09 July 2010

EMANG GUE PIKIRIN (Denny Teguh Sutandio)

EMANG GUE PIKIRIN (EGP)

oleh: Denny Teguh Sutandio



Tiga orang pemuda saling bercakap-cakap di sebuah mal. Suatu saat, seorang pemuda A mengajak pemuda B dan C untuk menghadiri sebuah kebaktian muda-mudi di gerejanya. Tanpa mikir panjang pemuda C menjawab, “Hah? Hari gene masih mikirin agama? Udah basi kaleee.” Kemudian pemuda A bertanya kepada pemuda C, “Lho, qta ini diciptakan oleh Tuhan dan harus hidup untuk Tuhan lho. Kalo qta gak hidup untuk Tuhan, trus qta hidup untuk siapa? Trus entar kalo qta mati mau ke mana coba?” Pemuda C menjawab, “Mati? Cape dech. Emangnya gue pikirin. Yang penting bersenang-senang dulu aja, masa tua, apalagi mati mikirnya belakangan.”

Percakapan antara pemuda A dan C dan diakhiri dengan pernyataan dari pemuda C, “emangnya gue pikirin” sebenarnya merupakan cetusan banyak generasi muda zaman sekarang. Tidak heran, generasi zaman sekarang sering disebut generasi EGP (emang gue pikirin). Budaya cuek-isme ini sebenarnya bukan hanya nampak di kalangan muda-mudi, namun juga pada beberapa orangtua atau orang tua. Mengapa budaya ini muncul? Apa akibatnya? Bagaimana kita sebagai orang Kristen dapat bersaksi di dalam zaman EGP ini?

Secara rohani dan inti penyebab budaya EGP ini sebenarnya adalah masalah makna hidup. Seorang bisa menganut budaya EGP karena dia sebenarnya sedang kehilangan makna hidup atau memiliki makna hidup yang kacau. Seorang yang kehilangan makna hidup adalah seorang yang telah menjauhkan diri dari Kristus sebagai Sumber Hidup (bdk. Yoh. 14:6). Orang ini menganggap bahwa tanpa Kristus, ia bisa hidup, namun sayangnya, makin orang ini menjauh dari Kristus, orang ini makin kehilangan makna hidup dan mengakibatkan orang ini memiliki budaya EGP.

Secara filsafat, budaya EGP ini sebenarnya lahir dari filsafat pragmatisme yang berasal dari Amerika Serikat pada akhir tahun 1800-an. Filsafat ini mengajarkan bahwa sebuah ideologi atau proposisi dikatakan benar jika ideologi tersebut memberikan signifikansi praktis. Jika suatu ideologi tidak memberi manfaat praktis, maka ideologi tidak bisa diterima. Tidak heran, makin lama manusia di abad postmodern makin hidup pragmatis, selalu menekankan hal-hal praktis dan hampir membuang hal-hal prinsipil. Hal-hal prinsipil dinilai sebagai hal yang terlalu rumit dan memeras pikiran, sehingga kerap kali hal-hal prinsipil dibuang dan diganti dengan hal-hal yang praktis. Di dunia ini kita telah melihat gejala-gejala demikian, bahkan di dalam gereja pun, rupa-rupanya pragmatisme juga telah mewabah. Jika dua atau tiga abad lalu, banyak khotbah mimbar di gereja masih menyuarakan Injil sejati, namun banyak khotbah gereja di tahun belakangan ini kurang menyuarakan Injil dan menggantinya dengan hal-hal praktis dan subyektif, misalnya: khotbah yang bertema tentang pengembangan diri, kesembuhan, kekayaan, dll. “Yang penting gue sembuh, gak musingin apa itu Allah Tritunggal, bla, bla, bla” begitulah cetusan seorang jemaat yang pragmatis yang berada di dalam gereja yang pragmatis juga. Bukan hanya khotbah di gereja, banyak pendeta pun sekarang juga pragmatis. Tanpa berbekal pendidikan theologi yang memadai dan hanya berbekal pintar berpidato, banyak pendeta langsung naik mimbar dan berkhotbah. Yang dia khotbahkan hanya mencomot satu atau beberapa ayat Alkitab kemudian ditafsirkan semaunya sendiri dan dicocokkan dengan konsep yang sudah ada di dalam pikirannya. Tidak heran, seorang pendeta terkenal dari Amerika Serikat yang begitu laris di Indonesia pernah mengajar bahwa Allah itu bukan Tritunggal, namun 9 tunggal (Allah Bapa memiliki tubuh, jiwa, dan roh; Allah Anak mempunyai tubuh, jiwa, dan roh; Allah Roh Kudus juga memiliki tubuh, jiwa, dan roh) dan pengajaran ini diklaimnya dari “Roh Kudus”. Namun herannya, setelah itu, si pendeta ini meralat pengajarannya ini. Lain lagi ceritanya dengan seorang pendeta terkenal di Indonesia yang jualan minyak urapan dan menganggap Perjamuan Kudus sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit. Inilah zaman yang dipenuhi dengan pragmatisme.

Pragmatisme ini nantinya menimbulkan gejala lain secara aplikatif yaitu cuek-isme. Karena segala sesuatu dinilai secara praktis, maka tidak heran, banyak orang di zaman ini bersikap cuek terhadap banyak hal, karena baginya, kebenaran tidaklah penting, yang terpenting adalah kesenanganku. Kalau dibahasagaulkan, inilah yang dicetuskan oleh banyak generasi muda, “Suka-suka gue kan. Gue mau gini, bukan urusan lu.” Semboyan yang lainnya adalah, “Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk ‘sorga’.” Bagi seorang penganut cuek-isme, yang terpenting gue happy, barangsiapa yang membuat dia gak happy, orang tersebut akan dimusuhi. Tidak heran, banyak generasi muda memusuhi gereja, pendeta, orang Kristen yang saleh, karena mereka dicap sebagai orang kaku dan jadul yang membatasi kesenangan para generasi muda.

Ide kedua dari cuek-isme adalah anti otoritas/hukum. Seorang yang menginginkan kesenangan pribadi biasanya pasti seorang yang anti otoritas/hukum, karena baginya, otoritas atau hukum/peraturan itu bersifat mengikat. Misalnya, di jalan raya, ada peraturan dilarang belok kanan atau atau bus/bemo dilarang berhenti di sembarang tempat. Namun, bagaimana faktanya? Bukan hanya para generasi muda, mereka yang lumayan berumur pun banyak yang tidak mematuhi peraturan tersebut. Tidak heran, banyak pengendara bus atau becak atau bemo/mikrolet seenaknya menghentikan kendaraannya di pinggir jalan (meskipun ada rambu dilarang berhenti), kemudian mengemudikan kendaraannya lagi TANPA melihat apakah ada kendaraan di belakangnya. Pengendara becak dan sepeda motor juga tanpa merasa bersalah melawan arus. Nanti, kalau pengendara sepeda motor tersebut ditabrak pengendara mobil, yang disalahkan siapa? Pengendara mobil. Lucu kan? Welcome to cuek-ism world! Di dunia kita melihat gejala ini, di gereja pun hampir tidak ada bedanya. Dahulu, banyak gereja menghargai sumbangsih tradisi gereja yang sesuai dengan Alkitab, misalnya Pengakuan Iman Rasuli, dll, namun perhatikanlah kondisi banyak gereja kontemporer saat ini. Pengakuan Iman Rasuli tidak lagi dilafalkan di dalam kebaktian di banyak gereja kontemporer, sehingga tidak heran banyak jemaatnya buta akan pengertian iman Kristen secara historis. Selain itu, lagu-lagu dan musik-musik gereja warisan zaman dahulu dibuang dalam tata cara ibadah dalam banyak gereja kontemporer dan digantikan dengan musik-musik dan lagu-lagu yang mayoritas tidak bermutu dan hanya memancing emosi sesaat. Tidak heran, jika sebuah gereja kontemporer di Surabaya mengeluarkan jenis musik baru, “Christian Housemusic”. Kekristenan bukan menjadi berkat bagi dunia, namun mengadopsi budaya dunia untuk disisipi ayat-ayat Alkitab.

Filsafat cuek-isme ini sebenarnya memiliki kelemahan yang tidak mereka sadari. Mereka mengatakan bahwa diri mereka cuek, namun secara tidak sadar, mereka tetap membutuhkan orang lain sebagai obyek untuk mengatakan bahwa diri mereka cuek. Jika mereka tak membutuhkan orang lain, bagaimana mungkin mereka bisa berkata bahwa diri mereka cuek?

Lalu, bagaimana kita sebagai orang Kristen memberitakan Injil kepada orang cuek ini?
Pertama, hindari pembicaraan yang terlalu serius dan mencekam. Langkah pertama memberitakan Injil kepada orang cuek adalah hindarilah pembicaraan yang terlalu serius dan mencekam. Ajaklah orang cuek tersebut untuk hang-out ke mal dan ajaklah diskusi pada saat atau setelah makan di salah satu resto. Hindari juga diskusi yang terlalu rumit dan tidak terlalu penting yang bisa mengakibatkan si cuek makin enek mendengarkan perkataan kita.

Kedua, temukan akar masalahnya, yaitu kehilangan makna hidup. Seperti yang telah saya paparkan di atas, seorang yang memiliki budaya EGP atau cuek sebenarnya memiliki krisis makna hidup yaitu kehilangan makna hidup, sehingga ia akan bertindak semau gue. Dengan demikian, maka memberitakan Injil kepada orang yang cuek harus didahului dengan sikap menyadarkan realitas kepada si cuek. Misalnya, ketika si cuek mencuekkan tentang kematian, kita perlu bertanya kepada si cuek, “Meskipun kamu cuek terhadap masalah kematian, kamu suatu hari pasti mati, kematian gak bisa dielakkan.”

Ketiga, ajak berpikir sederhana tentang kelemahan kecuekannya. Setelah menyadarkan realitas kepada si cuek, kita harus membawanya untuk mengerti kelemahan dari kecuekannya. Misalnya, jika si cuek mencuekkan kalau mati masuk Sorga atau neraka, sadarkan si cuek bahwa meskipun dia cuek, dia akan tetap harus memilih mau ke mana dia nanti setelah meninggal.

Keempat, bawa kepada Injil. Setelah mengajaknya merenungkan tentang kematian, maka kita harus membawanya kepada Injil bahwa Kristus sanggup menyelamatkan manusia berdosa, sehingga mereka tidak lagi binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Kehilangan makna hidup harus diobati dengan mengembalikannya kepada Sumber Hidup.

Biarlah Roh Kudus memakai kita untuk bersaksi di tengah dunia yang dipenuhi dengan orang-orang cuek. Amin. Soli Deo Gloria.

07 July 2010

Eksposisi 1 Korintus 7:12-14 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:12-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:12-14



Target Nasehat: tois loipois
Bagian ini masih membahas tentang perkawinan, hanya saja kali ini Paulus memberikan nasehat kepada kelompok jemaat yang sebelumnya belum ia singgung. Ia menujukan nasehat di ayat 12-16 kepada “orang-orang lain” (LAI:TB, ayat 12a). Dalam bahasa Yunani dipakai kata tois loipois yang secara hurufiah berarti “kepada sisanya” (KJV/RSV/NASB/NIV “to the rest”).

Siapa yang dimaksud hoi loipoi dalam konteks ini? Ada petunjuk yang kuat untuk menafsirkan sebagai jemaat Korintus yang pasangannya tidak seiman. Ayat 12-16 membicarakan tentang seorang saudara atau saudari yang istri atau suaminya belum mengenal Tuhan. Hal ini juga didukung oleh konteks sebelumnya: ayat 8-9 tentang duda dan janda, ayat 10-11 tentang suami-istri yang sama-sama Kristen. Sekarang tinggal sisanya (hoi loipoi). “Sisanya” tidak mungkin suami-istri yang non-Kristen (tidak ada kena mengena antara Paulus dan mereka, bdk. 5:12-13) maupun mereka yang belum menikah (kelompok ini akan dibahas tersendiri di ayat 25-28). Jadi, eoi loipoi di ayat 12a harus dipahami sebagai jemaat Korintus yang pasangan hidupnya bukan orang percaya.

Kawin campur seperti di atas merupakan situasi yang tidak terelakkan ketika injil masuk ke budaya kafir. Situasi yang hampir sama juga dialami oleh orang-orang Kristen di perantauan (1Ptr. 3:1). Tidak semua orang seperti Stefanus yang diberi anugerah keselamatan untuk seisi rumahnya (1:16; 16:15). Dalam kasus-kasus lain, hanya suami atau istri yang menerima injil, sedangkan pasangannya masih menolak.

Mengapa kelompok ini perlu diberi nasehat secara khusus? Inti masalah yang sama dengan di ayat 1b. Jemaat Korintus menganggap bahwa orang yang rohani harus menjauhkan diri dari hubungan seks, karena bisa mempengaruhi kerohanian. Jika berhubungan seks dengan pasangan yang sama-sama seiman saja dipandang sebagai hal yang harus diajuhi (bdk. ay. 2-5), apalagi dengan pasangan yang tidak seiman. Mereka kuatir hubungan tersebut akan menajiskan mereka, karena itu mereka memandang perceraian sebagai tindakan yang tepat.

Sebagian penafsir lain mencoba menghubungkan nasehat ini dengan tindakan jemaat secara umum yang menjauhi orang-orang cabul dari dunia ini (5:9-10). Mereka menduga bahwa tindakan menjauhi orang dunia ini juga diterapkan oleh jemaat yang pasangannya non-Kristen. Menurut mereka, jemaat Korintus tidak mau melakukan hubungan seks dengan pasangan karena pasangan mereka telah melakukan percabulan.

Dugaan terakhir ini tampaknya tidak terlalu berkaitan. Selain karena letak pembahasan yang cukup jauh (disisipi perikop tentang kasus pengadilan di 6:1-11), 7:12-16 sama sekali tidak menyinggung tentang dosa percabulan. Di samping itu, semua problem di pasal 7 bermula dari konsep theologis yang salah tentang kerohanian dalam hubungannya dengan seksualitas.


Isi Nasehat (ay. 12b-13)
Di ayat ini Paulus memulai nasehatnya dengan ungkapan “aku, bukan Tuhan” (ay. 12a). Ungkapan ini berbeda dengan ayat 10, tetapi bukan berarti keduanya kontradiktif. Seperti sudah disinggung dalam khotbah sebelumnya, tidak ada perbedaan otoritas antara ayat 10-11 dan 12-16. Perbedaan hanya terletak pada sumber nasehat. Ayat 10 memang langsung berasal dari ajaran Yesus sendiri (Mat. 19:9//Mrk. 10:11-12//Luk. 16:18), sedangkan ayat 12-16 merupakan pendapat Paulus sendiri, karena pada jaman Yesus perkawinan campur memang belum menjadi isu yang penting. Yesus tidak pernah menyinggung tentang perkawinan campur.

Walaupun nasehat di ayat 12-16 tidak langsung berasa dari Yesus dan tidak terlalu ditekankan (“aku katakan”) seperti di ayat 10 (“aku perintahkan”), tetapi otoritas pernyataan ini tetap sama. Segala tulisan dalam Alkitab adalah hasil pengilhaman Roh Kudus (2Tim. 3:16). Lebih jauh, Paulus di 1 Korintus 7 menegaskan bahwa semua nasehatnya adalah nasehat “orang yang dapat dipercaya karena rahmat yang diterimanya dari Allah” (ay. 25) dan “memiliki Roh Allah” (ay. 40).

Isi nasehat Paulus di ayat 12b-13 adalah jangan bercerai. Perintah ini didasarkan pada kondisi bahwa pasangan yang tidak seiman mau hidup bersama. Ungkapan “mau hidup bersama” secara hurufiah berarti “setuju untuk tinggal bersama”. Kata spsneudokeĊ (LAI:TB “mau”) muncul 5 kali dalam PB (Luk. 11:48, orang-orang Yahudi menyetujui pembunuhan terhadap para nabi ; Kis 8:1//22:20, Paulus menyetujui pembunuhan atas Stefanus; Rm. 1:32, orang-orang tertentu setuju dengan dosa orang lain). Dari penggunaan di atas terlihat bahwa kata ini sebenarnya lebih berkaitan dengan aspek intelek (persetujuan) daripada emosi (kemauan). Dengan demikian Paulus di 1 Korintus 7:12-13 bukan hanya membicarakan tentang kemauan yang terpaksa, tetapi persetujuan intelek.

Selama pasangan yang non-Kristen setuju untuk tinggal bersama, maka jemaat Korintus tidak boleh mengupayakan perceraian. LAI:TB menerjemahkan larangan ini dengan “janganlah ia menceraikan”. Dalam beberapa versi bahasa Inggris larangan ini kurang mendapat penekanan (RSV/NRSV “should not”). NIV dengan tepat menangkap ketegasan dalam larangan ini dan menerjemahkan mh afietw dengan “must not divorce” (tidak boleh). Larangan ini memang bukan sekadar alternatif: selama pihak non-Kristen mau hidup bersama, maka pihak yang Kristen sama sekali tidak boleh mengusahakan perceraian.

Larangan untuk bercerai di ayat 12-13 tidak berarti bahwa Paulus menyetujui perkawinan beda iman. Kita perlu mengingat bahwa situasi di ayat 12-16 adalah pasangan yang dulu sama-sama tidak Kristen tetapi kemudian salah satu di antara mereka bertobat. Dengan kata lain, perkawinan ini “sudah terlanjur” terjadi, bahkan memiliki anak-anak (7:14b). Ketika Paulus menasehatkan beberapa jemaat untuk kawin, ia memberi batasan “asal orang itu adalah orang yang percaya” (7:39). Di suratnya yang lain kepada jemaat Korintus dia melarang orang Kristen menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang yang tidak percaya (2Kor. 6:14-15). Sebagai seorang Farisi Paulus pasti sudah memahami berbagai larangan untuk kawin campur yang ada dalam PL (Ul. 7:3; Neh. 13:25).

Pandangan Paulus di 1 Korintus 7:12-13 sekilas berkontradiksi dengan perintah Ezra kepada bangsa Yehuda supaya mereka mengusir isteri-isteri mereka yang kafir (Ez. 10:3, 19). Bagaimanapun, penyelidikan yang teliti membuat kesan itu sirna. Walaupun dalam Ezra 10 tidak dijelaskan situasi perkawinan yang sebenarnya, namun kita dapat merekonstruksi situasi tersebut berdasarkan tulisan Maleakhi yang sama-sama melayani setelah pembuangan Babel. Dalam konteks Maleakhi 2:10-16 terlihat jelas bahwa bangsa Yehuda telah mengkhianati perjanjian dengan berbagai macam cara: menikahi perempuan kafir dan mengikuti ibadah mereka (10-11), menceraikan isteri masa muda yang adalah teman seperjanjian (ay. 14-15). Dalam situasi seperti ini mereka diperintahkan untuk menceraikan isteri-isteri mereka yang kafir supaya mereka kembali pada isteri muda masing-masing.


Alasan (ay. 14)
Setelah memberikan larangan yang tegas di ayat 12b-13 Paulus selanjutnya menjelaskan alasan di balik larangan tersebut. Alasannya adalah karena pasangan yang tidak seiman dikuduskan oleh pasangannya yang beriman. Kata “dikuduskan” memakai tense perfect yang menyiratkan tindakan di masa lampau yang memiliki akibat sampai sekarang. Beberapa orang menafsirkan tense perfect ini sebagai rujukan pada saat perkawinan, tetapi dugaan ini sebaiknya kita tolak karena sulit dibayangkan bahwa pasangan yang dulu sama-sama tidak beriman bisa menguduskan. Lebih bijaksana jika kita memandang pertobatan salah satu pasangan sebagai titik tolak di masa lalu yang membawa pengudusan bagi keluarganya.

Untuk memahami pernyataan Paulus di ayat ini kita perlu memperhatikan kata depan yang dipakai. Orang yang tidak seiman dikuduskan “dalam” (en) pasangan yang beriman. Walaupun pada masa Yunani Koine penggunaan kata depan agak tumpang tindih, tetapi dalam konteks ini kata depan en kemungkinan besar membawa arti yang umum, yaitu “di dalam”. Paulus tidak memakai kata depan dia (“melalui”, NASB/RSV/NIV) atau hupo (“oleh”, KJV/LAI:TB). Jika pembedaan kata depan ini diterima, maka Paulus tidak sedang memikirkan orang Kristen sebagai pelaku (“oleh”) atau instrumen (“melalui”) kekudusan.

Kekudusan tersebut diterima orang non-Kristen karena ia berada bersama di dalam orang Kristen. Maksudnya, karena perkawinan adalah “satu tubuh” (7:4; bdk. 6:15-16), maka keduanya dapat dianggap sebagai satu kesatuan. Jika yang Kristen dikuduskan oleh Allah, maka pasangannya yang non-Kristen juga dikuduskan.

Sekarang kita perlu membahas tentang makna kekudusan dalam konteks ini. Kekudusan di sini tidak berarti kekudusan theologis yang menyelamatkan, karena pasangan yang tidak seiman tetap sebagai orang yang tidak/belum percaya (7:16). Kekudusan theologis hanyalah bagi mereka yang ada di dalam Kristus dan memanggil nama-Nya (1:2) serta dibenarkan dalam Yesus melalui karya Roh Kudus (6:11). Pasangan yang tidak seiman dikuduskan dalam pasangannya yang beriman, bukan dalam Kristus. Kekudusan ini juga tidak berarti kekudusan secara moral, karena Paulus tidak mungkin ada kekudusan moral tanpa didahului oleh kekudusan theologis.

Kekudusan di sini lebih baik dipahami sebagai pengkhususan. Jika dalam satu keluarga ada anggota yang sudah percaya kepada Tuhan, maka Tuhan pasti akan memperlakukan keluarga itu secara khusus (dikuduskan). Jangankan hubungan suami-isteri, keberadaan Yusuf di rumah Potifar pun membuat Potifar turut merasakan berkat Tuhan (Kej. 39:1-5). Jika orang Kristen mau bertahan dengan perkawinan campur yang sudah terlanjur dia masuki, maka keberadaannya akan membuat pasangannya dikuduskan Tuhan di dalam dia. Dalam konteks 1 Korintus 7:12-16 Paulus memikirkan kekhususan ini dalam bentuk kesempatan mendengarkan injil yang lebih banyak (ay. 16; bdk. 1Ptr. 3:1). Dia mungkin memikirkan kekhususan-kekhususan yang lain, namun ia hanya menyebutkan salah satu di antaranya.

Penjelasan Paulus di atas sekaligus berfungsi sebagai koreksi terhadap kesalahan jemaat Korintus. Mereka beranggapan bahwa hubungan dengan orang yang tidak percaya akan menajiskan mereka, tetapi Paulus menyatakan sebaliknya. Orang percaya justru membawa pengudusan bagi pasangannya. Selama orang Kristen tetap hidup daam kebenaran dan tidak terpengaruh (bdk. 5:9-11) serta bertahan dalam pernikahan, maka keberadaannya akan membawa akibat positif bagi pasangan. Sama seperti roti sulung yang kudus membuat semau roti lain kudus atau akar yang kudus membuat seluruh pohon kudus (Rm. 11:16), demikian pula keberadaan orang percaya akan membawa kekudusan bagi keluarganya.

Untuk mempertegas alasan yang diberikan, Paulus mengaitkannya dengan keberadaan anakanak (ay. 14b). Dalam konteks berpikir orang percaya, anak-anak termasuk dalam lingkup umat perjanjian. Mereka disunat (PL) atau dibaptis (PB) sejak kecil sebagai tanda bahwa mereka bagian dari umat perjanjian yang pasti akan diperlakukan Tuhan secara khusus. Sunat atau baptisan itu memang tidak menjamin keselamatan mereka (mereka perlu menyatakan iman secara pribadi), tetapi hal itu sudah cukup untuk memposisikan mereka secara khusus di hadapan Allah.

Jika anak-anak dipercaya adalah anak-anak kudus, bagaimana bisa ayah atau ibu mereka yang tidak percaya dianggap najis? Jika anak-anak sebagai hasil perkawinan adalah kudus, bukankah perkawinan itu sendiri seharusnya juga kudus? Kalau jemaat Korintus bersikeras bahwa hubungan dengan pasangan yang non-Kristen akan menjaniskan mereka, maka mereka harus konsisten untuk menganggap anak-anak mereka sebagai anak-anak cemar. Dari alasan yang diberikan Paulus terlihat bahwa ia sedang mengajarkan jemaat untuk tidak egois dengan kepentingan mereka sendiri (mengejar “kerohanian”) dan mengorbankan orang lain. Jika mereka mengupayakan perceraian, maka pasangannya yang non-Kristen tidak akan mendapat manfaat positif apapun dari keberadaannya. Sebaliknya, jika ia bertahan – walaupun hal itu sulit dan tidak nyaman bagi dirinya sendiri – maka ia telah memberikan hal positif bagi seluruh keluarga. #





Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 10 Mei 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2012-14.pdf

Ujilah Segala Sesuatu!-3: MENGUJI SEGALA SESUATU DAN MEMEGANG TEGUH YANG BAIK

UJILAH SEGALA SESUATU!-3:
MENGUJI SEGALA SESUATU dan MEMEGANG TEGUH YANG BAIK


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1Tes. 5:21)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”
(1Yoh. 4:1-6)




Pada bagian ketiga dari tema menguji, saya akan membahas tentang langkah selanjutnya yang pertama setelah kita menguji, yaitu memegang teguh yang baik. Mari kita menyimak perkataan Paulus di dalam 1 Tesalonika 5:21, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” Setelah menguji segala sesuatu, Tuhan melalui Paulus memerintahkan kita untuk memegang yang baik. Kata memegang dalam teks Yunaninya katekhete yang berasal dari akar kata katekho yang bisa berarti hold back (menahan) atau possess (memiliki). King James Version (KJV), New King James Version (NKJV), dan Young Literal Translation (YLT) menerjemahkannya hold fast (memegang erat). New International Version (NIV) dan International Standard Version (ISV) menerjemahkannya hold on to (berpegang pada). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia (2006) menerjemahkannya peganglah teguh (hlm. 1096) Dalam struktur Yunani, kata ini berbentuk imperatif dan aktif. Dengan kata lain, setelah menguji segala sesuatu, kita dituntut untuk memegang teguh/erat-erat yang baik. Kata baik dalam teks Yunaninya adalah kalon yang berasal dari akar kata kalos yang dapat diterjemahkan baik, berguna, dll. Mengapa setelah menguji, kita perlu memegang teguh/erat-erat apa yang baik? Karena Tuhan ingin kita bukan hanya teliti menguji ajaran, namun kemudian tidak bertindak apa-apa, namun Ia ingin setelah kita teliti menguji, kita kembali memegang apa yang baik sesuai dengan wahyu khusus Allah. Pengujian atas segala sesuatu harus dilanjutkan dengan langkah selanjutnya yaitu berpegang teguh pada apa yang baik. Berpegang teguh pada apa yang baik mengandung beberapa arti, yaitu:
Pertama, ada suatu pendirian teguh. Melalui ayat 21 ini, Paulus memperingatkan jemaat Tesalonika untuk memiliki pendirian teguh. Artinya, di tengah maraknya filsafat Yunani yang beredar di Tesalonika waktu itu, para jemaat Tesalonika ditegur Paulus untuk tidak ikut filsafat tersebut dengan menguji kebenarannya dan juga berpegang teguh pada ajaran firman Tuhan yang jelas. Berarti, Kebenaran membuat kita berdiri teguh di tengah tantangan zaman di sekitar kita. Bagaimana dengan kita? Kita yang hidup di zaman postmodern pun memiliki tantangan serupa. Zaman postmodern dengan segudang racun filsafat dari materialisme, pragmatisme, empirisisme, atheisme (atheisme praktis), dll mencoba meracuni Kekristenan dan tidak menutup kemungkinan kita sebagai orang Kristen di dalamnya. Mampukah kita berdiri teguh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan di tengah pluralitas dan relativitas dunia ini? Mampukah kita meneriakkan Kebenaran di dalam zaman yang rusak ini? Biarlah Roh Kudus memakai kita untuk berdiri teguh di dalam Kebenaran Firman (Alkitab) di tengah arus zaman yang melanda dunia kita.

Kedua, harga yang harus dibayar. Menarik, Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa kita harus berdiri teguh dan jangan melepaskan kebenaran yang kita percayai meskipun ada perlawanan dan penganiayaan mengancam kita. Dengan kata lain, kebenaran di dalam Kristus bukan hanya perlu kita pegang teguh di tengah zaman ini, kita pun harus rela dilawan dan dianiaya oleh orang-orang dunia demi kebenaran sejati yang kita pegang ini. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus berfirman bahwa barangsiapa yang mengikut-Nya harus menyangkal dirinya dan memikul salib-Nya (Mat. 10:38; 16:24). Tidak ada jalan mulus tatkala kita mengikut Kristus, karena yang sedang kita ikuti, yaitu Kristus, di mana Ia bukanlah Pribadi yang berasal dari dunia dan ajaran-ajaran-Nya pun tidak cocok dengan filsafat dunia. Di dalam sejarah gereja, kita membaca bahwa Kekristenan terus-menerus dianiaya dan banyak dari mereka TIDAK melawan. Tetapi Tuhan bekerja dengan luar biasa. Di dalam penganiayaan karena nama-Nya, kita melihat Injil makin tersebar luas. Istilahnya, “makin dibabat, makin merambat.” Jika ada agama lain yang berkembang melalui perang, maka Kekristenan berkembang dengan begitu pesat justru melalui penganiayaan. Inilah paradoksikal iman Kristen yang tidak mungkin bisa dimengerti oleh orang dunia. Bagaimana dengan kita? Siapkah kita difitnah, dihina, dianiaya tatkala kita harus berdiri teguh di atas Kebenaran dan memberitakan Kebenaran kepada seseorang di dalam zaman ini? Biarlah Tuhan menguatkan komitmen kesetiaan kita kepada-Nya di tengah arus zaman yang kacau ini.

Tuhan yang telah menguatkan komitmen kesetiaan para hamba-Nya di dalam berdiri teguh di atas Kebenaran dan memberitakan Kebenaran (Paulus, Petrus, Yohanes, dan para rasul Kristus lainnya, Augustinus, Dr. Martin Luther, Dr. John Calvin, Dr. J. Gresham Machen, Dr. Francis A. Schaeffer, Dr. Carl F. H. Henry, dll) biarlah menguatkan komitmen kesetiaan iman kita juga kepada-Nya di dalam dunia yang kacau ini. Amin. Soli Deo Gloria.

Ujilah Segala Sesuatu!-2: WAHYU KHUSUS ALLAH SEBAGAI STANDAR PENGUJI (Denny Teguh Sutandio)

UJILAH SEGALA SESUATU!-2:
WAHYU KHUSUS ALLAH SEBAGAI STANDAR PENGUJI


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1Tes. 5:21)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”
(1Yoh. 4:1-6)



Pada bagian kedua tema menguji, saya akan membahas pentingnya menjadikan wahyu khusus Allah (Kristus dan Alkitab) sebagai dasar penguji. Pada bagian ini, kita akan mengerti secara bertahap beberapa prinsip: obyek yang akan kita uji, alasan menjadikan wahyu khusus Allah sebagai dasar penguji dan kriteria-kriteria wahyu khusus Allah sebagai dasar penguji.


Pertanyaan dasar yang perlu kita ajukan adalah apa yang perlu kita uji? Ketika menguji segala sesuatu, kita sebenarnya hendak menguji kebenaran dari segala sesuatu yang kita uji. Apakah agama, doktrin/ajaran, filsafat, tradisi, kebudayaan, sains, dll yang diajarkan itu benar-benar benar atau separuh benar atau benar-benar tidak benar? Seperti yang telah saya uraikan di bagian 1 yang saya kutip dari Pdt. Sutjipto Subeno, kebenaran mencakup: universal, kekal, integral, dan moral, maka kebenaran sejati adalah kebenaran yang menyeluruh/holistik yang pasti mencakup keindahan/estetika, etika, keagungan/dignitas, konsistensi, dll, sehingga kebenaran baik dalam agama, ajaran, filsafat, kebudayaan, tradisi, dll yang tidak memenuhi salah satu dari kriteria tersebut, maka tidak layak disebut kebenaran, meskipun para pengikut dari ketidakbenaran itu mungkin banyak sekali (bdk. Mat. 7:22-23).


Jika yang hendak kita uji adalah kebenaran dari sesuatu: apakah sesuatu (agama, ajaran, filsafat, tradisi, kebudayaan, sains, dll) itu benar atau separuh benar atau sama sekali salah, maka tentunya kita memerlukan satu-satunya standar kebenaran yang mutlak yang bisa kita jadikan patokan untuk mengujinya. Tetapi, apakah ada kebenaran mutlak? Di zaman yang ngaco seperti zaman sekarang ini, banyak manusia berseru dengan “mutlak” bahwa tidak ada yang mutlak di dunia ini. Sambil mengatakan bahwa tidak ada yang mutlak, dia meneriakkan perkataan ini dengan semangat “kemutlakan”. Pdt. Dr. Stephen Tong menyebutnya sebagai self-defeating factor (faktor yang melawan dirinya sendiri). Jika tidak ada kebenaran mutlak, maka logikanya, perkataan ini pun seharusnya TIDAK perlu dihiraukan, karena perkataan orang ini pun sendiri TIDAK MUTLAK (pendengarnya boleh percaya dan boleh tidak percaya). Namun anehnya, sambil meneriakkan bahwa TIDAK ada yang mutlak, orang ini akan marah jika perkataannya ini tidak didengarkan dan diterima oleh para pengikutnya. Logika yang benar-benar aneh! Kembali, apakah ada kebenaran mutlak? Saya menjawab YA dan TIDAK. TIDAK, karena kebenaran mutlak memang TIDAK pernah akan dijumpai di dalam diri manusia, karena semua manusia telah berdosa dan merusak kemuliaan Allah (Rm. 3:23). YA, karena kebenaran mutlak hanya milik Sang Mutlak itu sendiri, yaitu Allah sendiri. Hanya Allah sajalah yang adalah Mutlak yang wajib sebagai standar kebenaran mutlak. Namun, Allah mana yang adalah Mutlak? Bukankah semua agama mengklaim menyembah Allah? Mari kita analisa. Kebenaran mutlak berasal dari Yang Mutlak (The Absolute One) dan tentunya Yang Mutlak itu haruslah berpribadi, karena jika tak berpribadi, bagaimana bisa dideskripsikan sebagai Yang Mutlak? Misalnya, penganut Pantheisme (yang nantinya memengaruhi Gerakan Zaman Baru) mengajar bahwa segala sesuatu adalah ilah, maka: air, batu, tumbuhan, hewan, manusia dll adalah ilah (atau lebih tepatnya: bersifat/mengandung unsur ilahi atau mikro kosmos). Jika segala sesuatu adalah ilah, maka tentunya tidak ada standar kemutlakan, karena ilah yang dipercayainya juga adalah yang tidak mutlak. Jika ilah yang tidak berpribadi tidak bisa disebut Yang Mutlak dan tentunya tidak mungkin menghasilkan kebenaran mutlak, maka satu-satunya Yang Mutlak adalah Allah yang berpribadi. Berkenaan dengan kepercayaan tentang Allah yang berpribadi, ada agama lain yang mengklaim bahwa mereka juga menyembah “Allah” yang berpribadi, yang tunggal, yang katanya diturunkan dari Abraham, namun telah “diselewengkan” oleh Musa dan Yesus. Benarkah “Allah” seperti itu adalah Allah yang Mutlak? Sungguh suatu ironis yang lucu, “Allah” yang diklaim “berpribadi” oleh agama ini ternyata hanya mampu menguasai satu bahasa saja (untuk “kitab suci”nya), namun “Allah” yang “berpribadi” tersebut mengklaim bahwa bahasa tersebut adalah bahasa “suci” yang haram untuk diterjemahkan.


Lalu, di manakah Kebenaran Mutlak dari Yang Mutlak itu? Tidak ada jalan lain kita mengerti Yang Mutlak dan Kebenaran Mutlak tersebut kecuali dari Allah sejati yang menyatakan diri-Nya. Banyak agama dan filsafat hanya menuntun manusia kepada sosok Allah secara umum, namun Allah sejati menyatakan diri-Nya secara khusus hanya kepada sekelompok orang yang telah dipilih-Nya. Allah sejati tersebut adalah Allah Tritunggal yang merupakan 3 pribadi Allah secara terpisah (yang memiliki kesamaan natur Allah) di dalam 1 esensi Allah (Dr. Cornelius Van Til mempertanyakan penggunaan “esensi” dan menggantinya dengan “pribadi). Allah sejati tersebut menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya melalui wahyu khusus yaitu Tuhan Yesus Kristus (wahyu tak tertulis) dan Alkitab (wahyu tertulis). Melalui wahyu khusus-Nya yang tak mungkin berubah, kita dituntun dan dituntut untuk menguji kebenaran dari segala sesuatu baik agama, ajaran, filsafat, tradisi, kebudayaan, sains, dll yang bersifat sementara dan bisa berubah-ubah.


Jika wahyu khusus Allah menjadi standar penguji, maka prinsip-prinsip apa saja yang harus kita pelajari dari wahyu khusus Allah untuk menguji kebenaran dari segala sesuatu? Prinsip dasarnya diambil dari Roma 11:36 yaitu dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah. Prinsip ini akan dibagi menjadi tiga poin:
Pertama, dari Allah. Segala sesuatu yang benar harus bersumber dari Allah. Hati, akal budi, perkataan, tindakan, dll semuanya berasal dari Allah. Keberadaan ciptaan juga berasal dari Allah. Keselamatan yang diperoleh umat-Nya di dalam Kristus pun juga berasal dari Allah saja (hanya melalui anugerah Allah—Sola Gratia). Makin seseorang menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Allah, makin ia menyadari dan mensyukuri atas anugerah-Nya dalam hidup dan keselamatannya.

Kedua, oleh Allah. Artinya, segala sesuatu yang benar adalah sesuatu yang mengakui keterlibatan Allah di dalam setiap inci kehidupan manusia. Ajaran ini menekankan bahwa Allah memelihara manusia khususnya umat-Nya di dalam setiap inci kehidupan manusia bahkan keselamatan umat-Nya di dalam Kristus, sehingga umat-Nya tidak akan mungkin bisa binasa (kehilangan keselamatan).

Ketiga, untuk Allah. Apa yang Allah telah ciptakan dan peliharakan, Ia tentu akan menyelesaikannya sampai akhir dan seluruh tindakan-Nya hanya membawa kemuliaan bagi nama-Nya saja (Soli Deo Gloria). Makin seseorang menyadari bahwa kemuliaan hanya bagi-Nya, makin ia menyadari bahwa tidak ada satu inci pun jasa baik manusia yang layak diagungkan, karena segala sesuatu dikerjakan dengan begitu sempurna oleh Allah saja, khususnya di dalam keselamatan di dalam Kristus.


Setelah memperhatikan tiga poin di atas, maka bagaimana reaksi kita? Kebenaran macam apakah yang selama ini kita pegang? Jika kebenaran itu bukan kebenaran sejati, maukah Anda dengan pimpinan Roh Kudus menghancurkan kebenaran Anda selama ini yang salah dan kembali kepada kebenaran di dalam Kristus dan Alkitab? Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita. Amin. Soli Deo Gloria.

04 July 2010

Ujilah Segala Sesuatu!-1: PENDAHULUAN (Denny Teguh Sutandio)

UJILAH SEGALA SESUATU!-1: PENDAHULUAN

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1Tes. 5:21)

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”
(1Yoh. 4:1-6)



Banyak manusia di zaman sekarang mulai mengatakan bahwa semua agama dan bahkan semua gereja itu sama saja. Mereka mengatakan bahwa tidak peduli agama dan gereja mana saja, yang penting masing-masing individu beribadah kepada “Tuhan” yang sama dengan cara yang berbeda. Benarkah demikian? TIDAK. Justru para penganut relativisme agama sendiri tidak pernah konsisten dengan dirinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa semua agama dan gereja itu sama, namun herannya mereka tidak mau menerima orang lain yang berbeda konsep dengan mereka (seharusnya jika mereka konsisten, maka mereka juga menerima semua orang bahkan orang yang berbeda konsep dengan mereka). Jika Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. menyebut Intolerance of Tolerance (Intoleransi dari Toleransi—sebuah kontradiksi), maka saya menyebut gejala ini: Inrelativism of Relativism (Inrelativisme dari Relativisme). Di sini letak jebolnya semangat zaman yang dipengaruhi dosa.

Bagaimana dengan kita? Apakah sebagai orang Kristen kita mau terus-menerus mengikuti arus zaman di mana setiap zamannya pasti memiliki spirit yang berbeda, berubah, dan bahkan berkontradiksi? Firman Tuhan di dalam Roma 12:2 mengajar kita bahwa kita jangan dijadikan serupa oleh dunia ini, namun kita harus diubah oleh pembaharuan pemikiran, supaya kita mengetahui/menyetujui manakah kehendak Allah yang baik, disenangi Allah, dan sempurna (mengikuti terjemahan Indonesia dari teks asli Yunaninya; sumber: Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia, 2006, hlm. 862). Yang lebih unik, frase “jangan dijadikan serupa” dan “diubah oleh pembaharuan pemikiran” dalam struktur teks Yunaninya menggunakan bentuk present, pasif, dan imperatif. Dengan kata lain, dua aktivitas ini terjadi bukan dari diri kita, namun atas anugerah Allah melalui karya Roh Kudus. Roh Kudus memimpin hati dan pikiran kita sehingga hati dan pikiran kita tidak lagi ditipu oleh dunia, namun hati dan pikiran kita makin sesuai dengan kehendak Allah di dalam firman-Nya. Nah, bagaimana caranya kita melakukan dua aktivitas tersebut? Roh Kudus mengajar kita melalui Alkitab bahwa caranya adalah dengan menguji segala sesuatu berdasarkan standar satu-satunya kebenaran mutlak yaitu Alkitab. Kata menguji baik dalam 1 Tesanolika 5:21 maupun 1 Yohanes 4:1 sama-sama menggunakan kata Yunani dokimazo yang berarti prove (=membuktikan) atau examine (=menguji/meneliti/memeriksa).

Mengapa kita harus menguji segala sesuatu dengan Alkitab? Ketika Allah memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu, Ia mau agar kita lebih setia, taat, dan mencintai Allah dan kebenaran-Nya. Orang Kristen yang semakin mencintai Allah, seharusnya makin berwaspada dan menguji segala sesuatu dari perspektif Allah, karena ia hanya mau menyenangkan-Nya. Allah melalui firman-Nya memerintahkan kita untuk menguji segala sesuatu, mengapa kita tidak mau menguji segala sesuatu dengan Alkitab? Bukankah ini suatu tindakan tidak bertanggungjawab dan melanggar firman-Nya?

Jika demikian, bagaimana kita menguji segala sesuatu (dengan Alkitab)?
Pertama, ujilah diri kita sendiri terlebih dahulu. Prinsip penting sebelum menguji segala sesuatu adalah ujilah diri kita apakah kita sudah layak menguji atau belum. Artinya, ujilah diri kita apakah iman dan kerohanian kita sudah cukup “baik” dan apakah pengetahuan Alkitab kita sudah cukup beres. Mintalah Tuhan menguji terlebih dahulu hati, pikiran, iman, dan kerohanian kita, sehingga ketika menguji segala sesuatu, kita tidak terlalu gegabah menghakimi sesuatu yang kita uji tersebut (mungkin karena emosional kita). Mari kita berkata seperti pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24)

Kedua, belajarlah Alkitab dengan bertanggungjawab. Setelah menguji diri kita, maka kita perlu belajar terus-menerus akan kebenaran Alkitab dengan bertanggungjawab. Caranya adalah bacalah Alkitab secara rutin dan dengan teliti dari Kejadian s/d Wahyu, beli dan bacalah buku-buku rohani dan tafsiran Alkitab yang bertanggungjawab, ikutilah seminar atau pembinaan iman Kristen yang bermutu, dan berdiskusilah dengan sesama orang Kristen atau hamba-hamba Tuhan yang bertanggungjawab untuk menumbuhkan iman, pengetahuan, dan kerohanian kita.

Ketiga, ujilah ajaran-ajarannya apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak. Setelah menguji diri dan belajar Alkitab, maka kita perlu menguji segala sesuatu khususnya ajaran-ajaran dari yang kita uji itu apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak. Mengapa saya mengatakan menguji ajaran itu penting? Karena ajaran merupakan basic belief (kepercayaan dasar) dari sesuatu yang diuji. Dari ajaran tertentu, muncullah sikap dan tingkah laku dari para penganutnya. Nah, ketimbang kita menguji sikap dari para penganutnya yang belum tentu sesuai dengan ajaran aslinya, maka ujilah ajaran sebagai intinya. Ajaran tersebut bisa kita teliti dari perkataan-perkataan pendiri utamanya (dan juga para penerusnya). Dengan kata lain, menurut Prof. Mark A. Gabriel, Ph.D. dalam bukunya Jesus and Muhammad: Profound Differences and Surprising Similarities, kita harus menemukan original sources (sumber original/asli)-nya untuk mengetahui ajaran obyektif yang kita selidiki. Bagaimana kita mengetahui bahwa ajaran tertentu sesuai dengan Alkitab atau tidak? Prinsip-prinsipnya simple namun mendalam, yaitu: segala sesuatu yang melawan ajaran-ajaran Kristen orthodoks, yaitu: kedaulatan Allah, Allaah sebagai Pencipta alam semesta, Allah Tritunggal, manusia sebagai peta dan teladan Allah, kerusakan total manusia akibat dosa, kelahiran Kristus dari anak dara Maria, kematian dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan, keutamaan dan finalitas Kristus (keselamatan HANYA ada di dalam Kristus), karunia Roh Kudus (sebagai Pribadi) yang melahirbarukan umat-Nya, dan kedatangan Kristus kedua kalinya, maka ajaran itu jelas tidak bertanggungjawab (bahkan mungkin bisa dikatakan: SESAT).

Keempat, ujilah ajaran-ajaran tersebut dari sudut pandang logika Kristen. Sebagai orang Kristen, selain Alkitab, Allah menganugerahkan akal budi kepada kita untuk berpikir, sehingga adalah bijaksana jika kita menggunakan akal budi Kristiani untuk menguji ajaran tertentu. Misalnya, jika ajaran tertentu benar, maka mengutip Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div., kebenaran harus memenuhi syarat-syarat tertentu: universal (berlaku umum), kekal (melampaui kesemantaraan), integral (menyeluruh dan tidak ada pengecualian), dan moral (memiliki etika). Saya menambahkan satu syarat lagi, yaitu: KONSISTEN. Konsisten yang saya maksud ini ada dua: konsisten antar ajaran-ajarannya sendiri dan konsisten antara ajaran dan tindakan (apakah ajaran tersebut bisa secara konsisten dihidupi). Sebuah ajaran jika tidak memenuhi kelima syarat di atas, maka ajaran tersebut tentu saja tidak benar. Contoh, jika ada pendiri suatu kepercayaan yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah ilusi, maka di titik pertama, Anda sebagai orang Kristen TIDAK perlu mendengarkan ocehannya, karena secara tidak sadar, si pendiri sedang mengatakan sesuatu yang ilusi. Kita bukan orang yang kurang kerjaan mendengar sesuatu yang tidak masuk akal (akal Kristiani) kan? Hehehe…

Kelima, ujilah sikap dan tingkah laku para penganutnya. Setelah menguji ajarannya, maka kita perlu menguji aplikasi ajaran tersebut di dalam sikap dan tingkah laku para pendiri dan penganutnya. Aplikasi ajaran tersebut bisa dikatakan sikap dan tingkah laku pendiri dan para penganutnya sebagai hasil dari ajaran-ajarannya. Meskipun kita tidak bisa mengatakan bahwa sikap yang ngawur dari salah seorang atau beberapa penganutnya mencerminkan kesalahan suatu ajaran, namun kita tetap bisa menguji suatu ajaran/kepercayaan dari sikap dan tingkah lakunya, karena Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Mat. 7:15-20) Jika sebuah kepercayaan mengajarkan mutlaknya perang untuk memberantas para kafir dan kepercayaan ini dijalankan oleh pendiri dan banyak penganutnya, maka sudah pasti kepercayaan itu ngaco.

Setelah melakukan 5 tahap pengujian ini, biarlah kita makin peka terhadap kondisi zaman kita yang makin lama makin tidak karuan, lalu kita dituntut untuk cerdas dan teliti meneliti tanda-tanda zaman sesuai dengan Alkitab, dan kemudian menjadi saksi Kristus di tengah zaman yang rusak ini, agar banyak orang yang telah tersesat oleh filsafat dunia dapat kembali kepada Kristus. Biarlah renungan singkat ini mengingatkan kita betapa pentingnya firman Tuhan yaitu Alkitab di dalam kehidupan orang Kristen yang cinta Tuhan. Amin. Soli Deo Gloria.

Resensi Buku-99: STOP DATING THE CHURCH! (Rev. Joshua Eugene Harris)

...Dapatkan segera...




Buku
STOP DATING THE CHURCH!:
Menghentikan Kebiasaan Berpindah-pindah Gereja dan Menjadi Jemaat yang Berkomitmen


oleh: Rev. Joshua Eugene Harris

Penerbit: Gloria Graffa, 2006

Penerjemah: Andina M. Rorimpandey





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Orang Kristen disebut Kristen karena ia adalah pengikut Kristus atau “kristus-kristus” kecil. Karena disebut pengikut Kristus, maka orang Kristen sudah seharusnya hidupnya hanya bagi Kristus yang diikuti-Nya. Hidup bagi Kristus adalah hidup yang makin menyerupai Kristus. Untuk mencapai hidup yang makin menyerupai Kristus, diperlukan suatu proses pendewasaan iman dan karakter Kristen. Di dalam proses pendewasaan tersebut dibutuhkan peran serta Roh Kudus yang menggunakan Alkitab dan orang-orang seiman (gereja) untuk saling menguatkan, menegur, menghibur, dan mengajar. Itulah pentingnya gereja. Gereja dibagi menjadi dua: gereja kelihatan dan gereja yang tidak kelihatan (universal). Dengan alasan bahwa dirinya adalah gereja yang universal, maka beberapa (atau banyak) orang Kristen enggan berpartisipasi di dalam gereja yang kelihatan. Apa alasan mereka? Mengapa demikian? Seberapa signifikansikah berpartisipasi di dalam gereja yang kelihatan? Kesemuanya itu dibahas dengan sederhana namun jelas oleh Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya Stop Dating the Church! yang menguraikan bahwa orang Kristen harus menghentikan kebiasaan berpindah-pindah gereja dan bagaimana menjadi jemaat gereja yang berkomitmen. Di dalam buku ini, Rev. Joshua Harris menguraikan tentang 10 dasar memilih gereja dan bagaimana menghargai hari Minggu sebagai hari sakral untuk beribadah kepada Tuhan di gereja. Buku ini ditutup dengan tantangan dari Rev. Joshua Harris untuk menerapkan teori dari ke-6 bab yang sudah diuraikannya. Biarlah buku ini menjadi berkat bagi kita tentang mengerti signifikansi gereja yang kelihatan di dalam pembangunan tubuh Kristus.




Apresiasi:
“Bukannya menanyakan apa yang dapat mereka berikan atau bagaimana mereka dapat melayani, begitu banyak pengunjung gereja yang hanya tertarik dengan apa yang dapat mereka peroleh. Gereja layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada sekadar komitmen setengah hati atau sikap acuh yang apatis, yang terlalu sering diterimanya. Sebenarnya, seperti yang diamati Harris dengan jeli, kehidupan Kristiani tidak dapat dijalani secara utuh apabila terpisah dari kerinduan yang sungguh-sungguh terhadap gereja. Inilah saatnya, orang percaya tidak menyepelekan gereja, dan inilah alasan mengapa pesan dari buku ini begitu penting.”
Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D.
(Pendeta pengajar di Grace Community Church, Sun Valley, California, U.S.A., penulis, pembicara konferensi, Presiden dan Professor of Pastoral Ministries di The Master's College and Seminary; Bachelor of Arts—B.A. dari Los Angeles Pacific College; Master of Divinity—M.Div. dari Talbot Theological Seminary; dan mendapat anugerah gelar: Doctor of Letters—Litt.D. dari Grace Graduate School dan Doctor of Divinity—D.D. dari Talbot Theological Seminary)

“Orang Kristiani penginjil memiliki penekanan yang baik dan memadai atas keselamatan pribadi. Namun, penekanan itu tidak diimbangi dengan kehidupan Kristiani yang bersifat dasar menyatu. Orang Kristiani adalah milik gereja – satu-satunya tempat yang memungkinkan kita bertumbuh dan berkembang secara rohani. Dalam buku ini, Joshua Harris menguraikan hal ini dengan bijak, jelas, dan luwes.”
Charles W. Colson
(Prison Fellowship, Washington, D.C.)

“Joshua Harris mengingatkan kita akan tugas mulia surgawi yang telah hilang dari kehidupan kita ketika kita menghindari sentuhan pribadi yang terkait dengan komitmen mengenai konsep gereja sebagai ‘rumah’. Banyak orang ingin merasa nyaman dan kenyang tatkala berada di gereja, tetapi kehidupan bersama adalah masalah besar yang harus diselesaikan oleh hati kita. Melalui gereja, tulis Joshua Harris, ‘Kuasa Injil bukan sekadar mengubah pribadi manusia, tetapi sekaligus menciptakan jenis kemanusiaan baru.”
Sara Groves, B.Sc.
(Penyanyi/Penulis Lagu; Bachelor of Science—B.Sc. dalam bidang Sejarah dan Inggris dari Evangel University)

“Joshua Harris memiliki talenta menyampaikan isu yang sedang berkembang dengan cara yang jelas, tegas, dan mudah diingat. Stop Dating the Church! adalah bentuk tulisan yang dinanti-nantikan serta disukai para pembaca, karena apa yang dikatakannya benar-benar dan realistis. Dengan cara yang menarik ia menunjukkan buah pemikiran yang keliru dari orang-orang yang sekadar menginginkan persekutuan dengan Yesus, tetapi tidak menghendaki persekutuan dengan umat-Nya. Saya percaya Tuhan akan memakai buku ini untuk mengobarkan kasih terhadap apa yang Yesus kasihi: mempelai wanita-Nya, gereja-Nya, di dalam hati banyak orang.”
Rev. Prof. Donald S. Whitney, D.Min., Th.D. (Cand.)
(Associate Professor of Biblical Spirituality dan Senior Associate Dean of the School of Theology di Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; B.A. dari Arkansas State University; M.Div. dari Southwestern Baptist Theological Seminary, Fort Worth, Texas, U.S.A.; Doctor of Ministry—D.Min. dari Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois; dan Doctor of Theology—Th.D. (candidate) dalam bidang Spiritualitas Kristen di University of South Africa; website beliau: www.BiblicalSpirituality.org)

“Apakah Anda pendeta yang sedang mencari buku bermutu untuk menolong para pengunjung gereja memahami alasan mereka harus bergabung dengan sebuah gereja? Inilah buku itu! Jelas, sederhana, digambarkan dengan baik, dan bersifat mendorong. Buku kecil ini mencerminkan kasih Kristus terhadap gereja dan menjelaskannya dengan istilah-istilah yang sederhana dan menarik. Bacalah dan manfaatkanlah.”
Rev. Mark E. Dever, Ph.D.
(Pendeta senior di Capitol Hill Baptist Church, Washington, D.C., Direktur Eksekutif dari 9Marks Ministries {dahulu dikenal sebagai the Center for Church Reform}, anggota dari Alliance of Confessing Evangelicals, dan memimpin the Alliance Forum; B.A. magna cum laude dari Duke University; M.Div. summa cum laude dari Gordon-Conwell Theological Seminary; Master of Theology—Th.M. dari The Southern Baptist Theological Seminary; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Sejarah Gereja dari Cambridge University, U.K.)

“Dalam Stop Dating the Church! Joshua Harris dengan semangat yang menyala-nyala mengomunikasikan perlunya umat Allah menjawab panggilan kita di dunia ini serta memberi kita peralatan untuk mulai mengerjakannya. Saya menghargai Josh yang tidak sekadar mengisi bukunya dengan berbagai petunjuk; ia menulisnya sebagai seseorang yang juga bergumul bersama kita untuk menemukan tempat di dalam tubuh Kristus.”
Derek Walsh Webb
(Penyanyi/Penulis Lagu)






Profil Rev. Joshua E. Harris:
Rev. Joshua Eugene Harris lahir pada tahun 1974 di Dayton, Ohio, U.S.A. dari orangtua: Gregg dan Sono Harris. Sejak tahun 2004, beliau menjadi Senior Pastor di Covenant Life Church (www.covlife.org), Gaithersburg, Maryland, U.S.A. Beliau juga adalah anggota dari Council on Biblical Manhood and Womanhood (CBMW) bersama Rev. John S. Piper, D.Theol., dkk. Beliau juga anggota dari the council of The Gospel Coalition. Pada tahun 1998, beliau menikah dengan Shannon dan dikaruniai 3 orang anak. Untuk memperoleh informasi tentang pekerjaan pelayanan Joshua, khotbah online, dan kisah-kisah dari para pembaca, kunjungilah website: www.joshharris.com.

PERENUNGAN UNTUK ORANG SOMBONG (Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.)

PERENUNGAN UNTUK ORANG SOMBONG

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.



“Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.”
(C. S. Lewis)



Suatu malam, seorang mahasiswa berkata kepada saya dalam pergumulannya, “Pak, saya sedang bergumul dengan diri saya. Saya merasa sombong dan ini mengganggu saya.” Melihat ekspresi wajahnya yang serius dan tulus, saya menjawabnya, “Tenang saja, kesombonganmu jelas masih dalam taraf yang belum puncak. Pernyataanmu bahwa kamu merasa sombong menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar sombong.” Setelah itu kami berbicara panjang lebar dan saling mendukung.

Komentar saya di atas mencerminkan sebuah keyakinan bahwa mereka yang sombong total biasanya tidak menyadari kesombongannya dan mereka yang mampu mengakui kesombongannya, masih memiliki sisa-sisa kerendahan hati. Hal ini seperti, orang yang agak mabuk sadar bahwa ia agak mabuk, namun orang yang mabuk total tidak sadar bahwa ia mabuk; atau orang yang setengah tertidur sadar bahwa ia setengah tertidur, tetapi mereka yang tertidur lelap tidak sadar bahwa ia sedang tertidur.

Nah, dalam pergulatan melawan dosa yang sama sekali tidak pantas ini, saya tiba pada karya C. S. Lewis, seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia.

Jika C. S. Lewis ditanya tentang ciri-ciri orang sombong, jelas sekali ia akan menjawab: “orang sombong adalah orang yang sering kali tersinggung dengan orang sombong lainnya.” Kalimat itu bukan kata-katanya, tetapi rangkuman dari pemahamannya. Dalam bahasanya sendiri, ia berkata bahwa kesombongan adalah dosa yang “semakin kita memilikinya semakin kita tidak menyukainya dalam diri orang lain.” Pendeknya, ketika Anda tidak terima, jengkel, dan tersinggung dengan orang yang Anda anggap sombong, sangat mungkin kesombongan dalam diri Anda sedang memberontak melawan kesombongan orang lain. “Emangnya dia aja yang bisa, gua juga bisa tahu!” Begitulah ketika orang sombong tersinggung dengan orang sombong lainnya.

Kebenarannya adalah, semakin sering Anda tersinggung dan tidak menyukai orang-orang yang Anda anggap sombong, semakin mungkin bahwa Anda sendiri adalah orang yang sombong.

Pertama-tama, saya kurang sreg dengan pemikiran C. S. Lewis ini. Bukankah mungkin, seseorang yang pandai menganalisa orang lain (misalnya: psikolog) mampu menemukan kesombongan dalam diri orang lain tanpa terjatuh dalam kesombongan yang sama? Begitu kata saya dalam hati (dan mungkin juga Anda!). Namun, jelaslah bahwa hal ini adalah kesalahpahaman terhadap pemikiran C. S. Lewis. Ia tidak berkata bahwa orang yang sombong adalah orang yang mampu menemukan kesombongan orang lain, tetapi bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak menyukai kesombongan dalam diri orang lain. Selanjutnya, yang harus diingat adalah bahwa motivasi ketidaksukaan (dalam pemikiran C. S. Lewis) ini bukanlah karena kita tahu bahwa kesombongan itu ditentang Allah, melainkan karena kita merasa tersinggung, marah dan tidak suka ketika ada orang yang menyombongkan diri di hadapan kita. Nah, kesombongan jenis inilah yang dibicarakan C. S. Lewis.

Pemikiran C. S. Lewis di atas sungguh sederhana sekaligus mendalam karena ia telah berhasil menemukan ciri-ciri orang yang sombong, bahkan mungkin ciri yang terutama. Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan eksis dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.

Selanjutnya, jika Anda mengamati semua dosa yang lain, misalnya orang yang suka korupsi waktu kerja atau uang perusahaan, pornografi, pornoaksi, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh, Anda akan menemukan bahwa mereka yang melakukannya tidak selalu keberatan jika orang lain juga melakukannya. Itulah sebabnya kita dapat menemukan sekelompok mahasiswa tukang contek yang saling bersahabat, “persekutuan” para pemabuk, kumpulan orang-orang cabul, kelompok para pencuri waktu kerja, dan geng para pembunuh. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di engah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.”

Namun demikian, kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan-kesombongan adalah perseteruan. Dan bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Singkatnya, dalam hikmat C. S. Lewis, dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis akan menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.

Akhirnya, terhadap kesombongan ini C. S. Lewis ingin memberikan peringatan yang tegas, “Selama Anda menjadi orang yang sombong Anda tidak bisa mengenal Allah” Mengapa? “Sebab kesombongan adalah kanker spiritual: yang memakan habis setiap kemungkinan dari kasih, atau perasaan cukup, atau bahkan akal sehat.” Pemikiran C. S. Lewis hanyalah gema cerdas dari kebenaran Alkitab yang berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor. 13:4). C. S. Lewis menutup pembahasannya dengan menunjukkan jalan menuju kerendahan hati. Ia berkata, “Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda adalah orang yang sombong. Dan langkah itu sekaligus merupakan langkah yang cukup besar. Setidaknya, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan sebelumnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak tinggi hati, itu berarti Anda memang tinggi hati” Selamat Merenung.




Sumber: e-mail yang dikirim langsung dari penulis




Profil Penulis:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra, Surabaya dan Master of Divinity (M.Div.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau mendapat sertifikat dari Ravi Zacharias International Ministry, Academy of Apologetics, India.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio