19 December 2014
MENCARI PASANGAN HIDUP YANG SEIMAN (Denny Teguh Sutandio)
MENCARI PASANGAN
HIDUP YANG SEIMAN
oleh:
Denny Teguh Sutandio
PENDAHULUAN
Bagi orang Kristen, kita percaya bahwa ada
beberapa orang yang dikaruniai membujang (single)
demi Kerajaan Allah (Mat. 19:12), namun ada yang tidak. Bagi yang tidak
dikaruniai karunia membujang, maka tugas orang Kristen khususnya para muda/i
Kristen adalah mencari pasangan hidup untuk menjadi suami/istri di kemudian
hari. Masalahnya adalah kriteria utama apa yang harus dicari oleh muda/i
Kristen dalam menemukan pasangan hidupnya?
DASAR ALKITAB BAGI
MENCARI PASANGAN HIDUP YANG SEIMAN
Sudah
sering kita mendengar khotbah dan membaca buku dari berbagai penginjil dan
pendeta bahwa kita diajar untuk mencari pasangan hidup yang seiman. Biasanya
mereka mengutip 2 Korintus 6:14, “Janganlah
kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak
percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau
bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” Konsep mencari pasangan
hidup yang seiman itu sudah benar, namun pengutipan 2 Korintus 6:14 ini kurang
tepat. Mari kita menyelidikinya. Frase “merupakan pasangan yang tidak seimbang”
di ayat 14 ini dalam teks Yunaninya γίνεσθε ἑτεροζυγοῦντες (ginesthe
heterozugountes) di mana kata “ginesthe” berasal dari kata “ginomai” yang berarti “menjadi” dan “heterozugountes” yang berasal dari kata
“heterozugeō” berarti “unevenly yoked” (dikenakan kuk yang
merata) atau “mismated” (pasangan
yang tidak seimbang).
New English Translation (NET) menerjemahkannya, “Do not become partners with
those who do not believe;” Di sini, digunakan kata “partner” (rekan) dan sama sekali tidak menunjuk pada pasangan
hidup. Lagipula,
sesuai salah satu prinsip penafsiran Alkitab yang bertanggung jawab, satu ayat
tidak dapat dilepaskan dari konteks dekatnya, maka ayat 14 tidak dapat
dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya yaitu mulai ayat 1, di mana Paulus sedang
berbicara tentang pasangan dalam pelayanan, bukan pasangan hidup.
Karena 2 Korintus 6:14 kurang tepat
dipergunakan sebagai referensi mencari pasangan hidup yang seiman, lalu apakah
muda/i Kristen boleh mencari pasangan hidup sesuka hatinya tanpa memperdulikan
iman? Tidak. Ada referensi ayat lain yang mengajar pentingnya mencari pasangan
hidup yang seiman. Pasangan hidup yang kita cari nanti akan menjadi suami atau
istri kita dan Paulus mengajar bahwa hubungan sunami-istri itu mirip seperti
hubungan Kristus dan jemaat-Nya di dalam Efesus 5:22-30. Di dalam perikop ini,
Paulus hendak mengajar kita bahwa istri harus tunduk pada suami karena suami
adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat yang
menyelamatkan tubuh (ay. 22-23) dan suami pun harus mengasihi istrinya
sebaagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dengan menyerahkan diri-Nya bagi
mereka untuk menguduskannya (ay. 25-26). Dengan kata lain, suami merupakan
representasi Kristus dan istri sebagai representasi jemaat yang merupakan
kumpulan umat pilihan Allah yang percaya kepada Kristus.
Pertanyaannya, jika istri diibaratkan
seperti jemaat dan suami diibaratkan seperti Kristus, maka apa jadinya jika
muda/i Kristen mencari pasangan hidup yang tidak seiman? Seorang cowok Kristen
mencari seorang cewek yang tidak beriman, apalagi atheis untuk menjadi
pacarnya. Seorang yang berpacaran pasti sebentar lagi siap untuk menikah. Nah,
masalahnya adalah apakah si cewek ini layak merepresentasikan jemaat yang
merupakan kumpulan umat pilihan Allah yang percaya kepada Kristus, padahal si
pemudi ini bukan seorang yang beriman, bahkan atheis (baik praktis maupun
teoritis)? Bagaimana sebaliknya jika ada seorang cewek Kristen yang sudah cukup
umur akhirnya menerima cowok siapa pun yang membuat dirinya selalu senang,
namun tidak peduli apakah ia beriman atau atheis? Apakah si cowok ini
mereprentasikan Kristus yang mengasihi jemaat? Jelas tidak mungkin.
MAKNA
“SEIMAN”
Apa artinya
“seiman”? “Seiman” tidak berarti sama-sama Kristen atau yang lebih parah: satu
gereja (segereja). Fakta mengatakan bahwa meskipun sama-sama segereja, tidak
menjamin seseorang benar-benar beriman kepada Kristus. Ada beberapa orang yang
rajin melayani, tetapi konsep imannya masih difokuskan pada berpikir positif
ala Gerakan Zaman Baru, meskipun pendetanya sudah mengkritik ajaran-ajaran
demikian. Dengan kata lain, orang-orang ini hanya mengerti theologi secara pikiran,
namun tidak pernah menerimanya secara hati dan menjalankannya. Makin hari saya
makin menyadari sekaligus mengintrospeksi diri saya, makin melayani, apakah
kita benar-benar makin mengasihi Allah secara hati, pikiran, perkataan, dan
tindakan? Ataukah makin melayani, kita makin tampak hebat dan sok sibuk?
“Seiman” juga bukan
berarti sama-sama Kristen, karena fakta juga berkata bahwa sama-sama Kristen
pun tidak menjamin imanya difokuskan kepada Allah. Ada orang Kristen yang
imannya ditujukan pada kekayaan materi, dll.
Jika demikian, apa
makna “seiman”? “Seiman” berarti sama-sama memiliki iman yang difokuskan pada
Allah dan firman-Nya yang ditandai dengan:
1.
Allah
Menjadi Pusat Kehidupannya
Seorang yang benar-benar beriman adalah
orang yang menjadikan Allah sebagai pusat kehidupannya. Artinya, seluruh aspek
kehidupannya baik hati, pikiran, perkataan, maupun tindakan diserahkan kepada
Allah dan mengizinkan-Nya menguasainya. Jujur, secara teori, hal ini sangat
mudah kita aminkan, tetapi sangat sulit kita jalankan, karena kita sering kali
ingin diri kita yang menjadi tuan atas hidup kita sendiri. Tetapi masalahnya
bukanlah apakah kita sudah sempurna menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan
kita, tetapi apakah kita rindu untuk terus-menerus diproses oleh-Nya untuk menempatkan-Nya
sebagai pusat kehidupan kita.
2.
Taat
Pada Firman-Nya
Seorang yang menjadikan Allah sebagai pusat
kehidupannya adalah orang yang taat mutlak akan apa yang telah Ia wahyukan di
dalam Alkitab. Ketaatan ini meliputi ketaatan dalam hal doktrin maupun praktik
hidup. Ketika ia seorang Kristen memiliki serangkaian doktrin yang diajarkan
gereja, ia akan memiliki kerinduan menguji doktrin tersebut apakah sesuai
dengan Alkitab atau tidak. Jika doktrin yang dianut gerejanya tidak sesuai
dengan Alkitab dengan penafsiran yang bertanggung jawab, maka ia akan rela
melepaskan doktrin tersebut. Ia lebih taat pada Alkitab sebagai firman Allah
ketimbang gereja jika gerejanya terbukti tidak mengajarkan Alkitab dengan
bertanggung jawab. Di dalam hal praktik hidup, ia juga siap taat pada Alkitab,
meskipun ketaatan itu membayar harga yang mahal.
3.
Memiliki
Teachable Spirit
Terakhir, seorang
yang sungguh-sungguh beriman juga adalah seorang yang memiliki kerendahan hati
yang salah satunya ditunjukkan dengan siap dikritik oleh saudara seiman jika
kita memang benar-benar salah. Ada kaitan antara no 1 dan 2 dengan no 3.
Seorang yang memusatkan Allah dalam hidupnya dan taat pada firman-Nya menyadari
bahwa dirinya adalah manusia berdosa dan bukan Allah. Seorang yang menyadari
bahwa ia bukan Allah tentu adalah seorang yang dapat bersalah dan memerlukan
teguran dari orang lain. Dengan kata lain, orang yang memiliki teachable spirit didahului oleh sikap
hati yang memusatkan hidup pada Allah dan taat pada firman-Nya. Apalagi seorang
yang melayani Tuhan di gereja entah itu sebagai singer, pemimpin pujian,
penyambut jemaat, kolektan, guru sekolah minggu, pengurus komisi pemuda,
majelis, maupun para pengkhotbah mimbar seharusnya memiliki kerinduan untuk
ditegur jika bersalah. Saya sendiri yang melayani Tuhan di gereja sebagai
penyambut jemaat, kolektan, pengurus komisi pemuda juga terus-menerus siap
ditegur jika saya salah. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah mendapat
bimbingan dari bapak dan ibu gembala (Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M. dan Ev.
Nike Pamela, M.Th.) gereja saya yang terus mengoreksi saya agar saya makin
dewasa baik dalam iman dan karakter. Ditegur memang tidak nyaman, tetapi itu
merupakan proses di mana kita makin serupa dengan Kristus.
Namun sayangnya, saya
menjumpai ada beberapa orang Kristen yang mengaku diri “melayani Tuhan” di
gereja yang tidak memiliki semangat ingin ditegur jika mereka salah. Hal ini
disebabkan karena ia tidak pernah menempatkan Allah sebagai pusat kehidupannya
apalagi taat pada firman-Nya.
ALASAN BEBERAPA
PEMUDA/I KRISTEN MENCARI PASANGAN HIDUP YANG TIDAK SEIMAN
Secara theologis dan konseptual, kita
sebagai pemuda/i Kristen mengerti bahwa kita harus mencari pasangan hidup yang
seiman, namun bagaimana praktik lapangan yang kita lihat dan alami? Jujur, saya
menemukan beberapa cowok/cewek Kristen yang mengerti konsep mencari pasangan
hidup yang seiman justru adalah mereka yang masa bodoh dengan iman. Ironis.
Bagi mereka, tidak menjadi masalah mencari pasangan hidup yang tidak seiman
bahkan atheis sekalipun, mengapa? Biasanya mereka selalu mengeluarkan jurus
andalan mereka, “Nanti kan bisa
diinjili.” Alasan ini sebenarnya adalah alasan yang mereka pakai untuk menutupi
keinginan mereka sendiri yang melawan Alkitab dan saya jamin bahwa mereka tak
akan mungkin memberitakan Injil kepada pacarnya. Atau ada pemuda/i Kristen yang
berpikir pragmatis di mana nanti pasangannya akan ia ajak ke gereja dengan
tujuan agar pasangannya “bertobat.”
Sebenarnya apa alasan beberapa cowok/cewek
Kristen zaman ini lebih suka mencari pasangan yang tidak seiman? Paling tidak
saya menemukan beberapa alasan, yaitu:
1.
Cowok/cewek
yang Pertama Kali Disuka adalah Orang yang Tidak Seiman
Saya menjumpai ada cowok/cewek Kristen yang
menemukan lawan jenis yang tidak seiman, kemudian berpacaran mengatakan bahwa
lawan jenis yang pertama kali ia suka adalah lawan jenis yang tidak seiman. Ada
berbagai alasan cowok/cewek Kristen ini suka dengan lawan jenis yang tidak
seiman ini, yaitu: si lawan jenis ini cantik/tampan, baik, humoris, nyambung, dll. Artinya kriteria
terpenting memilih lawan jenis tidak diperhatikan. Saya tidak mengatakan bahwa
kriteria fisik, karakter, dll tidak perlu diperhatikan. Maksud saya adalah
beberapa cowok/cewek Kristen lebih memperhatikan kriteria fisik, karakter, dll
ketimbang kriteria iman sebagai kriteria terpenting.
Mengapa demikian? Saya menduga bahwa mereka
tidak memperhatikan kriteria iman karena mereka sendiri tidak beriman. Upsss, maafkan
saya, saya tidak sedang menghakimi siapa pun, tetapi saya sedang berbicara
fakta. Seorang yang benar-benar beriman kepada Kristus akan memiliki hati,
pikiran, emosi, perkataan, dll yang benar-benar berpusat pada-Nya dan
menyenangkan-Nya, maka tidak heran, ia akan bertindak apa pun demi
kemuliaan-Nya, termasuk mencari dan menemukan pasangan hidup. Seorang
cowok/cewek yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus tidak akan sembarangan
memilih lawan jenisnya, meskipun lawan jenis tersebut ia taksir. Jika ia
menemukan lawan jenisnya tidak beriman, maka ia akan langsung menolak mendekati
atau didekati. Ini adalah sikap seorang cowok/cewek yang benar-benar beriman
kepada Allah.
2.
Banyak
Cowok/Cewek non-Kristen Lebih Baik dari Cowok/Cewek Kristen
Alasan kedua beberapa cowok/cewek Kristen
memilih lawan jenis yang tidak seiman adalah karena banyak cewek/cowok
non-Kristen lebih baik dari cewek/cowok Kristen. Mereka biasanya beralasan
bahwa mereka sudah pernah berpacaran dengan lawan jenis Kristen dan mereka
merasa dikecewakan, kemudian mereka “sengaja” mencari lawan jenis yang tidak
Kristen, lalu keluarlah kata-kata “mutiara”nya, “Toh, yang penting berbuat baik, percuma ke gereja, tetapi
mengecewakan orang.”
Lagi-lagi presuposisi dibalik alasan ini
adalah perbuatan baik itu terpenting dan iman bukan hal penting. Seperti halnya
alasan nomer 1, jika ada cowok/cewek Kristen yang mengeluarkan alasan seperti
nomer 2 ini maka dapat dipastikan bahwa ia bukan seorang yang beriman. Saya
mengerti sakit hatinya orang yang merasa telah dikecewakan oleh mantan pacar
yang Kristen, namun sakit hati adalah sakit hati, jangan sampai sakit hati
mendikte iman dan pikiran kita. Seorang yang beriman sungguh-sungguh bisa
mengalami sakit hati, tetapi ia tidak akan berfokus pada sakit hati, kemudian
mencari lawan jenis yang mendukakan hati-Nya. Ia akan lebih mengasihi Allah
yang telah mencipta, memelihara, dan menebusnya dengan cara mencari lawan jenis
yang menyenangkan hati-Nya ketimbang mengizinkan sakit hatinya memerintah
hidupnya.
Kesalahan kedua dari beberapa cowok/cewek
Kristen yang berkata bahwa cowok/cewek non-Kristen lebih “baik” dari mereka
yang Kristen adalah mereka menduga bahwa cowok/cewek non-Kristen jauh lebih
baik dari cowok/cewek Kristen. Mereka terkunci pada kata “Kristen”, padahal itu
salah. Apakah seorang cowok/cewek Kristen menjamin ia seorang yang benar-benar
beriman? Tidak. Saya percaya bahwa ada cowok/cewek non-Kristen yang lebih baik
dari cowok/cewek Kristen, namun sekali lagi, fokusnya bukan pada “lebih baik”,
tetapi pada iman! Lalu, apa arti “baik” sendiri? Jangan terlalu cepat mengobral
kata “baik” dan menyebut lawan jenis tertentu “baik” tanpa kita mengerti makna
“baik.” Seorang mantan rekan kerja saya yang berjenis kelamin perempuan pernah
menyebut mantan pacarnya sebagai orang “baik”, mau tahu alasannya? Ia berkata
bahwa mantan pacarnya itu baik karena mantan pacarnya sering membelikannya
makanan. Baik karena menguntungkan saya? Itukah baik? Periksalah kosa kata kita
tentang “baik” sebelum kita berani mengobral kata “baik” tanpa mengerti
maknanya J
Meskipun mereka akhirnya menemukan lawan
jenis yang tidak seiman, apakah menjamin bahwa kehidupan pernikahan mereka
kelak pasti bahagia? Fakta berkata: “TIDAK”. Lihatlah berita para artis Kristen
yang menikah dengan pasangan yang tidak seiman, apa kehidupan pernikahan mereka
bahagia? Satu per satu, mereka bercerai. Ada sekelompok “Kristen” yang
mengajarkan bahwa pernikahan perbedaan agama tidak menjadi masalah, asalkan
saling menghormati, namun kita menjumpai tidak sedikit pasutri beda agama yang
pada awalnya “harmonis” dan “saling menghormati”, tiba-tiba berpuluh tahun
kemudian akhirnya bercerai.
PERGUMULAN MENCARI
PASANGAN HIDUP YANG SEIMAN
Sesuai dengan
pengajaran Alkitab di Efesus 5:22-30, maka sebagai generasi muda Kristen, kita
harus lebih menaati firman Allah bukan hanya secara pikiran, tetapi secara hati
dan tindakan, khususnya dalam mencari pasangan hidup yang seiman.
Tantangan-tantangan
Dalam Mencari Pasangan Hidup yang Seiman
Saya harus mengakui
bahwa ada begitu banyak tantangan yang harus dihadapi tatkala kita mencari
pasangan hidup yang seiman. Ada beberapa tantangan, yaitu:
1.
Tantangan
Superfisial
Tantangan pertama
adalah tantangan superfisial yaitu tantangan yang nampak di depan mata. Jujur
harus diakui, banyak cowok lebih mementingkan fisik seorang lawan jenis,
sehingga tantangan terberat seorang cowok Kristen dalam mencari pasangan hidup
yang seiman adalah banyak lawan jenis yang tidak seiman lebih cantik daripada
mereka yang seiman. Saya sedang berbicara fakta, tidak sedang menghina cewek. Bagi
cewek, ada beberapa cewek Kristen yang mendambakan cowok macho, tinggi, tampan,
baik, humoris, charming, bahkan kalau
perlu kaya (baca: pengusaha) dan mereka menjumpai kriteria tersebut pada banyak
cowok yang tidak seiman. Lagi-lagi, saya tidak sedang menghina cowok Kristen,
karena saya pun adalah seorang cowok Kristen.
2.
Tantangan
Usia
Tantangan
berikutnya adalah tantangan usia. Beberapa cowok atau cewek yang sudah berusia
30 tahun ke atas didesak oleh orang tuanya untuk segera mencari istri/suami,
sehingga mereka akhirnya sembarangan memilih lawan jenis entah itu seiman atau
tidak. Namun sayangnya orang tua yang mendesak adalah orang tua yang kurang
menekankan pentingnya memilih lawan jenis yang seiman karena orang tua ini
mungkin bukan orang tua Kristen atau orang tua yang asal rutin kebaktian di
gereja tanpa mengerti esensi iman Kristen.
Jika ada tantangan,
maka apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda Kristen yang takut akan
Allah? Ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan, yaitu:
1.
Selidiki
dan Perkuat Iman Kita
Sebelum kita masuk ke dalam berbagai tahap
dalam mencari pasangan hidup yang seiman, syarat pertama yang harus kita
lakukan adalah menyelidiki iman kita. Sebagai orang Kristen, belajarlah jujur
terhadap diri dan iman kita sendiri, apakah kita benar-benar mengasihi-Nya?
Saya tidak sedang bertanya: seberapa aktif Anda “melayani Tuhan” di gereja atau
seberapa banyak Anda sudah mengonsumsi buku-buku theologi tingkat tinggi? Saya
tidak bermaksud bahwa melayani dan belajar theologi tidak penting, tetapi
penekanan saya adalah seberapa dalam Anda mengasihi-Nya? Orang yang “melayani
Tuhan” dan belajar theologi tidak semata-mata membuktikan orang itu mengasihi
Allah, namun jangan dibalik dan disalahtafsirkan: orang yang mengasihi Allah
ditandai dengan anti theologi dan enggan melayani. Orang yang benar-benar
mengasihi Allah nampak dari kerinduannya mengerti siapa Allah dan apa
kehendak-Nya baginya melalui Alkitab dan makin berapi-api melayani-Nya baik
dalam gereja maupun sikap hidup sehari-hari. Dengan kata lain, ada korelasi
yang erat antara pengertian theologi dengan pelayanan di gereja dan aplikasi
praktisnya. Saya kuatir dengan orang-orang yang rutin beribadah di gereja dan
sering mendengar khotbah mimbar yang mengatakan bahwa kita harus mencari
pasangan hidup yang seiman, namun mereka tidak pernah menjalankannya dengan segudang
alasan yang dibuat-buat supaya nampak “rohani.”
Jika apa yang saya paparkan terkesan
abstrak, maka saya akan mencoba mengilustrasikan konsep di atas. Kalau kita
pernah berpacaran, maka kita mengetahui bahwa tanda kita mengasihi pacar kita
adalah melakukan apa yang pacar kita sukai dan tidak melakukan apa yang pacar
kita tidak sukai (tentunya dalam batas-batas firman Tuhan). Jika pacar kita
tidak menyukai gaya rambut kita, sebisa mungkin kita mengubahnya. Kerinduan kita
mengubah gaya rambut kita didasarkan pada kerinduan kita mengasihi pacar kita.
Kembali ke konsep kita, mengapa untuk urusan pacar, kita sangat paham, tetapi
untuk urusan rohani, kita tidak memahami dan menjalankannya? Bukankah ini
membuktikan bahwa kita kurang mengasihi Allah? Silahkan kita menguji diri kita.
Setelah menyelidiki iman kita, kita perlu
menguatkannya dengan cara berdoa dan membaca Alkitab. Disiplin-disiplin rohani
ini kita lakukan bukan untuk memperkenan Allah, tetapi sebagai sarana kita mengenal-Nya
dan ingin menjalankan kehendak-Nya. Jujur, makin saya menggali kebenaran
Alkitab dan mendengarkan khotbah-khotbah yang benar-benar menggali kebenaran
Alkitab, makin saya diberkati dan itu mendorong saya makin berusaha keras
menjalankannya. Misalnya, kita diajar oleh Allah melalui firman-Nya di Efesus
5:22-30 tentang relasi suami-istri di dalam Kristus dan itu menjadi prinsip
kita mencari pasangan hidup yang seiman, maka tugas kita bukan mengerti
pengajaran Alkitab secara konseptual, tetapi jalankan.
2.
Berdoa
Setelah menguji iman kita, kita harus
berdoa meminta Tuhan memberi pasangan hidup bagi kita. Doa berarti kita
menundukkan diri di bawah kehendak-Nya yang berdaulat dan mengizinkan-Nya
bertindak sesuai kehendak-Nya. Tatkala kita berdoa dengan berserah pada
kehendak-Nya yang berdaulat mutlak, maka kita akan mengalami begitu banyak cara
kerja Allah yang benar-benar mengagumkan dan di luar pikiran manusia. Jujur,
secara konseptual, hal ini mudah diaminkan, tetapi sangat sulit dijalankan.
Saya sendiri mengalami hal ini, namun puji Tuhan, Ia terus mengasihi saya
dengan melindungi saya dari lawan jenis yang tidak sungguh-sungguh beriman.
Paman saya yang beragama Katolik pernah mengingatkan saya bahwa ketika saya
mengasihi Tuhan, Ia akan mengasihi dan memelihara saya dengan menjauhkan saya
dari lawan jenis yang tidak beres. Mungkin pernyataan ini nampak ekstrem,
tetapi saya sendiri mengalami apa itu namanya berserah kepada Allah dan melihat
cara kerja Allah yang luar biasa mengagumkan. Allah yang saya percayai adalah
Allah yang mengasihi umat-Nya dan menginginkan umat-Nya mendapatkan pasangan
hidup yang benar-benar beriman kepada-Nya.
3.
Bertindak
Secara Hati-hati
Kita bukan hanya
harus berdoa ketika hendak mencari pasangan hidup yang seiman, kita juga harus
bertindak secara hati-hati. Artinya kita juga berusaha aktif mencari pasangan
hidup itu dengan cara memperbanyak relasi kita baik di dalam gereja maupun
dengan saudara seiman lain dari gereja lain. Di dalam relasi tersebut, kita
pasti menemukan salah satu lawan jenis yang pas di hati. Masalahnya, apa
kriteria kita menemukannya? Kembali ke poin terpenting yaitu iman. Selidikilah
apakah lawan jenis tersebut benar-benar iman? Jika poin iman sudah lulus
sensor, maka kita baru boleh memperhatikan aspek lain seperti fisik, karakter,
dll. Apa yang saya uraikan ini bukan teori saja, tetapi saya jalankan. Bagi
saya, fisik bukan segalanya karena iman adalah hal yang terpenting, tetapi
bukan berarti fisik tidak perlu diperhatikan. Saya masih hidup di dunia, sehingga
saya masih tetap memperhatikan aspek fisik lawan jenis. Jujur, ketika berelasi
dengan teman-teman lawan jenis, saya biasanya tertarik dengan fisik dan wajah
lawan jenis, itu wajar bagi banyak (tidak semua) cowok, namun ketertarikan saya
tidak berarti saya cepat-cepat mencintainya. Saya tetap akan menyelidiki iman
si cewek itu, kalau ia adalah seorang atheis atau tidak percaya kepada Kristus,
saya berani tidak mendekatinya. Bagi saya, wajah cantik, tubuh langsing, tetapi
atheis itu sia-sia, namun jangan berpikir sebaliknya, yang terpenting adalah
iman, maka wajah dan tubuh tidak beraturan tidak menjadi masalah. Ingatlah,
kita bukan malaikat. Kalau ada cowok Kristen yang sama sekali tidak
memperhatikan fisik dan wajah, saya tidak menjadi masalah, namun jangan
memutlakkan konsep yang tidak mutlak itu kepada semua orang seolah-olah itu
adalah kebenaran Alkitab. Hal ini tidak berarti saya keras kepala. Setiap orang
memiliki preferensi masing-masing yang relatif berkenaan dengan fisik dan wajah
lawan jenis.
Setelah mengincar
lawan jenis, jangan lupa doakan kembali pilihan kita, apakah orang itu sesuai
dengan kehendak-Nya atau tidak. Jika itu tidak sesuai dengan kehendak-Nya, maka
percayalah, Ia akan berusaha memisahkannya dan kita harus taat meskipun kita
mengalami patah hati. Bagaimana caranya kita mengetahui bahwa lawan jenis
tertentu sesuai dengan kehendak-Nya atau tidak? Ya balik lagi kepada makna
seiman yang telah saya paparkan sebelumnya. Jika orang itu tidak memenuhi
ketiga makna seiman itu, maka ia bukan pasangan yang Allah kehendaki. Mungkin
sekali ada orang yang sudah memenuhi ketiga makna seiman, namun ia tetap tidak
dikehendaki Allah, karena Allah menghendaki pasangan yang lebih sepadan dengan
kita. Tugas kita adalah taat mutlak.
KESIMPULAN DAN
TANTANGAN
Mengerti prinsip mencari pasangan hidup
yang seiman bukan hanya secara konseptual, tetapi juga secara praktis. Artinya
setelah kita benar-benar mengerti prinsip mencari pasangan hidup yang seiman,
maka tugas kita adalah menjalankannya dengan semangat dan hati yang benar-benar
mengasihi Allah dengan tulus dan murni, bukan supaya tampak “rohani” di hadapan
orang tua atau teman-teman gereja. Sudah siapkah kita mengasihi-Nya dengan
memilih dan menemukan pasangan hidup yang sungguh-sungguh beriman kepada-Nya? Kiranya
Allah menolong kita menjalankan hal tersebut. Amin. Soli Deo Gloria.
14 December 2014
Resensi Buku-298: KINGDOM CALLING (Prof. Amy L. Sherman, Ph.D.)
Banyak orang Kristen sering berlaku munafik, mulai dari hari Senin s/d Jumat, berlaku kotor (suka menipu orang, tidak adil, dll), sedangkan hari Minggu, berlaku alim. Mengapa demikian? Karena mereka tidak mengaplikasikan kebenaran firman Tuhan di dalam setiap aspek kehidupan sehari-harinya, termasuk dunia kerja. Mereka berpikir iman Kristen tak berkaitan dengan dunia kerja. Benarkah demikian? Bagaimana mengintegrasikan iman Kristen dengan dunia kerja?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
KINGDOM CALLING:
Penatalayanan Vokasi Untuk Kebaikan Bersama
oleh: Prof. Amy L. Sherman, Ph.D.
Penerbit: Literatur Perkantas, Jakarta, 2013
Penerjemah: Lily Endang Joeliani
Mengawali bukunya, di bagian Pendahuluan, Prof. Amy L. Sherman, Ph.D. mengarahkan pembacanya untuk merenungkan Amsal 11:10a, “Bila orang benar mujur, beria-rialah kota,” Dari ayat ini, Dr. Sherman menjelaskan bahwa seharusnya orang Kristen yang cinta Tuhan menghadirkan Kerajaan Allah dengan menjadi berkat bagi lingkungan sekitarnya, sehingga lingkungan itu dapat bersukacita. Dengan kesadaran akan hal ini, Dr. Sherman menulis buku ini dan membagi buku ini menjadi tiga bagian, yaitu bagian theologis yang menjadi dasar kita menjadi penatalayan Kerajaan Allah, bagian praktis yaitu pentingnya menjadi murid di dalam menjalankan panggilan hidup, dan bagian praktis berikutnya bagi para pemimpin gereja untuk mendorong jemaatnya berpartisipasi di dalam mengintegrasikan iman dan pekerjaan.
Di bagian theologis, di bab 1, Dr. Sherman menguraikan frase “beria-rialah kota” di mana kota itu bersukacita bukan hanya karena orang benar mujur, tetapi juga karena orang fasik yaitu sebagai pelaku ketidakadilan dan ketidaksetaraan itu binasa. Ini berarti bahwa saat orang benar mujur, maka keadilan berlaku. Keadilan mencakup tiga dimensi, yaitu pembebasan, kesetaraan, dan pemulihan. Keadilan dengan 3 dimensi ini adalah wujud shalom Allah. Shalom ini mencakup damai dengan Allah, diri sendiri, sesama, dan ciptaan di mana damai dengan Allah mempengaruhi damai dengan diri sendiri, sesama, dan ciptaan.
Di bab 2, Dr. Sherman mengkhususkan perenungan Amsal 11:10a pada frase “orang benar mujur.” Orang yang benar dalam bahasa Ibraninya tsaddiq ini menurut Dr. N. T. Wright, bukan hanya benar secara makna dasar, tetapi juga pendirian dan perilaku yang benar/adil. Orang benar ini memiliki dimensi kebenaran ke atas yang berorientasi pada Allah, penuh kerendahan hati, melihat segala sesuatu dari perspektif Allah, kemudian melihat ke dalam (kekudusan pribadi, mempraktikkan buah Roh, murah hati, dan berbelas kasihan), dan terakhir melihat ke luar yang meliputi keadilan sosial bagi lingkungan sekitar. Kemudian di bagian akhir bab ini, Dr. Sherman memberi contoh para tsaddiq di zaman modern ini dengan panggilan hidupnya.
Lalu, mengapa banyak orang Kristen tidak menjadi berkat/pengaruh di dunia sekitarnya? Alasannya dijelaskan Dr. Sherman di bab 3, yaitu karena banyak pemimpin gereja sibuk memberitakan Injil yang terus berfokus pada hubungan pribadi (saya dengan Kristus) tanpa memedulikan lingkungan sosial. Injil yang terlalu sempit ini akhirnya mengakibatkan banyak orang Kristen sibuk mengurusi hal-hal rohani dan masa bodoh dengan aplikasi praktis iman Kristen ke dalam dunia kerja. Akibatnya, banyak orang Kristen tidak mengerti kaitan iman Kristen dengan dunia kerja yang mereka hidupi.
Berbeda dari banyak Injil yang diberitakan di zaman sekarang yang hanya mengurusi saya dan Kristus, maka Injil Kerajaan Allah seharusnya menumbuhkan orang-orang yang benar agar menjadi murid-Nya dengan menggarami dan menerangi dunia sekelilingnya. Sebagai pemimpin InterVarsity (di Indonesia dikenal sebagai: Perkantas), James Choung menerbitkan diagram baru sederhana tentang Injil Kerajaan ini yang meliputi 4 aspek, yaitu: aspek penciptaan (dirancang untuk kebaikan), aspek dosa (dirusak oleh kejahatan), aspek penebusan (diutus bersama untuk menyembuhkan), dan aspek penyempurnaan (dipulihkan untuk lebih baik). Melalui diagram ini, kita diajar untuk memikirkan aspek rohani dan jasmani dari penebusan Kristus yang meliputi: pengudusan, penginjilan, dan misi. Dari pola pikir ini, maka kita mengerti bahwa “injil Kerajaan Allah mengajarkan bukan hanya dari apa kita diselamatkan, tetapi juga untuk apa kita diselamatkan.”
Di bagian 2, Dr. Sherman mulai masuk ke dalam pembahasan praktis tentang integrasi iman dan pekerjaan di mana integrasi ini bukan saja secara teoritis, tetapi juga aplikatif yang menyentuh segala aspek, baik integrasi dalam penginjilan, moral, dll. Oleh karena itulah, diperlukan suatu theologi kerja yang Alkitabiah yang memandang kerja itu sebagai panggilan Allah sejak penciptaan, kemudian munculnya dosa, dan penebusan Kristus memulihkan semuanya, sehingga kita dapat bekerja dengan baik dengan mengoptimalkan kreativitas, pemeliharaan, keadilan, belas kasihan, dll di dalam dunia kerja. Demi mencapai tujuan tersebut, di bab 7, Dr. Sherman mengarahkan kita untuk menemukan karunia rohani plus talenta, keahlian, pengaruh, keterampilan, dll yang dapat kita pakai untuk bersaksi di dalam dunia kerja. Dan yang terpenting, penemuan itu harus dibarengi dengan usaha pembentukan dengan cara mengembangkan 3 karakter, yaitu: kepelayanan, tanggung jawab, dan kerendahan hati di dalam dunia kerja.
Lalu, apa yang dapat dilakukan para pemimpin gereja untuk membangkitkan daya vokasi bagi jemaat-jemaatnya? Di bagian III, Dr. Sherman menjawabnya dengan memberikan 4 jalan, yaitu: mempromosikan Kerajaan Allah di dalam dan melalui pekerjaan jemaat sehari-hari melalui khotbah, dll; mendorong jemaat untuk menadi relawan yang menggunakan talenta vokasi mereka di luar pekerjaan sehari-hari; meluncurkan suatu upaya sosial; dan terakhir menantang mereka untuk berpartisipasi di dalamnya.
Biarlah buku yang dilengkapi dengan berbagai contoh praktis dapat memperlengkapi orang-orang Kristen untuk menjadi berkat bagi sesamanya di lingkungan kerja demi kemuliaan Allah Trinitas. Amin. Soli Deo Gloria.
Endorsement:
“Bagi saya, buku ini berada pada inti pemahaman akan kehidupan di dalam kerajaan Allah dan keterlibatan sosial Kristiani. Jika gereja-gereja di Barat memahami hal ini, kita akan melihat transformasi yang skalanya tidak terbayangkan. Theologi yang kokoh, kisah-kisah yang bagus, dan banyak aplikasi yang praktis.”
Rev. Bob Roberts, Jr., D.Min.
Pendiri dan Pendeta Senior di North Wood Church yang menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di Baylor University; Master of Divinity (M.Div.) di Southwestern Baptist Theological Seminary; dan Doctor of Ministry (D.Min.) di Fuller Theological Seminary.
“Kingdom Calling menangkap dan menambahkan ‘cara’ untuk memperlengkapi dan memobilisasi yang telah kami temukan di Redeemer dan rindu membagikannya kepada gereja-gereja di seluruh dunia.”
Katherine Leary Alsdorf, M.B.A.
Pendiri dan Direktur Eksekutif Center of Faith and Work di Redeemer Presbyterian Church, New York City yang menyelesaikan studi B.A. dalam bidang Psikologi dan Pendidikan di Wittenberg University dan Master of Business Administration (M.B.A.) di The Darden School, University of Virginia
Profil penulis:
Prof. Amy L. Sherman, Ph.D. adalah Senior Fellow di the Institute for Studies of Religion di Baylor University dan the Sagamore Institute for Policy Research. Beliau juga melayani sebagai Direktur Editorial untuk FASTEN (the Faith and Service Technical Education Network). Beliau adalah anggota aktif di Trinity Presbyterian Church di Charlottesville, Virginia dan juga melayani sebagai Senior Fellow bagi the International Justice Mission. Beliau menyelesaikan pendidikan undergraduate dalam bidang Sains Politik di Messiah College dan menyelesaikan studi Master of Arts (M.A.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di University of Virginia.
09 December 2014
Reformed in Brief-2: OTORITAS ALKITAB-1: Inspirasi dan Otoritas Alkitab
Reformed
in Brief-2
(Seri
Pengajaran Theologi Reformed Secara Singkat dan Praktis):
OTORITAS ALKITAB-1:
Inspirasi dan
Otoritas Alkitab
oleh:
Denny Teguh Sutandio
Allah yang berdaulat mutlak atas segala
sesuatu adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada semua manusia melalui
wahyu umum dan kepada umat pilihan-Nya melalui wahyu khusus. Salah satu bentuk
wahyu khusus Allah yaitu Kristus dan Alkitab. Alkitab disebut wahyu Allah
karena Alkitab diilhamkan oleh Allah. Alkitab diilhamkan Allah dengan cara
Allah memakai sarana para penulis Alkitab yaitu para nabi, rasul, dll yang
dipakai Allah untuk mengomunikasikan wahyu-Nya kepada manusia, sehingga Alkitab
dapat dipahami dengan bahasa manusia. Oleh karena itu, tidak heran, di dalam
Alkitab, kita menemukan begitu banyak jenis literatur mulai dari sejarah,
puisi, kata-kata bijak, dll. Semuanya ini membuktikan Allah dapat memakai semua
bentuk literatur manusia untuk menyatakan kehendak-Nya bagi umat-Nya.
Bagaimana kita mengetahui bahwa Alkitab
diilhamkan Allah? Di PL, kita menemukan begitu banyak tulisan “Allah berfirman”
(Kej. 1:22; 17:9; 35:10; dst). Di PB, Kristus di keempat Injil mengutip PL
(Mat. 4:10; 26:31; Mrk. 7:6; dst) dan karena Kristus adalah Allah, maka para
penulis kitab Injil menuliskan kata-kata Kristus sebagai kata-kata Allah
sendiri. Hal ini ditandai dengan seringnya Kristus berkata, “Aku berkata
kepadamu ... ” (Mat. 5:18, 20, 22, 44; dst) dan perkataan-Nya lain seperti
“Akulah...” (Yoh. 6:35; 9:5; 10:9, 11; 11:25; 14:6; 15:1) Selain itu di PB,
Rasul Paulus dalam surat-suratnya merujuk pada perkataan Kristus di dalam Injil
dan Petrus pun dalam surat-suratnya merujuk pada surat-surat Paulus (2Ptr.
3:15). Semuanya ini membuktikan bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah.
Mengapa firman Allah ini berbentuk tulisan?
Firman-Nya ini berbentuk tulisan
dengan maksud demi “pemeliharaan dan penyebaran kebenaran tersebut secara
lebih baik, dan demi peneguhan dan penghiburan yang makin pasti bagi Gereja-Nya
dalam melawan kecemaran daging, dan melawan niat jahat Iblis dan dunia, ...”
(Pengakuan Iman Westminster I.1)
Karena Alkitab diilhamkan Allah, maka
dengan sendirinya, Alkitab itu berotoritas. Apa arti otoritas Alkitab? Otoritas
Alkitab berarti Alkitab menjadi sumber sekaligus dasar membangun ajaran dan
praktik hidup Kristiani yang bertanggung jawab. Pengakuan
Iman Westminster menegaskan hal ini, “Hakim Tertinggi yang olehnya semua
kontroversi agama harus diputuskan, dan semua dekrit dari konsili-konsili,
pendapat dari penulis-penulis kuno, doktrin manusia, dan spirit pribadi, harus
diperiksa, yang pada keputusan-Nya kita harus bersandar, hanyalah Roh Kudus
yang berbicara di dalam Alkitab.” (Pengakuan Iman Westminster I.10) Bukan hanya itu
saja, Alkitab juga menjadi sumber kita menafsirkan Alkitab. Artinya, kita
menafsirkan Alkitab bukan dengan tradisi gereja maupun Tradisi rasuli seperti
yang diimani oleh Gereja Katolik, tetapi kita menafsirkan Alkitab dengan
membiarkan Alkitab menjelaskan dirinya sendiri.
Dari sini, kita belajar
bahwa otoritas Alkitab berkaitan erat dengan otoritas Allah sebagai penulisnya (2Tim. 3:16-17; 2Ptr. 1:19-20).
Pengakuan Iman Belgia mengajarkan,
... Bukan hanya
karena Gereja menerimanya, dan menganggapnya begitu, melainkan terutama karena
Roh Kudus menyaksikan di dalam hati kita,
bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah,
...
bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah,
...
(Pengakuan Iman Belgia Pasal 5)
Prof.
Wayne Grudem, Ph.D. mengajarkan konsep ini secara implisit dengan mengatakan
bahwa ketika kita meragukan otoritas Alkitab dengan tidak mempercayainya, maka
kita sebenarnya sedang meragukan otoritas Allah dan ketika kita meragukan
otoritas Allah dengan tidak mempercayai-Nya, itu berarti kita menempatkan diri
kita sebagai otoritas yang lebih tinggi dari Allah.[1]
Bagaimana
dengan kita? Kita yang mengaku bertheologi Reformed, sudahkah kita benar-benar
tunduk pada otoritas Alkitab? Ketundukan kita ditandai bukan dengan perkataan
kita saja, tetapi dengan tindakan nyata yang selalu menguji segala sesuatu baik
ajaran maupun praktik hidup kita dengan Alkitab dan kerelaan kita mengubah
ajaran maupun praktik hidup kita yang jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab
dengan penafsiran yang bertanggung jawab.
Apakah
hal ini berarti kita menyesampingkan pengalaman rohani, Tradisi rasuli,
pemimpin gereja (pendeta), dll? Kita akan membahas hal ini di bagian 2.
--Bersambung--
Denny
Teguh Sutandio, S.S.
yang lahir di Surabaya, 19 Juli 1985 adalah jemaat Gereja Kristus Rahmani
Indonesia (GKRI) Exodus, Surabaya yang digembalakan oleh Pdt. Yakub Tri
Handoko, Th.M. Studi theologi awam bidang Biblika, Historika, dan Doktrin di
Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR) dari GKRI Exodus dan aktif membaca
buku-buku theologi bermutu. Telah menulis beberapa buku dan artikel-artikel
doktrin dan praktika.
[1] Wayne Grudem, Kebenaran yang Memerdekakan: Menjawab 20
Pertanyaan Mendasar mengenai Iman Kristen, terj. Daniel Budiantoro (Jakarta: Metanoia, 2009), 5.
07 December 2014
Book Description-297: MORE THAN A PROPHET (Prof. Emir F. Caner, Ph.D. and Prof. Ergun M. Caner, Th.D.)
Christians and Muslims always conflict one another because Christianity and Islam are two religions which are exclusive. As Christians, we should understand what Muslims believe and we should know how we can answer anything that Muslims ask about Christianity and especially Jesus Christ. How can we answer their questions?
Get the answer in:
Book
MORE THAN A PROPHET:
An Insider’s Response to Muslim Beliefs About Jesus and Christianity
by:
Prof. Emir Fethi Caner, Ph.D. and Prof. Ergun Mehmet Caner, Th.D.
Publisher: Kregel Publications, Grand Rapids, Michigan
In their books, Dr. Emir Fethi and Dr. Ergun Mehmet Caner explains about 150 questions asked by many Muslims to Christians which can be classified in 12 areas, such as: God, the nature of Jesus Christ, the nature of Qur’an and Bible, Old Testament, New Testament, atonement and salvation, eschatology (end times), ethics and politics, culture and pluralism, religious liberty, world history, and some controversies and jihad. They answer all 12 areas of questions asked by many Muslims with simple answers and Biblical support. Those answers are very important for us to answer same questions asked by many Muslims around us. Eventhough I disagree with some authors’ doctrine, I still recommend Christian readers to read this good book to prepare them to answer the challenge of Islam and Muslims.
Biography of the authors:
Prof. Emir Fethi Caner, Ph.D. which was born on August 25, 1970 grew up in the Columbus, Ohio, area in a Sunni Muslim family, the son of an Islamic leader. As a young teenager, he came to faith in Jesus Christ at a revival service at the Stelzer Road Baptist Church.
Emir Caner enrolled in The Criswell College in Dallas, Texas, where he graduated summa cum laude in 1993 with a Bachelor of Arts (B.A.) in Biblical Studies. He followed in 1995 with a Master of Divinity (M.Div.) from Southeastern Baptist Theological Seminary in Wake Forest, North Carolina, and earned a Doctor of Philosophy (Ph.D.) in History in 1999 from the University of Texas at Arlington. The title of his doctoral dissertation is Truth Is Unkillable: The Life and Writings of Balthasar Hubmaier, Theologian to the Anabaptists.
Dr. Caner served as pastor and in staff positions in churches in Ohio, North Carolina, Virginia and Texas for a decade before entering higher education . From 1999 to 2004 he was Assistant Professor of Church History and Anabaptist Studies at Southeastern Baptist Theological Seminary and during the 2004-2005 academic year, he served as the seminary's Associate Dean of Southeastern College at Wake Forest as well.
In 2005 he became the founding Dean of The College at Southwestern, Director of the Center for Free Church Studies and Professor of History at Southwestern Baptist Theological Seminary in Fort Worth, Texas, and remained there until he accepted the call of Truett-McConnell College to become its eighth president in August 2008.
A prolific writer, Dr. Caner has written or contributed to 18 books about various topics, including Islam, persecution, religious liberty, ecclesiology, Baptist history, and apologetics. Unveiling Islam, which received the Gold Medallion Book of the Year award, has sold nearly 200,000 copies, while More Than a Prophet was a finalist for Book of the Year in Evangelism for Outreach magazine.
He is in demand nationally and internationally as a speaker and as a participant in television and radio programs. On a mission trip to the Czech Republic in 2000, he met Hana Titerova, daughter of the General Secretary of the Czech Baptist Union in Prague. They were married later that year; they are the parents of three children.
(www.emircaner.com)
Prof. Ergun Mehmet Caner, Th.D. is a Professor and Apologist at the Liberty Baptist Theological Seminary and Graduate School in Lynchburg, Virginia. Raised as a devout Sunni Muslim along with his two brothers, Caner converted in high school. After his conversion, he pursued his call to the ministry and education. He has a Masters degree from The Criswell College, a Master of Divinity (M.Div.) and a Master of Theology (Th.M.) from Southeastern Baptist Theological Seminary, and a Doctor of Theology (Th.D.) from the University of South Africa. He has written numerous books with his brother, Dr. Emir Caner, who is the President of Truett-McConnell College, a Baptist college in Georgia.
(www.erguncaner.com)
30 November 2014
Resensi Buku-296: "THE FIGHT: Buku Pegangan Prakts bagi Kehidupan Kristiani" (John White)
Setelah bertobat dan menerima Kristus, kita sebagai orang Kristen pasti menjalani kehidupan Kristiani sehari-hari. Apa yang menjadi pedoman kita dalam menjalani kehidupan Kristen tersebut?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
THE FIGHT:
Buku Pegangan Praktis bagi Kehidupan Kristiani
oleh: John White
Penerbit: Yayasan Gloria Graffa, Yogyakarta
Penerjemah: Arie Saptaji
Di dalam buku ini, John White mengarahkan kita untuk menjalani kehidupan Kristiani yang berpusat pada kedaulatan Allah dan firman-Nya. Sebagai permulaan, di bab 1, beliau mengarahkan kita untuk memahami siapakah orang Kristen sesungguhnya dengan menjelaskan status baru kita di hadapan Tuhan yaitu pembenaran dan kelahiran baru (regenerasi) yang membuat kita menjadi manusia baru dan menjadi warga negara Kerajaan Sorga (selain menjadi warna negara kerajaan dunia) dan efeknya bagi hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan iblis. Setelah mengerti status, kita diarahkan White untuk menjalani kehidupan Kristen dengan disiplin-disiplin rohani, yaitu doa yang merupakan sarana Allah mencari manusia dan kita berada di dalam hadirat-Nya. Selain doa, kita juga perlu mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Setelah doa dan firman Tuhan memperlengkapi kita, maka kita diutus menjadi saksi-Nya yang memimpin orang kepada Kristus. Namun di dalam kehidupan kita, kita pasti mengalami pencobaan yang terdiri dari hawa nafsu kedagingan, keinginan mata, dan keangkuhan hidup yang perlu kita lawan dengan firman-Nya. Di tengah pencobaan itu, kita harus memiliki iman yang merupakan tanggapan manusia terhadap karya Allah yang memberi anugerah dengan terus berpegang teguh pada janji-Nya yang memberikan damai sejahtera tatkala kita menderita. Status yang baru mengakibatkan kita juga menyadari bahwa hubungan kita dengan sesama itu berubah tanpa meninggalkan hubungan kita yang terutama dengan Kristus: kita menjadi makin saling mengasihi antar sesama saudara seiman di dalam Kristus dan juga tentunya keluarga biologis. Tetapi ketika keluarga biologis kita menyuruh kita mengkhianati Kristus, hendaklah kita tidak boleh melakukannya. Mengasihi keluarga biologis tidak sama dengan mengompromikan iman! Di dalam kehidupan Kristen, kita juga memerlukan bimbingan Tuhan di dalam memilih sesuatu, tetapi hendaknya sadarilah bahwa bimbingan-Nya itu bukan bimbingan mistik di mana Tuhan berkata langsung kepada kita atau Tuhan memberi tanda seperti Gideon, tetapi bimbingan-Nya itu datang melalui belajar firman-Nya, mengetahui kehendak-Nya, dan meminta nasihat dari saudara seiman, namun keputusannya tetap di tangan kita. Selain itu, kita juga harus mengingat pentingnya kekudusan di dalam menjalani kehidupan kita yang merupakan peran Allah dan manusia. Kekudusan bukan sekadar tidak boleh ini dan itu, tetapi juga aktif positif melakukan kebaikan positif yang dikehendaki-Nya. Kekudusan ini mengarahkan kita untuk memerangi rutinitas yang membosankan, tetapi tetap menjalani keseharian kita dengan takut akan Allah. Di bab terakhir, White mengingatkan kita bahwa di dalam dunia, kita harus dan pasti mengalami peperangan yang melawan: dunia, kedagingan, dan iblis, maka tugas kita bukan malas bertempur, tetapi dengan giat berperang melalui ketaatan pada Panglima kita yaitu Roh Kudus. Biarlah buku sederhana ini dapat memimpin kita untuk makin setia mengikuti-Nya dan taat pada firman-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Profil penulis:
John White lahir di Liverpool, Inggris tanggal 5 Maret 1924 dan dibesarkan di Manchester. Pada 25 Juni 1955, Beliau menikah dengan Laureate May O’Hara. Dari tahun 1955, beliau melayani sebagai misionaris medis dengan New Tribes Mission dan kemudian beliau dipilih menjadi associate general secretary dari the International Fellowship of Evangelical Students of Latin America. Beliau pindah ke Kanada dengan keluarganya pada tahun 1965. Beliau kemudian terpindah menjadi associate professor of psychiatry di University of Manitoba dan melayani secara lokal sebagai pendeta di Church of the Way. Beliau menulis 25 buku, beberapa artikel, dan penuntun studi. Beliau juga pembicara yang banyak dicari dan pengajar di gereja-gereja di konferensi-konferensi dan acara-acara kepemimpinan. Selama sisa hidupnya, beliau pindah ke Vancouver, British Columbia, beliau menolong untuk menanam gereja Vineyard (Surrey Vineyard) dan terlibat dalam Vineyard Christian Fellowship. Beliau meninggal tahun 2002, tetapi pelayanan tulisan-tulisan beliau tetap ada hingga sekarang di mana buku-bukunya telah dicetak lebih dari 1,5 juta.
23 November 2014
Resensi Buku-295: MESSY SPIRITUALITY (Rev. Michael Charles Yaconelli)
Iman Kristen bukan hanya mementingkan pengajaran Alkitab saja, tetapi juga kerohanian, karena tanpa kerohanian, apa yang kita pelajari tentang Alkitab adalah sia-sia belaka. Namun pertanyaannya, kerohanian seperti apa yang Alkitabiah?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
MESSY SPIRITUALITY
(KEROHANIAN YANG KACAU)
oleh: (alm.) Rev. Michael Charles Yaconelli
Penerbit: OMID Publishing House, Jakarta
Penerjemah: Devi Sutarsi
Di dalam buku ini, Rev. Michael Charles Yaconelli membuka pikiran kita tentang makna kerohanian yang normal. Tesis utama buku ini adalah kerohanian Kristen bukan kerohanian yang langsung jadi, tetapi suatu proses. Di dalam theologi, kita mengenal istilah “pengudusan terus-menerus” (progressive sanctification). Konsep inilah yang terus diuraikan Rev. Michael di dalam setiap babnya. Di bagian kata pengantar, terdapat tulisan istri beliau yang bernama Karla Yaconelli yang mengomentari sosok Rev. Michael, suaminya. Kemudian di awal babnya, beliau menguraikan pengalaman beliau sendiri baik pada waktu kuliah theologi hingga melayani Tuhan penuh waktu. Pada saat itu, beliau menyadari bahwa beliau banyak dicap tidak rohani, dll oleh orang Kristen lain, karena beliau kurang rajin berdoa, kurang rajin baca Alkitab, dll. Dari situ, beliau memaparkan bahwa bagi banyak orang Kristen, kerohanian adalah sesuatu yang langsung jadi dan tanpa protes: tidak boleh ada kekhawatiran, ketakutan, dll, padahal Alkitab justru mengajarkan bahwa kerohanian itu adalah sebuah proses terus-menerus berpaut pada Allah dan membenci dosa. Kerohanian yang berproses ini ditandai dengan seringnya kita jatuh bangun dalam iman. Ketika kerohanian kita naik turun itulah, kita merasakan Allah ada di dalamnya dan memimpin kita. Itulah anugerah Allah yang tak terbatas bagi umat-Nya. Anugerah Allah ini yang menyadarkan kita bahwa di dalam proses, kita ditopang-Nya dan terus dikasihi-Nya, sehingga kita makin hari makin bertumbuh, meskipun pertumbuhan itu tidak harus merupakan pertumbuhan yang besar. Di bagian akhir buku ini, beliau menantang para pembaca untuk merenungkan dan mengalami anugerah dan kasih Allah yang begitu besar dan melampaui akal budi manusia di dalam kerohanian yang serba kacau.
Profil penulis:
(alm.) Rev. Michael Charles Yaconelli (24 Juli 1942 – 30 Oktober 2003) adalah pemilik dan salah satu pendiri organisasi Youth Specialities dan penulis buku Dangerous Wonder. Beliau telah melayani selama 40 tahun sebagai gembala jemaat dan pelayan bagi kalangan pelajar/mahasiswa.
16 November 2014
Resensi Buku-294: GEREJA: Zaman Perjanjian Baru dan Masa Kini (diedit oleh: Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D.)
Setiap orang Kristen pasti pernah pergi ke gereja, namun sayangnya mereka kurang mengerti definisi gereja, sifat-sifatnya, dan segala hal tentang gereja. Bagaimana agar orang Kristen dapat mengerti segala hal tentang gereja? Apa kaitan gereja Perjanjian Baru dengan masa kini?
Temukan jawabannya dalam:
Buku
GEREJA: Zaman Perjanjian Baru dan Masa Kini
diedit oleh: Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D.
Penerbit: Gandum Mas, Malang, 1997
Di buku ini terdapat 7 bab dengan 7 orang penulis. Di bab 1, Dr. Edmund P. Clowney menjabarkan definisi gereja diambil dari perspektif PL dan PB di mana gereja adalah suatu kumpulan, tubuh Kristus, dll. Kemudian di bab 2, Dr. Peter O’Brien menjabarkan tentang penekanan gereja sebagai persekutuan surgawi zaman akhir di mana gereja lebih bersifat rohani. Bagaimana dengan ibadah gereja? Di bab 3, Dr. Rusell R. Shedd menjelaskan tentang ibadah dalam gereja Perjanjian Baru dan kaitannya dengan ibadah Perjanjian Lama serta relevansinya bagi gereja Kristen di zaman sekarang. Di dalam persekutuan tubuh Kristus, Alkitab PB mengajarkan tentang karunia-karunia Roh yang diberikan kepada masing-masing jemaat untuk membangun tubuh Kristus. Apa saja karunia-karunia itu? Apakah karunia-karunia itu masih berlaku hingga sekarang? Di bab 4, Dr. Ronald Y. K. Fung menjabarkan pelayanan dalam PB khususnya tentang karunia-karunia Roh. Gereja juga memiliki mandat khusus yaitu memberitakan Injil. Bagaimana cara gereja memberitakan Injil dengan tepat? Bagaimana Alkitab menyoroti kontekstualisasi? Di bab 5, salah satu pakar PB ternama, Dr. D. A. Carson mengajar kita tentang perspektif Alkitabiah lengkap dengan eksegese yang teliti mengenai kontekstualisasi. Bagaimana gereja meresponi kondisi luar, seperti sinkretisme, sekularisme, dan penganiayaan? Dua bab terakhir mengajar kita tentang hal ini. Di bab 6, Dr. Sunand Sumithra mengajar kita bahwa Kekristenan yang Alkitab jelas menolak sinkretisme yang mencampuradukkan semua agama dan sekularisme. Dan di bab 7, Dr. David H. Adeney memimpin kita untuk menelusuri penganiayaan baik dari gereja PB hingga sekarang dan relevansinya bagi gereja Kristen di zaman ini
Profil para penulis:
(alm.) Prof. Edmund Prosper Clowney, D.D. (30 Juli 1917 – 20 Maret 2005) adalah mantan direktur Westminster Theological Seminary, sekarang menulis dan melayani sebagai penatua pengajar di Trinity Presbyterian Church, Charlottesville, Virginia, U.S.A. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Arts (B.A.) di Wheaton College pada tahun 1939; Bachelor of Theology (Th.B.) di Westminster Theological Seminary pada tahun 1942; Master of Sacred Theology (S.T.M.) di Yale Divinity School pada tahun 1944; dan dianugerahi gelar Doctor of Divinity (D.D.) dari Wheaton College pada tahun 1966. Beliau menikah dengan Jean Granger Wright (lahir: 17 Februari 1920) pada tanggal 30 Agustus 1942 dan dikaruniai 5 orang anak. Beliau menulis beberapa buku, antara lain:
• Preaching and Biblical Theology
• Called to the Ministry
• Christian Meditation
• Doctrine of the Church
• The Message of I Peter: The Way of the Cross (The Bible Speaks Series)
• The Unfolding Mystery: Discovering Christ in the Old Testament
• Preaching Christ in All of Scripture
• The Church (Contours of Christian Theology)
• How Jesus Transforms the Ten Commandments
Rev. Prof. Peter T. O’brien, Ph.D., Th.D. adalah Kepala Departemen Perjanjian Baru dan Wakil Kepala Sekolah di Moore Theological College dan dosen bidang Perjanjian Baru di University of Sydney. Saat ini beliau menjadi Emeritus Faculty di Moore Theological College. Beliau ditahbiskan sebagai diaken (1961) dan pendeta (1962) di Anglican Church of Australia, daerah keuskupan Sydney. Selain itu, beliau melayani sebagai wakil presiden di the Church Missionary Society of Australia. Beliau meraih gelar Licentiate in Theology (Th.L.) Honours 1 dari Australian College of Theology; Bachelor of Divinity (B.D.) Honours dari University of London pada tahun 1961; Diploma Honours dari Moore College pada tahun 1961; dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) dari University of Manchester pada tahun 1971. Beliau dianugerahi gelar Doctor of Theology (Th.D.) dari Australian College of Theology pada tahun 2002. Beliau menulis beberapa buku antara lain:
Introductory Thanksgivings in the Letters of Paul (Supplement to Novum Testamentum, 49), (Leiden: E.J. Brill, 1977).
Colossians, Philemon (Word Biblical Commentary, 44) (Waco, Texas: Word, 1982)
Joint Editor, God Who is Rich in Mercy: Studies presented in honour of D.B.Knox (Sydney: Anzea, 1986)
Understanding the Basic Themes of Colossians, Philemon (Quick Reference Bible Topics) (Dallas: Word, 1991).
Commentary on Philippians (New International Greek Testament Commentary) (Exeter: Paternoster/Grand Rapids: Eerdmans, 1991).
Consumed by Passion. Paul and the Dynamic of the Gospel (Homebush West, NSW: Lancer, 1993). The Annual Moore College Lectures for 1992. (Published as Gospel and Mission in the Writings of Paul [Grand Rapids: Baker, 1995]).
Editor God’s Mission and Ours: The challenge of telling the nations (Adelaide: Openbook, 1999).
The Letter to the Ephesians (Pillar New Testament Commentary) (Grand Rapids: Eerdmans/Leicester: Apollos, 1999). Translated into Chinese 2009.
P. Bolt and M. Thompson, eds., The Gospel to the Nations: Perspectives on Paul’s Mission. In honour of Peter T. O’Brien (Leicester/Downers Grove: Apollos/Intervarsity, 2000).
Co-author with Andreas J. Köstenberger, Salvation to the Ends of the Earth: A biblical theology of mission (New Studies in Biblical Theology, 11) (Leicester/Downers Grove: Apollos/Intervarsity, 2001).
Joint editor with D. A. Carson and Mark A. Seifrid, Justification and Variegated Nomism: A Fresh Appraisal of Paul and Second Temple Judaism. Vol. 1. The Complexities of Second Temple Judaism (WUNT 2:140; Tübingen/Grand Rapids: Mohr Siebeck/Baker, 2001). Christianity Today 2002 Book Award Winner.
Joint editor with D. A. Carson and Mark A. Seifrid, Justification and Variegated Nomism: A Fresh Appraisal of Paul and Second Temple Judaism. Vol. 2: The Paradoxes of Paul (WUNT 2:181; Tübingen/Grand Rapids: Mohr Siebeck/Baker, 2004).
The Letter to the Hebrews (Pillar New Testament Commentary) (Grand Rapids/Nottingham: Eerdmans/Apollos, 2010). (Translated into Chinese, 2013
Dr. Russell R. Shedd adalah Profesor Perjanjian Baru di Faculdade Teologica Batista de Sao Paulo.
Prof. Ronald Y. K. Fung, Ph.D. adalah honorary research fellow di The Divinity School, Chinese University of Hong Kong. Beliau menyelesaikan studi B.A. di Hong Kong University; B.D. di London; A.L.B.C. di London Bible College; Master of Theology (Th.M.) di Fuller Theological Seminary, U.S.A.; dan Ph.D. bidang Perjanjian Baru di University of Manchester. Beliau telah menulis tafsiran Surat Galatia dalam bahasa Mandarin dan menulis beberapa artikel di dalam buku seri Dictionary of Paul and His Letters.
Rev. Prof. D. A. Carson, Ph.D. adalah Profesor Riset Perjanjian Baru di Trinity Evangelical Divinity School, Deerfield, Illinois, U.S.A. Beliau juga adalah anggota dari: the Tyndale Fellowship for Biblical Research, the Society of Biblical Literature, the Evangelical Theological Society, the Canadian Society of Biblical Studies, dan the Institute for Biblical Research. Beliau juga dahulu mendirikan GRAMCORD Institute, sebuah institusi riset dan pendidikan yang didesain untuk mengembangkan dan mempromosikan tools komputer bagi riset Alkitab, khususnya berfokus pada bahasa-bahasa asli. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Science (B.S.) dalam bidang Kimia di McGill University; Master of Divinity (M.Div.) di Central Baptist Seminary di Toronto; dan Ph.D. dalam bidang Perjanjian Baru di Cambridge University. Beliau juga menulis atau mengedit beberapa buku, di antaranya: The Sermon on the Mount (Baker 1978), Exegetical Fallacies (Baker 1984), Matthew (Zondervan 1984), From Triumphalism to Maturity (Baker 1984), Showing the Spirit (Baker 1987), How Long, O Lord? Reflections on Suffering and Evil (Baker 1990), The Gospel According to John (Eerdmans 1991), A Call to Spiritual Reformation (Baker 1992), New Testament Commentary Survey, 6th ed. (Baker 2006) and Becoming Conversant with the Emerging Church (Zondervan, 2005). Buku yang beliau tulis berjudul The Gagging of God: Christianity Confronts Pluralism (Zondervan 1996) telah memenangkan the 1997 Evangelical Christian Publishers Association Gold Medallion Award dalam kategori “theologi dan doktrin.” Beliau dan istri, Joy, tinggal di Libertyville, Illinois. Mereka memiliki dua orang anak.
(alm.) Sunand Sumithra, D.Theol. adalah mantan dosen di Union Biblical Seminary, Pune dan sekarang Sekretaris Eksekutif di Theological Commission of the World Evangelical Fellowship. Beliau menyelesaikan studi Doctor of Theologie (D.Theol.) di University of Tuebingen, Jerman. Beliau telah meninggal di Bangalore, India pada tanggal 12 Mei 2006
Rev. David Howard Adeney, M.A. (3 November 1911—11 Mei 1994) adalah Profesor bidang Misi Kristen di New College, Berkeley, California dan Pendeta di Overseas Missionary Fellowship (OMF). Beliau menyelesaikan studi M.A. dalam bidang Theologi dan Sejarah di Queens' College, Cambridge, UK.
Subscribe to:
Posts (Atom)
