13 February 2008

Matius 9:1-8: SEPARATED FOR GOD'S MISSION

Ringkasan Khotbah : 03 April 2005
Separated for God's Mission
oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 9:1-8


Kita telah memahami beberapa bagian dari implikasi Kerajaan Sorga yang dipaparkan oleh Matius, yakni bagaimana men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita, the Lordship of Christ; sebagai warga Kerajaan Sorga harus taat pada Sang Pemimpin, yaitu Yesus Kristus. Percayalah, Kristus pasti akan memimpin jalan kita, Dia tidak memimpin kita menuju kebinasaan. Kalau kita telah menyadari bahwa Kristus adalah Tuhan atas hidup kita maka hal itu bukan hanya sekedar pengakuan tetapi kita harus mengikut secara terus menerus tanpa syarat, the disclepship of Christ. Sebagai pengikut Kritus maka ada konsekuensi yang wajib dijalankan, yaitu hidup kudus. Kudus tidak identik sama persis dengan suci. Kudus berasal dari kata kadosh (bahasa Ibrani) berarti dipisahkan dari dosa untuk menjalankan misi Kerajaan Sorga di tengah dunia, separated for God’s mission. Alkitab menegaskan dosa berarti memberontak dan melawan Allah dan kebenaran-Nya. Kita dipanggil untuk hidup kudus maka janganlah seturut dengan dunia tetapi kita harus berpaut dan seluruh hidup kita berorientasi pada Kristus yang telah memperdamaikan dan kita harus hidup suci. Suci merupakan cerminan dari sifat dan moralitas Ilahi yang terimplikasi dari diri kita yang sudah dikuduskan oleh Kristus dengan demikian kita mempunyai kualitas moral yang berbeda dengan kualitas moral dunia.
Matius juga ingin menyadarkan kita bahwa religiusitas tidaklah cukup kecuali kita kembali pada paradigma yang benar yang selama ini telah kita geser, paradigm shift. Iman bukanlah sekedar menggeser tindakan tetapi menggeser cara konsep pikir yang paling esensi di dalam pola pikir, world view. Dunia science mengenal sebagai paradigma dan Kekristenan menyebutnya sebagai iman. Iman sejati harus kembali pada satu konsep yang sejati sebab pergeseran iman ini menyangkut konsep berpikir yang tuntas. Dengan kata lain: jangan sekedar ganti tampilan tetapi ganti esensi. Secara singkat, Matius menuliskan ada seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya lalu Tuhan Yesus menyembuhkannya sehingga ia dapat berdiri dan berjalan namun cara Tuhan Yesus menyembuhkan sangatlah kontroversial, yaitu bukan berkata: “Sembuhlah kamu“ melainkan “Dosamu telah diampuni.“ Kalimat inilah yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Kalau kita bandingkan dengan Injil Markus dan Injil Lukas maka kita mengetahui detail peristiwa orang lumpuh ini bisa sampai di hadapan Yesus dengan cara yang sangat unik, yaitu ia digotong oleh empat orang dan karena orang banyak berada di dekat Yesus, mereka membuka atap lalu menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Detail tersebut sengaja tidak ditulis oleh Matius sebab memang bukan itu yang menjadi inti yang hendak dipaparkan oleh Matius. Sebagai contoh, dari perikop di atas, orang bisa saja berkhotbah tentang kerjasama yang mendatangkan suatu berkat atau juga tentang usaha atau perjuangan yang keras akan mendatangkan berkat dan kesuksesan. Melalui bagian ini, sebenarnya Matius ingin menekankan bagaimana orang lumpuh ini disembuhkan dengan cara yang sangat unik, yakni melalui dialog dengan Tuhan Yesus lalu dialog itu diinterpretasi oleh ahli Taurat. Meski tidak diucapkan secara langsung namun Tuhan Yesus tahu apa yang menjadi isi hati si Ahli Taurat lalu Tuhan Yesus berkata: “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?“ Orang pasti akan berkata, “Tentu yang paling mudah kalau mengatakan: Bangun dan berjalan.“ Namun justru itu, Tuhan Yesus tidak berkata demikian, Ia ingin memberitahukan bahwa di tengah-tengah dunia ini, Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa. Disini terjadi pertentangan konsep berpikir maka supaya tidak terjadi pertentangan, orang kemudian menyamakan konsep berpikirnya atau orang tidak mau berpikir lagi akan hal-hal yang rumit dan bersifat kontroversial. Orang tidak suka kalau hal yang esensial, yaitu iman dipertanyakan.
Francis Schaefer menegaskan I do what I think and I think what I believe, saya melakukan apa yang saya pikir dan apa yang saya pikir itulah yang saya percaya. Kepercayaan terimplikasi pada pemikiran dan pemikiran itu terimplikasi pada tindakan. Tuhan Yesus menyadarkan kita supaya jangan melihat iman sekedar dari permukaan saja, yakni kesembuhan.
Sebab orang lebih mudah melihat hal yang fenomena daripada yang esensi; sebagai contoh, orang yang terkena gejala demam maka tidak setiap orang yang mengalami demam mempunyai penyakit sama, bukan? Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengajak kita untuk beriman bukan karena melihat fenomena atau gejala tetapi lebih dari itu, yaitu esensi. Tuhan Yesus datang untuk menyelesaikan dosa dan berita ini tidak disuka oleh orang Yahudi maupun ahli Taurat. Kenapa mereka sulit menerima perkataan Tuhan Yesus: Dosamu telah diampuni? Bukankah Yesus membuktikan bahwa kalimat tersebut benar adanya?
Ahli Taurat ini menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan karena ia pikir Tuhan Yesus adalah penghujat, I do what I think, dan kenapa ahli taurat ini dapat berpikir kalau Tuhan Yesus adalah penghujat karena dari kepercayaan imannya, I think what I believe. Ahli Taurat ini tidak mau mengakui kalau Yesus adalah Allah. Kalau mereka percaya bahwa Yesus adalah Allah pasti tidak akan ada konflik yang timbul. Konflik ini muncul setelah mereka melihat realita, kalau benar Yesus adalah penghujat seperti dugaan mereka tapi kenapa keadaan justru bertambah baik. Kuncinya adalah apa yang mereka percaya tidak dapat dibereskan sebab ketika orang mulai masuk dalam aspek iman maka didalamnya terkandung unsur kemutlakan. Iman sejati menyangkut kemutlakan, iman sejati menuntut jawaban: ya atau tidak. Hal inilah yang menjadi masalah si ahli Taurat, dia dituntut percaya atau tidak bahwa Yesus adalah Allah. Mengikut Kristus bukan hanya sebatas fenomena tapi mengikut Kristus haruslah sampai pada titik kemutlakan iman. Melalui dialog antara Tuhan Yesus dengan orang lumpuh ini, Matius ingin membukakan pada kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga maka sampai dimanakah wilayah pemisahan itu? Kalau kita telah dikuduskan/dipisahkan maka pemisahan seperti apa? Pemisahan itu haruslah sampai pada kriteria yang paling dalam, yaitu iman. Iman adalah sebuah kemutlakan, tidak bisa digandakan dan tidak bisa dikompromikan.
Jadi, kalau kita mengaku percaya kepada Kristus maka kita harus percaya hanya kepada-Nya saja. Kepercayaan mengandung harus tunggal adanya. Tuhan Yesus menegaskan tak seorang pun dapat mengabdi pada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24). Kalau kita beriman pada Kristus maka apa yang kita pikirkan, apa yang kita lakukan haruslah hanya berorientasi pada Kristus. Demikian juga kalau kita beriman pada uang maka hidup kita hanya berorientasi pada uang semata. Hati-hati dengan pendapat yang mengajarkan bahwa semua agama di dunia sama, yaitu mengajarkan kebaikan sehingga iman itu tidak perlu dimutlakkan dan jangan terlalu fanatik dengan imanmu. Pertanyaannya sekarang apakah dengan adanya pendapat demikian maka kemutlakkan iman menjadi sesuatu yang tidak mutlak lagi sehingga boleh dikompromikan atau bahkan ditiadakan? Tidak! Dalam aspek religius mengandung tiga unsur kemutlakan, yaitu:
1. Kemutlakan Tesis
Sesuatu yang menjadi tesis atau sesuatu yang ada dalam konsep pemikiran seseorang sebenarnya itulah yang menjadi inti imannya. Kalau seseorang percaya pada Kristus maka seluruh hidupnya hanya berorientasi pada Yesus yang menjadi Tuhan dan Raja atas hidupnya. Begitu juga kalau orang beriman pada uang maka seluruh orientasi hidupnya hanya pada uang. Orang Kristen yang mengatakan bahwa Kekristenan tidak beda dengan agama lain maka orang tersebut pasti bukan Kristen sebab ia tidak mengerti tentang Kekristenan sejati. Iman dalam setiap agama haruslah mengandung unsur kemutlakan dan kemutlakan inilah membedakannya dari yang lain. Sebab kalau kemutlakkan itu sama maka agama di dunia tidak banyak tapi realitanya tidaklah demikian.
Orang yang mengatakan bahwa semua agama itu sama sesungguhnya ia juga mempunyai kemutlakan, yaitu kemutlakkan pada dirinya sendiri. Orang demikian akan menjadi marah ketika ada orang yang mengkutak-kutik kemutlakannya. Sebab baginya, semua agama itu sama adalah mutlak padahal ada orang lain yang tidak setuju dengannya. Berarti dia memutlakkan dirinya sendiri dengan mengatakan: “tidak ada yang mutlak“. Jadi, untuk mengatakan tidak ada yang mutlak diperlukan semangat kemutlakan. Itulah manusia berdosa. Pertanyaannya dimana imanmu yang sebenarnya? Karena itu kita perlu kembali pada konsep yang benar, yaitu what do you do, what do you think, and what do you believe harus kita bereskan terlebih dahulu. Marilah kita uji diri kita, sudahkah kita memiliki iman yang sejati? Kepada siapakah kita beriman? Cobalah telusuri dari dasar, pemikiran apa yang mendasari tindakan atau tingkah laku kita? Pertanyaan lebih lanjut why do you think like that? Benarkah Kristus yang menjadi pusat iman kita?
2. Kemutlakan Karateristik
Kemutlakan karateristik merupakan citra Kekristenan yang tidak dipunyai oleh orang lain. Iman yang sejati harus mempunyai karakteristik atau ciri khas yang membedakan dengan iman yang lain karena itu menjadi implikasi sebuah kemutlakkan. Karakteristik ini dapat diuji dengan karakteristik yang dimiliki oleh iman yang lain. Sangatlah mudah bagi Yesus untuk berkata: “Bangun dan berjalanlah“ tapi apa bedanya dengan yang lain sebab orang lain pun dapat melakukan hal demikian. Tuhan Yesus ingin menunjukkan sesuatu yang agung dan itu tidak ada pada iman yang lain, yakni: “Anak Manusia mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa.“ Kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus ini menunjukkan siapa diri-Nya, who Jesus is? Yesus bukan sekedar manusia biasa tapi Ia membuktikan bahwa dirinya lain dari manusia biasa. Jikalau tulah pertama hingga tulah keempat yang dilakukan oleh Musa dapat dilakukan juga oleh para dukun Mesir maka Alkitab mencatat Firaun mengeraskan hati. Dengan kata lain Firaun hendak berkata, “Dewa Mesir pun dapat melakukan seperti yang dilakukan Allah Yahweh maka kenapa kami harus percaya pada Allah Yahweh?“ Mulai tulah kelima hingga tulah kesepuluh, orang Mesir tidak dapat meniru yang Tuhan lakukan dan saat itu Alkitab mencatat Tuhan mengeraskan hati Firaun. Tuhan Allah mau menunjukkan kualitas diri-Nya. Inilah iman sejati. Iman sejati mempunyai kemutlakan karakteristik sejati. Kemutlakan ini tidak dapat dilakukan oleh orang lain.
Kekristenan bukanlah salah satu agama diantara banyaknya agama di dunia. Bukan! Kekristenan adalah satu-satunya yang mempunyai finalitas yang tidak dapat dilakukan orang lain. Dunia mengajarkan kalau kita dipukul sekali maka kita harus membalasnya dua kali sebab pembalasan harus lebih kejam maka ketika ada orang yang mengajarkan pembalasan haruslah impas, gigi balas gigi, mata balas mata maka orang melihat ajaran tersebut baik. Namun Tuhan Yesus mengajarkan kalau engkau ditampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu. Ajaran Tuhan Yesus mengandung kualitas yang agung dan dunia tidak dapat menjalankannya. Celaka, banyak orang Kristen tidak mengerti keagungan ini. Ingat, pembalasan itu adalah hak Tuhan. Keadilan bukan di tangan manusia tapi di tangan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat menilai dengan tepat seberapa ukuran pembalasan yang harus diberikan. Ketika kita diperlakukan tidak adil pertanyaannya benarkah kita tidak bersalah? Atau jangan-jangan memang kita yang bersalah. Kalau kita diperlakukan tidak adil karena kebenaran maka percayalah, Tuhan tidak akan tinggal diam, Dia yang membalaskan-Nya sesuai dengan keadilan-Nya. Dunia tidak mengerti dan tidak dapat melakukannya sebab providensia Allah menjadi batasan sehingga orang yang dapat melakukan yang Kristus ajarkan. Hal ini merupakan salah satu dari finalitas Kekristenan dan masih banyak lagi.
3. Kemutlakan Nilai
Iman sejati mengandung kemutlakan sejati dan kemutlakan sejati itu harus mengandung nilai sejati. Nilai sejati inilah yang mendorong kita untuk mempunyai semangat hidup. Kalau uang yang kita anggap sebagai yang bernilai dalam hidupmu maka segala tindakan yang kita lakukan pastilah berorientasi pada uang bahkan engkau rela mati demi untuk uang. Pertanyaannya setelah kita berjuang mati-matian apa hasil yang kita dapatkan? Apakah kita menjadi lebih baik, lebih kaya, atau lebih hidup? Tidak! Kemungkinan orang lumpuh ini berpikir sangat sederhana, yakni ia hanya ingin sembuh dengan demikian ia tidak bergantung pada orang lain. Namun Tuhan Yesus mengajak dia untuk berpikir lebih jauh lagi, yakni masalah utamanya sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Tentu, dengan mudah Tuhan Yesus dapat menyembuhkannya tapi setelah itu mati, lalu apa gunanya maka inti permasalahannya adalah kita manusia berdosa. Tuhan Yesus melihat bahwa kelumpuhannya mungkin malah membuat dia tidak berdosa tapi kalau ia disembuhkan dan dapat berdiri maka itu justru malah membuat dia lebih berdosa dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Dosamu diampuni“. Orang yang mengerti benar akan nilai yang sejati maka ia tahu dan sadar bahwa hidup bukan sekedar kesehatan, keuangan atau kekayaan. Hidup itu kembalinya kita pada Sumber Hidup. Hidup mencapai nilai tertinggi ketika iman kita berpaut pada Allah yang sejati. Dimanakah imanmu? Kepada siapakah anda mempertaruhkan hidup anda? Ingat, kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan, kita harus memilih beriman pada Mamon dan berakhir dengan kebinasaan ataukah pada Allah Sang Sumber Hidup? Pilihan kita menentukan nilai hidup kita. Iman Kristen adalah iman yang terimplikasi dan terlaksana dalam kehidupan kita sehari-hari. Biarlah kita merubah seluruh citra hidup kita dengan demikian kita dapat menjadi saksi-Nya. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber :

No comments: