20 August 2008

Bagian 1 dan 2

Mengerti Kehendak dan Pimpinan Allah
(Pergumulan Hidup Orang Percaya Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia)


oleh: Denny Teguh Sutandio




“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
(Roma 11:36)

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
(Efesus 2:10)



I. Pendahuluan dan Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai pribadi yang diciptakan, Prof. Anthony A. Hoekema, Th.D. memaparkan konsep yang menarik, yaitu manusia adalah makhluk yang memiliki “kehendak bebas” (manusia sebagai pribadi) sekaligus manusia yang harus bergantung dan taat mutlak pada Pencipta (manusia sebagai pribadi yang diciptakan).1 Selain itu, manusia diciptakan Allah bukan tanpa tujuan, melainkan dengan tujuan dan tujuan itu adalah hanya untuk memuliakan Dia saja. Karena alasan inilah, sudah seharusnya sebagai manusia, kita harus kembali kepada makna dan tujuan hidup kita kepada Sang Pemberi Hidup itu, yaitu Allah. Ketika kita kembali kepada Allah, kita mengerti makna dan tujuan hidup kita sesuai dengan maksud penciptaan Allah itu.


II. Dosa: Hambatan Utama dalam Mengerti Makna dan Tujuan Hidup Manusia
Tetapi, benarkah semua manusia ingin kembali kepada Allah untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya? Tidak. Manusia lebih memilih untuk menetapkan diri sendiri atau orang lain (orangtua, teman, dll) sebagai pusat dan sumber (“tuhan”) yang menuntun hidupnya. Itulah yang disebut dosa. Dosa bukan hanya sekadar membunuh, mencuri, berzinah, dll. Itu hanya akibat dosa. Dosa berarti pemberontakan terhadap Allah. Ketika manusia mulai memberontak kepada Allah dan mencari “sumber” lain di luar Allah, pada saat itulah, manusia mulai berdosa, meskipun orang ini tidak pernah membunuh, mencuri, dll. Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. di dalam bukunya The Defense of The Faith mendefinisikan dosa sebagai berikut,
“When man fell it was therefore his attempt to do without God in every respect ... God had interpreted the universe for him, or we may say man had interpreted the universe under the direction of God, but now he sought to interpret the universe without reference to God... The result for man was that he made for himself a false ideal of knowledge.” (=Ketika manusia berbuat dosa, itu karena usahanya untuk berbuat tanpa Allah dalam setiap hal... Allah telah menginterpretasikan alam semesta bagi manusia atau kita dapat mengatakan manusia telah menginterpretasikan alam semesta di bawah perintah Allah, tetapi sekarang manusia berusaha untuk menginterpretasikan alam semesta tanpa petunjuk Allah... Hasil bagi manusia adalah bahwa dia menghasilkan bagi dirinya sebuah ideal pengetahuan yang salah.)2

Dari definisi Dr. Van Til ini, kita mendapatkan pengertian bahwa dosa berarti manusia berusaha mengambil alih posisi Allah sebagai pusat dan sumber untuk menginterpretasikan alam, manusia, dan segala sesuatu. Akibatnya, bukan pengetahuan yang benar, manusia semakin mendapatkan pengetahuan yang salah (tetapi “seolah-olah” benar). Gambaran pengertian inilah pertama kali dimulai oleh iblis, sebagai bapa/sumber dosa. Iblis berarti penantang Allah. Artinya, ia menyamar sebagai malaikat terang untuk menipu manusia. Bagaimana cara iblis menipu? Iblis menipu manusia dengan menggoda manusia meninggalkan Allah dan menetapkan standar diri atau orang lain sebagai pusat yang menggantikan Allah. Itulah cara kerja iblis yang dialami Adam dan Hawa. Mari kita cermati cara kerja iblis dan dosa di dalam kasus Adam dan Hawa ini.

Pertama, iblis pertama-tama mencobai Hawa bukan dengan perkataan yang jelas-jelas salah, tetapi dengan perkataan yang “seolah-olah” benar. Baca Kejadian 3:1, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (bdk. perkataan Allah sendiri di dalam Kej. 2:16-17, “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.””) Perhatikan apa yang telah saya katakan tadi. Iblis menipu manusia dengan pertama-tama memakai “standar” (atau perkataan) Allah bukan untuk menyadarkan manusia, tetapi untuk memelintirnya. Iblis memelintir perkataan Allah ini dengan pertama-tama meragukan perkataan-Nya. Bukan hanya meragukan perkataan-Nya, iblis juga datang mencobai Hawa ini dengan membalikkan sebagian perkataan-Nya. Kemudian, si Hawa dengan bangganya mengulang perkataan-Nya dan menambahinya. Hawa mengatakan bahwa Allah melarangnya makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat bahkan Ia melarang untuk merabanya (Kej. 3:2-3). Padahal, Allah tidak pernah melarang Hawa untuk meraba buah itu (bdk. Kej. 2:17). Di sini, iblis sudah berhasil memancing psikologi Hawa dengan meragukan dan membalikkan firman Allah, lalu Hawa (dengan agak jengkel dan sedikit tidak puas) menjawab pernyataan iblis itu dengan mencoba menambahi perkataan yang tidak difirmankan-Nya. Apa yang Hawa lakukan juga mungkin bisa terjadi pada kita. Ketika iblis mencobai kita, kita kadang kala menjawab cobaan itu dengan mengutip Firman Allah yang diekstrimkan (ditambahkan), sehingga mungkin seolah-olah kita “Alkitabiah”, padahal sebenarnya kita sedang menambahi sesuatu yang tidak difirmankan Allah. Melalui cobaan iblis yang pertama ini, kita disadarkan untuk berhati-hati terhadap godaan iblis.

Kedua, iblis kemudian mencobai Hawa langsung dengan mengatakan apa yang benar-benar bertolak belakang dengan perkataan-Nya. Jika di poin pertama tadi, kita telah melihat cara kerja iblis yang halus yaitu menyamarkan sebagian firman Allah, maka di poin kedua ini, kita melihat lebih tajam lagi bahwa iblis benar-benar menyamarkan dan membelokkan semua firman Allah. Allah telah berfirman kepada manusia agar tidak makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat, karena jika mereka memakannya, mereka mati, tetapi iblis memutarbalikkan perkataan-Nya dengan mengatakan bahwa jika mereka makan, mereka tidak mati, melainkan akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan jahat (Kej. 3:4-5). Di saat inilah, motivasi dan semua cara iblis benar-benar terbongkar, tetapi Hawa bukannya sadar malahan tergoda oleh kedok iblis itu. Akhirnya, Hawa melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu baik untuk dimakan, sedap kelihatannya, dan menarik hati karena memberikan pengertian, kemudian setelah itu, ia memakannya (Kej. 3:6). Lalu, Hawa memberikan buah itu kepada suaminya, Adam, dan Adam memakannya. Akibatnya, setelah makan buah pohon itu, mereka berdua telanjang (Kej. 3:7).

Ketiga, dosa mengakibatkan mereka tidak mau mengaku apa yang telah mereka perbuat (baca: Kej. 3:9-19). Setelah mereka memakannya, Allah datang ke Taman Eden mencari mereka (Kej. 3:9). Pdt. Dr. Stephen Tong menafsirkan pernyataan “Di manakah engkau?” di dalam Kej. 3:9 ini sebagai pencarian Allah akan posisi Adam dan Hawa secara rohani, bukan secara jasmani. Ketika Allah mencari mereka, mereka bersembunyi. Lalu, akhirnya, mereka berani keluar dan mengaku bahwa mereka bersembunyi. Ketika Allah bertanya mengapa mereka bersembunyi, mereka menjawab bahwa mereka telanjang. Lalu, Allah bertanya, siapa yang memberi tahu bahwa mereka telanjang dan apakah mereka makan buah pohon itu. Pada saat itulah, terjadilah saling tuding-menuding. Ketika Allah bertanya kepada Adam, Adam menyalahkan Hawa. Ketika Allah bertanya kepada Hawa, Hawa menyalahkan ular. Lalu, mengapa Allah tidak bertanya juga kepada ular? Karena Allah tahu ular itu dipakai setan yang pekerjaan sehari-harinya adalah mencobai manusia. Sehingga, Ia tidak menyalahkan ular itu, tetapi menyalahkan manusia yang mau diperdaya iblis.

Di sini, kita mendapatkan satu rangkaian jelas mengenai cara kerja iblis dan dosa:
Iblis mencobai Hawa (bukan Adam) dengan meragukan dan membalikkan SEBAGIAN perkataan Allah -> Hawa menjawab pertanyaan iblis itu dengan mengulang perkataan-Nya dan menambahinya -> iblis melancarkan serangannya yang kedua yaitu benar-benar memutarbalikkan SELURUH perkataan perkataan-Nya -> Hawa mulai tergoda, mencoba melihat buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat itu, akhirnya ia jatuh ke dalam pencobaan itu -> Hawa tidak mau menikmati dosanya sendiri, ia memberikannya kepada Adam untuk bersama-sama menikmatinya -> Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa -> mereka telanjang -> mereka tidak mau mengaku (bahkan saling menuding) ketika Allah menanyai mereka -> Allah menghukum mereka -> mereka diusir Allah dari Taman Eden.

Dari skema rangkaian di atas, kita mendapatkan satu pelajaran berharga, yaitu iblis mengakibatkan manusia meninggalkan Allah secara perlahan-lahan dengan mencoba meragukan (dan memutarbalikkan) SEBAGIAN firman-Nya, lalu akhirnya benar-benar memutarbalikkan SEMUA firman-Nya, sehingga manusia benar-benar terlepas dari Allah. Akibat tragisnya, manusia hidup sia-sia dan tak mengerti arah hidup yang jelas, karena mereka mencoba mencari makna dan tujuan hidup di luar Allah.

19 August 2008

Matius 10:39-42: CHRISTIANITY AND PERSECUTION: The Reward

Ringkasan Khotbah: 30 April 2006

Christianity & Persecution: The Reward

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 10:39-42


Pendahuluan
Alkitab membukakan kebenaran bahwa seorang pengikut Kristus itu seperti domba di tengah serigala. Seorang anak Tuhan yang sejati akan mengalami kesulitan, penderitaan dan aniaya sebab dunia berdosa tidak suka akan kebenaran dan kesulitan yang kita alami itu bukan hanya terjadi satu kali saja tetapi berulang-ulang kali (Mat. 10:23). David F. Wells, dalam buku No Place for Truth menyatakan bahwa pada dasarnya, dunia dan seluruh aspeknya dipengaruhi oleh dua hal: 1) manajemen marketing, 2) psikologi. Orang ketika hendak mengerjakan sesuatu atau mengambil suatu keputusan maka yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan sistem yang dipakai adalah sistem marketing dunia yang didasari oleh konsep psikologi. Bidang teknik dan medis yang seharusnya tidak berhubungan dengan marketing dan psikologi pun hari ini pun memakai sistem marketing dan psikologi untuk mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya, kita melihat dunia bisnis menguasai sebagian besar belahan dunia dan cara menilai dan menghargai seseorang pun mulai bergeser, orang hanya dilihat dari tampilan luarnya saja. Hari ini, orang lebih menghargai seorang businessman meskipun ia korupsi daripada profesi lain, seperti researcher atau peneliti. Munculnya psikologi karena didasari oleh keinginan untuk melawan konsep theologi dan sebagian besar tokoh pencetusnya adalah seorang atheis.
Aspek religius pun tak luput dari sistem marketing dan psikologi. Kekristenan tidak beda dengan dunia modern. Kekristenan mulai menyeleweng dari ajaran Firman, berita tentang penganiayaan mulai dihilangkan dan sebagai gantinya, orang diiming-imingi dengan kesehatan dan hidup berkelimpahan. Kekristenan sejati berbicara tentang kebenaran, kejujuran dan integritas hidup itulah sebabnya, sejak awal Tuhan membukakan kebenaran termasuk semua resiko yang harus ditanggung ketika kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus. Iman Kristen harus kembali pada kebenaran sejati. Biarlah sebagai anak Tuhan sejati kita meneladani Kristus yang menjalankan prinsip kebenaran meski untuk itu Dia harus dimusuhi, Dia rela berkorban.
Janganlah takut ataupun kuatir ditengah-tengah penderitaan dan penganiayaan yang kita alami, Tuhan tidak membiarkan begitu saja tetapi ada upah, reward yang Tuhan telah sediakan. Mat. 10:39 merupakan kunci penting untuk kita memahami tentang upah. Ayat 39 dapat diterjemahkan sebagai berikut: barangsiapa mencari selamat untuk dirinya, ia akan kehilangan keselamatan nyawanya; barangsiapa rela kehilangan keselamatannya dalam nama Kristus, ia justru akan mendapatkan keselamatan hidup itu. Kata “mencari, to find“ berasal dari bahasa asli “eurisko“ dan penulisannya menggunakan tenses auris participle, dimana tenses ini berkait dengan ontologi, yakni sesuatu yang berbicara secara hakekat. Secara gamblang ayat 39 dapat dikatakan: kalau hanya mau cari selamat, matilah kau, artinya bukan hanya satu kali orang mencari selamat tetapi secara natur atau pada hakekatnya atau “dari sananya“ orang selalu mencari selamat; dengan kata lain, sepanjang hidupnya, orang selalu mencari selamat. Yang menjadi pertanyaan apa yang kita lakukan ketika berada dalam penganiayaan? Apakah kita hanya mau mencari selamat saja ataukah kita masih tetap mempertahankan integritas dan hidup dalam kebenaran?
I. Hidup dalam Kebenaran Sejati
Tuhan menuntut suatu integritas hidup dalam diri setiap anak-Nya yang sejati; barangsiapa hidup dalam Kristus ia harus hidup sama seperti Kristus telah hidup. Allah yang kita sembah adalah Allah yang agung dan mulia, Allah yang konsisten karena itu, Dia layak untuk dijadikan sebagai sandaran hidup kita. Ironisnya, orang ingin mempunyai Allah yang benar namun orang tidak mau hidup benar. Tuhan menegaskan barangsiapa tidak mau hidup dalam kebenaran maka ia tidak akan hidup. Karena itu, carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya akan ditambahkan kepada-Mu (Mat. 6:33). Hidup Kristen adalah hidup yang memperjuangkan righteouness, yakni hidup benar di hadapan Allah Sang Kebenaran sejati, truth. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa harus mengikut pada Allah sejati? Kenapa kita harus hidup benar? Bukankah hidup benar itu justru menyulitkan? Kenapa kita tidak mencari aman saja? Adalah kesimpulan salah kalau orang mengatakan bahwa menjadi anak Tuhan, hidup kita akan menjadi lebih susah sehingga orang memilih untuk tidak mengikut Tuhan. Salah! Memang, dunia dapat memberikan kekayaan dan kenikmatan tapi semu belaka dan sifatnya hanya sementara; kita akan berakhir dalam kebinasaan kekal. Sebaliknya, ketika mengikut Kristus mungkin kita akan dianiaya namun itu hanya berlangsung sementara sebab kemudian kita akan peroleh sukacita kekal. Hati-hati dengan akal licik si iblis yang sengaja menjebak manusia dengan kenikmatan semu yang sifatnya sementara dan sekali masuk dalam jerat iblis maka sulit untuk lepas.
Ilustrasi berikut ini untuk memudahkan kita memahami akal licik si iblis yang menjerat dan memperbudak hidup manusia. Ada seorang anak sedang bermain-main dan tanpa sengaja, ia memecahkan gelas ibunya. Ia merasa ketakutan maka ia menyembunyikan perbuatannya dengan membersihkan pecahan gelas tersebut. Ternyata, semua perbuatannya dilihat oleh si kakak maka itu dijadikan kunci untuk menjebak adiknya maka setiap kali si adik tidak mau melakukan apa yang diperintahkan si kakak maka si kakak mengancam akan memberitahukan tentang gelas pecah pada ibu. Begitu juga dengan hidup kita, sekali kita masuk dalam jeratan iblis maka akan sulit bagi kita untuk lepas dari ikatan belenggunya. Hanya Kristus yang dapat melepaskan kita dari jerat iblis dan untuk kelepasan ini juga dibutuhkan suatu pengorbanan besar dari diri kita. Bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk dapat lepas dari jeratan narkotika; untuk dapat lolos dari ketergantungan dan bandar narkoba dibutuhkan suatu pengorbanan. Sekali masuk dalam jebakan iblis maka sulit untuk keluar dari jebakan iblis. Jangan pernah berpikir ketika kita mencari aman dengan mengorbankan integritas kita maka itu akan membuat hidup kita merasa nyaman. Salah! Hidup kita akan menjadi lebih sengsara.
Kenyamanan hidup itu justru kita dapatkan ketika kita hidup dalam kebenaran dan di situlah kita mendapat kekuatan. Dengan kekuatan dari Tuhan kita mempunyai keberanian untuk menantang jaman ini. Ingat, waktu yang telah berlalu tidak dapat diputar kembali karena itu, hendaklah kita menjaga hidup kita tetap berintegritas dengan menjadikan Kristus sebagai yang terutama dalam hidup kita. Dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih barulah kita dapat memahami seluruh aspek dalam hidup kita termasuk konsep reward. Di satu pihak, orang menyadari bahwa kembali pada kebenaran Allah akan membuat hidup kita stabil akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat hidup stabil ketika kita dianiaya? Tuhan menegaskan ketika kita rela berkorban, menyerahkan hidup bagi Tuhan maka disana kita justru akan memperoleh hidup.
II. Pengalaman Iman Sejati
Hidup dalam kebenaran sejati akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan. Jadi, sangatlah mengherankan seorang yang mengaku sebagai anak Tuhan tetapi tidak mempunyai pengalaman hidup berjalan dalam pimpinan Tuhan. Pengenalannya akan Tuhan hanya sebatas pengetahuan saja. Biarlah kita mengevaluasi diri sudahkan kita mempunyai pengalaman iman bersama Tuhan? Alkitab menegaskan hidup Kristen adalah hidup yang mengalami pengalaman iman di dalam kebenaran bersama Tuhan. Hari ini, banyak orang yang ingin mempunyai pengalaman hidup bersama dengan Tuhan tetapi celakanya, bukan pengalaman bersama Tuhan Sang Kebenaran sejati yang dirasakan tetapi pengalaman iman bersama “allah“ lain. Dan hari ini, orang berani mengklaim dirinya adalah “Allah“ karena merasa sudah mengalami pengalaman bersama “allah“ karena dulu ia sakit sekarang sembuh, dulu miskin dan sekarang kaya. Tidak! Itu bukan Allah sejati tetapi lebih tepatnya adalah iblis sebab orang yang mau menjadi seperti Tuhan adalah pengikut iblis. Hati-hati, iblis dapat memberikan kuasa, iblis juga dapat menyembuhkan, iblis dapat memberikan kekayaan karena itu, hendaklah kita peka sehingga kita dapat membedakan apakah pengalaman iman yang kita alami itu pengalaman iman bersama Tuhan ataukah pengalaman iman bersama hantu. Itu bukan prinsip kebenaran Tuhan. Orang yang telah menyerahkan hidupnya pada iblis pasti tidak akan mengalami kesulitan, iblis tidak akan mengkutak-kutik pengikutnya. Seperti seorang yang telah menjadi anggota suatu mafia tertentu pastilah ia tidak akan diganggu oleh si mafia tersebut. Orang tidak menyadari kalau sesungguhnya ia telah mati rohani.
Pengalaman iman bersama Tuhan seharusnya membawa kita makin dekat Tuhan, kita dapat melihat menerobos jauh ke depan. Semua aniaya dan siksa yang kita alami itu tidaklah sia-sia sebab disana ada pahala, ada upah yang menanti bagi orang benar dan disana kita juga melihat keadilan Tuhan dinyatakan (Mzm. 58:12). Biarlah hal ini bukan hanya sekedar kita mengerti sebatas pengetahuan belaka tetapi biarlah kita mengalami pengalaman hidup bersama Tuhan dan kita dipakai menjadi saksi untuk menguatkan mereka yang lemah iman. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup dan Dia tidak dapat dipermainkan. Tuhan juga tidak akan tinggal diam ketika anak-anak-Nya yang hidup dalam kebenaran dipermainkan oleh dunia. Tuhan menegaskan bahwa pembalasan itu adalah hak-Ku, jadi, ketika dunia menganiaya, janganlah kita menjadi takut sebab keadilan Tuhan akan dinyatakan di bumi. Tuhan tidak akan membiarkan orang-orang benar dianiaya secara membabi buta, Tuhan juga tidak akan membiarkan hidup anak-Nya itu lepas dari pemeliharaan-Nya. Tidak! Tuhan justru ingin supaya kita mempunyai pengalaman iman bersama dengan Dia dengan demikian kita dapat merasakan pimpinan dan pemeliharaan Tuhan yang indah atas kita.
III. Iman Sejati
Kebenaran sejati membawa kita pada pengalaman sejati dan pengalaman ini menjadikan kita mempunyai iman sejati. Iman sejati menjadi kacamata, point of view ketika kita melihat segala sesuatu yang terjadi di dunia. Dunia beriman pada sesuatu yang dilihatnya sebagai keuntungan sebaliknya, apa yang dianggap keuntungan oleh dunia justru dipandang sebagai kerugian. Alkitab menegaskan janganlah kita melihat fenomena dunia tetapi kita harus melihat dari sudut pandang Tuhan. Demikian halnya dengan konsep upah. Mat. 10:42 mengajarkan hal yang indah tentang bagaimana seharusnya kita memberikan reward pada seseorang, yaitu ketika memberi maka ada tiga aspek yang perlu kita perhatikan: 1) air murni bukan susu, 2) banyaknya hanya secangkir bukan sejerigen, 3) diberikan pada orang kecil. Yang dimaksud dengan orang kecil disini bisa mempunyai pengertian anak kecil, orang yang berperawakan kecil atau orang yang berstatus sosial rendah.
Berbeda dengan dunia, orang akan sangat menghargai kalau kita memberikan barang yang berharga dan mahal, bukan air yang tidak bernilai; orang juga melihat kuantitas, orang tidak akan cukup puas jika mendapatkan sedikit; dan orang juga memberikan barang-barang itu bukan untuk orang yang kecil tetapi sebaliknya, barang yang berharga dengan jumlah yang cukup banyak itu diberikan pada orang yang dipandang penting. Apa yang kita berikan, berapa yang kita berikan dan kepada siapa kita berikan itu menentukan bagaimana kita melihat suatu apresiasi pada seseorang. Dunia akan terkagum-kagum dan hormat pada orang yang memberikan barang yang bernilai dengan jumlah banyak dan diberikan pada orang hebat. Inilah cara manusia menilai, inilah cara dunia memahami konsep reward.
Iman Kristen menilai sesuatu bukan melihat secara fenomena tetapi secara esensial. Tuhan sangat menghargai dan memuji seorang janda miskin yang memberikan persembahan 2 peser daripada seorang kaya yang memberikan jumlah banyak tetapi dengan motivasi tidak benar. Tuhan tidak melihat angka tetapi Tuhan melihat janda ini memberikan seluruh apa yang dia punya (100%), seluruh hasil kerjanya hari itu untuk Tuhan dan Tuhan melihat motivasi dari janda miskin ini memberi karena ia mengasihi Tuhan. Sedangkan orang kaya ini hanya memberikan sedikit sebab secara presentasi, pemberiannya itu sangat sedikit bila dibanding dengan seluruh harta yang ada padanya.
Kata upah, reward (bahasa Yunani, misthos) dalam PB muncul sebanyak 28 kali dan Injil Matius paling banyak membicarakan masalah upah, kata upah ini muncul sebanyak 9 kali. Hal ini dapat kita mengerti sebab Injil Matius berbicara tentang dan kepada orang Yahudi yang materialis. Bukan suatu kebetulan kalau Injil Matius ini diberikan pada kita sebab Tuhan ingin supaya kita mempunyai konsep yang benar tentang upah dan cara kita memberikan penghargaan pada seseorang. Semua itu harus dilihat dari sudut pandang iman dengan demikian kita kembali pada kebenaran sejati dan kita dapat merasakan pengalaman iman bersama Tuhan.
Antara hidup dalam kebenaran Allah – pengalaman iman sejati bersama Tuhan – mempunyai iman sejati itu saling berkait erat seperti sebuah lingkaran. kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan dan iman yang benar akan membuat kita semakin diproses dalam kebenaran dan kita semakin bertumbuh dalam pengenalan kita akan Tuhan. Ini menjadi sebuah lingkaran yang saling berkait erat. Biarlah hidup Kekristenan kita, christian life terus diproses untuk menuju pada kesempurnaan seperti Kristus yang menjadi teladan kita adalah sempurna. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber:

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060430.htm

Roma 10:4: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-8: Sentralitas Kristus

Seri Eksposisi Surat Roma:
Doktrin Predestinasi-7


“Israel” Sejati atau Palsu-8: Sentralitas Kristus

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:4


Setelah mempelajari tentang alasan konkrit mengapa kaum Israel gagal disebut umat pilihan Allah dan harapan Paulus agar Israel juga diselamatkan di pasal 10 ayat 1 s/d 3, maka Paulus melanjutkan pembahasannya tentang Kristus sebagai kegenapan hukum Taurat di ayat 4.

Setelah menjelaskan tiga kata “kebenaran” yang diulang di ayat 3 yang sesungguhnya adalah inti dari banyak orang Israel yang tidak diselamatkan, yaitu mereka tidak mengetahui kebenaran Allah dan mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri lalu tidak takluk kepada Allah, maka Paulus langsung menjelaskan bahwa seseorang dibenarkan bukan berdasarkan perbuatan baik, tetapi hanya melalui iman di dalam Pribadi Kristus, “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.” (ayat 4). Di dalam ayat ini, Paulus langsung menunjuk bahwa Hukum Taurat sebenarnya mengarah dan berpusat kepada Kristus. Kata “kegenapan” di dalam American Standard Version (ASV), English Standard Version (ESV), Geneva Bible, King James Version (KJV) dan New King James Version (NKJV) diterjemahkan end (=akhir), dan dalam terjemahan International Standard Version (ISV) adalah culmination (=titik tertinggi). Kata ini dalam bahasa Yunani adalah telos yang bisa berarti goal, result, etc (tujuan, hasil, dll). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menafsirkan kata ini sebagai “kesudahan dan tujuan” (hlm 853). Selain itu, kata ini juga bisa diterjemahkan: akhir; kesimpulan; tujuan; hasil; akhirnya; sepenuhnya; sisanya; bea’. Kata ini muncul sebanyak 40x di dalam Perjanjian Baru. (Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, 2003, hlm 750) Dari penyelidikan arti kata ini, kita mendapatkan gambaran pengertian tentang hubungan Kristus dan Taurat, yaitu:
Pertama, Kristus adalah Tujuan Hukum (Taurat). Hukum (Taurat) diwahyukan Allah bagi umat Israel sebagai hukum yang mengatur kehidupan dan iman orang Israel. Taurat itu berupa 5 kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Bagi Dr. Martin Luther, hukum Taurat berfungsi untuk menunjukkan dosa manusia melalui hukum Allah. Seharusnya bangsa Israel menyadari bahwa Taurat diwahyukan agar mereka menyadari keberdosaan mereka dan menyerahkan pengharapan dan iman mereka kepada dan di dalam Allah mereka, tetapi bagaimana kenyataannya? Bangsa ini bukan bangsa yang taat dan setia, tetapi bangsa yang tegar tengkuk. Di dalam kitab Keluaran (Taurat) saja, Allah menyebut bangsa Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk sebanyak 3x, yaitu: Keluaran 32:9; 33:3, 5. Di dalam kitab Ulangan (Taurat) pun, kembali Allah menyebut Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk juga sebanyak 3x, yaitu: Ulangan 9:6,13; 10:16. Di 2 Tawarikh 30:8, Hizkia berkata, “Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu.” Di dalam Yesaya 48:4, Tuhan berfirman, “Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu,…” Sungguh unik sekali, dua dari 5 kitab Taurat justru membukakan realita Israel sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Ini membuktikan bahwa meskipun Taurat diwahyukan kepada Israel, mereka tidak pernah sungguh-sungguh mengertinya, melainkan mereka menganggap Taurat itu sebagai bahan pelajaran yang perlu ditaati tanpa perlu dimengerti esensinya. Di abad postmodern ini, hal serupa terjadi juga di dalam Kekristenan. Banyak pemimpin gereja mengaku dengan mulutnya bahwa mereka percaya pada Alkitab dan Kristus, tetapi realitanya doktrin dan kelakuan mereka sama sekali tidak sesuai dengan Alkitab. Mereka berkhotbah sesuatu yang seolah-olah dari Alkitab, tetapi tanpa mengerti esensi utamanya. Tidak heran, jika ada seorang “pemimpin gereja” yang menulis artikel yang membuktikan bahwa Kristus tidak bangkit, meskipun dia pernah sekolah “theologia” bahkan bergelar Doktor “Theologia”. Alkitab dan theologia hanya diselidiki secara akademis, tetapi tidak “mendarat” di dalam aplikasi dan pengalaman rohani sejati bersama Tuhan. Ini bahayanya akademis! Kembali, di dalam pewahyuan progresif (progressive revelation), Tuhan membukakan kepada kita bahwa Taurat yang diwahyukan kepada Israel sebenarnya mengarah kepada Kristus. Semua upacara korban di dalam kitab Imamat dan Ulangan, dll mengarah kepada penebusan Kristus. Bahkan seluruh Perjanjian Lama (PL) mengarah kepada Perjanjian Baru (PB) di dalam Kristus. Ini membuktikan adanya benang merah di dalam seluruh Alkitab dari PL sampai dengan PB. Memisahkan PL dan PB dari Alkitab berarti tidak menghargai Alkitab. Selain itu, ingin mengerti PL tanpa melalui PB adalah sia-sia.
Kedua, Kristus adalah Penyempurna Taurat. John Calvin di dalam tafsirannya mengutip perkataan Erasmus yang menafsirkan kata ini sebagai perfection (kesempurnaan). Dengan kata lain, Kristus menyempurnakan apa yang tertulis di dalam Taurat. Di dalam Injil Matius 5:17, Tuhan Yesus sendiri bersabda, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Ayat ini sering salah ditafsirkan oleh orang Islam bahwa karena Kristus tidak meniadakan Taurat, maka Ia juga menyetujui bahwa makan babi itu haram, dll. Tafsiran ini jelas sesat, karena tidak memperhatikan konteks (budaya postmodern di dalam penafsiran). Bagaimana tafsiran yang benar? Kata “menggenapi” di dalam ayat ini di dalam KJV diterjemahkan fulfill (=memenuhi, menyelesaikan, dll). Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) sedikit memberikan penjelasan tambahan, “menunjukkan arti yang sesungguhnya.” Ini berarti Kristus yang menggenapi Taurat adalah Kristus yang sebenarnya hendak menunjukkan arti yang sebenarnya tentang Taurat yang sudah diselewengkan oleh banyak pemimpin Yahudi. Hal ini bisa kita jumpai di ayat-ayat setelah ayat ini, yaitu mulai ayat 21 sampai dengan ayat 48 (perluasannya sampai dengan akhir pasal 7). Di dalam ayat-ayat tersebut, Kristus mengutip perkataan Taurat, lalu disambung dengan perkataan-Nya yang menjelaskan esensinya, “tetapi Aku berkata kepadamu, ...” Misalnya, di dalam ayat 21, Kristus mengutip Taurat, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.”, lalu disambung dengan penjelasan-Nya tentang makna sesungguhnya di ayat 22 s/d 26, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” Dari ayat 21 s/d 48, Kristus membukakan realita bahwa esensi utama dari Taurat BUKAN pada perbuatan, tetapi pada hati. Dari hati yang bersih, akan keluar perkataan dan tindakan yang bersih. Lalu, pertanyaannya, mengapa Kristus dapat disebut Penyempurna Taurat? Siapakah Dia? Bagaimana dengan Mohammad yang merasa diri sebagai “Roh Kudus” di dalam Alkitab, lalu mengatakan bahwa Alkitab itu kurang ‘lengkap’? Kristus dapat disebut Penyempurna Taurat karena Ia adalah Allah Pribadi Kedua yang diutus langsung dari Allah Bapa untuk menebus dan menyelamatkan umat-Nya yang berdosa (Yohanes 3:16). Karena Allah yang mewahyukan Taurat, tetapi Taurat telah diselewengkan, maka Ia mengutus Kristus melalui inkarnasi (Allah menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahi-Nya) untuk menjelaskan ulang (re-interpret) Taurat. Hanya Allah saja yang mampu menjelaskan maksud-Nya mewahyukan Taurat. Dengan demikian, barangsiapa, entah itu “nabi”, “orang suci” atau siapapun yang mengklaim diri berhak menafsirkan Taurat atau mengatakan Alkitab itu salah, terkutuklah dia, seperti perkataan Paulus di dalam Galatia 1:8, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Allah di Surga pasti menghukum mereka yang tidak percaya kepada Kristus (Yohanes 3:18b).
Karena Kristus adalah Tujuan dan Penyempurna Taurat, maka setiap orang yang percaya kepada dan di dalam-Nya juga mendapat status yang dibenarkan. Di dalam struktur bahasa Yunani, kata “percaya” memakai bentuk pasif. Artinya, umat pilihan-Nya yang percaya (pasif) kepada Kristus mendapatkan status yang dibenarkan. Bentuk pasif ini berarti iman umat pilihan-Nya bukanlah iman yang aktif yang berasal dari keinginan hatinya (pandangan Arminianisme), tetapi mutlak merupakan anugerah Allah. Sehingga, seseorang baru bisa beriman di dalam Kristus, setelah Roh Kudus melahirbarukan mereka (1 Korintus 12:3b). Kepercayaan ini dialamatkan kepada dan di dalam Kristus yang telah melakukan segala yang tertulis di dalam Taurat (=menyempurnakan Taurat) bahkan sampai mati di kayu salib demi menebus dosa manusia pilihan-Nya dan bangkit kembali serta naik ke Surga, sehingga kebenaran yang telah ditunaikan-Nya di atas kayu salib diimputasikan bagi setiap umat pilihan-Nya yang masih berdosa. Di dalam pasal sebelumnya di surat Roma, Paulus berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8) Ini berarti ketika kita masih berdosa, dari kekekalan, Allah Bapa telah merencanakan untuk mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk menebus dosa umat pilihan-Nya yang berdosa. Berarti, pembenaran orang-orang percaya MUTLAK bukan karena perbuatan baik (ataupun dengan dalih “beriman”), tetapi murni dari anugerah Allah, karena Allah telah berinisiatif menyelamatkan manusia bahkan pada saat manusia sudah/masih berdosa (tanpa melihat apakah suatu saat manusia tertentu akan bertobat—pandangan Arminianisme). Anugerah keselamatan inilah yang diterima oleh umat-Nya sebagai status yang dibenarkan. Status manusia (pilihan-Nya) yang berdosa bisa dibenarkan di hadapan Allah karena penebusan Kristus yang bersifat mengganti (substitusi), mendamaikan (rekonsiliasi) dan memuaskan/meredakan murka Allah/korban (propisiasi).

Bagaimana dengan kita? Kita sudah dibenarkan karena penebusan Kristus. Tindakan penyelamatan Allah di dalam Kristus adalah tindakan teragung dan terdahsyat bagi umat pilihan-Nya. Sudahkah kita bersyukur atas anugerah-Nya bagi kita? Sudahkah kita setia dan taat menjalankan perintah Taurat bukan untuk diselamatkan tetapi sebagai respon kita telah diselamatkan? Pdt. Daniel Lucas Lukito, Th.D. membedakan dua macam anugerah khusus di dalam Kekristenan yaitu saving grace (=anugerah yang menyelamatkan) dan living grace (=anugerah yang hidup). Setelah kita diselamatkan di dalam penebusan Kristus melalui saving grace, maukah kita mewujudnyatakan living grace itu di dalam kehidupan kita sehari-hari? Biarlah perenungan kita tentang satu ayat ini saja mencerahkan pemikiran kita tentang sentralitas Kristus sebagai Tujuan dan Penyempurna Taurat. Amin. Soli Deo Gloria.

15 August 2008

THEOLOGI KOVENAN: Titik Tolak Pengenalan Allah (Pdt. Thomy J. Matakupan, M.Div.)

Theologi Kovenan: Titik Tolak Pengenalan Allah

oleh: Pdt. Drs. Thomy J. Matakupan, S.Th., M.Div.



Pendahuluan
Theologi Kovenan adalah keunikan dari theologi Reformed yang memiliki akar pengertian berdasarkan penyataan Allah di dalam firman-Nya. Dapat dikatakan bahwa Alkitab mengungkapkan prinsip ini di seluruh bagiannya, baik di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Itulah sebabnya pengertian theologi kovenan ini tidak lepas dari usaha hermeneutik, penafsiran Alkitab. Usaha hermeneutik yang bertanggung jawab pada akibatnya akan melihat Alkitab sebagai sebuah sistem kebenaran, dalam arti sebuah pokok permasalahan tertentu yang muncul di dalamnya harus memiliki konsistensi prinsip. Hal ini pada akibatnya, tidak saja melihat kesatuan Alkitab sebagai firman Allah yang tertulis, melainkan juga kepada pengenalan akan diri Allah sendiri. Dengan kata lain, Theologi Kovenan memberi nilai dari kehidupan iman sejati sesuai dengan maksud dan rencana Allah di dalam kehidupan orang percaya. Jika demikian, apakah yang dimaksud dengan theologi kovenan itu? Mengapa kemudian mempunyai dampak praktis serius di dalam kehidupan Kristen sejati?

Dapat dikatakan bahwa para Reformatorlah yang “menemukan kembali” theologi kovenan ini di tengah-tengah kesimpangsiuran ajaran gereja pada masa itu. Bahwa hal ini adalah harta gereja yang memberikan kehidupan bagi gereja yang telah ditinggalkan begitu saja. David L. Neilands mengatakan di awal bukunya, Studies in the Covenant of Grace menyatakan,

The church is no longer conscious. We have failed ti grasp the importance of covenant theology, covenant thinking and covenant living. Even Reformed churches that once knew the glory of the covenant of grace have lost this vital life-giving fountain of scriptural teaching.[1]

Bangunan iman Kristen dibangun atas dasar theologi kovenan, maka jika kehidupan Kristen (baca: “Gereja”) tidak lagi menempatkan theologi kovenan menjadi pusat theologinya, maka gereja telah kehilangan inti imannya. Gereja yang sedemikian telah kehilangan esensi dan arah keberadaannya di tengah-tengah dunia ini. Pada akibatnya akan mengalami kesulitan yang besar di dalam perjuangannya sebagai saksi Kristus dan akan lebih mudah berkompromi dengan berbagai macam sistim pemikiran dunia yang tidak menurut Kristus.

Makalah ini akan mencoba menyoroti aspek keutuhan prinsip theologi kovenan ini. Memang perlu diakui bahwa pembahasan mengenai theologi kovenan ini sangat luas dan menyangkut aspek-aspek praktis yang dapat diteliti satu demi satu. Karena itu pembahasan hanya akan meninjau secara global saja.

Pertama-tama perlu dilihat apakah yang dimaksud dengan “Theologi Kovenan itu?” Di dalam Perjanjian Lama, kata yang kemudian diterjemahkan sebagai kovenan adalah berit.[2] Sedangkan di dalam Perjanjian Baru menggunakan istilah diatheke.[3] Kedua istilah ini secara umum mempunyai pengertian adanya perjanjian yang dibuat antara dua pihak dengan berbagai persyaratan, tata cata dan konsekuensi yang ada di dalamnya. Sementara secara khusus - jika kemudian dikaitkan dengan pengertian theologi kovenan – hal ini berarti sebuah pemikiran theologi yang berdasar pada kenyataan perjanjian yang ditetapkan Allah sebagai Pencipta dan pihak manusia sebagai ciptaan.[4]

Tentu saja kedua pihak ini tidak dapat dilihat di dalam kedudukan yang sejajar. Perjanjian ini dilakukan oleh Allah Tritunggal sendiri di dalam inisiatifNya yang mutlak untuk mengikat Perjanjian dengan manusia. Bahwa Allah menghendaki adanya ketaatan sepenuhnya dari manusia kepada-Nya dan bahwa Allah di dalam kerelaan kehendak-Nya mengikatkan Diri di dalam janji mencurahkan berkat-Nya jika manusia menuruti di dalam ketaatan kepada kehendak-Nya ini.


Perjanjian Kerja
Perjanjian pertama yang dilakukan antara Allah dan Adam, manusia pertama, wakil dari semua manusia dan dikenal pula dengan istilah “Perjanjian Kerja.”[5] Allah menuntut manusia hidup di dalam ketaatan kepada-Nya dan Ia berjanji memberikan berkat-Nya kepada mereka, yaitu suatu kehidupan di dalam taraf yang tinggi, hidup di atas kematian. Janji kehidupan semacam ini akan lebih dapat dimengerti pada saat melihat kehidupan dari orang-orang yang percaya melalui penebusan Kristus, Adam terakhir. Sebaliknya, jika mereka tidak taat, akan mendapatkan hukuman Allah, yaitu mati di dalam arti yang paling mendalam. Tidak saja berarti kematian jasmani, melainkan juga termasuk kematian rohani dan kematian kekal, keterpisahan kekal dengan Allah. Disebut sebagai Perjanjian Kerja oleh karena adanya kondisi kerja yang ditetapkan bersama. Kerap juga disebut dengan nama lain, yaitu sebagai perjanjian kehidupan oleh karena berisi janji kehidupan atau perjanjian legal oleh karena adanya tuntutan ketaatan sempurna kepada hukum Allah.


Perjanjian Penebusan
Perjanjian ini ditetapkan antara Allah Bapa kepada Allah Anak di dalam kekekalan untuk menyelamatkan manusia berdosa. William G. T. Sheed mengatakan,

The Father appointing the Son to be the mediator; the Second Adam, whose life would be given for the salvation of the world, and the Son accepting the commision, promising that he would do the work which the Father had given him to do and fulfill all righteousness by obeying the law of God.[6]

Semua penetapan persyaratan menjadi hak utama Allah sendiri. Bahwa Bapa menyatakan Oknum Kedua Tritunggal, Yesus Kristus, Sang Anak harus menerima sifat manusia dengan segala kelemahannya meski tanpa dosa[7] sehingga Ia dapat berada di bawah hukum Taurat guna memenuhi semua tuntutan hukum tersebut dan dapat memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang dikasihi-Nya.[8] Bahwa Yesus menyatakan kesiapan-Nya untuk melakukan kehendak Bapa dalam menjadi korban bagi dosa.[9] Bahwa Ia harus menambahkan jasa-Nya kepada umat-Nya oleh pekerjaan pembaruan oleh Roh Kudus. Dengan demikian menjadi pengabdian hidup mereka kepada Allah.[10]

Untuk menggenapi rencana ini, Bapa sendiri yang kemudian mempersiapkan sebuah tubuh bagi Kristus[11], mengurapi-Nya dengan Roh Kudus dan mendukung semua pekerjaan penebusan-Nya.[12] Bahwa Ia kemudian akan membangkitkan Anak dari kematian dan memberikan tempat terhormat di sebelah kanan-Nya.[13] Bahwa Ia juga kemudian akan memberikan Roh Kudus yang akan membawa setiap orang pilihan menjadi objek penyataan kasih karunia, kemurahan dan pemeliharaan-Nya.[14]

Dengan demikian, Kristus menempati posisi yang penting sekali. Ia adalah Kepala Perjanjian[15] dan sekaligus Penjamin Perjanjian.[16] Ia menjadi Adam kedua yang daripada-Nya Allah menyatakan anugerah-Nya yang tidak terkira. Ia dijadikan berdosa untuk menanggung hukuman dosa guna memenuhi tuntutan hukum Taurat bagi orang berdosa supaya mereka mendapatkan hidup. Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Pemberi Roh yang menghidupkan.[17] Kristus adalah yang satu-satunya memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan Allah Bapa di dalam Perjanjian Penebusan ini yang kemudian menjadi dasar dari Perjanjian Anugerah.


Perjanjian Anugerah
Disebut juga sebagai “Perjanjian Pengampunan” karena perjanjian ini adalah wujud nyata kasih Allah kepada manusia berdosa. Bahwa Allah menyatakan kebaikan-Nya di dalam pemberian anugerah keselamatan kepada umat pilihan di dalam Kristus, sang Mediator. Berkhof mengatakan beberapa karakteristik yang ada di dalamnya juga tidak berubah dengan apa yang ada di dalam Perjanjian Kerja.

Pada umumnya sama di dalam semua bagian, meskipun bentuk administrasinya berubah. Janji pokoknya sama, Kej. 17:17, Ibr. 8:10; Injilnya sama, Gal. 3:8; syarat-syarat imannya sama, Gal. 3:6, 7 dan pengantara itu sama, Ibr. 13:8.[18]

Janji utama dari perjanjian itu, “Aku akan menjadi Allah bagi mereka dan bagi keturunan mereka.”[19] Penggenapan janji ini sangat bergantung pada pribadi dan pekerjaan penebusan Kristus dan diterima oleh manusia berdosa di dalam bentuk anugerah. Itulah sebabnya aplikasi nyata perjanjian ini tidak bergantung kepada pekerjaan baik atau jasa yang dapat dilakukan manusia. Tuntutan yang ada di dalamnya agar manusia memberikan kehidupannya dan percaya kepada Allah berdasarkan jasa Kristus dan mendapatkan semua berkat sorgawi yang dijanjikan-Nya. Dengan demikian, perbedaan antara perjanjian Kerja dan Perjanjian Anugerah terletak pada Pribadi Kristus yang menjadi perantara tunggal antara Allah dan manusia berdosa.[20]


Kontinuitas Perjanjian di dalam Alkitab
Theologi kovenan ini mewarnai seluruh bagian isi Alkitab dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru. Di dalamnya menyatakan prinsip tuntutan dan aplikasi kehidupan yang tidak berubah – prinsip dasar etika Kristen, relasi sosial antar manusia, kehidupan iman sejati, pengharapan, dsb – yang sesuai dengan maksud Allah sendiri. Hal ini tidak saja menyatakan ketidak-berubahan perjanjian yang pernah ditetapkan Allah, melainkan juga menunjukkan sikap Allah.

“Aku akan mengadakan perjanjian-Ku” demikian perkataan Allah kepada Nuh.[21] Perjanjian dengan Nuh adalah yang sangat bersifat umum oleh karena ditujukan kepada seluruh umat manusia sehingga perjanjian ini dimengerti pula sebagai pernyataan anugerah umum; bahwa Allah akan mencurahkan berkat umum kepada semua manusia.

Sementara itu, Esensi dari perjanjian Allah dengan manusia justru terletak pada perjanjian yang dibuat Allah dengan Abraham. “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.”[22] Perjanjian ini lebih bersifak eksklusif seperti yang ternyata di dalam batasan yang Allah tetapkan, yaitu keluarga Abraham dan semua keturunannya. Ini adalah ketetapan resmi perjanjian itu, suatu permulaan pelaksanaan satu persatu dari perjanjian Allah di dalam Perjanjian Lama. Peranan iman sebagai syarat utama sangat menonjol di dalamnya dan ketetapan sunat menjadi meterai perjanjian itu.

Perjanjian di Sinai, pada dasarnya sama dengan apa yang dibentuk dengan Abraham, tetapi sekarang mencakup seluruh bangsa Israel. Bahwa Allah menetapkan umat Israel menjadi umat kesayangan-Nya dan memerintahkan mereka memegang perjanjian dengan-Nya di dalam kasih dan ketaatan.[23] Ketetapan hukum Taurat dan sistim ibadah ditetapkan dalam hubungannya dengan perjanjian ini. Meskipun demikian hal ini tidak boleh dianggap sebagai bentuk baru dari perjanjian kerja. Alkitab mengatakan bahwa hukum Taurat justru membawa manusia kepada kesadaran akan dosa[24], dan menjadi jalan yang membawa manusia berpaling kepada Kristus.[25] Materai perjanjian ini adalah ketetapan Paskah.

Perjanjian yang Baru sebagaimana dinyatakan di dalam Alkitab melalui nabi Yeremia, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang Kuadakan dengan nenek moyang mereka …”[26] Esensinya sama dengan yang ada di Perjanjian Lama, bahwa Allah berjanji akan menjadi Allah dari umat pilihan-Nya melalui penebusan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.[27] Perjanjian yang baru ini mempunyai nilai yang lebih tinggi dari yang lama oleh karena kehadiran Pribadi Kristus di dalamnya. Penulis kitab Ibrani mengatakan

Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat … Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi perantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan pada janji yang lebih tinggi.[28]

Perubahan yang terjadi di sini, perjanjian itu sekarang meniadakan relasi khusus dengan bangsa Israel, melainkan ditujukan dan berlaku kepada semua umat pilihan Allah. Berkat-berkat perjanjian itu diberikan kepada semua umat pilihan dari seluruh bangsa. Sakramen dari perjanjian ini adalah baptisan dan perjamuan kudus sebagai pengganti dari sakramen-sakramen di Perjanjian Lama.



RANGKUM PIKIRAN
Theologi Kovenan: Problema Hermeneutik

Konsep Kovenan muncul dari usaha hermeneutik, suatu cara membaca dan memahami berita Alkitab. Hermeneutika yang bertanggung jawab adalah yang berusaha melaksanakan prosedur penafsiran yang konsisten yang pada akibatnya akan melihat Alkitab sebagai sebuah sistem kebenaran. Bahwa ada kontinuasi di dalam berita Alkitab. Kegagalan melihat kesinambungan ini akan mengakibatkan kegagalan dalam melihat prinsip kerja Allah dan tidak mengherankan jika pada akibatnya menghasilkan berbagai pandangan yang keliru, misalnya saja pandangan adanya perubahan di dalam cara Allah memperlakukan umat-Nya.[29]

Hermeneutik yang bertanggungjawab harus dapat melihat Allah di balik semua penyataan-Nya di dalam Alkitab. Pertama, Dia adalah Allah yang memimpin semua penulis Alkitab. Kedua, Dia adalah Allah yang berbicara kepada umat-Nya untuk menyatakan kedaulatan, pemeliharaan dan kasih-Nya. Ketiga, berkenaan dengan keselamatan, Dia adalah Allah yang memulihkan hubungan-Nya dengan orang berdosa berdasarkan atas kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Keempat, bahwa Dia adalah Allah yang menyatakan bahwa diri-Nya adalah pusat dari semua aspek hidup yang dimiliki orang percaya. Inilah yang menjadi alasan mengapa semua ungkapan syukur disampaikan kepada-Nya.


Theologi Kovenan: Pengenal akan Allah Sejati
Konsep Kovenan ini memberikan pengertian yang lebih mendalam daripada sekadar sebuah perjanjian Allah-manusia. Diri Allah sedalam-dalamnya dinyatakan di dalamnya.
1. Gagasan kovenan menyatakan bahwa ada Allah yang hanya kepada-Nya semua arah ibadah dan penyembahan tertuju. “Aku akan menjadi Allahmu dan engkau akan menjadi umatKu.” Allah menempati posisi pertama oleh karena daripada-Nyalah semua ini ada. Manusia berada pada posisi kedua oleh karena mereka diciptakan di dalam gambar-rupa Allah. Kondisi semacam ini menempatkan manusia pada kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dilakukannya terhadap Allah. Ini adalah order of creation. Dosa terjadi oleh karena tidak menghargai urutan ini. Kovenan membawa manusia kepada kesadaran pertanggungjawaban pribadi kepada-Nya.
2. Allah berkepentingan untuk mengadakan perjanjian ini oleh karena Dia yang memulai, menentukan dan mengarahkan keseluruhan ciptaan ke tujuan yang ditetapkan-Nya sendiri. Dengan kata lain, semua kehidupan harus berjalan di dalam konteks perjanjian, dan hanya di dalam keadaan sedemikianlah kehidupan itu mencapai taraf yang mulia. Janji Allah menjadi jaminan pasti dan janji ini menjadi semacam pengukuhan bahwa Ia sendiri yang akan melaksanakan semua yang telah dijanjikan-Nya tersebut.
3. Pembicaraan tentang theologi kovenan ini harus dimulai dan diakhiri di dengan Allah. Dengan demikian pemahaman akan hal ini harus membawa kepada pengenalan sejati akan Allah. Fokus utama pengenalan di sini adalah pada Pribadi Allah; bahwa Allah adalah Allah Perjanjian. Ia tidak pernah berubah meski sikap dan tindakan manusia berubah terhadap-Nya. Perjanjian yang pertama disampaikan kepada Adam (Kej. 2:16-17), Nuh (Kej. 9:9-17), Abraham (Kej. 17:9, 14), Musa (Kel. 24:4-8)[30], Daud (Mzm. 89:3). Semua perjanjian yang Allah terhadap umat-Nya ini menyatakan komitmen kekal Allah; bahwa Allah mau menyatakan kasih-Nya kepada manusia berdosa seperti yang ternyata di dalam pemilihan-Nya. Bahwa Ia memberikan pendamaian antara diri-Nya dengan mereka melalui perantaraan Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus. Di dalamnya ada janji sukacita kemuliaan kekal
4. Kovenan menunjukkan kasih Allah yang mungkin dimengerti dan dialami manusia. Adam memang segera harus menanggung akibat dari pelanggaran yang dilakukannya. Mereka terusir keluar dari Taman Eden. Meski demikian tidak berarti Allah membiarkan mereka terus hidup di dalam keadaan seperti ini. Di dalam inisiatif-Nya, Allah segera menyatakan pemulihan hubungan melalui janji penebusan (bdk: Kej. 3:15; Rm. 5:17-18) yang kemudian di genapi di dalam diri Adam Kedua, Yesus Kristus. Pemulihan hubungan ini menjadi dasar sukacita manusia oleh karena bertemu dengan kenyataan bahwa Allah membuka tangan kasih-Nya dengan lebar dan mau bersekutu dengan mereka kembali.
5. Kovenan menjadi dasar pernyataan iman kepada Allah di dalam pelaksanaan sakramen, baik baptisan kudus maupun perjamuan kudus. Pelaksanaan kedua sakramen ini menunjukkan sikap penerimaan konkrit terhadap sikap Allah bagi umat-Nya. Di dalam Baptisan Kudus menyatakan materai perjanjian Allah, bahwa mereka menerima janji-janji Allah dan hidup di dalam iman kepada setiap janji itu. Sementara di dalam Perjamuan Kudus, iman orang percaya diarahkan kepada korban Kristus sebagai dasar keselamatannya.




KEPUSTAKAAN
Archer, Gleason L. “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology. Grand Rapids, M.I.: Baker Book, 1992.
Berkhof, Louis. Manual of Christian Doctrine. Grand Rapids: Baker Book.
Gaffin, Richard B. (ed) Redemptive History and Biblical Interpretation. Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1980.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990.
Hodge, Charles. Systematic Theology, 3 vols. London: Clarke, 1960.
Neilands, David L. Studies in the Covenant of Grace. Phillipsburg. N.J.: Presbyterian & Reformed Pub.
Morris, Leon. Apostolic Preaching of the Cross. Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1992.
Robertson, O. Palmer. The Christ of the Covenant. Phillipsburg, N.J.: Presbyterian and Reformed Pub, 1980.
Ryrie, Charles C. The Grace of God. Chicago: Moody Press, 1963.
Westminster Confession of Faith, Ch 7: Of God’s Covenant with Man
William G. T. Sheed, Dogmatic Theology, 3 vols., 2nd ed. Nashville: Nelson, 1980.

Catatan kaki:
[1] David L. Neilands, Studies in the Covenant of Grace (Phillipsburg, N.J.: Presbyterian & Reformed Pub) hlm. v.
[2] Kata yang berarti “belenggu” atau “kewajiban” ini berasal dari akar kata bara, “mengikat.” Menariknya, akar kata itu tidak muncul sebagai kata kerja di dalam tata bahasa Ibrani, melainkan di dalam bahasa Akkadian sebagai kata kerja baru, “mengikat” dan sebagai kata benda, biritu, “belenggu.” Dengan demikian, berit mungkin menunjukkan hubungan antara dua pihak dimana masing-masing mengikatkan diri untuk melakukan sesuatu bagi masing-masing pihak. Gleason L. Archer, “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology, (Grand Rapids, M.I. : Baker Book, 1992), hlm. 276. Leon Morris memberikan pengertian lain dengan melihat arti dari berit adalah “memakan” (kata ini muncul di dalam 2Samuel 13:6; 12:17) yang menunjukkan adanya makanan khusus yang menjadi tanda penetapan perjanjian antara masing-masing pihak. Leon Morris, Apostolic Preaching of the Cross, (Grand Rapids, M.I.: Eerdmans, 1992), hlm. 65 dst. Sementara itu, theolog Indonesia, Harun Hadiwijono lebih menyoroti kata berit kepada arti “membelah korban persembahan” di dalam upacara peneguhan perjanjian, misalnya antara Ishak dan Abimelekh (Kej 26:28-30), antara Laban dan Yakub (Kej. 31:52-54). Perbuatan ini berarti kedua pihak yang mengadakan perjanjian telah menjadi satu. Mereka berjalan di antara binatang persembahan itu dan jikalau kemudian di suatu saat terbukti salah satu pihak melanggar kesepakatan, ia akan dibinasakan sama seperti binatang persembahan itu. Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1990), hlm. 262-263.
[3] Diatheke mempunyai arti yang lebih mendalam dari berit oleh karena menunjukkan adanya kesepakatan antara dua pihak di mana salah satu pihak mempunyai kekuatan, kuasa atas pihak yang lainnya. Pihak yang lain ini hanya dapat menerima atau menolak tetapi tidak dapat mengubah isi perjanjian. . Gleason L. Archer, “Covenant” Evangelical Dictionary of Theology, (Grand Rapids, M.I. : Baker Book, 1992), hlm. 278.
[4] O. Palmer Robertson memberikan definisi, Covenant is a bond sovereignly administered. When God enters into a covenantal relationship with men, he sovereignly institutes a life-and-death bond. A covenant is a bond in blood, or a bond of life and death, sovereignly administered. O. Palmer Robertson, The Christ of the Covenant (Phillipsburg, N.J.: Presbyterian and Reformed Pub, 1980), hlm. 4 dst.
[5] Memang tidak ada kata “Perjanjian” secara eksplisit muncul di dalam Kitab Kejadian, namun prinsip perjanjian ini terlihat secara implisit, yaitu adanya hukum yang menuntut ketaatan yang diberikan Allah kepada manusia (Bd: Kej 2:16-17). Charles Hodge mengatakan bahwa Prinsip ini juga terdapat di dalam Imamat 18:5; Yehezkiel 20:11, 13, 20; Luk. 10:28; Rm. 7:10; Gal. 3:12 oleh karena di dalam semua bagian ini terdapat hukum yang menuju kepada kehidupan. Charles Hodge, Systematic Theology, 3 vols (London: Clarke, 1960), 2:118.
[6] William G. T. Sheed, Dogmatic Theology, 3 vols., 2nd ed (Nashville: Nelson, 1980), 2:360.
[7] Rm. 8:3; Gal. 4:4-5; Ibr. 2:10, 11, 14, 15; 4:15
[8] Mzm. 40:8; Yoh. 10:11; Gal. 1:4; 4:4,5.
[9] Mzm. 40:8,9
[10] Yoh. 10:28; 17:19-22; Ibr. 5:7-9.
[11] Ibr. 10:5
[12] Yes. 42:6,7; Luk. 22:43
[13] Mzm. 16:8-11; Flp. 2:9-11
[14] Yoh. 6:37, 39, 40, 44, 45
[15] Rm. 5:12-21; I Kor. 15:22
[16] Ibr. 7:22
[17] 1Kor. 15:45
[18] Louis Berkhof, Manual of Christian Doctrine, (Grand Rapids, M.I : Baker Book), hlm. 163
[19] Kej. 17:7; Yer. 31:33; 32:38-40; Yeh. 34:23-25, 30, 31; 36:25-28; Ibr. 8:10; 2Kor. 6:16-18
[20] ITim. 2:5; Ibr. 8:8; 9:15; 12:24.
[21] Kej. 6:18.
[22] Kej. 17:7. Bdk. Kel. 6:7; 2Kor. 6:16-18; Why. 21:2-3.
[23] Lih. Ul. 7:7,12. Bdk: 1Raj. 8:23
[24] Rm. 3:20
[25] Gal. 3:24
[26] Yer. 31:31. Bdk: 2Kor. 3:3-6; Ibr. 8:8-9, 13; 9:15.
[27] Pelajari Rm. 4, Gal. 3.
[28] Ibr. 7:20-22, 28; 8:6.
[29] Misalnya pandangan Theologi Dispensasionalis yang menyatakan bahwa pada saat ini hukum Taurat sudah tidak berlaku oleh karena orang percaya sekarang hidup di dalam anugerah. Ciri khas metode penafsiran theologi ini adalah (1) Berusaha mempertahankan penafsiran yang bersifat literal dan (2) berusaha melihat perbedaan antara Israel dan gereja. Jika theologi Kovenan melihat keselamatan sebagai tema yang mempersatukan, maka theologi Dispensasional melihat keselamatan sebagai man-centered dengan satu tujuan, kemuliaan Tuhan. Pengertian lebih lanjut, lihat: Charles C. Ryrie, The Grace of God, (Chicago: Moody Press, 1963), hlm. 46.
[30] Lihat juga: Kej. 17:6-8; Kel. 20:2, 29:45 dst; Im. 11:45; Yer. 32:38; Yeh. 11:20, 34:30 dst., 36:28; 2Kor. 6:16-18; Why. 21:2 dst.


Sumber: www.grii-andhika.org


Profil Pdt. Thomy J. Matakupan:
Pdt. Drs. Thomy Job Matakupan, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1966. Mengambil keputusan menjadi hamba Tuhan pada tahun 1984. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 Umum (Drs.) pada tahun 1989, melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta tahun 1991. Gelar Sarjana Theologi (S.Th.) diperoleh pada tahun 1995. Gelar Master of Divinity (M.Div.) diperoleh juga dari Institusi yang sama pada tahun 2001.
Pada tahun 1995-1996 menggembalakan jemaat di Mimbar Reformed Injili Surabaya, sekaligus mengajar sebagai dosen di Sekolah Theologi Reformed Injili, baik yang berada di Surabaya maupun Malang.
Pada bulan Oktober 1996 dipercayakan menjadi Kepala Perwakilan Lembaga Reformed Injili Indonesia (LRII) perwakilan Yogyakarta dan Gembala Sidang Mimbar Reformed Injili (MRI) Yogyakarta sebagai bagian dari pengembangan pelayanan Gerakan Reformed Injili di Indonesia.
Semenjak bulan Februari 2000 kembali melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), Andhika Surabaya serta menjadi dosen sekaligus Direktur di Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika, dan International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS).
Menikah dengan Ev. Mercy Grace Prealy Putong, S.Th. pada tahun 1998 dan telah dikaruniai seorang putri, Nikita Ilona Putri Matakupan.


Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio.

11 August 2008

Roma 10:1-3: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-7: Umat Pilihan Allah Sejati dan Konsep Pelayanan Sejati

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-6


“Israel” Sejati atau Palsu-7 :
Umat Pilihan Allah Sejati dan Konsep Pelayanan Sejati


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 10:1-3


Setelah mempelajari tentang kegagalan bangsa Israel disebut sebagai kaum pilihan Allah di ayat 30 s/d 33, Paulus kembali melanjutkan pembahasannya tentang alasan konkrit mengapa mereka gagal dan harapan Paulus agar Israel juga diselamatkan di pasal 10 ayat 1 s/d 3.

Setelah menjelaskan bahwa Israel secara bangsa gagal disebut kaum pilihan Allah karena mereka mementingkan perbuatan baik untuk mencapai kebenaran, maka Paulus berharap agar mereka yang telah berdosa supaya diselamatkan. Pada pasal 10 ayat 1, Paulus mengungkapkan, “Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan.” Kata “saudara-saudara” dalam terjemahan King James Version (KJV), New King James Version (NKJV) dan American Standard Version (ASV) menggunakan kata brethren yang berarti saudara-saudara seiman (bukan hanya saudara-saudara sekeluarga). Brethren di sini menunjuk kepada saudara-saudara Yahudi. Kepada saudara-saudara seiman ini, Paulus mengharapkan agar bangsa Israel juga diselamatkan. Hal ini terlihat dari perkataan Paulus, “keinginan hatiku” dan “doaku”. Kata “keinginan hatiku” dalam KJV, NKJV, ASV, ESV, dan ISV diterjemahkan my heart’s desire (=keinginan hatiku). Kata desire dalam bahasa Yunani eudokia berarti kindness, wish, purpose (=kebaikan, pengharapan, tujuan). Ini berarti keinginan agar Israel diselamatkan berasal dari hatinya. Hati merupakan esensi/inti hidup, segala sesuatu berasal dari hati. Tuhan Yesus mengajarkan hal serupa di dalam Injil Matius 15:18, “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” Paulus adalah seorang hamba Tuhan yang setia dan baik hatinya, karena meskipun ia tahu bahwa tidak semua orang Israel adalah umat pilihan Allah, ia dengan hati yang tulus menginginkan mereka diselamatkan. Keinginan ini tidaklah salah, karena keinginan ini nantinya akan memotivasi seseorang untuk semakin giat mengabarkan Injil. Tetapi keinginan tidak boleh sampai memaksa Tuhan untuk menyelamatkan mereka yang tidak dipilih oleh-Nya sejak kekekalan. Adakah kita juga memiliki keinginan hati yang serupa dengan Paulus yaitu rindu agar bangsa ini (Indonesia) diselamatkan Tuhan, meskipun ada beberapa yang tidak dipilih Allah ? Bukan hanya keinginan hati Paulus yang menginginkan Israel diselamatkan, doa Paulus pun juga memohon kepada Tuhan agar Israel diselamatkan. Kata “doa” dalam KJV diterjemahkan prayer. Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menerjemahkan kata ini sebagai permohonan (halaman 852). Keinginan hati Paulus mengakibatkan ia berdoa dan memohon kepada Tuhan agar Israel diselamatkan. Doa merupakan sarana permohonan belas kasihan dari Tuhan agar Ia melawat umat-Nya. Paulus menggunakan doa sebagai sarana permohonan agar Tuhan berkenan menyelamatkan Israel, meskipun sekali lagi ia tahu bahwa Ia telah memilih beberapa orang untuk diselamatkan, dan menolak sisanya. Predestinasi Allah tidak menyurutkan doa Paulus bagi jiwa-jiwa Israel. Bagaimana dengan kita? Kita seringkali sudah malas memberitakan Injil, malas pula untuk mendoakan mereka yang terhilang dan tersesat dalam dosa. Predestinasi Allah seringkali malahan menyurutkan doa dan semangat kita dalam mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat. Paulus adalah teladan yang Tuhan berikan kepada kita agar kita meneladani semangat dan doanya yang berapi-api demi mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat akibat dosa. Keinginan hati Paulus ditambah doa yang dipanjatkannya merupakan bukti bahwa Paulus adalah hamba Tuhan yang setia dan tulus. Maukah kita meneladaninya? Mari kita mendoakan bangsa ini agar jiwa-jiwa yang tersesat boleh kembali kepada Kristus, dan kita pun juga harus memberitakan Injil.

Meskipun ia ingin dan berdoa agar Israel diselamatkan, ia tetap menyatakan bahwa tidak semua orang Israel diselamatkan. Mengapa ? Hal ini sudah dijelaskan di ayat sebelumnya (9:32) bahwa mereka mengejar perbuatan baik supaya diselamatkan. Lebih dalam lagi, Paulus menyatakan bahwa alasan tidak semua Israel diselamatkan yaitu karena “mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.” (ayat 2) Kata “sungguh-sungguh giat” dalam KJV diterjemahkan “have a zeal of God” (=memiliki semangat yang berkobar-kobar bagi Allah). Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) menerjemahkan, “bersemangat sekali mengabdi kepada Allah.” Kata ini bisa diterjemahkan bahwa bangsa Israel giat dan rajin beribadah, semangat melayani Tuhan, rajin berpuasa dan berdoa, dan dalam kegiatan-kegiatan religius lainnya. Dari Perjanjian Lama, kita banyak mendapatkan gambaran tersebut, mereka rajin berpuasa, berdoa, belajar Taurat, melayani Tuhan, dll, bahkan tidak pernah lupa untuk mempersembahkan korban bagi Tuhan. Tetapi apa motivasi mereka? Apakah mereka melakukan itu karena didasari oleh motivasi hati yang mencintai Tuhan? TIDAK! Justru, mereka melakukan itu BUKAN dengan motivasi hati yang mencintai Tuhan, tetapi dengan harapan agar Tuhan memberkati mereka dan Tuhan membenarkan mereka. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa mereka bersemangat bagi Allah tetapi “tanpa pengertian yang benar.” Pernyataan “tanpa pengertian yang benar” dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) kurang tepat. BIS menerjemahkan, “tidak berdasarkan pengetahuan yang dari Allah.” KJV, ESV, ASV dan NKJV menerjemahkan, “not according to knowledge.” Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear (2003) menerjemahkannya, “tidak menurut pengetahuan (yang benar)” (halaman 852). Artinya, mereka rajin beribadah dan melayani Tuhan, tetapi sayangnya semangat mereka hanya semangat emosional tanpa didasari oleh motivasi hati yang sesuai dengan Kebenaran Allah. Semangat menggebu-gebu dalam melayani Tuhan dan beribadah TIDAKlah salah, tetapi akan sangat berbahaya jika tanpa didasarkan pada motivasi hati dan pengertian Kebenaran Allah. Hal ini sudah dibukakan oleh Tuhan sejak Perjanjian Lama. Di dalam Yesaya 29:13, Tuhan Allah berfirman, “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” Di dalam Amos 5:21-24, Tuhan bersabda, “"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."” Dari dua nats Perjanjian Lama, Tuhan membukakan inti ibadah sejati, yaitu bersumber dari motivasi hati dan pengertian yang benar akan Allah dan Firman-Nya. Bagaimana dengan kita ? Di zaman postmodern, kita diterpa oleh dua macam arus keKristenan yang ekstrim. Di satu sisi, golongan Kristen kontemporer sangat giat melayani Tuhan, berapi-api memberitakan Injil, dll, tetapi sayangnya mereka kurang belajar Firman Tuhan. Semangat mereka hanyalah emosional, menggebu-gebu, tetapi percayalah, semangat seperti itu hanya sementara saja. Ketika bahaya mengancam hidupnya, orang yang tadinya semangat melayani Tuhan akan menjadi kendor dan lebih parahnya, bisa menghujat Tuhan. Di sisi lain, golongan Kristen Reformed banyak belajar Firman Tuhan, mengerti banyak theologia, tetapi sayangnya mereka tidak bersemangat lagi memberitakan Injil. Mereka hanya pintar berdebat theologia, adu argumentasi, dll, tetapi hati dan semangat mereka kering dan statis. Kedua arus ekstrim ini tentu salah. Tuhan menginginkan kita seimbang. Paulus sendiri TIDAK melarang kita memiliki semangat yang berapi-api dalam melayani Tuhan, mengapa ? Karena Paulus pun yang sudah mengerti banyak doktrin Firman Allah tetap konsisten dan berapi-api melayani Tuhan. Tuhan melalui Paulus mengingatkan kita untuk belajar Firman Tuhan dahulu baru setelah itu kita mampu melayani Tuhan dengan semangat yang benar. Dengan kata lain, pelayanan sejati adalah pelayanan yang berdasarkan pengertian akan kebenaran Firman Tuhan yang mengarahkan dan memimpin semangat kita dalam melayani-Nya. Sehingga, meskipun ada penderitaan, godaan, fitnahan, dll datang menerpa kita, kita tidak akan goyah, malahan kita semakin kuat dan semakin bersemangat melayani Tuhan. Sekali lagi, Paulus adalah teladan kita. Ia mengerti kebenaran Kristus, ia juga giat dan berapi-api melayani Tuhan, sehingga meskipun ia harus menderita aniaya, mengalami karam kapal, dll, ia tidak goyah, malahan ia tetap bersukacita di dalam penjara (latar belakang penulisan Surat Filipi).

Selain itu, umat pilihan Allah sejati di dalam melayani-Nya siap menerima kritik dan pembentukan dari hamba Tuhan dan melalui Firman Tuhan. Dengan kata lain, melayani dengan pengertian yang sesuai dengan Firman Tuhan adalah melayani yang bertumbuh. Di dalam proses melayani, kita juga harus memperhatikan proses pertumbuhan iman dan karakter kita. Artinya, ketika kita melayani, kita harus siap menerima proses dari Tuhan baik melalui Firman-Nya maupun para hamba-Nya yang setia maupun orang-orang Kristen lain yang takut akan Tuhan. Contoh, ketika kita melayani, kita mungkin malas, tidak peduli, bahkan seenaknya sendiri, di saat demikian, ada rekan-rekan pelayanan kita yang menegur kita, atau mungkin hamba Tuhan yang setia menegur kita dan mengarahkan kita agar kita melayani-Nya dengan bertanggungjawab dan sukacita. Itulah yang disebut pelayanan yang bertumbuh. Di dalam proses pertumbuhan itu, kita dituntut untuk tetap mengintrospeksi diri, sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam melayani, terdapat introspeksi diri. Kita tidak boleh cukup puas setelah atau pada saat kita melayani, kita harus terus mengintrospeksi diri kita apakah kita sudah benar-benar memuaskan hati Tuhan atau sebaliknya, mendukakan hati-Nya. Di dalam proses introspeksi diri, kita dituntut untuk siap ditegur dan diubah melalui Firman Tuhan.
Terakhir, pelayanan sejati adalah pelayanan yang integratif. Seringkali kita tidak menyadari bahwa banyaknya pelayanan di gereja yang kita ambil seringkali bukan memuliakan Tuhan, malahan mendukakan hati-Nya. Mengapa ? Karena pelayanan kita tidak integratif. Kapankah itu terjadi ? Ketika kita terlalu sibuk “melayani” Tuhan, sampai-sampai kita lupa berdoa, membaca Alkitab, dll. Orang-orang ini kalau disuruh belajar theologia atau membeli/membaca buku-buku theologia, mereka malas, tetapi kalau disuruh melayani, mereka luar biasa rajin. Yang penting bagi mereka adalah mereka “melayani” tanpa memperdulikan orang lain, apalagi bersekutu dengan Tuhan secara pribadi. Tuhan tidak menginginkan kita menjadi “pelayan” yang egois, tetapi kita dipanggil untuk menjadi pelayan yang berkorban (mengutip istilah dari Pdt. Dr. Stephen Tong). Pelayan yang berkorban adalah pelayan yang mau memperhatikan orang lain dengan memberitakan Injil kepada mereka, menguatkan iman mereka di dalam Kristus, mendoakan mereka. Selain itu, pelayan juga harus rendah hati, artinya pelayan yang TIDAK melupakan waktu bersekutu dengan Tuhan secara pribadi sebagai wujud tindakan patuhnya seorang hamba di hadapan Tuannya yaitu Allah.

Ketiga konsep pelayanan inilah yang harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan sejati. Tetapi sayangnya banyak orang Israel tidak memilikinya. Mengapa ? Alasannya dijelaskan oleh Paulus di ayat 3, “...oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.” Di dalam ayat ini, ada tiga kata “kebenaran” yang diulang dan sejujurnya kata inilah yang menjadi inti dari banyak orang Israel yang tidak diselamatkan, yaitu mereka tidak memiliki kebenaran Allah di dalam proses meskipun setiap hari mereka membaca Taurat. Dalam ayat ini, kita menjumpai ada 2 alasan mengapa mereka tidak memiliki konsep pelayanan yang beres, yaitu :

Pertama, mereka tidak mengenal/mengetahui kebenaran Allah. Kata “kebenaran” yang dipakai di sini dalam bahasa Yunani adalah dikaiosunē berarti righteousness (kebenaran keadilan). Lalu, kata “tidak mengenal” dalam terjemahan Yunani adalah agnoeō berarti tidak mengetahui atau mengabaikan. Dengan kata lain, artinya : mereka mengabaikan (tidak mengetahui) kebenaran keadilan Allah. Bukankah Israel telah menerima wahyu Allah melalui Taurat dan Perjanjian Lama ? Bukankah mereka dari kecil setiap hari mempelajari Taurat? Kembali, Yesaya 29:13 mengingatkan mereka bahwa mereka sebenarnya hanya menghafal Firman Tuhan tanpa mengerti artinya, sehingga yang mereka utamakan selalu perbuatan lahiriah saja, dan bukan hati. Dengan kata lain, mereka tetap dikatakan tidak mengenal kebenaran Allah, meskipun setiap hari belajar Taurat. Orang yang belajar Taurat tidak menjamin orang tersebut mengenal kebenaran Allah. Demikian juga, saat ini, orang yang sudah belajar Alkitab dan theologia sampai gelar Doktor sekalipun tidak menjamin mereka benar-benar mengetahui dan mengenal Firman Allah. Pdt. Dr. Stephen Tong yang menguasai theologia, filsafat, Alkitab, dll pun mengakui bahwa beliau kurang mengerti secara tuntas tentang Kristus. Inilah kerendahan hati seorang hamba Tuhan yang harus diteladani oleh kita. Gelar akademis theologia, pengertian yang komprehensif dan mendalam tidak menjamin kita benar-benar mengetahui kebenaran Allah. Jangan-jangan yang kita mengerti bukan kebenaran Allah, tetapi interpretasi manusia berdosa terhadap kebenaran Allah. Tidak heran, seorang “pendeta” GKI yang juga adalah dosen di STT Jakarta berani mengajarkan bahwa Kristus tidak bangkit, lalu ia menyesal (tidak bertobat) telah mengeluarkan pernyataan itu di dalam tulisannya di sebuah surat kabar. Jangan heran juga seorang “pendeta” gereja mainline yang bergelar Doktor sekalipun akhirnya berani meragukan otoritas Alkitab dan finalitas Kristus. Mereka tidak mengetahui kebenaran karena mereka tidak pernah menghidupi kebenaran itu dan lebih parahnya, mereka sebenarnya tidak pernah diselamatkan (tetapi mengaku diri “selamat” bahkan “pemimpin gereja”). Contoh konkritnya adalah Yudas Iskariot. Yudas Iskariot adalah salah seorang murid Tuhan Yesus yang akhirnya dibuang oleh-Nya. Di dalam kehidupan sehari-hari, para murid Kristus lainnya tidak mengetahui bahwa Yudas bukanlah murid sejati, karena perilaku Yudas hampir sama dengan perilaku para murid-Nya yang lain, tetapi ada satu yang tidak bisa dibohongi yaitu hati. Hati Yudas adalah hati yang busuk, hal ini hanya bisa diketahui oleh Tuhan Yesus di mana Yudas akan menjual-Nya dengan 30 keping perak. Di mata Tuhan, hati itulah yang terpenting dan itu yang tidak bisa menipu. Meskipun banyak orang “Kristen” mengaku diri “Kristen” apalagi para “pemimpin gereja” berani memakai kuasa “pendeta” untuk mengajar hal-hal yang tidak bertanggungjawab, tetapi di hadapan Tuhan, hati mereka tidak bisa menipu, Tuhan akan menghakimi mereka yang munafik. Dan akan jelas kelihatan pada waktunya bahwa mereka yang palsu adalah mereka yang tidak pernah mengetahui kebenaran Firman (meskipun bergelar Doktor “theologia”) dan mereka tersebut sebenarnya tidak pernah diselamatkan.

Kedua, mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri. Bukan hanya tidak mengetahui kebenaran Allah, mereka pun nekat mendirikan kebenaran mereka sendiri. Saya teringat pada perkataan Paulus di dalam 2 Timotius 4:3b yang juga mengatakan hal yang serupa, “mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” Orang yang sudah tidak mengetahui kebenaran Allah, mereka secara otomatis akan melepaskan dirinya dari Allah dan mendirikan kebenaran sendiri. Bagi penulis Amsal, orang yang mendirikan kebenaran sendiri adalah orang tidak percaya kepada Tuhan (Amsal 3:5). Di Perjanjian Lama, banyak ahli Taurat dan orang Farisi adalah contoh konkrit dari orang-orang yang mendirikan kebenaran sendiri. Mereka masih tetap memegang dan mengajar Taurat dan Perjanjian Lama, tetapi hatinya jauh daripada Tuhan. Rasio mereka tidak sesuai dengan hati mereka, dan akibatnya mereka disebut oleh Tuhan Yesus sebagai orang yang munafik (Matius 23). Di Perjanjian Baru, kita menjumpai hal yang serupa, para ahli Taurat tidak henti-hentinya menipu keKristenan, mereka berani mengajar bahwa orang-orang Israel yang sudah Kristen harus tetap disunat. Mereka mau mendirikan kebenaran sendiri. Tetapi puji Tuhan, Ia memakai Paulus untuk menyadarkan kesalahan mereka dan mengajar orang-orang Kristen untuk kembali kepada iman sejati di dalam Kristus saja (Galatia 1:6-10). Di zaman postmodern, gejala ini tidak pernah berhenti. Atas nama hak asasi manusia dan demokrasi plus “mengasihi”, banyak orang “Kristen” bahkan “pemimpin gereja” siap mendirikan kebenaran sendiri. Caranya ? Mudah sekali, cukup meragukan otoritas Alkitab dan finalitas Kristus, mereka sudah siap melakukan aksinya. Bagi mereka yang percaya pada otoritas Alkitab, para penganut “theologia” liberal (baik yang jelas maupun yang terselubung—“theologia” religionum) akan mencapnya sebagai orang yang kurang “cinta kasih”, terlalu sombong dan egois, lalu mendirikan “kebenaran” mereka sendiri yang “mutlak” bahwa kebenaran dan keselamatan bisa didapat di agama lain (tidak hanya di dalam Kristus). Mereka tidak berani mengatakan bahwa Alkitab itu mutlak salah, Kristus bukan Tuhan, dll, tetapi mereka menyamarkan Injil Kristus sejati dengan dalih toleransi antar agama (inklusivisme agama). Berhati-hati lah dengan paham inklusivisme agama, mereka tidak menentang Kekristenan, tetapi esensi sebenarnya mereka menentang Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Mereka menggunakan istilah “keunikan Kristus” (inklusivisme agama) ketimbang finalitas Kristus. Padahal Tuhan Yesus sendiri berfirman bahwa Dia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui Dia (Yohanes 14:6). Sangat jelas kelihatan, para penganut inklusivisme bukan Kristen sejati, tetapi “Kristen” palsu, mengapa ? Karena mereka bukan saja tidak mengetahui kebenaran Firman Allah, mereka lebih parah lagi mendirikan kebenaran sendiri yang terlepas dari Kebenaran Allah. Sekarang, pilihan ada di tangan Anda, maukah Anda kembali kepada Kristus yang adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup ataukah Anda kembali pada pandangan postmodern yang meracuni keKristenan : inklusivisme agama atau “theologia” religionum ? Selanjutnya, silahkan mempertanggungjawabkan apa yang sudah Anda pilih kelak di hadapan Allah !

Lalu, mereka yang tidak mengetahui kebenaran Allah dan mendirikan kebenaran sendiri, pada saat yang sama, mereka juga tidak takluk kepada Allah dan kebenaran-Nya. Kata “takluk” dalam bahasa Yunani hupotassō bisa berarti submit (=menomerduakan, menganggap kurang penting, mematuhi). Dengan kata lain, umat pilihan Allah sejati adalah mereka yang menaklukkan diri mereka di bawah Allah. Menaklukkan di sini berarti menganggap diri mereka kurang penting dan menomerduakan diri dan kepentingan diri lalu menomersatukan dan mementingkan Allah, Firman-Nya dan kehendak-Nya. Tindakan ini bisa terjadi ketika mereka sudah mengetahui kebenaran Allah dan mereka bisa mengetahui kebenaran Allah karena mereka telah dipilih oleh Allah sejak kekekalan. Dengan kata lain, pemilihan Allah mempengaruhi adanya iman dan Kebenaran Firman, lalu berakibat pada sikap tunduk dan taat. Orang yang tidak pernah dipilih Allah akan jelas kelihatan pada waktunya, yaitu meskipun mereka aktif “melayani” Tuhan, berdoa, dll, hidup mereka tidak pernah menTuhankan Kristus, tidak pernah merendahkan diri mereka di hadapan-Nya, dan yang lebih parah membawa ambisi mereka yang berdosa lalu diklaim sebagai beban, visi dari “Tuhan”. Orang yang terus menganggap diri “Kristen” (padahal palsu) adalah mereka yang terkesan aktif “melayani”, suka membawa orang ke gereja yang agak benar, dll, tetapi ketika disuruh berkorban demi Injil, contoh membeli buku-buku theologia yang cukup mahal, belajar theologia, dll, mereka beralasan bahwa itu kurang penting, membuang waktu dan uang. Inikah yang disebut “Kristen”?? Tanda tanya yang besar sekali ! Kalau disuruh baca koran, bukunya Robert T. Kiyosaki, mereka tidak usah disuruh pasti cepat membaca, tetapi kalau disuruh membaca Alkitab, buku-buku theologia yang agak berat, dll, jawaban mereka sungguh “logis”: tidak ada waktu, terlalu sulit, buang-buang uang, dll. Mereka sebenarnya tidak takluk kepada Allah, tetapi mereka menginginkan agar Allah yang harus “takluk” kepada mereka. Tidak heran, mereka berani mengoreksi Alkitab yang bahasanya kurang dapat dimengerti, tetapi mereka sendiri tidak pernah mengoreksi diri mereka yang jauh lebih brengsek. Itulah keanehan manusia berdosa. Orang Kristen mutlak harus bertobat dari sifat kekanak-kanakan ini!

Hari ini, melalui perenungan tiga ayat di dalam pasal 10 ini, sudahkah kita disadarkan tentang bahaya kekanak-kanakan di dalam Kekristenan? Maukah hari ini kita berkomitmen untuk tidak lagi menomersatukan kehendak dan ambisi kita, tetapi menomersatukan Tuhan dan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari? Jangan jadikan komitmen ini sebagai komitmen secara rasio dan perkataan saja, tetapi realisasikanlah komitmen itu dan pertanggungjawabkanlah kelak di hadapan Allah. Jangan sekali-kali bermain-main dengan komitmen kita kepada Allah! Soli Deo Gloria. Amin.

Matius 10:34-38: CHRISTIANITY AND PERSECUTION: The Priority

Ringkasan Khotbah: 2 April 2006

Christianity & Persecution: The Priority
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 10:34-38



Pendahuluan
Tuhan membukakan telah membukakan suatu realita bahwa anak Tuhan sejati itu seperti domba di tengah serigala, hal ini berarti banyak tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi maka di tengah-tengah tantangan itu wajarlah kalau kita menjadi takut. Namun Tuhan tidak ingin ketakutan yang Tuhan tanam itu diterapkan secara salah. Ketakutan itu haruslah diletakkan pada posisi yang tepat, yakni takut hanya pada Tuhan. Takut akan Tuhan itu menjadi dasar hidup kita, hidup akan terjaga dengan baik sebab seluruh pandangan terarah pada Tuhan. Hari ini muncul pendapat yang keliru, yakni dengan menjadi pengikut Kristus maka hidup akan damai sejahtera. Pendapat ini tidak salah namun perhatikan, damai sejahtera yang diberikan oleh Kristus adalah damai sejahtera yang tetap mempunyai rasa takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan dan damai sejahtera haruslah berjalan sinkron namun dunia tidak memahami akan hal ini. Dunia pikir dengan menghilangkan rasa takut maka ia akan merasa damai. Salah! Dalam rasa takut akan Tuhan itulah kita akan mendapatkan damai yang sejati. Hari ini kita akan merenungkan kaitan antara takut akan Tuhan, ordo atau urutan, otoritas, dan prioritas.

I. Order and Priority
Kristus datang tidak membawa damai tetapi Dia datang membawa pedang (Mat. 10:34); Kristus adalah kebenaran sejati maka konsep prioritas itu menjadi sangat penting dan absolut. Segala hal yang terikat dalam ruang dan waktu tidak dapat mencapai segala sesuatu pada waktu dan tempat yang sama di dalam otorisasi yang sama sebab kita tidak berada dalam wilayah kekekalan dimana segala sesuatu tidak mengalami perubahan. Tidak! Kita berada dalam wilayah kesementaraan maka pada detik itu dan di tempat yang sama kita hanya dapat melakukan satu hal saja dan kita harus menyingkirkan yang lain. Ini merupakan suatu keharusan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat karena itu, kita harus menentukan prioritas saat kita mau melangkah dan mengambil suatu keputusan.

Pertanyaannya sekarang adalah apa yang menjadi standar dari prioritas kita? Pada detik yang sama, kenapa kita melakukan A dan menggeser B? Manusia dibatasi oleh ruang dan waktu maka untuk menentukan prioritas kita harus mengerti ordo atau urutan. Sebagian urutan mungkin dapat dibolak-balik namun urutan yang sifatnya struktural tidak boleh dibolak-balik. Sebagai contoh, jenjang sekolah harus dimulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMU kemudian universitas begitu juga dengan hidup manusia harus dimulai dari bayi, bertumbuh menjadi dewasa lalu mati dan tingkatan ini tidak boleh dibolak-balik. Orang berdosa sangat benci dengan ordo karena ordo menyadarkan manusia kalau manusia tidak lebih hanyalah orang-orang terbuang yang seharusnya berada di neraka. Dalam menata suatu urutan maka ada prioritas sehingga kita tahu mana yang diletakkan di urutan pertama, kedua, dan seterusnya. Ingat, Tuhan Yesus datang bukan membawa damai, melainkan pedang maka kalau kita salah menentukan prioritas, pedang itu akan turun atas kita. Orang seringkali tidak sadar apa yang menjadi ordo dan prioritas dalam hidupnya maka tidaklah heran kalau setiap hal yang menjadi keputusannya tidaklah bernilai kekekalan.

Segala hal yang kita kerjakan tak terkecuali hal yang paling kita anggap sepele sekalipun itu tidaklah lepas dari ordo dan prioritas. Sebagai contoh, dalam hal menyapu ruangan itupun harus memperhatikan urutan. Bayangkan, berapa banyak waktu dan tenaga yang terbuang percuma jika menyapu dikerjakan secara sembarangan namun hati-hati, setan dengan segala cara setan berusaha merusak seluruh tatanan, yakni supaya manusia tidak memikirkan prioritas pertama sebab ketika manusia memikirkan prioritas pertama berarti manusia harus kembali pada Tuhan. Tidak ada seorang pun yang dapat men-sahkan apakah sesuatu itu benar atau salah, baik atau jahat, bernilai atau tidak bernilai maka seluruh struktur atau tatanan di dunia ini harus direferensikan kepada Tuhan; semua verifikasi, penentuan dan penilaian tertinggi haruslah dari Tuhan, the true absolute verification sehingga semua keburukan itu akan terbuka di depan mata. Ironisnya, dunia tidak suka akan kebenaran justru sebaliknya hal-hal yang tidak benar dan hina itulah yang dijadikan sebagai standar penilaian. Dunia modern mengukur iman bukan berdasarkan kualitas tapi kuantitas iman. Orang tidak sadar kalau hal ini menjadi suatu kefatalan dari demokrasi kuantitatif. Jumlah banyak tidak dapat dijadikan sebagai standar untuk menentukan kualitas. Perhatikan, demokrasi yang kuantitatif dimana didalamnya mengerahkan massa dalam jumlah banyak maka orang banyak yang mudah dipengaruhi adalah orang yang tidak berkualitas sebaliknya orang yang berkualitas jumlahnya selalu minoritas. Orang lebih suka berada dalam mayoritas karena disana ia merasa damai, orang tidak peduli meski demi kedamaian palsu itu ia berada dalam posisi rendah dan hina bahkan untuk damai palsu itu orang mulai berkompromi dengan dosa. Hendaklah kita mengevaluasi diri sudahkah kita menata ordo dimana ordo itu menjadi penentu dari prioritas hidup kita?

II. Fear, Obedience and Priority
Setelah kita menentukan apa yang terutama dalam hidup kita maka pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang paling kita takuti? Ketakutan merupakan tempat otorisasi ketaatan itu dijalankan; orang yang takut pada Tuhan akan taat sepenuhnya pada Tuhan maka segala sesuatu yang dipikirkan, dikerjakan demi untuk menyenangkan Tuhan semata. Ketakutan membangun ketaatan, pada siapa kita takut maka pada dialah kita akan taat dan apa yang kita takuti akan menjadi prioritas hidup kita. Tuhanlah yang seharusnya menjadi sumber ketakutan dan kepada Dialah kita harus takut dan taat maka Dialah yang harus menjadi prioritas utama hidup kita. Kalau kita mau jujur mengevaluasi diri kita, sesungguhnya kita menyembah pada siapa, siapakah titik tertinggi di dalam iman kita? Hal ini dapat kita lihat dari apa yang menjadi prioritas kita. Ingat, Tuhan datang membawa pedang, Dia menuntut pertanggung jawaban.

Dunia modern telah mengajarkan konsep salah, yakni hidup adalah mengejar damai sejahtera. Perhatikan, damai sejahtera bukan tujuan hidup tapi damai sejahtera yang Tuhan berikan berbeda dengan damai sejahtera yang diberikan oleh dunia. Tuhan Yesus sangat mengasihi umat manusia namun cara Dia mengasihi bukanlah seperti yang dunia ajarkan. Seorang bapa yang baik yang mengasihi anaknya ia akan mendidik anaknya sedemikian rupa demi supaya si anak kembali pada kebenaran bahkan tak sega-segan ia akan menggunakan rotan. Ketakutan tidak diarahkan pada posisi yang sejati akan merusak konsep disiplin dalam diri manusia. Maka dapatlah disimpulkan bahwa ketakutan, ketaatan dan prioritas ini saling berkait erat dimana ketiganya tidak dapat dipisahkan.

Kristus datang ke dunia bukan untuk membawa damai. Hari ini banyak orang yang mengajarkan bahwa Yesus datang ke dunia untuk membawa damai bagi manusia. Tidak! Hal ini ditegaskan oleh Tuhan Yesus sendiri sebanyak dua kali dalam satu kalimat. Tuhan datang ke dunia membawa suatu kebenaran sejati dan Ia mau supaya anak-anak-Nya mengerti siapa otoritas tertinggi dan hanya kepada Dia sajalah orang seharusnya takut. Hari ini, banyak orang yang terjebak dalam konsep duniawi, orang tidak takut pada otoritas sejati, yaitu Kristus Tuhan tapi orang lebih takut pada otoritas yang ada di dunia atau lebih tepatnya orang lebih takut pada iblis daripada takut kepada Tuhan. Ingat, takutlah kepada Dia yang dapat membinasakan tubuh dan roh di neraka. Di satu sisi, iblis memang dapat menganggu dan menyakiti anak-anak Tuhan yang sejati namun perhatikan, iblis tidak akan dapat berbuat sesuatu hal yang berada di luar rencana Tuhan.

Damai yang dirasakan oleh dunia itu sesungguhnya adalah kedamaian yang palsu, yaitu damai karena dosanya tidak dikutak-atik oleh orang lain, damai karena keinginan kita dipenuhi, yakni keinginan tidak ada pertentangan, damai adalah ketika kesulitan datang, kita tidak mengalami kesulitan, damai ketika tidak ada tantangan, damai ketika tidak ada permusuhan. Kedamaian yang ada di tengah dunia ini adalah kedamaian palsu, kedamaian yang sifatnya hanya menyelesaikan nafsu dosa belaka. Ketika orang takut pada otoritas yang salah dan orang taat padanya dengan harapan supaya tidak menimbulkan permusuhan sehingga menimbulkan kedamaian. Di dalam dunia mungkin kita merasa aman dan nyaman tetapi di mata Tuhan kita tidak lebih hanyalah orang-orang terbuang yang di taruh ke dalam neraka. Sebaliknya damai sejati yang Tuhan berikan adalah ketika kita berada di tengah badai gelombang dan tantangan dunia namun disana kita merasakan damai; damai itu kita rasakan pada saat kita menanggalkan dosa, damai itu kita rasakan ketika pada saat kita berkorban demi kemuliaan untuk nama Tuhan. Inilah damai sejati yang Tuhan berikan.

III. One Line Order
Ordo tertinggi dan prioritas utama hidup kita adalah Allah; hanya kepada Dialah kita harus takut dan taat. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah kalau kita harus taat pada Allah apakah itu berarti kita harus melawan orang-orang yang ada di sekeliling kita? Tidak! Pengertian taat kepada Allah disini adalah Allah haruslah berada pada posisi pertama. Ordo harus tertata secara garis lurus dengan Allah di posisi pertama. Ini merupakan prinsip kebenaran sejati, yakni otorisasi tunggal dan otorisasi lain haruslah ditata berdasarkan urutan satu garis. Urutan kebenaran harus berada satu garis linier bukan multiple line. One line order ditunjukkan dan dijalankan di dalam satu kesaksian oleh Allah Tritunggal. Konsep Allah Tritunggal adalah Allah yang tiga dan satu; tiga dapat membentuk garis dan satu – menyebabkan garis itu menjadi satu garis. Alkitab menyatakan Allah Bapa adalah sumber otoritas tertinggi, Dia adalah sumber kebenaran yang menyatakan semua apa yang menjadi arahan, Allah Anak taat pada Allah Bapa, tidak ada apapun yang dikerjakan di diri-Nya sendiri kecuali yang Allah Bapa perintahkan maka tidak ada garis yang menyimpang, Allah Roh Kudus taat pada Allah Bapa dan Allah Anak dan Dia tidak akan melakukan apapun yang dari diri-Nya kecuali apa yang Allah Anak perintahkan. Konsep monoteisme, Allah yang satu maka tidak akan dapat membentuk garis sebab untuk membangun sebuah garis minimum dibutuhkan dua titik. Konsep politeisme, menyembah banyak dewa dimana dalam konsep politeime itu antara dewa A dan dewa B saling bertentangan dan setiap orang bebas memilih dewa mana yang menjadi junjungannya sehingga one line order tidak mungkin terbentuk justru terbentuk multiple lines order.

Kristus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah; Allah Anak dan Allah Roh Kudus masing-masing mempunyai kehendak dan hak namun demi untuk menjalankan one line order, Allah Anak taat pada Allah Bapa dan Allah Roh Kudus taat pada Allah Anak. Lalu bagaimana dengan manusia? Manusia adalah urutan lanjutan daripada one line order yang dinyatakan oleh Allah Tritunggal. Sebagai Anak Allah, kita harus taat pada Allah dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga perjalanan kita taat berada dalam satu garis yang setara selanjutnya anak kita harus taat pada kita sejauh kita taat pada Roh Kudus – Roh Kudus taat pada Anak – Anak taat pada Bapa. Dalam hal ini tidak boleh ada satu garis pun yang menyimpang, semua harus tetap berada dalam urutan dan membentuk satu garis lurus, yakni: Bapa – Anak – Roh Kudus – saya – anak. Ketika saya melawan Allah berarti keluar dari garis ordo maka si anak tidak boleh mengikut pada jalan ayahnya yang telah menyimpang. Si anak harus tetap mempertahankan satu garis lurus itu maka ia harus tetap taat pada Allah Tritunggal. Demi untuk mempertahankan one line order yang adalah garis kebenaran maka ia harus melawan ayahnya. Orang tua yang tidak lagi berada dalam garis ordo kebenaran berhak untuk kita lawan sebab seorang anak haruslah taat pada Tuhan. Karena itu, Tuhan menyatakan Aku datang membawa pedang, Aku memisahkan anak dari ayahnya.

Konsep konfusianisme mengajarkan setiap orang yang lebih tua dari kita mutlak benar dan harus ditaati maka ini merusak tatanan ordo sebab di dalamnya banyak kesalahan yang dianulir. Di dunia kita harus taat pada mereka yang menjadi atasan kita karena ordonya di atas kita namun perhatikan, kita hanya taat padanya sejauh ia taat pada kebenaran Firman, kalau ia mulai menyeleweng dari Tuhan maka janganlah ditaati. Anak Tuhan yang sangat takut pada orang tuanya bahkan karena takutnya ia berani berbuat dosa dan melawan Tuhan maka Tuhan tidak segan menghukum dia. Tuhan merupakan otoritas tertinggi maka hanya kepada-Nya kita harus taat. Sebagai orang tua, pastilah kita tidak akan suka apabila anak kita lebih taat pada pembantu daripada taat pada kita yang adalah orang tuanya, bukan? Konsep ordo yang diajarkan oleh Alkitab ini tidaklah mudah dipahami oleh dunia kecuali kita kembali pada kebenaran Tuhan yang sejati barulah kita dapat memahami kebenaran sejati. Barangsiapa tidak memikul salib-Nya dan mengikut Aku, ia tidak layak; barangsiapa mengasihi ayahnya atau ibunya lebih dari Tuhan maka ia tidak layak bagi-Ku. Hari ini orang mungkin merasa diri rohani, kita telah melayani Tuhan, kita merasa diri layak di hadapan Tuhan maka apa jadinya kalau kalimat “engkau tidak layak bagi-Ku“ dikenakan atas kita? Bukankah itu semua kalimat final yang membuat kita tahu efek dari kalimat tersebut. Biarlah kita mau membongkar seluruh pemikiran konsep duniawi kita dan kembali pada Kristus yang menjadi prioritas utama hidup kita dengan demikian seluruh tatanan hidup dapat tertata dengan indah dan terbentuk satu garis yang terintegrasi. Amin.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber: