03 September 2008

Matius 11:5-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-2: Revitalisasi Hidup

Ringkasan Khotbah: 21 Mei 2006
Kristus sebagai Pusat Hidup-2: Revitalisasi Hidup
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 11:5-6


Pendahuluan
Firman Tuhan membukakan realita kebenaran bahwa setiap anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan mengalami aniaya dan tantangan ketika hidup di tengah-tengah dunia berdosa namun Puji Tuhan, kita mempunyai Sang Gembala Agung yang tak membiarkan kita berjalan sendiri. Di saat yang tepat, Dia datang menolong kita. Kristen sejati adalah orang yang mampu mengatasi berbagai kesulitan. Namun ingat, kemampuan itu bukan datang diri sendiri. Kita harus hidup berpusat pada Kristus maka Dia akan memberikan kekuatan dan memampukan kita mengatasi kesulitan yang datang. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu. Pikullah kuk yang Kupasang...sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan“ (Mat. 11:28-30).
Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang sudah mempunyai suatu kepercayaan untuk berubah dan berbalik arah. Realita ini sangat dipahami oleh Yohanes Pembaptis, karena itulah satu-satunya cara adalah mempertemukan para muridnya dengan Kristus, encountering. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi misi Yohanes maka Tuhan Yesus meminta mereka untuk: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat...“ (Mat. 11:4-6). Artinya para murid harus menyaksikan segala pekerjaan Yesus dengan mata kepala mereka sendiri, mereka harus mempunyai pengalaman iman dan dari sana, mereka dapat menyimpukan bahwa Kritus adalah Mesias; Dia yang Diurapi itu adalah Allah yang datang berinkarnasi ke dunia, Kristus adalah Nabi, Kristus adalah Imam, Kristus adalah Raja. Tuhan Yesus juga ingin ketika kita memutuskan hendak beriman pada Dia maka itu disebabkan karena kita telah bertemu secara pribadi dengan Dia dan bukan berasal dari perkataan orang.
Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pertemuan, encountering disini, bukankah murid-murid Yohanes Pembaptis ini pernah bertemu dengan Tuhan Yesus? Jelaslah, pertemuan ini bukanlah sekedar pertemuan biasa. Dalam pertemuan itu, Tuhan memaparkan enam hal: 1) orang buta melihat, 2) orang lumpuh berjalan, 3) orang kusta menjadi tahir, 4) orang tuli mendengar, 5) orang mati dibangkitkan, 6) orang miskin diberitakan kabar baik. Sepintas, orang menganggap apa yang dikatakan Yesus ini adalah hal yang biasa menyangkut pekerjaan-Nya. Ternyata tidaklah demikian, keenam urutan tersebut tidak dapat dibolak balik. Enam aspek tersebut sifatnya progresif – setahap demi setahap membawa orang sampai pada pengenalan akan Kristus. Yang menjadi pertanyaan adalah apa kaitan antara keenam hal di atas dengan Yesus sebagai Mesias? Perhatikan, ayat ini bukan berbicara tentang orang yang disembuhkan. Mujizat bukan ditujukan untuk orang. Tidak! Tujuan Tuhan melakukan mujizat supaya orang melihat dan mengenal Kristus. Hari ini, orang melihat mujizat di batas fenomena, orang ingin mendapatkan “sesuatu,“ yakni keuntungan diri ketika ia mengikut Kristus. Pemikiran ini sudah ada sejak dulu pada orang Yahudi, yakni orang yang mengaku diri sebagai “orang beragama“ ternyata orientasi religiusnya berpusat pada diri. Konsep yang sama juga ada dalam pemikiran murid Yohanes Pembaptis tak terkecuali murid Tuhan Yesus. Menjelang kematian Tuhan Yesus, para murid masih berebut kedudukan, masing-masing dari mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus.
Diantara sekian banyak orang Yahudi, seharusnya para murid Yohaneslah yang paling memahami kalau Kristus adalah Mesias. Yohanes Pembaptis diperkirakan mendidik muridnya secara intensif kurang lebih selama 6 bulan. Yohanes pasti berulang kali menegaskan bahwa dia bukan Mesias, dia hanyalah seorang pembuka jalan bagi Sang Mesias dan Mesias yang sejati akan datang. Maka semua hal yang terjadi ketika Tuhan Yesus dibaptis dan semua perkataan Yohanes yang menyatakan bahwa ia tidak layak membaptis Yesus bahkan membuka tali kasutnya ia tidak layak, semua itu tidak lepas dari perhatian mereka. Alkitab mencatat, Yohanes meski ada dalam penjara, ia tahu semua hal yang dikerjakan oleh Yesus dan semua informasi itu ia dapatkan dari para muridnya. Memang, mereka belum sepenuhnya memahami pribadi Kristus namun secara tidak langsung, Yohanes mengajak mereka untuk peduli akan satu pribadi Yesus Kristus. Tapi toh, sekalipun mereka menyaksikan semua perbuatan Yesus itu tidak langsung berubah konsep berpikir yang materialis dan humanis. Hari itu, banyak orang yang melihat pekerjaan Yesus bahkan mereka mempunyai pengalaman disembuhkan, mereka termasuk salah seorang dari 5000 orang yang diberi makan dengan 5 roti 2 ikan namun toh semua itu tidak mengubah konsep berpikir mereka. Orang hanya mau mujizat saja tetapi mereka tidak mengerti apa yang menjadi tujuan dari mujizat itu. Tuhan tahu apa yang dalam pemikiran mereka, itulah sebabnya Tuhan menegur dengan keras bahwa mereka mengikut Kristus bukan karena mereka mengerti tanda tapi karena mereka makan dan kenyang. Orang hanya mencari kenikmatan diri semata. Biarlah kita mengevaluasi diri, kita termasuk golongan orang yang hanya mencari kenikmatan diri ataukah kita seorang anak Tuhan sejati?
Di antara berjuta manusia di dunia, orang Kristenlah yang seharusnya paling mengenal Kristus Yesus karena tiap-tiap kali mereka mendengar tentang Firman tapi sayang, orang mengenal hanya secara pengetahuan, knowledge; orang belum pernah bertemu, encountering tak dengan Kristus. Sama halnya dengan orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Kristus, mereka mendapat anugerah dengan mereka melihat dan mempunyai pengalaman bersama Kristus namun hal itu tidak menjadikan mereka seorang murid sejati. Perhatikan, iman Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kristus adalah pusat iman Kristen. Seorang Kristen sejati harus memusatkan hidup pada Kristus dan untuk lebih memahami hal ini kita akan merenungkan kebenaran Firman yang membukakan beberapa aspek:
1. Orang buta melihat
Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan ini menjadi tanda utama dalam iman Kekristenan. Perhatikan, buta di sini bukan sekedar fisik. Pertanyaan penting adalah ketika orang melihat, apa yang dilihat dan bagaimana melihat? Banyak orang berpikir kalau mujizat buta-melihat ini layaknya seperti sebuah mujizat duniawi, yakni celiknya ia dari kebutaan justru semakin membawa orang masuk ke dalam jerat dosa. Tidak! Mujizat sorgawi berbeda dengan mujizat duniawi. Celik dari kebutaan seharusnya membuat orang melihat akan kebenaran; orang menjadi sadar kalau dirinya adalah orang berdosa. Perhatikan, pertama kali Tuhan Yesus hendak mempertobatkan Paulus, Tuhan membutakan mata Paulus terlebih dahulu. Sebelumnya, Paulus dapat melihat namun dia buta. Paulus dapat melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus; Paulus juga melihat semua peristiwa penyaliban Tuhan Yesus; Paulus juga hadir ketika Stefanus dirajam. Secara fisik, mata Paulus tidak buta namun secara rohani, ia buta. Sampai suatu waktu dimana Tuhan membutakan mata Paulus barulah saat itu, mata hatinya menjadi celik. Kebutaan justru membuatnya dapat melihat kebenaran, Paulus mengenal Kristus yang sejati. Inilah mujizat sejati. Merupakan suatu kegagalan fatal kalau orang tidak dapat melihat iman dibalik suatu mujizat, orang seringkali hanya melihat hal-hal duniawi. Sungguh amatlah disayangkan, apa yang seharusnya kita lihat namun kita tidak melihat sebaliknya apa yang tidak boleh kita lihat justru itu yang kita lihat. Inilah dunia berdosa. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita dapat melihat namun sudahkah kita “melihat“? Sudahkah kita mengalami mujizat sejati?
Melalui mujizat orang buta melihat ini, Tuhan Yesus ingin supaya murid Yohanes Pembaptis juga melihat dalam arti “melihat sejati.“ Para murid Yohanes ini melihat semua pekerjaan Yesus bahkan ada diantara mereka yang mempunyai pengalaman bersama Yesus namun mereka buta, mereka tidak melihat bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Allah yang sedang berinkarnasi ke dunia, Yesus adalah Raja atas segala raja. Bagaimana dengan kita, sudahkah mata rohani kita dicelikkan? Mata rohani yang buta akan membuat hidup kita menjadi gelap. Merupakan suatu anugerah bagi murid Yohanes sebab diantara berjuta orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Tuhan Yesus, merekalah yang mendapat kesempatan lebih untuk mengerti tentang siapakah Kristus. Namun untuk dapat melihat Kristus adalah Mesias tetap dibutuhkan anugerah. Tanpa anugerah orang tetap buta meski secara fisik, ia melihat. Begitu juga dengan kita hari ini, diantara beribu manusia, kita yang paling banyak mendapat kesempatan bergereja, kita dapat membaca kebenaran Firman, kita tahu banyak hal tentang Tuhan Yesus namun pertanyaannya adalah apakah semua anugerah yang kita terima ini telah membukakan mata rohani kita? Kita menjadi semakin mengenal Kristus dan kebenaran-Nya dan kita hidup dalam kebenaran.
2. Orang Lumpuh Berjalan
Perhatikan, orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus disini adalah orang yang lumpuh sejak lahir. Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan merupakan mujizat yang merevitalisasi. Dikatakan demikian karena buta dan lumpuh ini membuat orang sulit melakukan berbagai aktivitas. Kebutaan membuat orang tidak dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya, orang kehilangan orientasi. Namun penglihatan itu sia-sia kalau orang tidak dapat berjalan. Maka mujizat kedua yang Tuhan inginkan adalah lumpuh-berjalan dengan demikian setelah kita mengerti kebenaran, kita dapat menjalankan kebenaran itu.
Seperti kita ketahui, struktur tulang orang yang lumpuh sejak lahir pasti mengalami deformasi. Jangankan untuk menopang tubuhnya, untuk bangun dari tilam saja sudah sulit baginya. Namun orang lumpuh ini pasti masih mempunyai pengharapan untuk sembuh. Setiap kali air kolam bergoncang, ia kalah cepat dengan orang lain yang mungkin sakitnya tidak terlalu parah yang hari itu juga berada di tepi kolam. Bayangkan, setelah berpuluh-puluh tahun masa penantian yang panjang itu pastilah ia mulai kehilangan pengharapan untuk sembuh. Di tengah keputusasaan itu, Tuhan Yesus datang dan bertanya: “Maukah engkau sembuh?“ Kalau kita mengandalkan kekuatan manusia maka mustahil orang lumpuh ini dapat berjalan. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk lemah, we are nothing. Di satu sisi, terkadang Tuhan memang sengaja membiarkan kita berjalan sendiri sampai kita menyadari kalau kita bukanlah siapa-siapa maka saat itu, Tuhan bekerja. Kita tidak akan pernah mengalami mujizat kalau kita belum pernah bertemu dengan Tuhan. Orang tidak akan mengalami suatu perubahan dalam konsep kalau ia tidak memandang pada Tuhan.
Mujizat orang lumpuh yang berjalan ini bukan hanya sekedar kesembuhan secara fisik. Mujizat ini merupakan kebangkitan, penerobosan iman, revitalisasi. Adalah benar merupakan suatu mujizat kalau kita menyadari akan dosa, kita mau bertobat, kembali pada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Mujizat ini tidak cukup sampai disana, setelah kita melihat kebenaran dan memandang pada Kristus, kini, saatnya untuk bangun dan bangkit dari kelumpuhan untuk kerja dan hidup bagi Kristus. Hari ini, banyak orang Kristen yang ingin hidup menjalankan apa yang menjadi kehendak Bapa namun sekali lagi, semua itu hanya sebatas keinginan belaka sebab orang tidak mampu menjalankannya karena orang telah dicengkeram dosa sehingga menjadi lumpuh. Orang hanya punya keinginan tapi ia tidak pernah direvitalisasi karena orang belum pernah bertemu Kristus sehingga ia belum dibangunkan dari kelumpuhan. Tuhan ingin kita bangkit dari kelumpuhan.
Iman Kristen bukanlah iman yang lumpuh tetapi iman Kristen haruslah kembali kepada Kristus. Jikalau engkau tawar hati pada masa kesesakan maka kecillah kekuatanmu (Ams. 24:10). Orang Kristen harus berjiwa kuat, tidak mudah berputus asa ketika kesulitan datang. Letak kekuatan itu justru ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan kita menang atas kesulitan itu. Orang yang dalam hidupnya serba nyaman, segala sesuatu diproteksi maka dapatlah dibayangkan ketika kesulitan datang, ia tidak mempunyai daya kekuatan, hidupnya lumpuh. Kita harus melewati beberapa ujian terlebih dahulu barulah kemudian kita dinyatakan naik kelas. Orang yang berhasil melewati berbagai kesulitan akan sangat mudah ketika ia menghadapi kerikil kecil yang menghadang. Hari ini banyak orang Kristen berjiwa kerdil, hanya ingin hidup nyaman dan aman. Bertobatlah, Tuhan ingin orang Kristen untuk bangkit, bangun dari kelumpuhan dan bekerja bagi Dia. Jangan pernah meminta pekerjaan yang sesuai dengan kekuatanmu tapi mintalah kekuatan Tuhan mohon supaya menolong dan memampukan kita untuk menanggung beban yang berat dan menggenapkan rencana-Nya.
Mujizat buta-melihat dan lumpuh-berjalan merupakan kunci revitalisasi iman Kekristenan dan menjadi kekuatan melangkah menghadapi dunia dan segala tantangannya. Biarlah kita merefleksi diri sudahkah kita hidup dalam mujizat sejati sehingga ketika kita memandang pada Kristus, kita melihat kebenaran sejati dan kitapun dibangunkan untuk bekerja menjalankan kehendak-Nya. Biarlah di tengah-tengah dunia yang gelap dan dunia yang lumpuh akibat dosa yang mencengkeram, dunia yang telah rusak moral ini, kita dipakai menjadi saksi-Nya. Adalah tugas kita sebagai orang Kristen menjadi terang di tengah dunia yang gelap dan kita harus pergi mewartakan berita kebenaran sejati di tengah jaman yang sudah kehilangan fokus hidup. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 10:9-11: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-10: Percaya Kepada Kristus-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-9


“Israel” Sejati atau Palsu-10 :
Percaya Kepada Kristus-1

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:9-11


Setelah mempelajari tentang sentralitas Kristus di dalam pembenaran oleh iman di ayat 5 s/d 8, maka kita akan merenungkan tiga ayat (9 s/d 11) berkenaan dengan pengajaran Paulus tentang percaya kepada Kristus pada bagian 1.

Setelah menjelaskan firman iman di ayat 8 yang menunjuk pada Kristus, maka Paulus menjelaskan respon selanjutnya di ayat 9 s/d 11 yaitu percaya kepada Kristus. Seringkali kita sudah banyak belajar theologia khususnya doktrin Kristus (Kristologi), tetapi apakah setelah kita mempelajari doktrin itu, kita sampai pada respon akhir yaitu menTuhankan Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita? Itu adalah suatu komitmen dan keputusan hidup. Hal inilah yang diajarkan Paulus di ayat 9, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Mayoritas Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan “mengaku” dengan kata confess (=mengakui), sedangkan beberapa terjemahan memakai kata say (=mengatakan), knowledge (=mengakui/mengetahui), declare (=menyatakan). Terjemahan yang lebih tepat adalah confess, dan kata ini menggunakan kata kerja aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Kata confess ini berkaitan erat dengan confession (=pengakuan iman). Berarti kita bukan sekadar mengetahui banyak tentang Kristus, tetapi mengaku dengan mulut sebagai suatu pengakuan iman. Kredo itu sangat penting di dalam Kekristenan, tanpa kredo, iman Kristen pasti kacau. Albert Barnes dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan kredo/pengakuan ini sebagai public declaration (pernyataan {kepada} publik), berarti iman kita harus berani dinyatakan secara publik. Jamieson, Fausset and Brown Commentary mengaitkan “mengaku dengan mulutmu” dengan perintah Tuhan Yesus di dalam Matius 10:32, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” dan perkataan Yohanes di dalam 1 Yohanes 4:15, “Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” Tetapi sayangnya, banyak gereja Protestan mainline yang mempertahankan kredo hanya sebagai ucapan mantra yang kosong dan tak berarti, karena berita mimbar di gereja mereka mengajarkan hal-hal yang justru bertentangan dengan kredo yang mereka ucapkan setiap Minggu, seperti mengajarkan tentang “theologia” religionum yang sangat bertentangan dengan Pengakuan Iman Rasuli. Sebaliknya, di banyak gereja Karismatik/Pentakosta, kredo sudah dihilangkan, mengapa? Alasannya sangat pragmatis, “tidak ada ‘roh kudus’”, “terlalu kaku”, “membatasi ‘roh kudus’”, dan alasan-alasan klise lainnya yang tidak berdasar apapun! Sudah saatnya, Kekristenan harus bertobat! Kredo atau pengakuan iman sangat dibutuhkan di segala zaman. Kalau kita mempelajari sejarah penyusunan pengakuan iman, kita memperhatikan bahwa kredo ini disusun untuk melawan bidat-bidat yang menyerang gereja. Pengakuan Iman Nicea disusun untuk melawan bidat Arianisme yang mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu Pribadi (melawan Trinitas). Lalu, apa makna kredo di zaman postmodern yang semakin menggila ini ?
Pertama, kredo sebagai fondasi dasar iman Kristen yang harus dipegang. Di zaman postmodern, ilahnya bukan lagi rasio, tetapi relativisme dan perasaan. Tidak heran, filsuf F. Schleiermacher mengajarkan bahwa agama itu adalah feeling absolute dependency (perasaan kebergantungan mutlak). Filsafat ini diterapkan di dalam banyak Kekristenan kontemporer sekarang dengan dukungan psikologi modern yang atheis. Ketika Kekristenan dan agama hanya sebagai suatu perasaan, maka dengan mudahnya, Kekristenan diruntuhkan dan diserang dengan berbagai bidat. Di zaman postmodern, bidat itu adalah Unitarianisme (bentuk modern dari Arianisme), selain itu ada Sabellianisme dalam bentuk modernnya yang mengajarkan bahwa Allah Trinitas itu bukan keberapaan Allah tetapi kebagaimanaan Allah. Di tengah maraknya bidat yang mengancam Kekristenan, sudah saatnya Kekristenan menegakkan kredo atau pengakuan iman yang melawan semua bidat dan menegakkan iman Kristen kembali di atas dasar Alkitab. Hal ini diimplikasikan di dalam 2 kalimat pertama dalam Pengakuan Iman Rasuli, “Aku percaya...” Ketika 2 kalimat pertama ini diucapkan, berarti itulah iman kita, iman yang eksklusif di tengah zaman postmodern yang mengilahkan segala sesuatu adalah sama, dan iman itu bukan iman yang kosong, tetapi iman yang berdasar dan bertanggungjawab, mengapa ? Karena di dalam Alkitab, kita belajar bahwa iman di dalam Allah Trinitas adalah anugerah Allah, bukan jasa baik manusia yang pura-pura kelihatan “baik”.
Kedua, kredo sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen. Kredo bukan hanya sebagai dasar iman Kristen yang harus dipegang di tengah maraknya bidat dan relativisme di abad postmodern ini, kredo juga berfungsi sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen yang Alkitabiah. Dengan kata lain, kredo sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, baik dalam pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dll. Dengan demikian, adalah anggapan yang sangat tidak bertanggungjawab jika ada orang (dosen/guru) “Kristen” yang mengajarkan bahwa agama/iman dan ilmu tidak ada hubungannya. Anggapan ini jelas sangat tidak Alkitabiah dan jelas melawan Allah (melawan inkarnasi Allahà Allah menjadi manusia, dan juga melawan dwi natur Kristus à Kristus bernatur Ilahi dan manusia) secara tidak langsung. Kredo sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen berarti kredo mempengaruhi, mengawasi, mengkritik, menghakimi dan membentuk seluruh kehidupan Kristen. Misalnya, pada kalimat awal Pengakuan Iman Rasuli dikatakan, “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi”, berarti kita percaya bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Dengan dasar kredo ini, kita membentuk ilmu biologi dan menolak segala bentuk evolusi maupun evolusi theistik yang ditegaskan oleh salah seorang pakar fisika terkemuka di Indonesia dengan ide “mestakung”. Kemudian, dikatakan “dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita, ...” Kredo ini juga mengajar bahwa Kristus adalah Tuhan dan juga Allah, sehingga barangsiapa yang menolak keTuhanan Kristus dan menganggap-Nya hanya sebagai salah satu jalan keselamatan, guru sosial, pendiri agama, dll, ajaran itu harus dinyatakan bidat, karena melawan Pengakuan Iman Rasuli !

Iman bukan sekadar pengetahuan doktrinal atau pengucapan kredo saja, tetapi iman juga menyangkut percaya di dalam hati. Itulah yang diajarkan Paulus di ayat 9b, “percaya dalam hatimu” Kata “percaya” dalam bahasa Yunaninya bisa berarti mempercayakan diri (believe in/entrust) dan kata kerja ini menggunakan bentuk aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Sungguh menarik, kedua kata kerja baik “mengaku dengan mulutmu” dan “percaya dalam hatimu” sama-sama menggunakan bentuk kata kerja aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kata kerja ini bukan tindakan pasif, tetapi tindakan aktif yang meresponi anugerah Allah dan respon ini pun dapat dilakukan karena anugerah Allah yang mendahului respon manusia. Hal ini akan dibahas pada ayat-ayat selanjutnya di bagian setelah ini. Kembali, di ayat 9b, kita belajar bahwa iman bukan sekadar untuk diucapkan, tetapi keluar dari hati yang beriman. Iman adalah masalah hati, bukan sekadar masalah perkataan, penglihatan, pendengaran, dll. Percuma saja, seorang yang mengaku diri Kristen, melayani “tuhan”, ikut sekolah theologia, belajar banyak buku theologia, tetapi dia sebenarnya tidak pernah memiliki iman yang sejati yang keluar dari hati. Paulus sengaja memasukkan unsur hati, karena unsur inilah yang hilang di dalam orang-orang Yahudi. Seperti kita ketahui, orang-orang Yahudi baik Farisi maupun Saduki adalah orang-orang yang belajar Taurat sejak kecil, menghafal Taurat bahkan berani mengajar Taurat. Tetapi sayangnya mereka tidak memiliki hati yang beriman dan mengasihi Tuhan dan firman-Nya. Mereka hanya menghafal dan mengajar Taurat secara rasio, tidak secara hati, akibatnya, Tuhan Yesus menegur mereka sebagai orang munafik (Matius 23). Mereka pintar mengajar orang untuk mematuhi Sabat dan menghukum mereka yang tidak menjalankan Sabat, tetapi di sisi lain, mereka justru berlaku munafik di hari Sabat. Oleh karena itulah, Paulus mengungkit masalah hati yang paling utama, karena dari hati, keluar segala sesuatu, baik perkataan, tindakan, sifat, dll. Hal ini diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 15:18-20a, “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.” Berbicara mengenai masalah hati yang tidak dimiliki oleh orang Yahudi (Farisi dan ahli Taurat), Tuhan Yesus juga berbicara di pasal yang sama di ayat 7-9, “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."” Ketika hati seseorang beres dan murni di hadapan Tuhan, maka seluruh perkataan, tindakan, dll beres dan memuliakan Allah, sebaliknya jika hati seseorang busuk, maka perkataan, tindakan, dll pasti busuk dan menghina Allah. Jangan pernah terkecok dengan slogan-slogan dunia yang lebih memperhatikan hal-hal eksternal ketimbang internal. Tuhan mengajar kita untuk memperhatikan hati, bukan penampilan! Mengapa? Karena Tuhan sudah muak dengan penampilan bahkan penampilan orang-orang yang berjubah agama, tetapi hatinya jauh dari-Nya. Marilah kita periksa hatilah. Sudahkah kita beriman dari dalam hati kita? Ataukah iman kita hanya ditunjukkan di dalam perkataan tanpa disertai hati yang tulus? Mari kita belajar dari pendiri theologia Reformed yaitu Dr. John Calvin yang mengatakan bahwa hatinya dipersembahkan kepada Tuhan dengan tulus dan murni. Itulah iman sejati.

Lalu, kita percaya dan mengaku apa? Di ayat 9c, Paulus mengatakan tentang inti iman, “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Inilah inti iman Kristen yang mutlak TIDAK bisa dijumpai di dalam agama-agama dan filsafat-filsafat lain ! Pertanyaannya, mengapa tiba-tiba Paulus langsung mengajarkan inti iman Kristen yaitu kebangkitan Kristus ? Mengapa ia tidak mengajar tentang inkarnasi, kematian, dll ? Di sini, saya menafsirkan dua alasan penting,
Pertama¸ kebangkitan Kristus adalah peristiwa historis. Ketika kita kembali memperhatikan konteks dan latar belakang penulisan Surat Roma, kita akan belajar bahwa surat ini ditulis kepada orang-orang Yahudi, meskipun juga kepada orang-orang Yunani (dan kepada kita secara tidak langsung). Di dalam kepercayaan Yahudi sejak zaman Tuhan Yesus sampai sekarang, Yesus bukan Mesias, dan mereka menganggap Yesus hanya manusia biasa, sehingga sampai sekarang, orang-orang Yahudi masih menunggu kedatangan Mesias. Mengapa demikian ? Karena mereka melihat Kristus tidak datang seperti (tidak memenuhi) impian mereka, sebagai raja dunia, lengkap dengan senjata dan tentara, dll yang mampu mengusir Romawi yang menjajah Israel. Mereka mengetahui keluarga Tuhan Yesus, mereka juga mengakui kematian-Nya di Golgota, tetapi yang tidak mereka akui adalah kebangkitan-Nya. Tidak heran, ketika Kristus dikabarkan bangkit dari kematian, para imam kepala berunding, menyogok para serdadu dengan mengatakan bahwa Kristus tidak bangkit, murid-murid-Nya yang mencuri mayat-Nya di malam hati ketika para serdadu tidur (Matius 28:11-15). Yang lebih menarik, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberikan judul perikop dalam ayat 11-15 ini adalah “Dusta Mahkamah Agama”. Ketiga kata dalam judul perikop ini sangat unik dan hendak menyatakan bahwa seorang yang berjubah agama pun berani berdusta supaya fitnahannya tentang Kristus terbukti (bahwa Kristus memang mati akibat dosa dan tidak pernah hidup lagi), padahal mereka lah yang mengajarkan agar orang Yahudi melakukan Taurat. Suatu kekonyolan dan kontradiksi paradigma yang aneh. Oleh karena itulah, Paulus mengatakan bahwa inti iman Kristen sejati adalah kebangkitan Kristus. Lalu, mengapa Paulus mengatakan bahwa Allah membangkitkan Yesus ? Apakah berarti Kristus tidak memiliki kuasa sehingga Allah Bapa perlu membangkitkan-Nya ? Itulah tuduhan para penganut Unitarian yang masih menamakan diri mereka “Kristen”. Benarkah demikian ? TIDAK. Di dalam Perjanjian Baru, kita mendapati beberapa ayat Alkitab yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Kristus bangkit, yaitu Roma 15:12, “Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan."” (KJV, “And again, Isaiah saith, There shall be a root of Jesse, and he that shall rise to reign over the Gentiles; in him shall the Gentiles trust.”) dan 1 Tesalonika 4:14, “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (KJV, “For if we believe that Jesus died and rose again, even so them also which sleep in Jesus will God bring with him.”) Dengan kata lain, Yesus dibangkitkan dan Yesus bangkit tidak memiliki signifikansi apapun, karena kedua pernyataan ini dipakai secara bergantian. Memisahkan dua pernyataan ini dengan sengaja membuktikan bahwa kaum Unitarian TIDAK percaya bahwa Alkitab itu satu kesatuan dan tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya.

Kedua, kebangkitan Kristus adalah pusat kehidupan iman Kristen. Iman Kristen tanpa kebangkitan Kristus adalah sia-sia, sebagaimana dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 15:14, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Dengan mengajar bahwa Kristus tidak bangkit, berarti iman Kristen akan rontok. Itulah agenda “penting” yang sedang diluncurkan oleh negara Indonesia dengan dukungan dari agama mayoritas, kaum “theologia” liberal (istilah kerennya “theologia” religionum), dan kroni-kroninya yang sengaja tidak mempercayai kebangkitan Kristus dan menghapus momen Paskah di dalam kalender di seluruh Indonesia, agar iman Kristen direndahkan sebagaimana Kristus direndahkan (mati tanpa bangkit). Kristus yang mati tanpa bangkit BUKANlah berita Injil! Jangan sekali-kali percaya kepada “injil” sosial (social “gospel”) yang telah, sedang dan akan meracuni Kekristenan di abad postmodern! Itu “injil” palsu dan barangsiapa yang memberitakan “injil” palsu selain dari Injil yang diberitakan Paulus tentang kematian dan kebangkitan Kristus, maka orang itu harus dikutuk (baca: Galatia 1:6-8). Jangan mempercayai novel isapan jempol dari si Dan Brown gila Da Vinci Code atau film Jesus Tomb, dll. Mereka semua adalah antikris dan “nabi-nabi” palsu yang kelak akan dihakimi oleh Tuhan jika mereka tidak segera bertobat!

Ayat 9 dijelaskan kembali dan dirangkumkan oleh Paulus dengan ayat 10, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Ayat ini berbicara tentang dua hal.
Pertama, iman berkaitan dan bersumber dari hati. Dari hati, umat pilihan-Nya beriman dan orang yang beriman itu pasti dibenarkan. Kata “dibenarkan” ditafsirkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “menghasilkan status yang dibenarkan.” (hlm 854) Berarti, ketika kita beriman, di saat itupula kita (sudah) dibenarkan dan sudah mendapatkan status yang baru yaitu sebagai manusia baru (ingat, pertobatan dan iman terjadi sebagai respon terhadap kelahiran baru yang dikerjakan Roh Kudus), karena iman kita BUKAN berasal dari kebaikan kita yang memilih Tuhan, tetapi karena anugerah Allah yang telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Dengan kata lain, keselamatan di dalam Alkitab adalah keselamatan BUKAN karena perbuatan baik, tetapi HANYA melalui iman di dalam Kristus saja yang merupakan anugerah Allah. Menolak doktrin pembenaran melalui iman berarti menolak anugerah Allah, dan juga menolak seluruh inti berita Alkitab, serta menjunjung tinggi otoritas manusia yang “baik” di atas Allah. Masih layakkah orang yang menolak doktrin pembenaran melalui iman saja disebut “Kristen” yang berarti pengikut Kristus??!! Tuhan menyelidiki hati kita, apakah masih dijumpai-Nya hati yang beriman ataukah hati kita masih men“tuhan”kan pasangan, harta, kedudukan, dll kita yang lebih “berharga”?

Kedua, iman juga keluar dari hati dan diucapkan di mulut. Pernyataan kedua dalam ayat 10 ini berkata bahwa dengan mulut, orang mengaku dan diselamatkan. King James Version menerjemahkan, “with the mouth confession is made unto salvation.” (=dengan mulut, pengakuan/konfesi dibuat menuju/menghasilkan keselamatan). Terjemahan KJV ini agak lebih baik, karena mengatakan bahwa dengan mulut, keluarlah pengakuan iman menuju (menghasilkan) keselamatan. Ayat 10 ini nanti diulang di ayat 13. Oleh karena itu, mengerti ayat 13 TIDAK boleh dipisahkan dari mengerti ayat 10. Banyak pemimpin gereja yang beraliran Injili dan kontemporer mengkhotbahkan bahwa barangsiapa yang mengaku Yesus Tuhan, dia akan diselamatkan. Ajaran ini sekilas tampak baik, tetapi esensinya tidak bertanggungjawab. Apa arti mengaku Yesus sebagai Tuhan, lalu diselamatkan? Di dalam ayat 10, Paulus menjelaskan bahwa dengan mulut, orang mengaku dan pada saat yang sama, ia diselamatkan, tetapi jangan lupa, pernyataan ini didahului dengan pernyataan bahwa dengan hati, orang percaya dan dibenarkan. Dengan demikian, mulut bukanlah hal yang penting, tetapi hati. Ketika hati sudah benar-benar beriman, maka mulut pasti beres dan memuliakan Tuhan dengan cara memberitakan Injil, menyaksikan Kristus, dll. Berarti, ada korelasi penting antara hati dan mulut. Kedua, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, mengaku Yesus sebagai Tuhan lalu diselamatkan harus dimengerti di dalam latar belakang penulisan Surat Roma, di mana surat ini ditulis oleh Paulus dan ditujukan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penderitaan di Roma yang pada waktu itu ditetapkan suatu perintah bahwa penduduk Roma tidak boleh menyembah siapapun kecuali Kaisar Roma sebagai wujud “allah”. Pada saat itulah, Paulus menguatkan iman orang Kristen bahwa meskipun mereka harus mati karena mengaku Yesus sebagai Tuhan, mereka pasti diselamatkan. Di sini, ada korelasi antara pengakuan secara mulut tentang Kristus sebagai Tuhan dan harga yang harus dibayar (mati). Sayangnya, iman yang banyak dimiliki oleh orang “Kristen” sangat dangkal, tidak keluar dari hati, apalagi dinyatakan keluar melalui mulut kita dengan memberitakan Injil. Bukan hanya malu mengatakan Injil, kita malas dan enggan melakukannya, mengapa? Karena didasari oleh suatu paradigma atheis, “agama dan ilmu tidak ada hubungannya”, maka hampir semua pendidikan di sebuah lembaga pendidikan yang mengaku diri “Kristen” sudah membuang unsur Tuhan di dalamnya dan bahkan sengaja membuang unsur Tuhan, bahkan SENGAJA melarang anak-anak didik atau mahasiswa untuk membahas tentang Tuhan di dalam perkuliahan/pelajaran. Itukah citra diri orang yang mengaku diri “pendidik Kristen” ??!! Maukah kita bertobat dari hal-hal demikian?


Hati yang beriman dan mulut yang mengaku benar-benar bahwa Kristus adalah Tuhan itulah yang layak disebut Percaya di dalam Dia dan di ayat 11, Paulus mengatakan, “Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."” Kalimat “tidak akan dipermalukan” ditafsirkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “tidak akan dipermalukan dan dikecewakan.” (hlm 854) Atau dengan kata lain, barangsiapa yang mempercayakan diri kepada Kristus, ia tidak akan dipermalukan dan dikecewakan. Ayat ini dikutip dari Yesaya 28:16 (bandingkan Roma 9:33), “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” Kata “gelisah” dalam KJV diterjemahkan haste (=tergesa-gesa), dan di dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diterjemahkan “menyerah kalah”. Ketika kita memperhatikan konteks Yesaya 28:16, kita mempelajari bahwa janji TUHAN ini diberikan kepada pemimpin-pemimpin Yerusalem ketika penderitaan datang. Ada perbedaan kata antara Yesaya 28:16 dan Roma 10:11, di mana di dalam Yesaya 28:16 memakai kata “gelisah” dan di Roma 10:11 memakai kata “dipermalukan”. Apakah ini kesalahan pengutipan yang dilakukan Paulus ? TIDAK. Meskipun ada perbedaan kata, tetapi hampir tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan, karena kata “gelisah” dan “tidak dipermalukan” hampir mirip dalam konteks yang sama juga. Di dalam Yesaya, para pemimpin Yerusalem sedang ketakutan dan kebingungan menghadapi penderitaan dan serangan dari bangsa lain, oleh karena itu janji TUHAN menguatkan mereka bahwa dengan percaya (mempercayakan diri) kepada TUHAN, mereka tidak akan gelisah dan bersama-Nya, mereka pasti menang. Di dalam Roma 10:11, ketika umat-Nya sedang menghadapi marabahaya di kota Roma, janji Tuhan tetap berlaku, barangsiapa yang percaya kepada-Nya (Kristus), ia tidak akan dipermalukan dan dikecewakan, artinya mereka tidak perlu gelisah menghadapinya, karena ada Tuhan bersama dan menyertai mereka senantiasa. Dengan kata lain, orang yang mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus tidak akan gelisah, kuatir, dipermalukan dan dikecewakan. Apakah berarti mereka hidup sukses, kaya, berkelimpahan harta, dll? TIDAK! Itu bukan ajaran Alkitab. Maksud dari ayat ini adalah ketika kita dengan segenap hati mempercayakan diri dan iman kita hanya kepada-Nya, di saat itu pula, Tuhan akan menjamin hidup kita : meskipun harus menderita, Ia akan menguatkan kita, meskipun penyakit datang, Ia akan menyembuhkan kita menurut kehendak-Nya atau memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapinya. Hal ini dikatakan baik di dalam Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Di PL, pemazmur menulis di dalam Mazmur 1:1-3, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Di dalam Amsal 3:5-6, firman Tuhan berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Dan di dalam Yeremia 17:5,7, nabi Yeremia berkata, “Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! … Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengajar, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."” (Matius 5:10-12) Berbicara tentang penderitaan yang akan diterima oleh para rasul-Nya (dan juga kita), Tuhan Yesus mengingatkan dan menghibur kita di dalam Matius 10:16-20, “"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Lalu, di dalam pengutusan misi, Tuhan Yesus juga menguatkan para rasul (dan kita juga), “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20) Rasul Paulus di dalam 2 Timotius 1:12 menguatkan Timotius, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Selain itu, di dalam Ibrani 2:18, penulis Ibrani juga mengingatkan kita, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Kekuatan inilah yang menolong dan menguatkan kita di dalam pencobaan dan penderitaan. Meskipun Tuhan tidak pernah menarik penderitaan yang harus dilalui oleh umat pilihan-Nya, Ia tetap memberkati, memimpin dan menguatkan umat-Nya ketika menghadapi penderitaan.

Orang yang mempercayakan diri dan imannya kepada Kristus, ia tidak akan takut lagi, kuatir, cemas, gelisah, malu, kecewa, dll, karena di dalam Kristus, ada pengharapan dan kehidupan sejati yang tidak akan bisa ditemukan di dalam agama, filsafat, kebudayaan apapun.


Hari ini, izinkan saya menantang Anda, jika Anda belum menerima Kristus, saya bertanya, ke manakah arah hidup Anda? Akankah Anda menemui pengharapan dan kehidupan sejati atau justru Anda menemukan jalan buntu yang tak berpengharapan? Sudah saatnya, melalui anugerah Allah, bertobatlah dan terimalah Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat pribadi dalam hidup Anda, maka Anda akan diterima menjadi anak-anak-Nya dan mengalami hidup yang berkelimpahan meskipun harus menghadapi penderitaan dan ancaman. Maukah Anda bertobat dan menerima Kristus ? Amin. Soli Deo Gloria.

01 September 2008

Bagian 13

Manusia: Peta Teladan Allah-13:
Allah Adalah Terang




Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. (1Yoh.1:5)

Yohanes begitu unik karena caranya memberitakan kebenaran dan ketajaman pengertiannya akan berita kebenaran itu. Ia mengatakan ketiga istilah penting ini, yakni: Allah adalah Terang, Allah adalah Kasih, dan Allah adalah Hidup untuk menyatakan Siapa Allah. Bagi Agustinus, mengenal siapa Allah dan siapa diri merupakan dua hal terpenting dalam hidup. Mengapa? Karena kita perlu merelasikan diri kembali dengan sumber eksistensi diri, yaitu Allah. Pemulihan relasi ini hanya dimungkinkan melalui Yesus Kristus, satu-satunya Mediator sejati.

Di hari pertama Allah hanya menciptakan satu hal, yakni terang. Terang merupakan suatu titik permulaan, yaitu titik Alpha. Hari pertama Tuhan memerintahkan terang keluar dan hari terakhir Tuhan menciptakan manusia untuk mempunyai kemungkinan menerima terang. Terang itu begitu penting. Orang yang hidup dalam keadaan tidak terang, hidupnya kabur dan tidak berarah, karena terang membawa kita menuju kepada arah yang benar. Terang menunjukkan apa yang menjadi halangan bagi kita menuju ke Allah. Terang menyatakan kepada kita di mana ada bahaya sehingga kita tidak dirongrong oleh mara bahaya itu.

Tuhan memerintahkan terang keluar dari kegelapan sebagai perintah pertama. Di sini kita melihat dua cara paralel dari Tuhan di dalam penciptaan, yaitu: perkataan Tuhan dan kuasa Tuhan. Perkataan Tuhan mengutarakan keinginan dan rencana Tuhan, kekuatan Tuhan menggenapi dan menyukseskan apa yang direncanakan. Itu sebabnya dalam Lukas 1 dikatakan: “Tidak ada satu kalimat keluar dari mulut Tuhan yang tidak mengandung kuasa adanya.” Dan Yesus Kristus berkata: “Hidup bukan hanya bersandar pada roti saja, tetapi bersandar pada setiap kalimat yang keluar dari mulut Tuhan.” Di sini kita melihat kaitan yang erat sekali, antara kehendak atau rencana Tuhan dengan kuasa Tuhan yang dinyatakan untuk menjadi penopang hidup manusia.

Waktu Tuhan memerintahkan terang keluar dan berada, tidak ada satu detik perbedaan, tidak ada satu kekuatan lain yang bisa menunda, terang itu langsung berada. Ada orang berkata kepada Haydn, “Tolong jangan mengulang-ulang seperti Händel, tetapi nyatakan satu kali saja, bahwa Allah berkata: Jadilah terang dan terang itupun jadilah.” Oleh sebab itu, dalam oratorio The Creation, pada waktu dikeluarkan kata light, volumenya kira-kira dikeraskan 20 kali. Setelah kalimat itu keluar, musik melodinya merupakan satu kekuatan yang luar biasa mengelilingi alam semesta. Waktu overture, sepertinya chaos (kekacauan) itu belum terkupas dan semua kekacauan masih menjadi satu sampai terang itu datang, semua menjadi satu sistem, semua menjadi indah. Saat karya ini dipentaskan, Haydn sendiri sudah tua, tidak menjadi konduktor, hanya sebagai penonton. Setelah dinyanyikan ‚there was light’, Haydn menangis. Dia lupa kalau di dalam konser tidak boleh bicara, dia berdiri dan berkata, “That is not from me, that is from God”, lalu jatuh pingsan. Semua berhenti menyanyi, berhenti bermain musik. Saat itu ada beberapa orang datang untuk menolongnya. Di antaranya, ada satu orang yang pernah menjadi muridnya, tetapi karena tidak puas, ia pergi meninggalkan Haydn, namanya Ludwig van Beethoven.

Ada satu hal yang tidak ada di agama lain: Allah menciptakan terang dan Allah itu sendiri adalah Terang. Manusia berbeda dengan binatang. Tidak ada binatang yang mencari kebenaran, kekekalan, kebijakan, keadilan, dan membicarakan moral. Semua hal itu terkurung di dalam satu wilayah, yaitu terang dari Tuhan. Itu sebabnya di dalam sejarah, orang yang betul-betul berbijaksana mencetuskan satu terang untuk menerangi seluruh kelompok atau seluruh zaman. Orang itu disebut iluminator. Dari Gerika ada Socrates, Plato, Aristotle, Parmenides, Zeno, dan banyak filsuf-filsuf lain. Dari Cina ada Confucius, Mencius, Mozi. Dari Afrika, selain Agustinus dari Hippo di abad ke-4 yang memberikan terang besar, hanya ada Nelson Mandela yang menentang apartheid. Bangsa yang tidak mempunyai otak iluminator adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Maksud dari kegelapan di sini bukan tidak adanya matahari, karena matahari di Afrika lebih terik dari benua lain, tetapi terang yang melampaui terang cahaya materi, terang cahaya pembakaran, atau terang cahaya iluminasi dari bintang-bintang lain. Ada cahaya yang melampaui cahaya dunia fisik. Dalam Westminster Confession ada kalimat: cahaya natural belumlah cukup. Kita memerlukan cahaya supra-natural. Agama, kebudayaan, dan filsafat tidaklah cukup. Sampai pada waktu Yesus datang ke dunia dan berkata, “Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Di dalam ciptaan lama, terang dicipta di hari pertama, dan di dalam ciptaan baru, Yesus datang ke dunia untuk menerangi dunia berdosa ini. Di sini kita melihat urutan yang sama, terang dari Tuhan, lalu penciptaan itu berlangsung. Dalam Yesaya 9:1 dikatakan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Hal ini ditujukan kepada Anak Allah yang turun ke dalam dunia memberikan iluminasi kepada seluruh umat manusia.

Terang dari alam ini tidak cukup. Hal ini disadari oleh seorang murid Socrates, yaitu Diogenes. Dia membawa satu lampu minyak yang dinyalakannya pada siang hari, lalu ia berjalan keliling kota Athena, seperti orang yang mencari sesuatu di malam gelap. Orang mengira dia sudah gila. Ia berkata, “Saya mencari kebenaran, kebajikan, dan orang baik, tapi tidak menemukan.” Betapa kuat dan terangnya matahari tidaklah cukup, sehingga ia perlu memasang sesuatu untuk menambahnya demi mencari kebenaran dan orang baik. Ia mendidik seluruh sejarah agar jangan merasa diri sudah hebat dan memiliki cahaya. Dia tidak tahu bahwa cahaya itu akan tiba di dunia kira-kira 350 tahun kemudian yaitu Yesus Kristus.

Plato berusia 28 tahun saat Socrates, gurunya, dihukum mati. Ia langsung lari dari Athena dan tidak mau kembali hingga 13 tahun kemudian. Plato pergi bukan karena takut mati, tetapi dia berkata, “Aku tidak memberikan kesempatan kedua bagi orang demokratis untuk membunuh orang jenius yang mereka tidak mengerti.“ Saat ini seluruh dunia memuja demokrasi, tetapi banyak yang menyesal memilih presiden berdasarkan demokrasi. Setelah memilih presiden, baru tahu bahwa ia lebih korup dari presiden sebelumnya. Orang yang memakai kuasa demokrasi, percaya bahwa mayoritas yang pasti betul. Tapi Tuhan mengatakan manusia mayoritas berada di dalam dosa, hanya nabi-nabi yang takut kepada Tuhan adalah minoritas yang mengerti kebenaran, itu yang betul. Jadi demokrasi adalah salah satu cara yang terbaik setelah jatuh ke dalam dosa dari umat manusia, tapi belum pernah membereskan secara total dan mutlak kemelut-kemelut dan kesulitan manusia.

Allah adalah Terang dan di dalam Dia tidak ada kegelapan. Tidak ada bayang-bayang. La Tour melukis dengan konsep yang tidak ada pada orang lain, yaitu memakai cahaya dari satu lilin dan selain itu, tidak ada cahaya lain. Cahaya itu menuju ke benda lalu dari terang menuju kurang terang, dari kurang terang menuju gelap, dan terakhir gelap. Hanya dengan satu lilin, ia membuat 3 dimensi melalui pengertian perubahan cahaya sampai bayang-bayang. Lukisan yang baik mengutarakan seribu cerita. Pelukis yang baik tahu bagaimana mengekspresikan baptisan cahaya. Kalau di suatu hutan yang pohonnya ribuan dan mendapat cahaya matahari dari satu arah tertentu, si pelukis harus memikirkan bagaimana melukiskan cahaya matahari menembus semua pohon dari yang paling dekat hingga yang paling jauh dari cahaya. Itu cara merefleksikan cahaya yang persentasinya sedikit demi sedikit berkurang. Seperti ketika menyiram air, bagian terdekat terkena paling banyak, semakin jauh semakin sedikit. Ini namanya baptisan cahaya.

Di lukisan La Tour, kita melihat Maria Magdalena yang memegang sebuah tengkorak sedang membaca Kitab Suci dengan penerangan sebatang lilin dan ada sebuah salib kecil di mana Tuhan Yesus tergantung. Lukisan ini mengatakan bahwa firman Tuhan memberikan hidup kekal kepada saya dan saya harus mengingat bahwa saya adalah seorang yang seharusnya mati. Itu dilukiskan dengan tengkorak. Kita seharusnya berkata, “Tuhan, tolong saya untuk merindukan kekekalan yang dijanjikan Tuhan di sorga karena aku hanyalah seorang yang akan masuk kuburan seperti tengkorak ini.” Lalu Kristus menjembatani. Kita yang seharusnya mati bisa mendapat hidup kekal melalui Kristus yang datang dan mati untuk saya. Inilah cara meditasi.

Di bagian belakang lukisan orang terdapat bayangan besar. Semakin dekat ke terang maka bayangan di belakangnya semakin membesar, semakin jauh dari terang maka bayangannya semakin mengecil. Semakin dekat dengan Tuhan, orang akan semakin sadar betapa besar kegelapan dirinya. Di manakah satu-satunya tempat yang tidak ada bayang-bayang di dalam seluruh lukisan itu? Di bagian terang. Di dalam terang, tidak ada bayang-bayang. Inilah Alkitab. Allah adalah Terang, di dalam Dia tidak ada kegelapan. Tidak ada perubahan dan pembelokan bayangan. Terang mengakibatkan saya memiliki bayang-bayang. Ketika saya bergerak, maka bayang-bayang bertukar tempat. Di dalam Allah tidak ada perubahan bayangan, karena Dia adalah diri Terang itu. Jika kita semakin dekat dengan terang dan akhirnya bersatu dengan terang, maka bayang-bayang pun menjadi hilang. Tuhan mengatakan: “Aku akan menciptakan manusia menurut peta teladan-Ku.” Betapa besar janji-Nya dan betapa menakutkan arti yang sedalam itu. Beranikah kita mengatakan bahwa kita juga adalah terang dunia? Di dalam Yohanes 8:12 dikatakan: “Akulah Terang dunia, dan barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, dan pada akhirnya ia akan menemukan terang kehidupan.” Ia juga berkata di Matius 5:14, “Engkau adalah terang dunia.” Akibat dicipta menurut peta dan teladan Allah, kita harus hidup dalam kesucian, dalam terang, dalam cahaya yang terus menginspeksi dan memberi kita satu iluminasi untuk kita mempunyai arah dan mempunyai keadaan sesungguhnya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Juara olimpiade yang berlari begitu cepat, di dalam kegelapan ia akan berjalan perlahan-lahan. Terang itu penting sekali. Allah adalah Terang. Kalau tidak mau hidup di dalam Tuhan, pasti seumur hidup berada di dalam kegelapan. Berapa banyak pemuda menghancurkan hari depannya hanya karena tidak hidup dalam terang. Berapa banyak pemuda menghancurkan hari depannya karena tidak mau sekolah dan lebih suka bermain-main di dalam kegelapan. Berapa banyak pemuda tidak mau diiluminasi, diterangi, tidak mau mendengar khotbah yang baik, karena dia suka hidup di dalam kegelapan, menghina kebenaran, menghina terang dari atas lalu mengira boleh berbuat segala sesuatu menurut bijaksana yang dikiranya lebih hebat dari yang lain, lalu menghina firman Tuhan. Pemuda-pemudi yang tidak menghormati Tuhan dan tidak menghargai kebenaran, maunya dimanja, akan hidup di dalam kegelapan.

Saudara-saudara, bagaimana dengan dirimu? Sadarkah bahwa engkau dicipta menurut peta teladan Allah? Engkau seharusnya menjadi terang untuk orang lain yang belum Kristen. Engkau seharusnya bersinar kepada pemuda-pemudi lain yang tidak mengenal Tuhan dan membawa mereka kembali kepada Tuhan. Tetapi hidupmu, pikiranmu, kelakuanmu, dan kebiasaanmu sendiri berada di dalam kegelapan. Engkau tidak menyatakan peta teladan Tuhan sehingga engkau menghamburkan waktu dan merusak rencana Allah di dalam dirimu. Sampai kapan engkau menghancurkan hari depanmu? Hari ini biar kita kembali dan berkata kepada Tuhan, “Tuhanku, Allahku, aku dicipta menurut gambar dan rupa-Mu. Aku dicipta menurut Terang-Mu. Kiranya hidupku boleh diterangi oleh Kebenaran-Mu, Firman-Mu, dan dengan demikian aku dapat menjadi terang bagi orang-orang lain.” Maukah Saudara? Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati kita masing-masing. Amin.


