02 December 2007

Pendahuluan (Bab 1) : ARTI HIDUP SEJATI MENURUT ALKITAB

Bab 1
ARTI HIDUP SEJATI MENURUT ALKITAB



“ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
(Kejadian 2:7)

1.1 Arti Hidup Menurut Perspektif Dunia
Dunia di mana kita hidupi hari ini sedang mengalami krisis makna hidup. Berbagai cara manusia berusaha untuk mencoba menemukan makna hidupnya, dari menyiksa diri (beraskese), sampai hidup hedonis yang melampiaskan semua kesenangan hawa nafsunya. Mereka pada intinya ingin mengerti makna hidup untuk selanjutnya makna itu bisa mereka jalani dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita melihat sekelumit tentang definisi hidup dalam perspektif dunia kita.
1. Hidup Adalah Perjuangan
Pertama, dunia kita melihat hidup adalah suatu perjuangan. Di dalam suatu perjuangan, dibutuhkan kekuatan untuk mengerjakannya. Tidaklah heran, manusia di dunia suka berjuang meskipun banyak dari mereka tidak mengerti motivasi dan tujuan dari apa yang diperjuangkannya. Yang mereka ketahui bahwa hidup ini adalah hanya untuk berjuang, terus berjuang agar mencapai apa yang diidam-idamkan. Oleh karena itu, di dunia ini sangatlah laris promosi training motivasi dari para motivator dari sekelas Anthony Robbins sampai Andrie Wongso dengan idenya Success is My Right. Para motivator ini terus memberikan motivasi bagi para peserta seminarnya dan manusia dunia ini agar mereka yang merasa down boleh ditingkatkan kembali semangatnya, tetapi rupa-rupanya semangat ini tidak bersumber dari Allah, sehingga motivasi peningkatan semangat ini adalah untuk kepentingan diri (humanisme) dan tujuannya pun untuk kemuliaan diri (meskipun di dalam beberapa buku “rohani” sekalipun, tujuan motivasi ini untuk “kemuliaan Tuhan”). Inilah jiwa atheisme praktis di dalam diri manusia yang berakar dari humanisme ditambah semangat pantheisme dan Gerakan Zaman Baru yang diindoktrinasikan melalui berbagai training motivasi dan pengembangan pribadi. Perjuangan yang dilandasi oleh semangat ingin mencapai cita-cita dan self-centered ini tentu tidak akan menemukan makna hidup sejati dan tentunya juga makna perjuangan sejati, karena yang menjadi landasannya adalah kepentingan diri yang sebenarnya makhluk yang terbatas.

2. Hidup Adalah Kesempatan
Kedua, dunia kita yang terus mau berjuang, adalah dunia yang juga mengidentikkan hidup adalah kesempatan. Mereka menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu mereka memakai setiap kesempatan yang ada untuk meraih apa yang mereka inginkan. Di sini, dunia kita mengaitkan hidup dengan waktu yang ada. Di dalam setiap waktu/kesempatan, mereka mau mengerjakan apa yang diinginkan oleh mereka, entah itu baik atau jahat menurut pandangan Alkitab, mereka tidak seberapa mempedulikannya. Bagi mereka, apa yang diinginkannya harus dicapai di dalam setiap kesempatan. Misalnya, orang yang dulunya hidup miskin ingin menjadi kaya, maka dia bukan hanya berjuang untuk meraih uang, tetapi juga menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk meraih yang dicita-citakan. Tidak heran, beberapa dari mereka sampai-sampai menggunakan kesempatan untuk meraih yang dicita-citakan dengan hal-hal yang buruk, contohnya, dengan korupsi, dll. Di sini, letak kegagalan dunia kita yang semakin jauh dari Allah, yaitu memandang setiap waktu/kesempatan adalah untuk dirinya sendiri.

3. Hidup Untuk Kerja
Ketiga, hidup adalah kesempatan direalisasikan oleh banyak manusia sekarang dengan bekerja. Bagi banyak orangtua (termasuk banyak orangtua “Kristen”), kerja adalah segala sesuatu. Manusia dapat disebut manusia ketika mereka sudah bisa berdikari sendiri atau bekerja untuk mendapatkan uang sendiri tanpa tergantung dengan orangtua. Akibatnya, sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan konsep bahwa hidup itu untuk bekerja, sekolah untuk bekerja, dll. Tidak heran, cukup banyak anak yang masih kecil, misalnya SD atau SMP sudah bisa bekerja, misalnya, menjadi artis, model, dll. Akhirnya, fokus hidup sudah dialihkan dari Tuhan kepada kerja. Itulah tipu daya iblis yang bekerja di abad postmodern ini dengan menyingkirkan Allah dari hidup manusia. Akibatnya, mereka yang memandang hidup adalah kerja, akan memandang setiap kesempatan hanya untuk bekerja, dan aktivitas-aktivitas yang menurut mereka “tidak penting”, misalnya bahkan pergi ke gereja, persekutuan, makan, minum, tidur, dll, adalah sesuatu yang tidak penting, sehingga mereka rela mengorbankan banyak waktu untuk bekerja. Yang paling celaka adalah seorang ayah/suami/kepala keluarga yang memiliki konsep bahwa hidup untuk bekerja pasti berdampak kepada keluarganya, di mana istri akan mengalami kekurangan perhatian dari sang suami, dan anak-anak pun mengalami kekurangan perhatian dari ayah mereka, sehingga akhirnya keluarga ini akan menjadi berantakan dan berakhir kepada perceraian. Perceraian ini bisa terjadi salah satunya karena terlalu mementingkan pekerjaan sebagai fokus hidup manusia. Akibat lainnya dari konsep ini adalah mengerjakan segala sesuatu dengan keterpaksaan. Artinya, hidup orang ini akan diikat oleh pekerjaannya, baik di kantor maupun di rumah. Sehinga, tidak heran, orang ini lama-kelamaan akan menjadi stress, depresi dan akhirnya, jika tidak kuat lagi, akan bunuh diri.

4. Hidup Adalah Uang
Keempat, orang yang sudah memfokuskan hidupnya pada bekerja, maka dapat dipastikan banyak dari mereka juga memfokuskan hidupnya pada uang. Konsep ketiga dan keempat ini sangat berkaitan erat. Seorang yang memandang hidup adalah hanya untuk uang, maka segala sesuatu diukur dari segi apakah yang dilakukannya itu dapat mendapatkan uang/profit bagi dirinya. Inilah jiwa pragmatis (utilitarian) dan materalis yang dianut oleh banyak manusia postmodern ini (bahkan di dalamnya banyak orang “Kristen”). Bagi mereka, yang penting adalah mereka mendapatkan uang sebanyak-banyaknya bahkan kalau perlu “mengorbankan orang lain”. Tidak heran, bisnis Multi Level Marketing (MLM), asuransi, dll laku keras, karena manusia sedang dikunci oleh uang/materi yang fana sifatnya. Profesi dokter pun tidak luput dari fokus hidup manusia yaitu uang. Dokter bukan bekerja untuk kepentingan pasien lagi, tetapi untuk uang. Tidak usah heran, mengapa banyak dokter tidak langsung memberikan obat kepada pasien yang sedang sakit, tetapi dokter tersebut memberikan obat secara bertahap (banyak dari mereka bukan beralasan medis), maksudnya, kalau pasien itu sudah habis meminum obat yang satu, maka mereka akan kembali lagi dan si dokter pasti mendapatkan pemasukan uang lagi melalui kedatangan si pasien tersebut. Bahkan yang lebih celaka, banyak pendidik, dosen, dll mengajar bukan karena panggilan-Nya di dalam hidup mereka, tetapi karena uang atau menimba pengalaman. Maka, jangan heran, banyak guru/dosen baik yang mengaku diri “Kristen” berani mengajari anak-anak muridnya secara tidak bertanggungjawab, misalnya ada seorang dosen “Kristen” saya secara tidak bertanggungjawab mengatakan, “science itu tidak ada hubungannya dengan religion”. Apakah pendeta juga tidak bisa demikian ? BISA. Banyak “hamba Tuhan” terutama di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang populer saat ini juga memfokuskan hidupnya pada uang dan profit pribadi. Jangan heran, di abad postmodern ini, yang dipentingkan bukan lagi pengertian/pengetahuan yang beres, tetapi feeling, lalu gereja-gereja pun berlomba-lomba menyediakan sarana-sarana yang dapat memenuhi feeling banyak orang “Kristen. Caranya ? Mudah, memanggil “pendeta-pendeta” yang “pintar” berkhotbah, bercerita lucu, lalu mengkhotbahkan kemakmuran (meskipun banyak dari mereka menolak bahwa gerejanya mengajarkan kemakmuran, tetapi yang lebih aneh lagi, slogan gerejanya mengandung unsur kemakmuran), dll. Zaman kita adalah zaman di mana sedang musim cho gereja (cari untung melalui gereja). Motivasinya, jelas, para “hamba Tuhan” gereja tersebut “melayani Tuhan” demi uang, agar bisa sukses, kaya, dll. Lalu, kesuksesannya untuk apa ? Jelas untuk profit pribadi, meskipun di depan mimbar selalu dipromosikan untuk “pekerjaan Tuhan”. Saya sudah terlalu banyak menemukan “hamba Tuhan” model ini dan ibu saya sendiri sudah banyak sekali mengalami hal ini dan menceritakannya kepada saya.
Adalah suatu kebodohan yang luar biasa, jika manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah bisa mau diperbudak oleh uang yang adalah benda mati. Uang yang seharusnya ditundukkan oleh manusia, malahan sekarang dibalik, lalu uang menjadi tuan yang memerintah manusia. Ini namanya pembalikan posisi, yang merupakan salah satu ciri masuknya dosa ke dalam diri manusia. Tidak heran, yang sebenarnya sangat penting, misalnya membaca Alkitab, bersekutu dengan-Nya, dll, dianggap oleh manusia dunia menjadi tidak penting, dll, dan lebih aneh lagi jika ada seorang “Kristen” berjiwa pragmatis dan relativis mengatakan bahwa itu semua tergantung pada masing-masing orang, lalu kita tidak boleh memaksa mereka. Saya mengira anggapan ini sama sekali bukan anggapan seorang “Kristen” meskipun mengaku diri “Kristen”, aktif di dalam persekutuan gereja sekalipun. Seorang yang cuek dengan orang lain sama sekali bukan ciri orang Kristen sejati.

5. Hidup itu Biasa Saja
Prinsip kelima dari definisi hidup yang dunia sedang ungkapkan yaitu hidup itu biasa saja, jadi jalani sebagaimana adanya. Inilah jiwa pragmatisme dunia kita yang muncul melalui definisi hidup yang biasa saja. Hidup yang biasa saja menandakan bahwa di dalam diri manusia sudah tidak ada lagi makna hidup sejati, sehingga hidup ini hanya dijalani tanpa arah dan tujuan yang pasti sesuai dengan firman-Nya. Tidak usah heran, ketika manusia dunia hanya mengerti hidup ini hanya biasa saja, maka mayoritas mereka menggunakan dan mengisi hidup mereka hanya untuk kepuasan diri mereka saja. Salah satu iklan rokok mengatakan, enjoy aja. Itu yang sedang dunia tawarkan bahwa yang penting itu enjoy, suka-suka bertindak apapun, yang penting happy, senang, gembira, dll. Hidup yang serba gembira ini sangat berbahaya, karena hidup yang gembira tidak mengerti sesungguhnya apa itu penderitaan, kesusahan, dll. Tidak heran, banyak orang “Kristen” yang sudah diindoktrinasi bahwa menjadi “Kristen” pasti kaya, sukses, dll, ketika ada penganiayaan datang, mereka lah yang pertama kali langsung menghujat Tuhan, karena kondisi yang serba pleasure sebenarnya tidak mengerti hidup itu sesungguhnya.

6. Hidup Adalah Penderitaan
Kalau pada poin kelima, dunia kita mengartikan hidup itu sebagai sesuatu yang biasa saja, lalu bisa bertindak seenaknya sendiri, maka pada poin keenam, sebagai kebalikannya, beberapa manusia dunia yang ekstrim mengatakan bahwa hidup itu penderitaan. Di dalam hidup itu pasti menderita, entah itu ditinggal oleh seseorang yang dikasihi yang telah meninggal, putus pacar, dll. Pokoknya, tidak ada hidup tanpa penderitaan. Inilah wajah dunia kita yang hopeless yang mencari makna hidup tetapi akhirnya kehilangan hidup itu sendiri, karena terlepas dari jalan yang Allah telah tetapkan. Itulah akibat dari menaruh pengharapan kepada dunia ciptaan yang terbatas dan berdosa ini. Tetapi, apakah kalau kita menaruh pengharapan kepada Tuhan pasti kaya dan tidak menderita ? TIDAK. Kita jangan terlalu ekstrim. KeKristenan hendaknya jangan terlalu ekstrim menekankan dua kubu, yaitu terlalu mementingkan kesuksesan hidup, yang lainnya menekankan penderitaan terus-menerus. KeKristenan harus seimbang, menyeimbangkan antara penderitaan karena nama Tuhan dengan pengharapan sesudah penderitaan yaitu hidup kekal bersama-Nya.

7. Hidup Untuk Orang Lain
Terakhir, hanya sedikit manusia bisa memiliki tujuan hidup demi orang lain. Artinya, meskipun definisi hidup yang terakhir ini masih kurang, tetapi setidaknya, defisini hidup ini masih lebih baik dari definisi hidup dari nomer satu sampai dengan 6 yang self-centered. Pada konsep terakhir ini, manusia memandang hidupnya dipersembahkan bagi orang lain. Contohnya, banyak pelukis, komposer musik, dll melakukan segala sesuatu demi orang lain, sehingga tidak heran nama-nama mereka cukup dikenal di dalam zamannya maupun zaman sesudah mereka meninggal dunia. Johan Sebastian Bach, G. F. Hendel, Leonardo da Vinci, dll adalah orang-orang yang telah bersumbangsih bagi dunia karena mereka mementingkan orang lain ketimbang diri. Mungkin saja mereka mau rugi mengorbankan waktu, tetapi yang penting orang lain mendapatkan kepuasan dari hasil kerugiannya. Tentu itu berbeda dengan semangat manusia di abad postmodern yang lebih mementingkan profit pribadi dengan mengorbankan orang lain.

1.2 Arti Hidup Menurut Perspektif “Kristen” yang Palsu
Lalu, sekarang ini, kita akan beralih kepada arti hidup menurut perspektif “Kristen” yang seolah-olah kelihatan lebih “rohani”, tetapi sebenarnya palsu. Mereka berani menggunakan istilah “Kristen” untuk menjelaskan makna hidup, padahal istilah itu hanya sekedar topeng untuk menyelimuti ide humanisme, pantheisme dan pragmatisme di dalam dirinya. Itulah yang kita lihat di dalam buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren.
Dari judul bukunya saja, kita sudah menemukan ide yang sudah saya jelaskan tadi, yaitu istilah “Kristen” dijadikan topeng (dengan cara mengutip ribuan ayat Alkitab yang kebanyakan di luar konteks asli) untuk menyelimuti esensi sebenarnya yaitu humanisme, pantheisme, materalisme dan pragmatisme. Tentu, di dalam metode penafsiran Alkitab, Warren menggunakan tafsiran-tafsiran Alkitab yang semau gue menurut seleranya pribadi tanpa memperhatikan konteks, bahasa asli dan terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih tepat. Itulah metode eisegese dalam penafsiran Alkitab yang salah, tetapi laris dalam masyarakat “Kristen” (khususnya yang bertheologia Injili non-Reformed). Hal ini akan banyak disinggung dan diuraikan secara tuntas pada bab kedua makalah ini. Kembali, apakah hidup kita digerakkan tujuan ? Kalau benar demikian, sebenarnya ada tiga pertanyaan penting yang perlu dipertanyakan. Pertama, siapa yang mengarahkan tujuan itu. Kedua, apakah tujuan yang diarahkan itu ? dan ketiga, tujuan siapa yang dituju ? (atau untuk apa tujuan itu ?) Jelas, di dalam buku The Purpose Driven Life, meskipun menggunakan nama “Tuhan”, sebenarnya yang mengarahkan tujuan itu adalah diri manusia itu sendiri, tujuan itu adalah berkenaan dengan cita-cita manusia yang hebat dan mulia (tanpa Allah) lalu tujuan itu membawa kemuliaan bagi diri manusia sendiri (persis terbalik dari Roma 11:36 yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dia lah kemuliaan selama-lamanya). Inilah jiwa humanisme sekuler (atau sekularisme) tetapi yang masih memperalat “Tuhan” agar kelihatan “rohani”. Inilah jiwa manusia berdosa.

1.3 Arti Hidup Sejati Menurut Alkitab
Lalu, apa kata Alkitab tentang hidup sejati ? Pada bagian awal Bab 1 ini, saya sudah mengutip Kejadian 2:7, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Terjemahan Baru LAI) atau terjemahan Alkitab BIS memberikan pengertian yang lebih jelas, “Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.” Kata “nafas hidup” berasal dari bahasa Ibrani, neshâmâh yang berarti tiupan atau hembusan atau nafas yang vital/sangat penting/berkenaan dengan hidup. Kata Ibrani ini juga dipakai di dalam Amsal 20:27 untuk kata “Roh manusia” (Terjemahan Baru LAI) atau “hati nurani manusia” (Alkitab BIS). Lalu kata “makhluk yang hidup” (TB-LAI) diterjemahkan a living soul oleh King James Version (KJV) yang berarti jiwa/makhluk yang hidup. Kata “soul” dalam KJV ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani nephesh yang artinya makhluk yang bernafas. Dari Kejadian 2:7 inilah, kita mendapatkan satu prinsip hidup sejati dari Alkitab, yaitu hidup sejati adalah hidup yang berpaut kepada Allah sebagai Sumber Hidup. Kalau Allah tidak menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam hidung manusia, maka manusia tidak dapat menjadi makhluk yang hidup. Nafas hidup-Nya itulah sumber hidup bagi hidup manusia yang mengakibatkan manusia bisa bernafas dan itulah yang disebut makhluk yang hidup. Arti hidup manusia yang sejati tidak didapat dari manusia itu sendiri yang sendiri merupakan makhluk yang dicipta, tetapi dari Allah sebagai Sang Pencipta. Ketika kita ingin mengerti apa arti hidup sejati belajarlah dan bertanyalah kepada Allah karena Ia yang menciptakan kita pasti mengetahui apa arti hidup itu, dan jangan sekali-kali bertanya kepada para psikolog, eksistensialis, dll yang sendirinya juga adalah sesama manusia. Sungguh suatu kebodohan manusia dunia ini ketika mereka yang ingin mengerti arti hidup tidak langsung bertanya kepada Sang Sumber Hidup, tetapi bertanya kepada sesama manusia yang sama-sama berdosa dan terbatas. Itulah kegagalan psikologi dan eksistensialis yang tidak kembali kepada Allah.
Tetapi tahukah kita bahwa hidup manusia yang pada awalnya telah diciptakan Allah begitu mulia sehingga manusia langsung bercakap-cakap dengan Allah ternyata dirusak oleh manusia sendiri dengan meragukan eksistensi Allah. Itulah dosa. Dosa bukan dimulai ketika Hawa memetik buah pengetahuan yang baik dan jahat yang dilarang oleh Allah, tetapi dosa dimulai ketika manusia mulai meragukan kebenaran Allah. Usaha meragukan kebenaran Allah menjadi cikal bakal iblis terus mencobai manusia dan akhirnya manusia pertama jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan manusia setelah Adam dan Hawa ikut mewarisi dosa asal (original sin), di samping ada dosa aktual yang dilakukan oleh masing-masing pribadi manusia. Ketika dosa masuk ke dalam manusia, hidup manusia mulai kehilangan arah. Kehilangan arah ini ditandai dengan keinginan manusia terus melawan Allah dan ini mulai nampak ketika Kain yang membenci dan menaruh dendam kepada adiknya, Habel karena persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan adiknya diterima oleh Tuhan. Lalu, dilanjutkan dengan kejadian-kejadian dan tindakan-tindakan manusia yang membuat Tuhan menyesal, sampai-sampai Tuhan mengatakan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6) Tetapi yang menarik, di dalam setiap kejahatan yang manusia lakukan, Tuhan tetap menyediakan sekelompok sisa (remnant) yang masih setia kepada Tuhan. Dua ayat setelah Kejadian 6:6, yaitu pada ayat 8, Alkitab mengatakan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Nuh bisa mendapatkan anugerah Tuhan, itu semata-mata karena kedaulatan-Nya saja, bukan karena kehendak Nuh yang ingin mencari Tuhan. Allah yang berdaulat adalah Ia yang berkehendak menyatakan anugerah-Nya kepada siapapun menurut kedaulatan-Nya, bukan menurut perbuatan baik manusia tersebut. Itulah Reformed theology. Nuh yang mendapatkan kasih karunia Tuhan di antara manusia-manusia berdosa di zamannya berusaha mempertanggungjawabkan anugerah-Nya itu dengan hidup beres dan menaati Tuhan dan firman-Nya. Lalu, akibat ketaatannya itu dari membangun bahtera sampai keluar dari bahtera dan mendirikan mezbah bagi Tuhan, maka Tuhan berjanji di dalam Kejadian 8:21-22, “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Bisa saja, pada waktu itu, Nuh tidak menaati Tuhan, lalu berdalih dengan seribu macam alasan, akibatnya Nuh itu mati bersama orang-orang sezamannya. Tetapi puji Tuhan, Nuh yang kita kenal di dalam Alkitab adalah Nuh yang meresponi anugerah Allah dengan tepat dan taat mutlak kepada-Nya. Di situlah, Nuh mendapatkan makna hidup sejati, yaitu ketika ia kembali taat kepada-Nya. Banyak orang dunia hari-hari ini berpikir bahwa menjadi Kristen itu susah, karena apa saja tidak boleh, lalu mereka berpikir bahwa kalau tidak menjadi Kristen itu lebih enak. Itu adalah kesalahan besar. Saya bertanya, kalau kita hidup di zaman Nuh, apakah kita ingin menjadi seperti Nuh atau orang-orang sezamannya ? Kalau orang-orang dunia pasti memilih menjadi seperti orang-orang yang hidup di zaman Nuh yang mengejek Nuh ketika Nuh membangun bahtera, mereka berpesta pora, mabuk-mabukan, dll. Lalu, mereka menganggap diri hebat, bebas, dan itulah hidup yang mereka cari. Tetapi benarkah demikian ? Setelah bencana air bah yang menyapu bersih orang-orang di zaman itu, kecuali Nuh, maka mereka baru sadar bahwa hidup itu hanya sementara dan hidup yang tidak kembali kepada Allah akan sia-sia adanya, tetapi Nuh meskipun dirinya dihina ketika membangun bahtera pada waktu kemarau, tetapi ia mengerti hidup itu sesungguhnya karena ia kembali taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah itulah kunci utama kita menemukan hidup sejati. Tetapi kesalehan seperti Nuh itu sebentar saja terjadi di dalam sejarah, selanjutnya orang-orang setelah Nuh banyak bermunculan dan mereka banyak yang jahat dan memberontak terhadap Tuhan. Oleh karena itu, Allah yang Berdaulat memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Kepada mereka, Allah mewahyukan Taurat untuk memimpin dan mengatur perilaku mereka agar berkenan kepada-Nya. Tetapi, bagaimana faktanya, apakah mereka semua menuruti perintah Taurat ? TIDAK. Mereka memang menghafal semua yang tertulis di dalam Taurat, tetapi itu hanya menguasai bidang rasio saja, dan tidak benar-benar mengerti artinya. Itulah sebabnya, mereka semakin mengerti Taurat, bukan semakin mengerti esensi Taurat, tetapi lebih menekankan fenomena upacara sesuai Taurat. Bahkan ada yang melarang orang berjalan beberapa kilometer di hari Sabat, dll. Taurat yang sebenarnya baik malahan dibuat tidak baik oleh para ahli Taurat yang menganggap diri ahli di bidang Taurat (itulah namanya ahli Taurat, ahli di bidang Taurat, ahli pula untuk memelintir hal-hal esensi di dalam Taurat). Mereka berpikir dengan hidup berbuat baik seperti yang Taurat perintahkan, mereka akan menemukan arti hidup dan keselamatan sejati. Dari Surga, Allah tidak tinggal diam, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mengembalikan fungsi hidup sebagaimana pada waktu Ia menciptakan manusia. Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan mengembalikan makna hidup sejati. Ketika Ia berinkarnasi dan turun menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahinya, Ia mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang makna hidup. Mari kita menelusuri satu per satu di dalam Injil.

Pertama, hidup itu berpusat kepada firman Allah. Hal ini tercantum di dalam Matius 4:4, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (dikutip dari Ulangan 8:3) Hidup manusia bukan sekedar makan, minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah. Di sini, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa manusia itu hidup tidak memerlukan roti sama sekali, tetapi Ia mengatakan bahwa manusia tidak hanya memerlukan roti saja untuk hidup. Kata “hanya” atau “saja” dalam ayat ini berarti kita masih membutuhkan roti atau makanan jasmani untuk menyambung hidup, tetapi poin penting atau esensinya bukan terletak pada roti atau sesuatu yang jasmaniah, tetapi firman Allah itulah yang esensi dan terpenting yang menjamin hidup kita menjadi bermakna. Dengan kata lain, firman Allah itu menjadi Sumber Hidup kita yang paling hakiki. Firman Allah menjadi penuntun, pemimpin dan pengoreksi hidup kita ketika kita ingin berbuat dosa. Firman Allah menjadi batas dan penghakim bagi kita, sehingga kita tidak keluar dari jalan-Nya, sebagaimana yang pemazmur katakan di dalam Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Lalu, di dalam pasal yang sama di ayat 1-10, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Firman-Nya itu sangat berarti bagi hidup pemazmur. Hal ini sangat berbeda total dengan banyak paradigma hidup yang dianut oleh banyak orang yang mengaku diri “Kristen” apalagi “melayani Tuhan” lalu alergi mendengar kata “Tuhan” disebutkan di luar gereja. Kalau di dalam Mazmur 119:9, pemazmur mengatakan bahwa orang muda dapat mempertahankan kelakuan yang bersih ketika firman-Nya menjaga hidup mereka, tetapi dunia kita mengajarnya secara bertolak belakang, yaitu ketika psikologi mengajar mereka tentang makna “hidup”, maka tidak heran, banyak orang muda yang belajar psikologi (tanpa belajar firman-Nya) berakhir tragis, misalnya bunuh diri, stress, dll. Ketika manusia mencoba menemukan makna hidup di luar firman-Nya, manusia tidak pernah menemukannya, karena hidup sejati pasti berpusat kepada Allah dan firman-Nya sebagai Sumber Hidup.

Kedua, hidup yang tidak kuatir. Di dalam Matius 6:25, Tuhan Yesus mengajarkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup manusia sudah ada di tangan-Nya, karena Ia lah yang mengaturnya, tetapi seringkali di dalam hidup, manusia seringkali kuatir akan makanan, minuman, pakaian, dll, mengapa ? Karena mereka diajar bukan kembali kepada Allah, tetapi kembali kepada dirinya sendiri sebagai pusat hidup. Ketika Allah menjadi pusat hidup manusia, maka manusia tidak perlu menguatirkan hidupnya. Perhatikan kalimat terakhir di dalam ayat 25 bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian ? Karena kalau kita kekurangan makanan, kita bisa mencarinya kembali, tetapi kalau kita kekurangan makna hidup, bisakah kita mencarinya di dalam dunia ini tanpa kembali kepada Allah ?! TIDAK. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir. Lalu, apa solusi yang Tuhan Yesus berikan agar manusia tidak perlu lagi menguatirkan hidupnya ? Di dalam ayat 31-33, Ia mengajarkan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Anak-anak Tuhan tidak perlu kuatir, karena kalau mereka kuatir, mereka sama halnya dengan bangsa-bangsa (manusia) yang tidak mengenal Allah. Orang yang hidupnya terus kuatir sebenarnya meragukan kedaulatan dan pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. Tetapi tidak berarti dengan menggunakan kalimat ini, lalu kita berkata bahwa kita tidak perlu bekerja, karena semuanya diberikan Tuhan. Itu anggapan yang konyol. Kita tidak perlu kuatir di dalam hidup karena kita percaya bahwa Tuhan itu memelihara hidup anak-anak-Nya dengan berkecukupan, meskipun demikian Tuhan tetap menuntut kita untuk terus bekerja (lihat ayat 34 yang sering dilupakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”) Kalau kita tidak perlu kuatir, tidak berarti kita tidak memiliki kesusahan apapun, tetapi Kristus berkata bahwa kesusahan itu masih tetap ada, tetapi biarkanlah kesusahan itu cukup untuk sehari jangan ditambahi dengan kekuatiran yang tidak perlu. Tuhan sangat mengerti benar apa yang diperlukan manusia, sehingga Kristus memerintahkan kita untuk pertama-tama mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, baru setelah itu Ia akan menambahkan berkat-Nya. Jangan menggunakan ayat ini lalu mengajarkan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus pasti kaya, diberkati, hidup lancar, dll. Itu bidat/sesat. Ayat 33, kata “akan ditambahkan kepadamu” itu adalah bonus atau akibat setelah kita mempercayakan diri kepada-Nya dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (mengutamakan-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita). Jangan sembarangan menafsirkan Alkitab.

Ketiga, hidup manusia sejati adalah hidup seperti anak kecil (rendah hati). Matius 18:1-6 mengajarkan prinsip ini, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Di sini, Tuhan Yesus menggabungkan konsep “bertobat” dengan menjadi seperti anak kecil. Apa artinya ? Pada waktu itu, para murid sedang berebut kekuasaan ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, sehingga Kristus harus menegur mereka dan mengatakan bahwa seorang yang masuk Surga adalah seorang yang bertobat, artinya tidak lagi mementingkan hal-hal duniawi yang merupakan citra manusia lama dan segera memperbaharui hidup dengan mementingkan apa yang Tuhan inginkan. Kedua, setelah bertobat, mereka harus menjadi seperti anak kecil yang memiliki kerendahan hati. Anak kecil meskipun seringkali dihina oleh masyarakat sebagai manusia yang kurang pengalaman, tetapi dipakai oleh Kristus untuk menghina mereka yang katanya sudah berpengalaman, berpendidikan, dll, tetapi sombong dan tidak rendah hati lagi. Yang masuk ke dalam Kerajaan Surga bukan konglomerat, presiden, pembesar negara, pendeta, dll, tetapi mereka yang hidup seperti anak kecil (childlike) yang memiliki kerendahan hati (bedakan dengan childish, yaitu sifat kekanak-kanakan, sifat ini tidak disukai oleh Tuhan). Hidup seperti anak kecil (childlike) adalah hidup yang mulia. Ketika kita belajar hidup menjadi seperti anak kecil, maka kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang suka menyombongkan diri sebagai “penghuni surga” lalu “bersaksi” bahwa dirinya berkali-kali naik turun “surga”, berhati-hatilah, kalau ia tidak bertobat, mungkin ia nanti pasti menjadi penghuni neraka. Tidak berarti karena kita telah berbuat baik, maka kita masuk Surga. Tolong baik-baik mengerti ayat ini. Kita bisa rendah hati, itu semua karena Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk berbuat baik dan rendah hati. Jadi, kembali, anugerah Allah yang mendahului semua respon manusia, baru setelah anugerah ini dinyatakan, Allah pula lah yang mengaktifkan kehendak manusia untuk berbuat baik bagi kemuliaan-Nya.

Keempat, hidup manusia sejati adalah hidup kudus. Kekudusan hidup diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 18:8-9 yang berkaitan dengan penyesatan, “” Hidup sejati adalah hidup yang kudus. Bagi Tuhan Yesus, percuma saja “masuk ke dalam Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.hidup” (TB-LAI) atau “hidup dengan Allah” (BIS) dengan kedua tangan/kaki yang utuh tetapi salah satu berbuat dosa, lebih baik hidup dengan Allah dengan sebelah tangan/kaki. Ayat ini jangan ditafsirkan dengan sembarangan. Saya sempat membaca ada seorang pria Katolik di Filipina setelah membaca ayat ini lalu memotong kaki dan tangannya. Ini namanya penafsiran Alkitab terlalu harafiah. Itu salah.

Kelima, hidup yang rela membayar harga demi Kristus. Di dalam Matius 19:29, Tuhan Yesus mengajarkan, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Orang-orang dunia pasti kesulitan membaca ayat ini, karena mereka pasti berpikir bahwa kalau kita kehilangan sesuatu, pasti kita tidak bisa hidup. Tetapi tidak demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan hal yang paradoks yang bertentangan dengan pola pikir kita. Kristus mengatakan bahwa justru ketika berani membayar harga demi nama Kristus, maka di saat itulah kita nantinya akan mendapatkan kemuliaan kekal dan hidup sejati (kata “hidup sejati” ditambahkan di dalam Alkitab BIS. Roma 8:18-21 sungguh menguatkan kita ketika kita di dalam bahaya penderitaan karena nama Kristus, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Inilah pengharapan anak-anak Tuhan di mana mereka akan menerima mahkota kemuliaan setelah mereka menderita aniaya. Itulah paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang rela menyangkal diri sendiri dan hidup 100% bagi Kristus. Ini tidak berarti kita harus menjadi pendeta lalu meninggalkan profesi kita. Tidak ! Hidup yang 100% bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidupnya, mungkin hidup itu terasa sulit, kita akan diejek sok suci, sok religius, dll, tetapi kita harus setia untuk tetap men-Tuhan-kan Kristus, karena di dalam Dialah ada hidup sejati (Yohanes 1:4 ; 14:6).

Keenam, hidup sejati adalah hidup yang beriman. Di dalam Yohanes 3:15-16, Tuhan Yesus bersabda, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Alkitab BIS mengartikannya, “supaya semua orang yang percaya kepada-Nya mendapat hidup sejati dan kekal. Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal.”) Sungguh menarik, kedua ayat ini. Seringkali kita mengaitkan kedua ayat ini hanya untuk mengungkapkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Itu tidak salah. Tetapi ayat ini juga bisa mengajarkan tentang makna hidup yang sejati hanya ada ketika kita beriman di dalam Kristus yang berinkarnasi menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Di dalam iman itulah kita bisa menemukan hidup. Sebagaimana Roma 1:17b mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” (TB-LAI) atau “Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!” (BIS) Orang dunia seringkali membalik konsep ini dan mengatakan bahwa orang hidup itu harus beriman, tetapi Alkitab dengan konsepnya yang pasti dapat dipercaya mengatakan bahwa justru ketika beriman di dalam Kristus, manusia pilihan-Nya bisa hidup. Mengapa demikian ? Karena hidup sejati adalah hidup yang terlebih dahulu beriman di dalam-Nya dengan menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita. Ketika kita percaya kepada sesuatu, di situ kita berani menyerahkan apapun kepada yang kita percayai. Demikian juga kita percaya di dalam-Nya, maka kita juga rela menyerahkan apapun yang ada pada diri kita untuk dikuasai oleh-Nya, karena kita percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang Mutlak dan pasti dapat dipercayai.

Terakhir, hidup sejati adalah hidup yang berpengharapan dan menuju kepada kekekalan. Hal ini diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Yohanes 10:27-28, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”, Yohanes 11:25,26, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” dan Yohanes 12:25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Di dalam Yohanes 12:25, Alkitab BIS mengartikan dengan lebih jelas, “Orang yang mencintai hidupnya akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang membenci hidupnya di dunia ini, akan memeliharanya untuk hidup sejati dan kekal.” Apakah dengan ayat ini, kita harus bersama-sama membunuh tubuh jasmani kita supaya kita bisa hidup kekal ? Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai diri kita ? TIDAK. Kata “mencintai nyawanya” itu dari bahasa aslinya dapat diartikan mengasihani diri atau menganggap diri berguna, hebat, dll, sehingga ketika kita berlaku demikian, maka justru yang terjadi bukan kita semakin hidup, tetapi malahan kita semakin kehilangan nyawa atau makna hidup sejati kita. Sebaliknya, ketika kita membenci (tidak mencintai) nyawa kita (atau dapat diterjemahkan menyangkal diri kita—bandingkan Matius 16:24), maka yang didapat bukan kehilangan nyawa tetapi kita akan menerima dan menemukan makna hidup sejati dan kekal. Ini namanya paradoks. Dunia kita tidak akan mengerti konsep ini sampai suatu saat Roh Kudus mencerahkan pikirannya. Puji Tuhan, kita adalah salah satu dari antara mereka yang boleh mendapatkan anugerah Tuhan. Inilah indahnya menjadi orang Kristen dapat mengerti paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang terus menuju kepada pengharapan akan kekekalan. Akibatnya, di dalam hidup ini, kita tidak perlu dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, misalnya kekayaan duniawi, kedudukan yang dihormati, dll, itu semua sampah, sama seperti yang diungkapkan Paulus bahwa pengenalannya akan Kristus membuat dia rela menganggap sampah pada semua yang ia anggap kebanggaan pada masa dulunya. Beranikah kita seperti Paulus menganggap sampah semua kemegahan dan kehebatan dunia yang berdosa ini lalu kembali hidup yang berfokus kepada pengharapan akan kekekalan ? Renungkanlah.

Setelah kita merenungkan ketujuh poin makna hidup menurut ajaran Tuhan Yesus, sudahkah kita berani menentukan fokus hidup sejati yaitu kepada dan di dalam Kristus itu sendiri ? Biarlah kita mulai mengambil keputusan untuk segera men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita dan menentukan tujuan hidup kita berpijak dari firman Allah, bergantung kepada pimpinan Roh Kudus dan murni untuk memuliakan-Nya selama-lamanya. Soli Deo Gloria. Amin.

Martir Kristus-5 : DIBEBASKAN BAHAA EL-AKKAD DI MESIR

Martir Kristus-5



DIBEBASKAN BAHAA EL-AKKAD DI MESIR


Suatu kejutan, pihak yang berwenang Mesir pada tanggal 28 April membebaskan Bahaa El-Akkad seorang percaya berlatar belakang “Agama Lain”, yang telah dipenjarakan tanpa tuduhan di bawah undang-undang darurat selama kurang lebih dua tahun. Menurut Compass Direct, beberapa jam sebelum pembebasannya, para petugas dari Departemen Investigasi Keamanan Negara telah mengatakan kepada El-Akkad bahwa ia akan tetap dipenjara untuk 20 tahun lagi jika ia tidak mau kembali ke “Agama Lain”.

Menurut pengacaranya, El-Akkad menjawab mereka dengan tenang, katanya, “Allah telah membawa aku ke tempat ini, dan Ia sendiri yang akan membebaskan aku pulang ke rumahku. Kalian tidak dapat melakukan apapun untuk menentang Allah.”

Bahaa el-Din Ahmet Hussein El-Akkad, sekarang berumur 58 tahun, ditahan pada tanggal 6 April 2005 setelah polisi rahasia Mesir mengetahui ia telah berpindah keyakinan ke Kristen. Yang dulunya seorang Muslim yang taat, El-Akkad akhirnya berhasil mengirim sebuah catatan keluar dari penjara, menyatakan bahwa ia telah ‘memilih iman Kristen’ setelah bertahun-tahun meneliti Islam.

Walaupun ia tidak pernah diberitahu undang-undang apa yang telah ia langgar, petugas yang menginterogasi tetap menahan El-Akkad karena ‘menghina “Agama Lain”’ dengan menjadi Kristen.

“Ketika aku di penjara, keluargaku memberitahu aku bahwa ribuan orang sedang berdoa untuk aku,” kata El-Akkad kepada pengacaranya setelah ia dibebaskan. “Aku yakin itu benar, karena Yesus selalu bersamaku menjalani penderitaanku.”

Ia menemukan ratusan surat dan kartu yang sudah menantinya ketika ia pulang ke rumah, surat-surat yang dikirimkan lebih dari beberapa bulan yang lalu oleh orang-orang Kristen seluruh dunia.



Sumber :
Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

29 November 2007

Roma 4:6-8 : DIBENARKAN MELALUI IMAN-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-2


Dibenarkan Melalui Iman-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:6-8.


Setelah Paulus memaparkan tentang Abraham yang dibenarkan melalui iman, ia menjelaskan bahwa theologia ini berasal dari Perjanjian Lama.

Pada ayat 6, Paulus mengatakan, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” Terjemahan King James Version lebih tepat mengartikan, “Even as David also describeth the blessedness of the man, unto whom God imputeth righteousness without works,” (=“Seperti juga Daud yang disebut orang yang diberkati, yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran tanpa perbuatan,”) Kata “berbahagia” sebenarnya berarti diberkati (terjemahan ESV, ISV dan KJV memakai kata blessed). Lalu, kata “orang yang dibenarkan Allah” seharusnya lebih tepat berarti orang yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran. Sungguh suatu sukacita yang besar jika kita sebagai manusia berdosa dapat dibenarkan atau diimputasikan kebenaran oleh Allah tanpa memandang jasa baik kita. Inilah yang disebut Paulus sebagai suatu keadaan yang diberkati (blessed). Kita mendapatkan berkat ini sebagai suatu anugerah/karunia yang tidak bisa dibandingkan keagungannya. Apakah yang Daud paparkan tentang pembenaran oleh Allah ini ?

Di ayat 7-8, Paulus mengutip Mazmur 32:1-2, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Terjemahan KJV mengartikannya, “Saying, Blessed are they whose iniquities are forgiven, and whose sins are covered. Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin.” Kata “pelanggaran” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya anomia yang berarti violation of law (pelanggaran hukum) atau tindakan asusila/kejahatan (iniquity/wickedness). Sedangkan kata “dosa” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya hamartia yang identik dengan dosa/pelanggaran (offense). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat Mazmur 32:1-2, di mana Raja Daud mengajarkan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Terjemahan KJV mengartikannya, “Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the LORD imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile.” Mazmur 32 ditulis oleh Daud ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan berkenaan dengan dosanya yang mengambil istri Uria dan membunuh Uria (2 Samuel 12:1-25). Mazmur ini ditulis sebagai ungkapan syukur sekaligus pengajaran Daud tentang besarnya kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa. Ada dua hal yang mau diajarkan oleh Daud,
Pertama, adanya pengampunan dosa. Kata “pelanggaran” di dalam Mazmur 32:1 ini dalam bahasa Ibraninya pesha‛ berarti revolt (pemberontakan). Lalu, kata “dosa” dalam bahasa Ibraninya chăṭâ'âh bisa berarti offence atau sacrifice for it (pengorbanan baginya). Sesuai konteksnya, Daud yang sedang berdosa dapat disebut “memberontak” terhadap Allah, karena ia lebih menuruti hawa nafsu ketimbang perintah Allah. Pemberontakan itu begitu serius sehingga Tuhan menegurnya melalui nabi Natan. Teguran itu sangat membuahkan hasil dan Daud akhirnya bertobat. Lalu, apakah Tuhan tidak jadi menghukum Daud ? Atas kesalahannya, Daud pasti dihukum, tetapi bukan Daud yang mati, tetapi anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Akhirnya, Daud bersedih hati dengan tetap rela menerima hukuman Tuhan. Meskipun harus bersedih hati atas meninggalnya anak dari Batsyeba itu, Daud tetap melihat dan mengagumi besarnya kasih setia Allah yang rela mengampuni dosanya yang begitu besar (Mazmur 32:5). Meskipun dosa Daud begitu besar yaitu sampai membunuh Uria (padahal dalam Kejadian 9:6, Tuhan akan menghukum mereka yang membunuh dengan mengambil nyawa orang yang membunuh itu sendiri), Allah tetap mengasihinya dengan mengampuni pemberontakannya dan memaafkan atau menutupi dosanya. Allah menutupi dosa jangan dimengerti seperti orang-orang dunia yang sengaja menutupi dosa untuk menonjolkan diri ! Allah adalah Allah yang Mahakudus yang membenci dosa, tetapi Ia tetap mengasihi mereka yang berdosa. Sehingga kata “ditutupi” lebih tepat diartikan dilindungi. Dilindungi atau ditutupi oleh apa ? Sebuah tafsiran yang bagus dari Matthew Henry dalam Matthew Henry’s Concise Commentary (MHCC) mengatakan, “Sin is the cause of our misery; but the true believer's transgressions of the Divine law are all forgiven, being covered with the atonement.” (=Dosa adalah penyebab kesengsaraan ; tetapi semua pelanggaran orang-orang yang percaya terhadap hukum Allah diampuni, dan ditutupi/dilindugi dengan penebusan.) Berarti, dosa umat pilihan-Nya bukan hanya diampuni tetapi ditebus oleh darah Anak Domba Allah di dalam Kristus, sehingga kita mendapatkan pemulihan dari dosa-dosa kita. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita sudah melakukan suatu pemberontakan terhadap perintah Allah, bahkan kita mungkin sempat menghina Allah atau menjual Kristus dengan meninggalkan keKristenan. Mungkin kita melakukannya secara sadar atau tidak tanpa perasaan apapun. Kita mungkin merasa dosa yang kita lakukan begitu besar dan layak untuk dihukum. Tetapi ketahuilah, ada satu berita sukacita bagi kaum pilihan yang percaya, yaitu “...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Pertobatan adalah kunci menuju ke arah pemulihan dosa. Pertobatan ini pun adalah inisiatif anugerah Allah yang menggerakkan umat pilihan-Nya untuk menyesali dosa, meninggalkan dosa dan kembali kepada Kristus dengan percaya di dalam-Nya. Tanpa pertobatan, tak mungkin ada kesadaran pentingnya penebusan dosa. Ketika kita mengaku dosa dan bertobat, di situ kita mulai mengerti bahwa dosa kita yang begitu bejat dan jahat ini masih diampuni oleh Allah yang sudah seharusnya menghukum kita. Oleh karenanya, ketika Tuhan masih mengingatkan kita untuk bertobat, taatilah teguran-Nya dan segera kembali kepada-Nya, karena teguran-Nya itu bukti kasih-Nya yang mau mengampuni kita.
Kedua, dosa kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Pada ayat 2 dalam Mazmur ini, kata “kesalahan” dalam bahasa Ibraninya ‛âvôn berarti dosa (sin) atau perbuatan asusila (iniquity). Dalam terjemahan KJV, kata “kesalahan” memakai kata iniquity, sedangkan dalam kutipan Paulus di Roma 4:8, katanya diganti menjadi sin. Lebih tepatnya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, Keadilan dan Penghakiman (1993) memaparkan kata ‛âvôn berarti suatu hal yang mengakibatkan kita merasa bersalah/berhutang dan ingin menghukum diri. (p. 46) Hal ini mungkin kita alami. Ketika kita sudah merasa bersalah, kita ingin rasanya menghukum diri sebagai wujud “kekesalan” kita. Mungkin sekali, sesuai konteksnya, Daud juga merasa hal serupa, di mana dia menyesal karena dia telah membunuh Uria dan mengambil istri Uria.Kita memperhitungkan kesalahan kita sendiri, tetapi tidak demikian dengan Allah ketika kita mau bertobat. Pertobatan merupakan kunci mengenal kasih Allah. Menurut terjemahan KJV, ayat ini dapat diartikan bahwa adalah sangat diberkati ketika Tuhan tidak mengimputasikan dosa/perasaan bersalah kepada seseorang dan yang tidak berjiwa pengkhianat/penipu. Bukan hanya mengampuni, Allah juga sanggup tidak memperhitungkan lagi kesalahan/dosa yang telah kita perbuat. Di tengah kesusahan, pemazmur berseru, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Dan selanjutnya, “Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Di sini, pemazmur menggambarkan Tuhan bukan hanya mengampuni mereka yang berdosa, tetapi juga memimpin mereka untuk merindukan firman-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Hal serupa diungkapkan oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Menyucikan kita yang berdosa dari segala kejahatan adalah wujud lain dari tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Dengan apa Allah menyucikan kita ? Yaitu dengan Firman dan Roh, di mana Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita serta menundukkannya di bawah Firman Allah, yaitu Alkitab. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen yang sudah menerima penebusan Kristus yaitu berusaha terus-menerus oleh pekerjaan Roh Kudus hidup kudus dan menaati Firman Allah untuk memuliakan-Nya. Ketika kita sudah menunaikan apa yang telah kita kerjakan sesuai kehendak Allah, maka arti dari dibenarkan melalui iman dapat kita mengerti seutuhnya kelak di dalam kekekalan sehingga kita semakin bersyukur atas anugerah-Nya.

Hari ini, tidak ada kabar yang membuat manusia berdosa bersukacita kecuali kabar bahwa dosa mereka diampuni dan mereka dibenarkan oleh Allah dengan cara disucikan dari dosa dengan Firman dan Roh. Adakah kabar itu juga tiba pada diri Anda sekarang dan Anda meresponinya ? Biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Amin. Soli Deo Gloria.


Resensi Buku-32 : HUMANISME DAN GERAKAN ZAMAN BARU (Ir. Herlianto, M.Th.)

...Dapatkan segera...
Buku
HUMANISME DAN GERAKAN ZAMAN BARU

oleh : Ir. Herlianto, M.Th.

Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, 1990.





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio :
Zaman modern adalah zaman yang dikuasai rasionalisme atau rasio sebagai sumber kebenaran, tetapi setelah meletusnya Perang Dunia 1 dan 2, rasionalisme mulai dipertanyakan keabsahannya. Setelah rasionalisme mulai dipertanyakan, manusia bukan kembali kepada Tuhan, tetapi malahan berkiblat ke arah mistisisme dan sesuatu yang berhubungan dengan feeling, sehingga tidak heran di zaman postmodern, muncullah Gerakan Zaman Baru sebagai media untuk memuaskan hawa nafsu manusia di dalam mencari “kebenaran”. Gerakan Zaman Baru di dalam buku ini dilatarbelakangi oleh humanisme dan muncul di dalam berbagai bentuk, misalnya di dalam olahraga (yoga, waitankung, dll), di dalam kepercayaan (kebatinan, Zen-Buddhism, dll), dll. Dan yang lebih parah lagi, gerakan ini merasuki keKristenan dengan ajaran-ajaran, seperti Berpikir Positif dan Visualisasi dari Norman Vincent Peale, Robert H. Schuller, David Yonggi Cho (Visualisasi), dll. Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen terhadap fenomena ini ? Di dalam buku ini, Ir. Herlianto, M.Th. mengajak kita untuk peka terhadap kondisi zaman yang dipengaruhi oleh Gerakan Zaman Baru dan selanjutnya, kita sebagai orang Kristen harus kembali kepada Alkitab sebagai satu-satunya kebenaran, dan BUKAN kepada Gerakan Zaman Baru atau sejenisnya.





Profil Ir. Herlianto, M.Th. :
Ir. Herlianto, M.Th. adalah Pemimpin Umum Yayasan Bina Awam (YABINA), Bandung (situs : http://www.yabina.org) dan dosen dalam bidang Sosiologi dan Aliran Kontemporer di Sekolah Tinggi Theologia Bandung. Beliau adalah seorang insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1968 lalu memperdalam ilmu dalam bidang Pembangunan Perkotaan dan memperoleh diploma International Course on Housing, Planning and Building di Boueweentrum International Education, Rotterdam pada tahun 1979 serta mengikuti Urban Studies Course pada Princeton University di USA pada tahun 1982. Beliau belajar theologia di Institut Injil Indonesia, Batu pada tahun 1972, lalu dilanjutkan ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang dan pada tahun 1976 memperoleh gelar Bachelor of Theology (Th.B.) Pada tahun 1982, beliau menyelesaikan studi Master of Theology (M.Th.) di Princeton Theological Seminary, USA dengan spesialisasi masalah kemasyarakatan dan perbandingan agama. Beliau dapat dihubungi melalui e-mail : herlianto@yabina.org.

Matius 7:28-29 : THE QUALITY OF A TEACHER

Ringkasan Khotbah : 14 November 2004

The Quality of a Teacher
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 7: 28-29

Minggu lalu kita sudah memahami signifikansi dari frasa yang berbunyi: “Dan, setelah Yesus mengakhiri perkataan ini...“ (Mat. 7:28), dimana frasa ini menunjukkan totalitas pengajaran Kristus dengan demikian orang tidak dapat menambahkan atau mengurangi isi dari pengajaran Kristus. Matius ternyata tidak hanya menggunakan frasa ini untuk kumpulan khotbah Tuhan Yesus di atas bukit (Mat. 5-7) yang dikenal sebagai hukum Kerajaan Sorga, the Law of the Kingdom saja melainkan juga untuk menandai kumpulan khotbah Tuhan Yesus yang lain. Sebagai warga Kerajaan Sorga, kita wajib tunduk pada undang-undang Kerajaan Sorga karena melawan undang-undang berarti kita telah melakukan tindakan subversif yang melawan hukum. Alkitab mencatat setelah orang banyak itu termasuk orang Yahudi mendengar khotbah Tuhan Yesus di atas bukit maka takjublah mereka sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa berbeda dengan ahli-ahli Taurat.
Pengakuan ini bukan hanya terjadi pada saat itu atau pada jaman itu saja. Tidak! Di sepanjang sejarah jaman orang mengakui bahwa memang pengajaran Kristus sangatlah indah dan berbeda dengan semua ajaran yang ada di dunia. Namun, ironisnya orang Yahudi yang termasuk golongan orang pandai di dunia justru menolak pengajaran Tuhan Yesus. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana orang banyak itu dapat menyimpulkan bahwa Yesus mengajar sebagai orang yang berkuasa? Ada tiga aspek yang membuat pengajaran Yesus berkuasa, yaitu:
1. Isi Pengajaran Kristus Berkualitas
Setiap kalimat yang diucapkan Kristus mengandung makna yang sangat mendalam sehingga orang harus berpikir apa arti dari perkataan Kristus tersebut. Itulah sebabnya orang merasa takjub sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah... (Mat. 5:3) seharusnya membuat orang bertanya akan apa arti bahagia? Bukankah bahagia merupakan cita-cita setiap orang namun sampai detik ini orang masih mengejar dan mencari kebahagiaan. Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan kalau kita taat mutlak pada kebenaran sejati yang Kristus beritakan. Sayang, banyak orang yang menolak pengajaran Tuhan Yesus karena berbeda dengan konsep dunia. Berbahagialah, hai kamu yang miskin... tetapi celakalah, hai kamu yang kaya... (Luk 6:20-26). Yang menjadi pertanyaan adalah ajaran siapa yang benar, ajaran Yesus ataukah ajaran dunia? Memang siapakah Yesus sehingga Dia dapat menjamin hidup kita akan bahagia kalau kita menjadi warga Kerajaan Sorga? Lalu apa hubungannya antara miskin dengan menjadi pemilik warga Kerajaan Sorga? Kalau kita betul-betul memikirkan setiap pengajaran Kristus maka pengajaran itu akan membawa kita masuk dalam kebenaran yang paling asasi dalam hidup dan kita harus mau diubahkan dari semua konsep kita yang salah namun kita menganggapnya sebagai kebenaran.
2. Cara Kristus Mengajar Sederhana
Pengajaran Kristus sangatlah berbobot sebab Ia adalah Sang Kebenaran Sejati dan Ia datang untuk mengajarkan kebenaran-Nya pada dunia. Kristus mengajar dengan sangat sederhana, kalimat-kalimat yang Ia lontarkan singkat tapi mengandung makna yang sangat mendalam berbeda dengan ahli Taurat maupun para imam yang membutuhkan berbagai macam atribut luar seperti kekuasaan supaya orang takjub. Pengajaran Kristus yang sederhana ini hanya dapat dipahami oleh mereka yang diberikan karunia saja karena seringkali pengajaran Kristus bersifat paradoks, paradoxical teaching. Setiap berita yang Kristus sampaikan bukan hanya sekedar informasi belaka. Ajaran Kristus menghadapkan kita pada suatu kebenaran sejati dan menuntut komitmen dari setiap orang yang mendengarnya; apakah orang mau mengikut atau menolak, mau taat atau melawan. Hal inilah yang membuat orang merasa takjub dan mengakui sungguh bahwa Yesus itulah kebenaran sejati dan di kolong langit ini tidak ada orang yang berbicara dengan penuh kuasa seperti halnya Tuhan Yesus.
3. Kritus Mengajar dengan Penuh Kuasa
Setiap kalimat seperti godam yang memukul diri kita sehingga orang dapat melihat bahwa kalimat tersebut keluar dari inner condition, dari diri yang terdalam karena Dia adalah anak Allah. Maka sampailah orang pada kesimpulan bahwa Ia mengajar dengan penuh kuasa membuat hati setiap orang yang mendengarnya menjadi bergetar karena setiap kalimat yang Yesus ucapkan mempunyai kekuatan kuasa dan menuntut komitmen dari kita mau ikut atau melawan Dia. Sebagai warga Kerajaan Sorga, apakah kita telah mempunyai kekuatan kuasa kerygma sehingga berita yang kita sampaikan dapat membawa orang hidup pada kebenaran? Disinilah keunikan setiap orang yang Kristus panggil di dalam Kerajaan-Nya. Kristus ingin supaya kita juga menjadi pembawa berita yang mempunyai kuasa. Seperti halnya orang-orang yang dipanggil di sepanjang jaman untuk menjadi pembawa berita kebenaran di tengah dunia maka sebagai Kristen sejati dan sebagai warga Kerajaan Sorga kita pun harus memberitakan kebenaran pada dunia. Jangan takut dan kuatir karena Tuhan akan memproses kita sehingga kita mempunyai kekuatan dan bijaksana ketika mewartkan berita kebenaran pada dunia. Seperti halnya para murid, ketika Tuhan memanggil merekapun tidak mempunyai kuasa berita namun setelah melalui proses mereka menjadi pemberita Injil yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Inilah fungsi dari pengajaran.
Kita harus kembali pada pengajaran Kristus sebab Tuhan membentuk kita melalui pengajaran dengan demikian kita boleh mengerti bagaimana seharusnya kita hidup seperti yang Tuhan inginkan. Proses pengajaran akan memilah siapa murid sejati dan siapa yang bukan sebab tidak semua orang mengerti pengajaran Kristus. Hanya kepada mereka yang diberikan karunia sajalah yang dapat mengerti rahasia Kerajaan Allah sebab itu kepada orang luar Yesus mengajar dengan perumpamaan supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti (Mat. 10: 10-13). Jadi, bukan karena kepandaian kita kalau kita dapat mengerti pengajaran Firman tapi karena karunia Tuhan.
Ada empat aspek yang dapat menjadikan seseorang mempunyai kuasa dalam perkataannya dan empat aspek ini dibagi lagi menjadi dua golongan dimana golongan pertama terdiri dari aspek pertama dan kedua dan hal ini dapat dilakukan oleh setiap orang yang mendapat anugerah umum namun bagian ini baru menyelesaikan setengah dari kuasa sejati seperti yang Kristus teladankan. Golongan kedua terdiri dari aspek ketiga dan keempat hanya dapat dilakukan oleh orang yang mendapat anugerah khusus dimana hidup dipimpin oleh Firman dan Roh Kudus. Kedua golongan ini ada dalam diri Kristus dan hal inilah yang membuat pengajaran-Nya mempunyai kuasa dan berbeda dengan ahli Taurat.
I. Ketulusan Hati
Tuhan Yesus mengajar dengan ketulusan dan kemurnian hati. Barang siapa mau hidup di dalam Tuhan maka ia harus hidup bersih. Orang yang hidupnya bersih dan tulus maka itu akan memberikan kuasa dalam setiap perkataannya. Mempercayai perkataan seseorang tidaklah mudah, kita harus tahu siapa yang menjadi lawan bicara kita apakah ia memang layak untuk dipercaya? Secara prinsip, setiap orang pasti tahu betul bahwa orang yang suka berbohong tidak layak untuk dipercayai. Alangkah bodohnya, kalau kita mau percaya pada seorang pembohong. Orang-orang demikian tidak mempunyai kuasa dalam perkataannya. Itulah sebabnya ahli-ahli Taurat memanipulasi dan menggunakan cara yang licik supaya orang percaya padanya. Namun Tuhan Yesus berbeda, Ia tidak menggunakan cara-cara licik supaya orang mau mengikut Dia. Tuhan Yesus tahu akan sifat orang Yahudi yang materialis itulah sebabnya kalimat pertama yang keluar adalah: “Berbahagialah orang yang miskin... Kebenaran sejati harus dinyatakan di tengah dunia meski hal ini sangat menyakitkan dan tidak disukai oleh dunia khususnya bagi orang Yahudi. Di dunia ini memang sedikit sekali kita menjumpai ada seorang guru yang mau mengajar dengan motivasi murni dan ketulusan hati. Biarlah kita sebagai orang Kristen kita meneladani Guru Agung itu yang hidup dengan bersih dan tulus dengan demikian setiap perkataan kita mempunyai kuasa sehingga kita menjadi berkat.
II. Altruistik
Sudah menjadi sifat manusia yang humanis dimana segala sesuatu hanya untuk dirinya sendiri. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Altruis adalah segala sesuatu selalu memikirkan orang lain sebaliknya egois berarti segala sesuatu adalah untuk diri sendiri. Seorang pengajar yang baik pasti ingin muridnya bertumbuh, si murid memahami kebenaran dan hidup dalam kebenaran dengan demikian si murid bertumbuh dalam iman. Yang dilakukan pertama kali oleh seorang guru sejati adalah mengevaluasi dirinya sendiri kalau muridnya tidak bertumbuh. Seorang guru sejati mau berkorban untuk orang lain. Inilah sifat guru sejati yang altruistik. Seorang guru bukan hanya sekedar mengajar yang sifatnya memberikan informasi belaka. Tidak! Jika memang demikian lalu apa bedanya dengan ahli taurat? Yesus mengajar bukan demi untuk diri-Nya sendiri, Dia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, Dia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Namun sayang, di dunia modern sifat altruis ini tidak dimiliki oleh seorang guru, mereka telah menjadi budak uang. Maka tidaklah heran kalau ada murid atau mahasiswa yang kemudian menghina guru. Kristus mempunyai kuasa yang besar ketika mengajar karena Ia mengajar demi untuk kepentingan murid-murid karena itu hari ini kita mengenal Petrus bukan sekedar nelayan atau Matius bukan lagi si pemungut cukai dan lain-lain kini, mereka menjadi seorang murid yang berhasil. Ketulusan hati dan sifat altruis ini dapat dilakukan oleh orang yang bukan Kristen sekalipun. Dengan kualitas dunia saja kita bisa mempunyai kuasa dalam pengajaran kita. Sangatlah disayangkan kalau kita sebagai anak Tuhan, tidak bisa mempunyai kedua sifat di atas karena sebenarnya Roh Kudus sudah memberikan kepada kita kekuatan dan kuasa untuk kita dapat melakukannya.
III. Hidup yang Sesuai Ajaran
Bukan karena kualitas pengajarannya saja yang menjadikan Kristus mempunyai kuasa tetapi lebih dari itu, yaitu Kristus mengimplikasikan dalam hidup-Nya. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk menjalankan semua teori yang ia ajarkan karena lebih mudah berteori daripada menjalankannya. Hanya orang yang berada dalam Firman dan mau taat dibentuk oleh Tuhan sajalah yang dapat melakukan semua ajaran kebenaran. Inilah bedanya ahli Taurat dengan Tuhan Yesus. Ahli Taurat tahu seluruh isi kitab Taurat tapi ia tidak tunduk pada Taurat sebaliknya ia mengacak-acak Taurat, diri yang lebih berkuasa dari Taurat. Sebaliknya Kristus tidak menyebut diri-Nya ahli Taurat namun ia sudah menjadi ahli Taurat karena Kristus taat mutlak di bawah Taurat. Begitu juga dengan diri kita ketika belajar Firman kalau kita tidak mau tunduk pada Firman maka itu akan menjadikan kita sebagai ahli Alkitab tanpa kita diubahkan dan dibentuk oleh Firman. Tuhan Yesus menegur dengan keras ahli Taurat seperti kuburan di depannya bagus tapi dalamnya busuk. Ingat, kuasa bukan karena atribut luar yang ada pada kita tetapi karena hati kita dihidupkan oleh Roh Kudus, hati kita dididik oleh Firman. Sebagai anak Tuhan sejati, seharusnya kita mempunyai kerinduan untuk melakukan dan taat pada Firman. Kalau kita tidak mempunyai jiwa dan semangat mau melakukan Firman maka bertobat segera minta ampun pada Tuhan. Biarkan Yesus masuk dan bertahta sebagai Tuan dalam hidupmu maka Ia pasti menjadi Juruselamat kita. Hari ini orang sangat egois, mereka hanya mau Kristus sebagai Juruselamat saja tetapi tidak mau menjadikan Ia sebagai Tuan dalam hidupnya.
IV. Hidup Penuh dengan Roh
Kita harus mencontoh teladan Kristus, yaitu seluruh hidupnya dipenuhi oleh Roh Kudus, spiritfully, Ia bersandar mutlak pada pimpinan Roh Kudus. Jangan pernah berpikir bahwa orang pandai pastilah bijak. Pandai tidak sama dengan bijak. Orang pandai biasanya paling mudah dibohongi karena segala sesuatu yang ia lakukan adalah demi supaya orang lain memuji dia. Jadi, logika dan perkataannya sendirilah yang mengontrol seluruh hidupnya. Berbeda kalau kita berada dalam Firman dan mau taat mutlak maka Roh Kudus akan memimpin seluruh hidup kita. Kita akan merasakan dan melihat cara Roh Kudus bekerja yang ajaib dan heran. Tuhan janji Ia akan memberikan pada setiap anak-anak-Nya hidup kuat dan dipimpin oleh-Nya sehingga kita tidak akan mudah digoyahkan selama-lamanya. Sebagai anak Tuhan, kita yang harus mempengaruhi dunia supaya mereka hidup dalam kebenaran bukan sebaliknya. Celakanya, kita lebih mudah terpengaruh oleh segala sesuatu yang sifatnya negatif daripada yang bersifat positif. Hati-hati, jangan mudah tergoda oleh bujuk rayu iblis. Hendaklah kita menjadi garam dan terang dunia sehingga orang yang berada di sekeliling kita akan merasa risih ketika hendak melakukan perbuatan dosa dan lebih baik lagi kalau akhirnya mencegah mereka berbuat dosa.
Biarlah keempat aspek di atas yang menjadi sifat Kristus juga kita miliki dengan demikian kita menjadi berkat bagi dunia yang kacau ini. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

25 November 2007

Martir Kristus-4 : PAULO UCHIBORI DAN ANAK-ANAKNYA (Meninggal tahun 304 Masehi)

Martir Kristus-4



PAULO UCHIBORI DAN ANAK-ANAKNYA
(Meninggal tahun 304 Masehi)


Gelombang penganiayaan yang keras terjadi di Jepang pada awal tahun 1600, di mana selama waktu tersebut banyak umat Kristen menjadi martir.

Pada tanggal 20 Februari 1627, pemimpin gereja bernama Paulo Uchibori, istrinya dan ketiga anaknya ditahan karena menampung para misionari. Pada hari itu, Paulo dan 37 orang Kristen lainnya dipukuli, diarak telanjang melalui pusat kota dan dipenjarakan di Istana Shimabara.

Pada keesokan harinya, orang-orang Kristen tersebut dianiaya. Pemerintah tidak berkeinginan menjadikan mereka martir, tetapi mereka menggunakan cara-cara terkeji untuk memaksa orang-orang Kristen menyangkal iman mereka. Salah satu prajurit mengusik Paulo ketika ia memegang sebilah pisau, dengan berkata, “Berapa banyak jari anak-anakmu yang harus kami ambil ?” Paulo menjawab, “Semua terserah padamu.”

Para prajurit memotong semua jari anak-anak Paulo kecuali jempol dan kelingking mereka, dengan berkata orang-orang Kristen seharusnya mempunyai jari lebih sedikit dari binatang. Dua anak tertua Paulo, Antonio dan Barutabazaru merelakan jari-jari mereka kepada para prajurit tersebut, tanpa menangis atau menunjukkan kesakitan. Anak Paulo yang bungsu, Ignatius, berumur lima tahun. Ia juga tidak menunjukkan rasa sakit saat jari-jari tangannya dipotong. Ia mengangkat tangannya yang berlumuran darah ke langit, mempersembahkannya kepada Allah. Mereka yang melihat terkejut dengan apa yang mereka saksikan dan hati mereka dijamah oleh keberanian anak-anak itu.

Lalu para prajurit mengikat tangan dan kaki ke-16 tahanan tersebut termasuk anak-anak Paulo dan melemparkan mereka berkali-kali ke dalam air es yang sangat dingin di Teluk Shimabara. Walaupun begitu orang-orang Kristen tersebut tidak mau menyangkal iman mereka. Kata-kata terakhir Antonio sebelum ia hilang ditelan laut adalah, “Ayah, kita harus bersyukur kepada Allah karena memberikan kita berkat luar biasa seperti ini.”

Setelah anak-anaknya ditenggelamkan, wajah Paulo dicap dengan tiga huruf Jepang dari kata “Kristen.” Ia dilemparkan ke jalan-jalan dengan tulisan di baju kimononya yang terbaca, “Dihukum karena menjadi Kristen. Dilarang menolong orang ini atau memberinya perlindungan.”

Seminggu setelah kematian martir anak-anaknya, Paulo dibawa ke atas Gunung Unzen dengan ke 15 orang Kristen lainnya untuk merasakan “siksaan di dalam neraka kawah Unzen.” Paulo digantung terbalik dan diturunkan ke atas permukaan air sulfur yang mendidih berkali-kali. Ia berdoa dengan suara keras setiap kali, menyadari ia adalah bagian dari Tubuh Kristus, “Perjamuan Suci harus disucikan.” Akhirnya, tubuhnya dilemparkan ke dalam kawah mendidih yang menguap.

Sekarang iman Paulo dan anak-anaknya menguatkan kita. Kita tahu bahwa mereka, bersama dengan banyak orang-orang Kristen Jepang tanpa nama, diterima dalam hadirat Yesus dan sekarang mereka mengenakan jubah putih.



Sumber :
Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

22 November 2007

Matius 7:28-29 : THE LAW OF THE KINGDOM

Ringkasan Khotbah : 07 November 2004
The Law of the Kingdom
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 7:28-29



Kita sudah memahami bahwa tema dari injil Matius adalah King and the Kingdom, Raja dari Kerajaan Surga itu menghadirkan kerajaan-Nya di tengah dunia; Kingdom of Heaven dibawa masuk ke dalam sejarah dan Dia memproklamirkan dengan: “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat“. Berita inilah yang ingin dipaparkan oleh Matius, yaitu bagaimana Kerajaan Sorga itu ditata oleh Sang Raja di tengah dunia dengan memanggil murid-murid dan siapa saja yang Ia memilih untuk menjadi bagian sebagai warga sekaligus pekerja Kerajaan Sorga. Bagian ini telah kita pahami beberapa minggu lalu dan kini kita hendak melihat hukum atau Undang-undang Dasar Kerajaan Sorga yang dicatat oleh Matius di pasal 5 sampai 7.
Matius pasal lima sampai tujuh merupakan kumpulan dari beberapa khotbah Yesus yang berbeda tempat maupun waktunya namun mempunyai pengajaran dan pemikiran total sehingga Matius menjadikannya sebagai satu kesatuan utuh, yaitu bagaimana tatanan atau konsep dari Kerajaan Sorga dan apa yang harus kita lakukan sebagai warga Kerajaan Sorga. Kalau kita hendak memahami khotbah Tuhan Yesus secara kronologis waktu maka sebaiknya kita membacanya dari injil Lukas. Namun Matius melihat pengajaran Tuhan Yesus tersebut sebagai dasar hukum Kerajaan Sorga atau yang sekarang kita kenal dengan Khotbah di Atas Bukit. Sama halnya seperti orang yang hendak memutuskan menjadi warga negara Indonesia, misalnya maka ia harus tunduk pada semua hukum yang berlaku di negara Indonesia. Orang yang tidak mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut maka ia harus menerima akibatnya, yaitu di deportasi atau di penjara. Orang yang melawan undang-undang dasar negara maka itu berarti ia tidak mau menjadi warga negara. Begitu juga sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita pun harus memahami dan mematuhi semua hukum atau undang-undang dasar Kerajaan Sorga.
I. Visi Kerajaan Sorga
Prinsip Kerajaan Sorga yang agung dan berbeda dengan ajaran dunia ini diakui sendiri oleh dunia. Mereka mengakui ajaran Kristus sebagai the golden rule, hukum emas. Sebagai orang Kristen yang menjadi bagian dari warga Kerajaan Sorga sudah menjadi kewajiban kita untuk menaati seluruh ketetapan hukum Kerajaan Sorga. Sangatlah disayangkan, hari ini banyak orang yang mengaku diri Kristen tapi tidak mau mematuhi hukum Kerajaan Sorga akibatnya ia tidak tahu bagaimana seharusnya hidup. Matius membukakan inti totalitas dari visi misi Kerajaan Sorga dan bagaimana seharusnya citra Kerajaan Sorga (Mat. 5:1-12). Orang yang menjadi bagian dari Kerajaan Sorga akan merasakan kebahagiaan karena kita termasuk orang yang diberkati, Blessed be those who. Berbahagialah (bhs. Indonesia) dan diberkatilah (bhs. Inggris) akan kita dapatkan kalau mempunyai sifat-sifat Kerajaan Sorga seperti yang diajarkan Kristus.
Konsep bahagia yang diajarkan Tuhan Yesus berbeda bahkan berbalik dengan konsep bahagia yang dipikirkan manusia. Tuhan Yesus mengajarkan berbahagialah orang yang miskin, orang yang dianiaya, orang yang berdukacita namun dunia justru mengajarkan berbahagialah yang kaya. Kalau kita perhatikan, khotbah tentang ucapan bahagia ini sebenarnya bersifat positif dan negatif, dalam hal ini Matius hanya mengambil bagian positifnya saja, kalau kita hendak memahami secara keseluruhan baik positif maupun negatif maka kita dapat membacanya dalam Injil Lukas 6 yang menegaskan dengan jelas perbandingan antara positif dan negatif. Inilah fungsi dari hukum Kerajaan Sorga yang dipaparkan Kristus pada dunia dengan demikian dunia dapat melihat bahwa orang yang telah menjadi warga Kerajaan Sorga maka ia pasti akan mempunyai visi yang sama seperti pengharapan Kristus sebagai Raja yang membuat seluruh tatanan hukum sehingga barangsiapa yang ada di dalamnya maka ia akan diberkati dan merasakan kebahagiaan. Menjalani hidup sesuai dengan visi Tuhan membuat kita mempunyai perjuangan dan semangat hidup dengan demikian kita tidak jadi salah arah karena kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Setiap orang yang mau menjadi warga Kerajaan Sorga harus tahu visi Kristus yang Ia bukakan sendiri. Ketika Kristus membukakan visi-Nya, Ia tidak membukakan sisi negatifnya karena maksud dan arahnya adalah menuju pada sisi yang positif, yaitu melihat konsep hidup seperti yang Tuhan inginkan. Hal ini tidaklah mudah sebab manusia telah jatuh ke dalam dosa maka konsep dunia selalu berlawanan dengan yang Firman ajarkan. Namun kalau kita dapat berpikir dengan bijak maka kita akan melihat bahwa kebenaran Firman lebih agung dibanding dengan konsep manusia berdosa. Manusia menganggap bahwa kebahagiaan bisa diperoleh kalau hidup kaya namun Tuhan justru menegaskan bahwa yang miskinlah yang akan merasakan kebahagiaan (Luk. 6). Ayat ini diberikan kepada orang Yahudi yang materialis tapi orang harus mengakui bahwa kebenaran Firman yang Kristus ajarkan membawa kita pada kebenaran dan hidup menjadi indah. Inilah yang menjadi visi Kerajaan Sorga.

II. Misi Kerajaan Sorga
Setelah kita mengerti visi lalu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana mengerjakannya; visi harus diikuti dengan misi, yaitu jadilah garam dan jadilah terang (Mat. 5:13-16). Garam dan terang merupakan suatu entity, keberadaan yang esensi. Garam bersifat penetrasi, saat garam bereaksi maka secara materi ia akan menghilang namun secara eksistensi ia masih tetap ada. Garam yang berwarna putih tidak menjadikan masakan kita berubah warna namun rasanya dapat kita rasakan. Inilah yang menjadi misi orang Kristen, yaitu keberadaan kita dapat dirasakan oleh orang lain dan mempengaruhi orang lain sehingga menghalangi perbuatan dosa yang hendak mereka lakukan. Dan tugas yang lain adalah menjadi terang yang bersifat radiasi. Cahaya bukanlah sebuah materi dan sampai sekarang masih menjadi perdebatan, termasuk benda padat ataukah benda gas. Sinar adalah entity, tapi gelap bukanlah entity sebab kalau gelap itu berarti tidak adanya terang. Jadi, gelap bukanlah suatu eksistensi tapi hilangnya eksistensi. Gelap tidak bisa mengusir terang sebaliknya justru kalau terang itu datang maka tidak ada lagi gelap. Berbeda dengan filsafat timur yang melihat terang dan gelap sebagai suatu entity yang berlawanan. Tidak! Meskipun ditaruh dalam ruang hampa, terang tetap akan menerobos masuk. Terang dapat juga dihalangi sehingga sekitarnya menjadi gelap namun ketika terang itu dihalangi maka benda yang menghalanginya akan menjadi sangat terang. Lalu sampai seberapa lama dan kuatkah ia mampu menghalangi terang itu? Karena suatu saat ketika benda itu tidak mampu lagi menghalangi terang sehingga terang itu akan menerobos dan gelap pun menjadi hilang. Adalah tugas orang Kristen untuk menjadi terang dan memancarkan terang, menyinari dunia yang gelap. Jadi, untuk menjadi warga Kerajaan Sorga maka kita harus memahami apa yang menjadi visi Sang Raja dengan menjalankan misi dan tugas panggilan warga Kerajaan Sorga, yaitu menjadi garam dan terang dunia.

III. Motivasi Kerajaan Sorga
Alkitab sudah menuliskan The Principal of the Law, hukum yang membuat kita tahu bagaimana caranya menjadi garam dan terang. Hukum Taurat diberikan pada kita supaya kita dapat menjalankan misi itu namun masalahnya ahli-ahli Taurat sudah memberikan interpretasi sebelumnya, hukum tidak dimengerti secara esensi akibatnya pengertian hukum Taurat menjadi menyeleweng. Apa yang ada dalam hukum Taurat dijelaskan dengan lebih tajam dalam visi Kristus. Mengerti aspek hukum berbeda dengan kita mengerti bahasa hukum. Mengerti aspek hukum adalah mengerti esensi motivasi hukum. Kini, dunia modern banyak sekali mempermainkan hukum dengan menginterpretasikan bahasa hukum akibatnya dengan mudahnya hukum dapat dipelintir sedemikian rupa sehingga memungkinkan seseorang untuk lolos dari hukuman. Membunuh dimengerti kalau ia telah menghilangkan nyawa orang lain namun Tuhan menegaskan jika kita membenci orang itu berarti kamu sudah membunuh. Jangan terpaku dengan kalimat, kita harus mengerti secara hakekat hidup di dalam kaitan visi dan misi. Dengan memahami visi misi Kerajaan Sorga barulah kita mengerti tatanan hukum Kerajaan Sorga (Mat. 5:17-48). Seorang Kristen harus berbeda dengan dunia. Kalau dunia mengajarkan keadilan dunia dengan mata ganti mata, gigi ganti gigi namun Kristus mengajarkan kalau seseorang menampar pipi kananmu maka berikanlah pipi kirimu. Kita harus menjalankan visi misi Kerajaan Sorga dengan kasih dan keadilan yang tidak hanya kita mengerti sebatas kalimat tetapi harus kita mengerti secara motivasi dengan demikian dunia akan merasakan garam dan melihat terang kita bercahaya. Hal inilah yang menjadi esensi penting dari Matius pasal 5 tentang khotbah di bukit.

IV. Implikasi Kerajaan Sorga
Matius 6:1–7:11 merupakan implikasi atau penerapan dari hukum Taurat yang menjadi hukum dasar Kerajaan Sorga (Mat. 5) dengan demikian kita tidak hanya sekedar mengerti iman di dalam prinsip-prinsip keagamaan sejati (religius principal) tapi kita juga harus tahu bagaimana menjalankan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari (religius action). Kalau kita dapat memahami hal ini maka hal memberi sedekah menjadi berbeda karena saat memberi kita mempunyai visi ingin melihat kebahagiaan seperti Tuhan katakan, kita mempunyai misi menjadi garam dan terang, kita mempunyai prinsip menyatakan motivasi keadilan dan kebenaran. Begitu juga kalau dalam hal berdoa kalau kita lakukan karena kita tahu apa yang menjadi visi, misi dan motivasi maka cara doa kita berbeda dengan dunia dan semua hal yang kita lakukan juga menjadi berbeda, termasuk hal mengumpulkan harta, hal berpuasa, dan lain-lain. Adalah salah kalau kita menerapkan hal berdoa, hal berpuasa, dan hal-hal lain tanpa dikaitkan dengan visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga di Matius 5. Begitu juga dengan doa Bapa Kami tidak boleh dilepaskan dari visi, misi dan motivasi.
Cara Matius menuliskan tentang visi, misi dan motivasi Kerajaan Sorga berbeda dengan Lukas. Matius tidak langsung memberikan perbandingan seperti halnya Lukas, namun perbandingan itu barulah diberikan oleh Matius pada bagian belakang, yaitu setelah ia membicarakan tentang visi, misi dan motivasi, yaitu: 1) pintu besar – pintu kecil (Mat. 7:12-14), 2) nabi sejati – nabi palsu (Mat. 7:15-23), 3) bangunan iman seperti rumah yang dibangun di atas pasir – rumah yang dibangun di atas batu (Mat. 7:24-27). Iman tidak bisa dipaksakan pada seseorang mungkin ada orang yang mau beriman karena diancam akan tetapi hatinya pasti tidak akan pernah mau menerima iman tersebut bahkan seumur hidup ia akan membenci dan tidak mau beriman lagi. Berbeda dengan orang yang beriman sejati karena ia melalui berbagai pergumulan dan pertimbangan barulah ia memutuskan untuk beriman. Tuhan tidak menginginkan orang yang mau beriman pada-Nya karena paksaan atau tipuan karena itu Kristus membukakan fakta dan prinsip Kerajaan Sorga sejak awal supaya orang dapat melihat dan akhirnya memutuskan apakah ia mau beriman atau tidak?

V. Otorisasi Kerajaan Sorga
Sebelumnya kita lebih dulu masuk dalam terminologi supaya tidak salah menafsirkan kalimat “setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“. Kalau sepintas kita membaca kalimat ini maka orang bisa mempunyai interpretasi: 1) Matius pasal 5 sampai 7 merupakan satu kesatuan khotbah, Yesus hanya mengajar pada tempat dan waktu itu saja. Inilah bahayanya kalau kita berpikir logis karena pikiran kita telah tercemar dengan interpretasi sehingga apabila kita tidak mengkritisi logika kita sendiri maka kita akan terjebak di dalamnya. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ dihilangkan, apakah berpengaruh dengan pengajaran Yesus? Kalau memang pengajaran Yesus merupakan satu rangkaian maka tidak adanya kalimat “dan setelah Yesus mengakhiri perkataan-Nya“ sudah menunjukkan kalau pengajaran-Nya memang sudah berakhir sehingga kalimat tersebut bisa dihilangkan. Hati-hati, pernyataan tersebut dapat merusak iman kita karena itu berarti Firman Tuhan tidak berotoritas. Salah! Alkitab adalah Firman Tuhan dan tidak bersalah. Jadi, setiap kata seharusnya memacu kita untuk mempelajari dan menyelidikinya. Kalau kita perhatikan, frasa “Yesus mengakhiri perkataan-Nya itu“ ternyata dipakai berulang kali. Signifikansi ini membuat kita mengerti kalau Matius pasal 5 sampai 7 merupakan kumpulan khotbah. Frasa ini digunakan oleh Matius untuk menandai bahwa ia telah selesai mengumpulkan khotbah Yesus yang merupakan satu pengajaran total dimana satu paket pengajaran ini mempunyai satu pemikiran total. Jadi, kita tahu betapa pentingnya keberadaan frasa ini dengan demikian orang tidak dapat menambahkan kata apapun. Matius juga ingin si pembaca merasa takjub seperti orang-orang pada waktu itu yang takjub mendengar perkataan Yesus. Ajaran Kristus sangatlah agung dan bersifat aktif, yaitu apa yang kau ingin orang lain lakukan terhadapmu lakukanlah itu terlebih dahulu pada orang lain. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk takjub ketika mendengar perkataan Kristus karena pikiran kita telah dibodohkan oleh jaman. Adalah anugerah kalau kita dapat mengerti Firman. Biarlah pengajaran Yesus membuat kita takjub dengan demikian merubah hidup kita dan membawa masuk dalam visi, misi dan motivasi seperti yang Tuhan inginkan sehingga kita menjadi bagian Kerajaan Sorga yang menyatakan kebenaran di tengah dunia. Amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)
Sumber :