08 March 2007

TUJUH TAHUN (BARU) MASUK SEKOLAH DASAR ? (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

TUJUH TAHUN (BARU) MASUK SEKOLAH DASAR ?
Tinjauan Pemikiran Percepatan Pendidikan

oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.


Jika beberapa puluh tahun yang lalu, dengan begitu ketat sekolah memberlakukan usia 7 tahun masuk SD, maka kini usia itu telah digeser menuju ke usia 6 tahun.

Bahkan ada kecenderungan di dalam pemikiran para insan pendidikan dan orang tua bahwa jika anaknya bisa lebih dini lagi masuk sekolah, akan sangat baik. Artikel kecil ini bukan bermaksud membahas seluruh aspek secara detail, tetapi memberikan wawasan ringkas kepada para insan pendidikan dan orang tua anak, untuk mempertimbangkan beberapa aspek penting pendidikan.

Perlunya Proses
Pertumbuhan manusia membutuhkan proses. Tuhan menciptakan manusia di dalam konteks waktu. Seorang anak harus dikandung 40 minggu sebelum dilahirkan. Bagaimana jika dipercepat hanya 7 bulan saja dan dikeluarkan ? Maka bayi itu memang sudah berbentuk manusia dan mungkin masih bisa hidup dengan berbagai alat bantu. Tetapi tentu proses prematur seperti ini sangat tidak dianjurkan dan bahkan dianggap sebagai suatu problema kelahiran. Ibu bayi ini tidak bisa berbangga dan mengatakan bahwa ia cukup senang karena hanya perlu mengandung 7 bulan dan anaknya sudah bisa lahir selamat dan bisa bertumbuh. Demikian pula perlu proses untuk mencerna berbagai kelengkapan kehidupan yang diberikan melalui pendidikan.

Perkalian tidak diberikan ke anak 3 tahun, dan differensial tidak diberikan ke anak 6 tahun. Tetapi jika kita melihat kecenderungan saat ini, mungkin sudah banyak orang yang sedang memikirkan bagaimana memberikan perkalian ke anak 3 tahun dan rumus differensial ke anak 6 tahun. Bahkan, saat ini ada ide mendidik anak dari sejak di kandungan dengan berbagai pelajaran. Itu bukanlah suatu cara yang bijaksana. Hal demikian menyebabkan anak tidak diberi kesempatan cukup untuk mengembangkan pribadinya dengan wajar. Otaknya dipaksa bekerja keras karena adanya ide bahwa anak bisa dijejali dengan segala pengetahuan tanpa batas.

Konsep tersebut tidak benar. Setiap kehidupan membutuhkan proses. Manusia dicipta oleh Tuhan dengan kebutuhan proses yang lebih teliti dan kompleks dibandingkan binatang. Pakar pendidikan Jean Piaget, yang meneliti perkembangan hidup anak sampai 15 tahun, melihat bahwa secara umum ada kesamaan pertumbuhan anak, dan setiap fase anak mengembangkan pertumbuhan tertentu di dalam kapasitas tertentu. Mempercepat proses pendidikan yang wajar bukanlah pendidikan yang bijaksana. Akibatnya, anak akan mengalami stres yang cukup berat, yang bisa sampai menimbulkan depresi pada anak.

Anak yang terlalu dini masuk SD masih bermasalah khususnya di kelas satu, karena ia belum siap untuk belajar berkonsentrasi, karena ia masih sedang mengembangkan ketrampilan geraknya. Akibatnya, dia akan sulit berkonsentrasi, meskipun secara kemampuan intelektualnya dia sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan. Piaget membagi usia 2-7 tahun sebagai usia Pre-Operational Thought, dan 7-11 adalah Concrete Operational Thought. Titik alih bukan di usia 6 tahun, tetapi 7 tahun. Di sini Sekolah LOGOS menjembatani dengan Pre-Elementary Class, di mana materi SD diberikan dengan format Kindergarten, yang membuat anak bisa dimampukan mengembangkan proses-proses pertumbuhan yang masih perlu ia selesaikan. Dengan demikian, pada saat masuk SD (Elementary) di usia 7 tahun, ia akan sudah bisa belajar dengan baik.


Perlunya Pematangan
Belajar bukan sekedar tahu. Inilah konsep mendasar dalam pendidikan yang saat ini sedang coba digeser dan dibuang. Banyak pakar pendidikan hari ini hanya melihat dunia pendidikan sekedar sebagai penjejalan berbagai bahan. Jangan heran, banyak sarjana yang telah lulus lebih dari 2 tahun sudah tidak bisa lagi mengerjakan pekerjaan matematika SMU. Banyak yang sudah lupa bagiamana menyelesaikan persoalan integral matematika. Hal itu terjadi karena ketika kita belajar, kita bukan dilatih sampai mengerti, tetapi sekedar bisa mengerjakan untuk bisa lulus ujian. Bahkan ada beberapa sekolah memberikan beberapa soal untuk dihafalkan cara penyelesaiannya, tanpa murid mengerti mengapa bisa diselesaikan dengan cara seperti itu. Yang ada adalah sks (sistem-kebut-semalam), dan setelah itu, lupakanlah, karena ujian sudah lewat. Celakanya, semangat seperti ini semakin menurun, sampai-sampai anak di tingkat SD juga berpikiran yang sama.

Pendidikan adalah pembentukan kehidupan. Jika kehidupan dibiasakan hanya sekedar numpang-lewat, maka kehidupan anak-anak kita kelak akan menjadi sangat tumpul. Dan ketika kita menyesal, waktu sudah berjalan dan tak mungkin ditarik kembali. Banyak kegagalan kehidupan sudah dimulai dengan kegagalan kita di sekolah. Sekolah-sekolah yang baik akan berusaha memberikan pematangan yang cukup kepada murid-muridnya. (Lihat artikel lain yang saya tulis tentang “Bagaimana Memilih Sekolah yang Baik ?”)

Orang tua yang baik, akan sangat memperhitungkan waktu untuk pematangan bagi studi anak-anaknya, sehingga tidak menjejali anak dengan berbagai pengetahuan, yang kelihatan hebat, tetapi seluruhnya hanya berada di permukaan.

Studi yang membawa pematangan juga digarap di masa kecil, yaitu untuk anak-anak Kindergarten (TK). Terlalu cepat anak dipindahkan ke SD bukan menjadikan anak itu matang, tetapi bertumbuh secara prematur. Banyak anak-anak seperti ini yang akhirnya terhambat pertumbuhan kedewasaannya dan pematangan mental-spiritualnya. Ia berkembang menjadi anak yang pragmatis di masa remaja kelak. Lebih baik sedikit lebih terlambat di awal dan menjadi matang. Inilah format yang dipilih oleh sekolah LOGOS. Toh, nantinya anak akan mengejar semua temannya jika studinya matang. Anak-anak di Eropa yang di masa SD kelihatannya kalah dengan anak-anak Asia, akhirnya mengejar dengan begitu handal ketika mereka berada di bangku kuliah. Fondasi yang terpasang kokoh menyebabkan mereka mantap bertumbuh.


Perlunya Konseptual
Belajar bukan sekedar tahu bahwa 2 + 2 adalah 4, tetapi mengapa 2 + 2 adalah 4. Ini yang disebut sebagai studi konseptual. Studi konseptual membawa anak mengerti rumus dasarnya, dan mampu menggunakannya di semua keadaan karena ia mengerti secara mendasar. Tetapi hari ini, banyak pendidikan yang sudah meninggalkan studi yang konseptual akibat dikejar oleh semangat pragmatis, keinginan untuk semua serba cepat dan instan.

Begitu banyak penawaran studi akselerasi (percepatan) di mana anak akan cepat mengetahui hasil akhir tanpa mengerti mengapa bisa keluar hasil seperti itu. Akibatnya, jika persoalan digeser dan diubah dari apa yang biasa dia kerjakan, maka ia sama sekali tidak mampu lagi menyelesaikan masalah tersebut. Di sini kita melihat dihasilkannya begitu banyak sarjana yang tidak siap berhadapan dengan berbagai masalah di bidangnya. Banyak siswa dan mahasiswa sudah terbiasa menyelesaikan masalah dan soal-soal pelajaran secara pilihan ganda, sehingga hanya merupakan soal-soal singkat dan tidak mendalam. Jika setiap soal harus diselesaikan dalam dua sampai lima halaman kertas jawaban, tentulah pola pemikiran dan sikap penyelesaian masalah akan sangat berbeda. Untuk ini dibutuhkan waktu yang cukup.

Sekolah LOGOS memberikan tambahan Pre-Elementary Class untuk memberikan waktu pendalaman konsep, sehingga mempersiapkan anak-anak masuk ke SD. Khususnya bagi mereka yang berasal bukan dari Kindergarten LOGOS, membutuhkan pengertian bukan sekedar ilmu pengetahuan, tetapi integrasi konsep spiritual yang mungkin sekali tidak banyak diberikan di tempat lain. Diharapkan dengan demikian pendalaman konsep yang integral membantu anak membangun worldview untuk sukses hidup di masa depan.


Perlunya Keutuhan (Bukan Hanya Bagian atau Aspek Tertentu yang Maju)
Belajar bukan hanya satu aspek dan mengabaikan berbagai aspek yang lain. Kita bersyukur kontribusi Howard Gardner dengan Multiple-Intelligence-nya yang menyadarkan banyak orang bahwa pandai dan sukses bukan hanya tergantung pada matematika dan fisika. Sukses bukan dilihat hanya dari aspek intelektual, tetapi juga sosial, relasional, emosional, dan juga spiritual. Semua ini butuh waktu dan harus dikembangkan secara simultan. Anak terkadang sudah bisa membaca dan berhitung di usia 3 tahun, tetapi bukan berarti ia sudah bisa masuk SD. Ada banyak hal lain yang perlu dia kembangkan juga. Demikian juga nantinya dalam pendidikan selanjutnya, raport atau ijazah seharusnya tidak hanya menunjukkan kehebatan intelektual atau ketrampilan sains, tetapi juga kemampuan sosial, tingkat spiritualitas, dan pengembangan emosi yang matang dari seseorang. Inilah penilaian yang sehat.

Untuk itu semua, dibutuhkan cukup banyak waktu dan perhatian untuk memperkembangkan sebuah kehidupan yang holistik. Jangan bangga jika anak kita genius sekali, karena sangat mungkin ia seorang autis dan tidak bisa berelasi dengan sesama dan bahkan tidak pernah bisa bekerja secara normal di dunia kerja umum.

Demikian pula dari berbagai studi perkembangan anak, maka usia 7 tahun adalah usia yang paling tepat untuk anak pada umumnya masuk ke Sekolah Dasar. Memang ada satu dua perkecualian, tetapi secara umum, pertumbuhan anak secara totalitas hingga usia 6 tahun, masih membutuhkan format Kindergarten untuk menuntaskannya. Di sini sekolah LOGOS memilih untuk memberikan kesempatan pengembangan pribadi anak yang dewasa dan matang secara holistik, bukan hanya dari aspek intelektual atau ketrampilannya, tetapi juga emosinya, spiritualnya, sosialnya, dst.

Bagaimana Anda sebagai insan pendidik dan para orang tua murid mempertimbangkan format dan pendekatan pendidikan yang banyak dipaparkan saat ini ? Apakah Anda cenderung memaksakan percepatan pendidikan pada anak-anak Anda ? Ataukah Anda mulai mempertimbangkan untuk memberikan pendidikan yang lebih tepat, lebih baik, lebih normal, dan lebih manusiawi, sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi pada anak-anak Anda ?

Kiranya Tuhan memberikan kepada setiap kita bijaksana surgawi di dalam memikirkan pendidikan anak-anak kita, agar mereka bisa bertumbuh dan diperlengkapi serta menjadi seperti yang Allah kehendaki. Soli Deo Gloria.


Sumber :
Artikel utama pada brosur pendidikan LOGOS yang dicetak untuk pameran pendidikan KIDO tanggal 24 s/d 28 Januari 2007 di Plaza Tunjungan 3, Convention Hall, Lantai 6, Surabaya.



Profil Pdt. Sutjipto Subeno :
Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. dilahirkan di Jakarta pada tahun 1959. Beliau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan ketika sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro Universitas Trisakti Jakarta. Menyelesaikan studi Sarjana Theologia (S.Th.)-nya di Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta tahun 1995 dan tahun 1996 menyeleselaikan gelar Master of Divinity (M.Div.)-nya di sekolah yang sama.

Setelah pelayanan di Malang dan Madura, sejak tahun 1990 beliau bergabung dengan Kantor Nasional Lembaga Reformed Injili Indonesia di Jakarta. Beliau melayani di bidang literatur yang meliputi penerjemahan dan penerbitan buku-buku teologi. Selain itu beliau juga mengelola Literatur Kristen Momentum di Jl. Tanah Abang III/1 (sejak tahun 1993) dan di Jl. Cideng Timur 5A-5B (sejak tahun 1995).

Beliau ditahbiskan sebagai pendeta pada Mei 1996 dan mulai Juni 1996 menjadi gembala sidang GRII Surabaya. Selain sebagai gembala sidang, saat ini beliau juga sebagai direktur operasional dari penerbitan dan jaringan toko buku Momentum dan direktur International Reformed Evangelical Correspondence Study (IRECS), sebuah sekolah teologi korespondensi untuk awam berbahasa Indonesia dengan jangkauan secara internasional. Selain itu beliau adalah dosen terbang di Sekolah Theologia Reformed Injili (STRI) Jakarta dan Institut Reformed di Jakarta.

Beliau juga banyak melayani khotbah dan seminar di berbagai gereja, persekutuan kampus dan persekutuan kantor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri; seperti Yogyakarta, Palembang, Batam, Singapura, Australia dan Eropa (Jerman dan Belanda).

Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak bernama Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998). Pada tahun 2000, beliau bersama anak-anak Tuhan yang menempuh pendidikan theologia di Sekolah Theologia Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika bergumul masalah pendidikan dan pada tahun 2006, beliau akhirnya mendirikan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education) untuk Playgroup, Kindergarten dan Elementary.

No comments: