18 February 2008

Bab 30: MENGALAHKAN PENCOBAAN?? (Analisa Terhadap Bab 27 Buku Rick Warren)

Bab 30

Mengalahkan Pencobaan ??

P

ada bab 30 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari keduapuluhtujuh dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab. Mari kita akan menelusurinya dengan teliti berdasarkan kebenaran Alkitab.

Pada bab 27 ini, Warren mengajarkan tentang bagaimana mengalahkan pencobaan.

Pada awal bab ini, ia memaparkan,

Selalu ada jalan keluar.

Anda mungkin kadang merasa bahwa sebuah pencobaan terlalu besar untuk Anda tanggung, tetapi ini dusta dari Iblis. Allah telah berjanji untuk tidak pernah membiarkan beban yang Anda pikul melebihi kekuatan yang Ia berikan kepada Anda untuk menanggulanginya. Dia tidak akan mengizinkan pencobaan yang tidak bisa Anda atasi. Namun, Anda harus melakukan bagian Anda juga dengan menerapkan empat kunci alkitabiah untuk mengalahkan pencobaan. (Warren, 2005, p. 229)

Komentar saya :

Memang benar, di dalam setiap pencobaan, Allah tetap bersama kita dan Ia tidak akan membiarkan Anda mengalami pencobaan yang melebihi kekuatan kita. Itulah janji Allah. Saya mengamini hal ini. Tetapi ketika Warren mengajarkan bahwa kita harus melakukan bagian kita untuk mengalahkan pencobaan, saya pikir itu agak sedikit aneh. Di dalam Yakobus 1:2, Yakobus mengajarkan, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,” Ayat ini TIDAK mengajarkan, “Saudara-saudaraku, lawanlah pencobaan.” ! Mengapa pencobaan perlu kita anggap sebagai suatu kebahagiaan ? Ayat berikutnya menjelaskan, “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:3-4). Kata “pencobaan” dalam bahasa Yunaninya peirasmos yang bisa berarti disiplin dan kata “kebahagiaan” ini dalam King James Version (KJV) diterjemahkan joy yang lebih tepat diterjemahkan sukacita.

Tetapi, apakah berarti pencobaan tidak perlu dilawan 100% dan hanya perlu diterima ? TIDAK juga ! Pencobaan juga perlu dilawan tetapi cara-caranya akan kita bahas melalui kritik terhadap pandangan Warren di bawah ini.

Selanjutnya, ia mengajarkan 4 prinsip mengalahkan pencobaan. Berikut adalah prinsip pertama, “Pusatkan kembali perhatian Anda pada sesuatu yang lain”,

Mungkin mengejutkan bagi Anda bahwa tidak ada di manapun dalam Alkitab yang kita disuruh untuk “melawan pencobaan.” Kita disuruh “lawanlah Iblis” (Yakobus 4:7 ; AITB) tetapi itu sangatlah berbeda, sebagaimana akan saya jelaskan nanti. Sebaliknya, kita dinasihatkan untuk memusatkan kembali perhatian kita karena melawan sebuah pikiran tidaklah berguna. Melawan pikiran hanya menambah perhatian kita pada hal yang salah dan memperkuat daya tariknya...

Setiap kali Anda mencoba melawan suatu pikiran dari benak Anda, Anda mendorongnya lebih dalam ke ingatan Anda. Dengan melawannya, Anda sebenarnya memperkuatnya. Ini khususnya berlaku untuk pencobaan. Anda tidak mengalahkan pencobaan dengan melawan perasaan tentangnya. Semakin hebat Anda melawan sebuah perasaan, semakin hebat ia menguasai dan mengendalikan Anda. Anda memperkuatnya setiap kali Anda memikirkannya.

Karena pencobaan selalu dimulai dengan sebuah pikiran, cara tercepat untuk menetralkan daya tariknya ialah mengalihkan perhatian Anda kepada sesuatu yang lain. Jangan melawan pikiran tersebut, ganti saja saluran pikiran Anda dan tertariklah pada suatu ide yang lain.

... Semakin banyak Anda memikirkan sesuatu, semakin kuat hal tersebut menguasai Anda.

...

... Demikian pula, seorang pembicara yang terus mengulangi dalam hati, “Jangan gugup!” menjadikan dirinya sendiri gugup ! Sebaliknya dia seharusnya memusatkan perhatian pada apa saja selain perasaannya, bisa pada Allah, pada pentingnya pembicaraannya, atau pada kebutuhan orang-orang yang mendengarkan.

Pencobaan dimulai dengan menangkap perhatian Anda. Apa yang mendapatkan perhatian Anda membangkitkan emosi Anda. Anda bertindak berdasarkan apa yang Anda rasakan. Selanjutnya emosi-emosi Anda mengaktifkan perilaku Anda, dan Anda bertindak berdasarkan apa yang Anda rasakan...

Mengabaikan sebuah pencobaan jauh lebih efektif ketimbang melawannya. Begitu pikiran Anda ada pada sesuatu yang lain, pencobaan kehilangan kuasanya...

Kadang ini berarti secara fisik meninggalkan situasi yang menggoda. Inilah waktu di mana melarikan diri itu baik... Tinggalkan bioskop di tengah-tengah pemutaran film. Lakukan apapun yang diperlukan untuk mengalihkan perhatian Anda pada sesuatu yang lain.

Secara rohani, pikiran Anda merupakan organ yang paling rentan. Untuk mengurangi pencobaan, jagalah agar pikiran Anda tetap dipenuhi oleh Firman Allah dan pikiran-pikiran baik lainnya. Anda mengalahkan pikiran-pikiran jahat dengan memikirkan sesuatu yang lebih baik. Inilah prinsip penggantian. Anda mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:21 ; AITB). Iblis tidak bisa mendapatkan perhatian Anda bila pikiran Anda dipenuhi dengan sesuatu yang lain...

Jika Anda bersungguh-sungguh hendak mengalahkan pencobaan, Anda harus mengelola pikiran Anda dan mengawasi masukan media Anda. Manusia paling bijak yang pernah hidup memperingatkan, “Waspadalah dengan caramu berpikir ; hidupmu dibentuk oleh pikiran-pikiranmu.” (Amsal 4:23 ; Today’s English Version) (Warren, 2005, pp. 230-232).

Komentar saya :

Ada beberapa prinsip Warren yang akan kita kritisi pada bagian ini.

Pertama, apakah melawan pencobaan berbeda dengan melawan iblis ? Bagi Warren, berbeda, tetapi tidak bagi saya. Bagi saya, kedua kata itu, yaitu antara pencobaan dan iblis adalah kata-kata yang saling berkaitan. Pencobaan pasti datang dari iblis, sedangkan ujian datang dari Allah (saya sudah menjelaskan pada bab 29 dalam makalah ini). Mengapa saya mengaitkan pencobaan dengan iblis ? Karena di dalam 1 Timotius 6:9, Rasul Paulus mengajarkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” Dosa materialisme dikaitkan dengan pencobaan, jerat dosa, nafsu yang hampa dan mencelakakan dan akhirnya membawa manusia tenggelam ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (KJV : destruction and perdition). Bukankah iblis itu mencelakakan dan membawa manusia kepada kebinasaan (atau kematian) ? Dari semua fakta ini jelas bahwa pencobaan pasti berkaitan dengan iblis ! Oleh karena itu, melawan iblis identik dengan melawan pencobaan yang ikut serta dengannya. Lalu, perlukah kita melawan pencobaan ? Bagi Warren, tidak perlu, karena dengan melawan, itu berarti kita memperkuat pencobaan tersebut. Kemudian, Warren mengusulkan agar kita segera mengalihkan perhatian kita dari pencobaan, karena, “Semakin banyak Anda memikirkan sesuatu, semakin kuat hal tersebut menguasai Anda.” Pernyataan ini mirip dengan pengajaran “Name it and Claim it” atau ajaran “Berpikir Positif” yang mengajarkan bahwa apapun yang kita pikir dan katakan, itulah yang terjadi. Ini jelas melawan Alkitab. Segala sesuatu terjadi pasti atas kehendak Allah (bukan kehendak diri manusia).

Apakah dengan mengalihkan pencobaan, yang diletakkan Warren di dalam cara pertama melawan pencobaan, dapat mengatasi pencobaan ? TIDAK MUNGKIN ! Dengan mengalihkan perhatian kita menunjukkan kita lemah terhadap pencobaan tersebut. Misalnya, Pdt. Sutjipto Subeno pernah bercerita bahwa di salah satu kota di Tiongkok, wanita “tidak benar” (=pelacur) itu melacurkan dirinya di pinggir jalan raya dengan menarik setiap laki-laki yang berlalu lalang di sana, lalu bagaimana sikap orang Kristen ? Menurut Warren, kita harus memusatkan perhatian pada yang lain. Di satu sisi, ada benarnya, tetapi secara prinsip, jelas salah. Ketika memusatkan perhatian pada yang lain, itu berarti kita menghina orang lain. Bagaimana penyelesaiannya ? Kita boleh saja melihat wanita tersebut (hak asasi), tetapi ingatlah itu dosa, sehingga dengan keputusan yang bulat berdasarkan iman yang sejati di dalam Kristus, kita TIDAK mau menerima tawaran dosa.

Melihat saja tidak lah dosa, tetapi kalau mengingini di dalam pikiran, itu sudah dosa. Perhatikan dan camkanlah prinsip ini. Kalau melihat sudah dikategorikan dosa, maka seperti yang Pdt. Dr. Stephen Tong pernah ceritakan tentang seorang pendeta tua bahwa pendeta tua ini untuk mencegah agar anaknya tidak tercemar oleh dosa, maka ia membaca seluruh surat kabar yang diterimanya, lalu menggunting setiap berita di surat kabar yang khusus memuat kejahatan, seperti, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, dll untuk selanjutnya surat kabar tersebut baru diberikan kepada anaknya. Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa hal ini bukan tambah baik, malahan tambah buruk, mengapa ? Karena anak yang membaca surat kabar yang bolong-bolong akibat guntingan ayahnya akan penasaran dan ingin segera mengetahui khusus berita dan gambar-gambar yang “bolong-bolong” tersebut mungkin dengan meminjam surat kabar tetangganya atau yang lain. Oleh karena itu, ketika sebuah film di dalam bioskop menampilkan hal-hal yang jorok dan mencobai kita, kita tidak perlu mengikuti saran Warren untuk segera meninggalkan bioskop itu. Itu namanya tindakan gila ! Apakah Tuhan Yesus ketika dicobai oleh setan lalu segera meninggalkan si iblis sendirian ? TIDAK ! Kristus menghadapi bahkan melawan pencobaan itu dengan Firman ! Orang Kristen juga harus meneladani apa yang Kristus lakukan, kita tidak perlu meninggalkan atau segera membuang apapun yang mencobai kita, supaya kita tetap imun dan tidak terkena noda sedikitpun. Sebaliknya yang kita perlu lakukan adalah berusahalah menyeleksilah setiap hal, baik pemikiran, filsafat, ajaran, budaya, dll dengan perspektif Alkitab. Saya akan memberikan contoh konkrit, misalnya, kalau kita di dalam bioskop sedang menyaksikan salah satu adegan yang jorok di dalam sebuah film, kita tidak perlu bergaya menutupi mata atau segera meninggalkan ruangan bioskop, tetapi yang perlu kita lakukan adalah berusaha waspada dan tetap berdoa agar kita tidak terjebak ke dalam bujuk rayu iblis.

