08 February 2009

Resensi Buku-66: SANG PUTERA DAN SANG BULAN (Curt Fletemier)

...Dapatkan segera...
Buku:
SANG PUTERA DAN SANG BULAN:
Kristen dan Islam

(Edisi Revisi)

oleh: Curt Fletemier

Penerjemah: Yusuf dan Tanti

Penerbit: Sonrise Enterprise





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Di dalam dunia ini hanya ada perbedaan konsep dan agama, yaitu konsep dan agama yang berpusat kepada Allah (Theosentris) Vs konsep dan agama yang berpusat kepada manusia (antroposentris). Bagaimana membedakannya? Roma 11:36 memberikan dasar pembedanya yaitu agama yang berpusat kepada Allah adalah agama yang berasal dari Allah, oleh Allah, dan hanya untuk Allah saja, sedangkan agama yang berpusat kepada manusia tentu sebaliknya, yaitu: dari manusia, oleh manusia, dan bagi manusia (meskipun mereka menggunakan nama “Allah”, bagi mereka, “Allah” tidak lebih hanya tempelan religius). Titik pembeda inilah yang mengantarkan kita untuk menelusuri lebih tajam lagi buku ini yaitu perbedaan total antara Kristen dan Islam. Beberapa “theolog” yang liberal atau semi-liberal telah menyamaratakan semua agama dengan ajaran bahwa semua agama itu benar dan membawa manusia ke “sorga.” Bahkan beberapa orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” masih berpikir bahwa Allah yang disembah oleh semua agama (khususnya Kristen dan Islam) itu sama. Benarkah demikian? Curt Fletemier melalui bukunya Sang Putera dan Sang Bulan menjelaskan kepada kita perbedaan total antara Kristen dan Islam. Perbedaan ini mencakup konsep Allah yang dipercaya antara Kristen dan Islam itu MUTLAK BERBEDA! Begitu juga halnya dengan Kristus Vs Mohammad, Alkitab Vs Qur’an, dan Kasih yang diajarkan Kekristenan Vs Perang yang diajarkan Islam. Kesemuanya itu mengajarkan bahwa agama yang berpusat kepada Allah (Theosentris) adalah agama yang berasal dari Allah dan tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya karena mengutip perkataan Ev. Ivan Kristiono, M.Div. bahwa di dalam Allah, tidak ada kontradiksi, sedangkan agama yang berpusat kepada manusia adalah agama yang berasal dari manusia (meskipun mengklaim dari “Allah”) dan tentunya banyak terdapat kontradiksi di dalamnya (Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutnya self-contradictory). Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Biarlah Roh Kudus memakai buku ini bagi orang Kristen untuk membawa kita lebih mencintai Kristus dan Alkitab melalui anugerah-Nya. Dan juga biarlah Roh Kudus yang sama melalui buku ini menyadarkan orang-orang non-Kristen untuk membawa mereka bertobat dan kembali kepada Kristus melalui anugerah Allah.


Pengantar dari Buku:
BUKU YANG AKAN MEMBUAT IMAN KITA LEBIH KUAT SUDAH BEREDAR!
Saudara akan membaca:
· Lebih dari 50 ayat “Al”-Qur’an yang diambil dan diperbandingkan langsung dengan ayat-ayat Alkitab, sehingga terlihat perbedaan-perbedaan besar dalam pengajarannya.
· Alasan mengapa kita dapat mengetahui bahwa Injil pertama ditulis hanya 50 tahun setelah kematian Tuhan Yesus, dan bahwa Alkitab yang ada sekarang sama seperti Injil yang ditulis pertama kali.
· Alasan mengapa kita dapat memercayai segala sesuatu yang ditulis oleh delapan Rasul dalam Kitab Perjanjian Baru.
· Bukti-bukti dari Ilmu Pengetahuan yang dapat menunjukkan betapa kelirunya Teori Evolusi.






Profil Curt Fletemier:
Curt Fletemier lulus dari Sekolah Alkitab selama 2 tahun, sebelum akhirnya terjun ke dunia teknik. Setelah memperoleh gelar Insinyur dan bekerja selama 4 tahun di sebuah perusahaan, ia pergi ke Asia sebagai guru bahasa Inggris. Tiga tahun lamanya ia tinggal di negara-negara Islam. Tahun 1996 ia datang ke Indonesia dan melihat kebutuhan besar orang Kristen akan buku yang secara jujur menyajikan perbandingan Islam dan Kristen, lalu mengenal Yesus secara benar. Buku semacam ini sering kali dilarang di negara-negara Islam.

Roma 13:6-7: ALLAH DAN PEMERINTAHAN-2: Otoritas, Integritas, dan Hak

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-10


Allah dan Pemerintahan-2:
Otoritas, Integritas, dan Hak


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 13:6-7.



Setelah merenungkan prinsip tentang siapakah pemerintah di ayat 1-5, maka kita akan melanjutkan membahas tentang hak pemerintah sebagai otoritas turunan dari Allah di ayat 6-7.

Di ayat 6, Paulus mengatakan, “Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah.” Sebagai wujud menaklukkan diri kepada pemerintah, Paulus memerintahkan kita sebagai warga negara membayar pajak. Kata “membayar” dalam teks Yunani menggunakan bentuk aktif. Sehingga, dari perkataan ini, kita mendapatkan penjelasan dari Paulus bahwa kita aktif membayar pajak, bukan karena kita disuruh (pasif). Apakah pajak itu? Albert Barnes dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible mamaparkan bahwa pajak adalah, “annual compensation, which was paid by one province or nation to a superior, as the price of protection, or as an acknowledgment of subjection… In a larger sense, the word “tribute” means any tax paid on land or personal estate for the support of the government.” (=kompensasi/ganti rugi tahunan, yang dibayar oleh satu propinsi atau bangsa kepada atasan, sebagai harga/biaya perlindungan, atau sebagai pengakuan penundukan/penguasaan... Dalam pengertian yang lebih luas, kata “upeti” berarti pajak apa saja yang dibayar untuk kepemilikan tanah atau pribadi demi dukungan kepada pemerintah.) Jadi, kita membayar pajak sebagai suatu bentuk kita mendukung pemerintah.

Lalu, mengapa kita harus membayar pajak? Tuhan Yesus pernah ditanyai tentang pertanyaan serupa oleh para murid orang Farisi bersama orang-orang Herodian (baca: Mat. 22:17, “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"”). Lalu, apa jawab Tuhan Yesus? Di dalam ayat 19-21, Ia menjawab dengan bijaksana, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."” Ia tidak menjawab “ya” atau “tidak”, tetapi Ia memberikan prinsip siapa yang patut menerima. Kaisar patut menerima pajak dari rakyatnya, karena ia adalah para pelayan umum Allah yang bertugas mengelola negara dan Allah sebagai Sumber Otoritas berhak menerima apa yang menjadi hak-Nya yaitu menerima persembahan baik dalam bentuk materi maupun rohani/hidup dari umat-Nya. Di sini, Tuhan Yesus ingin menggabungkan bahwa otoritas berkenaan dengan integritas dan hak. Inilah jawaban Tuhan Yesus tentang alasan membayar pajak. Hal yang sama dijelaskan Paulus di dalam ayat 6 ini yaitu karena mereka yang mengurus hal-hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Dari sini, kita belajar dua prinsip:

Pertama, otoritas pemerintah dikaitkan dengan pajak. Kata “pelayan” di sini dalam bahasa Yunaninya bukan memakai kata diakonos (ay. 4), tetapi memakai kata leitourgos yang artinya pelayan umum (public servant). Dengan kata lain, otoritas pemerintah adalah para pelayan umum Allah. Sebagai para pelayan umum Allah yang mengurus masalah negara, otomatis dia membutuhkan dana keuangan. Pemerintah membutuhkan dana keuangan misalnya untuk memelihara kelangsungan hidup dan kerja para pejabat, listrik negara (PLN), air (PDAM), dll. Oleh karena itu, orang Kristen sebagai warga negara yang baik harus membayar pajak.


Kedua, hak (upah) otoritas pemerintah dikaitkan dengan pajak. Di dalam ayat ini, Paulus bukan hanya membahas bahwa otoritas pemerintah adalah para pelayan umum Allah yang mengelola negara dengan bantuan pajak, tetapi ia juga membahas tentang hak si pemerintah itu untuk menerima pajak. Di ayat ini, Paulus mengatakan bahwa karena pemerintah mengurus masalah negara/pemerintahan, maka pemerintah berhak mendapat pajak. Paulus mengatakan bahwa pemerintah harus pertama-tama menyadari kewajibannya, yaitu mengurus masalah negara/pemerintahan. Terjemahan LAI kurang jelas menerjemahkannya, “Karena mereka yang mengurus hal itu...” New International Version (NIV) menerjemahkannya, “for the authorities are God’s servants, who give their full time to governing.” (= karena otoritas pemerintah adalah para hamba Allah, yang memberikan waktu seluruhnya untuk memerintah.) Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya, “for they are public servants of God attending continually [or, devoting themselves] to this very thing.” (= karena mereka adalah para pelayan umum Allah yang hadir terus-menerus [atau mengabdikan diri mereka] bagi sesuatu yang sebenarnya) Setelah mereka mengurus masalah negara, maka mereka baru mendapat hak/upah yaitu pajak. Jadi, tidaklah benar jika di Indonesia kita menemukan kasus di mana pemerintah mengorupsi pajak, karena pajak bukan untuk dimanipulasi pemerintah, tetapi pajak adalah upah yang diberikan kepada pemerintah yang TELAH menjalankan tugasnya dengan bertanggung jawab. Pemerintah yang tidak bertanggung jawab tidak patut diberi upah! Bahkan penulis Amsal mengatakan, “Dengan keadilan seorang raja menegakkan negerinya, tetapi orang yang memungut banyak pajak meruntuhkannya.” (Ams. 29:4) King James Version (KJV) menerjemahkannya, “The king by judgment establisheth the land: but he that receiveth gifts overthroweth it.” (=Raja oleh keadilannya menegakkan negeri; tetapi dia yang menerima upah menjatuhkan/menggulingkannya–menjatuhkan/menggulingkan negeri.) Di sini, penulis Amsal jeli melihat bahwa raja/pemerintah yang tamak harta/upah dengan mempermainkan pajak akan berakibat fatal, yaitu membuat suatu negara runtuh/jatuh/terguling.


Lalu, di ayat 7, Paulus mengajarkan kesimpulan tentang kewajiban kita sebagai warga negara, “Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Di sini, Paulus membagi 4 macam kewajiban kita sebagai warga negara dengan satu prinsip: membayar kepada semua orang apa yang harus kita bayar. Terjemahan Yunani dalam bagian ini yang tepat adalah “Penuhilah kepada semua (orang) apa yang diwajibkan.” (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 867) NIV menerjemahkannya, “Give everyone what you owe him:...” (=Berikan kepada semua orang apa yang kamu utangi dari dia:...) Berarti di sini, Paulus ingin kita melunasi semua utang kita baik utang materi maupun utang kebaikan/dll. Paulus membagi dua macam utang dalam ayat ini yaitu utang materi dan utang kebaikan. Dua macam utang ini dibagi lagi menjadi dua contoh. Mari kita simak.
Pertama, utang materi. Paulus mengatakan bahwa kita harus melunasi siapa yang kita utangi dalam bentuk pajak dan cukai (dua contoh). Kepada orang yang berhak menerima pajak (kita utang pajak), maka kita harus melunasi/membayar pajak. Kepada orang yang berhak menerima cukai, maka kita harus melunasi/membayarnya. Jadi, di sini, Paulus ingin kita membayar/melunasi pajak dan cukai hanya kepada orang yang BERHAK menerima apa yang kita bayar/lunasi. Kepada mereka yang tidak BERHAK, kita seharusnya tidak memberikan/melunasi. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Sudahkah kita membayar pajak dan cukai kepada pemerintah?

Kedua, utang kebaikan. Paulus mengatakan bahwa kita harus melunasi atau memberikan kebaikan kita dalam bentuk rasa takut dan hormat (2 contoh) kepada mereka yang berhak menerimanya. Kepada orang yang berhak menerima rasa takut (fear), maka kita harus takut. Kepada orang yang berhak menerima hormat, kita harus menghormati. Di sini, Paulus ingin mengajar kita bagaimana bersikap bukan hanya dalam konteks pemerintahan, tetapi juga dalam masyarakat/sehari-hari. Kadang kala orang Kristen membalik posisi ini, yaitu takut dan hormat kepada orang yang tidak patut ditakuti dan dihormati, sebaliknya mereka tidak takut dan hormat kepada yang patut ditakuti dan dihormati. Kepada Tuhan Allah yang patut ditakuti dan dihormati, banyak orang Kristen tidak memiliki rasa takut dan hormat tersebut, bahkan mereka sengaja mengabaikan kehadiran Allah di dalam gereja atau persekutuan, misalnya dengan sengaja (“tidak sengaja”) menerima SMS atau telepon dari HP atau mengobrol atau bersenda gurau ketika khotbah disampaikan. Tetapi anehnya, kalau kepada polisi atau pejabat, mereka langsung takut dan hormat. Ini membuktikan orang Kristen belum mengerti otoritas dan integritas, sehingga mereka salah posisi. Alkitab pada bagian ini menegur kita untuk memiliki pengertian tentang apa arti rasa takut dan hormat kepada otoritas yang memang patut ditakuti dan dihormati. Tuhan Yesus pernah mengajar, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat. 10:28) Jadi, seharusnya kita lebih takut dan hormat kepada Allah sebagai Sumber Otoritas, ketimbang kita takut dan hormat kepada siapa pun, karena otoritas apa pun di dunia bersumber dari otoritas Allah. Begitu juga dengan sikap hormat kita. Hormatilah Allah lebih dari kita menghormati siapa pun, meskipun begitu, tidak berarti kita tidak menghormati orangtua, pemerintah, dll. Artinya, kita tetap menghormati otoritas di dunia ini, tetapi ingatlah, hormati Allah sebagai Sumber Otoritas tertinggi yang memberikan otoritas kepada manusia tertentu di dunia ini. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berkomitmen hari ini menundukkan diri kita untuk takut dan hormat lebih kepada Allah ketimbang kepada manusia?


Dua ayat ini mencerahkan kita bagaimana kita harus bertindak terhadap pemerintah, apa yang menjadi kewajiban kita dan apa yang menjadi hak pemerintah. Sudahkah kita siap menjalankan apa yang kita pelajari ini? Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 12:46-50: IBU-KU, SAUDARA-KU

Ringkasan Khotbah : 04 Maret 2007

Ibu-Ku, Saudara-Ku
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 12:46-50


Hari ini kita masuk dalam bagian akhir yang sangat signifikan dari keseluruhan tema The Lordship of Christ. Namun orang seringkali menganggap bagian akhir sekedar tambahan yang tidak penting. The Lordship of Christ bukan sekedar teori atau doktrin tetapi Ketuhanan Kristus haruslah terimplikasi dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus menyatakan siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku (Mat. 12:50). Perhatikan, ayat ini janganlah disalah mengerti berarti orang Kristen boleh membenci atau mengabaikan orang tua, saudara dan segala hal yang menjadi milik kepunyaannya. Tidak! Memang di Alkitab ada beberapa ayat yang “seolah-olah“ mendukung, seperti ada tertulis: “ia yang tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, ... ia tidak dapat menjadi murid-Ku“ (Luk. 14:26). Alkitab tidak mengajar kita menjadi penentang keluarga atau sesama sebab dalam hukum Taurat ada tertulis: hormatilah ayahmu dan ibumu dan tentang hal ini diulang kembali dalam Perjanjian Baru. Jadi, untuk menafsirkan suatu ayat harus dilihat konteksnya secara keseluruhan.
Sadarkah kita kalau kitapun seringkali berpikir dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh golongan Farisi dan para ahli Taurat, yakni menafsirkan satu kejadian dan melepaskannya dari konteks keseluruhan. Sebagai contoh, suatu hari ketika Pdt. Dr. Stephen Tong sedang menegakkan kebenaran Firman, tiba-tiba seorang bapak berdiri dari kursi dan bermaksud hendak meninggalkan ruangan, dengan sangat keras Pdt. Dr. Stephen Tong menegur dia. Orang tidak menyadari kalau ini merupakan cara iblis merusak pekerjaan Tuhan. Orang yang tidak peka langsung berpikir negatif terhadap tindakan Pdt. Dr. Stephen Tong. Hati-hati, iblis sengaja memakai kita menjadi alatnya.
Keseluruhan tema Injil Matius 12 adalah the Lordship of Christ maka bagian akhir inipun tidak boleh dilepaskan dari tema. Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi dan Kristus adalah Tuhan dan hanya kepada Dia sajalah kita harus menyembah. Sebab segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia, bagi Dia kemuliaan sampai selama-lamanya. Hal ini yang diajarkan dan ditekankan Kristus sepanjang pasal 12. Iblis tidak ingin semua orang kembali pada Bapa dan men-Tuhankan Kristus dalam hidupnya, iblis pakai orang yang paling dekat, yaitu ibu dan saudara untuk menghancurkan seluruh konsep pengajaran-Nya. Tuhan Yesus dihadapkan pada budaya timur dimana orang tua berotoritas pada anak.
Kebenaran Allah harus melampaui semua kebudayaan. Allah adalah Tuhan atas budaya. Sesungguhnya, orang tua Tuhan Yesus telah memahami bahwa Allah adalah Tuhan atas budaya, yaitu ketika ibu-Nya mendapati Tuhan Yesus berada di Bait Allah saat berumur 12 tahun, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?“ (Luk. 4:49). Dalam konsep budaya, ordo duniawi lebih dominan apalagi dalam budaya timur dimana orang yang mempunyai jabatan, orang yang berusia lebih tua, di atas segala-galanya. Prinsip kebenaran tentang Ketuhanan Kristus ini seringkali berbenturan dengan konsep budaya. Akibatnya Kekristenan mulai berkompromi dengan konsep the Lordship of Christ. Alkitab membukakan kebenaran bahwa Kedaulatan Allah itu melampaui segala sesuatu yang ada di dunia ini, the sovereignty of God beyond all things. Kedaulatan Allah haruslah menjadi titik pusat utama. Ada tiga hal besar yang harus kita perhatikan:
1. Connectivity

Orang berpendapat bahwa orang tua atau saudara khususnya yang mempunyai hubungan darah itu lebih mempunyai hak dibandingkan dengan orang lain yang dekat dengan kita. Akibatnya kalau kita lebih mementingkan orang lain daripada orang tua atau saudara kandung maka mereka akan menjadi sangat marah sebab ikatan darah ini secara budaya menjadi ikatan laten. Connectivity bukan didasarkan pada hubungan darah tetapi terletak pada kebenaran dan cinta kasih seperti yang tertulis dalam Amsal 18:24b. Jadi, bukan karena ia mempunyai hubungan darah dengan kita sehingga ia harus lebih dekat dengan kita. Tidak! Hubungan seperti itu adalah hubungan sebatas material karena tidak dibangun diatas konsep yang benar. Perhatikan, kalau saudara kandung atau orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita tidak hidup dalam kebenaran sejati dan hidup dalam cinta kasih seperti yang Kristus teladankan maka ia bukanlah saudara. Jadi, relasi disini bukan karena hubungan darah tetapi relasi karena kebenaran dan cinta kasih.Hubungan darah bukanlah jaminan hubungan terjalin baik sebab hari ini banyak orang tua membunuh anak kandung, begitu juga sebaliknya. Realita membuktikan orang yang mempunyai hubungan darah itu justru mencelakakan kita dan orang yang tidak mempunyai hubungan darah itu justru lebih hidup dalam kebenaran bersama bahkan ia lebih mengasihi kita; ia lebih dari sekedar sahabat.
Konektivitas dibangun atas dasar yang seperti apa itu sangat menentukan hidup kita. Kalau konektivitas tidak dibangun di atas kebenaran dan cinta kasih sejati maka relasi yang terjadi sangatlah buruk. Alkitab mau menyatakan konektivitas dengan darah seharusnya menjadikan kita lebih waspada dan lebih peka. Apakah relasi yang sedang kita bangun ini dibangun atas dasar kebenaran dan cinta kasih?
Alkitab sangat menekankan family altar; ibadah bersama di dalam keluarga; ibadah disini bukan sekedar rutinitas seolah-olah sedang membangun spiritualitas. Tidak! Keluarga adalah tempat dimana kebenaran dan cinta kasih yang murni itu dibangun. Dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibuku. Jelaslah bahwa konektivitas yang benar tidak dibangun di atas hubungan darah. Bangunlah konektivitas dengan cara berpikir yang tepat kalau tidak, Lordship of Christ menjadi hancur. Dalam situasi sedemikian sangat besar kemungkinan kita dipakai menjadi alat iblis sehingga hubungan darah itu menjadi rusak karena kita tidak berdiri dalam kebenaran dan cinta kasih. Hendaklah kita waspada dengan akal licik si iblis yang sengaja memakai saudara-saudara atau kerabat dekat kita untuk menjadi pencelaka kita. Janganlah kita berkompromi dengan budaya; kita lebih takut kalau orang tua atau saudara kita tersinggung atau sakit hati dengan perkataan kita menjadikan kita tidak taat pada Allah.
Ingat, kita tidak bisa menaruh satu kaki kita di sorga dan satu kaki di neraka. Men-Tuhankan Kristus berarti menetapkan konektivitas kita. Orang yang mau menyenangkan semua orang maka dia bukan akan menyenangkan semua orang tetapi ia justru akan menjadi terbuang karena ia akan menjadi musuh: 1) musuh Tuhan karena ia tidak setia pada kebenaran, 2) musuh kebenaran, karena semua kebenaran dikompromikan, 3) musuh orang-orang benar, karena orang benar tidak suka pada pengkhianat kebenaran, 4) musuh orang-orang yang tidak benar, karena ia juga merasa dikhianati. Sebagai anak Tuhan, kita harus men-Tuhankan Kristus dalam setiap aspek hidup kita bahkan atas orang tua atau saudara yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Hati-hati, jangan masuk dalam permainan iblis yang sengaja menaruh kita diposisi kontroversial, yakni antara budaya dan hidup men-Tuhankan Kristus.
2. Priority
Prioritas merupakan bukti dari konektivitas. Semua akan kelihatan baik dan lancar selama tidak terjadi tabrakan atau selama kita tidak dihadapkan pada dua hal yang mengharuskan kita mengambil pilihan dan menetapkan suatu prioritas. Mana yang menjadi prioritas dalam kehidupan kita, Tuhan atau diri, Tuhan atau uang, Tuhan atau kekuasaan. Adalah mustahil kita menginginkan semua hal menjadi keinginan kita. Kita akan selalu dihadapkan pada suatu pilihan diantara banyaknya pilihan itu yang menuntut kita untuk mengambil keputusan pada waktu dan tempat yang sama. Sejauh manakah Lordship of Christ menguasai hidup kita? Men-Tuhankan Kristus akan sangat mudah diimplikasikan kalau kita tidak mengalami suatu benturan apalagi kalau kita dihadapkan pada suatu situasi yang paling pelik. Celakanya, banyak orang Kristen mengakui Tuhan sebagai yang utama namun fakta menyatakan kalau kita seringkali tidak rela kalau Tuhan diutamakan ketika kita berelasi dengan orang lain.
Tuhan Yesus memberikan teladan indah pada kita, Dia menunjukkan pada kita siapa yang seharusnya menjadi prioritas, yakni Allah. Dalam bagian ini hendaklah kita bijaksana dan peka sehingga kita tidak salah memilih mana yang utama dan mana yang sekunder. Tuhan menuntut keutamaan Tuhan di posisi yang paling utama. Ketuhanan Kristus bukan sekedar teori doktrinal atau sekedar pengetahuan yang mengisi otak kita. Tidak! Lordship of Christ haruslah terimplikasi dalam kehidupan kita. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudahkah kita men-Tuhankan Kristus? Apakah dalam setiap keputusan yang kita ambil maupun relasi kita dengan sesama, Kristus menjadi prioritas? Kita telah memahami segala akal licik iblis maka hendaklah kita peka, janganlah kita dipakai iblis sebagai alat untuk menjepit anak kita diantara dua pilihan, yakni antara Tuhan atau orang tua.
Puji Tuhan, di dunia ini ada teologi Reformed yang ketat dengan pengajarannya untuk kembali pada Firman. Dunia sangat pragmatis, tindakan atau perbuatan yang mereka lakukan tidak didasarkan pada sesuatu yang jelas dan pasti sehingga dunia mudah sekali berkelit dan tidak bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Sebagai Kristen yang sejati, kita harus taat mutlak Allah dan Ia ingin supaya kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk men-Tuhankan Kristus sebab iblis akan mencari segala cara supaya kita jauh dari Tuhan namun janganlah hal itu membuat kita hidup secara dualistik. Hidup kita akan terombang-ambing kalau kita tidak berpijak di dua tempat secara bersamaan. Hanya kembali pada kebenaran sejati dan men-Tuhankan Kristus sajalah hidup menjadi nikmat. Sampai sejauh manakah kita mengimpikasikan Firman? Seorang anak Tuhan sejati pasti mempunyai kerinduan dan bertekad melakukan kebenaran karena baginya yang terpenting adalah Tuhan. Hati nurani itu akan berbicara dan menegur ketika berbuat dosa. Biarlah kita mengevaluasi diri masihkah hati nurani itu berbicara?
Tentu kita dapat merasakan bagaimana perasaan ibu dan saudara-saudara Tuhan Yesus mendengar kalimat tajam yang dilontarkan oleh Tuhan Yesus bahkan Tuhan Yesus tidak menggubris kedatangan mereka. Dalam hal ini Tuhan Yesus dihadapkan pada dua pilihan yang mengharuskan ia memilih suatu prioritas antara Allah atau ibu dan saudara-saudara-Nya. Orang seringkali menuntut Tuhan yang harus mengerti kita. Tidak! Justru manusialah yang harus tunduk pada kebenaraan sejati. Allah yang terutama atau mereka yang justru dibuang dari kebenaran. Prioritas membawa kita kembali pada suatu kebenaran – siapa yang menjadi titik utama. Prioritas berarti meletakkan siapa yang utama di posisi pertama. Alkitab mengajarkan carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambah pada-Mu (Mat. 6:33).
3. Authority
Ibu Tuhan Yesus mempunyai keinginan, yaitu bertemu dengan anaknya tetapi di sisi lain, Bapa ingin kebenaran sejati diberitakan. Pertanyaannya otoritas siapakah yang harus diikuti? Hari ini banyak gereja tidak berani menyatakan kebenaran – otoritas Allah yang utama apalagi di dunia timur yang lebih mementingkan otoritas orang tua. Perhatikan, otoritas orang tua hanyalah otoritas turunan; otoritas orang tua ini harus berada satu garis dengan garis otoritas Allah dimana otoritas Allah sebagai otoritas mutlak. Seorang anak hanya boleh taat pada orang tua yang takut akan Allah dan orang tua yang taat pada Allah. Karena ini berarti anak juga taat pada pada Allah. Celakanya, kalau ada otoritas lain yang tidak segaris maka muncullah konflik. Pada saat Kristus sedang menegakkan suatu prinsip kebenaran, yakni Allah sebagai pemegang otoritas mutlak dan Kristus adalah Tuhan, tiba-tiba iblis muncul menawarkan otoritas lain. Tuhan Yesus yang peka akan cara iblis yang licik dengan tegas Ia mengembalikan ke posisi yang asli – satu garis otoritas, yakni Bapa sebagai otoritas tertinggi, Kristus adalah Tuhan maka orang yang melakukan kehendak Bapa, ia saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, ialah ibu-Ku.
Dunia Timur salah kaprah mengartikan istilah hormat dan taat. Menghormati berarti kita tidak boleh berbuat kurang ajar pada orang tua dan mentaati harus kita lakukan sejauh orang tua itu tunduk dan taat pada perintah Allah sebagai otoritas tertinggi. Kalau orang tua mulai menyeleweng dari Allah maka anak tidak boleh taat padanya. Kalau orang tua memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, seperti melarang kita untuk tidak menjadi Kristen maka perhatikan, perintah itu tidak boleh ditaati; kita hanya boleh taat otoritas Allah. Inilah implikasi Kekristenan. Allahlah yang terutama dari apapun juga yang ada di dunia bahkan dari orang tua kita. Taat pada orang tua yang menyeleweng dari Tuhan sama artinya dengan kita berkhianat pada Allah. Jadi, hai para orang tua hendaklah kita sadar, kita tidak berhak menuntut anak untuk taat pada kita kecuali engkau takut kepada Tuhan dan setia menjalankan kehendak Tuhan. Sangatlah disayangkan berita kebenaran ini tidak lagi diberitakan di tengah dunia berdosa ini karena sesungguhnya mereka bukanlah seorang anak Tuhan sejati; orang ingin mendapatkan otorisasi pribadi dan tidak mau men-Tuhankan Kristus dalam hidupnya. Orang lebih memilih tidak menjadi pengikut Kristus daripada otorisasi pribadinya terganggu. Tuhan Yesus menuntut kita untuk taat mutlak pada otoritas tertinggi dengan mengimplikasikan Lordship of Christ dalam kehidupan kita.
Seorang penafsir menyatakan seorang yang menjadi juru bicara yang datang kepada Kristus yang menyampaikan kabar tentang kedatangan ibu dan saudara Tuhan Yesus itu telah dipakai menjadi alat iblis untuk membawa berita lain, membawa injil palsu untuk menghancurkan seluruh kebenaran Firman yang sedang dibangun oleh Kristus. Di tengah-tengah orang mendengar pengajaran kristus maka saat itu juga terjadi kontroversial, yakni orang-orang langsung berpandangan negatif dan menganggap Yesus sebagai anak yang tidak hormat pada orang tua. Setan berhasil mempengaruhi manusia untuk tidak taat pada Kristus khususnya para orang tua yang tidak ingin anak-anaknya menjadi pelawan-pelawan orang tua. Setan memakai momen itu menghancurkan seluruh pengajaran Kristus yang ketat yang telah dibukakan sepanjang satu pasal sebelumnnya, hanya dengan bagian kecil di terakhir. Inilah cara iblis. Hati-hati, jangan remehkan seorang penyambung lidah, mungkin kita menganggap peranannya sangat kecil tetapi ia telah berhasil merusak seluruh konsep kebenaran. Orang banyak yang tadinya memandang kepada Allah kini orang dihadapkan pada suatu masalah keduniawian, orang langsung melihat hubungan darah, orang melihat relasi yang ada dalam kesementaraan. Relasi vertikal yang dibangun menjadi hancur. Perhatikan dalam setiap momen dimana kebenaran Firman ditegakkan maka disana iblis juga makin giat bekerja, segala cara dipakai supaya manusia tidak mengikut pada Tuhan. Iblis menyadari musuh yang ia hadapi sekarang, yaitu Kristus Tuhan sangat berat.
Biarlah kita makin tajam, kita mengerti kebenaran, kita peka dengan segala akal licik iblis sehingga kita tidak dipakai menjadi alat sebagai pemberita injil palsu, the devil's advocate di tengah-tengah berita suara Tuhan. Biarlah di tengah jaman yang semakin sulit ini kita dipakai menjadi alat untuk memberitakan Kebenaran Firman dan kita dipakai menjadi saksi-Nya. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

07 February 2009

PENGINJILAN ANAK-1 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

PENGINJILAN ANAK-1

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.




Edward L. Hayes (“Evangelism of Children” dalam Childhood Education in the Church, hlm. 153) menganggap isu tentang penginjilan anak sebagai “the core of our faith and is the root of true Christian Education.” Tidak seperti penginjilan dewasa, baru beberapa dekade silam saja penginjilan anak dianggap sebagai pelayanan gereja yang penting.

Beberapa faktor yang mempengaruhi:
1. Konsep tentang baptisan anak.
Mereka yang menerima dan menekankan baptisan anak menganggap pemberitaan Injil dan pengajaran iman Kristen kepada anak-anak merupakan suatu keharusan. Anak adalah bagian dari umat Tuhan, karena itu gereja dan orang tua harus mengabarkan Injil kepada anak-anak.

2. Konsep tentang anugerah dan kerusakan total.
Mereka yang menerima doktrin total depravity menganggap anak-anak perlu mendapatkan keselamatan sedini mungkin. Mereka yang terlalu menekankan anugerah (tapi secara salah) menganggap anugerah Allah bekerja dalam diri anak-anak sampai mereka mencapai usia tertentu di mana mereka bisa bertanggung jawab terhadap tindakan mereka. Pandangan terakhir ini melemahkan penginjilan anak.

3. Integrasi Psikologi dan kebenaran Alkitab
Integrasi ini memimpin pada sikap skeptis terhadap kemampuan anak kecil untuk bertobat secara sungguh-sungguh. Sampai umur berapakah seorang anak mampu mengambil keputusan tentang iman? (biasa disebut dengan istilah the age of accountability).

Penginjilan Anak dalam Alkitab
1. Apa yang tidak dijelaskan Alkitab
a) Alkitab tidak mengajarkan metodologi tertentu dalam penginjilan anak.
b) Alkitab tidak mengajarkan pada usia berapa seorang anak mampu meresponi Injil.

2. Apa yang dijelaskan Alkitab
a) Anak-anak termasuk dalam anggota kerajaan Allah (Mrk. 9:33-37; 10:15).
b) Anak-anak bisa binasa atau, sebaliknya, menerima hidup yang kekal (Mat. 18:14).
c) Anak-anak sangat dihargai Tuhan (Mat. 18:5 / Mrk. 9:36 / Luk. 9:48; Mat. 18:10).
d) Anak-anak bisa disesatkan (Mat. 18:6-14 / Mrk. 9:42 / Luk. 7:2). Ini mengindikasikan bahwa anak-anak juga sudah bisa dibawa pada kebenaran.
e) Seandainya istilah “seisi keluarganya” dalam Perjanjian Baru termasuk anak-anak, berarti ada referensi tentang pertobatan anak kecil (Kis. 16:33-34).



The Age of Accountability
A. H. Strong memberikan beberapa pedoman umum tentang the Age of Accountability:
1. Masa pertobatan yang mungkin bagi anak-anak dimulai saat kesadaran moral pertama muncul. Ketika seorang anak mulai menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah dosa (bukan hanya salah), saat itulah ia memiliki kemampuan untuk percaya.
2. Kemungkinan alami untuk berbuat baik paling besar terjadi pada saat kelahiran, setelah itu semakin lama akan semakin berkurang.
3. Perubahan karakter sedini mungkin lebih menjanjikan pertumbuhan daripada pertobatan di kemudian hari, setelah lama hidup dalam dosa.

Meskipun the age of accountability sangat relatif dan sulit ditentukan, tetapi penginjilan kepada anak sedini mungkin tetap pilihan yang lebih Alkitabiah, logis, dan bijaksana.
1. Pada penginjilan orang dewasa seorang pemberita Injil tetap menyatakan Injil, meskipun ia tidak bisa memastikan apakah orang tersebut akan menerima Injil. Masalah apakah seorang anak akan menerima atau menolak Injil adalah murni pekerjaan Allah. Tugas orang Kristen adalah memberitakan Injil.
2. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan berdosa (Mzm. 51:7; Rm. 5:12-19, kontra teori tabularasa John Locke), sehingga mereka membutuhkan anugerah Allah melalui Injil. Manifestasi status dan natur ini, yang sudah muncul sejak usia dini, pada akhirnya harus menuntut pertanggungjawaban anak.
3. Gereja yang mempraktikkan penyerahan anak maupun baptisan anak memiliki tanggung jawab untuk memberitakan Injil, karena keanggotaan kerajaan Allah tidak diwariskan dari atau ditentukan oleh orang tua.
4. Injil yang diberitakan terus menerus jauh lebih baik daripada Injil yang “disimpan” untuk jangka waktu tertentu baru diberitakan. Melalui pemberitaan sejak dini dan terus menerus, seorang anak mempunyai kesempatan lebih banyak dan lebih dini untuk meresponi Injil. Selain itu, anak-anak perlu memasuki tahap memory lebih dahulu sebelum ia mampu memahami sesuatu. Dengan memberitakan Injil lebih dini, seorang anak memiliki dasar atau kerangka awal untuk memahami hal tersebut pada saat ia mampu memahaminya. Hal ini biasanya disebut pra-penginjilan.
5. Tidak ada seorang pun yang bisa memastikan the age of accountability. Orang yang menolak penginjilan anak pun tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu memberitakan Injil. Ironisnya, ia tetap tidak akan tahu sampai kapan seorang anak tertentu mampu meresponi Injil sebelum ia mengabarkan Injil.
6. Kemampuan anak memahami dan menerima sesuatu sangat beragam, karena itu penginjilan sejak dini tetap merupakan pilihan terbaik. The age of accountability dipengaruhi oleh banyak faktor: situasi keluarga, latar belakang spiritual, perkembangan mental, dsb. Beberapa anak yang usianya sama belum tentu mencapai tahap the age of accountability pada waktu yang bersamaan.
7. Laporan menunjukkan bahwa mayoritas orang Kristen bertobat pada waktu kecil. Beberapa akhirnya menjadi tokoh penting dalam sejarah gereja. Statistik menunjukkan bahwa 90% hamba Tuhan terkenal bertobat pada usia anak-anak.
a) Salah satu survei terhadap 3000 pemuda Kristen di US menunjukkan bahwa satu dari delapan orang bertobat sebelum usia 6 tahun. Hampir 1500 orang bertobat pada usia di bawah 12 tahun (Miriam J. Hall, New Directions for Children Ministry, hlm. 1980, 180).
b) Polikarpus, bapa gereja terkenal, bertobat pada usia 9 tahun.
c) Adam Clark, seorang ahli Alkitab terkenal, bertobat pada usia 4 tahun (Hall).
d) Isaac Watts, seorang penulis himne terkenal, bertobat pada usia 9 tahun (Hall).
e) Matthew Henry, seorang ahli Alkitab terkenal, bertobat pada usia 11 tahun.
f) Jonathan Edwards, tokoh revivalis terkenal, bertobat pada usia 8 tahun.
8. Riset tahun 2000 menunjukkan bahwa sepertiga populasi dunia adalah anak-anak. 85% dari jumlah ini berada di negara-negara dunia ketiga. 40.000 anak di bawah 5 tahun meninggal setiap hari. 100 juta anak merupakan anak-anak jalanan (A. Scott Moreau, Evangelical Dictionary of World Missions, 177). Di Indonesia sendiri, 35% populasinya adalah anak-anak.
9. Usia kanak-kanak merupakan usia krusial:
a) Anak-anak mudah mempercayai segala sesuatu yang ia dengar atau lihat. Pdt. Dr. Stephen Tong menulis, “Masa kanak-kanak, khususnya di bawah usia 12 tahun, adalah masa keemasan pembentukan kehidupan yang mungkin menjadi wadah di mana Roh Kudus mengalirkan berkat melalui orang ini kepada banyak jiwa. Atau mungkin juga menjadi wadah di mana setan memperalat orang ini untuk merusak satu masyarakat atau bangsa” (Arsitek Jiwa, hlm. 2-3).
b) Masa kanak-kanak sangat menentukan perkembangan seseorang di kemudian hari. St. Francis Xavier mengatakan, “Berikan kepadaku seorang anak sampai ia berusia 7 tahun, setelah itu engkau boleh mengambilnya kembali.” Konsep ini juga dipegang dan dimanfatkan oleh kaum Sosialis German (bdk. Ams. 22:6; 2Tim. 1:5; 3:15-16.
c) Orang yang bertobat pada usia anak-anak akan memiliki peranan yang signifikan dalam pelayanan. Suatu kali D. L. Moody ditanyai oleh temannya tentang jumlah orang yang bertobat dalam kebaktian yang ia pimpin. Ia menjawab, “dua setengah.” Temannya lalu bertanya lagi, “maksudmu dua orang dewasa dan satu anak-anak?” Moody menjawab, “Bukan. Dua anak-anak dan satu dewasa. Jika seorang anak bertobat, ia memberikan seluruh hidupnya kepada Allah, sedangkan seorang dewasa yang bertobat hanya memiliki setengah sisa hidupnya untuk dipersembahkan pada Allah.” (Lois E. Le Bar, Children in the Bible School: The HOW of Christian Education, 26-27)
10. Alkitab menuntut orang untuk percaya supaya diselamatkan, bukan menuntut untuk memahami seluruh doktrin dulu baru diselamatkan. Anak-anak hanya perlu mengerti beberapa topik dasar tentang keselamatan (lihat bagian selanjutnya).
11. Kesederhanaan anak kecil merupakan pola yang harus diikuti oleh orang dewasa, bukan sebaliknya (Mat. 18:1-5 / Mrk. 9:33-37 / Luk. 9:46-48). Bukan anak-anak yang harus memiliki iman seperti orang dewasa, tetapi orang dewasalah yang harus memiliki kesederhanaan dan kepolosan iman seorang anak kecil.



Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/page.php?ART-MS-PI_Anak1



Profil Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.:
Ev. Yakub Tri Handoko, M.A., Th.M., yang lahir di Semarang, 23 November 1974, adalah gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya (www.gkri-exodus.org) dan dosen di Institut Theologi Abdiel Indonesia (ITHASIA) Pacet serta dosen tetap di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS), Pacet–Mojokerto; dan Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, U.S.A. Mulai tahun 2007, beliau sedang mengambil program gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) part time di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven–Belgia.






Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

01 February 2009

INTRODUKSI PADA IMAN REFORMED-1 (Prof. John M. Frame, M.Phil., D.D.)

Introduksi Pada Iman Reformed-1

oleh: Prof. John M. Frame, M.Phil., D.D.1




Pendahuluan
Ketika pertama kali saya datang ke Seminari Westminster sebagai mahasiswa (1961), sebagian besar mahasiswa berlatar belakang Reformed. Banyak mahasiswanya telah mendapatkan pengajaran di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Calvinistis;2 bahkan telah mempelajari katekismus dan pengakuan-pengakuan iman Reformed. Hari ini hal itu jarang ditemui. Semakin banyak mahasiswa yang datang ke Westminster berasal dari latar belakang non-Reformed, malahan ada yang baru mengalami pertobatan. Mereka yang berasal dari latar belakang Reformed pun tidak selalu mengetahui katekismus mereka dengan baik.

Banyak mahasiswa Westminster ketika baru pertama kali datang bahkan tidak mengerti dengan jelas posisi doktrin Westminster. Mereka tahu bahwa Westminster memegang kuat pandangan otoritas Alkitab dan ineransi; mereka tahu bahwa Westminster berpegang pada doktrin-doktrin fundamental Kekristenan evangelikal. Mereka juga tahu bahwa kami menjelaskan dan memertahankan doktrin-doktrin ini secara kesarjanaan yang superior. Namun, kadang-kadang tidak semua menyadari kenyataan bahwa Westminster adalah sebuah institusi pengakuan iman, yang menganut tradisi doktrinal historis tertentu, yaitu iman Reformed.

Saya sangat bergembira semua murid ini ada di sini! Saya sangat senang karena Westminster menarik murid-murid yang berasal jauh di luar lingkaran pengakuan iman normal kami. Tetapi kehadiran mereka mengharuskan adanya beberapa pengajaran yang sangat mendasar mengenai posisi doktrin seminari ini. Memperkenalkan para mahasiswa pada iman Reformed sedini mungkin di awal karier mereka di seminari merupakan hal yang esensial. Iman Reformed itu yang memberikan energi dan mengarahkan semua pengajaran di sini. Murid-murid harus siap untuk itu. Untuk kepentingan itulah esai ini ditulis.

Saya juga memiliki alasan lain untuk menulis introduksi ini. Ketika Saudara memulai studi di seminari, Saudara akan melihat bahwa ada berbagai variasi di dalam tradisi Reformed secara umum. Saudara akan belajar tentang “hyper-Calvinism”, "theonomy”, “antinomianism”, “presuppositionalism”, “evidentialism", “perspectivalism”, “traditionalism”, dan lain-lain. Beraneka ragam nama yang dipakai untuk menyebut diri kita sendiri dan untuk menyebut orang lain. Bukan hal yang selalu mudah untuk menentukan siapa yang “Reformed sejati” dan siapa yang bukan, atau yang lebih penting lagi, siapa yang “benar-benar alkitabiah.” Dalam tulisan ini, paling sedikit, saya ingin memerlihatkan kepada Saudara di mana saya berpijak dalam tradisi Reformed dan memberikan sedikit bimbingan serta menolong Saudara untuk menemukan arah melewati keragaman ini.

Tulisan ini hanyalah suatu “introduksi” kepada iman Reformed, jadi bukan merupakan suatu analisis yang mendalam. Namun, jelas tetap bermanfaat untuk mengetahui gambaran sekilas pada saat awal studi Saudara. Bersama-sama dengan tulisan ini, saya mengharapkan Saudara membaca Pengakuan Iman Westminster, Larger dan Shorter Catechism, serta “tiga bentuk kesatuan” dari gereja-gereja Reformed di benua Eropa: Pengakuan Iman Belgia, Katekismus Heidelberg, serta Kanon-kanon Dordt. Semua itu merupakan ringkasan yang indah dari posisi doktrin Reformed, yang disajikan secara utuh, ringkas, dan tepat. Heidelberg adalah salah satu karya devosional yang agung di sepanjang masa. Saya juga percaya ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari pembukaan ringkasan theologi Reformed karya Cornelius Van Til, “The Defense of the Faith.”3

Sebelum saya sampai pada hal-hal doktrinal yang substansif, izinkan saya untuk mengajukan pertanyaan: "Mengapa kita harus berpegang pada pengakuan apa pun, selain Alkitab?" Ini merupakan pertanyaan yang baik. Di dalam hati, saya berharap tidak perlu ada kredo atau ada denominasi-denominasi yang berpegang pada kredo itu. Denominasi- denominasi pada tahap tertentu, selalu akibat dari dosa perpecahan.4 Saya berharap ketika seseorang bertanya tentang afiliasi religius saya, dengan sederhana saya dapat berkata, "Kristen." Dan ketika seseorang menanyakan keyakinan agama saya, saya dapat dengan sederhana berkata, "Alkitab."

Sayangnya, jawaban-jawaban sederhana seperti itu tidak cukup lagi. Bermacam-macam orang mengaku Kristen pada hari ini, bahkan mereka yang percaya Alkitab, namun sebenarnya jauh dari kerajaan Kristus. Di antaranya kaum liberal, penganut bidat, dan penganut sinkretis zaman baru. Ketika kita mengunjungi tetangga kita dan mengajaknya ke gereja, dia berhak untuk mengetahui apa yang kita percayai. Jika Saudara mengatakan bahwa Saudara adalah seorang Kristen dan percaya Alkitab, dia berhak untuk bertanya lebih lanjut, "Menurut Saudara, (dan gereja Saudara) apa yang mereka ajarkan tentang Alkitab?" Itu merupakan pertanyaan di mana kredo dan pengakuan iman dirancang untuk menjawabnya. Sebuah kredo hanyalah suatu ringkasan kepercayaan dari seseorang atau dari sebuah gereja terhadap apa yang diajarkan Alkitab. Dan tentu saja, tidak ada yang keberatan untuk menulis ringkasan seperti itu bagi kenyamanan anggota-anggota gereja dan orang-orang yang membutuhkannya.

Pengakuan iman bukan Kitab Suci, dan mereka tidak seharusnya diperlakukan sebagai normatif yang tanpa salah dan tertinggi. Tentu saja, saya percaya bahwa sangat penting bagi sebuah persekutuan gereja dimungkinkan untuk merevisi pengakuan iman, dan untuk tujuan tersebut, dimungkinkan juga bagi para jemaat dan para pejabat gereja untuk tidak sepaham dengan pengakuan iman tersebut sampai batas-batas tertentu. Kalau tidak, itu berarti pengakuan iman secara praktis dapat dikatakan, otoritasnya diangkat pada posisi setara dengan Kitab Suci. Pandangan "ketat" yang menyatakan bahwa para pendeta tidak pernah diizinkan untuk mengajar sesuatu yang bertentangan dengan rincian yang ada di dalam kredo harus dilihat sebagai cara untuk melindungi orthodoksi dari gereja itu. Namun, menurut pandangan saya, pandangan semacam itu sebenarnya menentang orthodoksi, yaitu menentang otoritas Alkitab dan kecukupan Alkitab. Dalam pandangan semacam itu, maka Kitab Suci tidak diberi kebebasan untuk mereformasi gereja sesuai dengan kehendak Allah.

Namun kredo-kredo itu sendiri sebenarnya sah, bukan hanya bagi gereja- gereja dan individu-individu, melainkan juga bagi seminari-seminari. Seminari-seminari perlu juga untuk dapat memberitahukan kepada para pendukung, para mahasiswa, dan para calon mahasiswa tentang doktrin macam apa yang diajarkan dalam kurikulum seminari.

Iman Reformed merupakan penemuan yang indah bagi banyak orang Kristen. Saya mendengar banyak orang menyaksikan bahwa pada saat mereka mulai mempelajari theologi Reformed, mereka melihat untuk pertama kali bahwa Alkitab benar-benar dapat dipahami. Dalam bentuk theologi yang lain, ada banyak eksegesis yang artifisial: pemilahan ayat-ayat yang tidak bisa dipercaya, merasionalisasi “bagian-bagian yang sukar”, memasukkan skema di luar Kitab Suci atas, teks Alkitab. Theologi Reformed memperlakukan Kitab Suci secara natural, sebagaimana para penulis (manusia dan Allah) maksudkan dengan jelas dalam ayat itu. Tentu saja ada kesulitan-kesulitan di dalam sistem Reformed sebagaimana yang ada pada lainnya. Tetapi banyak orang, pada saat mereka mulai membaca Alkitab di bawah pengajaran Reformed, mengalami peningkatan yang besar dalam pemahaman dan keyakinan. Firman Tuhan berbicara pada mereka dalam kuasa yang lebih besar dan memberikan mereka suatu motivasi yang lebih besar pada kekudusan.

Seminari Westminster tidak menuntut mahasiswa mereka untuk memiliki keyakinan Reformed sewaktu mereka mendaftar atau sewaktu mereka lulus. Jadi, mereka harus memutuskan sendiri. Tetapi dari pengalaman saya, terlihat bahwa para mahasiswa Westminster dari latar belakang non- Reformed yang terbuka pada pendekatan Reformed, pada umumnya mereka akhirnya memeluk pandangan itu. Sepanjang 35 tahun saya bergabung dengan Westminster, saya dapat menghitung dengan jari jumlah mahasiswa yang sepengetahuan saya telah lulus dengan berpegang pada posisi Arminian. Hal itu bukan disebabkan karena sekolah menekan para mahasiwa untuk menyetujui posisi doktrinal dari sekolah. Kebanyakan dari para dosen berusaha untuk menghindari melakukan hal itu. Para dosen berusaha untuk memberikan kepada mahasiswa kemungkinan sebesar mungkin untuk mengekspos diri mereka pada theologi Reformed dan untuk membandingkannya dengan theologi non-Reformed. Pada waktu mereka selesai mempelajarinya, saya percaya mereka akan bersukacita sebagaimana halnya dengan kami menerima iman Reformed.

Apakah iman Reformed itu? Berikut ini argumen saya, bahwa: (1) iman Reformed adalah evangelikal; (2) iman Reformed adalah predestinarian; dan (3) iman Reformed mengajarkan kovenan ketuhanan Yesus Kristus secara komprehensif.


Iman Reformed Adalah Evangelikal
Sering kali, sulit bagi orang Kristen Protestan yang percaya pada Alkitab untuk mengetahui mereka harus menyebut diri mereka apa. Kata “Kristen” itu sendiri dan pernyataan “orang Kristen yang percaya Alkitab”, bisa juga kabur, bahkan menyesatkan (lihat pembahasan sebelumnya). “Orthodoksi” memberikan kesan tentang para imam yang berjanggut. “Konservatif” berbunyi seperti suatu posisi politikus atau seorang yang temperamental dibanding dengan suatu keyakinan religius. “Fundamentalis” pada hari ini memiliki konotasi yang tidak menyenangkan, yaitu dianggap sebagai antiintelektualisme, meskipun pada masa lampau fundamentalis diaplikasikan pada sarjana-sarjana Kristen yang sangat agung.

Saya pikir istilah yang paling baik untuk menjelaskan orang Kristen Protestan yang percaya pada Alkitab adalah istilah “evangelikal”, meskipun istilah itu telah menjadi rancu sepanjang sejarah. Istilah itu digunakan oleh para reformator Lutheran untuk mengindikasikan karakter dari gerakan itu, dan sampai sekarang di benua Eropa, kata “evangelikal” kurang lebih bersinonim dengan “Lutheran.” Namun, di dunia yang berbahasa Inggris, kebanyakan penggunaan istilah “evangelikal” dikaitkan dengan kebangunan rohani dari “kebangkitan evangelikal” di abad delapan belas di bawah pengkhotbah John Wesley, George Whitefield, dan yang lainnya. Theologi Wesley adalah Arminian, sedangkan theologi Whitefield adalah Calvinis; jadi gerakan evangelikal itu sendiri memiliki unsur-unsur Arminian dan Calvinistis. Banyak denominasi-denominasi di dunia yang berbahasa Inggris sangat dipengaruhi oleh gerakan ini.

Pada abad kesembilan belas, banyak denominasi yang tadinya dipengaruhi oleh gerakan evangelikal telah menjadi liberal. Bukan merupakan hal yang aneh untuk mendengar orang liberal seperti Charles Brigg menyebut dirinya sebagai “evangelikal”; “evangelikal liberal” pada waktu itu tidak dianggap kontradiksi. Orang masih mendengar istilah itu dalam referensi pada istilah theologis Inggris, meskipun penggunaannya tidak konsisten pada poin itu. Tetapi di Amerika, istilah itu sejak Perang Dunia II telah secara umum dibatasi secara theologi pada posisi konservatif. Setelah perang itu, sejumlah orang Kristen konservatif tiba pada konklusi bahwa "fundamentalisme" merupakan suatu konsep yang negatif dan mereka mengadopsi istilah "Evangelikal" sebagai suatu deskripsi yang menjelaskan dirinya sendiri, kebalikan dari penggunaan pada abad kedelapan belas. Di antara mereka adalah Carl F. H. Henry, Harold John Ockenga, dan J. Howard Pew penganut theologi Calvinistis; yang lainnya bukan penganut theologi Calvinistis. Jadi, “Evangelikal” menjadi sebuah payung yang menaungi orang-orang Kristen Reformed dan non-Reformed, yang menganut pandangan yang tinggi terhadap Kitab Suci dan penganut dari "iman yang fundamental.”

Tidak semua orang Reformed telah bersedia untuk menerima sebutan “Evangelikal.” Di satu sisi, orang Reformed kadang-kadang ada yang tidak menyetujui kebangunan rohani, meskipun sebagian pengkhotbah kebangunan rohani seperti Whitefield adalah Reformed. Jadi, sebagian orang Reformed telah enggan untuk menerima suatu sebutan yang muncul dalam konteks kebangunan rohani. Di sisi lain, karena banyak orang Reformed tidak mau bergabung dengan Arminian yang memiliki sebutan yang sama, karena kepercayaan bahwa ada perbedaan yang besar secara theologis. Jadi, bagi sebagian Calvinis, termasuk Cornelius Van Til,5 “Evangelikal” berarti “Protestan yang non-Reformed.”

Saya menolak penggunaan ini, terlepas dari pendapat yang diberikan oleh mentor saya, Van Til. Penggunaan yang diberikan oleh Van Til tidak historis, karena secara historis kata "Evangelikal" mencakup Calvinis. Lebih penting lagi, bagi saya kelihatannya kita memang membutuhkan istilah untuk menyatukan orang-orang Protestan yang percaya Alkitab, dan sebutan yang cocok untuk tujuan itu hanyalah “Evangelikal.”6

Menurut pandangan saya, kaum Reformed dan kaum Evangelikal disatukan atas dasar banyak poin doktrinal yang signifikan, bisa diargumentasikan bahwa keduanya disatukan atas dasar yang paling penting. Jadi, saya tetap menyatakan bahwa iman Reformed adalah Evangelikal.

Apakah kepercayaan utama dari theologi Evangelikal? Seorang Evangelikal, berdasarkan definisi saya, adalah seseorang yang mengakui theologi Protestan Historis. Hal itu mencakup kepercayaan-kepercayaan berikut ini:
1. Allah adalah satu Pribadi, yang maha bijak, adil, baik, benar dan berkuasa, realitas terakhir, berhak disembah secara eksklusif, dan ditaati tanpa perlu dipertanyakan, yang telah menciptakan dunia ini dari yang tidak ada menjadi ada.
2. Manusia, diciptakan menurut gambar Allah, berdasarkan kehendaknya tidak menaati perintah Allah, dan karena itu layak mendapatkan upah maut. Sejak saat itu, semua umat manusia, kecuali Yesus Kristus, telah berdosa terhadap Allah.
3. Yesus Kristus, Putra Allah yang kekal, menjadi manusia. Ia (secara harfiah, sesungguhnya) lahir dari seorang dara. Ia melakukan mukjizat-mukjizat. Ia menggenapi nubuat. Ia menderita dan mati bagi dosa kita, menanggung kesalahan dan hukum dari dosa kita. Ia dibangkitkan secara fisik dari kematian. Ia akan datang kembali (secara harfiah, secara fisik) untuk mengumpulkan umat-Nya dan untuk menghakimi dunia.
4. Keselamatan dari dosa datang bagi kita bukan atas dasar perbuatan baik kita, melainkan melalui penerimaan karunia yang cuma-cuma dari Allah melalui iman. Iman yang menyelamatkan menerima pengorbanan Kristus sebagai pengorbanan kita, sebagai satu-satunya dasar dari persekutuan kita dengan Allah. Iman yang menyelamatkan semacam itu tanpa disangkali telah memotivasi kita pada ketaatan.
5. Kitab Suci adalah firman Allah yang membuat kita bijak dalam keselamatan.
6. Doa bukan hanya sekadar meditasi atau pengembangan diri, melainkan suatu percakapan yang tulus dengan Pencipta dan Penebus kita. Di dalam doa kita memuji Allah, mengucap syukur, memohon pengampunan, dan membuat permohonan yang membawa perubahan konkret dalam dunia.

Pernyataan-pernyataan ini dapat disebut “hal-hal yang fundamental dari iman.” Mereka merepresentasikan pusat dari injil biblikal, dan di atas injil ini, kaum Reformed disatukan dengan semua kaum Evangelikal. Saya terluka pada waktu mendengar kaum Reformed mengatakan bahwa “kami tidak memiliki hal yang sama dengan Arminian.” Sebenarnya, kita memiliki injil biblikal yang sama dengan mereka, dan itu hal yang besar. Saya pasti berargumen bahwa theologi Arminian tidak konsisten dengan injil itu. Tetapi saya tidak dapat meragukan bahwa kebanyakan dari mereka percaya injil itu dari hati mereka.

Berdasarkan pemahaman ini, kaum Reformed ini tidak hanya berdiri dengan saudara-saudari Arminian mereka di dalam mengakui kebenaran biblikal, tetapi mereka juga bersama-sama melawan kekorupan yang sama dari iman. Kita berdiri bersama semua kaum Evangelikal melawan humanisme sekuler, bidat, gerakan Zaman Baru, dan tradisi liberal dalam theologi. “Liberal” yang saya maksudkan di sini adalah jenis theologi apa pun yang menyangkali hal-hal “fundamental” yang mana pun. Dalam pengertian ini, saya mencakupkan sebagai yang “liberal” bukan hanya kaum modern pada zaman J. Gresham Macken,7 termasuk juga tradisi neo-orthodoksi (Barth dan Brunner, kaum “modernis yang baru” menurut Van Til), dan gerakan terkini seperti theologi pembebasan, theologi proses, dan theologi pluralis. Gerakan yang lebih terkini sering dikontraskan dengan liberalisme, tetapi seperti yang saya percaya, kita butuh satu istilah untuk menjelaskan semua orang Protestan yang percaya pada Alkitab, demikian pula saya percaya kita butuh satu istilah untuk menjelaskan orang-orang yang mengaku Kristen, yang menyangkali satu atau lebih dari yang fundamental; dan "liberalisme" merupakan istilah yang terbaik untuk tujuan itu.

Saya akan meringkaskan beberapa rumusan yang biasanya ada dalam tradisi liberal dalam kategori yang diselaraskan dengan pernyataan- pernyataan 1-6 di atas.
1. Allah adalah “melampaui personalitas”, “melampaui yang baik dan yang jahat”, tidak menuntut ketaatan, menghukum dosa, atau menjawab doa.
2. Dosa bukan merupakan ketidaktaatan pada suatu hukum eksternal bagi manusia, melainkan keterasingan dari yang lain dan dari kemanusiaan yang sejati orang itu.
3. Yesus hanya seorang laki-laki yang dengan berbagai cara dikaitkan dengan Allah. Mukjizat yang harfiah dan kebangkitan adalah tidak mungkin, tetapi mereka adalah lambang dari suatu realitas yang lebih tinggi.
4. Keselamatan bukan berasal dari pengorbanan Kristus yang bersifat substitusi, atau melalui iman kepada Kristus sebagai cara keselamatan yang eksklusif. Semua yang diselamatkan atau “orang yang selamat” adalah mereka yang mengikuti berbagai etika dan program-program politik.
5. Kitab Suci merupakan tulisan manusia, bisa keliru dan cenderung pada kekeliruan, yang dengan cara bagaimana mengomunikasikan berita ilahi.
6. Doa pada dasarnya penghormatan pada diri sendiri.

Sebagaimana yang kita lihat, injil Evangelikal sangat berbeda dengan penyangkalan liberal akan injil itu. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk memiliki posisi yang jelas dalam hal ini. Saya secara khusus mendorong mereka yang mulai belajar theologi untuk memerhatikan isu ini secara pribadi. Ini adalah waktu di mana Saudara harus jelas tentang relasi Saudara dengan Allah. Apakah Saudara percaya bahwa Allah yang dinyatakan di Kitab Suci ada? Dan bahwa Ia adalah Tuhan yang agung dari langit dan bumi? Apakah Saudara percaya bahwa Saudara secara pribadi berdosa dan Saudara hanya layak untuk mendapatkan murka-Nya dan hukuman yang kekal? Apakah Saudara percaya berdasarkan perbuatan Saudara sendiri (termasuk di antaranya kehadiran di gereja, pelayanan Kristen, benar secara intelektual) dapat menyelamatkan Saudara, atau hanya di dalam kebenaran yang sempurna dari Kristus?

Apabila Saudara tidak pernah menjawab pertanyaan sejenis ini, saya mendorong Saudara demi Kristus untuk menjawabnya sekarang! Tidak semua orang yang masuk seminari adalah orang percaya dalam pengertian semacam ini. Adalah mudah untuk menipu diri sendiri pada waktu Saudara telah melalui kehidupan Kristen. Semasa Saudara belajar di seminari, kembali ke dasar dengan cara ini makin lama akan makin sulit. Pada saat Saudara menjadi ahli theologi, Saudara bisa menjadi bangga atas pencapaian Saudara, dan karena itu Saudara tidak sabar terhadap siapa pun yang menyatakan bahwa Saudara butuh menjadi seperti anak kecil dan menaruh seluruh kepercayaan Saudara pada hikmat orang lain. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Ef. 2:8-9)


Iman Reformed Adalah Predestinarian
Istilah “Reformed” untuk alasan tertentu pada mulanya dikaitkan dengan cabang Reformasi dari Swiss (Zwingli, Bucer, Bullinger, Calvin), dan kemudian menjadi sinonim dengan “Calvinis.” Pengajaran yang paling kontroversial dari orang-orang ini adalah doktrin predestinasi mereka. Doktrin ini sering kali dilihat sebagai perbedaan yang utama dari pengajaran Reformed dengan bentuk-bentuk evangelikalisme lainnya. Pada tahun 1618-1619, di sebuah pertemuan sidang sinode Reformed di Dordrecht (atau Dort) di Belanda, dipresentasikan lima “poin” ringkasan dari pengajaran Jacob Arminius (“Arminianisme”). Sebagai oposisi terhadap kelima poin itu, sinode mengadopsi apa yang disebut dengan "lima poin Calvinisme", yang merupakan ringkasan doktrin predestinasi. Poin-poin ini dikenal dengan inisial dari bunga Belanda yang indah, yaitu TULIP: Total Depravity, Unconditional Election, Limited Atonement, Irresistible Grace, Perseverance of the Saints.

Kita tidak boleh melihat kelima poin ini sebagai ringkasan dari sistem doktrin dari Reformed. Di Dort, kelima topik itu dibahas berdasarkan pilihan kaum Arminian, bukan kaum Calvinis. Kelima poin itu sebenarnya merupakan suatu ringkasan dari “apa yang tidak disukai oleh kaum Arminian tentang Calvinisme”, bukan merupakan ringkasan dari Calvinisme itu sendiri. Poin-poin itu bukan meringkas Calvinisme, melainkan aspek-aspek kontroversial dari Calvinisme. Saya pikir apabila sidang itu diminta untuk memberikan ringkasan iman Reformed yang sebenarnya, maka mereka akan menyusunnya secara berbeda, yaitu lebih seperti “Pengakuan-pengakuan Belgic dan Westminster.”

Poin kontroversial tidak harus merupakan keprihatinan fundamental dari suatu sistem. Sehubungan dengan iman Reformed, sistem doktrinalnya lebih dari lima poin; iman Reformed merupakan pemahaman yang komprehensif dari Kitab Suci, jadi merupakan suatu pandangan komprehensif dari wawasan dunia dan wawasan kehidupan. Namun demikian, sekarang saya akan secara singkat membahas “kelima poin” itu. Meskipun sentralitas “kelima poin” ini bisa berlebihan, namun mereka tentu saja penting dan sering disalah mengerti.
1. Total Depravity
Meskipun orang yang sudah jatuh dalam dosa mampu secara eksternal melakukan perbuatan baik (perbuatan yang baik menurut masyarakat), mereka tidak dapat melakukan apa pun yang sesungguhnya baik, misalnya memerkenankan Allah (Rm. 8:8). Allah melihat hati. Berdasarkan sudut pandang-Nya, orang yang sudah jatuh dalam dosa tidak memiliki kebaikan, dalam pikiran, perkataan, atau perbuatan. Oleh karena itu, ia tidak mampu memberikan sumbangsih apa pun pada keselamatannya.

2. Unconditional Election
Oleh karena itu, pada saat Allah memilih manusia untuk diselamatkan, Ia tidak memilih mereka berdasarkan apa pun yang ada pada diri mereka. Ia tidak memilih mereka karena kebaikan mereka sendiri, atau bahkan karena Allah mengetahui sebelumnya bahwa mereka akan percaya, melainkan hanya karena kemurahan-Nya semata-mata, yaitu berdasarkan anugerah (Ef. 2:8-9).

3. Limited Atonement
Poin ini merupakan poin yang paling kontroversial dari kelima poin, karena Alkitab kelihatannya mengajarkan bahwa Kristus mati untuk setiap orang. Lihat contohnya, 2 Korintus 5:15; 1 Timotius 4:10; 1 Yohanes 2:2. Ada dimensi “universal” dari penebusan: (a) penebusan untuk semua bangsa; (b) hal itu suatu penciptaan baru dari seluruh umat manusia; (c) hal itu ditawarkan secara universal; (d) hal itu satu-satunya cara bagi setiap orang untuk diselamatkan dan karena itu satu-satunya keselamatan untuk semua orang; (e) nilainya cukup untuk semua. Namun demikian, Kristus bukan merupakan substitusi untuk dosa-dosa dari setiap orang; kalau demikian halnya, maka setiap orang akan diselamatkan. Oleh karena penebusan Kristus berkuasa dan efektif. Penebusan Kristus bukan hanya sekadar membuat keselamatan menjadi mungkin; melainkan penebusan itu benar-benar menyelamatkan. Pada waktu Kristus “mati untuk” seseorang, orang itu pasti diselamatkan. Salah satu “teks penebusan universal” adalah 2 Korintus 5:15, di mana hal itu dinyatakan dengan jelas. Jadi, Ia mati hanya bagi efektivitas dari penebusan pada “limitasi”nya; mungkin kita harus menyebutnya “penebusan yang efektif” daripada “penebusan terbatas”, dan itu akan mengubah singkatan TULIP menjadi TUEIP. Tetapi tentu saja efektivitas mengimplikasikan limitasi, jadi limitasi adalah sebuah aspek yang penting dari doktrin ini.

4. Irresistible Grace
Anugerah bukan seperti satu atau dua permen yang dapat Saudara kembalikan apabila Saudara tidak menghendakinya. Anugerah adalah kemurahan Allah, suatu sikap dari hati Allah sendiri. Kita tidak dapat menghentikan Dia untuk mengasihi kita apabila Ia memilih untuk melakukannya. Demikian pula kita tidak dapat menghentikan Dia dari memberikan kita berkat keselamatan: regenerasi, justifikasi, adopsi, pengudusan, serta glorifikasi. Tujuan-Nya di dalam diri kita akan pasti digenapi (Flp. 1:6; Ef. 1:11).

5. Perseverance of the Saints
Apabila Saudara dilahirbarukan kembali oleh Roh Allah, dibenarkan, diadopsi ke dalam keluarga Allah, maka Saudara tidak dapat kehilangan keselamatan Saudara. Allah akan menjaga Saudara (Yoh. 10:27-30; Rm. 8:28-29). Ketekunan tidak berarti bahwa setelah Saudara menerima Kristus, lalu Saudara boleh berdosa sekehendak hati Saudara dan Saudara tetap diselamatkan. Banyak orang menerima Kristus secara munafik dan kemudian menyangkali kehidupan Kristen. Mereka yang murtad, dan tidak kembali menerima Kristus di hati mereka, mereka mati dalam dosa-dosa mereka. Tetapi apabila Saudara mengakui Kristus dari hati, maka Saudara pasti akan bertekun, karena Saudara tidak akan didominasi oleh dosa (Rm. 6:14).


Catatan Kaki:
1. Diterjemahkan dan dimuat sesuai dengan izin yang diberikan secara lisan oleh penulis.
2. Dalam tulisan ini, saya menggunakan istilah “Calvinistis” dan “Reformed” dengan arti yang sama.
3. (abridged ed. Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1975) 7-22.
4. Lihat teguran terhadap perpecahan dalam 1 Korintus 1-4. Saya membahas isu ini secara mendalam dalam Evangelical Reunion (Grand Rapids: Baker, 1991).
5. “A Christian Theory of Knowledge” (t.k.: Presbyterian and Reformed, 1969) 194 dan lainnya.
6. Adalah benar bahwa, bahkan di Amerika Serikat, garis pemisah antara kalangan injili dengan yang lainnya telah menjadi kabur. Sebagian telah menyangkali ineransi Kitab Suci secara total, sementara itu mengklaim dirinya Evangelikal. Dalam pandangan saya, hal ini tidak sesuai. Namun demikian, bagi saya istilah “Evangelikal” bukan sama sekali tidak berguna lagi, dan saya tahu tidak ada yang lebih baik untuk maksud saya sekarang ini.
7. Lihat Christianity and Liberalism dari Machen, tetap merupakan tulisan yang terbaik tentang perubahan-perubahan yang fundamental antara kedua cara berpikir itu.




Diambil dari:
Judul jurnal : Veritas, Volume 08, Nomor 02 (Oktober 2007)
Judul artikel : Introduksi pada Iman Reformed
Penulis : John M. Frame
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2007
Halaman : 169 – 179

Sumber:
http://www.sabda.org/e-reformed/introduksi_pada_iman_reformed



Sedikit diedit dan dikoreksi oleh: Denny Teguh Sutandio.




Profil Dr. John M. Frame:
Prof. John M. Frame, M.A., M.Phil., D.D. adalah Profesor Theologi Sistematika dan Filsafat di Reformed Theological Seminary, U.S.A. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (A.B.) dari Princeton University; Bachelor of Divinity (B.D.) dari Westminster Theological Seminary; Master of Arts (M.A.) dan Master of Philosophy (M.Phil.) dari Yale University; dan gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Belhaven College. Beliau menulis beberapa buku, di antaranya:
· Van Til, the Theologian (1976)
· The Doctrine of the Knowledge of God (1987) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Doktrin Pengetahuan tentang Allah oleh Literatur SAAT Malang)
· Medical Ethics (1988)
· Perspectives on the Word of God (1990)
· Evangelical Reunion (1991)
· Apologetics to the Glory of God (1994) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Apologetika bagi Kemuliaan Allah oleh Penerbit Momentum)
· Cornelius Van Til: An Analysis of his Thought (1995) (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Cornelius Van Til: Analisa Terhadap Pemikirannya oleh Penerbit Momentum)
· Worship in Spirit and Truth (1996)
· Contemporary Music: a Biblical Defense (1997)

Resensi Buku-65: KRISTEN TAUHID: Siapa & Bagaimana Ajaran Mereka (Ir. Herlianto, M.Th.)

...Dapatkan segera...
Seri Buku Saku YABINA:
KRISTEN TAUHID:
Siapa dan Bagaimana Ajaran Mereka


oleh: Ir. Herlianto, M.Th.

Penerbit: Mitra Pustaka dan YABINA Ministry, 2007.





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Kira-kira dua tahun terakhir ini, di Indonesia muncul aliran “Kristen” baru yang menamakan dirinya “Kristen” Tauhid. Meskipun tidak terlalu dikenal oleh banyak orang Kristen, aliran “Kristen” ini cukup mempengaruhi Kekristenan orthodoks melalui buku-buku yang mereka tulis, salah satunya adalah dari Frans Donald, “Allah dalam Alkitab dan Alquran”, dll. Aliran ini menolak bahwa Allah itu Trinitas, melainkan Allah itu esa (1 pribadi). Aliran ini ditelusuri oleh Ir. Herlianto, M.Th. dilatarbelakangi oleh filsafat Yunani, yaitu dari Platonisme dan Gnostisisme menuju kepada Arianisme, Unitarian, Christadelphian, dan Saksi-saksi Yehuwa. Arianisme yang telah berakhir masa kejayaannya pada tahun 650 M, sekarang berkembang lagi di era postmodern ini dengan munculnya Unitarian. Unitarian sendiri ada yang Unitarian Universalist artinya kaum Unitarian yang tidak memercayai Tuhan lagi dengan menerima anggota dari orang-orang non-Kristen dan Unitarian Theis yang masih memercayai Allah. Presuposisi Unitarian adalah mereka menghendaki adanya kompromi theologi melalui jalan dialog antar agama, dll (di bagian profil dalam bukunya Frans Donald, ia memaparkan bahwa ia berpindah keyakinan menjadi Unitarian adalah karena Unitarian dinilai terbuka dan tidak dogmatis, memberi kebebasan kepada setiap orang untuk merumuskan iman berdasarkan hati nurani dan akal sehatnya) seperti yang MIRIP dikerjakan oleh “theologi” religionum. Bedanya, Unitarian mengkompromikan iman orthodoks dari Alkitab sampai kepada esensinya yaitu menolak Trinitas. Karena menolak Trinitas, “Kristen” Tauhid atau Unitarian ini mengajar bahwa Yesus bukan Allah, tetapi hanya ciptaan Allah (mirip Saksi-saksi Yehuwa) dan Roh Kudus hanya sebagai tenaga aktif Allah. Hal yang mirip terjadi dengan orang-orang Saksi-saksi Yehuwa yang memercayai hal ini. Karena mereka memercayai hal ini, mereka rela mengubah Alkitab LAI dengan menerbitkan Alkitab versi mereka, yaitu Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru (KS-TDB). Unitarian meskipun tidak berpegang pada KS-TDB, tetapi konsep-konsep mereka yang anti-Trinitarian hampir mirip dengan konsep Saksi-saksi Yehuwa yang memercayai Yesus adalah ciptaan pertama Allah, Yesus adalah malaikat yang diciptakan, Yesus lebih rendah dari Bapa, dan Roh Kudus adalah tenaga aktif Allah. Dengan teliti namun singkat, Ir. Herlianto, M.Th. menyelidiki ayat-ayat yang dipakai di KS-TDB (dan tentunya kepercayaan Unitarian juga meskipun tidak berpegang pada KS-TDB) dan membandingkannya dengan terjemahan asli Yunani, Alkitab terjemahan Inggris, dan beberapa tafsiran dari theolog Perjanjian Baru. Semua itu menunjukkan bahwa terjemahan KS-TDB tidak sah dipakai sebagai terjemahan Alkitab yang benar, karena beberapa ayat diterjemahkan sedemikian rupa (tidak sesuai dengan bahasa Yunaninya) agar sesuai dengan doktrin Saksi-saksi Yehuwa. Di Bab 7, penulis mengakhirinya dengan menjelaskan Trinitas yang diajarkan Alkitab. Kesemuanya ini membuktikan bahwa Allah Trinitas yang sudah diajarkan Alkitab secara implisit, bapa-bapa gereja yang setia (Tertullianus, Athanasius, dll) adalah ajaran yang benar, sedangkan anti-Trinitarian yang dipercayai sejak Arianisme, Christadelphian, Saksi-saksi Yehuwa, sampai “Kristen” Tauhid adalah tidak bertanggung jawab. Yang lebih aneh lagi, Arianisme yang sudah dinyatakan sebagai bidat di dalam Konsili Nicaea (325 M) dimunculkan kembali oleh “Kristen” Tauhid ini. Manusia berdosa tidak juga jera mengulangi kesalahan yang sudah terjadi di dalam sejarah. Hal ini sesuai dengan dua perkataan penting. Pertama, dari Alkitab. Pengkhotbah mengajarkan, “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Pkh. 1:9b) Dan kedua, seorang filsuf mengatakan bahwa pelajaran terbesar dari sejarah adalah orang tidak mau belajar dari sejarah. Biarlah Kekristenan di Indonesia belajar dari sejarah dan tidak mengulangi kesalahan dari sejarah, serta kembali kepada Alkitab sesuai dengan iman Kristen sejati yang memercayai Trinitas.




Profil Ir. Herlianto, M.Th.:
Ir. Herlianto, M.Th. adalah Pemimpin Umum Yayasan Bina Awam (YABINA), Bandung (situs: http://www.yabina.org) dan dosen dalam bidang Sosiologi dan Aliran Kontemporer di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1968 lalu memperdalam ilmu dalam bidang Pembangunan Perkotaan dan memperoleh diploma International Course on Housing, Planning and Building di Boueweentrum International Education, Rotterdam pada tahun 1979 serta mengikuti Urban Studies Course pada Princeton University di USA pada tahun 1982. Beliau belajar theologi di Institut Injil Indonesia, Batu pada tahun 1972, lalu dilanjutkan ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan pada tahun 1976 memperoleh gelar Bachelor of Theology (Th.B.) Pada tahun 1982, beliau menyelesaikan studi Master of Theology (M.Th.) di Princeton Theological Seminary, USA dengan spesialisasi masalah kemasyarakatan dan perbandingan agama. Beliau dapat dihubungi melalui e-mail: herlianto@yabina.org.

Roma 13:1-5: ALLAH DAN PEMERINTAHAN-1: Siapakah Pemerintah Itu?

Seri Eksposisi Surat Roma:
Aplikasi Doktrin-9


Allah dan Pemerintahan-1: Siapakah Pemerintah Itu?

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 13:1-5.



Setelah merenungkan prinsip tentang kasih di dalam persekutuan tubuh Kristus di ayat 9 s/d 20, Paulus memaparkan beberapa konsep tentang bagaimana mewujudnyatakan prinsip kasih dan kebenaran di dalam sikap kita terhadap pemerintah di pasal 13 ayat 1-7. Pada bagian pertama, kita akan membahas konsep Allah dan Pemerintahan di dalam subtema siapakah pemerintah itu di ayat 1-5.

Di ayat 1, Paulus mengatakan, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.” Ayat ini merupakan ayat yang unik, mengapa? Karena di titik pertama, Paulus mengajar jemaat Roma untuk takluk kepada pemerintah. Biasanya, kita mendengar bahwa kalau kita tunduk kepada seseorang harus ada alasannya mengapa kita harus tunduk. Tetapi Paulus di kalimat pertama menyebutkan bahwa kita harus takluk kepada pemerintah. Kata “takluk” dalam terjemahan bahasa Yunani bisa diartikan “tunduk” dan kata kerja ini menggunakan bentuk verb third person present passive imperative (=kata kerja orang ketiga bentuk sekarang/present pasif yang bersifat perintah). Dengan kata lain, ketika Paulus mengatakan bahwa tiap-tiap orang harus tunduk/takluk kepada pemerintah, artinya ia memerintahkan agar mereka menundukkan diri secara pasif kepada pemerintah. New International Version (NIV) menerjemahkannya, “Everyone must submit himself to the governing authorities,” Kata submit himself berarti menundukkan dirinya (ada unsur pasif). Kita menundukkan diri kepada siapa? Paulus menjawab kepada pemerintah yang di atasnya (terjemahan NIV: otoritas pemerintahan). Berarti, pemerintahan memiliki otoritas di atas kita sebagai warga negara. Apakah dengan tunduk pasif kepada otoritas pemerintahan berarti kita menyetujui semua tindakan pemerintah meskipun itu melawan Allah? Tidak. Mari kita membandingkan pengajaran yang sama di dalam 1Ptr. 2:13, “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,” Pernyataan “karena Allah” di dalam ayat ini menyatakan bahwa kita tunduk secara pasif kepada pemerintah karena Allah. Dengan kata lain, Allah menjadi sumber utama kita tunduk kepada pemerintah.

Lalu, mengapa kita harus tunduk kepada pemerintah? Paulus menjawab karena tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Kata “pemerintah” dalam ayat ini dalam terjemahan Indonesia tidak ditemukan dalam banyak terjemahan Inggris (kecuali terjemahan God’s Word) dan Yunani. King James Version (KJV), American Standard Version (ASV), 1965 Bible in Basic English (BBE), Bishops’ Bible 1568, Geneva Bible 1587, Revised Version (RV), 1833 Webster Bible menerjemahkannya power (=kuasa); NIV, Darby Bible, English Majority Text Version (EMTV), English Standard Version (ESV), Good News Bible (GNB), International Standard Version (ISV), New King James Version (NKJV), Modern King James Version (MKJV), Literal Translation of the Holy Bible (LITV), James Murdock New Testament, dan 1898 Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya authority (=otoritas). Terjemahan Yunani untuk kata ini adalah exousia yang bisa berarti hak istimewa: kuasa, kemampuan, kapasitas, dll. Dengan kata lain, terjemahan yang lebih tepat untuk ayat ini adalah tidak ada KUASA pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Yang ditekankan seharusnya adalah KUASA dari pemerintah, bukan oknum pemerintah itu. Dari pengertian ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa alasan di titik pertama tadi Paulus mengatakan bahwa kita harus tunduk pasif kepada pemerintah, yaitu tidak ada KUASA pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Tuhan Yesus pernah mengingatkan konsep ini ketika berhadapan dengan Pilatus di dalam Yoh. 19:11, “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Kata “kuasa” di ayat ini menggunakan bahasa Yunani yang sama yaitu exousia. Di ayat ini, Tuhan Yesus jelas sekali menunjuk kuasa Pilatus adalah berasal dari Allah, sehingga Ia mengingatkannya agar ia tidak sombong dengan kuasa yang dimilikinya itu. Untuk menjelaskan bahwa kuasa pemerintah dari Allah, Allah mengajar melalui nabi Daniel di dalam Daniel 2:21, “Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian;” Kesemuanya ini menjelaskan bahwa kuasa pemerintahan bersumber dari Allah. Mengapa demikian? Karena Allah sendirilah Sumber Otoritas sejati itu. Allah adalah Sumber Otoritas sejati, maka Ia memberi kuasa kepada pemerintah untuk memerintah rakyat. Alasan kedua yaitu karena sumber struktur pemerintahan masyarakat (NIV Spirit of the Reformation Study Bible, hlm. 1833).

Bukan hanya berasal dari Allah, kuasa pemerintah itu pun ditetapkan oleh Allah. Kapankah pemerintah itu ditetapkan Allah? Sebelum atau sesudah manusia jatuh ke dalam dosa? Firman Tuhan menjawab bahwa pemerintah ditetapkan Allah sesudah manusia berdosa. Sebelum manusia berdosa, Allah lah yang menjadi Pemerintah atas Adam dan Hawa, tetapi dosa mengakibatkan manusia menolak otoritas Allah sampai pada zaman Nuh. Dari Nuh, generasi-generasi Allah mulai muncul sampai zaman bangsa Israel. Tetapi Israel di zaman Samuel, mereka berani meminta raja. Konteks waktu itu, anak-anak Samuel menjadi hakim atas Israel dan anak-anaknya itu hidup tidak beres (1Sam. 8:1-3). Nah, hal inilah yang mendorong para tua Israel mendesak Samuel agar memberi mereka raja seperti bangsa lain (ay. 6). Lalu, Samuel berdoa kepada Allah dan Allah menjawab bahwa sebenarnya Allah sebagai Rajalah yang orang Israel tolak, bukan kepemimpinan Samuel (ay. 7), lalu Ia berfirman kepada Samuel untuk memberi tahukan hak raja (ay. 9, 11-18), tetapi apa respon Israel? Mereka tetap menginginkan seorang raja (ay. 19-20). Dua kesalahan yang Israel lakukan, yaitu menolak Allah sebagai Raja dan menginginkan raja karena iri dengan bangsa lain. Kebebalan Israel akhirnya sengaja diizinkan Tuhan, sehingga mereka memiliki raja, tetapi sejarah Israel mencatat bahwa raja-raja mereka ternyata ada yang setia kepada Allah dan ada yang tidak (baca seluruh 1 dan 2 Raja-raja). Itu semua akibat manusia memberontak kepada Allah, tetapi Allah tetap mengizinkan agar manusia mengerti konsekuensi dosa yang mereka lakukan. Sampai di Perjanjian Baru, Allah menegaskan kembali bahwa pemerintah ditetapkan oleh Allah. Mengapa pemerintah ditetapkan Allah? Karena pemerintah adalah wakil Allah untuk mengatur manusia agar manusia hidup lebih baik (bdk. ay. 4). Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen bersikap terhadap pemerintah? Di ayat pertama ini, Paulus telah mengajar kita bahwa kita harus tunduk pasif kepada otoritas pemerintah karena otoritas pemerintah bersumber dari Allah dan ditetapkan-Nya. Berarti, kita tunduk kepada pemerintah yang tunduk kepada Allah, karena Allah adalah Sumber Otoritas tertinggi. Sudahkah kita melakukannya?


Karena otoritas pemerintah bersumber dari Allah dan ditetapkan-Nya, maka Paulus mengatakan di ayat 2, “Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya.” Di ayat kedua, Paulus lebih dalam lagi mengajar bahwa barangsiapa yang melawan/memberontak terhadap otoritas pemerintah, maka ia melawan/memberontak apa yang Allah tetapkan/dirikan (NIV menerjemahkannya: yang Allah telah dirikan). Berarti, Paulus mengidentikkan otoritas pemerintah dengan ketetapan Allah. Konsep ini harus dimengerti berkaitan dengan ayat 1 dan ayat sesudahnya, sehingga kita tidak salah mengerti, lalu menganggap pemerintah = Allah. Pemerintah tetap adalah manusia, tetapi otoritasnya diberikan dari Allah, sehingga setiap pemerintah yang menjalankan otoritas yang benar yang sesuai dengan ketetapan-Nya, maka pengidentikkan Paulus tadi berlaku, tetapi jika tidak, maka pengidentikkan Paulus ini tidak berlaku. Sejauh pemerintah itu sendiri menjalankan otoritas yang takluk kepada Allah, maka kita tunduk kepada pemerintah. Tetapi bagaimana jika pemerintah itu tidak takluk kepada Allah? Kita tetap tunduk, tetapi bukan tunduk mutlak lalu menyamakan pemerintah dengan Allah. Sikap tunduk kita kepada pemerintah yang melawan Allah adalah sikap tunduk yang disertai kebenaran. Artinya, kita lebih tunduk kepada Kebenaran Allah ketimbang tunduk kepada pemerintah yang melawan Allah. Dengan kata lain, kita siap mati untuk Allah jika misalnya kita diperlakukan tidak adil oleh pemerintah yang melawan Allah. Misalnya, jika pemerintah negara tertentu melarang warganya menjadi Kristen, bagaimana sikap kita? Takluk? TIDAK! Kita tetap harus tunduk mutlak kepada Allah, tetapi tetap menghormati (tidak melawan) pemerintah, sambil siap mati jika misalnya pemerintah memutuskan kita yang Kristen dihukum mati. Di sini, kita meletakkan otoritas sejati di tempat yang semestinya (primer) dan meletakkan otoritas pemberian di tempat sekunder. Jangan pernah membalikkan ordo/urutannya, karena membalikkan ordo ini, itulah dosa. Dosa adalah pembalikkan ordo dari ordo yang seharusnya.


Dengan konsep bahwa kita takluk kepada Allah lebih daripada kepada pemerintah (meskipun pemerintah itu melawan Allah), maka di ayat 3, Paulus mengatakan, “Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” KJV menerjemahkannya bahwa pemerintah tidak akan menakuti-nakuti kita yang berbuat baik, tetapi yang berbuat jahat. Di ayat ini, Paulus mendorong jemaat Roma untuk berbuat baik dan ketika kita berbuat baik, kita tidak usah takut. Di sini, karena kita lebih takluk kepada Allah yang memberi kuasa kepada pemerintah, maka kita seharusnya bisa menunjukkan perbuatan baik kita yang sejati. Ketika menunjukkan perbuatan baik itu, kita sedang mewujudnyatakan kasih-Nya kepada orang luar dan kepada pemerintah bahkan meskipun pemerintah itu melawan Allah. Jadi, mari tunjukkan kebaikan yang telah kita terima sebagai respon kita menomersatukan Allah lebih dari siapa pun.

Bukan hanya mendorong jemaat Roma untuk berbuat baik, Paulus mengajar mereka juga untuk hidup tidak takut kepada pemerintah. Mengapa kita bisa hidup tidak takut kepada pemerintah? Karena pernyataan sebelumnya, yaitu kita berbuat baik yang mencerminkan kita menomersatukan Allah. Ketika kita berbuat baik, maka tentu kita tidak perlu hidup takut kepada pemerintah, kecuali kita berbuat jahat, maka kita perlu takut kepada pemerintah. Ambil contoh, perampok yang berbuat jahat pasti takut ketika dikejar aparat pemerintahan (polisi), sedangkan kita yang setiap hari berbuat baik menolong orang, apa kita perlu takut kalau kita dikejar polisi? Tentu tidak. Jadi, di sini, kita dituntut pertanggungjawaban sebagai orang Kristen (warga negara sorgawi) dan warga negara duniawi.

Ketika kita berbuat baik, Paulus mengatakan bahwa kita akan memperoleh pujian daripadanya (atau bisa diterjemahkan: pemerintah itu akan memujimu). Di sini, kita lebih jelas lagi melihat signifikansi apa yang kita perbuat terhadap pemerintah, meskipun pemerintah itu melawan Allah sekalipun. Ketika kita berbuat baik, kita mendapat pujian, dan ingatlah, kembalikan pujian itu kepada Allah yang memang seharusnya mendapat pujian untuk selama-lamanya. Jangan pernah mengambil pujian dari pemerintah untuk kita sendiri.


Mengapa kita melakukan hal-hal di atas? Paulus menjabarkannya di ayat 4, “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Dari ayat 4, Paulus menjabarkan alasan kita melakukan hal-hal di atas, yaitu karena pemerintah adalah hamba Allah. Kata “hamba” di sini dalam bahasa Yunani TIDAK diterjemahkan doulos, tetapi diakonos (=pelayan; Ing.: minister). Kata Yunani inilah yang melahirkan jabatan diaken di dalam gereja. Pemerintah adalah pelayannya Allah. Pelayan Allah untuk apa? Paulus menjabarkan tugas pemerintah menjadi dua, yaitu:
Pertama, pemerintah untuk mendatangkan kebaikan bagi rakyat. Jika di Indonesia, kita mendengar pengajaran bahwa pemerintah adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, maka di ayat ini, kita mendapat pengajaran yang agak berbeda, yaitu: dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (dan rakyat). Tadi, kita telah belajar bahwa pemerintah dari Allah (bersumber dari Allah), lalu pemerintah itu ditetapkan oleh Allah, dan hasil akhirnya tetap harus untuk memuliakan Allah yang diimplementasikan bagi kepentingan rakyat. Apa artinya? Hasil akhir penetapan Allah memang untuk memuliakan-Nya, tetapi itu diimplementasikan kepada rakyat agar rakyat menikmati tugas pemerintah yang mengayomi masyarakat, sehingga masyarakat merasakan adanya perlindungan dari pemerintah seperti dari Allah. Itulah tugas pemerintah. Pemerintah yang hanya memikirkan keuntungan pribadi itu bukan pemerintah, tetapi penipu dan koruptor. Pemerintah sejati adalah mementingkan kebaikan rakyat (tidak egois).

Kedua, pemerintah untuk menindak tegas orang jahat. Sebagai kontranya, Paulus mengajar bahwa pemerintah adalah pelayan Allah untuk membalaskan murka Alalh kepada mereka yang berbuat jahat. Untuk itulah, pemerintah menyandang pedang. Dengan kata lain, pemerintah berhak mutlak menghukum mati orang-orang yang telah berbuat jahat, mengapa? Karena ia diberi otoritas oleh Allah untuk menyandang pedang untuk membalaskan murka Allah kepada mereka yang berbuat jahat. Hukuman mati dilegalkan oleh Alkitab! Pemerintah yang mengolor-olor waktu menjatuhkan hukuman mati (dengan alasan “agama”) kepada orang-orang yang jelas kelihatan bersalah itu jelas bukan pemerintah sejati. Pemerintah sejati adalah pemerintah yang berani menindak tegas siapa pun yang bersalah tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, dll. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Sudahkah kita berdoa bagi pemerintah kita yang terlalu lunak terhadap sekelompok penjahat kelas kakap yang berjubah “agama?”


Karena pemerintah menyandang pedang, maka di ayat 5, Paulus mengatakan, “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.” Pedang pemerintah dimaksudkan untuk membalaskan murka Allah. Tetapi apakah karena pedang itu, akhirnya kita takluk? Tidak. Paulus mengatakan bahwa kita perlu menaklukkan diri bukan HANYA karena pedang murka Allah, tetapi juga karena suara hati (NIV: conscience; Ind.: hati nurani). Di sini, Paulus mengajar bahwa sikap kita yang tunduk kepada pemerintah bukan tunduk kepada murka Allah melalui pedang pemerintah SAJA, tetapi lebih kepada hati nurani kita. Roh Kudus menerangi hati nurani kita agar kita tunduk kepada pemerintah yang tunduk kepada Allah. Ketika kita berani tunduk kepada pemerintah dengan hati nurani, di situ, kita membuktikan ketulusan sikap kita yang tunduk. Tetapi jika kita tunduk kepada pemerintah karena pedang, maka kita melakukannya dengan terpaksa. Tuhan lebih menuntut kita untuk tunduk kepada pemerintah dari hati kita, bukan karena murka Allah. Hal ini sama seperti pertobatan kita. Kita bertobat dan percaya kepada Kristus bukan takut murka dan hukuman Allah, tetapi sebagai reaksi dari hati kita yang telah disentuh kasih Allah yang menyelamatkan kita yang dikerjakan oleh Kristus melalui Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Sudahkah hati nurani kita dicerahkan Roh Kudus sehingga dari hati kita keluar suatu sikap yang tunduk kepada pemerintah? Amin. Soli Deo Gloria.