08 September 2008

Roma 10:12-15: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-11: Percaya Kepada Kristus-2

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-10


“Israel” Sejati atau Palsu-11: Percaya Kepada Kristus-2

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:12-15


Setelah mempelajari pengajaran Paulus tentang percaya kepada Kristus pada bagian 1 di ayat 9 s/d 11, saat ini kita akan mempelajari arti percaya kepada Kristus di bagian 2 di ayat 12 s/d 15.

Setelah menjelaskan tentang percaya di dalam Kristus mencakup masalah pengakuan iman di mulut dan juga berkenaan dengan masalah hati, lalu juga berpusatkan pada kebangkitan Kristus (ayat 9) sehingga mereka diselamatkan dan mendapatkan pengharapan yang pasti (ayat 10-11), maka Paulus menjelaskan tentang universalitas iman. Universalitas iman TIDAK seperti yang diajarkan sekarang di banyak gereja arus utama, tetapi universalitas iman yang dimaksud adalah iman yang universal, yang tidak terbatas hanya pada suatu suku atau bangsa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. ” Paulus memunculkan dua bangsa, yaitu Yahudi dan Yunani, karena itulah konteks Surat Roma ditulis di mana penduduk kota Roma terdiri dari orang-orang dari dua bangsa ini. Lalu, apa tujuan Paulus menuliskan bangsa Yunani (non-Yahudi) selain Yahudi? Hal ini dimaksudkan agar bangsa Israel sadar bahwa bukan hanya mereka saja yang merasa diri umat pilihan Allah. Allah juga memanggil dan memilih orang-orang di luar Israel sebagai umat-Nya di dalam Kristus. Hal ini sudah ditegaskannya sejak pasal 1 ayat 16, dan di dalam bagian ini ditegaskan kembali untuk menyatakan bahwa di dalam predestinasi Allah, tidak ada perbedaan bangsa lagi. Mengapa? Paulus menjelaskan alasannya yaitu karena Allah yang satu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Di sini, Paulus mengemukakan dua pokok penting tentang universalitas iman umat pilihan Allah di dalam Kristus oleh:

Pertama, universalitas eksistensi Allah di dalam Kristus. Di sini, Paulus menggunakan kata “Tuhan” pada pernyataan “dari semua orang”, berarti ini menunjuk kepada universalitas Kristus (lihat ayat 9; bdk tafsiran Jamieson, Fausset dan Brown). Artinya, di dalam Kristus, tidak ada perbedaan suku, bangsa, status ekonomi, sosial, dll (bdk Roma 3:22). Di dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus juga mengajar hal serupa, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” (Galatia 3:28) Di dalam surat Galatia ini, Paulus lebih jelas lagi mengatakan bahwa sebenarnya di dalam Kristus, bukan hanya tidak ada perbedaan suku/bangsa, tetapi juga tidak ada perbedaan jenis kelamin, bahkan status sosial, semua sama di dalam Kristus. Apa artinya? Apakah ini sedang menekankan hak asasi? TIDAK. Ini menekankan bahwa di dalam Kristus, setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama yang saling melengkapi untuk pembangunan tubuh Kristus. Mengapa? Karena mereka semua telah dibaptis di dalam satu Roh (baca 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.”) Roh Kudus lah yang membaptis umat pilihan-Nya yang berbeda-beda di dalam satu tubuh Kristus untuk saling membangun. Dengan kata lain, universalitas iman di dalam Kristus tidak bisa dilepaskan dari karya Allah Trinitas, di mana Allah memilih mereka di dalam Kristus, dan Roh Kudus menyempurnakannya dengan membaptis mereka tanpa kecuali (tidak melihat keperbedaan suku, bangsa, jenis kelamin, status, dll) ke dalam tubuh Kristus. Konsep pertama ini membuka pikiran orang Yahudi tentang kefanatikan mereka di era Perjanjian Lama yang mengikrarkan bahwa di luar Israel itu bangsa kafir. Konsep ini mengajarkan bahwa Allah juga memilih orang-orang dari bangsa lain untuk diselamatkan di dalam Kristus. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi kita. Tetapi ingat, jangan salah menafsir bagian ini. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah berhak memilih beberapa orang dari manapun untuk menjadi umat-Nya. Perhatikan. Bahkan Allah juga telah memilih beberapa dari orang-orang non-Kristen untuk nantinya pada waktu-Nya dibawa kepada Kristus melalui pencerahan Roh Kudus. Hal ini membukakan dua hal bagi kita sebagai orang Kristen: pertama, kita jangan merasa sombong dengan keselamatan yang kita miliki (bdk Roma 11) dan akibatnya, hal ini mendorong kita untuk semakin rajin memberitakan Injil. Kedaulatan Allah tanpa disertai tanggung jawab manusia di dalam penginjilan itu sia-sia adanya.

Kedua, universalitas karya Allah. Setelah kita mempelajari bahwa Kristus itu adalah Tuhan bagi semua orang (umat pilihan-Nya) tanpa pandang bulu, saat ini kita juga belajar bahwa karya Allah juga bersifat universal. Karya Allah itu ditunjukkan melalui kasih setia-Nya dan kemurahan hati-Nya bagi semua umat pilihan-Nya tanpa memandang bulu. Dalam hal ini, Paulus mengatakan, “...kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia menerjemahkan kata “kaya” sebagai “yang kaya dan murah hati” dan uniknya, kata ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif dan keterangan waktu sekarang (Present) (Sutanto, 2003, hlm. 854). Signifikansi dari hal ini adalah Allah yang bermurah hati bukan Allah yang dahulu bermurah hati, tetapi Allah yang dari dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya tetap bermurah hati. Ada unsur kekekalan di dalam kemurahan hati-Nya. Bukan hanya itu saja, kemurahan hati Allah juga bersifat aktif, bukan pasif. Allah itu murah hati BUKAN setelah kita mengasihi dan percaya kepada-Nya, tetapi IA terlebih dahulu menunjukkan kemurahan hati-Nya kepada kita sehingga kita dimungkinkan percaya, bertobat kepada-Nya dan memiliki kemurahan hati seperti Dia. Hal ini juga mencerahkan pikiran orang Yahudi yang dahulu berpikir bahwa Allah hanya memelihara hidup mereka saja dan tidak mempedulikan orang-orang di luar Yahudi karena mereka kafir. Melalui hal ini, Tuhan melalui Paulus menegur mereka agar mereka tidak sombong dan melihat realita bahwa Allah memelihara hidup umat-Nya yang tidak terbatas pada Israel saja, karena Allah itu Mahakuasa. Ia memelihara hidup umat-Nya dengan kemurahan hati-Nya. Bagi kita, ini juga merupakan suatu pelajaran bagaimana hidup menTuhankan Kristus. Ketika seseorang mengaku percaya kepada Kristus, apakah ia sungguh-sungguh hidup menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup mereka ataukah ia sebenarnya sedang menempatkan dirinya sebagai “tuan” ? Ketika seseorang percaya kepada Kristus, ia seharusnya berharap total pada kemurahan hati-Nya yang tidak pernah habis dan ketika kita berharap kepada kemurahan hati-Nya, Ia akan melakukan sesuatu menurut kehendak-Nya yang berbeda dari apa yang telah bahkan sempat kita pikirkan. Ketika kita percaya kepada Kristus, akan ada suatu hal-hal yang di luar dugaan kita akan terjadi, dan percayalah hal-hal demikian pasti memuliakan Allah, karena Allah melakukan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya sendiri (Roma 11:36).

Kepada siapakah dua hal ini ditujukan? Kepada mereka yang berseru kepada-Nya. Apa arti “berseru”? Beberapa terjemahan Alkitab dari Indonesia, Inggris dan bahasa asli memberikan kepada kita beragam definisi yang saling memperkaya. Di dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) dipakai kata “meminta tolong”, King James Version, dipakai kata call upon (bisa berarti datang kepada), di dalam terjemahan 1965 Bible in Basic English (BBE) dipakai kata hope in (berharap di dalam), di dalam terjemahan Contemporary English Version (CEV) dipergunakan kata ask for his help (meminta pertolongan-Nya) dan di dalam terjemahan Good News Bible (GNB) dipergunakan kata call to (=memanggil). Bagaimana dengan bahasa aslinya? Kata ini di dalam bahasa Yunani epikaleomai yang berasal dari dua kata yaitu epi yang berarti “kepada” dan kata kaleō yang berarti memanggil, jadi artinya “memanggil kepada”. Dengan kata lain, universalitas nama Allah di dalam Kristus dan karya-Nya berlaku hanya bagi mereka (umat pilihan-Nya) yang memanggil atau datang kepada-Nya. Bagaimana dengan kita? Mungkin kita sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, rajin ke gereja, sudahkah kita berseru atau memanggil atau datang kepada-Nya sebagai wujud rasa hormat dan kasih kita kepada-Nya? Kata “berseru” bukan hanya secara mulut, tetapi keluar dari hati. Seorang yang berseru kepada-Nya adalah seorang yang berharap dan terus bergantung pada kedaulatan-Nya. Adakah sikap ini menjadi kerinduan kita? Ataukah kita lebih mementingkan kehendak kita ketimbang kehendak Allah sehingga kadangkala kita jarang atau bahkan lupa berseru/memanggil atau datang kepada-Nya?

Apa akibat kita berseru kepada-Nya? Di ayat 13, Paulus mengatakan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” Ketika kita datang dan berseru kepada-Nya, kita akan diselamatkan. Apa maksudnya “akan diselamatkan”? Apakah kita hanya cukup berseru kepada-Nya dengan sembarangan lalu kita akan diselamatkan? Apakah semudah itu? TIDAK. Pdt. Dr. Stephen Tong memberikan penjelasan tentang konteks penulisan Surat Roma yaitu pada waktu itu orang-orang Kristen dianiaya dengan ancaman bahwa jika mereka menyebut nama Allah selain Kaisar sebagai “tuhan”, mereka akan mati. Dengan kata lain, melalui ayat ini, Paulus ingin menguatkan iman orang Kristen di Roma bahwa meskipun mereka harus mati karena menyebut dan berseru kepada-Nya, mereka akan tetap diselamatkan. Berarti, ada suatu kuasa di dalam nama Kristus yang kepada-Nya kita harus datang dan memanggil. Di sisi lain, konteks ayat ini menjelaskan dengan gamblang. Orang yang “berseru kepada nama Tuhan” sebenarnya berkaitan dengan ayat 9, yaitu mereka yang mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati di dalam kebangkitan Kristus. Jadi, ketika seseorang “berseru kepada nama Tuhan” berarti orang tersebut tidak berseru dengan seruan yang kosong, tetapi dengan seruan yang berisi iman dan pengharapan kepada janji-janji Allah di dalam keselamatan di dalam Kristus. Hal ini akan dipaparkan pada ayat-ayat selanjutnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita berseru hanya sebagai luapan emosional saja ? Ataukah kita benar-benar berseru kepada-Nya karena kita benar-benar mengerti isi dari apa yang kita serukan kepada-Nya? Mari kita mengintrospeksi diri. Seruan kita kepada-Nya dipengaruhi oleh seberapa dalam dan luasnya kita mengenal Pribadi Allah dan Kebenaran-Nya.

Tetapi apakah cukup hanya berseru saja? TIDAK. Di ayat 14 dan 15, Paulus menyampaikan suatu urutan yang jelas dari belakang (berseru kepada-Nya) sampai ke depan/inti, yaitu pengutusan pemberitaan Injil (“diutus”—ayat 15). Mari kita simak satu per satu.
Di ayat 14a, Paulus mengatakan bahwa seseorang bisa berseru kepada-Nya, asalkan ia percaya kepada-Nya (“Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?”). Di sini, Paulus memaparkan bahwa untuk dapat berseru/datang kepada-Nya, seseorang harus percaya kepada Dia. Kata “percaya kepada” lebih tepat diterjemahkan mempercayakan diri kepada. Dengan kata lain, ketika seseorang dengan sungguh-sungguh dan rela mempercayakan diri sepenuhnya kepada Kristus, maka ia dapat berseru/datang kepada-Nya. Tanpa seseorang percaya, tak mungkin ada kerinduan hati untuk datang kepada-Nya dan berseru. Masalah yang terjadi pada orang-orang Yahudi adalah mereka terlalu banyak “berseru” kepada-Nya bukan merupakan luapan dari iman mereka, tetapi karena mereka bersungut-sungut. Di dalam Perjanjian Lama, kita juga belajar dari Ayub. Ayub adalah seorang yang saleh yang tiap hari dekat dengan Allah. Ketika pencobaan dari setan datang menyerbu dia, sebagai manusia, dia tetap bergumul di dalam penderitaan, tetapi puji Tuhan, ia tidak larut di dalam penderitaan, melainkan berharap pada Allah. Ia datang dan berseru kepada Tuhan, karena teman-temannya tidak mampu menolong dirinya. Ayub 4-31 dipenuhi dengan beragam argumentasi teman-temannya (Elifas, Bildad dan Zofar) tentang penderitaan Ayub, dilanjutkan dengan pasal 32-37 tentang “nasehat” Elihu, temannya. Apakah yang dibutuhkan Ayub adalah sebuah “nasehat”? TIDAK. Ayub membutuhkan penghiburan, bukan nasehat. Meskipun dia difitnah oleh keempat teman Ayub, ia tetap berharap dan berseru kepada-Nya, mengapa? Karena ia sudah percaya kepada-Nya. Seorang yang setiap harinya terus percaya dan bergumul dengan Allah, maka ketika ada penderitaan, ia tidak berfokus kepada penderitaan, tetapi berharap dan berseru kepada-Nya sebagai satu-satunya sumber Pengharapan. Di dalam Perjanjian Baru, kita juga belajar dari Paulus yang setiap harinya terus hidup beriman dan berharap kepada-Nya, sehingga ketika ada penderitaan mengancam, mengalami karam kapal, dll, ia tidak goyah, tetapi ia terus berharap dan berseru kepada-Nya. Bagaimana dengan kita? Ketika kita berseru, apakah seruan kita keluar dari luapan iman kita yang bersandar dan berharap total kepada Allah ataukah seruan kita menjadi seruan yang bombastis dan emosional atau yang lebih parah lagi, seruan kita adalah seruan bersungut-sungut seperti bangsa Israel dahulu?

Di ayat 14b, Paulus melanjutkan urutannya, yaitu bagaimana seseorang bisa percaya kepada-Nya jika ia tidak mendengar tentang Dia. Di sini, ada kaitan antara mendengar Kristus dan percaya kepada-Nya. Ketika seseorang mendengar Firman Kristus, dari situlah timbullah iman sejati (Roma 10:17). Mengapa Paulus menggunakan kata “mendengar” bukan melihat atau merasakan atau meraba? Karena “melihat” dan “merasakan”/“meraba” lebih bersifat menyesatkan karena itu bersifat fenomenal, sedangkan mendengar meskipun bisa menyesatkan, tetapi intensitasnya kecil, mengapa? Karena ketika kita mendengar, kita mengolah di dalam pikiran terlebih dahulu, sedangkan ketika kita melihat atau merasakan sesuatu, kita hampir tidak pernah memasukkannya ke dalam pikiran. Kita bisa terpukau karena kita melihat atau merasakan, tetapi ketika kita mendengar, kita dituntut untuk aktif. Dan yang unik, kata “mendengar” dalam ayat ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif (BUKAN pasif). Berarti, kita aktif mendengar Firman Tuhan, dan pada saat itu Roh Kudus bekerja mencerahkan hati dan pikiran kita sehingga kita percaya dan bertobat. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering dan rindunya kita terus mendengar kebenaran Firman Tuhan? Apakah kita sudah cukup puas jika kita sudah belajar theologi sampai tingkat doktoral? Belajarlah terus dengan mendengarkan pendalaman kebenaran Firman Tuhan.

Di ayat 14c, Paulus melanjutkan bahwa bagaimana seseorang bisa mendengar tentang Kristus jika tidak ada orang yang memberitakan-Nya. Di sini, satu langkah lebih dalam lagi, yaitu orang bisa mendengar Injil jika ada orang yang memberitakan Injil Kristus. “Orang yang memberitakan-Nya” di dalam terjemahan King James Version (KJV) adalah preacher (pengkhotbah/orang yang berkhotbah). Jemaat dan umat Tuhan baru bisa mendengar Injil, jika ada ratusan pemberita Injil yang berapi-api mewartakan Injil. Tetapi sayang, di zaman postmodern, Injil tidak lagi diberitakan dengan murni dan bertanggungjawab. Di banyak gereja kontemporer, Injil ditambah dengan hal-hal sekunder, seperti jadi anak Tuhan pasti kaya, sukses, berhasil, dll, sedangkan di banyak gereja arus utama, Injil sudah dikurangi esensinya, sehingga “Injil” dimengerti hanya sebagai aksi sosial saja (tidak lagi mau memberitakan Injil dengan berbagai macam dalih argumentasi “theologis” atas nama “kontekstualisasi”). Mau ke mana arah zaman? KeKristenan sedang diterpa oleh arus zaman. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan kita sekali tentang banyaknya orang yang belum mendengar Injil Kristus, dan tugas kita saat ini juga untuk pergi memberitakan Injil. Khotbah dan pemberitaan Injil harus menjadi satu kesatuan untuk membawa orang-orang yang tersesat kembali kepada Kebenaran Allah di dalam Kristus. Khotbah yang beres TIDAK berisi hal-hal sosial SAJA, tetapi juga memberitakan Injil. Khotbah yang berisi pemberitaan Injil itu lebih penting ketimbang khotbah-khotbah yang bertemakan hal-hal sosial, karena pemberitaan Injil berkaitan dengan hidup seseorang di kekekalan, sedangkan hal-hal sosial hanya berkaitan dengan hidup seseorang di dunia sementara ini.

Lalu, di ayat 15, Paulus memberikan inti permasalahannya yaitu bagaimana mereka bisa memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus. Kata “diutus” dalam KJV diterjemahkan sent dan dalam bahasa Yunaninya adalah apostellō berarti set apart (=dipisahkan). Di dalam Injil Matius 10:16, Tuhan Yesus menjelaskan sisi lain dari pengutusan, yaitu, “"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, …” Kata “mengutus” di dalam ayat ini juga menggunakan bahasa Yunani yang sama dengan ayat 15 di atas. Pemberitaan Injil memang penting, tetapi esensi sebenarnya terletak pada pengutusan dengan dipisahkan. Kristus mengutus kita untuk menjadi saksi-Nya dengan cara memisahkan kita terlebih dahulu dari dunia dan segala konsepnya yang berdosa. Menjadi saksi Kristus berarti menjadi terpisah dari semua konsep dunia berdosa (Roma 12:2). Tuhan tidak mau kita terkontaminasi oleh pikiran setanik dari dunia, karena kita diutus untuk menebus dunia dan kebudayaannya untuk dikembalikan kepada Allah. Dengan kata lain, kita menjalankan fungsi sebagai imam di dalam dunia ini. Ketika kita menjadi imam, kita bukan tak bertugas apapun, tetapi justru kita sangat giat bertugas sebagai imam, baik di dalam menggarap penebusan budaya, maupun yang lebih penting, “penebusan” jiwa kembali kepada Kristus. Dengan kata lain, kita sebagai imam juga menjadi saksi yang mewartakan kasih Kristus dan pengorbanan-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya sehingga banyak orang yang termasuk umat pilihan-Nya dibawa kembali kepada Kristus. Oleh karena itu, tidak salah Paulus mengatakan, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (bnd. Yesaya 52:7) Tuhan menghargai dan menganggap indah dan tepat pada waktunya (Sutanto, 2003, hlm. 855) ketika seseorang memberitakan Kabar Baik (Injil). Bagaimana dengan kita? Sudahkah siap menjadi laskar-laskar pewarta Injil Kristus kepada mereka yang terhilang? Bersiapkah kita diutus-Nya? Ingatlah, Tuhan Yesus tadi berfirman bahwa Ia mengutus kita seperti domba ke tengah-tengah serigala. Kita harus berhadapan dengan “serigala-serigala” yang buas yang siap membantai dan membunuh kita, tetapi kita tidak usah kuatir, karena Roh Kudus akan menyertai dan menaungi kita di dalam pemberitaan Injil.

Melalui perenungan keempat ayat ini, kita disadarkan bahwa percaya kepada Kristus bukan hal yang mudah, karena percaya kepada Kristus berkaitan erat dengan kita datang setiap hari kepada-Nya untuk berseru dan berharap kepada-Nya, juga berkaitan erat dengan mendengar Firman Tuhan, memberitakan Injil dan pengutusan pekabaran Injil. Hal-hal ini tidak bisa dipisahkan. Dan ketika hal-hal ini dikaitkan dan disatukan, maka Tuhan akan semakin dipermuliakan di dalam hidup umat-Nya. Sudahkah kita melakukan hal-hal tersebut? Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 11:5-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-3

Ringkasan Khotbah: 28 Mei 2006
Kristus sebagai Pusat Hidup (3)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 11:5-6


Pendahuluan
Sebelumnya kita telah memahami apa yang menjadi alasan Tuhan Yesus sehingga Dia tidak langsung memberikan jawab atas pertanyaan para murid Yohanes Pembaptis yang mempertanyakan tentang Kemesiasan Kristus. Sesungguhnya bukanlah hal yang sulit bagi Tuhan Yesus untuk memberikan jawaban langsung: Ya, Aku Mesias. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus sebab Tuhan ingin supaya para murid Yohanes ini mengambil kesimpulan sendiri dari apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Tuhan Yesus ingin supaya mereka mampu merelasikan sesuatu yang menyangkut hakekat/esensi sejati. Tuhan Yesus ingin mereka beriman secara hakekat dan bukan karena jawaban praktis.

Ironisnya, dunia modern lebih suka hal-hal yang sifatnya praktis dan cepat. Postmodern telah berhasil menghantam dunia dengan konsep pragmatisnya. Orang tidak suka kalau ia diberikan suatu konsep untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Sebagai contoh, orang lebih suka soal ujian yang sifatnya multiple choice dibandingkan dengan soal yang sifatnya esai dimana orang harus menurunkan rumus dasar sedemikan rupa sampai akhirnya ia mendapat jawaban yang tepat. Perhatikan, mujizat yang Tuhan kerjakan ini bukanlah sekedar mujizat biasa seperti yang dilakukan oleh dunia. Tidak! Tuhan menata secara struktur dimana enam urutan kejadian tidak boleh dibolak balik supaya orang dapat melihat hal-hal yang esensi dibalik yang fenomena.
Sakit kusta yang dimaksud dalam Alkitab bukanlah sekedar penyakit fisik tetapi sakit kusta berkorelasi langsung dengan sakit rohani. Kusta dianggap sebagai kutukan akibat dosa yang dilakukan oleh seseorang. Itulah sebabnya orang sakit kusta yang disembuhkan tidak memakai istilah “sembuh“ tetapi “tahir.“ Selain secara fisik ia disembuhkan tapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu secara spiritual ia dibersihkan. Perjanjian Lama (PL) berbicara tentang kusta sebanyak 48 kali namun seluruhnya bukan membicarakan sakit fisik. Para Rasul dalam Perjanjian Baru (PB) tidak pernah berbicara tentang kusta. Orang kusta yang ditahirkan hanya terdapat 9 kali dimana 5 kali diantaranya membicarakan kejadian yang sama, masing-masing di Injil Matius sebanyak 4 kali; injil Markus sebanyak 2 kali, dan injil Lukas sebanyak 3 kali dan ketiganya itu menyatakan Kristus Yesuslah yang mentahirkan kusta. Hanya injil Yohanes yang tidak pernah menyinggung sedikitpun hal-hal tentang kusta maupun tuli karena Injil Yohanes ini melihat Kristus secara theologis.

Sebelumnya kita telah merenungkan esensi dibalik mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan maka hari ini kita melihat esensi dibalik mujizat: orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar, yaitu:
1. Tekanan Dosa
Setelah mata kita dicelikkan dan kaki yang lumpuh dapat berjalan kembali, kita telah direvitalisasi secara spiritual maka hal kedua yang harus diselesaikan adalah bagaimana menghancurkan problematika terbesar, yaitu keluar dari belenggu dosa. Esensi dari mujizat orang kusta menjadi tahir dan orang tuli mendengar ini adalah dosa yang membelenggu. Orang kusta menjadi tahir berarti penyelesaian terhadap dosa; orang tuli mendengar berarti terlepasnya manusia dari belenggu ikatan dosa. Kristus Yesus yang mentahirkan dan menyembuhkan merupakan lambang dari penebusan dosa – manusia dikeluarkan dari belenggu kematian kembali pada kehidupan kekal. Perhatikan, hanya Kristus yang dapat menebus dosa itulah sebabnya para Rasul tidak pernah menyinggung tentang kusta menjadi tahir. Kata “tuli“ berasal dari bahasa Yunani, kophos. Istilah “tuli“ terdapat dalam PB sebanyak 5 kali dan semuanya berbicara tentang Tuhan Yesus yang menyelesaikan dosa sedang dalam PL sebanyak 11 kali. Namun kalau kita cari dalam bahasa aslinya, maka istilah “kophos“ dalam PB ini, yakni Injil Matius, Markus dan Lukas muncul sebanyak 14 kali, yaitu 5 kali diterjemahkan sebagai tuli sedang yang 9 kali diterjemahkan sebagai bisu. Ketiga disini adalah tuli bisu, yakni tuli yang berakibat pada kebisuan. Sedang untuk orang yang bisu saja ada istilah tersendiri, yakni alalos (bahasa Yunani) dan dalam PB terdapat satu kali. Berarti secara keseluruhan dapat disimpulkan dalam ketiga Injil: istilah kophos yang berarti tuli muncul sebanyak 5 kali, kophos yang berarti bisu sebanyak 8 kali sedang 1 kali diterjemahkan sebagai orang yang bisu saja, yakni alalos.
Orang yang tuli bisu hidupnya pasti tertekan karena ia tidak dapat berkomunikasi dan mengkomunikasikan; ia tidak dapat menangkap pikiran orang lain dan ia sendiri tidak dapat mengungkapkan pikirannya. Inilah gambaran dari esensi dosa; orang tidak mendengar maupun memberikan informasi, orang hanya berkutat di dirinya sendiri. Kedua mujizat ini merupakan mujizat Kristus yang dikerjakan secara eksklusif dalam PB sebab mujizat ini direlasikan secara langsung dengan dosa. Tindakan Kristus sebagai tindakan Kristologis, yakni Mesias yang menebus dosa manusia.

Sama halnya seperti kondisi orang yang berdosa ketika orang menyadarkan akan dosa dan kebenaran sejati, ia seperti orang tuli yang tidak nyambung antara apa yang disampaikan dengan apa yang ia terima. Sebagai contoh, orang menyadari kalau sesungguhnya konsep harus melandasi pratika sehingga orang harus mengerti konsep terlebih dahulu baru ia dapat menyelesaikan setiap permasalahan ketika tekanan itu datang namun toh orang masih tetap bersikeras ingin hal yang praktika. Dalam hal ini terjadi ketidak sinambungan, logikanya tidak berjalan, ia berkutat dengan dirinya sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus banyak mengajar dengan perumpamaan. Perumpamaan bukan dimaksudkan supaya orang mudah memahami ajaran Tuhan Yesus. Tidak! Tuhan Yesus menegaskan: kepada kamu diberikan anugerah untuk mengerti rahasia Kerajaan Sorga dan kepada mereka tidak karena mereka melihat tapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:10-13). Inilah ketulian yang hakiki akibat dosa. Orang tuli tidak mendapat pengertian kebenaran, orang tidak dapat mengelola kebenaran karena ia sengaja menutup dirinya akan kebenaran. Adalah suatu anugerah kalau kita dapat mendengar kebenaran dan kita diubahkan. Sama halnya orang tuli, orang kusta ini hidupnya pasti tertekan; ia hanya menunggu mati; ia melihat tubuhnya yang makin hancur tetapi ia tidak berkuasa melawannya. Inilah gambaran dosa. Sulit bagi manusia untuk lepas dari cengkeraman dosa, orang tahu kalau ia pasti mati.

Seluruh kebenaran Alkitab, apa yang tersirat dibalik yang tersurat ini diungkapkan dalam theologi Reformed. Salah satu warisan yang diwariskan dari studi yang mendalam dari para theolog Reformed ada empat hal, yaitu: 1) Creation, penciptaan; 2) Fall, kejatuhan manusia; 3) Redemption, penebusan; 4) Consummation, penyempurnaan. Beda halnya dengan dunia, dunia hanya memulai dan berakhir pada satu titik, yaitu: fall, kejatuhan. Orang berdosa melihat masalah, memikirkan masalah dan mencari penyelesaian masalah dari permasalahan itu berdasarkan masalah maka hasil akhirnya adalah masalah. Sebagai contoh, bawalah sebuah mobil ringsek ke suku primitif dan katakanlah pada mereka bahwa mobil ringsek itu adalah mobil. Dan suatu kali, kita bawa mobil yang dicipta sempurna di tengah-tengah mereka maka orang tetap bersikeras kalau itu bukan mobil. Orang yang mau menyelesaikan mobil ringsek supaya mobil ringsek itu selesai dari masalah ringseknya tapi tanpa orang tahu bentuk mobil yang asli. Bukan hal yang mudah menjelaskan pada mereka bahwa realita yang mereka lihat sekarang itu adalah realita setelah kejatuhan. Maka dapatlah dibayangkan kesulitan yang harus kita hadapi ketika kita menjelaskan tentang kebenaran sejati pada mereka yang tuli. Dosa telah membelenggu manusia, orang tidak dapat melihat kaitan antara realita dan esensi.

Suatu masalah haruslah dilihat dari creation barulah dapat diselesaikan dan satu hal lagi, orang harus berani menebus, redeem. Tidak ada penyelesaian yang dapat diselesaikan dengan murah dan mudah. Kristus harus datang ke dunia dan menebus dosa. Manusia harus kembali pada Kristus; tanpa Kristologi tidak ada penebusan, tanpa Kristologi tidak ada penyelesaian masalah, seluruh hidup manusia hanya berakhir di titik kejatuhan. Namun tidak berhenti sampai titik Redemptation. Redemptation harus diselesaikan dengan consummation, proses yang terus berjalan sampai pada kekekalan. Orang yang hidup dalam dosa, berkubang dalam masalah dan mencari masalah. Keluar dari masalah untuk masuk dalam masalah baru sebab orang tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah. Inilah kondisi manusia berdosa yang digambarkan seperti orang kusta dan tuli. Untuk keluar dari cengkeraman dosa maka orang harus kembali pada Kristus yang adalah Mesias.

2. Pencemaran Diri
Apalah gunanya orang tuli disembuhkan kalau yang didengar hal-hal yang berdosa dan ia mencemari orang lain dengan dosa. Adalah lebih baik kalau ia tidak sembuh dengan demikian ia hanya mencemari dirinya sendiri dengan dosa sehingga orang lain tidak menjadi hancur. Kusta merupakan gambaran yang cocok untuk orang yang berada dalam belenggu dosa dimana kerusakan tubuh itu berasal dari dalam, orang tidak dapat melawan proses kerusakan tersebut, orang hanya menunggu mati. Orang kusta harus berteriak, “Najis, najis“ ketika ia bertemu orang lain supaya orang tidak tercemar dosanya. Orang kusta ini akan merasa tidak nyaman ketika ia berada di lingkungan orang-orang yang sehat maka orang kusta ini membentuk suatu komunitas tersendiri. Komunitas ini merupakan komunitas berdosa, komunitas pencemaran. Hanya kuasa penebusan yang dapat menjadikan orang cemar menjadi tahir. Orang yang mengaku dirinya Kristen maka ia harus berjuang dan berusaha keras untuk melawan segala bentuk pencemaran. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita hidup dalam dunia yang tercemar dosa lalu bagaimana dengan diri kita apakah kita turut larut didalamnya ataukah kita melawan keras segala bentuk pencemaran? Apakah kita sudah dilahirbarukan dalam Kristus?

Setiap orang Kristen bukanlah orang suci, kita adalah orang cemar karena itu perlu adanya pentahiran. Kristus melakukan mujizat untuk menyelesaikan problema manusia yang paling besar, yaitu dosa. Hukum tidak akan dapat menyelesaikan masalah etika. Hukum hanya dapat menyelesaikan efek dari etika. Etika hanya dapat diselesaikan dengan pertobatan kemudian orang dididik dengan kualitas kesucian seperti yang Kristus teladankan. Perhatikan, tempat dimana hukum dijalankan dengan keras justru disana banyak terjadi pelanggaran hukum. Adalah tugas setiap anak Tuhan yang telah ditahirkan untuk menjadi saksi bagi dunia yang cemar, menyadarkan orang berdosa kembali ke dalam Sang Kebenaran sejati. Sungguh sangatlah mengenaskan, hari ini gereja tidak lagi memikirkan kerohanian jemaat, tidak lagi memberitakan Injil, membawa orang kembali pada kebenaran. Segala cara dipikirkan demi untuk meraup keuntungan sendiri.

Gereja telah tuli, gereja berkubang dalam kecemaran. Gereja tidak lagi menjalankan peranannya di tengah dunia berdosa. Misi gereja telah bergeser; gereja hanya memikirkan hal-hal yang sifatnya fenomena. Gereja hanya memikirkan cara untuk mendapatkan berkat dan hidup berkelimpahan. Gereja tidak lagi berorientasi pada hal-hal yang rohani, memusatkan hidup pada Kristus. Tidak! Sebaliknya gereja justru memusatkan hidup pada dosa. Ini pencemaran dosa. Kalau kita tidak disembuhkan maka kita tetap berada dalam kondisi kophos dan kita tetapi berkubang dalam dosa. Bertobat, kita harus kembali memusatkan hidup kita pada Kristus Sang Mesias. Gereja harus mewartakan kebenaran, mendidik jemaat semakin bertumbuh dalam iman dan berakar kuat, taat menjalankan apa yang menjadi kehendak Bapa.

3. Hidup Terpisah dari Allah
Hidup seorang kusta dan seorang tuli pastilah sangat tertekan selain karena hidup tersendiri, mereka juga dipisahkan/aleniasi dari lingkungannya. Bayangkan kalau kita berada di suatu tempat dimana kita tidak memahami sama sekali bahasa mereka. Sungguh tersiksa, bukan? Kita merasa tersendiri dan asing. Memang benar, kita berada di tengah-tengah mereka tapi kita bukanlah bagian dari mereka. Orang yang tuli bisu sejak lahir adalah orang yang terpisah dari sosial lingkungannya. Demikian juga dengan orang kusta, dia menempati tempat tersendiri dan dia harus berteriak: najis, najis supaya orang tidak mendekatinya. Orang berdosa adalah orang yang dipisahkan dari kehidupan. Gambaran kusta dan tuli ini bukan sekedar gambaran fisik. Dosa berarti kita dipisahkan dari Allah dan akibatnya adalah kematian kekal. Hukuman yang paling menakutkan adalah ketika kita dilepaskan dari relasi hidup. Tuhan ingin ketika kita hidup maka itu bukan sekedar berelasi secara horisontal belaka tetapi ada relasi yang lebih penting yaitu relasi yang bersifat vertikal. Kalau relasi kita dengan Tuhan baik pastilah hubungan kita dengan sesama akan baik.
Celakalah, hidup kita kalau kita tidak dapat mendengar suara Tuhan yang memimpin setiap langkah hidup kita. Hari ini kalau Tuhan masih mau berbicara pada kita, Tuhan masih menegur kita maka jangan sia-siakan anugerah ini tetapi hendaklah kita bertobat dan memohon ampunan-Nya, dan kita hidup taat pada-Nya. Sayangnya, hal ini tidak dilakukan Yudas. Itulah saat kematian Yudas, ia terpisah dari Allah. Dosa adalah keterpisahan dari sumber hidup. Hendaklah kita memfokuskan hidup kita pada Kristus adalah Mesias; Dia adalah Sumber Hidup yang sejati. dengan demikian kita tidak sekedar direvitalisasi tetapi revitalisasi itu disertai dengan keluarnya kita dari ikatan dosa. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

06 September 2008

YESUS MENURUT PARA AHLI (Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.)

Yesus Menurut Para Ahli

oleh: Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th.



Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan jelas siapa Yesus, bahwa Dia adalah Allah yang patut dipuji dan dipuja, namun cukup banyak ahli (scholars) memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Sebagai contoh, izinkan saya mengutip pandangan beberapa theolog tertentu, yang disebut sebagai theolog liberal, khususnya theolog abad lalu yang banyak memiliki pandangan yang sangat negatif terhadap Yesus. Jika kita membaca dan mengamati tulisan-tulisan mereka, maka kita dapat menyimpulkan bahwa mereka telah meninggalkan pengajaran Alkitab dan membangun pandangan sendiri yang seringkali bersifat spekulatif.

Mengapa theolog-theolog tersebut menolak pengajaran Alkitab? Alasan mereka adalah karena penulis-penulis Alkitab tidak menulis Yesus yang sesungguhnya (the real Jesus), tapi mereka telah memoles Yesus sesuai dengan kehendak mereka yang cenderung terlalu meninggikan Yesus. Tuduhan seperti itu khususnya ditujukan kepada Injil Yohanes yang menegaskan bahwa Yesus, yang disebut dengan Firman itu, bukan saja sejak kekekalan telah bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia sendiri adalah Allah. (Yoh.1:1) Itulah sebabnya mereka memberi istilah “Yesus sejarah” (the historical Jesus) dan “Kristus yang diimani” (Christ of faith). Mereka menolak Kristus yang diimani oleh para rasul, tapi menerima Yesus sejarah. Namun demikian, bicara soal Yesus sejarah, juga masih menjadi masalah bagi mereka. Yesus sejarah yang mana?

Marilah kita melihat beberapa dari pandangan theolog tersebut. Kita mulai dengan Adolf Harnack yang menegaskan bahwa kita tidak dapat membangun doktrin Kristologi dari Injil. Mengapa? Menurut Harnack, Injil tidak bicara mengenai Yesus, tetapi mengenai Bapa. Harnack menulis, “The Gospel, as Jesus proclaimed it, has to do with the Father only and not with the Son.” Di pihak lain, H. J. Holtzmann berbeda dengan Harnack, karena dia mengakui adanya pengajaran Yesus dalam Injil. Namun demikian, Holtzmann tidak mengakui keAllahan Yesus. Karena baginya Injil tidak mengajarkan Yesus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia saja. Holtzmann menulis, “This Gospel describes a purely human Jesus for whom no claims to divinity are made.” Pandangan negatif lainnya diberikan oleh David F. Strauss yang mengatakan, “Jesus was a legendary figure whose historicity was debatable.”

Setelah melihat beberapa pandangan tersebut di atas, kelihatannya, kurang lengkap jika kita tidak menyebut pandangan theolog yang satu ini, yaitu Rudolph Bultmann. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, Bultmann telah banyak mempengaruhi theolog-theolog sejagad, termasuk theolog Indonesia. Bultmann juga menolak Yesus yang disaksikan Alkitab. Bagi Bultmann, Yesus yang disaksikan Alkitab adalah Kristus yang diimani para Rasul, bukan Yesus yang sesungguhnya. Karena itu, perlu diragukan. Bultmann menegaskan: “It is impossible to recapture Jesus as He moved in Galilee and Jerusalem and to know precisely what took place in the years AD 30-33.”

Dengan mengatakan demikian, itu tidak berarti bahwa Bultmann secara mutlak menolak pengakuan tentang Yesus. Dia tetap mengakui Yesus, tetapi bukan Yesus dalam Alkitab yang menurutnya telah dipoles oleh para Rasul. Bultmann menegaskan: “The mere thatness is sufficient.” Barangkali pandangan yang paling negatif dari semuanya adalah pandangan G. A. Wells, di mana bagi Wells, Yesus tidak pernah ada. “Did Jesus ever exist?”, demikian dia memberi judul kepada bukunya. Menurut Wells, “Jesus was a mythical figure arising out of Paul's mystical experience, for whom an earthly 'history' had later to be invented.”

Apa gunanya kita mengutip pandangan-pandangan tersebut di atas? Tentu saja bukan untuk diikuti, karena secara jelas pandangan tersebut tidak berdasarkan kepada kesetiaan kepada pandangan kitab Suci, Alkitab. Kiranya pandangan seperti itu juga jangan dibiarkan untuk menggoncangkan iman kita. Alasan kita yang pertama adalah karena kita ingin secara jujur dan terbuka menunjukkan kenyataan adanya pandangan seperti itu. Untuk apa? Supaya kita tidak bertheologi seperti orang yang sedang memakai kaca mata kuda. Maksud saya, ada orang memahami theologi tertentu, karena memang hanya pandangan seperti itulah yang diketahuinya. Hanya itu pilihan yang ada di depannya. Dengan perkataan lain, orang tersebut digiring dan dipaksa hanya melihat ke satu arah dan tidak diberi kesempatan untuk melihat adanya kemungkinan arah lain. Dengan demikian, pandangan seperti itu belum tahan uji. Selanjutnya, penting sekali kita mengamati kenyataan ini: bila pengajaran Alkitab tidak lagi berotoritas, maka semua orang dapat membangun teorinya sendiri. Jika demikian halnya, apa lagi dasar menilai pandangan tersebut? Rasio? Subjektivitas pribadi?

Apakah semua ahli memiliki pandangan demikian? Jika demikian halnya, maka sebaiknya tidak perlu belajar theologi sampai tingkat sedemikian. Belajar theologi, cukuplah seadanya, tidak perlu tinggi-tinggi; karena buat apa belajar theologi kalau akhirnya merusak iman sendiri serta umat Allah lainnya? Bukankah Tuhan Yesus pernah menegaskan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Memang ada yang beranggapan demikian. Karena itu, mereka akan menolak dan ‘alergi’ terhadap orang-orang yang belajar sampai ke tingkat tertentu, yang menurut mereka sudah terlalu ilmiah dan tidak memiliki iman lagi.

Tapi dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sesungguhnya, saya ingin menegaskan bahwa meski cukup banyak pandangan yang sedemikian radikal yg meragukan serta menolak pengajaran Alkitab, kita bersyukur karena banyak ahli theologi lainnya yang percaya dan menerima kesaksian Alkitab. Kita dapat menyebut sederetan nama besar yang sangat ahli dan sedemikian berpengaruh namun tetap setia kepada pengajaran Alkitab. Sebagai contoh: J. B. Lightfoot, H. P. Liddon, A. E. J. Rawlinson, Vincent Taylor, Oscar Cullmann, C.K. Barrett, Rudolph Schnackenburg, Raymond Brown, Graham Stanton, Peter Stuhlmacher, I. H. Marshall, F. F. Bruce, N. T. Wright, Ralph Martin, R. T. France, G. E. Ladd, D. A. Carson, John Stott, Luke Timothy Johnson, Donald Bloesch, Millard J. Erickson, dan banyak lainnya lagi. Orang-orang tersebut di atas menerima pengajaran Alkitab bahwa Yesus adalah pribadi yang sangat mulia, di mana kemuliaan-Nya sama dengan kemuliaan yang dimiliki oleh Allah Bapa di dalam Perjanjian Lama. Karena itu, mereka dengan segenap hati menyembah pribadi Yesus serta mengajarkan hal yang sama melalui buku atau berbagai artikel yang mereka tulis.

Saya sengaja menyebut cukup banyak nama yang sangat ahli dan telah dikenal di seluruh dunia. Hal itu saya lakukan untuk menyangkali pandangan yang mengatakan bahwa seolah-olah hanya orang-orang bodoh dan kaum fundamentalis lah yang mempercayai Alkitab, apa adanya. Dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sikap meragukan serta menolak atau percaya dan menerima Alkitab ternyata adalah masalah sikap hati dan iman, BUKAN MASALAH BODOH ATAU PINTAR. Artinya, jika hati dan pikirannya sudah ditetapkan untuk menganut satu pemahaman tertentu, apa pun kata Alkitab serta para ahli lainnya, hal itu tidak terlalu berarti baginya. Sebaliknya, jika dengan iman, orang belajar dan membuka diri kepada pernyataan-pernyataan Alkitab, maka orang tersebut –tidak bisa tidak– akan dibawa kepada pengenalan dan penyembahan kepada Yesus.

Saya bersyukur, dalam rangka melengkapi bahan disertasi, pada waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan mengadakan penelitian selama 6 (enam bulan) di Tyndale House, Cambridge, Inggis. Dalam masa itu saya menikmati persekutuan yang sangat indah dengan para scholar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Sungguh, saya tidak melewatkan kesempatan yang sangat berharga itu. Dalam setiap kesempatan yang ada, saya berusaha keras untuk berdiskusi secara pribadi dengan mereka, termasuk dengan beberapa orang yang namanya telah saya sebutkan di atas. Selain mengalami persekutuan informal setiap harinya, yaitu ketika acara tea/coffee time di pagi dan sore hari, para ahli tersebut juga mengadakan ibadah persekutuan sekali seminggu. Dalam salah satu ibadah yang dipimpin oleh David I. Brewer (salah seorang tim peneliti tetap di Tyndale House), dia memulainya dengan sebuah kalimat yang sangat berkesan bagi saya: “It is good to be a scholar but it is better to be a believer.”

Kiranya kita semua juga secara bersama-sama mencintai kebenaran sebagaimana diajarkan oleh Alkitab; karena itu, kita semakin ahli. Tetapi lebih dari situ, kiranya semua itu membawa kita semakin beriman kepada-Nya dan memiliki ambisi suci untuk terus menerus memuliakan nama-Nya. Hidup di dalam Dia dan hidup hanya bagi Dia.
Soli Deo Gloria.


Sumber: Tabloid Reformata Juli 2005.



Disarikan dari: www.mangapulsagala.com



Profil Pdt. Dr. V. Mangapul Sagala:
Pdt. Ir. Victor Mangapul Sagala, D.Th. adalah pendeta yang melayani di Persekutuan Antar Universitas (PERKANTAS) dan dosen Perjanjian Baru di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta dan STT lain. Beliau lahir di Bonandolok, Samosir, 19 Mei 1956. Beliau menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.), Master of Theology (M.Th.), dan Doctor of Theology (D.Th.) di Trinity Theological College, Singapore. Beliau menjalani studi riset selama 6 (enam bulan) di Cambridge, Inggris. Beliau menikah dengan Dra. Junicke br. Siahaan dan dikaruniai lima orang anak: Billy (1988), Abdiel (1991), si kembar Stefan & Filip (1993), Ekharisti (1995).

Pengalaman Internasional:
- Asian Evangelists Coference. Singapura, 7-12 Juli 1985
- International Conference for Itenerant Evangelists (ICIE), Amsterdam 12-21 Juli 1986
- IFES Conference, Amsterdam 4-11 Juli 03
- SBL: Seminar of Biblical Literature, International Meeting: Cambridge, Inggris: 21-25 Juli 2003.

Karya Tulis yang telah diterbitkan:
1. Pemimpin Pujian yang Kreatif
2. Superioritas dan Keistimewaan Alkitab
3. Petunjuk Praktis Menggali Alkitab
4. Kristus Pasti Datang Kembali
5. Roh Kudus dan Karunia Roh
6. Bagaimana Kristen Berpacaran
7. Pekabaran Injil Secara Pribadi

05 September 2008

MENGIKUT YESUS (Pdt. Rudie Gunawan, S.Th.)

MENGIKUT YESUS

oleh: Pdt. Rudie Gunawan, S.Th.
(gembala sidang Mimbar Reformed Injili Indonesia–MRII Kuningan, Jakarta dan Ketua Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta–STRIJ yang meraih gelar Sarjana Theologi–S.Th. dari Seminari Alkitab Asia Tenggara–SAAT Malang)



Nats: Mrk. 10:17-31



Tindakan ‘meminta’ jadi biasa, sejak kecil sampai mati, mulai dari minta makan dengan bahasa tangisan hingga meninggalkan pesan: ‘Kalau mati, dibakar saja supaya tak merepotkan.’ Ada beragam cara dan bentuk permintaan. Hidup akan jadi kaku dan dingin tanpa relasi tersebut. Sepanjang hidup, ia terlatih meminta. Kalau cara satu gagal, digunakan yang lain.

Permintaan kepada Tuhan tak sekadar minta seperti pada orangtua, guru, dosen, polisi atau yang berotoritas lebih kuat di mana sikap, perkataan dan mimik wajah harus diatur sehingga berkenan, disertai dengan kesediaan hati untuk bayar harga. Tapi manusia seringkali minta karena ada objek lebih tinggi.

Kepada Allah, ia seringkali tak bersikap demikian melainkan malah lebih kurang ajar daripada dengan orangtua. Ia mungkin minta dengan mengancam. Misal¬nya, jikalau permintaan tak dikabulkan atau sakit penyakit tak disembuhkan maka ia tak lagi mau jadi Kristen apalagi mencariNya. Sebaliknya, Tuhan dipermalukan.

Padahal Allah lebih hebat, besar, tinggi, kuat, dan agung. Maka seharusnya sebelum masuk ke bait kudus-Nya, jemaat harus membuka sepatu, seperti yang pernah diajarkan pada Musa.

Banyak orang pindah dari Gereja karena minta kepada-Nya sangat melelahkan dan harus sabar. Cara berpikir seperti itu tak beda dengan orang kaya yang saleh di Mrk. 10:17-27. Mungkin ia cukup berumur, sekitar 40 tahun, sebab katanya di ayat 20, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku (+ 15-20 tahun).” Pada usia 40 tahun, manusia mulai memikirkan sakit dan kematian. Usaha juga harus mantap karena setelah masa tersebut takkan ada peluang lebih baik.

Tapi caranya tak beda dengan para murid. Ia berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mrk 10:17) Namun Tuhan menjawab, “Mengapa kau kata¬kan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja.” (ayat 18) Artinya, Ia menegur sekaligus membangun supaya orang tersebut tak basa-basi melainkan langsung mengatakan keinginannya. Sebenarnya Ia mengetahui hatinya yang menganggap diri sendiri baik lalu hendak mengadakan pengesahan. Tapi Ia tetap appreciate.

Ketika minta kepada Tuhan, seharusnya tak boleh menganggapNya sebagai sumber otoritas. Jika tidak, orang Kristen akan terus bermain drama karena kalau tak sesuai keinginan-Nya maka Ia takkan mengabulkan. Padahal di Mat 6:8 Kristus mengatakan, “… Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya.” Maka di ayat 6 tercatat, “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”
Selain itu juga tak boleh beranggapan Tuhan memberi tanpa resiko. Ketika minta kendaraan, anak tak memikirkan resiko. Juga tak terpikir andaikata harus beli dengan biaya sendiri. Orangtua bijaksana akan menjelaskan bahwa bukan karena sudah lulus SMA ia harus memperoleh SIM. Jikalau dikabulkan, ia harus menanggung resiko karena biaya pemeliharaan dan perbaikan tak murah. Nilainya jadi tak sekadar harga beli saja. Yesus mengatakan bahwa manusia boleh minta tapi sebelumnya harus melakukan beberapa syarat (Mrk. 10:19 & 21).

Banyak Pendeta menggunakan Mrk. 10:21 untuk memeras orang kaya dan membuat mereka ketakutan. Sesungguhnya ayat tersebut bukan untuk mereka melainkan orang yang merasa diri kaya atau mampu.

Tak seorang pun boleh menghina karena semua manusia sebenarnya kaya. Bahkan orang miskin pasti memiliki nilai kekayaan tersendiri diekspresikan dalam bentuk barang. Dan juga tak ada orang mau dihina sebab memiliki dignity/self-confidence yang membuatnya survive. Kalau ada kesempatan, ia pasti membalas orang yang menghinanya. Semakin merasa susah, ia makin menanamkan dalam diri bahwa masih memiliki kemampuan. Maka banyak cerita mengisahkan tentang orang kaya yang awal mulanya miskin sehingga harus melalui perjuangan berat. Tapi motivasi hanya Tuhan yang tahu.

Permintaan harus disertai reason (alasan) jelas, bukan untuk sekarang tapi kelak. Seharusnya para murid langsung pandai setelah mendengar khotbah Yesus. Namun mereka malah berpikir untuk gerakan yang masih baru, dibutuhkan orang kaya semacam itu karena belum ada di kelompok Tuhan. Orang tersebut sangat saleh, secara sosial terkenal, dan financially kuat.

Isi hati para murid tercatat di Mrk. 10:28 dan lebih jelas lagi di Mat. 19:27, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Itu merupakan ungkapan kekecewaan mereka. Sesungguhnya inti permasalahannya ialah perolehan yang mendorong mereka minta.

Biasanya orang tak mempermasalahkan cara, entah mengelabui, merampas, dll. Namun perikop tersebut menekankan tujuan. Misalnya, untuk memperlengkapi diri hingga hidup lebih nyaman atau menambah sesuatu yang sebenarnya telah ada. Namun yang kedua membuat seseorang diperbudak oleh keinginannya sendiri. Maka ia tak boleh berhenti hanya untuk sekadar fun karena itu berarti bermain dengan dosa.

Yesus tak menggugurkan keinginan orang tersebut. Ia juga tak mengurungkan niat memberi hidup kekal pada mereka yang minta. Ia sangat mengasihinya (Mrk. 10:21). Tapi ia pergi karena kecewa. Rupanya tak hanya orang kaya terhormat itu yang mengalami kendala dalam menerima Kristus. Para murid juga demikian.

Problem Kingdom terjadi sejak awal Injil ditulis untuk menunjukkan bahwa para nabi dan raja terkecoh tentang Allah karena sifatNya tak sesuai pemikiran mereka. Padahal Dialah Sang Penguasa dan Pencipta. Klimaksnya ketika Nabi Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel diutus untuk mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan diri ke Babel (Yer. 25:11). Padahal saat itu mereka berjaya. Maka Yesaya dipasung sedangkan Yeremia diikat lalu dimasukkan ke sumur karena terjadi konflik dalam pikiran mereka. Berulangkali pula Yeremia mengalami konflik diri (Yer. 20:7-18). Tapi semua itu merupakan proses transforming di mana perubahan harus terjadi. Predestinasi dan kedaulatan-Nya sulit dimengerti kecuali pernah mengalaminya.

Tuhan sangat mengerti manusia. Maka Ia melayani pertanyaan seperti Mat. 19:27. Seharusnya para murid yang mengikuti-Nya selama 2,5 tahun tak boleh bertanya semacam itu sebab telah menyaksikan keajaiban dan kehebatan Anak Allah. Semestinya mereka langsung bersembah sujud dan mengucap syukur.

Petrus memang mantan orang besar yaitu bandar ikan dengan 3 perahu. Ikan yang ditangkapnya adalah kesukaan Kaisar. Ia juga yang tertua di antara para murid. Maka ia representatif ketika bertanya seperti di Mat. 19:27. Kenyataan tersebut merupakan permainan emosi, motivasi dan logika bagi mereka.

Setelah mendengar jawaban Yesus (Mrk. 10:29-31), Petrus baru menyadari, bukan karena Tuhan dan Injil ia meninggalkan semuanya. Kristus telah mengetahui bahwa kalkulasi masih terlalu kuat dan erat mengikat pikiran mereka. Sehingga berpikir akan mendapat posisi dan keuntungan. Konsep tersebut tak pernah berhenti hingga diselesaikan oleh tulisan para Rasul.

Seringkali manusia sulit memilih antara harta dan Yesus karena merasa masih hidup di dunia. Penyebab utama sebenarnya ialah karena Injil membongkar dan membuat hidupnya bertumbuh hingga timbul kerelaan untuk meninggalkan yang lama. Injil tak menghukum melainkan sangat revolusioner (mengembalikan pada yang asli) sekaligus memberitahukan berita yang sungguh membahagiakan tapi ia malah ketakutan hingga tak mudah menerimanya. Di Mat 6:24 Ia menegaskan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Perikop tersebut membicarakan prioritas.

Kemudian dilanjutkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu,...” (Mat. 6:25) Kalau pengajaran tersebut berhenti hanya di ayat ini, berarti Kristen gagal membangun kembali. Ayat tersebut sebenarnya mengatakan bahwa hendaklah rasa kuatir diarahkan secara tepat. Maka kebenaran harus dicari terlebih dulu. Ia tak menghapus perasaan tersebut melainkan membuat perbandingan (ayat 26-30) untuk menunjukkan bahwa sebenarnya tak perlu kuatir berlebihan. Kekuatiran itu natural karena mendorong manusia untuk mencari nafkah.

Para murid sebenarnya juga ragu menerima Tuhan karena lebih miskin daripada Yohanes Pembaptis yang berkharisma dan masih termasuk keturunan imam besar Zakaria. Kebanyakan pengikut Yohanes ialah soldiers. Tapi ia mati muda karena dimusuhi banyak orang. Sedangkan Yesus hanyalah keturunan tukang kayu dari Nazaret. Padahal Dialah Mesias. KehadiranNya secara fisik dan fenomenal sangat meragukan (Yes. 53:2-3). Tapi ketika mendekati, mendengar serta memperhatikan Firman dan kebesaran jiwaNya, manusia takkan ragu lagi untuk terus ikut Dia dalam suka duka.

Di Mrk. 11:28 tercatat para imam bertanya untuk menjebak-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepadaMu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Sebab 3 partai politik Yahudi (Farisi, ahli Taurat dan Saduki) saling memperebutkan kekuasaan. Ketika Ia menjawab bahwa kuasa-Nya dari Allah, jawaban tersebut dianggap pelecehan. Padahal Ia berkata yang sebenarnya.

Mrk. 10:31 menegaskan bahwa para pengikut-Nya akan memperoleh semua dengan adil. Akan ada pembagian, perhatian dan pemeliharaan yang adil. Amin.


(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


Sumber:
Ringkasan khotbah Pdt. Rudie Gunawan di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya tanggal 16 Juni 2002.

04 September 2008

Kebaktian MRII Semarang

…Hadirilah…




Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Semarang

Ibadah Minggu Pk. 17.00
di Puri Anjasmoro Blok H5 No. 9, Semarang

PIC: Ev. Antonius Steven Un, M.Div.
Mobile: +6281.334.690. 900

03 September 2008

Matius 11:5-6: KRISTUS SEBAGAI PUSAT HIDUP-2: Revitalisasi Hidup

Ringkasan Khotbah: 21 Mei 2006
Kristus sebagai Pusat Hidup-2: Revitalisasi Hidup
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 11:5-6


Pendahuluan
Firman Tuhan membukakan realita kebenaran bahwa setiap anak Tuhan sejati yang hidup dalam kebenaran akan mengalami aniaya dan tantangan ketika hidup di tengah-tengah dunia berdosa namun Puji Tuhan, kita mempunyai Sang Gembala Agung yang tak membiarkan kita berjalan sendiri. Di saat yang tepat, Dia datang menolong kita. Kristen sejati adalah orang yang mampu mengatasi berbagai kesulitan. Namun ingat, kemampuan itu bukan datang diri sendiri. Kita harus hidup berpusat pada Kristus maka Dia akan memberikan kekuatan dan memampukan kita mengatasi kesulitan yang datang. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepada-Mu. Pikullah kuk yang Kupasang...sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan“ (Mat. 11:28-30).
Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang yang sudah mempunyai suatu kepercayaan untuk berubah dan berbalik arah. Realita ini sangat dipahami oleh Yohanes Pembaptis, karena itulah satu-satunya cara adalah mempertemukan para muridnya dengan Kristus, encountering. Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi misi Yohanes maka Tuhan Yesus meminta mereka untuk: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat...“ (Mat. 11:4-6). Artinya para murid harus menyaksikan segala pekerjaan Yesus dengan mata kepala mereka sendiri, mereka harus mempunyai pengalaman iman dan dari sana, mereka dapat menyimpukan bahwa Kritus adalah Mesias; Dia yang Diurapi itu adalah Allah yang datang berinkarnasi ke dunia, Kristus adalah Nabi, Kristus adalah Imam, Kristus adalah Raja. Tuhan Yesus juga ingin ketika kita memutuskan hendak beriman pada Dia maka itu disebabkan karena kita telah bertemu secara pribadi dengan Dia dan bukan berasal dari perkataan orang.
Pertanyaannya sekarang adalah apa yang dimaksud dengan pertemuan, encountering disini, bukankah murid-murid Yohanes Pembaptis ini pernah bertemu dengan Tuhan Yesus? Jelaslah, pertemuan ini bukanlah sekedar pertemuan biasa. Dalam pertemuan itu, Tuhan memaparkan enam hal: 1) orang buta melihat, 2) orang lumpuh berjalan, 3) orang kusta menjadi tahir, 4) orang tuli mendengar, 5) orang mati dibangkitkan, 6) orang miskin diberitakan kabar baik. Sepintas, orang menganggap apa yang dikatakan Yesus ini adalah hal yang biasa menyangkut pekerjaan-Nya. Ternyata tidaklah demikian, keenam urutan tersebut tidak dapat dibolak balik. Enam aspek tersebut sifatnya progresif – setahap demi setahap membawa orang sampai pada pengenalan akan Kristus. Yang menjadi pertanyaan adalah apa kaitan antara keenam hal di atas dengan Yesus sebagai Mesias? Perhatikan, ayat ini bukan berbicara tentang orang yang disembuhkan. Mujizat bukan ditujukan untuk orang. Tidak! Tujuan Tuhan melakukan mujizat supaya orang melihat dan mengenal Kristus. Hari ini, orang melihat mujizat di batas fenomena, orang ingin mendapatkan “sesuatu,“ yakni keuntungan diri ketika ia mengikut Kristus. Pemikiran ini sudah ada sejak dulu pada orang Yahudi, yakni orang yang mengaku diri sebagai “orang beragama“ ternyata orientasi religiusnya berpusat pada diri. Konsep yang sama juga ada dalam pemikiran murid Yohanes Pembaptis tak terkecuali murid Tuhan Yesus. Menjelang kematian Tuhan Yesus, para murid masih berebut kedudukan, masing-masing dari mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus.
Diantara sekian banyak orang Yahudi, seharusnya para murid Yohaneslah yang paling memahami kalau Kristus adalah Mesias. Yohanes Pembaptis diperkirakan mendidik muridnya secara intensif kurang lebih selama 6 bulan. Yohanes pasti berulang kali menegaskan bahwa dia bukan Mesias, dia hanyalah seorang pembuka jalan bagi Sang Mesias dan Mesias yang sejati akan datang. Maka semua hal yang terjadi ketika Tuhan Yesus dibaptis dan semua perkataan Yohanes yang menyatakan bahwa ia tidak layak membaptis Yesus bahkan membuka tali kasutnya ia tidak layak, semua itu tidak lepas dari perhatian mereka. Alkitab mencatat, Yohanes meski ada dalam penjara, ia tahu semua hal yang dikerjakan oleh Yesus dan semua informasi itu ia dapatkan dari para muridnya. Memang, mereka belum sepenuhnya memahami pribadi Kristus namun secara tidak langsung, Yohanes mengajak mereka untuk peduli akan satu pribadi Yesus Kristus. Tapi toh, sekalipun mereka menyaksikan semua perbuatan Yesus itu tidak langsung berubah konsep berpikir yang materialis dan humanis. Hari itu, banyak orang yang melihat pekerjaan Yesus bahkan mereka mempunyai pengalaman disembuhkan, mereka termasuk salah seorang dari 5000 orang yang diberi makan dengan 5 roti 2 ikan namun toh semua itu tidak mengubah konsep berpikir mereka. Orang hanya mau mujizat saja tetapi mereka tidak mengerti apa yang menjadi tujuan dari mujizat itu. Tuhan tahu apa yang dalam pemikiran mereka, itulah sebabnya Tuhan menegur dengan keras bahwa mereka mengikut Kristus bukan karena mereka mengerti tanda tapi karena mereka makan dan kenyang. Orang hanya mencari kenikmatan diri semata. Biarlah kita mengevaluasi diri, kita termasuk golongan orang yang hanya mencari kenikmatan diri ataukah kita seorang anak Tuhan sejati?
Di antara berjuta manusia di dunia, orang Kristenlah yang seharusnya paling mengenal Kristus Yesus karena tiap-tiap kali mereka mendengar tentang Firman tapi sayang, orang mengenal hanya secara pengetahuan, knowledge; orang belum pernah bertemu, encountering tak dengan Kristus. Sama halnya dengan orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Kristus, mereka mendapat anugerah dengan mereka melihat dan mempunyai pengalaman bersama Kristus namun hal itu tidak menjadikan mereka seorang murid sejati. Perhatikan, iman Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari Kristus. Kristus adalah pusat iman Kristen. Seorang Kristen sejati harus memusatkan hidup pada Kristus dan untuk lebih memahami hal ini kita akan merenungkan kebenaran Firman yang membukakan beberapa aspek:
1. Orang buta melihat
Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan ini menjadi tanda utama dalam iman Kekristenan. Perhatikan, buta di sini bukan sekedar fisik. Pertanyaan penting adalah ketika orang melihat, apa yang dilihat dan bagaimana melihat? Banyak orang berpikir kalau mujizat buta-melihat ini layaknya seperti sebuah mujizat duniawi, yakni celiknya ia dari kebutaan justru semakin membawa orang masuk ke dalam jerat dosa. Tidak! Mujizat sorgawi berbeda dengan mujizat duniawi. Celik dari kebutaan seharusnya membuat orang melihat akan kebenaran; orang menjadi sadar kalau dirinya adalah orang berdosa. Perhatikan, pertama kali Tuhan Yesus hendak mempertobatkan Paulus, Tuhan membutakan mata Paulus terlebih dahulu. Sebelumnya, Paulus dapat melihat namun dia buta. Paulus dapat melihat segala sesuatu yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus; Paulus juga melihat semua peristiwa penyaliban Tuhan Yesus; Paulus juga hadir ketika Stefanus dirajam. Secara fisik, mata Paulus tidak buta namun secara rohani, ia buta. Sampai suatu waktu dimana Tuhan membutakan mata Paulus barulah saat itu, mata hatinya menjadi celik. Kebutaan justru membuatnya dapat melihat kebenaran, Paulus mengenal Kristus yang sejati. Inilah mujizat sejati. Merupakan suatu kegagalan fatal kalau orang tidak dapat melihat iman dibalik suatu mujizat, orang seringkali hanya melihat hal-hal duniawi. Sungguh amatlah disayangkan, apa yang seharusnya kita lihat namun kita tidak melihat sebaliknya apa yang tidak boleh kita lihat justru itu yang kita lihat. Inilah dunia berdosa. Biarlah kita mengevaluasi diri, hari ini kita dapat melihat namun sudahkah kita “melihat“? Sudahkah kita mengalami mujizat sejati?
Melalui mujizat orang buta melihat ini, Tuhan Yesus ingin supaya murid Yohanes Pembaptis juga melihat dalam arti “melihat sejati.“ Para murid Yohanes ini melihat semua pekerjaan Yesus bahkan ada diantara mereka yang mempunyai pengalaman bersama Yesus namun mereka buta, mereka tidak melihat bahwa Yesus adalah Mesias, Yesus adalah Allah yang sedang berinkarnasi ke dunia, Yesus adalah Raja atas segala raja. Bagaimana dengan kita, sudahkah mata rohani kita dicelikkan? Mata rohani yang buta akan membuat hidup kita menjadi gelap. Merupakan suatu anugerah bagi murid Yohanes sebab diantara berjuta orang Yahudi yang hidup sejaman dengan Tuhan Yesus, merekalah yang mendapat kesempatan lebih untuk mengerti tentang siapakah Kristus. Namun untuk dapat melihat Kristus adalah Mesias tetap dibutuhkan anugerah. Tanpa anugerah orang tetap buta meski secara fisik, ia melihat. Begitu juga dengan kita hari ini, diantara beribu manusia, kita yang paling banyak mendapat kesempatan bergereja, kita dapat membaca kebenaran Firman, kita tahu banyak hal tentang Tuhan Yesus namun pertanyaannya adalah apakah semua anugerah yang kita terima ini telah membukakan mata rohani kita? Kita menjadi semakin mengenal Kristus dan kebenaran-Nya dan kita hidup dalam kebenaran.
2. Orang Lumpuh Berjalan
Perhatikan, orang lumpuh yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus disini adalah orang yang lumpuh sejak lahir. Mujizat orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan merupakan mujizat yang merevitalisasi. Dikatakan demikian karena buta dan lumpuh ini membuat orang sulit melakukan berbagai aktivitas. Kebutaan membuat orang tidak dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya, orang kehilangan orientasi. Namun penglihatan itu sia-sia kalau orang tidak dapat berjalan. Maka mujizat kedua yang Tuhan inginkan adalah lumpuh-berjalan dengan demikian setelah kita mengerti kebenaran, kita dapat menjalankan kebenaran itu.
Seperti kita ketahui, struktur tulang orang yang lumpuh sejak lahir pasti mengalami deformasi. Jangankan untuk menopang tubuhnya, untuk bangun dari tilam saja sudah sulit baginya. Namun orang lumpuh ini pasti masih mempunyai pengharapan untuk sembuh. Setiap kali air kolam bergoncang, ia kalah cepat dengan orang lain yang mungkin sakitnya tidak terlalu parah yang hari itu juga berada di tepi kolam. Bayangkan, setelah berpuluh-puluh tahun masa penantian yang panjang itu pastilah ia mulai kehilangan pengharapan untuk sembuh. Di tengah keputusasaan itu, Tuhan Yesus datang dan bertanya: “Maukah engkau sembuh?“ Kalau kita mengandalkan kekuatan manusia maka mustahil orang lumpuh ini dapat berjalan. Ini membuktikan bahwa manusia adalah makhluk lemah, we are nothing. Di satu sisi, terkadang Tuhan memang sengaja membiarkan kita berjalan sendiri sampai kita menyadari kalau kita bukanlah siapa-siapa maka saat itu, Tuhan bekerja. Kita tidak akan pernah mengalami mujizat kalau kita belum pernah bertemu dengan Tuhan. Orang tidak akan mengalami suatu perubahan dalam konsep kalau ia tidak memandang pada Tuhan.
Mujizat orang lumpuh yang berjalan ini bukan hanya sekedar kesembuhan secara fisik. Mujizat ini merupakan kebangkitan, penerobosan iman, revitalisasi. Adalah benar merupakan suatu mujizat kalau kita menyadari akan dosa, kita mau bertobat, kembali pada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Mujizat ini tidak cukup sampai disana, setelah kita melihat kebenaran dan memandang pada Kristus, kini, saatnya untuk bangun dan bangkit dari kelumpuhan untuk kerja dan hidup bagi Kristus. Hari ini, banyak orang Kristen yang ingin hidup menjalankan apa yang menjadi kehendak Bapa namun sekali lagi, semua itu hanya sebatas keinginan belaka sebab orang tidak mampu menjalankannya karena orang telah dicengkeram dosa sehingga menjadi lumpuh. Orang hanya punya keinginan tapi ia tidak pernah direvitalisasi karena orang belum pernah bertemu Kristus sehingga ia belum dibangunkan dari kelumpuhan. Tuhan ingin kita bangkit dari kelumpuhan.
Iman Kristen bukanlah iman yang lumpuh tetapi iman Kristen haruslah kembali kepada Kristus. Jikalau engkau tawar hati pada masa kesesakan maka kecillah kekuatanmu (Ams. 24:10). Orang Kristen harus berjiwa kuat, tidak mudah berputus asa ketika kesulitan datang. Letak kekuatan itu justru ketika kita menghadapi berbagai kesulitan dan kita menang atas kesulitan itu. Orang yang dalam hidupnya serba nyaman, segala sesuatu diproteksi maka dapatlah dibayangkan ketika kesulitan datang, ia tidak mempunyai daya kekuatan, hidupnya lumpuh. Kita harus melewati beberapa ujian terlebih dahulu barulah kemudian kita dinyatakan naik kelas. Orang yang berhasil melewati berbagai kesulitan akan sangat mudah ketika ia menghadapi kerikil kecil yang menghadang. Hari ini banyak orang Kristen berjiwa kerdil, hanya ingin hidup nyaman dan aman. Bertobatlah, Tuhan ingin orang Kristen untuk bangkit, bangun dari kelumpuhan dan bekerja bagi Dia. Jangan pernah meminta pekerjaan yang sesuai dengan kekuatanmu tapi mintalah kekuatan Tuhan mohon supaya menolong dan memampukan kita untuk menanggung beban yang berat dan menggenapkan rencana-Nya.
Mujizat buta-melihat dan lumpuh-berjalan merupakan kunci revitalisasi iman Kekristenan dan menjadi kekuatan melangkah menghadapi dunia dan segala tantangannya. Biarlah kita merefleksi diri sudahkah kita hidup dalam mujizat sejati sehingga ketika kita memandang pada Kristus, kita melihat kebenaran sejati dan kitapun dibangunkan untuk bekerja menjalankan kehendak-Nya. Biarlah di tengah-tengah dunia yang gelap dan dunia yang lumpuh akibat dosa yang mencengkeram, dunia yang telah rusak moral ini, kita dipakai menjadi saksi-Nya. Adalah tugas kita sebagai orang Kristen menjadi terang di tengah dunia yang gelap dan kita harus pergi mewartakan berita kebenaran sejati di tengah jaman yang sudah kehilangan fokus hidup. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 10:9-11: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-10: Percaya Kepada Kristus-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-9


“Israel” Sejati atau Palsu-10 :
Percaya Kepada Kristus-1

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:9-11


Setelah mempelajari tentang sentralitas Kristus di dalam pembenaran oleh iman di ayat 5 s/d 8, maka kita akan merenungkan tiga ayat (9 s/d 11) berkenaan dengan pengajaran Paulus tentang percaya kepada Kristus pada bagian 1.

Setelah menjelaskan firman iman di ayat 8 yang menunjuk pada Kristus, maka Paulus menjelaskan respon selanjutnya di ayat 9 s/d 11 yaitu percaya kepada Kristus. Seringkali kita sudah banyak belajar theologia khususnya doktrin Kristus (Kristologi), tetapi apakah setelah kita mempelajari doktrin itu, kita sampai pada respon akhir yaitu menTuhankan Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita? Itu adalah suatu komitmen dan keputusan hidup. Hal inilah yang diajarkan Paulus di ayat 9, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Mayoritas Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan “mengaku” dengan kata confess (=mengakui), sedangkan beberapa terjemahan memakai kata say (=mengatakan), knowledge (=mengakui/mengetahui), declare (=menyatakan). Terjemahan yang lebih tepat adalah confess, dan kata ini menggunakan kata kerja aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Kata confess ini berkaitan erat dengan confession (=pengakuan iman). Berarti kita bukan sekadar mengetahui banyak tentang Kristus, tetapi mengaku dengan mulut sebagai suatu pengakuan iman. Kredo itu sangat penting di dalam Kekristenan, tanpa kredo, iman Kristen pasti kacau. Albert Barnes dalam Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan kredo/pengakuan ini sebagai public declaration (pernyataan {kepada} publik), berarti iman kita harus berani dinyatakan secara publik. Jamieson, Fausset and Brown Commentary mengaitkan “mengaku dengan mulutmu” dengan perintah Tuhan Yesus di dalam Matius 10:32, “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” dan perkataan Yohanes di dalam 1 Yohanes 4:15, “Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.” Tetapi sayangnya, banyak gereja Protestan mainline yang mempertahankan kredo hanya sebagai ucapan mantra yang kosong dan tak berarti, karena berita mimbar di gereja mereka mengajarkan hal-hal yang justru bertentangan dengan kredo yang mereka ucapkan setiap Minggu, seperti mengajarkan tentang “theologia” religionum yang sangat bertentangan dengan Pengakuan Iman Rasuli. Sebaliknya, di banyak gereja Karismatik/Pentakosta, kredo sudah dihilangkan, mengapa? Alasannya sangat pragmatis, “tidak ada ‘roh kudus’”, “terlalu kaku”, “membatasi ‘roh kudus’”, dan alasan-alasan klise lainnya yang tidak berdasar apapun! Sudah saatnya, Kekristenan harus bertobat! Kredo atau pengakuan iman sangat dibutuhkan di segala zaman. Kalau kita mempelajari sejarah penyusunan pengakuan iman, kita memperhatikan bahwa kredo ini disusun untuk melawan bidat-bidat yang menyerang gereja. Pengakuan Iman Nicea disusun untuk melawan bidat Arianisme yang mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu Pribadi (melawan Trinitas). Lalu, apa makna kredo di zaman postmodern yang semakin menggila ini ?
Pertama, kredo sebagai fondasi dasar iman Kristen yang harus dipegang. Di zaman postmodern, ilahnya bukan lagi rasio, tetapi relativisme dan perasaan. Tidak heran, filsuf F. Schleiermacher mengajarkan bahwa agama itu adalah feeling absolute dependency (perasaan kebergantungan mutlak). Filsafat ini diterapkan di dalam banyak Kekristenan kontemporer sekarang dengan dukungan psikologi modern yang atheis. Ketika Kekristenan dan agama hanya sebagai suatu perasaan, maka dengan mudahnya, Kekristenan diruntuhkan dan diserang dengan berbagai bidat. Di zaman postmodern, bidat itu adalah Unitarianisme (bentuk modern dari Arianisme), selain itu ada Sabellianisme dalam bentuk modernnya yang mengajarkan bahwa Allah Trinitas itu bukan keberapaan Allah tetapi kebagaimanaan Allah. Di tengah maraknya bidat yang mengancam Kekristenan, sudah saatnya Kekristenan menegakkan kredo atau pengakuan iman yang melawan semua bidat dan menegakkan iman Kristen kembali di atas dasar Alkitab. Hal ini diimplikasikan di dalam 2 kalimat pertama dalam Pengakuan Iman Rasuli, “Aku percaya...” Ketika 2 kalimat pertama ini diucapkan, berarti itulah iman kita, iman yang eksklusif di tengah zaman postmodern yang mengilahkan segala sesuatu adalah sama, dan iman itu bukan iman yang kosong, tetapi iman yang berdasar dan bertanggungjawab, mengapa ? Karena di dalam Alkitab, kita belajar bahwa iman di dalam Allah Trinitas adalah anugerah Allah, bukan jasa baik manusia yang pura-pura kelihatan “baik”.
Kedua, kredo sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen. Kredo bukan hanya sebagai dasar iman Kristen yang harus dipegang di tengah maraknya bidat dan relativisme di abad postmodern ini, kredo juga berfungsi sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen yang Alkitabiah. Dengan kata lain, kredo sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, baik dalam pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum, dll. Dengan demikian, adalah anggapan yang sangat tidak bertanggungjawab jika ada orang (dosen/guru) “Kristen” yang mengajarkan bahwa agama/iman dan ilmu tidak ada hubungannya. Anggapan ini jelas sangat tidak Alkitabiah dan jelas melawan Allah (melawan inkarnasi Allahà Allah menjadi manusia, dan juga melawan dwi natur Kristus à Kristus bernatur Ilahi dan manusia) secara tidak langsung. Kredo sebagai dasar pembentukan paradigma Kristen berarti kredo mempengaruhi, mengawasi, mengkritik, menghakimi dan membentuk seluruh kehidupan Kristen. Misalnya, pada kalimat awal Pengakuan Iman Rasuli dikatakan, “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi”, berarti kita percaya bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Dengan dasar kredo ini, kita membentuk ilmu biologi dan menolak segala bentuk evolusi maupun evolusi theistik yang ditegaskan oleh salah seorang pakar fisika terkemuka di Indonesia dengan ide “mestakung”. Kemudian, dikatakan “dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita, ...” Kredo ini juga mengajar bahwa Kristus adalah Tuhan dan juga Allah, sehingga barangsiapa yang menolak keTuhanan Kristus dan menganggap-Nya hanya sebagai salah satu jalan keselamatan, guru sosial, pendiri agama, dll, ajaran itu harus dinyatakan bidat, karena melawan Pengakuan Iman Rasuli !

Iman bukan sekadar pengetahuan doktrinal atau pengucapan kredo saja, tetapi iman juga menyangkut percaya di dalam hati. Itulah yang diajarkan Paulus di ayat 9b, “percaya dalam hatimu” Kata “percaya” dalam bahasa Yunaninya bisa berarti mempercayakan diri (believe in/entrust) dan kata kerja ini menggunakan bentuk aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Sungguh menarik, kedua kata kerja baik “mengaku dengan mulutmu” dan “percaya dalam hatimu” sama-sama menggunakan bentuk kata kerja aktif di dalam struktur bahasa Yunani. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kata kerja ini bukan tindakan pasif, tetapi tindakan aktif yang meresponi anugerah Allah dan respon ini pun dapat dilakukan karena anugerah Allah yang mendahului respon manusia. Hal ini akan dibahas pada ayat-ayat selanjutnya di bagian setelah ini. Kembali, di ayat 9b, kita belajar bahwa iman bukan sekadar untuk diucapkan, tetapi keluar dari hati yang beriman. Iman adalah masalah hati, bukan sekadar masalah perkataan, penglihatan, pendengaran, dll. Percuma saja, seorang yang mengaku diri Kristen, melayani “tuhan”, ikut sekolah theologia, belajar banyak buku theologia, tetapi dia sebenarnya tidak pernah memiliki iman yang sejati yang keluar dari hati. Paulus sengaja memasukkan unsur hati, karena unsur inilah yang hilang di dalam orang-orang Yahudi. Seperti kita ketahui, orang-orang Yahudi baik Farisi maupun Saduki adalah orang-orang yang belajar Taurat sejak kecil, menghafal Taurat bahkan berani mengajar Taurat. Tetapi sayangnya mereka tidak memiliki hati yang beriman dan mengasihi Tuhan dan firman-Nya. Mereka hanya menghafal dan mengajar Taurat secara rasio, tidak secara hati, akibatnya, Tuhan Yesus menegur mereka sebagai orang munafik (Matius 23). Mereka pintar mengajar orang untuk mematuhi Sabat dan menghukum mereka yang tidak menjalankan Sabat, tetapi di sisi lain, mereka justru berlaku munafik di hari Sabat. Oleh karena itulah, Paulus mengungkit masalah hati yang paling utama, karena dari hati, keluar segala sesuatu, baik perkataan, tindakan, sifat, dll. Hal ini diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 15:18-20a, “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.” Berbicara mengenai masalah hati yang tidak dimiliki oleh orang Yahudi (Farisi dan ahli Taurat), Tuhan Yesus juga berbicara di pasal yang sama di ayat 7-9, “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."” Ketika hati seseorang beres dan murni di hadapan Tuhan, maka seluruh perkataan, tindakan, dll beres dan memuliakan Allah, sebaliknya jika hati seseorang busuk, maka perkataan, tindakan, dll pasti busuk dan menghina Allah. Jangan pernah terkecok dengan slogan-slogan dunia yang lebih memperhatikan hal-hal eksternal ketimbang internal. Tuhan mengajar kita untuk memperhatikan hati, bukan penampilan! Mengapa? Karena Tuhan sudah muak dengan penampilan bahkan penampilan orang-orang yang berjubah agama, tetapi hatinya jauh dari-Nya. Marilah kita periksa hatilah. Sudahkah kita beriman dari dalam hati kita? Ataukah iman kita hanya ditunjukkan di dalam perkataan tanpa disertai hati yang tulus? Mari kita belajar dari pendiri theologia Reformed yaitu Dr. John Calvin yang mengatakan bahwa hatinya dipersembahkan kepada Tuhan dengan tulus dan murni. Itulah iman sejati.

Lalu, kita percaya dan mengaku apa? Di ayat 9c, Paulus mengatakan tentang inti iman, “Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Inilah inti iman Kristen yang mutlak TIDAK bisa dijumpai di dalam agama-agama dan filsafat-filsafat lain ! Pertanyaannya, mengapa tiba-tiba Paulus langsung mengajarkan inti iman Kristen yaitu kebangkitan Kristus ? Mengapa ia tidak mengajar tentang inkarnasi, kematian, dll ? Di sini, saya menafsirkan dua alasan penting,
Pertama¸ kebangkitan Kristus adalah peristiwa historis. Ketika kita kembali memperhatikan konteks dan latar belakang penulisan Surat Roma, kita akan belajar bahwa surat ini ditulis kepada orang-orang Yahudi, meskipun juga kepada orang-orang Yunani (dan kepada kita secara tidak langsung). Di dalam kepercayaan Yahudi sejak zaman Tuhan Yesus sampai sekarang, Yesus bukan Mesias, dan mereka menganggap Yesus hanya manusia biasa, sehingga sampai sekarang, orang-orang Yahudi masih menunggu kedatangan Mesias. Mengapa demikian ? Karena mereka melihat Kristus tidak datang seperti (tidak memenuhi) impian mereka, sebagai raja dunia, lengkap dengan senjata dan tentara, dll yang mampu mengusir Romawi yang menjajah Israel. Mereka mengetahui keluarga Tuhan Yesus, mereka juga mengakui kematian-Nya di Golgota, tetapi yang tidak mereka akui adalah kebangkitan-Nya. Tidak heran, ketika Kristus dikabarkan bangkit dari kematian, para imam kepala berunding, menyogok para serdadu dengan mengatakan bahwa Kristus tidak bangkit, murid-murid-Nya yang mencuri mayat-Nya di malam hati ketika para serdadu tidur (Matius 28:11-15). Yang lebih menarik, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberikan judul perikop dalam ayat 11-15 ini adalah “Dusta Mahkamah Agama”. Ketiga kata dalam judul perikop ini sangat unik dan hendak menyatakan bahwa seorang yang berjubah agama pun berani berdusta supaya fitnahannya tentang Kristus terbukti (bahwa Kristus memang mati akibat dosa dan tidak pernah hidup lagi), padahal mereka lah yang mengajarkan agar orang Yahudi melakukan Taurat. Suatu kekonyolan dan kontradiksi paradigma yang aneh. Oleh karena itulah, Paulus mengatakan bahwa inti iman Kristen sejati adalah kebangkitan Kristus. Lalu, mengapa Paulus mengatakan bahwa Allah membangkitkan Yesus ? Apakah berarti Kristus tidak memiliki kuasa sehingga Allah Bapa perlu membangkitkan-Nya ? Itulah tuduhan para penganut Unitarian yang masih menamakan diri mereka “Kristen”. Benarkah demikian ? TIDAK. Di dalam Perjanjian Baru, kita mendapati beberapa ayat Alkitab yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Kristus bangkit, yaitu Roma 15:12, “Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan."” (KJV, “And again, Isaiah saith, There shall be a root of Jesse, and he that shall rise to reign over the Gentiles; in him shall the Gentiles trust.”) dan 1 Tesalonika 4:14, “Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (KJV, “For if we believe that Jesus died and rose again, even so them also which sleep in Jesus will God bring with him.”) Dengan kata lain, Yesus dibangkitkan dan Yesus bangkit tidak memiliki signifikansi apapun, karena kedua pernyataan ini dipakai secara bergantian. Memisahkan dua pernyataan ini dengan sengaja membuktikan bahwa kaum Unitarian TIDAK percaya bahwa Alkitab itu satu kesatuan dan tidak mungkin ada kontradiksi di dalamnya.

Kedua, kebangkitan Kristus adalah pusat kehidupan iman Kristen. Iman Kristen tanpa kebangkitan Kristus adalah sia-sia, sebagaimana dikatakan Paulus di dalam 1 Korintus 15:14, “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Dengan mengajar bahwa Kristus tidak bangkit, berarti iman Kristen akan rontok. Itulah agenda “penting” yang sedang diluncurkan oleh negara Indonesia dengan dukungan dari agama mayoritas, kaum “theologia” liberal (istilah kerennya “theologia” religionum), dan kroni-kroninya yang sengaja tidak mempercayai kebangkitan Kristus dan menghapus momen Paskah di dalam kalender di seluruh Indonesia, agar iman Kristen direndahkan sebagaimana Kristus direndahkan (mati tanpa bangkit). Kristus yang mati tanpa bangkit BUKANlah berita Injil! Jangan sekali-kali percaya kepada “injil” sosial (social “gospel”) yang telah, sedang dan akan meracuni Kekristenan di abad postmodern! Itu “injil” palsu dan barangsiapa yang memberitakan “injil” palsu selain dari Injil yang diberitakan Paulus tentang kematian dan kebangkitan Kristus, maka orang itu harus dikutuk (baca: Galatia 1:6-8). Jangan mempercayai novel isapan jempol dari si Dan Brown gila Da Vinci Code atau film Jesus Tomb, dll. Mereka semua adalah antikris dan “nabi-nabi” palsu yang kelak akan dihakimi oleh Tuhan jika mereka tidak segera bertobat!

Ayat 9 dijelaskan kembali dan dirangkumkan oleh Paulus dengan ayat 10, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Ayat ini berbicara tentang dua hal.
Pertama, iman berkaitan dan bersumber dari hati. Dari hati, umat pilihan-Nya beriman dan orang yang beriman itu pasti dibenarkan. Kata “dibenarkan” ditafsirkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “menghasilkan status yang dibenarkan.” (hlm 854) Berarti, ketika kita beriman, di saat itupula kita (sudah) dibenarkan dan sudah mendapatkan status yang baru yaitu sebagai manusia baru (ingat, pertobatan dan iman terjadi sebagai respon terhadap kelahiran baru yang dikerjakan Roh Kudus), karena iman kita BUKAN berasal dari kebaikan kita yang memilih Tuhan, tetapi karena anugerah Allah yang telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Dengan kata lain, keselamatan di dalam Alkitab adalah keselamatan BUKAN karena perbuatan baik, tetapi HANYA melalui iman di dalam Kristus saja yang merupakan anugerah Allah. Menolak doktrin pembenaran melalui iman berarti menolak anugerah Allah, dan juga menolak seluruh inti berita Alkitab, serta menjunjung tinggi otoritas manusia yang “baik” di atas Allah. Masih layakkah orang yang menolak doktrin pembenaran melalui iman saja disebut “Kristen” yang berarti pengikut Kristus??!! Tuhan menyelidiki hati kita, apakah masih dijumpai-Nya hati yang beriman ataukah hati kita masih men“tuhan”kan pasangan, harta, kedudukan, dll kita yang lebih “berharga”?

Kedua, iman juga keluar dari hati dan diucapkan di mulut. Pernyataan kedua dalam ayat 10 ini berkata bahwa dengan mulut, orang mengaku dan diselamatkan. King James Version menerjemahkan, “with the mouth confession is made unto salvation.” (=dengan mulut, pengakuan/konfesi dibuat menuju/menghasilkan keselamatan). Terjemahan KJV ini agak lebih baik, karena mengatakan bahwa dengan mulut, keluarlah pengakuan iman menuju (menghasilkan) keselamatan. Ayat 10 ini nanti diulang di ayat 13. Oleh karena itu, mengerti ayat 13 TIDAK boleh dipisahkan dari mengerti ayat 10. Banyak pemimpin gereja yang beraliran Injili dan kontemporer mengkhotbahkan bahwa barangsiapa yang mengaku Yesus Tuhan, dia akan diselamatkan. Ajaran ini sekilas tampak baik, tetapi esensinya tidak bertanggungjawab. Apa arti mengaku Yesus sebagai Tuhan, lalu diselamatkan? Di dalam ayat 10, Paulus menjelaskan bahwa dengan mulut, orang mengaku dan pada saat yang sama, ia diselamatkan, tetapi jangan lupa, pernyataan ini didahului dengan pernyataan bahwa dengan hati, orang percaya dan dibenarkan. Dengan demikian, mulut bukanlah hal yang penting, tetapi hati. Ketika hati sudah benar-benar beriman, maka mulut pasti beres dan memuliakan Tuhan dengan cara memberitakan Injil, menyaksikan Kristus, dll. Berarti, ada korelasi penting antara hati dan mulut. Kedua, mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong, mengaku Yesus sebagai Tuhan lalu diselamatkan harus dimengerti di dalam latar belakang penulisan Surat Roma, di mana surat ini ditulis oleh Paulus dan ditujukan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penderitaan di Roma yang pada waktu itu ditetapkan suatu perintah bahwa penduduk Roma tidak boleh menyembah siapapun kecuali Kaisar Roma sebagai wujud “allah”. Pada saat itulah, Paulus menguatkan iman orang Kristen bahwa meskipun mereka harus mati karena mengaku Yesus sebagai Tuhan, mereka pasti diselamatkan. Di sini, ada korelasi antara pengakuan secara mulut tentang Kristus sebagai Tuhan dan harga yang harus dibayar (mati). Sayangnya, iman yang banyak dimiliki oleh orang “Kristen” sangat dangkal, tidak keluar dari hati, apalagi dinyatakan keluar melalui mulut kita dengan memberitakan Injil. Bukan hanya malu mengatakan Injil, kita malas dan enggan melakukannya, mengapa? Karena didasari oleh suatu paradigma atheis, “agama dan ilmu tidak ada hubungannya”, maka hampir semua pendidikan di sebuah lembaga pendidikan yang mengaku diri “Kristen” sudah membuang unsur Tuhan di dalamnya dan bahkan sengaja membuang unsur Tuhan, bahkan SENGAJA melarang anak-anak didik atau mahasiswa untuk membahas tentang Tuhan di dalam perkuliahan/pelajaran. Itukah citra diri orang yang mengaku diri “pendidik Kristen” ??!! Maukah kita bertobat dari hal-hal demikian?


Hati yang beriman dan mulut yang mengaku benar-benar bahwa Kristus adalah Tuhan itulah yang layak disebut Percaya di dalam Dia dan di ayat 11, Paulus mengatakan, “Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan."” Kalimat “tidak akan dipermalukan” ditafsirkan oleh Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) sebagai “tidak akan dipermalukan dan dikecewakan.” (hlm 854) Atau dengan kata lain, barangsiapa yang mempercayakan diri kepada Kristus, ia tidak akan dipermalukan dan dikecewakan. Ayat ini dikutip dari Yesaya 28:16 (bandingkan Roma 9:33), “sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: "Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” Kata “gelisah” dalam KJV diterjemahkan haste (=tergesa-gesa), dan di dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) diterjemahkan “menyerah kalah”. Ketika kita memperhatikan konteks Yesaya 28:16, kita mempelajari bahwa janji TUHAN ini diberikan kepada pemimpin-pemimpin Yerusalem ketika penderitaan datang. Ada perbedaan kata antara Yesaya 28:16 dan Roma 10:11, di mana di dalam Yesaya 28:16 memakai kata “gelisah” dan di Roma 10:11 memakai kata “dipermalukan”. Apakah ini kesalahan pengutipan yang dilakukan Paulus ? TIDAK. Meskipun ada perbedaan kata, tetapi hampir tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan, karena kata “gelisah” dan “tidak dipermalukan” hampir mirip dalam konteks yang sama juga. Di dalam Yesaya, para pemimpin Yerusalem sedang ketakutan dan kebingungan menghadapi penderitaan dan serangan dari bangsa lain, oleh karena itu janji TUHAN menguatkan mereka bahwa dengan percaya (mempercayakan diri) kepada TUHAN, mereka tidak akan gelisah dan bersama-Nya, mereka pasti menang. Di dalam Roma 10:11, ketika umat-Nya sedang menghadapi marabahaya di kota Roma, janji Tuhan tetap berlaku, barangsiapa yang percaya kepada-Nya (Kristus), ia tidak akan dipermalukan dan dikecewakan, artinya mereka tidak perlu gelisah menghadapinya, karena ada Tuhan bersama dan menyertai mereka senantiasa. Dengan kata lain, orang yang mempercayakan dirinya kepada Tuhan Yesus tidak akan gelisah, kuatir, dipermalukan dan dikecewakan. Apakah berarti mereka hidup sukses, kaya, berkelimpahan harta, dll? TIDAK! Itu bukan ajaran Alkitab. Maksud dari ayat ini adalah ketika kita dengan segenap hati mempercayakan diri dan iman kita hanya kepada-Nya, di saat itu pula, Tuhan akan menjamin hidup kita : meskipun harus menderita, Ia akan menguatkan kita, meskipun penyakit datang, Ia akan menyembuhkan kita menurut kehendak-Nya atau memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapinya. Hal ini dikatakan baik di dalam Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru.

Di PL, pemazmur menulis di dalam Mazmur 1:1-3, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Di dalam Amsal 3:5-6, firman Tuhan berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Dan di dalam Yeremia 17:5,7, nabi Yeremia berkata, “Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! … Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengajar, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."” (Matius 5:10-12) Berbicara tentang penderitaan yang akan diterima oleh para rasul-Nya (dan juga kita), Tuhan Yesus mengingatkan dan menghibur kita di dalam Matius 10:16-20, “"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Lalu, di dalam pengutusan misi, Tuhan Yesus juga menguatkan para rasul (dan kita juga), “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20) Rasul Paulus di dalam 2 Timotius 1:12 menguatkan Timotius, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Selain itu, di dalam Ibrani 2:18, penulis Ibrani juga mengingatkan kita, “Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Kekuatan inilah yang menolong dan menguatkan kita di dalam pencobaan dan penderitaan. Meskipun Tuhan tidak pernah menarik penderitaan yang harus dilalui oleh umat pilihan-Nya, Ia tetap memberkati, memimpin dan menguatkan umat-Nya ketika menghadapi penderitaan.

Orang yang mempercayakan diri dan imannya kepada Kristus, ia tidak akan takut lagi, kuatir, cemas, gelisah, malu, kecewa, dll, karena di dalam Kristus, ada pengharapan dan kehidupan sejati yang tidak akan bisa ditemukan di dalam agama, filsafat, kebudayaan apapun.


Hari ini, izinkan saya menantang Anda, jika Anda belum menerima Kristus, saya bertanya, ke manakah arah hidup Anda? Akankah Anda menemui pengharapan dan kehidupan sejati atau justru Anda menemukan jalan buntu yang tak berpengharapan? Sudah saatnya, melalui anugerah Allah, bertobatlah dan terimalah Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat pribadi dalam hidup Anda, maka Anda akan diterima menjadi anak-anak-Nya dan mengalami hidup yang berkelimpahan meskipun harus menghadapi penderitaan dan ancaman. Maukah Anda bertobat dan menerima Kristus ? Amin. Soli Deo Gloria.