11 March 2008

Matius 9:14-17: ESENSI ATAU FENOMENA

Ringkasan Khotbah : 5 Juni 2005
Esensi atau Fenomena
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:14-17


Sebagai warga Kerajaan Sorga sejati maka kita harus taat – hidup seturut dengan hukum Kerajaan Sorga yang disusun oleh Kristus Yesus, Sang Raja, hukum itu dikenal dengan “Khotbah di atas Bukit“ (Mat. 5-7). Jadi, seorang Kristen bukanlah orang yang sekedar mempunyai atribusi Kristen tetapi harus berpaut dan terkait dengan status dan naturnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Hukum Kerajaan Sorga itu haruslah terimplikasi dalam hidupnya sehingga orang dapat melihat bahwa hukum yang Kristus tegakkan tersebut bukanlah sekedar teori belaka. Implikasi hukum Kerajaan Sorga oleh Matius dibagi dalam empat sub tema dan setiap sub tema terdiri dari 17 ayat (Mat. 8:1-17; 18-34; 9:1-17; 18-34) dan setiap sub tema memuat tiga cerita. Adapun dari keempat sub tema kita telah sampai pada sub tema ketiga dan cerita ketiga maka ada baiknya kita mengingat kembali sub tema yang telah diuraikan sebelumnya, yaitu:

Pertama, the Lordship of Christ, Kristus bukan sekedar Juruselamat tetapi Dia adalah Tuhan (baca: Tuan) berarti kita adalah budak-Nya. Seorang Kristen sejati seharusnya berorientasi pada Kristus yang adalah Tuan atas hidupnya. Orang yang mengaku warga Kerajaan Sorga tetapi hidupnya tidak mencerminkan hidup seorang Kristen sejati, tidak mengakui Kristus sebagai Tuannya maka ia bukan warga Kerajaan Sorga tetapi ia lebih cocok disebut sebagai seorang pengkhianat Kerajaan Sorga.

Kedua, the discipleship, pemuridan; kata "murid" berkait dengan mengikut Kristus dan mengikut disini bukan bersifat sementara tetapi mengikut Tuhan Yesus harus totalitas tanpa syarat apapun. Menjadi murid Kristus berati kita belajar dari Kristus, dibentuk oleh Dia sehingga hidup kita menjadi hidup yang dikenan oleh-Nya.
Ketiga, separated, pemisahan; pengikut Kristus harus hidup kudus. Kudus berasal dari kata kadosh (bahasa Ibrani) artinya dipisahkan dari dunia karena kita sedang mewakili atau memancarkan sifat khusus yang berbeda dengan dunia dan salah satunya adalah kesucian dimana sifat suci hanya ada dalam diri seorang anak Tuhan yang sejati. Jadi, kudus berbeda artinya dengan suci. Dan dalam sub tema ini, Matius memberikan tiga peristiwa dan orang seringkali terkecoh dengan ceritanya sehingga gagal menangkap esensi yang sesungguhnya.
Pada kisah yang ketiga, seperti kejadian sebelumnya, kali inipun orang Yahudi tidak puas dengan “kelakuan“ murid-murid Tuhan Yesus karena hari itu mereka puasa sedang murid-murid Tuhan Yesus tidak. Perlu diketahui, pengikut Yohanes Pembaptis bukan pengikut Tuhan Yesus. Para pengikut Yohanes Pembaptis masih menggunakan konsep Yudaime begitu juga dengan orang Farisi bahkan mereka termasuk dalam golongan orang yang paling keras dan fanatik dalam menjalankan ritual agama, salah satunya ritual puasa. Konsep puasa ini sudah muncul sejak perjanjian lama dimana puasa dimulai dari pagi hingga matahari terbenam sebagai tanda berakhirnya hari dalam satu hari. orang Yahudi berpuasa selama sehari penuh dan keesokan harinya barulah mereka makan. Perhitungan hari orang Yahudi dimulai dari jam 6 petang hingga jam 6 petang. Puasa dilakukan pada setiap hari pendamaian, the day of atonnement, yaitu tanggal 7 bulan 10 namuan dalam perkembangannya puasa berubah menjadi ritual agama. Orang Yahudi beranggapan bahwa Allah berkenan pada orang yang puasa Senin – Kamis. Dan hukum puasa ini mulai dibakukan. Berarti orang Yahudi minimum berpuasa selama dua kali seminggu atau 104 hari dalam setahun.

Hal puasa inilah yang diributkan oleh pengikut Yohanes Pembaptis. Dan jawaban yang Tuhan Yesus berikan sepertinya tidak menjawab apa yang menjadi pertanyaan mereka (Mat. 9:15) namun jawaban itu sangatlah kita mengerti sebaliknya ilustrasi yang diceritakan Tuhan Yesus (Mat. 9:16-17) ini sangat dimengerti oleh orang Yahudi tapi tidak dimengerti oleh kita sekarang. Jawaban Tuhan Yesus ini menjadi tanda sekaligus memposisikan diri dan membedakan diri-Nya dengan orang lain. Dengan puasa itu, orang Yahudi merasa dirinya “beragama“ dan “saleh.“ Tidak hanya puasa, orang Yahudi juga menjalankan aturan lain seperti disunat pada hari ke delapan, menjadi anak Taurat pada usia 12 tahun, mereka juga harus menjalankan aturan-aturan Sabat dan masih banyak aturan lain demi untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia adalah seorang Yahudi tulen.
Aturan puasa pertama kali dibakukan dalam kitab Imamat dan mempunyai konsep:
Pertama, kerendahan hati, orang merasa kalau dirinya adalah orang yang papah, yakni miskin secara keberadaan menggambarkan dirinya tidak mempunyai nilai apapun, Kedua, orang yang membutuhkan belas pengasihan dan rahmat dari Allah atas dosa-dosa mereka maka hidup itu mutlak karena anugerah Tuhan. Daud menyadari akan konsep ini, dia berpuasa ketika ia menyadari kalau anak hasil perbuatan dosanya harus mati namun reaksi yang ditunjukkan Daud berbeda ketika anaknya sudah mati, yaitu ia mengakhiri puasanya. Reaksi Daud ini berada di luar dugaan orang-orang terdekat Daud sebab disangkanya Daud akan marah pada Tuhan karena doanya tidak dijawab. Daud berpuasa bukan untuk memaksa supaya anaknya tidak mati. Konsep mereka tentang puasa ternyata tidak beda dengan kita pada hari ini, yaitu dengan puasa maka Tuhan harus menuruti apa yang menjadi kehendak kita. Puasa bukanlah mogok makan supaya keinginan kita dituruti. Tidak! Daud puasa karena ia tahu bahwa ia adalah orang berdosa yang membutuhkan belas pengasihan Tuhan, Ketiga, sesudah pembuangan, puasa mempunyai tambahan makna, yaitu menyadari bahwa diri adalah orang yang rapuh yang mudah terterpa oleh godaan dosa. Maka puasa adalah usaha manusia untuk berperang melawan godaan-godaan iblis yang membelenggu hidup manusia.

Sayangnya, konsep puasa tersebut telah mengalami penggeseran. Andaikata, orang berpuasa karena ia mengerti esensi puasa pertanyaannya masihkah ia protes pada Tuhan Yesus karena pengikut-Nya tidak berpuasa? Jadi jelaslah mereka berpuasa karena aturan dan lama kelamaan puasa menjadi hal yang rutinitas dan kehilangan makna. Puasa seharusnya menjadikan orang rendah hati namun kini, orang menjadi sombong karena merasa dirinya lebih “saleh“ dibanding orang lain. Sayang, inti iman begitu dalam telah bergeser menjadi kesombongan rohani. Mungkinkah hari ini kita juga jatuh pada hal yang sama dimana ritual agama sudah menggeser esensi agama? Inti iman justru hilang dan digantikan dengan aplikasi agama. Hati-hati, bukan karena kita pergi kebaktian tiap minggu atau saat teduh setiap hari atau aktif melayani berarti kita orang saleh. Tidak! Kesalehan tidak diukur dari seberapa banyak kita menjalankan ritual agama.

Puasa menjadi mekanis karena ada aturan yang mengharuskan kita untuk berpuasa padahal sesungguhnya orang tidak suka menjalankan puasa. Celakanya, kita sudah capek-capek puasa, tapi orang lain tidak puasa maka timbullah rasa iri hati. Puasa seharusnya menyangkal diri supaya tidak berdosa tapi kini menjadikannya semakin berdosa. Makna puasa telah bergeser menjadi ritual. Kalau kita mengerti makna pelayanan maka rasa iri hati itu tidak akan timbul ketika melihat orang lain tidak melayani, saat itu kita justru menjadi berdosa dan tidak diperkenan Tuhan. Praktek-praktek ritualitas ini telah mencengkeram agama dunia karena itu kita perlu dimerdekakan oleh Tuhan Yesus. Sebagai warga Kerajaan Sorga yang beriman di dalam Kristus maka hidup kita tidak sama dengan tatanan agama yang ada di dunia. Kita telah dipisahkan dari dunia dengan demikian orang dapat melihat perbedaan orang yang hidup dan menjadi warga Kerajaan Sorga dengan orang yang hidup menurut dunia, yaitu:

I. Esensi – Fenomena
Seperti telah dipaparkan sebelumnya, seseorang menjadi penganut agama tertentu karena ia telah menjalankan aturan yang diberlakukan dalam agama tersebut, seperti membaca kalimat tertentu, melakukan aturan yang berlaku maka barulah orang tersebut sah menjadi penganut agama tersebut. Akan tetapi dalam Kekristenan, ritual agama seperti baptisan tidak menjamin keselamatan. Sayangnya, ajaran ini pun mulai diselewengkan maka tidaklah heran kalau kemudian orang ramai-ramai minta dibaptiskan demi untuk memperoleh keselamatan. Penjahat yang berada di samping Tuhan Yesus tidak pernah dibaptis namun ia bertobat dan ia diselamatkan. Keselamatan tidak tergantung dari ritual apapun. Iman Kristen meminta kita menjadi warga Kerajaan Sorga karena esensi diri kita dalam hubungan dengan Kristus sebagai Raja. Apalah artinya seluruh pelayanan kita kalau tidak men-Tuhankan Kristus dalam hati kita, apalah artinya persembahan kita kalau hati kita tidak berpaut pada Kristus. Gejala bisa menjadi implikasi dari esensi bukan sebaliknya. Semua anak Tuhan sejati pasti dibaptis, pasti melayani, pasti menjadi saksi, ia pasti taat menjalankan semua hukum Kerajaan Sorga. Pertanyaannya sekarang apakah orang yang dibaptis, orang yang aktif melayani, orang yang menjalankan semua ritual itu beriman pada Krsitus? Jawabnya: tidak sebab apa yang menjadi fenomena tidak mewakili apa yang esensi. Allah tidak melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati. Sudahkah hati kita berpaut pada Kristus?

II. Iman – Ritual
Orang benar hidup oleh iman, dari iman, oleh iman dan berakhir dengan iman. Kekristenan melihat iman di atas ritual sebaliknya dunia melihat ritual lebih dari pada iman. Perbedaan ini menjadi suatu pemisahan. Orang yang ingin melihat bukti terlebih dahulu baru kemudian ia mau beriman maka itu bukan iman tetapi ritual. Kalau sudah ada bukti lalu untuk apa lagi kita percaya? Iman justru karena tidak ada bukti maka kita percaya. Kegagalan dunia dalam religiusitas adalah menggunakan tatanan dunia yang dikenakan dalam tatanan iman. Alkitab menegaskan orang benar adalah hidupnya karena percaya. Kristus Yesus adalah satu-satunya obyek iman sejati yang menjadi subyek yang menata seluruh hidup kita. Percaya berarti percaya. Orang yang berkata percaya tetapi masih penuh dengan segala pertanyaan berarti ia masih ragu-ragu. Thomas sadar akan hal ini, ia datang dan meminta ampun pada Tuhan Yesus ketika ia mulai meragukan kebangkitan Tuhan Yesus. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Kekristenan melihat iman di titik kulminasi dalam hidup kita. Saat kita beriman maka hidup kita akan menjadi kuat sebaliknya agama yang didasarkan pada ritual maka orang pasti mati-matian mempertahankannya karena takut tergoncangkan dan hancur. Bagaikan sebuah kain yang belum susut ditambalkan pada sebuah kain tua maka kain tua itu akan rusak. Orang Yahudi tahu bahwa yang dimaksud dengan kain tua dan kantong kulit tua adalah dirinya, mereka mati di dalam aturan yang mereka buat sendiri.

III. Teosentris – Antroposentris
Iman sejati haruslah bersifat teosentris, yakni berpusat pada Allah bukan berpusat pada diri, antroposentris. Hampir sebagian besar agama-agama di dunia berpusat pada diri. Orang berpuasa karena ingin supaya orang lain melihat bahwa ia adalah seorang yang saleh, ia adalah seorang yang baik dengan demikian layak mendapat Kerajaan Sorga. Perhatikan, orang yang merasa dirinya baik justru menunjukkan kalau dirinya bukan orang baik. Segala sesuatu kalau berpusat dari Allah maka disanalah pondasi imanmu menjadi kuat berbeda halnya kalau segala sesuatu kita kerjakan berpusat pada diri maka akibatnya akan timbul iri hati. Di jaman modern ini pelayanan buat Tuhan dijadikan sebagai ambisi pribadi maka tidaklah heran kalau gereja dijadikan sebagai ajang bisnis. Ingat, ketika orang hendak memulai suatu gerakan back to the Bible maka hendaklah kita mengevaluasi diri benarkah memang Tuhan yang menginginkan gerakan itu ataukah itu hanya menjadi ambisi pribadi kita? Ketika orang mulai menyelewengkan kebenaran Firman maka itulah waktunya bagi kita harus melawan dan “berteriak“ keras supaya orang kembali pada kebenaran Firman dengan demikian gereja Tuhan dimurnikan. Di saat kehendak diri bertentangan dengan kehendak Tuhan maka kita harus taat menjalankan-Nya bahkan meski untuk itu kita harus berkorban karena itulah yang menjadi kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bukan mengerjakan apa yang menjadi kesukaan dan ambisi pribadi. Bukan! Biarlah kita mengerti apa yang bersih, apa yang benar dan melawan orang-orang yang telah melawan kebenaran Firman dan menjadikan gereja sebagai bisnis. Gereja bukanlah tempat bagi kita untuk mencari keuntungan, gereja bukanlah tempatnya pekerjaan yang berpusat pada manusia tetapi berpusat pada Kristus yang adalah Raja.
Inilah separasi, pemisahan, dimana sistem Kerajaan Allah berbeda dengan sistem kerajaan dunia. Pertanyaannya sekarang adalah sebagai warga Kerajaan Sorga sudahkah kita menyangkal diri, menyadari ketidakberdayaan kita lalu menyerahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan? Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Kerjakanlah semuanya itu di dalam anugerah Tuhan bukan menurut kesombongan diri. Biarlah kita sebagai warga Kerajaan Sorga dipakai oleh Tuhan menjadi saksi-Nya dan mendatangkan kemuliaan bagi Kristus Sang Raja. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

Resensi Buku-46: 5 MENIT SEJARAH GEREJA (Rev. DR. RICHARD W. CORNISH)

...Dapatkan segera...
Buku
FIVE MINUTE CHURCH HISTORIAN
(5 MENIT SEJARAH GEREJA)


oleh: Rev. DR. RICHARD W. CORNISH

Penerbit : Pionir Jaya dan NavPress, Bandung, 2007

Penerjemah : Handy Hermanto





Deskripsi dari Penerbit Pionir Jaya :
Mengapa kita perlu mempelajari Sejarah Gereja ?
Mereka yang mendahului kita telah mencoba untuk menghayati apa yang kita percayai. Jikalau kita mempelajari doktrin mereka tanpa aplikasinya, kita kehilangan separuh dari gambarannya. Dengan mengerti gambaran besar dari Sejarah Gereja, marilah kita berakar kuat di dalam iman !

...warisan rohnai melebihi garis keturunan biologis. Warisan genetika mungkin akan bertahan selama delapan puluh tahun ; warisan rohani bertahan selamanya.

Buku ini mendapatkan pujian dari Rev. Hank Pharis, D.Min. (Pendeta Gereja Baptis Calvary, Fargo, North Dakota) ; Prof. William Travis (Profesor emeritus Sejarah Gereja di Seminari Bethel, St. Paul, Minnesota) ; Prof. John D. Hannah, Th.D., Ph.D. (Profesor, penulis Our Legacy : A History of Christian Doctrine) ; Prof. Bryan Dowd (Profesor di Universitas Minnesota) ; Prof. Donald Fairbairn, Ph.D. (Profesor, penulis Grace and Christology in the Early Church) ; Prof. Vernon J. Steiner, Ph.D. (Presiden The MIQRA Institute) ; Stephen E. Freed (Presiden : International Teams) ; dan Prof. Charles F. Alling, Ph.D. (Profesor Sejarah di Northwestern College dan penulis dari Egypt and Bible History).



Deskripsi dari Denny Teguh Sutandio :
Sejarah Gereja adalah sejarah umat Tuhan dari sejak zaman para rasul, gereja mula-mula, Abad Pertengahan, sampai sekarang. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen, kita perlu mempelajari Sejarah Gereja yang merupakan Kisah-Nya (History is His-story). Mengapa kita perlu mempelajari Sejarah Gereja ? Ada dua hal yang perlu ditekankan, yaitu : Pertama, agar kita dapat mempelajari iman dan perjuangan mereka di dalam menegakkan doktrin yang sesuai dengan Alkitab serta rela menjadi martir bagi Kristus. Kedua, agar kesalahan kita di zaman sekarang tidak terulang seperti pada zaman Sejarah Gereja. Misalnya, beberapa gerakan “Kristen” kontemporer ternyata mengulang kembali sejarah Montanisme di dalam Sejarah Gereja, begitu juga dengan Unitarianisme yang merupakan bentuk modern dari Arianisme di dalam Sejarah Gereja yang sudah dinyatakan bidat oleh para Bapa Gereja di dalam Konsili Niceae (325 M). Untuk mempelajari Sejarah Gereja, banyak buku yang sudah ditulis, tetapi sejujurnya kendala yang dihadapi adalah buku-buku tersebut sangat tebal, bahkan banyak yang kurang aplikasi. Di antara buku-buku yang menguraikan Sejarah Gereja, buku Lima Menit Sejarah Gereja yang ditulis oleh Rev. DR. RICK CORNISH adalah sebuah buku rangkuman sejarah Gereja dari sejak zaman para Rasul, gereja mula-mula, Abad Pertengahan, Renaissance, Pencerahan, Modernisme, sampai pada zaman sekarang dengan menghadirkan 100 tokoh dan subtema penting (misalnya mencakup Polycarpus, Bapa Gereja Augustinus, Anselmus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, Rev. Jonathan Edwards, Rev. John Wesley, Rev. George Whitefield, Rev. Charles Haddon Spurgeon, kaum Huguenot di Prancis, Puritan di Inggris, Dr. John Owen, Pengakuan Iman Westminster, Dr. Abraham Kuyper, Dr. Carl F. H. Henry, Dr. Billy Graham, dll) dengan aplikasi praktisnya di dalam kehidupan Kristen. Buku ini dinamakan Lima Menit Sejarah Gereja karena buku ini dimaksudkan agar para pembaca Kristen (khususnya) membaca buku ini per bab/sub tema selama 5 menit per hati, sehingga mereka dapat belajar dari masing-masing bab. Karena buku ini buku singkat dan hanya rangkuman dari sejarah Gereja, maka buku ini juga memiliki sedikit kekurangan, yaitu kekurangan data, doktrin yang diajarkan oleh beberapa tokoh yang diungkapkan. Selain itu, ada beberapa kekurangan lain, yaitu beberapa sudut pandang yang digunakan oleh Cornish (penulis) kurang sesuai dengan Alkitab.







Profil Rev. DR. RICHARD W. (RICK) CORNISH :
Rev. DR. RICHARD W. (RICK) CORNISH adalah pendeta senior First Baptist Church di Luverne, Minnesota, USA. Beliau juga menggembalakan di Kansas dan Wyoming, dan sebelumnya beliau mengajar Perjanjian Baru dan Theologia Sistematika selama tujuh tahun di Donetsk Christian University di Ukraine. Saat ini, beliau melayani sebagai dosen bagi para misionari dalam bidang theologia, Perjanjian Baru, dan Sejarah Gereja di International Council for Education Development. Beliau meraih gelar doktor dari Denver Seminary, USA setelah beliau menamatkan studi magisternya dalam bidang bahasa Yunani dan Sejarah dari University of Nebraska. Beliau tinggal di Minnesota bersama istrinya, Tracy, dan kedua puteranya Scott dan Ben (para pembaca awal dan yang terpenting dari buku ini).

Roma 6:12-14: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-4: Hidup Bagi Allah

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-6


Implikasi Perbedaan Esensial-4 :
Hidup Bagi Allah (bukan bagi dosa)


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 6:12-14.

Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 11, mulai ayat 12 s/d 14, Paulus mulai mengimplikasikan secara praktis di dalam hidup yang melawan dosa.

Setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa. Apa artinya ? Ada dua arti.
Pertama, tidak lagi hidup di dalam dosa berarti hidup kita tidak ditundukkan di bawah dosa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Kata “berkuasa” dalam KJV diterjemahkan reign yang dalam bahasa Yunani berkaitan dengan kerajaan. Dengan kata lain, Paulus memakai metafora ketika ia mengajar bahwa dosa di sini sebagai tuan manusia ketika manusia masih menjadi hamba dosa. Ketika manusia masih menjadi hamba dosa, manusia itu tetap manusia lama yang menjadikan dosa sebagai tuannya. Kok bisa ? Bukankah di abad postmodern ini kita banyak mendengar bahwa semua manusia yang beragama pasti masuk surga ? Bukankah mereka juga mengajarkan bahwa semua agama itu ber“Tuhan” ? Benarkah demikian ? Kalau semua agama menyembah Allah, di Roma 3:10-11, Allah tak perlu mengatakan bahwa semua manusia berdosa dan tak ada yang mencari Allah. Di sini, kita melihat bahwa meskipun agama mengandung sedikit unsur baik, Alkitab tetap mengajar prinsip penting bahwa manusia sebelum menerima Kristus tetap adalah manusia lama yang mentuankan dosa (meskipun di bibir, mereka menyembah “Allah”). Ini membuktikan kelicikan dosa yang terselubung. Dosa jangan dimengerti secara fenomena, tetapi harus dimengerti secara esensi, yaitu meleset dari sasaran Allah (Yunani : hamartia). Kata inilah yang dipakai di dalam ayat ini. Sebagai manusia baru, kita dituntut Allah melalui Paulus untuk tidak mentuankan dosa. Artinya, kita tidak lagi tunduk di bawah pemerintahan dosa, meskipun kita tetap hidup di dalam tubuh yang fana. Pernyataan “tubuhmu yang fana” dalam ayat ini sungguh menarik. Mengapa ? Karena tubuh yang fana menunjukkan adanya kelemahan di dalam tubuh jasmani manusia. Tetapi Paulus mengajar jemaat Roma (dan kita juga) untuk tidak menyerah kalah terhadap kedagingan kita, melainkan kita harus berani menolak dosa. Bagaimana caranya ? Paulus menjelaskan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginan dosa. Sungguh menarik, Paulus mengaitkan konsep dosa dengan keinginannya (KJV : lust) yang termasuk bagian dari dosa. Konsep ini sebenarnya diambil dari Tuhan Yesus yang mengajarkan bahwa ketika kita melihat seorang wanita dan mengingininya, itu sudah dianggap berzinah/dosa. (Matius 5:28, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”) Di sini, konsep kekudusan yang Tuhan Yesus ajarkan melampaui apa yang Taurat ajarkan (Matius 5:27). “Melampaui” di sini tidak berarti Taurat tidak mengajarkannya, tetapi Tuhan Yesus memberikan arti yang sebenarnya dari Taurat, karena selama itu, Taurat sudah diselewengkan oleh orang-orang Farisi. Kembali, dosa bukan sekedar membunuh, mencuri, dll, tetapi dosa lebih mengarah ke dalam hati. Ketika hati dan motivasi kita tidak beres, di saat itulah kita berdosa. Mengapa ? Karena Tuhan lebih menyelidiki hati kita, bukan penampilan kita. Tuhan tak pernah tertipu oleh penampilan luar kita yang mungkin sangat kelihatan alim/religius di mata orang lain ! Tuhan lebih melihat hati kita, karena di situlah terpancar segala sesuatu. Sehingga, Paulus mengajarkan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginannya. Kata “menuruti” dalam bahasa Yunani hupakouō bisa berarti listen attentively (mendengar dengan penuh perhatian). Dengan kata lain, kita tidak menuruti keinginan dosa identik dengan kita tidak mendengarnya atau memperhatikannya dengan seksama. Atau yang lebih sederhana lagi, sebagai manusia baru, kita tidak menjadikan dosa sebagai kesukaan/favorit kita. Bagaimana dengan kita ? Apakah dosa menjadi kegemaran/favorit kita sehari-hari sehingga tanpanya, kita seakan-akan tak bisa hidup ? Bagaimana cara mengujinya ? Ketika kita mulai gemar terhadap dosa, tandanya adalah kita diberhalakan oleh sesuatu. Misalnya, di dalam gereja, meskipun sudah diperingatkan berulang kali untuk menonaktifkan HP (bahkan sebelum khotbah dimulai), kita seringkali tidak menjalankannya, dengan beribu alasan, yaitu lupa, ada hal “penting” (lebih “penting” daripada mendengar dan merenungkan Firman Tuhan), dll. Padahal, secara tidak langsung, kita sedang memberhalakan HP, sehingga tanpanya kita seolah-olah tak dapat hidup. Di saat itu pula lah kita gemar terhadap dosa, karena kita lebih mementingkan HP kita ketimbang mendengar dan merenungkan Firman Tuhan di dalam gereja.

Kedua, tidak hidup di dalam dosa berarti kita tidak menyerahkan anggota tubuh kita sebagai alat dosa. Di ayat 13, Paulus mengajarkan hal ini, “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Kata “menyerahkan” berarti ada unsur penyerahan aktif dari pribadi tertentu kepada pribadi lain. Demikian pula, ketika ayat ini mengajarkan bahwa kita jangan menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa berarti kita tidak boleh lagi secara aktif berperan serta di dalam dosa apalagi untuk sesuatu yang lalim. Kata “kelaliman” dalam ayat ini bahasa Yunaninya adikia berarti injustice (=ketidakadilan). Dengan kata lain, kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk dipakai iblis dalam mengerjakan apapun yang tidak adil atau jahat karena itu melawan Allah dan berdosa. Lalu, bagaimana selanjutnya ? Apakah kita pasif ? TIDAK. Alkitab melanjutkan bahwa kita bukan pasif, tetapi aktif yaitu menyerahkan diri kita kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati tetapi sekarang hidup. Dengan kata lain, kita mau menghambakan diri kita kepada Allah dan ketika kita menjadi hamba Allah, kita disebut hidup dari kematian (KJV : alive from the dead). Sungguh menarik, banyak orang dunia mengatakan bahwa menjadi orang Kristen itu sulit, karena mau apa saja dilarang, sembahyang di depan peti orang meninggal tidak boleh, dll. Benarkah demikian ? TIDAK. Alkitab justru mengatakan bahwa ketika kita tunduk di bawah Allah, kita benar-benar hidup, sedangkan ketika kita tidak tunduk kepada Allah, tetapi tunduk kepada dosa, kita mati (meskipun “hidup” secara fisik). Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita tunduk kepada Allah ? Ketika kita tunduk kepada Allah, ada berkat tersendiri yang disediakan-Nya bagi kita. Apakah itu berkat jasmani ? TIDAK SELALU. Yang terpenting bahwa kita tunduk kepada Allah, maka Allah akan memberkati dan memimpin langkah hidup kita ke jalan-Nya yang terindah. Bagaimana cara kita menyerahkan tubuh kita bagi Allah ? Caranya menyerahkannya untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Kata “kebenaran” di sini identik dengan keadilan (Yunani : dikaiosunē). Sehingga dengan demikian berarti kita secara aktif menyerahkan tubuh kita untuk menjadi senjata-senjata yang memperjuangkan dan berjuang bagi keadilan Allah. Sama seperti yang diajarkan Paulus nantinya di Roma 12:1, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”, kita dituntut untuk secara aktif mempersembahkan tubuh kita bagi Allah sebagai wujud dari ibadah yang sejati (KJV : reasonable = layak/pantas). Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita menjadi senjata-senjata keadilan Allah yang berperang bagi zaman untuk membawa zaman kita kembali kepada Kristus ? Dengan menjadi senjata-senjata keadilan Allah, kita sebenarnya beribadah kepada-Nya dengan layak/pantas. Banyak orang “Kristen” mengaku diri beribadah, tetapi cara berpikir, hati, perkataan dan sikapnya masih menyerupai manusia lama yaitu suka berdosa. Itukah beribadah ? Marilah kita belajar melalui ayat ini yaitu untuk menjadi senjata-senjata keadilan Allah dengan aktif mempersembahkan tubuh dan tentunya hidup kita bagi Allah demi kemuliaan-Nya. Kita bisa melakukan hal ini karena kita adalah hamba dan Allah sebagai Pemilik hidup kita. Itulah artinya men-Tuhan-kan Kristus dan menghambakan diri manusia.

Mengapa kita bisa melakukan semuanya itu ? Paulus memberikan jawabannya di ayat 14, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Yaitu, karena kita tidak dikuasai lagi oleh dosa, atau tidak memerintah hidup kita, maka kita tidak hidup di dalam dosa. Dengan kata lain, saya mengulanginya, yaitu, ketika kita hidup di dalam dosa, maka dosa itu memerintah/berkuasa di dalam hidup kita dan kita akan menjadi hamba dosa. Tetapi ketika tidak dikuasai lagi oleh dosa oleh karena Kristus telah menebus dan mengalahkan kuasa dosa dan maut, maka kita pun tidak boleh lagi hidup di dalam dosa. Mengapa kita tidak dikuasai oleh dosa ? Paulus menjelaskan selanjutnya bahwa karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia/anugerah (KJV : grace). Apakah hukum Taurat menyiksa dan membuat seseorang berdosa ? TIDAK. Melalui perenungan ayat-ayat sebelumnya, kita sudah banyak belajar bahwa Taurat menjadi perintah Tuhan bagi manusia yang sebenarnya memimpin hidup manusia sekaligus sebagai cermin bahwa manusia itu berdosa dan tak mampu melakukan semua tuntutan Taurat secara sempurna. Tetapi karena kebebalan manusia dan penyelewengan dari orang-orang Farisi, maka banyak orang Israel/Yahudi menjadi gila Taurat tetapi tak mengerti esensi penting dari Taurat yaitu kasih kepada Allah, sesama dan diri (Matius 22:37-40). Sehingga ketika orang-orang Yahudi menaati Taurat, mereka sebenarnya sedang berdosa karena mereka melupakan esensi Taurat. Ketika Tuhan Yesus datang, Ia membongkar total konsep mereka yang salah tentang Taurat dan mengartikan kembali Taurat yang sesungguhnya yang sudah lama diselewengkan. Bagaimana dengan orang Kristen ? Perlukah mereka menjalankan Taurat ? Banyak orang Kristen menganggapnya TIDAK PERLU, karena kita sudah ditebus dari kutuk hukum Taurat. Anggapan ini separuh benar, tetapi selebihnya salah, mengapa ? Karena meskipun kita telah ditebus dari kutuk hukum Taurat melalui penebusan Kristus, Taurat tetap berfungsi untuk memimpin langkah hidup kita, misalnya : jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan berzinah, hormati orang tua, dll. Tetapi bedanya ketika orang Kristen melakukan Taurat, Paulus berkata bahwa kita melakukannya di bawah kasih karunia yang tak membelenggu, tetapi sebagai respon ucapan syukur karena kita telah diselamatkan oleh Kristus. Sedangkan, orang-orang Yahudi yang tak mengerti (sampai sekarang) masih menjalankan Taurat secara ketat tanpa mengerti esensinya, sehingga mereka kelihatan beragama, tetapi sebenarnya mereka berdosa, karena mereka melupakan esensi Taurat, sehingga mereka menjalankannya dengan belenggu yang mengikat supaya mereka diselamatkan/masuk Surga/diperkenan Allah. Tidak seperti orang-orang Yahudi yang telah salah menafsirkan Taurat, maukah kita hari ini menjalankan perintah-perintah Allah di dalam Taurat dengan penuh kerelaan hati dan kebebasan karena Kristus telah mengerjakannya bagi kita ? Justru karena Kristus telah memenuhi dan membebaskan kita dari kutuk hukum Taurat, kita bisa dengan bebas yang bertanggungjawab melakukan Taurat tanpa adanya ikatan yang membelenggu sama seperti kita yang sudah diberi sesuatu oleh orang lain, kita akan berterimakasih dan mungkin akan memikirkan cara bagaimana membalas kebaikan orang lain itu.

Hari ini, setelah kita merenungkan ketiga ayat ini, adakah hati kita tergerak untuk tidak lagi hidup bermain-main di dalam dosa ? Adakah kita berkomitmen untuk menggemari dosa, tetapi sebaliknya menggemari Firman Allah dan Kebenarannya ? Itulah citra diri manusia baru yang telah ditebus Kristus dari hidup yang sia-sia. Soli Deo Gloria. Amin.

06 March 2008

KKR Siswa Regional 2008: Jakarta, Surabaya dan Jawa Timur

KKR Siswa Regional 2008


Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
(Mzm. 119:9)


Sekadar Sharing for Bro/Sist in Christ dan Undangan khusus untuk melayani bagi Semua teman yang membaca pesan ini…

REMAJA BAGI KRISTUS, 18 – 21 Januari 1987
(Mat. 18:1–5; 19:13–15)
18 Januari 1987. Minggu sore itu, ribuan teens yang merasa ‘kawula muda’ berduyun-duyun datang ke Istora Senayan. Sekitar 160 bus membawa mereka dari seluruh pelosok JaBoTaBek tak ketinggalan. Di pintu masuk Istora, mereka disambut oleh para petugas remaja/Penyambut tamu/Ushers, yang dengan ramah dan tertib meminta kertas undangan lalu menghantar masuk dan mempersilakan mereka mengambil tempat duduk yang terbaik.
Wajah ribuan remaja saat itu begitu tampak gembira. Memang sih, kali ini lain rasanya, berada di tengah–tengah 15.000 sesama teens yang memadati Istora Senayan. Meski mereka kaga saling kenal, ada suatu semangat, ada rasa kompak, dan yang so pasti ada suasana sukacita.
“Bangkitlah Hai Remaja! Mari kita hidup bagi Kristus. Sucikanlah hatimu…” yang merupakan lagu tema menjadi maskot yang populer dinyanyikan para remaja, empat malam berturut–turut dengan semangat dan lantang. Seperti layaknya ajakan, dorongan dan doa dr dan untuk para remaja agar betul–betul bangkit juga hidup bagi Kristus.
Di empat hari berturut–turut, di Istora, ada kabar kesukaan, ada urgent message disampaikan. Yaitu kabar kesukaan, Injil keselamatan hanya di dalam Yesus Kristus. Pdt. Dr. Stephen Tong menyampaikan berita Injil. Manusia, tak terkecuali para remaja, telah berdosa dan mjdi seteru Allah. Tetapi Kristus Tuhan telah mati dan bangkit untuk menebus dosa–dosa mereka. Yesus Kristus-lah Juruselamat mereka. Panggilan untuk percaya dan menerima Yesus Kristus sbagii Tuhan dan Juruselamat, telah disambut dengan antusias oleh beribu–ribu remaja selama kebangunan rohani itu.
Seorang ketua salah satu gereja di Jakarta, mempunyai seorang putra remaja. Semasa kecil anak itu telah menerima Kristus. Tetapi ketika menginjak usia remaja, Ia tidak mau lagi ke gereja, meskipun gerejanya ada di sebelah rumah. Orangtua si remaja ini ingin sekali anaknya ikut KKR Remaja. Mereka mencarikan free ticket sebagai tanda masuk, tidak lupa mendoakan anak ini, tetapi anak itu sendiri menolak mentah–mentah. Namun orangtuanya tidak putus harap, mereka terus berdoa baginya.
Pada hari ketiga KKR Remaja, seorang saudaranya berhasil mengajak remaja itu. Begitu mereka berangkat, orangtua si remaja itu langsung masuk suatu ruangan, bertelut dan berdoa. Setiba di Isora, remaja itu menolak untuk masuk, tetapi akhirnya mau juga.
Apa yang terjadi selama remaja itu mengikuti kebaktian?
Puji TUHAN! Ia memperoleh banyak berkat dan pulang dengan sukacita. Besoknya ia sendiri yang minta untuk pergi. Empat hari sesudah KKR Remaja selesai, seorang panitia mengunjungi remaja itu, dan ia menyerahkan diri kembali kepada Kristus.
Melalui KKR Remaja ini nyata betapa besar kehausan para remaja, baik akan Firman Tuhan maupun akan pelayanan rohani bagi mereka. Para remaja itu sendiri menyatakan keinginannya untuk mengikuti acara khusus diselenggarakan buat mereka ini.
Pada masa sebelum KKR Remaja, banyak remaja sepulang dari sekolah membantu publikasi dengan mengunjungi sekolah–sekolah lain untuk membagikan undangan dan poster. Sementara KKR Remaja berlangsung, banyak remaja yang atas inisiatif sendiri, mengajak teman-temannya untuk hadir.


Event KKR Siswa Regional 2008, sudah ada di depan ‘mata’ kita
Apa saja yang bisa kita lakukan, saat ini?
Berdoa…
Dalam share di buku ini, Pekerjaan Roh Kudus di antara belasan ribu hadirin setiap malam, tidaklah lepas dari dukungan doa. Tim Doa (10 orang) berdoa terus–menerus selama kebaktian berlangsung. Sebelum itu, selama 2½ bulan persiapan KKR Remaja, Setiap hari doa dipanjatkan dr 12 pos doa di seluruh Jakarta. Banyak pula orangtua para remaja mendoakan KKR Remaja di rumah masing-masing, disamping para remaja yang mendoakan di gereja masing-masing.

…dan Bekerja.
Panitia KKR Remaja ditunjang oleh 60 org panitia inti, ± 250 org humas dan ± 500 org konselor. 20.000 brosur, kartu doa, poster dan sticker dicetak dan disebarkan ke lima wilayah JaBoTaBek. Banyak remaja ikut membantu seksi humas membagikan bahan publikasi ke sekolah–sekolah, persekutuan dan gereja. Poster tidak ditempelkan di jalan–jalan, karena KKR Remaja ini menerapkan gerakan Andreas, yaitu tiap jiwa membawa jiwa lain. Artinya, yang Kristen membawa teman yang bukan Kristen atau paling sedikit mendoakan serta memberikan undangan.
Dalam waktu seminggu, 70.000 karcis tanda masuk/undangan telah habis. Begitu byk yang masih ingin hadir, tetapi tidak bisa mendapatkan karcis, sehingga panitia memutuskan untuk menambah satu kebaktian lagi pd hari terakhir dan mencetak 5000 karcis tambahan (Diambil, digubah sesuai aslinya dari Bulletin Momentum Eds. 1, Bln Maret 1987).
Akankah hal–hal yang terjadi diatas yang merupakan sharing ke teman-teman sekarang ini akan menjadi sebuah share yang berlalu saja dan akan jadi ‘museum’ atau record kebanggan kita saja lalu DILUPAKAN begitu saja?
Ataukah hal–hal yang sama di atas dapat juga terjadi saat sekarang ini? Jawaban yang tepat ada pada Belas kasihan, Anugerah TUHAN untuk generasi muda di zaman bengkok ini, Kehendak dan Pimpinan Tuhan pada kita masing–masing yang berbagian di event kali ini serta Kerelaan kita untuk mau mengasihi, meringankan kaki-tangan serta waktu kita untuk bergerak dan mengajak saudara–saudara/teman–teman yang belum mengenal Tuhan untuk mengikuti dan melayani di event KKR Siswa regional 2008 yang di depan ‘mata’ kita ini. SEGERA bergerak dan berbagian dalam event ini…
Dibawah ini sebuah lagu yang adalah seruan–seruan jiwa, diri yang terhilang, yang belum kembali ke Pencipta-NYA tuk menerima Keselamatan dalam Kristus Yesus…Diharapkan mrpkn rintihan dan panggilan hati kita untuk segera tidak berdiam diri, berpangku tangan dan hanya jadi penonton dalam pekerjaan TUHAN yang akan dinyatakan di event KKR Siswa Regional tahun ini.

PEOPLE NEED THE LORD
by: Greg Nelson and Phill Mc Hugh

*.) Ev’ry day they pass me by, I can see it in their eyes
Empty people filled with care, headed who knows where
On they go through private pain living fear to fear
Laughter hides the silent cries only Jesus hears
Refrain:
People need the Lord…(2x)
At the end of broken dreams,
He’s the open door
People need the Lord…(2x)
When will we realize,
People need the Lord

**.) We are called to take HIS light to a world where wrong seems right
What could be too great a cost for sharing life with one who’s lost?
Through HIS love our hearts can feel all the grief they bear
They must hear the words of life only we can share. (Back to: Reff…)



Sample Brosur: KKR Siswa Regional 2008
“PUSAT”

Kelahiran orang ada maksudnya. Kehidupan org ada nilainya. Kematian orang ada kenangannya. Mau bagaimana dan dengan cara apa kita mnjlninya?
1.) Apa yang mbuat hdup ku bangga dari apa yang kucapai saat ini?
2.) Apa arti hidup bahagia,senang dan puas menurut pengertian ku?
3.) Kalau aku tidak mencapai apa yang kuinginkan dan kenyataan hidup yang kujalani brlwnan, apa yang dapat kulakukan?
4.) Apa tujuan hidupku? Apa sebabnya tujuan hdupku seperti itu?
5.) Apa yang membuat aku senang, puas atas hidup ini?
6.) Apa yang aku cari selama hidup ini?
7.) Apa yang aku inginkan selama perjalanan hidup ini?
Apa sih Hidup itu? Untuk apa sih kita hidup? Bukankah cuma sementara? Apa arti dan nilai hidup sebenarnya? Bagaimana tahu standar baik/tidaknya nilai hidup itu sendiri, sementara yang menilai hidup juga hanya manusia? Arah dan tujuan hidup hendak mau ke mana? Posisi ku sekarang dalam hidup uda ada di arah yang BENAR??

Who am I? Sapakah sesungguhnya diriku ini?
Berapa banyak siswa saat ini yang sadar betul pertanyaan di atas yang terkadang terlintas di pikiran dan lamunannya? Berapa banyak siswa yang sadar betul keberadaan dirinya saat ini sedang menentukan nasib bangsa-nya di zaman mereka dewasa? Apakah banyak siswa saat ini tergoncang jiwa dan dirinya, merasa frustasi, depresi, bingung di persimpangan jalan untuk menentukan arah dan mencari identitas dirinya yang sejati di tengah riuhnya tawaran dunia yang begitu mengiurkan? Sehingga generasi muda begitu mudah terbawa arus yang begitu menyesatkan seperti: tawuran, ngikut genk yang melakukan kekerasan dan anarkhi, free–sex, free life style, nilai moral etika begitu merosot, narkoba, pelecehan sexual, sexual abuse.

Pdt. Stephen Tong mengatakan: Sejarah akan membuktikan bahwa orang–orang penting dan agung dalam sejarah dunia ini, tidak akan lepas dr apa yang mereka dptkan dr pendidikan dan pengertian akan kebenaran semenjak orang itu mjdi anak–anak. Itu lah yang akan mjdi dogma/ajaran jg konsep pikir mereka dalam berperilaku dan bertindak saat mereka dewasa (Maz 78:1–4).

Dunia akan mengingat terus ada orang–orang yang menjadi trouble maker atau kanker masyarakat seperti: Saddam Hussein, Hitler, Stalin, Ken Arok, Mussolini, Osama bin Laden, Pol Pot, Mao Tze Tung, juga Nero. Tp dunia jg tidak akan pernah lupa pernah lahir org2 agung ke dalam dunia sprti: Paulus, Abraham Kuyper, Lao-Tze, Yesus Kristus, Mother Teressa, George Washington, John Calvin, Martin Luther. Dunia bisa pecah dan split dua kutub antara baik/benar dan jahat/tidak benar karena semua didasari oleh konsep pikir dan dogma yang mereka ajarkan ke masyarakat semasa hidup mereka.

Generasi saat ini mungkin akan menjadi suluh bagi masyarakat yang menerangi dan mendorong kemajuan, tetapi juga mungkin bisa menjadi masa kegelapan paling gelap masyarakat yang akan merobohkan dan memporak–porandakan suatu negara.

Berdoalah kiranya di dalam KKR Siswa Regional 2008 ini, kita melihat bagaimana TUHAN kembali mengasihani dan beranugerah dengan membangkitkan generasi penerus dari hanya segelintir siswa/i Kristen yang berperan sungguh memperbarui Indonesia Melalui Iman, Pengharapan, dan Kasih di dalam janji Firman Tuhan dan kuasa pimpinan Roh Kudus (Luk. 9:48; 18:15 –17).


Waktu dan tempat:
Jumat, 28 Maret 2008
SD : Pk. 11.00 – 13.00 WIB
SMP/SMU : Pk. 13.30 – 15.30 WIB
di MANGGA DUA SQUARE
Hall C 2nd floor, Jakarta Pusat



Contact Person :
Bpk. Jahja B.P.: 0818 181716
Sdr. Nico Pratama: 0815 8901392Sdr. Melvin: 0818 887099


Sekretariat Panitia:Jl. Tanah Abang III No. 1, Jakarta PusatTelp. 021–70003000, Sdri. Yanti 081 7000 3000, Sdri. Eva 081 70000 300


Liputan Khusus dan Jadwal KKR Siswa Regional
Wilayah Surabaya dan Jawa Timur


KKR Siswa Regional 2008 di Surabaya yang pertama kali pada hari Selasa, 4 Maret 2008; Pkl. 14.00 WIB di Sekolah Kristen Dharma Mulya, Surabaya dilayani oleh: Ev. Mercy Grace Preally Putong Matakupan, S.Th. Menurut informasi, KKR ini dihadiri oleh kira-kira lebih dari 300 siswa/I dan hampir 50 siswa/i yang maju ke depan pada saat altar call untuk menerima Tuhan Yesus atau/dan mengabdikan diri mereka untuk melayani Tuhan secara penuh waktu.



Berdoalah untuk KKR Siswa Regional di Surabaya dan Jawa Timur:

27 Maret 2008:
di Sekolah IPH

28 dan 29 Maret 2008:
di Sekolah Kristen Kalam Kudus dan Aletheia




KKR REGIONAL 2008
Jawa Timur
Malang: 29 Maret
Aula ANDREW GIH, SAAT Lama
KKR SD: Pk. 13.00 WIB
KKR SMP-SMA: Pk. 15.30 WIB
KKR Umum: Pk. 18.00 WIB

Blitar: 05 April
di Aula PATRIA
KKR SD: Pk. 13.00 WIB
KKR SMP-SMA: Pk. 15.30 WIB
KKR Umum: Pk. 18.00 WIB

Kepanjen: 12 April
di Aula KORPRI
KKR SD: Pk. 13.00 WIB
KKR SMP-SMA: Pk. 15.30 WIB
KKR Umum: Pk. 18.00 WIB

Batu: 19 April
di Aula Bukit Zaitun I3
KKR SD: Pk. 13.00 WIB
KKR SMP-SMA: Pk. 15.30 WIB
KKR Umum: Pk. 18.00 WIB

Lawang: 26 April
di Aula SOLA GRATIA, ITA
KKR SD: Pk. 13.00 WIB
KKR SMP-SMA: Pk. 15.30 WIB
KKR Umum: Pk. 18.00 WIB



Untuk keterangan, informasi dan jika Anda menginginkan di daerah Anda diselenggarakan KKR Siswa Regional ini (khususnya wilayah Indonesia Timur), silahkan menghubungi:
Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div.
(Koordinator KKR Siswa Regional 2008 untuk wilayah Indonesia Timur)
(031) 5472422
HP: 081-2350-6896




Penyelenggara:
Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI)



Renungkan kata-kata dan kalimat di dalam dua lagu himne ini dan berdoalah kiranya Roh Kudus membakar semangat api penginjilan kita khususnya bagi gerenasi muda di zaman postmodern yang semakin rusak ini. Ajaklah rekan-rekan Anda atau keponakan/sepupu Anda yang masih remaja (siswa/i SMP dan SMU) untuk bersama-sama mendengar Injil.

Ingatlah, semakin lama zaman kita semakin rusak dengan beragam tipuan dunia berdosa, sudahkah kita mencegah kerusakan tersebut menimpa generasi muda ini dengan memberitakan Injil?

SETIA, SETIA!

1. Dalam zaman yang bengkok ini, s’gala berubah, langit goncanglah
iblis sedang giat bekerja, sehingga murid Tuhan sesatlah
Apakah engkau juga bimbang, hati pnuh kuatir tak berdaya?
Bangkitlah bagi Krajaan surga tunjukkanlah kesetiaanmu.

Koor:
Setia, setia, biar setiamu masyurlah.
Setia, bekerja, setia pada Rajamu.
Setia, setia, jangan pandang manusia,
Meskipun susah sandarlah Allah, agar kau tetap setia.

2. Meski kuasa iblis hebatlah dan serangannya tidak terduga
jangan takut pun jangan bimbang taat printah Rajamu tentu mnang
Ambil tladan tiga pahlawan, yang tak takut akan ancaman.
Mreka sungguh gagah perkasa setia pada Kristus Rajanya.

3. Tunjukkanlah kesetiaanmu dalam segala pekerjaan-Hu
Kesusahan yang sementara, akan diganti dengan mulia.
Kristus kembali dengan segra, menyambut hamba-Nya yang setia.
Engkau yang telah bersetia boleh masuk surga yang mulia.




KONFLIK ZAMAN
Puji-pujian Kristen (PPK) D-203
oleh: Mrs. C. H. Morris

1. O, tengoklah dunia semu, yang sedang bergolak.
Bangsa bangkit lawan bangsa siap di medan laga.
Adakah engkau setia layak hamba Allah,
Tetap teguh tak bergerak atas panggilan-Nya.

Koor:
Sudahkah kau melihat, hatimu tergerak?
Waktu Tuhan memanggil, kau siap sedia.
S’perti nubuat di Alkitab, dunia kita kan bergolak.
Badai perang ‘kan melanda zaman kita s’karang.

2. O, bangunlah umat Allah, britakan Injil–Nya
Srahkan diri sbagai korban yang dikenan Tuhan.
Waktu kerja sangat singkat berjuanglah giat,
tolong jiwa yang tersesat pimpin mreka pulang.

3. Lo, the conflict of the ages, is upon us today.
And the armies are assembling all in battle array.
Are you number’d with the faithful one of God’s loyal few,
who have sworn Him full allegiance? Can He count upon you?

Koor:
Have your eyes caught the vision? Have your heart felt the thrill?
To the call of the Master do you an swer, “I will”?
For the conflict of the ages, told by prophets and by sages.
In its fury is upon us, is upon us today.

04 March 2008

Matius 9:9-13: WHO THE SINNER IS?

Ringkasan Khotbah : 24 April 2005
Who the Sinner is?
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:9-13


Pendahuluan
Hari ini kita kembali menajamkan tentang separasi yang berasal dari kata kudus atau kadosh (bahasa Ibrani) yaitu pemisahan antara orang yang berada di dalam Kristus dengan orang yang berada di luar Kristus. Hati-hati jangan tertipu dengan segala sesuatu yang kelihatan secara fenomena yang kelihatan saleh dan beragama tetapi sesungguhnya dia bukanlah seorang pengikut Tuhan sejati. Bagaimanakah seharusnya sikap seorang pengikut Tuhan sejati? Matius memberikan kesaksian tentang perubahan drastis yang terjadi dalam hidupnya, yakni dari seorang pemungut cukai menjadi pengikut Kristus. Matius tidak menulis dengan panjang lebar (Mat. 9:9). Matius adalah seorang Yahudi tetapi ia lebih memilih menjadi pemungut cukai, dicap sebagai seorang pengkhianat dan dikucilkan oleh bangsanya, semua itu ia lakukan karena satu alasan, yaitu uang. Orang rela melakukan apapun demi untuk uang bahkan ada orang yang mau berlaku seperti binatang. Orang lupa kalau dirinya dicipta menurut gambar dan rupa Allah yang begitu mulia dan harus mempertahankan harkat.
Matius merasakan hidupnya kosong dan ternyata uangnya yang banyak itu tidak dapat menolongnya. Di tengah kondisi yang desperate itu Tuhan Yesus datang dan berkata, “Ikutlah Aku“. Tanpa berpikir panjang lagi Matius langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Tuhan Yesus. Pertanyaannya sekarang adalah apakah Matius rugi dan menyesal setelah mengikut Kristus? Jawabnya: tidak, Matius sangat bersyukur atas anugerah Tuhan. Bandingkanlah dengan sikap yang ditunjukkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat, mereka menganggap dirinya yang paling benar karena telah mentaati lebih dari 600 peraturan. Tuhan Yesus tidak suka dan menegur sikap mereka yang munafik. Matius menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang hidup bergelimang dalam dosa karena itu ia mengundang semua pemungut cukai dalam pestanya dimana Tuhan Yesus yang menjadi tuan rumahnya. Matius ingin supaya orang-orang berdosa ini bertemu dengan Tuhan Yesus dan mendapat keselamatan seperti yang ia alami.
I. Perbedaan Posisi
Orang Farisi berkata kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa?“ Dengan kata lain mereka hendak mengatakan bahwa Yesus, seorang Rabbi Yahudi maka tidak seharusnya Ia bersama pemungut cukai dan orang berdosa tetapi Dia seharusnya ada bersama dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang mendasari atau yang menjadi pola pikir mereka sehingga berpikir kalau Yesus salah posisi? Sesungguhnya yang salah posisi bukan Tuhan Yesus tetapi orang Farisi dan ahli Taurat. Tuduhan mereka terhadap Tuhan Yesus membuktikan mereka tidak mengenal dirinya sendiri sebab dimana kita berada itu menunjukkan seberapa jauh kita “tahu diri“. Ciri-ciri orang yang tahu diri, yaitu: 1) kenal diri, 2) tahu dimana posisi, 3) tahu apa ia kerjakan sebagai eksistensi manusia. Ketika pertama kali manusia jatuh ke dalam dosa, Allah juga menanyakan keberadaan posisi: “Dimanakah engkau?“ (Kej. 3:9).
Secara fenomena orang Farisi kelihatan baik tapi sesungguhnya mereka sangat licik, mereka ingin menguasai Yesus. Hati-hati, di dunia modern ini banyak orang yang kelihatan baik tetapi di balik kebaikan itu sebenarnya ada motivasi buruk. Inilah sifat manusia berdosa. Memang siapakah manusia sehingga berani mempersalahkan Tuhan? Tuhan Yesus tahu dimana seharusnya Ia berada, yakni berada di tengah-tengah orang berdosa yang tahu diri kalau dirinya adalah orang berdosa dan memerlukan penyelesaian; bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Orang Farisi tidak beda dengan pemungut cukai yakni sama-sama orang berdosa maka seharusnya mereka juga berada di posisi yang sama seperti pemungut cukai. Seandainya orang Farisi menyadari dirinya orang berdosa dan mau bertobat maka ia pasti ada di posisi yang sama seperti pemungut cukai. Orang Farisi telah membuat garis pemisah, mereka ingin Tuhan Yesus ada di posisi mereka tetapi mereka tidak mau Tuhan Yesus memimpin hidup mereka. Garis pemisah ini tidak pernah mempertemukan keduanya; kemungkinan yang terjadi adalah salah satu harus pindah, Tuhan Yesus bergabung dengan orang Farisi atau orang Farisi yang harus bergabung dengan Tuhan Yesus. Dimanakah positioning kita? Kalau kita merasa diri hebat, saleh, dan tidak berdosa maka sadar dan bertobatlah justru pada saat itu kita adalah orang yang paling berdosa dan seharusnya kita berada di posisi para pemungut cukai. Di tengah dunia ini banyak orang yang berdosa yang berpikir kalau Tuhan Yesus yang harus ada bersama mereka, Tuhan Yesus yang harus tunduk dan taat padanya. Salah! Tuhan Yesus menegur dengan keras karena Dia ingin menyadarkan manusia supaya kembali pada posisi yang tepat karena selama ini manusia tidak sadar kalau telah salah posisi, kita telah mengalami keterkiliran posisi. Kalau kita masih mengeraskan hati dan tidak mau pindah ke posisi pemungut cukai, berarti kita adalah orang yang tidak tahu diri, kita tidak mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya.
Celakanya, manusia mencoba menyelesaikan semua persoalan manusia melalui pendekatan psikologi yang baru muncul di abad ke-20 yang merupakan hasil humanisme modern. Padahal dari keempat mazhab besar, yaitu: 1) psikoanalisa, 2) behaviorism, 3) humanism, 4) mystical, tidak ada satu pun mazhab yang memahami: pertama, manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, manusia tidak kenal siapa dirinya tapi berteori tentang diri sendiri dan memakai istilah psikologi; kedua, manusia adalah manusia berdosa, orang tidak mau mengakui dirinya berdosa tetapi orang lebih suka mengatakan dosa itu sebagai akibat kegagalan dari masa lalu maka tidaklah heran kalau manusia sukar kembali pada Tuhan. Dan celakanya, hari ini seluruh kurikulum sekolah dibasiskan pada psikologi. Inilah yang disebut sebagai keterkiliran posisi, kita tidak tahu posisi diri kita dimana karena itu hendaklah kita sadar bahwa kita adalah orang berdosa dan seharusnya dimurka Tuhan namun Tuhan masih berbelas kasihan pada kita, Dia mau mengembalikan kita pada posisi yang benar, yaitu di posisi Kristus. Akan tetapi keputusan ada ditangan kita, dimanakah kita memposisikan diri? Sebab Tuhan tidak dapat mengerjakan semua ini pada orang yang memang mau memisahkan diri dari Kristus.
II. Perbedaan Konsep Dosa
Orang Farisi membenci Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Perhatikan kata “berdosa“, sinners disini berarti orang Farisi ini menuduh pemungut cukai dan orang lain yang duduk bersama Kristus sebagai orang berdosa. Kristus tahu apa yang ada dalam pikiran orang Farisi maka Tuhan Yesus berkata: “Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa (sinners).“ Orang Farisi dan Tuhan Yesus memakai kata yang dipakai sama, yakni sinners tetapi definisinya berbeda. Orang Farisi memakai kata “berdosa“ sifatnya eksklusif, yaitu hanya untuk orang-orang yang duduk bersama Kristus saja dan dirinya bukanlah termasuk dalam golongan orang berdosa. Tuhan Yesus justru menggunakan kata “berdosa“ yang sifatnya insklusif, yakni semua manusia berdosa tidak terkecuali orang Farisi.
Konsep orang Farisi tentang dosa adalah hubungan di dalam relasi horisontal maka mereka pikir kalau mereka tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain berarti mereka tidak berdosa begitu juga kalau mereka tidak melanggar peraturan yang ada tertulis berarti mereka tidak berdosa. Bukankah konsep dosa orang Farisi ini sampai sekarang juga sama? Dunia mengajarkan kalau kita tidak melanggar peraturan maka secara pasif orang tidak berdosa, berarti kalau saya tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak bersaksi dusta, tidak mengingini milik orang lain dan menghormati orang tua berarti saya adalah orang baik. Orang yang merasa diri baik justru membuktikan kalau dia bukanlah orang baik sebab ia membandingkan diri dengan orang lain yang lebih jelek darinya. Tidak ada orang baik yang mengaku dirinya baik, orang baik selalu mengasumsikan diri kurang baik. Orang Farisi merasa dirinya baik, hal ini dapat kita lihat pada sikap dan isi doa mereka; mereka berdoa di tempat dimana banyak orang bisa melihat dan cara mereka berdoa adalah membandingkan diri dengan orang lain yang lebih jelek, seperti pemungut cukai misalnya. Alkitab mencatat ada seorang anak muda yang kaya mendatangi Yesus, ia merasa diri baik karena telah melakukan semua hukum Taurat. Benarkah demikian? Ketika Tuhan Yesus menyuruh dia untuk menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia, anak muda ini langsung pergi. Hal ini membuktikan kalau sesungguhnya ia tidak mengasihi Tuhan, ia tidak melakukan semua hukum Taurat, ia hanya melakukan hukum Taurat yang sifatnya horisontal, yakni hukeum ke enam sampai hukum ke sepuluh saja. Kalau seandainya hari itu Tuhan Yesus hanya meminta 10% dari seluruh hartanya pastilah anak muda ini bersedia melakukannya. Bahkan kalau Tuhan meminta 50% dari hartanya maka demi untuk mendapatkan Sorga, ia pasti akan rela menjual hartanya namun Tuhan tahu sifat manusia yang humanis materialis ini karena itu Tuhan menyuruhnya untuk menjual seluruh hartanya, Tuhan ingin mereka taat. Ukuran dosa bukanlah urusan berbuat baik menurut standar manusia. Tidak!
Tuhan Yesus menghubungkan konsep dosa secara vertikal; dosa terkait dengan melakukan kehendak Tuhan, dosa terkait dengan ketaatan kepada Tuhan. Dosa kalau kita melawan Tuhan, kita tahu kita seharusnya taat pada apa yang menjadi kehendak-Nya tetapi kita tidak melakukan dan mengabaikan-Nya maka kita sudah berdosa. Tuhan ingin supaya kita memberitakan Injil, melayani dan hidup menjadi kesaksian indah bagi dunia tapi kita mengabaikannya maka kita sudah berdosa. Tuhan Yesus menegaskan bukan orang yang berseru: Tuhan, Tuhan yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapaku yang di Sorga, dialah yang akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Di hadapan Tuhan manusia sama, yaitu sama-sama berdosa, we are sinners maka jangan seorangpun menyombongkan diri dan merasa diri baik. Kalau kita memahami konsep dosa seperti yang Kristus mengerti maka kita berada di pihak Kristus tapi kalau kita mengerti dosa sama seperti orang Farisi maka kita terpisah dari Kristus. Dosa di dalam konsep Kekristenan jauh lebih dalam dari yang dunia mengerti. Biarlah kita peka akan kehendak Tuhan dengan demikian kita tidak berbuat dosa dan segala sesuatu yang kita kerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan.
III. Perbedaan Arah Pandang
Pada umumnya, orang ketika memperhatikan segala sesuatu, arah pandangnya selalu dari dirinya dan dikenakan kepada Allah. Manusia bukanlah pusat yang menjadi titik sudut proyeksi dari gambar diri kita sendiri karena itu pemilihan perspektif tidak boleh dari sudut manusia kepada Allah dan sekelilingnya. Kita harusnya melihat dari arah pandang Tuhan, bagaimana segala sesuatunya kita mengerti dari arah yang tepat, sehingga cara kita mengimplikasi tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Orang Farisi memandang dari sudut pandangnya sendiri, yakni ia merasa dirinya sudah saleh karena telah melakukan semua peraturan dan ritual agama tetapi perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan bukan persembahan. Sebagai contoh, seorang anak kecil melihat pekerjaan kakaknya yang begitu banyak maka ia ingin membantu meringankan pekerjaan kakaknya tersebut. Tanpa sepengetahuan kakaknya ia mengerjakan pekerjaan tersebut dan sungguh di luar dugaan sang kakak, apa yang dilakukan adiknya justru tidak membantunya malah mengacaukannya. Terkadang, kita pun sama seperti anak kecil ini, kita merasa berjasa pada Tuhan karena telah melayani dan memberikan persembahan. Tidak! Memang siapakah kita merasa sudah menolong Tuhan? Kita justru seringkali melawan Tuhan, apa yang Tuhan ingin kita kerjakan justru tidak kita lakukan dan sebaliknya kita justru melakukan pekerjaan yang dibenci Tuhan. Biarlah kita peka akan kehendak Tuhan dengan demikian kita melihat pekerjaan Tuhan bukan dari sudut pandang kita.
Kita seharusnya bertanya pada Tuhan terlebih dahulu, kita bergumul apakah segala sesuatu yang kita kerjakan sudah sesuai dengan kehendak-Nya? Biarlah kita mengevaluasi diri kita masing-masing, jangan-jangan di dalam pelayanan kita justru telah berdosa maka segeralah minta ampunan pada-Nya. Mungkin Tuhan justru ingin kita melakukan pekerjaan yang memang tidak kita suka. Hendaklah kita peka akan pimpinan dan kehendak Tuhan dengan demikian kita tidak berdosa. Ini merupakan dua arah yang berbeda, total separated. Dan kalau sudah jelas dengan pimpinan Tuhan dan kehendak Tuhan maka kita harus mengerjakannya dan jangan takut sebab Tuhan pasti tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri. Ingat, bukan berarti orang yang melayani maka ia tidak berdosa. Tidak! Orang Farisi telah membuktikan justru di dalam kesalehannya, ia telah berbuat dosa. Paulus di dalam semangatnya melayani “tuhan“, dia telah menganiaya Kristus. Biarlah kita bertobat dan kembali kepada Tuhan dengan demikian hidup kita diarahkan oleh Firman, kita peka akan kehendak Tuhan dan seluruh paradigma, prinsip dan direction kita diubahkan dengan demikian kita semakin serupa Kristus. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 6:5-11: IMPLIKASI PERBEDAAN ESENSIAL-3: Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-5


Implikasi Perbedaan Esensial-3 :
Kehidupan yang Mati Vs Kematian yang Hidup-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 6:5-11.

Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 4, kita akan meneruskan prinsip ini mulai ayat 5 sampai dengan ayat 11.

Apa arti dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya ? Di ayat 5, Paulus menjelaskannya, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.” Ayat ini diterjemahkan dalam King James Version, “For if we have been planted together in the likeness of his death, we shall be also in the likeness of his resurrection:” Kata planted together dalam ayat ini berarti ditanamkan bersama atau united to (dipersatukan kepada). Dengan kata lain, dibaptiskan di dalam kematian-Nya berarti dipersatukan dalam kematian-Nya. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible memaparkan, “Planting is in order to life and fruitfulness: we are planted in the vineyard in a likeness to Christ, which likeness we should evidence in sanctification.” (=penanaman adalah agar supaya hidup dan berbuah : kita ditanam di dalam kebun anggur di dalam keserupaan dengan Kristus, yang keserupannya itu kita harus buktikan di dalam pengudusan.) Di sini, Matthew Henry mengaitkan konsep ditanam dengan tujuan ditanam yaitu agar hidup dan berbuah. Ditanam di dalam apa ? Paulus menjelaskan bahwa kita yang termasuk umat pilihan-Nya ditanam di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ditanam di dalam kematian-Nya berarti kita ikut mati bersama Kristus. Dengan kata lain, karena Kristus sudah mati bagi kita, hendaklah kita pun harus mematikan seluruh dosa kita. Dosa-dosa itu termasuk di dalam perbuatan daging yang tercantum di dalam Galatia 5:19-21, yang meliputi, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Kelimabelas tindakan kedagingan ini (di dalam King James Version ada 17 tindakan) adalah tindakan-tindakan yang tidak diperkenan Allah. Selanjutnya, kita juga ditanam di dalam kebangkitan-Nya, artinya kita bukan hanya tidak berlaku hal-hal kedagingan saja, tetapi juga kita harus berinisiatif melakukan hal-hal yang memuliakan Allah.

Apa arti ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya ? Pada ayat 6-7, Paulus menjelaskan lebih dalam, “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Pernyataan “Karena kita tahu,” menunjukkan bahwa jemaat Roma sebenarnya sudah mendengar pengajaran ini, sehingga Paulus perlu mengulanginya lagi untuk mengingatkan jemaat Roma (dan tentu juga kita) dengan mengaitkannya dengan kematian kita terhadap dosa. Sebagai manusia baru, kita harus mematikan manusia lama kita. Kata “lama” pada manusia lama dalam bahasa Inggris adalah old diterjemahkan dari bahasa Yunani palaios berarti antik/kuno. Kata antik mengingatkan kita akan barang-barang antik yang sudah usang, demikian pula manusia lama seharusnya berarti manusia yang sudah usang yang harus diperbaharui total. Definisi inti dari ditanam/menjadi satu di dalam kematian-Nya (atau mematikan manusia lama kita), adalah ikut disalibkan. Disalibkan dalam bahasa Yunani sustauroō berarti ditusuk dengan sesuatu yang tajam. Demikian pula, kita ikut disalibkan berarti kita ikut ditusuk oleh salib Kristus. Ditusuk adalah sesuatu yang menyakitkan. Itulah gambaran kita menyalibkan dosa-dosa kita, yaitu menyakitkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita, itu mungkin terasa sakit sekali, karena kita berani menekan bahkan mematikan keinginan daging kita yang berdosa, tetapi ada akibat/efek positif (yang terjadi bersamaan) yang Tuhan singkapkan bagi kita, yaitu :
Pertama, tubuh dosa kita kehilangan kuasanya. King James Version (KJV) menerjemahkannya destroyed artinya dihancurkan. Ketika kita berani menyalibkan dosa kita dengan “menusuk”nya (bukan arti harafiah), itu berarti kita sedang menhancurkan tubuh dosa kita. Ini tidak berarti kita menyayat tubuh jasmani kita seperti yang dilakukan oleh para bidat dan pemuja berhala yang mengajarkan askese (bertarak diri). Kata body di dalam KJV diterjemahkan dari bahasa Yunani bisa berarti budak (slave). Hal ini berarti kita berani menekan keinginan daging kita yang melawan Allah. Atau dengan kata lain kita berani tidak lagi menjadi budak dosa. Hal ini lah yang ditegaskan Allah melalui Paulus dengan memperingatkan kita bahwa kita tidak boleh lagi menghambakan diri terhadap dosa (atau “melayani dosa” di dalam terjemahan KJV).
Kedua, kita bebas dari dosa. Kata “bebas dari dosa” dalam KJV diterjemahkan dibebaskan dari dosa. Dalam bahasa Yunani dikaioō, pernyataan ini berarti kita dijadikan benar/adil (just) atau tidak bersalah (innocent). Ketika kita telah mematikan dosa kita, pada saat yang sama, kita telah dijadikan benar/dibebaskan dari dosa. Hati-hati menafsirkan bagian ini. Hal ini tidak berarti setelah kita berbuat baik melawan dosa, baru kita dibenarkan. Itu ajaran Arminian yang melawan prinsip penting Alkitab, yakni kedaulatan Allah. Hal ini berarti kita dapat mematikan dosa karena Kristus telah melakukannya bagi kita, sehingga tidak ada satu inci jasa baik yang manusia lakukan yang menjadi syarat dirinya dibenarkan oleh Allah (karena semua manusia berdosa dan mengurangi kemuliaan Allah—bandingkan Roma 3:23).

Setelah kita mematikan dosa, apa yang harus kita lakukan selanjutnya ? Paulus menjelaskannya di ayat 8, “Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.” Jika kita telah mati dengan Kristus atau telah mematikan dosa, maka kita beriman juga bahwa kita akan hidup/bertahan bersama dengan Dia. Kata “hidup dengan” (KJV : live with) dalam ayat ini dalam bahasa Yunani bisa berarti co-survive yaitu terus hidup/bertahan. Dengan kata lain, kematian-Nya dan kematian kita terhadap dosa mengakibatkan kita bisa percaya dan memiliki daya tahan hidup di dalam dan bersama Kristus. Berarti kita memiliki hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus (Yohanes 10:10b) meskipun kita harus menanggung aniaya dan derita demi nama-Nya. Inilah pengharapan orang Kristen yang termasuk anak-anak Allah, yaitu beriman di dalam kehidupan bersama Kristus selama-lamanya (meskipun tetap harus melewati kematian fisik). Tidak ada pengharapan di dalam agama atau filsafat apapun di sepanjang sejarah dunia yang lebih indah daripada pengharapan yang dijumpai di dalam Kristus, yaitu hidup bersama-sama di dalam Kristus selama-lamanya di Surga. Adalah sangat idiot bagi mereka termasuk banyak “hamba Tuhan”/“pendeta” yang tidak beriman di dalam pengharapan ini (tetapi ber“iman” di dalam pluralisme/social “gospel”). Dari mana kita mendapatkan kepastian hidup ini ?

Kita mendapatkan kepastian ini karena kebangkitan Kristus, seperti dijelaskan Paulus di ayat 9-10, “Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” Kristus yang telah disalibkan, pada hari ketiga, Ia bangkit. Setelah Ia bangkit, Paulus mengungkapkan bahwa Ia tidak mati lagi, mengapa ? Karena maut tidak berkuasa lagi (memerintah) atas Dia. Dengan kata lain, kebangkitan-Nya telah mematikan dan mengalahkan maut. Hal ini juga dijelaskan oleh Rasul Paulus di dalam 1 Korintus 15:56-57, “Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Kemenangan di dalam kebangkitan-Nya menjamin kita juga menang mengalahkan kuasa dosa, iblis dan maut. Lalu, di ayat 10, Paulus mulai mengaitkan konsep kematian dan kebangkitan-Nya dengan periode waktu dan tujuannya, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya terjadi hanya satu kali (tidak terulang) dan untuk selama-lamanya, serta bagi Allah. Ini berarti :
Pertama, kematian dan kebangkitan Kristus adalah satu-satunya peristiwa terpenting di sepanjang sejarah yang mutlak tidak boleh diulang oleh pribadi siapapun bahkan di dalam event kapanpun, karena kematian dan kebangkitan Kristus itu unik dan memiliki finalitas yang tak dijumpai di dalam agama apapun (bandingkan Ibrani 9:28). Mengutip pernyataan dari Pdt. Dr. Stephen Tong, semua pendiri agama mati, tetapi Kristus mati dan bangkit, itulah finalitas Kristus yang mutlak. Melawan ini, berarti melawan Allah dan tidak layak disebut Kristen sejati (apalagi disebut anak-anak Tuhan).
Kedua, kematian dan kebangkitan Kristus berlaku untuk selama-lamanya (melampaui ruang dan waktu). Dengan kata lain, sifat kematian dan kebangkitan-Nya adalah kekal, mengapa ? Karena Kristus adalah Allah sekaligus manusia yang melampaui kesementaraan. Ini berarti kematian dan kebangkitan-Nya bukan hanya berlaku bagi orang-orang zaman modern tetapi juga zaman postmodern bahkan sampai selama-lamanya. Tidak ada jangka waktu berlaku di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Puji Tuhan, ketika para pendiri agama dunia meninggal, kematian mereka tak berdampak apapun, tetapi kematian ditambah kebangkitan Kristus sangat berdampak penting bagi hidup umat pilihan Allah, mengapa ? Karena kematian dan kebangkitan-Nya menggenapkan rencana keselamatan Allah bagi kita, sedangkan kematian para pendiri agama hanya kematian manusia berdosa yang tak berdampak apapun (khusus bagi keselamatan manusia).
Ketiga, kematian dan kebangkitan Kristus diperuntukkan bagi Allah. Kristus mati menebus dosa manusia BUKAN bagi setan, karena BUKAN setan yang menjadi obyek hutang dosa manusia, tetapi Allah. Sehingga ketika Kristus menebus dosa kita, Kristus membayarkan hutang dosa kita kepada Allah, karena ketika manusia berdosa, manusia berhutang kepada Allah (=tidak berjalan menurut kehendak dan kedaulatan-Nya). Demikian juga, kebangkitan Kristus adalah kebangkitan/kehidupan bagi Allah, karena Ia telah menang dan selesai menggenapkan rencana keselamatan Allah untuk seterusnya disempurnakan melalui karya Roh Kudus di dalam hati umat pilihan-Nya.
Adalah sangat konyol jika ada “pendeta”/“pemimpin gereja” yang melawan bahkan menghina pengorbanan Kristus dengan menyamakan Kristus dengan para pendiri agama lain. Terhadap bidat ini, kita harus mati-matian menolak mereka dan kembali kepada Kristus serta jangan lupa untuk mendoakan mereka agar mereka bertobat dari kesesatan mereka kepada Alkitab dan Kristus.

Setelah menguraikan dua ayat tentang kematian dan kebangkitan Kristus, Paulus langsung mengimplikasikannya di ayat 11, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Karena Kristus telah mati dan bangkit bagi Allah, maka kita pun harus mematikan dosa kita dan harus hidup bagi Allah. Apa bedanya kematian Kristus terhadap dosa dan kematian kita terhadap dosa ? Di ayat 10 tadi sudah dijelaskan bahwa kematian Kristus terhadap dosa hanya terjadi sekali (satu kali) untuk selama-lamanya, sedangkan kematian kita berlangsung berkali-kali (artinya di dalam proses) menuju kepada kesempurnaan. Dengan kata lain, kematian Kristus memungkinkan kita berani dengan kuasa-Nya mematikan dosa-dosa kita. Selanjutnya, setelah mematikan dosa, kita harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Terjemahan KJV menambahkan kata our Lord setelah Kristus Yesus (sedangkan LAI tidak mencantumkannya). Mengapa kata our Lord begitu signifikan? Karena hidup bagi Kristus bukan hanya beriman di dalam Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus dosa saja, tetapi juga beriman di dalam Kristus sebagai Tuhan/Raja yang memerintah hidup kita. Dengan kata lain, hidup bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam kehidupan sehari-hari demi kemuliaan Allah. Bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita menyerahkan hidup kita untuk dikuasai sepenuhnya oleh Kristus sebagai Raja, Tuhan dan Pemilik hidup kita ? Itulah tandanya kita manusia baru. Amin. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-45: DOKTRIN YANG SULIT MENGENAI KASIH ALLAH (Rev. Prof. Donald A. Carson, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE DIFFICULT DOCTRINE OF THE LOVE OF GOD
(DOKTRIN YANG SULIT MENGENAI KASIH ALLAH)

oleh: Rev. Prof. Donald A. Carson, Ph.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature, 2007

Penerjemah : Daniel Setiawan.





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio :
Sepintas lalu, mungkin doktrin mengenai kasih Allah tidaklah sulit, bahkan perdebatan theologia yang muncul di sepanjang sejarah gereja berkenaan dengan Trinitas, Predestinasi, dll. Tetapi benarkah doktrin yang tidak sulit ini benar-benar dipahami oleh orang Kristen ? Bukankah banyak orang Kristen akibat terpaan postmodernisme menawarkan suatu “iman” bahwa seolah-olah Allah itu hanya Mahakasih, selalu mengampuni siapapun yang bersalah ? Lalu, di mana suara keadilan, kemarahan, kesucian Allah di dalam zaman postmodern ini ? Inilah krisis zaman yang dibukakan oleh Dr. Donald A. Carson di dalam Bab 1 buku ini : Mengenai Pendistorsian Terhadap Kasih Allah. Selanjutnya, Dr. Carson mulai memaparkan tesis utamanya di Bab 2 : Allah adalah Kasih, lalu dilanjutkan dengan mengaitkan Kasih Allah dengan Kedaulatan dan Murka Allah di Bab 3 dan 4. Biarlah sebagai orang Kristen, kita mampu mengerti bahwa Allah yang Mahakasih juga adalah Allah yang Berdaulat, Mahakudus, Mahaadil dan Kekal. Memisahkan atribut-atribut Allah ini dan hanya mengerti Allah sebagai Allah yang Mahakasih saja berarti menghina Allah di tempat kudus-Nya.







Profil Rev. DR. DONALD A. CARSON :
Rev. Prof. Donald A. Carson, Ph.D. adalah Profesor Riset bidang Perjanjian Baru di Trinity Evangelical Divinity School. Beliau meraih gelar Bachelor of Science (B.Sc.) in chemistry dari McGill University; Master of Divinity (M.Div.) dari Central Baptist Seminary di Toronto, dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Perjanjian Baru dari Cambridge University.