24 April 2011

Renungan Paskah 2011: EASTER-CENTERED LIFE (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Paskah 2011



EASTER-CENTERED LIFE:
Menghidupi Paskah Di Dalam Kehidupan Sehari-hari


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: 1 Korintus 15:1-10




Setiap manusia yang dilahirkan ke dalam dunia ini, entah itu filsuf, raja/presiden, pemerintah, orang “suci”, rakyat jelata, dll pasti suatu saat meninggal dunia. Setelah meninggal, mereka pasti masuk ke dalam dunia lain. Namun ada sosok pribadi yang setelah meninggal, pada hari ketiga, Pribadi itu bangkit dari kematian. Siapakah itu? Meskipun Ia bernatur manusia seperti kita, Ia juga adalah Allah. Dialah Tuhan Yesus Kristus! Bahkan kematian dan kebangkitan Kristus pun telah dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama bahkan dinubuatkan oleh Kristus sendiri (Mat. 17:22-23; 20:19)! Tetapi, pertanyaan banyak orang non-Kristen maupun “Kristen” yang liberal adalah benarkah Kristus bangkit? Apakah waktu itu para wanita yang hendak pergi ke kuburan Kristus tidak salah kuburan? Ataukah memang Kristus tidak pernah mati di salib? Semua tuduhan dan fitnahan tersebut TIDAK berdasarkan FAKTA sejarah sekaligus tidak masuk akal, karena fakta sejarah mengajar kita bahwa Tuhan Yesus mati disalib dan bangkit pada hari yang ketiga! Saya tidak akan mengatakan di mana ketidakmasukakalannya, karena banyak buku dari para sarjana Injili yang percaya pada kematian dan kebangkitan Kristus secara historis telah membahas hal itu. Saya hendak mengatakan bahwa kebangkitan Kristus adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa diganggu gugat. Dari mana kita mengetahuinya? Alkitab jelas memberi tahu kita. Bacalah 1 Korintus 15:5-8, di situ dikatakan Kristus yang bangkit menampakkan diri kepada: Kefas (alias Simon Petrus), ke-12 murid-Nya, 500 saudara seiman yang kebanyakan masih hidup pada waktu itu (beberapa telah meninggal), Yakobus, semua rasul, dan terakhir kepada Rasul Paulus. Mungkin ada yang menyanggah, mungkin saja mereka semua berhalusinasi karena sedih memikirkan Yesus yang disalib. Coba dipikir: Pertama, masuk akalkah 500 orang lebih berhalusinasi secara bersamaan? Kedua, jika mereka berhalusinasi, pasti itu terjadi sesaat, namun fakta membuktikan setelah penampakan Kristus yang bangkit itu, mereka semua memberitakan fakta kebangkitan Kristus kepada banyak orang di seluruh pelosok dunia. Apakah halusinasi mengakibatkan orang giat dan berapi-api bekerja keras demikian? Jika ada yang berani meragukan fakta kebangkitan Kristus dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, tantanglah mereka untuk memberikan bukti sejarah yang mendukung tuduhan mereka itu, dijamin mereka tidak akan pernah bisa, karena fakta sejarah tetap adalah fakta sejarah! Mereka yang enggan percaya pada fakta kebangkitan Kristus sebenarnya adalah orang yang menghina sejarah masa lalu, lalu dengan arogannya membuat “fakta sejarah” rekaan mereka supaya cocok dengan nafsu mereka yang menghina kebangkitan Kristus!

Kebangkitan Kristus bukan hanya sekadar fakta sejarah, tetapi saya menyebutnya sebagai sebuah fakta transformatoris. Artinya, fakta kebangkitan Kristus membawa dampak dahsyat bagi pribadi-pribadi yang mendapat penampakan kebangkitan Kristus tersebut. Rasul Petrus yang dahulu menyangkal Kristus sebanyak 3x pada waktu Kristus dianiaya oleh penguasa Romawi, namun setelah mendapat penampakan kebangkitan Kristus dan dipenuhi Roh Kudus, ia menjadi salah satu rasul Kristus yang berani. Hal ini ditunjukkannya ketika ia berkhotbah dengan berani pada saat Pentakosta (Kis. 2:14-36) dan Alkitab mencatat bahwa pada waktu itu, ada 3000 orang yang bertobat (Kis. 2:41)! Dan ada rasul Kristus yang lain yang berdampak dahsyat setelah menerima penampakan kebangkitan Kristus, yaitu Rasul Paulus yang menuliskan Surat 1 Korintus ini. Paulus menerima penampakan kebangkitan Kristus pada saat ia hendak menganiaya jemaat Tuhan di Damsyik (Kis. 9:1-9). Setelah peristiwa itu, ia langsung sadar bahwa ia tidak layak. Perhatikan kesaksian pribadinya di 1 Korintus 15:9, “Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.” Kata “paling hina” dalam ayat ini dalam bahasa Yunani seharusnya berarti paling kecil. Beberapa Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan least (=terkecil/paling kecil). Mengapa ia menyebut diri sebagai yang paling kecil dari semua rasul? Karena ia telah menganiaya Jemaat Allah. Ia menyadari dosanya dahulu terlalu besar. Di sini, kita belajar poin pertama tentang dampak kebangkitan Kristus di dalam diri Paulus yaitu ia menyadari ketidaklayakannya. Ia tidak pernah membanggakan diri sebagai rasul yang paling hebat, pandai, dll. Ia sadar bahwa tidak ada satu pun yang baik dari dirinya yang patut dibanggakan, karena apa yang telah diperbuatnya dahulu. Kebangkitan Kristus seharusnya membuat umat-Nya menyadari bahwa mereka tidak layak dan berdosa. Ingatlah akan status kita dahulu sebagai hamba dosa dan musuh/seteru Allah (bdk. Rm. 3:10-23; 5:10). Makin kita menyadari status kita dahulu sebagai musuh Allah, kita akan makin sadar betapa tidak layaknya diri kita di hadapan Allah. Ingatlah, tanpa Kristus yang mati dan bangkit pada hari yang ketiga demi menebus dan menyelamatkan kita yang termasuk umat pilihan-Nya yang berdosa, kita tetap manusia berdosa yang pasti binasa kelak karena upah dosa adalah maut/kematian (Rm. 6:23)

Paulus bukan hanya berhenti dengan “merenungi nasibnya” yang dahulu sebagai penganiaya jemaat, namun ia melihat pada anugerah Allah. Di ayat 10a, Paulus berkata, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang” Di ayat ini, ia sadar bahwa dahulu ia berdosa dengan menganiaya jemaat Allah, namun anugerah-Nya melalui kebangkitan Kristus yang dinyatakan kepadanya membuatnya bertobat, menerima Kristus, dan melayani-Nya sambil bersyukur. Kebangkitan Kristus seharusnya membuat umat-Nya bukan hanya melihat masa lalu sebagai pengingat, tetapi juga masa kini seraya terus bersyukur atas anugerah-Nya. Karena Kristus telah bangkit, maka kita yang termasuk umat pilihan-Nya tidak lagi dihukum oleh karena dosa-dosa kita, tetapi dibenarkan dan diselamatkan-Nya (Rm. 8:1).

Cukupkah Paulus dengan mensyukuri anugerah-Nya saja? TIDAK. Di ayat 10b, ia melanjutkan, “dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;” Bersyukur atas anugerah-Nya tidak cukup bagi Paulus, karena itu ia berkata bahwa anugerah-Nya itu dipertanggung jawabkannya dengan mengerjakan kehendak-Nya. Dengan mengerjakan kehendak-Nya, maka ia berani berkata bahwa anugerah-Nya tidaklah sia-sia. Bagaimana ia mengerjakan kehendak-Nya? Ia berani berkata bahwa dibandingkan para rasul lain, ia bekerja atau berjerih lelah lebih keras (menurut kata Yunaninya, seharusnya diterjemahkan: lebih banyak). Dengan kata lain, anugerah-Nya melalui kebangkitan Kristus mengakibatkan ia bekerja keras lebih banyak dan giat daripada para rasul lain yaitu memberitakan Injil dan melayani Tuhan. Apa yang Paulus katakan ternyata benar. Di dalam seluruh kitab dalam Perjanjian Baru, Paulus lah yang paling banyak menulis surat (1 dan 2 Korintus, Roma, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon). Di samping itu, Paulus saja yang bekerja keras memberitakan Injil ke negara yang jauh di daratan Eropa, seperti: Roma, Filipi, dll. Cukup? TIDAK. Di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus (menurut kanonisasi Alkitab yang kita miliki sekarang; kemungkinan Surat 2 Korintus ini merupakan surat Paulus yang keempat kepada jemaat di Korintus), ia bercerita secara lengkap tentang jerih lelahnya, “Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,” (2Kor. 11:23-27) Tidak ada satu rasul Kristus bahkan hamba Tuhan sekarang yang bekerja lebih keras dan banyak daripada Paulus. Itu semua dilakukannya demi Injil Kristus! Paulus tidak takut pada penderitaan, penganiyaan, dll di dalam melayani-Nya, karena ia percaya pada kebangkitan Kristus yang terus-menerus menguatkan semangatnya. Kebangkitan Kristus yang telah membangkitkan semangat Paulus untuk memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan berapi-api kiranya dapat membangkitkan semangat kita juga yang termasuk umat-Nya, sehingga kita pun juga dibakar untuk berapi-api memberitakan Injil dan melayani-Nya dengan rendah hati. Kita mengetahui bahwa di dalam melayani-Nya, pasti ada penderitaan dan penganiayaan, namun percayalah, kebangkitan Kristus menjamin kita untuk menang menghadapinya, meskipun itu tidak berarti penderitaan itu akan sirna dengan sendirinya.

Mungkin dari kita akan menyangka Paulus itu sombong karena ia membanggakan diri karena ia lebih banyak bekerja keras dari semua rasul. Benarkah demikian? TIDAK. Untuk menjawabnya, maka Paulus menambahkan di ayat 10b, “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Semua jerih lelah Paulus diakuinya sendiri BUKAN karena dia yang hebat dan pandai, tetapi karena anugerah Allah yang menolongnya. Dengan kata lain, anugerah Allah memimpin dan menolong kita untuk menggenapkan kehendak-Nya bagi kita. Di sini, kita belajar 2 poin sekaligus dari Paulus bahwa anugerah Allah memimpin kita untuk bekerja keras bagi-Nya sambil menyadari bahwa kerja keras kita pun atas anugerah-Nya. Saya menyebutnya sebagai: from grace to grace (dari anugerah kepada anugerah). Itulah theologi Paulus! Theologi Paulus ini hendaknya juga menjadi theologi kita yang termasuk umat-Nya, di mana kita seharusnya menyadari bahwa karena kita telah diselamatkan oleh anugerah Allah melalui karya Kristus yang mati dan bangkit bagi kita, maka kita harus meresponinya dengan bersyukur sambil bekerja keras bagi-Nya dengan memberitakan Injil dan melayani-Nya sepenuh hati, dan kita pun harus tetap menyadari bahwa sambil bekerja keras bagi-Nya, kita pun harus melihat anugerah Allah yang memungkinkan kita bertindak demikian. Dengan pola pikir ini, maka jangan pernah membanggakan jasa baik kita di mata Allah. Jangan pernah merasa diri melayani Tuhan, lalu arogan dengan berkata (eksplisit maupun implisit) bahwa tanpa kita, semua pekerjaan Tuhan akan rusak! Hindari motivasi demikian! Melayani Tuhan TIDAK membuat kita menjadi sombong, tetapi justru seharusnya membuat kita rendah hati dan mawas diri, karena kita bisa melayani-Nya pun itu pun karena anugerah-Nya saja!

Setelah merenungkan perubahan dahsyat pada pribadi Paulus, apa yang menjadi respons kita tatkala memperingati Paskah tahun ini? Adakah respons dan kerinduan Paulus juga menjadi respons dan kerinduan kita di dalam melayani-Nya dengan berapi-api sambil terus berpusat pada anugerah-Nya untuk menyadarkan kita agar kita tidak sombong dan merasa diri berjasa? Biarlah Paskah tahun ini menjadi momen Paskah yang transformatoris yang menyadari, “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36) Amin. Soli DEO Gloria.


Selamat hari Paskah 2011. Selamat merenungkan kebangkitan Kristus dan mengaplikasikannya demi hormat dan kemuliaan nama Allah Trinitas. Amin.

No comments: