10 December 2007

Iman Kristen dan Musik-3

IMAN KRISTEN DAN MUSIK-3
oleh : Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S.
Pada bagian yang kedua kita sudah membahas kecenderungan baik kebudayaan modern yang anti perbedaan dan menekankan konsep unity in uniformity, dengan kebudayaan pasca-modern yang merayakan pluralitas namun akhirnya jatuh ke dalam disintegritas atau fragmentasi. Firman Tuhan memberikan alternatif yang jauh lebih indah daripada kedua kebudayaan yang sangat mewarnai kehidupan kita di atas. Konsep multi-dimensi atau multi-perspektif bukanlah konsep yang asing bagi firman Tuhan karena firman Tuhan mengajarkan kesatuan dalam keaneka-ragaman. Namun di sisi yang lain, firman Tuhan juga memberikan prinsip agar kita tidak jatuh dalam chaotic pluralism, di mana setiap orang berjalan sesuai dengan apa yang dia pandang baik, sesuai dengan pandangan subyektifnya masing-masing, selera yang membentuk dia sejak kecil, relativisasi kebudayaan yang dibuat independen dari penilaian firman Tuhan. In fact kita percaya bahwa kebudayaan manusia sendiri merupakan campuran antara penaburan benih gandum dan lalang. Adalah suatu kefatalan jika kita sebagai orang percaya berpikir bahwa budaya netral adanya. Ada godly culture ada pula sinful culture. Culture pun suatu saat akan dihakimi oleh Tuhan sendiri.

Sekarang bagaimana dengan musik? Sebagai bagian dari culture, musik juga tidak bebas dari nilai. Kita sudah membahas pada bagian yang pertama jika kita berusaha untuk membebaskan musik dari penilaian firman Tuhan, sebenarnya yang terjadi adalah kita sedang membuka pintu lebar-lebar untuk masuknya sekularisme ke dalam musik. Keengganan orang percaya untuk “menguji segala sesuatu dan memegang yang baik” akan semakin menyuburkan angin sekularisme. Lalu bagaimana kita menguji musik? Saya percaya tidak cukup hanya dengan prinsip telos (seperti diusulkan Sdr. Jimmy misalnya).
[1] Kita harus selalu kembali kepada Firman Tuhan, sehingga kita tidak gampang terjebak pada ajaran-ajaran fragmented yang ditawarkan oleh dunia ini. Alkitab membicarakan bukan hanya telos saja yang harus benar, melainkan means untuk mencapai tujuan ke situ juga harus benar dan kudus ditambah lagi sedikitnya dengan motivasi kita juga harus kudus, yaitu kasih.[2] Tiga hal ini adalah merupakan hal minimal yang harus digenapi untuk melakukan suatu pengujian yang Alkitabiah.

Mari kita melihat kehidupan Yesus Kristus sendiri. Dalam sepanjang hidupNya Ia selalu menjaga tujuan hidup yang benar (teleological), sekaligus Alkitab mencatat bahwa Ia tidak pernah berbuat dosa, Yesus tidak pernah memakai sarana-sarana apa pun juga asal saja mencapai goal yang benar dalam pelayananNya. Jesus always does the right thing (aspek deontological), He is truth Himself (yang ini saya tidak sanggup memberikan kategori apa-apa karena kalimat ini terlalu dalam dan kaya sehingga tidak dapat direduksi dengan satu/dua kategori), dan Ia adalah penyataan kasih Allah dalam wujud Pribadi yang berinkarnasi, turun ke dunia (menjawab tuntutan situation ethics). Saya percaya, selain tiga hal ini (teleological, deontological and situational) masih banyak aspek yang lain yang kita bisa pelajari dari kehidupan Yesus Kristus. Tidak ada habisnya kita mengagumi serta menggali dari kelimpahan hidup yang ada padaNya.

Kembali kepada musik, jika kita ingin melakukan suatu pengujian yang lebih komprehensif dan bertanggung-jawab, selain menguji tujuan serta motivasinya yang harus kudus dan benar, kita juga harus menguji musiknya sendiri: is it the right or wrong music? Is it good music or bad music? Is it holy or sinful?

Tentu dalam realitanya, kita tidak dapat melakukan pemisahan putih-hitam karena kita percaya dalam kejahatan yang bagaimanapun selalu masih ada anugerah Tuhan yang menahan dari kerusakan yang serusak-rusaknya, ada common grace (anugerah umum) yang tetap menyatakan secercah kebaikan di dalamnya.
[3] Demikian halnya dengan musik, tidak ada musik yang serusak-rusaknya sehingga tidak mungkin menjadi lebih rusak lagi (karena sudah terlalu rusak), selalu ada ruang untuk setitik (atau mungkin dua – tiga titik J) keindahan di dalamnya. Sebaliknya, tidak ada musik atau seni yang begitu sempurna sehingga dikatakan musik ini adalah musik yang tanpa cacat sesuai dengan selera Tuhan (itu mungkin pengharapan eskatologis, bukan di dunia yang berdosa ini), bagaimanapun musik adalah hasil karya manusia yang berdosa, yang tidak sempurna, yang di dalam Yesus Kristus boleh berharap bahwa hari demi hari ia semakin dikuduskan dan disempurnakan.

NAMUN, ini tidak berarti bahwa karena semua musik toh tidak ada yang sempurna, selalu merupakan campuran antara yang baik dari Tuhan dan kelemahan manusia yang berdosa, kalau begitu semua musik sama adanya.
[4] Tidak sama. Ada musik yang sangat dipengaruhi oleh keindahan Firman Tuhan, namun ada pula yang dibentuk dari spirit yang sangat melawan Tuhan (yang juga ternyata dalam komposisi musiknya).

Sampai di sini saya ingin share apa yang saya pelajari dalam pergumulan pribadi saya mengikut Tuhan khususnya dalam integrasi Firman Tuhan dan musik. Memang, sekali lagi, Alkitab tidak membicarakan nada-nada dan juga tidak dimaksudkan sebagai textbook untuk semua logi. Namun Alkitab membicarakan mengenai apa itu keindahan. Keindahan menurut konsep Firman Tuhan tidak dapat dilepaskan/dipisahkan dengan kebenaran, kekudusan, kesalehan, keadilan, kebaikan dsb. Adalah suatu kecelakaan besar di jaman kita yang selalu terbiasa dan latah mengatakan apa yang dipercaya oleh para penganut agama subjectivism bahwa keindahan semata-mata hanya tergantung pada mata si pelihat (beauty in the eyes of the beholder). Mengapa saya sebut musik ini indah? Karena memang itu indah bagi saya. Saya sejak kecil sudah terbiasa mendengar musik ini, saya dibesarkan dalam selera musik ini, maka musik ini indah.

Kita tidak menyangkali bahwa apa yang kita percaya sebagai kebenaran tidak mungkin lepas dari kontext kebudayaan yang membentuk kita (termasuk di dalamnya selera musik yang mewarnai hidup kita sejak kecil), namun ini tidak berarti bahwa dalam pengujian musik yang benar dan baik semata-mata hanya diwarnai oleh bias subyektif dan tidak ada standard atau kriteria obyektif di dalamnya.
[5] Sekali lagi saya menghimbau, adalah lebih bijaksana bagi kita untuk tetap kembali kepada Firman Tuhan, instead of diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dari filsafat-filsafat dari dunia yang melawan Tuhan kita.

Jika kita percaya pandangan bahwa segala sesuatu yang kita anggap benar sebenarnya adalah merupakan produk selera subyektif kita, maka berdasarkan prinsip ini kita juga bisa mengatakan: “Yesus Kristus adalah Tuhan bagimu, itu karena engkau dibesarkan sejak kecil dalam keluarga Kristen. Pantes saja engkau berselera terhadap ajaran Yesus, pantesan engkau menyebut Dia Tuhan.” Berapa banyak di antara kita di sini yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat namun tidak dibesarkan dalam keluarga Kristen, tidak mendengar pembentukan kebudayaan cerita-cerita sekolah minggu sejak kecil? Saya percaya tidak sedikit dan saya percaya masih banyak yang akan menyusul. Apakah Yesus baru menjadi Tuhan lantaran bias subyektif kita sebagai orang Kristen? Kita berani berkata, “Entah saya percaya Yesus sebagai Tuhan atau tidak, Yesus tetap adalah Tuhan.” Yesus Kristus Tuhan adalah suatu fakta kebenaran obyektif yang tidak dipengaruhi oleh kepercayaan subyektif saya sebagai orang Kristen. Hanya saja, memang ketika saya tidak mempercayaiNya sebagai kebenaran yang subyektif (maksudnya hal itu juga saya imani secara pribadi), kebenaran itu tidak menjadi kebenaran yang menyelamatkan saya, namun bahwa itu tetap adalah kebenaran adalah suatu fakta yang tidak dapat diubah (meskipun saya tidak mempercayainya).

Adalah suatu kebohongan dari dunia ini bahwa segala sesuatu yang kita percaya dan kita anggap benar semata-mata adalah kepercayaan serta pandangan subyektif yang tidak ada dasar obyektivitasnya sama sekali. Ketidak-percayaan terhadap pencarian kebenaran yang bersifat obyektif ini,
[6] atau sederhananya: “kebenaran yang sejati”, dengan menggantikannya dengan sikap “ah, itu kan selera kamu, itu kan pandangan subyektif kamu belaka” adalah suatu penghinaan terhadap Allah Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus Kristus sebagai yang “akan memimpin kamu dalam seluruh kebenaran” (Yoh 16:13). Kita menganggap Roh Kudus tidak cukup berkuasa untuk memimpin kita ke dalam kebenaran yang sejati seperti dijanjikan Yesus. This is a very serious sin! Dan yang lebih kacau adalah: dunia menuduh bahwa orang yang masih mempertahankan iman yang sederhana bahwa ada kebenaran transendental yang terlepas dari selera subyektif kita, karena itu diturunkan dari atas, dari Bapa segala terang, yang padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yak 1:17), tidak ada kepalsuan di dalamNya, orang yang masih percaya seperti itu adalah orang-orang yang tidak jujur dan sedang berbohong!

Kalau boleh sedikit saya sharing dari perjalanan hidup saya pribadi, ada saat-saat yang menyakitkan dalam kehidupan saya di mana saya harus belajar melepaskan selera saya yang tidak kudus dan menggantikannya dengan yang lebih baik yang Tuhan sediakan. Ada musik-musik tertentu – mungkin terlalu general mengatakan musik-musik tertentu – katakanlah lagu-lagu tertentu, yang tadinya saya sukai dan gemari berdasarkan selera pribadi saya, sekarang saya menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan tidak membangun, bukannya tidak boleh (I Kor 10:23), karena pandangan hidup kebebasan Kristen bukan persoalan boleh – tidak boleh, melainkan bahwa di dalam kebebasan saya sebagai orang percaya, saya tidak memerlukan hal itu lagi, ada hal yang jauh lebih indah, berharga dan nikmat yang Tuhan sediakan bagi saya. Di sisi yang lain, ada hal-hal yang tadinya saya sangat tidak berselera untuk melakukannya, namun karena saya mengetahui bahwa itu adalah perintah Tuhan, saya belajar untuk menyangkal diri dan mengubah selera saya yang tidak selalu benar dan kudus.

Ah, sudah tiga halaman lebih saya menulis, hari ini sampai di sini dulu. Hopefully, next time masih bisa sharing lagi. Kiranya Tuhan sumber segala berkat mengaruniakan kepada kita sekalian hidup dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10).
[1] Sebenarnya pandangan yang hanya menekankan the ultimate goal dalam disiplin ilmu disebut teleological ethics. Pandangan utilitarianisme sangat dekat dengan konsep seperti ini. Kecenderungan konsep demikian adalah: yang penting tujuannya baik, ada manfaat dan hasil yang terlihat, caranya, jalannya, sarananya, whatever it is, doesn’t matter. Pandangan etika seperti ini bersifat reduktif dan karena itu kurang komprehensif dan integratif.
[2] Kembali di sini kita melihat bahwa baik teleological ethics, deontological ethics (it is the right thing to do) maupun situation ethics (yang menekankan motivasi kasih) memiliki kelemahan serta kesempitannya masing-masing.
[3] Orang suka mengatakan tentang hal ini “Jam rusak pun dalam satu hari paling sedikit cocok dua kali”.
[4] Kita dapat memberi analogi di sini yaitu teologi. Teologi pun merupakan hasil karya manusia yang berdosa yang berusaha untuk taat serta merefleksikan Firman Tuhan dalam kehidupan yang sementara ini. Tidak ada teologi yang sempurna, yang dapat dikatakan infallible, setara dengan Alkitab. Namun ini tidak berarti bahwa semua teologia pasti sama dan semuanya relativ adanya. Ada teologi dengan tingkat kerusakan minor, ada teologia dengan tingkat kerusakan sangat parah, ada pula teologi yang – kita sungguh dibuat sangat bingung – mengapa hal seperti itu masih bisa disebut teologi!
[5] Indeed, banyak pemikir postmodernist sekuler yang menganut pandangan seperti ini (saya mengatakan sekuler karena tidak semua pemikir kontemporer menyembah ilah jamannya, masih ada sebagian pemikir yang mempertahankan iman yang sederhana kepada ajaran Alkitab sembari terus kritis menyikapi Zeitgeist yang ditawarkan oleh dunia ini).
[6] Maafkan keterbatasan bahasa saya, jika di sini terpaksa menggunakan kutub “subyektif-obyektif” yang sangat berbau Cartesian untuk menjelaskan tentang iman Kristen.

My conscience is captive to the Word of God. ... for to go against conscience is neither right nor safe (Luther at the Imperial Diet of Worms).

09 December 2007

Renungan Natal 2007 (1) : INKARNASI DAN KEDAULATAN ALLAH (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Natal 2007 (1)



INKARNASI DAN KEDAULATAN ALLAH

oleh : Denny Teguh Sutandio



Nats : Yohanes 1:1-5, 9-14

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya…. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”



Pada renungan menjelang Natal kali ini, kita akan membahas tema serial tentang Inkarnasi sebanyak tiga kali. Pada bagian pertama ini, kita akan merenungkan pendahuluan tentang keharusan mutlak Inkarnasi. Pada bagian kedua, kita akan membahas kaitan Inkarnasi dengan datangnya Sumber Terang. Pada bagian terakhir, kita akan membahas mengenai Semangat Inkarnasi Vs Semangat Zaman.

Pendahuluan Injil Yohanes
Injil Yohanes adalah Injil terakhir yang ditulis kira-kira pada tahun 90 Masehi. Handbook to the Bible (2002) menafsirkan bahwa Injil ini ditulis di kemudian hari mengingat para pembaca pada waktu itu dianggap telah mengetahui fakta-fakta mengenai kehidupan Tuhan Yesus. Injil ini ditulis oleh Yohanes, mungkin Yohanes putra Zebedeus, saudara Yakobus, dan rekan kerja Petrus dan Andreas. Yohanes menuliskan suratnya dengan gaya tafsiran terhadap banyak pengajaran dan mukjizat Tuhan Yesus. Fokus Injil Yohanes berbicara tentang Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah. Dan di dalam Injil ini juga terkandung banyak pengajaran Tuhan Yesus dengan metode pengajaran yang berbeda di Yerusalem. Tujuan pokok dari penulisan Injil ini adalah memimpin pembaca kepada iman (Yoh. 20:30-31). (hlm 600)


Yesus Adalah (Firman) Allah
Mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno, Yohanes memulai Injilnya bukan dengan memaparkan fakta historis tentang kelahiran Tuhan Yesus seperti ketiga Injil lainnya (Matius, Markus dan Lukas), tetapi ia memulai Injilnya dari kacamata kekekalan Allah. Di pasal 1 ayat 1, dikatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Di dalam bahasa Yunani, pernyataan “Pada mulanya” di dalam Yohanes 1:1 adalah archē berarti the first/beginning (pertama kalinya/permulaan). Dengan demikian, sebelum dunia dijadikan, sudah (dan terus berlangsung ; menggunakan bentuk kata kerja imperfect/progressive) ada Firman. Kata Firman dalam bahasa Yunaninya logos dan memakai bentuk kata benda (noun), maskulin, singular/tunggal, dan nominative (nominatif/pokok kalimat bagi suatu kata ganti, misalnya I, he, she, who). Berarti, Firman ini bukanlah Firman yang tak berpribadi seperti konsep Yunani kuno tentang logos, tetapi Firman ini adalah Firman yang berpribadi. Firman itu dikatakan bersama-sama (American Standard Version, English Standard Version, Geneva Bible, International Standard Version, King James Version dan New International Version sama-sama menerjemahkannya with/dengan) Allah. Kata “bersama” dalam bahasa Yunani pros bisa berarti toward, near to, etc (dekat dengan). Berarti, Firman Allah itu berada dekat/bersama dengan Allah itu sendiri. Tetapi Firman ini tidak hanya bersama dengan Allah, tetapi Firman itu sendiri adalah Allah. Dalam struktur kata Yunani, kata Firman dan Allah sama-sama menggunakan struktur kata : noun, masculine, singular, nominative. Di sini, berarti Firman itu tidak lain adalah Allah sendiri. Siapakah Firman itu ? Firman itu adalah Yesus yang tentu adalah Allah Pribadi Kedua itu sendiri.

Dilanjutkan dengan ayat 2, “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” Kembali, kata “bersama-sama” dipakai untuk menunjukkan adanya kedekatan/kebersamaan sang Firman/Yesus/Anak Allah dengan Allah Bapa. Karena kebersamaan-Nya dengan Bapa, Kristus juga berperan di dalam Penciptaan. Hal ini ditunjukkan oleh Yohanes di ayat 3, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Pdt. Sutjipto Subeno membagi dua macam penciptaan yang dilakukan oleh/melalui Kristus di dalam ayat ini. Beliau mengatakan bahwa penciptaan pertama adalah penciptaan alam semesta beserta isinya. Dengan kata lain, Kristus itu Pencipta dari segala yang ada dan semua ciptaan (manusia) harus menyerupai gambar Allah yang tidak kelihatan di dalam Pribadi Kristus. Rasul Paulus di dalam Kolose 1:15-16 mengungkapkan hal ini lebih jelas, “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Penciptaan model kedua yang dipaparkan oleh Pdt. Sutjipto Subeno adalah penciptaan tahap kedua. Artinya Kristus juga mencipta sesuatu dari sesuatu yang telah diciptakan. Dengan kata lain, Kristus menciptakan turunan dari ciptaan-ciptaan-Nya. Ini membuktikan adanya pemeliharaan Allah atas dunia ciptaan, sekaligus mengajar orang Kristen untuk tidak mempercayai filsafat deisme (baik secara langsung maupun tidak langsung) yang mengajarkan bahwa setelah menciptakan, Allah membiarkan ciptaan-Nya berjalan menurut hukum alam sendiri.

Bukan hanya sebagai Pencipta, Yohanes 1:4 mengatakan bahwa di dalam Firman Allah itu (Kristus) ada Hidup. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) mengartikan “hidup” di sini dengan “hidup (kekal)”. (hlm. 475) Di sini sangat jelas terlihat bahwa Kristus bukan hanya menciptakan segala sesuatu dan turunannya, tetapi di dalam-Nya ada hidup (kekal). Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa Firman/Kristus ini adalah Pribadi. Jika Firman ini bukan Pribadi, masa mungkin di dalam-Nya ada hidup ? Kembali, hidup yang berada di dalam Firman itu menjadi terang bagi manusia-manusia. Artinya, hidup itu bukan hanya milik Sang Firman saja, tetapi Firman itu memberikan hidup itu kepada manusia, sehingga manusia memiliki kehidupan. Oleh karena itu, manusia sejati adalah manusia yang memiliki hidup yang dikaitkan dengan Terang Firman itu sendiri. Itulah sukacitanya seorang anak Tuhan di dalam Kristus, di mana hidup mereka yang fana ini dikaitkan dengan Sumber Kehidupan di dalam Kristus yang kekal, sehingga hidup mereka adalah hidup yang berharga dan bermakna.

Sang Firman yang adalah Pencipta dan Hidup itu sendiri bukan hanya berada di dalam Kekekalan, tetapi juga mengunjungi dunia kesementaraan ini. Hal ini dinyatakan oleh Yohanes 1 ayat 14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Ayat ini merupakan kunci kita mengerti konsep tentang Inkarnasi. Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia tanpa meninggalkan natur keIlahiannya. Ketika Allah menjadi manusia, di saat yang sama Sang Kekal mengunjungi dunia kesementaraan untuk menebus manusia pilihan-Nya yang sementara ini agar mereka yang sementara dapat disempurnakan dan masuk ke dalam kekekalan Allah di Surga. Tetapi banyak orang dunia sulit mengerti konsep tentang Inkarnasi. Apa saja yang mereka pikirkan dan bagaimana solusinya ?


Problematika Inkarnasi dan Solusinya
Bagi orang dunia, konsep Inkarnasi adalah konsep yang ‘tidak masuk akal’, karena beberapa alasan :
Pertama, Allah yang menjadi manusia. Bagi orang dunia, Allah itu Kekal, nun jauh di sana, tak terjangkau oleh ciptaan, Mahakudus, Mahaadil, dll, sedangkan manusia itu sementara, najis, berdosa, terbatas, dll. Bagaimana mungkin Allah yang kekal mampu menjadi manusia ? Itulah yang menjadi problematika filsafat Yunani yang mengajarkan being dan becoming. Filsuf Plato mengajarkan being, artinya segala sesuatu itu berada di dunia ide yang tidak berubah, sehingga tidak heran dia membedakan antara hal-hal ideal dengan hal-hal nyata, di mana hal-hal yang nyata adalah bayang-bayang dari dunia ide. Lalu, konsep ini mempengaruhi Parmenides dan akhirnya dikembangkan oleh filsuf Immanuel Kant dengan pembedaan tajam antara dunia fenomena (nyata) dan dunia nomena (ide). Sedangkan filsuf Aristoteles mengajarkan becoming, segala sesuatu berubah, sehingga ajaran ini menyatukan antara form (ide) dan matter (benda). Ajaran ini nantinya mempengaruhi Heraclitus dan akhirnya dikembangkan di dalam filsafat Abad Pertengahan (Skolastisisme), khususnya juga Gereja Katolik Roma di dalam Sakramen Perjamuan Kudusnya. (Stephen Tong, Reformasi dan Teologi Reformed, 1991, p. 65) Dari kedua arus filsafat Yunani, kita mendapatkan gambaran bahwa masing-masing filsafat Yunani menekankan hal yang tidak seimbang : Plato terlalu menekankan being, sedangkan Aristoteles terlalu menekankan becoming. Bagaimana dengan agama ? Agama-agama dunia juga tidak mengerti hal ini. Ada agama yang mengajarkan bahwa “Allah” itu nun jauh di sana (transenden), sehingga kalau beribadah, semua pengikutnya harus membunyikan pengeras suara supaya “Allah”nya mendengar. Agama lain terlalu menekankan imanensi “Allah”, sehingga semua manusia adalah “allah” (ide Panteisme). Semua filsafat Yunani dan agama tidak mampu menjawab problematika being dan becoming ini. Lalu, bagaimana solusinya ? TIDAK ada jalan lain, problematika being dan becoming hanya bisa dipecahkan dan ditemukan solusinya di dalam keKristenan di dalam wahyu khusus Allah.
Theologia Reformed memiliki inti doktrin yaitu kedaulatan Allah. Saya pernah membagi tujuh pengertian kedaulatan Allah, di mana salah satunya Inkarnasi adalah bentuk kedaulatan Allah. Artinya, Allah yang Berdaulat adalah Allah yang Berdaulat membatasi diri-Nya yang kekal untuk menjadi manusia yang terbatas. Jika Allah tidak bisa menjadi manusia, masih layakkah Allah disebut Allah ? Di sini, kegagalan konsep sebuah agama (antroposentris) yang mati-matian mengatakan Yesus itu hanya manusia/nabi saja dan bukan Allah. Di dalam Inkarnasi Kristus, problematika being (tidak berubah) dan becoming (berubah) dapat dipecahkan. Di dalam Inkarnasi Kristus, Kekekalan bertemu dengan kesementaraan, sehingga kesementaraan memiliki makna hidup di dalam perspektif Kekekalan. Sehingga kalau Kristus tidak pernah menjadi manusia di dalam Inkarnasi, bagaimana jadinya hidup manusia yang sementara ini ? Hidup yang tidak berada di dalam perspektif kekekalan Kristus adalah hidup yang sia-sia dan tanpa pengharapan.

Kedua, mengapa Allah harus menjadi manusia ? Seorang rekan yang beragama lain di sebuah milis Yahoo bertanya mengapa Allah harus menjadi manusia, bukankah Allah cukup mengajar manusia untuk tidak berdosa lagi ? Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan mudah, karena esensi pertanyaan ini sedang menekankan superioritas manusia yang tanpa dosa. Dengan mengatakan bahwa Allah cukup mengajar manusia untuk tidak berdosa lagi, orang ini hendak mengajarkan bahwa manusia itu cukup “baik”, sehingga manusia cukup hanya diajar Allah tentang kebenaran. Konsep ini mirip dengan konsep seorang filsuf yang mengajarkan teori tabula rasa : manusia lahir seperti kertas putih (tanpa dosa), sehingga kalau dia berdosa, itu karena pengaruh lingkungan sekitar. Benarkah konsep ini ? Jika konsep ini benar, pertanyaannya adalah mengapa dari kecil tanpa diajar oleh orangtua, seorang anak kecil bisa berdusta ? Apakah karena pengaruh lingkungan ? Dari mana seorang anak kecil bisa dipengaruhi lingkungan, kalau dia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa ? Inilah kegagalan teori tabula rasa. Manusia lahir TIDAK seperti kertas putih (tanpa dosa), tetapi manusia lahir dengan dosa asal (original sin). Dosa asal mengakibatkan manusia menjadi hamba dosa. Bapa Gereja Augustinus mengatakan bahwa pada saat manusia berdosa, ia dalam kondisi : tidak bisa tidak berdosa (non-posse non-peccare). Artinya, dosa menimbulkan manusia terikat olehnya dan diperbudak olehnya, sehingga tidak bisa tidak, manusia hanya mengabdi kepada dosa, iblis dan maut sebagai “tuan”nya. Lalu, bagaimana melepaskan dosa manusia ini ? Dengan menumpuk amal baik ? Sekali lagi, mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno, orang yang berpikir bahwa dengan berbuat baik, manusia bisa dibenarkan/diselamatkan, orang itu di titik pertama sudah tidak baik, mengapa ? Karena seorang filsuf Yunani kuno pernah mengajarkan tentang somum bonum, yaitu kebaikan itu dilakukan demi kebaikan itu sendiri. Artinya, motivasi dan tujuan kebaikan itu hanya untuk kebaikan. Sedangkan orang yang berpikir bahwa dengan berbuat baik, ia bisa selamat, ia sedang berpikir bahwa ia berbuat baik agar supaya diselamatkan. Bagaimana kenyataannya jika ia tidak selamat ? Pasti, ia tidak mau lagi berbuat baik, karena percuma/sia-sia. Adalah suatu kekonyolan dari cara berpikir manusia : manusia yang berdosa lalu mencari penyelesaiannya dengan cara manusia (yang berdosa). Inilah kegagalan agama antroposentris yang menekankan amal baik. Perbuatan baik PASTI tidak sanggup menyelesaikan masalah dosa, lalu apa yang dilakukan manusia ? Beberapa manusia ada yang mencoba menutupi dosa-dosanya. Caranya ? Mudah sekali, ikutilah tren psikologi dengan balutan spiritualitas Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) di abad postmodern ini yang mengajarkan bahwa semua adalah “allah”, maka dosa manusia “pasti” bisa “ditutupi/diselesaikan” dengan training-training pengembangan diri (human potential development). Tetapi benarkah demikian ? Apakah dosa bisa diselesaikan dengan tidak mengakui adanya dosa ? TIDAK. Justru, ketika dosa semakin ditutupi dengan tidak ada pengakuan, maka dosa itu semakin besar dan banyak. Mengapa ? Karena dosa berarti pemberontakan terhadap Allah, lalu kalau dosa itu tidak diakui, maka pemberontakan terhadap Allah juga tidak diakui, akibatnya dia makin memberontak terhadap Allah. Ambil contoh, apakah warna hitam ditutupi dengan kertas berwarna putih, maka warna hitam pasti tidak kelihatan ? Secara sesaat, mungkin warna hitam itu tidak kelihatan, tetapi ketika kertas putih itu ditarik, maka warna hitam itu jelas terlihat. Jadi, percuma saja dosa ditutupi, lama-kelamaan pasti terlihat. Selain berbuat baik, dan tidak mengakui adanya dosa, manusia semakin pesimis akhirnya hidupnya dibiarkan seliar mungkin. Tidak heran, manusia di zaman postmodern semakin hidup hedonis dan materialis, tanpa menghiraukan arti hidupnya. Itu adalah kompensasi dari kebingungan hidup di zaman postmodern ini. Akibatnya, dunia yang kita tinggali menjadi rusak (misalnya, polusi udara semakin meningkat, ozon semakin lama semakin bolong, dll) akibat ulah mereka yang hidup sembarangan. Sungguh mengasihankan. Lalu, bagaimana solusi terhadap masalah dosa? Bisakah diselesaikan dengan cara manusia ? TIDAK. Dosa manusia harus diselesaikan dengan cara di luar diri manusia yang tentunya tidak berdosa. Cara siapakah itu? Cara Allah ! Bagaimana Allah mengatasi masalah dosa manusia, padahal Allah itu Mahakudus, sedangkan manusia itu berdosa ? Apakah Allah cukup mengajari manusia tentang kebenaran ? TIDAK. Allah dengan kebijaksanaan-Nya yang sangat tinggi melampaui rasio manusia yang terbatas dan berdosa memutuskan untuk menebus dosa-dosa manusia dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menjadi manusia. Kristus adalah 100% Allah dan 100% manusia. Doktrin dwi-natur Kristus ini banyak diserang oleh orang-orang dunia bahkan beberapa orang “Kristen” sendiri (misalnya, kaum Unitarian). Mereka berkata bahwa ini tidak masuk akal. Benar, ini tidak masuk akal kita yang terbatas dan berdosa, tetapi sangat masuk akal bagi Allah yang kekal dan Mahakudus. Mengapa Kristus harus berdua natur ini ? Mengapa tidak cukup satu natur ? Mari kita memikirkannya. Kristus bernatur Allah, karena hanya Allah yang sanggup dan mampu menebus dosa manusia. Tetapi bagaimana cara Allah menebus dosa manusia, jika Ia sendiri tidak menjelma menjadi manusia ? Oleh sebab itu, Kristus harus bernatur manusia, karena Allah tidak bisa mati, sedangkan manusia bisa mati. Dengan dwi-natur Kristus, Ia bisa mati sekaligus menebus dosa manusia. Di sinilah, problematika being dan becoming terpecahkan. Being menunjuk pada Pribadi Allah yang tidak berubah (kekal) dan becoming menunjuk pada pribadi manusia yang selalu berubah (sementara). Kedua hal ini ada di dalam Kristus, di mana dwi natur Kristus, menurut Pengakuan Iman Chalcedon, tidak terbagi, tidak tercampur, tidak terpisah.

Puji Tuhan, Kristus lahir di dunia ini, kelahiran-Nya bukan seperti kelahiran orang biasa (atau orang “suci”), tetapi kelahiran-Nya sangat khusus, karena kelahiran-Nya adalah Inkarnasi (=Allah menjadi manusia) yang dari kekekalan menembus ke dalam kesementaraan. Biarlah Natal tahun ini, bukan sebagai perayaan religius yang tanpa arti, perayaan rutinitas, atau perayaan sekuler tanpa makna Natal sesungguhnya, tetapi Natal tahun ini adalah Natal Inkarnasional, yaitu kita mengingat kelahiran Kristus sebagai Inkarnasi yang menebus dosa manusia dan membawa kedamaian sejati bagi manusia pilihan-Nya. Ketika Allah mau menjadi manusia demi kita yang najis, berdosa, bobrok, rusak total, dll, ingatlah, itu semua terjadi karena kasih dan anugerah-Nya serta keadilan-Nya yang Mahakudus sehingga setiap umat pilihan-Nya yang percaya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Christmas is Incarnation ! Merry Christmas... Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita. Soli Deo Gloria.

Martir Kristus-6 : ORANG KATOLIK DAN PROTESTAN DIPENJARA

Martir Kristus-6



ORANG KATOLIK DAN PROTESTAN DIPENJARA


Pada tanggal 19 Februari 2007, Bapa Ngyen Van Ly ditangkap di gereja Katoliknya di Hue, Vietnam. Ia telah mengeluarkan pernyataan yang mengkritik penyitaan pemerintah atas tanah milik gereja, kurangnya pemerintah memberikan kebebasan bagi gereja mengadakan pelatihan seminari dan pengaruh negara atas pengajaran-pengajaran Kristiani di dalam gereja. Ia menantang pihak berwenang Komunis bahwa mereka tidak mempunyai kuasa untuk memecat pemimpin keagamaan manapun. Polisi menutup mulutnya ketika ia sekali lagi disidangkan di pengadilan propinsi Hue. Ly yang berumur enam puluh tahun telah dipenjara berkali-kali dan sudah pernah menjalaninya lebih dari 10 tahun. Ia dijatuhi hukuman selama delapan tahun penjara lagi karena membagikan buku-buku yang “sangat melukai negara.”



Sumber :
Buletin Kasih Dalam Perbuatan (KDP) September-Oktober 2007 halaman 12.

08 December 2007

Bab 6 : APA YANG MENGGERAKKAN KEHIDUPAN ANDA ?? (Analisa Terhadap Bab 3 Buku Rick Warren)

Bab 6
Apa yang Menggerakkan Kehidupan Anda ??
(Tuhan Allah atau Manusia yang Ingin Menjadi Seperti “Allah”)


Pada bab 6 ini, kita akan mencoba menggali masing-masing pengajaran Rick Warren di dalam bab/hari ketiga dalam renungan 40 harinya. Penggalian ini bisa bersifat positif maupun negatif dari kacamata kebenaran Firman Tuhan, Alkitab.
Pada halaman 29-32, Warren mengungkapkan bahwa kehidupan setiap orang digerakkan oleh sesuatu, tetapi sayangnya banyak orang digerakkan oleh sesuatu yang salah, misalnya rasa bersalah, kebencian dan kemarahan, rasa takut, materialisme dan kebutuhan akan pengakuan. Bagi Warren, kesemuanya ini akan membawa kehidupan Anda kepada jalan buntu. Lalu, ia mengungkapkan bahwa melalui bukunya, ia ingin memaparkan tujuan-tujuan Allah bagi hidup si pembaca dengan 5 manfaat yang ia kemukakan, sebagai berikut,
Mengenali tujuan Anda memberi makna bagi kehidupan Anda. Kita diciptakan untuk memiliki makna... Tanpa Allah, kehidupan tidak memiliki tujuan, dan tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna, kehidupan tidak memiliki arti atau harapan...Harapan muncul karena ada tujuan... Perubahan-perubahan yang mengagumkan akan terjadi dalam kehidupan Anda ketika Anda mulai menjalaninya dengan suatu tujuan... (Warren, 2005, pp. 32-33).

Komentar saya :
Allah adalah sumber segala sesuatu, ini adalah pandangan yang benar. Tanpa Allah, kita tidak akan memiliki tujuan. Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah tujuan itu sinkron dengan tujuan Allah atau tujuan manusia. Kalau benar tujuan itu adalah tujuan yang sinkron dengan tujuan-Nya, mengapa Warren mengungkapkan bahwa tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna ? Bukankah ini berarti bukan Tuhan lagi yang menjadi tujuan kita hidup, tetapi adanya tujuan itu yang membuat hidup kita bermakna ? Theologia Reformed selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Dia dan bagi Dia saja, dengan demikian tujuan hidup sejati harus dikembalikan bukan memberikan manfaat bagi kita, tetapi murni 100% untuk memuliakan Allah.

Mengenali tujuan Anda memudahkan kehidupan Anda. Tujuan hidup menetapkan apa yang Anda kerjakan dan apa yang tidak Anda kerjakan. Tujuan Anda menjadi patokan yang Anda pakai untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mana yang penting dan mana yang tidak. Anda hanya bertanya, “Apakah kegiatan ini membantu saya memenuhi salah satu dari tujuan Allah bagi kehidupan saya ?”... Kehidupan yang memiliki tujuan juga membawa kepada ketenangan pikiran : “Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuan mereka dan menaruh kepercayaan mereka kepada-Mu.” (Yesaya 26:3 ; Today’s English Version). (Warren, 2005, pp. 33-34).

Komentar saya :
Manfaat mengenali tujuan hidup manusia bagi Warren yang kedua adalah memudahkan kehidupan Anda. Jelas, menurut Warren, tujuan yang ia tetapkan yang katanya dari Allah, ternyata ujung-ujungnya untuk memuaskan keinginan manusia atau memudahkan kehidupan manusia, bukan untuk memuliakan Allah. Inilah akibat dari kesimpangsiuran ajaran Warren yang Arminian (lawan Reformed/Calvinisme) yang menitikberatkan pada kehendak bebas manusia. Untuk mendukung teorinya ini, Warren mengutip Yesaya 26:3 yang sengaja menggunakan terjemahan Today’s English Version (TEV) sehingga ayatnya ini memiliki ide yang cocok dengan idenya, padahal terjemahan lain dari Alkitab bahasa Inggris dan Indonesia tidak memuat kata “tujuan” atau hal-hal yang dicantumkan oleh terjemahan TEV tadi. Perhatikan. Yesaya 26:3 (Terjemahan Baru Indonesia) berkata, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.”, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikannya, “TUHAN, Engkau memberi damai dan sejahtera kepada orang yang teguh hatinya, sebab ia percaya kepada-Mu.” dan terjemahan King James Version (KJV) menerjemahkannya, “Thou wilt keep him in perfect peace, whose mind is stayed on thee: because he trusteth in thee.” Kata “teguh hatinya” entah dengan alasan apa diganti oleh terjemahan TEV menjadi “orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuan mereka”. Yang ditekankan di dalam ayat ini adalah iman/kepercayaan, sama sekali bukan tentang kehidupan yang memiliki tujuan. Lagi-lagi, sembarangan mencomot Alkitab.

Mengenali tujuan Anda membuat kehidupan Anda memiliki fokus. Tujuan itu akan memusatkan usaha dan energi Anda pada apa yang penting. Anda menjadi efektif karena bersikap selektif... Jika Anda ingin hidup Anda memiliki pengaruh, fokuskanlah ! Berhentilah bermain-main. Berhentilah mencoba melakukan segala hal. Kurangi hal-hal yang Anda lakukan. Bahkan kurangi kegiatan-kegiatan yang baik dan hanya melakukan hal-hal yang paling penting... (Warren, 2005, pp. 34-35).

Komentar saya :
Lagi-lagi, menurut Warren, manfaat mengenali tujuan hidup manusia adalah memusatkan usaha dan energi manusia pada apa yang penting. Ini sekali lagi adalah akibat ajaran humanisme yang tercermin melalui “theologia” Arminian yang self-centered (ada sedikit pengaruh Gerakan Zaman Baru/New Age Movement) yang berusaha ditanamkan oleh Warren kepada para pembacanya, dan herannya banyak pembaca buku ini begitu “buta” sehingga tidak dapat mengerti motivasi Warren dalam mengungkapkan ini. Ketika kita mengenali tujuan kita hidup itu semata-mata adalah anugerah Allah yang menuntun dan menuntut kita untuk hidup sesuai kehendak-Nya, bukan bertujuan untuk kehendak kita yang bebas (baik itu mempermudah kehidupan, dll). Di dalam Katekismus Singkat Westminster pasal 1, pertanyaan tentang apakah tujuan utama manusia dijawab dengan pernyataan bahwa tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya. Inilah bedanya antara iman Reformed yang God-centered (tercermin di dalam pengajaran Katekismus Singkat Westminster ini) dan iman Arminian yang self-centered (meskipun sering mengaku God-centered).

Mengenali tujuan Anda akan memotivasi kehidupan Anda. Tujuan selalu menghasilkan keinginan yang kuat. Tidak ada yang bisa membangkitkan energi seperti tujuan yang jelas... George Bernard Shaw menulis, “Inilah sukacita sejati dalam hidup : dipakai untuk suatu tujuan yang disadari oleh diri Anda sebagai tujuan yang hebat ; menjadi suatu kekuatan alam dan bukannya sedikit penyakit dan keluhan yang bersifat mementingkan diri, ...” (Warren, 2005, pp. 35-36).

Komentar saya :
Mengutip perkataan Bernard Shaw, Warren setuju bahwa suatu sukacita “sejati” dalam hidup adalah ketika tujuan yang disadari manusia sebagai tujuan yang hebat dan menjadi suatu kekuatan alam dan bukannya sedikit penyakit, dll. Lagi-lagi, humanisme yang self-centered ditekankan oleh Warren bahwa yang penting dengan tujuan hidup, manusia memiliki sukacita “sejati”, bahkan tujuan itu dapat disebut “sukacita” jika tujuan itu hebat dan kalau perlu tidak mengandung penyakit. Bukankah ini diajarkan oleh “theologia” kemakmuran di dalam banyak gereja kontemporer yang pop ? Mengapa di dalam setiap manfaat dalam mengenali tujuan hidup, Warren selalu mengatakan kata “Anda” dan bukan Allah ? Bukankah ini berarti tujuan hidup manusia itu menurut Warren adalah tujuan manusia itu sendiri yang sebentar meminjam kata “Allah” sebagai tameng, supaya kelihatan “rohani”. Ini jiwa manusia berdosa. Yang benar, tujuan manusia yang sinkron dengan tujuan Allah membuat kita harus terus-menerus menyangkal diri dan memikul salib agar kehendak Allah semakin dinyatakan dan nama-Nya selalu dipuji.

Mengenali tujuan Anda akan mempersiapkan Anda untuk menghadapi kekekalan. ...Adalah lebih bijaksana kalau orang menggunakan waktunya untuk membangun suatu warisan kekal....Anda ditempatkan di sini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan... Suatu hari Anda akan berdiri di hadapan Allah, dan Dia akan memeriksa kehidupan Anda, suatu ujian akhir, sebelum Anda memasuki kekekalan... Untunglah, Allah ingin kita lulus ujian tersebut, karena itu Dia telah memberi kita pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya. Dari Alkitab, kita bisa menyimpulkan bahwa Allah akan menanyai kita dengan dua pertanyaan penting :
Pertama, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap Anak-Ku, Yesus Kristus ?” Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin Anda. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah Anda menerima apa yang Yesus kerjakan bagi Anda dan apakah Anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Nya ?...
Kedua, “Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu?” Apa yang telah Anda lakukan dengan kehidupan Anda, yakni semua karunia, talenta, kesempatan, energi, hubungan, dan kekayaan yang telah Allah berikan kepada Anda?... (Warren, 2005, pp. 36-37).

Komentar saya :
Memang benar bahwa kita harusnya menggunakan waktu untuk membangun suatu warisan kekal, karena kekekalan itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Memang benar pula bahwa suatu saat kita harus bersiap sedia menghadapi kekekalan dan Dia akan memeriksa kehidupan kita, ujian akhir, dll. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah pernyataan akan pertanyaan pertama dari kedua pertanyaan yang menurut Warren akan ditanyakan oleh Allah, yaitu, “Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin Anda. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah Anda menerima apa yang Yesus kerjakan bagi Anda dan apakah Anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Nya ?” Pernyataan ini sangat aneh dan melawan Alkitab. Perhatikan. Dari pernyataan ini, dapat disimpulkan bahwa Warren mutlak menganut “theologia” religionum, karena ia tidak mempedulikan agama apapun asalkan percaya kepada-Nya. Benarkah demikian ? Bisakah Anda membayangkan bahwa ada seorang Islam yang setiap hari menyembah Yesus, tetapi masih Islam ? Ini jelas, tidak masuk akal dan sangat tidak Alkitabiah. Dalam hal ini, Warren tidak mengerti apa istilah “Kristen”, “penebusan”, “dosa”, dll, lalu ia menyamaratakan bahwa semua orang tanpa kecuali, bahkan tanpa menyebut diri Kristen, harus percaya kepada Yesus. Ini salah. Semua orang yang percaya di dalam Kristus adalah orang-orang pilihan-Nya yang dahulu berdosa tetapi telah didamaikan oleh karya penebusan Kristus, lalu mereka harus menjadi Kristen, karena kata “Kristen” berarti pengikut Kristus (Pdt. Dr. Stephen Tong mengajar, “Christianity is Christ/KeKristenan adalah Kristus”). Sedangkan setiap orang yang tidak mempercayai Kristus sampai akhir zaman, jelas, mereka adalah antikristus yang melawan Kristus dan tidak mempercayai-Nya.

05 December 2007

Matius 8:1-4 : THE KINGDOM AND THE ACTION-1

Ringkasan Khotbah : 21 November 2004

The Kingdom & the Action (1)
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 8:1-4


Kita sudah memahami bahwa Injil Matius bukan ditulis secara kronologi tetapi secara tematik, yaitu Kristus Sang Raja dari Kerajaan Sorga itu datang untuk menggenapkan kerajaan-Nya di tengah dunia dan Kerajaan Sorga itu dimulai dari biji sesawi dan kemudian bertumbuh menjadi pohon yang besar sehingga burung dapat bersarang di dalamnya, King and the Kingdom. Untuk menggenapkan Kerajaan Sorga di dunia, Sang Raja itu tidak bekerja seorang diri saja. Sang Raja itu mulai merekrut orang-orang untuk dijadikan-Nya sebagai pekerja di dalam Kerajaan Sorga, the Kingdom and the Workers. Cara Kristus merekrut orang berbeda bahkan berlawanan dengan konsep manusia berdosa namun kita melihat bahwa orang-orang yang Tuhan pilih justru “jadi“ dalam arti mereka berhasil padahal latar belakang sangatlah dihinakan orang. Umumnya sebuah Kerajaan maka Kerajaan Sorga pun mempunyai hukum atau undang-undang yang disebut sebagai hukum Kerajaan Allah yang dipaparkan oleh Sang Raja dalam beberapa khotbah-Nya di atas bukit, the Law of the Kingdom. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat pada undang-undang Kerajaan Sorga, orang yang tidak mau taat berarti pemberontak dan konsekuensinya ia harus dikeluarkan dari statusnya sebagai warga Kerajaan Sorga. Sama seperti halnya malaikat yang tidak mau taat, ia memberontak maka ia dibuang dalam penghukuman kekal dan menjadi iblis. Ini merupakan sistem dan prinsip dari hukum Kerajaan Allah. Karena itu Matius pasal 5–7 dimaksudkan untuk menata wawasan berpikir supaya ketika kita melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang hukum Kerajaan Allah.
Setelah kita mengerti prinsip hukum Kerajaan Allah maka kini kita masuk dalam bagian implikasi, yaitu bagaimana menjalankan prinsip hukum tersebut dalam kehidupan praktis dengan demikian prinsip tersebut tidak sekedar menjadi pengetahuan kognitif belaka. Bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menjalankan hukum Kerajaan Allah meskipun secara garis besar, isi dari hukum tersebut telah kita mengerti sehingga ada kesenjangan antara teori dan praktek. Namun Alkitab mencatat Kristus Sang Raja itu tidak hanya sekedar berteori tetapi Ia sendiri memberikan teladan pada kita bagaimana menerapkan hukum tersebut dalam kehidupan praktis sehari-hari. Matius mencatat setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia (Mat. 8:1), banyak teolog yang menafsirkan bahwa orang banyak yang berbondong-bondong itu adalah orang yang sama yang mendengar khotbah Yesus di atas bukit yang mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Sorga, yakni karena orang banyak itu mengerti prinsip Kerajaan Sorga yang berkualitas dan berbeda dengan yang diajarkan oleh ahli Taurat. Pendidikan Kerajaan Sorga bukan hanya sebatas teori saja tapi harus diimplikasikan dan implikasi ini menuntut kualitas yang tinggi.
Dunia tidak akan pernah membangun prinsip yang dia sendiri tidak mungkin dapat melakukannya maka satu-satunya cara supaya dapat menjalankan prinsip yang dunia ajarkan adalah dengan membangun prinsip sedemikian rupa yang sekiranya sesuai dan dapat dunia lakukan. Salah! Hal itu justru semakin merendahkan prinsip kualitas kerja kita. Yang benar dan yang seharusnya kita lakukan adalah justru membangun konsep berdasarkan prinsip Kerajaan Sorga yang tinggi lalu hidup kita yang ditata sedemikian rupa supaya dapat memenuhi tuntutan kualitas tersebut. Jadi, kualitas hidup kita naik bukannya menurun; kita dituntut untuk bertumbuh dan membuang semua konsep kita yang salah untuk kembali pada kebenaran Firman. Implikasi iman ini disusun oleh Matius dengan sangat indah (Mat. 8:1– 9:34). Dalam hal ini kurang jelas siapa yang menyusun Injil Matius apakah Matius ataukah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) hingga setiap pasal dapat tersusun sedemikian rupa dengan indahnya namun saya yakin semua ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Seperti kita ketahui tulisan asli Alkitab berupa tulisan murni seperti layaknya sebuah surat, tidak ada judul maupun angka-angka yang menandai adanya ayat atau pasal. Kalau kita perhatikan maka bukan suatu kebetulan kalau Matius pasal 8 dan pasal 9 sama-sama terdiri dari 34 ayat dan sama-sama terdiri dari dua tema.
Tema Matius pasal 8, yaitu: 1) Lordship, yaitu Kristus sebagai pusat yang diungkapkan dalam tiga mujizat (ayat 1–17), 2) Disciplership bagaimana menjadi pengikut Kristus, (ayat 18–34). Tema Matius pasal 9, yaitu: 1) Comitmen, bagaimana kita memilih dan berkomitmen dengan benar di antara banyaknya pilihan yang ditawarkan (ayat 1–17), 2) Faith, bagaimana beriman sejati di dalam keseluruhan totalitas (ayat 18–34). Dan bukan suatu kebetulan juga kalau setiap satu tema ada tiga contoh kejadian dimana setiap kejadian tersebut bukanlah kejadian yang terjadi secara berurutan. Semuanya itu pasti karena Tuhan yang turut campur tangan dan juga tidak lepas dari latar belakang kehidupan Matius sebelumnya sebagai seorang pemungut cukai yang selalu berpikir sistematis sehingga Injil Matius dapat terstruktur dengan indah dengan demikian si pembaca dituntun dengan tepat bagaimana seharusnya mengerti mujizat dalam konsep Kristologi, yaitu mujizat merupakan implikasi dari hukum Kerajaan Sorga yang turun ke dunia dan bagaimana sikap manusia yang benar terhadap Sang Raja. Berbeda dengan dunia hanya mengerti mujizat secara antropologi humanis yang berdosa.
Si pembaca juga jadi mengerti bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan beriman dengan demikian orang jadi mengerti bahwa ajaran Kristus bukan hanya sekedar teori yang sulit dijalankan. Tidak! Hukum Kerajaan Sorga ternyata dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan itu membutuhkan pendobrakan total karena konsep kita yang salah selama ini kita menganggapnya sebagai konsep Kristen padahal sesungguhnya adalah konsep antropologis humanistik. Pada sub tema yang pertama dari Injil Matius ini kita akan membahas secara lebih mendalam karena di dalamnya mengandung prinsip penting yang perlu kita perhatikan itulah sebabnya Matius meletakkan ayat ini di bagian pertama. Perhatikan, pada ayat pertama dan kedua sangatlah kontras. Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia; orang banyak di situ pastilah juga ada orang Yahudi. Matius tidak menyebut mereka sebagai murid karena nantinya terbukti kalau ternyata mereka bukan murid sejati tetapi hanya sekedar pendukung Yesus sebab mereka tahu Yesus dapat membuat mujizat. Mujizat seharusnya menjadikan kita memahami bahwa:
1. Yesus adalah Raja yang Berotoritas
Matius ingin menunjukkan kalau Kristus adalah Raja dengan banyaknya pengikut di belakang Dia yang mengiringi kedatangan-Nya. Dan Matius memang sengaja mengontraskan hal tersebut dengan kedatangan seorang sakit kusta yang datang di depan-Nya. Pada jaman itu, sakit kusta sama dengan vonis mati karena tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkan penyakit kusta dan orang juga menganggap kalau sakit kusta merupakan kutukan dari Tuhan sebagai akibat banyaknya dosa yang telah ia perbuat. Dan orang yang sakit kusta harus diasingkan dan dijauhkan dari keluarga. Seorang Raja turun bukit dan di belakangnya diikuti dengan ribuan pendukung namun didepannya ada seorang yang sakit kusta dimana ribuan orang tersebut sangat membenci orang yang sakit kusta tersebut. Bayangkan, andai kita yang menjadi Rajanya saat itu, apa yang akan kita lakukan? Memilih ribuan orang yang menjadi pendukung kita ataukah memilih orang yang sakit kusta dengan konsekuensi ditinggalkan oleh ribuan pendukung? Disini Kristus dihadapkan dengan ajaran-Nya sendiri yang mengajarkan hukum cinta kasih. Posisi ini sangat krusial sekali, Matius ingin membukakan pada kita siapa Kristus? Kejadian yang hampir sama ini pernah juga dialami oleh Petrus di Galatia dimana Petrus sangat baik bersekutu dengan orang non Yahudi seperti orang-orang Yunani dan lain-lain namun setelah orang Yahudi datang maka Petrus mulai menjauhi mereka dan bersekutu dengan orang Yahudi sehingga Paulus menegur Petrus dengan keras.
Alkitab mencatat Tuhan Yesus memilih orang sakit kusta itu, Ia menghampiri dan menjamahnya. Injil Matius membukakan satu hal pada kita bahwa ternyata semua hal yang tidak disuka oleh orang Yahudi justru disanalah Tuhan Yesus melakukan mujizat. Dari doanya orang Yahudi, kita tahu bahwa orang Yahudi sangatlah rasialis dan melecehkan posisi wanita, genderisasi karena itu Matius mengangkat kisah seorang berdosa seperti orang sakit kusta, kisah seorang kafir seperti hamba seorang perwira di Kapernaum dan kisah seorang perempuan, yaitu ibu mertua Petrus untuk dituliskan dengan demikian dapat mengubah konsep mereka yang salah. Ingat, Yesus melakukan mujizat bukan demi supaya orang banyak mengikut Dia. Tidak! Kristus adalah Raja maka Dia berkuasa melakukan apapun sesuai keinginan-Nya termasuk menyembuhkan orang sakit kusta itu dan tindakan Kristus sangatlah tepat. Jadi, mujizat seharusnya menyadarkan kita akan siapa sesungguhnya Kristus, yaitu Dia adalah Raja di atas segala raja maka Dia berhak melakukan apapun. Tuhan tahu apa yang ada di pikiran orang banyak itu dan apa yang menjadi keinginan mereka karena itu Tuhan tidak langsung suka ketika orang banyak berkata, “Guru, aku mau mengikut Engkau.“ Tuhan pasti menanyakan apa motivasi mereka mengikut sebab serigala punya liang, burung di udara ada sarangnya tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Itu artinya Tuhan tidak memberikan sesuatu seperti yang manusia harapkan. Masih banyak lagi pernyataan Tuhan Yesus ketika ada orang yang mau mengikut Dia tapi ia mau menguburkan orang tuanya dulu barulah kemudian ia mengikut. Tuhan langsung menegur dengan keras. Kristus menegaskan bahwa barangsiapa mau mengikut Dia maka ia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Sebagai warga Kerajaan Sorga maka kita harus taat mutlak pada otoritas Sang Raja.
2. Yesus adalah Tuhan Pemberi Mujizat
Mujizat merupakan intervensi dari luar yang bersifat supranatural dan sukar dimengerti logika manusia. Bayangkan, hanya dijamah saja oleh Tuhan Yesus, borok yang ada di sekujur tubuhnya menjadi sembuh dan ia menjadi tahir. Berbeda kalau pengobatan itu dilakukan secara natural, yaitu dengan obat-obatan maka orang yang sakit dapat disembuhkan. Itu berarti supranatural tingkatnya lebih tinggi dari yang natural. Tapi manusia berdosa lebih suka kalau yang supranatural itu menguasai yang natural sebaliknya ia tidak suka pada pribadi si supranatural itu sendiri. Orang lebih suka kalau yang supranatural ini turut campur tangan ketika orang dalam kesusahan berbeda halnya kalau orang dalam keadaan sehat dan kaya maka orang benci kalau disuruh tunduk pada yang supranatural tersebut, orang ingin mengatur Tuhan supaya menuruti semua yang menjadi keinginannya. Dengan alasan beriman, orang yang memaksa Tuhan supaya melakukan mujizat. Siapa yang sesungguhnya berhak melakukan mujizat? Tuhan ataukah manusia?
Seorang manusia berdosa pasti tidak akan dapat melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang sakit kusta yang datang sujud menyembah Dia. Sebab menyembah manusia sama dengan menyembah berhala dan bangsa Israel sudah merasakan akibat dari penyembahan berhala, yaitu mereka berada dalam masa pembuangan selama kurang lebih 80 tahun. Bukankah Tuhan Yesus mati karena Ia dituduh mengaku sebagai anak Allah? Hal ini menunjukkan kalau orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah anak Allah. Jiwa seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak Tuhan sejati. Matius mengangkat cerita ini dan ditaruh di bagian pertama supaya menjadi refleksi bagi kita, apakah benar kita seorang anak Tuhan sejati ataukah hanya memanipulasi Kekristenan demi untuk keuntungan diri sendiri dengan menaruh Tuhan di posisi bawah. Bukan hal yang biasa bagi orang Yahudi menyembah hingga kepala menyentuh ke tanah maka dapatlah dibayangkan bagaimana reaksi orang banyak itu ketika melihat kejadian ini. Orang kusta ini tahu bahwa Yesus adalah Allah dan kini, Sang Raja menunjukkan siapa diri-Nya karena itu Ia tidak menolak ketika orang kusta itu menyembah diri-Nya.
Orang kusta ini juga mempunyai konsep teologis yang benar, hal ini terbukti dari perkataannya, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku“. Orang kusta ini tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan namun ia berbeda, ia tidak memanipulasi kuasa itu sebaliknya ia tunduk di bawah kuasa Kristus. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang selalu memutarbalikkan fakta seperti halnya ketika ia mencobai Yesus di padang gurun: Jika Engkau Anak Allah... Kalau Yesus menuruti perkataan iblis maka itu berarti posisi iblis lebih tinggi dari Yesus padahal iblis yang seharusnya tunduk di bawah Yesus, Raja di atas segala raja. Berbeda dengan orang kusta ini, ia tidak meragukan sedikitpun posisi Kristus sebagai Tuhan. Orang yang beriman sejati tahu siapa yang menjadi Tuan dalam hidupnya. Konsep ini sudah ada sejak Perjanjian Lama, sebagai contoh teman-teman Daniel tidak takut meski mereka dihadapkan pada hukuman kematian kalau tidak mau menyembah pada raja yang berkuasa pada jaman itu. Hari ini justru terbalik, orang baru mau mengikut Yesus kalau ia diuntungkan. Melalui mujizat Matius membukakan pada kita bahwa Yesus adalah Tuhan dan manusia yang harus tunduk di bawah kuasa Yesus.
Yesus telah memberikan teladan indah pada kita bahwa hukum Kerajaan Allah itu bukan hanya sekedar teori tapi dapat kita jalankan. Kiranya hal ini boleh menguatkan iman kita dan memberikan keberanian pada kita sehingga iman kita tidak menjadi goyah ketika menghadapi berbagai tantangan dari dunia. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Roma 4:9-12 : IMAN, KEBENARAN DAN PERJANJIAN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Fokus Iman-3


Iman, Kebenaran dan Perjanjian Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 4:9-12.

Setelah Paulus memaparkan tentang theologia dibenarkan melalui iman di dalam Perjanjian Lama, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa iman itu berfokus/bersumber pada perjanjian Allah.

Pada ayat 9, Paulus mengatakan, “Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.” Melanjutkan ayat 7-8, di ayat 9, Paulus bertanya apakah ucapan bahagia/yang diberkati ini (KJV : blessedness) ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau lebih luas lagi yaitu juga bagi orang yang tidak bersunat? Pertanyaan ini muncul mengingat surat ini ditulis juga kepada orang-orang Yahudi yang tinggal di Roma yang memiliki konsep bahwa hanya umat Israel yang mendapat berkat Tuhan, sedangkan bangsa lain dianggap kafir. Paulus membongkar konsep umat Israel yang “fanatik” ini dengan pengajaran bahwa selain bangsa Israel, Tuhan juga menyediakan jalan keselamatan. Mengapa ? Karena semua manusia yang beriman seperti iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Para “theolog” religionum/social “gospel” yang notabene liberal terselubung (salah satunya Jusufroni) mungkin menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa yang penting beriman di dalam iman Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam), maka manusia diselamatkan. Tafsiran ini sesat ! Semua manusia tanpa memandang dari suku, ras atau bangsa manapun yang memiliki iman seperti iman Abraham berarti mereka beriman di dalam Kristus, barulah iman mereka diperhitungkan sebagai kebenaran. Mengapa iman Abraham identik dengan iman di dalam Kristus ? Inilah iman Perjanjian Lama yang mengarah dan menuju kepada finalitas Kristus yang diutus Bapa. Mengapa ? Karena Allah yang menyatakan diri kepada Abraham adalah Allah yang sama yang juga menyatakan diri kepada umat pilihan-Nya di dalam Pribadi Kristus. Lalu, kata “iman” sendiri di dalam ayat ini dalam bahasa Yunani pistis bisa berarti secara khusus reliance upon Christ for salvation (bergantung pada Kristus untuk keselamatan). Jadi, iman sejati seperti iman yang dimiliki Abraham adalah iman hanya di dalam Pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dengan iman seperti inilah, umat pilihan-Nya diimputasikan kebenaran Allah. Kata “kebenaran” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya dikaiosunē berarti righteousness (kebenaran keadilan atau kebenaran dalam proses). Kalimat terakhir pada ayat ini menurut terjemahan King James Version (KJV) adalah, “for we say that faith was reckoned to Abraham for righteousness.” Terjemahan literalnya adalah “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham bagi kebenaran.” Kata “for” kedua pada kalimat ini dalam bahasa Yunani eis berarti to, into (pada, ke dalam). Sehingga kalimat ini dapat diterjemahkan, “karena kita mengatakan bahwa iman diperhitungkan kepada Abraham ke dalam kebenaran.” Jadi, iman di dalam Kristus diperhitungkan Allah dan dimasukkan ke dalam kebenaran. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman di dalam Kristus pun diperhitungkan Allah dan iman kita dimasukkan ke dalam kebenaran (proses) menuju kebenaran kekal (Yunani : aletheia) di Surga kelak. Dengan kata lain, iman memimpin kita kepada kebenaran. Apakah ini berarti tanpa iman, kebenaran tidak bisa berbuat apa-apa ? Tidak. Yang saya maksudkan adalah iman dan kebenaran saling mengisi. Hal ini mirip dengan pendapat dari Bapa Gereja Augustinus, credo ut intelligam yaitu aku percaya/beriman supaya aku dapat mengerti. Demikian juga dengan hubungan antara iman dan kebenaran. Iman memimpin kita mengenal kebenaran di dalam Allah (Yunani : dikaiosunē) dan kebenaran ini terus memimpin iman kita menuju kepada kebenaran kekal di dalam Kristus (Yohanes 14:6). Saya menyebut hal ini dengan istilah the relationship between progressive faith and progressive knowledge of God in righteousness and truth (=hubungan antara iman yang progresif/berkelanjutan dengan pengetahuan Allah yang progresif di dalam proses kebenaran keadilan dan kebenaran mutlak).

Lalu, Paulus melanjutkan pernyataannya dengan pertanyaan sekaligus jawaban di ayat 10, “Dalam keadaan manakah hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.” Ayat ini merupakan kelanjutan pernyataan dari ayat 9 dengan mempertajam fokus masalah yaitu ketika iman Abraham diperhitungkan Allah sebagai (atau ke dalam) kebenaran, maka kapankah itu terjadi, apakah sesudah Abraham disunat atau sebelum ? Kata “sunat” sengaja dimunculkan oleh Paulus untuk mengubah pola pikir orang Yahudi. Orang Yahudi menganggap bahwa sunat sebagai perjanjian Allah adalah syarat mutlak bagi seseorang yang ingin diselamatkan/dibenarkan oleh Allah. Padahal konsep ini tidak diajarkan baik di dalam Taurat maupun Perjanjian Lama lainnya. Sehingga Paulus menyadarkan orang Yahudi bahwa Abraham dibenarkan melalui iman bukan setelah ia disunat, tetapi sebelum ia disunat. Perbandingan antara sebelum dan sesudah disunat di dalam terjemahan KJV diartikan circumcision (penyunatan) dan uncircumcision (keadaan tidak disunat), di dalam terjemahan International Standard Version (ISV) dan New American Standard Bible (NASB) juga diartikan circumcised (yang disunat) dan uncircumcised (yang tidak disunat), sedangkan dalam terjemahan English Standard Version (ESV) dan New Revised Standard Version (NRSV) mengartikan sebelum dan setelah disunat sama seperti terjemahan LAI. Kedua terjemahan ini memang hampir mirip artinya, tetapi saya pribadi lebih memilih arti “disunat” dan “tidak disunat”. Mengapa ? Karena arti ini lebih dekat dengan pengertian seluruh perikop yaitu Abraham dibenarkan melalui iman. Kalau kita menggunakan arti “sebelum disunat” dan “setelah disunat”, maka pengertiannya berubah dan berfokus pada pentingnya disunat, padahal hal ini ditentang di dalam perikop ini dan dalam pengajaran Alkitab lainnya secara menyeluruh. Kembali, Abraham diimputasikan kebenaran dari Allah sehingga ia dapat beriman justru terjadi di dalam kondisi Abraham tidak disunat. Kalau kita meneliti kitab Kejadian khususnya mengenai Abraham, maka Allah lah yang mengambil inisiatif aktif untuk memanggil Abraham keluar dari negerinya Urkasdim untuk menuju negeri yang dijanjikan Allah. Setelah itu, barulah Abraham dapat meresponi panggilan Allah ini dengan beriman dan taat. Apa signifikansi pengajaran ini ? Geneva Bible Translation Notes mengatakan, “...Abraham was justified in uncircumcision, therefore this justification belongs also to the uncircumcised…” (=Abraham dibenarkan di dalam kondisi tidak bersunat, oleh karena itu pembenaran ini juga menjadi milik mereka yang tidak bersunat.) Jadi, fokusnya tetap iman yang meresponi panggilan Allah. Sehingga, theologia Reformed yang mendekati pengertian Alkitab mengajarkan bahwa anugerah dan panggilan/pilihan Allah mendahului iman umat pilihan-Nya. Sungguh suatu anugerah Allah yang begitu agung ketika kita sebagai umat pilihan-Nya dikaruniai iman di dalam Kristus, sehingga ketika kita beriman, sudah seharusnya kita bersyukur kepada-Nya dan memuliakan Dia atas apa yang Dia telah kerjakan (bukan atas apa yang kita dengan kemampuan sendiri lakukan). Jadi, “theologia” Arminian yang berfokus pada kehendak bebas manusia adalah salah dan melawan Alkitab, karena “theologia” ini menjunjung tinggi humanisme yang melawan Allah. Bagaimana dengan kita ? Kita yang sudah beriman Kristen sekalipun seringkali memiliki paradigma bahwa kita lah yang beriman (berusaha), seolah-olah tanpa kita, Allah “kewalahan” menawarkan anugerah penebusan Kristus. Konsep ini jelas salah (dipengaruhi oleh “theologia” Arminian) dan melawan Alkitab. Alkitab mengajarkan bahwa iman itu anugerah Allah (Efesus 2:8-9) dan iman itu membawa kita mengenal kebenaran Allah (baik righteousness maupun truth).

Kalau sunat bukan menjadi fokus pembenaran umat pilihan, maka apakah berarti sunat tidak perlu ? TIDAK. Di ayat 11, Paulus mengungkapkan, “Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,” Tanda sunat di dalam Perjanjian Lama tetap berguna bukan sebagai fokus/syarat dibenarkan, tetapi akibat dari pembenaran yaitu janji atau meterai kebenaran berdasarkan iman Abraham. Kata “meterai” sama dengan kata “perjanjian” yang Paulus kutip dari Kejadian 17:10, “Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;” Kata “perjanjian” di dalam Kejadian 17:10 dalam terjemahan KJV dan ISV adalah covenant. Iman yang berfokus pada perjanjian Allah inilah yang menjadi dasar iman (bapa) bagi semua orang percaya yang tak bersunat, sehingga mereka yang belum mengenal Allah dapat mengenal Allah melalui iman Abraham. Orang yang beriman sejati yang berfokus pada kebenaran dan janji Allah juga melakukan apa yang diimani dengan menaati apa yang difirmankan Allah. Dalam konteks Perjanjian Lama, tindakan menaati firman Allah yaitu dengan melakukan sunat dan segala syariat di dalam Hukum Taurat. Di dalam era Perjanjian Baru, beberapa tafsiran menerjemahkan sunat dengan sunat rohani yaitu sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan. Seorang penafsir Matthew Henry menyatakan bahwa sunat itu sebagai tanda pembersihan dengan pemotongan, demikian juga baptisan merupakan tanda pembersihan untuk masuk ke dalam anggota tubuh Kristus di dalam gereja yang kelihatan (visible church). Demikian juga dengan umat pilihan-Nya yang berasal dari agama lain yang masuk ke dalam anggota tubuh Kristus harus menerima sakramen baptisan sebagai tanda pembersihan (tidak ada hubungannya dengan tanda masuk Surga). Selain itu, di dalam ayat ini, kata “tidak disunat” (uncircumcised) dalam bahasa Yunani akrobustia secara figuratif berarti unregenerate (tidak dilahirbarukan). Maka, secara otomatis, sunat identik dengan lahir baru. Dengan demikian, selain sakramen baptisan, sunat bisa berarti pembaharuan. Tetapi jangan langsung menyalahartikan konsep ini lalu mengajarkan bahwa kelahiran baru terjadi sesudah beriman. Kelahiran baru terjadi sebelum umat pilihan-Nya beriman. Lalu, apa arti sebenarnya ? Kelahiran baru di dalam konsep ini adalah proses pengudusan (progressive sanctification) yang dialami oleh semua umat pilihan-Nya setelah mereka beriman di dalam Kristus. Anak Tuhan sejati bukan hanya berhenti di titik beriman di dalam Kristus, tetapi mereka juga tetap berusaha menaati firman Allah dengan bersedia hidup kudus, setia dan taat mutlak sebagai respon dari iman mereka.

Lalu, bagaimana dengan orang percaya yang bersunat ? Di dalam ayat 12, Paulus mengatakan, “dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat.” Bagi mereka yang sudah disunat, dalam konteks Perjanjian Lama adalah orang Yahudi, mereka bukan memfokuskan sunat sebagai syarat dibenarkan, tetapi harus pada iman seperti iman Abraham dalam kondisi tidak bersunat sebagai fokus pembenaran. Untuk lebih jelasnya, silahkan membaca Kejadian 15:6 (baca seluruh pasal) sebagai tanda iman Abraham sebelum dia menerima perjanjian sunat dari Allah (Kejadian 17). Ini berarti iman mereka harus melampaui fenomena (sunat dan tanda-tanda lahiriah lainnya). Iman sejati bukan iman yang berfokus pada fenomena, tetapi iman yang melampaui fenomena dan berfokus pada esensi sejati. Itulah iman Kristen yang beres. Sayangnya, di dalam era postmodern, banyak orang “Kristen” selalu memfokuskan iman mereka pada hal-hal fenomenal, sehingga ketika mereka digoyahkan dengan isu-isu seperti penemuan kubur Yesus, Yesus menikah dengan Maria Magdalena, dll, banyak dari mereka yang tergoyahkan dan hampir menjadi ateis. Inilah akibat dari fokus iman pada hal-hal fenomenal. Oleh karena itu, iman sejati di dalam keKristenan harus dibereskan yaitu hanya berfokus kepada Allah dan Alkitab, di luar itu, termasuk mukjizat-mukjizat harus ditundukkan di bawah prinsip Firman Allah (Alkitab).

Sudahkah iman kita berfokus pada kebenaran Allah di dalam Alkitab ? Jika belum, mulai sekarang, bertobatlah dan kembalilah kepada Kristus dan Alkitab. Soli Deo Gloria. Amin.

Resensi Buku-33 : MENDAMBAKAN MAKNA DIRI (Rev. DR. R. C. SPROUL, L.H.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE HUNGER FOR SIGNIFICANCE
(MENDAMBAKAN MAKNA DIRI)


oleh : Rev. DR. ROBERT CHARLES (R. C.) SPROUL, L.H.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2005

Penerjemah : Lana Asali Sidharta.





“Manusia menurut naturnya adalah pemburu,” tulis Dr. R. C. Sproul dalam Pendahuluan buku ini. Sejarah kehidupan manusia diwarnai dengan perburuan dan pencarian, mulai dari pencarian yang eksotis akan ramuan ajaib, pencarian visioner alam dunia baru, sampai perburuan teroris modern. Namun Sproul memberikan argumentasi yang solid bahwa pencarian yang paling mendasar adalah pencarian kembali akan martabat manusia, apalagi pada zaman sekarang di mana institusi impersonal berkuasa, teknologi memegang peranan besar, dan manusia hanyalah menjadi alat.

Dr. Sproul membawa kita untuk melihat dalam berbagai bidang kehidupan kita : keluarga, sekolah, tempat kerja, rumah sakit, penjara, kancah politik, dan bahkan gereja, di mana martabat manusia telah semakin dilucuti, baik melalui perkataan sehari-hari maupun melalui tindakan yang sistematis ; dan tidak berhenti di sana, Dr. Sproul juga menawarkan solusi-solusi yang kuat dari Firman Allah untuk mengembalikan manusia kepada martabatnya, nilai diri yang sesungguhnya sebagai penyandang gambar dan rupa Allah.





Profil Rev. Dr. R. C. Sproul :
Rev. Robert Charles (R. C.) Sproul, Litt.D., L.H.D. adalah Profesor tamu dalam bidang Theologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, California, USA sejak tahun 1996. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Westminster College, Bachelor of Divinity (B.D.) dari Pittsburgh Theological Seminary, Doktorandus (Drs.) dari Free University of Amsterdam, Doctor of Letters (Litt.D.) dari Geneva College, dan L.H.D. dari Grove City College.
Dr. Sproul adalah seorang pendeta di Presbyterian Church in America dan beliau dikenal secara internasional sebagai seorang pengajar, penulis, dan pengkhotbah yang memanggil gereja kepada ketakutan yang rendah hati akan kekudusan Allah dan kebenaran Injil yang diringkaskan dalam prinsip Sola dari Reformasi. Beliau telah mengajar di Gordon-Conwell Theological Seminary, Reformed Theological Seminary, dan Knox Theological Seminary. Sejak tahun 1971, beliau telah menjadi pendiri dan presiden dari Ligonier Ministries, dan kontributor bulanan pada majalah Ligonier’s TableTalk. Beliau telah melatih kepemimpinan di International Council on Biblical Inerrancy dan the New Geneva Study Bible (editor umum). Beberapa buku yang ditulis oleh beliau : Knowing Scripture, Classical Apologetics, The Holiness of God, Chosen by God, Lifeviews, One Holy Passion, Surprised by Suffering, The Hunger for Significance, Essential Truths of the Christian Faith, The Soul’s Quest for God, Faith Alone, The Invisible Hand, and Grace Unknown. Beliau dan istri, Vesta tinggal di Florida, USA.