11 June 2010

MASA PDKT (Denny Teguh Sutandio)


MASA PDKT

oleh: Denny Teguh Sutandio





Pendahuluan
Masa pendekatan atau dalam bahasa gaul anak muda: PDKT (pedekate) adalah sebuah masa antara dari tahap persahabatan biasa menuju ke tahap yang lebih serius yaitu berpacaran. Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye (pada waktu menulis buku ini, beliau berusia 21 tahun) menyebut masa ini sebagai “Persahabatan yang lebih mendalam.”[1] Rev. Joshua E. Harris di dalam buku yang lain, yaitu Boy Meets Girl (Saat Cowok Ketemu Cewek): Menjalin Hubungan Lawan Jenis (buku yang beliau tulis sesudah I Kissed Dating Goodbye) menyebutnya, “Lebih dari Teman Biasa, Tapi Belum Jadi Kekasih.”[2] Ev. Djohan Kusnadi, M.Div. di dalam bukunya Berpacaran yang Sehat menyebutnya sebagai “Tahap Teman Dekat.”[3] Dengan kata lain, masa PDKT ini adalah masa sesudah kita telah berteman dengan sebanyak mungkin lawan jenis, namun masa ini belum bisa disebut sebagai masa/tahap berpacaran, karena belum ada komitmen jelas. Oleh sebab itu, saya menyebutnya sebagai masa antara dari persahabatan menuju ke berpacaran. Masa ini juga merupakan masa di mana masing-masing lawan jenis mengenal masing-masing pribadi (iman, karakter, perkataan, sikap, tingkah laku, dll) dan lingkungan sekitarnya baik dari sisi keluarga, teman, saudara, dll.


PDKT: Komitmen?
Di dalam masa PDKT, pertanyaan pertamanya, apakah kita sedang memasuki pra-komitmen sebelum berpacaran? Menurut Rev. Joshua E. Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye, “keintiman adalah upah dari komitmen.”[4] Namun di dalam halaman189-194, Rev. Joshua E. Harris menjabarkan bahwa di dalam persahabatan yang lebih mendalam pun, kita hendaknya tidak terlalu melibatkan emosi kita. Dari dua hal ini, saya menggabungkan prinsip bahwa tahap PDKT bukanlah tahap yang disertai komitmen, maka di dalam tahap ini:
Pertama, hindarilah keintiman sebagai puncaknya. Jangan mengejar keintiman sebelum waktunya, karena keintiman hanya milik orang yang sudah jadian dan paling puncak yaitu pada saat menikah. Tuhan menginginkan kesucian kita di dalam masa PDKT, bukan hanya secara fisik, namun secara motivasi, begitulah saran implisit yang saya tangkap dari Rev. Joshua E. Harris di dalam bukunya I Kissed Dating Goodbye. Istilah praktisnya, jangan memberikan seluruh hatimu tatkala kita sedang PDKT dengan lawan jenis, karena lawan jenis tersebut belum tentu menjadi pasangan hidup kita.

Kedua, hindarilah sikap saling “memiliki”. Memang ada beberapa cowok/cewek yang merasa “memiliki” lawan jenisnya tatkala masih dalam tahap PDKT. Sebenarnya hal itu kurang bagus, karena tahap PDKT masih tahap penjajagan sebelum akhirnya jadian. Nah, celakanya, ada cewek akan marah jika dia merasa “dimiliki” oleh seorang cowok, namun herannya cewek tersebut merasa telah “memiliki” si cowok, sehingga ada cewek yang curiganya amit-amit sampai-sampai menanyakan teman cowok dari cowok yang lagi deket sama dia. Bagi saya inilah sikap egois.

Ketiga, hindarilah sikap pengorbanan yang berlebihan. Cinta memang harus berkorban dan menurut Rev. Bill Hybels, D.D. di dalam bukunya Who You Are When No One’s Looking, ada 3 komoditi yang perlu dikorbankan di dalam kasih yaitu: waktu, energi, dan uang.[5] Namun, sekali lagi, karena tahap PDKT merupakan tahap yang belum dilandasi oleh suatu komitmen tertentu, maka hendaknya jangan terlalu banyak berkorban. Saya memiliki sebuah prinsip yang sudah, sedang, dan akan terus saya aplikasikan: when there is no commitment, there is no sacrifice (ketika tidak ada komitmen, tidak ada pengorbanan). Hal ini tidak berarti kita sebagai cowok tidak perlu berkorban terhadap lawan jenis kita, namun yang saya tekankan jangan terlalu banyak berkorban! Berkorban itu sah-sah saja dan itu menunjukkan kita “ada hati” atau perhatian ama cewek yang kita taksir, namun batasilah pengorbanan itu, jangan sampai kita para cowok diperbudak oleh para cewek, sehingga kita hanya dijadikan pembantu/sopirnya si cewek. Saya terus terang harus jujur di sini, banyak cewek postmodern hari-hari ini ahli “memelas” demi memanfaatkan cowok (apalagi cowok yang lagi PDKT ama cewek itu). Si cowok yang lagi PDKT dengan si cewek diperalat untuk dijadikan sopir gratis untuk mengantarkan si cewek ke mana saja si cewek mau, kemudian kalau si cewek bosen, si cewek akan menendang keluar si cowok dan beralih ke cowok lain yang lebih tajir dan bisa disuruh-suruh. Rev. Joshua E. Harris mengeluarkan suatu pernyataan yang mewakili apa yang saya bicarakan barusan, “Jika godaan terbesar bagi seorang pria adalah menjadi pasif, godaan terbesar bagi wanita adalah mengatur.”[6] Berkenaan dengan hal ini, Ev. Chang Khui Fa, M.Div. di dalam bukunya Garam dan Terang for Youth: Road to Transformation di dalam menjelaskan tentang pacaran berujar,
“Pacaran adalah persiapan untuk menemukan siapa sesungguhnya diriku dan diri pasangan. Pacaran merupakan sarana untuk mengenali pasangan menuju pernikahan.
Pacaran bukan kesempatan makan gratis, nonton hemat, free transportation karena ada tukang ojek atau supir taxi yang setia menunggu.
Hi gadis-gadis yang budiman, saat pacaran jangan memperalat kaum Adam.

Hi para pria! Andapun jangan mau dibodohi, apalagi diperalat kaum Hawa.”[7]

Terlepas dari tipe cewek yang suka memanfaatkan cowok atau tidak, hendaknya sebagai cowok, jangan terlalu berkorban terlalu banyak. Ambil contoh, ketika ingin membelikan hadiah bagi cewek yang kita taksir pada saat ultahnya, berpikirlah dua kali tentang harga dari hadiah itu. Jika barang yang akan kita belikan dan berikan kepada cewek itu sebagai hadiah harganya Rp 100.000, 00 bahkan lebih, hendaklah kita berpikir dua kali untuk itu. Ingat, cewek itu belum sah menjadi pacar kita! Kalau pun kita hendak membelikan dan memberikan sesuatu yang spesial bagi lawan jenis kita, pertimbangkan harganya terlebih dahulu, belilah barang-barang yang harganya di bawah Rp 100.000, 00 atau bahkan di bawah Rp 50.000, 00. Konsep ini bukan saya paparkan secara teori, namun sudah saya jalankan! Ingatlah, hidup kita tidak hanya difokuskan pada si cewek itu, si cewek itu hanya nomer kedua, setelah Tuhan. Jangan mau dibodohi dan dirayu oleh cewek yang kita taksir untuk membelikan barang-barang yang mahal bahkan sampai Rp 1.000.000, 00, trus setelah si cewek mendapatkan barang yang diinginkan, kita sebagai cowok ditendang keluar. Hal ini mirip seperti banyak orang “Kristen” kontemporer hari-hari ini yang hanya mau berkat Tuhan, namun tidak mau Pribadi Tuhan itu sendiri, akibatnya kalau dia bangkrut, imannya pun ikut bangkrut dan mulai mengutuki Tuhan seperti istri Ayub.


Tiga Macam Masa PDKT
Sebagai masa perkenalan, saya membagi masa PDKT ini menjadi 3 masa, yaitu: masa awal, masa tengah, dan masa akhir.

Pertama, masa awal PDKT dimulai ketika seorang cowok memutuskan untuk menaksir seorang cewek untuk nantinya menuju ke tahap yang lebih serius yaitu berpacaran dan akhirnya menikah. Di masa awal ini, adalah bijaksana jika seorang cowok bertanya kepada cewek yang ditaksirnya apakah si cewek sudah punya gebetan atau pacar. Jika memang belum, si cowok baru melancarkan serangan PDKT. Kalau si cewek sudah memiliki gebetan, itu terserah si cowok. Dulu saya pernah memiliki pengalaman hendak melancarkan PDKT kepada seorang cewek. Belum sampai 1 bulan, si cewek sudah jujur bahwa dia sudah punya calon pacar. Saya curhat ama teman Kristen (cewek) dari GKRI Exodus, Surabaya dan teman saya ini menasihati saya bahwa jika cewek yang saya taksir ini benar-benar layak diperjuangkan/dikejar, ya kejar saja, jika tidak layak, ya gak usah dikejar. Dari situ, seolah-olah Tuhan membuka pikiran saya dan kemudian saya akhirnya mengurungkan niat mendekati cewek itu. Dan puji Tuhan, setelah mengetahui sifat asli si cewek itu, saya tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan karena tidak mendekati (dan jadian dengan) si cewek yang gak layak dikejar. Mengapa saya mengatakan bahwa cowok lebih baik bertanya tentang status si cewek? Hal tersebut penting, agar kita tidak membuang-buang waktu, biaya, tenaga percuma untuk mendekati cewek yang sudah punya gebetan ataupun pacar. Sebelum masa PDKT inipun, seharusnya seorang cowok harus menggumulkan cewek yang dia taksir apakah itu sesuai dengan kehendak-Nya atau bukan. Masa ini terjadi maksimal 1 bulan. Di masa ini, biasanya seorang cowok dan cewek yang sedang membina sebuah hubungan lawan jenis hanya akan menampilkan sisi positifnya saja (terutama banyak cewek yang ahli bermuka dua dengan “alasan” agar tidak melukai orang lain), sehingga adalah bijaksana jika seorang cowok tidak perlu terlalu cepat “menembak” cewek yang ditaksirnya. Di masa awal ini, seorang cowok dan cewek pun diwajibkan berdoa untuk menggumulkan benarkah mereka dikehendaki Tuhan untuk bersatu selamanya. Selain doa, cowok dan cewek harus berkonsultasi dengan orangtua dan beberapa saudara seiman mereka yang cukup dewasa rohani untuk meminta nasihat (namun, keputusan terakhir tetap harus diambil oleh cowok dan cewek yang membina hubungan tersebut!).[8] Orangtua dan saudara seiman ini diharapkan memberikan nasihat yang bermutu, dewasa, dan bertanggungjawab.

Kedua, masa tengah PDKT. Masa tengah ini biasanya terjadi antara 1-3 bulan. Di dalam masa ini, biasanya antara cowok dan cewek yang lagi berhubungan agak sedikit terbuka dan mulai dech hal-hal negatif masing-masing kelihatan. Di dalam masa ini, cowok dan cewek diharapkan kembali bergumul di hadapan Tuhan, benarkah mereka layak bersatu di dalam Tuhan? Pada masa ini juga, biasanya si cewek akan memberikan “sinyal” apakah dia menerima cinta si cowok atau tidak. Jika si cewek memang menerima cinta si cowok, maka cowok dan cewek ini harus berusaha saling melengkapi satu sama lain (dengan catatan: cowok dan cewek ini bukan orang yang keras kepala yang sok tahu dan mau menang sendiri). Selain saling melengkapi, mereka harus saling mengerti. Jika ada perkataan si cowok yang kurang bisa dimengerti, si cewek harus bertanya apa maksud perkataan si cowok itu (dengan catatan: perkataan cowok ini memang kurang jelas atau ambigu). Begitu juga sebaliknya. Jangan asal main tafsir semaunya sendiri, apalagi memfitnah tanpa bukti yang valid. Kalau dari sisi ini saja, si cewek/cowok main tafsir semaunya sendiri akan apa yang dimaksud oleh lawan jenisnya, ya, bergumullah, apakah lawan jenisnya ini benar-benar pasangan hidup yang cocok? Mengapa? Karena dari sisi komunikasi saja, mereka tidak nyambung (bahasa kerennya: lemot alias lola {loading lambat}).

Ketiga, masa akhir PDKT. Masa akhir ini biasanya terjadi lebih dari 3 bulan. Di dalam masa ini, biasanya cowok dan cewek lebih terbuka dari masa tengah PDKT itu, karena masing-masing bukan hanya saling mengerti sisi positif dan negatif, namun bisa saling mengerti dan melengkapi.


Komunikasi dalam PDKT
Di dalam PDKT, yang penting untuk diperhatikan adalah komunikasi. Perbanyaklah komunikasi dengan lawan jenis Anda baik melalui sms, telepon, maupun bertemu langsung. Saran saya adalah perbanyaklah komunikasi langsung (bertatap muka). Dengan berkomunikasi langsung dengan lawan jenis, kita akan mengerti prinsip, iman, karakter, sikap, perkataan, dan tingkah lakunya. Dari prinsip, iman, karakter, dll, kita bisa mempertimbangkan apakah lawan jenis kita layak kita jadikan pacar dan bahkan suatu hari kelak istri/suami kita. Lalu, apa yang perlu dibicarakan di dalam komunikasi tersebut?

Pertama, rohani. Hal-hal rohani dan tentang iman harus dibicarakan di dalam komunikasi pada saat PDKT. Orang Kristen hari-hari ini kalau PDKT dengan lawan jenisnya selalu menghindari hal-hal rohani dari pembicaraan dan menggantikannya dengan hal-hal remeh, padahal hal rohani adalah hal yang terpenting yang harus dibicarakan, karena ini akan menentukan tahap kita selanjutnya di dalam berpacaran dan akhirnya menikah. Namun, jangan lebay plis. Saya mengatakan hal-hal rohani harus dibicarakan, namun TIDAK berarti saya mengatakan hal-hal rohani selalu menjadi topik pembicaraan setiap kali ketemu dengan lawan jenis. Hal-hal rohani tetap penting dibicarakan, namun intensitasnya jangan terlalu sering, karena hidup kita bukan hidup yang hanya dikelilingi oleh kerohanian saja, namun juga ada hal-hal lain yang perlu dibicarakan di dalam komunikasi saat PDKT tersebut, misalnya prinsip hidup, karakter, cara berpikir, dan tentunya hal-hal yang fun (misalnya: hobi, makanan favorit, kebiasaan sehari-hari, dll – jangan terlalu membicarakan hal-hal serius, kita perlu juga membicarakan hal-hal yang fun, supaya lawan jenis kita tidak stres), dll.

Kedua, prinsip dan gaya hidup. Selain hal-hal rohani, pertimbangkan unsur prinsip dan gaya hidup untuk kita bicarakan dalam komunikasi kita. Apakah lawan jenis kita termasuk orang yang pelit atau bahkan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting atau paradoks/seimbang, yaitu bisa mengatur keuangan dengan bijaksana. Pertimbangkan juga pengaruh keluarga terhadap lawan jenis kita. Apakah orangtua terlalu ikut mencampuri anaknya sehingga prinsip orangtua harus ditaati mutlak oleh anaknya tanpa diskusi logis lebih lanjut ataukah orangtua masih rendah hati berdiskusi dengan anaknya? Mengapa saya memasukkan pengaruh keluarga ini? Karena pengaruh keluarga pasti mempengaruhi prinsip dan gaya hidup lawan jenis kita. Jika orangtua terlalu mencampuri (prinsip) anaknya, maka biasanya (tidak semua sih) si anak akan taat mutlak (tanpa berpikir panjang) untuk menyerahkan prinsip hidupnya untuk dikendalikan oleh orangtuanya. Yang lebih celaka, jika hal ini terus dibawa sampai ke jenjang pernikahan, maka si cowok/cewek harus menanggung akibatnya karena lawan jenisnya akan terus taat mutlak kepada orangtuanya dan bukan pada suaminya. Saya mendengar cerita dari saudara sepupu saya (cewek) yang menikah dengan seorang cowok. Karena mama cewek ini terlalu ikut campur dan matre, maka si mama langsung menyetujui anaknya menikah dengan seorang cowok yang katanya memiliki toko di luar kota. Namun, ketika sepupu saya dan tentunya mamanya yang matre ini melihat sendiri bahwa toko yang dipunyai si cowok ini adalah toko kecil, maka si mama berubah pikiran. Sepupu saya ini diracuni supaya bercerai dari si cowok ini (padahal pernikahan ini berjalan belum 1 tahun). Kemudian si cowok ini bertanya kepada sepupu saya, “Jika aq dan mamamu bertengkar, siapa yang kamu bela?” Anda akan kaget mendengar jawaban sepupu saya, “Ya, tentu mamaku lha ko, soale aq deket ama mamaku sudah lebih dari 20 tahun, sedangkan ama kamu belum 1 tahun.” Kalau masih nempel dengan mamanya, pertanyaan saya, ngapain menikah? Cape dech, heheheJ

Ketiga, cara berpikir dan mengambil keputusan. Hal selanjutnya yang perlu kita perhatikan dalam komunikasi yaitu cara lawan jenis kita berpikir dan mengambil keputusan. Ketika ada masalah/hal tertentu yang menuntut pengambilan keputusan, perhatikanlah cara pikir lawan jenis kita dan tentunya gimana sikapnya dalam mengambil keputusan. Cara berpikir menyangkut daya nalar lawan jenis kita. Apakah dia seorang yang bijaksana (bukan hanya sekadar pandai dan akademis) dan berpikir panjang? Ataukah dia seorang yang pikirannya sempit? Selain cara berpikir, perhatikanlah sikap lawan jenis kita dalam mengambil keputusan. Apakah dia gegabah dalam mengambil keputusan atau bertanya terlebih dahulu kepada kita (dan orangtua dan saudara seiman lain yang dewasa rohani dan bijaksana) untuk nantinya dicarikan solusinya bersama ataukah dia hanya bertanya kepada kita untuk mendapat persetujuan dari kita saja (sedangkan kalau kita tidak setuju, dia tetap menuruti kemauannya sendiri)? Kalau lawan jenis kita hanya memanfaatkan kita melalui pertanyaan yang dia ajukan, hendaklah kita berhati-hati untuk mempertimbangkan lawan jenis kita untuk menjadi pasangan hidup kita, karena jelas sekali orang itu berbahaya dan bukan tidak mungkin setelah kita pacaran dan menikah dengan orang model demikian, kita sebagai cowok dengan mudah dimanfaatkan oleh lawan jenis kita dalam segala hal. Waspadalah… Waspadalah…

Keempat, hal-hal yang fun. Terakhir, kita juga perlu lho membicarakan hal-hal yang fun. Saya terus terang “takut” dengan beberapa pemuda Kristen apalagi yang gemar membaca buku-buku theologi yang berat sekelas Dr. Louis Berkhof, Dr. Cornelius Van Til, Dr. Ronald H. Nash, Dr. Carl F. H. Henry, Dr. John M. Frame, dll dan juga buku-buku filsafat sekelas Rene Descartes, Immanuel Kant, F. Nietzsche, dll. Mengapa? Karena orang-orang ini terlalu banyak membaca buku-buku theologi dan filsafat, akibatnya di dalam PDKT pun, yang dibicarakan berkutat hal-hal seputar theologi dan filsafat. Misalnya, si cewek curhat ama si cowok kutu buku ini bahwa dia sedang ragu dalam mengambil keputusan, nah, biasanya si cowok kutu buku ini langsung menjawab, “Kamu ini diracuni oleh skeptisisme, itu bahaya. Skeptisisme itu salah dan melawan Alkitab.” Bla bla bla… Yang dibutuhkan si cewek bukan jawaban filsafat yang njelimetisasi seperti itu, yang cewek butuhkan hanya telinga yang mau mendengar (boleh saja sih kalau kita sebagai cowok memberi sedikit masukan). Jika Anda termasuk salah satu cowok seperti ini, segera bertobatlah, sebelum Anda mendapati fakta bahwa diri Anda gagal terus mendekati seorang cewek, heheheJ Kembali, selain tentang hal-hal rohani, prinsip hidup, cara berpikir dan mengambil keputusan, kita tetap perlu membicarakan hal-hal yang “remeh”, seperti makanan favorit, hobi, lagu favorit, genre film favorit, hobi, dan kebiasaan sehari-hari lawan jenis kita. Dengan membicarakan hal-hal tersebut, kita bisa mengetahui apa yang lawan jenis kita sukai dan kita bisa belikan dan berikan pada saat dia ulang tahun atau pada saat acara khusus, misalnya Natal, Imlek, Tahun Baru, dll.


PDKT dan Waktu yang Tepat untuk “Menembak” Lawan Jenis
Lalu, pertanyaan terakhir, kapankah seorang cowok harus “menembak” cewek yang ditaksirnya? Tidak ada aturan baku untuk itu, yang jelas jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lama. Jika hanya dalam waktu beberapa minggu, si cowok langsung “menembak” cewek yang ditaksirnya, maka itu berakibat kurang bagus. Jika memang cewek yang di“tembak”nya itu bener-bener baik dan rohani ya puji Tuhan, namun kalau si cewek yang di“tembak”nya keras kepala, parah, matre, dll, ya apesnya si cowok. Jika sudah hampir setahun, si cowok baru “menembak” cewek yang ditaksirnya, biasanya si cewek akan menganggap si cowok ini hanya mau berteman dengan dia saja, sehingga pupus sudah harapan si cowok. Meskipun hasilnya gagal, dahulu, jangka waktu terlama yang saya butuhkan untuk “menembak” seorang cewek 3-4 bulan. Jangka waktu ini juga merupakan waktu Tuhan membentuk dan memproses kita di dalam menjalin hubungan lawan jenis.


Kesimpulan
Akhir kata, masa PDKT adalah masa antara yang perlu kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tatkala lawan jenis yang kita dekati itu bertanggungjawab, lanjutkanlah hubungan kita dengannya, namun jika tidak beres, segera tinggalkan dia, sebelum hubungan kita dengannya terlalu jauh. Biarlah Tuhan memimpin kita (dan tentunya saya) untuk menemukan pasangan hidup yang tepat yang cinta Tuhan, takut akan Tuhan, jujur, rendah hati, mencintai kita, dan mencintai keluarga kita. Amin. Soli Deo Gloria.






Catatan Kaki:
[1] Joshua Harris, I Kissed Dating Goodbye, terj. Claudia Kristanti (Jakarta: Immanuel, 2010), hlm. 187
[2] Joshua Harris, Boy Meets Girl (Saat Cowok Ketemu Cewek): Menjalin Hubungan Lawan Jenis, terj. Samuel E. Tandei (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2007), hlm. 81-97.
[3] Djohan Kusnadi, Berpacaran yang Sehat (Jakarta: Metanoia, 2006), hlm. 50.
[4] Joshua Harris, I Kissed Dating Goodbye, …, hlm. 22.
[5] Bill Hybels, Who You Are When No One’s Looking: Memilih Ketetapan Hati, Menolak Kompromi, terj. Dwi Maria Handayani (Jakarta: Metanoia, 2008), hlm. 95
[6] Joshua Harris, Boy Meets Girl, …, hlm. 132.
[7] Chang Khui Fa, Garam dan Terang for Youth: Road to Transformation (Bandung: Pionir Jaya, 2010), hlm. 81.
[8] Sebuah saran bijak dikemukakan oleh Rev. Joshua Eugene Harris di dalam bukunya Boy Meets Girl, “Masa menjalin hubungan jangan sampai terlepas dari keterlibatan orang lain, tapi jangan sampai ditentukan atau dimanipulasi orang lain pula. Sikap yang alkitabiah adalah sikap yang dengan rendah hati, rela meminta pertolongan orang lain. Tapi ini bukan berarti kita harus bergantung kepada orang lain dalam mengambil keputusan tentang siapa dan kapan kita menikah. Oleh sebab itu, tidak ada satu orang pun – apakah itu orangtua, pendeta, teman – yang dapat mengambilkan keputusan bagi kita. Nasihat mereka perlu menjadi masukan, namun kitalah yang harus mendengarkan Tuhan dan beriman dalam mengambil keputusan menikah.” (hlm. 159)

03 June 2010

Eksposisi 1 Korintus 6:15-20 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:15-20

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:15-20



Dalam bagian sebelumnya (6:12-14) kita sudah membahas bahwa Paulus mengoreksi kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14). Sekarang kita akan melihat argumen Paulus bagi pendapatnya di bagian tersebut. Argumen ini mencakup tiga hal yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris, “tidak tahukah kamu...” (ay. 15, 16, 19). Argumen Paulus adalah sebagai berikut: (1) tubuh orang percaya adalah anggota Kristus (ay. 15); (2) orang percaya sudah disatukan secara rohani dengan Kristus (ay. 16-18); (3) tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus (ay. 19-20).

Dari pertanyaan retoris yang diberikan terlihat bahwa jemaat Korintus sebenarnya sudah pernah mengetahui kebenaran yang disampaikan Paulus. Mereka mungkin melupakan hal itu atau mereka bahkan sengaja tidak mau tahu dengan hal itu serta mendirikan kebenaran mereka sendiri. Manapun yang benar, Paulus merasa tetap perlu untuk memberitakan kebenaran tersebut.


Tubuh Orang Percaya Adalah Anggota Kristus (ay. 15)
Argumen pertama yang diberikan Paulus adalah tubuh orang percaya sebagai anggota Kristus. Apakah arti dari ungkapan “tubuh kita adalah anggota Kristus” di sini? Sebagian penafsir beranggapan bahwa ungkapan ini memiliki makna yang sama dengan konsep tubuh Kristus di 1 Korintus 12:12-26. Walaupun pendapat ini cukup populer, namun kita sebaiknya menolak ini. Penelitian yang teliti menunjukkan bahwa konsep “tubuh kita adalah anggota Kristus” di 6:15 berbeda dengan konsep “kita adalah tubuh Kristus” di 12:12-26: (1) pasal 6:15 berbicara tentang relasi antara kita dan Kristus (vertikal), sedangkan 12:12-26 lebih menyoroti relasi kita dengan sesama orang percaya (horizontal); (2) yang menjadi anggota Kristus di 6:15 adalah tubuh kita, sedangkan 12:12-26 mengajarkan bahwa seluruh hidup kita bersama dengan orang percaya lain adalah tubuh Kristus; (3) pasal 6:15 membicarakan tentang tubuh kita sebagai anggota Kristus (individual), sedangkan 12:12-26 tentang seluruh anggota jemaat sebagai tubuh Kristus (komunal).

Ungkapan “tubuh kita sebagai anggota Kristus” harus dipahami sesuai konteks pasal 6:12-20. Konsep ini sangat berkaitan dengan ajaran tentang kebangkitan. Dalam kebangkitan, tubuh kita dipersatukan dengan tubuh Kristus, sehingga kebangkitan-Nya juga menjadi dasar dari kebangkitan kita (6:14; Rm. 6:3-6). Karena tubuh kita sudah disatukan dengan tubuh-Nya, maka tubuh kita adalah bagian dari tubuh-Nya. Tubuh kita adalah untuk Dia dan Dia untuk tubuh (6:13).
Jika tubuh kita adalah anggota Kristus, akan kita mengambilnya dan menyerahkannya kepada pelacur (ay. 15b)? Kata “mengambil” (airō) memiliki arti yang lebih dari sekadar mengambil biasa (kontra KJV/NIV/RSV). Kata ini bermakna mengambil secara total (ASV/NASB “take away”). Jika Paulus memikirkan tindakan mengambil yang biasa, maka dia pasti akan memakai kata lambanō. Penggunaan kata airō di sini berfungsi untuk menunjukkan bahwa jemaat Korintus bukan sekadar jatuh ke dalam perzinahan, tetapi terus-menerus hidup dalam dosa itu. Mereka tidak memandang tindakan perzinahan ini sebagai dosa yang serius (bdk. 6:12-13).

Kata “menyerahkan kepada pelacur” (LAI:TB) merupakan terjemahan yang kurang pas. Sesuai dengan kalimat Yunani yang dipakai (poieō pornēs melē), frase ini secara hurufiah berarti “menjadikan anggota pelacur” (KJV/ASV/RSV/NASB). Apa arti dari ungkapan ini? Penerjemah NIV memberikan penafsiran yang tepat untuk memahami ugkapan di atas, yaitu “menyatukannya dengan pelacur” (unite them with a prostitute). Sebagaimana tubuh kita sebagai anggota Kristus berarti bahwa tubuh kita disatukan dengan tubuh Kristus, maka menjadikan tubuh kita sebagai anggota pelacur juga berarti bahwa tubuh kita disatukan dengan tubuhnya. Dua hal ini jelas tidak mungkin bisa berjalan bersamaan.

Jawaban “sekali-kali tidak” (mh genoito) merupakan fenomena umum dalam gaya bahasa diatribe (dialog imajiner pada masa kuno). Seruan ini berguna untuk memberi penekanan. Versi Inggris kuno memakai “God forbid!” (KJV/ASV), sedangkan yang lebih modern memakai “never” RSV/NASB/NIV). Dalam hal ini penerjemah LAI:TB dengan tepat memilih “sekali-kali tidak!”. Bukan sekadar “tidak”, tetapi “sama sekali tidak”.


Orang Percaya Sudah Disatukan Secara Rohani Dengan Kristus (ay. 16-18)
Kalau ayat 15 hanya menyoroti tentang kesatuan tubuh, maka ayat 16-18 membahas tentang kesatuan yang lebih luas. Kesatuan kita dengan Kristus adalah kesatuan rohani yang mencakup seluruh hidup kita. Demikian pula kesatuan fisik dengan pelacur mencakup kesatuan yang lebih serius daripada sekadar kontak fisik.

Di ayat 16a Paulus mengingatkan (pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu?” menyirakan bahwa mereka sebenarnya sudah tahu) bahwa siapa yang mengikatkan diri (kollōmenos) dengan pelacur menjadi satu tubuh dengan dia. Kata kollaomai di bagian ini harus dipahami lebih dari sekadar bersetubuh atau kontak seksual secara fisik: (1) ayat 16b menyejajarkan kesatuan yang terbentuk dari perzinahan dengan kesatuan dalam pernikahan (bdk. Kej 2:24); (2) jika “satu tubuh” hanya sekadar berarti “bersetubuh”, maka pertanyaan di ayat 16a (“tidak tahukah...mengikat diri...menjadi satu tubuh?”) menjadi tidak berguna sama sekali; bukankah perzinahan identik dengan bersetubuh?; (3) di ayat 17 kesatuan tubuh di sini disejajarkan dengan kesatuan roh dengan Tuhan; (4) dalam bagian PB lain kata kollaomai juga dipakai untuk kesatuan antara suami-istri (Mat. 19:5); (5) di luar konteks pernikahan, kata kollaomai juga dipakai untuk merujuk pada suatu ikatan, misalnya ikatan kerja (Luk. 15:15). Sesuai penjelasan ini kita dapat menyimpulkan bahwa terjemahan LAI:TB “mengikat dirinya” merupakan pilihan yang tepat, lebih tepat dari sekadar “menggabungkan” (ASV/KJV/RSV/NASB “join”).

Di bagian ini Paulus tidak lagi menyebut “seorang pelacur” (bdk. ayat 15), tetapi ia memakai artikel di depan kata pelacur (The Darby Bible “the prostitute”, kontra mayoritas versi Inggris). Penambahan artikel ini menyiratkan bahwa prinsip yang diajarkan bukan hanya berlaku untuk pelacur tertentu, tetapi semua pelacur. Penambahan artikel ini merujuk pada suatu kelas masyarakat, bukan suatu individu tertentu. Jadi, pelacuran jenis apa pun – entah pelacur bakti dalam agama misteri atau pelacur komersial – tetap menciptakan “satu tubuh”.

Mengapa persetubuhan dengan pelacur membuat orang percaya menjadi satu tubuh dengan dia? Di ayat 16b Paulus mengutip Kejadian 2:24, suatu teks dalam konteks pernikahan (Adam dan Hawa). Yesus pun pernah mengutip teks ini untuk menekankan bahwa kesatuan yang terbentuk tidak dapat dipisahkan oleh manusia (Mat. 19:5-6). Kesatuan ini jelas sangat mengikat, lebih dari sekadar kontak fisik. Di 1 Korintus 7 Paulus juga membahas tentang kesatuan yang mendalam dari hubungan suami-istri: (1) menjadi satu tubuh berarti saling menguasai tubuh masing-masing (7:4); (2) dalam pernikahan salah satu pasangan memberikan pengaruh pada yang lain (7:12-16). Bagian Alkitab yang lain juga menceritakan bagaimana istri-istri Salomo telah membuat hatinya berpaut kepada mereka (1Kor. 11:2b). Semua penjelasan ini menunjukkan bahwa dalam hubungan seksual tercipta kesatuan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar kontak fisik, entah hubungan seksual ini dilakukan dengan pasangan yang sah atau orang lain.

Di ayat 17 Paulus menjelaskan mengapa orang percaya tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur, yaitu karena mereka sudah diikatkan (kollaomai) dengan Tuhan. Mereka menjadi satu roh dengan Dia. Dalam bagian sebelumnya kita sudah membahas bahwa kollaomai menyirakan unsur keterikatan atau kesatuan. Sekarang kita akan melihat bahwa kata ini juga sering dipakai untuk ikatan dengan hal-hal yang rohani. Dalam Ulangan 10:20 (LXX) kata ini dipakai untuk berpaut (kollaomai) kepada Tuhan. Hizkia juga disebut sebagai orang yang berpaut (kollaomai) kepada TUHAN (2Raj. 18:6).

Kesatuan rohani di atas tercipta karena Yesus dan Roh Kudus berdiam di dalam kita (Rm. 8:10-11). Yesus hidup di dalam kita (Gal. 2:20). Kita menjadi satu dengan kematian dan kebangkitan-Nya (6:14; bdk. Rm. 6:3-6; Flp. 3:10). Kesatuan yang telah diperoleh dengan harga yang mahal ini tidak mungkin kita batalkan untuk mencari kesatuan yang lain dengan pelacur. Apakah kita mau membuang sesuatu yang begitu mulia untuk mendapatkan sesuatu yang begitu rendah? Apakah kita bisa memiliki dua kesatuan – dengan pelacur dan Tuhan – pada waktu yang bersamaan? Bukankah hal ini mustahil?

Mengingat dosa percabulan berpotensi menciptakan kesatuan yang serius dengan pelacur (ay. 16) dan merusak kesatuan yang indah bersama Kristus (ay. 17), maka kita harus menjauhi hal itu (ay. 18a). Kata “menjauhi” (pheugō) muncul 29 kali dalam PB dan sering kali berarti “melarikan diri” (Mat. 2:13; 10:23; 23:33; 24:16; Kis. 7:29; 27:30). Dari tense present yang dipakai kita tahu bahwa perintah ini harus dilakukan terus-menerus. Pemakaian kata yang tegas dan tense present dalam bagian ini menyiratkan bahwa dibutuhkan usaha yang ekstra keras untuk terbebas dari dosa perzinahan. Jika usaha kita hanya setengah-setengah atau pada waktu tertentu saja maka kita pasti akan kalah lagi dengan dosa ini.

Di ayat 18b Paulus selanjutnya mengajarkan tentang keunikan (baca: keseriusan) dosa perzinahan. Dosa ini adalah satu-satunya yang dilakukan di dalam diri kita dan terhadap diri kita. Apa maksudnya? Pertama-tama kita perlu mengetahui bahwa terjemahan “diri” (LAI:TB) tidak tepat. Kata swma seharusnya diterjemahkan “tubuh”. Berikutnya, pernyataan Paulus di ayat 18b harus dipahami dalam kaitan dengan pembahasan sebelumnya. Tubuh kita sudah disatukan dengan tubuh Kristus di kayu salib (ay. 15), sehingga dosa perzinahan yang berpotensi menciptakan kesatuan lain (ay. 16-17) merupakan dosa terhadap tubuh kita yang sudah disatukan tersebut (ay. 18b). Dosa lain tidak langsung berkaitan dengan kesatuan tubuh ini, sekalipun dosa-dosa itu mungkin dilakukan dengan menggunakan tubuh atau berpnegaruh buruk terhadap tubuh. Sebagai contoh, dosa kemabukan memang dilakukan untuk kepentingan tubuh dan dapat merusak tubuh, namun dosa ini tidak berkaitan secara langsung dengan kesatuan tubuh di dalam Kristus. Kemabukan tidak menciptakan kesatuan tubuh dengan alkohol (sekalipun menimbulkan kecanduan, tetapi tetap bukan kesatuan tubuh seperti yang tercipta dengan pelacur).


Tubuh Orang Percaya Adalah Bait Roh Kudus (ay. 19-20)
Konsep tentang “bait Roh Kudus” di ayat 19 berbeda dengan konsep di 3:16. Di sini yang menjadi bait Roh Kudus adalah tubuh orang percaya, sedangkan di 3:16 bait Roh Kudus merujuk pada seluruh orang percaya sebagai suatu komunitas. Yang satu secara indidvidual, yang satunya lain secara komunal.

Tubuh kita disebut sebagai bait Roh Kudus karena Dia tinggal di dalam kita (ay. 19). Bagi orang Yahudi yang ibadahnya terfokus pada bait Allah atau orang-orang Korintus yang terbiasa dengan berbagai macam kuil, pernyataan Paulus di sini merupakan sesuatu yang cukup mengagetkan. Orang Yahudi membutuhkan berpuluh-puluh tahun untuk mendirikan bait Allah agar Allah mau berdiam di tengah mereka (Yoh. 2:20). Orang Korintus berlomba membangun kuil dan mengadakan berbagai ritual supaya dewa mereka hadir di tempattempat itu. Semua ini berbeda dengan konsep Kekristenan. Kita menyembah Allah di dalam roh, yang berarti penyembahan kita tidak dibatasi oleh tempat (Yoh. 4:21-24). Allah tidak mungkin dibatasi oleh suatu bait atau kuil tertentu (bdk. Kis. 17:24). Di mana Allah diam, di situlah rumah-Nya. Yang luar biasa, Allah memilih untuk berdiam di dalam tubuh (diri) kita. Kalau Dia begitu menghargai tubuh kita dan menjadikannya sebagai rumah-Nya, apakah pantas kalau kita justru tidak menghargai tubuh kita dan menajiskannya?

Bagian selanjutnya dari ayat 19 menekankan bahwa Roh Kudus ini kita terima (lit. “miliki”) dari Allah. Kita tidak mengupayakan hal ini. Allah yang memberikan bagi kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin memahami berita injil (2:10-11) dan kita juga tidak akan dibangkitkan bersama dengan Kristus (6:12; Rm. 8:11). Ini semua menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita adalah semata-mata anugerah Allah bagi kita. Apakah kita akan menganggap remeh anugerah ini?

Di bagian akhir ayat 19 Paulus menjelaskan konsekuensi dari kehadiran Roh Kudus dalam diri kita. Kehadiran ini menyiratkan perubahan status kepemilikan. Kalau Allah di dalam kita, maka kita bukan milik kita lagi. Sama seperti bait Allah di Yerusalem adalah milik Allah (sekalipun orang-orang Yahudi yang membangunnya), demikian pula dengan tubuh kita. Tubuh kita sudah dipersatukan dengan tubuh Kristus melalui karya Roh Kudus, sehingga tubuh itu bukan lagi menjadi milik kita. Tubuh kita sudah kita persembahkan kepada Dia (Rm. 12:1).

Untuk memperjelas poin di atas Paulus selanjutnya menjelaskan konsep penebusan di ayat 20a. Ide tentang “membeli” (agorazō) dan “harga” (timē) secara eksplisit merujuk pada budaya pasar budak kuno. Seorang budak yang dibeli oleh orang lain, dia akan menjadi milik pembeli itu. Dia bebas dari tuan yang lama, tetapi pada saat yang sama dia terikat dengan yang lainnya. 1 Korintus 7:22-23 menyinggung tentang hal ini. Kita memiliki kebebasan dan keterikatan sekaligus. Allah telah membeli tubuh kita dengan harga yang mahal (1Ptr. 1:19), dengan demikian tubuh kita menjadi milik Dia.

Jika tubuh kita adalah miliknya (ay. 19c-20a), maka tidak berlebihan jika kita harus memuliakan Dia dengan tubuh kita (ay. 20b). Ada sedikit permainan kata yang dipakai Paulus di sini. Kata “harga” (timē, ayat 20a) sebenarnya juga bisa memiliki makna kehormatan atau kemuliaan (bdk. Ibr 5:4). Karena kita sudah dibeli dengan kehormatan tertentu (timē), maka kita pun sudah selayaknya memberi kehormatan (doxazō) kepada Dia yang sudah membeli kita. Memuliakan Allah dengan tubuh dalam konteks ini memang lebih berkaitan dengan penggunaan tubuh untuk kekudusan (bdk. 6:12-20; Rm. 6:12-13), namun aplikasi dari perintah ini sangat luas. Kita harus menggunakan hidup dan tenaga kita untuk melayani Dia.

Dari sisi budaya Yunani waktu itu, penebusan tubuh (ay. 20a) dan penggunaannya untuk memuliakan Allah (ay. 20b) merupakan sesuatu yang unik. Dualisme Yunani cenderung melihat tubuh (materi) secara negatif. Tubuh adalah penjara dari jiwa dan harus selalu kita jauhi. Bahkan keselamatan sejati menurut mereka adalah keterlepasan dari tubuh. Dalam Kekristenan, tubuh dan roh/jiwa sama pentingnya. Keduanya saling berkaitan. Kita disatukan dengan Kristus secara tubuh (ay. 15) maupun roh (ay. 17). Keduanya sama-sama berharga di mata Allah. Mari kita menghargai tubuh kita sebagaimana Allah sudah menghargainya. Soli Deo Gloria. #





Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 25 Januari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2006%20ayat%2015-20.pdf

30 May 2010

Eksposisi 1 Korintus 6:12-14 (Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.)

EKSPOSISI 1 KORINTUS 6:12-14

oleh: Ev. Yakub Tri Handoko, Th.M.



Nats: 1 Korintus 6:12-14




1 Korintus 6:12-20 membahas tentang suatu topik yang baru, yaitu perzinahan dengan pelacur (6:16). Pembacaan yang teliti menunjukkan bahwa kesalahan jemaat Korintus bukan hanya terletak pada tindakan perzinahan tersebut, tetapi juga pada konsep theologis yang salah yang mendorong mereka melakukan hal itu. Mereka menganggap bahwa tindakan itu bukanlah suatu hal yang mempengaruhi kerohanian. Anggapan seperti ini bersumber dari konsep mereka tentang kebebasan Kristiani (6:12) dan tubuh (6:13-14) yang salah. Sama seperti kasus percabulan dengan ibu istri yang justru dibanggakan oleh mereka (5:1-2), kasus perzinahan dengan pelacur pun tidak membuat mereka malu. Mereka bahkan memiliki berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan ini.

Terhadap persoalan ini Paulus mula-mula mengoreksi konsep telogis mereka yang salah tentang kebebasan Kristiani dan tubuh (6:12-14). Menurut Paulus, kebebasan di dalam Kristus tidak berarti perijinan atau hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita kehendaki. Kebebasan ini harus memperhatikan dua hal: apakah orang lain mendapat keuntungan atau dibangun melalui tindakan kita (6:12a)? apakah kebebasan itu justru memperbudak kita (ay. 12b)? Selanjutnya Paulus memberikan argumen yang mendukung pandangannya (6:15-20). Ada tiga argumen yang masing-masing dimulai dengan pertanyaan retoris “tidak tahukah kamu” (bdk. 6:15, 16, 19). Di ayat 15 dia menegaskan bahwa tubuh kita adalah anggota Kristus yang tidak boleh diserahkan kepada percabulan. Di ayat 16-18 dia mengajarkan bahwa orang percaya sudah diikatkan dengan Kristus secara rohani, sehingga mereka tidak boleh mengikatkan diri dengan pelacur. Terakhir, di ayat 19-20 Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus, sehingga tidak boleh dicemarkan dengan dosa perzinahan.

Dalam khotbah minggu ini kita tidak akan membahas keseluruhan respons Paulus di 1 Korintus 6:12-20. Kita hanya akan memfokuskan pada koreksi Paulus terhadap kesalahpahaman theologis jemaat Korintus (ay. 12-14). Kita akan belajar bagaimana pandangan Paulus terhadap kebebasan Kristiani (ay. 12) dan tubuh (ay. 13-14).


Kesalahpaham Seputar Kebebasan Kristiani (ay. 12)
Hampir semua penafsir setuju bahwa frase “segala sesuatu adalah halal bagiku” merupakan slogan jemaat Korintus yang dikutip dan ditentang oleh Paulus. Pendapat ini didasarkan pada dua hal: (1) kata sambung “tetapi” yang mengontraskan slogan ini dengan konsep Paulus; (2) di pasal 10:23 Paulus mengutip slogan ini lagi dan memberi jawaban “benar, tetapi...”. Dari cara Paulus meresponi frase ini terlihat bahwa frase ini memang slogan dari jemaat Korintus.

Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu adalah halal. Terjemahan LAI:TB “halal” dalam konteks ini sedikit kurang tepat. Kata “halal” memberi kesan bahwa persoalan yang dibahas hanyalah seputar makanan, padahal isu yang dibahas lebih daripada itu. Sesuai bahasa Yunani yang dipakai, kita seharusnya menerjemahkan frase ini dengan “segala sesuatu bagiku diperbolehkan” (exestin). Kata exestin muncul sebanyak 31 kali dalam PB dan selalu memiliki arti “diperbolehkan” (Mat. 12:2, 4, 10, 12; 14:4; 19:3; 20:15; 22:17). Hampir semua versi Inggris dengan tepat menerjemahkan kata ini dengan “lawful” (ASV/KJV/RSV/NASB) atau “permissible” (NIV).

Konsep tentang boleh atau tidak boleh (baca: kebebasan) merupakan isu yang krusial bagi jemaat Korintus. Paulus berkali-kali menyinggung tentang hal ini. Kadang dia berhati-hati agar pernyataannya tidak disalahmengerti sebagai penolakan terhadap kebebasan mereka (7:35). Di sisi lain dia dengan tegas memperingatkan agar mereka tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut tanpa memperhatikan kepentingan orang lain (8:9; 10:23).

Mengapa jemaat Korintus bisa terjebak pada konsep tetang kebebasan Kristiani yang salah sampai-sampai mereka membenarkan perzinahan dengan pelacur? Para penafsir biasanya menduga bahwa mereka telah salah paham (lebih tepatnya menyalahgunakan) ajaran Paulus tentang kebebasan Kristiani. Paulus memang sering kali menegaskan bahwa orang Kristen berada di bawah anugerah dan sudah tidak di bawah Taurat atau berbagai tradisi manusia yang lain (bdk. Rm. 6:14). Penekanan seperti ini sering kali disalahmengerti oleh orang-orang yang mengagungkan kebebasan, seperti yang diakui juga oleh Paulus (Rm. 3:8) maupun Petrus (2Ptr. 3:16). Orang-orang seperti ini telah terjebak pada gaya hidup antinomianisme (berasal dari kata anti = “tidak” dan nomos = “hukum”).

Terhadap kesalahpahaman jemaat ini Paulus memberikan dua jawaban. Pertama, kebebasan harus membawa kegunaan/keuntungan (ay. 12a “tetapi bukan segala sesuatu berguna”). New English Bible (NEB) menerjemahkan “not everything is for my good” seolah-olah kegunaan ini berkaitan dengan diri sendiri. Jika kita menyelidiki pemunculan kata sumpherō dalam surat 1 Korintus, maka kita akan menemukan bahwa kata ini selalu dikaitkan dengan kegunaan bagi orang lain. Dalam pasal 10:23-24 kata sumpherō disejajarkan dengan “membangun” dan hal ini dikaitkan dengan kepentingan orang lain. Di pasal 12:7 kata ini muncul lagi dalam konteks kepentingan bersama.

Dengan demikian Paulus di 6:12a tidak sedang membicarakan keuntungan yang akan diterima oleh orang tersebut, tetapi kepentingan untuk seluruh jemaat. Dia secara tersirat ingin memperingatkan bahwa kebebasan jemaat Korintus tidak membawa keuntungan bagi gereja. Sebaliknya, sama seperti kasus percabulan dengan ibu tiri (5:1), kebebasan ini justru akan mencoreng reputasi gereja. Tindakan ini juga bisa berdampak buruk bagi jemaat yang lain seandainya mereka terpengaruh dan meniru tindakan ini, sama seperti ragi yang mencemari seluruh adonan (5:7-8).

Dari sini terlihat bahwa etika Kristiani bukan hanya masalah boleh atau tidak boleh maupun benar atau tidak benar. Sekalipun yang kita lakukan adalah benar, hal ini tidak berarti bahwa kita boleh melakukan hal itu. Jika apa yang kita lakukan menjadi batu sandungan bagi orang percaya yang lain (8:8-9), maka kita tidak boleh melakukan hal itu. Apalagi dalam kenyataan kita sering kali menganggap benar apa yang sebenarnya salah, sama seperti yang dilakukan oleh jemaat Korintus. Jadi, di 6:12a Paulus sebenarnya belum membahas tentang kesalahan dalam perzinahan dengan pelacur, tetapi dia telah meletakkan salah satu dasar etika Kristiani yang penting: terlepas dari benar atau tidak benar, jika tindakan itu tidak membangun orang lain, maka kita tidak boleh melakukannya!

Jawaban Paulus yang kedua terhadap kesalahpahaman jemaat Korintus tentang kebebasan Kristiani dapat kita lihat di ayat 12b. Dia memperingatkan jemaat agar berhati-hati dengan kebebasan karena kebebasan sering kali justru menjadi perbudakan (ay. 12b “tetapi aku tidak mau diperhamba oleh suatu apa pun”). Kata “diperbudak” (LAI:TB) berasal dari kata exousiasthesomai (dari kata dasar exousiazō yang berarti “menguasai”, bdk. 7:4). Jika dilihat dari kalimat Yunani yang dipakai, maka kita akan menemukan permainan kata antara exestin (“diperbolehkan”) dan exoussiasthesomai (“dikuasai”). Berdasarkan permainan kata ini kita dapat memahami ayat 12b sebagai berikut: “segala sesuatu bagiku diperbolehkan (aku punya kuasa), tetapi aku tidak akan dikuasai oleh suatu apa pun”.

Apa yang disampaikan Paulus di bagian ini merupakan suatu hal yang penting untuk diperhatikan. Kita memang sering kali berpikir bahwa kita bebas melakukan suatu tindakan, tetapi ketika kita tidak bisa tidak melakukan hal itu, maka hal itu sudah menjadi tuan yang merampas kebebasan kita. Kita berpikir bahwa kita bebas dalam melakukan suatu dosa, padahal dosa itu pada akhirnya akan menguasai kita sehingga kita akan terus mengikuti kemauannya. Dengan demikian kebebasan kita telah menjadi perbudakan bagi diri kita sendiri.


Kesalahpahaman Seputar Tubuh (ay. 13-14)
Di ayat 13-14 Paulus mengoreksi kesalahpahaman lain yang dipegang oleh jemaat Korintus, yaitu tentang tubuh. Mereka mengatakan bahwa “perut adalah untuk makan dan makan untuk perut, sedangkan dua-duanya akan dibinasakan oleh Allah” (ay. 13a). Maksudnya, jika semua hal yang berkaitan dengan materi (tubuh kita) akan dibinasakan, maka semua hal itu tidak terlalu penting. Semua itu tidak berpengaruh terhadap kerohanian kita maupun berdampak pada kekekalan. Nah, jika keinginan terhadap makanan dan perut tidak penting, maka dengan demikian keinginan terhadap seks dan tubuh juga tidak penting. Bukankah rasa lapar dan hawa nafsu seksual sama-sama berasal dari keinginan materi dalam diri manusia?

Kesalahpahaman seperti di atas sangat mungkin merupakan hasil penyalahgunaan ajaran Paulus dan perpaduan dengan filsafat Yunani. Paulus memang beberapa kali menegaskan bahwa masalah makanan adalah masalah yang sementara (Kol 2:20-22), tetapi dia tidak pernah melangkah lebih jauh daripada itu. Jemaat Korintus yang cenderung mengagungkan hikmat duniawi (1:18-3:23) mungkin merasa bahwa ajaran Paulus itu selaras dengan filsafat dualisme Yunani yang menganggap materi jahat, tidak penting dan tidak berhubungan dengan kerohanian yang sejati. Mereka berpikir bahwa sebagai orang yang sudah rohani mereka tidak seyogyanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh materi. Petunjuk lain yang mengarah pada dugaan ini adalah munculnya frase “segala sesuatu diperbolehkan” dalam beberapa tulisan filsafat Yunani yang memegang paham dualisme, misalnya Stoa, Cynisisme, Gnostisisme. Walaupun filsafat Gnostisisme tidak relevan bagi jemaat Korintus – filsafat ini baru menjadi -isme pada abad II – namun konsep dualisme Yunani yang melandasi ketiga filsafat ini sudah lama berkembang.

Sekilas cara berpikir jemaat Korintus tampak sangat logis dan menarik. Makanan dan perut memang tidak bernilai kekal. Seks juga berkaitan dengan kebutuhan biologis. Bagaimanapun, Paulus berhasil menunjukkan kesalahan berpikir ini. Pertama, tubuh adalah untuk Tuhan (ay. 13b). Tubuh bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya sementara, misalnya makanan dan seks. Tubuh terutama adalah untuk Tuhan. Sebagai orang Kristen yang sudah ditebus, kita tidak boleh membiarkan dosa menguasai tubuh kita dan sebaliknya kita harus menggunakan tubuh ini untuk melayani Allah (Rm. 6:12-13). Kita wajib mempersembahkan tubuh sebagai kurban yang kudus, hidup dan berkenan kepada Allah (Rm. 12:1). Tubuh kita yang material ini memang akan binasa pada saat kita dikubur, namun sebelum hal itu terjadi kita harus menggunakannya untuk melayani Tuhan. Hal ini berbeda dengan konsep berpikir jemaat Korintus. Mereka menganggap bahwa karena tubuh ini akan binasa maka sekarang ini kita tidak perlu menjaganya. Sebaliknya, Paulus menekankan bahwa karena dibinasakannya baru nanti maka sekarang harus dipakai untuk kebenaran.

Kedua, Tuhan adalah untuk tubuh (ay. 13c-14). Apa maksud dari ungkapan ini? Berdasarkan konteks yang ada, maka ungkapan ini pasti berhubungan dengan kebangkitan (ay. 14) dan penebusan (ay. 20). Kristus bukan hanya menebus roh atau jiwa kita, tetapi Dia juga menebus tubuh kita. Bahkan kebangkitan Kristus juga menjadi jaminan bahwa tubuh kita pun akan dibangkitkan di akhir jaman (15:20-23; bdk. Rm. 8:11; Kol. 1:18). Allah yang membangkitkan Tuhan Yesus juga akan membangkitkan tubuh kita kelak (6:14). Poin tentang kebangkitan tubuh ini selanjutnya akan dibahas Paulus secara panjang lebar (15:51-54) ketika dia menegur sebagian jemaat yang tidak mempercayai kebangkitan orang mati (15:12).

Ungkapan “Allah yang membangkitkan Tuhan...” di ayat 14 tidak boleh dipahami bahwa Kristus tidak berkuasa untuk membangkitkan diri-Nya sendiri. Alkitab kadangkala memang menyatakan bahwa subjek kebangkitan adalah Allah, tetapi Alkitab juga mengajarkan bahwa subjek tersebut adalah Roh Allah (Rm. 1:4; 8:11) atau Kristus sendiri (Yoh. 2:19, 21; 10:18). Jadi, kebangkitan adalah pekerjaan satu Allah, Allah Tritunggal.

Nah, jikalau Allah dan Kristus sangat menghargai tubuh kita – yang dibuktikan dengan penebusan dan jaminan kebangkitan – maka kita pun seharusnya menghormati tubuh kita. Kita harus menjaganya dari semua dosa, terutama dari dosa-dosa yang langsung bersentuhan dengan tubuh kita, misalnya percabulan dengan pelacur (bdk. 6:18 “orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri”). Orang Kristen yang masih terjebak pada percabulan adalah orang-orang yang tidak menghargai tubuhnya sebagaimana Tuhan menghargai hal itu. Kalau Tuhan sudah melakukan segala sesuatu untuk tubuh kita (6:13c), berlebihankah jika Ia menuntut kita memberikan tubuh kita untuk Dia (6:13b)? #




Sumber:
Mimbar GKRI Exodus, 11 Januari 2009
http://www.gkri-exodus.org/image-upload/1Korintus%2006%20ayat%2012-14.pdf

KUASA SETAN DI BALIK KESEMBUHAN ILAHI?: Suatu Telaah Terhadap Mukjizat Kesembuhan Ilahi yang Kontroversial (Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.R.E.)

KUASA SETAN DI BALIK KESEMBUHAN ILAHI?:
SUATU TELAAH TERHADAP MUKJIZAT KESEMBUHAN ILAHI YANG KONTROVERSIAL


oleh: Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.R.E.




PENDAHULUAN
Lagu “Mukjizat Itu Nyata” karangan Jonathan Prawira banyak digandrungi oleh orang Kristen dari berbagai denominasi. Sepertinya, penulis lagu tersebut ingin “mengklaim” bahwa mukjizat harus terjadi setiap hari. Klaim semacam ini didukung juga oleh maraknya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang disertai kesembuhan ilahi, misalnya yang dipimpin oleh T. B. Joshua, yang diselenggarakan di Graha Bethany dengan memakai tema “Kuasa Tuhan: Datang dan Alami Kesembuhan Ilahi!” Atau, acara serupa yang digelar oleh GBI Tiberias Surabaya yang dipimpin oleh Yesaya Pariadji.1

Meskipun secara umum kalangan Protestan Injili percaya adanya mukjizat, namun realitas ini harus diterima secara lebih kritis dengan menanyakan apakah mukjizat tersebut benar-benar bersifat aktif dan permanen.2 Walau demikian, di kalangan ini, masih ada anggota jemaat yang sakit yang tetap berharap ingin mengalami mukjizat kesembuhan dalam acara serupa. Beberapa dari mereka bertanya, “Pak apakah kami boleh menghadiri KKR yang disertai kesembuhan ilahi?” Sebab, “Bukankah mukjizat kesembuhan itu berasal dari Tuhan?” Jika tidak boleh, “Mengapa tidak boleh? Di mana salahnya?”

Sebelum menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini, menurut hemat penulis, perlu adanya verifikasi theologis yang jelas dan objektif berkenaan dengan praktik-praktik kesembuhan ilahi. Apakah semua praktik tersebut alkitabiah? Bila tidak, mana yang alkitabiah, dan mana yang tidak? Tulisan ini akan mengangkat isu-isu kesembuhan ilahi dan permasalahan theologisnya, seperti: Apakah kuasa Setan bisa bekerja di balik macam-macam praktik mukjizat kesembuhan ilahi? Apakah agama-agama lain juga mempraktikkan kesembuhan ilahi? Apakah kesembuhan ilahi disebabkan gejala psikologis belaka? Jika pada masa kini Tuhan masih melakukan mukjizat kesembuhan, bagaimanakah mukjizat yang alkitabiah?


FENOMENA KESEMBUHAN ILAHI YANG KONTROVERSIAL
Praktik-praktik kesembuhan ilahi yang kian marak ini bukan saja terjadi di kota-kota besar, tetapi manifestasinya juga telah sampai ke pelosok tanah air, di desa Meko dekat kota Poso, Sulawesi Tengah, seperti yang dilakukan oleh seorang anak kecil, Selvin, yang juga dijuluki “dokter kecil” karena ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit Tentang hal ini, demikian kesaksian Tertius Y. Lantigimo:
Ada ribuan manusia yang membanjiri desa Meko, baik di baruga (balai desa), di rumah-rumah maupun di tenda-tenda. Sementara pujian berlangsung, tiba-tiba terdengar tepukan tangan dan teriakan “Puji Tuhan.” Orang-orang pun berkerumun untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata terjadi mukjizat, tiba-tiba saja orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, dan kesembuhan lainnya terjadi. Ada seorang ibu dari desa Bancea (Kec. Pamona Selatan) Nande Rutana namanya, karena kecelakaan (ditabrak sepeda motor) menjadi bungkuk selama bertahun-tahun, disembuhkan seketika. Hanya dengan jamahan anak kecil (yang sering disapa “dokter kecil”), tiba-tiba ibu yang bungkuk ini berdiri tegak. “Seperti ada yang menarik dan meluruskan badan saya dari belakang setelah dijamah oleh anak itu,” tutur ibu Nande Rutana. Juga seorang bapak Kogege tua sudah berusia 93 tahun dari desa Buyumpondoli, buta selama tiga puluh tahun. Dokter mengatakan urat saraf penglihatan sudah mati, tapi akhirnya bapak tua ini dapat melihat kembali.3

“Luar biasa,” “ajaib,” “spektakuler,” “fenomenal!” adalah ungkapan-ungkapan yang mungkin cocok untuk menggambarkan peristiwa di atas. Lebih dari itu, cara dan kemampuan anak kecil ini dapat dikategorikan “setingkat” dengan Tuhan Yesus.4 Atau, paling tidak, ia “setingkat” dengan hamba-hamba Tuhan besar yang melakukan mukjizat kesembuhan seperti Oral Roberts, Kathryn Kulman, Benny Hinn, Reinhard Bonnke dan lainnya. Menurut cerita, frekuensi kesembuhan ini terjadi hampir setiap hari dan puncaknya selalu pada hari Jumat (pkl. 07.00-19.00).5

Pertanyaannya, dari manakah kuasa ini berasal? Apakah dari Tuhan? Apakah anak kecil berusia delapan tahun dapat memiliki relasi dan rohani yang begitu dalam dengan Tuhan? Apakah ia mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya? Apakah dalam Alkitab pernah dinyatakan bahwa Tuhan pernah memakai anak kecil melakukan kesembuhan ilahi secara intensif? Apakah fenomena ini sedang menunjuk kepada apa yang Tuhan Yesus pernah ingatkan kepada murid-murid-Nya, “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada disini atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya. Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mukjizat-mukjizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga” (Mat. 24:23, 24).6 Apakah praktik-praktik semacam itu dapat dikelompokkan ke dalam kategori nabi palsu seperti yang Yesus maksudkan? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, diperlukan kajian theologis yang benar berdasarkan Alkitab.7


PERSPEKTIF MUKJIZAT YANG ALKITABIAH
Ada sekian banyak konsep yang berbeda tentang mukjizat. Dalam sebuah tayangan TV, seorang pendeta mengklaim itu telah terjadi mukjizat dari Tuhan, seperti yang ditulis oleh Gross, “He explained that a company near his complex had decided to sell a very large building. This building was greatly needed by the Christian ministry he had founded. Its becoming available he constantly affirmed to be a miracle.”8 Mukjizat ini jelas tidak ada hubungan dengan sakit-penyakit, tetapi berkaitan dengan kebutuhan gedung. Pertanyaannya, apakah hal semacam ini dapat dikategorikan sebagai mukjizat?

Bagaimana dengan sebuah kesaksian seorang pemuda yang dimuat dalam sebuah majalah Kristen? Pemuda ini mengaku mengalami sakit mata dan radang merah di matanya. Ia menulis demikian,
Sesuai anjuran dokter saya memakai obat tetes sebanyak 5 kali, ternyata makin bengkak. Minggunya saya ke gereja, kebetulan ada pendeta yang lagi khotbah tentang mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, katanya tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Waktu pendeta mengadakan altar call, dengan iman saya ke depan untuk didoakan. Setelah pulang istirahat dua jam, eh, mata saya sudah sembuh total, tidak merah lagi, tidak bengkak dan bisa melihat kembali seperti biasa.”9

Sepertinya, sekarang ini, ada gejala di mana orang dengan begitu mudah menggunakan istilah “mukjizat.” Maksudnya, ketika suatu masalah terselesaikan atau suatu kebutuhan dipenuhi, itu diklaim sebagai mukjizat. Jika demikian, apakah sesungguhnya mukjizat itu?


Definisi dan Pengertian Mukjizat
Definisi kata atau istilah mukjizat dalam Alkitab harus bersifat tepat dan utuh sebab kekeliruan di dalam memformulasikannya dapat berakibat pada pemahaman yang salah. Gross menegaskan, “An accurate definition of the term, then, is a matter of primary concern. Wrong definitions lead to wrong conclusions.”10 Dasar untuk mengerti apakah mukjizat itu adalah firman Tuhan yang telah diwahyukan sebagai kebenaran mutlak yang harus ditaati.

Secara terminologis, kata “mukjizat”11 dalam PL maupun PB merujuk beberapa istilah yang menyatakan perbuatan atau pekerjaan Allah yang ajaib, (mis. Kel. 15:11; Mat. 11:20; Luk. 19:37; Kis. 10:38). Kadang-kadang, kata ini diterjemahkan sebagai “tanda.” Kata ini memiliki beberapa arti: pertama, “keajaiban.” Kata Ibrani yang menyatakan makna itu adalah pl’ (mis. Kel. 15:11; Yoh. 3:5), yang dalam bahasa Aram dipakai kata temah (Dan. 4:2-3; 6:27), dan dalam bahasa Yunani dipakai kata τέρας (muncul enam belas kali; mis. Kis. 4:30; Rm. 15:19).

Arti yang kedua, “kuasa, kekuatan, atau kesanggupan,” Ini dapat dilihat dalam penggunaan kata Ibrani gevura (Mzm. 106:2; 145:4) dan kata Yunani δύναµις (muncul 119 kali). Dalam PB, kata ini sering dikaitkan dengan perbuatan-perbuatan Yesus (Mat. 11:20; Luk. 19:37; Kis. 10:38), para rasul (Luk. 9:1; Kis. 19:11; 2Kor. 12:12), beberapa orang Kristen (1Kor. 12:10, 29) dan, bahkan, pelayan-pelayan Setan (Mat. 7:22; Kis. 8:10; Why. 13:2-4).

Sedangkan arti yang ketiga adalah “tanda,” atau “sesuatu yang mengherankan.” Makna ini termaktub dalam kata Ibrani ‘ot (Bil. 14:11; Neh. 9:10), dan kata Aramaiknya adalah ‘at (Dan. 4:2-3; 6:27). Sementara itu, kata Yunaninya adalah σηµείον (muncul 77 kali) dalam PB.12 Tanda-tanda ini diperlihatkan oleh Allah (Yoh. 2:11; 3:2; Kis. 8:6), dan kadang-kadang, dari Setan (2 Tes. 2:9; Why. 19:20) atau Iblis (Why. 16:14).

Ringkasnya, mukjizat dapat dipahami sebagai “perbuatan supralamiah spektakuler yang melampaui akal dan kemampuan manusia.” Ini sejalan dengan apa yang dikatakan Gross, “Miracles are superhuman events. They are wrought by a power greater than what mere humans possess.”13 Di samping itu, mukjizat dari Allah pasti akan mendatangkan kebaikan bagi semua orang dan membawa kemuliaan bagi-Nya (Mat. 9:30-31).


Tujuan Mukjizat Dipertunjukkan
Dalam PB, ada tiga istilah yang artinya mirip dan muncul bersamaan: mukjizat-mukjizat, perbuatan-perbuatan ajaib dan tanda-tanda (terj. NIV: “miracles, wonders and signs” [lih. Kis. 2:22; 2Tes. 2:9; Ibr. 2:4]). Berkaitan dengan hal ini, Vernon C. Grounds mengatakan, “The three terms occasionally found together are used to designate the extraordinary events and mighty acts brought to pass in connection with the outworking of redemption whether in its Hebraic or Christian.”14 Di sini, penekanan praktik melakukan tanda-tanda atau mukjizat-mujizat dalam PB bukan pada kepentingan individu melainkan pada hubungannya dengan karya penebusan dan kebangkitan Tuhan Yesus. Karena itu, J. D. Spiceland mengatakan, “It should be clear then that central miracle of NT religion is the resurrection of Christ.”15

Mukjizat adalah manifestasi kuasa Allah untuk memulihkan susunan ciptaan sehingga menjadi teratur kembali, terutama untuk memulihkan gambar manusia yang rusak menjadi baru (2Kor. 5:17). Jika demikian, konsep penyataan mukjizat dalam PB jelas tidak berfokus pada kesembuhan manusia melainkan pada kebangkitan-Nya yang memberi pengharapan bagi orang-orang tebusan-Nya. Theologi ortodoks percaya bahwa mukjizat adalah bagian dari tanda otentik para nabi dan rasul Allah, terutama Anak-Nya, dan ini juga sekaligus dapat membedakan mukjizatmukjizat dari allah-allah kafir dan nabi-nabi palsu.16 Jika ada manifestasi mukjizat yang tidak selaras dengan tujuan dan maksud Allah, maka dapat dipastikan bahwa itu bukan berasal dari Allah (bdk. Ul. 13:2-3; Mat 7:22; 24:24; 2Tes. 2:9; Why. 13:13; 16:14; dan 19:20). Yesus sendiri menolak tegas untuk memberi tanda dari sorga. Ia tidak mau membuat mukjizat yang tidak berguna dan menggemparkan jika itu bertentangan dengan tujuan-tujuan Allah (Mat. 12:39; 16:4).

Tanda-tanda mukjizat dalam Alkitab dinyatakan untuk membuktikan keilahian Yesus dan status-Nya sebagai Anak Allah, yaitu Mesias yang dijanjikan untuk menyelamatkan umat manusia dan tujuannya untuk memuliakan Allah. Pokok yang terpenting di sini adalah bahwa Yesus bukan bermaksud memamerkan mukjizat-Nya, tetapi memproklamasikan firman-Nya. Intinya, manusia dapat diselamatkan tanpa melalui mukjizat, tetapi ia tidak dapat diselamatkan tanpa firman-Nya (1Ptr. 23; Rm. 10:13-15).




APAKAH MUKJIZAT BERSIFAT AKTIF DAN PERMANEN PADA MASA KINI SAMA SEPERTI PADA ZAMAN PERJANJIAN BARU?
Seperti yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya, maksud dan tujuan mukjizat sudah begitu jelas. Jika demikian, maksud dan tujuan mukjizat juga seharusnya tidak berbeda dari apa yang ada pada zaman Alkitab. Meski sering diakui bahwa mukjizat masih dapat terjadi, sebab memang kuasa Allah tidak berubah dan masih bekerja sampai sekarang, namun persoalannya, apakah sifat mukjizat itu aktif dan permanen?


Pandangan Umum di Kalangan Karismatik tentang Mukjizat
Selain nubuat dan bahasa lidah, salah satu ajaran yang menonjol dari kalangan Karismatik adalah penekanan pada mukjizat kesembuhan ilahi. Dasar alkitabiah dari pengajarannya ini, di antaranya, adalah bahwa janji kuasa mukjizat Tuhan akan menyertai murid-murid-Nya (Mrk. 16:17; Kis. 2:1-24). Kelompok ini percaya bahwa pada masa sekarang, mukjizat masih berlangsung sama seperti pada zaman Yesus dan para rasul (Mat. 9:35; 2Kor. 12:12.17 Ajaran ini menaruh perhatian khusus terhadap kuasa dan tanda-tanda mukjizat yang Yesus lakukan (Mat. 10:8), bahkan ajaran ini menganggap orang Kristen dapat melakukan hal yang lebih besar dari yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 14:12). Bahkan, hal ini diklaim (dibuktikan) biasa terjadi di dalam pelayanan-pelayanan kelompok Karismatik.18

Jika praktik mujizat kesembuhan itu gagal, biasanya akan diberikan beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, kurangnya iman atau kepercayaan. Kedua, jenis penyakit ini bukan bagian dari para praktisi kesembuhan ilahi, seperti yang dikatakan oleh Peter Wagner:
Speaking of gifts, do not be surprised to find that some with the gift of healing have been given specialities in certain areas. Francis MacNutt, for example, has had little success in praying for deafness, but a fairly degree of success in praying for bone problems and problems in the abdominal or chest area, except cancer. My specialty as I have mentioned, is for lengthen legs (which in most cases involves pelvic adjustments) and problems relating to the spine.19

Menurut penulis, pandangan Wagner di atas, sungguh tidak alkitabiah karena karunia kesembuhan dalam Alkitab tidak membicarakan karunia kesembuhan yang hanya “manjur” untuk satu macam penyakit tertentu. Atas dasar apakah Wagner mengatakan bahwa ada seorang Kristen (hamba Tuhan) yang spesialis dapat memanjangkan kaki? Ketiga, kurang berdoa. Menurut Wagner, peran doa cukup penting dalam proses terjadinya suatu mukjizat kesembuhan.20 Keempat, kurang terdeteksi, karena sumber penyakit tersebut berasal dari Setan.21

Tokoh-tokoh Karismatik seperti Kathryn Kuhlman, Oral Roberts, Rex Humbard, Benny Hinn, Kenneth Hagin, Reinhard Bonnke, David Yonggi Cho, Morris Cerullo dan lainnya, sering mendemontrasikan kesembuhan ilahi dalam setiap KKR mereka. Oral Roberts bersaksi tentang apa yang terjadi dalam kebaktian KKR yang dipimpin oleh Kathryn Kuhlman:

Roh Kudus menaungi saya di saat saya menyaksikan Tuhan melakukan berbagai mukjizat yang begitu luar biasa melalui KKR Nona Kuhlman. Saya menangis karena sukacita dan saya tahu bahwa Tuhan telah membangkitkan hamba-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Saya percaya, ini adalah tanda dari Tuhan. Saya menyaksikan kuasa mukjizat kesembuhan Allah, orang-orang yang sudah lumpuh lama sekali dapat berdiri dan berlari-lari melewati hadirin.22

Tokoh Karismatik yang paling fenomenal dan kontroversial dalam pengajaran dan praktik kesembuhan ilahi adalah Benny Hinn.23 Ajaran dan praktik mukjizat yang dilakukan oleh Hinn telah banyak mendapat kritik dari para sarjana Alkitab yang masih setia pada prinsip firman Tuhan. Tidak sedikit dari mereka yang menganggap Hinn tidak alkitabiah, menyesatkan, bahkan ia “dicap” sebagai bidat. Seperti yang ditulis dalam sampul belakang buku The Confusing World of Benny Hinn oleh Ron Rodes, Presiden Reasoning from the Scriptures Ministry,
This penetrating analysis of Benny Hinn’s teaching is highly recommended. The authors put Hinn and his teachings under the scrutiny of Scripture and provide thorough documentation regarding how this healing evangelist repeatedly departs from sound doctrines and practice.24

Norman L. Geisler, dekan di Southern Evangelical Seminary, pengajar, dan penulis buku juga menulis berkomentar hal yang sama tentang Hinn,
This is timely and insightful expose of the doctrinally dangerous, experienced-based extravagances of one of America’s most popular televangelists. Benny Hinn’s self-proclaimed ‘revelations,’ supported by dramatic hypnotic powers, are not only undermining the historic Christian conviction in the sufficiency of Holy Scripture, but they are leading millions into the confusing world of Christian shamanism. This volume is a blunt, bold, and biblical scrutiny of Hinn’s aberrant, unorthodox, and at time, heretical teaching.

Demikian juga, Jay E. Adams, penulis buku, artikel, pengajar, konselor, dan gembala sidang turut menelanjangi ajaran Hinn,
Nowhere have I encountered so thorough an exposition of Bennny Hinn’s extravagances as in this book. From casual reading previously of Hinn’s materials, I knew that his ”ministry” was highly suspect, but The Confusing World of Benny Hinn convinced me that his views are not only deplorable, but outright heresy! For all who wonder about Hinn, this book will bring the enlightenment desired.25

Kritik para tokoh di atas terhadap ajaran dan praktik kesembuhan Hinn yang kontroversial dapat mengindikasikan bahwa ajaran dan praktik kesembuhan ilahinya adalah tidak alkitabiah.

Dalam kasus Hinn, penulis juga tidak dapat menerima ajaran dan praktik tersebut karena beberapa alasan, misalnya pertama, metode hermeneutika yang digunakannya adalah metode yang tidak tepat dan tidak bertanggungjawab. Ia mengutip ayat-ayat Alkitab secara proof text untuk mendukung ajaran dan praktiknya. Kedua, pandangan theologinya yang tidak konsisten dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang karunia kesembuhan ilahi, karunia bahasa roh dan nubuatan. Ketiga, cara-cara atau metode kesembuhan ilahi yang dipraktikkan tidak sejalan dengan Alkitab. Keempat, ia cenderung untuk lebih bergantung pada kemampuan (kuasa iman!) manusia (jadi, lebih bersifat antroposentris) daripada kedaulatan Tuhan (teosentris); di mana pengalaman pribadinya (individu) dijadikan sebagai ukuran tolok ukur dan bukan ajaran Alkitab.26


Pandangan Protestan Injili
“Do miraculous gifts exist today?” dan “Does anyone have the gift of healing today?” adalah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kalangan Protestan Injili selama ini.27 Seperti yang telah dikemukakan oleh penulis di atas, tujuan berbagai mukjizat sudah jelas dalam kitab suci. Sebab itu, jika ada tanda-tanda mukjizat yang terjadi hari ini, maka maksud dan tujuannya pasti sama dengan yang dinyatakan oleh Alkitab.28 Menurut penulis, Allah bekerja dengan cara yang tidak berkontradiksi dengan natur dan rencana-Nya. Dia masih berkuasa dan mampu melakukan mukjizat kapan dan di mana saja, seperti ditegaskan oleh Walter Chantry,
And there is no Biblical reason to limit God to performing miracles at certain seasons only. No doubt God is yet executing unusual feasts of power. In response to the prayers of his people, God is healing in sovereign power some whom modern medicine has pronounced hopeless…. God’s working of wonders cannot be limited to ages past.29

Pandangan di atas, mengisyaratkan bahwa Allah masih melakukan mukjizat (seperti ungkapan ini: “I believe that true signs, wonders, and mighty deeds are occurring in our day”), namun baik volume bahkan frekuensinya tidak seperti pada zaman PB. Atau, bahkan, tidak bersifat permanen seperti yang diajarkan di kalangan Karismatik. B. B. Warfield, theolog dari Princeton Seminary, mengatakan, “We taught that the miraculous gifts of the Holy Spirit were not intended as permanent gifts of God to the church.”30

Perspektif Protestan Injili terhadap mukjizat mencoba berusaha lebih konsisten dan komprehensif secara theologis, hermeneutik dan alkitabiah.

Menurut kalangan ini, tanda-tanda mukjizat yang dilakukan oleh Yesus adalah untuk membuktikan keilahian-Nya, sebagai Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan Allah. Yesus tidak mengutamakan mukjizat kesembuhan, melainkan memakainya untuk mengkonfirmasi injil Kerajaan Allah (Mat. 9:35; 11:1; Mrk. 1:14-15).

Fenomena spektakuler pada saat pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta terjadi hanya satu kali saja. Peristiwa fenomenal tersebut merupakan pengalaman gereja yang unik saat permulaan pekerjaan Roh Kudus, dan tidak akan terulang lagi (Kis. 2:1-13). Macam-macam karunia Roh Kudus telah dicurahkan kepada para rasul yang dipilih oleh Tuhan menjadi saluran atau alat untuk pertumbuhan gereja mula-mula, mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).

Kristus sebagai batu penjuru dan fondasi gereja hanya diletakkan satu kali saja (Ef. 2:20; 1 Kor. 12:28, 29). Di atas dasar ini seluruh pelayanan pelayanan para rasul dibangun. Dalam kerangka ini, relasi karunia Roh Kudus dengan pelayanan para rasul sangat erat (Kis. 19:4-6; 2 Kor. 12:12), yaitu tanda-tanda mukjizat itu menjadi bukti otentik kerasulan mereka. Gross mengatakan,
“This ability was one of the “signs of an apostle.” The signs of an apostle were those unique aspects of his life and ministry that authenticated him as one of Christ’s representatives. Through the presence of these signs, people would be able to distinguish between true and false apostles.” 31

Ketika jabatan rasul32 sudah tidak ada zaman sekarang, maka keaktifan tanda-tanda mukjizat “seperti yang para rasul lakukan” juga berhenti.


Implikasi
Pertama, kalangan Protestan Injili tidak menolak eksistensi mukjizat pada masa kini. Kesembuhan ilahi adalah fakta yang dapat dikerjakan Allah bagi anak-anak-Nya. Penulis mengingat perkataan Stephen Tong, dalam salah satu Seminar Pembinaan Iman Kristen, yang mengatakan, “Kita boleh berdoa untuk orang-orang sakit, bahkan hari Minggu setelah kebaktian, layani orang-orang sakit dengan doa.” Dengan demikian, orang Protestan Injili, tidak alergi dengan doa mohon kesembuhan selama dilakukan dengan cara-cara yang benar dan alkitabiah.

Jika mukjizat kesembuhan memang benar “dapat” terjadi, maka hal tersebut tidak boleh menjadi acuan bahwa kesembuhan ilahi “pasti” selalu terjadi. Selain itu, tidak boleh juga diklaim bahwa setiap orang “pasti” dapat memiliki karunia kesembuhan ilahi. Fenomena kesembuhan ilahi yang terjadi itu adalah tanda penyertaan Allah yang dapat terjadi sesekali saja.

Kedua, doa mohon kesembuhan ilahi merupakan bagian pelayanan gereja bagi anggota jemaat yang sakit. Paulus juga pernah melakukan pelayanan kesembuhan, misalnya ketika melayani Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, ketika Paulus sendiri mengalami sakit tubuh (2Tim. 4:20). Di sini, sembuh atau tidak bukan hal yang terpenting, tetapi yang terpenting adalah bagaimana keselamatan rohani atau jiwa.

Ketiga, kesembuhan ilahi hanya merupakan bagian dari janji berkat penyertaan Allah. Yang harus menjadi fokus atau perhatian gereja atau orang Kristen adalah pemberitaan injil Kerajaan Allah agar orang yang belum percaya dapat diselamatkan oleh-Nya melalui pemberitaan itu. Jadi, bukan kesembuhan fisik yang diutamakan, melainkan kesembuhan secara rohani.

Dengan demikian, meski sebagian dari kalangan Karismatik memiliki pemahaman dan mempraktikkan mukjizat kesembuhan ilahi secara salah, penulis harus mengatakan bahwa tidak semua dari mereka salah, sebab masih ada yang memahami dan menerapkannya secara benar dan konsisten sesuai dengan firman Tuhan. Fakta ini akan menolong, paling tidak bagi penulis sendiri, untuk lebih bersikap kritis terhadap fenomena kesembuhan ilahi.




KUASA SETAN DI BALIK KESEMBUHAN ILAHI?
Jika pada masa kini manifestasi mukjizat tidak aktif seperti zaman PB, lalu siapa yang melakukan macam-macam mukjizat kesembuhan pada masa kini? Kemungkinan yang paling besar adalah Iblis atau Setan.33 Orang Yahudi, termasuk orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, percaya pada keaktifan kuasa Setan. Mereka pernah mencurigai bahwa kuasa Yesus ketika menyembuhkan orang buta dan bisu berasal dari Iblis ketika berkata, “Dengan Beelzebul,34 penghulu Setan, Ia mengusir Setan.” Padahal, Yesus mengusir Setan dengan kuasa Roh Allah (lih. Mat 12:23, 27; Mrk. 3:22-23; Luk.11:14-19). Orang Yahudi beranggapan bahwa Setan memang dapat melakukan mukjizat dengan kekuatan yang amat dahsyat (Why. 12:12; 13:1-8), tetapi Yesus membuktikan bahwa diri-Nya lebih berkuasa dari Setan (Mrk. 5:9-13; Luk. 10:17), dan kebebasan dan kuasa yang dimiliki Setan ini sangat terbatas dalam memperdaya manusia (Kis. 10:38; 1Tim 4:1-2).

Eksistensi Setan dan Asal Usulnya
Keberadaan Iblis nyata digambarkan dalam Kejadian 3, di mana ia mencobai Adam dan Hawa dengan dialog yang memikat. Setan juga disebut dalam Ayub 2:1; 1 Tawarikh 21:1; Zakharia 3:1-2. Nabi Yesaya (14:12) dan Yehezkiel (28:14, 16) juga menjelaskan keadaan Setan sebelum kejatuhannya. Para penulis injil cukup banyak mencatat fakta tentang eksistensi Setan dari pengalaman dan pelayanan Kristus (Mat. 4:10; 12:26; Mrk. 1:13; 3:23, 26; Luk 11:18; 22:3; Yoh. 13:27).35

Asal usul Iblis adalah dari malaikat.36 Pada awalnya, ia yang adalah malaikat ciptaan Allah (Mzm. 148:2-5; Kol. 1:16) dengan kondisi baik dan suci (Mzm. 89:5,7). Meski malaikat itu bersifat roh (Ibr. 1:14), namun dapat menyatakan diri pada manusia dalam wujud tubuh manusia (Kej. 18:3). Jumlah malaikat adalah “beribu-ribu” (Ibr. 12: 22). Bahkan, dalam Wahyu 5:11, dikatakan jumlah malaikat itu “berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa.” Pengulangan frasa tersebut ditafsirkan sebagai “tak terhitung banyaknya.”37

Mikhael (Dan. 10: 13, 21), Gabriel (Dan. 9:21; Luk. 1:26), dan Lusifer (Yes. 14:12) adalah nama-nama peghulu malaikat yang memiliki peran yang berbeda. Lusifer (artinya “yang bersinar” atau “bintang fajar”) disebut sebagai malaikat pemberontak yang melawan Allah (Ibr. Satan). Penyebab kejatuhan Iblis terutama adalah karena kesombongannya (Yeh. 28:15,17; 1 Tim. 3:6). Ia ingin menjadi sama dengan “Yang Maha Tinggi.” Karena itu, Allah mencampakkan dia jatuh dari surga. Kemungkinan besar, yang jatuh adalah sepertiga dari semua malaikat di surga (Yeh. 28:16-17; Why. 12:4). Lusifer dikenal dengan berbagai sebutan seperti, misalnya Setan, “penguasa Iblis” (Mat. 12:24), Iblis atau “si jahat dan malaikatnya,” (Mat. 25:41). Wahyu 12:7 menyebutnya sebagai “naga dengan malaikatnya.”38

Alkitab memaparkan nama-nama Setan yang juga menggambarkan karakternya yang buruk. Satan disebut juga sebagai “devil, atau evil one.” Sifat dasarnya adalah penipu, penggoda, jahat, destruktif (Mat. 4:1, 10; Yoh. 17:5).39 Karakter Setan pada dasarnya adalah penentang dan penghancur. Di samping itu, motivasinya buruk dan orientasi sepak terjangnya selalu ingin merusak rencana kerajaan Allah, baik di taman Eden (Kej. 3:5) maupun di antara orang beriman (1 Taw. 21:1; Mrk. 4:15; 2Kor. 11:15).40


Kemampuan Setan
Kemungkinan Setan dapat melakukan tanda-tanda mukjizat adalah karena ia memang memiliki kuasa atau kekuatan supernatural seperti yang dinyatakan Alkitab, “Itulah roh-roh Setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib” (Why. 16:14a). Ia disebut penguasa dunia (Yoh. 12:31) dan penguasa angkasa (Ef. 2:2). Karena itu, ia mengambil peran sebagai oposan Allah. Kapasitas kehebatan Setan adalah bahwa ia mampu melakukan tanda-tanda mukjizat yang menakjubkan (Kis. 8:9-11; 2 Tes. 2:9-10; Why. 13:13-14). Meski demikian, ia juga memiliki beberapa keterbatasan, misalnya ia tidak mahakuasa, meskipun ia memiliki kekuatan yang luar biasa melampaui kekuatan manusia (Mrk. 5:3-4), dengan kata lain kekuasaannya terbatas; ia juga tidak mahahadir. Ia hanya eksis satu kali di satu tempat, meskipun Iblis bersifat roh, yaitu tanpa daging (Mat. 8:16); Luk. 10:17, 20). Selain itu, ia tidak mahatahu, walau ia memiliki intelek, mengetahui kondisi dan identitas orang (Ayub 1:9-12; Mrk 1:24), dan mengetahui nasib akhir mereka (Mat. 8:29), dan akhirnya, ia memiliki kebebasan, tetapi tidak memiliki kebebasan yang tidak terbatas, sebaliknya, ia justru takluk dan dibatasi oleh Allah.41


Modus Operandi Setan di Balik Mukjizat Kesembuhan
Sejak kejatuhan Iblis, ia telah menjadi musuh utama Allah dan manusia (Kej. 3:15), dengan tujuan utama untuk menghancurkan rencana keselamatan dan kerajaan Allah. Sasaran utamanya adalah orang-orang Kristen, khususnya Yesus (Mat. 4:1-11). Meski ia gagal mencobai Yesus, ia terus berusaha mencari kesempatan lain untuk menghabisi Yesus (Luk. 4:13). Ia juga ingin merusak rencana kematian Yesus (Mat. 16:21-23), mulai saat menjelang penyaliban (Yoh. 13:27; Luk. 22:3-6) hingga ketika Yesus di atau salib (Mat. 27:40).

Modus yang dilakukan oleh Iblis untuk menentang Kristus adalah melalui: penipuan (deception), karena sifatnya yang licik. Paulus pernah menghardik seorang anak tukang sihir dan berkata, “Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?” (Kis. 13:10). Kepada jemaat Efesus, Paulus juga mengingatkan bahaya tipu muslihat Iblis yang dahsyat (Ef. 6:11). Motif utamanya adalah penyesatan (2Kor. 11:13-15; Why. 13:14; 19:20). Penyamaran juga modus Iblis yang lain. Tidak tanggung-tanggung, ia mampu menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:14).

Pemalsuan Iblis ini merupakan tipu muslihat untuk mengelabui pengikut-pengikut Kristus. Metode utamanya adalah dengan memalsukan fakta atau kejadian. Ia merekayasa segala kepalsuan, sehingga mirip dengan yang benar (asli). Dalam konteks Alkitab, Iblis menerapkan metode ini dengan licik, khususnya ketika mengadakan mukjizat, tanda, atau ajaran palsu yang seolah-olah benar (1Tim. 4:1-3; Why. 2:24; bdk. 2Tes. 2:9-11).42

Alkitab juga mengaitkan Iblis dengan kehadiran guru, nabi atau Mesias palsu di tengah jemaat (Mat. 24:24; Why. 19:20). Selain itu, Iblis suka menunggangi dan memperdayakan pengikut-pengikut Kristus (Mat. 16:23; Mrk. 8:33; Luk. 23:9; Yoh. 6:70), pelayan-pelayan atau hamba-hamba Tuhan, khususnya, dengan cara penafsiran Alkitab yang keliru yang menghasilkan ajaran sesat yang tidak alkitabiah.43

Modus penipuan maupun penyamaran Iblis sangat handal dan terkesan rohani. Maka hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri, “Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.” (Mat. 24:23-24; bdk. Why. 13:13-14). Sebab itu, Paulus mengingatkan Timotius, “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran Setan-Setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka” (1Tim. 4:1-2).

Modus operandi Setan lainnya adalah menyusup ke dalam bermacam-macam praktik agamawi. Ia mengadakan tanda-tanda ajaib dengan melakukan berbagai kesembuhan untuk mengelabui dan menyesatkan orang-orang, yang dalam kasus ini, dikemas di dalam praktik agamawi. Semakin orang-orang mengharapkan tanda-tanda dan kesembuhan itu, maka semakin jiawak44 Iblis untuk memperlihatkan kemampuannya demi penipuan dan penyesatan.

Sebenarnya, praktik kesembuhan dalam kemasan agamawi bukan barang baru. Misalnya, fenomena supranatural dalam agama sempalan agama Hindu, seperti yang dipraktikkan oleh Deepak Chopra. Konon, banyak orang disembuhkan secara spektakuler setelah mengikuti meditasi atau cara khusus yang diberikannya. Selain itu, orang-orang yang kecanduan narkoba—baik itu sabu-sabu, morfin, dan jenis-jenis lainnya—setelah diterapi oleh seorang bhiksu agama Budha di Thailand, ternyata dapat terbebas dan pulih dari kecanduannya. Di kalangan Islam tertentu, para tokoh agama di pusat pendidikan dan pelatihan agamawi tertentu memiliki kemampuan supranatural untuk mengusir roh-roh jahat, menyembuhkan sakit-penyakit, memulihkan dari kecanduan, dosa seks, obat bius dan dosa-dosa lainya. Tidak kalah menarik, di Jepang, ada aliran agamawi yang disebut Gohonsom juga memberi pengajaran tentang praktik penyembuhan, sehingga banyak orang yang mengikuti agama tersebut.45




MEMPERTANYAKAN KEABSAHAN KESEMBUHAN ILAHI
Dari sudut pandang Alkitab, ada banyak kasus mukjizat “kesembuhan ilahi” yang dapat dipertanyakan atau diragukan keabsahannya. Beberapa contoh kasus yang tidak alkitabiah, misalnya, kasus Selvin Bungge, seorang bocah berusia delapan tahun yang dijuluki “dokter cilik” oleh masyarakat Poso, Sulawesi Tengah. Menurut cerita, ia sanggup menyembuhkan berbagai macam penyakit (namun sejumlah penyakit “kelas berat” seperti: AIDS, leukimia, stroke dan kanker belum bisa disembuhkan) dengan doa “Bapa Kami” dan lagu “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara.”46

Kasus kedua terlihat dari kesaksian berikut ini,
Sudah cukup lama saya menderita sakit pinggang dan sudah berobat kemana-mana tapi tidak sembuh-sembuh. Suatu hari saya menyaksikan program siaran langsung penyegaran rohani oleh John Hartman di RCTI. Waktu berdoa, saya mengangkat tangan ke arah televisi dan mengimani bahwa Tuhan pasti akan sembuhkan saya, dan benar, saya mengalami jamahan Tuhan pada saat itu juga! Saya disembuhkan.47

Kemudian, kasus ketiga seperti kesaksian di bawah ini,
Seminggu setelah Peter Jongren mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Bandung. Penulis diundang berkhotbah di gereja GBT di Bandung. Seusai khotbah, didampingi pendeta gereja itu bersalaman dengan jemaat yang berbaris keluar. Ada seorang jemaat yang cacat kakinya dan berjalan menggunakan tongkat penyangga lengan datang bersalaman dan juga dengan pendetanya, lalu orang itu berkata kepada pendetanya: Minggu yang lalu dalam KKR Peter Jongren saya sudah bisa berjalan tidak menggunakan tongkat, tapi sesampai di rumah saya harus pakai tongkat lagi.48

Kasus-kasus kesembuhan ilahi yang bersifat semu di atas sesungguhnya banyak sekali terjadi. Dikatakan semu karena ada banyak orang, pada saat yang sama, yang sesungguhnya tidak mengalami kesembuhan. Sangat disayangkan, meski tidak selalu demikian, tampaknya ada semacam usaha terselubung untuk merekayasa kesembuhan ilahi ini, khususnya, yang dilakukan oleh tim penyelenggara KKR.

Karena itu, untuk tidak mudah terjebak dalam kekeliruan di atas, orang Kristen perlu memahami beberapa “tanda awas” terhadap praktik mukjizat atau kesembuhan ilahi yang tidak alkitabiah. Pertama, jika hasil praktik kesembuhan itu masih dipertanyakan kualitasnya. Ada beberapa kasus praktik kesembuhan ilahi yang semu yang akhirnya terbongkar, misalnya, ketika ditemukan bahwa orang-orang yang telah “disembuhkan” ini ternyata tidak benar-benar sembuh secara fisik. Sebaliknya, kesembuhan ini adalah karena efek psikologis saja. Terbukti bahwa, setelah itu, mereka masih tetap mengalami kelumpuhan, berpenyakit jantung, atau menderita berbagai penyakit seperti tumor, tuli, kanker dan sebagainya.49 Berlawan dengan realitas tersebut, kesembuhan dari Yesus bersifat tuntas, misalnya, ketika Ia menyembuhkan sepuluh orang kusta, Ia berkata, “Pergilah perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam” (Luk. 17:14; Mrk. 1:44). Demikian juga, ketika seorang buta sejak lahir disembuhkan, ia sembuh dengan sempurna (Yoh. 9:17-21).

Kedua, jika praktik itu dilakukan dengan mengucapkan kata-kata yang harus diulang-ulang, mirip mantera. Contohnya, seperti apa yang dilakukan oleh Selvin, “si dokter cilik,” yang menyembuhkan dengan mengucapkan “Doa Bapa Kami” dan nyanyi lagu “Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara.” Injil mengajarkan bahwa Yesus tidak pernah melakukan cara penyembuhan demikian. Yesus tidak pernah mengajarkan dan melakukan praktik kesembuhan ilahi dengan mengucapkan “Doa Bapa Kami.” Sesuai dengan konteksnya “Doa Bapa Kami” bukan formula untuk “penyembuhan ilahi.”

Ketiga, jika caranya mirip perdukunan, yaitu: dengan alat atau bahan tertentu, seperti: sapu tangan, air putih dalam gelas, minyak urapan dari orang tertentu, apalagi bisa dijual belikan. Yesus tidak menggunakan satu cara tertentu dalam melakukan praktik kesembuhan. Ia pakai bermacammacam cara (lih. Mrk. 10:46; Yoh. 9:6).

Keempat, jika theologinya didasari pada sifat magis atau gaib, dan doktrin Roh Kudus yang tidak konsisten. Misalnya, Benny Hinn yang memiliki pandangan theologi yang tidak konsisten dan membingungkan. Ia percaya ramalan Ruth Hefli, berdoa di kuburan Kathryn Kulman, bisa komunikasi dengan malaikat dan Roh Kudus sewaktu-waktu, dan terkesan bahwa Roh Kudus diperlakukan seperti “pesuruh.”50 Contoh lainnya adalah Kenneth Hagin, ketika ia menyatakan bahwa setiap orang percaya harus berbahasa lidah (dengan ayat dukungan dari 1Kor. 12:2, 18). Ia juga menyatakan bahwa orang percaya yang tidak punya Roh Kudus, bisa menerimanya melalui cara transfer (seperti ATM saja!).51

Kelima, jika para tokohnya melakukan penafsiran teks-teks Alkitab yang menyimpang. Penyimpangan yang dilakukan antara lain dengan cara memakai ayat-ayat tertentu untuk mendukung doktrin atau tujuannya, melalaikan konteks dan kurang memperhatikan latar belakang, menekankan sebagian kebenaran saja, serta tidak melihat seluruh kebenaran Alkitab.52 Misalnya, beberapa orang mengutip ayat-ayat berikut di luar konteksnya untuk mendukung praktik mukjizat kesembuhan ilahi yang dilakukannya, misalnya: “Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk” (Mzm. 91:3, 6). Ayat lain yang sering dikutip untuk mendukung praktik kesembuhan ilahi adalah “bilur-bilurnya telah menyembuhkan” (Yes. 53:4-5).53 Masih banyak ayat-ayat yang dipakai untuk membenarkan praktik kesembuhan ilahi.54 Menurut penulis, penyimpangan ini berdasar pada doktrin penebusan (atonement) yang keliru. Charles Hodge menyatakan bahwa doktrin penebusan yang sangat penting dan sentral dalam theologi Kristen itu berhubungan erat dengan keselamatan rohani. Meski Kristus sanggup menyembuhkan, tetapi berdasarkan doktrin ini, utamanya bukan pada kesembuhan fisik.55

Keenam, jika terjadi penerapan iman yang keliru. Menurut sebagian praktisi kesembuhan ilahi, kesembuhan bergantung mutlak dari sikap iman si penderita. Ini berarti Tuhan hanya bersikap pasif, sementara manusia harus bersikap aktif, maksudnya, menuntut kesembuhan itu dengan yakin yang diekspresikan dengan berteriak dan berulang. Pandangan ini sulit dipertanggungjawabkan sebab, menurut injil, ketika Yesus menyembuhkan hamba dari perwira (Mat. 8:5-10) dan anak perempuan Yairus (Mrk. 5:35-43), tidak dibutuhkan iman yang bersangkutan. Dengan kata lain, iman memang penting (Mrk. 5:35), namun kuasa kesembuhan dari Tuhan tidak bergantung pada besar-kecilnya iman (Mat. 8:16; 9:35; 12:15).56




KESIMPULAN
Dalam PL dan PB, jelas bahwa Allah telah dan dapat melakukan berbagai macam mukjizat yang melampaui akal manusia. Namun, perlu ditegaskan lagi bahwa, selain Allah, Setan juga sanggup melakukan tandatanda mukjizat (mis. 2Tes. 2:9; Why. 16:14). Seperti yang telah diungkapkan di atas, sangat mungkin adanya praktik mukjizat kesembuhan ilahi yang dilakukan oleh Setan untuk mengelabui dan menyesatkan orang-orang, termasuk orang-orang Kristen. Sebab itu, setiap orang Kristen harus waspada dengan fenomena kesembuhan yang terjadi di sekitarnya. Fenomena kesembuhan ilahi yang belakangan ini semakin marak pemunculannya perlu dipertanyakan keabsahannya.57

Dengan demikian, setiap fenomena mukjizat kesembuhan ilahi harus mendapat pengujian dari terang firman Tuhan. Orang Kristen harus percaya bahwa kuasa Allah tidak berubah. Kemurahan dan providensi Allah masih berlaku bagi orang percaya. Tidak ada larangan untuk berdoa mohon kesembuhan, baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain, asal saja tidak dilakukan dengan cara yang keliru, misalnya didramatisir, direkayasa atau dipaksa. Menurut penulis, Allah masih menyembuhkan orang yang sakit, namun tentu saja, hal itu harus sesuai dengan maksud-Nya.

Dalam eksegese teks Yakobus 5:14, Robert M. Bowman mengatakan demikian:
(1) There are no itinerant healing ministries, since in James elders are called to come to the sick (v.14); the sick are not called to come to the tents of the healer. (2) They are no gifted healers in the congregation, since again it is ‘the elders’ without distinction that are to be called; evidently people with gifts of healing (ICor. 12:9) were not common. (3) They are no healing services, since again the elders are called to the sick. Scheduling Holy Spirit to come to one church at 7:00 p.m. on Thursday nights to perform healings is alien to the Bible.58

Dari pendapat di atas, jelas bahwa istilah “faith-healer” sudah tidak relevan lagi pada zaman sekarang. Meskipun Allah masih dapat bekerja, namun cara-Nya tidak sama seperti cara yang dipraktikkan oleh sebagian hamba Tuhan yang sudah dibahas di atas. Dengan demikian, jika ada fenomena kesembuhan yang tidak sesuai seperti yang Alkitab katakan (baik tanda-tanda maupun caranya), kita berani berkata bahwa hal ini bukan dari kuasa Tuhan melainkan dari kuasa Setan.




Catatan kaki:
1. Iklan-iklan KKR kesembuhan ilahi tersebut dimuat di harian Jawa Pos, Minggu, 30 September 2007, hlm. 18.
2. Pandangan yang menyatakan bahwa karunia mukjizat itu masih berlaku dan permanen, misalnya dinyatakan oleh John Wimber, “I accepted the fact that all the spiritual gifts are for today” (lih. Power Evangelism [San Francisco: Harper & Row, 1986] xx; bdk. pandangan “Gelombang Ketiga” dalam Wayne Grudem, ed., Are Miraculous Gifts for Today? Four Views [Grand Rapids: Zondervan, 1996], hlm. 207-212). Pandangan tersebut berbeda dengan B. B. Warfield yang mengatakan, “The miraculous gifts of the Holy Spirit were not intended as permanent gifts of God to the church.” (dikutip oleh Edward N. Gross, Miracles, Demons, and Spiritual Warfare [Grand Rapids: Baker 1991], hlm. 41).
3. Tertius, Lantigimo, “Mukjizat Kesembuhan Ilahi di Meko dan Keunikannya,” http://febrina.wordpress.com/mukjizat-kesembuhan-ilahi-meko-dan-keunikannya.
4. Anak kecil yang tidak pernah belajar di sekolah theologi dan jelas belum baptis dewasa, namun ia dapat melakukan mukjizat seperti yang dilakukan Tuhan Yesus sejak Januari 2007 (bdk. mukjizat yang pernah dilakukan Yesus: “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, dan orang tuli mendengar”) (lih. Mat. 11:5).
5. Lantigimo, “Mukjizat Kesembuhan Ilahi.”
6. “Palsu” pada hakikatnya berarti “berbeda dari yang asli.” Namun, orang yang memalsukan diri (atau barang), biasanya berusaha sedemikian rupa untuk membuat diri (atau barang) sedapat mungkin sama dengan yang asli. Sebab itu, kadang sulit untuk membedakan antara yang asli dan yang palsu. Bandingkan dengan perbuatan mukjizat oleh orang-orang yang menentang tujuan-tujuan Allah (Ul. 13:2-3; Mat. 7:22; 24:24; 2 Tes. 2:9; Why 13:13; 16:14; 19:20) (lih. “Mukjizat-mukjizat Palsu” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini [Jil. 2; ed. J. D. Douglas [Jakarta: YKBK/OMF, 2001], hlm. 96).
7. Kajian terhadap setiap mukjizat harus dilakukan secara objektif dengan melihat konsistensi theologisnya dan dampak durasi kesembuhan. B. B. Warfield mengatakan, “Testimony to (a miracle’s) occurrence should be carefully scrutinized and subjected to a thorough criticism. Until this is done, we naturally and properly receive the alleged fact with a certain suspension of judgment” (Selected Shorter Writings [Vol. 2; Nutley. NJ: Presbyterian & Reformed, 1976], hlm. 190).
8. Gross, Miracle, Demons & Spiritual Warfare, hlm. 17.
9. “Dia Sang Penyembuh” dalam Youth (September 2007), hlm. 26.
10. Gross, Miracles, Demons and Spiritual Warfare, hlm. 18.
11. Secara khusus, kata mukjizat diambil dari teks Latin (Vulgata), yaitu katamiracula yang dimanifestasikan dalam tiga istilah; terata, dynameis, dan semeia. Kata miracula berarti: “wonders perfomed by supernatural power a signs of some special mission or gift and explicitly ascribed to God.” Dalam Vulgata, miraculum (Ing. miraculous) diekspresikan dalam PB, misalnya, antara lain dalam khotbah Petrus yang menggambarkan perbuatan Allah, δυνάµεσι καί τέρασι καί σηµείοις (Kis. 2:22) dan dalam ungkapan kerasulan Paulus, σηµείοις τε καί τέρασιν καί δυνάµεσιν (2Kor. 12:12). Frasa tersebut juga berkaitan dengan kata erga (work), yaitu pekerjaan/perbuatan, seperti yang dimaksudkan oleh para penulis injil sebagai mukjizat-mukjizat yang dilakukan Tuhan Yesus (lih. J. T. Driscoll, “Miracle” dalam Catholic Encyclopedia (New York: Robert Appleton Company, 1911), hlm. 2.
12. Lihat “Mukjizat” dalam Ensiklopedia Alkitab, hlm. 95.
13. Ibid., hlm. 19.
14. “Miracle” dalam Baker’s Dictionary of Theology (ed. Everett. F Harrison; Grand Rapids: Baker, 1960) 356; bdk. komentar J. D. Spiceland “This emphasis on miracles as the redemptive activity of God is continued in the NT, where they are a part of the proclamation of the good news that God has acted ultimately on man’s behalf in the coming of Jesus Christ into history” (“Miracles” dalam Evangelical Dictionary of Theology [ed. Walter A. Elwell; Grand Rapids: Baker, 1984], hlm. 723).
15. Ibid., hlm. 724.
16. Lih. “Mukjizat” dalam Ensiklopedia Alkitab, hlm. 95.
17. Dalam hal ini, Gross memberikan kritik terhadap ajaran Peter Wagner dan John Wimber, “Many of them quote the Scriptures and claim they have the same gift of healing enjoyed by New Testament believers. They declare that the Holy Spirit generates the gift in them as he did in the apostle” (lih. Miracles, Demons and Spiritual Warfare, hlm. 60).
18. Ibid., hlm. 65.
19. How to Have a Healing Ministry without Making Your Church Sick (Ventura, CA: Regal, 1988), hlm. 215.
20. Menurut pengakuan Wagner, ada 71 persen orang sakit yang dia doakan selama dua tahun masih sakit, hanya 29 persen orang saja yang disembuhkan melalui doanya. Sedangkan Wimber’s Anaheim Vineyard Christian Fellowship Healing Ministry mencatat ada sekitar 26 persen orang yang disembuhkan melalui doa saja (lih. Wagner, How to Have a Healing Ministry, hlm. 244).
21. Mereka berpandangan bahwa penyakit selalu berkaitan dengan dosa dan semua dosa yang diperbuat manusia (termasuk orang Kristen) bersumber dan didalangi oleh Iblis dan roh jahat. Semua penyakit, cacat mental dan karakter yang tidak baik selalu adalah akibat perbuatan Iblis dan roh jahat, misalnya roh zinah, roh pemarah, dan roh kesombongan (Daniel L. Lukito, “Catatan Mata Kuliah Demonologi” [tidak diterbitkan]).
22. Dikutip dalam Benny Hinn, Kathryn Kuhlman: Warisan Rohaninya dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Saya (Jakarta: Imanuel, 2005), hlm. ix.
23. Contohnya, ia mengaku sering melihat Yesus menampakkan diri kepadanya sejak umur sebelas tahun di rumahnya di Jaffa, di kamar hotel atau di dalam kamarnya. Ia juga mengaku pernah mengalami penampakkan malaikat beberapa kali. Selain itu, ia juga berdialog dengan Roh Kudus pada waktu ia hendak makan pagi. Bahkan, menurutnya, Roh Kudus meminta perpanjangan waktu berdialog. Hinn, yang mengaku telah menerima transfer karunia kesembuhan dari Kuhlman dan Roberts, percaya bahwa ada mujizat kesembuhan di kuburan Kuhlman (lih. komentar G. Richard Fisher dalam The Confusing World of Benny Hinn [Saint Louis, Missouri: Personal Freedom Outreach, 2002], hlm. 21).
24. Garis tebal dari sumber asli.
25. The Confusing World of Benny Hinn, hlm. 4 [cetak tebal dari sumber asli].
26. Lih. Hans Maris, Gerakan Karismatik dan Gereja Kita (Surabaya: Momentum Christian Literature, 2004), hlm. 80.
27. Lihat Gross, Miracles, Demons and Spiritual Warfare, bab. 4 dan 7.
28. Mukjizat apa pun, jika berlawanan dengan tujuan yang dinyatakan Alkitab, tidak akan pernah bermanfaat. Gross mengatakan, “Miracles were also performed and recorded to assist people to believe on Christ.” (i) They were powerful tools through which God was glorified and his nature revealed. (ii) They authenticated certain men as God’s inspired messengers to mankind. (iii) They prepare to believe the word. (iv) They confirmed the faith of those who had already believed. (v) They manifested the undeniable fact that Jesus was God in the flesh, the promised Messiah (Ibid, hlm. 36). Demikian juga, pernyataan Calvin, “No other us is here assigned to miracles than to be the aids and supports of faith; for they serve to prepare the minds of men, that they may cherish greater reverence for the word of God” (lih. Calvin’s Commentaries [Grand Rapids: Baker, 1984] 18.A.281). Kriteria ini penting guna mengevaluasi fenomena mukjizat yang terjadi sekarang ini.
29. Signs of the Apostles (Edinburgh: Banner of Truth, 1979) 8 [penegasan dari sumber asli] dikutip dalam Gross, Miracles, Demons and Spiritual Warfare, hlm. 37.
30. Dikutip dalam ibid., hlm. 41.
31. Ibid., hlm. 47.
32. Kata απόστολος (dipakai di dalam PB 80 kali), berarti: “rasul, utusan atau duta”. Kriteria seorang rasul mencakup: saksi mata kebangkitan Kristus (Kis. 1:21-23; 1Kor. 9:1), mengalami dan memberitakan Injil (Gal. 1:11, 12; Kor. 15:3), menerima dan melakukan macam-macam karunia Roh untuk melengkapi pekerjaan misi (2Kor. 12:12; Rm. 15:18, 19; Ibr. 2:4), mampu melakukan dan membedakan macam-macam mukjizat (Kis. 8:18; 19:6), memiliki kapasitas mengucapkan kata-kata penghakiman atas nama Tuhan (Yoh. 20:23; Kis. 5:3-11; 13:10, 11; 1Kor. 5:3-5; 1Tim. 1:20), mengajarkan kebenaran asali (Gal. 1:8,9), berkhotbah dengan penuh kuasa dan berbuah (Yoh. 15:16; 1Kor. 9:2; 2Kor. 3:2, 3; 1Tes. 1:5), hidup dalam kebenaran dan kekudusan, rendah hati, disiplin dan penuh dedikasi (1Kor. 9:16-22; 2Kor. 6:1-10) (ibid., hlm. 47).
33. Di dalam Injil, kata δαιµόνια (Setan/roh jahat) dan Σατανάς (Setan/Iblis) dipakai secara bergantian dan merujuk kepada arti yang sama yaitu Setan (lih. Luk. 10:17-18; 11:14-19).
34. Istilah Beelzebul muncul tujuh kali dalam PB (Mat. 10:25; 12:24; 27; Mrk. 3:22; Luk. 11:15, 18, 19). Arti kata βεελςεβουλ adalah; “pemimpin atau penguasa.” Dalam bahasa Ugarit berarti “penghulu atau pangeran (prince).” Bila dibentuk dalam kalimat “Ba ‘al zebul” berarti dewa-dewa asing (1Kor. 10:20) yang berkhianat jahat (Mat. 10:25). Sedangkan ungkapan Aram “be el debaba” berarti “musuh atau lawan.” Beberapa sarjana Kitab Suci menghubungkan beelzeboul dengan Baal-zebub (Pangeran Baal), dewa orang Filistin di Ekron yang tertulis dalam 2 Raja-raja 1:2. Dewa ini mempunyai kuasa di bumi dan memiliki kekuatan untuk berperang melawan “bala tentara surgawi.” Dewa ini berani melawan surga karena membawahi Setan-setan (daimonia) sebagai prajuritnya. Karena itu, dalam kerangka “kerajaan Iblis” Beelzebul dikenal sebagai “Penghulu Setan” (βεελςεβούλ άρχοντι τών δαιµονίών) (lih. Mat.12:24) (B. Pramono dan Y. Kurniawan, “Demonologi,”
http://www.sarapanpagi.org/demonolgi-vt1208.html.), hlm. 16.
35. Paul Enns, The Moody Handbook of Theology (Malang: Literatur Saat, 2004), hlm. 360.
36. Malaikat berasal dari kata malak (Ibrani), dan angelos (Yunani) artinya, utusan (Kej. 28:12; 1 Raj. 19:2). Pengertian dasarnya adalah “ia yang diutus” untuk melakukan tugas-tugas/perintah-perintah tertentu dari Allah atau yang mengutusnya Kata tersebut ditulis 103 kali dalam PL dan 175 kali di PB, (yang ditujukan kepada manusia hanya 6 kali) (Gerhard vod Rad, “Mal’ak in the Old Testament,” dalam Theological Dictionary of the New Testament Theology [ed. Gerhanrd Kittel; Grand Rapids: Eerdmans, 1964], 1:76-77; bdk. H. Bietenhard, “Angel” dalam New International Dictionary of New Testament Theology [Grand Rapids: Zondervan, 1975] 1:101).
37. William F. Arndt dan F. Wilbur Gingrich, Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (Chicago: University of Chicago Press, 1979), hlm. 529.
38. Enns, The Moody Handbook of Theology, hlm. 364.
39. Ibid., hlm. 361.
40. Dalam konsep Islam, Iblis, Setan atau roh-roh jahat eksis sebagai makhluk yang menyeramkan, jahat, perusak, penipu, provokator, dan penentang Allah. Lebih dari itu, dipercayai juga keberadaan roh-roh halus, jin-jin, tuyul atau jailangkung (lih. Majdi M. Asy-Syahawi, Mengusir Jin dari Rumah [Solo: Pustaka Arafah, 2007]; Muhammad A. Maghawiri, Dialog dengan Jin Muslim dan Jin Kafir [Yogyakarta: Kalimasada, 2006]).
41. Enns, The Moody Handbook of Theology, hlm. 365.
42. Lukito, “Catatan Mata Kuliah Demologi.”
43. Mungkin pernyataan dan kisah kontroversial Benny Hinn berikut ini dapat dikategorikan sebagai salah satu penyelewengan kebenaran. Ia pernah membuat pernyataan kontroversial, “Yesus akan menampakkan diri tahun ini!” Berita yang menghebohkan ini disiarkan melalui Trinity Broadcast Network (TBN) dalam acara kampanye rohani Benny Hinn Ministry pada 2 April 2000 mengumumkan bahwa Yesus akan menampakkan diri kepada kaum Muslim, dan Yesus yang sama akan muncul secara fisik di Nairobi, Kenya pada akhir April tahun 2000. Menurut berita 29 Maret 2000, Hinn memperoleh bisikan Roh Kudus dan nubuatan dari Ruth Heflin: “Roh Kudus telah memberi tahu saya bahwa Dia tidak lama lagi akan menampakkan diri secara fisik. Saya telah menerima pernyataan nubuatan tentang masa yang akan datang dari Ruth Heflin, ia pernah memberikan ramalannya kepada saya di tahun 70-an. Dia telah menyampaikan pesan kepada saya melalui istri saya dan katanya: Tuhan telah bersuara kepadanya bahwa Dia akan menampakkan diri secara fisik di tengah-tengah panggung dalam salah satu kegiatan rohani yang di selenggarakan Benny Hinn” (lih. G. Richard Fisher, The Confusing World of Benny Hinn; bdk. dengan tulisannya yang lain Benny Hinn: Good Morning Holy Spirit [New York: Walker, 1991]).
44. Kata jiawak adalah ungkapan yang digunakan oleh suku Melayu yang bernada mencemooh, berarti “arogan/angkuh.” Dalam praktik agama primitif, paranormal, dukun atau praktisi okultisme lain sering memanggil dan meminta Iblis untuk menampakkan diri dan mengabulkan apa yang mereka inginkan. Ada sebuah cerita di mana seorang ibu yang kangen terhadap Anna, putrinya yang sudah meninggal sewaktu berusia 3 tahun, melihat putrinya muncul dan bermain-main dengan suaminya. Hal ini berulang kali terjadi. Karena penasaran mengetahui apakah roh putrinya masih gentayangan atau tidak, ia menemui orang pintar. Lalu, ia diberi minum dan setelah mengucek-ucek matanya, ternyata ia melihat makhluk yang menyeramkan, bukan putrinya. Menurut penulis, Setan dapat juga menampakkan diri dalam berbagai manifestasi misalnya Bunda Maria, Yesus, malaikat atau lainnya.
45. Lukito, “Fenomena Lawatan Ilahi”, hlm. 49-66.
46. Sherman, “Kesembuhan Ilahi: Dari Allah atau?” http://www.sinarharapan.co.id/berita/nus05.html.
47. Lenny, “Mukjizat,” http://www.gotn-ministry.org/indonesia/mujizat.htm.
48. Herlianto, “Kesembuhan Ilahi,” http://www.yabina.org/artikel 2006/A0606_3.htm.
49. Juga, yang menarik, ada kasus di mana orang yang tidak sakit, tetapi kemudian dinyatakan sembuh, seperti yang terjadi pada salah seorang mantan petinju kelas berat, Evander Holyfield (salah seorang petinju kelas berat), yang divonis Benny Hinn berpenyakit jantung dan kemudian dinyatakan telah disembuhkan, padahal ia tidak pernah punya penyakit tersebut. Komentar Jeff Schult terhadap kondisi Holyfield demikian, “He is confident that he never had a heart problem.” Ia menambahkan, “Holyfield now denies intimating he was healed by self-proclaimed faith-healer Benny Hinn. He merely insists that he never had the heart ailment that was diagnosed.” Insiden ini terjadi karena Christopher Vaughns, dokter internis Holyfield telah salah mendiagnosis keadaan jantungnya (lih. “Thanks Holyfield Holding No Grudges” Atlanta Journal Constitution [Nov. 25, 1994], hlm. 3). Demikian juga penegasan Terence Moore, penulis media, “Holyfield told me in the aftermath that he never thought the faith healer had an effect on his hear . . . . Says Holyfield, “There really wasn’t anything for him (the faith healer) to heal. That’s because I don’t believe I had a problem with my heart to begin with” (lih. “Healthy or Not, Holyfield should Hang Up Gloves for Good” Atlanta Journal of Constitution [January 8, 1995], hlm. 3).
50. Lih. Hinn, Good Morning Holy Spirit, hlm. 64.
51. Lih. Tujuh Langkah untuk Menerima Roh Kudus (Jakarta: Immanuel, 2005), hlm. 12; bdk. juga kesaksian Joel Osteen dalam Arus Kuasa Ilahi (Jakarta: Immanuel, 1994), hlm. 34.
52. Hasan Sutanto, Hermeneutik: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: SAAT, 1986), hlm. 120.
53. Kutipan Yesaya 53:4-5 merupakan ayat favorit yang sering di gunakan dalam KKR Kesembuhan Ilahi Massal sejak tahun 1940-an di Amerika. Praktik ini bersemi dalam gerakan karismatik tahun 1960 yang menekankan bahwa oleh bilur-bilur Yesus kita disembuhkan. Konsep kesembuhan ini terlihat dalam lirik lagu pujian yang berbunyi, “Bilur-Nya, bilur-Nya, bilur-Nya sungguh heran. Asal percaya saja semua sakit hilanglah,” Bila percaya Yesus, sakitnya pasti disembuhkan, jika tidak sembuh berarti ada masalah dengan imannya (Herlianto, “Kesembuhan Ilahi”).
54. Lih. T. L. Osborn, “100 Fakta Kesembuhan Ilahi,” http://www.mail-archive.com/jesus-net.yahoogroups.com.
55. Atonement (Grand Rapids: Baker, 1985), hlm. 24.
56. Hal ini berlawan dengan pernyataan Wagner yang pernah membela diri ketika ada orang-orang yang tidak sembuh dalam praktik kesembuhan ilahi, dan menyatakan bahwa penyebab 71% orang tidak bisa disembuhkan adalah karena mereka kurang doa dan kurang iman (lih. Gross, Miracles, Demons and Spiritual Warfare, hlm. 63).
57. Misalnya, seperti apa yang dilakukan oleh bocah 8 tahun—yang mirip dengan anak usia 3 tahun di atas—yang dapat melakukan mukjizat kesembuhan bagi ribuan orang di Thailand secara magis (kuasa Setan) (lih. Wagner, How to Have a Healing Ministry, hlm. 245).
58. Robert Bowman, The Word-Faith Controversy (Grand Rapids: Baker, 2001) dalam Fisher, The Confusing World of Benny Hinn, hlm. 272.





Sumber:
VERITAS 9/2 (Oktober 2008), hlm. 187-209




Profil Pdt. Alex Lim:
Pdt. Alex Lim, B.C.M., M.R.E. adalah Dosen Liturgika dan Pelatih Paduan Suara di Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. Beliau menyelesaikan studi Bachelor of Church Music (B.C.M.) di Singapore Bible College dan Master of Religion Education (M.R.E.) di Far East Bible College, Singapore.




Editor dan Pengoreksi: Denny Teguh Sutandio