Sumber:
http://www.buletinpillar.org/index.php?id=51&tx_ttnews[pS]=1214892000&tx_ttnews[pL]=2678399&tx_ttnews[arc]=1&tx_ttnews[tt_news]=340&tx_ttnews[backPid]=50&cHash=012670e1df

30 August 2008

MRII Bandung: Expository Preaching

Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Bandung
mengadakan:
Reformed Evangelical Expository Preaching

oleh: Ev. Antonius Steven Un, M.Div.
(Master of Divinity–M.Div. dari Institut Reformed, Jakarta)



SURAT KOLOSE
Setiap hari minggu pk. 07.00 atau 09.30
Mulai 14 Sept. 2008

INJIL MARKUS
Setiap hari Rabu, pk. 19.00
Mulai 03 Sept. 2008

di MRII BandungRuko Paskal Hyper Square Blok C 35
Jl. Pasir Kaliki Bandung (022.86060699)

28 August 2008

PENGARUH FILSAFAT NEW AGE TERHADAP PENDIDIKAN DAN UPAYA PREVENSINYA (Denny Teguh Sutandio)

PENGARUH FILSAFAT NEW AGE TERHADAP PENDIDIKAN DAN UPAYA PREVENSINYA*

oleh: Denny Teguh Sutandio



Gerakan Zaman Baru
Ketika di zaman modern orang-orang mengilahkan rasio sebagai sumber kebenaran, maka di zaman postmodern orang-orang mengilahkan perasaan (feeling) sebagai sumber kebenaran. Pengilahan perasaan inilah akar dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang mulai berkembang sejak tahun 1970-80.1 Sumber wikipedia menyebutkan tidak ada definisi formal dari Gerakan Zaman Baru, tetapi beberapa orang mendefinisikan New Age sebagai suatu tindakan seseorang yang mencoba pengajaran-pengajaran dan praktik-praktik dari tradisi-tradisi arus utama dan tambahan, lalu membentuk suatu kepercayaan dan praktik berdasarkan pengalamannya sendiri. Dari definisi non-formil ini, kita mendapatkan gambaran singkat tentang spiritualitas Gerakan Zaman Baru, yaitu adanya penekanan pada pengalaman pribadi. Karena penekanan pada pengalaman pribadi, maka tidak heran spiritualitas Gerakan Zaman Baru sangat digandrungi khususnya oleh kaum muda. Sumber wikipedia menyebutkan sekarang ini, kira-kira 20% orang dewasa Amerika paling sedikit menganut kepercayaan Gerakan Zaman Baru.




Filsafat Gerakan Zaman Baru dan Pengaruhnya di dalam Dunia Pendidikan
Lalu, apa yang diajarkan Gerakan Zaman Baru? Karena Gerakan Zaman Baru merupakan formulasi kepercayaan dan praktik yang didasarkan pada pengalaman pribadi, maka ajaran-ajaran Gerakan Zaman Baru adalah campuran dari berbagai arus pengajaran baik dari agama, filsafat, maupun mistisisme. Prof. James W. Sire, Ph.D. di dalam bukunya Semesta Pikiran: Sebuah Katalog Wawasan Dunia Dasar menyebutkan, “Wawasan dunia Zaman Baru sangat sinkretis dan eklektik. Wawasan dunia ini meminjam dari setiap wawasan dunia utama.”2 Oleh karena itulah, kita akan menyelidiki apa yang diajarkan Gerakan Zaman Baru yang dipinjam dari beragam wawasan dunia.

Berikut adalah filsafat, kosmologi, dan pendekatan Gerakan Zaman Baru (GZB) terhadap agama dan sains yang dikutip dari beberapa sumber:
· Theisme: GZB memercayai adanya ide pantheistik akan Allah, yang ada di dalam semua jalan, termasuk melalui beragam ilah atau politheisme.3
Di titik pertama, GZB mengakui adanya Allah. Tetapi Allah yang dipercayai adalah ilah pantheistik, yaitu ilah-ilah yang banyak dan beraneka ragam serta pantheis. Artinya, para penganut GZB memercayai bahwa tidak ada 1 Allah yang absolut pada diri-Nya, tetapi “Allah” itu termanifestasi di dalam semua manusia. Dengan kata lain, manusia diidentikkan dengan “Allah.” Konsep ini ada yang dipaparkan secara jelas oleh para penganut GZB dan ada juga yang disamarkan. Ide dasarnya adalah kehebatan manusia karena di dalam diri manusia ada kekuatan besar yang sedang tidur dan kekuatan itu harus dibangunkan. Nah, cara membangunkan kekuatan besar itu adalah melalui training motivasi. Training motivasi di dunia postmodern ini sangat laris. Andrie Wongso (seorang Buddhist) terkenal dengan slogannya, “Success is My Right,” Tung Desem Waringin terkenal dengan slogannya, “Dahsyat,” dan Johan Yan (mengaku “Kristen”) terkenal dengan slogannya, “Poor is Sin.” Hampir semua para motivator yang ada baik di Indonesia maupun di luar negeri menganut prinsip tunggal yaitu pantheisme (baik yang dipaparkan secara jelas atau samar-samar). Ternyata, training motivasi ini tidak laku di perusahaan/kantor saja, tetapi juga merambah di dunia pendidikan. Saya sendiri mengamati di sebuah universitas “Kristen” terkenal di Surabaya, sang motivator yang terkenal dengan slogannya, “Success is My Right” diundang. Hal ini tidak usah mengherankan, karena universitas “Kristen” tersebut sudah menjadi atheis terselubung, sehingga GZB dengan leluasa bisa masuk dan memengaruhi semua mahasiswa, dosen, dan civitas akademika yang katanya mengaku “Kristen.” Akibatnya, para mahasiswa, dosen, dll yang ada di universitas tersebut tidak lagi menyadari pentingnya realita dosa, keselamatan, penebusan, dan hidup baru di dalam Kristus. Sehingga tidak heran, meskipun mengaku diri “Kristen,” mereka lebih percaya pada diri mereka sendiri yang hebat, pintar, bergelar akademis, dll, dan tidak lagi mau ditegur dosa atau kesalahan konsepnya jika konsepnya tidak sesuai dengan Alkitab.


· Kehidupan setelah mati: GZB memercayai bahwa kesadaran setelah manusia meninggal itu ada dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Kehidupan setelah kematian itu bisa berupa bentuk roh, reinkarnasi, dan/atau pengalaman dekat kematian (near-death experiences). Mungkin juga ada kepercayaan tentang neraka, tetapi itu berbeda total dari kepercayaan Kristen tentang neraka sebagai penghukuman kekal.4
Meskipun GZB memercayai adanya kehidupan setelah kematian, konsep mereka berbeda dari konsep Kekristenan. GZB memercayai kehidupan setelah kematian berbentuk roh atau seperti penganut Hinduisme dan Budhisme yaitu reinkarnasi. Reinkarnasi percaya bahwa manusia setelah meninggal, jiwa mereka akan kembali lagi ke dunia ini sebelum akhirnya dimurnikan kembali.5 Reinkarnasi bukan hanya berdampak pada dunia spiritualitas saja, tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memercayai paham reinkarnasi biasanya menghasilkan etos kerja yang tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena orang tersebut memercayai bahwa jiwa manusia itu terus berulang (siklis), sehingga kalau pun di dunia ini perbuatan baiknya (termasuk pekerjaan) masih kurang, di dunia akan datang, orang yang sama bisa lebih berbuat baik (bekerja lebih keras), sampai akhirnya jiwanya disempurnakan. Dan lagi, perbuatan/pekerjaan baik yang mereka lakukan pun pasti memiliki motivasi yang tidak baik, yaitu supaya nanti setelah mati, ia bisa lahir kembali dalam rupa yang lebih baik. Selain di dalam pekerjaan, reinkarnasi ini juga berpengaruh pada dunia pendidikan, di mana mahasiswa/siswa yang menganut konsep ini akan menjadi malas belajar, karena mereka percaya bahwa di dunia yang akan datang, mereka bisa belajar lebih giat lagi ketimbang sekarang. Tidak heran, di zaman postmodern ini, banyak mahasiswa (Kristen maupun non-Kristen) yang menganut GZB menjadi mahasiswa pragmatis dan utilitarian.


· Astrologi: GZB memercayai adanya astrologi, horoskop, dan zodiak.6
Kemudian, GZB juga memercayai alam mistis, di mana shio dan bintang memengaruhi kehidupan seseorang, baik pekerjaan, cinta, jodoh, bisnis, dll. Konsep ini diajarkan melalui dua media/sarana. Pertama, media cetak. Di sebuah majalah remaja/acara remaja di TV swasta, konsep GZB ini ditemukan dan konsep ini mau tidak mau akhirnya meracuni para remaja/pemuda untuk lebih memercayai ramalan bintang. Kedua, media verbal/lisan. Ramalan shio, bintang, hari, dll biasanya diajarkan oleh orangtua kuno (pendidikan first decree) pada anak-anaknya, misalnya, malam Jumat Kliwon, setan berkeliaran. Lalu, orangtua tersebut juga mengajar anaknya untuk tidak menikah dengan orang yang shionya Kelinci, karena orang yang shionya Kelinci itu keras, dll. Akibatnya, anak-anak seperti ini ketika bertumbuh menjadi dewasa memercayai hal itu dan akhirnya menerapkan konsep pengajaran itu kepada anak-anak mereka setelah mereka menikah. Dan hal itu terus berlanjut sampai ke cucu, cicit, dan keturunan-keturunannya (meskipun banyak dari mereka mengaku diri “Kristen”). Pendidikan dekrit pertama dari orangtua yang seharusnya mengajar anak-anak dengan pendidikan yang bertanggungjawab dan beriman, sekarang dirusak oleh setan dengan pendidikan mistik yang berpusat pada setan.


· Teleologi: GZB memercayai adanya tujuan dalam hidup. Ini mencakup kepercayaan akan sinkronisitas (synchronicity) yang memiliki makna spiritual, dan mengandung pelajaran spiritual yang mengajar bahwa segala sesuatu secara universal berhubungan dengan Allah, berpartisipasi di dalam energi yang sama. Itulah tujuan kosmis dan kepercayaan bahwa semua keberadaan (entity) bekerja sama menuju tujuan ini.7
Meskipun GZB memercayai adanya tujuan hidup, tujuan hidup tersebut bukan tujuan yang ditetapkan Allah, tetapi tujuan yang bekerja sama bersatu di dalam makro kosmos. Artinya, semua manusia ini adalah mikro kosmos yang pada akhirnya bersatu di dalam makro kosmos. Dengan kata lain, di dalam sebuah makro kosmos tersebut, terdapat beragam mikro kosmos yang berbeda (karena adanya perbedaan pribadi setiap manusia). Jika memang terdapat beragam mikro kosmos yang berbeda di dalam satu makro kosmos, bisakah mikro kosmos memiliki tujuan hidup sejati? Bukankah mikro kosmos ini memiliki tujuan hidup yang tidak jelas (ambigu) karena tidak adanya standar di dalam makro kosmos? Karena ambiguitas dan kekacauan di dalam tujuan hidup, akibatnya, orang-orang yang menganut paham GZB pun memiliki kekacauan arah dan tujuan hidup. Mereka menetapkan sendiri tujuan hidup yang “cocok” dengan kemauannya sendiri. Di dalam dunia pendidikan, hal ini semakin terlihat. Hampir tidak adanya satu guru/dosen Kristen yang mengarahkan anak didiknya untuk menggumulkan tujuan hidupnya menurut kehendak Tuhan, akibatnya anak didik dari kecil dibiarkan sesuka hatinya menetapkan tujuan hidupnya. Dan yang lebih parahnya, para anak didik menetapkan tujuan hidupnya menurut apa yang mereka mau atau apa yang “cocok” dengan selera mereka/orang-orang terdekat mereka baik akibat pengaruh orangtua, teman, saudara, pasangan hidup (pacar), atau penetapan diri sendiri.


· Spiritualitas eklektik: GZB memercayai bahwa setiap orang harus mengikuti jalannya sendiri menuju pada spiritualitas dan tidak mengikuti dogma. Agama-agama dan filsafat-filsafat yang berbeda dari seluruh dunia menawarkan praktik-praktik yang berbeda yang dapat diadopsi oleh orang-orang dalam pencariannya.8
Setelah manusia tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, para penganut GZB diajarkan untuk menentukan tujuan hidup itu semakin kacau yaitu menurut jalannya sendiri dan mengabaikan dogma. Tujuan hidup yang semakin kacau diakibatkan oleh paham universalisme yang menganggap semua agama itu sama saja. Karena semua agama itu sama saja, maka tujuan hidup seseorang itu sama saja. Arti konsep ini ada dua:
Pertama, human-centered life. Penganut GZB diajarkan untuk menentukan tujuan hidup menurut jalannya sendiri, dengan kata lain, mereka diajarkan untuk menentukan tujuan hidupnya sendiri yang berpusat pada manusia. Akibatnya, jika ada orang lain yang mencoba mengusik kelemahan konsepnya ini, mereka akan marah dan mengatakan bahwa orang lain tersebut tidak usah mengurusi hidupnya sendiri (“My business is my business. Your business is your business. My business is not your business. Your business is not my business. So, let us do our own business.”). Tetapi herannya, ketika ada orang lain yang memiliki konsep tujuan hidup yang berbeda dari konsep tujuan hidup para penganut GZB yang self-centered ini, mereka akan ngamuk dan cenderung menghina dengan mengatakan bahwa hari begini tidak usah mengurusi masalah Tuhan segala, yang penting apa yang kita anggap baik, jalankan saja. Dengan kata lain, para penganut GZB tidak mau diusik konsep tujuan hidupnya oleh orang lain, tetapi secara kontradiksi, mereka suka mengusik dan menghina konsep tujuan hidup orang lain yang lebih tinggi. Inilah ketidakkonsistenan konsep GZB. Hal ini juga nampak dalam dunia pendidikan, di mana para anak didik diarahkan untuk terus memikirkan apa yang menjadi cita-cita mereka, bukan apa yang Tuhan kehendaki. Cita-cita mereka ini digenjot dengan training motivasi baik dari guru/dosennya atau mengundang para motivator untuk mengajarkan bahwa cita-cita mereka itu baik dan harus dikembangkan (bukan menurut apa yang Tuhan kehendaki). Hal ini tercermin di dalam falsafah pendidikan Maria Montessori di dalam Sekolah Baby Smile di Surabaya di mana mereka percaya bahwa setiap orang secara moral itu baik, maka pendidikan dimaksudkan untuk membuat anak didik semakin baik.

Kedua, mengabaikan dogma. Orang yang cuek dengan tujuan hidup adalah orang yang mengabaikan dogma. Dogma bagi mereka adalah dogma yang kaku, kolot, otoritatif, dan mengikat. Akibatnya, bagi mereka, ketika dogma dijalankan, mereka tidak bisa bebas lagi. Pengabaian dogma juga berdampak pada dunia pendidikan yang tidak mau diintegrasikan dengan dogma apalagi dogma Kristen. Di dalam dunia pendidikan, hal ini juga nampak. Tidak heran seorang dosen yang mengaku diri “Kristen” di sebuah universitas “Kristen” di Surabaya berani mengatakan bahwa sains dan agama tidak ada hubungannya.


· Anti-Patriarchy: GZB memercayai bentuk feminin dari spiritualitas, termasuk bentuk feminin dari ilah, misalnya Aeon Sophia di Gnostisisme.9
Konsep lain dari GZB adalah munculnya anti kepemimpinan pria atau yang lebih dikenal dengan Feminisme. Meskipun terdapat beragam variasi feminisme, ide dasarnya adalah penyamarataan pria dan wanita di dalam tugas dan kewajiban. Jika pria bisa menjadi presiden, wanita pun berhak menjadi presiden, dll. Hal ini dimulai dari ide Grika tentang adanya ilah yang feminin (dewi) yaitu adanya dewi Aeon Sophia. Gambaran ilah yang agung dijadikan feminin (kewanita-wanitaan), begitu pula hal ini berimplikasi di dalam dunia kita sekarang. Gambaran malaikat yang cowok sekarang digambarkan oleh banyak gereja dengan peran cewek yang feminin. Di dalam dunia pendidikan pun, para pria tidak diajar bagaimana menjadi seorang pria yang berintegritas, bertangungjawab, berbijaksana, dll, sedangkan para wanita diajar bagaimana menjadi wanita yang sopan, lembut, perhatian, dll, tetapi semuanya dikaburkan. Pria dan wanita diajarkan hal yang sama tanpa adanya perbedaan penekanan. Akibatnya, tidak heran, ada seorang wanita yang kelakuannya maskulin (tomboi): tidak sopan, tidak lembut, dll. Tetapi herannya, kalau di angkutan umum, para cewek minta diperhatikan/dikhususkan, misalnya para cowok harus memberikan tempat duduk kepada seorang wanita/ibu. Selain itu, banyak wanita yang menjadi wanita karier adalah wanita yang berintegritas, keras, tegas, dll, seperti layaknya seorang pria, lalu ketika wanita karier ini menjadi seorang istri, ia pun memperlakukan suaminya seperti seorang pegawai.


· Sains (ilmu pengetahuan): GZB memercayai bahwa sains Barat mengabaikan terapi alternatif, seperti parapsikologi, meditasi, dan kesehatan holistik. Bagaimanapun, sains dan spiritualitas akhirnya harmonis. Penemuan-penemuan baru di dalam sains, seperti evolusi dan mekanik quantum (quantum mechanics), ketika secara benar dimengerti, menunjuk pada prinsip-prinsip spiritual.10
Konsep terakhir GZB adalah dimunculkannya hal-hal mistik pada dunia sains/ilmu pasti. Mereka mengajar bahwa sains dan spiritualitas pada akhirnya harmonis dengan pengertian bahwa semua hal sains menuju pada prinsip-prinsip spiritual. Akibatnya, para anak didik di dalam dunia pendidikan tidak lagi memelajari sains yang murni/pasti, tetapi sains yang ambigu/tidak pasti, karena mengandung unsur-unsur spiritual. Tidak heran juga, game-game yang digandrungi oleh anak muda zaman sekarang adalah bergenre virtual reality (realita semu).




Prevensi Kristen terhadap Pengaruh Filsafat Gerakan Zaman Baru di dalam Dunia Pendidikan
Sebagai kritik dan pencegahan Kristen terhadap pengaruh filsafat GZB terhadap dunia pendidikan, saya mengusulkan dua hal yang menjadi doktrin Kristen dan aplikasinya dalam kehidupan Kristen khususnya dalam dunia pendidikan.
1. Allah adalah Pencipta
Kekristenan yang berdasarkan Alkitab percaya bahwa Allah adalah Pencipta dunia beserta segala isinya, termasuk manusia. Alkitab mencatat bahwa Allah menciptakan manusia: laki-laki dan perempuan. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sebagai makhluk ciptaan. Sebagai pribadi yang diciptakan, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. memaparkan konsep yang menarik, yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki “kehendak bebas” (manusia sebagai pribadi) sekaligus manusia yang harus bergantung dan taat mutlak pada Pencipta (yang diciptakan).11 Karena manusia memiliki “kemandirian yang relatif”, maka manusia berhak menentukan hidupnya sendiri termasuk bagi masyarakat. Tetapi ia harus ingat bahwa manusia tetap adalah ciptaan yang harus bergantung pada Allah. Dosa mengakibatkan manusia tidak lagi sadar bahwa dia hanya manusia, sehingga ia ingin menjadi seperti Allah. Itulah sebenarnya konsep GZB bahwa manusia = Allah. Konsep ini harus dicegah dengan cara para guru/dosen Kristen harus kembali mengajar ulang tentang doktrin Kreasionisme/Penciptaan dan Hamartologi/Dosa kepada para anak didik mereka, sehingga mereka tidak lagi berpikiran bahwa manusia = Allah.

Akibat kedua dari dosa tersebut adalah bingungnya identitas diri. Dosa mengakibatkan manusia sendiri bingung akan identitas/jati dirinya sebagai manusia. Manusia pria bingung tentang natur, tugas, dan kewajiban pria, begitu juga dengan wanita. Karena kebingungan ini, secara pragmatis, manusia postmodern segera menyamaratakan semua tugas dan kewajiban baik pria maupun wanita. Manusia menjadi bingung akan jati diri, mengapa? Karena dosa. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of the Faith memaparkan bahwa dosa berarti interpretasi manusia berdosa (yang mengambil alih posisi interpretasi Allah) terhadap dunia ini. Supaya manusia tidak lagi bingung akan jati dirinya, manusia harus disadarkan kembali akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia pria dan wanita yang diciptakan sama namun berbeda dalam fungsi dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Sudah saatnya para pendidik Kristen mengajar dan mendidik para anak didiknya tentang konsep bahwa manusia pria dan wanita itu sama-sama diciptakan Allah dengan dua tugas, peran, dan tanggung jawab yang berbeda yang nantinya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.


2. Allah adalah Sumber Segala Sesuatu
Selain sebagai Pencipta, Allah adalah Sumber Segala Sesuatu. Saya membagikan Allah sebagai Sumber Segala Sesuatu ini menjadi 4 pengertian:
Pertama, Allah sebagai Sumber Kehidupan. Karena sebagai Pencipta, Ia tentu memiliki makna dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Ia adalah Kehidupan. Kehidupan itu telah dinafaskan kepada manusia sehingga manusia yang dari debu tanah menjadi makhluk yang hidup. Tetapi dosa merusakkan semuanya dan akibatnya, manusia yang hidup tidak lagi memiliki makna dan tujuan hidup. Puji Tuhan, Allah mengutus Putra-Nya yang Tunggal, Tuhan Yesus Kristus yang adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yoh. 14:6) untuk memberikan kehidupan sejati yang Allah maksudkan kepada umat pilihan-Nya, sehingga setiap umat-Nya dapat hidup dan bahkan hidup berkelimpahan (bukan dalam pengertian materi) di dalam-Nya (Yoh. 10:10). Penebusan Kristus mengembalikan natur manusia kepada natur yang sesungguhnya yaitu gambar dan rupa Allah, sehingga manusia yang dahulu tak memiliki tujuan hidup akhirnya memiliki tujuan hidup yang pasti, lalu Roh Kudus menyempurnakan hal tersebut sampai kesudahannya. Sehingga tujuan hidup umat pilihan-Nya menjadi jelas dan pasti karena Allah yang telah mencipta, menebus, dan terus menyempurnakan umat-Nya itulah sebagai Sumber Kehidupan. Kehidupan di luar Allah Trinitas adalah kehidupan yang sia-sia, karena kehidupan itu tidak memiliki dasar, makna, dan tujuan hidup yang jelas.

Kedua, Allah sebagai Sumber Hikmat. Karena Ia telah menciptakan dunia ini, maka Ia tentu juga sebagai Sumber Hikmat yang mengatur dunia ini (pemeliharaan/providensi-Nya). Dengan kata lain, semua dunia ini dan pengetahuannya harus bersumber pada Allah sebagai Sumber Hikmat (Ams. 1:7). Semua pengetahuan di luar Hikmat Allah adalah pengetahuan yang sia-sia. Karena kita percaya bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan, maka sudah seharusnya semua orang Kristen yang takut akan Tuhan harus mengintegrasikan setiap doktrin iman Kristen dengan setiap bidang pengetahuan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, bisnis, dll. Artinya, setiap doktrin iman Kristen menjadi sumber, penghakim, penuntun dari semua bidang pengetahuan untuk memuliakan Tuhan. Akibatnya, setiap sains atau bidang pengetahuan lain yang tidak sesuai dengan Alkitab (misalnya yang dipengaruhi GZB) harus dihakimi. Itulah tugas dan peran serta tanggung jawab para pendidik Kristen khususnya ketika mengajar sains (baik: Fisika, Matematika, maupun Kimia) yang dikaitkan dengan iman Kristen yang solid.

Ketiga, Allah sebagai Sumber Pengharapan. Selain Sumber Hikmat, Ia juga adalah satu-satunya Sumber Pengharapan kita. Pengharapan di sini berarti pengharapan di dalam hidup kita. Ketika GZB mencoba menawarkan shio, bintang, dll di dalam horoskop, dll, mereka sebenarnya sedang berusaha menuntun manusia untuk melupakan Tuhan sebagai Sumber Pengharapan lalu berbalik kepada setan dan ramalan manusia yang belum tentu benar. Nah, inilah tugas, peran, dan tanggung jawab para pendidik Kristen dalam mendidik dan mengajar para anak didik bahwa mereka harus berharap hanya kepada Tuhan di dalam seluruh hidupnya, baik jodoh, keuangan, pekerjaan, dll, karena di dalam Dia ada Pengharapan yang pasti, di mana Dia sendiri adalah Allah yang kekal (tidak berubah) yang patut dipercayai.

Keempat, Allah sebagai Sumber Keselamatan. Selain Ia sebagai Sumber Pengharapan, Ia juga sebagai Sumber Keselamatan kita yang pasti. Artinya, kita bisa memiliki pengharapan hidup yang pasti tatkala kita sudah diselamatkan oleh satu-satunya Sumber Keselamatan kita, yaitu Allah Trinitas. Allah Bapa merencanakan keselamatan bagi umat pilihan-Nya di dalam Kristus, Allah Anak (Tuhan Yesus) menggenapi apa yang telah direncanakan Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus menyempurnakan apa yang telah dikerjakan Kristus. Semua karya keselamatan dari Allah Trinitas ini mengindikasikan bahwa Allah yang mencipta juga adalah Allah yang menyelamatkan dan memelihara keselamatan dan hidup umat-Nya, sehingga sebagai umat-Nya, kita tidak perlu kuatir akan kehilangan keselamatan kita. Ia yang memulai keselamatan, Ia pula lah yang pasti menyempurnakan dan mengakhirinya. Haleluya! Berarti, di dalam Kristus, kita memiliki kehidupan setelah kematian, yaitu hidup bersama-sama dengan Kristus di Surga (Yoh. 11:25). Inilah yang tidak dimiliki di dalam konsep GZB tentang kehidupan setelah kematian. GZB hanya memercayai adanya hidup setelah kematian di dalam pengertian siklis dan tidak pasti, bukan dalam pengertian linear dan pasti. Di sini, Kekristenan menjawab semua problematika GZB tentang kehidupan setelah kematian, karena GZB tidak memiliki pengertian totalitas akan kehidupan, sedangkan Kekristenan memilikinya (bdk. konsep Allah sebagai Sumber Kehidupan di poin atas). Nah, kembali, tugas para pendidik Kristen adalah memberitakan Injil di dalam pendidikan kepada para anak didik mereka sehingga dari kecil, mereka disadarkan akan pentingnya kehidupan, hikmat, pengharapan, dan keselamatan yang dikerjakan Allah Trinitas di dalam hidupnya. Sambil menginjili, para pendidik tetap harus berdoa agar Roh Kudus bekerja melahirbarukan dan mencerahkan hati dan pikiran para anak didik, sehingga mereka boleh bertobat sejak dini. Pendidikan Kristen jangan pernah dilepaskan dari penginjilan.




Biarlah, melalui dua prinsip utama prevensi Kristen terhadap pengaruh filsafat GZB di dalam dunia pendidikan boleh menyadarkan kita akan urgensinya peran, tugas, dan tanggung jawab para pendidik Kristen di era postmodern ini. Sudahkah kita siap menjawab tantangan zaman dan menantang zaman postmodern ini dengan kebenaran Alkitab? Amin. Soli Deo Gloria.




Catatan kaki:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age
2. James W. Sire, Semesta Pikiran: Sebuah Katalog Wawasan Dunia Dasar, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Penerbit Momentum, 2005), hlm. 188.
3. http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age
4. Ibid.
5. Gerald O’Collins, S.J. dan Edward G. Farrugia, S.J., Kamus Teologi, terj. I. Suharyo, Pr. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius), hlm. 276.
6.
http://en.wikipedia.org/wiki/New_Age
7. Ibid.
8. Ibid.
9. Ibid.
10. Ibid.
11. Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2003), hlm. 8-9.


* Makalah ini merupakan revisi dari Tugas Paper Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika Matakuliah “Pendidikan dan Pengaruh Filsafat Dunia: Suatu Tinjauan Iman Kristen” yang diajar oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. Makalah ini sudah dikoreksi oleh dosen matakuliah ini (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.).


“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”
(Kolose 2:8)

To search for wisdom apart from Christ means not simply foolhardiness, but utter vanity.
(Dr. John Calvin)

27 August 2008

Matius 11:1-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-1

Ringkasan Khotbah : 07 Mei 2006
Kristus sebagai Pusat Hidup (1)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 11:1-6



Pendahuluan
Matius 11:1 merupakan ayat jembatan maka ayat ini dapat diletakkan di pasal 10 atau pasal 11. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) meletakkannya di pasal 10 tapi Alkitab versi Inggris meletakkan di pasal 11. Namun secara keseluruhan tema dari Matius pasal 11 ini merupakan kelanjutan dari pasal 10 yang telah kita renungkan sebelumnya, yakni seorang pengikut Kristus itu seperti domba di tengah serigala. Perhatikan, Tuhan tidak pernah janji akan memberikan hidup aman, nyaman, tidak ada beban dan kesulitan pada para pengikut-Nya. Tidak! Namun demikian ketika kita menjadi murid Kristus bukan berarti kita akan selalu mengalami kesulitan dan aniaya. Tidak! Atau sebaliknya, menjadi pengikut Kristus, hidup kita selalu aman dan nyaman. Tidak! Melalui Injil Matius 11 ini, Tuhan ingin supaya kita memutar fokus hidup kita pada Kristus, melihat Kristus sebagai Raja maka disitu kita akan mendapat kekuatan dari Tuhan sehingga kita dapat menghadapi dunia yang penuh dengan tantangan.
Dalam menafsirkan ayat harus dikaitkan dengan keseluruhan konteks dengan demikian kita tidak menjadi sesat. Mat. 11:1 jika diletakkan di pasal ke-10 maka orang hanya melihat Kristus sebatas pekerjaan-Nya saja, the work of Christ, yakni sebagai pengajar dan pemberita Injil. Orang terjebak dalam suatu rumusan belaka; orang hanya melihat dan memperdebatkan pengajaran atau doktrin yang diajarkan Kristus dan yang terpenting, yaitu pribadi Kristus justru dihilangkan dari ajaran-Nya. Iman Kristen bukan sekedar ritual atau praktek keagamaan tetapi iman Kristen adalah pribadi Kristus sekaligus semua pengajaran-Nya. Mat. 11:1 lebih tepat jika diletakkan di pasal 11. Dalam bagian ini pengajaran Kristus bukan disoroti ke pengajaran-Nya tetapi dari pekerjaan Kristus, Yohanes mengajak para murid untuk melihat kepada pribadi Kristus. Ketika Tuhan Yesus mengajar dari satu kota ke kota lain maka pada saat itu, Yohanes Pembaptis yang berada dalam penjara mengikuti semua yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Yohanes Pembaptis menyuruh para murid untuk bertanya pada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?“ Atau dengan kata lain Yohanes Pembaptis ingin para muridnya menanyakan pada Yesus, apakah Yesus seorang Mesias atau bukan? Pertanyaan Yohanes Pembaptis merupakan pertanyaan Mesianis. Hal ini sangat penting untuk kita pahami, yakni ajaran tidak boleh dilepaskan dari pribadi Kristus.
Di dunia tidak ada satu pun manusia yang sempurna termasuk para pendiri agama. Setiap manusia pasti mempunyai banyak kelemahan karena manusia telah berdosa maka manusia berdosa tidak dapat dijadikan teladan sempurna. Karena itulah, para tokoh pendiri agama lebih menekankan pada pengajarannya, bukan pribadinya bahkan mereka sendiri pun bertanya-tanya apakah mereka juga diselamatkan. Dan kalau para tokoh agama ini mau jujur, sesungguhnya ajaran mereka itupun mempunyai banyak kelemahan jika dibandingkan dengan kebenaran asasi yang menyangkut unsur kekekalan, universal, integritas dan moral. Ajaran dan pribadi Kristus tidak saling bertentangan, Kristus menjadi teladan sempurna dari seluruh ajaran yang Dia sendiri ajarkan. Kristus adalah Sang Kebenaran sejati, Akulah jalan, kebenaran dan hidup...(Yoh. 14:6) jadi, ajaran-Nya bukan sekedar teori tetapi kebenaran. Iman Kristen harus kembali pada Kristus, Raja atas segala raja sebagai pusat hidup dan warga Kerajaan Sorga, kita harus taat pada Sang Raja.
Yohanes Pembaptis meminta pada muridnya untuk menanyakan kepada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?“ Sepintas pertanyaan ini adalah pertanyaan biasa. Akan tetapi kalau kita yang mendapat pertanyaan seperti yang diajukan oleh Yohanes Pembaptis maka apakah jawabmu? Apakah kita akan menjawab: Ya, Yesus adalah Mesias ataukah kita akan menjawab: tidak, Dia bukan Mesias. Jawaban ini menuntut pertanggung jawaban total dari kita sebab dari jawaban kita dapatlah diketahui sampai sebatas manakah kita memahami iman Kristen. Pertanyaan sekarang adalah kenapa pertanyaan ini diajukan oleh Yohanes Pembaptis? Beberapa penafsiran menyatakan:
Pertama, Yohanes Pembaptis mengalami keragu-raguan dan kemungkinan juga, umurnya tidak panjang lagi sehingga ia butuh suatu kepastian tentang Mesias. Kalau kita melihat hanya sebatas satu ayat itu saja tanpa memperhatikan keseluruhan konteks maka penafsiran ini sangatlah logis. Inilah akibatnya kalau kita sembarang menafsir ayat. Sesungguhnya, Yohanes Pembaptis tahu persis kalau Kristus adalah Mesias. Yohanes Pembaptis bertemu Yesus bukan pada suatu waktu atau tempat yang tidak biasa. Tidak! Pertemuan antara Yesus dan Yohanes ini terjadi sangat wajar. Hari itu, seperti biasa Yohanes Pembaptis membaptiskan banyak orang lalu muncullah Seorang yang sangat sederhana, anak seorang tukang kayu atau dapat dikatakan “seorang gembel“ datang di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu dan minta dibaptiskan. Berbeda halnya kalau yang datang hari itu adalah raja Herodes, datang dengan kereta kudanya yang megah dan dikawal dengan pasukan berjumlah banyak pastilah semua orang dapat mengenali dia sebagai orang penting.
Kedatangan Tuhan Yesus hari itu tidaklah demikian, semua terjadi seperti biasa, tidak ada tanda-tanda kebesaran apapun; Dia datang dengan pakaian sederhana, berjalan kaki dan seorang diri namun Yohanes Pembaptis langsung mengenal Dia sebagai Mesias. Ketika Tuhan Yesus meminta dibaptis olehnya, Yohanes Pembaptis langsung mencegah Dia dan berkata: “Akulah yang perlu dibaptiskan oleh-Mu....“ Tidak hanya itu, untuk membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Sejak awal, sebagai seorang nabi, Yohanes Pembaptis sudah tahu kalau Kristus adalah Mesias dan ia yang menjadi pembuka jalan, forerider. Bahkan tidak hanya di situ saja, Allah dari sorga langsung mengkonfirmasi: “Inilah Anak yang Ku-kasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.“ Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi pada siapapun juga ketika orang lain dibaptis. Jadi, penafsiran yang menyatakan Yohanes Pembaptis meragukan pribadi Kristus itu kurang tepat.
Kedua, Yohanes Pembaptis mengalami penganiayaan yang sangat berat di penjara maka kemungkinan pikirannya sedikit terganggu sehingga dia perlu mempertanyakan kembali pernyataannya. Yohanes Pembaptis hidup di jaman kepemimpinan Raja Herodes yang sangat kejam, ia tidak segan-segan untuk membunuh orang yang melawan dia atau orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Hari itu, kalau dia dapat menjadi Raja Yahudi itupun didapatkan dengan cara licik karena seharusnya dia tidak berhak untuk menjadi raja atas orang Yahudi sebab dia bukan orang Yahudi asli. Tidak hanya kelakuannya saja yang bejat, moralnya pun sangat rusak dan hal inilah yang dikritik keras oleh Yohanes Pembaptis. Maka wajarlah kalau kemudian muncul penafsiran yang menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis dianiaya dengan sangat berat karena sikap Yohanes Pembaptis yang selalu melawan Herodes. Penganiayaan yang berat tersebut mengakibatkan dia mengalami gangguan kejiwaan. Konklusi ini memang logis tapi itu bukan menjadi jawaban Alkitab. Orang dapat memaparkan kondisi sedemikian rupa namun hal itu tidak dapat kita jadikan sebagai kesimpulan. Kalau kita mau menelusur dengan teliti maka kita menjumpai Herodes yang sangat sedih ketika anak perempuannya meminta kepala Yohanes Pembaptis tetapi karena ia telah bersumpah maka ia pun menuruti apa yang menjadi permintaan dari anaknya tersebut (Mat. 14). Herodes sangat takut ketika ia harus menjalankan eksekusi tersebut, karena Herodes tahu, Yohanes Pembaptis bukan orang biasa, ia mempunyai ribuan pengikut. Dari sini, kita tahu sekarang kalau Herodes tidak akan berani menyentuh Yohanes Pembaptis. Dari Alkitab kita tahu, meski Yohanes di penjara, ia masih dapat bercakap-cakap dengan para murid-muridnya, ia dapat mengikuti seluruh apa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus, ia masih dapat mengajar dengan demikian hubungannya dengan murid-muridnya dapat terjaga dengan baik. Jadi, penafsiran kedua kurang tepat.
Ketiga, para Reformator menafsirkan kalau pertanyaan yang diajukan oleh Yohanes Pembaptis ini bukan untuk dirinya tetapi ditujukan untuk para muridnya, yaitu supaya para muridnya itu mendapat pernyataan langsung dari Kristus kalau Yesus adalah Mesias.
Ada tiga aspek yang Yohanes Pembaptis ingin para murid berubah:
1. Ke-Mesias-an Kristus. Yohanes Pembaptis menyuruh para murid untuk menyampaikan pertanyaan pada Kristus: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?“ Pertanyaan ini membuat para murid harus bertemu langsung dengan Tuhan Yesus dan mereka mendapat jawaban langsung dari Tuhan Yesus tentang siapa diri-Nya yang sesungguhnya – Kristus adalah Mesias. Memang, tidak salah kalau kita “mengidolakan“ seseorang karena kita merasa dia telah berjasa dalam membangun iman tetapi merupakan suatu kesalahan fatal kalau iman berhenti pada batas manusia yang kita hormati tersebut sebab kalau orang yang kita hormati itu meninggal maka iman kitapun ikut mati. Yohanes Pembaptis menyadari akan gejala ini maka ia ingin supaya murid-murid-Nya mendengar dan memperoleh pernyataan langsung dari Kristus. Yohanes juga ingin supaya para muridnya memutar fokus imannya kepada Mesias yang sejati dan bukan pada dirinya. Biarlah iman kita tidak berhenti pada pribadi satu orang saja dan biarlah iman kita tidak berhenti di batas pengalaman-pengalaman tertentu tapi hendaklah Kristus yang menjadi pusat hidup kita dan hanya kepada-Nya saja, Raja di atas segala raja itu kita harus taat.
2. Tanda Kristus. Dari peristiwa ini kita melihat ada percakapan secara tidak langsung antara Tuhan Yesus dengan Yohanes Pembaptis dimana sebagai perantara media adalah murid-murid Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan Yohanes Pembaptis. Tuhan Yesus ingin membangun iman para murid Yohanes ini maka Yesus menjawab: “Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:...(Yoh. 11:4-6). Artinya para murid telah melihat dan mendengar tentang semua hal yang dilakukan oleh Tuhan Yesus seperti: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin mendapat kabar baik maka dari sana mereka dapat menarik sebuah kesimpulan dan kesimpulan itulah yang harus mereka laporkan kepada Yohanes. Inilah iman, yaitu mereka mengalami sendiri dan membuktikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Kristus Yesus adalah Mesias. Namun sangatlah disayangkan, hari ini ayat 5 ditafsirkan dengan sembrono karena orang melepaskan dari konteks keseluruhan. Orang menafsirkan kalau menjadi pengikut Kristus maka segala sakit penyakit akan disembuhkan. Penafsiran yang salah! Berhati-hatilah pada akhir jaman, banyak orang yang mengaku sebagai mesias. Pertanyaan yang diajukan Yohanes adalah dalam konteks mempertanyakan tentang siapa Kristus. Tanda diberikan supaya orang mengenal bahwa Kristus adalah Mesias namun orang tidak mengerti tanda tetapi orang mengikut Yesus karena mereka kenyang (Yoh. 6:25-29). Maka tidaklah heran setelah orang mengalami pengalaman iman yang spektakuler, mereka justru terjebak ke dalam pengalaman itu dan lupa kalau ada Kristus yang bekerja dibalik mujizat itu.
3. Pusat Iman. Setelah murid-murid Yohanes pergi, Kristus membukakan pada para murid-Nya tentang Yohanes Pembaptis (Yoh. 11:7-11). Tuhan Yesus menyetarakan Yohanes Pembaptis dengan nabi Elia. Dan hal ini pasti didengar oleh Yohanes. Bagi orang Yahudi, Elia adalah seorang tokoh sekaligus seorang nabi besar. Seorang diri, Elia berhasil mengalahkan 400 nabi Baal, selain itu, Elia adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, ia diangkat ke sorga dengan kereta berapi. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mau menegaskan kalau Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi besar tidak beda dengan nabi Elia. Namun di ayat 11, Tuhan menyatakan: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Gambaran kontras ini bukan untuk merendahkan Yohanes Pembaptis. Tidak! Tuhan Yesus membandingkan antara diri-Nya dengan Yohanes. Kata “yang terkecil“ disana adalah Tuhan Yesus. Yohanes tahu, dirinya bukanlah yang terbesar tetapi Kristuslah yang terbesar: “Lihatlah Dia, ecce hommo; Dia harus makin besar dan aku makin kecil, Dia harus makin bertambah, aku harus makin berkurang.“ Inilah jiwa seorang Yohanes Pembaptis, nabi besar. Sadarlah, ketika kita berpaling pada Kristus maka justru disanalah kita akan mendapat kekuatan sorgawi untuk menghadapi segala tantangan jaman.
Bukanlah hal yang mudah bagi orang untuk berpindah dari satu kepercayaan ke kepercayaan lain, kecuali ia tahu pasti kalau kepercayaan barunya itu jauh lebih agung dan lebih benar barulah ia berpindah. Begitu juga yang dialami oleh murid Yohanes bukan hal mudah untuk berpaling kepada Kristus. Biarlah kita dipakai menjadi saksi Kristus yang menyatakan kepada dunia bahwa kepercayaan kita kepada Kristus itu jauh lebih agung dibandingkan dengan kepercayaan lain yang ada di dunia sebab tidak hanya ajaran-Nya yang adalah kebenaran sejati tetapi pribadi Kristus itu sendiri adalah Sang Kebenaran; Dia adalah Raja di atas segala raja. Biarlah ketika kita berada dalam penderitaan aniaya, kita tahu semua yang kita lakukan itu tidak sia-sia karena kita memandang pada Kristus yang menjadi pusat iman kita. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 10:5-8: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-9: Sentralitas Kristus dan Pembenaran Melalui Iman

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-8


“Israel” Sejati atau Palsu-9:
Sentralitas Kristus dan Pembenaran Melalui Iman

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:5-8


Setelah mempelajari tentang Kristus sebagai kegenapan hukum Taurat dan pembenaran melalui iman di ayat 4, maka Paulus menjelaskan lebih dalam lagi tentang arti dibenarkan melalui iman di ayat 5 s/d 8.

Pada ayat 4, Paulus menjelaskan bahwa Kristus lah yang menggenapi Hukum (Taurat) dan oleh karena itulah, umat pilihan-Nya yang percaya dibenarkan melalui tindakan Kristus yang telah menunaikan seluruh ketentuan Hukum (Taurat), karena mereka sendiri tidak mampu menunaikan seluruh ketentuan Hukum (Taurat). Hal ini bukanlah ajaran baru, karena di dalam Perjanjian Lama, Allah telah mengajarkannya melalui Musa. Hal ini ditunjukkan oleh Paulus di ayat 5 di mana, “Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya."” Apa yang Paulus kutip diambil dari Imamat 18:5 yang berbunyi, “Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.” Ayat ini berada di dalam konteks ketika TUHAN mewahyukan hukum-Nya tentang perkawinan yang kudus. Sebelum ayat ini, di ayat 1-4, TUHAN sudah memberi peringatan kepada Israel untuk tidak menaati kebiasaan orang-orang Mesir dan Kanaan, tetapi Israel harus melakukan peraturan Allah dan harus berpegang pada ketetapan-Nya dengan hidup menurut semuanya itu. Ayat 4 ditegaskan kembali dengan ayat 5 sebagai alasan yaitu justru dengan berpegang pada ketetapan Allah dan peraturan-Nya, maka orang yang melakukannya akan hidup. Ayat ini sungguh menarik. Seolah-olah, Roma 10:5 bertentangan dengan ayat 4, karena di ayat 4, Paulus mengajarkan pembenaran oleh iman, sedangkan di ayat 5, seolah-olah mengajarkan pembenaran melalui perbuatan baik. Benarkah ada kontradiksi di dalam kedua ayat ini? TIDAK! Justru, kedua ayat ini saling menguatkan. Ketika seseorang beriman di dalam Kristus, ia memiliki jaminan keselamatan karena anugerah-Nya, dan setelah itu, umat-Nya harus menghidupi hidup sesuai dengan ketentuan Hukum Allah. Kita harus menaati hukum Allah karena kita telah dibenarkan oleh Kristus yang telah menggenapi seluruh ketentuan Taurat. Dengan kata lain, dibenarkan melalui iman tidak bisa dilepaskan dari hidup melaksanakan Hukum Allah. Seringkali beberapa orang Kristen diajar bahwa setelah kita diselamatkan, kita boleh berbuat apa saja, karena sekali selamat tetap selamat. Doktrin sekali selamat tetap selamat (Perseverance of the Saints) TIDAK boleh dijadikan acuan agar kita boleh hidup sembrono, justru membuat kita semakin setia dan taat kepada-Nya dengan menjalankan hukum-Nya. Ini bukan hanya diajarkan oleh Perjanjian Baru, sejak Perjanjian Lama pun, TUHAN sudah mengajarkan hal ini. TUHAN pertama kali memanggil Abraham dan Israel untuk menjadi umat pilihan-Nya, setelah itu IA mewahyukan firman-Nya sebagai hukum-Nya yang memimpin dan menuntun umat-Nya itu untuk hidup dan IA sendiri menjamin bahwa barangsiapa yang melakukan seluruh hukum-Nya, mereka akan hidup. Tetapi apakah ada yang sanggup melakukan seluruh hukum-Nya? TIDAK! Kalau pun manusia bisa melakukan hukum (Taurat), mereka tidak melakukannya secara keseluruhan, tetapi sebagian, karena mereka kadangkala tidak membunuh, tetapi mencuri. Tentang hal ini, Yakobus berkata, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: "Jangan berzinah", Ia mengatakan juga: "Jangan membunuh". Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.” (Yakobus 2:10-11) Jadi, jelaslah, tidak ada satu orang pun yang sanggup menunaikan seluruh hukum Taurat. Oleh karena itulah, Paulus di ayat 4 mengatakan bahwa Kristus itu lah yang telah menunaikan seluruh Taurat, sehingga kita sebagai umat pilihan-Nya di dalam Kristus sanggup menunaikan Hukum Taurat karena Kristus. Jadi, ayat 4 dan 5 tidak bertentangan.

Karena kita dibenarkan hanya melalui iman (dan sama sekali bukan karena perbuatan baik), maka kita berani mengamini apa yang Kristus kerjakan. Hal ini dijelaskan Paulus di ayat 6 dan 7, “Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: "Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.” Kedua ayat ini diambil dari Ulangan 30:12-13 yang berkata, “Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?” Kedua ayat ini berada di dalam konteks tentang penjelasan pentingnya Firman Tuhan yang tidak sukar, yaitu Firman Tuhan yang tidak jauh di atas, juga tidak jauh ke seberang. Di sini, Paulus menjelaskan arti firman Allah di dalam Ulangan ini. Ulangan 30:12 ditafsirkan Paulus sebagai “membawa Yesus turun” dan ayat 13 ditafsirkan Paulus sebagai “membawa Kristus naik dari antara orang mati”. Uniknya, kedua tafsiran Paulus atas dua ayat PL ini di dalam banyak terjemahan Inggris (King James Version—KJV, New King James Version­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­—­NKJV, Amerian Standard Version—ASV, International Standard Version—ISV, English Standard Version—ESV, Analytical-Literal Translation—ALT, English Majority Text Version—EMTV, Geneva Bible, Good News Bible—GNB, God’s Word—GW, Literal Translation of the Holy Bible) dan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diberikan tanda kurung. Ini menunjukkan tafsiran dan penjabaran Paulus atas PL. Kedua ayat dalam PL ini ditafsirkan Paulus sebagai kaitan dengan peristiwa kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga. Berarti kebenaran melalui iman bukanlah kebenaran yang sia-sia yang berasal dari diri sendiri, tetapi dari Allah yang telah mengutus Kristus sebagai sumber pembenaran kita oleh anugerah-Nya di dalam iman. Kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga membuktikan kemenangan-Nya atas maut dan ditunaikannya seluruh tugas-Nya, sehingga Ia layak mendapatkan puji, hormat dan sembah dari umat-Nya dan semua orang. Di sini, kita kembali melihat bahwa tesis di ayat 4 yang mengatakan bahwa Kristus telah menggenapi Taurat dan umat-Nya mendapatkan status yang dibenarkan melalui iman di dalam-Nya mendapat legitimasi sah, yaitu melalui kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Semua hal ini membuat kita sadar bahwa keselamatan dan status yang dibenarkan bukan didapat karena jasa baik kita, tetapi karena anugerah-Nya melalui iman, oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bersyukur selalu dengan melakukan Hukum Allah dan memberitakan Injil kepada mereka yang belum percaya.

Bahkan kebenaran oleh iman bukan hanya berkisar tentang kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga, tetapi juga berpusat pada Pribadi Kristus yang berinkarnasi itu sendiri (bdk. Roma 10:4), seperti dijelaskan Paulus di ayat 8, “Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan.” Ayat ini dikutip dari Ulangan 30:14, “Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.” Firman yang sangat dekat kepadamu (di dalam konteks Ulangan, adalah Israel) yakni di dalam mulut dan hati umat Israel ditafsirkan oleh Paulus sebagai firman iman yang diberitakan Paulus, yaitu Kristus. Kristus adalah Firman Allah (tidak berarti DIA bukan Pribadi Allah) yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14), sehingga manusia dapat mengenal Allah sejati. Di dalam theologia Reformed, inkarnasi Kristus merupakan wahyu khusus Allah secara tidak tertulis HANYA kepada umat pilihan-Nya. Melalui Kristus, manusia pilihan-Nya dapat mengenal Pribadi Allah yang benar dan sejati serta beribadah kepada-Nya dengan pengertian yang benar di dalam Kristus melalui Roh Kudus. Kalau di zaman PL, umat-Nya menantikan Mesias, maka kita yang hidup setelah Perjanjian Baru (PB) bersyukur karena kita telah melihat dengan iman dan percaya di dalam-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, sehingga iman kita justru semakin dikuatkan dan pengharapan kita semakin jelas. Kehadiran Kristus sebagai Pusat iman dan pembenaran serta keselamatan kita membuat kita tidak henti-hentinya bersyukur dan terus-menerus menjadikan Dia sebagai Pusat dan Tuhan dalam hidup kita. Hidup Kristen bukan hidup yang sia-sia, sembrono, tanpa arah, tetapi hidup Kristen justru sangat berarti, mengapa? Karena Kristus lah yang memberikan arti hidup itu kepada umat-Nya, melalui penebusan dan karya Roh Kudus yang diutus-Nya untuk mendampingi kita di dalam perjalanan hidup. Hidup yang men-Tuhan-kan Kristus (mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno) itulah merupakan respon yang benar setelah kita diselamatkan dan dibenarkan melalui anugerah Allah di dalam iman.

Melalui perenungan keempat ayat ini, sudahkah kita hidup menjadikan Kristus sebagai Allah dan Tuhan dalam hidup kita sebagai respon ucapan syukur kita karena kita telah diselamatkan? Ingatlah, Allah telah menyatakan diri-Nya di dalam Kristus bagi umat-Nya, siapkah kita menyatakan Kristus itu melalui pemberitaan Injil dan kelakuan hidup kita sehari-hari? Kiranya Roh Kudus memimpin langkah kita setiap hari di dalam menunaikan apa yang Tuhan inginkan bagi kita. Amin. Soli Deo Gloria.