01 May 2010

Bahasa Roh Menurut Calvin dan Implikasinya bagi Gereja Masa Kini (Pdt. Timotius Fu, M.Th.)

BAHASA ROH MENURUT CALVIN DAN IMPLIKASINYA BAGI GEREJA MASA KINI

oleh: Pdt. Drs. Timotius Fu, M.Div., M.Th.




Beberapa tahun lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar theologi yang dipimpin oleh seorang pendeta terkenal dari Amerika Serikat. Sebelum seminar dimulai, sekitar 2000 peserta yang hadir diajak terlebih dahulu mengikuti acara Praise and Worship. Setelah menyanyi beberapa pujian, tiba-tiba musik diperlambat dan pembawa acara mengangkat tangan, menutup mata, dan mulutnya mengeluarkan “komat-kamit” suku kata-suku kata yang tidak dimengerti oleh seorang pun. Kontan, sebagian besar peserta mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh pembawa acara tersebut. Akibatnya, suasana jadi ribut dengan bahasa-bahasa aneh, teriakan-teriakan yang liar, serta sebagian peserta terlihat menangis atau ketawa tidak terkendali. Setelah “pertunjukan” tersebut berlangsung sekitar 20 menit, pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya para peserta mengusir segala kuasa gelap dan gangguan lainnya dari dalam ruang pertemuan, dan untuk itu semua yang hadir harus melakukannya dengan “berbahasa roh.”1 Di bawah komando sang pembawa acara, kembali ruangan kebaktian menjadi ribut dan kacau, masing-masing mengeluarkan bunyi-bunyian aneh yang bagi mereka adalah “bahasa roh” yang dipakai untuk mengusir Setan dan para pengikutnya dari ruangan tersebut.

Menyaksikan fenomena seperti itu, perasaan saya bercampur baur, ada rasa takut sehingga bulu kuduk berdiri, ada rasa canggung karena menjadi orang “aneh” di tengah-tengah mereka, dan ada rasa ingin tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Dalam kondisi itu muncul dalam pikiran saya sebuah seri pertanyaan: “Seandainya John Calvin masih hidup dan hadir dalam kebaktian ini, bagaimana reaksinya? Apakah dia akan menerima dan mempraktikkan hal yang sama? Atau dia akan menentang, bahkan mengajarkan fenomena tersebut sebagai tindakan yang tidak alkitabiah?”

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tulisan ini disajikan dengan harapan agar kita semua memiliki pandangan yang tepat tentang natur dari karunia bahasa roh serta implikasinya bagi kehidupan bergereja masa kini.




PENGAJARAN CALVIN TENTANG BAHASA ROH
Natur Bahasa Roh
Calvin secara konsisten menafsirkan fenomena bahasa roh sebagai kemampuan untuk berbicara dalam bahasa asing yang sama sekali tidak pernah dipelajari oleh pembicara sebelumnya. Hal ini terlihat jelas dari komentarnya atas peristiwa dan pengajaran mengenai karunia bahasa roh yang tercatat dalam Alkitab, baik di Kisah Para Rasul maupun 1 Korintus 12-14.

Mengomentari fenomena berbahasa roh yang terjadi pada hari Pentakosta, ia menulis:
He showeth that the effect did appear presently, and also to use their tongues were to be framed and applied. But because Luke setteth down shortly after, that strangers out of divers countries hear the apostles speaking in their own tongue. . . . I suppose that it doth manifestly appear hereby that the apostles had the variety and understanding to tongues given them, that they might speak unto the Greek in Greek, unto the Italians in the Italian tongue, and that they might have true communication (and conference) with their hearers.2

Hal yang sama diungkapkan dalam khotbahnya di hari Pentakosta:
How then were the Apostles, having always been isolated as foolish and unlearned people in this corner of Judea, able to publish the Gospel to all the world, unless God accomplished what He had previously promised: namely, that He would be known by all tongues and by all nations?3

Terhadap kejadian serupa yang tercatat di rumah Kornelius (Kis. 10), Calvin hanya memberi dua kalimat untuk menjelaskan natur dari bahasa roh, yakni: “He expresseth what gifts of the Spirit were poured out upon them, and therewithal he noteth the use; to wit, that they had variety of tongues given them, so that they did glorify God with many tongues.”4

Penafsiran yang sama ditunjukkan Calvin ketika ia mengomentari pengajaran rasul Paulus di 1 Korintus 12-14. Secara spesifik ia menuliskan bahwa “in the use of the word tongue, there is not a pleonasm (a figure of speech – involving a redundancy of expression). . . . The term denotes a foreign language.”5 Selanjutnya, berulang kali—dalam bagian Alkitab ini—ia mengartikan karunia bahasa roh sebagai kemampuan yang diberikan kepada Roh Kudus kepada seseorang untuk berbahasa asing tanpa terlebih dahulu mempelajarinya, misalnya: “karunia untuk berkatakata dengan bahasa roh” (12:10) ditafsirkan sebagai kemampuan untuk berbicara bahasa bangsa asing;6 “berdoa dengan bahasa roh” (14:14) diartikan sebagai “to frame a prayer in a foreign language”;7 dan bahasa roh bagi orang percaya di kota Korintus yang dianalogikan dengan bahasa Ibrani dan Yunani bagi Calvin dan orang sezamannya.8

Dengan penafsiran di atas, Calvin menyangkal kemungkinan untuk menafsirkan praktik bahasa roh sebagai suatu kepenuhan Roh Kudus yang menghasilkan fenomena ecstatic dengan mengucapkan bunyi-bunyian atau suku kata-suku kata yang sepenuhnya bukan bahasa manusia, sehingga menjadi asing bagi segala bangsa.9

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagi Calvin, karunia berbahasa roh dalam Alkitab hanya memiliki satu makna, yakni sebuah karya Roh Kudus atas orang percaya sehingga mampu berbahasa asing tanpa terlebih dahulu mempelajarinya. Selanjutnya, pandangan ini yang mewakili pandangan Calvin dalam tulisan ini.


Fungsi Bahasa Roh
Di mata Calvin, bahasa roh adalah sebuah karunia yang diberikan oleh Roh Kudus kepada orang percaya.10 Namun, karunia ini—sama seperti karunia yang lainnya juga—tidak serta merta diberikan kepada semua orang11 pada setiap saat, tetapi hanya diberikan oleh Roh Kudus dalam kondisi tertentu dengan tujuan tertentu.12 Sesuai dengan keyakinannya, semua karunia roh diberikan Roh Kudus kepada orang percaya dengan satu tujuan utama, yakni untuk membangun tubuh Kristus, sehingga penerapan karunia apa pun kalau bukan bertujuan membangun tubuh Kristus adalah pelanggaran dari tujuan Roh Kudus memberikan karuniakarunia tersebut.13

Sesuai dengan penjelasan di atas, karunia bahasa roh juga harus dipraktikkan demi pembangunan tubuh Kristus, yakni: pertama, karunia bahasa roh diberikan dalam hubungan yang sangat erat dengan pekabaran Injil. Tujuan karunia bahasa roh dalam aspek ini secara khusus ditemukan dalam catatan di Kisah Para Rasul. Pada saat itu, para rasul atau pekabar Injil di abad pertama mengalami keterbatasan karena faktor bahasa. Dengan memberikan kemampuan berbahasa asing kepada para rasul, Allah telah menghilangkan salah satu penghalang utama pekabaran Injil. Hal ini dapat dibaca lewat komentarnya atas peristiwa para murid berbahasa roh pada hari Pentakosta:
The diversity of tongues did hinder the gospel from being spread abroad any farther; so that, if the preachers of the gospel had spoken one language only, all men would have thought that Christ had been shut up in the small corner of Jewry.14

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta, ia juga mengungkapkan bahwa Roh Kudus memberikan manifestasi bahasa roh kepada para rasul dengan dua tujuan, yakni agar Injil dapat disampaikan kepada segala bangsa dalam bahasa mereka masing-masing dan agar konsep yang salah bahwa keselamatan hanya disediakan bagi bangsa Yahudi dapat dibuang, seperti yang dapat dibaca lewat kutipan berikut ini:
It is true that it is said that all will speak the Hebrew language in order to join in a true faith, but the truth is better declared to us when it is said that all believers, from whatever region they may be, will cry, “Abba, Father,”invoking God with one accord; although there may be diversity of language. That, then, is how the Spirit of God wished to display His power in these tongues, in order that the Name of God might be invoked by all and that we might together be made partakers of this covenant of salvation which belonged only to the Jews until the wall was torn down.15

Pendapat di atas diperkuat dengan pernyataan dari rasul Paulus bahwa “karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman” (1Kor. 14:22). Bagi Calvin, kalimat di atas berarti karunia ini berfungsi sebagai sebuah mukjizat untuk dipertunjukkan kepada orang yang belum percaya agar mereka diyakinkan untuk menerima Injil, seperti yang dapat dibaca dari tulisannya:
The advantages derived from tongues were various. They provided against necessity— that diversity of tongues might not prevent the Apostles from disseminating the gospel over the whole world: there was, consequently, no nation with which they could not hold fellowship.16

Hasil dari pekabaran Injil adalah bangsa-bangsa yang datang dari aneka ragam latar belakang dan bahasa dapat bersatu di hadapan Tuhan, seperti yang tertuang dalam pikirannya: “But God did furnish the apostles with the diversity of tongues now, that he may bring and call home, into a blessed unity, men which wander here and there.”17

Konsep yang sama diungkapkannya ketika mengomentari kejadian di rumah Kornelius (Kis. 10:46) dengan mengatakan bahwa “that the tongues were given them . . . seeing the gospel to be preached to strangers and to men of another language.”18

Kedua, praktik bahasa roh dalam pertemuan jemaat. Bagi Calvin, bahasa roh—sama dengan karunia yang lain—memiliki satu tujuan utama, yakni untuk membangun jemaat19 dan membawa berkat bagi semua orang (for the common benefit).20 Supaya dapat membangun jemaat, maka semua bentuk praktik bahasa roh harus dapat dimengerti oleh orang-orang yang hadir dalam pertemuan ibadah tersebut, seperti yang dapat dibaca dalam tulisannya:
For the gift of tongues was conferred— not for the mere purpose of uttering a sound, but, on the contrary, with the view of making a communication. For how ridiculous a thing it would be, that the tongue of a Roman should be framed by the Spirit of God to pronounce Greek words, which were altogether unknown to the speaker, as parrots, magpies, and crows, ar taught to mimic human voices!21

Sesuai dengan pengajaran rasul Paulus di 1 Korintus 12-14, Calvin menerapkan prinsip bahwa dalam setiap pengajaran yang menggunakan bahasa roh harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang dimengerti oleh semua pendengar; dan seandainya tidak ada penerjemah, maka tidak seorang pun diizinkan berbicara dengan bahasa roh dalam pertemuan ibadah.22 Baginya, karunia bahasa roh yang dipadukan dengan karunia menerjemahkan menghasilkan karunia bernubuat, seperti ungkapannya: “For if interpretation is added, there will then be prophecy.”23

Sebaliknya, praktik bahasa roh yang tidak diterjemahkan dalam sebuah pertemuan ibadah merupakan sebuah pelanggaran atau penyalahgunaan, yang digambarkan Calvin dengan berbagai istilah berikut: (1) Misdirected ambition: sebuah ambisi untuk menyombongkan diri24 atau mempertontonkan kehebatan pribadi dalam barbahasa asing di balik praktik berbahasa roh di hadapan umum;25 untuk hal ini Calvin menyebut bahasa roh sebagai empty vauntings.26 (2) Speaking to no purpose: sebuah praktik berbahasa asing yang tidak membawa manfaat apa pun bagi pendengar, yang menurut Calvin bahwa “thy voice will not reach either to God or man, but will vanish into air.”27 (3) Speaking as a barbarian: sebuah manifestasi bahasa roh yang membingungkan para pendengar karena pada dasarnya tidak ada seorang pun yang mengerti;28 para pendengar pada gilirannya nanti akan menghina mereka yang berbahasa roh, yang oleh Calvin digambarkan sebagai “how foolish then it is and preposterous in a man, to utter in an assembly a voice which the hearer understand nothing – in which he perceives no token from which he may learn what the person means!”29

Ketiga, praktik bahasa roh dalam doa orang percaya. Sehubungan dengan hal ini, Calvin berpegang kepada prinsip bahwa semua doa harus diucapkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Baginya, doa tanpa pengertian tidak mungkin diterima oleh Allah, seperti yang dapat dibaca dalam tulisannya: “But this must be fully admitted: that it is by no means possible, either in public prayer or in private, that the tongue without the heart is accepted by God.”30 Di bagian lain, ia menulis bahwa berdoa dalam bahasa roh namun tanpa pengertian adalah sebuah pelanggaran atas fungsi dan tujuan dari karunia tersebut, sehingga tindakan tersebut merupakan sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah.31 Ia bahkan mengritik gereja Katolik Roma yang saat itu mempraktikkan hal ini, menurutnya:
It is also plain that public prayers are not to be couched in Greek among the Latins, nor in Latin among the French or English (as hitherto has been everywhere practiced), but in vulgar tongue, so that all present may understand them, since they ought to be used for the edification of the whole Church, which cannot be in the least degree benefited by a sound not understood.32

Hal yang sama juga diajarkannya mengenai doa pribadi ketika ia menulis bahwa “the tongue is not even necessary to private prayer.”33 Namun, ia memberikan sebuah pengecualian penggunaan bahasa roh dalam doa, yakni ketika seseorang dalam kondisi yang sedemikian rupa sehingga tidak mampu mengucapkan kata-kata dan secara spontan mengeluarkan bahasa roh atau bahasa tubuh lainnya. Tetapi, dalam kondisi demikian pun, orang tersebut tidak boleh kehilangan pengendalian atas pikiran dan pengertian, seperti yang ia tuliskan:
For although the best prayers are sometimes without utterances, yet when the feeling of the mind is overpowering, the tongue spontaneously breaks forth into utterance, and our other members in gesture. Hence that dubious muttering of Hannah (1Sam. 1:13), something similar to which is experienced by all saints when concise and abrupt expressions escape from them..34




IMPLIKASI DARI PENGAJARAN CALVIN BAGI GEREJA MASA KINI
Tidak dapat disangkal bahwa sejarah gereja mencatat Calvin sebagai salah satu “bintang yang paling bersinar di tengah-tengah masa kegelapan gereja.”Buah pemikiran dan karyanya telah menjadi salah satu acuan utama kehidupan bergereja sepanjang masa, salah satunya adalah berhubungan dengan pengajarannya tentang karunia bahasa roh.

Pemaparan pengajaran di atas membawa beberapa implikasi praktis bagi kalangan orang percaya hari ini. Pertama, karunia bahasa roh tidak berfungsi sebagai penentu tingkat spiritualitas seseorang. Zaman ini, terdapat kelompok-kelompok tertentu yang mengajarkan bahwa kemampuan berbahasa roh merupakan tanda tingginya tingkat kerohanian seseorang,35 bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai prasyarat untuk menerima keselamatan.36 Pandangan demikian telah dianulir oleh pengajaran Calvin yang menyatakan bahwa karunia bahasa roh hanya memiliki dua fungsi, yakni sebagai alat untuk mengabarkan Injil dan sebagai alat untuk membangun jemaat. Dengan kata lain, dalam pandangannya, bahasa roh tidak ada hubungan dengan tingkat spiritualitas seseorang. Baginya, tingkat spiritualitas seseorang ditentukan oleh ada tidaknya ia menyatu dengan Yesus Kristus dalam semua aspek kehidupan sehari-hari, seperti yang dapat dibaca dari tafsirannya terhadap perumpamaan tentang pohon anggur dan carang-carangnya:
Now, there are three principal parts; first, that we have no power of doing good but what comes from himself; secondly, that we, having a root in him, are dressed and pruned by the Father; thirdly, that he removes the unfruitful branches, that they may be thrown into the fire and burned.37

Selanjutnya, berbicara tentang pruning, ia menulis:
By these words, he shows that believers need incessant culture, that they may be prevented from degenerating. . . . When he says that the vines are pruned, that they may yield more abundant fruit, he shows what ought to be the progress of believers in the course of true religions.38

Masih dalam konteks yang sama, ia menyimpulkan bahwa:
Christ has no other object in view than to keep us as a hen keepeth her chickens under her wings (Matth. xxiii. 37), lest our indifference should carry us away, and make us fly to our destruction. In order to prove that he did not begin the work of our salvation for the purpose of leaving it imperfect in the middle of the course, he promises that his Spirit will always be efficacious in us, if we do not prevent him.39

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa spiritualitas dapat diumpamakan dengan carang-carang yang bergantung sepenuhnya kepada pohon untuk mendapatkan makanan, perawatan, dan perlindungan agar dapat menghasilkan banyak buah.

Pandangan Calvin di atas juga didukung oleh beberapa penulis modern. Di antaranya adalah Dallas Willard yang mengartikan spiritualitas sebagai sebuah renovation of the heart, sebuah proses di mana seseorang menerima kehidupan yang baru dari Yesus Kristus dan secara konstan hidup di dalam hadirat-Nya untuk menerima makanan rohani bagi setiap hari.40

Pernyataan yang senada juga diungkapkan oleh R. Paul Stevens dan Michael Green yang mengartikan spiritualitas sebagai sebuah kehidupan yang dipenuhi dengan pengalaman bersama Allah, sehingga orang-orang percaya dapat menemukan Allah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dalamnya pekerjaan, hubungan dengan sesama, dan kehidupan di gereja serta dunia.41 Bagi mereka, spiritualitas yang sejati hanya dapat dicapai dengan ketaatan kepada pengajaran Alkitab dan sebuah hati yang takut akan Allah.42

Sementara itu, Barry L. Callen mengungkapkan bahwa spiritualitas Kristen lebih dari sekadar usaha mencari Tuhan lewat pengajaran dan liturgi keagamaan, melainkan sebuah hati yang terpanggil dan siap untuk mengiring Tuhan dan terbuka untuk dipimpin oleh Roh Kudus dalam kehidupan setiap hari,
For the church to be authentically Christian, spiritual as God intends, the primary influences must be an intentional alliance with Jesus Christ and a genuine openness to the power of the Holy Spirit. . . . The Spirit wants to move the church beyond the spiritual deadness of mere religion.43

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Kristen yang sejati ditemukan di dalam hubungan yang erat dan konstan dengan Yesus Kristus, dengan firman Allah, dengan ketaatan kepada pengajaran Allah. Karunia bahasa roh mutlak tidak dapat membawa orang percaya kepada tingkat tersebut karena Roh Kudus tidak memberikan karunia ini untuk mencapai tujuan tersebut.

Kedua, manifestasi karunia bahasa roh dalam pertemuan jemaat harus dilaksanakan dalam konteks membangun jemaat. Calvin tidak pernah melarang orang berbahasa roh, namun ia selalu memegang prinsip bahwa dalam pertemuan jemaat, karunia bahasa roh harus dipraktikkan untuk kebaikan semua yang hadir serta berjalan dengan tertib dan lancar. Hal ini tentu bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam pertemuan atau kebaktian di kalangan tertentu.

Hari ini tidak sulit ditemukan kelompok orang percaya, atas nama sebuah puji dan sembah dalam ibadah, secara simultan mengucapkan (lebih tepat meneriakkan) kalimat-kalimat dalam suku kata yang tidak dapat dimengerti manusia (unintelligible) dalam suasana yang kacau dan tidak terkendali. Adakah manfaat dari fenomena tersebut? Jawabannya adalah tidak, baik bagi yang mempraktikkan atau yang menyaksikan, karena pada dasarnya apa yang diucapkan tidak dimengerti oleh siapa pun juga. Jika ada orang yang mengaku bahwa sewaktu atau setelah mempraktikkan apa yang mereka sebut sebagai bahasa roh tersebut, mereka merasa “lebih dekat kepada Allah, lebih rohani, lebih sukacita, atau melihat kemuliaan Allah,” semua pengakuan tersebut tentu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara alkitabiah, karena Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa bahasa roh berfungsi untuk hasil-hasil yang disebutkan di atas. Jadi, apa yang sudah dilakukan di atas bukan hanya tidak membawa berkat, sebaliknya Calvin sudah memperingatkan bahwa mereka sangat mungkin dianggap sebagai orang yang memiliki misdirected ambition untuk menampilkan sebuah pertunjukan rohani agar dinilai lebih hebat, lebih suci, atau lebih rohani.

Sedangkan, bagi para pendengar atau mereka yang tidak mempraktikkan, kejadian tersebut alih-alih membawa berkat atau manfaat, sebaliknya tentu menciptakan sebuah kebingungan yang besar, karena pada dasarnya mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diucapkan atau apa yang sedang terjadi. Kejadian seperti itulah yang digambarkan oleh Calvin sebagai praktik speaking to no purpose atau speaking as a barbarian. Dengan kata lain, apa yang sedang terjadi sebenarnya merupakan sebuah penyalahgunaan atau penyimpangan dari karunia yang diberikan oleh Roh Kudus,44 sehingga kebaktian atau ibadah yang dipenuhi dengan fenomena seperti itu tentu bukan hal yang berkenan kepada Tuhan.

Ketiga, karunia bahasa roh tidak berperan di dalam gerakan kebangunan rohani. Pembahasan mengenai Calvin tidak pernah lepas dari konteks Reformasi gereja pada abad ke-16. Dalam catatan sejarah gereja, gerakan Reformasi gereja merupakan sebuah kebangunan rohani yang tidak tertandingi, baik dari segi luasnya pengaruh maupun pembaharuan spiritualitas orang percaya. Uniknya, selama proses gerakan ini tidak tercatat sedikit pun peran karunia bahasa roh di dalamnya.45 Kenyataan di atas seharusnya tidak membuat kita heran karena pada dasarnya karunia bahasa roh diberikan oleh Roh Kudus bukan untuk tujuan kebangunan rohani, seperti yang dijelaskan lewat pengajaran Calvin di atas serta kenyataan bahwa sejarah tidak merekam sedikit pun jejak praktik bahasa roh dalam kehidupannya.

Memang, hari ini cukup banyak gereja yang mengalami “kebangunan rohani”46 mengaku bahwa sumber kebangunan tersebut adalah karunia bahasa roh. Namun, pengakuan tersebut perlu diimbangi dengan kenyataan bahwa tidak semua gereja yang berbahasa roh mengalami kebangunan rohani dan sebaliknya tidak semua gereja yang mengalami kebangunan rohani berbahasa roh. Lagi pula, tidak sedikit “kebangunan rohani” yang dimaksud lebih difokuskan kepada hal-hal lahiriah, seperti bertambahnya pengunjung kebaktian, jumlah persembahan, atau kesuksesan lahiriah lainnya; yang tentu bukan tolok ukur yang sebenarnya bagi sebuah kebangunan rohani yang sejati.


KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis menyimpulkan beberapa hal:
Pertama, natur bahasa roh yang dikaruniakan Roh Kudus kepada orang percaya adalah kemampuan seseorang untuk mengucapkan bahasa asing tanpa terlebih dahulu mempelajarinya. Bahasa asing yang dimaksud adalah bahasa manusia yang dapat dimengerti oleh pemakai aslinya.

Kedua, Roh Kudus memberikan karunia ini dengan dua tujuan: sebagai alat untuk mengabarkan Injil dan sebagai alat untuk membangun jemaat. Oleh sebab itu, setiap aplikasi dari karunia ini harus diterapkan dalam koridor dua tujuan pemberian di atas.

Ketiga, karunia bahasa roh dapat disalahgunakan, baik untuk tujuan menyombongkan diri dengan menjadikan karunia berbahasa roh sebagai bahan pertunjukan maupun dalam bentuk “kebodohan,” yakni mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti baik oleh pembicara maupun pendengar, sehingga apa yang dilakukan tidak mencapai tujuan apa pun juga serta tidak membawa manfaat kepada siapa pun juga.

Keempat, karunia bahasa roh tidak dapat dijadikan baik sebagai tolok ukur tingkat kerohanian—apalagi sebagai prasyarat keselamatan—seseorang, maupun alat untuk mencapai kebangunan rohani sebuah Gereja, karena karunia ini diberikan bukan untuk tujuan tersebut.



Catatan kaki:
1. “Bahasa roh” versi orang-orang yang mempraktikkannya dalam pertemuan tersebut.
2. Commentaries (Grand Rapids: Baker, 1984) 18.78-79.
3. “First Sermon on Pentecost”dalam John Calvin: Selections from His Writings (ed. John Dillenberger; Missoula: Scholars, 1975), hlm. 564.
4. Commentaries 18.453.
5. Commentaries 20.435 [penekanan oleh Calvin].
6. Ibid., hlm. 403.
7. Ibid., hlm. 444.
8. Ibid., hlm. 459.
9. Calvin secara eksplisit mengungkapkan hal ini dengan menjelaskan bahwa istilah “another tongue”(yang diterjemahkan menjadi bahasa roh) berasal dari kata hetera glossa yang berarti a foreign or not known language—bahasa yang tidak dimengerti; bukan agnoste glossa yang berarti an unknown language—bahasa yang tidak dikenal (lih. catatan kaki no. 1 di Ibid., hlm.435).
10. Terbukti dari tulisannya yang menyebut fenomena ini sebagai “gift of the Spirit”(Commentaries 19.210; Commentaries 20.453).
11. Mengenai hal ini, ia menulis: “In the same place he affirmeth that it is a special gift, wherewith all men are not endued” (Commentaries 18.77).
12. Ibid., hlm. 453.
13. Institutes III.2.9.
14. Commentaries 18.75.
15. “First Sermon on Pentecost”, hlm. 564.
16. Commentaries 20.454.
17. Commentaries 18.75.
18. Commentaries 18.453.
19. Seperti yang ditulisnya: “In short, let us simply have an eye to this as our end—that edification may redound to the Church”(Commentaries 20.437).
20. Ibid., hlm.436.
21. Ibid., hlm. 445.
22. Ibid., hlm. 458-459.
23. Ibid., hlm. 437.
24. Ibid., hlm. 442.
25. Calvin ingin supaya orang yang berbahasa roh berdoa agar di tengah-tengah terdapat orang lain yang diberi karunia untuk menerjemahkan, kalau tidak, “let him abstain in the meantime from ostentation” (Ibid., hlm.443).
26. Ibid., hlm. 436.
27. Ibid., hlm. 440.
28. Calvin menulis: “For all hear a sound, but they do not understand what is said” (Ibid., hlm.435).
29. Ibid., hlm. 441.
30. “Concerning Prayer, Together with an Explanation of the Lord’s Prayer” dalam John Calvin: Selections from His Writings, hlm. 316.
31. Yakni: “The principle we must always hold is, that in all prayer, public or private, the tongue without the mind must be displeasing to God” (Institutes III.20.33).
32. Ibid.
33. Ibid.
34. Ibid.
35. Seperti pernyataan Larry Christenson, “Moving from theological to practical consideration, however, this pattern in its entirely— including speaking in tongues— can prove extremely helpful. For many people it has been a key to a deeper walk with the Lord, more power for serving Him, and for being an effective witness” (Speaking in Tongues and Its Significance for the Church [London: Fountain Trust, 1968], hlm. 54). Roberts Liardon juga menyuarakan hal yang sama dengan mengatakan bahwa bahasa roh akan membuat orang percaya menjadi lebih kuat, lebih peka secara rohani, terbangun imannya, mulutnya disucikan, rohnya disegarkan, dan mendapatkan kuasa untuk menjadi saksi (Mengapa Iblis Tidak Ingin Kita Berdoa dalam Bahasa Roh? [Jakarta: Metanoia, 2000], hlm. 33-37).
36. Terdapat kelompok tertentu yang mengajarkan bahwa setiap orang yang ingin diselamatkan harus terlebih dahulu menerima baptisan Roh Kudus yang ditandai dengan kemampuan berbahasa roh. Ini berarti bahwa bahasa roh adalah prasyarat keselamatan seseorang. Kalau ini benar, berarti Calvin dan banyak tokoh iman lainnya tidak diselamatkan karena tidak berbahasa roh sewaktu menerima baptisan Roh Kudus.
37. Commentaries 18.107.
38. Ibid., hlm. 108.
39. Ibid., hlm. 109.
40. Dalam hal ini, Willard menulis, “Man does not live on bread alone. Those are, of course words from Jesus. And this is truly the way of the heart or spirit. If we want to live fully, we must live with him at that interior level. And he gives this life as a gift. The spiritual renovation, the spiritual which comes from Jesus is nothing less than an invasion of natural human reality by a supernatural life from God. We can live by nourishing ourselves constantly on his presence, here and now, beyond his death and ours” (Renovation of the Heart [Leicester: InterVarsity, 2002], hlm. 5).
41. Dalam hal ini, Stevens dan Green menulis: “Spirituality, as we are defining here, is our lived experience of God in the multiple contexts of life in which the seeking Father finds us. This experience of God enables us to discover the transcendent meaning of everyday life including our work, relationships, life in the church and world” (Living the Story: Biblical Spirituality for Everyday Christians [Grand Rapids: Eerdmans, 2003] x).
42. Ibid., hlm. x-xii.
43. Authentic Spirituality: Moving Beyond Mere Religion (Grand Rapids: Baker, 2001), hlm. 19.
44. Atau bahkan tidak sedikit orang menganggap itu sebagai manifestasi dari kuasa gelap atau fenomena psikologis dari orang yang jiwanya terganggu (lih. E. Glenn Hinson, “The Significance of Glossolalia in the History of Christianity”dalam Speaking in Tongues: A Guide to Research on Glossolalia [ed. Watson E. Mills; Grand Rapids: Eerdmans, 1986], hlm. 189-193).
45. George W. Dollar menulis bahwa “Actually, speaking in tongues played no part in the Reformation movement” (“Church History and the Tongues Movement,” Bibliotheca Sacra 120/480 [October, 1963] hlm. 318).
46. Penulis sengaja menambahkan tanda kutip pada istilah “kebangunan rohani” karena banyak Gereja secara keliru mengidentikkan kebangunan rohani sebagai pertumbuhan kuantitas pengunjung kebaktian, kesuksesan hidup anggota jemaat, dan manifestasi mujizat di antara orang percaya.





Sumber:
VERITAS 10/1 (April 2009), hlm. 59-71




Profil Pdt. Timotius Fu:
Pdt. Drs. Timotius Fu, M.Div., M.Th. adalah dosen Theologi Sistematika dan Praktika di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan studi Doktorandus (Drs.) di Universitas Negeri Tanjungpura, Pontianak; Master of Divinity (M.Div.) di Singapore Bible College, Singapore; dan Master of Theology (M.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

Eksposisi 1 Korintus 6:1-4 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:1-4

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:1-4



1 Korintus 6:1-11 sudah tidak menyinggung tentang percabulan. Bagian ini memperkenalkan isu yang berbeda dengan di pasal 5:1-13. Walaupun demikian, kaitan antara dua perikop ini masih terlihat dari ide tentang penghakiman. Jemaat memiliki hak untuk menghakimi mereka yang ada dalam jemaat (5:12-13), namun mereka ternyata gagal menggunakan hak tersebut. Mereka justru melibatkan orang-orang dunia untuk menghakimi masalah internal dalam jemaat (6:1). Jika kita memperhatikan 1 Korintus 6:1-11 secara seksama maka kita akan mendapati bahwa fokus pembahasan Paulus bukan terletak pada masalah perselisihan antara jemaat, tetapi lebih pada kesalahan mereka dalam menyikapi perselisihan itu. Adanya perselisihan memang merupakan kesalahan (6:7), tetapi yang lebih salah lagi adalah kesalahan dalam menyikapi hal itu, yaitu melibatkan orang dunia untuk menyelesaikan masalah antar jemaat (6:1, 5-6).

Terhadap kesalahan di atas Paulus memberikan larangan yang tegas kepada jemaat supaya mereka jangan mencari keadilan pada orang-orang dunia (6:1). Ia lalu memberikan serentetan alasan bagi larangan tersebut (6:2-11). Kali ini kita hanya akan menyoroti alasan pertama yang dia berikan. Alasan ini berkaitan dengan status orang percaya di akhir zaman (6:2-4). Kita akan menghakimi dunia (6:2) dan para malaikat (6:3-4). Berdasarkan status ini maka sangat tidak masuk akal jika jemaat Korintus justru menjadikan orang dunia sebagai hakim atas mereka. Kitalah yang akan menghakimi mereka, bukan sebaliknya.




Larangan untuk Mencari Keadilan Pada Orang Dunia (ay. 1)
Dalam kalimat Yunani kata yang muncul pertama kali di ayat 1 adalah kata “berani” (tolma). Peletakkan seperti ini menyiratkan penekanan dan secara tepat mengekspresikan perasaan Paulus. Dia seakan-akan ingin mengatakan, “beraninya kamu.....?” Di mata Paulus kesalahan jemaat di pasal 6:1-11 merupakan dosa yang serius. Paulus bahkan secara tegas menyatakan bahwa dia sedang memalukan mereka (6:5a), padahal di bagian sebelumnya (ketika jemaat Korintus mengkritik Paulus) dia tidak ingin memalukan mereka (4:14).

Persoalan di pasal 6:1-11 bermula dari adanya perselisihan antar orang percaya (LAI:TB). Kata yang diterjemahkan “berselisih dengan orang lain” oleh LAI:TB secara harfiah berarti “memiliki kasus dengan yang lain” (pragma ecōn pros ton heteron). Ini merupakan istilah teknis di bidang hukum untuk sebuah perkara legal. Paulus tidak memberi penjelasan apapun tentang kasus yang dipersoalkan, karena yang dia tekankan terutama memang bukan perselisihan ini, tetapi bagaimana jemaat secara salah telah meresponi perselisihan tersebut.

Karena tidak ada penjelasan yang detil tentang kasus ini, para penafsir mencoba menawarkan berbagai dugaan. Sebagian menganggap bahwa kasus di sini adalah seputar percabulan: orang yang kawin dengan ibu tiri (5:1) dituntut ke pengadilan oleh ayahnya sendiri. Alasan yang diberikan lebih didasarkan pada posisi pasal 6:1-11 yang terletak di tengah-tengah dua perikop yang sama-sama membicarakan tentang dosa percabulan (5:1-13 dan 6:12-20).

Walaupun dugaan ini menarik, namun kita harus menolak dengan tegas: (1) dosa percabulan di 6:12-20 berkaitan dengan perempuan cabul (6:16), bukan ibu tiri; (2) jika kasus ini seputar percabulan, maka nasehat Paulus di 6:7b agar jemaat bersedia mengalah dan memilih untuk dirugikan menjadi tidak masuk akal; (3) dosa percabulan di 5:1-13 di mata Paulus adalah sangat serius (5:1), sedangkan kasus di 6:1-11 dia anggap perkara yang tidak berarti (6:2b) atau biasa (6:4). Jika kita harus menebak kasus hukum yang ada, maka kasus ini kemungkinan besar berkaitan dengan materi: (1) nasehat Paulus agar jemaat memilih untuk dirugikan (6:7b) tampaknya berkaitan dengan masalah harta; (2) rujukan tentang warisan rohani di 6:9 (“tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah..,”) sangat mungkin berkaitan dengan persoalan materi.

Ketika mereka memiliki masalah hukum seputar harta, mereka “mencari keadilan” (krinō) pada orang-orang yang tidak benar. Kata Yunani ini bisa memiliki beragam arti. Dalam konteks ini tampaknya lebih tepat diterjemahkan “membawa ke pengadilan” (KJV/ASV/NASB/RSV “go to law”; NIV “take it...for judgment”; bdk. Mat. 5:40 “mengadukan”). Terjemahan LAI:TB “mencari keadilan” dalam hal ini bisa menimbulkan kesan yang salah. Pernyataan Paulus di 6:8 secara jelas menunjukkan bahwa jemaat bertindak tidak adil. Jadi, mereka hanya membawa kasus itu ke pengadilan, tetapi bukan untuk mencari keadilan.

Makna di atas sesuai dengan penggunaan kata “pada/di hadapan orang-orang yang tidak benar” (epi tōn adikōn) di bagian selanjutnya. Kata adikos di sini bukan sekadar menunjukkan bahwa hakim di pengadilan adalah orang yang tidak percaya (6:6b “...pada orang-orang yang tidak percaya”), namun mereka juga orang-orang yang tidak adil. Ada beberapa alasan yang mendukung tafsiran ini: (1) kata adikos hanya muncul 3x dalam tulisan Paulus; di Roma 3:5 dan 1 Korintus 6:9 kata ini tanpa keraguan berarti “tidak adil”; (2) kata adikein di 1 Korintus 6:8 berarti “melakukan ketidakadilan”; (3) jika Paulus hanya melihat hakim tersebut sebagai orang non-Kristen saja, maka dia kemungkinan akan mempertahankan pemakaian ungkapan “mereka yang di luar jemaat” yang dia sudah pakai sebelumnya (5:12-13). Jadi, kesalahan jemaat bukan hanya membawa masalah internal mereka kepada orang non-Kristen, tetapi juga pada mereka yang bertindak tidak adil. Jelas maksud mereka lebih ke arah pembelaan, bukan pencarian kebenaran.

Kita tidak perlu terkejut dengan sikap Paulus yang sedikit negatif terhadap pengadilan pada waktu itu. Secara umum gambaran tentang hakim yang tidak adil dan dapat dibeli dengan uang bukanlah fenomena yang asing (bdk. Luk. 18:2, 6; Yak. 2:6; 5:6). Paulus sendiri pernah berurusan dengan Felix dan Festus yang sebenarnya bisa memberi keadilan kepadanya tetapi mereka tetap memenjarakan dia untuk kepentingan pribadi mereka (Kis. 24:26-27). Para penulis kafir kuno waktu itu juga tidak sedikit yang menyinggung tentang keadilan di ruang pengadilan. Benarlah perkataan pengkhotbah, “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan” (Pkh. 3:16).

Jemaat Korintus seharusnya membawa masalah mereka “di hadapan orang-orang kudus” (epi tōn hagiōn). Tradisi Yahudi memberi larangan yang tegas untuk membawa persoalan antar orang Yahudi kepada orang non-Yahudi. Persoalan mereka diselesaikan dalam sebuah pertemuan di synagoge. Tradisi ini tetap dipegang Paulus, namun dengan alasan yang berbeda (lih. pembahasan di ay. 2-4). Paulus sendiri sudah menjelaskan bahwa jemaat secara bersama-sama dapat menjalankan penghakiman (5:1-13). Yesus pun sebelumnya mengajarkan agar perselisihan dalam jemaat dibereskan sendiri di antara mereka melalui prosedur tertentu (Mat. 18:15-20).

Yang dimaksud “orang-orang kudus” di bagian ini bukanlah mereka yang kekudusannya sudah sempurna. Tidak ada orang di dunia ini yang bisa mencapai hal tersebut (1Yoh. 1:8, 10). “Kudus” di sini harus dipahami daam konteks status orang percaya di hadapan Allah (bdk. 1:2). Jemaat Korintus jelas melakukan berbagai dosa, beberapa di antaranya bahkan sangat memalukan. Bagaimanaun, mereka sudah percaya kepada Yesus sehingga status mereka sebagai orang berdosa telah diubah menjadi orang kudus.

Larangan Paulus untuk membawa suatu kasus ke pengadilan dunia tidak berkontradiksi dengan upaya hukum yang dia lakukan selama pelayananya (Kis. 16:37-39; 25:10-12). Apa yang dia lakukan berkaitan dengan tindakan pidana (penganiayaan). Ini bukan masalah untung-rugi sebagaimana kasus di 1 Korintus 6:1-11. Di samping itu, upaya hukum yang dilakukan Paulus adalah antara orang percaya (Paulus) dengan mereka yang tidak percaya (para penganiaya). Di tempat lain Paulus bahkan menasehati orang-orang Kristen untuk menghormati pemerintah yang diberi wewenang untuk menjalankan hukuman (Rm. 13).




Alasan Bagi Larangan: Status Orang Percaya Di Akhir Zaman (ay. 2-4)
Larangan Paulus di ayat 1 memang berkaitan dengan figur hakim yang tidak adil (adikos), namun alasan dia melarang jemaat Korintus membawa suatu kasus ke pengadilan terutama bukan terletak pada hal itu. Dia lebih menyoroti status eskatologis orang percaya. Dalam hal ini dia menyinggung dua kebenaran penting.


Orang kudus akan menghakimi dunia (ay. 2)
Tindakan seorang jemaat yang menyeret sesama saudara seiman untuk dihakimi orang dunia merupakan tindakan yang bertentangan dengan status orang percaya di akhir zaman. Mereka nanti akan menghakimi dunia, sehingga sangat tidak pantas jika mereka sekarang justru meminta dunia untuk menghakimi mereka. Memang orang percaya sekarang tidak berhak menghakimi dunia (5:12-13), tetapi hal itu tidak berarti bahwa kita boleh menyerahkan diri untuk dihakimi oleh dunia. Kitalah yang akan menghakimi mereka, bukan sebaliknya!

Konsep tentang orang-orang kudus yang akan menghakimi dunia berasal dari pengharapan PL. Daniel 7:22 menyatakan bahwa Allah akan memberikan penghakiman (LAI:TB “keadilan”) kepada orang-orang kudus. Sekilas kebenaran ini sangat membingungkan, karena penghakiman atas dunia adalah hak prerogatif Allah (Yoh. 5:22; Rm. 3:6). Jika kita memperhatikan teks-teks yang mendukung gagasan tentang posisi orang percaya di akhir zaman sebagai hakim, maka kita akan mendapati bahwa wewenang penghakiman ini disejajarkan dengan pemerintahan. Daniel 7:22 “sampai Yang Lanjut Usianya itu datang dan keadilan [lit. “penghakiman”] diberikan kepada orang-orang kudus milik Yang Mahatinggi dan waktunya datang orang-orang kudus itu memegang pemerintahan”. Wahyu 20:4 “...kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi...mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun”. Karena kita akan memerintah bersama dengan Kristus (2Tim. 2:12; Why. 22:5) yang akan menghakimi dunia, maka dalam taraf tertentu kita juga berpartisipasi dalam penghakiman itu.

Kaitan antara dua hal ini tentu tidak mengagetkan orang-orang Yahudi, karena PL sering kali mengaitkan posisi seorang sebagai hakim dengan pemerintahan atau seorang raja dengan penghakiman (Rat. 1:1; Mzm. 2:10; Yes. 16:5; Dan. 9:12).

Jika orang-orang kudus pasti akan menghakimi dunia, maka jemaat Korintus seharusnya sanggup mengurus “perkara-perkara yang tidak berarti” (kritērion elacistōn, ay. 2b). Terjemahan LAI:TB tampaknya mengikuti NIV dan RSV yang memakai “trivial cases”. Sesuai kata Yunani yang dipakai, frase di atas seharusnya diterjemahkan “perkara-perkara yang paling kecil” (KJV/ASV/NASB). Paulus tidak sedang menggampangkan semua masalah yang ada. Dia hanya ingin mengajarkan bahwa dibandingkan dengan kemuliaan orang percaya nanti, maka semua perkara duniawi adalah hal-hal yang sama sekali tidak berarti. Dalam Lukas 16:9 dan 11 semua harta duniawi disebut sebagai “mamon yang tidak sesungguhnya” (terjemahan LAI:TB “mamon yang tidak jujur” di sini tidak tepat). Bukankah kita sering kali berselisih tentang hal-hal yang sifatnya sementara, misalnya uang, jabatan, popularitas, posisi, dsb., yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kemuliaan surgawi kelak?


Orang kudus akan menghakimi para malaikat (ay. 3-4)
Para penafsir berdebat tentang identitas dari malaikat yang akan dihakimi: seluruh malaikat atau malaikat yang jatuh saja. Perdebatan ini sulit untuk diselesaikan, karena Paulus lebih menyoroti posisi eskhatologis orang kudus dibandingkan dengan malaikat. Dia tidak memberi penjelasan apapun tentang identitas malaikat yang dia maksud. PL juga tidak memberi rujukan yang ekspisit tentang hal ini. Konsep seperti itu memang banyak dibahas dalam berbagai tulisan apokaliptis Yahudi, tetapi kita kesulitan menemukan dukungan yang jelas dari PL. Berdasarkan beragam teks Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah akan menghakimi para malaikat yang jatuh, maka kita bisa mengatakan bahwa orang-orang kudus yang memerintah bersama Allah juga termasuk yang menghakimi para malaikat itu. Di sisi lain, Alkitab tampaknya memang mengajarkan bahwa manusia lebih daripada semua malaikat. Manusia adalah yang termulia di antara semua ciptaan (Mzm. 8), sekalipun dalam teks ini tidak ada indikasi yang jelas bahwa “ciptaan” mencakup para malaikat. Ibrani 2:16 menyatakan bahwa Allah mengasihi keturunan Abraham daripada para malaikat. Allah tidak menebus malaikat yang jatuh ke dalam dosa, tetapi hanya umat pilihan. Para malaikat bahkan sangat ingin mengetahui kabar baik tersebut (1Ptr. 1:12) dan mereka diutus sebagai roh-roh yang melayani orang percaya (Ibr. 1:14).

Jika orang-orang kudus akan menghakimi para malaikat (ay. 3a), maka mereka seharusnya mampu menangani “perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari” (ay. 3b). Terjemahan yang sangat panjang ini dalam bahasa Yunani hanya memakai satu kata: biōtika. Kata ini memiliki arti yang luas yang berkaitan dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari (2Tim. 2:4; 1Yoh. 2:16; 3:17). Seorang penulis kuno menggunakan kata ini untuk hal-hal yang dapat diselesaikan sendiri di rumah (dikontraskan dengan hal-hal lain yang serius yang perlu dibawa ke pengadilan). Melalui pemakaian kata ini Paulus ingin mengajarkan bahwa dibandingkan dengan status eskhatologis orang percaya yang sangat mulia, semua perkara yang mereka persoalkan secara hukum hanyalah hal-hal yang sepele, tidak perlu dibawa ke luar dari jemaat.

Di ayat 4 Paulus memaparkan sebuah pengandaian (bdk. kata “jika”): jika ada biōtika, apakah jemaat Korintus akan memilih “mereka yang tidak berarti dalam jemaat” sebagai hakim? Para penafsir berbeda pendapat tentang nuansa dalam kalimat ini. Apakah Paulus sedang memberikan seruan (NIV/KJV) atau pertanyaan (ASV/NASB/RSV/LAI:TB)? Jika ini seruan, maka Paulus sedang menyindir jemaat Korintus yang tidak sanggup mengurusi perkara di antara mereka untuk menyerahkan perkara itu pada mereka yang terkecil dalam jemaat. Jika ini adalah pertanyaan, maka Paulus sedang mengharapkan jawaban tidak dari jemaat: mereka tidak akan menyerahkan biōtika kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat! Dari dua kemungkinan ini, yang pertama lebih bisa diterima: (1) Paulus memang sedang menyindir para pemimpin yang merasa berhikmat (pasal 1-3) tetapi kenyataannya tidak ada yang berhikmat (bdk. 6:5); (2) surat 1 Korintus penuh dengan sindiran ironis (bdk. 4:8).

Para penafsir juga berdebat tentang “mereka yang tidak berarti dalam jemaat”. Apakah Paulus memikirkan “para hakim yang dianggap kecil oleh jemaat” (bdk. RSV “those who are least esteemed by the church”) atau sebagian jemaat yang posisinya tidak berarti dalam jemaat (KJV/ASV/NIV/NASB)? Sebagian penafsir memilih alternatif ke-1, karena alternatif ke-2 dianggap tidak sesuai dengan sikap Paulus yang mengganggap semua jemaat penting (1Kor. 12:21-25). Kita sebaiknya memilih alternatif ke-2. Paulus tidak sedang meremehkan jemaat tertentu, tetapi dia sedang menyindir mereka yang merasa diri berhikmat dalam jemaat (1Kor 1-3). Paulus menasehati mereka untuk menyerahkan perkara biasa pada sebagian jemaat yang menurut mereka mungkin dianggap tidak berhikmat. Kalau semua orang kudus (termasuk mereka yang dianggap tidak berarti dalam jemaat), maka orang-orang seperti itu pun seharusnya juga mampu menangani masalah-masalah sehari-hari yang sepele. Kegagalan para pemimpin di Korintus dalam menyelesaikan perselisihan di antara mereka merupakan bukti bahwa mereka tidak sepintar yang mereka kira. Orang percaya yang tidak berhikmat menurut ukuran dunia ini pun bisa, tetapi mereka ternyata gagal. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 14 Desember 2008
(http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2006%20ayat%2001-06.pdf)

Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus dalam "The Passion of the Christ"

KESAKSIAN JIM CAVIEZEL, PEMERAN YESUS DALAM “THE PASSION OF THE CHRIST”



Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion of the Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN-PERAN KECIL DALAM FILM-FILM YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunan-Nya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan dengan-Nya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai di sini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apa pun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga sering kali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekadar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwa-Nya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu sering kali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada di situ, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”



Sumber:
http://sityb.wordpress.com/2009/09/08/kesaksian-jim-caviezel-pemeran-yesus-dalam-the-passion-of-the-christ/

25 April 2010

BAPTISAN ANAK DAN SIDI: Itu kan Tidak Alkitabiah?? (G. I. Purnama, S.Th.)

BAPTISAN ANAK DAN SIDI:
Itu kan Tidak Alkitabiah?


oleh: G. I. Purnama, S.Th.



Si Joni suatu kali mendengar seorang pengkhotbah berkata bahwa baptisan anak dan sidi tidak alkitabiah, sebab tidak ada contoh praktik baptisan anak dan sidi dalam Alkitab. Yang alkitabiah adalah penyerahan anak dan baptisan dewasa. Alasannya, seorang anak kecil (apalagi bayi) tidak mungkin beriman kepada Tuhan Yesus, sehingga tidak ada gunanya dibaptiskan. Tuhan Yesus pun waktu kecil tidak dibaptiskan, melainkan diserahkan kepada Tuhan di Bait Suci (Luk. 2:22). Sesudah dewasa barulah Dia memberi diri dibaptis secara sadar (Mat. 3:13-15).


Berbagai Salah Paham
Argumentrasi seperti di atas demikian menarik dan logis, sehingga banyak orang yang dibaptis anak meminta dibaptis ulang sesudah dewasa (biasanya baptisan ulang ini dilakukan di gereja atau persekutuan Karismatik). Hal semacam ini terjadi karena adanya kesalahpahaman terhadap konsep yang mendasari baptisan anak dan sidi.

Pertama, bila kita jujur terhadap Alkitab, sebenarnya ada ayat-ayat yang memberikan petunjuk tentang kemungkinan adanya praktik baptisan anak pada masa Perjanjian Baru. Lidia dibaptis dengan seisi rumahnya (Kis. 16:15). Demikian pula kepala penjara Filipi dibaptis dengan keluarganya (Kis. 16:33). Bila pembaptisan dilakukan terhadap seisi rumah atau sekeluarga, bukankah kemungkinan besar ada anak yang dibaptiskan? Memang, ayat-ayat tersebut tidak bisa disebut sebagai “bukti”, melainkan hanya merupakan kemungkinan.

Kedua, baptisan anak bukan berdasarkan iman anak, melainkan iman orangtua. Saat orangtua memberikan anak mereka untuk dibaptiskan, mereka berjanji kepada Tuhan untuk mendidik anak mereka dalam ajaran Tuhan, sehingga anak tersebut bisa mengakui sendiri imannya kepada Allah setelah dewasa. Pengakuan iman seorang dewasa yang telah menerima baptisan anak ini disebut sidi. Masalahnya, banyak orangtua yang memberikan anaknya untuk dibaptis, namun tidak melaksanakan tugas mendidik anak dalam ajaran Tuhan dengan baik, sehingga menjadi batu sandungan.

Ketiga, kita tidak menjumpai contoh praktik sidi dalam Alkitab, namun tidak berarti bahwa sidi tidak alkitabiah. Dasar Alkitab untuk sidi adalah perlunya mengakui iman di depan umum (Rm. 10:9, 10). Mereka yang dibaptis dewasa mengakui imannya saat dibaptiskan. Oleh karena itu, sidi tidak diperuntukkan bagi orang yang dibaptis dewasa.


Pentingnya Baptisan Anak
Mengapa gereja menyelenggarakan baptisan anak? Karena gereja memikirkan masa depan anak! Orangtua Kristen yang mengasihi anaknya tentu memikirkan nasib anak. Apakah anak mereka setelah dewasa akan menjadi orang beriman yang mewarisi janji keselamatan? Bagaimana nasib mereka bila mereka mati saat masih kecil? Orangtua yang mengasihi anak akan berharap agar anak mereka menikmati janji keselamatan yang ditawarkan dalam Kristus Yesus.

Untuk mengikutsertakan anak dalam janji keselamatan, pertama-tama kita perlu menyelidiki bagaimana Allah mengikatkan diri dalam ikatan perjanjian dengan umat-Nya pada masa Perjanjian Lama. Ikatan perjanjian itu ditandai oleh sunat (Kej. 17). Sunat bukan hanya diberlakukan bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak, saat mereka berumur delapan hari (ay. 12).

Bila kita memperhatikan penilaian Rasul Paulus dalam Ibrani 11 tentang tokoh-tokoh Perjanjian Lama, jelas bahwa tokoh-tokoh tersebut berkenan kepada Allah karena iman. Tanpa iman, tidak mungkin seseorang bisa berkenan kepada Allah (Ibr. 11:6). Dalam kitab Galatia, dijelaskan bahwa sunat tidak berarti tanpa iman (Gal. 5:6). Sunat hanya tanda luar, tetapi imanlah yang membuat sunat itu berguna.

Bagaimana dengan sunat untuk anak? Mungkinkah anak umur delapan hari memiliki iman? Jelas tidak mungkin! Sunat untuk anak tidak didasarkan iman anak, melainkan iman orangtua. Demikian pula dengan baptisan anak: Seorang anak dibaptiskan bukan karena imannya sendiri, tetapi karena iman orangtua. Dalam iman, orangtua berjanji di hadapan Allah, bahwa mereka akan mendidik anaknya dalam ajaran Tuhan.


Pentingnya Sidi
Sidi penting karena baptisan anak bukanlah tiket ke surga. Orang yang dibaptiskan waktu masih kecil harus memiliki iman pribadi kepada Yesus Kristus sesudah dia menjadi dewasa, sebab dia belum mengakui imannya saat dibaptiskan. Karena pengakuan iman di depan umum merupakan tuntutan Kristus yang penting (Mat. 10:32), orangtua harus membina anak tersebut agar pada saatnya berani memberikan pengakuan iman (sidi) secara terang-terangan di depan jemaat.

Pentingnya sidi ini menuntut agar orangtua bertanggung jawab mendidik anak. Bila anak yang dibaptiskan waktu kecil tidak mau mengikuti sidi, maka hampir bisa dipastikan bahwa penyebabnya adalah kegagalan orangtua mendidik anaknya dalam ajaran Tuhan. Orangtua Kristen yang bertanggung jawab tidak bisa menyerahkan pendidikan anak kepada tanggung jawab guru di sekolah atau guru di sekolah minggu saja, melainkan harus memberikan waktu dan perhatian untuk mendidik anaknya agar menjadi seorang yang beriman.

Kritik terhadap praktik baptisan anak umumnya disebabkan karena banyak anak yang dibaptiskan pada waktu masih kecil tidak mau mengakui imannya ketika dewasa. Kondisi semacam itu bukan disebabkan karena praktik baptisan anak itu salah, tetapi karena orangtua gagal mendidik anak!



Sumber:
Buletin Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar (GKJMB) No. 7 - Tahun 4, November 1999
www.gky.or.id

19 April 2010

Eksposisi 1 Korintus 5:6-8 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 5:6-8

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 5:6-8



Di bagian sebelumnya Paulus sudah mengambil sikap tegas terhadap orang yang melakukan percabulan terus-menerus (5:1), yaitu menyerahkan dia ke dalam tangan iblis (5:4-5). Tindakan ini terpaksa diambil Paulus karena jemaat Korintus tidak mau menjauhkan orang itu dari tengah-tengah mereka (5:2b), bahkan mereka membanggakan hal itu (5:2a). Nah, di 5:6-8 Paulus memberikan alasan atau dasar mengapa ia melakukan disiplin gereja yang keras seperti ini.

Alasan yang dia berikan dikemukakan dalam bentuk metafora yang cukup dikenal oleh jemaat Korintus. Satu dari metafora umum (5:6), sedangkan yang lainnya berasal dari konteks hari raya orang Yahudi (5:7-8). Melalui dua metafora ini Paulus ingin menyatakan bahwa seorang pezinah dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh tubuh Kristus (5:6). Di samping itu, orang Kristen memang ibarat roti yang tidak beragi, sehingga harus menghilangkan semua ragi yang ada dalam diri mereka (5:7-8).


Ragi yang Sedikit Dapat Mengkhamirkan Seluruh Adonan (ay. 6)
Dalam teks Yunani, ayat ini dimulai dengan kata “tidak baik”, seakan-akan Paulus ingin menekankan keburukan dari sikap menyombongkan dosa di ayat 2a (“tidak baik kesombonganmu itu!”). Jika kita mengamati seluruh argumen Paulus di 5:1-13, maka kita akan melihat bahwa yang ditekankan Paulus memang bukan dosa percabulan yang dilakukan, tetapi sikap jemaat Korintus yang salah terhadap dosa itu. Paulus tidak hanya mengatakan bahwa kesombongan itu salah (5:2), tetapi juga tidak baik (5:6). Kata “baik” di sini sebaiknya tidak dipahami dalam konteks moral (salah atau benar), tetapi nilai atau manfaat dari tindakan tersebut. Hal ini didukung oleh pemakaian kata “baik” di 7:1 (“adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin”), 7:8 (“orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda...baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku”), 7:26 (“adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya”).

Mengapa kesombongan jemaat Korintus tidak baik? Karena kesombongan itu dapat membawa pengaruh yang buruk bagi seluruh jemaat. Hal ini diungkapkan Paulus melalui sebuah ungkapan “sedikit ragi dapat mengkhamirkan seluruh adonan”. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari memberi keterangan bahwa ungkapan ini adalah sebuah peribahasa. Sekalipun kata “peribahasa” tidak muncul dalam teks Yunani, tetapi apa yang dikatakan Paulus memang sebuah peribahasa.

Peribahasa di 5:6 tampaknya sangat terkenal. Pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu...?” di ayat ini menyiratkan bahwa jemaat pasti mengetahuinya. Beberapa sumber kuno juga memberi bukti bahwa peribahasa ini dapat ditemukan dalam tulisan Yunani-Romawi maupun Yahudi. Dalam Alkitab peribahasa ini sempat disinggung beberapa kali. Yesus menasehatkan murid-murid untuk mewaspadai ragi orang Farisi (Mat. 16:6//Mrk. 8:15). Paulus pun menggunakan peribahasa ini di suratnya yang lain (Gal. 5:9). Philo – seorang penafsir Yahudi terkenal pada abad ke-1 - memakai gambaran ragi untuk kesombongan, karena ragi dapat membuat roti menjadi mengembang. Nabi Hosea pernah memakai gambaran yang sama untuk dosa perzinahan.

Ragi yang dimaksud Paulus bukanlah ragi yang baru yang biasanya dipakai untuk membuat roti (bahasa Inggris “yeast”, kontra NIV). Kata Yunani zume merujuk pada sisa adonan yang dicampur untuk membuat adonan yang baru (bahasa Inggris “leaven”, bdk. ASV/KJV/RSV/NASB). Sering kali adonan seperti ini dicampur dengan jus tertentu, sehingga menimbulkan rasa sedikit asam. Dari sisi kebersihan, campuran sisa adonan yang lama dapat membawa pengaruh buruk bagi kesehatan.

Melalui peribahasa di atas Paulus mengajarkan bahwa sedikit ragi (satu orang yang berbuat dosa) dapat mengkhamirkan seluruh adonan (seluruh jemaat). Bagaimana tindakan satu orang dapat membawa pengaruh buruk bagi seluruh jemaat? Paulus sangat mungkin memikirkan dua hal: (1) tindakan tersebut menyebabkan gereja kehilangan kesaksiannya, apalagi kalau hal itu sudah diketahui oleh banyak orang (5:1); (2) tindakan ini dapat menyebabkan orang lain tergoda untuk menirunya (15:33).


Semua Ragi Harus Dibersihkan Supaya Ada Adonan Baru yang Tanpa Ragi (ay. 7-8)
Dari peribahasa umum di ayat 6, Paulus sekarang berpindah ke metafora dari hari raya orang Yahudi yang masih berkaitan dengan persoalan ragi, yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Paskah. Dua hari raya ini memang saling berkaitan. Pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir mereka harus menyembelih domba untuk dioleskan di pintu rumah mereka sehingga dilewati (passover atau Paskah) oleh malaikat kematian dan mereka harus cepat-cepat meninggalkan tanah Mesir sambil memakan roti tidak beragi (Kel. 12). Dalam Markus 14:12 waktu penyembelihan domba Paskah disebut sebagai hari pertama Perayaan Roti Tidak Beragi.

Sebelum Hari Raya Roti Tidak Beragi dimulai, semua orang Israel harus membersihkan seluruh rumah mereka dari segala macam sisa ragi (Kel. 12:15, 18-19; 13:7; Ul. 16:4). Jika ada yang melanggar perintah ini, maka orang itu akan dilenyapkan dari tengah bangsanya. Sebuah tradisi bahkan menyebutkan tindakan ekstrim orang Yahudi yang sampai membersihkan lubang atau rumah tikus untuk memastikan tidak ada ragi dalam rumahnya. Walaupun kebenaran dari tradisi ini dapat dipertanyakan, namun penghormatan orang Yahudi terhadap hari raya ini tidak dapat disangsikan lagi. Hal inilah yang dipakai Paulus untuk menyampaikan pendapatnya di 5:7a.

Walaupun di ayat 7a Paulus mengatakan “buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru”, tetapi di ayat 7b dia dengan segera menambahkan “karena kamu memang tidak beragi”. Tambahan ini sangat penting. Orang percaya harus membuang ragi yang lama bukan supaya menjadi adonan baru, tetapi mereka harus membuang ragi yang lama karena mereka memang adalah tidak beragi. Jika ini tidak dipahami maka akan muncul kesan bahwa hidup kita yang tanpa ragi adalah karena usaha kita menyingkirkan ragi yang lama. Ini jelas salah! Di akhir ayat 7 Paulus mengatakan bahwa darah Kristuslah yang menjadi dasarnya.

Melalui karya penebusan Kristus orang percaya dikuduskan (6:11), sehingga status mereka berpindah dari orang berdosa menjadi orang kudus (1:2), bahkan menjadi bait Allah yang kudus (3:16-17). Karena kita sudah dikuduskan oleh darah Kristus, maka tidak boleh ada ragi sedikit pun dalam hidup kita.

Dengan menyebut Kristus sebagai anak domba Paskah, Paulus mengajarkan bahwa Paskah Kristiani berakar dari tradisi Paskah Yahudi pada waktu mereka dilepaskan dari kematian karena darah domba yang dioleskan di pintu rumah mereka. Kalau di peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir Paskah lebih dipahami dalam konteks keselamatan, maka pada zaman selanjutnya Paskah juga dimengerti dalam konteks penyucian dosa (Yeh. 45:18-22).

Pada zaman PB Yesus disebut sebagai anak domba Allah (Yoh. 1:29, 36). Kematian-Nya pada saat Paskah mempertegas bukti bahwa penebusan-Nya berfungsi sama dengan (atau bahkan melebihi) darah domba Paskah. Yesus sendiri pada waktu merayakan Paskah mengatakan bahwa darah-Nya adalah darah perjanjian yang baru (Mrk. 14:24).

Dengan menghubungkan pembuangan ragi dengan darah Kristus, Paulus telah mengajarkan sesuat yang penting: theologi harus menjadi dasar bagi etika. Agama lain menekankan bahwa etika (kebaikan atau kesalehan) adalah lebih penting atau dasar dari theologi (keselamatan).

Dalam Kekristenan urutannya dibalik. Kita berbuat baik (etika) karena sudah diselamatkan (theologi). Sama seperti jemaat Korintus harus membuang ragi yang lama karena mereka memang roti yang tidak beragi.

Di 5:8 Paulus memberi nasehat agar jemaat berpesta dengan ragi yang baru. Kata “berpesta” di ayat ini berbentuk present tense, sehingga menunjukkan tindakan yang terus-menerus. Karya Kristus memang harus terus menjadi fokus dalam hidup kita. Kita bukan hanya mengingatnya, tetapi juga merayakannya. Ide tentang pesta mengindikasikan adanya sukacita. Sukacita kita bukanlah ketika melihat orang lain melakukan suatu dosa (bdk. 5:2). Sukacita kita bersumber dari karya Kristus. Dengan selalu merayakan karya Kristus kita akan dikuatkan untuk menjauhi dan tidak berkompromi dengan dosa. Sayangnya, tidak semua orang percaya merasa sukacita dengan status mereka yang kudus di dalam Kristus. Mereka mengangga ini sebagai sebuah beban, padahal Yesus sendiri mengatakan bahwa kuk yang Dia pasangkan di pundak kita adalah enak dan ringan (Mat. 11:29-30). Dia bahkan menawarkan kelegaan bagi mereka yang letih dengan beban yang ditaruh orang Farisi melalui ajaran agama mereka (Mat. 11:28). Orang percaya sering kali merasa tidak nyaman dengan status mereka karena kedagingan mereka merasa tidak diuntungkan. Mereka harus mengalah (bukan mengalahkan), melayani (bukan dilayani), dsb. Pesta yang dimaksudkan oleh Paulus di ayat 8a harus menjadi pesta yang tanpa ragi (ay. 8b).

Sama seperti pada Hari Raya Roti Tidak Beragi semua ragi harus disingkirkan, demikian pula kita harus membuang semua ragi yang lama, yaitu kejahatan (kakia) dan keburukan (poneria). Dua kata ini sebenarnya sinonim, namun dipakai bersama-sama untuk memberi penekanan bahwa semua dosa (bukan hanya perzinahan) harus dibuang dari hidup kita. Kita tidak boleh menyimpan dosa tertentu yang masih kita sukai.

Di akhir ayat 8 Paulus menambahkan bahwa pesta ini harus menggunakan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian (eilikrineia) dan kebenaran (aletheia). Kata eilikrineia hanya muncul dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus. Kata ini selalu memiliki arti “kemurnian hati” dalam arti motivasi yang benar (semua versi Inggris memakai kata “sincerity”). Kata aletheia sering muncul dalam tulisan Paulus dan merujuk pada kebenaran Injil atau sikap hidup yang sesuai dengan kebenaran Injil (2Kor. 4:2; 6:7; 13:8). Dengan menggabungkan eilikrineia dan aletheia Paulus tampaknya ingin menegaskan bahwa hidup kita harus benar-benar bersih dari semua ragi, baik motivasi kita maupun tindakan kita.

Dalam sebuah persekutuan orang ercaya (jemaat atau gereja) prinsip ini juga tetap perlu dipegang. Sebagai tubuh Kristus kita tidak boleh berkompromi dengan dosa apa pun yang ada dalam gereja. Kita harus berdukacita karena dosa tersebut. Kita perlu membiasakan diri saling menegur di dalam kasih. Jika semua ini tetap tidak membuat seseorang bertobat, maka gereja harus mengambil sikap tegas dengan cara menjauhkan orang itu dari tengah-tengah jemaat. #




Sumber:
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2005%20ayat%2006-08.pdf

Resensi Buku-95: SANG PENENUN AGUNG (DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.)

...Dapatkan segera...
Buku
THE GRAND WEAVER
(Sang Penenun Agung)


oleh: DR. RAVI ZACHARIAS, D.D.

Penerbit: PIONIR JAYA (Bringing Truth to Generation), Bandung; April 2009

Penerjemah: Christian Tirtha





Penjelasan singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Hidup manusia adalah hidup yang penuh arti. Namun sungguh sangat disayangkan, banyak manusia tidak menyadarinya atau menyadarinya namun menempatkan makna hidup bukan kepada Sumber hidup, namun kepada diri sendiri dan hal-hal duniawi. Tidak heran, di dunia ini muncullah beragam filsafat hidup dari manusia berdosa, mulai dari rasionalisme, empirisisme, subjektivisme, postmodernisme, dll. Benarkah hidup manusia itu bernilai? Jika ya, di manakah seharusnya nilai hidup itu ditempatkan? Di dalam bukunya Sang Penenun Agung, Dr. Ravi Zacharias, seorang penulis buku best-seller dan apologet Kristen ternama, mengemukakan bahwa nilai hidup sejati harus diserahkan kepada Allah. Ketika nilai hidup kita diserahkan kepada-Nya, maka kita akan menemukan keindahan-keindahan yang dirajut oleh Allah di dalam setiap momen hidup kita menjadi sebuah tenunan hidup yang indah bagi kemuliaan-Nya. Tenunan hidup itu membuat setiap inci kehidupan kita yang meliputi: DNA, kekecewaan, panggilan, moralitas, kerohanian, kehendak, penyembahan, dan tujuan akhir hidup kita menjadi berarti. Biarlah buku ini boleh menjadi berkat bagi kita di dalam menemukan nilai hidup sejati dari Sumber hidup kita, yaitu Allah.




