benar mengelola uang, tetapi Tuhan tetap tidak memberkatinya dengan berlimpah, tetapi berkecukupan, karena itu semua adalah kehendak-Nya. Kalau Ia memberkati, puji Tuhan, jika tidak, pun harus puji Tuhan !

Kemudian, ia menjelaskan tentang sikap dan cara berpikir seorang pelayan sejati yang melayani Allah yang ketiga dan keempat,

Para pelayan berpikir tentang pekerjaan mereka, bukan apa yang dikerjakan orang lain. Mereka tidak membandingkan, mengkritik, atau bersaing dengan pelayan atau pekerja pelayanan lainnya. Mereka terlalu sibuk melakukan pekerjaan yang telah Allah berikan kepada mereka.

Persaingan di antara pelayan-pelayan Allah tidaklah masuk akal karena banyak alasan : Kita semua berada di dalam tim yang sama ; sasaran kita membuat Allah terlihat baik, bukan diri kita sendiri ; kita telah diberi tugas-tugas yang berbeda ; dan kita semua dibentuk secara unik...

Tidak ada tempat bagi rasa iri hati yang picik di antara para pelayan. Ketika Anda sedang sibuk melayani, Anda tidak memiliki waktu untuk mengkritik. Setiap waktu yang dihabiskan untuk mengkritik orang lain merupakan waktu yang bisa digunakan untuk melayani...

Tugas kita bukanlah menilai pelayan-pelayan Tuhan lainnya. Alkitab mengatakan, “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri.” (Roma 14:4 ; AITB). Juga bukan tugas kita membela diri kita sendiri terhadap kritikan. Biarkanlah Tuhan Allah menanganinya...

...

Para pelayan mendasarkan identitas mereka di dalam Kristus. Karena mereka ingat bahwa mereka dikasihi dan diterima karena kasih karunia, para pelayan tidak harus membuktikan kelayakan mereka. Mereka dengan rela menerima pekerjaan-pekerjaan yang oleh orang-orang yang kurang percaya dianggap “tidak pantas” untuk mereka kerjakan. Salah satu teladan yang paling hebat tentang melayani dari satu citra diri yang kokoh ialah tindakan Yesus membasuh kaki para murid...

Jika Anda hendak menjadi seorang pelayan, Anda harus menaruh identitas Anda di dalam Kristus. Hanya orang-orang yang percaya diri yang bisa melayani... Semakin Anda tidak percaya diri, semakin Anda ingin agar orang lain melayani Anda, dan semakin Anda butuh penghargaan mereka.

... Ketika Anda mendasarkan nilai dan identitas Anda pada hubungan Anda dengan Kristus, Anda akan dibebaskan dari harapan-harapan orang lain, dan itu memungkinkan Anda untuk benar-benar melayani mereka dengan yang terbaik.

Para pelayan tidak perlu menutupi dinding-dinding mereka dengan piagam dan penghargaan untuk membuktikan pelayanan mereka...

... Semakin dekat Anda kepada Yesus, semakin sedikit Anda perlu untuk mempromosikan diri Anda sendiri. (Warren, 2005, pp. 294-296).

Komentar saya :

Saya mengamati ada dua kesalahan di dalam pandangan Warren ini khususnya pada sikap ketiga yaitu para pelayan Tuhan tidak boleh mengkritik para pelayan Tuhan lainnya.

Pertama, Warren mengajarkan, “Mereka tidak membandingkan, mengkritik, atau bersaing dengan pelayan atau pekerja pelayanan lainnya. Mereka terlalu sibuk melakukan pekerjaan yang telah Allah berikan kepada mereka.” Di satu sisi, perkataan ini memang benar, kita tidak boleh langsung menghakimi atau memfitnah para pelayan Tuhan lainnya secara membabibuta (hanya secara fenomena) tanpa melihat langsung esensinya. Tetapi, di sisi lain, kita tetap harus menegur (bukan menghakimi/memfitnah) pelayan Tuhan lainnya yang cara pikirnya tidak beres (doktrinnya tidak bertanggungjawab), dan perilakunya juga tidak beres. Apakah ini menghakimi ? TIDAK ! Itu yang Paulus lakukan kepada Petrus ketika Petrus bersikap munafik. Galatia 2:11-12 memberi tahu kita peristiwa ini, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari menerjemahkan ayat 11 ini, “Ketika Petrus datang ke Antiokhia, saya menentang dia terang-terangan, sebab tindakannya salah.”) Paulus dan Petrus adalah para rasul dan pelayan Tuhan, tetapi ketika melihat Petrus bersikap munafik, Paulus tidak segan-segan menentang atau menegurnya secara terang-terangan. Teguran terhadap dosa TIDAK menunjukkan adanya persaingan, tetapi sebagai wujud cinta kasih ketika teguran itu dilakukan dengan motivasi yang murni sesuai Firman Tuhan (bukan untuk menyombongkan diri).

Kedua, ketika Warren mengungkapkan sambil mengutip Alkitab, “Tugas kita bukanlah menilai pelayan-pelayan Tuhan lainnya. Alkitab mengatakan, “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri.” (Roma 14:4 ; AITB).”, saya agak kurang setuju dengan pendapatnya. Roma 14:4 berada di dalam suatu perikop pembahasan mengenai bagaimana kita tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang lain di dalam hal makan dan minum yang berintikan pada ayat 8 dan 17, di mana yang penting mereka hidup untuk Tuhan dan menggenapkan Kerajaan Allah. Soal makan dan minum itu hal yang tidak terlalu penting. Tetapi, apakah dalam hal ini, ketika kita melihat ada seorang pelayan Tuhan berdosa, lalu kita tidak perlu menegurnya, karena itu tidak penting ? TIDAK ! Itu penting, karena Salomo sendiri mengajarkan, “Orang yang memberi teguran akhirnya lebih dihargai daripada orang yang memberi sanjungan.” (Amsal 28:23 ; Bahasa Indonesia Sehari-hari). Kalau kita tidak menegur pelayan Tuhan yang berdosa agar dirinya bertobat, kita sedang menjatuhkan pelayan Tuhan tersebut secara tidak sengaja, karena kita telah membiarkan dosa melekat di dalam dirinya. Sikap diam terhadap dosa tidak berarti kita pasif tetapi justru kita sedang aktif menyetujui adanya dosa meskipun secara diam-diam (implisit), atau dengan kata lain, seperti pengajaran Salomo, kita sebenarnya sedang memberi sanjungan yang tidak perlu kita lakukan. Orang Kristen, jangan munafik ! Ingatlah perkataan Tuhan Yesus, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Terakhir, ia menjelaskan tentang sikap dan cara berpikir seorang pelayan sejati yang melayani Allah yang kelima,

Para pelayan memikirkan pelayanan sebagai sebuah kesempatan, bukan sebuah kewajiban. Mereka senang menolong orang, memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan mengerjakan pelayanan. Mereka “melayani TUHAN dengan sukacita.” (Mazmur 100:2 ; King James Version) Mengapa mereka melayani dengan sukacita ? Karena mereka mengasihi Tuhan, mereka bersyukur atas kasih karunia-Nya, mereka tahu bahwa melayani merupakan pemanfaatan tertinggi dari kehidupan, dan mereka tahu bahwa Allah telah menjanjikan satu pahala... (Warren, 2005, p. 296).

Komentar saya :

Benarkah melayani Tuhan itu sebuah kesempatan ? Bagi saya, tidak. Sebaliknya, apakah melayani Tuhan itu sebuah kewajiban, jika tidak, akan dihukum dan dikutuk Tuhan ? Itu juga TIDAK. Melayani Tuhan itu sebuah kewajiban yang tidak mengikat. Sama halnya dengan kita tidak boleh membunuh, kita melakukannya bukan dengan sikap terpaksa, tetapi dengan rela hati, karena kita mengerti esensi hukum yaitu cinta kasih (Matius 22:37-40). Demikian pula, ketika kita melayani Tuhan, meskipun itu suatu kewajiban, kita melakukannya dengan suatu sikap sukacita dan rela hati karena kita mengerti esensinya yaitu respon terhadap cinta kasih Allah. Ketika kita tidak melayani-Nya, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban kita, tetapi Ia tidak akan melemparkan kita ke dalam neraka karenanya (karena itu adalah buah dari iman kita).

Sudahkah kita melayani-Nya dengan sukacita dan rela hati serta bertanggungjawab untuk hasil akhir memuliakan-Nya ? Jika belum, marilah kita belajar melayani-Nya dengan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut-Nya (Matius 16:24), karena itulah satu-satunya cara kita dapat melayani-Nya dengan pengertian yang beres ! Amin.

Bab 36: BAGAIMANA PELAYAN YANG SEJATI BERTINDAK?? (Analisa Terhadap Bab 33 Buku Rick Warren)

Bab 36

Bagaimana Pelayan yang Sejati Bertindak ??

P

ada bab 36 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhtiga dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 33 ini, Warren mengajarkan tentang bagaimana kita sebagai seorang pelayan Kristus bertindak di dalam pelayanan yang Ia telah percayakan kepada kita.

Pada awal bab ini, ia mengajarkan,

Kita melayani Allah dengan melayani orang lain.

... Yesus mengukur kebesaran dari segi pelayanan, bukan status. Allah menentukan kebesaran Anda berdasarkan banyaknya orang yang Anda layani, bukan berdasarkan banyaknya orang yang melayani Anda...

... menjadi serupa dengan Kristus berarti menjadi seorang pelayan. Begitulah Yesus menyebut diri-Nya sendiri.

Walaupun mengetahui bahwa shape Anda penting untuk melayani Allah, memiliki hati seorang pelayan jauh lebih penting. Ingatlah, Allah membentuk Anda untuk pelayanan, bukan untuk mementingkan diri sendiri. Tanpa hati seorang pelayan, Anda akan tergoda untuk menyalahgunakan shape Anda bagi tujuan pribadi...

...

Shape Anda menunjukkan pelayanan Anda, tetapi hati pelayan Anda akan menunjukkan kedewasaan Anda...

... Anda harus memiliki hati pelayan. Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda memiliki hati seorang pelayan ? Yesus mengatakan, “Kalian akan mengenal mereka dari hasil perbuatannya.” (Matius 7:16 ; Bahasa Indonesia Sehari-hari). (Warren, 2005, pp. 281-282)

Komentar saya :

Melalui pernyataan Warren, “Kita melayani Allah dengan melayani orang lain.”, saya dapat menyimpulkan dua buah presuposisi. Pertama, dengan melayani orang lain, itu berarti kita melayani Allah. Atau dengan kata lain, melayani orang lain merupakan wujud nyata dari melayani Allah. Kedua, dengan melayani orang lain, maka kita melayani Allah. Maksudnya semua orang lain yang kita layani identik dengan kita melayani Allah. Dalam hal ini, siapapun yang kita layani dengan motivasi apapun itu berarti kita melayani Allah. Pada poin pertama, saya setuju, karena pewujudnyataan dari melayani Allah salah satunya adalah dengan melayani orang lain. Tetapi, pada poin kedua, saya agak kurang setuju, karena TIDAK semua orang yang kita layani itu berarti kita melayani Allah. Saya akan memberikan contoh. Misalnya, banyak gereja-gereja Protestan mainline sangat gemar mengadakan aksi sosial (ini tentu tidak salah, asalkan motivasi dan esensinya jelas), lalu mereka terus membantu mereka yang berkekurangan dengan menyalurkan bantuan, berupa mie instan dan sembako. Apakah ini tindakan mulia dan melayani orang lain ? Secara sepintas, ya, tetapi secara esensi : TIDAK! Membantu orang lain yang kekurangan secara tidak disengaja (misalnya, karena korban bencana alam, dll) adalah tindakan baik, tetapi kita tidak perlu terus-menerus mengadakan aksi sosial. Mengapa ? Karena hal ini bisa memanjakan mereka, akibatnya mereka yang telah dibantu sekali, terus bergantung kepada belas kasihan orang lain, lalu mereka malas dan tidak ingin bekerja. Padahal Raja Salomo mengajarkan, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:6-11). Tuhan menghendaki kita bekerja rajin, dan bukan menjadi pemalas yang selalu menadah dan bergantung pada orang lain !

Selanjutnya, ia memaparkan tentang sikap hati seorang pelayan yang pertama dan kedua,

Pelayan-pelayan sejati memberikan diri mereka untuk melayani. Para pelayan tidak memenuhi waktu merkea dengan berbagai pencarian lain yang bisa membatasi kesiapsediaan mereka. Mereka ingin siap untuk melompat ke dalam pelayanan bisa dipanggil... Jika Anda hanya melayani ketika pelayanan itu menyenangkan bagi Anda, Anda bukanlah seorang pelayan sejati. Pelayan-pelayan sejati melakukan apa yang diperlukan, bahkan ketika rasanya tidak nyaman.

... Menjadi seorang pelayan berarti menyerahkan hak untuk mengendalikan jadwal Anda dan mengizinkan Allah untuk menyelanya kapan saja Dia membutuhkan.

... Para pelayan melihat gangguan sebagai penugasan ilahi untuk pelayanan dan senang atas kesempatan untuk berlatih melayani.

Pelayan-pelayan sejati memperhatikan kebutuhan. Para pelayan selalu siap sedia untuk berbagai cara menolong orang lain. Ketika mereka melihat sebuah kebutuhan, mereka memanfaatkan saat tersebut untuk memenuhinya, ... Bila Allah menempatkan seorang yang membutuhkan pertolongan tepat di depan Anda, Dia sedang memberi Anda kesempatan untuk bertumbuh di dalam kepelayanan...

... Kesempatan-kesempatan besar untuk melayani tidak pernah ada untuk selamanya... Anda bisa mulai dengan mencari tugas-tugas kecil yang tidak seorang pun ingin kerjakan... (Warren, 2005, pp. 283-284)

Komentar saya :

Memang benar, seorang pelayan Tuhan tidak melakukan pelayanan yang menyenangkan bagi dirinya. Itu tidak salah. Tetapi sayangnya Warren menyadari hal ini baru pada bab ini, padahal di bab sebelumnya, ia selalu mengatakan bahwa kita harus memeriksa apakah pelayanan itu kita lakukan dengan senang atau tidak. Dengan kata lain, pada bab lain, ia hendak mengatakan bahwa pelayanan itu harus dilakukan dengan senang menurut kita, bukan Tuhan. Padahal tidak demikian. Kita melayani Tuhan, otomatis kita ingin menyenangkan hati-Nya sebagai respon kita terhadap anugerah-Nya, sehingga kita pun juga ingin agar melalui pelayanan kita, Tuhan yang disenangkan dan kita perlu melayani apa yang Tuhan senangi atau Tuhan ingin kita lakukan di dalam pelayanan.

Kedua, secara sekilas, pendapat Warren yang mengajarkan, “Menjadi seorang pelayan berarti menyerahkan hak untuk mengendalikan jadwal Anda dan mengizinkan Allah untuk menyelanya kapan saja Dia membutuhkan.” seolah-olah benar. Tetapi benarkah demikian ? Mari kita akan menganalisanya. Ketika kita menjadi seorang pelayan, di mana pelayan tidak mempunyai hak atas dirinya, kita harus menyerahkan seluruh hak dan apapun yang kita miliki agar dipimpin oleh Allah, dan BUKAN mengizinkan Allah hanya untuk menyela jadwal kita. Kalau benar apa yang Warren katakan bahwa dengan mengizinkan Allah menyela jadwal kita itu berarti menyerahkan hak kita, saya lebih cenderung menafsirkan bahwa Allah hanya kita sodori jadwal kita untuk selanjutnya Ia merombaknya sesuai jadwal kita. Padahal, seharusnya, Allah harus mengerjakan apa yang sesuai kehendak dan jadwal-Nya. Menjadi seorang pelayan/budak, itu berarti seluruh hidup kita murni 100% milik Allah, karena nyawa kita telah lunas dibayar oleh penebusan Kristus. Perhatikanlah pengajaran Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 7:22-23, “Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Paulus mengajarkan suatu paradoksikal yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh pikiran manusia berdosa. Khusus pada ayat 22, Paulus mengatakan bahwa seorang hamba (Yunani : doulos) adalah seorang yang bebas tetapi juga milik Tuhan. Bukankah kita selalu berpikir bahwa hamba itu orang yang dikungkung atau tidak bebas ? Tetapi Firman Tuhan mengatakan : TIDAK, kita disebut orang merdeka/bebas. Lalu, kalau kita disebut orang bebas/merdeka, bukankah berarti kita bebas dan tidak terikat oleh apapun dan siapapun juga ? TIDAK juga ! Alkitab mengatakan bahwa meskipun kita sebagai hamba yang telah dimerdekakan, kita tetap adalah hamba, tetapi hamba Tuhan/Kebenaran. Apa bedanya ? Seorang hamba Kebenaran menjalankan apapun, tanpa keterpaksaan, apapun yang Tuhan perintahkan untuk kemuliaan Tuhan, sedang hamba dosa/iblis menjalankan apapun demi kepuasaan diri (ada suatu keterikatan yang tidak bisa dilepaskan dengan kekuatan manusia sendiri).

Kemudian, ia menjelaskan tentang sikap hati seorang pelayan yang ketiga dan keempat,

Pelayan-pelayan sejati melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka miliki. Para pelayan tidak mencari-cari alasan, menunda, atau menunggu keadaan-keadaan yang lebih baik... Mereka melakukan saja apa yang perlu dilakukan... Allah berharap agar Anda melakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di manapun Anda. Pelayanan yang kurang sempurna selalu lebih baik daripada rencana terbaik yang tidak dilaksanakan...

Pelayan-pelayan sejati mengerjakan setiap tugas dengan dedikasi yang sama. Apapun yang mereka kerjakan, para pelayan “mengerjakannya dengan sepenuh hati.” (Kolose 3:23 ; Bahasa Indonesia Sehari-hari). Besarnya tugas tidaklah penting. Yang penting hanyalah apakah tugas itu perlu dikerjakan ?

Anda tidak akan pernah mencapai keadaan di dalam kehidupan di mana Anda terlalu penting sehingga tidak bisa melakukan tugas-tugas yang merendahkan... Dalam pelayanan-pelayanan kecil inilah kita bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus.

Yesus mengkhususkan diri di dalam tugas-tugas yang merendahkan ketika semua orang berusaha menghindarinya : membasuh kaki, menolong anak kecil, membuat sarapan, dan melayani orang-orang kusta. Tidak ada sesuatu yang tidak pantas Dia kerjakan, karena Dia datang untuk melayani...

Tugas-tugas kecil seringkali menunjukkan kebesaran hati. Hati pelayan dalam diri Anda dinyatakan dalam tindakan-tindakan kecil yang orang lain tidak berpikir untuk melakukannya, ...

Kesempatan-kesempatan besar sering menyamar di dalam tugas-tugas kecil. Hal-hal kecil di dalam kehidupan menentukan hal-hal besar... (Warren, 2005, pp. 284-285).

Komentar saya :

Perhatikan pernyataan Warren ini, “Pelayanan yang kurang sempurna selalu lebih baik daripada rencana terbaik yang tidak dilaksanakan.” Benarkah hal ini ? Mari kita selidiki. Pelayanan kita tidak pernah akan sempurna, karena meskipun kita telah ditebus dari dosa oleh penebusan Kristus, kita masih bisa berbuat dosa (tetapi benih/bibit dosa sudah diremukkan oleh Kristus), sehingga pelayanan yang kita lakukan harus dilakukan semaksimal mungkin demi kemuliaan-Nya. Lalu, apakah pelayanan yang kurang sempurna pasti selalu lebih baik daripada rencana terbaik yang tidak dilaksanakan ? Di satu sisi, saya menangkap pernyataan Warren ini benar, mengapa ? Karena percuma saja kita berteori yang indah-indah di dalam rencana pelayanan, tetapi kita tidak pernah melakukannya, itu sama seperti iman tanpa menghasilkan perbuatan nyata adalah sia-sia/mati. Di sisi lain, saya mengatakan tidak selalu. Di dalam setiap pelayanan, kita perlu membuat rencana-rencana karena itu menunjukkan kita mengerti esensi yang melatarbelakangi suatu fenomena yang terjadi. Rencana pelayanan itu tidak perlu kita buat sesempurna mungkin baru dijalankan, tetapi sambil kita menyusun rencana pelayanan, kita tetap terus terjun ke dalam ladang pelayanan. Itulah keseimbangan yang perlu.

Terakhir, ia menjelaskan tentang sikap hati seorang pelayan yang kelima dan keenam,

Pelayan-pelayan sejati setia pada pelayanan mereka. Para pelayan menyelesaikan tugas-tugas mereka, memenuhi tanggung jawab mereka, memegang janji-janji mereka, dan menyelesaikan komitmen mereka... Mereka bisa dipercayai dan bisa diandalkan.

...

Bisakah Anda diandalkan oleh orang lain ? ... Ini merupakan ujian. Allah sedang menguji kesetiaan Anda... Allah telah berjanji untuk memberi Anda upah atas kesetiaan Anda di dalam kekekalan...

Selain itu, pelayan-pelayan yang setia tidak pernah pensiun. Mereka melayani dengan setia selama mereka hidup. Anda bisa pensiun dari karier Anda, tetapi Anda tidak akan pernah pensiun dari melayani Allah.

Pelayan-pelayan sejati tetap rendah hati. Para pelayan tidak berpromosi atau menarik perhatian bagi diri mereka sendiri... Jika mereka dikenali karena pelayanan mereka, mereka dengan rendah hati menerimanya, tetapi tidak membiarkan kemahsyuran mengalihkan mereka dari pelayanan mereka...

...

Promosi diri dan kepelayanan tidaklah cocok. Pelayan-pelayan yang sejati tidak melayani untuk mendapat penghargaan atau pujian dari orang lain. Mereka hidup untuk dipandang Allah...

Anda tidak akan menemukan banyak pelayan sejati yang menjadi pusat perhatian ; sesungguhnya, mereka menghindarinya kalau bisa...

Sayangnya, banyak pemimpin sekarang memulai sebagai pelayan tetapi berakhir sebagai selebriti. Mereka menjadi kecanduan akan perhatian, tidak menyadari bahwa selalu disorot akan membutakan Anda.

Anda mungkin melayani di tempat yang tidak penting di beberapa tempat kecil, mereka tidak dikenal dan dihargai. Simaklah : Allah menempatkan Anda di tempat Anda berada untuk suatu tujuan ! Dia menghitung semua rambut di kepala Anda, dan Dia mengetahui alamat Anda. Lebih baik Anda tetap berada di tempat sampai Dia memilih untuk memindahkan Anda. Dia akan memberi tahu Anda bila Dia ingin Anda ke tempat lain. Pelayanan Anda berharga bagi Kerajaan Allah...

... Pelayanan yang terpenting sering kali adalah pelayanan yang tak terlihat. (1 Korintus 12:22-24).

Di surga, Allah dengan terang-terangan akan memberi upah kepada pelayan-pelayan-Nya yang paling tersembunyi dan paling tidak dikenal, yaitu orang-orang yang tidak pernah kita dengar di bumi, ... (Warren, 2005, pp. 286-288).

Komentar saya :

Saya mendapati dua pelajaran berharga dari pengajaran Warren yang tidak akan saya kritik pada bagian ini.

Pertama, seorang pelayan Tuhan tidak pernah pensiun melayani-Nya, meskipun di dalam dunia kita, kita bisa pensiun entah itu dari pekerjaan atau karier. Mengapa ? Karena kita melayani itu merupakan wujud satu-satunya kita dapat meresponi anugerah Allah bagi kita. Kalau kita tak melayani-Nya, kita tidak mengerti seberapa besar anugerah-Nya bagi kita. Tetapi herannya, entah dengan motivasi dan alasan yang tidak jelas, banyak gereja-gereja Protestan mainline yang mengklaim diri dipengaruhi Reformasi dan Reformed memakai kata “emeritus” pada para pendeta yang sudah tua (60 tahun ke atas), seperti “Pdt.” Em. Liem Ie Tjiauw (GKI Pregolan Bunder, Surabaya). Padahal, Pdt. Dr. Stephen Tong yang pada tahun ini (2006) telah berusia 67 tahun, tidak pernah pensiun di dalam melayani Tuhan. Begitu pula dengan Dr. Billy Graham yang telah berusia lebih dari 85 tahun tetap melayani Tuhan. Menurut saya, mengapa di dalam gereja-gereja mainline tersebut ada jabatan khusus “emeritus”, karena di dalam gereja-gereja tersebut, jiwa dan semangat melayani tidak ada, bagi mereka, jabatan pendeta tidak lain sebuah jabatan pekerjaan, tidak ada bedanya dengan jabatan direktur, manager, rektor, profesor, dll, yang bergantung pada gaji semata. Itu bukan pendeta/pemimpin gereja. Pemimpin gereja yang SETIA tidak pernah pensiun, karena mereka telah dipanggil Tuhan secara full-time/sepenuh waktu untuk melayani-Nya.

Kedua, adalah suatu pelajaran yang cukup berharga, ketika Warren mengajarkan, “banyak pemimpin sekarang memulai sebagai pelayan tetapi berakhir sebagai selebriti.” Ini benar. Seorang pemimpin gereja tetap seorang pelayan, tidak boleh lebih dari itu. Tetapi, seperti yang telah dikatakan oleh Warren, zaman sekarang, pemimpin gereja bukan lagi sebagai pelayan Tuhan, tetapi bos atau boleh dikatakan “pemerintah” Tuhan, yang artinya suka memerintah Tuhan untuk mengabulkan semua permintaannya, jika tidak dituruti, dirinya tidak mau lagi melayani-Nya. Selain itu, di Surabaya, ada seorang “hamba Tuhan” yang baru berusia 30 tahun, sudah berani menerbitkan dan mengekspos dirinya melalui sebuah buku. Ini membuktikan dirinya bukan seorang pelayan yang bertanggungjawab, tetapi seorang selebriti yang tampan dan kaya.