20 February 2008

Bab 42: MENYEIMBANGKAN KEHIDUPAN ANDA?? (Analisa Terhadap Bab 39 Buku Rick Warren)

Bab 42

Menyeimbangkan Kehidupan Anda??

P

ada bab 42 (makalah) ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhsembilan dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 39 (buku) ini, Warren mengajarkan tentang kegiatan penting pertama dan kedua dari empat poin kegiatan penting yang harus kita kerjakan untuk mencapai hidup yang memiliki tujuan,

Bicarakanlah hal itu dengan seorang rekan rohani atau kelompok kecil rohani. Cara terbaik untuk menghayati prinsip-prinsip di dalam buku ini adalah mendiskusikannya dengan orang lain dalam sebuah kelompok kecil... Kita bisa banyak belajar di dalam komunitas. Pikiran kita dipertajam dan keyakinan kita diperdalam lewat percakapan.

...

Sebuah kelompok kecil untuk membaca buku ini bersama akan memberikan banyak keuntungan yang tidak bisa diberikan oleh buku itu sendiri. Anda bisa memberi dan menerima umpan balik tentang apa yang sedang Anda pelajari...

Saya juga mendorong Anda untuk melakukan penyelidikan Alkitab secara pribadi... Bacalah apendiks 3, yang menjelaskan mengapa buku ini memakai begitu banyak terjemahan dan parafrase yang berbeda...

Adakan bagi diri Anda suatu pemeriksaan rohani yang teratur. Cara terbaik untuk menyeimbangkan kelima tujuan itu dalam kehidupan Anda ialah dengan mengevaluasi diri Anda sendiri secara berkala. Allah memberikan nilai tinggi untuk kebiasaan mengevaluasi diri... (Warren, 2005, pp. 338-340)

Komentar saya :

Buku Rick Warren ini dianggap sebagai sebuah sarana pengganti Alkitab. Mengapa saya bisa sampai kepada kesimpulan ini ? Mari kita menyelidiki. Di awal saja, ia sudah mengajarkan bahwa buku ini hebat, karena memaparkan “tujuan-tujuan Allah” bagi manusia, jadi pakailah buku ini sebagai bahan diskusi di dalam kelompok kecil. Lalu, bagaimana dengan Alkitab sendiri ? Alkitab ditempatkannya setelah menghayati prinsip-prinsip di dalam bukunya ini. Perhatikan alur pikirnya dari tiga paragraf pada poin pertama yang saya kutip di atas (paragraf pertama dan ketiga). Renungan harian yang beres dan bertanggungjawab, seperti yang telah saya jelaskan pada bab-bab awal makalah ini, bukan renungan harian yang mencuplik satu atau beberapa ayat Alkitab untuk menjadi dasar renungan, tetapi mempelajari seluruh bagian Alkitab. Saya ambil contoh, bagi saya, Santapan Harian yang saya pergunakan yang diterbitkan oleh Persekutuan dan Pembaca Alkitab (PPA) adalah renungan harian yang tersistematis dan bertanggungjawab, karena di dalamnya, pembaca renungan ini harus membaca satu perikop bagian Alkitab, kemudian penulis renungan ini menjelaskan sedikit sejarah dan latar belakangnya untuk kemudian diimplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika sedang merenungkan kitab Perjanjian Lama, renungan harian ini bukan hanya menggumuli Perjanjian Lama di dalam renungannya, tetapi juga mengintegrasikannya dengan bagian-bagian Perjanjian Baru sebagai realisasi Perjanjian Lama. Di sini, prinsip renungan harian ini sangat jelas, yaitu keseluruhan dan kekonsistenan pengajaran dari PL sampai PB yang hanya dimengerti melalui perspektif theologia Reformed yang konsisten ! Bagaimana dengan The Purpose Driven Life ? Saya pikir bahwa ini bukan buku renungan, tetapi buku training motivasi, karena di dalamnya tidak ada peneguran dosa, pertumbuhan iman Kristen berdasarkan Alkitab yang konsisten, pentingnya belajar theologia, pentingnya penginjilan yang bertanggungjawab dengan berfokuskan kedaulatan Allah, dll. Semua bahan di dalam buku The Purpose Driven Life dibahas hanya sepintas, tidak mendalam dan terkesan seperti untuk anak-anak TK yang baru mengerti bahasa. Inikah namanya pertumbuhan rohani ? Mutlak tidak ! Renungan harian yang beres bukan hanya sekedar merenungkan Firman, tetapi juga harus berisi pemahaman doktrinal yang solid untuk memimpin kita lebih mengerti kedalaman dan keseluruhan konsep Alkitab antar kitab di dalamnya.

Kedua, bagi Warren, kelompok kecil ini pun memberikan keuntungan. Bukankah di dalam bab 38, ia menjelaskan bahwa orang yang hanya ingin memperalat Allah untuk kepentingannya adalah orang “Kristen” duniawi, tetapi herannya, di dalam bab 39 ini (dan tentunya bab-bab lain), ia malah membuka kedoknya sendiri secara implisit bahwa mengerjakan segala sesuatu (bahkan membentuk kelompok kecil) harus mendatangkan keuntungan (profit-oriented) dan kalau perlu harus menggunakan bukunya selain Alkitab (persis seperti yang dilakukan aliran-aliran bidat Saksi Yehova dan Mormon dengan menggunakan buku-buku lain di luar Alkitab).

Selanjutnya, ia memaparkan tentang kegiatan penting ketiga dan keempat dari empat poin kegiatan penting yang harus kita kerjakan untuk mencapai hidup yang memiliki tujuan,

Tulislah kemajuan Anda dalam sebuah jurnal. Cara terbaik untuk memperkuat kemajuan Anda dalam memenuhi tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan Anda ialah membuat sebuah jurnal rohani. Ini bukanlah sebuah catatan harian tentang semua peristiwa, tetapi suatu catatan tentang pelajaran-pelajaran kehidupan yang tidak ingin Anda lupakan...

Menulis membantu memperjelas apa yang Allah kerjakan di dalam kehidupan Anda...

... Kehidupan Anda adalah sebuah perjalanan, dan sebuah perjalanan layak untuk dibuatkan jurnalnya...

Jangan hanya menulis hal-hal yang menyenangkan. Sebagaimana dilakukan Daud, catatlah keraguan, ketakutan, dan pergumulan Anda dengan Allah... Ketika masalah terjadi, ingatlah bahwa Allah memakainya untuk memenuhi kelima tujuan dalam kehidupan : Masalah-masalah mendorong Anda untuk tetap memusatkan perhatian kepada Allah, menarik Anda lebih dekat kepada orang lain di dalam persekutuan, membangun karakter serupa dengan Kristus, memberi Anda sebuah pelayanan, dan memberi Anda sebuah kesaksian. Semua masalah memiliki tujuan...

Teruskanlah apa yang Anda ketahui kepada orang lain. Jika Anda ingin tetap bertumbuh, cara terbaik untuk belajar lebih banyak adalah dengan meneruskan apa yang telah Anda pelajari... Orang-orang yang meneruskan berbagai warisan mendapat lebih banyak dari Allah.

Setelah Anda memahami tujuan hidup, menjadi tanggung jawab Anda untuk membawa pesan tersebut kepada orang lain. Allah sedang memanggil Anda untuk menjadi pembawa berita-Nya...

...

Semakin banyak yang Anda tahu, semakin besar harapan Allah agar Anda memakai pengetahuan tersebut untuk menolong orang lain... Pengetahuan meningkatkan tanggung jawab... (Warren, 2005, pp. 340-342)

Komentar saya :

Untuk mendapatkan hidup yang memiliki tujuan, menurut Warren, kita perlu menuliskan kemajuan kita dalam sebuah jurnal dan meneruskan apa yang kita ketahui kepada orang lain. Pada poin yang ketiga ini tidaklah salah, itu cukup penting, karena dengan jurnal, kita bisa mengetahui kualitas pertumbuhan rohani kita, tetapi pada poin keempat, saya agak kurang setuju, mengapa ? Perhatikan, kita boleh dan bahkan harus membagikan apa yang kita ketahui kepada orang lain, tetapi ingatlah prinsip : dengan dasar apa kita membangun apa yang kita ketahui dan apakah benar setiap pengetahuan kita pasti dapat menolong orang lain.

Pertama, esensi/inti masalah bukan pada membagikan apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita jadikan dasar untuk apa yang kita ketahui (dasar pengetahuan kita). Kalau pengetahuan kita didasarkan pada prinsip-prinsip di dalam buku Warren ini, saya terus terang harus meragukan “kebenaran” pengetahuan orang Kristen, karena sejujurnya, Warren tidak mengajarkan secara konsisten pengajaran Alkitab, tetapi ia sedikit menyisipkan prinsip-prinsip psikologi yang “dibaptis” dalam nama “yesus” menjadi prinsip-prinsip Berpikir Positif dan “Theologia” Kemakmuran ditambah pentingnya pengalaman rohani persis seperti yang digembar-gemborkan oleh banyak gereja Karismatik/Pentakosta (yang akarnya dimulai dari golongan Radikal-Reformasi atau Anabaptisme yang menekankan pengalaman rohani). Pengetahuan sejati didapat bukan dari buku training motivasi ini, tetapi hanya dari Alkitab saja. Tetapi apakah berarti kita tidak boleh membaca buku-buku rohani lain di luar Alkitab? TIDAK ! Jangan menyalahartikan pernyataan saya. Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, tetapi prinsip penafsirannya berbeda. Lalu, untuk membangun sebuah pengetahuan sejati, kita bukan memilih prinsip penafsiran yang mudah, menyenangkan dan praktis, tetapi kita harus mencari dan memilih serta menetapkan satu prinsip penafsiran yang mendekati makna asli Alkitab. Adakah itu ? ADA, yaitu prinsip penafsiran dari perspektif theologia Reformed. Ini tidak berarti theologia Reformed identik dengan Alkitab, lalu theologia Reformed itu sempurna dan tidak bercacat ! Theologia Reformed masih terus-menerus ingin diperbaharui sesuai dengan kebenaran Alkitab, dan inilah bukti bahwa theologia Reformed tidak pernah sempurna, tetapi tidak berarti karena prinsip ini lalu kita mengabaikan signifikansi theologia Reformed yang sejauh ini memiliki prinsip penafsiran Alkitab yang mendekati makna asli dari Alkitab itu sendiri.

Kedua, kalau kita sudah membangun epistemologi/pengetahuan kita yang benar, apakah berarti semua pengetahuan kita pasti dapat menolong orang lain ? Jawabannya : YA dan TIDAK. YA, kalau orang yang kita tolong tersebut memiliki masalah yang sama dengan kita dan hati dan pikirannya dicerahkan Roh Kudus sehingga dirinya boleh menerima Kristus dan mengerti Firman Tuhan (Alkitab). Sedangkan, saya menjawab TIDAK, karena sejujurnya, tidak semua orang mau menerima pengetahuan kita apalagi dibangun di atas dasar Alkitab dari perspektif theologia Reformed. Jangankan menggunakan perspektif theologia Reformed, membangun paradigma di atas dasar Alkitab dan mengintegrasikannya di dalam setiap kehidupan, baik sosial, ekonomi, dll, banyak orang “Kristen” sendiri tidak menyetujuinya, lalu apa alasannya ? Dengan mudah dan tidak bertanggungjawab (tentunya), mereka yang juga mengklaim sedang “melayani tuhan” mengemukakan argumen yang menurutnya masuk akal (sebenarnya sangat tidak masuk akal) bahwa religion dan science itu tidak ada hubungannya. Kepada orang “Kristen” model ini, bagi saya, sangat sulit, dan bahkan pengetahuan kita yang telah dibangun di atas dasar Alkitab tidak pernah akan mungkin diterima, karena prinsip iman dan membangun paradigma pengetahuannya berbeda. Segala sesuatu yang kita lakukan di dalam menolong orang lain, jangan hanya melihat kebutuhan orang lain, tetapi pertimbangkanlah juga kedaulatan Allah atasnya, karena meskipun kita sudah bekerja keras menyadarkan banyak orang, tetapi jika Roh Allah tidak mencerahkan hati dan pikirannya, sia-sialah usaha kita.

Terakhir, ia menjelaskan bagaimana semua ini dilakukan untuk kemuliaan Allah,

Alasan kita membagikan apa yang kita ketahui adalah untuk kemuliaan Allah dan pertumbuhan kerajaan-Nya...

... Allah ingin agar kita memperkenalkan orang kepada Kristus, membawa mereka ke dalam persekutuan-Nya, membantu mereka bertumbuh dewasa dan menemukan tempat mereka dalam pelayanan, dan selanjutnya mengutus mereka untuk menjangkau orang lain juga.

Inilah kehidupan yang memiliki tujuan... (Warren, 2005, pp. 342-343)

Komentar saya :

Benarkah motivasi Warren membagikan “tujuan-tujuan Allah” bagi manusia hanya bagi kemuliaan Allah ? Apakah dengan mengutip prinsip-prinsip psikologi apalagi dari perkataan seorang atheis, Bertrand Russell di dalam bab awal di dalam bukunya, dll itu memuliakan Allah ? Apakah dengan mengatakan bahwa gereja itu ada untuk memenuhi lima kebutuhan terdalam manusia, Warren juga memuliakan Allah ? Jangan percaya kepada setiap orang “Kristen” apalagi “pemimpin gereja” yang sok “rohani” mengatakan bahwa segala sesuatu itu untuk kemuliaan Allah ! Jangan mau ditipu oleh mereka ! Seorang Kristen dan pemimpin gereja sejati yang memuliakan Allah adalah mereka yang menyadari hidup mereka adalah anugerah Allah, lalu mereka mempertanggungjawabkan anugerah Allah ini di dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan mempelajari kehendak Allah melalui Firman-Nya dengan bertanggungjawab dan teliti, dan terakhir mereka menjadi saksi Kristus di manapun berada hanya bagi kemuliaan-Nya. Di dalam setiap inci pengajaran, pengetahuan, kehidupan, dll setiap anak Tuhan, mereka hanya memuliakan Allah, bukan memuliakan manusia. Kalau ada satu prinsip pengajaran saja tidak memuliakan Allah, apakah itu bisa dikatakan bahwa dirinya memuliakan Allah ? TIDAK ! Memuliakan Allah itu lahir dari hati dan motivasi yang murni dan bersih di hadapan-Nya. Dari titik pertama pembuatan buku ini, Warren tidak memiliki motivasi yang murni dan bersih di hadapan-Nya. Hal ini tampak dari pemaparannya pada bab-bab terakhir bahwa bukunya “harus” dijadikan bahan diskusi di dalam kelompok-kelompok kecil, lalu juga cukup banyak ayat Alkitab dikutip Warren secara sembarangan dengan tidak memperhatikan konteks, perikop, bahasa asli dan menggunakan terjemahan-terjemahan yang tepat sesuai bahasa aslinya. Apakah melalui membaca buku Warren ini, kita menemukan hidup yang seimbang ? Saya pikir, tidak, justru mungkin kita akan hidup secara tidak seimbang, karena beberapa alasan.

Pertama, di dalam buku Warren, ia hanya mengajarkan pentingnya pelayanan, penyembahan, penginjilan, persekutuan, dll, tetapi tidak mengajarkan prinsip mandat budaya di mana orang Kristen harus menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan dunia, misalnya mengintegrasikan iman Kristen di dalam politik, ekonomi, sosial, dll. Padahal mandat budaya ini juga penting.

Kedua, ia terlalu banyak mengajarkan hal-hal duniawi yang “dibaptis” di dalam nama “yesus”, misalnya, “membaptis” pandangan dari seorang atheis, Bertrand Russell, mengutip tokoh-tokoh mistik Katolik Roma yang mengajarkan “doa nafas”, dll, yang sama sekali tidak diajarkan oleh Alkitab. Warren menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan sengaja melepaskannya dari konteks dan perikop aslinya, hanya untuk mencapai market-oriented dan larisnya buku yang ia tulis. Itulah citra hermeneutika (penafsiran) di abad postmodern, mau menafsirkan seenaknya sendiri !

No comments: