09 November 2014

Resensi Buku-293: THE SACRED SEARCH (Rev. Gary L. Thomas, D.D.)

Dunia kawula muda identik dengan pencarian identitas diri yang salah satunya ditandai dengan masa pacaran lalu diakhiri dengan pernikahan, namun sering kali pernikahan mereka tidak bahagia karena mereka kurang memahami prinsip mencari pasangan hidup yang berkenan di hadapan Allah. Bagaimana caranya mencari pasangan hidup yang tepat di hadapan Allah?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
THE SACRED SEARCH:
Pencarian Pasangan Hidup yang Kudus

oleh: Rev. Gary L. Thomas, D.D.

Penerbit: Literatur Perkantas Jatim, Surabaya, 2013

Penerjemah: Paksi Ekanto Putro



Di dalam bukunya, Rev. Dr. Gary L. Thomas menuntun kita untuk mengerti bahwa pernikahan bukan sekadar dengan siapa yang kita menikah, tetapi mengapa kita menikah. Beliau memulai menjelaskan bagian ini dengan memaparkan bahwa pacaran bukan sekadar perasaan chemistry, karena perasaan itu akan hilang tatkala kita menikah nantinya. Oleh karena itu, Dr. Thomas menyarankan kita untuk tidak terus menekankan perasaan itu lagi dan mencoba membangun pengertian prinsip mencari pasangan hidup yang tepat di hadapan Allah yaitu mencari Allah dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, Dr. Thomas mengajar kita untuk mencari sole mate (bukan sekadar soul mate) yang berpusat pada Allah. Dari mana kita mendapatkan sole mate itu? Beberapa orang Kristen menafsirkan bahwa sole mate itu dari Allah dengan mengutip contoh Ishak dan Ribka, lalu mereka menjadi seorang yang pasif menunggu pasangan itu datang sendiri kepada kita. Dr. Thomas menolak konsep ini dan menyarankan para pembicara untuk aktif mencari pasangan kita dengan pertolongan Allah. Lalu, beliau mengarahkan kita untuk menentukan termasuk gaya manakah Anda di dalam mencari pasangan: apakah Anda mencari pasangan yang rohani atau sekadar cantik, dll? Dari gaya ini, mari kita memikirkan bersama, bahwa untuk melangkah ke pernikahan, tidak cukup bermodal cantik, tetapi kita bisa tepat menjadi suami atau istri serta orangtua bagi anak-anak kita. Dari sini, Dr. Thomas mengarahkan kita untuk memikirkan tentang membangun sebuah pernikahan yaitu dengan bersama-sama: rendah hati, mengampuni, menangani konflik dengan cara yang sehat, berkomunikasi, berdoa, memiliki dan mempertahankan para kawannya. Demi membangun pernikahan ini, masing-masing kita harus sepakat dalam satu hal yaitu peran suami dan istri, apakah suami harus menjadi pemimpin atau suami dan istri memiliki peran yang sama dalam pernikahan. Hal lain yang perlu diperhatikan di dalam mencari pasangan adalah kita sedang mencari pelengkap, bukan seorang yang mirip seperti kita. Oleh karena itu, perlu berhati-hati di dalam mencarinya dan binalah komunikasi sedekat dan seintim mungkin serta mengenal masing-masing pribadi, sehingga kita tidak terkaget-kaget dengan kebiasaan atau cara hidup pasangan kita tatkala kita menikah nantinya. Bagaimana jika di dalam pacaran, kita tidak menemukan kecocokan dengan pasangan kita? Dr. Thomas menyarankan kita agar tidak menikah dengan pasangan kita karena kasihan, tetapi menikahlah karena kita ingin menikah, sehingga jika kita menemukan ketidakcocokan dengan standar pilihan kita, maka segeralah putus dengan pasangan kita. Meskipun menyakitkan, itu lebih baik daripada menikahi pasangan kita dengan rasa kasihan. Akhir kata, Dr. Thomas menyarankan para pembaca yang single untuk benar-benar menggumulkan tentang mencari pasangan hidup yang mencari Allah dan kehendak-Nya, sehingga kita menjadi keluarga-keluarga Allah yang berkenan di hadapan-Nya.



Rekomendasi:
“Gary Thomas menepis mitos pencarian akan seorang soul mate dan menolong Anda untuk memilih seorang ‘sole mate’—seseorang yang akan ‘memercayakan hidupnya’ dalam kasih yang penuh kesetiaan. Buku yang berdasarkan pada Alkitab ini diperuntukkan bagi siapa pun yang ingin menjadi bijak dalam mencari seorang pasangan hidup bagi dirinya.”
Prof. Les Parrott III, Ph.D. dan Dr. Leslie Parrott
Pengarang buku Saving Your Marriage Before It Starts dan Profesor Psikologi Klinis sekaligus mendirikan the Center for Relationship Development di Seattle Pacific University dan Penulis Relationships dan Saving Your Marriage Before It Starts; Master of Arts (M.A.) dalam bidang Theologi dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dalam bidang Psikologi Klinis dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.)

“Gary Thomas telah menghabiskan waktu berjam-jam bekerja bersama pria dan wanita muda di sepanjang perjalanan mereka menempuh jalur sulit kehidupan pernikahan di abad dua puluh satu. The Sacred Search akan menolong orang-orang yang merindukan pernikahan untuk dapat memperdalam iman, menghormati Allah, dan memberkati pasangan mereka nantinya di masa depan.”
Jim Daly, D.Litt. (HC)
Presiden Focus on the Family yang menyelesaikan studi Bachelor of Science (B.S.) dalam bidang Business Administration dari California State University, San Bernardino; Master of Business Administration (M.B.A.) dalam bidang International Business di Regis University in Denver; dan dianugerahi gelar Doctor of Letters (D.Litt.) dari Colorado Christian University, Denver.

“Kaum lajang, perhatian baik-baik. Gary memahami dunia pernikahan dan ingin menolong orang-orang yang merindukan pernikahan untuk sampai ke sana dengan penuh keyakinan dan rahmat.”
Lisa Anderson
Direktur Departemen Dewasa Muda Program Focus on the Family dan pembawa acara The Boundless Show (www.boundless.org)



Profil Rev. Dr. Gary L. Thomas:
Rev. Gary L. Thomas, M.C.S., D.D. (HC) adalah Writer in Residence di Second Baptist Church, pendiri sekaligus direktur dari The Center for Evangelical Spirituality, dan adjunct faculty di Western Seminary, Portland, Oregon, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang English literature di Western Washington University; Master of Christian Studies (M.C.S.) dengan konsentrasi dalam bidang Theologi Sistematika di Regent College, Vancouver, B.C., di mana beliau belajar di bawah Dr. J. I. Packer, dan pada tahun 2006, beliau dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Western Seminary di Portland, Oregon. Beliau telah menikah dan dikaruniai 3 orang anak. Mereka tinggal di Houston, Texas, U.S.A.

05 November 2014

Rekaman Khotbah Kebaktian Umum GKRI Exodus, Surabaya: "MENGHUJAT ROH KUDUS" (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

Di dalam Injil, kita menemukan ada dosa menghujat Roh Kudus. Apa maksudnya? Apakah orang Kristen dapat melakukan dosa ini?

Temukan jawabannya dalam:
Rekaman Khotbah
Kebaktian Umum GKRI Exodus, Surabaya:
“MENGHUJAT ROH KUDUS”

oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.


dengan mendownload link di bawah ini:
https://www.dropbox.com/s/axrxgebsm1cx1pl/MENGHUJAT%20ROH%20KUDUS%20%28Pdt.%20YTH%2014%20Sept.%202014%29.wav?dl=0


Tolong sebarkan pesan ini kepada saudara/i Kristen lainnya agar mereka dapat mendapat berkat firman Tuhan ini. Terima kasih. Kiranya Tuhan memberkati.



02 November 2014

Resensi Buku-292: TUJUH HARI YANG MEMBAGI DUNIA (Prof. John C. Lennox, Ph.D., D.Phil., D.Sc.)

Konsep penciptaan adalah konsep yang telah lama diajarkan Alkitab sejak kitab Kejadian, namun pengertian konsep penciptaan sering kali menjadi perdebatan yang tak pernah habis. Apakah 6 hari penciptaan (ditambah hari terakhir di mana Allah beristirahat) dimengerti secara harfiah atau simbolis?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
SEVEN DAYS THAT DIVIDE THE WORLD
(TUJUH HARI YANG MEMBAGI DUNIA):
Permulaan Dunia Menurut Kitab Kejadian dan Sains

oleh: Prof. John C. Lennox, Ph.D., D.Phil., D.Sc.

Penerjemah: Paksi Ekanto Putro

Penerbit: Literatur Perkantas Jawa Timur, Surabaya, 2013



Di Bab 1 bukunya, Dr. John C. Lennox memaparkan fakta perdebatan tak habis-habis antara konsep penciptaan yang memahami masing-masing hari penciptaan secara harfiah, simbolis, dan logis (bukan secara kronologis). Mana yang benar? Sebelumnya, di Bab 2, Dr. Lennox membahas prinsip dasar penafsiran Alkitab terakit dengan menafsirkan kitab Kejadian, di mana beliau menegaskan bahwa jangan menafsirkan Alkitab berpegang pada sains, nanti akibatnya seperti yang dilakukan oleh gereja Katolik Roma yang menghukum mati Galileo Galilei karena tidak setuju dengan dogma Katolik Roma bahwa matahari mengelilingi bumi. Di sisi lain, kita juga jangan mengabaikan sains, karena sains adalah respons manusia terhadap penyataan diri Allah secara umum. Lalu, perdebatan tentang usia bumi ini dijawab satu per satu oleh Dr. Lennox mulai Bab 3 di mana Dr. Lennox memahaminya secara harfiah sesuai dengan penafsiran PL khususnya Kitab Kejadian, namun proses di antara hari-hari tersebut dipercaya Dr. Lennox cukup panjang. Kemudian Di bab 4, Dr. Lennox mengkhususkan manusia sebagai ciptaan istimewa Allah dan dosa yang masuk ke dalam diri manusia. Dan di bab terakhir, Dr. Lennox memaparkan pesan-pesan dari kitab Kejadian 1 yang merupakan dasar cara pandang Kristen yaitu Penciptaan yang meliputi: adanya Allah sebagai permulaan segala sesuatu, Allah berbeda dari ciptaan-ciptaan-Nya, Allah sumber terang, hari Sabat, dll. Di bagian lampiran, terdapat 5 lampiran yang ditambahkan Dr. Lennox yang berisi: latar belakang singkat kitab Kejadian, pandangan bait kosmis, permulaan dunia menurut kitab Kejadian dan sains, apakah Kejadian 1 dan 2 merupakan 2 kisah kejadian, dan pandangan evolusi teistik. Biarlah melalui buku yang ditulis oleh ilmuwan dan orang Kristen yang taat ini, orang Kristen dapat mengerti konsep penciptaan yang Alkitabiah namun tidak meniadakan bukti-bukti sains.



Endorsement:
“Buku yang sangat bagus! Profesor Lennox jelas tahu ap yang ia bicarakan; ia juga memiliki kemampuan yang mengagumkan dalam membuat hal-hal yang rumit menjadi sederhana. Ini adalah buku terbaik yang bisa diperoleh dari ranah agama dan sains.”
Prof. Alvin Carl Plantinga, Ph.D.
Profesor Emeritus Filsafat John A. O’Brien di University of Notre Dame yang menyelesaikan studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di Yale University, U.S.A.

“Buku yang luar biasa dari John Lennox ini adalah buku yang telah saya nanti-nantikan untuk direkomendasikan! Pendekatannya terhadap Kejadian 1 dan 2 dalam hubungannya dengan sains modern dan budaya Timur Dekat kuno sangat mudah dimengerti, luas, berimbang, dan mendamaikan. Lennox telah menulis sebuah karya yang bijak dan kaya akan informasi, sehingga buku ini layak dibaca oleh banyak orang.”
Prof. Paul Copan, Ph.D.
Profesor dan Pledger Family Chair bidang Filsafat dan Etika di Palm Beach Atlantic University, West Palm Beach, Florida yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dalam bidang Studi Biblika di Columbia International University, Columbia, South Carolina; Master of Arts (M.A.) bidang Filsafat Agama dan Master of Divinity (M.Div.) di Trinity International University, Deerfield, Illinois, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) bidang Filsafat Agama di Marquette University, Milwaukee, Wisconsin.

“Dengan caranya sendiri yang sulit ditiru, John Lennox berhasil membahas kontroversi yang panas ini dengan penuh kasih, humor, dan kerendahan hati. Dia mampu membedah argumen akademis yang ketat dan menyajikannya, dari sisi ilmiah maupun alkitabiahnya, dalam untaian kata yang menarik dan mudah dibaca. Saya telah belajar banyak dari rekan saya ini, Profesor Lennox, bagaimana menghadapi kritikus yang paling sulit dengan kasih dan keterusterangan. Saya yakin bahwa para pembaca akan mendapati bahwa karyanya ini sangat memuaskan. Dengan penuh antusiasi saya merekomendasikan buku ini.”
Ravi Zacharias, D.D. (HC), LL.D. (HC)
Presiden dari Ravi Zacharias International Ministries (RZIM) dan Distinguished Visiting Professor of Religion and Culture di Southern Evangelical Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di University of New Delhi; Bachelor of Theology (B.Th.) di Ontario Bible College; M.Div. di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A.; dan dianugerahi gelar: Doctor of Divinity (D.D.) baik dari Houghton College, NY, maupun dari Tyndale College and Seminary, Toronto dan Doctor of Laws (LL.D.) dari Asbury College di Kentucky.



Profil Dr. John C. Lennox:
Prof. John C. Lennox, Ph.D., D.Phil., D.Sc. adalah Profesor Matematika di the University of Oxford, Fellow in Mathematics and the Philosophy of Science, dan Pastoral Advisor di Green Templeton College, Oxford. Beliau juga adjunct Lecturer di Wycliffe Hall, Oxford University dan di the Oxford Centre for Christian Apologetics sekaligus melayani sebagai Senior Fellow di the Trinity Forum. Selain itu, beliau mengajar untuk Oxford Strategic Leadership Programme di the Executive Education Centre, Said Business School, Oxford University. Beliau mengenyam pendidikan di the Royal School Armagh, Northern Ireland dan menjadi Exhibitioner and Senior Scholar di Emmanuel College, Cambridge University di mana beliau menyelesaikan studi Master of Arts (M.A.), Master of Mathematics (M.Math.), dan Doctor of Philosophy (Ph.D.). Beliau telah bekerja selama bertahun-tahun di the Mathematics Institute di the University of Wales in Cardiff, sehingga beliau dianugerahi gelar Doctor of Science (D.Sc.) untuk riset yang beliau lakukan. Beliau juga meraih gelar M.A. dan Doctor of Philosophy (D.Phil.) dari Oxford University dan M.A. dalam bidang Bioethics dari the University of Surrey. Beliau pernah berdebat dengan Richard Dawkins tentang subjek: ‘The God Delusion’ di the University of Alabama (2007) dan ‘Has Science buried God?’ di the Oxford Museum of Natural History (2008). Selain itu beliau juga pernah berdebat dengan Christopher Hitchens tentang subjek: Atheisme Baru (Edinburgh Festival, 2008) dan pertanyaan ‘Is God Great?’ (Samford University, 2010) dan juga dengan Peter Singer tentang topik ‘Is there a God?’ (Melbourne, 2011). Selain buku “Tujuh Hari yang Membagi Dunia”, beliau juga menulis buku-buku lain, yaitu: God’s Undertaker: Has Science Buried God? (2009), God and Stephen Hawking, respons terhadap buku The Grand Design (2011), Gunning for God, yang membahas atheisme baru (2011). Beliau menikah dengan Sally dan dikaruniai 3 anak dan 5 cucu yang tinggal dekat Oxford.

31 October 2014

Refleksi Reformasi 2014: "RENDAH HATI DAN TUNDUK PADA OTORITAS ALKITAB" (Denny Teguh Sutandio)

Refleksi Reformasi 2014

“RENDAH HATI DAN TUNDUK PADA OTORITAS ALKITAB”

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”
(Kis. 17:11)


PENDAHULUAN
Ketika Paulus dan Silas sampai di Berea, mereka mengunjungi rumah ibadat orang Yahudi (Kis. 17:10) dan dr. Lukas mencatat bahwa orang-orang Yahudi lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika di mana hal ini ditunjukkan dengan kesediaan mereka menerima firman yang Paulus dan Silas sampaikan dengan kerelaan sambil tetap menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah yang Paulus dan Silas sampaikan itu benar atau tidak (ay. 11). “Kitab Suci” di ayat 11 memang mengacu kepada kitab-kitab Perjanjian Lama, karena pada waktu dr. Lukas mencatat peristiwa ini, kitab-kitab Perjanjian Baru belum dikanonisasikan. Sikap ini mengakibatkan banyak orang Yahudi menjadi percaya kepada Kristus (ay. 12).


SEMANGAT ORANG YAHUDI DI BEREA DAN SEMANGAT REFORMASI
Menerima pengajaran firman dengan rela dan mengujinya berdasarkan Kitab Suci bukan hanya semangat banyak orang Yahudi di Berea, namun seharusnya merupakan semangat setiap orang Kristen. Pada hari ini (31 Oktober 2014), kita memperingati hari Reformasi Gereja di mana Reformasi ini ditegakkan oleh Dr. Martin Luther pada 31 Oktober 1517. Dengan salah satu semboyan yang terkenal, “Sola Scriptura” (hanya oleh Alkitab), maka Dr. Luther mengkritisi ajaran Katolik yang bertentangan dengan Alkitab. Semangat ini diteruskan oleh para reformator generasi kedua, salah satunya yang menonjol adalah Dr. John Calvin. Melalui Dr. John Calvin, orang Kristen Reformed bukan hanya dididik oleh ajaran firman Tuhan yang bermutu, namun juga diajar untuk mengaplikasikannya. Calvin bukan hanya menjelaskan theologi yang rumit dalam bukunya yang terkenal “Institutes of the Christian Religion”, namun juga mengajar cara mengaplikasikan theologi tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti kita bukan hanya diajar untuk mengkritisi segala sesuatu, tetapi juga harus taat pada otoritas Alkitab, menerima firman itu dengan rela, dan tidak lupa untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.


DUA KETIMPANGAN EKSTREM
Namun sayang semangat Reformasi dan Reformed telah luntur di dalam Kekristenan dewasa ini. Ada dua ketimpangan dalam Kekristenan berhubungan dengan menerima dan menguji, yaitu:
Pertama, menerima pengajaran mimbar tanpa menguji. Banyak orang Kristen dari banyak gereja kontemporer yang populer menerima semua pengajaran yang disampaikan di atas mimbar gereja dengan rela, namun sayangnya mereka tidak meneladani semangat banyak orang Yahudi di Berea yang menguji setiap pengajaran dengan Kitab Suci. Semangat tidak menguji ini disebabkan karena banyak dari mereka buta Alkitab dan lebih menekankan hal-hal supranatural yang tampak “wah.” Jangan heran, ketika ada seorang pendeta yang turun naik “surga” dan “neraka”, mereka tanpa pikir panjang langsung mengamini apa yang si pendeta katakan tanpa mengujinya dengan Alkitab. Secara tidak sadar, mereka sedang menempatkan otoritas pendeta di atas Alkitab. Di sisi lain, di dalam gereja yang berlabel Reformed sekalipun, gejala ini juga dapat dijumpai. Beberapa jemaatnya dengan antusias mendengarkan khotbah mimbar yang penuh dengan istilah filosofis-theologis biar tampak “pandai”, namun mereka tidak pernah menguji khotbah yang rumit tersebut dengan Alkitab. Jangan heran, ketika si pendeta mengajarkan bahwa orang Kristen yang disunat itu berdosa, maka beberapa jemaatnya mengamininya tanpa pernah mengujinya dengan Alkitab. Ironisnya adalah jika si pendeta ini ditegur kesalahannya karena bertentangan dengan Alkitab, maka ada salah satu jemaatnya (yang setia) malah terus-menerus membela si pendeta yang jelas salah. Jadi, lagi-lagi: pendeta di atas Alkitab, tetapi berani menyandang nama “Reformed.” Ironis.
Kedua, menguji tanpa mau menerima firman dengan rela. Di sisi lain, ada tipe orang Kristen yang sudah dididik dengan pengertian firman yang bertanggung jawab menjadi orang-orang Kristen yang mudah mengkritik semua khotbah dari pendeta. Jika ada pendeta dari gereja lain yang berkhotbah entah di gerejanya maupun di radio, maka orang ini biasanya langsung memasang filter di pikirannya untuk menyaring ajaran benar dan salah, namun mereka hampir tidak pernah menerima khotbah yang benar itu dengan rela. Orang ini ke mana-mana “pekerjaan” dan “misi” utamanya adalah mengkritik orang yang berbeda theologi dengannya, seolah-olah jika ia tidak mengkritik satu orang, ia kurang memberitakan “kebenaran.” Namun ironisnya adalah orang ini sendiri tidak mau ditegur jika ia salah. Dengan kata lain, ia hanya mau menguji tanpa mau menerima firman dengan rela apalagi menjalankannya. Ironis.


SOLUSI: MENERIMA KHOTBAH SAMBIL MENGUJINYA DENGAN ALKITAB
Bagaimana sikap orang Kristen yang bijaksana? Mari kita belajar dari nats kita di atas (Kis. 17:11). Nats kita berbicara tentang dua hal, yaitu:
Pertama, menerima firman dengan kesungguhan/semangat. Reaksi pertama banyak orang Yahudi di Berea terhadap firman yang Paulus dan Silas beritakan adalah menerima firman itu dengan kerelaan. “Menerima firman” yang dimaksud adalah menerima isi firman yang berpusat pada Kristus yang tersalib dan bangkit demi menebus dosa umat-Nya. Bukan hanya itu, mereka menerima firman itu dengan kerelaan. Teks Yunani untuk “kerelaan” adalah προθυμας (prothumias) yang berasal dari kata προθυμα (prothumia) yang dalam konteks ini bisa berarti “readiness” (“keadaan siap”). Beberapa Alkitab terjemahan Inggris seperti English Standard Version (ESV) dan Revised Standard Version (RSV) menerjemahkannya, “eagerness” (“hasrat” atau “keinginan”), namun ada juga yang menerjemahkannya “all readiness of mind” (“seluruh kesiapan pikiran”) seperti Young’s Literal Translation of the Holy Bible (YLT), American Standard Version (ASV), dan King James Version (KJV). Karl Heinrich Rengstorf menerjemahkannya, “zeal” (“semangat”).[1]
Hal ini berarti di titik pertama, mereka bukan mengkritik pemberitaan Paulus dan Silas, tetapi justru menerima isi pemberitaan itu dengan semangat. Luar biasa sikap ini. Mengapa? Karena si penerima ini adalah orang Yahudi. Kita mengetahui bahwa orang-orang Yahudi sedang menantikan Mesias dan banyak dari mereka justru menyalibkan Kristus, Sang Mesias Allah karena konsep mereka tentang Mesias bersifat jasmani (pembebasan dari penjajahan Romawi) berbeda dengan Mesias dalam konsep Allah yang bersifat rohani (pembebasan dari dosa). Di antara banyak orang Yahudi di tempat lain selain Berea yang menghina Injil dan para rasul, namun justru di Berea, banyak orang Yahudi lebih terbuka dengan menerima isi pemberitaan yang Paulus dan Silas sampaikan dengan semangat. Jika saya boleh menganalogikan menerima firman dengan semangat ini seperti seorang yang begitu semangat dan gembira menerima hadiah yang diimpikannya. Orang yang menerima hadiah yang sudah lama diimpikannya tentu saja menerimanya dengan sukacita dan bahkan dengan sukacita yang “ekstrem” misalnya menari-nari, melompat, dll. Ketika ia menuju ke tempat pengambilan hadiah inipun, ia sudah bersemangat luar biasa. Jika biasanya setiap hari ia selalu bangun agak siang (sekitar Pkl. 06.30 atau 07.00) dan sering kali telat pergi ke kantor atau tempat kuliah, namun ketika pada hari ia akan menerima hadiah itu, ia akan bangun lebih pagi bahkan ia sudah bangun jam 5 pagi, lalu segera bersiap diri (mandi, sikat gigi, makan, ganti baju, dll).
Sayang, semangat ini sudah jarang muncul di banyak orang Kristen. Mengapa banyak orang Kristen tidak bersemangat mendengarkan pemberitaan firman? Ada dua penyebab, yaitu: Pertama, banyak pengkhotbah tidak menguraikan Alkitab dengan jelas dan aplikatif. Saya turut prihatin dengan banyak gereja khususnya Protestan di mana banyak pengkhotbah hanya mencuplik satu ayat Alkitab, lalu langsung mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak mendidik jemaat untuk mengerti kedalaman isi Alkitab, sehingga banyak orang Kristen buta Alkitab dan hanya mengingat beberapa ayat Alkitab favorit yaitu Yohanes 3:16 dan ayat-ayat “berkat jasmani”. Di sisi lain, ada juga pengkhotbah yang bahkan tidak percaya otoritas Alkitab, sehingga yang diberitakannya mirip pelatihan motivasi atau pidato politik, ekonomi, sosial, dll (tentu hal ini tidak salah, namun bukan satu-satunya pekenanan dalam khotbah). Jika kondisinya demikian, maka yang perlu “bertobat” adalah para pengkhotbah. Mari para pengkhotbah, dedikasikan keseluruhan hidup Anda kepada Allah dan ingatlah tugas Anda untuk memberitakan firman Tuhan dengan setia. Ajarkan jemaat Anda untuk mengerti betapa dalam Alkitab itu dan jangan lupa mengaplikasikannya. Kedua, jemaat malas. Meskipun pemberitaan firmannya sudah bagus, namun tetap saja beberapa orang Kristen malas mendengarkan khotbah. Mereka tidak rindu bertumbuh dan diajar oleh firman. Kerohanian mereka stagnan.
Lalu, bagaimana cara kita menerima pemberitaan firman dengan semangat? Caranya adalah tanamkan kepada diri kita bahwa kita terus-menerus lapar dan haus akan firman-Nya. Ingatlah apa yang Kristus katakan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat. 5:6) Ketika kita terus-menerus lapar dan haus akan firman, maka kita akan dipuaskan-Nya dengan terus-menerus menikmati berkat kedalaman firman Allah yang melampaui akal budi manusia. Saya sendiri mengalami hal ini. Ketika gembala sidang gereja saya, Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M. menguraikan teks Alkitab secara detail namun sederhana (dan tetap aplikatif), saya makin bersyukur atas kedalaman isi firman-Nya dan itu makin mendorong saya makin rendah hati dan rindu menjalankan firman-Nya meskipun sangat sulit. Setiap hari Minggu adalah momen sukacita bagi saya untuk bersekutu dengan saudara seiman dan mendengarkan uraian firman Tuhan yang makin menumbuhkan dan mengoreksi saya dan iman saya. Adakah gairah ini muncul dalam diri Anda?

Kedua, menguji isi khotbah dengan Kitab Suci. Bukan hanya menerima isi pemberitaan Paulus dan Silas dengan semangat, banyak orang Yahudi di Berea juga menyelidikinya apakah yang Paulus dan Silas sampaikan sesuai dengan Kitab Suci. Kata Yunani untuk “menyelidiki” adalah νακρνοντες (anakrinontes) yang berasal dari kata νακρνω (anakrinō) yang berarti “examine” (“memeriksa” atau “menguji”). Ini berarti banyak orang Yahudi di Berea bukan hanya menerima pemberitaan Paulus dan Injil dengan semangat, tetapi juga mengujinya apakah yang diberitakan itu sesuai dengan Kitab Suci. Memeriksa atau menguji isi firman merupakan suatu sikap di mana seseorang membandingkan apa yang diberitakan dengan Kitab Suci yang tertulis. Hal ini persis seperti seorang hakim di Indonesia yang memeriksa satu kasus kejahatan dan membandingkannya dengan kitab Undang-undang Dasar (UUD) atau kitab hukum lainnya atau seperti seorang guru atau dosen yang memeriksa hasil ujian seorang siswa atau mahasiswa dengan membandingkannya apakah sesuai dengan buku teks yang dipegang oleh si guru/dosen. Untuk dapat memeriksa atau menguji sesuatu, maka seseorang harus terlebih dahulu menguasai sumber yang dipakai sebagai dasar untuk memeriksa atau menguji tersebut. Misalnya, seorang hakim di Indonesia harus menguasai terlebih dahulu semua pasal dalam UUD atau kitab hukum lainnya sebelum ia menjatuhkan hukuman pada terdakwa atau seorang guru/dosen juga harus menguasai buku teks yang ia ajarkan agar nantinya dapat menilai apakah jawaban siswa/mahasiswa itu benar atau salah.
Jika di dalam dunia umum, hal ini lumrah dan hampir tidak ada seorang terdakwa atau siswa/mahasiswa yang dapat menyalahkan si hakim atau guru/dosen atas tindakan penilaian benar atau salah, namun ternyata di dunia rohani, hal ini tabu. Banyak orang Kristen tidak menguji khotbah mimbar dengan Alkitab dengan berbagai alasan, misalnya: Pertama, menguji khotbah dengan Alkitab sama dengan tindakan menghakimi, padahal Tuhan Yesus melarang kita untuk menghakimi orang lain (Mat. 7:1). Pengutipan Matius 7:1 merupakan pengutipan yang tidak memperhatikan konteks dekatnya. Matius 7:1-5 tidak sedang mengajar bahwa kita tidak boleh menghakimi, tetapi melalui kelima ayat ini, Kristus mengajar kita agar kita menghakimi dengan standar yang benar (ay. 2) sambil tetap menghakimi diri sendiri terlebih dahulu (ay. 3-5). Jika Matius 7:1 ditafsirkan sebagai larangan Kristus untuk menghakimi orang lain, maka mengapa pada pasal yang sama namun di ayat 15-23, Kristus sendiri menghakimi para penyesat? Apakah Ia tidak konsisten? Tentu tidak. Yang salah adalah penafsiran banyak orang Kristen terhadap Matius 7:1 yang tidak memperhatikan konteks dekatnya. Kedua, “jangan mengusik orang yang diurapi Tuhan.” Pernyataan yang pernah saya dengar dari seorang Kristen yang enggan menguji isi khotbah dengan Alkitab adalah kita jangan mengusik orang yang diurapi Tuhan. Dengan kata lain, pendeta siapa pun dengan ajaran salah (bahkan sesat) sekalipun adalah orang yang diurapi Tuhan, sehingga jangan sekali-kali mengusik apalagi mengkritiknya. Konsep ini lebih mirip konsep mistik ketimbang konsep Alkitab. Di dalam dunia mistik, para pemimpin agama dianggap titisan Tuhan yang tak bersalah, sehingga ketika umatnya berani mengkritik para pemimpin agama, ia akan menerima hukuman dari Tuhan. Konsep ini bukan hanya salah, namun juga bertentangan dengan Alkitab. Tuhan Yesus sendiri menghakimi para penyesat (Mat. 7:15-23), Paulus pun berani menegur kemunafikan Petrus (Gal. 2:11-14), Paulus juga mengajar agar kita menguji segala sesuatu dan memegang yang baik (1Tes. 5:21), dan Yohanes mengajar kita untuk menguji roh apakah roh itu berasal dari Allah atau bukan (1Yoh. 4:1-4).
Alkitab dengan jelas mengajar kita agar tidak mempercayai segala bentuk pengajaran yang melawan kebenaran Alkitab. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen, sebelum kita menguji khotbah mimbar dengan Alkitab, kita harus sudah membaca Alkitab dari Kejadian s/d Wahyu minimal 1x. Dengan membaca Alkitab, kita diperlengkapi untuk menguji segala sesuatu dengan firman-Nya. Saya pun telah mempraktikkan hal ini. Ketika ada pendeta yang berkhotbah bahwa orang Kristen yang disunat itu berdosa, maka saya langsung teringat pada Kisah Para Rasul 16:2-3,
2Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium,
3dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.

Jika ada orang Kristen yang disunat itu berdosa, maka Timotius pun juga berdosa. Lebih tajam lagi, Paulus yang menyuruh Timotius disunat pun ikut berdosa. Jika Paulus dan Timotius berdosa, mengapa si pendeta tersebut membaca dan menafsirkan Surat Galatia yang ditulis Paulus? Tidak konsisten bukan?

Ketiga, menerima sambil mengujinya dengan Alkitab. Hal pertama dan kedua bukanlah hal terpisah, namun saling menyatu. Oleh karena itu, di poin ketiga, saya menggabungkan poin pertama dan kedua agar kita dapat mengerti sikap orang Kristen yang bijaksana terhadap khotbah. Pendeta siapa pun dengan ajaran apa pun tetap perlu kita dengarkan isi khotbahnya. Isi khotbah si pendeta yang sesuai dengan Alkitab kita perlu dengarkan, resapi, dan jalankan, sedangkan isi khotbah si pendeta yang jelas tidak sesuai bahkan melawan Alkitab, kita perlu dengarkan juga, tetapi tidak kita amini dan tentu saja tidak kita jalankan. Berhentilah dari sikap paranoid theologi yang langsung mencap pendeta dari kalangan tertentu sebagai salah, lalu kita tidak mau mendengarkannya sama sekali atau mengkarikaturkan pendeta tertentu sebagai pendeta yang mengajar theologi yang salah karena si pendeta melayani di sebuah denominasi gereja yang mengajar theologi yang salah. Pendeta yang melayani di sebuah denominasi gereja yang salah belum tentu menganut theologi yang salah tersebut, maka saya mengingatkan kita untuk TIDAK paranoid dan TIDAK seenaknya sendiri mengkarikaturkan orang lain. Ingatlah: tindakan mengkarikaturkan orang lain identik dengan memfitnah dan itu pun termasuk dosa yang sering tidak sadari dan kita anggap “baik” demi alasan “memberitakan kebenaran.”


KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Kita telah belajar dari sikap banyak orang Yahudi di Berea tentang menerima firman dengan semangat dan mengujinya dengan Kitab Suci, lalu apa respons kita? Apakah kita masih keras kepala dengan konsep kita yang enggan dikoreksi oleh firman Tuhan atau kita gemar mengkritik orang lain, namun enggan mengkritik diri? Kedua sikap ini jelas bertentangan dengan Alkitab. Alkitab PL dan PB mengajar kita untuk bersikap rendah hati terhadap pemberitaan firman, namun tetap kritis. Adakah itu juga menjadi sikap Anda? Biarlah Roh Kudus mendorong kita untuk makin giat membaca, merenungkan, dan menjalankan firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin. Soli Deo Gloria.





[1] Theological Dictionary of the New Testament, Vols. 5-9 Edited by Gerhard Friedrich. Vol. 10 Compiled by Ronald Pitkin, ed. Gerhard Kittel, Geoffrey William Bromiley and Gerhard Friedrich, electronic ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1964-c1976), 6:699.

26 October 2014

Resensi Buku-291: 7 HUKUM PENUAIAN (John W. Lawrence, Th.M.)

Pengajaran tabur tuai memang diajarkan Alkitab, namun sayangnya pengajaran tabur tuai ini diselewengkan oleh banyak pemimpin gereja, sehingga menjadi pengajaran yang hanya berfokus pada berkat-berkat jasmani, yaitu uang, kekayaan, dll. Apa sebenarnya hukum tabur-tuai versi Alkitab?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
7 HUKUM PENUAIAN:
Rencana Allah yang Terbukti bagi Hidup yang Berkelimpahan

oleh: John W. Lawrence, Th.M.

Penerjemah: Johanes L. M. Lengkong

Penerbit: BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2011



Di awal bukunya, John W. Lawrence, Th.M. menjelaskan secara singkat 7 prinsip hukum penuaian yang Alkitab ajarkan yang berkaitan dengan kehidupan rohani kita. Pada bab-bab selanjutnya, beliau menjelaskan ketujuh poin itu lengkap dengan pengajaran Alkitab beserta aplikasi praktisnya. Ketujuh prinsip itu adalah: hukum mempertimbangkan (kita menuai banyak apa yang tidak kita tabur), hukum mengidentifikasi (kita menuai jenis yang sama dengan yang ditabur), hukum menunggu (kita menuai di musim yang berbeda dari saat menabur), hukum mengingat (kita menuai lebih daripada yang kita tabur), hukum melakukan (kita menuai sesuai dengan apa yang kita tabur), hukum menekuni (kita menuai hasil yang terbaik hanya dengan ketekunan; iblis datang dan menuai dengan sendirinya), dan hukum melupakan (kita tidak dapat berbuat apa pun terhadap panen tahun lalu, tetapi kita dapat melakukannya tahun ini). Biarlah melalui buku sederhana ini, kita diingatkan lagi salah satu prinsip Alkitab tentang hukum tabur-tuai tanpa harus selalu dikaitkan dengan berkat-berkat jasmani.



Endorsement:
“Tanda sebuah buku yang baik adalah ketika Anda menggarisbawahi beberapa kalimat dalam setiap babnya. Saya menggarisbawahi hampir semua kata dan akhirnya berkesimpulan bahwa setiap kata di dalam buku ini terutama ditulis untukku.”
Charles “Tremendous” Jones

“Buku ini merangsang pemikiran yang dalam untuk individu dan bangsa.”
Bibliotheca Sacra



Profil John W. Lawrence, Th.M.:
(alm.) John W. Lawrence, B.A., Th.M. lulus dari Bible Institute of Los Angeles. Beliau mendapatkan gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Washington Bible College dan Master of Theology (Th.M.) dengan predikat summa cum laude dari Dallas Theological Seminary, U.S.A. Beliau melayani selama beberapa tahun dalam pelayanan pastoral dan mengajar di Mid-South Bible College di Memphis, Tennessee, dan sebagai Profesor Biblika dan Theologi di Multnomah Bible College and Seminary, Portland, Oregon, U.S.A. Beliau meninggal tanggal 17 Desember 1995.

19 October 2014

Rekaman Khotbah Kebaktian Universitas UK Petra: "SACRED AND SECULAR" (Ev. Jimmy Setiawan, M.T.S.)

Sadar atau tidak, banyak orang Kristen sering kali memisahkan antara hal-hal “rohani” dan “sekuler”. Misalnya mereka berkata bahwa jika seseorang berada di dalam sekolah, universitas, tempat kerja, dll, maka tinggalkan dahulu pikiran tentang hal-hal rohani, sedangkan jika seseorang berada di dalam gereja, maka tinggalkan dahulu segala hal tentang “dunia.” Benarkah demikian? Simak uraian sederhana tentang hal ini dalam:

Rekaman Khotbah Kebaktian Universitas
Universitas Kristen (UK) Petra, Surabaya:
“SACRED AND SECULAR”

oleh: Ev. Jimmy Setiawan, M.T.S.

dengan mengklik dan mendowload di link:
Selamat mendengarkan dan belajar.


Ev. Jimmy Setiawan, S.Psi., M.T.S. adalah gembala ibadah di Gereja Kristen Baptist Jakarta (GKBJ) Taman Kencana, Pendiri Mentoring Center for Worship Renewal (http://www.mcwrindo.com), dan pengajar kuliah intensif dalam theologi penyembahan di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Indonesia (STTRI) Jakarta. Beliau terpanggil secara khusus untuk mendalami dan membagikan theologi penyembahan kepada gereja-gereja Protestan di Indonesia. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Psikologi (S.Psi.) di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta dan Master of Theological Studies (M.T.S.) dalam Theologi Penyembahan dengan predikat memuaskan di bawah bimbingan worship scholars seperti Dr. John Witvliet dan Dr. Howard Vanderwell di Calvin Theological Seminary, Amerika Serikat. Calvin Institute of Christian Worship dari Calvin College menganugerahkannya CICW Liturgical Studies Award atas prestasinya dalam studi penyembahan.

Tolong broadcast pesan ini untuk memberkati banyak orang Kristen...


Resensi Buku-290: PRINSIP HARTA (Rev. DR. RANDY T. ALCORN, M.A.)

Harta adalah sesuatu yang penting yang kita miliki, namun sering kali harta bukan hanya penting bagi kita, melainkan telah menjadi tuan atas kita, sehingga kita menjadi tergila-gila dengan harta. Apa yang Alkitab ajarkan tentang harta?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
PRINSIP HARTA:
Menyingkapkan Rahasia Memberi Dengan Sukacita

oleh: Rev. Dr. Randy T. Alcorn


Penerjemah: Lana Asali

Penerbit: Yayasan Gloria, Yogyakarta, 2013



Di awal bukunya, Rev. Dr. Randy T. Alcorn mengutip perumpamaan Tuhan Yesus tentang harta terpendam tentang pentingnya kita sebagai orang Kristen memiliki harta terpendam yang tersimpan di Sorga. Harta terpendam di Sorga itu mengarahkan kita untuk mengerti prinsip-prinsip harta yaitu Pertama: Tuhan yang empunya segalanya termasuk harta kita dan kita menjadi pengelolanya. Jika Tuhan yang memiliki segalanya, maka kita sebagai pengelola harta-Nya tidak akan merasa kuatir di dalam memberikan harta tersebut bagi orang lain yang membutuhkan, karena hati kita terarah pada harta sorgawi. Prinsip ini mengarahkan kita untuk memikirkan prinsip harta kedua yaitu hati kita mengikuti ke mana kita menaruh uang Tuhan. Jika hati kita terikat di bumi, maka kita akan mengumpulkan harta di bumi dan pada saat itu juga kita bergerak makin jauh dari harta kita sesungguhnya, sedangkan jika hati kita terikat di Sorga, maka kita akan mengumpulkan harta di sorga dan saat itu kita makin dekat dengan harta kita sesungguhnya. Karena hati kita terikat di Sorga, maka kita juga harus menyadari bahwa rumah sejati kita bukan di dunia ini, tetapi di Sorga. Dr. Alcorn menggambarkan hidup untuk rumah sejati kita di Sorga nanti itu ibarat seperti hidup untuk garis yang terus berjalan (vs hidup untuk titik: hidup di bumi). Hidup untuk garis ini mengakibatkan kita menyadari prinsip harta keempat yaitu kita harus hidup untuk garis yang menekankan harta di Sorga yang tidak akan pernah berakhir. Dengan demikian, kita tidak lagi terikat pada harta benda duniawi yang sering kali menawan hati kita. Cara lain agar kita tak terikat dengan harta duniawi adalah dengan memberi. Dr. Alcorn mengajar bahwa ketika kita masih memegang sesuatu termasuk harta kita, itu berarti kita mengklaim bahwa kitalah pemiliknya, namun ketika kita melepaskannya dengan memberi, maka kita mengakui bahwa harta kita bukan milik kita. Dengan memberi, kita akan diberkati oleh Tuhan, namun bukan langsung/sekarang, tetapi pada saat yang tepat. Nah, ketika Tuhan memberkati kita, ingatlah prinsip harta terakhir yaitu tujuannya agar kita meningkatkan standar pemberian kita. Di bagian akhir buku ini, Dr. Alcorn menantang para pembaca Kristen untuk menggumulkan dan berjanji di hadapan Tuhan akan persembahan yang akan kita berikan. Dan di bagian apendiks, Dr. Alcorn mengarahkan kita untuk menguji diri kita sendiri tentang kaitan harta, diri, Allah, dan sesama. Biarlah buku ini dapat menyadarkan kita pentingnya menjadi tuan atas harta kita demi memuliakan nama-Nya.



Endorsement:
“Sangat memotivasi dan sarat dengan kebenaran ilahi yang menarik! Saya seakan ‘disambar petir’ berkali-kali membaca buku ini.”
Rev. John S. Piper, D.Theol.
Pendeta Senior di Betlehem Baptist Church, Minneapolis

“Prinsip Harta akan mengubah hidup Anda! Buku ini akan menjadi sebuah karya klasik.”
Howard Dayton 
Direktur Utama Crown Financial Ministries

“Ayat-ayat dan ilustrasi-ilustrasi Kitab Suci terdengar begitu nyata. Persis seperti yang saya butuhkan!”
Hugh Maclellan
Pemimpin The Maclellan Foundation




Profil Rev. Dr. Randy Alcorn:
Rev. Dr. (HC) Randy Alcorn, M.A. adalah pendiri Eternal Perspective Ministries (EPM). Beliau menyelesaikan studi Master of Arts (M.A.) dalam bidang Studi Biblika di Multnomah University dan mendapatkan gelar Doktor Kehormatan dari Western Seminary di Portland, Oregon. Beliau adalah penulis lebih dari 40 judul buku laris. Beberapa buku yang beliau tulis, yaitu: Heaven, If God is Good, dll. Bersama istrinya, Nanci, beliau menetap di Oregon.