06 May 2009

Matius 14:22-23: THE POWER OF FAITH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 08 Juli 2007

The Power of Faith
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 14:22-23




Sebelumnya kita telah memahami kuasa belas kasihan yang dilakukan oleh Kristus; Ia harus berkorban demi orang lain mendapat berkat. Tuhan Yesus harus memecah-mecahkan roti puluhan ribu kali demi orang banyak itu makan sampai kenyang. Orang tidak pernah mengerti penderitaan Kristus sebaliknya mereka justru berpikir egois dan materialis dengan menjadikan Yesus sebagai raja. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi pemikiran orang banyak itu tak terkecuali para murid pun berpikir hal yang sama. Terbukti, pada detik terakhir Tuhan Yesus mau naik ke kayu salib, para murid, orang yang katanya paling dekat dengan Tuhan Yesus masih berpikir duniawi, mereka saling berebut posisi, ingin duduk di sebelah Tuhan Yesus dan demi keinginannya tercapai, mereka menggunakan ibu mereka yang masih mempunyai ikatan saudara dengan ibu Yesus. Peristiwa 5 roti 2 ikan ini tentunya membuat para murid merasakan suatu kebahagiaan tersendiri, euforia dimana merek ikut berbagian di dalamnya dan orang mengenal mereka sebagai murid Kristus karena itulah, Tuhan Yesus pun langsung meminta orang banyak itu untuk pulang dan menyuruh para murid pergi ke seberang.
Mat. 14:21-23 merupakan ayat jembatan yang bisa diletakkan pada perikop sebelum atau sesudahnya dan dalam hal ini, Lembaga Alkitab Indonesia meletakkannya pada perikop ’Yesus berjalan di atas air.’ Di satu sisi, ayat, pasal dan judul dalam Alkitab ini memudahkan kita namun di sisi lain, menjadi suatu titik kelemahan – orang tidak dapat melihat konteks secara keseluruhan. Teks asli Alkitab itu sendiri tidak ada ayat, pasal maupun judul dan kalau kita ingin mendapatkan kekayaan pengertian yang limpah dari Firman Tuhan.
Kisah ketiga ini dimulai dengan Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi ke seberang dan di tengah-tengah perjalanan, badai mengombang-ambingkan perahu mereka. Catatan waktu menunjukkan mulai Tuhan Yesus memberi makan orang banyak sampai Tuhan Yesus menemui mereka kira-kira jam tiga malam, itu berarti para murid diombang-ambingkan oleh gelombang dan angin sakal selama kurang lebih 6 sampai 7 jam lamanya perahu mereka berputar di laut tanpa mereka tahu harus berbuat apa. Alkitab mencatat Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang begitu dahsyat dan hari ini kita akan merenungkan tentang kuasa dari iman sejati, the power of faith. Untuk memahami hal ini maka kita harus terlebih dahulu mengerti apakah iman sejati itu.
Setelah para murid merasakan euforia yang dahsyat, Tuhan Yesus membawa mereka masuk dalam badai, hal ini dimaksudkan supaya:
1. Sadar akan realita
Seringkali berkat-berkat Tuhan menjadikan orang lupa, orang seperti melayang-layang; euforia, yakni suatu perasaan sukacita yang berlebihan membuat orang tidak dapat melihat realita maka Tuhan membawa pada suatu kondisi yang helpless. Angin dan badai tentulah bukan hal yang asing bagi para murid, mengingat profesi mereka adalah seorang nelayan dari danau Galilea maka dapatlah dikatakan mereka adalah seorang nelayan yang ahli. Namun hari itu, mereka baru sadar bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Kalau sebelumnya mereka ikut merasa bangga karena mereka turut dalam mujizat yang Tuhan Yesus lakukan maka hari itu, mereka dibukakan untuk sadar akan realita. Hati-hati dengan segala kebohongan yang dunia tawarkan hari ini yang menjadikan kita tidak realistis. Dunia mencoba menipu kita dengan ajaran positive thinking yang hari ini ramai orang bicarakan. Positive thinking menjadikan kita tidak realistis, kita dibawa masuk dalam virtual reality, yakni suatu keadaan dimana kesemuan dianggap riil.
Sadarkah kita bahwa dunia ini semakin menuju pada kehancuran dan kita berada di dalamnya – kita berada dalam dunia berdosa dan terkutuk. Hati-hati dengan positive thinking yang dikembangkan oleh Robert Schuler maupun Norman Vincent Pale atau Napoleon Hills dengan imaginary thinking-nya atau Anthony Robbins yang mencetuskan unlimited power. Adalah ajaran yang salah yang menyatakan bahwa realita itu tergantung dari apa yang kita pikir. Kalau kita berpikir sakit maka itu menjadikan kita sakit, kalau kita berpikir miskin, maka kita akan menjadi miskin. Kesulitan atau kesenangan, kaya atau miskin, sehat atau sakit bukan tergantung dari apa yang kita pikir. Tidak! Semua realita yang negatif seperti sakit, bencana alam, kemiskinan, dan lain-lain tetap exist meskipun kita tidak berpikir. Konsep think it and get it menjadikan kita tidak bisa riil melihat realita.
Tuhan ingin supaya kita sadar akan realita itulah sebab Tuhan membawa kita masuk dalam berbagai kesulitan dan penderitaan. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak berdaya dihadapan Tuhan. Bencana alam tsunami membuktikan kalau kita sangatlah kecil dan terbatas di hadapan Tuhan – tidak ada seorang pun manusia yang berhak menyombongkan diri. Iman sejati dimulai dari kesadaran bahwa kita bukanlah siapa-siapa di hadapan Tuhan.
Para murid Kristus dapatlah dikatakan sebagai seorang nelayan yang ahli, mereka tahu pasti akan kondisi dan situasi tentang laut khususnya danau Galilea tempat mereka biasa melaut tetapi hari itu, mereka sadar bahwa di hadapan Tuhan mereka bukanlah siapa-siapa. Dalam peristiwa yang lain, Alkitab mencatat para murid beberapa kali mengalami peristiwa serupa, yakni mereka dihantam badai. Tuhan Yesus tahu akan segala kekuatiran dan ketakutan yang dialami oleh para murid dan Tuhan Yesus ’sengaja’ biarkan mereka masuk dalam berbagai-bagai tantangan. Disini, barulah kita menyadari bahwa manusia tidak layak kita jadikan sebagai obyek iman. kita membutuhkan iman kepercayaan sejati yang tidak mudah digoyahkan.
2. Mengenal Kristus
Tuhan Yesus datang menjumpai para murid setelah kurang lebih enam sampai tujuh jam lamanya mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal – Tuhan Yesus berjalan di atas air. Namun perhatikan, para murid justru menyangka Tuhan Yesus itu hantu. Reaksi spontan yang ditunjukkan para murid ini menunjukkan apa yang menjadi konsep pemikiran mereka; i do what i think and i think what i believe. Orang tidak berpikir tentang Tuhan tetapi justru yang ada dalam pemikiran manusia berdosa adalah hantu. Sangatlah menyedihkan, hari ini orang justru lebih takut hantu daripada Tuhan – orang tidak dapat lagi membedakan mana Tuhan dan mana hantu. Dunia telah terbiasa membalikkan sesuatu kebenaran. Orang begitu takut mengatakan kebenaran karena mereka takut dibenci oleh dunia dan dianggap tidak normal. Salah! Kelakuan dunia yang selalu berpikir tentang hantu dapatlah dikatakan sebagai kelakuan yang tidak normal. Sebagai anak Tuhan, kita harusnya berani menyatakan kebenaran di tengah dunia berdosa ini. Disinilah diperlukan iman sejati.
a. Kunci iman sejati adalah kita tahu siapa yang menjadi obyek iman sejati. Dahulu Saulus pernah salah akan obyek imannya, kini Paulus tahu dengan pasti siapa yang menjadi obyek imannya, ia membedakan dengan tuntas siapakah Allah sejati. Iman sejati bukanlah iman yang asal percaya tetapi iman sejati harus kembali pada obyek iman yang benar. Hati-hati dengan segala tipuan iblis yang sengaja membawa manusia masuk kedalam konsep plural – iblis sengaja membalikkan konsep kebenaran. Kisah yang dicatat dan yang kita renungkan hari ini merupakan gambaran yang sangat riil dimana setiap kita dituntut untuk mengenal Tuhan yang menjadi obyek iman kita dengan baik. Obyek iman sejati perlu kejelasan pengertian sehingga subyek iman tidak salah sasaran. Pengenalan akan Allah membutuhkan menjadi tuntutan penting bagi hidup kita.
b. Alkitab juga mencatat bagaimana reaksi Petrus, si sanguin ini, ia meminta supaya ia dapat berjalan di atas air – reaksi Petrus begitu tiba-tiba pastilah tidak berpikir akan sebab akibatnya dengan permintaannya tersebut. Tuhan Yesus memakai Petrus sebagai alat peraga untuk menunjukkan pada kita tentang iman sejati yang berproses. Petrus mengalami mujizat yang dahsyat, ia dapat berjalan di atas air. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau Petrus dapat berjalan di atas air, apakah ini karena keinginannya atau karena sabda Tuhan? Inilah yang menjadi titik iman. Perhatikan, kalau Petrus dapat berjalan di atas air itu karena Tuhan yang berfirman: “Datanglah!“ Alam pun tunduk dan taat pada perintah Kristus Raja pemilik alam semesta ini dan selama Petrus percaya dan beriman pada Kristus maka mujizat itu terjadi – ia berjalan di atas air.
Anak Tuhan yang sejati seharusnya memiliki iman sejati, taat dan tunduk mutlak pada apa yang menjadi Firman Tuhan maka segala hal yang kelihatan mustahil secara logika, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Ketika Petrus berjalan di atas air, selama itu pula angin dan badai terus menerpa tetapi selama Petrus percaya penuh pada Kristus, ia tidak jatuh tapi ketika dirasakan tiupan angin, ia pun mulai takut dan saat itu juga tenggelamlah Petrus. Ironis memang, kalau tadi angin dan badai begitu kuat menghantam tapi tidak ia rasakan tetapi kini justru makin dekat pada Yesus, ia mulai merasakan tiupan angin dan mulai takut. Ketakutan Petrus cuma satu, yakni ia takut mati. Ketakutan membuat perasaan aman terhadap diri sendiri mulai muncul; orang berorientasi pada dirinya sendiri. Kepercayaan hanya ada dua point, yakni percaya mutlak pada Kristus atau pada diri sendiri. Setiap kita melangkah seharusnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita berani melangkah dengan melihat pada Kristus ataukah justru kita takut mati? Ketika perasaan takut mulai muncul dan kita mulai berorientasi pada diri maka kita telah lepas dari Kristus, itulah kecelakaan terbesar dalam diri kita.
Melalui kejadian ini, Tuhan Yesus mau membukakan pada kita tentang iman sejati dan iman palsu. Hari ini, orang begitu percaya pada diri sendiri dan menjadikan diri sebagai obyek iman. Salah! Paulus telah memberikan pelajaran berharga bagi kita, dulu dia pernah salah meletakkan diri sebagai obyek imannya sampai Tuhan hancurkan dia barulah dia menyadari bahwa sekarang dia tidak lagi menghiraukan nyawanya sedikitpun asal ia mencapai garis akhir, yakni pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (kis. 4:24). Hendaklah setiap kita mengevaluasi diri, sudahkah kita beriman mutlak pada Kristus Yesus? Dunia semakin hari semakin hancur, lalu kita mau meletakkan hidup kita dengan berpegang pada siapa? Satu-satunya sandaran yang teguh adalah Tuhan Yesus, Dia tidak pernah berubah meski dunia ini berubah. Hanya kembali pada Kristuslah kita akan menikmati kuasa kekuatan iman sejati, the power of faith. Kuasa iman bukan berdasar pada apa yang menjadi keinginan kita. Tidak! Kuasa iman itu terjadi ketika kita taat mutlak pada Firman-Nya. Percayalah, betapa sukacita hidup kita ketika kita taat pada pimpinan-Nya. Janganlah kita berorientasi pada diri tetapi hendaklah kita kembali pada obyek iman sejati.
3. Kembali pada obyek iman yang sejati
Alkitab mencatat ketika rasa takut itu mulai menerpa Petrus dan ia mulai tenggelam, ia langsung berseru dan datang pada Tuhan untuk meminta pertolongan dari Tuhan. Pada saat kita jatuh, itulah waktunya kita untuk bertobat dan kembali pada Kristus. Namun manusia begitu sombong tidak mau mengakui kesalahan dan kembali pada Tuhan tetapi kita malah membela diri maka saat itu kecelakaan fatal dalam diri kita. Hari ini banyak orang yang justru menyalahkan dan memaki-maki Tuhan ketika ia berada dalam kesulitan. Petrus memberikan suatu pelajaran yang berharga bagi kita, di saat ketakutan dan kekuatiran itu mulai muncul, ia berseru pada Tuhan dan Kristus pun mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun reda dan perhatikan, para murid yang tadinya menyangka Yesus sebagai hantu, sekarang keluar pernyataan iman dari mulut mereka: “Sesungguhnya, Engkau Anak Allah.“ Ingat, pada jaman itu orang Yahudi akan dihukum mati kalau ia mengakui: Yesus sebagai Anak Allah. Mereka disadarkan bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya. Kristus ingin supaya para murid hanya berorientasi pada Kristus bukan pada angin sakal. Tanda adalah tanda tetapi orientasi bukanlah pada tanda.
Ketika orang banyak itu makan sampai kenyang, mereka tidak pernah peduli siapa yang memberi mereka makan, mereka tidak pernah mengerti siapakah Kristus yang sejati. Iman bisa menghasilkan banyak mujizat dan banyak kuasa tetapi iman bukanlah ekstensi tetapi iman membicarakan obyek, yakni Kristus Anak Allah. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi orientasi iman kita? Hendaklah setiap kita kembali pada obyek iman sejati bukan pada apa yang menjadi ekstensi iman – bukan pada tandanya. Hari ini begitu banyak orang yang menginginkan dan menekankan mujizat. Hati-hati, iblis juga dapat membuat mujizat tetapi perhatikan, mujizat yang dikerjakan adalah mujizat yang mementingkan diri dan untuk kemuliaan diri. Mujizat sejati harus kembali untuk kemuliaan Tuhan. “Sesungguhnya, Engkau adalah Anak Allah“ biarlah hal ini menjadi pengakuan iman kita. Bersandarlah mutlak hanya pada Kristus maka kuasa iman itu akan beserta, memimpin setiap langkah hidup kita.
Sadarkah kita kalau setiap kita sudah mendapatkan mujizat terbesar dalam hidup kita, yakni kembalinya kita pada Kristus. Bukan karena kehebatan, kekayaan atau kepandaian kita kalau kita dapat bertobat. Sebab terbukti banyak orang yang katanya hebat tetapi tidak mau kembali pada Kristus. Pertobatan kita merupakan mujizat terbesar sepanjang hidup kita. Cobalah renungkan hidup kita sampai detik ini, betapa banyak mujizat Tuhan yang dinyatakan atas kita, setiap langkah Ia pimpin maka janganlah engkau takut, Tuhan pasti akan menyertai ketika kita berada dalam kesulitan. Ketika Musa dalam keadaan terjepit di antara ribuan prajurit dan laut merah maka Tuhan memberikan jalan keluar yang sangat ajaib. Secara logika, hal itu mustahil tetapi Musa taat dan laut pun terbelah menjadi dua. Masih banyak pekerjaan Allah yang sangat ajaib yang dicatat dalam Alkitab. Inilah kuasa iman yang sejati; semua itu dilakukan bukan untuk kepentingan kita tetapi ketaatan kepada Tuhan yang memungkinkan kita mengalami mujizat Tuhan. Biarlah kita sebagai subyek iman kembali pada obyek iman yang sejati maka hal itu akan membawa kita pada kuasa iman yang sejati. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

03 May 2009

CORAT-CORET SEPUTAR FACEBOOK (Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.)

CORAT-CORET SEPUTAR FACEBOOK

oleh: Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.)




Meminjam istilah dari Saudara Wie Khiong, saya tidak berpura-pura untuk mengetahui seluruh seluk beluk Facebook melalui tulisan ini. Lagipula orang yg ndak punya Facebook apa boleh melakukan corat-coretan tentang Facebook? Hmmm, setelah bergumul beberapa saat saya mengambil keputusan ... Boleh! Lho, ini seperti orang Arminianist tulis tentang theologi Calvin dong? Ya, tapi siapa yang bilang orang anti-Calvinism ndak boleh tulis tentang Calvin? Boleh saja, bahkan dari situ kita bisa belajar theological concern yang mereka teriakkan di dalam ketidak-setujuan tsb, dan mungkin, bisa menjadi kritik yang membantu (terlepas dari gambarannya karikatural atau tidak) untuk terus melakukan koreksi internal terhadap ketidak-sempurnaan theologi kita sendiri. Seperti sering dikatakan oleh seorang hamba Tuhan yang diurapi: kritik mungkin adalah bocoran penghakiman Tuhan yang diberikan kepada kita sebelum hari kiamat. Berbahagialah mereka yang tidak autis, karena merekalah yang empunya progresi terus-menerus dalam hidup ini. Hei Mr. K, tadi katanya mau tulis tentang Facebook, kok malah puter-puter di Arminianism - Calvinism lagi sih! Sabar dong Mr. B, ini kan baru introduksi dulu, prolegomena!
K : hmm, saya juga suka tuh mainan lego. Saya juga seorang pro lego, dan kalau saya lagi main, saya belajar untuk tidak semena-mena. Saya adalah seorang penganut prolegomena!
B : Ndak lucu Mr. K L OK, sekarang mari kita melakukan corat-coretan seputar Facebook. Boleh kan?
K : Ya, boleh saja, itu hak asasi Anda, asal ... tolong saya juga diajak ikut main ya. Jangan corat-coret sendiri. Nanti Anda bikin gambaran karikatur lagi.
B : Lho, emangnya kenapa kalau saya mau bikin gambaran karikatur? Boleh juga kan?
K : Ya, kalau Anda mempunyai bakat karikatur sih boleh saja, tapi kalau Anda tidak diberikan Tuhan bakat itu, maka ...
B : Maka apa?
K : Anda yang akan jadi karikaturnya, Mr. B!
B : Tapi kalau saya tidak keberatan dijadikan karikatur?
K : Hmmm, that's interesting. Ya, boleh juga J
B : Sekarang tentang Facebook. Facebook.
K : Ya, terusin aja, jangan bertele-tele!
B : Begini lho, setiap orang itu pada dasarnya narcis! Dia mau mukanya dilihat oleh orang lain.
K : That is a daring thesis, Mr. B!
B : Sudah gitu, dia berpura-pura jadi celebrity di situ, padahal tampang aja juga kagak kesampaian.
K : Mr. B?
B : Lalu dia menikmati ke-‘terkenalan’nya itu, secara autisme tentunya, dengan hyper GR-nya, bahwa semua orang pasti tertarik dengan foto-foto yang dipajangnya, termasuk juga cerita-cerita pribadinya yang dibuat seolah-olah adalah berita halaman utama di koran internasional.
K : Mr. B, Anda mulai keterlaluan di sini.
B : SEBENTAR TOH! BIARKAN SAYA SELESAI GAMBAR KARIKATUR INI DULU, nanti Anda boleh kasih komentar, OK?
K : Astaga, saya baru tahu ternyata Anda juga bisa teriak-teriak gitu ya.
B : Coba bayangkan kenapa namanya Facebook. Adakah DENGKULbook, atau JEMPOLKAKIbook?
K : Oh, Mr. B, I think you forget to drink your medicine today. O ... o ...
B : Mana ada orang yang mau join di DENGKULbook yg persyaratannya adalah tidak boleh mempertontonkan apa pun kecuali dengkul. Anda bisa bayangkan foto dengkul-dengkul dimasukkan ke dalam berbagai macam Album perdengkulan. Dengkul pada pagi hari, pada siang hari, dengkul sebelum tidur, dengkul setelah baru kecentok meja marmer, dengkul lagi diperban, dsb. Coba, siapa yang mau lihat hayo?
K : Wah, Anda benar-benar ngaco ngomongnya, sama sekali tidak aristokratis.
B : Seunik-uniknya dengkul manusia, dan meskipun tidak ada satu dengkulpun yang sama di dunia ini, saya jamin tetap nggak ada yang mau lihat, ya kan?
K : (silence)
B : Ya kan?
K : (repeated silence)
B : Mr. K. Hallloooo ..... Anybody there? OK, kalau begitu, nah sekarang kita berpindah kepada JEMPOLKAKIbook.
K : SUDAH, SUDAH! Tentang jempol kaki ndak usah dibahas lagi, saya kira-kira sudah tahu Anda mau bergerak ke mana. Bisakah kita ngomong sesuatu yang theologis, karena saya ini adalah seorang ‘ahli Taurat.’
B : Semua yang kita bicarakan tadi mempunyai makna theologis Mr. K, sesungguhnya kita ndak bisa membicarakan apa-apa secara benar tanpa perspektif theologis. OK. Sampai mana tadi? Oh ya, tentang jempol kaki.
K : Sudah saya bilang URUSAN JEMPOL KAKI SUDAH SELESAI!
B : OK, OK, OK. Kita juga bisa ngomongin yang lain kalau Anda ndak senang. Seperti tadi saya bilang, dengan Facebook, orang sebenarnya sedang memelihara narcistic spiritnya! Coba Anda juga lihat blog-blog itu, termasuk yang ditulis oleh orang-orang Kristen. Ah, mereka cerita apa saja, sampai kucingnya kesandung pun ditulis di blog coba! Totally autistic and narcistic! Who cares coba? Siapa yang peduli dengan kucingnya? Siapa hayo, siapa?
K : Orang-orang green peace?
B : Hah? Ada ya? Hmm. Gimana kalau saya panggil mereka ke rumah saya?
K : Ada apa ya?
B : Saya bisa memodali mereka untuk membuka peternakan kecoa. Di tempat saya banyak soalnya. Hmm, mudah-mudahan mereka mau ya.
K : Balik ke persoalan Facebook, Mr. B., apa Anda yakin bahwa semua pengguna Facebook adalah seperti yang Anda gambarkan tadi?
B : Tergantung pada kata “semua” itu, maksudnya di sini adalah semua dalam pengertian semua universal atau semua orang pilihan.
K : Hei, kita ndak sedang bahas itu sekarang! So incontext-sensible! OK, sekali lagi ya: Anda yakin tidak bahwa semua pengguna Facebook adalah seperti itu?
B : Saya boleh balik bertanya: Anda yakin tidak bahwa semua pengguna Facebook tidak ada yang punya kecenderungan seperti itu?
K : hmm, ndak tahu, saya belum melakukan perhitungan statistik. Lagipula, saya bukan penganut empirisisme.
B : Kalau begitu, biarlah kalimat itu berbicara. Kalau pun tidak ada yang begitu, ya itu adalah khotbah untuk you Mr. K!
K : gleg (menelan ludah) Tapi, masa Facebook hanya sekadar dimengerti sebagai pameran muka. Gambaran karikatur Anda agaknya terlalu reduktif. Bisakah bahas yang rada berpengharapan?
B : Hmm. Yang rada berpengharapan ya. Sebentar ya, saya natur orangnya pesimis sih. Hmm. Sebentar .... (tiba-tiba keluar lampu seperti pada Mr. Akal) Nah, ini nih! Kata seorang filsuf pertemuan dengan wajah itu membawa kita pada perjumpamaan dengan orang lain. Di situ kita keluar dari kurungan autisme diri sendiri, pecah dari kecenderungan egologi.
K : Egologi? Ekologi maksud Anda?
B : Bukan, egologi.
K : EKologi!!
B : Saya bilang: e g o l o g i.
K : Bukan! E K O L O G I.
B : Nah, ya ini yang namanya autis. Ya persis gini ini! Gak mau mendengarkan orang lain. Ngotot sendiri. Anda kesepian lho kalau hidup begini terus.
K : Kesepian, mengapa?
B : Karena Anda akan mengalami apa yang disebut “alienasi modern.”
K : Alien vs. Monster?
B : Ah, sudahlah! Saya mulai curiga, Anda ini autis atau malah sebenarnya budhek! Kita lanjutkan lagi: perjumpaan dengan wajah sesama itu menuntut suatu tanggung-jawab.
K : Wow, sounds so serious. Apa ini ajaran Kristen ya?
B : Pemikiran itu sebenarnya banyak mengambil dari Perjanjian Lama. Kalau kita baca dari terang Perjanjian Baru di situ kita membaca bahwa kemuliaan Allah terpancar sempurna pada wajah Kristus (2Kor. 4:6). Perjumpamaan dengan wajah Kristus itu juga menuntut suatu tanggung-jawab yang besar: suatu keputusan yang harus diambil.
K : Keputusan apa itu?
B : Keputusan untuk menerima Dia sebagai Pribadi yang merefleksikan kemuliaan Allah secara sempurna atau autis dan tetap tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh-Nya.
K : Apa yang dikatakan oleh-Nya?
B : “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28)
K : Kelegaan ... Saya letih dalam hidup ini, letih untuk membuktikan diri bahwa saya hebat dan patut dikagumi oleh banyak orang. Saya selalu berusaha untuk tampil sempurna, dengan harapan orang lain boleh menerima saya. Saya pajang foto-foto yang terbaik di Facebook supaya orang memberikan komentar-komentar yang menyanjung saya. Eh, saya malah dikritik kanan kiri, katanya fotonya kurang simetris lah, itu cahayanya datang dari arah yang salah, kenapa ada kucing di situ, dsb dsb. Oh .... mama! (sambil menangis)
B : Hei sudah-sudah. Kita belum selesai pembicaraan kita. Nah, Facebook itu bisa menjadi spiritual exercise.
K : SPIRITUAL EXERCISE? Anda ini memang orang ekstrem, tadi bilang narcis, sekarang spiritual exercise? Itu kontradiksi kan? Atau Anda mau bilang lagi-lagi PARADOX?
B : Bukan, itu bukan paradoks tapi kontradiksi memang. Artinya Anda harus memilih salah satu dan meninggalkan yg lainnya.
K : Saya akan memilih bagian yang baik kalau begitu dan meninggalkan pilihan yang jelek.
B : Kita bisa menggunakan Facebook itu bukan untuk memamerkan our own face, but to see other's face. Perhatikanlah wajah manusia itu, tidakkah itu memancarkan kemuliaan Allah juga?
K : Tergantung, kalau muka orang yang saya suka dan suka saya ya iya, tapi kalau orang yang saya gak suka, ya .... sulit ya membayangkan kemuliaan Allah di situ.
B : Kalau Anda belajar mengasihi orang lain sebagaimana apa adanya, Anda akan semakin melihat pancaran kemuliaan Allah dalam wajah sesama Anda.
K : Really?
B : Ya, bahkan ketika Anda belajar tidak hanya melihat wajah Anda di depan cermin yang sudah bosan melihat wajah Anda.
K : Hei ...
B : Dan mulai belajar untuk memperhatikan wajah sesama Anda beserta dengan segala pergumulan mereka, wajah Anda sendiri juga akan semakin memancarkan kemuliaan Allah.
K : Wow, aesthetically promising ...
B : Keindahan wajah seseorang tidak dinilai dari berapa hebat seseorang merias dirinya sendiri dan mempertontonkannya pada orang lain, melainkan dari berapa dalam dia menatap wajah sesamanya di dalam kasih Kristus. Orang yang mengasihi Allah dengan kasih yang tulus bahkan tidak memperhatikan wajahnya sendiri, dia tidak jaim, dia tidak ada waktu untuk itu karena dia lebih tertarik untuk memperhatikan wajah sesamanya. Dan pada akhirnya, dia sendiri akan diberi pahala untuk melihat kemuliaan Allah muka dengan muka (1Kor. 13:12). Itulah puncak dan akhir dari semua perjalanan rohani kita di dunia ini.
K : Mr. B, kemarin Anda bilang katanya harus ada kaitan antara limited atonement dan Facebook. Gimana itu?
B : Mr. K, limited atonement lain kali aja ya, sekarang sudah larut malam, kemarin I only had some limited sleep, so hari ini I should get some universal sl... I mean ... enough sleep. Lagipula besok adalah saat datang beribadah kepada Tuhan, kita semua akan mencicipi pemandangan wajah Tuhan melalui mata iman kita, let us prepare to enjoy God's special presence tomorrow. Solus Christus, Sola Gloria Dei.



Sumber:
http://groups.yahoo.com/group/METAMORPHE (Sabtu, 25 April 2009; Pkl. 21.25 WIB)




Profil Pdt. Billy Kristanto :
Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (Cand.) lahir pada tahun 1970 di Surabaya. Sejak di sekolah minggu mengambil bagian dalam pelayanan musik gerejawi. Setelah lulus SMA melanjutkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin majoring in harpsichord (Cembalo) di bawah Prof. Mitzi Meyerson (1990-96).
Setelah menamatkan studi musik di Hochschule der Künste di Berlin pada tahun 1996 Pdt. Billy Kristanto melanjutkan post-graduate study di Koninklijk Conservatorium (Royal Conservatory). Beliau melayani sebagai Penginjil Musik di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Jakarta sejak Februari 1999 and pada tahun yang sama memulai studi theologi di Institut Reformed. Setelah lulus pada tahun 2002 dengan mendapatkan gelar Master of Christian Studies (M.C.S.) beliau menjabat sebagai Dekan School of Church Music di Institut Reformed Jakarta. Ditahbiskan menjadi pendeta sinode GRII di tahun 2005 beliau saat ini menggembalakan jemaat MRII Berlin, MRII Hamburg, PRII Munich, dan Persekutuan Reformed Stockholm. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi doktoral (Ph.D.–Cand.) di bidang musikologi di Universitas Heidelberg, Jerman. Beliau menikah dengan Suzianty Herawati dan dikaruniai dua orang anak, Pristine Gottlob Kristanto dan Fidelle Gottlieb Kristanto.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.



Sedikit catatan dari Denny Teguh Sutandio:
Artikel ini harus dicermati dengan bertanggungjawab oleh para pengguna Facebook. Lebih tajam lagi, para pengguna Facebook sebenarnya TIDAK berdosa jika memiliki account Facebook asalkan mereka benar-benar bertanggungjawab secara motivasi, bukan hanya asal nampang.

Roma 15:1-3: JEMAAT YANG SALING MENGUATKAN DAN MENYENANGKAN

Seri Eksposisi Surat Roma:
Menjadi Berkat Bagi Sesama-2


Jemaat yang Saling Menguatkan dan Menyenangkan

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 15:1-3.



Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan harus menjadi berkat dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun/menguatkan di pasal 14 ayat 19 s/d 23, maka Paulus melanjutkan pembahasannya pada aplikasi bagaimana jemaat bisa saling menguatkan. Mengapa saya mengatakan bahwa pasal 15 ayat 1-6 merupakan kelanjutan dari 14:19-23? Karena di ayat 1, Paulus menggunakan kata “Maka” dalam teks aslinya. Terjemahan Baru LAI menerjemahkannya, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” Terjemahan Baru LAI ini tidak menunjukkan adanya kaitan tersebut. Beberapa terjemahan Inggris ada yang menerjemahkan dengan menambahkan kata then (kemudian), sedangkan beberapa terjemahan Inggris lainnya tidak menerjemahkannya. English Majority Text Version (EMTV), King James Version (KJV), Modern King James Version (MKJV), James Murdock New Testament, 1833 Webster Bible menerjemahkannya dengan menambahkan kata then (=kemudian). God’s Word menerjemahkannya dengan menambahkan kata So (=Oleh karena itu/Jadi). Kata Yunani yang dipakai adalah de bisa diterjemahkan tetapi, dan, dll (but, and, etc). Kata ini menurut struktur bahasa Yunaninya adalah sebuah kata sambung (conjunction) yang menghubungkan kalimat sebelum dan sesudahnya secara setara (coordinating, bukan subordinating). Dengan kata lain, kita mendapatkan pengertian bahwa setelah kita dituntut oleh Paulus untuk menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan kedamaian dan saling membangun, kita dituntut untuk mengaplikasikannya di dalam persekutuan jemaat. Kita yang mengaplikasikannya ini disebut Paulus sebagai orang yang kuat. Kata “kuat” di dalam bahasa Yunaninya adalah dunatos yang berarti berkuasa atau mampu (powerful, capable). Berarti, kita disebut oleh Paulus sebagai orang yang berkuasa atau mampu. Berkuasa dalam hal apa? Berkuasa/mampu dalam mengerti hal-hal rohani. Sesuai konteks, kita mengerti bahwa kata ini dipakai untuk mereka yang bebas makan makanan apa pun tanpa terikat. Nah, agar kita menjadi berkat bagi sesama dengan menguatkan mereka, maka Paulus mengatakan bahwa kita harus membatasi kebebasan kita demi sesama kita. Bagaimana caranya? Paulus membagikannya menjadi dua cara, yang saya sebut sebagai cara positif dan pasif negatif. Cara itu adalah:
Pertama, wajib menanggung kelemahan orang yang lemah. Kata “menanggung” dalam bahasa Yunani adalah bastazō bisa berarti mengangkat (to lift), menanggung/membawa (to bear), membawa (to carry), dll. Di dalam Perjanjian Baru, kata ini muncul sebanyak 27x dan bisa diterjemahkan memikul, mengusung, memberitakan, menahan (penderitaan), bahkan mencuri. (Hasan Sutanto, 2003, Konkordansi Perjanjian Baru Yunani-Indonesia, hlm. 148) Dalam struktur bahasa Yunaninya, kata kerja ini berbentuk present (terus-menerus) dan aktif. Lalu, kata “kelemahan” di sini dalam bahasa Yunaninya adalah asthenēma bisa berarti kelemahan (infirmity) atau keberatan hati nurani (a scruple of conscience). Kata ini hanya muncul satu kali di dalam Perjanjian Baru. Sesuai konteks, kelemahan di sini lebih tepat diterjemahkan seperti arti dari bahasa Yunaninya yaitu keberatan hati nurani, karena konteks menunjukkan bahwa ada jemaat Roma (khususnya yang masih berpegang ada adat-istiadat Yahudi) yang memiliki keberatan hati nuraninya kalau memakan sesuatu yang tidak halal. Dengan kata lain, kita yang kuat rohaninya dituntut oleh Paulus untuk terus-menerus ikut menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah hati nuraninya. Ikutnya kita bersama-sama memikul keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah membuktikan bahwa kita memperhatikan mereka dan kita sudah menjadi berkat bagi mereka. Bagaimana caranya ikut menanggung keberatan hati nurani jemaat yang lemah ini? Di dalam 1 Korintus 8:13, Paulus memberikan contoh konkritnya yaitu ia tidak akan makan daging selama-lamanya jika makanan tersebut menjadi batu sandungan bagi sesama jemaat. Kalau Paulus bisa mempraktikkan apa yang diajarkannya, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita siap ikut menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat? Kalau di konteks Paulus, itu menunjuk kepada makanan, maka di zaman sekarang, itu bisa menunjuk kepada perbedaan doktrin secara sekunder. Kita tidak mau memahami kelemahan/keberatan jemaat lain yang mungkin belum mengerti doktrin-doktrin Alkitab secara mendalam seperti yang telah kita pelajari, tetapi sering kali kita menjadi sombong, lalu mengajar mereka yang tidak mengerti dengan istilah-istilah yang sulit. Ketika kita tahu bahwa ada jemaat yang kurang mengerti atau lemah imannya, bukankah kita yang lebih kuat imannya dipanggil menguatkan mereka, bukan sok jagoan mengajar mereka dengan istilah-istilah theologi yang rumit? Ini menjadi refleksi bagi kita yang sudah belajar theologi. Theologi yang kita pelajari sering membuat kita menjadi sombong di dalam mengajar dan berkhotbah, sehingga pendengar yang belum tentu semuanya berpendidikan tinggi diharuskan mengerti apa yang kita beritakan/ajarkan. Tugas Kekristenan dan theologi yang sehat adalah menjadikan theologi itu “mendarat” di bumi dengan istilah-istilah yang mudah dimengerti namun jelas, berisi, dan bertanggungjawab.

Kedua, tidak mencari kesenangan diri sendiri. Atau dalam terjemahan Yunaninya adalah jangan menyenangkan (KJV: please = menyenangkan) diri kita sendiri. Dalam struktur bahasa Yunaninya, kata kerja ini sama seperti kata kerja menanggung di poin pertama tadi, yaitu menggunakan keterangan waktu present (terus-menerus) dan aktif. Dengan kata lain, selain kita menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah, kita diperintahkan Paulus untuk secara negatif namun aktif untuk tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri. Mengapa? Karena bagi Paulus, orang yang terus-menerus menyenangkan dirinya sendiri adalah orang yang egois dan tidak memiliki kasih. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih masa bodoh dengan keberatan hati nurani jemaat lain yang berbeda doktrin dengan kita? Biarlah poin ini menyadarkan kita untuk tidak egois. Orang yang egois tidak akan bisa menjadi berkat bagi sesama jemaat dan itu pun dibenci oleh Allah (bdk. ay. 3).


Setelah kita diajar untuk menanggung keberatan hati nurani orang lain dan tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri, lalu apa yang kita kerjakan selanjutnya? Di ayat 2, Paulus mengajarkan, “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.” Di ayat ini, kita diharuskan Paulus untuk menyenangkan sesama kita demi kebaikannya untuk membangun. Paulus sangat teliti memakai kalimat di ayat ini. Ia tidak mengajar bahwa kita harus mencari kesenangan sesama kita, lalu berhenti. Tetapi ia menyambung dengan mengatakan, “demi kebaikannya untuk membangunnya.” Tambahan perkataan ini sangat signifikan untuk kita pelajari. Kita menyenangkan sesama kita bukan untuk kepuasan sesama kita, tetapi demi kebaikannya. Apa bedanya demi kepuasannya dan demi kebaikannya? Jika kita menyenangkan sesama kita demi kepuasannya, itu dilatarbelakangi oleh kekesalan kita karena orang lain itu cerewet bukan main, maka kita menyenangkannya supaya dia merasa puas dan tidak cerewet. Tetapi jika kita menyenangkan sesama kita demi kebaikannya, berarti kita memperhatikan dan mengasihi jemaat tersebut. Ini dua motivasi dan tujuan yang berbeda. Bagaimana dengan kita? Ketika kita mencoba menyenangkan sesama kita, apa motivasi kita? Supaya dia puas dan tidak mengomel lagi ataukah kita benar-benar memperhatikan dan mengasihi mereka?

Cukupkah menyenangkan sesama kita hanya demi kebaikannya saja? TIDAK. Paulus mengatakan bahwa kita harus menyenangkan sesama kita untuk membangunnya. KJV menerjemahkan “membangun” sebagai edification (pendidikan moral atau pengajaran yang baik). Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah yang baik untuk pembinaan. (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 873) Dengan demikian, kita mengerti bahwa kita menyenangkan sesama kita tidak berarti kompromi, tetapi bertujuan untuk membina jemaat yang keberatan hati nurani itu supaya mereka bertobat dan kembali kepada pengajaran yang beres. Ujung-ujungnya, standarnya tetap adalah Kebenaran, bukan kompromi-isme seperti yang diilahkan oleh banyak orang postmodern. Bagaimana dengan kita? Apakah ketika kita menyenangkan sesama, kita mengkompromikan iman dan kebenaran hakiki? Ataukah ketika menyenangkan sesama kita, kita tetap bertujuan menuntun mereka kembali kepada kebenaran?


Mengapa kita harus menyenangkan sesama kita? Paulus memberikan dasar pijaknya yaitu teladan dari Kristus sendiri di ayat 3, “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku."” Kata “mencari kesenangan” seperti di dua ayat di atas seharusnya diterjemahkan “menyenangkan.” Berarti, Kristus sendiri tidak menyenangkan diri-Nya sendiri. Kalau Kristus mau menyenangkan diri sendiri, itu tidak sulit bagi-Nya, karena Ia adalah Anak Allah, Ia bebas melakukan apa pun. Tetapi puji Tuhan, di dalam kebebasan-Nya, Ia “membatasi” kebebasan-Nya dengan rela menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa. Ia lebih memikirkan bagaimana menggenapi kehendak Bapa ketimbang memikirkan kesenangan diri. Saya mengganti “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku."” dengan menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa, karena Mazmur 69:10b yang secara konteks menunjuk kepada Daud di dalam doa kesesakannya, sekarang dipakai Paulus untuk menjelaskan tentang Kristus dan itu memang benar. Mengapa Ia mau menanggung celaan manusia yang ditujukan kepada Bapa? Karena Ia mengasihi manusia berdosa. Seperti Kristus yang telah menjadi teladan bagi umat Tuhan dengan menanggung celaan yang dilontarkan manusia kepada Bapa dengan tujuan agar umat pilihan-Nya yang termasuk di dalamnya itu diperdamaikan dengan Bapa-Nya, bertobat, dan menerima-Nya, maka kita pun sebagai anak-Nya harus menanggung kelemahan/keberatan hati nurani jemaat lain dengan tujuan agar jemaat yang lemah imannya itu boleh dikuatkan dan diajar melalui perhatian dan kasih kita yang mengajar mereka. Sudahkah kita siap dipakai Tuhan menjadi berkat bagi sesama kita dengan menguatkan mereka yang lemah imannya?


Biarlah renungan dari 3 ayat ini menguatkan kita untuk terus-menerus menjadi saluran berkat bagi sesama kita dengan saling menguatkan dan menyenangkan sesama kita dengan standar kebenaran. Amin. Soli Deo Gloria.

26 April 2009

Roma 14:19-23: MENGEJAR KEDAMAIAN DAN SALING MEMBANGUN

Seri Eksposisi Surat Roma:
Menjadi Berkat Bagi Sesama-1


Mengejar Kedamaian dan Saling Membangun

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 14:19-23.



Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan tidak boleh menjadi batu sandungan bagi sesamanya di ayat 13 s/d 18, maka apa yang harus kita lakukan kemudian? Pada 5 ayat terakhir yaitu di ayat 19 s/d 23, Paulus menjelaskan bagaimana anak Tuhan hidup menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun tanpa meributkan hal-hal sekunder, misalnya tentang makanan.


Kelima ayat pembahasan mengenai hidup dalam damai sejahtera itu dimulai di ayat 19, di mana ia menyimpulkan ayat sebelumnya dan memulai pengajaran baru yang menjadi dasar penjelasannya di ayat berikutnya, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” “Sebab itu” menunjukkan lanjutan dari ayat 18 dan suatu kesimpulan dari ayat sebelumnya. Jika di ayat 18, kita belajar bahwa dengan kita tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa, kita berkenan kepada Allah dan dihormati manusia, maka di ayat 19, Paulus mengingatkan jemaat Roma kembali mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera (bdk. Rm. 12:18). Kata kerja “mengejar” dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif dan present. Berarti, sebagai umat Tuhan, kita dituntut untuk secara aktif terus-menerus mengejar sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera. Penulis Surat Ibrani mengajarkan hal yang sama, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibr. 12:14) Dengan demikian, setiap anak Tuhan dituntut untuk mengejar hidup damai dengan semua orang. Damai sejahtera seperti apa? Kembali, Paulus telah menguraikannya di ayat sebelumnya, yaitu ayat 17 yaitu damai sejahtera yang didahului oleh kebenaran keadilan dan disertai dengan sukacita yang kesemuanya dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam Kerajaan Allah. Berarti, ada pembatasan arti damai sejahtera yang Paulus ingin ajarkan, yaitu berkaitan dengan kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan berakhir dengan Kerajaan Allah. Memisahkan dan meredefinisi damai sejahtera di luar hal-hal tersebut bukanlah damai sejahtera yang diajarkan Alkitab! Dalam mengejar damai sejahtera itu, kita tetap harus mempertimbangkan aspek kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan Kerajaan Allah, sehingga di dalam proses mengejar itu, kita tidak berkompromi terhadap dosa. Di dunia postmodern, damai sejahtera sudah menjadi bahan obralan yang dijual murahan. Damai sejahtera TIDAK lagi dimengerti berkaitan dengan kebenaran keadilan apalagi Kerajaan Allah. Para pemimpin gereja arus utama mempromosikan damai sejahtera berbeda dari apa yang diajarkan Alkitab. Ide utama mereka adalah ide humanis atheis yang antroposentris, ujung-ujungnya kompromi iman, lalu mengajarkan (secara eksplisit maupun implisit) bahwa semua agama itu sama saja. Ketika dunia menawarkan konsep damai sejahtera palsu, Alkitab mengajarkan damai sejahtera yang berkaitan dengan Kerajaan Allah yang tentu TIDAK mengenal kompromi. Damai sejahtera sejati TIDAK berkompromi dengan dosa sedikitpun (bdk. Ibr. 12:14 di atas). Itulah yang harus kita kejar terus-menerus di dalam hidup kita. Bagaimana menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengompromikan dosa mereka?! Ketika kita menegur dosa mereka, itu TIDAK berarti kita menjadi damai sejahtera bagi mereka. Justru, ketika kita menegur dosa mereka dengan kasih disertai kebenaran Allah, kita sebenarnya mendatangkan damai sejahtera bagi mereka, sehingga mereka merasakan damai sejahtera Kristus yang mengoreksi dan mengakibatkan mereka bertobat oleh karya aktif Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengkompromikan dosa dan iman kita?!

Kita bukan hanya menjadi alat perdamaian, tetapi Paulus juga mengajar kita untuk saling membangun. King James Version (KJV) menerjemahkan, “one may edify another” (=seorang dapat mengajar orang lain). New International Version (NIV) menerjemahkan, “and to mutual edification” (=dan kepada pengajaran satu sama lain). Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah, “pembinaan.” (Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 871) Dari struktur bahasa Yunani, kata ini sebenarnya bukan kata kerja, tetapi kata benda. Kata benda ini disejajarkan dengan kata sebelumnya yaitu “damai sejahtera” yang juga merupakan kata benda (paralelisme). Dengan kata lain, ayat 19 ini dapat diterjemahkan, “Karena itu, marilah kita mengejar hal-hal dari damai sejahtera dan hal-hal pembinaan satu sama lain.” Dari sini, kita belajar bahwa kita bukan hanya menjadi alat perdamaian saja, tetapi kita dituntut untuk saling memberi pengajaran. Perdamaian harus disertai dengan pengajaran satu sama lain. Di sini, kembali, Paulus TIDAK memisahkan perdamaian dari pengajaran. Kalau orang Kristen abad postmodern dan tidak sedikit pemimpin gereja hari-hari ini memisahkannya, lalu mengajar bahwa doktrin itu tidak penting, yang penting bersatu dan berdamai saja, “dalam Yesus kita bersaudara,” itu jelas tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena Paulus sendiri mengajar bahwa kita tetap perlu mengejar hal-hal damai sejahtera dan juga pengajaran satu sama lain. Mengapa Paulus mengaitkan dua hal ini? Karena damai sejahtera tanpa disertai pengajaran satu sama lain bisa berakibat fatal. Artinya, damai sejahtera tanpa pengajaran akan menjadi suatu perasaan damai sejahtera yang tidak ada dasarnya dan bahkan bisa menipu dan menyesatkan, yang tidak ada bedanya seperti konsep “damai sejahtera” ala postmodern. Lalu, pengajaran itu bukan satu arah sifatnya, tetapi dua arah (perhatikan kata “saling” atau mutual). Artinya, kita sama-sama belajar dan mengajar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk meributkan hal-hal yang tidak penting. Ketika gereja-gereja Tuhan bersama-sama dengan rendah hati mau belajar bersama-sama akan kebenaran firman Tuhan, maka kita dapat bersatu memperluas Kerajaan Allah dengan kebenaran firman-Nya (Sola Scriptura). Tetapi sayangnya, banyak gereja sudah stagnan dan tidak mau lagi terbuka untuk bersama-sama belajar firman Tuhan dengan segudang argumentasi, misalnya, “doktrin tidak penting”, “Alkitab belum tentu satu-satu kebenaran, di dalam agama lain juga ada kebenaran”, “jangan menghakimi”, “jangan fanatik”, dan argumentasi “theologis” dan “logis” lainnya yang tidak bertanggungjawab. Mereka lebih memperhatikan hal-hal eksternal ketimbang internal. Mereka lebih memperhatikan megahnya gedung gereja, tuanya sejarah gereja mereka, dan bahkan tua dan kunonya kursi-kursi dan pendeta gereja mereka. Gereja seperti ini sudah mau mati, tetapi tidak pernah sadar. Yang mereka perhatikan adalah hal-hal sekunder dan fana, akibatnya tidak usah heran, di negara-negara Barat, banyak gereja-gereja Protestan arus utama (yang dipengaruhi oleh “theologi” liberal baik eksplisit maupun implisit) sudah menjadi monumen, yang hanya dikunjungi oleh banyak orang-orang tua, sedangkan banyak orang-orang muda yang melarikan diri ke diskotek, pub, bar, dll. Sudah saatnya, gereja Tuhan BANGKIT. BANGKIT seperti apa? BANGKIT kembali kepada Alkitab, perjuangkan kebenaran firman-Nya, beritakan Injil-Nya, dan bersaksilah bagi kemuliaan-Nya.


Setelah kita diingatkan Paulus untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka di ayat 20, ia mengingatkan kembali, “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” Ketika kita sudah mengetahui bagaimana mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka otomatis kita tidak lagi merusakkan pekerjaan Allah hanya karena meributkan hal-hal sepele/sekunder, misalnya makanan. Di sini, Paulus mengaitkan bahwa barangsiapa yang menjerumuskan orang lain ke dalam dosa adalah orang yang merusakkan pekerjaan Allah. Di dalam Kekristenan dewasa ini, hal ini juga tetap berlaku. Jangan hanya karena perbedaan pendapat dalam hal-hal sekunder saja, kita sudah seperti kebakaran jenggot, menantang orang yang berbeda pendapat itu di dalam perdebatan-perdebatan yang sebenarnya membuang waktu. Ketika kita mencoba beradu mulut (dan logika) dengan mereka yang berbeda pendapat/doktrin di dalam hal-hal sekunder, kita sebenarnya sedang merusakkan pekerjaan Allah, karena kita lebih memperhatikan hal-hal sekunder ketimbang hal-hal primer. Hal ini tidak berarti kita kompromi! Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian-bagian eksposisi Roma di pasal sebelumnya, untuk hal-hal sekunder, biarlah kita tetap menghargai, tetapi tidak berarti kompromi, sedangkan untuk hal-hal primer, marilah kita sengit memperjuangkannya dan berani menghadapi para bidat yang memang benar-benar melawan doktrin-doktrin utama iman Kristen. Bagaimana dengan kita? Biarlah kritikan Paulus yang tajam ini juga menjadi refleksi bagi kita yang gemar berdebat tanpa mengerti motivasi, cara, sasaran, dan tujuan debat yang sesungguhnya.

Lalu, Paulus menjelaskan bahwa segala sesuatu itu suci, tetapi ketika kita membuat orang lain tersandung karena makanan yang kita makannya, maka kita itu celaka/jahat. International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Everything is clean, but it is wrong to make another person fall because of what you eat.” (=Segala sesuatu itu bersih, tetapi adalah salah untuk membuat orang lain berdosa/jatuh karena apa yang kita makan.) KJV menerjemahkan kata “celakalah” sebagai tindakan yang jahat (evil). Terjemahan dari bahasa Yunani menggunakan terjemahan yang sama dengan ISV yaitu “salah.” Dengan kata lain, selain merusakkan pekerjaan Allah, orang Kristen yang menjerumuskan orang lain/sesamanya dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah. Mengapa? Karena dia sebenarnya membuat sesamanya tersinggung di dalam hal-hal sekunder, misalnya makanan. Jika diaplikasikan di dalam konteks sekarang, barangsiapa atau “hamba Tuhan” siapa yang berani menjerumuskan jemaat atau orang Kristen dari gereja lain yang berbeda doktrin dengannya ke dalam perasaan bersalah karena tidak mematuhi apa yang dikatakan “hamba Tuhan” ini (misalnya, jika tidak dibaptis selam tidak “alkitabiah”, jika tidak bisa berbahasa lidah maka tidak ada “roh kudus”, dll), “hamba Tuhan” ini sebenarnya sedang merusak pekerjaan Allah karena terlalu meributkan hal-hal sekunder ditambah tindakannya ini dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah/jahat/tidak berguna. Bertobatlah jika kita sebagai pelayan Tuhan atau jemaat Kristen suka mengintimidasi orang Kristen lain untuk hal-hal sekunder!


Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa hidup dalam damai sejahtera dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Paulus memaparkan tiga sikap di dalam ayat 21 s/d 23, yaitu:
Pertama, di ayat 21, ia mengajarkan, “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.” Dengan kata lain, supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi sesama kita, kita harus rela tidak makan daging atau minum anggur. Kata kerja “makan” dan “minum” ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif. Makan daging dan minum anggur di dalam konteks ayat ini jelas menunjuk kepada sesuatu yang haram yang tidak dimakan oleh orang-orang Yahudi di dalam tradisi mereka. Sedangkan orang-orang non-Yahudi bebas makan dan minum segalanya. Dari sini, Paulus mengajar bahwa sebagai orang-orang Kristen non-Yahudi maupun orang Kristen Yahudi yang sudah mengerti dan tidak mengkategorikan sesuatu sebagai haram dan halal, maka mereka harus rela tidak menyinggung orang Kristen Yahudi yang masih memegang adat istiadat Yahudi tersebut. Di sini, berarti kita harus AKTIF menyangkal diri untuk tidak menuruti apa yang kita mau agar orang lain tidak tersinggung. Ingatlah, semua ini berlaku HANYA bagi orang Kristen saja, tidak bagi orang non-Kristen! Sehingga, jangan sekali-kali memakai ayat ini untuk mendukung orang Kristen dalam menghormati orang non-Kristen yang sedang berpuasa! Itu TIDAK sesuai dengan konteks dan sama sekali TIDAK bertanggungjawab! Di dalam konteks zaman kita, hal ini pun bisa kita aplikasikan. Ketika kita berselisih paham/doktrin dengan orang Kristen lain di dalam hal-hal sekunder misalnya tentang baptisan anak, dll, marilah kita tidak usah terlalu banyak menyinggungnya. Kita boleh menyinggungnya sedikit sambil berdiskusi dengan menggali Alkitab, tetapi jika orang yang kita ajak diskusi tetap bersikukuh menolak baptisan anak, kita tidak perlu memperpanjang dan meributkan masalah tersebut, toh, orang yang menerima atau menolak baptisan anak TIDAK mempengaruhi keselamatan! Mari kita belajar untuk menyangkal diri untuk tidak melampiaskan pengetahuan kita untuk dipaksakan ke orang lain. Belajarlah menahan diri dan berdoalah agar kiranya Roh Kudus mengubah pemikiran doktrinal orang yang kita ajak diskusi tersebut.

Kedua, di ayat 22, Paulus mengemukakan, “Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.” Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya, “_You_ have faith? Be having [it] to yourself before God. Happy is the one not judging himself in what he approves [of].” (=Kamu memiliki iman? Milikilah itu bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah orang yang tidak menghakimi dirinya sendiri akan apa yang disetujuinya.) Dengan kata lain, Paulus mengajarkan bahwa kita pribadi sebagai anak-anak Tuhan disuruh berpegang pada iman kita masing-masing di hadapan Allah dan berbahagialah kita ketika kita tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang kita percayai/setujui itu. Di sini, Paulus tidak kompromi! Ingatlah kembali, seluruh pasal 14 berbicara mengenai hal-hal sekunder, sehingga ketika Paulus mengatakan bahwa biarlah kita pribadi berpegang pada iman masing-masing di hadapan Allah, itu tentu TIDAK menyangkut hal-hal primer, apakah percaya Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat atau Yesus itu salah satu Juruselamat saja, tetapi menyangkut hal-hal sekunder (konteksnya adalah tentang makanan). Ketika Paulus menguraikan masalah makanan sebagai hal sekunder, di zaman ini, kita juga menghadapi hal serupa. Teguran Paulus mengingatkan kita bahwa kepercayaan/theologi kita apa pun (dalam hal sekunder) hendaklah kita pegang secara pribadi di hadapan Allah dan janganlah pernah menyalahkan diri karena apa yang telah kita putuskan/imani itu. Hal-hal sekunder tersebut TIDAK menyelamatkan kita, sehingga jangan pernah memaksakan doktrin-doktrin sekunder tersebut kepada orang Kristen lain! Yang perlu kita lakukan adalah berpegang dan mempertanggungjawabkan atas segala sesuatu yang kita percayai.

Ketiga, di ayat terakhir, 23, ia mengajar, “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Poin terakhir agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain yaitu kita melakukan segala sesuatu berdasarkan iman, bukan berdasarkan keputusan orang lain yang mengakibatkan kita bimbang. Kita diperintahkan Paulus untuk TIDAK bimbang dan konsisten. Ketika kita percaya akan doktrin sekunder tertentu, percayalah dan peganglah, serta lakukan. Di dalam konteksnya, ketika ada jemaat Roma yang masih memegang adat istiadat Yahudi yaitu tidak makan makanan yang haram, biarlah mereka melakukannya berdasarkan apa yang dia imani bukan berdasarkan apa yang mereka dengar dari orang lain yang mengakibatkan mereka bimbang. Kebimbangan atau keraguan tersebut justru adalah dosa, karena tidak dilakukan dengan keteguhan hati dan kekonsistenan. Di dalam konteks zaman kita sekarang, ketika ada orang Kristen yang mempercayai baptisan anak, biarkanlah orang itu mempercayainya dan melakukannya berdasarkan imannya. Begitu juga dengan mereka yang menolak baptisan anak, mereka tetap harus mempercayainya dengan bertanggungjawab, lalu melakukannya dengan iman. Biarlah kesemuanya itu dilakukan dengan dasar iman dan pengertian yang bertanggungjawab di hadapan Allah.


Setelah kita merenungkan kelima ayat di atas, sudahkah kita memiliki keterbukaan hati untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan bagi saudara seiman kita yang lain dengan tidak menjerumuskan mereka ke dalam dosa? Allah yang telah membeli anak-anak-Nya melalui darah penebusan Kristus, masa kita merusakkan karya-Nya dengan meributkan hal-hal sepele? Berusalah hidup dalam damai sejahtera dan pengajaran satu sama lain yang TIDAK mengompromikan dosa dan iman. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 14:13-23: THE POWER OF COMPASSION (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 24 Juni 2007

The Power of Compassion
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 14:13-23


Kita telah memahami bahwa kuasa Kerajaan Sorga lebih dahsyat dibandingkan dengan kuasa dunia dan terbukti, seorang raja besar seperti Herodes pun takut dan gemetar. Hari ini kita kembali dibukakan akan kuasa Kerajaan Sorga melalui mujizat lima roti dua ikan. Alkitab mencatat Tuhan Yesus melakukan mujizat ini karena didasari oleh belas kasihan. The power of compassion itulah yang mendorong Tuhan Yesus mengajar, menyembuhkan, dan memberi makan. Namun, manusia berdosa memanipulasi ayat ini dan berpikir egois. Orang sulit memahami the true compassion sebab orang tidak pernah mengerti bahwa without true love, there is no true compassion.
I. True Love True Compassion
Belas kasihan sejati itu muncul dari cinta kasih sejati, yakni kasih Ilahi karena Allah adalah kasih. Kasih Allah berbeda dengan kasih manusia. Kasih Allah adalah kasih yang mau berkorban bahkan Ia tetap mengasihi meski orang menolak Dia. Kasih yang sejati selalu memikirkan dan melakukan yang terbaik untuk obyek kasihnya, ia selalu menginginkan obyek kasihnya itu menjadi lebih baik, lebih suci, lebih agung, dan semua hal yang sifatnya membangun. Inilah kasih Ilahi yang sejati. Kasih Ilahi mengajar kita untuk berkorban dan menjadi berkat bagi orang lain.
Sebaliknya, kasih manusia selalu menuntut pengorbanan dari obyek kasihnya tetapi ia sendiri tidak mau berkorban. Sebagai ilustrasi, ketika orang berkata, “I love crab“ itu berarti celaka bagi si kepiting, sebab ia akan segera naik ke penggorengan. Demikian pula halnya dengan orang yang berkata, “Aku cinta kamu“ sesungguhnya yang dimaksud “cinta“ disini bukan cinta pada obyeknya tetapi lebih tepatnya, ia mencintai diri sendiri, semua untuk kepentingan diri sendiri. Cinta dunia bersifat egois, tidak mau berkorban dan hanya mementingkan diri. Dunia hanya ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri, selalu menuntut orang lain berkorban tetapi dia sendiri tidak mau berkorban.
“Kasih“ paling banyak disebut dalam Kekristenan namun celakanya, Kekristenan terjebak dengan konsep dunia, di balik kata “kasih“ ada motivasi-motivasi yang sangat mengerikan. Inilah dunia berdosa. Orang tidak memahami esensi kasih maka tidaklah heran kalau orang sulit memahami belas kasihan. Ingatlah, Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu, kasih-Nya yang begitu besar itulah yang seharusnya mendorong kita mengasihi orang lain dengan murni. Biarlah kita mengevaluasi diri kita, sudahkah kita mengasihi dengan kasih Ilahi? Maukah kita berkorban untuk mereka yang menjadi obyek kasih kita?
Belas kasihan merupakan implikasi praktis dari kasih yang sejati. Hanya mereka yang memiliki kasih sejatilah dapat mengimplikasikan belas kasihan. Dunia berdosa tidak pernah memahami akan hal ini, dunia mencintai kalau ia merasa diuntungkan dan tidak mau berkorban untuk orang lain. Orang selalu ingin mendapat belas kasihan, selalu ingin mendapat tanpa pernah memberi. Belas kasihan yang dinyatakan oleh Kristus berbeda dengan dunia:
Dunia telah kehilangan rasa belas kasihan, dunia hanya ingin mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri. Celakanya, hal ini telah diajarkan dan melekat dalam pemikiran manusia dan yang sekarang dikenal dengan istilah ekonomi. Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, oikos berarti rumah tangga dan nomos berarti peraturan. Jadi, pengertian ekonomi adalah bagaimana kita mengatur rumah tangga sedemikian rupa demi kesejahteraan bersama. Ekonomi Allah berarti Allah menetapkan manusia di tengah taman untuk mengusahakan dan memelihara taman untuk menjadi sumber kesejahteraan bersama. Ekonomi suatu bangsa adalah bagaimana pemerintah mengatur ekonomi untuk kesejahteraan suatu bangsa. Namun, ekonomi hari ini tidak ada yang memikirkan tentang kesejahteraan, kesejahteraan hanya sekedar janji manis di mulut belaka. Dunia tidak pernah mengajarkan kita untuk berkorban demi mendatangkan kesejahteraan bersama. Sebaliknya, dunia mengajarkan bagaimana dengan modal sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Bayangkan, kalau setiap orang ingin mendapatkan untung besar betapa celakanya dunia ini, tidak ada hati yang berbelas kasihan tapi yang ada justru banyak orang menjadi korban.
Dengan alasan miskin, orang tidak mau berkorban dan berbagi pada orang lain. Sadarkah kita bahwa miskin yang paling fatal adalah miskin rohani bukan miskin secara materi. Ketika kerohanian kita miskin maka seluruh hidup kita pun sangatlah miskin. Allah itu adil, tidak pernah ada orang yang kekurangan karena hidupnya berbagi. Betapa mengenaskan orang yang hidupnya selalu merasa miskin. Dunia sukar berbelas kasihan, dunia hanya ingin mendapat keuntungan dan keuntungan. Biarlah sebagai anak Tuhan, kita diubahkan tidak menjadi seperti dunia tetapi hendaklah hidup kita berbagi dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan Yesus telah memberikan teladan indah pada kita satu hal, yakni how to give, how to have a mercy. Ketika kita mempunyai hati yang penuh dengan berbelas kasih, disana ada kuasa Tuhan yang menyertai.
II. Compassion that Sacrifice
Karena belas kasihan, Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit, mengajar, dan memberi makan lebih dari 5000 orang. Orang banyak itu mengikut Yesus hingga hari menjelang malam dan mereka belum makan maka timbul rasa belas kasihan dalam diri para murid. Yang menjadi pertanyaan adalah darimanakah muncul compassion itu? Kemungkinan karena para murid merasakan hal yang sama seperti yang dialami orang banyak itu, mereka juga merasa lapar. Dunia psikologi menyebutnya sebagai compassion of analogy. Memang bukanlah hal yang salah kalau kita memiliki compassion of analogy, kita dapat menghibur dan menguatkan orang lain yang mengalami hal yang sama seperti yang kita alami.
Belas kasihan yang dinyatakan oleh Kristus berbeda dengan belas kasihan yang dinyatakan oleh dunia. Dalam Kekristenan ada finalitas yang melampaui dari apa yang dunia pikirkan. Di satu sisi, para murid ini ada rasa belas kasihan namun di sisi lain, mereka pikir mustahil memberi makan sebab jumlah mereka banyak. Karena itulah, mereka mengusulkan supaya orang banyak itu pergi ke desa terdekat untuk mencari makan. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus justru meminta semua makanan yang ada pada mereka saat itu. Dapatlah dibayangkan bagaimana perasaan para murid saat itu? Mereka sendiri lapar dan sekarang, makanan yang sedikit itu diminta oleh Tuhan Yesus. Dengan kata lain, sebenarnya mereka tidak ingin berbagi. Hal yang serupa pernah diminta Tuhan Yesus pada orang muda yang kaya, supaya ia menjual hartanya dan dibagi pada orang miskin tetapi ia tidak rela berkorban. Inilah belas kasihan sejati, yakni kerelaan kita berkorban untuk orang lain. Hal seperti ini tidak pernah didapati di dunia, inilah finalitas Kekristenan.
Karena kasih, Kristus berbelas kasihan, Ia memberi makan lebih dari 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan. Dengan tangan-Nya sendiri, Tuhan Yesus memecah-mecahkan roti dan membagikannya; semua yang ada padanya diberikan kepada orang lain. Hari itu, kalau kita berada di tempat itu, apa yang kita pikirkan saat itu? Dunia seringkali berpikir mujizat Yesus itu “wah“ (hebat) dan enak. Dunia begitu senang dengan hal-hal yang sifatnya materialis dan celakanya, ayat ini dimanipulasi demi kepuasaan diri. Orang tidak pernah memahami apa esensi dari “the true compassion.“ Apakah kita pernah berpikir betapa menderitanya tangan Tuhan Yesus mencabik-cabik roti. Alkitab mencatat ada 5000 orang laki-laki, jika ditambah wanita dan anak-anak berarti jumlah keseluruhan mencapai sepuluh ribu lebih dan kalau satu orang makan lebih dari 5 ketul roti itu berarti lima puluh ribu kali, Tuhan Yesus harus melakukan cabikan. Inilah belas kasihan sejati. Demi orang banyak itu makan, Tuhan Yesus tidak memilih cara yang mudah padahal secara kapasitas, Tuhan Yesus bisa melakukannya – Ia dapat membuat roti dan ikan itu banyak dan terbagi dengan sendirinya, tetapi hal itu tidak Ia lakukan. Tuhan Yesus mempunyai hati yang berbelas kasihan dan hal itu telah dinyatakan-Nya. Tuhan Yesus telah berkorban, Ia menderita demi orang lain dapat makan namun tidak ada seorang pun yang memahami penderitaan Kristus ini. Orang hanya berpikir untuk kesenangan diri sendiri.
Perhatikan, janganlah melihat mujizat dari sisi “wah;“ pernahkah kita menyadari bahwa mujizat itu keluar dari satu penderitaan yang luar biasa? Hari ini banyak orang katanya “berbelas kasihan“ tetapi mereka tidak mau berkorban, tidak mau menderita. Celakanya, Kekristenan tidak pernah memahami apa arti belas kasihan sejati. Kristus datang ke tengah dunia untuk menderita demi menebus dosa manusia; Kristus harus melewati penderitaan yang sangat luar biasa. Kristus melakukan belas kasihan dengan kuasa-Nya yang begitu besar merubah seluruh hidup kita. Pernahkah kita menyadari bahwa belas kasihan ini muncul sejak awal penciptaan? Allah tidak menciptakan manusia di hari pertama dimana bumi masih kosong dan membiarkan manusia seorang diri saja. Tidak! Allah sudah siapkan alam semesta dan segala isinya untuk manusia, Dia berikan yang terbaik untuk manusia. Celakanya, manusia tidak berterima kasih atas belas kasihan Tuhan tetapi manusia malah menuntut berkat, manusia merasa semua itu sebagai hak yang harus ia miliki. Orang menganggap semua berkat-berkat Tuhan itu sebagai hal yang biasa. Sadarlah, kita ini adalah manusia berdosa, tanpa penebusan dari Tuhan, kita akan binasa. Renungkanlah betapa limpah berkat Tuhan yang dicurahkan atas kita, hari ini kalau kita masih hidup itu harusnya membuat kita bersyukur senantiasa. Dia juga memimpin hidup kita detik demi detik – semua hal yang kita alami bukanlah suatu kebetulan tetapi semua itu sudah ada dalam rancangan-Nya. Sayangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, sampai suatu hari kalau semua hal yang kita anggap biasa itu dicabut oleh Tuhan barulah kita sadar, kalau itu bukanlah hal yang biasa. Siapakah manusia sehingga Tuhan mau berbelas kasihan pada kita, orang yang berdosa? Kalau Tuhan telah terlebih dahulu berbelas kasihan pada kita, biarlah itu menjadi teladan bagi kita; kita mempunyai hati yang berbelas kasih pada orang lain, kita mau berkorban demi orang lain.
III. Keeping Clean Heart & Motivation
Setelah Tuhan Yesus membuat mujizat, Alkitab mencatat, Ia menyingkir ke tempat sunyi (ay. 13, 23). Namun ketika Ia menyingkir ke tempat sunyi, orang banyak mengikut Dia. Hati-hati dengan pemberian judul perikop dalam Alkitab sebab kisah tentang Tuhan Yesus yang memberi makan 5000 orang tidak berhenti sampai di ayat 21 saja. Sepintas, ayat 13 ini sepertinya mengindikasikan bahwa kepergian Tuhan Yesus karena berita kematian Yohanes Pembaptis dan Yesus takut dibunuh. Salah! Celakanya, orang kemudian menafsirkan bahwa orang Kristen boleh lari ketika ia takut mati. Perhatikan, Tuhan Yesus menyingkir ke tempat sunyi itu bukan karena Ia takut mati. Tidak! Dia datang ke tengah dunia justru untuk mati; Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa untuk menjadi tebusan. Lebih tepatnya, Tuhan Yesus menyingkir ke tempat sunyi karena waktu-Nya belum tiba. Pada bagian pertama, kita melihat bagaimana Herodes gemetar dan takut melihat kuasa Yesus yang dahsyat, jadi, tidak tepat kalau dikatakan Tuhan Yesus menyingkir karena alasan takut. Kuasa Kristus jauh lebih besar dari kuasa Herodes bahkan pengikut Tuhan Yesus jauh lebih banyak dari pengikut Herodes.
Setelah mujizat besar yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus, Dia memerintahkan murid-murid-Nya pergi ke seberang dan Ia menyuruh orang banyak itu pulang dan Ia sendiri pun pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Hari ini, kita tidak pernah menjumpai kejadian serupa, bukan? Yang adalah ketika orang selesai melakukan mujizat maka ia ingin supaya orang mengikut dia dan mengelu-elukannya. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ini menjadi kunci penting untuk kita memahami kemurnian kuasa dari belas kasihan. Belas kasihan sejati kalau tidak dibentengi dengan dasar pemahaman yang kuat akan memukul balik diri sendiri dengan motivasi yang salah. Orang yang mendapat belas kasihan tanpa sadar, ia akan mengagungkan orang yang memberi belas kasihan dan natur manusia berdosa ingin menjadi juruselamat dan “allah“ kecil.
Hari ini banyak orang katanya berbelas kasihan dengan memberikan sumbangan berupa uang atau makanan tetapi dengan motivasi lain dibalik semua itu, yakni membeli “ketuhanan diri.“ Belas kasihan sejati harus dikerjakan secara murni tanpa ada penyelewengan motivasi. Tuhan Yesus sangat memahami hal ini, para murid sangat riskan akan menjadi sombong karena dampak “jiwa ketuhanan“ ini karena itulah, Tuhan Yesus memerintahkan mereka untuk menyingkir ke tempat sunyi dan tidak sampai disitu, di tengah perjalanan, mereka dihantam gelombang yang sangat besar sehingga membuat mereka lupa akan mujizat besar yang dilakukan Tuhan Yesus sebelumnya. Inilah cara Tuhan memurnikan motivasi para murid sebaliknya, Tuhan Yesus naik ke atas gunung dan berdoa untuk memurnikan motivasi. Inilah Kekristenan.
Biarlah kita mengevaluasi diri, ketika kita memberi kepada orang lain, apa yang menjadi motivasi kita? Ingat, Tuhan melihat motivasi dalam diri kita. Biarlah setiap kebajikan dan belas kasihan yang kita lakukan itu kita kerjakan dengan motivasi murni, clean heart, clean motivation. Sebuah peribahasa Tionghoa mengatakan hubungan yang baik dan langgeng seperti air putih yang sehat dan bersih, ia akan selalu terus dibutuhkan; kita akan merasa lega dan tidak merasa haus. Belas kasihan yang sejati haruslah didasari oleh motivasi dan hati yang murni. Setelah kita melakukan kebajikan, ada waktunya kita menyendiri dan berdoa memohon supaya Tuhan memurnikan hati kita dan kita sendiri tidak terkena dampak negatif tetapi kita menjadi berkat bagi banyak orang. Memang, hal ini tidaklah mudah tetapi percayalah, Tuhan akan memberikan kekuatan dan memampukan kita melakukan semua itu. Kuasa belas kasihan ini menjadi bagian dari setiap anak Tuhan. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

THEOLOGY AND SCIENCE: Short History of Debate and Theological-Philosophical Assesment (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

THEOLOGY AND SCIENCE:
Short History of Debate & Theological-Philosophical Assesment


oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Signifikansi
Perdebatan antara theologi dan sains sudah berlangsung sangat lama. Perdebatan ini telah menghasilkan beragam sikap untuk menjelaskan relasi antara theologi dan sains. Sebagian orang menganggap bahwa dua hal ini sama sekali terpisah dan tidak seharusnya dibicarakan bersama-sama, apalagi dalam konteks mencari kaitan antara keduanya. Yang lain berpandangan bahwa salah satu dari bidang ini memiliki kebenaran yang lebih tinggi daripada yang lain. Jika keduanya bertentangan, maka kebenaran terletak pada salah satu bidang yang dianggap lebih otoritatif, entah itu theologi atau sains. Sebagian yang lain mempercayai bahwa dua bidang ini masih dapat diharmoniskan.

Walaupun perdebatan di atas sudah berlangsung sangat lama, namun hal ini masih signifikan untuk dibahas. Ada dua hal yang mendasari keyakinan ini. Pertama, pelajaran dari sejarah. Sejarah perdebatan yang panjang antara theologi dan sains telah mengubah pandangan banyak orang terhadap gereja, theologi, bahkan otoritas Alkitab itu sendiri. Perubahan yang terjadi cenderung ke arah yang negatif. Dampak yang sudah terjadi ini semakin sulit untuk diperbaiki dalam sebuah zaman yang semakin sekuler dan humanis. Kecil kemungkinan bagi para theolog untuk mempengaruhi dan mengubah opini yang sudah tercipta, karena hanya sedikit orang yang belajar theologi. Mereka lebih banyak bersentuhan denga buku-buku sains daripada theologi. Di samping itu, alam memang tampak lebih dekat dengan manusia daripada Allah yang terkesan jauh sekalian abstrak bagi kebanyakan orang. Manusia cenderung memusatkan perhatian pada yang tampak, sedangkan yang tidak tampak kurang diminati.[1]

Kedua, beragam kepentingan di balik perdebatan. Selain melibatkan motivasi theologis seperti disinggung di atas, perseteruan antara theologi dan sains juga merambah pada bidang lain, misalnya moral. Willem B. Drees dengan tepat menjelaskan bahwa sebagian orang yang tertarik dengan perdebatan ini ternyata lebih mengedepankan aspek pragmatis daripada teoritis. Mereka ingin melihat kontribusi apa yang dapat diberikan oleh para theolog dan ilmuwan bagi kesejahteraan umat manusia. Secara khusus mereka menggumulkan tentang solusi bagi problem-problem ekologis.[2] Mereka bukan hanya tertarik pada isu epistemologis (siapa yang benar dan bagaimana hal itu dapat dibuktikan), tetapi pada isu praktis.


Sejarah Singkat Perdebatan Antara Theologi dan Sains
Dalam sejarah perkembangannya, theologi terus mendapatkan lawan tangguh yang berusaha menjadikan diri sebagai ratu ilmu pengetahuan (the Queen of Science). Dari awal Kekristenan ilmu filsafat selalu bersaing dengan theologi. Dalam beberapa kasus fisafat berhasil mempengaruhi jemaat Kristen mula-mula (1Kor. 1:23; 15:12; Kol. 2:8; 1Yoh. 4:2). Pada abad permulaan filsafat semakin merajalela, terutama filsafat gnostisisme. Sepanjang sejarah gereja pun filsafat terus berebut posisi dengan theologi.

Tanpa mengecilkan pengaruh dari filsafat terhadap orang-orang Kristen, makalah ini hanya akan memfokuskan pada satu ilmu, yaitu ilmu alam (sains). Pembatasan ini didasari pada judul seminar yang memang membahas tentang relasi Kitab Suci dan alam. Walaupun fokus utama dalam makalah ini bukanlah filsafat, namun - seperti akan dipaparkan berikut ini – filsafat tetap tidak bisa diabaikan secara total, karena perdebatan antara theologi dan sains juga mencakup filsafat. Baik theologi maupun sains sama-sama mengandung muatan filosofis di dalamnya.

Jika perdebatan hanya difokuskan pada sains, maka titik awal pertama yang perlu disinggung berkaitan dengan seorang ilmuwan yang bernama Nikolas Kopernikus (1473-1543 M) dan Galileo Galilei (1564-1542 M). Keduanya dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Pada waktu konsep ini mulai berkembang, gereja merespon pandangan ini secara negatif dan menganggap keduanya sebagai pengajar ajaran sesat yang merendahkan otoritas gereja dan Alkitab. Mereka pun dipaksa untuk mengubah pandangan.

Satu hal yang perlu diketahui dalam perseteruan ini adalah perseteruan ini lebih bersifat filosofis daripada theologis. Yang ditentang oleh dua ilmuwan tersebut bukanlah otoritas Alkitab tetapi validitas filsafat Aristotelian yang mendasari pandangan geosentris (bumi sebagai pusat dari tata surya) yang dianut oleh gereja. Thomas H. Henderson menulis, “It was not a simple conflict between science and religion, as usually portrayed. Rather it was a conflict between Copernican science and Aristotelian science which had become Church tradition.”[3] Berdasarkan konsep kosmologisnya yang bertingkat-tingkat, Aristotle meyakini bahwa alam semesta memiliki batasan dan berbentuk sebuah bola dengan bumi sebagai pusat yang tidak bergerak.[4] Konsep inilah yang diadopsi oleh gereja dan dijadikan ajaran resmi. John Dillenberger mengungkapkan hal ini dalam sebuah kalimat, “The Ptolemaic system which had originated in Hellenic soil and which subsequently acquired Aristotelian form, had been brought into close relationship with the Biblical picture...his understanding of nature had been accepted but it was given Christian baptism.[5] Jadi, perseteruan ini “was not a choice between one science and another, or between one philosophy and a scientific view; it was a choice between philosophies, between the Aristotelian-Ptolemaic or the Neo-Platonic-Phthagorean.” [6]
Bukti lain bahwa Kopernikus dan Galileo tidak berusaha merendahkan ajaran ALkitab dapat dilihat dari kesalehan dan iman mereka. Dari semua catatan tentang kehidupan dan perkataan Galileo terlihat bahwa dia adalah seorang Katholik yang ketat.[7] Dalam suratnya kepada Madame Christina, pemimpin di Tuscany, Galileo menulis dengan tegas bahwa Kitab Suci tidak mungkin menyatakan sesuatu yang tidak benar. Ia juga menegaskan bahwa Kopernikus tidak mengabaikan Alkitab.[8]

Apa yang diajarkan oleh Kopernikus dan Galileo jelas merupakan sesuatu yang sangat serius di mata gereja pada waktu itu. Jika pandangan Aristotle yang sudah sedemikian terhisap dalam dogma gereja ternyata salah, maka berbagai masalah akan mencuat ke permukaan. Menurut Dillenberger ada tiga alasan utama mengapa teori yang baru ini menimbulkan masalah bagi para theolog: “First, it seemed to run counter to those Bible passages which assumed the centrality of the earth and the movement of the sun. Second, it dislodged the comfortable interrelation of space and destiny. Third, it confronted man with the anxiety engendered by infinity.”[9]

Seiring dengan “kemenangan” Kopernikus dan Galileo atas gereja, sebagian orang mulai menyangsikan wibawa para pemimpin gereja. Pada akhirnya sikap skeptis ini juga diarahkan pada Alkitab. Mulai akhir abad ke-18 otoritas Alkitab dalam hal-hal yang berkaitan dengan alam mulai dipertanyakan secara serius. Pada masa inilah terjadi perubahan pemahaman yang sangat radikal dan kritis terhadap Alkitab. Hal ini berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu baru dalam bidang geogologi, palaentologi dan biologi. Kalau penemuan Kopernikus dan Galileo sebelumnya hanya berhubungan dengan sesuatu di luar dunia ini, penemuan-penemuan baru dalam tiga bidang ini lebih berkaitan dengan sejarah dunia. Ketika hasil penemuan ini berkontradiksi dengan catatan Alkitab, maka akibat yang ditimbulkan akan menjadi lebih serius. Langdon Gilkey menyatakan, “When Copernican, Galilean, and Newtonian astronomy had taken away the view of the spatial realms of the universe implied in scriptre, that was incidental to the Bible, which was in essence no geographical tract. But when the new sciences showed that the Biblical history was in error, that was something else again, and the understanding of what Biblical truth was had perforce to change.” [10] Pendapat yang senada juga disuarakan oleh Bernard Ramm, “The battle to keep the Bible as a respected book among the earned scholars and the academic world was fought and lost in the nineteenth century. The astronomy of Copernicus did not begin to have the influence on human thought as did the events of the nineteenth century. During that period there was a mushrooming of anti-Biblical, anti-Christian movements.”[11]

Kalau pada masa sebelumnya semua catatan Alkitab yang berkaitan dengan alam dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi, mulai abad ke-19 kecenderungan ini berbalik arah. Semua keterangan Akitab tentang alam, sejarah maupun geografi mulai ditolak. Sains sekarang menjadi hakim atas Alkitab.

Situasi di atas pada gilirannya membawa banyak perubahan penting yang bersifat negatif. Pengaruh ini pun akhirnya merambah pada bidang keagamaan secara umum. Gilkey berpendapat bahwa “the most important change in the understanding of religious truth in the last centuries – a change that still dominates our thought today – has been caused more by the work of science than by any other factor, religious or cultural.”[12] Situasi ini semakin diperparah dengan perkembangan berbagai filsafat yang anti Kekristenan seperti rasionalisme, empirisisme dan eksistensialisme. Salah satu perubahan yang esensial pada masa ini adalah cara pandang terhadap Alkitab yang hanya dilihat sebagai buku yang penuh simbol, bukan catatan historis, sebagaimana dirangkum dengan baik oeh Gilkey, “The change referred to is that from the understanding of religious truths as made up of propositions containing, among other things, divinely revealed “information” on almost any topic of interest, to the understanding of them as a system of symbols which make no authoritative assertions about concrete matters of fact.”[13]

Kondisi di atas memberikan tantangan yang berat bagi para theolog Injili yang masih mempercayai kebenaran Alkitab. Mengingat pada waktu itu bukti-bukti ilmiah yang mendukung Alkitab tidak terlalu banyak, sebagian theolog terjebak untuk mengikuti kebenaran sains. Mereka berpendapat bahwa jika theologi dan sains berbeda pendapat, maka theologi harus menyesuaikan dengan sains. Salah satu contoh dari hal ini adalah upaya beberapa orang untuk menerapkan Gap Theory pada waktu menafsirkan Kejadian 1:1-2.[14] Kecenderungan yang salah seperti ini disinggung sekaligus ditentang oleh Weston W. Field. Ia mengatakan:

Some have intentionally abandoned the clear implications of Scripture that the earth and everything on it, the universe and everything in it (even allowing for reasonable gaps in the genealogies of Genesis) were created ex nihilo (out of nothing) but a few thousand years ago. Others, in an unconscious, or perhaps even a conscious, desire to gain respectability with those in the fields of science who completely dismiss the Bible as unscientific and, therefore, of little or no value where it impinges upon matters of scientific interest, have unwittingly compromised the truth of Scripture by seeking what appear to be unnatural interpretations of Scripture, in order to form supposed harmonisations between the facts of the Bible and what are felt to be the facts of science, many of which are only theories.[15]




Integrasi: Sebuah Perspektif Theologis
Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi perdebatan antara theologi dan sains? Apakah keduanya memang bertentangan dan tidak mungkin diharmonisasikan? Penjelasan berikut ini akan membuktikan bahwa kontradiksi sebenarnya hanya terjadi pada tingkat penafsiran (theologi versus sains). Secara ontologis kitab suci (scripture) dan alam (nature) tidak tidak mungkin mengandung kontradiksi. Jika keduanya ditafsirkan secara tepat, maka tidak mungkin ada kontradiksi antara keduanya. Raam menulis:
If we believe that the God of creation is the God of redemption, and that the God of redemption is the God of creation, then we are committed to some very positive theory of harmonization between science and evangelicalism. God cannot contradict His speech in Nature by His speech in Scripture. If the Author of Nature and Scipture are the same God, then the two books of God must eventually recite the same story.[16]

Jack Wood Sears dengan yakin menyatakan:
I recognize that conflicts now exist between our understanding of scientific truth and our understanding of Biblical truth, but I believe these conflicts should not surprise anyone but should be expected. I also believe that as we approach more nearly the Truth (and I believe that there is Absolute Truth) these conflicts will diminish. If ultimate truth is ever attained in science and in our understanding of the Bible, I believe the conflict will evaporate completely.[17]

Pendapat di atas mendapat dukungan yang kuat dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dimulai dengan Allah yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).[18] Pemunculan di bagian paling awal Alkitab menunjukkan betapa pentingnya teks ini. Posisi seperti ini menyiratkan bahwa konsep penciptaan dunia oleh Allah merupakan dasar dari seluruh Alkitab. Dalam salah satu judul bab dari bukunya yang terkenal yaitu Philosophy for Understanding Theology, Diogenes Allen menyebut bahwa pondasi dari theologi Kristen adalah fakta bahwa dunia diciptakan.[19]

Kisah penciptaan selanjutnya menunjukkan bahwa manusia adalah pusat dari dunia. Manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaan yang diberi mandat untuk menguasai bumi (Kej. 1:26, 28).[20] Untuk menguasai bumi jelas diperlukan pengenalan terhadap alam. Manusia harus mengeksplorasi semua informasi tentang alam supaya mereka mampu menaklukkannya. Ayat inilah yang telah menjadi dasar sekaligus keunikan Kristiani dalam pergumulan ilmiah. Pandangan Timur kuno umumnya menganggap alam bersifat ilahi,[21] karena itu tidak mungkin diselidiki sedemikian rupa seolah-olah manusia berada di atas alam. Di sisi lain pandangan Hellenis justru melihat alam (materi) sebagai sesuatu yang sangat rendah,[22] karena itu tidak layak untuk diselidiki. Hanya Alkitab yang memberikan pandangan seimbang tentang alam. Kebenaran ini seharusnya mendorong orang Kristen untuk berani meneliti alam dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah.

Kedua, Allah dapat dikenal melalui alam (wahyu umum). Keyakinan bahwa alam dapat menyatakan sesuatu tentang Allah bukanlah ide yang baru ditemukan pada masa sains modern. Mazmur 19:1 mengajarkan bahwa ciptaan menyatakan kemuliaan Allah. Paulus pun menegaskan bahwa melalui alam semesa manusia seharusnya dapat mengetahui kekuatan yang kekal dan keilahian Allah (Rm. 1:19-21). Pemberian hujan dan pengaturan musim pun di mata Paulus membuktikan bahwa sesuatu dalam diri Allah, yaitu kebaikan-Nya (Kis. 14:17; bdk. Mat. 5:45; Kis. 17:26-27).

Kebenaran ini tetap didengungkan oleh bapa-bapa gereja dan para pemikir Kristen pada periode-periode selanjutnya.[23] Menurut Origen (sekitar 185-254 M), bapa gereja yang menganut penafsiran alegoris, Allah telah meletakkan pengajaran dan pengetahuan tentang hal-hal yang tidak terlihat dalam benda-benda yang terlihat di dunia ini. Konsep ini diteruskan oleh Ambrose dari Milan (340-397 M) dan Basil Agung (329-379 M). Agustinus (354-430 M) adalah orang pertama yang memakai istilah “kitab alam” sebagai rujukan pada alam semesta sebagai refleksi kebenaran ilahi. Konsep yang lebih integratif dan konkrit tentang penggunaan alam sebagai sarana mengenal Allah dipopulerkan oleh Anselmus dan Thomas Aquinas. Keduanya berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui argumentasi yang alamiah dan rasional.[24]

Ketiga, kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Alkitab memberikan bukti yang melimpah tentang bagaimana Allah menguasai alam. Ia bukan hanya menciptakannya, tetapi juga menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Allah berada di balik semua fenomena alam, baik yang ada di langit, bumi maupun lautan (Mzm. 135:6). Dia memberikan hujan dan mengatur musim-musim (Kis. 14:17; 17:26; bdk. Kej. 2:7; Im. 26:4). Api, hujan es, salju, kabut dan angin badai dikatakan “melakukan firman-Nya” (Mzm. 148:8; bdk. Ayb. 37:6-13; 38:22-30). Mazmur 135:6 “Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya.” Kemunculan matahari dan fajar setiap hari membutuhkan perintah Dia (Ayb. 38:12; Mat. 5:45a). Allah menumbuhkan rumput untuk binatang maupun tanaman untuk manusia (Mzm. 104:14-15). Ia memelihara burung di udara (Mat. 6:26), sehingga tidak ada satu pun yang jatuh ke tanah di luar kehendak Allah (Mat. 10:29). Tentang binatang-binatang di laut, pemazmur berkata kepada Tuhan, “semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya” (Mzm. 104:27). Jika Allah sedemikian berdaulat atas alam, sulit dimengerti jika kebenaran yang Dia letakkan di alam dan Dia jaga akhirnya berkontradiksi dengan kebenaran-Nya di kitab suci.


Problem Epistemologi: Sebuah Perspektif Filosofis
Dalam perdebatan antara theologi dan sains muncul suatu kesan bahwa apa yang dikatakan Alkitab baru akan diterima sebagai kebenaran kalau sudah dibuktikan. Di sisi lain sains mendapat posisi yang lebih kuat. Penemuan dalam sains diasumsikan sebagai sesuatu yang objektif dan pasti benar. Mereka yang tetap mempercayai catatan Alkitab yang berkontradiksi dengan suatu teori sains secara otomatis dianggap sebagai orang yang kurang rasional. Di kalangan para ilmuwan sendiri sempat timbul suatu kesan bahwa mereka yang percaya kepada kebenaran Alkitab dianggap bukan seorang ilmuwan yang sejati.

Kecenderungan di atas jelas masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Sayangnya dalam banyak kasus, asumsi seseorang lebih banyak berperan. Inti persoalan bukan lagi terletak pada ketersediaan fakta yang mendukung satu pandangan, tetapi pada asumsi dasar yang dipakai. Dengan kata lain, inti perdebatan terletak pada masalah epistemologi.

Benarkah sains bersifat objektif dan tanpa penafsiran? Benarkah sesuatu yang benar harus dapat dibuktikan terlebih dahulu baru diterima sebagai kebenaran? Apakah sains dapat menjadi hakim atas Alkitab? Penjelasan berikut akan menjawab deretan persoalan ini.

Pertama-tama yang perlu diketahui adalah bahwa sains tidak seobjektif yang dipikirkan oleh sebagian orang.[25] Dalam sains ada penafsiran. Dalam sains bahkan ada “iman” terhadap beberapa asumsi yang tidak mungkin dibuktikan dan karena itu dianggap sebagai “kebenaran yang tidak perlu dibuktikan.” Sains kadangkala lebih merupakan suat kepercayaan daripada penyimpulan ilmiah. Walaupun hal ini dapat dimengerti, tetapi tetap tidak dapat dipertanggungjawabakan.[26]

Dalam diskusi seputar asal-usul dunia maupun manusia, sains tidak akan pernah dapat memberikan bukti yang konklusif. Scott M. Huse menulis, “it is impossible to prove scientifically any theory of origins. This is because the very essence of the scientific method is based on observation and experimentation, and it is impossible to make observations or conduct experiments on the origin of the universe.”[27] Apabila seorang ilmuwan ingin meneliti asal-usul dunia, maka dia harus memiliki iman tertentu terhadap sebuah asumsi. Dia harus beriman pada “the doctrine of uniformity, which assumes that these present processes may be extrapolated indefinitely into the past or future.”[28]

“Iman” dalam sains juga dapat dilihat dalam kasus evolusi. Huse mengutip pernyataan Harrison Matthews yang memberikan prakata untuk buku Darwin Origin of Species edisi tahun 1971 sebagai berikut: “belief in the theory of evolution is thus exactly parallel to belief in special creation – both are concepts which believers know to be true but neither, up to the present, has been capable of proof.”[29] Dengan kata lain, “evolution can only be correctly labelled as a belief, a subjective philosophy of origins, the religion of many scientists.”[30]

Hal lain yang perlu kita pahami sehubungan dengan sains adalah titik tolaknya yang berbeda dengan kebenaran Alkitab. Dalam beberapa kasus perdebatan, inti masaah terletak pada titik tolak yang berbeda. Sebagai contoh, dalam hal usia bumi. Dengan memperhitungkan kecepatan cahaya dan jarak bintang-bintang dengan bumi, sebagian ilmuwan meyakini bahwa usia alam semesta pasti sudah jutaan tahun. Pandangan ini sekalipun secara perhitungan matematis masuk akal, namun tetap didasarkan pada satu asumsi dasar yang linear (setelah bintang diciptakan, bintang memerlukan waktu jutaan tahun untuk mencapai bumi). Asumsi dasar linear ini berbeda dengan konsep penciptaan yang simultan. Dalam Kejadian 1:1 disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Frase “langit dan bumi” merujuk pada segala sesuatu, termasuk bumi dan bintang-bintang. Karena keadaan bumi masih belum siap didiami (Kej. 1:2), maka Allah mulai menata dan menciptakan apa yang belum ada (Kej 1:3-31).[31] Di antara dua asumsi dasar ini – linear atau simultan - sulit ditentukan mana yang secara objektif tepat, karena tidak ada cara ilmiah apa pun untuk membuktikan mana yang tepat. Dalam hal ini orang Kristen harus mempercayai apa yang diajarkan dalam Alkitab sekalipun hal itu tidak bisa dibuktikan benar atau salah. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa “karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr. 11:3).

“Beriman” dalam hal-hal yang ilmiah adalah tidak salah. Jika para ilmuwan mau jujur, dalam kasus-kasus tertentu secara logika lebih masuk akal mengimani ajaran Alkitab daripada ajaran sains. Contoh yang paling jelas adalah Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory). Untuk mempercayai bahwa alam semesta yang relatif teratur ini berasal dari sebuah ledakan diperlukan iman yang lebih besar daripada mempercayai bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah yang mahakuasa dan bijaksana. Begitu pula dengan evolusi. Diperlukan iman yang sangat besar untuk mengamini bahwa sistem tubuh manusia yang begitu kompleks dan relatif teratur merupakan hasil proses alamiah yang panjang dari sebuah zat yang paling sederhana. Diperlukan iman yang sangat besar untuk percaya bahwa sebuah keberadaan yang berpribadi dihasilkan dari sesuatu yang tidak berpribadi.


Meninjau Ulang Hermeneutika Tradisional
Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kontradiksi tidak mungkin terjadi antara kitab suci dan alam. Kontradiksi hanya terjadi antara theologi dan sains. Kekalahan gereja melawan sains pada zaman dulu seharusnya memberi pelajaran yang berharga bagi orang Kristen modern untuk jeli dalam menafsirkan Alkitab.

Hal mendasar yang harus diketahui adalah bahwa Alkitab bukan buku pegangan sains. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengandung kebenaran ilmiah sama sekali. Beberapa buku sudah ditulis untuk membuktikan bahwa Alkitab sejak dulu sudah memberikan banyak kebenaran ilmiah yang baru diungkap oleh sains modern, misalnya bumi berbentuk bulat (Yes. 40:22), bumi terletak pada kehampaan (Ayb. 26:7).[32]

Semua “bukti ilmiah” tersebut memang membuktikan keunikan Alkitab, tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua bagian Alkitab harus ditafsirkan secara ilmiah tanpa mengetahui makna yang sebenarnya dari teks tersebut. Orang Kristen harus memahami jenis literatur (genre), konsep dunia kuno maupun konteks suatu teks, sehingga tidak salah dalam menafsirkannya. Ketika Yosua memberhentikan matahari di Gibeon (Yos. 10), peristiwa ini tampaknya memang faktual karena banyak suku bangsa di dunia memiliki kisah leluhur tentang matahari yang tidak keluar dalam satu hari.[33] Bagaimanapun, kisah ini tampaknya tidak mengajarkan bahwa matahari yang bergerak mengelilingi bumi. Penulis Kitab Yosua hanya mencatat apa yang dikatakan Yosua waktu itu sesuai dengan konsep berpikir dunia kuno. Apa yang dikatakan Yosua hanyalah sebuah ungkapan waktu itu yang menggambarkan pergerakan matahari. Sampai sekarang pun orang modern tetap memiliki ungkapan tertentu yang menyiratkan pergerakan matahari, misalnya “matahari terbit dari timur”, “terbenam di barat.” Orang modern juga kadangkala masih menggunakan istilah “ujung dunia” sekalipun mereka mengetahui bahwa bumi adalah bulat.

Hal lain yang perlu dimiliki orang Kristen adalah keterbukaan untuk menyelidiki alam atau hal lain. Orang Kristen tidak perlu alergi dengan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan berbagai ilmu pengetahuan, kebenaran Alkitab justru semakin lebih jelas dan diteguhkan. Dalam bidang arkheologi misalnya, berbagai penemuan baru telah memberi kontribusi positif bagi studi biblika maupun apologetika.[34] Jika ilmu alam semakin berkembang, maka di kemudian hari kebenaran Alkitab justru akan semakin terlihat. Orang Kristen harus menyatakan kebenaran dari dua buku Allah: scripture (kitab suci) dan nature (alam). #


Catatan kaki:
[1] W. Stanley Heath, Sains Iman & Teknologi (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1997), hlm. 42.
[2] “Where to Look for Guidance: On the Nature of “Religion and Science”, Zygon, Vol. 39, no. 2 (June 2004), hlm. 367-368.
[3] Dikutip dari “What were Galileo's scientific and biblical conflicts with the Church?”,
http://www.christiananswers.net/q-eden/galileo.html.
[4] Charles E. Hummel, The Galileo Connection (Downer Grove: InterVarsityPress, 1986), hlm. 27-29.
[5] John Dillenberger, Protestant Thought & Natural Science: A Historical Study (Nashville/New York: Abingdon Press, 1960), hlm. 22. Italics ditambahkan.
[6] Ibid., 27.
[7] Salah satu sumber yang bermanfaat untuk melihat figur Galileo dari perspektif yang lain – selain dari perspektif gereja yang cenderung menempatkan Galileo sebagai tokoh sejarah gereja yang sangat negatif – adalah Dava Sobel, Galileo’s Daughter (New York: Walker & Company, 1999), hlm. 11-12; Stillman Drake, Discoveries and Opinions of Galileo (New York: Doubleday Anchor Books, 1957), hlm. 173-216.
[8] Henderson, “What were…”
[9] Protestant Thought, hlm. 26.
[10] Langdon Gilkey, Religion and the Scientific Future (New York: Harper & Row Publishers, 1970), hlm. 9.
[11] The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1954), 15.
[12] Religion and the Scientific Future, hlm. 4.
[13] Ibid.
[14] Sebagai contoh George H. Pember, Earth’s Earliest Ages (London: Hodder and Stoughton, reprinted, 1907).
[15] Unformed and Unfilled: The Gap Theory (Phillipsburg: Presybterian and Reformed Pblishing Co., 1976), hlm. 5.
[16] Ramm, The Christian View, hlm. 25.
[17] Conflict and Harmony in Science and the Bible (Grand Rapids: Baker Book House, 1968), hlm. 13.
[18] Ibid., 26.
[19] (Atlanta: John Knox Press, 1985), 1-14.
[20] “Berkuasa” dalam konteks ini tidak menagndung makna eksploitasi seperti yang sempat dituduhkan oleh beberapa orang terhadap Kekristenan sebagai penyebab kerusakan ekologis. Untuk jawaban singkat tapi berbobot terhadap tuduhan ini, lihat Walter C. Kaiser, Hard Saying of the Old Testament (Downer Grove: InterVarsityPress, 1988), hlm. 16-19.
[21] W. Andrew Hoffecker, ed., Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 2 (diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong; Surabaya: Momentum, 2008), hlm. 11-24.
[22] Ibid.,25-44.
[23] Untuk ringkasan yang baik dan bermanfaat tentang hal ini, lihat Peter Harrison, “The Bible and the Emergence of Modern Science”, Science & Chrisian Belief, Vol. 18, No. 2 (2006), hlm. 116-119.
[24] Lihat Collin Brown, Philosophy & the Christian Faith (Downer Grove: InterVarsityPress, 1968), hlm. 20-32.
[25] Untuk pembahasan lebih detil tentang mitos seputar sains, lihat Rousas John Rushdoony, The Mythology of Science ( Nutley, NJ: The Craig Press, 1978), hlm. 1-15.
[26] Heath, Sains, Iman & Teknologi, 8.
[27] The Collapse of Evolution (Grand Rapids: Baker Book House, 1983), 1.
[28] Henry M. Morris, Studies in the Bible and Science (Philadelphia: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1966), hlm. 109.
[29] Ibid., hlm. 1.
[30] Ibid.
[31] John Sailhamer, “Genesis”, Expositor’s Bible Commentary Vol. II (Grand Rapids: Zondervan Publishing House). Electronic edition.
[32] Jeff Harvey & Charles Pallaghy, Alkitab & Ilmu Pengetahuan (diterjemahkan oleh Wimanjaya K. Liotohe; Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”, 1984), hlm. 17. Harvey & Pallaghy juga memberikan banyak contoh lain dari beragam disiplin sains.
[33] Ibid., 8.
[34] Lihat William Ramsay, St. Paul the Traveller and the Roman Citizen (London: Hodder and Stoughton, 1908); The Cities of St. Paul (London: Hodder and Stoughton, 1907); The Bearing of Recent Discovery on the Trustworthiness of the New Testament (Grand Rapids: Baker Book House, 1953); Alfred J. Hoerth, Archaeology and the Old Testament (Grand Rapids; Baker Books, 1998); John McRay, Archaeology & the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 1991); Merrill F. Unger, Archaeology and the New Testament (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1962).




Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?APO-History_of_Debate




Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.