27 November 2011

Resensi Buku-144: FENG SHUI, RAMALAN CHINA, DAN ALKITAB (Rev. Daniel Tong, M.Th.)

Berbeda dari zaman modern yang menekankan fungsi rasio, saat ini kita hidup di dalam zaman yang mengagungkan hal-hal spiritual, sehingga tidak heran, spiritualitas menjamur ke mana-mana, entah itu yang beres dan tidak. Spiritualitas yang tidak beres adalah spiritualitas yang menjauhkan diri dari Allah dan berpusat pada diri. Karena menekankan perasaan ditambah aspek-aspek batiniah, maka hal-hal mistik yang dahulu muncul sebelum zaman modern kembali muncul di zaman postmodern yang New Age ini, seperti: Feng Shui, ramalan, dll. Apa itu Feng Shui? Bagaimana sejarahnya? Apa saja yang diajarkan dalam Feng Shui dan dikaitkan dengan ramalan China? Apakah orang Kristen harus mempercayai dan mempraktikkan Feng Shui?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
FENG SHUI, RAMALAN CHINA, DAN ALKITAB

oleh: Rev. Daniel Tong, M.Th.

Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2007

Penerjemah: Johny The



Rev. Daniel Tong, M.Th. yang pernah mengajar dan menulis buku tentang pendekatan Alkitab tentang tradisi dan kepercayaan China ini menuliskan bukunya yang kedua yang berjudul Feng Shui, Ramalan China, dan Alkitab (judul aslinya: A Biblical Approach to Feng Shui and Divination). Rev. Daniel Tong membagi bukunya menjadi 4 bagian. Di bagian I yang terdiri dari 3 bab, beliau membahas definisi dan sejarah Feng Shui. Kemudian di bagian II yang terdiri dari 5 bab, beliau membahas ide-ide dasar yang mempengaruhi dan ada di dalam praktik Feng Shui: konsep Li, Chi, Yin Yang, bentuk tanah, kekuatan semesta, binatang, dan batang dan cabang. Ide-ide ini juga disertai pembahasan di bagian III yang terdiri dari 5 bab yang menguraikan tentang alat bantu yang dipakai dalam praktik Feng Shui. Dan ditutup dengan bagian IV (tambahan) yang merupakan lampiran yang berkaitan dengan seputar Feng Shui. Uniknya, buku ini bukan hanya membahas tentang Feng Shui secara ringkas, namun disertai dengan tinjauan kritis Alkitab terhadap praktik Feng Shui yang menjadi dasar bagi orang Kristen untuk bersikap bijaksana terhadap tradisi Tionghoa dari sudut pandang Alkitab. Biarlah buku ini menjadi berkat bagi orang Kristen Tionghoa yang ingin menjadi saksi Kristus di tengah zaman yang menggandrungi hal-hal mistik.



Profil Rev. Daniel Tong:
Rev. Daniel Tong, B.Th., M.Th. adalah vikaris di the Chapel of the Resurrection dan pendeta di Saint Andrew’s Junior College. Beliau menamatkan studi Bachelor of Theology (B.Th.) dan Master of Theology (M.Th.) di Trinity Theological College, Singapore. Beliau telah menikah dan dikaruniai 3 orang anak.

25 November 2011

Dapatkan segera buku-buku Denny Teguh Sutandio


Dapatkan segera buku-buku yang ditulis oleh Denny Teguh Sutandio


EMANG GUE PIKIRIN: Krisis Masa Muda dan Panggilan Kekristenan
Sebuah buku praktis yang ditujukan kepada kaum muda khususnya Kristiani dengan tujuan menyadarkan generasi muda tentang krisis yang sedang mereka hadapi dan bagaimana menjadi generasi muda Kristiani yang bersinar bagi Kristus di tengah zamannya. Ditulis dengan bahasa gaul dan sederhana dimaksudkan untuk membuat para generasi muda menikmati sambil mengerti isi buku ini, terutama tentang Kekristenan yang bertanggung jawab.

“Buku karya Denny T. S. ini seperti cahaya lampu yang menerangi gelapnya situasi pergaulan sebagian kaum muda masa kini. Buku ini menolong Anda berdiri tegak dalam iman dan berpegang kebenaran, serta menolong kalian berani tampil beda. Konsepnya Alkitabiah namun ditulis ringan dan dengan bahasa yang gaul. Saya merekomendasikan rekan muda membaca buku ini.” Pdt. Julianto Simanjuntak, M.Div., M.Si. (Pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3) dan penulis buku Seni Merayakan Hidup yang Sulit, dll)

Harga: Rp 45.000, 00/buku




IMAN KRISTEN DAN THE PURPOSE DRIVEN LIFE: Suatu Tinjauan Reflektif dan Kritis dari Perspektif Alkitab
Sebuah buku yang menganalisa setiap bab di balik buku laris The Purpose Driven Life yang telah beredar sejak tahun 2005. Tujuan di balik buku analisa ini adalah mengapresiasi ajaran Rev. Rick Warren, D.Min. yang sesuai dengan Alkitab, namun menunjukkan berbagai kelemahan ajaran Dr. Warren khususnya berkaitan dengan penafsiran Alkitab yang kebanyakan di luar konteks.

“Buku karya seorang theolog awam muda yang berusaha mengungkapkan kebenaran Alkitab di balik ‘Kekristenan pop’ yang disebarkan melalui buku dan pelatihan ‘The Purpose Driven Live’ (PDL). Buku ini agak terlambat terbitnya yaitu pada saat buku PDL sudah meredup popularitasnya, namun isinya justru perlu dibaca khususnya bagi mereka yang sudah mengikuti pelatihan PDL untuk memberi perimbangan informasi yang membawa kembali pembaca kepada kedaulatan Allah dan otoritas firman Tuhan dan tidak terombang ambing oleh adanya segala ajaran motivasi baru, yang populer dan menarik bahkan diadakan di gereja, tetapi isinya menjauhkan dari berita Alkitab sendiri.” Ir. Herlianto, M.Th. (Pendiri Yayasan Bina Awam—Yabina, Bandung, dosen di Sekolah Tinggi Theologi Bandung, dan penulis beberapa buku, antara lain: “Teologi Sukses: Antara Allah dan Mamon”, “Humanisme dan Gerakan Zaman Baru”, dll)

Harga: Rp 80.000, 00/buku




Berminat??
SMSkan nama dan alamat lengkap Anda beserta judul dan jumlah buku yang ingin Anda pesan ke no: 0878-5187-3719



Penerbit:
Sola Scriptura
Mendidik Zaman Melalui Literatur Berkualitas
didirikan oleh Denny Teguh Sutandio pada tanggal 12 Agustus 2011 dengan tujuan ingin mendidik orang-orang Kristen dengan buku-buku berkualitas yang berusaha setia pada teks Alkitab seakurat mungkin, namun peka terhadap konteks zaman tanpa mengkompromi teks Alkitab dan iman Kristen yang bertanggung jawab (tidak kompromi dengan zaman, namun juga tidak paranoid dengan zaman). Penerbit ini akan mencetak buku-buku: theologi dan studi Biblika, kehidupan Kristen praktis, kerohanian, dll.

20 November 2011

Resensi Buku-143: MENGAPA PERCAYA? (Rev. R. C. Sproul, Ph.D.)

...Dapatkan segera...



Buku
MENGAPA PERCAYA?

oleh: Rev. R. C. Sproul, Ph.D.

Penerbit: Departemen Literatur SAAT, Malang, 1999 (revisi)

Penerjemah: Dra. Fenny Veronica



Iman Kristen adalah satu-satunya iman yang didasarkan pada kebenaran sejati dari Allah. Meskipun didasarkan pada kebenaran sejati dari Allah, iman Kristen BUKANlah iman yang sembarangan, namun satu-satunya iman yang dapat dipertanggung jawabkan baik secara logika, sejarah, dll. Namun, dunia kita menyerang Kekristenan baik melalui filsafat, sains/ilmu pengetahuan, agama-agama dunia. Penyerangan mereka meliputi: apakah Alkitab bisa diandalkan padahal Alkitab bertentangan dengan dirinya sendiri, semua agama sama saja (tidak perlu Kristus), apa yang terjadi pada mereka yang belum mendengar Injil, agama hanya untuk mereka yang lemah, apa gunanya percaya kepada Kristus jika gereja sendiri penuh dengan orang munafik, saya tidak membutuhkan agama karena saya cukup berbuat baik, Allah itu tidak ada karena tidak dapat dibuktikan (epistemologi mengenal Allah), jika Allah ada mengapa ada banyak kejahatan, mengapa Allah mengizinkan penderitaan, dan apa yang terjadi jika manusia mati. Kesepuluh poin penting yang pasti dilontarkan oleh mereka yang belum menerima Kristus ini pasti dihadapi oleh orang Kristen. Bagaimana orang Kristen menjawabnya? Dengan bahasa yang cukup sederhana namun dengan tingkat kemampuan apologetika yang cukup tajam berdasarkan perspektif theologi Reformed dan disertai dengan pengalaman pribadinya di bagian pendahuluan, Rev. R. C. Sproul, Ph.D. menjawabkan kesepuluh problematika di atas dengan jawaban yang brilian dan jitu. Biarlah buku ini dapat memperlengkapi kita tatkala kita harus berhadapan dengan mereka yang mempertanyakan iman Kristen.



Profil Rev. Dr. R. C. Sproul:
Rev. Robert Charles Sproul, B.A., M.Div., Ph.D. lahir pada tahun 1939 di Pittsburgh, Pennsylvania, U.S.A. Beliau adalah Pendiri dan Ketua dari Ligonier Ministries dan pelayanan beliau dapat didengar sehari-hari melalui siaran radio Renewing Your Mind baik di Amerika Serikat maupun secara internasional. Selain itu beliau juga menjadi Pendeta Senior bidang Preaching and Teaching di Saint Andrews Chapel, Sanford, Florida dan anggota dewan dari the Alliance of Confessing Evangelicals. Beliau meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.) dari Westminster College, Pennsylvania pada tahun 1961; Master of Divinity (M.Div.) dari Pittsburgh-Xenia Theological Seminary pada tahun 1964; Doktorandus (Drs.) dari the Free University of Amsterdam pada tahun 1969; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari Whitefield Theological Seminary pada tahun 2001. Beliau menikah dan dikaruniai 2 orang anak: seorang putri, Sherrie Sproul Dick dan putra, Rev. R. C. Sproul, Jr., D.Min.


18 November 2011

Buku-5: APA ITU BAIK?: Iman Kristen dan Konsep Kebaikan Sejati


Semua orang tahu apa itu baik, tetapi benarkah yang dinamakan baik selalu baik? Apa kata Alkitab tentang kebaikan? Bagaimana mengaplikasikan konsep baik menurut Alkitab dalam kehidupan kita sehari-hari?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
APA ITU BAIK?:
Iman Kristen dan Konsep Kebaikan Sejati


oleh: Denny Teguh Sutandio


Apa kata mereka tentang buku ini?
“Di zaman ini, kebaikan telah menjadi sesuatu yang relatif dan subjektif. Sebagai orang percaya, kita membutuhkan tolok ukur tentang apa yang benar-benar dapat disebut kebaikan. Buku ini mengulas tentang kebaikan yang hakiki yang bersumber pada pengenalan akan Kristus. Denny Teguh Sutandio sebagai seorang anak muda yang smart, suka berpikir kritis, dan menggumuli kebenaran, mempersembahkan buku yang simple dan aplikatif, yang saya yakin akan memberkati setiap pembaca.”
Pdm. Fransiska Abigail Susana, M.Th., D.Th.
(Rektor Sekolah Tinggi Alkitab Surabaya—STAS, dosen di beberapa sekolah tinggi theologi, dan konselor)

“Di abad post-modern yang penuh warna ini, umat Kristiani ditantang untuk semakin berani memberikan warna pemikirannya yang kontras dalam berbagai kanvas kehidupan. Pertanyaan tentang “apa itu kebaikan?” yang merupakan salah satu benang primer dalam rajutan kanvas dunia etika perlu dijawab tuntas secara iman Kristen.
Buku ini adalah salah satu bentuk sumbangsih pemikiran yang ditulis dengan tarikan warna iman Kristiani yang tegas, akurat, dan Alkitabiah, di mana di dalamnya terkandung buah karya pemikiran kritis yang akan menolong para pembacanya untuk menjalankan kebaikan di tengah dunia ini yang selaras dengan untaian warna Ilahi.
Oleh karena itu, apabila Anda rindu untuk melihat keindahan warna Injil Kristus mengenai “apa itu kebaikan?”, maka saya merekomendasikan buku ini sebagai salah satu tulisan yang perlu dibaca untuk memperkaya warna perjalanan hidup iman Anda dan semakin memuliakan nama-Nya. Tuhan memberkati.”
Pdt. Chandra Koewoso, M.Div.
(Associate Minister di Orchard Road Presbyterian Church, Singapore—jemaat berbahasa Indonesia)


Harga: Rp 35.000, 00/buku + ongkos kirim (tergantung lokasi)


Berminat?
Silahkan, SMSkan nama dan alamat lengkap Anda beserta jumlah buku yang ingin Anda pesan ke no HP: 0878-5187-3719, lalu Anda akan menerima konfirmasi selanjutnya.

13 November 2011

Resensi Buku-142: ALKITAB: FAKTA ATAU FIKSI? (Rev. Prof. Robert Gee Witty, Th.D., Ph.D.)

Alkitab adalah satu-satunya standar kebenaran bagi iman Kristen. Namun benarkah Alkitab bisa dipercaya? Bukankah ada banyak orang bahkan beberapa pemimpin gereja yang mulai meragukan otoritas Alkitab? Benarkah Alkitab merupakan sesuatu yang fiksi?


Temukan jawabannya dalam:

Buku

ALKITAB: FAKTA ATAU FIKSI?


oleh: Rev. Prof. Robert Gee Witty, Ph.D.


Penerbit: YAKIN, Surabaya, 2003


Penerjemah: Arie Saptaji Wahyu Widodo




Mari belajar bersama Dr. Robert Gee Witty tentang keterandalan Alkitab. Dalam bukunya, Dr. Witty membagi menjadi 2 bagian: pengujian bukti dan peneguhan bukti. Pengujian bukti mulai dari kepastian pribadi, penjelasan para ilmuwan, dan 6 ujian lainnya. Keenam ujian tersebut meliputi ujian: ketebalan Alkitab (penerjemahan Alkitab ke dalam lebih dari banyak bahasa dan keterujiannya), kesatuan Alkitab dari sumber yang berbeda, keakuran sejarah dalam Alkitab, penggenapan nubuatan Alkitab, kualitas pesan: kekudusan Perjanjian Lama, dan ujian Yesus (meliputi: Yesus hidup dalam sejarah, kesempurnaan unik dalam diri Yesus, Yesus menerima penyembahan sebagai Allah, dan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah). Kemudian, Dr. Witty menambahkan bukti internal kesahihan Injil yang menghantar kita berpikir benarkah Perjanjian Baru itu merupakan naskah tipuan atau palsu ataukah asli dari Allah. Selain itu, dua bab terakhir membahas bukti pengaruh Alkitab terhadap budaya dan konfirmasi dari para ilmuwan dan cendekiawan. Kemudian, Dr. Witty memberikan tantangan kepada para pembaca untuk menerima keterandalan Alkitab.


Di bagian Peneguhan bukti, Dr. Witty menyajikan bukti-bukti keterandalan Alkitab dari para pakar: theologi, apologetika, ilmuwan, sejarawan, dll:

1. Prof. Henri Madison Morris, Ph.D. (6 Oktober 1918 – 25 Februari 2006) (salah satu pendiri the Creation Research Society dan the Institute for Creation Research yang meraih gelar Doctor of Philosophy—Ph.D. dalam bidang hydraulic engineering dari University of Minnesota)

2. Rev. Dr. William Franklin (Billy) Graham, Jr., KBE (penginjil semilyar umat; alumnus Florida Bible Institute {sekarang Trinity College of Florida} dan Wheaton College, Wheaton; Desember 2001 dianugerahi Honorary Knight Commander of the Order of the British Empire—KBE)

3. Dr. John Owen, M.A. (1616-1683) (salah seorang theolog Puritan yang meraih gelar Bachelor of Arts—B.A. dan Master of Arts—M.A. dari Queen's College, Oxford)

4. Dr. John Calvin (salah seorang reformator)

5. William Rohl (Bill) Bright, LL.D. (HC), D.D. (HC), Litt.D. (HC) (19 Oktober 1921-19 Juli 2003) (pendiri Campus Crusade for Christ yang pernah menempuh studi theologi di Princeton Theological Seminary, U.S.A. dan Fuller Theological Seminary, U.S.A. dan menerima anugerah gelar: Doctor of Laws—LL.D. dari Jeonbug National University of Korea dan Pepperdine University, Doctor of Divinity—D.D. dari John Brown University dan Los Angeles Bible College and Seminary, dan Doctor of Letters—Litt.D. dari Houghton Seminary)

6. Woodrow Michael Kroll, Th.D. (Presiden dan Pengajar Alkitab siaran radio Back to the Bible yang meraih gelar B.A. dari Barriton College; Master of Divinity—M.Div. dari Gordon-Conwell Theological Seminary, U.S.A.; Master of Theology—Th.M. dan Doctor of Theology—Th.D. dari Geneva-St. Albans Theological Seminary; dan mengambil studi tambahan di: Harvard Divinity School, Princeton Theological Seminary, the University of Strasbourg di Prancis, dan the University of Virginia)

7. Rev. Adrian Pierce Rogers, Th.M., D.D. (HC), Litt.D. (HC), S.T.D. (HC) (12 September 1931 – 15 November 2005) (Presiden dari Southern Baptist Convention pada tahun 1979–1980 dan 1986–1988, pendeta di Bellevue Baptist Church di Memphis sejak tahun 1972 s/d Maret 2005, dan pendiri dari the Adrian Rogers Pastor Training Institute yang meraih gelar B.A. dari Stetson University, Deland, Florida; Th.M. dari New Orleans Baptist Theological Seminary, New Orleans, Louisiana; dan dianugerahi gelar: D.D. dari Trinity College, Dunedin, Florida, Toccoa Falls College, Toccoa Falls, Georgia, dan Hannibal LaGrange College, Hannibal, Missouri; Litterarum Doctor—Litt.D. dari California Graduate School of Theology, Glendale California; dan Doctor of Sacred Theology—S.T.D. dari Southwest Baptist University, Bolivar, Missouri dan Liberty Baptist Theological Seminary of Liberty University, Lynchburg, VA)

8. Rev. Alfred Edersheim (7 Maret 1825 – 16 Maret 1889) (mantan penganut Yudaisme/agama Yahudi yang bertobat ketika di Pesth, Hungaria melalui pelayanan John Duncan kemudian melanjutkan studi theologi di New College, Edinburgh dan the University of Berlin. Ditahbiskan di Free Church of Scotland dan pernah menjadi misionaris kepada orang Yahudi di Iaşi, Romania selama setahun)

9. Rev. Josh McDowell, M.Div., LL.D. (HC) (penulis buku terkenal “Evidence That Demands A Verdict”; Master of Divinity—M.Div. dari Talbot Theological Seminary, California, U.S.A. dan dianugerahi gelar Doctor of Laws—LL.D. dari Simon Greenleaf School of Law)

10. Kolonel Dan Davis, D.Min.

11. Rev. Stephen Frederick Olford, Th.D., D.D. (1918-2004) (Pendiri dan Ketua dari Olford Ministries International in Memphis, Tennessee {kemudian menjadi The Stephen Olford Center di Union University} dan Olford Institute for Biblical Preaching di Memphis, Tennessee yang meraih gelar Th.D. dari Luther Rice Seminary, Jacksonville, Florida dan dianugerahi gelar D.D. dari Wheaton College, Houghton College, dan Richmond College)

12. Prof. Dorothy Kelly Patterson, D.Min., D.Theol. (Professor of Theology in Women’s Studies di Southwestern Baptist Theological Seminary, U.S.A. yang meraih gelar B.A. dari Hardin-Simmons University; Th.M. dari New Orleans Baptist Theological Seminary; Doctor of Ministry—D.Min. dari Luther Rice Seminary; dan Doctor of Theologie­—D.Theol. dari University of South Africa)

13. Thomas F. Elliff, D.Min. (Senior Vice President for Spiritual Nurture and Church Relations di International Mission Board—IMB yang meraih gelar B.A. dari Ouachita Baptist University; M.Div. dari Southwestern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; dan D.Min. dari Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.)




Rekomendasi:

“Saat ini hanya sedikit orang yang sekompeten Dr. R. G. Witty dalam menyampaikan isu legitimasi Alkitab. Buku ini akan menguatkan iman orang-orang percaya, mengonfrontasi orang-orang skeptis, dan bertindak selaku penuntun bagi mereka yang haus untuk menyelidiki kebenaran.”

Prof. Dennis D. Frey, D.Min., Th.D., D.B.A.

(Presiden dari Master’s International School of Divinity; A.B.S. dari Nazarene Bible College, Colorado Springs; Master of Ministry—M.Min., Master of Divinity—M.Div., Doctor of Ministry—D.Min., dan Doctor of Theology—Th.D. dari Trinity Theological Seminary, Newburgh; Master of Business Administration—M.B.A. dan Doctor of Business Administration—D.B.A. dari California Coast University, Santa Ana; dan pernah mengambil fase 1 dari Doctor of Philosophy—D.Phil. di Oxford American Graduate School.)


“Apakah Alkitab itu benar? Buku ini menyajikan bukti yang berlimpah-limpah dari berbagai halaman Alkitab… bukti-bukti yang secara tak terbantahkan mendukung fakta sederhana ini: Alkitab ITU benar! Membaca buku terbaru Bob Witty ini, Anda akan terkesan oleh keilmiahan pembahasannya dan tergerak oleh kesaksian yang mengubah kehidupan yang tercantum di dalamnya. Pada saat itu juga, kehidupan Anda akan berubah selama-lamanya.”

Thomas Elliff, D.Min.

(Senior Vice President for Spiritual Nurture and Church Relations di International Mission Board—IMB; Bachelor of Arts—B.A. dari Ouachita Baptist University; M.Div. dari Southwestern Baptist Theological Seminary, U.S.A.; dan D.Min. dari Southern Baptist Theological Seminary, U.S.A.)


“Uraian tentang kesahihan Alkitab yang seimbang, masuk akal, dan mudah dibaca. Benar-benar membangun iman.”

Woodrow Michael Kroll, Th.D.

(Presiden dan Pengajar Alkitab siaran radio Back to the Bible; B.A. dari Barriton College; M.Div. dari Gordon-Conwell Theological Seminary, U.S.A.; Master of Theology—Th.M. dan Doctor of Theology—Th.D. dari Geneva-St. Albans Theological Seminary; dan mengambil studi tambahan di: Harvard Divinity School, Princeton Theological Seminary, the University of Strasbourg di Prancis, dan the University of Virginia)


“Dengan sepenuh hati saya merekomendasikan Alkitab: Fakta atau Fiksi? bagi semua orang yang dengan sungguh-sungguh berhasrat untuk mengetahui dan memberitakan kebenaran.”

Rev. Stephen Frederick Olford, Th.D., D.D. (1918-2004)

(Pendiri dan Ketua dari Olford Ministries International in Memphis, Tennessee {kemudian menjadi The Stephen Olford Center di Union University} dan Olford Institute for Biblical Preaching di Memphis, Tennessee; Th.D. dari Luther Rice Seminary, Jacksonville, Florida dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity—D.D. dari Wheaton College, Houghton College, dan Richmond College)




Profil Rev. Dr. Robert Gee Witty:

Rev. Robert Gee Witty, Th.D., Ph.D. yang lahir tanggal 6 Oktober 1906 di Glasgowadalah Pendeta di Southern Baptist Convention dan pendiri dari Luther Rice Seminary, Florida, U.S.A.. Beliau pernah mengenyam pendidikan di Princeton Theological Seminary, Asbury Theological Seminary, Willamette University, dan Campbell School of Theology. Beliau menamatkan studi Doctor of Theology (Th.D.) di Burton Seminary in Vermont dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Florida. Beliau menikah dengan Katherine dan dikaruniai 3 orang putra: Robert Witty, Daniel Witty, dan Robert Hoover; 3 orang putri: Mary Love Spann, Ann Weisel, dan Edith Krblick; 8 cucu; 34 cicit; dan 2 great-great grandchildren. Beliau meninggal pada tanggal 20 Juni 2007.

06 November 2011

Resensi Buku-141: MENDAMBAKAN ALLAH (Rev. John S. Piper, D.Theol.)

Katekismus Singkat Westminster Pasal 1 mengajar kita bahwa tujuan hidup manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Kecenderungan banyak orang Kristen khususnya yang dipengaruhi oleh theologi Reformed diajar bagaimana memuliakan Allah, namun sedikit sekali diajar bagaimana menikmati Allah. Bagaimana kita bisa menikmati Allah?



Temukan jawabannya dalam:
Buku
MENDAMBAKAN ALLAH:
Meditasi Seorang Hedonis Kristen


oleh: Rev. John Stephen Piper, D.Theol.

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2008

Penerjemah: Elifas Gani



Rev. John S. Piper, D.Theol. melalui bukunya Mendambakan Allah mengajar kita bahwa kita dapat memuliakan Allah dengan menikmati-Nya. Itulah arti menjadi seorang hedonis Kristen. Tetapi tunggu dulu, banyak orang salah mengerti istilah yang dipakai oleh Dr. John Piper, lalu menafsirkan bahwa Dr. Piper mengajarkan ajaran yang tidak bertanggung jawab. Untuk menjawab perihal ini, Dr. Piper di dalam Pendahuluan menjelaskan bagaimana dirinya menjadi seorang hedonis Kristen dan definisi dari hedonis Kristen, yaitu kita merasa puas dan sukacita di dalam Allah. Tesisnya adalah God is most glorified in us when we are most satisfied in Him (Allah paling dimuliakan di dalam kita ketika kita paling dipuaskan di dalam Dia). Kemudian, Dr. Piper menguraikan fondasi bagi seorang hedonis Kristen, yaitu kebahagiaan Allah. Setelah itu, beliau menguraikan tema-tema lain, yang meliputi: konversi, penyembahan, kasih, Kitab Suci, doa, uang, pernikahan, misi, penderitaan. Setelah menguraikan 10 poin berkaitan dengan hedonis Kristen, maka Dr. Piper menambahkan di bagian Epilog tentang alasan beliau menulis buku ini. Kemudian, ada 5 apendiks tambahan yang berkaitan dengan sejarah penebusan, doktrin Alkitab yang bisa dipercaya, problema kejahatan, dan kesimpulan. Biarlah buku ini boleh menjadi berkat bagi kita yang benar-benar ingin menikmati Allah di dalam hidupnya sehari-hari.



Rekomendasi:
“Merangsang pemikiran dan menyentuh hati. Mendambakan Allah menyalakan hasrat akan Allah yang akan membuat dunia berkobar-kobar jika hal itu menjadi kaidah dan bukannya hal yang dikesampingkan pada masa kini.”
Os Guinness, D.Phil.
(co-founder dari The Trinity Forum; alumni University of Oxford dan Doctor of Philosophy—D.Phil. dalam bidang ilmu sosial dari Oriel College)

“Buku penuntun modern bagi kerohanian yang sejati.”
Rev. Robert Charles (R. C.) Sproul, Ph.D.
(Pendiri dan Ketua dari Ligonier Ministries sekaligus Senior Minister of Preaching and Teaching di Saint Andrews Chapel in Sanford, Florida, U.S.A.; Bachelor of Arts—B.A. dari Westminster College, Pennsylvania; Master of Divinity—M.Div. dari Pittsburgh-Xenia Theological Seminary; Doktorandus—Drs. dari the Free University of Amsterdam; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari Whitefield Theological Seminary, U.S.A.)

“Persekutuan antara jiwa yang merindukan dan Kristus yang memuaskan kerinduan berada di pusat rencana Allah. Piper membuat pesan yang telah begitu diabaikan, disangkal, disepelekan, dan disentimentalisasikan ini menjadi jelas dan menarik perhatian. Mendambakan Allah adalah karya klasik – sekarang isinya bahkan lebih kaya lagi.”
Prof. Lawrence J. (Larry) Crabb, Jr., Ph.D.
(Scholar in Residence di Colorado Christian University, Colorado dan Spiritual Director bagi the American Association of Christian Counselors; Bachelor of Science—B.S. dalam bidang Psikologi dari Ursinus College; Master of Arts—M.A. dalam bidang Psikologi Klinis dari University of Illinois; dan Ph.D. dalam bidang Psikologi Klinis dari University of Illinois {Minor: Speech Therapy dan Philosophy of Science})

“Realisme Alkitabiah yang sehat dari studi mengenai motivasi Kristen ini muncul bagaikan embusan angin segar. Jonathan Edwards, yang pemikirannya menuntun sebagian besar dari isi buku Piper ini, akan bersukacita atas muridnya ini.”
Prof. J. I. Packer, D.Phil.
(Profesor bidang Theologi Sistematika Sangwoo Youtong Chee di Regent College, Canada; Bachelor of Arts—B.A.; M.A.; dan D.Phil. dari Oxford University U.K.)

“Buku ini mempengaruhi kehidupan saya secara mendalam.”
Jerry Bridges, D.D.
(anggota staf di The Navigators dan penulis lebih dari buku-buku, di antaranya The Pursuit of Holiness yang telah terjual lebih dari satu juta kopi; menerima gelar kehormatan Doctor of Divinity—D.D. dari Westminster Theological Seminary, U.S.A.)

“Suatu perayaan yang menggugah jiwa dari kesukaan mengenal Allah…. Buku yang wajib dibaca setiap orang Kristen; suatu pesta perjamuan bagi yang lapar secara rohani.”
Rev. John F. MacArthur, Jr., Litt.D., D.D.
(Pendeta-Pengajar di Grace Community Church in Sun Valley, California sekaligus sebagai Presiden dan Professor of Pastoral Ministries di The Master’s Seminary; B.A. dari Los Angeles Pacific College; M.Div. dari Talbot Theological Seminary; Doctor of Letters—Litt.D. dari Grace Graduate School; dan Doctor of Divinity—D.D. dari Talbot Theological Seminary)



Profil Rev. Dr. John S. Piper:
Rev. John Stephen Piper, B.A., B.D., D.Theol. adalah Pendeta Pengkhotbah dan Visi di Betlehem Baptist Church, Minneapolis, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) dari Wheaton College, U.S.A.; Bachelor of Divinity (B.D.) dari Fuller Theological Seminary, U.S.A.; dan Doctor of Theologie (D.Theol.) dari University of Munich, Munich, Jerman Barat. Disertasinya, Love Your Enemies, diterbitkan oleh Cambridge University Press dan Baker Book House.

30 October 2011

REFORMASI DAN SOLA SCRIPTURA (Denny Teguh Sutandio)

Renungan Reformasi 2011

REFORMASI DAN SOLA SCRIPTURA

oleh: Denny Teguh Sutandio

“Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”

(Kis. 17:11)

Sungguh menarik catatan Alkitab tentang orang-orang Yahudi di Berea di mana mereka tidak seperti orang-orang Yahudi di kota lain yang membenci Kristus dan para rasul “tanpa alasan yang jelas.” Orang-orang Yahudi di Berea dicatat oleh dr. Lukas sebagai orang yang baik hatinya. Kata Yunani untuk baik hatinya adalah eugenesteroi yang seharusnya diterjemahkan open-minded (pikirannya terbuka). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. menerjemahkannya sebagai “lebih terbuka pikiran.”[1] Mereka bukan orang yang ngotot dengan pandangannya sendiri, tetapi pikirannya terbuka dengan pengajaran yang disampaikan Paulus dan Silas. Dalam hal apa mereka terbuka pikirannya? Dokter Lukas mencatat bahwa mereka menerima firman yang disampaikan Paulus dan Silas dengan rela hati. Rela hati di dalam bahasa Yunaninya adalah prothumias yang berarti keinginan yang kuat (eagerness) atau kerelaan (readiness). Beberapa terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris (English Standard Version dan Analytical-Literal Translation) menerjemahkannya sebagai eagerness (New American Standard Bible dan New International Version menerjemahkannya: great eagerness), namun ada juga terjemahan Alkitab (King James Version, Revised Version, dan Young’s Literal Translation) yang menerjemahkannya sebagai readiness of mind. Dengan kata lain, orang-orang Yahudi di Berea yang lebih terbuka pikirannya adalah mereka yang dengan rendah dan rela hati siap menerima pengajaran dari Paulus dan Silas.

Namun uniknya, mereka bukan hanya rendah hati dan rela menerima pengajaran tersebut, tetapi mengujinya dari Kitab Suci. Kata “menyelidiki” dalam teks Yunaninya anakrinontes yang seharusnya diterjemahkan menguji/memeriksa. Kata “Kitab Suci” di sini tentu merujuk pada Perjanjian Lama, karena di zaman gereja mula-mula waktu itu, Alkitab Perjanjian Baru belum ada. Mereka memeriksa Kitab Suci apakah apa yang diajarkan Paulus dan Silas itu benar. Kata “mengetahui” di dalam teks LAI tidak ditemukan dalam teks asli (Yunani)nya. Bahkan dokter Lukas mencatat bahwa orang-orang Yahudi di Berea menyelidiki Kitab Suci SETIAP HARI. Ini berarti, mereka mencintai firman Allah (konteksnya: Perjanjian Lama) dan mendasarkan semua pengajaran mereka dan apa yang mereka dengarkan dari orang lain dari Kitab Suci (bukan dari tradisi Yahudi). Dengan kata lain, mereka menyelidiki/memeriksa Kitab Suci apakah apa yang disampaikan Paulus dan Silas sesuai dengan Kitab Suci atau tidak. Setelah menyelidiki Kitab Suci, di ayat 12, dokter Lukas mencatat, “Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.

Dari perenungan tentang orang-orang Yahudi di Berea, kita belajar dua poin penting yaitu: adanya keterbukaan pikiran (rendah hati mau belajar dari orang lain) sekaligus kritis menyelidiki Kitab Suci untuk menguji suatu ajaran benar atau tidak. Mereka bukan orang yang keras kepala seperti saudara-saudara mereka di kota lain dan mereka juga bukan orang yang memusatkan hidup mereka pada tradisi Yahudi yang kolot, namun mereka berpusat pada Kitab Suci, menyelidikinya, rendah hati menerima pengajaran dari para rasul sambil mengujinya, dan akibatnya, banyak dari mereka akhirnya percaya kepada Kristus (Kis. 17:12). Keterbukaan pikiran dan menyelidiki Kitab Suci inilah yang akan menjadi refleksi bagi kita menjelang hari Reformasi Gereja.

Peristiwa reformasi di dalam gereja berawal dari para reformator awal seperti John Wycliffe (1329-1384) di Inggris, John Hus (1373-1415) di Bohemia, dan Savonarola (1452-1498) di Florence. John Wycliffe sering disebut bintang pagi Reformasi (The Morning Star of Reformation). Tentang John Hus, orang sering menyebut John Hus mengeluarkan telur reformasi dan Luther yang mengeraminya. Setelah munculnya tiga reformator awal, maka gereja mendapat tantangan eksternal yaitu munculnya gerakan kembali kepada keluhuran budaya klasik yang dikenal sebagai Renaissance. Di dalam gerakan Renaissance, muncullah kaum Biblical Humanist dengan tokoh-tokohnya: John Reuchlin (1455-1522) dan Desiderius Erasmus (1466-1536). Dari gerakan ini, muncullah gerakan Reformasi gereja oleh Dr. Martin Luther.[2]

Setiap tanggal 31 Oktober, gereja-gereja Protestan merayakan hari Reformasi Gereja di mana pada tanggal 31 Oktober 1517, Dr. Martin Luther, mantan rahib Katolik Roma dari ordo Agustinian memakukan 95 tesis di depan pintu gereja Wittenberg yang mengkritik semua ajaran Gereja Katolik Roma. Dr. Luther melakukan reformasi gereja pada awalnya bukan ingin mendirikan gereja baru di luar Katolik Roma, tetapi ingin mereformasi gereja Katolik Roma waktu itu yang sudah makin tersesat jalannya, misalnya dengan menjual surat pengampunan dosa (indulgensia). Berbagai semboyan yang dicetuskan oleh Dr. Martin Luther: sola gratia (hanya oleh anugerah Allah), sola fide (hanya melalui iman), sola Scriptura (hanya Alkitab), dan Soli Deo Gloria (kemuliaan hanya bagi Allah). Tindakan mereformasi gereja ini dilakukan Dr. Luther setelah ia menyelidiki Perjanjian Baru khususnya di Surat Roma. Tindakan Luther mengingatkan kita akan semangat orang-orang Yahudi di Berea yang setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk menguji suatu pengajaran apakah benar atau tidak, namun bedanya, orang-orang Yahudi di Berea mendapati pengajaran Paulus dan Silas itu benar, sedangkan Dr. Luther mendapati ajaran Gereja Katolik Roma itu salah. Namun tindakan Dr. Luther ini ditentang oleh pihak Gereja Katolik Roma dan Dr. Luther dianggap pembangkang yang harus diekskomunikasikan. Bahkan Gereja Katolik Roma mengadakan Konsili Trente (1545-1563) untuk merumuskan ulang ajaran-ajaran mereka khususnya melawan Luther, dkk. Tindakan Gereja Katolik Roma ini mirip seperti tindakan orang-orang Yahudi di kota-kota lain selain Berea yang ngotot dengan pandangan sendiri yang berdasarkan tradisi yang turun-menurun. Kengototan mereka didasarkan BUKAN dari penyelidikan Alkitab yang saksama dan juga dari tulisan-tulisan bapa gereja, tetapi dari pengertian mereka sendiri akan Alkitab dan tulisan (beberapa) bapa gereja (yang cocok dengan ajaran Katolik). Jika pihak Katolik menuduh Dr. Luther dan orang-orang Reformasi tidak setia pada tradisi bapa gereja, sebenarnya merekalah yang tidak setia kepada Alkitab dan tulisan para bapa gereja, karena terbukti para bapa gereja sendiri TIDAK sepakat berkenaan dengan ajaran-ajaran tertentu. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa seorang yang tidak tunduk di bawah otoritas Alkitab akan menjadi seorang yang ngotot dengan pengertiannya sendiri dan tidak mau sedikit pun berubah.

Peristiwa reformasi Dr. Luther ini diteruskan oleh reformasi di Inggris oleh Thomas Cranmer, reformasi di Skotlandia oleh John Knox, Philip Melanchton, Ulrich Zwingli, Dr. John Calvin, Dr. Theodore Beza, dll. Setelah persitiwa reformasi Dr. Luther, gereja-gereja Lutheran merumuskan pengakuan imannya di Diet of Augsburg yang bernama: The Augsburg Confession (bahasa Latinnya: Confessio Augustana) pada 25 Juni 1530 di hadapan Kaisar Charles V dari Jerman.[3] Reformed (tidak melulu terbatas pada pengaruh John Calvin) terus berkembang dan meluas di seluruh Eropa dan Amerika. Di Jerman, disusunlah Katekismus Heidelberg sebagai pedoman pengakuan iman gereja-gereja Calvinis dalam bahasa Jerman dan Belanda. Penyusunnya adalah dua theolog muda, Zacharius Ursinus dan Caspar Olevianus.[4] Setelah itu di Belgia, dibentuklah Belgic Confession of Faith di mana penulis tunggalnya: Guido de Bres pada tahun 1561.[5] Kemudian, muncullah tokoh-tokoh Reformed generasi berikutnya yang dikenal dengan kaum Puritan di Inggris untuk melawan gereja di Inggris yaitu: Dr. John Owen, M.A., Oliver Cromwell, John Bunyan, dll. Nah, dari kaum Reformed ini, disusunlah Pengakuan Iman Westminster pada tahun 1646 oleh Oliver Cromwell bersama 121 pendeta dan 30 orang awam di Ruang Yerusalem di dalam Westminster Abbey. Selain itu juga disusun Katekismus Singkat Westminster (1647) dan Katekismus Besar Westminster (1648). Pengakuan Iman Westminster menekankan inspirasi dan otoritas Alkitab, theologi perjanjian/kovenan, dan keseimbangan antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia dalam penebusan umat manusia. Pengakuan iman ini meluas ke Skotlandia dan hingga sekarang.[6] Setelah itu, dibentuklah Canons of Dort di Belanda (The Decision of the Synod of Dordt on the Five Main Points of Doctrine in Dispute) yang diadopsi dari Sinode Dort di Dordrecht pada tahun 1618-19 untuk melawan kaum Remonstrant/pengikut Jacobus Arminius.[7] Banyak orang Kristen diberkati melalui gerakan ini. Inti theologi Reformed (tidak melulu identik dengan John Calvin) yang berakar dari gerakan Reformasi Luther adalah kedaulatan Allah, meskipun tidak pernah meniadakan tanggung jawab manusia. Gerakan Reformed inilah yang mempengaruhi seorang pengkhotbah dari gereja Methodis, Rev. George Whitefield, pengkhotbah yang terkenal dengan khotbahnya, “Sinners in the Hand of An Angry God” (Orang-orang Berdosa Di Tangan Allah yang Murka), Rev. Jonathan Edwards, A.M., dan juga pengkhotbah yang dijuluki Pangeran Pengkhotbah (Prince of Preachers), yaitu Rev. Charles Haddon Spurgeon dari gereja Baptis.

Di Belanda, di abad XIX-XX, theologi Reformed mempengaruhi salah seorang mantan perdana menteri Belanda, Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper. Selain itu, juga ada Herman Bavinck dan Herman Dooyeweerd. Ketika “theologi” liberal pengaruh rasionalisme pada kira-kira 4 abad yang lalu mulai menyerang Kekristenan, para theolog Reformed berdiri dengan teguh melawan liberalisme tersebut dan memelihara iman Kristen yang murni. Ketika “theologi” liberal mulai meracuni Princeton Seminary (yang didirikan oleh Presbyterian Church, U.S.A.) dengan ditandatanganinya Auburn Affirmation oleh 1300 “hamba Tuhan” pada tahun 1924 yang menegaskan bahwa doktrin-doktrin penting seperti iluminasi Alkitab, kelahiran Kristus dari anak dara Maria, penebusan-Nya yang menggantikan, kebangkitan jasmani Kristus, dan kedatangan-Nya yang kedua kali dalam arti harfiah tidak diwajibkan sebagai keyakinan bagi calon hamba Tuhan, maka Dr. J. Gresham Machen yang termasuk salah satu dari sejumlah pihak dari Presbyterian Church, U.S.A. yang menolak afirmasi tersebut keluar dari Princeton Seminary dan mendirikan Westminster Theological Seminary pada tahun 1929.[8] Di Westminster Theological Seminary, Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D. diminta menjadi profesor sampai masa pensiunnya pada tahun 1972. Semangat theologi Reformed selalu mengajak semua orang Kristen benar-benar kembali kepada Alkitab.

Namun sejarah mencatat, gerakan Reformed yang mula-mula memegang teguh otoritas Alkitab dan memperjuangkan serta mengajak orang Kristen kembali kepada Alkitab akhirnya beberapa di antaranya berubah haluan menjadi mementingkan keinginan pribadi. Sebagai contoh, setelah Dr. J. Gresham Machen meninggal pada tahun 1937, Presbyterian Church of America (PCA) yang dibentuknya kemudian terjadi perpecahan. Sejumlah hamba Tuhan meninggalkan PCA dan membentuk Bible Presbyterian Church. Demikian juga Prof. Allen MacRae yang dahulu bersama-sama dengan Dr. J. Gresham Machen mendirikan Westminster Theological Seminary, kemudian meninggalkan Westminster Seminary dan mendirikan Faith Theological Seminary dengan kontroversinya meliputi: dispensasionalisme, “kemerdekaan Kristen” (legitimasi bagi orang Kristen untuk mempergunakan minuman beralkohol), dll.[9] Tidak heran, jika denominasi Reformed/Presbyterian di zaman sekarang cukup banyak memiliki cabang. Sebagai contoh, di sebuah hotel di Singapore, saat saya membuka dan melihat buku kuning daftar gereja-gereja di Singapore, terdapat klasifikasi-klasifikasi khusus denominasi gereja: Katolik, Baptis, Fundamentalis, Orthodoks, dll dan khusus gereja Reformed/Presbyterian terdapat klasifikasi lagi: Bible Presbyterian Church, Independent Presbyterian Church, Reformed Presbyterian Church, dll. Di satu sisi, didirikannya banyak gereja Reformed ada sisi positifnya, yaitu supaya masing-masing gereja Reformed menjadi berkat di sekelilingnya, namun di sisi lain, perpisahan gereja-gereja Reformed ini timbul hanya karena perbedaan dalam hal-hal sekunder. Kalau kita memperhatikan fakta di atas, didirikannya Faith Theological Seminary oleh Prof. Allen McRae setelah keluar dari Westminster Theological Seminary, bukan Westminster Seminary tidak setia kepada Alkitab, tetapi karena perbedaan dalam doktrin akhir zaman, dll yang notabene adalah hal-hal sekunder.

Tetapi puji Tuhan, belakangan ini, saya mengamati di Amerika, gerakan Reformed tidak lagi terpecah-pecah. Para pendeta Reformed Baptis seperti Rev. John S. Piper, D.Theol.[10], Prof. R. Albert Mohler, Ph.D., Rev. Mark E. Dever, Ph.D., Prof. Wayne Grudem, Ph.D., dll dapat bersatu dengan mereka yang Reformed (non-Baptis), seperti: Rev. Prof. Sinclair B. Ferguson, Ph.D., D.D., dll, Reformed Dispensasionalis[11] seperti Rev. John F. MacArthur, Jr, D.D., Litt.D. (Pendeta-Pengajar di Grace Community Church, Sun Valley, California, U.S.A.)[12], dan Reformed Anglikan seperti Rev. Prof. James Innell (J. I.) Packer, D.Phil.[13] Saya melihat kemajuan ini, ketika saya membaca buku-buku yang ditulis bersama oleh Rev. John S. Piper, D.Theol., Rev. John F. MacArthur, Jr., D.D., Litt.D., Rev. Dr. Randy T. Alcorn, dkk, yaitu: STAND. Kemudian, mereka saling memberikan rekomendasi/endorsement atas buku-buku yang mereka tulis, seperti buku Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine yang ditulis oleh Prof. Wayne Grudem, Ph.D. direkomendasikan oleh Rev. Prof. J. I. Packer, D.Phil. (seorang pendeta Anglikan-Reformed), Rev. John S. Piper, D.Theol., Prof. Roger R. Nicole, Th.D., Ph.D., D.D. dari Reformed Theological Seminary, U.S.A., dll. Selain itu, buku Humility: True Greatness yang ditulis oleh Rev. C. J. Mahaney direkomendasikan baik oleh pendeta dan profesor Reformed Baptis dan juga salah satu pendeta Reformed (non-Baptis), Rev. J. Ligon Duncan III, D.Phil. dari First Presbyterian Church, U.S.A. Bahkan ada symposium khusus bertajuk Together for Gospel yang menghadirkan empat pembicara: Rev. J. Ligon Duncan III, D.Phil. (Pendeta Senior di First Presbyterian Church, Jackson, Mississippi, U.S.A.), Rev. Mark E. Dever, Ph.D. (Pendeta Senior di Capitol Hill Baptist Church, Washington, DC, U.S.A.; Reformed Baptis), Prof. R. Albert Mohler, Jr., Ph.D. (Presiden di Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, KY, U.S.A.; Reformed Baptis), dan Rev. C. J. Mahaney.[14] Ini membuktikan Reformed mulai bersatu di Amerika, meskipun tidak menutup kemungkinan beberapa Reformed di Amerika tetap merasa diri “jagoan” dan tidak mau bersatu dengan kaum Reformed lain. Dan yang lebih parah, model Reformed inilah yang diimpor ke Indonesia.

Di Indonesia, gerakan Reformed dibagi menjadi dua: strictly Reformed (Reformed ketat) diwakili oleh gerakan Reformed Injili yang didirikan oleh hamba-Nya, Pdt. Dr. Stephen Tong sekitar tahun 1980-an[15] dan friendly Reformed (Reformed yang bersahabat) dari Pdt. Prof. Joseph Tong, Ph.D., M.B.A. (adik kandung Pdt. Dr. Stephen Tong). Pdt. Dr. Stephen Tong berjuang gigih menegakkan theologi Reformed di Indonesia, sementara itu Pdt. Dr. Joseph Tong menyebut friendly Reformed sebagai smiling Reformed (Reformed yang tersenyum) karena bagi beliau, Reformed tidak seharusnya ngotot, tetapi bersahabat mengajak sebanyak mungkin orang Kristen dengan lemah lembut untuk mengenal theologi Reformed. Karena saya berada di dalam gereja yang digembalakan Pdt. Dr. Stephen Tong dan saya juga beberapa kali mendengar khotbah dari Pdt. Dr. Joseph Tong, maka saya menyimpulkan bahwa Tuhan memakai setiap hamba Tuhan itu berbeda-beda. Yang dipentingkan bukan ikut gerakan Reformed yang dipimpin siapa, tetapi kembali kepada Alkitab. Ini yang sering kali hilang dari suara Reformed. Reformed sering mendengungkan ikut gerakan Reformed tertentu. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh menyebut hal demikian, namun intinya bukan pada gerakan Reformed, tetapi pada Alkitab. Bukankah semangat Reformed adalah Sola Scriptura?

Dari pengertian ini, kita mendapatkan penjelasan bahwa semangat Reformasi dan Reformed pada intinya mengajak orang Kristen kembali kepada Alkitab dengan prinsip penafsiran yang bertanggung jawab. Bukankah juga gereja-gereja Reformed memiliki moto: ecclesia Reformata semper reformanda secundum Verbum Dei yang berarti gereja-gereja Reformed terus-menerus di-Reformed-kan sesuai dengan firman Allah? Moto inilah yang mengakibatkan gereja Reformed yang sehat adalah gereja Reformed yang rendah hati dan siap dikoreksi oleh Alkitab jika ada ajaran-ajarannya yang kurang setia terhadap Alkitab. Semangat rendah hati dan kembali kepada Kitab Suci yang diteladankan oleh orang-orang Yahudi di Berea dan para reformator hendaklah menjadi semangat kita yang mengaku diri orang Kristen. Bagaimana menjalankan dua hal itu?

Orang Kristen pada umumnya dan orang Reformed pada khususnya harus mendasarkan iman, ajaran, dan praktik hidupnya hanya pada Alkitab saja. Mereka tunduk di bawah otoritas Alkitab. Sebagai seorang yang tunduk di bawah otoritas Alkitab, maka kita tentu juga seorang yang menyelidiki Alkitab dengan bertanggung jawab. Di sini, peran eksegese Alkitab yang tepat harus dijalankan. Kita bisa belajar menyelidiki Alkitab dengan lebih bertanggung jawab dengan membaca buku-buku theologi khususnya studi Biblika. Misalnya, saya diberkati melalui buku Gospel and Spirit: Issues in New Testament Hermeneutics oleh Prof. Gordon D. Fee, Ph.D. dan buku Kesalahan-kesalahan Eksegetis yang ditulis oleh Prof. D. A. Carson, Ph.D. Kedua buku ini mengajar saya pribadi bagaimana berhati-hati dalam mengeksegese Alkitab dan jangan membiarkan presuposisi theologi kita berperan terlalu besar ketika mengeksegese Alkitab.[16] Nah, setelah itu, pada suatu kesempatan, kita tentunya bersosialisasi dengan orang Kristen dari gereja lain dan sebagai saudara seiman, maka saudara seiman itu mungkin mau berdiskusi tentang iman Kristen dengan kita. Bagaimana reaksi kita? Apakah kita langsung memasang tembok dengan berprasangka bahwa theologi kita paling benar? Hentikan itu. Bagi saya, adalah bijaksana jika kita tetap berdiskusi dengan saudara seiman itu dengan dasar Alkitab. Dengan kata lain, kita dan saudara seiman tersebut sama-sama menyelidiki Alkitab dengan prinsip-prinsip yang bertanggung jawab (bukan asal main comot ayat Alkitab). Jika dari hasil diskusi tersebut, kita menemukan ajaran theologi kita atau pengertian yang pernah kita dengar waktu kecil di gereja kurang setia pada teks Alkitab, maka tugas kita yang tepat adalah bukan ngotot dengan pengertian kita, tetapi berani mengubah pengertian kita, supaya sesuai dengan Alkitab.[17] Sedangkan jika terbukti iman saudara seiman kita yang kurang setia pada teks Alkitab, maka tugas kita adalah membimbingnya untuk lebih mendalami Alkitab dengan lebih bertanggung jawab. Jika dari hasil diskusi tersebut, kita dan saudara seiman kita tidak menemukan jawaban yang tepat, maka berkonsultasilah dengan hamba Tuhan yang mendalami studi Biblika dengan bertanggung jawab atau/dan beli dan bacalah buku-buku studi Biblika yang menjelaskan ayat itu dengan eksegese Alkitab yang teliti. Jika segala hal sudah kita kerjakan, namun tetap menemukan jalan buntu entah itu karena adanya variasi penafsiran dari buku dan hamba Tuhan yang kita tanya atau memang buku dan hamba Tuhan tersebut tidak bisa menafsirkan teks Alkitab itu dengan jelas, maka tugas kita adalah belajar saling menghormati iman masing-masing, jika iman tersebut adalah dalam hal-hal sekunder. Belajarlah untuk tidak menghakimi saudara seiman lain yang berbeda doktrin dalam hal-hal sekunder sebagai sesat, dll, tetapi bersatulah dengan mereka, karena mereka dan kita hanya berbeda doktrin sekunder yang tidak perlu dipermasalahkan. Meskipun kita berbeda doktrin sekunder, kita tetap beriman dalam hal-hal primer seperti Allah itu Trinitas, Kristus adalah Allah dan manusia, Alkitab itu firman Allah, dll.

Biarlah menjelang hari Reformasi gereja ini, kita sebagai orang Kristen pada umumnya dan orang Reformed pada khususnya meneladani semangat orang-orang Yahudi di Berea dan para reformator yang menyelidiki Kitab Suci sekaligus rendah hati. Berhentilah menjadi orang Kristen yang sok tahu dan mengakulah jika kita memang benar-benar tidak mengetahuinya. Amin. Soli Deo Gloria.



[1] Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Jilid I (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006), hlm. 731.

[2] Yakub Tri Handoko, Sejarah Gereja Umum (Diktat Kuliah, Sekolah Theologi Awam Reformed, 2010), hlm. 58-60.

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Augsburg_Confession

[4] http://reformed.ac.id/katekismus-heidelberg/

[5] http://www.prca.org/bc_index.html

[6] A. Kenneth Curtis, dkk, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, terj. A. Rajendran (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hlm. 96.

[7]http://www.reformed.org/documents/index.html?mainframe=http://www.reformed.org/documents/canons_of_dordt.html; Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Belgia, dan Kanon Dort disebut sebagai “Three Forms of Unity” (http://www.prca.org/bc_index.html)

[8] John M. Frame, Cornelius Van Til: Suatu Analisis Terhadap Pemikirannya, terj. Irwan Tjulianto (Surabaya: Momentum, 2002), hlm. 24-25.

[9] Ibid., hlm. 26.

[10] Rev. Dr. John S. Piper memiliki keyakinan doktrin akhir zaman: Postmillenialisme.

[11] Aliran theologi Reformed yang mempercayai doktrin akhir zaman: Dispensasionalis yang mengajarkan dunia ini dibagi menjadi beberapa dispensasi. Aliran doktrin akhir zaman ini merupakan cabang dari Premillenialisme, sehingga sering disebut sebagai Premillenialisme Dispensasionalis.

[12] http://en.wikipedia.org/wiki/John_F._MacArthur

[13] http://www.monergism.com/thethreshold/articles/bio/jipacker.html

[14] http://t4g.org/about/people-history/

[15] Strictly Reformed tidak identik dengan extreme(ly) Reformed. Meskipun Pdt. Dr. Stephen Tong berjuang menegakkan theologi Reformed secara ketat, namun beliau BUKANlah seorang Reformed yang ekstrem yang mengatakan bahwa semua gereja di luar Reformed itu sesat. Hal ini terbukti di gereja yang beliau gembalakan di Jakarta tetap mempublikasikan brosur acara seminar Injili misalnya brosur Seminar Sola Scriptura yang bersifat interdenominasi gereja. Bahkan beliau sendiri yang mengumumkan acara ini dan pernah mengundang salah satu pembicara dalam seminar tersebut untuk berkhotbah di kebaktian bahasa Inggris di gereja yang beliau gembalakan. Bagi saya, extreme(ly) Reformed (istilah yang saya ciptakan sendiri) adalah suatu “aliran” Reformed baru yang mati-matian memperjuangkan theologi Reformed dan menolak semua bentuk perbedaan termasuk dalam hal-hal sekunder, seperti: baptisan anak, dll. Aliran Reformed ekstrem ini tidak berada di satu gereja Reformed tertentu, tetapi juga ada di gereja Injili. Saya pernah mendengar seorang pendeta Reformed di sebuah gereja Injili di Surabaya yang sangat alergi dengan tepuk tangan di dalam kebaktian gereja dan ada juga pendeta Reformed lain yang mencap gereja Reformed tertentu di Surabaya sebagai gereja yang bertheologi Arminian hanya karena di gereja Reformed tersebut di kebaktian sorenya menggunakan tata ibadah kontemporer.

[16] Saya tidak mengatakan bahwa ketika kita mengeksegese Alkitab, kita tidak perlu memiliki presuposisi theologi, karena bagaimanapun juga presuposisi theologi kita pasti ada di balik eksegese kita akan Alkitab. Namun, yang saya tekankan di sini adalah jangan memasukkan terlalu banyak presuposisi theologi ketika kita sedang mengeksegese Alkitab, karena jika kita melakukan hal itu, kita sebenarnya membungkam apa yang hendak teks Alkitab katakana kepada kita.

[17] Misalnya, sebagai orang Kristen, sejak remaja, sering kali kita mendengar pendeta/hamba Tuhan mengajar bahwa kata kasih dalam bahasa Yunani ada 4: agapē, philia, eros, dan storge. Lalu, si pendeta berkata bahwa keempat arti kata kasih itu berbeda-beda, salah satunya: agapē berarti kasih tanpa syarat yang dikaitkan dengan kasih Allah. Jangan heran, ada pendeta yang menafsirkan bahwa perbedaan kata kasih yang dipakai Yesus pada pertama dan kedua (agapaō) dengan ketiga (phileō) di Yohanes 21:15-17 berarti Yesus menurunkan standar kasih supaya Petrus dapat mengasihi-Nya. Penyelidikan teks Yunani yang teliti mengatakan bahwa kedua kata Yunani itu tumpang tindih/sama. Benarkah agapaō (atau agapē) berarti kasih tanpa syarat yang dikaitkan dengan kasih Allah? Rev. Prof. Donald A. Carson, Ph.D. di dalam bukunya Kesalahan-kesalahan Eksegetis memaparkan bahwa jika agapē dikaitkan dengan arti khusus, bagaimana menafsirkan kata kasih di 2 Samuel 13:15 menurut Septuaginta (Perjanjian Lama Bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani)? Di 2 Timotius 4:10, ketika Paulus menyebutkan bahwa Demas meninggalkannya karena Demas mengasihi dunia sekarang yang jahat, kata kasih di situ teks Yunaninya adalah agapaō, lalu apakah ini artinya kasih tanpa syarat, lalu dikaitkan dengan kasih Allah? (D. A. Carson, Kesalahan-kesalahan Eksegetis, terj. Lanna Wahyuni {Surabaya: Momentum, 2009}, hlm. 28-29)