16 January 2015

Buku ke-33: "RENDAH HATI DAN KRITIS" (Denny Teguh Sutandio)

Ada dua macam orang Kristen, yaitu ada orang Kristen yang mudah menerima saran dari orang lain, tetapi tidak kritis, sebaliknya ada orang Kristen yang gemar mengkritik orang lain, namun enggan ditegur kesalahannya. Di tengah sikap orang Kristen yang ekstrem, Alkitab mengajar kita untuk seimbang antara rendah hati dan kritis. Bagaimana caranya?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
"RENDAH HATI DAN KRITIS"

oleh: Denny Teguh Sutandio



Penerbit: Sola Scriptura

Harga: Rp 40.000, 00/buku
+ ongkos kirim (tergantung lokasi)



Berminat?
Segera dapatkan buku ini dengan membelinya di:
Denny Teguh Sutandio (0878-5187-3719)


NB:
Buku akan dikirimkan ke alamat pemesan setelah pemesan melakukan transfer biaya pesanannya paling lambat satu minggu setelah pemesan mendapat SMS balasan dari saya.



Apa kata mereka tentang buku ini?
“Saya menyadari keseimbangan adalah sebuah kunci penting dalam kehidupan dan Denny Teguh Sutandio telah menunjukkan bagaimana seharusnya kita sebagai orang Kristen belajar seimbang antara bersikap kritis dan tetap rendah hati. Sangat mudah sekali kita terjerumus hanya ada di salah satu ujungnya saja, entah kritis lalu menjadi sombong atau rendah hati tetapi bersikap acuh tak acuh terhadap dosa. Saya merekomendasikan buku ini sebagai sebuah bacaan yang perlu buat setiap kita yang mau bertumbuh dewasa dalam iman kita.”
Pdt. David Santoso Kosasih, M.Div.
Pendeta di Bright Community Service (BCS) Surabaya/Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Kemayoran, Surabaya


“Tema yang dibahas buku ini merupakan tema yang penting tetapi sering kali terabaikan. Penulis mengajak kita untuk bisa “kritis” bukan “apatis”, tetapi tetap “rendah hati” bukan “rendah diri”. Sehingga ketika kita sudah selesai membaca buku ini dan mau mengaplikasikannya, maka hidup kita akan berubah dan bisa berdampak bagi sesama.” 
Ev. Davy Edwin Hartanto, M.Div.
Pembimbing Pemuda GKA Elyon Satelit, Surabaya

11 January 2015

Book Description-302: THE SPIRITUAL DANGER OF DOING GOOD (Peter K. Greer and Anna Haggard)

Many people are taught that we should do good things. That concept is true, but there is danger of doing good. What are there? How can we solve that danger?

Get the answers in:
Book
THE SPIRITUAL DANGER OF DOING GOOD

by: 
Peter K. Greer, Ph.D. (HC) with
Anna Haggard

Publisher: Bethany House (Baker Publishing Group, Minneapolis, Minnesota)



Doing good things is not a false attitude, but the problem is why we do good things. Spiritual danger of doing good is experienced by the author, Dr. Peter K. Greer when he served God. He found many dangers, such as giving leftovers to loved ones, focusing on doing instead of being, justifying minor moral lapses for a good cause, using the wrong measuring stick to define success, elevating the sacred over the secular, etc. There are 14 spiritual dangers of doing good that is observed by Greer. Every danger is explained by telling Greer’s own previous experience and explaining what the Bible teaches us. In the last chapter, Greer challenges us to observe our heart while we serve God and purify it by spiritual discipline, like: prayer, meditating on God’s Word, etc.



Endorsement:
“Doing good can take its toll on our lives if we aren’t careful. The Spiritual Danger of Doing Good is an honest look at the dangers we all need to avoid as we seek to make a difference.”
Rev. Craig Groeschel, M.Div.
the founding and senior pastor of Life Church who earned Master of Divinity (M.Div.) from Phillips Theological Seminary, U.S.A.

“Insightful, engaging, and eminently readable, The Spiritual Danger of Doing Good will pique the hearts, minds, and consciences of anyone who wants to exchange the perils of doing good for the gratitude and security of remembering why we serve.”
Kim S. Phipps, Ph.D.
President of Messiah College and past chair of Council of Christian Colleges and Universities Board of Directors who holds a Doctor of Philosophy (Ph.D.) in communication studies from Kent State University.

“The Spiritual Danger of Doing Good is a forensic exploration of souls in the center of the serving experience. Peter Greer gives us language on how to be mindful of our internal dynamics while we are externally experiencing our faith. Every Christ-follower should make this book their surgeon before serving.”
Rev. Charley Scandlyn
Campur Pastor of Menlo Park Presbyterian Church



Biography of the authors:
Peter K. Greer, Ph.D. (HC) is president and CEO of HOPE International, a global nonprofit focused on Christ-centered job creation, savings mobilization, and financial training.
Formerly employed by World Relief as the managing director of Urwego, Peter also served as a microfinance advisor in Cambodia and with CARE Zimbabwe implementing fraud protection measures. Peter has a Bachelor of Science (B.S.) from Messiah College; an M.P.P. (Master of Public Policy) from Harvard’s Kennedy School; and an honorary doctorate (Ph.D.) from Erskine College.
Peter coauthored the first faith-based book on microfinance, The Poor Will Be Glad (Zondervan, 2009), and is currently writing The Spiritual Danger of Doing Good (being released 2013)and Mission Drift (being released 2014) with Bethany House Publishers. Peter blogs at www.peterkgreer.com. Follow him on Twitter at @peterkgreer.
Peter resides in Lancaster, Pa., with his wife, Laurel, and their three children.

Anna Haggard is the executive writing assistant at HOPE International, where she collaborates with the president and the marketing department to share HOPE’s message through print and social media. Anna is a graduate of Asbury University and lives in Lancaster, Pennsylvania.

04 January 2015

Resensi Buku-301: KONTEKSTUALISASI: Makna, Metode, dan Model (David J. Hesselgrave, Ph.D. dan Edward Rommen, D.Theol., D.Miss.)

Di dalam theologi Kristen, “kontekstualisasi” adalah salah satu isu penting. Banyak orang Kristen maupun pemimpin gereja dari gereja arus utama memahaminya sebagai suatu upaya mengompromikan Injil dengan budaya masyarakat. Benarkah demikian? Kontekstualisasi seperti apa yang tepat?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
KONTEKSTUALISASI:
Makna, Metode, dan Model

oleh: 
David J. Hesselgrave, Ph.D. dan 
Rev. Edward Rommen, D.Theol., D.Miss.

Penerbit: BPK Gunung Mulia, 2010 (cetakan ke-7)

Penerjemah: Stephen Suleeman



Sebelum membahas isu kontekstualisasi, Dr. David J. Hesselgrave dan Dr. Edward Rommen memaparkan bahwa sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, konsep kontekstualisasi telah ada di mana berita firman Allah maupun Injil disesuaikan dengan konteks masyarakat setempat. Selain itu, sejarah gereja sejak gereja mula-mula hingga Pietisme, konsep ini juga muncul. Namun istilah “kontekstualisasi” menjadi isu penting karena istilah ini pertama kali muncul dalam terbitan Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972 yang bernada liberal. Dari istilah ini, maka konsep “kontekstualisasi” berkembang pesat dan mempengaruhi Eropa, Inggris dan Amerika, Asia, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. Para pencetus ide dan pengajar di berbagai benua/wilayah ini ada yang liberal dan Injili. Hal ini dipaparkan penulis di Bagian B. Kemudian di bagian C, penulis mulai menganalisis konsep kontekstualisasi dengan pendekatan filosofis, theologis, antropologis, hermeneutis, dan komunikasi sambil menunjukkan lemahnya konsep kontekstualisasi yang tidak berpusat pada Alkitab. Lalu, bagaimana memahami kontekstualisasi yang tepat? Di bagian D, penulis membahas tentang kontekstualisasi yang autentik dan relevan dengan tepat berpusat pada Alkitab. Di bagian ini pula, penulis memberikan contoh praktis mengontekstualisasikan Injil bagi budaya Tionghoa, India, orang-orang Muslim (melalui dialog), dan orang Kristen nominal. Biarlah melalui buku ini, orang Kristen mengerti bagaimana memberitakan Injil yang relevan dengan kondisi masyarakat namun tidak meninggalkan inti berita Injil.



Profil para penulis:
David J. Hesselgrave, Ph.D. adalah mantan misionaris ke Jepang dan profesor sekaligus direktur misi di Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A. Saat ini beliau pensiun dan tinggal bersama istrinya, Gertrude di Rockford, Illinois. Beliau menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Minnesota. Beliau menulis banyak buku, termasuk “Communicating Christ Cross-Culturally” dan “Planting Churches Cross-Culturally”.

Rev. Edward Rommen, D.Theol., D.Miss. adalah Pendeta Orthodoks yang melayani di Holy Transfiguration Orthodox Mission di Raleigh, North Carolina. Beliau menyelesaikan studi Doctor of Theologie (D.Theol.) di University of Munich dan Doctor of Missiology (D.Miss.) di Trinity Evangelical Divinity School, U.S.A.

02 January 2015

SAAT Prothumia Camp 2015: "THE BIBLE AND ITS CONTEMPORARY CHALLENGES"

Benarkah Alkitab adalah firman Allah? Bukankah ada kontradiksi di dalam Alkitab? Apa kaitan Alkitab dengan sains? Bagaimana menjawab berbagai keberatan terhadap Alkitab? Temukan jawabannya dalam:

Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Prothumia Camp 2015
“THE BIBLE AND ITS CONTEMPORARY CHALLENGES”






Para Pembicara:
Ø   Ev. Bedjo Lie, Th.M.

Ø   Pdt. Christian Sulistio, Th.D.
Ø   Pdt. Ferry Y. Mamahit, Ph.D.
Ø   Pdt. Irwan Pranoto, Th.M.
Ø   Pdt. Pancha Wig
una Yahya, Th.M.
Ø   Ibu Pdt. Rahmiati Tanudjaja, D.Miss.
Ø   Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.


30 Juni-3 Juli 2014
di Kampus SAAT,
Jalan Bukit Hermon No 1 Tidar Atas, Malang



Tentang SAAT Prothumia Camp 2015:
SAAT Prothumia Camp adalah acara khusus yang dipersembahkan oleh Seminari Alkitab Asia Tenggara bagi para mahasiswa dan pemuda Kristen (usia 18-28 tahun) yang memiliki minat untuk mengenal iman Kristen secara lebih mendalam. Sesuai dengan nama camp ini—prothumia berarti “kesiapan pikiran” (lih. Kis. 17:11; 2Kor. 9:2), acara ini mengkhususkan pada tema-tema doktrinal dan apologetika iman Kristen. Tema-tema yang telah dibahas sebelumnya adalah: God and New Atheism dan Jesus among other Gods”. Sedangkan camp kali ini akan mengangkat topik mengenai Alkitab, yang adalah dasar dari iman dan apologetika Kristen. 
Sejak abad pencerahan hingga era pascamodern ini, keabsahan, kesahihan, dan kekuasaan Alkitab mendapatkan serangan-serangan baik dari pihak orang Kristen maupun non-Kristen. Oleh sebab itu camp ini dirancang untuk menolong para pemuda Kristen dapat lebih berakar dalam pengetahuan tentang doktrin Alkitab sehingga dapat lebih diubahkan menjadi serupa Kristus dan lebih siap dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai Alkitab. 



Bentuk & Tema-Tema Acara:
Sesi Pleno
  • Iman dan Akal Budi: Bagaimana Apologetika dapat Mengubah Hidup Saya dan Anda
  • Inspirasi Alkitab
  • Kanonisasi Alkitab
  • Alkitab dan Pertumbuhan Iman
Sesi Kapita Selekta
  • Ketidakpercayaan Perjanjian Baru
  • Alkitab dan Ilmu Pengetahun: Duet atau Duel?
  • Mengenai Kitab Injil Gnostik
  • Menangani “Kontradiksi” dalam Alkitab
  • Yesus di Luar Perjanjian Baru
  • Konspirasi Pengubahan Alkitab
Talk Show
  • Alkitab dan Berbagai Kritik Terhadapnya
  • Alkitab dan Tantangan Sains Kontemporer
Diskusi Kelompok dan Presentasi 


Kontribusi Peserta:
1 Januari s/d 15 April 2015: Rp 650.000, 00
16 April s/d 31 Mei 2015: Rp 750.000, 00



Pembayaran biaya pendaftaran ke:
Rek BCA KCP Kawi No. 3850403847 a/n Irwan Pranoto dengan berita Prothumia#Nama#Gereja



Sekretariat Panitia:
Sdri. Chika 
Telp. (0341) 559400; HP: 0852 5922 9911 
Email: prothumiacamp@seabs.ac.id



Pendaftaran hanya Via Online
Peserta harus membayar biaya pendaftaran terlebih dahulu dan kemudian bukti transfer harap di-scan/foto/print screen karena filenya akan dipakai sebagai salah satu poin isian wajib dalam formulir ini.


Formulir Pendaftaran Grup:
http://www.seabs.ac.id/ind/prothumia2015/formgrup.php



Check this out:
https://www.youtube.com/watch?v=YavD08F0cE8



Profil Para Pembicara:
Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div., Th.M. adalah Kepala Pusat Kerohanian (Pusroh) dan Dosen Filsafat Agama dan Christian Worldview di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi (S.E.) di UK Petra; Master of Divinity (M.Div.) di SAAT Malang; dan Master of Theology (Th.M.) bidang Theologi Sistematika di Talbot School of Theology, Biola University, U.S.A. Beliau mendapatkan sertifikat dari Ravi Zacharias International Academy of Apologetics, India.

Pdt. Christian Sulistio, S.Th., M.Div., M.Th., Th.D. adalah Dosen Theologi Kontemporer di SAAT Malang. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.), M.Div., dan Magister Theologi (M.Th.) di SAAT Malang dan Doctor of Theology (Th.D.) di Trinity Theological College, Singapore.

Pdt. Ferry Yefta Mamahit, S.Th., M.Div., M.Th., Ph.D. adalah Dosen Misiologi dan Theologi Biblika di SAAT Malang. Beliau menyelesaikan studi S.Th. di Sekolah Tinggi Alkitab Nusantara (STAN), Malang; M.Div. di Asia-Pacific Nazarene Theological Seminary, Filipina; M.Th. di SAAT Malang; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Pretoria, South Africa.

Pdt. Irwan Pranoto, S.T., M.Div., Th.M. adalah Dosen Biblika dan Praktika di SAAT Malang. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Teknik (S.T.) di Universitas Surabaya; M.Div. di SAAT Malang; dan Th.M. di Trinity Theological College, Singapore.

Pdt. Pancha Wiguna Yahya, S.Th., Th.M. adalah Dosen Biblika di SAAT Malang. Beliau menyelesaikan studi S.Th. di SAAT Malang dan Th.M. di Calvin Theological Seminary, U.S.A.

Ibu Pdt. Rahmiati Tanudjaja, S.Th., M.Div., Th.M., D.Miss. adalah Dosen Theologi Sistematika dan Misiologi di SAAT Malang. Beliau menyelesaikan studi S.Th. di SAAT Malang; M.Div., Th.M., dan Doctor of Missiology (D.Miss.) di Reformed Theological Seminary, U.S.A.

Pdt. Yakub Tri Handoko, S.Th., M.A., Th.M. adalah Gembala Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya. Beliau menyelesaikan studi S.Th. di Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya (STAS); Master of Arts (M.A.) in Theological Studies di International Center for Theological Studies (ICTS) Pacet; dan Th.M. di International Theological Seminary, U.S.A. Sejak 2007, beliau sedang mengambil program studi Ph.D. paruh waktu di Evangelische Theologische Faculteit, Belgia.





28 December 2014

Resensi Buku-300: KUASA KATA-KATA DAN KEAJAIBAN ALLAH (editor: John S. Piper dan Justin Taylor)

Setiap manusia pasti berkata-kata di dalam hidupnya, tetapi mereka sering kali tidak menyadari dampak dari perkataan mereka terhadap orang lain. Banyak orang Kristen sendiri kurang memahami tentang perkataan ini, sehingga mereka sering berkata namun tidak memuliakan Allah. Lalu, bagaimana cara berkata sesuatu yang benar sesuai firman-Nya dan memuliakan-Nya?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
KUASA KATA-KATA DAN KEAJAIBAN ALLAH

diedit oleh: Rev. John S. Piper, D.Theol. dan Justin Taylor

Penerbit: Momentum Christian Literature, Surabaya, 2013

Penerjemah: Soemitro Onggosandojo



Di dalam bagian Pendahuluan, Justin Taylor sebagai salah satu editor umum buku ini menjelaskan bahwa setiap kita pasti berkata-kata dan Alkitab dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru mengajar kita tentang kata-kata. Namun masih banyak aspek perkataan yang perlu dibahas dan ini diuraikan oleh masing-masing kontributor di Bab 1 s/d 6. Di Bab 1, Prof. Paul David Tripp, D.Min. memaparkan poin penting bahwa masalah kata-kata adalah masalah hati yang berkaitan dengan Allah. Ketika hati kita berpaut pada Allah dan firman-Nya, maka kita menggunakan perkataan kita untuk memuliakan-Nya dan memperluas Kerajaan Allah, bukan kerajaan kita sendiri dengan cara mengasihi sesama. Namun kita juga harus berhati-hati terhadap bahaya lidah kita dan ini diuraikan oleh Rev. Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D., D.D. di Bab 2 dengan menjelaskan Yakobus 3:1-12 tentang bahaya lidah seperti besi kendali, tali kekang, dan berkat. Jika lidah itu berbahaya, apakah di dalam Kekristenan tidak dikenal istilah kefasihan Kristen (atau fasih lidah)? Tidak. Di bab 3, Rev. John S. Piper, D.Theol. memaparkan fakta penting bahwa kefasihan Kristen itu tidak salah, namun harus memiliki tujuan utama yaitu meninggikan Kristus dan merendahkan manusia. Jika kefasihan Kristen ada, maka di bab 4, Rev. Mark Driscoll, M.A. memimpin kita untuk mengerti kata-kata tajam yang perlu kita ucapkan terhadap orang lain seperti yang Kristus dan para rasul-Nya katakan, namun dengan maksud kasih dan kebenaran. Karena kefasihan Kristen ada, maka di bab 5, Daniel Taylor mengarahkan kita untuk memahami cerita yang membentuk iman yaitu fungsi cerita dalam Alkitab di dalam pembentukan iman Kristen. Dan terakhir, kata-kata tidak bisa dilepaskan dari momen ketika kita memuji Tuhan di dalam nyanyian rohani. Hal inilah yang dipaparkan oleh Rev. Bob Kauflin di bab 6 yang menjelaskan bahwa lagu-lagu pujian bukan menggantikan firman, tetapi melayani firman dengan terus-menerus mengingatkan kita akan kedalaman firman Allah yang agung. Buku ini diakhiri dengan 2 apendiks yang berisi percakapan antara para kontributor berkenaan dengan 6 bab sebelumnya. Biarlah melalui buku ini, kita dipimpin-Nya untuk makin mengerti betapa pentingnya kata-kata yang kita ucapkan demi kemuliaan-Nya.



Endorsement:
“Sebuah buku yang luar biasa yang layak mendapatkan tempat di rak buku setiap komunikator Kristen.”
Rev. Max Lucado, M.A.
Penulis buku “You Are Special” dan seri Wemmicks dan pelayan senior di Oak Hills Church, Texas, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Komunikasi Massa di Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A. dan Master of Arts (M.A.) dalam bidang Biblical and Related Studies di Abilene Christian University, Abilene, Texas, U.S.A.)

“Sebuah cara pandang yang kaya, Alkitabiah, berpusatkan pada Kristus, menarik, dan sangat berguna.”
Rev. Dr. (HC) Randy T. Alcorn, M.A.
Pendiri Eternal Perspective Ministries (EPM) dan penulis buku “Heaven” dan “If God is Good” yang meraig gelar M.A. dalam bidang Studi Biblika di Multnomah University dan mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Western Seminary di Portland, Oregon.

“Iman dan praktik secara indah diintegrasikan dalam buku kumpulan hikmat yang saleh ini.”
Rev. Prof. Michael S. Horton, Ph.D.
Profesor Theologi Sistematika dan Apologetika J. G. Machen di Westminster Seminary, California; Pendeta di the United Reformed Churches of North America; dan anggota dari the Oxford University Union Society, the Royal Institute of Philosophy, the American Academy of Religion, the American Theological Society, dan the Calvin Studies Society. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Biola University; M.A. di Westminster  Seminary California; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Coventry and Wycliffe Hall, Oxford.

“Buku ini sangat diperlukan secara mendesak.”
Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D.
Presiden Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A. dan salah satu pendiri Together for the Gospel bersama Ligon Duncan, Mark Dever, dan C. J. Mahaney. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Samford University, Alabama; Master of Divinity (M.Div.) dan Ph.D. dalam bidang Theologi Sistematika dan Historika di The Southern Baptist Theological Seminary.



Profil para kontributor:
Rev. Prof. Paul David Tripp, M.Div., D.Min. yang lahir di Toledo, Ohio dari orangtua: Bob dan Fae Tripp pada tanggal 12 November 1950 adalah Presiden dari Paul Tripp Ministries. Beliau lulus dari Columbia Bible College (sekarang: Columbia International University) dalam bidang Alkitab dan pendidikan Kristen, kemudian meraih gelar Master of Divinity (M.Div.) dari Philadelphia Theological Seminary (dulu: Reformed Episcopal Seminary) dan gelar Doctor of Ministry (D.Min.) dalam bidang Biblical Counseling dari Westminster Theological Seminary. Beliau juga adalah seorang profesor Theologi Praktika (Konseling) di Westminster Theological Seminary dan pembicara seminar yang terkenal dan telah menulis banyak artikel untuk Journal of Biblical Counseling dan buku Age of Opportunity: A Biblical Guide to Parenting Teens (terjemahan Indonesia: Masa Penuh Kesempatan: Suatu Bimbingan Alkitabiah bagi Orangtua Para Remaja). Dr. Tripp dan istrinya, Luella tinggal di Philadelphia dan memiliki empat orang anak, yaitu: Justin, Ethan, Nicole dan Darnay.

Rev. Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D., D.D. yang lahir tahun 1948 adalah theolog Scottish terkenal di dalam lingkungan Kristen Reformed karena pengajaran, tulisan dan karya editorialnya. Beliau meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Aberdeen dan telah melayani di Church of Scotland pada tahun 1971-2005. Beliau juga mendapat gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Erskine Seminary, U.S.A. Beliau telah melayani sebagai editor bersama the Banner of Truth Trust dan bekerja sebagai seorang pelayan Tuhan di St George's-Tron Church, Glasgow.
Ferguson adalah pelayan senior di First Presbyterian Church di Columbia, South Carolina dan Profesor Theologi Sistematika di Redeemer Seminary di Dallas. Beliau juga adalah anggota dewan dari Alliance of Confessing Evangelicals.
Ferguson adalah teman dari Dr. R. C. Sproul dan telah menjadi pembicara pada beberapa Sproul's Ligonier Conferences. Buku-buku yang telah ditulis, diedit atau disumbangkan oleh beliau antara lain:
John Owen: The Man and His Theology (2003), kontributor tentang John Owen
The Preacher's Commentary - Vol. 21 - Daniel (2002)
The Big Book of Questions & Answers about Jesus (2000)
The Grace of Repentance (Today's Issues) (2000)
Reformed Confessions Harmonized (1999), editor bersama Joel Beeke
Let's Study Mark (1999)
Let's Study Philippians (1998)
Big Book of Questions and Answers (1997)
The Holy Spirit (1997)
Heart for God (1996)
The Christian Life (1996)
Discovering God's Will (1996)
Sermon on the Mount (1996)
The Pundit's Folly (1996)
Grow in Grace (1989)
Children of the Living God (1989)
New Dictionary of Theology (Master Reference Collection) (1988), editor bersama David Wright and J. I. Packer
Daniel (Mastering the Old Testament, Vol 19) (1988)
John Owen on the Christian Life (1987)
Buku-buku beliau yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Momentum adalah: Bertumbuh Dalam Anugerah, Khotbah Di Bukit, Menemukan Kehendak Allah, Hati yang Dipersembahkan Kepada Allah, dan Kehidupan Kristen. Beliau menikah dengan Dorothy dan dikaruniai 4 orang anak yang sudah dewasa.

Rev. John Stephen Piper, B.A., B.D., D.Theol. adalah Pendeta Pengkhotbah dan Visi di Betlehem Baptist Church, Minneapolis, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dari Wheaton College, U.S.A.; Bachelor of Divinity (B.D.) dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.; dan Doctor of Theologie (D.Theol.) dari University of Munich, Munich, Jerman Barat. Disertasinya, Love Your Enemies, diterbitkan oleh Cambridge University Press dan Baker Book House. Beliau menikah dengan Noël dan dikaruniai 5 orang anak dan cucu-cucu yang terus bertambah.

Rev. Mark Driscoll, M.A. yang lahir di Grand Forks, North Dakota, 11 Oktober 1970 adalah Pendeta Pendiri dan pengkhotbah utama di Mars Hill Church, Seattle. Beliau adalah presiden Act 29 Church Planting Network (www.acts29network.org) dan pemimpin The Resurgence Missional Theology Cooperative (www.theresurgence.com). Beliau menyelesaikan studi Bachelor di bidang komunikasi di Washington State University dan Master of Arts (M.A.) dalam bidang Exegetical Theology di Western Seminary, U.S.A. Buku-buku yang beliau tulis, yaitu: “Vintage Jesus”; “Death by Love”; “Vintage Church”; dan “Religion Saves.” Beliau menikah dengan Grace dan dikaruniai 5 orang anak.

Prof. Daniel Taylor, Ph.D. adalah Profesor Literatur dan Kepenulisan di Bethel University, St. Paul, Minnesota sejak tahun 1977. Beliau juga adalah pendiri The Legacy Center (www.thelegacycenter.net) yang mendorong orang-orang dari organisasi untuk mengenali dan melestarikan nilai-nilai dan kisah-kisah yang telah membentuk hidup mereka. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Westmont College, Santa Barbara, California dan M.A. dan Ph.D dalam bidang Inggris di Emory University, Atlanta, Georgia. Beliau baru saja memproduksi bersama The Expanded Bible. Beliau menikah dengan Jay dan dikaruniai 4 orang anak dan 2 cucu perempuan. Beliau menulis beberapa buku, yaitu: “The Myth of Certainty”, “Letters to My Children”, “Tell Me A Story: The Life-Shaping Power of Our Stories”, “In Search of Sacred Places: Looking for Wisdom on Celtic Holy Islands”, dan “Creating a Spiritual Legacy: How to Share Your Stories, Values, and Wisdom”. Beliau telah menikah dan dikaruniai 4 orang anak.

Rev. Bob Kauflin adalah pendeta dan pemimpin ibadah di Covenant Life Church, U.S.A. Beliau juga adalah Direktur Pengembangan Ibadah di Sovereign Grace Ministries. Beliau dahulu bergabung dengan kelompok pemusik rohani GLAD sebagai penggubah lagu selama 8 tahun. Setiap dua tahun, beliau menjadi tuan rumah konferensi Worship God. Beliau menikah dengan Julie dan dikaruniai 6 orang anak dan banyak cucu. Mereka tinggal di Montgomery Village, Md.

Justin Taylor adalah Direktur editorial penerbit Crossway Books di Wheaton, Illinois. Beliau menulis artikel di blog setiap hari di Between Two Worlds. Beliau menikah dengan Lea dan dikaruniai 3 orang anak yang masih kecil.

24 December 2014

Renungan Natal 2014: PARA PEMIMPIN AGAMA DAN KELAHIRAN KRISTUS (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Natal 2014

PARA PEMIMPIN AGAMA DAN KELAHIRAN KRISTUS

oleh: Denny Teguh Sutandio


3Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
4Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
5Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
6Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel."
(Mat. 2:3-6)


Ketika Kristus lahir, ada begitu banyak orang yang meresponinya, salah satunya adalah para pemimpin agama yang terdiri dari para imam kepala dan ahli Taurat. Sebelum kita menyelidiki siapa mereka, mari kita mengerti konteksnya. Injil Matius mencatat kelahiran Kristus begitu singkat yaitu di Matius 1:18-25. Kemudian mulai pasal 2, Matius mencatat 3 golongan orang yang menanggapi berita kelahiran Kristus itu yaitu para orang majus dari Timur, raja Herodes, dan para pemimpin agama. Pada ayat 1-2, Matius mencatat bahwa para majus dari Timur pergi ke Yerusalem dan bertanya-tanya di manakah raja Yahudi itu datang. Menanggapi pertanyaan mereka, Matius mencatat bahwa raja Herodes dan seluruh rakyat Yerusalem terkejut (ay. 3). Kemudian pada ayat 4, raja Herodes mengumpulkan semua imam kepala dan para ahli Taurat untuk meminta keterangan di mana Mesias dilahirkan. Menariknya di ayat 5-6, imam kepala dan para ahli Taurat menjawabnya dengan mengutip Mikha 5:1. Kemudian Herodes memanggil para orang majus dan menyuruh mereka untuk menyelidiki tempatnya agar ia dapat menyembah-Nya (ay. 7), namun itu tak pernah dilakukannya (ay. 16-18). Pertanyaannya siapakah imam kepala dan para ahli Taurat yang muncul di ayat 4-6 ini?

Kata “imam kepala” dalam ayat 4 dalam teks Yunaninya ρχιερες (archiereis) yang berasal dari kata ρχιερες (archiereus) yang berarti “para imam kepala” (bentuk jamak) yang merujuk pada “para anggota Sanhedrin yang termasuk keluarga imam kepala” (Mat. 2:4; Luk. 23:13; Kis. 4:23) dan imam kepala sendiri (bentuk tunggal) merupakan kepala agama Yahudi dan presiden Sanhedrin (Mrk. 14:60 dst, 63; Yoh. 18:19, 22, 24). Sanhedrin berasal dari kata “sun” yang berarti “bersama” dan “hendra” berarti “tempat duduk”. Sanhedrin, sebelum dan pada masa Kristus, merupakan nama bagi pengadilan Yahudi tertinggi yang terdiri dari 71 anggota, di Yerusalem, dan juga bagi pengadilan lebih rendah yang terdiri dari 23 anggota di mana di Yerusalem ada 2. Mereka bertugas mengadili seseorang dalam hal sipil maupun kriminal sesuai hukum Taurat.[1]

Lalu, siapakah ahli Taurat? Kata Yunani yang dipakai adalah γραμματες (grammateis) yang berasal dari kata γραμματες (grammateus) yang dalam konteks ini merujuk pada para ahli Taurat Yahudi. Mereka dapat membaca dan menulis, sehingga mereka bekerja sebagai guru dan panitera. Karena bagi orang Yahudi, Taurat begitu penting, maka para ahli Taurat ini sering menduduki posisi sebagai pemimpin.

Dengan kata lain, tatkala raja Herodes bertanya kepada para imam kepala dan ahli Taurat tentang di mana kelahiran raja Yahudi, ia sedang bertanya kepada pemimpin agama Yahudi baik secara pengadilan maupun theologi. Jika mau diibaratkan di zaman sekarang (meskipun tidak sama persis), para imam kepala seperti para pendeta dan para ahli Taurat seperti para theolog Biblika yang berkutat dengan hal-hal seputar Alkitab secara mendetail. Bayangkan mereka yang menguasai hukum agama dan theologi sangat menguasai di mana kelahiran Mesias, raja Yahudi di mana mereka mengutip Mikha 5:1 sebagai dasarnya, namun apa respons mereka setelah mengetahui informasi tersebut? Injil Matius tidak mencatat reaksi apa pun dari mereka. Ini berarti bahwa mereka mengerti secara theologi dan Taurat bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, namun mereka tidak menanggapi apa yang mereka mengerti. Mengapa saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak menanggapi? Coba dramatisir konteks Matius 2:3-6.

Bayangkan Anda adalah orang Israel yang sedang dijajah oleh pemerintahan Romawi dan Anda menginginkan seorang Mesias yang akan membebaskan Anda. Kemudian datanglah para orang majus mengabarkan tentang ada bintang di langit di Israel yang memberi tahukan ada Mesias, raja Yahudi lahir. Lalu, raja Herodes yang ditanyai para orang Majus itu akhirnya memanggil para imam dan ahli Taurat untuk bertanya kepada mereka tentang lokasi kelahiran Mesias dan mereka sudah menjawabnya. Jika Anda menjadi para imam kepala dan ahli Taurat, apa yang akan Anda lakukan? Setelah Anda menjawab lokasinya dengan mengutip ayat di PL, bukankah Anda langsung berkata kepada Herodes atau para orang Majus itu agar Anda juga ikut ke Betlehem untuk menjumpai Mesias itu? Bukankah itu reaksi normal seorang yang benar-benar merindukan kedatangan Sang Pembebas Israel? Namun sayangnya mereka tidak melakukannya. Mengapa? Kita perlu mengerti konsep Yahudi tentang Mesias di zaman Tuhan Yesus.

Orang Israel di zaman Tuhan Yesus mengharapkan sosok Mesias sebagai pembebas politik, bukan Pembebas dari dosa. Di dalam pikiran mereka, mereka hanya memikirkan keuntungan jasmani yaitu kemakmuran, pembebasan, dll. Jangan heran, ketika Ia melakukan mukjizat memberi makan untuk 5000 orang, orang-orang Yahudi ingin mendudukkan-Nya sebagai raja (Yoh. 6:15). Dari konsep ini, maka tidak heran pula, para pemimpin agama Yahudi yang mencakup para imam kepala dan ahli Taurat yang mengerti Taurat tentang di mana Mesias dilahirkan tanpa memberi respons apa pun tentang Mesias.

Apa yang dapat kita pelajari dari respons para imam kepala dan ahli Taurat terhadap kelahiran Kristus? Mereka mengajar kita tentang respons yang buruk terhadap kelahiran Kristus. Mereka hanya pandai mengutip ayat dalam Perjanjian Lama tentang lokasi kelahiran Mesias, tetapi mereka tidak pernah datang sendiri kepada Mesias, bahkan mereka akhirnya menyalibkan-Nya. Ini berarti tidak semua orang yang menguasai theologi dan berjubah pemimpin agama benar-benar mengasihi Allah dan melayani-Nya. Saya tidak anti belajar theologi, karena belajar theologi itu sangat penting bagi pertumbuhan iman Kristen. Yang saya soroti adalah bahaya terlalu belajar theologi dan pandai mengutip ayat Alkitab sini sana, tetapi tidak benar-benar mengenal Kristus yang diberitakan dalam Alkitab. Saya teringat perkataan Prof. J. I. Packer, D.Phil. yang membedakan antara mengenal Allah vs mengenal tentang Allah. Beliau mengatakan bahwa banyak orang dapat mengetahui tentang Allah, tanpa benar-benar mengetahui/mengenal-Nya dan banyak orang dapat mengetahui banyak kesalehan tanpa benar-benar mengenal-Nya.[2] Mereka sangat memahami doktrin Allah, Alkitab, Kristus, Roh Kudus, dll dan sudah membaca Alkitab puluhan kali, namun sayangnya mereka hanya sebatas mengenal tentang Allah, bukan mengenal Allah. Artinya, Allah bukan menjadi Raja dan Pemimpin hidupnya, tetapi sebagai objek pengetahuan theologi semata.

Di Indonesia, hal yang sama juga menjadi pelajaran bagi kita. Ada sekelompok orang Kristen yang anti theologi, namun ada sekelompok orang Kristen yang tergila-gila dengan theologi. Mereka yang sangat menggemari theologi tentu tidak salah, namun bahayanya adalah mereka terlalu mengukur segala sesuatu, bahkan hal-hal yang sangat remeh sekalipun dari theologi. Tidak ada salahnya mengkritisi dunia, namun berhati-hatilah dalam mengkritisi: apa yang kita kritisi, sejauh mana kita memahami apa yang kita kritisi, dan apakah yang kita kritisi itu benar-benar signifikan untuk dikritisi atau semata-mata karena kita kurang kerjaan, maka kita menjadi tukang kritik sini sana. Mayoritas (tidak semua) orang yang suka kritik sini sana adalah orang yang tidak mau mengkritik diri. Sungguh sangat disayangkan. Tidak usah jauh-jauh, gejala ini sudah ada di zaman Tuhan Yesus, para ahli Taurat yang rajin menyelidiki Taurat mengkritik Yesus, namun ketika giliran mereka yang dikritik Kristus di Matius 23, mereka marah.

Sekarang, bagaimana dengan Anda yang membaca artikel ini? Apa respons Anda terhadap kelahiran Kristus? Apakah Anda meneladani sikap para pemimpin agama ini ataukah Anda meneladani sikap para orang majus yang tidak mengerti Taurat, namun memiliki fokus yang jelas yaitu menyembah Mesias (Mat. 2:2)? Biarlah Natal ini bukan hanya menjadi peringatan akan pengetahuan Alkitab kita tentang kelahiran Kristus, tanggal berapa Kristus lahir, dll, tetapi menjadi momen di mana kita benar-benar datang sendiri ke tempat Kristus dilahirkan itu yaitu dengan mengalami-Nya di dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Amin. Soli Deo Gloria.










[1] James Orr, M.A., D.D., The International Standard Bible Encyclopedia : 1915 Edition, ed. James Orr (Albany, OR: Ages Software, 1999).
[2] J. I. Packer, Knowing God: Tuntunan Praktis Untuk Mengenal Allah, terj. Johny The (Yogyakarta: ANDI, 2002), 15-6.