16 December 2007

MUNAFIK (Ev. Yadi S. Lima, M.Div.)

MUNAFIK

oleh : Ev. Yadi S. Lima, M.Div.



Dalam hidup kita ada orang-orang yang termasuk 'orang dalam' dan 'orang luar'. Ada orang-orang tertentu yang sangat dekat dengan kita, sementara sebagian lain tetap atau masih berada di luar lingkaran sobat-sobat akrab. Orang-orang 'dalam' itu biasanya tidak begitu saja menjadi 'orang dalam.' Kita dapat mengingat bahwa pada masa yang lampau mereka ini pernah berada di 'lingkaran luar.' Orang yang paling dekat dengan kita sekalipun (katakanlah istri atau pacar) dulunya adalah orang asing. Ada tahap-tahap menuju keakraban. Kita dapat mengingat-ingat perubahan-perubahan apa saja yang terjadi ketika seseorang menjadi makin akrab, dekat, dan intim dengan kita. Saya mengajak kita mengamati empat perubahan yang terjadi ketika suatu relasi bertumbuh menjadi semakin dekat.
· Makin kelihatan aslinya. Makin kita dekat dengan seseorang, makin tidak 'jaim' (jaga image) - lah kita. Kita merasa cukup aman untuk menampilkan diri kita yang sesungguhnya tanpa pasang kuda-kuda sama sekali. Kita berani ta mpil dan bersikap apa adanya dan 'seenaknya' dalam arti yang tidak harus negatif. Berani jadi diri sendiri tanpa takut diejek, dikritik atau dihina. Akhirnya orang-orang yang paling dekat dengan kita menjadi orang-orang yang paling kenal sisi jelek kita. Sisi kelam kita yang memalukan hanya kita terlihat oleh orang dalam. Begitu juga sebaliknya, kita mengenal kejelekan teman-teman dekat kita lebih daripada orang lain. Penyebabnya adalah kita tidak mau dipandang buruk atau dihina. Ini membuat kita melakukan manajemen citra diri sedemikian rupa sehingga publik tidak melihat wajah asli kita yang tak seindah wajah yang tampil di publik.
· Makin empatik dan identik. Makin dekat seseorang dengan diri kita, maka kerugian atau kesakitan orang itu menjadi kesakitan dan kerugian kita juga. Kesenangan dia menjadi juga kesenangan saya. Misalnya: Kalau anak saya tida k naik kelas maka saya bisa ikutan sedih, kecewa dan malu, tapi kalau anak tetangga yang tidak naik kelas saya tidak peduli. Saya peduli dan ikut sedih atau senang karena 'sang dia' sudah menjadi sebagian dari 'sang saya'. "Dia itu kan anak saya sendiri", "istri saya sendiri", "mobil saya" dan lain-lain.
· Take for granted. Semakin kita dekat dengan seseorang semakin kita menganggap perbuatan baik yang dilakukannya pada kita adalah hal yang biasa, sudah seharusnya dan sepatutnya. Kebaikan dan perhatian seseorang yang sudah bertahun-tahun dekat dengan kita (katakanlah is tri atau suami) menjadi kehilangan keistimewaannya. Kita tak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang spesial. Fenomena ini paling jelas terlihat ketika kebaikan itu mendadak berhenti, kita menjadi kesal dan sewot. Kita lupa bahwa pada mulanya kita sama sekali tidak berhak untuk mendapatkan kebaikan itu. Misalnya: Tuhan memberkati kita dengan uang yang banyak selama puluhan tahun, tiba-tiba kita jatuh miskin dan dililit hutang, lalu kita kesal mengapa Tuhan tidak memelihara. Kita lupa bahwa pemeliharaan yang puluhan tahun sebelumnya adalah berkat yang kita tak layak terima.
· Seenaknya. Ada dua konotasi dari kata 'seenaknya.' Positif dan negatif. Positif jika 'seenaknya' berarti 'rileks' atau 'tidak tegang', negatif jika 'seenaknya' berarti 'sembarangan' dan 'sembrono'. Di satu sisi kita merasa rileks ketika berada di antara orang-orang dekat, tetapi di sisi lain ini mengandung bahaya. Apa bahayanya? Sikap tidak sungkan ini bisa jatuh kepada fenomena memberikan yang terburuk dan asal-asalan kepada orang-orang dekat dan justru bersikap lebih hati-hati dan hormat kepada orang luar. Setiap kita pernah mengalami bahwa kita cenderung lebih hati-hati dan menjaga perasaan lawan bicara kita ketika mereka masih asing (apalagi jika kepentingan kita dipertaruhkan di sana). Tetapi kita cenderung lebih kasar dan tidak sabaran kepada anggota keluarga sendiri atau pembantu di rumah.

Dari Markus 6:1-6 kita dapat melihat satu contoh fenomena 'orang-dalam-orang-luar' ini. Yesus yang begitu pandai, begitu mempesona, dan luar biasa berkuasa tidak diterima oleh teman-teman satu kampungnya, oleh saudara-saudaranya sendiri yang telah mengenal Yesus sejak kecil. Di mana letak kesalahannya? Apakah Yesus memiliki sifat jelek yang hanya diketahui orang-orang terdekat-Nya (seperti kebanyakan kita) sehingga sulit menerima kotbah-Nya? Ataukah memang manusia cenderung tidak puas, bahkan brutal kepada orang-orang dekat? Mengapa manusia sulit untuk memberikan penghargaan dan penghormatan kepada orang-orang yang paling dekat?
Ada 3 penyebab yang saling berkaitan, yaitu:
· Kita ini pada dasarnya egois dan kejelekan ini paling terlihat pada saat kita berhubungan dengan teman atau saudara paling dekat. Ketika hubungan menjadi semakin akrab dan kita tak sungkan-sungkan lagi menjadi diri sendiri, ketika topeng-topeng mulai dilepas, saat itu biasanya teman kita makin menyadari ba hwa diri kita tak sebaik kelihatannya. Diri kita yang asli selalu lebih buruk daripada yang terlihat sekilas. Ini menyebabkan kita tidak ragu-ragu lagi untuk secara blak-blakan mengutarakan ketidak-puasan atau kekesalan kita. Kita juga semakin tak sungkan lagi menuntut ini-itu dari teman dekat kita. Di sini egoisme kita makin jelas terlihat. Kita ini pada dasarnya mau menang sendiri dan seenaknya. Inilah esensi dari kejatuhan manusia dalam relasi terhadap sesamanya. Setelah kejatuhan manusia dengan berbagai cara cenderung ingin menguasai sesamanya. Pria ingin menguasai istrinya, begitu pula dengan sang istri yang juga punya cara sendiri untuk dapat menguasai suaminya. Bahkan anak-anakpun punya cara untuk menguasai orang tua dan guru mereka.

· Kedekatan seringkali menyebabkan hilangnya batas-batas Saya-Engkau. Hal inilah yang menyebabkan kita sulit untuk sungguh-sungguh menghormati mereka yang terlalu dekat. Martin Buber membagi relasi antar manusia dalam kategori I-and-It, I-and-I, dan I-and-Thou. Kategori yang paling rendah adalah I-and-It. Ini adalah relasi manusia dengan benda alam dimana dia hanya berguna jika melayani kepentingan saya. Yang paling tinggi adalah I-and-Thou dimana saya berelasi dengan engkau sebagaimana engkau adanya bukan sebagaimana engkau yang saya inginkan. Ketika kita berelasi dengan Tuhan atau dengan orang-orang yang dekat, kita seringkali sampai pada satu tahap di mana kita tak lagi menghormati batas-batas antara Saya-Engkau. Menyatunya Engkau dengan Saya ini mengandung bahaya kita akan memperlakukan Engkau sebagai Saya. Kita akan memproyeksikan si Saya pada diri si Engkau, dan dengan demikian kita menjajah sang Engkau dengan meniadakan identitasnya. Engkau kini berada (exist) sebagai ekstensi dari Saya. Kamu ada demi Saya, untuk Saya, dan ole h Saya. Dalam kondisi seperti ini jika kita mengasihi seseorang sebenarnya bukan dia ada yang kita kasihi tapi diri kita yang berada pada orang itulah yang kita kasihi. Ini bukan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (love others as you love yourself), tetapi mengasihi sesama sebagai diri sendiri (love others as yourself). Dengan begini kita tidak mengasihi 'dia' pada dirinya sendiri tetapi kita mengasihi 'kepentingan' dan 'kebutuhan' saya di dalam dia. Inilah penjajahan Sang Dia oleh Sang Saya. Mengapa kita cenderung lebih sensitif alias mudah tersinggung oleh orang dekat ketimbang oleh orang luar? Inilah bukti bahwa diam-diam kita memberlakukan relasi I-and-I kepada orang dekat. Kita pikir karena dia dekat maka dia harus mengerti saya, dan itu bikin saya naik darah kalau dia tak pengertian.

Fenomena konflik dengan orang dekat ini sebenarnya mencerminkan esensi dasariah dari keberdosaan kita, yaitu: egoisme/self-centeredness (sebagai lawan dari altruisme). Dari bayi sampai tua ada dorongan kuat dalam diri kita untuk menjajah orang lain. Kita tidak puas ketika mereka menjadi seperti yang kita tidak suka. Dengan kata lain kita tak memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri (apalagi jika dia adalah orang dekat saya, makin dekat, makin dia jadi korban objektivikasi kita, "Mama nggak peduli kalau anak orang lain mau jadi seniman, tapi mama pasti nggak setuju kamu masuk jurusan senirupa, mau jadi apa kamu nanti?"). Kita ingin keluarga kita, teman-teman kita, tempat kerja kita, lingkungan usaha kita, negara kita, bahkan selu ruh semesta alam (dan Tuhan) menjadi seperti yang kita mau. Kita ingin menjadi penguasa semesta karena kita ingin memaksakan relasi I-and-I atau I-and-It. Tetapi ini tidak mungkin karena Tuhan menciptakan dunia ini plural. Tuhan menciptakan keberagaman. Adanya keberbedaan sejak dari mula adalah ide dari Tuhan sendiri. Kita tidak bisa mengingkari fakta bahwa manusia yang lain itu bukan saya sehingga saya sesungguhnya tak berhak (dan juga seringkali tidak berdaya) untuk merampas hak mereka untuk menjadi berbeda dari keinginan dan harapan saya.

Sebenarnya dorongan untuk berkuasa dan menjajah yang lain (baik dengan cara yang jelas terlihat maupun halus) seperti ini adalah manifestasi dari keinginan terpendam untuk 'menjadi seperti Tuhan (bukan serupa Tuhan)'. We want to be God. Kita lupa bahwa manusia yang lain dan semesta ini bukan berada untuk saya, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Anak saya bukanlah milik saya yang harus berada untuk menyenangkan saya, istri/suami saya bukanlah milik yang harus menjadi seperti yang saya suka, begitu pula dengan karyawan, negara dll, mereka semua ini berada untuk Tuhan. Tuhanlah yang mencipta kan mereka (dan diri kita sendiri) untuk diri Tuhan. Anak kita lahir ke dunia bukan untuk membuat hidup kita lebih semarak, BUKAN. Anak kita BUKAN milik kita. Dia milik Tuhan yang berada di sini untuk melaksanakan kehendak Tuhan, mewujudkan misi Tuhan, demi kemuliaan Tuhan. Bukan untuk memenuhi cita-cita saya sama sekali. Bahkan diri kita sendiri adalah milik Tuhan, bukan milik diri sendiri. Ada banyak salah kaprah yang mengira bahwa kita memiliki hidup, waktu dan tubuh ini sampai dengan waktu kita menyerahkan hak kepemilikan pada Yesus. SALAH. Diri kita ini sudah jadi milik Tuhan sejak kita ada. Mengapa? Karena Tuhanlah yang membuat kita ada. Kita ini tadinya tak ada. Setiap kita musti sadar hal itu. Sejak penciptaan kita sudah milik Tuhan, hanya saja kita tak mengakui kepemilikan itu, kita berandai-andai kitalah tuan atas diri kita. Jadi apa artinya saya menyerahkan hidup pada Kristus? Waktu kita menyerahkan hidup pada Kristus kita menga kui kepemilikan Tuhan atas hidup kita. Ini bukan berarti baru pada saat itu Tuhan menerima hibah, kebaikan hati dari kita yang mau merelakan hidup disumbangkan kepada Kristus. Bukan. Penyerahan kita hanyalah pengakuan hak yang memang sejak awal sudah ada di tangan Tuhan. Kita sama sekali tak ada jasa di sini. Sama seperti penduduk liar yang sadar tanah tempat tinggal mereka adalah milik negara dan dengan damai akhirnya mau pindah ke lahan baru. Mereka sama sekali tak berjasa baik, mau sumbang tanah kepada negara. NO! Mereka cuma akhirnya berbalik dari kesalahan mereka. Itu saja.
KESIMPULAN
Mencintai orang lain sebagaimana adanya mereka terlepas dari harapan-harapan dan tuntutan keinginan kita adalah panggilan Tuhan yang sudah ditetapkannya sejak kekal, tetapi kita yang sudah menjadi gila dalam dosa ini telah menganggap diri sebagai Tuhan. Kita anggap orang lain harus hidup demi memenuhi harapan saya dan saya tersinggung kalau dia tidak melakukannya. Mengapa hal begini lebih menonjol pada relasi kita dengan orang dekat? Karena dengan orang dekatlah kita lebih berani terbuka menjadi diri sendiri, dan diri kita adalah diri yang cenderung egois. Setelah kita sadar, masalahnya belum selesai. Bagaimana saya mampu mengatasi kelemahan ini? Bagaimana saya mampu mengasihi? Bagaimana kita yang egois ini dapat menyangkal diri, hidup bagi Tuhan dan mengasihi orang lain?

Intisari berita Kristen adalah Tuhan sudah datang menolong kita yang tak mampu menolong diri sendiri dan sedang berjalan menuju maut ini. Kita lemah, tapi Kristus kuat. Pandanglah pada Yesus! Maka kita akan sadar betapa miskin dan busuknya kita! Dia Allah yang memberi contoh bagaimana mengasihi 'yang lain'. Manusia tak pernah benar-benar menangkap keinginan hati-Nya yang merupakan posibilitas terbaik bagi sejarah dan semesta. Tetapi Ia yang selalu kecewa ini tetap mau mengasihi kita orang berdosa. Bahkan Dia mengasihi kita sampai mati di tangan kita! Kristuslah yang menjadi sumber kekuatan kita. Semakin kita renungkan pengorbanan Kristus dan betapa besar kasih-Nya kepada kita, semakin kita bergerak untuk mencintai orang lain sebagaimana Yesus mencintai diri kita. Kekuatan yang menggerakkan itu bukan berasal dari keinginan kita, tetapi dari tindakan Tuhan yang menggerakkan.

Jadi apa yang harus saya lakukan? Renungi relasi saudara dengan orang dekat, terutama yang lebih lemah dari saudara, seperti anak atau pembantu. Di sinilah diri kita yang sebenar-benarnya terlihat nyata, karena kita tak segan lagi bersikap egois. Nah setelah menyadari dosa kita ini saya berharap saudara bertobat dan minta tolong kepada Kristus. Dia akan menolong kita dalam setiap langkah kita mau untuk taat pada-Nya. Dalam langkah-langkah ketaatan kecil setiap hari inilah Kristus akan mengubah kita semakin mampu mengasihi, serupa Dia. Jika gagal terus minta tolong pada Tuhan dan coba lagi. Jangan pernah menyerah pada dosa karena sesungguhnya dosa sudah ditewaskan oleh Kristus di kayu salib!
(Naskah ini pernah saya bawakan sebagai kotbah di MRII Pondok Indah)

Sumber : www.terangdunia.com



Profil Ev. Yadi S. Lima :
Ev. Yadi S. Lima, M.Div. adalah Pembina Pemuda di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Pondok Indah, Jakarta. Beliau juga melayani sebagai Asisten Dosen di Institut Reformed, Jakarta. Beliau meraih gelar Sarjana Theologia (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Reformed, Jakarta.

No comments: