24 June 2012

Resensi Buku-173: MENCINTA HINGGA TERLUKA (Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div., M.Si. dan Dra. Roswitha Ndraha, M.A.)

Apa itu cinta? Dunia kita menawarkan beragam definisi cinta yang notabene bersifat egois atau mementingkan diri sendiri. Akibatnya, makin seseorang mencintai orang lain, ia makin mengambil manfaat dari orang yang dicintainya dengan mengorbankan mereka demi memenuhi keinginan orang yang mencintai tersebut. Lalu, apa arti cinta sebenarnya?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
MENCINTA HINGGA TERLUKA:
Kekuatan Cinta yang Memulihkan Hati dan Memperkaya Relasi


oleh:
Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div., M.Si. dan
Dra. Roswitha Ndraha, M.A.


Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009



Di dalam buku ini, Pdt. Julianto Simanjuntak dan istri mengupas tuntas apa arti cinta dari perspektif yang benar yaitu Alkitab. Beliau menguraikan bahwa di dalam cinta harus ada pengorbanan, yaitu terluka kalau yang dicintai tidak sesuai dengan harapan kita. Dan terluka itu indah karena membawa kita makin dewasa di dalam karakter dan tentunya iman. Meskipun terluka, cinta sejati memimpin kita untuk mengampuni orang yang telah melukai kita. Cinta juga membawa kita untuk sabar, tangguh menghadapi kesulitan hidup, dan juga keras menegakkan disiplin. Di bagian akhir buku ini, mereka berdua menceritakan pengalaman mereka berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Biarlah buku ini dapat menjadi berkat bagi para pembaca khususnya orang Kristen yang memiliki iman sejati di dalam Kristus, sehingga mereka makin memaknai cinta dan pengorbanan dalam perspektif yang benar yang berpusat kepada Allah.



Rekomendasi:
“Buku ini mengajarkan kita kekuatan cinta dalam pengampunan yang menghidupkan dan memulihkan.”
Agung Adiprasetyo
(CEO Kelompok Kompas Gramedia)

“Buku ini luar biasa. Kekuatan buku ini tidak sekadar berteori tetapi bertutur tentang hidup, yang sarat contoh nyata, dan membangun keimanan kita.”
Prof. Irwanto, Ph.D.
(Guru Besar Psikologi di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta)



Profil Pdt. Julianto Simanjuntak dan istri:
Pdt. Julianto Simanjuntak, B.Th., S.Th., M.Div., M.Si. yang lahir di Tanjung Balai Karimun, 25 Juli 1963 adalah Pemimpin dari Yayasan Peduli Konseling Indonesia (Pelikan) dan Institut Konseling Lembaga Konseling Keluarga dan Karier (LK3) sekaligus menjadi Direktur Pelaksana Magister Konseling Jaffray. Beliau menamatkan studi Bachelor of Theology (B.Th.) di Sekolah Tinggi Theologi I-3, Batu, Malang; Sarjana Theologi (S.Th.) bidang Konseling Pastoral di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga; Master of Divinity (M.Div.) bidang Konseling di Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta; dan Magister Sains (M.Si.) dalam bidang Sosiologi Agama di UKSW, Salatiga. Beliau menikah dengan Dra. Roswitha Ndraha, M.A. pada tanggal 8 November 1991 dan dikaruniai dua putra: Josephus Theo Nugraha Simanjuntak (lahir 20 Agustus 1993) dan Moze Flavi Prometheus Simanjuntak (lahir: 28 Juli 1997).

Dra. Roswitha Ndraha, M.A. lahir pada tanggal 17 Maret 1962. Beliau menamatkan studi S-1 Publikasi di IISIP Jakarta dan Master of Arts (M.A.) dalam bidang Konseling di Institut Filsafat Theologi Kepemimpinan (IFTK) Jaffray, Jakarta. Beliau membantu pelayanan suami di Institut Konseling LK3 dan memimpin E-Learning Konseling Berbasis Parenting di Yayasan Pelikan.

17 June 2012

Resensi Buku-172: KERENDAHAN HATI: KEBESARAN YANG SEJATI (Rev. C. J. Mahaney)

Orang Kristen sejati sesuai dengan istilah Kristen adalah pengikut Kristus dan Kristus yang diikuti tersebut adalah sosok Kristus yang rendah hati. Di dalam Alkitab pun, Allah mengasihi orang yang rendah hati (Yes. 66:2b). Dengan kata lain, kerendahan hati adalah hal penting yang seharusnya dimiliki dan dilakukan oleh orang Kristen sejati. Namun, apa itu rendah hati? Bagaimana kita bisa rendah hati dalam kehidupan kita sehari-hari?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
KERENDAHAN HATI: KEBESARAN YANG SEJATI
(HUMILITY: True Greatness)


oleh: Rev. Charles Joseph (C. J.) Mahaney

Prakata: Rev. Joshua E. Harris

Penerbit: Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 2010

Penerjemah: Doreen Widjana



Di dalam bukunya, Rev. C. J. Mahaney mengupas tuntas kerendahan hati yang Alkitab ajarkan. Dimulai dari 2 bab awal di bagian I, beliau menguraikan bahwa pentingnya kerendahan hati di tengah zaman yang mengindoktrinasi banyak manusia dengan kehebatan manusia, dll. Karena begitu pentingnya kerendahan hati, melalui pengalaman pribadi, Rev. C. J. Mahaney mengemukakan akan betapa bahayanya suatu kesombongan. Kemudian, di bagian II, beliau menjelaskan apa definisi kebesaran menurut dunia vs Alkitab? Dari kedua bagian ini, beliau menggabungkan bagaimana sebenarnya kerendahan hati adalah suatu kebesaran sejati di mata Allah. Konsep ini diaplikasikannya dalam bagian III ketika beliau menguraikan tentang bagaimana mempraktikkan kerendahan hati di dalam kehidupan kita sehari-hari: memulai setiap hari, mengakhiri setiap hari, berhubungan dengan orang lain (khususnya dalam berkata-kata), dan terakhir mengajar anak memiliki sikap rendah hati. Biarlah buku sederhana namun mendalam ini menyadarkan banyak orang Kristen akan pentingnya suatu kerendahan hati sejati yang sesuai dengan Alkitab, karena itulah yang dikehendaki Allah.



Rekomendasi:
“Dalam komunitas Kristen pun, kerendahan hati adalah sesuatu yang jarang dipikirkan. Dengan cara yang bagus sekali, C. J. Mahaney membangunkan kesadaran kita akan pentingnya tema ini. Saya sangat merekomendasikan buku ini.”
Jerry Bridges, D.D.
(anggota staf di Navigators dan penulis buku The Pursuit of Holiness yang telah terjual lebih dari satu juta kopi, dll yang dianugerahi gelar Doctor of Divinity—D.D. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.)

“Sahabat saya, C. J. Mahaney membahas tema yang teramat penting ini. Tuhan menentang orang yang sombong dan memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati. Jadi, adakah yang lebih penting daripada memahami, memiliki, dan menumbuhkan kerendahan hati? Buku tulisan C. J. ini Alkitabiah, jujur, dan penuh pandangan mendalam yang bermanfaat. Yang kita perlukan dalam gereja masa kini bukan egomania, melainkan kerendahan hati dan orang yang berhati hamba. Semoga Tuhan memakai buku ini untuk mengingatkan kita bahwa ‘hanya orang yang rendah hati sajalah yang berpikiran jernih.’”
Rev. Randy Alcorn
(Pendiri dan Direktur dari Eternal Perspective Ministries (EPM) dan penulis Heaven and The Grace and Truth Paradox)

“Setiap hari kita perlu diingatkan bahwa Tuhan menentang orang yang sombong. Sekali lagi, kita perlu diingatkan akan arti kebesaran di mata Tuhan. Ini penting bagi para pemimpin di gereja, di rumah tangga, dan penting bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan berkualitas tinggi – kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan. Saya bersyukur atas kejujuran  dan akurasi C. J. Mahaney dalam membahas perkara dosa ‘yang sudah diterima’ ini. Biarkanlah kebenaran yang dijelaskan dalam buku ini mengoyak-oyak kesombongan Anda dan menuai dari diri Anda aroma harum kerendahan hati yang menyukakan Tuhan. Tuhan menentang orang yang sombong, tetapi meninggikan orang yang rendah hati.”
Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D.
(Pendeta dan Pengajar di Grace Community Church, Sun Valley, California, U.S.A. dan Rektor dan Professor of Pastoral Ministries di Master's Seminary, Santa Clarita, California yang meraih gelar: Bachelor of Arts—B.A. dari Los Angeles Pacific College; Master of Divinity—M.Div. dari Talbot Theological Seminary; Doctor of Letters—Litt.D. dari Grace Graduate School; dan Doctor of Divinity—D.D. dari Talbot Theological Seminary)

“C. J. Mahaney tidak rendah hati. Paling tidak, itulah yang akan dikatakannya kepada Anda. Dan itu salah satu sebabnya mengapa ia sangat memenuhi syarat untuk menulis buku ini. Saya sudah membaca buku ini. Sikap rendah hati tercermin dari kehidupannya dan dari kehidupan orang-orang didikannya. Kalau Anda sedang bergumul dengan masalah kesombongan – seperti saya – Anda juga perlu membaca buku ini. Dan kalau Anda tidak sedang bergumul melawan kesombongan dalam hidup Anda, buku ini justru sangat perlu Anda baca!”
Rev. Mark E. Dever, Ph.D.
(Pendeta Senior di Capitol Hill Baptist Church, Washington D.C., U.S.A., Direktur Eksekutif dari 9Marks Ministries, dan salah satu anggota dari dewan di the Alliance of Confessing Evangelicals yang menyelesaikan studi: B.A. magna cum laude di Duke University; M.Div. summa cum laude di Gordon-Conwell Theological Seminary; Master of Theology—Th.M. di The Southern Baptist Theological Seminary; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Sejarah Gereja di Cambridge University, U.K.)

“Ini buku yang tepat dari orang yang tepat pada waktu yang tepat. Lebih daripada orang-orang lainnya yang saya kenal, C. J. Mahaney mengajar saya apa yang dinamakan kerendahan hati. Kerendahan hati yang ada pada C. J. Mahaney merupakan karunia bagi jemaat di gerejanya. Ia tahu bahwa kerendahan hati adalah suatu kekuatan, dan bahwa dengan penuh kuasa, Tuhan memakai orang yang rendah hati. Ia paham akan bahaya kecongkakan dan mengimbau kita untuk ‘mengejar’ kebesaran yang sejati – kebesaran yang menunjukkan kemuliaan Allah kepada dunia. Ia mengarahkan kita pada pandangan yang terfokus pada Salib – pandangan yang akan mentransformasi setiap dimensi kehidupan kita.”
Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D.
(Rektor dan Profesor Theologi Kristen di The Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, U.S.A., anggota dewan dari Focus on the Family dari James Dobson, dan anggota Board of Reference di Council on Biblical Manhood and Womanhood yang menyelesaikan studi: B.A. di Samford University; M.Div. dan Ph.D. dalam bidang Theologi Sistematika dan Historika di The Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; website beliau: www.AlbertMohler.com)

“Buku yang sangat bagus, bersifat menyadarkan, membuat kita berendah hati – buku yang berdasarkan Alkitab, berfokus pada Tuhan – buku yang membahas tentang kerendahan hati, ditulis oleh penulis yang benar-benar sudah mengcontohkannya dalam kehidupannya sendiri. Saya sangat menghargai saran Mahaney kepada kita untuk mengikuti langkah-langkah yang akan membantu kita menumbuhkan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Pesan yang tersirat dalam buku ini akan mencegah kita dan gereja-gereja dari kehancuran yang disebabkan oleh keangkuhan, di samping membuat kita bersyukur atas berkat sehari-hari yang kelihatannya biasa-biasa saja. Buku ini akan mendekatkan kita kepada Tuhan.”
Prof. Wayne Grudem, Ph.D.
(Profesor Riset bidang Alkitab dan Theologi di Phoenix Seminary, U.S.A. yang menyelesaikan studi: B.A. di Harvard University; M.Div. di Westminster Theological Seminary; dan Ph.D. di the University of Cambridge, U.K.)

“Dalam buku Humility: True Greatness, C. J. Mahaney menyajikan sebuah manual yang mudah dimengerti dan bermanfaat bagi kelangsungan pertumbuhan rohani orang percaya – sebuah manual bagi pertumbuhan pribadi melawan kesombongan, dan bagi pertumbuhan kerendahan hati. C. J. bukan orang yang awam dalam hal itu. Dalam kerendahan hatinya – secara individual – maupun secara kolektif, ia dan jemaat di gerejanya mencerminkan pekerjaan Tuhan yang penuh rahmat. Mereka juga mencerminkan kesungguhan dalam menangani masalah kesombongan. Orang Kristen yang sombong merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kualitas yang seharusnya dimiliki seorang Kristen. Saya berdoa agar Tuhan yang penuh kemuliaan, yang merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib, memakai buku ini untuk mematikan kesombongan di dalam diri Anda, dan membentuk di dalam diri Anda kebesaran yang sejati – kebesaran yang mencerminkan hati seorang hamba dan penyangkalan diri.”
Rev. J. Ligon Duncan, III., Ph.D.
(Senior Minister at First Presbyterian Church, Jackson, Mississippi, U.S.A., Adjunct Professor of Theology di Reformed Theological Seminary, U.S.A., dan Presiden dari Alliance of Confessing Evangelicals yang menyelesaikan studi: B.A. di Furman University; M.Div. dan Master of Arts—M.A. di Covenant Theological Seminary; belajar Theologi Sistematika di the Free Church of Scotland College di bawah Prof. Donald Macleod, D.D.; dan Ph.D. di the University of Edinburgh, Skotlandia)



Profil penulis:
Rev. Charles  Joseph (C. J.) Mahaney adalah Pendiri dan Presiden dari Sovereign Grace Ministries. Beliau melayani di the Council of the Alliance of Confessing Evangelicals dan The Council on Biblical Manhood and Womanhood. Beliau juga melayani di the Christian Counseling and Educational Foundation (CCEF). Selama 27 tahun, beliau menggembalakan Covenant Life Church di Gaithersburg, Maryland. Beliau menulis banyak buku, di antaranya: The Cross-Centered Life; Christ, Our Mediator, Sex, Romance, and the Glory of God: What Every Christian Husband Needs to Know. Beliau juga telah mengedit atau menulis bersama 4 buku dalam seri buku the Pursuit of Godliness yang diterbitkan oleh Sovereign Grace Ministries: Why Small Groups?, This Great Salvation, How Can I Change?, and Disciplines for Life. Selain itu, beliau juga menjadi coauthor dalam buku Preaching the Cross. Beliau dan istrinya, Carolyn dikaruniai 3 putri yang telah menikah dan seorang putra. Mereka tinggal di Gaithersburg, Maryland.

10 June 2012

Resensi Buku-171: 19 KARUNIA ROH (DR. LESLIE B. FLYNN)

Setiap orang Kristen yang telah dilahirbarukan Roh Kudus pasti diberi karunia-karunia Roh Kudus. Apa saja karunia-karunia Roh Kudus tersebut? Masihkah itu berlaku bagi orang Kristen di zaman sekarang? Bagaimana kita menemukan karunia-karunia Roh Kudus itu di dalam diri kita?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
19 KARUNIA ROH

oleh: Dr. Leslie B. Flynn

Penerbit: Gospel Press, Batam, 2001

Penerjemah: Jennifer E. Silas, S.T.



Di dalam buku ini, Dr. Flynn mengemukakan dengan teliti 19 karunia-karunia Roh Kudus. Sebelumnya, di 3 bab awal, beliau menguraikan definisi karunia Roh (bedanya dengan bakat) dan jumlahnya dalam Alkitab. Kemudian, di bab-bab berikutnya, beliau menguraikan tuntas 19 karunia-karunia Roh Kudus dengan penjelasan Alkitab yang komprehensif dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, lalu penerapannya bagi orang Kristen di zaman sekarang. Sebagai penerapannya ini, beliau memberikan beberapa contoh praktis dari kesaksian beberapa tokoh. Lalu, di bab terakhir buku ini, Dr. Flynn mengajak pembaca untuk menyelidiki karunia Roh Kudus apa yang ada di dalam setiap kita yang termasuk umat pilihan-Nya dengan cara mencoba melayani Tuhan di berbagai aspek. Dari situ, akan nampak karunia-karunia Roh apa yang kita miliki. Biarlah melalui buku ini, setiap orang Kristen dibangunkan kembali tentang pentingnya karunia Roh Kudus yang Alkitabiah di dalam setiap diri orang Kristen.





Profil Dr. Leslie B. Flynn:
Dr. Leslie B. Flynn adalah mantan gembala dari Grace Conservative Church, Nanuet, New York, di mana beliau telah melayani selama 40 tahun. Beliau telah menulis lebih dari 30 buku, di antaranya adalah buku ini dan The Twelve.

03 June 2012

Resensi Buku-170: UCAPAN PAULUS YANG SULIT (Prof. Manfred T. Brauch, Ph.D.)

Rasul Paulus adalah rasul Kristus yang paling banyak menulis surat di dalam seluruh Perjanjian Baru dan surat-suratnya itu bervariasi tujuannya, yaitu untuk menggembalakan, mengajar, dll. Surat-surat itu ditujukan kepada jemaat maupun kepada beberapa anak rohaninya, seperti: Timotius dan Titus. Namun, sejujurnya, ada beberapa bagian dari surat-surat yang ditulis Paulus itu yang membingungkan banyak orang Kristen. Apa saja problematika yang membingungkan itu? Bagaimana memecahkannya?

Ikutilah pembahasan yang teliti dalam:
Buku
UCAPAN PAULUS YANG SULIT

oleh: Prof. Manfred T. Brauch, Ph.D.

Penerbit: Literatur Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, 2009

Penerjemah: Dra. Fenny Veronica



Di dalam buku ini, Dr. Brauch memaparkan 48 problematika ayat yang membingungkan dalam surat-surat Paulus dari Surat Roma s/d Titus. Setiap problematika diuraikan dengan jelas, cukup singkat, dan sederhana. Keunikan penguraian dari Dr. Brauch adalah beliau menguraikan problematika ayat tersebut dan mengaitkannya dengan konteks keseluruhan di mana ayat itu ada, lalu memperhatikan latar belakang budaya kitab tersebut, dan kesesuaiannya dengan kitab-kitab lain baik dari surat-surat Paulus, keseluruhan Perjanjian Baru, dan seluruh Alkitab baik PL dan PB. Dengan prinsip-prinsip penafsiran Alkitab yang ketat, maka hampir semua permasalahan ajaran Paulus yang membingungkan dapat diatasi. Biarlah buku ini dapat menolong kita memahami pengajaran Paulus dengan tepat.





Profil Prof. Dr. Manfred T. Brauch:
Prof. Manfred T. Brauch, Th.M., Ph.D. adalah Emeritus Professor of Biblical Theology di the Palmer Theological Seminary (dulu bernama: Eastern Baptist Seminary), Eastern University, Wynnewood, PA. Beliau menyelesaikan studi Master of Theology (Th.M.) di Princeton Theological Seminary, U.S.A. dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di McMaster University, Ontario, Canada.

27 May 2012

Resensi Buku-169: KEHIDUPAN YANG BERDOA (Paul E. Miller, M.Div.)

Setiap orang Kristen pasti berdoa, namun apakah doa itu? Banyak orang Kristen mendefinisikan doa hanya sebagai rutinitas belaka di gereja atau di sisi lain sebagai mantra ajaib untuk memaksa Tuhan, sehingga makin mreka berdoa, mereka makin berdosa. Lalu, apa arti sebenarnya dari doa?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
KEHIDUPAN YANG BERDOA:
Berhubungan dengan Tuhan di Tengah Dunia yang Sibuk


oleh: Paul E. Miller, M.Div.

Prakata: David W. Powlison, Ph.D.

Penerjemah: Lily Endang Joeliani

Penerbit: OMID Publishing House, Jakarta, 2011



Di dalam bukunya, Paul E. Miller, M.Div. menjelaskan pentingnya doa dan aplikasi praktisnya. Hal ini dimulai dari sikap hati kita ketika kita berdoa yaitu berdoa seperti kanak-kanak yang datang kepada Bapa dengan hati yang tulus dan murni tanpa topeng, belajar untuk tidak berdaya di hadapan Bapa, dan terus mengarahkan hati kepada Bapa untuk mengalahkan kekuatiran di dalam hidup. Dengan berdoa, kita belajar bergantung dan berharap kepada Allah dengan tulus dan hal ini dibedakan oleh Paul Miller dengan prinsip dunia kita yang sekuler yang berpikir segala hal bisa terjadi dengan sendirinya tanpa Allah. Karena pikiran sekuler inilah, akibatnya beberapa orang Kristen (dan banyak orang dunia) enggan meminta kepada-Nya di dalam doa, karena mereka berpikir bahwa mereka bisa melakukannya sendiri. Dengan cara pikir demikian, mereka hidup terpisah dari Allah. Namun di sisi lain, ada kecenderungan beberapa (atau mungkin banyak) orang Kristen yang terlalu sering meminta kepada-Nya dengan memaksa Allah untuk mengabulkan doa-doanya. Di antara dua ekstrem demikian, Paul E. Miller mengajar kita bahwa kita boleh dan bahkan harus meminta kepada Allah di dalam doa karena ada janji-janji Yesus yang luar biasa tentang doa, tetapi kita harus mengerti bahwa ketika kita meminta kepada-Nya, kita harus berserah penuh kepada kedaulatan-Nya yang bekerja di dalam doa kita. Apa pun jawaban Allah terhadap doa kita biarlah itu menjadi pelajaran berharga buat kita, sehingga ketika Allah tidak mengabulkan doa kita, pasti ada maksud Allah tersembunyi yang hendak Ia ajarkan kepada kita, maka menurut Paul Miller, sudah saatnya kita memahami pola ceritanya.
Doa ternyata menurut Paul Miller sangat berkaitan erat dengan kehendak dan pimpinan Allah, sehingga beliau mengaitkan doa dalam kehidupan nyata. Beliau mencontohkan pentingnya kita menggunakan kartu doa untuk mendoakan orang-orang yang kita kasihi sesuai dengan firman Tuhan agar mereka hidup sesuai kehendak-Nya. Kita pun juga perlu mendengarkan suara-Nya di dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan firman Tuhan. Dan tentunya, kita pun harus melihat bagaimana sebuah kisah yang tak terselesaikan (=doa yang tak terjawab) dapat dipakai Allah untuk mendatangkan kemuliaan bagi-Nya sendiri dan berdampak bagi kita. Hampir di setiap bab dalam buku ini, Paul Miller menyertakan kesaksian dan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitarnya, sehingga materi yang diuraikannya di dalam setiap bab menjadi materi pelajaran yang hidup. Biarlah melalui buku ini, kita diajar tentang pentingnya berdoa yang sesuai dengan kehendak Allah.




Rekomendasi:
“Doa; konsep dan praktiknya; mengungkapkan keraguan dan kerinduan kita yang terdalam akan Allah. Paul Miller menangkap bahwa doa menjanjikan suatu karunia yang menghubungkan kita dengan hati Allah dan sebagai jalan untuk mengubah dunia. Paul Miller menuliskan pergumulannya dengan jujur untuk menjalani hidup yang dipenuhi oleh doa. Kesukaannya yang bagaikan kanak-kanak dalam mendengar hati Allah, mengajak kita untuk bersyukur dan membuat kita terpanggil untuk berbicara terbuka pada Allah kita. Buku ini akan membuat kita seolah merasakan hembusan nafas Allah di belakang kita. Biarkan hal itu mengangkat Anda kepada suatu harapan baru.”
Prof. Dan B. Allender, Ph.D.
(salah satu pendiri, mantan Presiden, dan Profesor Konseling di Mars Hill Graduate School dan penulis buku To Be Told dan Leading with a Limp; Master of Divinity—M.Div. dari Westminster Theological Seminary, dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang Psikologi Konseling dari Michigan State University)

“A Praying Life adalah kesaksian yang sangat menyentuh tentang kuasa Allah dalam doa. Paul Miller membagikan hidup dan hikmat-hikmat Firman Allah untuk menanamkan ke dalam diri kita, pembaca-pembacanya, ‘hati yang menjadi pabrik doa’—yaitu kesukaan untuk berbicara kepada Allah dengan jujur, sehingga hidup kita akan diubahkan, demikian juga orang-orang yang kita doakan.”
Prof. Tremper Longman III, Ph.D.
(Robert H. Gundry Professor of Biblical Studies di Westmont College, Santa Barbara, California dan penulis buku Reading the Bible with Heart and Mind dan Dictionary of the Old Testament: Wisdom, Poetry & Writings.; Bachelor of Arts—B.A. in Religion dari Ohio Wesleyan University; M.Div. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.; dan Master of Philosophy—M.Phil. dan Ph.D. dari Yale University)

“Jika Yesus, atau anugerah penyelamatan Yesus hanyalah suatu hal yang abstrak bagi Anda, Paul Miler akan sangat menolong Anda mengalami kasih Allah supaya menjadi sesuatu yang nyata di dalam hati Anda.”
Rev. Prof. Timothy J. Keller, D.Min.
(pendeta senior di Redeemer Presbyterian Church, New York, U.S.A., Adjunct Professor of Practical Theology di Westminster Theological Seminary, U.S.A., dan penulis buku laris menurut versi New York Times: The Reason for God; Bachelor of Arts—B.A. dari Bucknell University; M.Div. dari Gordon-Conwell Theological Seminary; dan Doctor of Ministry—D.Min. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.)

“Paul Miller menolak untuk memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan sehari-hari kita. Dalam buku A Praying Life, ia menunjukkan bagaimana komunikasi yang terus-menerus dengan Kristus dapat membuat perbedaan dalam pengalaman hidup kita, khususnya dalam kehidupan keluarga kita. Buku ini akan menolong Anda menjadikan doa sebagai suatu bagian yang lebih penting lagi dalam kisah hidup Anda dengan menyatukannya ke dalam rutinitas hidup sehari-hari.”
Rev. Philip Graham Ryken, D.Phil.
(Pendeta senior di Tenth Presbyterian Church, Philadelphia, Pennsylvania dan penulis buku The Message of Salvation; B.A. dari Wheaton College, Illinois, U.S.A.; M.Div. dari Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A.; dan Doctor of Philosophy—D.Phil. dari University of Oxford, U.K.)

“Buku ini lebih dari sekadar sebuah buku yang bagus tentang doa. Ini adalah sebuah kisah pergumulan sejati dalam menghidupi iman bahwa Bapa Sorgawi sungguh mengasihi kita. Jika demikian iman kita, maka tidak akan ada yang dapat menghalangi kita untuk berkomitmen berdoa dengan sungguh-sungguh setiap harinya. Paul Miller memaparkan pergumulan-pergumulan yang dialami secara meyakinkan, menyadarkan, dan memberi semangat. Ini adalah sebuah buku tentang doa yang benar-benar membuat Anda ingin berdoa!”
Rev. Prof. Paul David Tripp, D.Min.
(Pendeta di Tenth Presbyterian Church di Philadelphia, Pennsylvania, Professor of Pastoral Life and Care di Redeemer Seminary {dari Westminster Theological Seminary} di Dallas, Texas, dan Presiden dari Paul Tripp Ministries; B.A. dari Columbia Bible College; M.Div. dari Reformed Episcopal Seminary {sekarang: Philadelphia Theological Seminary} di Philadelphia, U.S.A. dan D.Min. dalam bidang Biblical Counseling dari Westminster Theological Seminary, Philadelphia, U.S.A.)

“Di perpustakaan pribadi saya, mungkin ada lebih dari dua puluh judul buku tentang doa, tetapi tidak satu pun yang menawan hati saya dan mendorong saya kepada suatu persekutuan yang menyegarkan dengan Bapa kita, sebesar buku A Praying Life. Akhirnya, ada juga sebuah buku yang menerapkan dampak radikal dari Injil kasih karunia Allah ke dalam doa! Dengan kekaguman yang bagaikan kanak-kanak, hikmat orang bijak, dan ketulusan yang murni, Paul menunjukkan kepada kita bahwa berdoa adalah melihat Yesus secara lebih jelas dan agar kita bertemu Dia secara lebih teratur dalam setiap aspek dan momen yang terjadi dalam hidup kita hari itu. Terima kasih, temanku, untuk mengingatkanku akan hal yang benar-benar penting.”
Rev. Scott W. (Scotty) Smith, M.A.R., D.Min. (Cand.)
(Pendeta dalam bidang Preaching, Teaching and Worship di Christ Community Church, Franklin, Tennessee, U.S.A. dan Adjunt Professor of Practical Theology di Covenant Theological Seminary, U.S.A.; Bachelor of Arts—A.B. dari University of North Carolina, U.S.A.; Master of Arts in Religion—M.A.R. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.; dan kandidat Doctor of Ministry—D.Min. di Covenant Theological Seminary, U.S.A.)

“Kata-kata dan tulisan Paul Miller telah membawa dampak besar bagi saya, tepat pada waktunya. Kini dengan buku A Praying Life, lagi-lagi hadir sebuah karya yang pas pada saat dibutuhkan! Buku ini mengungkapkan bahwa rahasia hidup yang dipenuhi oleh doa adalah memahami benar kisah kehidupan seperti apa yang sedang Anda jalani. Dalam setiap kisah, ada doa; dalam setiap doa, ada kisahnya.”
Charlie Peacock
(Penyanyi dan penulis lagu, wakil sutradara Art House America, dan penulis buku New Way to be Human)

“Seperti orang Kristen lainnya, saya juga berjuang untuk memiliki kehidupan doa yang berarti. Sering kali doa saya terburu-buru, dangkal, dan asal-asalan. Lewat buku A Praying Life, Paul Miller membagikan sebuah cara yang menginspirasi dan dapat menolong kita semua yang ingin dapat berdoa dengan lebih baik lagi. Kisah-kisah di dalamnya begitu menggugah, disertai referensi kitab suci yang kuat, dan prinsip-prinsip Alkitabiah yang membuka wawasan; dengan menjelaskan terlebih dahulu mengenai perihal berdoa, kemudian memberikan saran-saran praktis tentang cara berdoa. Anda akan menikmati membaca buku ini, dan kemudian, saya rasa, akan menjadi takjub menyadari betapa jauh lebih berartinya kehidupan doa Anda sekarang.”
Bob Russell
(Pendeta senior yang telah pensiun di Southeast Christian Church, Louisville, Kentucky dan penulis buku When God Build a Church; alumni Cincinnati Bible Seminary)

“Charles Spurgeon menulis: ‘Doa tidak serta merta membuat kita mampu melakukan sebuah pekerjaan yang lebih besar; pekerjaan yang lebih besarnya, ya doa itu sendiri.’ Buku Paul Miller yang istimewa ini mengajak kita kembali kepada ‘pekerjaan yang lebih besar’, juga mengingatkan kita akan sukacita yang akan kita temukan di dalam hadirat Tuhan dan memperlengkapi kita dengan hal-hal yang praktis mengenai bagaimana cara menangkap kembali keintiman dan kuasa kehidupan yang berdoa.”
Ken Sande
(Presiden dari Peacemaker Ministry)

“Buku yang menyegarkan! Jika Anda bosan dengan permainan doa yang agamawi dan doa hafalan yang berhenti di langit-langit rumah, atau jika Anda curiga bahwa Allah sedang berlibur di suatu tempat, buku ini akan mengubah hidup Anda. Dan jika Anda berpikir unutk menyerah dan berhenti berdoa, jangan lakukan itu! Setidaknya, tundalah sampai Anda membaca buku ini. Jika Anda sudah membacanya, Anda akan berterima kasih kepada saya karena telah menyarankannya bagi Anda.”
Prof. Steve Brown, Litt.D.
(Adjunct Professor of Preaching di Reformed Theological Seminary, U.S.A. dan pernah menggembalakan selama 17 tahun di Key Biscayne Presbyterian Church; B.A. dari High Point College; Bachelor of Sacred Theology—S.T.B. dari Boston University School of Theology; dan Doctor of Letters—Litt.D. dari King College)

“Jujur, realistis, matang, bijaksana, mendalam. Direkomendasikan dengan tulus.”
Prof. J. I. Packer, D.Phil.
(Emerius Professor of Theology di Regent College, Canada; B.A., Master of Arts—M.A., dan D.Phil. dari Corpus Christi College, University of Oxford, U.K.)




Profil Paul E. Miller:
Paul E. Miller, M.Div. adalah direktur dari seeJesus.net, suatu organisasi yang mengembangkan bahan-bahan penelaahan Alkitab interaktif bagi kelompok-kelompok kecil. Beliau menamatkan studi Master of Divinity (M.Div.) di Biblical Theological Seminary, U.S.A. Beliau menulis buku di antaranya: Love Walked Among Us (NavPress), The Prayer Life Study, dan The Person of Jesus Study, suatu bahan pendalaman Alkitab interaktif tentang keajaiban Yesus dan kasih-Nya. Beliau juga banyak bepergian dan mengajar dalam Jesus Weekends, seminar-seminar Person of Jesus, dan seminar-seminar Prayer Life. Paul dan istrinya, Jill memiliki enam anak (Courtney and Ashley yang adalah seorang ibu muda yang sibuk, dua anak laki-laki: John dan Andrew yang telah menikah; anak keempat, Kim mengalami autism; dan anak bungsu, Emily yang sedang studi keperawatan) dan 7 orang cucu.

20 May 2012

Resensi Buku-168: KRISTEN SEJATI: VOLUME III: DOA BAPA KAMI (Prof. James I. Packer, D.Phil.)

Apa arti Kristen? Kristen sejati berarti pengikut Kristus. Bagaimana cara kita sebagai orang Kristen dapat hidup mengikut Kristus? Caranya adalah dengan mengenal Allah dan menaati firman-Nya di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara mengenal Allah dan menaati firman-Nya adalah melalui doa yang memuliakan Allah. Bagaimana caranya?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
KRISTEN SEJATI:
VOLUME III: DOA BAPA KAMI


oleh: Prof. James Innell Packer, D.Phil.

Penerbit: Momentum Christian Literature, Surabaya, 2005

Prakata: Pdt. DR. STEPHEN TONG

Penerjemah:
Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div. dan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th.



Dalam buku ini, Prof. J. I. Packer, D.Phil. memaparkan secara detail isi dari Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri. Setiap isi Doa Bapa Kami diuraikan secara tuntas namun dengan bahasa sederhana oleh Dr. Packer beserta aplikasi praktisnya dalam kehidupan Kristen. Setelah memuliakan Allah melalui frasa “Bapa kami yang ada di Sorga”, Dr. Packer menjelaskan bahwa kita mengajukan 3 permohonan yang berpusat kepada Allah: “dikuduskanlah nama-Mu”, “datanglah kerajaan-Mu”, dan “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Setelah itu, permohonan yang berpusat kepada Allah menuntun kita untuk mengajukan 3 permohonan yang berpusat pada manusia, yaitu: “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, “ampunilah kami akan kesalahan kami…”, dan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.” Setelah 2 macam permohonan itu dinaikkan, maka Doa Bapa Kami kembali ditutup sebuah doksologi (pujian kemuliaan) bagi Allah. Biarlah melalui uraian sederhana dari Dr. J. I. Packer tentang isi Doa Bapa Kami, kita dimampukan melihat doa dari perspektif iman Kristen yang beres.



Profil Dr. J. I. Packer:
Prof. James Innell Packer, B.A., M.A., D.Phil. yang lahir di Gloucester, Inggris, 22 Juli 1926 adalah Board of Governors’ Professor of Theology at Regent College di Vancouver, Canada. Beliau juga adalah kontributor dan editor eksekutif majalah Christianity Today. Beliau juga terlibat sebagai salah satu yang menandatangani Chicago Statement on Biblical Inerrancy yang menegaskan ketidakbersalahan Alkitab. Selain itu, beliau juga melayani sebagai editor umum Alkitab English Standard Version (ESV). Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.); Master of Arts (M.A.); dan Doctor of Philosophy (D.Phil.) di Corpus Christi College, Oxford University, U.K. Buku-buku yang pernah beliau tulis, di antaranya:
•    Fundamentalism and the Word of God (1958; reprinted 1984)
•    Keep In Step With The Spirit: Finding Fullness In Our Walk With God (1984, dicetak ulang 2005)
•    Knowing God (1973, dicetak ulang 1993) ISBN 0-8308-1650-X
•    Evangelism and the Sovereignty of God (1961 by Inter-Varsity Fellowship) (dicetak ulang 1991)
•    A Quest for Godliness: The Puritan Vision of the Christian Life (1994)
•    Concise Theology: A Guide to Historic Christian Beliefs (2001)
•    One Faith: The Evangelical Consensus bersama Thomas Oden (2004)
•    Collected Shorter Writings in four volumes
•    The Redemption and Restoration of Man in the Thought of Richard Baxter (2003, berdasarkan disertasi beliau di Oxford pada tahun 1954)
•    Christianity: The True Humanism bersama Thomas Howard (1985)

17 May 2012

Bagian 3: Alkitab: Cukup dan Jelas (Denny Teguh Sutandio)


APAKAH ALKITAB ITU?
Bagian 3: Alkitab: Cukup dan Jelas

oleh: Denny Teguh Sutandio



Karena Alkitab diwahyukan Allah dan berotoritas, maka secara otomatis, sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh, maka Alkitab itu sudah cukup dan jelas sebagai standar iman dan praktik hidup Kristen. Di sini, kita belajar sifat Alkitab ketiga, yaitu kecukupan dan kejelasan Alkitab.
A.           Alkitab: Cukup
Karena Alkitab diwahyukan Allah dan berotoritas, maka sifat Alkitab yang perlu kita perhatikan adalah Alkitab itu cukup menjadi sumber kebenaran. Kecukupan Alkitab ini berarti:
1.             Hanya Alkitab
Salah satu semboyan dari reformator, Dr. Martin Luther adalah: Sola Scriptura (hanya Alkitab). Artinya, Alkitab sajalah yang harus menjadi pedoman dan sumber kebenaran iman Kristen. Ketika kita ingin membangun doktrin Kristen, kembalilah kepada Alkitab, jangan kepada filsafat, psikologi, dll. Ketika kita ingin membangun etika Kristen yang sehat, kembalilah kepada Alkitab. Biarlah Alkitab sebagai sumber sekaligus penghakim bagi iman, praktik, dan seluruh aspek kehidupan orang Kristen.

2.             Tidak Perlu Sumber-sumber Lain
“Hanya Alkitab” mengarahkan kita untuk mengambil langkah kedua yaitu tidak perlu sumber-sumber lain untuk melengkapi iman Kristen. Jangan salah mengerti bagian ini. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh belajar banyak hal. Kita tentu saja boleh belajar banyak hal, tetapi hal-hal yang kita pelajari hendaklah TIDAK boleh melengkapi iman Kristen yang dibangun di atas dasar Alkitab. Misalnya, apakah kita boleh mempelajari kitab-kitab Kong Hu Cu? Tentu saja boleh. Saya mengoleksi kumpulan kitab filsafat baik dari Kong Hu Cu maupun Lao Tze. Saya sendiri membeli 2 buku dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang membahas agama Budha. Saya adalah seorang yang senang belajar agama-agama lain di luar Kekristenan, namun hal-hal tersebut tetap menjadi wacana studi saja, jangan sampai hal-hal tersebut menjadi pelengkap iman Kristen atau bahkan perombak iman Kristen.

3.             Alkitab Di Atas Tradisi, Pengalaman, Dogma, Ilmu, Agama, Filsafat, dll
Kita boleh mempelajari filsafat, agama, tradisi, ilmu, bahkan dogma gereja di mana kita berbakti, namun hendaklah hal-hal tersebut tidak mengikat kita atau menggantikan otoritas Alkitab dalam iman Kristen. Di sini, kita menyimpulkan bahwa otoritas Alkitab harus berada di atas semua hal yang kita pelajari. Artinya, Alkitab menjadi pemimpin sekaligus penghakimi hal-hal yang kita pelajari. Jika hal-hal yang kita pelajari melawan prinsip Alkitab, kita harus berani membuangnya, meskipun hal tersebut laris di dunia ini,[1] namun jika hal-hal yang kita pelajari sesuai dengan prinsip Alkitab, kita harus mempelajarinya.
Di sinilah perbedaan antara paham Sola Scriptura dengan Solo Scriptura. Orang Kristen yang berpaham Sola Scriptura adalah mereka yang menjadikan Alkitab sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang melebihi semua tradisi, ilmu, pengalaman, agama, filsafat, dogma, dll. Ini berarti mereka bukan anti tradisi, pengalaman, dogma, ilmu, filsafat, agama, dll, tetapi mereka menempatkan Alkitab di atas semua hal tersebut. Hal ini bisa kita perhatikan dari para reformator mulai dari Dr. Martin Luther dan Dr. John Calvin. Sebagai penerus Luther, Dr. John Calvin mengutip pendapat-pendapat dari para bapa gereja seperti Augustinus, dll di dalam bukunya yang terkenal: Institutes of the Christian Religion. Tidak ada salahnya kita mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Chalcedon; berpegang pada: Pengakuan Iman Westminster, Katekismus Heidelberg, dll, namun semuanya itu harus berada di bawah Alkitab. Alangkah lucunya jika ada orang Kristen yang hafal Pengakuan Iman Westminster, namun tidak mengerti isi dari Yohanes 14:6.
Sedangkan orang Kristen yang berpandangan Solo Scriptura memiliki pandangan ekstrem bahwa karena hanya Alkitab saja menjadi sumber kebenaran, lalu mereka tidak mau belajar pengakuan iman, sejarah gereja, buku-buku theologi, buku-buku sekuler, dll, sehingga mereka terjebak ke dalam fundamentalisme naif.

B.            Alkitab: Jelas
Mengapa kita percaya bahwa Alkitab sudah cukup menjadi standar kebenaran? Karena kita percaya bahwa Alkitab itu jelas isinya menyatakan karya sekaligus kehendak Allah bagi umat-Nya. Apa artinya?
1.             Kejelasan Alkitab Mengakibatkan Orang-orang Kristen Biasa Mampu Menangkap Apa yang Alkitab Katakan
Karena Alkitab jelas mengajar karya dan kehendak Allah bagi umat-Nya, maka siapa pun akan mengerti firman Allah di dalam Kejadian 1:1 berikut ini, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Tidak perlu eksegesis PL dan bahasa Ibrani yang rumit untuk mendapatkan pengertian Kejadian 1:1 ini, karena terjemahan LAI saja sudah jelas mengajar orang-orang Kristen awam yang tak berpendidikan tinggi bahwa alam semesta ini diciptakan oleh Allah. Demikian juga firman Kristus di Yohanes 3:16 ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kedua nats PL dan PB ini sudah jelas mengatakan karya dan kehendak Allah bagi kita.
Karena kejelasan Alkitab ini mengakibatkan orang awam pun bisa memahaminya, maka tidak heran, Alkitab PL dan PB mengatakan agar umat-Nya mengajarkan firman-Nya kepada anak-anak mereka.[2] Di PL, Allah sendiri berfirman,
4Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Dari empat ayat di atas, kita belajar bahwa orang Israel dan kita juga harus memiliki pengakuan iman yang beres (ay. 4) yang disusul dengan aplikasi praktisnya yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (ay. 5). Pengakuan iman dan aplikasi praktis ini harus diperhatikan dan diajarkan oleh orangtua Israel kepada anak-anak mereka secara berulang-ulang. Caranya? Dengan membicarakannya ketika anak-anak mereka sedang duduk di rumah, dalam perjalanan, berbaring, dan bangun (ay. 7).
Perintah ini diulangi lagi oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 6:4, “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Selain untuk dimengerti dan diajarkan kepada anak-anak, firman Tuhan juga perlu direnungkan siang dan malam. Pemazmur mengajar kita,
1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Karena firman Tuhan jelas dimengerti, di dalam PB pun, Kristus berulang kali mengutip kitab-kitab PL, misalnya, “Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” (Mat. 21:42) Dokter Lukas mencatat firman Kristus lainnya, “Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi."” (Luk. 22:37)

2.             Kejelasan Alkitab Tidak Berarti Semuanya Pasti Jelas
Meskipun Alkitab itu jelas isinya dan semua orang bahkan orang non-Kristen pun dapat membacanya, namun perlu diperhatikan bahwa kejelasan Alkitab tidak berarti semuanya pasti jelas. Artinya, Alkitab itu jelas dimengerti dengan bahasa manusia oleh semua manusia, namun Alkitab jelas dimengerti dan kemudian diimani hanya oleh umat pilihan-Nya. Di sini, kita belajar bahwa meskipun Alkitab jelas dimengerti oleh semua orang tanpa kecuali, namun hanya umat pilihan-Nya yang sanggup mengerti dan mengimani isi Alkitab yang jelas tersebut. Pertanyaan selanjutnya, mengapa? Apakah karena umat pilihan-Nya lebih pandai dari mereka yang bukan termasuk umat pilihan? Tidak. Mengerti dan mengimani kejelasan Alkitab bukan sekadar masalah intelektualitas, tetapi masalah kerohanian. Rasul Paulus mengatakan hal ini di dalam 1 Korintus 2:14-15,
14Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
15Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.
Dengan kata lain, mereka yang bukan termasuk umat pilihan atau istilah Paulus: “manusia duniawi” hanya mampu memahami isi Alkitab dengan pengertian manusia yang berdosa, sehingga jangan heran, mereka menghina salib Kristus. Mengapa? Paulus menjawabnya, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, …” (1Kor. 1:18) Dari prinsip ini, kita belajar bahwa kejeniusan seseorang tidak menjamin bahwa ia dapat memahami kejelasan Alkitab secara menyeluruh, karena orang yang jenius mungkin saja jenius dalam hal-hal duniawi, namun tidak dalam hal-hal rohani. Jangan heran, ketika orang-orang non-Kristen mencaci maki Alkitab dengan menuduh Alkitab, khususnya Injil, itu palsu, dll melalui berbagai argumentasi yang terlihat “logis” dengan mengutip ayat-ayat Alkitab, sebenarnya mereka tidak pernah mengerti Alkitab secara tuntas, karena mereka hanya mengerti Alkitab hanya sebatas tulisan.
Selain masalah kerohanian, banyak orang non-Kristen tidak mampu menangkap isi Alkitab yang jelas ini disebabkan karena mereka sebenarnya tidak mau mengerti Alkitab dengan perspektif Alkitab. Artinya, orang-orang non-Kristen hanya mau mengerti Alkitab melalui perspektif mereka yang non-Kristen, sehingga jangan heran, mereka mengajukan kembali pertanyaan-pertanyaan “klise” yang sudah ditanyakan berpuluh-puluh tahun dan sudah dijawab, misalnya, “Di Alkitab, ayat mana yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan?”, “naskah Injil di dalam Alkitab itu palsu”, dll. Di dalam pola pikir mereka, Alkitab harus dipahami dalam perspektif agama mereka. Namun fakta mengatakan bahwa ketika mereka mendekati Alkitab dengan pola pikir agama mereka (yang tentunya di luar konteks Alkitab), tafsiran mereka benar-benar aneh. Mereka mencomot satu ayat dari Alkitab entah itu PL maupun PB, lalu menafsirkannya sesuai dengan perspektif agama mereka, tanpa memperhatikan konteks aslinya.
Hal ini mirip seperti orang Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Karena baru beberapa hari tinggal di Amerika, orang Indonesia ini tidak terlalu menguasai hukum atau peraturan lalu lintas di Amerika, sehingga ketika ia melanggar lalu lintas misalnya dengan melawan arus jalan (jalan yang harus dilalui satu arah, tetapi si pengendara mengendarainya dari arah berlawanan) dan ia ditilang oleh polisi setempat, maka ia akan memberontak dan melawan polisi, seolah-olah polisi Amerika disamakan dengan polisi di Indonesia. Makin ia marah-marah dengan polisi Amerika, ia makin diperkarakan di meja hijau. Persis seperti itulah orang non-Kristen yang memperlakukan Alkitab. Mereka tidak mengerti bagaimana cara menafsirkan Alkitab, tetapi sok tahu menafsirkan Alkitab dengan perspektif agama non-Kristen. Bukankah ini suatu keanehan cara berpikir?

3.             Kejelasan Alkitab dan Pentingnya Penafsiran Alkitab
Dari poin 2 di atas, maka kita menyimpulkan bahwa alasan beberapa orang non-Kristen tidak mengerti isi Alkitab yang jelas adalah alasan rohani sekaligus alasan presuposisi. Jika karena alasan rohani, saya bisa memaklumi alasan orang non-Kristen tidak mengerti Alkitab, namun jika karena alasan presuposisi yang terlalu dipaksakan, bagi saya, orang seperti itu bukan tidak mengerti, tetapi TIDAK MAU mengerti, karena modal “logika” yang dipunyainya adalah “pokoknya.” Orang model ini tidak ada bedanya dengan anak kecil yang ketika jatuh tersandung meja, di mana tentu saja meja yang disalahkan si anak ini. Meja di mana tetap meja, kebenaran Alkitab tetap kebenaran Alkitab, manusia yang salah, ya logika sehatnya adalah manusia yang disalahkan, tetapi yang terjadi: Alkitab yang disalahkan karena tidak sesuai dengan manusia. Suatu kelucuan dan keanehan cara berpikir dari orang yang mengaku diri “pandai” dan “memiliki rasio.”
Dari prinsip di atas, kita belajar bahwa meskipun isi Alkitab jelas, namun Alkitab juga bisa disalah tafsirkan. Oleh karena itu, kita perlu mengerti bagaimana menafsirkan Alkitab yang tepat, sehingga kita sebagai orang Kristen tidak ikut-ikutan konyol seperti orang non-Kristen di atas. Kita perlu belajar cara menafsirkan Alkitab bukan supaya kita terlihat lebih pandai, tetapi agar kita makin mengerti kehendak Allah bagi iman dan hidup kita sehari-hari.



[1] Jangan salah mengerti bagian ini. Ketika saya mengatakan bahwa kita harus membuang bagian yang melawan Alkitab, hal ini TIDAK berarti kita tidak perlu belajar hal-hal yang tidak beres. Maksud saya adalah kita perlu belajar hal-hal yang tidak beres, namun kita jangan mengimaninya atau menjadikannya dasar bagi iman Kristen. Dengan kita belajar hal-hal yang tidak beres, kita mengetahui lubang dari ketidak beresan hal-hal tersebut, agar nantinya kita bisa mengkritisinya dari perspektif Alkitab.
[2] Wayne Grudem, Systematic Theology, 105-106.