02 April 2008

Roma 7:1-6: HUKUM TAURAT DALAM PERSPEKTIF KRISTEN-1: Penebusan Kristus & Mati bagi Hukum Taurat

Seri Eksposisi Surat Roma :
Manusia Lama Vs Manusia Baru-9


Hukum Taurat Dalam Perspektif Kristen-1 :
Penebusan Kristus dan Mati bagi Hukum Taurat


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 7:1-6.

Setelah mempelajari tentang akibat dari status dan kondisi yang diubahkan tersebut di empat ayat terakhir di pasal 6 ini, maka Paulus melanjutkan pembahasannya tentang arti lebih dalam bahwa kita telah mati bagi Taurat di pasal 7 ayat 1-6.

Pada pasal 7 ayat 1, Paulus mengajarkan “Apakah kamu tidak tahu, saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup?” Atau dalam terjemahan lain bahwa tidak tahukah kamu, saudara-saudaraku seiman, sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui hukum, bahwa hukum menjadi tuan atas seseorang selama jangka waktu (Yunani: chronos) di mana ia hidup. Dalam bagian ini, Paulus mengungkapkan bahwa hukum itu menguasai hidup manusia. Dengan kata lain, itulah kuasa dari hukum.

Pada pasal 7 ayat 2-3, Paulus memberikan ilustrasi singkat mengenai hukum dan kuasa hukum pada diri manusia. Mari kita mempelajari masing-masing ilustrasi singkat tersebut.

Di ayat 2, Paulus mulai menjelaskan kuasa dari hukum tersebut dengan ilustrasi, “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.” King James Version menerjemahkannya, “For the woman which hath an husband is bound by the law to her husband so long as he liveth; but if the husband be dead, she is loosed from the law of her husband.” (=“Karena wanita/istri yang memiliki suami ditundukkan oleh hukum bagi suaminya selama dia/suaminya itu hidup ; tetapi jika suaminya meninggal, istri/wanita ini dibebaskan dari hukum kepada suaminya.”) Kata “woman” dalam KJV diterjemahkan a married woman (=wanita yang menikah) baik di dalam International Standard Version (ISV) maupun English Standard Version (ESV). Dari pernyataan ini, kita dapat menangkap pengajaran Paulus bahwa suami sangat berperan di dalam keluarga, sehingga istri terikat oleh hukum kepada suaminya. Atau dengan kata lain, suami memiliki kuasa atas istri sebagai kepala keluarga. Tetapi ketika suaminya itu meninggal, maka secara otomatis si suami tak bisa memiliki kuasa apapun terhadap si istri (karena suami telah meninggal), sehingga si istri dibebaskan dari hukum yang mengikat tersebut. Dengan kata lain, kemeninggalan si suami melepaskan ikatan kuasa hukum si istri. Bagi si istri, kemeninggalan sang suami adalah suatu sukacita tersendiri karena si istri bisa lepas dari cengkeraman si suami (pandangan dunia : mungkin sekali si istri bosan dengan si suami yang kasar, dll). Tetapi kemungkinan ini tidak diajarkan oleh Alkitab, karena Alkitab mengajarkan bahwa suami tetap harus mencintai istrinya, sebagaimana istri tunduk kepada suaminya.

Ilustrasi kedua, di ayat 3, Paulus mengungkapkan, “Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.” Ini seharusnya merupakan kelanjutan dari ayat 2, tetapi saya sengaja memisahkannya supaya kita bisa belajar sendiri dari ilustrasi ini. Kembali, di ayat ini, Paulus membalik posisi dari ayat 2, yaitu ketika si suami masih hidup, tetapi si istri tidak boleh tunduk kepada hukum bagi suaminya, melainkan main gila dengan pria lain (atau menjadi istri pria lain), maka Paulus mengatakan bahwa itu berzinah. Mengapa berzinah ? Karena si istri dianggap tidak setia dengan suaminya dan tidak mau taat kepada hukum suaminya. Di sini, kesetiaan mengambil peran penting di dalam aspek hukum Allah.

Kedua ilustrasi di atas langsung diimplikasikan oleh Paulus mulai ayat 4 s/d 7. Di ayat 4, Paulus mengajarkan, “Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.” Seperti istri yang terbebas dari suami yang meninggal, demikian juga jemaat Roma dan kita sebagai orang Kristen sudah mati bagi hukum (Taurat) oleh tubuh Kristus. Dengan kata lain, status kita sudah berubah, yaitu : pertama, mati bagi hukum (Taurat). Kedua, bukan hanya kita mati bagi hukum (Taurat), kita juga menjadi milik (atau dinikahkan dengan) orang lain. Pernyataan “kamu menjadi milik orang lain,...” di dalam ayat ini diterjemahkan oleh KJV, “should be married to another,” (=dinikahkan dengan orang lain,) Dengan kata lain, kita bukan hanya dibebaskan dari Taurat oleh penebusan Kristus, kita yang sudah dibebaskan ini menjadi hamba dan dinikahkan dengan Kristus (atau kita menjadi mempelai wanita Kristus dan Kristus sebagai mempelai prianya). Sehingga sangat tepat ketika Paulus di ayat 2 dan 3 memberikan ilustrasi mengenai suami dan istri, karena itu menggambarkan antara kita sebagai umat pilihan-Nya dan mempelai wanita Kristus dinikahkan seecara spiritual (rohani) dengan Kristus sendiri sebagai Tuhan, Raja dan mempelai pria. Yohanes Pembaptis berseru, “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” (Yohanes 3:29) Dengan kata lain, mempelai laki-laki (=Kristus) berkuasa atas mempelai wanita, sehingga ketika sahabat dari mempelai pria ini pun ikut bersukacita ketika mendengar suara dari mempelai pria tersebut. Dan disambung dengan pernyataan Yohanes bahwa itu adalah sukacitanya yaitu bisa melayani dan menjadi mempelai wanita dari Kristus (dalam konteks ini, Yohanes tahu bahwa Tuhan Yesus juga membaptis—baca Yohanes 3:1-22). Lalu, apa tujuan kita dinikahkan secara rohani dengan Kristus (atau menjadi milik Kristus) ? Tujuannya agar kita berbuah (atau tumbuh subur) bagi Allah. Paulus memakai kata “berbuah” bagi Allah menunjukkan bahwa kita sebagai umat-Nya harus terus-menerus (di dalam proses) menghasilkan buah yang memuliakan Allah. Kata “berbuah” identik dengan proses. Sebuah pohon kalau mau berbuah harus mau menunggu waktu yang matang, sehingga buahnya pun juga matang dan dapat dipetik oleh manusia. Begitu juga, pemetik buah itu adalah Allah dan Ia akan memetik buah (=kita) kalau buah itu sudah matang. Berbuah bukan hanya sekedar berbicara mengenai kuantitas (jumlah), tetapi juga kualitas. Berbuah banyak tetapi isi buahnya tak berkualitas juga suatu kesia-siaan. Sudahkah kita sebagai orang Kristen berbuah baik dalam memberitakan Injil maupun mengajar orang lain yang diinjili supaya mereka juga dapat berbuah lebat ? Itulah wujud kita berbuah bagi Allah.

Ayat 4 ini dijelaskan Paulus secara lebih mendalam di ayat 5 dan 6. Di ayat 5, Paulus menjelaskan, “Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut.” Ini adalah kondisi awal kita yaitu dalam status berdosa. Hal ini digambarkan Paulus dalam beberapa hal, yaitu :
Pertama, hidup di dalam daging. Orang yang dikuasai dosa pasti hidup di dalam kedagingan. Artinya, orang itu lebih memikirkan hal-hal kedagingan ketimbang hal-hal rohani/spiritual, lebih memuliakan diri dan kepuasan diri ketimbang memuliakan Allah, dll. Hidup di dalam kedagingan diuraikan oleh Paulus di dalam Surat Galatia 5:19-21, “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Kelimabelas hal kedagingan ini dikontraskan dan dibedakan total dari hidup menurut Roh di dalam Galatia 5:22-23, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Kedua, hawa nafsu kedagingan ditimbulkan oleh hukum (Taurat). Orang bisa hidup di dalam daging karena ia dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkan dan uniknya, Paulus langsung “menuduh” bahwa hukum (Taurat) atau terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya “hukum agama” adalah hal yang menimbulkan timbulnya hawa nafsu kedagingan. Apakah ia menyalahkan dan membuang Taurat ? TIDAK ! (lihat ayat selanjutnya, mulai ayat 7 s/d 25) Maksud Paulus di dalam bagian ini adalah orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dosa adalah orang yang tidak pernah taat kepada Taurat dan esensinya yaitu kasih, tetapi hanya taat pada tradisi Taurat. Di dalam postmodern, kita sering mendengar ajaran bahwa dengan melakukan hukum agama, manusia bisa selamat dan masuk “surga”. Di dalam bagian ini, Paulus memutarbalikkan semua presuposisi manusia postmodern dengan mengatakan bahwa justru melalui hukum agama, manusia semakin berdosa. Mengapa ? Karena manusia menciptakan hukum agama dan tidak mau kembali kepada Sumber Hukum sejati. Dengan kata lain, manusia menciptakan syariat sendiri untuk melawan Sumber Hukum, Tuhan Allah sendiri. Tradisi Yudaisme yang mengklaim berasal dari Taurat mewajibkan orang tidak boleh bekerja berat (bahkan berjalan jauh pun tidak boleh) di hari Sabat, dll. Semua tradisi ini membuat jemaat Yahudi bukan semakin bersukacita, tetapi semakin tertekan, karena aturan itu membelenggu dan “memaksa”. Padahal, maksud Tuhan mewahyukan Taurat agar umat-Nya boleh bersukacita dan menikmati-Nya. Sehingga dari sini, kita belajar aturan tradisi Yudaisme yang ekstrim mengakibatkan munculnya hawa nafsu kedagingan, misalnya “penghakiman dan penghukuman” dari pihak orang-orang Farisi/pemuka agama Yahudi bagi mereka yang melanggar, pelanggaran sendiri dari pihak orang-orang Farisi/ahli-ahli Taurat, dll. Tuhan Yesus pernah mengkritik kemunafikan orang-orang Farisi yang sok perhatian terhadap Taurat tetapi intinya mereka pun juga melanggar Taurat, “Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” (Matius 15:3-6)
Ketiga, hasilnya adalah maut. Setelah Taurat yang diputarbalikkan oleh manusia membuat manusia semakin berdosa, maka hasil akhirnya adalah kematian/maut. Memang unik, ketika manusia postmodern menggembar-gemborkan tentang pentingnya beramal supaya masuk “surga”, di sisi lain, Paulus mengkritik dan mengajarkan bahwa justru amal membuat manusia masuk neraka ! Mengapa ? Karena amal tersebut tidak dilakukan di dalam iman kepada Allah Trinitas, tetapi demi pemuasan diri (dipuji orang), dll. Lalu, bagaimana penyelesaiannya ?

Di ayat 6, Paulus mengemukakan status kita yang diubahkan, “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” Status kita dulu yang berdosa, sekarang diubahkan. Melalui penebusan Kristus, Ia telah mengalahkan kutuk Hukum Taurat “dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"” (Galatia 3:13) Kematian Kristus ini diefektifkan oleh Roh Kudus sehingga kita pun juga dimampukan untuk mati bagi Taurat yang menguasai kita. Bukan hanya itu saja, menurut ayat 4, di ayat ini, Paulus kembali menegaskan bahwa sekarang setelah kita dibebaskan dan mati bagi Taurat, maka kita dituntut untuk melayani-Nya dalam keadaan baru menurut Roh. Kata “baru” di dalam bagian ini dalam bahasa Yunaninya kainotēs berarti secara figuratif/kiasan : renewal (=pembaharuan). Artinya, kita dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk melayani-Nya dan bukan menurut huruf hukum Taurat. Pernyataan “dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.” di dalam terjemahan KJV, “not in the oldness of the letter.” (=bukan di dalam kekunoan/kelamaan huruf.) Dengan kata lain, setelah kita ditebus oleh Kristus, kita tidak lagi hidup di bawah aturan di luar Kristus yang mengikat (aturan/keadaan lama), tetapi kita hidup taat kepada Kristus yang memerintah di dalam hidup kita (aturan/keadaan baru). Keadaan baru ini timbul dari kasih. Sehingga orang Kristen sejati bukan anti aturan, tetapi taat kepada aturan yang berprinsipkan Firman Allah (Alkitab) dan bersumber pada Allah Trinitas. Sudahkah kita mengalami pembaharuan oleh Roh Kudus ? Tandanya ? Tanda kita dipenuhi dan telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus adalah kita semakin taat pada Firman, menTuhankan Kristus, rajin belajar Alkitab, bersekutu, melayani Tuhan dengan bertanggungjawab dan rendah hati. Selain itu, ada 9 buah Roh yang Paulus ungkapkan di dalam Galatia 5:22-23. Jika kita sudah menjalankan hal-hal tersebut, itu tandanya kita sudah dan mau terus-menerus dilahirbarukan oleh Roh Kudus.

Sudahkah kita menyerahkan hidup kita bagi kemuliaan-Nya? Ingatlah, penebusan Kristus tidak pernah sia-sia, tetapi ia pasti mengerjakan sesuatu yang dahsyat yang membuat kita semakin lama semakin mematikan Taurat dan dosa serta kembali kepada-Nya dan hidup menjalankan Firman-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.


Matius 9:18-26: LIVE BY FAITH

Ringkasan Khotbah : 26 Juni 2005

Live by Faith
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 9:18-26

Pendahuluan
Kita telah memahami kalau Injil Matius bukan ditulis secara kronologis melainkan secara topikal, yakni Kerajaan Sorga, the Kingdom of God maka Matius menyusunnya sedemikian rupa mulai dari kedatangan Sang Raja, Sang Raja membentuk Kerajaan-Nya dengan memaparkan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5-7) dan Kristus Sang Raja itu mengimplikasikan hukum-Nya (Mat. 8-9) dengan demikian hukum tersebut tidak sekedar menjadi teori. Implikasi hukum Kerajaan Sorga dibagi dalam empat sub tema dimana di setiap sub tema terdiri dari 17 ayat, yaitu: 1) the Lordship of Christ (Mat. 8:1-17), Kristus adalah Tuhan, Tuan dari segala tuan maka kita adalah budak yang harus taat pada Tuan, 2) the discipleship of Christ (Mat. 8:18-34), kita bukan sekedar menjadi pengikut yang sifatnya sementara tetapi mengikut Kristus berarti mengikut selama-lamanya, yakni sepanjang hidup kita dan ini menjadi komitmen hidup kita, 3) separation (Mat. 9:1-17), di tengah jaman yang bengkok ini, kita dipanggil untuk suatu tugas khusus, yaitu mencerminkan kesucian yang merupakan satu-satunya sifat Ilahi yang membedakan antara pengikut Kristus dengan pengikut iblis, dan 4) Live by Faith (Mat. 9:18-34), tema terakhir yang akan kita pahami ini sangat penting sebab menjadi dasar dan kekuatan kita dalam menjalankan separasi.
I. True Comitment
Bukanlah hal yang mudah bagi seorang anak Tuhan sejati hidup terpisah dari maka janganlah kaget, orang Kristen yang berani memisahkan diri akan menjadi minoritas di antara minoritas. Kekristenan tidak akan pernah menjadi mayoritas sebab kalaupun Kekristenan itu menjadi mayoritas seperti pada jaman Konstantine Agung maka orang Kristen sejati itupun sangatlah minoritas. Kerajaan Sorga itu seumpama jalan kecil yang sukar untuk dilewati namun ujungnya berakhir dengan kebahagiaan sementara kerajaan dunia itu jalannya lebar sehingga mudah dilewati namun berakhir dengan kehancuran. Sebagai pengikut Kristus yang telah berkomitmen untuk memisahkan diri maka pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memproses hidup kita di dalam iman? Orang harus mulai dari iman menuju pada iman dan orang benar hidup oleh iman (Rm. 1:16-17), jadi, yang menjadi landasan hidup manusia adalah iman. Hal ini sangat disadari oleh manusia tapi sekaligus dilanggar oleh manusia itu sendiri; orang lebih suka kalau sesuatu yang sesuai dengan logika atau rasio namun pengaruh “penipuan“ iman telah mencengkeram hidup manusia. Sebagai contoh, ketika sekolah bukankah kita lebih banyak menggunakan iman daripada rasio sebab hampir sebagian besar materi yang diajarkan itu tidak pernah kita buktikan sendiri, bukan?
Tuhan mengajarkan segala sesuatu justru harus dimulai dari iman. Sayangnya, hari ini orang baru mau percaya kalau ia sudah membuktikannya, orang mau percaya kalau ia sudah mengalaminya sendiri, orang baru mau percaya kalau apa yang ia percayai sesuai dengan logikanya. Salah! Separasi bukanlah sekedar pemisahan kehidupan namun pemisahan itu haruslah sampai pada akar yang menyangkut pola pikir dan iman sebab jika tidak demikian maka kita akan mudah digoncangkan. Orang harus percaya dulu barulah kemudian ia bisa membuktikan, kita harus percaya dulu barulah logika kita akan cocok. Hal ini sangat dibenci oleh manusia karena orang masuk dalam pertanyaan siapakah yang layak menjadi sandaran iman? Sebab meletakkan obyek kepercayaan sangatlah beresiko di dalam kehidupan kita sebab kalau sekali kita salah maka hal itu akan berefek dalam seluruh kehidupan kita.
Bukan hal yang biasa, seorang kepala rumah ibadat datang menyembah, bow down pada Tuhan Yesus apalagi di hadapan banyak orang. Pertama, orang Yahudi sangat membenci bahkan selalu menentang ajaran Tuhan Yesus karena dianggap sebagai orang yang menganggu keberadaan agama Yudaisme maka dapatlah dibayangkan kalau seorang Yahudi apalagi berstatus kepala rumah ibadat datang kepada Tuhan Yesus maka resikonya adalah kehilangan status sekaligus kariernya.
Kedua, orang Yahudi sangat ketat menjalankan semua peraturan agama Yudais maka seorang yang menyembah, proskuneo (bahasa Yunani) pada orang lain dan menganggapnya sebagai Tuan maka itu berarti penghujatan terhadap Allah dan taruhannya adalah nyawa, Ketiga, konsep pemikiran Yairus yang percaya kalau Yesus datang dan meletakkan tangan-Nya ke atas anak perempuannya maka ia akan hidup merupakan suatu terobosan yang sangat besar. Hati-hati, kesembuhan bisa dari Tuhan namun bisa juga dari iblis akan tetapi Yairus, kepala rumah ibadat ini menyadari bahwa tidak ada kuasa manapun yang dapat membangkitkan anaknya dari kematian selain Kristus Yesus; iblis tidak mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang dari kematian sebab dirinya adalah bapa dari kematian.
Yairus sebelum ia memutuskan untuk menemui Tuhan Yesus, segala cara dan usaha kemungkinan sudah ia tempuh demi untuk menyembuhkan anak perempuannya yang sakit keras itu tapi toh semua itu gagal dan dalam keadaan yang putus asa, desperate mendengar kabar kalau anaknya sudah meninggal, ia toh tetap tidak bergeming, ia tetap pada pendiriannya, yakni supaya Tuhan Yesus datang dan meletakkan tangannya maka anaknya itu akan hidup. Dalam hal ini Yairus telah melakukan komparasi atau perbandingan iman dengan iman yang ia pegang sebelumnya. Iman kalau belum kita uji, iman yang belum kita refleksikan dalam diri kita maka iman itu belumlah matang. Kita akan merasakan dan menyadari besarnya kekuatan iman ketika iman berada pada suatu titik kritis, yakni suatu titik dimana kita menghadapi kesulitan yang paling besar dalam hidup, suatu titik dimana kita harus mempertanyakan kembali kepercayaan kita. Hari ini, orang dengan mudah mengajak orang lain untuk percaya kepada Yesus karena orang mengajak percaya Tuhan Yesus di dalam kenikmatannya tetapi bukan diajak percaya Yesus di dalam menghadapi titik kritis. Pertanyaannya beranikah kita meresikokan hidup kita untuk memilih satu iman diantara banyaknya pilihan iman yang ada di dunia dimana didalamnya kita beresiko mati? Maka janganlah heran kalau hari ini kita menjumpai banyak orang “Kristen“ meninggalkan Tuhan ketika hidupnya susah dan tergoncang. Itulah sebabnya, Tuhan suka pada orang yang hancur hatinya, orang yang remuk hatinya karena disitulah iman mencapai pada suatu titik dimana kita mempertanyakan kembali apa yang menjadi iman kepercayaanku? Dimanakah obyek iman kepercayaan kita?

II. Total Surrender
Iman Kristen bukanlah iman yang tidak dapat dipertanggung jawabkan; iman Kristen bukanlah iman yang fanatik dan membabi buta. Tidak! Iman Kristen harus dimulai dari iman maka iman itu membawa kita pada suatu pengertian yang benar, iman akan membawa kita pada suatu ketajaman pemikiran. Sebaliknya, pengertian tidak akan menjadikan kita beriman. Melalui kisah ini, Matius ingin menyadarkan orang Yahudi, dimanakah sebenarnya iman mereka? Kenapa mereka menolak Kristus sebagai obyek iman? Kalau seorang kepala rumah ibadat dapat melihat Kristus sebagai Tuhannya, ia dapat bersimpuh dan menyembah pada Kristus, pertanyaannya kenapa orang Yahudi yang lain menolak Kristus sebagai Tuhan? Biarlah kita juga mengevaluasi diri, kalau kita mengaku beriman pada Kristus lalu iman seperti apakah yang kita miliki? Apakah kita hanya beriman ketika kita berada dalam kenikmatan? Apakah kita tetap beriman ketika semua keadaan lancar ataukah masihkah kita akan tetap beriman ketika kita dalam kesusahan ketika kita merasa putus asa dan tiada pengharapan? Yairus bukan beriman fanatik, ia tahu pasti bahwa semua iman yang ditawarkan oleh agama-agama di dunia tidak tuntas, tidak dapat menyelesaikan semua kegalauan hatinya.
Adalah anugerah kalau kita dapat melihat Kristus sebagai obyek iman seperti halnya Yairus maka ketika anugerah itu datang, janganlah sia-siakan kesempatan itu. Ingat, kesempatan itu tidak akan datang terus menerus. Obyek iman yang tepat akan menentukan seluruh langkah hidup kita selanjutnya. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa bijakkah kita melangkahkan iman dan mengimplikasikannya dalam hidup kita. Hati-hati sekali kita memilih obyek iman yang salah akibatnya menyangkut seluruh aspek hidup dan berakhir dengan kematian. Ada orang yang berpendapat bahwa hanya percaya Yesus maka orang akan selamat, pertanyaannya adalah apakah orang yang percaya Yesus pasti percaya Yesus? Ternyata, tidak! Mereka hanya percaya pada Yesus yang dapat memberi berkat, Yesus yang dapat menyembuhkan, Yesus yang dapat memenuhi semua keinginannya maka percaya itu hanya sebatas sebagai pemuas keinginan diri saja. Yairus tahu pasti saat ia menyembah pada Tuhan Yesus maka itu menjadi titik separasi iman yang tuntas dan ia telah siap dengan segala resiko yang harus ia terima, seperti kehilangan karir bahkan kehilangan nyawa sekalipun. Beberapa orang menafsirkan bahwa kemungkinan setelah peristiwa ini Yairus tidak pernah kembali menjadi kepala rumah ibadat lagi. Hari itu menjadi titik dimana ia diselamatkan melalui iman. Bukan hanya kesembuhan yang ia dapatkan tetapi juga keselamatan. Melalui kisah ini terbukti bahwa si anak perempuan yang dibangkitkan tidak perlu iman untuk ia dapat bangkit tapi semata-mata karena kehendak Tuhan. Mengikut Kristus bukan bersifat sementara tetapi mengikut Kristus merupakan pertanggung jawaban di sepanjang hidup kita. Sayangnya, hari ini banyak orang yang mengaku “percaya“ Kristus tapi sesungguhnya obyek yang ia percaya bukanlah Kristus; Kristus hanyalah menjadi “alat“ dari obyek kepercayaannya. Matius ingin membukakan pada kita bahwa hidup manusia berada di bawah kedaulatan Kristus sajalah, manusia tidak berhak dan tidak mempunyai kuasa untuk menentukan hidupnya. Beriman pada Kristus merupakan total penyerahan diri selama-lamanya dan tidak kembali pada jalan yang lama. Pertanyaannya sekarang adalah pernahkah terlintas dalam pikiran kita untuk pindah dan berpaling dari Kristus? Kalau iman kita sudah sampai pada suatu titik kritis dimana iman itu diuji dan kita berhasil dalam ujian itu maka ketika kita mengikut Kristus, itu menjadi penyerahan yang total dalam hidup kita.


III. Faith Experience
Yairus mengalami pengalaman iman yang luar biasa bersama Tuhan Yesus, ia melihat bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan orang mati. Hati-hati, orang-orang yang lebih banyak menggunakan rasio akan sukar masuk dalam pengalaman iman yang sejati. Suatu kesalahan besar kalau kita mempermainkan iman begitu juga kalau kita mempermainkan pengalaman tetapi iman tanpa pengalaman juga merupakan suatu kesalahan. Iman Kristen bukanlah iman yang mati yang hanya diperdebatkan secara logika saja. Tidak! Teologi Reformed menegaskan bahwa iman Kristen adalah iman yang terimplikasi di dalam setiap aspek hidup kita, iman Kristen adalah iman yang praktis. Dari kehidupan kita akan nampak sampai dimanakah iman kepercayaan kita? Benarkah kita mempunyai pengalaman iman dipimpin Tuhan dalam hidup kita? Percayalah ketika kita berada dalam kondisi yang putus asa maka disitulah pertolongan Tuhan akan memimpin hidup kita. Sayangnya, hari ini banyak orang Kristen yang seharusnya imannya dapat terimplikasi dalam hidupnya namun justru ditutup dengan epistemologi yang lain, ditutup dengan cara pikir yang lain; orang tidak menerapkan imannya yang bersandar total. Orang mengaku beriman namun sesungguhnya orang bukan beriman sejati tetapi imannya adalah iman yang memaksakan keinginan, imannya memaksakan logika.
Maka tidaklah heran kalau orang yang beriman akan mendapat tapi ternyata tidak mendapatkan, orang akan meninggalkan imannya; di sisi lain, orang yang terlalu mengandalkan logika akan sulit menerima kenyataan ketika ia mendapat maka dianggap sebagai suatu kebetulan belaka, ia tidak pernah masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan. Iman sejati adalah percaya penuh pada pimpinan Tuhan, seluruh hidup kita berserah penuh pada pimpinan-Nya dan menikmati Dia sepanjang masa. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memanggil kita menjadi warga kerajaan-Nya dan turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Iman sejati adalah taat pada pimpinan Tuhan meski pimpinan Tuhan itu terkadang tidak kita sukai dan justru pada waktu itulah, yakni disaat kita berada dalam keputusasaan dan tiada pengharapan maka iman mulai nyata terimplikasi dalam hidup kita, kita akan merasakan indahnya berjalan bersama Tuhan.
Iman Kristen bukanlah sekedar teori tetapi hidup setiap hari dalam pimpinan Tuhan. Biarlah kita peka akan pimpinan Tuhan dengan demikian di setiap detik hidup kita mempunyai pengalaman iman yang indah bersama Tuhan. Ingat, satu-satunya hidup yang pasti bukan hidup di dunia tetapi kepastian hidup itu kita dapatkan kalau kita hidup di dalam pimpinan Tuhan. Ketika kita taat pada pimpinan Tuhan maka saat itu kita masuk dalam pengalaman iman yang indah bersama Tuhan. Manusia berdosa sangat sukar untuk taat akan tetapi ketika orang mulai putus asa barulah ia berteriak pada Tuhan, kenapa Tuhan tidak menolong? Bukan Tuhan tidak mau menolong, tidak, tapi manusialah yang tidak mau ditolong, orang tidak taat pada pimpinan tangan Tuhan berdaulat. Biarlah kita meneladani Yairus yang menaruh kepercayaannya dan taat sepenuhnya pada Kristus dengan demikian iman terimplikasi dan di dalam hidup kita dan hidup menjadi saksi bagi-Nya. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

Resensi Buku-50: KONFLIK WAWASAN DUNIA (alm. Prof. Ronald H. Nash, Ph.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
WORLDVIEWS IN CONFLICT
(KONFLIK WAWASAN DUNIA: Mengapa Memilih KeKristenan Di Tengah Berbagai Pemikiran Dunia ?)


oleh: (alm.) Prof. Ronald H. Nash, Ph.D.

Penerbit: Momentum Christian Literature, Surabaya, 2000

Penerjemah: Irwan Tjulianto





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio :
Sejak Abad Pertengahan (Middle Ages), Renaissance, Pencerahan (Inggris : Enlightenment ; Jerman : Aufklaerung), sampai abad postmodern, dunia kita menawarkan beragam filsafat dan wawasan dunia, misalnya Skolastisisme (mempengaruhi Thomas Aquinas), Mistisisme, Rasionalisme, Naturalisme, Skeptisisme sampai Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Bahkan tidak jarang, banyak orang “Kristen” terperangkap oleh bujuk rayu wawasan dunia ini yang mengakibatkan mereka tidak lagi beriman kepada Allah di dalam Kristus, melainkan kepada filsafat manusia berdosa. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen dalam menghadapi beragam wawasan dunia yang ditawarkan dan memenangkan pertarungan ide-ide tersebut? (alm.) Prof. Ronald H. Nash, Ph.D., seorang profesor filsafat dan theologi di Reformed Theological Seminary, USA menguraikan semua hal tersebut dengan jelas dan non-teknis di dalam bukunya ini. Dimulai dengan menjelaskan arti wawasan dunia pada bab 1, kemudian Dr. Nash menjelaskan kriteria-kriteria memilih suatu wawasan dunia yang benar, yaitu dengan tiga ujian, yang meliputi : ujian rasio, ujian pengalaman (meliputi : ujian dunia di luar diri, dan ujian dunia di dalam diri) dan ujian praktek dengan satu dasar pijak : hukum nonkontradiksi di dalam setiap wawasan dunia. Selanjutnya, di bab-bab berikutnya, beliau menjelaskan kekonsistenan wawasan dunia Kristen yang lolos dari ketiga ujian tersebut, sebaliknya inkonsistensi semua wawasan dunia, mulai dari Mistisisme, Solipsisme, Naturalisme, Gerakan Zaman Baru, dll. Yang paling unik adalah cara beliau menguraikan dengan jelas ketidakkonsistenan semua wawasan dunia dan membandingkannya dengan kekonsistenan wawasan dunia Kristen yang dapat dipertanggungjawabkan. Terus terang, saya banyak diberkati dan iman saya semakin dikuatkan melalui buku dari Dr. Nash ini.







Profil Dr. Ronald H. Nash :
Prof. Ronald H. Nash, Ph.D. adalah seorang Profesor theologia dan filsafat di Reformed Theological Seminary, Orlando, Florida, USA. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Barrington College (1958), Master of Arts (M.A.) dari Brown University (1960) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Syracuse University (1964). Beliau menjalani studi post-doctoral di Stanford University pada tahun 1969 atas dukungan/biaya dari National Endowment for the Humanities. Dari sekian banyak buku yang ditulisnya, beberapa di antara telah diterbitkan oleh Penerbit Momentum, antara lain : Iman dan Akal Budi (Faith and Reason) dan Konflik Wawasan Dunia (Worldviews in Conflict).

01 April 2008

Bagian 4: Perbandingan Pemikiran Kiyosaki-Lechter Vs Iman Kristen

A Christian Critique on Robert T. Kiyosaki-4: Differences between Kiyosaki-Lechter’s Thoughts Vs Christian Faith

Perbandingan Pemikiran Kiyosaki-Lechter dan Iman Kristen
IMAN KRISTEN:
1. Tujuan: untuk Allah -> Hidup adalah perjuangan menggenapkan kehendak Allah.
2. Sifat: Agung dan Benar -> Mengutamakan sifat keagungan dan kebenaran Allah sesuai firman Tuhan
3. Orientasi: Panggilan/talenta -> Yang menjadi sasaran dan pencarian hidup adalah penggenapan panggilan Allah sesuai dengan talenta yang Ia berikan kepada kita
4. Sikap: Taat Firman -> Kita diajar untuk taat pada firman dan tidak melawan setiap perkataan Allah karena itu benar adanya.
5. Ekstensi: pengorbanan/kasih -> Kita diajar untuk mengerjakan hal-hal yang benar, mengasihi dan jika diperlukan berkorban demi kasih kita, karena kita berjalan berlawanan dengan kehendak dan pola dunia.

KIYOSAKI-LECHTER:
1. Tujuan: untuk diri sendiri -> Hidup adalah perjuangan untuk diri sendiri.
2. Sifat: Humanistik – Materialistik -> Mengutamakan kondisi manusia, baik diri sendiri atau orang lain, yang berorientasi pada uang.
3. Orientasi: Uang -> Satu-satunya pusat pemikiran dan pertimbangan adalah uang. Semua kegiatan dan kesuksesan diukur dengan parameter kekayaan materi.
4. Sikap: Melawan Firman -> Setiap firman Tuhan dicurigai dan dikategorikan sebagai ajaran “bapa miskin”, sementara ajaran yang diajukan berlawanan mutlak dengan kebenaran firman Tuhan.
5. Ekstensi: keinginan/kepuasan -> Hidup adalah mengejar keinginan dan kepuasan diri. Yang kita tidak suka, lempar ke orang lain dan jangan dilakukan. Kita diajar untuk berpikir duniawi dan memuaskan nafsu.




Profil Pdt. Sutjipto Subeno:
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya; Direktur: Toko Buku Momentum, Studi Korespondensi Reformed Injili Internasional (SKRII), dan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika. Beliau adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education). Selain itu, beliau adalah dosen di Institut Reformed, Jakarta dan Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau juga adalah seorang pengkhotbah KKR dan hamba Tuhan yang menguasai bidang-bidang, seperti ekonomi, pendidikan, hukum, etika, keluarga/konseling pranikah dan sosial politik. Beliau meraih gelar Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai 2 orang anak: Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998).

Dikompilasi dan sedikit diedit oleh: Denny Teguh Sutandio, S.S.


Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
(Matius 6:24)



Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.
Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.
Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

(1 Timotius 6:9-12)

Bagian 3: Retire Young, Die Young

A Christian Critique on Robert T. Kiyosaki-3: Retire Young, Die Young

Nats: 1Tim. 6:10



Latar Belakang
1. Kiyosaki berhasil dengan 4 buku pendahulunya
Buku-buku dari Robert T. Kiyosaki, khususnya buku pertamanya “Rich Dad, Poor Dad” telah mempengaruhi begitu banyak orang, bahkan telah mendapatkan award no 1 dari New York Times. Pikiran Kiyosaki-Lechter membawa orang mulai memikirkan secara serius untuk melakukan investasi, dan mengharapkan orang lain akan mengerjakan baginya.
2. Kiyosaki memberikan paradigma baru
Kiyosaki mengangkat paradigma yang baru untuk dunia pendidikan, dengan melakukan kritik keras terhadap pola pendidikan yang lama, yang berorientasi pada skolastiksisme dan rasionalisme. Kiyosaki melihat bahwa pendidikan harus berpusat dan berorientasi pada finance (finansial). Orang belajar untuk menjadi kaya, dan kekayaan adalah sasaran terakhir dari seluruh kehidupan.

1. Kiyosaki memberi keseimbangan Humanis-Materialis
Kiyosaki bukan sekedar materialis, sehingga pendekatannya tidak kasar terhadap manusia. Ia berhasil menggabungkan semangat humanistik dengan cita-cita materialisme. Di sini keunggulan Kiyosaki dan Lechter yang membuat ia dipuja oleh semua orang dunia. Celakanya, justru orang Kristen yang tidak memiliki ketajaman membedakan (baca: Kristen duniawi), akhirnya juga mengagungkan dia. Bahkan seorang remaja (Kristen) mengatakan bahwa Kiyosaki adalah salah satu dari 10 tokoh utama yang ia puja, karena bisa memberikan semangat hidup dan cita-cita luhur manusia. Betapa agung predikat yang diberikan kepadanya.

Pengaruh pikiran Rich Dad, Poor Dad sudah merajalela ke semua lapisan, dan itu termasuk juga masuk ke tengah orang-orang Kristen yang sangat kurang mendapatkan pengajaran firman Tuhan.


RETIRE YOUNG RETIRE RICH: POSITIVE ASPECTS
1. Bersandar pada Pensiun
Dunia Barat terlalu bergantung pada pensiun dan dana kesejahteraan, dan memang itu sangat merugikan, karena membuat manusia tidak berjuang dan memikirkan hidupnya secara lebih komprehensif dan mengandalkan orang lain untuk bertanggung jawab bagi dirinya (sekalipun nanti Kiyosaki juga demikian, dengan format yang berbeda).

2. Memberi Contoh Konkrit
Dunia modern sangat suka dengan contoh riil. Thesis Kiyosaki bahwa semua orang bisa kaya (dengan menuduh bahwa jika hanya 5% yang kaya, itu adalah karena kesalahan yang 95% orang yang mau kaya tetapi tidak tahu caranya kaya). Kiyosaki juga mengatakan bahwa cara investasi yang tepat adalah melalui tiga lubang: real estate, surat berharga dan bisnis.

3. Mendukung Semangat Ingin Kaya
Kiyosaki menolak (secara halus asumsi ayat diatas), karena sebenarnya hidup adalah uang, dan tujuan hidup adalah menjadi kaya. Dan untuk menjadi kaya, sebenarnya bukan sekolah seperti sekarang ini sarananya.


RETIRE YOUNG RETIRE RICH: NEGATIVE ASPECTS
1. Basis Pikir “Daud dan Goliat” Diselewengkan
Kiyosaki mendasarkan semua teorinya dari inspirasi cerita Daud dan Goliat. Cerita ini merupakan cerita Alkitab (tidak tahu keluarga Kiyosaki percaya Allah yang mana), tetapi cerita ini telah diselewengkan dari inti cerita, sehingga kesimpulan yang diambil sangat berbeda dan sangat salah. Ini adalah dampak dari permainan interpretasi Postmodern yang dengan mudah menipu manusia. Jika bukan karena penyertaan Allah, maka Daud sudah pulang nama, bukan sebagai pemenang.

2. Positive-Thinking yang Materialistik.
Kiyosaki-Lechter sangat mengagungkan kekuatan pikiran dan kekuatan kata-kata. Ini adalah asumsi dari mistik Timur, di mana manusia membiarkan pikirannya berjalan dibawah kendali nafsu dan keinginan dirinya, bukan kehendak Allah. Jika Alkitab mengajarkan “sangkal diri”, maka Kiyosaki-Lechter akan dengan segera melawan dan menolak pandangan tersebut.

3. Kuasa Kata-Kata
Konsep Kiyosaki sangat memakai pola lama yang sudah harus diwaspadai dan ditentang oleh Iman Kristen, yaitu kuasa kata-kata (the power of words). Ini adalah kuasa sugesti, atau kuasa yang memakai pengaruh kata-kata terhadap pikiran, yang akhirnya bagaikan mantera bagi hidup manusia.
Di dalam dunia psikologi, hal ini dikenal dengan ide “self-talk” (berbicara pada diri sendiri), yang gunanya untuk mengarahkan pikiran atau memotivasi diri. Di sini kita berperan ganda, sebagai Tuhan dan sebagai diri.


Beberapa Pemikiran Dasar Kiyosaki-Lechter dalam “Retire Young”
1. “Mengapa Daud melawan Goliat?” Ayah kaya berkata, “Daud dapat mengalahkan Goliat karena Daud tahu cara menggunakan kekuatan daya ungkit.” (hal xi).
Kembali kita diajak untuk tidak mengikuti “Ayah Miskin” yang memiliki interpretasi realita berbeda dari “ayah kaya.” Jika Tuhan Allah menegaskan bahwa kemenangan Daud adalah karena iman (Ibr 11:32-34), maka Iblis mengalihkan penafsiran ayat ini sebagai suatu “upaya humanisme dan kecanggihan manusia.” Inilah yang Kiyosaki lakukan, dan banyak orang Kristen sekarang diajar untuk melakukannya juga, yaitu melakukan re-interpretasi firman Tuhan menurut pendekatan humanistik.
Dengan membuka buku kelimanya dengan pemikiran ini, kembali Kiyosaki mengajak orang Kristen untuk secara diametris melawan firman dan pengenalan yang benar akan Allah. Kiyosaki mengajak orang melihat Alkitab dengan cara Iblis, yaitu semua berdasarkan upaya manusia, dan manusia bisa seperti Allah.

2. Sebagai komentar terakhir, saya mendengar banyak orang berkata, “Uang tidak membuat anda bahagia.”
Pernyataan itu ada benarnya. Tetapi uang membelikan saya waktu untuk melakukan apa yang saya suka dan membayar orang lain untuk mengerjakan apa yang saya benci melakukannya.
Di sini Kiyosaki mengajak pembacanya untuk menggunakan uang sebagai alat untuk memerintah orang lain, dengan asumsi bahwa selalu akan ada orang yang mau melakukan apa yang kita benci atau tidak suka lakukan, asalkan kita bisa membayar dia. Dan inilah yang seringkali diasumsikan banyak manusia, bahwa uang bisa membeli segala-galanya (bandingkan dengan film “Indescent Proposal.”).
Melalui tabel “Saya suka dan saya benci” membuat kita memicu semangat humanis dan egois kita. Marilah kita sekarang mencoba membuat tabel tersebut, dan kira-kira, jika kita adalah orang-orang yang melakukannya dengan “Pola Pikir Kristiani” apakah seluruh buku Retire Young akan cocok untuk anda? Jika anda mendapati bahwa kedua aspek citra, konsep dan tujuan hidup anak Tuhan berbeda dari apa yang ditawarkan oleh dunia, bagaimana anda meyakini bahwa yang dimiliki oleh anak-anak Tuhan jauh lebih benar, jauh lebih berharga dan tepat, dibanding dengan apa yang dunia tawarkan. Apa konsekwensinya, jika kita ternyata justru beranggapan bahwa yang dimiliki dunia lebih baik dari yang dimiliki anak Tuhan?

3. “Saya perlu waktu enam bulan untuk menjadi cukup lambat untuk memulai cuti satu tahun saya.” (hlm. 22).
Kiyosaki mengajak orang hidup berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Etos kerja manusia saat ini begitu rusak, karena manusia dikendalikan oleh motivasi yang tidak tepat. Jika yang pertama dikendalikan oleh tuntutan mendapatkan cukup banyak uang, maka tuntutan kedua dipicu oleh keinginan untuk hidup santai dan malas. Kondisi ini berlawanan dengan natur manusia bekerja. Sekalipun Kiyosaki mengakui bahwa sulit berubah dari orang yang bekerja keras menjadi orang pengangguran, ia tetap melihat bahwa pengangguran adalah hal yang terbaik.
Etos kerja Kristen sangatlah berbeda dari kedua ekstrem yang Kiyosaki ungkapkan. Etos kerja Kristen adalah panggilan yang Allah berikan berkaitan dengan natur dan keberadaan kita sebagai orang percaya di tengah dunia ini, untuk menggenapkan missi Kerajaan Allah di dalam sejarah.

4. “Saya bisa pensiun dini karena saya menggunakan utang untuk membiayai pensiun saya. Dan pasangan di koran ini, orang-orang yang memiliki 401 (k), menggunakan ekuitas (kekayaan bersih) untuk mendanai pensiun mereka. Itu sebabnya mereka butuh waktu lebih lama untuk pensiun.” (hlm. 32-33).
“Seperti saya katakan, saya lebih suka menggunakan uang pinjaman untuk menjadi kaya daripada menggunakan uang saya sendiri…” (hal 168).
Pemikiran Kiyosaki sudah menjadi ciri yang sedemikian mendunia dalam lingkup bisnis sekitar tahun 1990-an. Tetapi akhirnya, terungkap, mereka-mereka yang membiayai hidup dan bisnis mereka dengan hutang, akhirnya hancur dan menjadi perusak seluruh tatanan ekonomi, khususnya di dunia berkembang. Salah satu yang membuat ekonomi Indonesia hancur adalah karena hutang yang tak terbayar (saat ini merupakan beban negara dan BPPN). Sudah terlihat dan terbukti bahwa pikiran Kiyosaki sangat berbahaya, dengan bukti bahwa di Surabaya, banyak pengusaha yang bertahan, karena mereka bisnis dengan ekuitas dan bukan dengan hutang.
Kiyosaki-Lechter mengajar kita untuk bermain-main dan mempermainkan uang orang lain untuk kesenangan dan kenikmatan kita. Hidup dalam hutang bukanlah ajaran Kristen. Alkitab mengajarkan untuk kita bertanggung jawab atas harta yang Tuhan percayakan kepada kita. Itu berarti, harta yang ada pada kita bukanlah milik kita yang boleh kita pergunakan dengan semau kita. Kalau kita memiliki uang banyak seperti Kiyosaki, maka seharusnya kita memberikan persembahan lebih banyak bagi pekerjaan dan kemuliaan Tuhan.
5. dll.

Bagian 2: Who is Your Dad?

A Christian Critique on Robert T. Kiyosaki-2: Who is Your Dad?

Nats: Ams. 30:7-8; Mat. 19:16-26; 6:19-24




Presuposisi Kiyosaki tentang Uang dan Hidup
Sebelum kita membicarakan suatu kritik terhadap pemikiran Kiyosaki, pertama-tama kita perlu menyamakan persepsi kita terlebih dahulu, sehingga sebagai seorang Kristen kita bisa membangun konsep yang benar berdasarkan firman Tuhan.
Dasar presuposisi yang kita perlu pertama-tama pegang adalah bahwa pola pikir dunia dengan pola pikir Alkitab mutlak berlawanan dan berbeda. Khususnya pendekatan presuposisi yang ada bertolak belakang satu sama lain, sekalipun secara gejala tampak atau tindakan luar akan terlihat banyak kesamaan. Dengan kata lain, kesamaan yang ada hanyalah kesamaan permukaan, sehingga kalau orang tidak mengerti dengan tepat dia akan sulit melihat perbedaannya. Dan ini memang cara penipuan dunia (baca: Setan) di dalam permainannya.
Untuk itu, diperlukan “discerning power” (kekuatan membedakan) yang bisa kita pergunakan untuk melihat dengan tajam perbedaan-perbedaan di balik “kesamaan” yang ditampilkan.
Alkitab mengajarkan dua hal penting dalam kehidupan, sehingga kita bisa hidup dengan benar dan baik. Itu merupakan permohonan Amsal yang begitu indah (30:7-8):
a. Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan
b. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Biarlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Untuk itu kita perlu mengkaji presuposisi Alkitab yang dikontraskan dengan paradigma Kiyosaki.


1. Bapa Benar atau Bapa Kaya
Dalam Alkitab diajarkan bahwa “Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.” Dan dalam buku pertama Kiyosaki-Lechter, Rich Dad, Poor Dad, pasal pertama, halaman pertama, ia menuliskan, “Bapa yang satu mengajarkan ‘Cinta uang adalah akar segala kejahatan’; sedangkan bapa yang lain mengajarkan ‘Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan.’ Di buku pertama, pasal pertama, halaman pertama, Kiyosaki menawarkan pilihan, “bapa” yang mana yang akan kita ikuti. Dan tawaran itu merupakan pilihan yang tidak bisa digandakan! Memang sebenarnya demikian! Maka, Alkitab menyatakan perkataan Kristus, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Maka jelas kita melihat pilihan dari awal, siapa yang akan menjadi “bapa” kita.

2. Hidup untuk kemuliaan Tuhan Vs Hidup Bertujuan Uang
Jika Alkitab mengajarkan bahwa hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah, maka Kiyosaki adalah orang pertama yang akan menentang pemahaman tersebut, karena akan sangat berlawanan dengan paradigma yang dibangunnya.
Sulit bagi Kiyosaki untuk menerima ada orang yang meninggalkan semua kekayaan, prospek hidupnya, untuk masuk ke hutan demi memberitakan Injil Kristus.
Dalam Cashflow Quadran, Kiyosaki menekankan bahwa yang penting baginya: kita mempunyai banyak hal yang membutuhkan uang. Uang itu penting. Tapi sekalipun uang penting dan aku butuh uang, tetapi aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan bekerja untuk cari uang.” (hal 18). Kiyosaki mengarahkan hidupnya untuk uang, tetapi tidak mau bekerja. Itu berarti ia mau uang tanpa kerja, dan lebih tajam lagi dalam bukunya Retire Young, dikatakan, “uang membuat aku bisa membeli waktu untuk mengerjakan hal-hal yang aku suka kerjakan, dan membayar orang lain untuk mengerjakan apa yang aku benci melakukannya.” (hal.15).

3. Memisahkan atau Mencampur Kaya dan Mementingkan Uang
Alkitab mengajarkan “cinta uang adalah akar segala kejahatan.” Kiyosaki sangat tidak suka dengan paradigma Alkitab ini, dan memberikan “keseimbangan” dengan mengatakan bahwa “tidak punya uang akar segala kejahatan.” Di sini Kiyosaki mengalihkan “cinta uang” dengan “punya uang.” Alkitab memang mengatakan tidak baik kalau terlalu kaya dan tidak baik kalau terlalu miskin (Ams. 30:7-8). Jadi bukan bicara tidak baik kalau terlalu miskin, tetapi juga harus memperhatikan bahwa tidak baik kalau terlalu kaya. Jadi yang harusnya seperti Doa Bapa Kami, kita berdoa agar Allah memberikan makanan “yang secukupnya hari ini” (Give us our daily bread – Mat. 6:11).

4. Menjadi orang memperkenan Allah atau menjadi orang baik di mata dunia
Bagi mata dunia, paparan Kiyosaki-Lechter sangat menyentuh, karena mereka bukan sekedar membawa pemikiran materialisme, tetapi menyentuh aspek-aspek humanistik, seperti bagaimana hidup mementingkan keluarga, mementingkan kepentingan sosial. (Cashflow, hal 15). Sungguh suatu gambaran ideal bagi manusia duniawi, tetapi sungguh sangat tidak ideal di hadapan Allah, karena gambaran yang bagus itu telah membuang gambaran yang jauh lebih bagus atau yang paling bagus, yaitu paradigma kehidupan yang benar itu sendiri.
Nilai hidup manusia bukan sekedar karena berbuat baik, tetapi jika ia memperkenan hati Tuhan (Ef. 2:10). Sulit kita bisa mengerti akhirnya bahwa ada orang yang semakin baik semakin berdosa.

5. Uang Menjadi Sarana Untuk Memuliakan Allah atau Uang Bekerja Untuk Kepentingan Kita
Uang adalah sarana. Sampai pada pernyataan ini, sangat mungkin orang Kristen dan Kiyosaki akan sama-sama menganggukkan kepala. Tetapi sarana untuk apa? Ini akan membedakan secara tajam keduanya. Jika bagi orang Kristen, uang adalah sarana untuk memuliakan Allah, maka bagi Kiyosaki, uang adalah sarana untuk memperkaya diri. Kita memakai uang untuk men­datangkan uang. Kiyosaki menekankan bahwa ia butuh uang, karena uang dipergunakan untuk:
a. Melakukan apa yang ia suka lakukan
b. Membayar orang melakukan apa yang ia benci lakukan.
c. Berjalan keliling dunia
d. Menjadi orang baik.
Uang dipakai menjadi alat pancing. Inilah inti dosa dunia.
Bagi Alkitab, uang adalah anugerah Tuhan, melalui seluruh etos kerja Kristen kita, maka Allah memberikan kepada kita berkat bagi hidup kita sesuai dengan kasih karunia-Nya (cf. butir 6). Bagi Kiyosaki, uang kita harus kita investasikan untuk kembali menghasilkan uang. Hal ini akan menyebabkan orang sangat terpaku pada pergerakan uangnya, sehingga akan menyita pikirannya. Kerja bukan bagaimana kita memanifestasikan talenta yang Tuhan beri, tetapi mengejar kekayaan.

6. Hidup Untuk Allah atau Hidup Untuk Diri Kita
Alkitab memang mengatakan bahwa kekayaan bisa menambah persahabatan dan orang miskin ditinggalkan sahabatnya (Ams. 19:4). Tetapi bukan itu menyebabkan kita mementingkan diri kita dan mau menjadi kaya. Alkitab mengajar hidup kita bukan untuk diri kita, tetapi untuk Allah. Ini sesuai dengan hukum relasi Pencipta-ciptaan. Seluruh hidup dan keberadaan kita adalah demi kemuliaan dan kepentingan Allah dan kerajaan-Nya. Tetapi konsep ini sangat ditentang oleh Kiyosaki. Bagi dia, tidak bisa kita hidup untuk Allah. Kita perlu memikirkan diri kita sendiri. Memang tidak jelas apakah Kiyosaki masih ke gereja atau tidak, tetapi yang pasti seluruh pendekatan dia terhadap firman sudah sangat duniawi dan egois. Misalnya cerita “Daud dan Goliat” menjadi begitu duniawi di dalam pikiran Kiyosaki.
[1] Alkitab mengatakan bahwa Daud melihat pimpinan dan tangan Allah di belakang peristiwa itu (1Sam. 17:37, 46-47 ).
Hidup bagi Kiyosaki adalah harus mengerjakan yang kita suka. Dalam Retire Young, hal 14, ia dengan tegas menyatakan apa yang ia suka dan benci (dalam tabel). Ia suka: kaya, bebas, membeli apa yang diinginkan, barang mahal, orang lain melakukan hal yang tidak suka kita lakukan. Dan ia benci melakukan sebaliknya. Dari paparan Kiyosaki, maka kalimat. “kamu ini buatan Allah, dicipta dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau kita hidup di dalamnya” (Ef. 2:10) dan “barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:27-28).

7. Setiap Orang Mendapat Anugerah Secara Khusus Vs Semua Orang Bisa Kaya
Alkitab menegaskan bahwa setiap orang mendapatkan talenta secara berbeda-beda, baik secara bidang maupun jumlah. Bukan semua orang dipanggil sebagai pedagang, dan bukan semua orang memiliki dan dipercaya oleh Tuhan untuk memegang uang banyak (Mat. 25:14-30). Pandangan ini ditolak oleh Kiyosaki. Kiyosaki tidak suka kalau seorang menjadi peneliti, yang berhari-hari di dalam laboratorium, mungkin menjadi seorang yang tidak punya uang, hidup dalam gubuk yang reot, tetapi menghasilkan hasil penelitian yang berguna bagi manusia. Bagi dia, hidup harus menjadi investor, bukan pegawai, apalagi kalau pegawaipun bukan (karena Kiyosaki tidak memasukkan konsep hamba/budak dalam teorinya). Kiyosaki ingin setiap orang jadi pedagang atau investor. Akibatnya, insinyur, dokter, ahli hukum, sosiolog, semua mau jadi investor akibat pengaruh dari pemikiran materialisme Kiyosaki.
Jika Alkitab mengajarkan bahwa “jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku” (2Kor. 11:30), Kiyosaki mengajarkan sebaliknya, yaitu bermegah atas segala kekayaan kita. Orang miskin tidak bisa bermegah, karena ia orang yang lemah.
Orang yang sekelas dan sekualitas Kiyosaki, sekelas Iacocca, sekelas Stephen Tong, sangat sedikit, dan tidak perlu semua orang mau seperti dia, nanti akan jadi stress atau sombong. Antara kita dan ayah kita sudah jauh berbeda. Ada anak yang jauh lebih unggul dari orang tuanya, tetapi banyak yang justru jauh lebih rendah dari orang tuanya, apalagi kalau orang tuanya kaya.


[1] Bagi Kiyosaki, kemenangan Daud sama sekali tidak hubungan dengan campur tangan Allah atau anugerah-Nya. Yang ada sepenuhnya adalah kemampuan manusiawi Daud di dalam menggunakan ali-ali (pengumpil) dan bodoh Goliat yang diam saja.

Bagian 1: Rich Dad or Rich Dead?

A Christian Critique on Robert T. Kiyosaki

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: 1 Tim. 6:10



A Christian Critique on Robert T. Kiyosaki-1: Rich Dad or Rich Dead?

Latar Belakang
1. Kiyosaki mempengaruhi banyak intelektual
Buku-buku dari Robert T. Kiyosaki, khususnya buku pertamanya “Rich Dad, Poor Dad” telah mempengaruhi begitu banyak orang, bahkan telah mendapatkan award no 1 dari New York Times. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan mempengaruhi pola berpikir dan pola kerja banyak orang di dunia modern ini.

2. Kiyosaki memberikan paradigma baru
Kiyosaki mengangkat paradigma yang baru untuk dunia pendidikan, dengan melakukan kritik keras terhadap pola pendidikan yang lama, yang berorientasi pada skolastiksisme dan rasionalisme. Kiyosaki melihat bahwa pendidikan harus berpusat dan berorientasi pada finance (finansial). Orang belajar untuk menjadi kaya, dan kekayaan adalah sasaran terakhir dari seluruh kehidupan.
Namun, di lain pihak, banyak orang yang tidak menyadari sebenarnya apa yang sedang dipaparkan oleh Kiyosaki akan membawa dampak kerusakan bagi tantanan kehidupan dan finansial secara sangat berbahaya. Kiyosaki memberikan idenya dengan menunggangi kelemahan dosa manusia, sehingga upaya untuk membawa perbaikan justru akan dirusak olehnya. Namun, pemikirannya akan sangat banyak diterima dan dipuja, karena memang ada beberapa argumentasi yang dikemukakannya sangat tepat dan cocok dengan realita dunia dan jiwa manusia berdosa.



RICH DAD OR RICH DEAD: POSITIVE ASPECTS
1. Pendidikan lama yang gagal secara visi
Pendidikan telah gagal mendidik, karena tidak jelas apa yang mau dicapai. Ide belajar, mendapat nilai, baik, bekerja, lalu sukses adalah mimpi yang seringkali tidak terjadi.

2. Pendidikan sejalan dengan keinginan
The will, merupakan hal yang penting dalam hidup, sehingga dari pada diatur, lebih baik mengatur. Ini yang harus diajarkan dari awal kepada anak-anak, sehingga mereka bisa menjadi investor kelak (tesis Kiyosaki).

3. Tujuan hidup adalah kaya
Kiyosaki menolak (secara halus asumsi ayat di atas), karena sebenarnya hidup adalah uang, dan tujuan hidup adalah menjadi kaya. Dan untuk menjadi kaya, sebenarnya bukan sekolah seperti sekarang ini sarananya.



RICH DAD OR RICH DEAD: Negative ASPECTS
1. Asumsi Pendidikan tidak penting, yang penting kaya.
Buat Kiyosaki maupun Sharon Lechter, yang penting kaya, dan pendidikan tidak perlu (contoh Bill Gates, Michael Jordan dll.). Gagasan ini membuat dunia pendidikan dilecehkan ke posisi terendah. Seolah-olah manusia hanya hidup demi uang dan untuk uang. Di sini Kiyosaki-Lechter dengan jahat telah mengumbar dosa manusia, sehingga semangat Humanisme-Materialis semakin menjadi-jadi.

2. Pendidikan hanya ke finance, bukan pemerataan bidang
Jika dunia menerima konsep Kiyosaki, celakalah para ilmuwan, para teknokrat, karena mereka tidak punya tempat dalam posisi Kiyosaki. Mereka digolongkan sebagai Employee (pekerja), yaitu posisi terendah, karena “makan gaji.” Hidupnya tidak bisa kaya, kerja keras, dan hidup susah. Yang sukses hanya mereka yang menjadi businessman. Inilah asumsi kejam dari Kiyosaki. Harusnya Kiyosaki memperjuangkan agar para investor tidak mengeruk keuntungan bagi dirinya, lalu membagikan pada teknokrat. Para pedagang tidak mengeruk laba besar, dan membagikannya pada petani. Tetapi Kiyosaki berpikir sebaliknya, mari kita jadi pedagang, untung besar, dan menggaji petani dengan gaji kecil.

3. Pendidikan untuk mencari uang, bukan talenta
Arah pendidikan memang sudah salah, sehingga pendidikan dijadikan bulan-bulanan permainan filsafat dunia. Jika didunia rasionalisme, pendidikan menjadi alat mengejar ilmu pengetahuan dunia, maka sekarang pendidikan menjadi alat mengejar uang. Dan keduanya nanti akan berakhir di neraka, karena tujuan pendidikan bukan mengejar ilmu atau uang, tetapi penggenapan talenta demi kemuliaan Tuhan.

4. Hidup terarah pada dunia, bukan Tuhan
Hidup bagi materialis-humanis seperti Kiyosaki dan Lechter, tidak akan berkorelasi dengan Tuhan. Inilah kelemahan pendidikan masa kini yang sesungguhnya. Di sini akibatnya, etika menjadi lemah. Segala hal dipikirkan dari kepentingan pribadi, dan Kiyosaki-Lechter menanamkan konsep untuk memanipulasi orang lain (yang dianggapnya bodoh), untuk menjadi sarana kerja (investasi) kita di dalam menghasilkan uang.

5. Kasus Khusus menjadi asumsi Kasus Umum
Kasus-kasus dan contoh khusus dipakai untuk membicarkan konsep umum. Di sini kita melihat cara pandang yang salah, yaitu membangun konsep dari beberapa kasus khusus (yang dipilih tentunya dengan asumsi dan cara pandang yang tendensius), untuk membangun citra umum. Seolah kalau kita tidak kaya, kita akan sulit hidup dan tidak bahagia.