Kedua, menurut Warren, “Jika Anda bersungguh-sungguh hendak mengalahkan pencobaan, Anda harus mengelola pikiran Anda dan mengawasi masukan media Anda. Manusia paling bijak yang pernah hidup memperingatkan, “Waspadalah dengan caramu berpikir ; hidupmu dibentuk oleh pikiran-pikiranmu.” (Amsal 4:23 ; Today’s English Version)”. Bagi saya, jika ingin mengalahkan pencobaan, bukan dengan mengelola pikiran kita, apalagi disisipkan ayat Alkitab di dalam Amsal 4:23 versi Today’s English Version yang mengajarkan bahwa pikiran menentukan hidup (padahal ayat ini tidak berarti demikian !). Mengalahkan pencobaan dapat dilakukan dengan memusatkan dan mengarahkan hati (BUKAN pikiran) kita kepada Kristus. Kata “pikiran” tidak ada di dalam Amsal 4:23, karena ayat ini sedang mengajarkan tentang pentingnya hati. Perhatikan Amsal 4:23 versi King James Version (KJV) ini, “Keep thy heart with all diligence; for out of it are the issues of life.” Saya sudah menjelaskan Amsal 4:23 di dalam bab sebelumnya dalam makalah ini. Anda bisa membacanya sendiri.

Kemudian, ia memaparkan prinsip kedua dari 4 prinsip mengalahkan pencobaan, yaitu “Ungkapkan pergumulan Anda pada seorang teman yang saleh atau kelompok yang mendukung”,

Anda tidak perlu menyiarkannya ke seluruh dunia, tetapi Anda memerlukan setidaknya satu orang dengan siapa Anda bisa dengan jujur menceritakan pergumulan-pergumulan Anda...

... Beberapa pencobaan hanya bisa diatasi dengan bantuan seorang rekan yang mendoakan Anda, mendorong Anda, dan menjaga akuntabilitas Anda.

Rencana Allah bagi pertumbuhan dan kemerdekaan Anda melibatkan orang-orang Kristen lainnya...

Apakah Anda sungguh-sungguh ingin disembuhkan dari pencobaan yang tetap bertahan itu, yang mengalahkan Anda berulang kali ? Jalan keluar Allah sederhana : Janganlah menekannya ; akuilah keberadaannya ! Jangan menyembunyikannya, ungkapkanlah. Menyatakan perasaan Anda merupakan awal kesembuhan... (Warren, 2005, pp. 232-233).

Komentar saya :

Pada prinsip kedua mengalahkan pencobaan, Warren mengajarkan hal yang berkontradiksi dengan prinsip pertama, di mana pada prinsip kedua, ia mengajarkan bahwa kita tidak perlu menyembunyikan pencobaan atau menekannya, tetapi kita harus mengakui dan mengungkapkan pencobaan tersebut, padahal di dalam prinsip pertamanya, ia mengatakan bahwa kita harus mengalihkan perhatian kita dari pencobaan (dengan kata lain, secara implisit, tidak menganggap pernah ada pencobaan). Lalu, ia juga mengajarkan bahwa dengan menyatakan perasaan kita itulah awal kesembuhan dalam mengalahkan pencobaan. Benarkah ajaran ini ? Cara mengalahkan pencobaan adalah dengan BERDOA (Lukas 22:40, 46), bukan dengan menyatakan perasaan kita. Mengapa harus BERDOA ? Karena di dalam doa, kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah sambil di dalam doa tersebut, kita dikoreksi oleh Allah sehingga kita semakin bertumbuh dewasa bahkan di dalam pencobaan sekalipun. Kalau kita disuruh untuk menyatakan perasaan kita kepada orang lain, itulah cara psikologi, BUKAN cara Alkitab. Kita memang bisa mensharingkan apa yang kita alami dengan orang lain, agar orang lain dapat menolong kita dengan mendoakan kita, tetapi itu hanyalah salah satu sarana (bahkan sarana terakhir yang tidak terlalu penting), yang mutlak penting adalah kita tetap berfokus kepada Kristus di dalam pencobaan.

Setelah itu, ia menjelaskan prinsip ketiga dari 4 prinsip mengalahkan pencobaan, yaitu “Lawanlah Iblis”,

Setelah kita merendahkan diri dan tunduk kepada Allah, kita selanjutnya diperintahkan untuk melawan iblis... Kita tidak menyerah secara pasif pada serangan-serangannya. Kita harus melawan.

Perjanjian Baru sering kali menggambarkan kehidupan Kristen sebagai suatu pertempuran rohani melawan kuasa-kuasa jahat, dengan menggunakan istilah-istilah perang seperti bertempur, menaklukkan, melawan, dan mengalahkan. Orang-orang Kristen sering kali dibandingkan dengan prajurit yang sedang melayani di dalam wilayah musuh.

Bagaimana kita bisa melawan iblis ? Paulus menyuruh kita, “Terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu Firman Allah” (Efesus 6:17 ; AITB). Langkah pertama ialah menerima keselamatan dari Allah. Anda tidak akan mampu berkata tidak kepada iblis sebelum Anda berkata ya kepada Kristus. Tanpa Kristus kita tidak berdaya melawan iblis, tetapi dengan “ketopong keselamatan” pikiran kita dilindungi oleh Allah. Jika Anda adalah seorang percaya, iblis tidak bisa memaksa Anda untuk melakukan sesuatu. Dia hanya bisa mengusulkan.

Kedua, Anda harus menggunakan Firman Allah sebagai senjata Anda melawan iblis... Ada kuasa di dalam Firman Allah, dan iblis takut padanya.

Jangan pernah mencoba berdebat dengan iblis. Dia lebih baik dalam soal berdebat ketimbang Anda, dia sudah mempraktikkannya ribuan tahun. ... Anda bisa memakai senjata yang membuatnya gemetar, yakni kebenaran Allah. Karena itu menghafal ayat mutlak penting untuk mengalahkan pencobaan... (Warren, 2005, pp. 234-235).

Komentar saya :

Apa yang Warren ajarkan dalam poin ini tidaklah salah dan inilah yang seharusnya menjadi poin kedua setelah berfokus kepada Kristus di dalam prinsip mengalahkan pencobaan dan bukan poin ketiga. Urutan yang Warren susun benar-benar tidak sistematis ! Di dalam mengalahkan pencobaan, yang mutlak kita perlu lakukan adalah tetap berfokus kepada Kristus, dan dilanjutkan dengan melawan iblis dengan pedoman Firman Allah. Selanjutnya, poin/prinsip terakhir, mungkin yang tidak terlalu penting, adalah mensharingkan pengalaman kita dengan orang lain agar orang lain juga dapat mendoakan kita.

Terakhir, ia mengungkapkan prinsip terakhir dari keempat prinsip mengalahkan pencobaan, yaitu “Sadarilah Kerentanan Anda”,

Allah memperingatkan kita agar jangan pernah sombong dan terlalu percaya diri karena itu adalah resep menuju bencana...

Jangan secara ceroboh menempatkan diri Anda dalam situasi-situasi pencobaan. Hindarilah pencobaan-pencobaan tersebut (Amsal 14:16 ; AITB)... (Warren, 2005, pp. 235-236).

Komentar saya :

Hal/prinsip ini tidak seberapa penting dan perlu diklasifikasikan ke dalam poin/prinsip pertama di dalam mengalahkan pencobaan, yaitu dengan berfokus kepada Kristus. Ketika kita berfokus kepada Kristus, secara otomatis, kita mutlak tidak boleh menganggap diri hebat, pintar, bisa segala-galanya. Ketika kita berfokus kepada Kristus, kita menyadari akan kelemahan dan keterbatasan kita, serta kedahsyatan nama dan firman-Nya dalam mengalahkan pencobaan dan iblis sekaligus. Inilah pentingnya doktrin/ajaran kedaulatan Allah di dalam kehidupan Kristen sehari-hari.

No comments: