08 March 2009

Matius 13:44-46: THE VALUE OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 22 April 2007

The Value of the Kingdom
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:44-46

Perumpamaan-perumpamaan yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Injil Matius sesungguhnya hanya membicarakan satu hal, yakni Kerajaan Sorga dimana Kristus sebagai Rajanya. Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang dimulai dari kecil dan bertumbuh menjadi besar. Injil Mat. 13:44-52 mau menekankan satu hal, yakni tentang kualitas Kerajaan Sorga namun dalam terjemahan Indonesia dipisahkan menjadi dua bagian karena ada dua hal yang menjadi penekanan. Perumpamaan tentang harta terpendam dan perumpamaan tentang mutiara menekankan kualitas dari Kerajaan Sorga itu sendiri, seberapa mahalnya dan berharganya Kerajaan Sorga itu; perumpamaan tentang pukat menekankan kualitas dari orang-orang yang masuk ke dalam Kerajaan Sorga; hanya ikan yang bagus saja yang boleh masuk ke dalam pukat.
Hari ini kita akan merenungkan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga yang membukakan akan kualitas dari kerajaan sorga. Perumpamaan ini sekaligus mematahkan konsep yang salah yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kecil itu sifatnya meaningless; sesuatu yang kecil itu hanyalah minoritas sehingga tidak ada orang yang memerhatikan. Orang berpendapat ragi itu hanya dapat dirasakan dan dilihat pengaruhnya tetapi ia sendiri tidak kelihatan demikian pula dengan Kerajaan Sorga hanya sementara ada di dunia setelah itu hilang di tengah jaman. Karena itu, untuk menghindari kesalahan penafsiran maka Tuhan Yesus mengkaitkan seluruh perumpamaan sehingga orang tidak mempunyai pikiran yang terpecah-pecah; perumpamaan haruslah dikunci secara totalitas dari kesuluruhan pembahasan. Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang terpendam itu menganulir kemungkinan kesalahan konsep tersebut.
Perhatikan, Kerajaan Sorga yang kelihatan murah itu bukan berarti barang murah. Tidak! Perumpamaan biji sesawi dan ragi ini bukan berbicara tentang barang yang murah tetapi lebih menekankan tentang sesuatu yang kecil namun mempunyai potensi besar. Perumpamaan kali ini hendak menegaskan tentang konsep nilai dari kerajaan sorga dan komitmen. Kalau kita bicara tentang harga maka kita bicara tentang nilai. Banyak orang yang mengabaikan aspek nilai akibatnya orang tidak mengerti nilai dengan tepat. Hal ini disebabkan orang menjadikan diri sendiri sebagai standar nilai akibatnya orang mengalami kesulitan dalam menilai sesuatu. Kekristenan mempunyai standar nilai yang berbeda dengan dunia karena nilai itu tidak didasarkan pada dunia atau diri tetapi segala sesuatu itu didasarkan pada Kristus yang sebagai standar nilai.
Sejarah membuktikan, agama itu muncul sebagai suatu upaya dari manusia mencari kekuatan yang lebih dibanding dirinya dan ketika manusia telah menemukan kekuatan itu barulah orang menyadari kelemahan yang ada pada dirinya dan ia tidak dapat meniadakan kekuatan itu. Orang atheis berusaha sedemikian rupa meniadakan kekuatan itu karena sesungguhnya, ia ingin dirinyalah yang menjadi Tuhan, yang menentukan segala sesuatu sendiri dan berkuasa penuh. Inilah jiwa manusia berdosa. Manusia hanya butuh Tuhan ketika ia merasa lemah. Dunia makin modern makin berusaha membuang Tuhan dan orang merasa ia sudah berhasil membuang Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nietzsche dan kawan-kawan. Betapa bodohnya manusia, ia tidak sadar pada saat mereka membuang Tuhan saat itu hidupnya menjadi sengsara, orang merasa segala sesuatu yang ia kerjakan tidak ada artinya. Kekecewaan itu sampai pad puncaknya dan berakibat pada bunuh diri. Inilah puncak dari the lostness of value. Konsep yang salah menyebabkan hidupnya menjadi hancur. Kalau kita mau telusuri lebih dalam lagi, sesungguhnya yang membuat manusia itu mempunyai semangat juang untuk hidup ada dua aspek, yaitu: 1) aspek epistemologi – what is true; 2) aspek aksiologi – what is valuable.
1. Seeking
Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mau berjuang bahkan berkorban nyawa untuk sesuatu yang ia anggap tidak bernilai dan tidak benar, bukan? Ketika orang menganggap uang itu sebagai sesuatu yang berharga maka ia akan berjuang mati-matian untuk uang. Demilkian pula halnya dengan mereka yang tidak percaya akan kebangkitan Kristus – tidak akan mau berjuang apalagi berkorban demi Kristus. Ironisnya, orang tidak mau kembali pada kebenaran sejati, mereka malah membuat teori baru dan berjuang untuk teori yang baru itu dan untuk kesekian kalinya orang mengulang kesalahan yang sama. Pada jaman renaissance filsafat humanisme berkembang sedemikian rupa, orang mulai meninggalkan Alkitab maka itulah masa dimana Kekristenan semakin menurun. Philosophia berarti orang-orang yang mencintai hikmat tetapi faktanya, philosophia lebih mencintai diri sendiri dan membuang Tuhan Yesus yang adalah sumber hikmat sejati. Adalah tidak mungkin seorang itu menjadi bijaksana kalau ia membuang Kristus di titik pertama. Hingga pada abad 20, pecah perang dunia I dan II dimana orang saling membunuh barulah orang menyadari bahwa apa yang selama ini mereka anggap sebagai bijaksana ternyata sia-sia. Hal ini juga tidak menyadarkan mereka untuk kembali pada kebenaran sejati. Tidak! Orang malah jatuh pada ekstrim yang lain, orang menjadi skeptik, orang tidak peduli dengan sesuatu yang ia anggap sebagai kebenaran dan berharga. Pertengahan abad 20 membawa orang pada skeptisisme posmodern maka hari ini kalau orang ditanya mana yang berharga? Dengan skeptis akan menjawab bahwa apa itu kebenaran? Orang sudah tidak ada lagi upaya atau perjuangan untuk mengejar sesuatu yang benar dan bernilai.
Bagaimana dengan orang Kristen? Apakah kita masih sadar perlunya kita memperjuangkan apa yang benar dan apa yang bernilai? Celakalah, kalau kita salah menilai bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran dan bernilai ternyata tidak lebih hanyalah sebuah sampah yang tidak berharga dan justru yang kita anggap tidak bernilai itu ternyata sebuah barang berharga. Betapa bodohnya kita kalau kita lebih memilih sepiring makanan daripada sekilo emas, bukan? Tanpa kita sadari, sesungguhnya itulah yang sering kita lakukan, ketika Tuhan membukakan bahwa ada sesuatu yang lebih bernilai, kita justru mengabaikannya – kita menjadikan diri sebagai standar nilai. Hendaklah kita mengevaluasi diri, hal apakah yang kita anggap paling bernilai dalam hidup kita? Perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga mau membukakan betapa berharganya Kerajaan Sorga itu dibandingkan dengan harta dunia. Tuhan Yesus tahu apa yang ada dalam pikiran orang Yahudi yang materialis bahkan tak jarang pula, mereka memakai cara licik untuk mendapatkan harta. Perhatikan, ketika orang Yahudi menemukan harta yang terpendam di ladang maka ia tidak mengambilnya tetapi langsung menguburnya kembali dan ia pun pergi menjual seluruh miliknya untuk membeli ladang itu. Cara ini adalah cara yang licik tetapi sekaligus cara yang paling strategis dan sah untuk menghindari hukum dan perselisihan antara pemilik tanah dan penemu harta. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menyatakan kalau demi mendapatkan harta, orang mencari cara sedemikian rupa untuk mendapatkan harta lalu bagaimana dan upaya apa yang kita lakukan demi untuk mendapatkan Kerajaan Sorga yang lebih bernilai? Sangatlah disayangkan, hari ini, jangankan untuk tahu dimanakah kebenaran, upaya untuk mengejar kebenaran dan nilai tertinggi itu saja tidak ada. Sebagian besar orang Kristen tidak mau memikirkan tentang kebenaran apalagi berupaya mendapatkan kebenaran; dengan skeptik, orang akan berkata, “Capek, ah....“ Perkataan itu harusnya menyadarkannya akan hidup, apa yang membuat ia merasa letih?
Tuhan Yesus membukakan betapa bernilainya Kerajaan Sorga itu dan untuk mendapatkan barang yang bernilai itu perlu satu upaya dan pergumulan untuk mendapatkannya. Hal ini yang disebut sebagai extrinsic value – upaya seseorang untuk mengejar atau menyamakan persepsi dengan instrinsic value. Pengertian mahal mempunyai banyak konsep; suatu barang dikatakan mahal kalau nilai instrinsiknya seribu rupiah tapi kita beli dengan harga satu juta rupiah – dikatakan mahal karena tidak cocok dengan harga aslinya. Barang murah tetap akan terasa mahal karena kita tidak mampu membelinya – diri menjadi standar nilai. Hari inilah yang banyak terjadi hari ini tak terkecuali orang Kristen; orang memakai diri sebagai standar untuk menilai sesuatu nilai di dalam dirinya. Cara ini adalah cara yang salah. Untuk menyamakan persepsi dan menyamakan nilai dari ekstrinsik menuju instrinsik diperlukan suatu perjuangan dan hal ini yang seringkali tidak disukai oleh manusia. Orang lebih suka kalau diri sendiri sebagai penentu kebenaran.
Biarlah pola pikir kita diubahkan, ingat kita bukanlah penentu kebenaran. Sekali kita salah menilai maka sia-sialah seluruh perjuangan hidup kita. Karena itu, kita harus kembali pada nilai tertinggi, yakni the true value itself sehingga hidup itu menjadi indah karena kita tahu, kita berjuang untuk sesuatu yang bernilai kekal. Kerajaan Sorga itu adalah orang yang sadar akan nilai tertinggi. Pertanyaannya seberapa jauhkah perjuangan kita untuk mendapatkan nilai tertinggi?
2. Understanding
Bagaimana kita memilah antara harta asli dan harta palsu? Sistem nilai ini menuntut adanya understanding. Suatu barang yang sangat mahal dan berharga itu biasanya jumlahnya sangat terbatas bahkan mungkin hanya ada satu di dunia. Kalau hanya ada satu berarti sukar untuk ditemukan maka dibutuhkan suatu pengertian yang tepat dan untuk mendapatkan pengertian yang tepat itu bukanlah hal yang mudah tetapi dibutuhkan suatu usaha dan perjuangan untuk kita mau belajar. Belajar itu melelahkan karena butuh banyak tenaga dan waktu. Hari ini banyak orang yang merasa lelah dan tidak mau belajar karena orang merasa apa yang ia pelajari selama ini hanyalah kesia-siaan. Orang merasa sia-sia karena ia belajar tetapi tidak pernah menjadi pandai dan bijaksana, hal ini disebabkan karena orang tidak mengerti esensi dan konsep belajar. Maka tidaklah heran kalau orang sampai pada kesimpulan: semua yang dikerjakan tidak lebih hanyalah kesia-siaan belaka dan tidak bernilai akibatnya orang tidak mau belajar. Betapa sangatlah menyedihkan kalau seluruh perjuangan kita ternyata sia-sia. Berbeda halnya kalau kita tahu bahwa seluruh hidup kita mempunyai sasaran dan tujuan yang jelas, yaitu hidup untuk Kristus karena Kristus itu sangat berharga. Belajarlah untuk mengejar nilai sejati karena kita sedang attach dari kerelatifitasan menuju kepada kemutlakan tertinggi. Perjuangan ini sangat layak untuk kita kerjakan. Hari ini banyak orang yang merasa semua yang ia pelajari hanyalah kesia-siaan belaka. Wajarlah kalau orang merasa demikian karena arah hidupnya tidak tertuju pada apa yang menjadi kehendak Tuhan. Orang tidak pernah berpikir ketika ia hendak memutuskan sesuatu apakah keputusan yang ia buat tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak? Berbeda halnya, kalau sejak pertama kita sudah tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan maka seluruh hidup kita penuh dengan makna. Betapa indah hidup kita kalau seluruh yang kita kerjakan itu meaningfull.
Kerajaan Sorga bukanlah barang murah sehingga mudah didapat. Tidak! Kerajaan sorga merupakan sebuah harta yang terpendam yang sangat bernilai dan hanya ada satu di dunia yang semua orang mau mencapainya. Pertanyaannya bagaimana kita mendapatkannya? Caranya adalah dengan mencari dan untuk itu dibutuhkan suatu perjuangan, yakni berjuang untuk belajar untuk mendapatkan suatu pengertian dengan benar. Kalau kita tidak pernah belajar tentang mutiara, kita tidak akan pernah mengerti dan tidak dapat membedakan manakah mutiara yang asli dan mana yang palsu. Dibutuhkan seorang ahli untuk dapat membedakannya dan untuk menjadi seorang ahli dibutuhkan suatu studi yang baik. Pertanyaannya seberapa jauhkah perjuangan orang Kristen untuk mengerti nilai tertinggi yang menyangkut kekekalan? Untuk mengerti hal ini perlu suatu disiplin diri untuk kita mau belajar dengan demikian kita tidak menjadi salah. Kita tahu mana yang paling bernilai dan mana yang tidak dengan demikian kita dapat memberikan pertanggungjawaban. Mengerti bahwa kerajaan sorga adalah sesuatu yang bernilai, itu bukanlah suatu fanatisme yang kosong.
3. Commitment
Kalau kita menyatakan bahwa A itulah yang paling bernilai tetapi tidak ada upaya atau perjuangan untuk mencapainya maka dapatlah disimpulkan bahwa semua pernyataan kita itu tidak lebih hanya pernyataan kosong belaka. Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus menegaskan bahwa sesuatu itu berharga, valuable ditentukan dari seberapa jauhkah kita berjuang untuk mendapatkannya? Orang yang tahu kalau di dalam tanah itu terkandung harta yang sangat mahal, masakan ia akan berdiam diri? Tentu tidak, bukan? Ia pasti akan membelinya tanah itu berapa pun harganya karena ia tahu ia akan mendapatkan lebih. Inilah yang dinamakan sebagai perjuangan. Jadi, kalau orang menyatakan bahwa Kerajaan Sorga itu berharga tetapi seluruh hidup kita tidak menunjukkan suatu perjuangan maka itu membuktikan ia bukanlah Kristen sejati yang tahu betapa berharganya Kerajaan Sorga itu. Hendaklah kita mengevaluasi diri, sebagai anak Tuhan sejati, seberapa jauhkah kita telah berkorban untuk mendapatkan Kerajaan Sorga itu? Sejauh manakah Kristus itu bernilai bagi kita? Seberapa mahalnya Kristus itu berharga bagi kita? Dan sampai seberapa jauhkah kita menyadari mahalnya nilai instrinsik itu sehingga kita mengarahkan seluruh nilai ekstrinsik kita mengejar nilai instrinsik itu?
Para murid dan para martir itu sangat menyadari betapa bernilainya Kerajaan Sorga sehingga mereka rela mati untuk mendapatkan the highest value. Ingat, sikap hidup kita itu menentukan iman Kristen kita. Hari ini banyak orang Kristen yang mengaku bahwa “Yesus itu adalah segala-galanya“ tetapi kalimat itu masih ada kelanjutannya, yaitu “Yesus itu segala-galanya hanya bagiku“ artinya orang hanya perlu Yesus selama Dia menguntungkan bagi kita, jadi bukan karena Dia mahal. Inilah dunia berdosa yang humanis – Kristus Yesus tidak lebih seperti “pelayan“ dan kita yang menjadi tuannya. Inilah konsep yang diajarkan oleh dunia. Tanpa sadar, manusia kembali pada pemikiran humanis materialis; apa yang kita perjuangkan mati-matian hanya untuk uang. Bertobatlah! Kalau kita mengaku Kristen tetapi uang, materi, kepentingan diri yang menjadi nilai tertinggi dalam hidup kita maka itu membuktikan kalau sesungguhnya kita bukan anak Tuhan sejati. Seberapa jauhkah kita telah berkorban untuk Kristus? Seberapa jauhkah hati kita berpaut pada Kerajaan Sorga? Siapakah yang menjadi nilai tertinggi dalam hidup kita?
Kerajaan Sorga itu seperti halnya harta terpendam dan mutiara yang sangat bernilai kalau kita mendapatkannya betapa sukacita hidup kita. Pertanyaannya sudahkah kita berjuang untuk mendapatkannya? Kiranya hal ini menjadi evaluasi bagi kita, kalau selama ini kita telah bertahun-tahun menjadi Kristen, sudahkah pola pikir kita diubahkan sehingga kita mempunyai pola pikir seperti Kristus? Sudahkah kita menyadari betapa mahalnya darah Kristus yang telah menebus kita sehingga kita mau berkorban demi mendapatkan mutiara yang berharga itu? Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

01 March 2009

Resensi Buku-68: TUHAN MERANCANGNYA UNTUK KEBAIKAN (Rev. R. T. Kendall, D.Phil., D.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
TUHAN MERANCANGNYA UNTUK KEBAIKAN

oleh: Rev. R. T. Kendall, D.Phil., D.D.

Penerbit: Nafiri Gabriel dan SMART Center, 2005

Penerjemah: Meiliana Purnama.





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Hidup Kristen adalah hidup yang terus-menerus bertumbuh makin mengenal Allah dan kehendak-Nya. Pertumbuhan itu dapat terjadi ketika Allah Roh Kudus memimpin hidup kita setiap waktu. Ketika Allah memimpin hidup kita, ada banyak hal yang Tuhan ingin persiapkan bagi kebaikan kita demi kemuliaan-Nya sendiri. Tetapi kadang kala, apa yang Tuhan rancangkan itu terkadang susah dipahami secara nalar manusia. Sering kali manusia tidak menginginkan pembentukan Tuhan ini, karena bagi kita, itu tidak baik dan menyakitkan. Tetapi percayalah, setiap rancangan Tuhan bukanlah rancangan yang mencelakakan, tetapi rancangan yang penuh damai sejahtera bagi anak-anak-Nya dan terlebih lagi itu memuliakan Tuhan. Hal itulah yang dialami Yusuf. Yusuf adalah seorang yang dahulu manja, menerima segala yang baik dari ayahnya, Yakub, namun segala kelakuannya tidak disenangi oleh saudara-saudaranya. Karena Tuhan ingin memakainya, Yusuf yang dahulu manja ini harus mengalami pembentukan dari Tuhan yang begitu panjang, keras, dan lama, yang mengakibatkan di setiap momen hidupnya, ia terus belajar apa artinya mengerti dan mengenal kehendak Allah bukan hanya secara kognitif, tetapi secara realitas pengalaman hidup. Setelah mengalami pembentukan Tuhan dalam waktu yang panjang dan dengan cara yang keras (misalnya, difitnah, diperlakukan tidak adil, dll), akhirnya Tuhan menampilkan sosok Yusuf sebagai sosok pemenang yang membawa pengaruh dan berkat bagi lingkungan sekitar di mana ia hidup, mulai dari saudara-saudaranya, ayahnya (Yakub), bahkan sampai seluruh kerajaan Mesir di mana ia menjadi Perdana Menteri di sana. Kisah ini dibahas secara jelas dan mudah dimengerti di dalam buku Tuhan Merancangnya untuk Kebaikan yang ditulis oleh Rev. Dr. R. T. Kendall.

Secara pribadi, pada waktu dan setelah saya membaca buku ini, ada banyak berkat dan teguran yang Tuhan cerahkan di dalam hati dan pikiran saya, misalnya tentang: pimpinan Tuhan, pertobatan, pengampunan, kerendahan hati, memulai sesuatu yang baru di dalam Tuhan, dll. Saya menjadikan buku ini sebagai cermin hidup akan apa yang saya alami dari dahulu sampai sekarang. Biarlah buku ini juga menjadi pelajaran yang berharga bagi kita bukan hanya untuk makin mengerti Allah secara kognitif (theologi), tetapi juga mengalami-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga nama Tuhan makin terus dipermuliakan selama-lamanya. Tuhan yang telah memakai Yusuf, biarlah Tuhan yang sama memakai kita demi kemuliaan-Nya saja. Biarlah hati dan hidup kita terbuka akan rancangan dan pimpinan-Nya yang indah itu.






Profil Rev. Dr. R. T. Kendall:
Rev. R. T. Kendall, D.Phil., D.D. lahir pada tanggal 13 Juli 1935 di Ashland, Kentucky, U.S.A. Beliau adalah Pendeta Senior di Westminster Chapel. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (A.B.) di Trevecca Nazarene University of Nashville, Tennessee pada tahun 1970; Master of Divinity (M.Div.) di Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A. pada tahun 1972; Master of Arts (M.A.) di University of Louisville, Louisville, Kentucky, U.S.A. pada tahun 1973; Doctor of Philosophy (D.Phil.) di Oxford University, U.K. pada tahun 1977; dan Doctor of Divinity (D.D.) di Trevecca Nazarene University pada tahun 2008. Beliau menikah dengan Louise Wallis pada tanggal 28 Juni 1958 dan dikaruniai dua orang anak: putra: Robert Tillman II (TR), yang menikah dengan Annette, dan putri: Melissa Louise.

Roma 13:11: UTANG KASIH-3: Dibangunkan dari Tidur

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-13


Utang Kasih-3: Dibangunkan dari Tidur

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 13:11.



Di ayat 10, Paulus menjelaskan tentang kasih yang tidak berbuat yang tidak bernilai kepada sesama. Apakah konsep itu hanya berhenti di situ? Tidak. Konsep Paulus di ayat 10 dilanjutkan pengajarannya di dalam bentuk aplikasi melalui ayat 11 s/d 14.


Di ayat 11, ia mengajarkan, “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Paulus tidak berhenti di tataran konsep saja, ia melanjutkan dengan mengajar jemaat Roma (dan kita) untuk melakukan apa yang telah diajarkannya di ayat 10. Oleh karena itu, ia mengatakan, “Hal ini harus kamu lakukan, ...” New International Version (NIV) menerjemahkannya secara langsung, “And do this, ...” (=Dan lakukan ini). Di dalam bahasa Yunani, pernyataan ini tidak ditemukan. Paulus bukan hanya menyuruh jemaat Roma (dan kita) untuk melakukannya, ia juga mengajar kepada kita untuk mengerti waktu. NIV menerjemahkannya, “understanding the present time.” (=mengerti waktu sekarang). Kata “waktu” di dalam ayat ini di dalam bahasa Yunani kairos berarti waktu yang tidak terulang (waktu tertentu). Dengan demikian, kita harus melakukan kasih yang berbuat sesuatu yang bernilai kepada orang lain pada waktu sekarang yang tidak akan terulang. Pengertian waktu yang tak akan berulang mengakibatkan kita memiliki suatu hasrat ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan dengan mengasihi sesama. Bukan hanya mengasihi sesama, kita pun diajar untuk mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. Hal ini diajarkan Paulus di Efesus 5:16, “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Berarti, kita bukan hanya sibuk mengasihi sesama, tetapi kita juga tetap harus berwaspada dengan segala tipu muslihat sesama kita atau segala kejahatan lainnya. Kewaspadaan kita ini ditandai dengan saatnya kita bangun dari tidur kita. NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan referensi Efesus 5:14. Di Efesus 5:14, Paulus mengajarkan, “Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”” Ayat ini berada di dalam konteks bahwa kita hidup sebagai anak-anak terang. Dengan kata lain, ada beberapa prinsip yang kita bisa pelajari dari konsep “bangun dari tidur”, yaitu:
Pertama, bangun dari tidur berarti kita tidak lagi tertidur. Seorang yang tidur adalah seorang yang paling “nyaman,” tidak tahu kondisi luar, dll. Bahkan karena terlalu nyaman, orang yang tidur bisa mendengkur (ngorok). Itu membuktikan bahwa orang yang sudah tertidur benar-benar menikmati tidurnya dan melepaskan semua bebannya. Ketika orang yang tidur itu dibangunkan, mungkin orang yang tidur itu tidak rela bangun, tetapi jika memang kondisi sangat penting (misalnya, kebakaran), orang yang tidur itu pasti bangun. Begitu jugalah yang dimaksudkan Paulus. Paulus mengatakan bahwa kita saatnya sudah dibangunkan dari tidur (struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk pasif pada kata “bangunlah”). Ini berarti kita bukan bangun dari tidur sendiri, tetapi kita dibangunkan. Dibangunkan oleh siapa? Tentu Roh Kudus melalui Paulus yang kita baca suratnya ini merupakan sarana membangunkan kita dari tidur. Di sini, Alkitab dan Roh Kudus menjadi sarana yang membangunkan kita dari tidur. Di zaman Perjanjian Lama, Tuhan memakai para nabi-Nya untuk menyadarkan orang Israel yang tertidur rohani. Ketika orang Israel mulai murtad dan meninggalkan Allah, Ia memanggil para nabi-Nya untuk menyampaikan seruan pertobatan bagi Israel. Di Abad Pertengahan, Kekristenan suam-suam kuku. Di zaman itu pula, Tuhan membangkitkan Dr. Martin Luther untuk membangunkan orang Kristen yang tertidur. Di zaman modern di mana manusia mulai mengilahkan rasio, Tuhan membangkitkan para hamba-Nya, dari Dr. Abraham Kuyper, Dr. Francis A. Schaeffer, dll untuk membangunkan orang Kristen yang ikut arus rasionalisme pada waktu itu. Bagaimana dengan kita? Kondisi Kekristenan di zaman postmodern sudah begitu tertidur. Banyak dari mereka sudah mulai terbuai dengan berbagai fenomena yang menggejala yang menipu mata jasmani mereka. Mereka pergi ke gereja dengan motivasi ingin melepaskan semua beban mereka (persis seperti ketika seseorang tidur). Sudah saatnya orang Kristen dibangunkan dari ketiduran. Orang Kristen dan hamba Tuhan sejati bertindak sebagai pengingat dan orang yang membangunkan orang Kristen lain ketika mereka mulai tertidur dengan fenomena-fenomena yang mengelabui mereka. Sudahkah kita membangunkan orang Kristen lain dengan memberitakan firman Tuhan kepada mereka dengan bertanggung jawab?

Kedua, bangun dari tidur berarti kita benar-benar bangun. Bukan hanya tidak tertidur, kita harus benar-benar bangun dari tidur. Artinya, kita bukan hanya tersadar, tetapi kita benar-benar bangun dan melakukan sesuatu yang berguna. Bayangkan, jika Anda baru bangun dari tidur, tentu Anda akan mengusap-usap mata dahulu. Ketika kita mengusap-usap mata, itu baru menunjukkan kita tersadar. Itu belum cukup. Kita harus benar-benar berdiri dari tidur, lalu melakukan sesuatu, misalnya mandi atau makan. Ini adalah langkah kedua kita bangun dari tidur. Di zaman Perjanjian Lama, setelah Tuhan mengutus para nabi-Nya untuk menyampaikan berita pertobatan, Ia juga yang membangkitkan nabi-Nya yang lain untuk meneruskan para nabi-Nya sampai pada waktu Kristus diutus. Setelah Tuhan memakai Dr. Luther untuk menyadarkan Kekristenan yang telah tertidur dengan rutinitas Katolik Roma, Ia juga membangkitkan para reformator lainnya, seperti Dr. John Calvin, Ulrich Zwingli, Dr. Theodore Beza, dll untuk benar-benar bangun dari tidur dan meneruskan api reformasi untuk menyadarkan Kekristenan tentang pentingnya firman Tuhan dan anugerah Allah bagi keselamatan. Di zaman postmodern, Tuhan memakai hamba-hamba Tuhan yang bertanggung jawab, salah satu di antaranya Pdt. Dr. Stephen Tong untuk menyadarkan Kekristenan akan superioritas firman Tuhan (Alkitab) di dalam Kekristenan. Tuhan yang sama juga membangkitkan saya dan kita sebagai orang Kristen yang betul-betul mengerti pimpinan Tuhan meneruskan panggilan menegakkan Kekristenan yang kembali kepada Alkitab. Ini semua membuktikan bahwa kita benar-benar bangun dari tidur. Kita benar-benar bangun dari tidur di dalam kerohanian ketika kita benar-benar mempelajari kebenaran firman Tuhan dengan menggali Alkitab. Sudah siapkah kita melakukannya?

Ketiga, bangun dari tidur berarti kita menjadi terang Allah bagi dunia. Bukan hanya benar-benar bangun dari tidur, kita dituntut untuk menjadi terang Allah bagi dunia. Mengapa kita tidak hanya cukup benar-benar bangun dari tidur? Karena ketika kita hanya benar-benar bangun dari tidur, kita hanya sibuk mengurusi diri kita. Bayangkan, ketika bangun dari tidur, kita hanya langsung mandi atau makan, itu belum menunjukkan kita benar-benar bangun. Tanda kita benar-benar bangun dari tidur adalah kita melakukan sesuatu bagi orang lain, misalnya membantu orang lain, dll. Di dalam kerohanian pun, hal ini juga berlaku demikian. Tuhan tidak menginginkan kita bangun dari tidur hanya sekadar kita sibuk belajar theologi, Alkitab, dll saja, tetapi Ia menginginkan kita untuk bersaksi bagi-Nya. Dengan kata lain, kita dituntut untuk menjadi saksi terang-Nya di dunia di mana kita hidup. Bagaimana kita bisa menjadi saksi terang-Nya? Di Efesus 5:14, Paulus memberikan teladan bahwa kita bisa bangkit berdasarkan kebangkitan Kristus, artinya seperti Kristus yang bangkit dari kematian, kita pun harus bangkit dari hidup kita yang lama yang mati (bdk. Ef. 5:11), lalu biarlah cahaya Kristus itu menyinari kita sehingga kita menjadi pancaran sinar-Nya yang agung itu. Dengan kata lain, ketika kita men-Tuhan-kan Kristus di dalam segala aspek kehidupan kita, di saat itu pula, kita menjadi saksi terang-Nya di dunia ini. Ketika kita sudah menjadi pancaran sinar-Nya, di saat itu pulalah kita benar-benar menunjukkan bahwa kita sudah bangun dari ketiduran rohani kita. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita tertidur rohani? Masihkah kita mau dibujuk oleh berbagai ajaran yang tidak bertanggung jawab? Sudah saatnya kita: BANGUN DARI TIDUR dan menjadi saksi terang-Nya di dunia yang berdosa ini.

Lalu, mengapa kita dibangunkan dari tidur kita? Paulus melanjutkan alasannya, “Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” NIV menerjemahkannya, “because our salvation is nearer now than when we first believed.” (=karena keselamatan kita lebih dekat SEKARANG daripada ketika kita pertama kali percaya). Di dalam terjemahan NIV, kita lebih jelas melihat perbedaan waktu. Di frasa pertama, digunakan present tense (sekarang), sedangkan di frasa kedua, digunakan past tense (lampau). Dari sini, kita mendapatkan pengajaran bahwa kita dibangunkan dari tidur karena Tuhan memelihara keselamatan kita sampai akhir. Dr. John Gill di dalam tafsirannya John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan bahwa keselamatan ini bukan keselamatan temporal, tetapi keselamatan spiritual dan kekal (eternal). Di sini, Tuhan mau kita melihat proses keselamatan yang Allah kerjakan di dalam setiap aspek kehidupan kita. Keselamatan bukan hanya pada saat kita percaya, tetapi keselamatan itu terus-menerus sampai penyempurnaan kelak. Di sini, kita melihat adanya providensi (pemeliharaan) Allah di dalam keselamatan umat pilihan-Nya. Konsep ini menyadarkan dan mendorong kita untuk terus-menerus mengerjakan utang kasih yang kita miliki, yaitu melakukan sesuatu yang bernilai kepada sesama kita (bdk. Rm. 13:10). Orang yang sudah, sedang, dan akan diselamatkan pasti memiliki suatu kerinduan terus-menerus untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Mengapa? Karena ia telah mengalami anugerah penebusan Kristus yang menyelamatkan yang diteruskan sampai pada akhirnya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita yang berada di dalam proses penyelamatan Allah menyalurkan kasih Allah kepada sesama kita?


Biarlah perenungan satu ayat ini saja membuat kita sadar bahwa setelah kita dibangunkan dari tidur, kita memiliki tanggung jawab sebagai anak Tuhan untuk meneruskan dan memancarkan kasih dan sinar Kristus kepada sesama kita. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya demi kemuliaan nama Allah Tritunggal. Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 13:31-35: THE GROWTH OF THE KINGDOM (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah: 15 April 2007

The Growth of the Kingdom
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 13:31-35


Sungguh merupakan suatu anugerah kalau kita dapat memahami hal kerajaan sorga melalui perumpamaan yang Tuhan Yesus paparkan. Kerajaan sorga itu seperti seorang penabur yang menaburkan benih firman dan orang yang menerima benih itu digambarkan dalam empat macam tanah. Tuhan Yesus juga membukakan bahwa sebagai warga kerajaan sorga mengalami banyak tantangan yang menjepit sebab ketika benih baik itu ditabur, iblis juga ikut menaburkan benih yang buruk namun semua itu tidak akan berlangsung lama sebab akan tiba waktu-Nya, lalang akan dibuang dan dibakar. Anak Tuhan yang sejati ialah orang yang mendengar firman dan mengerti dan ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Yang menjadi pertanyaannya adalah yang dimaksud dengan berbuah banyak ini apakah secara kualitas ataukah kuantitas?
Melalui perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi ini kembali Tuhan Yesus membukakan tentang situasi pertumbuhan Kerajaan Sorga. Namun tidak banyak orang yang mengerti hal ini, hanya mereka yang dipilih saja yang dapat memahami tentang rahasia kerajaan sorga. Merupakan pandangan yang salah kalau orang beranggapan perumpamaan itu untuk memudahkan kita mengerti tentang hal Kerajaan Sorga. Sebab sesungguhnya kalau kita mau tajamkan yang ia anggap mengerti itu tidak sesuai dengan pengertian Tuhan, orang berpikir menurut asumsi diri dengan cara dan struktur berpikir yang humanis, materialis dan egois. Pengertian yang benar itu akan kita dapatkan ketika kita melihat dari sudut pandang Tuhan. Manusia sangatlah terbatas yang bisa salah, kita bukan kebenaran sejati. Sadarlah, pola pikir kitalah yang harus berubah seturut dengan pola pikir Tuhan dan semua itu tidak dapat kita lakukan sendiri, hanya Tuhan sajalah yang memampukan sehingga kita dapat memahami tentang kerajaan sorga.
Bentuk biji sesawi ini sangat kecil hanya menyerupai titik hitam namun perhatikan, kalau ditanam ia akan menjadi sebuah pohon sehingga burung dapat bersarang. Demikian pula halnya dengan ragi, jumlah yang sedikit dapat membuat adonan mengembang sedemikian rupa. Tidaklah mudah memahami konsep paradoks antara kualitatif dan kuantitatif di tengah dunia yang humanis materialis. Biarlah kita sebagai anak Tuhan peka, jangan terjebak dengan cara iblis yang sengaja membawa kita supaya masuk dalam pemikiran yang bersifat kuantitatif. Dunia hanya melihat secara fenomena sebaliknya Tuhan melihat apa yang menjadi esensi. Perhatikan, mulai dari cara berpikirnya saja sudah beda dan hal ini akan mempengaruhi seluruh aspek. Pola pikir akan berakibat pada banyak aspek. Melalui perumpamaan ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat suatu pergumulan yang sangat berat, yakni hidup menjadi seorang Kristen bukanlah sesuatu yang sifatnya besar atau “wah“ di titik pertama.
1. Mulai dari yang kecil
Kerajaan Sorga dimulai dari sesuatu yang kecil, biji sesawi yang bertumbuh menjadi sebuah pohon. Demikian pula halnya seperti ragi, ketika ia bercampur dengan adonan maka sulit untuk melihatnya tapi kita dapat melihat dan merasakan adanya ragi. Dari sini, Tuhan Yesus mau mengajarkan bahwa Kekristenan itu harus dimulai dari hal yang kecil, start with a very small beginning, start with a very humble beginning. Inilah cara Kerajaan Sorga. Berbeda dengan dunia yang selalu memulai dengan sesuatu yang besar dan “wah.“ Kerajaan Sorga bukanlah sesuatu yang sekedar teori. Tidak! Sang Raja itu memberikan teladan indah. Tuhan Yesus membangun kerajaan-Nya dimulai dari 12 murid. Mereka hanyalah orang biasa; secara militer mereka tidak mempunyai kekuatan senjata, secara kapasitas mereka tidak mempunyai kemampuan dan mereka bukanlah orang yang berkuasa. Inilah standar prosedur Kerajaan Sorga yang memulai dari sesuatu yang kecil akan tetapi bukan berarti sesuatu yang kecil itu selamanya kecil. Tidak! Adalah wajar, kalau kita merasa takut. Hari itu, para murid pun juga merasa takut apalagi mereka harus berhadapan dengan pemerintahan Romawi yang besar. Berulang kali Tuhan Yesus mengajarkan pada mereka bahwa kerajaan sorga harus dimulai dari hal yang kecil namun berulang kali pula mereka masih berpikir dengan cara dunia. Para murid ini semakin merasa kecil dan takut dan memuncak ketika Tuhan Yesus naik ke sorga meninggalkan mereka. Mereka bersembunyi dan menutup rapat semua pintu dan jendela sampai Roh Kudus turun, mereka kembali mempunyai kekuatan untuk bertindak dan hari itu, 3000 orang bertobat dan jumlah merekapun bertambah namun penganiayaan kembali menceraiberaikan mereka. Tanpa sadar, sesungguhnya mereka tidak kecil, pada saat yang sama jumlah mereka terus bertambah besar bahkan hingga hari ini, kekristenan telah tersebar ke seluruh dunia. Inilah pertumbuhan Kerajaan Sorga. Pertumbuhan Kerajaan Sorga dimulai dengan semangat jadi biji sesawi – mulai dari kecil kemudian bertumbuh menjadi besar namun pada saat yang sama kita tetap merasa kecil.
Biarlah prinsip “memulai sesuatu dari kecil“ ini teraplikasi dalam seluruh aspek hidup kita. Perhatikan, ketika kita merasa besar dan nyaman disana Tuhan kembali mengajarkan untuk kembali dari kecil. Sejarah membuktikan pada jaman Raja Constantine, ia menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara maka semua itu tidak lebih hanyalah sebuah pohon palsu. Secara identitas Kristen tetapi tidak demikian dengan perilaku dan pemikirannya. Jadi, jelaslah tidak ada yang namanya kristenisasi sebab secara esensi, iman tidak dapat dipaksakan. Jaman itu menjadi masa kegelapan kekristenan, terjadilah perang salib maka kekristenan mulai dari kecil kembali. Demikian pula pada jaman Kerajaan Romawi dimana kekristenan menjadi mayoritas maka saat itu muncul pula banyak ajaran bidat. Hingga Marthin Luther memakukan 95 dalil, orang baru disadarkan untuk kembali pada Firman. Orang Kristen kembali dianiaya dan mereka memulai kembali dari kelompok kecil. Ketika Kekristenan kembali dari kuantitatif maka Kekristenan mulai rusak dan hancur.
Ingat, ini Kerajaan-Nya maka kita harus mengikut cara kerja Tuhan yang empu-Nya Kerajaan Sorga. Lalu sebagai minoritas bagaimana kita dapat bertahan di tengah mayoritas? Pada saat kondisi yang paling lemah, Tuhan itu menjadi pembela kita. Kita semakin mengandalkan kekuatan Tuhan. Setiap kali kita melangkah kita menyadari tangan Tuhan memimpin. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini, orang memakai cara dunia yang kelihatan besar secara fenomena namun sesungguhnya, keropos di dalam dan secara perlahan, kita menjadi hancur. Hati-hati, iblis sengaja menawarkan segala yang nampak wah secara fenomena namun berakhir dengan kebinasaan. Ingat, Tuhan ingin segala sesuatu dimulai dari kecil dan jangan takut sebab Ia akan beserta.
2. Mengembangkan kualitas yang ada dalam diri
Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi membukakan tentang pengembangan Kerajaan Allah dimulai dari inner quality yang Tuhan tanam. Berbeda dengan dunia, kita seringkali mengharapkan dukungan dari pihak luar supaya kita menjadi besar. Merupakan suatu kegagalan fatal kalau kita mengandalkan kekuatan dunia untuk membuat Kekristenan berkembang menjadi lebih besar. Kekristenan menunjukkan perkembangan itu dimulai dari inner quality. Biarlah kita selalu berprinsip get your own respect dengan demikian orang melihat kualitas internal yang ada dalam diri kita. Jangan remehkan sesuatu yang kecil sebab biji sesawi atau ragi yang kecil itu justru berpotensi besar sehingga siapapun yang ada di dekatnya akan terpengaruh dan menjadi berkembang. Inilah konsep paradoks yang Tuhan ingin setiap kita memahaminya; di satu sisi kita kecil tetapi mengandung potensi yang besar. Anak Tuhan sejati seharusnya memiliki potensi, kualitas intelektualitas, kepekaan, moralitas dan cara kerja yang lebih baik dibandingkan dengan dunia sebab semua kualitas internal ini Kristus berikan kepada setiap anak-Nya.
Dua hal yang menjadi kelemahan manusia berdosa, yaitu: 1) orang yang selalu menginginkan hal-hal yang besar dan untuk memulai hal ini, orang berpikir hal yang besar akibatnya orang menjadi sombong, 2) orang yang selalu merasa kecil dan menjadi minder sehingga ia tidak mempunyai kekuatan untuk bertindak. Seberapa paradokskah kita memahami bahwa kita kecil tetapi di lain pihak, kita mempunyai potensi besar? Alkitab membukakan bahwa manusia bukanlah siapa-siapa, kita kecil tetapi di tangan Tuhan kita akan menjadi besar. Namun perhatikan, ketika kita menjadi besar, bukan kita yang besar tetapi Tuhanlah yang besar dan kita hanyalah alat di tangan-Nya, hal itulah yang memungkinkan kita menjadi besar. Betapa indah hidup kita ketika hidup dipimpin oleh Tuhan sebaliknya, hidup itu akan menjadi kacau ketika kita mulai melawan. Bayangkan, apa jadinya sebuah lukisan kalau kita melawan, kita ikut menggambar ketika ada tangan lain, tangan seorang pelukis ahli yang menuntun kita; pastilah lukisan itu tidak menjadi lukisan yang indah sebaliknya ketika kita berserah total, membiarkan tangan kita dituntun oleh sang pelukis maka lukisan itu menjadi sangat indah. Demikian juga halnya hidup kita di tangan Tuhan. Secara fenomena, kita tampak kecil, orang lain seringkali meremehkan tetapi di tangan Tuhan, barang yang kecil itu mempunyai potensi besar. Hidup dalam Kerajaan Allah harus merombak seluruh konsep pemikiran duniawi kita seturut dengan pemikiran Allah sehingga kita menjadi alat-Nya di tangan-Nya.
Sangatlah disayangkan, masih banyak orang Kristen yang masih ingin memakai cara dunia sekaligus cara Tuhan. Sikap seperti itu justru menjadi penghambat bagi Tuhan yang mau bekerja atas kita. Orang yang merasa diri hebat, mampu mengembangkan diri sendiri justru akan mematikan potensi diri sendiri. Sudahkah hidup kita dipimpin oleh Tuhan ataukah justru sebaliknya, hidup kita tidak lebih dipimpin oleh iblis. Potensi yang ada di dalam diri kita tidak tergantung dengan apa yang di luar. Inilah gambaran Kerajaan Sorga yang dibukakan oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi. Kerajaan Sorga dimulai dari sesuatu yang kecil kemudian menjadi besar. Kalau kita menyadari hal ini maka kita tidak mudah goyah oleh segala tantangan yang ada di dunia karena kita tahu, Tuhan yang memampukan kita, Tuhanlah yang memberikan potensi. Maukah kita taat untuk dibentuk dan menjadi alat di tangan Tuhan?
Dalam kehidupan Kekristenan, di satu pihak golongan karismatik selalu ingin memulai dengan sesuatu yang besar, orang ingin mendapatkan hasil yang besar dan spektakuler akibatnya orang tidak dapat membedakan lagi apakah itu pekerjaan Tuhan ataukah pekerjaan iblis. Namun di pihak lain, orang terlalu minder sehingga ia tidak dapat merasakan pimpinan Tuhan, tidak pernah merasakan kuasa Tuhan, tidak pernah mengalami bagaimana Tuhan bekerja dengan sangat heran dan membuat kita takjub. Lihatlah bagaimana Tuhan memimpin dan memampukan kita yang kecil dan lemah sehingga kita mampu melakukan pekerjaan besar; Tuhan telah memberikan potensi pada kita. Adalah pendapat yang salah kalau pimpinan Tuhan ini hanya khusus untuk para pendeta atau penginjil. Tuhan menegaskan pimpinan dan penyertaan itu diberikan pada setiap anak Tuhan yang mau taat pada-Nya. Jangan mendualismekan antara hidup dalam Tuhan dengan hidup di tengah dunia dan panggilan Tuhan bukan dikhususkan untuk suatu profesi saja tetapi untuk setiap umat Allah. Ketika kita berserah total pada-Nya maka kita akan melihat dan merasakan bagaimana Tuhan bekerja sangat heran atas kita, kita sendiripun akan dibuat takjub oleh perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib atas kita.
3. Menjadi berkat bagi orang lain
Kerajaan Sorga seperti biji sesawi yang kecil namun ketika ia tumbuh ia akan menjadi sebuah pohon dimana semua burung dapat bernaung di dalamnya dan seperti halnya, ragi ia akan membuat sebuah adonan itu berkembang. Inilah misi Kerajaan sorga yaitu menjadi berkat bagi dunia. Cara kerja Tuhan berbeda dengan cara dunia. Biarlah setiap kita yang menjadi warga kerajaan-Nya meneladani Kristus Sang Raja yang datang bukan untuk dilayani tetapi melayani; Ia datang untuk menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Hendaklah dalam hidup kita selalu mempunyai semangat untuk menjadi berkat bagi orang di sekitar kita, if you work you work to be blessing for other.
Hal ini menjadi panggilan sekaligus misi dari gerakan reformed. Hari ini kalau GRII ada itu bukan untuk diri sendiri tapi untuk menjadi berkat bagi seluruh kota dan seluruh dunia. Setiap hal yang kita kerjakan untuk menjadi berkat bagi orang lain bukan untuk diri sendiri. Hendaklah sebagai anak Tuhan kita meneladani Kristus yang selalu tidak berpikir untuk diri tetapi selalu ingin menjadi berkat bagi orang lain. Inilah prinsip dan jiwa dari Kerajaan Sorga. Hendaklah ketika kita bekerja bukan sekedar untuk uang tetapi lakukan semua itu untuk Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Hal ini tidaklah mudah sebab iblis juga turut bekerja, ia akan menjepit anak Tuhan dengan segala tantangan dan penderitaan namun ingatlah, tetaplah bersandar pada Tuhan dan percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak-Nya dipermainkan oleh dunia, Ia akan membalaskan semua ketidakadilan yang kita dapatkan di dunia. Tuhan menegaskan pembalasan itu adalah hak-Ku. Biarlah dimanapun kita berada, dimanapun kita bekerja, prinsip Kerajaan Sorga, yakni menjadi berkat bagi orang lain itu menjadi prinsip hidup kita dengan demikian nama Tuhan dipermuliakan.
Melalui perumpamaan ini biarlah dibukakan bahwa segala sesuatu harus dimulai dari hal kecil sebab saat kita merasa kecil itulah justru Tuhan membuatnya menjadi besar. Hendaklah kita juga sadar bahwa semua potensi yang ada dalam diri kita itu asalnya dari Tuhan untuk dipakai untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kerajaan sorga adalah tempat dimana altruisme dibangun sebesar-besarnya sehingga burung-burung dapat bersarang di dalamnya; menjadi berkat bagi dunia yang gelap. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

27 February 2009

JODOH: Di Tangan Tuhan atau Manusia? (Denny Teguh Sutandio)

Jodoh: Di Tangan Tuhan atau Manusia?
(Analisa Theologis dan Biblika Terhadap Masalah Pasangan Hidup)


oleh: Denny Teguh Sutandio




PENDAHULUAN
Problematika mengenai jodoh atau pasangan hidup bukanlah perkara mudah untuk dipecahkan. Ada banyak kasus orang yang sudah menikah dan berpikir bahwa pasangannya adalah pasangan hidupnya, tetapi akhirnya bercerai juga dengan alasan tidak cocok. Mengapa tidak cocok? Mengapa pada saat mengenal dan berpacaran, mereka tidak saling mengenal sungguh-sungguh? Ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, salah satunya, yaitu: kalau waktu berpacaran, kebiasaan negatif tidak ditunjukkan, sedangkan waktu menikah, segala sesuatunya tampak nyata. Ketidakcocokan yang terjadi ini sering kali mengakibatkan seseorang frustasi lalu mengatakan bahwa jodohnya dahulu bukan dari Tuhan. Benarkah jodoh di tangan Tuhan ataukah di tangan manusia mutlak ataukah dua-duanya? Ada beragam pandangan mengenai hal ini yang disertai dengan presuposisi dan akibat konsep-konsep tersebut. Selanjutnya, kita akan mengkritisinya dari perspektif Alkitab dan menunjukkan bahwa pasangan hidup itu sebenarnya dipimpin oleh Allah dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia.




JODOH DI TANGAN TUHAN
Pertama, jodoh di tangan Tuhan. Ada orang Kristen yang berpandangan bahwa jodoh di tangan Tuhan.

Presuposisi
Apa yang melatarbelakangi pemikiran ini? Konsep ini didasari oleh pemikiran theologi Reformed bahwa apa pun di dunia ada dalam pemeliharaan (providensia) Allah. Allah adalah Allah yang memelihara segala sesuatu. Itulah wujud kedaulatan Allah. Jika Ia berdaulat atas segala sesuatu, mengapa untuk masalah jodoh dikecualikan dari kedaulatan Allah? Meskipun ajaran ini benar, tetapi penganut konsep pertama ini mengekstremkannya. Jika ditelusuri, konsep ini mirip dengan pandangan Hiper-Calvinisme (http://en.wikipedia.org/wiki/Hyper-Calvinism) yang meniadakan konsep tanggung jawab manusia dan terlalu menekankan kedaulatan Allah. Tidak heran, juga seorang Hiper-Calvinis tulen akan “konsisten” menjalankan konsepnya baik di dalam doktrin maupun aplikasi hidup, meskipun bertentangan dengan ajaran Alkitab. Seorang Hiper-Calvinis yang tidak mempercayai tanggung jawab manusia akan malas memberitakan Injil (karena bagi mereka sudah ada predestinasi dari Allah, buat apa memberitakan Injil) dan juga malas mencari pasangan hidup sendiri.

Presuposisi kedua yang melatarbelakangi konsep ini adalah konsep “cuek.” Ini yang lebih parah. Orang yang mengatakan bahwa jodoh di tangan Tuhan dilatarbelakangi oleh kecuekan dirinya memikirkan tentang pasangan hidup. Artinya, mereka malas mencari sendiri pasangan hidup, lalu menyerahkan tanggung jawabnya ini kepada Tuhan Allah.


Akibat dan Analisa Theologis (dan Filosofis)
Lalu, apa akibat konsep ini? Konsep ini mengakibatkan seseorang di titik pertama tidak bertanggungjawab mencari pasangan hidupnya yang beres sesuai kriteria Alkitab. Kalau orang ini seorang cowok, ia akan menunggu sampai cewek itu yang memberi respons kepada si cowok. Setelah bertemu dengan pasangan hidup yang cocok tersebut, orang ini berpacaran dan menikah, karena ia menganggap itu adalah jodohnya. Tetapi sayangnya, setelah menikah beberapa bulan bahkan tahun, mereka bercerai, lalu dengan mudahnya mengatakan bahwa pasangannya dahulu bukan jodohnya. Kemudian, ia akan marah kepada Tuhan dan menyalahkan-Nya. Logika ini sungguh lucu. Jadi, para penganut konsep ini hendak mengatakan bahwa jodohnya itu mutlak di tangan Tuhan (dan manusia tidak bertanggungjawab sama sekali), lalu setelah mereka bertemu dengan jodohnya, namun tidak cocok bahkan bercerai, yang disalahkan adalah Allah! Padahal Alkitab mengajarkan kita untuk mencari pasangan hidup yang seiman dan sepadan.




JODOH DI TANGAN MANUSIA
Kedua, jodoh di tangan manusia. Ini adalah satu konsep yang melawan konsep pertama. Dengan kata lain, orang yang memegang konsep ini sebenarnya sedang berpikir either…or (kalau tidak ini, ya yang satunya).

Presuposisi
Apa yang melatarbelakangi konsep ini? Konsep ini didasari oleh suatu kehendak diri yang ingin meniadakan Allah di dalam masalah pasangan hidup. Orang yang memegang konsep ini adalah orang yang berpikir bahwa Allah tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah pasangan hidup, lalu ia mengatakan bahwa biarlah ia sendiri yang bertanggungjawab mencari pasangan hidup. Konsep ini sebenarnya mirip dengan konsep dualisme iman-ilmu yang memisahkan secara tajam antara iman Kristen dan integrasinya di dalam kehidupan sehari-hari. Bagi para dualis ini, Allah tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari dan Ia hanya ada (berkuasa) di lingkungan gereja saja.

Lebih celakanya, ada yang mengatakan bahwa manusia bertanggungjawab mencari dan memilih pasangan hidup, nanti Tuhan tinggal merestuinya. Orang ini mengatakan bahwa pada saat memilih pasangan hidup ini pun ada di dalam pemeliharaan Allah. Benarkah konsep ini? Bukankah konsep ini hendak menurunkan derajat Allah hanya sebagai Pribadi yang melegitimasi apa yang kita pilih atau lebih ekstremnya hendak mengatakan Allah sebagai pembantu kita? Konsep ini tidak ada bedanya dengan konsep beberapa (atau bahkan banyak) ajaran Karismatik yang mengajarkan bahwa kita minta apa saja, Tuhan tinggal dan pasti mengabulkan. Lebih tajam lagi, ini adalah konsep Arminian yang menekankan tanggung jawab manusia melebihi kedaulatan Allah. Bagi seorang Arminian, dirinya bertobat, meskipun adalah anugerah Allah, tetap adalah jasa manusia. Bagi seorang Arminian juga, keselamatan bisa hilang, karena orang “Kristen” murtad dan Allah tidak berdaya apa pun. Sungguh mengasihankan “Allah” seperti ini, “Allah” yang kalah dengan kehebatan manusia.

Terakhir, lebih celaka lagi, jika konsep ini diajarkan oleh orangtua yang mengklaim diri “Kristen” kepada anak-anak mereka di dalam memilih jodoh. Artinya, orangtua “Kristen” bisa mengajar atau bahkan menyetujui konsep bahwa jodoh di tangan manusia, karena di titik pertama, mereka hendak mematok standar tertentu bagi calon pasangan anaknya. Memang baik (Pdt. Sutjipto Subeno pernah mengatakan bahwa baik belum tentu benar) jika ada orangtua yang menetapkan (lebih tepatnya: memberikan saran/menyarankan) kriteria-kriteria yang baik bagi pasangan anak mereka, tetapi penetapan itu BUKANlah penetapan mutlak seperti penetapan Allah! Barangsiapa yang memutlakkan standar tertentu, ia hendak menyamakan dirinya dengan Allah, dan itu adalah dosa. Mengapa? Karena dosa bukan dimengerti secara fenomena, misalnya: membunuh, mencuri, dll, tetapi dosa adalah melawan Allah atau lebih tepatnya mengutip perkataan Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of the Faith (1955), dosa adalah inisiatif manusia menggantikan standar nilai Allah dengan standar nilai diri mereka yang berdosa untuk menafsirkan segala sesuatu. (hlm. 15) Jika ada orangtua “Kristen” (apalagi mengaku “Reformed”—lebih tepatnya, bukan Reformed sejati, tetapi aktif ikut kebaktian di gereja Reformed saja) lalu dengan cepat menyetujui konsep bahwa jodoh itu di tangan manusia, berhati-hatilah! Jika mereka sampai menyetujui konsep ini dengan cepat (tanpa pikir panjang), dapat dipastikan bahwa mereka sebenarnya hendak membuang standar Allah dan menetapkan standar orangtua secara mutlak bagi pasangan anak mereka, meskipun ada yang secara mulut (bahasa Jawanya: mbasahi lambe—tanda orang yang tidak pernah tulus jika berkata apa pun) mengakui partisipasi Tuhan di dalamnya. Itulah dosa!


Akibat dan Analisa Theologis (dan Filosofis)
Lalu, apa akibatnya?
Pertama, orang yang memegang konsep ini secara konsisten akan memilih pasangan hidupnya sendiri yang diklaim “sesuai prinsip Alkitab”, tetapi sayangnya tidak meminta pimpinan Tuhan di dalamnya. Mengapa? Karena orang ini akan takut dan kuatir (bahkan mungkin saja bisa marah) jika sampai Allah mengatakan TIDAK atas pilihannya. Sebenarnya, problem utama penganut konsep ini adalah orang ini tidak mau diganggu (bahkan oleh Allah sendiri) ketika memilih pasangan hidup. Jika si cowok mengatakan bahwa dirinya cocok dengan seorang cewek dan begitu juga sebaliknya, mereka akan langsung berpacaran dan menikah. Padahal mungkin sekali di mata Allah, mereka tidak cocok secara esensi, karena apa yang kita pandang dan anggap baik, belum tentu dipandang dan dianggap baik dan benar oleh Allah!

Kedua, orang lain (dalam hal ini, khususnya orangtua) ikut menentukan standar memilih pasangan hidup. Karena memegang dengan teguh konsep bahwa jodoh di tangan manusia, ada beberapa orangtua “Kristen” yang ikut-ikutan menentukan jodoh/pasangan hidup anaknya. Ketika disebut seperti ini, spontan saja, orangtua “Kristen” ini tidak mau dikatakan “menentukan” pasangan hidup anaknya, tetapi “menyarankan.” Jika mau ditelusuri lebih tajam, apa bedanya “menyarankan” dengan “menentukan/memaksa”? Dua kata ini jelas berbeda, tetapi berusaha dikaburkan oleh orang postmodern ini. “Menyarankan” berarti orangtua “Kristen” ini hanya memberi saran yang baik kepada anaknya tentang kriteria pasangan hidup yang berkaitan dengan pandangan-pandangan umum (respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah yang berupa: kebudayaan dan ilmu/sains). Hasil akhirnya BUKAN lagi ada pada orangtua ini, tetapi pada kebebasan anaknya yang bertanggungjawab untuk memilih atau menolak beberapa atau semua konsep orangtuanya sesuai dengan prinsip respons manusia terhadap wahyu umum Allah dan wahyu khusus Allah, yaitu: ALKITAB! Sedangkan “menentukan/memaksa” berarti orangtua bukan hanya memberi saran, tetapi ikut menilai calon pasangan hidup anaknya, meskipun penilaian ini pun kadang-kadang sangat fenomenal dan tidak bertanggungjawab sama sekali. Misalnya, ada orangtua “Kristen” bahkan mengaku diri “Reformed” (padahal sih, cuma aktif ikut kebaktian di gereja Reformed) tetapi masih mempercayai shio sebagai standar menentukan/memaksa anaknya dalam memilih pasangan hidupnya (meskipun katanya, ini hanya lelucon, tetapi bagi saya, ini adalah lelucon yang tidak berarti sama sekali). Contoh, ketika sang anak mengetahui bahwa pasangan hidupnya shio kuda, maka dengan cepat, sang orangtua ini mengatakan bahwa orang yang shionya kuda itu keras, dll. Bukankah ini adalah suatu kelucuan yang tidak masuk akal, bodoh, dan menghina Allah sendiri ketika ada orang (bahkan menyebut diri “Kriten”) yang mengukur orang lain dari shio yang dilambangkan dengan binatang?! Jika ada orangtua “Kristen” yang sampai menentukan pasangan hidup bagi anaknya, biarlah dirinya sendirilah yang menikah, bukan anaknya!




JODOH: DIPIMPIN TUHAN DAN DIPERTANGGUNGJAWABKAN OLEH MANUSIA
Jika konsep pertama dan kedua adalah konsep yang tidak menyeluruh dan tidak seimbang, maka bagaimana pandangan Alkitab yang konsisten sesuai dengan theologi Reformed tentang jodoh? Benarkah jodoh itu mutlak di tangan Tuhan atau mutlak merupakan tanggung jawab manusia? Secara konsisten dengan Alkitab dalam perspektif theologi Reformed yang seimbang dan menyeluruh, maka konsep yang benar mengenai jodoh bahwa jodoh itu dipimpin oleh Tuhan dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia.

Presuposisi
Apa dasar pikir dari konsep terakhir ini? Konsep ini didasarkan pada berita Alkitab mengenai penciptaan manusia. Mari kita analisa secara cermat. Setelah menciptakan segala sesuatunya selama 5 hari, maka Allah menciptakan manusia di hari ke-6 (Kej. 1:26-27). Di situ, dengan jelas, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Lalu, Allah memberkati ciptaan itu dan menyebutnya sungguh amat baik (Kej. 1:31). Kemudian, Ia menyadari bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, maka Ia akan menjadikan seorang penolong yang sepadan dengan dia—Adam (Kej. 2:18). Ayat ini dilanjutkan dengan ayat 19 yang mengatakan bahwa Allah membawa semua binatang hutan dan burung kepada manusia untuk melihat, lalu Adam memberi nama kepada semua binatang. Setelah mengamat-amati ciptaan Tuhan (binatang) itu, maka Adam menyadari bahwa tidak ada penolong yang sepadan dengan dia, maka di ayat 21, Allah menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan dengan Adam. Dari kisah ini, apa yang bisa kita pelajari? Ada yang menafsirkan bahwa kisah ini merupakan bukti bahwa jodoh merupakan tanggung jawab manusia. Konsep ini diajarkan karena si penafsir hanya membaca ayat 19-20. Meskipun tidak sepenuhnya salah, konsep ini tetap kurang tepat. Mari kita analisa kekurangtepatan tafsiran ini.

Pertama, kisah ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa pria dan wanita adalah sama-sama ciptaan Allah. Karena merupakan ciptaan Allah, maka tentu saja natur mereka ditentukan BUKAN oleh mereka sendiri atau ilmu-ilmu yang manusia ciptakan, tetapi oleh Allah sebagai Pencipta mereka. Sungguh suatu ketidakmasukakalan jika ingin mengetahui natur manusia dari manusia dan ilmu-ilmu yang diciptakan oleh manusia berdosa! Allah yang menciptakan mereka adalah Allah yang menetapkan natur bagi mereka. Allah yang sama juga adalah Allah yang mengerti totalitas manusia yang diciptakan-Nya, entah itu karakter, dll. Di dalam karya penebusan dan pengudusan terus-menerus, Allah yang sama, yaitu Roh Kudus yang memurnikan iman, karakter, dan spiritualitas anak-anak-Nya agar kita makin serupa dengan Kristus, Kakak Sulung kita. Kembali, Allah ikut terlibat di dalam setiap inci kehidupan kita. Dari konsep ini, kita bisa belajar bahwa jodoh BUKAN hanya merupakan tanggung jawab manusia yang lepas dari pimpinan Tuhan! Bagaimana dengan integrasi keduanya, yaitu kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia? Kita akan membahasnya di poin kedua.

Kedua, jika kita membaca dengan jelas Kejadian 2:18-25, kita akan melihat dengan jelas bahwa di titik pertama, di ayat 18, Allah sudah mengetahui bahwa Adam tidak bisa hidup sendiri tanpa seorang penolong yang sepadan dengan dia. Allah tentu SUDAH mengetahui bahwa penolong yang sepadan tentu bukanlah binatang, tumbuhan, dll, tetapi manusia. Lalu, mengapa di ayat 19-20, Ia membawa binatang kepada manusia untuk dinamai, lalu manusia mengatakan bahwa itu semua tidak sepadan dengan dia? Apakah Allah ingin bermain-main dengan manusia? Ataukah Allah tidak tahu dan spontan “kaget” kalau apa yang dikatakan manusia di ayat 19-20 itu bertolak belakang dengan rencana-Nya? TIDAK! Allah sudah mengetahui segala sesuatu karena Ia adalah Allah. Tetapi, Allah yang Mahatahu tidak mematikan tanggung jawab manusia! Sehingga, meskipun Allah tahu, Ia tetap menuntut pertanggungjawaban manusia. Saya berani menafsirkan bahwa pertanggungjawaban manusia sebagai umat pilihan-Nya ini adalah reaksi terhadap anugerah Allah. Alkitab mengajar dua paradoks ini dan itulah yang dipegang oleh theologi Reformed yang seimbang dan menyeluruh, meskipun rasio manusia tidak akan pernah mengerti semuanya secara sempurna. Misalnya, penyaliban Tuhan Yesus itu merupakan tindakan Allah atau manusia? Jawabannya: Allah dan manusia. Pada waktu pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta, Rasul Petrus ketika dipenuhi Roh Kudus berkhotbah kepada orang-orang yang berkumpul di Yerusalem, “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” (Kis. 2:23) Di ayat ini, kita mendapatkan gambaran jelas bahwa penyaliban Kristus terjadi menurut maksud dan rencana-Nya sekaligus tindakan manusia. Tidak ada pertentangan antara kehendak Allah dan kehendak manusia. Di dalam Alkitab, itu semua menjadi satu. Dari sini, kita pun belajar juga bahwa seluruh aspek kehidupan manusia juga ada di dalam rencana Allah yang berdaulat dan tetap menuntut pertanggungjawaban manusia. Contoh, tentang kebiasaan atau tindakan buruk yang kita lakukan. Kita sering terlambat mengajar atau pergi kuliah, lalu jangan memakai dan memberikan alasan kepada anak didik atau dosen bahwa keterlambatan kita pun ditetapkan oleh Allah! Itu dosa, karena melemparkan tanggung jawab kita kepada Allah. Memang, Tuhan mengetahui keterlambatan kita dan mungkin sekali Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya kita belajar sesuatu, tetapi tidak berarti, Tuhan yang harus dipersalahkan ketika kita terlambat. Keterlambatan kita TETAP adalah tanggung jawab kita. Tuhan hanya mengizinkannya terjadi (tidak berarti Ia menetapkan)!

Kalau kita terapkan konsep ini di dalam konsep tentang jodoh, maka kita akan mengerti dua hal:
Pertama, Allah memberikan kepada kita pasangan hidup yang tepat. Sebagai umat pilihan-Nya, kita harus mengetahui bahwa segala sesuatu ada di dalam rencana kekal Allah yang berdaulat, termasuk jodoh kita pun, karena Ia yang menciptakan dan memelihara kita, tentulah Ia yang sama mengenal pribadi kita jauh lebih dalam daripada kita atau orangtua atau siapa pun yang mengenal kita (mengutip perkataan seorang hamba Tuhan di dalam sebuah acara tanya jawab di sebuah siaran radio rohani di Surabaya). Karena Ia telah mengenal kita, Ia akan memberikan kepada kita penolong yang sepadan dengan kita. Penolong yang sepadan itu adalah penolong yang saling melengkapi kita untuk saling bertumbuh di dalam Kristus. Saling melengkapi ini TIDAK harus diterjemahkan bahwa kita harus memberi (altruistik) kepada pasangan kita. Saling melengkapi juga bisa berarti saling belajar satu sama lain. Mengapa? Karena ketika kita hidup di dunia tidak ada yang namanya orang sempurna yang hanya bisa memberi, tanpa mau belajar dari orang lain. Kita semua sebagai anak-anak-Nya harus terus bertumbuh di dalam Kebenaran Firman menuju ke arah kesempurnaan di dalam Kristus, Kakak Sulung kita. Perhatikanlah, orang yang terus menekankan (dan mendengarkan) pengajaran bahwa kita harus saling memberi tanpa mau saling belajar adalah orang yang sombong dan egois, suka mencari kejelekan dan kelemahan orang lain, tetapi ketika dirinya ditegur, dia akan memakai segudang argumentasi (bahkan argumentasi “theologis” dan filosofis) untuk menutupi kelemahannya. Ya, itulah realitas manusia berdosa: suka melihat kejelekan orang lain, tetapi tidak suka kejelekannya dinyatakan. Sudah saatnya, orang Kristen sejati yang beres tidak meniru logika orang dunia yang berdosa, tetapi kembali kepada Kristus, siap dan rendah hati menerima teguran dari orang lain yang membangun.

Kedua, Allah memimpin kita di dalam memilih pasangan hidup yang telah Ia tetapkan. Kembali, setelah kita mengerti bahwa Ia yang mencipta kita dan Ia akan memberikan kepada kita penolong yang sepadan, lalu, apakah berarti kita diam saja tidak berbuat apa-apa dalam memilih jodoh? TIDAK! Ingatlah, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Meskipun Ia telah mengetahui dengan siapa kita berjodoh, Ia tidak mematikan tanggung jawab manusia. Malahan Ia berpartisipasi aktif memimpin kita di dalam memilih pasangan hidup yang telah ditetapkan-Nya. Bukan tugas kita untuk menghakimi standar penilaian-Nya atas pasangan hidup kita, tetapi yang diperlukan oleh seorang anak Tuhan sejati adalah percaya dan taat mutlak akan pimpinan Tuhan di dalamnya. Saya pernah bertanya langsung tentang masalah pasangan hidup ini kepada Prof. John M. Frame, D.D. melalui Facebook dan beliau menjawab pertanyaan saya dengan jawaban sebagai berikut:
Certainly God predestines everything that happens (Eph. 1:11), including who we love and marry. Some people believe that each of us has a "soulmate," a kind of ideal marriage partner. I don't know that that is true. Since this is a fallen world, I think all people have problems, and therefore no relationship or marriage can ever be problem-free. But of course some people make better marriage partners than others, and single people should pray that God will lead them to a person who can complement them and lead them to fulfill their God-given potential.
That means that marriage is a human choice, and we should make it wisely. It is a choice predestined by God, but that does not detract from the importance of our choice. God's sovereignty and man's responsibility do not compromise one another, according to Scripture.
(=Tentu saja Allah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi (Ef. 1:11), termasuk kepada siapa kita mencintai dan menikah. Beberapa orang percaya bahwa setiap kita memiki seorang “pasangan hidup,” semacam pasangan pernikahan yang ideal. Saya tidak tahu bahwa itu benar. Karena dunia ini adalah dunia berdosa, saya pikir semua orang memiliki masalah-masalah, dan oleh karena itu tidak ada hubungan lawan jenis atau pernikahan yang bisa bebas dari masalah. Tetapi tentu saja beberapa orang memilih pasangan hidup yang lebih baik dari orang lain, dan orang yang masih lajang harus berdoa supaya Allah memimpin mereka kepada orang yang sepadan dengan dia dan memimpin mereka menggenapi potensi yang Allah berikan kepada mereka. Itu berarti bahwa pernikahan itu adalah pilihan manusia, dan kita harus mengusahakannya dengan bijaksana. Itu adalah pilihan yang dipredestinasikan oleh Allah, tetapi itu tidak mengurangi pentingnya pilihan kita. Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia tidak dapat dikompromikan satu dengan yang lain, sesuai dengan Alkitab.)

Pandangan yang hampir sama juga dipaparkan oleh Pdt. Binsar A. Hutabarat, S.Th., M.C.S. ketika saya bertanya kepada beliau tentang pasangan hidup ini melalui chatting:
Jodoh yang ditentukan Allah hanya terjadi pada pristiwa perjumpaan Adam dan Hawa. Dalam orang-orang percaya lainnya tidak ada. Memang dalam mencari pasangan hidup orang percaya harus mengikuti aturan Tuhan, dan jika telah mengikuti apa yang ditentukan Tuhan kita boleh percaya bahwa Tuhan membawa kita pada pasangan yang tepat. Karena itu dalam mencari pasangan hidup, manusia harus aktif namun dengan cara yang benar. Bebas, aktif, terbatas. Misalnya tidak boleh yang tidak seiman ini kriteria utama, jika tidak seiman, itu bukan pernikahan Kristen.
Orang yang mengatakan Jodoh itu dari Tuhan juga melaksanakan usaha-usaha tersebut. Jadi dapat disimpulkan, perbedaannya hanya pada pengertian apa itu "jodoh". Karena orang yang meyakini jodoh dari Tuhan pun tidak akan berani menghapuskan usaha manusia untuk menemukan teman hidup.


Jika kita sudah mengerti bahwa jodoh itu dipimpin Tuhan dan dipertanggungjawabkan oleh manusia, apakah jika demikian, kita tidak perlu memiliki standar di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita? Tentu TIDAK! Kita boleh dan perlu menentukan standar di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita. Terlebih lagi, kita juga perlu mempertimbangkan saran dan petuah yang baik dari orangtua, teman, dll. Tetapi di atas semuanya, kita TIDAK boleh memberhalakan standar apa pun baik dari diri, orangtua, teman, dll. Kita harus menjadikan standar Allah sebagai standar yang paling penting dan mutlak di dalam memilih lawan jenis bagi calon pasangan hidup kita. Dengan kata lain, kita harus terbuka pada setiap gerakan pimpinan Roh Kudus yang kadang kala mendadak/tiba-tiba yang melampaui rencana dan pemikiran yang telah kita standarkan tersebut. Berarti, di dalam memilih calon pasangan hidup kita pun, ada dinamika hidup yang dipimpin Roh Kudus. Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca buku atau/dan kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dari Pdt. Dr. Stephen Tong yang berjudul Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus. Jika Tuhan sudah memimpin kita dengan lawan jenis tertentu sebagai calon pasangan hidup kita, sudah seharusnya kita berani menyangkal diri dengan pilihan yang kita anggap baik (tetapi tidak baik dan tidak benar menurut kehendak Allah) dan mencoba mendekati dengan lawan jenis tersebut. Jangan mencoba-coba melawan kehendak-Nya, karena melawan kehendak-Nya berarti dosa. Pekalah terhadap seluruh pimpinan Roh Kudus di dalam setiap aspek kehidupan kita, termasuk memilih calon pasangan hidup.

Semua aplikasi praktisnya akan kita pelajari di poin setelah ini.


Aplikasi dan Akibatnya
Jika kita telah mempelajari dua konsep di atas, bagaimana kita mengaplikasikannya? Apa pula akibatnya?

Setelah kita mengerti bahwa jodoh itu adalah dipimpin Allah dan tetap dipertanggungjawabkan manusia, maka ada beberapa aplikasi praktis yang harus kita perhatikan:
1. Bina Hubungan Pribadi Anda dengan Allah Melalui Firman, Doa, dan Pengalaman Pribadi
Konsep pertama mengaplikasi konsep terakhir ini adalah konsep membangun hubungan pribadi kita dengan Allah. Jika kita ingin mengerti kehendak dan rencana Allah di dalam hal jodoh, tidak ada jalan lain, kecuali kita harus secara teratur membangun hubungan pribadi dengan Allah. Tentu, motivasinya bukan supaya kita mengerti pimpinan Allah di dalam hal jodoh saja, tetapi hal ini kita harus lakukan setiap hari. Ketika kita terus membangun hubungan pribadi dengan Allah, kita akan semakin mengenal kehendak dan pimpinan-Nya yang terbaik. Membangun hubungan pribadi dengan Allah bisa dilakukan dengan tiga sarana, yaitu: Alkitab, doa, dan mengalami-Nya. Melalui Alkitab, kita mengerti apa yang dikehendaki-Nya, yaitu: kekudusan, kebenaran, kemurnian/ketulusan, cinta kasih, keadilan, kejujuran (bukan kemunafikan), dan kesungguhan hati. Melalui doa, kita makin mengenal Allah dan kehendak-Nya dengan terus bercakap-cakap dengan-Nya. Jangan pernah berpikir bahwa doa itu hanya satu arah komunikasi, yaitu kita yang terus berkata-kata dengan Allah. Di dalam doa, harus ada dua arah komunikasi, yaitu kita berbicara kepada Allah dan Allah berbicara dengan kita. Di dalam doa itulah, kita merasakan hadirat Allah yang nyata. Sayang, gereja-gereja Protestan arus utama tidak merasakan hangatnya bersekutu dengan Allah yang hidup. Mereka hanya tahu liturgi, liturgi, dan liturgi, tetapi tidak menghidupi Firman. Dan terakhir, kita membina hubungan pribadi dengan Allah melalui pengalaman hidup sehari-hari. Ketika kita sudah memakai sarana pertama dan kedua, kita mulai mengalami-Nya di dalam hidup kita sehari-hari. Ini bukan sekadar teori, saya sudah mengalaminya langsung. Roh Kudus yang telah mewahyukan Alkitab adalah Roh Kudus yang sama telah mencerahkan hati dan pikiran saya tentang banyak hal, khususnya mengenai pengenalan akan Allah. Jangan biarkan iman Kristen hanya merupakan sekumpulan doktrin mati, tetapi hidupilah iman Kristen melalui Alkitab dan pengalaman kita bersama-Nya setiap hari. Ketika kita terus hidup mengalami-Nya sesuai Firman-Nya, hidup kita akan dipenuhi dengan limpahan sukacita yang tak terhingga.

2. Biarkanlah Alkitab dan Roh Kudus Memimpin Anda dalam Mencari Pasangan Hidup Melalui Hubungan yang Akrab Terlebih Dahulu
Setelah kita membina hubungan pribadi dengan Allah, kita harus dengan rendah hati, membiarkan apa yang telah kita lakukan itu memimpin hidup kita. Apa yang telah kita pelajari melalui Alkitab, doa, dan pengalaman hidup bersama Roh Kudus melalui pimpinan-Nya hendaklah memimpin hidup kita terutama ketika kita mencari dan menemukan pasangan hidup. Sebelum masuk ke dalam mencari dan menemukan pasangan hidup, biasakanlah memiliki kepekaan Roh di dalam melihat lawan jenis. Kepekaan Roh yang saya maksudkan bukanlah seperti yang diajarkan oleh mistisisme “Kristen,” tetapi kepekaan Roh di sini adalah kepekaan yang Roh Kudus berikan di dalam mengenal lawan jenis. Apa yang saya paparkan di sini bukan hanya teori kosong. Saya sendiri mengalaminya, meskipun sampai sekarang belum menemukan pasangan hidup yang cocok.
Roh Kudus terus memimpin saya banyak hal untuk peka melihat lawan jenis dan menetapkan standar memilih pasangan hidup. Ketika saya masih sekolah di SMA “Kristen” di Surabaya, saya mulai tertarik dengan cewek. Karena masih SMA, saya masih seperti anak-anak yang menyukai cewek cantik menjadi pacar/pasangan hidup. Dulu sempat saya mendekati adik kelas waktu SMA, tetapi gara-gara kesalahan saya yang terlalu terburu-buru, akhirnya saya gagal. Roh Kudus terus memimpin saya kembali pada waktu kuliah khususnya memimpin cara pikir saya di dalam memilih pasangan hidup. Saya memiliki banyak teman ketika saya berkuliah di sebuah kampus “Kristen” di Surabaya. Roh Kudus terus memberikan kepekaan yang tajam untuk membentuk saya di dalam menjalin hubungan dengan teman lawan jenis. Kepekaan itu ditunjukkan dengan sikap dan reaksi saya memandang teman lawan jenis. Beberapa teman lawan jenis saya cukup cantik, tetapi entah mengapa Roh Kudus tidak memberikan sedikit rasa tertarik kepada beberapa teman lawan jenis itu (meskipun tidak semua). Jujur, waktu kuliah dulu, saya sempat menaksir seorang teman lawan jenis satu jurusan yang saya pikir dia itu baik, cantik, manis, dan cinta Tuhan (terpenting: saya melihat dia adalah orang yang dapat diajar/teachable/rendah hati). Cewek ini bukan hanya sekadar Kristen, tetapi ia adalah orang Kristen yang melayani Tuhan sambil terus belajar Firman Tuhan. Saya sudah mengenal dia (meskipun belum 100% sempurna) karena sering duduk di dekat dia dan berkomunikasi dengannya di dalam setiap kelas selama beberapa semester. Tetapi sayangnya, saya belum berani mengungkapkan hal itu kepadanya dan mungkin sekali dia hanya menganggap saya teman baik. Mungkin di balik itu, Roh Kudus kurang berkenan akan hal itu.

3. Libatkanlah Allah di dalam Segala Proses Pendekatan yang Kita Lakukan
Setelah kita (cowok) menjalin hubungan dengan lawan jenis (cewek), kita baru mulai mendekati lawan jenis yang kita sukai. Di dalam proses pendekatan ini, kembali, jangan pernah lupa untuk terus melibatkan Allah di dalam segala proses pendekatan kita. Kita tetap mendekati lawan jenis yang kita sukai. Kita harus mengupayakannya dengan berbagai cara yang etis, sopan, dan tidak mengganggu. Tetapi jangan pernah berpikir bahwa karena kita telah berusaha keras, maka ketika kita berhasil atau pun gagal, itu semua karena usaha kita sendiri. Jangan pernah memuji usaha kita sendiri di dalam segala sesuatu! Libatkanlah Allah! Berdoalah kepada Allah dan mintalah bijaksana-Nya untuk menentukan apakah dia adalah pasangan hidup kita sesuai kehendak-Nya. Bagaimana caranya? Belajarlah peka akan pimpinan Roh Kudus ketika sedang menjalin hubungan dekat dengan satu lawan jenis baik melalui komunikasi langsung (bertemu langsung) maupun komunikasi tidak langsung (melalui telepon, SMS, chatting, e-mail, dll). Roh Kudus akan memimpin (dalam arti: memberi bijaksana) kita menilai lawan jenis yang kita dekati ini, sampai sejauh mana lawan jenis ini mencintai Tuhan. Utamakan unsur cinta Tuhan! Jangan pernah menganggap bahwa karena lawan jenis yang kita dekati berada di gereja yang sama dengan kita membuktikan bahwa dia juga cinta Tuhan. Cinta Tuhan TIDAK diukur dari aktif pergi ke gereja. Cinta Tuhan diukur dari kerelaan, kerendahan, dan kemurnian hati di dalam mengasihi dan melayani-Nya. Mengasihi dan melayani-Nya ditandai dengan kemurnian, kesungguhan, dan kerendahan hati kita menempatkan Allah sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita dan juga melayani-Nya seumur hidup kita. Jangan pernah tertipu oleh fenomena! Orang yang mengasihi Allah adalah orang yang mencintai Firman-Nya yang tentunya adalah orang yang sudah membaca Alkitab dari Kejadian s/d Wahyu dan berusaha menghidupi Firman yang telah ia baca (1Yoh. 5:2).
Bagaimana jika di dalam proses pendekatan ini, lawan jenis yang kita dekati ternyata sudah memberikan tanda-tanda bahwa ia tidak menyukai kita? Kembalikanlah itu semua kepada Allah dan kehendak-Nya. Jika Roh Kudus benar-benar memantapkan kita dengan lawan jenis yang kita sukai tersebut, maka kita harus mencoba bersabar mendekati si cewek itu, meskipun pada awalnya si cewek kurang responsif. Jangan pernah berputus asa. Tetapi jika Roh Kudus tidak memantapkan kita, jangan sekali-kali memantap-mantapkan diri kita sendiri (self-confidence/percaya diri), lalu terus mencoba mengejar cewek yang tidak diinginkan Allah.

4. Bergumullah di Hadapan Allah Di Dalam Menerima Reaksi Lawan Jenis yang Kita Dekati
Jika kita (cowok) telah mendekati lawan jenis (cewek) yang kita sukai dengan cara-cara yang tepat, sopan, etis, dan tidak mengganggu, maka percayalah bahwa hasil dari pendekatan kita, apakah si lawan jenis itu menerima atau menolak cinta kita adalah kehendak Allah. Jika lawan jenis yang kita sukai ternyata sudah lebih dari satu kali menolak kita secara implisit (misalnya, ketika kita mengirim SMS atau menelpon dia, dia berkata bahwa dia sedang “sibuk”—bukan sibuk sungguhan), maka jangan pernah memaksa terus untuk mendekati dia. Mungkin saja, Allah tidak berkenan ketika kita mendekati lawan jenis yang kita anggap baik itu. Belajarlah peka akan hal itu dan percayalah bahwa kegagalan dan keberhasilan kita di dalam hasil setelah kita mendekati lawan jenis itu berada di dalam koridor pemeliharaan-Nya. Kalaupun lawan jenis yang kita dekati/sukai menolak cinta kita, percayalah Allah sudah dan sedang menyediakan bagi kita pasangan hidup yang lebih baik bagi kita, meskipun kadang-kadang tidak kita sukai secara fenomena. Tetapi apakah selalu berarti bahwa jawaban TIDAK dari si cewek menandakan bahwa Allah melarang kita berhubungan dengannya? TIDAK selalu. Di sini, kita harus peka. Jika kita yakin bahwa cewek yang kita pilih dan dekati ini adalah benar-benar dipimpin oleh Allah, maka kita terus berusaha mendekati dia meskipun dia sempat menolak cinta kita pertama kalinya. Lawan jenis yang telah Ia berikan kepada kita mungkin menolak pada kesempatan pertama, tetapi percayalah Roh Kudus akan membuka hatinya untuk menerima cinta kita, jika memang kita dan lawan jenis kita adalah pasangan yang dikehendaki-Nya.
Bagaimana jika lawan jenis kita menerima cinta kita? Bukankah ini suatu kecocokan? Apakah itu berarti Tuhan menyetujui hubungan kita dengan lawan jenis yang kita pilih? Mungkin ya, mungkin tidak. Gumulkan hal ini kembali di hadapan Tuhan, benarkah Allah menyukainya? Jika ya, teruskan hubungan kita dengan lawan jenis ini. Jika tidak, meskipun si cewek menerima cinta kita, taatlah kepada Tuhan dan pimpinan-Nya, jangan meneruskan hubungan sebelum kita menuai akibat yang tidak diinginkan.

Sebagai contoh nyata dari konsep ini adalah contoh yang saya ambil dari buku Rev. (Pdt.) Joshua Harris yang berjudul “Saat Cowok Ketemu Cewek” (Boy Meets Girl). Di buku ini, Rev. Joshua menceritakan pengalaman hidupnya sendiri dalam mengaplikasikan konsep ini. Dulu, waktu bekerja di gereja, beliau sempat menaksir seorang cewek, teman kantor gerejanya yang sudah lahir baru (sebut saja inisialnya: A). Pada suatu hari Minggu, di gerejanya, ada kesaksian dari seorang cewek yang baru bertobat (sekarang menjadi istrinya Shannon). Pada waktu itu, beliau tidak memiliki perasaan apa-apa, karena menurut pemikiran beliau, seorang yang baru bertobat belum bisa menjadi pasangan hidup bagi dirinya. Beliau bisa berpikiran begitu karena beliau ingin mendekati cewek A, teman kantor gerejanya tersebut. Tetapi selang beberapa lama, akhirnya Rev. Joshua mengetahui bahwa cewek A ternyata sudah memiliki pacar. Lalu, Allah membawanya untuk lama-lama mengenal Shannon ini, mencoba mendekatinya, berpacaran, dan akhirnya beliau menikah.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa pasangan hidup BUKAN merupakan partisipasi kita 100% saja, tetapi juga merupakan partisipasi Allah di atas segalanya. Biarlah kita makin mengalami pimpinan Allah di dalam realitas mencari dan menemukan pasangan hidup sambil kita tetap berusaha sesuai dengan prinsip-prinsip Firman Tuhan.
Semua hal di atas adalah hal yang dilakukan seorang cowok yang aktif, bagaimana dengan reaksi cewek yang didekati? Cewek Kristen seharusnya adalah cewek yang lebih taat kepada Tuhan dan pimpinan Roh Kudus ketimbang perasaan diri mereka sendiri yang bisa saja salah. Ada beberapa hal yang harus cewek Kristen pertimbangkan ketika didekati oleh cowok Kristen?
1. Berdoalah dan Minta Pimpinan Roh Kudus
Mayoritas cewek (atau mungkin bahkan semua) akan mengetahui bahwa jika ada seorang cowok yang mengirimkan SMS atau menelpon dirinya lebih dari satu kali secara teratur (misalnya: 1 minggu bisa 2-3x) itu berarti si cowok ada “hati” atau menaksir dirinya. Nah, beberapa (kebanyakan) cewek, apalagi banyak cewek postmodern (tidak semua) adalah cewek yang pragmatis, yang hendak memandang fenomena luar si cowok sebagai standar apakah si cewek juga suka atau tidak suka dengan si cowok. Jika si cewek suka dengan ketampanan si cowok, maka begitu si cowok mendekati dirinya, dia langsung meresponi, tetapi ketika si cewek ditaksir oleh cowok yang biasa-biasa, maka dia tidak meresponinya, bahkan menolak mentah-mentah. Cewek Kristen yang cinta Tuhan HARUS membuang semua unsur fenomena tersebut dan melihat esensinya. Tetapi hal ini TIDAK berarti cewek Kristen menerima semua cowok yang menaksirnya. Inti yang harus diperhatikan adalah bukan hal-hal fenomena, seperti, tampan, kaya, dll, tetapi hati. Untuk itulah, maka di titik pertama, saya mengatakan bahwa cewek yang didekati oleh seorang cowok harus berdoa meminta hikmat dan pimpinan Roh Kudus apakah cowok yang mendekatinya adalah cowok yang dikehendaki Allah atau tidak. Cewek Kristen sejati adalah cewek yang hatinya untuk Tuhan melihat segala sesuatu dari perspektif Allah, sehingga setiap keputusan yang dibuatnya bukan berdasarkan perasaan sesaat, tetapi berdasarkan kehendak dan rencana-Nya yang berdaulat.

2. Belajar Saling Mengenal (dan Dikenal)
Setelah berdoa dan meminta pimpinan Roh Kudus, cewek Kristen harus belajar saling mengenal dan dikenal. Artinya, cewek Kristen sejati adalah cewek yang hatinya terbuka, baik untuk mengenal cowok yang mendekatinya dan juga ia sendiri terbuka apa adanya tentang dirinya terhadap cowok yang mendekatinya itu. Di sini, kita melihat adanya hubungan saling mengenal (cowok mengenal cewek dan cewek mengenal cowok) yang dibangun bahkan sejak di dalam proses pendekatan. Saling mengenal adalah saling mengenal seluruh pribadi masing-masing, saling belajar, saling memberi masukan/nasihat, dll yang kesemuanya berdasarkan standar kebenaran Firman Tuhan. Jika di dalam proses pendekatan ini, banyak hal boleh terbuka, maka ketika berpacaran dan menikah kelak, perbedaan pola pikir, kebiasaan, dll bukan menjadi halangan yang berarti. Kecenderungan anak muda zaman sekarang adalah ketika mendekati lawan jenis, mereka tidak saling terbuka, akibatnya tidak heran, jika suatu saat mereka berpacaran dan menikah, mereka akan terkaget-kaget dengan kebiasaan lawan jenisnya yang berbeda dari apa yang sudah mereka ketahui pada waktu pendekatan.

3. Putuskan Segala Sesuatunya Berdasarkan Pimpinan Roh Kudus yang Jelas
Jika di dalam proses pendekatan tersebut, kalian mendapati karakter si cowok ada yang kurang beres, apa yang harus kalian lakukan? Menolaknya mentah-mentah? TIDAK! Adalah suatu keputusan yang bijaksana jika para cewek: Pertama, mengklarifikasi standar karakter tersebut, apakah dari standar Allah atau standar umum (atau bahkan standar kebiasaan keluarga kalian)? Jika memang karakter si cowok tetap berada di dalam koridor kebenaran Alkitab, tetapi agak asing bagi kita yang mungkin belum terbiasa, biasakan kalian belajar dari si cowok. Jika karakter si cowok kurang beres di dalam hal-hal sepele (misalnya, mudah marah untuk hal-hal yang tidak penting, dll), biasakan juga menerima kekurangan si cowok sambil berusaha mengoreksinya. Nah, si cowok harus dengan rela hati dikoreksi. Tetapi jika karakter si cowok benar-benar tidak beres di dalam hal-hal esensial, si cewek harus menegurnya. Tetapi jika si cowok menolak teguran itu pertama kalinya, mintalah pimpinan Roh Kudus apakah kalian harus tetap meneruskan hubungan dengan si cowok ini atau segera menyudahinya. Mengapa harus meminta pimpinan Roh Kudus? Bukankah kita bisa langsung memutuskan hubungan saja dengan si cowok? TIDAK BISA! Jangan mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat! Biasakan melibatkan Allah di dalam mengambil keputusan. Mungkin saja, si cowok pertama kalinya sungkan atau tidak mau menerima teguran dari si cewek, karena cowok tersebut gengsi. Adalah tugas si cewek membukakan pola pikir si cowok untuk menerima kekurangannya sambil mengoreksinya dengan ketulusan dan kemurnian berdasarkan Firman Tuhan. Dan juga, si cewek pun harus berani rela dikoreksi jika si cowok mengoreksi dirinya. Jika si cowok ini merupakan pasangan hidup kalian kelak, maka Roh Kudus akan membuka hati dan pikiran si cowok ini pelan-pelan, sehingga si cowok dan kalian saling bertumbuh di dalam Kebenaran Firman.
Dari prinsip di atas, ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan di dalam proses pendekatan, baik cewek maupun cowok harus saling menghormati perbedaan yang fenomenal (sekunder) dan tidak saling memaksa. Perbedaan fenomenal/sekunder ini biasanya meliputi perbedaan cara berpikir, karakter, kerohanian, dll. Jika pada waktu pendekatan, cowok dan cewek saling menghormati perbedaan sekunder ini, maka mereka tidak akan menghadapi percekcokan kelak pada waktu berpacaran dan menikah. Percekcokan yang tidak berarti sering kali terjadi pada pasangan suami istri, misalnya perbedaan cara menggosok gigi, makan, kombinasi warna pakaian (baju dan celana/rok), dll. Mengapa bisa demikian? Karena dari tahap pendekatan, mereka tidak bisa saling menghormati satu sama lain, yang sering terjadi adalah si cewek yang kebanyakan mengatur si cowok bahkan untuk hal-hal sepele! Cewek Kristen harus bertobat dari kebiasaan buruk ini, belajarlah untuk tidak terlalu cerewet untuk hal-hal yang TIDAK PENTING!
Nah, setelah tahap pengenalan, maka si cowok pasti akan “menembak” si cewek yang didekatinya suatu saat. Sekarang, keputusan berada di tangan cewek. Adalah suatu hal yang bijaksana jika si cewek memberikan keputusan tersebut dengan bersandar pada hikmat dan pimpinan Roh Kudus, yaitu: menerima atau menolak si cowok yang mendekati kalian. Atau dengan kata lain, berdoalah meminta hikmat-Nya ketika hendak memberikan keputusan pada saat si cowok “menembak” kalian. Jika semuanya dilakukan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus dan prinsip Alkitab, maka tentunya cewek Kristen tidak lagi memakai standar-standar yang mereka bangun sendiri (misalnya, cowok ini “antik”, padahal antik yang kalian mengerti adalah antik dalam hal-hal sepele, tetapi kalian tidak mau mengerti mengapa dia antik dan mencoba mengubah keantikannya).

Lalu, apa akibat dari konsep terakhir ini? Karena kita percaya bahwa jodoh itu dipimpin Tuhan dan tetap dipertanggungjawabkan oleh manusia, kita tidak perlu kuatir bahwa kita akan salah jalan. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Ia selalu memberikan kepada anak-anak-Nya pilihan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya, meskipun itu kelihatan “tidak baik” menurut kita. Iman inilah yang mengakibatkan kita tetap berusaha mencari dan mendekati lawan jenis sambil tetap berserah kepada Allah dan pimpinan-Nya. Ia memberikan kita bijaksana di dalam memilih pasangan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip firman-Nya, di sisi lain Ia menuntut kita berserah total akan pimpinan Allah di dalam pemilihan pasangan hidup itu. Itulah tandanya kita mengerjakan apa yang menjadi bagian kita dan menyerahkan apa pun yang melampaui bagian kita kepada Allah yang Berdaulat mutlak. Dan lihatlah bagaimana Allah bertindak dengan luar biasa dahsyat bagi kehidupan pernikahan kita kelak di mana nama Tuhan dipermuliakan selama-lamanya. Sudahkah Anda mengalaminya?




KESIMPULAN DAN TANTANGAN BAGI KITA
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita termasuk masalah pasangan hidup kepada Allah yang telah mencipta, memelihara, dan memberikan kepada kita pasangan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya? Sekali lagi, Ia telah memberikan pasangan hidup yang sepadan kepada kita, namun Ia memimpin kita dengan memberi hikmat dan bijaksana-Nya kepada kita di dalam mencari dan menemukan pasangan hidup itu. Kesemuanya itu bertujuan hanya untuk kemuliaan Allah saja. Amin. Soli Deo Gloria.


“Knowledge of God involves trust and reverence”
(=Pengenalan akan Allah melibatkan kepercayaan dan kepatuhan)
– Dr. John Calvin; Institutes of the Christian Religion, I.II.2, hlm. 41 –



Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
(Kol. 2:8)

22 February 2009

Roma 13:10: UTANG KASIH-2: Kasih yang Tidak Berbuat Jahat

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-12


Utang Kasih-2: Kasih yang Tidak Berbuat Jahat

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 13:10.



Setelah membahas tentang mengasihi sesama di ayat 9, Paulus menjelaskan arti yang lebih mendalam tentang mengasihi sesama manusia. Dunia mengerti bahwa mengasihi sesama berarti berbuat baik bagi sesama. Apakah hal ini salah? Tidak. Alkitab sendiri mengajar bahwa mengasihi sesama manusia berarti tidak berbuat jahat kepada sesama kita. Hal ini dijelaskan Paulus di ayat 10, “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Apa artinya kasih tidak berbuat jahat? Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah tidak melakukan yang jahat/yang salah (Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear, 2003, hlm. 867-868). International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Love never does anything that is harmful to its neighbor.” (= Kasih tidak pernah melakukan apa pun yang berbahaya bagi sesamanya.) Literal Translation of the Holy Bible (LITV) menerjemahkannya, “Love does not work evil to the neighbor.” (=Kasih tidak melakukan yang jahat kepada sesama.) New King James Version (NKJV) menerjemahkannya, “Love does no harm to a neighbor;” (=Kasih tidak membahayakan sesama;) English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “Love does no wrong to a neighbor;” (=Kasih tidak melakukan yang salah kepada sesama;) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “Love worketh no ill to his neighbour:” (=Kasih tidak melakukan yang jahat kepada sesama.) Kata “jahat” dalam bahasa Yunaninya adalah kakos berarti worthless (tidak bernilai). Dengan kata lain, kasih yang tidak berbuat jahat adalah kasih yang tidak berbuat sesuatu yang tidak bernilai. Artinya, kasih sejati adalah kasih yang melakukan sesuatu yang bernilai kepada orang lain/sesamanya. Hal ini mirip dengan pengajaran Paulus di pasal dan ayat sebelumnya, yaitu di pasal 12 ayat 9, yaitu, di mana kasih menjauhi kejahatan. Dunia kita mengajarkan prinsip yang terbalik. Dunia kita memang mengajar bahwa kasih itu berarti memberikan yang baik atau berbuat baik bagi sesama. Tetapi apa konsep baik itu? Dunia kita tidak bisa mendefinisikan dengan tepat. Mereka beranggapan bahwa baik itu adalah yang menguntungkan, menggembirakan, dll, sedangkan yang tidak menguntungkan itu tidak baik. Alkitab mengajarkan konsep yang bertolak belakang dari konsep dunia, meskipun kelihatan mirip. Alkitab mengajar bahwa kasih itu melakukan sesuatu yang bernilai kepada sesama. Di sini, baik dikaitkan dengan bernilai. Apakah yang dimaksud dengan baik yang bernilai? Di ayat sebelumnya (13:9), Paulus telah membahasnya bahwa inti hukum Taurat adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan Tuhan Yesus juga mengajar bahwa mengasihi Allah dahulu baru mengasihi sesama manusia (Mat. 22:37-40). Dari dua alasan ini, kita mendapatkan gambaran bahwa berbuat baik adalah berbuat sesuatu yang bernilai dan berbuat sesuatu yang bernilai adalah berbuat sesuai nilai kebenaran Allah. Ketika kita berbuat sesuatu sesuai nilai kebenaran Allah, maka tentu apa yang kita lakukan akan berbeda total dengan apa yang dunia ajarkan dan praktikkan. Ini diakibatkan karena konsep nilai kita didasarkan pada konsep nilai kekekalan, bukan kesementaraan. Seseorang yang memiliki konsep nilai kekekalan, dia pasti memiliki hati, motivasi, pola pikir, dan perbuatan baik yang mengutamakan prinsip-prinsip kekekalan, yaitu: kebenaran, kesucian, keagungan, kebajikan, keadilan, dll. Sedangkan orang yang tidak memiliki konsep nilai kekekalan, dia pasti mempraktikkan seluruh pola pikir dan tindakan yang berpusat pada nilai kesementaraan (antroposentris). Dari konsep ini, kita bisa membedakan sendiri antara kasih yang theosentris vs kasih yang antroposentris.


Kembali, lalu bagaimana kita bisa memiliki kasih yang berbuat sesuatu yang bernilai kepada orang lain/sesama kita?
Pertama, kasih yang menguatkan sesama. Kasih yang berbuat sesuatu yang bernilai itu adalah kasih yang menguatkan. Menguatkan di sini berarti memberikan kekuatan kepada sesama kita di kala sesama kita sedang bersedih atau lemah imannya. Bagaimana kita bisa menguatkan sesama? Ketika sesama/rekan kita sedang kesusahan karena ditinggalkan salah satu keluarganya, kita sering kali menghiburnya dengan mengutip rangkaian kata-kata mutiara dari Alkitab. Itu tidak salah, tetapi kurang tepat. Mengapa? Karena pertama, penghiburan bukan datang dari rangkaian kata-kata mutiara Alkitab yang kita kutip, tetapi dari kesungguhan hati kita bersimpatik kepadanya. Kedua, mungkin sekali orang yang sedang berduka menuding kita secara implisit bahwa kita bisa berkata demikian karena kita tidak mengalami musibah seperti dirinya. Di sini, kita perlu bijaksana untuk menguatkan sesama kita yang sedang berduka. Bagaimana dengan sesama kita yang lemah imannya? Kadang kala ketika kita mengetahui bahwa sesama kita imannya lemah, kita langsung melontarkan ratusan ayat Alkitab. Itu kurang tepat. Tindakan kita yang lebih bijaksana adalah mendengarkan apa yang dia utarakan mengenai kelemahan imannya dan alasannya. Di dalam mendengarkan, Ev. Agus Barlianto Sadewa, M.T.S. mengajarkan konsep pertamanya yaitu memperhatikan (attention). Artinya, di dalam mendengarkan, kita perlu memperhatikan teman/rekan kita yang bicara. Dengan terus memperhatikan, kita bisa mengetahui akar masalah mengapa sesama kita memiliki iman yang lemah. Misalnya, seorang teman saya yang Kristen kurang memiliki hati untuk Tuhan, mengapa? Karena dia sempat berkata bahwa dia banyak mengalami hal-hal yang dia tidak inginkan, misalnya HPnya dicuri waktu di mall, beberapa perhiasannya bisa hilang di rumah sendiri, dll. Saya mencoba mendengarkan apa yang dia alami, lalu saya mencoba mengurusi inti masalahnya, yaitu kadang kala Tuhan mengizinkan semuanya terjadi demi kebaikan kita, bukan karena Tuhan itu jahat. Saya sendiri pribadi mengalami hal itu, di mana apa yang saya inginkan tidak terjadi dan di situ Tuhan mengajar saya banyak hal tentang apa arti menyangkal diri. Hal inilah yang saya bagikan kepada teman saya ini. Jadi, bukan hanya teori saja yang kita paparkan, tetapi galilah dari pengalaman hidup kita sendiri untuk dibagikan kepada sesama kita yang memiliki iman yang lemah.


Kedua, kasih yang menegur sesama. Selain menegur, kasih yang berbuat sesuatu yang bernilai bisa diwujudnyatakan dengan menegur sesama. Apa, menegur sesama? Bukankah kita sering mendengar ucapan seorang “Kristen”, “Jangan menghakimi” kepada orang Kristen/hamba Tuhan yang menegur dosa orang lain? Benarkah itu? TIDAK! Alkitab mengajar bahwa kita perlu menegur dosa! (bdk. 2Tim. 4:2) Justru, Alkitab mengajar bahwa ketika kita menegur, kita menunjukkan kasih kepada orang yang kita tegur. Tetapi, apakah teguran selalu bermakna kasih? Ya dan tidak. Ya, ketika teguran itu dilandasi oleh motivasi kasih, cara kasih, dan tujuan kasih. Tidak, ketika teguran itu dilandasi oleh motivasi, cara, dan tujuan yang tidak beres (menjatuhkan). Dua pembeda inilah yang juga membedakan antara perkataan “Kau berdosa” yang dilontarkan oleh Tuhan Allah vs iblis. Mengutip pernyataan Pdt. Dr. Stephen Tong, ketika Allah berkata, “Kau berdosa” kepada kita, itu berarti Ia mengingatkan kita bahwa kita berdosa, lalu disambung dengan perkataan, “maka bertobatlah kamu, karena Anak-Ku sudah mati bagimu,” tetapi ketika setan berkata, “Kau berdosa” kepada kita, itu berarti iblis mengatakan, “kau berdosa, enak jadi anak buahku.” Itulah teguran yang harus kita bisa bedakan.

Teguran yang sejati adalah teguran yang:
Pertama, lahir dari motivasi kasih. Teguran yang lahir dari motivasi kasih adalah teguran yang membangun. Saya akan memberikan ilustrasi. Ketika kita mengetahui ada teman kita yang (maaf) resleting celananya terbuka, apa yang kita lakukan? Membiarkannya? TIDAK! Kita pasti menegur/mengingatkannya. Ketika kita mengingatkannya, kita pasti melakukannya dengan motivasi kasih, yaitu, supaya teman kita itu tidak malu, bukan dengan motivasi menjatuhkan dia. Bagaimana dengan kita? Apakah kita menegur sesama kita dengan motivasi kasih? Biarlah kita mengintrospeksi diri masing-masing.

Kedua, dilakukan dengan cara kasih. Teguran bukan hanya bermotivasi kasih, tetapi juga dengan cara kasih. Artinya, kita menegur sesama kita dengan cara-cara yang sopan, halus, tetapi tidak berkompromi. Hal inilah yang diajarkan Paulus di dalam 2Tim. 4:2 yaitu menegur mereka dengan kesabaran dan segala pengajaran. Artinya, kita tetap menegur dengan mengajar orang yang kita tegur, tetapi itu kita lakukan dengan kasih, bukan untuk menjatuhkan. Misalnya, ketika orangtua mengetahui bahwa anaknya kurang mandiri, adalah tindakan yang bijaksana jika orangtua tersebut tidak meneror anaknya sebagai “kurang mandiri,” tetapi orangtua tersebut seharusnya memberikan teguran dan saran positif bagaimana supaya anaknya mandiri. Jika ada orangtua yang terus meneror anaknya sebagai “kurang mandiri,” itu tidak ada bedanya dengan iblis yang meneror manusia! Itu bukan teguran dengan cara kasih, tetapi teguran dengan cara menjatuhkan (meskipun orangtua itu akan memakai segudang argumentasi “logis” bahwa dia menegur seperti itu karena dia “mengasihi” anaknya) dan itu yang iblis pakai ketika meneror manusia. Berhati-hatilah, bedanya tipis sekali. Tetapi, apakah berarti dengan demikian, kita harus terus lemah lembut kepada semua orang yang kita tegur? Ya dan tidak. Itu tergantung pada pimpinan Roh Kudus kepada kita. Ketika Roh Kudus memimpin kita untuk menegur seseorang dengan keras, maka kita harus menegur orang itu dengan keras. Meskipun keras, teguran itu pasti berdampak baik pada orang yang kita tegur, karena itu dalam pimpinan Roh Kudus. Sebaliknya, ada orang yang imannya masih kanak-kanak perlu ditegur dengan cara yang halus, itu pun kita harus peka pada pimpinan Roh Kudus. Jadi, cara kasih bukan berarti mutlak harus dengan lemah lembut, dll! Itu bukan kemutlakan, tetapi hanya sebuah cara yang harus disesuaikan dengan kepekaan kita menerima pimpinan Roh Kudus ketika menegur seseorang. Contoh, Tuhan Yesus menegur Petrus dengan mengatakan bahwa dia setan (Mrk. 8:33), apakah berarti Ia tidak menggunakan cara kasih ketika Ia menegur Petrus? TIDAK! Ia tetap mengasihi Petrus, tetapi cara yang Ia pergunakan adalah cara yang keras yang hanya ditujukan kepada Petrus yang menghalangi cara kerja Allah.

Ketiga, bertujuan kasih. Kasih yang menegur adalah menegur dengan tujuan kasih. Ini adalah tujuan terakhir dari sebuah teguran. Ketika teguran hanya berakibat orang yang ditegur menjadi marah, maka tujuan akhir dari teguran itu gagal. Tetapi jika teguran itu berakibat orang yang kita tegur berubah dan menjadi baik, maka tujuan akhir teguran kita berhasil. Di atas semuanya, Roh Kuduslah yang paling berperan, karena Ia lah yang memakai teguran kita efektif atau tidak bagi orang yang kita tegur. Dari konsep ini, hendaklah kita JANGAN pernah mengatakan bahwa jika orang yang kita tegur bertobat, lalu itu adalah usaha kita! JANGAN pernah mengambil kemuliaan Allah! Ketika orang yang kita tegur menjadi bertobat, itu berarti anugerah Allah, sedangkan kalau orang yang kita tegur tidak mau bertobat, itu berarti ada waktu Allah yang tidak ketahui atau mungkin orang yang kita tegur bukan umat pilihan-Nya. Biarlah tujuan akhir dari teguran kita benar-benar berpusat pada Allah, bukan pada diri kita. Ingatlah, Alkitab mengajarkan satu prinsip tunggal: ANUGERAH ALLAH! Jangan pernah membanggakan jasa baik kita apa pun, tetapi muliakan Tuhan saja! Hanya Tuhan! Hanya Tuhan! Biarlah kita disadarkan akan konsep ini.


Lalu, mengapa kita bisa mengatakan bahwa kasih itu tidak berbuat jahat kepada sesama? Paulus menjelaskan alasannya yaitu karena kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Kegenapan di sini berarti kasih menggenapi/menuntaskan seluruh hukum Taurat. Dengan kata lain, inti hukum (Taurat) adalah kasih. Kasih itu meliputi 2 hal: kasih kepada Allah dan sesama (bdk. Mat. 22:37-40). Jadi, kita bisa mengasihi sesama kita dengan tidak berbuat jahat kepada sesama sesudah kita mengasihi Allah terlebih dahulu. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengasihi sesama dengan berbuat sesuatu yang bernilai kepada sesama kita?


Biarlah setelah merenungkan 1 ayat ini saja, kita ditegur dan diingatkan betapa pentingnya kasih yang disertai kebenaran, keadilan, kesucian, keagungan, dan kebajikan. Maukah hari ini kita berkomitmen mengasihi sesama kita dengan kasih Allah sejati? Amin. Soli Deo Gloria.