14 August 2011

Bagian 7: "SEPERTI KAMI JUGA MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI"

TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA-7

(Seri Pengajaran Doa Bapa Kami):

“seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”

(Mat. 6:12b)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Kita memohon agar Allah mengampuni (utang) dosa kita, lalu apa respons kita setelah itu? Kristus mengatakan, “seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;”

Dari sini, kita belajar bahwa permohonan kita kepada Allah agar Allah mengampuni (utang) dosa kita mengakibatkan kita dapat mengampuni orang lain yang ber(utang) dosa kepada kita.[1]

Hal ini mengingatkan saya tentang pengajaran Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang pengampunan di dalam Matius 18:21-35. Di dalam konteks ini, Petrus bertanya tentang berapa kalikah ia harus mengampuni orang yang berdosa kepadanya? Apakah cukup 7 kali? (bdk. Luk. 17:3-4) Di dalam Lukas 17:3-4, Tuhan Yesus memang mengajar bahwa ketika ada orang yang berdosa 7x dalam sehari dan selama 7x, ia datang kepada kita, lalu berkata menyesal (Yun.: metanoō; artinya: bertobat), maka kita harus mengampuninya. Namun, apakah itu berarti kita hanya mengampuninya sebanyak 7x?

Di dalam Matius 18:22, Tuhan Yesus menjawab: TIDAK! Bukan hanya 7x, tetapi “sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Apa artinya 70 kali 7 kali? Dr. John Gill di dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible menafsirkannya sebagai angka yang tidak pasti, lalu beliau merujuk pada Kejadian 4:24, “sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” Saya lebih menafsirkannya bukan sebagai angka yang tak pasti, tetapi tak terbatas. Di sini, berarti Kristus hendak mengajar kita untuk mengampuni sesama kita yang berdosa dengan pengampunan yang tak terbatas sebagaimana Allah pun telah mengampuni kita seberapa besar dosa-dosa kita kepada-Nya.

Untuk memperjelas pengajaran-Nya, di ayat 23-34, Ia memberikan perumpamaan tentang seorang hamba yang berutang 10.000 talenta (Yun.: myriōn merupakan bilangan terbesar dalam perhitungan aritmatik Yunani)[2] yang telah diampuni oleh sang raja, namun tidak mengampuni rekannya yang hanya berutang 100 dinar[3] kepadanya, bahkan menangkap, mencekik, dan memenjarakan rekannya ini. Tindakan ini dilaporkan oleh seorang kawannya yang lain kepada sang raja/tuan, lalu sang raja marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo sampai si pengutang besar ini melunasi utang-utangnya.

Dari pengajaran ini, Kristus hendak menjelaskan bahwa kita yang telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah melalui Kristus hendaklah menunjukkan pengampunan serupa kepada saudara-saudara yang berbuat salah kepada kita, karena:

1. Kita Harus Menjadi Saluran Penyalur Kasih Allah yang Mengampuni Kepada Saudara-saudara Kita

Karena kita telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah, maka sebagai responsnya, kita harus bersyukur atasnya dengan menyalurkan kasih Allah yang mengampuni dosa-dosa itu kepada orang-orang yang bersalah kepada kita. Mengampuni kesalahan orang lain TIDAK berarti bersikap cuek terhadap kesalahan orang lain, tetapi mengampuni berarti tidak lagi mengingat-ingat lagi kesalahan orang lain sebagaimana Allah yang mengampuni dosa-dosa kita pun TIDAK mengingat-ingat lagi dosa-dosa kita (bdk. Mzm. 130:3; Yes. 43:25; Ibr. 8:12; 10:17).

2. Dosa-dosa yang Telah Kita Perbuat Kepada Allah Jauh Lebih Besar dan Berat daripada Kesalahan Orang Lain Kepada Kita.

Selain karena kita harus menjadi penyalur kasih pengampunan Allah, kita pun harus menyadari bahwa kita harus mengampuni orang lain karena sejujurnya dosa-dosa kita kepada Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosa orang lain kepada kita (10.000 talenta Vs 100 dinar). Misalnya, kesalahan orang lain kepada kita dalam bentuk menghina kita, namun tahukah kita bahwa ketika kita berdosa kepada-Nya, kita menghina Allah yang telah mencipta kita? Menghina Allah yang telah mencipta kita jauh lebih berat pelanggarannya ketimbang hanya sekadar menghina sesama manusia biasa.

Ketika kita terus merasa bahwa orang lain bersalah kepada kita tanpa menyadari lebih seriusnya dosa kita kepada Allah, kita sebenarnya lebih berdosa yaitu dengan memuliakan diri ketimbang Allah. Berhati-hatilah terhadap hal ini.

Biarlah kita masing-masing mengintrospeksi diri di dalam doa dengan melihat kelemahan diri dibandingkan orang lain dan menyerahkannya kepada Allah agar Ia sudi mengampuni kita. Amin.



[1] Teks Yunaninya: tois opheiletais berarti si pengutang.

[2] The People’s New Testament menafsirkan bahwa jika berat 10.000 talenta ini dalam bentuk perak Yunani, maka itu setara dengan $7,500,000.

[3] Dinar atau denarius adalah mata uang perak Romawi. Satu dinar seharga 15-18 sen, maka 100 dinar bisa diidentikkan sekitar $15-18.

07 August 2011

Resensi Buku-129: MY NEW TESTAMENT (Yusak B. Hermawan, M.Th.)

Alkitab terdiri dari 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Di dalam masing-masing kitab tersebut, kita menjumpai adanya perbedaan isi, genre, tujuan, dll yang tetap menunjuk kepada satu inti yaitu Allah dan karya-Nya dari sejak Penciptaan sampai Penyempurnaan. Khususnya di dalam Perjanjian Baru, kita melihat karya Allah khususnya dari Penebusan Kristus sampai Penyempurnaan. Keragaman kitab di dalam Perjanjian Baru membuat kita bersyukur bahwa Allah memakai banyak penulis PB untuk menuliskan wahyu-Nya dengan limpah. Apa saja isi kitab-kitab di dalam PB? Siapa penulisnya? Siapa penerimanya? Kapan kitab-kitab tersebut kira-kira ditulis? Apa maksud dan tujuan penulisan kitab-kitab tersebut?

Temukan jawabannya dalam:
Buku
MY NEW TESTAMENT:
Menjelajah Dunia Perjanjian Baru Untuk Memahami dan Mendalami Kitab-kitab di Perjanjian Baru


oleh: Yusak B. Hermawan, M.Th.

Penerbit: Yayasan ANDI, 2010



Sebagai sebuah pengantar PB, Bp. Yusak B. Hermawan memaparkan kepada kita sebuah pengantar kitab-kitab PB yang cukup singkat namun jelas berkaitan dengan: penulis, penerima, waktu dan tempat penulisan, tujuan dan maksud penulisan. Sebelum membahas masing-masing kitab PB, beliau memaparkan seputar PB dan latar belakang PB (masa intertestamental: setelah PL dan sebelum PB) yang memimpin kita untuk mengerti dunia PB dengan lebih jelas. Kemudian setelah itu, beliau mulai menjelaskan pengantar keempat Injil, kemudian disusul dengan pengantar surat-surat Paulus, pengantar surat-surat umum, dan terakhir, pengantar kitab apokaliptik (Wahyu). Di dalam pengantar kitab ini, beliau sedikit memasukkan sanggahan para theolog liberal yang menyerang keabsahan penulisan kitab-kitab PB tersebut disusul dengan tanggapan balik Bp. Yusak terhadap tuduhan/sanggahan mereka.

Saya merekomendasikan buku ini sebagai buku pengantar PB yang bukan hanya sekadar akademis, namun begitu sederhana dan jelas serta dapat dipahami oleh orang Kristen awam maupun mahasiswa theologi yang menghantar kita memahami PB dengan lebih komprehensif.



Profil Yusak B. Hermawan, M.Th.:
Yusak B. Hermawan, M.Th. lahir di Pati, 3 Oktober 1968. Setelah pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi theologi, saat ini beliau bekerja sebagai kepala bagian editorial PBMR Andi, Yogyakarta dan Ketua Pembina Komunitas Kristen Indonesia, Semarang. Beliau menyelesaikan studi theologi di Institut Theologi Aletheia (ITA) Lawang, Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, dan menyelesaikan studi Master of Theology (M.Th.) di Fakultas Theologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta.

Bagian 6: "DAN AMPUNILAH KAMI AKAN KESALAHAN KAMI"

TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA-6

(Seri Pengajaran Doa Bapa Kami):

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami”

(Mat. 6:12a)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Setelah meminta hal jasmani yang berupa makanan, Kristus mengajar kita untuk meminta “kesalahan” dalam ayat ini dalam teks Yunaninya ophelēmata yang seharusnya diterjemahkan sebagai utang (debt). Kata ini dipakai di Roma 4:4 (ophelēma) dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai hak.[1] Konteks Roma 4:4-5 adalah mengenai Abraham yang dibenarkan melalui iman. Di ayat 2 dijelaskan bahwa jika Abraham dibenarkan melalui perbuatan, maka ia akan bermegah, tetapi ia tidak dibenarkan di hadapan Allah. Lalu, Abraham dibenarkan melalui apa? Di ayat 3, Paulus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan karena ia percaya kepada Allah. Lalu, ia memberi ilustrasi di ayat 4, ketika ada orang yang bekerja dan mendapatkan upah, maka upah itu sebenarnya bukan hadiah bagi orang itu, tetapi sebagai utang, namun di ayat 5, Paulus menjelaskan bahwa kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Allah yang membenarkan orang durhaka, maka imannya itu diperhitungkan menjadi kebenaran (Yun.: dikaiosunēn).

Dari Roma 4:1-5, kita diajar Paulus bahwa kita dibenarkan di hadapan Allah melalui iman kita kepada-Nya yang tentunya merupakan anugerah dari Allah (bdk. Ef. 2:8-9), namun setelah dibenarkan oleh Allah, kita pun dituntut-Nya untuk berbuat baik bagi kemuliaan-Nya, namun perbuatan baik itu dilakukan sebagai respons terhadap anugerah Allah yang membenarkan kita melalui iman kepada Kristus. Setelah kita berbuat baik, maka Allah akan memberikan upah kepada kita, tetapi waspadalah, upah itu bukan hadiah bagi kita, tetapi sebagai utang perbuatan baik yang telah kita bayar secara angsuran.

Kata “utang” inilah yang dipakai Tuhan Yesus ketika mengajar umat-Nya untuk memohon agar Allah mengampuni (utang) kesalahannya. Dosa diidentikkan dengan utang karena memang dosa adalah utang kebaikan dan kebenaran yang seharusnya dikerjakan oleh manusia yang telah diciptakan Allah.

Karena itulah, Kristus mengajar kita agar kita memohon agar Allah mengampuni (utang) dosa kita. Mengapa? Karena kalau kita sendiri yang menebus (utang) dosa kita, kita tak akan sanggup. Ketidaksanggupan kita disebabkan karena ketika kita mau menebus (utang) dosa kita dengan berbuat baik, perbuatan baik kita pun jelas mengandung bibit dosa. Oleh karena itu, kita memohon agar Allah mengampuni (utang) dosa kita.

Biarlah di dalam doa kita, kita tidak lupa untuk terus memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah kita perbuat dan perbuatan baik yang seharusnya kita lakukan namun tidak kita lakukan. Amin.



[1] King James Version (KJV) dan Young’s Literal Translation (YLT) menerjemahkannya sebagai: debt (utang); ESV, NASB, dan RSV menerjemahkannya sebagai: due (hak); dan NIV menerjemahkannya sebagai: obligation (kewajiban).

31 July 2011

Book Description-128: THE GOD CONVERSATION (Prof. J. P. Moreland, Ph.D. and Prof. Timothy Muehlhoff, Ph.D.)

Have you ever talk about God and your faith to others? How do you talk to them? As Christians, we are mandated by God to preach the Gospel to others for the glory of God (Matthew 28:19-20), but the further question is how to preach the Gospel to others. Should we preach the Gospel directly by insulting others? Or should we compromise our message in order to please and honor others?

Book
THE GOD CONVERSATION:
Using Stories and Illustrations to Explain Your Faith


by:
Prof. J. P. Moreland, Ph.D. and Prof. Timothy Muehlhoff, Ph.D.

Foreword: Rev. Lee Strobel

Publisher: InterVarsity Press, 2007




Prof. J. P. Moreland, Ph.D. and Prof. Tim Muehlhoff, Ph.D. in their book The God Conversation teaches us about how to share and explain Christianity clearly and wisely to others. I call that methodology as a friendship or conversational or dialoguing evangelism. They argue that if we want the Gospel listened by others, we should listen, pay attention to, and understand others’ belief. We should understand others’ difficulties regarding God and Christianity, such as: the problem of evil, the uniqueness of Christianity, the resurrection of Jesus Christ, ethics and morality, and the creation. After that, we should explain their difficulties and provide solutions by using stories, illustrations, and some clear explanations to remind their difficulties (and fallacies) regarding God and Christianity and lead them to Christ.

In order to realize that methodology, in their book, Dr. Moreland and Dr. Muehlhoff provide many stories, illustrations, and clear explanations as resources for Christians to share to others in evangelism. Those stories, illustrations, and clear explanations are taken from films, history, events, etc. Let this book equippes us to preach the Gospel to others clearly and wisely.





Endorsement:
“Moreland and Muehlhoff have written a unique and engaging book. The style is casual, yet the topics are treated with sufficient detail and nuance to be helpful. I commend The God Conversation to anyone seeking to discuss these matters in meaningful ways with family, friends and colleagues.”
Stan W. Wallace, Ph.D.
(Faculty Ministry & Emerging Scholars Network and National Director at InterVarsity Christian Fellowship; Bachelor of Science—B.S. in Secondary Education from Miami University; Master of Arts—M.A. in Philosophy of Religion and Ethics, summa cum laude from Talbot School of Theology, Biola University; and Doctor of Philosophy—Ph.D. from Marquette University)

“I love stories and illustrations because of the impact they have had on me. If they have had a similar effect on you, this book is for you. It will reinforce your faith, hone your ability to share your relationship to Jesus Christ and delight your imagination. I cannot give it a higher recommendation.”
Prof. Clyde Cook, D.Miss.
(former president at Biola University; Bachelor of Arts—B.A. from Biola University, U.S.A.; Master of Divinity—M.Div. and Master of Theology—Th.M. from Talbot Theological Seminary, U.S.A.; and Doctor of Missiology—D.Miss. from Fuller Theological Seminary, U.S.A.)

“Today’s culture is increasingly a story-based culture. As Tim and J. P. help to show, a story-based culture does not have to be a culture without truth. This book is an excellent tool to learn how to better communicate the great truths about God, the world, our faith and human nature through stories, modern-day parables, and by listening and teaching like Jesus. It is a must-read for all who want to help others find faith in Jesus Christ.”
Alan Andrews
(U.S. President of The Navigators)

“If you are a headhunting evangelist or an intellectual who must have the last word, put this book down and go home. If you love your pre-Christian friends and want stimulating resources to engage them in meaningful spiritual dialogue on hard questions, J. P. and Tim are the mentors you seek.”
Dr. Fred H. Wevodau
(Director of U.S. Metro Mission of The Navigators)

“Most conversations, let alone ones about God, are either dull, single-sided or competing monologues full of smoke. It simply shouldn't be. Carrying on a vital, passionate, engaging conversation with another human being is an art that has been sufficiently lost that we need wisdom and perspective on how to engage well. The God Conversation is a gift to the church to invigorate our conversations with believers, seekers and unbelievers. J. P. and Tim walk with us through the use of story and authenticity with such masterful delight that one ends by sensing the authors have given us the very gift we are to give to others.”
Prof. Dan B. Allender, Ph.D.
(President and Professor of Counseling, Mars Hill Graduate School, and author of The Wounded Heart and To Be Told; M.Div. from Westminster Theological Seminary, U.S.A. and Ph.D. in Counseling Psychology from Michigan State University)

Their stories, coupled with advice on constructive listening, will be helpful to any Christian who wants to move beyond ideas and arguments to communicate the gospel using a softer approach.
Christian Retailing, November 2007

The stories are memorable and thought provoking, and the colver writing brings out the authors' message. This is a well-written guidebook for evangelizing the curious and responding to skeptics.
Jason W. in Church Libraries, Spring 2008

The God Conversation offers user-friendly help in countering objections to the faith.
—World, March 22/29, 2008






Biography of the author:
Prof. James Porter Moreland, Ph.D. (born 1948), better known as J. P. Moreland, is currently Distinguished Professor of Philosophy at Talbot School of Theology at Biola University in La Mirada, California, U.S.A. He is also a fellow of: the Wilberforce Forum (2001 to present) and the Center for the Renewal of Science & Culture, Discovery Institute (2000-present). He earned Bachelor of Science (B.S.) from University of Missouri; Master of Theology (Th.M.) from Dallas Theological Seminary, U.S.A.; Master of Arts (M.A.) from University of California, Riverside; and Doctor of Philosophy (Ph.D.) from University of Southern California, U.S.A. Moreland has authored or co-authored numerous publications, including:
• Scaling the Secular City: A Defense of Christianity (1987)
• Christianity and the Nature of Science: A Philosophical Examination (1989)
• The Life and Death Debate: Moral Issues of Our Time (with Norman Geisler, 1990)
• Does God Exist?: The Debate Between Atheists and Theists (with Kai Nielsen, 1990)
• The Creation Hypothesis: Scientific Evidence for An Intelligent Designer (1994)
• Love Your God With All Your Mind: The Role of Reason in the Life of the Soul (1997)
• Body and Soul: Human Nature and the Crisis of Ethics (with Scott Rae, 2000)
• Naturalism: A Critical Analysis (co-editor with William Lane Craig, 2000)
• Philosophical Foundations for a Christian Worldview (with William Lane Craig, 2003)
• Kingdom Triangle: Recover the Christian Mind, Renovate the Soul, Restore the Spirit’s Power (2007)
• Consciousness and the Existence of God (2009)
• The Recalcitrant Imago Dei (2009)
• The God Question: An Invitation to a Life of Meaning (2009)

Prof. Timothy Muehlhoff, Ph.D. is Associate Professor of Communication at Biola University in La Mirada, California, U.S.A. He earned B.A. from Eastern Michigan University; M.A. and Ph.D. from University of North Carolina, Chapel Hill, U.S.A. He wrote many books, include: Marriage Forecasting: Changing the Climate of your Relationship One Conversation at a Time (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2010); Authentic Communication: Christian Speech Engaging Culture (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2010) co-author: Todd Lewis; other articles, journals, etc.

Bagian 5: "BERIKANLAH KAMI PADA HARI INI MAKANAN KAMI YANG SECUKUPNYA"

TUHAN, AJARLAH KAMI BERDOA

(Seri Pengajaran Doa Bapa Kami):

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”

(Mat. 6:11)

oleh: Denny Teguh Sutandio

Setelah memuliakan dan mengharapkan kerajaan dan kehendak-Nya dinyatakan kepada kita, maka kita baru “diizinkan” untuk meminta hal-hal jasmani kepada-Nya: makanan, kesalahan, dan pencobaan.

Permintaan tentang hal-hal jasmani pertama adalah tentang makanan. Kata “makanan” di dalam ayat 11 ini di dalam bahasa Yunani adalah arton yang berarti roti (bread). Kata ini dipakai di: Matius 26:26; Markus 6:38, 44, 52; Lukas 9:3; dan Ibrani 9:2. Hampir semua terjemahan Alkitab bahasa Inggris menerjemahkan ayat 11 ini sebagai bread. Arti lainnya adalah makanan secara umum dan kata arton dalam arti ini dipakai di: Markus 3:20 (makan); Lukas 15:17 (makanan); dan 2 Tesalonika 3:12 (makanan). Dengan kata lain, kata “makanan” dalam ayat 11 ini tentu tidak terbatas pada roti saja, karena makanan pokok di negara lain tidak hanya roti, sehingga terjemahan Alkitab LAI ini cukup tepat.

Lalu, kita meminta Allah untuk memberikan makanan itu “pada hari ini”. “Pada hari ini” di dalam teks Yunaninya epiousion[1] yang bisa diterjemahkan “pada hari ini” (today) atau setiap hari (daily). Di dalam Matius 6:11, LAI memilih terjemahan “pada hari ini”, sedangkan di Lukas 11:3, LAI memilih terjemahan “setiap hari”, padahal kedua kata itu di dalam teks Yunaninya sama. Kedua arti kata itu tidak menjadi masalah, karena pada intinya, kita meminta Allah memberikan makanan kepada kita sebagai wujud kita berharap pada belas kasihan-Nya.

Kata “secukupnya” di dalam terjemahan Indonesia TIDAK ditemukan di dalam teks Yunaninya, sehingga penambahan kata ini hanya sekadar mempertegas.

Dengan berdoa “berikanlah kami pada hari ini makanan kami”, kita diajar Kristus bahwa:

1. Hal-hal Jasmani (seperti makanan) Tetap Perlu Bagi Manusia

Beberapa orang Kristen yang dipengaruhi oleh asketisisme percaya bahwa sebagai orang Kristen, kita harus menyangkal diri dalam arti menyangkal dari kebutuhan jasmani, seperti: tidak makan, tidak minum, dll, karena mereka percaya bahwa tubuh ini jahat, sedangkan jiwa ini baik (dualisme Platonistik). Sebenarnya, dalam satu sisi, hal itu baik dari segi aplikasi karena mengajar kita untuk mendisiplin diri, tetapi di sisi lain, hal itu juga tidak benar secara fondasi doktrin dan aplikasi, karena Alkitab TIDAK melarang kita untuk makan, minum, berekreasi, dll apalagi mengajar kita bahwa tubuh ini jahat dan jiwa ini baik. Bahkan Tuhan sendiri memperbolehkan kita untuk meminta hal jasmani, salah satunya makanan. Hal ini membuktikan bahwa Allah mengerti bahwa makanan tetap merupakan hal perlu bagi manusia.

2. Kita Harus Bergantung Pada Allah yang Memberikan Berkat Setiap Hari.

Karena hal-hal jasmani tetap diperlukan oleh manusia, maka melalui doa ini, kita diajar bahwa kita diperbolehkan meminta hal jasmani kepada Allah dengan iman karena kita bergantung sepenuhnya pada Allah yang memelihara sekaligus memberi berkat kepada kita setiap hari. Di sini, kita diajar Kristus bahwa Allah bukan Allah yang meninggalkan dunia setelah menciptakannya (paham Deisme), tetapi Ia adalah Allah yang memelihara ciptaan-Nya khususnya umat pilihan-Nya baik dalam hal keselamatan (sehingga mereka tidak akan binasa) maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pemeliharaan Allah di dalam kehidupan umat-Nya sehari-hari mengakibatkan kita tidak perlu kuatir akan hidup kita (bdk. Mat. 6:25-33).

Di sisi lain, pemeliharaan Allah menunjukkan bahwa Allah yang dipercaya oleh orang Kristen adalah Allah yang hidup dan berdaulat mutlak atas hidup manusia. Hal ini sangat berbeda dengan konsep “Allah” atau “Tuhan” yang dipercaya oleh orang-orang non-Kristen yang tentunya tak berpribadi. Bandingkan Allah dalam iman Kristen dengan konsep “Tuhan” dalam agama Budha yang tak berpribadi (meskipun mengaku berpribadi) yang katanya ada, tetapi karena di luar nalar manusia, maka anggaplah itu tidak ada (menurut pengakuan teman saya yang beragama Budha). Jika “Tuhan” ada, tetapi karena di luar nalar manusia, lalu “Tuhan” dianggap tidak ada, bukankah ini suatu ketidakkonsistenan logika? Kedua, di dalam agama ini juga dipercaya bahwa “nasib” manusia ditentukan oleh hukum karma. Pertanyaannya adalah jika mereka percaya adanya Tuhan, lalu apa gunanya “Tuhan” itu jika pada akhirnya tujuan akhir hidup manusia ditentukan oleh hukum karma yang merupakan sesuatu yang mati?

Meskipun kita tetap bergantung kepada Allah, kita tidak diperintahkan oleh Allah untuk malas bekerja, karena “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2Tes. 3:10) Lalu, bagaimana menyeimbangkannya? Bergantung dan beriman kepada Allah seharusnya menjadi dasar kita bekerja keras bagi kemuliaan-Nya sambil menyadari bahwa segala berkat jasmani yang dikaruniakan-Nya kepada kita itu adalah anugerah-Nya yang memampukan kita untuk bekerja keras.

Allah kita adalah Allah yang memelihara hidup umat-Nya dengan menyediakan berkat yang cukup bagi mereka. Biarlah pemeliharaan-Nya ini menjadi dasar dan pendorong bagi kita untuk bekerja keras untuk memuliakan-Nya. Amin.



[1] Kata Yunani ini hanya muncul 2x di dalam Perjanjian Baru, yaitu di Matius 6:11 dan Lukas 11:3 (dua-duanya merupakan isi Doa Bapa Kami).