27 February 2011

ADA APA DI BALIK PELATIHAN MOTIVASI? (Denny Teguh Sutandio)

ADA APA DI BALIK PELATIHAN MOTIVASI?
Sebuah Tinjauan Kritis Iman Kristen Terhadap Gejala Pelatihan Motivasi


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”
(Kol. 2:8)




Orang Kristen adalah orang yang mengikut Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Sebagai pengikut Kristus, orang Kristen tentu mengarahkan hati dan seluruh hidupnya hanya pada Kristus SAJA. Untuk itulah, Paulus mengingatkan kembali jemaat Kolose dan kita agar hidup kita tetap di dalam Kristus, berakar di dalam-Nya, dibangun di atas-Nya, dan tidak lupa untuk bersyukur (Kol. 2:6-7). Setelah itu, ia mengingatkan kita agar kita tidak mudah ditawan oleh berbagai filsafat dan tradisi manusia berdosa yang melawan Kristus. Di sini, Paulus mengingatkan kita bahwa hidup di dalam Kristus berarti menundukkan segala sesuatu dari hati, pikiran, perkataan, tindakan kepada Kristus dan Alkitab dan MENOLAK semua ajaran dunia yang melawan Kristus (bdk. Rm. 12:2)!

Jika menurut konteks, ajaran yang dimaksud Paulus adalah filsafat Yunani yang beredar waktu itu dan tidak menutup kemungkinan tradisi Yudaisme yang membelenggu, maka ajaran yang sedang merusak zaman kita sekarang adalah Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Gerakan Zaman Baru merupakan sebuah gerakan yang beride gabungan antara filsafat Barat dan filsafat Timur (monisme, pantheisme, Hinduisme dan Buddhisme, mistisisme Oriental, dll). Di dalam gerakan ini, diajarkan bahwa di dalam diri manusia ada sesuatu raksasa yang sedang tidur yang harus dibangkitkan kembali. Di dalam filsafat pantheisme yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah “allah”, itu dikenal sebagai little gods (ilah-ilah kecil). Paham ini menyebar di berbagai bidang, mulai dari pengobatan, olahraga, bisnis, agama, bahkan dalam dunia Kekristenan. Penyebaran paling cepat paham ini adalah melalui pelatihan motivasi. Di dalam pelatihan yang selalu menguras duit yang cukup besar dari para pendaftar ini diajarkan tips-tips untuk membangun semangat orang untuk menjadi kaya, sukses, dll. Oleh karena itu, tentu diperlukan suatu ajaran yang berpusat pada diri dengan mengindoktrinasi mereka bahwa mereka hebat dan ada kekuatan raksasa di dalam diri mereka yang lagi tidur yang harus mereka bangunkan. Selain itu, mereka juga mengindoktrinasi para pendengarnya bahwa setiap mereka harus sukses dan kaya (materialisme). Bahkan jika motivator “Kristen” akan menambahinya dengan ayat-ayat Alkitab (yang tentu saja TIDAK memperhatikan prinsip penafsiran Alkitab yang ketat) untuk mendukung teori mereka. Dengan kata lain, ciri-ciri khas (eksplisit maupun implisit) para pelatih motivasi adalah: humanisme atheis (=berpusat pada diri manusia/antroposentris), Pantheisme (manusia adalah “allah”), menipu realitas, dan materialisme (manusia harus kaya, sukses, dll). Tidak heran, pelatihan motivasi ini sangat digandrungi oleh beberapa gereja “Kristen” yang menganut ajaran (“theologi”) kemakmuran.

Perhatikan perkataan dan slogan mereka ini. Seorang motivator yang terkenal dengan slogan motivasinya, “Dahsyat” yang juga pernah diundang menjadi pembicara seminar/persekutuan businessman di salah satu gereja di Surabaya mengadakan Training for Firewalk Trainers dengan salah satu tujuannya, “Belajar Bagaimana Membuat Seseorang Menjadi Yakin Dapat Berjalan di Atas Bara Api” (http://www.dahsyat.com/events/train-for-firewalk-trainer/). Selain itu, dia juga mengadakan Seminar Life Revolution dengan maksud “Mengembangkan Kepercayaan Diri Secara Utuh, 5 Resep Sukses Anti Gagal, …, Membangunkan “Raksasa” yang Tidur” (http://www.dahsyat.com/events/life-revolution-with-firewalk-experience/)

Seorang motivator yang mengaku “Kristen” yang terkenal dengan slogannya, “Poor is Sin, Giving is Rich” di websitenya mengatakan, “Saya heran mengapa sebagian umat berpandangan lebih mudah percaya bahwa uang itu jahat, Miskin itu baik, bahkan miskin itu Kemuliaan, dibandingkan dengan rancangan Tuhan hidup berkelimpahan atas mereka (bdk. Yer. 29:11, Yoh. 10:10b, Ul. 15:4)? Apakah kita semua ini anak raja melarat? Ironis sekali iman ini. Saya tidak percaya Tuhan menebus kita hanya untuk kemiskinan!” (http://www.tqpartner.com/Detailspecial-partner.php?recordID=3). Dia juga mengatakan, “Kawan katamu adalah doamu. Berhati-hatilah dengan kata-kata yang kita ucapkan. Karena katamu itulah doamu” (http://omahmaria.blogspot.com/2010/01/johan-yan-katamu-itulah-doamu.html).

Lain lagi dengan motivator yang terkenal dengan slogannya, “Success is My Right” mengatakan, “Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita. Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benak kita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku. Kalau kita selalu berkata: "Mana mungkin aku bisa sukses?", "Aku sulit berhasil," maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, "Aku bisa sukses, "Aku mampu," besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan. Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap! Salam sukses luar biasa!!” (http://www.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/3808/Anda_adalah_Apa_yang_Anda_Pikirkan/)

Bagaimana iman Kristen menyoroti fenomena ini? Kita akan meninjau gejala ini sekaligus di dalamnya saya memberikan pengertian jitu tentang motivasi Kristen yang sehat menurut Alkitab.

Sisi positifnya harus diakui, beberapa motivasi mereka baik yaitu memompa semangat kerja dan hidup manusia yang malas dan juga ada beberapa konsep mereka yang baik secara umum untuk membangun mentalitas bangsa kita. Namun harus disadari motivasi dan konsep baik TIDAK berarti itu benar khususnya dari perspektif iman Kristen. Iman Kristen yang berdasarkan Alkitab jelas mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dicipta segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26-27). Ini juga merupakan dasar motivasi Kristen yang sehat berdasarkan Alkitab! Karena sebagai ciptaan-Nya, maka otomatis, manusia hanya mewarisi sifat-sifat Allah secara turunan (manusia hanya mirip Allah) dan TIDAK berarti manusia sama dengan Allah. Mengidentikkan manusia dengan Allah adalah suatu dosa besar dan itulah yang hendak diiming-imingi oleh iblis kepada manusia pertama (Kej. 3:5). Selain dosa, menyamakan manusia dengan Allah mengakibatkan rusaknya citra diri manusia, sehingga akhirnya manusia makin tak menemukan makna hidup. Tontonlah film komedi Bruce Almighty yang diperankan oleh Jim Carrey, di situ Jim Carrey diberi kekuasaan oleh “Tuhan” untuk memiliki dan melakukan segala hal, termasuk menjawab doa, dll, namun apakah Jim Carrey menjadi puas? TIDAK, justru ia menjadi kacau dan pusing (khususnya ketika ia menjawab doa banyak orang) dan terakhir, ia menginginkan agar ia kembali lagi menjadi manusia biasa! Ironis sekali.

Karena diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, tentu tujuan hidup manusia bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk Tuhan, seperti yang dipaparkan oleh Katekismus Singkat Westminster pasal 1 bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati-Nya selama-lamanya. Iman yang berpusat pada Allah ini mengakibatkan kita menyadari bahwa apa pun yang ada pada kita adalah anugerah Allah yang harus dipertanggung jawabkan dengan pimpinan Roh Kudus demi kemuliaan-Nya saja (bdk. Rm. 11:36).

Jika hidup kita telah dipusatkan hanya kepada Allah, maka tentu saja, kita akan berusaha mengerti kehendak dan pimpinan Allah di dalam hidup kita melalui Alktiab dan pencerahan Roh Kudus secara pribadi. Allah menginginkan anak-anak-Nya hidup di dalam kehendak-Nya yang selalu baik baik bagi Allah dan umat-Nya. Sebuah ayat Alkitab yang sudah kita hafal, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Rm. 8:28) Namun perlu digarisbawahi KEBAIKAN menurut standar Allah berbeda dengan standar manusia. Manusia dunia selalu mengukur kebaikan dari apa yang tampak (fenomena) seperti kekayaan, kesuksesan, dll dan banyak orang “Kristen” yang sudah diracuni oleh ajaran kemakmuran (termasuk oleh seorang motivator “Kristen” di atas), mengidentikkan hal itu dengan “berkat Tuhan.” Benarkah sukses dan kaya identik dengan berkat Allah dan miskin diidentikkan dengan dosa? Jika memang benar demikian, bagaimana dengan Tuhan Yesus yang pernah mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat. 8:20)? Apakah Kristus yang miskin berarti Kristus itu berdosa? TIDAK. Di sinilah kegagalan cara berpikir manusia berdosa. KEBAIKAN menurut standar Allah BUKAN diukur dari segi fenomena, tetapi esensi/intinya di mana KEBAIKAN-Nya selalu berkaitan erat dengan belas kasihan, kekudusan, kebenaran, keadilan, keagungan, dan kemuliaan-Nya, sehingga dalam penderitaan mencekam pun, anak-anak-Nya tetap dapat melihat kebaikan Allah. Dengan kata lain, KEBAIKAN Allah TIDAK pernah meniadakan realitas dunia (misalnya penderitaan TIDAK dianggap tidak ada, tetapi dianggap ADA), namun KEBAIKAN Allah jauh menerobos melampaui realitas dunia dengan memberikan solusi atas realitas tersebut.

Hidup yang berpusat kepada Allah juga ditandai dengan hidup di dalam pimpinan Allah di mana kita mengizinkan Allah memimpin seluruh langkah hidup kita setiap waktu. Dengan kata lain, kita mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, persis seperti yang diajarkan oleh Yakobus kepada kita, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yak. 4:15) Iman ini jelas BERBEDA total dengan ajaran para motivator di atas yang menekankan bahwa apa yang kita pikirkan dan katakan itulah yang terjadi. Berbeda dari konsep dunia yang mengajarkan, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, maka iman Kristen mengajarkan bahwa apa pun yang kita pikirkan dan katakan, jika Tuhan TIDAK menghendakinya, itu tidak akan pernah terjadi (slogan Kristen: “Di mana ada TUHAN, di situ ada jalan terbaik.”). Meskipun kita berkata di depan cermin seperti orang gila, “Yes, yes, saya hebat dan pintar”, namun jika Tuhan TIDAK menginginkannya, maka percuma saja kata-kata kita di depan cermin itu. Di sini, kedaulatan Allah berperan penting di dalam seluruh aspek kehidupan kita (bukan hanya menguasai pikiran kita saja khususnya ketika belajar theologi)!

Secara logika, pelatihan motivasi tersebut apakah mampu membuat semua orang berhasil dengan cara-cara mereka? TIDAK! Bahkan mungkin hanya segelintir orang saja yang sukses dengan cara-cara mereka dan orang-orang itulah yang dimintai untuk memberikan testimoni di dalam pelatihan mereka, sedangkan mereka yang gagal menerapkan cara-cara mereka tentu tidak akan disuruh menulis testimoni, hehehe.

Jika demikian, bolehkah orang Kristen mengikuti pelatihan motivasi dari para motivator tersebut? Saya tidak akan menjawab BOLEH atau TIDAK BOLEH. Saya akan mengembalikan semuanya kepada motivasi setiap orang Kristen. Jika Anda adalah orang Kristen yang beres (namun kelebihan duit, hehehe) hanya ingin mendengar pengajaran dari pelatihan motivasi tersebut, silahkan saja mengikutinya, namun pesan saya: berwaspadalah! Sedangkan Anda yang termasuk orang Kristen yang beres yang lagi kekurangan duit, maka jangan menghamburkan duit untuk mengikuti seminar-seminar yang hanya memompa semangat Anda seketika tanpa dasar yang jelas! Jangan mempergunakan uang kita untuk hal-hal sampah, sebaliknya pergunakan uang kita untuk membantu pekerjaan Tuhan di tempat-tempat di mana Tuhan dipermuliakan (gereja yang bertanggungjawab, lembaga misi yang bertanggungjawab, lembaga percetakan Alkitab, persekutuan universitas yang bertanggungjawab, dll)!

Pelatihan motivasi dunia selalu dimulai dari manusia, oleh manusia, dan untuk manusia, sedangkan motivasi menurut Alkitab dibangkitkan mulai dari Allah, oleh Allah, dan bagi Allah selama-lamanya. Sebuah perbedaan mutlak yang harus kita sadari. Bagaimana respons kita? Mengikuti fenomena dunia tanpa seleksi ketat atau kembali kepada Alkitab dan menyoroti fenomena dunia dengan bijak? Biarlah Roh Kudus mendorong semangat hidup kita demi memuliakan-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.

No comments: