29 November 2007

Roma 4:6-8 : DIBENARKAN MELALUI IMAN-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-2


Dibenarkan Melalui Iman-2

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:6-8.


Setelah Paulus memaparkan tentang Abraham yang dibenarkan melalui iman, ia menjelaskan bahwa theologia ini berasal dari Perjanjian Lama.

Pada ayat 6, Paulus mengatakan, “Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:” Terjemahan King James Version lebih tepat mengartikan, “Even as David also describeth the blessedness of the man, unto whom God imputeth righteousness without works,” (=“Seperti juga Daud yang disebut orang yang diberkati, yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran tanpa perbuatan,”) Kata “berbahagia” sebenarnya berarti diberkati (terjemahan ESV, ISV dan KJV memakai kata blessed). Lalu, kata “orang yang dibenarkan Allah” seharusnya lebih tepat berarti orang yang kepadanya Allah mengimputasikan kebenaran. Sungguh suatu sukacita yang besar jika kita sebagai manusia berdosa dapat dibenarkan atau diimputasikan kebenaran oleh Allah tanpa memandang jasa baik kita. Inilah yang disebut Paulus sebagai suatu keadaan yang diberkati (blessed). Kita mendapatkan berkat ini sebagai suatu anugerah/karunia yang tidak bisa dibandingkan keagungannya. Apakah yang Daud paparkan tentang pembenaran oleh Allah ini ?

Di ayat 7-8, Paulus mengutip Mazmur 32:1-2, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.” Terjemahan KJV mengartikannya, “Saying, Blessed are they whose iniquities are forgiven, and whose sins are covered. Blessed is the man to whom the Lord will not impute sin.” Kata “pelanggaran” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya anomia yang berarti violation of law (pelanggaran hukum) atau tindakan asusila/kejahatan (iniquity/wickedness). Sedangkan kata “dosa” di dalam ayat 7 ini bahasa Yunaninya hamartia yang identik dengan dosa/pelanggaran (offense). Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat Mazmur 32:1-2, di mana Raja Daud mengajarkan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Terjemahan KJV mengartikannya, “Blessed is he whose transgression is forgiven, whose sin is covered. Blessed is the man unto whom the LORD imputeth not iniquity, and in whose spirit there is no guile.” Mazmur 32 ditulis oleh Daud ketika Daud ditegur oleh Nabi Natan berkenaan dengan dosanya yang mengambil istri Uria dan membunuh Uria (2 Samuel 12:1-25). Mazmur ini ditulis sebagai ungkapan syukur sekaligus pengajaran Daud tentang besarnya kasih setia Allah bagi manusia yang berdosa. Ada dua hal yang mau diajarkan oleh Daud,
Pertama, adanya pengampunan dosa. Kata “pelanggaran” di dalam Mazmur 32:1 ini dalam bahasa Ibraninya pesha‛ berarti revolt (pemberontakan). Lalu, kata “dosa” dalam bahasa Ibraninya chăṭâ'âh bisa berarti offence atau sacrifice for it (pengorbanan baginya). Sesuai konteksnya, Daud yang sedang berdosa dapat disebut “memberontak” terhadap Allah, karena ia lebih menuruti hawa nafsu ketimbang perintah Allah. Pemberontakan itu begitu serius sehingga Tuhan menegurnya melalui nabi Natan. Teguran itu sangat membuahkan hasil dan Daud akhirnya bertobat. Lalu, apakah Tuhan tidak jadi menghukum Daud ? Atas kesalahannya, Daud pasti dihukum, tetapi bukan Daud yang mati, tetapi anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Akhirnya, Daud bersedih hati dengan tetap rela menerima hukuman Tuhan. Meskipun harus bersedih hati atas meninggalnya anak dari Batsyeba itu, Daud tetap melihat dan mengagumi besarnya kasih setia Allah yang rela mengampuni dosanya yang begitu besar (Mazmur 32:5). Meskipun dosa Daud begitu besar yaitu sampai membunuh Uria (padahal dalam Kejadian 9:6, Tuhan akan menghukum mereka yang membunuh dengan mengambil nyawa orang yang membunuh itu sendiri), Allah tetap mengasihinya dengan mengampuni pemberontakannya dan memaafkan atau menutupi dosanya. Allah menutupi dosa jangan dimengerti seperti orang-orang dunia yang sengaja menutupi dosa untuk menonjolkan diri ! Allah adalah Allah yang Mahakudus yang membenci dosa, tetapi Ia tetap mengasihi mereka yang berdosa. Sehingga kata “ditutupi” lebih tepat diartikan dilindungi. Dilindungi atau ditutupi oleh apa ? Sebuah tafsiran yang bagus dari Matthew Henry dalam Matthew Henry’s Concise Commentary (MHCC) mengatakan, “Sin is the cause of our misery; but the true believer's transgressions of the Divine law are all forgiven, being covered with the atonement.” (=Dosa adalah penyebab kesengsaraan ; tetapi semua pelanggaran orang-orang yang percaya terhadap hukum Allah diampuni, dan ditutupi/dilindugi dengan penebusan.) Berarti, dosa umat pilihan-Nya bukan hanya diampuni tetapi ditebus oleh darah Anak Domba Allah di dalam Kristus, sehingga kita mendapatkan pemulihan dari dosa-dosa kita. Bagaimana dengan kita ? Mungkin kita sudah melakukan suatu pemberontakan terhadap perintah Allah, bahkan kita mungkin sempat menghina Allah atau menjual Kristus dengan meninggalkan keKristenan. Mungkin kita melakukannya secara sadar atau tidak tanpa perasaan apapun. Kita mungkin merasa dosa yang kita lakukan begitu besar dan layak untuk dihukum. Tetapi ketahuilah, ada satu berita sukacita bagi kaum pilihan yang percaya, yaitu “...Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18) Pertobatan adalah kunci menuju ke arah pemulihan dosa. Pertobatan ini pun adalah inisiatif anugerah Allah yang menggerakkan umat pilihan-Nya untuk menyesali dosa, meninggalkan dosa dan kembali kepada Kristus dengan percaya di dalam-Nya. Tanpa pertobatan, tak mungkin ada kesadaran pentingnya penebusan dosa. Ketika kita mengaku dosa dan bertobat, di situ kita mulai mengerti bahwa dosa kita yang begitu bejat dan jahat ini masih diampuni oleh Allah yang sudah seharusnya menghukum kita. Oleh karenanya, ketika Tuhan masih mengingatkan kita untuk bertobat, taatilah teguran-Nya dan segera kembali kepada-Nya, karena teguran-Nya itu bukti kasih-Nya yang mau mengampuni kita.
Kedua, dosa kita tidak diperhitungkan oleh Tuhan. Pada ayat 2 dalam Mazmur ini, kata “kesalahan” dalam bahasa Ibraninya ‛âvôn berarti dosa (sin) atau perbuatan asusila (iniquity). Dalam terjemahan KJV, kata “kesalahan” memakai kata iniquity, sedangkan dalam kutipan Paulus di Roma 4:8, katanya diganti menjadi sin. Lebih tepatnya, Pdt. Dr. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, Keadilan dan Penghakiman (1993) memaparkan kata ‛âvôn berarti suatu hal yang mengakibatkan kita merasa bersalah/berhutang dan ingin menghukum diri. (p. 46) Hal ini mungkin kita alami. Ketika kita sudah merasa bersalah, kita ingin rasanya menghukum diri sebagai wujud “kekesalan” kita. Mungkin sekali, sesuai konteksnya, Daud juga merasa hal serupa, di mana dia menyesal karena dia telah membunuh Uria dan mengambil istri Uria.Kita memperhitungkan kesalahan kita sendiri, tetapi tidak demikian dengan Allah ketika kita mau bertobat. Pertobatan merupakan kunci mengenal kasih Allah. Menurut terjemahan KJV, ayat ini dapat diartikan bahwa adalah sangat diberkati ketika Tuhan tidak mengimputasikan dosa/perasaan bersalah kepada seseorang dan yang tidak berjiwa pengkhianat/penipu. Bukan hanya mengampuni, Allah juga sanggup tidak memperhitungkan lagi kesalahan/dosa yang telah kita perbuat. Di tengah kesusahan, pemazmur berseru, “Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?” (Mazmur 130:3) Dan selanjutnya, “Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.” Di sini, pemazmur menggambarkan Tuhan bukan hanya mengampuni mereka yang berdosa, tetapi juga memimpin mereka untuk merindukan firman-Nya. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Hal serupa diungkapkan oleh Yohanes di dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Menyucikan kita yang berdosa dari segala kejahatan adalah wujud lain dari tindakan Allah yang tidak memperhitungkan kesalahan kita. Dengan apa Allah menyucikan kita ? Yaitu dengan Firman dan Roh, di mana Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita serta menundukkannya di bawah Firman Allah, yaitu Alkitab. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang Kristen yang sudah menerima penebusan Kristus yaitu berusaha terus-menerus oleh pekerjaan Roh Kudus hidup kudus dan menaati Firman Allah untuk memuliakan-Nya. Ketika kita sudah menunaikan apa yang telah kita kerjakan sesuai kehendak Allah, maka arti dari dibenarkan melalui iman dapat kita mengerti seutuhnya kelak di dalam kekekalan sehingga kita semakin bersyukur atas anugerah-Nya.

Hari ini, tidak ada kabar yang membuat manusia berdosa bersukacita kecuali kabar bahwa dosa mereka diampuni dan mereka dibenarkan oleh Allah dengan cara disucikan dari dosa dengan Firman dan Roh. Adakah kabar itu juga tiba pada diri Anda sekarang dan Anda meresponinya ? Biarlah Roh Kudus bekerja di dalam hati kita. Amin. Soli Deo Gloria.


No comments: