28 April 2007

Matius 1:1-6 : THE GENEOLOGY-2


Ringkasan Khotbah : 01 Februari 2004

The Geneology (2)
oleh :Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

Nats: Mat. 1:1-6




Pada umumnya orang tidak suka akan silsilah bahkan cenderung tidak peduli. Hal ini disebabkan karena: 1) orang tidak mengerti kegunaan silsilah sehingga menganggapnya tidak berarti, 2) orang tidak mengenal sebagian besar nama-nama yang tercantum dalam silsilah tersebut. Berbeda kalau kita mengenal setiap nama pastilah silsilah menjadi menarik. Matius menempatkan nama Abraham di posisi signifikan dari keseluruhan silsilah yang dicatatnya karena Matius ingin menegakkan kembali topik “Kerajaan Allah“, The Kingdom of Heaven. Dalam hal ini Matius tidak menggunakan istilah kerajaan Allah tetapi kerajaan surga karena orang Yahudi takut berdosa jika menyebut nama Allah dengan sembarang. Inilah ironisnya manusia yang mempunyai perasaan takut akan Tuhan tapi ketika rasa takut itu mulai hilang orang menjadi tidak peduli apapun.
Akan tetapi dunia modern mulai menampakkan gejala untuk bertindak secara hati-hati dalam melakukan apapun akibatnya orang cenderung untuk tidak berbuat apapun. Padahal berhati-hati dan tidak berbuat merupakan dua hal yang berbeda. Orang yang tidak menggunakan atau tidak melakukan apapun membuktikan satu hal, yaitu manusia ingin lari dari realita. Everything is empty, nothing but nothing, segala sesuatu hampa, manusia hidup di dalam kekosongan itulah yang diajarkan dunia modern sekarang. Dunia selalu memasukkan konsep nihilisme dalam kehidupan nyata seperti yang kita jumpai di dunia arsitektur dengan trend minimalis.
Istilah surga bagi setiap orang mempunyai pengertian berbeda-beda. Bagi orang Indonesia surga berbeda dengan Allah; surga adalah tempat Allah bertahta dan kaum Tionghoa biasa menyebut surga dengan “thien“ (langit). Namun kaum Tionghoa tidak memahami bahwa “thien“ mempunyai pribadi, yakni Tuhan yang berkuasa, Tuhan yang bisa marah ketika melihat umatNya melanggar perintah. Akibatnya mereka mengganti Tuhan yang berkepribadian tersebut dengan orang-orang yang dihormati maka muncullah penyembahan terhadap nenek moyang yang telah meninggal, seperti Kwan Im, Lao Tze, Konfusius, dll. Konsep ini sangat mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari maka wajarlah kalau mereka melihat surga seperti halnya di dunia; kalau di dunia orang punya rumah, uang, kendaraan, dll maka di surgapun demikian juga. Manusia sulit menerima konsep kekekalan dan kesementaraan.
Konsep “kerajaan“ yang dimaksudkan Matius dan yang dituliskannya dalam silsilah bukanlah bersifat sementara melainkan bersifat kekal. Silsilah tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang berkait dengan kekekalan maka orang yang tidak mengerti silsilah pasti kehilangan konsep kekekalan. Semakin modern, dunia semakin tidak peduli silsilah bahkan ingin meniadakan silsilah dengan alasan sepele, yaitu tidak mau repot. Dengan kecanggihan teknologi sekarang, alasan tersebut sangatlah tidak masuk akal karena dibandingkan jaman dulu dimana orang harus berjalan berhari-hari hanya untuk mencatatkan diri masuk dalam silsilah menunjukkan mereka sangat menghargai pentingnya silsilah.
Matius ingin supaya para pembacanya tidak melihat silsilah hanya sekedar catatan urutan nama belaka tetapi di balik silsilah ada rencana kekal Allah, the geneology of the Kingdom of God. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap Matius mempunyai integritas sempurna sajalah yang masuk dalam silsilah dan penulisan itupun bukan secara sembarangan; ada Roh Kudus yang memimpin. Maka bukanlah suatu kebetulan kalau Matius membagi silsilah Kristus menjadi 3 bagian dimana di setiap bagiannya ada 14 keturunan. Kata “memperanakkan“ dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan “melahirkan anak“. Silsilah ditulis agar manusia mempunyai:
1. Kesadaran Sejarah Adanya kekekalan dalam sejarah seharusnya menyadarkan manusia bahwa pergerakan sejarah berada di bawah kendali Allah, yakni demi untuk menggenapkan kerajaanNya di dunia. Sampai hari ini orang Israel masih memperhatikan silsilah yang disebut toledoth. Secara struktur orang Israel sudah kehilangan silsilah sejak mereka dibuang ke Babel dan terserak lagi tahun 70 AD, yaitu ketika jenderal Titus menghancurkan orang Israel. Sejak itulah bangsa Israel mulai terpencar ke seluruh dunia hingga tahun 1948 mulai terbentuk kembali. Meskipun demikian bangsa Israel tidak pernah lupa sejarah, mereka tetap menyusun toledoth/silsilah. Itulah sebabnya ketika nama Abraham tertulis dalam silsilah, mereka langsung mengingat sejarah yang terjadi. Setiap nama menyadarkan kita: 1) Allah sedang menggenap-kan rencanaNya dan 2) manusia mengalami proses sejarah. Hanya manusia yang dapat menghubungkan antara waktu dengan kekekalan.
Dunia modern mulai dipengaruhi oleh filsafat rasionalistik bahwa tidak ada kehidupan lain setelah kematian. Akibatnya, manusia tidak takut akan pertanggung jawaban hidup sehingga manusia bertingkah laku dengan sembarangan. Manusia menurunkan derajatnya sedemikian rupa dan hampir sama seperti binatang. Maka muncullah filosofi humanimal gabungan dari kata human-animal, yakni menyamakan tingkah laku binatang seperti manusia dan sebaliknya. Pemikiran ini sangatlah rendah dan merusak moral manusia, itulah sebabnya orang sulit memahami konsep kekekalan. Hanya manusia, satu-satunya makhluk di dunia yang mempunyai kualitas moral yang terkait dengan proses kekekalan. Kalau kita menyadari akan hal ini maka kita tidak akan melewati hari dengan sia-sia. Alkitab membedakan antara kairos, yakni waktu yang berjalan begitu saja dan kronos, yakni ada makna di dalam waktu yang dilalui. Ingat, kita tidak dapat mengulang sejarah karena itu isilah setiap momen dengan hal-hal bermakna, yaitu demi untuk kemuliaanNya.
2. Kesadaran Ordo Kata “memperanakkan“ disini bukan berarti melahirkan anak. Kata “memperanakkan“ ditulis berulang; Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, dst sehingga setiap nama disebut sebanyak dua kali, berarti ada meaning yang sangat besar. Ingat, setiap kata dalam Alkitab bukan ditulis secara sembarangan tapi setiap kata sarat dengan makna. Dari kata “memperanakkan“ kita dapat melihat posisi seseorang yang berkaitan dengan ordo/urutan struktur vertikal. Kita harus menyadari keberadaan posisi kita, yakni siapa yang berada di atas dan siapa yang berada di bawah dengan demikian kita tidak kehilangan posisi.
Manusia modern tidak suka dengan adanya ordo dan menggantinya dengan networking/jeja-ring yakni posisi yang sejajar. Manusia tidak suka diatur oleh siapapun juga bahkan Tuhan sekalipun; manusia hanya mau mengatur tapi tidak mau diatur. Seorang yang bijak adalah orang yang mau diatur sebelum ia mengatur orang lain. Andaikan, dunia mengerti konsep ordo dengan tepat maka pastilah seluruh tatanan dunia akan terjaga rapi. Namun, dunia tidak suka dengan adanya ordo dan kedaulatan akibatnya dunia makin menuju kehancuran. Hendaklah kita sebagai anak Tuhan sadar akan posisi kita; belajar tunduk pada orang yang berada di atas kita dan tidak semena-mena dengan mereka yang berada di bawah kita, seperti Daud tidak mau membunuh Saul meski ada kesempatan karena ia tahu bagaimanapun juga Saul adalah orang yang harus ia taati. Adanya ordo/urutan inilah yang membuat manusia tidak menyukai silsilah.
3. Kesadaran Pertanggung jawaban Hidup Adalah salah kalau orang menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Tidak! Ada catatan yang harus dipertanggung jawabkan selama hidup kita di dunia; ada catatan sejarah yang membuktikan kalau kita pernah ada di dunia. Kalau kita ada di dunia, berarti tidak akan pernah dapat ditiadakan lalu bagaimana keberadaan kita menjadi sesuatu yang bermakna? Hanya manusia berakal budi yang dapat berpikir tentang “ada/being“ dan hal ini menjadi pergumulan manusia sejak abad pertengahan hingga kini. Para filsuf seperti Heidegger, Nietzsche, dll mengemukakan bahwa “ada“ berarti adanya sesuatu yang “tidak ada“.
“Keberadaan“ selalu menjadi perdebatan manusia di dunia karena manusia tidak dapat menghindar dari keberadaan dirinya. If you are exist and you always be exist, eternally exist. Alkitab menegaskan hidup tanpa makna seperti bunga rumput yang hari ini ada dan besok hilang (Yes. 5:24). Manusia berbeda dengan binatang ataupun rumput kering; keberadaan manusia tidak dapat dihilangkan atau dilupakan begitu saja, dia harus mempertanggung jawabkan setiap yang apa yang dilakukannya selama hidupnya di dunia. Sekali dia ada berarti dia sudah ada dalam sejarah dan silsilah akan mencatatnya sehingga setiap orang dapat melihat hidup kita. Hidup kita lebih mendekat pada kekudusan dan kesalehan ataukah lebih mendekat pada kerusakan moral; hidup kita hanya untuk mengejar keegoisan diri ataukah hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Ingat, pertanggung jawaban hidup bukan hanya ada di dalam sejarah saja melainkan di dalam kekekalan.
4. Kesadaran ada Rencana Allah sejak Kekekalan Konsep kesadaran sejarah, kesadaran ordo dan kesadaran akan adanya pertanggung jawaban masih dapat diterima khalayak umum sebagai suatu realita termasuk orang ateis. Matius melihat silsilah dari sudut pandang masa lampau tapi orang hanya melihat atau menilai dari sudut luarnya saja seperti kesuksesan, kekayaan , jabatan, dll. Ada kesuksean lain yang tidak dapat dilihat manusia, yaitu bagaimana seseorang mempersiapkan hidupnya di dalam kekekalan. Silsilah bukan sekedar sebuah proses kebetulan dalam sejarah; silsilah tidak dapat dirancang atau direncanakan oleh manusia akan tetapi ada otoritas yang lebih tinggi yang mengharuskan silsilah terjadi. Manusia bisa memilih melawan atau taat kehendak Tuhan, seperti memilih sekolah, pekerjaan bahkan agama meskipun secara prinsip Alkitab hanya seseorang yang Tuhan pilih saja yang dapat melihat keselamatan kekal. Hanya satu hal, manusia tidak dapat memilih, yaitu tentang kelahirannya; orang tidak dapat memilih di keluarga siapa ia akan dilahirkan.
Melalui silsilah, kedaulatan Allah yang dinyatakan. Matius ingin menunjukkan bahwa keberadaan kita sudah ada dalam rencana kekal Allah. Tidak ada satu manusiapun yang berhak memilih tempat kelahirannya, termasuk Abraham, Ishak, Yakub, Yehuda, Peres dan nama-nama lain yang tercantum dalam silsilah Yesus Kristus (Mat. 1:1-17). Keberadaan mereka ditetapkan berdasarkan rencana kekal Allah begitu juga dengan perpanjangan umur Hizkia. Silsilah merupakan manifestasi bahwa Allah itu hidup dan Allah bekerja sehingga harus kita sadari keberadaan manusia di dunia bukan karena kebetulan tapi telah direncanakan. Dalam pergerakan sejarah, manusia hanya ada dua pilihan, sebagai pemeran utama atau hanya figuran. Dalam sejarah kerajaan Allah kita harus mengerti dan memahami silsilah sebagai rencana kekal Allah. Dimanakah posisi kita, sebagai pemain utama atau hanya sekedar figuran yang sekedar lewat dan kemudian dilupakan? Ingat, hidup manusia di dunia sangat terbatas maka celakalah kalau kita gagal menghubungkan antara keberadaan kita dengan rencana kekal Allah. Bertobatlah kerajaan Allah sudah dekat.
5. Kesadaran Iman Silsilah kerajaan Allah tidak disusun berdasarkan silsilah lahir. Hanya anak Tuhan yang beriman sejati saja yang dicantum dalam injil Matius; mereka dianggap mempunyai catatan sejarah yang sempurna. Puji Tuhan, Alkitab mencatat sejarah iman secara mendetail sehingga kita dapat meneladaninya. Orang yang mengerti kehendak Tuhan adalah orang yang mempunyai iman yang sejati. Alkitab mencatat berbahagialah engkau yang pergi memberitakan kabar baik sehingga orang dapat percaya; kita akan mendapatkan sukacita sejati ketika ada satu orang bertobat. Karena itu kita harus pergi untuk melaksanakan amanat Agung yang Kristus perintahkan (Mat. 28:19-20) maka silsilah kerajaan Allah tidak akan musnah. Silsilah yang bermakna bukanlah silsilah yang ada nama kita di dunia tapi silsilah sejati adalah ketika ada nama kita di kerajaan Allah.
Kalau kita berada dalam kesadaran iman, mengerti iman yang sejati dan kita tahu berada dalam jalur rencana kekal Allah maka tugas dan tanggung jawab kitalah untuk melanjutkan silsilah kerajaan Allah di dunia. Kesadaran inilah yang membuat Yohanes Pembaptis bisa berkata, “Bertobatlah kerajaan Allah sudah dekat“ dan Tuhan Yesus memberikan amanat AgungNya sehingga silsilah kerajaan Allah tidak berhenti begitu saja. Masih banyak orang di dunia yang hidup dalam kehancuran dan tidak berpengharapan, itu menjadi tugas kita sebagai orang Kristen membawa mereka kepada pengharapan sejati dalam Tuhan. Betapa sukacita hati kita jika melalui kita orang boleh diselamatkan dan hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Sumber :
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2004/20040201.htm

1 comment:

Anonymous said...

Yohanes 5:19
Konteks
Kesaksian Yesus tentang diri-Nya
5:19 Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, j jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
Yohanes 5:30-31
Konteks
5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa a dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, b sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. c 5:31 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; d
Yohanes 7:16
Konteks
7:16 Jawab Yesus kepada mereka: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. x
Yohanes 8:26
Konteks
8:26 Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, x dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia. y "

Kenapa yah umat kristiani masih membandel bilang kalo yesus itu tuhan & jurus selamat, padahal sudah jelas2 dia cuma utusan alias nabi, juga jelas bahwa yesus dibawah kekuasaan allah.