20 February 2008

Bab 40: MEMBAGIKAN PESAN KEHIDUPAN ANDA?? (Analisa Terhadap Bab 37 Buku Rick Warren)

Bab 40

Membagikan Pesan Kehidupan Anda ??

P

ada bab 40 (makalah) ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketigapuluhtujuh dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 37 (buku) ini, Warren mengajarkan pentingnya membagikan pesan Injil melalui kehidupan kita.

Pada awal bab ini, ia mengajarkan,

Allah telah memberi Anda sebuah Pesan Kehidupan untuk dibagikan.

Ketika Anda menjadi seorang percaya, Anda juga menjadi seorang pembawa berita Allah. Allah ingin berbicara kepada dunia melalui diri Anda...

... Anda memiliki segudang pengalaman yang Allah ingin pakai untuk membawa orang lain ke dalam keluarga-Nya... (Warren, 2005, pp. 319)

Komentar saya :

Hal ini memang benar bahwa Allah memilih dan menetapkan kita sebagai anak-Nya untuk menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia. Intinya tetap adalah pemberitaan Injil, dan bukan pemberitaan pengalaman-pengalaman ! Mari kita akan menelusuri apa yang Warren ajarkan berkenaan dengan pesan kehidupan yang sebenarnya terletak pada Injil, bukan pada pengalaman !

Selanjutnya, ia memaparkan tentang bagian pertama dan kedua dari empat pesan kehidupan,

Pesan Kehidupan Anda meliputi kesaksian Anda. Kesaksian Anda merupakan kisah tentang bagaimana Kristus telah membuat perbedaan di dalam kehidupan Anda... hakikat dari bersaksi, yakni membagikan secara sederhana pengalaman-pengalaman pribadi Anda tentang Tuhan...

Yesus berkata, “Kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis. 1:8 ; AITB)... Dia ingin agar Anda membagikan kisah Anda kepada orang lain. Membagikan kesaksian Anda merupakan bagian penting dari misi Anda di dunia karena kesaksian tersebut unik. Tidak ada kisah lain yang persis seperti kisah Anda, jadi hanya Anda yang bisa membagikannya... Anda mungkin tidak menjadi seorang sarjana Alkitab, tetapi Anda adalah pemegang kuasa atas kehidupan Anda, dan sulit untuk membantah pengalaman pribadi. Sebenarnya, kesaksian pribadi Anda lebih efektif daripada sebuah khotbah, karena orang-orang yang belum percaya melihat para pendeta sebagai wiraniaga profesional, tetapi mereka melihat Anda sebagai seorang “pelanggan yang puas,” jadi mereka memberi Anda lebih banyak kepercayaan.

Kisah-kisah pribadi juga lebih mudah untuk dibagikan daripada prinsip-prinsip, dan orang-orang senang mendengarnya... Orang-orang yang belum percaya mungkin akan kehilangan minat jika Anda mulai mengutip para ahli teologi, tetapi mereka memiliki keingintahuan alamiah tentang pengalaman-pengalaman yang tidak pernah mereka miliki. Kisah-kisah yang dibagikan membangun jembatan hubungan sehingga Yesus bisa berjalan menyeberang dari hati Anda kepada hati mereka.

... dalam enam kesempatan yang berbeda Paulus menggunakan kesaksiannya untuk memberitakan Injil dan bukannya mengutip Alkitab. (Kisah 22 sampai 26 ; AITB).

Alkitab mengatakan, “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,” (1 Petrus 3:15 ; AITB). Cara terbaik untuk “siap sedia” adalah dengan menulis kesaksian Anda dan selanjutnya menghafalkan pokok-pokok utama...

...bersifatlah peka dan pakailah kisah tersebut sehingga teman Anda yang belum percaya akan mendapatkan yang terbaik...

Pesan Kehidupan Anda meliputi pelajaran-pelajaran kehidupan Anda. Bagian kedua dari peasn kehidupan Anda ialah kebenaran-kebenaran yang telah Allah ajarkan kepada Anda dari pengalaman-pengalaman bersama-Nya. Ini adalah pelajaran-pelajaran dan wawasan yang telah Anda pelajari mengenai Allah, hubungan, masalah, pencobaan, dan aspek-aspek kehidupan lainnya...

Meskipun belajar dari pengalaman adalah bijak, belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain lebih bijak... (Warren, 2005, pp. 320-322)

Komentar saya :

Pertama, ketika Warren mengajarkan, “hakikat dari bersaksi, yakni membagikan secara sederhana pengalaman-pengalaman pribadi Anda tentang Tuhan.”, saya menjumpai pengertian yang dangkal dari Warren tentang bersaksi. Bolehkah orang Kristen bersaksi ? Di dalam theologia Reformed yang konsisten, orang Kristen diperkenankan untuk bersaksi, karena itu juga diajarkan oleh Alkitab, tetapi perhatikan, kesaksian yang kita beritakan tetap harus mengajarkan Injil, bukan pengalaman pribadi yang melawan Alkitab. Apakah semua pengalaman pribadi itu baik dan Alkitabiah ? TIDAK ! Dengan sangat menyesal, saya harus mengatakan satu fakta yang mengerikan bahwa BANYAK kesaksian yang digembar-gemborkan di banyak gereja adalah PALSU ! Ambil contoh, Rudy Gunawan, mantan olahragawan Indonesia bersaksi di gereja-gereja bahwa dirinya sudah sembuh setelah berdoa di Bukit Doa Ungaran, tetapi tahukah Anda bahwa setelah beberapa tahun dirinya pergi ke luar negeri untuk berobat. Inikah kesaksian ? Contoh kedua, seorang “pendeta” Gereja Bethel Indonesia (GBI), Filemon suka bersaksi bahwa dulu dirinya menganut agama tertentu, tetapi sekarang menjadi Kristen dan menjadi pendeta. Alhasil, banyak gereja Karismatik (yang doyan dengan kesaksian) mengundangnya, tetapi kira-kira beberapa tahun setelahnya, fakta membuktikan bahwa “pendeta” itu memang dari dulu pendeta, dan bukan penganut agama tertentu, dan “pendeta” itu sedang terlilit utang, dan masalah-masalah lainnya, sehingga “pendeta” itu dikeluarkan dari sinode GBI. Bisakah Anda melihat, betapa buruknya sebuah “pengalaman pribadi” tanpa pengertian kebenaran ?! Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa jika pengalaman pribadi kita melawan Alkitab, yang perlu dibuang adalah pengalaman pribadi kita, dan peganglah Alkitab. Hal ini sangatlah benar. Mengapa ? Karena pengalaman pribadi pasti bisa salah, sedangkan Alkitab tak mungkin bisa salah. Pengalaman pribadi bisa saja berupa halusinasi atau perasaan kejiwaan manusia (meskipun ada yang sungguh-sungguh terjadi/dialami), tetapi Alkitab mengajarkan Kebenaran (bukan dongeng isapan jempol) ! Jika Anda lebih mempercayai pengalaman pribadi, percayalah, sebentar lagi, Anda akan pasti terkena tipuan racuan gombal dari banyak “pendeta” yang mengaku doyan turun naik “surga”, dll. Jangan pernah membangun iman di atas dasar pengalaman pribadi, karena itu salah, tidak bertanggungjawab dan tidak diajarkan oleh Alkitab !

Kedua, memang “tidak salah” jika Warren mengajarkan, “Kisah-kisah pribadi juga lebih mudah untuk dibagikan daripada prinsip-prinsip, dan orang-orang senang mendengarnya.”, karena di sini, ia sendiri membongkar kesalahan dan kebobrokan doktrinnya sendiri ! Secara duniawi, kesaksian-kesaksian atau pengalaman-pengalaman pribadi lebih mudah didengar ketimbang khotbah-khotbah yang berisi pengajaran. Mengapa ? Karena Alkitab sudah menubuatkan beribu tahun yang lalu melalui pengajaran dan peringatan Paulus kepada Timotius di dalam suratnya yang kedua, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Timotius 4:3-4). Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “Sebab akan sampai waktunya orang tidak mau lagi menerima ajaran yang benar. Sebaliknya, mereka akan menuruti keinginan mereka sendiri, dan mengumpulkan banyak guru guna diajarkan hal-hal yang enak didengar di telinga mereka. Mereka akan menutup telinga terhadap yang benar, tetapi akan memasang telinga terhadap cerita-cerita dongeng.” Oleh karena itu, tidak usah heran, apalagi di abad postmodern yang gila ini, khotbah-khotbah yang berisi pengajaran yang solid jarang disenangi, karena : “tidak ada ‘roh kudus’”, “teori tok”, dll, itulah fitnahan yang sering dilontarkan oleh banyak “hamba Tuhan” dan jemaat dari banyak gereja Karismatik/Pentakosta yang anti-rasio (padahal untuk mengatakan hal ini pun perlu menggunakan “rasio” ; sebuah kontradiksi yang aneh) ! Lebih lagi, orang-orang dunia tidak mau belajar sesuatu yang berkualitas, melainkan sesuatu yang remeh (membaca komik, dll). Inilah citra dunia kita yang semakin lama semakin chaos, tetapi masih menganggap diri pandai, hebat, dll. Yang lebih celaka lagi, pengalaman pribadi ini dijadikan “patron” agar orang lain yang belum memilikinya juga dapat memiliki pengalaman pribadi. Perhatikan pengajaran Warren berikut, “Orang-orang yang belum percaya mungkin akan kehilangan minat jika Anda mulai mengutip para ahli teologi, tetapi mereka memiliki keingintahuan alamiah tentang pengalaman-pengalaman yang tidak pernah mereka miliki.” Jadi, untuk “menipu” dan membuat orang-orang yang belum percaya menjadi percaya dengan mudah, maka jangan mengkhotbahkan hal-hal yang sulit, tetapi khotbahkanlah pengalaman pribadi, karena selain enak didengar, itu juga mudah diterima dan mereka yang mendengarnya juga ingin tahu dan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang mereka dengarkan itu. Begitulah “sabda” dari Warren. Tidak usah heran, belakangan ini muncul surat kaleng yang menceritakan pengalaman pribadi Paus Katolik Roma lalu menyuruh menyebarkan surat ini, ditambah “embel-embel”/“iming-iming” bahwa siapa yang menyebarkan akan mendapat “berkat”, sedangkan yang tidak, akan mendapat “celaka”. Saya akan menantang Anda, adakah di dalam Alkitab, kita diperintahkan untuk mengabarkan kesaksian orang lain lalu disertai “iming-iming” demikian ?! TIDAK ! Alkitab memerintahkan kita untuk mengabarkan Injil, bukan mengabarkan kesaksian orang lain yang tidak jelas ! Ketika Anda mulai meninggalkan esensi ini, celakalah Anda, karena Anda mulai mengganti berita Alkitab dengan berita Anda sendiri yang lebih menyenangkan telinga ! Saya tidak pernah anti-pengalaman, tetapi anti terhadap pengalaman-pengalaman yang tidak berintikan mengajarkan Firman Tuhan (Alkitab) dan memberitakan Injil. Pengalaman-pengalaman yang tidak mengajarkan Firman Tuhan, berhati-hatilah terhadap pengalaman-pengalaman itu, apalagi pengalaman-pengalaman dari seorang “pemimpin gereja” yang suka turun naik “surga”, itu pasti palsu dan sesat !

Ketiga, benarkah Paulus menggunakan kesaksian untuk memberitakan Injil di dalam Kis. 22-26, seperti kata Warren ? TIDAK ! Paulus bersaksi meskipun tidak menggunakan/mengutip ayat Alkitab, tetapi konsepnya sudah jelas dan orang yang Paulus hadapi pun berbeda dari konteks kita sekarang. Dari Kis. 22-26, Paulus dihadapkan oleh orang-orang Yahudi perihal pertobatan dan penginjilan yang ia lakukan, apakah kita juga menghadapi peristiwa serupa ?! TIDAK. Ingatlah, perhatikan konteks dan latar belakang penulisan Alkitab, jangan asal main serobot saja ! Alkitab bukanlah buku primbon yang bisa asal ditafsirkan, tetapi perhatikan kaidah-kaidah penafsiran Alkitab ! Bertobatlah hai orang-orang Kristen yang MALAS mempelajari Alkitab !

Kemudian, ia menjelaskan tentang bagian ketiga dan keempat dari empat pesan kehidupan,

Pesan Kehidupan Anda meliputi tindakan membagikan kerinduan ilahi Anda. Allah adalah Allah yang penuh kerinduan. Dia mengasihi beberapa hal dengan penuh kerinduan dan membenci hal lainnya dengan penuh kerinduan. Ketika Anda bertumbuh lebih dekat kepada-Nya, Dia akan memberi Anda kerinduan untuk sesuatu yang sangat Dia perhatikan sehingga Anda bisa menjadi jurubicara bagi-Nya di dunia... Anda akan merasa terdorong untuk membicarakannya dan mengerjakan apa yang Anda bisa untuk membuat sebuah perubahan.

Allah memberi beberapa orang kerinduan ilahi untuk memperjuangkan suatu perkara...

Allah memakai orang-orang yang punya kerinduan untuk memperlebar kerajaan-Nya...

Allah memberi kita kerinduan yang berbeda supaya segala sesuatu yang Dia ingin diselesaikan di dunia akan dapat diselesaikan...

Pesan Kehidupan Anda meliputi Kabar Baik. Kabar Baik itu adalah bahwa bila kita mempercayakan kasih karunia Allah untuk menyelamatkan kita melalui apa yang Yesus kerjakan, dosa-dosa kita diampuni, kita mendapatkan tujuan hidup, dan kita dijanjikan sebuah rumah masa depan di surga.

Ada ratusan buku yang luar biasa tentang cara memberitakan Kabar Baik... Yang terpenting, Anda harus belajar mengasihi orang-orang terhilang sebagaimana Allah mengasihi mereka.

Allah tidak pernah menciptakan seorang yang tidak Dia kasihi. Semua orang berharga bagi-Nya... Alkitab berkata, “Kasih Kristus mendorong kami, karena kami diyakinkan, bahwa satu orang sudah mati untuk semua orang.” (2 Korintus 5:14 ; New International Version) (Warren, 2005, pp. 314-315)....

Kita harus peduli dengan orang-orang yang belum percaya karena Allah peduli...

Alkitab berkata, “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9 ; AITB). Selama Anda mengetahui ada orang yang tidak mengenal Kristus, Anda harus terus mendoakan mereka, melayani mereka dengan kasih, dan menyampaikan Kabar Baik. Dan selama ada satu orang di dalam komunitas Anda yang tidak berada dalam keluarga Allah, gereja Anda harus terus menjangkau...

...

... Keselamatan kekal dari satu jiwa lebih penting dibandingkan apapun yang pernah Anda peroleh dalam kehidupan...

... menyebarkan Kabar Baik sangatlah penting ; Anda hanya memiliki waktu yang singkat untuk membagikan pesan kehidupan Anda dan memenuhi misi Anda. (Warren, 2005, pp. 323-326)

Komentar saya :

Allah memang menciptakan kita dan mengasihi ciptaan-Nya, tetapi pertanyaan lebih lanjut, apakah kasih-Nya ini menandakan bahwa semua ciptaan-Nya diselamatkan ?! TIDAK ! Kita boleh memiliki hati yang mengasihi jiwa, lalu mengabarkan Injil, tetapi ingatlah satu prinsip : beritakan Injil sewajarnya dan biarkanlah Roh Kudus bekerja menurut kehendak-Nya atas orang-orang pilihan Allah Bapa. Dari pemaparan Warren pada pernyataan, “Dan selama ada satu orang di dalam komunitas Anda yang tidak berada dalam keluarga Allah, gereja Anda harus terus menjangkau.”, sangat jelas bahwa presuposisi Warren mengajarkan bahwa semua orang pasti diselamatkan, sehingga gereja harus terus menjangkau mereka yang belum percaya. Dengan kata lain, gereja sangat membutuhkan mereka yang belum percaya. Ini sama sekali bertentangan dengan ajaran Alkitab ! Gereja memang harus menjangkau mereka yang belum percaya dengan berita Injil, tetapi ini tidak berarti gereja benar-benar membutuhkan mereka, melainkan yang sebenarnya perlu keselamatan adalah orang-orang yang belum percaya. Penginjilan sejati dikerjakan harus sejalan dengan kedaulatan Allah yang telah memilih beberapa manusia sebelum dunia dijadikan untuk percaya di dalam Kristus. Dengan kata lain, ketika kita menginjili, jangan pernah memaksa orang lain, kita perlu membiarkan Roh Kudus bekerja sesuai kehendak-Nya. Ingatlah, jangan membuat Injil menjadi murah ! Ketika orang lain menolak Injil yang kita beritakan, introspeksi diri kita, mungkin kita bisa salah dalam cara kita memberitakan Injil, tetapi jika kita tidak salah dalam memberitakan Injil, maka sadarlah itu adalah kedaulatan Allah yang tidak memilih orang tersebut atau mungkin belum waktu Allah menyadarkan hati dan pikirannya, sehingga kita tidak perlu mengemis kepadanya. Itulah kaitan antara penginjilan dengan kedaulatan Allah dan ini hanya bisa dikerjakan dalam kerangka pikir theologia Reformed !

No comments: