18 August 2010

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-6: Eden dan Dosa-5: Kebingungan Ordo

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-6:
Eden dan Dosa-5: Kebingungan Ordo


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:6b



Setelah melihat bahwa buah pohon pengetahuan baik dan jahat, apa yang Hawa lakukan kemudian? Alkitab mencatat, “Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” (Kej. 3:6b) Alkitab memberi tahu kita bahwa Hawa lalu mengambil buah tersebut dan memakannya. Apakah cukup hanya mengambil dan memakan buah tersebut? TIDAK. Alkitab mencatat kembali bahwa Hawa akhirnya memberikan buah tersebut ke suaminya dan suaminya itu memakannya. Pertanyaan lebih lanjut, mengapa si Adam mau menerima buah yang diberikan oleh Hawa dan yang lebih parah lagi ikut memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat tersebut? Bukankah Adam sudah mendapatkan perintah dan larangan dari Allah sendiri untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:17)? Allah sudah memberi perintah kepada Adam, supaya Adam nantinya memberi tahu Hawa, namun semuanya menjadi kacau dan Adam akhirnya mendengarkan perkataan Hawa. Di sini, kita melihat bahwa dosa mengakibatkan adanya kebingungan ordo/urutan. Allah telah menetapkan urutan:
Allah
▼
Pria
▼
Wanita
▼
Makhluk lain (hewan dan tumbuhan)
▼
Alam dan Iblis


Meskipun pria dan wanita diciptakan setara oleh Allah, namun Allah menetapkan ordo bahwa pria di atas wanita. Mengapa? Apakah ini tidak adil? TIDAK. Di dalam seluruh Alkitab, kita mencatat konsistensi pengajaran ini. Di dalam Perjanjian Lama, kita menjumpai bahwa Allah memilih banyak hakim dan raja bagi Israel selalu pria, dalam beberapa kasus, Ia mengizinkan munculnya Debora sebagai nabiah sekaligus hakim di Israel (Hak. 4:4) justru untuk mempermalukan pria yang waktu itu (Barak) seorang pengecut. Di dalam Perjanjian Baru, hal ini menjadi lebih jelas. Di dalam Efesus 5:23, Tuhan melalui Rasul Paulus mengajar kita, “karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.” Kata “suami” dan “istri” di dalam ayat ini dalam bahasa Yunaninya bisa diterjemahkan pria (man) dan wanita (woman), sehingga dapat diterjemahkan bahwa pria adalah kepala wanita sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Oleh karena itu, sebagai implikasinya, Paulus mengajar dua poin: “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef. 5:24) dan “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25) Berarti, istri/wanita harus tunduk kepada suami/pria seperti jemaat tunduk kepada Kristus, namun sebaliknya, si pria/suami harus mengasihi wanita/istrinya seperti Kristus mengasihi jemaatnya. Mana yang lebih dahulu? Tentu pria harus terlebih dahulu mengasihi wanita, karena Kristus terlebih dahulu mengasihi jemaat-Nya, sehingga jemaat-Nya dapat tunduk kepada Kristus.

Setelah pria di atas wanita, maka ordo selanjutnya adalah pria dan wanita berada di atas makhluk ciptaan lain, yaitu hewan dan tumbuhan. Mengapa demikian? Karena Allah menciptakan hewan dan tumbuhan bagi manusia, sehingga manusia diberikan kebebasan oleh Allah untuk membunuh hewan untuk dimakan dagingnya dan memotong tumbuhan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Orang Kristen bukanlah orang yang vegetarian alias herbivora (pemakan tumbuh-tumbuhan), tetapi omnivora, karena segala sesuatu halal di hadapan Allah. Saya pribadi heran dengan para vegetarian. Saya memperhatikan fakta di Pasar Atum, Surabaya, ada yang menjual makanan vegetarian, tetapi di situ juga tersedia makanan yang notabene ada dagingnya, ternyata ketika diselidiki itu bukan daging sungguhan, tetapi daging tipuan (kalau dimakan seperti daging, tetapi itu sebenarnya hanya dibuat dari tepung). Seorang vegetarian adalah seorang yang tidak konsisten dengan dirinya sendiri. Kalau mereka mau konsisten, mengapa mereka membuat makanan daging tiruan? Itu sama sekali tidak berguna. Meskipun kita diizinkan membunuh binatang, mengutip Pdt. Dr. Stephen Tong yang mengutip perkataan seorang penginjil, kita tetap tidak boleh menyiksa binatang, seperti menggunting kaki nyamuk, dll.

Kemudian, manusia berada di atas iblis, karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya, sedangkan iblis hanya berbentuk roh. Sekadar intermeso, Pdt. Dr. Stephen Tong di dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) 2010: Rahasia Kemenangan dalam Cinta dan Seks Menuju Pernikahan memaparkan perbedaan manusia, binatang, dengan roh/malaikat (termasuk setan): manusia memiliki cinta dan seks; binatang memiliki seks, namun tidak memiliki cinta; sedangkan roh/malaikat memiliki cinta, namun tidak memiliki seks. Konsep manusia di atas iblis menjadi jelas tatkala ordo ini berlaku bagi orang Kristen, manusia Kristen sejati jelas berada jauh di atas iblis, bukan karena kehebatan manusia, namun karena Kristus telah mengalahkan setan dan kuasanya melalui karya penebusan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati (1Kor. 15:55-57; 1Ptr. 5:8-9).


Ordo yang begitu jelas ini akhirnya dirusak oleh dosa, sehingga di Taman Eden yang terjadi:
Alam/iblis/makhluk lain (hewan/tumbuhan)
▼
Wanita
▼
Pria
▼
Allah

Wanita bukan mendengarkan perkataan Allah, namun mendengarkan perkataan iblis. Begitu juga halnya dengan si pria yang malahan mendengarkan perkataan si wanita. Dan akhirnya Allah berada di posisi paling bawah yang tidak didengarkan perintah dan larangan-Nya. Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena mereka hidup terlepas dari Allah. Mereka lebih menaati apa yang iblis katakan melalui “kebenaran” yang ditawarkannya, sehingga makin hidup mereka terlepas dari Allah, hidup mereka akan makin kacau dan tidak menentu. Orang sekuler, modern, apalagi yang baru-baru ini beredar paham Atheisme baru (New Atheism) selalu menganggap bahwa agama itu hanya candu dan merupakan sesuatu yang jahat yang harus dibasmi, namun mereka tidak pernah menyadari bahwa ketika Allah dihilangkan dari hidup mereka, hidup mereka bukan tambah baik, tetapi tambah rusak dan kacau. Tidak usah jauh-jauh, gara-gara ngotot menganut feminisme radikal, dunia kita makin lama makin kacau, negara kita yang dahulu pernah diperintah oleh seorang presiden wanita, apakah tambah beres? TIDAK! Benarlah apa yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal, “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Ams. 16:4) Makin seseorang (jika bukan umat pilihan-Nya) hidup terlepas dari Allah, percayalah, pelan namun pasti, Tuhan akan menunjukkan kedaulatan-Nya dengan membiarkan orang tersebut binasa selama-lamanya.


Apa akibat dari kebingungan ordo ini?
Pertama, suara Allah diacuhkan. Kalau kita membaca kembali Kejadian 3:6, tidak ada indikasi sedikitpun baik Adam maupun Hawa menyadari peringatan Allah, sehingga mereka akhirnya tidak jadi memakan buah tersebut. Mereka semuanya telah hanyut oleh tipuan iblis. Tidak cukup di situ, keturunan langsung dari Adam dan Hawa pun meniru orangtuanya. Ketika Kain marah karena korban persembahannya tidak diindahkan Tuhan, sedangkan korban persembahan Habel diindahkan Tuhan, Tuhan masih mengingatkan Kain akan dosanya (Kej. 4:6-7). Namun, apa reaksi Kain? Pada ayat 8, Alkitab mencatat, Kain tetap bersikeras membunuh Habel dengan mengajaknya ke padang. Di sini, kita belajar bahwa ketika ordo sudah mulai kacau, di titik pertama, suara Allah diacuhkan.

Hal serupa juga terjadi di zaman yang kita hidupi saat ini. Ordo yang sudah kacau mengakibatkan di titik pertama, suara Allah dan kebenaran-Nya sudah mau diacuhkan. Kita sudah mulai jarang mendengarkan berita Kebenaran firman yang murni yang menegur dosa, mengkritik filsafat zaman, dll, mengapa demikian? Karena di zaman ini, suara Allah diacuhkan dan dianggap tidak up-to-date. Bagi orang zaman sekarang dan mungkin sekali tidak sedikit orang “Kristen” di dalamnya, Alkitab dianggap kuno, sedangkan sains dianggap up-to-date. Ini bukan hanya teori, saya sendiri sudah membaca sebuah pernyataan dari seorang teman saya yang non-Kristen (X) di Facebook yang mengatakan bahwa Alkitab itu kuno, nanti kalau saya masih mempercayai Alkitab, maka akan ditertawakan oleh anak dan cucu saya kelak. Dia juga berkata bahwa teori penciptaan (Allah menciptakan dunia) itu teori yang tidak masuk akal. Yang lebih lucu lagi, dia juga berkata bahwa agamanya mempercayai seperti teori Big Bang. Katanya, Einstein itu seorang ilmuwan yang menganut agamanya. Selain itu, dia juga bertanya kepada saya bahwa dari mana saya tahu bahwa Tuhan menciptakan dunia, Tuhan itu disebut Tuhan, dll? Saya menjawab pertanyaannya dengan beberapa penjelasan singkat (saya berpikir bahwa penjelasan yang terlalu mendetail tidak diperlukan, karena ia belum Kristen). Perlu diketahui, teman saya ini adalah seorang yang menganut agama Timur. Dia tidak percaya akan adanya Tuhan, apalagi Tuhan yang berpribadi. Bagi dia (agamanya), “Pencipta”nya (agama ini TIDAK mengakui adanya Tuhan, namun herannya, ketika memberi selamat ulang tahun kepada temannya di Facebook, si penganut agama ini mengucapkan, “GBU”—God Bless You—sebuah kontradiksi “iman” yang benar-benar lucu) adalah sebuah hukum alam. Seorang yang mempercayai hukum alam adalah seorang yang mempercayai akan adanya kebetulan, karena hukum alam itu tidak berpribadi! Sekarang mari berpikir logis. Jika teman saya (X) percaya bahwa “pencipta”nya adalah sebuah hukum alam, tolong tanya, bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa dia bisa lahir di Surabaya pada akhir abad 20? Yang lebih lucu lagi, ketika saya bertanya kepada dia, dia menjawab, “Itu hukum karma.” Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek, hahaha… Kedua, jika agamanya mempercayai seperti teori Big Bang, itu lebih tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah ledakan besar mengakibatkan munculnya sebuah dunia yang teratur seperti sekarang ini? Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M. di dalam sebuah seminar di UK Petra, Surabaya pernah memberikan ilustrasi: anggaplah kita sekarang berada di sebuah gedung, mendadak terjadi ledakan bom di depan gedung di mana kita berada, mungkinkah hasil dari ledakan bom tersebut membentuk sebuah mainan anak-anak yang lucu dan indah? TIDAK MUNGKIN, bahkan konyol! Hal yang sama konyolnya terjadi pada orang yang mati-matian mempercayai teori Big Bang sebagai “kebenaran”. Jadi, sebenarnya yang lebih tidak masuk akal: Alkitab atau agamanya yang mempercayai hukum alam dan Big Bang tersebut? Silahkan pikir dan renungkan sendiri!

Kedua, suara iblis didengarkan. Seorang yang di titik pertama telah mengacuhkan suara Allah, maka otomatis ia dengan mudahnya mendengarkan perkataan iblis. Adam dan Hawa telah membuktikannya. Begitu juga halnya dengan Kain yang akhirnya lebih mendengarkan suara iblis untuk membunuh si Habel. Makin seseorang mendengarkan suara iblis, orang tersebut hidupnya makin kacau, bahkan dapat dikatakan, makin bodoh. Saya teringat akan perkataan Pdt. Solomon Yo, M.Div. di dalam khotbah mimbar tanggal 15 Agustus 2010. Beliau mengatakan bahwa orang berdosa adalah orang yang tidak logis. Yup, saya sangat setuju dengan pernyataan beliau. Orang berdosa itu seolah-olah nampak logis, namun ketika ditelusuri ternyata tidak logis. Itulah wajah orang berdosa yang lebih mendengarkan suara iblis. Makin mendengarkan suara iblis, manusia makin bodoh, meskipun terlihat seolah-olah pandai. Mengapa? Karena yang didengarkannya adalah suara dari bapa/sumber pendusta! Tidak heran, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengeluarkan pernyataan yang sangat berani dan menohok bahwa semua agama, filsafat, dan ilmu yang melawan Alkitab PASTI berkontradiksi dengan dirinya sendiri (self-defeating). Saya sudah membuktikan pernyataan beliau.

Ketiga, wanita memerintah pria dan pria tidak berdaya. Kebingungan ordo mengakibatkan wanita yang memerintah pria dan si pria sendiri tidak berdaya karena diperintah wanita. Adam dan Hawa adalah contoh pertama yang telah membuktikannya. Adam yang seharusnya menegur Hawa agar taat kepada Allah, eh, ternyata malahan menerima tawaran “manis” dari si Hawa dan ikut-ikutan makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bahkan Alkitab mencatat bahwa bapa orang beriman, Abram pun yang sudah mengenal Allah pernah suatu kali lebih menaati istrinya, Sarai untuk menghampiri budaknya, Hagar. Perhatikan lebih jelas apa yang Alkitab catat, “Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai.” (Kej. 16:2) Sarai tentu mengetahui bahwa Tuhan telah berjanji akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar (Kej. 12:2), namun Sarai menyadari bahwa sampai usia tua, ia mandul. Demi “merealisasikan” kehendak Tuhan, maka Sarai memberikan alternatif kepada Abram, yaitu menyuruh Abram untuk tidur dengan Hagar, pembantunya, supaya mendapatkan anak. Dan lucunya, Abram waktu itu menyetujui usul istrinya. Dari sini, kita belajar bahwa istri yang tidak takut akan Allah biasanya (tidak selalu) adalah seorang istri yang mendesak suaminya untuk lebih menaati perkataan si istri ketimbang perkataan Tuhan. Dan karena cinta (atau lebih tepatnya karena cinta yang disisipi oleh dosa di dalamnya), si suami lebih menuruti perkataan si istri yang dinilai masuk akal ketimbang perkataan Tuhan. Di situlah letak rusaknya sebuah keluarga Kristen, dikarenakan seorang istri yang tidak takut akan Tuhan.


Kebingungan ordo mengakibatkan hidup manusia makin lama makin kacau, sehingga tidak ada jalan lain, kecuali pertobatan yang sungguh-sungguh. Sudah saatnya orang Kristen meninggalkan semua filsafat dunia dan tradisi nenek moyang yang melawan Alkitab, lalu bertobat dan menerima Kristus serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan Alkitab. Biarlah renungan singkat ini menyadarkan kita akan pentingnya ordo yang dibangun di atas dasar pengenalan akan Allah dan firman-Nya yang TIDAK mungkin bersalah dalam teks aslinya, yaitu Alkitab! Amin. Soli Deo Gloria.

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:36-38 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:36-38

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 7:36-38



Para penafsir sepakat bahwa teks ini (terutama ay. 36) merupakan salah satu yang paling sulit untuk ditafsirkan dalam surat 1 Korintus. Hampir setiap bagian telah menjadi sumber perdebatan para penafsir. Siapakah yang dimaksud dengan “seorang” (tis) di ayat 36 yang telah bertindak tidak wajar terhadap gadisnya? Apakah ia adalah ayah dari gadis itu atau suami ‘spiritual’ atau tunangan laki-laki? Apakah yang dimaksud dengan “bertindak tidak wajar” (aschēmoneō)? Apakah kata Yunani hyperakmos ditujukan pada pihak perempuan dengan arti “usianya bertambah tua” (LAI:TB/KJV/NASB/NIV) atau pada pihak laki-laki dengan makna “nafsu yang kuat” (ESV/NLT/RSV)? Bagaimana kita menjelaskan frase “benar-benar merasa harus kawin”? Apakah yang menyebabkan mereka “harus” mengambil tindakan ini?

Persoalan menjadi lebih rumit karena semua pertanyaan di atas saling berkaitan. Secara khusus, pandangan seseorang terhadap pertanyaan pertama (identitas tis) sering kali mempengaruhi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Berdasarkan hal ini kita perlu membahas pertanyaan pertama lebih dahulu sebelum kita menyelidiki ayat 36-38 secara lebih mendetil. Seperti sudah disinggung secara sekilas di atas, para penafsir memberikan 3 usulan tentang identitas tis di ayat 36-37.

Pertama, tis adalah ayah dari “gadisnya” (ee parthenos autou). Menurut pandangan ini, beberapa ayah dalam jemaat telah terpengaruh oleh konsep asketisisme jemaat Korintus yang salah. Mereka kemudian menerapkan konsep itu pada anak-anak gadis mereka. Pemaksaan ini sangat dimungkinkan karena hukum pathr potestas, yaitu hukum Romawi yang memberikan kuasa mutlak kepada ayah atas anak-anak mereka. Begitu kuatnya hukum ini sampai-sampai seorang ayah dimungkinkan untuk menjual anaknya sebagai budak dan apabila anak itu sudah bebas dari perbudakan, ayah tersebut masih berhak lagi untuk menjualnya kembali. Dengan konsep asketisisme yang salah dan kuasa yang berlebihan sebagai seorang ayah, mereka sangat mungkin telah bertindak tidak wajar terhadap anak-anak gadis mereka. Para gadis itu dilarang untuk kawin, sehingga pada saat Paulus menulis surat 1 Korintus usia para gadis itu sudah melewati batas usia perkawinan. Argumen paling kuat untuk pandangan ini adalah pemakaian kata kerja “kawin” (gamizō) di ayat 38. Kata ini secara hurufiah berarti “menyerahkan dalam perkawinan”. Kata ini berbeda dengan kata “kawin” yang berkali-kali dipakai Paulus di pasal ini (7:9, 10, 28, 33, 34, 36, 39), yaitu gameō. Perbedaan ini dianggap disengaja oleh Paulus untuk menyatakan ide yang berbeda. Argumen lain yang dipakai adalah perbedaan dua kata tersebut di dalam ajaran Yesus. Matius 22:30//Markus 12:25//Lukas 12:27 Yesus mengatakan, “orang tidak kawin (gameō) dan tidak dikawinkan (gamizō)”.

Walaupun argumen di atas tampak sangat menarik, namun pandangan ini memiliki beberapa kelemahan yang mendasar. (1) Konteks 7:25-35 tidak membahas relasi antara ayah dan anak gadis mereka sama sekali. Jika ayat 36-38 berbicara tentang relasi ayah-anak perempuan, maka Paulus telah berpindah topik secara cepat dan tiba-tiba serta tanpa petunjuk yang jelas. Hal ini tentu saja menyulitkan para pembaca dan tampaknya terlalu dipaksakan; (2) Perintah Paulus “baiklah mereka kawin” di ayat 36 jelas merujuk pada “seseorang” (tis) dan “gadisnya” (ee parthenos autou). Jika ayat 36-38 adalah tentang relasi ayah-anak, maka Paulus pasti akan mengatakan, “biarlah ia [gadis itu] kawin” (NASB memilih terjemahan ini walaupun teks Yunani tidak mengarah ke sana); (3) Penggunaan istilah parthenos (lit. “gadis”) untuk anak-anak gadis tampak sangat janggal. Jika Paulus memaksudkan ee parthenos autou sebagai “anak gadisnya”, maka ia pasti akan memakai ungkapan thugatēr [anak perempuan] parthenos autou yang lebih umum (bdk. Kis. 21:9 “anak-anak dara”); (4) Perbedaan antara gameō dan gamizō terlalu dilebih-lebihkan. Dalam periode Yunani Koine perbedaan antara akhiran eō dan izō sudah tidak seketat pada zaman Yunani klasik. Makna kedua kata itu cenderung sinonim. Perbedaan yang ada hanyalah untuk variasi penulisan belaka; (5) pandangan ‘relasi ayah-anak’ tidak sesuai dengan arti kata aschēmoneō dan hyperakmos (lihat pembahasan selanjutnya).

Kedua, ayat 36-38 berbicara tentang suami-istri yang menganut asketisisme. Mereka sudah menikah kemudian mengikuti ajaran jemaat Korintus yang salah ini. Karena mereka tidak mau bercerai juga, maka mereka memutuskan untuk tetap hidup serumah tetapi relasi mereka bukan seperti suami-istri pada umumnya. Mereka tidak melakukan hubungan seksual sama sekali. Mereka hidup sebagai saudara-saudari dalam iman. Inilah yang dimaksud dengan ‘perkawinan spiritual’. Tidak ada argumen khusus yang mendukung pandangan ini, namun beberapa dugaan dianggap mendukung pandangan ini. Keadaan ‘perkawinan spiritual’ ini dipercaya sangat menguntungkan, baik secara ekonomis (mengurangi beban ekonomi karena menganut gaya hidup asketis) maupun secara spiritual (keduanya bisa saling mendukung dalam iman secara intensif). Jika salah satu di antara mereka mulai lemah dan menginginkan seks, maka pasangannya dapat membantu untuk menguasai keinginan itu.

Sama seperti pandangan ke-1, pandangan ini juga memiliki kelemahan yang mendasar. (1) tidak ada bukti bahwa model perkawinan seperti ini pernah ada dalam gereja mula-mula. Ketika pasangan suami-istri menganut asketisisme, yang mereka lakukan bukanlah tinggal serumah, karena itu justru akan menggoda mereka untuk melanggar gaya hidup itu. 1 Korintus 7:2-5 menyiratkan bahwa mereka lebih memilih untuk saling menjauhi; (2) jika ayat 36-37 berbicara tentang perkawinan spiritual, maka nasehat Paulus di ayat 38 (tidak menikah adalah lebih baik) akan berkontradiksi dengan nasehatnya di ayat 2-5. Saling menjauhi secara seksual antara suami-istri bukanlah tindakan yang baik (apalagi labih baik!), karena hal itu bisa menyebabkan perzinahan (7:2a, 5b). Lebih jauh, bagi Paulus relasi fisik (seksual) merupakan aspek integral dari sebuah pernikahan (7:3-4); (3) pandangan ‘perkawinan spiritual’ tidak sesuai dengan nasehat “baiklah mereka kawin” (ay. 36), karena mereka memang sudah kawin. Paulus seharusnya mengatakan, “baiklah mereka berhubungan seksual”; (4) penggunaan istilah parthenos (lit. “perawan”) untuk wanita yang sudah kawin tampaknya sangat janggal. Jika Paulus memaksudkan ‘perkawinan spiritual’ di ayat 36-38 maka ia pasti akan memakai kata gunh (lit. “perempuan [yang sudah menikah]”).

Ketiga, ayat 36-38 membicarakan tentang relasi pertunangan. Pandangan ini paling sesuai dengan konteks keseluruhan mulai 7:25. Pandangan ini juga cocok dengan makna kata aschmonew dan hyperakmos, seperti akan terlihat dalam pembahasan berikut ini.


Alasan untuk Menikah (ay. 36)
Di ayat 25-35 Paulus berkali-kali dan dalam berbagai cara telah menunjukkan bahwa tidak menikah merupakan pilihan yang terbaik. Ia bahkan akan mengulangi hal ini lagi di ayat 38. Bagaimanapun, kita tidak boleh menganggap bahwa Paulus sangat anti terhadap perkawinan. Dalam konteks ini nasehat Paulus tidak mengikat setiap orang, karena tiap-tiap memiliki karunia masing-masing, ada yang dipanggil untuk selibat dan ada pula yang ditentukan untuk menikah. Ayat 36 merupakan sebagian petunjuk bahwa seseorang tidak dipanggil untuk hidup membujang.

Alasan pertama adalah “bertindak tidak wajar” (aschēmoneō). Kata ini memiliki arti yang cukup luas dan bisa ditujukan pada tindakan apa saja yang bertentangan dengan tata nilai tertentu. Sama seperti lawan kata aschēmoneō – yaitu kata sifat euschēmenon di ayat 35 - yang bermakna luas (tindakan yang sopan atau layak), kata aschēmoneō juga bermakna luas. Berdasarkan pemunculan kata ini dalam tulisan-tulisan kuno yang mencapai lebih dari 80 kali, kata aschmonew sering kali berkaitan dengan masalah seksual apabila dipakai dalam konteks relasi laki-laki dan perempuan. Ketidakwajaran atau ketidaksopanan yang dimaksud Paulus kemungkinan besar mencakup masalah seksual. Kita tidak perlu menafsirkan bahwa tindakan negatif ini sudah mengambil bentuk hubungan seks sebelum pernikahan. Jika keduanya sudah melakukan hal itu, maka Paulus pasti tidak akan memberikan toleransi apa pun. Ia akan memakai teguran yang sangat keras. Frase “jika seseorang menganggap (nomizō)” menyiratkan bahwa ketidaksopanan yang dimaksud belum separah melakukan hubungan seks. Jika laki-laki dan tunangannya sudah berhubungan seks mereka pasti langsung tahu bahwa hal itu adalah dosa yang sangat serius. Mereka tidak perlu “menganggap” (nomizō) hal itu sebagai sesuatu yang tidak wajar. Berdasarkan konsep Romawi tentang “rasa malu”, aschēmoneō di sini sangat mungkin merujuk pada tindakan atau pikiran tertentu yang dianggap seseorang kurang daripada yang ideal. Tindakan ini mungkin merujuk pada pikiran yang cenderung terfokus pada seks (pikiran kotor). Mereka yang memiliki kecenderungan ini akan lebih baik jika mereka memutuskan untuk menikah.

Alasan untuk menikah yang selanjutnya adalah hyperakmos. Ada dua persoalan yang sangat berkaitan sehubungan dengan kata ini: apakah arti dari kata ini dan kepada siapa ditujukan? Secara hurufiah kata ini berarti “melampaui batas” (hyperakmos terdiri dari kata hyper = melampaui dan akmē = titik tertinggi dari sesuatu), tetapi batas yang dimaksud tidak terlalu jelas. Sebagian memilih batas yang dimaksudkan adalah usia ideal untuk menikah, sedangkan yang lain memikirkan batas normal dari keinginan seksual. Pilihan pertama mengasumsikan bahwa hyperakmos ditujukan pada pihak laki-laki, sedangkan pilihan kedua mengaitkan hyperakmos dengan pihak perempuan. Walaupun kata sifat hyperakmos dapat berbentuk maskulin atau feminin, tetapi berdasarkan konteks yang ada kata ini sebaiknya dihubungkan dengan pihak laki-laki. Subjek utama di ayat 36 adalah laki-laki (ia menganggap diri telah bertindak tidak wajar; ia menghendaki perkawinan), karena itu tidak berlebihan jika subjek kata sifat hyperakmos adalah laki-laki juga. Jika ini diterima maka hyperakmos merujuk pada nafsu seksual seorang laki-laki yang melebihi batasan normal. Tafsiran seperti ini selaras dengan arti kata aschmonew yang juga berkaitan dengan tindakan negatif dalam konteks seksual. Di samping itu, penggunaan kata hyperakmos dalam literatur kuno mengarah pada kesimpulan yang sama. Kata ini sering dipadankan dengan kata katorgan yang merujuk pada keinginan yang kuat untuk berhubungan seks. Kata ini merupakan sinonim dari “terbakar” [secara seksual] di 7:9.

Alasan berikutnya adalah “benar-benar merasa bahwa mereka harus kawin”. Dalam teks Yunani ungkapan yang dipakai secara hurufiah mengandung arti “dan karena itu terikat untuk terjadi” (kai aoutōs opheilei ginesthai). Apa yang mengikat laki-laki ini memang tidak dijelaskan secara eksplisit. Dari konteks yang ada kita dapat menafsirkan bahwa ikatan tersebut berkaitan dengan nafsu seksual yang kuat dalam diri laki-laki itu. Laki-laki yang memiliki keinginan seksual yang sangat kuat sangat mungkin tidak dipanggil untuk hidup membujang. Ia justru akan jatuh dalam perzinahan.

Berdasarkan tiga alasan di atas Paulus menasehatkan bahwa laki-laki tersebut dan tuangannya sebaiknya menikah. Nasehat ini tidak boleh diartikan bahwa Paulus memiliki pandangan yang rendah terhadap perkawinan. Ia tidak mengajarkan bahwa pernikahan adalah solusi bagi godaan seksual yang berlebihan. Konsep seperti ini pasti tidak ada dalam pikiran Paulus. Solusi bagi setiap dosa adalah kuasa salib Kristus dan pekerjaan Roh Kudus dalam diri orang percaya (bdk. Rm. 8:5). Perselingkuhan membuktikan bahwa pernikahan bukanlah solusi bagi godaan seksual.

Nasehat Paulus di bagian akhir ayat 36 ini menunjukkan sikap Paulus yang realistis dan kepekaannya terhadap orang lain. Ia menyadari bahwa apa yang paling ideal belum tentu bisa dicapai oleh semua orang. Bagi mereka yang memiliki kelemahan di bidang seksual, keputusan untuk menikah jelas lebih bisa diterima daripada bersikeras hidup membujang. Daripada hangus karena hawa nafsu (7:9), lebih bijaksana bagi seseorang untuk menikah.


Alasan untuk Tidak Menikah (ay. 37)
Walaupun Paulus sudah memberikan alasan-alasan untuk menikah namun ia juga menjelaskan hal sebaliknya. Seseorang boleh saja memutuskan suatu ikatan pertunangan apabila ia memenuhi kriteria yang akan ia bahas di ayat 37. Kriteria ini disampaikan Paulus dalam gaya penulisan chiastic (ABBA). Sayangnya, struktur ini tidak terlalu terlihat dalam terjemahan LAI:TB, karena urutan yang ada sedikit diubah untuk mencapai terjemahan yang lebih mulus. Selain itu, beberapa ungkapan juga diterjemahkan secara agak bebas supaya lebih bisa dimengerti. Sesuai dengan kalimat Yunani yang dipakai, struktur ayat 37 dapat digambarkan sebagai berikut:
A orang yang yakin dalam hatinya
B tidak memiliki keharusan/kebutuhan
B’ memiliki otoritas atas keinginannya sendiri
A’ telah memutuskan hal ini dalam hatinya sendiri

Dari struktur yang ada terlihat bahwa kriteria untuk tidak menikah ada dua. Pertama, seseorang harus memiliki keteguhan hati. Kata “hati” (kardia) muncul dua kali di bagian awal dan akhir (LAI:TB tidak menerjemahkan kata kardia di bagian akhir) untuk merujuk pada bagian terdalam dalam diri manusia. Keputusan untuk menikah atau membujang sangat berhubungan dengan Allah, karena hal itu merupakan karunia yang khusus dari Dia (7:7). Allah bisa saja memberikan beberapa indikasi eksternal untuk memberitahu seseorang tentang panggilan hidup membujang, tetapi yang paling penting adalah pergumulan pribadi orang itu dengan Allah. Jikalau ia sudah meyakini panggilan tersebut, maka ia harus mengambil keputusan yang bulat daam hatinya.

Kedua, seseorang tidak terikat dengan nafsu seksual. Kata “kebutuhan” (anankē) merujuk pada kebutuhan [dalam konteks ini adalah kebutuhan seksual] yang besar sehingga menjadi sebuah paksaan bagi orang tersebut. Hal ini tidak berarti bahwa mereka yang dipanggil untuk membujang tidak memiliki keinginan seksual sama sekali. Seperti orang-orang lain, mereka tetap memiliki nafsu seksual. Perbedaannya, mereka memiliki otoritas (exousia) atas keinginan itu, dan bukan sebaliknya. Penguasaan seperti ini bisa saja menjadi petunjuk bahwa seseorang mendapat karunia untuk tidak menikah. Penjelasan di atas memberikan pedoman yang bermanfaat bagi mereka yang menggumulkan masa depan (menikah atau membujang). Ada banyak alasan mengapa seseorang tidak menikah (Mat. 19:12). Allah bisa saja memakai beragam cara untuk menyadarkan seseorang pada panggilan hidup membujang. Salah satunya adalah melalui kemampuan rohani untuk mengontrol nafsu seksual. Yang paling penting adalah keyakinan dalam diri seseorang melalui pergumulan pribadi dengan Tuhan.


Konklusi (ay. 38)
Jika ada dua pilihan – yaitu menikah (ay. 36) atau tidak menikah (ay. 37) – manakah yang harus dipilih? Pilihan apa pun harus sesuai dengan karunia seseorang (7:7). Paulus tetap konsisten dengan sikapnya bahwa secara umum keputusan untuk tidak menikah tetap yang terbaik (7:7, 26, 38), walaupun keputusan untuk menikah juga tidak berdosa (7:9, 28, 38). Sikap ini memiliki kesamaan dan perbedaan dengan sikap jemat Korintus. Baik Paulus dan jemaat Korintus sama-sama menganggap kehidupan membujang memiliki nilai lebih. Bedanya, Paulus tidak menilai pernikahan sebagai dosa, sedangkan jemaat Korintus memandang itu sebagai dosa.

Perbedaan lain teretak pada konsep tentang “baik”. Jemaat Korintus menganggap kata “baik” (kalōs) memiliki makna superioritas secara moralitas atau spiritual. Di sisi lain Paulus memandangnya secara praktis dan eskatologis. Secara praktis orang yang tidak menikah akan terhindar dari berbagai macam kesusahan (7:28b) dan kekuatiran (7:32a). Secara eskatologis orang yang tidak menikah akan lebih mampu mengarahkan hidupnya secara terfokus untuk menantikan kedatangan Kristus (7:26a, 29-34). Mereka tidak terlalu dipusingkan dengan hal-hal lain yang berpotensi ntuk mengganggu fokus hidup yang eskatologis tersebut. Sebaliknya, ia memiliki kesempatan untuk mengejar kekudusan dan melayani Tuhan seutuhnya (7:35). #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 13 September 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2036-38.pdf

16 August 2010

CHRIST CENTERED CHRISTIAN FAITH (Denny Teguh Sutandio)

CHRIST CENTERED CHRISTIAN FAITH
(IMAN KRISTEN YANG BERPUSAT KEPADA KRISTUS)


oleh: Denny Teguh Sutandio



“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”
(Kol. 2:6-8)




KRISTEN: ASAL MULA DAN ARTINYA
Nama Kristen pada mulanya adalah sebutan yang dikenakan kepada jemaat di Antiokhia (Kis. 11:26). Kata Yunani yang dipakai adalah Christianos (Inggris: Christians) yang berarti pengikut Kristus. Nama ini sebenarnya merupakan panggilan/sebutan dari orang-orang Antiokhia pada waktu itu kepada jemaat Kristus di sana (seperti memanggil para pengikut Herodes sebagai Herodian, dll). Lambat laun, nama Kristen ini akhirnya dipergunakan oleh jemaat Antiokhia untuk menyebut diri mereka sendiri. Pada zaman dahulu, ketika mereka menyandang nama Kristen, orang-orang di luar sudah mengetahui bahwa mereka adalah para pengikut Kristus atau istilahnya Kristus-kristus kecil, seseorang yang menampilkan Kristus secara terbuka kepada orang lain. Tidak heran, di zaman gereja mula-mula, mereka yang berani menyebut diri Kristen kebanyakan akan menderita aniaya, entah itu difitnah, dibunuh, dll, karena sikap hidup mereka berlawanan dengan sikap hidup dunia di mana mereka hidup dan tinggal.


KRISTEN: SEBUAH REALITAS MENGENASKAN
Jika pada awal sebutannya, Kekristenan begitu indah dan banyak pengikut-Nya berani mati demi Kristus, namun sejarah kemudian membuktikan hal yang benar-benar mengenaskan. Nama Kristen yang begitu agung mulai diselewengkan dari zaman ke zaman. Dosa mengakibatkan penyimpangan signifikansi sebutan Kristen ini, sehingga tidak heran, makin hari kita melihat banyak orang Kristen yang tidak layak lagi disebut Kristen atau pengikut Kristus, karena mereka hidup di luar Kristus, meskipun masih terlihat seolah-olah rajin beribadah di gereja. Di dunia ini, hanya ada dua macam iman (Kristen), yaitu iman yang berpusat kepada Allah/Kristus vs iman yang TIDAK berpusat kepada Kristus. Iman yang tidak berpusat kepada Kristus, menurut Rev. Prof. Michael S. Horton, Ph.D., disebut sebagai Christless Christianity (Kekristenan yang tanpa Kristus). Jika orang Kristen tidak memusatkan imannya kepada Kristus, maka apa yang menjadi pusat iman mereka?

Pertama, human centered faith (iman yang berpusat kepada manusia). Iman ini ditandai dengan hal-hal yang berkaitan dengan manusia (entah itu rasio, perasaan, dll) yang menjadi berhala dalam iman dan kehidupan banyak orang Kristen. Biasanya banyak orang Kristen model ini meskipun terlihat alim dan rohani di dalam gereja, rajin melayani Tuhan, namun mereka sebenarnya lebih mementingkan hal-hal seperti: rasio, perasaan, dll. Mereka hanya mau menerima Kekristenan jika Kekristenan itu cocok dengan kemauannya, entah itu rasio atau perasaannya. Sebagai contoh, kita menjumpai perkataan, “Wah, hari ini, khotbahnya gak enak, gak ada humornya” atau mungkin sekali seorang pemimpin gereja melontarkan pernyataan, “Alkitab itu hanya berisi firman Allah, oleh karena itu Alkitab bisa salah.” Atau mungkin seorang Kristen bisa berkata, “Wah, gereja ini kuno, tidak ada ‘roh kudus’ (=maksud sebenarnya tidak ada musik band-nya).” Berbagai cara dilakukannya agar orang Kristen tersebut dapat memuaskan keinginan telinganya (2Tim. 4:3-4), salah satu caranya adalah dengan mencari gereja yang cocok dengan keinginan telinganya. Seorang Kristen bisa dengan mudahnya berpindah gereja dengan alasan yang sungguh pragmatis, yaitu musik gereja. Akibatnya, makin seorang Kristen beribadah, makin mereka membius diri dengan kesenangan “rohani”, lalu kemudian setelah pulang dari gereja, mulai hari Senin s/d Sabtu, mereka menjalani kehidupan mereka seperti biasa yang tanpa Kristus di dalamnya, kemudian hari Minggu berikutnya, membius diri kembali di gereja, dst. Tidak usah heran, Kekristenan model ini jika diserang oleh filsafat dunia misalnya dengan merebaknya buku The Da Vinci Code, Misquoting Jesus, dll, banyak dari mereka kaget, lalu beberapa pemimpin gereja mereka mengindoktrinasi jemaatnya untuk tidak membaca buku-buku tersebut, tanpa memberi tahu alasannya dengan jelas. Bagi saya, iman model ini adalah iman pokoke. Orang Kristen model ini hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan si pemimpin gereja (membeo), tanpa mau mengujinya berdasarkan Alkitab, karena bagi mereka, yang dikatakan di atas mimbar identik dengan Alkitab yang tidak bisa bersalah.

Selain emosi, banyak orang “Kristen” yang memusatkan imannya pada kehebatan diri. Peluang empuk ini ditangkap dan direalisasikan oleh banyak motivator, lalu kemudian mereka membentuk pelatihan motivasi yang beridekan Gerakan Zaman Baru. Pelatihan ini eksplisit maupun implisit mengajarkan bahwa di dalam diri manusia ada sebuah kekuatan yang luar biasa yang sedang tidur (ide Gerakan Zaman Baru yang merupakan pencampuran: monisme dan pantheisme), sehingga kekuatan ini harus dibangunkan, maka diperlukan teriakan-teriakan seperti, “Dahsyat!”, “Sukses adalah hak saya!”, “miskin adalah dosa”, dll. Tidak heran, sesuatu yang membuat manusia merasa diri hebat ini begitu laris diminati oleh banyak orang “Kristen” hari-hari ini, bahkan yang mengenaskan seorang motivator bisnis diundang berbicara di dalam seminar di sebuah gereja.

Kedua, worldly centered faith (iman yang berpusat pada duniawi). Selain berpusat pada manusia, ada juga tipe orang “Kristen” yang beriman kepada hal-hal duniawi, meskipun mengaku aktif melayani Tuhan di gereja. Iman yang berpusat kepada hal-hal duniawi ditandai dengan orientasi hidup mereka yang lebih mementingkan hal-hal duniawi ketimbang Kerajaan Allah. Misalnya, ada orang “Kristen” yang mati-matian gila uang, sehingga setiap hari dari Minggu s/d Sabtu dari pagi sampai malam dipergunakan untuk mencari dan menghitung uang. Dia tidak akan ingat lagi untuk pergi ke gereja di hari Minggu atau mungkin sekali dia masih ingat pergi ke gereja di hari Minggu, namun ia akan berusaha mencari gereja yang menyelenggarakan kebaktian/ibadah secepat mungkin (jika mungkin hanya 1 jam saja), karena waktu selanjutnya dipergunakan untuk mencari dan menghitung uang kembali. Jangankan orang Kristen, beberapa pemimpin gereja pun tidak luput dari iming-iming hal-hal duniawi ini. Seorang pebisnis Kristen pernah berujar bahwa hari-hari ini, bisnis apa saja gagal, hanya satu yang tidak bisa gagal, cho (cari untung di) gereja. Gimana cara bisnis di dalam gereja? Mudah, cukup menyewa satu tempat yang strategis, undanglah pengkhotbah yang top, jangan lupa juga undang artis Kristen yang top juga, supaya peserta/jemaat yang hadir juga banyak, kemudian setelah itu, tinggal memberi honor bagi si pengkhotbah dan artis top tersebut. Setelah gereja ini berkembang pesat, kemudian ada beberapa anak buah si pemimpin gereja ini tidak puas dengan pemimpinnya, sehingga beberapa anak buahnya memberontak dan akhirnya mendirikan gereja sendiri. Mengapa mereka tidak puas? Tidak puas dengan ajaran si pemimpin? Bukan! Kebanyakan mereka tidak puas karena mereka tidak mendapat kedudukan yang sama untungnya dengan si pemimpin gerejanya.

Selain uang, orang Kristen yang beriman duniawi itu ditandai dengan memberhalakan tradisi nenek moyang. Mereka berani mengklaim diri sebagai orang Kristen, bahkan beberapa di antara mereka berani membagikan iman Kristen khususnya doktrin tertentu yang dipercayainya kepada orang non-Kristen atau orang Kristen dari gereja yang berbeda darinya, namun sayang, imannya jika diteliti bukan lagi berpusat kepada Kristus, namun kepada tradisi nenek moyang. Segala sesuatu dalam hidupnya ditentukan bukan apa yang Alkitab katakan, tetapi apa yang tradisi katakan, bahkan yang lebih celaka lagi, apa yang shio katakan. Orangtua “Kristen” yang melihat lawan jenis anaknya bukan ditanya apa imannya, tetapi apa shionya, kemudian dilihat tanggal dan bulannya, lalu bertanya kepada orang-orang yang mengerti shio. Jika si lawan jenis dan si anak shionya jiong, maka si orangtua “Kristen” mati-matian memisahkan si anak dari lawan jenisnya. Ada juga orangtua “Kristen” yang masih melihat hari baik ketika hendak menikahkan anaknya. Bagi orang ini, khotbah di atas mimbar hanya cocok didengarkan, namun tidak untuk diaplikasikan, karena yang terpenting dalam hidup orang ini adalah tradisi nenek moyang yang sudah mendarah daging dalam dirinya. Orang seperti ini masih layakkah disebut Kristen??


KRISTEN: SEBUAH PANGGILAN UNTUK MEMUSATKAN HIDUP HANYA PADA KRISTUS
Sebuah tragedi mengenaskan terjadi pada banyak orang Kristen di zaman postmodern ini menyadarkan kita bahwa 2 ciri khas tersebut bukanlah apa yang Tuhan inginkan pada diri orang Kristen. Tuhan membenci perzinahan rohani (Kel. 20:3)! Oleh karena itu, sudah saatnya orang Kristen kembali kepada Alkitab, kembali melihat apa yang Tuhan inginkan pada diri orang Kristen SEJATI. Oleh karena itu, marilah kita menyimak apa yang Tuhan melalui Paulus ajarkan kepada kita di dalam Kolose 2:6-8:

Pertama, hidup di dalam Kristus (ay. 6b). Di dalam Kolose 2:6a, Paulus telah mengingatkan jemaat Kolose (termasuk kita) bahwa mereka (kita) telah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan, maka ia memerintahkan (bentuk imperatif) kita untuk hidup di dalam Kristus. Kata Yunani yang dipakai di sini adalah peripateō. Beberapa terjemahan Inggris menggunakan kata walk in Him (berjalan di dalam-Nya). Pdt. Hasan Sutanto, D.Th. di dalam Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia menerjemahkannya, “hendaklah tetap hidup.” Di sini, kita diajar bahwa iman Kristen bukan hanya sekadar pengakuan secara mulut saja, namun juga pengakuan secara hidup, artinya hidup kita adalah hidup di dalam Kristus. Hidup di dalam Kristus berarti hidup berada di dalam wilayah kekuasaan Kristus di mana Kristus bertakhta sebagai Raja. Lalu, bagaimana hidup me-Raja-kan Kristus? Pada poin berikutnya akan dibahas.

Kedua, berakar dan dibangun di dalam-Nya (ay. 7a). Jika di ayat 6b, Paulus menggunakan kalimat aktif menurut struktur bahasa Yunani, maka di ayat 7 ini, ia menggunakan kalimat pasif. Menurut InterVarsity Press Bible Background: New Testament, penggunaan analogi agrikultural ini mengingatkan kita akan janji Tuhan di dalam Perjanjian Lama bahwa jika mereka mematuhi Tuhan, mereka akan mengambil akar, ditanam, dibangun, dll. Dengan kata lain, mulai tahap ini, Kristus yang menguasai seluruh aspek kehidupan kita. Kristus akan membuat kita berakar terus di dalam Dia dan dibangun di dalam-Nya melalui firman-Nya, Alkitab. Penyelidikan yang tuntas dan teliti akan Alkitab mengakibatkan kita makin lama makin mensyukuri anugerah-Nya dan memusatkan hidup kepada Kristus. Selain itu, penyelidikan akan Alkitab dengan tuntas dan menyeluruh mengakibatkan kita makin terus mengerti signifikansi menjadi pengikut Kristus di tengah arus dunia yang menyesatkan ini, yaitu menjadi garam dan terang bagi dunia (Mat. 5:13-16). Atas anugerah-Nya, orang Kristen terus-menerus berusaha menghadirkan cahaya Injil Kristus di setiap aspek kehidupannya (baik secara hati, pemikiran, perkataan, sikap, dll), sehingga orang lain melihat betapa mulia Kristus dan kemudian atas anugerah-Nya, orang lain tersebut banyak yang bertobat. Dengan kata lain, hidup yang berakar dan dibangun di dalam-Nya merupakan sebuah hidup yang berkelanjutan di dalam pengenalan akan Kristus dan Alkitab.

Ketiga, semakin diteguhkan dalam iman (ay. 7b). Setelah kita hidup di dalam Kristus dan tentunya berakar dan dibangun di dalam-Nya melalui Alkitab, maka Paulus mengingatkan kita bahwa kita perlu semakin diteguhkan di dalam iman. Di ayat 7b ini, kembali, Paulus tetap menggunakan bentuk pasif, yaitu BUKAN kita yang semakin berteguh imannya, tetapi iman kita yang diteguhkan. Siapa yang meneguhkan iman kita? Tentu Roh Kudus yang akan meneguhkan iman kita di dalam Kristus. Di sini kita melihat kesinambungannya. Kita bukan hanya makin mengerti Alkitab, tetapi kita juga dimampukan oleh Roh Kudus untuk berdiri teguh di dalam iman di dalam Kristus. Ada unsur pengetahuan doktrinal yang ketat, tajam, dan luas, namun juga ada unsur keteguhan iman yang kokoh. Beberapa orang Kristen bahkan pemimpin gereja menyelidiki Alkitab sampai tingkat doktoral, namun hati dan imannya kering, karena penyelidikan Alkitab yang dilakukannya hanya untuk memenuhi pikirannya saja. Paulus mengingatkan kita agar iman kita juga diteguhkan di dalam Kristus, sehingga antara rasio dan hati bekerja simultan. Makin belajar Alkitab, makin melihat keagungan, keindahan, kekonsistenan, kejujuran, dan kekokohan berita Alkitab melampaui semua agama, filsafat, tradisi, kebudayaan, sains, dan ilmu lainnya. Orang Kristen yang dengan mudahnya meninggalkan iman Kristennya hanya demi jabatan di kantor/perusahaan atau demi pasangan hidupnya sebenarnya merupakan orang Kristen yang belum mengerti keagungan dan kedahsyatan kuasa Injil Kristus. Bersyukurlah jika Anda hari ini masih beriman Kristen, karena Roh Kudus yang menguatkan iman Anda kepada Kristus.

Keempat, hidup bersyukur (ay. 7c). Orang Kristen tidak hanya dituntut untuk belajar firman Tuhan secara ketat dan bertanggungjawab, namun juga harus bersyukur. Di ayat ini, Paulus mengingatkan kita untuk bersyukur atas anugerah-Nya. Di 1 Tesalonika 5:18, Paulus juga menasihati jemaat Tesalonika untuk mengucap syukur dalam segala hal. Mengapa kita harus bersyukur? Dengan bersyukur: kita menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah karena kehebatan kita, namun karena anugerah-Nya saja dan juga kita semakin terus bergantung pada kemurahan anugerah-Nya yang berdaulat yang memimpin hidup kita.

Kelima, tidak ditipu oleh arus dunia (ay. 8). Setelah kita hidup di dalam Kristus, berakar di dalam-Nya, bertambah teguh di dalam iman kepada-Nya, bersyukur, maka di poin terakhir yaitu ayat 8 ini, Paulus mengingatkan kita agar kita tidak ditipu/disesatkan oleh arus dunia. Dengan kata lain, melalui ayat ini, Paulus mulai mengajak jemaat Kolose (dan kita juga) untuk berwaspada terhadap dunia sekitar (beserta filsafat di baliknya) di mana kita hidup dan tinggal. Apa saja yang ditawarkan oleh dunia? Menurut IVP Bible Background: New Testament, Paulus membagikannya ke dalam dua hal: filsafat dan ajaran turun-temurun (tradisi). Menurut konteks surat Kolose ini, jemaat di sana menghadapi beragam filsafat Yunani (menurut Albert Barnes di dalam tafsirannya Albert Barnes’ Notes on the Bible menyebutkan adanya filsafat Yunani: Gnostik) dan juga tradisi Yudaisme yang kental. Nah, menurut Paulus, baik filsafat maupun tradisi ini sama-sama berasal dari roh-roh dunia (yang jahat) yang tidak menurut Kristus. Dengan menyebut filsafat dan tradisi, sebenarnya Paulus hendak mengajar dua macam penekanan dalam hidup seseorang: rasio dan mistik. Orang Yunani (nantinya memengaruhi dunia Barat) menekankan pentingnya rasio dan orang Yahudi (nantinya memengaruhi dunia Timur) menekankan pentingnya tradisi atau kebudayaan (yang juga mengandung unsur-unsur mistik terselubung).

Apakah berarti melalui ayat 8 ini, Paulus memerintahkan kita untuk membuang semua filsafat dan tradisi? TIDAK. Melalui ayat ini, Paulus tidak memerintahkan kita untuk anti filsafat dan tradisi, tetapi ia mengajar kita untuk jangan sampai ditipu dan disesatkan oleh filsafat dan tradisi yang berasal dari roh-roh jahat yang melawan Kristus. Di dalam iman Kristen berdasarkan perspektif theologi Reformed, kita menghargai filsafat dan tradisi sebagai respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah, namun penghargaan tersebut sebatas penghargaan, bukan pemberhalaan! Mengapa? Karena meskipun sebagai respons manusia terhadap wahyu umum Allah, respons tersebut tetap adalah sebuah respons berdosa dari manusia yang sudah berdosa, sehingga hasil akhirnya pun tetap berdosa. Oleh karena itu, diperlukan wahyu khusus Allah yaitu Kristus dan Alkitab untuk menebus respons manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah tersebut sehingga dapat memuliakan Allah. Iman Kristen yang beres adalah iman Kristen yang TETAP menghargai signifikansi tradisi dan filsafat, namun TIDAK pernah memberhalakannya, karena jika sampai memberhalakannya, itu sudah termasuk dosa, karena dosa, menurut Rev. Prof. Cornelius Van Til, Ph.D., berarti menggeser otoritas Allah dan menggantikannya dengan otoritas manusia.


KESIMPULAN DAN TANTANGAN
Setelah merenungkan realitas yang mengerikan dari Kekristenan zaman postmodern ini dan panggilan untuk memusatkan iman kita kepada Kristus, apa yang menjadi reaksi kita? Apakah kita menyadarinya dan kemudian bertobat? Ataukah kita cuek? Biarlah Roh Kudus memakai perenungan singkat ini untuk menyadarkan dan memimpin iman kita terus-menerus untuk berpusat HANYA kepada Kristus. Amin. Soli DEO Gloria.

12 August 2010

Resensi Buku-101: BIOGRAFI TOKOH KRISTEN: JOHN CALVIN (Simonetta Carr)

...Dapatkan segera...
Buku
Biografi Tokoh Kristen:
JOHN CALVIN


oleh: Simonetta Carr

Ilustrasi oleh: Emanuele Taglietti

Penerbit: Momentum Christian Literature, 2009

Penerjemah: Chrisnah W. J. Ruston





Deskripsi singkat dari Denny Teguh Sutandio:
Belajar dari sejarah adalah sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya. Begitu juga halnya di dalam Kekristenan. Belajar dari sejarah Kristen di masa lalu selain menambah hikmat bagi kita dan juga kita bisa meneladani para tokoh Kristen yang berjuang bagi kebenaran firman Allah. Salah satu tokoh Kristen agung yang bisa kita pelajari adalah Dr. John Calvin. Dr. John Calvin adalah salah seorang reformator yang cukup terkenal khususnya melalui karya agung yang ditulisnya yaitu Institutes of the Christian Religion. Selain itu, semangat pengorbanan dan kerja keras dari sosok Dr. John Calvin, bisa kita teladani di dalam kehidupan kita. Segala sesuatu yang menyangkut profil Dr. John Calvin bisa kita pelajari secara lengkap namun sederhana melalui buku John Calvin yang ditulis oleh Ibu Simonetta Carr. Meskipun buku ini sebenarnya ditujukan sebagai media mendidik dan mengajar tentang iman Reformed kepada anak-anak, namun buku ini juga bisa dibaca oleh para pembaca umum, karena selain disertai gambar-gambar menarik, buku ini juga menjelaskan riwayat Calvin dari sejak lahir sampai meninggal dengan bahasa yang mudah dimengerti dan alur sejarah yang jelas.




Apresiasi:
“Sebagai orangtua dari empat anak, saya dan istri rindu untuk memiliki materi yang baru untuk digunakan dan direkomendasikan. Buku ini adalah karya yang perlu kami promosikan. Sebagai penerjemahkarya-karya Reformed ke dalam bahasa Italia dan juga sebagai seorag pengajar, Simonetta adalah orang yang benar-benar berbakat. Bukan hjanya ia mengenal betul mengenai sejarah dan theologi Reformasi, ia juga tahu bagaimana ‘menyajikannya’ untuk anak-anak kita. Komunitas Reformed sungguh memerlukan literatur yang mendidik semacam ini bagi generasi muda kovenan kita.”
Rev. Prof. Michael S. Horton, Ph.D.
(Pendeta di United Reformed Church di Amerika Utara, J. Gresham Machen Professor of Systematic Theology and Apologetics di Westminster Seminary, California, pendiri dari Christians United for Reformation—CURE, dan anggota dari: the Oxford University Union Society, the Royal Institute of Philosophy, the American Academy of Religion, the American Theological Society, and the Calvin Studies Society; Bachelor of Arts—B.A. dari Biola University; Master of Arts—M.A. dari Westminster Seminary California; dan Doctor of Philosophy—Ph.D. dari University of Coventry and Wycliffe Hall, Oxford, U.K.)

“Buku ini adalah sebuah sumber yang terpercaya tentang hidup dan pelayanan John Calvin. Ditulis dengan sangat baik dan dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat baik pula. Buku ini akan menjadi suatu pendidikan bagi anak-anak dan menarik bagi mereka.”
Rev. Prof. Hywel R. Jones, Ph.D.
(Professor of Practical Theology di Westminster Seminary, California dan ditahbiskan di Presbyterian Church of Wales; B.A. dari University of Wales; M.A. dari University of Cambridge; dan Ph.D. dari Greenwich University School of Theology, U.K.)

“Dalam bukunya tentang hidup dan perjalanan John Calvin, Simonetta Carr telah menyediakan sumber yang berharga bagi para orangtua Kristen untuk mengajar putra-putri mereka di dalam warisan iman Kristen yang bersejarah, tetapi melampaui zaman. Sementara banyak orang mengalami penderitaan berat demi membebaskan manusia dari takhayul dan ritual yang kosong, tetapi tiada yang menandingi penderitaan John Calvin dalam meyakinkan banyak insan akan pentingnya Alkitab, dan khususnya, Yesus Kristus di dalam hidup dan keberadaan mereka.”
Thomas McManus
(Principal di Covenant Christian School, Chula Vista, California)





Profil Simonetta Carr dan Emanuele Taglietti:
Simonetta Carr lahir di Italia dan telah menetap dan bekerja di banyak tempat dengan budaya yang beragam. Dengan latar belakang sebagai guru sekolah dasar, ia mengajar sendiri kedelapan anaknya di rumah selama bertahun-tahun. Ia menjadi penulis bagi surat kabar dan majalah di seluruh dunia dan telah menerjemahkan beberapa karya penulis Kristen ke dalam bahasa Italia. Sekarang ini, ia tinggal di San Diego bersama suaminya Thomas dan keluarga. Beliau adalah anggota dan guru sekolah minggu di Christ United Reformed Church.

Emanuele Taglietti lahir di Ferrara, Italia, dan menyelesaikan studinya di Roma. Sejak 1975, ia mengajar seni lukis pada Art Institute of Ferrara, sambil bekerja sebagai ilustrator pada beberapa majalah. Ia sangat dikagumi karena lukisan-lukisan cat air dan gaya fresco tradisionalnya. Ia tinggal di Ferrara bersama istrinya, Katia.

11 August 2010

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:35 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., Ph.D.-Cand.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 7:35

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M., Ph.D. (Cand.)



Nats: 1 Korintus 7:35



Dalam terjemahan LAI:TB ayat ini menjadi pembuka dari suatu paragraf yang baru. Beberapa versi Inggris menganggap ayat ini sebagai penutup bagi ayat 32-34 (RSV). Perbedaan ini menyiratkan bagaimana para penerjemah memahami fungsi ayat 35. Apakah bagian ini terkait dengan perikop di atasnya (ay. 32-34) atau di bawahnya (ay. 36-38)?

Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa ayat 35 sebaiknya dipahami sebagai bagian dari ayat 32-34. Frase “semuanya ini kukatakan” (touto...legw, lit. “ini kukatakan”) dalam tulisan Paulus biasanya merujuk balik pada apa yang sudah dikatakan (1:12; 7:6; bdk. Gal 3:17; Ef 5:32; Kol. 2:4). Di samping itu, ide tentang “melakukan apa yang baik dan benar” dan “melayani Tuhan tanpa gangguan” (ay. 35) lebih sesuai ayat 32-34 yang mengajarkan untuk berfokus pada perkara-perkara Tuhan. Jika ini benar, maka kita perlu memutuskan fungsi ayat 35 dalam pembahasan di ayat 32-34.

Para penafsir umumnya berpendapat bahwa ayat 35 menjelaskan tujuan dari ajaran Paulus di ayat 32-34. Ayat 35 juga sekaligus berfungsi sebagai konklusi yang menegaskan kembali apa yang sudah disampaikan di ayat 32a “aku ingin supaya kamu hidup tanpa kekuatiran”. Dengan kata lain, ayat 35 menerangkan bagaimana hidup yang tanpa kekuatiran itu. Tujuan yang ingin disampaikan Paulus di ayat 35 dapat diketahui dari penggunaan kata depan pros (“untuk”) dan kata sambung hina (“supaya”). Kata pros muncul dua kali, kata hina hanya sekali; dengan demikian secara keseluruhan ada tiga tujuan. Ayat 35 dapat digambarkan sebagai berikut:
Ini kukatakan
Untuk (pros) kepentingan kamu sendiri
Bukan untuk (ēina) menghalangi kamu dalam kebebasanmu
Untuk (pros) apa [pelayanan?] yang baik dan benar kepada Tuhan tanpa gangguan


Untuk Kepentingan Jemaat Korintus (ay. 35a)
Dari susunan kalimat Yunani yang dipakai terlihat bahwa Paulus sedang memberikan penekanan pada poin ini. Frase “untuk kepentingan kamu sendiri” (pros to ēpsmōn autōn s spsmphoron) sengaja diletakkan sebelum kata “kukatakan” (legō). Penambahan kata autwn (“sendiri”) juga berfungsi untuk memperjelas penekanan tersebut, seakan-akan kepentingan ini sepenuhnya adalah milik mereka.

Melalui bagian ini Paulus ingin menegaskan bahwa ia tidak bermaksud mengambil keuntungan apa pun. Sama seperti pembahasannya tentang pertikaian di pasal 1-3 tidak berusaha mempengaruhi orang lain untuk memihak dia, demikian pula di bagian ini ia tidak memiliki agenda pribadi yang tersembunyi. Hal ini perlu ditegaskan Paulus sebagai antisipasi. Preferensi Paulus terhadap selibasi (ay. 32-34) mungkin saja bisa dianggap jemaat Korintus sebagai upaya Paulus untuk mengambil hati sebagian dari mereka yang anti perkawinan. Paulus bisa saja dituduh menyombongkan diri dengan praktik hidup selibat yang ia jalani (ay. 7a), seakan-akan ia lebih hebat daripada orang lain.

Untuk kesekian kalinya Paulus mengekspresikan perhatian yang mendalam terhadap jemaat Korintus. Paulus memberikan kelonggaran kepada mereka (ay. 6). Ia ingin menghindarkan mereka dari kesusahan ekstra di akhir jaman (ay. 28b). Ia ingin supaya mereka hidup tanpa kekuatiran (ay. 32a). Sekarang ia secara eksplisit menyatakan bahwa nasehatnya adalah untuk kepentingan mereka.

Apa yang penting bagi Paulus adalah kepentingan (spsmphoros) jemaat. Kata spsmphoros dalam Alkitab hanya muncul di Surat 1 Korintus, yaitu di bagian ini dan 10:33. Dalam 2 Makabe 4:5 kata ini dikenakan pada Onias yang berusaha untuk mengupayakan kesejahteraan semua orang. Pemakaian kata ini di literatur kuno Yunani juga mengarah pada kesimpulan yang sama. Beragam versi memberikan terjemahan yang beragam pula, tetapi inti yang mau disampaikan tetap sama. LAI:TB memakai “kepentingan”, ESV/KJV/NASB/NLT/RSV memilih “keuntungan” (benefit/profit), sedangkan NIV mengambil “kebaikan” (good).

Berdasarkan pemunculan kata spsmphoros di 1 Korintus 7:35 dan 10:33 dapat disimpulkan bahwa mementingkan keuntungan orang lain sudah menjadi gaya hidup Paulus. Ia adalah orang yang selalu meletakkan kepentingan orang lain di atas kenyamanan hidupnya sendiri (bdk. Flp. 2:3-4). Ia tidak segan-segan kehilangan hak dan kebebasan asalkan ia bisa memberi sesuatu yang positif bagi orang lain (8:9, 13; 9:15-18, 19, 22b).

Keuntungan apa yang diperoleh jemaat Korintus melalui nasehat di pasal 7:32-35? Keuntungan ini harus dipahami secara luas. Bagi mereka yang cenderung pada selibasi, Paulus telah memberikan dasar theologis yang benar (dasarnya bukan karena seks adalah dosa). Dari sini terlihat bahwa tidak semua selibasi didasarkan pada prinsip asketisisme (bdk. 7:7; Mat. 19:11-12), walaupun asketisisme selalu melibatkan selibasi. Bagi yang menikah, nasehat Paulus berguna untuk mengorientasikan lagi fokus hidup mereka pada kedatangan Kristus kedua kali. Bagi yang belum menikah, mereka diingatkan untuk tidak terlalu terikat maupun merisaukan perkawinan. Yang penting adalah hidup yang berfokus pada Tuhan.


Bukan Untuk Menghalangi Kebebasan Jemaat (ay. 35b)
Dalam bagian ini Paulus sebenarnya sedang memakai sebuah ungkapan kuno yang popular pada waktu itu. Secara hurufiah bagian ini berbunyi “bukan untuk meletakkan jerat (brochos) kepada kalian”. Philo juga memakai ungkapan ini secara figuratif untuk menggambarkan sebuah kekangan atau pembatasan. Yosefus, sejarahwan Yahudi abad ke-1 M, memakai ungkapan di atas secara hurufiah dalam konteks peperangan, yaitu ketika musuh melemparkan tali jerat dari jauh untuk menangkap seseorang, tetapi orang itu berhasil memutuskan tali itu dengan pedang dan melarikan diri. Di tempat lain ungkapan ini dipakai dalam konteks perburuan (Ams. 6:5).

Berdasarkan pemunculan kata brochos di atas terlihat bahwa ungkapan yang dipakai Paulus ini tidak selalu bermakna sebuah jebakan. Inti yang ingin disampaikan adalah kontrol seseorang atas pihak lain. Penerjemah LAI:TB dengan tepat mengekspresikan makna di atas dengan “bukan untuk menghalangi kamu dalam kebebasanmu”. Pernyataan Paulus di ayat 35b menunjukkan kebesaran hati Paulus. Ia tidak mau bersikap otoriter terhadap mereka, meskipun ia memiliki otoritas tertentu atas mereka sebagai rasul (1:1) dan bapa rohani (4:15). Ia juga tidak mau menjadikan gaya hidupnya sebagai patokan normatif bagi orang lain. Sekalipun ia menjalankan hidup selibat dan memandang selibasi lebih baik daripada menikah, tetapi hal itu bukanlah keharusan bagi jemaat. Setiap orang memiliki karunia yang khas dari Tuhan (7:7). Keputusan untuk menikah bukanlah dosa (7:28, 36, 38). Paulus hanya mengajarkan apa yang menurut dia adalah yang terbaik secara theologis.

Sikap di atas sangat berbeda dengan jemaat Korintus maupun penganut asketisisme yang lain (1Tim. 4:3a). Mereka memaksakan pandangan mereka kepada orang lain. Dengan berbuat demikian mereka telah mengekang kebebasan orang lain dengan mengajarkan bahwa menikah adalah dosa. Gereja pun dulu (sampai sekarang) melakukan kesalahan yang serupa ketika semua rohaniwan diwajibkan untuk tidak menikah. Terlepas dari motivasi apa pun di balik peraturan gereja ini – baik itu gaya hidup askestisisme maupun konsentrasi dalam pelayanan – pemaksaan terhadap orang lain merupakan sebuah kesalahan. Lebih jauh, pemaksaan selibasi terhadap mereka yang tidak memilik karunia itu telah menimbulkan banyak dosa seksual (bdk. 7:2, 5, 9).


Untuk Apa yang Baik dan Benar Kepada Tuhan Tanpa Gangguan (ay. 35c)
Kalimat Yunani yang dipakai di bagian ini merupakan salah satu yang paling sulit untuk diterjemahkan. Inti kesulitan terletak pada arti dua kata sifat (euschēmōn dan euparedron) dan fungsi tō kuriō (LAI:TB “Tuhan”). Secara hurufiah bagian ini berbunyi “tetapi untuk euschēmōn (apa yang baik?) dan euparedron (pelayanan yang konstan?) kepada/untuk/di hadapan/oleh Tuhan tanpa gangguan”.

Penerjemah LAI:TB berusaha membantu pembaca dengan memberikan terjemahan “supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan”. Berbagai versi Inggris terpaksa menambahkan kata-kata tertentu untuk membuat sebuah terjemahan yang lebih bisa dipahami. Beberapa memilih “untuk mengembangkan keteraturan (apa yang pantas) dan memastikan ibadah yang tanpa gangguan (tidak terbagi) kepada Tuhan” (ESV/NASB/RSV). Yang lain memakai “supaya kamu hidup dalam jalan yang benar dalam ibadah yang tidak terbagi-bagi”.

Kata euschēmōn terdiri dari eu = baik dan schēmōn = berbentuk (dari kata schma = bentuk). Kata ini juga muncul di 12:24 untuk bagian [tubuh] yang elok (RSV/NIV/ESV “presentable”; KJV “comely”; NASB “seemly”). Lawan kata dari euschēmōn (yaitu aschēmoneō) kita temukan di 7:36a (LAI:TB “tidak wajar”; mayoritas versi Inggris “tidak sepantasnya”). Kata keterangan euschēmonōs di 14:40 dipakai untuk tindakan yang sopan (LAI:TB) atau layak (mayoritas versi Inggris). Dua pemunculan lain dari kata euschēmonōs juga menerangkan tindakan yang sopan, layak atau terhormat (Rm. 13:13; 1Tes. 4:12). Dari semua penggunaan ini dapat disimpulkan bahwa to euschēmōn di 1 Korintus 7:35 memiliki makna “apa yang sopan atau layak”.

Kata euparedron sangat jarang ditemukan. Kata ini hanya muncul sekali di Alkitab dan sekali di tulisan kuno abad ke-5 M. Kata euparedron terdiri dari eu = baik dan paredros = duduk di dekat. Ide yang mau disampaikan adalah kehadiran yang konsisten. Kata kerja yang berkaitan dengan euparedron, yaitu paredreuō, muncul di 9:13 untuk tindakan “melayani” (KJV “menunggu”; ESV/NIV/RSV “melayani”; NASB “menunggui secara teratur”) mezbah. Para penerjemah biasanya menerjemahkan [to] euparedron di 7:35c dengan “ibadah” (devotion). Penerjemah LAI:TB tampaknya lebih memilih “pelayanan” (melayani Tuhan, bdk. NLT). Manakah yang lebih tepat antara “ibadah” dan “pelayanan”? Menilik definisi “memperhatikan perkara Tuhan” di ayat 32b dan 34b, kita sebaiknya memahami [to] euparedron secara lebih luas. Ini tidak terbatas pada ibadah di Hari Minggu atau bentuk pelayanan tertentu di gereja. Ini tentang keseluruhan hidup kita yang berfokus pada Tuhan.

Jadi, terjemahan “ibadah” atau “pelayanan” yang dipakai dalam berbagai versi modern tidak boleh dipahami secara sempit. Penggunaan artikel to untuk euschēmōn maupun euparedron menunjukkan bahwa keduanya dianggap sebagai satu kesatuan. Kehidupan yang baik dan ibadah yang konsisten sama-sama ditujukan kepada Tuhan (tō kuriō). Keduanya sama-sama harus ada dalam kehidupan orang Kristen. Keduanya bukan pilihan. Orang yang beribadah kepada Tuhan pasti akan menunjukkan bukti tentang hal itu melalui kehidupan yang baik. Sebaliknya, kehidupan yang baik harus bersumber dari fokus hidup yang Kristosentris. Penekanan yang ingin disampaikan Paulus bukan hanya terletak pada melakukan tindakan yang baik maupun ibadah kepada Tuhan. Intinya terletak pada kata “tanpa gangguan” (LAI:TB/KJV/NASB) atau “tidak terbagi” (ESV/NIV/RSV). Semua orang Kristen sudah seharusnya menunjukkan praktik hidup yang baik dan ibadah keada Tuhan, namun orang yang tidak menikah memiliki kesempatan yang besar untuk melakukan dua hal itu tanpa gangguan. Dalam teks Yunani kata yang dipakai untuk “tanpa gangguan” atau “tidak terbagi” adalah aperispastōs. Dalam Alkitab kata ini hanya muncul sekali. Bagaimanapun, Alkitab memberikan contoh konkrit orang yang terganggu/terbagi perhatiannya untuk hal-hal lain yang kurang penting. Lukas 10:40 “Marta sibuk sekali melayani”. Kata “sibuk” di sini adalah perispaomai yang seharusnya diterjemahkan “terganggu” (ESV/NIV/NASB/RSV/NLT).

Berbeda dengan Marta terganggu (perispaomai), Paulus ingin agar setiap orang Kristen dapat memfokuskan diri kepada Tuhan tanpa terganggu (aperispastōs). Para penafsir biasanya mengaitkan aperispastōs dengan ajaran dalam filsafat Cynic (gaya hidup yang bebas dari kebutuhan sosial dengan cara mengemis dan hidup semiskin mungkin). FIlsafat ini tidak menganggap perkawinan sebagai sebuah dosa. Perkawinan bahkan dilihat sebagai tugas sipil yang diemban oleh sebagian besar laki-laki. Bagaimanapun, perkawinan tidak diijinkan bagi mereka yang sudah memberikan diri secara khusus untuk menjalankan misi filsafat Cynic. Perkecualian diberikan kepada mereka yang istrinya mau berkomitmen bagi filsafat ini. Tujuan dari pembatasan ini adalah supaya mereka yang belajar filsafat Cynic tidak terganggu (aperispastōs).

Dalam tradisi kerabian Yahudi juga terdapat ajaran yang hampir sama. Mereka yang mau belajar secara khusus kepada seorang rabi yang tinggal di tempat lain, orang itu dilarang membawa isteri. Tujuannya adalah supaya ia bisa berkonsentrasi dalam belajar. Perbedaan esensial antara Paulus dengan penganut filsafat Cynic maupun para rabi terletak pada tiga hal: ruang lingkup, fleksibilitas, dan objek konsentrasi. Dari sisi ruang lingkup, Paulus tidak membatasi nasehatnya kepada para rohaniwan saja. Nasehat ini berlaku untuk semua orang Kristen. Dari sisi fleksibilitas, Paulus tidak mengharuskan siapa pun untuk menganut cara hidup selibat. Yang dipentingkan bukan menikah atau tidak menikah, melainkan terganggu atau tidak. Jika ada orang yang tidak menikah namun terganggu oleh dorongan seksual, maka orang itu lebih baik menikah saja (7:9). Dari sisi objek konsentrasi, fokusnya terletak pada diri Tuhan secara langsung, bukan doktrin (betapapun doktrin itu memang penting) maupun aktivitas keagamaan tertentu (walaupun kerohanian pasti mencakup aktivitas keagamaan tertentu). Yang dipentingkan adalah keseluruhan hidup yang berfokus kepada kedatangan Kristus. #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 23 Agustus 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2007%20ayat%2035.pdf

09 August 2010

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-5: Eden dan Dosa-4: Berfokus Pada Fenomena

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-5:
Eden dan Dosa-4: Berfokus Pada Fenomena


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:6a




Setelah melihat inkonsitensi pada diri Hawa, maka di bagian ini, kita akan melihat dosa kedua yang Hawa lakukan dari Kejadian 3:6a. Mari kita sekali lagi menyimak ayat 6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Setelah iblis mencobai Hawa untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui yang baik dan jahat, maka Hawa pun tergoda dan Alkitab mencatat bahwa Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Dengan kata lain, buah ini bagi Hawa bukan hanya baik untuk dimakan, namun juga sedap. English Standard Version (ESV) menerjemahkannya, “So when the woman saw that the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the tree was to be desired to make one wise” Kata good di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya adalah †ôb yang artinya baik. Kata sedap di dalam ayat ini dalam bahasa Ibraninya ta´áwâ berarti (membangkitkan) keinginan/desire, kemudian disusul dengan kata Ibrani lä`ênaºyim yang berarti bagi mata (lä = kata depan). Selain itu, Alkitab mencatat bahwa buah ini juga diinginkan untuk membuat seseorang bijaksana (wise). Kata “pengertian” dalam terjemahan Indonesia berasal dari bahasa Ibrani śâkal yang berarti intelligent. Di dalam mayoritas Alkitab terjemahan Inggris kata ini diterjemahkan wise (=bijaksana). New International Version (NIV) menerjemahkannya wisdom (=kebijaksanaan). Dari sini, menurut Hawa, ada tiga ciri dari buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat: baik, membangkitkan selera/sedap, dan memberi pengertian/kebijaksanaan. Dan uniknya, tiga ciri fenomenal ini didapatkan oleh Hawa SETELAH iblis meracuni pikirannya, padahal Allah tidak memberikan deskripsi apa pun tentang buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat (kecuali hanya larangan untuk memakannya). Di sini, kita mendapatkan pengertian bahwa iblis selalu mengakibatkan kita terus memperhatikan hal-hal fenomenal.


Dosa mengakibatkan manusia terus memusatkan perhatiannya pada hal-hal fenomenal. Mengapa? Karena:
Pertama, hal-hal fenomenal lebih jelas dilihat dengan mata. Iblis meracuni Hawa untuk melihat hal-hal fenomenal dari buah pohon tersebut dengan tujuan agar Hawa lebih bisa melihat dengan jelas deskripsi buah pohon tersebut dan tidak lagi memusingkan apa yang Allah firmankan. Iblis mulai meracuni Hawa untuk membuang perspektif Allah dalam menyoroti segala sesuatu dan menggantinya dengan perspektif Hawa sendiri untuk melihat fenomena di depan mata. Dan ternyata Hawa ternyata menyetujui konsep iblis bahwa buah pohon tersebut memang baik, sedap dipandang, dan memberi pengertian. Dari mana Hawa mengetahui bahwa buah pohon tersebut kelihatan baik, sedap, dan memberi pengertian? Apakah dia sudah memverifikasikannya secara ilmiah? TIDAK. Ia tahu dari iblis. Di sini, kita belajar bahwa dosa dimulai tatkala manusia lebih memercayai perkataan iblis yang mengatakan “kebenaran” ketimbang Allah. Yang aneh adalah konsep ini terus ditiru oleh manusia sepanjang abad. Makin meniru “pengetahuan/kebenaran” dari iblis, manusia makin kelihatan bodohnya. Mari kita buktikan. Orang atheis selalu gembar-gembor mengatakan bahwa Allah itu sudah mati dan menantang orang Kristen untuk membuktikan keberadaan Allah. Mereka berpikir bahwa Allah itu tidak nampak, oleh karena itu Allah tidak ada. Mereka terlalu berfokus pada hal-hal fenomenal yang kelihatan lebih jelas dipandang mata, namun mereka tidak menyadari bahwa suatu eksistensi (keberadaan) TIDAK harus identik dengan sesuatu yang bisa dilihat mata dengan jelas. Sebuah cerita humor yang menarik yang diceritakan oleh Prof. Gary T. Meadors, Th.D. di dalam bukunya Decision Making God’s Way: Mengambil Keputusan Tepat Sesuai Kehendak Allah (2009): ada seorang ibu Kristen jemaat Quaker yang menitikberatkan pada pentingnya pengalaman pribadi untuk mengenal Allah ditantang oleh seorang atheis untuk membuktikan keberadaan Allah. Si atheis terus bertanya kepada si ibu apakah si ibu itu sudah melihat dan menjamah Allah. Si ibu berkata tidak pernah. Lalu, si atheis dengan bangga menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada. Kemudian si ibu balik bertanya kepada si atheis, apakah si atheis ini melihat otak? Si atheis menjawab bahwa dia melihat hasil otak dalam pemikiran. Kemudian si ibu bertanya lagi, apakah si atheis dapat menyentuh otaknya? Si atheis bingung menjawab, lalu si ibu menyimpulkan bahwa karena si atheis belum (tidak) pernah menyentuh otaknya sendiri, maka si atheis tidak memiliki otak!

Dari cerita lucu di atas, kita mendapat kesimpulan bahwa semakin seseorang menekankan hal-hal fenomenal, ia bukan makin mengerti tuntas fenomena, namun justru ditipu oleh fenomena, karena cara pikirnya selalu bersifat materi/fisik.

Kedua, hal-hal fenomenal bersifat menyenangkan. Selain bisa dilihat oleh mata dengan jelas, maka hal-hal fenomenal juga bersifat menyenangkan. Ada unsur hiburan di dalam hal-hal fenomenal. Perhatikanlah pengaruh racun iblis terhadap penilaian Hawa terhadap buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Bukankah penilaian tersebut adalah penilaian terhadap fenomena yang kelihatan menyenangkan? Hal serupa yang dipakai iblis untuk menipu dunia kita hari-hari ini. Iblis menipu kita melalui konsep takhayul yang dipercaya oleh banyak masyarakat, agar kedok iblis tidak dikenal dengan jelas. Orang dunia melalui media film maupun lainnya selalu memiliki konsep bahwa iblis itu nampak dalam rupa makhluk yang menyeramkan, seperti genderuwo, pocong, kuntilanak, vampire, dll. Tidak heran, banyak orang pun juga mengadopsi pikiran serupa, lalu ketakutan sendiri ketika berada di rumah sendirian atau pergi ke tempat yang gelap. Akibatnya, iblis makin berulah yang lebih dahsyat lagi untuk menakuti manusia. Benarkah iblis selalu muncul dalam bentuk yang menyeramkan? Mungkin sekali, namun itu TIDAK selalu, bahkan kebanyakan iblis BUKAN muncul dalam bentuk yang menyeramkan, melainkan dalam bentuk yang luar biasa baik. Ketika iblis mencobai Hawa, apakah iblis datang dalam bentuk yang menyeramkan? TIDAK! Iblis datang dalam bentuk ular, seekor hewan. Terus terang saya mengatakan bahwa jika iblis selalu datang dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, itu iblis kelas kampungan, karena kedoknya sudah diketahui terlebih dahulu. Karena iblis itu bapa pendusta, maka ia datang mencobai manusia BUKAN dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, namun melalui sesuatu yang kelihatan baik, indah, dan menyenangkan. Perhatikan sekali tawaran iblis kepada Hawa (ay. 4-5), adakah sesuatu yang buruk di dalamnya? TIDAK, semua baik, bahkan seolah-olah membukakan realitas “asli” kepada Hawa, namun ia tidak membukakan kebenaran sejati kepada Hawa secara tuntas. Itulah cara kerja iblis dari dahulu sampai sekarang. Di zaman sekarang, iblis datang melalui “ular-ular” yang begitu bagus, menarik, indah, menyenangkan, dll, namun berdampak akhir yang fatal: kematian. Iblis tidak lagi suka indekos di dalam klub-klub malam dan tempat pelacuran, ia sekarang gemar indekos di dalam orang Kristen, pemimpin gereja, dll yang seolah-olah rohani. Mengapa ia memakai orang-orang “rohani” ini? Karena iblis mau menghancurkan Kekristenan pelan-pelan. Bagaimana caranya iblis mulai indekos di dalam pribadi-pribadi yang seolah-olah rohani ini? Iblis mulai memakai orang-orang ini untuk mengajarkan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan Alkitab, misalnya: percaya Yesus pasti kaya, sukses, tidak pernah sakit, bahkan tidak pernah digigit nyamuk. Ada lagi yang mengajarkan bahwa Yesus itu hanya manusia biasa, bukan Allah yang patut disembah. Ada lagi yang mengajarkan bahwa ada banyak jalan menuju ke “sorga”. Semua ajaran ini jelas bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan di Alkitab sendiri. Namun, meskipun bertentangan dengan Alkitab, bukankah ajaran-ajaran tersebut seolah-olah menyenangkan telinga pendengar? Bukankah ajaran yang menyatakan bahwa keselamatan juga ada di luar Tuhan Yesus itu lebih terkesan menghargai agama lain dan “damai” (istilah kerennya: tidak dogmatis) ketimbang memberitakan bahwa Tuhan Yesus itu satu-satunya Juruselamat dunia? Bukankah ajaran yang menyatakan bahwa percaya Yesus itu pasti sukses, kaya, sehat, makmur, dll lebih menyenangkan ketimbang memberitakan bahwa percaya Yesus harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 10:38; 16:24)? Melalui indoktrinasi ajaran-ajaran yang tidak bertanggungjawab ini, Kekristenan makin lama makin dijauhkan dari kebenaran Alkitab dan mulai menganut nilai-nilai duniawi, meskipun berKTP Kristen. Tidak heran, di zaman ini, kita makin lama makin menjumpai banyak orang Kristen bukan makin taat kepada Tuhan, tetapi makin atheis (entah itu atheis secara teori maupun praktis).


Lalu, jika terlalu menekankan hal-hal fenomenal termasuk akibat dosa, bagaimana respons orang Kristen terhadap hal-hal fenomenal? Karena tidak mau ditipu oleh hal-hal fenomenal, ada sekelompok orang Kristen yang akhirnya menjadi ekstrem kanan, yaitu anti terhadap hal-hal fenomenal, lalu HANYA mementingkan hal-hal esensial saja. Hal-hal esensial ini menyangkut konsep: iman, nilai (aksiologi), keindahan (estetika), dll. Orang Kristen yang terlalu berlebihan menekankan hal-hal esensial biasanya dapat saya kategorikan sebagai orang antik. Misalnya, kalau mau membeli makanan tertentu (misalnya lemper), orang yang terlalu mementingkan hal-hal esensial selalu mementingkan aspek nilai/mutu dari makanan, jadi ia akan pergi ke tempat yang jauh hanya untuk membeli lemper yang paling enak. Ada orang Kristen yang terlalu mementingkan hal-hal esensial, lalu menjadi orang Kristen jadul, khususnya anak muda. Ciri orang/anak muda Kristen jadul yang terlalu mementingkan hal-hal esensial ini ditandai dengan kegemaran mereka membaca buku (rohani/theologi), namun kurang bersosialisasi. Apa alasan mereka? Mereka menjawab bahwa bersosialisasi itu hal-hal fenomenal yang membuang-buang waktu. Hang out di mall atau menonton film di bioskop dianggap sesuatu yang fenomenal dan membuang-buang waktu. Jangan tanyakan kepada orang jadul ini, apakah memiliki Facebook (FB), kebanyakan mereka menjawab, “TIDAK!” Memiliki akun dan “berselancar” di dalam dunia FB pun dianggap sesuatu yang fenomenal dan membuang-buang waktu. Di dalam iman, orang yang hanya menekankan aspek-aspek esensial selalu kurang menekankan aspek fenomenal, akibatnya ia kering pengalaman rohani bersama Tuhan. Bagi orang ini, yang terpenting adalah ia sudah melahap habis buku-buku theologi dan filsafat, sudah menghafal theologi, atau mungkin sudah menggali Alkitab sampai ke bahasa aslinya. Ia tidak akan peduli jika kerohaniannya benar-benar miskin, pertimbangan dalam mengambil keputusan yang dibuatnya benar-benar melawan kehendak Allah, dll.


Kekristenan yang SEHAT tidak beralih dari ekstrem kiri maupun ekstrem kanan, namun harus seimbang! Memang, Alkitab mengajarkan bahwa hal-hal esensial itu paling penting, namun hal itu TIDAK berarti kita membuang semua hal-hal fenomenal. Di dalam Kekristenan, ajaran/doktrin/theologi itu penting, karena itu mengarahkan kita untuk mengetahui dan mengenal Allah. Tanpa doktrin yang benar, Kekristenan bisa hancur diracuni oleh zaman yang berdosa. Namun doktrin yang benar TIDAK berarti doktrin itu segala-galanya, lalu membuang pengalaman bersama Allah (unsur fenomenal). Makin seseorang belajar prinsip theologi tentang kedaulatan dan pemeliharaan Allah, ia makin menyadari bahwa secara terus-menerus, ia hidup di dalam suatu waktu yang dipelihara oleh-Nya sesuai kehendak-Nya, sehingga di dalam kehidupannya, ia mengaitkan segala aspek hidupnya dengan Allah sebagai Raja dan Tuhan yang memerintah. Terus terang, saya pribadi sulit menjalankan konsep ini, karena menjalankan firman Tuhan dan doktrin yang telah kita pelajari bukanlah seperti membalik telapak tangan, namun membutuhkan sebuah proses panjang. Ambil contoh, kita percaya bahwa Allah itu berdaulat atas segala sesuatu bahkan di dalam kehidupan manusia, khususnya di dalam masalah pasangan hidup. Kita percaya bahwa Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang mengetahui apa yang terbaik bagi kita di dalam mencari pasangan hidup yang tepat bagi kita. Konsep ini sering kali hanya ada di dalam benak pikiran kita, tanpa kita sungguh-sungguh aplikasikan, sehingga ketika kita gagal terus dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, kita langsung marah dan mengomel kepada Tuhan. Dahulu saya seperti itu, namun lama-kelamaan Tuhan terus memproses saya khususnya melalui khotbah mimbar dan buku-buku rohani yang khusus membahas mengenai hubungan lawan jenis (saya merekomendasikan buku-buku yang ditulis oleh Rev. Joshua E. Harris) untuk mengajar saya pentingnya berserah total kepada kedaulatan-Nya yang akan memberikan pasangan hidup yang tepat. Sambil berserah total, saya juga tetap bertanggungjawab mencarinya sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Dan uniknya, makin saya mengalami Allah di dalam mencari pasangan hidup tersebut, makin saya melihat campur tangan Allah yang luar biasa. Meskipun Ia tidak mengizinkan saya menjalin hubungan dengan lawan jenis A, saya terlalu percaya bahwa di dalam kedaulatan-Nya, Ia pasti menyediakan yang terbaik yang cocok bagi saya yang belum saya ketahui pada saat ini. Di sini, saya mengaitkan pentingnya kedaulatan Allah dan iman yang progresif (atau: knowing God and experiencing Him atau menggunakan bahasa versi Katekismus Singkat Westminster: glorifying God and enjoying Him forever).


Orang Kristen yang mementingkan hal-hal esensial juga tetap memperhatikan hal-hal fenomenal lainnya. Mengapa? Karena kita harus mengakui bahwa selain sebagai warga negara Kerajaan Sorga, kita juga masih hidup sebagai warga negara dunia, sehingga mau tidak mau, hal-hal fenomenal tetap kita perlukan. Di dalam Matius 4:4, Tuhan Yesus berfirman, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kata “saja” atau dalam bahasa Inggris: alone menandakan bahwa selain mementingkan firman Tuhan, manusia hidup juga memerlukan roti untuk dimakan. Jangan sampai kita yang mengaku rohani, lalu tidak mau lagi minum es jeruk atau makan nasi goreng, dengan alasan itu hal-hal fenomenal. Hal-hal fenomenal lain juga bisa berupa kesenangan (pleasure), seperti hang out di mall, menonton bioskop, dll. Orang Kristen yang beres tentu TIDAK dilarang untuk menikmati kesenangan, karena menurut Dr. John Calvin sendiri, kesenangan dunia inipun diberikan oleh Tuhan kepada manusia untuk dinikmati. Namun yang menjadi batasannya adalah kita TIDAK boleh bertindak semaunya sendiri! Meskipun kita boleh menikmati kesenangan tersebut, namun jangan sampai kesenangan tersebut menjadi berhala dalam hidup kita, sehingga kita menjadi lupa untuk berdoa, membaca Alkitab, bersekutu dengan saudara seiman lain, dll.


Dengan kata lain, bagaimana cara orang Kristen menyeimbangkan hal-hal esensial dan fenomenal demi kemuliaan Allah? Mengutip perkataan Pdt. Ivan Kristiono, M.Div. yang mengutip perkataan Bapa Gereja Augustinus, “Cintailah Tuhan dan lakukanlah segala sesuatu.” Berarti, di titik pertama, kita harus menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidup kita yang memerintah seluruh aspek kehidupan kita. Hal ini dimulai dari kerelaan kita menyerahkan hati kita kepada-Nya untuk dikuasai dan dipimpin-Nya setiap hari. Hati yang telah dikuasai dan dipimpin-Nya, melalui anugerah dan pemeliharaan-Nya, pasti menginginkan sesuatu yang memuliakan nama-Nya, oleh karena itu, di dalam melakukan segala sesuatu, ia menginginkan apa yang dilakukannya selalu memuliakan nama-Nya. Ketika ia bekerja, ia bekerja seperti untuk Tuhan. Ketika orang tersebut bermain, ia bermain seperti untuk Tuhan. Ketika orang itu sedang berekreasi atau hang out di mal, ia melakukannya seperti untuk Tuhan, sehingga tidak ada satu inci pun dalam kehidupannya yang dapat melukai hati Tuhan.


Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih tergila-gila dengan hal-hal fenomenal? Ataukah kita beralih ke ekstrem kanan, yaitu terlalu mementingkan hal-hal esensial dan anti fenomenal? Biarlah Tuhan memimpin hidup kita untuk makin seimbang dalam menjalani hidup yang memuliakan nama-Nya. Amin. Soli Deo Gloria.

05 August 2010

WHAT'S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-4: Eden dan Dosa-3: Inkonsistensi

WHAT’S WRONG IN THE GARDEN OF EDEN?-4:
Eden dan Dosa-3: Inkonsistensi


oleh: Denny Teguh Sutandio



Nats: Kejadian 3:6a




Setelah dua tahap iblis mencobai Hawa, apa reaksi Hawa? Di ayat 6, Alkitab mencatat, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.” Pada bagian ini, kita hanya menguraikan kalimat pertama yaitu pada ayat 6a sebagai fokus pembahasan kita. Setelah iblis mencobai Hawa untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui yang baik dan jahat, maka Hawa pun tergoda dan Alkitab mencatat bahwa Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Di sini, kita mulai melihat pergeseran pemikiran Hawa yang dahulu (seolah-olah) berpusat pada Allah (Kej. 3:2-3), sekarang tidak lagi. Hawa sekarang memusatkan perhatiannya pada iming-iming rayuan iblis, sehingga ia mulai melihat buah pohon pengetahuan itu dari perspektif iblis.


Dari kasus ini saja, kita bisa mengambil dua kesimpulan yang akan saya bahas pada dua bagian (bagian ini dan bagian selanjutnya).

Kesimpulan pertama, dosa mengakibatkan manusia hidup tidak konsisten dan inkonsistensi ini uniknya dimulai dari Hawa. Karena mementingkan perasaan ketimbang kebenaran Allah, maka Hawa akhirnya dengan mudahnya termakan oleh bujuk rayu iblis. Itu sebabnya tidak heran juga, jika banyak keturunan Hawa yang sudah meleset akibat dosa ini juga hidup secara tidak konsisten di dalam dunia ini. Tidak usah heran kalau ada cewek yang hari ini berkata A, minggu berikutnya berkata B, bulan berikutnya kembali mengatakan A, tahun depan berkata B, begitu seterusnya, akhirnya beberapa tahun kemudian berkata C. Inkonsistensi ini wajar, karena BANYAK cewek terlalu menggunakan perasaan ketimbang rasio. Inkonsistensi ini nantinya mempengaruhi Adam (cowok). Inkonsistensi ini mencakup banyak hal: iman, pikiran, perkataan, dan sikap. Pertanyaan selanjutnya, mengapa manusia hidup tidak konsisten? Saya (5 poin teratas) dan Sdr. Richard Limi, S.T., teman gereja saya menemukan ada 6 alasan inkonsistensi dalam hidup manusia:
1. Iman Kepercayaan yang Tidak Beres
Inkonsistensi paling mengerikan dan fatal terjadi karena adanya iman kepercayaan yang tidak beres. Saya mengatakan paling fatal, karena iman kepercayaan adalah jantung/inti dari hidup seseorang. Ketika iman seseorang berkontradiksi akibat tidak konsisten, maka dapat dipastikan cara berpikir, perkataan, dan sikapnya kacau (Jawa: amburadul). Mengapa iman kepercayaan seseorang bisa tidak konsisten? Karena iman tersebut dibangun di atas dasar pikiran manusia berdosa meskipun menggunakan nama “Tuhan” di dalamnya. Ketika iman seseorang dibangun di atas dasar pikiran manusia yang sendirinya berdosa dan tidak konsisten, maka tidak heran ajaran-ajaran dalam iman tersebut juga berkontradiksi satu sama lain. Ada ajaran yang mengatakan bahwa hidup ini penderitaan dan penderitaan itu disebabkan karena keinginan, maka kalau mau lepas dari penderitaan, seseorang harus meniadakan keinginan dan menggantinya dengan keinginan berbuat benar. Dari ajaran ini saja, kita menemukan kontradiksi fatal. Mengutip Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div. di dalam salah satu artikelnya mengatakan bahwa jika penderitaan itu dilepaskan dengan meniadakan keinginan, maka mengapa ajaran yang sama mengatakan bahwa perlunya keinginan untuk berbuat benar? Apakah berbuat benar itu tidak disertai keinginan? Kedua, yang lebih aneh, orang yang mengatakan bahwa penderitaan bisa dilepaskan dengan meniadakan keinginan pun dengan sendirinya memerlukan suatu keinginan untuk mengatakannya. Tidak heran, Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan satu pernyataan yang tajam bahwa semua agama, kepercayaan, filsafat, dll yang melawan Alkitab PASTI berkontradiksi dengan dirinya sendiri.

2. Karakter Kekanak-kanakan
Inkonsistensi juga bisa terjadi karena seseorang memiliki karakter kekanak-kanakan (childish). Orang yang childish adalah orang yang tidak dewasa dalam segala hal (iman, pikiran, perkataan, dan sikap), sehingga orang itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Tidak heran orang childish selalu beriman, berpikir, berkata, dan bersikap semaunya sendiri, sehingga banyak inkonsistensi yang terjadi di dalam pribadi orang ini. Hal ini tercermin dari apa yang dikatakan orang tersebut. Orang childish selalu plin-plan jika berkata sesuatu. Seperti yang telah saya paparkan di atas, hari ini, orang itu bisa berkata A, beberapa hari kemudian bisa berkata B, beberapa minggu kemudian bisa kembali berkata A, beberapa bulan kemudian kembali berkata B, beberapa tahun kemudian berkata C, dst. Mengapa demikian? Karena prinsipnya: emang gue pikirin (EGP). Paradigmanya adalah yang penting saya suka ngomong, masa bodoh dengan orang lain ngerti ato gak, masa bodoh apakah saya ngomongnya konsisten atau gak. Kalau ada cewek yang karakternya seperti ini, hai para cowok, berpikirlah dua kali untuk menjadikan si cewek tersebut pacar Anda, karena ini bisa sangat berbahaya kelak waktu kalian berpacaran dan menikah.

3. Proses: Situasi dan Kondisi
Selain itu, inkonsistensi juga bisa disebabkan karena proses waktu yang mencakup situasi dan kondisi. Penyebab inkonsistensi ini bisa bersifat positif maupun negatif. Penyebab inkonsistensi negatif ini berarti inkonsistensi yang terjadi berubah dari positif menjadi negatif. Contohnya bisa kita lihat langsung pada inkonsistensi Hawa. Hanya karena godaan iblis, Hawa tidak konsisten: dahulu mendengar apa yang difirmankan-Nya, setelah dicobai iblis, langsung mengikuti apa kemauan iblis. Adam pun bisa tidak konsisten (hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya). Penyebab inkonsistensi positif terjadi karena seseorang baru mengalami proses waktu yang sulit atau menerima informasi yang akhirnya mengubah cara pandang seseorang (ada unsur positif). Misalnya, seseorang bisa berkata A pada hari Senin, namun di hari Kamis, ia bisa berkata B, dikarenakan pada hari Kamis atau hari kemarin, Rabu, dia mengalami suatu situasi yang sulit, misalnya kecelakaan, dll. Atau mungkin juga pada bulan Juni, seseorang bisa memuji A, namun di bulan Juli/Agustus, orang yang sama bisa menghina A. Mengapa demikian? Karena di antara bulan Juni dan Juli/Agustus tersebut, orang tersebut menerima informasi tambahan tentang A yang membuat orang tersebut mengubah penilaiannya terhadap A. Informasi tersebut bisa didapat dari salah satu saudara atau teman dekatnya. Informasi tambahan tersebut tentu sangat berguna karena jika orang tersebut akhirnya berhubungan dengan A, maka orang tersebut harus berpikir panjang tentang pribadi A dan cara pikir si A, sehingga orang tersebut tidak tertipu oleh penampilan luar si A yang begitu manis.

4. Lupa
Inkonsistensi bisa juga terjadi karena seseorang itu lupa. Artinya, hari ini, A bisa berkata X dan beberapa hari kemudian A berkata Y, mengapa? Karena A ternyata orang yang pelupa akan apa yang telah dikatakannya, sehingga seolah-olah apa yang A katakana itu tidak konsisten, namun sebenarnya ia lupa. Kalau memang faktor ketidakkonsistenan ini karena lupa, ya kita harap maklum, asalkan lupa ini bukan dikambinghitamkan/dirasionalisasikan terus-menerus. Kepada pelupa, ya kita harus mengingatkan akan apa yang telah dikatakannya beberapa hari kemudian. Pelupa “sejati” adalah pelupa yang dengan rendah hati mengakui kelupaannya dan kemudian mencoba menyusun cara/perkataan baru. Namun yang terjadi justru sebaliknya, banyak pelupa ketika diingatkan akan apa yang telah dikatakannya beberapa hari yang lalu menjadi marah dan ngambek, yang lebih konyol lagi, ngotot bahwa apa yang telah dikatakannya sama dengan apa yang baru saja dikatakannya. Kalau kasusnya seperti ini, ya lain kali, orang lain yang mendengar perkataan si pelupa ini harus menyiapkan tape recorder untuk merekam setiap perkataan si pelupa, lalu kalau beberapa hari kemudian, si pelupa ini mengatakan sesuatu yang berlainan dengan apa yang telah dikatakannya, maka orang tersebut cukup memutar ulang hasil rekamannya tersebut.

5. Slip of Tongue
Faktor kelima mengapa seseorang tidak konsisten karena slip of tongue atau keselip lidah. Khusus faktor ini saya kaitkan dengan inkonsistensi dalam perkataan. Faktor ini bisa kita pahami jika memang sejujurnya seseorang tidak konsisten dalam berkata-kata adalah murni karena keselip lidah. Artinya, ia sebenarnya mau berkata B, namun ia tidak sengaja berkata A, sehingga ketika dicocokkan dengan perkataannya barusan (yang berkata B), ia seolah-olah tidak konsisten. Kalau masalah keselip lidah, ya harap dimaklumi, namun jangan dirasionalisasikan terus-menerus!

6. Kecewa
Mengutip perkataan Sdr. Richard Limi, S.T., faktor terakhir yang mengakibatkan seseorang tidak konsisten adalah kecewa. Pada suatu saat, A bisa mengidolakan X, namun beberapa saat kemudian, A akhirnya mengidolakan Y, ketika ditanya mengapa terjadi perubahan idola tersebut, A menjawab bahwa ia kecewa dengan X yang ternyata moralitasnya tidak karuan. Jika hal ini terjadi terus-menerus, maka lama-kelamaan ia frustasi dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa ia tidak akan mengidola siapa pun dan yang paling ekstrem, ia akan memuji-muji dirinya sendiri yang pantas diidolakan. Itulah kelemahan orang tidak konsisten karena kecewa.


Lalu, apa akibat dari orang yang tidak konsisten ini?
1. Orang Lain Bingung
Orang yang tidak konsisten pasti mengakibatkan orang lain yang berada di dekatnya akan bingung. Mengapa? Karena apa yang diimani, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukannya tidak bisa dipegang. Jika kita mengamati kasus demikian, maka saya menyarankan agar kita TIDAK termakan oleh tafsiran orang tersebut, lalu ikut-ikutan menyalahkan orang yang tidak konsisten. Adalah bijaksana jika kita menyelidiki secara tuntas faktor apa yang menyebabkan seseorang itu tidak konsisten, baru kemudian kita mengambil suatu penilaian. Jika memang faktor penyebab inkonsistensi adalah karena adanya proses waktu yang bersifat positif, maka kita tentunya harus menghargai, karena adanya informasi tambahan tersebut seiring berjalannya waktu mengakibatkan seseorang bisa mengubah penilaiannya terhadap A. Bagaimana

2. Orang Lain Tidak Akan Percaya Lagi
Orang yang pada awalnya bingung akan mengakibatkan dampak yang lebih fatal yaitu orang tersebut tidak akan percaya lagi akan apa yang diimani, dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan oleh orang yang tidak konsisten tersebut. Orang lain yang tidak percaya lagi ditandai dengan orang tersebut akan mengacuhkan apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak konsisten tersebut.


Orang yang tidak konsisten pasti membutuhkan penanganan/solusi untuk melepaskan diri dari inkonsistensi tersebut. Apa saja solusinya?
1. Cari Tahu Penyebab Inkonsistensi
Solusi pertama adalah JANGAN GEGABAH! Berusahalah untuk mencari tahu apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang tidak konsisten. Temukan salah satu/dua dari 6 faktor penyebab di atas. Jika penyebabnya adalah penyebab yang bisa ditolerir, seperti pelupa atau/dan slip of tongue, maka kita perlu memakluminya dan tidak perlu terlalu mempermasalahkannya. Namun jika penyebabnya fatal yaitu karena faktor iman kepercayaan yang tidak beres, maka kita harus menunjukkan letak inkonsistensi tersebut, supaya orang tersebut bisa sadar dan bertobat.

2. Pecahkan Masalah Penyebab Inkonsistensi Tersebut
Setelah mengetahui bahwa faktor penyebab inkonsistensi, maka kita perlu memecahkan masalah tersebut dengan menunjukkan di mana letak ketidakkonsistenan tersebut dan mencari solusinya. Di sini, ada unsur menunjukkan kesalahan dan mengajarkan kebenaran. Di dalam apologetika, cara ini bisa dipergunakan yaitu menunjukkan inkonsistensi ajaran lain dan menawarkan solusinya yaitu Alkitab, sehingga mereka yang salah perlu ditegur dan ditunjukkan jalan kebenaran. Adalah bijaksana jika ada orang yang sering tidak konsisten menyadari inkonsistensi kita, bertobat, dan kembali kepada Kristus.


Dari sejak Adam sampai sekarang, problematika inkonsistensi terus terjadi, yang menadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah tidak konsisten? Jawabannya pasti pernah. Nah, apa reaksi kita selanjutnya? Menyadari, mengakui, dan bertobat? Ataukah kita masih ngotot akan ketidakkonsistenan kita? Biarlah Roh Kudus mencerahkan hati dan pikiran kita untuk terus-menerus mengintrospeksi diri kita masing-masing. Amin. Soli Deo Gloria.