14 September 2007

Roma 3:1-8 : HUKUM ALLAH DAN KESETIAAN ALLAH

Seri Eksposisi Surat Roma :
Kasih dan Keadilan Allah-1


Hukum Allah dan Kesetiaan Allah

oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 3:1-8.

Mulai pasal 3, seolah-olah Paulus mengganti topik pembahasan, tetapi jika diteliti, Paulus sebenarnya melanjutkan pengajarannya pada pasal 2. Setelah pada pasal 2 Paulus menjelaskan kemunafikan-kemunafikan orang-orang Yahudi, maka pada pasal 3 secara keseluruhan ia hendak menjelaskan tentang kedaulatan, kesetiaan dan kasih-Nya yang sesungguhnya kepada manusia.

Pada ayat 1, Paulus menjelaskan, “Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?” Perlu diketahui bahwa orang-orang Yahudi seringkali menyombongkan diri sebagai umat Allah lalu menghina mereka yang di luar Yahudi sebagai bangsa kafir, tidak berhukum, dll. Apakah dengan kesombongan itu membuktikan diri mereka lebih hebat dan patut dicontoh ? Tidak. Mereka pun sama-sama dihukum oleh Allah jika mereka berbuat dosa. Lalu, kalau semua orang dihukum oleh Allah, termasuk orang-orang Yahudi juga, lalu mungkin saja orang-orang Yahudi bertanya apakah kelebihan menjadi orang Yahudi. Kemudian, apa gunanya menjalankan sunat kalau toh akhirnya manusia berdosa dihukum Allah ? Pertanyaan ini juga menjadi refleksi bagi kita. Kita seringkali tidak mau menaati hukum dengan pengertian dan kasih, tetapi dengan keterpaksaan, seperti orang-orang Yahudi yang tidak mengerti esensi hukum Taurat tetapi berani melakukannya bahkan membakukannya, misalnya ketentuan Sabat, sunat, dll. Bagaimanakah seharusnya ? Apakah kita menjadi anti hukum ? TIDAK.

Pada ayat 2, Paulus langsung mengajarkan bahwa sunat (dan ketentuan-ketentuan lain di dalam Taurat) itu berguna bahkan Paulus berkata banyak kegunaannya. Salah satu faedahnya adalah mengingatkan orang-orang Yahudi bahwa “kepada merekalah dipercayakan firman Allah.” Allah berani mempercayakan diri dan firman-Nya kepada mereka itu semua bergantung pada kedaulatan Allah. Ketika Allah memilih Israel, Ia tidak memilih mereka berdasarkan perbuatan baik mereka, tetapi mutlak karena kedaulatan Allah, termasuk mengizinkan mereka berdosa untuk nantinya dibereskan dengan cara Allah sendiri. Dari Perjanjian Lama, kita membaca realita kesetiaan Allah kepada umat-Nya secara bangsa maupun pribadi. Abraham dipanggil oleh Allah bukan karena ia orang suci, tetapi justru karena ia tinggal di lingkungan penyembah berhala dan Allah berdaulat memilih-Nya, maka Abraham dipanggil oleh Allah untuk keluar dari tanah kelahirannya menuju tanah yang Tuhan janjikan. Ketika keluar dari Mesir, bangsa Israel sempat bersungut-sungut, tetapi Ia tetap setia, memberikan Sepuluh Perintah Allah melalui nabi-Nya, Musa. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Sebagai orang Kristen, kita memiliki status lebih lengkap dari orang-orang Yahudi yaitu memiliki finalitas Alkitab sebagai kesempurnaan wahyu Allah yang tak mungkin bersalah. Kepada kita khususnya umat pilihan Allah sejati, kita dipercayakan kepenuhan Firman Allah yang berotoritas (kesetiaan Allah selalu berkaitan dengan tanda perjanjian/covenant Allah atas umat-Nya). Ini membuktikan kesetiaan Allah kepada umat pilihan-Nya. Ini juga membuktikan bahwa kita yang menerima penyataan Allah ini sungguh rendah dan tidak layak adanya karena kita yang berdosa dipercayakan firman Allah yang Mahakudus, sehingga penerimaan kita seharusnya dipenuhi dengan sikap rendah hati dan bersyukur serta memegang erat janji dan firman-Nya ini dengan ketekunan kita.

Lalu, kalau Allah setia, apakah respon manusia ? Di dalam kondisi keberdosaannya, manusia bukan saja tidak setia, malahan mempermainkan kesetiaan Allah. Hal ini tampak mulai ayat 3 sampai dengan 8.

Di ayat 3, Paulus langsung menyebut di antara umat-Nya, ada yang tidak setia. Realita ini sangat menyakitkan. Seorang (X) yang sudah dipercayakan sesuatu yang paling berharga sebagai wujud kesetiaan dari orang lain (Y) kepada dirinya (X), malahan orang ini (X) menyalahgunakan kesetiaan ini untuk kepentingan diri sendiri. Di dalam Perjanjian Lama, kita menjumpai realita yang menyakitkan ini. Bangsa Israel yang telah dituntun oleh Allah melalui Musa keluar dari Mesir tidak bersyukur, malahan bersungut-sungut, bahkan rela menggantikan Allah dengan patung lembu emas sambil menunggu Musa turun dari Gunung Sinai. Pada zaman hakim-hakim, bangsa Israel terus berubah setia. Ketika ada satu hakim yang setia kepada Allah, maka seluruh bangsa Israel setia kepada Allah, lalu setelah hakim tersebut meninggal, mereka kembali hidup tidak setia. Di dalam zaman raja-raja, hal ini juga berlaku. Di dalam keKristenan pun, seringkali kita menjumpai banyak orang Kristen yang tidak setia kepada Allah. Mereka hanya menampilkan sisi-sisi religius dengan rajin ke gereja, membaca Alkitab, dll, tetapi di dalam kehidupan sehari-harinya tidak ada Allah yang bertahta sebagai Raja. Itu bukti bahwa mereka tidak setia kepada Allah. Orang yang tidak setia kepada Allah sebenarnya hendak membuktikan bahwa pertama, mereka tidak percaya akan keberadaan Allah yang Mahakuasa dan kekal, karena kalau mereka percaya ketidakterbatasan, keMahakuasaan dan kekekalan Allah, maka mereka pasti tidak akan berubah setia. Kedua, mereka tidak mengenal Allah. Seorang yang mengenal Allah secara pribadi dan mendalam, pastilah mereka setia. Pengenalan yang baik setelah beriman menghasilkan kesetiaan, seperti seorang yang sudah mengenal pasangannya bertahun-tahun pasti setia kepada pasangannya karena orang itu tahu apa yang terbaik bagi pasangannya (bukan bagi dirinya sendiri). Ketiga, mereka sebenarnya juga tidak mengasihi Allah. Seorang yang mengasihi Allah pasti setia kepada Allah. Kasih tanpa kesetiaan adalah sia-sia adanya. Apakah ada sepasang kekasih yang saling mengasihi tetapi salah satu pasangannya menyeleweng dari salah satu dari pasangan orang lain masih dianggap setia ? TIDAK, bukan? Seorang yang mengasihi pasangannya pasti setia kepada pasangannya. Jadi, orang Kristen yang setia kepada Allah adalah mereka yang terlebih dahulu mengasihi-Nya setelah dikasihi oleh Allah.

Setelah kita mengetahui ketidaksetiaan manusia, lalu Paulus langsung bertanya kembali, “dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?” Kata “kesetiaan” ini di dalam Alkitab King James Version diterjemahkan faith atau iman (Yunani : pistis ; artinya : iman/kepercayaan/keyakinan/kesetiaan), lalu New International Version (NIV) dan New Revised Standard Version (NRSV) menerjemahkan faithfulness. Seorang yang tidak setia atau dengan kata lain juga dapat disebut tidak beriman, apakah ketidaksetiaan ini membatalkan kesetiaan Allah atau ketidaksetiaan manusia membuat Allah juga tidak setia ? Pertanyaan ini adalah pertanyaan krusial yang penting. “Theologia” Arminian yang juga merupakan “teladan” bagi semua agama dunia mengajarkan bahwa jika kita setia, maka Allah itu setia. Ketika kita tidak mau membuka hati bagi Roh Kudus, maka Ia pun tidak masuk. Jadi, semua tergantung jasa baik manusia. Ini lah pengaruh humanisme yang meracuni dunia dan bahkan keKristenan. Semua karena kehebatan diri manusia. Kalau kita tidak setia, maka tentu saja Allah tidak setia, karena kesetiaan kita menentukan kesetiaan Allah kepada kita. Dengan kata lain Allah dijadikan “pembantu” kita yang dapat disuruh-suruh untuk memenuhi keinginan kita. Bukankah itu yang diajarkan oleh banyak penganut Karismatik/Pentakosta yang dipengaruhi oleh humanisme ?

Benarkah konsep bahwa apapun yang kita lakukan sangat menentukan tindakan Allah (termasuk di dalam hal kesetiaan) ? Pada ayat 4, Paulus menjawab, “Tentu tidak!” (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Terjemahan BIS ini lebih sesuai dengan pengertian di dalam terjemahan International Standard Version yang menerjemahkan, “Of course not !” Apa yang Paulus nyatakan ini merupakan suatu ketegasan bahwa ketidaksetiaan manusia tidak mempengaruhi kesetiaan Allah. Pernyataan ini lalu dikontraskan Paulus dengan mengatakan, “Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong” Konsep ini sangat penting dalam membedakan dua pribadi beserta atribut-Nya. Pertama, Allah itu adalah benar. Kata “benar” di dalam bahasa Yunani menggunakan kata alēthēs yang berarti kebenaran sejati atau kebenaran yang benar-benar benar (bandingkan Yohanes 14:6). Kedua, kita sebagai manusia dikatakan pembohong atau liar. Kata “pembohong” di dalam bahasa Yunani pseustēs berasal dari kata pseudomai yang berarti berusaha menipu dengan kesalahan atau bertindak sesuatu yang tidak benar. Kedua kontras yang sangat jauh ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kita jangan seenaknya memperlakukan Allah sebagai mainan apalagi mengajarkan bahwa apapun yang kita lakukan mempengaruhi tindakan Allah. Itu ajaran sesat ! Apa signifikansi dari pernyataan bahwa Allah itu benar dan manusia itu pembohong atau penipu ? Pernyataan ini hendak mengajarkan prinsip bahwa meskipun manusia pilihan-Nya seringkali tidak setia, Allah tetap setia kepada mereka, mengapa ? Karena sebagaimana telah saya kemukakan di atas, kesetiaan-Nya berkaitan erat dengan kovenan-Nya. Allah yang benar tak mungkin melanggar kovenan dan kesetiaan-Nya sendiri. Kenyataan ini mengajarkan bahwa kita harus tetap senantiasa bersyukur akan kesetiaan Allah dan juga mengajar kita untuk semakin setia kepada-Nya di tengah maraknya ketidaksetiaan di dunia ini.

Kenyataan ini didukung oleh pengajaran Paulus di akhir ayat 4 dengan mengutip perkataan dari Daud di dalam Mazmur 51:6, “Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi.” yang secara keseluruhan berbunyi, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.” Kita dapat belajar satu aspek di sini, yaitu kesetiaan Allah menegur ketidaksetiaan manusia. Di dalam Mazmur 51, Daud mengungkapkan penyesalan dan pertobatannya setelah Tuhan melalui Nabi Natan menegur dosa perzinahannya dengan Batsyeba. Lalu, di dalam ayat 6, ia dengan rendah hati mengakui dua hal, yaitu dosa-dosanya dilakukan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah yang suci dan juga berlakunya keadilan Allah di dalam segala keputusan-Nya dan bersih di dalam penghukuman-Nya. Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), setelah Daud mengakui keberdosaannya di hadapan Allah, pada ayat 6 ini, ia berkata, “Maka pantaslah Engkau menghukum aku, adillah keputusan-Mu.” Daud bukan hanya sadar dan mengakui tentang realita dosanya, ia bertobat dengan rendah hati lalu bersedia dihukum Allah, mengapa ? Karena ia tahu bahwa Allah itu Mahaadil. Di dalam kesetiaan-Nya ada unsur keadilan-Nya bagi mereka yang tidak mau taat. Ketika kita mulai tidak setia, pandanglah pada kesetiaan Allah dan belajarlah, maka kita akan mendapati teladan yang terbaik yang bisa kita ikuti dan pelajari sehingga kita akhirnya dapat memuliakan Allah melalui kesetiaan kita.

Hal inilah yang ditunjukkan oleh Paulus di dalam ayat 5, “Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan?” bahwa kesetiaan-Nya dan keadilan-Nya menunjukkan adanya kedaulatan Allah di atas kesetiaan dan keadilan (atau kebenaran) manusia yang terbatas. Kata “kebenaran” seharusnya lebih tepat diterjemahkan keadilan kebenaran (Inggris : righteousness ; Yunani : dikaiosunē). Kalau Allah itu adil dan benar jauh melampaui keadilan dan kebenaran manusia, maka Paulus mengatakan, “Tidak adilkah Allah--aku berkata sebagai manusia--jika Ia menampakkan murka-Nya?” Seharusnya semua manusia harus mati dihukum akibat dosa, tetapi di antara manusia yang berdosa ini, Allah tetap setia berjanji memilih beberapa dari mereka untuk diselamatkan dan secara otomatis membiarkan sisanya untuk binasa. Apakah dengan membiarkan orang-orang berdosa dihukum membuktikan bahwa Allah itu tidak adil ? Itulah yang seringkali manusia tanyakan. Manusia postmodern selalu menginginkan dosa tidak perlu dihukum kalau perlu ditonjolkan. Mereka ingin hidup berdamai dengan siapapun bahkan dengan dosa sekalipun, sehingga dosa apapun dibiarkan hidup tanpa ada usaha untuk mengikis bahkan mengurangi dosa. Konsep keadilan Allah tidak lagi disenangi, sebaiknya konsep “kasih” Allah yang merangkul semua bahkan semua orang tanpa memandang agama dan keyakinan itulah yang didengungkan di abad postmodern ini melalui DIALOG ANTAR AGAMA !

Benarkah pendapat demikian ? Paulus di ayat 6 langsung mengatakan, “Sekali-kali tidak!” Mengapa ? Karena Paulus telah mengajarkan prinsip bahwa Allah itu Kebenaran sejati yang tak mungkin salah sedangkan manusia itu serba terbatas, suka menipu, dll. Kalau Allah itu Kebenaran yang sejati maka apapun yang ditetapkan-Nya dari semula pasti ketetapan-Nya yang indah, mulia, suci dan adil serta kasih. Ketetapan-Nya ini pun adil karena Ia yang Mahaadil pasti dapat menghakimi dunia. Kalau Ia tidak Mahaadil di dalam menetapkan segala sesuatu, mana mungkin Ia dapat menghakimi dunia ? Kata “Andaikata” di dalam ayat 6 ini hendak menunjukkan suatu ketidakmungkinan yang tidak pernah terjadi, karena Allah tidak mungkin tidak Mahaadil. Kenyataan ini juga mengajar kita agar senantiasa sadar dan introspeksi diri akan kelemahan dan keberdosaan kita serta kita harus siap menerima hukuman Allah sebagai tindakan-Nya yang adil sekaligus penuh kasih kepada kita ketika kita mulai berbuat dosa.

Tetapi seringkali konsep ini tidak disukai oleh manusia. Hal ini dipaparkan Paulus yang merupakan tuduhan dari orang-orang lain kepadanya pada ayat 7, “Tetapi kalau karena perbuatan yang tidak benar, apa yang benar tentang Allah semakin menonjol sehingga Ia dipuji, mengapa orang yang berbuat jahat itu masih disalahkan sebagai orang berdosa?” (Bahasa Indonesia Sehari-hari) Sungguh aneh manusia itu. Manusia sudah berdosa tetapi tetap mengaku diri tidak berdosa, bahkan berani membandingkan dengan Allah. Inilah realita dosa manusia. Manusia yang berdosa tidak sadar bahwa dirinya sedang berdosa, tetapi berani membanggakan diri sudah berbuat baik agar terlepas dari dosa (itulah dosa yang lebih besar dan berat) ! Bukan hanya itu saja, melalui ayat ini, kita bisa belajar ciri manusia berdosa yang kedua yaitu manusia suka menganggap remeh dosa, sehingga kalau Allah itu Mahakasih dan benar, maka Ia pasti memaafkan dosa saya (parafrase dari sebuah tafsiran mengenai ayat ini). Bagaimana dengan kita ? Apakah sebagai orang Kristen, kita masih menganggap remeh dosa-dosa yang telah kita lakukan ? Seharusnya tidaklah demikian, karena semakin kita hidup serupa dengan Kristus, semakin kita membenci dosa sekecil apapun.

Hal inilah yang diajarkan Paulus di dalam ayat 8 dengan mengatakan, “Dan mengapa kita tidak boleh mengatakan, "Baiklah kita berbuat jahat supaya timbul kebaikan?" Memang ada orang-orang yang menghina saya dengan mengatakan bahwa saya sudah berkata begitu. Orang-orang semacam itu sewajarnya dihukum oleh Allah.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Seorang yang meremehkan dosa dengan alasan bahwa nantinya akan ada kebaikan atau dari dosa akan timbul kebaikan (bandingkan dengan Roma 3:1-4), maka orang itu harus dihukum oleh Allah. Meskipun Ia setia, Ia juga Mahaadil yang menghukum manusia yang bermain-main dengan-Nya apalagi menyalahgunakan anugerah Allah untuk melegalisir perbuatan dosa mereka. Anugerah Allah harus disertai pertanggungjawaban manusia sebagai respon dengan melakukan perbuatan baik yang Allah kehendaki untuk memuliakan-Nya. Itulah respon kesetiaan manusia kepada Allah yang harus kita kerjakan sebagai anak-anak-Nya yang setia.

Setelah merenungkan perikop ini, sadarkah kita bahwa kita seringkali berlaku tidak setia kepada-Nya ? Lalu, maukah kita kembali kepada-Nya dan tidak lagi mempermainkan anugerah-Nya, realita dosa dan pertobatan ? Ia setia dan adil benar (righteous), dan inilah yang seharusnya menyadarkan kita untuk berespon dengan setia kepada-Nya dan menjalankan keadilan kebenaran Allah di dalam hidup kita.

09 September 2007

Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div. (gembala sidang GRII Malang)

Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div.



Ev. Antonius Steven Un, S.Kom., M.Div. menyelesaikan studi Sarjana Komputer di Universitas Bina Nusantara Jakarta dan Master of Divinity di Institut Reformed Jakarta. Beliau aktif melayani dalam Gerakan Reformed Injili di berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar, Kupang, Yogyakarta dll. Beliau juga aktif menulis di koran seperti Kompas Jawa Timur dan SINDO Sore Jabotabek. Saat ini beliau menggembalakan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Malang.

08 September 2007

Matius 4:10-11 : TO WORSHIP GOD

Ringkasan Khotbah : 18 Juli 2004

To Worship God

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 4:10-11



Pencobaan iblis ketiga merupakan pencobaan yang paling dahsyat di antara semua pencobaan - iblis ingin supaya Tuhan Yesus berorientasi pada dunia saja - kerajaan dunia dan seluruh kemegahannya akan diberikan pada-Nya asal Tuhan Yesus sujud menyembah dia. Manusia mana yang tidak tergoda kalau ditawari dunia dan seluruh kemegahannya namun manusia tidak menyadari dibalik tawaran manis yang menggiurkan itu justru yang membinasakan. Manusia sulit menyadarinya karena di satu sisi, tawaran tersebut sangat menggoda dan cocok dengan keinginan daging kita maka tidaklah heran kalau orang mudah terkecoh dan akhirnya masuk dalam jebakan iblis. Berbeda halnya kalau tawaran tersebut bersifat negatif dan tidak sesuai dengan keinginan kita maka dengan mudah kita dapat langsung menolaknya. Namun kita harus lebih berhati-hati dan waspada kalau tawaran tersebut “sepertinya benar“ dan menguntungkan justru itu yang membinasakan.
Merupakan sifat manusia berdosa kalau manusia tidak suka dipimpin dalam kebenaran yang membawanya dalam pertumbuhan iman – manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Manusia, di satu sisi tidak suka kalau dibohongi tapi di sisi lain orang menjadi marah kalau kita berkata jujur. Sebagai contoh, kalau kita berkata jujur tentang sesuatu mengenai dirinya yang dalam hal ini dirinya sendiri pun tidak menyukainya, misalnya hal yang menyangkut keburukannya maka dia akan menjadi marah. Orang akan marah kalau dia dikatakan bodoh padahal semakin dia marah justru semakin menunjukkan kebodohannya - orang pandai tidak akan bergeming kalau dia dikatakan bodoh karena orang yang pandai adalah orang yang selalu sadar kalau dirinya bodoh. Itulah paradoxical kehidupan. Manusia pada hakekatnya tidak ingin kebenaran, mereka hanya menginginkan sesuatu menyenangkan hatinya saja.
Dosa kalau sudah mencengkeram hidup manusia maka segala sesuatu menjadi gelap. Jangankan dunia dan seluruh kemegahannya, demi uang 1 milyar saja orang sudah mau melakukan apa saja. Kalau kekayaan dan kemuliaan sudah mencengkeram manusia maka itulah titik awal kehancuran manusia. Secara logika seharusnya orang sudah tahu bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan; banyak penjelasan dan realita dunia telah membuktikannya namun orang tidak peduli. Cara iblis menggoda manusia supaya jatuh dalam pencobaan sangat licik lalu bagaimana cara kita mengantisipasinya? Hanya dengan cara Tuhan, yaitu dengan Firman seperti yang dilakukan oleh Kristus. Puncak dari pencobaan Tuhan Yesus adalah kunci bagaimana kita mengerti manusia hidup maka Tuhan Yesus mengajak kita untuk balik pada inti iman Kristen, yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Tuhan Yesus melihat tawaran iblis ini sudah tidak dapat ditolerir lagi, itulah sebabnya Yesus langsung mengusir iblis, “Enyahlah, Iblis! Beranikah kita berbuat demikian, yakni mengusir iblis ketika tawaran yang menggiurkan menghampiri kita? Hari ini kalau kita mendengar ada gereja yang mengusir setan, sesungguhnya bukan setan yang diusir tapi lebih tepatnya adalah gejala setan sedang setan yang asli masih bercokol dalam gereja. Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti (Mat. 4:10; Ul. 6:13) merupakan kunci bagi kita untuk melepaskan diri dari jeratan iblis. Perhatikan, dalam kalimat ini ada dua perintah, yaitu: menyembah dan berbakti. Menyembah tidak sama dengan berbakti karena dua kata ini mempunyai pengertian berbeda namun orang seringkali mencampur aduk dua kata ini. Konsep menyembah dan berbakti telah ada sejak jaman Perjanjian Lama dan tertulis juga dalam hukum Taurat - Tuhan Yesus mengajarkan konsep ini kembali di Perjanjian Baru. Konsep menyembah dan berbakti masih berlaku meski berbeda tempat dan selang waktu yang sangat panjang. Hal ini membuktikan bahwa konsep itu adalah kebenaran sejati. Jadi, “sesuatu“ dapat dikatakan sebagai kebenaran sejati kalau “sesuatu“ itu tidak dapat digeser oleh ruang dan waktu. Hari ini banyak orang yang mengklaim hasil risetnya sebagai kebenaran dan akibatnya kita jugalah yang dibingungkan. Ada riset yang mengatakan makan “itu“ menyembuhkan kanker tapi riset yang lain justru mengatakan makan “itu“ penyebab kanker. Akibatnya, orang jadi permainan si researcher karena di antara semua hasil riset tidak ada seorang pun tahu mana yang benar-benar benar? Kebenaran sejati tidak dapat digeser oleh waktu dan ruang. Riset, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baru namun kita menjumpai para researcher justru meriset sesuatu yang dibutuhkan manusia dan yang sudah diasumsikan sebelumnya. Kesimpulan sudah ada terlebih dahulu barulah orang melakukan riset, misal: ada kesimpulan yang menyatakan makan bayam menyebabkan kanker maka dari kesimpulan yang ada inilah orang kemudian melakukan riset. Dan orang yang mau mengeluarkan dana besar untuk membiayai riset tersebut pastilah orang yang mempunyai kepentingan dan dia pasti ingin diuntungkan maka tidaklah heran kalau hasil riset pun dapat diatur sedemikian rupa. Hasil riset yang seharusnya “makan bayam tidak menyebabkan kanker“ maka demi untuk memperoleh keuntungan, hasil riset dibuat sama dengan kesimpulan, “makan bayam akan menyebabkan kanker“. Inilah sifat dunia berdosa yang menuju pada kebinasaan, manusia menjadi humanis materialis. Iblis merusak pikiran manusia dengan tawaran-tawaran manis yang membinasakan, karena itu manusia harus kembali pada kebenaran sejati.
I. Menyembah
Menyembah berasal dari bahasa Yunani, proskuneo berarti to worship, manusia harus mengabdi pada Tuan di atas segala tuan, Raja di atas segala raja. Pros dari bahasa Yunani yang berarti “menuju“ atau “pergi ke“, jadi menyembah pada Tuhan Allah berarti manusia secara sadar, aktif datang pada Tuhan dengan sikap hormat. Hati-hati, jangan menafsirkan kata aktif sama seperti pengertian dunia karena sikap aktif yang diajarkan dunia malah justru menghancurkan hidup. Menurut konsep dunia, kita aktif kalau hal tersebut menguntungkan kita namun aktif datang pada Allah berarti kita yang berinisiatif datang pada-Nya, menundukkan diri dan taat pada pimpinan-Nya dan keaktifan ini yang tidak disukai manusia. Kesombongan dalam diri manusia inilah yang membuat orang sukar untuk tunduk dan taat pada perintah Allah. Orang menjadi malu kalau harus maju untuk menyerah, orang lebih memilih mati daripada menyerah untuk kalah. Kita harus mengubah konsep kita yang salah tersebut karena menyerah bukan berarti kita kalah, kita menyerah justru untuk menang.
Menyembah Allah berarti dengan sungguh hati kita datang pada Tuhan dan menyatakan diri bahwa kita mau takluk, tunduk dan taat pada-Nya. Sikap inilah yang tidak dapat dilakukan oleh iblis maka Alkitab mencatat iblis lalu meninggalkan Yesus karena iblis mempunyai karakter yang selalu ingin melawan dan memberontak pada Tuhan. Hendaklah kita taat pada-Nya dan ketaatan seseorang ini dapat kita lihat pada sikapnya apakah ia mau taat pada orang lain? Kalau pada manusia yang kelihatan saja ia tidak mau taat apalagi pada Tuhan yang tidak kelihatan. Dunia selalu mengajarkan supaya kita selalu memberontak pada-Nya, kita diajar tidak taat pada siapapun. Orang yang tidak taat pada Tuhan maka ia tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik karena dia tidak bisa melihat Allah sebagai pusat kebenaran. Sebagai anak Tuhan, kita harus aktif menyembah Tuhan dan taat dengan demikian kita tidak mudah dipermainkan iblis. Utamakanlah Tuhan Yesus dalam hidupmu. Hendaklah pikiran dan hatimu selalu mengarah pada-Nya, apapun yang kita lakukan biarlah hanya untuk kemuliaan nama-Nya saja. Apakah kita sudah mempunyai sikap hati yang sungguh-sungguh menyembah dan taat kepada Tuhan?
Manusia harus berubah untuk semakin hari semakin serupa Kristus dan proses itu terus berlangsung di seumur hidup kita. Di dunia, kita menjumpai dua macam golongan manusia, yaitu: pertama, orang yang hidup untuk menyenangkan dunia tapi mempunyai sikap hidup yang baik, sebaliknya; kedua, orang yang hidup untuk menyenangkan hati Tuhan tapi hidupnya penuh dosa. Di antara kedua golongan ini yang manakah Tuhan suka? Memang, di antara kedua golongan di atas tidak ada satu golongan pun yang baik; yang paling baik dan idealnya adalah orang yang hidupnya seperti Henokh, hidup menyenangkan Tuhan dan mempunyai sikap hidup baik; di surga maupun di bumi baik. Namun andai kita disuruh memilih di antara kedua golongan tersebut, golongan manakah yang kita pilih? Contoh dalam Alkitab, orang yang termasuk dalam golongan pertama adalah Esau dan Saul; dan orang yang termasuk dalam golongan kedua adalah Yakub dan Daud tetapi kenapa Tuhan justru berkenan pada Yakub dan Daud yang mempunyai catatan hidup lebih buruk dari Esau dan Saul? Jawabnya karena Yakub dan Daud selalu mengutamakan Tuhan di setiap aspek hidupnya bahkan Daud mendapat atribusi seperti Tuhan Yesus, kepadanya Allah berkata “Inilah anak-Ku yang Kukasihi dan kepadanya Aku berkenan“. Anak muda dalam Perjanjian Baru yang katanya “hidup saleh“, tetapi hartanya yang banyak itu justru menghalanginya untuk datang pada Tuhan, ia tidak sepenuhnya menjalankan seluruh hukum Taurat karena sesungguhnya ia hanya menjalankan sebagian dari hukum Taurat, yakni hukum yang ke lima sampai ke sepuluh. Kalau kita tidak mengutamakan Tuhan maka sia-sialah semua hukum Taurat ke lima sampai dengan ke sepuluh yang kita jalankan.
II. Berbakti
Berbakti berasal dari bahasa Yunani, latreia, artinya seluruh aspek hidup kita berada dalam satu ikatan dengan oknum yang kita sembah. Kalau kita tidak tahu siapa yang kita sembah maka kita tidak dapat beribadah dengan baik. Itulah sebabnya ibadah dan penyembahan tidak dapat dipisahkan. Kalau kita menyembah pada Allah yang sejati maka seluruh aspek hidup semuanya harus mengarah pada Allah yang kita sembah, apakah kita sudah menyenangkan hati Tuhan yang kita sembah? Dua hal yang tidak dapat dilakukan iblis adalah menyembah pada Allah dan menyenangkan hati Tuhan. Dengan segala macam cara, iblis selalu berusaha agar manusia menyembah dan menyenangkan dia saja, yaitu dengan jalan menuruti segala keinginan nafsu kita dengan demikian manusia jatuh ke dalam dosa. Sebaliknya, hal yang dibenci oleh Tuhan justru itulah yang menyenangkan hati iblis.
Iblis tahu kalau Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta, Allah yang berdaulat namun iblis sengaja melawan Tuhan dengan tidak mau menyembah dan berbakti pada-Nya. Kalau kita hanya menyembah dan tidak berbakti maka penyembahan kita tersebut hanya bersifat referensi saja, hal itu yang membuat hidup manusia mudah tergoyahkan oleh bujuk rayu si iblis. Kita dapat memperkecil kemungkinan jatuh dalam dosa kalau kita berbakti pada-Nya, di setiap aspek hidup, kita selalu mengaitkan tindakan, pikiran dan tingkah laku kita pada satu tujuan, yakni untuk menyenangkan hati Tuhan. Itulah arti berbakti atau latreia. Jadi, berbakti bukan pada hari Minggu saja ketika kita pergi ke gereja dan kebaktian bukanlah tempat kita belajar Firman Tuhan. Kita akan mendapatkan sukacita sejati kalau kita mempunyai ibadah yang sejati, hidup menyenangkan hati Tuhan. Ibadah di hari Minggu, hari pertama menjadi dasar bagi kita melangkah menapaki hari-hari selanjutnya. Hati yang selalu berpaut pada Tuhan akan memperkecil kita untuk jatuh dalam jebakan iblis. Firman Tuhan mendidik kita untuk sungguh berbakti pada-Nya maka Firman yang kita dengar seharusnya merefleksi diri kita untuk kita diubahkan semakin serupa Dia.
Liturgi ibadah di gereja hendaklah disusun sedemikian rupa - dengan sikap hormat kita menghampiri tahta-Nya dan memuji kebesaran Tuhan - kebaktian diawali dengan Firman Tuhan yang mengajak jemaat melihat kebesaran dan kasih Tuhan setelah itu kita memohon pada-Nya untuk memimpin seluruh ibadah sampai akhir yang ditutup dengan pujian pada Allah Tritunggal, Sumber Berkat. Tapi sayang, hari ini banyak gereja yang menganggap liturgi sebagai hal yang tidak penting sehingga dihilangkan dari ibadah. Dunia modern telah menyelewengkan arti berbakti yang sejati, akibatnya liturgi dibuat sedemikian rupa yakni hanya menyenangkan hati orang mencari tempat yang dianggap paling cocok dengan dirinya untuk berbakti, yaitu yang dapat menyenangkan dan melegakan hatinya karena stress setelah enam hari bekerja. Dan celakanya, kini orang sudah mulai terang-terangan menjadikan gereja sebagai ajang bisnis karena dianggap menguntungkan. Hati-hati, iblis selalu mempermainkan orang-orang yang berada dalam gereja, orang yang tidak hidup rohani, orang yang tidak mau kembali pada kebenaran Firman supaya kita masuk dalam jebakan iblis yang memang bertujuan merusak sikap ibadah kita pada Tuhan.
Umat pilihan bukanlah orang suci yang tidak pernah berbuat dosa. Tidak! Sebagai contoh, Yakub, Daud, Paulus dan masih banyak lagi; namun hidup mereka adalah hidup yang mau menyenangkan hati Tuhan. Cara Tuhan memimpin anak-anak-Nya berbeda dengan cara iblis. Hendaklah seluruh aspek hidup kita hanya menyembah dan menyenangkan hati Tuhan saja maka kita akan mendapatkan sukacita sejati. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

Resensi Buku-20 : KATEKISMUS SINGKAT WESTMINSTER-2 (Rev. G. I. Williamson, B.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
KATEKISMUS SINGKAT WESTMINSTER-2
(THE SHORTER CATECHISM-2)

oleh : Rev. G. I. Williamson, B.D.

Penerbit : Momentum Christian Literature (Fine Book Selection), 2006

Penerjemah : The Boen Giok.





Katekismus Singkat Westminster adalah suatu bahan katekisasi yang dipersiapkan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam sinode Westminster di kota London (diselesaikan pada tahun 1647). T. F. Torrance menyebut Katekismus Singkat ini sebagai “salah satu dokumen yang agung dan sangat luar biasa dalam sejarah theologi Kristen.” Katekismus ini diterima oleh berbagai kalangan gereja dan menjadi salah satu bahan katekisasi yang paling banyak digunakan oleh gereja-gereja Protestan.

G. I. Williamson telah menguraikan makna pertanyaan dan jawaban dalam Katekismus Singkat Westminster ini dengan sangat jelas. Dalam Katekismus Singkat Westminster 2 ini secara khusus akan dibahas mengenai tanggung jawab manusia di hadapan Allah, yaitu penjelasan dari masing-masing perintah di dalam Sepuluh Perintah Allah, Iman dan Pertobatan, Sarana Anugerah (Firman, Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus, dan doa), dan uraian terhadap Doa Bapa Kami. Setiap bab dilengkapi dengan sejumlah pertanyaan yang dapat dipakai sebagai bahan analisis maupun diskusi, dan karenanya, manual ini sangat bermanfaat bagi pemahaman Alkitab pribadi maupun kelompok.






Profil Rev. G. I. Williamson :
Rev. G. I. Williamson, B.D. meraih gelar Bachelor of Divinity (B.D.) dari Pittsburgh-Xenia Theological Seminary. Beliau adalah pendeta yang telah melayani di berbagai jemaat Reformed dan Presbiterian di Amerika Utara, dan saat ini melayani di Reformed Churches of New Zealand dan Orthodox Presbyterian Church. Menjelang usia pensiunnya, Williamson tetap menjadi editor untuk Ordained Servant, jurnal yang diterbitkan oleh Orthodox Presbyterian Church untuk para gembala sidang, penatua, dan diaken. Karya lainnya yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum adalah Katekismus Singkat Westminster (2 jilid).

Roma 2:25-29 : STANDAR PENGHAKIMAN ALLAH-5 : HUKUM ALLAH VS HUKUM MANUSIA-3

Seri Eksposisi Surat Roma :
Realita Murka Allah-14


Standar Penghakiman Allah-5 :
Hukum Allah Vs Hukum Manusia-3


oleh : Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 2:25-29.

Setelah Paulus menjelaskan tentang hukum Allah yang esensial yang menghakimi kemunafikan “hukum” manusia, maka ia mulai menjelaskan jalan keluar agar manusia tidak lagi terjerat oleh hukum-hukum palsu. Apakah wujud jalan keluar ? Ayat 25-29 memberikan kepada kita satu jawaban yaitu menaati Taurat/Hukum Allah, bukan menambahi atau menyelewengkan Hukum Allah. Mari kita akan menyelidikinya satu per satu.

Di dalam ayat 25, Allah melalui Paulus mengajarkan, “Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya.” Di dalam Taurat, sunat adalah perjanjian antara Allah dengan umat-Nya (ingatlah peristiwa Abraham di dalam Kejadian 17:9-11). Karena itu sunat harus dilakukan di dalam Perjanjian Lama sebagai wujud ketaatan terhadap Taurat. Tetapi bukan hanya sunat yang Allah perintahkan, menaati hari Sabat, mengasihi orang lain, menegakkan keadilan, dll juga diajarkan oleh Taurat. Jadi, ketika orang-orang Israel melakukan sunat, mereka hanya melakukan salah satu dari perintah-perintah-Nya di dalam Taurat. Tetapi sayangnya mereka tidak mengerti. Mereka hanya mengerti sunat secara harafiah tanpa mengerti arti rohaninya. Mereka memberlakukan sunat sebagai keharusan tetapi mengabaikan bagian pengajaran Taurat lainnya. Kata “mentaati” dalam frase “mentaati hukum Taurat” dalam Alkitab terjemahan Indonesia dalam bahasa Yunani menggunakan kata prassō yang berarti perform repeatedly or habitually (melakukan secara berulang-ulang/berkali-kali atau sehari-hari/biasanya). Taat bukan sekedar taat secara perkataan, tetapi bersedia melakukannya berulang kali bahkan itu repeatedly. Yang hendak ditekankan oleh Paulus adalah bukan bagaimana orang-orang Yahudi mempertahankan Taurat tetapi bagaimana orang-orang Yahudi seharusnya menaati dengan melakukan Taurat itu dengan pengertian dan esensi yang benar yaitu kasih Allah. Ketika mereka tidak melakukan Taurat, maka kata Paulus, percuma saja sunat itu, karena sunat itu hanya salah satu dari bagian pengajaran Taurat yang luas dan besar. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita sebagai orang Kristen merasa berbangga seperti orang-orang Yahudi yang telah melakukan hukum Tuhan sebagian ? Apakah kita juga seperti orang muda kaya yang datang kepada Tuhan Yesus sambil membanggakan diri bahwa ia telah melakukan semua hal yang diperintahkan di dalam Taurat, tetapi herannya ketika Kristus memerintahkannya untuk menjual semua hartanya lalu mengikut Kristus, ia tidak mau dan segera meninggalkan-Nya ? Mungkin kita tidak pernah membunuh, mencuri, berzinah, iri, berdusta, dll, itu semua baik. Tetapi ini tidak berarti kita tidak berdosa. Karena membunuh, mencuri, berzinah, iri, berdusta, dll hanyalah akibat dari dosa. Dosa sebenarnya berarti melawan kehendak Allah. Ketika kita tidak melakukan apa yang telah dilarang oleh Tuhan di dalam hukum-Nya, tetapi di sisi lain kita membanggakan diri bahwa kita mampu berbuat baik lalu mengatakan kepada orang lain bahwa kita cukup baik, di situ lah esensi dosa sebenarnya, yaitu merebut kemuliaan dan anugerah Allah. Yang ingin ditekankan di sini adalah ketotalitasan firman Allah. Firman Allah bukan parsial sifatnya, tetapi holistic (menyeluruh). Mencomot beberapa bagian pengajaran Alkitab tanpa menaati bagian pengajaran Alkitab lainnya akan mengakibatkan ketimpangan dan itu membuktikan kita tidak sedang mengerjakan kehendak Allah di dalam Alkitab. Kita dituntut untuk mematuhi seluruh firman Tuhan tanpa memilih bagian mana yang kita suka dan tidak sukai. Ketika kita mulai memilih bagian Alkitab yang kita sukai dan tidak sukai, kita sedang memperlakukan Alkitab (dan tentunya, Allah) sebagai obyek dan kita sebagai subyek. Padahal kita yang membaca dan mempelajari Alkitab berada sedemikian : Alkitab (dan tentunya, Allah) sebagai subyek dan kita yang membaca dan mempelajarinya sebagai obyek.

Ayat ini dilanjutkan dengan pengajaran Paulus berikutnya, “Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat?” (ayat 26) Di sini Paulus tidak sedang mendiskriminasikan orang ke dalam dua bentuk yaitu yang tidak bersunat dengan yang bersunat. Di dalam ayat ini, Paulus sedang membagikan dua macam orang secara hukum bukan secara status di hadapan Allah. Perlu diketahui orang-orang Yahudi di zaman Perjanjian Lama tidak mau bersahabat dengan orang-orang Samaria karena mereka dianggap orang-orang kafir yang layak dihukum Allah. Konsep ini ternyata masih meracuni para rasul hingga Petrus harus mempertanggungjawabkan baptisan Kornelius, seorang perwira pasukan Italia di dalam Kisah Para Rasul 11. Sebenarnya Allah tidak menghendaki pemisahan demikian, karena janji-Nya dengan Abraham adalah segala bangsa akan mendapat berkat, bukan hanya bangsa Israel saja. Perjanjian-Nya ini diselewengkan oleh orang-orang Israel hanya karena Israel telah mendapatkan Taurat sedangkan di luar Israel mereka tidak memiliki Taurat. Hal ini mengakibatkan orang-orang Israel sombong, egois dan tidak mengasihi orang-orang non-Israel. Apa yang dilakukan orang-orang Israel ditegur oleh Paulus. Paulus menegur bahwa jika orang-orang non-Israel tak memiliki Taurat (secara hukum : tak bersunat) tetapi mematuhi tuntutan-tuntutan Taurat, mereka sebenarnya dianggap telah disunat. Dari mereka mengetahui tuntutan Taurat ? Roma 1:19-20 telah mendeskripsikan dua macam wahyu Allah secara umum yaitu melalui hati nurani dan alam semesta. Dari dua hal ini, manusia secara umumnya dapat mengetahui adanya Allah dan meresponinya. Itulah Taurat. Hukum Taurat hanyalah sarana pewahyuan Allah, yang sebenarnya Taurat adalah apa yang Allah kehendaki, perintahkan, tegur dan ajarkan. Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen ? Apakah kita cukup bersukacita ketika memiliki Alkitab tanpa melakukannya ? Kita mungkin rajin menyelidiki Alkitab, belajar theologia, dll, tetapi kita lupa untuk menerapkannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang Israel yang mati-matian mempertahankan Hukum Taurat tanpa mengerti esensi dan melakukan esensi tersebut di dalam kehidupan mereka. Pdt. Billy Kristanto di dalam bukunya Ajarlah Kami Bertumbuh (Refleksi Atas Surat 1 Korintus) menyatakan bahwa tanda kita mengerti adalah melakukan apa yang kita mengerti. Ketika seorang anak diperintahkan ibunya untuk membelikan 2 buah telur, maka kalau anak itu mengerti perintah ibunya, maka ia bukan hanya mengatakan, “Ya, mengerti”, tetapi ia juga menjalankan apa yang diperintahkan ibunya. Itu berarti si anak mengerti apa yang diperintahkan ibunya. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita selalu rajin mengatakan, “Amin” tetapi sebenarnya kita tidak mengerti kata “Amin” itu dengan menjalankan apa yang kita percayai dari Alkitab ?

Orang yang tak bersunat tidak dipandang oleh orang-orang Israel yang bersunat., sehingga mereka yang tak bersunat dapat dihakimi dan dihina oleh mereka yang bersunat. Benarkah demikian ? Paulus membalik posisi ini. Di dalam ayat 27, ia mengajarkan, “Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat.” Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) lebih jelas mengartikannya, “Dan orang-orang yang tidak disunat itu akan menyalahkan Saudara orang Yahudi, sebab Saudara mempunyai hukum agama Yahudi dan Saudara disunat, tetapi Saudara melanggar hukum itu. Mereka tidak disunat, tetapi justru merekalah yang mentaati hukum agama Yahudi.” Maksud Paulus bukanlah orang-orang yang tak bersunat harus berbangga diri terhadap orang-orang Israel yang bersunat yang tidak mematuhi Hukum Taurat sepenuhnya, tetapi Paulus mengajarkan dan mengingatkan orang-orang Israel yang bersunat agar tidak sombong. Bagi hukum manusia, orang-orang yang memiliki hukum akan dihargai, sedangkan orang-orang yang kelihatannya tidak memiliki hukum tidak akan dihargai. Posisi ini dibalik oleh Paulus dengan mengatakan bahwa bukan yang memiliki Taurat yang dibenarkan tetapi yang menjalankannya (dengan penuh pengertian dan iman yang beres dari Tuhan) meskipun secara hukum tidak termasuk bilangan orang yang memiliki hukum. Bagaimana dengan kita? Kita sebagai orang Kristen seharusnya malu dengan orang-orang non-Kristen yang mengurusi masalah negara kita (meskipun banyak dari mereka yang korupsi), berpartisipasi di dalam pengembangan negara kita, dll, sedangkan kita sebagai orang Kristen hanya sibuk mengurus hal-hal rohani (apalagi hal-hal tersebut diajarkan secara tidak bertanggungjawab, misalnya, menjadi orang “Kristen” pasti kaya, sukses, tanpa penyakit, tidak terkena masalah, dll). Hal-hal rohani tidak boleh dilepaskan dari hal-hal sekuler, tetapi mempengaruhi. Inilah yang diajarkan oleh theologia Reformed dengan dua mandat yaitu mandat budaya (mempengaruhi dunia dengan prinsip Alkitab/Firman Allah untuk memuliakan Allah) dan mandat Injil (memberitakan Injil untuk memuliakan Allah). Tuhan menginginkan kita bukan sebagai penghakim, tetapi sebagai pelaksana firman-Nya. Allah tidak menginginkan kita untuk menghakimi orang-orang non-Kristen, tetapi kita diperintahkan-Nya untuk mengasihi mereka dengan memberitakan Injil kepada mereka agar mereka bertobat, percaya dengan kembali kepada-Nya.

Lalu, Paulus juga menjelaskan bahwa yang terpenting bukan hal-hal fenomenal, tetapi esensi itulah yang terpenting yang tidak bisa ditipu. Pada ayat 28, ia menjelaskan, “Karena orang Yahudi yang sejati bukanlah orang yang hanya namanya saja orang Yahudi; dan orang yang sungguh-sungguh disunat bukanlah orang yang disunat secara lahir saja.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari) Inilah hal-hal fenomenal. Kita seringkali terjebak dengan hal-hal fenomenal. Orang-orang Yahudi secara fenomenal adalah orang-orang “religius” karena mereka berpuasa, memberikan persepuluhan, berdoa, menjalankan Sabat (versi mereka), dll, tetapi itu semua hanyalah fenomenal. Hal-hal fenomenal dapat menipu kita. KeKristenan juga mirip dengan hal itu. Banyak orang “Kristen” berani mengklaim diri orang “Kristen” apalagi herannya mengklaim diri sedang “melayani ‘tuhan’” tetapi konsep imannya apalagi kelakuannya tidak beres dan tidak memuliakan Tuhan karena dari prinsipnya, mereka telah membedakan dunia rohani dengan dunia sekuler (dipengaruhi oleh ajaran dualisme atheis Yunani, yaitu dari filsuf Plato). Secara fenomenal, mungkin sekali orang-orang “Kristen” ini “religius”, rajin ke gereja, ikut persekutuan doa, berpuasa, memberikan persepuluhan, dll, tetapi iman dan kelakuan mereka bukan berdasarkan Alkitab, tetapi berdasarkan pemikiran humanisme atheis. Kalau kita kembali mengingat kisah orang muda kaya yang akhirnya meninggalkan Kristus setelah Ia memerintahkan untuk menjual harta miliknya untuk mengikut-Nya di dalam Matius 19:16-26, kita seharusnya sadar dan mengerti apa yang Kristus ajarkan bahwa yang masuk ke dalam Kerajaan Allah bukanlah orang yang membanggakan diri karena ia kaya dan telah berbuat baik tetapi tidak mau mengikut Kristus. Bukan hal-hal fenomenal yang menjadi esensi, karena itu bisa mengelabui mata semua orang. Tetapi yang menjadi esensi adalah iman itu sendiri yang menentukan semua hal-hal fenomenal itu asli atau palsu (tiruan).

Esensi inilah yang ditekankan oleh Paulus di dalam ayat 29, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Alkitab terjemahan BIS mengartikannya, “Sebaliknya, seorang Yahudi yang sejati adalah orang yang hatinya berjiwa Yahudi; dan sunat yang sejati adalah sunat di hati yang dikerjakan oleh Roh Allah, bukan yang dicatat di dalam buku. Orang semacam itu menerima pujian dari Allah, bukan dari manusia.” Ayat ini jelas mengajarkan bahwa yang terpenting bukan melakukan syariat-syariat hukum tanpa mengerti, tetapi melakukan firman dengan pengertian dan iman yang bertanggungjawab dari Allah. Esensi yang sejati adalah sunat secara rohani. Orang yang disunat secara lahiriah tetapi tidak disunat secara rohani adalah para ahli Taurat yang munafik yang rela mengorbankan janda-janda miskin, orang-orang terlantar, dll demi kepentingan para ahli Taurat yang berkuasa. Sunat secara rohani itulah sunat di dalam hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Apa artinya ? Sunat secara rohani berarti ada kehidupan baru yang dihasilkan dan sebaliknya kehidupan lama dibuang dan ditinggalkan. Kehidupan baru itu kita dapatkan setelah Roh Kudus bekerja di dalam hati untuk mengarahkan hati dan pikiran kita supaya tunduk di bawah Kristus. Kehidupan baru ini ditandai dengan ditinggalkannya kehidupan lama yang penuh dosa dan berpegang teguh pada Alkitab sebagai satu-satunya pedoman hidup sejati. Akibatnya, ketika mereka telah mendapatkan kehidupan baru, mereka tidak mendapatkan pujian dari manusia, karena mungkin manusia dunia akan menghina mereka sebagai “sok suci, sok rohani, dll”. Pujian sejati bukan didapat dari manusia, tetapi dari Allah. Sehingga tidak heran, Paulus menutup pasal 2 dengan ayat 29b, “Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” Paulus sengaja membedakan dua macam pujian, yaitu dari manusia dan dari Allah. Hal ini dilakukannya agar kita sadar tentang adanya dua macam pujian yang berkaitan dengan esensi pujian itu sendiri (arti, motivasi dan tujuan), yaitu pujian manusia (yang bersifat fana, terbatas/tergantung situasi, menipu/agar orang yang dipuji dapat memuji dirinya kembali/menuntut balas, dll) dan pujian dari Allah (bernilai kekekalan, tidak terbatas, tidak menipu/bersifat murni dan tidak menuntut balas). Sungguh menarik, Alkitab mengatakan bahwa kita dipuji Allah. Seseorang dipuji Allah bukan karena dia hebat (dengan kemampuannya sendiri), tetapi karena dia telah melakukan apa yang diperintahkan-Nya di dalam Alkitab dengan taat dan setia serta beriman di dalam-Nya. Seperti kata tuan yang telah menerima hasil yang memuaskan dari hamba yang diberi lima dan dua talenta, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23), maka Tuhan juga mengatakan hal serupa dengan memuji kita sebagai hamba yang setia dan bertanggungjawab. Di dalam kitab Roma sendiri, Paulus mengajarkan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” (Roma 8:29-30) Di ayat 30, Paulus mengajarkan bahwa kita yang telah dipilih, ditentukan, dipanggil dan dibenarkan-Nya, maka kita juga dimuliakan-Nya. Inilah yang disebut from glory to glory (dari kemuliaan menuju kepada kemuliaan). Inilah hak istimewa anak-anak Tuhan. Tetapi kita tidak boleh hanya terus memikirkan hak istimewa ini saja, kita juga harus melakukan apa yang Tuhan perintahkan dengan taat dan setia, karena, “kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”(Efesus 2:10). Pujian dari Allah inilah reward atau upah bagi kita yang telah setia dan taat mengikut Kristus dan melakukan apa yang dikehendaki dan diperintahkan-Nya. Pujian dari Allah ini nanti kita akan dapatkan di Surga ketika kita hidup bersama-sama dengan-Nya selama-lamanya. Tidak ada sukacita yang lebih besar daripada sukacita bersama-sama dengan Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan kita !

Hari ini, ketika Firman Allah menegur dan mengingatkan kita tentang pentingnya mengerti Firman dengan melakukannya secara bertanggungjawab, maukah kita sadar dan bertobat serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya di dalam Alkitab ? Ingatlah, Tuhan tidak bisa tertipu dengan hal-hal fenomenal manusia, Ia lebih mementingkan esensi yaitu mengerti dengan menjalankan Firman dengan bertanggungjawab. Bertobatlah dan taatilah Firman-Nya dengan pengertian yang benar sesuai arti asli Firman Allah itu sendiri. Amin. Soli Deo Gloria.

02 September 2007

PREDESTINASI : Pembahasan Doktrinal yang Berdasarkan Alkitab (oleh : Denny Teguh Sutandio)

PREDESTINASI
Pembahasan Doktrinal yang Berdasarkan Alkitab

oleh : Denny Teguh Sutandio, S.S.

(anggota jemaat Gereja Reformed Injili Indonesia—GRII Andhika, Surabaya {digembalakan oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.} ; lulusan Sastra Inggris dari UK Petra, Surabaya ; mahasiswa part-time di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya—STRIS Andhika)



Topik predestinasi adalah topik yang banyak diperdebatkan di dalam kalangan keKristenan. Banyak pihak tidak menyetujuinya karena alasan kurang cinta kasih Allah pada semua manusia. Oleh karena itu, pihak oposisi dari predestinasi mengajarkan bahwa Allah tak mungkin memilih manusia atau meskipun Allah memilih, Ia memilih manusia berdasarkan apa yang manusia lakukan kelak (doktrin foreknowledge of God di dalam “theologia” Arminian). Benarkah demikian ? TIDAK. Alkitab sendiri mengajarkan kepada kita bahwa Allah lah yang memilih kita sebelum dunia dijadikan. “Sebelum dunia dijadikan” jelas menunjukkan bahwa Allah memilih kita MURNI bukan karena kita telah beriman atau berbuat baik, tetapi karena belas kasihan Allah semata. Mari kita menggali Roma 8:29-30 ; 9:1-29 dan Efesus 1:3-14 untuk mempelajari doktrin predestinasi yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul Paulus.

Surat Roma adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma yang terdiri dari mayoritas orang-orang Yahudi dan Yunani. Kota Roma adalah ibu kota sebuah kerajaan yang terbentang dari Inggris sampai ke Arab, sebuah kota yang kaya dan termasuk kosmopolitan serta sebagai pusat diplomatik dan perdagangan dunia yang terkenal pada waktu itu. Kekaisaran Romawi berada dalam suatu keadaan yang damai dan makmur (Pax Romana). Surat Roma ini menduduki posisi yang penting berkenaan dengan pengajaran Paulus yang paling gamblang akan Injil dan iman Kristen sejati. Roma 1-7 membahas tentang realita dosa dan perjuangan orang Kristen untuk mengalahkannya. Disusul dengan pasal 8 tentang hidup oleh Roh. Di pasal 8 mulai ayat 18, Paulus menjelaskan tentang pengharapan anak-anak Allah hingga konklusinya yang jelas ditemukan di ayat 28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Inilah kedaulatan Allah yang dipercaya di dalam theologia Reformed/Calvinisme bahwa Allah adalah Sumber dari segala sesuatu yang mengerjakan terlebih dahulu kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Siapakah mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah itu ? Ayat 29-30 menjawab hal ini, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ada lima kata kerja yang dipakai di dalam kedua ayat ini.

Pertama, dipilih-Nya dari semula. Kita adalah orang yang dipilih Allah dari semula. Kata “dipilih” dalam terjemahan King James Version adalah foreknow ; Yunani : proginōskō berarti to know beforehand, foresee (=mengetahui/melihat sebelumnya). Ada unsur kekekalan di dalam tindakan Allah pertama ini, yaitu Allah memilih manusia sebelumnya atau sebelum dunia dijadikan. Kata “sebelumnya” atau “sebelum dunia dijadikan” menjadi bahan perdebatan di dalam Calvinisme sendiri (supralapsarian dan infralapsarian). Ada yang mengatakan bahwa Allah memilih sebelum terjadinya dosa, sebaliknya ada yang mengajarkan bahwa Allah memilih manusia setelah terjadinya dosa. Perdebatan ini kurang begitu baik, karena, mengutip Pdt. Sutjipto Subeno, Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang memilih adalah Allah yang tidak terikat oleh waktu (apakah sebelum atau sesudah jatuh ke dalam dosa). Tetapi tetap jelas bahwa Allah memilih manusia sebelum dunia dijadikan (=sebelum dunia diciptakan). Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkan, “nor is this foreknowledge to be understood of any provision or foresight of the good works, holiness, faith, and perseverance of men therein, upon which God predestinates them to happiness; since this would make something out of God, and not his good pleasure, the cause of predestination; which was done before, and without any consideration of good or evil, and is entirely owing to the free grace of God, and is the ground and foundation of good works, faith, holiness, and perseverance in them: but this regards the everlasting love of God to his own people, his delight in them, and approbation of them; in this sense he knew them, he foreknew them from everlasting, affectionately loved them, and took infinite delight and pleasure in them; and this is the foundation of their predestination and election, of their conformity to Christ, of their calling, justification, and glorification :…

Kedua, ditentukan-Nya dari semula. Dalam KJV, kata ini diterjemahkan predestinate ; Yunaninya proorizō berarti to limit in advance, predetermine (membatasi di depan/terlebih dahulu, menetapkan sebelumnya). Dengan kata lain, kita yang dipilih-Nya, kita lah yang ditetapkan-Nya atau dibatasi-Nya. Kita yang ditentukan-Nya ini dengan tujuan “untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Di dalam lima pokok Calvinisme, hal ini dikenal dengan istilah Limited Atonement (Penebusan Terbatas) yang berarti Kristus menebus dosa-dosa umat pilihan-Nya. Berarti ada keterbatasan pada sekelompok orang yang telah dipilih Allah untuk ditentukan-Nya.

Ketiga, dipanggil-Nya. Setelah dua tindakan Allah dalam kekekalan, maka Ia menyatakan tindakan tersebut di dalam diri manusia dengan memanggil mereka. Dr. John Gill mengatakan bahwa panggilan ini adalah panggilan anugerah bagi umat pilihan-Nya menuju kemuliaan.

Keempat, dibenarkan-Nya. Kata “dibenarkan” dalam bahasa Yunani berasal dari akar kata dikaiosune yang artinya kebenaran keadilan, sehingga kata “dibenarkan” berarti dijadikan benar dan adil. Manusia yang berdosa mustahil bisa memiliki kebenaran keadilan sejati, karena manusia sudah rusak total dan mengurangi/tidak mencukupi kemuliaan Allah (Roma 3:23 ; KJV). Sehingga, hanya melalui anugerah Allah saja, manusia yang berdosa bisa dan layak dibenarkan/dijadikan benar dan berkenan di hadapan-Nya melalui karya Kristus.

Kelima, dimuliakan-Nya. Ini adalah hasil dari pembenaran melalui iman. Setiap umat pilihan yang telah dipanggil dan dibenarkan-Nya, mereka akan dibawa menuju kepada hasil akhirnya yaitu dimuliakan. Sungguh suatu anugerah Allah yang dahsyat. Akibat dosa, manusia yang dimahkotai kemuliaan Allah menjadi rusak total dan manusia semakin jijik di mata Allah, tetapi dosa tersebut ditebus dan akibat dari penebusan itu, manusia dikembalikan natur dan hakekatnya sehingga mereka mendapatkan kemuliaan yang dirusak dosa itu.


Kedua ayat ini dilanjutkan Paulus dengan mengajarkan bahwa karena ada jaminan pemilihan Allah ini dan penebusan Kristus, maka umat-Nya tidak akan binasa selama-lamanya (ayat 33 s/d 39). Untuk menjelaskan bagian ini, mulai pasal 9 s/d 11, Paulus menguraikannya dengan memakai ilustrasi pilihan atas Israel. Pilihan atas Israel yang dimengerti oleh orang-orang Israel seringkali hanya terbatas pada suku bangsa Israel, tetapi Paulus menyingkapkan hal lain yaitu Israel rohani. Israel rohani itulah termasuk kita yang bukan berkebangsaan Israel yang percaya di dalam Kristus. Israel rohani inilah yang disebut sebagai anak-anak Allah bukan secara daging, tetapi secara rohani (ayat 8). Konsep kovenan/perjanjian ini diuraikan Paulus di ayat 9-15 tentang dua macam tindakan pemilihan Allah yaitu penetapan Allah atas diri seseorang untuk menjadi bagian dalam keluarga-Nya (=umat pilihan-Nya) dan penolakan Allah juga pada diri orang lain (sisanya). Di dalam theologia Reformed, hal ini dikenal dengan predestinasi (pemilihan) dan reprobasi (penolakan). Dua hal ini disebut predestinasi ganda (Double Predestination). Banyak orang yang mempercayai predestinasi hanya mempercayai predestinasi dan menolak reprobasi, padahal Alkitab secara jelas mengajarkan adanya reprobasi. Di ayat 12-13, Paulus dengan jelas mengajarkan bahwa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. Lalu, disambung dengan ayat 14, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil!” Ini adalah pengujian Paulus bagi jemaat Roma dan termasuk kita. Seringkali kita mengatakan bahwa Allah yang memilih beberapa orang adalah Allah yang “tidak adil”. Di sini Paulus langsung mengkritik pandangan kita bahwa itu MUSTAHIL ! Kata “mustahil” dalam KJV diterjemahkan God forbid (=Allah melarangnya). Bukan hanya itu saja, di ayat 15, Paulus menjelaskan, “Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.” Apa yang Paulus katakan ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang Berdaulat yang berhak melakukan apa saja (yang tidak melawan natur-Nya) untuk memuliakan-Nya, dan kedaulatan Allah ini tidak bergantung pada siapa dan apapun bahkan pada manusia. Lebih lanjut, kedaulatan Allah dijelaskan Paulus di ayat 16, “Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah.” dan ayat 18, “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.” Di ayat 19-22, Paulus lebih keras lagi mengatakan, “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: "Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?" Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: "Mengapakah engkau membentuk aku demikian?" Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap benda-benda kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan--” Ayat-ayat tadi mengindikasikan bahwa tidak ada satu inci pun manusia yang sanggup dan berhak membantah Tuhan Allah dalam segala hal, khususnya dalam hal penetapan Allah atas siapa yang diselamatkan/dipilih dan ditolak.


Dari surat Roma, kita beralih kepada Surat Efesus 1:3-14. Surat Efesus adalah surat yang ditulis oleh Rasul Paulus yang sering disebut sebagai surat Trinitas. (mengutip dari kuliah Studi Surat Roma dan Efesus dari Ev. Hendry Ongkowidjojo, M.Div. di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya—STRIS Andhika) Kembali, mengutip dari Ev. Hendry Ongkowidjojo, khusus Efesus 1:3-14, Paulus menggunakan Berakah (=suatu pujian panjang lebar bagi Allah di dalam gaya Yahudi) yang memiliki 2 keunikan, yaitu : Allah dipuji sebagai Bapa Yesus Kristus Tuhan kita dan pengulangan “di dalam Kristus” (atau “di dalam Dia”) secara konstan dengan tujuan agar ucapan syukur dan kekaguman atas rencana keselamatan Allah mengalir kepada pembaca dengan berespon memuji Allah (sebagai sebuah dorongan).

Di ayat 3, Paulus mengucapkan syukur kepada Allah karena Ia telah memberikan kita segala berkat rohani di dalam Surga. KJV menambahkan kata “in Christ” (=di dalam Kristus) setelah “di dalam Surga”. Ini berarti segala berkat rohani di dalam Surga diperoleh hanya di dalam Kristus. Apa wujud berkat rohani itu ? Ayat 4 menjawab bagian ini, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Berkat rohani ini pertama berwujud anugerah pemilihan Allah yang dikerjakan di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. “Sebelum dunia dijadikan” kembali menjadi kata kunci penting di dalam predestinasi, karena hal ini mengajarkan bahwa pemilihan Allah BUKAN berdasarkan jasa baik (atau iman) kita, tetapi MURNI karena kemurahan hati dan anugerah-Nya yang berdaulat. Lalu, Paulus menjelaskan bahwa kita dipilih-Nya sejak semula supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dengan kata lain, kekudusan hidup dan perubahan etika terjadi SETELAH kita dipilih Allah. Mengikuti pola pikir Paulus di surat Roma, di surat Efesus pun, Paulus mengungkapkan bahwa setelah Allah memilih manusia, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” (ayat 5) Penentuan/predestinasi ini dilakukan oleh Allah berdasarkan : kasih-Nya dan kerelaan kehendak-Nya. Hal ini penting, karena banyak orang salah mengartikan predestinasi yaitu Allah “seenaknya sendiri” memilih dan menentukan manusia. Padahal Alkitab menyatakan bahwa Allah menentukan manusia MURNI berdasarkan kasih-Nya. Allah memilih dan menentukan manusia juga BUKAN karena terpaksa, tetapi MURNI karena kerelaan kehendak-Nya. KJV menerjemahkannya, “...according to the good pleasure of his will” Dari terjemahan KJV ini, kerelaan kehendak-Nya lebih tepat diterjemahkan sebagai kesenangan kehendak-Nya (Yunani : eudokia berarti satisfaction/kepuasan, yaitu secara subyektif : delight/kegembiraan). Tujuan dari penentuan Allah ini dijelaskan Paulus di ayat 6, “supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” Ini berarti tindakan keselamatan Allah adalah dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia (Roma 11:36).

Berkat rohani kedua yang kita peroleh yaitu pengampunan dosa (ayat 7). Hal ini dijelaskan Paulus di ayat 7, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,” Penentuan dari semula dibarengi dengan tindakan penebusan Allah yaitu dengan mengutus Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat-Nya. Dengan kata lain, Allah Bapa memilih dan menentukan manusia di dalam Kristus, Allah Anak (Kristus) diutus oleh Allah Bapa untuk menggenapkan rencana keselamatan Allah Bapa ini dengan menebus dosa umat-Nya. Penebusan dosa di dalam ayat 7 ini berarti pengampunan dosa. Pengampunan dosa bisa berarti dibebaskan/dimerdekakan dari dosa. Dengan kata lain, penebusan dosa berarti kita dimerdekakan dari kutuk dosa yang membelenggu kita selama kita masih menjadi manusia lama. Sehingga penebusan Kristus itu sudah cukup syarat menjadi sarana : peredaan murka Allah (propisiasi), penggantian dosa umat pilihan-Nya (substitusi) dan perekatan kembali hubungan antara Allah yang Mahakudus dengan manusia berdosa (rekonsiliasi). Di dalam pengharapan inilah, kita menemukan suatu pengharapan kekal menjadi anak-anak Allah yaitu keselamatan yang cukup dan final. Berkat rohani ini, “dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” (ayat 8)

Berkat rohani ketiga yang kita peroleh dari Allah yaitu penyingkapan rahasia kehendak-Nya (ayat 9-12). Di ayat 9-10, Paulus mengajarkan, “Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” Predestinasi ternyata bukan perkara mudah dan murah, tetapi predestinasi adalah tindakan agung dari Allah yang berdaulat, karena predestinasi bertujuan akhir pada penyatuan umat Allah di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu. Dengan kata lain, saya menafsirkan bahwa predestinasi berkaitan erat dengan bagian keluarga Allah di mana Kristus menjadi Kepala dan kita sebagai anggota-anggota tubuh-Nya/mempelai wanita-Nya yang kelak akan dinikahkan secara spiritual dengan Kristus sebagai Mempelai Pria. Kristus inilah yang dipaparkan Paulus sebagai sarana umat pilihan-Nya mendapatkan bagian yang dijanjikan (ayat 11), sehingga umat-Nya hanya menaruh pengharapan kovenan pada Kristus (ayat 12).

Berkat rohani keempat yang kita peroleh dari Allah yaitu Roh Kudus (ayat 13-14). Roh Kudus dijelaskan Paulus sebagai Janji yang diberikan Allah sebagai meterai dan jaminan bagi kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah (ayat 13-14). Dengan kata lain, Roh Kudus menjadi meterai dan jaminan keselamatan kita bahwa kita yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus untuk bertobat dan percaya di dalam-Nya tidak akan binasa sampai selama-lamanya (keselamatan sejati di dalam Kristus mutlak tidak bisa hilang, karena Roh Kudus menjadi meterai dan jaminan keselamatan kita). Menolak ajaran “sekali selamat tetap selamat” (keselamatan SEJATI di dalam Kristus tidak bisa hilang) bukan hanya menyangkali ajaran Calvinisme, tetapi juga menyangkali berita Alkitab di dalam Efesus 1:13-14 dan yang lebih parah lagi, menghina otoritas Allah seolah-olah Ia “kewalahan” ketika manusia mau murtad dan melawan-Nya.

Biarlah ketiga bahan perenungan ini menjadi studi yang menyadarkan kita akan anugerah Allah yang begitu agung dan ini membuat kita terus bersyukur melalui perbuatan baik yang harus kita lakukan untuk memuliakan-Nya. Soli Deo Gloria. Solus Christus.

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka


Apologetic. Retrieved October 31, 2005 from http://www.ekaristi.net.

Berkhof, Louis. (1997). Teologi Sistematika : Doktrin Gereja. (Yudha Thianto, Trans.) Surabaya : Penerbit Momentum. (Buku asli diterbitkan 1941).


Handbook to the Bible. (Yap Wei Fong, Agnes Maria Layantara, Ester Santoso, Tan Giok Lie, Fenny Veronica, Trans.) (2002). Bandung : Yayasan Kalam Hidup. (Buku asli diterbitkan 1973 dan 1983).


Hoekema, Anthony A. (2004). Alkitab dan Akhir Zaman. (Kalvin S. Budiman, Trans.) Surabaya : Penerbit Momentum. (Buku asli diterbitkan 1979)

Lumintang, Stevri I. (2004). Theologia Abu-abu : Pluralisme Agama (Edisi Revisi). Malang : Penerbit Gandum Mas.

Matakupan, Thomy J. dan Julio Kristano. (2005). Antropologi dan Hamartologi : Doktrin Manusia dan Dosa. Surabaya : Penerbit Momentum.

Pariadji, Yesaya. (2005, November 6). Hanya Orang yang Punya Roh Martir yang Diberi Kuasa Membentuk Perjamuan Kudus yang Benar. Retrieved November 12, 2005 from http://www.tiberias.or.id/BULETIN.htm

Roni, K.A.M. Jusuf. Allah yang Esa. Retrieved December 25, 2005 from
http://www.besorahonline.com.

Roni, K.A.M. Jusuf (2000, Juni). Saya Belum Menemukan Kebenaran (Wawancara). Narwastu, 22-23

Sethiadi, Stanley. Teori Geosentris Versus Teori Heliosentris. Retrieved September 24, 2004 from http://www.sahabatsurgawi.net

School of Ministry (SOM) : Salvation/Keselamatan. Surabaya : GBI Bethany.

School of Ministry (SOM) : Holy Spirit/Doktrin Roh Kudus. Surabaya : GBI Bethany.

School of Ministry (SOM) : Second Coming/Kedatangan Tuhan. Surabaya : GBI Bethany.

Til, Cornelius Van. (1967). The Defense of the Faith. Phillipsburg, New Jersey : Presbyterian and Reformed Publishing Co.

Tong, Stephen. (1991). Reformasi dan Teologi Reformed. Jakarta : Lembaga Reformed Injili Indonesia.