26 August 2008

Penginjilan kepada Roh-roh di dalam Penjara Menurut 1Ptr. 3:19 (Marthinus Yaroseray, Th.M.)

Penginjilan kepada Roh-roh di dalam Penjara
Menurut 1Ptr. 3:19*


oleh: Marthinus Yaroseray, Th.M.


Pertanyaan
Apakah maksudnya “Ia [yaitu Yesus Kristus–1Ptr. 3:18] pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara” dalam 1Ptr. 3:19?[1] Untuk menjawab pertanyaan ini, maka beberapa subpertanyaan dalam klausa ini perlu dimengerti terlebih dahulu. Pertama, kapankah pemberitaan oleh Tuhan Yesus itu terjadi? Apakah pada waktu Nuh di zaman Perjanjian Lama (bdk. ay. 20)? Atau pada saat Tuhan Yesus mati-sementara Ia tergantung di kayu salib, atau sementara di dalam kubur? Atau di antara saat kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga (bdk. ay. 18)? Ataukah sementara Ia naik ke sorga?

Kedua, apakah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu memang merupakan pemberitaan Injil-sebagaimana dipahami dalam Alkitab Terjemahan Baru (TB) dan TB 2? Ataukah Tuhan Yesus (hanya) menyatakan proklamasi, pengumuman, atau deklarasi atas karya keselamatan yang diraih-Nya, khususnya melalui kemenangan-Nya dari kubur dan maut?–sebagaimana dipahami dalam beberapa terjemahan lain seperti New American Standard Bible Updated (NASU) yang menerjemahkan ‘pemberitaan Injil’ dalam ay. 19 [Yunani: ekēruksen] sebagai made proclamation; New Revised Standard Version (NRSV): made a proclamation; atau New English Bible (NEB): (he went and) made his proclamation.

Ketiga, apakah atau siapakah “roh-roh” di dalam penjara yang kepadanya Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil, atau seperti kecenderungan pemahaman modern, memproklamasikan kemenangan-Nya?[2] Apakah roh-roh ini ialah arwah-arwah atau roh-roh manusia atau makhluk-makhluk tak berjasad atau tak berdaging tak bertulang? Kalau roh-roh dalam teks ini berarti roh, arwah, atau makhluk (being) tak berjasad, apakah itu berarti Tuhan Yesus pergi memberitakan Injil kepada roh-roh manusia yang terpisah dari jasad ragawi? Kalau “Ya,” roh-roh siapakah itu? Apakah roh-roh dari orang-orang yang sudah mati, khususnya arwah-arwah dari zaman Nuh? Ataukah bahwa roh-roh yang dimaksudkan di sini ialah malaikat-malaikat? Jika Yesus pergi memberitakan Injil kepada malaikat, apakah malaikat, khususnya malaikat pemberontak, bisa bertobat? Apakah surat Petrus berbicara tentang adanya keselamatan bagi malaikat?

Keempat, apakah makna penjara dalam frasa “roh-roh yang di dalam penjara”? Apakah penjara yang surat Petrus atau Petrus[3] maksudkan ialah tempat dalam arti literal, yaitu lokasi pengurungan atau penahanan sesuatu atau seseorang (biasanya orang hukuman atau orang yang divonis bersalah)? Kalau demikian, apakah pemberitaan Injil oleh Tuhan Yesus itu dilakukan kepada roh-roh dalam suatu lokasi kurungan fisik tertentu? Di manakah lokasi penjara itu, dan bagaimanakah kondisinya, atau kondisi “roh-roh” di dalamnya?[4]


Jawaban Umum
Jawaban umum tentang makna pemberitaan Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara (1Ptr. 3:19) terdapat dalam buku atau referensi seperti Ensiklopedi Alkitab Masa Kini[5] atau New Bible Dictionary;[6] Hard Sayings of the Bible;[7] atau dalam “Alkitab Penuntun” atau “Study Bible.” The NIV Study Bible mengemukakan tiga kemungkinan interpretasi terhadap persoalan pemberitaan Tuhan Yesus kepada roh-roh di dalam penjara dalam 1Ptr. 3:19-20a.[8] Pandangan atau interpretasi pertama mengatakan bahwa Tuhan Yesus, sebelum berinkarnasi, pergi memberitakan (Injil) melalui Nuh kepada generasi yang jahat pada zaman Nuh. Pandangan pertama ini mengabaikan faktor kematian dan kebangkitan Yesus, sebagaimana dituntut oleh konteks 1Ptr. 3. Inilah kelemahan dari pandangan pertama.

Menurut pandangan kedua, dalam masa selang di antara kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus pergi ke penjara di mana malaikat-malaikat pemberontak dikurung dan menyampaikan berita (mungkin deklarasi kemenangan Tuhan Yesus) kepada malaikat-malaikat itu yang telah jatuh dan kawin dengan anak-anak perempuan manusia pada zaman Nuh (bdk. Kej. 6:1-4; 2Ptr. 2:4; Yud. 6). Kelemahan utama dari pandangan ini ialah pendapat tentang adanya hubungan seks antara malaikat (yang berkeadaan ‘roh’) dengan manusia (perempuan).

Pandangan ketiga mengatakan bahwa di antara kematian dan kebangkitan-Nya Tuhan Yesus pergi ke dunia orang mati dan menyampaikan berita (mungkin berita Injil, atau mungkin berita kemenangan Tuhan Yesus serta hukuman bagi para pendengar-Nya), kepada roh-roh dari orang-orang jahat pada zaman Nuh. Kelemahan utama dari pandangan ketiga ialah bahwa istilah “roh-roh” – menurut NIV Study Bible – hanya dipakai oleh Alkitab untuk merujuk kepada makhluk-makhluk supranatural (kecuali jika istilah “roh” itu disertai keterangan tambahan).

Jawaban umum dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini atau New Bible Dictionary dapat diklasifikasi ke dalam dua golongan besar. Pertama, pendapat para bapa gereja, dan kedua, pendapat para sarjana modern. Bapa-bapa gereja (patristic exegesis) berpendapat bahwa “mereka yang dahulu … tidak taat” adalah khas contoh orang-orang berdosa dari zaman Nuh yang tidak berkesempatan mendengar Injil-dan tidak bertobat-sebelum inkarnasi TuhanYesus. Kesempatan untuk mendengar Injil tiba ketika dalam interval waktu di antara kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus pergi ke penjara, atau, menurut terjemahan Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, “turun ke dunia orang mati dan menjanjikan keselamatan kepada mereka.” Secara khusus, pendapat seperti ini berkembang di Gereja Timur.

Pendapat modern memahami pemberitaan oleh Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara sebagai proklamasi atau pengumuman Tuhan Yesus tentang kemenangan-Nya di salib.[9] Proklamasi ini terjadi setelah penderitaan Yesus, khususnya pada saat kenaikan-Nya ke sorga (dengan atau tanpa menawarkan keselamatan), kepada malaikat-malaikat yang jatuh/berdosa. Yang biasanya dirujuk sebagai referensi pendukung terhadap pandangan ini ialah 2Ptr. 2:4, 5 (Allah menyerahkan malaikat-malaikat yang berdosa ke dalam neraka dan gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman), dan Yudas 6 (Tuhan menahan malaikat-malaikat yang tidak taat dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar).


Jawaban Alternatif
Tulisan ini akan mengemukakan bahwa pemberitaan Injil–bukan deklarasi kemenangan–dilakukan oleh Tuhan Yesus melalui Roh-Nya di dalam diri dan melalui pelayanan para nabi Perjanjian Lama (1Ptr. 1:11). Pemberitaan ini ditujukan kepada
“roh-roh” di dalam penjara, yaitu kepada
“mereka [yaitu orang-orang] yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat” (ay. 20).

Tafsiran alternatif ini memandang kata “roh-roh” dalam 1Ptr. 3:20 dalam Alkitab Terjemahan Baru (1 dan 2) sebagai terjemahan berlebihan yang tidak perlu.[10] Dalam teks Yunani, kata benda “roh-roh” (Yun: pneumasin) hanya ada dalam ay. 19 dan tidak ada dalam ay. 20. Bentuk datif ‘participle’ apeithēsasin dalam ay. 20 memang merujuk kepada pneumasin dalam ay. 19,[11] namun ‘pneumasin’ dalam ay. 20 tidak secara otomatis berarti roh-roh manusia, atau “roh-roh mereka” seperti dalam Alkitab TB. Petrus memakai kata yang berasal dari kata dasar apeitheō juga dalam 2:8; 3:1 dan 4:17, dan semuanya merujuk kepada orang, dan bukan roh atau arwah, atau malaikat, yang tidak taat.

Kekayaan bahasa metaforis 1Ptr. (dan 2Ptr. ),[12] pemahaman tentang ketegasan modus pandang (worldview) Petrus serta ajarannya[13] menuntut bahwa kata “roh-roh” yang dimaksudkannya bukan berarti roh-roh manusia, melainkan manusia, yaitu orang-orang. Oleh karena itu, maka Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru dengan tepat menerjemahkan apeithēsasin sebagai orang-orang yang tidak taat, dan bukan roh-roh dari orang-orang yang tidak taat.[14] Pemahaman terhadap ketegasan ajaran Petrus, baik di surat Petrus maupun di Kisah Para Rasul[15] memustahilkan pelayanan pemberitaan Injil kepada roh-roh manusia dalam arti roh atau sosok tak berdaging tak bertulang, atau kepada arwah-arwah, atau kepada malaikat-malaikat.

Selain Petrus, istilah pneuma (roh) dalam arti manusia atau ‘orang-orang’ dipakai juga beberapa kali oleh rasul Paulus. Paulus dapat memakai kata pneuma dalam arti psuchē (‘jiwa’; Flp. 1:27), atau sarks (tubuh); atau bahkan manusia secara keseluruhan (2Kor. 2:13; 7:5).[16] Doa Paulus pada bagian penutup dari beberapa suratnya yang menyatakan agar Tuhan Yesus atau kasih karunia-Nya menyertai roh para penerima suratnya (Flp. 4:23; 2Tim. 4:22; Gal. 6:18) berarti bahwa Paulus berdoa agar Tuhan Yesus atau Roh Allah menyertai para penerima suratnya (dan bukan semata menyertai ‘roh’ mereka dalam kondisi terpisah dari tubuh jasmani). Pemakaian kata “roh” dalam arti “kamu” yaitu orang-orang yang menerima surat Paulus mungkin paling jelas terdapat dalam 2Tim. 4:22 (di mana “rohmu” sejajar maknanya dengan “kamu”):
Tuhan menyertai rohmu.
Kasih karunia-Nya menyertai kamu!

Serupa dengan masyarakat modern, termasuk masyarakat Kristen, yang seringkali merujuk manusia dengan istilah ‘jiwa,’[17] Petrus juga memakai psuchē dalam arti orang atau manusia. Delapan kali kata psuchē yang dipakai Petrus selalu merujuk kepada orang.[18] Kata ini dapat diterjemahkan “jiwa” (1:9; 2:25; 4:19), atau “diri” (1:22) dalam arti “orang” (3:20; 2Ptr. 2:14). Petrus tidak memakai psuchē dalam arti jiwa atau roh dalam keterpisahan dari tubuh jasmani. Kata “orang” dalam frasa “delapan orang” yang diselamatkan dari bencana air bah dalam 3:20 berasal dari kata psuchē. Dengan demikian maka berdasarkan pertimbangan terhadap konteks bahasan dan gaya penulisan Petrus (dalam 1Ptr. 3:18-4:6), dapat disimpulkan bahwa psuchē yang diterjemahkan sebagai “orang” dalam 3:20 berfungsi paralel (interchangeable) dengan pneuma dalam 3:19 dan (apeithēsasin) dalam ay. 20, yaitu “orang-orang” yang tidak taat.[19]

Bagi orang-orang yg tidak benar ini Kristus yang benar telah mati (18)
Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh di dalam penjara (19)
Yaitu mereka yg dahulu tidak taat, di mana hanya delapan orang diselamatkan (20)

Selanjutnya pendapat alternatif ini memahami “penjara” (dalam frasa “roh-roh yang di dalam penjara”), bukan dalam arti literal lokasi pengurungan atau penahanan, melainkan sebagai metafora tentang kondisi keterikatan dan kebinasaan dalam dosa dan hawa nafsu.[20] Kondisi ini dilukiskan oleh Petrus sebagai hidup dalam kesia-siaan (1:18), jatuh tersandung (2:8), berada dalam kegelapan (2:9; 2Ptr. 1:19; 2:17), hidup dalam kedagingan yang berperang melawan jiwa (1:11), kondisi kepicikan dalam kebodohan (1:15) dan kebutaan (2Ptr. 1:9), terseret dalam kesesatan (2:25; 2Ptr. 2:18; 3:17) dan kecemaran dunia (2Ptr. 1:20), tercelumpung dalam kubangan ketidaksenonohan (4:4), serta terikat dalam hawa nafsu yang menghukum dan membinasakan (2Ptr. 1:4; 2:3). Kepada “roh-roh” yang menjadi “slaves of corruption”[21] (budak-budak dalam proses pembusukan) inilah Yesus Kristus, melalui nabi Nuh, pergi memberitakan Injil dengan tujuan untuk memberi kebebasan (1:18; 2Ptr. 2:1), kelepasan (2Ptr. 1:18, 20) atau keluputan (2Ptr. 1:4).

Seperti halnya Tuhan Yesus post-existent,[22] melalui pelayanan rasul Petrus (dan para rasul sezamannya) memberitakan Injil dan membawa para penerima Injil, khususnya yang tersebar di daerah Asia Kecil (1:1), kepada Allah (3:18), maka demikian juga Yesus pre-existent, melalui Nuh dan pelayanannya, memberitakan Injil kepada orang-orang berdosa pada zaman Nuh (dan pada zaman Perjanjian Lama pada umumnya, secara umum lewat nabi-nabi Perjanjian Lama; bdk. 1:11) dan berusaha membawa mereka kepada Allah (3:19, 20).


Petrus Tidak Mengajarkan Pekabaran Injil Kepada Roh Orang Mati
Pendapat atau tafsiran alternatif di atas berimplikasi tegas setidaknya terhadap tiga hal. Pertama, bahwa kesaksian dan pekabaran Injil kepada manusia hanya dapat dilakukan kepada manusia dalam kesatuan tubuh-jiwa atau kesatuan tubuh-jiwa roh. Petrus tidak mengajarkan adanya pekabaran Injil terhadap roh-roh dalam keberadaannya yang terpisah dari kesatuan jasad ragawi. Karena penginjilan hanya dilakukan kepada manusia dalam kesatuan/kesadaran tubuh-jiwa-roh, maka tidak ada penginjilan kepada roh atau arwah manusia yang meninggalkan jasad ragawi setelah meninggal dunia. Dengan demikian, maka surat Petrus, seperti halnya bagian-bagian Alkitab yang lain, menunjukkan sikap yang jelas dan tegas terhadap nasib orang yang tidak percaya. Orang yang mati dalam keadaan belum percaya akan menghadapi penghakiman dan kebinasaan kekal.[23]

Implikasi turunan dari poin pertama ialah bahwa penginjilan hanya dilakukan kepada manusia sementara mereka masih hidup. Tidak ada data Alkitab yang menunjukkan penginjilan kepada roh-roh halus atau kepada arwah-arwah, atau kepada malaikai-malaikat. Surat Petrus menyatakan sikap Allah yang tegas terhadap manusia-manusia berdosa dan malaikat-malaikat pemberontak. Allah melemparkan malaikat-malaikat pemberontak ke dalam neraka (2Ptr. 2:4).[24] Sikap Allah kepada orang-orang yang tidak mau bertobat atau nasib dari “roh-roh” atau arwah-arwah orang mati pun jelas dalam surat Petrus. Kesempatan bagi manusia untuk percaya hanya ada sementara mereka masih hidup (1Ptr. 2:6-8). Penghakiman oleh Allah terjadi “tanpa memandang muka” kepada “semua orang” (1:17). “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” (4:18). Dengan pengajaran palsu, maka nabi-nabi dan guru-guru palsu “segera mendatangkan kebinasaan” atas dirinya (2Ptr. 2:1, 3). Tuhan menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman (2Ptr. 2:9); mereka sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan (ay. 12); mereka akan mengalami “nasib yang buruk” (ay. 13); bagi mereka “telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling gelap” (ay. 17). Pemusnahan dan pembinasaan dengan api yang Allah lakukan terhadap Sodom dan Gomora yang tidak bertobat bahkan dipakai oleh Petrus untuk menyatakan peringatan dari Allah “kepada mereka yang hidup fasik di kemudian hari” (ay. 7).


Tuhan Yesus Memberitakan Injil Melalui Orang Percaya
Implikasi kedua dari jawaban alternatif: Allah dan Tuhan Yesus sendiri terus bekerja, baik dalam zaman Perjanjian Lama maupun dalam zaman Perjanjian Baru untuk membawa manusia kepada diri-Nya sendiri.[25] Inilah sebabnya orang bisa bertobat lewat penampakan Tuhan Yesus melalui mimpi atau melalui tanda khusus. Walaupun Allah dalam Tuhan Yesus berintervensi langsung dalam kasus-kasus tertentu, namun secara normatif Allah dan Tuhan Yesus bekerja menginjili dunia dan manusia di dalam dan melalui orang-orang yang sudah percaya; secara khusus melalui pemberitaan Injil secara verbal.

Pemberitaan Injil melalui kesaksian verbal sering dianggap sebagai tugas yang hanya penuh dengan risiko. Oleh karena itu, orang percaya kadang-kadang merasa cukup bersaksi melalui pola hidup yang baik saja. Bagi Petrus dan para penerima suratnya, pemberitaan Injil memang perlu didukung oleh pola hidup baik (bdk. 3:1, 15b), namun mereka juga perlu “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang” yang meminta pertanggungan jawab atau kesaksian iman mereka.

Surat Petrus ditulis oleh Petrus yang pernah mengalami penjara (Kis 4:1, 3; 5:18), ancaman, intimidasi (4:7, 17, 18; 5:18, 27-28), hingga nyaris mengalami eksekusi (12:4). Dan ia menujukan suratnya kepada jemaat-jemaat yang sedang mengalami ujian dan penderitaan karena iman. Yohanes, teman Petrus dalam kelompok dua belas murid Yesus yang pernah bersama-sama mengalami penjara, ancaman dan intimidasi, secara eksplisit menyatakan bahwa ia aktif bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus supaya “sukacita kami menjadi sempurna” (1Yoh. 1:4). Sukacita seperti ini telah dialami sebelumnya oleh Yohanes, bersama Petrus, di tengah intimidasi dan aniaya (Kis. 5:40, 41). Kesaksian dan pekabaran Injil secara verbal oleh orang percaya bukan hanya mengandung risiko menimbulkan perlawanan dari Musuh dan musuh-musuh Yesus, melainkan juga menjadi sarana atau kesempatan bagi orang percaya untuk mengalami sukacita surgawi. Petrus percaya bahwa kesulitan dan penganiayaan yang dialami oleh karena pemberitaan Injil bukanlah penghambat sukacita dan kebahagiaan hidup. Pemberitaan Injil, bagi mereka yang telah mengalami sukacita Injil, adalah dinamika hidup, sekalipun di tengah penderitaan dan penganiayaan.

Alkitab lebih cenderung menampilkan pekabaran Injil sebagai dampak atau luapan wajar dari keselamatan yang dialami oleh manusia, dan bukan terutama sebagai ‘tugas’, atau ‘kewajiban.’ Orang yang mengalami dinamika keselamatan lewat kehadiran Roh Allah di dalam hidupnya ‘menginginkan’ agar orang lain turut mengalami dinamika keselamatan surgawi. Seperti yang dialami oleh Petrus dan Yohanes, maka sukacita orang percaya sendiri semakin sempurna melalui pekabaran Injil. Oleh karena itu, kesempatan ber-pekabaran Injil lebih merupakan privilese yang menambah sukacita alih-alih perintah yang menjadi beban.[26] Privilese untuk mengalami kuasa Allah, privilese untuk semakin menampilkan keunggulan nilai-nilai surgawi yang abadi, serta privilese untuk mengukuhkan eksistensi sebagai wakil dan umat Allah di dunia berdosa.[27]
Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat
baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan
berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan
janganlah gentar. Saudara-saudara … janganlah kamu heran akan nyala api
siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar
biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah … Berbahagialah kamu, jika
kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada
padamu (3:13, 14; 4:12-14).


Sentralitas Kematian-Kebangkitan Tuhan Yesus
Implikasi ketiga, sentralitas dan finalitas kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus sebagai kunci untuk memahami soal keselamatan manusia di dalam Alkitab. Tafisran-tafsiran umum mengalami kesulitan memahami 1Ptr. 3:19, 20 oleh karena tafsiran-tafsiran tsb. melepaskan 1Ptr. 3:19, 20 dari konteks kalimat yang dimulai dari ayat 18-sehingga kehilangan perspektif salib untuk memahami ayat 19, 20. Menurut ayat 18, Tuhan Yesus mati sekali untuk segala macam dosa dari segala jenis manusia dari segala zaman. Artinya, kematian-kebangkitan Tuhan Yesus Kristus di bukit Golgota tahun 30 Masehi berlaku efektif, tidak hanya bagi manusia sezaman Tuhan Yesus, melainkan juga bagi manusia-manusia lain, baik yang hidup di zaman pra-inkarnasi Yesus maupun di zaman pascakematian-kebangkitan-Nya. Tuhan Yesus mati-bangkit bagi segala jenis dosa dari semua manusia dari segala zaman. Perbedaannya hanya bahwa mereka yang hidup sebelum Yesus mati-bangkit harus percaya kepada keselamatan yang akan tersedia (melalui kematian-kebangkitan-Nya), sedangkan manusia yang hidup di zaman setelah Yesus mati-bangkit harus percaya kepada keselamatan yang telah tersedia itu (melalui kematian-kebangkitan-Nya).




< ![endif]-->
< ![endif]-->

Dalam Alkitab TB, pengabaian hubungan antara ayat 18 dengan ayat 19-20 semakin diperkuat oleh penyisipan kata “kita” dalam klausa “Kristus telah mati untuk segala dosa kita.” Dari ribuan naskah Yunani, kata “kita” dalam frasa “segala dosa kita” hanya didukung oleh 326c.[28] Sebagai Anak Domba yang “telah dipilih sebelum dunia dijadikan” (1:20), Yesus tidak hanya mati untuk dosa-dosa “kita” dalam arti dosa Petrus dan dosa para penerima suratnya di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia (1:1). Dapat saja dengan penambahan kata “kita,” Alkitab TB maksudkan bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa ‘segala manusia’ (dari segala zaman: baik Petrus dan para penerima suratnya serta orang-orang dari zaman Perjanjian Lama). Namun dengan tidak dipakainya kata “kita” dalam teks Yunani, maka kemungkinan besar Petrus tidak bermaksud memberi penekanan pada manusia-nya (yang berdosa), melainkan pada segala dosa (dosa manusianya). Memang Yesus mati bagi manusia, namun Ia mati bagi manusia dalam-dosa: manusia berlumuran dosa.[29]

Kemungkinan penekanan manusia-dalam-dosa oleh Petrus terlihat melalui dua hal. Pertama, Petrus tidak memakai kata “kita” sehingga lebih menonjolkan kata “dosa” sebagai alasan kematian Yesus. Kedua, penonjolan ini diperkuat dengan bentuk genitif jamak “dosa-dosa” (hamartiōn).[30] Dalam kedua suratnya, Petrus berbicara tentang “dosa-dosa” manusia, atau manusia-dalam-dosa, daripada tentang manusianya per se. Dengan mengubah bentuk kuantitatif “dosa-dosa” menjadi bentuk kualitatif segala dosa, maka Alkitab TB (dan NEB) mengubah penekanan Petrus kepada dosa dalam arti berdosa-dosa dalam lumuran dan kubangan dosa (yang kotor, menyiksa-memenjarakan, dan yang akan berakhir dengan penghakiman) kepada dosa dalam arti generik (status umum dosa).


Kekeliruan Eksegesis-Hermenetik Terhadap 1Ptr. 3:19
Teks 1Ptr. 3:19, bahkan 1Ptr. 3:18-4:6, sering dipandang sebagai teks yang mengandung beberapa pertanyaan eksegesis-theologis yang sulit.[31] Namun kesulitan ini tampaknya disebabkan, atau semakin diperberat, bukan oleh Petrus, melainkan oleh penafsiran dengan pendekatan eksegesis dan metode hermenetika yang keliru.

Alih-alih menggumuli maksud Petrus (maksud penulis kitab atau maksud penulis dari bagian teks yang ditafsirkan) dalam konteks surat dan konteks ajaran Petrus sendiri,[32] tafsiran umum terhadap 1Ptr. 3:19 terjebak dalam kesalahan ganda exegetical fallacies. Yaitu kesalahan word-study fallacy (salah paham terhadap makna kata) dan logical fallacy (kesalahan logika).[33] Khususnya campuran antara kesalahan anakronisme semantik (semantic anachronism),[34] kesalahan pembatasan makna kata,[35] pengacauan hubungan antara makna (sense) dengan reference,[36] serta kekacauan world-view (kesalahan karena perbedaan modus-pandang [antara penulis-pembaca semula dari surat Petrus dengan pembaca atau penafsir non-Petrus]).

Oleh karena dalam dunia pembaca-penafsir non-Petrus non-abad pertama kata atau istilah “roh” bermakna sesuatu atau sesosok tak berjasad, dan “penjara” berarti tempat kurungan atau penahanan fisik, maka otomatis kata “roh” dan “penjara” yang dipakai Petrus pun ‘harus’ semakna dengan konsep kata tsb. sebagaimana dipakai dan dipahami oleh pembaca-penafsir non-Petrus non-abad pertama Masehi. Untuk memahami berita di sebuah harian nasional bahwa “Burung Merak Akan Baca Puisi”, maka pembaca harian tsb. perlu mengerti bahwa “Burung Merak” dalam dunia puisi Indonesia tidak berhubungan (langsung secara literal) dengan burung merak (pavo muticus) dalam dunia fauna. Burung Merak yang membaca puisi di Jakarta pada hari Kamis tanggal 4 Maret 2004 ialah budayawan dan penyair W. S. Rendara[37] dan bukan seekor burung yang kepalanya kecil, leher dan kakinya panjang, sayapnya pendek, yang bulunya indah dihiasi dengan lingkaran-lingkaran hijau biru dan bila dibentangkan menyerupai bentuk kipas setengah lingkaran. Yang menentukan makna kata dalam sebuah wacana, bukanlah terutama kamus kontemporer penafsir, melainkan konteks wacana sebagaimana dimaksudkan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam wacana bersangkutan. “Darah dan daging perkara” yang, menurut artikel Satjipto Rahardjo di harian Kompas, tidak diperhitungkan dalam putusan kasasi kasus Akbar Tanjung, tidak berhubungan dengan darah dan daging yang mengalir di dalam tubuh makhluk atau manusia, melainkan dengan esensi hukum, yaitu rasa keadilan, yang tidak hanya menjadi urusan legal-positivistik atau yuridis-formal saat putusan dijatuhkan oleh para penegak hukum.[38] “Darah dan daging”-nya Prof. Satjipto Rahardjo mempunyai makna yang sama dengan makna kata “roh” atau “ruh” seperti yang dipakai oleh Muhammad Mihradi yang berbicara tentang ‘roh’ atau “ruh” dari konstitusi (dalam harian yang sama)[39] atau oleh orang lain yang berbicara, katakanlah, tentang roh sepakbola atau roh pendidikan, atau roh apa saja yang lain.

Kekeliruan metodologis dalam tafsiran terhadap 1Ptr. 3:19 terlihat paling mencolok dalam rujukan kepada surat non-Petrus, pada umumnya kepada surat Yudas (ay. 6) dan surat-surat Paulus (2 Korintus 2:14; Efesus 6:11-12; Kolose 2:15).[40] Hermenetika atau eksegesis yang menggumuli maksud penulis harus pertama-tama menelusuri makna teks dalam konteks tulisan atau ajaran penulis sendiri (yang teks atau tulisannya sedang ditafsirkan), sebelum membandingkan hasil tafsiran tsb. dengan makna, maksud atau ajaran penulis lain.[41] Di sinilah letak kekeliruan prosedur eksegesis yang menimbulkan kesulitan yang tidak perlu dalam memahami makna pemberitaan Injil oleh Yesus kepada roh-roh di dalam penjara dalam 1Ptr. 3- penafsir mencari jawab dari Petrus, namun yang ditanyai malah Yudas atau Paulus!


Perbedaan Makna Kērussō dalam 1Ptr. 3:19 Dengan Euanggelizō dalam 4:6?
Kekeliruan pendekatan eksegesis-hermenetik terhadap istilah “roh” dan “penjara” dalam 1Ptr. 3:19 berdampak pada pembedaan makna kata kērussō (3:19) dengan kata euanggelizō (4:6).[42] Kērussō dalam 3:19 diartikan sebagai “proklamasi” yang berbeda maknanya dengan euanggelizō yaitu “pekabaran Injil” dalam 4:6. Dengan demikian maka yang diberitakan oleh Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara (3:19) bukanlah kabar Injil (yang bertujuan penawaran keselamatan), melainkan proklamasi kemenangan (yang tak berisi penawaran keselamatan).

Akan tetapi pembedaan makna kērussō (3:19) dengan euanggelizō (4:6) dapat dilakukan dengan mengabaikan beberapa hal yang penting dalam menentukan makna suatu kata atau maksud suatu wacana. Secara khusus dalam upaya memahami maksud Petrus, pembedaan makna kata kērussō dengan euanggelizō dalam 1Ptr. 3 dan 4 mengabaikan dua hal. Pertama, kesamaan substitusional (interchangeability) istilah kērussō dengan euanggelizō serta istilah lain sejenisnya dalam surat Petrus; bahkan mengabaikan seluruh Perjanjian Baru di mana kērussō bermakna “memberitakan Injil” (to preach the gospel), dan bukan menyatakan proklamasi (make a proclamation) sebagaimana pemakaian atau makna kērussō dalam literatur sekuler.[43]

Interchangeabilitas antara kērussō dan euanggelizō dengan kata-kata lain yang sejenis maknanya (yaitu pemberitaan Firman Allah, penyampaikan kehendak Allah atau pemberitaan pekabaran Injil) telah dimulai dari pasal satu surat 1 Petrus. Berita atau ‘karya’ nubuat (prophēteuō) dari para nabi (yang menggumuli dan bersaksi tentang “segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu”) dalam 1:10 dirujuk dalam ay. 12 sebagai pemberitaan (ananggellō) atau penyampaikan berita Injil (euanggelizō). Tindakan bernubuat, pemberitaan atau penyampaian berita Injil oleh para nabi ini dirujuk dalam 2Ptr. 1:21 sebagai suatu ‘pembicaraan’–oleh dorongan Roh Kudus orang-orang “berbicara” atas nama Allah.

Dalam modus pandang (worldview) Petrus, Allah memang dapat berbicara secara langsung (hingga suara-Nya audibel oleh telinga jasmani manusia).[44] Namun Petrus juga percaya bahwa Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus bekerja di dalam dan melalui orang-orang percaya. Oleh karena itu maka ia percaya bahwa sebagaimana Allah berbicara melalui nabi-nabi Perjanjian Lama, Ia juga berbicara dan bekerja melalui para rasul dan orang-orang percaya di zaman Perjanjian Baru.[45] Dengan keyakinan inilah Petrus menulis dan memberi nasihat kepada para penerima suratnya di wilayah laut Hitam di sekitar tahun 60-an Masehi:

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah [yaitu ucapan-ucapan yang berasal dari Allah]; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus (4:9-11).

Dalam suratnya yang kedua, Petrus merujuk kepada rasul Paulus sebagai orang yang melaluinya Allah juga “berbicara” (laleō), sebagaimana Allah telah berbicara kepada nabi-nabi Perjanjian Lama. Petrus sedemikian mempercayai kenyataan ini sehingga “semua surat” Paulus pun diyakininya mengandung bobot dan wibawa setara dengan tulisan atau nubuat-nubuat Alkitab Firman Allah saat itu, yaitu Perjanjian Lama (2Ptr. 3:15, 16).

Bahwa verba kērussō dalam 3:19 bermakna pemberitaan Injil yang menawarkan keselamatan, dan bukan sekedar proklamasi yang belum tentu atau tidak menawarkan keselamatan kekal, diperkuat oleh sapaan terhadap Nuh dalam bentuk nomina kēruks (pemberita) kebenaran dalam 2Ptr. 2:5. Nuh sang kēruks adalah “pemberita” (TB 1 & 2) atau preacher[46]–yang secara spesifik memberitakan kebenaran Injil keselamatan seperti nabi-nabi Perjanjian Lama lainnya, dan bukan proklamator atau deklarator dalam arti umum.[47]

Kedua, pengabaian kepaduan konteks 1Ptr. 3:18 s/d. 4:6. Pembedaan kērussō (3:6) dengan euanggelizō (4:6) juga bertentangan dengan konteks ayat 19-22 (EDNT 2:291), bahkan dengan seluruh konteks 3:18-4:6. Dalam ayat 18, Petrus berbicara tentang orang percaya, kemudian dalam ayat 19 dan 20 ia mengontraskan orang-orang percaya tsb. dengan “mereka” yang tidak taat. Mereka yang percaya (sehingga mengalami kemerdekaan dari ‘penjara’ dosa lewat iman kepada Yesus) dibawa (oleh Yesus) kepada Allah; sedangkan mereka yang tidak taat (sehingga tetap dalam penjara dosa), tidak diselamatkan pada saat vonis dijatuhkan melalui air bah.

Kontras ini penting dalam surat Petrus, baik 1 Petrus maupun 2 Petrus, oleh karena tujuan penulisan dua kitab ini sama: memperingatkan para pembacanya (2Ptr. 3:1) untuk waspada dan tidak terjebak dalam ejekan dan penderitaan yang dialami oleh orang-orang beriman di tengah lingkungan yang tidak beriman (bdk. 1Ptr. 1:1-2; 2Ptr. 1:1-2). Peringatan ini dilakukan berkali-kali dengan memberi kontras antara keistimewaan penyelamatan oleh iman dalam Yesus Kristus dengan kesia-siaan hidup dalam kubangan dosa yang akan berakhir dalam penghakiman eskatologis.[48] Siapa pun mereka yang memfitnah orang percaya karena hidupnya yang benar di dalam Tuhan, akan “memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Maut dan kematian pun tidak meluputkan orang-orang fasik dan para pemfitnah dari tanggung jawab untuk berdiri di hadapan Sang Hakim, yang menghakimi dengan yang adil (1:17; 2:23). Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga dahulu (pada zaman Nuh, 3:19, 20) kepada orang-orang yang sekarang berkeadaan mati (4:5, 6).[49]


SINGKATAN ALKITAB
BIS: Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari
TB: Alkitab Terjemahan Baru
TB2: Alkitab Terjemahan Baru Revisi
NASU: New American Standard Bible Updated
NIV: Holy Bible: The New International Version
NJKV: Holy Bible: New King James Version
RSV: The Bible: Revised Standard Version
NRSV: The Bible: New Revised Standard Version
NEB: New English Bible


BIBLIOGRAFI
Barker, Kenneth (Ed). The NIV Study Bible. Grand Rapids: Zondervan, 1985.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1995.
Blum, Edwin A. 1 Peter. The Expositor’s Bible Commentary vol 12. Ed. Frank E. Gaebelein. Grand Rapids: Zondervan, 1981.
Carson, D. A. Exegetical Fallacies. Second Edition. Grand Rapids: Baker dan Carlisle, Cumbria: Paternoster, 1996.
Kaiser Jr., Walter C. et all. Hard Sayings of the Bible. Downers Grove: InterVarsity Press, 1996: 714-16.
Merk, O, “khrugma, khrux, khrussw.” Exegetical Dictionary of the New Testament. Vol 2. Balz, Horst and Gerhard Schneider, eds. Trans. Grand Rapids: Eerdmans, 1991.
Metzger, Bruce M. A Textual Commentary On the Greek New Testament. Second Edition. Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994.
Metzger, Bruce M. and Murphy (eds). The New Oxford Annotated Bible. New Revised Standard Version. New York: Oxford University Press, 1991, 1994.
Schweizer, E., pneuma dalam Kittlel, Gerhard dan Gerhard Friedrich (eds). Theological Dictionary of the New Testament VI: 398-455. Terj. Geoffrey W. Bromiley. Eerdmans: Grand Rapids, 1968.
Silva, Moises. Biblical Words and Their Meaning. Grand Rapids: Zondervan, 1983.
Smalley, S.S.,”Spirits in Prison,” dalam I.H. Marshall, et al, eds. New Bible Dictionary Third Edition. Leicester, England dan Downers Grove, Illinois: Inter-Varsity Press, 1996: 1129-30.
Sutanto, Hasan. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Pejanjian Baru (PBIK) Jilid I. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2003.
Zerwick, Max dan Mary Grosvenor. A Grammatical Analysis of the Greek New Testament. Roma: Pontificio Istituto Biblico, 1996.


________________________________________
*Bahan dasar artikel ini disampaikan di Warung Theologi GKI Cibunut (Jl. Van Deventer, Bandung) pada tanggal 7-3-2003; sebagian bahan ini diterbitkan dalam Lembar Bahasan Isu (No. 5 dan 7) Komisi Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Insani GPIB Imanuel Cimahi.



Catatan kaki

[1] 1Ptr. 3:19 Alkitab Terjemahan Baru (TB).
[2] Selain pernyataan proklamasi seperti dipahami dalam NASU, NRSV dan NEB, kecenderungan ini terlihat juga dalam terjemahan NIV (New International Version), RSV (Revised Standard Version) dan NJKV (New King James Version) yang menerjemahkan ekēruksen (hanya) sebagai preached (dan bukan misalnya secara spesifik preached the gospel: mengkhotbahkan/memberitakan Injil-seperti dalam Alkitab Terjemahan Baru-bagi pembaca non-Petrus non abad pertama Masehi).
[3] Selanjutnya surat Petrus dalam tulisan ini dirujuk sebagai “Petrus” saja.
[4] Empat subpertanyaan masih bisa dilanjutkan dengan pertanyaan tentang makna frasa “menurut Roh” (ayat 18). Apakah artinya Tuhan Yesus dibangkitkan “menurut Roh”? Apakah “menurut Roh” sebagaimana dipahami Alkitab TB, atau “secara rohani” (BIS), atau oleh Roh (by the Spirit: NIV, NKJV), atau di dalam roh (in the spirit: RSV, NASU)–dalam arti: secara rohani (bdk. BIS), dalam kontras terhadap kematian-Nya in the flesh “di dalam atau secara jasmani”? Tulisan ini tidak mungkin mengklaim pembahasan lengkap, apalagi exhaustive, terhadap semua persoalan eksegesis dalam 1Ptr. 3:19, 20. Yang diupayakan oleh tulisan ini ialah sebuah model pembahasan/eksegesis yang secara konsisten menggumuli maksud teks sesuai maksud penulis berdasarkan konteks dekat dari teks yang ditafsirkan dalam konteks kitab bersangkutan. Model ini diharapkan dapat mengurangi keraguan yang tidak perlu terhadap ajaran Alkitab, dan sebaliknya, meningkatkan keyakinan bahwa masing-masing kitab dalam Alkitab memadai untuk menolong pembaca/penafsir memahami maksud Allah sebagaimana telah disampaikan-Nya melalui penulis dari teks/kitab yang sedang dibaca/ditafsirkan.
[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II, terj., (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1995), 317.
[6] S. S. Smalley, “Spirits in Prison,” dalam I. H. Marshall, et al., eds, New Bible Dictionary, 3rd Ed. (Leicester, England dan Downers Grove, Illinois: Inter-Varsity Press, 1996), 1129-30.
[7] Kaiser Jr. et all, Hard Sayings of the Bible (Downers Grove: InterVarsity Press, 1996), 714-16.
[8] Kenneth Barker (General Editor), The NIV Study Bible: New International Version (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 1985).
[9] New Bible Dictionary atau Ensiklopedia Alkitab Masa Kini menyebut dua tokoh modern di sini, yaitu Bo Reicke dan W.J. Dalton. Pendapat kedua tokoh ini bisa dikatakan mewakili kecenderungan pandangan modern secara umum; sebagaimana terlihat dalam beberapa Alkitab bahasa Inggris yang disebutkan di atas (NASU; NRSV; NEB; NIV; RSV; NJKV).
[10] Bdk. Hasan Susanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru Jilid I (Jakarta: LAI, 2003), yang tidak mencatumkan kata “roh-roh” dalam 1Ptr. 3:20.
[11] Bdk. NRSV yang menerjemahkan apeithēsasin dalam ay. 20 sebagai spirits in prison (”roh-roh di dalam penjara”)-dan bukan: roh-roh mereka atau roh-roh orang yang di dalam penjara.
[12] Beberapa contoh bahasa metafora Petrus adalah sebagai berikut. Ketaatan atau iman dilukiskan sebagai “percikan darah” (1:1). Kesejatian dan keabadian pengharapan orang percaya dilukiskan sebagai sesuatu yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, tidak dapat layu (1:4). Semua yang hidup adalah seperti rumput dan kemuliaanya seperti bunga rumput (1:24, mengutip Yesaya 40:6-8). Jadilah seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani ((2:2). Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu (2:4). Biarlah kamu dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani (2:5). Supaya para penerima surat Petrus menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang (berperang) melawan jiwa (2:11). Karena Kristus telah menderita, kamu pun harus mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian (4:1). Yesus telah memikul dosa di dalam tubuh-Nya di kayu salib (2:24). Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh (2:24). Kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang telah kembali kepada gembala (2:25) Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, telinga-Nya kepada permohonan mereka, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang jahat (3:12). Aku akan segera menanggalkan kemah (tubuhku) ini (2Ptr. 1:13, 14).
[13] Jawaban atau tafsiran umum terhadap 1Ptr. 3:19, 20 cenderung memberi kesan bahwa Petrus tidak mempunyai sikap/ajaran yang tegas bahwa penginjilan hanya dapat dilakukan kepada orang hidup atau sebaliknya, orang yang sudah mati, atau arwah-arwah orang mati, tidak dapat dikabari berita Injil.
[14] Terjemahan ay. 20 Alkitab TB bisa “dikoreksi” dengan cara menghilangkan salah satu dari dua kata dalam frasa “roh-roh mereka”. Kurang lebih sama dengan NRSV, Alkitab TB boleh menghilangkan kata “mereka” sehingga ay. 20 bermakna: Yesus pergi memberitakan Injil kepada “roh-roh” saja; atau menghilangkan “roh-roh” sehingga-hampir sama dengan Hasan Sutanto dalam PBIK: Yesus pergi memberitakan Injil kepada “mereka” … dimana hanya delapan “orang” diselamatkan.
[15] Selain dari surat 1, 2Ptr. , ajaran Petrus juga dapat dipelajari dari perkataan dan atau ‘khotbah-khotbah’ Petrus dalam Kisah Para Rasul (pasal 2, khotbah Petrus pada hari Pentakosta; pasal 3, sikap dan pernyataan-pernyataan Petrus di sekitar penyembuhan orang lumpuh di pintu gerbang Bait Allah; pasal 5, sikap Petrus terhadap kasus Ananias dan Safira; pasal 10, 11, khotbah dan pengajaran Petrus dalam kasus pertobatan dan pembaptisan keluarga Kornelius).
[16] E. Schweizer, “pneuma“ dalam Kittel, Gerhard dan Gerhard Friedrich (eds), Theological Dictionary of the New Testament, trans Geoffrey W. Bromiley (Eerdmans: Grand Rapids, 1968), VI:435.
[17] Bandingkan pertanyaan seperti: Menurut sensus tahun sekian, ada sekian jiwa (orang) di RT anu di kelurahan atau desa anu. Atau: Kita merencanakan untuk membuka pelayanan di lokasi ini atau itu oleh karena di sana ada sekian jiwa (anggota jemaat atau bakal anggota jemaat) yang perlu dilayani.
[18] 1Ptr. 1:9, 22; 2:11, 25; 3:20; 4:19; 2Ptr. 2:8, 14.
[19] Bdk. Dalam surat Petrus, malaikat disebut “malaikat” (anggelos: 1:12, 3:22; 2Ptr. 2:4, 11), bukan “roh” (pneuma).
[20] Bdk. kekayaan metafora Petrus pada catatan kaki no. 12.
[21] 2Ptr. 2:20 NRSV.
[22] Post-eksistensi Yesus yang dimaksudkan di sini ialah keberadaan dan karya Yesus pascakebangkitan-kenaikan-Nya ke sorga dan pascapencurahan Roh (Kisah Rasul 2). Alkitab mengemukakan bahwa Tuhan Yesus, yang mati-bangkit-dimuliakan, meneruskan pekerjaan penyelamatan di dunia, dan turut (lewat pelayanan orang percaya): memberitakan Injil, mengajar dan menyelamatkan manusia (Markus 16:20; Matius 28:20; Kisah Para Rasul 1:1 [GNT atau English Bible]).
[23] Teks yang sering dikutip dalam kaitan dengan penghakiman yang menyusuli kematian seseorang ialah Ibrani 9:27. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), Ibrani 9:27 berbunyi: Allah sudah menetapkan bahwa manusia mati satu kali saja dan sesudah itu dihakimi.
[24] 1Ptr. 1:9-12 mempunyai implikasi bahwa malaikat-malaikat tidak mengalami dan tidak dapat mengalami keselamatan sebagaimana yang dialami dan dapat dialami oleh manusia.
[25] Bdk. Melalui kematian-Nya, Tuhan Yesus membawa manusia kepada Allah (1Ptr. 3:18). Melalui Yesus, manusia percaya kepada Allah (1:21). Dalam Kristus, Allah memanggil manusia (5:10). Petrus dan para penerima suratnya memperoleh iman “oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2Ptr. 1:1).
[26] Yang disebut Amanat Agung (Matius 28:19-20; Markus 16:15-16; Lukas 24:47-48; Yoh. 20:21-23) diberikan oleh Tuhan Yesus dengan latar belakang kuasa-Nya sendiri, baik di sorga mapun di bumi. Pekabaran Injil dilakukan dalam kuasa penyertaan-Nya sendiri. Dalam Kisah Rasul 1:8, orang menerima kuasa Roh Kudus dan (bukan ‘supaya’) menjadi saksi Yesus.
[27] Bdk. 1Ptr. 2:21, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita dan telah meniggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya”.
[28] Bruce M. Metzger, A Textual Commentary On The Greek New Testament. Second Edition. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1994). Bdk. Kristus mati for sins (NIV, RSV, NKJV).
[29] Bdk. Keterlibatan kembali dalam kecemaran dunia (2Ptr. 1:20) dilukiskan sebagai anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya (ay. 22).
[30] Bdk. mis. NIV, NJKV, RSV: Yesus mati for sins.
[31] Edwin A. Blum, 1 Peter dalam The Expositor’s Bible Commentary vol 12:241; Metzger dan Murphy [eds.] dalam New Oxford Annotated Bible. Selain soal penginjilan oleh Tuhan Yesus kepada roh-roh dalam penjara, dua dari kesulitan umum dalam 1Ptr. 3:18-4:6 berhubungan dengan soal baptisan dan masalah “berhenti berbuat dosa.” Jika baptisan dalam 3:21 berarti baptisan air, apakah itu berarti baptisan air berfungsi memberi keselamatan kepada orang yang menerima baptisan air? Apakah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak diselamatkan jika tidak menerima baptisan air?
Apakah maksudnya “barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa”? (4:1). Apakah penderitaan badani (karena kebenaran atau demi nama Yesus) menghentikan perbuatan dosa? Kalau “ya,” bagaimana caranya? Mengapa (bisa) demikian? dst.
[32] Secara metodologis, tafsiran terhadap 1Ptr. 3:19 pertama-tama harus menggumuli konteks teks 1Ptr. 3:19 (minimal 3:18- 4:6), kemudian konteks kitab (keseluruhan 1Ptr. ) dan konteks kelompok kitab sepenulis/an (dalam hal ini, 1Ptr. dan 2Ptr. ). Kalaupun ada teks lain yang ikut diobservasi-analisis untuk menentukan makna yang Petrus maksudkan, maka terlebih dahulu harus diperiksa ajaran Petrus sendiri di teks lain (khususnya Kisah Para Rasul, bdk. catatan kaki nomor 15) sebelum akhirnya membandingkan ajaran Petrus dengan ajaran penulis/kitab lain atau kitab-kitab lain di (seluruh) Alkitab.
[33] Bdk. D. A. Carson, Exegetical Fallacies: Second Edition (Grand Rapids, Michigan: Baker; Carlisle, Cumbria UK: Paternoster, 1996), 27-64; 87-124.
[34] Kekeliruan di mana makna kontemporer dari sebuah kata dianggap sama dengan makna kata tsb. dalam zaman sebelumnya. Carson, Exegetical Fallacies, h. 33, memberi contoh kata episkopos. Karena telah berkembang kebiasaan untuk merujuk pemimpin gereja yang membawahi beberapa gereja dengan istilah atau gelar episkopos atau bishop, maka bapa-bapa gereja dari zaman awal gereja Yunani berpendapat bahwa kata episkopos di dalam Perjanjian Baru pun sama maknanya dengan istilah episkopos yang mereka pakai.
[35] Terlalu cepat membatasi makna kata; atau, dengan tidak mempertimbangkan berbagai makna sebuah kata dalam pelbagai konteks, maka tersingkirkan (tidak terpertimbangkan) sebuah kemungkinan makna yang semestinya ikut dipertimbangkan dalam menentukan makna. Bisa juga terjadi kesalahan sebaliknya di mana penafsir memasukkan semua kemungkinan makna dari sebuah kata ke dalam suatu konteks atau wacana (illegitimate totality transfer), padahal konteks atau wacana tsb. cukup mempunyai satu makna saja (dari sebuah kata atau istilah).
[36] Ilmu semantik membedakan simbol (bentuk fonetik atau bentuk tertulis dari sebuah kata), sense (isi yang timbul dalam benak seseorang ketika mendengar atau bertemu dengan sebuah kata), serta referent, yaitu benda atau sesuatu-extralinguistic thing-yang didenotasikan oleh kata tsb. Oleh karena itu, maka makna dari banyak kata dalam bahasa mesti ditentukan oleh relasi dari kata-kata tsb. secara individu terhadap kata-kata lain (Moises Silva, Biblical Words and Their Meaning, [Grand Rapids: Zondervan, 1983], 112). Dari sisi simbol, misalnya, kata “panas” bisa sekelompok dengan “nanas” (karena mempunyai bunyi yang mirip). Dari sisi makna, “panas” bisa sekelompok dengan “dingin” (karena keeratan hubungan semantik). Dari segi referent, “panas” sekelompok dengan “pantai,” “api,” atau “radiator” (entitas ekstralingustis yang menimbulkan asosiasi sejenis).
Singkatnya, makna semantik sebuah kata tidak (selalu) sama dengan makna kata secara individu. Secara semantik, tidak ada basic meaning” atau “inherent meaning” dalam kata. Makna ditentukan oleh konteks kata dalam hubungannya dengan frasa, paragraf, kalimat, wacana, genre, style; tidak hanya secara sintagmatic (relasi antarkata) melainkan juga paradigmatik (pilihan dan penempatan kata).
[37] Harian nasional Suara Pembaruan Minggu, 29 Februari 2004, hlm.16.
[38] Satjipto Rahardjo, “Kasus Akbar Tanjung Belum Selesai,” Kompas 27 Februari 2004, hlm. 4.
[39] R Muhammad Mihradi, “Masih Perlukah Konstitusi?,” Kompas 27 Februari 2004, hlm. 5).
[40] Bdk. Kaiser, Hard Sayings, 715.
[41] Alkitab Firman Allah itu utuh dan merupakan satu kesatuan; namun masing-masing kitab atau kelompok kitab lahir dalam konteks pergumulan dan keperluan-keperluan khusus yang hanya bisa dipahami, atau minimal didekati, dengan tepat, berdasarkan pemahaman yang lebih seksama terhadap konteks dan pergumulan khusus dari masing-masing penulis atau masing-masing kitab. Di sini penafsir perlu mengusahakan menjaga jarak, agar tidak terjadi kekacauan sudut pandang serta pergumulan dan kepentingannya sendiri dengan sudut pandang dan pergumulan penulis atau penerima semula dari teks atau kitab yang sedang ditafsirkan.
[42] Alkitab Terjemahan Baru tidak mengadakan pembedaan ini; baik kērussō (3:19) maupun euanggelizō (4:6) dipahami oleh Alkiab TB sebagai pemberitaan Injil. Pembedaan ini terutama dilakukan oleh Alkitab-Alkitab bahasa Inggris (bdk. catatan kaki 2 dan atau halaman 1)
[43] Max Zerwick & Mary Grosvenor, A Grammatical Analysis of the Greek New Testament (Roma: Pontificio Istituto Biblico, 1996), 711.
[44] 2Ptr. 1:17, 18 merujuk kepada pengalaman Petrus dan teman-temannya ketika menyaksikan pemuliaan Tuhan Yesus oleh Allah Bapa “di atas gunung yang kudus” di mana mereka mendengar “suara dari Yang Mahamulia” di sorga, yang mengatakan: Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
[45] Bdk. Paulus pada saat pertobatannya dalam perjalanan ke Damsyik. Atas pertanyaan Paulus tentang siapakah Tuhan yang sedang berbicara kepadanya, Tuhan menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:5). Tidak ada catatan (di Alkitab) bahwa Saulus pernah menganiaya Tuhan Yesus secara fisik. Namun dengan menganiaya dan mengancam orang-orang percaya-yang melaluinya dan di dalamnya Tuhan Yesus hadir dan bekerja di tengah dunia -maka Saulus sedang menganiaya Tuhan Yesus.
[46] Alkitab-Alkitab bahasa Inggris yang menerjemahkan kērussō dalam 3:6 sebagai proklamasi toh menerjemahkan kēruks dalam 4:6 sebagai preacher (pemberita atau pengkhotbah), dan bukan proclamator, atau declarer, atau announcer.
[47] Bdk. O. Merk (Exegetical Dictionary of the New Testament Vol. 2), h. 288, 291.
[48] Kontras antara orang percaya dengan orang yang tidak percaya dalam surat Petrus. Orang percaya tidak dipermalukan, orang yang tidak percaya tersandung dan jatuh (1Ptr. 2:6-8). Orang percaya adalah umat Allah, mereka yang tidak percaya adalah non-umat (2:9-10). Orang percaya adalah hamba Allah yang dapat memakai kemerdekaannya dengan baik, orang tak percaya menyalahgunakan kemerdekaannya untuk menyelubungi kejahatan (2:13-17). Istri-istri yang percaya versus suami-suami yang tidak taat kepada Firman (3:1). Mata Tuhan tertuju kepada orang benar, wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat (3:12). Orang percaya perlu siap memberi jawab iman kepada orang-orang tak percaya yang meminta pertanggungan jawab iman (3:15). Jika penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya sendiri, yaitu orang percaya, “bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” (4:17, 18).
[49] 4:6 NIV: For this is the reason the gospel was preached even to those who are now dead. Sekalipun tidak ada kata now (”sekarang”) dalam bahasa Yunani di ayat ini, namun NIV (menurut NIV Study Bible) menambahkan kata “sekarang” untuk memperjelas bahwa this preaching was a past event (penginjilan ini dilakukan bukan kepada orang yang telah meninggal dunia, melainkan kepada orang hidup-selagi mereka masih hidup).




Sumber: http://www.tiranus.net/?cat=6



Bapak Marthinus Yaroseray, Th.M., Ph.D. Cand. (meninggal: 15 April 2008) adalah dosen tetap di Institut Alkitab Tiranus (IAT) Bandung sejak tahun 1990. Beliau menamatkan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Institut Alkitab Tiranus; Master of Theology (Th.M.) dari Singapore Bible College.

20 August 2008

Bagian 5 (habis)

V. Kehendak dan Pimpinan Allah Vs Kehendak dan Pimpinan Manusia dan Sikap Orang Percaya yang Benar
A. Bentrokan Kehendak dan Pimpinan Allah Vs Kehendak dan Pimpinan Manusia
Kita tadi telah mempelajari bahwa mengerti kehendak dan pimpinan Allah harus bersumber dari dan diuji oleh kebenaran Firman Allah dan pergumulan di dalam doa. Tetapi fakta mengatakan bahwa sering kali kita mendapatkan dilema yaitu apa yang Allah pimpin dalam hidup kita bertentangan dengan apa yang manusia (misalnya, sahabat, orangtua, dll) katakan/ajarkan. Mengapa terjadi bentrokan ini? Karena ada dua presuposisi dasar yang melatarbelakangi dua bentrokan ini. Presuposisi Alkitabiah adalah presuposisi yang berpusat pada Allah, sedangkan presuposisi non-Alkitabiah (dunia sekuler) MAYORITAS adalah presuposisi yang berpusat pada manusia berdosa. Presuposisi yang berpusat pada Allah adalah presuposisi yang melihat esensi lebih penting daripada fenomena, sedangkan presuposisi yang berpusat pada manusia berdosa adalah presuposisi yang melihat hal-hal fenomena lebih penting ketimbang hal-hal esensi (bahkan tidak sedikit yang membuang hal-hal esensial demi memutlakkan hal-hal fenomenal—meskipun orang ini tidak pernah mau mengakuinya secara terus terang). Untuk mengetahui perbedaan yang tajam antara dua presuposisi ini, perhatikan apa yang Allah sendiri firmankan kepada Nabi Samuel ketika hendak memilih Daud sebagai raja menggantikan Saul, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam. 16:7) Ada banyak contoh kasus tentang bentrokan ini dan saya akan memberikan contoh tersebut. Contoh ini saya bagi menjadi dua kasus, yaitu tentang pasangan hidup dan pekerjaan. Kedua, contoh ini saya letakkan antara bentrokan yang terjadi antara otoritas sejati (Allah) dengan otoritas pemberian (orangtua).

1. Tentang pasangan hidup
Misalnya, jika Alkitab mengajar bahwa orang percaya mencari pasangan hidup yang seiman, maka di sisi lain, orangtua yang mengaku diri “Kristen” mengajar anaknya bahwa pasangan tidak seiman pun tidak menjadi masalah, karena pasangan kita bisa diinjili (motivasi penginjilan yang keliru). Contoh kedua, Alkitab tidak pernah mengajar bahwa di dalam memilih pasangan hidup, kita harus memerhatikan bibit, bobot, dan bebet sebagai hal yang primer (karena bagi mereka, soal seiman atau tidak, cinta Tuhan atau tidak, itu hal yang sekunder), sedangkan ada banyak orangtua yang sudah diracuni oleh pikiran dunia lalu mengajar anaknya bahwa bibit, bobot, dan bebet itu penting. Contoh ketiga, Alkitab tidak pernah mengajar bahwa fisik, pendidikan, dll pasangan itu yang terpenting, tetapi ada orangtua yang terlalu memerhatikan hal-hal sekunder itu sebagai hal penting, misalnya, ada orangtua yang sampai-sampai memerhatikan flek pada pipi teman cewek yang dikenalkan anaknya yang cowok, lalu mengatakan bahwa hal itu berbahaya. Ada juga orangtua yang mengatakan bahwa teman cewek yang dikenalkan anaknya yang cowoknya itu bakat gendut (maksudnya, suatu hari cewek ini akan gendut), maka jangan memilih teman cewek itu sebagai pasangan hidup. Ada juga orangtua yang memerhatikan teman cewek (atau cowok) dari anaknya yang cowok (atau cewek) itu hidungnya harus mancung, cantik/tampan, dari keluarga yang kaya/berada, tidak boleh berkacamata, pendidikan harus setara (tidak boleh lebih rendah), dll.

2. Tentang pekerjaan
Tidak sedikit orangtua dunia (yang lebih menyedihkan lagi: orangtua “Kristen” termasuk di dalamnya) menyarankan (lebih tepatnya “memaksa”) anaknya untuk meneruskan pekerjaan orangtuanya. Ketika anaknya ini telah bergumul di hadapan Tuhan tentang pekerjaan yang BERBEDA dari pekerjaan orangtuanya, orangtuanya langsung “marah” dan terus menguliahi anaknya agar anaknya meneruskan usaha yang telah dirintis orangtuanya bahkan sejak kecil/remaja (misalnya, berbisnis, dll), karena dengan berbisnis ini, anaknya tidak usah lagi “ikut orang”, lalu “menakuti-nakuti” anaknya bahwa kalau kerja “ikut orang” itu tidak enak. Meskipun dengan dalih agar anaknya bergumul di hadapan Tuhan terlebih dahulu, orangtua ini tetap menguliahi anaknya bukan untuk bergumul mencari kehendak Tuhan, tetapi untuk meneruskan usaha orangtuanya. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, ada orangtua memiliki anak yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan penuh waktu, lalu orangtua ini menguliahi anaknya agar jika anaknya sudah menjadi hamba Tuhan penuh waktu, biarkan istri anaknya nanti meneruskan usaha orangtuanya (yang tidak diteruskan oleh anaknya). Inilah motivasi jahat yang terselubung atas nama “Tuhan” dan “Kristen.”

Dari dua contoh kasus di atas, kita mengerti bahwa apa yang dunia ajarkan adalah hal-hal yang fenomenal, sedangkan apa yang Alkitab ajarkan pasti hal-hal yang esensial dan memuliakan Allah. Menanggapi bentrokan ini, ada dua reaksi yang terjadi ketika ada dilema ini, yaitu, di satu sisi, ada orang yang karena terlalu “cinta” dengan (atau “dipaksa” oleh?) orang-orang dekat (misalnya, pacar, istri, orangtua, saudara, rekan, dll), mereka mengorbankan kehendak dan pimpinan Allah, sedangkan di sisi lain, ada orang yang frustasi mengalami dilema ini, lalu akhirnya memutuskan untuk mengikuti kata hatinya sendiri. Dua reaksi ini jelas-jelas salah, karena hal tersebut tidak pernah memuliakan Allah! Lalu, bagaimana sikap orang Kristen sebenarnya?

B. Sikap Orang Kristen Sebenarnya dalam Menghadapi Dua Bentrokan Ini
Di dalam menghadapi bentrokan ini, orang Kristen yang sejati seharusnya lebih mementingkan dan mencintai Tuhan dan firman-Nya ketimbang orang lain. Tetapi hal ini tidak berarti kita membenci orang lain. Yang dimaksud di sini, kita mencintai Tuhan lebih daripada kita mencintai siapa pun di dunia ini bahkan orang yang paling kita kasihi/cintai. Tuhan Yesus mengajar, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Mat. 22:37) Ayat ini disambung oleh ayat 38 yang mengajar bahwa itulah hukum yang terutama dan pertama. Berarti, tidak ada kasih kepada diri sendiri dan sesama tanpa bersumber dari kasih kepada Allah. Jangan pernah membalik urutan ini! Dengan kata lain, dengan prinsip mengasihi Allah dan firman-Nya, maka kita bisa mengambil satu kesimpulan dasar bahwa di dalam mengatasi bentrokan antara pimpinan Allah vs pimpinan manusia, kita harus lebih menaati perintah Allah ketimbang perintah manusia. Rasul Petrus dan para rasul lain berani berkata hal serupa ketika diperhadapkan di depan Mahkamah Agama Yahudi, “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kis. 5:29) Beranikah kita berkata demikian meskipun harus dimusuhi oleh sahabat/rekan, saudara, pasangan (pacar/istri), bahkan orangtua kita? Jika kita berani, itu tandanya kita anak Tuhan sejati, jika tidak, itu tandanya kita belum mengerti kehendak Tuhan. Biarlah tantangan ini menjadi introspeksi diri kita masing-masing.

Setelah kita berkomitmen untuk lebih menaati Allah, lalu apa yang harus kita lakukan jika bentrokan ini terjadi pada kita? Saya membagi 2 sikap yang harus diambil oleh orang Kristen:
1. Jika bentrokan ini bukan merupakan hal yang primer, lihatlah cara kerja Allah di balik semua itu
Bentrokan ini harus dibedakan menjadi dua, yaitu bentrokan yang tidak bersifat primer dan bentrokan primer. Jika bentrokan ini tidak bersifat primer, kita bisa mempertimbangkan saran dari orang dekat kita dan melihat cara kerja Allah di baliknya. Yang saya maksud dengan bentrokan bukan secara primer ada dua: pertama, kita mendapat pimpinan Allah yang belum begitu jelas, sehingga kita bisa mempertimbangkan saran dari orang dekat kita (terutama orangtua), kedua, jika kita ditawari dua pilihan (baik itu dalam pekerjaan atau pasangan) yang sama-sama baik dan memuliakan Tuhan, kita mungkin bisa mempertimbangkan saran orang dekat kita (terutama orangtua).
Untuk pengertian pertama, saya memiliki kesaksian tersendiri. Sejak SMP, saya seolah-olah mendapatkan panggilan Tuhan menjadi hamba-Nya, tetapi hal tersebut belum jelas. Itu mungkin keinginan saya waktu itu. Sehingga saya sudah lulus SMU, keinginan saya ingin menjadi hamba Tuhan penuh waktu sedikit ditentang oleh orangtua dan ibu saya menyarankan saya untuk mengambil pendidikan sekuler terlebih dahulu. Waktu itu, sejujurnya, saya kurang suka, tetapi Allah memimpin saya di dalam dunia sekuler tersebut. Ketika saya sedang menjalani tes masuk menjadi salah satu mahasiswa universitas Kristen swasta di Surabaya, di situ, saya biasa-biasa saja, bahkan saya terkesan tidak ada harapan, karena waktu ujian logika, saya lemah di situ. Saya sempat berpikir, kalau tidak diterima di situ, ya, saya masuk universitas Katolik yang sebelumnya juga saya telah pilih sebagai tempat kuliah selain universitas Kristen tersebut. Tetapi puji Tuhan, akhirnya saya diterima menjadi mahasiswa Sastra Inggris di kampus Kristen tersebut. Di situ, Tuhan mulai memproses dan membentuk saya. Awal-awal perkuliahan terasa biasa saja. Kemudian, sejak tahun 2004 (semester awal), saya berpindah gereja ke Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya dan saya banyak mendapat pendidikan iman Kristen di gereja tersebut. Khususnya kira-kira tahun 2006, saya mendapatkan pengajaran iman Kristen di GRII Andhika tentang mandat budaya yang harus dilakukan oleh orang Kristen. Sejak saat itu, saya terus bergumul bagaimana menjalankan mandat budaya di lingkungan sekuler. Akhirnya, saya mencobanya mulai ketika menyampaikan presentasi di perkuliahan Speaking 6. Di dalam presentasi berpasangan/pair presentation (sebagai tugas Ujian Tengah Semester) tersebut, saya memberanikan diri memasukkan unsur iman Kristen ketika membahas tentang pendidikan. Di situ, dosen saya melarang saya untuk menyampaikan hal-hal berkaitan dengan iman Kristen dengan dalih, “iman dan sains itu tidak ada hubungannya.” Saya tidak memerhatikan omongan dosen itu, di dalam presentasi berikutnya sebagai tugas Ujian Akhir Semester, saya kembali memasukkan unsur iman Kristen meninjau masalah feminisme. Kembali, saya dikuliahi oleh sang dosen “Kristen” ini dan saya tidak memedulikannya.
Bukan hanya di perkuliahan Speaking 6, bahkan ketika saya akan membuat skripsi, saya pun terbersit bagaimana memberitakan Injil di dalam skripsi dan akhirnya ide saya ini pun terlaksana. Ketika saya memiliki dosen pembimbing Kristen, saya mengajukan dan terus berkonsultasi tentang skripsi saya yang isinya mengandung Kekristenan. Dosen pembimbing saya tidak mempermasalahkannya. Baru setelah saya selesai sidang skripsi dan proses pengurusan skripsi dan wisuda, teman saya berkata kepada saya bahwa dosen pembimbing saya ini mengajar di perkuliahan (di mana teman saya mengikuti kelasnya) dan menyuruh para mahasiswa untuk membuat paper yang bermuatan rohani. Ketika saya diberi tahu hal ini oleh teman saya, saya langsung kaget. Ternyata perjuangan saya menjalankan mandat budaya tidak sia-sia. Roh Kudus bekerja luar biasa dahsyat, sehingga nama Allah dipermuliakan. Dari sini, saya menyimpulkan bahwa Tuhan memakai ibu saya yang menentang saya sementara untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu di atas untuk mendidik saya bagaimana menjalankan mandat budaya dan memberitakan Injil di dalam perkuliahan dan bahkan skripsi serta mengalami penyertaan Roh Kudus yang luar biasa ketika saya menyampaikan presentasi (saya tidak bisa menceritakan terlalu panjang lebar di sini).
Bentrokan yang tidak bersifat primer dalam pengertian kedua dapat diartikan jika ada dua pilihan yang sama-sama baik dan memuliakan Tuhan, kita bisa meminta pertimbangan orang dekat (terutama orangtua). Misalnya, ketika kita ditawari dua macam profesi, yaitu, karyawan perusahaan impor dengan karyawan perusahaan mesin. Kedua profesi ini sama-sama baik dan memuliakan Tuhan (lain halnya jika kita menjadi karyawan perusahaan rokok atau minuman keras/bir). Untuk kedua profesi yang sama-sama baik dan memuliakan Tuhan ini, kita bisa meminta pertimbangan dari orangtua (atau sahabat/saudara) kita, mana yang baik, khususnya pertimbangan lokasi, waktu, dll (bukan melulu masalah gaji). Atau misalnya, sebagai pemuda, kita memiliki 2 teman cewek yang sama-sama baik dan cinta Tuhan, kita bisa meminta pertimbangan orangtua [atau sahabat kita] tentang teman cewek yang benar-benar baik, seperti pertimbangan usia yang lebih cocok. Di sini, pertimbangan orang dekat bisa kita pikirkan ulang, supaya kita tidak salah pilih pekerjaan atau pasangan hidup.

2. Jika bentrokan ini merupakan hal yang primer dan sangat signifikan menentukan makna dan tujuan hidup kita, pilihlah untuk lebih taat kepada Allah!
Tetapi, jika bentrokan ini merupakan hal yang primer dan sangat signifikan, kita tetap perlu mempertimbangkan saran dari orangtua (dan orang-orang dekat kita), tetapi pertimbangan itu harus diuji dan ditundukkan di bawah otoritas pimpinan Allah. Saya akan memberikan analisa terhadap dua contoh kasus di atas (Poin A) sebagai tanda/bukti kita lebih taat kepada pimpinan Allah.
Pertama, tentang pasangan hidup. Ada orangtua yang mengajarkan anaknya ketika memilih pasangan hidup, perhatikanlah, apakah pasangannya itu: berasal dari keluarga kaya/berada, tampan/cantik, memiliki bibit, bobot, dan bebet yang baik, hidungnya mancung, pendidikan setara, karakter baik, tidak memiliki rekor sakit parah, dll. Mengapa ada orangtua yang begitu protective-nya menetapkan standar-standar tertentu bagi anaknya dalam mencari pasangan hidup? Mungkin sekali orangtua tersebut terlalu sayang dengan anaknya dan menginginkan agar anaknya hidup bahagia dengan pasangannya kelak. Itu motivasi yang baik. Tetapi jika motivasi itu ditunggangi dengan pola pikir memaksakan agar selera anaknya harus 100% cocok dengan selera orangtuanya (bukan cocok dengan selera Tuhan), maka motivasi itu salah dan jahat! Ingatlah para orangtua (khususnya bagi banyak ibu yang agak cerewet), anak-anak Anda (cowok) kawin dengan pasangan cewek, bukan kawin dengan Anda, hai ibu, jadi jangan terlalu memaksakan anak Anda apalagi cowok untuk mencari pasangannya! Bagaimana sikap kita sebagai anak terhadap konsep orangtua tersebut? Taat mutlak? TIDAK! Ingat, prinsip memilih pasangan hidup yang telah saya bahas di atas adalah: lawan jenis, cinta Tuhan/seiman, dan sepadan. Ketiga prinsip utama ini menjadi dasar uji bagaimana memilih pasangan hidup yang baik.
Lalu, bagaimana dengan asumsi orangtua yang mendidik anaknya agar anaknya mencari pasangan yang memiliki bibit, bobot, dan bebet? Presuposisi di balik asumsi itu adalah jika orangtuanya bajingan, maka anaknya pasti bajingan, oleh karena itu, jangan memilih pasangan yang orangtuanya tidak beres. Tetapi, benarkah realita seperti itu? TIDAK juga! Itu generalisasi yang tidak menjamin keabsahannya. Fakta membuktikan bahwa ada anak yang bajingan justru lahir dari orangtua yang baik, sebaliknya ada juga anak yang baik lahir dari orangtua yang tidak karuan. Nah, bukankah telah dikatakan bahwa Alkitab memerintahkan kita mencari pasangan yang seiman/cinta Tuhan? Pasangan hidup kita yang sungguh-sungguh cinta Tuhan, meskipun lahir dari orangtua yang kurang baik, tentu tidak akan terpengaruh oleh orangtuanya yang kurang baik. Jika pasangan kita itu sungguh-sungguh cinta Tuhan, tetapi orangtuanya mencoba memengaruhi dia dengan pikiran jahat, pasangan kita itu pasti menolaknya dan mengikuti apa yang Tuhan mau. Bahkan mungkin sekali, pasangan kita ini nantinya memengaruhi orangtuanya sehingga mereka bertobat. Di sini, konsep bibit, bobot, dan bebet dipatahkan dengan konsep cinta Tuhan.

Selain itu, ada orangtua yang mengajar anaknya untuk mencari pasangan yang tidak memiliki rekor penyakit parah apa pun, misalnya tidak pernah geger otak, darah tinggi, dll, karena itu bisa merupakan penyakit turunan atau bisa kambuh lagi. Alasannya, orang yang sudah pernah geger otak, katanya bisa kambuh lagi, dan lama-lama bisa meninggal. Nasihat orangtua ini baik, tetapi bukan suatu hal yang mutlak! Mengapa?
Pertama, kita harus lebih mempertimbangkan aspek-aspek primer ketimbang sekunder. Jikalau andaikata seumpama (if clause) pasangan kita yang jelas-jelas dipimpin Tuhan benar-benar seorang yang cinta Tuhan, cinta orangtua, mencintai kita, sepadan dengan kita, tulus, baik, apa adanya, tetapi sayangnya dia pernah geger otak. Apakah kita rela meninggalkan dia yang geger otak hanya demi mencari pasangan yang tidak geger otak? Jika memang demikian, berarti kita telah memutlakkan kriteria pasangan yang tidak boleh geger otak (meskipun mulut kita mengaku itu bukan hal yang mutlak). Lalu, kita mencari pasangan yang tidak geger otak, tetapi hal tersebut tidak dipimpin Tuhan, karena dia tidak cinta Tuhan, meskipun kelihatannya dia aktif ke gereja. Jika orangtua kita menyarankan kita memilih pasangan kedua hanya gara-gara dia tidak geger otak saja dan kelihatan aktif ke gereja (meskipun belum tentu itu menandakan dia cinta Tuhan), sebagai anak, kita TIDAK perlu mendengarkan saran orangtua kita, jika itu tidak sesuai dengan pimpinan Tuhan! Kalau Tuhan memimpin dengan jelas, pilihlah pasangan yang pertama dengan resiko siap merawat pasangan kita jika memang suatu saat penyakitnya kambuh lagi. Di sini, kasih mengatasi segala kesulitan dan di dalam kasih ada pengorbanan. Ingatlah, seberapa besar kasih Allah kepada kita di dalam Kristus tanpa melihat kecakapan dan kebaikan dari kita. Jika kita terlalu memerhatikan aspek-aspek sekunder di dalam memilih pasangan hidup, tidakkah kita pernah merenungkan betapa besar kasih Allah kepada kita yang bukan hanya jelek, tetapi parah, kumal, najis, bahkan berdosa? Kasih Allah di dalam Kristus menebus umat-Nya tanpa memandang seberapa najis, jorok, jijik, dan berdosanya kita. Ia mengasihi kita. Apakah kita juga tidak mengasihi pasangan kita yang dipimpin Tuhan itu meskipun ada sedikit kekurangan? (tetapi hal ini tidak berarti kita mencintai pasangan kita karena kasihan dengan dia)
Kedua, kita TIDAK pernah menikah dengan seorang yang sempurna seperti malaikat atau Tuhan! Ingatlah, jika ada orangtua yang menetapkan syarat-syarat mutlak pasangan hidup bagi anaknya, orangtua tersebut sebenarnya memiliki ide yang terlalu sempurna yaitu ingin menikahkan anaknya dengan malaikat! Dan jika ada orangtua seperti itu, percayalah, anaknya tidak akan pernah menikah selamanya. Dalam hal ini, orangtua ini sudah berdosa karena menetapkan kriteria-kriteria mutlak sempurna yang tidak akan pernah ditemui di dalam pribadi siapa pun, lalu mengakibatkan anak ini tidak mau menikah (dan bahkan ada yang menjadi homo)! Ingatlah, tidak ada seorang pun yang sempurna. Jika ada orangtua yang memaksakan syarat-syarat MUTLAK tentang pasangan hidup bagi anaknya, tolong perhatikan di bagian lain, orangtua pasangan lain juga menuntut hal yang serupa, apakah anak kita itu cukup baik? Ada orangtua yang menginginkan pasangan hidup yang sempurna (seperti bidadari: tinggi, manis, cantik, baik, tulus, jujur, langsing, dll), tetapi orangtua ini tidak sadar bahwa anaknya parahnya bukan main. Jadi, sebelum menetapkan syarat-syarat tertentu, coba periksa kondisi anak Anda yang kepadanya orangtua (Anda) menetapkan syarat mutlak tentang pasangan hidupnya.
Ketiga, rekor penyakit tidak menjamin. Apakah pasangan kita yang sudah pernah geger otak (karena kecelakaan) pasti mengalami geger otak lagi (dan lupa)? Tidak. Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri sudah pernah mengalami geger otak sebanyak 3 kali, tetapi sampai sekarang (68 tahun–2008), beliau masih berkhotbah dengan suara yang keras dan dengan daya ingat yang kuat. Jika kita terus memerhatikan apakah pasangan hidup yang dikenalkan kepada kita memiliki penyakit turunan atau yang lain, kita tidak usah menikah dengan dia, kita cukup menjadi sejarawan saja! Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajar bahwa kalau kita menikah, kita menikah dengan masa depan pasangan kita, bukan masa lalu pasangan kita!
Keempat, cara kerja Tuhan jauh melampaui pikiran manusia berdosa yang terbatas. Kita sering berpikir bahwa kalau pasangan kita pernah mengalami penyakit parah, maka kita tidak usah menikah dengan orang ini, karena pasti penyakitnya akan kambuh lagi (jika geger otak). Benarkah demikian? Penyakit separah apa pun, jika Tuhan mau menyembuhkan, maka penyakit itu sembuh. Ia akan menggagalkan dan menghina semua pikiran kita yang duniawi dengan bekerja melampaui pikiran kita, Ia menyembuhkan penyakit pasangan kita (yang Tuhan telah pimpin), sehingga pasangan kita tidak sakit lagi. Jika kita masih mengunci pemikiran kita bahwa orang yang sudah pernah sakit pasti kambuh lagi, berarti kita tidak lagi percaya kepada Allah yang Mahadahsyat yang mampu menyembuhkan penyakit jika itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Contoh berikutnya, ada orangtua yang menyarankan anaknya memilih pasangan hidup yang pendidikannya setara. Benarkah konsep ini? Apakah jika pasangan kita memiliki pendidikan D-3 di kampus biasa, sedangkan kita berpendidikan S-1 atau S-2 dari kampus terkenal menjamin bahwa kita lebih pintar dan bijak ketimbang pasangan kita? Belum tentu. Pendidikan bukanlah kriteria utama. Tidak sedikit dosen yang berpendidikan S-2 ternyata logika dan pernyataannya lebih bodoh ketimbang mahasiswanya yang belum meraih gelar sarjana. Utamakan cinta Tuhan lebih daripada gelar akademis (meskipun tentu akademis itu tetap penting)!

Contoh terakhir, ada orangtua yang memerhatikan fisik calon pasangan anaknya. Jika ada orangtua seperti itu, maka jangan pernah mendengarkan saran itu, karena saran itu sampah adanya. Orangtua yang lebih memerhatikan unsur fisik, misalnya hidungnya kurang mancung (alias pesek), bakat gendut, dll, lebih baik orangtua ini mengelola salon kecantikan saja! Orangtua ini tidak sadar bahwa yang menikah adalah anaknya bukan dia!

Kedua, tentang pekerjaan. Ada orangtua yang memiliki usaha sendiri lalu menyarankan anaknya (anak tunggalnya) untuk mewarisi usaha orangtuanya itu dengan dalih, jika bukan anaknya yang meneruskan, siapa lagi yang meneruskan? Bahkan ada orangtua yang menguliahi anaknya untuk meneruskan usaha orangtuanya ini, karena rekan-rekannya di tempat usaha lainnya menyindir orangtua ini mengapa anaknya tidak membantu/meneruskan. Di sini, sang anak harus memikirkan apa pimpinan Tuhan bagi hidupnya khususnya mengenai pekerjaan? Jika Tuhan memimpin dengan jelas tentang pekerjaan yang harus dia lakukan, maka ia tidak perlu takut jika itu melawan orangtua, karena pimpinan Tuhan yang lebih penting. Dan lagi orangtua Kristen yang taat dan setia kepada Tuhan tidak perlu kecewa jika usahanya tidak diteruskan oleh anaknya (anak tunggalnya), malahan orangtua ini harus bersukacita karena anaknya lebih taat kepada pimpinan Tuhan ketimbang pimpinan orangtua. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, justru ada orangtua “Kristen” yang tidak ditaati langsung “marah” dan mengomel bahwa anaknya membangkang, dll, padahal anaknya lebih menaati pimpinan Tuhan. Inilah logika orangtua “Kristen” yang berdosa. Di mata dunia sekuler, hal ini kelihatan logis, tetapi di mata Allah, hal ini sama sekali tidak logis dan mendukakan hati-Nya! Orangtua Kristen yang sudah tidak lagi mengarahkan anaknya untuk lebih menaati pimpinan Allah dan mengambil alih pimpinan Allah dengan menyamakannya MUTLAK dengan saran/pimpinan orangtua, berhati-hatilah, orangtua tersebut sedang menuju ke arah dosa, yaitu mengambil alih posisi Allah sebagai Pusat dan Sumber! Jangan pernah alihkan fokus rohani kita dari Allah kepada yang lain, karena jika kita melakukannya, Tuhan membenci hal tersebut!


Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki kerinduan lebih mengutamakan kehendak dan pimpinan Tuhan? Ataukah kita lebih mengutamakan kehendak diri dan orang-orang dekat kita demi memuaskan diri kita dan mereka? Sikap kita mencerminkan siapa kita sebenarnya, anak Tuhan sejati atau “anak Tuhan” palsu yang sedang indekos di dalam gereja. Hari ini, kepada siapakah kita meletakkan makna dan tujuan hidup kita? Kepada Allah SAJA kah? Atau juga kepada diri, orangtua, pacar, sahabat, saudara, dan istri kita? Jangan pernah mendua hati, karena Allah membenci orang yang mendua hati! Selagi Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertobat, pergunakan waktunya sekarang: BERTOBATLAH! Carilah kehendak dan pimpinan Tuhan dalam hidup kita, maka percayalah, hidup kita pasti memiliki makna dan tujuan yang indah untuk memuliakan-Nya, sebagaimana yang pernah dikatakan Tuhan Yesus, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh. 10:10) Sudahkah kita memiliki hidup yang berkelimpahan (bukan dalam arti jasmani) di dalam Kristus? Amin. Soli Deo Gloria.



Catatan kaki:
1. Anthony A. Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2003), hlm. 8-9.
2. Cornelius Van Til, The Defense of the Faith (USA: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1955), hlm. 15.
3. Ilustrasi dan penjelasan ini didapat dari pengajaran Pdt. Sutjipto Subeno. Untuk lebih jelasnya, silahkan membeli dan membaca buku Indahnya Pernikahan Kristen (Surabaya: Penerbit Momentum, 2008) yang ditulis oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Bahan studi lebih lanjut tentang Mengerti Kehendak Allah:
1. Mengetahui Kehendak Allah (Pdt. Dr. Stephen Tong)–Harga: Rp 45.000, 00 (harga anggota: Rp 33.750, 00)
2. Pergumulan Mengerti Kehendak Allah: Tafsiran Kitab Habakuk (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.) – Harga: Rp 30.000, 00 (harga anggota: Rp 22.500, 00)


Dapatkan kedua buku ini di Toko Buku Momentum:
www.momentum.or.id

Bagian 3 dan 4

III. Aplikasi Dosa sebagai Hambatan-hambatan dalam Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia
Setelah kita mengerti bahwa dosa adalah hambatan utama dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia, saat ini, kita akan mencoba mengaplikasikan konsep dosa tersebut di dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana aplikasi dosa tersebut merupakan hambatan-hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia. Apa yang mengakibatkan kita tidak lagi melihat Allah sebagai Sumber dan Pusat hidup kita? Saya mengkaji ada empat penyebab, dua penyebab pertama diambil dari 2Tim. 3:2.
A. Diri
Di dalam 2Tim. 3:2, Paulus menyebutkan bahwa di hari-hari terakhir, manusia mencintai dirinya sendiri (mayoritas terjemahan Inggris menerjemahkannya, “menjadi pecinta diri”). Analytical-Literal Translation (ALT) menerjemahkannya dengan menambahkan kata self-centered (berpusat kepada diri). Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa hambatan pertama dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia adalah diri dan keterpusatan pada diri. Mengapa orang meletakkan diri sebagai pusat? Karena mereka menganggap bahwa diri bisa dibanggakan, cukup layak, dll. Benarkah mereka sungguh layak dan pintar? Realita menyatakan hal yang sebaliknya. Semakin manusia menganggap diri hebat, pintar, layak, dll, semakin manusia hidup tidak karuan. Abad rasionalisme di mana manusia memutlakkan rasio manusia akhirnya mengakibatkan meletuslah Perang Dunia 1 dan 2. Di zaman postmodern, ketika manusia menganggap kehebatan diri itulah yang terpenting, anehnya manusia tidak bisa mengatasi masalah global, seperti krisis global, dll. Di sini, letak ironisnya manusia yang terus merasa diri hebat. Padahal, Alkitab mengajar bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan, terbatas, dan berdosa (istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong: created, limited, dan polluted). Ketika manusia disebut sebagai makhluk yang: dicipta, terbatas, dan terpolusi dosa, maka manusia sebenarnya tidak layak menjadi patokan kebenaran yang menentukan hidupnya sendiri. Ada 3 arti di balik konsep ini, yaitu: Pertama, manusia itu dicipta, maka ia hanya bisa mengenal sesama ciptaan (atau lebih rendah dari itu, misalnya benda-benda mati). Tentunya, manusia tak mungkin bisa mengenal Sang Pencipta. Kedua, manusia itu terbatas, maka manusia hanya bisa mengerti dan mengenal sesuatu yang terbatas sifatnya (bahkan tidak bisa mengetahui yang terbatas itu pun dengan sempurna), dan tentu saja tak mungkin mengenal yang tidak terbatas (misalnya, Allah). Ketiga, manusia itu berdosa, maka ketika manusia mengenal sesuatu, ia tak mungkin bisa mengenal sesuatu itu secara komprehensif dan dengan pengertian yang tepat. Misalnya, ketika manusia mau mengenal Allah, dosa mengakibatkan manusia hanya mengerti dan mengenal Allah tidak secara tuntas, tetapi sebagian dan bahkan sebagian itu pun telah dicemari dosa. Sehingga, secara fenomena, manusia bisa kelihatan beribadah kepada “Allah,” tetapi hati mereka tidak tertuju dan berpusat pada Allah. Rev. Dr. John R. W. Stott (seperti dikutip oleh Pdt. Dr. Stephen Tong) pernah mengatakan bahwa di dalam agama, manusia tidak pernah mencari Allah, tetapi malahan melarikan diri dari Allah.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Secara theologi, kita mungkin sudah belajar agar diri jangan dijadikan sebagai patokan kebenaran, tetapi benarkah dalam hati, kita sungguh-sungguh mengamini dan menjalankan prinsip yang telah kita pelajari itu? Benarkah ketika kita mencari pasangan hidup, pekerjaan, studi, dll, kita lebih mementingkan kehendak Tuhan ketimbang kehendak diri? Benarkah kita berani dan rela mematikan keinginan daging kita untuk disesuaikan dengan kehendak dan rencana Tuhan dalam hidup kita? Biarlah theologi yang telah kita pelajari dapat kita jalankan untuk memuliakan Tuhan. Jangan biarkan theologi menjadi bahan pelajaran yang kita pelajari tanpa kita aplikasikan!

B. Uang
Penyebab kedua yang diambil dari 2Tim. 3:2 ini yaitu uang. Selain diri, Paulus mengatakan bahwa uang menjadi kegemaran orang di hari-hari terakhir. “Menjadi hamba uang” dalam ayat ini di dalam terjemahan Inggris diterjemahkan mencintai uang. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkannya, “bersifat mata duitan.” Dengan kata lain, uang menjadi sumber dan pusat bagi hidup manusia berdosa. Uang yang akhirnya menjadi tuan dalam hidup manusia berdosa, sehingga secara sadar atau tidak sadar, ke mana-mana iblis memakai sarana ini untuk menipu kita, seolah-olah tanpa uang, kita tidak bisa hidup. Akhirnya, ketika orang yang sudah ditipu ini diinjili atau dibawa ke gereja, lama-lama ia akan berpikir, apakah ke gereja bisa menghasilkan uang lebih banyak? Jika ya, ia akan terus ke gereja. Jika tidak, ia akan keluar dari gereja. Tidak heran, demi memenuhi selera berdosa dari manusia yang tamak akan uang ini, tidak sedikit gereja (market-oriented) yang berani mengajarkan bahwa ikut Tuhan pasti sukses, kaya, berkelimpahan, dll. Gereja yang seharusnya menjadi suara hati nurani masyarakat dan pewarta Kebenaran Allah akhirnya berkompromi dengan filsafat manusia berdosa. Lalu, apa yang Alkitab ajarkan? Apakah Alkitab mengajar bahwa uang itu tidak perlu, sehingga kalau mau menjadi Kristen, harus miskin? TIDAK! Alkitab tidak pernah melarang kita untuk kaya dan sebaliknya, mengharuskan kita miskin baru bisa mengikut Tuhan. Yang Alkitab ajarkan adalah orang percaya jangan menjadi gila harta/uang, mengapa? Karena, “akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1Tim. 6:10)
Alkitab mengajar bahwa akar dari segala kejahatan adalah cinta uang, tetapi dunia mengajar bahwa akar dari segala kejahatan adalah kurang uang. Apa bedanya? Perbedaan ini bukan hanya perbedaan superficial, tetapi perbedaan esensial. Alkitab mengajar kita untuk tidak berfokus kepada (atau mengilahkan) uang, karena itu adalah akar kejahatan. Apa dasar presuposisinya? Pertama, karena uang itu bersifat fana, yang sebentar lagi akan hilang. Mungkin kita hari ini kaya, tetapi mungkin saja tahun depan kita melarat dan menjadi miskin. Uang tidak bisa menjamin hidup kita, sehingga kita tidak boleh menjadikan uang sebagai ilah dalam hidup kita. Kedua, fakta membuktikan bahwa hanya karena cinta uang, hubungan keluarga bisa porak poranda. Kita sering mendengar bahwa hanya karena tamak uang, istri rela membunuh suaminya, adik rela membunuh kakaknya, bahkan anak rela membunuh orangtuanya. Bahkan di kalangan Kristen sendiri (di keluarga “hamba Tuhan”), anak dan menantu bisa saling baku tembak memperebutkan uang dari sang ayah. Sehingga, tidaklah salah ketika Alkitab mengajar bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sedangkan ketika dunia mengajar bahwa akar segala kejahatan adalah kurang uang, sebenarnya secara prinsip, mereka mengilahkan uang (meskipun ada yang tidak berani mengungkapkannya secara terus terang), seolah-olah tanpa uang lah, manusia justru berbuat jahat (sedangkan kalau memiliki banyak uang, manusia tidak akan berbuat jahat). Mungkin ada yang bertanya, bukankah memang ada orang yang kurang uang (atau miskin) lalu melakukan kejahatan, misalnya merampok? Apakah fakta ini membuktikan bahwa konsep ini benar? TIDAK! Orang yang kurang uang bisa berbuat jahat itu bukan karena dia kurang uang, tetapi karena iri dan malas. Iri hati dan kemalasan mengakibatkan manusia terus ingin mencari sesuatu yang bisa memuaskan dirinya sendiri, tetapi herannya mereka tak mau berusaha bekerja keras, malahan mereka mencari keuntungan dari orang lain, misalnya, merampok, dll. Jadi, pokok persoalannya bukan pada kekurangan uang, tetapi pada karakternya. Fakta membuktikan bahwa orang yang kurang uang pun ada yang tidak berbuat jahat, malahan sebaliknya, justru orang yang ingin memiliki banyak uang, mereka akan mempergunakan segala macam cara untuk memperoleh lebih banyak uang lagi.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Benarkah hidup kita diarahkan hanya kepada Kristus? Mungkin secara theologi, kita sudah banyak mendengar bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang dan kita harus memilih: Allah atau Mamon. Tetapi apakah theologi dan firman Tuhan yang kita dengarkan benar-benar kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari? Benarkah kita sungguh-sungguh rela tidak menjadikan uang sebagai pusat hidup kita? Beranikah kita yang memiliki toko sendiri berkomitmen untuk tidak membuka toko atau bekerja pada hari Minggu, meskipun itu tidak menguntungkan bagi kita? Semua ini membuktikan dan menguji kesiapan dan komitmen kita di hadapan Tuhan tentang bagaimana kita tidak mengilahkan uang sebagai pusat hidup kita. Yang sering terjadi adalah kita secara teori mengamini setiap khotbah dan firman Tuhan yang diberitakan, tetapi secara praktik, kita hampir tidak menjalankannya dengan segudang argumentasi yang kita ajukan kepada Allah. Sudah siapkah kita berkomitmen untuk mengutamakan Tuhan lebih dari segalanya ataukah kita mau mendua hati: Allah dan Mamon?

C. Teman/sahabat/saudara/pasangan hidup
Poin ketiga ini dan keempat nantinya adalah hambatan eksternal yang bersifat pengaruh yang hidup. Hambatan ketiga dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia yaitu adanya pengaruh dari teman/sahabat/saudara/pasangan hidup. Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin orang yang dekat dengan kita bisa mengakibatkan kita tidak menemukan makna dan tujuan hidup kita? Bukankah kita sering mendengar bahwa ketika pacaran, masing-masing pasangan menemukan makna hidupnya? Hal ini tidak salah. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah mengutamakan mereka lebih daripada mengutamakan Allah. Ketika kita mengutamakan dan menganggap orang-orang yang dekat dengan kita sebagai pusat dan sumber yang menentukan hidup kita, itulah yang menjadi hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup kita. Pacar, saudara, rekan, saudara, dan bahkan istri hanya bisa menolong kita menemukan makna dan tujuan hidup kita secara fana/sementara. Mengapa? Karena mereka juga sama-sama manusia (berdosa) seperti kita di mana mereka tentu tidak bisa menjadi patokan yang mengarahkan hidup kita. Tetapi herannya, manusia tak pernah menyadari hal ini. Karena orang-orang dekat ini, kita menjumpai fakta bahwa orang yang ingin menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan penuh waktu tiba-tiba mengurungkan niatnya dan bahkan melarikan diri dari panggilan Tuhan. Tidak sedikit, istri mempengaruhi suaminya untuk meninggalkan Allah, sehingga sang suami kehilangan makna dan tujuan hidupnya yang hanya bisa diisi oleh dan di dalam Allah. Di dalam Alkitab, Ayub adalah contoh praktis pertama yang bisa kita pelajari. Ketika dilanda masalah yang berat, istri Ayub menyuruh Ayub mengutuki Allah. Teman-temannya pun menuduh Ayub bahwa Ayub tidak setia atau berdosa kepada Allah. Abraham, contoh kedua, memiliki istri yang meragukan (menertawakan) janji Allah yang memberikan anak di dalam keluarga mereka. Ketiga, saudara-saudara Yusuf menjual Yusuf karena mereka iri. Tetapi puji Tuhan, ketiga tokoh Alkitab ini lebih beriman kepada Allah ketimbang kepada orang-orang yang dekat dengan mereka, sehingga mereka tampil menjadi pahlawan-pahlawan iman yang berhasil.
Bagaimana dengan kita? Secara teori, lagi-lagi kita banyak belajar bahwa pacar, saudara, teman, rekan, dan bahkan istri bukan sumber hidup kita, tetapi benarkah kita menjalankan prinsip yang kita pelajari? Benarkah kita berani dan rela TIDAK menaati apa yang diusulkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita jika itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan? Biarlah ini menjadi introspeksi diri kita masing-masing.

D. Orangtua.
Poin terakhir yang menjadi hambatan kita menemukan makna dan tujuan hidup kita adalah orangtua. Hah? Bagaimana mungkin? Bukankah kita sering mendengar bahwa orangtua mengerti dan mengenal anak-anaknya serta memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya? Bukankah kita juga sering mendengar bahwa orangtua tidak mungkin mencelakakan anak-anaknya? YA. Secara teori duniawi, kita sering mendengar hal itu. Di satu sisi, hal tersebut benar, karena sudah menjadi tugas dan tanggung jawab orangtua untuk mendidik dan mengajar anak-anak mereka, sehingga mereka menjadi orang berguna. Tetapi di sisi lain, ketika mendidik dan mengajar anak-anak mereka, apa yang mereka ajarkan? Bukankah yang sering kita dapati adalah mereka mengajar anak-anak mereka agar anak-anak mereka memenuhi apa yang mereka inginkan (dan bukan apa yang Tuhan inginkan)? Bukankah kita sering mendengar bahwa orangtua memaksa anaknya (meskipun dalihnya: “menyarankan”) untuk meneruskan apa yang diinginkan (atau sudah dirintis) oleh orangtuanya yang bekerja profesi tertentu. Misalnya, jika orangtuanya (ayah atau ibunya) seorang dokter, maka orangtua ini menyuruh anaknya untuk sekolah kedokteran dengan tujuan agar anaknya ini kelak meneruskan profesi orangtuanya sebagai dokter. Saya memiliki contoh praktis dalam hal ini, yaitu dari sepupu saya. Kakak sepupu saya dipaksa oleh ayahnya–meskipun bukan dokter (tetapi ayahnya berdalih bahwa ia tak pernah memaksa tetapi “hanya” menyarankan) untuk masuk kedokteran dengan argumentasi bahwa dengan menjadi dokter itu berarti anaknya tidak usah “ikut orang” (diperintah orang), sedangkan kalau profesi lain, anaknya harus “ikut orang.” Akibat pemaksaan ini, sepupu saya ini tidak memiliki hasrat ingin belajar, karena ia masuk kedokteran untuk memenuhi keinginan orangtuanya saja. Hal yang serupa terjadi pada adik sepupu saya ini yang lebih suka bahasa Inggris, namun karena sudah ditetapkan oleh orangtuanya, ia dipaksa masuk fakultas hukum untuk menjadi notaris, lagi-lagi dengan alasan: “supaya tidak ikut orang.” Tidak cukup memaksa 2 anaknya, paman saya ini juga memaksakan anaknya yang ketiga untuk masuk sekolah kedokteran, padahal anaknya sejujurnya ingin menjadi businessman. Ketiga anaknya ini sudah salah arah, tetapi hanya karena keinginan orangtua yang “dibaptis” dalam nama “menyarankan” (sebenarnya: MEMAKSA), akhirnya, mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan (dan terlebih, apa yang Tuhan mau!). Bahkan untuk mendukung keinginan orangtua tertentu, ada yang sampai mengatasnamakan “Tuhan” agar anaknya patuh. Bukannya mengarahkan anaknya untuk menggumulkan panggilan hidupnya di hadapan Tuhan untuk mencari dan mengutamakan kehendak Tuhan, bahkan ada orangtua yang sampai mengatakan bahwa kehendak Tuhan bagi anak yaitu hanya melalui orangtua, bukan melalui pendeta, sahabat, dll. Di sini, orangtua ini (meskipun mengaku diri “Kristen”) sudah memutlakkan diri sebagai “tuhan” yang harus ditaati. Dengan kata lain, orangtua yang sudah memutlakkan hal ini sudah mengambil alih posisi Allah sebagai sumber dan itu adalah DOSA! Berhati-hatilah, para orangtua!
Bagaimana dengan Anda khususnya para orangtua Kristen? Apa yang Anda ajarkan kepada anak-anak Anda? Benarkah theologi yang sudah kita pelajari bahwa kehendak Tuhan yang terutama benar-benar kita terapkan dalam cara mengajar dan mendidik anak kita? Sudahkah Anda mengajar kepada anak-anaknya untuk mendahulukan dan mengutamakan kehendak dan keinginan Allah dalam hidupnya dan bukan kehendak (sebenarnya: keinginan) Anda sebagai orangtua? Orangtua boleh mengarahkan anaknya untuk memilih jurusan kuliah dan/ pekerjaan, tetapi sekali lagi: orangtua TIDAK berhak memaksa anak-anaknya, karena yang menciptakan anak-anak Anda adalah Allah dan Allah meminta kita bertanggung jawab mengajar dan mendidik mereka untuk dipakai memuliakan dan menggenapkan kehendak-Nya dalam hidup mereka (bukan memuliakan diri orangtua).


IV. Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah: Solusi terhadap Hambatan-hambatan Mengerti Maksud dan Tujuan Hidup Manusia
Setelah kita mengerti empat hambatan dalam mengerti makna dan tujuan hidup manusia, maka kita akan berpikir, bagaimana kita bisa mengerti makna dan tujuan hidup manusia yang sebenarnya? Di poin pertama artikel ini, kita telah membahas bahwa manusia diciptakan oleh Allah, sehingga secara otomatis, makna dan tujuan hidup manusia yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Oleh karena itu, sebagai orang percaya, sudah sepatutnya kita kembali kepada Allah untuk mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam seluruh aspek kehidupan kita, agar kita dapat memuliakan Tuhan.

A. Apakah Kehendak dan Pimpinan Allah itu?
Di sini, ada dua arti yang harus kita mengerti, yaitu:
1. Kehendak Allah
Kehendak Allah berbicara mengenai apa yang merupakan rencana Allah di dalam kekekalan. Roma 11:36 memberikan gambaran yang jelas tentang apa itu kehendak Allah, yaitu kehendak Allah itu adalah apa yang berasal dari Allah, dikerjakan oleh Allah, dan hasil akhirnya untuk kemuliaan Allah. Allah telah menetapkan segala sesuatu sebelum dunia dijadikan, lalu Ia yang telah menetapkan itu, Ia pula lah yang akan mengerjakan rencana-Nya melalui karya Roh Kudus, dan pada akhirnya, semuanya harus memuliakan Dia sebagai Sumber dan Pusat segala sesuatu. Sebagai contoh, di dalam pekerjaan baik. Ketika kita membaca Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”, kita mendapatkan gambaran serupa tentang kehendak Allah. Yaitu, Allah telah menetapkan (KJV: ordain) kita (yang diciptakan Allah) untuk melakukan pekerjaan baik, lalu penetapan Allah ini dilakukan di dalam Kristus – di mana umat pilihan-Nya ditebus oleh Kristus dan dijadikan ciptaan baru di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus yang melahirbarukan – , baru setelah itu, kita dituntut untuk hidup di dalam pekerjaan baik itu demi kemuliaan Allah. Dari sini, kita mendapatkan 4 kehendak Allah yang terintegrasi, yaitu kehendak Allah di dalam Penciptaan (dari dan oleh Allah), Penebusan (dari dan oleh Allah), Kelahiran Kembali (oleh Allah), dan Kesempurnaan kelak (untuk Allah).

2. Pimpinan Allah
Lalu, pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah kita sebagai manusia yang terbatas dan fana ini bisa mengerti rencana Allah yang kekal itu? Di sini, kita membutuhkan apa yang disebut pimpinan Allah. Pdt. Dr. Stephen Tong mendefinisikan pimpinan Allah sebagai kehendak Allah yang berada di dalam proses sejarah/waktu. Dengan kata lain, pimpinan Allah adalah penyataan (intervensi) kehendak Allah yang kekal itu kepada umat-Nya yang tidak kekal. Dari Alkitab, kita mendapatkan pelajaran berharga tentang apa yang disebut pimpinan Allah. Di Perjanjian Lama, umat-Nya, Israel mendapatkan pimpinan Allah ketika mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Kanaan. Begitu juga yang terjadi dengan pimpinan Allah yang dialami oleh para rasul di Perjanjian Baru.
Kemudian, kita akan mencoba membagi wujud pimpinan Allah itu. Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK): “Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus” membagi dua wujud pimpinan Allah, yaitu pimpinan positif dan pimpinan negatif. Dua wujud pimpinan Allah ini pasti bermotivasi dan bertujuan baik, tetapi yang berbeda di antara keduanya adalah cara pandang manusia. Manusia sering kali memandang pimpinan Allah yang positif itu dari Allah, sedangkan yang kelihatannya negatif itu dari setan. Padahal tidak demikian. Di Perjanjian Lama, Allah memimpin umat-Nya, Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan dengan pimpinan positif dan negatif. Pimpinan positif diberikan-Nya ketika Ia memberikan manna kepada orang Israel ketika mereka kelaparan dan memberikan air kepada mereka yang kehausan. Tetapi Allah yang sama memimpin mereka untuk berputar-putar dahulu selama 40 tahun (Yos. 5:6; bdk. Ul. 2:7) untuk sampai ke Tanah Kanaan untuk menguji iman dan kesetiaan umat-Nya (kelihatannya negatif). Pimpinan Allah yang negatif mungkin kelihatan negatif di mata manusia, tetapi percayalah, pimpinan itu pasti berdampak positif bagi umat-Nya. Di Perjanjian Baru, Allah yang sama juga memimpin para rasul dengan pimpinan positif dan negatif. Pimpinan Allah yang positif dapat dilihat ketika Roh Kudus bekerja luar biasa dahsyat di dalam diri Petrus ketika ia memberitakan Injil, sehingga dr. Lukas mencatat pada saat itu yang bertobat pada hari Pentakosta adalah kira-kira 3000 orang (Kis. 2:41). Pimpinan Allah yang seolah-olah negatif dapat dilihat ketika Roh Kudus mencegah Paulus memberitakan Injil di Asia (Kis. 16:6). Mengapa Roh Kudus melarang Paulus memberitakan Injil di Asia? Bukankah maksud Paulus itu baik yaitu memberitakan Injil? Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa maksud Roh Kudus melarang Paulus memberitakan Injil di Asia adalah Paulus lebih cocok diutus ke Eropa, karena orang-orang di Eropa membutuhkan orang-orang seperti Paulus untuk meruntuhkan semua filsafat mereka dan menundukkannya di bawah Kristus, sedangkan untuk daerah Asia, Petrus lah yang diutus. Di sini, kita mendapatkan pengertian yang lebih dalam lagi yaitu ketika Roh Kudus melarang kita memberitakan Injil, bukan berarti Ia melarang motivasi kita yang baik itu, tetapi mungkin sekali Ia mempersiapkan orang lain untuk melakukan apa yang kita kerjakan, dan kita sendiri dipersiapkan untuk melakukan tugas yang lain yang lebih sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan kepada kita.
Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Masihkah kita menganggap pimpinan Allah yang seolah-olah negatif itu dari setan? Ataukah hari ini, kita mau kembali kepada Tuhan dan melihat pimpinan-Nya baik yang positif dan kelihatan negatif itu sama-sama pimpinan Allah yang baik bagi kita? Ingatlah, Allah sebagai Sumber dan Pusat hidup kita menginginkan kita mensinkronkan kehendak kita dengan kehendak-Nya melalui pimpinan-Nya. Sudah siapkah kita melakukannya?

B. Bagaimana Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah dalam Hidup Orang Percaya?
Lalu, bagaimana kita mengerti kehendak dan pimpinan Allah itu? Ada beberapa prinsip yang perlu kita mengerti dalam memahami kehendak dan pimpinan Allah di dalam segala aspek, yaitu:
1. Menyadari status kita sebagai orang percaya (anak-anak Allah)
Poin pertama yang harus kita pikirkan ketika kita mau mengerti kehendak dan pimpinan Allah adalah kita pertama-tama harus menyadari status kita sebagai orang percaya. Mengapa ini penting? Karena jika kita tidak pernah menyadari status kita sebagai orang percaya, kita tak akan pernah ada kehendak dan kerinduan untuk mensinkronkan apa yang kita inginkan dengan apa yang Allah inginkan. Orang percaya sejati bukan hanya orang yang aktif di dalam setiap kegiatan gereja, tetapi orang yang benar-benar 100% mendedikasikan hidupnya untuk memuliakan Tuhan. Mereka adalah orang yang mau menTuhankan Kristus di dalam hidupnya, bukan hanya sekadar di mulut saja. Ketika kita sudah menyadari bahwa kita sungguh-sungguh orang percaya yang memiliki kerinduan untuk mensinkronkan kehendak kita dengan kehendak Allah, maka kita baru boleh memikirkan bagaimana mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam hidup kita. Tetapi jika kita tidak pernah menyadarinya, jangan pernah mulai memikirkan kehendak dan pimpinan Allah, karena itu adalah hal yang sia-sia. Lalu, bagaimana kita bisa menyadari bahwa kita benar-benar orang percaya? Roh Kudus lah yang bersaksi bersama roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rm. 8:16). Di sini, ada janji Roh Kudus yang akan menyertai, menolong, menegur, menasihati, dan menghibur kita sebagai anak-anak-Nya. Ketika kita mulai menyeleweng dari kehendak Allah, Roh Kudus mengingatkan kita dengan menegur, menasihati, bahkan menghajar kita agar kita kembali kepada kehendak Allah. Ketika kita meresponi apa yang Roh Kudus lakukan di dalam hati kita ini, itu tandanya kita anak-anak Allah. Jika tidak, berhati-hatilah, mungkin sekali Anda bukanlah anak Tuhan, tetapi menyamar seolah-olah seperti anak Tuhan. Inilah bedanya, orang percaya (anak Tuhan) sejati dengan orang “percaya” (anak setan). Jadi, mulai sekarang, jangan berani mengatakan dan menyamakan semua orang Kristen dengan anak Tuhan, karena tidak semua orang Kristen adalah anak Tuhan.

2. Bergumul setiap hari bersama Tuhan
Kita jangan pernah menginginkan pimpinan Tuhan secara instant. Tuhan tidak pernah memimpin/memberikan segala sesuatu secara instant/serba cepat. Tuhan ingin kita berproses di dalam mengerti pimpinan-Nya. Proses itulah yang kita harus bangun dan mulai dengan bergumul setiap hari bersama-Nya di dalam doa dan pembacaan Alkitab.
Di dalam doa, kita terus menggumulkan apa yang menjadi kehendak dan pimpinan-Nya baik dalam karier, pekerjaan, perkuliahan, maupun pasangan hidup. Nyatakanlah apa yang kita inginkan di hadapan Tuhan di dalam doa, tetapi ingat, biarkan Tuhan yang menilai apa yang kita inginkan itu sesuai kehendak-Nya atau tidak. Berarti di dalam doa, ada komunikasi antara kita dengan Allah. Jangan pernah memanipulasi kepentingan kita di dalam doa. Biarkanlah Allah juga berkata-kata kepada kita di dalam doa. Itulah yang dialami baik oleh para nabi dan rasul di Alkitab ketika mereka melayani Tuhan dan memutuskan segala sesuatu. Mereka tidak gegabah melayani Tuhan dan memutuskan segala sesuatu, tetapi mereka meminta petunjuk Tuhan di dalam doa. Bagaimana dengan hidup doa kita? Apakah kita berdoa setiap hari? Ataukah kita berdoa hanya ketika kita sedang bergumul? Tuhan tidak mau kita berdoa hanya pada saat kita menggumulkan sesuatu. Misalnya, ketika kita mau bekerja, kita baru berdoa menggumulkan pimpinan Tuhan tentang pekerjaan apa yang dikehendaki-Nya. Tuhan mau seluruh hidup umat-Nya adalah hidup yang bergumul di dalam doa.
Bukan hanya di dalam doa, kita pun harus menggumulkan pimpinan Tuhan juga melalui firman-Nya, Alkitab. Di dalam Alkitab, kita belajar banyak prinsip-prinsip Kebenaran yang Allah inginkan di dalam seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, di dalam pekerjaan, Alkitab mengajar bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah (Rm. 11:36), lalu Alkitab juga mengajar bahwa kita harus bekerja seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:23). Dari dua bagian Alkitab ini, kita akan mengerti bahwa pekerjaan yang Tuhan inginkan adalah yang berkenan kepada-Nya (memuliakan-Nya) dan Ia menginginkan kita bekerja semaksimal mungkin untuk memuliakan-Nya. Dari prinsip ini, jika kita misalnya ditawari dua pekerjaan, yang satu, sebagai sekretaris bank, dan yang lainnya, sebagai orang yang berkecimpung di dalam MLM (Multi Level Marketing), maka atas dasar prinsip Alkitab, kita harusnya lebih memilih profesi sebagai sekretaris bank meskipun gajinya lebih sedikit. Mengapa? Karena menjadi orang yang berkecimpung di MLM adalah orang yang berjudi dan praktek perjudian dilarang di Alkitab. Contoh kedua, misalnya pergumulan mencari pasangan hidup. Alkitab mengajar bahwa prinsip pertama mencari pasangan hidup adalah: lawan jenis (mengutip pernyataan Pdt. Effendi Susanto). Tuhan menciptakan pria dan wanita (tidak ada alternatif ketiga dan Tuhan mengutuk alternatif ketiga tersebut) dan Ia menghendaki pria dan wanita bersatu di dalam lembaga pernikahan (Kej. 2:24; Mat. 19:5; Ef. 5:31). Kedua, Alkitab mengajar bahwa orang percaya harus mencari pasangan hidup yang seiman (2Kor. 6:14; secara konteks, “pasangan” di sini mengacu kepada sahabat, bisa juga diterjemahkan sahabat/pasangan hidup). Ketiga, Alkitab juga mengajar adanya kesepadanan (saling melengkapi) antara pria dan wanita yang diciptakan Allah secara berbeda (Kej. 2:18). “Sepadan” tidak berarti identik, tetapi sepadan berarti melengkapi. Dalam bahasa Ibrani, kata ini bisa diterjemahkan part opposite (=bagian yang berlawanan) Terjemahan kata ini sungguh unik, yaitu menggabungkan 2 istilah: bagian dan berlawanan. Meskipun berlawanan, keduanya tetap merupakan satu bagian (seperti dua gigi roda yang saling melengkapi). Di sinilah, artinya sepadan, yaitu satu bagian dengan dua karakter yang berbeda yang saling melengkapi. Tetapi kesepadanan ini berlaku bukan pada karakter primer yang berkaitan dengan kebenaran, tetapi pada karakter “sekunder” yang sama-sama bersumbangsih. Jangan salah mengerti arti kesepadanan ini, lalu menafsirkan kesepadanan berarti: kalau si cowok orangnya on-time, maka si cewek orangnya harus suka telat (ngaret); kalau si cowok jujur, maka si cewek harus tidak jujur; dll. Itu bukan contoh kesepadanan yang tepat. Kesepadanan yang tepat adalah jika si cowok orangnya cepat bekerja, maka harus diimbangi dengan si cewek yang agak lambat kerjanya, supaya masing-masing bisa saling membantu. Jika cowok dan cewek sama-sama cepat kerjanya, maka pekerjaan itu menjadi tidak teliti, karena tidak ada salah satu yang lambat memeriksa pekerjaan itu. Dan ketika mereka saling melengkapi dalam karakter, mereka melakukannya dengan semangat altruistik yang murni, bukan dengan tujuan menuntut/memaksa. Kegagalan pernikahan Kristen karena masing-masing pasangan saling menuntut.3 Pdt. Sutjipto Subeno pernah mengatakan bahwa pernikahan Kristen bukan mendapat sesuatu, tetapi memberi seseuatu (Christian marriage is not to get something from others, but to give something to others).
Dari tiga prinsip dasar ini, kita mendapatkan prinsip bahwa ketika kita ingin memilih pasangan hidup, yang perlu diperhatikan adalah satu, apakah pasangan kita lawan jenis atau sesama jenis; kedua, apakah pasangan kita seiman (dalam arti benar-benar percaya kepada Kristus, bukan hanya “Kristen”); dan ketiga, apakah masing-masing pasangan bersedia saling melengkapi (dan membangun) dalam karakter.

3. Meminta pertimbangan dari orangtua, teman/rekan/saudara, dan khususnya dari hamba Tuhan.
Prinsip terakhir di dalam mengerti kehendak dan pimpinan Allah adalah meminta pertimbangan dari orang-orang dekat, misalnya orangtua, teman/rekan/saudara, dan terutama dari para hamba Tuhan/orang Kristen yang taat. Mengapa saya meletakkan prinsip ini sebagai prinsip terakhir? Karena prinsip ini harus bersumber dari dan diuji oleh prinsip nomer dua, yaitu doa dan Alkitab. Orang yang tiba-tiba ingin mengerti pimpinan Allah hanya dari orangtua saja, lalu tak pernah bergumul di dalam doa dan membaca Alkitab, orang tersebut picik dan tak mungkin bisa mengerti apa yang Tuhan inginkan, mengapa? Karena ia telah mengunci orang-orang tertentu sebagai bukti pimpinan Allah bagi hidupnya, padahal mungkin orang-orang tertentu itu belum tentu benar mengarahkan kita sesuai prinsip-prinsip Firman (atau yang lebih parah, orang-orang yang kita percayai bisa saja membawa kita lebih menyeleweng dari kehendak dan pimpinan Allah, meskipun kelihatan “baik”). Jadi, prinsipnya doa dan Firman (Alkitab) menjadi kriteria penguji dan penghakim semua sarana manusia yang kita pakai untuk mengerti pimpinan Allah.
Setelah kita bergumul bersama Tuhan setiap hari di dalam doa dan pembacaan firman, kita baru boleh berkonsultasi dan meminta pertimbangan dengan hamba Tuhan, orangtua, rekan/sahabat/saudara, dan orang-orang yang dekat dengan kita. Mungkin saja, Tuhan memakai orang-orang tersebut untuk menasihati kita di dalam mengerti pimpinan Allah di dalam hidup kita. Di Perjanjian Lama, Tuhan memakai Abraham untuk mencarikan pasangan/istri bagi Ishak, anaknya. Di Perjanjian Baru, Tuhan memakai Paulus untuk menegur Petrus, rekan pelayanannya agar Petrus tidak berlaku munafik (Gal. 2:11-14). Tetapi kedua hal ini tidak boleh menjadi standar, lalu ditafsirkan bahwa orangtua harus mencarikan anaknya pasangan hidup, karena Abraham diperintahkan Tuhan seperti itu. Kedua contoh tadi hanya beberapa contoh media orang yang Tuhan pakai bagi anak-anak-Nya.
Lalu, kita perlu memerhatikan orang-orang yang kepadanya kita meminta pertimbangan, seperti apakah orang-orang tersebut. Jika kita ingin meminta pertimbangan tentang pasangan hidup kita, carilah orang-orang yang benar-benar mengerti kriteria pasangan hidup khususnya dari sudut pandang Alkitab. Dalam hal ini, saya lebih merekomendasikan agar kita lebih meminta pertimbangan kepada hamba Tuhan yang sungguh-sungguh dan bertanggungjawab atau orang Kristen yang taat agar kita lebih mengerti pimpinan Allah. Bagaimana jika kita meminta saran tersebut dari orangtua yang melahirkan kita? Kita boleh meminta juga saran dari orangtua kita, meskipun tentu saran orangtua kita belum tentu benar (karena mereka bukan Tuhan kita), karena mungkin sekali mereka memberi saran hanya dari sudut pandang dunia pada umumnya (respon terhadap wahyu umum Allah). Bagaimana jika kita juga meminta pertimbangan dari sahabat/rekan/saudara kita? Kita boleh meminta pertimbangan dari mereka, karena mungkin sekali kita lebih terbuka pada mereka (sesuai dengan usia kita), tetapi sekali lagi, saran mereka pun tetap harus diuji oleh kebenaran Firman Tuhan. Jadi, ketiga objek yang kepadanya kita meminta pertimbangan, pertimbangkanlah terlebih dahulu aspek rohaninya, baru aspek-aspek lainnya, supaya kita lebih mengerti pimpinan Allah, bukan apa yang dunia/orang kehendaki. Ingatlah, jangan pernah menelan mentah-mentah semua pertimbangan yang kita dapatkan, tetapi ujilah semua pertimbangan itu dengan dasar Alkitab saja (Sola Scriptura), lalu putuskan sendiri dengan bertanggungjawab di hadapan Tuhan.

Bagian 1 dan 2

Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah
(Pergumulan Hidup Orang Percaya Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia)


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Roma 11:36)

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
(Efesus 2:10)



I. Pendahuluan dan Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai pribadi yang diciptakan, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. memaparkan konsep yang menarik, yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki “kehendak bebas” (manusia sebagai pribadi) sekaligus manusia yang harus bergantung dan taat mutlak pada Pencipta (manusia sebagai pribadi yang diciptakan).1 Selain itu, manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, melainkan dengan tujuan dan tujuan itu adalah hanya untuk memuliakan Dia saja. Karena alasan inilah, sudah seharusnya sebagai manusia, kita harus kembali kepada makna dan tujuan hidup kita kepada Sang Pemberi Hidup itu, yaitu Allah. Ketika kita kembali kepada Allah, kita mengerti makna dan tujuan hidup kita sesuai dengan maksud penciptaan Allah itu.


II. Dosa: Hambatan Utama dalam Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia
Tetapi, benarkah semua manusia ingin kembali kepada Allah untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya? Tidak. Manusia lebih memilih untuk menetapkan diri sendiri atau orang lain (orangtua, teman, dll) sebagai pusat dan sumber (“tuhan”) yang menuntun hidupnya. Itulah yang disebut dosa. Dosa bukan hanya sekadar membunuh, mencuri, berzinah, dll. Itu hanya akibat dosa. Dosa berarti pemberontakan terhadap Allah. Ketika manusia mulai memberontak kepada Allah dan mencari “sumber” lain di luar Allah, pada saat itulah, manusia mulai berdosa, meskipun orang ini tidak pernah membunuh, mencuri, dll. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of The Faith mendefinisikan dosa sebagai berikut,
“When man fell it was therefore his attempt to do without God in every respect ... God had interpreted the universe for him, or we may say man had interpreted the universe under the direction of God, but now he sought to interpret the universe without reference to God... The result for man was that he made for himself a false ideal of knowledge.” (=Ketika manusia berbuat dosa, itu karena usahanya untuk berbuat tanpa Allah dalam setiap hal... Allah telah menginterpretasikan alam semesta bagi manusia atau kita dapat mengatakan manusia telah menginterpretasikan alam semesta di bawah perintah Allah, tetapi sekarang manusia berusaha untuk menginterpretasikan alam semesta tanpa petunjuk Allah... Hasil bagi manusia adalah bahwa dia menghasilkan bagi dirinya sebuah ideal pengetahuan yang salah.)2

Dari definisi Dr. Van Til ini, kita mendapatkan pengertian bahwa dosa berarti manusia berusaha mengambil alih posisi Allah sebagai pusat dan sumber untuk menginterpretasikan alam, manusia, dan segala sesuatu. Akibatnya, bukan pengetahuan yang benar, manusia semakin mendapatkan pengetahuan yang salah (tetapi “seolah-olah” benar). Gambaran pengertian inilah pertama kali dimulai oleh iblis, sebagai bapa/sumber dosa. Iblis berarti penantang Allah. Artinya, ia menyamar sebagai malaikat terang untuk menipu manusia. Bagaimana cara iblis menipu? Iblis menipu manusia dengan menggoda manusia meninggalkan Allah dan menetapkan standar diri atau orang lain sebagai pusat yang menggantikan Allah. Itulah cara kerja iblis yang dialami Adam dan Hawa. Mari kita cermati cara kerja iblis dan dosa di dalam kasus Adam dan Hawa ini.

Pertama, iblis pertama-tama mencobai Hawa bukan dengan perkataan yang jelas-jelas salah, tetapi dengan perkataan yang “seolah-olah” benar. Baca Kejadian 3:1, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (bdk. perkataan Allah sendiri di dalam Kej. 2:16-17, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.””) Perhatikan apa yang telah saya katakan tadi. Iblis menipu manusia dengan pertama-tama memakai “standar” (atau perkataan) Allah bukan untuk menyadarkan manusia, tetapi untuk memelintirnya. Iblis memelintir perkataan Allah ini dengan pertama-tama meragukan perkataan-Nya. Bukan hanya meragukan perkataan-Nya, iblis juga datang mencobai Hawa ini dengan membalikkan sebagian perkataan-Nya. Kemudian, si Hawa dengan bangganya mengulang perkataan-Nya dan menambahinya. Hawa mengatakan bahwa Allah melarangnya makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat bahkan Ia melarang untuk merabanya (Kej. 3:2-3). Padahal, Allah tidak pernah melarang Hawa untuk meraba buah itu (bdk. Kej. 2:17). Di sini, iblis sudah berhasil memancing psikologi Hawa dengan meragukan dan membalikkan firman Allah, lalu Hawa (dengan agak jengkel dan sedikit tidak puas) menjawab pernyataan iblis itu dengan mencoba menambahi perkataan yang tidak difirmankan-Nya. Apa yang Hawa lakukan juga mungkin bisa terjadi pada kita. Ketika iblis mencobai kita, kita kadang kala menjawab cobaan itu dengan mengutip Firman Allah yang diekstrimkan (ditambahkan), sehingga mungkin seolah-olah kita “Alkitabiah”, padahal sebenarnya kita sedang menambahi sesuatu yang tidak difirmankan Allah. Melalui cobaan iblis yang pertama ini, kita disadarkan untuk berhati-hati terhadap godaan iblis.

Kedua, iblis kemudian mencobai Hawa langsung dengan mengatakan apa yang benar-benar bertolak belakang dengan perkataan-Nya. Jika di poin pertama tadi, kita telah melihat cara kerja iblis yang halus yaitu menyamarkan sebagian firman Allah, maka di poin kedua ini, kita melihat lebih tajam lagi bahwa iblis benar-benar menyamarkan dan membelokkan semua firman Allah. Allah telah berfirman kepada manusia agar tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, karena jika mereka memakannya, mereka mati, tetapi iblis memutarbalikkan perkataan-Nya dengan mengatakan bahwa jika mereka makan, mereka tidak mati, melainkan akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan jahat (Kej. 3:4-5). Di saat inilah, motivasi dan semua cara iblis benar-benar terbongkar, tetapi Hawa bukannya sadar malahan tergoda oleh kedok iblis itu. Akhirnya, Hawa melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu baik untuk dimakan, sedap kelihatannya, dan menarik hati karena memberikan pengertian, kemudian setelah itu, ia memakannya (Kej. 3:6). Lalu, Hawa memberikan buah itu kepada suaminya, Adam, dan Adam memakannya. Akibatnya, setelah makan buah pohon itu, mereka berdua telanjang (Kej. 3:7).

Ketiga, dosa mengakibatkan mereka tidak mau mengaku apa yang telah mereka perbuat (baca: Kej. 3:9-19). Setelah mereka memakannya, Allah datang ke Taman Eden mencari mereka (Kej. 3:9). Pdt. Dr. Stephen Tong menafsirkan pernyataan “Di manakah engkau?” di dalam Kej. 3:9 ini sebagai pencarian Allah akan posisi Adam dan Hawa secara rohani, bukan secara jasmani. Ketika Allah mencari mereka, mereka bersembunyi. Lalu, akhirnya, mereka berani keluar dan mengaku bahwa mereka bersembunyi. Ketika Allah bertanya mengapa mereka bersembunyi, mereka menjawab bahwa mereka telanjang. Lalu, Allah bertanya, siapa yang memberi tahu bahwa mereka telanjang dan apakah mereka makan buah pohon itu. Pada saat itulah, terjadilah saling tuding-menuding. Ketika Allah bertanya kepada Adam, Adam menyalahkan Hawa. Ketika Allah bertanya kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular. Lalu, mengapa Allah tidak bertanya juga kepada ular? Karena Allah tahu ular itu dipakai setan yang pekerjaan sehari-harinya adalah mencobai manusia. Sehingga, Ia tidak menyalahkan ular itu, tetapi menyalahkan manusia yang mau diperdaya iblis.

Di sini, kita mendapatkan satu rangkaian jelas mengenai cara kerja iblis dan dosa:
Iblis mencobai Hawa (bukan Adam) dengan meragukan dan membalikkan SEBAGIAN perkataan Allah -> Hawa menjawab pertanyaan iblis itu dengan mengulang perkataan-Nya dan menambahinya -> iblis melancarkan serangannya yang kedua yaitu benar-benar memutarbalikkan SELURUH perkataan perkataan-Nya -> Hawa mulai tergoda, mencoba melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu, akhirnya ia jatuh ke dalam pencobaan itu -> Hawa tidak mau menikmati dosanya sendiri, ia memberikannya kepada Adam untuk bersama-sama menikmatinya -> Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa -> mereka telanjang -> mereka tidak mau mengaku (bahkan saling menuding) ketika Allah menanyai mereka -> Allah menghukum mereka -> mereka diusir Allah dari Taman Eden.

Dari skema rangkaian di atas, kita mendapatkan satu pelajaran berharga, yaitu iblis mengakibatkan manusia meninggalkan Allah secara perlahan-lahan dengan mencoba meragukan (dan memutarbalikkan) SEBAGIAN firman-Nya, lalu akhirnya benar-benar memutarbalikkan SEMUA firman-Nya, sehingga manusia benar-benar terlepas dari Allah. Akibat tragisnya, manusia hidup sia-sia dan tak mengerti arah hidup yang jelas, karena mereka mencoba mencari makna dan tujuan hidup di luar Allah.