23 September 2008

Matius 11:5-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-5

Ringkasan Khotbah : 11 Juni 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (5)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6


Sebelumnya kita telah memahami lima tanda yang menunjukkan Kemesiasan Kristus. Hari ini kita akan merenungkan tanda yang terakhir, yaitu orang miskin mendapat kabar baik. Ironisnya, sampai hari ini, orang Yahudi masih menanti-nantikan kedatangan Mesias. Masa penantian ini disebut dengan advent. Tuhan menegaskan orang miskin mendapat kabar baik bukan orang miskin menjadi kaya. Hati-hati jangan masuk dalam jebakan iblis yang mengiming-imingi kekayaan duniawi namun berakhir dengan kebinasaan kekal. Manusia berdosa memanipulasi Firman demi keuntungan diri.
I. Konsep Miskin
1. Orang miskin secara konsep, orang ini selalu merasa kekurangan meskipun ia mempunyai harta melimpah, ia selalu merasa miskin. Amatlah kasihan hidup orang yang miskin konsep, sepanjang hidup menumpuk kekayaan tapi tidak dapat menikmati hasilnya. Gambaran ini cocok dengan Paman Gober yang super kaya tapi super miskin. Pertanyaannya adalah orang miskin model seperti ini lebih membutuhkan Injil atau uang?
2. Orang miskin yang tidak bisa makan. Golongan ini dibagi lagi menjadi dua, yakni: pertama, orang yang tidak mempunyai uang sehingga sulit baginya untuk makan; kedua, orang yang miskin motivasi, orang demikian ini selalu berpikir kalau kemiskinannya sebagai akibat dari korban lingkungan akibatnya ia tidak punya motivasi dan dorongan untuk menjalani hidup, ia akan malas untuk bekerja, ia hanya mau dikasihani orang lain. Orang miskin seperti ini tidak layak diberi uang seperti memasukkan air ke dalam laut dan bantuan itu justru menjadikannya semakin malas. Adalah natur manusia berdosa yang ingin hidup enak tanpa usaha dan perjuangan. Orang seharusnya berubah paradigma, kemiskinan tidak membuatnya kehilangan daya juang, kemiskinan seharusnya mendorong dia untuk hidup lebih baik. Kemiskinan bukanlah ikatan. Hari ini banyak orang sukses yang dulu miskin tapi karena perjuangan dan kegigihannya, ia berhasil lepas dari kemiskinan seperti pengalaman Yusuf Randi yang diceritakan kembali oleh pengkhotbah. Adalah tugas setiap murid Kristus untuk memberitakan Kebenaran sejati dengan demikian paradigma berpikir mereka yang salah diubahkan.
3. Orang miskin yang invalid, hal ini disebabkan karena keterbatasan yang ada pada dirinya, seperti cacat tubuh atau cacat mental dan ia tidak mempunyai sanak saudara. Kondisi mereka tidak memungkinkannya mempunyai kapabilitas untuk dia melewati batas garis kondisi kritisnya sehingga dia harus membutuhkan orang lain untuk menopang hidupnya. Orang semacam ini jumlahnya sangat sedikit dan biasanya mereka mempunyai daya juang; cacat tubuh bukan menjadi penghalang baginya untuk bekerja dan berkarya. Orang miskin yang invalid total seperti mereka inilah yang layak mendapat pertolongan. Secara materi, ia miskin namun sesungguhnya hidupnya kaya.
II. Gejala Orang Miskin
1. Serakah. Orang miskin seperti ini biasanya tidak mempunyai harga diri. Ketika ada peluang atau tawaran yang menggiurkan, ia selalu ingin menjadi yang pertama dan terdepan, ia tidak peduli dengan kondisi atau situasi orang yang ada di sekitarnya. Dimanapun ia berada, ia selalu merasa orang yang paling miskin. Perhatikan, miskin bukan tergantung dari berapa banyak uang yang ia punyai. Tidak! Tapi tergantung dari sikapnya. Betapa menyedihkan orang yang berjiwa miskin (petokhos, bahasa Yunani), seumur hidup selalu merasa kekurangan dan ketika ia melihat orang lain hidup nyaman, ia menjadi marah. Keserakahan adalah dosa yang mematikan.
2. Iri hati. Iri hati timbul ketika orang mulai membandingkan dengan orang lain dan biasanya dalam hal kepemilikan. Orang tidak suka melihat ada orang lain yang sukses dan hidup nyaman. Inilah kondisi dunia berdosa. Orang iri hati inilah yang dikatakan sebagai orang miskin. Iri hati itu bersifat destruktif atau perusak. Iri hati dapat menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Jiwa petokhos ini merupakan akar dari kemiskinan. Pertanyaannya sekarang adalah ketika kita dapat melewati orang yang kepadanya kita merasa iri apakah hal itu menjadikan kita puas? Tidak! Hal itu justru membuatnya jatuh dalam dosa yang lain, yaitu sombong dan orang kehilangan motivasi untuk hidup.
3. Hidup boros. Kemiskinan yang paling mendasar adalah miskin dalam pengelolaan hidup. Orang tidak tahu bagaimana caranya mengatur hidup, mengelola seluruh daya yang ada pada dirinya, dan ia tidak bisa menjadi penatalayan yang baik, ia tidak dapat mengelola segala sesuatu yang Tuhan percayakan pada dirinya dengan baik. Ingat, jangan buang waktu dan tenagamu dengan percuma. Di masa muda ini kita harus pakai seluruh tenaga, waktu dan pemikiran kita untuk Tuhan. Usia sekolah dasar sampai sekolah menengah adalah usia yang paling tepat untuk mengisi otak kita segala macam pengetahuan sebanyak-banyaknya karena itu adalah waktu yang paling tepat. Setan yang mengetahui hal ini tidak tinggal diam, dengan licik, setan menggunakan berbagai model permainan seperti play station dan semacamnya. Orang tidak sadar kalau semua yang ada pada dirinya termasuk harta, tenaga dan kepandaian itu asalnya dari Tuhan dan kelak harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan. Orang tidak memahami konsep ini, orang hanya tahu konsep kepemilikan, yakni segala sesuatu adalah milik pribadi yang dapat dipergunakan sesuai dengan keinginan diri. Orang seperti ini membutuhkan Injil.
III. Kebutuhan Orang Miskin
1. Orang miskin membutuhkan Injil. Dapatlah disimpulkan bahwa semua gejala tersebut di atas merupakan ciri: DOSA. Penyebab kemiskinan yang paling fatal adalah ketika manusia melepaskan diri dari sumber kehidupan yang utama, yaitu Tuhan. Kalau kita memampatkan sumber mata air maka kita tidak akan mendapatkan sumber air segar. Demikian juga kalau kita memutuskan hubungan dengan Tuhan yang menjadi sumber segala sumber, Dia adalah sumber kapasitas, sumber kepandaian, sumber konsep, Dia adalah sumber utama kehidupan akibatnya seluruh hidup kita akan hancur dan berakhir dengan kematian. Betapa miskin hidup manusia yang dilepaskan dari Tuhan karena itu orang miskin seperti demikian ini tidak membutuhkan uang tapi ia lebih membutuhkan berita Kabar Baik, yakni orang harus diperdamaikan dengan Tuhan sehingga sumber yang tadinya tertutup dibukakan kembali. Hidup kita akan penuh berlimpah karena perubahan konsep yang terjadi dalam pemikiran kita. Celakalah hidup manusia yang menolak sumber kehidupan sejati. Sudahkah kita memberitakan Kabar Baik pada mereka yang miskin sehingga mereka diselamatkan? Jadi, orang yang telah dipengaruhi dengan ajaran teologi sukses bukan diselesaikan dengan penyelesaian secara teologis tapi akar persoalan, yaitu dosa itulah yang harus diselesaikan. Artinya kepada orang-orang kaya yang miskin inilah kita harus memberitakan Kabar Baik. Perhatikan, Tuhan tidak pernah janji hidup anak-anak-Nya akan sukses dan kaya. Tidak! Tuhan menegaskan orang miskin mendapat Kabar Baik.
2. Orang miskin membutuhkan revitalisasi motivasi dan paradigma. Janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu sehingga engkau dapat membedakan mana kehendak Allah apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Rm. 12:2). Perubahan seperti inilah yang harus diberitakan kepada mereka yang miskin dengan demikian mereka disadarkan dan mempunyai jiwa atau mentalitas yang diperkenan Tuhan. Berita kabar baik inilah dibutuhkan oleh orang miskin yang seringkali egois. Mereka perlu disadarkan bahwa diri mereka bukanlah titik acuan yang utama tapi kehendak Allah itulah yang seharusnya menjadi titik pusat hidup kita. Merupakan pendapat yang salah yang menyatakan bahwa melakukan kehendak Tuhan justru akan menjadikan hidup kita miskin. Tidak! Pengertian miskin disini bukan semata-mata soal materi tapi miskin itu hidup. Dunia menyadari kalau seorang yang mempunyai pemikiran idealis itu tidak miskin. Di dunia profesi, orang yang idealis tidak peduli meski ia tidak punya uang bahkan ketika ia dalam kesulitan ekonomi pun ia tidak akan minta pertolongan orang lain. Orang yang berpikiran idealis inilah yang disebut sebagai orang kaya meskipun di satu sisi, mereka tidak punya uang. Bahkan orang yang idealis rela lapar dan tidak mendapat uang demi mewujudkan semua pikiran idealis-nya. Orang idealis biasanya lebih mementingkan nilai daripada harta dan mempunyai daya juang dan semangat untuk menjalani hidup di dunia dibanding mereka yang miskin yang selalu menyalahkan lingkungan di sekitarnya. Namun semua pemikiran idealis ini menjadi sia-sia kalau tidak di dalam Tuhan karena semua hanya berhenti di wilayah ciptaan yang tidak bersifat kekal. Sungguh amatlah disayangkan orang idealis yang punya iman besar tapi mereka mempunyai obyek iman yang salah. Ingat, Tuhan memberikan pada setiap anak-anak-Nya talenta dengan jumlah yang berbeda-beda maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau bekerja meskipun pada kita hanya diberikan satu talenta. Adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan kalau orang justru menguburkan satu talenta karena ia merasa iri hati pada mereka yang mendapat lebih. Ingat, Tuhan menuntut pertanggung jawaban atas apa yang dia sudah berikan pada kita. Orang-orang seperti ini butuh rekonstruksi paradigma sehingga mereka mempunyai etos hidup yang diperbaharui. Hanya Kristus satu-satunya yang patut untuk kita jadikan teladan hidup sempurna karena Dia adalah kebenaran sejati. Karena itu hendaklah dalam hidupmu bersama engkau memiliki pikiran dan perasaan yang sama seperti yang dimiliki oleh Kristus.
3. Orang miskin harus melakukan aksi positif. Orang miskin tidak boleh berhenti pada tindakan yang berorientasi pada dirinya sendiri. Segala sesuatu yang berpusat pada diri malah akan mencelakakan dirinya. Karena itu, Firman Tuhan mengajarkan adalah lebih baik memberi daripada menerima. Namun manusia egois tidak mau memberi, ia hanya mau menerima karena ia selalu merasa diri kekurangan. Orang tidak menyadari pada saat memberi itulah kita tidak merasa miskin. Setelah diubahkan paradigmanya maka langkah selanjutnya harus nyata, yakni memberi. Sadarlah ketika kita memberi justru saat itu kita tidak merasa kekurangan. Hati-hati dengan ajaran iblis yang seringkali memutarbalikkan kebenaran: memberi menjadikan kita miskin. Salah! Orang yang selalu merasa kekurangan takut kalau sumbernya habis. Yang terjadi justu sebaliknya pada saat kita menerima itulah justru kita akan kehilangan. Orang yang beriman dan bersandar penuh pada Tuhan yang hidup, Tuhan yang adalah sumber segala kehidupan sangat menyadari bahwa ketika memberi justru hidup semakin berlimpah. Seperti sebuah sumur yang airnya terus memancar maka air itu tidak akan pernah habis meski selalu diambil sebaliknya air sumur justru akan menjadi kotor dan berbau kalau airnya didiamkan saja. Alkitab menegaskan justru saat memberi itulah kita adalah “orang kaya“. Pengertian kaya disini bukan kaya secara materi tapi kita kaya karena kita punya Tuhan sumber kehidupan. Pertanyaannya sekarang adalah sudahkan kita berjiwa kaya?
Jangan takut dan kuatir ketika hidup kita berpaut pada Tuhan yang adalah Sumber dari segala sumber kehidupan maka pada saat kita memberi, Tuhan tidak akan meninggalkan kita, Dia selalu memelihara hidup kita. Hal ini sudah terbukti, Tuhan mencukupkan kebutuhan seorang janda miskin dan anaknya ketika memberi roti pada Elisa, hamba-Nya. Tepung dan minyak itu tidak pernah habis meski dipakai untuk memasak. Begitu juga ketika kita menerima Firman maka yang terbaik adalah kita membagikannya pada orang lain. Saat kita membagikan Firman maka pada saat yang sama, Firman itu akan melekat di pikiran dan hati kita. Seorang guru yang membagikan ilmunya tidak akan pernah kehabisan ilmu justru ilmu kita semakin bertambah. Tuhan adalah sumber ilmu pengetahuan, sumber berkat, sumber semua kehidupan maka apapun yang kita kerjakan dan kita upayakan demi untuk kemuliaan Tuhan, Dia akan tambah-tambahkan pada kita. Percayalah, Tuhan akan menolong dan mencukupkan ketika Dia memberikan tugas dan pekerjaan pada anak-anak-Nya. Justru sebaliknya, kita seringkali takut dalam melangkah karena kita selalu memperhitungkan untung dan rugi. Sesungguhnya kitalah yang memiskinkan diri sendiri, mematikan kapasitas diri sendiri. Miskin membutuhkan perubahan konsep paradigma, miskin membutuhkan kabar baik. Orang miskin tidak cukup kalau diberikan uang dan dijadikan kaya. Jikalau kita mengerti konsep ini maka hidup kita menjadi kaya dan diperkaya oleh dunia, Tuhan akan memakai kita menjadi berkat bagi dunia. Biarlah kita diubahkan cara berpikir kita, hendaklah kita mempunyai hati yang senantiasa ingin memberi daripada menerima, kita tidak mempunyai iri hati ketika melihat orang lain lebih sukses dengan demikian hidup kita menjadi lebih berdaya guna.
Sebagai penutup, teladan hidup yang ditunjukkan oleh Pdt. Stephen Tong sebagaimana dia mengikut teladan Kristus ini dapatlah kita jadikan teladan sempurna. Pdt. Stephen Tong dibesarkan oleh seorang janda yang sangat miskin namun meski miskin, ia masih mempunyai hati yang memberi, setiap minggu ibunya memberi segenggam beras dan gula kepada orang yang lebih miskin. Stephen Tong kecil melihat apa yang dilakukan oleh ibunya ini justru semakin memacu semangatnya untuk berjuang dan menjadi berkat bagi orang lain. Miskin materi bukanlah faktor utama yang menjadikan hidupnya tidak dapat berdaya guna. Tidak! Ada harta lain yang melimpah dalam dirinya yang tidak menjadikannya miskin, yakni Tuhan yang menjadikan hidupnya kaya dan semakin diperkaya dan menjadi berkat bagi dunia. Biarlah kita berubah dalam paradigma dengan demikian tidak berjiwa miskin tetapi sebaliknya kita berjiwa kaya karena kita mempunyai Tuhan adalah sumber segala kehidupan. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

19 September 2008

2 Koleksi Terbaru Buku Rev. Dr. John S. Piper Terbitan MOMENTUM

Dapatkan Koleksi Terbaru dari Momentum




Koleksi Buku-buku Rev. Dr. John S. Piper dalam bahasa Indonesia



2 Koleksi Terbaru John Piper:

MENDAMBAKAN ALLAH
(telah terbit)

(diterjemahkan dari buku Desiring God)

Alkitab menyingkapkan bahwa perkara terbesar dari kehidupan adalah untuk memuliakan Allah dengan menikmati Dia selamanya. Dalam karya yang meruntuhkan paradigma ini, Rev. Dr. John S. Piper menyingkapkan bahwa perdebatan antara kewajiban dan kesukaan sebenarnya tidak ada: Kesukaan adalah kewajiban kita. Bergabunglah dengannya seraya dia menyingkapkan kebenaran yang mencengangkan dan berdampak bagi kehidupan, yang Anda lihat dalam Alkitab, tetapi tidak pernah berani Anda percayai.

Harga: Rp 90.000, 00; 444 halaman

Penerjemah: Elifas Gani
Editor: Franklin Noya
Pengoreksi:
Jessy Siswanto
Denny Teguh Sutandio (tidak dimasukkan di dalamnya)

Secara pribadi, ketika saya mengoreksi buku Mendambakan Allah dari Rev. Dr. John S. Piper ini, saya banyak mendapatkan banyak berkat tentang arti menjadi seorang “hedonis” Kristen yang berbeda pengertiannya dari hedonis yang dimengerti dan diajarkan oleh dunia berdosa. Seperti buku-buku John Piper lainnya, buku ini juga mengajak para pembaca untuk memusatkan hidupnya pada kedaulatan Allah. Biarlah buku Mendambakan Allah ini menjadi berkat bagi orang Kristen, sehingga iman mereka dipusatkan hanya pada kedaulatan Allah, bukan kepentingan manusia.









KESUKAAN ALLAH
(akan terbit Oktober 2008)

(diterjemahkan dari buku Pleasures of God)

Buku ini bukan mengenai diri Anda. Buku ini mengenai satu-satunya Pribadi yang bagi-Nya kita diciptakan – yaitu Allah sendiri. Dalam penelurusan theologis yang apik ini, Rev. Dr. John S. Piper mengolah bukti-bukti Alkitabiah sedemikian rupa untuk menolong kita melihat dan mencerna apa yang kesukaan-kesukaan Allah perlihatkan tentang diri-Nya, sehingga kita dapat menjadi serupa dengan Pribadi yang kita kagumi itu.
Kita dapat menyadari kebesaran kemuliaan-Nya jika kita tahu apa yang membuat-Nya bersuka. Oleh karena itu, kita semestinya berusaha memahami “kesukaan Allah.”


Harga: Rp 95.000, 00; 468 halaman






Koleksi Buku dari John Piper lainnya:
Ø GAIRAH ALLAH BAGI KEMULIAAN-NYA (Rp 70.000,00; 334 hlm.)
Ø SEKS DAN SUPREMASI KRISTUS (Rp 65.000, 00; 330 hlm.)
Ø PENDERITAAN YESUS KRISTUS (Rp 30.000, 00; 124 hlm.)






Rev. John Stephen Piper, D.Theol. adalah Pendeta Pengkhotbah di Betlehem Baptist Chuch, U.S.A. dan pendiri DesiringGod Ministries (www.desiringgod.org) Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Divinity (B.D.) di Fuller Theological Seminary, U.S.A. dan gelar Doctor of Theology (D.Theol.) di University of Munich, Jerman. Beliau juga menulis dan mengedit buku-buku, seperti: Supremacy of God in Preaching (akan diterbitkan oleh Penerbit Momentum), Recovering Biblical Manhood and Womanhood (diedit bersama Prof. Wayne Grudem, Ph.D.), dll.






Penerbit MOMENTUM
Fine Book Selection
Kantor Pusat:
Andhika Plaza C/5-7, Jln. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya
Telp.: (031) 548-2660; Fax.: (031) 545-9275

Outlet Jakarta:
Jln. Matraman Raya No. 24, Jakarta
Telp.: (021) 858-2020; Fax.: (021) 858-0668






Untuk pembelian secara online, informasi, dan penawaran-penawaran menarik, kunjungi website kami:
www.momentum.or.id

15 September 2008

Roma 10:16-17: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-12: Percaya atau "Percaya"?-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-11


“Israel” Sejati atau Palsu-12: Percaya atau “Percaya”-1

oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Roma 10:16-17


Setelah mempelajari pengajaran Paulus tentang arti percaya kepada Kristus di bagian 2 di ayat 12 s/d 15, maka kita akan menelurusi pengajaran Paulus tentang realita percaya sejati vs “percaya” di ayat 16 s/d 21.

Ayat 4 s/d 15 merupakan pengajaran Paulus yang mendalam tentang apa arti percaya di dalam Kristus dan hal-hal yang terkandung di dalamnya, yang meliputi: sentralitas Kristus, percaya di dalam hati dan pengakuan mulut (kredo), kebangkitan Kristus, universalitas iman, dan pentingnya pengutusan penginjilan untuk membuat orang lain dapat percaya. Tetapi apakah masalah percaya begitu sederhana? TIDAK! Apakah setelah diutus orang-orang yang memberitakan Injil, orang-orang yang diinjili pasti menerima? TIDAK! Realita ini disingkapkan oleh Paulus di ayat 16, “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?"” Ya, realita yang terjadi adalah tidak semua orang telah menerima Injil itu. Kata “menerima” dalam terjemahan LAI kurang tepat. Mayoritas Alkitab terjemahan Inggris menggunakan kata obey yang berarti mematuhi. Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai adalah hupakouō berarti subordinate (=menundukkan diri/menempatkan ke bawah) yaitu listen attentively (mendengar dengan penuh perhatian). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menerjemahkannya sebagai mendengarkan (hlm. 855). Dan kata ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk kata kerja aktif. Dengan kata lain, meskipun Injil telah diberitakan, ternyata TIDAK semua orang mau mendengarkan dengan seksama Injil tersebut. Mengapa mereka tidak mau mendengarkan Injil? Apakah mereka memang tidak mau mendengar atau alasan lain? Di dalam perspektif theologi Reformed, orang yang tidak mau mendengar Injil bukan karena ia memutuskan sendiri untuk tidak mau, tetapi karena Tuhan telah menolak dan menetapkannya sebagai umat tertolak (reprobat), sehingga Ia membiarkan mereka dengan kehendaknya sendiri menolak Injil. Mengapa saya bisa sampai kepada kesimpulan demikian? Mari kita simak ayat 16b, “Yesaya sendiri berkata: "Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?"” Ayat ini diambil dari Yesaya 53:1 yang berada di dalam konteks tentang nubuat Kristus di dalam Perjanjian Lama. Mari kita simak secara tuntas konteks ini. Yesaya 53:1-4, “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Yesaya memberi penjelasan mengapa bangsa Israel tidak mau mendengar peringatan Yesaya, yaitu karena mereka tidak melihat urgensi perintah Allah di dalam mulut Nabi Yesaya dan esensi, tetapi lebih melihat fenomena. Tidak heran, ketika mereka kelak melihat Kristus yang hina, lemah, dll (nubuat Yesaya 53:2-3), mereka menolak-Nya karena di dalam pikiran mereka, Mesias datang untuk membinasakan bangsa-bangsa yang menjajah Israel dan mendirikan Kerajaan bagi Israel (bahkan para rasul Kristus sendiri pun masih beranggapan demikian menjelang Tuhan Yesus naik ke Surga). Tentu saja mereka tidak akan percaya pada Injil Kristus, karena Kristus sendiri yang mereka lihat tidak seperti di bayangan mereka. Bagaimana dengan kita? Mungkin kita sudah memberitakan Injil kepada orang lain, tetapi belum ada respon. Firman Tuhan menguatkan kita agar tidak kecewa. Mereka yang tidak mendengar dan menerima Injil mungkin belum saatnya, mungkin Tuhan memberikan waktu lain agar dia mau menerima Kristus, tetapi mungkin juga Tuhan sengaja membiarkan mereka tidak mau menerima Kristus, karena mereka memang sudah ditetapkan Allah untuk dibinasakan. Bukan hanya untuk orang-orang yang diinjili, kita pun sebagai orang Kristen harus mengintrospeksi diri, sudahkah kita benar-benar menjadi orang Kristen sejati? Banyak orang Kristen di era postmodern mengimplikasikan dengan jelas apa yang sudah orang-orang Yahudi telah lakukan di zaman Tuhan Yesus. Apa maksudnya? Kalau dulu orang-orang Yahudi menyalibkan Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus tidak cocok dengan ambisi mereka yang hendak menjadikan Mesias sebagai Raja yang membasmi bangsa-bangsa lain, maka banyak orang Kristen di abad postmodern yang diracuni oleh banyak theologi Karismatik/Pentakosta hendak “menyalibkan” Tuhan Yesus yang kedua kalinya dengan mengajarkan dan “beriman” bahwa Tuhan Yesus itu pasti memberkati umat-Nya, anak-anak Raja pasti kaya, sukses, berhasil, karena Tuhan tidak menginginkan anak-anak-Nya menjadi miskin, gagal, dll. Mereka memiliki ambisi sosok Tuhan Yesus sebagai Sinterklas yang suka bagi-bagi kado, tetapi jika ternyata secara realita mereka tidak lagi diberkati, mereka akan marah kepada Tuhan dan mengutuki Tuhan. Berapa banyak kasus orang Kristen yang giat melayani Tuhan, tetapi ketika sudah menderita penyakit dan tidak lagi diberkati, mereka marah dan menghujat Tuhan? Tidak sadarkah kita akan hal ini? Sudahkah iman kita benar-benar disandarkan hanya kepada dan di dalam Kristus ataukah kita masih menyandarkan iman kita pada kehendak dan ambisi pribadi kita yang hendak menjadikan Kristus menurut apa yang kita mau? Apakah Kristus menjadi Tuhan dan Raja di dalam hidup kita ataukah Kristus hanya menjadi “Pembantu” kita yang setiap hari kita suruh-suruh dengan dalih “rohani”: “doa semalam suntuk”, dll? Inilah yang membedakan kita, apakah kita sungguh-sungguh percaya di dalam Kristus dengan “percaya” palsu!

Pembeda kedua antara percaya sejati dengan “percaya” palsu dipaparkan Paulus di ayat 17, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Kata “Jadi” dalam LAI atau “maka” (so then = maka/jadi kemudian) dalam terjemahan KJV menandakan bahwa ayat 16 berlanjut ke ayat 17. Untuk membuktikan apakah kita percaya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh atau tidak adalah dengan standar pengujian kebenaran. Dan standar itu dilakukan dengan mendengar, dan mendengar firman Kristus. Di sini, sangat unik. Ada dua hal yang mau ditekankan Paulus, yaitu:
Pertama, iman timbul dari pendengaran. “Pendengaran” di sini bukan pendengaran sambil lalu, tetapi pendengaran di sini adalah mendengar dengan penuh perhatian. Adam Clarke dalam tafsirannya Adam Clarke’s Commentary on the Bible menafsirkan kata “mendengar” sebagai mendengar dengan penuh perhatian (heard attentively). Mengapa Paulus menggunakan kata mendengar? Karena kata ini tidaklah asing bagi budaya orang Yahudi. Di Perjanjian Lama, Ulangan 6:4, Allah berfirman, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata “dengarlah” dalam ayat ini bahasa Ibraninya shâma‛ berarti mendengar sambil patuh/menaati. Bukan hanya itu saja, budaya mendengar juga diajarkan oleh Tuhan sendiri supaya orangtua mengajar anak-anak mereka tentang Tuhan, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ul. 6:6-7) Budaya mendengar sudah dibiasakan oleh orangtua Israel sehingga anak-anak Israel dari kecil sudah mendengar Taurat dan belajar Taurat. Hal ini sangat berbeda dengan orangtua di zaman postmodern (tidak sedikit banyak orangtua yang mengaku diri “Kristen” bahkan aktif “melayani ‘tuhan’”) yang selalu mengajar materialisme, utilitarianisme dan atheisme praktis kepada anak-anak mereka, sehingga tidak heran dari kecil, mereka TIDAK mendengar tentang Allah, tetapi tentang uang, asas manfaat, kehebatan diri, dll. Budaya “mendengar” di zaman postmodern yang rusak ini sudah memudar, dan diganti dengan semangat pragmatis. Kalau di zaman PL, Allah memerintahkan orangtua Israel untuk mendengar pengakuan iman sejati dan mengajarkannya kepada anak-anak mereka, sehingga anak-anak mereka bisa mendengar kredo tersebut, sebaliknya di abad postmodern, ilah-ilah palsu buatan manusia menjadi pengganti Allah, sehingga banyak orang postmodern lebih suka mendengarkan sesuatu yang tidak berharga sama sekali ketimbang harus mendengarkan sebuah pengakuan iman. Realita ini dibukakan dengan jelas oleh Paulus sendiri di dalam 2 Timotius 4:3-4, di mana akan datang saatnya orang tidak mau lagi mendengar ajaran sehat, tetapi malahan mendengar sesuatu yang tidak bertanggungjawab (dongeng) dan mempercayainya. Jika demikian, apakah setelah mereka dari kecil telah mendengar Taurat menjamin bahwa mereka pasti percaya kepada Tuhan sungguh-sungguh? TIDAK. Paulus membukakan lebih dalam lagi di bagian kedua.

Kedua, iman timbul dari pendengaran dan pendengaran oleh firman Kristus. Kata “Kristus” di dalam bagian ini diterjemahkan God (=Allah) oleh KJV. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menerjemahkannya Kristus (seperti terjemahan LAI) dan bahasa Yunaninya Kriston. Iman bukan hanya sekadar mendengar tetapi juga mendengar firman Kristus. John Calvin di dalam tafsirannya terhadap Surat Roma menafsirkan bagian ini yaitu Firman secara urutan mendahului iman, dan iman mengikuti Firman. Lalu, Calvin menjelaskan secara implisit bahwa hal inilah yang kurang dan membedakan orang Kristen dari orang-orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi hanya percaya kepada firman Allah, tidak kepada Kristus, sehingga iman sejati bukan hanya timbul dari pendengaran firman Allah, tetapi juga firman Kristus (PL dan PB). Dari otoritas Alkitab inilah, iman kita dibangun dan ditumbuhkan. Sejarah gereja membuktikan hal ini. Seorang bapa gereja Augustinus bertobat bukan karena diinjili atau menerima penglihatan, tetapi karena ia dicerahkan pikirannya Roh Kudus melalui seorang anak yang menyuruhnya secara tidak langsung (anak itu mengatakan, “Ambil, baca”) untuk membaca Alkitab. Dr. Martin Luther, seorang reformator besar menemukan Kebenaran iman Kristen sejati dari Alkitab yaitu manusia dibenarkan hanya melalui iman setelah sekian lama kebenaran ditutupi di dalam gereja sendiri. Iman Luther, Calvin, Beza, dan para tokoh Puritan dibangun dan ditumbuhkan hanya dengan membaca Alkitab melalui pencerahan Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Iman sejati tidak bisa dilepaskan dari Alkitab sebagai Firman Allah. Ketika kita mendasarkan iman kita pada Firman Allah, Alkitab, maka iman kita pasti kuat dan bertumbuh, sedangkan ketika kita mendasarkan iman kita hanya pada asumsi manusia yang mulai meragukan otoritas Firman Allah (meskipun sering tidak disadari), iman kita pasti lama-kelamaan akan rusak, karena iman kita didasarkan pada subjektivitas diri yang berdosa. Di atas dasar apakah iman itu dibangun?

Melalui perenungan dua ayat ini, kiranya kita dibukakan hati dan pikiran kita tentang realita pembeda antara konsep percaya yang sejati dengan konsep “percaya” palsu buatan manusia. Dan selanjutnya, kita dimampukan untuk menyandarkan seluruh kepercayaan kita hanya kepada Allah dan firman-Nya.

Matius 11:5-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-4

Ringkasan Khotbah : 04 Juni 2006

Kristus sebagai Pusat Hidup (4)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6



Puji Tuhan, hari ini kita memperingati hari Pentakosta, yakni hari turunnya Roh Kudus dimana pada hari Pentakosta inilah gereja pertama kali berdiri. Pada hari Pentakosta yang pertama itu, Petrus dengan berani memberitakan berita: “Bertobatlah karena Kerajaan Sorga sudah dekat.“ Roh Kudus telah memberikan keberanian pada para murid untuk memberitakan tentang Yesus Kristus Juruselamat dunia. Orang berespon terhadap Firman dan mereka bertobat dan memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka tiga ribu jiwa. Perhatikan, saat Roh Kudus turun dan bekerja atas para murid maka fokus pemberitaan bukan pada diri-Nya tapi seluruh pekerjaan Roh Kudus itu berpusat pada Kristus, Sang Mesias sejati. Namun sangatlah disayangkan di dunia modern ini, berita: “Bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat“ tidak lagi diberitakan. Orang takut kalau ia dimusuhi oleh dunia. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menyadarkan manusia akan dosa dan akibatnya, yaitu kebinasaan kekal apabila mereka tidak bertobat dan kembali pada Kristus. Problema manusia yang paling serius, yaitu dosa hanya dapat diselesaikan dengan pertobatan. Berita Pentakosta menuntut orang untuk bertobat, dan tidak kembali berbuat dosa.

Tanpa pekerjaan Kristus, tanpa kemenangan Kristus, tanpa pekerjaan Roh Kudus mustahil bagi manusia untuk lepas dari cengkeraman dosa. Hati-hati, janganlah tertipu dengan berbagai macam jebakan dan godaan iblis yang selalu berusaha menghancurkan hidup manusia karena iblis tidak suka melihat ada orang yang hidup dalam kebenaran. Tuhan menegaskan ketika kita menjadi pengikut Kristus maka kita akan mengalami berbagai ancaman dan tantangan. Namun di tengah-tengah tantangan dan ancaman itulah Roh Kudus bekerja, menguatkan sehingga kita tidak terjatuh. Inilah kuasa kemenangan, kuasa kehidupan yang tidak membawa kita kepada kematian. Berita kebangkitan Kristus ini merupakan berita iman Kristen yang sejati. Perhatikan, hanya Kristus Sang Mesias yang sejati yang mempunyai kuasa kebangkitan yang menghidupkan.

Ada enam tanda yang dibukakan oleh Kristus yang menyatakan bahwa Dia adalah Mesias, yaitu: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Mat. 11:5-6). Perhatikan, orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan disini bukan sekedar melihat dan berjalan secara fisik. Tidak! Tanda ini menjadi kekuatan perombakan yang menyadarkan orang bahwa Kristus adalah Mesias. Sayangnya hari ini banyak manusia yang buta sekalipun ia melihat dan banyak manusia yang lumpuh sekalipun ia dapat berjalan. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan mata rohani kita dibukakan dan kita dapat melihat Kristus Sang Mesias? Celakalah hidup kita kalau kita buta karena hidup kita akan tersesat. Revitalisasi menjadi titik pertama yang menyadarkan manusia untuk melihat pada Kebenaran sejati.

Mujizat orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar ini juga sangat unik, yaitu: 1) hanya dicatat dalam Injil Matius, Markus dan Lukas, 2) semua itu hanya dilakukan oleh Kristus, 3) membicarakan satu tema yang sama, yaitu rekonsiliasi. Kusta adalah penyakit fisik sekaligus spiritual. Orang kusta yang disembuhkan bukan dikatakan sembuh tapi dikatakan tahir artinya bersih suci. Manusia yang ditahirkan merupakan gambaran rekonsiliasi, manusia diperdamaikan kembali dengan Allah. Orang yang sakit kusta maka ia harus dipisahkan dengan orang lain yang sehat. Inilah gambaran manusia berdosa yang dipisahkan dari Allah. Celakalah hidup manusia yang terpisah dari Allah, manusia masuk dalam kebinasaan kekal. Demikian halnya dengan orang yang tuli bisu, secara otomatis ia terpisah dari komunitas lain. Kedua mujizat ini merupakan gambaran dari orang-orang yang tadinya tercabik dari masyarakat tapi kini diperdamaikan kembali. Semua ini merupakan gambaran dosa, orang berdosa yang dipulihkan yang disebut sebagai atonement, pendamaian.

Adalah mustahil seorang manusia berdosa berdamai dengan Allah yang suci. Ketika manusia berdosa bertemu dengan Allah akibatnya manusialah yang mati, hal ini digambarkan dalam kitab Perjanjian Lama. Jadi, kalau ada orang berdosa yang mengaku dekat dengan “allah“ membuktikan bahwa itu bukanlah allah tetapi iblis. Hanya iblis yang mau dekat dengan manusia berdosa. Kecuali Allah sendiri yang berinisiatif mau menolong dan menopang manusia barulah manusia dapat diperdamaikan kembali dengan Allah. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara Allah memperdamaikan manusia? Apakah dengan membiarkan dosa? Tidak! Mengabaikan dosa berarti berkompromi dengan dosa dan itu berarti pelecehan terhadap natur Allah yang suci adanya. Pendamaian sejati digambarkan dalam tindakan pentahiran orang kusta dan orang tuli mendengar. Tindakan Mesianis yang klimaks, yaitu orang mati dibangkitkan dan orang miskin mendapat kabar baik.

Hari ini kita akan merenungkan tanda yang kelima, yaitu orang mati dibangkitkan. Dan perhatikan, orang mati yang dibangkitkan ini hanya dapat dilakukan oleh Kristus Sang Mesias sejati. Di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang dapat membangkitkan orang mati seperti yang pernah dilakukan oleh Kristus. Berbeda halnya kalau kita membuat sesuatu yang hidup menjadi mati maka semua orang pasti dapat melakukannya. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak akan dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati begitu juga dengan setan, setan tidak mempunyai kuasa menghidupkan karena itu berarti ia melawan naturnya sendiri yang adalah bapa kematian. Manusia telah berbuat dosa maka upah dosa adalah maut. Ingat, setiap manusia pasti mati; manusia tidak dapat lepas dari kematian. Manusia akan sangat takut ketika kematian itu datang mendekat karena manusia tidak tahu bagaimana keadaan setelah kematian. Berbeda halnya kalau manusia tahu dengan jelas keadaan setelah kematian maka kematian itu tidak lagi menakutkan.

John Calvin mengungkapkan sesungguhnya dalam hati manusia yang terdalam ditanamkan bibit agama, benih iman, sense of divinity, yakni suatu kesadaran bahwa setelah manusia selesai dengan sejarah maka ia akan masuk dalam kekekalan. Artinya orang yang masuk dalam kematian kekal berarti selama-lamanya ia akan mati. Merupakan kesalahan fatal dari gereja Roma Katolik yang berpendapat bahwa setelah manusia mati masih akan mengalami proses dalam api penyucian barulah setelah dari api penyucian, orang menuju sorga mulia. Tidak! Setelah kematian tidak ada proses. Pemikiran yang sama, yaitu setelah kematian masih ada proses melekat dalam tradisi Tionghoa. Mereka berpikir dunia setelah kematian itu sama seperti dunia sekarang yang didalamnya mereka hidup. Itulah sebabnya kita menjumpai berbagai bentuk materi yang terbuat dari kertas yang menyerupai materi di dunia.

Manusia yang berada di luar Kristus maka ia akan mengalami kematian kekal. Orang berdosa berarti ia menjadi budak iblis. Itulah sebabnya, segala cara dipakai iblis supaya kita mati di dalam dosa sehingga kita menjadi miliknya. Namun Allah tidak tinggal diam, Allah murka terhadap dosa maka satu-satunya cara supaya manusia lepas dari ikatan iblis adalah Allah yang harus mati, menggantikan manusia berdosa. Kristus merelakan diri-Nya dan membiarkan diri dimatikan karena dosa manusia harus ditanggungkan ke atas-Nya. Itulah sebabnya, ketika Kristus datang ke dunia, iblis sangat sengit melawan Kristus dan mau mematikan Kristus. Iblis pikir ia telah menang karena ia telah “berhasil“ mematikan Kristus. Secara teori bisnis, iblis mempunyai perhitungan yang sangat tajam, yakni: 1) Iblis berpikir tentang untung dan rugi. Iblis tahu bahwa andaikata seluruh dosa umat pilihan Tuhan ditanggungkan atas Kristus maka setan pikir tidak akan rugi karena jumlah manusia yang dipilih sangat sedikit dibanding dengan semua manusia di dunia. Dengan licik, iblis pikir kalau seluruh dosa ditangguhkan kepada Tuhan Yesus itu berarti dia diuntungkan. Memang, Alkitab menegaskan jalan menuju sorga sempit dan yang masuk ke dalam sorga jumlahnya tidak banyak, 2) Iblis berpikir kalau ia berhasil mematikan Kristus maka Kristus menjadi milik kepunyaannya dan itu berarti dia mempunyai kesempatan untuk menjatuhkan umat pilihan yang diselamatkan Kristus sebelumnya dan iblis pikir ia pasti berhasil sebab tidak ada Kristus yang akan membela umat-Nya. Andaikata dalam suatu populasi masyarakat hidup satu juta jiwa maka diantara satu juta manusia itu hanya sedikit manusia yang diselamatkan dan iblis memperhitungkan dalam hal ini ia tidak dirugikan justru ia malah diuntungkan karena Kristus Anak Allah menjadi miliknya sama halnya seperti bisnis dengan memberi seratus, ia akan mendapat satu juta. Iblis merasa diuntungkan, ia merasakan sukacita karena “berhasil“ mendapatkan Kristus.

Ternyata perhitungan iblis salah! Iblis tidak tahu kalau ia telah mempertaruhkan kekuatannya yang terbesar dengan kekuatan Kristus. Kekuatan setan yang terbesar adalah kuasa kematian. Namun celakanya, kuasa kematian ini tidak berkuasa atas Kristus – Kristus menang atas kuasa kematian, Dia bangkit. Andaikata iblis tahu strategi Allah maka iblis pasti tidak akan mematikan Kristus. Itulah matinya kematian oleh kematian Kristus seperti yang diungkapkan oleh John Owen. Konsep ini tidak dipahami oleh iblis. Hal ini membuktikan bahwa sepandai-pandainya iblis, ia tidak lebih pandai dari Allah. Berbahagialah orang yang menjadi pengikut Kristus karena ia memiliki kuasa kebangkitan, kuasa kemenangan dari Kristus. Maka tanda Kemesiasan yang diungkapkan oleh Kristus, yaitu orang mati dibangkitkan bukan pekerjaan sembarangan. Kuasa menghidupkan hanya dapat dilakukan oleh kuasa Allah maka tanpa hubungan Mesianis tidak mungkin ada kuasa kebangkitan ini. Kuasa kebangkitan disini bukan sekedar bangkit secara tubuh jasmani. Tidak! Karena orang yang dibangkitkan secara jasmani orang akan mati lagi.

Orang Yahudi pun sangat memahami bahwa kebangkitan Lazarus bukan sekedar kebangkitan tubuh jasmani. Hal kebangkitan Lazarus ini sangatlah unik sebab hanya dicatat dalam Injil Yohanes saja dan setelah kejadian itu, orang Yahudi dan para ahli Taurat bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus. Para ahli taurat dan orang Yahudi tahu bahwa kuasa kebangkitan yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus ini bukan kuasa biasa sebab tidak ada satu manusia pun yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati selama 4 hari. Ketika membangkitkan Lazarus, Tuhan Yesus tidak masuk dalam kubur Lazarus, ini membuktikan kalau sebelumnya tidak ada manipulasi. Hari itu, mujizat kebangkitan ini disaksikan oleh banyak orang. Tindakan Kristus ini tidak dapat ditoleransi maka orang Yahudi dan para ahli Taurat bersekongkol untuk membunuh Tuhan Yesus atau kalau tidak, mereka yang mati.

Mujizat orang mati dibangkitkan ini merupakan finalitas Kemesiasan Kristus. Kuasa kebangkitan menunjukkan kemenangan total dalam semua aspek hidup. Kebangkitan adalah sesuatu yang mustahil namun semua itu tidaklah mustahil karena dilakukan oleh Kristus. Kuasa kemenangan ini hanya diberikan pada anak-Nya dan ini menjadikan kita lebih berdinamika. Kuasa kebangkitan memberikan pada manusia kuasa hidup. Perhatikan, lingkungan di sekitar kita tidak berubah, tantangan dan ancaman tidak berubah maka manusialah yang harus diubahkan. Vitalisasi akan kita capai ketika kita sampai pada titik puncak dan tentunya, dengan kekuatan kemenangan kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus harusnya memberikan pada kita suatu kesadaran, yaitu kita sedang berpaut pada Mesias yang sejati. Tidak ada satu pemimpin di dunia ini yang mempunyai esensi seperti Kristus. Kristus bukan sekedar seorang pemimpin agama dunia. Tidak! Kristus adalah Anak Allah, Sang Kebenaran yang berinkarnasi menjadi manusia, Dia adalah kuasa hidup yang membangkitkan dan menghidupkan.

Tekanan dunia semakin berat tetapi ingatlah, kita mempunyai Tuhan yang hidup, Dia akan memimpin langkah hidup kita. Biarlah hidup kita senantiasa berpaut pada Allah maka kita akan mendapatkan sukacita kekal. Jangan tertipu dengan segala bujuk rayu si iblis yang akan terus berusaha menjatuhkan dan menghancurkan manusia. Kuncinya hanya satu supaya kita tidak jatuh dalam jebakan iblis, yaitu taat pada Tuhan. Kuasa yang diberikan pada anak Tuhan adalah kuasa hidup yang menghidupkan dan kuasa hidup ini memberikan pada kita suatu dinamika ketaatan kepada Tuhan dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan. Hati-hati, janganlah keinginan diri menguasai kita tapi hendaklah kita mengingat bahwa sebagai pengikut Kristus, kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri itu merupakan kekuatan kita melawan segala keinginan nafsu duniawi dan godaan iblis. Inilah yang dinamakan sebagai kuasa hidup bukan kuasa kematian. Janganlah kita menjadi seperti seekor ikan mati yang hanya mengikuti arus. Saat ini, kita tidak mati maka seekor ikan yang hidup ia pasti akan melawan arus. Kuasa Kebangkitan Kristus menjadikan kita dapat berpaut pada Tuhan. Ketika hidup bertemu dengan hidup maka itu menjadikan kita hidup sejati. Inilah iman Kristen sejati. Biarlah kuasa kebangkitan Kristus ini menjadi kekuatan bagi kita dalam melangkah di tengah dunia yang gelap ini dengan demikian kita tidak mudah digoyahkan oleh berbagai tekanan dunia tapi kita justru menjadi pemenang dan menjadi terang bagi dunia yang gelap. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

12 September 2008

Perspektif Kristen Mengenai Waktu dan Aplikasinya-1: WAKTU DAN KEDAULATAN ALLAH

Perspektif Kristen Mengenai Waktu dan Aplikasinya-1:
WAKTU DAN KEDAULATAN ALLAH

oleh: Denny Teguh Sutandio




Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Mzm. 90:12)

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
(Ef. 5:16)



PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Apa itu waktu? Masalah waktu adalah masa urgen yang dirasakan oleh semua manusia. Semua manusia yang hidup di dunia pasti memiliki waktu. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah apa yang mereka mengerti mengenai waktu dan bagaimana mereka mempergunakan waktu tersebut. Dunia postmodern mengajarkan pragmatisme, di mana segala sesuatu dilakukan dengan semangat semaunya sendiri. Hasilnya, manusia postmodern kurang mengerti definisi waktu dengan tepat dan menggunakannya dengan bertanggung jawab. Tidak heran, banyak orang menghambur-hamburkan waktunya untuk melakukan sesuatu yang kurang bermanfaat bahkan tidak bernilai. Ketidakmengertian mereka akan waktu dan bagaimana memanfaatkan waktu dilatarbelakangi oleh ketidakmengertian mereka akan konsep nilai. Jika mereka mengerti konsep nilai, mereka akan mengerti salah satu pewujudnyataan nilai itu di dalam waktu. Mari kita mencoba mengerti apa yang dunia ajarkan tentang waktu, lalu kita akan meninjaunya dari perspektif Alkitab dan aplikasinya di dalam menebus waktu.




KONSEP DUNIA MENGENAI WAKTU
Ada beberapa prinsip mengenai waktu yang dunia ajarkan.
1. Waktu Itu Melingkar
Dunia Timur mengajarkan bahwa waktu adalah melingkar (circular). Manusia yang hidup suatu saat pasti mati, setelah mati, ia akan mengalami reinkarnasi di dalam dunia lagi sesuai dengan jasanya ketika ia dulu masih hidup. Konsep ini mengakibatkan orang tidak memikirkan lagi apa artinya pertobatan, kebenaran, dan iman. Mengapa? Karena orang yang berpikiran melingkar pasti malas bertobat, karena toh, di kesempatan mendatang, ia bisa “bertobat.”


2. Waktu Adalah Uang
Konsep dunia Barat mengajarkan bahwa waktu adalah uang (time is money). Konsep ini mengajarkan bahwa waktu itu sama berharganya dengan uang. Konsep ini dilatarbelakangi oleh jiwa materialisme dari dunia Barat yang mengukur segala sesuatu dari asas manfaat (utilitarianisme). Seseorang melakukan segala sesuatu setelah ia mengukur bahwa yang ia lakukan itu “bermanfaat” (dalam arti: menguntungkan). Jika tidak bermanfaat, ia tidak akan mengerjakannya. Oleh karena itu, tidak heran, waktu dipersamakan dengan uang. Manusia tentu tidak mau membuang-buang uang, makanya jangan pernah membuang-buang waktu. Konsep ini sebenarnya adalah konsep yang rendah, karena waktu dipersamakan dengan benda materi, padahal waktu lebih bernilai ketimbang uang. Inilah kegagalan pola pikir Barat dan “Kristen” yang dipengaruhi utilitarianisme.


3. Waktu adalah Kesempatan
Konsep ketiga mengenai waktu yaitu waktu adalah kesempatan. Konsep ini lebih agung sedikit dari dua konsep pertama, karena konsep ini mengajarkan kepada kita bahwa di dalam setiap waktu selalu ada kesempatan. Di dalam kesempatan itu, kita harus mengejar dan mendapatkan sesuatu yang bernilai, dan memberikan/melakukan sesuatu yang bernilai kepada orang lain. Tidak heran, ada pepatah mengatakan, “Jangan buang-buang kesempatan.” Konsep ini baik, tetapi tetap memiliki dua kelemahan, yaitu tidak memiliki definisi yang tepat tentang konsep nilai di dalam kesempatan dan juga tidak memiliki konsep yang tepat bagaimana kesempatan itu dikaitkan dengan kedaulatan Allah.




KONSEP ALKITAB MENGENAI WAKTU
Ketika dunia mengajarkan 3 konsep waktu di atas, lalu bagaimanakah konsep Alkitab mengenai waktu? Alkitab mengajarkan beberapa prinsip, yaitu:
1. Waktu adalah Pemberiaan Allah (berkait dengan kekekalan)
Konsep pertama dari Alkitab mengenai waktu yaitu waktu itu sendiri adalah pemberian/anugerah Allah. Di sini berarti ketika Allah menciptakan dunia ini, Ia tentu juga menciptakan waktu di dalamnya. Hal ini terbukti dengan diciptakannya siang dan malam pada waktu penciptaan. Ia yang menciptakan waktu juga adalah Allah yang memelihara dan berdaulat atas waktu. Di sana, ada kaitan yang erat antara waktu di dunia ini yang bersifat sementara dengan kekekalan Allah. Anak Tuhan sejati yang melihat waktu sebagai pertemuan antara kekekalan dengan kesementaraan adalah anak Tuhan yang melihat rencana kekal Allah yang harus dinyatakan di dalam dunia ini. Ia peka melihat kehendak dan pimpinan Allah di dalam setiap waktu. Ketika Allah memimpinnya untuk melayani Tuhan di bidang pekerjaan tertentu, ia akan taat mutlak karena ia percaya bahwa waktu yang ia miliki adalah anugerah Tuhan yang harus dipergunakan HANYA untuk memuliakan Tuhan! Sedangkan orang yang katanya “Kristen” mungkin kelihatannya religius, tetapi sebenarnya hatinya tidak mau taat kepada Tuhan dan firman-Nya. Akibatnya ia tidak akan mempergunakan waktunya untuk Tuhan, tetapi untuk memenuhi ambisi pribadinya atau orangtuanya atau orang-orang yang ia kasihi. Tidak heran, untuk hal-hal yang kurang (bahkan tidak) bernilai, orang-orang seperti ini memiliki banyak waktu, tetapi untuk hal-hal yang bernilai (misalnya, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dll), ia akan mengatakan bahwa ia tidak memiliki banyak waktu. Itu yang terjadi pada beberapa teman saya yang mengaku “Kristen.” Teman saya memiliki banyak waktu untuk membaca buku Rich Dad, Poor Dad dari Robert T. Kiyosaki, di mana dia sudah habis membaca buku itu, tetapi ketika saya tanya, apakah dia sudah habis membaca Alkitab? Dia menjawab: belum. Untuk novel The Da Vinci Code, orang “Kristen” bahkan rela membeli dan membacanya, tetapi bagaimana dengan Alkitab? Untuk membaca surat kabar, selalu ada waktu, tetapi bagaimana dengan membaca dan mempelajari Alkitab? Untuk pergi ke mal, selalu ada waktu, tetapi bagaimana dengan pergi ke gereja? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing, benarkah kita sebagai orang Kristen sudah mengerti konsep bahwa waktu adalah pemberiaan Allah? Lalu, apa aplikasinya dalam kehidupan kita sehari-hari?


2. Waktu Bersifat Linier
Konsep Alkitab kedua mengenai waktu yaitu waktu itu bersifat linier. Berbeda dari konsep dunia Timur mengenai waktu, maka Alkitab mengajar bahwa waktu itu bersifat linier (garis lurus), dari titik Alfa (huruf pertama dalam bahasa Yunani) sampai Omega (huruf terakhir dalam bahasa Yunani). Ini berarti waktu tidak pernah terulang, karena waktu berjalan lurus. Karena tidak pernah terulang, maka sebagai anak Tuhan, kita harus memanfaatkan waktu ini sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai Pencipta waktu. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan tidak menunda pekerjaan yang harus kita kerjakan. Ketika Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa, membaca Alkitab, memberitakan Injil, bersekutu, dll, jangan pernah menunda hal-hal tersebut. Selain itu, di dalam pekerjaan sehari-hari kita, biasakan untuk tidak menunda pekerjaan. Jika kita bisa mengerjakannya sekarang, kerjakanlah sekarang, jangan dikerjakan besok, karena mungkin sekali besok kita tidak bisa mengerjakannya. Begitu juga dengan panggilan Tuhan. Ketika panggilan Tuhan jelas bagi kita di waktu tertentu untuk bekerja di tempat tertentu atau melayani-Nya secara penuh waktu, pada saat itu juga langsung kerjakan, jangan menunda-nunda waktu Tuhan. Jangan menggunakan segudang argumentasi “logis” untuk menolak atau mengundur panggilan Tuhan yang JELAS. Misalnya, ketika kita dipanggil Tuhan menjadi hamba-Nya penuh waktu pada waktu kita menjadi mahasiswa semester 5 di salah satu universitas, jangan pernah menolak panggilan Tuhan yang JELAS itu dengan argumentasi “logis”: “tinggal beberapa tahun lagi lulus.” Ketika kita mencoba melakukan hal itu, kita sudah berdosa, karena kita telah menolak (baik halus atau tidak) panggilan Tuhan yang JELAS bagi kita. Ketika Tuhan mengutus Musa membebaskan Israel, Ia meminta Musa melakukannya sekarang. Ketika Tuhan menyuruh kita melakukannya SEKARANG, jangan pernah berkata: TIDAK! Biarlah kita dan khususnya orangtua Kristen yang beres mengajarkan konsep ini kepada anaknya sehingga dari kecil, anak memiliki kepekaan untuk mengerti pimpinan Allah bagi hidupnya (bukan pimpinan orangtua)! Itulah wujud pertanggungjawaban kita dalam menghargai waktu yang linier yang sesuai dengan kehendak-Nya.




TEBUSLAH WAKTUMU
Kemudian, pertanyaan kita selanjutnya, bagaimana mempergunakan waktu? Kedua nats Alkitab dari Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) di atas memberikan penjelasan kepada kita tentang signifikansi waktu bagi manusia. Di dalam Mazmur 90:12, Musa mengajar kita untuk menghitung hari-hari kita sedemikian, sampai kita memperoleh hati yang bijaksana. Luar biasa, di sini, Musa mengaitkan waktu dengan kebijaksanaan. Ketika seseorang mempergunakan waktunya dengan bertanggung jawab, di saat itu juga, orang itu memiliki kebijaksanaan dalam hatinya. Lebih tajam lagi, Paulus mengatakan di dalam Efesus 5:16 bahwa kita harus mempergunakan (King James Version: redeeming artinya menebus) waktu kita karena hari-hari ini adalah hari yang jahat. Dengan kata lain, kita bukan hanya menghitung hari kita, tetapi kita juga menebus hari/waktu kita. Menebus di sini berarti mengembalikan waktu yang Tuhan ciptakan kepada Tuhan sendiri untuk kemuliaan Tuhan. Mengapa kita harus menebus waktu? Karena hari-hari ini adalah hari yang jahat. Hari yang jahat dan masa yang sukar ditandai dengan orang yang makin mencintai diri dan uang (2Tim. 3:1-2). Jika kita sudah mengetahui dan membaca tanda-tanda zaman, hendaklah kita waspada dan berusaha untuk menebus waktu kita. Bagaimana cara kita menebus waktu? Caranya hanya satu yaitu mengembalikan waktu kita kepada Pencipta waktu yaitu Tuhan. Bagaimana aplikasinya?
1. Utamakan Tuhan dalam Waktu Kita
Memuliakan Tuhan di dalam waktu ditunjukkan dengan bagaimana kita mengutamakan Tuhan dalam setiap waktu kita. Di dalam hidup kita, berapakah waktu yang kita pergunakan untuk Tuhan dan untuk hal-hal lain di luar Tuhan? Sering kali banyak orang “Kristen” lebih banyak mempergunakan waktu untuk hal-hal yang kurang bernilai, misalnya jalan-jalan, dll. Tidak berarti orang Kristen tidak boleh jalan-jalan ke mal, dll. Tetapi yang menjadi inti permasalahannya adalah banyak orang “Kristen” lebih suka mempergunakan waktunya untuk jalan-jalan ketimbang pergi ke gereja. Sehingga tidak heran, konsep mereka sering dicemari oleh konsep dunia yang hedonis, materialis, dan pragmatis. Orang Kristen yang sejati adalah orang Kristen yang bisa membagi waktu dan menempatkan prioritas waktu yang terbanyak untuk Tuhan dan sisanya baru untuk hal-hal sekuler. Di sini, Tuhan mendapat prioritas waktu yang tertinggi dan terbanyak. Adalah suatu keanehan jika orang Kristen tidak memiliki kerinduan untuk lebih dekat dengan Allah. Apalagi lebih aneh lagi jika ada orang “Kristen” yang merasa bersalah ketika ia tidak pergi ke suatu acara tertentu atau telat pergi ke acara tertentu, sedangkan ia tidak merasa bersalah jika tidak pergi atau telat ke gereja. Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing apakah kita sudah menggunakan waktu dengan mengutamakan Tuhan.


2. Belajar Tidak Terlambat
Konsep kedua dari memuliakan Tuhan adalah belajar menghargai waktu dengan tidak terlambat. Budaya ngaret di Indonesia harus kita buang, karena budaya itu tidak memiliki unsur positifnya sama sekali. Orang yang suka ngaret adalah orang yang tidak menghargai waktu, karena baginya, terlambat atau tidak, tidak berarti apa-apa. Kekristenan harus merombak total konsep budaya ini! Jangan pernah ada kata terlambat di dalam kamus Kristen. Artinya, sebisa mungkin kita berusaha mempergunakan waktu kita secara efektif. Misalnya, kita mau pergi ke kantor/gereja pada Pkl. 08.00 WIB. Supaya tidak terlambat, kita usahakan bangun pagi Pkl. 06.00 WIB untuk saat teduh, berdoa, sikat gigi, makan, mandi, dll, lalu pada Pkl. 07.00 WIB kita bisa berangkat, sehingga sampai kantor/gereja, kita tidak terlambat. Mengapa seseorang terlambat? Problemnya terletak pada penyakit malas: malas bangun pagi dan yang paling parah, malas bekerja/pergi ke gereja. Akibatnya, ketika harus menghadiri kebaktian Pkl. 08.00 WIB, mereka berangkat dari rumah Pkl. 07.45 (padahal jarak dari rumah ke gerejanya: 30/45 menit). Lalu, ketika ditegur, mereka beralasan “macet,” padahal alasan utamanya adalah mereka telat berangkatnya. Bagaimana dengan kita? Masihkah kita terlambat? Sebagai orang yang sudah diselamatkan, kita tidak seharusnya terlambat.


3. Meminimalkan Waktu dengan Melakukan Hal-hal yang Bernilai
Konsep terakhir memuliakan Tuhan di dalam waktu adalah meminimalkan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang bernilai. Artinya, belajar mengerjakan sesuatu semaksimal mungkin dengan waktu yang seminimal mungkin. Dalam hal ini, Tuhan Yesus telah memberikan contoh bagi kita. Dalam waktu 3,5 tahun, Ia sudah menjadi berkat bagi ribuan orang Israel dan sekitarnya, sehingga dari 12 rasul-Nya, Kekristenan berkembang pesat sampai sekarang. Tidak ada satu pribadi yang bisa seperti Tuhan Yesus yang dalam waktu singkat mampu mempengaruhi begitu banyak orang bahkan melampaui zaman. Ini berarti Ia memakai waktu seminim mungkin untuk mengerjakan sesuatu yang dahsyat. Bagaimana dengan pekerjaan kita? Bagaimana dengan pelayanan kita? Apakah sebagai orang Kristen yang telah ditebus, kita masih bermalas-malasan dan tidak mau giat bagi Tuhan? Apalagi kita yang masih muda, maukah kita berkomitmen memakai waktu kita ini untuk melakukan hal-hal yang lebih dahsyat lagi bagi Tuhan? Selagi ada waktu, pergunakanlah itu untuk terus memuliakan Tuhan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Amin.



Sebagai bahan studi lebih lanjut mengenai penggunaan waktu dalam perspektif Kristen yang bertanggung jawab, silahkan membaca buku: WAKTU DAN HIKMAT yang ditulis oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong.

11 September 2008

A SEARCH FOR SPIRITUALITY (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

A SEARCH FOR SPIRITUALITY

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
National Reformed Conference 1999 - Wisma Kinasih, Sukabumi



“Latihlah dirimu beribadah (Train yourself to be godly)”
– 1Tim 4:7b –



Pendahuluan
John Naisbitt dalam bukunya, Megatrends 2000, meng­utarakan bahwa salah satu trend menjelang akhir abad XX ini adalah satu ledakan spiritual. Dan ledakan spi­ritual ini sepertinya memang merupakan kenyataan. Ma­nusia berbondong-bondong kembali ke berbagai praktik agamawi. Akibatnya, tepat seperti dikatakan oleh Albin,1 bahwa istilah “spiritualitas” merupakan istilah yang sangat membingungkan tetapi begitu terkenal saat ini.




A. LATAR BELAKANG SEJARAH
Pemikiran tentang “spiritualitas” tidak pernah secara serius dibicarakan di dalam Kekristenan sebagai satu bidang tersendiri, sampai Giovanni Sacramelli (1687-1752), seorang paderi Serikat Jesus, mulai mengkaitkan theologi asketisme dan mistis sebagai suatu ilmu pengetahuan (sains) kehidupan spiritual. Hal ini kemudian semakin berkembang di akhir abad XIX dan awal XX. Tren ini menjadi meluas pada paruhan kedua abad XX, setelah perang dunia II selesai. Tentu bukan tanpa alasan jika kini kita begitu banyak dikitari oleh istilah ini.
1. Mandulnya Modernisme dan Rasionalisme
Ledakan spiritualitas manusia merupakan suatu imbas-balik dari kekeringan spiritual yang manusia alami ketika manusia terjebak di alam rasionalisme. Sejak berkembangnya rasionalisme di abad XVII, manusia berusaha untuk membuang semua yang berbau supranatural. August Comte mengajarkan evolusi agama dengan menekankan bahwa manusia yang masih percaya kepada Allah adalah manusia yang terbelakang atau belum modern. Semakin pri­mitif, semakin banyak Allah yang perlu disembah. Konsep ini menjadikan manusia yang merasa modern dan maju, terpaksa dan harus meninggalkan semua sifat kerohaniannya. Manusia hanya terorientasi kepada hal-hal yang bersifat materi dan duniawi.

Namun, situasi ini justru menyebabkan manusia semakin hari semakin kering. Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang berdaging dan berroh. Ia adalah makhluk jasmaniah dan rohaniah. Ketika manusia hanya mendapat pemuasan jasmaniah, tetapi tidak diberi “makanan” rohaniah, maka perlahan tetapi pasti ia akan kelaparan. Puncak kekecewaan terjadi ketika semua upaya jasmaniah hanya menyebabkan pecahnya perang dunia I dan II. Manusia mulai berhenti untuk mengagungkan semua nuansa jasmaniah, dan mulai mencari hal-hal yang rohaniah, seperti yang dulu pernah mereka alami.

Oleh karena itu, janganlah heran, apabila kita sekarang seolah-olah mendapatkan respon yang begitu manis jika berbicara tentang hal-hal rohani, tidak seperti beberapa puluh tahun yang lalu, ketika manusia masih menganggap alangkah primitifnya orang yang masih bisa percaya kepada Allah. Namun, apakah ini suatu perkembangan spiritualitas yang sejati?


2. Globalisasi dan New Age Movement
Ada hal kedua yang melatarbelakangi gejala ledakan spiritualitas modern saat ini, yaitu globalisasi. Perkembangan komunikasi yang sedemikian hebat di paruhan kedua abad ini, menyebabkan dunia menjadi sedemikian sempit dan seolah-olah tak berbatas lagi. Seseorang bisa pagi hari di Jakarta, sore hari ada di Hongkong, esok sorenya sudah di Honolulu, dan esoknya lagi sudah di New York. Dunia seakan sedemikian sempit. Bukan itu saja, apa yang terjadi di Jerman saat ini, dalam hitungan detik sudah bisa tersiar dan dilihat di seluruh dunia melalui televisi, internet, dan berbagai sarana lainnya. Globalisasi menyebabkan manusia harus dalam waktu yang sangat singkat melihat keberbagaian budaya dari negara dan kultur yang lain. Manusia menjadi terbuka melihat begitu banyak hal yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Pada situasi yang pertama, yaitu manusia di Barat yang sedang kehausan akan spiritualitas yang kering, tiba-tiba kini ditayangkan nuansa Timur yang penuh dengan suasana mistis. Agama-agama Timur yang didominasi oleh aspek mistik begitu menakjubkan mereka-mereka yang selama ini membuang semua hal-hal yang bersifat supranatural. Mereka harus terkejut dan terheran-heran melihat orang yang memotong lidahnya dengan begitu mudah, lalu menempelkannya kembali tanpa ada bekas luka. Atau orang yang mengkaitkan berpuluh-puluh kaitan ke kulit dan dagingnya lalu dengan rantai yang terkait pada kail-kail yang menempel di kulitnya itu, ia menarik sebuah lokomotif. Atau seorang kuda lumping yang dengan lahap memakan pecahan botol dan gelas tanpa terjadi luka sedikitpun.

Maka ada keinginan untuk mengkombinasikan semua bentuk-bentuk praktik mistis ini dengan format rasionalisme Barat yang selama ini mereka pegang. Muncullah apa yang disebut sebagai New Age Movement (Gerakan Zaman Baru).

New Age Movement berusaha untuk mengemas format mistik Timur di dalam pola rasionalisme Barat. Itu alasan format ini kini dengan mudah diterima di tengah kultur Barat yang sebenarnya masih diwarnai oleh format rasionalisme.


3. Spiritualisme Indonesia Modern
Mengapa kita yang di Timur harus berbicara dengan mengacu pada format Barat? Pada hakekatnya, kita tidak bisa memungkiri bahwa iman Kristen kita saat ini masih sangat dangkal pemahamannya. Pada saat kita sebagai orang Kristen harus berhadapan dengan dukun-dukun dan para paranormal yang tradisional, maka lebih mudah kita menolaknya, dengan alasan tidak sesuai atau bertentangan dengan iman Kristen.

Ditambah, situasi pendidikan dan kehidupan praktis masyarakat penentu kebijaksanaan kita sangatlah dipengaruhi oleh budaya Barat. Satu mitos bahwa hal-hal yg berbau Barat sangatlah tinggi, sangat baik, dan perlu diikuti merupakan format yang sangat dominan, baik dalam pendidikan, dalam ekonomi, politik, bahkan kehidupan keseharian.

Namun, dengan masuknya New Age Movement, timbul arus balik, yang mengajak melihat dunia Timur. Ajakan ini juga dari Barat, sehingga kita mau kembali melihat ke kebudayaan kita di Timur. Akibatnya, maka perdukunan, penyembuhan alternatif, paranormal, ramalan nasib, dll. menjadi marak di dunia supra-modern ini. Bersamaan dengan itu, masuk pula berbagai ajaran spiritualisme (baca: spiritisme) yang mengajak orang untuk bermeditasi, out-of-the-body-experience (pengalaman keluar dari tubuh), meditasi transendental dan berbagai format lainnya, yang dikatakan bisa membuat manusia lebih tenang, lebih damai, kurang stress dll.




B. Polaritas Spiritualitas
1. Kerancuan Gagasan Spiritualitas
Ketika manusia membicarakan masalah spiritualitas, maka iman Kristen langsung manyambarnya. Hal ini memang bukan kebetulan, karena iman Kristen yang dipengaruhi oleh Liberalisme abad XVII telah menyebabkan Kekristenan menjadi kering. Namun, terkadang, ide spiritualitas ini tidak dituntaskan, sehingga kehilangan arah. Banyak orang Kristen ketika ditanya tentang apa itu spiritualitas, ternyata tidak mampu menjawab secara unik dari iman Kristen. Jawaban spiritualitas yang diberikan lebih menurut kepada gagasan duniawi atau agama-agama Timur lainnya.

Beberapa gagasan spiritualitas yang ditemukan antara lain: (a) Ide bahwa sebagai orang Kristen kita harus lebih banyak bermeditasi, merenung dan menenangkan diri. Semakin kita menjadi orang yang merasakan damai, tidak mudah marah, itulah orang-orang rohani. Itulah tanda kerohanian kita sedang menapak naik ke tempat yang tinggi. Jika memang itulah ide spiritualitas Kristen, apa bedanya dari iman yang lain, atau bahkan orang Ateis pun bisa melakukan dan sudah/sedang melakukannya. (b) Ide lain seorang berohani baik, adalah ketika ia melakukan berbagai ritual rohani secara kuantitatif. Gagasan ini dijalankan dengan memperbanyak waktu untuk berdoa, berpuasa, kalau perlu retreat pribadi secara berkala, dan berbagai sarana yang dianggap bernuansa spiritual. Mereka yang berdoa dua jam secara nonstop dianggap lebih rohani dari mereka yang berdoa 15 menit. Atau mereka yang berpuasa tiga kali seminggu dianggap lebih rohani dari dari orang yang tidak pernah berpuasa atau berpuasa satu kali satu tahun. Demikian juga, jika ia setiap tahun memakai waktu satu bulan meninggalkan kesibukan kerja atau kuliahnya dengan menyendiri di gunung atau di bukit-bukit doa, dianggap lebih rohani dari mereka yang tidak seperti itu. Maka dalam hal ini praktik atau ritual keagamaan dianggap menjadi ukuran spiritualitas. Format seperti ini disodorkan oleh beberapa tokoh Kristen, seperti Kenneth Hagin dll.

Hal di atas tidak sepenuhnya salah, tetapi jika spiritualitas diukur dari tindakan seperti itu, maka kita akan lebih mirip seperti orang Hindu atau Islam ketimbang Kristen. Di dalam Alkitab, mungkin kita lebih mirip dengan para orang Farisi ketimbang menjadi murid Kristus.

Situasi dan kerancuan pengertian tentang konsep spiritualitas Kristen telah menyebabkan banyak orang Kristen yang tidak tahu lagi bagaimana harus menjadi manusia rohani (The Spiritual Man).


2. Infiltrasi Spiritisme dalam Spiritualitas Kristen
Problematik kedua yang dihadapi oleh orang Kristen adalah tersisipnya filosofi Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) masuk ke dalam Kekristenan.

Seperti telah diungkap di atas, New Age Movement memberikan nuansa mistik kepada dunia modern yang sudah terlalu rasional ini. Akibatnya, Kekristenan mencampur-adukkan antara spiritualitas dengan mistik atau spiritisme.

Mistiksisme atau spiritisme adalah upaya-upaya manusia untuk mendapatkan hubungan dengan dunia roh, agar ia mendapatkan manfaat tertentu bagi hidupnya. Di dalam dunia Timur, praktik mistik merupakan pemandangan sehari-hari. Dengan mudah kita melihat praktik-praktik di mana kita "bermain-main" dengan dunia supranatural. Dari mulai di sekolah kita mengenal jailangkung, lalu kita melihat praktik kuda lumping. Belum lagi kita mengenal debus. Kitapun sering mendengar praktik semedi untuk mendapatkan kekuatan gaib, kekayaan atau bahkan daya penarik seksual untuk menarik lawan jenis yang kita inginkan. Semua praktik ini jika disarikan, rumusnya hanya satu: bagaimana saya berelasi dengan dunia roh agar saya mendapatkan keinginan saya atau hal-hal yang menguntungkan saya. Inilah esensi praktik mistisisme.

Iman Kristen mengajarkan prinsip yang sama sekali berbeda, terbalik 180%. Namun, ternyata praktik Kristen sering kali justru mirip dengan format mistik ini. Ada ajaran Kristen yang mengatakan bahwa kita harus melakukan tindakan-tindakan spiritual tertentu (baca: spiritisme), seperti meditasi, latihan-latihan tertentu agar kita bisa semakin memiliki kuasa ilahi. Kita bisa memiliki kuasa untuk menyembuhkan, untuk meramal (bernubuat), menjadi kaya, bahkan mem­bang­kit­kan orang mati. Itu berarti, spiritualisme sudah disejajarkan atau diidentikkan dengan spiritisme. Tidak heran jika ada orang yang mengatakan: “Saat ini saya melihat banyak sekali praktik dukun Kristen.”

Itu berarti, Kekristenan telah terinfiltrasi dengan praktik mistik. Akibatnya, bagi orang luar yang tidak mengerti perbedaan di dalam Kekristenan, akan melihat bahwa praktik Kristen adalah juga praktik mistik, yang menggunakan berbagai tenaga satanik, seperti tenaga prana, tenaga kundalini dan berbagai tenaga kuasa kegelapan lainnya.


3. Dualisme Spiritualitas
Gejala di atas, telah dengan tanpa disadari mengakibatkan dualisme dalam format Kekristenan modern ini. Disatu pihak, manusia ingin kelihatan rohani dan sepertinya mengejar hal-hal rohani. Mau menjadi manusia rohani. Tetapi dibalik itu, sebenarnya semua praktik kerohaniannya bermuara pada keinginan-keinginan duniawi. Mereka menghendaki keuntungan, manfaat dan kenikmatan duniawi. Jadilah mereka manusia yang sangat duniawi. Jadi inilah dualisme kehidupan spiritualisme modern. Tak terkecuali terjadi juga di banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen yang melakukan praktik Kristen, bahkan kelihatan sedemikian bersemangat, begitu saleh, karena dibelakang itu semua ada keinginan untuk mendapatkan manfaat-manfaat duniawi yang sedang dikejarnya. Ada yang ingin sembuh dari sakit, ada yang ingin kaya, ada yang ingin mendapatkan gadis atau pria pujaannya, dan berbagai upaya lain, termasuk ingin masuk UMPTN atau kerja di kantor tertentu. Maka disini, terlihat, disatu pihak ia ingin dilihat sebagai orang yang rohani, tetapi dilain pihak sebenarnya ia sedang sangat duniawi. Jika Kekristenan tidak mampu memilah permasalahan spiritualitas Kristen ini dengan baik, maka Kekristenan akan mengalami distorsi pengertian dan akan berdampak besar dalam kehidupan dan pelayanan Kristen itu sendiri.




C. SPIRITUALITAS SEJATI (REFORMED SPIRITUALITY)
Lingkup “Spiritualitas Kristen” memang tidak kecil. Kehidupan spiritual itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat kompleks.2 Namun, harus jelas bahwa spiritualitas Kristen adalah “keterlibatan hubungan yang utuh dari suatu pribadi yang utuh kepada Allah Tritunggal yang kudus, yang menyatakan diri-Nya melalui Alkitab. Relasi ini perlu dilihat dari berbagai aspek.
1. Roma 12:1-2
Roma 12:1-2 memberikan kepada kita gagasan tentang salah satu prinsip utama spiritualitas yang sejati. Roma 12 merupakan awal bagian praktis dari kehidupan iman Kristen di dalam pasal 12-16. Paulus memulainya dengan suatu “tuntutan” untuk kita mempunyai “ibadah yang sejati” (true worship).

Jika kita menelusurinya, jelas yang dimaksud oleh Paulus dengan ibadah yang sejati, adalah “mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah.” Di dalamnya ada unsur kehidupan yang praktis, yang beratribut kudus dan yang berelasi penuh dengan ketaatan kepada Allah. Inilah Spiritualitas yang sejati.


2. Kedaulatan Allah dan Spiritualitas
Karena spirtualitas Kristen merupakan relasi yang utuh dan menyeluruh dengan Allah Tritunggal, maka spiritualitas sejati tidak bisa dilepaskan dari kedaulatan Allah. Spiritualitas harus dimulai dari Allah yang adalah Roh. Dialah Sumber dan Titik Final dari seluruh spiritualitas. Allah adalah sumber disiplin, salah satu dari empat hal yang mengkaitkan spiritualitas.3 Berbicara tentang spiritualitas tanpa kembali mengakui akan Allah yang berdaulat atas hidup kita, bukanlah spiritualitas sejati. Justru spiritualitas adalah kembalinya manusia secara utuh berhadapan dengan Allah yang Roh adanya. Dialah Pencipta dan Pemilik hidup kita. Kerohanian yang bertumbuh adalah perjuangan untuk tidak mau berlawanan arah dengan Sang Pencipta. Itulah spiritualitas sejati.


3. Spiritualitas dan Budaya
Salah satu ide spiritualitas yang banyak dipasarkan adalah spiritualitas haruslah lepas dari dunia ini. Semakin rohani seseorang, semakin ia harus menjauh dari dunia, semakin harus jauh dari budaya. Tetapi itu bukanlah spiritualitas sejati.
Alkitab menegaskan bahwa spiritualitas sejati adalah panggilan seseorang hidup bagi Tuhan untuk diutus ke tengah dunia. Ide spiritualitas sejati adalah ide menjadi garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16).

Seorang yang rohani adalah seorang yang mampu menyatakan kemuliaan dan kesucian Allah di tengah dunia. Inilah doa Tuhan Yesus di Yoh. 17. Biarlah kita menjadi duta di tengah budaya. Kristus berdoa: “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran” (Yoh. 17:18-19). Bersifat rohani tidak sama dengan asketis atau hidup melarikan diri dari dunia. Bersifat rohani justru menyatakan kehidupan iman yang taat dan saleh di tengah dunia berdosa. Hidup secara riil di tengah dunia, karena Tuhan mengutus kita masuk kembali ke dalam dunia. Justru kerohanian kita nyata di dalam kuliah kita, di dalam pekerjaan kita, di dalam keluarga kita. Hidup saleh dan hidup rohani adalah hidup praktis di tengah dunia yang riil. Inilah spiritualitas di dalam budaya. Panggilan ini yang menjadikan orang Kristen yang rohani adalah orang Kristen yang semakin mengerti akan panggilan (mandat) budayanya.

Konsep ini merupakan penerobosan yang dilakukan oleh para Reformator ketika menanggapi sikap para imam Katolik yang cenderung untuk hidup mengasingkan diri.


4. Spiritualitas dan Penginjilan
Berbicara tentang spiritualitas bukan berbicara tentang kesombongan akan kesalehan pribadi kita. Spiritualitas, hidup ibadah yang sejati, adalah hidup menjadi saksi bagi dunia. Kesalehan tanpa missi kesaksian dan membawa orang mengenal Allah adalah dosa. Itu berarti kita akan memuarakan semua kesalehan kita pada diri kita sendiri. Maka seluruh spiritualitas tanpa panggilan missi merupakan suatu kejijikan di hadapan Allah.

Tuhan menginginkan seluruh kesalehan hidup kita pada akhirnya boleh membawa kita semakin menjadi saksinya. Hal ini merupakan titik penting di dalam penginjilan.

Pada saat kita memberitakan Injil, jarang sekali orang akan bertanya akan teori keselamatan yang kita sodorkan atau sejauh mana kita mengerti prinsip dan theologi penginjilan kita. Tetapi yang sering terjadi justru orang akan bertanya sejauh mana apa yang kita katakan sudah terbukti di dalam kehidupan kita. Orang ingin melihat kesaksian hidup kita secara nyata. Dan mereka justru ingin melihat sejauh mana kita sungguh taat kepada Tuhan dan sungguh-sungguh menjalankan kebenaran-Nya. Inilah spiritualitas yang sejati.




D. PRACTICAL SPIRITUALITY
1. Worship: The Obedience of the Spirit
Kerohanian sejati adalah kesadaran bahwa roh kita harus taat kembali kepada Roh Allah, sebagai Sumber, Pencipta, Penopang, dan Penghakim dari roh kita. Inilah ibadah yang sejati. Ibadah rohani bukanlah suatu perjuangan untuk mencari kesenangan diri atau kenikmatan duniawi. Ibadah rohani juga bukan suatu gejala katarsis dalam psikologi. Ibadah sejati adalah kembalinya roh kita, taat kepada Roh Allah (Rm. 12:1).
Panggilan ibadah kita adalah panggilan untuk kita semakin taat kepada Tuhan. Semakin rohani, kita bukan semakin mendikte atau memerintah Tuhan. Semakin rohani, semakin kita akan mentaati Allah dan semakin rela dibentuk dan diarahkan oleh Tuhan.


2. Holiness: The Attribute of the Spirit
Spiritualitas praktis yang kedua adalah perjuangan untuk memiliki kualitas rohani seperti yang Allah ke­hen­daki. Firman Tuhan dengan tegas menyatakan: “kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (Im. 11:44-45; 19:2; 1Ptr. 1:16).

Bersifat rohani bukanlah dinyatakan dengan sekadar berapa lama berdoa atau berapa banyak berpuasa (sekalipun itu tidak salah jika dilakukan), tetapi dari seberapa jauh, terjadinya transformasi dalam kehidupan, sehingga kita “lebih pas” menjadi anak-anak Allah yang tidak mempermalukan Dia sebagai Bapa kita. Inilah yang Allah kehendaki dalam spiritualitas Kristen. Allah ingin agar setiap anak-anak-Nya bisa menyatakan sifat-sifat-Nya (yang komunikatif). Seorang bapa sangat sedih apabila anaknya menjadi penjahat atau pezinah yang mempermalukan orang tuanya. Ia akan menghendaki anaknya membawa nama harum bagi keluarga melalui tindakan kehidupannya. Apalagi Bapa di sorga, Sumber segala kebajikan dan kesucian.


3. Meditation: The Relation of the Spirit
Aksi praktis yang ketiga adalah meditasi. Meditasi Kristen haruslah di dasarkan pada keinginan pembangunan relasi ketaatan dari roh kita terhadap Roh Allah. Inilah relasi roh ke Roh. Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mau menyembah Allah, hendaklah ia menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24). Inilah ide utama meditasi. Meditasi bukan usaha menenangkan diri, atau bahkan dalam ide New Age adalah “menyatu dengan Allah dan menjadi Allah.” Meditasi bukan sarana agar kita lebih sakti dan mempunyai berbagai kuasa supranatural. Itu bukanlah ajaran firman Tuhan. Firman mengajar agar melalui meditasi, kita semakin taat kepada Allah, semakin tidak menjadi serupa dengan dunia, semakin memikirkan pikiran Allah, dan semakin hidup dalam kebenaran (Mzm. 119; Mat. 16:21-24).

Meditasi dalam Kekristenan bukanlah mengosongkan diri dan mencari ketenangan diri, lepas dari semua problema. Meditasi dalam Kekristenan adalah membangun relasi dengan Allah dan firman-Nya. Alkitab mengajar kita untuk merenungkan firman Allah siang dan malam. Inilah meditasi Kristen. Inilah pembangunan relasi yang aktif dengan Allah. Itu alasan Tuhan Yesus mengajarkan: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka sekaliannya akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).




Penutup
Iman Kristen adalah iman yang spiritual, bukan sekuler. Sangat perlu memang untuk memelihara keseimbangan antara pengertian rasional, pengajaran doktrin, kehidupan jasmaniah, tetapi perlu juga relasi yang hidup dengan Allah, berdoa, saat teduh atau meditasi Kristen, serta waktu untuk secara pribadi merenungkan firman Tuhan. Diperlukan keseimbangan untuk makanan jasmani kita dan juga makanan rohani kita. Tidak cukup kita memberi makan jasmani kita, sementara kerohanian kita menjadi kering.

Spiritualitas Kristen merupakan bentuk spiritual yang diminta oleh Alkitab. Motivasi dan formatnya berbeda sama sekali dari yang dunia tawarkan dan ajarkan. Adalah kesalahan besar jika kita mencampur-adukkan format spiritualitas Kristen dengan spiritualitas dunia yang berbau mistik dan spiritisme.

Memang perlu disadari bahwa menurut Alkitab relasi spiritual bisa dibangun dengan Allah, tetapi juga dengan setan. Jika kita tidak mampu memilah dengan baik, kita akan mudah terkecoh dan jatuh kepada spiritualitas palsu yang disodorkan oleh setan.

Maka pencarian spiritualitas Kristen perlu dikerjakan dengan kecermatan yang tinggi, khususnya kembali kepada kebenaran firman Tuhan sebagai basis epistemologis bagi iman kita. Tanpa kembali kepada basis Kitab Suci maka pencarian spiritualitas Kristen bagaikan upaya mencari seekor kelinci di tengah rimba raya yang luas. Kemanapun melangkah bisa dianggap sebagai langkah yang benar, tanpa tahu persis di mana kelinci itu sedang berada. Amin.



Bibliografi
Albin, T. R. “Spirituality” dalam New Dictionary of Theology, Sinclair B. Ferguson (ed.). Downers Grove, Illinois: IVP, 1988.
Calvin, John. Calvin: Institute of the Christian Religion., terj. John T. McNeill. Philadelphia: Westminster Press, 1960.
Hulse, Erroll. “Spiritual Disciplines for the Christian Life” dalam Reformation Today, July/August 1999.
Peterson, Eugene H. The Contemplative Pastor. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1989.




Catatan kaki:
1. T. R. Albin. “Spirituality” in New Dictionaryof Theology, hlm. 656.
2. Albin, hlm. 657.
3. Beberapa buku, termasuk Albin, mengungkapkan bahwa spiritualitas merupakan paduan dari empat unsur, yaitu: doktrin, disiplin, liturgi, dan kehidupan.




Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

09 September 2008

SEBERAPA DALAM KITA MENGASIHI-NYA? (Denny Teguh Sutandio)

SEBERAPA DALAM KITA MENGASIHI-NYA?

oleh: Denny Teguh Sutandio



Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
(Matius 22:37)

Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

(1Yoh. 5:2-4)



I. PENDAHULUAN DAN LATAR BELAKANG
Apakah kasih itu? Dunia kita banyak memiliki definisi kasih. Mereka mengajarkan dan menilai kasih/cinta itu hanya sebatas hal-hal fenomenal. Misalnya, jika seseorang memberikan sesuatu kepada pasangan atau teman/rekannya, itulah cinta/kasih. Bahkan tidak sedikit orang Kristen masih memiliki pandangan serupa bahwa kasih/cinta itu adalah sesuatu yang fenomenal sifatnya. Bagaimana pandangan Alkitab sendiri mengenai kasih khususnya berkenaan dengan Allah adalah Kasih?






II. KONSEP ALKITAB MENGENAI KASIH: ALLAH ADALAH KASIH
Kasih pertama kali ditunjukkan oleh Allah yang adalah Kasih (1Yoh. 4:16). Kasih Allah ditunjukkan dengan menciptakan dunia dan manusia ini. Kasih-Nya juga ditunjukkan dengan memelihara ciptaan-Nya. Tetapi dosa mengakibatkan manusia tidak lagi melihat dan merasakan cinta kasih Allah. Dosa mengakibatkan manusia curiga kepada Allah, seolah-olah Allah itu tidak lagi mengasihi mereka dengan memberikan pengecualian untuk tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Kecurigaan itu akhirnya berakhir dengan dikeluarkannya Adam dan Hawa dari Taman Eden. Dari Taman Eden, manusia terus berdosa dan makin tidak menghormati dan mengasihi-Nya. Mengapa? Karena di titik pertama, mereka sudah terlepas dari kasih-Nya. Semakin seseorang terlepas dari kasih Allah, maka orang tersebut tentu tidak mampu mengasihi Allah. Orang yang tidak mengasihi Allah tentu akan mengasihi diri dan hal-hal lain di luar Allah yang mengenakkan. Bagi orang ini, Allah hanyalah pengganggu bagi kebebasannya. Tidak heran juga, peristiwa Menara Babel adalah peristiwa di mana manusia mulai menyingkirkan Allah dengan mendirikan menara yang tingginya sampai ke langit (Kej. 11). Untuk menyadarkan manusia ini, Allah mengacaukan bahasa mereka, sehingga akhirnya mereka terserak. Karena manusia sudah tidak lagi mampu mengasihi Allah akibat dosa, maka tidak ada jalan lain bagi keselamatan manusia, kecuali satu-satunya jalan yang Allah sendiri sediakan, yaitu Allah mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat-Nya, sehingga mereka dapat mengasihi Allah kembali. Penebusan Kristus menjadi satu-satunya teladan penting bagi umat-Nya untuk memiliki Kasih sejati dan mengasihi Allah. Penebusan Kristus mengajarkan adanya kasih yang rela berkorban. Kristus yang adalah Putra Tunggal Allah (Pribadi kedua Allah Trinitas) rela merendahkan diri-Nya menjadi manusia (tanpa meninggalkan atribut Ilahi-Nya) untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa dan membawanya kepada kehidupan kekal (Yoh. 3:16). Kristus yang tidak berdosa rela membuat diri-Nya “berdosa” untuk menyelamatkan manusia berdosa. Kristus yang tidak seharusnya menanggung murka Allah rela menanggung murka Allah demi menyelamatkan manusia berdosa dari murka Allah. Kristus rela mendamaikan Allah yang Mahakudus dengan manusia yang berdosa. Semua itu dilakukan-Nya karena kasih-Nya kepada umat-Nya. Manusia yang sudah diselamatkan oleh penebusan Kristus dan mengalami penebusan itu pasti memiliki suatu kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi atas dorongan Roh Kudus di dalam hati umat-Nya.






III. SEBERAPA DALAM KITA MENGASIHI-NYA
A. Mengasihi Allah
Setelah kita mengetahui konsep Alkitab tentang kasih di mana Allah adalah Kasih, lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita mengasihi Allah?
1. Kita mengasihi Allah dengan totalitas hidup kita
Di dalam Matius 22:37, Tuhan Yesus mengajar bahwa kita harus mengasihi Allah dengan hati, jiwa, dan akal budi kita. Di sini, Ia menyebut: hati, jiwa, dan akal budi. Mengasihi Allah dimulai dari hati kita. Hati berbicara mengenai inti hidup kita. Tuhan Yesus mengajar bahwa segala sesuatu keluar dari hati (Mat. 15:18-19). Ketika hati kita busuk, maka kita berkata hal-hal yang busuk. Oleh karena itulah, di titik pertama, Ia mengajar kita bagaimana hati kita terlebih dahulu harus mengasihi-Nya. Percuma saja, seorang Kristen aktif pergi ke gereja, membaca Alkitab dan buku-buku theologi, berdoa, melayani Tuhan, dll, tetapi hatinya tidak lagi mengasihi Allah. Mereka melakukan syariat-syariat agama, tetapi hatinya menjauh dari Allah, persis seperti yang dilakukan oleh orang Israel. Bacalah peringatan Allah kepada umat-Nya di dalam Yesaya 29:13, “Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” Bagaimana kita bisa memiliki hati yang mengasihi Allah? Kita bisa memiliki hati yang mengasihi Allah ketika hati kita benar-benar diserahkan kepada Allah, sehingga hati kita sinkron dengan hati Allah. Ketika Allah sedih, kita ikut sedih. Ketika Allah bersukacita, kita pun ikut bersukacita. Konsep ini mirip seperti sebuah judul/kalimat lagu rohani kontemporer, “Brikanku hati seperti hati-Mu.” Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki hati seperti hati Allah yang mencintai: kebenaran, keadilan, kejujuran, kesucian, dan kemuliaan (dignitas)? Ataukah hati kita lebih condong kepada setan yang lebih mencintai diri, kejahatan, dusta, kenajisan, dll? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.

Kemudian, setelah hati kita mengasihi Allah, pikiran kita pun perlu mengasihi Allah. Caranya adalah mensinkronkan pikiran kita dengan pikiran Allah, sehingga kita memikirkan apa yang dipikirkan Allah, yaitu: yang baik, menyenangkan Allah (berkenan kepada Allah), dan sempurna (bdk. Rm. 12:1-2; Flp. 4:8).


2. Kita mengasihi Allah dengan mengasihi firman-Nya
Lalu, bagaimana kita mensinkronkan hati dan pikiran kita dengan hati dan pikiran Allah? Cara kedua kita mengasihi Allah adalah kita mengasihi firman-Nya. Firman-Nya menundukkan dan membawa hati dan pikiran kita kepada hati dan pikiran Allah. Dengan mengasihi firman-Nya dengan membacanya, kita beroleh hati dan pikiran yang bijaksana sesuai dengan hati dan pikiran Allah (meskipun tidak 100% sempurna). Pemazmur menyingkapkan bagi kita betapa agung firman-Nya di dalam Mazmur 119. Mari kita menyelidikinya.

Mazmur 119:16, “Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.” Di ayat 24, pemazmur mengatakan, “Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.” Pemazmur bersukacita akan ketetapan-ketetapan-Nya dan bahkan ia tidak akan melupakan firman-Nya. Luapan sukacita ini bisa timbul karena ia mengasihi firman-Nya. Orang yang mengasihi firman-Nya tidak akan pernah melupakan firman-Nya. Ia bahkan menyimpan terus firman-Nya dan menggunakan firman-Nya untuk diaplikasikan di dalam kehidupannya sehari-hari. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengasihi firman-Nya seperti yang pemazmur inginkan dan lakukan ini?

Di ayat 36, pemazmur berucap, “Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.” Bukan hanya menjadi kegemaran pemazmur saja, firman-Nya juga menjadi tambatan hati pemazmur. Ia tidak mau dicondongkan hatinya kepada apa pun termasuk laba, sebaliknya ia hanya mau dicondongkan hatinya hanya kepada peringatan-peringatan-Nya. Firman-Nya menjadi satu-satunya pembimbing jalan hidup pemazmur. Bagaimana dengan kita? Benarkah firman Tuhan (Alkitab) menjadi satu-satunya sumber penuntun hidup kita (dan bukan uang, diri, dll)?

Di ayat 66, pemazmur mengajarkan kepada kita, “Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu.” Bagi pemazmur, firman Allah juga sebagai jalan untuk mendapatkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik (bdk. ay. 104). Pemazmur mengajarkan kepada kita bahwa kita percaya kepada firman-Nya baru setelah itu kita beroleh kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik (bdk. Ams. 1:7a). Mengapa ia bisa menyimpulkan bahwa firman-Nya adalah sumber bijaksana dan hikmat sejati? Karena ia tahu bahwa firman-Nya adalah firman Allah yang tidak bersalah (bdk. ay. 89).

Sebagai kesimpulan, saya akan mengambil ayat 105 sebagai penutup kesimpulan pemazmur tentang betapa agung firman-Nya, yaitu, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Firman-Nya adalah pelita bagi kita kita dan terang yang menerangi jalan kita, sehingga setiap hidup kita mendapat penerangan dan pencerahan terus-menerus di dalam firman-Nya melalui Roh Kudus.

Setelah kita menelusuri sekilas tentang ungkapan sukacita pemazmur akan agungnya firman-Nya, sekarang saya akan membahas tentang bagaimana kita mengasihi firman-Nya. Jangan pernah percaya kepada orang Kristen yang katanya dia mengasihi firman-Nya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, baik hati, pikiran, perkataan, tingkah laku, dan kelakuan mereka tidak sesuai dengan firman-Nya. Lalu, bagaimana kita tahu dan kita mengoreksi diri kita apakah kita benar-benar mengasihi firman-Nya? Ada beberapa prinsip:
a. Mengasihi firman-Nya berarti percaya akan ketidakbersalahan Alkitab dan menjadikan firman-Nya sebagai satu-satunya standar mutlak kebenaran dan kehidupan.
Pertama-tama, seorang yang mengasihi firman-Nya harus mengakui bahwa firman-Nya (Alkitab) itu tidak bersalah. Ini adalah presuposisi iman yang paling penting. Orang yang sudah percaya bahwa firman Tuhan itu tidak bersalah, maka tentu ia akan lebih mengasihi firman-Nya, karena ia percaya bahwa firman-Nya adalah kehendak-Nya baginya. Tidak mungkin ada orang yang berkoar-koar berkata bahwa ia mengasihi firman-Nya, tetapi ia adalah seorang yang curiga akan kebenaran Alkitab. Dengan demikian, jika kita katanya mengasihi firman-Nya, tetapi masih curiga akan kebenaran Alkitab, lebih baik bagi kita untuk membereskan presuposisi iman kita dahulu sebelum terlambat.

Setelah kita percaya akan ketidakbersalahan Alkitab, kita juga perlu menjadikan firman-Nya sebagai satu-satunya standar mutlak kebenaran dan kehidupan. Prinsip Reformasi dari Dr. Martin Luther adalah Sola Scriptura (hanya Alkitab). Berarti, Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran dan kehidupan umat-Nya. Artinya, sebagai standar kebenaran, Alkitab menjadi patokan kita menguji segala doktrin Kristen dan dunia ini. Sebagai standar kehidupan, Alkitab menjadi satu-satunya patokan kita menapaki hidup kita baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pasangan hidup. Tetapi yang sering kali terjadi dengan banyak orang Kristen adalah mereka “sangat memegang teguh” prinsip Sola Scriptura tetapi hanya berlaku untuk masalah doktrin. Ketika sudah menyangkut masalah kehidupan sehari-hari, terutama panggilan Allah di dalam pendidikan, pekerjaan, dan pasangan hidup, mereka tidak lagi memegang Sola Scriptura, tetapi Sola Diri (hanya diri), Sola Orangtua (hanya orangtua), Sola Pacar (hanya pacar), dll. Kehidupan semacam ini adalah kehidupan yang terpecah (fragmented) dan Tuhan tidak suka hidup umat-Nya adalah hidup yang dualisme memisahkan sakral dan sekular. Tuhan menginginkan hidup umat-Nya adalah hidup yang terintegrasi memuliakan-Nya.

b. Mengasihi firman-Nya berarti membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya.
Adalah suatu ketidakmasukakalan (absurditas) jika katanya orang Kristen mengasihi firman-Nya, tetapi kita tidak suka menggali kelimpahan firman-Nya itu. Orang yang tidak suka menggali kelimpahan firman-Nya adalah orang yang sebenarnya tidak pernah mengasihi firman-Nya. Mereka hanya mengasihi firman-Nya yang cocok dengan pola pikir mereka yang humanis dan materialis. Sudah saatnya orang Kristen bertobat dan kembali kepada firman-Nya serta mengasihi firman-Nya. Mengasihi firman-Nya tahap kedua adalah dengan menggalinya. Menggali firman-Nya tentu dengan membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya.
Tahap pertama menggali firman-Nya dengan membaca firman-Nya. Menggali firman Tuhan tidak mungkin bisa dilakukan jika tidak ada keinginan untuk membaca firman-Nya. Membaca firman-Nya bukan hanya di gereja saja, tetapi di dalam kehidupan kita yang rutin setiap hari. Ini adalah tindakan disiplin rohani kita sebagai umat-Nya. Sungguh suatu keanehan jika kita mengaku diri Kristen, tetapi tidak suka membaca Alkitab, melainkan lebih suka membaca koran, majalah, novel, dll. Sungguh suatu keanehan juga jika kita katanya Kristen, tetapi tidak mau meluang waktu untuk membaca Alkitab, sebaliknya selalu ada waktu untuk membaca koran, majalah, novel, dll. Bagaimana dengan kita? Seberapa rindu kita membaca firman-Nya? Kerinduan kita menandakan tingkat kematangan rohani kita. Semakin matang rohani kita, semakin kita rindu membaca firman-Nya.
Tahap kedua menggali firman-Nya adalah mempelajari firman-Nya. Setelah kita membaca, hendaklah kita juga mempelajari firman-Nya. Mempelajari di sini bukan hanya sekadar membaca sambil lalu, tetapi membaca dengan teliti dengan memerhatikan segala aspek di dalam penafsiran Alkitab, misalnya memerhatikan: konteks, latar belakang, perbandingan terjemahan, dll. Di sini, kita membutuhkan studi intensif yang akurat memerhatikan satu ayat yang kita pelajari. Untuk studi ini, kita memerlukan berbagai peralatan (tools), seperti: Konkordansi Alkitab, variasi terjemahan Alkitab (Inggris, Indonesia, Mandarin, dll), Interlinear (Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani), Tafsiran Alkitab yang bertanggung jawab, dll. Semakin kita menggali kedalaman firman-Nya dengan mempelajari Alkitab, semakin kita menemukan banyak berkat yang terkandung di dalamnya. Ini bukan hanya sekadar teori kosong belaka. Saya sudah membuktikannya ketika saya sekali seminggu menggali kekayaan Surat Roma dan secara pribadi saya menemukan banyak berkat yang indah dari penggalian Surat Roma itu yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita cukup hanya membaca Alkitab saja tanpa mau mempelajarinya secara mendalam? Hari ini, biarlah kita bertobat dari penyakit kemalasan kita mempelajari firman-Nya.
Tahap terakhir menggali firman-Nya adalah dengan merenungkan firman-Nya. Mempelajari firman-Nya itu belum cukup, kita dituntut juga untuk merenungkan firman-Nya. Mengapa? Karena jika kita hanya berhenti pada aspek mempelajari firman-Nya, kita menjadikan firman Tuhan hanya sebagai objek penelitian kita, padahal sesungguhnya, firman Tuhan lah yang mengoreksi hidup kita (subjek). Itu sebabnya, mempelajari firman-Nya harus disertai dengan tindakan selanjutnya yaitu merenungkan firman-Nya. Merenungkan adalah tindakan reflektif yang korektif. Setelah kita mempelajari firman-Nya, kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah melakukan apa yang sudah kita pelajari tersebut? Jika kita pikir kita belum melakukannya, maka komitmen apa yang harus kita buat untuk melakukannya? Jika kita sudah melakukannya, biarlah kita pun mengintrospeksi diri kita, dengan motivasi kita melakukannya, apakah sungguh-sungguh memuliakan Tuhan atau hanya ingin menjalankan syariat agama tertentu supaya tidak dihukum? Semua ini kita lakukan sebagai langkah introspeksi reflektif sekaligus korektif yang mempertumbuhkan iman dan kerohanian kita. Spiritualitas yang dipisahkan dari merenungkan firman-Nya adalah spiritualitas yang berbahaya dan tidak ada bedanya dengan spiritisme ala Gerakan Zaman Baru (spiritualitas tanpa ikatan yang benar). Biarlah spiritualitas kita ditumbuhkan dengan mempelajari dan merenungkan firman-Nya, sehingga hidup kita makin memuliakan-Nya.

c. Mengasihi firman-Nya berarti melaksanakan seluruh kebenaran firman.
Bukan hanya membaca, mempelajari, dan merenungkan firman-Nya, sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk melaksanakan seluruh kebenaran firman. Ini adalah tindakan dan bukti terakhir kita benar-benar mengasihi firman-Nya. Adalah suatu keanehan jika kita mengaku diri Kristen dan mengasihi firman-Nya, tetapi itu hanya kita imani dan pelajari saja, tanpa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, wilayah prinsip Sola Scriptura lebih luas lagi. Sola Scriptura bukan hanya berlaku di wilayah doktrinal saja, tetapi di seluruh aspek kehidupan sehari-hari (ada kaitannya dengan poin a). Di poin a tadi kita membahas bahwa mengasihi firman-Nya berarti menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya fondasi bagi kehidupan kita sehari-hari. Maka di poin terakhir ini, kita mengimplementasikan konsep di poin a itu dengan segala konsekuensinya. Misalnya, jika firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus taat mutlak kepada pimpinan Allah di dalam segala sesuatu (bahkan di dalam memilih pekerjaan paruh waktu), tetapi orangtua, teman, pacar, saudara, dll menghalangi kita untuk menaati-Nya, maka kita harus berani TIDAK mematuhi halangan mereka dan kembali tetap taat mutlak kepada pimpinan Allah. Ini berarti Sola Scriptura bukan hanya berlaku di dalam kehidupan sehari-hari saja, tetapi kita aplikasikan dengan tegas tanpa kompromi, meskipun harus menerima aniaya dan tekanan dari pihak luar. Ingatlah, kita harus lebih taat kepada Sumber Otoritas, yaitu Allah dan bukan pada otoritas turunan, seperti: orangtua, pemerintah, guru, dll. Jika kita lebih menaati otoritas turunan ketimbang Sumber Otoritas, kita pun berdosa karena telah menggantikan Sumber Otoritas dengan otoritas turunan yang merupakan manusia yang dicipta, terbatas, dan berdosa (Pdt. Dr. Stephen Tong: created, limited, and polluted).




B. Kerinduan Kita Mengasihi Allah Lebih Dalam Lagi
Setelah kita membahas mengenai bagaimana kita mengasihi Allah, kita merenungkan terlebih dahulu seberapa dalam kita mengasihi-Nya. “Seberapa dalam” mengindikasikan adanya ukuran/tingkat kita mengasihi-Nya. Kita tidak mengasihi-Nya dengan sembarangan, tetapi kita mengasihi-Nya lebih dalam lagi. Hal ini ibarat seorang pria mengasihi pasangan (pacar/istri)nya. Pria mengasihi pasangannya tentu bukan sebatas rutinitas, tetapi ada suatu hati yang ingin mengasihi pasangannya lebih dalam lagi. Artinya, si pria ini mau memberikan yang terbaik kepada pasangannya, misalnya, memberikan apa yang pasangannya sukai.
Bagaimana kita bisa memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi?
1. Kerinduan untuk mengenal Allah lebih dalam lagi
Kita bisa memiliki kerinduan untuk mengasihi Allah lebih dalam lagi ketika kita memiliki kerinduan untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi. Di sini, kasih dikaitkan dengan pengenalan. Di dalam dunia sekuler saja, kita mengetahui bahwa seorang cowok baru bisa mengasihi pasangan (pacar/istri)nya lebih dalam lagi tatkala pria tersebut mengenal pasangannya. Artinya, si cowok ini mengenal pasangannya secara keseluruhan. Misalnya, si cewek suka warna tertentu, maka tentu sebagai pasangannya, si cowok harus mengetahui favorit warna pasangannya. Begitu juga sebaliknya dengan si cewek juga harus mengenal warna favorit apa dari cowoknya. Bukan hanya di dalam hal itu, masing-masing pasangan juga harus mengenal karakter, iman, dll dari pasangannya. Misalnya, cowok pasti mengenal ceweknya yang agak sensitif (mudah marah), begitu juga sebaliknya, cewek pasti mengenal cowoknya yang mungkin penyabar. Itulah yang dinamakan pengenalan. Dunia kita mengenal hal ini dengan baik, tetapi anehnya, justru orang Kristen yang tidak mengenalnya dalam kaitan dengan hal-hal kerohanian. Di dalam hal rohani, kita katanya mengasihi Allah, tetapi ketika kita disuruh mengenal Allah, kita malas. Bagaimana kita mengenal Allah lebih dalam lagi? Ya, jelas, melalui Alkitab, kita mengenal Allah, karena di dalam Alkitab, firman Allah, kita mengenal banyak mengenai Allah yang adalah Mahakudus, Kasih, Mahaadil, Mahabijak, Mahaagung, dll. Nah, masalahnya adalah kita malas membaca Alkitab, sehingga kita tidak mengenal Allah secara penuh, tetapi hanya parsial. Bagaimana kita bisa mengasihi Allah jika kita tidak mengenal-Nya lebih dalam lagi? Kita kalau disuruh melayani Tuhan, kita giat sekali, tetapi kalau kita disuruh belajar firman-Nya, kita malasnya bukan main. Ini tanda kita sebenarnya tidak pernah mengasihi Allah dengan sungguh-sungguh, karena kita maunya melayani-Nya tanpa mau belajar Pribadi yang kita layani. Inilah kegagalan orang Kristen di zaman postmodern, suka menonjolkan diri, tetapi tidak mau belajar/merendah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih suka melayani Tuhan saja ataukah kita lebih suka mengenal Pribadi yang kita layani sambil melayani-Nya sebagai wujud kita mengasihi-Nya? Biarlah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing.


2. Kerinduan untuk menyenangkan hati Allah
Kedua, setelah kita rindu mengenal Allah, selanjutnya kita dituntut untuk menyenangkan hati Allah. Saya akan memberikan ilustrasi. Setelah kita mengenal pasangan kita, kita tentu memiliki kerinduan untuk menyenangkan hatinya. Misalnya, jika pasangan kita menyukai makanan tertentu, kita berusaha menyenangkan hatinya, minimal ikut makan dengannya. Misalnya, jika iman pasangan kita lemah, kita harus menguatkannya. Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Setelah kita mengenal Allah, apa yang kita lakukan kemudian? Pengenalan akan Allah tidak cukup hanya sebatas rasio yang mengerti theologi, tetapi pengenalan akan Allah mencakup tindakan bagaimana menyenangkan hati Allah. Kata “berkenan kepada Allah” dalam Roma 12:2 di dalam bahasa Yunani bisa diterjemahkan sebagai disenangi Allah.1 Uniknya, Roma 12:2 ini dikaitkan dengan ibadah sejati. Ibadah sejati adalah ibadah yang tidak dipengaruhi oleh dunia (secara pasif) dan mengubah pola pikir kita sesuai dengan kehendak Allah yang: baik, berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (secara aktif). Dengan kata lain, bagaimana kita menyenangkan Allah? Kita menyenangkan hati Allah dengan terus berusaha melakukan apa yang Ia inginkan. Alkitab mengajar, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.” (1Yoh. 5:2) Dengan kata lain, kita dapat mengasihi Allah lebih dalam lagi tatkala kita menyenangkan hati-Nya dan kita bisa menyenangkan hati-Nya tatkala kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya. Bagaimana kita bisa melakukan apa yang diperintahkan-Nya?
a. Kerelaan untuk taat mutlak.
Kita bisa melakukan apa yang diperintahkan-Nya dengan pertama-tama kita rela untuk taat mutlak. Apa artinya taat mutlak? Berarti, kita menundukkan diri kita secara mutlak kepada Allah. Menundukkan diri berarti kita patuh dan tidak bertanya apa pun kepada Allah. Menundukkan diri juga berarti mengatakan TIDAK kepada kehendak diri yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari Urkasdim, Abraham taat. Artinya adalah Abraham tidak bertanya apa pun kepada Allah tentang masa depannya ketika ia keluar dari Urkasdim. Mengapa Abraham tidak bertanya apa pun? Karena ia beriman pada dan di dalam Allah. Iman inilah yang mengakibatkan ia berkomitmen menjalankan perintah Allah dengan segala risiko yang harus ia tanggung. Iman yang sama juga terdapat di dalam diri Paulus. Karena iman, ia rela taat mutlak akan pimpinan Allah ke mana pun ia diutus. Paulus tak pernah bertanya risiko yang harus ia hadapi. Hanya satu yang ia lakukan yaitu TAAT. Mengapa para tokoh di Alkitab bisa memiliki ketaatan kepada Allah? Karena mereka yang sudah diselamatkan memiliki komitmen iman untuk terus menyenangkan Allah dengan melakukan perintah-Nya. Bagaimana dengan kita? Ketika firman Tuhan diberitakan baik melalui pembacaan Alkitab maupun di dalam khotbah, bagaimana reaksi kita? Ketika firman Tuhan mengajar kepada kita untuk menyangkal diri dan memikul salib, sudahkah kita siap untuk taat mutlak? Apakah kita masih bertanya dan menimbang untung ruginya kita ketika menyangkal diri? Mari kita introspeksi diri masing-masing: seberapa rindukah kita rela taat mutlak kepada perintah Allah?

b. Kerelaan untuk ditegur dan ingin bertumbuh terus-menerus.
Kita sudah taat mutlak, tetapi mungkin sekali di dalam proyek ketaatan kita, ada hal-hal yang belum kita jalankan atau kita belum taat 100%. Di sini, kita membutuhkan kerelaan untuk ditegur oleh saudara seiman kita dan ingin bertumbuh di dalam iman terus-menerus. Orang yang dewasa TIDAK diukur dari seberapa tinggi pendidikan akademis yang dia peroleh atau seberapa hebat dia menguasai segala sesuatu. Orang yang dewasa diukur dari seberapa dia mau DITEGUR. Orang dewasa yang ketika ditegur, langsung marah-marah, itu membuktikan orang itu sebenarnya masih kekanak-kanakan (childish behavior). Dewasa ini, teguran adalah sesuatu yang “haram.” Di dalam Kekristenan postmodern, ketika ada hamba Tuhan yang bertanggung jawab menegur dosa jemaat/gereja lain yang menyeleweng dari Alkitab, hamba Tuhan itu dicap kurang cinta kasih, “menghakimi,” dll, lalu memakai Matius 7:1 untuk mendukung argumentasinya yaitu perkataan Tuhan Yesus yang mengajarkan agar kita jangan menghakimi. Apakah benar Matius 7:1 mengajarkan agar kita jangan menghakimi? TIDAK! Matius 7:1 memang mengajar bahwa kita jangan menghakimi, tetapi jangan lupa, di ayat 2-5, Tuhan Yesus menajamkan makna di ayat 1 yaitu kita harus menghakimi dengan standar/ukuran yang benar. Artinya, kita jangan menghakimi kesalahan orang, jika kita sendiri memiliki kesalahan yang sama dengan kesalahan orang yang kita hakimi. Misalnya, kita adalah koruptor, lalu kita menghakimi koruptor lain. Itu adalah penghakiman yang tidak adil, karena kita menghakimi kesalahan orang lain, padahal kesalahan kita tidak berbeda dengan kesalahan orang yang kita hakimi. Jika memang “benar” bahwa di Matius 7:1, Tuhan Yesus menyuruh kita untuk tidak menghakimi, mengapa di ayat 15-23, Tuhan Yesus yang sama menghakimi siapa yang sesat dan tidak? Di sini, kita harus mengerti totalitas pengertian Alkitab tentang menghakimi yang benar, bukan dengan motivasi yang sembrono dan tidak bertanggung jawab. Kita menghakimi sesuai dengan ukuran yang benar yaitu Kebenaran Allah, selebihnya kita menyerahkannya kepada Allah (bdk. Rm. 12:19).

Konsep teguran atau/dan penghakiman yang benar ini mengakibatkan kita semakin taat kepada Allah dan semakin rindu bertumbuh. Mengapa? Karena dengan teguran itu, kita disadarkan akan kekurangan kita di dalam proyek ketaatan kita, kemudian kita dibangkitkan kembali hasrat untuk terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus melalui karya Roh Kudus. Roh Kudus bisa memakai teguran dari saudara seiman kita untuk mempertumbuhkan iman kita. Oleh karena itu, jangan sepelekan teguran dari saudara seiman kita. Pikirkanlah baik-baik teguran itu dari perspektif kebenaran Allah. Jika teguran itu benar, terimalah dengan kerendahan hati dan ubahlah seluruh kekurangan kita dengan bantuan Roh Kudus. Sudahkah hati kita terbuka pada teguran Roh Kudus baik secara langsung maupun melalui saudara seiman kita untuk menjalankan perintah-Nya? Pertumbuhan iman dan karakter kita dimulai dari kerinduan kita ditegur.

c. Kerelaan untuk saling menguatkan sesama umat Tuhan.
Setelah kita rela ditegur, selanjutnya kita bukan hanya menerima teguran, tetapi kita pun dituntut untuk menguatkan sesama umat Tuhan lainnya. Di sini, kita membutuhkan satu komunitas hidup (istilah yang saya pinjam dari Pdt. Sutjipto Subeno ketika mengeksposisi Matius: life community­–komunitas hidup). Komunitas hidup adalah komunitas yang saling menguatkan iman dan karakter satu sama lain. Komunitas yang saling menguatkan adalah komunitas yang ingin bertumbuh bersama untuk menjalankan perintah Tuhan. Misalnya, jika kita sudah menjalankan perintah Tuhan tertentu, kita bisa mengingatkan sesama kita yang belum menjalankannya, begitu juga sebaliknya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita sebagai anggota tubuh Kristus mengingatkan dan menguatkan umat Tuhan lainnya ketika mereka berada di dalam jalan yang menyeleweng dari kebenaran?




Setelah kita merenungkan seberapa dalam kita mengasihi-Nya, bagaimana respon kita? Sudahkah kita memiliki kerinduan yang dalam untuk lebih lagi mengasihi Allah dan firman-Nya dengan menaati apa yang difirmankan-Nya? Amin. Soli Deo Gloria.




Catatan kaki:
1 Hasan Sutanto, PBIK Jilid 1: Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hlm. 862.