24 March 2013
Resensi Buku-212: KESELAMATAN MILIK ALLAH KAMI (Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D.)
Setiap orang
Kristen yang sungguh-sungguh adalah mereka yang telah diselamatkan oleh
anugerah Allah di dalam Kristus. Pertanyaan selanjutnya, apa makna keselamatan
tersebut?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
KESELAMATAN MILIK ALLAH KAMI:
Merayakan Kisah Utama Alkitab
oleh: Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D.
Penerbit: Literatur Perkantas Jatim, 2011
Penerjemah: Christine Ike dan The Boen Giok
Mengawali
pembahasannya, Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D. mengambil nats di Wahyu
7:10, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas
takhta dan bagi Anak Domba!” sebagai dasar untuk menjelaskan keselamatan
secara Alkitabiah. Satu ayat ini diuraikan oleh Dr. Wright ke dalam 7 bab, di
mana di bab awal, beliau menjelaskan bahwa keselamatan itu diperuntukkan bagi
manusia. Oleh karena itu, untuk memperjelaskan bab 1 ini, beliau menguraikan
makna keselamatan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kemudian, di bab
2, Dr. Wright menjelaskan bagian pertama dari Wahyu 7:10 ini yaitu “Keselamatan
bagi Allah kami” dengan menguraikan
bahwa keselamatan berkaitan erat dengan identitas unik Allah yang mengadakan
perjanjian. Prinsip perjanjian atau kovenan Allah ini dijelaskan lebih detail
baik secara berkat perjanjian maupun kisah perjanjian di bab 3 dan 4. Namun
perlu diperhatikan bahwa keselamatan bukan hanya sekumpulan doktrin yang
diimani, tetapi juga perlu dialami, oleh karena itu di bab 5, Dr. Wright
menjelaskan bagaimana orang Kristen dapat mengalami keselamatan tersebut dan
mengalami jaminan keselamatan. Keselamatan bukan hanya sekadar pengalaman,
tetapi berkaitan erat juga dengan Allah yang berdaulat yang menyelamatkan
tersebut. Dengan mengacu pada bagian kedua di Wahyu 7:10, “yang duduk di atas
takhta” dan penyelidikan PL dan PB, Dr. Wright menjelaskan prinsip keselamatan
di dalam kedaulatan Allah dan beliau juga menguraikan bagaimana dengan mereka
yang belum menerima Kristus. Dan terakhir, Dr. Wright menjelaskan bagian
terakhir dari Wahyu 7:10, “bagi Anak Domba” dengan mengaitkan keselamatan yang
berpusat pada Kristus yang memiliki signifikansi bagi penginjilan dan misi
sosial kita. Biarlah buku ini dapat mencerahkan hati dan pikiran kita tentang
betapa dahsyatnya karya keselamatan yang Allah kerjakan di dalam hidup umat-Nya
sekaligus kita bersyukur atas karya-Nya itu.
Profil Dr. Christopher J. H. Wright:
Rev. Christopher J. H. Wright, Ph.D. yang
lahir di Belfast,
Irlandia Utara pada tahun 1947 adalah Direktur
Internasional dari Langham Partnership
International, induk organisasi dari John Stott Ministries, sebuah lembaga
yang menyediakan literatur, beasiswa, dan pelatihan khotbah untuk para pendeta
dan seminari di negara berkembang. Beliau juga menjabat sebagai anggota
kehormatan di All Souls Church, Langham Place, London, Inggris dan ketua dari: Lausanne Movement’s Theology Working Group
dan the Theological Resource Panel of
TEAR Fund. Beliau menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) bidang Old Testament economic ethics di Cambridge University. Beliau ditahbiskan di Anglican
Church of England pada tahun 1977. Beliau
menikah dengan Liz dan dikaruniai: 4 orang anak dan 6 orang cucu. Beliau juga
menulis banyak buku:
·
User’s Guide to the
Bible
(Lion Manuals), Chariot Victor, 1984
·
God’s People in God’s
Land: Family, Land and Property in the Old Testament. Grand Rapids:
Eerdmans; Exeter, U.K.: Paternoster, 1990
·
Knowing Jesus through
the Old Testament,
Harpercollins, 1990
·
Walking in the Ways
of the Lord: The Ethical Authority of the Old Testament, Intervarsity Press,
1995
·
Deuteronomy (New International
Biblical Commentary), Hendrickson, 1996
·
The Uniqueness of
Jesus. Thinking Clearly Series.
Mill Hill, London and Grand Rapids: Monarch. Reprint 2001. Available in the
United States through Kregel Publications, P.O. Box 2607, Grand Rapids, MI
49501), 1997
·
The Message of
Ezekiel
(The Bible Speaks Today), Intervarsity Press, 2001
·
Old Testament Ethics
for the People of God.
Leicester, England, and Downers Grove, Ill.: Inter-Varsity Press. Revised,
updated and expanded version of Living as the People of God and An Eye for an
Eye, 2004
·
The Mission of God:
Unlocking the Bible's Grand Narrative,
IVP Academic, 2006
·
Life Through God’s
Word: Psalm 119,
Milton Keynes, Authentic and Keswick Ministries, 2006
·
Knowing the Holy
Spirit through the Old Testament,
Oxford: Monarch Press; Downers Grove: IVP, 2006
·
Knowing God the
Father Through the Old Testament,
IVP Academic, 2007
·
Salvation Belongs to
Our God: Celebrating the Bible’s Central Story, Global Christian
Library, Nottingham: IVP; Christian Doctrine in Global Perspective, Downers
Grove: IVP, 2008
·
The God I Don’t
Understand: Reflections on Tough Questions of Faith, Grand Rapids: Zondervan,
2009
Mission of God’s
People The (Biblical Theology for Life), Grand Rapids: Zondervan, 2010
17 March 2013
Resensi Buku-211: JALAN TUHAN (Bishop Dr. N. T. Wright, D.Phil., D.D.)
Jalan Tuhan memang bukanlah jalan yang mudah, karena apa yang dikehendaki-Nya berbeda dari apa yang kita kehendaki sebagai manusia. Bagaimana mengerti jalan Tuhan?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
JALAN TUHAN:
Panduan Untuk Ziarah Geografis dan Spiritual
oleh: Bishop Dr. Nicholas Thomas (N. T.) Wright, D.Phil., D.D.
Penerbit: Waskita Publishing, Jakarta, 2010
Penerjemah: Ev. Paul Santoso Hidayat, M.Th.
Di bagian awal bukunya, salah satu pakar Biblika khususnya dalam bidang Perjanjian Baru (surat-surat Paulus), Dr. N. T. Wright menjelaskan pentingnya ziarah bagi orang Kristen untuk mengerti jalan Tuhan. Beliau mengungkapkan pengalamannya ketika beliau berziarah secara geografis di Israel. Pengalaman ziarahnya ini dibagikan kepada pembaca sekalian tentang tempat-tempat yang dikunjunginya dan relevansinya bagi orang Kristen di zaman ini. Ada sembilan jalan yang dipaparkan Dr. Wright yang dimulai dari jalan ketika seseorang bertemu dengan Kristus, yaitu Paulus (jalan ke Damaskus), kemudian menelusuri jalan-jalan di mana Tuhan Yesus bekerja mulai dari Sungai Yordan, Padang Gurun, Galilea, Yerusalem, naik ke Gunung Tabor, Getsemani, hingga jalan salib, dan jalan dari Kuburan (kebangkitan Kristus). Setiap jalan ditelusuri oleh Dr. Wright dengan mengungkapkan kaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang lokasi tersebut, lalu Dr. Wright memberikan relevansinya bagi pembaca Kristen di zaman sekarang. Biarlah buku devosional ini dapat mengarahkan kita untuk mengikuti jejak jalan Tuhan yang terindah bagi hidup kita.
Profil Dr. N. T. Wright:
Bishop Dr. Nicholas Thomas (N. T.) Wright, D.Phil., D.D. yang lahir pada tanggal 1 Desember 1948 di Morpeth, Northumberland, Inggris adalah Bishop di Durham, Inggris, anggota dari International Anglican Theological and Doctrinal Commission, dan Fellow di Institute for Christian Studies, Toronto. Beliau menyelesaikan semua studinya di Exeter College (dari 1975, Merton College), University of Oxford, U.K. dan meraih gelar: B.A. dalam bidang Literae Humaniores, B.A. dalam bidang Theologi, M.A., Doctor of Philosophy (D.Phil.), dan Doctor of Divinity (D.D.). Beliau dianugerahi gelar D.D. dari: Aberdeen University (2001), Nashotah House (2006), Wycliffe College di Toronto (2006), Durham University (2007), John Leland Center for Theological Studies, Washington DC (2008), dan St. Andrews University (2009). Beliau juga mendapat Honorary Fellow dari Downing College, Cambridge (2003) dan Merton College, Oxford (2004). Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar Doctor of Humane Letters (L.H.D.) dari Gordon College, Massachusetts, U.S.A. pada tahun 2003. Website beliau: www.ntwrightpage.com
Temukan jawabannya dalam:
Buku
JALAN TUHAN:
Panduan Untuk Ziarah Geografis dan Spiritual
oleh: Bishop Dr. Nicholas Thomas (N. T.) Wright, D.Phil., D.D.
Penerbit: Waskita Publishing, Jakarta, 2010
Penerjemah: Ev. Paul Santoso Hidayat, M.Th.
Di bagian awal bukunya, salah satu pakar Biblika khususnya dalam bidang Perjanjian Baru (surat-surat Paulus), Dr. N. T. Wright menjelaskan pentingnya ziarah bagi orang Kristen untuk mengerti jalan Tuhan. Beliau mengungkapkan pengalamannya ketika beliau berziarah secara geografis di Israel. Pengalaman ziarahnya ini dibagikan kepada pembaca sekalian tentang tempat-tempat yang dikunjunginya dan relevansinya bagi orang Kristen di zaman ini. Ada sembilan jalan yang dipaparkan Dr. Wright yang dimulai dari jalan ketika seseorang bertemu dengan Kristus, yaitu Paulus (jalan ke Damaskus), kemudian menelusuri jalan-jalan di mana Tuhan Yesus bekerja mulai dari Sungai Yordan, Padang Gurun, Galilea, Yerusalem, naik ke Gunung Tabor, Getsemani, hingga jalan salib, dan jalan dari Kuburan (kebangkitan Kristus). Setiap jalan ditelusuri oleh Dr. Wright dengan mengungkapkan kaitan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang lokasi tersebut, lalu Dr. Wright memberikan relevansinya bagi pembaca Kristen di zaman sekarang. Biarlah buku devosional ini dapat mengarahkan kita untuk mengikuti jejak jalan Tuhan yang terindah bagi hidup kita.
Profil Dr. N. T. Wright:
Bishop Dr. Nicholas Thomas (N. T.) Wright, D.Phil., D.D. yang lahir pada tanggal 1 Desember 1948 di Morpeth, Northumberland, Inggris adalah Bishop di Durham, Inggris, anggota dari International Anglican Theological and Doctrinal Commission, dan Fellow di Institute for Christian Studies, Toronto. Beliau menyelesaikan semua studinya di Exeter College (dari 1975, Merton College), University of Oxford, U.K. dan meraih gelar: B.A. dalam bidang Literae Humaniores, B.A. dalam bidang Theologi, M.A., Doctor of Philosophy (D.Phil.), dan Doctor of Divinity (D.D.). Beliau dianugerahi gelar D.D. dari: Aberdeen University (2001), Nashotah House (2006), Wycliffe College di Toronto (2006), Durham University (2007), John Leland Center for Theological Studies, Washington DC (2008), dan St. Andrews University (2009). Beliau juga mendapat Honorary Fellow dari Downing College, Cambridge (2003) dan Merton College, Oxford (2004). Selain itu, beliau juga dianugerahi gelar Doctor of Humane Letters (L.H.D.) dari Gordon College, Massachusetts, U.S.A. pada tahun 2003. Website beliau: www.ntwrightpage.com
10 March 2013
Resensi Buku-210: BERDOA YANG BENAR (Ev. Toga R. Hutauruk, S.Th.)
Setiap orang Kristen pasti mengetahui Doa Bapa Kami karena doa ini langsung diajarkan oleh Tuhan Yesus. Namun, di dalam Injil, kita menemukan dua versi Doa Bapa Kami yaitu di Matius dan Lukas. Mana yang asli? Apa signifikansi doa tersebut?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
BERDOA YANG BENAR:
Ajaran Doa Bapa Kami Dalam Injil Matius dan Implikasinya Bagi Umat dan Gereja Kristen Masa Kini
oleh: Ev. Toga R. Hutauruk, S.Th.
Penerbit: Mikhael Ministry, Surabaya, 2006
Di awal buku ini, mantan dosen saya bidang Pengantar Perjanjian Baru 2 di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) memaparkan sejarah penafsiran dan penggunaan Doa Bapa Kami dari gereja mula-mula, abad pertengahan, reformasi, hingga abad modern. Kemudian, di bab berikutnya, beliau menjelaskan kritik redaksi Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dengan membandingkan dua naskah Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dan Lukas dengan Q (Quelle). Dari penyelidikan, Ev. Toga menyimpulkan bahwa meskipun Doa Bapa Kami di Injil Matius berkembang luas di era gereja mula-mula, teks doa ini sebenarnya peredaksian Matius dari Q dan Injil Lukas demi kepentingan liturgi. Kemudian, di bab ini pula, Ev. Toga menjelaskan masing-masing isi Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dengan pendekatan eksegetis Biblika. Setelah itu, di bab terakhir, beliau memberikan implikasi doa ini bagi komunitas di mana Injil Matius ini ditulis dan juga bagi orang Kristen di zaman ini. Meskipun bagi orang Kristen awam, buku ini termasuk buku yang rumit karena perlu studi kritik teks PB, namun buku ini bermanfaat bagi mereka yang menekuni studi Biblika PB dan juga aplikatif bagi orang Kristen di zaman ini.
Rekomendasi:
“Jika beberapa buku hanya menekankan makna kekinian Doa Bapa Kami dan beberapa buku yang lain hanya merupakan petunjuk meditasi saja, maka buku ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Buku ini adalah yang keenam yang telah diterbitkan oleh Pelayanan Mandiri “Mikhael.” Dalam seri penulisan buku-buku theologis populer yang menjadi ciri khas Mikhael Ministry, isi buku ini termasuk ke dalam bidang studi Theologi Doa. Dengan demikian, diharapkan buku ini dapat dipakai sebagai salah satu bahan mengajar di sekolah-sekolah theologi atau kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab di gereja di samping sebagai bahan bacaan populer. Kiranya kehadiran buku ini dalam kancah diskusi theologi di Indonesia menjadi berkat, khususnya bagi para hamba Tuhan yang bertanggung jawab untuk mengajarkan Doa Bapa Kami secara tepat dan benar kepada jemaatnya.”
Pdt. Ichwei Gusti Indra, Th.D.
(Direktur Mikhael Ministry, Surabaya)
“Doa Bapa Kami dalam Injil Matius merupakan sebuah doa yang penting. Doa ini menjadi sangat penting karena diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, sehingga kita harus mengerti hal-hal apa yang menjadi keinginan hati Tuhan ketika kita datang berdoa kepada-Nya. Buku ini, yang ditulis oleh Toga R. Hutauruk, menunjukkan suatu usaha yang serius untuk menolong pembaca mengerti maksud dan tujuan yang mula-mula dari penulis Injil. Saya percaya bahwa buku ini akan menjadi sarana yang amat bermanfaat bagi setiap orang Kristen yang rindu untuk memahami ajaran Doa Bapa Kami secara tepat dan benar.”
Pdt. William Liem, D.Min.
(gembala sidang GKA Gloria, Surabaya)
“Banyak buku telah ditulis guna membahas Doa Bapa Kami, baik yang bersifat akademis maupun praktis, namun buku Berdoa yang Benar berhasil menawarkan sesuatu yang berbeda. Buku ini, yang merupakan modifikasi dari skripsi Toga, lahir dari sebuah kombinasi yang ideal antara penyelidikan akademis yang mendalam dan kepekaan terhadap kebutuhan spiritualitas sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kritik redaksi, Toga berhasil menampilkan keunikan Doa Bapa Kami versi Matius. Karena itu, dengan penuh sukacita dan kebanggaan saya menyambut kehadiran buku ini.”
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
(gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya)
Profil Ev. Toga R. Hutauruk:
Ev. Toga Reynold Hutauruk, S.Th., M.Div. menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA), Pacet, Mojokerto tahun 2005 (ketika buku ini ditulis) dan telah menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau pernah mengajar di STTIAA dan Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR), Surabaya. Saat ini, beliau melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru, Jakarta. Beliau menikah dengan Rahmawaty Christina Siringoringo.
Temukan jawabannya dalam:
Buku
BERDOA YANG BENAR:
Ajaran Doa Bapa Kami Dalam Injil Matius dan Implikasinya Bagi Umat dan Gereja Kristen Masa Kini
oleh: Ev. Toga R. Hutauruk, S.Th.
Penerbit: Mikhael Ministry, Surabaya, 2006
Di awal buku ini, mantan dosen saya bidang Pengantar Perjanjian Baru 2 di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) memaparkan sejarah penafsiran dan penggunaan Doa Bapa Kami dari gereja mula-mula, abad pertengahan, reformasi, hingga abad modern. Kemudian, di bab berikutnya, beliau menjelaskan kritik redaksi Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dengan membandingkan dua naskah Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dan Lukas dengan Q (Quelle). Dari penyelidikan, Ev. Toga menyimpulkan bahwa meskipun Doa Bapa Kami di Injil Matius berkembang luas di era gereja mula-mula, teks doa ini sebenarnya peredaksian Matius dari Q dan Injil Lukas demi kepentingan liturgi. Kemudian, di bab ini pula, Ev. Toga menjelaskan masing-masing isi Doa Bapa Kami di dalam Injil Matius dengan pendekatan eksegetis Biblika. Setelah itu, di bab terakhir, beliau memberikan implikasi doa ini bagi komunitas di mana Injil Matius ini ditulis dan juga bagi orang Kristen di zaman ini. Meskipun bagi orang Kristen awam, buku ini termasuk buku yang rumit karena perlu studi kritik teks PB, namun buku ini bermanfaat bagi mereka yang menekuni studi Biblika PB dan juga aplikatif bagi orang Kristen di zaman ini.
Rekomendasi:
“Jika beberapa buku hanya menekankan makna kekinian Doa Bapa Kami dan beberapa buku yang lain hanya merupakan petunjuk meditasi saja, maka buku ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Buku ini adalah yang keenam yang telah diterbitkan oleh Pelayanan Mandiri “Mikhael.” Dalam seri penulisan buku-buku theologis populer yang menjadi ciri khas Mikhael Ministry, isi buku ini termasuk ke dalam bidang studi Theologi Doa. Dengan demikian, diharapkan buku ini dapat dipakai sebagai salah satu bahan mengajar di sekolah-sekolah theologi atau kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab di gereja di samping sebagai bahan bacaan populer. Kiranya kehadiran buku ini dalam kancah diskusi theologi di Indonesia menjadi berkat, khususnya bagi para hamba Tuhan yang bertanggung jawab untuk mengajarkan Doa Bapa Kami secara tepat dan benar kepada jemaatnya.”
Pdt. Ichwei Gusti Indra, Th.D.
(Direktur Mikhael Ministry, Surabaya)
“Doa Bapa Kami dalam Injil Matius merupakan sebuah doa yang penting. Doa ini menjadi sangat penting karena diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri, sehingga kita harus mengerti hal-hal apa yang menjadi keinginan hati Tuhan ketika kita datang berdoa kepada-Nya. Buku ini, yang ditulis oleh Toga R. Hutauruk, menunjukkan suatu usaha yang serius untuk menolong pembaca mengerti maksud dan tujuan yang mula-mula dari penulis Injil. Saya percaya bahwa buku ini akan menjadi sarana yang amat bermanfaat bagi setiap orang Kristen yang rindu untuk memahami ajaran Doa Bapa Kami secara tepat dan benar.”
Pdt. William Liem, D.Min.
(gembala sidang GKA Gloria, Surabaya)
“Banyak buku telah ditulis guna membahas Doa Bapa Kami, baik yang bersifat akademis maupun praktis, namun buku Berdoa yang Benar berhasil menawarkan sesuatu yang berbeda. Buku ini, yang merupakan modifikasi dari skripsi Toga, lahir dari sebuah kombinasi yang ideal antara penyelidikan akademis yang mendalam dan kepekaan terhadap kebutuhan spiritualitas sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan kritik redaksi, Toga berhasil menampilkan keunikan Doa Bapa Kami versi Matius. Karena itu, dengan penuh sukacita dan kebanggaan saya menyambut kehadiran buku ini.”
Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.
(gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya)
Profil Ev. Toga R. Hutauruk:
Ev. Toga Reynold Hutauruk, S.Th., M.Div. menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi Injili Abdi Allah (STT-IAA), Pacet, Mojokerto tahun 2005 (ketika buku ini ditulis) dan telah menyelesaikan studi Master of Divinity (M.Div.) di Sekolah Tinggi Theologi Bandung. Beliau pernah mengajar di STTIAA dan Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR), Surabaya. Saat ini, beliau melayani di Gereja Santapan Rohani Indonesia (GSRI) Kebayoran Baru, Jakarta. Beliau menikah dengan Rahmawaty Christina Siringoringo.
03 March 2013
Buku ke-20: SALIB DAN KUBUR KOSONG: Merenungkan Kematian dan Kebangkitan Kristus (Denny Teguh utandio)
Dibandingkan dengan hari kelahiran Tuhan Yesus,
maka kematian Kristus di kayu salib dan kebangkitan-Nya merupakan inti
Kekristenan yang sering kali diserang oleh banyak orang non-Kristen dengan
berbagai tuduhan/keberatan, misalnya Yesus hanya pingsan, Yudas lah yang
disalib, para pelayat kubur salah mengunjungi kubur Yesus, mayat Yesus dicuri
para murid-Nya, dll. Tuduhan-tuduhan tanpa dasar sejarah dan tidak masuk akal
ini terus ditujukan kepada orang Kristen, seolah-olah para penuduh mengerti
fakta sejarah, padahal sejujurnya tidak! Bagaimana menjawab dan menantang para
penuduh dengan tuduhan-tuduhannya yang aneh tersebut? Lalu, apa signifikansi
kematian dan kebangkitan Kristus itu sendiri bagi umat pilihan-Nya?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
SALIB DAN KUBUR KOSONG:
Merenungkan Kematian dan Kebangkitan Kristus
oleh: Denny Teguh Sutandio
Penerbit:
Sola Scriptura
Harga:
Rp 40.000, 00/buku + ongkos kirim (tergantung lokasi)
Berminat?
Segera dapatkan buku ini dengan membelinya di:
Denny Teguh Sutandio (0878-5187-3719)
NB: Buku akan dikirimkan ke alamat pemesan setelah
pemesan melakukan transfer biaya pesanannya paling lambat satu minggu setelah pemesan
mendapat SMS balasan dari saya
Apa kata mereka tentang buku ini?
““If we are looking for a definition
of love, we should look not in a dictionary, but at Calvary.” (John Stott)
Kutipan dari John Stott ini, terlihat begitu nyata dalam pemaparan Denny Teguh
Sutandio di buku “Salib dan Kubur Kosong”. Penggaliannya yang dalam,
pemaparannya yang lugas dan refleksinya yang menantang, merupakan ciri khas
tulisan Denny Teguh Sutandio.
Kiranya melalui buku “Salib dan Kubur Kosong” yang membahas dua
momen penting dalam sejarah ini (yaitu Kematian dan Kebangkitan Yesus), iman
kita diteguhkan untuk hidup sebagai saksi-saksinya di tengah dunia ini.”
Ev. Alexander A. E.
Nanlohy, S.Sos., M.A.
Pemimpin Cabang PERKANTAS (Persekutuan Kristen Antar
Universitas) Jakarta
“Jikalau kita cermati, memang rangkaian perayaan Paskah
di gereja-gereja di Indonesia tidaklah seramai dan kurang semarak seperti
halnya perayaan Natal. Apakah ini berarti sedang tumbuh sebuah pemahaman bahwa
Peristiwa Natal, jauh lebih penting dari pada Paskah? Padahal Kelahiran sang
Juruselamat tanpa adanya Pengorbanan dan Kematian dari sang Kristus, tidaklah
berarti apa-apa. Pada titik inilah, Denny Teguh Sutandio mengajak kita pembaca
menelusuri makna salib sampai pada Kubur Kristus yang kosong, karena IA telah
bangkit.
Sangatlah tepat membaca buku ini dalam rangka
mempersiapkan diri menyambut Kemenangan Paskah. Dengan pemaparan yang baik dan
bahasa yang lugas, kita diajak merenungkan ulang puncak karya Keselamatan
Ilahi bagi umat manusia.”
Pdt. David Santoso Kosasih, S.Th., M.Div.
Gembala Sidang Gereja Kristen Kalam Kudus Jemaat Kemayoran Baru, Surabaya
Pdt. David Santoso Kosasih, S.Th., M.Div.
Gembala Sidang Gereja Kristen Kalam Kudus Jemaat Kemayoran Baru, Surabaya
“Kepercayaan
Kristen yang mendasarkan kepada kematian Yesus di kayu salib adalah kepercayaan
yang tidak masuk akal” demikianlah pernyataan orang-orang yang tidak percaya
bahwa Kematian Yesus di kayu salib adalah KEMATIAN yang menghasilkan PENEBUSAN
DOSA.
“Kalau
Yesus adalah Anak Allah, bagaimana Dia
bisa mati? Masak “Allah” mati??”
“Cerita
tentang kematian Yesus dan kebangkitan-Nya adalah khayalan orang Kristen”
Demikianlah
tanggapan dari orang-orang yang skeptik, mereka sampai pada
kesimpulan-kesimpulan demikian karena menganggap peristiwa itu adalah khayalan
orang Kristen yang tidak masuk akal.
Denny
Teguh Sutandio adalah seorang penulis muda yang produktif, mencoba menceritakan
kembali tentang peristiwa kematian Kristus beranjak dari logika-logika yang
terbangun pada sikap skeptik. Penjelasan-penjelasan yang berbobot theologis
dituliskan dengan bahasa yang sangat membumi dan terus terang untuk menolong
orang-orang skeptik dapat mempertimbangkan logika yang sudah terbangun dalam
pikiran mereka, tanpa ada kesan menggurui tapi terlihat didasari dengan
ketulusan iman untuk menjelaskan betapa BERMAKNANYA KEMATIAN KRISTUS bagi
kebutuhan manusia yang berdosa.
Secara
pribadi saya menganjurkan bukan hanya kepada yang masih ragu-ragu terhadap arti
Kematian Kristus tapi juga kepada setiap saudara yang beriman kepada Kristus
untuk membaca buku ini dengan seksama, karena saya yakin saudara akan diberkati
luar biasa.”
Pdt. Samuel Handoko Mulyanto
Sekretaris
umum Sinode Gereja Mawar Sharon, Surabaya
Ketua
Departemen Edukasi Sinode Gereja Mawar Sharon
Kepala
Paul&Barnabas school Gereja Mawar
Sharon
Resensi Buku-209: KEBAIKAN TUHAN YANG SESUNGGUHNYA TAK LAYAK BAGI KITA (Rev. Charles H. Spurgeon)
Agama Kristen adalah satu-satunya agama yang tidak menekankan pentingnya perbuatan baik agar dapat diselamatkan dari dosa, melainkan satu-satunya iman yang menekankan pentingnya anugerah Allah di atas segala-galanya. Apa arti anugerah tersebut? Seberapa signifikan anugerah Allah itu bagi hidup umat pilihan-Nya?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
KEBAIKAN TUHAN YANG SESUNGGUHNYA TAK LAYAK BAGI KITA
oleh: Rev. Charles Haddon Spurgeon
Penerbit: Light Publishing, Jakarta, 2010
Penerjemah: Michael Hartono Wong
Di dalam buku ini, Rev. Charles H. Spurgeon memaparkan segala hal tentang pengertian anugerah Allah di dalam Kristus bagi umat pilihan-Nya di mana anugerah Allah pertama-tama mencakup perjanjian/kovenan Allah bagi umat-Nya. Adalah suatu anugerah Allah yang tak terkira ketika Ia mau mengikat kovenan-Nya dengan umat pilihan-Nya yang masih berdosa. Kovenan itu berakibat pada karya penebusan Allah yang telah direncanakan Bapa, digenapi di dalam Kristus, dan disempurnakan oleh Roh Kudus. Karena keselamatan di dalam Kristus merupakan anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus, hendaklah umat-Nya tidak membanggakan diri melalui perbuatan baik, karena perbuatan baik manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Allah yang Mahakudus. Setelah kita diselamatkan oleh anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus, sebagai umat-Nya, hendaklah kita meresponinya dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya demi memberitakan Injil, dll sambil menyadari bahwa apa yang kita kerjakan itu pun tetap adalah anugerah Allah. Biarlah buku sederhana ini dapat menyadarkan kita kembali akan pentingnya anugerah Allah di dalam keselamatan dan keseluruhan hidup Kristen kita.
Profil Rev. Charles H. Spurgeon:
Rev. Charles Haddon Spurgeon lahir pada tanggal 19 Juni 1834 di Kelvedon, Essex, Inggris sebagai anak sulung dari delapan bersaudara. Orangtuanya adalah orang Kristen yang setia dan ayahnya adalah seorang pengkhotbah. Spurgeon bertobat pada tahun 1850 pada usia 15 tahun dan ia mulai membantu orang miskin dan membagi-bagikan traktat dan dikenal sebagai “Pengkhotbah Cilik.” Pada usia 18 tahun, ia menjadi gembala Waterbeach Baptist Chapel, berkhotbah di sebuah gudang dan kemudian pada tahun 1854, ia telah terkenal dan diminta untuk menjadi gembala di New Park Street Chapel di London. Dua tahun kemudian, ia menikah dengan Susannah Thompson dan dikaruniai putra kembar di mana kedua putranya ini masuk dalam pelayanan. Metropolitan Tabernacle dibangun pada tahun 1861 untuk menampung 10.000 orang yang antusias mendengar khotbah Rev. Spurgeon. Ia meninggal di Mentone, Perancis pada tahun 1892.
Temukan jawabannya dalam:
Buku
KEBAIKAN TUHAN YANG SESUNGGUHNYA TAK LAYAK BAGI KITA
oleh: Rev. Charles Haddon Spurgeon
Penerbit: Light Publishing, Jakarta, 2010
Penerjemah: Michael Hartono Wong
Di dalam buku ini, Rev. Charles H. Spurgeon memaparkan segala hal tentang pengertian anugerah Allah di dalam Kristus bagi umat pilihan-Nya di mana anugerah Allah pertama-tama mencakup perjanjian/kovenan Allah bagi umat-Nya. Adalah suatu anugerah Allah yang tak terkira ketika Ia mau mengikat kovenan-Nya dengan umat pilihan-Nya yang masih berdosa. Kovenan itu berakibat pada karya penebusan Allah yang telah direncanakan Bapa, digenapi di dalam Kristus, dan disempurnakan oleh Roh Kudus. Karena keselamatan di dalam Kristus merupakan anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus, hendaklah umat-Nya tidak membanggakan diri melalui perbuatan baik, karena perbuatan baik manusia tidak berarti apa-apa di hadapan Allah yang Mahakudus. Setelah kita diselamatkan oleh anugerah Allah di dalam iman kepada Kristus, sebagai umat-Nya, hendaklah kita meresponinya dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya demi memberitakan Injil, dll sambil menyadari bahwa apa yang kita kerjakan itu pun tetap adalah anugerah Allah. Biarlah buku sederhana ini dapat menyadarkan kita kembali akan pentingnya anugerah Allah di dalam keselamatan dan keseluruhan hidup Kristen kita.
Profil Rev. Charles H. Spurgeon:
Rev. Charles Haddon Spurgeon lahir pada tanggal 19 Juni 1834 di Kelvedon, Essex, Inggris sebagai anak sulung dari delapan bersaudara. Orangtuanya adalah orang Kristen yang setia dan ayahnya adalah seorang pengkhotbah. Spurgeon bertobat pada tahun 1850 pada usia 15 tahun dan ia mulai membantu orang miskin dan membagi-bagikan traktat dan dikenal sebagai “Pengkhotbah Cilik.” Pada usia 18 tahun, ia menjadi gembala Waterbeach Baptist Chapel, berkhotbah di sebuah gudang dan kemudian pada tahun 1854, ia telah terkenal dan diminta untuk menjadi gembala di New Park Street Chapel di London. Dua tahun kemudian, ia menikah dengan Susannah Thompson dan dikaruniai putra kembar di mana kedua putranya ini masuk dalam pelayanan. Metropolitan Tabernacle dibangun pada tahun 1861 untuk menampung 10.000 orang yang antusias mendengar khotbah Rev. Spurgeon. Ia meninggal di Mentone, Perancis pada tahun 1892.
24 February 2013
Book Description-208: NEW TESTAMENT TEXTUAL CRITICISM (Prof. David Alan Black, D.Theol.)
The true Christians believe that the Holy Bible is infallible and inerrant according to the original text (autograph), but we know that there are no autographs of the Holy Bible anymore. Therefore, how do we know that our Bible, especially New Testament, is true according to the autographs?
Find the answer in the:
Book
NEW TESTAMENT TEXTUAL CRITICISM:
A Concise Guide
by: Prof. David Alan Black, D.Theol.
Publisher: Baker Academic, 1994
In this small book, Dr. David Alan Black explains that eventhough there is no authographs anymore, we as Christians should believe that there are many manuscripts of the Greek New Testament. Those manuscripts should be tested which one is compatible with the autographs. It is called textual criticism. The significance of New Testament textual criticism is explained by Dr. Black in the first chapter of his book. In that chapter, he also explains materials that are used to write New Testament. Then, in the second chapter, he explains about the history of New Testament textual criticism since the earliest centuries until the modern era. In that chapter, he also explains about methods of that theory, such as external evidences and internal evidences. Also, in the last chapter, he gives 4 examples of New Testament passages which are tested according to the theory of New Testament textual criticism. In the appendixes, he tells us about types of errors in the New Testament manuscripts, text types, and some worksheets for students.
Biography of the author:
Prof. David Alan Black, D.Theol. who was born in Honolulu on 1952 is Professor of New Testament and Greek at Southeastern Baptist Theological Seminary in Wake Forest, North Carolina. He was raised in Kailua on the island of Oahu in Hawai. In 1975 he finished his studies at the Biola University with a Bachelor of Arts (B.A.) in Biblical Studies, and then enrolled in Biola’s graduate school, Talbot School of Theology, where he majored in New Testament and Greek. In 1983 he received a Doctor of Theology (D.Theol.) at the University of Basel in Switzerland. He later took courses at Jerusalem University College on Mount Zion in Israel. Dave has been an avid horseman and Civil War reenactor. He and his wife live on a 123-acre working farm in southern Virginia and are self-supporting missionaries to Ethiopia and the world. He wrote many books, such as:
• The Myth of Adolescence (Yorba Linda: Davidson Press, 1999)
• Using New Testament Greek in Ministry: A Practical Guide for Students and Pastors (Grand Rapids: Baker, 1993)
• Learn to Read New Testament Greek (Nashville: Broadman & Holman, 1994)
• Learn to Read New Testament Greek: Expanded Edition (Nashville: Broadman & Holman, 1994)
• Linguistics for Students of New Testament Greek: Revised Edition (Grand Rapids: Baker, 1995)
• It's Still Greek to Me: An Easy-to-Understand Guide to Intermediate Greek (1998)
• Why Four Gospels?: The Historical Origins of the Gospels Energerion Press (2010)
• Rethinking New Testament Textual Criticism, ed. by David Alan Black, Baker Academic (2002)
• New Testament Textual Criticism. A Concise Guide, Baker Books (2006)
• Christian Archy, Areopagus (2009)
• The Jesus Paradigm (2009), Energion Direct
His weblog: http://www.daveblackonline.com
Find the answer in the:
Book
NEW TESTAMENT TEXTUAL CRITICISM:
A Concise Guide
by: Prof. David Alan Black, D.Theol.
Publisher: Baker Academic, 1994
In this small book, Dr. David Alan Black explains that eventhough there is no authographs anymore, we as Christians should believe that there are many manuscripts of the Greek New Testament. Those manuscripts should be tested which one is compatible with the autographs. It is called textual criticism. The significance of New Testament textual criticism is explained by Dr. Black in the first chapter of his book. In that chapter, he also explains materials that are used to write New Testament. Then, in the second chapter, he explains about the history of New Testament textual criticism since the earliest centuries until the modern era. In that chapter, he also explains about methods of that theory, such as external evidences and internal evidences. Also, in the last chapter, he gives 4 examples of New Testament passages which are tested according to the theory of New Testament textual criticism. In the appendixes, he tells us about types of errors in the New Testament manuscripts, text types, and some worksheets for students.
Biography of the author:
Prof. David Alan Black, D.Theol. who was born in Honolulu on 1952 is Professor of New Testament and Greek at Southeastern Baptist Theological Seminary in Wake Forest, North Carolina. He was raised in Kailua on the island of Oahu in Hawai. In 1975 he finished his studies at the Biola University with a Bachelor of Arts (B.A.) in Biblical Studies, and then enrolled in Biola’s graduate school, Talbot School of Theology, where he majored in New Testament and Greek. In 1983 he received a Doctor of Theology (D.Theol.) at the University of Basel in Switzerland. He later took courses at Jerusalem University College on Mount Zion in Israel. Dave has been an avid horseman and Civil War reenactor. He and his wife live on a 123-acre working farm in southern Virginia and are self-supporting missionaries to Ethiopia and the world. He wrote many books, such as:
• The Myth of Adolescence (Yorba Linda: Davidson Press, 1999)
• Using New Testament Greek in Ministry: A Practical Guide for Students and Pastors (Grand Rapids: Baker, 1993)
• Learn to Read New Testament Greek (Nashville: Broadman & Holman, 1994)
• Learn to Read New Testament Greek: Expanded Edition (Nashville: Broadman & Holman, 1994)
• Linguistics for Students of New Testament Greek: Revised Edition (Grand Rapids: Baker, 1995)
• It's Still Greek to Me: An Easy-to-Understand Guide to Intermediate Greek (1998)
• Why Four Gospels?: The Historical Origins of the Gospels Energerion Press (2010)
• Rethinking New Testament Textual Criticism, ed. by David Alan Black, Baker Academic (2002)
• New Testament Textual Criticism. A Concise Guide, Baker Books (2006)
• Christian Archy, Areopagus (2009)
• The Jesus Paradigm (2009), Energion Direct
His weblog: http://www.daveblackonline.com
17 February 2013
Resensi Buku-207: JUST DO SOMETHING (Rev. Kevin DeYoung)
As Christians, we should follow what God wants us to do His will. But, the next question is how to find God’s will in our daily life?
Find the answer in the:
Book
JUST DO SOMETHING:
A Liberating Approach to Finding God’s Will
by: Rev. Kevin DeYoung
Publisher: Moody Publisher, Chicago, 2009
Foreword: Rev. Joshua E. Harris
In this small book, Rev. Kevin DeYoung explains that finding God’s will is not what many authors said in their books, such as, dreams, visions, “open door” theology (if something happens according to our desire, it means God opens the door for us), etc. So, what is God’s will? How do we find His will? In the second chapter, he explains three kinds of God’s will in Christianity, such as: God’s will of decree, God’s will of desire, and God’s will of direction. Especially the third kind of God’s will, most Christians want to find out what He wants us to do something, such as choosing a job, a soulmate, etc. Rev. DeYoung explains that that is a wrong concept. God never show us what job we should choose or what man/woman we should marry. That concept is unbiblical. Then, how should we find out His will in our daily life? Rev. DeYoung recommends three things we should do in finding out God’s will according to what Bible teaches us: reading our Bible, listening to sound advice, and praying to God. Those things are applied by Rev. DeYoung in chapter 9 in choosing a job and a soulmate. After that, in the final chapter, he gives examples from two of his grandfathers about how to find God’s will in their lifes. Let this small book inspires us to find out what God wants us to do according to His Word, the Holy Bible.
Endorsement:
“God told me that He wants you to read this book. Actually, that is one of the many mistaken notions about God’s will that Kevin DeYoung wants to correct.”
Collin Hansen, M.Div.
(editorial director for The Gospel Coalition, the author of “Young, Restless, Reformed: A Journalist’s Journey With the New Calvinists”, co-author with John Woodbridge: “God-Sized Vision: Revival Stories That Stretch and Stir.”; Master of Divinity—M.Div. from Trinity Evangelical Divinity School)
“The truth is that God is more committed to showing you His will than you are to discovering it. This book shows that discovering God’s will happens not as we ‘let go and let God,’ but as we trust God and get going.”
Rev. William Graham Tullian Tchividjian, M.Div.
(the Senior Pastor of Coral Ridge Presbyterian Church in Ft. Lauderdale, Florida, visiting professor of theology at Reformed Theological Seminary in Orlando, and the grandson of Billy and Ruth Graham; Bachelor of Philosophy from Columbia International University; M.Div. from Reformed Theological Seminary in Orlando)
“DeYoung explains so well what Oswald Chambers wrote a century ago. ‘Trust God and do the next thing.’ Sadly, our wrongheaded search for the elusive ‘will of God’ often prevents us from doing bouth. This book will help correct that problem.”
Prof. Gerald L. Sittser, Ph.D.
(Professor of Theology at Whitworth University, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. from Hope College; M.Div. from Fuller Theological Seminary; and Doctor of Philosophy—Ph.D. from University of Chicago)
Biography of the author:
Rev. Kevin DeYoung has been the Senior Pastor at University Reformed Church since August 2004. His three main responsibilities include preaching, leadership, and administration. He was born outside of Chicago in South Holland, Illinois and from third grade on, grew up in Jenison, Michigan. He attended Hope College and Gordon-Conwell Theological Seminary. Kevin and his lovely wife, Trisha, have five children: Ian, Jacob, Elizabeth, Paul and Mary. He wrote books, such as:
Find the answer in the:
Book
JUST DO SOMETHING:
A Liberating Approach to Finding God’s Will
by: Rev. Kevin DeYoung
Publisher: Moody Publisher, Chicago, 2009
Foreword: Rev. Joshua E. Harris
In this small book, Rev. Kevin DeYoung explains that finding God’s will is not what many authors said in their books, such as, dreams, visions, “open door” theology (if something happens according to our desire, it means God opens the door for us), etc. So, what is God’s will? How do we find His will? In the second chapter, he explains three kinds of God’s will in Christianity, such as: God’s will of decree, God’s will of desire, and God’s will of direction. Especially the third kind of God’s will, most Christians want to find out what He wants us to do something, such as choosing a job, a soulmate, etc. Rev. DeYoung explains that that is a wrong concept. God never show us what job we should choose or what man/woman we should marry. That concept is unbiblical. Then, how should we find out His will in our daily life? Rev. DeYoung recommends three things we should do in finding out God’s will according to what Bible teaches us: reading our Bible, listening to sound advice, and praying to God. Those things are applied by Rev. DeYoung in chapter 9 in choosing a job and a soulmate. After that, in the final chapter, he gives examples from two of his grandfathers about how to find God’s will in their lifes. Let this small book inspires us to find out what God wants us to do according to His Word, the Holy Bible.
Endorsement:
“God told me that He wants you to read this book. Actually, that is one of the many mistaken notions about God’s will that Kevin DeYoung wants to correct.”
Collin Hansen, M.Div.
(editorial director for The Gospel Coalition, the author of “Young, Restless, Reformed: A Journalist’s Journey With the New Calvinists”, co-author with John Woodbridge: “God-Sized Vision: Revival Stories That Stretch and Stir.”; Master of Divinity—M.Div. from Trinity Evangelical Divinity School)
“The truth is that God is more committed to showing you His will than you are to discovering it. This book shows that discovering God’s will happens not as we ‘let go and let God,’ but as we trust God and get going.”
Rev. William Graham Tullian Tchividjian, M.Div.
(the Senior Pastor of Coral Ridge Presbyterian Church in Ft. Lauderdale, Florida, visiting professor of theology at Reformed Theological Seminary in Orlando, and the grandson of Billy and Ruth Graham; Bachelor of Philosophy from Columbia International University; M.Div. from Reformed Theological Seminary in Orlando)
“DeYoung explains so well what Oswald Chambers wrote a century ago. ‘Trust God and do the next thing.’ Sadly, our wrongheaded search for the elusive ‘will of God’ often prevents us from doing bouth. This book will help correct that problem.”
Prof. Gerald L. Sittser, Ph.D.
(Professor of Theology at Whitworth University, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. from Hope College; M.Div. from Fuller Theological Seminary; and Doctor of Philosophy—Ph.D. from University of Chicago)
Biography of the author:
Rev. Kevin DeYoung has been the Senior Pastor at University Reformed Church since August 2004. His three main responsibilities include preaching, leadership, and administration. He was born outside of Chicago in South Holland, Illinois and from third grade on, grew up in Jenison, Michigan. He attended Hope College and Gordon-Conwell Theological Seminary. Kevin and his lovely wife, Trisha, have five children: Ian, Jacob, Elizabeth, Paul and Mary. He wrote books, such as:
* Freedom & Boundaries: A Pastoral Primer on the Role of Women in the Church
* Why We’re Not Emergent: By Two Guys Who Should Be
* Just Do Something: A Liberating Approach to Finding God’s Will
* Why We Love the Church: In Praise of Institutions and Organized Religion
* The Good News We Almost Forgot: Rediscovering the Gospel in a 16th Century Catechism
* Don’t Call it a Comeback: The Old Faith for a New Day
* What is the Mission of the Church?: Making Sense of Social Justice, Shalom, and the Great Commission
* Why We’re Not Emergent: By Two Guys Who Should Be
* Just Do Something: A Liberating Approach to Finding God’s Will
* Why We Love the Church: In Praise of Institutions and Organized Religion
* The Good News We Almost Forgot: Rediscovering the Gospel in a 16th Century Catechism
* Don’t Call it a Comeback: The Old Faith for a New Day
* What is the Mission of the Church?: Making Sense of Social Justice, Shalom, and the Great Commission
Subscribe to:
Posts (Atom)

