14 July 2008

Roma 9:9-18: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-3: Pemanggilan, Pemilihan, dan Penolakan Allah

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-3


“Israel” Sejati atau Palsu-3 :
Pemanggilan, Pemilihan, dan Penolakan Allah


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 9:9-18

Setelah mempelajari tentang perbedaan Israel sejati dengan yang palsu di mana Allah melalui Paulus menyingkapkan realita pembeda ini di dalam ayat 6 s/d 8 saja, maka di ayat 9 s/d 18, kita akan merenungkan lebih dalam lagi tentang pemilihan dan penolakan Allah di dalam proses pemilihan/predestinasi-Nya.

Setelah menjelaskan tentang anak-anak Perjanjian sebagai Israel sejati di ayat 8, maka Paulus menjelaskan tiga prinsip tentang anak-anak Perjanjian ini di dalam ayat 9 s/d 13.
Pertama, ayat 9 berkata, “Sebab firman ini mengandung janji: "Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki."” Pernyataan “firman ini mengandung janji” kurang tepat terjemahannya, karena beberapa terjemahan Inggris, misalnya King James Version (KJV) menerjemahkannya, “this is the word of promise”, kemudian American Standard Version (ASV) menerjemahkannya, “a word of promise” yang berarti firman dari janji/Sabda. Bahasa Yunaninya diterjemahkan : (sabda) dari janji (Sutanto, 2003, p. 848) Di sini, jelas terlihat bahwa janji itu yang ditekankan dan firman itu keluar dari janji Allah. Apakah firman yang keluar dari janji Allah ini ? Untuk memahami lebih dalam mengenai hal ini, kita akan mundur sejenak ke Kejadian 18:10. Ada baiknya kita memahami konteks seluruh Kejadian 17 dan 18. Di dalam Kejadian 17, Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan menjadi bapa segala bangsa (ayat 4), lalu Ia mengikat perjanjian dengan Abraham dan keturunannya (ayat 7), kemudian Ia akan memberikan keturunan sebagai realisasi dari berkat Allah ini (ayat 15-16). Tentang janji Allah memberikan anak melalui Sara (sebelumnya Abraham telah memperoleh anak, Ismael dari Hagar—baca Kejadian 16), Abraham pada waktu itu tertawa karena baginya mustahil memiliki anak di usia 100 tahun (Kej. 17:17), lalu ia menawarkan Ismael untuk menerima perjanjian (ayat 18). Tetapi Tuhan TIDAK mengabulkan permintaan Abraham dan tetap menunjuk Ishak sebagai anak perjanjian, sedangkan Ismael tetap diberkati-Nya (ayat 19-21). Setelah itu, Allah kembali mengunjungi Abraham (18:1) dan memberitahukan bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki (ayat 10). Di sini, kita mempelajari bahwa janji Allah dikonfirmasikan dua kali (tidak berarti harus demikian) untuk menunjukkan bahwa janji Allah itu pasti ditepati dan manusia jangan bermain-main. Kembali, anak-anak Perjanjian di poin pertama menunjuk kepada perjanjian Allah dengan Abraham untuk pertama kalinya. Ketika Allah membuat perjanjian dengan Abraham, seringkali banyak orang mengatakan bahwa perbuatan baik Abrahamlah yang menentukan (Kejadian 17:1). Benarkah demikian ? TIDAK. Sepintas kelihatan benar, tetapi tidaklah demikian, mengapa ? Karena sebelumnya, ketika Allah memanggil Abraham keluar dari Urkasdim di Kejadian 12:1, Allah tidak meminta Abraham dahulu untuk beriman, tetapi panggilan Allah berdasarkan kehendak-Nya sendiri yang berdaulat. Di sini, kita melihat kedaulatan Allah mendahului respon manusia. Inilah prinsip pertama anak-anak Perjanjian, yaitu semua itu karena anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah, kita tak mungkin bisa menerima janji-janji Allah. Anugerah-Nya inilah yang memungkinkan kita bisa berbuat baik dan menerima berkat-berkat-Nya kemudian.

Kedua, setelah Abraham mendapatkan janji Allah tentang Ishak, keturunannya, maka keturunannya, yaitu Ishak pun mendapatkan janji Allah melalui salah satu dari kedua anaknya, yaitu melalui Yakub. Pada ayat 10 dan 11, Paulus memberitahu kita tentang hal ini, “Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, --supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya--” Allah yang berdaulat bukan hanya memanggil umat-Nya (dalam hal ini, Abraham), tetapi Ia yang memanggil juga adalah Ia yang telah memilih beberapa orang untuk menjadi umat-Nya. Perhatikan ayat 11, Paulus berkata, “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, --supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya--” English Standard Version menerjemahkannya, “though they were not yet born and had done nothing either good or bad--in order that God's purpose of election might continue, not because of works but because of his call--” Pemilihan Allah PASTI mendahului respon manusia. Hal ini jelas kelihatan dari tiga hal yang dipaparkan Paulus di ayat 11 ini. Pertama, mereka belum dilahirkan. Allah memilih beberapa manusia pada waktu itu dunia belum dijadikan (Efesus 1:4), tentu otomatis ketika manusia (dalam hal ini, Esau dan Yakub) belum dilahirkan. Berarti, ketika mereka belum dilahirkan, otomatis prinsip kedua yang mengikutinya yaitu mereka tentu tidak bisa melakukan mana yang baik dan jahat. Kata “melakukan” dalam struktur teks Yunaninya menggunakan Aorist Tense dan bentuk aktif. Artinya, Allah memilih beberapa manusia sebelum mereka sanggup secara aktif melakukan sesuatu yang baik dan jahat. Di titik inilah, “theologia” Arminian gagal total. Arminianisme mengajarkan bahwa Allah memilih manusia setelah Ia melihat bahwa orang-orang yang dipilih-Nya itu akan bertobat. Jika hal ini benar, maka Arminianisme sedang mengecilkan kedaulatan Allah dan menekankan superioritas manusia yang bahkan mampu menentukan Allah memilih dia atau tidak. Ayat 11 jelas menentang keras doktrin ini, karena anugerah Allah yang berdaulat TIDAK bergantung pada jasa baik manusia apapun. Lalu, prinsip ketiga yang mengikutinya yaitu sebuah kesimpulan Paulus bahwa maksud pemilihan Allah tetap berjalan TANPA bergantung pada perbuatan manusia (terjemahan teks Yunani : perbuatan-perbuatan {yang dituntut Taurat}) apapun. Ini adalah sebuah penegasan ulang dari Paulus bahwa jangan berharap jasa baik manusia mampu bersumbangsih bagi anugerah kedaulatan Allah di dalam pemilihan, tetapi anugerah kedaulatan Allah hanya berada di dalam panggilan-Nya. Setelah Ia telah memilih dan menentukan manusia, Ia pulalah yang memanggil mereka (Roma 8:29-30).

Ketiga, Allah yang memilih manusia bukan hanya memilih beberapa orang saja, tetapi Ia juga berdaulat memilih beberapa orang (predestinasi) dan membuang sisanya (reprobasi). Ini yang disebut Predestinasi Ganda (Double Predestination). Kamus Teologi Katolik dengan tidak bertanggungjawab mengatakan bahwa Predestinasi Ganda ini, “sudah diyakini oleh rahib Gottschalk (804-869) dan dinyatakan sesat dalam sinode di Mainz dan Quiercy.” (Kamus Teologi, 1996, p. 262) Dengan menyatakan Predestinasi Ganda ini sesat, berarti secara langsung menyatakan bahwa ayat 12 s/d 13 adalah sesat, padahal kedua ayat ini adalah ayat ALKITAB. Presuposisi orang yang mengatakan bahwa Predestinasi Ganda ini sesat lebih dilatarbelakangi oleh filsafat humanisme dan relativisme yang atheis, ketimbang presuposisi Alkitab ! Karena orang-orang ini “beriman” bahwa semua agama sama, maka mereka mengajarkan bahwa semua orang pasti selamat dan “dipilih Allah”. Padahal Alkitab melawan keras bidat ini di ayat 12 s/d 13. Di ayat 12 s/d 13, Allah melalui Paulus membukakan mata rohani kita tentang arti predestinasi lebih mendalam lagi, “dikatakan kepada Ribka: "Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda," seperti ada tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."” Predestinasi Ganda di dalam kedua ayat ini meliputi dua hal. Pertama, anak sulung (Esau) akan menjadi hamba bagi anak bungsu (Yakub). Hal ini dikutip dari Kejadian 25:23. Sungguh menarik. Konsep manusia selalu menyatakan bahwa anak sulung pasti yang terkenal, dan menjadi tuan dari saudara-saudaranya. Tetapi konsep Allah sangat bertolak belakang dengan konsep manusia berdosa, yaitu justru anak bungsulah yang menjadi tuan dari anak sulung. Ini terjadi hanya pada kasus Esau dan Yakub. Predestinasi Allah TIDAK melihat jasa baik atau sistem urutan kelahiran manusia atau hal-hal fenomenal lainnya, tetapi predestinasi Allah adalah pemilihan yang berdaulat yang jauh melampaui seluruh konsep manusia. Dalam hal ini, Yakub dalam kisahnya di Perjanjian Lama dikisahkan sebagai orang yang tenang, ‘jaga kandang’ (suka tinggal di kemah), dan akhirnya menipu ayahnya Ishak, sedangkan Esau suka berburu, tidak menipu, dll (baca : Kejadian 25:27). Di sini, sangat kelihatan predestinasi Allah bertolak belakang dengan konsep manusia sekaligus melampaui semua konsep manusia. Manusia selalu berpikir bahwa yang kuat, berkuasa adalah anak sulung, sehingga anak sulung yang selalu dimanja, harus dihargai, sedangkan yang lemah itu tidak perlu dihargai. Tetapi konsep Allah sangat berbeda dan melampaui semua konsep manusia. Allah tidak menghina mereka yang lemah, tetapi justru memilih mereka dan membuang mereka yang kuat. Tuhan menginginkan kita menyadari hal ini.
Kedua, ayat 13, “seperti ada tertulis: "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau."” Ayat ini dikutip dari Maleakhi 1:2-3. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya kita membaca Maleakhi 1:2-5, di situ Allah membukakan kepada kita bahwa Esau (Edom) yang ditolak oleh Allah tidak akan diberkati oleh Allah. Lalu, banyak orang “Kristen” postmodern menghina konsep Predestinasi Ganda ini dengan mengartikan bahwa Allah itu tidak mengasihi manusia, karena Ia tidak menyelamatkan SEMUA manusia. Mereka ingin menjadi “penasehat” Allah yang “berhak” menentukan konsep kasih dan keadilan Allah (dalam hal ini, Paulus sudah mengkritik orang-orang yang tidak bertanggungjawab ini di ayat 19, tetapi kita akan membahasnya di bagian berikutnya). Mereka sering berkata bahwa predestinasi adalah bukti bahwa Allah itu tidak kasih. Sayangnya, mereka TIDAK mengerti bahwa kasih Allah TIDAK pernah dilepaskan dari kedaulatan, keadilan, kekudusan dan keagungan Allah. Memisahkan atribut-atribut Allah ini secara langsung berarti menggusur Allah dari tahta-Nya dan menempatkan manusia menjadi pemegang tahta di atas Allah. Ya, itulah esensi DOSA sejati, yaitu meleset dari sasaran Allah dan ingin menggantikan Allah dengan superioritas manusia (humanisme atheis). Kembali, Allah yang berdaulat adalah Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil yang berdaulat penuh memilih beberapa dari antara manusia dan secara otomatis, menolak sisanya. Tetapi ada perbedaan penerapan antara kedua tindakan ini, yaitu ketika Allah memilih manusia, Ia menyiapkan proses, misalnya dari pemilihan dan penentuan dari semula, pemanggilan, pembenaran dan pemuliaan (Roma 8:29-30), sedangkan ketika Allah secara otomatis membuang sisanya, Ia membiarkan mereka (tidak memimpin mereka kepada dosa). Di sini, ada perbedaan antara Calvinisme/Reformed dengan Hyper-Calvinisme. Calvinisme jelas tidak mengajarkan bahwa Allah sebagai Pencipta dosa, tetapi Ia mengizinkan dan membiarkan dosa, sedangkan Hyper-Calvinisme (mirip Islam) mengajarkan bahwa Allahlah yang menciptakan dosa, sehingga ketika Allah membuang sisa dari pilihan-Nya, Ia memimpin mereka untuk berbuat dosa. Ini bukan ajaran Alkitab. Alkitab TIDAK mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta dosa, sebaliknya manusia lah yang harus bertanggungjawab terhadap dosa yang diizinkan Allah. Predestinasi Ganda mengakibatkan dua reaksi. Pertama, bagi yang menerima doktrin ini, itu adalah suatu anugerah (bahagia) sekaligus bahaya. Disebut anugerah/bahagia, karena kita sebagai umat pilihan-Nya beriman sekaligus bersyukur bahwa nama kita tercantum di dalam Kitab Kehidupan karena anugerah-Nya membuat kita yang berdosa dan najis ini bisa beriman di dalam Kristus. Disebut bahaya ketika kita yang merasa yakin bahwa kita umat pilihan-Nya tetapi sebenarnya kita tidak pernah dipilih dan menjadi anak-anak-Nya. Kedua,bagi yang menolak doktrin ini, sebenarnya merekalah yang tidak mengerti makna dosa dan anugerah. Seorang bapa gereja mengaitkan prinsip anugerah Allah dengan dosa, di mana orang tidak akan pernah mengerti anugerah Allah, jika ia tidak mengerti makna dosa yang benar. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita merasa yakin bahwa kita adalah umat pilihan-Nya ? Bagaimana kita bisa yakin ? Kalau kita memang adalah umat pilihan-Nya, Roh Kudus yang memberi kesaksian akan hal itu (Roma 8:16), sehingga Roh Kudus yang akan memurnikan dan menyucikan kita di dalam proses kehidupan supaya sesuai dengan gambar dan rupa Kristus (Roma 8:29). Dengan kata lain, di dalam proses penyucian kita, Roh Kudus akan mengingatkan kita ketika kita ingin berbuat dosa. Itu tandanya kita sebagai umat pilihan-Nya. Tetapi ketika Roh Kudus enggan mengingatkan kita, berhati-hatilah, mungkin sekali kita bukan umat pilihan-Nya. Jangan pernah berbangga hati akan hal tersebut! Mari kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. Jangan pernah mengeraskan hati kita ketika Roh Kudus menegur kita.

Lalu, setelah menjelaskan predestinasi ganda, banyak orang “Kristen” dan orang dunia mulai protes dengan mengajukan argumentasi bahwa predestinasi ganda itu tidak adil. Tetapi benarkah demikian ? Terhadap pernyataan konyol itu, Allah melalui Paulus, yang pasti sudah mengetahui akan timbul pernyataan konyol itu, menjawab, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!” Pernyataan “Apakah Allah tidak adil” dalam terjemahan bahasa Yunani adalah “Apakah (ada) perbuatan yang tidak adil pada Allah?” (Sutanto, 2003, p. 849) Di sini, Paulus dengan jelas melihat esensi masalah predestinasi ganda bukan pada logika kasih, tetapi pada logika Allah. Postmodern yang mempengaruhi relativisme dan pluralisme mengakibatkan orang-orang yang dipengaruhi filsafat ini menitikberatkan tentang “kasih” yang tidak berkaitan dengan keadilan, kekudusan, dll, sehingga tidak heran muncul ‘etika situasi’. Akibatnya, ketika suatu iman/doktrin dari Alkitab mengajar sesuatu yang melawan filsafat mereka, misalnya tentang predestinasi ganda ini, di titik pertama, mereka secara tidak sadar menyerang diri Allah. Benarkah predestinasi ganda membuktikan bahwa Allah itu tidak adil ? Terjemahan Indonesia mengartikan “Mustahil!” New International Version (NIV) menerjemahkannya, “Not at all !” (=sama sekali tidak). International Standard Version (ISV) menerjemahkannya, “Of course not !” (=tentu tidak). American Standard Version (ASV), King James Version (KJV) dan Geneva Bible menerjemahkan, “God forbid.” English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “By no means!” (=sama sekali tidak). Terjemahan dari teks Yunani adalah “sekali-kali tidak.” (Sutanto, 2003, p. 849) Perbedaan terjemahan ini tidak menunjukkan adanya kontradiksi yang terpecah, tetapi memperkaya pengertian kita bahwa predestinasi ganda tidak mengakibatkan Allah menjadi tidak adil, mengapa ? Karena konsep keadilan Allah TIDAK bisa dilepaskan dari kasih, kekudusan, dan keagungan-Nya. Ketika Alkitab mengatakan, “Mustahil!” di dalam ayat ini, lebih berbijaksana bagi seorang anak Tuhan sejati untuk TIDAK mencari tahu apa alasan Allah melakukan predestinasi-Nya itu, karena Ia tidak membukakannya kepada kita. Dengan kata lain, umat Tuhan sejati diminta untuk DIAM dan beriman akan sesuatu yang sengaja Tuhan tidak singkapkan bagi kita. Ingat prinsip : Ulangan 29:29.

Mengapa predestinasi ganda justru TIDAK menunjukkan ketidakadilan Allah ? Karena keadilan Allah dikaitkan dengan kedaulatan dan kasih-Nya. Hal ini tampak pada ayat selanjutnya, ayat 15, “Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."” Konsep ini diambil dari Keluaran 33:19 di mana Allah memimpin Musa melewati padang gurun. Dari ayat ini, kita belajar dua hal.
Pertama, keadilan Allah tidak bisa dilepaskan dari kasih dan kesucian-Nya. Di dalam kedaulatan-Nya, Ia memilih beberapa manusia bukan berdasarkan perbuatan baik manusia, tetapi murni karena kasih-Nya. Di dalam Efesus 1:5, Paulus mengajarkan, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” Allah memilih dan menentukan kita di dalam Kristus dalam KASIH. Kedua, Allah memiih dan menentukan kita menurut kerelaan kehendak-Nya. ASV dan KJV menerjemahkan “sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” dengan “according to the good pleasure of his will.” (=menurut kesenangan kehendak-Nya yang baik). Ketika Allah memilih dan menentukan beberapa orang berdosa untuk menjadi anak-anak-Nya, respon umat Tuhan yang benar adalah bersyukur bahwa kita termasuk salah satu umat yang diselamatkan-Nya, bukan sebaliknya, bertanya dan memprotes kepada Tuhan mengapa Ia tak menyelamatkan istri atau rekannya juga. Memprotes Tuhan menandakan bahwa Tuhan membutuhkan kita menjadi “penasehat”-Nya, dan pada saat yang sama, orang itu sedang menghina Tuhan meskipun mengaku diri “Kristen”.
Kedua, keadilan Allah berkaitan erat dengan kedaulatan-Nya. Allah yang Mahaadil bukan hanya Mahakasih, tetapi juga Berdaulat penuh. Apa itu kedaulatan Allah ? Di dalam artikel saya yang lain, saya sudah menguraikan 7 prinsip kedaulatan Allah, salah satunya adalah Allah yang berdaulat adalah Allah yang berada pada diri-Nya sendiri dan tidak bergantung pada yang lain. Pdt. Dr. Stephen Tong mengartikannya sebagai : self-existence, self-eternal and self-dependency of God (=Allah yang berada pada diri-Nya sendiri, Allah yang kekal pada diri-Nya sendiri dan Allah yang bergantung pada diri-Nya sendiri). Ketidakbergantungan Allah pada yang lain menunjukkan kekekalan Allah dan kedaulatan-Nya. Dengan demikian, ketika Allah menyatakan kemurahan dan belas kasihan-Nya kepada beberapa orang, itu adalah hak mutlak Allah yang TIDAK boleh diprotes oleh manusia paling pandai sekalipun, karena Ia tidak pernah mengangkat manusia menjadi ‘penasehat’-Nya. Meskipun umat pilihan-Nya tidak bisa mengerti total mengapa Allah memilih beberapa manusia dan menolak sisanya, kita harus tetap DIAM dan menunggu jawaban-Nya di dalam kekekalan nantinya.
Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sibuk menekankan keadilan Allah, lalu melupakan kasih, kekudusan dan terutama kedaulatan Allah ? Ataukah kita sebaliknya, sibuk menekankan “kasih”, dan mengabaikan kedaulatan, keadilan dan kesucian-Nya ? Hari ini, kita perlu bertobat dari pemisahan “atribut-atribut” Allah ini.

Lalu, sebagai kesimpulan, Paulus mengulang kembali di ayat 16, “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” Ayat ini menyadarkan kita kembali bahwa keselamatan kita bukan berdasarkan kehebatan kita, tetapi murni karena anugerah dan belas kasihan Allah. Ketika kita dipilih Allah pun, itu anugerah, karena anugerah-Nya tiba pada kita, dan bukan pada rekan atau saudara kita yang mungkin kelihatan lebih “baik” dari kita. Tetapi hal ini tetap mendorong kita semakin berbuat baik untuk memuliakan Allah.

Paulus memberikan contoh konkrit kedaulatan dan kasih-Nya di dalam predestinasi yaitu Firaun. Di ayat 17, Paulus mengatakan, “Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: "Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasa-Ku di dalam engkau, dan supaya nama-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi."” Hal ini diambil dari Keluaran 9:16. Kalau kita melihat kedaulatan Allah di dalam 10 tulah bagi Mesir, kita melihat reaksi Firaun ada di dalam kedaulatan-Nya. Terhadap tulah pertama, Alkitab mencatat bahwa Firaun berkeras hati (Keluaran 7:22-23), lalu terhadap tulah kedua, reaksi Firaun sama (Keluaran 8:15), demikian juga reaksi terhadap tulah ketiga (Keluaran 8:19), juga terhadap tulah keempat (Keluaran 8:32) dan terakhir reaksi terhadap tulah kelima (Keluaran 9:7). Sebagai reaksi terhadap tulah keenam, Alkitab mencatat bahwa Tuhan lah yang mengeraskan hati Firaun (Keluaran 9:12). Hal yang sama juga terjadi pada reaksi terhadap tulah kedelapan sampai dengan tulah kesepuluh, di mana Tuhan mengeraskan hati Firaun (Keluaran 10:20, 27 ; 11:10). Dengan kata lain, enam kali Alkitab mencatat bahwa Firaun mengeraskan hati, dan empat kali Alkitab mencatat bahwa Allah lah yang mengeraskan hati Firaun. Apa artinya ? Ketika Alkitab mencatat bahwa Allah mengeraskan hati Firaun TIDAK berarti Ia memimpin Firaun untuk melawan umat Allah, tetapi Ia melepaskan tangan kasih-Nya dari Firaun, sehingga atas kehendaknya sendiri, ia berdosa dan ia harus bertanggungjawab untuk itu (mengutip perkataan seorang rekan Reformed saya, Sdr. Cahaya Desyanta). Di sinilah, adanya peranan yang seimbang yang diajarkan oleh theologia Reformed/Calvinisme antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Semua tindakan Allah adalah ditujukan untuk memuliakan diri-Nya sendiri yang memang patut untuk dimuliakan selama-lamanya (Roma 11:36). Predestinasi Ganda bukan ajaran sesat, tetapi ajaran Alkitab, karena itu diajarkan oleh Allah sendiri untuk kemuliaan Allah sendiri. Adalah tidak benar jika ada yang mengajarkan Predestinasi Tunggal yang hanya menerima pengajaran bahwa Allah memilih beberapa orang saja. Apalagi yang paling sesat adalah mereka yang mengajarkan bahwa semua orang dipilih dan diselamatkan oleh Allah.

Di dalam ayat 18, contoh Firaun ini akhirnya ditutup dengan kesimpulan yang sama dengan ayat 15, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Kembali, kata “dikehendaki-Nya” muncul dua kali di dalam ayat ini, menunjukkan segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya. Mengapa demikian ? Bukankah zaman postmodern lebih suka meneriakkan kehendak manusia, hak asasi manusia, dll dan meniadakan kehendak dan keinginan Allah ? Mengapa kita perlu mempercayai kehendak Allah, sedangkan orang-orang di sekitar kita lebih mempercayai kehendak pribadi ? Karena kehendak Allah adalah kehendak dari Pribadi yang Kekal, Sempurna, Mahakudus, Mahaadil, Mahakasih dan berdaulat penuh, sehingga kehendak-Nya TIDAK mungkin berubah seperti kehendak manusia yang sementara, terbatas, dan berdosa. Adalah suatu kekonyolan jika manusia mengagungkan kehendaknya sendiri yang lemah, terbatas, sementara, dan juga berdosa. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen sudah mensinkronkan kehendak kita supaya sesuai dengan kehendak Allah yang berdaulat dan kekal ? Ataukah kita masih mengagungkan keinginan kita sendiri ? Sudah seharusnya umat pilihan Allah menyadari hal ini dan menyerahkan totalitas hidup kita pada kehendak Allah yang berdaulat, karena Ia adalah Pencipta, Pemelihara, Penebus dan Penyempurna hidup dan keselamatan kita.
Hal kedua yang bisa kita pelajari di dalam hal ini berkaitan dengan penginjilan. Di dalam penginjilan, banyak orang Kristen seolah-olah membuat Injil menjadi murah dengan cara terus-menerus mengabarkan Injil kepada orang-orang yang sudah menolak Injil di titik pertama. Ayat ini mengingatkan kita bahwa Ia berdaulat menyatakan belas kasihan-Nya kepada orang-orang tertentu, dan berdaulat pula mengeraskan hati orang-orang yang tidak dipilih-Nya. Dengan kata lain, penginjilan sejati berkaitan dengan predestinasi Allah. Kita harus peka, ketika orang-orang yang kita injili tidak menerima Injil pada kesempatan pertama, hendaklah kita tidak perlu berulang kali mendatanginya dengan memberitakan Injil. Kita mungkin perlu menunggu waktu yang agak lama lalu kita boleh mendatanginya lagi untuk memberitakan Injil. Tetapi jika sampai 5-10 kali, orang itu tidak mau menerima Injil juga, kita TIDAK perlu melunakkan makna Injil, sebaliknya yang kita perlu lakukan : tinggalkan orang itu, karena mungkin sekali orang itu bukan umat pilihan-Nya. Langkah selanjutnya, kita mencari orang-orang lain yang dapat kita injili. Jangan membuang waktu kita memberitakan Injil hanya untuk orang tertentu, dunia kita membutuhkan Injil, sehingga wilayah penginjilan kita masih sangat luas dan banyak, jangan pernah kuatir kita akan kekurangan orang untuk diinjili.

Sesudah merenungkan kesepuluh ayat ini, apakah kita hari ini berkomitmen untuk menyerahkan hidup dan hati kita kepeda hidup dan kehendak-Nya sehingga kita setiap hari ingin mencintai dan melakukan apa yang Tuhan cintai dan membenci apa yang Tuhan benci ? Kiranya Tuhan memimpin dan menguatkan iman dan hati kita dalam menjalankan kehendak-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

12 July 2008

Siapakah Kaum Injili Sejati? (Pdt. Dr. Stephen Tong)

Siapakah Kaum Injili Sejati?

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG



Renungan ini ditranskrip dari Persekutuan Doa Momentum ke-72 di Jakarta, Juni 1993


Di dalam pelayanan kita ada suatu inti yang menjadikan pelayanan itu hidup. Inti itu menjadi pendorong yang terbesar, motivator yang menggairahkan semua pelayanan yang mengelilinginya. Apakah inti itu? Yaitu pelayanan bagi sesama kita untuk menerima Injil dan mengalami kuasa keselamatan Tuhan di mana kita sudah mengalami dan menerimanya. Untuk hal ini Paulus mengatakan satu kalimat yang begitu agung, “Segala sesuatu yang kukerjakan hanya demi Injil.” Berarti semua pelayanan sekitar itu melayani suatu inti, semua kegiatan di luar itu melayani suatu pusat dan pusat ini adalah penginjilan.

Mengapa seseorang belajar theologi? Supaya bisa menginjil dengan lebih baik. Mengapa kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang? Supaya Injil tidak dihalangi oleh kita. Mengapa harus belajar banyak bahasa asing? Supaya pada waktu memberitakan Injil bahasa tidak menghalangi pemberitaan yang disampaikan. Mengapa harus hidup hati-hati di dalam kesucian? Supaya orang lain tidak mencela kita karena kita sedang mengabarkan Injil. Jadi dengan titik pusat ini kita melihat semua pelayanan yang lain dikaitkan dengan pelayanan yang paling penting ini. Paulus berkata, “Aku mengerjakan segala sesuatu hanya demi Injil” (1Kor. 9:23). Segala sesuatu yang aku kerjakan mungkin kurasa aneh, tapi jika ditelusuri dan diselidiki sampai tuntas, dasarnya hanya satu: supaya aku boleh mengabarkan Injil seefisien mungkin. Jikalau kita mengerti akan makna dari ayat ini pasti sikap pelayanan kita akan berubah. Pasti corak dan cara kita mendekati orang akan berubah. Karena begitu banyak hal yang bukan langsung pemberitaan Injil sudah ikut campur di dalam merusak penginjilan tanpa kita sadari. Begitu banyak hal kita anggap remeh dan tidak penting, padahal itu mau tidak mau sudah menyangkut keberhasilan di dalam mengabarkan Injil, baik pergaulan, cara berpikir, cara bertingkah laku, atau cara berkata-kata. Paulus mengingatkan hal ini dengan mengatakan, "Meskipun aku bebas, tetapi aku tidak mau memakai hakku di dalam mengabarkan Injil." Hak terbesar adalah hak untuk menyerahkan hak. Inilah rahasia kerohanian. "Apakah aku tidak berhak membawa istri ke sana-sini seperti Kefas?" (1Kor. 9:5). Paulus berkata, “aku berhak. Tidak ada orang yang bisa menyalahkan aku. Apakah aku berhak mendapatkan uang sebanyak mungkin karena aku memberitakan Injil kepada banyak orang? Aku berhak. Orang yang mengabarkan Injil boleh hidup dari Injil. Tetapi untuk Injil itu aku tidak menerimanya karena dalam ini aku menyerahkan hak.” Di sini rahasia penginjilan bisa efektif dan berhasil di mana orang-orang itu tidak mempertahankan hak yang sepatutnya ia terima. Barangsiapa selalu berbicara tentang hak, pasti sedang terjadi kesulitan pada kerohaniannya. Tidak berarti kita tidak memikirkan tentang hukum, keadilan dan apa yang sewajarnya kita terima. Tetapi pada saat-saat tertentu sesungguhnya seorang pelayan tidak mementingkan untung rugi pribadi, tidak mempertahankan hak itu bagi dirinya sendiri. Asal Injil diberitakan, Tuhan dipermuliakan, dan manusia boleh dibawa kepada Tuhan, ia rela menyerahkan hak demi mempertahankan hak yang lebih besar.

Siapakah yang lebih berkuasa daripada Kristus? Siapakah yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan yang melampaui Dia? Tidak ada. Tapi justru Ia rela meninggalkan surga yang mulia dan datang ke dalam dunia yang rendah dan menyerahkan hak yang seharusnya ada pada-Nya. Semua perjuangan hak asazi manusia adalah perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang memang dicipta oleh Tuhan menurut peta dan teladan-Nya, yang memang secara lahiriah diberikan pada diri manusia. Tetapi hak asazi manusia yang berada di dalam diri Kristus justru direbut habis di zaman-Nya atas kerelaan-Nya menyerahkan hak. Sebab itu hak yang kita terima di dalam Kristus dan kuasa yang kita alami di dalam Dia justru adalah kuasa yang paling tinggi dan paling terhormat. Setelah Kristus menyerahkan hak asazi yang sepatutnya Ia miliki, Allah memberikan kuasa di langit dan di bumi seluruhnya kepada Dia. Sebab itu sebelum mengutus manusia mengabarkan Injil ke seluruh dunia, Yesus Kristus berkata, “Sesungguhnya kuasa di surga dan di bumi sudah diberikan kepada-Ku, maka pergilah engkau.” (Mat. 28:18). Pengutusan tidak pernah diberikan tanpa dibubuhi dengan hak dan kuasa dari surga. Penginjilan tidak pernah menjadi sukses kalau tidak memperoleh hak yang berasal dari Tuhan sendiri. Penginjilan berhasil karena mengerti di mana inti hak dan kuasa itu. Jikalau kita makin banyak memegang kuasa di dalam tangan kita sendiri, makin tidak ada kuasa dari diri kita untuk melepaskan orang dari tangan setan. Jika kita memegang kuasa organisasi dan kebanggaan diri pribadi belaka makin tidak ada kuasa untuk menghantam setan yang mencengkeram orang berdosa. Kalimat ini penting sekali bagi mereka yang betul-betul mau dipakai di dalam melayani Tuhan. Pada waktu engkau mengerti bahwa demi Injil, demi Tuhan, engkau menyerahkan hak, itulah saatnya engkau memperoleh hak yang lebih besar dari Tuhan. Bagaimana kita bisa mempertahankan kuasa? Kalau kita tidak gila hormat, tidak gila kuasa dan hak yang ada pada kita yang kita anggap patut kita terima.

Paulus dengan jelas mengatakan di sini, “aku adalah seorang yang mengabarkan Injil.” Pengabaran Injil adalah pelayanan inti yang harus ditunjang oleh pelayanan yang lain dan mempengaruhi pelayanan yang lain, sehingga apa yang kita perbuat adalah demi Injil. Dengan demikian kita harus bertanya: Siapakah penginjil itu? Apakah hanya mereka yang lulus dari sekolah theologi saja? Apakah mereka yang hanya mengabarkan Injil dari mimbar saja? Alkitab memberitahukan kepada kita penginjil adalah mereka yang membawa kabar kesukaan. “Betapa indahnya kaki-kaki mereka...” (bdk. Yes. 52:7, Rm. 10:15). Berarti di sini penginjil harus kita mengerti sebagai orang yang bertindak sesuai dengan Injil. Jikalau yang dibicarakan Injil, tapi yang dilakukan bukan Injil, ia bukan penginjil yang sejati. "Kaki-kaki mereka begitu indah", berarti terletak pada apa yang kau jalankan dan laksanakan lebih dari apa yang kau bicarakan.

Siapakah kaum Injili yang murni dan sejati? Karl Barth menulis satu buku berjudul, “Theology of Evangelism” atau “Evangelical Theology.” Pada waktu membacanya saya diliputi oleh tanda tanya yang besar, mengapa seorang seperti Karl Barth bisa menulis buku tentang theologi penginjilan atau theologi kaum Injili padahal ia bukan kaum Injili? Orang Injili hampir semua tidak mengaku Karl Barth golongan Injili. Siapakah sebenarnya kaum Injili? Apakah orang yang pergi ke sana-sini membagi traktat dan mengabarkan tentang Yesus Kristus? Kalau dari fenomena kelihatannya memang Injili, tetapi kalau dilihat kembali apa tujuan mereka menginjili ternyata mereka hanya propaganda gedung gereja dan denominasi mereka belaka, supaya golongan mereka boleh berkembang. Tetapi kalau menerima Injil dan masuk gereja lain, mereka tidak terlalu senang. Kalau demikian, siapakah kaum Injili? What is the true Evangelical?

Istilah “Evangelical” menjadi begitu penting pada waktu Reformasi. Namun akhirnya pada abad 19 istilah ini tidak vokal lagi. Dan pada abad 20 istilah ini justru konfrontatif dengan kaum Liberal, khususnya pada permulaan abad 20 sampai dengan tahun 30-an. Sehingga akhirnya menghasilkan suatu konklusi untuk menggolongkan seseorang: kalau bukan kaum Liberal, berarti kaum Injili; kalau bukan Injili berarti Liberal. Tetapi sesudah tahun 60-70an istilah ini sudah diterima baik. Tahun 1966 di Berlin, tahun 1968 di Singapura, tahun 1974 di Lausanne, tahun 1983 dan 1986 di Amsterdam, tahun 1989 di Manila, semua konferensi penginjilan seluruh dunia menjadi momen-momen yang penting. Di Lausanne tahun 1974 berkumpul 4.000 pemimpin Injili seluruh dunia, lebih besar jumlahnya daripada yang hadir di forum PBB. Tahun 1989 di Lausanne II (Manila) bahkan semua grup Timur seperti Rusia, Yugoslavia ikut serta.

Dalam perkembangan ini gereja merasa kaum Injili penting sekali tetapi saya tidak mau puas dan terus menuntut dengan pertanyaan yang tajam: siapakah kaum Injili yang sejati? Jika kita berani menamakan diri Reformed Injili, apakah artinya Injili? Melalui adanya STRII Jakarta, STRI Surabaya, dan STRI Malang, saya ingin bertanya: istilah Reformed sudah banyak dimengerti, tetapi apakah istilah Injili sudah digarap dengan baik? Saya katakan: tidak. Kita masih timpang, lebih pentingkan Reformed tapi kurang pentingkan Injili.

Siapakah kaum Injili? Bagaimanakah menjadi kaum Injili yang sejati? Saya membagi 5 macam kaum Injili:
1. Traditional Evangelical
Orang yang dibesarkan di dalam tradisi gereja Injili. Mereka hanya tahu Injil itu baik tapi tidak tahu Injil itu apa. Begitu banyak gereja di Indonesia yang memakai label atau denominasi Injili, seperti GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa), GMIT (Gereja Masehi Injili Timor), GMIST (Gereja Masehi Injili Sangir Talaud). Gereja-gereja yang memakai label Injili ini adalah gereja Protestan. Namun kalau engkau kunjungi engkau tidak mendengar ada Injil, orangnya tidak mengabarkan Injil. Inilah Injili tradisi. Karena dilahirkan dalam satu gereja Protestan yang pada permulaannya ada semangat Injili, maka mengaku diri Injili juga. Ini bukan kaum Injili yang sejati. Sebagaimana anak yang dilahirkan dari keluarga Kristen dianggap otomatis Kristen. Tetapi di dalam kerajaan Allah, hanya mereka yang diperanakkan pula oleh Roh Kudus adalah orang Kristen yang sejati. (Billy Graham mengatakan, “kalau demikian orang yang dilahirkan di dalam garasi otomatis jadi mobil.”) Orang yang dilahirkan dalam keluarga Kristen boleh mendapat berkat lebih banyak daripada orang lain, sejak kecil boleh dididik di dalam ajaran Kristen tapi kecuali dia sendiri betul-betul mendalami Injil dan diperanakkan pula di dalam kerajaan Allah oleh kuasa Roh Kudus, ia belum menjadi orang Kristen yang sejati. A traditional Christian is not a true Christian.


2. Ideological Evangelical
Orang Injili ideologis yaitu mereka yang mengenal, mempelajari, bahkan sampai mengetahui akan struktur pikiran dan semua theologi di dalam ide-ide Injili. Mereka belajar di dalam sekolah theologi Injili, mereka menyetujui segala pemahaman dari iman Injili, mereka mengerti secara kognitif dan rasional akan Injili dan menyetujui doktrin-doktrin Injili. Tetapi bagi saya meskipun mereka lebih baik daripada golongan pertama di atas, mereka tetap bukan kaum Injili yang sejati. Hanya semacam pengertian di otak, 'aku setuju, aku mengerti, aku sudah belajar, aku tahu, bahkan bisa menulis buku tentang apa itu Injili', tapi bagi saya engkau tetap bukan Injili yang sejati.

Pada waktu saya berumur 10 tahun, saya pernah belajar piano di bawah seorang pendeta. Pendeta itu begitu pandai belajar dan mengerti bahasa asli Alkitab, baik Gerika maupun Ibrani. Pada waktu saya berumur 17 tahun, pendeta ini menunjukkan satu buku yang ia tulis mengenai Parakletos, yaitu Roh Kudus. Namun pada waktu saya berumur 24 tahun, saya mendengar kabar pendeta itu tidak lagi menjadi orang Kristen. Ia pergi bertapa di satu gunung di Jawa Tengah sampai mati di situ. Ia meninggalkan Kekristenan sama sekali. Ia begitu hafal kitab suci, mengetahui banyak tentang theologi, bahkan menulis buku tentang Roh Kudus. Tetapi akhirnya ia tidak percaya kepada Roh Kudus, ia tidak percaya Yesus Kristus. Ia hanya mempunyai pengertian di otak tetapi tidak di hatinya dan jiwanya. Sebab itu saya kira tidak sulit bagi orang untuk menulis tentang "Evangelical Theology" yang begitu indah, bisa menulis thesis dan paper mengenai penginjilan dan apa itu Injil, tapi sesungguhnya orang yang demikian belum menjadi orang Injili yang sejati.


3. Empirical Evangelical
Orang-orang yang mengalami digarap oleh Injil. Kelompok ketiga ini jauh lebih baik daripada yang pertama dan kedua. Mungkin di dalam suatu kebaktian Tuhan bekerja dengan kuasa Injil mengubah engkau; mungkin melalui buku atau traktat, Roh Kudus menggugah hatimu untuk bertobat dan meninggalkan dosamu, menerima Yesus Kristus. Mungkin juga melalui suatu peristiwa khusus di mana tidak ada teori atau khotbah yang bisa melakukan, engkau merasa dipukul Tuhan sehingga engkau harus rendah hati dan bertobat mengalami kuasa Injil. Martin Luther termasuk orang semacam ini. Pada suatu hari di tengah-tengah hujan besar, Luther berjalan bersama temannya. Tidak lama kemudian halilintar menyambar temannya yang tewas seketika itu juga. Luther sadar betapa kecilnya manusia. Ia langsung rebah di sana dan meminta pengampunan dosa. Dan suatu perasaan yang begitu dahsyat menyebabkan dia bertobat dan mengenal kuasa Tuhan. Pada suatu hari ia pergi ke kota Roma untuk berziarah. Ia mengira kota Roma itu begitu rohani dan banyak orang suci. tapi pada waktu ia sampai di sana baru ia sadari begitu banyak kerusakan dan korupsi serta kemunafikan, dosa kecongkakan dan keadaan yang begitu tidak sesuai. Di tengah kekecewaan ia mengatakan, “sudah berapa lama saya berusaha berjuang menyiksa diri dengan asketisisme untuk mendapat berkat dan anugerah Allah.” Akhirnya ia sadar dengan satu kalimat dari Roma 1:17, “Orang benar akan hidup bukan karena kelakuan dan hidup menyiksa diri, tetapi karena iman.” Pengalaman Injil itu menyebabkan ia berubah total. Sesudah menerima pekerjaan Roh Kudus, ia sadar akan Injil. Kesadaran dan pengalaman ini memasukkan ia ke dalam kelompok ketiga.

Saya tidak tahu ada berapa orang di antara kita yang mengalami kuasa Injil yang mengubah dirimu. Mengapa ada orang Kristen seumur hidup tidak pernah membawa satu orangpun kepada Tuhan dan malah sebaliknya menyebabkan orang satu persatu keluar dari gereja karena tersandung olehnya? Mengapa ada orang yang baru Kristen tiga tahun tapi sudah berbuah banyak, sedangkan yang sudah begitu lama malah tidak berbuah? Ada sesuatu yang salah. Kita harus menyelidiki, introspeksi dan menghakimi diri sendiri akan hal ini. Orang yang berani menghakimi diri sebanyak mungkin makin membuktikan ia dipenuhi oleh Roh Kudus. Penghakiman yang destruktif dan menghancurkan iman kita datangnya dari setan, tetapi introspeksi dan penghakiman yang konstruktif adalah pekerjaan Roh Kudus. Orang yang mengalami kuasa Injil hingga mengalami perubahan dan orang yang belum pernah mengalami kuasa Injil dan belum pernah mengalami perubahan itu berbeda. Karena orang yang sudah mengalami kuasa Injil suka membagi-bagikan, suka orang lain juga sama-sama mendapatkan kuasa Injil itu pula. Sudahkah engkau mengalami hal itu? Sudahkah engkau mengalami perubahan sehingga orang lain melihatmu lalu ingin menjadi orang Kristen pula?

4. Pragmatical Evangelical
Orang Injili yang pragmatis. Orang seperti ini secara praktis memberikan pelayanan kepada orang lain, menginjili, membagi traktat, mengundang orang ke gereja, dsb. Hal ini selalu terjadi pada diri orang yang baru bertobat. Orang yang baru bertobat merasa sudah sewajarnya dan seharusnya memberitakan Injil kepada orang lain. Tanpa perlu disuruh, tidak perlu dilatih, tak usah dipaksa langsung mengetahui bagaimana membagikan kabar baik kepada orang lain. Ia memberanikan dan mendorong diri untuk hal itu. Saya senang sekali melihat orang Kristen baru dan melihat pengalaman mereka membawa jiwa baru untuk mengenal Injil melalui pelayanannya. Mari kita kembali mengoreksi diri apakah kita sudah kehilangan cinta kasih semula seperti itu? Saya harap sampai saya mati jiwa untuk Injil tetap bebannya sama seperti hari pertama saya menerima Tuhan. Tuhan bisa memelihara negkau dan saya. Masih ingatkah kali pertama engkau begitu giat memberitakan kepada orang lain, tidak ada waktu untuk mengeritik gereja di sana-sini? Yang ada adalah perasaan yang sama seperti Paulus, “Celakalah aku kalau tidak mengabarkan Injil.” Itu adalah semacam pengaliran hidup yang begitu natural dan otomatis sehingga tidak ada paksaan dan kesulitan yang dipertahankan untuk mengabarkan Injil.

Tetapi di dalam hal keempat ini saya minta saudara perhatikan, orang yang langsung mengabarkan Injil karena semangat hidup baru harus mendapatkan pengertian yang seimbang akan Injil dan kegiatan penginjilan, pengertian Injil yang disesuaikan dengan kegiatan penginjilan. Dengan demikian pertumbuhan kerohaniannya akan sehat. Sebab kalau tidak, mungkin akan timbul dua macam gejala yang berbahaya:
a. Penginjilannya berhasil tapi pertumbuhan rohaninya tidak memadai, ia akan menjadi orang yang congkak dan menghina orang Kristen yang lain. Sejarah membuktikan barangsiapa menjadi orang Kristen yang berkobar-kobar mengabarkan Injil, pasti diundang ke sana-sini, laku sekali tapi tidak ada waktu belajar. Sudah terlalu laku sehingga menjadi sombong dan menghina orang Kristen lama, sehingga macet di situ tidak pernah tumbuh lagi. Banyak penginjil yang khotbahnya itu-itu saja berpuluh-puluh tahun. Lalu mengira Kekristenan hanya ini saja. Padahal apa yang ia beritakan hanya sebagian kecil saja dari pengertian kitab suci yang begitu limpah, yang kalau tidak digali engkau kira hanya sebegitu saja. Engkau tidak maju-maju. Saya kira Kekristenan di Indonesia sudah dilanda oleh semacam tahayul di mana orang tidak percaya Kekristenan lebih banyak daripada yang ia mengerti. Lalu ia akan katakan, "Semua pendeta kalau khotbah sama saja isinya." Pada waktu menyelidiki sampai begitu dalam baru tahu ternyata betul-betul tidak sama! Satu ayat yang sama, 10 pendeta khotbahkan pasti berlainan isinya. Apalagi kalau yang khotbah tidak berdasarkan ayat, tapi melenceng ke kanan ke kiri. Tapi engkau yang menggali ayat itu sampai mendalam baru akan menyadari limpahnya ayat itu lebih daripada apa yang kita mungkin pikirkan.
b. Jika pengertiannya tidak bertumbuh, waktu penginjilannya gagal, ia akan langsung mencurigai dan bimbang akan Tuhan yang ia percaya dan akan macet di dalam pelayana selanjutnya. Kedua hal ini amat berbahaya!

Dengan demikian kita melihat perlu adanya pengertian yang seimbang dengan kegiatan penginjilan. Kalau engkau sudah banyak melakukan penginjilan tapi tidak mau belajar baik-baik, berhentilah dari kegiatanmu itu. Kenapa engkau hanya mau jadi pemimpin, mau hanya jadi pengkhotbah didengar banyak orang tapi waktu disuruh belajar tidak mau?

Petrus mengatakan, biarlah kamu bertumbuh dan bertambah-tambah di dalam anugerah dan pengertian. Pengertian macam apa? Aktivitas harus bertumbuh bersama pengetahuan dan pemahaman akan firman Tuhan. Di dalam pengertian yang bertambah, kegiatan jangan luntur; di dalam kegiatan bertambah, penuntutan akan pengertian firman jangan kendor. Inilah yang harus kita kerjakan mempersiapkan generasi muda untuk menyambut abad 21 dengan bobot yang berlainan dengan apa yang kita lihat pada abad 20 di Indonesia.

Yang disebut Injili Pragmatis adalah mereka yang tidak mau mengerti dan tidak mau belajar dan peduli akan theologi, pokoknya hanya mau tahu secara pragmatis apa yang bisa dipakai untuk mengabarkan Injil, cukuplah. Bagi mereka yang penting asal orang yang diinjili menerima Tuhan, tidak peduli theologinya Reformed-kah, Armenian-kah, Pentakosta-kah, Kharismatik-kah, Katolik-kah. Khotbah ngawur tidak apa-apa, asal orang bisa jadi Kristen. Kabar Kekristenan seperti ini mau jadi apa? Yesus yang bagaimana yang dikabarkan?

Pragmatical Evangelical di dalam penginjilan memakai segala cara asal orang mau jadi Kristen. Kepastian dari iman kepercayaan tidak pernah dibagikan oleh mereka. Kita harus memberikan kepastian di dalam Kristus ada hidup kekal, Kristus adalah jalan satu-satunya menuju surga, di dalam Kristus ada kepastian keselamatan dengan pengampunan dosa dan kesukaan yang sejati.

5. Integrated Evangelical
Orang yang mengintegrasikan theologi, visi, pengalaman dan kepekaan pimpinan Tuhan di dalam aktivitas penginjilan. Inilah kaum Injili yang sejati, yaitu mereka yang betul-betul mengerti rencana Allah di dalam kekekalan berdasarkan theologi yang benar.
a. Integrasi dengan Theologi
Rencana kekekalan Allah harus ditetapkan di dalam proses dinamis dari sejarah. Eternal decree, eternal planning of God, and the process of dynamic history must be integrated. “Tuhan, aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu. Aku mengabarkan Injil yang sudah Engkau tetapkan sebelum dunia dijadikan. Aku mencari kaum pilihan yang sudah Engkau pilih sebelum dunia diciptakan, melalui kuasa Injil mengubah dan menyatakan mereka adalah milik-Mu melalui pertobatan.” Dengan demikian theologi diterapkan di dalam kegiatan penginjilan.

b. Integrasi dengan Visi
Tuhan memberi mandat beban tertentu, bagaimana kita harus kerjakan sesuai dengan visi itu.

c. Kepekaan pimpinan Tuhan
Roh Kudus memimpinmu untuk mengerjakan apa. Dari bakat yang kau miliki dan kebutuhan sekitar ada encounter, dari kemungkinan kesanggupan pikiranmu dengan apa yang dibutuhkan levelnya cocok. Dengan demikian engkau akan efektif dan betul-betul berhasil di dalam penginjilan. Peka akan pimpinan Roh Kudus dan apa yang sesuai untuk kau kerjakan. Orang yang demikian sensitif akan pimpinan Tuhan salah satunya di dalam Alkitab adalah Filipus (Kis. 8). Ia adalah penginjil. Bukan rasul, ia tidak sebesar Petrus, Paulus, Barnabas. Ia adalah seorang yang begitu sederhana tetapi begitu peka akan pimpinan Roh Kudus. Pelayanannya sukses besar di tanah Samaria, namun pada waktu Roh Kudus mengatakan kepadanya, “Aku akan membawa engkau ke tempat yang sunyi di padang belantara.” Filipus mau pergi karena ia peka pimpinan Tuhan.

Di sini mungkin banyak orang bisa garap, di sana hanya engkau yang bisa, engkau mesti pergi. Kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus menjadikan kita efektif dan bisa dipakai di dalam tangan Tuhan menurut rencana yang ditetapkan dari awal. Ini amat penting. Kaum Injili bukan hanya orang yang bisa tulis thesis lalu dapat nilai A, atau dapat summa cum laude. Seorang Injili bukan seorang yang dari dulu nenek moyang sudah Injili maka otomatis menjadi Injili juga. Seorang Injili bukan hanya karena sudah pernah mengalami pertobatan dan menangis di hadapan Tuhan. Injili juga bukan asal ketemu orang berikan traktat dan ajak orang ke gereja. Seorang Injili yang sejati mengintegrasikan 3 hal penting di atas: mengerti firman Tuhan dengan baik dan limpah, mempunyai theologi yang benar, mempunyai visi yang jelas dari Tuhan apa yang harus dikerjakan; mematuhkan diri di bawah pimpinan Roh Kudus secara peka dan taat; betul-betul berapi dari Kalvari untuk membagikan cinta Tuhan kepada orang lain, true concern, true love to others, bukan hanya di dalam teori dan perkataan tetapi di dalam kelakuan dan perbuatan yang sesungguhnya mencintai orang lain. Rela mengorbankan diri.

Kalau ketiga hal ini sudah diintegrasikan ke dalam tindakan aktifitas pelayanan penginjilan, itulah orang Injili yang sejati. Saya tidak menggabungkan hal sosical concern. Itu adalah buah Injil atau persiapan hati untuk menerima Injil, tapi bukan Injil. Hal yang menjadi pre evangelization ataupun post evangelization beda dengan evangelization. Kaum Injili tidak akan menggabungkan persiapan dan follow up pada penginjilan. Penginjilan adalah penginjilan. Penginjilan harus dilakukan dengan pengertian firman dan renaca yang kekal. Penginjilan harus dilakukan dengan visi dan mandat yang Tuhan berikan sebagai panggilan pribadi. Penginjilan harus dikerjakan dengan api yang mau membagikan pengalaman pribadi kepada orang lain. Barangsiapa mengabarkan Injil, membawa orang bukan Kristen untuk mengenal Kristus, membawa mereka mengalami perubahan, inilah Injili yang sejati. Kalau engkau pandai mengajar orang lain, berkhotbah, tapi secara pribadi tidak memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan tidak mencari pimpinan Tuhan, saya anggap engkau bukan kaum Injili yang sejati. Di dunia tidak kurang orang yang mengerti apa itu Injil bahkan bisa mengajar penginjilan di dalam sekolah theologi, tapi kurang orang yang betul-betul mendekati orang berdosa dan memperkenalkan Kristus dengan cinta kasih membawa mereka satu persatu kepada Tuhan.

Kiranya ini menjadi pedoman bagi pelayanan kita masing-masing dan Tuhan memberkati kita untuk berbuah banyak dalam kerajaan-Nya.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 22 – April 1994


Disarikan dari:
http://www.geocities.com/reformed_movement/artikel/injili02.html

07 July 2008

Roma 9:6-8: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-2: Penyingkapan Realita Pembeda

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-2


“Israel” Sejati atau Palsu-2: Penyingkapan Realita Pembeda

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 9:6-8

Setelah mempelajari tentang pendahuluan dan pemaparan Paulus tentang bangsa Israel dan apa yang mereka peroleh di ayat 1 s/d 5, selanjutnya kita akan mempelajari lebih dalam lagi tentang perbedaan Israel sejati dengan yang palsu di mana Allah melalui Paulus menyingkapkan realita pembeda ini. Di dalam bagian ini, kita hanya merenungkan ayat 6 s/d 8 saja. Realita pembeda akan semakin jelas dinyatakan pada ayat-ayat sesudahnya dengan adanya pemilihan Yakub/Israel dan penolakan Esau, dan seterusnya.

Setelah memaparkan semua realita tentang Israel yaitu Israel mendapat wahyu Allah secara khusus dengan lima hal yang diperoleh Israel (ayat 4), maka Allah melalui Paulus menyingkapkan suatu realita yang belum pernah dibukakan secara jelas sebelumnya, yaitu, “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel,” (ayat 6) English Standard Version (ESV) menerjemahkan, “But it is not as though the word of God has failed. For not all who are descended from Israel belong to Israel,” (=tetapi hal ini tidak berarti seolah-olah firman Allah telah gagal. Karena tidak semua yang lahir dari {keturunan} Israel menjadi milik/bagian dari Israel,) Terjemahan LAI dalam hal ini kurang jelas, sedangkan terjemahan ESV dapat memperjelas ayat ini. Mungkin jemaat Roma pada waktu itu bertanya-tanya tentang status Israel. Bukankah mereka (secara bangsa) mengklaim diri sebagai umat pilihan Allah, tetapi kelakuan mereka sangat munafik, tidak sesuai dengan hukum Allah? Lalu, akibatnya, mereka mengajukan pertanyaan bahwa jika Israel kelakuannya munafik, bagaimana dengan Allah mereka? Apakah Allah mereka juga munafik dan plin-plan seperti mereka? TIDAK. Paulus menjelaskan semua kemungkinan tuduhan tersebut dengan penjelasan bahwa meskipun seolah-olah itu semua kelihatan bahwa tindakan Allah memilih umat-Nya, Israel adalah tindakan yang gila, tetapi sebenarnya firman Allah tidak mungkin gagal. Mengapa? Karena yang disebut Israel yang sejati bukan Israel secara kebangsaan. Struktur bahasa Yunani pada kata Israel dalam kalimat kedua pada ayat ini sangat unik. Pada kata pertama, “Israel” menggunakan bentuk genitive (milik), sedangkan kata kedua, “Israel” menggunakan bentuk nominative (=nominatif/sebagai pokok kalimat bagi suatu kata ganti nominatif, misalnya: I, she, he, dll). Dengan kata lain, arti dari kalimat kedua ini adalah bahwa tidak semua orang yang milik (=dilahirkan dari) Israel merupakan bagian dari Israel. Israel pertama menunjuk Israel secara bangsa, sedangkan Israel kedua menunjuk pada Israel sejati, tidak tergantung pada bangsa. Dulu, orang Israel selalu membanggakan diri sebagai umat pilihan Allah. Mereka tidak segan-segan berdoa di pasar, di jalan raya, dll untuk menunjukkan kesalehan mereka sebagai umat pilihan Allah. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan “memuji” diri mereka karena tidak seperti para pemungut cukai, atau orang kusta atau yang “najis” lainnya, lalu disusul dengan pengakuan sendiri bahwa diri mereka aktif berpuasa, berdoa, dll. Semua tindakan munafik ini pernah dikecam oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 23, dan dilanjutkan oleh Paulus di dalam bagian ini dengan menjelaskan lebih dalam yaitu tidak semua orang yang mengaku dilahirkan dari Israel adalah benar-benar Israel. Albert Barnes dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menafsirkan, “Not all the descendants of Jacob have the true spirit of Israelites, or are Jews in the scriptural sense of the term;...” (=tidak semua keturunan Yakub memiliki spirit Israel yang sama, atau Yahudi di dalam pengertian Alkitabiah ;...) Lebih lanjut, Barnes merujuk kepada Roma 2:28-29 tentang perbedaan antara Israel palsu (terlihat dari luar/secara fisik) dengan Israel yang sejati (tidak terlihat dari luar). Contoh Israel palsu ini juga dijiplak dengan jelas oleh para pemeluk agama mayoritas di Indonesia, di mana ketika mereka “beribadah”, suara yang dibunyikan di tempat ibadah mereka sangat keras mengganggu orang-orang di sekitarnya. Tujuannya? Jelas, untuk membuktikan bahwa mereka sedang “beribadah”. Bukan hanya bagi orang Israel dan orang dunia, hal ini juga berlaku bagi kita sebagai orang Kristen. Kita sebagai orang Kristen seringkali menyombongkan diri. Tidak jarang orang “Kristen” yang menyombongkan diri, menganggap diri sudah bertahun-tahun melayani di gereja, tidak lupa berpuasa, aktif memberikan persepuluhan, dll, akhirnya mereka merasa diri pasti masuk Surga. Tuhan Yesus pernah membukakan realita ini di dalam Matius 7:22, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Bukan hanya aktif berdoa, berpuasa, memberikan persepuluhan, mereka bahkan dikatakan juga menyembuhkan dalam nama “Yesus”, bahkan bernubuat demi nama “Yesus”, mengusir setan dalam nama “Yesus”, dll. Itu semua dilakukan oleh orang “Kristen” palsu yang menyamar seperti orang Kristen sejati (=anak-anak Tuhan). Rasul Paulus di dalam suratnya yang lain menegaskan, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” (2 Korintus 11:13-15) Konteks pada waktu itu adalah jemaat Korintus masih jemaat yang kekanak-kanakan (childish), mudah goyah, mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengajaran yang tidak bertanggungjawab. Sehingga Paulus kembali mengingatkan jemaat Korintus bahwa mereka yang mengajar ajaran yang tidak sesuai dengan Injil yang diberitakannya adalah para rasul palsu yang menaati bapanya, yaitu iblis yang menyamar sebagai malaikat Terang. Bahkan kepada jemaat di Galatia, Paulus dengan keras mengutuk mereka yang memberitakan “injil” yang berbeda dari Injil Kristus yang diberitakan Paulus (Galatia 1:6-8), karena jemaat Galatia pada waktu itu juga diajar oleh Yudaisme “Kristen” bahwa keselamatan diperoleh juga dengan melakukan hukum Taurat selain percaya kepada Kristus. Pada zaman postmodern ini, Allah ingin menegur kita juga dan menyingkapkan realita pembeda yang jelas pada bagian pertama, yaitu jangan terkecoh dengan fenomena. Tidak semua fenomena mencerminkan hal yang esensial. Tidak semua orang yang menganggap diri “Kristen”, “melayani Tuhan”, dll sungguh-sungguh orang Kristen sejati (=anak-anak Allah). Kita jangan pernah terkecoh. Belajarlah selektif.

Lalu, Paulus menjelaskan kriteria pembeda yang kedua, yaitu menjelaskan esensi. Pada ayat 7, Paulus mengungkapkan, “dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu."” Pada ayat ini, Paulus jelas mengungkapkan bahwa bukan semua keturunan/ benih (Yunani: sperma) Abraham yang termasuk anaknya, tetapi hanya keturunan dari Ishak lah yang disebut keturunan Abraham. Hal ini dikutip Paulus dari Kejadian 21:12, “Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.” Di sini, realita pembeda semakin diperjelas Paulus. Paulus bukan hanya menunjukkan bahwa tidak semua Israel adalah benar-benar Israel, tetapi ia juga menunjukkan bahwa Israel sejati adalah Israel yang berasal dari keturunan Ishak. Semua orang Israel mengklaim sebagai keturunan Abraham (baca: Yohanes 8:39a), tetapi Tuhan Yesus menjawab mereka bahwa jika mereka adalah keturunan Abraham, maka mereka akan mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan Abraham (ayat 39b). Apakah pekerjaan yang dikerjakan Abraham? Mengharapkan janji kedatangan Mesias/Kristus. Tetapi anehnya, kata Kristus, mereka hendak membunuh-Nya (ayat 40). Lebih tajam lagi, setelah orang Israel pada waktu itu menjawab bahwa bapa mereka adalah Allah, Kristus langsung membukakan realita yang jelas tanpa kompromi bahwa bapa mereka sebenarnya adalah Iblis (ayat 44), sehingga tidak heran bapa pembinasa manusia mengakibatkan para pengikutnya pun sama bengisnya ingin membunuh siapapun yang tidak sesuai dengannya, karena Iblis (dan para pengikutnya) tidak memiliki kebenaran. Sehingga tidak heran, ketika Kristus mengatakan Kebenaran, mereka tidak mau menerimanya. Lalu, Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan bahwa barangsiapa yang berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah, sebaliknya yang tidak mau mendengarkan firman-Nya, jelaslah bahwa ia tidak berasal dari Allah (ayat 47). Orang yang mendengarkan firman Allah inilah yang disebut Israel sejati yang berasal dari keturunan Ishak yang melahirkan Mesias. Silsilah Kristus di dalam Injil Matius 1:1-16 membuka penjelasan silsilah Yesus dari Abraham (baca: ayat 2). Di sini, sangat kelihatan jelas bahwa yang disebut keturunan Abraham adalah keturunan Ishak, bukan keturunan Ismael. Dengan kata lain, hanya keturunan Ishak saja, orang-orang dapat disebut keturunan Abraham. Maka, Kristus yang juga dilahirkan dari keturunan Abraham mengakibatkan barangsiapa yang percaya di dalam Kristus, mereka juga memperoleh berkat Abraham (Galatia 3:9,14). Bukan hanya secara keturunan saja, Kristus terlebih penting telah mati disalib untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari kutuk Taurat, sehingga berkat Abraham (dibenarkan melalui iman) dapat diterima dan dinikmati oleh umat-Nya (Galatia 3:14).

Pembedaan ini semakin diperjelas di ayat 8, “Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.” Israel sejati dengan Israel palsu dapat dibedakan secara esensi yaitu Israel palsu selalu mengklaim keturunan Abraham (=anak-anak Allah) secara daging, lahir dari Abraham (keturunan Abraham), tetapi Israel sejati tidak pernah mengklaim hal demikian, karena mereka tahu sebenarnya mereka adalah anak-anak perjanjian dari anugerah Allah. Pernyataan “anak-anak perjanjian” dalam teks Yunani dapat diterjemahkan: anak-anak yang dilahirkan karena janji. (Sutanto, 2003, p. 848) Struktur bahasa Yunani dalam pernyataan ini menggunakan bentuk genitive (=milik). Dengan kata lain, anak-anak perjanjian berarti anak-anak yang dilahirkan (sebagai milik) dari janji Allah. Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan ayat ini, “Itu berarti bahwa keturunan Abraham yang menjadi anak-anak Allah, adalah hanya keturunannya yang lahir karena janji Allah; dan bukan semua keturunannya.” Di sini, semakin jelas kriteria pembeda antara Israel sejati dengan Israel palsu di bagian kedua, yaitu Israel sejati adalah anak-anak yang lahir karena/melalui janji Allah di dalam Kristus. Bagaimana dengan kita? Di dunia postmodern, banyak orang mengaku diri “Kristen”, mereka HAMPIR tidak ada bedanya dengan orang Kristen sejati. Orang “Kristen” palsu juga kelihatan aktif berdoa, berpuasa, dll, bahkan berapi-api dalam melayani Tuhan. Tetapi apakah fenomena-fenomena tersebut mengindikasikan adanya kebenaran esensi bahwa orang-orang seperti itu sungguh-sungguh Kristen? TIDAK. Di bagian pertama, kita sudah belajar kriteria pembeda yaitu tidak semua yang mengaku diri “Kristen” pasti Kristen. Lalu, di bagian kedua, kita semakin tajam mempelajari kriteria pembeda ini, yaitu orang Kristen sejati (seperti Israel sejati) bukan lah Kristen secara KTP (tanpa pertobatan, hanya muncul di KTP saja), tetapi Kristen yang dilahirkan dari janji Allah di dalam Kristus. Rasul Yohanes menjelaskan artinya, “Orang yang melakukan kehendak Allah adalah anak Allah sebagaimana Kristus adalah Anak Allah.” (1 Yohanes 3:7 ; BIS) Pada ayat 9 s/d 10, Yohanes juga menjelaskan, “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” Dengan kata lain, anak-anak Allah sejati dicirikan oleh beberapa hal: pertama, melakukan kehendak Allah ; kedua, mengasihi sesama ; dan ketiga, membenci dosa.
Pertama, anak Allah sejati melakukan kehendak Allah. Perbedaan esensial antara Kristen sejati dengan “Kristen” palsu adalah apakah mereka melakukan kehendak Allah atau tidak. Ketika mereka melakukan kehendak mereka sendiri lalu memakai nama “Allah” supaya usahanya lancar, jelas itu BUKAN Kristen sejati, tetapi “Kristen” palsu, karena mereka ingin memperalat Allah untuk kepentingannya sendiri. Kristen sejati adalah God-centered Christian (Kristen yang berpusat pada Allah). Pdt. Dr. Stephen Tong mengatakan bahwa anak Allah sejati menyenangi apa yang Allah senangi, membenci apa yang Tuhan benci, dll, sebaliknya anak-anak iblis sebaliknya. Itulah yang disebut Pdt. Stephen Tong sebagai menyangkal diri. Menyangkal diri berarti mengatakan “TIDAK” kepada kehendak pribadi yang berdosa dan self-centered, tetapi mengatakan “YA” kepada kehendak Allah dan menjalankannya (bandingkan: Matius 7:21). Ketika anak-anak Allah melakukan kehendak Allah, mereka berusaha untuk menyenangkan-Nya, baik ketika mereka bekerja di dunia sekuler, melayani Tuhan, dll. Dengan kata lain, melakukan kehendak Allah adalah membawa kemuliaan Allah hadir di tengah-tengah kehidupan anak-anak-Nya sehingga mereka mampu menjadi berkat di sekeliling mereka dan akhirnya nama Tuhan yang dipermuliakan.
Kedua, anak Allah sejati mengasihi sesama. Bukan hanya mengasihi Allah, anak Allah juga mengasihi sesama. Apa artinya? Apakah berarti ketika kita melihat teman atau saudara kita berdosa, kita membiarkannya demi alasan “mengasihi”? TIDAK! Di dalam Alkitab, kasih tidak bisa dilepaskan dari kebenaran, kekudusan, keagungan, dll. Allah Trinitas yang kita percayai di dalam Alkitab adalah Allah yang Mahakasih, sekaligus: Mahaadil, Mahakudus, Mahabijaksana, dll. Memisahkan kasih dari kekudusan dan keadilan Allah identik dengan menggeser tahta/otoritas Allah dan meletakkan ‘tahta’ diri sebagai kriteria “kebenaran”. Inilah yang dilakukan oleh banyak orang “Kristen” yang dipengaruhi oleh postmodernisme yang berintikan relativisme dan pluralisme. Mereka meneriakkan kasih, tanpa mau mengemukakan keadilan, kebenaran, dll, tetapi herannya ketika rumah mereka dimasuki pencuri, lalu si pencuri mengancam akan memerkosa anak perempuan mereka, percayalah, mereka tidak akan mengatakan bahwa kita perlu mengasihi pencuri dan membiarkan pencuri itu memerkosa anak perempuan mereka! Inilah ketidakkonsistenan postmodernisme (mengutip pernyataan Prof. Ronald H. Nash, Ph.D. di dalam bukunya Konflik Wawasan Dunia). Kembali, mengasihi sesama tetap harus bersumber dari mengasihi Allah. Di dalam Matius 22:37-39, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi sesama dilakukan SETELAH mengasihi Allah. Konsep dan prinsip ini harus jelas dan TIDAK boleh dibalik. Postmodern mengajar kita untuk LEBIH mengasihi sesama dan tidak mempedulikan Allah, mengapa? Karena postmodern yang ditunggangi oleh Gerakan Zaman Baru mengajarkan bahwa semua manusia adalah “allah”, maka kita harus saling mengasihi. Tetapi Alkitab dengan tegas sangat bertolak belakang dengan postmodernisme dan mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Allah dahulu, baru mengasihi sesama. Mengasihi sesama bisa diartikan berani berkorban bagi sesama yang membutuhkan. Berani berkorban TIDAK boleh diartikan bahwa kita wajib membantu semua orang miskin! Kita memang perlu membantu orang miskin, tetapi orang miskin seperti apa itu yang perlu diperhatikan. Kalau kita terus-menerus membantu orang miskin yang sebenarnya malas bekerja, itu berarti kita sedang TIDAK membantu mereka, tetapi sedang menjerumuskan mereka untuk semakin malas bekerja. Tetapi jika memang kita membantu orang miskin akibat bencana alam, tsunami, dll, itu memang pantas, dan selanjutnya, kita perlu memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka supaya mereka bekerja dan mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri (tanpa terus meminta bantuan dari orang lain). Kedua, mengasihi sesama adalah mengasihi jiwa sesama kita yang mungkin belum percaya kepada Kristus. Dengan kata lain, mengasihi sesama identik dengan memberitakan Injil Kristus kepada sesama kita. Dengan memberitakan Injil, kita sedang mengasihi sesama kita yang hidupnya tidak berpengharapan, stress, dll. Itu sebenarnya yang lebih penting daripada poin pertama. Membantu korban bencana alam itu perlu, tetapi memberitakan Injil jauh lebih penting, karena pemberitaan Injil berkenaan dengan aspek spiritual yang bernilai kekal, sedangkan membantu korban bencana alam itu hanya bersifat fana, yang bisa hilang.
Ketiga, anak Allah sejati membenci dosa. Anak Allah yang telah melakukan kehendak Allah dengan sendirinya otomatis membenci dan muak dengan dosa. Artinya, dia sendiri akan jijik melihat dosa dan segera mengingatkan orang lain yang sama-sama berdosa akan bahaya dosa dan memberitakan Injil Kristus supaya mereka juga bisa bertobat. Saya menyebutnya membenci dosa dalam dua tahap, artinya kita sendiri membenci dosa yang mengganggu kita, dan kita mengingatkan orang lain yang sama-sama berdosa supaya ia bertobat dari dosa-dosanya (sama seperti kita yang telah bertobat). Adakah hati kita sungguh-sungguh muak dengan dosa ataukah mungkin kita semakin lama semakin tergiur dengan dosa? Itu yang menandakan apakah kita benar-benar anak Allah atau bukan.
Biarlah perenungan tiga ayat ini membukakan sedikit pengertian kita tentang perbedaan esensial antara Israel sejati (anak-anak Allah di dalam Kristus) dengan Israel palsu (orang “Kristen” palsu), sehingga di dalam dunia postmodern yang mengilahkan relativisme ini, kita tidak mudah terkecoh. Baiklah kita memperhatikan nasehat Paulus untuk menguji segala sesuatu dan kemudian memegang yang baik (1 Tesalonika 5:21). Amin. Soli Deo Gloria.

Matius 10:23: CHRISTIAN & PERSECUTION: Unfriendly World

Ringkasan Khotbah : 12 Februari 2006
Christianity & Persecution: Unfriendly World
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:23


Pendahuluan
Bukan kebetulan kalau eksposisi Injil Matius sampai pada tema tentang penganiayaan dan tema ini sangatlah tepat mengingat tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan gejolak dan tantangan; ekonomi, sosial dan politik yang semrawut ini membawa kita masuk dalam berbagai kesulitan dan beban hidup yang semakin berat sehingga orang menjadi teraniaya. Namun topik tentang penganiayaan ini sangatlah tidak disuka oleh orang Kristen. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa manusia tidak suka dengan topik penganiayaan atau penderitaan? Manusia mulai mencari kambing hitam untuk menjadi tempat pelampiasan, membuang kemarahan dan kejengkelan hati dan yang menjadi korban biasanya adalah orang-orang yang dianggap lemah dan terlalu baik. Karena itu, tema ini perlu untuk direnungkan dan menjadi pembelajaran bagi kita supaya kita menjadi lebih bijaksana menyikapi kehidupan yang penuh dengan gejolak. Ada empat aspek yang saling terkait yang perlu kita perhatikan: 1) pembentukan point of view atau sudut pandang, akan membuat kita melihat suatu 2) realita dengan tepat, menghasilkan 3) interpretasi yang akurat dengan demikian kita tidak salah dalam 4) meresponi suatu realita. Demikian halnya dengan penganiayaan, jikalau kita mengerti keempat aspek ini, yakni kita melihat penganiayaan dari sudut pandang yang tepat, kita tidak salah menilai suatu realita dan mengintepretasikannya dengan demikian kita tidak salah meresponi suatu penderitaan.
I. Domba di Tengah Serigala
Ketika Tuhan Yesus memilih murid, Tuhan membukakan pada murid-Nya bahwa menjadi murid Kristus seperti seekor domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Kalau kita mempunyai sudut pandang yang salah maka kita akan berespon salah sehingga muncul pandangan salah, yakni seekor domba yang berada di tengah serigala pasti tidak akan selamat atau dengan kata lain menjadi Kristen itu tidak enak karena banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi. Pemikiran ini sangatlah jahat karena sepertinya kita menuduh Kristus telah bersekongkol dengan serigala dan Kristus sengaja memilih kita untuk dijadikan umpan. Pemikiran yang salah! Memang, domba adalah binatang yang lemah tapi orang lupa bahwa domba ini mempunyai gembala, yaitu Tuhan Yesus. Gembala yang agung itu tidak akan membiarkan domba-Nya menjadi santapan empuk bagi serigala. Tuhan tidak mengajarkan orang Kristen menjadi seorang yang kuat yang dapat menghadapi segala tantangan dunia. Tidak! Justru ketika kita merasa diri kuat maka itu menjadi titik kehancuran kita, karena kita memerankan posisi yang seharusnya bukan menjadi posisi kita akibatnya kita gagal melihat realita yang sejati.
Bukanlah hal yang aneh kalau kita yang adalah domba dimusuhi oleh dunia. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa orang Kristen selalu menjadi korban aniaya? Orang yang berpikiran sempit pasti langsung mengambil suatu keputusan, yakni: tidak akan pernah mau menjadi Kristen. Keputusan yang salah. Penganiayaan itu menjadi sangat istimewa karena dialami oleh orang Kristen sebab di luar Kekristenan, aniaya merupakan hal yang biasa. Gambaran domba di tengah serigala adalah gambaran yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi orang Kristen di tengah dunia. Sebab domba dengan sesama domba hidup dimanapun sangat akur lain halnya dengan serigala meski hidup dengan sesama serigala, ia tidak akan segan-segan berkelahi dan saling membunuh demi untuk mendapatkan makanan. Maka gambaran serigala yang licik dan kejam ini tepat untuk menggambarkan kondisi manusia saat ini – homo homini lupus, manusia menjadi serigala atas sesamanya. Ketika manusia mulai tamak maka ia akan menjadi kejam dan licik seperti serigala, perhatikan, sekejam-kejamnya singa, ia tidak akan pernah memakan anaknya. Di dunia modern ini pun kita akan berhadapan dengan situasi yang mengerikan – satu dengan yang lain akan saling menghancurkan dan saling menganiaya. Dunia kita adalah dunia yang berdosa sehingga aniaya itu menjadi hal yang biasa akan tetapi aniaya menjadi berbeda ketika terjadi di dalam Kekristenan. Orang Kristen sejati pasti akan dimusuhi oleh dunia karena ia berbeda dengan dunia.

II. Penyangkalan Realita
Dunia semakin berdosa, dunia tidak suka jika dibukakan akan realita yang ada, dunia lebih suka menipu diri maka jalan keluarnya adalah orang meng-indoktrinasi diri bahwa dunia ini semakin maju. Tidak! Realita itu tidak sepenuhnya benar, memang teknologi semakin maju namun kehidupan sosial – moral manusia semakin rusak, sistim ekologi semakin merosot. Sebagian orang menyadari hal ini, mereka menyerukan ke tengah-tengah dunia, declaim of the world dengan demikian diharapkan orang mulai sadar dan mengevaluasi diri. Dunia menawarkan berbagai jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan, yakni bagaimana membuat dunia ini menjadi lebih baik, bagaimana menyejahterakan hidup manusia namun semua itu nihil belaka. Beban hidup manusia justru semakin susah dan berat. Akhirnya sampailah manusia pada suatu titik kejenuhan maka pada awal abad 20, manusia mulai memberontak dan mendobrak konsep rasionalisme yang ada dan pecahlah perang dunia pertama dan kedua. Selesai dengan perang, manusia mulai masuk dalam era postmodern dimana segala hal yang mutlak direlatifkan dan membuang semua konsep tak terkecuali membuang pandangan tentang realita dengan menyerukan slogan: my business is my business, your business is your business and my business is not your business and your business is not my business so let do our own business. Celaka, setiap orang merasa diri hebat dan menganggap interpretasi atau pandangan subyektifnya itu adalah kebenaran. Perhatikan, di hadapan Tuhan kita bukanlah siapa-siapa, kita hanya manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan, the dead man karena kita telah melawan Tuhan semesta alam. Ironis, orang menjadi marah ketika ada orang yang membukakan suatu realita kebenaran bahwa dirinya tidak lebih hanyalah manusia bodoh.
Hari ini, orang ramai protes karena salah seorang nabi dilecehkan dengan dibuat kartun. Dan reaksinya sungguh di luar dugaan ternyata apa yang digambarkan dalam karikatur tersebut dilakukan oleh para pengikutnya. Inilah gambaran dunia berdosa, dunia marah ketika dibukakan suatu realita dan hal ini justru semakin membuktikan kebenaran realita tersebut. Sebagai seorang anak Tuhan yang sejati janganlah mudah terpancing dengan akal licik iblis, kita harus melihat suatu peristiwa secara bijaksana dengan demikian kita tidak masuk dalam jebakan iblis. Kalau suatu hari nanti orang berbuat hal yang sama pada kita maka janganlah kita menjadi marah dan berbuat anarkis sebab realitanya kita hanyalah domba di tengah-tengah serigala. Kita seharusnya berbelas kasihan dan menyadarkan supaya mereka meminta ampunan pada Tuhan dan bertobat. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Perkasa, Dialah pemilik alam semesta maka siapakah manusia sehingga mau membela Tuhan? Adalah perbuatan konyol, seorang anak kecil membela ayahnya ketika ayahnya itu mendapat ancaman dari seorang anak kecil lain. Kalau si ayah ini mau bukankah si ayah ini dapat membela dirinya sendiri karena ia lebih kuat? Disini jelaslah bahwa point of view ini sangat mempengaruhi penilaian kita melihat suatu realita dan menentukan respon kita.
Ada beberapa alasan yang menjadi penyebab manusia tidak suka realita sesungguhnya, yaitu: 1) Manusia tidak mau kekurangan dirinya terbuka di depan umum – orang yang membukakan akan realita ini, ia akan dianggap sebagai musuh. Sebagai anak Tuhan sejati, Tuhan ingin supaya kita menjadi pembawa berita – membongkar semua kebohongan yang ada dan untuk hal ini kita harus siap dimusuhi oleh dunia, 2) Esensi dosa membuat manusia tidak suka dengan kebenaran. Sejak kejatuhan, kebenaran itu selalu diputarbalikkan maka kalau ada orang yang hidup benar, orang justru melihat hal itu sebagai ketidakwajaran. Ironis, bukan? Jangan pikir hidup kita akan menjadi lebih nikmat kalau kita hidup dalam dosa. Tidak! Iblis tidak akan pernah menolong manusia ketika manusia berada dalam kesusahan apalagi kalau tidak ada suatu keuntungan dalam diri manusia yang dapat ditarik oleh iblis maka iblis tidak akan pernah menyelamatkan kita. Inilah cara kerja setan. Betapa bodohnya manusia yang berpikir bahwa hidup lebih nikmat kalau tidak menjadi Kristen. Salah! Lepas dari perlindungan Tuhan justru akan membuat hidup kita sengsara di dunia dan di kekekalan nanti.

III. Menghadapi Penganiayaan
Setiap manusia di dunia entah miskin atau kaya, buruk atau cantik pasti tidak akan lepas dari kesulitan. Orang Kristen akan dianiaya namun jangan pikir kalau kita bukan Kristen kita tidak dianiaya. Salah! Sebagai orang Kristen kita memang akan menghadapi aniaya namun kita mempunyai Gembala Agung yang tidak akan membiarkan kita menjadi sasaran empuk serigala. Tuhan meneladankan hal indah ketika menghadapi bahaya dan tantangan, yakni:
Pertama, lari. Tuhan tidak mengajar kita untuk menantang semua tantangan sehingga kita mati konyol. Jadi, menghindar dari bahaya itu bukanlah suatu kesalahan dan bukan suatu kewajiban bagi orang Kristen untuk mengorbankan diri. Dalam beberapa peristiwa, Tuhan Yesus pun ketika berada dalam posisi sulit dan terjepit, Tuhan Yesus menghilang. Menghilang disini tidak mesti harus dilakukan secara supranatural. Para Rasul seperti Rasul Petrus, Rasul Paulus juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kristus, yaitu menghidar dari penganiayaan. Dalam doa “Bapa Kami“ diajarkan: ...jauhkanlah kami dari pencobaan; Tuhan tidak mengajar kita menjadi seorang yang sok dengan menantang segala kesulitan. Menghindari kesulitan bukan berarti kalah dan lemah. Tidak! Perhatikan, mengalah bukan berarti kalah dan menghindar bukan berarti takut. Kita boleh lari dari satu kota ke kota lain tapi satu hal yang perlu kita camkan, yakni:

Kedua, berpaut pada Tuhan. Celakalah hidup kita kalau kita lari dari dunia dan lari dari Tuhan – kita akan binasa – binasa di dunia sekaligus di kekekalan. Yang menjadi pertanyaan ketika lari, kita lari demi siapa. Betulkah hal ini merupakan pimpinan Tuhan ataukah hanya demi egoisme manusia? Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika kita lari, menghindar dari bahaya, yakni: 1) integritas tidak boleh berubah, dalam pelariannya Tuhan Yesus tetap menjalankan tugas dan panggilan-Nya; 2) Tuhan Yesus lari itu bukan karena Tuhan egois – dengan lari, Dia merasa diuntungkan. Tidak! Tuhan Yesus pergi bukan karena Ia takut celaka. Tidak! Terbukti, ketika Dia pergi, Tuhan Yesus tidak tetap Tuhan yang berkuasa. Demikian juga halnya dengan Paulus, ketika dia pergi meninggalkan satu kota dan pergi ke kota lain maka tidak ada satu pun orang yang mengatakan bahwa dia pergi karena dia tidak bermoral. Tidak! Kita boleh pergi kemanapun tapi satu hal yang kita ingat dan perhatikan, jangan lepas dari Tuhan;

Ketiga, ada waktunya untuk tidak lari. Setiap manusia mempunyai kadar kemampuan menanggung suatu penderitaan yang berbeda. Jadi, tidak mungkin setiap manusia akan mengalami penganiayaan yang sama dan seberat seperti yang dialami oleh para rasul dan para martir lain. Dan satu hal yang perlu kita perhatikan, yaitu bila tiba waktu-Nya maka kita tidak boleh lari. Tuhan Yesus sendiri datang ke Yerusalem menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Paulus, dia mengikuti teladan Kristus, sebelum tiba waktu bagi Paulus maka ia akan pergi menghindar dari penganiayaan akan tetapi kalau waktu itu sudah tiba meski Agapus telah memperingatkannya, Paulus tetap pergi ke Yerusalem. Inilah jiwa seorang gentleman yang harus ada dalam diri seorang Kristen sejati.

Dikisahkan ada seorang kaisar kejam bernama Kaisar Nero, dia sangat membenci orang Kristen. Kaisar Nero sangat suka melihat api maka ia menjadikan orang-orang Kristen itu sebagai obor hidup. Petrus pun pergi menghindar dari aniaya ini namun di tengah perjalanan ia berpas-pasan dengan seseorang dan bertanya, “Qua Vadis dominee?“ yang artinya: “Mau kemana, Pak Pendeta?“ Pertanyaan ini mengingatkannya akan pertanyaan Tuhan Yesus yang pernah dilontarkan padanya dahulu maka hari itu ia disadarkan bahwa saat ini bukanlah waktu baginya untuk lari maka hari itu Petrus dihukum mati – disalib dengan posisi terbalik.

Bila tiba waktunya bagi anak Tuhan untuk menghadapi aniaya maka kita harus hadapi, jangan menghindar dan jangan takut, kita harus hadapi penderitaan aniaya itu karena kita tahu, kematian itu tidak dapat dihindarkan – cepat atau lambat kita pasti akan mati. Sungguh merupakan suatu anugerah kalau Tuhan berkenan memakai kita untuk berkorban demi nama-Nya. Kita akan mendapatkan sukacita sorga karena kita bertemu dengan Dia. Orang yang lari dari penderitaan karena alasan Alkitab yang mengajarkan maka itu menjadi suatu tanda tanya besar, benarkah ia anak Tuhan yang sejati? Sadarlah, hari itu mungkin kita dapat menghindari kematian tapi itu sifatnya sementara karena kita toh pasti akan mati. Biarlah perenungan ini menjadikan kita semakin mengerti bagaimana melihat suatu penganiayaan dan menghadapi penganiayaan itu. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

05 July 2008

WAHYU DAN KRITIK (Prof. Jakob van Bruggen, Th.D.)

Wahyu dan Kritik

oleh: Prof. Jakob van Bruggen, Th.D.



Bagi banyak orang di abad ke-20, kewibawaan kanon bukan lagi titik tolak dalam pendekatan Alkitab mereka. Kitab-kitab Suci diterima hanya sejauh kitab-kitab itu dapat bertahan terhadap uji coba kritik kita, atau jika sesuai dengan panjang gelombang pengalaman kita sendiri. Pergaulan bebas dengan Alkitab ini tampaknya disahkan oleh apa yang disebut ilmu pengetahuan Alkitab modern sejati. Karena banyak kritik terhadap Kitab-kitab Suci dilontarkan dengan kewibawaan ilmu pengetahuan, maka kita seakan-akan menjadi kurang ilmiah kalau bersikap kritis terhadap kritik itu. Tetapi justru pada pokok itu diperlukan sedikit perenungan. Bolehkah kita sungguh-sungguh menganggap sikap-sikap bebas terhadap Kitab-kitab Suci dan kanon yang diterima pada masa kini, sebagai hasil wawasan ilmiah yang lebih baik dan membebaskan orang dari kepercayaan kepada Alkitab secara lugu dan tanpa pertimbangan masak? Atau adakah perspektif yang lain?

Bab ini tidak membahas berbagai pertanyaan konkret yang diajukan oleh para penafsir modern, dan yang juga meminta jawaban konkret. Yang menjadi pokok bahasan pada halaman-halaman berikut ialah suasana dimana diskusi itu akan dilakukan. Kalau sikap bebas dan kritis terhadap Kitab-kitab Suci merupakan hasil ilmu pengetahuan yang sejati, berdasarkan fakta-fakta, dan bebas dari praanggapan, maka semua orang yang mau berdiskusi dengan mereka yang mendekati Alkitab secara kritis itu, sudah lebih dulu dicap sebagai manusia yang tidak mengikuti zamannya dan mencoba tetap mempertahankan dengan keras kepala pendiriannya yang kuno dan tidak ilmiah. Maka kritik terhadap kritik Alkitab tampaknya sesuai bagi orang-orang yang lahir terlambat dan yang lebih sesuai dengan periode sebelum abad ke-18 atau ke-19. Dengan cara ini, iklim untuk berdiskusi dengan sungguh-sungguh menjadi rusak.

Kita perlu mengusut secara historis apakah kritik terhadap kanon benar-benar baru muncul oleh ilmu pengetahuan modern. Atau apakah kritik ini barangkali jauh lebih tua dan hanya penampilannya yang baru di zaman kita? Jika yang terakhir ini benar, maka meskipun kita tidak dapat melepaskan diri dari diskusi dan penelitian lanjut, tetapi kita bebas dari anggapan membingungkan bahwa kritik Alkitab adalah modern dan ilmiah, sedangkan kepercayaan pada Alkitab adalah lugu dan tanpa pertimbangan masak.

Peninjauan kembali berikut ini terdiri dari tiga bagian. Mula-mula kita memperhatikan periode yang mendahului penetapan tertulis wahyu dan kononisasinya. Kemudian kita memperhatikan periode dimana wahyu berfungsi dalam bentuk tertulis sebagai kanon. Akhirnya, kita memperhatikan potret diri dari ilmu pengetahuan Alkitab yang modern dan kritis.
1. ASAL DAN BENTUK KRITIK
Kritik terhadap wahyu Allah tidak baru. Ia sama tuanya dengan taman Firdaus, jadi ia berasal dari zaman serangan pertama Iblis terhadap umat manusia ciptaan Allah. Pertanyaan pertama ular kepada perempuan itu, berbunyi, "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" Pertanyaan ini mengandung nada kritik terhadap Allah sendiri. Kritik terhadap Allah itu langsung menghasilkan kritik terhadap wahyu-Nya: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3:1-5). Permulaan itu menandai kelanjutan yang berlangsung selama berabad-abad.

Dalam kebenciannya kepada karya Allah dan kasih Allah kepada manusia, Iblis mengerahkan berbagai sarana ke dalam peperangan. Misalnya senjata berupa ajaran sesat, atau penduniawian, atau pematahan semangat. Namun senjata-senjata tersebut seringkali diasah dengan batu asahan yang sama, yakni kritik terhadap wahyu Allah. Dengan kritik itu, segala sesuatu yang lain dirongrong, karena siapakah yang berani membangun hidupnya di atas dasar yang goyah dan meragukan? Dan bagaimana sebuah Alkitab yang diserang masih bisa menjadi batu penjuru bagi etika Kristen?

Dalam perjalanan sejarah, kita melihat bagaimana wahyu Allah selalu diiringi oleh kritik yang menggerogotinya. Ketika TUHAN melalui Musa membebaskan sebuah bangsa dan memberi hukum-hukum untuk kehidupan, kewibawaan hukum itu dirongrong oleh gerutuan, “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?” (Bil. 12:2). Ketika TUHAN memberi nasihat keras melalui Yeremia untuk menyelamatkan bangsa-Nya dari kebinasaan, dan menyuruh supaya nubuat-nubuat itu dicatat untuk raja Yoyakim, kita melihat bahwa sesudah pembacaan nubuat itu, raja merobek-robek gulungan tulisan itu halaman demi halaman dan melemparkannya ke dalam perapian, sebagai benda yang tidak berharga (Yer. 36:23). Ketika orang banyak kagum melihat keunggulan Yesus atas roh-roh jahat, para ahli Taurat menuduh Yesus telah mengadakan perjanjian dengan penghulu setan, Beelzebul (Mrk. 3:22). Yesus Kristus dengan jelas menunjukkan asal dari penolakan dan kritik yang tiada habisnya itu. Pada waktu orang mengecam wahyu yang Ia terima dari Bapa, dan menyebut Dia kerasukan atau bersimpati terhadap bangsa Samaria (Yoh. 8:48). Yesus menjawab orang-orang Yahudi yang menghakimi-Nya itu, "Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melalukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta" (Yoh. 8:43-44). Teguran yang tajam dan keras itu diucapkan kepada orang-orang yang mengira bahwa mereka berdiri dalam tradisi iman. Firman itu memperingatkan kita juga supaya menyadari bahwa pengakuan terhadap wahyu Allah bukan hal yang otomatis bagi siapa pun. Allah memberikan wahyu-Nya di dunia yang penuh asap mesiu peperangan. Dan gas beracun dapat memabukkan kita sehingga kita tidak mendengar dengan sungguh-sungguh atau tidak mau mendengar apa yang Allah katakan. Sejak saat Allah memberikan wahyu-Nya, terdapat gerakan menentang yang hebat untuk menutupi wahyu itu dengan cara apa pun.

Mengenai bentuk-bentuk kritik itu, setidak-tidaknya kita dapat membedakannya dalam beberapa bentuk utama.
a. Kritik terhadap asal-usul wahyu. Pada saat TUHAN melakukan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar di dunia ini, tidak mudah bagi manusia untuk mengingkari kenyataan itu. Firaun tak dapat mengabaikan keajaiban yang dilakukan Musa. Tetapi raja itu berusaha menganggap tanda-tanda itu bukan berasal dari TUHAN, tetapi dari keahlian sihir yang dimiliki Musa. Bukankah para tukang sihirnya sendiri mampu melakukan hal yang sama? Akhirnya jalan pelarian ini ditutup, karena pada tulah yang ketiga para tukang sihir Firaun tidak berdaya. Dan dengan terkejut mereka mengatakan, "Inilah tangan Allah!" (Kel. 8:18-19). Usaha untuk menghindari kuasa wahyu dengan berkata bahwa asal-usulnya bukan pada Allah, juga kita lihat ketika mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus dianggap berasal dari Iblis (Beelzebul), padahal alasan seperti itu tidak mereka kemukakan ketika ada orang lain yang mengusir roh jahat (Luk. 11:18-20). Lalu Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk melihat “tangan Allah” (Luk. 11:20).

b. Kritik terhadap realita wahyu itu. Apabila antara perbuatan Allah dan masa dimana kita hidup telah berlalu beberapa waktu, lebih mudah untuk menyatakan bahwa mungkin semua mukjizat itu tidak pernah terjadi. Peristiwa besar itu menjadi sebuah cerita dan cerita itu tidak dipercaya, sehingga realita sejarah di mana Allah menyatakan diri-Nya diragukan. Demikianlah Sanherib dengan kata-kata penghinaan yang ditujukan kepada penduduk Yerusalem, sama sekali meremehkan fakta bahwa TUHAN benar-benar telah memimpin bangsa-Nya keluar dari Mesir (Yes. 36-37). Dan saat gempa bumi pada hari Paskah itu telah berlalu, dan para penjaga kuburan yang tadinya lari tunggang langgang tak lagi ketakutan, Sanhedrin menyebarkan berita dusta bahwa jenazah Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya. Dengan demikian, mereka hendak mengingkari kenyataan kebangkitan Yesus dan tidak memperhitungkan wahyu mengenai hal itu (Mat. 28:11-15). Dan sudah dalam suratnya yang kedua, rasul Petrus harus melawan orang-orang yang menganggap para rasul mempercayai dongeng-dongeng (2Pet. 1:16).

c. Kritik terhadap kewibawaan wahyu. Meskipun seandainya orang-orang tidak mempersoalkan asal dan realita wahyu, tetapi wakyu itu tetap dapat dirongrong. Sesuai sifatnya, wahyu Allah menuntut pengakuan, kepercayaan dan ketaatan karena ALLAH yang memberikan wahyu kepada manusia ciptaan-Nya. Namun kewibawaan itu dapat dilemahkan. Hal itu terjadi ketika nabi-nabi palsu berdiri di samping nabi sejati dan meminta perhatian dan penghormatan yang paling berbeda untuk pemberitaan yang berbeda. Demikianlah nabi Hananya merongrong perkataan Yeremia dan mematahkannya, diiringi kata-kata, “Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa” (Yer. 28:11). Dan Zedikia bin Kenaana, menampar pipi Mikha sesudah nabi itu menyampaikan pesannya yang mengandung malapetaka kepada Ahab, dan berkata: “Mana boleh Roh TUHAN pindah daripadaku untuk berbicara kepadamu?” (1Raj. 22:24). Juga rasul Paulus harus melawan orang-orang yang menyamar sebagai rasul, sebagai malaikat terang, yang ingin memudarkan wahyu yang diberikan Tuhan kepada Paulus dan mengurangi rasa hormat bagi perkataannya (2Kor. 11:13-15; 12:11-21).

Kritik atas wahyu Allah dapat kita lihat juga di sekitar wahyu yang dituangkan dalam tulisan, yakni Alkitab. Namun kritik Alkitab bukanlah awalnya. Yang lebih tua dari kritik Alkitab ialah kritik terhadap wahyu, yang kemudian melahirkan kritik terhadap Alkitab.


2. KRITIK TERHADAP KITAB SUCI
Kritik terhadap Perjanjian Baru dalam abad-abad pertama mempunyai prasejarah dalam kritik terhadap Perjanjian Lama dalam abad-abad sebelum Masehi. Pertama-tama, kaum kafir yang sanagt membenci bangsa Yahudi, mengkritik isi kitab yang dijadikan pedoman hidup bangsa itu. Menurut kaum kafir, “Alkitab” Yahudi adalah dokumen yang mencatat usaha mempertahankan diri, buah pikiran beberapa orang kusta yang dihina dan diusir dari Mesir (demikianlah kata Tacitus, orang kafir pencatat sejarah di awal abad kedua Masehi). Orang kafir khususnya mengecam hukum-hukum mengenai makanan orang Yahudi, dan cara hidup mereka yang memisahkan diri. Penulis Yahudi Josephus, yang lebih tua daripada Tacitus yang hidup sezaman dengannya, berusaha membantah kritik itu dalam tulisannya yang menentang Apion, dan juga dalam bukunya yang besar mengenai zaman-zaman lampau bangsa Yahudi, yang nadanya lebih positif.

Tetapi Kitab-kitab Suci Musa dan para nabi tidak hanya diserang oleh pihak kafir. Ada juga kesulitan mengenai jumlah Kitab-kitab Suci yang ditimbulkan oleh pihak lain. Bangsa Samaria dengan keras kepala menolak mengakui tulisan Daud, Salomo dan semua nabi; mereka menganggap memiliki wahyu Allah dalam bentuk yang lebih murni karena hanya mengakui kelima Kitab Musa dan karena lebih mementingkan Sikhem “dari zaman Musa” daripada Yerusalem “dari zaman Daud” (bnd. Yoh. 4:20). Di pihak lain, ada beberapa kalangan apokaliptis yang di samping Hukum Taurat dan para nabi, menjunjung tinggi pengungkapan rahasia dari Henokh atau Barukh, dan menganggapnya sebagai firman Allah. Jadi, sejak sebelum Masehi isi dan cakupan Perjanjian Lama sudah menjadi sasaran tekanan dan kritik.

Apa yang terjadi pada awal Masehi dengan Perjanjian Baru, sebetulnya berjalan sejajar dengan apa yang terjadi dengan Perjanjian Lama. Di sini juga kita temukan kritik terhadap isi dan cakupan.

Isi Injil dan surat-surat diserang oleh pihak kafir. Sebagaimana Josephus membantah Apion, begitu juga Origen satu abad kemudian menentang Celcus, orang kafir yang ahli filsafat. Orang ini menyerang Injil dalam tulisannya “Firman yang Benar” (Alêthês Logos, kira-kira tahun 175). Ia berpendapat bahwa tak mungkin kebenaran tunggal yang begitu mulia dapat terpecah-pecah menjadi empat Injil yang berbeda-beda. Celcus menganggap Yesus lebih sebagai produk zaman-Nya. Menurutnya, penyihiran dari Mesir telah memberi sumbangan pada mukjizat Yesus, sedang pemujaan helenistis terhadap manusia sebagai dewa menyebabkan Yesus disembah sebagai ilahi oleh para pengikut-Nya. Pada abad ketiga dan keempat, Kaum neoplatonisme, dan para pengikut Mani mengecam agama Kristen yang menurut mereka merupakan gejala penyakit dalam kebudayaan. Seorang pengikut neoplatonisme, Porphyrius (lahir tahun 232) sudah menunjukkan berbagai hal dimana menurut pendapatnya, Injil saling bertentangan satu sama lain. Ia juga memperhatikan apa yang pada abad ke-20 disebut "Parusieverzögerung" (penundaan kedatangan kembali Yesus Kristus). Menurutnya, perkataan Yesus mengenai akhir dunia yang sudah dekat, tidak terwujud sebagaimana yang dimaksudkan, dan belum terjadinya kedatangan-Nya kembali membuktikan bahwa ucapan-ucapan dalam Injil tidak dapat dipercayai. Kaisar Julianus si murtad yang bertahta kemudian, yang sesudah mengikuti pendidikan Kristen pindah ke agama kafir Neoplatonisme, menulis banyak buku menentang orang Kristen, yang disebutnya kaum “Galilea.” Ia merekonstruksi semacam sejarah evolusi agama Kristen, karena penyebutan Yesus sebagai Allah dipandangnya sebagai perkembangan yang timbul kemudian oleh pengaruh Yohanes, padahal sejarah sebenarnya mulai dengan seorang guru yang hanya manusia saja, sebagaimana para penulis Injil sering menggambarkan Yesus. Pada waktu yang sama, pada paruh kedua abad keempat Masehi, mantan Neoplatonis, Augustinus, bukannya tanpa alasan menulis buku yang khusus dibaktikan untuk membasmi pemikiran bahwa ada pertentangan dalam Injil. Tulisannya yang tidak jadi diselesaikan “Kesesuaian Para Penulis Injil” (De consensu evangelistarum) menunjukkan aktualnya kritik terhadap Injil dan perlawanan terhadapnya di abad-abad pertama gereja. Isi Injil diserang dengan kritik terhadap Kitab-kitab Suci di mana Injil itu ditulis.

Di abad-abad yang sama cakupan kanon Perjanjian Baru juga dikritik. Ini dilakukan terutama oleh pihak orang murtad yang memiliki penilaian lain tentang kebenaran wahyu. Di satu pihak di beberapa kalangan Gnostik, berbagai tulisan yang sangat dijunjung tinggi ditempatkan di samping Perjanjian Baru. Sebagaimana kalangan apokaliptis Yahudi menghormati wahyu-wahyu rahasia, begitu pula kelompok-kelompok Gnostik hidup dari pengetahuan rahasia mengenai aeon, manusia, dan kosmos. Pada akhir abad kedua, Irenaeus dalam bukunya “Melawan kesesatan” (Adversus Haereses) berusaha keras memerangi kaum Gnostik dan kitab-kitab mereka yang berisi wahyu-wahyu rahasia.

Di sisi lain, di samping ekspansi kanon itu ada pula reduksi kanon yang formal, khususnya pada Marcion di pertengahan abad kedua. Para pengikut Marcion adalah orang-orang pertama yang melancarkan penilaian kritus dan reduksi terhadap kanon dari sudut semacam gambaran Allah yang "dicerahi" (lihat juga Bab III 2). Bentuk yang mereka pakai bersifat khas. Namun demikian, metode mereka sering muncul lagi di abad-abad kemudian. Mereka bertitik tolak dari anggapan bahwa Allah yang abadi jauh lebih tinggi daripada segala hal yang duniawi. Dia juga lebih tinggi daripada Allah Pencipta (demiurgos), yang menciptakan dunia yang dalam Perjanjian Lama disebut sebagai TUHAN (JHVH). Yesus telah mewahyukan Allah yang mahatinggi dan mengajarkan bahwa Dia adalah kasih dan karunia. Allah tidak mengenal emosi-emosi manusiawi seperti kemarahan dan kesedihan. Iman mempersatukan kita dengan Dia dan mengangkat kita di atas dunia yang diciptakan oleh Allah Pencipta demiurgos, dimana disana juga terdapat surga dan malaikat. Berdasarkan gambaran Allah itu, Marcion menolak Perjanjian Lama. Baginya Kitab itu hanya berfungsi sejauh dapat mendukung wahyu Injil yang datang kemudian. Di dalam Perjanjian Baru, ia hanya mempertahankan Injil Lukas, dan sepuluh surat Paulus. Menurutnya, rasul dan penginjil yang berhubungan erat dengannya itu paling jelas membedakan Injil dari Hukum Taurat yang diberikan oleh demiurgos (Perjanjian Lama). Para penulis Kristen pada akhir abad kedua, dipelopori oleh Tertulianus dengan bukunya “Menentang Marcion” (Adversus Marcionem), telah dengan sengit melawan perusakan kanon dan pembuatan patung Allah ini, hingga akhirnya para pengikut Marcion tidak dapat bertahan sebagai penentang gereja.

Kritik Kitab Suci itu memaksa Gereja Kuno untuk semakin teliti dan dengan kesepakatan umum mendaftarkan kitab-kitab yang sudah diakui oleh gereja-gereja sebagai yang mempunyai kewibawaan dan berasal dari Kristus. Pada akhirnya, kanon menjadi data yang begitu mutlak dalam sejarah gereja, sehingga kritik atas cakupan kanon itu hampir tidak diterima lagi. Kanon menjadi fakta yang tetap. Bahkan mereka yang di abad ke-20 memangkasi bagian-bagian pada semua sisi kanon itu dan hanya mau menyisahkan beberapa bagian kecil yang mereka anggap penting karena sifat otentik dan religiusnya, biasanya tidak punya rencana untuk menerbitkan Alkitab alternatif yang sudah "dimurnikan" sebagai pengganti Perjanjian Baru atau seluruh Alkitab. Oleh karena itu, dilihat sepintas lalu, Alkitab dalam bentuk dan cakupannya sekarang tampaknya telah diakui oleh semua orang sebagai titik tolak. Namun di abad-abad kemudian, muncullah bentuk kritik terhadap Kitab Suci yang ketiga, yakni bentuk campuran dari kritik terhadap isi dan cakupan kanon. Inilah kritik terhadap kewibawaan Kitab-kitab Suci.

Kita menyebutnya bentuk campuran. Ia mirip dengan kritik terhadap cakupan, karena dilontarkan oleh orang-orang yang menyebut dirinya orang Kristen atau ahli theologi. Tetapi, kesamaannya dengan kritik terhadap isi ialah bahwa sekarang kritik orang kafir diterapkan, meskipun dengan pretensi Kristen. Dengan kritik Kitab Suci ini, hakikat agama Kristen tidak dijadikan sasaran dan kanon yang resmi tidak disentuh. Sepintas hal ini tampak lebih baik daripada kritik orang kafir atau kaum murtad di Gereja Kuno. Tetapi sebenarnya kritik atas kewibawaan kanon (atau bagian-bagian darinya) bisa disamakan dengan ngengat, baik dalam agama Kristen maupun dalam kanon.

Apa yang terjadi sekarang? Dari dalam, rasa hormat dan segan pada wahyu Allah digerogoti, dan dengan demikian, fondasi agama Kristen menjadi lapuk. Sekarang orang mengadakan pembedaan antara “kanon formal” dan “kanon material.” Dengan kanon formal orang memahami Alkitab sebagaimana yang telah diterima di gereja Kristen, sejak zaman dulu. Kanon material ialah bahan tertentu di dalam kanon formal, yang dianggap mempunyai kewibawaan religius tertentu. Jadi kanon sebenarnya terletak dalam kanon dan harus ditentukan lebih lanjut oleh penelitian ilmiah yang kritis. Bagaimanapun populernya ungkapan “kanon di dalam kanon” itu kini, tetapi kita berpendapat telah terjadi permainan kata yang keliru. Hal itu memang tak mungkin lebih dari permainan kata, yaitu pemakaian kata “kanon” dalam arti yang berbeda. Namun itu bukan permainan yang jujur, melainkan permainan curang. Meskipun terkadang maksudnya baik, sesungguhnya taruhannya disembunyikan. Taruhan dalam kata “kanon” ialah pengakuan terhadap kewibawaan ilahi dari wahyu yang ditetapkan dalam tulisan. Tetapi walaupun kata itu dipertahankan, taruhannya dengan diam-diam dihilangkan. Sebuah “kanon di dalam kanon” yang terbentuk lewat analisa dan penilaian kritis manusia, tak pernah dapat menjadi kanon yang berasal dari tempat lain, dan yang diliputi kewibawaan ilahi. Siapa yang membuat manusia menjadi cacat dan mengiris-irisnya, sambil berkata bahwa yang penting baginya ialah “manusia di dalam manusia,” telah menggantikan rasa hormat dan segan terhadap orang lain itu dengan gambarannya sendiri.

Usaha mencari kanon material selalu menemukan pembenarannya dalam berbagai ketidakberesan did alam atau di sekitar Alkitab yang menimbulkan kritik. Old soldier never die! Maka muncul lagi semua hal yang pada abad-abad pertama sebetulnya sudah dilihat oleh para musuh orang Yahudi dan penentang orang Kristen. Pertentangan antara Injil, persamaan dengana agama-agama kontemporer, keragaman theologi di dalam Injil, pertentangan dengan ilmu pengetahuan alam atau dengan ilmu pengetahuan sejarah, beberapa hal yang tak dapat diterima oleh orang-orang yang membaca Injil di abad-abad berikut, dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi kalau dulu semua itu diajukan untuk menyelesaikan masalah dengan orang Yahudi atau untuk mengesampingkan gereja Kristen, sekarang hal itu dipakai untuk mempertahankan kanon dan menghilangkan hakikatnya. Kitab-kitab Suci boleh tetap ada, sementara Apa Yang Ditulis dikecam dengan keras. Tetapi dalam abstraksi ini, iman tidak akan hidup! Namun demikian, perkataan berikut tetap berlaku, tanpa iman tak seorang pun akan selamat. Tetapi siapa yang dapat mempertahankan iman, apabila orang harus mengikuti petunjuk dari Kompas di dalam kompas?


Dikutip dari buku:
Siapa Yang Membuat Alkitab?
Mengenai Penyelesaian dan Kewibawaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
oleh: Jakob Van Bruggen
Alih Bahasa oleh: J. P. D. Groen
Diterbitkan oleh: Momentum Christian Literature atas kerjasama dengan LITINDO
Cetakan pertama, Agustus 2002.
Hlm. 85-97


Disarikan dari:
http://www.geocities.com/thisisreformed/artikel/siapa_membuat_alkitab.htm



Profil Dr. Jakob van Bruggen:
Prof. Jakob van Bruggen, Th.D. lahir pada tahun 1936 di Belanda. Beliau meraih gelar Doctor of Theology (Th.D.) dari Utrecht. Selama 35 tahun, beliau bekerja sebagai profesor jurusan Perjanjian Baru di Universitas Theologi (Theologische Universiteit, Broederweg) di Kampen, Belanda, dan pensiun pada bulan Oktober 2001. Karya tulisnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Hongaria, Korea, dan Portugis. Tulisannya yang sudah diterbitkan dalam bahasa Inggris adalah The Ancient Text of the New Testament (1976), The Future of the Bible (1978), The Sermont on the Mount (1986), Jesus the Son of God (1999), yang dalam bahasa Indonesia adalah “Kristus di Bumi” (2001, BPK).