22 September 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 8:8-13 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 8:8-13

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 8:8-13



Bagian ini masih berkaitan erat dengan “pengetahuan” yang dibanggakan oleh jemaat Korintus (8:1-2). Apa yang mereka sebut “pengetahuan” ternyata bukan hanya “ketidakadaan berhala” (8:4-7), tetapi juga “ketidakadaan hubungan antara makanan dan kerohanian” (8:8). Berangkat dari pemahaman bahwa makanan tidak membuat seseorang lebih jauh maupun lebih dekat kepada Allah, jemaat Korintus menganggap makan di kuil sebagai tindakan yang tidak akan berpengaruh pada kerohanian mereka.

Alur berpikir Paulus dalam bagian ini dapat diterangkan sebagai berikut. Ia memulai bagian ini dengan mengutip pandangan jemaat Korintus yang mereka pakai untuk membenarkan tindakan makan di kuil berhala (8:8). Ia selanjutnya memberikan respons terhadap hal ini. Ia tidak membenarkan maupun menyalahkan pandangan jemaat Korintus. Sebaliknya, ia memilih untuk menyoroti kesalahan dalam penerapan pandangan tersebut. Kebebasan Kristiani tidak berarti “bebas melakukan apa pun yang dianggap benar”. Kebebasan Kristiani harus mempedulikan orang lain supaya jangan menjadi batu sandungan (8:9). Bukti konkrit dari menjadi batu sandungan adalah mendorong orang-orang yang hati nurani lemah untuk makan di kuil sebagai tindakan penyembahan berhala (8:10). Pengaruh negatif ini membawa konsekuensi yang sangat serius: orang yang terpengaruh akan binasa dan mereka yang menjadi batu sandungan telah berdosa terhadap gereja dan Kristus (8:11-12). Sebagai konklusi, Paulus mengajarkan prinsip hidupnya sendiri berkaitan dengan makanan, yaitu tidak mau makan sesuatu jika hal itu menyebabkan orang lain tersandung (8:13).


Pandangan Jemaat Korintus (ay. 8)
Penerjemah LAI:TB memberikan tanda petik dua untuk keseluruhan ayat 8 sebagai petunjuk bahwa ayat ini merupakan sebuah kutipan. Penerjemah maupun penafsir yang lain belum mencapai kesepakatan tentang hal ini. Mereka mengusulkan tanda petik hanya untuk frase “makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah” (NRSV).

Alasan berikut ini tampaknya lebih mendukung pandangan pertama: (1) kata sambung “tetapi” di awal ayat 9 menegaskan kontras antara keseluruhan ayat 8 dengan apa yang ingin disampaikan Paulus mulai ayat 9; (2) Paulus menyebut sikap di ayat 8 sebagai “kebebasanmu”; dengan demikian ia tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang diutarakan di ayat 8; (3) keseluruhan ayat 8 sesuai dengan sikap jemaat Korintus yang memang cenderung mementingkan kebebasan (bdk. 6:12; 10:23). Dari ayat 8 terlihat bahwa jemaat Korintus menggunakan sebuah pandangan umum tentang makanan, lalu mengaplikasikan hal itu dalam konteks makan di kuil berhala. Hal ini tersirat dari penggunaan kata “makanan” (brōma) yang lebih umum. Kata ini berbeda dengan eidōlothutōn (8:1) maupun brōseōs tōn eidōlothutōn (8:4).

Mereka berpendapat bahwa makanan tidak membawa (parastesei) seseorang kepada Allah. Kata parastēsei bisa bermakna positif (“membawa lebih dekat”) maupun negatif (“menyeret ke pengadilan ilahi”). Hampir semua terjemahan berpihak pada pilihan ke-1, walaupun kata parastēsei dalam beberapa kasus dipakai sebagai istilah teknis di bidang hukum. Terlepas dari pilihan mana pun yang kita ambil, makna ayat ini tetap jelas: makanan tidak mempengaruhi relasi kita dengan Allah. Makna ini bahkan dipertegas di bagian terakhir ayat 8. Makan atau tidak makan ternyata tidak membawa pengaruh apa pun bagi relasi kita dengan Allah.

Bagaimana jemaat Korintus bisa memiliki konsep seperti ini? Para penafsir meyakini bahwa konsep ini dibangun dari ajaran Paulus seputar makanan. Orang Kristen tidak terikat dengan berbagai macam aturan tentang makanan, karena semua makanan adalah baik (1Tim. 4:4). Peraturan tentang makanan hanyalah peraturan manusia yang tidak bernilai kekal (Kol. 2:20-22). Makanan tidak akan mempengaruhi posisi seseorang di hadapan Allah (Rm. 14:2-3, 6). Beberapa penafsir juga menduga jemaat Korintus mendapatkan konsep seperti di atas berdasarkan analogi dari sunat. Dalam ajaran Paulus sunat dapat dianggap sebagai hal yang netral maupun negatif. Di satu sisi Paulus meminta Timotius untuk menyunatkan dirinya supaya ia bisa diterima orang-orang Yahudi dengan lebih baik (Kis. 16:3). Di sisi lain ia melarang sunat jika hal itu dianggap sebagai alat pembenaran di hadapan Allah (Gal. 5:2).

Pendeknya, bagi Paulus sunat sama sekali tidak memiliki nilai tambah bagi relasi seseorang dengan Allah (1Kor. 7:19; Gal. 5:6; 6:15). Prinsip seperti inilah yang mungkin diterapkan jemaat Korintus dalam hal makanan.


Respons Paulus (ay. 9-13)
Apa yang dipegang oleh jemaat Korintus sebenarnya tidak salah, karena itu Paulus pun tidak memberikan kritikan tentang hal ini. Yang salah adalah aplikasi dari pandangan itu. Ada perbedaan esensial antara makan makanan biasa dan makan makanan persembahan berhala di kuil. Poin ini nanti akan disinggung secara implisit di pasal 8. Di pasal 10 Paulus secara terus-terang akan menjelaskan bahwa makan di kuil berhala sama saja dengan menyembah berhala (10:19-21). Di 8:9-13 Paulus lebih memilih untuk menyoroti kesalahan aplikasi ini dari sisi akibat yang ditimbulkan bagi orang lain maupun orang yang melakukan.

Kebebasan Kristiani tidak boleh menjadi batu sandungan bagi orang lain (ay. 9)
Ayat ini dimulai dengan nasehat untuk berjaga (blepete, LAI:TB “jagalah”). Bentuk present tense yang dipakai menunjukkan tindakan ini perlu terus-menerus dilakukan. Kata dasar blepō sendiri secara hurufiah berarti “melihat”, tetapi sering kali dipakai dalam arti “berhatihati” (NIV) atau “memperhatikan” (KJV/NASB/RSV/ESV). Paulus secara hati-hati menyebut sikap jemaat sebagai “kebebasanmu itu”. Ia tidak mau menyebut ini sebagai kebebasan Kristiani yang sejati. Ini adalah kebebasan versi mereka, yaitu kebebasan yang didasarkan pada pengetahuan semata-mata (bdk. 8:1).

Kata Yunani di balik kata “kebebasan” adalah exousia. Kata ini mengandung makna “otoritas”, “wewenang” atau “hak”. Kata ini merupakan salah satu kata favorit jemaat Korintus (6:12; 10:23; LAI:TB menerjemahkan exousia di dua teks ini dengan “diperbolehkan”). Dari penggunaan kata ini terlihat bahwa isu yang dibahas bukan hanya bebas melakukan sesuatu, tetapi berhak melakukan. Justru hak atau otoritas inilah yang dijadikan dasar bagi kebebasan. Bagi mereka selama suatu tindakan mendapat pembenaran secara intelektual, maka itulah hak yang boleh dipegang atau dituntut.

Paulus menyebut tindakan mereka sebagai batu sandungan (proskomma). Di 8:13 ia memakai kata skandalizō dengan arti yang sama. Melalui kata ini tersirat bahwa apa yang dilakukan bukan hanya menimbulkan syak atau ketidaknyamanan secara emosi. Tindakan ini menyebabkan orang lain jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala.

Contoh konkrit menjadi batu sandungan (ay. 10)
Istilah “duduk makan di dalam kuil berhala” (en eidōleiō katakeimenon) yang dipakai di ayat ini merupakan istilah teknis yang merujuk pada bagian dari ibadah di kuil. Berbeda dengan pemahaman modern tentang ibadah dan makan bersama, pada jaman dahulu makan bersama dianggap sebagai bagian integral yang tidak terpisahkan dari ibadah. Mereka yang makan di kuil berarti turut dalam penyembahan tersebut (poin ini akan dibahas secara detil di 10:19-21).

Yang menarik perhatian dalam ayat ini adalah bagaimana orang-orang yang lemah hati nurani dapat melihat orang-orang yang berpengetahuan sedang makan di dalam kuil. Mereka bukan hanya menemukan atau mendengar, namun melihat. Situasi ini hanya dimungkinkan apabila orang-orang yang lemah diajak oleh orang-orang yang berpengetahuan untuk pergi ke kuil. Orang yang berpengetahuan bahkan bukan sekadar mengajak namun mendorong orang-orang yang lemah untuk melakukan hal yang sama. Mereka sangat mungkin ingin memaksakan “pengetahuan” yang mereka miliki kepada mereka yang lemah. Dalam hal ini mereka bermaksud “membangun” orang lain. Ironisnya, orang-orang yang lemah justru dikuatkan (oikodomeō) untuk jatuh dalam penyembahan berhala, padahal mereka seharusnya membangun (oikodomeō) orang lain dalam kasih (8:1).

Akibat serius yang ditimbulkan (ay. 11-12)
Keputusan Paulus untuk memilih kata “batu sandungan” merupakan pilihan yang tepat. Akibat yang ditimbulkan memang bukan hanya perasaan orang lain terusik atau orang lain merasa syak. Akibat yang muncul jauh lebih serius daripada sekadar masalah emosi.

Pertama, akibat untuk orang lain (ay. 11). Peletakan kata “binasa” (apollutai) di awal kalimat menyiratkan penekanan bahwa orang itu sungguh-sungguh binasa. Sebagian orang merasa terganggu dengan peringatan seperti ini, karena dianggap berkontradiksi dengan doktrin jaminan keselamatan di dalam Kristus yang tidak bisa hilang. Sebagai solusi mereka mengusulkan agar kata apollumi di sini tidak dipahami sebagai kebinasaan kekal secara rohani. Jika kita konsisten dengan penggunaan kata ini dalam tulisan Paulus secara umum maupun surat 1 Korintus secara khusus (1:18; 10:9-10; 15:18), maka kita sebaiknya tetap mengambil kata apollumi dalam arti “binasa secara kekal”.

Pandangan ini sebenarnya tidak bertentangan dengan jaminan keselamatan. Apa yang dilakukan oleh jemaat Korintus yang makan di kuil adalah penyembahan kepada roh-roh jahat (10:19-21). Jika ini terus berlangsung, maka keselamatan seseorang jelas berada dalam bahaya yang sangat besar. Di tengah bahaya besar yang mengancam seperti ini kita tidak bisa mengharapkan Paulus mengajarkan kepastian keselamatan. Hal itu akan berpotensi menguatkan jemaat tetap dalam dosa. Kita juga perlu menyadari bahwa doktrin jaminan keselamatan tidak berarti kebebasan untuk berbuat dosa terus-menerus. Allah menjamin keseamatan seseorang dengan cara memampukan orang itu untuk menaati Dia. Jadi, peringatan Paulus di sini sama sekali tidak bertentangan dengan kepastian keselamatan. Paulus hanya meletakkan suatu kebenaran ada porsi yang sesuai. Seandainya orang yang lemah benar-benar binasa, maka yang menjadi penyebab adalah “pengetahuan” dari orang-orang yang merasa diri pandai (ay. 11“karena pengetahuanmu itu”). Melalui ungkapan ini Paulus ingin menegaskan betapa seriusnya akibat yang ditimbulkan oleh gaya hidup Kristiani yang hanya didasarkan pada pengetahuan belaka.

Memiliki pengetahuan memang tidak salah, namun pengetahuan itu harus benar-benar teruji kebenarannya dan diaplikasikan secara tepat. Dalam ayat ini Paulus sengaja menyebut orang-orang yang lemah hati nuraninya sebagai saudara dan objek penebusan Kristus (“saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati”). Keterangan ini dimaksudkan untuk mengontraskan pengetahuan dan kasih (bdk. 8:1-3). Tindakan jemaat yang didasarkan pada pengetahuan merupakan tindakan yang tidak mencerminkan kasih kepada orang lain yang sebenarnya adalah saudara di dalam Kristus. Lebih jauh, tindakan ini sangat kontras dengan sikap Kristus yang mau mati bagi orang berdosa. Kristus rela mengorbankan kemuliaan-Nya demi kepentingan orang lain, sedangkan jemaat yang “berpengetahuan” tidak mau mengorbankan kebebasan yang mereka yakini.

Kedua, akibat untuk diri sendiri (ay. 12). Paulus tidak mau memandang enteng kesalahan yang dilakukan jemaat. Ia tidak hanya menyebut tindakan ini “kurang etis”, “tidak bijaksana” atau “tidak peka terhadap orang lain”. Ia dengan tegas memandang hal ini sebagai dosa. Dosa ini ditujukan pada dua pihak: saudara-saudaramu dan Kristus. Penggunaan bentuk jamak “saudara-saudara” di ayat ini berbeda dengan bentuk tunggal di ayat 11 maupun 13. Para penafsir biasanya memahami bentuk jamak ini sebagai rujukan pada gereja secara keseluruhan. Tindakan makan di kuil yang dilakukan oleh orang-orang yang berpengetahuan memberikan citra buruk tentang orang Kristen. Orang-orang di luar akan memandang orang-orang Kristen sebagai penganut sinkretisme. Keunikan kekristenan, terutama monoteisme Kristiani (8:4-6), akan menjadi kabur.

Lebih parah lagi, tindakan di atas juga berdosa kepada Kristus. Ada dua alasan bagi pernyataan ini: (1) Apa pun yang kita lakukan terhadap saudara seiman sama dengan kita lakukan kepada Kristus, baik yang positif maupun negatif (Mat. 25:45). Hal ini sangat dipahami Paulus, karena waktu ia menganiaya orang-orang Kristen Yesus Kristus menganggap ia menganiaya Kristus sendiri (Kis. 9:4-5); (2) orang yang berbalik dari Kristus sama dengan menghina Dia di depan umum (Ibr 6:6). Dua hal ini jelas layak disebut sebagai dosa terhadap Kristus sendiri.


Prinsip Hidup Paulus (ay. 13)
Di ayat ini Paulus kembali pada prinsip umum tentang makanan. Ia tidak membahas makanan berhala secara khusus. Hal ini tampak dari penggunaan kata brōma (LAI:TB “makanan”) dan krea (LAI:TB “daging”) yang merujuk pada makanan secara umum atau daging ikan. Penggunaan kata ganti orang ke-1 tunggal (“aku”) di ayat ini menunjukkan bahwa Paulus sedang menerapkan prinsip yang dia ajarkan pada dirinya sendiri. Dia tidak hanya bisa mengajar apa yang harus dilakukan, tetapi ia hanya mengajarkan apa yang telah ia lakukan.

Selain itu, penggunaan kata ganti orang “aku” berfungsi sebagai transisi ke pasal 9 yang memberi contoh lebih jelas dan konkrit tentang bagaimana Paulus rela kehilangan hak bagi orang lain. Prinsip hidup ini dinyatakan secara tegas dalam bentuk penekanan ou mē. Penggunaan kata “tidak” sebanyak dua kali ini dalam bahasa Yunani memang memberikan makna negasi yang sangat kuat. Terjemahan yang paling pas mungkin “sekali-kali tidak” atau “tidak...sama sekali”. Paulus bahkan menambahkan “untuk selama-lamanya” (ton aiōna) untuk mempertegas hal ini. Prinsip ini bukan hanya bersifat situasional, tetapi gaya hidup yang konsisten. Paulus tidak mau menggunakan kebebasan apa pun yang dia miliki jika kebebasan itu akan menjadi batu sandungan bagi saudara-saudara seiman.

Pernyataan Paulus di ayat 13 sangat berbeda dengan sikap jemaat Korintus, walaupun dua pihak sama-sama setuju bahwa makanan (bukan makanan berhala di kuil) tidak terlalu penting. Karena tidak terlalu penting, jemaat Korintus memilih untuk tetap makan, tanpa mempedulikan keberatan orang lain. Sebaliknya, Paulus memilih untuk tidak makan demi orang lain. Jika memang makanan tidak penting, mengapa kita sering kali tidak mau melepaskan hak itu? Mengapa kita sering kali memaksa orang lain untuk mengikuti kita dalam hal-hal yang sebenarnya kita tahu tidak seberapa penting? Mengapa kita tidak lebih suka mengalah demi orang lain? #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 22 November 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2008%20ayat%2008-13.pdf

21 September 2010

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-3: Sola Scriptura atau Alkitab + Tradisi Rasuli?

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-3:
Sola Scriptura atau Alkitab + Tradisi Rasuli?


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mzm. 119:105)


Pada bagian kedua, kita telah membahas mengenai perbedaan Sola Scriptura dengan Solo Scriptura. Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana otoritas Alkitab yang kita pegang berkenaan dengan tradisi gereja? Apakah tradisi gereja setara dengan Alkitab ataukah tradisi gereja di bawah Alkitab ataukah tradisi gereja di atas Alkitab? Pada bagian ini, kita akan melihat kontras antara Protestan dan Katolik Roma.

Kristen Katolik Roma adalah sebuah agama Kristen yang mengakui Paus Benediktus XVI yang berpusat di Vatikan, Roma sebagai kepala gereja Katolik Roma. Katolik Roma seperti ajaran Protestan juga mengakui banyak doktrin/ajaran utama, seperti: Allah menciptakan dunia dan manusia, manusia telah berdosa, dua natur Kristus, penebusan Kristus bagi manusia yang berdosa, kedatangan Kristus kedua kalinya, dan percaya akan Allah Tritunggal. Namun perbedaannya ada pada pengakuan akan otoritas Alkitab. Katolik Roma tetap mengakui bahwa Alkitab itu berotoritas. Bahkan pengakuannya akan finalitas Alkitab dipaparkan dengan jelas oleh Pastor Dr. H. Pidyarto, O.Carm. berikut ini, “Gereja Katolik mengajarkan bahwa wahyu Allah itu selesai dan lengkap dengan wafatnya rasul yang terakhir. Gereja sesudah zaman para rasul tidak menerima tambahan wahyu Allah.” (Kewibawaan Alkitab dari Sudut Pandang Seorang Katolik; http://www.alkitab.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=155&Itemid=131) Namun finalitas Alkitab sebagai wahyu Allah ini menurut Katolik Roma harus dibarengi dengan otoritas Tradisi rasuli (atau disebut juga Tradisi suci) yang pertama-tama secara lisan sebagai otoritas yang menafsirkan Alkitab. Pastor Dr. H. Pidyarto, O.Carm. membedakan dua macam tradisi: Tradisi rasuli (“T” ditulis dengan huruf besar) dan tradisi gerejawi (“t” ditulis dengan huruf kecil). Tradisi rasuli yang dimaksud di sini berkenaan dengan teladan, ibadat, dan ajaran pada zaman rasuli, sedangkan tradisi gerejawi adalah penerusan dari Tradisi rasuli. Oleh karena itu, menurut paham Katolik Roma, Alkitab itu wahyu Allah yang dipelihara dan diteruskan oleh Tradisi rasuli kepada orang-orang percaya, sehingga menurut Konsili Vatikan II, Alkitab dan Tradisi rasuli “harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.”

Berbeda dengan Katolik Roma, Dr. Martin Luther meneriakkan slogan Sola Scriptura yang berarti kembali kepada Alkitab. Melalui semboyan ini, Kristen Protestan sering kali dituduh oleh beberapa pihak Katolik Roma bahwa Protestan itu anti tradisi gereja. Bagi saya, ini adalah sebuah tuduhan yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Mengapa ada tuduhan semacam ini? Karena di dalam kubu Protestantisme muncul golongan yang benar-benar ekstrem, dimulai dari gerakan Reformasi Radikal, kemudian disusul dengan gerakan Anabaptis, lalu Fundamentalisme, dan terakhir, Pentakosta/Karismatik yang meskipun gerakan-gerakan tersebut ada perbedaannya, namun intinya tetap satu: seolah-olah anti tradisi gereja. Benarkah Protestan sejati anti tradisi gereja? TIDAK! Kalau kita memperhatikan sosok dan konteks perjuangan Dr. Martin Luther, khususnya melalui buku Dr. John Calvin yang terkenal, Institutes of the Christian Religion, kita memperhatikan bahwa kedua tokoh ini bukan anti tradisi gereja, tetapi yang hendak ditekankannya adalah otoritas Alkitab jangan digeser oleh tradisi gereja. Dr. Calvin sendiri di dalam bukunya yang terkenal tersebut mengutip perkataan bapa gereja Augustinus dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa Protestan mula-mula TIDAK anti terhadap (ajaran) dari tradisi gerejawi dari para bapa gereja. Bagaimana dengan Tradisi rasuli? Protestan jelas menerima Tradisi rasuli. Hal ini dibuktikan dengan tetap dilangsungkannya Perjamuan Kudus seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan diteruskan oleh para rasul (bdk. 1Kor. 11:23-32). Secara pengakuan iman, Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel, Pengakuan Iman Chalcedon diakui oleh Protestan.

Seolah-olah dari penjelasan sekilas di atas, Katolik dan Protestan tidak ada bedanya, karena mereka sama-sama menghargai otoritas Alkitab dan juga Tradisi rasuli. Lalu, apa bedanya? Bagi Katolik, Tradisi rasuli selain Alkitab “harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama.”, sehingga Tradisi rasuli dalam hal ini bersifat mengikat (mutlak), sedangkan bagi Protestan, meskipun tetap menjalankan Tradisi rasuli, tetapi Tradisi rasuli TIDAK bersifat mutlak dan mengikat. Mengapa bagi Protestan, Tradisi rasuli TIDAK bersifat mutlak dan mengikat? Karena Tradisi rasuli adalah Tradisi yang berlaku pada zaman para rasul yang TIDAK selalu harus diikuti oleh gereja sepanjang zaman. Mengapa TIDAK selalu harus diikuti? Karena para rasul Kristus sendiripun TIDAK pernah memerintahkan orang Kristen waktu itu dan kita di zaman sekarang untuk secara kaku meneruskan Tradisi rasuli. Tradisi rasuli yang mana yang TIDAK selalu harus diikuti? Jika kita menyimak perkataan Dr. Pidyarto di atas tentang definisi Tradisi rasuli, yaitu, “teladan, ibadat, dan ajaran pada zaman rasuli”, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Tradisi rasuli yang berkenaan dengan ajaran harus kita terima dengan mutlak (karena itu berkaitan langsung dengan Tuhan Yesus dan ajaran-ajaran-Nya), namun berkenaan dengan ibadat, kita tidak perlu memutlakkannya. Bagaimana dengan teladan? Teladan hidup para rasul pun TIDAK perlu kita mutlakkan, karena para rasul pun juga tetap manusia yang kadang bisa berdosa. Contoh, Petrus pun sempat berlaku munafik, sehingga ditegur oleh Paulus (Gal. 2:11-14). Bahkan rasul top sekelas Paulus (yang dikenal sebagai seorang yang: keras, kuat, dan tegas) sempat berselisih tajam dengan Barnabas (Kis. 15:36-39). Mengapa berkenaan dengan ibadat dalam Tradisi rasuli, kita tidak perlu memutlakkannya? Karena ibadat pada zaman rasuli adalah ibadat yang unik yang hanya terjadi pada zaman rasuli yang tentunya berbeda bahkan SANGAT berbeda dengan zaman kita. Apakah gereja Katolik Roma yang mengklaim menghormati Tradisi rasuli juga adalah gereja yang menjalankan setiap teladan, ibadat, dan ajaran dari Tradisi rasuli tersebut?

Pertama, di Roma 16:16, Paulus menasihati antar jemaat Roma untuk bersalam-salaman dengan cium kudus (cium persaudaraan). Pertanyaan saya, apakah bentuk ibadat seperti ini harus kita aplikasikan di zaman sekarang? Kedua, apakah gereja Katolik Roma yang mengakui Tradisi rasuli memiliki kehormatan yang sama dengan Alkitab juga menjalankan cium kudus pada saat atau sebelum atau sesudah misa? Secara fakta, saya tidak pernah menjumpai cium kudus dijalankan di dalam gereja Katolik Roma.

Kedua, jika gereja Katolik Roma mempertahankan penghormatan juga terhadap Tradisi rasuli, maka tolong tanya, apakah di zaman rasuli, ada penghormatan terhadap patung Maria seperti yang dilakukan di dalam gereja Katolik sekarang? Saya mengerti bahwa orang Katolik TIDAK menyembah patung Maria, namun penghormatan berlebihan terhadap patung Maria sendiri TIDAK sesuai dengan Tradisi rasuli.

Ketiga, bagaimana juga dengan pengakuan dosa kepada pastor/uskup? Apakah Tradisi rasuli mengajarkan hal ini? Alkitab dan tentunya Tradisi rasuli mengajarkan bahwa Kristus adalah pengantara antara Allah yang Mahakudus dengan manusia berdosa, sehingga hanya kepada Kristus saja, kita dapat mengaku dosa dan meminta pengampunan-Nya. Meskipun orang Katolik mengakui bahwa Pastor tidak memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, namun pertanyaan saya, mengapa di gereja Katolik Roma terdapat liturgi mengaku dosa kepada pastor/uskup?

Keempat, Paus sebagai penerus Rasul Petrus. Orang Katolik Roma mempercayai bahwa Paus adalah penerus Rasul Petrus. Sebagai gereja yang juga menghormati Tradisi rasuli, mengapa Petrus yang diberitakan di Alkitab adalah seorang yang menikah (buktinya: Tuhan Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus—Mat. 8:14-17), sedangkan Paus ditetapkan tidak boleh menikah? Jadi, ini yang salah yang mana: Alkitab, Tradisi rasuli, atau yang mengaku meneruskan Tradisi rasuli?

Kelima, jika gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa Tradisi rasuli memiliki kehormatan yang sama dengan Alkitab, maka saya menyodorkan fakta bahwa banyak gereja Katolik Roma pada waktu hari raya agama mayoritas di Indonesia selalu memasang spanduk yang bertuliskan selamat menunaikan ibadah hari raya agama mayoritas tersebut, namun anehnya di saat Waisak atau Galungan/Kuningan, tidak ada spanduk serupa. Tolong tanya, apakah pada zaman rasuli, misalnya pada zaman Paulus, apakah Paulus memerintahkan jemaat Roma atau Galatia atau yang lainnya untuk mengucapkan selamat hari raya kepada orang-orang sekitarnya yang non-Kristen? Tidak ada catatan sejarah mengenai hal ini. Lalu, dapat ide dari mana banyak gereja Katolik Roma memasang spanduk demikian? Ada jemaat gereja Katolik Roma yang mengatakan bahwa itu adalah bentuk solidaritas atau menghormati. Saya bertanya kembali, kalau tujuannya adalah untuk menghormati atau solidaritas, mengapa hanya pada saat hari raya agama mayoritas di Indonesia dan BUKAN pada setiap hari raya agama-agama di Indonesia, seperti: Waisak, Galungan/Kuningan, dll dan bahkan juga BUKAN pada saat orang Protestan memperingati hari Reformasi Gereja tanggal 31 Oktober? Ini membuktikan ketidakkonsistenan mereka sendiri.

Akhir kata, dengan penyajian singkat ini, saya tidak hendak memusuhi saudara seiman saya, kaum Kristen Katolik, namun saya hendak menyadarkan fakta bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi dalam iman dan praktik hidup Kristen. Tradisi rasuli meskipun tetap harus dihormati karena begitu signifikan, namun itu TIDAK bersifat mengikat. Sebuah kutipan ayat terakhir akan menyadarkan kita pentingnya Alkitab sebagai satu-satunya otoritas dalam iman dan praktik hidup Kristen, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim. 3:16; kata “tulisan” dalam teks Yunaninya: graphē yang menekankan superioritas Alkitab sebagai tulisan yang dihembuskan oleh Allah dalam iman dan kehidupan Kristen) Amin. Soli Deo Gloria.

20 September 2010

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-2: Sola Scriptura atau Solo Scriptura?

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-2:
Sola Scriptura atau Solo Scriptura?


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mzm. 119:105)



Pada bagian pertama, kita telah membahas mengenai pentingnya otoritas Alkitab di dalam iman dan praktik hidup Kristen bukan hanya dikatakan secara mulut, tetapi juga dijalankan, maka pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana Alkitab itu berotoritas? Apakah sebagai orang Kristen, kita hanya boleh membaca Alkitab saja dan dilarang membaca buku-buku sekuler dan theologi/rohani lainnya? Atau dengan kata lain, apakah orang Kristen memegang Sola Scriptura yang berarti hanya Alkitab ataukah Solo Scriptura yang berarti Alkitab saja dan tidak perlu membaca buku lain di luar Alkitab? Apa bedanya? Bagaimana orang Kristen dalam bersikap?

Sola Scriptura adalah semangat yang dicetuskan oleh reformator, Dr. Martin Luther yang bertujuan mengajak orang Kristen untuk kembali kepada Alkitab. Semangat kembali kepada Alkitab ini TIDAK berarti orang Kristen anti terhadap budaya sekitar, lalu jadi enggan membaca buku-buku sekuler dan rohani/theologi di luar Alkitab. Hal ini ditandai oleh Dr. Luther sendiri dan penerusnya yang juga berpengaruh, Dr. John Calvin yang juga mengutip tulisan-tulisan para bapa gereja, seperti Augustinus, dll di dalam bukunya yang terkenal, Institutes of the Christian Religion, bahkan Dr. Calvin sendiri di dalam bukunya tersebut mengutip tulisan para filsuf Yunani. Hal ini diikuti oleh para theolog dan hamba Tuhan Reformed di segala zaman dengan studi theologi, filsafat, dll secara mendalam di samping Alkitab. Pendiri Neo-Calvinisme yang juga seorang mantan Perdana Menteri Belanda dan gembala gereja, Prof. Dr. Ds. Abraham Kuyper di dalam bukunya Lectures on Calvinism mengetengahkan sumbangsih Calvinisme di dalam banyak aspek: theologi, politik, seni, sains, dll membuat Kekristenan sadar bahwa iman Kristen bukan hanya soal kehidupan rohani saja, tetapi juga mempengaruhi segala aspek kehidupan. Mengapa ini dilakukan oleh orang-orang Reformed? Karena mereka (dan tentunya semua orang Kristen yang takut akan Tuhan) sadar bahwa mereka mendapat mandat dari Tuhan untuk menebus dunia bagi kemuliaan Kristus atau dikenal dengan mandat budaya. Di dalam menjalankan mandat budaya, Kekristenan dituntut untuk mengerti semangat zaman dan hal-hal di dunia supaya nantinya kita bisa membawa kembali dunia yang berdosa ini dan menundukkannya di bawah kaki Kristus. Dengan kata lain, orang-orang Kristen dituntut untuk relevan dengan zamannya karena kita dituntut untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia/zaman kita, namun semangat untuk relevan dengan zaman TIDAK menghapuskan (atau sengaja mengaburkan) identitas kita sebagai pengikut Kristus. Artinya, relevan dengan zaman TIDAK membuat kita kompromi dengan zaman, karena kita dituntut untuk berbeda dari dunia ini sebagai wujud ibadah yang sejati kepada Allah (Rm. 12:1-2).

Kedua, orang Kristen yang memegang teguh Sola Scriptura juga dituntut untuk menjadikan Alkitab sebagai penghakim diri, orang lain, dan dunia. Artinya, Alkitab sebagai wahyu khusus Allah menguji segala sesuatu di dalam diri kita, orang lain, dan di dunia, entah itu pengajaran melalui buku, artikel, pidato, ceramah, khotbah, dll. Ketika kita belajar di sekolah, kampus atau berada di tempat kerja dan bertemu dengan banyak orang dengan beragam iman dan konsep yang dimilikinya, maka kita dituntut untuk kritis menyeleksi semuanya itu berdasarkan Alkitab. Sekali lagi, dengan menjadikan Alkitab sebagai penguji segala sesuatu, TIDAK berarti kita jadi alergi dengan hal-hal duniawi, tetapi ini membuktikan bahwa kita sebagai orang Kristen yang cinta Tuhan, kita kritis terhadap budaya sekitar, tanpa anti terhadapnya. Jangan anti terhadap tradisi, juga jangan memberhalakan tradisi, tetapi hargailah sekaligus kritislah terhadap tradisi. Jangan anti terhadap sains dan filsafat dan juga jangan memberhalakannya, tetapi hargailah dan bersikaplah kritis terhadap sains dan filsafat. Itulah sikap orang Kristen yang bijaksana yang menempatkan Alkitab di tempat yang seharusnya (di posisi tertinggi) dan hal-hal duniawi di bawahnya. Jangan berani mengaku diri Kristen, tetapi masih meletakkan Alkitab di bawah tradisi, filsafat, sains, dll.


Sedangkan Solo Scriptura adalah suatu semangat yang mirip dengan Sola Scriptura, namun bedanya, Solo Scriptura hanya memegang teguh Alkitab dan membuang semua buku dan tradisi rasuli, seperti Pengakuan Iman Rasuli, dll. Para penganut paham ini memang dapat dikategorikan setia kepada Alkitab, namun kesetiaannya kepada Alkitab menjadi kesetiaan yang semaunya sendiri, karena mereka tidak menghargai karya Tuhan melalui para bapa gereja dan theolog abad lalu dan abad ini. Mereka berpikir bahwa hanya mereka sajalah yang paling pandai mengerti Alkitab. Semangat Solo Scriptura sebenarnya merupakan semangat arogansi berlebihan yang tidak mencerminkan citra anak Tuhan dan pengikut Kristus yang seharusnya rendah hati dan terus-menerus mau bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah yang sejati. Gejala ini dapat dijumpai pada beberapa hamba Tuhan dan orang Kristen dari gereja kontemporer yang popular yang buta dengan tradisi gerejawi, seperti Pengakuan Iman Rasuli, dll yang hanya mengerti Alkitab. Tidak heran, ketika buku The Da Vinci Code muncul, kebanyakan mereka kalang kabut dan bingung, karena banyak dari mereka buta sejarah gereja. Seorang yang tidak pernah belajar dari sejarah sebenarnya adalah seorang yang sombong dan merasa tahu segala sesuatu, padahal jika ditelusuri, apa yang diajarkannya di zaman ini sebenarnya merupakan pengulangan dari sejarah abad sebelumnya. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengutip perkataan seorang filsuf yang mengatakan bahwa pelajaran terbesar dari sejarah adalah orang tidak mau belajar dari sejarah.

Gejala ini juga dijumpai pada beberapa orang Kristen yang anti terhadap hal-hal duniawi. Misalnya, gara-gara diajari oleh si pendeta bahwa psikologi berbahaya, maka beberapa orang Kristen jadi anti psikologi dan mengatakan kepada semua orang bahwa psikologi itu bahaya dan orang Kristen tidak boleh belajar psikologi. Sekali lagi, plisss, jangan lebay (berlebihan). Psikologi memang berbahaya, tetapi hal ini TIDAK berarti orang Kristen tidak boleh belajar psikologi. Orang Kristen silahkan belajar dan studi psikologi, namun yang perlu diperhatikan, imannya harus beres terlebih dahulu, karena para pendiri psikologi, seperti Sigmund Freud, dll adalah seorang atheis. Jika imannya sudah beres, maka silahkan belajar apa saja, tetapi juga perlu diperhatikan, hal ini harus diimbangi dengan belajar Alkitab.


Bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen? Sejauh manakah kita memegang teguh otoritas Alkitab? Apakah kita menjadi seorang yang memegang teguh Sola Scriptura namun tidak anti terhadap budaya sekitar atau kita menjadi seorang Solo Scriptura yang hampir tidak ada bedanya dengan seorang penganut Gnostik “Kristen”?? Hehehe… Biarlah kita menguji diri kita. Belajarlah menghargai sejarah dan mengujinya berdasarkan Alkitab.

19 September 2010

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-1: Pendahuluan

KEKRISTENAN DAN OTORITAS ALKITAB-1:
Pendahuluan

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
(Mzm. 119:105)




Semboyan Sola Scriptura (hanya Alkitab saja) yang dicetuskan pertama kali oleh seorang reformator Protestan dari Jerman, Dr. Martin Luther menjadi sumber pertama Kekristenan Injili pada abad-abad sesudahnya yang menolak otoritas kepausan dan menjunjung tinggi otoritas Alkitab. Semangat ini nantinya mempengaruhi gereja-gereja Reformasi dengan berbagai aliran selanjutnya: Reformed/Presbyterian (mengikuti ajaran dari Dr. John Calvin, penerus Luther), Baptis, Methodist, Pentakosta, Karismatik, dll. Bahkan Dr. Calvin mengeksposisi hampir setiap kitab di dalam Alkitab di dalam setiap khotbahnya. Tidak heran, pada banyak gereja Protestan Injili, di dalam pengakuan imannya, mereka mengakui bahwa Alkitab adalah sumber pedoman bagi iman dan praktik hidup Kristen sehari-hari. Pertanyaan lebih lanjut adalah benarkah gereja dan orang Kristen khususnya yang berada di Indonesia sungguh-sungguh memegang teguh otoritas Alkitab sebagai dasar iman dan praktik hidup Kristen? TIDAK. Fakta yang menyedihkan adalah banyak orang dan gereja Kristen hari-hari ini meskipun menyetujui otoritas Alkitab sebagai dasar iman dan praktik hidup Kristen, namun secara hati dan praktik nyata, mereka menyangkalinya. Otoritas Alkitab sengaja digeser dan diganti menjadi otoritas yang berpusat pada manusia berdosa dan setan. Apa saja wujudnya?

Kecenderungan manusia berdosa adalah kecenderungan yang anti-otoritas, namun secara tidak sadar, makin menyuarakan anti-otoritas, mereka sebenarnya sedang menekankan otoritas diri mereka sebagai kebenaran untuk diikuti oleh para pengikutnya. Sebuah kontradiksi logika yang aneh dan ilogis. Oleh karena itu, otoritas utama yang sering dianut oleh banyak orang dan gereja Kristen di abad ini adalah otoritas yang berpusat pada manusia berdosa. Otoritas ini bisa meliputi beberapa aspek:

Pertama, otoritas telinga dan nafsu duniawi. Rasul Paulus menasihati Timotius di dalam 2 Timotius 4:3, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.” Di zaman akhir ini, Paulus memperingatkan Timotius dan orang Kristen di abad ini bahwa ilah zaman akhir ini adalah telinga. Beberapa Alkitab terjemahan Inggris menerjemahkan “keinginan telinganya” dengan: dengan telinganya yang gatal (itching ears). Tidak heran, demi memuaskan telinganya yang gatal, banyak orang Kristen yang mencari gereja yang cocok dengan telinganya, yaitu gereja yang mengajarkan ajaran dunia yang dibalut dengan segudang kutipan ayat Alkitab di luar konteks. Misalnya, gereja mengajarkan bahwa ikut Tuhan pasti kaya, sehat, bahkan tidak pernah digigit nyamuk itulah yang sedang laris digemari oleh banyak orang Kristen yang hidupnya setengah-setengah dan ingin kaya. Gereja ini seperti orang yang menawarkan daging segar kepada anjing-anjing yang kelaparan. Namun faktanya, orang Kristen yang sudah kaya biasanya langsung hengkang dari gereja tersebut, karena dirinya sudah kaya. Supaya lebih “hidup”, gereja-gereja ini mengundang motivator-motivator agar jemaat-jemaatnya bisa hidup lebih kaya sebagai tanda “diberkati” Tuhan. Tidak heran, seorang Joel Osteen begitu diminati oleh banyak gereja kontemporer dan orang Kristen yang enggan ditegur dosanya, namun senang dihibur. Gereja tidak ada bedanya dengan klub diskotik atau café atau tempat hiburan lainnya.

Selain kemakmuran, gereja yang gemar dicari oleh banyak orang “Kristen” pragmatis ini adalah gereja yang mengajarkan ajaran yang berdamai dengan semua orang. Ajaran ini dapat dilihat dari isi khotbah yang disampaikan, misalnya: mengajarkan toleransi umat beragama (ujung-ujungnya mengajarkan: semua agama itu sama), menyangkal bahwa keselamatan hanya di dalam Tuhan Yesus, menyangkal ketidakbersalahan Alkitab baik eksplisit maupun implisit, dll. Pada waktu Natal dan Paskah, biasanya mereka mengkhotbahkan solidaritas umat manusia yang hampir TIDAK ada kaitannya dengan inti berita Natal dan Paskah. Melalui program gereja, kita juga dapat melihat gejala serupa, misalnya rapat majelis gereja memutuskan untuk memasang spanduk yang bertuliskan selamat memperingati hari raya agama mayoritas, namun secara TIDAK KONSISTEN, gereja yang sama TIDAK pernah memasang spanduk serupa pada saat hari Waisak atau Galungan/Kuningan. Intinya, mereka itu ketakutan, kalau kasus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) menimpa gereja mereka. Perhatikan juga kolom artikel/renungan di surat kabar pada saat Natal dan Paskah, bacalah artikel/renungan tersebut, mayoritas menekankan solidaritas manusia, kemudian ceklah siapa penulisnya, bisa dipastikan berasal dari banyak gereja-gereja Protestan arus utama yang ngaco.

Kedua, otoritas pemimpin gereja. Karena berpusat pada telinga dan nafsu duniawi, maka banyak orang Kristen kontemporer yang pragmatis percaya penuh pada apa yang dikatakan si pemimpin gereja. Hal ini ditandai dengan banyak jemaat yang spontan (tanpa berpikir panjang) meneriakkan, “Amin”, ketika si pengkhotbah mengajar, “Ikut Tuhan pasti kaya, amin saudara?” Di satu sisi, hal ini ada benarnya (jika si pemimpin gereja bisa dipertanggungjawabkan ajarannya), namun di sisi lain, perlu dipertanyakan: apakah pemimpin gereja itu Tuhan yang harus ditaati setiap perkataannya? Misalnya, jika pemimpin gereja melarang jemaatnya untuk membaca buku The Da Vinci Code, tentu nasihat ini bagus, namun pertanyaan lebih lanjut, apakah pemimpin gereja ini juga membekali jemaatnya dengan alasan pelarangan tersebut dan kesalahan fatal buku tersebut? Jika pemimpin gereja hanya melarang membaca buku tersebut tanpa membekali jemaatnya, maka pemimpin gereja mendidik jemaatnya untuk loyal kepada si pemimpin gereja (apalagi yang berani mengklaim bahwa khotbahnya itu di“wahyu”kan langsung dari “Tuhan” bahkan khotbahnya diklaim merupakan hasil dari Pemahaman Alkitab langsung sambil minum kopi dengan “Tuhan Yesus” kemarin malam)! Tidak heran, beberapa orang Kristen yang berada di dalam gereja yang digembalakan oleh si pemimpin gereja ini ketakutan dalam memilih, membeli, dan membaca buku. Jangan-jangan, si jemaat kalau membeli buku tertentu, ia akan menelpon si pemimpin gereja untuk memastikan apakah buku ini beres atau tidak.

Ketiga, otoritas tradisi (nenek moyang). Di sisi lain, beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen hari-hari ini khususnya yang berusia tua (di atas 40/50 tahun) notabene memegang teguh tradisi nenek moyang sebagai standar kebenaran bahkan di atas Alkitab, meskipun orang ini berada di dalam gereja yang ketat mengajarkan Alkitab. Ada beberapa contoh: Pertama, beberapa orang Kristen khususnya banyak dari gereja Katolik Roma (saya percaya mungkin jika Anda bertanya kepada Pastor Katolik, apakah diperbolehkan sembahyang di depan kuburan/foto orang yang sudah meninggal, mungkin banyak dari mereka akan berkata TIDAK BOLEH) dengan mudahnya ikut-ikutan sembahyang/menyembah di depan foto orang yang sudah meninggal dengan alasan menghormati orang yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar seorang pernah berkata bahwa kalau jadi Kristen/Protestan itu sulit, tidak boleh sembahyang, tetapi kalau jadi Katolik itu mudah, semua boleh. Bagi saya, perkataan ini membuktikan bahwa tradisi sudah dijadikan berhala dan standar kebenaran untuk mencari agama yang “pas”. Kedua, anak sejak kecil BUKAN dididik untuk takut akan Tuhan dan menemukan panggilan Tuhan di dalam hidupnya, namun dididik dan diindoktrinasi untuk memenuhi keinginan orangtua yaitu meneruskan usaha mereka (tidak peduli apakah itu sesuai dengan panggilan Tuhan bagi si anak atau tidak). Ketiga, masih ada orang “Kristen” yang memasang cermin untuk menolak setan di dalam tokonya dan memanggil mudin, lalu ketika ditanya oleh ayah saya mengapa ia bertindak demikian, si pemilik toko menjawab dengan mudahnya, “Kan kita harus ikut budaya dunia?”

Keempat, otoritas mistik. Yang lebih parah, beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen hari-hari ini begitu tergila-gila dengan yang namanya mistik melalui sarana-sarana, seperti: shio, bintang, dukun, paranormal, dll. Saya melihat sendiri fakta ada seorang jemaat yang aktif melayani di gereja Injili di Surabaya pergi ke paranormal/suhu. Ada juga yang begitu mempercayai ramalan shio/bintang dan menganggapnya sebagai kebenaran. Mereka itu aneh, manusia kok mau-maunya disamakan dengan binatang (shio ini jiong dengan shio itu; bahkan ada yang ditambahi dengan kesaksian nyata sebagai bukti jiong tersebut) dan yang lebih aneh lagi bisa percaya penuh pada perkataan dukun/suhu yang mengatakan tentang hari depannya yang belum tentu tepat, tetapi tidak percaya kepada Allah.

Jika banyak orang “Kristen” dan gereja hari-hari ini tidak memegang teguh otoritas Alkitab, maka saya menantang Anda untuk bertobat dan kembali kepada Alkitab! Kembali kepada Alkitab berarti kembali memegang teguh otoritas Alkitab sebagai sumber kebenaran bagi iman dan praktik hidup Kristen. Pertanyaan selanjutnya, mengapa harus Alkitab? Karena Alkitab adalah satu-satunya wahyu Allah bagi umat pilihan-Nya yang ditulis oleh lebih dari 40 orang yang berbeda zaman, budaya, bahasa, bangsa, status sosial, dll dengan inti berita: asal mula dunia diciptakan, manusia diciptakan Allah, manusia berdosa, tidak ada jalan keluar bagi manusia kecuali cara Allah dengan mengutus Tuhan Yesus untuk mati disalib dan bangkit demi manusia berdosa, kuasa Roh Kudus melahirbarukan umat-Nya, dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Dan yang juga penting, Alkitab memiliki keakuratan historis yang tidak bisa dibandingkan dengan kitab-kitab agama lain, meskipun Alkitab BUKANlah buku sejarah. Makin seseorang membuang otoritas Alkitab, orang itu bukan makin pandai dan berhikmat sejati, karena ia telah membuang Alkitab sebagai sumber hikmat.

Memegang teguh otoritas Alkitab berarti:
Pertama, percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab dalam naskah aslinya. Jangan mengharapkan seorang Kristen dapat memegang teguh otoritas Alkitab, jika ia sendiri tidak percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab dalam naskah asli (autographa)nya. Seorang yang tidak percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab dalam naskah aslinya, maka dengan mudahnya ia akan mengkritik Alkitab tanpa terlebih dahulu mempelajari secara tuntas Alkitab.

Kedua, menjadikan Alkitab bukan sebagai obyek, tetapi subyek. Setelah percaya penuh akan ketidakbersalahan Alkitab, maka orang yang memegang teguh otoritas Alkitab TIDAK seharusnya hanya menjadikan Alkitab sebagai bahan penelitian (akademis), namun juga harus menjadikan Alkitab sebagai penilai bagi iman dan praktik hidupnya, sehingga ia bukan hanya makin pandai mengerti dan menafsirkan Alkitab dengan teliti, tetapi juga makin rohani dan rendah hati di hadapan Allah. Orang Kristen ini akan dengan rela hati ditegur oleh firman Tuhan tatkala iman dan praktik hidupnya salah bahkan mendukakan hati Tuhan. Bagi orang Kristen ini, yang terpenting adalah firman dan kehendak-Nya yang terjadi, bukan konsepnya sendiri yang berlaku. Oleh karena itu, dengan rela, orang Kristen ini akan mengaplikasikan semua pengajaran Alkitab ke dalam kehidupannya sehari-hari. Ia akan mengintegrasikan iman Kristen yang berdasarkan Alkitab dengan semua aspek kehidupannya, baik: pendidikan (integrasi iman dan ilmu), pekerjaan (integrasi iman dan bisnis/pekerjaan), keluarga (integrasi iman dan prinsip keluarga), dll.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita secara serius memegang teguh otoritas Alkitab ataukah kita masih menjadi orang Kristen yang setengah-setengah? Ingatlah, Tuhan Yesus membenci orang Kristen yang suam-suam kuku. Oleh karena itu, jika Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat, bertobatlah dan kembali kepada Alkitab! Amin. Soli DEO Gloria.

KOINONIA-2: Koinonia dan Ibadah-1 (Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D.-Cand.)

KOINONIA-2:
Koinonia dan Ibadah-1


oleh: Pdt. Joshua Lie, M.Phil., Ph.D. (Cand.)



Nats: Yohanes 4



“Berilah Aku minum” (4:7)


Demikianlah Yesus memulai percakapan-Nya dengan perempuan Samaria. Suatu permintaan yang sederhana karena permintaan itu terjadi di pinggir sumur Yakub, bahkan perempuan Samaria pun hendak menimba air sumur itu.

Namun permintaan yang sederhana itu ternyata sukar dipenuhi perempuan Samaria. Ia pun menjawab, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Segayung air tentu bukan persoalannya. Namun segayung air yang diminta oleh seorang laki-laki Yahudi kepadanya adalah persoalan yang rumit. Dari air minum, persoalan bergeser kepada persoalan Yahudi dan Samaria.

Perempuan Samaria sadar akan dirinya sebagai perempuan Samaria yang tinggal di daerah Samaria. Ia berada di pinggir sumur Yakub, nenek moyangnya melalui Ephraim. Lokasi menambah kesulitan percakapan ini. Dan Yesus pun dengan sengaja melalui daerah Samaria! Ia tidak menghindari daerah Samaria demi menuju ke Galilea. Lokasi dan tempat bagi perempuan Samaria merupakan pijakan identitasnya. Bagi Yesus, tempat adalah ladang bagi benih kerajaan Allah!

Ketika kita memberitakan Injil kerajaan Allah, kita berhadapan dengan persoalan tempat sebagai identitas. Tanpa menyadari tempat sebagai identitas, maka Injil tidak akan tampak kekuatannya yang mentransformasi kehidupan manusia. Inilah kisah perempuan Samaria.

“Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata-kata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (4:10)

Ketika seseorang menyadari identitasnya berakar pada tempat dan kesejarahannya, maka ia perlu mendengar perkataan Yesus sebagaimana dinyatakan kepada perempuan Samaria. Identitas seseorang memang tidak mudah dipisahkan dari tempat dan kesejarahannya, namun identias yang sejati berasal dari karunia Allah.

Mengenal karunia Allah merupakan karunia Allah. Disinilah pangkal kehidupan kita yang sebenarnya. Karunia Allah mengembalikan kita pada identitas kita yang sejati. Sebagaimana Adam diciptakan dalam karunia Allah, dan firman-Nya yang menetapkan identitas Adam, bukan taman dimana ia ditempatkan. Inilah langkah penting bagi hidup kita, yaitu mengenal Dia yang sanggup memberikan kepada kita identitas yang baru yang mengalirkan air hidup.

Karunia Allah memungkinkan perempuan Samaria mengenal Yesus bukan dari pergumulannya sebagai seorang Samaria, melainkan mengenal dirinya dari siapa yang meminta air minum itu. Yesus menyadarkan perempuan Samaria itu untuk memahami karunia Allah dan siapa yang berkata-kata kepadanya.

Perempuan Samaria masih bergumul dengan dirinya. Ia merasa masih memiliki kebanggaannya sebagai keturunan Yakub yang turut mewarisi sumur yang sudah menghidupinya dan kaumnya. Ia melupakan bagaimana sumur itu acap kali menjadi sumber pertengkaran, alasan kesedihan ketika sumur itu mengering dan alasan kesunyian ketika ia perlu mencari waktu sendirian ke sumur itu. Namun ia tetap menanggapi perkataan Yesus, “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”


“Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini” (4:16)

“Suami” sebagaimana dinyatakan Tuhan Yesus mengungkapkan pergumulan yang lebih dalam dari persoalan Samaria dan Yahudi. Kedatangan perempuan Samaria ketika tidak ada seorangpun di sumur Yakub menyatakan keadaan ini. Ia sendirian. Ia tidak lagi dapat bersama dengan teman-temannya untuk mengambil air. Ia terpisah dari kaum perempuan lainnya, karena persoalan “suami.” Ia sudah mempunyai 5 suami! Dan “yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu.”

Persoalan “suami” telah memisahkan perempuan Samaria itu dengan kaumnya. Ia tetap berada di daerah Samaria, ia tetap mengambil air di sumur Yakub, nenek moyangnya, namun ia sendirian. Ketika seseorang meletakkan hidupnya sekadar pada tempat dan warisan masa lalu, orang itu bisa terjebak seperti perempuan Samaria. Ada ketersendirian yang tidak dapat diungkapkan. Arah geraknya ke dalam, dan bersembunyi di sana.

Persoalan “suami” bukan hanya persoalan pribadi perempuan itu sendiri. Persoalan “suami” sekaligus menyatakan persoalan bangsa Samaria. Akar persoalannya dicatat dalam Kitab 2 Raja-Raja 17:33 “Mereka berbakti kepada TUHAN, tetapi dalam pada itu mereka beribadah kepada allah mereka sesuai dengan adat bangsa-bangsa yang dari antaranya mereka diangkut tertawan.”

Bangsa Samaria oeh raja Asyur diangkut bersama-sama lima bangsa lainnya, yaitu dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim (2Raj. 17:24). Masing-masing bangsa itu membawa allah-allah mereka. Para allah ini menjadi “suami” bangsa Samaria. “Suami” dalam bahasa Ibraninya adalah “ba’al” dan kini menjadikan bangsa Samaria hamba dari para “suami” itu. Maka TUHAN yang bersama mereka “bukanlah suamimu.”

Inilah persoalan sesungguhnya!


"Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (4:21-24)

Perempuan Samaria menyadari pergumulannya. Ia mengakui Yesus sebagai seorang nabi yang mengungkapkan pergumulannya. Kini ia beralih kepada penyembahan yang dilakukannya di gunung Gerizim. Sekalipun ia menyadari pergumulannya, namun ia masih tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang yang beragama. Ia masih beribadah di gunung Gerizim, gunung yang suci.

Kini percakapan tiba pada pusat kehidupan manusia, yaitu soal penyembahan. Dari air minum di tepi sumur Yakub menuju ke akar kehidupan manusia, penyembahan. Inilah akar persoalannya, penyembahan menjadi persoalan tempat. Penyembahan menjadikan suatu tempat lebih suci dari yang lain. Penyembahan menjadikan satu benda lebih suci dari yang lain. Dengan keterikatan seperti ini, manusia bergumul dengan “suami-suami” yang membelenggunya.

Perempuan itu melupakan betapa sejarah gunung Gerizim dan Yerusalem penuh dengan pertikaian bahkan kehancuran. Ketika bangsa Yahudi berniat kembali ke Yerusalem setelah pembuangan di Babel untuk membangun tembok Yerusalem, bangsa Samarialah yang menolak dan memeranginya. Maka pada tahun 128 BC di bawah pimpinan John Hyrcanus, bangsa Yahudi balas menghancurkan bait penyembahan di gunung Gerizim.

Penyembahan adalah akar kehidupan manusia karena manusia adalah “homo adorans,” makhluk yang menyembah. Inilah jalan keselamatan yang membawa kembali manusia kepada penyembahan yang sejati, yaitu menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Penyembahan yang mengalirkan air hidup. Inilah titik balik yang sejati, yang diperlukan manusia sebagai makhluk yang menyembah.



Sumber:
http://www.wkristenonline.org/index.php?option=com_content&view=article&id=39:yohanes-4-koinonia-dan-ibadah-bagian-pertama&catid=28:koinonia&Itemid=42



Profil Pdt. Joshua Lie:
Pdt. Joshua Lie, S.Th., M.Phil., Ph.D. (Cand.) adalah Pendiri Reformational Worldview Foundation (RWF) dan dosen di Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung (STTAA) Jakarta. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang; Master of Philosophy (M.Phil.) di Institute for Christian Studies (ICS), Toronto, Canada; dan sedang studi Doctor of Philosophy (Ph.D.) di ICS.







Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio

16 September 2010

HARTA DUNIAWI ATAU SORGAWI? (Denny Teguh Sutandio)

HARTA DUNIAWI ATAU SORGAWI?

oleh: Denny Teguh Sutandio



“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”
(Mat. 6:33)




Ketika pertama kali kita mendengar istilah harta, apa yang ada di benak Anda? Kekayaan melimpah? Mobil mewah? Rumah megah? Sering kali kita mengidentikkan harta dengan harta yang kasat mata. Benarkah itu harta yang sesungguhnya? Bolehkah sebagai orang Kristen, kita mengumpulkan harta duniawi? Apa kata Alkitab?


Nats Alkitab kita saat ini adalah Matius 6:33 yang mengajar kita pentingnya mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (lebih tepat diterjemahkan: keadilannya). Mari kita menyelidikinya. Injil Matius 5-7 merupakan catatan khotbah Tuhan Yesus di bukit. Setelah menguraikan tentang Ucapan Bahagia (Beatitudes) di Matius 5:1-12 dan tafsiran Tuhan Yesus tentang Hukum Taurat di Matius 5:17-48, maka mulai pasal 6, Ia mengaplikasikan pokok pengajaran di pasal 5 ke dalam setiap aspek kehidupan orang percaya: iman dan praktik hidup sehari-hari. Pasal 6 ini dimulai dengan aplikasi dalam hal memberi sedekah (6:1-4), berdoa (6:5-15), berpuasa (6:16-18), dan terakhir mengumpulkan harta (6:19-34). Saya menempatkan ayat 25-34 bukan di dalam subtema kekuatiran seperti yang dilakukan oleh Alkitab Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), tetapi dalam subtema mengumpulkan harta, karena subtema kekuatiran di ayat 25-34 berkaitan erat dengan ayat sebelumnya (19-24). Seorang yang hidupnya kuatir adalah seorang yang hidupnya terlalu banyak mengumpulkan harta di dunia (ay. 19) dan yang pada akhirnya mengilahkan Mamon (ay. 24). Dengan kata lain, seorang yang kuatir adalah seorang yang hidupnya tidak mencari Allah dan kebenaran-Nya, karena ia terlalu sibuk mencari harta duniawi yang diklaimnya sebagai berkat “Allah”.


Kepada orang yang terlalu mengumpulkan harta duniawi yang mengakibatkan dia menjadi kuatir dalam hidupnya, Tuhan Yesus mengajar dan menegur:
Pertama, kumpulkan harta di Sorga (ay. 20). Apa arti harta di Sorga? Kata “harta” dalam bahasa Yunaninya thēsaurous berarti harta-harta, gudang, kotak harta, tempat menyimpan. Kata ini muncul di dalam Perjanjian Baru sebanyak 17x dan diterjemahkan: tempat harta benda, harta, dan perbendaharaan. (Hasan Sutanto, Konkordansi Perjanjian Baru, hlm. 374) Jika kita membandingkan ayat 20 dengan ayat 19, maka kita akan menjumpai bahwa makna harta di sini adalah sesuatu yang berharga/bernilai di dalam hidup seseorang. Maka jika harta di bumi diartikan sebagai sesuatu yang bernilai/berharga di bumi, maka harta di Sorga berarti sesuatu yang berharga di Sorga. Dengan kata lain, harta di Sorga bisa diartikan sebagai kekekalan. Harta di Sorga ini diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk dikumpulkan atau disimpan. Berarti kekekalan bukan hanya menjadi ide orang Kristen, tetapi juga menjadi pengalaman sehari-hari orang Kristen di dalam imannya yang harus disimpan dan dipelihara. Mengapa orang Kristen harus menyimpan harta Sorgawi? Lebih lanjut, Ia menjelaskan alasannya: karena harga Sorgawi tidak bisa dirusak oleh ngengat dan karat dan juga tidak mungkin bisa dibongkar dan dicuri oleh para pencuri.


Kedua, ubahlah arah pandang kita (ay. 21-24). Bagaimana menyimpan dan memelihara harta Sorgawi kita? Kristus memerintahkan kita untuk mengubah perspektif kita. Perspektif yang dimaksud adalah cara pandang kita terhadap segala sesuatu. Kalau orang dunia memiliki perspektif dunia terhadap harta duniawi, maka sebagai pewaris harta Sorgawi, kita harus memiliki perspektif Allah. Hal ini ditandai dengan mengubah perspektif hati dan mata kita (ay. 21-23), lalu mengarahkannya kepada Allah. Wah, menjadi orang Kristen susah ya? Beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen mencoba berpikir: Apakah kita tidak bisa berada di dalam posisi netral: separuh Allah dan separuh setan? Inilah yang kerapkali disukai oleh banyak orang Kristen bunglon atau ½ Kristen: Allah mau, setan pun mau. Tidak heran, hari Minggu, waktu di dalam kebaktian, banyak orang Kristen seperti malaikat, selalu memikirkan tentang Tuhan, tetapi begitu pulang dari kebaktian, pikirannya sudah dikuasai iblis. Tidak ada posisi netral! Tuhan Yesus mengajar prinsip ini di ayat 24, posisi kita harus jelas, jangan ambigu.


Ketiga, memiliki cara pandang Allah (ay. 25-34). Setelah mengubah arah/cara pandang kita, lalu mengarahkannya kepada Allah, maka pertanyaan selanjutnya, apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang yang memiliki cara pandang Allah di dalam hidupnya? Pertama, tidak perlu kuatir. Mulai ayat 25-32, Tuhan Yesus mengajar agar kita yang sudah memiliki cara pandang Allah TIDAK perlu kuatir akan hidup kita: makan, minum, dan pakaian. Mengapa kita tidak perlu kuatir? Karena Allah yang kita percaya adalah Allah yang bukan hanya mencipta dan menebus kita, Ia juga memelihara kehidupan anak-anak-Nya. Kristus mengajarkan hal ini dengan 5 cara: memandang pentingnya hidup dan tubuh ketimbang hal-hal lahiriah (ay. 25), membandingkan manusia dengan burung-burung yang tidak kuatir akan makanannya (ay. 26), menyadarkan bahwa kekuatiran tidak dapat memperpanjang umur seseorang (ay. 27), membandingkan manusia dengan bunga bakung di ladang (ay. 28), dan ditutup dengan kesimpulan di ayat 30. Pengertian kita akan providensia (pemeliharaan) Allah di dalam kehidupan anak-anak Tuhan mengakibatkan kita TIDAK perlu kuatir lagi akan hidup (ay. 31), karena makanan, minuman, dan pakaian itu dicari oleh orang yang tidak mengenal Allah (ay. 32) atau menggunakan bahasa InterVarsity Press Bible Background: New Testament: The pagan (bangsa kafir). Dengan kata lain, seorang yang masih kuatir akan persoalan hidup: makan, minum, dan pakaian disamakan dengan orang yang tidak mengenal Allah, karena orang tersebut lebih mementingkan urusan duniawi ketimbang Allah.


Oleh karena itu, sebagai orang Kristen yang telah ditebus Kristus dan memiliki cara pandang Allah yang tentunya harus berbeda dari orang-orang dunia, maka sikap orang Kristen yang benar yang kedua adalah: mencari Kerajaan Allah dan keadilan-Nya (ay. 33). Kata “mencari” dalam bahasa Yunaninya zēteite yang akar katanya zēteō yang bisa berarti: mencari, menyelidiki, dll. Kata zēteite (zēteō + ete) di dalam bahasa Yunani menunjukkan bahwa kata ini dikenakan pada orang kedua jamak (misalnya: kamu sekalian; konteks ayat ini adalah khotbah Yesus di atas bukit kepada banyak orang). Setelah mencari, maka disusul perkataan, “terlebih dahulu” yang dalam terjemahan Inggrisnya: first (pertama/terlebih dahulu). Ini berarti mencari harta duniawi itu bukan yang terpenting/terdahulu, lalu apa yang harus dicari terlebih dahulu? Kerajaan Allah dan kebenarannya. Tema Kerajaan Allah adalah tema sentral Injil Matius, di mana melalui Injil ini, Matius hendak memproklamasikan Kristus sebagai Raja yang mendirikan Kerajaan-Nya di bumi ini. Lalu, kerajaan Allah ini disusul dengan kebenarannya. Kata “kebenaran” dalam teks Alkitab LAI kurang tepat terjemahannya. Kata yang dipakai dalam bahasa Yunaninya dikaiosunen yang berarti kebenaran-keadilan (sedangkan kebenaran yang dalam bahasa Inggris truth diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani: alētheia). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia (2006) menerjemahkannya: keadilan-Nya (hlm. 30) Lalu, apa arti mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya? NIV Spirit of the Reformation Study Bible menafsirkannya, “This means making God’s sovereign rule and our right relationship with him the highest priorities in life.” (hlm. 155) (=Ini berarti menjadikan peraturan Allah yang berdaulat dan hubungan kita yang benar dengan-Nya menjadi prioritas tertinggi dalam hidup.) Dengan kata lain, ketika kita berkomitmen hendak mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya, maka di saat yang sama, kita berkomitmen menjadikan Allah, Kerajaan-Nya, dan peraturan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya fondasi, sumber, dan tujuan hidup kita di dalam Kristus.


Lalu, setelah kita mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya, apa sikap kita selanjutnya? Sikap kita yang ketiga adalah: menerima pemeliharaan Allah (ay. 33b). Seorang yang telah mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya adalah orang yang telah siap menerima pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. Tentu hal ini TIDAK berarti kita tidak usah bekerja keras dan terus menantikan berkat Allah saja. Hal ini berarti kita tetap bekerja keras seperti untuk Tuhan, namun kita juga mempercayakan proses dan hasilnya kepada Allah yang memelihara hidup kita setiap hari. Kembali, orang yang siap menerima pemeliharaan Allah adalah orang yang siap menerima berkat-berkat Allah secara dasar di dalam hidupnya. Di ayat 33b, Ia berfirman, “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Pertanyaan selanjutnya, apa makna semuanya itu? Apakah ini berarti Tuhan akan memberikan kekayaan, kelancaran, keberhasilan, dll seperti yang ditafsirkan oleh banyak pemimpin gereja yang menganut “theologi” kemakmuran? Tafsiran ngaco ini sayangnya TIDAK dibicarakan Tuhan Yesus dalam konteks ini. Kalau kita membaca ulang dengan teliti dari ayat 25-32, maka kita dapat mengerti arti “semuanya itu” (all these things; di dalam bahasa Inggris, kata these berarti itu secara jamak dan merujuk pada ayat-ayat sebelumnya), yaitu: makanan, minuman, dan pakaian. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Commentary on the Whole Bible menafsirkan “semuanya itu” sebagai the necessary supports of life (pendukung hidup yang diperlukan). Lebih tajam lagi, Dr. John Gill menafsirkannya sebagai, “meat, drink, clothing, or whatsoever worldly sustenance else is necessary for you” (daging, minuman, pakaian, atau kebutuhan dunia apa pun yang penting bagimu). Dengan kata lain, “semuanya itu” berarti segala kebutuhan dasar kita yang penting: sandang, pangan, dan papan. Ketika kita telah mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya, maka kebutuhan dasar kita akan ditambahkan/diberikan (Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. lebih memilih untuk menerjemahkannya: “diberikan”) kepada kita. Setelah kita mencari kerajaan Allah dan kebenaran-keadilan-Nya lalu menerima berkat-berkat-Nya, maka kita dituntut-Nya untuk tidak perlu kuatir lagi akan hari esok, karena hari esok memiliki kesusahannya sendiri yang ada di dalam pemeliharaan-Nya yang sempurna (ay. 34).


Dengan kata lain, setelah kita mencari dan mengejar harta Sorgawi, yaitu kekekalan, maka Allah yang adalah Pemelihara akan memelihara kehidupan kita hari lepas hari dengan memberikan berkat-berkat jasmani kepada kita sesuai dengan kebutuhan kita (bukan sesuai dengan keinginan kita).


Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mencari harta Sorgawi kita, lalu setelah itu percaya pada pemeliharaan-Nya yang akan mencukupkan kebutuhan kita sesuai kehendak-Nya yang berdaulat? Amin. Soli Deo Gloria.

15 September 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 8:7 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 8:7

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 8:7



Bagian ini merupakan respons yang lain dari Paulus terhadap persoalan makan makanan persembahan berhala di kuil (8:1a, 4a, 10). Di beberapa bagian sebelumnya Paulus sudah memberikan respons bahwa dasar tingkah laku Kristiani terutama adalah kasih, bukan pengetahuan (8:1b-3). Ia juga sudah menjelaskan bahwa para berhala tidak eksis dalam arti sebagai allah, karena hanya ada satu Allah dan Tuhan yang benar (8:4-6). Jika Bapa dan Yesus adalah sumber segala sesuatu, maka doktrin ini sudah sepantasnya diresponi dengan sikap hidup yang terfokus pada Allah, bukan kenyamanan diri sendiri seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus.

Di 8:7 Paulus memberikan respons dengan dua tujuan. Pertama, mengoreksi pandangan jemaat Korintus di 8:1a. Mereka meyakini bahwa semua orang memiliki pengetahuan, sekarang Paulus menunjukkan bahwa tidak semua memiliki pengetahuan seperti itu. Kedua, menerangkan dampak negatif bagi orang lain akibat pengetahuan semacam itu. Kalau di 8:1b Paulus sudah menyinggung dampak negatif bagi orang yang berpengetahuan (ia menjadi sombong), sekarang ia memfokuskan dampak itu pada orang lain.

Alur pemikiran Paulus di 1 Korintus 8:7 dapat diterangkan sebagai berikut: ia mula-mula menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki pengetahuan (7:a). Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan ini adalah mereka yang masih terikat dengan berhala-berhala (7b), sehingga ketika mereka makan di kuil mereka makan sebagai persembahan berhala (7c). Mereka yang tidak memiliki pengetahuan ini juga adalah mereka yang hati nuraninya lemah (7d), sehingga hati nurani itu dinodai oleh tindakan orang-orang yang berpengetahuan (7e).


Tidak Semua Memiliki Pengetahuan (ay. 7a)
Seperti sudah disebutkan di awal, bagian ini merupakan koreksi terhadap pandangan jemaat di 8:1a. Ternyata tidak semua orang memiliki pengetahuan theologis yang sama. Siapakah mereka yang tidak berpengetahuan ini? Paulus tidak menyebut mereka sebagai orang bodoh. Paulus lebih memilih untuk memakai sebutan “orang yang [hati nurani]nya lemah”. Sebutan ini selanjutnya dipakai secara konsisten di pasal 8 (ay. 7, 9, 10, 11, 12).

Apakah orang ini adalah orang Kristen atau tidak? Jika mereka memang orang percaya, mengapa mereka tidak memahami pengetahuan mendasar tentang keesaan Allah (8:4)? Terlepas dari persoalan yang mungkin ditimbulkan, konteks memberi petunjuk yang sangat jelas bahwa mereka memang orang Kristen. Paulus menyebut mereka sebagai saudara [seiman] dan sudah menerima karya penebusan Kristus (8:11-12). Penjelasan di atas membawa kesulitan tersendiri bagi para penafsir, karena orang Kristen seharusnya sudah mengerti tentang keesaan Allah. Doktrin dasar ini pasti mendapat penekanan serius dalam khotbah para rasul, karena orang-orang non-Yahudi memang sangat lekat dengan politeisme. Kalau begitu, bagaimana bisa mereka tidak mengetahui hal ini? Sebagian penafsir mencoba memahami ungkapan “pengetahuan itu” di ayat ini sebagai pengetahuan secara afektif (hati). Maksudnya, secara kognitif (intelek) semua jemaat Korintus memang sudah tahu tentang keesaan Allah, tetapi sebagian dari mereka secara emosional masih belum bisa mengaplikasikan hal itu sepenuhnya. Mereka masih belum mampu membebaskan diri sepenuhnya dari perasaan-perasaan tertentu tentang para dewa (sama seperti sebagian besar orang Kristen Indonesia yang pengetahuan theologisnya belum matang masih merasakan nuansa mistis tertentu jika dekat dengan pohon beringin atau kuburan, walaupun secara kognitif mereka meyakini perlindungan khusus dari Allah bagi mereka).

Pandangan di atas memang menarik dan menjadi pandangan mayoritas penafsir. Bagaimanapun, pengamatan teliti akan menunjukkan kelemahan pandangan ini. Yang sedang dipersoalkan adalah “pengetahuan itu” (8:7a). Konteks memberi dukungan yang cukup untuk memahami pengetahuan ini secara kognitif. Pengetahuan yang diklaim oleh sebagian jemaat Korintus (8:1a) memang sebatas pengetahuan intelektual, bahkan mereka pun tidak menyadari implikasi praktis dari pengetahuan itu bagi hidup mereka (bdk. 8:6). Ungkapan “pengetahuan itu” jelas merujuk pada pengetahuan intelektual semacam ini.

Argumen lain untuk pengetahuan secara intelektual di sini adalah bahaya yang bisa ditimbulkan pada mereka yang lemah. Paulus tidak hanya membicarakan tentang ketidaknyamanan secara emosional yang akan dialami oleh mereka yang lemah, namun ia sungguh-sungguh serius memberi peringatan tentang kebinasaan mereka (8:7c, 10, 11; bdk. 10:19-21). Peringatan serius ini menyiratkan kekuatiran Paulus bahwa konsep theologis orang-orang yang lemah ini bisa berubah. Mereka mungkin akan kembali pada konsep lama mereka sebagai penyembah berhala.


Masih Terikat Pada Berhala-berhala (ay. 7b)
Pada bagian ini Paulus memberi informasi bahwa orang-orang yang lemah masih terikat dengan berhala-berhala. Beberapa orang menganggap hal ini tidak mungkin terjadi jika mereka sudah menjadi orang Kristen (8:11-12). Tidak heran mereka mencoba memahami ayat 7b dengan cara yang berbeda. Menurut mereka keterikatan ni terjadinya dahulu waktu belum menjadi Kristen. Terjemahan ESV “through former association with idols” tampaknya menyiratkan pandangan seperti ini.

Pandangan seperti ini tidak tepat. Dalam teks Yunani ada frase “sampai sekarang” (heōs arti), sehingga menunjukkan bahwa keterikatan ini masih terjadi (NASB/NRSV/KJV). Bagian lain bahkan menunjukkan bahwa jemaat yang berpengetahuan pun masih pergi ke kuil (8:10). Hal ini sesuai dengan kultur Korintus yang dipenuhi dengan berbagai macam kuil dan penerimaan penduduk Korintus yang relatif “positif” terhadap orang-orang Kristen (orang percaya tidak dianiaya). Sebagian jemaat mencoba menjalin relasi dengan orang-orang kafir dengan cara bergaul dengan mereka (bdk. 15:12, 33), termasuk ikut pergi ke kuil (8:10). Praktik seperti inilah yang disebut Paulus “terikat dengan berhala”. Dalam teks Yunani secara hurufiah berarti “dalam kebiasaan berhala”. Sejauh mana mereka terlibat di dalam penyembahan berhala tergantung pada tingkat pengetahuan theologis mereka. Di bagian selanjutnya Paulus akan menerangkan perbedaan signifikan antara orang yang berpengetahuan dan yang hati nuraninya lemah, walaupun mereka sama-sama makan di kuil (8:7c-e). Yang tahu bahwa berhala tidak eksis akan makan daging persembahan berhala sebagai makanan biasa, sedangkan bagi yang lemah nuraninya menganggap makanan itu memiliki nilai lebih daripada sekadar makanan.


Makan Sebagai Makanan Berhala (ay. 7c)
Mereka yang tidak tahu dengan benar bahwa berhala-berhala itu tidak eksis (bdk. 8:4) akan berpikir bahwa berhala-berhala itu mungkin ada, bahkan dalam acara makan di kuil. Hal ini sangat mungkin terjadi karena bagi orang kuno makan bersama di suatu tempat ibadah merupakan bagian penting dalam ibadah tersebut. Jemaat Korintus yang berpengetahuan hanya berpikir bahwa mereka makan biasa seperti di tempat lain, karena mereka tahu bahwa para berhala tidak eksis. Jemaat yang hati nuraninya lemah memperlakukan acara makan makanan di kuil ini sebagai bagian penting dalam ritual. Bagi mereka tindakan ini memiliki nilai sakral tertentu.

Hal ini mungkin dapat diterangkan seperti orang Kristen KTP yang hanya sekali-kali pergi ke gereja. Walaupun mereka tidak sungguh-sungguh percaya, namun bagi mereka acara di gereja tetap mengandung makna sakral tertentu, terutama elemen-elemen ibadah tertentu yang mereka anggap memiliki nilai lebih, misalnya sakramen perjamuan kudus. Bagi orang- orang seperti ini ibadah tetap bernuansa sakral, sekalipun secara intelektual mereka tidak percaya pada kehadiran Allah di tempat itu.

Apakah bagian ini memberi ijin bagi orang-orang Kristen untuk makan di kuil sejauh hal itu disertai dengan pemikiran bahwa berhala tidak eksis? Tetap tidak boleh! Paulus nanti akan menunjukkan kesalahan dari tindakan ini. Tindakan ini berpotensi menodai hati nurani orang lain (8:7e). Orang lain akan tersandung, terpengaruh dan bahkan binasa jika mereka terus seperti itu (8:8-13). Di pasal 10 nanti Paulus juga menegaskan bahwa tindakan tersebut sama saja dengan penyembahan berhala, karena makan bersama di kuil adalah bagian penting dalam ibadah itu.


Hati Nurani Lemah (ay. 7d)
Paulus tidak hanya menyebut mereka yang tidak berpengetahuan sebagai “terikat pada [dalam kebiasaan] berhala” (ay. 7b), tetapi mereka juga memiliki hati nurani (syneidēsis) yang lemah. Apa yang dimaksud dengan syneidēsis? Kata ini sangat penting dalam pembahasan di 1 Korintus 8-10, karena dari 20x pemunculan kata ini di seluruh tulisan Paulus, 8 di antaranya ada di pasal 8-10. Kata syneidēsis merujuk pada pertimbangan moral dalam diri setiap manusia (Rm. 2:14-15). Sebagian theolog menyamakan ini dengan hukum moral dalam hati manusia, sedangkan yang lain menganggap syneidēsis sebagai patokan untuk mengikuti hukum moral itu. Apapun yang benar, maksud Paulus sudah cukup jelas. Syneidēsis merujuk pada kemampuan untuk menilai benar atau tidaknya satu tindakan. Walaupun Allah pada mulanya memberikan syneidēsis yang sangat baik, namun dosa membuat semuanya berubah. Alkitab mengajarkan hal ini dengan jelas. Ungkapan “hati nurani yang murni” (Kis 23:1; 24:16) menyiratkan ada hati nurani yang sudah tidak murni lagi. Hati nurani orang Kristen perlu disucikan oleh darah Kristus (Ibr. 9:14). Ungkapan “hati nurani lemah” yang dipakai berulang-ulang di 1 Korintus 8 (ay. 7, 9, 10, 11, 12) juga memberi dukungan bahwa hati nurani manusia tidak lagi baik.

Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi hati nurani: konsep seseorang, didikan keluarga, norma masyarakat, dsb. Salah satu yang dibahas oleh Paulus di sini adalah kebiasaan. Dalam teks Yunani terdapat permainan kata antara “kebiasaan” (synētheia, ay. 7b) dengan “hati nurani” (syneidēsis, ay. 7d). Jika kita terus-menerus melakukan suatu hal yang salah, maka hati nurani kita lama-lama akan kebal dengan hal tersebut. Kita tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan hal itu.

Apa maksud “lemah” di ayat ini? Beberapa penafsir memahami lemah di sini secara ekonomi (orang miskin dahulu cenderung dianggap orang yang lemah). Menurut pandangan ini orang-orang miskin sangat sulit mendapatkan daging karena harganya yang mahal. Cara termudah dan termurah untuk makan daging adalah pergi ke kuil dan makan di sana. Walaupun sangat menarik, pendapat ini sebaiknya ditolak karena konteks tidak memberi petunjuk apapun tentang ekonomi.

Sebagian penafsir yang lain melihat orang yang lemah ini sebagai orang-orang Yahudi yang masih terpengaruh dengan konsep makanan haram-najis. Argumen yang diajukan adalah Roma 14:1-23 yang sama-sama membahas tentang makanan. Beberapa kata kunci di 1 Korintus 8 juga muncul di teks itu, misalnya “lemah” (14:2), “hidup untuk Tuhan” (14:8), “hidup berdasarkan kasih” (14:15). Pendapat ini juga sebaiknya ditolak. Isu yang dibahas di dua teks tersebut sangat berbeda. Paulus pun tidak memakai kata “lemah hati nurani” di sana, melainkan “lemah iman” (14:2).

“Lemah hati nurani” sebaiknya dimengerti sebagai ketidakmampuan moral untuk menilai suatu tindakan. Untuk orang yang tidak memiliki pengetahuan theologis yang memadai, kelemahan hati nurani memang lebih sering terjadi, karena hati nurani dipengaruhi oleh konsep seseorang tentang kebenaran. Mereka yang belum tahu dengan benar atau lengkap bahwa berhala-berhala sebenarnya tidak ada pasti mengalami kesulitan untuk membuat penilaian yang benar.


Hati Nurani Dinoda (ay. 7e)
Orang yang hati nuraninya lemah sangat rentan terhadap pengaruh dari luar. Hati nurani mereka dapat dinodai (molynō). Kata ini hanya muncul 3x dalam PB dan selalu mengandung makna negatif, yaitu mencemarkan (Why 3:4; 14:4). Penggunaan kata ini di 1 Korintus 8:7 menunjukkan bahwa pengaruh yang diterima juga negatif. Tindakan makan di kuil yang dlakukan oleh orang-orang yang mengaku berpengetahuan pasti sangat berpengaruh pada mereka yang hati nuraninya lemah. Kalau yang tahu theologi saja melakukan hal tersebut, maka orang-orang lain akan dikuatkan untuk melakukan kesalahan yang sama (8:10). Celakanya, sebagai orang yang tidak memiliki pengetahuan theologis, mereka makan dengan konsep yang berbeda dengan mereka yang tahu. Jika ini terus dilakukan maka hati nurani mereka bukan hanya lemah (tidak bisa membedakan, ayat 7d) tetapi sudah menjadi cemar (ay. 7e). Mereka tidak lagi menganggap hal itu sebagai sebuah kesalahan. Situasi ini jika terus berlanjut pasti akan membawa kebinasaan (8:11).

Hati nurani yang ternoda bisa diumpakan seperti sebuah kompas. Kompas selalu merujuk pada arah utara. Jika daya magnet di kompas itu dihilangkan, maka jarum kompas tidak akan mampu menunjuk arah utara dengan tepat. Begitu pula yang akan terjadi jika kompas itu didekatkan dengan sebuah medan magnet yang jauh lebih kuat. Kompas akan kehilangan fungsinya sebagai penunjuk arah. Itulah gambaran dari hatu nurani yang lemah dan dipengaruhi oleh kekuatan lain yang buruk dan lebih kuat.

Berdasarkan penjelasan ini kita diingatkan untuk terus-menerus menjaga hati nurani kita yang sudah disucikan oleh darah Kristus (Ibr. 9:14). Kita memang hidup di dunia yang kotor dan sangat kuat mempengaruhi arah moralitas kita. Kita seringkali sulit menilai sesuatu dengan benar. Kita bahkan tidak jarang menjadikan kekotoran sistem yang ada sebagai pembenaran untuk tindakan kompromi yang kita lakukan. Jika ini terjadi, maka hati nurani kita bukan hanya lemah, tetapi sudah kotor. Marilah kita tekun membaca Alkitab sebagai patokan kebenaran. Kita juga perlu segera memohon ampun dengan sungguh-sungguh atas setiap kesalahan kita, walaupun kesalahan itu tidak terhindarkan dalam sebuah dunia yang sudah sedemikian kotor. Dengan jalan demikian hati nurani kita akan terus terjaga. Soli Deo Gloria. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 10 November 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2008%20ayat%2007.pdf