Apresiasi:
“Ravi Zacharias tidak pernah menjumpai pertanyaan yang ia tidak sukai. Di buku ini ia menjelajahi pertanyaan-pertanyaan hidup yang mendalam melalui permadani pribadinya, dengan cara yang jelas dan menarik.”
Rev. John Ortberg, Jr., Ph.D.
(Pendeta di Menlo Park Presbyterian Church Menlo Park, California, U.S.A. sejak tahun 2003 dan anggota the Board of Trustees di Fuller Seminary, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dalam bidang Psikologi dari Wheaton College; Master of Divinity—M.Div. dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Psikologi Klinis dari Fuller Seminary, U.S.A.; dan studi post-graduate di University of Aberdeen, Scotland)

“Ravi menampilkan pikiran yang tajam, hati yang lembut, serta sentuhan yang tangkas dalam menunjukkan, dalam banyak dan serba-serbi kehidupan kita, bagaimana melacak pekerjaan tangan Tuhan yang baik dan setia.”
Rev. Mark Buchanan
(Lead Pastor di New Life Community Baptist Church, U.S.A.)





Profil Dr. Ravi Zacharias:
Ravi Zacharias, D.D., LL.D. yang lahir di Madras, India tahun 1946 adalah Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A.. Beliau dikenal sebagai seorang apologetika Kristen dari Kanada, Amerika. Beliau dan keluarganya pindah ke Toronto, Kanada, ketika beliau masih sebagai seorang remaja, tetapi sekarang beliau berada di Atlanta, Georgia. Beliau terlahir dari keluarga pandita Hindu (kasta Nambudiri Brahmin), kemudian beliau bertobat kepada Tuhan Yesus dan menyerahkan diri menjadi hamba-Nya yang setia. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di University of New Delhi; Bachelor of Theology (B.Th.) di Ontario Bible College; Master of Divinity (M.Div.) di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A. Beliau mendapatkan anugerah gelar Doctor of Divinity (D.D.) baik dari Houghton College, NY, maupun dari Tyndale College and Seminary, Toronto. Beliau juga dianugerahi gelar Doctor of Laws (LL.D.) dari Asbury College di Kentucky. Beliau menguasai banyak disiplin ilmu, di antaranya perbandingan agama, aliran agama, dan filsafat, dan oleh karena itu beliau memimpin departemen Penginjilan dan Pemikiran Kontemporer di Alliance Theological Seminary selama 3,5 tahun. Beliau sekarang menjadi dosen tamu di Wycliffe Hall, Oxford University di Oxford, England.

Beliau juga menjadi pembicara utama pada the National Day of Prayer di Washington, D.C. dan the Annual Prayer Breakfast for the United Nations di New York City. Beliau telah menulis beberapa buku tentang Kekristenan, di antaranya, Can Man Live Without God? (1994), The Lotus and the Cross: Jesus Talks with Buddha (2001), and Sense and Sensuality: Jesus Talks with Oscar Wilde (2002). Selain itu, beliau juga adalah Presiden Direktur dari Ravi Zacharias International Ministries yang berpusat di Norcross, Georgia. Pada tahun 2006 ini, pelayanan beliau telah mencapai lebih dari 33 tahun.

Pada undangan dari Billy Graham, beliau menjadi pembicara pleno di dalam International Conference for Itinerant Evangelists di Amsterdam pada tahun 1983, 1986, and 2000. Beliau bersama istri, Margie, memiliki tiga orang anak, yaitu; Sarah, yang menikah dengan Jeremy, Naomi, dan Nathan.

KENDALIKANLAH LIDAHMU!: Tinjauan Kritis dan Perspektif Iman Kristen terhadap Filosofi dan Aplikasi Cerewet (Denny Teguh Sutandio)

KENDALIKANLAH LIDAHMU!
(Tinjauan Kritis dan Perspektif Iman Kristen Terhadap Filosofi dan Aplikasi Cerewet)


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”
(Yak. 3:5-12)




I. PENDAHULUAN: FILOSOFI LIDAH MENURUT ALKITAB
Surat Yakobus merupakan salah satu kitab di dalam Alkitab yang sempat diragukan validitasnya. Dr. Martin Luther, sang reformator, menganggapnya sebagai surat jerami. Alasan keraguan tersebut adalah karena Yakobus seolah-olah mementingkan perbuatan lebih daripada iman, padahal Paulus mengajarkan pentingnya iman daripada perbuatan, karena manusia diselamatkan hanya melalui iman (Rm. 3:21-28). Tetapi benarkah Yakobus mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui perbuatan? TIDAK. Surat Yakobus ditulis oleh Yakobus kepada orang-orang Kristen yang tersebar luas (Yak. 1:1). Dengan kata lain, sudah jelas bahwa Yakobus menuliskan suratnya BUKAN untuk semua orang, namun hanya untuk orang-orang Kristen. Sehingga seluruh isinya pun merupakan pengajaran iman Kristen yang ditujukan kepada orang-orang Kristen. Di dalam Surat Yakobus, orang Kristen diingatkan dan ditegur Yakobus untuk memperhatikan seluruh kehidupannya agar orang Kristen dapat memuliakan Allah melalui kehidupannya sehari-hari. Nah, sekarang, kita akan langsung masuk ke dalam pembahasan pasal 3 dari Yakobus. Yakobus 3 dimulai pada ayat 1 dengan peringatan agar jangan banyak orang menjadi guru. Peringatan ini muncul karena pada saat itu, banyak orang Kristen yang berambisi ingin menjadi guru. Peringatan ini muncul bukan hanya untuk mengantisipasi masalah yang akan terjadi, tetapi sebagai peringatan bagi mereka yang sudah melakukan kesalahan ini.1 Dengan kata lain, yang hendak ditekankan Yakobus di pasal 3 ayat 1 ini BUKAN larangan untuk menjadi guru, namun larangan BERAMBISI ingin menjadi guru. Mengapa Yakobus melarang orang berambisi ingin menjadi guru? Apakah karena nanti Yakobus takut saingan? Tentu TIDAK. Alasannya ada pada ayat 2, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” Ya, alasannya adalah karena kita semua bersalah dalam banyak hal, khususnya menyangkut perkataan kita. Mengapa Yakobus mengaitkan guru dengan lidah? Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam bukunya Tafsiran Alkitab Untuk Awam: Surat Yakobus menafsirkan,
“Contoh yang dipakai di sini sangat berkaitan dengan tugas seorang guru, yaitu penggunaan lidah. Sebagai salah satu pemimpin jemaat dalam ibadah, seorang guru biasanya memberikan pengajaran dan bahkan berkat kepada orang lain (3:10a). Dalam situasi jemaat yang tidak mudah menerima firman dengan lemah lembut (1:19), seorang guru bisa saja menggunakan lidahnya untuk mengutuk orang lain, apalagi guru-guru di sini adalah orang-orang yang tidak memiliki hikmat yang benar (3:13-18).”2

Kemudian ayat ini juga mengajar kita bahwa barangsiapa (kata pengandaian) yang tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna yang dapat mengendalikan seluruh tubuh. Tetapi apakah dengan demikian Yakobus mengakui fakta ada orang yang bisa mengendalikan lidah? TIDAK. Justru ayat 2b ini hendak mengajar kita bahwa tidak mungkin ada orang yang sempurna yang bisa mengendalikan lidah.

Setelah itu, mengapa di ayat 2b ini, Yakobus mengaitkan antara mengendalikan lidah dengan seluruh tubuh? Tubuh di sini tentu adalah tubuh kedagingan kita. Alasannya adalah karena lidah itu merupakan bagian kecil dari seluruh tubuh. Meskipun kecil, lidah bisa menguasai dan mengarahkan seluruh hidup kita. Hal ini dijelaskan Yakobus melalui 2 metafora di ayat 3-4, yaitu: kuda (dan kekang kuda) dan kapal (dan kemudinya). Kuda dan kapal adalah sesuatu yang besar dan kuat, namun keduanya bisa dikuasai oleh sesuatu yang kecil secara ukuran, yaitu: tali kekang kuda dan kemudi kapal. Dari metafora ini, maka di ayat 5a, Yakobus menyimpulkan bahwa lidah meskipun ukurannya kecil namun dapat mengeluarkan sesuatu yang besar. Di ayat 5b, Yakobus menguatkan kembali penjelasannya dengan menyebut lidah itu seperti api yang kecil namun dapat membakar hutan yang besar. Hal ini sesuai dengan Amsal 16:27, “Orang yang tidak berguna menggali lobang kejahatan, dan pada bibirnya seolah-olah ada api yang menghanguskan.” Ayat 5b ini kemudian dijelaskan lebih mendetail oleh Yakobus di ayat-ayat selanjutnya (ay. 6-8). Di ayat 6, ia menjelaskan bahwa lidah itu adalah api dan dunia kejahatan. Kejahatan lidah ini dijelaskan Yakobus di ayat 6: menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan, sedangkan lidah itu sendiri dinyalakan oleh api neraka. Dengan kata lain, dunia kejahatan ini berkaitan erat dengan neraka (English Standard Version, International Standard Version, dan King James Version: hell; Yunani: geenna). Kejahatan lidah juga dijelaskan Yakobus di ayat 8 dengan menggunakan pernyataan bahwa lidah itu buas, tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dari ayat 1-8, kita telah melihat sekilas gambaran buruk dari lidah.

Tetapi keburukan lidah ini lebih diperparah tatkala lidah manusia bukan hanya mengeluarkan sesuatu yang buruk saja, namun yang baik juga. Hal ini dijelaskan pada ayat 9-10a, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk.” Berarti, lidah bisa dipergunakan untuk memuji Tuhan dan sekaligus mengutuk ciptaan Tuhan (atau mungkin juga mengutuk Tuhan). Hal ini ditentang oleh Yakobus di ayat 10b-12 dengan mengajarkan bahwa sumber yang satu pasti mengakibatkan hasil yang satu juga. Artinya, ketika kita beriman kepada dan di dalam Kristus, maka seluruh lidah kita dipergunakan hanya untuk memuliakan Tuhan. Hal ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa kita aplikasikan. Yang diperlukan untuk menjalankan hal ini adalah komitmen kita di hadapan Tuhan.

Berbicara mengenai lidah, kita sering mendengar orang dunia berkata, “Memang lidah tidak bertulang.” Kalimat ini tentu bukanlah kalimat denotatif yang bermakna sebenarnya (tentu lidah tidak bertulang, kalau bertulang, bukan lidah namanya, hehehe), namun kalimat ini adalah kalimat konotatif yang berarti manusia terlalu mudah mempergunakan lidah untuk tujuan tidak jelas dan tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ya, di sini, saya mengaitkan lidah dengan tanggung jawab. Saya menjumpai beberapa orang (bahkan “Kristen”, lebih parah lagi anak seorang aktivis gereja, mungkin juga “pendeta”) memakai lidahnya untuk memelintir kebenaran (Alkitab) dan menggunakannya untuk mendukung argumentasinya (baca: ambisi/nafsu) yang konyol. Supaya gerejanya bisa untung, maka beberapa “pendeta” yang tidak pernah sekolah theologi baik-baik memelintir sejumlah ayat Alkitab, lalu menipu jemaatnya dengan iming-iming: “Berikanlah persepuluhan kepada Tuhan, maka engkau akan diberi beratus kali lipat ganda”, “Anak-anak raja pasti kaya, sukses, berkelimpahan, bahkan tidak pernah digigit nyamuk”, dll. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, seorang motivator (yang menggunakan ayat-ayat Alkitab secara tidak bertanggungjawab—memelintir ayat-ayat Alkitab) menyerukan ide, “Miskin Adalah Dosa (Poor is Sin).” Jika miskin adalah dosa, berarti Tuhan Yesus yang miskin yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya ketika di dunia ini adalah sosok Tuhan Yesus yang berdosa. Begitu juga halnya dengan Paulus yang miskin yang harus bekerja sebagai tukang tenda untuk membiayai ongkos pelayanannya juga adalah Paulus yang berdosa, karena ia tidak kaya. Kasihan sekali ide-ide konyol ini bisa ditelan mentah-mentah oleh banyak orang “Kristen.” Slogan-slogan yang beridekan sukses kian bertebaran di panggung “Kristen” kontemporer. Selain itu, istilah-istilah agung seperti bergumul, dinamis, dll diucapkan bukan dengan pengertian yang bertanggungjawab, namun dipelintir supaya cocok dengan “nafsu”nya yang ji-hat (jijik dan jahat). Ya, inilah wajah orang-orang postmodern yang setiap hari kita temui.

Lidah bisa menghasilkan: pujian kepada Tuhan (lagu/nyanyian), gosip, omong kotor, fitnah, cerewet, dll. Kesemuanya itu merupakan produk lidah. Namun kali ini, saya hanya mengkhususkan membahas mengenai filosofi cerewet. Mengapa? Karena cerewet bisa dibilang “netral.” Saya mengatakan bahwa cerewet itu netral karena cerewet bisa positif dan memuliakan Tuhan, namun juga bisa negatif dan membuat orang lain bising (dan tentu justru tidak memuliakan Tuhan). Filosofi cerewet ini kita akan soroti pertama-tama dari definisinya, ciri-ciri orang cerewet, pandangan orang terhadap orang yang cerewet, penyebab cerewet, akibat cerewet, bagaimana iman Kristen menyoroti filosofi cerewet yang beres dan bertanggungjawab, dan bagaimana mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu. Sebelum membaca pembahasan tentang cerewet, berdoalah minta Roh Kudus membuka hati dan pikiran Anda, sehingga Anda menjadi rendah hati dikoreksi oleh kebenaran firman Tuhan.






II. DEFINISI CEREWET
Apa itu cerewet? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan cerewet sebagai:
“suka mencela ini itu (mengomel, mengata-ngatai, dsb); banyak mulut; nyinyir”3

Dalam bahasa Inggris, cerewet itu diterjemahkan: talkative dan dalam Kamus Inggris Indonesia, talkative diartikan: “suka (ber)bicara, banyak bicara.”4

Dari dua definisi ini, kita mendapatkan gambaran definisi cerewet:
A. “Netral”: Suka (ber)bicara
Definisi cerewet pertama adalah suka (ber)bicara. Definisi ini saya katakan “netral”, karena memang definisi ini bisa dipakai untuk sesuatu yang positif (dan membangun orang lain) dan negatif (terlalu mengurusi hal-hal yang sekunder). Kalau untuk hal-hal positif, itu bagus, namun kalau untuk hal-hal negatif, orang yang cerewet ini bisa dibilang masih kekanak-kanakan (childish).




B. Negatif: Suka Mencela/Mengata-ngatai
Definisi cerewet kedua adalah suka mencela/mengata-ngatai. Definisi ini jelas bersifat negatif, karena tujuannya adalah ingin menjatuhkan orang lain. Mungkin sekali motivasi orang yang cerewet ini adalah untuk menonjolkan kehebatan diri, lalu ia dengan mudahnya mencela dan/ mengata-ngatai orang lain dengan kata-kata “sakti” (maksudnya: kata-kata kotor).






III. CIRI-CIRI ORANG CEREWET
Setelah mengerti definisi cerewet, maka apa sih yang menjadi ciri-ciri orang cerewet?
A. Mengurusi Urusan Orang Lain
Ciri umum orang cerewet pertama adalah mengurusi urusan orang lain. Artinya, orang cerewet itu adalah orang yang ikut campur urusan orang lain. Misalnya ada teman atau saudara kita berbuat salah, kita yang menegur dan mengingatkan kesalahannya bisa dibilang oleh mereka (teman/saudara kita tersebut) sebagai orang cerewet. Mengapa mereka bisa mengatakan kita cerewet? Karena kita terlalu mencampuri urusan orang lain yang bukan urusan kita. Mengapa pemikiran ini bisa muncul? Mungkin sekali disebabkan oleh pengaruh egois dalam diri mereka. Bagi mereka, “my business is not your business; your business is not my business; let’s do our own business.” (mengutip perkataan Pdt. Sutjipto Subeno) Bagaimana iman Kristen menyoroti hal ini? Saya menyorotinya dalam dua hal:

Pertama, ketika kita menegur kesalahan atau bahkan dosa orang lain, itu tidak bisa dikategorikan sebagai cerewet yang bernada negatif, karena ketika kita menegur, justru itu merupakan tanda kita mengasihi orang yang kita tegur (meskipun demikian, kita tetap harus memurnikan motivasi, cara, dan tujuan kita menegur orang lain). Alkitab sendiri dengan jelas mengajar kita untuk menegur orang lain yang berdosa. Di Perjanjian Lama, kita melihat contoh para nabi yang diutus Tuhan menegur dosa Raja Daud, bangsa Israel, dll. Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri memerintahkan kita untuk menegur saudara seiman kita yang berbuat dosa (Mat. 18:15-20). Paulus sendiri menegur Petrus yang munafik (Gal. 2:11-14). Kesemuanya ini merupakan wujud dari “cerewet” positif.

Kedua, ketika kita menegur orang lain, perhatikanlah batas-batasnya. Artinya, jika ada teman atau saudara kita bersalah atau mengalami masalah khusus, hendaklah kita menegur mereka sebatas hal-hal umum dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadi mereka. Di sini, kita harus memperhatikan aspek privasi orang lain. Saya terus terang “takut” dengan beberapa orang “Kristen” yang menggalakkan ide persekutuan, akhirnya nanti menjadi komunisme di dalam gereja. Konsep dan aplikasi persekutuan di dalam gereja memang tidak salah, karena Alkitab mengajar hal tersebut, namun konsep dan aplikasi persekutuan HARUS dibedakan secara jelas dari konsep dan aplikasi komunisme. Konsep dan aplikasi persekutuan berangkat dari ketulusan dan kerelaan hati sesama umat Tuhan untuk berbagi hidup: saling berbagi, menegur, mengajar, menguatkan, dan menghibur (bdk. Kis. 2:41-47; 4:32-37). Sedangkan konsep dan aplikasi komunisme didasarkan pada pemaksaan dari orang lain agar semua orang mau saling berbagi. Kalau orang “Kristen” memaksa orang “Kristen” lain agar saling berbagi (bahkan untuk hal-hal privasi), itu namanya bukan persekutuan, namun komunisme dalam gereja. Percuma saja kita sebagai orang Kristen mati-matian melawan ide komunisme yang bertentangan dengan ajaran Alkitab, namun secara aplikasi, kita masih menjalankan komunisme secara terselubung. Belajarlah peka akan hal ini.




B. Memperhatikan Hal-hal Detail
Ciri kedua orang cerewet adalah memperhatikan hal-hal detail. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal detail itu tidak perlu diperhatikan, namun jika kita terlalu memperhatikan dan bahkan menekankan hal-hal detail lebih daripada hal-hal esensial lainnya, maka saya menyebutnya sebagai orang cerewet. Hal-hal detail sendiri saya kategorikan menjadi dua: hal-hal detail primer dan sekunder. Hal-hal detail primer berkaitan dengan hal-hal khusus yang tetap memiliki signifikansi berarti. Misalnya, di dalam dunia Kekristenan, theologi Reformed merupakan salah satu cabang theologi Kristen yang mendetail namun primer. Sedangkan hal-hal detail sekunder berkaitan dengan hal-hal khusus yang kurang memiliki signifikansi berarti. Misalnya, di dalam dunia Kekristenan, theologi Reformed infralapsarian/supralapsarian merupakan salah satu cabang theologi Kristen yang mendetail namun sekunder. Perbedaan infralapsarian dan supralapsarian memang perlu dipelajari, namun kurang memiliki signifikansi berarti. Mengapa? Karena seorang Reformed infralapsarian tidak lebih Alkitabiah daripada Reformed supralapsarian, begitu juga sebaliknya. Perbedaan itu hanyalah perbedaan sekunder (bahkan tersier) yang tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Di dalam kehidupan sehari-hari, belajarlah untuk membuat perbedaan antara hal-hal utama dan hal-hal detail (detail primer dan sekunder), lalu bersikaplah berbeda terhadap dua hal ini.




C. Berlebih-lebihan
Ciri ketiga orang cerewet biasanya adalah sikapnya yang berlebih-lebihan (bahasa gaulnya: lebay). Biasanya orang cerewet ini gemar membesar-besarkan suatu masalah yang kecil. Di dalam hal doktrin, misalnya tentang baptisan anak. Ajaran tentang baptisan anak adalah hal sekunder yang tidak perlu diberhalakan karena Alkitab TIDAK melarang dan juga TIDAK mewajibkan praktik baptisan anak. Namun ada seorang pendeta Reformed yang terlalu membesar-besarkan konsep baptisan anak (masalah kecil), lalu berkata di atas mimbar bahwa gereja yang tidak menjalankan baptisan anak itu sesat. Silahkan cek di seluruh sejarah Reformed, adakah satu theolog Reformed yang seekstrem si pendeta ini? Inilah tandanya orang cerewet puoolll… Sebentar lagi, tidak usah heran, di dalam dunia Kekristenan (khususnya beberapa Reformed tertentu), ada fatwa haram untuk menyanyikan lagu-lagu rohani kontemporer (meskipun yang sudah diseleksi sesuai dengan Alkitab) atau bahkan mengharamkan jemaat gereja Reformed untuk membaca buku-buku non-Reformed (dengan alasan takut terkontaminasi).5 Jangankan nanti, sekarang saja, saya sudah menemukan contoh praktis orang-orang cerewet namun tidak ada isinya itu di lingkungan Kekristenan koq.

Kedua, membesar-besarkan masalah kecil ditandai dengan reaksi orang cerewet terhadap satu masalah/perkataan/tindakan orang lain. Misalnya jika ada orang lain salah, mungkin bisa dikategorikan salah dalam hal remeh, orang cerewet biasanya langsung bereaksi lebay, bisa ngomel tidak berhenti kira-kira 10 menit, bahkan yang paling ekstrem 1 jam. Biasanya juga orang cerewet ini mudah mengungkit sesuatu yang terjadi di masa lalu. Jika ada suatu masalah yang dahulu sudah diselesaikan, maka biasanya orang cerewet yang mungkin karena kehabisan bahan pembicaraan, akan mengungkit masalah yang dahulu telah diselesaikan untuk didiskusikan bahkan diperdebatkan dengan orang lain (entah itu pasangan, teman, saudara, dll). Atau juga bisa orang cerewet ini mengatakan sesuatu yang telah dikatakannya pada hari-hari sebelumnya. Repetisi menjadi ciri khas orang cerewet. Saya terus terang paling bosan mendengar repetisi.






IV. PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP ORANG YANG CEREWET
Lalu, bagaimana pandangan orang lain terhadap orang yang cerewet?
A. Positif: Memperhatikan Orang Lain
Orang cerewet bisa dinilai orang lain sebagai orang yang memperhatikan orang lain. Mengapa? Karena ia bukan hanya berkutat dengan urusannya sendiri, namun juga urusan orang lain. Biasanya dalam hubungan muda-mudi (masa pendekatan/PDKT atau pacaran), kalau cowok memperhatikan cewek dan/atau sebaliknya, mungkin pihak lain menganggapnya cewek/cowoknya ini sebagai orang cerewet, namun sebenarnya tidak demikian. Kecerewetannya itu merupakan tanda bahwa cewek/cowoknya itu memperhatikan pasangannya. Namun perlu juga diperhatikan bahwa kecerewetan ini tentu memiliki batas-batas, jangan sampai cerewetnya melampaui kewajaran, misalnya setiap menit dipantau. Soalnya ada kejadian yang pernah diceritakan oleh seorang teman saya bahwa ada cowok yang mendekati dia (anak SMA), setiap beberapa menit cowok itu SMS teman saya ini: lagi di mana, ngapain, dll, akibatnya teman saya itu ngomel.




B. Negatif: Aktualisasi Diri
Orang cerewet bisa dinilai orang dengan penilaian negatif sebagai orang yang hanya mau menunjukkan kehebatan diri atau menggunakan bahasa psikologi: aktualisasi diri. Aktualisasi diri ini ditandai dengan dua hal:
1. Egois
Orang cerewet bisa dinilai sebagai orang yang egois, karena biasanya (tidak semua) orang cerewet hanya mau bila pandangan dan perkataannya didengarkan, sedangkan dia sendiri tidak akan pernah mau mendengarkan pandangan orang lain (yang mungkin lebih benar dan bisa dipertanggungjawabkan) ketimbang pandangannya sendiri. Kalau sampai pandangan dan perkataannya (bahkan untuk hal-hal sekunder atau mungkin tersier) tidak didengarkan, maka orang cerewet ini akan bertindak seperti anak kecil, yaitu: ngambek.


2. Sombong
Orang cerewet bisa dinilai sebagai orang sombong, karena melalui kecerewetannya, dia hendak menunjukkan kepada dunia bahwa dia sajalah yang paling pandai, hebat, kuat, bijaksana, dll. Yang lebih parah lagi, ada orang cerewet yang bisa-bisanya berpikir bahwa dunia akan hancur jika dia tidak cerewet atau dia tidak ada. Yang semakin parah, hal ini bukan dilakukan oleh orang non-Kristen, namun dilakukan oleh orang Kristen dan bahkan pemimpin gereja. Biarlah ini menjadi bahan introspeksi diri kita masing-masing.






V. PENYEBAB CEREWET
Setelah belajar definisi, ciri-ciri, dan pandangan orang lain terhadap orang yang cerewet, maka apa sih yang menyebabkan orang cerewet? Orang cerewet bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
A. Penyebab Internal
Orang cerewet disebabkan karena adanya faktor internal, yaitu:
1. Karakter
Secara karakter, memang ada orang yang tergolong cerewetnya puolll. Dan jujur saja, biasanya orang yang cerewetnya puolll itu mayoritas pihak cewek. Adalah suatu keanehan jika cowok lebih cerewet ketimbang cewek (meskipun secara fakta, ada juga cowok bisa lebih cerewet ketimbang ceweknya), hehehe… Kalau kita memiliki pasangan hidup yang cerewetnya puolll (burung beo saja kalah, huahahaha), berdoalah kepada Tuhan, agar Roh Kudus mengubah karakternya itu menjadi sesuatu yang memuliakan Tuhan, misalnya: cerewet dalam memberitakan Injil (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam salah satu khotbahnya dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen yang berjudul Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus).


2. Traumatik
Orang cerewet bisa disebabkan karena trauma dengan pengalamannya dahulu yang kelam. Misalnya, mungkin karena dahulu dirinya tidak dididik oleh orangtuanya untuk mencari pasangan hidup yang tepat, sehingga dia bercerai dengan suaminya, maka seorang istri/ibu bisa cerewet memperhatikan siapa saja yang mendekati anak perempuannya. Sang ibu bisa cerewet bertanya kepada anak perempuan tentang si cowok yang mendekatinya, mulai dari garis keturunan (apakah dari keturunan darah biru atau darah merah atau berdarah-darah, hahaha), riwayat kesehatan (apakah tidak memiliki penyakit turunan, seperti: kanker, kencing manis, darah tinggi, atau mungkin bahkan mata duitan, hahaha), dll. Meskipun hal tersebut tetap perlu diperhatikan, namun jika hal-hal tersebut merupakan faktor mutlak menggantikan standar Alkitab, maka itu sudah menjadi berhala dan sudah berdosa!




B. Penyebab Eksternal: Lingkungan
Selain internal, orang cerewet bisa disebabkan karena faktor eksternal, yaitu lingkungan. Biasanya lingkungan di mana kita hidup tidak selalu sama/cocok dengan karakter dan keinginan kita. Nah, tatkala lingkungan sekitar di mana kita hidup tidak cocok dengan kita inilah yang mengakibatkan banyak orang cerewet. Bagi orang cerewet, dunia harus cocok dengan dirinya. Ketika dunia tidak cocok dengan dirinya, dia akan mengomel dan mengkritik habis-habisan, supaya dunia bisa cocok dengan dirinya. Dengan kata lain, orang cerewet ingin semua orang di dunia ini harus mendengarkan dirinya.

Kedua, lingkungan di mana kita hidup adalah lingkungan manusia berdosa. Dari hati, cara berpikir, perkataan, sikap, dll dipenuhi dosa. Maka, biasanya orang cerewet adalah orang yang terlalu paranoid dengan dunia sekitar. Oleh karena itu, biasanya orang cerewet jarang bisa percaya kepada siapa pun (kecuali dirinya sendiri yang bisa dipercayai) dengan dalih bahwa kita harus berhati-hati. Benarkah sikap demikian? Berwaspada TIDAK sama dengan paranoid lebay! Berwaspada yang Tuhan mau adalah berwaspada aktif, tetapi tidak kaku apalagi paranoid. Perhatikan pola pikir berikut ini. Alkitab memerintahkan kita agar pola pikir kita diubah sesuai dengan firman Tuhan, sehingga kita makin mengerti kehendak Allah: baik, berkenan kepada Allah, dan sempurna (Rm. 12:2) Dengan terus mendekat kepada Tuhan dan firman-Nya, kita akan makin mengerti apa yang Tuhan mau/suka dan otomatis apa yang Tuhan tidak suka. Apa yang Tuhan tidak suka, kita tidak akan melakukannya. Berwaspada dengan apa yang Tuhan tidak suka TIDAK berarti kita terlalu memfokuskan pandangan kita pada apa yang Tuhan tidak suka, tetapi dengan memfokuskan pandangan kita pada apa yang Tuhan suka. Apa yang Tuhan suka mengakibatkan kita kritis terhadap apa yang Tuhan tidak suka yang tentunya bertentangan dengan apa yang Tuhan suka. Contoh: dengan belajar firman, kita mengerti bahwa Tuhan menyukai kemurnian hati dan ketaatan, sedangkan Ia tidak menyukai kemunafikan (Rm. 12:9) dan ketidaktaatan. Berwaspada dengan segala bentuk kemunafikan dan ketidaktaatan tidak berarti kita terlalu berfokus pada kemunafikan dan ketidaktaatan, namun kita perlu berfokus apa arti kemurnian hati dan ketaatan, sehingga kita bisa terhindar dari bahaya kemunafikan dan ketidaktaatan.

Di kalangan Reformed, kami percaya bahwa di antara banyak arus theologi yang kurang setia kembali kepada Alkitab (lingkungan), gerakan Reformasi dan theologi Reformed dipakai Tuhan untuk membawa orang Kristen untuk kembali kepada Alkitab. Dengan kata lain, spirit mula-mula Reformasi dan Reformed adalah Sola Scriptura (hanya Alkitab). Namun, spirit ini mulai bergeser dari Sola Scriptura menjadi Sola Reformed. Mungkin hanya sedikit orang yang sadar akan hal ini. Sebagai orang yang bertheologi Reformed, saya mengamini bahwa theologi Reformed bisa dikatakan sebagai satu-satunya representatif theologi Kristen yang theosentris yang mampu menjawab tantangan zaman (atau mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong: mampu menantang zaman untuk kembali kepada Kristus), namun berhati-hatilah, jangan sampai orang Reformed menjadi orang yang sombong dan merasa diri paling benar. Jujur saja saya sudah mendapati beberapa orang bahkan pendeta Reformed bukan lagi mempertahankan Sola Scriptura, melainkan Sola Reformed bahkan Sola Traditio. Mereka biasanya anti mendengarkan khotbah-khotbah dari pendeta non-Reformed bahkan dari pendeta Reformed namun bukan berasal dari gereja yang berplang Reformed. Belajar di seminari theologi yang tidak berdasarkan theologi Reformed dicap bidat. Membaca buku pun harus dilihat, apakah penulisnya bertheologi Reformed atau tidak. Saya mendapati fakta bahwa ketika saya membawa buku When God Writes Your Love Story yang ditulis oleh Eric dan Leslie Ludy, seorang rekan pemudi gereja saya bertanya, “Apakah buku ini buku Reformed?” Saya hanya tersenyum kecil dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Apakah sebagai orang Reformed, kita tidak boleh membaca buku-buku non-Reformed? Apakah dengan membaca buku-buku non-Reformed, kita langsung dicap bidat? Mengapa beberapa orang (bahkan pendeta) Reformed menjadi orang yang pandai menghakimi orang secara membabi-buta? Biarlah ini menjadi bahan introspeksi orang Kristen, khususnya beberapa Reformed tertentu yang gemar mengkritik sini sana secara membabi-buta (tanpa dasar yang jelas).






VI. AKIBAT CEREWET
Semua tindakan pasti memiliki akibat. Demikian juga dengan filosofi dan tindakan cerewet. Apa akibat cerewet? Saya membaginya menjadi dua: akibat cerewet di mata Tuhan dan terhadap orang lain.
A. Akibat Cerewet Di Mata Tuhan
Apa akibat cerewet di mata Tuhan? Alkitab dengan jelas mengajar kita reaksi Tuhan terhadap kecerewetan manusia. Contoh: bangsa Israel yang gemar bersungut-sungut, namun Tuhan tetap mengasihi Israel tersebut dengan mengabulkan permintaan mereka. Ketika di Mara, Israel bersungut-sungut kehausan karena air di Mara pahit rasanya, maka Musa berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan menunjukkan sepotong kayu kepada Musa dan memerintahkan Musa untuk melemparkan kayu tersebut ke dalam air, lalu air itu menjadi manis (Kel. 15:22-25). Ketika di padang gurun Sin, Israel minta makanan karena lapar, Ia memberikan roti dan daging (Kel. 16:1-36). Di Masa dan Meriba, Israel kembali bersungut-sungut kehausan, maka Tuhan menyediakan air yang keluar dari batu yang dipukul oleh Musa (Kel. 17:1-7). Namun kecerewetan Israel yang meminta apa pun TIDAK selalu dikabulkan oleh Tuhan. Ketika bangsa Israel bersungut-sungut karena terlalu lama menunggu Musa di gunung Sinai, maka mereka memanggil Harun untuk membuat patung anak lembu emas. Di saat itu, Tuhan benar-benar murka kepada Israel. Ia menyuruh Musa untuk turun dari Gunung Sinai dan amarah Tuhan meluap melalui amarah Musa. Apa yang Musa lakukan? Alkitab mencatat, “dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu. Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel.” (Kel. 32:19b-20) Kecerewetan Israel benar-benar keterlaluan, sehingga murka Tuhan menimpa mereka. Allah yang Mahakasih juga Allah yang Mahakudus dan Mahaadil. Ingatlah prinsip ini. Oleh karena itu, cerewet tidak selalu positif. Cerewet yang keterlaluan juga mengakibatkan Tuhan sendiri murka. Biarlah ini menjadi introspeksi bagi kita untuk berhati-hati dalam menggunakan lidah kita supaya Tuhan tidak murka atas kita.




B. Akibat Cerewet Terhadap Orang Lain
Cerewet bisa berakibat positif dan negatif terhadap orang lain:
1. Akibat Positif: Orang Lain Diingatkan (Ditegur)
Bagi orang lain, cerewet itu ada manfaatnya, yaitu orang lain yang dicereweti itu diingatkan/ditegur. Ketika seseorang melakukan suatu kesalahan, kemudian ada orang lain yang cerewet menegurnya, maka orang yang melakukan kesalahan itu diingatkan oleh kecerewetan orang lain. Tentu hal ini positif. Saya sendiri mengalami cerewet model ini berguna juga buat saya, menegur dan membangun, meskipun cerewet model ini lama-kelamaan membuat risih juga.


2. Akibat Negatif: Orang Lain Merasa Risih/Bising dan Bosan
Bagi kebanyakan orang, cerewet lebih berakibat negatif ketimbang positif, mengapa? Karena biasanya, orang cerewet itu membuat orang lain merasa risih/bising dengan kecerewetannya. Tidak percaya? Saya akan memberikan sebuah anekdot yang menggambarkan hal ini,
“Pada suatu ketika di Jepang, hiduplah seorang lelaki yang sederhana, namanya Oda. Ia memiliki seorang istri yang sangat cantik dan sangat disayanginya. Namun sang istri mempunyai kebiasaan buruk, yaitu tiap kali diajak bicara pasti akan keterusan alias teramat sangat cerewet sekali.

Selain itu sang istri tersebut juga suka mengumpat dengan kata-kata yang keras dan memekakkan telinga sehingga orang-orang tidak mau dekat-dekat dengannya. Sebenarnya, Oda sangat menyayangi istrinya itu, tapi para tetangganya yang merasa terganggu lambat laun berani juga mengadu pada Oda perihal istrinya itu. Akhirnya Oda pun termakan kata-kata tetangganya. Ia berpikir bagaimana melenyapkan istrinya dari muka bumi.

Suatu ketika Oda mengajak istrinya berjalan-jalan ke kuil tua di tengah hutan ketika melewati bagian belakang kuil yang sudah rusak, Oda melihat sebuah sumur tua yang tak digunakan lagi. Maka ia berpura-pura mengajak istrinya melihat burung di pohon besar dekat sumur itu. Lantas dengan tiba-tiba Oda mendorong istrinya itu masuk ke sumur.

Pada lima menit pertama Oda merasa sangat bahagia karena sepanjang hidupnya baru kali ini ia merasakan suasana yang begitu tenang tanpa celoteh istrinya.

Lima menit kedua, Oda mulai merasa sepi juga karena tidak terbiasa dengan kesunyian. Akhirnya lima menit ketiga dengan keragu-raguan Oda kembali menuju sumur angker tersebut. Ia menurunkan tali timba dan berteriak menyuruh istrinya naik.

Begitu terkejutnya Oda ketika yang naik bukan istrinya melainkan sosok makhluk menyeramkan dengan bulu lebat di sekujur tubuhnya, dialah makhluk penunggu sumur tua itu.

Oda lantas bertanya, “Lho, kenapa kamu yang naik??”

Lantas makhluk itupun dengan wajah pucat ketakutan menjawab, “Aku takut, di bawah ada orang cerewet sekali…””

Perhatikan anekdot di atas. Kecerewetan istri Oda ini memiliki beberapa ciri sesuai dengan yang telah dibahas pada poin sebelumnya dan kecerewetan ini mengakibatkan tetangganya, suaminya, dan makhluk halus penunggu sumur tua sampai kewalahan mendengar ocehan “burung beo” dari si istri Oda. Bayangkan jika Anda berada di situ, Anda juga pasti kewalahan.

Selain risih/bising, orang cerewet mengakibatkan orang lain merasa bosan dengan apa yang diocehkan oleh si cerewet. Bagaimana tidak, misalkan, pada hari Senin, si cerewet berbicara tentang X, kemudian tidak sampai seminggu, di hari Rabu atau Kamis, si cerewet berbicara lagi tentang X dengan nada bicara yang hampir sama, setelah itu hari Sabtu, si cerewet juga berbicara hal yang sama lagi tentang X. Dengan kata lain, dalam seminggu, sudah 3x si cerewet mengatakan hal yang sama. Jika Anda berada di dekat si cerewet, dijamin Anda bisa senewen dan mblenger (bosan) mendengar ocehan gak jelas dari si cerewet. Terus terang, saya paling bosan mendengar ocehan yang sama. Kalau perkataan yang sama diulang sampai 4-5x, bisa dipastikan saya mencuekkan omongan tersebut atau mungkin melakukan tindakan lain. Tindakan serupa saya lakukan jika saya mendengarkan seorang pengkhotbah yang khotbahnya selalu ujung-ujungnya sama (sudah bisa ditebak jalan pikirannya pasti menuju ke topik itu: kritik terhadap materialisme, pragmatisme, dll). Repetisi di dalam mengatakan sesuatu baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun khotbah mengakibatkan orang yang mendengarkannya bosan. Orang Kristen dan para pengkhotbah yang rendah hati biarlah peka memperhatikan hal ini. Hai para pengkhotbah, jangan merasa diri Anda pengkhotbah atau gembala sidang, kemudian Anda tidak mendengarkan suara jemaat Anda.






VII. IMAN KRISTEN DAN CEREWET
Setelah mengamati fenomena tentang cerewet, maka bagaimana iman Kristen menyoroti hal ini?
A. Sikap Orang Kristen Secara Umum
1. Menerima dan Melakukannya -> Karena Memang Karakternya Cerewet Puolll (Membela Diri)
Berkaitan dengan cerewet, sikap orang Kristen secara umum yang pertama adalah menerima dan melakukannya. Artinya, mereka setuju sikap cerewet karena bagi mereka, cerewet itu berarti. Kalau dia tidak cerewet, orang lain tidak akan mengerti kesalahannya. Benarkah itu motivasinya? Mungkin ada benarnya, namun sebenarnya, motivasi aslinya bukan demi orang lain, namun demi si cerewet itu sendiri, yaitu memang karakter aslinya cerewet abizzz, maka ia menjadi pendukung gerakan cerewet (talkative “movement”). Orang cerewet ini coba dikumpulkan bersama para ibu di sebuah arisan, dijamin sampai arisan selesai pun, si cerewet ini tidak akan pulang. Ya, manusia berdosa itu paling mudah untuk membela diri. Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. pernah berkata bahwa manusia kalau sudah salah paling cepat (tidak usah diajari) “berapologetika” (artinya: membela diri), hehehe.


2. Menolak -> Karena Memang Karakternya Pendiam (Argumentasinya: Silence is Gold)
Sikap orang Kristen kedua terhadap gejala cerewet adalah menolak. Artinya, orang Kristen ini menolak sikap cerewet, karena itu menganggu orang lain. Saya heran, banyak orang zaman postmodern ini paling mudah berargumentasi mendukung sikapnya yang seolah-olah demi kepentingan orang lain, tetapi benarkah motivasinya murni? Mungkin benar, namun kembali, sejujurnya, alasannya adalah karena memang karakternya pendiam. Dasar argumentasinya: Silence is Gold (Diam itu Emas). Benarkah diam itu emas? Di satu sisi, ya, namun di sisi lain, tidak. Diam itu emas sejauh diam itu berguna, artinya tatkala memang perlu diam, ya diam. Namun diam itu emas menjadi bermasalah tatkala disuruh berbicara, dia berkata hanya sepatah atau dua patah kata. Sejujurnya saya paling tidak suka bergaul/berteman dengan orang yang terlalu diam, mengapa? Selain terlihat jadul, orang diam itu kurang bisa berekspresi atau mengeluarkan pendapat berarti. Tidak berarti, saya suka dengan orang yang cerewet puolll. Saya senang bersahabat dengan orang yang bisa menyeimbangkan antara cerewet dan diam.




B. Sikap Orang Kristen yang Benar: Paradoks dan Bermutu
Jika orang Kristen umum memandang cerewet secara ekstrem: ada yang mendukung dan menolaknya dengan argumentasi subyektif mereka, maka bagaimanakah orang Kristen yang beres menyoroti cerewet? Pada bagian ini, kita akan mencoba memahami filosofi dan aplikasi cerewet yang bertanggungjawab sesuai dengan Alkitab dan prinsip kedaulatan Allah.
1. Motivasi Cerewet
Sebelum kita melakukan sesuatu, biasakanlah bertanya motivasinya. Sebelum membahas tentang cerewet, apa sih yang menjadi motivasi cerewet yang beres itu?
a. Untuk Memuliakan Tuhan
Motivasi cerewet yang pertama dan terpenting adalah memuliakan Tuhan. Artinya, melalui kebawelan kita, kita membawa Injil Tuhan dan nama Tuhan diagungkan di dalam hidup kita. Itu yang dimaksud Pdt. Dr. Stephen Tong dengan cerewet dalam memberitakan Injil, cerewet melawan dosa, dll. Beliau mengajar bahwa cerewet itu tidak salah asalkan dipakai memuliakan Tuhan. Ketika ada teman/saudara kita yang cerewet yang bermotivasi tulus agar kita makin memfokuskan hidup kepada Tuhan, maka kita tidak boleh marah, karena kebawelannya dipakai Tuhan untuk menyadarkan dan mengarahkan kita kembali kepada Tuhan. Ketika ada seorang Kristen yang saleh yang kelihatannya cerewet dalam memberitakan Injil, jangan pandang dia sebagai orang bawel yang tak bermakna, pandanglah kebawelannya dipakai Tuhan secara luar biasa untuk memberitakan Injil. Maukah kita bawel bagi Tuhan?

b. Untuk Membangun Orang Lain
Kedua, motivasi cerewet adalah untuk membangun orang lain. Melalui kebawelan, biarlah kita membangun orang lain dalam hal-hal primer. Ketika orang lain salah, kita boleh bawel menegur orang lain, namun sekali lagi yang perlu diingat, perhatikan batas kebawelan. Jangan terlalu bawel dalam hal-hal sekunder apalagi tersier. Kalau orang lain lagi dalam masalah, kita boleh “bawel” memberikan kata-kata kekuatan, namun sekali lagi jangan terlalu bawel sampai akhirnya orang yang lagi dalam masalah bukan terhibur, malahan jengkel dengan kehadiran kita yang super duper bawel. Sebelum cerewet, perhatikanlah isi yang mau Anda katakan, supaya orang lain tidak merasa terganggu.


2. Cerewet yang Beres
Setelah memperhatikan motivasi cerewet, maka saat ini kita akan mencoba memahami bagaimana cerewet yang beres. Cerewet yang beres, seperti perenungan kita akan lidah di poin I dan motivasi cerewet di nomer 1 di atas, adalah cerewet yang dipergunakan untuk memuliakan Tuhan. Cerewet yang memuliakan Tuhan adalah cerewet yang bermutu dan tidak egois. Dua prinsip ini kita akan coba aplikasikan di dalam tiga poin di bawah.
a. Memperhatikan Isi
Selain motivasi, cerewet yang beres harus memperhatikan isi dari perkataan yang kita ucapkan. Artinya, kita boleh cerewet asalkan isi cerewet itu memiliki signikansi berarti. Untuk itu, saya membagi dua macam cerewet:
(1) Cerewet Primer
Cerewet primer adalah cerewet yang berkaitan dengan hal-hal primer, seperti: iman, kerohanian, dosa, dll. Ketika kita menyontek pada saat ujian, kemudian teman kita menegur kita agar tidak menyontek lagi, maka teguran itu meskipun seolah-olah kelihatan cerewet, namun itu berguna bagi kita, baik dari sisi spiritual (melawan kehendak Tuhan yang menghargai kejujuran) maupun dari sisi praktika (agar kita lebih giat belajar) maupun dari sisi agak pragmatis (agar di kesempatan lain, tindakan menyontek kita tidak ketahuan oleh guru/dosen).

(2) Cerewet Sekunder
Cerewet sekunder adalah cerewet yang berkaitan dengan hal-hal sekunder bahkan tersier, misalnya: warna baju, makanan favorit, karakter/temperamen, dll. Si cerewet kadang-kadang kalau melampaui batas bisa keterlaluan sekali dan membuat orang lain jengkel. Presuposisi si cerewet ini adalah orang lain TIDAK boleh berbeda dari dia bahkan untuk urusan kecil sekalipun. Urusan (selera) makanan pun diurusi. Di dalam hal theologi, masalah liturgi saja diurusi. Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. mengatakan kepada saya secara pribadi bahwa hanya gara-gara gereja yang digembalakannya mengadopsi lagu-lagu rohani kontemporer, ada pendeta yang menuduh gerejanya bertheologi Arminian. Si cerewet yang terlalu mengurusi hal-hal sekunder bahkan tersier membuktikan bahwa si cerewet masih kekanak-kanakan (childish). Anak-anak pada waktu masih kecil selalu menuntut bahwa miliknya harus sama bagusnya dengan (atau lebih bagus dari) milik orang lain. Bukankah suatu keanehan jika semangat ini terus diadopsi dan dipelihara sampai dewasa? Masalahnya, ada orang dewasa yang masih memelihara semangat ini, sehingga ia akan bawel abizzz jika orang lain berbeda selera makan atau warna baju dengan dia.

b. Memperhatikan Obyek
Selain isi, kita tetap harus memperhatikan obyek/sasaran yang kepadanya kita cerewet. Dengan kata lain, kita harus memperhatikan orang yang kita ajak bicara, apakah tipe orang yang suka dengan orang yang cerewet atau justru jengkel dengan orang yang bawelnya bukan main. Di sini, kita yang sudah terbiasa cerewet berusaha untuk TIDAK egois.
(1) Suka Dengan Orang yang Cerewet
Ada tipe orang yang memang suka dengan orang yang cerewet. Orang ini mungkin seorang pendiam yang suka didongengi oleh orang yang cerewet atau mungkin juga orang ini juga seorang yang cerewet abizzz, jadi klop tuh, si bawel klop ama si bawel, jadilah: bawel kuadrat (bawel2), hahaha. Kalau dengan orang yang suka dengan orang yang cerewet, maka si cerewet nyaman-nyaman saja jika si cerewet mengaktualisasi dirinya.

(2) Tidak Suka Dengan Orang yang Cerewet
Selain itu, ada juga tipe orang yang benar-benar tidak suka dengan orang yang cerewet. Jika Anda seorang yang cerewet kemudian lawan bicara Anda atau mungkin pasangan Anda adalah seorang yang anti-cerewet, Anda harus berusaha untuk menghentikan kebiasaan bawel Anda supaya orang di sekitar Anda bisa hidup lebih lama sedikit, hehehe…

c. Memperhatikan Situasi dan Kondisi
Selain isi dan obyek, si cerewet harus memperhatikan situasi dan kondisi. Jika si cerewet berada di dalam suatu situasi dan kondisi (sitkon) orang yang lagi kesusahan, misalnya salah satu keluarganya baru meninggal atau sakit parah di rumah sakit, maka sebagai orang Kristen, kita memang harus menghibur dan memberi kata-kata yang menguatkan, namun jika Anda termasuk golongan si cerewet aktif, maka Anda harus peka dengan sitkon itu dan berusaha menghentikan kebiasaan bawel Anda. Di dalam sitkon tersebut, ucapkan beberapa kalimat yang menguatkan orang yang lagi kesusahan tersebut dan jangan membuat “khotbah” berjam-jam, karena orang yang lagi kesusahan membutuhkan penghiburan, bukan “khotbah” semu/menggombal.






VIII. MENGUBAH KEBIASAAN
Di poin sebelumnya, kita telah melihat bahwa cerewet itu ada yang primer dan sekunder. Pertanyaan selanjutnya, jika kita memang orang yang rendah hati dan mau bertobat dari kebiasaan bawel untuk hal-hal yang tidak penting, maka bagaimana kita bisa mengubah kebiasaan kita yang terlalu cerewet itu? Di poin VIII ini, kita akan belajar bagaimana mengubah kebiasaan.
A. Terlalu Cerewet -> Cerewet Bermutu
Jika di poin sebelumnya, kita telah belajar cerewet primer vs sekunder, maka pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengubah cerewet sekunder menjadi cerewet primer? Dengan kata lain, bagaimana mengubah kebiasaan terlalu cerewet menjadi cerewet yang bermutu? Sebelum membahas caranya, pertanyaan selanjutnya, mengapa kita perlu mengubah kebiasaan kita dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu? Mengapa kita bukan mengubah kebiasaan terlalu cerewet menjadi pendiam? Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK): Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus menjelaskan bahwa Roh Kudus memimpin temperamen manusia. Beliau bertanya bahwa apabila seseorang sebelum bertobat adalah seorang yang cerewet, lalu apakah setelah bertobat, maka dia menjadi pendiam (si cerewet berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menjahit mulutnya)? TIDAK. Beliau menjawab bahwa orang cerewet silahkan tetap cerewet, tetapi yang diubah arah/tujuan cerewetnya, kalau dahulu cerewet untuk hal-hal tak berguna, sekarang diubah Roh Kudus menjadi cerewet untuk memberitakan Injil. Dengan kata lain, yang perlu diubah dari si cerewet adalah arah/tujuannya, bukan karakter aslinya. Jika semua orang cerewet diubah kebiasaannya menjadi pendiam, maka sungguh sangat disayangkan, nanti seluruh dunia pada diam membisu, hehehe…




B. Alasan, Motivasi, dan Tujuan Mengubah Kebiasaan
Lalu, apa alasan, motivasi, dan tujuan mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu?
1. Nama Tuhan Dimuliakan
Pertama, jelas alasan, motivasi, dan tujuan terpenting adalah nama Tuhan dimuliakan. Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus sendiri mengajar kita, “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Mat. 12:36) Kata “sia-sia” diterjemahkan oleh English Standard Version (ESV), New American Standard Bible (NASB), dan New International Version (NIV) sebagai careless (ceroboh). Kata ini dalam bahasa asli (Yunani)nya adalah argos yang bisa berarti idle (=tak berguna/tak berharga). Kalau kita memperhatikan konteksnya, maka kata sia-sia ini adalah sebuah perkataan yang keluar dari hati yang jahat (ay. 34-35). Dengan kata lain, kata sia-sia diucapkan oleh seorang yang hatinya melawan Allah. Di sini, kita melihat perkataan bersumber dari hati. Ketika hati seseorang sudah berdosa (melawan Allah), maka apa yang diucapkannya pasti jahat, meskipun tampak seolah-olah baik (di mata manusia). Biarlah melalui pengajaran Tuhan Yesus ini, kita semakin mengoreksi diri kita sendiri terlebih dahulu, sudahkah kita benar-benar menggunakan lidah kita dengan bertanggungjawab? Sudahkah kita benar-benar berkata sesuatu yang memuliakan nama-Nya?


2. Orang Lain Dihargai
Alasan, motivasi, dan tujuan dari mengubah kebiasaan ini yang kedua adalah agar orang lain dihargai. Dengan mengubah kebiasaan kita menjadi cerewet bermutu, maka di saat itu, kita sedang menghargai orang lain di sekitar kita dengan membuat mereka hidup lebih lama sedikit. Selain itu, kita juga menghargai orang lain karena telinga orang lain dipakai bukan hanya untuk mendengarkan celotehan si cerewet yang tak bermakna. Namun ketika banyak orang cerewet tanpa makna, maka ini membuktikan:

Pertama, Anda seorang yang egois. Anda hanya ingin telinga orang lain dipakai hanya untuk mendengarkan celotehan Anda yang tak bermakna. Bahkan yang lebih parah, Tuhan pun Anda suruh untuk mendengarkan celotehan Anda. Jika demikian, Anda perlu segera bertobat, karena penyakit Anda benar-benar akut dan perlu direhabilitasi, hehehe…

Kedua, Anda akan memperpendek usia orang lain. Ketika Anda cerewet tanpa makna, maka banyak orang yang berada di dekat si cerewet akan lebih cepat frustasi, putus asa, dan mungkin bunuh diri, karena mereka banyak yang tidak tahan dengan celotehan si cerewet yang tidak habis-habis kalau mengomel atau berkata sesuatu, hehehe.




C. Cara Mengubah Kebiasaan
Setelah mempelajari alasan, motivasi, dan tujuan di atas, maka sekarang kita akan merenungkan bagaimana cara mengubah kebiasaan dari terlalu cerewet menjadi cerewet bermutu?
1. Serahkan Hati dan Lidah Anda Kepada Tuhan
Cara pertama mengubah kebiasaan adalah dengan menyerahkan hati dan lidah kita kepada Tuhan. Kita dapat meneladani sosok pendiri theologi Reformed yaitu Dr. John Calvin yang pernah mengatakan bahwa ia menyerahkan hatinya kepada Tuhan dengan tulus dan murni. Kita pun bisa mengatakan di hadapan Tuhan bahwa kita menyerahkan hati dan lidah kita kepada Tuhan. Mengapa saya mengatakan “hati dan lidah”?

Pertama, karena perkataan kita bersumber dari hati kita. Dengan kata lain, hati kita harus dimurnikan terlebih dahulu di hadapan Tuhan, sehingga dari hati yang murni akan menghasilkan perkataan yang memuliakan nama-Nya. Ingatlah perkataan Tuhan Yesus di dalam Matius 12:34, “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” Lalu, bagaimana kita bisa memurnikan hati kita? Pemazmur mengajar kita tentang hal ini di dalam Mazmur 139 dan pengajarannya ditutup dengan dua ayat terakhir yang luar biasa memberkati kita, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) Dua ayat ini mengajar kita dua hal: Pertama, dengan mempersilahkan Allah untuk menyelidiki dan mengenal hati kita, menguji dan mengenali pikiran-pikiran kita, maka hati dan seluruh aspek kehidupan kita terus-menerus dimurnikan di hadapan-Nya. Kedua, dengan mempersilahkan Allah sendiri untuk menuntun kita di jalan-Nya, maka kita semakin mengerti kehendak-Nya dan meletakkan kehendak-Nya itu sebagai satu-satunya hal terpenting di dalam hati kita, sehingga kesukaan kita adalah menjalankan kehendak-Nya saja.

Kedua, karena hati kita berkaitan dengan lidah kita. Lidah kita bukan hanya bersumber dari hati kita, namun berkaitan erat dengan hati kita (begitu juga sebaliknya). Sehingga meskipun pada alasan pertama kita percaya bahwa ketika hati kita murni di hadapan Tuhan, maka perkataan kita juga murni, kita tetap perlu untuk terus-menerus memurnikan lidah kita. Kalau kita kembali membaca Yakobus 3, maka kita sekali lagi diperhadapkan dengan pengajaran untuk mengendalikan lidah kita yang liar itu. Lalu, bagaimana kita bisa mengendalikan lidah yang liar itu? Caranya adalah dengan membiarkan Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita. Hal ini tidak berarti kita terus menunggu gerakan Roh Kudus yang mengendalikan lidah kita, lalu kita tak berbuat apa-apa. Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita dan tentu Ia juga memurnikan dan membangkitkan kita untuk melakukannya. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda hari ini siap menerima gerakan Roh Kudus untuk mentransformasi lidah Anda?


2. Sebelum Berkata Sesuatu, Gumulkan Di Hadapan Tuhan Terlebih Dahulu
Setelah Roh Kudus bekerja mengendalikan lidah kita dengan memurnikan dan membangkitkan kita untuk melakukannya, maka pertanyaannya, kita melakukan apa? Kita perlu melakukan sesuatu, yaitu bergumul di hadapan Tuhan untuk mengatakan sesuatu. Biasakanlah sebelum berkata sesuatu, gumulkanlah di hadapan Tuhan terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena Ia adalah Allah yang Mahatahu tentang apa yang akan kita ucapkan. Pemazmur menyadari hal ini dan mengajar kita di dalam Mazmur 139:4, “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.” Menggumulkan di hadapan Tuhan terlebih dahulu berarti mempersilahkan Tuhan sendiri untuk menyensor apa yang akan kita ucapkan, sehingga apa yang akan kita ucapkan bukanlah kata yang sia-sia yang tidak memuliakan Tuhan dan menjatuhkan orang lain. Sebagai kesaksian, saya pun beberapa kali melakukan hal ini, meskipun kadang kala juga keceplosan. Sebelum berkata sesuatu, saya mencoba untuk bergumul di hadapan Tuhan, apakah saya perlu mengucapkan sesuatu yang akan saya ucapkan atau sebenarnya tidak perlu. Beberapa kali saya akhirnya taat kepada kehendak-Nya untuk tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu, karena itu bisa menyakiti orang lain, namun memang harus saya akui, secara kedagingan, saya juga sering tidak mau taat kepada kehendak-Nya. Biarlah di dalam proses bergumul ini, Roh Kudus makin memurnikan hati dan perkataan kita.


3. Rendah Hati dan Terbuka Untuk Menerima Semua Teguran dari Saudara Seiman Kita tentang Perkataan-perkataan Kita
Terakhir, Roh Kudus juga bekerja mengendalikan lidah kita melalui sarana orang lain yaitu saudara seiman kita. Saudara seiman kita yang dekat dan bergaul dengan kita akan memberikan masukan, saran, teguran, dll kepada kita perihal apa yang kita ucapkan, apakah itu sia-sia atau membangun. Nah, tatkala mereka menegur kita, bersikaplah dewasa: rendah hati dan terbukalah utnuk menerima semua teguran yang berguna itu, dan jangan keras kepala apalagi marah terhadap orang yang menegur itu. Saya mengamati banyak orang cerewet ketika ditegur oleh saudara seiman bahwa dia terlalu cerewet, biasanya langsung marah dan “berapologetika” (membela diri) bahwa karakternya memang cerewet. Bukan hanya marah, si cerewet akan mengatakan kepada orang lain bahwa orang yang menegurnya sebagai orang yang cerewet yang mencampuri urusan si cerewet ini. Ya, namanya cerewet ya begitu itu, sekali cerewet tetap cerewet, hidup cerewet! Hahaha… Biarlah Roh Kudus membuat kita makin dewasa untuk semakin rendah hati dan terbuka akan teguran yang membangun kita khususnya berkaitan dengan perkataan kita, sehingga melalui perkataan-perkataan kita, kita makin memuliakan Tuhan dan membangun orang lain.






IX. KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Setelah mempelajari dan merenungkan banyak hal tentang cerewet, Tuhan menghendaki kita mempergunakan seluruh aspek hidup kita khususnya lidah untuk makin memuliakan Tuhan dan membangun orang lain. Bagaimana dengan kita? Saya menantang Anda hari ini, sudahkah Anda siap ditransformasi oleh Roh Kudus yang akan mengendalikan lidah Anda untuk memuliakan-Nya dan membangun orang lain? Amin. Soli Deo Gloria.




Catatan kaki:
1. Yakub Tri Handoko, Tafsiran Alkitab Untuk Awam: Surat Yakobus (Surabaya: STAR Publisher, 2008), hlm. 151.
2. Ibid., hlm. 156.
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hlm. 164.
4. John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 578.
5. Sebenarnya di dalam memilih sebuah buku (rohani) untuk dibaca, kita memang perlu berwaspada. Kalau secara doktrin, kita belum kuat, maka hendaklah berhati-hatilah di dalam memilih buku untuk dibaca. Namun kalau secara doktrin, kita sudah cukup kuat, maka kita boleh membaca buku apa saja (namun tentu kita harus tetap tidak melupakan membaca Alkitab). Saran saya adalah: berhentilah menjadi orang lebay, kaku, kolot, dan paranoid, namun juga jangan menjadi orang yang gemar berkompromi!





NB:
Berkenaan dengan perspektif iman Kristen terhadap perkataan, Anda bisa membaca buku War of Words (Perang Kata-kata) yang ditulis oleh Rev. Prof. Paul David Tripp, D.Min. yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum.




Denny Teguh Sutandio, S.S. lahir di Surabaya, 19 Juli 1985. Pada tahun 2003, menempuh pendidikan Sastra Inggris di Universitas Kristen Petra, Surabaya dan lulus pada tahun 2007 dengan gelar Sarjana Sastra (S.S.). Dibaptis dewasa di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya pada tanggal 10 Juli 2005 oleh Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. (gembala sidang). Pendidikan theologi diperoleh dari: kuliah theologi awam di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika pada tahun 2004-2009 dan di Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. sejak awal 2010 ini dan juga melalui membaca buku-buku theologi bermutu. Selain itu, pendidikan theologi diperoleh dari mengikuti seminar pembinaan baik dari GRII Andhika maupun STAR/Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., mendengarkan khotbah MP3 dari Pdt. Joshua Lie, Ph.D. (Cand.) (Reformational Worldview Foundation—RWF, Jakarta) dan Pdt. Erastus Sabdono, D.Th. (GBI Rehobot, Jakarta), dan juga aktif berdiskusi dan bertanya pribadi kepada Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. Selain kepada orangtua saya, saya juga berterima kasih kepada pada hamba Tuhan dan rekan gereja yang mengajar, mendidik, dan mempengaruhi sikap hati dan pola pikir saya selama ini:
1. Pdt. Dr. Stephen Tong (Pendiri dan Ketua Sinode GRII yang pertama kali mencerahkan pikiran saya tentang keunikan Kekristenan di dalam Kristus dan signifikansi theologi Reformed)
2. Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. (gembala sidang GRII Andhika, Surabaya yang banyak mengajar saya tentang mandat budaya khususnya mengenai pendidikan)
3. Ev. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M., Ph.D. (Cand.) (gembala sidang Gereja Kristus Rahmani Indonesia—GKRI Exodus, Surabaya dan pendiri STAR yang mendorong saya untuk studi Biblika sungguh-sungguh dan daripadanya saya banyak belajar tentang “logika” Reformed. Beliau adalah salah satu hamba Tuhan Reformed yang saya acungi jempol karena selain baik dan care, beliau juga sosok hamba Tuhan yang cerdas.)
4. Pdt. Yohan Candawasa, S.Th. (Care for China Ministries; pendeta yang buku-bukunya banyak saya koleksi dan baca dan dari buku-buku beliau, saya banyak ditegur tentang kerohanian saya)
5. Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) (pendiri Reformational Worldview Foundation—RWF, Jakarta yang banyak memberkati saya melalui pemaparan Reformed worlview melalui MP3 khotbah beliau maupun artikel di web RWF)
6. Pdt. Billy Kristanto, Dipl.Mus., M.C.S., Ph.D. (gembala sidang Mimbar Reformed Injili Indonesia—MRII di Jerman: Berlin, Hamburg, dan Munich yang mengoreksi kerohanian saya baik melalui khotbah maupun pembicaraan pribadi dengan beliau)
7. Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. (asisten gembala sidang GRII Andhika, Surabaya yang banyak mengoreksi kerohanian saya khususnya di dalam kelas Surat Ibrani di STRIS Andhika)
8. Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. (Ketua Pusat Kerohanian—Pusroh UK Petra, Surabaya yang banyak menegur dan memberi saya masukan berharga)
9. Dr. Jerry Bridges (pelayan Tuhan di Navigators yang memberkati dan mengoreksi kerohanian saya melalui 3 buku beliau yang sudah saya baca)
10. Rev. Joshua Eugene Harris (gembala sidang di Covenant Life Church, U.S.A. yang memberkati saya melalui khotbah MP3 yang sering saya download dari web gerejanya)
11. Pdt. Erastus Sabdono, S.Th., M.Th., D.Th. (gembala sidang Gereja Bethel Indonesia—GBI Rehobot, Jakarta yang banyak memberkati saya melalui pengajaran beliau melalui khotbah MP3 yang saya download dari website GBI Rehobot maupun dari Majalah TRUTH; beliau adalah sosok pendeta Bethel yang lumayan cerdas dan inspirasional)
12. Pdt. Bigman Sirait (pendeta di Gereja Reformasi Indonesia—GRI Antiokhia, Jakarta dan Pemimpin Umum Tabloid Reformata yang memberkati saya melalui khotbah MP3 yang saya download dari web Reformata maupun artikel di Tabloid Reformata)
13. Sdr. Jimmy Sumendap, S.T., M.T. (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang daripadanya saya banyak belajar tentang hal-hal logis)
14. Sdr. Richard Limi, S.T. (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang memberi saya beberapa masukan berkenaan dengan hubungan lawan jenis—maklum saya harus belajar dari “suhu”nya, hehehe)
15. Sdri. Ruth Winarto (rekan saya dari GRII Andhika, Surabaya yang daripadanya saya belajar banyak hal)
16. Sdr. Patrick Serudjo, S.Sn. dan Sdr. Djeffry Tedjo Subakti Imam, S.E. (dua rekan saya {GRII Andhika} ketika dahulu saya bekerja di Momentum Christian Literature, Surabaya yang banyak menasihati saya dalam banyak hal)
17. Bp. Franklin Noya (mantan rekan kerja saya di Momentum Christian Literature, Surabaya yang juga sebagai rekan diskusi saya tentang Reformed di Indonesia)
18. Sdr. Abraham Timothy Halim (rekan saya dari GRII Ngagel yang juga merupakan anak sulung dari Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th. yang telah memberi saya beberapa masukan ketika saya ada sedikit masalah dahulu)
19. Sdr. Bob Setio (rekan saya dari GRII Andhika yang bersama-sama dengan Abraham Timothy Halim memberi saya beberapa masukan ketika saya ada sedikit masalah dahulu dan juga menjadi rekan diskusi yang menyenangkan)
20. Sdri. Dessy Andriani Liauw, S.T. (rekan saya dari GKRI Exodus, Surabaya yang memberikan masukan cukup bijaksana ketika dahulu saya mengalami sedikit masalah “konyol”)
21. Bp. Ir. Budi S. G. dan Bp. Agus Sani Priadi (kedua rekan saya dari GKRI Exodus, Surabaya yang menjadi tempat saya share)

Kira-kira sejak tahun 2006, melayani Tuhan khususnya di dalam media elektronik/internet dengan mengirimkan artikel/renungan (baik yang ditulis oleh hamba-hamba Tuhan bertanggungjawab maupun dari saya sendiri), resensi buku, kegiatan gerejawi yang terseleksi, dll ke lebih dari 50 milis (di mana saya menjadi anggotanya), 4 forum, Facebook, Friendster, dan blog (dan milis) pribadi.

Denny Teguh Sutandio, S.S.
E-mail:
· dennyteguhsutandio@ymail.com (Yahoo Messenger: dennyteguhsutandio)
· dennyteguh@gmail.com;
· dennyteguh2009@live.com (MSN)
Facebook: www.facebook.com/dennyteguhsutandio
Friendster: www.friendster.com/imagodei
Blog: http://dennytan.blogspot.com
Milis: http://groups.yahoo.com/group/BIBLE_Alone