09 May 2011

KESATUAN DAN KERAGAMAN: Perspektif Iman Kristen Berdasarkan Studi Biblika (Denny Teguh Sutandio)

KESATUAN DAN KERAGAMAN:
Perspektif Iman Kristen Berdasarkan Studi Biblika


oleh: Denny Teguh Sutandio




Di dunia ini, kita mendapati begitu banyak keragaman: suku, agama, bangsa, bahasa, etnis, kebudayaan, status sosial, dll. Khususnya di Indonesia, secara dasar negara, meskipun terdiri dari beragam budaya, agama, dll, bangsa ini mengaku bahwa semuanya itu satu yaitu bangsa Indonesia (Bhinneka Tunggal Ika). Apa arti kesatuan dan keberagaman? Bagaimana iman Kristen menyikapi kesatuan di dalam keberagaman (unity in diversity)?

Mari kita menyelidiki apa kata Alkitab berkaitan dengan keragaman dan kesatuan sejati.
Kalau kita kembali ke Alkitab, khususnya dari kitab pertama yaitu Kejadian, kita telah mendapati adanya keragaman. Allah sendiri di dalam penciptaan menciptakan keberagaman itu: “Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian.” (Kej. 1:11), “Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” (Kej. 1:21; bdk. ay. 24), dan terakhir tentunya Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan. Kesemuanya itu membuktikan bahwa keberagaman itu adalah ide Allah sendiri. Bahkan perintah Allah sendiri kepada manusia pertama di Kejadian 1:28 menunjukkan bahwa Allah menyukai keberagaman, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Namun, manusia pertama bukannya menaati Allah, namun memberontak, sehingga mereka diusir dari Taman Eden. Dan sejak saat itulah, mereka membenci ide keragaman dan berusaha bersatu melawan Allah. Hal itu ditandai dengan rencana mereka membangun Menara Babel di Kejadian 11. Di sini, dosa mengakibatkan persatuan, namun persatuan itu melawan Allah. Namun Allah yang berdaulat menggagalkan rencana mereka, sehingga akhirnya mereka kembali terserak.

Di dalam Perjanjian Lama, kita mendapati bahwa Allah memilih umat-Nya pun bukan dari satu bangsa, tetapi dari beberapa bangsa. Nuh yang merupakan anak dari Lamekh (keturunan Adam) dipilih Allah untuk menjadi saksi-Nya ketika manusia di zamannya berdosa melawan Allah (Kej. 5:30). Abraham (dahulu bernama Abram) yang merupakan anak dari Terah yang tinggal di Ur-Kasdim (Kej. 11:27) dipanggil Allah untuk menerima perjanjian-Nya (Kej. 12:1-3). Dari keturunannya, lahirlah Ishak, Ishak melahirkan Yakub, dan dari Yakub, Allah menyebut Yakub sebagai Israel dan nama ini menjadi cikal bakal nama suatu bangsa (Kej. 32:28). Semenjak itulah, Allah memelihara umat Israel sebagai umat kepunyaan-Nya. Namun, umat Israel tidak sama dengan bangsa Israel, karena umat Israel merupakan umat khusus Allah yang TIDAK dibatasi oleh bangsa Israel atau lahir di Israel (bdk. Rm. 9:6). Selain itu, Tuhan Yesus langsung menjawab para orang Yahudi yang mengklaim bapanya adalah Allah dengan berfirman, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.” (Yoh. 8:42-47) Dengan kata lain, Ia hendak mengajar mereka dan kita bahwa umat Allah bukan dinilai dari orang yang lahir di Israel atau mengikuti syariat keagamaan, tetapi umat yang telah mendapat kovenan dari Allah atau dilahirkan dari Allah. Di sini, kita belajar yang namanya anak-anak Tuhan BUKANlah mereka yang menjadi anggota suatu gereja tertentu atau telah menerima sakramen tertentu, tetapi mereka yang sungguh-sungguh telah dipilih dan ditentukan-Nya dari semula (Rm. 8:29-30).

Lama-kelamaan, umat Israel bertambah banyak, namun apakah dengan semakin banyak umat Israel, mereka menjadi tanpa arah? TIDAK. Untuk mencegah hidup mereka yang tanpa arah, Allah yang telah mengeluarkan umat Israel dari Mesir memberikan 10 perintah untuk ditaati umat Israel (Kel. 20). Dasa titah itu merupakan dasar pemersatu umat Israel agar mereka yang beraneka ragam bisa bersatu menjalankan firman Allah. Di sini, kita belajar konsep kesatuan (Ing.: oneness; keseragaman) ala manusia berdosa di Menara Babel diruntuhkan oleh Allah dan diganti dengan konsep persatuan sejati (Ing. unity) yaitu bersatu di dalam Allah dan firman-Nya. Selain Dasa Titah, Allah juga memberitakan aturan baku di dalam kitab Imamat tentang tata cara ibadah dan kelakuan yang mengatur hidup umat Israel. Cara Allah memberikan dasar persatuan bagi umat-Nya ternyata tidak ditaati, bahkan mereka memberontak dan menginginkan seorang raja seperti bangsa-bangsa lain (1Sam. 8). Mereka berpikir bahwa dengan hadirnya seorang raja dunia, maka sang raja bisa memerintah sekaligus mempersatukan mereka, padahal mereka tidak menyadari bahaya dipilihnya seorang raja tersebut (1Sam. 8:10-18). Namun, meskipun sudah diberi tahu bahaya dipilihnya seorang raja, bangsa Israel tetap bersikeras minta raja (1Sam. 8:19). Kelakuan mereka secara tidak sadar hendak mengulang sejarah kelam Menara Babel yang menginginkan persatuan duniawi atau seseorang yang kelihatan yang mempersatukan mereka dengan menolak Allah dan pemerintahan-Nya.

Tegar tengkuknya orang Israel ternyata menuai akibatnya sendiri. Saul yang dipilih sebagai raja pertama Israel ternyata juga tidak beres (1Sam. 13, 15), karena bukan dia yang Tuhan pilih, tetapi Daud (1Sam. 16:1-13). Daud memang menjalankan pemerintahannya dengan benar, namun dia tidak tahan dengan godaan dosa seksual, sehingga Batsyeba yang sedang mandi pun diincarnya untuk dijadikan istrinya. Cara licik pun dipakai Daud dengan membunuh Uria, istri Batsyeba untuk mempersunting Batsyeba (2Sam. 11). Sesudah Daud menjadi raja dan meninggal, maka Salomo menggantikannya. Salomo pada awalnya memang tulus yaitu meminta hikmat Tuhan untuk memerintah Israel, karena waktu itu usianya masih muda (1Raj. 3:6-9). Namun ketulusan hatinya berlangsung sebentar. Karena Salomo makin kaya dan terkenal, maka Salomo menjadi lupa diri. Ia jatuh ke dalam penyembahan berhala melalui banyak perempuan asing yang dinikahinya (1Raj. 11). Akibatnya, Tuhan murka dan membagi kerajaan Israel menjadi 2 (1Raj. 12). Penerusnya, Yerobeam dan Rehabeam juga tidak takut akan Tuhan. Kemudian, sejak 1 Raja-raja 15 hingga kitab 2 Raja-raja selesai, kita mendapati riwayat 2 kerajaan: Israel dan Yehuda bergantian diperintah oleh raja yang berganti-ganti: raja pertama takut akan Tuhan, penerusnya tidak (atau sebaliknya). Di sini, kita belajar bahwa ketika dasar persatuan sejati yaitu firman Allah ditolak, maka bangsa akan menjadi porak poranda. Kedegilan hati mereka mengakibatkan mereka dibuang oleh Allah ke Filistin, dll. Di masa intertestamental, Allah tidak berfirman apa pun kepada umat-Nya karena Ia akan mengutus Sang Mesias yaitu Kristus untuk benar-benar memberitakan Kabar Baik kepada umat-Nya.

Ketika Kristus datang, Ia memberitakan Injil kepada banyak orang tanpa melihat status sosial, etnis, dll. Keragaman kembali dimulai oleh Kristus, namun sekali lagi bukan tanpa dasar yang mempersatukan, karena yang diberitakannya adalah Injil yaitu Kabar Baik bahwa ada pengharapan di dalam Dia. Injil yang Kristus beritakan adalah dasar pemersatu keragaman manusia saat itu, sehingga manusia dari beragam status, etnis, dll dapat mendengar Injil tersebut. Setelah Ia mati disalib dan bangkit, maka sebelum Ia naik ke Sorga, Ia berfirman, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mat. 28:18-19) dan “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8) Kembali, Kristus menekankan pentingnya keragaman etnis, bangsa, dll dengan dasar pemersatu: Injil Kristus.

Bukan hanya Kristus, rasul Paulus pun menekankan hal ini. Di dalam 2 suratnya, Paulus mengajar tentang keragaman etnis, status, dll di dalam kesatuan: Kristus. Misalnya, di Galatia 3:28, Paulus mengajar, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” dan di Kolose 3:11, ia mengajar, “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Dua ayat ini TIDAK berarti semuanya seragam antara Yahudi dan Yunani, hamba dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, dll. TIDAK. Kesatuan di dalam Kristus TIDAK meniadakan keragaman, tetapi menghargai dan mempersatukan. Jika dua ayat ini ditafsirkan bahwa laki-laki dan perempuan itu seragam tanpa ordo/urutan, maka tentu saja Paulus tidak perlu mengajar bahwa istri tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istrinya (Ef. 5:22-33; Kol. 3:18-19). Bahkan untuk mengajarkan pentingnya kesatuan dalam keberagaman, maka Paulus mengajar bahwa setiap anak Tuhan diberikan karunia yang beraneka ragam, namun semuanya dipakai untuk membangun tubuh Kristus (1Kor. 12:5-10). Keragaman karunia itu dijelaskan Paulus di ayat 4 sebagai dasarnya yaitu, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.” Dengan kata lain, keragaman karunia rohani itu yang berasal dari satu Roh dan bertujuan untuk membangun tubuh Kristus seharusnya tidak membuat umat Tuhan bertengkar memperebutkan mana yang lebih penting, karena semuanya itu satu tubuh (bdk. 1Kor. 12:12-30) dan didasari oleh kasih sebagai dasar pemersatunya (1Kor. 12:31-13:13). Bahkan ia mengajar pentingnya kesatuan tubuh Kristus khusus di Filipi 2:1-11 dengan tujuan agar mereka yang bersatu di dalam Kristus tidak meninggikan diri mereka masing-masing, tetapi saling merendahkan diri seperti Kristus yang merendahkan diri-Nya untuk mati menebus dosa manusia.

Kesatuan di dalam keragaman juga ditandai dengan dicatatnya para pahlawan iman di dalam Ibrani 11:4-40. Mereka dipakai Tuhan secara berbeda-beda sesuai konteks panggilan mereka, namun intinya satu: IMAN kepada Allah dan kekuatan-Nya yang menguatkan mereka meresponi panggilan Allah tersebut.

Dari studi singkat Alkitab baik dari PL maupun PB, maka apa saja yang bisa kita pelajari tentang keragaman dan kesatuan?
Pertama, Tuhan adalah sumber keragaman sejati. Di titik pertama, di kitab Kejadian 1, kita telah membaca bahwa Allah menciptakan manusia, binatang, dan tumbuhan di dalam keanekaragaman. Diserakkannya para pembangun Menara Babel juga membuktikan Dia tidak mau manusia bersatu dengan tujuan melawan Allah dan perintah-Nya untuk memenuhi bumi. Di dalam PB, kita belajar bahwa Allah yang sama juga menghendaki keragaman melalui: Kristus yang memerintahkan para murid-Nya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi, diakuinya beragam karunia rohani dari anak-anak Tuhan, dll dengan tujuan agar masing-masing anak Tuhan dengan latar belakang berbeda dan karunia yang dimilikinya sama-sama memuliakan-Nya. Dengan kata lain, meskipun ada keragaman, tujuannya jelas yaitu untuk kemuliaan Allah, bukan keragaman tanpa arah!
Bagaimana dengan kita khususnya orang Kristen? Terkadang, saya pribadi menjumpai beberapa orang Kristen dengan pola pikir theologi tertentu (sangat) anti dengan keragaman. Dengan pola pikir generalisasi tanpa dasar yang jelas, keragaman dicap postmodernisme dan sesat, padahal Alkitab dari Kejadian 1 jelas-jelas mencatat adanya keragaman. Di dalam satu gereja, jika ada sedikit perbedaan ajaran secara sekunder antara satu jemaat dengan pendetanya (misalnya berkaitan dengan gaya ibadah: kuno/pakai liturgi vs modern, lagu-lagu rohani himne dan klasik vs kontemporer, dll), si pendeta dengan gegabah mungkin akan mencap jemaatnya sesat atau sudah menjadi sekuler/duniawi, padahal itu hanya perbedaan sekunder, bahkan tersier/tidak terlalu penting! Di dalam lingkup Kekristenan keseluruhan, ada pendeta yang percaya baptisan anak dengan tanpa mikir langsung mengatakan sesat bagi mereka yang tidak menjalankan baptisan anak. Perbedaan sekunder dianggap berasal dari setan, dll, padahal perbedaan itu bukanlah perbedaan inti. Saya benar-benar prihatin dengan kondisi Kekristenan khususnya yang ekstrem. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada orang kaku yang dengan kolot menolak mentah-mentah keberbedaan dengan memaksakan cara pikir, sikap, dll dari si orang kaku ini dengan orang lain. Semua harus seragam dengan si orang kaku ini, jika ada yang tidak sama, orang kaku ini akan kebakaran jenggot.
Saya tidak mengatakan bahwa keragaman dalam segala sesuatu itu suci, karena memang saya mengakui bahwa dunia kita menganut banyak keragaman yang tanpa arah (alias suka-suka gue). Kalau Anda membaca paragraf di atas, yang saya soroti adalah keragaman dalam hal sekunder, bukan primer, sehingga jangan salah menafsirkan maksud saya!
Jika kita sebagai orang Kristen mengakui keragaman, maka sikap kita seharusnya terhadap keragaman itu adalah saling menghargai. Untuk hal-hal sekunder, misalnya perbedaan konsep akhir zaman, cara baptisan, dll, kita bisa menjelaskan tentang prinsip kepercayaan kita kepada saudara Kristen lain yang berbeda pandangan dengan kita, namun jika saudara Kristen kita itu tidak menerimanya, maka kita tidak usah lagi meributkannya dan kita perlu menghargai perbedaan konsep itu. Kalau untuk hal-hal tersier, misalnya perbedaan selera makanan, model pakaian, dll, kita tidak perlu menjelaskannya (kecuali kalau itu berhubungan dengan hubungan lawan jenis, entah itu pacaran maupun sudah menikah), karena penjelasan itu kurang berguna. Apa gunanya meributkan selera makanan atau selera berpakaian, karena Tuhan memberikan kepada kita masing-masing variasi selera yang beragam. Bayangkan jika semua orang Kristen memiliki selera warna pakaian yang sama, apakah itu indah? TIDAK. Di dalam hal doktrinal, perbedaan tersier, misalnya apakah X itu seorang Calvinis yang menganut infralapsarian Vs supralapsarian atau predestinasi tunggal (Allah hanya memilih beberapa manusia untuk diselamatkan) Vs predestinasi ganda (Allah hanya memilih beberapa manusia untuk diselamatkan dan membuang sisanya untuk dimasukkan ke dalam neraka), bagi saya, itu tidak usah diributkan.

Kedua, di dalam keragaman, Tuhan tetap menghendaki kesatuan. Di dalam keanekaragaman, Tuhan tidak membiarkan keragaman itu berjalan tanpa arah. Hal ini bisa kita lihat dari diwahyukannya Dasa Titah, diberitakan Injil, dan dikaruniakannya karunia-karunia Roh, dll sebagai dasar yang mempersatukan dan mengarahkan keragaman umat Tuhan di dalam hidup menjalankan panggilan-Nya. Dengan kata lain, kesatuan sejati (the true unity) TIDAK boleh dilepaskan dari Allah dan firman-Nya!
Bagaimana dengan kita? Di dunia ini, bahkan di dalam Kekristenan, kita terlalu banyak mendapati kata “persatuan”, namun sayang persatuan yang ditekankan kebanyakan mereka adalah persatuan tanpa arah. Mereka mau bersatu artinya mereka bukan bersatu di dalam firman Tuhan, tetapi maksudnya bersatu: tidak menekankan doktrin/ajaran theologi tertentu. Yang lebih memprihatinkan, seorang pendeta Reformed pernah berkata bahwa beliau diundang berkhotbah di dalam suatu persekutuan interdenominasi dan disuruh berkhotbah/mengajar dengan tema Predestinasi, namun si panitia memberikan “pesan sponsor” kepada si pendeta agar si pendeta tidak membicarakan doktrin tertentu. Cape dech Tema yang akan dibahas: Predestinasi (dipilih sebelum dunia dijadikan), tetapi tidak boleh membicarakan doktrin tertentu? Suatu ketidakmasukakalan! Dengan kata lain, di dalam suatu persekutuan yang bersifat interdenominasi, kalau mau konsisten, si panitia akan mengundang para pengkhotbah lintas denominasi: Protestan Injili, Karismatik, Methodist, Orthodoks Syria, bahkan Katolik. Pengkhotbah yang satu mengajar bahwa ikut Kristus pasti kaya, sehat, sukses, sedangkan pengkhotbah yang lain mengajar bahwa ikut Kristus harus menderita, yang lebih konyol pengkhotbah terakhir malah meragukan apakah Kristus itu Tuhan atau bukan. Silahkan pikir sendiri apa yang akan terjadi pada orang Kristen yang mengikuti persekutuan gado-gado ini. Tetapi sejujurnya, saya mengamati beberapa persekutuan yang mengaku bersifat interdenominasi, para pengkhotbah yang diundang mayoritas berasal dari gereja kontemporer yang pop, sedangkan sedikit sekali pengkhotbah berasal dari gereja Protestan Injili.
Saya tidak mengatakan bahwa interdenominasi itu salah, tetapi yang saya soroti adalah semangat di balik perkataan “interdenominasi.” Bagi saya, interdenominasi sejati adalah orang Kristen dari berbagai macam aliran gereja bersama-sama belajar firman Tuhan/Alkitab dengan prinsip penafsiran yang bertanggung jawab (memperhatikan teks asli: Ibrani dan Yunani, konteks dan latar belakang, perbandingan terjemahan, tafsiran, dll), lalu setelah itu, mereka diizinkan kembali ke gereja asal mereka masing-masing untuk membagikan berkat rohani yang telah didapatkannya itu. Yayasan Kristen atau seminari theologi yang bersifat interdenominasi bukanlah yayasan Kristen atau seminari yang tidak memiliki fondasi doktrin, tetapi memiliki fondasi doktrin yang kokoh, namun menerima pengurus, dosen, staf, dan mahasiswa dari berbagai denominasi gereja untuk melayani dan belajar firman Tuhan bersama dengan dasar yang jelas.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita benar-benar memaknai keragaman dan kesatuan sebagaimana yang diajarkan Alkitab? Biarlah kita makin hari makin bijak menyikapi keragaman dan kesatuan, lalu mengaitkannya di atas dasar Alkitab, sehingga kita tidak terjebak ke dalam sikap ekstrem: kompromi tanpa arah yang jelas (semua itu sama) atau eksklusif yang berlebihan. Amin. Soli DEO Gloria.

07 May 2011

INTROSPEKSI DIRI: Bergumul Melihat Allah dan Diri Terlebih Dahulu (Denny Teguh Sutandio)

INTROSPEKSI DIRI:
Bergumul Melihat Allah dan Diri Terlebih Dahulu


oleh: Denny Teguh Sutandio



Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."
(Mat. 7:3-5)

“Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.”
(Rev. Bob Kauflin, Worship Matters, hlm. 382)




Injil Matius 7:1-5 merupakan salah satu khotbah Tuhan Yesus di bukit yang konteksnya berbicara tentang penghakiman. Jelas, 5 ayat tersebut bukan berarti bahwa Kristus melarang penghakiman sama sekali (karena di ayat 21-23, Ia pun sedang menghakimi), tetapi Ia mengajar 2 prinsip menghakimi: menghakimi dengan standar yang adil (Mat. 7:2) dan menghakimi diri sendiri terlebih dahulu (Mat. 7:3-5). Artinya, sebelum menghakimi orang lain, lebih baik lihatlah diri sendiri terlebih dahulu. Dengan kata lain, sebenarnya Kristus sedang mengajar prinsip penting tentang apa itu introspeksi diri. Apa arti introspeksi diri? Introspeksi diri berarti:
Pertama, melihat kaitan Allah dengan diri. Di titik pertama, kita harus menyadari bahwa introspeksi diri berarti berusaha mengaitkan perspektif Allah melihat setiap kita. Bagaimana caranya? Dengan merefleksikan segala sesuatu yang Allah ajarkan baik melalui Alkitab maupun khotbah yang benar-benar bertanggung jawab langsung pada diri kita. Dengan kata lain, kita berkata kepada Allah seperti Raja Daud, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24) Sering kali, kita lebih suka mengaitkan ayat Alkitab atau khotbah tertentu dengan orang lain dengan mengatakan, “Wah, khotbah ini cocok untuk si X.” Kita lupa satu hal bahwa khotbah dan Alkitab itu pertama-tama bertujuan untuk mengajar dan menegur kita agar kita hidup makin memuliakan Allah. Saya tahu hal ini tidaklah mudah, namun belajarlah mulai sekarang untuk selalu merefleksikan setiap ayat Alkitab dan khotbah langsung kepada diri kita dan berhenti untuk mengaitkannya dengan kesalahan orang lain.

Kedua, melihat diri terlebih dahulu. Setelah mempersilahkan Allah mengenal dan menguji kita, maka pengenalan kita akan Allah membawa kita untuk selanjutnya mengenal diri kita masing-masing terlebih dahulu. Sejujurnya, kita sebagai manusia paling mudah untuk melihat orang lain dan kelemahannya, bahkan sering kali kita mengingat kelemahan orang lain lebih daripada kelebihannya. Kita paling mudah mengungkit kelemahan orang lain dan menyebarluaskannya kepada orang lain. Bahkan ada yang sampai memalukan kelemahan orang lain (X) di depan saudara-saudaranya, lalu berdalih untuk menegur si X (demi kebaikan si X). Sampai titik ekstremnya, ada yang sampai setiap malam terus memikirkan kelemahan orang lain dan bahkan tidak pernah memikirkan kelemahan diri. Jujur, sebagai manusia berdosa yang diselamatkan melalui anugerah Allah pun, saya tidak luput dari kelemahan itu, namun dengan sekuat tenaga, saya terus berusaha untuk tetap melihat kelemahan sekaligus kelebihan orang lain, meskipun itu sulit. Melihat orang lain itu bukan tidak boleh, tetapi sebaiknya itu kita lakukan setelah kita melihat diri. Mengapa kita diperintahkan Kristus untuk tidak terus melihat (dan menghakimi/menilai) orang lain? Karena ketika kita terus-menerus melihat dan menghakimi orang lain, kita merasa diri seolah-olah lebih hebat, pandai, bijaksana, dll daripada orang yang kita lihat/hakimi tersebut dan itu lama-kelamaan mengakibatkan kita menjadi sombong. Dan kesombongan termasuk salah satu dosa yang Tuhan benci, karena itu berarti lebih mengandalkan diri ketimbang Allah, padahal diri sendiri yang terbatas dan berdosa tidak layak untuk diandalkan! Untuk mengobati kesombongan itu, Rev. Bob Kauflin dalam bukunya Worship Matters mengungkapkan, “Tuhan sering kali menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri.” (hlm. 382) Di sini, kita belajar bahwa ketika kita terus melihat kelemahan dan dosa orang lain, sebenarnya ada teguran Tuhan di situ bahwa hendaklah kita terlebih dahulu melihat kelemahan kita sendiri. Misalnya, kita sering kali melihat X itu munafik karena tingkah lakunya tidak sesuai dengan imannya, namun sadarkah bahwa ketika kita melihat X itu munafik, sebenarnya Tuhan sedang menggunakan cara itu untuk menyadarkan kita bahwa kita sendiri seorang yang munafik? Jika demikian, adalah suatu hal yang bijak jika sebelum kita melihat dan menilai orang lain, hendaklah kita melihat diri kita sendiri terlebih dahulu. Benahi diri kita terlebih dahulu, baru kita melihat orang lain. Artinya, ketika kita berusaha menilai X itu munafik, apakah di saat yang sama, kita juga melihat diri kita juga sama-sama munafik? Kalau ya, biarlah kita tidak terus menilai orang lain itu munafik sebelum kita membenahi diri kita.

Ketiga, menuntut diri terlebih dahulu. Beberapa orang selain menilai orang lain, ternyata juga suka menuntut orang lain untuk memenuhi keinginannya. Di dunia ini, banyak sekali orang yang pandai menuntut orang lain (bahkan Allah), tetapi tak pernah menuntut diri terlebih dahulu. Contoh praktisnya adalah sebuah curhat seorang wanita di surat kabar Jawa Pos tanggal 4 Mei 2011 tentang suaminya yang suka mencemburuinya ketika si istri berdiskusi tentang pekerjaan dengan rekan bisnis lawan jenis. Si suami yang pencemburu ternyata sendiri juga akhirnya berselingkuh dengan wanita lain. Dengan kata lain, si suami paling jago menuntut si istri untuk setia dengannya, padahal si suami sendiri tidak setia dengan si istri. Bukankah si suami sendiri tidak fair? Di dalam Kekristenan, banyak pemimpin gereja kontemporer mengajar jemaatnya untuk menuntut Tuhan dengan ajaran, “Name it and claim it!” (Sebut dan Tuntutlah!) yang menyatakan bahwa klaimlah janji Tuhan yang memberkati anak-anak-Nya. Orang-orang ini hampir tidak pernah menuntut diri dan jemaatnya untuk benar-benar mengerjakan panggilan Tuhan dengan sungguh-sungguh, namun hanya mau menuntut (baca: menagih) janji Tuhan, seolah-olah Tuhan itu pelupa dan perlu diingatkan terus-menerus! Itu namanya menghina Tuhan! Di negara kita sering terjadi demonstrasi para buruh menuntut kenaikan gaji buruh, tetapi apakah mereka pernah menuntut diri mereka sendiri untuk bekerja lebih keras sesuai kenaikan gaji yang diidamkannya? Ternyata kebanyakan tidak. Mereka sambil berdemonstrasi menuntut hak asasi manusia (HAM) mereka sendiri, tetapi mereka tidak sadar bahwa mereka pun sedang melanggar HAM orang lain yaitu atasan mereka, karena aksi demo tersebut sudah mengurangi jam kerja mereka (sudah mengurangi jam kerja, masih minta naik gaji? Cape dech)! Inilah wajah dunia kita yang suka menuntut orang lain, tetapi enggan menuntut diri. Kristus mengajar kita untuk menuntut diri terlebih dahulu. Ingatlah, ketika kita menilai X itu munafik, padahal kita sendiri munafik, maka panggilan kita bukanlah mengubah orang lain secara instan, tetapi menuntut kita terlebih dahulu untuk berusaha bertobat untuk tidak munafik. Inilah wujud kita membenahi diri. Ketika kita ingin pasangan hidup kita (dalam konteks: berpacaran dan menikah) setia, tuntutlah diri kita terlebih dahulu untuk setia dengan pasangan kita! Tentu kesetiaan kita ini bukan supaya kesetiaan kita dibalas oleh pasangan kita, tetapi itu merupakan langkah awal sebagai respons kita telah ditebus oleh Kristus. Sebagai orang yang telah ditebus Kristus, maka kita harus menjadi garam dan terang bagi dunia dengan berkomitmen untuk hidup sesuai firman Allah dan memuliakan-Nya, termasuk: suci, setia, jujur, tulus, dll.

Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Sudahkah kebenaran firman Allah benar-benar menjadi dasar dan standar kita untuk melihat Allah, melihat diri, dan menuntut diri terlebih dahulu ketimbang melihat dan menuntut orang lain? Saya mengetahui hal ini sangatlah sulit, tetapi dengan pertolongan Roh Kudus, bersediakah kita berkomitmen untuk melihat Allah, melihat diri, dan menuntut diri terlebih dahulu ketimbang melihat dan menuntut orang lain? Biarlah Roh Kudus terus-menerus menyadarkan kita untuk hidup bagi kemuliaan Allah. Amin. Soli Deo Gloria.

04 May 2011

Resensi Buku-119: HIDUP BUKAN HANYA SEKADAR HIDUP (Rev. Bill Hybels, D.D.)

…Dapatkan segera….


Buku
HIDUP BUKAN HANYA SEKADAR HIDUP:
Menerapkan Sepenuhnya Hikmat Tuhan dalam Hidup Anda


oleh: Rev. William (Bill) Hybels, D.D. (HC)

Penerbit: Metanoia, 2007

Penerjemah: Deasy Sinaga





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Manusia adalah makhluk ciptaan yang dicipta segambar dan serupa dengan-Nya yang diberikan nafas hidup agar mereka bisa hidup di dunia ini. Selain itu, agar mereka hidup, Tuhan juga memberinya akal budi yaitu hikmat untuk mengatur hidup. Masalahnya dosa telah menghancurkan setiap aspek kehidupan manusia termasuk akal budi, sehingga makin mengandalkan akal budi sendiri, manusia makin menjauh dari Allah, karena motivasi dan tujuannya bukan untuk memuliakan-Nya. Allah mengaruniakan dan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus untuk menebus dosa manusia termasuk mengembalikan manusia berdosa ke posisi aslinya sebelum rusak akibat dosa, yaitu setiap natur manusia memuliakan-Nya. Selain Kristus, Ia juga mewahyukan firman-Nya, Alkitab sebagai standar iman dan hidup bagi umat pilihan-Nya. Di dalam Alkitab, kita menemukan bahwa salah satu kitab yang berisi hal-hal tentang hikmat dalam hidup adalah Kitab Amsal. Rev. Bill Hybels di dalam bukunya Hidup Bukan Hanya Sekadar Hidup menguraikan kepada kita tentang prinsip-prinsip menerapkan hikmat Tuhan dalam Kitab Amsal ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebelum membahas hal-hal ini, Rev. Hybels menjelaskan sedikit pendahuluan/pengantar Kitab Amsal di bagian Pendahuluan. Kemudian disusul dengan bagaimana kita sebagai orang Kristen menerapkan hikmat Tuhan dalam Kitab Amsal tersebut untuk: mengejar hikmat tersebut, mengambil inisiatif, melakukan yang baik, mengembangkan disiplin, mengatakan kebenaran, memilih teman dengan bijaksana, menikah dengan baik, membangun keluarga yang sehat, mengembangkan belas kasihan, mengelola kemarahan, dan mempercayai Allah di dalam segala hal. Meskipun saya kurang menyetujui beberapa prinsip (doktrin) yang ada di dalam buku ini, namun secara mayoritas, buku ini layak Anda baca dan aplikasikan, karena mengandung bijaksana-bijaksana tersendiri sebagai aplikasi praktis dari firman Tuhan khususnya dari Amsal.





Profil Rev. Bill Hybels:
Rev. William (Bill) Hybels, D.D. (HC) adalah pendiri dan pendeta senior di Willow Creek Community Church di South Barrington, Illinois. Beliau juga pendiri dan ketua yayasan dari Willow Creek Association dan juga pencipta dari Global Leadership Summit. Beliau menamatkan studi Bachelor dalam bidang Studi Biblika di Trinity International University (TIU), dekat Chicago dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari TIU’s Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A.

02 May 2011

BOLEHKAH PENDETA BERPROFESI GANDA? (Denny Teguh Sutandio)

BOLEHKAH PENDETA BERPROFESI GANDA?

oleh: Denny Teguh Sutandio




I. PENDAHULUAN
“Bolehkah pendeta berprofesi ganda selain menjadi pendeta?” Sebelum membahas hal ini, ada beberapa hal yang saya mau tekankan:
Pertama-tama, saya bukan seorang pendeta atau penginjil atau hamba Tuhan penuh waktu. Saya hanya seorang jemaat Kristen awam. Dengan kata lain, penilaian dan tinjauan yang saya buat di dalam artikel ini adalah dari perspektif jemaat Kristen awam dan juga melalui studi tentang hal ini di media internet.

Kedua, karena isu pendeta berprofesi ganda diperbolehkan atau tidak tidak ditemukan pengajarannya secara eksplisit di dalam Alkitab, maka saya menganggap bahwa isu ini BUKAN isu mutlak yang harus dibesar-besarkan, lalu menjadi ajang debat tidak karuan. Saya mencoba menyajikan perspektif yang cukup bijak terhadap pendeta yang berprofesi ganda dan saya tidak memaksakan perspektif saya. Para pembaca Kristen bisa mempertimbangkan dan menyetujui perspektif saya, namun juga bisa tidak menyetujuinya.


II. DEFINISI DAN SEJARAH
A. Definisi
Sebelum membahas tentang bolehkah pendeta berprofesi ganda, saya akan mencoba menjelaskan apa artinya. Dalam bahasa Inggris, pendeta berbisnis disebut sebagai bi-vocational pastor (atau pendeta yang memiliki 2 panggilan). Artinya, pendeta tersebut selain menjadi pendeta yang berkhotbah, menjalankan sakramen, dll juga seorang pekerja “sekuler”, misalnya: dokter, pemimpin perusahaan, dll. Pekerjaan “sekuler” yang dimaksud di sini TIDAK termasuk menjadi profesor/dosen theologi, karena menjadi dosen theologi berkaitan dengan pelayanan gerejawi. Hal ini TIDAK berarti saya mendualismekan antara sacred (kudus) atau spiritual (rohani) dengan secular (sekuler), karena segala profesi bagi anak-anak Tuhan termasuk hal rohani. Saya sengaja membedakannya, karena ini konteksnya HANYA untuk pendeta. Profesi ini (bi-vocational pastor) sering diidentikkan dengan part-time pastor (atau pendeta paruh waktu), namun menurut Ray Gilder, seorang koordinator nasional dari Bivocational And Small Church Leadership Network, bi-vocational pastor tidak bisa disebut part-time, karena seorang pendeta disebut part-time kalau ia hanya sekali atau 2 kali melayani/berkhotbah di gereja, padahal seorang pendeta yang memiliki 2 panggilan ini tetap seorang pendeta penuh waktu (full-time) yang berkhotbah setiap hari Minggu di gerejanya. (http://www.bivosmallchurch.net/)

B. Sejarah dan Perkembangannya
Menurut sejarah, secara khusus, pendeta/hamba Tuhan berbisnis atau juga bisa disebut tentmaking atau pembuat tenda (bdk. Kis. 18:3) merupakan metode khusus bagi penginjilan Kristen internasional di mana para misionaris bekerja “sekuler” sesuai dengan keahlian dan pendidikannya selain menerima dukungan biaya dari gereja. Bahkan William Carey (1761-1831) yang disebut sebagai bapak dari tokoh misi Kristen Injili modern selain menjadi misionaris di India juga menjadi pemilik pabrik dan profesor di universitas, karena di zaman Carey, misi internasional merupakan ide baru dan kontroversial di gereja. Para misionaris tent-making ini biasanya bekerja “sekuler”, karena mereka melayani di negara yang tertutup oleh pelayanan misi. (http://en.wikipedia.org/wiki/Tentmaking) Kasus Carey adalah kasus khusus yang hampir tidak kita jumpai sekarang ini dan jangan memakai contoh Carey untuk mendukung bi-vocational ministry!
Bagaimana perkembangan pelayanan tentmaking ini? Uniknya, ketika Anda mencari Bivocational Ministry di Google, maka Anda akan menemukan 62.300 situs yang memuat masalah ini (Bivocational Pastors di Google ada 40.200 situs). Bahkan Clear Creek Baptist Bible College membuka program studi Bachelor of Arts (B.A.) in Bi-vocational Ministry (http://www.elearnportal.com/online-education/online-schools/clear-creek-baptist-bible-college/bachelor-of-arts-in-bi-vocational-ministry).



III. LATAR BELAKANG/MOTIVASI
Lalu, apa yang melatarbelakangi atau motivasi pendeta berprofesi ganda ini?
1. Suka
Menarik, survei yang dilakukan oleh Deborah A. Bruce, Research Services di Presbyterian Church (U.S.A.), Louisville, Kentucky adalah 53% bi-vocational pastors mencari profesi sambilan karena mereka ingin mengejar kesempatan karier lain dan 48% mengatakan bahwa mereka menyukai ide tentmaking atau bi-vocational ministry. (http://www.pcusatentmakers.org/) Dengan kata lain, bagi mereka yang menyukai tentmaking, istilah “panggilan” sebenarnya kurang pas karena mereka jelas-jelas berargumen bahwa mereka MENYUKAI profesi sambilan selain menjadi pendeta! Yang lebih mengejutkan, Deborah A. Bruce melaporkan kembali, “A majority (52 percent) would not return to full-time ministry if given the opportunity, although 29 percent said they might do so at some time in the future.” (=Mayoritas {52%} tidak akan kembali kepada pelayanan penuh waktu jika mereka diberi kesempatan, meskipun 29% mengatakan mereka akan melakukan hal itu pada waktu tertentu di kemudian hari.) Ini membuktikan tentmaking ministry bukan lagi suatu panggilan, tetapi suatu hobi. Sedangkan bagi mereka yang sungguh-sungguh terpanggil, itu tanggung jawab mereka di hadapan Tuhan kelak.

2. Tidak Mau Melepaskan Profesi Lama
Pada waktu seseorang dipanggil Tuhan menjadi pendeta, ia menjalankan bisnisnya entah itu memimpin perusahaan atau bekerja di sebuah perusahaan tertentu. Ia tidak mau melepaskan bisnisnya, karena ia berpikir bahwa dengan berbisnis pun, ia melayani Tuhan. Bahkan menurut Deborah A. Bruce, Research Services di Presbyterian Church (U.S.A.), Louisville, Kentucky mengatakan 21% bi-vocational pastors memilih pekerjaan sambilan karena mereka terbakar emosi ingin mengerjakan profesi mereka tersebut sebelum menjadi pendeta. (http://www.pcusatentmakers.org/)

3. Gereja yang Dilayaninya Tidak Mampu Membiayai Si Pendeta
Ada kasus di mana gereja yang digembalakan oleh si pendeta tidak mampu membiayai si pendeta, jangankan membiayai pendeta, membiayai operasional gereja (seperti: biaya listrik, air, dll) saja kurang mampu. Karena alasan inilah, maka pendeta tersebut mencari pekerjaan lain selain untuk mencukupi kebutuhan pribadi dan keluarganya (jika sudah berkeluarga) dan juga untuk menjadi berkat di gereja misalnya dengan memberikan persembahan ekstra kepada gereja yang digembalakannya.

4. Ingin Kaya.
Motivasi terakhir seorang pendeta yang ingin berprofesi ganda (berbisnis) adalah si pendeta MUNGKIN ingin kaya. Saya tidak menghakimi motivasi si pendeta ini, saya hanya mengambil kesimpulan dari fakta yang ada. Artinya, si pendeta telah menggembalakan gereja yang cukup besar dengan jumlah jemaat yang banyak bahkan mencapai ribuan orang, lalu si pendeta ini masih menjadi presiden direktur sebuah perusahaan. Menurut aturan gereja yang digembalakannya yang termasuk gereja kontemporer yang pop, pendeta boleh mengambil sebagian besar persepuluhan jemaatnya. Menurut perkataan ayah saya, pendeta ini pernah berkata di atas mimbar bahwa persembahan jemaatnya sebanyak 10% dipersembahkan kepada Tuhan. Pertanyaan saya adalah yang 90% gimana ya? Ya, logikanya, jelas diambil oleh si pendeta. Dari logika ini, mari kita belajar menghitung keuntungan/profit si “pendeta”. Nah, coba Anda hitung, misalkan jumlah jemaatnya 1000 orang dan andaikata masing-masing jemaat memberikan persembahan (belum termasuk persepuluhan) minimal Rp 1.000, 00, maka dalam satu kali kebaktian, jumlah persembahannya minimal: Rp 1.000.000, 00 dan si pendeta mendapat keuntungan 90% dari persembahan itu (Rp 900.000, 00). Itu hanya satu kali kebaktian. Bagaimana kalau gereja itu mengadakan 5-6 kali kebaktian? Maka dalam satu hari Minggu, si pendeta mendapat “gaji” antara Rp 4.500.000, 00 – Rp 5.400.000, 00. Maka jika satu bulan ada 4 hari Minggu, maka dengan perhitungan 90% untuk “gaji” si pendeta, maka si pendeta mendapat “gaji” antara Rp 18.000.000, 00 – Rp 21.600.000, 00. Dengan gaji sebesar Rp 18.000.000, 00 (minimal), untuk apa si pendeta menjadi presiden direktur sebuah perusahaan miliknya? Apakah si pendeta ini masih kurang dengan gaji sebesar itu?
Jika masih kurang, yang menjadi problemnya itu bukan boleh atau tidak boleh pendeta berprofesi ganda, tetapi motivasi awal si pendeta berprofesi ganda (berbisnis) yaitu INGIN KAYA! Menjadi kaya tentu tidak salah, tetapi INGIN kaya bahkan INGIN sesuatu yang lebih dan lebih itulah yang berdosa. Dr. John Calvin pernah mengatakan, “The evil in our desires often lies not in what we want, but in the fact that we want it too much.” (=Dosa dalam keinginan kita bukanlah terletak pada apa yang kita inginkan, tetapi pada fakta bahwa kita menginginkannya terlalu banyak.) (diparafrasekan oleh Dr. David Powlison; seperti dikutip dalam Rev. C. J. Mahaney, Worldliness: Resisting the Seduction of a Fallen World, ed. C. J. Mahaney, p. 20) Dengan kata lain, kurangnya rasa cukup itulah dosa, karena sikap demikian bukanlah sikap seorang Kristen yang bersyukur atas anugerah-Nya.


IV. BERBAGAI RESPONS YANG MUNCUL
Berkenaan dengan isu pendeta apakah diperbolehkan berbisnis atau tidak, ada dua pendapat yang muncul:
1. Pendeta Tidak Boleh Berprofesi Ganda
Pendapat pertama muncul karena mereka percaya bahwa pendeta merupakan profesi mulia untuk melayani Tuhan penuh waktu. Mereka tidak mau mengerti pergumulan bi-vocational pastors yang menggembalakan gereja kecil, sementara mereka harus menghidupi keluarganya apalagi anak-anaknya yang sudah mulai bersekolah dan berkuliah yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mereka secara kaku berprinsip bahwa pendeta mutlak tidak boleh bekerja sampingan.

2. Pendeta Boleh Berprofesi Ganda.
Dengan mengutip teladan Paulus yang juga seorang pembuat tenda (Kis. 18:3) dan Yesus yang bekerja sebagai tukang kayu (Mrk. 6:3), maka beberapa orang Kristen dan pendeta melegalkan pendeta boleh berbisnis. Bahkan mereka menambahkan ada beberapa keuntungan pendeta yang berbisnis, di antaranya: dapat bertemu dengan orang-orang non-Kristen sambil memberitakan Injil dan juga si pendeta berbisnis bisa hidup “nyata” di dunia dengan mengerti kesusahan orang lain yang hidup di dunia ini (tidak terkungkung di dunia gereja saja). (http://www.gci.org/church/ministry/bivocational) Ya, saya menyetujui beberapa poin mereka, namun sayangnya kebanyakan orang Kristen yang mendukung pandangan ini hanya melihat keuntungan alias sisi positif dari pendeta yang berprofesi ganda tanpa melihat kelemahannya, seolah-olah profesi ini paling benar, padahal ada beberapa kendala yang harus dihadapi oleh bi-vocational pastors. Tentang kelemahannya, akan dibahas di bagian berikutnya.


V. KELEMAHAN-KELEMAHAN BI-VOCATIONAL PASTORS
Seorang pendeta yang berprofesi ganda selain memiliki kelebihan, juga memiliki kelemahan. Kelemahan ini TIDAK berarti hal ini dosa atau bertentangan dengan firman Tuhan, karena Alkitab sekali lagi TIDAK mengajar apa pun tentang hal ini. Kelemahan di sini berarti kendala (berat) yang harus dihadapi bi-vocational pastors yaitu mereka kurang bisa berfokus pada pelayanan penuh waktu di gereja dan juga kelemahan contoh yang dipakai.
A. Kendala Fokus Pelayanan
Karena berprofesi sampingan entah itu sebagai dokter, pebisnis, dll, maka otomatis bi-vocational pastor mengalami kendala dalam hal fokus pelayanan penuh waktu di gereja yang meliputi:
1. Kendala Fokus Mempersiapkan Khotbah
Di satu sisi, mereka adalah seorang pendeta yang harus berkhotbah setiap hari Minggu dan perlu diketahui untuk berkhotbah dengan benar bukanlah hal mudah yang dengan mudahnya dipersiapkan hanya dalam waktu 1 hari, kecuali pendeta yang berkhotbah dengan modal pintar ngomong layaknya marketing obat atau jamu. Ketika si pendeta berkhotbah, ia tentu mengambil khotbahnya dari nas Alkitab dan ketika ia mengambil nas Alkitab, maka mau tidak mau pasti diperlukan suatu penafsiran. Oleh karena itu, untuk berkhotbah yang benar, diperlukan 2 “ilmu”: homiletika (ilmu berkhotbah) dan hermeneutika (ilmu menafsirkan Alkitab). Pdt. Dr. Bambang H. Wijaya sebagai Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) di dalam salah satu artikelnya di sebuah majalah rohani pernah mengungkapkan satu poin penting yaitu bagaimana homiletika digabungkan dengan hermeneutika. Hermeneutika mencakup prinsip-prinsip bagaimana menafsirkan Alkitab (saya meminjam 3 istilah ini dari artikel Pdt. Ir. Andi Halim, S.Th.): tekstual (melihat ayat per ayat, kata per kata, dll), kontekstual (konteks dekat dan jauh dari nas Alkitab yang dibaca dan dikhotbahkan: ayat sebelum dan sesudahnya, kitab-kitab yang ditulis oleh penulis yang sama, kitab-kitab yang ditulis oleh penulis yang berbeda, dan keseluruhan PL dan PB), dan kontentual (isi teks sesuai dengan konteks ayat sebelum dan sesudahnya). (http://www.remove.or.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=29&Itemid=44) Saya juga menambahkan prinsip-prinsip lain menafsirkan Alkitab: grammatical (yaitu memperhatikan grammar atau bentuk kata yang dipakai dan artinya dalam bahasa asli yaitu Ibrani dan Yunani) dan practical (yaitu aplikasi praktisnya: berbicara tentang kaitan erat antara what it meant di dalam teks Alkitab tersebut dengan what it means sebagai aplikasinya). Untuk bisa berkhotbah dengan penafsiran Alkitab yang akurat, maka tentu saja diperlukan studi theologi yang mendalam yang menguasai Bahasa Ibrani, Bahasa Yunani, Pengantar Perjanjian Lama, Pengantar Perjanjian Baru, dll yang tentu tidak dipelajari hanya dari kursus beberapa bulan saja. Nah, masalahnya, kebanyakan (TIDAK semua) bi-vocational pastors di Indonesia bukanlah seorang pendeta yang mengerti semuanya itu dan hanya berbekal kursus Alkitab beberapa bulan saja dan pintar ngomong (bahasa Jawanya: nggombes), lalu ditahbiskan menjadi pendeta.
Nah, bagian praktikal dalam hermeneutika itu dikaitkan dengan homiletika yang memperhatikan bagaimana berkhotbah yang benar, membangun, dan transformatoris dengan memperhatikan: teks Alkitab yang ketat, konsep theologis yang bertanggung jawab, makna kerohanian, ilustrasi dan cerita yang sesuai, lelucon segar, dan tantangan bagi para jemaat yang mendengarnya. Tentang homiletika yang Alkitabiah namun praktis, Anda bisa membaca buku 7 Langkah Menyusun Khotbah yang Mengubah Kehidupan yang ditulis oleh Pdt. Benny Solihin, M.Th. Saya mengakui mungkin ada pendeta yang berbisnis namun masih memiliki waktu lama untuk menggali Alkitab seperti di atas, namun kasusnya hanya sedikit. Kebanyakan (TIDAK SEMUA) pendeta yang berbisnis adalah pendeta yang malas belajar Alkitab dan hanya berpedoman mengutip perkataan pendeta lain atau mereka-reka sendiri arti Alkitab tanpa penafsiran yang bisa dipertanggungjawabkan (mencomot ayat Alkitab di luar konteks)!

2. Kendala Fokus Antara Hal-hal Gerejawi atau “Sekuler”.
Karena bekerja sekuler di samping menjadi pendeta, maka mungkin sekali banyak bi-vocational pastors yang kerepotan mengurus hal-hal gerejawi yang bertabrakan dengan pekerjaan sekulernya. Misalnya, jika di waktu yang sama, ada pelayanan penguburan di gereja dan juga rapat direksi di perusahaan yang dipimpinnya atau jadwal operasi pasien jika si pendeta juga merangkap sebagai dokter, maka apa yang harus diputuskan oleh seorang bi-vocational pastor? Pasti pusing tuh pendeta. Memang kondisi ini jarang terjadi, namun bukan berarti tidak ada kan? Kebanyakan kalau pendeta sekaligus dokter menghadapi kasus demikian, mereka lebih memilih mengurusi operasi pasien (dengan mempertimbangkan nyawa pasien lebih “penting”) dan menelantarkan pelayanan penguburan gereja dengan menghubungi rekan pendeta lain yang bisa melayani upacara tersebut. Bukankah pendeta demikian menjadi pendeta yang lebih mementingkan urusan “sekuler” ketimbang rohani (meskipun hal ini tidak berarti pendeta tidak boleh memperhatikan masalah sekuler)? Ada yang menyanggah bahwa pendeta itu bisa membagi waktu. Ya, puji Tuhan, kalau pendeta tersebut bisa membagi waktu, tetapi apakah kemampuannya membagi waktu juga bisa berarti mampu segala-galanya mengatur waktu sampai tidak ada waktu yang bertabrakan/bersamaan sama sekali antara tugas gerejawi dengan tugas sekuler yang dikerjakannya? Pertimbangkan hal ini dengan bijaksana. Saya TIDAK mengatakan bahwa menjadi pendeta berbisnis itu sesat atau berdosa, namun yang saya mau tekankan: pertimbangkanlah matang-matang sebelum Anda menjadi bi-vocational pastor.

B. Contoh yang Dipakai
Bi-vocational pastors selalu mendukung profesi mereka dengan memberi contoh bahwa Paulus juga seorang tukang temah (Kis. 18:3), demikian juga Yesus yang juga seorang tukang kayu, dan beberapa nabi di Perjanjian Lama. Ya, saya mengamini bahwa Paulus juga seorang tukang kemah dan ia bekerja demikian bukan supaya ia menjadi lebih kaya, tetapi untuk membiayai pelayanannya sendiri dan membantu pelayanan bagi jemaat-jemaat yang dilayaninya. Namun, Paulus adalah salah satu contoh rasul Kristus yang bekerja sambilan sambil melayani Tuhan, karena Petrus, Yohanes, dll tidak bekerja sambilan. Tuhan memanggil Paulus berbeda dari cara Tuhan memanggil Petrus, Yohanes, dll dan itu bisa kita maklumi. Namun jangan memakai alasan karena Paulus bekerja sambilan, maka yang mau jadi pendeta harus bekerja sambilan (hal ini sudah menjadi kebiasaan di gereja kontemporer pop zaman ini, sehingga saya jarang menemukan pendeta yang tidak bekerja sambilan di kalangan gereja kontemporer yang pop ini). O ya, satu lagi, teman gereja saya, Bp. Jimmy Sumendap, M.T. pernah menanggapi begini, kalau para bi-vocational pastor selalu mencontoh Paulus yang bekerja sambilan, seharusnya mereka juga harus mencontoh profesi sambilan Paulus, yaitu menjadi tukang kemah dan tidak bekerja yang lain, supaya lebih “Alkitabiah” gitu loh, hahaha (just kidding)
Kembali, dari contoh Paulus, seorang rekan saya pernah berkata bahwa hamba Tuhan/pendeta yang berbisnis lebih dihargai ketika memberitakan prinsip-prinsip etika berbisnis yang Alkitabiah ketimbang pendeta yang tak berbisnis, karena pendeta yang berbisnis sudah mengalaminya sendiri. Prinsip ini ada benarnya dan logis, namun tidak bisa dijadikan standar. Apakah berarti kalau begitu semua pendeta harus berbisnis supaya bisa mengajar jemaat tentang etika berbisnis? Bagaimana ketika pendeta cowok mengajar tentang cara menjadi istri yang taat pada suami? Apakah si pendeta cowok harus menjadi istri/cewek dulu? Apakah kalau mau mengajar jemaat tentang prinsip keadilan, maka si pendeta harus menjadi hakim terlebih dahulu? Bagaimana ketika pendeta cowok yang belum menikah yang berkhotbah eksposisi dari Surat Efesus, lalu tiba pada nas Efesus 5:22-33 tentang hubungan suami-istri? Apakah si pendeta jomblo ini akan berhenti khotbah, lalu mempersilahkan pendeta yang telah menikah untuk mengkhotbahkannya? Kita kembali ke Alkitab dan melihat sendiri contoh Paulus bahwa Paulus adalah rasul Kristus yang tidak menikah (1Kor. 7:7) dan uniknya Paulus yang tidak menikah adalah Paulus yang memberi nasihat tentang hubungan suami-istri di Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19. Jika demikian, apakah nasihat Paulus tidak berarti sama sekali hanya karena Paulus tidak menikah?
O ya, kalau bi-vocational pastors memakai Paulus sebagai teladan, pertanyaannya, mengapa yang diambil teladannya hanya urusan membuat tenda saja? Seharusnya mereka harus konsisten meneladani Paulus, dari prinsip theologi, penggembalaan, dan penginjilannya. Mereka juga harus meneladani Paulus yang sambil menjadi tukang kemah sanggup menggembalakan jemaat yang lebih dari satu dan memberitakan Injil ke negara yang jauh sampai di Roma. Apakah bi-vocational pastors sanggup melakukan hal itu? Kalau disuruh tent-making ala Paulus, banyak pendeta mau, namun kalau disuruh menggembalakan gereja lebih dari 1 apalagi memberitakan Injil sampai luar negeri yang belum mengenal Injil sama sekali seperti Paulus, banyak bi-vocational pastors langsung berkata, “Panggilan Paulus tidak sama dengan panggilan saya.” (catatan: panggilan di sini merupakan kamuflase dari arti yang sebenarnya: gue gak mau kayak Paulus) Ini artinya, mereka hanya mau mengerjakan apa yang mereka sukai dari teladan Paulus, sedangkan yang sulit, enggan mereka kerjakan. Konsisten dong.
Lalu, apakah untuk mengajar jemaat yang berbisnis, maka diperlukan pendeta yang berbisnis? Tidak selalu. Jika mungkin, itu baik, tetapi bukan suatu kemutlakan, karena setiap orang Kristen yang termasuk anak-anak Tuhan dipanggil oleh Kristus untuk menjadi garam dan terang bagi dunia di mana pun mereka berada (Mat. 5:13-16). Dengan kata lain, pendeta yang tidak berbisnis dapat memberikan tips etika Alkitabiah di dalam bisnis dan jemaat Tuhan yang terpanggil itulah yang menjalankannya. Di beberapa gereja Protestan, ketika ada acara seminar atau persekutuan yang membahas masalah bisnis, maka biasanya ada dua pembicara, yaitu: pendeta/hamba Tuhan yang mengajar konsep theologisnya dan pebisnis Kristen yang menjalankannya. Begitu juga dokter Kristen yang mengerti etika Kristen di bidang medis seharusnya berbagi berkat tentang etika Kristen di dalam medis kepada jemaat Kristen. Tentu saja pendeta yang mau mengajar jemaat tentang etika Kristen di bidang medis bukanlah pendeta yang harus menjadi dokter dahulu baru didengarkan nasihatnya (jika pendeta itu juga merangkap menjadi dokter itu tidak menjadi masalah, tetapi itu bukan suatu kemutlakan). Nah, kecenderungannya, ada dokter Kristen yang merangkap juga sebagai pendeta tidak menjalankan kedua profesi itu dengan baik. Saya menemukan fakta di Surabaya, ada seorang dokter Kristen yang merangkap menjadi pendeta di sebuah gereja terbesar di Surabaya yang melakukan kesalahan diagnosa terhadap seorang pasien (bahkan si pasien hampir meninggal akibat salah diagnosa tersebut) dan di dalam gereja tempat dia melayani, dia juga dipecat karena terbukti melecehkan perempuan. Kasus ini memang kasus khusus yang tidak boleh ditarik kesimpulan bahwa pendeta tidak boleh merangkap menjadi dokter, namun biarlah kasus khusus ini menyadarkan kita untuk kembali kepada panggilan Tuhan yang sungguh-sungguh di dalam hidup kita.
Bagaimana dengan contoh Yesus yang kerap kali dipakai untuk mendukung konsep bi-vocational pastor? Mereka mengutip Markus 6:3 sebagai dasar bahwa Yesus pun sambil melayani sambil menjadi tukang kayu, benarkah demikian? Alkitab tidak pernah mencatat bahwa sambil melayani dan memberitakan Injil, Kristus menjadi tukang kayu. Jika mau dipikir logis dari catatan Alkitab, Kristus sibuk memberitakan Injil dari kota ke kota beserta para rasul, mungkinkah setiap kali Ia memberitakan Injil di setiap kota, Ia juga menjadi tukang kayu? Alkitab TIDAK pernah mencatat bahwa ketika Yesus pergi ke Samaria untuk memberitakan Injil, lalu Ia mencari kayu yang hendak dipotong untuk dijadikan suatu barang, dll. Lalu, benarkah Yesus berprofesi sebagai tukang kayu? Ya, karena ayah-Nya, Yusuf seorang tukang kayu, tetapi Ia pernah menjadi tukang kayu mungkin sebelum Ia terjun ke pelayanan pemberitaan Injil lintas wilayah. Yang lebih tidak masuk akal, saya pernah membaca artikel dari Ev. Bedjo Lie, M.Div. yang pernah menuturkan bahwa ada seorang “pendeta” dari gereja kontemporer yang pop yang jelas-jelas menganut “theologi” kemakmuran menulis bahwa Yesus sebenarnya bukan tukang kayu, tetapi pengusaha mebel, wkwkwk Sejak kapan Yesus jadi bos besar? Padahal Alkitab dengan jelas mencatat bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Mat. 8:20).


VI. SIKAP ORANG KRISTEN
Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen menyoroti pendeta berbisnis?
A. Presuposisi
Sebelum membahas sikap Kristen berkenaan dengan bi-vocational pastor, ada beberapa presuposisi yang harus kita benahi terlebih dahulu.
1. Siapakah Pendeta?
Sebelum membahas boleh atau tidak pendeta berbisnis, pertama-tama definisikan siapa pendeta. Pendeta adalah pemimpin gereja atau pelayan Tuhan yang melayani pekerjaan Tuhan penuh waktu di gereja yang bertugas: berkhotbah, menjalankan sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), memimpin/mengadakan rapat gereja, menjalankan disiplin gerejawi, mengadakan pembesukan, dll. Beberapa orang Kristen menyanggah bahwa banyak pendeta sekarang tidak mengadakan pembesukan, dll, kalau masalah itu, biarkan saja. Fakta tidak berarti itu yang harus dilakukan.

2. Apa Arti Bekerja?
Bekerja di sini berarti menjalankan suatu bisnis, entah itu memimpin perusahaan, membuka pabrik/toko pribadi, bekerja di perusahaan orang lain, atau bekerja non bisnis, seperti: dokter, hakim, dll. Di dalam pekerjaan tersebut, Anda bisa menjalankan pekerjaan itu sendiri atau menyuruh orang lain mengurus pekerjaan kita.

3. Apa Arti Melayani Tuhan?
Menjadi pendeta dan usahawan (businessman) atau dokter, hakim, dll, manakah yang lebih melayani Tuhan? Jawabannya: dua-duanya, namun beda konteks. Usahawan dan profesi lainnya, seperti: dokter, hakim, dll melayani Tuhan di bidang masing-masing sesuai panggilan Tuhan yang unik bagi masing-masing pribadi. Di bidang tersebut, mungkin mereka bisa membagikan Injil kepada rekan bisnis atau pasien atau koleganya, namun fokusnya bukan pada hal-hal gerejawi. Sedangkan pendeta merupakan orang khusus yang Tuhan panggil untuk melayani-Nya sepenuh waktu yang tentunya bertugas untuk hal-hal gerejawi seperti: berkhotbah, menjalankan sakramen, menjalankan disiplin gerejawi, dll dan hal-hal tersebut tidak boleh dikerjakan oleh usahawan atau dokter, dll yang tidak ditahbiskan. Dengan adanya pembedaan konteks dalam melayani Tuhan, maka dokter Kristen yang beres yang ingin melayani Tuhan TIDAK perlu harus menjadi pendeta terlebih dahulu, tetapi layani Tuhan melalui diagnosa dan operasi yang teliti dengan keyakinan bahwa ia bekerja seperti untuk Tuhan (Kol. 3:23).

4. Apa Arti Panggilan?
Seorang yang melayani Tuhan tentunya juga seorang yang meresponi panggilan Tuhan yang unik. Ada yang dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya penuh waktu sebagai penginjil atau pendeta; ada juga yang dipanggil Tuhan untuk melayani-Nya di bidang hukum, pendidikan, bisnis, ekonomi, sosial, medis, dll. Masing-masing anak Tuhan harus menggumulkan secara serius untuk menemukan dan meresponi panggilan Tuhan tersebut dalam hidupnya. Tidak ada seorang pun yang dapat memaksakan panggilan Tuhan itu. Namun perlu diwaspadai mengenai kata “panggilan”, karena kata agung ini telah dicemari oleh hal-hal yang tidak bertanggung jawab. Hal ini mirip seperti kata “beban” yang kerap kali dipakai oleh banyak orang Kristen hari-hari ini. Bagi mereka, “beban” diidentikkan dengan kesukaan pribadi, padahal definisi beban berarti sesuatu yang berat yang Tuhan perintahkan agar kita menjalankannya. Bagi G. I. Jeffey Siauw, M.Div., beban dikaitkan dengan orang (mengutip perkataan dari teman beliau) dan tujuan dari beban tersebut. Misalnya, orang yang katanya terbeban menggembalakan, perlu dipertanyakan, siapa yang digembalakan dan orang yang digembalakan tersebut dan yang digembalakan itu mau menjadi seperti apa? (http://jeffreysiauw.blogspot.com/2011/04/beban.html) Seperti kata beban yang sudah banyak diselewengkan, maka kata “panggilan” pun banyak diselewengkan. Misalnya ada yang berkata, “Saya terpanggil untuk menjadi pendeta sekaligus businessman.” Pertanyaan saya, benarkah ia dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi pendeta sekaligus businessman? Saya memang tidak berhak menghakimi motivasi orang itu, karena itu menjadi tanggung jawab pribadinya di hadapan Tuhan. Namun yang saya soroti adalah apakah orang Kristen yang berkata bahwa itu panggilan Tuhan benar-benar merupakan panggilan Tuhan ataukah ia hanya “merasa” dipanggil Tuhan, tetapi sejujurnya Tuhan tidak pernah memanggilnya menjadi pendeta? Benarkah mereka yang katanya bi-vocational pastor benar-benar dipanggil Tuhan untuk menjadi bi-vocational pastor ataukah istilah “panggilan” atau vocation itu hanya sekadar lip service untuk menutupi motivasinya yang ingin cepat kaya atau bahkan sebenarnya mereka menyukai tentmaking tersebut dan bukan karena benar-benar panggilan Tuhan atas dirinya? Sekali lagi, jangan salah mengerti, saya TIDAK sedang menghakimi motivasi orang, saya hanya menyajikan suatu refleksi saja untuk direnungkan bersama.

5. Apa Motivasinya?
Jika seorang pendeta yang berprofesi ganda memang sungguh-sungguh dipanggil Tuhan untuk bekerja “sekuler”, maka yang perlu dipertanyakan, apa motivasinya? Saya mengetahui ada 2 orang pendeta dari gereja kontemporer yang pop yang theologinya cukup beres yang juga seorang yang bekerja “sekuler”, karena mereka menganggap bahwa gereja yang mereka layani tidak mampu membiayainya dan salah satu dari mereka bekerja “sekuler” karena ingin menjadi berkat bagi gereja dan jemaat yang dilayaninya. Bagi saya, tentu motivasi ini tidaklah salah dan bisa dimaklumi. Namun, kalau si pendeta yang ingin berbisnis itu motivasinya ingin cepat kaya yang terlihat dari ambisinya memiliki dan mengembangkan banyak perusahaan, padahal ia sudah meraup “keuntungan” dari persepuluhan gerejanya yang berjumlah minimal Rp 18.000.000, 00 per bulan, maka hal itu tentu tidak dapat dibenarkan, karena motivasinya sudah jahat di mata Tuhan (bdk. uraian saya di bagian motivasi poin ketiga).

6. Gereja Model Apa yang Dilayaninya?
Keputusan untuk memperbolehkan atau melarang pendeta berprofesi ganda juga harus dikaitkan dengan gereja model/macam apa yang dilayaninya, mengapa? Karena masing-masing gereja memiliki kebijakan tersendiri. Ada gereja yang memiliki peraturan untuk menggaji pendeta secara langsung dari sinode, sedangkan ada gereja yang menetapkan bahwa pendeta digaji dari hasil persembahan jemaatnya. Nah, kebanyakan pendeta yang berprofesi ganda itu berasal dari gereja yang menetapkan bahwa pendeta digaji langsung dari hasil persembahan jemaatnya, meskipun tidak menutup kemungkinan dari gereja yang digaji dari sinode.

B. Aplikasi: Bijak Bersikap
Keenam dasar presuposisi di atas mengarahkan kita untuk mempertimbangkan bahwa pendeta boleh berprofesi ganda dengan catatan penting, yaitu:
1. Ujilah Motivasi dan Tujuan
Mengutip jawaban Ev. Yuzo Adhinarta, Ph.D. melalui SMS, pendeta boleh berprofesi ganda asalkan motivasi dan tujuan dasarnya adalah benar-benar memuliakan Tuhan dan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Artinya, kalau si pendeta benar-benar berprofesi ganda, maka pikirkanlah statusnya sebagai pendeta di tempat kerja “sekuler”nya. Jangan sampai sebagai pendeta, Anda bekerja dengan tidak disiplin atau berkata kotor kepada pegawai atau customer Anda atau bahkan Anda menipu orang lain.

2. Pertimbangkan Secara Bijak Setiap Keputusan yang Anda Buat
Erick Underwood dalam artikelnya Should I Become a Bi-Vocational Pastor memberikan saran kepada bi-vocational pastors, “Think carefully about how the decision will impact you and your family” (=Berpikirlah hati-hati tentang bagaimana keputusan akan berdampak pada Anda dan keluarga Anda.) (http://www.parsonage.org/articles/ministry/A000000319.cfm) Oleh karena itu, seorang pendeta yang berprofesi ganda harus benar-benar mempertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya yang dipakainya untuk urusan gerejawi, profesi sampingan, keluarga, dll. Diperlukan suatu kebijaksanaan dalam mengatur ketiga hal di atas.

3. Responilah Panggilan-Nya
Erick Underwood dalam artikelnya menyatakan bahwa jika ada pendeta yang benar-benar dipanggil untuk berprofesi ganda, maka responi panggilan Tuhan itu dengan kesadaran bahwa motivasinya bukan untuk mencari lebih banyak uang atau motivasi lain.

4. Pilihlah Pekerjaan yang Fleksibel
Erick Underwood juga menyarankan bi-vocational pastors untuk memilih pekerjaan yang bisa ditinggal sewaktu-waktu atau didelegasikan kepada orang lain, karena mengingat mereka juga adalah pendeta yang harus menjalankan tugas gerejawi.

5. Prioritaskan Mana yang Terpenting
Sebuah artikel di web Presbyterian Church of U.S.A. menjelaskan bahwa bagi bi-vocational pastors, urusan gerejawilah yang harus diprioritaskan lebih daripada pekerjaan lain. Konsep ini logis dan bisa dibenarkan, karena panggilan utamanya adalah menjadi pendeta, sedangkan panggilan sambilannya adalah bekerja sekuler. Jika panggilan utama digadaikan demi mengurusi panggilan sambilan, itu salah, karena bagaimana pun juga, hal-hal rohani lebih penting daripada hal-hal sekuler, meskipun hal-hal sekuler tetap perlu!

6. Persiapkan Khotbah Dengan Bertanggung Jawab
Seorang bi-vocational pastor yang memang terpanggil untuk berprofesi ganda yang berkomitmen untuk memprioritaskan urusan gerejawi harus juga berkomitmen untuk benar-benar mempersiapkan khotbah setiap hari Minggu dengan bertanggung jawab. Aturlah waktu seefektif dan sebijak mungkin untuk benar-benar membaca Alkitab, mempelajarinya dengan teliti dengan bantuan software penggalian Alkitab (seperti Bible Works, dll), Interlinear, buku-buku tafsiran Alkitab, dll, merenungkannya, dan menyusunnya di dalam sebuah khotbah yang benar-benar menggali Alkitab, namun tetap aplikatif.

7. Delegasikan Tugas Rutin Gerejawi Kepada Beberapa Jemaat
Erick Underwood kembali menyarankan bagi bi-vocational pastors untuk mendelegasikan tugas rutin gerejawi (seperti: visitasi jemaat, dll) kepada beberapa jemaat untuk mengurusnya. Atau mungkin dengan mempersiapkan beberapa jemaat untuk memimpin acara kecil di gereja, misalnya Persekutuan Doa, KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) atau cell-group, dll. Namun patut diperhatikan, meskipun ada pendelegasian tugas rutin gerejawi ini, pendeta tetap tidak boleh mengandalkan mereka 100%, karena ada beberapa tugas penting gerejawi yang harus dikerjakan. Sebisa mungkin, pendeta juga perlu ikut terjun ke dalam beberapa tugas gerejawi yang dianggap “sepele”, seperti visitasi/pembesukan, penginjilan, dll. Beberapa pendeta yang karena sibuk dengan berbagai administrasi gereja, dll akhirnya mengabaikan permintaan tolong jemaat untuk memberitakan Injil kepada saudaranya dan menyerahkan tugas tersebut kepada tim penginjilan yang sudah ada di gereja, padahal saudara si jemaat ini memang perlu diinjili oleh pendeta yang lebih mengerti theologi ketimbang jemaat biasa di dalam tim penginjilan. Visitasi adalah salah satu bentuk penggembalaan yang seharusnya digarap oleh seorang gembala sidang atau pendeta yang melayani di gereja. Harus diakui ada dua kecenderungan ekstrem gereja dewasa ini: gereja yang satu sangat memperhatikan persekutuan yang hangat (dan penggembalaan) tetapi mengabaikan doktrin yang penting (kebanyakan anti doktrin), namun di sisi lain ada gereja yang sangat menekankan pentingnya doktrin tetapi anti persekutuan (meskipun ada nama “persekutuan” di komisi pemudanya) dan masa bodoh dengan penggembalaan dengan dalih penggembalaan bisa didapat dari mimbar. Gereja seharusnya tidak ekstrem seperti di atas, tetapi berusaha menjalankan keduanya dengan seimbang. Saya melihat selama ini di Surabaya, gereja yang menjalankan pembinaan doktrin yang cukup ketat ditambah persekutuan yang hangat dan penggembalaan adalah Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus yang digembalakan oleh Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

8. Jangan Melupakan Waktu untuk Keluarga
Bagi bi-vocational pastors, Erick Underwood kembali mengingatkan agar mereka menyediakan waktu untuk keluarga, karena keluarga juga merupakan hal penting selain kedua profesi mereka. Adalah sangat memalukan jika ada pendeta yang sibuk berkhotbah dan berprofesi lain, namun keluarganya berantakan tidak karuan. Lebih memalukan, jika ada cucu dari pendeta besar di Surabaya yang hidupnya tidak karuan.

9. Bersekutu dengan Pendeta Lain yang Tidak Bekerja.
Bi-vocational pastors seharusnya tidak mengasingkan diri dari pendeta lain di gereja yang mereka melayani, tetapi harus bersekutu dengan pendeta lain khususnya yang tidak bekerja (atau non bi-vocational pastors). Interaksi demikian dimaksudkan untuk saling berbagi berkat di antara mereka untuk saling menguatkan dan menegur demi pertumbuhan mereka sebagai pendeta dan berkat bagi jemaat yang mereka layani.


VII. KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Saya mengerti bahwa menjadi pendeta bukanlah pekerjaan mudah, apalagi menjadi pendeta dan gembala sidang di sebuah gereja dengan jumlah jemaat yang tidak terlalu banyak, namun kendala demikian bukanlah alasan bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi pendeta untuk mundur dari panggilan pelayanan. Silahkan berprofesi ganda bagi mereka yang benar-benar terpanggil untuk itu, namun jangan menjadikan profesi sampingan itu sebagai prioritas dalam hidup seorang pendeta, karena prioritas hidup pendeta adalah pelayanan gerejawi. Bijaklah dalam mengambil keputusan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk meresponi panggilan-Nya dengan sungguh-sungguh demi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

24 April 2011

RELIGIUS VS ROHANI: Bagaimana Menjadi Seorang Kristen yang Takut akan Tuhan? (Denny Teguh Sutandio)

RELIGIUS VS ROHANI:
Bagaimana Menjadi Seorang Kristen yang Takut akan Tuhan?


oleh: Denny Teguh Sutandio




Kita hidup di zaman yang menekankan perasaan lebih daripada rasio, sehingga kebenaran diukur dari subjektivitas masing-masing pribadi dan HAMPIR menyangkali kebenaran objektif. Tidak heran, makin banyak manusia yang cuek terhadap makna hidupnya, tidak terkecuali banyak orang Kristen. Namun di antara banyak orang Kristen yang cuek terhadap makna hidup apalagi imannya, ada sekelompok orang Kristen yang terkesan tidak demikian. Mereka tidak suka dugem (=dunia gemerlap), merokok, apalagi melakukan tindak asusila lainnya, sebaliknya mereka bahkan mungkin sekali seorang yang aktif mengikuti kebaktian (dan acara rohani lain) di gereja, bahkan rajin mencatat khotbah di dalam persekutuan pemuda di gerejanya. Tidak hanya itu, setiap malam, mereka juga aktif saat teduh dan mendengarkan lagu-lagu rohani (di mana dulu mereka tidak suka mendengarkan lagu rohani). Secara kasat mata, mereka tampak seolah-olah mereka berbeda dengan orang-orang dunia, namun pertanyaan lebih lanjut, apakah dari fenomena-fenomena demikian dapat dikatakan orang-orang tersebut adalah orang Kristen sejati yang memiliki kerohanian yang beres atau orang Kristen yang takut akan Tuhan? Fakta membuktikan TIDAK. Beberapa orang Kristen yang menunjukkan fenomena-fenomena seperti rajin mengikuti kebaktian, saat teduh, aktif mencatat khotbah, berdoa, mendengarkan lagu-lagu rohani, menulis artikel rohani baik di blog, dll, bahkan belajar theologi sekalipun TIDAK menunjukkan bahwa orang tersebut adalah seorang Kristen yang benar-benar takut akan Tuhan atau seorang yang rohani, tetapi itu semua hanya menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki kehidupan religius yang baik.


Sejujurnya, seorang Kristen yang religius TIDAK membuktikan bahwa dia benar-benar takut akan Tuhan atau memiliki kerohanian yang beres. Tidak usah heran, makin seorang Kristen menunjukkan fenomena-fenomena religius, dirinya makin tidak beres. Coba bergaullah dengan orang-orang “Kristen” model ini dan periksalah kehidupan rohani dan kehidupan sehari-harinya. Meskipun tidak semua, kebanyakan orang “Kristen” religius hanya mau tampak religius, namun dalam dirinya belum ada pertobatan sungguh-sungguh, apalagi dilahirbarukan. Jangan heran, karena belum bertobat, maka diri dan prinsip hidupnya sendiri adalah kebenaran. Jangan kaget bergaul dengan orang ini, ia akan anti dengan teguran dari orang lain karena baginya, teguran orang lain terkesan mengatur dirinya! Jika ada orang Kristen yang keras kepala, namun terkesan religius, itu sama sekali TIDAK membuktikan dirinya benar-benar telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, mengapa? Karena setan dan anak buahnya pun dapat meniru tindakan religius demikian! Ada orang Kristen religius yang aktif mencatat khotbah di persekutuan pemuda di suatu gereja dan tentunya sudah pernah mendengar bahwa uang itu bukan segala-galanya, namun dalam prinsip hidupnya, ia tetap saja mencari pasangan yang “mapan” alias tajir, kalau bisa tidak akan habis hartanya, supaya hasratnya yang suka shopping dipenuhi oleh si pasangan.


Lalu, apakah berarti, kegiatan religius itu salah semua? Oh, tentu saja tidak, namun yang saya soroti adalah kegiatan religius tanpa hasrat kuat yang takut akan Tuhan. Di mata Tuhan, kegiatan religius tanpa iman dan takut akan Tuhan TIDAK berarti apa-apa! Alkitab mencatat, Allah sangat membenci perayaan religius bangsa Israel, karena mereka melakukannya tidak dengan hati yang takut akan-Nya. Tuhan berfirman di Yesaya 29:13, “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (dikutip oleh Tuhan Yesus di Mat. 15:8-9) Dengan kata lain, di mata Tuhan, yang terpenting adalah hati yang dipersembahkan kepada-Nya dengan tulus dan murni, seperti yang pernah diucapkan oleh Dr. John Calvin, salah seorang reformator Protestan besar setelah Dr. Martin Luther. Mengapa? Karena mengutip perkataan Pdt. Yohan Candawasa, S.Th., agama Kristen bukan agama performa (kelihatan luar), tetapi agama HATI! Artinya, Kekristenan sangat menekankan HATI sebagai intinya, BUKAN pada performa religius dengan menjalankan syariat-syariat tertentu. Orang Kristen yang telah menyerahkan hatinya kepada Tuhan adalah seorang yang berkomitmen untuk mengaitkan segala sesuatu dengan Tuhan. Itu yang saya sebut sebagai orang Kristen rohani.


Apa saja yang menjadi ciri orang Kristen yang rohani dan sungguh-sungguh takut akan Tuhan?
Pertama, rindu akan Allah (Mzm. 63). Karena hatinya telah diserahkan kepada Allah, maka di dalam proses pengudusan, seorang Kristen rohani akan memiliki hasrat akan Allah. Seperti kerinduan Daud akan Allah di Mazmur 63, maka orang Kristen ini akan rindu akan Allah dengan terus mengingat akan kasih setia-Nya dan kedahsyatan kuasa-Nya. Ia akan menyadari bahwa tanpa Allah, hidupnya tak berarti seperti tanah yang kering dan tandus (Mzm. 63:2). Selain itu, di dalam hidupnya, ia terus mengaitkan dan memusatkan hidupnya pada Allah dan kehendak-Nya saja (Rm. 11:36), sehingga tidak ada satu inci kehebatan manusia yang dibanggakannya! Hal ini berbeda dengan orang “Kristen” yang religius di mana ia akan terus-menerus (eksplisit maupun implisit) menganggap bahwa diri dan prinsip diri adalah kebenaran dan orang lain (khusus pasangannya) harus percaya pada dia! Terus terang, bagi saya, jangan percaya pada orang “Kristen” religius model ini, karena tatkala kita percaya pada orang ini sebagai kebenaran, di saat itu, kita sedang berdosa, karena telah menjadikan manusia berdosa (bukan Allah) sebagai sumber kebenaran!

Kedua, merindukan firman-Nya dengan mendengar, menerima, merenungkan, dan menaati firman-Nya (Mzm. 1:1-2; 119; Mat. 13:1-23; Yak. 1:21-25). Seorang yang sungguh-sungguh rindu akan Allah tentu juga seorang yang rindu akan firman-Nya. Seorang yang merindukan firman-Nya adalah seorang yang pertama-tama suka mendengar firman-Nya. Jangan percaya dengan orang Kristen yang berkata bahwa ia mencintai Yesus apalagi yang mengklaim “melayani Tuhan”, tetapi ketika disuruh mendengarkan khotbah yang benar-benar menyampaikan firman Tuhan, ia malah tidur! Orang “Kristen” yang di titik pertama tidak menghargai firman Tuhan adalah orang “Kristen” yang tidak beres!
Tidak cukup hanya mendengar firman, tetapi juga harus menerima firman itu dengan rendah hati (bdk. Yak. 1:21). Menerima firman berarti menerima pengajaran firman Tuhan tanpa banyak pertanyaan dan juga harus menerima firman entah itu yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan diri! Sayang, beberapa orang Kristen yang tampak rajin mencatat khotbah dari mimbar yang dikutip dari Alkitab bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan adalah orang “Kristen” yang sama yang tetap gemar shopping untuk membeli barang-barang yang sudah dimilikinya! Firman Tuhan yang didengarnya diibaratkan masuk melalui telinga kiri dan keluar lagi melalui telinga kiri alias tidak nyangkut sama sekali.
Tidak hanya menerima, orang Kristen juga harus mengertinya dengan merenungkan firman-Nya (Mzm. 1:1-2). Merenungkan firman berbicara mengenai kerohanian seseorang yang langsung merefleksikan firman itu ke dalam hidupnya sehari-hari. Ia bukan seorang yang gemar memakai ayat Alkitab untuk menyerang orang lain atau menunjukkannya kepada orang lain yang bersalah kepada dia, tetapi ia langsung mengaitkan setiap firman dengan dirinya sendiri, karena ia menyadari bahwa firman Tuhan yang dibacanya merupakan cara Tuhan mengoreksi hidupnya. Ia berkata seperti pemazmur, “Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.” (Mzm. 119:24; bdk. ay. 34)
Seorang yang mengerti dengan merenungkan firman-Nya mengakibatkan ia berkomitmen untuk menjalankan firman Tuhan dengan taat mutlak pada kehendak dan rencana-Nya (Yak. 1:22-25). Ketika firman Tuhan mengajar bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan (1Tim. 6:10), maka seorang anak Tuhan sejati menerima firman itu, merenungkannya, dan berkomitmen untuk menjalankannya dengan cara berusaha mengikis kebiasaan lamanya untuk shopping, berhenti dari menetapkan standar bahwa pasangannya harus seorang yang “mapan” alias tajir (khusus cewek), bekerja tidak terlalu keras sampai mengorbankan keluarga (bagi cowok), dll. Memang tidak mudah menjalankan firman Tuhan, namun tidak mudah bukan berarti tidak mungkin menjalankan firman. Kita bisa menjalankan firman karena Roh Kudus yang memimpin kita menjalankan firman. Oleh karena itu, ketika kita lemah dan sulit menjalankan firman, mintalah Roh Kudus memimpin kita. Biarlah kita berdoa seperti pemazmur, “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.” (Mzm. 119:35-36) Doa yang dinaikkan dengan suatu hasrat yang mendalam merupakan suatu komitmen anak Tuhan sejati untuk berusaha menjalankan firman Tuhan, meskipun itu sulit! Allah melihat komitmen hati kita untuk terus berproses di dalam pengudusan yang Roh-Nya kerjakan di dalam kita, bukan hanya hasil akhirnya!
Seorang yang menjalankan firman-Nya mengakibatkan ia berbuah sesuai dengan kehendak-Nya (Mat. 13:23). Buah itu sama dengan menjadi berkat bagi orang lain di sekitarnya di mana melalui buah itu, banyak orang memuji Kristus dan mungkin sekali menjadi orang Kristen entah itu melalui penginjilan secara verbal/perkataan maupun melalui tindakan (mengasihi, mengampuni, dll). Dan ketika ia berbuah, ia juga menyadari bahwa hasilnya bukan karena kehebatannya sendiri, tetapi karena anugerah Allah saja (bdk. Flp. 2:12-13)

Ketiga, melayani-Nya. Seorang anak Tuhan yang rindu akan Allah dan firman-Nya mengakibatkan ia rajin melayani-Nya di mana pun Tuhan menyuruhnya untuk melayani-Nya entah itu di gereja, dll. Teladanilah Rasul Paulus. Ia bukan saja seorang Yahudi yang mengerti Taurat sekaligus filsafat Yunani dan juga memiliki pengalaman rohani bersama Tuhan, ia juga seorang yang rajin melayani Tuhan dengan berapi-api (Rm. 12:11). Makin saya mempelajari beberapa surat-surat Paulus di dalam Perjanjian Baru, saya makin kagum dengan sosok Paulus yang adalah seorang: theolog, penginjil, sekaligus gembala (mengutip perkataan Pdt. Dr. Stephen Tong), dan saya menambahkan: hamba Tuhan yang benar-benar berjiwa pelayan/hamba. Dengan kata lain, seharusnya, orang Kristen yang melayani Tuhan harus didahului oleh seorang yang sungguh-sungguh merindukan Allah dan firman-Nya, bukan dibalik apalagi dipisahkan dengan berprinsip: melayani Tuhan tidak berkaitan dengan belajar firman, dll. Namun fakta hari ini, seorang “Kristen” yang katanya “melayani Tuhan” adalah orang yang bukan hanya tidak mengerti apa-apa tentang firman Tuhan, ia ternyata malas membaca Alkitab! Mengenaskan, bukan? Lalu, apa motivasi dia melayani Tuhan? Sebenarnya sambil melayani Tuhan, orang ini sambil menghina Tuhan, karena ia hanya mau seolah-olah “membantu” Allah, padahal Allah TIDAK perlu dibantu!


Aktivitas-aktivitas religius tentu tidak salah, yang salah adalah inti di baliknya. Jangan salah mengerti. Seorang Kristen yang rohani adalah orang yang hatinya diserahkan kepada Tuhan dan tentunya mengakibatkan ia melakukan tindakan-tindakan rohani, seperti: berdoa, membaca Alkitab, saat teduh, dan melayani Tuhan dalam berbagai bidang, namun itu dilakukannya sebagai respons atas anugerah-Nya. Tuhan tidak melihat aktivitas-aktivitas religius yang kita pertontonkan di hadapan orang banyak, IA melihat hati Anda, hati saya, dan hati kita semuanya ketika melakukannya. Biarlah renungan singkat ini boleh menyadarkan kita untuk memiliki hati yang murni di hadapan-Nya sambil tetap merindukan-Nya, firman-Nya, dan juga melayani-Nya dengan rendah hati! Ingatlah: jangan merebut kemuliaan Tuhan! Amin. Soli DEO Gloria.

Resensi Buku-118: TENTU SAJA SAYA PERCAYA, ... LALU BAGAIMANA?: Belajar dari Kitab Yakobus (Rev. James Montgomery Boice, D.Theol., D.D.)

...Dapatkan segera...



Buku
TENTU SAJA SAYA PERCAYA, … LALU BAGAIMANA?:
Belajar dari Kitab Yakobus


oleh: Rev. James Montgomery Boice, D.Theol., D.D.

Penerbit: Yayasan ANDI, 2004

Penerjemah: T. Wahyuni





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Kitab Yakobus merupakan satu-satunya kitab dalam Alkitab yang kurang mendapat perhatian di kalangan Kekristenan. Dr. Martin Luther menyebutnya sebagai surat jerami. Diikuti oleh beberapa orang Kristen yang mengaku menyukai hal-hal praktis, namun enggan membaca Kitab Yakobus. Mengapa demikian? Bagi Rev. Dr. James M. Boice, penyebabnya adalah Kitab Yakobus berisi hal-hal yang menyentuh aspek kehidupan praktis secara personal dari orang Kristen di mana banyak orang Kristen enggan untuk dikritik. Aspek kehidupan praktis secara personal tersebut meliputi: menggunakan kekayaan Anda, mengendalikan lidah Anda, meretas kekhawatiran, dan membangun persahabatan. Hal-hal inilah yang dibahas oleh Rev. Dr. James M. Boice dalam bukunya Tentu Saja Saya Percaya, … Lalu Bagaimana? Dalam bukunya tentang studi Kitab Yakobus ini, Dr. James M. Boice menguraikan secara praktis seluruh pasal dalam Kitab Yakobus dengan bahasa yang sederhana dan “mendarat” (aplikatif), sehingga orang Kristen dapat memahami Kitab Yakobus dengan lebih baik. Setelah menguraikan seluruh pasal dalam Kitab Yakobus dalam 10 bab, beliau menambahkan 10 bab lagi sebagai pertanyaan untuk direnungkan. Biarlah buku ringan ini boleh menyadarkan dan mengoreksi kerohanian kita di dalam bertumbuh dalam pengenalan akan firman-Nya.





Rekomendasi:
“Almarhum mentor dan rekan kerja saya, James Montgomery Boice, memiliki talenta yang tak ada duanya dalam mengajarkan Alkitab. Tafsirnya terhadap Surat Yakobus merupakan bukunya yang sangat praktis dan memiliki relevansi yang abadi bagi para pria dan wanita Kristen masa kini. Para pembaca akan memperoleh pemahaman yang semakin kaya tentang makna memiliki iman yang benar-benar bekerja.”
Rev. Philip Graham Ryken, D.Phil.
(Pendeta Senior di Tenth Presbyterian Church, Philadelphia, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts—B.A. di Wheaton College, Illinois, U.S.A.; Master of Divinity—M.Div. di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy—D.Phil. di Oxford University, U.K.)

“James Boice adalah salah satu guru Alkitab terbesar di abad kedua puluh. Tafsirannya terhadap Surat Yakobus merupakan suatu tuntunan yang luar biasa, menunjukkan pemikiran Boice yang tajam dalam gaya penulisan yang mudah dibaca. Dengan senang hati saya merekomendasikan buku ini bagi para pendeta dan para mahasiswa theologi lainnya.”
Rev. Eric J. Alexander, M.A., B.D.
(Pendeta yang melayani di Church of Scotland yang menyelesaikan studi Master of Arts—M.A. dan Bachelor of Divinity–B.D. di University of Glasgow)





Profil Rev. Dr. James Montgomery Boice:
Rev. James Montgomery Boice, D.Theol., D.D. (7 Juli 1938–15 Juni 2000) adalah pendeta di Tenth Presbyterian Church, Philadelphia, U.S.A. sejak tahun 1968. Beliau juga pernah menjadi ketua International Council on Biblical Inerrancy selama lebih dari 10 tahun dan anggota pendiri dari the Alliance of Confessing Evangelicals. Beliau menyelesaikan studi Diploma di The Stony Brook School (1956); Bachelor of Arts (A.B.) di Harvard University (1960); Bachelor of Divinity (B.D.) di Princeton Theological Seminary, U.S.A. (1963); Doctor of Theologie (D.Theol.) di the University of Basel di Switzerland (1966); dan Doctor of Divinity (D.D.) di the Theological Seminary of the Reformed Episcopal Church (1982).

Renungan Paskah 2011: EASTER-CENTERED LIFE (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Paskah 2011



EASTER-CENTERED LIFE:
Menghidupi Paskah Di Dalam Kehidupan Sehari-hari


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: 1 Korintus 15:1-10




Setiap manusia yang dilahirkan ke dalam dunia ini, entah itu filsuf, raja/presiden, pemerintah, orang “suci”, rakyat jelata, dll pasti suatu saat meninggal dunia. Setelah meninggal, mereka pasti masuk ke dalam dunia lain. Namun ada sosok pribadi yang setelah meninggal, pada hari ketiga, Pribadi itu bangkit dari kematian. Siapakah itu? Meskipun Ia bernatur manusia seperti kita, Ia juga adalah Allah. Dialah Tuhan Yesus Kristus! Bahkan kematian dan kebangkitan Kristus pun telah dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama bahkan dinubuatkan oleh Kristus sendiri (Mat. 17:22-23; 20:19)! Tetapi, pertanyaan banyak orang non-Kristen maupun “Kristen” yang liberal adalah benarkah Kristus bangkit? Apakah waktu itu para wanita yang hendak pergi ke kuburan Kristus tidak salah kuburan? Ataukah memang Kristus tidak pernah mati di salib? Semua tuduhan dan fitnahan tersebut TIDAK berdasarkan FAKTA sejarah sekaligus tidak masuk akal, karena fakta sejarah mengajar kita bahwa Tuhan Yesus mati disalib dan bangkit pada hari yang ketiga! Saya tidak akan mengatakan di mana ketidakmasukakalannya, karena banyak buku dari para sarjana Injili yang percaya pada kematian dan kebangkitan Kristus secara historis telah membahas hal itu. Saya hendak mengatakan bahwa kebangkitan Kristus adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa diganggu gugat. Dari mana kita mengetahuinya? Alkitab jelas memberi tahu kita. Bacalah 1 Korintus 15:5-8, di situ dikatakan Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada: Kefas (alias Simon Petrus), ke-12 murid-Nya, 500 saudara seiman yang kebanyakan masih hidup pada waktu itu (beberapa telah meninggal), Yakobus, semua rasul, dan terakhir kepada Rasul Paulus. Mungkin ada yang menyanggah, mungkin saja mereka semua berhalusinasi karena sedih memikirkan Yesus yang disalib. Coba dipikir: Pertama, masuk akalkah 500 orang lebih berhalusinasi secara bersamaan? Kedua, jika mereka berhalusinasi, pasti itu terjadi sesaat, namun fakta membuktikan setelah penampakan Kristus yang bangkit itu, mereka semua memberitakan fakta kebangkitan Kristus kepada banyak orang di seluruh pelosok dunia. Apakah halusinasi mengakibatkan orang giat dan berapi-api bekerja keras demikian? Jika ada yang berani meragukan fakta kebangkitan Kristus dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, tantanglah mereka untuk memberikan bukti sejarah yang mendukung tuduhan mereka itu, dijamin mereka tidak akan pernah bisa, karena fakta sejarah tetap adalah fakta sejarah! Mereka yang enggan percaya pada fakta kebangkitan Kristus sebenarnya adalah orang yang menghina sejarah masa lalu, lalu dengan arogannya membuat “fakta sejarah” rekaan mereka supaya cocok dengan nafsu mereka yang menghina kebangkitan Kristus!

Kebangkitan Kristus bukan hanya sekadar fakta sejarah, tetapi saya menyebutnya sebagai sebuah fakta transformatoris. Artinya, fakta kebangkitan Kristus membawa dampak dahsyat bagi pribadi-pribadi yang mendapat penampakan kebangkitan Kristus tersebut. Rasul Petrus yang dahulu menyangkal Kristus sebanyak 3x pada waktu Kristus dianiaya oleh penguasa Romawi, namun setelah mendapat penampakan kebangkitan Kristus dan dipenuhi Roh Kudus, ia menjadi salah satu rasul Kristus yang berani. Hal ini ditunjukkannya ketika ia berkhotbah dengan berani pada saat Pentakosta (Kis. 2:14-36) dan Alkitab mencatat bahwa pada waktu itu, ada 3000 orang yang bertobat (Kis. 2:41)! Dan ada rasul Kristus yang lain yang berdampak dahsyat setelah menerima penampakan kebangkitan Kristus, yaitu Rasul Paulus yang menuliskan Surat 1 Korintus ini. Paulus menerima penampakan kebangkitan Kristus pada saat ia hendak menganiaya jemaat Tuhan di Damsyik (Kis. 9:1-9). Setelah peristiwa itu, ia langsung sadar bahwa ia tidak layak. Perhatikan kesaksian pribadinya di 1 Korintus 15:9, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Kata “paling hina” dalam ayat ini dalam bahasa Yunani seharusnya berarti paling kecil. Beberapa Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan least (=terkecil/paling kecil). Mengapa ia menyebut diri sebagai yang paling kecil dari semua rasul? Karena ia telah menganiaya Jemaat Allah. Ia menyadari dosanya dahulu terlalu besar. Di sini, kita belajar poin pertama tentang dampak kebangkitan Kristus di dalam diri Paulus yaitu ia menyadari ketidaklayakannya. Ia tidak pernah membanggakan diri sebagai rasul yang paling hebat, pandai, dll. Ia sadar bahwa tidak ada satu pun yang baik dari dirinya yang patut dibanggakan, karena apa yang telah diperbuatnya dahulu. Kebangkitan Kristus seharusnya membuat umat-Nya menyadari bahwa mereka tidak layak dan berdosa. Ingatlah akan status kita dahulu sebagai hamba dosa dan musuh/seteru Allah (bdk. Rm. 3:10-23; 5:10). Makin kita menyadari status kita dahulu sebagai musuh Allah, kita akan makin sadar betapa tidak layaknya diri kita di hadapan Allah. Ingatlah, tanpa Kristus yang mati dan bangkit pada hari yang ketiga demi menebus dan menyelamatkan kita yang termasuk umat pilihan-Nya yang berdosa, kita tetap manusia berdosa yang pasti binasa kelak karena upah dosa adalah maut/kematian (Rm. 6:23)

Paulus bukan hanya berhenti dengan “merenungi nasibnya” yang dahulu sebagai penganiaya jemaat, namun ia melihat pada anugerah Allah. Di ayat 10a, Paulus berkata, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” Di ayat ini, ia sadar bahwa dahulu ia berdosa dengan menganiaya jemaat Allah, namun anugerah-Nya melalui kebangkitan Kristus yang dinyatakan kepadanya membuatnya bertobat, menerima Kristus, dan melayani-Nya sambil bersyukur. Kebangkitan Kristus seharusnya membuat umat-Nya bukan hanya melihat masa lalu sebagai pengingat, tetapi juga masa kini seraya terus bersyukur atas anugerah-Nya. Karena Kristus telah bangkit, maka kita yang termasuk umat pilihan-Nya tidak lagi dihukum oleh karena dosa-dosa kita, tetapi dibenarkan dan diselamatkan-Nya (Rm. 8:1).

Cukupkah Paulus dengan mensyukuri anugerah-Nya saja? TIDAK. Di ayat 10b, ia melanjutkan, “dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;” Bersyukur atas anugerah-Nya tidak cukup bagi Paulus, karena itu ia berkata bahwa anugerah-Nya itu dipertanggung jawabkannya dengan mengerjakan kehendak-Nya. Dengan mengerjakan kehendak-Nya, maka ia berani berkata bahwa anugerah-Nya tidaklah sia-sia. Bagaimana ia mengerjakan kehendak-Nya? Ia berani berkata bahwa dibandingkan para rasul lain, ia bekerja atau berjerih lelah lebih keras (menurut kata Yunaninya, seharusnya diterjemahkan: lebih banyak). Dengan kata lain, anugerah-Nya melalui kebangkitan Kristus mengakibatkan ia bekerja keras lebih banyak dan giat daripada para rasul lain yaitu memberitakan Injil dan melayani Tuhan. Apa yang Paulus katakan ternyata benar. Di dalam seluruh kitab dalam Perjanjian Baru, Paulus lah yang paling banyak menulis surat (1 dan 2 Korintus, Roma, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon). Di samping itu, Paulus saja yang bekerja keras memberitakan Injil ke negara yang jauh di daratan Eropa, seperti: Roma, Filipi, dll. Cukup? TIDAK. Di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus (menurut kanonisasi Alkitab yang kita miliki sekarang; kemungkinan Surat 2 Korintus ini merupakan surat Paulus yang keempat kepada jemaat di Korintus), ia bercerita secara lengkap tentang jerih lelahnya, “Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,” (2Kor. 11:23-27) Tidak ada satu rasul Kristus bahkan hamba Tuhan sekarang yang bekerja lebih keras dan banyak daripada Paulus. Itu semua dilakukannya demi Injil Kristus! Paulus tidak takut pada penderitaan, penganiyaan, dll di dalam melayani-Nya, karena ia percaya pada kebangkitan Kristus yang terus-menerus menguatkan semangatnya. Kebangkitan Kristus yang telah membangkitkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan berapi-api kiranya dapat membangkitkan semangat kita juga yang termasuk umat-Nya, sehingga kita pun juga dibakar untuk berapi-api memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan rendah hati. Kita mengetahui bahwa di dalam melayani-Nya, pasti ada penderitaan dan penganiayaan, namun percayalah, kebangkitan Kristus menjamin kita untuk menang menghadapinya, meskipun itu tidak berarti penderitaan itu akan sirna dengan sendirinya.

Mungkin dari kita akan menyangka Paulus itu sombong karena ia membanggakan diri karena ia lebih banyak bekerja keras dari semua rasul. Benarkah demikian? TIDAK. Untuk menjawabnya, maka Paulus menambahkan di ayat 10b, “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Semua jerih lelah Paulus diakuinya sendiri BUKAN karena dia yang hebat dan pandai, tetapi karena anugerah Allah yang menolongnya. Dengan kata lain, anugerah Allah memimpin dan menolong kita untuk menggenapkan kehendak-Nya bagi kita. Di sini, kita belajar 2 poin sekaligus dari Paulus bahwa anugerah Allah memimpin kita untuk bekerja keras bagi-Nya sambil menyadari bahwa kerja keras kita pun atas anugerah-Nya. Saya menyebutnya sebagai: from grace to grace (dari anugerah kepada anugerah). Itulah theologi Paulus! Theologi Paulus ini hendaknya juga menjadi theologi kita yang termasuk umat-Nya, di mana kita seharusnya menyadari bahwa karena kita telah diselamatkan oleh anugerah Allah melalui karya Kristus yang mati dan bangkit bagi kita, maka kita harus meresponinya dengan bersyukur sambil bekerja keras bagi-Nya dengan memberitakan Injil dan melayani-Nya sepenuh hati, dan kita pun harus tetap menyadari bahwa sambil bekerja keras bagi-Nya, kita pun harus melihat anugerah Allah yang memungkinkan kita bertindak demikian. Dengan pola pikir ini, maka jangan pernah membanggakan jasa baik kita di mata Allah. Jangan pernah merasa diri melayani Tuhan, lalu arogan dengan berkata (eksplisit maupun implisit) bahwa tanpa kita, semua pekerjaan Tuhan akan rusak! Hindari motivasi demikian! Melayani Tuhan TIDAK membuat kita menjadi sombong, tetapi justru seharusnya membuat kita rendah hati dan mawas diri, karena kita bisa melayani-Nya pun itu pun karena anugerah-Nya saja!

Setelah merenungkan perubahan dahsyat pada pribadi Paulus, apa yang menjadi respons kita tatkala memperingati Paskah tahun ini? Adakah respons dan kerinduan Paulus juga menjadi respons dan kerinduan kita di dalam melayani-Nya dengan berapi-api sambil terus berpusat pada anugerah-Nya untuk menyadarkan kita agar kita tidak sombong dan merasa diri berjasa? Biarlah Paskah tahun ini menjadi momen Paskah yang transformatoris yang menyadari, “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36) Amin. Soli DEO Gloria.


Selamat hari Paskah 2011. Selamat merenungkan kebangkitan Kristus dan mengaplikasikannya demi hormat dan kemuliaan nama Allah Trinitas. Amin.